Anda di halaman 1dari 661

PEMBAHASAN TO 1

OPTIMAPREP
BATCH I UKDI 2015
Dr. Widya, Dr. Cemara, Dr. Yolina, Dr. Retno, Dr. Hendra, Dr. Ayu

OFFICE ADDRESS:
Jl padang no 5, manggarai, setiabudi, jakarta selatan
(belakang pasaraya manggarai)
phone number : 021 8317064
pin BB 2A8E2925
WA 081380385694

Medan :
Jl. Setiabudi no. 65 G, medan P
Hone number : 061 8229229
Pin BB : 24BF7CD2
www.Optimaprep.Com

ILMU PENYAKIT DALAM

1. HIPOGLIKEMIA
Hipoglikemia adalah suatu kondisi di mana kadar

glukosa kurang dari 50 mg/dL


Diagnosis dengan menggunakan Whipples Triad yaitu:

Gejala klinis yang berasosiasi dengan hipoglikemia (gejala


autonomik seperti: palpitasi, tremor, cemas (adrenergik),
berkeringat dingin, lapar, kesemutan (kolinergik), dan gejala
neuroglikopenik seperti: perubahan perilaku, perubahan kesadaran,
lemah, kejang, hingga kematian)
Adanya hipoglikemia dari pemeriksaan laboratorium
Gejala klinis yang membaik setelah pemberian glukosa

Pemeriksaan fisis dapat didapatkan takikardia, kenaikan

tekanan darah sistolik, pallor, dan diaforesis

Etiologi dan Tatalaksana Hipoglikemia


ETIOLOGI

TATALAKSANA

Obat-obatan
insulin secretagouges seperti
klorpropramid, repaglinide, dan
nateglinide
Salisilat
sulfonamid
pentamidine
quinolone
alkohol
penyakit kritis (gangguan fungsi

Suplementasi glukosa oral seperti

jus buah, air gula

Suplementasi glukosa intravena

seperti: Dextrose 40% bolus diikuti


dengan rumatan dextrose 10% per
6 jam

pengobatan sesuai etiologi

hati, jantung, dan ginjal)


kelaparan dalam jangka waktu
lama
sepsis,
defisinesi hormon,
insulinoma, dan keganasan.

Sumber: Harrison manual of medicine 18th edition

2. AKALASIA
suatu kelainan saluran pencernaan

bagian atas yang disebabkan oleh


obstruksi motorik dari sfingter
esofagus bagian bawah oleh karena
sfingter esofagus bagian bawah
yang hipertensif, relaksasi
inkomplet dari sfingter esofagus
bawah, atau hilangnya peristaltik
pada otot polos esofagus.
Manifestasi klinis tersering adalah

sulit menelan
Penyebab: idiopatik atau sekunder

karena limfoma, karsinoma,


pseudoobstruksi, iskemia, virus,
obat-batan, toxin.

Diagnosis:
X-ray didapatkan hilangnya
air bubble pada lambung,
foto barium didapatkan
dilatasi esofagus dengan
gambaran menyerupai paruh
burung dan air fluid level.
Pemeriksaan manometri
menunjukkan normal atau
tekanan yang meningkat
pada sfingter esofagus
bagian bawah
endoskopi.

Sumber: Harrison manual of medicine 18th edition

Tatalaksana akalasia
Tatalaksana konservatif:
Nifedipine 10-20 mg sehari
ISDN 5-10 mg a.c
Injeksi botulinum toksin
Tatalaksana definitif:
Hellers Procedure
Pneumatic Balloon Dilatation

Sumber: Harrison manual of medicine 18th edition

3. HEPATITIS A
Hepatitis A adalah penyakit infeksi

yang menyerang sel hepar oleh


karena virus spesifik hati
(Hepatitis A)

Gejala klinis:

Memiliki onset akut dan tidak

memiliki bentuk kronis

Transmisi dapat melalui fekal-oral,

seksual.
Pada umumnya menyerang anak-

anak dan dewasa muda


Penyembuhan sempurna terjadi

dalam 3-4 bulan


Tatalaksana umumnya konservatif

(simptomatis)

masa tunas (periode inkubasi


hepatitis A 30 hari),
masa prodormal (gejala lemah
badan, mual, muntah, panas,
anoreksia, nyeri perut kanan),
masa ikterik (urine berwarna
coklat, ikterus pada sklera, dan
seluruh badan, hepatomegali
dengan nyeri tekan)
masa penyembuhan (ikterus
dan gejala lain hilang)

Dapat relaps dan dapat

menyebabkan hepatitis akut


fulminan
Dapat dicegah dengan imunisasi

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Airlangga

4. Diabetes Mellitus Tipe 2


Penyakit metabolik sebagai akibat dari kurangnya insulin

efektif oleh karena adanya defisiensi insulin relatif akibat


dari adanya resistensi insulin atau disfungsi sel beta
pankreas.
Sindroma metabolik merupakan faktor risiko penting
dalam perkembangan menjadi diabetes mellitus tipe 2.
Patofisiologi yang mendasari:
1.
2.

3.
4.

resistensi insulin pada jaringan sehingga glukosa darah tidak dapat


masuk ke dalam sel.
Akibatnya terjadi metabolisme anaerob dan meningkatnya hormon
kontrainsulin sehingga terjadi hiperglikemia.
Hiperglikemia menyebabkan adanya resistensi insulin sehingga
meningkatkan sekresi insulin.
Mekanisme kompensasi tersebut pada suatu saat akan mengalami
titik jenuh sehingga menyebabkan diabetes mellitus tipe 2

Diabetes Mellitus Tipe 2


Gejala klinis diabetes mellitus tipe 2: Trias Sindrom

diabetes akut yang terdiri dari poliuri, polidipsi, dan


polifagi dan menurunnya berat badan.
Gejala lain yaitu gejala kronis DM yang berkaitan dengan
komplikasi kronis DM dari ujung rambut ke ujung kaki
seperti: lemah badan, kesemutan, menurunnya
kemampuan seksual, gangguan penglihatan, mual,
muntah, dan gangrene diabetikum.
Pengobatan: Penyuluhan kesehatan masyarakat, diet dan
aktivitas fisis, obat antidiabetikum, insulin, dan cangkok
pankreas

Kaki Diabetik
The natural history of the diabetic foot can be divided into six stages
Stage 1 : Normal - Not at risk. The patient does not have the risk factors of
neuropathy, ischemia, deformity, callus and swelling rendering him/her
vulnerable to foot ulcers.
Stage 2 : High risk foot the patient has developed one or more of the risk
factors for ulceration of the foot.
Stage 3 : Ulcerated foot the foot has a skin breakdown. This is usually an ulcer,
but because some minor injuries such as blisters, splits or grazes have a
propensity to become ulcers, they are included in stage 3.
Stage 4 : Infected foot the ulcer has developed infection with the presence of
cellulitis.
Stage 5 : Necrotic foot necrosis has supervened.
Stage 6 : Unsalvageable The foot cannot be saved and will need a major
amputation.

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam UNAIR

5. Tuberkulosis Paru Klasifikasi


Kasus baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah

pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).


Kasus kambuh (Relaps) adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan
lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
Kasus setelah putus berobat (Default ) adalah pasien yang telah berobat dan putus
berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
Kasus setelah gagal (Failure) adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap
positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama
pengobatan.
Kasus Pindahan (Transfer In) adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang
memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
Kasus lain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih
BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru UNAIR

6. Tuberkulosis Paru efek samping pengobatan


Isoniasid: Hepatotoksisitas, anemia sideroblastik,

neuropati perifer.
Rifampisin: Air seni berwarna kemerahan,

hepatotoksisitas
Etambutol: neuritis optika, skotoma sentral,

penurunan tajam penglihatan, dan kemampuan


melihat warna hijau.
Pirasinamid: Hepatotoksisitas
Streptomisin: Ototoksisitas
Sumber: Harrison 18th Manual Edition

7-8. Komplikasi Sirosis Hepatis Hematemesis


Melena
Hematemesis Melena dapat terjadi sebagai akibat komplikasi

sirosis hepatis yang berupa pecahnya varises esofagus dan


hipertensi portal.
Gejala yang terjadi meliputi gejala kegagalan fungsi hati seperti:
ikterus, spider naevi, ginekomastia, hipoalbumin, malnutrisi,
ascites, bulu ketiak rontok, eritema palmaris dan gejala hipertensi
portal seperti adanya vena kolateral prominen, splenomegali,
varises esofagus, hemoroid, dan caput medusae.
Etiologi berasal dari virus hepatitis B,C,D, alkohol, penyakit
metabolik, kolestasis berkepanjangan, obstruksi vena hepatika,
gangguan otoimun, toksin, obat-obatan, dan Indian Childhood
Cirrhosis
Dapat memiliki bentuk progresif maupun bentuk inaktif

Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan pemeriksaan biopsi hati,

namun sering sukar dilakukan oleh karena kondisi penderita pada


umumnya pada keadaan dekompensata.
Diagnosis klinis dibuat dengan mengumpulkan temuan
pemeriksaan fisis dan pemeriksaan laboratorium sebanyak
mungkin.
Tekanan vena porta pada saat terjadi hematemesis melena
umumnya lebih dari 12 mmHg
Penatalaksanaan Perdarahan akut oleh karena hematemesis
melena

Penatalaksanaan umum: stabilisasi dan resusitasi cairan untuk menstabilkan


hemodinamik, pemberian laktulosa untuk mencegah ensefalopati hepatik,
pasang NG tube untuk evaluasi perdarahan, antibiotik (sefotaksim 2 x 2 gram)
jangka pendek dapat mencegah peritonitis bakterial spontan
Penatalaksanaan khusus: Obat vasoaktif (vasopressin, somatostatin,
octreotide), pemasangan Sengstaken Blakemore Tube (SB tube), Skleroterapi
endoskopi, Ligasi Varises Endoskopi, Bedah darurat, Hemostasis intravena,
dan Transjuguler Intrahepatic Porto Systemic Shunt)
Sumber: Buku ajar ilmu penyakit Dalam UNAIR, Harrison 18th Edition

9. Farmakologi Obat Antihipertensi


Preload-Reducer: Bekerja dengan

menurunkan venous return pulmoner


dan menurangi transudasi cairan
menuju jaringan interstisial pulmoner
dan alveoli sehingga menurunkan
tekanan hidrostatik pulmoner. Obat
golongan ini: nitrogliserin, furosemide
(diuretik), morfin
Afterload-Reducer: bekerja dengan
mengurangi tahanan vaskular sistemik
dan meningkatkan perfusi renal. Obat
golongan ini: ACE-inhibitor,
nitroprusside, penyakat kanal kalsium,
-blocker.

10. Perubahan Warna Urin


Makanan yang dapat mengubah warna urin:
Kuning tua atau Oranye: Wortel
Hijau: asparagus
Merah Muda: beetroot, blackberries, rhubarb
Coklat: fava beans, rhubarb
Obat-obatan yang dapat mengubah warna urin:
Kuning kehijauan: cascara, sulfasalazine, the B vitamins
Oranye: rifampicin, sulfasalazine, the B vitamins, vitamin C
Merah Muda: phenolphthalein, propofol, rifampicin, laxatives containing senna
Hijau atau Kebiruan: amitriptyline, cimetidine, indomethacin, promethazine, propofol,
triamterene, beberapa multi-vitamins
Hitam: levodopa, metronidazole, nitrofurantoin, some anti-malarial agents, methyldopa,
laxatives containing cascara or senna
Kondisi Medis yang dapat mengubah warna urin:
Kuning: Dehidrasi
Oranye: a problem with the liver or bile duct
Merah muda atau merah: hematuria, haemoglobinuria, myoglobinuria, kelainan fungsi ginjal
Keunguan: porphyria
Hijau atau Biru: ISK oleh pseudomonas; familial hypercalcaemia, menyebabkan warna biru pada
urin
Cokelat: hematuria, Kelainan fungsi ginjal atau hepar

Substance

Glucose

Description

Proximal tubule
Loop of Henle
reabsorption (almost 100%)
If glucose is not reabsorbed by the
via sodium-glucose
kidney, it appears in the urine, in a
transport

condition known as glycosuria. This is


proteins[4] (apical)
[3]
associated withdiabetes mellitus.
and GLUT(basolateral).

Oligopeptides,
All are reabsorbed nearly
proteins, andamino
completely.[5]
acids
Regulation of osmolality. Varies
Urea
withADH[6][7]
Uses Na-H antiport, Na-glucose
Sodium
symport,sodium ion
channels (minor)[8]

Distal tubule

Collecting duct

reabsorption

reabsorption (50%)
via passive transport

secretion

reabsorption
(65%, isosmotic)

reabsorption (25%, thick


ascending, Na-K-2Cl
symporter)
reabsorption (thin
ascending, thick
ascending, Na-K-2Cl
symporter)

reabsorption (5%,sodiumchloride symporter)

reabsorption in medullary
collecting ducts
reabsorption (5%, principal
cells), stimulated
by aldosterone via ENaC

Chloride

Usually follows sodium. Active


(transcellular) and passive
(paracellular)[8]

reabsorption

Water

Uses aquaporin water channels. See


alsodiuretic.

absorbed osmotically along


reabsorption (descending)
with solutes

Bicarbonate

Helps maintain acid-base balance.[9]

reabsorption (8090%) [10]

reabsorption (thick
ascending) [11]

Protons

Uses vacuolar H+ATPase

Potassium

Varies upon dietary needs.

reabsorption (65%)

reabsorption (20%, thick


ascending, Na-K-2Cl
symporter)

Calcium

Uses calcium ATPase, sodium-calcium


reabsorption
exchanger

reabsorption (thick
ascending) viapassive
transport

reabsorption in response to
PTH and reabsorption

with Thiazide Diuretics. [12]

Magnesium

Calcium and magnesium compete,


and an excess of one can lead to
excretion of the other.

reabsorption (thick
ascending)

reabsorption

Phosphate

Carboxylate

Excreted as titratable acid.

reabsorption

reabsorption (85%)
viasodium/phosphate

cotransporter.[4] Inhibited
byparathyroid hormone.
reabsorption (100%[13])

viacarboxylate transporters.

reabsorption (sodiumchloride symporter)

reabsorption

reabsorption (regulated by
ADH, viaarginine
vasopressin receptor 2)
reabsorption (intercalated
cells, viaband
3 and pendrin)
secretion (intercalated
cells)
secretion (common,
via Na+/K+-ATPase,
increased by aldosterone),
or reabsorption
(rare, hydrogen potassium
ATPase)

The kidneys play an important role in water homeostasis. Water is mainly

resorbed in the proximal convoluted tubule and loop of Henle, but fine
adjustments are made in the distal tubule under the influence of
antidiuretic hormone (ADH).
For instance, water is lost by the body in hot weather in sweat. This triggers
the release of ADH into the blood which acts on the cells of the distal tubule
and collecting duct to increase water resorption thus reducing the amount
excreted. You might notice in hot weather, you only produce small volumes
of urine as the body is fighting to conserve water.
If water is in excess, ADH levels are reduced limiting the amount of water
resorbed back into the blood but increasing the volume eliminated in the
urine. If you drink a pint or so of fluid you will notice that within an hour
your urine volume will increase and the excess water will be eliminated.

Sumber: http://www.nottingham.ac.uk/nmp/sonet/rlos/bioproc/kidneyphysiology/8.html

11. Demam Tifoid


Merupakan infeksi pencernaan oleh karena kuman patogen

Salmonella typhi maupun Salmonella paratyphi.


Gejala Klinis: Penderita namak letih, lesu, delirium hingga

koma, pada anamnesis didapatkan demam 5-7 hari dengan


pola step ladder, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri punggung, dan
nyeri sendi, perut kembung, nyeri epigastrium, obstipasi
maupun diare, mual muntah, serta batuk.
Gejala lain yang dapat dijumpai adalah bradikardia relatif,

pendengaran menurun, typhoid tongue, rose spots, bronchitic


chest, hepatomegali, dan splenomegali
Masa inkubasi 3-60 hari

Pemeriksaan Laboratorium Demam Tifoid


Ditemukan banyak eritrosit di dalam tinja. Biakan tinja paling

efektif pada minggu II dan ke III penyakit.


Pemeriksaan darah dapat ditemukan leukopenia, leukositosis,
neutropenia, limfositosis, aneosinofilia, anemia, LED meningkat,
AST/ALT meningkat.
Kultur darah paling efektif pada minggu I. Makin lama efektifitas
kultur darah makin menurun. Pada minggu III efektifitas hanya 1015%.
Biakan Sumsum tulang sangat sensitif dan obyektif namun invasif
Pemeriksaan serologi: Widal (kenaikan titer O 4 kali lipat dalam
jarak 7 hari pemeriksaan atau titer O yang tinggi), ELISA, PCR,
TUBEX.
Tatalaksana: tirah baring, diet padat dini, terapi medikamentosa
antibiotika

Antibiotika pada Demam Tifoid


Demam Tifoid

Obat Lini
Pertama

Obat Alternatif

Tanpa Komplikasi Sefiksim po

Azitromisin
Amoksisilin
Kloramfenikol

Dengan
Komplikasi

Aztreonam IV
Imipenem IV

Ceftriaxone IV
atau Cefotaxime
IV

Sumber: Harrison 18th Manual.

12. Pneumonia
Merupakan suatu keradangan

jaringan paru akibat infeksi dari


mikroorganisme patogen, virus,
maupun jamur.
Bronkopneumonia = Lobular
Pneumonia
Didapatkan demam dengan sputum
yang purulen.
Didapatkan ronki, fremitus raba
meningkat, dan bronkofoni bila
terdapat konsolidasi.
Fremitus menurun dan perkusi
redup didapatkan bila terdapat
efusi pleura dan empiema

Diagnosis pasti dengan

ditemukan kuman pada


sputum maupun darah.
Pengobatan berupa
antibiotika seperti
ceftriaxone, azitromisin,
atau quinolone.

Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/234240-overview#a30

13. Anemia Aplastik


Anemia aplastik adalah anemia yang ditandai dengan

pansitopenia pada darah tepi disertai dengan hiposelularitas


dari sumsumtulang.
Etiologi dari anemia aplastik adalah: idiopatik, obat, toksin,
infeksi, timoma, sindroma mielodisplastik, dan paroksismal
nokturnal hemoglobinuria.
Patofisiologi yang mendasari adalah kelainan sel induk,
adanya reaksi imunologi, dan kelainan faktor lingkungan.
Gejala klinis yang terjadi pada umumnya adalah gejala dari
trombositopenia (perdarahan, ekimosis, petekiae, epistaksis),
anemia (lemah, lesu, sukar berkonsentrasi), leukositopenia
(demam, sering infeksi).

Pemeriksaan fisis sesuai dengan temuan pansitopenia.


Pemeriksaan darah tepi didapatkan pansitopenia disertai

hiposeluleritas sumsum tulang.


Pengobatan umum dari anemia aplastik meliputi hindari
kontak dengan penderita penyakit infeksi, penggunaan sabun
antiseptik, penggunaan sikat gigi yang halus, membatasi
penggunaan obat suntikan, dan cegah menstruasi dengan
memberikan obat anovulatoir.
Pengobatan khusus dari anemia aplastik:

Transfusi produk darah sesuai dengan indikasi adanya pansitopenia.


(Transfusi PRC bila Hb < 7 g/dL, transfusi trombosit bila kurang dari
10.000/mm3)
Pemberian antibiotika sesuai dengan hasil kultur.
Berikan Hematopoietic Growth Factor untuk leukopeni berupa GM-CSF,
G-CSF, dan eritropoietin untuk anemia.
Pemberian steroid 1mg/kgBB/hari selama 1 bulan dengan tapering off atau
cyclosporine A 2x sehari dengan dosis 3 mg/kgBB/hari

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam

14. Sindroma Alergi Oral


Merupakan bentuk alergi makanan yang ditandai dengan

adanya reaksi alergi setelah mengonsumsi buah-buahan,


sayur, maupun kacang yang fresh.
Merupakan bentuk alergi makanan yang paling sering

dijumpai pada pasien dewasa.


Patofisiologi berhubungan dengan reaksi silang antara

protein tanaman atau serbuk yang masih terdapat pada


buah-buahan sehingga insidens lebih tinggi apabila
memakan buah yang belum dibersihkan.
Reaksi tersebut dimediasi oleh IgE

Gejala klinis sindroma alergi oral hanya

melibatkan gejala orofaring.


Pasien dapat memiliki riwayat atopi sebelumnya
Diagnosis: skin test, ELISA, leukosit feses, patch
test, elimination diet, food challenge test
Terapi diutamakan menghindari makanan
penyebab alergi.
Terapi farmakologis dapat digunakan
antihistamin, dan kortikosteroid.

15. Lokasi Infark Miokard Akut

16. Miokarditis
Miokarditis adalah penyakit inflamasi miokard dengan variasi

gejala klinis dari subklinis hingga kematian mendadak


Gejala klinis miokarditis meliputi nyeri dada, demam,
keringat dingin, meriang, sesak napas. Pada miokarditis oleh
karena virus dapat dijumpai gejala prodormal infeksi virus
(ISPA)
Gejala lain yang dapat dijumpai dan fatal adalah gagal
jantung, palpitasi, sinkop, dan kematian mendadak oleh
karena aritmia.
Kecurigaan terhadap miokarditis didapatkan dari adanya
tanda gagal jantung akut (takikardia, gallop, regurgitasi
mitral, edema) dan semakin menguat apabila didapatkan
tanda pericarditis (pericardial friction rub)

Pemeriksaan Penunjang Miokarditis


Laboratorium
Darah lengkap
LED dan CRP
Skrining reumatologis
Kadar enzim jantung
ECG
Pemeriksaan imejing
Echocardiography
Antimyosin scintigraphy: untuk mengidentifikasi inflamasi
miokard
Kardiak angiografi: untuk menyingkirkan iskemia koroner

Tatalaksana Miokarditis
Secara garis besar tatalaksana miokarditis bertujuan untuk

mengurangi beban jantung dan meningkatkan hemodinamik


sehingga pasien dapat bertahan.
Farmakoterapi yang digunakan meliputi Vasodilator, ACEinhibitor, dan diuretik.
Antiaritmia dapat digunakan namun harus diperhatikan rata-rata
obat tersebut bersifat inotropik negatif sehingga dapat memerburuk
keadaan gagal jantung.
Obat inotropik positif dapat digunakan namun bersifat aritmogenik
apabila digunakan dalam jangka waktu yang lama.
Imunosupresif tidak memberikan manfaat klinis yang signifikan
menurut penelitian dari NIH (National Institute of Health)

Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/156330-treatment#a1156

17. Pemeriksaan Cairan Sendi (Sinovial)

18. Glomerulonefritis pasca Streptokokus Akut


Merupakan

penyakit

sindroma

glomeruler

pasca

infeksi

streptokokus
Terdiri dari gejala: Hematuria, Oliguria (hingga anuria), Hipertensi,
Proteinuria, dan edema (biasanya wajah)
Manifestasi klinis yang menonjol adalah lemah, malaise, nyeri
pinggang yang biasa disebabkan oleh karena pembengkakakn
kapsuler ginjal.
Komplikasi terjadi akibat dari hipertensi, gagal jantung kiri, gagal
ginjal akut, dan perubahan menjagi bentuk kronik.
Diagnosis: titer Antistreptolisin
Pengobatan: retensi cairan, obat antihipertensi, terapi gagal ginjal
dan terapi penyebab SNA

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam

19. Efusi Pleura


Efusi Pleura adalah penumpukan cairan pada kavum

pleura oleh karena produksi cairan yang berlebihan atau


berkurangnya kemampuan absorbsi cairan atau
keduanya.
Merupakan manifestasi klinis paling sering pada pleura
Riwayat anamnesis yang lengkap dapat membantu
menegakkan etiologi dari efusi
Gejala klinis yang dirasakan pasien adalah dispnea
(hingga orthopnea dan PND), batuk, nyeri dada
(terutama pada saat inspirasi dalam dan dirasakan nyeri
dada yang tajam), dan gejala nyeri dada oleh karena
etiologi.

Pemeriksaan penunjang: X-ray thoraks,

thoracosentensis.
Karakteristik Cairan Pleura normal:

Berwarna jernih
pH 7,60-7,64
Kadar Protein kurang dari 2% (1-2 g/dL)
Leukosit < 1000/mm3
Kadar glukosa sama dengan plasma
LDH < 50% plasma
Tidak terdapat bakteri

Tatalaksana efusi pleura pada umumnya mengikuti

tatalaksana etiologi yang mendasari kelainan tersebut.


Indikasi drainase efusi pleura: Kondisi cairan purulent
makroskopis, pH < 7,1, efusi terlokalisasi, dan
didapatkan bakteri pada efusi
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/299959-treatment

20. Bradikardia
Adalah irama sinus di mana frekuensi detak jantung 60 kali per

menit.
Pada pasien normal dapat didapatkan (terutama atlet atau pasien
dengan aktivitas fisik rutin) oleh karena jantung lebih efisien
memompa darah dan adanya hiperreaktivitas nervus X
Etiologi tersering adalah Sick Sinus Syndrome pada keadaan
patologis
Gejala klinis meliputi: sinkop, pusing, perasaan melayang, nyeri
dada, sesak, dispnoe on effort. Pemeriksaan fisis sering kali tidak
spesifik
Pada pasien dengan keluhan atropin intravena dapat diberikan (0,5
mg/dosis)

Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/760220-treatment#a1126

21. Perbedaan DM Tipe 1 dan Tipe 2

22. Mitral Regurgitasi


Merupakan penyakit jantung katub yang sering disebabkan post infeksi

Streptococcus.
Gejala klinis yang dapat terjadi adalah dispnea, kelelahan, orthopnea,
dan edema paru.
Pada kasus kronis dapat asimtomatik dan dapat didapatkan AF maupun
iskemia atau infark miokard terutama pada lead inferior dan posterior.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan pengisian nadi yang meningkat, S1
menghilang, wide splitting S2, S3 terdengar oleh karena disfungsi
ventrikel kiri, P2 dapat terdengar dan murmur sistolik.
Murmur yang terjadi pada apex dan dapat menjalar hingga subscapular
dan axilla kiri.
Pada pemeriksaan radiologi thoraks dapat didapatkan LVH, LAH,
hingga edema paru

Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/155618-overview

23. Pembesaran Ventrikel Kiri pada EKG


(Kriteria Romhilt-Estes)

Jumlah nilai 5

adalah definitif
hipertrofi ventrikel
kiri
Jumlah nilai = 4
adalah
kemungkinan
hipertrofi ventrikel
kiri

Kriteria EKG

Nilai

Kriteria Voltase:
Terdapat berbagai macam kriteria, pilih salah satu:
R atau S di sandapan ekstremitas 20 mm
S di kompleks V1 atau V2 30 mm
R di V5 atau V6 30 mm
S di Vi ditambah R di V5 35 mm

Depresi ST dan inversi T di kompleks V5-V6 (strain pattern)


Dengan digitalis
Pasien non digitalis

1
3

Terdapat hipertrofi ventrikel kiri:


Interval P di II 0,12 detik dan terdapat lekukan pada
gelombang P
Defleksi terminal V1 negatid dengan lebar 0,04 detik dan
dalam 1 mm

Terdapat Left Axis Deviation


Sumbu QRS pada bidang frontal > 150

Interval QRS di kompleks V5-V6 > 0,09 detik

Waktu Aktivasi Ventrikel (waktu awal QRS hingga puncak R) > 1


0,04 detik

24. Tatalaksana Hipertiroid


Tatalaksana hipertiroid meliputi konservatif, pembedahan, dan

radioaktif.
Tatalaksana konservatif meliputi:

Farmakoterapi dengan Propiltiourasil 200-600 mg per hari atau metimazole


dengan dosis 1/10 propiltiourasil
Obat-obat untuk menekan over-sympathetic stimulation seperti -blocker
Sedativa
Diet TKTP
Multivitamin

Tatalaksana pembedahan: subtotal tiroidektomi dengan indikasi:

struma yang besar, relaps, tidak dapat diobati secara konservatif,


kosmetik
Tatalaksana radioaktif dengan Iodium dengan indikasi: usia,
menolak pembedahan

25. Bronkiektasis
Bronkiektasis (BE)adalah penyakit saluran napas kronik

ditandai dengan dilatasi abnormal yang permanen disertai


rusaknya dinding bronkus. Biasanya pada daerah tersebut
ditemukan perubahan yang bervariasi termasuk di dalamnya
inflamasi transmural, edema mukosa (BE silindris), ulserasi
(BE kistik) dengan neovaskularisasi dan timbul obstruksi
berulang karena infeksi sehingga terjadi perubahan arsitektur
dinding bronkus serta fungsinya.
Keadaan yang sering menginduksi terjadinya BE adalah

infeksi, kegagalan drainase sekret, obstruksi saluran napas


dan atau gangguan mekanisme pertahanan individu.

Gambaran Patologi
Lynne Reyd membagi BE menjadi 3 bentuk berdasarkan

pelebaran bronkus dan derajad obstruksi, sebagai


berikut:

Bentuk silindrik (tubular)

Bentuk varikosa (fusiform)

Seringkali dihubungkan dengan kerusakan parenkim paru,


terdapat penambahan diameter bronkus yang bersifat regular,
lumen distal bronkus tidak begitu melebar.

Pelebaran bronkus lebih lebar dari bentuk silindrik dan bersifat


irregular. Gambaran garis irregular dan distal bronkus yang
mengembang adalah gambaran khas pada bentuk varikosa.

Bentuk sakuler (kistik)

Dilatasi bronkus sangat progresif menuju ke perifer bronkus.


Pelebaran bronkus ini terlihat sebagai balon, kelainan ini
biasanya terjadi pada bronkus besar, pada bronkus generasi ke 4.
Bentuk ini juga terdapat pada BE kongenital.

Tatalaksana Bronkiektasis
Tatalaksana suportif meliputi: hindari merokok, nutrisi

adekuat, imunisasi influenza dan pneumonia.


Tatalaksana farmakologis meliputi antibiotika

(amoksisilin, kotrimoksasol, tetrasiklin, sefalosporin,


fluorokuinolon, dan makrolid sesuai indikasi dan
sensitivitas kuman), bronkodilator untuk mengatasi
hiperreaktivitas saluran napas, bronchial hygiene
dengan nebulisasi NaCl terkonsentrasi (7%)
Bila tatalaksana tersebut tidak memberikan hasil

maksimal dapat dilakukan tatalaksana bedah


Sumber: Buku Ajar Ilmu penyakit Paru; http://www.klikparu.com/2013/01/bronkiektasis-be.html

26. Hiponatremia
Disebut hiponatremia bila kadar natrium dibawah 130 mEq/L
Dapat terjadi akibat kehilangan Natrium berlebihan atau

peningkatan jumlah air di dalam tubuh.


Etiologi tersering adalah: Kehilangan melalui GI tract, terapi
diuretik, acute tubular necrosis, pemberian cairan hipotonik
(0,5 NS), ketoasidesis diabetik, HHS, produksi ADH yang
tidak teregulasi (pneumonia, brain trauma, kanker paru),
obat-obatan (litium)
Manifestasi klinis yang dapat terjadi adalah penurunan
tekanan darah, perubahan status mental, mual, letargis, nyeri
kepala, kejang hingga koma (di bawah 115mEq/L), hipotonia
otot, tremor, diare, kram, muntah

Perhitungan defisit Na untuk koreksi = 0,6 x BB

(140-Na Pasien)
Tatalaksana hiponatremia:

Apabila pasien normovolemik atau edema: restriksi


cairan

Apabila pasien hipovolemik:

IV 0,9% NS atau RL

Hindari koreksi Na secara cepat (maksimum 10 mEq/hari.


Bila terlalu cepat dapat menyebabkan central pontin
myelinolysis hingga kematian)

Tujuan kadar Na yang ingin dicapai adalah 120 mEq/L

Apabila pasien memiliki simtomatik hiponatremia seperti


kejang, koma, edema otak berikan NaCl 3% dengan
kecepatan infus 1-2 ml/kgBB/jam
Sumber: http://faculty.ksu.edu.sa/hussain/Documents/fluid_electrolytes.pdf

ILMU BEDAH

27. Necrotizing Ulcerative


Gingivostomatitis
Acute , and sometimes
recurring gingival infection of
complex etiology
Clinical signs
Pain
Ulceration
Necrosis of the
interdental papillae
Bleeding either
spontaneous or to gentle
manipulation.

The ulcers are covered by a


yellowish white or grayish
slough which termed
Pseudo membrane
Consists primarily of fibrin
and necrotic tissue with
Leucocytes, erythrocytes
and masses of bacteria

Acute Necrotizing Ulcerative Gingivostomatitis


(Trench Mouth, Vincents Disease)
Punched out

ulcerations, rapid onset,


painful, foul, fetid odor
Bacteroides fusiformis &
Borrelia vincentii
TX: 3% H2O2
mouthwash,
debridement
R/O herpes infection

NOMA: severe variant in children with


poor nutrition, gangrenous spread to
bone may result in death.

28. The Breast


Tumors

Onset

Feature

Breast cancer

30-menopause

Invasive Ductal Carcinoma , Pagets disease (Ca


Insitu), Peau dorange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass

Fibroadeno
ma mammae

< 30 years

They are solid, round, rubbery lumps that


move freely in the breast when pushed upon
and are usually painless.

Fibrocystic
mammae

20 to 40 years

lumps in both breasts that increase in size and


tenderness just prior to menstrual
bleeding.occasionally have nipple discharge

Mastitis

18-50 years

Localized breast erythema, warmth, and pain. May


be lactating and may have recently missed
feedings.fever.

Philloides
Tumors

30-55 years

intralobular stroma . leaf-likeconfiguration.Firm,


smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over
the tumor may become reddish and warm to the
touch. Grow fast.

Duct Papilloma

45-50 years

occurs mainly in large ducts, present with a serous


or bloody nipple discharge

Pemeriksaan Radiologis Payudara


USG Mamae
Tujuan utama USG mamae adalah untuk membedakan massa
solid dan kistik
Sebagai pelengkap pemeriksaan klinis dan mamografi

Merupakan pemeriksaan yang dianjurkan untuk wanita usia


muda (<35) dan berperan dalam penilaian hasil mamografi
dense breast

Mammography
Skrening wanita usia 50thn atau lebih yang asimptomatik
Skrening wanita usia 35 thn atau lebih yang asimtomatik
dan memiliki resiko tinggi terkena kanker payudara :

Wanita yang memiliki saudara dengan kanker payudara yang


terdiagnosis premenopaus
Wanita dengan temuan histologis yang memiliki resiko ganas pada
operasi sebelumnya, spt atypical ductal hyperplasia

Untuk pemeriksaan wanita usia 35 thn atau lebih yang

simptomatik dengan adanya massa pada payudara atau


gejala klinis kanker payudara yang lain

www.rad.washington.edu

Treatment FAM:
Watchfull waiting
Traditional open excisional biopsy
Biopsy
Pengambilan sampel sel atau jaringan untuk diperiksa
Untuk menentukan adanya suatu penyakit

29. Tennis Elbow


Lateral epicondylitis

Terjadi karena

penggunaan siku
yang berlebihan

Gejala dan tanda:

Nyeri atau terasa


terbakar pada sisi
lateral siku
Weak grip strength

Often worsened with

forearm activity

holding a racquet
turning a wrench
shaking hands.

American Academy of Orthopaedic Surgeons

30. Receptors in Ca Mammae


Adanya Estrogen

Receptor (ER) pada Ca


Mammae

Responsif terhadap
terapi Hormonal
Better prognosis good
differentiation

Proposed mechanism of hormonal


therapy in inhibiting tumor cell
growth
(Sciencedirect.com)

BIOMARKERS
Status estrogen receptor (ER), progesterone receptor (PR) dan HER-2/neu status
harus ditentukan saat biopsi
Valuable
Managing metastatic disease
Select patients for adjuvant therapybefore initiating any adjuvant therapy
it may change after therapy

Adjuvant hormonal therapy, with or without chemotherapy, in receptor-positive


tumors
improve survival rates even in the absence of lymph node metastases

Receptor-positive
More favorable course
Up to 60% of patients with metastatic breast cancer will respond to hormonal manipulation
Less than 5% of patients with metastatic, ER-negative tumors can be treated successfully in this
fashion

31. Lymph node drainage

32. Management of Trauma Patient

Airway Management
Simple management

maneuvers
Suction
Chin lift
Jaw thrust
Definitive airway: Cuffed tube
in tracheaendotracheal tube

Pasien tidak sadar:


GCS <9
Obstruksi karena
Lidah
Aspirasi
Benda asing
Trauma Maksilofasial
Trauma leher
Management:
Careful endoscopic exam
Careful and gentle intubation,
or
Surgical airway?

Modifikasi untuk pasien dengan kecurigaan

trauma medula spinalis:


1. Tongue/jaw lift
2. Modified jaw thrust

Sumbatan Jalan
Napas
Mengorok

Obstruksi jalan napas atas


karena lidah

Gurgling

due to obstruction of
upper airway by liquids
(blood, vomit)

Wheezing

due to narrowing of the


lower airways

Oropharyngeal Airway
Semicircular, disposable
and made of hard plastic.
Guedel and Berman are the
frequent types.
Guedel tubular dan
memiliki lubang ditengah.
Berman solid and has
channeled sides.
Menarik lidah menjauh dari
dinding faring posterior
Mencegah lidah untuk
jatuh ke hipofaring

PATENT Vs COLLAPSED AIRWAY

2006 American Academy of Sleep medicine

33. X-ray

Riwayat penurunan kesadaran atau pada pasien

dengan trauma multipelindikasi dilakukannya CT


kepala+bone window, 3D bila terdapat fraktur
fasial
USG abdomen pada trauma tidak diindikasikan
FAST

Focused Assesment with Sonography for Trauma


Abdomen USG membutuhkan persiapan, kandung kemih
harus penuh
FASTUSG tanpa persiapan, Kandung kemih penuh tidak
diharuskan, terfokus untuk menilai organ abdomen yang
padat dan adanya udara bebas

34. GIT Congenital Malformation


Disorder

Clinical Presentation

Hirschpru
ng

Congenital aganglionic megacolon (Auerbach's Plexus)


Fails to pass meconium within 24-48 hours after birth,chronic
constipation since birth, bowel obstruction with bilious vomiting,
abdominal distention, poor feeding, and failure to thrive, Chronic
Enterocolitis.
RT:Explosive stools .
Criterion standardfull-thickness rectal biopsy.
Treatment remove the poorly functioning aganglionic bowel and
create an anastomosis to the distal rectum with the healthy innervated
bowel (with or without an initial diversion)

Anal Atresia

Anal opening (-), The anal opening in the wrong place,abdominal


distention, failed to pass meconium,meconium excretion from the fistula
(perineum, rectovagina, rectovesica, rectovestibuler).
Low lesionthe colon remains close to the skin stenosis anus, or the
rectum ending in a blind pouch.
High lesionthe colon is higher up in the pelvis fistula

Hypertrophi
c Pyloric
Stenosis

Hypertrophy and hyperplasia of the muscular layers of the pylorus


functional gastric outlet obstruction
Projectile vomiting, visible peristalsis, and a palpable pyloric tumor(Olive
sign).Vomiting occur after every feeding,starts 3-4 weeks of age

Disorder

Clinical Presentation

Oesophagus
Atresia

Congenitally interrupted esophagus


Drools and has substantial mucus, with excessive oral
secretions,. Bluish coloration to the skin (cyanosis) with
attempted feedings
Coughing, gagging, and choking, respiratory distressPoor
feeding

Intestine
Atresia

Malformation where there is a narrowing or absence of a


portion of the intestine
Abdominal distension (inflation), fails to pass stools, Bilious
vomiting

http://en.wikipedia.org/wiki/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth

Atresia anii

Duodenal atresia

Intussusception

Hirschprung

http://emedicine.medscape.com/

Learningradiology.om

Hypertrophic Pyloric Stenosis

CLINICAL MANIFESTATIONS
The classic presentation of IHPS

Bayi 3-6 minggu


Mengalami muntah segera setelah makan, tidak berwarna
hijau (non-bilious) dan sering kali proyektilMuntah
proyektil

Muntah dapat berwarna seperti kopi karena iritasi


lambung akibat tekanan di pilorus yang tinggi

Terlihat lapar dan makan setelah muntah (a

vomiter")

"hungry

Palpable mass
Massa
Paling mudah teraba segera setelah muntah karena
sebelumnya tertutupi oleh antrum yang distensi atau otot
abdomen yang menegang

GERD signs and symptoms

35. Sumbatan Jalan


Napas
Mengorok

Obstruksi jalan napas


atas karena lidah

Gurgling

due to obstruction of
upper airway by liquids
(blood, vomit)

Wheezing

due to narrowing of the


lower airways

Oropharyngeal Airway
Semicircular, disposable
and made of hard plastic.
Guedel and Berman are the
frequent types.
Guedel tubular dan
memiliki lubang ditengah.
Berman solid and has
channeled sides.
Menarik lidah menjauh dari
dinding faring posterior
Mencegah lidah untuk
jatuh ke hipofaring

PATENT Vs COLLAPSED AIRWAY

2006 American Academy of Sleep medicine

36. FOREHAND FRACTURE


Montegia Fracture Dislocation
Fraktur 1/3 proksimal

Ulna disertai dengan


dislokasi kepala radius
ke arah anterior, posterior,
atau lateral
Head of Radius dislocates
same direction as fracture
Memerlukan ORIF

http://www.learningradiology.com

Lateral displacement

Galleazzi Fracture
Fraktur distal radius

dan dislokasi sendi


radio-ulna ke arah
inferior
Like Monteggia fracture
if treated conservatively
it will redisplace
This fracture appeared in
acceptable position after
reduction and POP
http://www.learningradiology.com

Colles Fracture
Fraktur tersering pada tulang yang

mengalami osteoporosis
Extra-Articular : 1 inch of distal Radius
Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan
tangan pada posisi dorsofleksi
Typical deformity : Dinner Fork
Deformity is : Impaction, dorsal displacement
and angulation, radial displacement and
angulation and avulsion of ulnar styloid process
http://www.learningradiology.com

Colles Fracture

optimized by optima

http://www.learningradiology.com

Smith Fracture
Hampir berlawanan dengan Colles fracture
Lebih jarang terjadi dibandingkan dengan colles
Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan tangan

pada posisi palmar fleksi


Typical deformity : Garden Spade
Management is conservative : MUA and Above
Elbow POP

http://www.learningradiology.com

Smith Fracture

http://www.learningradiology.com

37. Hemorrhaegic Shock

38. Airway Management


Modifikasi untuk pasien dengan kecurigaan trauma medula

spinalis:
1. Tongue/jaw lift
2. Modified jaw thrust

39. Shock: Classification


Hypovolemic shock

Terjadi karena turunnya volume darah yang bersirkulasi dibandingkan


kapasitas total pembuluh darah, dicirikan dengan penurunakan diastolic
filling pressures

Cardiogenic shock

Kegagalan pompa jantung akibat berkurangnya kontraktilitas myoardium atau


fungsi myokardium atau kelainan anatomi jantung, dicirikan dengan
peningkatan diastolic filling pressures and volumes

Extra-cardiac obstructive shock

Terjadi karena adanya obstruksi aliran darah balik ke jantung, dicirikan


dengan impairment of diastolic filling or excessive afterload

Distributive shock

Disebabkan oleh hilangnya kontrol vasomotor yang menyebabkan dilatasi


arteriol dan venula, dicirikan dengan peningkatan cardiac output dan
menurunnya SVR (Systemic vascular resistance)

CARDIOGENIC
Myopathic

Pharmacologic : Calcium

Blunt Cardiac Injury

(trauma)
Myocarditis
Cardiomyopathy
Post-ischemic myocardial
stunning
Septic myocardial
depression

channel blockers
Mechanical
Valvular failure (stenotic or
regurgitant)
Hypertropic
cardiomyopathy
Ventricular septal defect
Arrhythmic
Bradycardia
Tachycardia

EXTRACARDIAC OBSTRUCTIVE
Impaired diastolic filling

(decreased ventricular preload)


Direct venous obstruction (vena
cava)
intrathoracic obstructive
tumors
Increased intrathoracic pressure
Tension pneumothorax
Mechanical ventilation (with
excessive pressure or volume
depletion)
Asthma
Decreased cardiac compliance
Constrictive pericarditis
Cardiac tamponade

Impaired systolic contraction

(increased ventricular afterload)


Right ventricle
Pulmonary embolus
(massive)
Acute pulmonary
hypertension
Left ventricle
embolus
Aortic dissection

DISTRIBUTIVE
Septic (bacterial, fungal, viral, rickettsial)
Toxic shock syndrome
Anaphylactic, anaphylactoid
Neurogenic (spinal shock)
Endocrinologic
Adrenal crisis
Thyroid storm
Toxic (e.g., nitroprusside, bretylium)

optimized by optima

optimized by optima

Hypovolemic shock
Shock caused by

decreased preload due to


intravascular volume loss
(1/5 of blood volume)

Results in decreased CO
SVR is typically increased
in an effort to compensate
Causes:
Hemorrhagic trauma, GI
bleed, hemorrhagic
pancreatitis, fractures
Fluid loss induced
Diarrhea, vomiting, burns

Loss of circulating blood

volume (Plasma)

Normal Blood Volume:

- 7% IBW in adults
- 9% IBW in kids

Hypovolemic
Hemorrhagic

Trauma
Gastrointestinal
Retroperitoneal
Fluid depletion
(nonhemorrhagic)
External fluid loss
Dehydration
Vomiting
Diarrhea
Polyuria

optimized by optima

Interstitial fluid

redistribution
Thermal injury
Trauma
Anaphylaxis
Increased vascular
capacitance (venodilatation)
Sepsis
Anaphylaxis
Toxins/drugs

Hemorrhaegic Shock

40. Hernia
HERNIA HIATALHERNIA DIAFRAGMATIKA

/VENTRAL HERNIA

Tipe Hernia

Definisi

Reponible

Kantong hernia dapat dimasukkan kembali ke dalam rongga


peritoneum secara manual atau spontan

Irreponible

Kantong hernia tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam


rongga peritoneum

Incarserated

Obstruksi dari pasase usus halus yang terdapat di dalam


kantong hernia

Strangulated

Obstruksi dari pasase usus dan Obstruksi vaskular dari


kantong herniatanda-tanda iskemik usus:
bengkak,nyeri,merah

Indirek mengikuti kanalis inguinalis


Karena adanya prosesus vaginalis
persistent
The processus vaginalis outpouching
of peritoneum attached to the testicle
that trails behind as it descends
retroperitoneally into the scrotum.
DirekTimbul karena adanya defek atau
kelemahan pada fasia transversalis dari
trigonum Hesselbach
http://emedicine.medscape.com/article/

Gejala hernia strangulata

Nyeri amat sangat dan


kemerahan
Nyeri yang makin lama
makin berat
Demam
Takikardi
Mual dan muntah
Obstruksi

http://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentType
ID=134&ContentID=35

Inguinal hernia
Most common
Most difficult to understand
Congenital ~ indirect
Acquired ~ direct or indirect
Indirect Hernia
has peritoneal sac
lateral to epigastric
vessels
Direct Hernia
usually no peritoneal sac
through Hasselbach
triangle, medial to
epigastric vessels

41. Gallbladder Disorder

Kolelitiasis

Pemeriksaan penunjang kolelitiasis


Ultrasonography

(US)pemeriksaan
penunjang pilihan
untuk mengidentifikasi
batu empedu

Dapat mendeteksi batu


empedu sebesar 2 mm
sensitivitas > 95%
Cepat, noninvasif, dapat
dilakukan secara bedside,
Tidak melibatkan radiasi

Ultrasound image obtained with a 4-MHz


transducer demonstrates a stone in the
gallbladder neck with typical acoustic
shadow

Pada foto Polos

Abdomenbatu
empedu tampak sebagai
kalsifikasi pada
kuadran kanan atas
Hanya 50% dari batu
pigmen dan 20% dari
batu kolesterol yang
dapat terlihat pada
foto polos abdomen

on CT scan

Gallstones appear as
single or multiple
filling defects densely
calcified, rim calcified, or
laminated or have a
central nidus of
calcification
Kurang lebih 20% dari
batu empedu tidak
terlihat pada CT

http://emedicine.medscape.com/article/366246-overview#a20

Mosby's Medical Dictionary, 8th edition. 2009, Elsevier.

Gallbladder Disorder
Term

Definition

Clinical symptoms

Cholecystitis

Inflammation of the
gallbladder

Acute: fever,right upper quadrant(RUQ)


pain,murphys sign +, may be icteric
Chronic:no fever,recurrent RUQ pain,no icteric
USG:may be calculus/not,cyst wall
thickening

Cholecystolitiasis

the presence of
gallstones in the
gallbladder.

Recurrent RUQ pain,recurrent dyspepsia,no


fever,no icteric,pain after fatty
meal,Ro:radioopaque RUQ

Cholelitihiasis

The presence or
formation of gallstones
in the gallbladder or
bile ducts

Symptoms depend on stone location, only use


this terms if the stone location is not
established

Choledocholithiasis

the presence of
gallstones in the
common bile duct

Colicky pain(biliary colic),icteric,may be with


cholangitis signs(charcoats triads)

Appendicitis

Inflammation of the
vermiform appendix.

Pain on right lower quadrant,migratory


pain,nausea,vomiting,specific
signs(rovcing,McBurney,etc)

Kolesistitis dengan
kolelitiasis
Acoustic shadow
Dinding yang menebaldouble
rims
http://www.meddean.luc.edu/lumen/MedEd/Radio/curriculum/Surgery/cholecystitis_list2.htm

42. Hipospadia
Hypospadia
OUE berada pada
ventral penis
Three anatomical
characteristics
An ectopic urethral
meatus
An incomplete
prepuce
Chordee ventral
shortening and
curvature
http://emedicine.medscape.com/article/1015227

EpispadiaOUE berada di dorsum


penis
Penis lebar, pendek dan
melengkung keatas (dorsal
chordee)
Penis menempel pada tulang
pelvis
Tulang pelvis terpisah lebar
Classification:
the glans (glanular)
along the shaft of the penis
(penile)
near the pubic bone
(penopubic)

http://www.genitalsurgerybelgrade.com/urogenital_surger
y_detail.php?Epispadias-4

Phimosis
Phimosis
Prepusium tidak dapat
ditarik kearah proksimal
Fisiologis pada neonatus
Komplikasiinfeksi

Balanitis
Postitis
Balanopostitis

Treatment

Dexamethasone 0.1% (6
weeks) for spontaneous
retraction
Dorsum
incisionbila telah
ada komplikasi

Paraphimosis
Prepusium tidak dapat
ditarik kembali dan
terjepit di sulkus
koronarius
Gawat darurat bila

Obstruksi vena
superfisial edema
dan nyeri Nekrosis
glans penis

Treatment

Manual reposition
Dorsum incision

Hydrocele

Anorchia the absence of both testes at birth


Normal outside genitals before puberty
Failure to start puberty at the correct time
Empty scrotum
Lack of secondary sex characteristics
penis and pubic hair growth
deepening of the voice
increase in muscle mass
Congenital urethrocutaneous fistula
Fistula pada ventral penis, dapat berkaitan dengan
kelainan genitalia yang lain (epispadia atau
hipospadia
Superior vesica fissure(Exstrophy bladder
variants)
Widely separated pubic symphysis
The umbilicus is low or elongated
A small superior bladder opening or a patch of
isolated bladder mucosa
Infraumbilica
Genitalia are intact
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002167/

http://en.wikipedia.org/wiki/

http://emedicine.medscape.com/article/

Male Genital Disorders


Disorders

Etiology

Clinical

Testicular torsion

Intra/extra-vaginal
torsion

Sudden onset of severe testicular pain followed by


inguinal and/or scrotal swelling. Gastrointestinal
upset with nausea and vomiting.

Hidrocele

Congenital anomaly, accumulation of fluids around a testicle, swollen


blood blockage in
testicle,Transillumination +
the spermatic cord
Inflammation or
injury

Varicocoele

Vein insufficiency

Scrotal pain or heaviness, swelling. Varicocele is


often described as feeling like a bag of worms

Hernia skrotalis

persistent patency
of the processus
vaginalis

Mass in scrotum when coughing or crying

Chriptorchimus Congenital anomaly

Hypoplastic hemiscrotum, testis is found in other


area, hidden or palpated as a mass in inguinal.
Complication:testicular neoplasm, subfertility,
testicular torsion and inguinal hernia

43. Ileus Obstruksi


Obstruction
Adanya sumbatan mekanik yang disebabkan karena
adanya kelainan struktural sehingga menghalangi gerak
peristaltik usus.
Partial or complete
Simple or strangulated

Ileus
Kelainan fungsional atau terjadinya paralisis dari gerakan
peristaltik usus

Penyebab- Usus Halus


Luminal

Mural

Extraluminal

Benda asing
Bezoars
Batu Empedu
Sisa-sisa
makanan

Neoplasims
lipoma
polyps
leiyomayoma
hematoma
lymphoma
carcimoid
carinoma
secondary Tumors
Crohns
TB
Stricture
Intussusception
Congenital

Postoperative
adhesions

A. Lumbricoides

Congenital
adhesions
Hernia
Volvulus

1. Anamnesis
The Universal Features
Nyeri kolik (Colicky abdominal pain), muntah, konstipasi (absolute),
distensi abdominal.
Anamnesis Lengkap

High
Pain is rapid
Vomiting copious
and contains bile
jejunal content
Abdominal distension is
limited or localized
Rapid dehydration

Distal small bowel


Pain: central and
colicky
Vomitus is feculunt
Distension is severe
Visible peristalsis
May continue to pass
flatus and feacus before
absolute constipation

Colonic
Preexisting change in

bowel habit
Colicky in the lower
abdomin
Vomiting is late
Distension prominent
Cecum ? distended

Persistent pain may be a sign of strangulation


Relative and absolute constipation

2. Pemeriksaan Fisik
General
Vital signs:
P, BP, RR, T, Sat
dehydration
Anaemia, jaundice,
LN
Assessment of
vomitus if possible
Full lung and heart
examination

Abdominal
Abdominal distension and its
pattern
Hernial orifices
Visible peristalsis
Cecal distension
Tenderness, guarding and
rebound
Organomegaly
Bising Usus

Others
Systemic
examination
If deemed
necessary.
CNS
Vascular
Gynaecological
muscuoloskeltal

High pitched (metallic


sound)
Meningkat
Menghilang

Rectal examination
Darm konturterlihatnya bentuk usus pada dinding abdomen
Darm Steifungterlihatnya gerakan peristaltik pada dinding abdomen

Pemeriksaan Radiologis
Posisi: Supine, tegak dan LLD
Pola udara dalam usus:

Gastric,
Colonic and 1-2 small bowel

Fluid Levels:

Gastric
1-2 small bowel

Periksa udara pada 4 area:


1.
2.
3.
4.

Caecal
Hepatobiliary
Udara bebas dibawah diaphragma
Rectum

Periksa adanya kalsifikasi


Periksa adanya massa, psoas shadow
Periksa adanya feses

The Difference between small


and large bowel obstruction
Large bowel
Peripheral ( diameter 8 cm max)
Presence of haustration

Small Bowel
Central ( diameter 5 cm max)
Vulvulae coniventae
Ileum: may appear tubeless

Radiologi: Supine dan tegak(LLD)


Sensitivitas: 60% (sampai 90%)
Yang dapat ditemukan:

A.

B.
1.

2.
3.

4.

Distensi usus pada proksimal dari obstruksi


Usus kolaps pada distal dari obstruksi
Posisi tegak atau LLD: Air-fluid levels
Posisi Supine
a.
Sharply angulated distended bowel loops
b.
Step-ladder arrangement or parallel bowel
loops

Tatalaksana Awal di UGD


ResusitasiABC bila pasien tidak stabil

Air way (O2 60-100%)


Infus 2 akses vena bila dibutuhkan
Infus kristaloid sesuai kondis pasien

Pemeriksaan laboratorium
Dekompresi dengan Naso-gastric tube
Pemasangan kateter urinmonitor output urin setiap jambalans cairan

ketat
Antibiotik IV (tidak ada bukti yang jelas)
Pemasangan CVPBila dikhawatirkan akan terjadi pemberian cairan yang
berlebih
Follow-up hasil lab dan Koreksi ketidakseimbangan elektrolit
Perawatan di intermediate care
Rectal tubes hanya dilakukan pada Sigmoid volvulus.

Indikasi operasi segera


Adanya strangulasicontoh: hernia
Adanya tanda-tanda peritonitis yang disebabkan

karena perforasi atau iskemia

44. Acute Limb Ischemia

Chronic Limb
Ischemia

Buergers Disease
(Thrombangiitis Obliterans)
Secara khusus dihubungkan dengan merokok
Terjadi Oklusi pada arteri muskular, dengan predileksi pada

pembuluh darah tibial


Presentation

Nyeri saat beristirahat

Gangrene

Ulceration

Recurrent superficial thrombophlebitis (phlebitis

migrans)
Dewasa muda, perokok berat, tidak ada faktor risiko aterosklerosis
yang lain
Angiography - diffuse occlusion of distal extremity vessels
Progresivitas dari distal ke proximal
Remisi klinis dengan penghentian merokok

Arteritis Takayasu
Vaskulitis dari pembuluh darah besar, yang melibatkan

aorta dan cabang-cabang utamanya


Lebih sering pada wanita dan bergejala sebelum usia 40 thn
Typical symptoms

Klaudikatio ekstremitas saat beraktivitas


Nyeri dada
Gejala sistemikpenurunan berat badan, malaise, demam subfebris,
myalgia.

On examination
Bruit pada karotis, aorta abdominal atau a.subclavia
Perbedaan TD

Antara sisi kanan dan kiri


Antara ektremitas atas dan bawah

Murmur karena aorta regurgitasibila terdapat dilatasi dari cabang


aorta

Classification
Type I Hanya cabang dari arkus aorta
Type IIa Aorta asenden dan atau pada arkus aorta. Cabang

dari arkus aorta juga dapat terkena. Bagian aorta yang lain tidak
terkena.
Type IIb Aorta torakalis desenden dengan atau tanpa
keterlibatan aorta asenden, arkus aorta dan cabang-cabangnya.
Aorta abdominal tidak terkena.
Type III Aorta torakalis desenden, aorta abdominal dan atau
a.renalis. Aorta asenden dan arkus aorta tidak terkena.
Type IV hanya aorta abdominal dan a.renalis
Type V a generalized type, with combined features of the
other types.

II
B

Branches of the aortic arch

II
A

Ascending aorta,
aortic arch, and its
branches

intechopen.com

Abdominal aorta,
renal arteries, or
both
Type IIa region
plus thoracic
descending
aorta

Thoracic
descending aorta,
abdominal aorta,
renal arteries, or a
combination

uvahealth.com

http://www.ispub.com/journal/the-internet-journal-of-cardiology/volume-7-number-2/

45. Bisa Ular


Neurotoksin
jenis racun yang menyerang sistem saraf.
Bekerja cepat dan cepat diserap
Racun jenis ini melumpuhkan otot-otot hingga otot pernafasan, yang dapat

menyebabkan kematian gagal napas


Mulai bergejala dalam hitungan menit setelah tergigitmengalami kelemahan yang
progresif.
Kematian terjadi setelah 5-15 jam
Contoh jenis ular yang memiliki racun neurotoksin adalah jenis elapidae seperti
ular Kobra
Gejala yang segera muncul:

Sensasi seperti ditusuk jarum pada tempat gigitan, akan menyebar keseluruh tubuh dalam
2-5 menit setelah gigitan
Udem minimal disekitar tempat gigitantidak meluas
Gigitannya sendiri tidak nyeri
http://www.chm.bris.ac.uk/webprojects2003/stoneley/types.htm

Gejala Lain Neurotoksin:


Fang marks
Nyeri abdomen dan otot
Abdominal
Drowsiness.
Ptosis
Paralisis otot leherkepala
terkulai
Hilangnya koordinasi otot
Kesulitan berbicara 20 minutes
setelah gigitan
Mual dan muntah
Disfagia Konstriksi esofagus
Peningkatan salivasikarena
tidak dapat menelan
Peningkatan produksi keringat

Tremor otot(fasiciculation)

Menyerang motor neuron


Midriasis
Halusinasi and confusion
Hipotensi
Takikardia atau bradikardi
Paralisis flaksid
Chest tightness.
Respiratory distress.
Respiratory muscle paralyses.
Gelisah/REstlessness.
Kehilangan kontrol terhadap fungsi

tubuhinkontinensia
Koma
Mati

http://www.snakes-uncovered.com/Neurotoxic_Venom.html

Hemotoksin
jenis racun yang menyerang sistem sirkulasi

darah dalam tubuh, terdapat pula enzim pemecah


protein (proteolytic).
Akibatnya sel-sel darah akan rusak dan terjadi
penggumpalan darah, pembengkakan di
daerah sekitar luka gigitan,
beberapa menit saja korban akan merasakan sakit
yang dan terasa panas yang luar biasa.

Derajat Parrish (Gigitan Ular)


Derajat 0
Tidak ada gejala sistemik
setelah 12 jam
Pembengkakan minimal
diameter 1 cm

Derajat 2
Sama dengan derajat 1
Ptechiae, echimosis
Nyeri hebat dalam 12
jam pertama

Derajat 1
Bekas gigitan 2 taring
Bengkak dengan diameter 15 cm
Tidak ada tanda-tanda
sistemik sampai 12 jam

Derajat 3
Sama dengan derajat 2
Syok dan distress
pernafasan/ptechiae,
echimosis seluruh tubuh
Derajat 4
Sangat cepat memburuk

46. Controlling External Bleeding


Pertolongan pertama yang harus segera

dilakukan untuk menghentikan perdarahan


Memberikan

tekanan langsung
Menekan langsung sumber perdarahan dengan
kassa steril

Pressure Bandages
Apply over wound on

extremity to maintain
direct pressure
Use roller bandage to
completely cover wound
and maintain pressure

Make sure it doesnt cut off circulation


Check victims fingers and toes for circulation

Treatment
Survei primer (ABC)

selalu didahulukan
Setelah pasien stabil dan
diamankanperiksa
fraktur/dislokasi yang
dialami
Tatalaksana terpenting
untuk fraktur dan
dislokasiPembidaian,
terutama sebelum
transport
http://www.aaos.org/

47. Neurofibromas
Tumor ini terbentuk dari sel Schwann,

fibroblas, sel mast, dan pembuluh darah


Disebut juga Schwannoma
Dapat terbentuk dimanapun disepanjang
saraf
Lesi Cutaneous dan lesi
subcutaneous berbatas tegas , nodul
dapat berwarna coklat, pink, atau sewarna
kulit , teraba lunak atau kenyal.
Plexiform neurofibromas
noncircumscribed, thick, and irregular,
and they can cause disfigurement by
entwining important supportive structures

Patologi

Sel Asal

Khas

Schwannoma/n
eurofibroma

Sel schwann

Palisade , spindle cell

neurofibromatosis

Sel Schwann

Lesi di seluruh tubuh, caf


au lait, lesi plexiform, Lisch
nodules

neuroblastoma

Neuroblast, sering
dari neural crest pada
kelenjar adrenal

Massa intraabdomen , pada


anak, VMA +, gambaran
Rosette

meningioma

Meningen

Mikroskopik Whorl sign


dan Psammoma bodies

neuroma

Serabut saraf

encapsulated

48. Colonic Carcinoma


Time Course Symptoms

Findings

Early

None

None
Occult blood
in stool

Mid

Rectal
bleeding
Change in
bowel habits

Rectal mass
Blood in stool

Late

Fatigue
Anemia
Abdominal
pain

Weight loss
Abdominal
mass
Bowel
obstruction

Site Distribution

Staging

Faktor Risiko
Etiologi tumor colorectal belum diketahui secara pasti,
beberapa faktor yang diduga berperan adalah:
Faktor herediter

10-15% carcinoma colorectalkasus familial.

Usia

faktor risiko dominan


Insidensi meningkat diatas 50 tahun

Diet dan lingkungan

lebih sering terjadi pada populasi yang mengkonsumsi diet tinggi lemak
hewani dan rendah serat.

Inflammarory bowel disease

Pasien dengan Inflammatory bowel disease, khususnya colitis ulceratif


kronis, berhubungan dengan meningkatnya risiko carcinoma colorectal.

Pemeriksaan Penunjang
Fecal occult blood test (FOBT) : pemeriksaan

terhadap darah dalam feces. Ada 2 tipe pemeriksaan


darah pada feces yaitu guaiac based (pemeriksaan
kimiawi) dan immunochemical.
Endoskopi

Rectosigmoidoskopi
Fleksibel sigmoidoskopi dan colonoskopi

Pemeriksaan Penunjang
Double contrast

barium enema (DCBE):


Barium enema
dimasukkan, diikuti
dengan pemasukan udara
untuk mengembangkan
colon. Hasilnya adalah
lapisan tipis dari barium
akan meliputi dinding
sebelah dalam dari colon
yang akan terlihat pada
hasil pemeriksaan sinar X.

49. Luka Bakar

prick test (+)

http://en.wikipedia.org/wiki/Burn

Berat luka bakar:


Ringan: derajat 1
luas < 15% a/
derajat II < 2%
Sedang: derajat II
10-15% a/ derajat III
5-10%
Berat: derajat II >
20% atau derajat III
> 10% atau
mengenai wajah,
tangan-kaki,
kelamin, persendian,
pernapasan

To estimate scattered burns: patient's


palm surface = 1% total body surface
area

Parkland formula = baxter


formula
http://www.traumaburn.org/referring/fluid.shtml

Total Body
Surface Area

50. Le Fort Fracture

51. Indikasi rawat pasien luka bakar (LB)


LB derajat II > 10 % ( < 10

tahun / > 50 tahun ).


LB derajat II > 20 % ( 10
50 tahun )
LB derajat II > 30 % ( 10
50 tahun )ICU
LB yang mengenai : wajah,
leher, mata, telinga,
tangan, kaki, sendi,
genitalia.
LB derajat III > 5 %, semua
umur.

LB Listrik / Petir dengan

kerusakan jaringan
dibawah kulit
LB Kimia / Radiasi /
Inhalasi dengan penyulit.
LB dengan penyakit
Penyerta.
LB dengan Trauma
Inhalasi

http://emedicine.medscape.com/article/1277360-overview#showall

Indikasi resusitasi cairan


American Burn

Association

LB derajat II > 10 % ( < 10


tahun / > 50 tahun ).
LB derajat II > 20 % ( 10
50 tahun )

Unit Luka Bakar RSCM

LB derajat II > 10 % ( < 10


tahun / > 50 tahun ).
LB derajat II > 15% ( 10
50 tahun )

Cairan RL 4cc x BB (Kg)x

% luas luka bakar


(Baxter) dibagi 8 jam
pertama dan 16 jam
berikutnya

http://emedicine.medscape.com/article/1277360 | SOP Unit Pelayanan Khusus Luka Bakar RSUPNCM 2011

52. Intussusception

Sebagian usus masuk ke dalam bag. Usus yang lainobstruksi usus


Bayi sehat, tiba-tiba menangis kesakitan(crying spells), nyeri, Lethargy
Pada kuadran kanan atas teraba massa berbentuk sosis dan kekosongan
pada kuadran kanan bawah (Dance sign)
Usia 6 - 12 bulan
Biasanya jenis kelamin laki-laki
lethargy/irritability
Portio-like on DRE

Triad:
vomiting
abdominal pain
colicky, severe, and intermittent,drawing the legs up to the
abdomen,kicking the air, In between attacks, calm and
relieved
blood per rectum /currant jelly stool

http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/679/highlights/overview.html

ILMU PENYAKIT MATA

53. Keratitis Herpes Simpleks


Herpes simpleks virus (HSV) keratitis, sama dengan penyakit herpes

simpleks lainnya dapat ditemukan dalam dua bentuk: primer atau


rekuren.
Kebanyakan infeksi HSV pada kornea disebabkan oleh HSV tipe 1,
namun pada balita dan orang dewasa, dapat juga disebabkan oleh HSV
tipe 2. Lesi kornea yang disebabkan kedua virus tersebut tidak dapat
dibedakan.
Kerokan dari lesi epitel pada keratitis HSV mengandung sel-sel raksasa
berinti banyak.
Virus dapat dibiakkan di dalam membran khorioallantoik embrio telur
ayam dan di dalam jaringan seperti sel-sel HeLa .
Identifikasi akurat virus dilakukan menggunakan metode PCR

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007

Tanda dan gejala:


Infeksi primer biasanya berbentuk blefarokonjungtivitis
vesikular, kadang disertai keterlibatan kornea. Umumnya
self-limmited tanpa menyebabkan kerusakan mata yang
signifikan.
Iritasi, fotofobia, peningkatan produksi air mata, penurunan
penglihatan, anestesi pada kornea, demam.
Kebanyakan unilateral, namun pada 4-6% kasus dapat
bilateral
Lesi: Superficial punctate keratitis -- stellate erosion -dendritic ulcer -- Geographic ulcer
Dendritic ulcer: Lesi yang paling khas pd keratitis HSV.
Berbentuk linear, bercabang, tepi menonjol, dan memiliki
tonjolan di ujungnya (terminal bulbs), dapat dilihat dengan tes
flurosensi.
Geographic ulcer. Lesi defek epitel kornea berbentuk spt amuba

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007

Manifestations of herpetic keratitis


Live virus
Epithelium
Stroma

Endotheliu
m
Anterior
chamber

Dendrite,
geographic
Necrotizing keratitis

Keratouveitis

Immune
reaction

"Meta-herpetic"
Epithelial defect

Immune keratitis Microbial and


non-microbial
ulcerative
keratitis
Disciform
keratitis
Keratouveitis

Tatalaksana:
Dokter umum: RUJUK SEGERA
Debridement
Antivirus topikal, kortikosteroid (pertimbangan khusus)

Topical antiviral: trifluridine 1% 8x/day (watch for epithelial


toxicity after 1 week fo therapy), acyclovir 3% drops initially
5x/day gradually tapering down but continued for at least 3 days
after complete healing; if resistant, consider ganciclovir 0.15% gel
initially 5x/day.

Bedah
Mengontrol reaktivasi HSV: hindari demam, pajanan sinar
matahari berlebihan, imunosupresi, dll

Keratitis herpes zoster


Bentuk rekuren dari keratitis Varicella
Lesi pseudodenditik: lesi epitel yang menonjol dengan ujung
mengerucut, sedikit tonjolan pada ujungnya (terminal bulbs)

Keratitis varicella
Bentuk infeksi primer pada mata dari virus Varicella
Ciri khas: lesi pseudodendritik disertai lesi pada stroma
kornea dan uveitis
Keratitis marginal
Keratitis non infeksius, sekunder setelah konjungtivitis bakteri, terutama
Staphylococcus
Keratitis ini merupakan hasil dari sensitisasi tubuh terhadap produk bakteri. Antibodi
dari pembuluh darah di limbus bereaksi dgn antigen yang terdifusi ke dalam epitel
kornea

Keratitis bakteri
Biasanya unilateral, terjadi pd org dengan penyakit mata sebelumnya atau
mata org yang menggunakan kontak lens
Infiltrat stroma berwarna putih, edema stroma, pembentukan hipopion

Slit lamp photo demonstrating classic epithelial dendrites in


our patient after fluorescein staining.

54. Retinitis Pigmentosa


ANAMNESIS
MATA MERAH
VISUS NORMAL

MATA MERAH
VISUS TURUN

struktur yang
bervaskuler
sklera konjungtiva
tidak menghalangi
media refraksi

mengenai media
refraksi (kornea, uvea,
atau
seluruh mata)

Konjungtivitis
murni
Trakoma
mata kering,
xeroftalmia
Pterigium
Pinguekula
Episkleritis
skleritis

Keratitis
Keratokonjungtivitis
Ulkus Kornea
Uveitis
glaukoma akut
Endoftalmitis
panoftalmitis

MATA TENANG
VISUS TURUN
MENDADAK

MATA TENANG
VISUS TURUN
PERLAHAN

uveitis posterior
perdarahan vitreous
Ablasio retina
oklusi arteri atau
vena retinal
neuritis optik
neuropati optik akut
karena obat
(misalnya
etambutol), migrain,
tumor otak

Katarak
Glaukoma
retinopati
penyakit
sistemik
retinitis
pigmentosa
kelainan refraksi

54. Retinitis Pigmentosa


Kelompok penyakit

Histopatologik:

degenerasi retina herediter


yang ditandai dengan
disfungsi progresif
fotoreseptor khususnya sel
batang (rod cell).
Etiologi :

Autosomal dominant 43%


Autosomal recessive 20%
Sex linked recessive 8%
Sporadic tanpa riwayat
keluarga 20%

Degenerasi sel batang dan


kerucut
Proliferasi sel glia
Migrasi pigmen ke dalam
jaringan retina
Obliterasi sklerotik dari
pembuluh darah retina
Atrofi N II, sedangkan koroid
normal

Saat ini belum ada

pengobatan yang berhasil

Ilmu Penyakit Mata. Nana Wijaya

Gejala Klinis
Subyektif :
buta senja (hemeralopia/nictalopia).
Lapang pandang perifer menurun secara progresif dan perlahan
tubular sign.
Adaptasi gelap yang memanjang
Obyektif :
Pembuluh darah ciut tampak seperti tali
Penimbunan pigmen berupa gambaran spikula tulang/Retinal Bone
specule like pigmentation mula-mula di daerah ekuator kemudian
menyebar ke perifer dan makula
Karena geseran pigmen, gambaran pembuluh darah koroin menjadi
lebih nyata
Waxy Disc Pallor (papil pucat dan berwarna kuning tembaga) pada
stadium lanjut
Makula tampak seperti moth eaten appearance

Ilmu Penyakit Mata. Nana Wijaya

Pemeriksaan Penunjang
Tes lapang pandang (goldman perimetry, Humphrey

Analyzer)
Funduskopi
Electroretinography/ERG (Respon subnormal atau
negatif)
Dark Adaptometry (memanjang)
Electrooculography/EOG (peningkatan sinar yang
tidak lazim)
fundus Fluorescein angiography/ FFA

55. Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of the
membrane lining the eyelids (conjunctiva)
Pathology

Etiology

Feature

Treatment

Bacterial

staphylococci
streptococci,
gonocci
Corynebacter
ium strains

Acute onset of redness, grittiness,


burning sensation, usually bilateral
eyelids difficult to open on waking,
diffuse conjungtival injection,
mucopurulent discharge, Papillae
(+)

topical antibiotics
Artificial tears

Viral

Adenovirus
herpes
simplex
virus or
varicellazoster virus

Unilateral watery eye, redness,


discomfort, photophobia,
eyelid edema & pre-auricular
lymphadenopathy, follicular
conjungtivitis,
pseudomembrane (+/-)

Days 3-5 of worst,


clear up in 714 days
without treatment
Artificial tears relieve
dryness and
inflammation (swelling)
Antiviral herpes
simplex virus or
varicella-zoster virus

http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html

Pathology

Etiology

Feature

Treatment

Fungal

Candida spp.
can cause
conjunctivitis
Blastomyces
dermatitidis
Sporothrix
schenckii

Not common, mostly occur in


immunocompromised patient,
after topical corticosteroid and
antibacterial therapy to an
inflamed eye

Topical antifungal

Vernal

Allergy

Chronic conjungtival bilateral


inflammation, associated
atopic family history, itching,
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Hornertrantas dots

Removal allergen
Topical antihistamine
Vasoconstrictors

Inclusion

Chlamydia
trachomatis

several weeks/months of red,


irritable eye with
mucopurulent sticky discharge,
acute or subacute onset, ocular
irritation, foreign body
sensation, watering, unilateral
,swollen lids,chemosis
,Follicles

Doxycycline 100 mg
PO bid for 21 days
OR
Erythromycin 250
mg PO qid for 21 days
Topical antibiotics

Conjunctivitis

Follicles

Papillae

Redness

Chemosis

Purulent discharge

56. AMBLIOPIA
Ambliopia/ "lazy eye" hilangnya kemampuan salah satu mata

untuk melihat detail.


Terjadi ketika jalur saraf dari salah satu mata menuju otak tidak
berkembang semasa kanak-kanak.
Hal ini terjadi karena mata yg rusak mengirimkan gambar yang
kabur/salah ke otak otak mjd bingung akhirnya otak
mengacuhkan gambar dr mata yg rusak itu.
Biasanya muncul sebelum usia 6 tahun
Penyebab :

Strabismus (paling sering)


Katarak kongenital
Kelainan refraksi, terutama jika perbedaanantara kedua mata terlalu besar

Tatalaksana:
Koreksi penyebab: kacamata, kontak lens
Menutup mata yang lebih baik (part-time or full-time) utk menstimulasi mata
yg ambliopia.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001014.htm
http://www.aoa.org/patients-and-public/eye-and-vision-problems/glossary-of-eye-and-vision-conditions/amblyopia

57. Presbiopia

Koreksi lensa positif

untuk menambah
kekuatan lensa yang
berkurang sesuai usia

Kekuatan lensa yang

biasa digunakan:
+ 1.0 D usia 40
tahun
+ 1.5 D usia 45 tahun
http://www.ivo.gr/files/items/1/145/51044.jpg

+ 2.0 D usia 50 tahun


+ 2.5 D usia 55 tahun
+ 3.0 D usia 60 tahun

58-59. GLAUKOMA
ANAMNESIS
MATA MERAH
VISUS NORMAL

MATA MERAH
VISUS TURUN

struktur yang
bervaskuler
sklera konjungtiva
tidak menghalangi
media refraksi

mengenai media
refraksi (kornea, uvea,
atau
seluruh mata)

Konjungtivitis
murni
Trakoma
mata kering,
xeroftalmia
Pterigium
Pinguekula
Episkleritis
skleritis

Keratitis
Keratokonjungtivitis
Ulkus Kornea
Uveitis
glaukoma akut
Endoftalmitis
panoftalmitis

MATA TENANG
VISUS TURUN
MENDADAK

MATA TENANG
VISUS TURUN
PERLAHAN

uveitis posterior
perdarahan vitreous
Ablasio retina
oklusi arteri atau
vena retinal
neuritis optik
neuropati optik akut
karena obat
(misalnya
etambutol), migrain,
tumor otak

Katarak
Glaukoma
retinopati
penyakit
sistemik
retinitis
pigmentosa
kelainan refraksi

Glaukoma
Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang

berhubungan dengan peningkatan tekanan bola mata


(TIO Normal : 10-24mmHg)
Ditandai : meningkatnya tekanan intraokuler yang
disertai oleh pencekungan diskus optikus dan
pengecilan lapangan pandang
TIO tidak harus selalu tinggi, Tetapi TIO relatif tinggi
untuk individu tersebut.

Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

Jenis Glaukoma :
Primer yaitu timbul pada mata yang mempunyai bakat bawaan, biasanya
bilateral dan diturunkan.
Sekunder yang merupakan penyulit penyakit mata lainnya (ada penyebabnya)
biasanya Unilateral
Mekanisme : Gangguan aliran keluar humor akueus akibat kelainan

sitem drainase sudut kamera anterior (sudut terbuka) atau


gangguan akses humor akueus ke sistem drainase (sudut tertutup)
Pemeriksaan :

Tonometri : mengukur tekanan Intraokuler (TIO)


Penilaian diskus optikus : pembesaran cekungan diskus optikus dan pemucatan
diskus
Lapang pandang
Gonioskopi : menilai sudut kamera anterior sudut terbuka atau sudut tertutup

Pengobatan : menurunkan TIO obat-obatan, terapi bedah atau

laser

Glaukoma
179

glaucoma that develops after the


3rd year of life

Jenis Glaukoma
Causes

Etiology

Clinical

Acute Glaucoma

Pupilllary block

Acute onset of ocular pain, nausea, headache, vomitting, blurred


vision, haloes (+), palpable increased of IOP(>21 mm Hg),
conjunctival injection, corneal epithelial edema, mid-dilated
nonreactive pupil, elderly, suffer from hyperopia, and have no
history of glaucoma

Open-angle
(chronic)
glaucoma

Unknown

History of eye pain or redness, Multicolored halos, Headache, IOP


steadily increase, Gonioscopy Open anterior chamber angles,
Progressive visual field loss

Congenital
glaucoma

abnormal eye
development,
congenital infection

present at birth, epiphora, photophobia, and blepharospasm,


buphtalmus (>12 mm)

Secondary
glaucoma

Drugs
(corticosteroids)
Eye diseases (uveitis,
cataract)
Systemic diseases
Trauma

Sign and symptoms like the primary one. Loss of vision

Absolute glaucoma

end stage of all types of glaucoma, no vision, absence of pupillary


light reflex and pupillary response, stony appearance. Severe eye
pain. The treatment destructive procedure like
cyclocryoapplication, cyclophotocoagulation,injection of 100%
alcohol
http://emedicine.medscape.com/article/1206147

Mekanisme Glaukoma

Glaukoma Akut

Angle-closure (acute) glaucoma


The exit of the aqueous humor fluid is sud
At least 2 symptoms:
ocular pain
nausea/vomiting
history of intermittent blurring of vision with halos
AND at least 3 signs:
IOP greater than 21 mm Hg
conjunctival injection
corneal epithelial edema
mid-dilated nonreactive pupil
shallower chamber in the presence of occlusiondenly
blocked
http://emedicine.medscape.com/article/798811

Open-angle (chronic) Glaucoma


Most common type
Chronic and progressive

acquired loss of optic nerve


fibers
Open anterior chamber angles
Visual field abnormalities
An increase in eye pressure
occurs slowly over time
pushes on the optic nerve
Funduskopi: cupping and
atrophy of the optic disc
Risk factors

elevated intraocular pressure,


advanced age, black race, and family
history
http://emedicine.medscape.com/article/1206147

Normal Tension Glaukoma


Normal Tension Glaukoma yang terdapat pada satu ujung spektrum glaukoma

sudut terbuka kronis merupakan bentuk yang tersering menyebabkan


pengecilan lapangan pandang bilateral progressif asimptomatik yang muncul
perlahan dan sering tidak terdeteksi sampai terjadi pengecilan lapangan
pandang yang ekstensif.
Tipe glaukoma dimana nervus optic rusak dan kehilangan kemampuan melihat
dan lapangan pandang, muncul pada glaukoma sudut terbuka namun tekanan
intra okuler yang normal (<22 mmHg)
Pemeriksaan :

Tekanan intraokuler
Gonioskopi
Penilaian diskus optikus
Lapangan pandang

Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

Tatalaksana Glaukoma Akut


Tujuan : merendahkan tekanan bola mata secepatnya kemudian bila tekanan
normal dan mata tenang operasi
Supresi produksi aqueous humor
Beta bloker topikal: Timolol maleate 0.25% dan 0.5%, betaxolol 0.25% dan 0.5%,
levobunolol 0.25% dan 0.5%, metipranolol 0.3%, dan carteolol 1% dua kali sehari
dan timolol maleate 0.1%, 0.25%, dan 0.5% gel satu kali sehari (bekerja dalam 20
menit, reduksi maksimum TIO 1-2 jam stlh diteteskan)
Pemberian timolol topikal tidak cukup efektif dalam menurunkan TIO glaukoma
akut sudut tertutup.
Apraclonidine: 0.5% tiga kali sehari
Brimonidine: 0.2% dua kali sehari
Inhibitor karbonat anhidrase:
Topikal: Dorzolamide hydrochloride 2% dan brinzolamide 1% (2-3 x/hari)
Sistemik: Acetazolamide 500 mg iv dan 4x125-250 mg oral (pada glaukoma
akut sudut tertutup harus segera diberikan, efek mulai bekerja 1 jam, puncak
pada 4 jam)

Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006

Tatalaksana Glaukoma Akut


Fasilitasi aliran keluar aqueous humor
Analog prostaglandin: bimatoprost 0.003%, latanoprost 0.005%, dan travoprost
0.004% (1x/hari), dan unoprostone 0.15% 2x/hari
Agen parasimpatomimetik: Pilocarpine
Epinefrin 0,25-2% 1-2x/hari
Pilokarpin 2% setiap menit selama 5 menit,lalu 1 jam selama 24 jam
Biasanya diberikan satu setengah jam pasca tatalaksana awal
Mata yang tidak dalam serangan juga diberikan miotik untuk mencegah serangan
Pengurangan volume vitreus
Agen hiperosmotik: Dapat juga diberikan Manitol 1.5-2MK/kgBB dalam larutan 20%
atau urea IV; Gliserol 1g/kgBB badan dalam larutan 50%
isosorbide oral, urea iv
Extraocular symptoms:
analgesics
antiemetics
Placing the patient in the supine position lens falls away from the iris decreasing
pupillary block

Pemakaian simpatomimetik yang melebarkan pupil berbahaya

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGrawHill, 2007.

60. GLAUKOMA SEKUNDER


Glaucoma sekunder merupakan glaukoma yang diketahui penyebab yang

menimbulkannya. Hal tersebut disebabkan oleh proses patologis intraokular yang


menghambat aliran cairan mata (cedera, radang, tumor)
Glaukoma terjadi bersama-sama dengan kelainan lensa seperti :

Luksasi lensa anterior, dimana terjadi gangguan pengaliran cairan mata ke sudut bilik mata.
Katarak imatur, dimana akibat mencembungnya lensa akan menyebabkan penutupan sudut bilik mata
(glaukoma fakomorfik)
Katarak hipermatur, dimana bahan lensa keluar dari lensa sehingga menutupi jalan keluar cairan mata
(glaukoma fakolitik)

Glaukoma yang terjadi akibat penutupan sudut bilik mata oleh bagian lensa yang
lisis ini disebut glaukoma fakolitik, pasien dengan galukoma fakolitik akan
mengeluh sakit kepala berat, mata sakit, tajam pengelihatan hanya tinggal
proyeksi sinar.
Pada pemeriksaan objektif terlihat edema kornea dengan injeksi silier, fler berat
dengan tanda-tanda uveitis lainnya, bilik mata yang dalam disertai dengan katarak
hipermatur. Tekanan bola mata sangat tinggi

Ilyas, Sidarta., 2004. Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

61. HORDEOLUM
Peradangan supuratif kelenjar kelopak mata
Infeksi staphylococcus pada kelenjar sebasea
Gejala: kelopak bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah,

nyeri bila ditekan, ada pseudoptosis/ptosis akibat bertambah berat


kelopak
Gejala
nampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau
bawah
berwarna kemerahan.
Pada hordeolum interna, benjolan akan nampak lebih jelas
dengan membuka kelopak mata.
Rasa mengganjal pada kelopak mata
Nyeri takan dan makin nyeri saat menunduk.
Kadang mata berair dan peka terhadap sinar.
Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas

2 bentuk :
Hordeolum internum: infeksi kelenjar Meibom di dalam
tarsus. Tampak penonjolan ke daerah kulit kelopak, pus
dapat keluar dari pangkal rambut
Hordeolum eksternum: infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.
Penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal

http://www.huidziekten.nl/zakboek/dermatosen/htxt/Hordeolum.htm

Hordeolum Eksterna

Hordeolum Interna
Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas

Pengobatan

Self-limited dlm 1-2 mingu


Kompres hangat selama sekitar 10-15 menit, 4x/hari
Antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya: Gentamycin,
Neomycin, Polimyxin B, Chloramphenicol
Jika tidak menunjukkan perbaikan : Antibiotika oral
(diminum), misalnya: Ampisilin, Amoksisilin, Eritromisin,
Doxycyclin
Insisi bila pus tidak dapat keluar

Diagnosis Banding
Kalazion
Inflamasi idiopatik, steril, dan kronik dari kelenjar Meibom
Ditandai oleh pembengkakan yang tidak nyeri, muncul berminggu-minggu.
Dibedakan dari hordeolum oleh ketiadaan tanda-tanda inflamasi akut
Jika sangat besar, kalazion dapat menekan bola mata, menyebabkan
astigmatisma
Blefaritis
Radang kronik pada kelopak mata, disebabkan peradangan kronik tepi
kelopak mata (blefaritis anterior) atau peradangan kronik kelenjar Meibom
(blefaritis posterior)
Gejala: kelopak mata merah, edema, nyeri, eksudat lengket, epiforia, dapat
disertai konjungtivitis dan keratitis
Selulitis palpebra
Infiltrat difus di subkutan dengan tanda-tanda radang akut, biasanya
disebabkan infeksi Streptococcus.

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

Definisi

Gejala

Tatalaksana

Blefaritis
superfisial

Infeksi kelopak superfisial yang


diakibatkan Staphylococcus

Terdapat krusta dan bila


menahun disertai dengan
meibomianitis

Salep antibiotik
(sulfasetamid dan
sulfisoksazol),
pengeluaran pus

Hordeolum

Peradangan supuratif kelenjar


kelopak mata

Kelopak bengkak, sakit, rasa


mengganjal, merah, nyeri
bila ditekan

Kompres hangat, drainase


nanah, antibiotik topikal

Blefaritis
skuamosa

Blefaritis diseratai skuama atau


krusta pada pangkal bulu mata
yang bila dikupas tidak terjadi
luka pada kulit, berjalan
bersamaan dengan dermatitis
sebore

Etiologi: kelainan metabolik


atau jamur. Gejala: panas,
gatal, sisik halus dan
penebalan margo palpebra
disertai madarosis

Membersihkan tepi
kelopak dengan sampo
bayi, salep mata, dan
topikal steroid

Meibomianitis

Infeksi pada kelenjar meibom

Tanda peradangan lokal


pada kelenjar tersebut

Kompres hangat,
penekanan dan
pengeluaran pus,
antibiotik topikal

Blefaritis Angularis

Infeksi Staphyllococcus pada


tepi kelopak di sudut kelopak
atau kantus

Gangguan pada fungsi


pungtum lakrimal, rekuren,
dapat menyumbat duktus
lakrimal sehingga
mengganggu fungsi
lakrimalis

Dengan sulfa, tetrasiklin,


sengsulfat

Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas

62. KELAINAN REFRAKSI: HIPERMETROPIA

ANAMNESIS
MATA MERAH
VISUS TURUN

MATA MERAH
VISUS NORMAL
struktur yang
bervaskuler
sklera
konjungtiva
tidak
menghalangi
media refraksi
Konjungtivitis
murni
Trakoma
mata kering,
xeroftalmia
Pterigium
Pinguekula
Episkleritis
skleritis

mengenai media
refraksi (kornea,
uvea, atau
seluruh mata)

Keratitis
Keratokonjungtivitis
Ulkus Kornea
Uveitis
glaukoma akut
Endoftalmitis
panoftalmitis

MATA TENANG
VISUS TURUN
MENDADAK

uveitis posterior
perdarahan vitreous
Ablasio retina
oklusi arteri atau
vena retinal
neuritis optik
neuropati optik akut
karena obat
(misalnya
etambutol), migrain,
tumor otak

MATA TENANG
VISUS TURUN
PERLAHAN
Katarak
Glaukoma
retinopati
penyakit
sistemik
retinitis
pigmentosa
kelainan refraksi

HIPERMETROPIA
Gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar

sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik


fokusnya terletak di belakang retina (di belakang
makula lutea)
Etiologi :

sumbu mata pendek (hipermetropia aksial),


kelengkungan kornea atau lensa kurang (hipermetropia
kurvatur),
indeks bias kurang pada sistem optik mata
(hipermetropia refraktif)

Gejala : penglihatan jauh dan dekat kabur, sakit

kepala, silau, rasa juling atau diplopia

Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas ; dasar teknik Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata, sidarta Ilyas

HIPERMETROPIA
Pengobatan : Pemberian lensa sferis
positif akan meningkatkan kekuatan
refraksi mata sehingga bayangan akan
jatuh di retina
koreksi dimana tanpa siklopegia
didapatkan ukuran lensa positif
maksimal yang memberikan tajam
penglihatan normal (6/6), hal ini untuk
memberikan istirahat pada mata.
Jika diberikan dioptri yg lebih kecil,
berkas cahaya berkonvergen namun
tidak cukup kuat sehingga bayangan
msh jatuh dibelakang retina, akibatnya
lensa mata harus berakomodasi agar
bayangan jatuh tepat di retina.
Contoh bila pasien dengan +3.0 atau
dengan +3.25 memberikan tajam
penglihatan 6/6, maka diberikan
kacamata +3.25

Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas

BENTUK HIPERMETROPIA
Hipermetropia total = laten + manifest

Hipermetropia yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan siklopegia

Hipermetropia manifes = absolut + fakultatif

Yang dapat dikoreksi dengan kacamata positif maksimal dengan hasil


visus 6/6
Terdiri atas hipermetropia absolut + hipermetropia fakultatif
Hipermetropia ini didapatkan tanpa siklopegik

Hipermetropia absolut :

Sisa/ residual dari kelainan hipermetropia yang tidak dapat diimbangi


dengan akomodasi
Hipermetropia absolut dapat diukur, sama dengan lensa konveks
terlemah yang memberikan visus 6/6

Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas

BENTUK HIPERMETROPIA
Hipermetropia fakultatif :

Dimana kelainan hipermetropia dapat diimbangi sepenuhnya dengan


akomodasi
Bisa juga dikoreksi oleh lensa
Dapat dihitung dengan mengurangi nilai hipermetrop manifes
hipermetrop absolut

Hipermetropia laten:

Hipermetropia yang hanya dapat diukur bila diberikan siklopegia


bisa sepenuhnya dikoreksi oleh tonus otot siliaris
Umumnya lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan dewasa.
Makin muda makin besar komponen hipermetropia laten, makin tua akan
terjadi kelemahan akomodasi sehingga hipermetropia laten menjadi
fakultatif dan kemudia menjadi absolut

Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas & Manual of ocular diagnosis and therapy

Contoh pasien hipermetropia, 25 tahun, tajam penglihatan

OD 6/20
Dikoreksi dengan sferis +2.00 tajam penglihatan OD 6/6
Dikoreksi dengan sferis +2.50 tajam penglihatan OD 6/6
Diberi siklopegik, dikoreksi dengan sferis +5.00 tajam
penglihatan OD 6/6
ARTINYA pasien memiliki:
Hipermetropia absolut sferis +2.00 (masih berakomodasi)
Hipermetropia manifes Sferis +2.500 (tidak berakomodasi)
Hipermetropia fakultatif sferis +2.500 (+2.00)= +0.50
Hipermetropia laten sferis +5.00 (+2.50) = +2.50

63. Defisiensi vitamin A


Vitamin A meliputi retinol, retinil ester, retinal dan

asam retinoat. Provitamin A adalah semua


karotenoid yang memiliki aktivitas biologi karoten
Sumber vitamin A: hati, minyak ikan, susu &
produk derivat, kuning telur, margarin, sayuran
hijau, buah & sayuran kuning
Fungsi: penglihatan, diferensiasi sel, keratinisasi,
kornifikasi, metabolisme tulang, perkembangan
plasenta, pertumbuhan, spermatogenesis,
pembentukan mukus
Kliegman RM. Nelsons textbook of pediatrics, 19th ed. McGraw-Hill; 2011

Konjungtiva normalnya memiliki sel goblet.

Hilangnya/ berkurangnya sel goblet secara drastis


bisa ditemukan pada xerosis konjungtiva.
Gejala defisiensi:

Okular (xeroftalmia): rabun senja, xerosis konjungtiva &


kornea, keratomalasia, bercak Bitot, hiperkeratosis folikular,
fotofobia
Retardasi mental, gangguan pertumbuhan, anemia,
hiperkeratosis folikular di kulit

Xerophthalmia (Xo)
Stadium :

XN
X1A
X1B
X2
X3A
X3B
XS
XF

: night blindness (hemeralopia)


: xerosis conjunctiva
: xerosis conjunctiva (with bitots spot)
: xerosis cornea
: Ulcus cornea < 1/3
: Ulcus cornea > 1/3, keratomalacea
: Corneal scar
: Xeroftalmia fundus

Therapy & Prevention


Therapy :

- Day 1 : 100.000 IU im or 200.000 IU oral


- Day 2 : 100.000 IU im or 200.000 IU oral
- Day 14 / worsened / before discharge :
200.000 IU im / oral

Prevention (every 6 months):


< 6 months
: 50.000 IU oral
6 12 months
: 100.000 IU oral
> 1 year
: 200.000 IU oral

X2
Dryness of cornea

Wrinkle and hyperpigmentation


29

X3B
Ulkus kornea > 1/3

Keratomalacea
30

XS
Corneal scar

Bitots Spot

Xerophtalmia

Follicular hyperkeratosis

64. Ciliary Injection

Ciliary injection: involves branches of the anterior

ciliary arteries.
Indicates inflammation of the cornea, iris or ciliary
body.

Conjunctival Injection
Conjunctival Injection: mainly affects the posterior

conjunctival blood vessels.


Because these vessels are more superficial than the
ciliary arteries, they produce more redness and
constrict with vasoconstrictors.

Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006

65. PTERIGIUM

Pterigium

Pertumbuhan fibrovaskuler
bersifat
degeneratif
dan invasif
konjungtiva,
bersifat
degeneratif
Terletak pada celah kelopak bagian nasal
dan invasif
ataupun
temporal konjungtiva yang meluas
ke daerah kornea

Terletak pada celah kelopak bagian


Mudah meradang
nasal ataupun
temporal
konjungtiva
Etiologi:
iritasi kronis
karena debu,
cahaya
matahari,
udara panas
yang meluas
ke daerah kornea
Keluhan : asimtomatik, mata iritatif, merah,
astigmat (akibat kornea
mungkin
Mudahterjadi
meradang
tertarik oleh pertumbuhan pterigium),
penglihatan
tajam
Etiologi:
iritasimenurun
kronis karena debu,
Tes
sonde (+)
ujung sonde
tidak
cahaya
matahari,
udara
panas
kelihatan pterigium
Pengobatan
Padamerah,
pterigium
Keluhan ::konservatif;
mata iritatif,
derajat 1-2 yang mengalami inflamasi,
mungkin
terjadi astigmat
pasien
dapat diberikan
obat tetes mata
antibiotik dan steroid 3 kali
kombinasi
Pengobatan
konservatif;
operasi
sehari selama 5-7 :hari.
Pada pterigium
derajat
3-4 dilakukan
tindakan
bedah
bila terjadi
gangguan
penglihatan
Pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva,

DERAJAT PTERIGIUM
Derajat 1: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
Derajat 2: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi

tidak lebih dari 2 mm melewati kornea


Derajat 3: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak
melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal
(diameter pupil sekitar 3-4 mm)
Derajat 4: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil
sehingga mengganggu penglihatan

59. Kelainan Konjungtiva

PTERIGIUM DIAGNOSIS BANDING


Pterigium

a benign growth of the conjunctiva

commonly grows from the nasal side


of the sclera, wedge shaped area of
fibrosis that appears to grow into the
cornea. Symptoms: foreign body
sensation, tearing, redness

Pinguecula

a common type of conjunctival degeneration in the


eye

a yellow-white deposit on the


conjunctiva adjacent to the limbus
(the junction between the cornea
and sclera). Usually no symptoms

Episkleritis

a benign, self-limiting inflammatory disease affecting


part of the eye called the episclera (is a thin layer of
tissue that lies between the conjunctiva and the
connective tissue layer that forms the white of the
eye)

characterized by the abrupt onset of


eye pain and redness

Pseudopterigium

Adhesion of the conjunctiva to the peripheral cornea.


may result from a peripheral corneal ulcer and ocular
surface inflammation such as cicatrizing
conjunctivitis, chemical burns, or may also occur
secondary to chronic mechanical irritation from
contact lens movement

May occur on any quadrant of the


cornea, Lacks firm adhesion
throughout the underlying
structures, and occasionally has a
broad leading edge on the corneal
surface.

Konjungtivitis

inflammation of the conjunctiva (the outermost layer


of the eye and the inner surface of the eyelids)

Red eye, epiphora, chemosis, normal


visual acuity

66. Ethambutol Optic Neuropathy


Efek samping ganguan penglihatan biasanya bersifat bilateral

yang merupakan neuritis retrobular

penurunan ketajaman penglihatan


hilangnya kemampuan membedakan warna merah-hijau

Membaik bila etambutol dihentikan.

Uji ketajaman mata secara periodik sebaiknya dilakukan selama

pengobatan.
Bersifat dose related
Dengan dosis 15 mg/kg atau kurang, gangguan visual sangat
jarang terjadi
In most cases of medication-related optic neuropathy, immediate
cessation of the offending agent is the only treatment option

Patogenesis Toksisitas Etambutol

Manifestasi Klinis
Onset biasanya terlambat dan mungkin terjadi

dalam beberapa bulan setelah terapi dimulai.


Gejala klinis pada mata bervariasi:

pandangan kabur yang progresif pada kedua mata atau


menurunnya persepsi warna.
Penglihatan sentral merupakan gangguan yang paling sering
Beberapa individu asimtomatik dengan abnormalitas dan
terdeteksi hanya saat tes penglihatan

NEUROLOGI

67. Glasgow Coma Scale

68. Miller-Fisher Syndrome


Miller-Fisher syndrome merupakan variasi dari Guillain-Barre

syndrome.
Manifestasi klinis yang sering adalah didapatkan kelemahan otot
mata yang menyebabkan penglihatan ganda atau kabur dan dapat
menyebabkan ptosis, kelemahan otot yang sifatnya descending,
sehingga sering menyebabkan jatuh.
Pemeriksaan neurologis sering menyebabkan kelumpuhan LMN
Pada miller-fisher syndrome pada umumnya sering didahului oleh
infeksi saluran napas akut atau diare akut.
Pada pemeriksaan cairan spinal didapatkan peningkatan protein
Didapatkan anti-GD3 +
Tatalaksana: intravenous immunoglobulin

69. Amyotrophic Lateral Sclerosis


Disebut juga penyakit Lou Gehrig atau Penyakit Charcot
Amyotrophic Lateral Sclerosis adalah penyakit degeneratif sistem saraf motorik

yang paling sering dijumpai.


Bersifat incurable dan fatal dengan median survival 3 tahun.
Terapi yang ada bersifat meningkatkan kualitas dan median survival pada pasien
Gejala awal dapat bermanifestasi pada ekstremitas atas, ekstermitas bawah,
maupun otot wajah.
Kelemahan yang terjadi dapat bersifat LMN (pada tipe klasik), UMN, maupun
kombinasi UMN dan LMN.
Pada suatu kelemahan otot yang atrofi, terdapat fasikulasi, namun disertai
peningkatan tonus dan refleks curigailah suatu kelainan kombinasi UMN dan LMN.
Patofisiologi ALS terdiri dari banyak hipotesis seperti adanya eksitotoksisitas,
degenerasi aksonal yang berakibat adanya kematian sel, dan hipotesis mengenai
adanya perubahan metabolisme RNA.

Manifestasi Klinis ALS


Gejala awal adanya keterlibatan ekstermitas inferior: pasien sering

jatuh, sering merasa tersandung, foot drop, slapping gait.


Gejala awal adanya keterlibatan ekstremitas superior: berkurangnya
kelenturan jari kedua tangan, kram, kaku, dan kelemahan kedua
tangan. Kelemahan otot biasanya dimulai dari otot intrinsik telapak
tangan.
Gejala awal adanya keterlibatan otot bulbar: bicara pelo,
hoarseness, atau menurunnya volume bicara, dapat dijumpai
aspirasi atau tersedak pada saat makan, disfagia, dan drooling.
Dapat disertai gejala emosional atau kognitif seperti depresi,
perubahan perilaku sosial, dan gangguan fungsi luhur.
Gejala pada stadium lanjut didapatkan atropi otot lebih jelas,
spastisitas, sering terjadi kram otot, dan dapat didapatkan
kontraktur.

Prinsip Tatalaksana ALS


Oleh karena ALS masih tidak dapat disembuhkan secara

sempurna, terapi yang dilakukan ditujukan bersifat


simtomatis, suportif, dan memberikan edukasi yang baik
kepada pasien dan keluarganya mengenai keadaan
pasien saat ini.
Riluzole, suatu antagonis glutamat adalah satu-satunya
obat yang telah memiliki efikasi untuk meningkatkan
median survival pada ALS.
Prognosis lebih buruk didapatkan pada penderita ALS
yang disertai depresi, frontotemporal demensia, dan
gangguan lobus frontalis.

70. Pola
Pernapasan

71. Skor Siriraj

Interpretasi:

Skor > +1 berarti


skor hemoragik,
skor < -1 berarti
stroke infark,
skor diantara +1
sampai -1 berarti
tidak pasti

72. Tumor Otak


Tumor otak dapat berasal dari elemen sistem saraf pusat di dalam otak atau

metastasi jauh dari organ lain. Tumor yang sering didapatkan glioma, meningioma,
adenoma pituitari, dan neuroma akustikus.
Tumor otak biasanya memberikan gejala yang bersifat slowly progressive, tetapi
dapat disertai manifestasi akut apabila terjadi perdarahan atau obstruksi ventrikel
ke tiga oleh karena tumor.
Gejala non spesifik adalah: nyeri kepala, perubahan stats mental, ataksia, mual,
muntah, kelemahan, dan perubahan postur.
Selain gejala tersebut, tumor otak dapat menimbulkan kejang fokal, perubahan
lapangan pandang penglihatan, gangguan bicara, dan gangguan sensoris fokal.
Nyeri kepala yang disebabkan tumor pada umumnya gejala non spesifik dan
menyerupai tension-type headache, terdapat perubahan pola nyeri kepala, dan
adanya nyeri kepala baru pada pasien usia anak-anak, paruh baya atau madya harus
dicurigai adanya tumor, dan lokasi nyeri tidak selalu memberikan gambaran pasti
dari letak tumor.
Efek dari kumulatif dari invasi tumor, edema, dan hidrosefalus adalah
meningkatkanya tekanan intra kranial dan gangguan perfusi pada otak dan pada
akhirnya dapat menyebabkan herniasi otak.

Diagnosis Tumor Otak


Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisis dan

neurologis untuk menilai kelainan klini neurologis yang


didapatkan.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah: darah perifer
lengkap, fungsi koagulasi, analisis elektrolit, dan pemeriksaan
hormon.
Pemeriksaan imejing yang dilakukan untuk mendukung
diagnosis adalah CT-scan atau MRI
Jenis histopatologi dari tumor otak meliputi glioma
(glioblastoma multiforme, astrositoma, ependimoma,
oligodendroglioma), meningioma, neuroblastoma, pinealoma,
kraniofaringioma, dan neurinoma nervus akustikus.

73. Alur
Tatalaksana
Stroke

Tatalaksana Stroke
Stabilisasi jantung
dan pernafasan
Manajemen
cairan dan
elektrolit

Manajemen
tekanan darah

Pasang EKG

Rehidrasi IV dgn cairan isotonik 50


150 cc/jam

Pada SI, pemberian antihipertensi pada jamjam pertama berbahaya


Indikasi pemberian antihipertensi:
SI : TDS > 220 mmHg/TDD > 120 mmHg
SH : TDS > 180 mmHg/TDD > 110 mmHg
Penurunan TD perlahan-lahan ( 25 % dalam
1 jam pertama) dgn dosis titrasi (pilihan
Nicardipin atau Diltiazem)

Advanced Neurology Life Support 2011 | Hacke, W. et al, Cerebrovasc Dis 2000;10(suppl 3):2233 | PERDOSSI, Guideline Stroke 2007.

Manajemen
peninggian TIK

Tinggikan posisi kepala dan badan bagian atas


1530
Osmoterapi (bila ada indikasi)
Manitol 0.25 1 gr/kgBB, dapat diulangi 2 6
jam, dilanjutkan 310 - 320 mOsm/L.
Dapat ditambahkan Furosemide 1 mg/kg i.v. (15
menit setelah manitol)

Penanganan
kejang
Kontrol
hiperglikemia
akut
Pengaturan
suhu

Turunkan GD dengan target <150


gr/dL dengan pemberian insulin

Jaga suhu tubuh < 37.50 C

Advanced Neurology Life Support 2011

74. Vertigo
Vertigo perifer: suatu vertigo yang disertai dengan mual, muntah,

dan tinnitus. Nistagmus dapat juga timbul pada vertigo tersebut.


Pasien merasakan sensasi berputar kontralateral dari lesi sehingga
mengalami kesulitan berjalan dan jatuh ke arah sisi lesi pada saat
situasi gelap atau mata tertutup. Tempat patologis biasanya terjadi
pada telinga dalam atau sistem vestibular sehingga sering disebut
otologi vertigo
Vertigo sentral: suatu vertigo yang disebabkan kelainan pada
batang otak atau sistem saraf pusat dan berasosiasi dengan adanya
gejala batang otak atau sistem serebelar seperti disartria, diplopia,
disfagia, sendawa, kelainan sistem saraf kranial, ataksia. Nistagmus
yang terjadi dapat bersifat multidireksional, bersifat kronik, dan
tidak disertai oleh gejala pendengaran.

Etiologi vertigo
Vestibulum
Eight nerve
Retikulum
batang otak
Tabes dorsalis
Imagination
Generalized
illness
Ophthalmic
disease

Tatalaksana Vertigo
Tujuan tatalaksana vertigo adalah mengurangi gejala

vertigo, mengurangi morbiditas.


Obat yang digunakan adalah betahistin mesylate,meclizine,
dimenhydrinate, derivat fenotiazin, dan derivat
benzodiazepin

75. Migrain

76. Status epileptikus


Suatu keadaan kejang atau serangan epilepsi yang terus-

menerus disertai kesadaran menurun selama > 30 menit;


atau kejang beruntun tanpa disertai pemulihan
kesadaran yang sempurna.
Merupakan keadaan gawat darurat menyebabkan

kematian dan kecacatan permanen


Tatalaksana : Perbaiki jalan nafas, pasang jalur IV,

diazepam 0,3mg/kgBB IV sampai maksimum 20 mg,


dapat diulang jika masih kejang stlh 5 menit, bila kejang
teratasi lanjutkan dengan fenitoin IV 18mg/kgBB

77. Epilepsi parsial


Epilepsi parsial adalah serangan epilepsi yang bangkit akibat lepas muatan

listrik di suatu daerah di korteks serebri. Terbagi menjadi epilepsi parsial


sederhana dan epilepsi parsial kompleks.
Epilepsi parsial sederhana memiliki manifestasi yang bervariasi tergantung
dari susunan saraf pusat yang terkena, bisa dengan gejala motorik,
sensorik, autonom, maupun psikis. Epilepsi tipe ini terbagi menjadi
epilepsi parsial sederhana dengan gejala motorik dan epilepsi parsial
sederhana dengan gejala sensorik.

Epilepsi parsial sederhana dengan gejala motorik memiliki fokus di girus presentralis lobus
frontalis. Kejang dimulai di daerah yang memiliki representasi luas. Manifestasi klinis
dimulai dari kejang pada ibu jari, meluas ke seluruh tangan, lengan, muka, dan tungkai.
Kadang dapat berhenti pada satu sisi dan dapat meluas hingga ke tungkai lain bahkan
menyebabkan kejang umum. Disebut pula sebagai jackson motoric epilepsy.
Epilepsi parsial sederhana dengan gejala sensorik memiliki fokus epileptik di girus
postsentralis lobus parietalis. Penderita merasa kesemutan di daerah ibu jari, lengan, muka,
dan tungkai, tanpa kejang motoris yang dapat meluas ke sisi lain. Disebut pula sebagai
jackson sensoric epilepsy.

Epilepsi parsial kompleks. Epilepsi parsial kompleks

ditandai dengan adanya gejala psikis dan automatisme


dan disertai gangguan kesadaran. Sering juga disebut
sebagai epilepsi psikomotor. Walaupun terjadi
gangguan kesadaran, penderita masih dapat
melakukan gerakan otomatis seperti mengunyah,
mengenakan pakaian, mandi, naik sepeda dan tidak
responsif dengan interaksi sosial dan dapat agresif bila
kemauannya dihalangi. Setelah serangan biasanya
diikuti dengan amnesia
Penderita sering mengalami deja vu dan jamais vu.
Pada rekaman EEG didapatkan kelainan pada lobus
temporalis
Tatalaksana epilepsi parsial adalah carbamazepine 3 x
200 mg sebagai drug of choice.

78. Dermatom Sensoris

79. Parkinson

Penyakit Parkinson: kelainan degeneratif pada

sistem saraf pusat.


Patofisiologi yang terjadi akibat kematian sel di
substansia nigra yang menghasilkan dopamin.
Terdapat akumulasi alfa sinuklein protein yang
memberikan gambaran Lewys bodies
Manifestasi klinis: tremor, rigiditas, bradikinesia,
demensia, gangguan tidur, depresi, dan lain-lain.

Terapi stadium awal: fisioterapi dan medikasi

(levodopa, preparat agonis dopamin)


Terapi stadium lanjut: dilakukan pada pasien
dengan pemberian levodopa lebih dari 5 tahun.
Medikasi dengan MAO-B dan COMT inhibitor.
MAO-B: Monoamin oksidase
COMT: Catechol-O Methyltransferase

80. Carpal Tunnel Syndrome


Carpal tunnel syndrome
Merupakan kompresi nervus medianus oleh karena
penggunaan telapak tangan secara berlebihan dan
mikrotrauma.
Manifestasi gejala umumnya berupa gejala sensoris.
Kehilangan fungsi sensoris karena adanya gejala superfisial
yang terjadi di daerah palmar di digiti I, II, III, dan setengah
digiti IV.
Parestesi umumnya memburuk pada malam hari
Nyeri dapat menjalar ke lengan bawah hingga ke biseps dan
otot bahu.
Modalitas terapi: Rehabilitasi fisik, farmakologis (injeksi
steroid dan NSAID), bedah

Pemeriksaan CTS

ILMU PSIKIATRI

81. Gangguan Kepribadian

Diagnosis

Ciri

Paranoid

curiga, sensitif, dendam.

Skizoid

tidak peduli, afek datar, tidak ingin berteman.

Dissosial

tidak peduli perasaan, tidak bertanggung jawab,


tidak merasa bersalah, tidak mampu memelihara
hubungan

Histrionik

teatrikal, labil, terlalu peduli fisik.

Anankastik

perfeksionis, kaku, memaksa orang lain.

Cemas menghindar

tegang, peka kritik & penolakan, menghindari


aktivitas sosial

Dependen

bergantung pada orang lain


PPDGJ

Gangguan Kepribadian Histrionik


Mnemonic "PRAISE ME
Provocative (or seductive) behavior
Relationships are considered more intimate than they actually
are
Attention-seeking
Influenced easily
Speech (style) wants to impress; lacks detail
Emotional lability; shallowness
Make-up; physical appearance is used to draw attention to self
Exaggerated emotions; theatrical

82. Psychotherapy-Counseling
Psychoterapy

Suatu usaha untuk


meringankan penderitaan
dan disabilitas psikologis
dengan menginduksi
perubahan perilaku dan
dan sikap pasien

Psychotherapy Indications
Sebagian besar diagnosis axis I dan II, baik sebagai

terapi sendiri atau kombinasi dengan yang lain


Alone or in combination with medications

Depression, anxiety disorders, eating disorders, sexual


disorders, dissociative disorders, paraphilias, addictions,
personality disorders

In combination with medications

Schizophrenia, bipolar disorder

Contraindications:

delirium, dementia, psychopathy

Types of Psychotherapy
Psychodynamic
Cognitive Behavioural therapy
Supportive

Psychodynamic Psychotherapy
Balance between here and

now relationships and early


relationships
Once per week
Face to face
6 months to several years
Anxiety and
depression, personality
disorders, somatoform
disorders, sexual
dysfunction

3 areas addressed

Ego psychology: Drive

gratification (desire and


aggression)
Freud
Object relations: How we
perceive our relationships
Klein, Fairburn, Winnicott
Attachment theory: Basic
need for affirmation,
safety, reassurance and self
esteem
Bowlby, Mahler, Fonagy

CBT : Behavioural Methods


Break patterns of avoidance or helplessness

behavioural activation
Gradually face feared situations systematic
desensitization
Build coping skills graded task assignments
Reduce painful emotions and physiological arousal
breathing and relaxation training
Indikasi: Fobia

Supportive Psychotherapy
Reduction in anxiety through empathy, concern and

understanding
Strengthen healthy or effective mechanisms of
coping
Helpful for most psychiatric disorders
Often used in conjunction with other treatments

Psikoanalisis
Cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund

Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi


dan perilaku psikologis manusia
Dikaitkan dengan perkembangan kepribadian mulai
dari masa kanak
Tidak digunakan sebagai terapi, tapi sebagai analisis
tentang suatu kepribadian dan prilaku yang
menyimpang

83. Ansietas
Diagnosis

Characteristic

Gangguan panik

Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan


perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.
Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa
adanya provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan
yang relatif bebas dari gejala di antara serangan
panik.

Gangguan fobik

Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau
situasi, antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit,
cedera, dan kematian.

Gangguan penyesuaian

Gejala emosional (ansietas/afek depresif ) atau perilaku dalam


waktu <3 bulan dari awitan stresor. Tidak berhubungan
dengan duka cita akibat kematian orang lain.

Gangguan cemas
menyeluruh

Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik


(gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).

Gangguan panik
Serangan ansietas yang intens & akut disertai
dengan perasaan akan datangnya kejadian
menakutkan.
Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa
adanya provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan
yang relatif bebas dari gejala di antara serangan panik
Tanda fisis:
Takikardia, palpitasi, dispnea, dan berkeringat.
Serangan umumnya berlangsung 20-30 menit, jarang melebihi
1 jam.

Tatalaksana: terapi kognitif perilaku + antidepresan.


PPDGJ
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

84. Ketergantungan Zat (DSM-IV)


Ketergantungan zat
Adanya dorongan yang kuat
untuk menggunakan zat
Kesulitan mengendalikan
prilaku menggunakan zat saat
memakai atau dalam usaha
menghentikan
tetap menggunakan walaupun
terjadi masalah akibat
menggunakan zat tersebut
Peningkatan dosis (toleransi)
gejala withdrawal
Mengabaikan menikmati
kesenangan atau minat lain

Penyalahgunaan zat
(1) penggunaan berulang yang
berakibat kesulitan
menyelesaikan tugas
pekerjaan, sekolah, atau di
rumah
(2) menggunakan zat pada
situasi berbahaya (berkendara
saat mabuk)
(3) menyebabkan masalah
hukum
(4) tetap menggunakan meski
menyebabkan masalah sosial
atau interpersonal

Ketergantungan psikis
Suatu keinginan untuk terus meminum suatu obat untuk

menimbulkan rasa senang atau untuk mengurangi


ketegangan dan menghindari ketidaknyamanan
Obat-obat yang menyebabkan ketergantungan psikis
biasanya bekerja di otak
Efek:

mengurangi kecemasan dan ketegangan


menyebabkan kegembiraan, euforia (perasaan senang yang
berlebihan) atau perubahan emosi yang menyenangkan lainnya
menyebabkan perasaan meningkatnya kemampuan jiwa dan fisik
mengubah persepsi fisik

Ketergantungan fisik
Suatu kondisi dimana tubuh menyesuaikan diri terhadap

obat yang dipakai secara terus menerus sehingga


menimbulkan toleransi dan jika pemakaiannya dihentikan,
akan timbul gejala putus obat

Adiksi/ketagihan
Withdrawal
Perbuatan kompulsif (yang
Syndrome/ Gejala
terpaksa dilakukan) dan
Putus Obat
keterlibatan yang berlebihan
terhadap suatu kegiatan
Kumpulan gejala yang
tertentu
muncul saat
Aspek psikososial yang
menghentikan atau
berhubungan dengan
menurunkan dosis obat
ketergantungan obat
karena kecanduan atau
ketergantungan terhadap Toleransi obat
sebuah kondisi yang ditandai
obat yang sudah lama
oleh penurunan efek obat
digunakan
pada pemberian berulang
Intoksikasi
Kondisi peralihan yang
Overdosis zat
timbul akibat penggunaan
Pemakaian zat yang
zat psikoaktif sehingga
melebihi dosis sehingga
terjadi gangguan kesadaran,
fungsi kognisi, persepsi, afek
menyebabkan efek toksik
atau perilaku dan fungsi
atau letal terhadap tubuh
psikososial

Gejala Putus Obat Putaw (Sakaw)


Tulang dan sendi terasa sangat ngilu dan

meriang
sakit kepala, demam, dan kadang diare/muntahmuntah
mata dan hidung terus berair
mudah kedinginan (menggigil) dan banyak
berkeringat dingin
depresi dan sangat mudah marah
insomnia

Zat

Intoksikasi

Withdrawal

Alkohol

Cadel, inkoordinasi, unsteady gait, nistagmus,


gangguan memori/perhatian, stupor/koma

Hiperaktivitas otonom, tremor, insomnia,


mual/muntah, halusinasi, agitasi,
ansietas, kejang.

Heroin

Euforia, analgesia, ngantuk, mual, muntah,


napas pendek, konstipasi, midriasis, gangguan
jiwa

Miosis/midriasis, mengantuk/koma,
cadel, gangguan perhatian/memori

Kanabis/ganja
/marijuana

Injeksi konjungtiva, peningkatan nafsu makan,


mulut kering, takikardia, halusinasi,delusi

Kokain

Taki/bradikardia, dilatasi pupil,


peningkatan/penurunan TD,
perspirasi/menggigil, mual/muntah, turun BB,
agitasi/retardasi psikomotor, kelemahan otot.
Depresi napas, nyeri dada, aritmia, bingung,
kejang, distonia, koma

Disforik mood, fatigue, mimpi buruk,


insomnia/hipersomnia, peningkatan
nafsu makan, agitasi/retardasi psikomotor

Amfetamin

Taki/bradikardia, dilatasi pupil,


peningkatan/penurunan TD,
perspirasi/menggigil, mual/muntah, turun BB,
agitasi/retardasi psikomotor, kelemahan otot.
Depresi napas, nyeri dada, aritmia

Disforik mood, fatigue, mimpi buruk,


insomnia/hipersomnia, peningkatan
nafsu makan, agitasi/retardasi psikomotor

Benzodiazepin

Cadel, inkoordinasi, gangguan berjalan,


nistagmus, gangguan perhatian/memori,
stupor/koma.

Hiperaktivitas otonom, tremor, insomnia,


mual/muntah, halusinasi
visual/taktil/auditorik, agitasi psikomotor,
ansietas, bangkitan grand mal.

85. Gangguan Ansietas


Ansietas

suatu keadaan aprehensi atau khawatir yang mengeluhkan bahwa


sesuatu yang buruk akan segera terjadi

Gangguan ansietas ditandai dengan gejala fisik seperti:

kecemasan (khawatir akan nasib buruk),


Sulit konsentrasi
ketegangan motorik,
gelisah, gemetar, renjatan
rasa goyah, sakit perut, punggung dan kepala
ketegangan otot, mudah lelah
berkeringat, tangan terasa dingin
Insomnia

Gejala Umum
Gejala Psikologis

Gejala Fisik

86. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:
Harus ada minimal 1 gejala berikut:
Thought echoisi pikirannya berulang dikepalanya
Thought insertion or withdrawalisi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
Thought broadcastingisi pikirannya keluar sehingga orang lain/ umum mengetahuinya
Delusion of controlwaham tentang dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya
Delusion of influencewaham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar
Delusion of passivitywaham tentang dirinya tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar
Delusion of perceptionpengalaman inderawi yang tidak wajar
Halusinasi auditorik
Atau minimal 2 gejala berikut:
Halusinasi dari panca-indera apa saja
Arus pikiran yang terputus
Perilaku katatonik
Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul
Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Skizofrenia

Gangguan isi pikir, waham, halusinasi, minimal


1 bulan

Paranoid

merasa terancam/dikendalikan

Hebefrenik

15-25 tahun, afek tidak wajar, perilaku tidak dapat diramalkan,


senyum sendiri

Katatonik

stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea

Skizotipal

perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat magik,


pikiran obsesif berulang

Waham menetap

hanya waham

Psikotik akut

gejala psikotik <2 minggu.

Skizoafektif

gejala skizofrenia & afektif bersamaan

Residual

Gejala negatif menonjol, ada riwayat psikotik di masa lalu yang


memenuhi skizofrenia

Simpleks

Gejala negatif yang khas skizofrenia (apatis, bicara jarang, afek


tumpul/tidak wajar) tanpa didahului halusinasi/waham/gejala
psikotik lain. Disertai perubahan perilaku pribadi yang bermakna
(tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, penarikan diri).

PPDGJ

Psikofarmaka
Antipsikotik:
1st gen: klorpromazin, haloperidol.
2nd gen: klozapin, risperidone, olanzapine
Depresi:
Selective serotonin reuptake inhibitor: Fluoxetine,
sertraline, paroxetine.
Tricyclic: amitriptiline, doxepine, imipramine

Manik: lithium, carbamazepine, asam valproat


Anxiolitik: benzodiazepine, buspirone,

Psikofarmaka
Key points for using antipsychotic therapy:
1.
An oral atypical antipsychotic drug should be
considered as first-line treatment.
2.
Choice of medication should be made on the basis of
prior individual drug response, patient acceptance,
individual side-effect profile and cost-effectiveness, other
medications being prescribed and patient co-morbidities.
3.
The lowest-effective dose should always be
prescribed initially, with subsequent titration.
4.
The dosage of a typical or an atypical antipsychotic
medication should be within the manufacturers
recommended range.

Western Australian Psychotropic Drugs Committee. Antipsychotic Drug Guidelines Version 3 August 2006

Psikofarmaka
Key points for using antipsychotic therapy:
5.

6.

7.

8.

9.

Treatment trial should be at least 4-8 weeks before


changing antipsychotic medication.
Antipsychotic medications, atypical or conventional, should not
be prescribed concurrently, except for short periods to cover
changeover.
Treatment should be continued for at least 12 months, then
if the disease has remitted fully, may be ceased gradually over
at least 1-2 months.
Prophylactic use of anticholinergic agents should be determined
on an individual basis and re-assessment made at 3-monthly
intervals.
A trial of clozapine should be offered to patients with
schizophrenia who are unresponsive to at least two adequate
trials of antipsychotic medications.

Western Australian Psychotropic Drugs Committee. Antipsychotic Drug Guidelines Version 3 August 2006

Psikofarmaka
Efficacy
1. Positive Symptoms:
With the exception of clozapine, no differences have
been clearly shown in the efficacy of typical and
atypical agents in the treatment of positive symptoms
(eg, hallucinations, delusions, disorganization).
Clozapine is more effective than typical agents.
2. Negative Symptoms:
Atypical agents may be more effective in the treatment of
negative symptoms (eg, affective flattening, anhedonia,
avolition) associated with psychotic disorders.

Psychotropic drug handbook. 2007.

Psikofarmaka
Rusdi Maslim:

CPZ & thioridazine yang sedatif kuat terutama digunakan untuk sindrom
psikosis dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif, sulit tidur.
Trifluoperazine, flufenazin, & haloperidol yg sedatif lemah digunakan
untuk sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, afek
tumpul, hipoaktif, waham, halusinasi.

87. Alcohol intoxication


DSM-IV criteria
1. Baru mengkonsumsi alkohol
2. Setelah konsumsi, timbul perilaku yang maladaptif
atau tidak dapat berfungsi dengan benar
3. Setelah konsumsi, timbul gejala neurologis:

slurred speech, inkoordinasi, unsteady, nystagmus,


gangguan kognitif

4. tidak sedang menderita penyakit atau kelainan lan

88. Cognitive Disorder

Mild Cognitive Impairment (MCI)

Suatu kondisi yang dikarakteristikkan oleh berkurangnya fungsi kognitif yang


signifikan, tanpa adanya dementia
Terutama mempengaruhi memori, tapi dapat mempengaruhi fungsi sehari-hari secara
perlahan (subtle ways)

MCI berbeda dengan Alzheimers disease atau dementia yang laintidak

mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas


sehari-hari atau menyebabkan general confusion
Sebagian besar pasien dengan MCI dapat hidup mandiritidak
memiliki kesulitan dalam berpikir, berpartisipasi dalam percakapan
sehari-hari atau aktivitas sosial, dan menyetir
Pasien cenderung mudah lupa dan melakukan tugas tidak secara
berurutan

Cognitive Disorder
If MCI progresses, memory problems become more
noticeable. Family and friends may begin to notice
signs such as:

repeating the same question over and over again.


retelling the same stories or providing the same information
repeatedly.
lack of initiative in beginning or completing activities.
trouble managing number-related tasks such as bill paying.
lack of focus during conversations and activities.
inability to follow multi-step directions.

Psychiatric Examination
Mental Status Examination
The mental status
examination is the part of the
clinical assessment that
describes the sum total of the
examiner's observations and
impressions of the psychiatric
patient at the time of the
interview.
The patient's mental status
can change from day to day or
hour to hour.

89. Gangguan Afektif


Mania
Mood harus meningkat, ekspansif, atau iritabel, dan
abnormal untuk individu yang bersangkutan. Perubahan
mood minimal berlangsung 1 minggu.
Gejala:

1) peningkatan aktivitas,
2) banyak bicara,
3) flight of idea,
4) hilangnya inhibisi dari norma sosial,
5) berkurangnya kebutuhan tidur,
6) harga diri atau ide-ide kebesaran yang berlebihan,
7) distraktibillitas atau perubahan aktivitas atau rencana yang konstan,
8) perilaku berisiko atau ceroboh tanpa menyadari akibatnya,
9) peningkatan energi seksual.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Depresi
Gejala utama:
1. afek depresif,
2. hilang minat &
kegembiraan,
3. mudah lelah &
menurunnya
aktivitas.

Gejala lainnya:
1.
2.
3.

4.
5.

6.
7.

konsentrasi menurun,
harga diri & kepercayaan diri
berkurang,
rasa bersalah & tidak berguna
yang tidak beralasan,
merasa masa depan suram &
pesimistis,
gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh
diri,
tidur terganggu,
perubahan nafsu makan (naik
atau turun).
PPDGJ

Depresi
Episode depresif ringan: 2 gejala utama + 2 gejala

lain > 2 minggu

Episode depresif sedang: 2 gejala utama + 3 gejala

lain, >2 minggu.

Episode depresif berat: 3 gejala utama + 4 gejala lain

> 2 minggu. Jika gejala amat berat & awitannya cepat,


diagnosis boleh ditegakkan meski kurang dari 2 minggu.

Episode depresif berat dengan gejala psikotik:

episode depresif berat + waham, halusinasi, atau stupor


depresif.
PPDGJ

Gangguan Afektif
Gangguan Afektif Bipolar:

episode berulang minimal 2 kali,


pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek & penambahan
energi dan aktivitas,
pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi
& aktivitas.
Biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode.
Tipe:
Afektif bipolar, episode kini hipomanik
Afektif bipolar episode kini manik tanpa/dengan gejala psikotik
Afektif bipolar episode kini depresif ringan atau sedang
Afektif bipolar episode kini depresif berat tanpa/dengan gejala
psikotik
Afektif bipolar episode kini campuran

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Gangguan Afektif
Pada gangguan afektif dengan ciri psikotik, waham bersifat
mood-congruent (konsisten dengan depresi/manik)
Depresi: waham tentang dosa, kemiskinan, malapetaka, &
pasien merasa bertanggung jawab.
Manik: waham tentang kekuasaan, uang, utusan Tuhan.

Diagnosis

Gejala Psikotik

Gangguan Afektif

Skizofrenia

Ada

Durasi singkat

Skizoafektif

Ada, dengan atau tanpa


gangguan afektif

Hanya ada bila gejala


psikotik (+)

Gangguan afektif dengan


ciri psikotik

Hanya ada selama


gangguan afektif (+)

Ada, walau tanpa gejala


psikotik

Gangguan Depresif Berulang


Memenuhi kriteria diagnostik depresi
Sekurang-kurangnya memiliki 2 episode
masing-masing minimal selama 2 minggu dengan
sela waktu beberapa bulan tanpa fangguan suasana
mood yang bermakna
Tipe:

Episode kini Ringan


Episode kini sedang
Episode kini berat tanpa gejala psikotik
Episode kini berat dengan gejala psikotik

90. Terapi Depresi


Kombinasi psikoterapi & farmakoterapi adalah terapi paling

efektif.

The different antidepressant class adverse effect profiles

make the SSRIs more tolerable than the TCAs


SSRI is commonly used as first line drug for major
depression.

Antidepressan
A review of the use of antidepressants (Anderson, 01):

There is little difference in efficacy among most new (post-1980)


and older TCAs & monoamine oxidase inhibitor (MAOI)
antidepressants;
The serotonin (5-HT) and norepinephrine (NE) reuptake
inhibitors (SNRIs), including venlafaxine, and the TCAs are
superior in efficacy to the selective serotonin reuptake inhibitors
(SSRIs);
Fluoxetine has a slower onset of therapeutic action than
the other SSRIs;
The different antidepressant class adverse effect profiles make the
SSRIs more tolerable than the TCAs. (Case files: SSRI is
commonly used as first line drug for major depression)

Antidepressan
Cardiac Toxicity:
1. Tricyclic antidepressants may slow cardiac
conduction, resulting in intraventricular conduction
delay, prolongation of the QT interval, and AV block.
Therefore, TCAs should not be used in patients with
conduction defects, arrhythmias, or a history of a
recent MI.
2. SSRIs, venlafaxine, bupropion, mirtazapine,
and nefazodone have no effects on cardiac
conduction.

Antidepresan

Dosis anjuran/hari

Amitriptiliin
Imipramin
Maprotilin
Sertralin
Fluoxetin
Citalopram
Venlafaxin
Moclobemid

75 150 mg
75 150 mg
75 150 mg
50 100 mg
20 40 mg
20 60 mg
75 150 mg
300 600 mg

Rusdi Maslim. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.

91. Gangguan Somatoform


Dalam DSM IV, gangguan somatoform meliputi:

Gangguan somatisasi
Gangguan konversi
Hipokondriasis
Gangguan dismorfik tubuh
Gangguan nyeri somatoform

Gangguan Dismorfik Tubuh

ditandai oleh preokupasi adanya cacat pada tubuhnya hingga


menyebabkan penderitaan atau hendaya yang bermakna secara
klinis.
Jika memang ada kelainan fisik yang kecil, perhatian pasien pada
kelainan tersebut akan dilebih-lebihkan.

Sadock BJ, Sadock VA. Somatoform disorders. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry. 10th ed. Philadelphia: Lipincott William & Wilkins;
2007. p.634-51.

Gangguan Somatoform
Diagnosis

Karakteristik

Gangguan somatisasi

Banyak keluhan fisik (4 tempat nyeri, 2 GI tract, 1


seksual, 1 pseudoneurologis).

Hipokondriasis

Keyakinan ada penyakit fisik.

Disfungsi otonomik
somatoform

Bangkitan otonomik: palpitasi, berkeringat,


tremor, flushing.

Nyeri somatoform

Nyeri menetap yang tidak terjelaskan.

Gangguan Dismorfik
Tubuh

Preokupasi adanya cacat pada tubuhnya


Jika memang ada kelainan fisik yang kecil,
perhatian pasien pada kelainan tersebut akan
dilebih-lebihkan
PPDGJ

DSM-IV-TR Diagnostic Criteria for


Body Dysmorphic Disorder

A.

B.

P r e o ku p a s i te r h a d a p ke l a i n a n ya n g t i d a k nya t a
a t a u s e d i k i t d e f e k ya n g te r l i h a t . B i l a te r d a p a t
s e d i k i t a n o m a l i f i s i k ya n g te r l i h a t , m a k a p a s i e n
a k a n m e r a s a k h awa t i r a t a u m e m p e r h a t i k a n
secara berlebihan
P r e o ku p a s i m e nye b a b k a n d i s t r e s d a n d i s f u n g s i
d a l a m s o s i a l , p e ke r j a a n d a n b i d a n g l a i n nya .
Avoidance of social situations or anxiety in social situations,
depression, behaviors to modify appearance, etc.

Appearance Complaints in
Patients with BDD
Hair
Skin
Lips
Stomach

Nose
Eyes
Chin
Teeth

Head shape
Body build
Entire face
Breasts

BDD?
Further Evaluation and Treatment

If BDD appears to be present:


A) referral for psychological/psychiatric evaluation
ask for evaluation of BDD, along with other possible
comorbid conditions (e.g., depression, anxiety)
B) if any of these conditions are present, consider
referral for
psychological treatment (cognitive-behavioral therapy,
medications)
C) if BDD and other conditions ruled out, consider
treatment:
extensive pre-treatment briefings regarding
expectations of outcome

92. Gangguan Hipokondrik


Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:
Keyakinan yang menetap adanya sekurangkurangnya 1 penyakit fisik yang serius,
meskipun pemeriksaan yang berulang tidak
menunjang
Tidak mau menerima nasehat atau dukungan
penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ditemukan penyakit/abnormalitas fisik

93. Gangguan Waham Menetap


Serangkaian gangguan dengan waham-waham yang

berlangsung lama, sebagai satu-satunya gejala klinis


yang khas atau paling mencolok, dan tidak dapat
digolongkan sebagai gangg.mental organik,
skizofrenik, atau gangg.afektif
Termasuk : paranoia, psikosis paranoid, keadaan
paranoid, parafrenia

94. Psychomotor Disturbance


Diagnosis

Karakteristik

Stereotipy

Continuous mechanical repetition of speech or physical activities;


observed in catatonic schizophrenia.

Compulsion

Pathological need to act on an impulse that, if resisted,


produces anxiety; repetitive behavior in response to an obsession
or performed according to certain rules, with no true end in itself
other than to prevent something from occurring in the future.

Echopraxia

Imitation of observed behavior.

Hyperactivity

Increased muscular activity. The term is commonly used to describe a


disturbance found in children that is manifested by constant
restlessness, overactivity, distractibility, and difficulties in learning.
Seen in attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).

Psychomotor
agitation

Physical and mental overactivity that is usually nonproductive & is


associated with a feeling of inner turmoil, as seen in agitated
depression.

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

ILMU PENYAKIT KULIT


KELAMIN & PARASITOLOGI

95. Tinea
Penyakit

Tanda dan Gejala

Tinea cruris

Gatal baisanya terasa terutama sat berkeringat


faktor risiko meliputi obesitas dan higienitas tubuh yang kurang
Dimulai dengan plak eritematosa pada selangkangan
Menyebar secara sentrifugal dengan central healing dan tepi sedikit
meninggi, eritema, dan vesikel kecil yang terlihat dengan kaca pembesar

Candidiasis
intertriginosa

Berlokasi di daerah lipatan kulit seperti inguinal, aksila, skrotum,


lipatan pantat, lipatan bawah payudara, lipatan perut dll
Eritema, plak maserasi (membasah) dengan lesi satelit papulopustul
(hand and chicken pattern) .
Pustul mudah pecah, meninggalkan dasar eritematosa dengan kolaret
disekelilingnya

Tinea
Pemeriksaan Penunjang untuk Lesi Kulit
Pemeriksaa
n

Diagnosis

Biopsi Kulit

Leprae, pathologic diagnostic; skin cancer

Kultur
kerokan

Jamur dan infeksi bakteri

KOH

Infeksi Jamur Kulit

Giemsa

Infeksi Chylamdial atau virus

Lampu Wood

Jamur pada kulit dan rambut

Pemeriksaan KOH pada Tinea


KOH stain

The presence of spores and


branching hyphae

Gambaran Tinea

gambaran hifa sebagai

dua garis sejajar


terbagi oleh sekat dan
bercabang maupun
spora berderet
(artrospora) pada
Tinea (Dermatofitosis)

96. LESI HIPOPIGMENTASI


Ptiriasis alba

Hipopigmentasi, bulat-oval, pada wajah,


leher, bahu atau lengan atas
Berdiameter 1-4 cm
Lesi seringkali multipel, 4-5 hingga 20
Bercak tidak berbatas tegas

Ptiriasis versicolor
Lesi memiliki batas tegas, dapat
berupa hipo atau hiperpigmentasi
Batas tampak lebih aktif, tengah
menyembuh, dan tidak selalu
tampak eritema
Lesi yang berkonfluensi dapat
ditemukan
Biasanya asimptomatik, tapi dapat
terasa gatal (ringan)

Pemeriksaan Lampu Wood


Warna

Etiologi

Kuning Emas

Tinea versicolor M.
fufur

Hijau Pucat

Trichophyton schoenleini

Hijau Kekuningan
(terang)

Microsporum audouini or M.
Canis

Tosca - Biru

Pseudomonas aeruginosa

Pink Coral

Porphyria Cutanea Tarda

Ash-Leaf-Shaped

Tuberous Sclerosis

Putih Pucat

Hypopigmentation

Coklat-Ungu

Hyperpigmentation

Putih terang,
Putih Kebiruan

Depigmentation, Vitiligo

Putih terang

Albinism

Bluewhite

Leprosy

Pitiriasis versikolor
Penyakit jamur superfisial yang kronik disebabkan

Malassezia furfur
Gejala:

Bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam,


meliputi badan, ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka,
kulit kepala yang berambut
Asimtomatik gatal ringan, berfluoresensi

Pemeriksaan: lampu Wood (kuning keemasan), KOH 20%

(hifa pendek, spora bulat: meatball & spaghetti appearance)


Obat: selenium sulfida (shampoo), azole, sulfur presipitat

Jika sulit disembuhkan atau generalisata, dapat diberikan ketokonazol


1x200mg selama 10 hari

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

97. Ulkus pada Kelamin


Chanchroid (ulcus
molle)

Chancre (ulcus durum)

Etiologi

Haemophilus ducreyi

Treponema pallidum

Nyeri

Nyeri

Tidak nyeri

Konsistensi

Lunak

Keras, indurasi

Dasar

Pus

Bersih

Tepi

Tidak teratur

Teratur

Pemeriksaan Pada Penyakit Kelamin

Pemeriksaan

Diagnostik Spesifik

Perwarnaan Gram
dan NacL

For Gram +/- Bacterial or Parasit

Kultur bakteri dan


apusan

Bacterial infection

VDRL dan TPHA

Specific and sensitivefor Treponema sp.

Ig M dan Ig G darn
HSV

Specific and sensitive for HSV

Antibodi
monoklonal

ELISA

97. Sifilis
Etiologi: Treponema Pallidum, bakteri berbentuk spiral
Gejala Klinis
Stadium I: Ulkus durum
Stadium II: Lesi sekunder di kulit (roseola sifilitika, korona veneris,
kondiloma lata, lekoderma sifilitika
Stadium III: Gumma
Laboratorium
Mikroskop lapang pandang gelap, VDRL, TPHA
Terapi
Benzatin Penisilin 2,4 juta unit IM single dose
Doxicycline 2 x 100 mg/hr PO, 4 minggu
Eritromisin 4 x 500 mg/hari PO, 4 minggu

98. Pioderma
Vehikulum

Keterangan

Ektima

infeksi pioderma pada kulit dengan karakteristik berbentuk krusta disertai


ulserasi (ulkus). Tanpa gejala umum.
ulkus superfisial dengan gambaran punched out appearance atau berbentuk
cawan dengan dasar merah dan tepi meninggi
Prediklesi di kaki ekstrimitas bawah, menyerang semua umur

Impetigo
Krustosa

Etiologi Streptococcus B Hemolyticus, hanya terdapat pada anak, tanpa


gejala umum
Predileksi di sekitar lubang hidung dan mulut. Krusta tebal berwarna kuning,
ulkus dibawah dangkal

Folukilitis

Peradangan dari satu atau lebih folikel rambut. Kondisi ini dapat terjadi di
kulit mana pun. Tanpa gejala umum.
Gejala ruam (daerah kulit memerah), pustula yang terletak di sekitar folikel
rambut, dan gatal di kulit

Erysipelas

infeksi kulit akut dan saluran limfa yang di sebabkan oleh


bakteriStreptokokkus
Gambaran eritema dan berbatas tegas. Gejala umum ada

Eriterma
Multiforme

Erupsi mendadak dan rekuren pada kulit dan kadang mukosa, target lesi ,
etiologi alergi obat, virus, bakteri
Tipe Makula Eriterma (kulit) dan Vesikobulosa (mukosa)

Folikulitis
Ektima

Erisepelas

Impetigo Krustosa

Eriterma Multiforme

98. Erisipelas
Penyakit infeksi akut oleh

Streptococcus B hemolitycus
menyerang epidermis dan
dermis
Gejala : eritema berwarna
merah cerah, berbatas tegas
Gejala konstitusi : demam,
malese
Jika sering residif dapat
menjadi elefantiasis
Th/ elevasi tungkai, antibiotik
sistemik, diuretika jika edema

99. Infeksi Parasit


Organisme

Penyakit

Gambaran Klinis

Dermatophagoide
s

Asma,
Dermatitis
Alergi

Reaksi alergi

Sarcoptes scabei

Scabies

4 tanda kardinal: Pruritus nocturna, riwayat


terinfeksi skabies dalam keluarga, adanya
terowongan, dan ditemukannya tungau

Trichuris triciura

Trichuriasis

Anemia (hidup di sekum- colon asendens) gejala


diare-disentri atau tanpa gejala

Ancylostoma
brazilience

Cutaneus
Larva
Migran

Stadium larva: eritem, papul, eritema


berkelok-kelok, pustule, gatal
Anemia (usus halus)

Ankilostomias
is
Trichinella
spiralis

trikiniasis

Mialgia, miosistis, demama, hipereosinofilia

99. Cutaneus larva migrans


Peradangan berbentuk linear,

berkelok-kelok, menimbul dan


progresif
Etio : Ancylostoma braziliense dan
Ancylostoma caninum
Larva masuk ke kulit
menimbulkan rasa gatal dan
panas, diikuti lesi linear berkelokkelok, menimbul, serpiginosa
membentuk terowongan
Gatal hebat pada malam hari
Th/ Tiabendazole, Albendazole,
Cryotherapy, Kloretil
Djuanda A., Hamzah M., Aisah S., 2008, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 5. Jakarta: FKUI Hal 125-126

100. Pioderma
Antibiotik

Indikasi

Kontra indikasi

Sediaan

Ampisilin

Pioderma (DOC)

Hipersensitif

Oral, Injeksi

Gentamisin

Infeksi gram positif


dan negatif.

Hipersensitif

Topikal dan
Injeksi

Ciprofloksasin

Infeksi gram positif


dan negatif.

Hipersensitif, Hamil,
menyusui, anak < 12
tahun

Oral

Kloramfinekol

terapi pilihan utama Hipersensitif, gangguan


ginjal dan hati
untuk pengobatan
tifus dan
paratifus

Oral, Topikal

Sulfamoksazol

ISK, diare, ISPA

oral

Hipersensitif, ibu hamil,


bayi < 6 minggu

100. Impetigo Krustosa


Impetigo kontagiosa = impetigo vulgaris

= impetigo tillbury fox


Etiologi : Streptococcus B Hemolyticus
Predileksi : muka, sekitar lubang hidung
dan mulut
UKK : eritema dan vesikel yang cepat
memecah lalu menjadi krusta berwarna
kuning madu, jika dilepaskan tampak
erosi
Komplikasi : glomerulonefritis
Terapi

Antibiotik sistemik gol. Penisilin (Ampisilin


4x250mg, Amoksilin 3x250 mg, Eritromisin
4x500mg)
Antibiotik topikal seperti basitrasin,
neomisin, mupirosin
Djuanda A., Hamzah M., Aisah S., 2008, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 5. Jakarta: FKUI Hal 58-59

101. Anti Helmatemintes


Parasit

Treatment

Ascaris Lumbricoides

Piperasin (Single Doses), Pirantel Pamoat (SD),


Mebendazol ( SD), Albendazole (SD)

Trichuris Trichuria

Albendazole (SD), Mebendazole (2-3 hari)

Schistosoma sp

Prazikuental

Oxyuris Vermicularis

Pirantel Pamoat (SD), Mebendazol ( SD),


Albendazole (SD)

Anchilostoma D dan N.
Americanus

Pirantel pamoat (2-3 hari), Albendazole (SD),


Mebendazole (SD)

Strongyloides Stercoralis

Tiabendazole (2-3 hari), Albendazole (2-3hari)<


Mebendazole (2-4 minggu)

102. Dermatitis
Disorder

Location

Lesion

Neurodermatitis

Kulit kepala, ekstensor lengan


dan siku, vulva dan skrotum,
betis atas, lutut, tungkai
bawah, tumit

Pruritus intermiten (berhubungan dengan


stresor), hiperpigmentasi, eritematosa,
bersisik, batas tegas, plak likenifikasi

Dermatitis seboroik

Kulit kepala, wajah, dan dada

Kelaianan papuloskuamosa, lesi berminyak


berwarna kekuningan diatas kulit yang
merah terinflamasi. Mengenai bayi baru
lahir, remaja, dan dewasa (aktivitas
kelenjar sebasea)

Dermatitis kontak
alergi

Hipersensitivitas

Adanya riwayat kontak dengan zat


penyebab

Dermatitis atopik

Lipatan lutut atau siku, paha

xerosis, likenifikasi, dan lesi eksema,


riwayat atopi

Numularis

Unknown

Lesi koin, eritematosa, central healing,


sangat gatal

103. Infeksi Menular Seksual


Penyakit

Etiologi

Karakteristik

Gonorrhae

N. gonorrhae

Uretritis anterior, tysnonitis, prostatitis,


sekret mukopurulen

Non-specific
Uretritis

C. trachomatis

Asimptomatik- disuria ringan, polyuria,


sekret mukopurulen

Sifilis

Treponema
palidum

Ulkus durum (st 1)

Herpes

Herpes Simpleks

Vesikel berkelompok, cairan bening, nyeri

Kondiloma
Akuminatum

HPV

Wart of genital

104. Parasitologi
Penyakit

Etiologi

Gejala klinis

Telur/ Kista

Amoebiasis

Entamoeba
histolytica

Diare berdarah, nyeri perut,


tenesmus

Psedoupodium
dengan sel darah
didalamnya

Tricuriasis

Tricuris
trichuria

Anemia (hidup di sekum- colon


asendens) gejala diare-disentri
atau tanpa gejala

Tempayan dengan
penonjolan pada
kedua kutubnya

Balantidiasis

Balantidium
coli

Sindroma disentri

Berdinding tebal,
bervakuola,
makronukleus

Taeniasis

T. Solium/ T.
Saginata

Nyeri ulu hati, mual, muntah,


mencret, obstipasi dan pusing

Telur dibungkus
embriofor yang
bergaris radial

Giardiasis

Giardia
intestinalis

Diarrhea, Malodorous, greasy


stools

Aktif: berflagel, In
aktif: oval, dinding
tipis dan kuat,
berinti 2-4

E. Histolytica

Taenia S.

Trichuris Trichuria

B. Coli

Giardia

Balantidasis
Morfologi
Bentuk: oval, ukuran panjang 50-80 dan lebar 40-60
Terdapat sistosom dan cytopyge posterior
Nukleus dobel (mikro dan makro nukleus)
Silia, vakuola, dan beberapa RBC
Kista: oval atau lingkaran

Balantidium coli

~70 x 45 m
(up to 200 m)

~55 m

Balantidiasis: Gejala dan Tanda


Asimptomatik
Bisa dijumpai kista atau trofozoit di dalam feses
Diare kronik, disentri, mual, kolitis, nyeri abdominal

Balantidiasis: Terapi

Terapi menggunakan antibiotik


Dibawah ini adalah 3 antibiotik yang
umum digunakan untuk mengobati
balantidiasis sesuai urutan:
(1) Tetracyclines
(2) Metronidazole
(3) Iodoquinol

105. Kusta tipe MB berdasarkan Jopling

105. Kusta Tipe PB Berdasarkan Jopling

105. Pembagian Menurut WHO

Pengobatan Kusta

106. Infeksi Kulit


Penyakit

Lokasi

Lesi

Furunkulosis

Infeksi pada lebih dari


satu Folikel rambut dan
jaringan sekitarnya

Gejala ruam (daerah kulit memerah), pustula


yang terletak di sekitar folikel rambut, dan
gatal di kulit

Dermatitis
seborrheic

scalp, face, and trunk

Kelainan papuloskuamosa dengan gamabran


berupa lesi berminyak diatas dasar yang
kemerahan
Mengenai newborn, remaja, dan dewasa
Occurs on newborns, adolscenct and adult

Phitiriasis Alba

most commonly on the


upper trunk and
extremities, and less
often on the face and
intertriginous areas.

Lesi dapat berupa hipopigmentasi, coklat muda,


atau berwarna salmon di wajah dan intertriginosa
Asimptomatik, dapat tersa gatal (ringan)

Pedinkulosis
Kapitis

Scalp, hair

Pruritus, karena garukan menyebabkan erosi,


eksoriasi, dan infeksi sekunder (pus , krusta).
Rambut bergumpal karena pus dan krusta
(plikapelonika)

Pedinkulosis
Korporis

Hair in trunk area

Pruritus, karena garukan menyebabkan erosi,


eksoriasi, dan infeksi sekunder , keterlibatan
limfatik

106. Pedikulosis

Infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan

Pediculus
3 macam infeksi pada manusia

Pedikulosis kapitis: disebabkan Pediculus humanus var.


capitis
Pedikulosis korporis: disebabkan pediculus humanus var.
corporis
Pedukulosis pubis: disebabkan Phthirus pubis

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Pedikulosis kapitis
Infeksi kulit dan rambut kepala
Banyak menyerang anak-anak dan higiene buruk
Gejala: mula-mula gatal di oksiput dan temporal,

karena garukan terjadi erosi, ekskoriasi, infeksi


sekunder
Diagnosis: menemukan kutu/telur, telur berwarna
abu-abu/mengkilat
Pengobatan: malathion 1%, gameksan 1%, benzil
benzoat 25%

Pedikulosis korporis
Biasanya menyerang orang dewasa dengan higiene

buruk (jarang mencuci pakaian)


Kutu melekat pada serat kapas dan hanya transien
ke kulit untuk menghisap darah
Gejala: hanya bekas garukan di badan
Diagnosis: menemukan kutu/telur pada serat kapas
pakaian
Pengobatan: gameksan 1%, benzil benzoat 25%,
malathion 2%, pakaian direbus/disetrika

Pedikulosis pubis
Infeksi rambut di daerah pubis dan sekitarnya
Menyerang dewasa (tergolong PMS), dapat

menyerang jenggot/kumis
Dapat menyerang anak-anak, seperti di alis/bulu
mata dan pada tepi batas rambut kepala
Gejala: Gatal di daerah pubis dan sekitarnya, dapat
meluas ke abdomen/dada, makula serulae (sky blue
spot), black dot pada celana dalam
Pengobatan: gameksan 1%, benzil benzoat 25%

107. Herpes Simpleks


Infeksi akut yang disebabkan oleh HSV yang ditandai dengan adalnya vesikel

yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa di daerah dekat
mukokutan
Predileksi HSV tipe I di daerah pinggang ke atas, predileksi HSV tipe II di daerah
pinggang ke bawah terutama genital
Gejala klinis:

Infeksi primer: vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa,
berisi cairan jernih yang kemudian seropurulen, dapat menjadi krusta dan kadang
mengalami ulserasi dangkal, tidak terdapat indurasi, sering disertai gejala sistemik
Fase laten: tidak ditemukan gejala klinis, HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif di
ganglion dorsalis
Infeksi rekuren: gejala lebih ringan dari infeksi primer, akibat HSV yang sebelumnya tidak aktif
mencpai kulit dan menimbulkan gejala klinis

Pemeriksaan: ditemukan pada sel dan dibiak, antibodi, percobaan Tzanck


(ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear)
Pengobatan: idoksuridin topikal (pada lesi dini), asiklovir
Komplikasi: meningkatkan morbiditas/mortalitas pada janin dengan ibu herpes
genitalis

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Indication

Acyclovir

First episode

400 mg tid
OR 200 mg 5
times/d (for
7-10 d)

1000 mg bid
(for 7-10 d)

250 mg tid
(for 7-10 d)

Recurrent

400 mg tid
(for 3-5 d) OR
800 mg PO
tid (for 2 d)

500 mg bid
(for 3 d)

1000 mg bid
(for 1 d)

400 mg bid

500 mg qd
or
1000 mg qd
(if >9
recurrences/y
)

Daily
suppression

Valacyclovir Famciclovir

Tzank Smear
250 mg bid

http://emedicine.medscape.com/article/274874-overview#aw2aab6b7

108. Karsinoma Sel Basal


Perbedaan BCC dan SCC dari pemeriksaan dermatologis:

Karsinoma Sel Basal


Waxy, translucent, or pearly
appearance
Ulserasi sentral
Tepi pucat dan meninggi
Telangiektasia
Rapuh, penyembuhan buruk,
perdarahan

Karsinoma Sel Skuamosa


Bersisik, lebih tebal dari keratosis
aktinik
Dasar meninggi eritematosa
Kdang membentuk keratin horn
Dapat berbentuk plak, nodul, kadang
dengan bagian tengah berulkus
Tepi iregular dan mudah berdarah
Tepi lesi berwarna cerah, tidak jernih
seperti karsinoma sel basal

Sumber: Stulberg DL,et al. Diagnosis and treatment of basal cell and squamous cell carcinoma. American Family Physician.
2004;70(8):1481-1488.

108. Keganasan pada kulit


Karsinoma sel basal

Berasal dari sel epidermal


pluripoten. Faktor
predisposisi: lingkungan
(radiasi, arsen, paparan sinar
matahari, trauma, ulkus
sikatriks), genetik
Usia di atas 40 tahun
Biasanya di daerah berambut,
invasif, jarang metastasis
Bentuk paling sering adalah
nodulus: menyerupai kutil,
tidak berambut, berwarna
coklat/hitam, berkilat
(pearly), bila melebar
pinggirannya meninggi di
tengah menjadi ulkus (ulcus
rodent) kadang disertai
talangiektasis, teraba keras

Karsinoma sel skuamosa

Berasal dari sel epidermis.


Etiologi: sinar matahari,
genetik, herediter, arsen,
radiasi, hidrokarbon, ulkus
sikatrik
Usia tersering 40-50 tahun
Dapat bentuk intraepidermal
Dapat bentuk invasif: mulamula berbentuk nodus keras,
licin, kemudian berkembang
menjadi verukosa/papiloma.
Fase lanjut tumor menjadi
keras, bertambah besar,
invasif, dapat terjadi ulserasi.
Metastasis biasanya melalui
KGB.

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Melanoma maligna

Etiologi belum pasti.


Mungkin faktor herediter
atau iritasi berulang pada
tahi lalat
Usia 30-60 tahun
Bentuk:
Superfisial: Bercak dengan

warna bervariasi, tidak


teratur, berbatas tegas,
sedikit penonjolan
Nodular: nodus berwarna
biru kehitaman dengan
batas tegas
Lentigo melanoma maligna:
plakat berbatas tegas, coklat
kehitaman, meliputi muka

Prognosis buruk

SCC

BCC

MM

ILMU KESEHATAN ANAK

109. ISK
3 bentuk gejala UTI:

Pyelonefritis (upper UTI): nyeri abdomen, demam, malaise, mual,


muntah, kadang-kadang diare
Sistitis (lower UTI): disuria, urgency, frequency, nyeri suprapubik,
inkontinensia, urin berbau
Bakteriuria asimtomatik: kultur urin (+) tetapi tidak disertai gejala
Pemeriksaan Penunjang :
Urinalisis : Proteinuria, leukosituria (>5/LPB), Hematuria
(Eritrosit>5/LPB)
Biakan urin dan uji sensitivitas
Kreatinin dan Ureum
Pencitraan ginjal dan saluran kemih untuk mencari kelainan anatomis
maupun fungsional
Diagnosa pasti : Bakteriuria bermakna pada biakan urin (>105 koloni
kuman per ml urin segar pancar tengah (midstream urine) yang diambil
pagi hari)

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. & PPM IDAI

Interpretasi Hasil Biakan Urin

Risk Factor
In girls, UTIs often occur at the onset of
toilet training. The child is trying to
retain urine to stay dry, yet the bladder
may have uninhibited contractions
forcing urine out. The result may be
high-pressure, turbulent urine flow or
incomplete bladder emptying, both of
which increase the likelihood of
bacteriuria.
Constipation can increase the risk of UTI
because it may cause voiding dysfunction
Babies who soil to diaper can also
sometimes get small particles of stool
into their urethra
Among infants wearing disposable
diapers, there is an increased risk of UTI
as the frequency of changing diapers
decreases.

T Sugimura, et al. Association between the frequency of disposable diaper changing and urinary tract infection in infants. Clin Pediatr (Phila). 2009
Jan;48(1):18-20.

Algoritme
Penanggulangan
dan Pencitraan
Anak dengan ISK

Tatalaksana UTI
Tujuan : Memberantas kuman penyebab, mencegah dan menangani komplikasi dini,
mencari kelainan yang mendasari
Umum (Suportif)
Masukan cairan yang cukup
Edukasi untuk tidak menahan berkemih
Menjaga kebersihan daerah perineum dan periurethra
Hindari konstipasi
Khusus
Sebelum ada hasil biakan urin dan uji kepekaan, antibiotik diberikan secara empirik
selama 7-10 hari
Obat rawat jalan : kotrimoksazol oral 24 mg/kgBB setiap 12 jam, alternatif ampisilin,
amoksisilin, kecuali jika :
Terdapat demam tinggi dan gangguan sistemik
Terdapat tanda pyelonefritis (nyeri pinggang/bengkak)
Pada bayi muda
Jika respon klinis kurang baik, atau kondisi anak memburuk berikan gentamisin (7.5
mg/kg IV sekali sehari) + ampisilin (50 mg/kg IV setiap 6 jam) atau sefalosporin gen-3
parenteral
Antibiotik profilaksis diberikan pada ISK simpleks berulang, pielonefritis akut, ISK pada
neonatus, atau ISK kompleks (disertai kelainan anatomis atau fungsional)
Pertimbangkan komplikasi pielonefritis atau sepsis

Dosis Obat Pada UTI Anak


ANTIBIOTIC
DOSING
Amoxicillin/clav 25 to 45 mg per kg per day,
ulanate
divided every 12 hours
Cefixime
8 mg per kg every 24 hours or
divided every 12 hours
Cefpodoxime
10 mg per kg per day, divided
every 12 hours
Cefprozil
30 mg per kg per day, divided
every 12 hours
Cephalexin

25 to 50 mg per kg per day,


divided every 6 to 12 hours
Trimethoprim/s 8 to 10 mg per kg per day,
ulfamethoxazole divided every 12 hours

COMMON ADVERSE EFFECTS


Diarrhea, nausea/vomiting, rash
Abdominal pain, diarrhea,
flatulence, rash
Abdominal pain, diarrhea,
nausea, rash
Abdominal pain, diarrhea,
elevated results on liver
function tests, nausea
Diarrhea, headache,
nausea/vomiting, rash
Diarrhea, nausea/vomiting,
photosensitivity, rash

110.
Anemia

Hipokrom: MCH Normal


Mikrositik: MCV Normal

Hiperkrom: MCH Normal


Makrositik: MCV Normal

Parameter

Kadar normal

Satuan

Hb

6 bln - 2 thn: 10,5-13,5


2-6 thn: 11-14,7
6-12 thn: 11,5-15,5
12-18 thn: 13-16 (L); 12-16 (P)

g/dL

Ht

2 thn: 33-42

Leukosit

2 thn: 6000-17.500

/L

Trombosit

150.000-400.000

/L

MCV

2 thn: 70-86

fL

MCH

2 thn: 23-31

pg/sel

MCHC

2 thn: 30-36

%Hb/sel

Anemia Mikrositik Hipokrom

THALASSEMIA
Penyakit genetik dgn supresi produksi hemoglobin karena

defek pada sintesis rantai globin


Diturunkan secara autosomal resesif
Secara fenotip: mayor (transfusion dependent), intermedia
(gejala klinis ringan, jarang butuh transfusi), minor/trait
(asimtomatik)
Secara genotip:

Thalassemia beta

Tergantung tipe mutasi, bervariasi antara ringan (++, +) ke berat (0)

Thalassemia alfa

-thal 2 /silent carrier state: delesi 1 gen


-thal 1 / -thal carrier: delesi 2 gen: anemia ringan
Penyakit HbH: delesi 3 gen: anemia hemolitik sedang, splenomegali
Hydrops foetalis / Hb Barts: delesi 4 gen, mati dalam kandungan
Wahidiyat PA. Thalassemia and hemoglobinopathy.

PATHOPHYSIOLOGY OF THALASSEMIA

ANAMNESIS + TEMUAN KLINIS

Pucat kronik
Hepatosplenomegali
Ikterik
Perubahan penulangan
Perubahan bentuk wajah
facies cooley
Hiperpigmentasi kulit
akibat penimbunan besi
Riwayat keluarga +
Riwayat transfusi
Ruang traube terisi
Osteoporosis
Hair on end pd foto
kepala

Diagnosis thalassemia
(contd)
Pemeriksaan darah

CBC: Hb , MCV , MCH , MCHC , Rt , RDW


Apusan darah: mikrositik, hipokrom, anisositosis,
poikilositosis, sel target, fragmented cell,
normoblas +, nucleated RBC, howell-Jelly body,
basophilic stippling
Hiperbilirubinemia
Tes Fungsi hati abnormal (late findings krn
overload Fe)
Tes fungsi tiroid abnormal (late findings krn
overload Fe)
Hiperglikemia (late findings krn overload Fe)

Analisis Hb

HbF , HbA2 n/, Tidak ditemukan HbA, Hb


abnormal (HbE, HbO, dll), Jenis Hb kualitatif

peripheral blood smear of patient with homozygous beta


thalassemia with target cells, hypochromia, Howell-Jolly
bodies, thrombocytosis, and nucleated RBCs.Image from
Stanley Schrier@ 2001 in ASH Image Bank 2001;
doi:10.1182/ashimagebank-2001-100208)

Hepatosplenomegali &
Ikterik

Pucat
Hair on
End
Hair on End & Facies
Skully

Excessive iron in a bone marrow preparation

Tata laksana thalassemia


Transfusi darah rutin target

Hb 12 g/dl
Medikamentosa

Asam folat (penting dalam


pembentukan sel)
Kelasi besi menurunkan kadar
Fe bebas dan me<<< deposit
hemosiderin). Dilakukan Jika
Ferritin level > 1000 ng/ul, atau
10-20xtransfusi, atau menerima 5
L darah.
Vitamin E (antioksidan karena
banyak pemecahan eritrosit
stress oksidatif >>)
Vitamin C (dosis rendah, pada
terapi denga n deferoxamin)

Nutrisi: kurangi asupan besi


Support psikososial

Splenektomi kriteria:

Splenomegali masif
Kebutuhan transfusi PRC > 200220 ml/kg/tahun
usia: > thn
Be careful with trombocytosis
and infection
Immunizations are important

Transplantasi (sumsum tulang,

darah umbilikal)
Fetal hemoglobin inducer
(meningkatkan Hgb F yg
membawa O2 lebih baik dari
Hgb A2)
Terapi gen

KOMPLIKASI THALASSEMIA
Infection
chronic anemia iron overload deposisi iron pada miokardium

Kardiomiopati bermanifestasi sebagai CHF


Endokrinopati
Impaired carbohydrate metabolism
Pertumbuhan :
short stature, slow growth rates
Delayed puberty & hypogonadism infertility
Hypothyroidism & hypoparathyroidism
osteoporosis
Liver:
cirrhosis due to infection and iron load
Bleeding: disturbances of coagulation factors

111-112. Anemia Defisiensi Fe (IDA)

Stage

Iron Depletion
I

Iron
Deficiency
II

Iron Deficiency
Anemia
III

Serum Iron

Normal

Hb

Normal

Normal

MCV, MCH
MCHC

Iron Store
(Ferritin)

Windiastuti E. Anemia in children.

Anemia Defisiensi Besi

Anemia in Infant
Anemia (WHO):
A hemoglobin (Hb) concentration 2 SDs below the mean
Hb concentration for a normal population of the same
gender and age range
US National Health and Nutrition Examination

Survey (1999 2002) anemia:

Hb concentration of less than 11.0 g/dL for both male and


female children aged 12 through 35 months

Robert D. Barker, Frank R. Greer, and The Committee of Nutrition. Diagnosis and Prevention of Iron Defiency and Iron Anemia in Infants and Young Children (0-3
years of Age. Pediatrics 2010; 126; 1040.

Diagnosis, Pengobatan dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi. Maria Abdulsalam, Albert Daniel. Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2, September 2002

Tatalaksana IDA
Atasi penyakit yang mendasari
Nutrisi yang cukup
Besi elemental
3-6 mg/kg/hari dibagi 2 dosis, sebelum makan. Dilanjutkan hingga 2
bulan setelah anemia terkoreksi dan penyakit etiologi teratasi.
Transfusi PRC dibutuhkan bila Hb <6 g/dl; atau Hb 6 g/dl

dengan penyerta (dehidrasi, persiapan operasi, infeksi berat,


gagal jantung, distress pernafasan)
Pencegahan

Primer

Diet: makanan yang kaya besi dan vitamin C


ASI eksklusif. Suplemen besi dimulai pada 4-6 bulan (non prematur) atau 2
bulan (prematur)

Sekunder: skrining

Harper JL. Iron deficiency anemia. http://emedicine.medscape.com/article/202333-overview

Tatalaksana
Fe oral
Aman, murah, dan efektif
Enteric coated iron tablets tidak dianjurkan karena
penyerapan di duodenum dan jejunum
Beberapa makanan dan obat menghambat penyerapan
Jangan bersamaan dengan makanan, beberapa antibiotik, teh,
kopi, suplemen kalsium, susu. (besi diminum 1 jam sebelum atau
2 jam setelahnya)
Konsumsi suplemen besi 2 jam sebelum atau 4 jam setelah
antasida
Tablet besi paling baik diserap di kondisi asam konsumsi
bersama 250 mg tablet vit C atau jus jeruk meningkatkan
penyerapan

Tatalaksana

Absorbsi besi yang terbaik adalah pada saat lambung kosong,


Jika terjadi efek samping GI, pemberian besi dapat dilakukan
pada saat makan atau segera setelah makan meskipun akan
mengurangi absorbsi obat sekitar 40%-50%
Efek samping:
Mual, muntah, konstipasi, nyeri lambung
Warna feses menjadi hitam, gigi menghitam (reversibel)

113. Kejang demam


Kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh di atas 38,4 C

tanpa adanya infeksi SSP atau gangguan elektrolit pada anak di


atas usia 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya
(ILAE, 1993)
Umumnya berusia 6 bulan 5 tahun
Kejang demam sederhana (simpleks)

Berlangsung singkat, tonik klonik, umum, tidak berulang dalam 24 jam

Kejang demam kompleks


Lama kejang > 15 menit
Kejang fokal atau parsial menjadi umum
Berulang dalam 24 jam
Pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk usia < 12 bulan dan

dianjurkan untuk usia 12-18 bulan


Diagnosis banding: meningitis, ensefalitis, meningoensefalitis,
APCD (pada infant), epilepsi

Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. IDAI. 2006

Profilaksis Intermiten untuk Pencegahan Kejang


Demam

Faktor risiko berulangnya kejang demam:


Riwayat kejang demam dalam keluarga
Usia kurang dari 12 bulan
Temperatur yang rendah saat kejang
Cepatnya kejang setelah demam
Pada saat demam
Parasetamol 10-15 mg/kg diberikan 4 kali/hari
Diazepam oral 0,3 mg/kg setiap 8 jam, atau per rektal
0,5 mg/kg setiap 8 jam pada suhu >38,5C

Pengobatan Jangka Panjang Kejang Demam


Fenobarbital 3-6 mg/kg/hari atau asam valproat 15-40

mg/kg/hari fenobarbital biasanya tidak digunakan krn


terkait ES autisme
Dianjurkan pengobatan rumatan:

Kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang (paresis Tods,


CP, hidrosefalus)
Kejang lama > 15 menit
Kejang fokal

Dipertimbangkan pengobatan rumatan :


Kejang berulang dalam 24 jam
Bayi usia < 12 bulan
Kejang demam kompleks berulang > 4 kali

Lama pengobatan rumatan 1 tahun bebas kejang,

dihentikan bertahap dalam 1-2 bulan

114. Dengue
Demam dengue

DBD

Demam akut 2-7 hari

Infeksi dengue yang

dengan 2 atau lebih


gejala berikut:

Nyeri kepala
Nyeri retroorbita
Myalgia/arthralgia
Ruam
Manifestasi perdarahan
Leukopenia

ditambah 1 atau lebih


gejala:

Uji bendung positif


Petekie, ekimosis, purpura
Perdarahan mukosa
Hematemesis/melena
Trombositopenia (<100.000)
Adanya kebocoran plasma
(kenaikan >20% Ht normal;
adanya bukti kebocoran
seperti efusi pleura, asites,
hipoproteinemia)

Guideline WHO 1997

114. KLASIFIKASI DBD


Derajat (WHO 1997):
Derajat I : Demam dengan test rumple leed positif.
Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan
spontan dikulit atau perdarahan lain.
Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu
nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun/
hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan
pasien menjadi gelisah.
Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak
teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.

WHO. SEARO. Guidelines for treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in small hospitals. 1999.

Pemeriksaan Penunjang DBD

Serologi Infeksi Dengue


NS1 merupakan glikoprotein

yang disekresi oleh sel yg


terinfeksi DENV baik in vivo
maupun in vitro
Peran NS1 dalam replikasi
virus belum jelas tetapi
penting sebagai bahan
senyawa kompleks replikasi
thd membran endoplasmic
reticulum
Respon imun oleh adanya
virus Dengue akan terbentuk
Antibodi IgM dan IgG Dengue
terhadap protein envelope
virus

Respon imun bervariasi tgt

apakah individu tersebut


mendapatkan infeksi primer
atau infeksi sekunder
Infeksi primer ditandai
respon antibodi yg rendah
dan lambat, IgM pertama
muncul pada akhir minggu
pertama demam
Infeksi sekunder (individu
dgn infeksi Dengue atau
flavivirus lain sebelumnya)
ditandai respon IgG yg
meningkat cepat secara
ekstrim dari awal infeksi

Chikungunya

Chikungunya (Shawilli)
berdasarkan gejala pada
penderita: posisi tubuh meliuk
atau melengkung akibat nyeri
sendi hebat (arthralgia), terjadi
pada lutut pergelangan kaki
serta persendian tangan dan
kaki

PENYEBAB: virus
Chikungunya (CHIKV) +
nyamuk Aedes Aegypti

GEJALA
Demam diikuti dengan linu di
persendian (awam: demam/ flu
tulang) tanpa kelumpuhan
setelah lima hari: demam akan
berangsur-angsur reda, rasa ngilu
maupun nyeri pada persendian
dan otot berkurang sembuh

115. Dehidrasi pada anak dgn diare akut

Penanganan
Rehidrasi: dapat diberikan oral/parenteral tergantung

status dehidrasinya

Tanpa dehidrasi TERAPI A


5 cc/kg ORS setiap habis muntah
10cc/kg ORS setiap habis mencret

Dehidrasi ringan sedang TERAPI B


75 cc/kg ORS dalam 3 jam

Bila per oral tidak memungkinkan, dapat diberikan parenteral


tergantung kebutuhan maintenance cairan + defisit cairan

Dehidrasi berat (parenteral) TERAPI C


Pemberian
Pertama 30
ml/kgbb selama :

Pemberian Berikut
70 ml/kgbb selama :

Bayi ( < umur 12 bulan )

1 jam

5 jam

Anak ( 12 bln 5 tahun )

30 menit

2.5 jam

Golongan Umur

Pilar penanganan diare (contd)


Terapi nutrisi
Pemberian ASI harus dilanjutkan
Beri makan segera setelah anak mampu makan
Jangan memuasakan anak

Kadang-kadang makanan tertentu diperlukan selama diare


Makan lebih banyak untuk mencegah malnutrisi

Terapi medikamentosa
Antibiotik, bila terdapat indikasi (eg. kolera, shigellosis, amebiasis, giardiasis)
Probiotik
Zinc

Diberikan dalam dosis 20 mg untuk anak di atas 6 bulan, dan 10 mg untuk bayi
berusia kurang dari 6 bulan selama 10 hari

Obat-obatan anti diare terbukti tidak bermanfaat

Edukasi pada orang tua


Tanda-tanda dehidrasi, cara membuat ORS, kapan dibawa ke RS, dsb.

115.
Seorang bayi mengalami dehidrasi ringan sedang

akibat diare, maka dipakai rencana B yaitu 75 cc/


kgBB dalam 3-4 jam 4.5 kg x 75 = 337.5 cc dalam
3-4 jam 84 - 112 cc/jam 84-112 tetes/ menit
micro (karena 1 cc = 20 tetes mikro per menit)

116. Difteri
Penyebab : toksin Corynebacterium diphteriae

Organisme:

Basil batang gram positif


Pembesaran ireguler pada salah satu ujung (club shaped)
Setelah pembelahan sel, membentuk formasi seperti huruf cina atau
palisade

Gejala:

Gejala awal nyeri tenggorok


Bull-neck (bengkak pada leher)
Pseudomembran purulen berwarna putih keabuan di faring, tonsil,
uvula, palatum. Pseudomembran sulit dilepaskan. Jaringan
sekitarnya edema.
Edema dapat menyebabkan stridor dan penyumbatan sal.napas
Todar K. Diphtheria. http://textbookofbacteriology.net/diphtheria.html
Demirci CS. Pediatric diphtheria. http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview

http://4.bp.blogspot.com/

Pemeriksaan : Gram, Kultur

Obat:
Antitoksin: 40.000 Unit ADS IM/IV, skin test
Anbiotik: Penisillin prokain 50.000 Unit/kgBB IM per
hari selama 7 hari atau eritromisin 25-50 kgBB dibagi 3
dosis selama 14 hari
Hindari oksigen kecuali jika terjadi obstruksi saluran
repirasi (Pemberian oksigen dengan nasal prongs dapat
memebuat anak tidak nyaman dan mencetuskan
obstruksi)
Indikasi trakeostomi/intubasi : Terdapat tanda tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam yang berat
Komplikasi : Miokarditis dan Paralisis otot 2-7

minggu setelah awitan penyakit

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.

Tindakan Kesehatan Masayarakat


Rawat anak di ruangan isolasi
Lakukan imunisasi pada anak serumah sesuai

dengan riwayat imunisasi


Berikan eritromisin pada kontak serumah sebagai
tindakan pencegahan (12.5 mg/kgBB, 4xsehari,
selama 3 hari)
Lakukan biakan usap tenggorok pada keluarga
serumah

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.

117. Tatalaksana
Dengue

118. Ikterus neonatorum


- Pewarnaan kuning pada sklera dan kulit yang

disebabkan oleh penumpukan bilirubin


- Terlihat pada kulit bila kadar >5 mg/dl
- Terlihat pada >50% neonatus
- Pada bayi prematur > bayi cukup bulan

Gambar 8. metabolisme bilirubin dalam tubuh.


Perhatikan fungsi hepatosit yang melakukan
konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk.
Adanya ikterik merupakan manifestasi gangguan di
prehepatik, intrahepatik atau ekstrahepatik.
(Chandrasoma P, Taylor CR. Concise Pathology.
3rd edition. McGrawHill.
http://www.accessmedicine.com diunduh tanggal 25
Juli 2013)

Ikterus Neonatorum
Ikterus neonatorum: fisiologis vs non fisiologis.
Ikterus fisiologis:
Awitan terjadi setelah 24 jam
Memuncak dalam 3-5 hari, menurun dalam 7 hari (pada NCB)
Ikterus fisiologis berlebihan ketika bilirubin serum puncak adalah 7-15 mg/dl pada NCB
Ikterus non fisiologis:
Awitan terjadi sebelum usia 24 jam
Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada NCB
Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB, > 14 hari pada NKB
Tanda penyakit lain

Gangguan obstruktif menyebabkan hiperbilirubinemia direk. Ditandai bilirubin

direk > 2 mg/dl jika bil tot <5 mg/dl atau bil direk >20% dr total bilirubin.
Penyebab: kolestasis, atresia bilier, kista duktus koledokus.

Indrasanto E. Hiperbilirubinemia pada neonatus.

Kramers Rule

Penilaian klinis ikterus (kramer)

Daerah tubuh

Kadar bilirubin mg/dl

Muka

4 -8

Dada/punggung

5 -12

Perut dan paha

8 -16

Tangan dan kaki

11-18

Telapak tangan/kaki

>15

20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

fisiologis
non- fisiologis

hari
1

hari
2

hari
3

hari
4

hari
5

hari
6

hari
7

Ikterus yang berkembang cepat pada hari ke-1


Kemungkinan besar: inkompatibilitas ABO, Rh, penyakit
hemolitik, atau sferositosis. Penyebab lebih jarang: infeksi
kongenital, defisiensi G6PD
Ikterus yang berkembang cepat setelah usia 48 jam
Kemungkinan besar: infeksi, defisiensi G6PD. Penyebab lebih
jarang: inkompatibilitas ABO, Rh, sferositosis.

Panduan foto terapi

AAP, 2004

Panduan transfusi tukar

AAP, 2004

119. Pediatric Septic arthritis


The most common route by which microorganisms enter a joint is by

hematogenous spread to the synovium.


Less commonly, entry occurs directly following a penetrating trauma

or contiguously from an adjacent osteomyelitis.


Because of their unique anatomy, neonates and young children often

have coexisting septic arthritis and osteomyelitis.


Infectious agents

In neonates (aged < 2 mo), Staphylococcus aureus is the most common


cause of septic arthritis (SA),

In children aged 2 months to 5 years, Haemophilus influenzae type B was


the most common cause of SA prior to the widespread use of vaccines; S
aureus is now the most common cause.

Presentation
Joint pain or swelling
Children typically have involvement of a single joint; lower
extremity joints, especially the knee and hip, account for most
cases.
Decreased or absent range of motion, joint tenderness,
swelling, warmth, and erythema are common physical signs

Diagnosis
Diagnosis of septic arthritis (SA) is established by a

combination of clinical findings and results of


synovial fluid analysis.
When septic arthritis (SA) is suspected, synovial
fluid should be obtained for a complete blood
count (CBC), glucose, Gram stain, and culture.
Synovial culture has poor sensitivity (60-70%),
A synovial fluid WBC count of more than
50,000/mL suggests SA, especially if the count
exceeds 100,000/mL or if a predominance of
polymorphonuclear cells is observed.

Analisis Cairan Sendi

A. Martnez-Castillo et al / Reumatol Clin. 2010;6(6):316321

Tatalaksana
Rawat inap
Intravenous antibiotic

Splint the affected joint in a functional position for 2-3

days
early passive range of motion to stretch tendons and
prevent contractures.
Serial needle aspirations are performed.
Urgent arthrotomy and open drainage is usually
performed in septic arthritis of the hip or shoulder,
septic arthritis of other joints if no improvement occurs
within 3 days of starting antimicrobial therapy, or if a
large amount of pus is aspirated during diagnostic
arthrocentesis
http://emedicine.medscape.com/article/970365-treatment#showall

120. Hepatitis Viral Akut


Hepatitis viral: Suatu proses peradangan pada hati atau

kerusakan dan nekrosis sel hepatosit akibat virus


hepatotropik. Dapat akut/kronik. Kronik jika berlangsung
lebih dari 6 bulan
Perjalanan klasik hepatitis virus akut

Stadium prodromal: flu like syndrome,


Stadium ikterik: gejala-gejala pada stadium prodromal berkurang
disertai munculnya ikterus, urin kuning tua

Anamnesis Hepatitis A :
Manifestasi hepatitis A: Anak dicurigai menderita hepatitis A jika ada
gejala sistemik yang berhubungan dengan saluran cerna (malaise,
nausea, emesis, anorexia, rasa tidak nyaman pada perut) dan ditemukan
faktor risiko misalnya pada keadaan adanya outbreak atau diketahui
sumber penularan.
Pedoman Pelayanan Medis IDAI

Hepatitis A
Virus RNA (Picornavirus)

ukuran 27 nm
Kebanyakan kasus pada
usia <5 tahun asimtomatik
atau gejala nonspesifik
Rute penyebaran: fekal
oral; transmisi dari orangorang dengan memakan
makanan atau
minumanterkontaminasi,
kontak langsung.
Inkubasi: 2-6 minggu
(rata-rata 28 hari)
Behrman RE. Nelsons textbook of pediatrics, 19th ed. McGraw-Hill; 2011.

Hepatitis A
Self limited disease dan tidak

menjadi infeksi kronis


Gejala:

Fatique
Demam
Mual
Nafsu makan hilang
Jaundice karena
hiperbilirubin
Bile keluar dari peredaran
darah dan dieksresikan ke urin
warna urin gelap
Feses warna dempul (claycoloured)

Diagnosis

Deteksi antibodi IgM di darah


Peningkatan ALT (enzim hati
Alanine Transferase)

Pencegahan:

Vaksinasi
Kebersihan yang baik
Sanitasi yang baik

Tatalaksana:

Simptomatik
Istirahat, hindari makanan
berlemak dan alkohol
Hidrasi yang baik
Diet

Penanda
Serologis
Hepatitis

Hepatitis
Hepatitis

Jenis virus

Antigen

Antibodi

Keterangan

HAV

RNA

HAV

Anti-HAV

Ditularkan
secara fekaloral

HBV

DNA

HBsAg
HBcAg
HBeAg

Anti-HBs
Anti-HBc
Anti-HBe

Ditularkan
lewat darah
Karier

HCV

RNA

HCV
C100-3
C33c
C22-3
NS5

Anti-HCV

Ditularkan
lewat darah

HDV

RNA

HBsAg
HDV antigen

Anti-HBs
Anti-HDV

Membutuhkan
perantara HBV
(hepadnavirus)

HEV

RNA

HEV antigen

Anti-HEV

Ditularkan
secara fekaloral

121. MALARIA FALCIPARUM


Lini pertama:

(Artesunat + amodiakuin) dosis tunggal selama 3 hari +


primakuin dosis tunggal 1 hari
(Dihidroartemisinin + piperaquine) dosis tunggal selama 3 hari
+ primakuin dosis tunggal 1 hari

Lini kedua:

Kina + doksisiklin
Tetrasiklin + Primakuin

Primakuin dikontraindikasikan pada ibu hamil, bayi

<11 bulan, dan penderita G6PD

MALARIA VIVAX, OVALE, MALARIAE


Lini pertama:

(Artesunat + amodiakuin) dosis tunggal selama 3 hari + primakuin dosis


tunggal 14 hari
(Dihidroartemisinin + piperaquine) dosis tunggal selama 3 hari +
primakuin dosis tunggal 14 hari

Lini kedua:

Kina 3x sehari selama 7 hari + primakuin selama 14 hari

122. Diare dehidrasi berat

123. Glomerulonefritis akut Pasca Streptokokus


Glomerulonefritis akut ditandai dengan edema,

hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal


(sindrom nefritik) di mana terjadi inflamasi pada glomerulus
Acute poststreptococcal glomerulonephritis is the archetype
of acute GN
GNA pasca streptokokus terjadi setelah infeksi GABHS
nefritogenik deposit kompleks imun di glomerulus
Diagnosis

Anamnesis: Riwayat ISPA atau infeksi kulit 1-2 minggu sebelumnya,


hematuri nyata, kejang atau penurunan kesadaran, oliguri/anuri
PF: Edema di kedua kelopak mata dan tungkai, hipertensi, lesi bekas
infeksi, gejala hipervolemia seperti gagal jantung atau edema paru
Penunjang: Fungsi ginjal, komplemen C3, urinalisis, ASTO

Terapi: Antibiotik (penisilin, eritromisin), antihipertensi,

diuretik

Geetha D. Poststreptococcal glomerulonephritis. http://emedicine.medscape.com/article/240337-overview

Mekanisme GNAPS
Terperangkapnya kompleks antigen-antibodi dalam

glomerulus yang kemudian akan merusak


glomerulus
Proses autoimun kuman Streptokokus yang bersifat
nefritogenik dalam tubuh menimbulkan badan
autoimun yang merusak protein glomerulus
(molecular mimicry)
Streptokokus nefritogenik dan membran basalis
glomerulus mempunyai komponen antigen yang
sama sehingga dibentuk zat anti yang langsung
merusak membran basalis glomerulus.

Sindrom Nefritik Akut

Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis

Proteinuria, hematuria, dan adanya silinder eritrosit


Peningkatan ureum dan kreatinin
ASTO meningkat (ASTO: the antibody made against
streptolysin O, an immunogenic, oxygen-labile hemolytic
toxin produced by most strains of group A)
Komplemen C3 menurun pada minggu pertama
Hiperkalemia, asidosis metabolik, hiperfosfatemia, dan
hipokalsemia pada komplikasi gagal ginjal akut

Penatalaksanaan
The major goal is to control edema and blood pressure
During the acute phase of the disease, restrict salt and water. If significant

edema or hypertension develops, administer diuretics.

Loop diuretics (Furosemide 1 mg/kg/kali, 2-3 kali per hari)


For hypertension not controlled by diuretics, usually calcium channel blockers or angiotensinconverting enzyme inhibitors are useful

Restricting physical activity is appropriate in the first few days of the illness but

is unnecessary once the patient feels well


Specific therapy:

Treat patients, family members, and any close personal contacts who are infected.
Throat cultures should be performed on all these individuals. Treat with oral penicillin G (250 mg
qid for 7-10 d) or with erythromycin (250 mg qid for 7-10 d) for patients allergic to penicillin
This helps prevent nephritis in carriers and helps prevent the spread of nephritogenic strains to
others

Indications for dialysis include life-threatening hyperkalemia and clinical

manifestations of uremia

124. Resusitasi Neonatus

Kattwinkel J, Perlman JM. Part 15: neonatal resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909 S919

Teknik Ventilasi dan Kompresi


Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
Jika bayi tetap apnu atau megap-megap, atau jika

frekuensi denyut jantung kurang dari 100 per menit


setelah langkah awal resusitasi, VTP dimulai.
Pernapasan awal dan bantuan ventilasi
Bantuan ventilasi harus diberikan dengan frekuensi
napas 40 60 kali per menit untuk mencapai dan
mempertahankan frekuensi denyut jantung lebih
dari 100 per menit. Penilaian ventilasi awal yang
adekuat ialah perbaikan cepat dari frekuensi denyut
jantung.
Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.

Teknik Ventilasi dan Kompresi


Kompresi dada
Indikasi kompresi dada ialah jika frekuensi denyut

jantung kurang dari 60 per menit setelah ventilasi


adekuat dengan oksigen selama 30 detik. Untuk
neonatus, rasio kompresi: ventilasi tetap 3:1.
Pernapasan, frekuensi denyut jantung, dan
oksigenasi harus dinilai secara periodik dan
kompresi ventilasi tetap dilakukan sampai
frekuensi denyut jantung sama atau lebih dari 60 per
menit.
Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.

Kapan menghentikan resusitasi?


Pada bayi baru lahir tanpa adanya denyut jantung,

dianggap layak untuk menghentikan resusitasi jika


detak jantung tetap tidak terdeteksi setelah
dilakukan resusitasi selama 10 menit (kelas IIb, LOE
C).
Keputusan untuk tetap meneruskan usaha resusitasi
bisa dipertimbangkan setelah memperhatikan
beberapa faktor seperti etiologi dari henti hantung
pasien, usia gestasi, adanya komplikasi, dan
pertimbangan dari orangtua mengenai risiko
morbiditas.
Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.

125. Clostridium Botulinum

Botulism is a broad term encompassing


3 clinical entities caused by botulinum
toxin : food-borne, wound, or infant
botulism.
C botulinum is a gram-positive, sporeforming anaerobe that naturally
inhabits soil, dust, and fresh and
cooked agricultural products.
produce a type of botulinum toxin
which is very lethal to human
Food-borne botulism is not seen after
eating fresh foods.
home canning, produce an anaerobic,
low-acid (ie, pH >4.6), low-solute
environment in which the toxin can be
produced.

In persons older than 1 year, the spores


are unable to germinate in the gut;
therefore, food-borne disease is the
result of ingesting a preformed toxin.
C botulinum spores can germinate in
the gut of infants younger than 1 year
because of their relative lack of gastric
acid, decreased levels of normal flora,
and immature immune systems
conducive to toxin production infant
botulism can arise from eating the
spores present in unprepared foods.

Food-borne botulism
GI tract symptoms usually occur first, beginning 18-36 hours after

ingestion (range, 2 h to 8 d) and consist of nausea, vomiting, and


diarrhea followed by constipation.
Motor function symptoms follow, with the cranial nerves usually
affected first (diplopia and blurred vision secondary to loss of
accommodation)
Finally, a rapidly progressive descending weakness or paralysis
occurs. Autonomic dysfunction may lead to orthostatic hypotension,
urinary retention, or constipation.
Because the toxin affects only motor and autonomic systems,
sensation and mentation remain intact.
Patients are usually afebrile.

Clinical Manifestation
Dysphagia - 96%

Blurred vision - 65%

Dry mouth - 93%

Nausea - 64%

Diplopia - 91%

Dyspnea - 60%

Dysarthria - 84%

Vomiting - 59%

Extremity weakness -

Abdominal cramps - 42%

73%
Constipation - 73%

Diarrhea - 19%

Treatment
Supportive care, especially ventilatory support, is

essential.

Promptly initiate ventilatory support promptly because


respiratory muscle weakness rapidly progresses and the gag
reflex is frequently impaired
Antitoxin dramatically alters the course of the disease,
especially if administered within the first 24 hours.
In general, antibiotic therapy to clear clostridial GI infection in
infant botulism is contraindicated, because the treatment
increases toxin release and worsens the condition. Antibiotics
may be considered to treat secondary bacterial infections.

126. Status Gizi


Berat Badan/Umur
Parameter pertumbuhan yang paling sederhana, mudah
diukur dan diulang, dan merupakan indeks untuk status
nutrisi sesaat
Tinggi Badan/Umur
Memberikan informasi bermakna (menggambarkan status
nutrisi dan pertumbuhan fisik) apabila dikaitkan dengan hasil
pengukuran BB
Berat Badan/Tinggi Badan
Untuk penilaian status nutrisi, mencerminkan proporsi tubuh
serta dapat membedakan antara wasting dan stunting atau
perawakan pendek

Pemantauan Pertumbuhan
Interpretasi Pengukuran
TB/U

Interpretasi Pengukuran
BB/U

Z Score
>2 SD : Tergolong sangat tinggi.
Rujuk anak jika dicurigai adanya
gangguan endokrin (tinggi tidak
sesuai perkiraan tinggi kedua
orang tua, atau cenderung terus
meningkat)
2 sd (-2) SD : Normal
<-2 SD : Stunted
<-3 SD : Severly stunted
CDC-NCHS
90-110%
: Baik/normal
70-89%
: Tinggi kurang
<70%
: Tinggi sangat
kurang

Z Score
> 2 SD : Memiliki masalah
pertumbuhan, lebih baik dinilai
dari pengukuran berat terhadap
tinggi atau BMI/U
2 sd (-2) SD : Normal
<-2 SD : Underweight
<-3 SD : Severly underweight
CDC-NCHS
>120%
: Gizi lebih
80-120%
: Gizi baik
60-80%
: Gizi kurang, buruk
dengan edema
<60%
: Gizi
buruk

Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI

Status Nutrisi BB/TB


Cara penilaian status nutrisi:

Z-score menggunakan kurva WHO weight-for-height


>3 obesitas
2-3 overweight
1-2 possible overweight
(-2) (-1) -- normal
(-2) (-3) moderate wasted
<-3 severe wasted

BB/IBW (Ideal Body Weight) menggunakan kurva CDC


120%
110 -120%
90-110%
80-90%
70-80%
70%

obesity
overweight
normal
mild malnutrition
moderate malnutrition
severe malnutrition.

Interpretasi kurva pertumbuhan WHO (IDAI)

127. Asma
Batuk dan atau mengi berulang dengan karakteristik

episodik, nokturnal (variabilitas), reversibel (dapat sembuh


sendiri dengan atau tanpa pengobatan) ditambah atopi
Gejala utama pada anak: batuk dan/atau wheezing

Supriyatno B. Diagnosis dan tata laksana asma anak.

PATHOGENESIS
OF ASTHMA
Definition
o

Chronic
inflammatory
condition of the
airwayshyperreacti
vity
Episodic airflow
obstruction

Main processes
o
o

Inflammatory
reaction
Remodeling

http://www.clivir.com/pictures/asthma/asthma_symptom
s.jpg

Andrew H. Liu, Joseph D. Spahn, Donald Y. M. Leung.


Childhood Asthma. Nelson Textbook of Pediatrics

The Inflammatory Reaction


Involved:

Dendritic cells and macrophages


present antigens to T-helper cells induce the switching of B
lymphocytes to produce IgE

T-helper lymphocytes
Mast cells
Eosinophils

Leads to

episodes of wheezing
Coughing
tightness in the chest
Breathlessness
shortage of breath specially at night and in the morning
Andrew H. Liu, Joseph D. Spahn, Donald Y. M. Leung.
Childhood Asthma. Nelson Textbook of Pediatrics

Inflammation causes obstruction of airways

by:

Acute bronchoconstriction
Swelling of bronchial wall
Chronic production of mucous
Remodeling of airways walls

Remodelling Proscess
The inflammatory reaction goes on for a long period
Changes

Epithelial cells
damaged and the cilia are lostsusceptible for infection
goblet cells increasedincrease in the secretions
function of the muco-ciliary escalator lostsecretions accumulate in
the lungs

The basement membrane


Smooth muscle cells
Hyperplasiaability to secrete
contractility increased airway hyper-responsiveness.

The neurons

developed local reflexes


Andrew H. Liu, Joseph D. Spahn, Donald Y. M. Leung.
Childhood Asthma. Nelson Textbook of Pediatrics

The cardinal

features

airway hyperresponsiveness
excessive airway
mucus production
airway inflammation
elevated serum
immunoglobulin E
(IgE) levels

http://img.wikinut.com/img/r1xehlcoy_vpannf/jpeg/700x1000/Pathophysiology-of-Asthma.jpeg

NOCTURNAL ASTHMA
Associated with:

allergen exposure
Sleep
airway cooling
diminished clearance of mucous secretions
diurnal variations in hormone concentrations and in autonomic
nervous system control
Decreased epinephrine and increased vagal tone cause:

airway obstruction
enhance bronchial reactivity.

bronchial obstruction

Decreased nitric oxide levelspotent bronchodilator


Decreased Beta 2-receptors between 4 p.m. and 4 a.m.
Decreased steroid receptorsincreased inflammation
Diurnal variation in Cortisol
Low level Melatonin
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0002934388902380

Derajat
Serangan
Asma

Derajat Penyakit Asma


Parameter klinis,
kebutuhan obat,
dan faal paru

Asma episodik jarang

Asma episodik sering

Asma persisten

Frekuensi serangan

< 1x /bulan

> 1x /bulan

Sering

Lama serangan

< 1 minggu

1 minggu

Hampir sepanjang tahun


tidak ada remisi

Diantara serangan

Tanpa gejala

Sering ada gejala

Gejala siang dan malam

Tidur dan aktivitas Tidak terganggu Sering terganggu Sangat terganggu


Pemeriksaan fisis
di luar serangan

Normal

Obat pengendali

Tidak perlu

Mungkin terganggu Tidak pernah normal

Perlu, steroid

Perlu, steroid

Uji Faal paru


PEF/FEV1 <60%
PEF/FEV1 >80% PEF/FEV1 60-80%
(di luar serangan)
Variabilitas 20-30%
Variabilitas faal paru
(bila ada serangan)

>15%

< 30%

< 50%

Alur
Penatalaksanaan
Serangan Asma

128. Skoring Tuberkulosis pada Anak


Kriteria

Keterangan di
soal

Nilai

Kontak TB

Kontak TB BTA (+)

Demam > 2
minggu

1 bulan

Batuk > 3
minggu

1 bulan

Kelainan sendi
+ tulang

Foto rontgen

Pembesaran
KGB

Status gizi

BB turun tapi status


gizi tidak diketahui
di soal

Uji tuberkulin

JUMLAH

128. Tuberkulosis pada anak

Time after
primary infection
2 3 months

Clinical Manifestation
Fever of Onset

6 24 months

Osteo-articular TB

> 5 years

Renal TB

Figure 5. The Timetable of Tuberculosis


Donald PR et.al. In: Madkour MM, ed. Tuberculosis. Berlin; Springer;2003.p.243-64

Phlyctenular conjunctivitis

3 12 months

Primary pulmonary TB
TB Meningitis
Miliary TB
TB Pleural effusion

Erythema nodosum

Tuberculin Test Positive

Complications of focus
1. Effusion
2. Cavitation
3. Coin shadow

455

Complications of nodes
1. Extension to bronchus
2. Consolidation
3. Hyperinflation

MENINGITIS OR MILIARY
in 4% of children infected
under 5 years of age
LATE COMPLICATIONS
Renal & Skin
Most after 5 years

Most children
become tuberculin
sensitive

BRONCHIAL EROSION
3-9 months

A minority of children
experience :
1. Febrile illness
2. Erythema Nodosum
3. Phlyctenular Conjunctivitis

PRIMARY COMPLEX
Progressive Healing
Most cases

Uncommon under 5 years of age


25% of cases within 3 months
75% of cases within 6 months

infection

4-8 weeks

3-4 weeks fever of onset

Incidence decreases
As age increased

12 months

Development
Of Complex
GREATEST RISK OF LOCAL & DISEMINATED LESIONS

Resistance reduced :
1. Early infection
(esp. in first year)
2. Malnutrition
3. Repeated infections :
measles, whooping cough
streptococcal infections
4. Steroid therapy

BONE LESION
Most within
3 years

24 months

DIMINISHING RISK
But still possible
90% in first 2 years

Miller FJW. Tuberculosis in children, 1982

Tuberkulosis pada anak


Pada umumnya anak yang terinfeksi tidak

menunjukkan gejala yang khas


over/underdiagnosed
Batuk BUKAN merupakan gejala utama TB pada
anak
Pertimbangkan tuberkulosis pada anak jika :

BB berkurang dalam 2 bulan berturut-turut tanpa sebab yang


jelas atau gagal tumbuh
Demam sampai 2 minggu tanpa sebab yang jelas
Batuk kronik 3 minggu
Riwayat kontak dengan pasien TB paru dewasa

Sistem Skoring
Diagnosis oleh dokter
Perhitungan BB saat

pemeriksaan
Demam dan batuk yang tidak
respons terhadap terapi baku
Cut-of f point: 6
Adanya skrofuloderma langsung
didiagnosis TB
Rontgen bukan alat diagnosis
utama
Reaksi cepat BCG harus dilakukan
skoring
Reaksi cepat BCG harus
dievaluasi dengan sistem
skoring
Total nilai 4 pada anak balita
atau dengan kecurigaan
besar dirujuk ke rumah sakit
Profilaksis INH diberikan pada
anak dengan kontak BTA (+)
dan total nilai <5

Terapi
Anak dengan TB paru atau limfadenitis TB dapat

diberikan regimen 2RHZ/4RH

Kecuali pada anak yang tinggal di daerah dengan prevalensi


HIV yang tinggi atau resistensi isoniazid yang tinggi, atau anak
dengan TB paru yang ekstensif diberikan 2RHZE/4RH

WHO. Rapid advice treatment of tuberculosis in children. http://whqlibdoc.who.int/publications/2010/9789241500449_eng.pdf

Primary prophylaxis
460

to prevent TB infection in TB Class 1 person

exposure (+), infection (-) tuberculin

negative
drug: INH 5 - 10 mg/kgBW/day
as long as contact take place, the source
should be treated
at least for 3 months
repeat TST:
negative: success, stop INH
positive: fail, become TB Class 2 continue as 2nd
proph

Secondary prophylaxis
461

to prevent TB disease in TB Class 2 person (exposure

(+), infection (+), disease (-)


and person with tuberculin conversion
certain high risk population

under five, puberty


long term use of steroid
malignancy
certain infection: morbili, pertussis

drug: INH 5 - 10 mg/kgBW/day


during the higher risk of TB disease development: 6-12

month

129. Vaksin BCG (Bacille Calmette-Guerin)


Bacille Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat

dari Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama


1-3 tahun sehingga didapatkan basil yang tidak virulen
tetapi masih mempunyai imunogenitas.
Vaksinasi BCG tidak mencegah infeksi tuberkulosis
tetapi mengurangi risiko terjadi tuberkulosis berat
seperti meningitis TB dan tuberkulosis milier.
Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, harus
disimpan pada suhu 2-8 C, tidak boleh beku.
Vaksin yang telah diencerkan harus dipergunakan dalam
waktu 8 jam.

Vaksin BCG
Vaksin BCG diberikan pada umur <3 bulan, sebaiknya pada anak

dengan uji Mantoux (tuberkulin) negatif.


Efek proteksi timbul 812 minggu setelah penyuntikan.
Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,10 ml untuk anak, 0,05

ml untuk bayi baru lahir.


VaksinBCG diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas

pada insersio M.deltoideus sesuai anjuran WHO, tidak di tempat lain


(bokong, paha).
Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif pada umur lebih

dari 3 bulan.
Pada bayi yang kontak erat dengan pasien TB dengan bakteri tahan

asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan INH profilaksis dulu, apabila


pasien kontak sudah tenang bayi dapat diberi BCG.

KIPI BCG
Penyuntikan BCG secara

intradermal akan menimbulkan


ulkus lokal yang superfisial 3 (2-6)
minggu setelah penyuntikan.
Ulkus tertutup krusta, akan
sembuh dalam 2-3 bulan, dan
meninggalkan parut bulat dengan
diameter 4-8 mm.
Apabila dosis terlalu tinggi maka
ulkus yang timbul lebih besar,
namun apabila penyuntikan terlalu
dalam maka parut yang terjadi
tertarik ke dalam (retracted).

Limfadenitis
Limfadenitis supuratif di aksila atau di
leher kadang-kadang dijumpai setelah
penyuntikan BCG.
Limfadenitis akan sembuh sendiri, jadi
tidak perlu diobati.
Apabila limfadenitis melekat pada kulit
atau timbul fistula maka lakukan
drainase dan diberikan OAT
BCG-itis diseminasi

(Disseminated BCG Disease)

berhubungan dengan imunodefisiensi


berat.
diobati dengan kombinasi obat anti
tuberkulosis.

Kontraindikasi BCG
Reaksi uji tuberkulin >5 mm,
Menderita infeksi HIV atau dengan risiko tinggi infeksi HIV,

imunokompromais akibat pengobatan kortikosteroid, obat

imuno-supresif, mendapat pengobatan radiasi, penyakit


keganasan yang mengenai sumsum tulang atau sistem limfe,
Menderita gizi buruk,

Menderita demam tinggi,


Menderita infeksi kulit yang luas,

Pernah sakit tuberkulosis,


Kehamilan.

130. Morbili/Rubeola/Campak
Pre-eruptive Stage
Demam
Catarrhal Symptoms coryza,
conjunctivitis
Respiratory Symptoms cough
Eruptive Stage/Stage of Skin Rashes
Exanthem sign
Maculopapular Rashes Muncul 2-7
hari setelah onset
Demam tinggi yang menetap
Anoreksia dan iritabilitas
Diare, pruritis, letargi dan
limfadenopati oksipital
Stage of Convalescence
Rash menghilang sama dengan urutan
munculnya (muka lalu ke tubuh bag
bawah) membekas kecoklatan
Demam akan perlahan menghilang saat
erupsi di tangan dan kaki memudar

Tindakan Pencegahan :
Imunisasi Campak pada usia 9 bulan
Mencegah terjadinya komplikasi berat

Morbili
Paramyxovirus
Kel yg rentan:

Anak usia prasekolah yg blm


divaksinasi
Anak usia sekolah yang gagal
imunisasi

Musim: akhir musim

dingin/ musim semi


Inkubasi: 8-12 hari
Masa infeksius: 1-2 hari
sblm prodromal s.d. 4 hari
setelah muncul ruam

Prodromal

Hari 7-11 setelah eksposure


Demam, batuk,
konjungtivitis,sekret hidung.
(cough, coryza, conjunctivitis
3C)

Enanthem ruam

kemerahan
Kopliks spots muncul 2
hari sebelum ruam dan
bertahan selama 2 hari.

Detection of specific IgM antibodies in


a serum sample collected within the
first few days of rash onset can provide
presumptive evidence of a current or
recent measles virus infection Fase
akut: terdeteksi IgM
Imunoglobulin IgM & IgG muncul
bersamaan hari ke 12, puncak hari ke
21.
IgM (+) : terinfeksi virus campak/
imunisasi campak
IgG (+) : pernah terinfeksi campak
IgA (+) : terdapat di sekret nasal dan
seluruh saluran nafas, hanya terdeteksi
pada terpapar virus campak
hidup(virus campak mati tidak)

Komplikasi
Otitis Media
Bronchopneumonia
Encephalitis
Pericarditis
Subacute sclerosing panencephalitis
late sequellae due to persistent
infection of the CNS

Rubella
Togavirus

Asymptomatik hingga 50%

Yg rentan: orang dewasa

Prodromal

yang belum divaksinasi


Musim: akhir musim
dingin/ awal musim semi.
Inkubasi 14-21 hari
Masa infeksius: 5-7 hari
sblm ruam s.d. 3-5 hari
setelah ruam muncul

Anak-anak: tidak bergejala


s.d. gejala ringan
Dewasa: demam, malaside,
nyeri tenggorokan, mual,
anoreksia, limfadenitis
oksipital yg nyeri.

Enanthem

Forschheimers spots
petekie pada hard palate

Rubella - komplikasi
Arthralgias/arthritis pada

org dewasa
Peripheral neuritis
encephalitis
thrombocytopenic purpura
(jarang)
Congenital rubella
syndrome

Infeksi pada trimester


pertama
IUGR, kelainan mata, tuli,
kelainan jantung, anemia,
trombositopenia, nodul kulit.

Roseola Infantum Exanthem Subitum


Human Herpes Virus 6

(and 7)
Yg rentan: 6-36 bulan
(puncak 6-7 bulan)
Musim: sporadik
Inkubasi: 9 hari
Masa infeksius: berada
dalam saliva secara
intermiten sepanjang
hidup; infeksi
asimtomatik persisten.

Demam tinggi 3-4 hari


Demam turun mendadak

dan mulai timbul ruam


kulit.
Kejang yang mungkin
timbul berkaitan dengan
infeksi pada meningens
oleh virus.

Scarlet Fever
Sindrom yang memiliki

karakteristik: faringitis
eksudatif, demam, dan rash.
Disebabkan oleh group Abetahemolyticstreptococci
(GABHS)
Masa inkubasi 1-4 hari.
Manifestasi pada kulit diawali
oleh infeksi streptokokus
(umumnya pada
tonsillopharynx) : nyeri
tenggorokan dan demam
tinggi, disertai nyeri kepala,
mual, muntah, nyeri perut,
myalgia, dan malaise.

Rash : Timbul 12-48 jam

setelah onset demam. Dimulai


dari leher kemudian
menyebar ke badan dan
ekstremitas.
Pemeriksaan : Throat culture
positive for group A strep
Tatalaksana : Antibiotik
antistreptokokal minimal 10
hari (Eritromisin atau
Penicillin G)

Scarlet Fever. http://emedicine.medscape.com/article/1053253-overview

131. Derajat dehidrasi diare

132. Anak Tersedak

133. Bronkiolitis
Infection (inflammation) at

bronchioli
Bisa disebabkan oleh beberapa
jenis virus, yang paling sering
adalah respiratory syncytial virus
(RSV)
Virus lainnya: influenza,
parainfluenza, dan adenoviruses
Predominantly < 2 years of age (2-

6 months)

Difficult to differentiate with

pneumonia and asthma

Bronkhiolitis

Bronchiolitis

Bronchiolitis: Management
Mild disease
Symptomatic therapy
Moderate to Severe diseases
Life Support Treatment : O2, IVFD
Etiological Treatment
Anti viral therapy (rare)
Antibiotic (if etiology bacteria)
Symptomatic Therapy
Bronchodilator: controversial
Corticosteroid: controversial (not effective)

134. STRIDOR
Abnormal, high-pitched sound produced by turbulent

airflow through a partially obstructed airway at the


level of the supraglottis, glottis, subglottis, and/or
trachea.
It can be:

Inspiratory stridorextrathoracic obstruction


Supraglottic area
Nasopharynx, epiglottis, larynx, aryepiglottic folds, false vocal
cords
Glottic and subglottic area
Vocal cords to the extrathoracic segment of the trachea

Expiratory stridor (wheezing) intrathoracic obstruction


bronchial obstruction
Biphasic stridortracheal (subglottic or glottic anomaly)

critical and fixed airwary obstruction at any level


http://medschool.lsuhsc.edu

http://medschool.lsuhsc.edu

Causes
neonate
Laryngomalacia
Vocal cord dysfunction
Congenital tumours
Choanal atresia
Laryngeal webs

1st
2nd

Chronic
Chronic
Chronic
Chronic
Chronic

Chilld

Infection -epiglottitis -Laryngitis


Croup : 1-2 days duration less severe
FB
Laryngeal dyskinesia

acute
Acute
Acute
chronic

adult
Infection -epiglottitis -Laryngitis
Trauma acquired stenosis
CA Larynx or Trachea or main bronchus
http://medschool.lsuhsc.edu

Acute
Acute
chronic

http://dnbhelp.files.wordpress.com/2011/10/stridor.jpg?w=645

Laringomalasia
Laringomalasia adalah kelainan kongenital dimana

epiglotis lemah
Akibat epiglotis yang jatuh, akan menimbulkan
stridor kronik, yang diperparah dengan gravitasi
(berbaring).
Pada pemeriksaan dapat terlihat laring berbentuk
omega
Laringomalasia biasanya terjadi pada anak dibawah
2 tahun, dimulai dari usia 4-6 minggu, memuncak
pada usia 6 bulan dan menghilang di usia 2 tahun.
Sebagian besar kasus tidak memerlukan tatalaksana.

Obstetri & Ginekologi

135. Ginekologi
Kista Bartholin

Kista pada kelenjar bartholin yang terletak di kiri-kanan bawah vagina,di


belakang labium mayor. Terjadi karena sumbatan muara kelenjar e.c trauma
atau infeksi

Kista Nabothi (ovula)

Terbentuk karena proses metaplasia skuamosa, jaringan endoserviks diganti


dengan epitel berlapis gepeng. Ukuran bbrp mm, sedikit menonjol dengan
permukaan licin (tampak spt beras)

Polip Serviks

Tumor dari endoserviks yang tumbuh berlebihan dan bertangkai, ukuran


bbrp mm, kemerahan, rapuh. Kadang tangkai panjang sampai menonjol dari
kanalis servikalis ke vagina dan bahkan sampai introitus. Tangkai
mengandung jar.fibrovaskuler, sedangkan polip mengalami peradangan
dengan metaplasia skuamosa atau ulserasi dan perdarahan.

Karsinoma Serviks

Tumor ganas dari jaringan serviks. Tampak massa yang berbenjol-benjol,


rapuh, mudah berdarah pada serviks. Pada tahap awal menunjukkan suatu
displasia atau lesi in-situ hingga invasif.

Mioma Geburt

Mioma korpus uteri submukosa yang bertangkai, sering mengalami nekrosis


dan ulserasi.

Kista Gartner
Suatu kista vagina yang disebabkan oleh sisa

jaringan embrional (duktus Wolffian).


Biasanya didapatkan di dinding anterolateral
superior vagina.
Ukuran pada umumnya < 2cm, namun dapat
berkembang hingga lebih besar.
Gejala klinis disebabkan oleh karena ukuran kista
yang besar adalah dispareuni dan sulitnya persalinan
Pada pemeriksaan patologi anatomi didapatkan
epitelial kuboid yang selapis

KISTA BARTHOLIN
Kelenjar Bartholin:
Bulat, kelenjar seukuran
kacang terletak didalam
perineum pintu masuk
vagina arah jam 5 dan jam 7
Normal: tidak teraba
Duktus panjang 2 cm, dan
terbuka pada celah antara
selaput himen dan labia
minora di dinding lateral
posterior vagina

Kista Duktus Bartholin:


Kista yang paling sering
Disebabkan oleh obstruksi sekunder pada
duktus akibat inflamasi nonspesifik atau
trauma.
Kebanyakan asimptomatik
Pengobatan tidak diperlukan pada wanita
usia < 40 tahun kecuali terinfeksi atau
simptomatik
Terapi: Marsupialization.
Pada wanita > 40 tahun: biopsi dilakukan
untuk menyingkirkan adenocarcinoma
kelenjar Bartholin

Kista Nabothi
Terjadi bila kelenjar

penghasil mukus di
permukaan serviks
tersumbat epitel
skuamosa
Benbentuk seperti beras
dengan permukaan licin

136. Fistula Vaginorektal


Etiologi: trauma t.u saat partus, IBD (Crohn

Disease), luka operasi, infeksi, keganasan


PF:
Keluar flatus atau feses dari vagina, vaginitis, sistitis, vagina
berbau
Terapi: operasi

Bangser M. Obstetric fistula and stigma. Lancet. Feb 11 2006;367(9509):535-6. [Medline].


Browning A, Menber B. Women with obstetric fistula in Ethiopia: a 6-month follow up after surgical treatment. BJOG. Nov 2008;115(12):15649. [Medline].

137. Prolaps Uteri


Prolaps uteri adalah penurunan uterus dari posisi

anatomis yang seharusnya.


Insidens prolaps uteri meningkat dengan
bertambahnya usia.
Manifestasi klinis yang sering didapatkan adalah
keluarnya massa dari vagina dan adanya gangguan
buang air kecil hingga disertai hidronefrosis

138. Endometriosis
Endometriosis sering ditemukan pada wanita

remaja dan usia reproduksi


Gejala:

Nyeri di perut bagian bawah dan di daerah panggul


Menstruasi yang tidak teratur
Kemandulan
Dispareunia

Patofosiologi Nyeri dan Infertilitas berhubungan dengan


endometriosis

Gangguan Menstruasi

Perdarahan Menstruasi Abnormal


Amenorrhea: Tidak adanya menstruasi selama 6 bulan atau tidak terdapat
siklus menstruasi selama 3 siklus
Menorrhagia: Peningkatan volume darah selama menstruasi > 80 mL

Metrorrhagia: Episode perdarahan iregular


Menometrorrhagia: Pemanjangan durasi perdarahan pada interval yang
iregular
Oligomenorrhea: Panjang siklus menstruasi > 35 hari
Polymenorrhea: Panjang siklus menstruasi < 21 hari
Postmenopausal bleeding: Perdarahan yang berlangsung lebih dari 12 bulan
dari siklus menstuasi terakhir

Coulter A, Bradlow J, Agass M, et al: Outcomes of referrals to gynaecology outpatient clinics for menstrual problems:
An audit of general practice records. Br J Obstet Gynaecol. 1991, 98: 789-796.

139. PELVIC INFLAMMATORY DISEASE


Infeksi pada traktus genital atas wanita yang melibatkan

kombinasi antara uterus, ovarium, tuba falopi,


peritonium pelvis, atau jaringan penunjangnya.
PID terutama terjadi karena ascending infection dari
traktus genital bawah ke atas
Patogen: Dapat berupa penyakit akibat hubungan seksual
atau endogen (Tersering: N. Gonorrhea & Chlamydia
Trachomatis)
Faktor Risiko:

Kontak seksual
Riwayat penyakit menular seksual
Multiple sexual partners
IUD
PID:Current concepts of diagnosis and management,Curr Infect Dis Rep, 2012

PID:Current concepts of diagnosis and management,Curr Infect Dis Rep, 2012

Sexually active woman presenting with abnormal vaginal


discharge, lower abdominal pain, OR dyspareunia

Uterine tenderness, OR
Adnexal tenderness, OR
Cervical motion tenderness on pelvic exam?

YES

NO

1) Perform NAAT for gonorrhea and chlamydia


2) Perform pregnancy testing
3) Perform vaginal microscopy if available
4) Offer HIV testing

See Vaginal Discharge algorithm,


consider other organic causes

Empiric treatment for PID* if no other organic


cause found (e.g. ectopic pregnancy, appendicitis)

Signs of severe illness (i.e. high fever, nausea/vomiting), OR


Surgical emergency (e.g. appendicitis) not excluded, OR
Suspected to have a tubo-ovarian abscess, OR
Unable to tolerate or already failed oral antibiotics, OR
Pregnant?

YES

NO

Inpatient PID treatment:


Cefotetan 2g IV Q12 hours OR
Cefoxitin 2g IV Q6 hours, PLUS
Doxycycline 100mg PO/IV Q12 hours**
(other regimens available****)

Outpatient PID treatment:


Ceftriaxone 250mg IM x 1 dose PLUS
Doxycycline 100mg PO BID x 14 days,** WITH OR WITHOUT
Metronidazole 500mg PO BID x 14 days***
OR
Cefoxitin 2g IM x 1 dose and Probenecid 1g PO x 1dose together PLUS
Doxycycline 100mg PO BID X 14 days,** WITH OR WITHOUT
Metronidazole 500mg PO BID x 14 days***
(other regimens available****)
Response to treatment
72 hours later?

1) Hospitalize 24-48 hours to ensure response to treatment


2) Discharge on oral antibiotics to complete 14 day course

NO

YES

See Inpatient treatment

Continue treatment for 14 days

http://depts.washington.edu/handbook/syndromesFemale/ch8_pid.html

Pelvic Inflammatory Disease

http://www.cdc.gov/std/treatment/2010/pid
.htm

PID - Pengobatan

Harus berspektrum luas

Semua regimen harus efektif melawan N. gonorrhoeae dan C.

trachomatis karena hasil skrining endoserviks yang negatif tidak


menyingkirkan infeksi saluran reproduksi atas
Rawat jalan atau rawat inap bergantung pada:

Adanya emergensi (contoh; apendisitis)


Pasien hamil
Pasien tidak berespon baik terhadap antibiotik oral
Pasien tidak memungkinkan untuk menoleransi antibiotik oral
Pasien memiliki penyakit berat, mual-muntah, demam tinggi
Pasien memiliki abses tubo-ovarian

http://www.cdc.gov/std/treatment/2010/pid.htm

140. Kontrasepsi

141. Hiperemesis Gravidarum


Definisi: keluhan mual,muntah pada ibu hamil yang

berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.


Biasanya mulai setelah minggu ke-6 dan baik dengan
sendirinya sekitar minggu ke-12
Etiologi : Kemungkinan kadar BhCG yang tinggi atau
faktor psikologik
Predisposisi :primigravida, mola hidatidosa dan
kehamilan ganda.
Akibat mual muntah dehidrasi elektrolit berkurang,
hemokonsentrasi, aseton darah meningkat kerusakan
liver

Tingkatan Hiperemesis Gravidarum


Tingkat 1 :

lemah, napsu makan, BB, nyeri epigastrium, nadi, turgor kulit


berkurang, TD sistolik, lidah kering, mata cekung.

Tingkat 2 :

apatis, nadi cepat dan kecil, lidah kering dan kotor, mata sedikit
ikterik, kadang suhu sedikit , oliguria, aseton tercium dalam hawa
pernafasan.

Tingkat 3 :

KU lebih lemah lagi, muntah-muntah berhenti, kesadaran menurun


dari somnolen sampai koma, nadi lebih cepat, TD lebih turun.
Komplikasi fatal Ensefalopati Wernicke : nystagmus, diplopia,
perubahan mental, ikterik

Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum


Tatalaksana umum Hiperemesis Gravidarum:

Pertahankan kecukupan nutrisi ibu.


Istirahat cukup dan hindari kelelahan

Tatalaksana Medikamentosa

Berikan 10 mg doksilamin dikombinasikan dengan 10 mg piridoksin


hingga 4 tablet per hari (2 tablet saat akan tidur, 1 tablet saat pagi
dan 1 tablet saat siang)
Dimenhidrinat 50-100 mg per oral atau supositoria 4-6 kali sehari
ATAU prometazine 5-10 mg 3-4 kali sehari per oral atau supositoria
dapat diberikan bila doksilamin tidak berhasil
Bila masih tidak teratasi dapat diberikan Ondansetron 8 mg per oral
tiap 12 jam atau Klorpromazin 10-25 mg per oral atau 50-100 mg IM
tiap 4-6 jam bila masih berlum teratasai dan tidak terjadi dehidrasi.

Tatalaksana dehidrasi pada


Hiperemesis Gravidarum

Atasi dehidrasi dan ketosis


Berikan Infus Dx 10% + B kompleks IV
Lanjutkan dengan infus yang mempunyai komposisi kalori dan elektrolit yang
memadai seperti: KaEN Mg 3, Trifuchsin dll.
Atasi defisit asam amino
Atasi defisit elektrolit
Balans cairan ketat hingga tidak dijumpai lagi ketosis dan defisit elektrolit
Berikan obat anti muntah: metchlorpropamid, largactil, ondansetron, atau
metilprednisolon
Berikan suport psikologis
Jika dijumpai keadaan patologis: atasi
Jika kehamilannya patologis (misal: Mola Hidatidosa) lakukan evakuasi
Nutrisi per oral diberikan bertahap dan jenis yang diberikan sesuai apa yang dikehendaki
pasien
Perhatikan pemasangan kateter infus untuk sering diberikan salep heparinkarena cairan
infus yang diberikan relatif pekat.
Infus dilepas bila kondisi pasien benar-benar telah segar dan dapat makan dengan porsi
wajar
http://emedicine.medscape.com/article/254751-overview

142. Abortus
Definisi: Kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang

dari 500 gram.

Diagnosis dengan bantuan pemeriksaan ultrasonografi

Perdarahan pervaginam dari bercak hingga berjumlah banyak


Perut nyeri dan kaku
Pengeluaran sebagian produk konsepsi
Serviks dapat tertutup maupun terbuka
Ukuran uterus lebih kecil dari yang seharusnya

Faktor Predisposisi

Faktor dari janin: kelainan genetik (kromosom)


Faktor dari ibu: infeksi, kelainan hormonal seperti hipotiroidisme, diabetes mellitus,
malnutrisi, penggunaan obatobatan, merokok, konsumsi alkohol, faktor immunologis
dan defek anatomis seperti uterus didelfis,inkompetensia serviks (penipisan dan
pembukaan serviks sebelum waktu in partu, umumnya pada trimester kedua) dan
sinekhiae uteri karena sindrom Asherman.
Faktor dari ayah: Kelainan sperma

DIAGNOSIS

PERDARAHAN

SERVIKS

BESAR UTERUS GEJALA LAIN

Abortus
imminens

Sedikit-sedang

Tertutup lunak

Sesuai usia
kehamilan

Tes kehamilan +
Nyeri perut
Uterus lunak

Abortus insipiens

Sedang-banyak

Terbuka lunak

Sesuai atau lebih


kecil

Nyeri perut hebat


Uterus lunak

Abortus
inkomplit

Sedikit-banyak

Terbuka lunak

Lebih kecil dari


usia kehamilan

Nyeri perut kuat


Jaringan +
Uterus lunak

Abortus komplit

Sedikit-tidak ada

Tertutup atau
terbuka lunak

Lebih kecil dari


usia kehamilan

Sedikit atau tanpa


nyeri perut
Jaringan keluar
Uterus kenyal

Abortus septik

Perdarahan
berbau

Lunak

Membesar, nyeri
tekan

Demam
leukositosis

Missed abortion

Tidak ada

Tertutup

Lebih kecil dari


usia kehamilan

Tidak terdapat
gejala nyeri perut
Tidak disertai
ekspulsi jaringan
konsepsi

Abortus
Imminens

Abortus Insipiens

Abortus Komplit

Abortus
Inkomplit

Missed Abortion

143. Persalinan Preterm


Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu
Diagnosis
Usia kehamilan 37 minggu
Terjadi kontraksi 4 kali dalam 20 menit atau 8 kali dalam 60 menit diikuti dengan perubahan
serviks yang progresif
Pembukaan serviks 2 cm
Faktor Predisposisi
Usia ibu <18 tahun atau >40 tahun, hipertensi, perkembangan janin terhambat, solusio
plasenta, plasenta previa, ketuban pecah dini, infeksi intrauterine, bakterial vaginosis, serviks
inkompetens, kehamilan ganda, penyakit periodontal, riwayat persalinan preterm sebelumnya,
kurang gizi, merokok
Tatalaksana
Tatalaksana Umum
Tatalaksana utama mencakup pemberian tokolitik, kortikosteroid, dan antibiotika profilaksis.
Namun beberapa kasus memerlukan penyesuaian.
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Persalinan Preterm: Tatalaksana Khusus


Bila terdapat salah satu dari keadaan dibawah ini maka tokolitik tidak perlu

diberikan, dan bayi dilahirkan secara pervaginam atau perabdominam


sesuai kondisi kehamilan:
Usia kehamilan di bawah 24 dan di atas 34 minggu, pembukaan > 3 cm,
ada tanda korioamnionitis (infeksi intrauterin), preeklampsia, atau
perdarahan aktif, ada gawat janin, janin meninggal atau adanya kelainan
kongenital yang kemungkinan hidupnya kecil
Lakukan terapi konservatif (ekspektan) dengan tokolitik, kortikosteroid dan

antibiotika jika syarat berikut ini terpenuhi:


Usia kehamilan antara 24-34 minggu, dilatasi serviks kurang dari 3 cm,
tidak ada korioamnionitis (infeksi intrauterin), preeklampsia, atau
perdarahan aktif, tidak ada gawat janin

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Persalinan Preterm: Tatalaksana Khusus

Tokolitik hanya diberikan pada 48 jam pertama untuk memberikan kesempatan


pemberian kortikosteroid. Obat-obat tokolitik yang digunakan adalah:

Nifedipin: 3 x 10 mg per oral, ATAU


Terbutalin sulfat 1000 g (2 ampul) dalam 500 ml larutan infus NaCl 0,9% dengan dosis awal
pemberian 10 tetes/menit lalu dinaikkan 5 tetes/menit tiap 15 menit hingga kontraksi hilang, ATAU
Salbutamol: dosis awal 10 mg IV dalam 1 liter cairan infus 10 tetes/menit. Jika kontraksi masih
ada, naikkan kecepatan 10 tetes/menit setiap 30 menit sampai kontraksi berhenti atau denyut nadi
>120/menit kemudian dosis dipertahankan hingga 12 jam setelah kontraksi hilang

Berikan kortikosteroid untuk pematangan paru janin. Obat pilihannya adalah:


Deksametason 6 mg IM setiap 12 jam sebanyak 4 kali, ATAU
Betametason 12 mg IM setiap 24 jam sebanyak 2 kali
Antibiotika profilaksis diberikan sampai bayi lahir. Pilihan antibiotika yang rutin
diberikan untuk persalinan preterm (untuk mencegah infeksi streptokokus grup B) adalah:

Ampisilin: 2 g IV setiap 6 jam, ATAU


Penisilin G 2 juta unit IV setiap 6 jam, ATAU
Klindamisin: 3 x 300 mg PO (jika alergi terhadap penisilin)
Antibiotika yang diberikan jika persalinan preterm disertai dengan ketuban pecah dini adalah
eritromisin 4x400 mg per oral

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

144. Anemia pada Kehamilan


Anemia adalah suatu kondisi di mana terdapat

kekurangan sel darah merah atau hemoglobin.


Diagnosis ditegakkan dengan kadar Hb < 11
gram/dL (trimester I dan III) atau < 10,5 gram/dL
(pada trimester II)
Faktor predisposisi

Diet rendah zat besi, B12, dan asam folat


Kelainan gastrointestinal
Penyakit kronis
Adanya riwayat keluarga
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Tatalaksana Anemia
Tatalaksana umum anemia
Lakukan pemeriksaan apusan darah tepi untuk melihat morfologi sel
darah merah.
Bila fasilitas tidak tersedia berikan tablet 60 mg besi elemental dan
250 g asam folat, 3 kali sehari evaluasi 90 hari
Tatalaksana khusus anemia
Bila terdapat pemeriksaan apusan darah tepi, lakukan pengobatan
sesuai hasil apusan darah tepi.
Anemia defisiensi besi (hipokromik mikrositer): 180 mg besi
elemental per hari
Anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12: asam folat 1 x 2 mg,
dan vitamin B12 1 x 250-1000g
Transfusi dilakukan bila Hb < 7 g/dL atau hematokrit < 20% atau Hb
> 7 g/dL dengan gejala klinis pusing, pandangan berkunang-kunang
atau takikardia
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

145. TB dan Menyusui


Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui
Profilaksis untuk bayi:
Setelah lahir, bayi diberikan profilaksis INH (5-10
mg/kgBB/hari) sampai 6 bulan. Vaksinasi BCG segera
diberikan setelah pengobatan profilaksis selesai

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

146. Hipertensi Dalam Kehamilan


Hipertensi Kronik
Hipertensi Gestasional
Pre Eklampsia Ringan
Pre Eklampsia Berat
Superimposed Pre Eklampsia

HELLP Syndrome
Eklampsia

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Hipertensi Kronik
Definisi
Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul dari sebelum
kehamilan dan menetap setelah persalinan
Diagnosis
Tekanan darah 140/90 mmHg
Sudah ada riwayat hipertensi sebelum hamil, atau diketahui
adanya hipertensi pada usia kehamilan <20 minggu
Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
Dapat disertai keterlibatan organ lain, seperti mata, jantung,
dan ginjal
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Hipertensi Kronik
Tatalaksana

Jika pasien sebelum hamil sudah mendapat obat antihipertensi, dan


terkontrol dengan baik, lanjutkan pengobatan tersebut dengan obat
yang sesuai untuk ibu hamil
Jika sistolik >160 mmHg/diastolik > 110 mmHg antihipertensi
Jika terdapat proteinuria atau tanda-tanda dan gejala lain, pikirkan
superimposed preeklampsia dan tangani seperti preeklampsia
Berikan suplementasi kalsium1,5-2 g/hari dan aspirin 75 mg/hari
mulai dari usia kehamilan 20 minggu
Pantau pertumbuhan dan kondisi janin Jika tidak ada komplikasi,
tunggu sampai aterm
Jika DJJ <100 kali/menit atau >180 kali/menit, tangani seperti
gawat janin.
Jika terdapat pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan
terminasi kehamilan
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Hipertensi Gestasional
Definisi

Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul setelah kehamilan 20 minggu dan menghilang
setelah persalinan

Diagnosis

TD 140/90 mmHg
Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil, tekanan darah normal di usia kehamilan <12
minggu
Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
Dapat disertai tanda dan gejala preeklampsia, seperti nyeri ulu hati dan trombositopenia

Tatalaksana Umum

Pantau TD, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin setiap minggu.
Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia ringan.
Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat untuk
penilaian kesehatan janin.
Beri tahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklampsia dan eklampsia.
Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal.

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Pre Eklampsia
Preeklampsia Ringan
Tekanan darah 140/90 mmHg pada usia kehamilan > 20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria 1+ atau pemeriksaan protein
kuantitatif menunjukkan hasil >300 mg/24 jam
Preeklampsia Berat
Tekanan darah >160/110 mmHg pada usia kehamilan >20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria 2+ atau pemeriksaan protein
kuantitatif menunjukkan hasil >5 g/24 jam; atau disertai keterlibatan organ
lain:

Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis mikroangiopati


Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas
Sakit kepala , skotoma penglihatan
Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion
Edema paru dan/atau gagal jantung kongestif
Oliguria (< 500ml/24jam), kreatinin > 1,2 mg/dl
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Pre Eklampsia & Eklampsia


Superimposed preeklampsia pada hipertensi

kronik

Ibu dengan riwayat hipertensi kronik (sudah ada sebelum usia


kehamilan 20 minggu)
Tes celup urin menunjukkan proteinuria >+1 atau trombosit
<100.000 sel/uL pada usia kehamilan > 20 minggu

Eklampsia
Kejang umum dan/atau koma
Ada tanda dan gejala preeklampsia
Tidak ada kemungkinan penyebab lain (misalnya epilepsi,
perdarahan subarakhnoid, dan meningitis)
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Tatalaksana Preeklampsia-eklampsia
Tatalaksana umum
Semua ibu dengan preeklampsia maupun eklampsia harus dirawat masuk rumah
sakit
Pertimbangkan persalinan atau terminasi kehamilan
Induksi persalinan dianjurkan bagi ibu dengan preeklampsia berat dengan janin yang
belum viable atau tidak akan viable dalam 1-2 minggu.
Pada ibu dengan preeklampsia berat, di mana janin sudah viable namun usia
kehamilan belum mencapai 34 minggu, manajemen ekspektan dianjurkan, asalkan
tidak terdapat kontraindikasi
Pada ibu dengan preeklampsia berat, di mana usia kehamilan antara 34 dan 37
minggu, manajemen ekspektan boleh dianjurkan, asalkan tidak terdapat hipertensi
yang tidak terkontrol, disfungsi organ ibu, dan gawat janin. Lakukan pengawasan
ketat.
Pada ibu dengan preeklampsia berat yang kehamilannya sudah aterm, persalinan
dini dianjurkan.
Pada ibu dengan preeklampsia ringan atau hipertensi gestasional ringan yang sudah
aterm, induksi persalinan dianjurkan.

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Tatalaksana Preeklampsia-eklampsia
Antihipertensi

Ibu dengan hipertensi berat perlu mendapat terapi antihipertensi


Ibu dengan terapi antihipertensi di masa antenatal dianjurkan untuk melanjutkan terapi
antihipertensi hingga persalinan.
Terapi antihipertensi dianjurkan untuk hipertensi pasca persalinan berat
Antihipertensi yang diberikan nifedipin, nikardipin, dan metildopa. Jangan berikan ARB
inhibitor, ACE inhibitor dan klortiazid pada ibu hamil

Pemeriksaan penunjang tambahan

Hitung darah perifer lengkap


Golongan darah AB0, Rh, dan uji pencocokan silang.
Fungsi hati (LDH, SGOT, SGPT)
Fungsi ginjal (ureum, kreatinin serum)
Fungsi koagulasi (PT, APTT, fibrinogen)
USG (terutama jika ada indikasi gawat janin atau pertumbuhan janin terhambat)

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Tatalaksana Khusus
Edema paru

Edema paru dapat diketahui dari adanya sesak napas, hipertensi,


batuk berbusa, ronki basah halus pada basal paru pada ibu dengan
preeklampsia berat.
Tatalaksana
Posisikan ibu dalam posisi tegak
Oksigen
Furosemide 40 mg IV
Bila produksi urin masih rendah (<30 ml/jam dalam 4 jam)
pemberian furosemid dapat diulang.
Ukur Keseimbangan cairan. Batasi cairan yang masuk

Sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, low

platelets) dilakukan dengan terminasi kehamilan


Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Tatalaksana Eklampsia
Pencegahan dan Tatalaksana Kejang
Bila terjadi kejang perhatikan prinsip ABCD
Magnesium sulfat diberikan sebagai tatalaksana kejang pada
eklampsia dan pencegahan kejang pada preeklampsia berat.
Dosis pemberian magnesium sulfat intravena adalah 4 gram
selama 20 menit untuk dosis awal dilanjutkan 6 gram selama 6
jam untuk dosis rumatan. Magnesium sulfat dapat diberikan IM
dengan dosis 5 gram pada bokong kiri dan 5 gram pada bokong
kanan.
Syarat pemberian magnesium sulfat adalah terdapat refleks
patella, tersedia kalsium glukonas, dan jumlah urin minimal 0,5
ml/kgBB/jam

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

147. Pemeriksaan tinggi fundus uteri


Berdasarkan Usia Kehamilan

Sumber:
http://www.gynob.c
om/fh.htm

147. MOLA HIDATIDOSA


Kehamilan abnormal dimana hampir seluruh villi

chorialis degenerasi hidropik; kelainan dalam proses


fertilisasi
hamil anggur
2 tipe :

Komplit: Terdapat perubahan hydropik pada villi, avaskuler,


disertai proliferasi pada kedua lapisan jaringan trofoblas dan
tidak terdapat janin.
Partial: Terdapat perubahan hydropik pada sebagian villi,
masih ada gambaran vaskuler, proliferasi hanya terjadi pada
lapisan sinsisio trofoblas dan kadang kadang bisa terdapat
janin atau jaringan janin yang normal
Obstetri Patologi Buku Ajar FK Unpad

Mola Hidatidosa
Gejala
Amenorrhea
Perdarahan (banyak/sedikit)

anemia
Rahim lebih besar dari usia
kehamilan
Kista teca lutein (10%)
Hyperemesis
Dapat disertai
preeklampsia/eklampsia;
hipertiroid
Tidak ada tanda janin :
ballotement (-), DJJ (-)

Diagnosis :
B-hCG tinggi dalam darah dan

urin
Percobaan sonde : masuk mudah
ke cavum uteri, tanpa tahanan
Diagnosis pasti: Lahirnya
gelembung-gelembung mola
pemeriksaan histopatologi :
edema dari stroma villi, avaskular
villi, kumpulan dari
syncytiotrophoblast/cytotrophobla
stic yang berproliferasi
USG : gambaran badai
salju/snowstorm pada mola
komplit; gambaran swiss cheese
pada mola partial

Mola Hidatidosa
Tatalaksana
Perhatikan keadaan umum ibu
Evakuasi jaringan : dengan vakum kuret, diberikan
oxytocin sebelumnya harus yakin bersih
Bila fungsi reproduksi cukup : dapat dianjurkan
histerektomi
Follow up rutin : untuk evaluasi kemungkinan
menjadi choriocarcinoma

148. PERDARAHAN ANTEPARTUM


Perdarahan dari jalan lahir setelah usia kehamilan 22 minggu
Gejala dan Tanda Utama

Faktor Predisposisi

Penyulit Lainnya

Perdarahan tanpa nyeri.


Darah segar atau kehitaman.
Terjadi setelah miksi atau defekasi,
aktifitas fisik, kontraksi braxton hicks,
trauma atau koitus.

Nullipara atau
multiparitas

Perdarahan dengan nyeri intermitten atau


menetap.
Darah kehitaman dan cair atau mungkin
terdapat bekuan
Bila jenis terbuka, warna darah merah segar.

Hipertensi
Versi luar
Trauma abdomen
Polihidramnion
Gemelli
Defisiensi nutritif

Kelelahan dan dehidrasi


Konstriksi bandl
Nyeri perut bawah hebat
Gejala tidak khas pada bekas seksio sesaria

Pernah SC
Partus lama
CPD
Kelainan
letak/presentasi
Persalinan traumatik

Perdarahan merah segar


Uji pembekuan darah tidak menunjukan adanya
bekuan darah setelah 7 menit
Rendahnya faktor pembekuan darah

Solusio plasenta
Janin mati dalam rahim
Eklampsia
Emboli air ketuban

Perdarahan saat amniotomi atau saat selaput


ketuban pecah spontan
Pulsasi di sepanjang alur pembuluh yang teraba

Kehamilan multipara
Genetik

Diagnosis

Tidak ada nyeri.


Bagian terendah fetus
tidak masuk pintu atas
panggul.
Gawat janin

Plasenta Previa

Syok yang tidak sesuai jumlah


darah yang keluar
Anemia berat
Melemah/hilangnya gerak
fetus
Gawat janin atau hilangnya
DJJ
Uterus tegang dan nyeri

Solusio Plasenta

Syok/takikardia
Hilangnya gerak dan DJJ
Bentuk uterus
abnormal/kontur tidak jelas
Nyeri raba/tekan dinding
perut
Bagian anak mudah dipalpasi

Ruptura Uteri

Perdarahan gusi
Gambaran memar bawah kulit
Perdarahan dari tempat
suntikan/infus

Gangguan
pembekuan darah

Sulit dikenali saat pembukaan


masih kecil

Vasa Previa

148. Plasenta Previa


Perdarahan awal ringan, perdarahan ulangan lebih berat

sampai syok,umumnya perdarahan awal terjadi pada 33


minggu. Pada perdarahan <32 minggu waspada infeksi
traktus uri & vaginitis, servisitis
Klasifikasi:

Plasenta letak rendah : plasenta pada segmen bawahuterus dengan tepi


tidak mencapai ostium internum.
Plasenta previa marginalis: tepi plasenta letak rendahmencapai ostium
internum tetapi tidak menutupi ostiuminternum
Plasenta previa partialis: plasenta menutupi sebagianostium internum
Plasenta previa totalis (komplit): plasenta menutupiseluruh ostium
internum

Posisi Plasenta Pada Kehamilan


A. Placenta Normal
B. Placenta Previa
C. Placenta Akreta

D. Solusio Plasenta

Masam-macam:
- PP totalis
- PP lateralis
- PP marginal
- PP letak rendah

149.Tafsiran persalinan
Untuk menentukan usia kehamilan dapat

digunakan rumus Naegele(siklus haid 28 hr) sebagai


berikut :
Tanggal ditambah 7
Bulan dikurang 3
Tahun ditambah 1
Keterangan : (1 bulan = 30 hari)

Tafsiran Persalinan
HPHT : 8 12 2010

(+)7 (-)3 (+) 1


15
9 2011
Tafsiran persalinan: 15 September 2011 jika siklus
haid teratur 28 hari.
Tafsiran persalinan dgn siklus haid teratur 21 hr (TP
28hr kurangi 7hr): 8 September 2011

150. Pemeriksaan Leopold

151. Distosia Bahu


Distosia bahu adalah :
Impaksi bahu depan diatas simfisis
Ketidakmampuan melahirkan bahu dengan mekanisme/cara
biasa
Diagnosis:
Turtle Sign
tidak terjadi gerakan restitusi spontan
Gagal lahir dgn tenaga biasa

Distosia Bahu
Faktor risiko distosia bahu adalah:
Antepartum: adanya riwayat distosia bahu, makrosomia,
diabetes mellitus atau intoleransi glukosa pada ibu,
kenaikan berat badan yang berlebih pada ibu saat
kehamilan, obesitas, dan kehamilan post-term
Intrapartum: Precipitous second stage, Operative vaginal
delivery (vakum, forceps, atau keduanya), prolonged second
stage, riwayat induksi atas indikasi makrosomia.

Penatalaksanaan Distosia bahu


Ask for help: 2 tim

Lift the legs & buttocks (McRobert)


Anterior shoulder disimpaction:

eksternal: Massanti
internal: Rubin (dengan episiotomi)
Rotation:
Bahu blkng: wood
wood corkscrew
Manual removal of posterior arm(scwartz)
dengan episiotomi
Roll over: ulangi
knee chest

152. LASERASI PERINEUM


Laserasi perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik

secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan.


Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi
luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat.
Gejala :
Perdarahan
Darah segar yang mengalir setelah bayi lahir
Uterus tidak berkontraksi dengan baik
Penanganan : memperbaiki robekan, pemberian antibiotik
Komplikasi :

Perdarahan
Fistula dapat terjadi tanpa diketahui penyebabnya karena perlukaan pada vagina menembus
kandung kencing atau rectum. Jika kandung kencing luka, maka air kencing akan segera
keluar melalui vagina (fistula vesikovagina). Jika rektum luka, maka kotoran dapat keluar ke
vagina (fistula rektovagina)
Hematoma
Infeksi
Obstetri Patologi

153. Kehamilan Ektopik


Definisi
Kehamilan yang terjadi di luar rahim
(uterus).
Hampir 95% kehamilan ektopik

terjadi di berbagai segmen tuba


Falopii, dengan 5% sisanya terdapat
di ovarium, rongga peritoneum atau
di dalam serviks.
Apabila terjadi ruptur di lokasi

implantasi kehamilan, maka akan


terjadi keadaan perdarahan masif
dan nyeri abdomen akut yang disebut
kehamilan ektopik terganggu (KET)
Sumber: Buku Kesehatan Ibu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan
Rujukan, 2013

Kehamilan Ektopik
Diagnosis

Perdarahan pervaginam dari bercak hingga berjumlah sedang, gejala


syok hemoragik, nyeri abdomen dan pelvis, nyeri goyang porsio,
serviks tertutup
Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG

Faktor Predisposisi

Riwayat KET sebelumnya, riwayat operasi di daerah tuba dan/atau


tubektomi, riwayat penggunaan AKDR, infertilitas, riwayat
inseminasi buatan atau teknologi bantuan reproduktif (assisted
reproductive technology/ART), riwayat infeksi saluran kemih dan
pelvic inflammatory disease/PID, merokok, riwayat abortus
sebelumnya, riwayat promiskuitas, riwayat seksio sesarea
sebelumnya
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Kehamilan Ektopik
Tatalaksana Umum
Restorasi cairan tubuh dengan cairan kristaloid NaCl 0,9% atau Ringer
Laktat (500 mL dalam 15 menit pertama) atau 2 L dalam 2 jam pertama.
Segera rujuk ibu ke rumah sakit
Tatalaksana Khusus
Segera uji silang darah dan persiapan laparotomi (lihat lampiran A.20).
Saat laparotomi, lakukan eksplorasi kedua ovarium dan tuba fallopii:
Jika terjadi kerusakan berat pada tuba, lakukan salpingektomi (eksisi
bagian tuba yang mengandung hasil konsepsi)
Jika terjadi kerusakan ringan pada tuba, usahakan melakukan
salpingostomi untuk mempertahankan tuba (hasil konsepsi dikeluarkan, tuba
dipertahankan)
Jadwalkan kunjungan ulang setelah 4 minggu. Atasi anemia dengan
pemberian tablet besi sulfas ferosus 60 mg/hari selama 6 bulan.
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

154. ANC
Kunjungan ANC adalah :
setiap bulan sampai umur kehamilan 28 minggu
setiap 2 minggu sampai umur kehamilan 32 minggu
setiap 1 minggu sejak kehamilan 32 minggu sampai
terjadi kelahiran.
Pemeriksaan khusus jika ada keluhan tertentu.

Pemeriksaan ANC
Standar Minimal 7T

1.
2.

3.
4.

5.
6.
7.

Timbang berat badan


Tekanan Darah
Tinggi Fundus Uteri (TFU)
TT lengkap (imunisasi)
Tablet Fe minimal 90 paper selama kehamilan
Tengok / periksa ibu hamil dari ujung rambut
sampai ujung kaki
Tanya (temu wicara) dalam rangka persiapan
rujukan

155. Sindrom Sheehan


Hipopituarism yang disebabkan oleh

nekrosis akibat kehilangan darah dalam


jumlah banyak dan syok hipovolemik
selama dan setelah melahirkan

Pituitari anterior disuplai oleh sistem


vena porta yang memiliki tekanan
rendah bila terjadi perdarahan atau
hipotensi iskemia nekrosis
Pituitari posterior biasanya tidak
terpengaruh karena memiliki suplai
arteri sendiri.

Gejala:

Agalaktorea
Amenorrhea atau oligomenorrhea setelah
persalinan atau kecelakaan

155. Sheehan syndrome

156. Perdarahan Postpartum


Perdarahan postpartum adalah perdarahan

pervaginam 500 cc atau lebih setelah kala III selesai


(setelah plasenta lahir)
Penyebab perdarahan Postpartum antara lain :
Atonia uteri 50% - 60%
Retensio plasenta 16% - 17%
Sisa plasenta 23% - 24%
Laserasi jalan lahir 4% - 5%
Kelainan darah 0,5% - 0,8%

156. PERDARAHAN POST-PARTUM


Gejala dan Tanda
yang Selalu Ada
Uterus tidak berkontraksi dan lembek
Tidak ada penonjolan uterus supra simfisis
Perdarahan setelah anak lahir (perdarahan pascapersalinan dini)

Perdarahan segera setelah bayi lahir


Darah segar
Uterus kontraksi baik
Plasenta lengkap
Teraba diskontinuitas portio atau dinding vagina

Gejala dan Tanda yang


Kadang-Kadang Ada
Syok

Pucat
Lemah
Menggigil
Presyok

Diagnosis
kemungkinan
Atonia uteri

Robekan jalan lahir

Plasenta belum lahir setelah 30 menit


Perdarahan segera
Uterus kontraksi baik

Tali pusat putus akibat traksi


berlebihan
Inversio uteri akibat tarikan
Perdarahan lanjutan

Retensio plasenta

Sub-involusi uterus
Nyeri tekan perut bawah
Perdarahan post partum lanjut

Anemia
Demam (bila terinfeksi)

Sisa fragmen plasenta /


Endometritis (terinfeksi)

Tidak terdapat penonjolan suprasimfisis ataupun pada perut


bawah
Uterus tidak teraba saat palpasi
Lumen vagina terisi massa kenyal dengan penampakan plasenta
bagian fetal dan tali pusat (bila belum lepas)

Neurogenik syok
Pucat dan limbung

Inversio Uteri

156. Atonia
Uteri

Atonia Uteri
Lakukan pemijatan uterus & pastikan plasenta lahir lengkap
Berikan 20-40 unitoksitosin dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9%/Ringer Laktat

dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unit IM


Lanjutkan infus oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9%/Ringer Laktat
dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan berhenti.
Bila tidak tersedia oksitosin atau bila perdarahan tidak berhenti, berikan
ergometrin 0,2 mg IM atau IV (lambat), dapat diikuti pemberian 0,2 mg IM setelah
15 menit, dan pemberian 0,2 mg IM/IV (lambat) setiap 4 jam bila diperlukan.
JANGAN BERIKAN LEBIH DARI 5 DOSIS (1 mg)
Jika perdarahan berlanjut, berikan 1 g asam traneksamat IV (bolus selama 1 menit,
dapat diulang setelah 30 menit)
Lakukan pasang kondom kateter atau kompresi bimanual internal selama 5 menit
Siapkan tindakan operatif atau rujuk ke fasilitas yang lebih memadai sebagai
antisipasi bila perdarahan tidak berhenti

157. Gangguan Menstruasi


Disorder

Definition

Primary Amenorrhea

Absence of menstruation in a woman by the age of 16.


Women by the age of 14 who still have not reached
menarche, plus having no sign of secondary sexual
characteristics such as thelarche or pubarche

Secondary
Amenorrhea

An established menstruation has ceased for 3 months in a


woman with a history of regular cyclic bleeding, or for 9
months in a woman with a history of irregular periods

Oligomenorea

Infrequent (or, in occasional usage, very light) menstruation

Menorrhagia

Abnormally heavy and prolonged menstrual period at


regular intervals

Metrorrhagia

uterine bleeding at irregular intervals, particularly between


the expected menstrual periods.

Menometrorrhagia

Condition in which prolonged or excessive uterine bleeding


occurs irregularly and more frequently than normal

Gangguan Menstruasi
PENYEBAB
Kelainan di otak, kelenjar hipofisa, kelenjar tiroid, kelenjar adrenal,
ovarium maupun sistem reproduksi lainnya.
Dalam keadaan normal, hipotalamus (bagian dari otak yang terletak

diatas kelenjar hipofisa kelenjar hipofisa untuk melepaskan hormonhormon yang merangsang dilepaskannya sel telur oleh ovarium.
Pada penyakit tertentu, pembentukan hormon hipofisa yang abnormal

bisa menyebabkan terhambatnya pelepasan sel telur dan terganggunya


serangkaian proses hormonal yang terlibat dalam terjadinya
menstruasi.

Kelainan dan Diagnosis

Etiologi
Penyebab amenore primer:
1. Tertundanya menarke (menstruasi pertama)
2. Kelainan bawaan pada sistem kelamin (misalnya tidak
memiliki rahim atau vagina, adanya sekat pada vagina, serviks
yang sempit, lubang pada selaput yang menutupi vagina terlalu
sempit/himen imperforata)
3. Penurunan berat badan yang drastis (akibat kemiskinan, diet
berlebihan, anoreksia nervosa, bulimia, dan lain lain)
4. Kelainan bawaan pada sistem kelamin
5. Kelainan kromosom (misalnya sindroma Turner atau
sindroma Swyer) dimana sel hanya mengandung 1 kromosom
X)
6. Obesitas yang ekstrim
7. Hipoglikemia

Etiologi
Penyebab amenore sekunder:
1. Kehamilan
2. Kecemasan akan kehamilan
3. Penurunan berat badan yang drastis
4. Olah raga yang berlebihan
5. Lemak tubuh kurang dari 15-17%extreme
6. Mengkonsumsi hormon tambahan
7. Obesitas
8. Stres emosional

Algoritma Amenore Primer

Algoritma Amenore Sekunder

158. Hiperplasia Endometrium


Klasifikasi
Menurut WHO dibagi menjadi dua grup:
Pola glandular/stromal architectural, dibagi lagi menjadi
tipe sederhana atau kompleks
Berdasarkan ada/tidaknya inti atipik Risiko Ca
endometrium >>
Etiologi
Paparan estrogen endogen atau eksogen terus-menerus

Endo estrogen: pada penderita PCOS


Ekso estrogen: pada sulih hormon (terapi hormone)

Patogenesis
Paparan Estrogen terus menerus memiliki efek
Menstimulasi the transcription of genes for cyclin D,
protooncogenes, growth factors, dan growth factor
receptors.
Klinis
Diagnosis hiperplasia endometrium dapat dicurigai pada:
1. Wanita pasca menoupose (50-60 thn) dengan perdarahan
uterus yang banyak, lama, dan sering (< 21 hari) atau
2. Perdarahan uterus yang tidak teratur pada wanita
menopouse, atau menjelang menepouse.
* Setelah disingkirkan adanya keganasan

159. Metritis
Metritis adalah infeksi uterus pasca persalinan.

Keterlambatan terapi metritis dapat menyebabkan abses,


peritonitis, syok, trombosis vena, emboli paru, infeksi
panggul kronik, sumbatan tuba, dan infertilitas.
Faktor predisposisi adalah kurangnya higiene pasien,
nutrisi, dan tindakan aseptik saat melakukan tindakan.
Manifestasi klinis yang didapatkan adalah demam di atas
38C dapat disertai menggigil, nyeri perut bawah, lokia
berbau dan purulen, nyeri tekan uterus, subinvolusi
uterus, dan dapat disertai perdarahan per vaginam
hingga syok
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

Pemeriksaan Penunjang Metritis


Pemeriksaan darah perifer lengkap
Golongan darah AB0 dan jenis rhesus
Glukosa darah sewaktu
Analisis urin
Kultur (cairan vagina, urin, dan darah)

USG (untuk menyingkirkan kemungkinan sisa

plasenta)

Tatalaksana Metritis
Berikan antibiotika sampai 48 jam bebas demam dengan

Ampisilin 2 gram IV tiap 6 jam ditambah gentamisin 5


mg/kgB IV tiap 24 jam dan metronidazol 500 mg IV tiap
8 jam. Bila demam tidak menurun dalam 72 jam,
lakukan kaji ulang tatalaksana dan diagnosis.
Cegah dehidrasi
Pertimbangkan imunisasi TT bila dicurigai terpapar
tetanus
Periksa apakah ada kemungkinan sisa plasenta
Jika tidak ada kemajuan dan ada peritonitis lakukan
laparotomi dan drainase abdomen bila terdapat pus

160. Kala Persalinan


PERSALINAN dipengaruhi 3
FAKTOR P UTAMA

1. Power

His (kontraksi ritmis otot polos


uterus), kekuatan mengejan ibu,
keadaan kardiovaskular respirasi
metabolik ibu.
2. Passage
Keadaan jalan lahir
3. Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi,
ukuran/berat janin, ada/tidak
kelainan anatomik mayor)
(++ faktor2 P lainnya :
psychology, physician, position)

PEMBAGIAN FASE / KALA

PERSALINAN
Kala 1
Pematangan dan pembukaan
serviks sampai lengkap (kala
pembukaan)
Kala 2
Pengeluaran bayi (kala
pengeluaran)
Kala 3
Pengeluaran plasenta (kala uri)
Kala 4
Masa 1 jam setelah partus,
terutama untuk observasi

Kala Persalinan
HIS
Gelombang kontraksi ritmis otot

polos dinding uterus yang dimulai


dari daerah fundus uteri di mana
tuba falopii memasuki dinding
uterus
Resultan efek gaya kontraksi tersebut

dalam keadaan normal mengarah ke


daerah lokus minoris yaitu daerah
kanalis servikalis (jalan laihir) yang
membuka, untuk mendorong isi
uterus ke luar.

Terjadinya his, akibat :


1. kerja hormon oksitosin
2. regangan dinding uterus oleh isi konsepsi
3. rangsangan terhadap pleksus saraf
Frankenhauser yang tertekan massa
konsepsi.
His yang baik dan ideal meliputi :
1. kontraksi simultan simetris di seluruh
uterus
2. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah
fundus
3. terdapat periode relaksasi di antara dua
periode kontraksi.
4. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri
setiap sesudah his
5. Ostium uteri eksternum dan internum
terbuka

Kala Persalinan
Sifat his pada berbagai fase persalinan
Kala 1 awal (fase laten)
Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka sampai 3
cm. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat.
Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir
Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4 kali / 10
menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm).

Kala 2
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Refleks mengejan terjadi

juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala)
yang menekan anus dan rektum. Tambahan tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otototot dinding abdomen dan diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi.
Kala 3
Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun. Plasenta
dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan
memerlukan tindakan aktif (manual aid).

Kala Persalinan
Kala I
Fase laten :
pembukaan sampai mencapai 3 cm (8 jam).
Fase aktif :
pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm),
berlangsung sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas :
1. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai
4 cm.
2. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm
sampai 9 cm.
3. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai
lengkap (+ 10 cm).

Forensik, IKK, dan etika

161. Indikator Kesehatan


Angka Kematian Bayi dihitung dari banyaknya kematian bayi berusia kurang 1 tahun per 1000
kelahiran hidup pada waktu yang sama. Berguna untuk mengetahui gambaran tingkat
Angka Kematian
permasalah kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi,
Bayi
tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB,
serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi.

Banyaknya kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur
Angka Kematian yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi). Indikator ini terkait langsung
Balita (U5MR) 0dengan target kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan
lingkungan anak-anak bertempat tinggal termasuk pemeliharaan kesehatannya. Akaba kerap
4 tahun
dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk.
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah kematian perempuan ketika hamil atau dalam 42 hari setelah
terminasi kehamilan (melahirkan/keguguran/aborsi) yang disebabkan oleh hal-hal terkait
dengan kehamilan atau pemeliharaannya. Kegunaan: Indikator kematian ibu bermanfaat untuk
pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan
Angka Kematian
membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer), Program
Ibu
peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, Penyiapan sistim rujukan
dalam penanganan komplikasi kehamilan, Penyiapan keluarga dan suami siaga dalam
menyongsong kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan
meningkatkan derajat kesehatan reproduksi

162. Pembagian wewenang & tanggungjawab


Interval referral

pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderita sepenuhnya


kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu
dokter tsb tidak ikut menangani

Collateral referral

menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita


hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja

Cross referral

menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita


sepenuhnya

Split referral

menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita


sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan
dokter pemberi rujukan tidak ikut campur

163. Keberhasilan Posyandu


Cakupan SKDN
S : Semua balita diwilayah kerja Posyandu
K : Semua balita yang memiliki KMS
D : Balita yang ditimbang
N : Balita yang naik berat badannya
D / S : baik/kurangnya peran serta masyarakat
N / D : Berhasil tidaknya Program posyandu

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011

Tingkat partisipasi masyarakat


(D/S x 100%)
minimal mencapai 80 %
<80 % partisipasi mayarakat untuk kegiatan pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan berat badan sangatlah rendah
Tingkat Liputan Program
(K/S x 100%)
Mencapai 100 %.
Apabila tidak digunakan atau tidak dapat KMS

program Posyandu tersebut mempunyai liputan yang sangat rendah


Balita kehilangan kesempatan untuk mendapat pelayanan dalam KMS

Tingkat Kehilangan Kesempatan{(S-K)/S x 100%)

Tingkat Keberhasilan Program Posyandu


(N/D x 100%)
Indikator Drop Out
balita yang sudah mempunyai KMS dan pernah datang menimbang
berat badannya tetapi kemudian tidak pernah datang lagi di posyandu
untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan
(K-D)/K x 100%

164. Prevalensi

Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

165. Penelitian Diagnostik

Positive predictive value (a/a+b) adalah


probabilitas adanya penyakit pada
seseorang yang hasil testnya positif
Negative predictive value (d/c+d) adalah
probabilitas seseorang bebas dari
penyakit karena hasil test negative

Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi aksara.

166. Kepadatan Hunian


Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan

jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal (Lubis, 1989).


Untuk perumahan sederhana, minimum 8 m/orang. Untuk kamar tidur
diperlukan minimum 2 orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni > 2
orang, kecuali untuk suami istri dan anak dibawah dua tahun.
Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan
ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi
syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah
penghuni >10 m/orang dan kepadatan penghuni tidak memenuhi syarat
kesehatan bila diperoleh hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah
penghuni < 10 m/orang (Lubis, 1989).
Kepadatan hunian rumah: luas lantai (m2)/jumlah penghuni (orang) =
(3x3)+(4x3)/4 = 5,25 m2/orang

167. Ukuran Epidemiologi


Rasio: nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantitif yang

pembilangnya bukan bagian dari penyebut


Contoh: Kejadian Luar Biasa(KLB) diare sebanyak 30 orang di suatu daerah. 10
diantaranya adalah jenis kelamin pria. Maka rasio pria terhadap wanita
adalah R=10/20=1/2
Proporsi: perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan
bagian dari penyebut. Penyebaran proporsi adalah suatu penyebaran persentasi
yang meliputi proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang
mengenai masing-masing kategori atau subkelompok dari kelompok itu.
Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap perempuan adalah
P= 10/30=1/3
Rate: Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus perbandingan
antara pembilang dengan penyebut atau kejadian dalam suatu populasi teterntu
dengan jumlah penduduk dalam populasi tersebut dalam batas waktu tertentu

Ukuran dalam Epidemiologi


Insidens Rate (IR)
Insidens : jumlah kasus baru yang timbul pada suatu periode

waktu dalam populasi tertentu gambaran tentang frekuensi


penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu
waktu tertentu di suatu kelompok masyarakat
Contoh : Pada suatu daerah dengan jumlah penduduk tgl 1
Juli 2005 sebanyak 100.000 orang semua rentan terhadap
penyakit diare ditemukan laporan penderita baru sebagai
berikut bulan januari 50 orang, Maret 100o rang, Juni 150
orang, September 10 orang dan Desember 90 orang
IR = ( 50+ 100+150+10 +90) /100.000 X 100 % = 0,4 %

Ukuran dalam Epidemiologi


Attack rate (AR)
Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan

pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk


yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang
sama dalam % atau permil.
Contoh: Dari 500 orang murid yang tercatat pada SD X
ternyata 100 orang tiba-tiba menderita muntaber
setelah makan nasi bungkus di kantin sekolah
AR = 100 / 500 X 100% = 20 %
AR hanya dignkan pada kelompok masyarakat terbatas
dan periode terbatas,misalnya KLB.

Ukuran dalam Epidemiologi


Prevalens rate
Gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan

pada jangka waktu tertentu disekelompok masyarakat tertentu.


Ada dua Prevalen:
Period Prevalence
Contoh : Pada suatu daerah penduduk pada 1 juli 2005 100.000 orang,
dilaporkan keadaan penyakit A sbb: Januari 50 kasus lama dan 100 kasus
baru, Maret 75 kasus lama dan 75 kasus baru, Juli 25 kasus lama dan 75
kasus baru; September 50 kasus lama dan 50 kasus baru, dan Desember
200 kasus lama dan 200 kasus baru.
Period Prevalens rate : (50+100)+(75+75)+(25+75)+(50+50)+(200+200)
/100.000 X 100 % = 0,9 %

Ukuran dalam Epidemiologi


Point Prevalence Rate
Jumlah penderita lama dan baru pada satu
saat, dibagi dengan jumlah penduduk saat
itu dalam persen atau permil.
Contoh: Satu sekolah dengan murid 100
orang, kemarin 5 orang menderita penyakit
campak, dan hari ini 5 orang lainnya
menderita penyakit campak
Point Prevalence rate = 10/100 x 1000 =
100

168. Level of Disease Prevention


Usaha

Definisi

Promosi kesehatan

Upaya promosi kesehatan yang bersifat umum; Pola hidup bersih


dan sehat, asupan gizi seimbang

Proteksi spesifik

Ditujukan untuk mencegah penyakit tertentu; Asepsis dan


antisepsis sebelum tindakan, kemoprofilaksis preventif

Early diagnosis
and promp
treatment

Diagnosis sebelum penyakit timbul atau dimasa awal


penyakit kemudian melakukan penanganan dengan tepat.
Tujuannya untuk mencegah penyebaran penyakit dan mengobati
serta menghentikan proses perjalanan penyakit

Limitasi Disabilitas

Mengurangi keparahan penyakit jika penyakit telah terjadi,


mencegah akibat dari penyakit yang berkelanjutan

Rehabilitasi

Memaksimalkan fungsi tubuh atau memperbaiki atau


meningkatkan fungsi yang menurun , sehingga dapat berfungsi
optimal secara sosial, mental dan fisik
http://dc120.4shared.com/doc/7ade2xg7/preview.html

169. Tahap pencegahan penyakit


Penyakit belum
terjadi

Primer
Health
promotion
Specific
protection
Hidup sehat secara
umum
Pencegahan penyakit
tertentu

Penyakit sudah terjadi

Sekunder
Early
diagnosis
Prompt
treatment

Tersier
Rehabilitation

Periode of Prepathogenesis

Periode of Pathogenesis

HEALTH PROMOTION
Health education in the
fundamental facts of family
health and diseases

SPESIFIC PROTECTION
Plans for routine specific
immunizations and use of most
effective periods

Good standard of family


nutrition
Family healthful living habits
Attention to family personality
development

Avoidance of fatigue as much


as possible

Selective immunizations based on


exposure or potential exposure
Good personal hygiene
Proper isolation when indicated
Proper handling of vehicles of
transmission (food, water, etc)
Concurrent and terminal
disinfection when indicated
Satisfactory housing vector control

REHABILITATION
EARLY DIAGNOSIS AND
PROMPT TREATMENT
Case finding by periodical
examination and selective
examination

DISABILITY LIMITATION

Use of all available laboratory


procedures

Complete therapy
Use of home nursing services when
indicated

Adequate notification of cases

Consultation Referral

Examination of hereditary
risk

Minor surgery

Examination of contacts

Preparation for
surgery

Consultation

Major surgery

Hospitalization and work


therapy in hospitals
Family education to
utilize the rehabilitated
Control symptom of
diseases
Control family
awareness
Evaluation : method,
procedures, utilization
review

Hospitalization
when indicated

Referral
Specialist
treatment

Treatment

Primary Prevention

Levels of Prevention of Family Diseases / Problems

Secondary Prevention

Tertiary Prevention

170. Ukuran Epidemiologi


Rasio: nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantitif yang

pembilangnya bukan bagian dari penyebut


Contoh: Kejadian Luar Biasa(KLB) diare sebanyak 30 orang di suatu daerah.
10 diantaranya adalah jenis kelamin pria. Maka rasio pria terhadap wanita
adalah R=10/20=1/2
Proporsi: perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan
bagian dari penyebut. Penyebaran proporsi adalah suatu penyebaran
persentasi yang meliputi proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam
kelompok data yang mengenai masing-masing kategori atau subkelompok dari
kelompok itu.
Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap perempuan adalah
P= 10/30=1/3
Rate: Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus
perbandingan antara pembilang dengan penyebut atau kejadian dalam suatu
populasi teterntu dengan jumlah penduduk dalam populasi tersebut dalam
batas waktu tertentu

171. Beneficence (Berbuat baik)

General beneficence

Melindungi dan mempertahankan hak yang lain


Mencegah terjadinya kerugian pada yang lain
Menghilangkan kondisi penyabab kerugian pada yang lain
Specific beneficence
Menolong orang cacat
Menyelamatkan orang dari bahaya
Mengutamakan kepentingan pasien
Memandang pasien/ keluarga/ sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan
dokter/ rumah sakit/ pihak lain
Maksimalisasi akibat baik
Menjamin nilai pokok: apa saja yang ada, pantas kita bersikap baik
terhadapnya (apalagi ada yang hidup)

Beneficence (Berbuat baik)


Prinsip tindakan

Berbuat baik kepada siapa pun, termasuk yang tidak kita kenal
Pengorbanan diri demi melindungi dan menyelamatkan pasien
janji atau wajib menyejahterakan pasien dan membuat diri
terpecaya

Contoh tindakan

Dokter bersikap profesional, bersikap jujur, dan luhur pribadi


(integrity); menghormati pasien, peduli pada kesejahteraan pasien,
kasih sayang, dedikatif mempertahankan kompetensi pengetahuan
dan keterampilan teknisnya
Misalnya memilih keputusan terbaik pada pasien yang tidak otonom
(kurang mampu memutuskan bagi dirinya), misalnya anak, pasien
dengan gangguan jiwa, pasien dalam kondisi gawat

Kriteria
Beneficence
Kriteria
1. Mengutamakan altruism (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan
orang lain)
2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
3. Memandang pasien/keluarga sebagai sesuatu yang tak hanya menguntungkan dokter
4. Mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dibandingkan keburukannya
5. Paternalisme bertanggungjawab/berkasih sayang
6. Menjamin kehidupan baik minimal manusia

7. Pembatasan goal based (sesuai tujuan/kebutuhan pasien)


8. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
9. Minimalisasi akibat buruk
10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat
11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan

12. Tidak menarik honorarium di luar kewajaran


13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
14. Mengembangkan profesi secara terus menerus
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah
16. Menerapkan golden rule principle

172. Justice (Keadilan)


Sosial: kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan

kesejahteraan bersama
Utilitarian: memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi
menekankan efisiensi sosial dan memaksimalkan nikmat/
keuntungan bagi pasien
Libertarian: menekankan hak kemerdekaan sosial-ekonomi
(mementingkan prosedur adil > hasil substansif atau materiil)
Komunitarian: mementingkan tradisi komunitas tertentu
Egalitarian: kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang
dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan
kriteria material kebutuhan bersama)
Hukum (umum)
Tukar-menukar: kebajikan memberkan atau mengembalikan hak-hak
kepada yang berhak
Pembagian sesuai denan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup
bersama) mencapai kesejahteraan umum

justice
Kriteria
1. Memberlakukan sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok yang rentan
8. Tidak melakukan penyalahgunaan
9. Bijak dalam makro alokasi
10. Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien
11. Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya
12. Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil
13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
14. Tidak member beban berat secara tidak merata tanpa alas an tepat/sah
15. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan
kesehatan
16. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dsb

173. Surveilans
Surveilans Epidemiologi Rutin Terpadu: penyelenggaraan Surveilans

epidemiologi terhadap beberapa kejadian, permasalahan dan atau faktor resiko


kesehatan.
Surveilans epidemiologi Khusus: penyelenggaraan Surveilans epidemiologi
terhadap suatu kejadian, permasalahan, faktor resiko atau situasi khusus
kesehatan
Surveilans sentinel : penyelenggaraan Surveilans epidemiologi pada populasi
dan wilayah terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada
suatu populasi atau wilayah yang lebih luas.
Surveilans aktif : penyelenggaraan Surveilans epidemilogi dimana unit
Surveilans mengumpulkan data dengan cara mendatangi unit pelayanan
kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.
Surveilans Pasif: Penyelenggaraan Surveilans epidemiologi dimana unit
Surveilans mengumpulkan data dengan cara menerima data tersebut dari unit
pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.

174. Calgary Cambridge

Calgary Cambridge

175. Rekam Medis


Dalam Pasal 47 ayat (1) UU Praktek Kedokteran bahwa dokumen rekam medis milik

dokter, doktek gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis
milik pasien.
Dalam Pasal 48 UU Praktek Kedokteran.
Ayat (1) setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktek kedokteran wajib menyimpan
rahasia kedokteran;
Ayat (2) rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi
permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien
sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang undangan.
Permenkes Rekam Medis Pasal 11 ayat (2) yang menyatakan pimpinan sarana

pelayanan kesehatan dapat menjelaskan isi rekam medis secara tertulis atau
langsung kepada pemohon tanpa izin pasien berdasarkan peraturan perundangundangan
Penyidik dapat meminta kopi rekam medis pada sarana pelayanan kesehatan yang
menyimpannya, untuk melengkapi alat bukti yang diperlukan dalam perkara
hukum (pidana).

176. Effective Public Relations


Credibility: Communication begins in a climate of belief. This climate is built by the
performance of the sender who should reflect an earnest desire to serve the receiver.
The receiver will then have high regard for the competency of the sender.
Context: An advertising/communications program must square with the realities of
its environment. Your daily business activities must confirm, not contradict, the
message.
Content: The message must have meaning and relevance for the receiver. Content
determines the audience and vice versa.
Clarity: The message must be put in simple terms. Words used must have exactly the
same meaning to the sender as they do to the receiver. using language that is
appropriate and understandable for those involved, explaining technical terms,
organizing and illustrating the information logically and understandably [clear,
concise, complete, consistent, specific, simplistic.]

Effective Public Relations


Continuity and Consistency: Communication is an

unending process. It requires repetition to achieve


understanding. Repetition, with variation, contributes to
learning both facts and attitudes.
Channels: Use established channels of communication
channels the receiver uses and respects. Creating new
channels is difficult.
Capability of audience: Communication must take into
account the capability of the audience. Communications are
most effective when they require the least effort on the part
of the recipient

177. BPJS dan Lansia


Dengan dibentuknya BPJS, pemerintah berharap agar

penduduk Indonesia dapat merasakan fasilitas jaminan


kesehatan secara merata di tahun 2019 sehingga tidak akan
merasa khawatir dalam menghadapi kemungkinan masalah
kesehatan di hari tua.
Jumlah penduduk Indonesia yang telah lanjut usia (lansia)

atau berusia lebih dari 60 tahun diperkirakan akan terus


meningkat hingga tahun 2025. Pemerintah telah menyadari
akan adanya beban kesehatan yang lebih besar di kemudian
hari jika tidak ada pencegahan dan jaminan terhadap masalah
kesehatan di hari tua sejak dini.

178. Uji Hipotesis

* : Uji Parametrik; Tanda panah ke bawah : Uji alternatif jika parametrik tidak terpenuhi

Variabel Kategorik vs Numerik


Kategorik : Memiliki kategori variabel. Nominal (kategori
sederajat, cth laki-laki-perempuan)/Ordinal (kategori
bertingkat, cth baik-sedang-buruk)
Numerik : Dalam angka numerik, rasio (memiliki nilai nol
alami, cth tinggi badan)/interval (tidak memiliki nilai nol
alami, cth suhu)
Hipotesis Komparatif vs Korelatif
Komparatif : perbedaan/hubungan (cth. Apakah
terdapat/hubungan antara kadar gula darah dengan jenis
pengobatam?)
Korelasi : Cth. Berapa besar korelasi antara kadar
trigliserida dan kadar gula darah?

Skala Pengukuran
Komparatif : Dianggap skala kategorikal bila kedua variabel
kategorik. Skala numerik jika salah satu variabel
numerik
Korelatif : Dianggap skala kategorikal bila salah satu
variabel kategorik. Skala numerik jika kedua variabel
numerik
Berpasangan vs Tidak Berpasangan
Berpasangan : Dua atau lebih kelompok data berasal
dari subyek yang sama atau yang berbeda tapi telah
dilakukan matching
Tidak berpasangan : Data berasal dari kelompok subyek
yang berbeda, tanpa matching

179. Kekerasan pada anak


Beberapa observasi yang ditemukan:

Jika ditemukan memar yang nampak baru tanpa disertai perubahan warna,
diperkirakan terjadi 2 hari sebelum kematian
Jika memar terdapat perubahan warna kehijauan, diperkirakan terjadi
tidak lebih dari 18 jam sebelum kematian
Jika ada beberapa memar dengan beberapa warna yang berbeda, berarti
tidak terjadi pada saat yang sama. Penting pada kasus penyiksaan anak.

180. Tanatologi
Cadaveric spasm adalah bentuk kekakuan otot yang

terjadi pada saat kematian dan menetap. Terjadi karena


intensitas kuat tanpa ada relaksasi primer
Algor mortis adalah penurunan suhu tubuh mayat ke
lingkungan sekitar yang lebih dingin
Rigor mortis adalah kekakuan otot akibat habisnya
kelenturan otot yang dipengaruhi ATP
Livor mortis adalah darah yang mengendap di bagian
terbawah tubuh akibat gravitasi
Dekomposisi adalah pembusukan jaringan akibat lisis
dan proses urai bakteri

181. Luka Tembak (Gun Shot Wound)


Luka yang ditimbulkan oleh anak peluru pada

sasaran tergantung indikator :

Besar dan bentuk anak peluru


Balistik (Kecepatan, energi kinetik, stabilitas anak peluru)
Kerapuhan anak peluru
Kepadatan jaringan sasaran
Vulnerabilitas jaringan sasaran

Komponen luka :
Luka akibat terjangan anak peluru
Bukti partikel logam akibat geseran anak peluru dengan
laras
Butir mesiu
Panas akibat ledakan mesiu
Kerusakan jaringan akibat moncong laras yang menekan
sasaran
Komponen produk ikutan mana yang mencapai

sasaran menentukan jenis: Luka tembak jarak


jauh, jarak dekat, jarak sangat dekat dan luka
tembak tempel

Gambaran pada sasaran/luka tembak masuk (dari

luar ke dalam):
Kelim tatoo : Butir mesiu yang tidak habis terbakar dan
tertanam pada kulit
Kelim jelaga : Akibat jelaga yang keluar dari ujung laras
Kelim api : Hiperemi atau jaringan yang terbakar (jarak
sangat dekat
Kelim lecet : Bagian yang kehilangan kulit ari akibat
peluru yang menembus kulit
Kelim kesat : Zat pada anak peluru (minyak pelumas,
jelaga, mesiu) yang terusap pada tepi lubang

Luka Tembak Masuk (LTM) :


LTM Jarak jauh : Hanya komponen anak peluru
LTM Jarak dekat : Komponen anak peluru dan mesiu
LTM Jarak sangan dekat : Anak peluru, mesiu, jelaga
LTM Tempel/kontak : Seluruh komponen dan jejak
laras

Luka Tembak Keluar :


Pada tempat anak peluru meninggalkan tubuh korban
Umumnya lebih besar dari LTM karena
deformitas anak peluru
Jika menembus tulang berbentuk corong yang
membuka searah gerak anak peluru
Dapat dijumpai daerah lecet jika pada tempat keluar
terdapat benda keras

182. Waktu pembusukan


Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu

keliling optimal, kelembaban dan udara yang cukup,


banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau
menderita penyakit infeksi dan sepsis.
Media tempat mayat juga berperan. Mayat yang
terdapat di udara akan lebih cepat membusuk
dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau
dalam tanah.
Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang
berada dalam tanah : air : udara adalah 1: 2 : 8.

183. Tanda pasti kematian


Tanda

Keterangan

Livor mortis

Penumpukan eritrosit pada lokasi terendah akibat pengaruh gravitasi,


kecuali bagian tubuh yang tertekan alas keras.
Tampak 20 30 menit pascamati, makin lama makin luas dan lengkap,
akhirnya menetap setelah 8 12 jam.

Rigor mortis

terjadi bila cadangan glikogen dalam otot habis maka energi tidak
terbentuk dan aktin-miosin menggumpal sehingga otot menjadi kaku.
Mulai tampak 2 jam setelah mati klinis, arahnya sentripetal (dari luar ke
dalam), menjadi lengkap dalam 12 jam, dipertahankan selama 12 jam,
kemudian menghilang sesuai urutan terbentuknya.

Dekomposisi

proses degradasi jaringan akibat autolisis dan kerja bakteri. Tampak kirakira 24 jam pascamata berupa perubahan warna kehijauan pada perut
kanan bawah yang secara bertahan menyebar ke seluruh perut dan dada
menyertai terciumnya bau busuk.
36 48 jam pascamati akan dijumpai larva lalat (pengukuran panjang
larva dapat memperkirakan saat kematian).

Pada kasus belum ditemukan livor mortis menetap (<8 jam), tidak ada kaku yang
lengkap (<12 jam), dan tidak ada pembusukan (<24 jam)
Dapat disimpulkan waktu kematian antara 3-8 jam

184. Autopsi
Autopsi (juga dikenal pemeriksaan kematian atau

nekropsi) adalah investigasi medis jenazah untuk


memeriksa sebab kematian. Kata otopsi berasal dari
bahasa Yunani yang berarti lihat dengan mata sendiri.
Nekropsi berasal dari bahasa Yunani yang berarti
melihat mayat.

Ada 2 jenis otopsi:


Forensik: Ini dilakukan untuk tujuan medis legal
Klinikal: Cara ini biasanya dilakukan di rumah sakit
untuk menentukan penyebab kematian untuk tujuan
riset dan pelajaran.

185. Identifikasi Umur Bayi


Kriteria yangumum dipakai adalah
berat badan,
tinggi badan,
pusat penulangan.
Tinggi badan memiliki nilai lebih dalam memperkirakan umur dibanding berat

badan.
Tinggi badan diukur dari puncak kepala hingga tumit (crown-heel), dapat
digunakan untuk memperkirakan umur menurut Haase.
Cara lain yaitu dari puncak kepala hingga tulang ekor (crown-rup), digunakan oleh
Streeter.
Pusat penulangan yang paling bermakna dalam memperkirakan umur adalah
pusat penulangan pada bagian distal os femur. Pemeriksaan dengan sinar-X dapat
membantu untuk menilai timbulnya epifise dan fusinya dengan diafise

Abdul Munim Idries. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Binarupa Aksara: 1997

186. Tahapan DVI


Phase I

: TKP
Phase II :Post Mortem
Phase III :Ante Mortem
Phase IV :Rekonsiliasi
Phase V :Debriefing

FA S E 1 - T K P
Fungsi
Menetapkan prosedur DVI
Mencari, menemukan, mencatat sisa tubuh dan
barang
Tempat insiden harus dianggap sebagai TKP
TKP harus diteliti dan membuat catatan sebelum
sisa tubuh dipindahkan
Kerjasama dengan pihak terkait di TKP
Form DVI warna pink

Fungsi
Melakukan pemeriksaan mayat, property dll
Mencatat hasil pemeriksaan, dokumentasi
Pengambilan sidik jari
Pengambilan sampel DNA
Mencatat hasil dalam form DVI warna pink

Fungsi
Membandingkan data AM dengan PM
Penetapan suatu identifikasi
Mengkorfimasi apakah hasil yang
dicapai sudah memuaskan semua
pihak (Tim)

FASE 5 DEBRIEFING
Kegunaan
1. Meninjau kembali pelaksanaan DVI
2. Mengenali dampak positive dan
negative operasi DVI
3. Menentukan keefektifan persiapan tim
DVI secara psikologi
4. Melaporkan temuan serta memberikan
masukan untuk meningkatkan operasi
berikutnya

TELINGA HIDUNG DAN


TENGGOROKAN

187. Tonsilitis Kronik


Acute tonsillitis:
Viral: similar with acute rhinits + sore throat
Bacterial: GABHS, pneumococcus, S. viridan, S.
pyogenes.

Detritus follicular tonsillitits


Detritus coalesce lacunar tonsillitis.
Sore throat, odinophagia, fever, malaise, otalgia.
Th: penicillin or erythromicin

Chronic tonsillitis

Persistent sore throat, anorexia, dysphagia, &


pharyngotonsillar erythema
Lymphoid tissue is replaced by scar widened
crypt, filled by detritus.
Foul breath, throat felt dry.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.

Tonsilitis Kronis
Deskripsi Tonsilitis Kronik

Batasan

Radang berulang pada tonsil menyebabkan jaringan limfoid


digantikan oleh jaringan parut

Etiologi

Rangsangan menahun akibat rokok, makanan, higyne mulut


yang buruk, pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat

Gejala

Anamnesis: Rasa mengganjal di tenggorok, kering, nafas


berbau
PF: Tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata,
kripta melebar dan beberapa kripta terisi oleh deritus

Terapi

Menjaga hygine mulut


Pertimbangkan tonsilektomi

Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

Indikasi Tonsilektomi
Tonsilitis > 3 kali pertahun walau dengan terapi adekuat
Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan

gangguan pertumbuhan orofasial


Sumbatan jalan nafas berupa hipertrofi tonsil dengan sleep
apnea, ganggua menelan, berbicara, cor pulmonale
Rinitis dan sinusitis kronis, peritonsilitis, abses peritonsil
yang tidak berhasil dengan pengobatan
Halitosis yang tidak respon dengan pengobatan
Tonsilitis berulang karena Streptococcus beta hemolitikus
Curiga keganasan
OME/ Otitis media supuratif

188. Penyakit Meniere


Penyakit Meniere adalah suatu kelainan pada

telinga bagian dalam yang mengakibatkan


gangguan pada pendengaran dan keseimbangan.
Hal ini ditandai dengan adanya episode vertigo
dan tinnitus dan penurunan pendengaran secara
progresif, bisaanya unilateral. Hal ini disebabkan
oleh dilatasi sistem limfatik yang berakibat terjadi
drainase endolimfa.

Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

Patofisiologi

Gejala & tanda klinis

Vertigo
Tinitus

tuli
sensorineural
terutama pada
nada rendah

Trias Meniere

Gejala & tanda klinis

Typical

Atypical

Gejala penurunan pendengaran yang


fluktuatif
Fluktuatif vertigo
Fluktuatif tinnitus
Sensani penuh pada telinga yang fluktuatif.

Pada penyakit meniere cochlear gejalanya adalah :


penurunan pendengaran yang fluktuatif
fluktuatif tinnitus
sensasi rasa penuh pada telinga yang fluktuatif
Pada penyakit meniere vestibular gejalanya adalah :
fluktuatif vertigo
fluktuatif tinnitus
sensasi rasa penuh pada telinga yang fluktuatif.

Diagnosis
ANAMNESIS

PEMERIKSAAN FISIK

Vertigo hilang timbul


yang makin mereda pada
serangan berikutnya
Fluktuasi gangguan
pendengaran berupa tuli
saraf
Pendengaran membaik
setelah serangan berakhir
Tinnitus
Rasa penuh di telinga
Menyingkirkan
kemungkinan penyebab
dari sentral

Diperlukan hanya untuk


menguatkan diagnosis
penyakit ini.
Bila dalam anamnesis
terdapat riwayat fluktuasi
pendengaran, sedangkan
pada pemeriksaan
ternyata terdapat tuli
saraf, maka kita sudah
dapat mendiagnosis
penyakit Meniere, sebab
tidak ada penyakit lain
yang bisa menyebabkan
adanya perbaikan dalam
tuli saraf, kecuali pada
penyakit Meniere.
Pada sebagian kasus
dapat ditemukan
nystagmus

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
audiometri
ENG
BERA
Electrocochleography
MRI kepala
tes gliserin
timpanometri

DIAGNOSIS BANDING

tumor N.VIII

sclerosis
multiple

neuritis
vestibuler

vertigo posisi
paroksisimal
jinak (VPPJ) /
BPPV

TATALAKSANA
Diet dan perubahan gaya hidup
diet rendah
garam
Pemakaian rokok
alkohol, coklat,
Kafein dan nikotin harus dihentikan.
Olahraga rutinOlahraga rutin

Farmakologi
Vasodilator perifer, anti histamin,
antikolinergik, steroid dan diuretik :
untuk mengurangi tekanan pada
endolimfe.
Obat antiiskemia dapat pula diberikan
sebagai obat alternatif dan neurotonik
untuk menguatkan sarafnya
Diazepam: pada kasus akut untuk
membantu mengontrol vertigo
Anti emetik seperti prometazin: untuk
mengurangi mual, muntah, dan
vertigonya
Diuretik seperti thiazide: menurunkan
tekanan dalam sistem endolimfe

TATALAKSANA
Latihan (rehabilitasi)
Canalit Reposition
Treatment (CRT)

Brand - Darroff

Penatalaksanaan bedah
Operasi yang
direkomendasikan bila
serangan vertigo tidak
terkontrol:
Dekompresi sakus
endolimfatikus
Labirinektomi
Neurektomi vestibuler
Labirinektomi dengan
zat kimia
Endolymphe shunt

189. Penurunan pendengaran


Garpu tala
512 Hz

Normal

Tuli
Kondukif

Tuli
Sensorineu
ral

Tes Rinne

Positif

Negatif

Positif

Tes Weber

Tidak ada
lateralisasi

Lateralisasi
ke telinga
sakit

Lateralisasi
ke telinga
sehat

Sama dengan
pemeriksa

Memanjang

Memendek

Tes Swabach

190. OM Serosa
Otitis media serosa ialah keradangan non bakterial

mukosa kavum timpani yang ditandai dengan


terkumpulnya cairan yang tidak purulen (serous atau
mukus).
Gangguan fungsi tuba Eustakhius merupakan
penyebab utama.
Anamnesis: Telinga terasa penuh, terasa ada cairan
(grebeg-grebeg), Pendengaran menurun, Terdengar
suara dalam telinga sewaktu menelan/menguap.

Pada otoskopi membran timpani berubah warna (kekuning-

kuningan), refleks cahaya berubah atau menghilang, Dapat terlihat


"air-fluid level" atau "air bubles".
Pemeriksaan tambahan:
- Audiogram : tuli konduktif.
- Timpanogram : tipe B atau C.
TERAPI
Tahap I :
- Miringotomi dan pasang "ventilating tube" (Gromet).
- Obat-obatan terhadap gangguan fungsi tuba. (Dekongestan oral
atau lokal, terapi OMA)
Tahap II:
- Bila ada pembesaran tonsil dan/adenoid, dilakukan
adenotonsilektomi.
- Bila ada faktor alergi dilakukan perawatan alergi.

Timpanometri
Timpanometri dilakukan untuk mengetahui keadaan di

telinga tengah. Misalnya, apakah ada cairan, gangguan


rangkaian tulang pendengaran (ossicular chain),
kekakuan gendang telinga atau bahkan gendang telinga
terlalu lentur.
Gambaran hasil timpanometri tersebut adalah:

tipe A mengindikasikan bahwa kondisi telinga tengah normal;


tipe B terdapat cairan di telinga tengah;
tipe C terdapat gangguan fungsi tuba eustachius;
tipe AD terdapat gangguan rangkaian tulang pendengaran;
tipe AS terdapat kekakuan pada tulang pendengaran (otosklerosis)

191. Edukasi Tatalaksana OMSK


Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi, dimana pengobatan
dapat dibagi atas :
Konservatif
Operasi
OMSK BENIGNA FASE TENANG
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan pasien diberikan informasi dan edukasi
untuk tidak mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi,
dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas
atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti,
timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran.
OMSK BENIGNA AKTIF
Prinsip pengobatan OMSK adalah:
Membersihkan liang telinga dan kavum timpani. Bila sekret keluar terus menerus diberikan
H2O2 3% selama 3 5 hari.
Pemberian antibiotika : topikal antibiotik ( antimikroba) dan sistemik.

Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan konservatif dengan


medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan.
Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum
kemudian dilakukan mastoidektomi.3

192. Rhinosinusitis
Diagnosis

Clinical Findings

Acute
Rhinosinusitis

Two or more symptoms, included nasal obstruction or


nasal discharge as one of them and: facial pain/pressure
or hyposmia/anosmia.
cheek pain: maxillary sinusitis
retroorbital pain: ethmoidal sinusitis
forehead or headache: frontalis sinusitis

Chronic sinusitis

Subacute: 4 weeks-3 months. Chronic: > 3 months.


Symptoms are nonspesific, may only consist of 1 or 2 from
these chronic headache, post nasal drip, chronic cough,
throat disturbace, ear disturbance, sinobronchitis.

Dentogen sinusitis

The base of maxilla are processus alveolaris, where tooth


roots are located. Tooth infection can spread directly to
maxillary sinus. Symptoms: unilateral sinusitis with
purulent nasal secrete & foul breath.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Rhinosinusitis
Pemeriksaan penunjang rhinosinusitis:
Foto polos: posisi waters, PA, lateral. Tapi hanya menilai
sinus-sinus besar (maksila & frontal). Kelainan yang tampak:
perselubungan, air fluid level, penebalan mukosa.
CT scan: mampu menilai anatomi hidung & sinus, adanya
penyakit dalam hidung & sinus, serta perluasannya gold
standard. Karena mahal, hanya dikerjakan utk penunjang
sinusitis kronik yang tidak membaik atau pra-operasi untuk
panduan operator.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Rhinosinusitis
Terapi rhinosinusitis

Tujuan:
Mempercepat penyembuhan
Mencegah komplikasi
Mencegah perubahan menjadi kronik

Prinsip:

Membuka sumbatan di kompleks osteomeatal (KOM) drainasi &


ventilasi pulih

Farmakologi:
AB amoksisilin 10-14 hari
Dekongestan
Lain-lain: analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, NaCl

Operasi

untuk sinusitis kronik yang tidak membaik, sinusitis disertai kista


atau kelainan ireversibel, polip ekstensif, komplikasi (kelainan
orbita, intrakranial, osteomielitis, kelainan paru), sinusitis jamur.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

193. Disorders of External Ear


Hematoma Aurikula(Othematoma)

Trauma tumpul yang parah pada aurikula dapat menyebabkan


hematoma
Edema, berfluktuasi, ecchymotic pinna.
Jika tidak diobati dapat menyebabkan perichondritis.
Th/: incision & drainage/needle aspiration pressure bandage

Perichondritis Aurikula

Sering disebabkan oleh trauma, dengan penetrasi kulit dan luka


terkontaminasi
Aurikula menjadi panas, merah, bengkak setelah terluka
Infeksi di bawah perikondrium nekrosis cartilageo fibrosis
deformitas aurikula parah (cauliflower ear)
Th/: antibiotik. Jika ada fluktuasi pus drainage.

Keloid

Dapat muncul pada lokasi tindikan

194. Dix Hall-Pike Manuver


Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita
dibaring-kan ke belakang dengan cepat, sehingga
kepalanya meng-gantung 45 di bawah garis
horisontal, kemudian kepalanya dimiringkan 45
ke kanan lalu ke kiri.
Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan
nistagmus, dengan uji ini dapat dibedakan
apakah lesinya perifer atau sentral.
Vertigo Perifer (benign positional vertigo):
vertigo dan nistagmus timbul setelah periode
laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari
1 menit, akan berkurang atau menghilang bila tes
diulang-ulang beberapa kali (fatigue).
Vertigo Sentral: tidak ada periode laten,
nistagmus dan vertigo ber-langsung lebih dari 1
menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti
semula (non-fatigue).

Test

Intepretation

Romberg test

Positive in conditions causing sensory ataxia :


Conditions affecting the dorsal columns of the spinal
cord,
Conditions affecting the peripheral sensory nerves
Friedreich's Ataxia

Hallpike test

If the test is negative, benign positional vertigo a


less likely diagnosis and CNS involvement should be
considered.

195. Fraktur Tulang Maksila


Le Fort I: garis fraktur horizontal/ transversal pada

maksila, melibatkan hanya palatum, terdapat


maloklusi
Le Fort II: palatum, 1/3 tengah muka, terdapat
epistaksis masif dan maloklusi
Le Fort III: craniofacial dysjunction, lebam pada
mata

Pada kecurigaan fraktur maksila yang didapat secara klinis,

pemeriksaan radiologi dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis.


Pemeriksaan radiologi dapat berupa foto polos, namun CT scan
merupakan pilihan untuk pemeriksaan diagnostik.

Teknik yang dipakai pada foto polos diantaranya; waters, caldwell,

submentovertex, dan lateral view.

Jika terjadi fraktur maksila, maka ada beberapa kenampakan yang

mungkin akan kita dapat dari foto polos. Kenampakan tersebut


diantaranya; opasitas pada sinus maksila, pemisahan pada rima
orbita inferior, sutura zygomaticofrontal, dan daerah nasofrontal.

Dari film lateral dapat terlihat fraktur pada lempeng pterigoid.

Diantara pemeriksaan CT scan, foto yang paling baik untuk menilai


fraktur maksila adalah dari potongan aksial. Namun potongan
koronal pun dapat digunakan untuk mengamati fraktur maksila
dengan cukup baik. Adanya cairan pada sinus maksila bilateral
menimbulkan kecurigaan adanya fraktur maksila.

CT scan 3D

Facial fractures imaging

196. Vertigo

Vertigo
Vertigo sentral
Sumber masalah berasal
dari kelainan pada sistem
saraf pusat

Vertigo perifer
Sumber masalah berasal
dari kelainan sistem
vestibuler perifer yg terdiri
dari sensor proprioseptif,
sensor taktil dan visual

Anamnesis

Onset vertigo
Tingkat keparahannya
Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat penggunaan obat

Jacobs JR, Pasha R, Yoo GH, 2000

Perbedaan gejala vertigo dengan lesi perifer dan sentral

Karakteristik

Perifer

Sentral

Intensitas
Kelelahan
Gejala yang berhubungan

Berat
Kelelahan, adaptasi
Mual, penurunan
pendengaran, berkeringat
Gejala akan memburuk
pada mata tertututp
Horizontal, unilateral,
berputar
Nistagmus dapat ditahan
oleh fiksasi bola mata

Ringan
Tidak ada kelelahan
kelemahan, mati rasa,
sering jatuh
Gejala membaik pada
mata tertutup
Vertikal, bilateral
Tidak ada efek atau
nistagmus menetap

Menutup mata
Nistagmus
Fiksasi bola mata

Jacobs JR, Pasha R, Yoo GH, 2000

Perbedaan gejala gangguan vertigo perifer

Penyakit
BPPV
Menieres
Disease
Vestibulopati
berulang
Vestibuler
Neuronitis
Labirinitis
Neuroma
akustik

Durasi

Gangguan Tinitus Telinga


pendengaran
penuh
Detik
Tidak
Tidak
Tidak
Menit-jam Uni/bilateral
Ada
Tekanan/
serangan
rasa
awal
hangat
Menit-jam
Tidak
Tidak
Tidak
Jam-hari

unilateral

Tidak

Tidak

Hari

unilateral

Bersiul

Tidak

Kronis

progresif

Tidak

Tidak

Jacobs JR, Pasha R, Yoo GH, 2000

Gejala lain

Otitis media
akut
Kelemahan saraf
kranialis VII

197. Polip Nasi


Dekripsi
Batasan

Massa lunak mengandung cairan di dalam rongga hidung berwarna


putih keabu-abuan akibat inflamasi kronis

Patogenesis

Inflamasi kronik, disfungsi otonom, predisposisi genetik


Polip berasal dari kompleks ostiomeatal di meatus medius dan sinus
etmoid

Diagnosis

Anamnesis: hidung tersumbat ringan hingga berat, rinore,


hiposmia atau anosmia. Gejala sekunder: nafas melalui mulut,
sengau, halitosis, gangguan tidur
PF: polip masif menyebabkan deformitas hidung luar, pd rinoskopi
anterior tampak massa berwarna pucat yang berasal dari meatus
medius dan mudah digerakkan
Penunjang: Foto polos sinus paranasal, CT scan

Terapi

Polipektomi medikamentosa dengan kortikosteroid


Polipektomi dengan endoskopi

Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

198. Otitis Media Supuratif Kronik


Benign/mucosal type:

Tidak mengenai tulang.


Jenis perforasi: sentral.
Th: ear wash with H2O2 3% for 3-5 days,
ear drops AB & steroid, systemic AB

Malignant/bony type:

Large central perforation

Mengenai tulang atau kolesteatoma.


Jenis perforasi: marginal atau attic.
Tahap lanjut: abses atau fistel retroaurikel,
polip/jaringan granulasi, terlihat
kolesteatoma pada telinga tengah, sekret
bentuk nanah & berbau khas
Th: mastoidektomi.

1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Cholesteatoma at attic
type perforation

Deskripsi OMSK
Batasan

Infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi MT dan sekret yang


keluar terus menerus atau hilang timbul (> 2 bulan)

Klasifikasi

OMSK tipe benigna/aman/mukosa


- Perforasi sentral
- Tidak dijumpai kolesteatoma
OMSK tipe maligna/bahaya/tulang
-Perforasi marginal/atik
-Kolesteatoma (+)

Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal juga OMSK aktif


(sekret keluar dari kavum timpani secara aktif), dan OMSK tenang
(keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau kering)
Diagnosis

Anamnesis: riwayat keluar cairan dari telinga > 2 bulan


PF: perforasi MT
Penunjang: Audiometri, rontgen mastoid, kultur dan uji resistensi, CT
scan

Terapi

OMSK benigna: konservatif + medikamentosa


OMSK maligna: pembedahan (mastoidektomi)

Edukasi Tatalaksana OMSK


Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi, dimana pengobatan dapat dibagi atas :
Konservatif
Operasi
OMSK BENIGNA FASE TENANG
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan pasien diberikan informasi dan edukasi untuk tidak
mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera
berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan
operasi rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan
pendengaran.
OMSK BENIGNA AKTIF
Prinsip pengobatan OMSK adalah:
Membersihkan liang telinga dan kavum timpani. Bila sekret keluar terus menerus diberikan H2O2 3% selama 3
5 hari.
Pemberian antibiotika : topikal antibiotik ( antimikroba) dan sistemik.
Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa
hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal,
maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi.

199. Komplikasi OMSK


Complication of Otitis Media
Chronic suppurative otitis media
Postauricular abscess
Facial nerve paresis
Labyrinthitis
Labyrinthine fistula
Mastoiditis
Temporal abscess
Petrositis
Intracranial abscess
Meningitis
Otitic hydrocephalus
Sigmoid sinus thrombosis
Encephalocele
Cerebrospinal fluid (CSF) leak

Mastioidectomy

Miringoplasty

200. Vertigo

TERIMA KASIH
SELAMAT BELAJAR