Anda di halaman 1dari 55

ALUR PASIEN ICU

No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

ALUR PASIEN MASUK DAN KELUAR ICU


INSTALASI
RAWAT
JALAN

RS LAIN

INSTALASI
RAWAT
INAP

UGD

EVALUASI OLEH
DOKTER ICU
Diantar

MASUK ICU KELOLA INTENSIF :


Pengobatan dan perawatan intensif
Dokter ICU ( Intensifis )
Perawat Mahir
Konsultan ( Konsultatif ke SMF
lain )

INDIKASI ( - )

Dijemput

DITOLAK
MASUK ICU
PINDAH RUANG

Baik
Indikasi keluar ( + )
Status Quo / Vegetatif
Meninggal
Dijemput

TETAP DIRAWAT
/
RUJUK /
PULANG APS
KAMAR
JENAZAH

Catatan :
Diantar / dijemput s/d pintu keluar / masuk ICU
Pasien dari luar mengikuti ketentuan dari Rumah Sakit

PENERIMAAN PASIEN ICU


No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Suatu tata cara menerima pasien untuk dirawat di ICU yang


mengalami kegawatan.

TUJUAN

Pasien yang mengalami kegawatan terancam jiwanya sewaktu


waktu agar dapat memperoleh pengobatan, perawatan dan
pemantauan intensif sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.

KEBIJAKAN

1. Pasien dirawat di ICU harus memenuhi persyaratan / indikasi


yang telah ditentukan.
2. Dokter jaga ICU berhak untuk menyetujui adanya indikasi
tersebut.
3. Penolakan pasien masuk ICU hanya oleh konsulen ICU yang
bertanggung jawab saat itu.

PROSEDUR PELAKSANAAN

1. Ruangan yang akan mengirim pasien ( ruangan lain, UGD,


IMC, RR ) memberi tahu terlebih dahulu ke ICU bahwa akan
ada pasien masuk dan dokter ICU sendiri memberi
persetujuan.
2. Menyiapkan perlengkapan peralatan pasien dan bed ICU
dilengkapi dengan status pasien dan trolley emergency.
3. Menerima pasien, timbang terima beserta catatan medik yang
lengkap.
4. Memasang oksigen, bed side monitor, ventilator ( jika
diperlukan )
5. Mengganti pakaian pasien dengan pakaian ICU
6. Observasi tanda vital : tekanan darah, heart rate, pernafasan
dan suhu.
7. Observasi keadaan lainnya seperti tingkat kesadaran, pupil,
fungsi motorik, dll.
8. Cek kepatenan seluruh peralatan yang telah terpasang
sebelumnya.
9. Memasang dan atau mengalirkan dower khateter, NGT, drain,
dll.
10. Mengambil sample darah untuk pemeriksaan laboratorium.
11. Melaporkan dokter ICU jika terjadi perubahan.
12. Memberitahukan keluarga tentang keadaan pasien dan tata
tertib ICU.
13. Membuat Renpra.
14. Memasukkan data pasien ke register rakam medik ( RM ).
15. Memberi terapi sesuai program.
2

16. Mengadakan komunikasi dengan keluarga pasien minimal


sekali dalam sehari ( terutama pada waktu kunjungan
keluarga ).
UNIT TERKAIT

1.
2.
3.
4.
5.
6.

IGD
Rawat Inap
IBS
IRJ
RHD
Instal Jang Diagnostik

PEMINDAHAN PASIEN DARI ICU KE RAWAT INAP


No. Dokumen

RUMAH SAKIT ANNA


Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP
PENGERTIAN
TUJUAN

KEBIJAKAN
PROSEDUR PELAKSANAAN

UNIT TERKAIT

No. Revisi

Halaman

1/1

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.
Suatu prosedur memindahkan pasien dari ICU pada pasien yang
kondisinya sudah terbebas dari kegawatan.
1. Supaya proses pengobatan dan perawatan pasien yang sudah
tidak memerlukan lagi fasilitas ICU dapat dilanjutkan di
ruang rawat inap biasa.
2. Perlu diupayakan kelangsungan proses pengobatan dan
perawatan di rawat inap berkesinambungan dengan
pengobatan dan perawatan di ICU, agar dapat dicegah
berulangnya kegawatan atau deteksi dini keadaan tersebut.
Pemindahan pasien dari ICU ke rawat inap dilakukan oleh petugas
ruang dan dilakukan timbang terima di ICU.
1. Memberitahu rawat inap, bahwa akan ada pasien pindah dari
ICU dan meminta persetujuan pihak rawat inap tersebut.
2. Meminta konfirmasi rawat inap tentang waktu kesiapan untuk
menjemput pasien dari ICU.
3. Menyiapkan pasien dan kelengkapannya.
4. Pasien dijemput ke rawat inap dengan memperhatikan sarat
sarat tranportasi pasien.
5. Melakukan serah terima pasien dengan perawat rawat inap,
yang di serah terimakan adalah :
a. Kelengkapan catatan medik dan keperawatan pasien.
b. Masalah yang perlu diperhatikan dalam perawatan dan
pengobatan selanjutnya sehingga dapat dilakukan
deteksi dini apabila timbul kegawatan kembali.
c. Semua hasil pemeriksaan ( yang telah dikerjakan ) baik
yang sudah selesai maupun yang belum.
Terapi dan perawatan lanjutan sesuai dengan pengantar dari
dokter ICU.
Memberikan pesan agar menghubungi ICU kembali apabila
terdapat hal hal yang belum jelas atau atau terjadi
kegawatan ulang.
Selanjutnya perawatan terhadap pasien menjadi tanggung
jawab perawat dan dokter ruang rawat inap.
Ruang Rawat Inap
4

RESUSITASI JANTUNG PARU


No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Suatu tindakan emergensi untuk mengatasi keadaan henti jantung


dan atau henti nafas.

TUJUAN

Menyelamatkan kehidupan :
1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau respirasi melalui
pengenalan dan intervensi segera.
2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan
ventilasi melalui RJP.
3. Memberikan oksigenasi kepada otak, jantung dan organ
organ vital lainnya serta mengembalikan fungsi jantung dan
ventilasi yang normal.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan oksigenasi

PROSEDUR PELAKSANAAN

UNIT TERKAIT

1.
2.
3.
4.
5.

Pastikan adanya henti nafas dan atau henti jantung.


Mintalah pertolongan.
Posisikan pasien terlentang.
Pasang pengalas keras.
Atur posisi penolong :
a. Penanganan airway ( posisi pada bagian atas kepala )
b. Penanganan sirkulasi ( posisi bagian samping bahu
kanan pasien )
c. Penyedia obat ( posisi dekat dengan emergensi troli )
d. Leader
6. Beri bantuan nafas dengan ambubag
7. Lakukan kompresi jantung ( 30 : 2 )
8. Berikan obat obat emergensi sesuai ketentuan.
9. Lakukan tindakan sesuai algoritm.
10. Jika berhasil siapkan untuk penanganan lebih lanjut.
11. Dokumentasikan tiap langkah kegiatan.
Instalasi farmasi.

TERAPI OKSIGEN
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/2

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN
TUJUAN

Terapi O2 merupakan salah satu terapi pernafasan dalam


mempertahankan oksigenasi.
1. Mengatasi keadaan hipoksia
2. Menurunkan kerja pernafasan
3. Menurunkan beban kerja otot jantung ( miocard )
Indikasi :
1. Pasien dengan kadar O2 yang diketahui melalui hasil
AGD / BGA.
2. Pasien dengan peningkatan kerja napas dimana tubuh
berrespon terhadap keadaan hipoksia melalui peningkatan laju
dan dalamnya pernapasan, serta adanya kerja otot otot
tambahan pernapasan.
3. Pasien dengan peningkatan kerja jantung dimana jantung
berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan
laju pompa jantung yang lebih kuat.
4. Pada pasien selama dan sesudah pembedahan.
Kontra Indikasi :
1. Mutlak tidak ada.
2. Untuk PPOM berat pemberian O2 dimulai dengan 2 LPM
dinaikkan secara bertahap.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan oksigen

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat :
1. Sentral oksigen, tabung O2, manometer set, flow meter,
humidifier.
2. Catheter nasal / kanul nasal / sungkup muka sederhana /
sungkup muka dengan kantong udara / sungkup muka dengan
parsial rebreathing.
Langkah langkah :
1. Kateter nasal / Kanul nasal :
a. Cuci tangan.
b. Memberi tahu pasien.
c. Isi tabung humufider dengan water for irigation batas
yang tertera.
6

d. Menghubungkan flow meter dengan tabung oksigen /


sentral oksigen.
e. Cek fungsi flow meter dan humufider dengan memutar
pangatur konsentrasi O2 dan amati ada tidaknya
gelembung udara dalam tabung flow meter.
f. Menghubungkan kateter nasal / kanul nasal dengan flow
meter.
g. Alirkan oksigen ke :
Kateter nasal dengan aliran antara 1 6 lt/mnt.
Kanul nasal dengan aliran antara 1 6 lt/mnt.
h. Cek aliran kateter nasal / kanul nasal dengan
menggunakan panggung tangan untuk mengetahui ada
tidaknya aliran oksigen.
i. Pasang alat kateter nasal / kanul nasal pada klien.
j. Tanyakan pada klien apakah oksigen telah mengalir
sesuai yang di inginkan.
k. Cuci tangan.
l. Rapikan peralatan kembali.
m. Dokumentasikan pada status klien.
2. Sungkup muka partial rebreathing.
a. Cuci tangan.
b. Memberi tahu pasien.
c. Isi tabung humidifier dengan water for irigation setinggi
batas yang tertera.
d. Menghubungkan flow meter dengan tabung oksigen /
sentral oksigen.
e. Cek fungsi flow meter dan humidifier dengan memutar
konsentrasi O2 dan amati ada tidaknya gelembung udara
dalam tabung flow meter.
f. Menghubungkan sungkup muka partial rebreathing
dengan flow meter.
g. Alirkan oksigen ke sungkup muka partial rebreathing
dengan aliran udara 8 12 lt/mnt.
h. Cek aliran oksigen ke sungkup dengan cara menutup
sungkup dengan salah satu tangan dan amati aliran
oksigen yang masuk ke dalam kantong.
i. Pasang alat sungkup muka partial rebreathing pada
klien.
j. Tanyakan pada klien apakah oksigen telah mengalir
sesuai dengan yang diinginkan.
k. Cuci tangan.
l. Rapikan peralatan kembali.
m. Dokumentasikan pada status klien.

UNIT TERKAIT

3.

Hal hal yang harus diperhatikan :


a. Bandingkan hasil PaO2, SaO2, SpO2 klien sebelum dan
sesudah pemberian O2.
b. Kaji dan bandingkan status pernapasan sebelum dan
sesudah pemberian O2.
c. Cek kulit dan membran mukosa klien.
d. Cek kepatenan alat.
e. Observasi adanya keluhan terutama mual dan muntah.
f. Tanyakan kenyamanan terhadap terapi O2.

1.
2.

Instalasi Farmasi.
Sijangmed.

MONITOR SATURASI OKSIGEN


No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Monitor saturasi oksigen merupakan tekhnik monitoring non


invasive untuk mengukur saturasi oksigen arteri dan fungsi
hemoglobin, nilai normal 97 99 %

TUJUAN

Diagnostik :
1. Menilai data dasar saturasi oksigen yang merupakan bagian
pengakajian oksigenasi.
2. Deteksi dini terhadap perubahan saturasi yang sering berubah
terutama pada keadaan kritis.
3. Mengevaluasi respon pasien terhadap aktivitas oksigenasi
pasien seperti suction, reposisi, merubah konsentrasi O2.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan oksigen.

PROSEDUR PELAKSANAAN

1.
2.

3.

UNIT TERKAIT

1.
2.

Persiapan alat : Pulse oximeter beserta sensornya.


Cara kerja :
a. Cuci tangan.
b. Lokasi tempat sensor dibersihkan dari darah / kotoran
lain.
c. Pilih sensor yang tepat sesuai lokasi tempat sensor.
d. Sambungkan oximeter dengan menekan tombol power
on / off.
e. Set alarm secara tepat dan cek fungsi lainnya.
f. Untuk mematikan tekan kembali tombol power on / off.
g. Sambungkan sensor lempeng / klip pada tangan / kaki /
telinga.
Hal hal yang harus diperhatikan :
Lokasi tempat penempatan sensor.
a. Sensor klip ditempatkan pada jari telunjuk tangan atau
telinga.
b. Sensor lempeng di tempatkan pada jari jari, ibu jari
kaki, hidung.
Sijangmed.
Laboratorium.

ASISTENSI INTUBASI
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/2

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN
TUJUAN

Suatu tindakan memasukkan pipa endotrachea ke dalam trachea.


1.
2.
3.

Membebaskan jalan nafas.


Untuk pemberian pernafasan mekanik.
Untuk
mempermudah
penghisapan
sekresi.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan oksigen.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat :
1. Laringoscope dengan bilah yang sesuai.
2. Magills untuk membantu memasukkan pipa.
3. Maudrin ( bila ada kesulitan saat memasukkan tube )
4. OTT / NTT sesuai dengan kebutuhan pasien
5. Xylocain jelly
6. Sarung tangan
7. Obat obatan untuk persiapan intubasi antara lain :
Sedasi : midazolam, propofol, pentotal
Muscle relaxan : Succinyl cholin, rocuronium,
atracurium, vecuronium.
Xylocain spray / semprot.
Pressure cuff / spuit cuff.
Guedell / mayo.
Stetoscope.
Suction catheter untuk menghisap sekresi.
Emergency trolly yang berisi obat obat emergency.
Air viva, face mask untuk oxigenasi.
Plester / pita untuk fiksasi.
Suction dinding / sentral / manual.
Cara Kerja :
Cuci tangan.
Jelaskan prosedur pada pasien.
Cek suction sentral dan atur tekanan antara
100 200 mmHg atau suction manual dan sambungkan
selang catheter steril.
Nilai kesadaran pasien, bila sadar diberitahu.
Bersihkan jalan nafas dengan cara suctioning.
9

Sambungkan pasien ke EKG monitor dan


ukut tensi, nadi dan pernafasan ulang, saturasi oksigen.
Posisi pasien terlentang / flat dan ekstensikan
leher pasien
( sesuaikan dengan kondisi pasien ).
Bantu tindakan intubasi sesuai dengan
tahapannya.
Ikat selang trakea / trakeostomi dengan tali /
plester.
Bereskan peralatan dan dokumentasikan
tindakan.
Hal hal yang perlu di perhatikan :
1. Keadaan umum pasien, terutama tensi, nadi dan pernafasan,
saturasi, oksigen.
2. Monitoring EKG
3. Pengisian cuff ( balon )
4. Fiksasi
5. Penghisapan sekresi dengan tehnik yang semestinya.
UNIT TERKAIT

1. Instalasi Farmasi
2. Sijangmed

10

EXTUBASI
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN
TUJUAN

Pengangkatan pipa endotrachea dari trachea.


1. Sebagai tahap akhir proses penyapihan dari ventilator.
2. Pasien sudah tidak mengalami sumbatan ( potensial sumbatan
jalan nafas )
3. Supaya pasien dapat bernafas seperti semula.
4. Dapat berbicara dan menelan seperti biasa.
5. Supaya pasien dapat batuk dengan efektif dan dapat
mengeluarkan sputum sendiri.
Indikasi :
1. Pasien sudah kompos mentis dan kooperatif.
2. Tensi nadi dan pernafasan normal.
3. Suhu badan tidak panas karena bila sebelum panas kebutuhan
oksigen meningkat dan metabolisme naik.
4. Bisa batuk secara efektif.
5. Hasil thorax foto terakhir keadaannya bersih, tidak ada retensi
sputum.
6. Tidak ada gejala hypoxia, hiperkarbi dan tachikardi.
7. Tidal volume cukup.
8. Hasil AGD normal individual.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan
penyembuhan.

pengobatan

dan

membantu

proses

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat :
1. Laringoscope
2. Peralatan suction yang lengkap
3. Spuit cuff.
4. Pinset, spirometer
5. Alat alat untuk memberikan pelembaban dan oksigen.
misal = O2 + NRM
O2 + binasal
Peralatan lengkap untuk intubasi
Cara kerja :
1.
Pertama ukur nadi, tensi, suhu dan
pernafasan, kesadaran.
2.
Ukur TV pasien
11

3.
4.

Periksa AGD
Bila ada instruksi dokter ( misal

dexametason )
5.

Beritahu pasien untuk pengangkatan pipa


pernafasan.

6.

Lakukan penghisapan sekresi sampai


bersih dan cuff dikempeskan.
7.
Lepaskan fikasasi tube
8.
Waktu pengangkatan tube, suction
katheter yang baru harus berada di dalam sambil tube
diangkat ( jangan dipakai suction katheter bekas untuk
membersihkan mulut )
9.
Selesai pengangkatan tube pasang NRM.
10.
Satu jam kemudian periksa AGD ulang.
Hal hal yang harus diperhatikan :
1. Terutama keadaan umum pasien.
2. Ukur tensi, nadi dan pernafasan, kesadaran.
3. Perhatikan apakan ada stridor dan kelainan pernafasan lain.
UNIT TERKAIT

1. Instalasi farmasi
2. Laboratorium

12

WEANING PADA T PIECE DINDING


No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

TUJUAN

Proses weaning pada T Piece dinding adalah salah satu usaha


penyapian dari respirator, dimana pasien langsung dilepas dari alat
Bantu tetapi tube masih tetap terpasang.
1. Menghindarkan pasien adri rasa ketergantungannya terhadap
alat bantu nafas. Melatih pasien agar dapat bernafas sendiri
secara spontan.
2. Diharapkan pasien secara berangsur angsur dapat bernafas
seperti sediakala.
3. Mengembalikan pasien pada keadaan semula.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan
penyembuhan.

pengobatan

dan

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat :
1. Spirometri untuk mengukur tidal volume
2. Humidifier untuk O2 dan udara.
3. Slang inspirasi
4. Kantong plastik untuk penampung.
5. Konektor untuk ke tube.

membantu

proses

Persiapan pasien pada waktu akan melakukan weaning pada T


Piece Dinding :
1.
Siapkan alat alat yang akan dipakai
2.
Jangan melakukan weaning apabila pasien
kelihatan lemah karena habis dimandikan, fisioterapi atau
habis foto thorax.
3.
Terangkan pada pasien dan tenangkan
jiwanya bila pasien sebelumnya sudah memakai alat bantu
napas dalam jangka lama, karena pasien akan merasa takut
untuk di lepas dari alat bantu napas.
4.
Atur posisi pasien ( posisi tidur ) supaya
pengembangan paru lebih bagus.
5.
Terangkan bahwa dengan proses weaning
ini akan membantu pasien agar dapat bernafas seperti sedia
kala.
6.
Sebelum tindakan di kerjakan ambil
pemeriksaan analisa gas darah untuk lebih meyakinkan lagi.

13

Cara kerja :
1. Beritahu pasien tentang tindakan apa yang akan di lakukan.
2. Ukur tidal volume.
3. Observasi tanda vital pasien : T, N, P, S
4. Alat alat di cek apakah sudah siap dipakai.
5. Sekresi atau sumbatan lainya dibersihkan
6. Setelah pemasangan selesai pasien di observasi kembali.
Hal hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan weaning
pada T Piece dinding :
1.
Penyakit utama sudah teratasi.
2.
Pasien merasa kuat ( tidak lemah ) jalan
napas bebas dari sumbatan, apabila pasien dengan trachestomi
dalam keadaan baik.
3.
Suhu badan normal apabila suhu badan
mengalami kenaikan maka kebutuhan O2 akan meningkat.
4.
Pasien dapat batuk yang efektif untuk
mengeluarkan sekresi.
5.
Frekwensi napas kurang dari 30 kali per
menit.
6.
Tidak ada gejala hypoxia / kebingungan
7.
Test fungsi paru normal, tidal volume
mencukupi.
8.
Hasil pemeriksaan analisa gas darah
normal
9.
Pasien dapat bernapas secara spontan.
UNIT TERKAIT

1. Instalasi farmasi
2. Sijangmed

14

PERAWATAN BALON ( CUFF )


DI ENDOTRACHEA ( ETT )
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

TUJUAN

Pengertian balon pipa trachea merupakan cara untuk


mempertahankan tekanan pada balon ETT tetap normal ( 15 25
mmHg )
1. Mempertahankan posisi tube dan oksigenasi jaringan.
2. Mencegah aspirasi dan kerusakan jaringan mukosa sekitar
cuff.
Indikasi :
Dilakukan pada pasien yang terpasang pipa trachea atau pipa
tracheostomy dengan cuff.

KEBIJAKAN

1. Pemenuhan kebutuhan oksigen


2. Pemenuhan kebutuhan keamanan.

PROSEDUR PELAKSANAAN

1. Persiapan :
Persiapan alat :
a. Personalia : 1 orang perawat.
b. Perlengkapan :
o Cuff inflator ( portex )
o Selang konektor ( dipakai untuk monitoring
tekanan cuff secara kontinyu )
2. Cara kerja :
Pengisian balon ETT :
a. Cuci tangan
b. Suctioning pasien dan suruh pasien untuk batuk
c. Sambungkan katup pilot balon dengan alat cuff inflator,
kempeskan cuff dengan menekan tombol merah sampai
mencapai nilai nol.
d. Untuk pengisian balon ETT, pompakan alat cuff inflator
dengan memijat balon karret inflator sampai mencapai
angka dibawah tanda merah ( 30 mmHg ) kemudian
turun sedikit sampai pada angka normal ( tekanan
normal 15 25 mmHg )
Monitoring tekanan balon ETT ( Cuff ) secara terus menerus:
a. Cuci tangan.
b. Sambungkan katup pilot balon dari pipa tracheostomy
15

atau endotracheal ke slang konektor.


c. Sambungkan ujung slang konektor lainnya ke alat cuff
inflator.
d. Pompakan cuff inflator secara cepat sampai batas nilai
normal ( tanda hijau 15 25 mmHg ) kemudian
lepaskan.
e. Gunakan pengait belakang cuff inflator untuk
menempatkan cuff inflator pada tempat yang aman dan
untuk dimonitor.
Perhatian :
1. Untuk mengempeskan balon ETT, tekan tombol merah untuk
menurunkan tekanan.
2. Pada tekanan cuff diatas 25 mmHg dapat menyebabkan
iskhemik jaringan sekitar cuff.
UNIT TERKAIT

1. Sijangmed
2. Bagian anestesi.

16

SPIROMETRI INTENSIF
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Terapi latihan pernafasan dengan menggunakan alat ukur untuk


menambah kemampuan inspirasi pernapasan pasien.

TUJUAN

Terapi untuk mencegah atelektesis, meningkatkan oksigenasi dan


expansi paru.

KEBIJAKAN

Pemenuhan kebutuhan oksigen.

PROSEDUR PELAKSANAAN

1. Cuci tangan
2. Beri tahu pasien
3. Persiapkan pasien dan beri posisi yang nyaman ( lebih
diutamakan posisi duduk atau semi fowler )
4. Instruksikan pasien untuk meletakkan selang spirometri di
mulut dan tarik nafas dalam selama 3 detik.
5. Instruksikan pasien untuk expansi secara lambat dan bernapas
secara normal kembali.
6. Instruksikan pasien untuk nafas dalam kembali dan usahakan
agar kekuatan inspirasi bertambah 100 ml 250 ml tiap kali
nafas dalam.
7. Setelah volume maximum tercapai instruksikan pasien untuk
latihan napas dalam 10 kali. Anjurkan pasien untuk latihan ini
minimal 3x /hari.
8. Bereskan peralatan dan dokumentasikan tindakan.

UNIT TERKAIT

1. Instalasi farmasi
2. Poli paru

17

PENGUKURAN VOLUME TIDAL DAN


TEKANAN NEGATIF INSPIRASI
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

TUJUAN

Merupakan cara untuk mengukur kapasitas tidal paru dan tekanan


negatif inspirasi pasien saat bernapas dengan menggunakan alat
ukur.
1.

Mengevaluasi

kekuatan

otot

otot

pernafasan pasien.
2.
3.

Mengevaluasi adekuasi volume tidal


Mengkaji kemampuan napas spontan,
misalkan pada pasien post operasi.
4.
Menentukan apakah pasien memerlukan
intubasi dengan dan atau menggunakan ventilator mekanik.
KEBIJAKAN

Pemenuhan kebutuhan oksigen.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat :
Spirometer portable ( respirometer portable )
Langkah langkah :
1. Cuci tangan
2. Sambungkan konektor ke jalan napas pasien.
3. Hubungkan spirometer portable ke jalan napas pasien.
4. Anjurkan pasien untuk napas dalam sebisa mungkin, dan 0
kan spirometer dan suruh pasien untuk mengeluarkan napas.
5. Untuk menempatkan jarum pada titik 0 tekan tombol yang
berwarna putih.
6. Untuk mengunci hasil pengukuran yang di dapat, tekan
tombol merah.
7. Untuk mengembalikan jarum pengukuran setelah penguncina
( menekan tombol merah ) tekan tombol hijau sehingga
spirometer dapat untuk mengukur kembali.

UNIT TERKAIT

Instalasi farmasi.

18

FISIOTERAPI DADA
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/2

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

TUJUAN

Suatu tindakan yang diberikan pada penderita dengan jalan latihan


bernapas, menepuk daerah dinding dada, menggetarkan daerah
dinding dada serta menghisap sekresi yang dikeluarkan untuk
memperlancar pernapasan.
1. Untuk mempertahankan, memperbaiki dan mencapai ke
efektifan dari seluruh bagian paru.
2. Mencegah kolaps dari pada paru yang disebabkan karena
terhambatnya sekresi untuk keluar.
3. Menghindarkan
terjadinya
komplikasi,
misal
:
bronkopneumonia.
4. Untuk mempertahanan kelancaran sirkulasi darah.
5. Untuk mencegah atropi otot otot.
Indikasi :
1. Pasien dengan ventilator
2. Pasien dengan retensi sputum / reflek batuk, tidak baik namun
tidak aktif.
3. Pasien tidak aktif.
Kontra indikasi :
1. Pasien dalam keadaan shock
2. Relatif : fraktur iga
3. Pasien dengan TIK meningkat
4. Pasien dengan miocard infark

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan oksigen.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Cara kerja :
1. Cuci tangan.
2. Beritahu pasien.
3. Jika pasien sadar anjurkan pasien untuk latihan napas dalam
dengan cara memegang perut pasien dengan kedua tangan
kemudian tarik napas dalam lewat hidung, tahan, kemudian
keluarkan lewat mulut. Lakukan tindakan tersebut minimal 10
kali, jika pasien masih mampu lakukan lagi dalam 1 periode
( 10 x ).
4. Auskultasi seluruh lapang paru.
5. Posisikan pasien tidur dengan miring kiri atau kanan.
6. Tempatkan handuk diatas dada pasien.
19

7. Lakukan penepukan / claping dengan kedua tangan di seluruh


lapang paru dalam waktu 1 3 menit.
8. Lakukan vibrasi saat pasien ekspirasi dalam waktu 1 3
menit.
9. Lakukan claping dan vibrasi pada dada yang satunya dengan
lama waktu yang sama.
10. Jika pasien sadar lakukan postural drainage dan posisikan
pasien sesuai daerah paru dimana sekret akan dialirkan.
11. Jika pasien mampu batuk efektif anjurkan pasien untuk batuk
efektif.
12. Jika pasien tidak mampu batuk efektif lakukan suctioning
dengan tekanan 60 100 mmHg untuk bayi, 100 120
mmHg untuk anak anak, 100 300 mmHg untuk dewasa,
jika pasien dengan VM berikan O2 100 pre, post dan diantara
tindakan suctioning.
13. Catat jumlah, warna dan konsistensi sputum.
14. Kembalikan pasien pada posisi semula.
15. Rapihkan peralatan dan dokumentasikan tindakan.
Hal hal yang harus diperhatikan :
Didalam melakukan fisioterapi dada harus melihat keadaan umum
penderita, sehingga kita dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.
Tindakan yang berhubungan dengan fisioterapi dada :
1. Latihan bernapas / breathing exercise
2. Penepukan / clapping
3. Menggetarkan / vibrating
4. Drainage posisi
5. Penghisapan / Suction
UNIT TERKAIT

1.
2.

Instalasi rehabilitasi medik


Sijangmed

20

INHALASI
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Terapi inhalasi adalah terapi penghirupan partikel udara yang


mengandung obat selama inspirasi.

TUJUAN

1.
2.
3.

KEBIJAKAN

1. Memenuhi kebutuhan oksigen


2. Ada instruksi medis tentang program pemberian terapi
inhalasi.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Hidrasi, dan pembersihan jalan nafas.


Mengencerkan sekret.
Pemberian obat.

Persiapan :
1.
Persiapan alat :
a. Hansel mask ( masker inhalasi )
b. Oksigen sentral / tabung
c. Flow meter yang berisi air
d. Obat bronkodilator ( misal : ventolin, bisolvon, solution,
alupent )
e. Aqua for injection
2.
Persiapan pasien :
a. Jelaskan tujuan dan langkah prosedur kepada pasien /
keluarga.
b. Posisikan pasien semi fowler.
Langkah langkah :
1. Cuci tangan
2. Tempatkan obat bronkodilator pada reservoar masker ( pada
obat tertentu memerlukan pengenceran dengan aqua for
injection )
3. Sambungkan selang oksigen ke flow meter, alirkan oksigen
6 8 lt/menit.
4. Cek adanya penguapan obat, bila ada letakkan masker
menutupi mulut dan hidung pasien.
5. Instruksikan pasien untuk nafas dalam dalam, lambat sambil
menghirup partikel uap obat sampai obat habis.
6. Observasikan pengembangan dada pasien, lakukan auskultasi.
7. Setelah obat habis, lepaskan masker dan anjurkan pasien
untuk membatukkan sekret yang ada atau dilakukan
21

penghisapan dengan lembut.


8. Monitoring adanya sesak napas dan perubahan tanda vital
selama terapi.
Hal hal yang perlu di perhatikan :
Perubahan tanda vital pasien.
UNIT TERKAIT

1. Instalasi laboratorium
2. Instalasi farmasi

22

BRONCHIAL WASHING
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/2

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

TUJUAN

Bronchial washing adalah tindakan untuk membantu


mengencerkan sekresi yang terdapat pada dinding bronchus
dengan menggunakan cairan NaCL 0,9 %, perasat ini dikerjakan
pada pasien yang memakai ETT dan TT.
1.

Membantu mengencerkan sputum kental,


untuk mempermudah mengeluarkan sputum dari paru paru.
2.
Mengurangi penumpukan CO2 di paru
paru sehingga mencegah obstruksi jalan napas.
3.
Mencegah terjadinya bronchopneumonia.
4.
Memperlancar sirkulasi dan perfusi
keseluruhan jaringan.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan oksigen.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat :
1.
Peralatan oksigenasi self inflating bag.
2.
Spuit cuff
3.
Cairan NaCL 0,9 %
4.
Peralatan suction yang lengkap
5.
Pinset, bengkok
6.
Ember yang berisi larutan salvon untuk
tempat suction kateter bekas.
7.
Handuk untuk alas dada.
Cara kerja :
1. Sebelum melakukan bronchial washing harus observasi dulu :
saturasi, nadi, pernafasan, tekanan darah, monitoring EKG.
2. Berikan oksigenasi dengan konsentasi tinggi melalui air viva.
3. Tuangkan NaCL 0,9 % ke dalam mangkok / wadah yang steril
secukupnya lalu hisap dengan spuit 10 cc.
4. Semprotkan cairan NaCL 0,9 % yang ada dalam spuit
kedalam bronchus melalui ETT / TT sebanyak 5 cc dan pada
waktu memasukkan cairan, posisi pasien disebut flower /
ditinggikan.
5. Lakukan secepatnya pemompaan dengan air viva beberapa
kali supaya cairan menyebar pada bagian bagian bronchus.
6. Buat posisi drainage ( bila pasien memungkinan ) kemudian
lakukan penghisapan secepatnya.
7. Berikan kembali oksigen dengan konsentrasi tinggi melalui
23

air viva.
Perasat ini boleh diulang sampai sekresi benar benar sudah
bersih / banyak berkurang.
9. Pada penghisapan terakhir kita kempeskan isi cuff, lamanya
pemasangan cuff sesuai dengan diisi kembali secukupnya.
10. Setelah perasat ini selesai cuff diisi kembali secukupnya.
11. Kalau ada ukur volume dengan menggunakan wright
spirometer.
12. Alat alat dirapikan kembali.
8.

Hal hal yang perlu diperhatikan :


1. Bronchial washing dilakukan sesudah chest fisioterapi.
2. Perawat harus cuci tangan.
3. Dikerjakan sebelum makan
4. Dikerjakan oleh 3 orang perawat :
a. Memasukkan cairan NaCL 0,9 % dan melakukan
suction.
b. Memompa dengan self inflating bag setelah cairan
masuk.
c. Merubah posisi tempat tidur penderita.
UNIT TERKAIT

Instalasi farmasi.

24

SUCTIONING
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/2

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

TUJUAN

Suctioning merupakan tindakan mengangkat sekresi yang terdapat


pada dinding bronchus atau trachea. Tindakan ini dilakukan pada
pasien yang terpasang ET, TT.
1.

Mengangkat secret yang tidak bisa


dikeluarkan sendiri atatu dibatukkan oleh pasien.
2.
Mengurangi penumpukan CO2 di paru
paru.
3.
Mencegah terjadinya bronchopneumonia.
4.
Memperlancar sirkulasi dan perfusi ke
seluruh jaringan.

KEBIJAKAN

Pemenuhan kebutuhan oksigen.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan alat :
1. Peralatan oksigenasi : air viva, oksigen + selang.
2. Peralatan suction yang lengkap : suction dinding, selang
suction, tubing / kateter suction steril yang sesuai dengan
usia dan nomor.
3. Sarung tangan steril atau pinset steril.
4. Ember yang berisi larutan savlon untuk tempat suction kath
bekas.
5. Handuk untuk alas dada.
Cara kerja :
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur pada pasien.
3. Observasi saturasi, nadi, pernapasan, tekanan darah, dan
irama EKG.
4. Berikan oksigen dengan konsentrasi tinggi melalui air viva
atau ventilador.
5. Atur tekanan pada suction, bayi = 60 100 mmHg, Dewasa
= 120 200 mmHg.
6. Gunakan sarung tangan atau pinset steril.
7. Pilih kateter suction yang sesuai dengan umur pasien dan
ukur ETT / TT ( 1/3 diameter ERR / TT ).
8. Sambungkan kateter suctioning pada selang suction.
9. Lakukan ventilasi dengan air viva 3 x, dengan oksigen
12 15 lt / menit.
10. Masukkan kateter dalam keadaan terbuka, jika ada reflek
25

trachea angkat katheter 1 2 cm kemudian tutup kateter dan


angkat kateter dengan gerakan memutar ( lama tindakan 5
15 detik )
11. Berikan kembali oksigen dengan konsentrasi tinggi
12 15 lt/menit melalui air viva.
12. Perasat ini boleh diulangi sampai bersih / banyak berkurang.
13. Monitor kembali hemodinamik dan tana vital pasien.
14. Jika akan suction hidung dan mulut lakukan suctioning ETT
/ TT dahulu sampai selesai, kemudian suctioning hidung
dan yang terakhir adalah mulut.
15. Bilas selang kateter dengan air yang asa diember, matikan
suction dan buang suction pada ember penampung tersebut.
16. Alat alat dirapikan kembali dan dokumentasikan.
UNIT TERKAIT

1. Instalasi farmasi
2. Laboratorium
3. Sijangmed

26

PENGAMBILAN DARAH ARTERI


No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211

PT /

No. Revisi

Halaman

1/2

/ 2015

Fax. (021) 82419079

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN
TUJUAN

Suatu tindakan pengambilan darah arteri untuk pemeriksaan AGD.


1. Diagnostik
2. Mengetahui oksigenasi dan CO2
3. Membedakan status keseimbangan asam basa tubuh pasien.
Indikasi :
Pemeriksaan AGD diambil pada pasien yang mengalami gangguan
pernapasan dan keseimbangan asam basa.
Kontra indikasi :
1. Pasien dengan terapi antikoagulan
2. Riwayat gangguan pembekuan darah
3. Penyakit pembuluh darah perifer yang berat

KEBIJAKAN

Pemenuhan kebutuhan oksigen

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan :
1. Persiapan etiket :
a. Nama pasien
b. Tanggal dan jam pengambilan
c. Pemakaian O2 pada waktu pengambilan AGD
2. Persiapan alat :
a. Spuit ukuran 2 cc ( untuk dewasa ), jarum ukuran
23 G
b. Karet atau jenis lainnya
c. Desinfektan : kapas alkohol 70 % steril
d. Heparin
Cara kerja :
1. Cuci tangan
2. Spuit terlebih dahulu dibasahi dengan heparin, kemudian
heparin dikeluarkan dari spuit.
3. Lakukan Allen test
4. Tentukan tempat penusukan / pengambilan darah arteri
5. Desinfektan daerah tusukan dengan alkohol 70 % steril
6. Darah arteri yang diambil cukup - 1 cc
7. Kemudian

setelah

cukup,

jarum

langsung

di

cabut,
27

dikeluarkan udara yang ada didalam spuit, posisi jarum diatas


tegak lurus ( cara mengeluarkan harus hati hati, jangna
tercampur dengan udara luar atau memasukkan udara luar ke
spuit dapat mempengaruhi hasil, terutama PCO2 ), langsung di
tutup dengan karet.
8. Pada arteri bekas tusukan pengambilan langsung di tekan
dengan kapas alkohol 70 % steril dalam waktu lebih kurang
lima menit dan tekan yang lebih kuat, sampai darah berhenti
keluar.
9. Beri etiket kuat, spuit yang berisi darah arteri tersebut
kemudian periksa.
Hal hal yang perlu diperhatikan :
1. Lokasi :
Arteri radialis ( diutamakan ), arteri brakhialis, arteri
femoralis, arteri dorsopedis.
2. Bila darah baru bisa diperiksa setelah lebih dari 15 menit
maka darah harus di simpan dulu di lemari es atau termos es,
agar komponen darah tidak rusak dan mencapai hasil yang
aktual.
UNIT TERKAIT

1.
2.

Instalasi laboratorium
Instalasi Farmasi

28

PENGAMBILAN BAHAN PEMERIKSAAN


KULTUR DAN SENSITIVITAS
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Suatu cara pengambilan baik berupa urin, darah, sputum ataupun


ujung kateter vena sentral, guna pemeriksaan biakan kuman dan
uji sensitivitas antibiotik dari bahan tersebut.

TUJUAN

Diagnostik : Mencari data pengkajian guna menegakkan diagnosa


medis keperawatan.
Terapi : Mengevaluasi efisiensi tindakan atau terapi kedokteran /
keperawatan.
Indikasi :
1.
Pasien yang dirawat di ICU selama 3
hari atau lebih.
2.
Pasien yang terpasang kateter CVC,
peralatan invasif dan non invasif lainnya.
3.
Pasien dengan infeksi sistemik atau
lokal.
4.
Penggunaan antibiotik sebelumnya tidak
adekuat.
5.
Ada instruksi medis tentang pemeriksaan
kultur dan sensitivitas.

KEBIJAKAN

Pemenuhan kebutuhan
penyembuhan.

pengobatan

dan

membantu

PROSEDUR PELAKSANAAN

KULTUR DAN SENSITIVITAS DARAH


1.
Persiapan alat dan bahan :
a. Spuit 5 cc
b. Alkohol 70 % steril
c. Botol kultur / batek
d. Kapas / kassa steril
e. Torniquet / karet pembendung

proses

2. Cara kerja :
a. Cuci tangan dan persiapkan alat.
b. Instruksikan pasien untuk meletakkan tangan dan pilih
vena yang baik untuk ditusuk.
c. Letakkan torniquet diatas tempat penusukkan.
d. Lihat dan palpasi vena dan bersihkan daerah tersebut
dengan alkohol 70 % kemudian keringkan.
29

e. Tekan vena yang akan ditusuk dengan jari., kemudian


tusuk dibawahnya dengan ketinggin 5 350, masukkan
jarum kedalam vena.
f. Lepaskan torniquet.
g. Arsipkan spuit sampai didapat darah minimal 5 cc.
h. Tarik jarum dan tekan daerah tusukan dengan kassa
steril selama 2 4 menit.
i. Masukkan darah tersebut sebanyak 5 cc kedalam botol
kultur / batek.
Catatan :
Tindakan ini dilakukan dengan tehnik steril.
KULTUR DAN SENSITIVITAS SPUTUM
1. Persiapan alat :
a. Sarung tangan steril
b. Mucus extractor steril ( selang suction dengan
kontainer ) atau jika tidak tersedia dengan selang suction
steril dan spuit steril 10 cc.
c. Peralatan suction.
d. Personal : 2 orang perawat.
e. Lokasi : suctioning melalui endotrakeal tube,
tracheostomy tube, hidung.
f. NaCL 0,9 % steril, 2 6 cc.
2. Cara kerja :
a. Cuci tangan
b. Hidupkan mesin suction
c. Beri oksigen 100 %
d. Gunakan sarung tangan steril, tangan kiri memegang
selang dari alat suction.
e. Instruksikan perawat lain untuk memegang selang dari
alat suction.
f. Instruksikan perawat lain untuk membuka mucus
extractor dan pegang dengan tangan dan jaga tetap
steril.
g. Instruksikan perawat lain untuk memegang ET / ETT
dan membuka jalan nafas pasien ( jika menggunakan
ventilator atau oksigen, dilepas terlebih dahulu )
h. Masukkan selang mucus refractor ke dalam jalan nafas
dalam keadaan menghisap dan setelah sampai diatas
karina sedot sputum secara perlahan dengan arah
memutar.
i. Jika sputum sulit diangkat karena sputum sangat kental
atau sedikit, terlebih dahulu beri NaCL 0,9 % 2 cc,
kemudian di bagging dengan O2 100 %, baru dilakukan
penghisapan.
j. Jika selang mikus refractor tidak cukup panjang atau
terlalu besar, dapat dilakukan penghisapan dengan
selang suction steril yang sesuai kemudian selang
dipotong dengan gunting steril dan dimasukkan ke
dalam spuit 10 cc steril.
k. Jika sudah didapat sputum dalam extractor, ikat kedua
selangnya dan siap dikirimkan.
l. Turunkan konsentrasi oksigen sesuai dosis semula.
3.

Hal hal yang harus diperhatikan :


Tindakan ini dilakukan dengan tekhnik steril.
30

KULTUR DAN SENSITIVITAS URINE :


1.
Persiapan alat : bahan
a. Spuit steril 10 cc 2 buah
b. Alkohol 70 % atau betadin
c. Kassa steril
d. Sarung tangan steril
e. Klem
f. Bengkok
2.

Cara kerja :
Klem kateter urine 1 jam
Cuci tangan dan persiapan alat
Gunakan sarung tangan
Bersihkan ujung kateter dengan alkohol 70 % atau
betadine
e. Aspirasi urine sebanyak 10 cc dengan spuit steril untuk
bahan kultur
f. Alat alat dibereskan dan tangan
a.
b.
c.
d.

3. Hal hal yang harus diperhatikan :


Tindakan ini dilakukan dengan tekhnik steril
KULTUR DAN SENTIVITAS KATETER CVP
1.
Persiapan alat :
a. Sarung tangan steril
b. Alkohol 70 %
c. Spuit steril 10 cc
d. Forceps steril
e. Gunting steril
f. Bengkok
2.

UNIT TERKAIT

Cara Kerja :
a. Cuci tangan, alat disiapkan
b. Bersihkan kulit disekitar tusukan dan daerah tusukan
dengan alkohol 70 % tidak dengan betadine
c. Tarik kateter dengan forceps steril, hindari ujung kateter
mengenai kulit.
d. Kateter bagian distal ( ujung ) dipotong sepanjang 5 cm
dengan gunting steril dan dimasukkan ke dalam spuit
dan dikirim ke mikrobiologi.
1.
2.

Instalasi laboratorium
Instalasi Farmasi

31

CHALLENGE TEST
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Penambahan cairan extra untuk meningkatkan volume cairan


tubuh / preload yang tidak identik dengan tekanan atrium kanan
sebagai testing atas keadaan hemodinamik.

TUJUAN

Untuk mengukur kekurangan / deficit cairan melalui tekanan vena


sentral.
Indikasi :
Hypovolemik oleh karena kehilangan banyak cairan atau darah
atau juga oleh karena pemberian obat obatan vasodilator.
Kontra indikasi :
Dekompensasi jantung
Edema paru ( relatif )
Ada instruksi medis untuk melakukan challenge test.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit.

PROSEDUR PELAKSANAAN

UNIT TERKAIT

1.
Persiapan alat : cairan koloid /
kristaloid
2.
Cara kerja :
a. Memberikan cairan melalui infus selama 10 menit
b. Bila : CVP < 8 cm H2O guyur cairan ( RL ) 200 cc
c. Bila : CVP 8 14 cm H2O guyur cairan ( RL )100 cc
d. Bila : CVP > 14 cm H2O guyur cairan ( RL ) 50 cc
3.
Hal hal yang harus diperhatikan :
a. Bila CVP naik 0 2 cm H2O coba guyur sebanyak
jumlah semula
b. Bila CVP naik 2 5 cm H2O guyur dosis
c. Bila CVP naik 5 cm H2O tidak perlu
Instalasi Farmasi

32

KOREKSI ALBUMIN
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/1

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Menambahkan sejumlah albumin ke dalam tubuh untuk mencapai


kadar normal albumin ke dalam darah ( nilai normal : > 2,5 gr % )

TUJUAN

Untuk mengikat dan membawa sari makanan dan kompertemen


yang lain dalam tubuh yang berfungsi untuk mempertahankan
fungsi tubuh / faal tubuh.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu


penyembuhan.
Ada instruksi medis tentang pemberian therapy albumin.

PROSEDUR PELAKSANAAN

proses

1.

Persiapan
a. Pasien dipasang infus
b. Cairan albumin
c. Jarum udara
2.
Cara kerja
a. Cuci tangan kemudian beritahu pasien
b. Cek kondisi dan tanggal kadaluarsa albumin
c. Cairan albumin dipasang dan dihubungkan ke infus set
d. Pasang jarum udara pada tutup botol albumin
e. Atur tetesan infus, kecepatan infus max 2 cc/mnt atau
4 jam/btl.
f. Monitor pasien adanya reaksi alergi pada albumin
g. Rapihkan peralatan dan dokumentasikan tindakan.
3.
Hal hal yang harus diperhatikan
Perhitungan kebutuhan albumin :
( D A ) ( BW x 40 ) x 2 =
x gr alb
100
D : Desired Albumin Level ( Level albumin yang diinginkan )
A : Actual Albumin Level ( Level albumin yang ada )

UNIT TERKAIT

Instalasi Farmasi dan Laboratorium

33

KOREKSI KALIUM
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/1

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Memberikan sejumlah kalium ke dalam tubuh untuk mencapai


kadar normal kalium dalam darah ( nilai normal : 3,5 5,5
mEq/ml )

TUJUAN

Untuk mencegah terjadinya gangguan listrik jantung dan


gangguan sistemik lain.

KEBIJAKAN

1.
Memenuhi kebutuhan pengobatan
dan membantu proses penyembuhan
2.
Ada Instruksi medis tentang
pemberian therapy.

PROSEDUR PELAKSANAAN

1.
Hitung kekurangan kalium
dengan rumus = Delta K x BB x
2.
Encerkan KCl dalam D5%
( Pengenceran disesuaikan ) atau jika memakai syringe pump
tidak perlu diencerkan.
3.
Biarkan KCl dalam cairan
D5% drip / dalam syringe pump.
4.
Sambungkan selang infus /
perfusor yang berisi KCl pada CVC atau vena besar, hindari
pemberian pada vena kecil.
5.
Atur kecepatan pemberian
max 20 mEq kcl/jam, pemberian konstan.
6.
Apabila defisit > 30 mEq
KCl, berikan dalam cairan 150 cc D5 % selama 2 jam.
7.
Monitor nadi, tekanan darah
dan cek adanya phlebitis / terbakarnya vena.
8.
Labeling KCl pada infus set /
perfusor.
9.
Dokumentasikan pemberian
dan rapihkan peralatan.

UNIT TERKAIT

1.
2.

Instalasi farmasi
Instalasi Laboratorium

34

PEMAKAIAN SYRINGE DAN INFUS PUMP


No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Merupakan alat pengontrol pemberian infuse secara volume yang


menggunakan tekanan positif dalam mengalirkan cairan ke tubuh
pasien ( Non Gravitasi )

TUJUAN

Untuk dapat memberikan volume cairan dan dosis obat pada


pasien dengan tepat.
Indikasi :
1.
Pemberian cairan atau obat
obatan secara infus dengan kecepatan yang konstan dan
akurat.
2.
Memfiltrasi obat obat / cairan.
3.
Pemberian cairan atau obat obat
dalam jumlah yang sangat kecil.
4.
Pemberian infus jangka lama.

KEBIJAKAN

Pemenuhan kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Cara kerja pemakaian syringe pump :


1.
Cek instruksi dokter tentang cairan
atau obat obatan yang akan diberikan.
2.
Cuci tangan.
3.
Oplos obat dan tempatkan obat
atau cairan pada syringe ukuran 20, 30, 50 ml sesuai dengan
kebutuhan khusus untuk perfusor Braun gunakan syringe
Braun 50 cc.
4.
Sambungkan syringe ke tube /
selang syringe.
5.
Sambungkan perfusor ke sumber
listrik.
6.
Tekan tombol ON / OFF pada
bagian belakang perfusor untuk menghidupkan alat ( pada
layar akan tampak pengaman FT syringe type printer setelah
alat berfungsi )
7.
Lepaskan knop putar, letakkan
syringe dan kunci knop putar.
35

8.
Sambungkan selang syringe ke
jalur intra vena.
9.
Tentukan kecepatan pemberian
obat / cairan dengan menekan tombol angka sesuai nilai yang
diinginkan, kemudian tekan tombol START / STOP,
kemudian tekan tombol C sampai tampak nilai 00,0 di layar.
Tekan tombol angka untuk menentukan volume yang akan
diberikan kemudian tekan tombol START / STOP.
10.
Untuk mematikan alat tekan
tombol ON / OFF.
11.
Fungsi fungsi spesial :

Suara alarm yang akan berbunyi selama 2 menit.

CC

Pakai untuk pengguna external


Gambaran / memberi informasi mengenai cairan
yang telah masuk

Cara kerja pemakaian infus pump :


1.
Cek instruksi dokter tentang obat /
cairan yang akan diberikan.
2.
Cuci tangan
3.
Sambungkan infus set kebotol
infus dan isi infus set dengan cairan tersebut untuk
menghilangkan udara kemudian klem infus set ( gunakan
infus set / intravix khusus untuk infus pump jika
menggunakan infusomat Braun ).
4.
Buka infus pump, masukkan
chamber drop ( bilik tetesan dari infus set ) kedalam sensor
tetesan dari infus pump ( khusus untuk infusomat braun ).
5.
Sambungkan infus pump ke
sumber listrik.
6.
Gunakan tombol ON / OFF untuk
menyalakan alat.
7.
Sambungkan set infus ke pasien.
8.
Tetapkan kecepatan pemberian
tetesan dengan menekan tombol angka ( lihat nilainya pada
layar infus pump )
9.
Gunakan tombol start / stop untuk
memulai pemberian infus.
10.
Jika alarm berbunyi tekan tombol
alarm ( ) yang dapat berbunyi selama 2 menit.
11.
Jika ingin merubah / membatalkan
cairan yang akan diberikan tekan tombol start / stop kemudian
tekan tombol C sampai tampak angka 0000 pada layar atas.
Kemudian tekan tombol untuk menentukan kecepatan
pe,berian cairan yang baru.
12.
Untuk mematikan alat ini tekan
dan tahan tombol ON / OFF.
Fungsi Khusus :
1. Layar bawah yang akan menginformasikan data jika tombol
dibawah ini difungsikan.
2. Tombol ml ( volume ) digunakan untuk memasukkan data
36

volume cairan yang akan diberikan.


3. Tombol time, digunakan untuk memasukkan data waktu yang
dibutuhkan untuk pemberian cairan, caranya : tekan tombol
time, kemudian tekan tombol angka untuk menentukan waktu
yang dibutuhkan ( Jika waktu yang dibutuhkan 3 jam, 30
menit maka tekan angka 330 sedangkan jika waktu yang
dibutuhkan 1 jam 7 menit maka tekan angka 107 ).
4. Tombol ml/h, digunakan untuk memastikan volume cairan
yang diberikan perjamnya.
5. Tombol fungsi / model khusus, digunakan untuk fungsi :
a. Stand By
b. Seleksi obat
c. Model CC
d. Adanya tekanan karena sumbatan
e. Kontrol tetesan
f. Kapasitas akumulator
g. Mengunci data
UNIT TERKAIT

Sijangmed
PEMANTAUAN TEKANAN INVASIF
No. Dokumen

RUMAH SAKIT ANNA


Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

No. Revisi

Halaman

1/2

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Pemantauan tekanan invasif adalah pengukuran secara langsung


tekanan darah atau cairan terhadap dinding dari suatu ruangan atau
pembuluh.

TUJUAN

Untuk mengukur tekanan dari pasien dan memproduksi signalnya


secara visual pada layar monitor dengan distorsi yang minimal.

KEBIJAKAN

Monitoring sesudah menjalani operasi besar dan selama kondisi


kritis.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Pemantauan arteri secara invasif


Daerah pemasangan kateter arteri :
1.
Arteri Radialis
2.
Arteri Brakhialis
3.
Arteri Femoralis.
Persiapan alat :
1.
2.

Tranduser
Holter tranduser
37

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

Monitor tekanan
Diafragma dome
Flush device
Pressure bag
Cairan Nacl 0,9 %
Cairan anti septik
Kapas alkohol
Sarung tangan steril
Kassa steril
Benang, jarum
Administration set
Manometer line
Three Way Stop Cock
Kateter angiocath
Xylocain 2 %
Heparin
Spuit 2,5 cc, 1 cc
Salep anti septik
Gunting
Plester
Spalk
Duk steril
Bengkok

Langkah langkah :
1.
Kerjakan dengan cara aseptis.
2.
Lakukan desinfeksi di daerah
pemasangan dengan cairan antiseptik.
3.
Pasang duk steril
4.
Anesthesi dengan xylocain 2 %
5.
Masukkan dalam arteri secara
perkutan, kemudian jarum di tarik biasanya, keteter terletak 4
6 cm dalam arteri.
6.
Hubungkan kateter arteri dengan
sistem tranduser.
7.
Fiksasi kateter kemudian di tutup
dengan kassa yang diberi salep anti septik.
Hal hal yang perlu diperhatikan :
1.
Pantau tekanan arteri setiap jam
atau setiap ada perubahan.
2.
Ganti sistem tranduser setiap 24
jam
3.
Kalibrasi setiap 4 jam atau setiap
ada perubahan posisi.
4.
Observasi adanya komplikasi.
Komplikasi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
UNIT TERKAIT

Thrombosis
Kehilangan darah
Emboli udara
Infeksi sistemik
Spasme arteri
Hematom

Instalasi farmasi.

38

PEREKAMAN EKG
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/2

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Suatu tindakan merekam perubahan potensial listrik jantung


dengan menggunakan alat elektrokardiograf.

TUJUAN

Dengan EKG dapat diketahui :


1.
2.
3.
ventrikel
4.
dan hiperkalemia )
5.

KEBIJAKAN

Pemenuhan kebutuhan
penyembuhan.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan penderita :

Penyakit jantung koroner.


Gangguan irama jantung / aritmia.
Hipertropy dari atrium dan
Gangguan elektrolit ( hipokalemia
Efek obat jantung ( digitalis )

pengobatan

dan

membantu

proses

39

1. Penerangan tujuan pemeriksaan.


2. Reaksi selama pemeriksaan :
a. Hindari gerakan gerakan anggota tubuh.
b. Tidak diajak bicara.
3. Persiapan sebelum pencatatan.
Kulit dibersihkan dari lemak dan rambut.
Persiapan alat :
1.
2.
EKG.
3.
4.
5.
6.
7.

Mesin EKG.
Kertas Grafik

Kertas

Plat ekstremitas elektrode


Jelly
Tissue
Tempat tidur
Pena / spidol

Cara kerja :
1.
Cuci tangan
2.
Siapkan
peralatan
dan
lingkungan, jaga privasi pasien.
3.
Jelaskan prosedur pada
pasien
4.
Instruksikan pasien tidur
refleks ( tangan, tungkai tidak bersentuhan )
5.
Instruksikan pasien tidak
menyentuh tepi tempat tidur.
6.
Pasang flat dan elektroda
pada dada pasien dengan ketentuan :
a.
Kabel
merah
( R ) : Pasang di tangan kanan ( RA )
b.
Kabel kuning
( K ) : Pasang di tangan kiri ( LA )
c.
Kabel
hijau
( F ) : Pasang di tungkai kiri ( RL ), kabel dapat
dipasang lain bila ada petunjuk khusus dari alat EKG
yang di pakai.
d.
Kabel hitam ( G
) : Pasang ditungkai kanan (Grounding)
e.
V1 : Ruang
Intercostal IV garis sternal kanan.
f.
V2 : Ruang
Intercostal IV garis sternal kiri.
g.
V3 : Di tengah
antara V2 dan V4
h.
V4 : Ruang
Intercostal V garis mid clavcula.
i.
V5 : Setinggi
V4 garis axila depan kiri.
j.
V6 : Setinggi
V4 garis axila tengah kiri.
k.
V7 : Setinggi
V4 axila belakang kiri.
l.
V8 : Setinggi
V4 garis spacula kiri
m.
V9 : Setinggi
V4 garis columna vertebra kiri.
n.
V3R : Sama
seperti V3 tapi sebelah kanan.
40

7.
Mesin di ON kan : untuk
pemanasan
8.
Mulai kalibrasi.
9.
Pilih lead selector diputar pada
hantaran : I, II, III, Arf, Avf, VI sampai V6 min direkam 3 4
QRS kompleks.
10.
Setelah selesai kalibrasi kembali.
11.
Lepaskan kabel dan electrode
dari tubuh pasien bersihkan tubuh pasien dari jeli / air.
12.
Jika perlu : voltage diperkecil
atau diperbesar ( beri tanda sebelum dan sesudahnya dengan
kalibrasi )
13.
Beri :
a.
Nama
lead masing masing.
b.
Nama
pasien
c.
Tanggal
dan jam pembuatan.
d.
Nama
pembuat perekaman.
14. Rapihkan peralatan dan dokumentasikan tindakan.
UNIT TERKAIT

1.
2.

Instalasi farmasi
Sijangmed.

KOREKSI Na BIKARBONAT
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147

PT /

/ 2015

No. Revisi

Halaman

1/1
41

Telp. (021) 82432211


Fax. (021) 82419079

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Menambah sejumlah Na Bikarbonat ke dalam tubuh untuk


mencapai nilai normal Na Bikarbonat dalam darah. Nilai normal =
22 26

TUJUAN

Untuk memperbaiki keseimbangan asam basa dalam darah.

KEBIJAKAN

1. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses


penyembuhan.
2. Ada instruksi dari medis tentang pemberian therapi.

PROSEDUR PELAKSANAAN

1. Hitung kekurangan buffer tubuh dengan rumus = 1/3 x BB X


BE ( base defisit ).
2. Berikan setengah dosis atau sesuai instruksi dokter ( dosis
maksimal dewasa 100 mEq/ hari )
3. Jika Na Bikarbonat dalam kemasan 25 cc = 25 mEq, sedot
obat tersebut dengan spuit sesuai dengan jumlah yang
dikehendaki kemudian campurkan dengan cairan pengencer
dalam plabot atau masukkan dalam botol / plabot steril tanpa
pengenceran.
4. Jika obat dalam kemasan botol siap pakai ( produk 100 cc =
100 mEq ) cek dan tentukan jumlah yang akan diberikan.
5. Sambungkan kemasan obat dengan CVC atau vena besar.
6. Atur tetesan pemberian, berikan minimal dalam waktu 30
menit dan tidak dibolus.
7. Monitor tensi, nadi, pernafasan sert akeadaan pasien secara
keseluruhan.
8. Dokumentasikan pemberian obat dan rapikan peralatan.

UNIT TERKAIT

1. Instalasi farmasi.
2. Laboratorium.

PEMBERIAN DOPAMIN
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36

PT /

/ 2015

No. Revisi

Halaman

1/1
42

Bekasi Selatan 17147


Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Suatu pemberian obat dopamine dengan dosis tertentu dengan


menggunakan syringe pump.

TUJUAN

1. Untuk meningkatkan kekuatan kontraklitit otot jantung


( inotropik jantung )
2. Memperbaiki fungsi ginjal.
Ada instruksi medis tentang pemberian therapy dopamine.
Persiapan alat :
1. Obat dopamine 200 mg
2. Spuit 50 cc : 2
3. Extention tube 1
4. D5% RL atau Nacl
5. Syringe pump
Cara kerja :
1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam
hitungan ml/jam
2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau
vena besar.
3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus /
perfusor.
4. Monitor hemodinamik pasien.
5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.

KEBIJAKAN
PROSEDUR PELAKSANAAN

Nama Pasien : .............................


BB
: .......................Kg
DOPAMIN 200 mg / 50 cc
1 cc = 200 mg/50 = 4 mg = 4000 mcg
Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit
1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam
4000
2 meg =
............cc / jam
3 meg =
............cc / jam
4 meg =
............cc / jam
5 meg =
............cc / jam
6 meg =
............cc / jam
7 meg =
............cc / jam
8 meg =
............cc / jam
9 meg =
............cc / jam
10 meg =
............cc / jam
TTD

UNIT TERKAIT

Nama Pasien : .............................


BB
: .......................Kg
DOPAMIN 400 mg / 50 cc
1 cc = 400 mg/50 = 8 mg = 8000 mcg
Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit
1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam
8000
2 meg =
............cc / jam
3 meg =
............cc / jam
4 meg =
............cc / jam
5 meg =
............cc / jam
6 meg =
............cc / jam
7 meg =
............cc / jam
8 meg =
............cc / jam
9 meg =
............cc / jam
10 meg =
............cc / jam
TTD

1. Instalasi Farmasi.
2. Sijangmed

43

PEMBERIAN DOBUTAMIN
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

Suatu pemberian obat dobutamine dengan dosis tertentu dengan


menggunakan syringe pump.
1. Untuk meningkatkan kekuatan kontraklitas otot jantung
( inotropik jantung )
2. Memperbaiki fungsi ginjal.
1. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses
penyembuhan.
2. Ada instruksi medis tentang pemberian therapy dobutamin.
Persiapan alat :
1.
Obat dobutamin 250 mg
2.
Spuit 50 cc : 2
3.
Extention tube 1
4.
D5% RL atau Nacl
5.
Syringe pump
Cara kerja :
1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam
hitungan ml atau tetesan.
2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau
vena besar.
3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus /
perfusor.
4. Monitor hemodinamik pasien.
5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.
Nama Pasien : .............................
BB
: .......................Kg
DOBUTAMIN 250 mg / 50 cc
1 cc = 250 mg/50 = 5 mg = 5000 mcg
Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit
1 meg = 1 x BB X 60 = ........... cc / jam
4000
2 meg =
............cc / jam
3 meg =
............cc / jam
4 meg =
............cc / jam
5 meg =
............cc / jam
6 meg =
............cc / jam
7 meg =
............cc / jam
8 meg =
............cc / jam
9 meg =
............cc / jam
10 meg =
............cc / jam

Nama Pasien : .............................


BB
: .......................Kg
DOBUTAMIN 500 mg / 50 cc
1 cc = 500 mg/50 = 10 mg = 10000
Dosis = ............. Meg / KgBB / M
1 meg = 1 x BB X 60
8000
2 meg =
............cc
3 meg =
............cc
4 meg =
............cc
5 meg =
............cc
6 meg =
............cc
7 meg =
............cc
8 meg =
............cc
9 meg =
............cc
10 meg =
............cc

TTD

UNIT TERKAIT

TT

1. Instalasi Farmasi.
44

2. Sijangmed

45

PEMBERIAN ADRENALIN
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR PELAKSANAAN

Suatu pemberian obat adrenalin dengan dosis tertentu dengan


menggunakan syringe pump.
1. Untuk meningkatkan retensi vascular.
2. Untuk meningkatkan kontraktilitas jantung.
1. Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses
penyembuhan.
2. Ada instruksi medis tentang pemberian therapy adrenalin.
Persiapan alat :
1. Obat adrenalin 1 mg / ampul, diperlukan 4 ampul.
2. Spuit 50 cc : 2
3. Extention tube 1
4. D5% RL atau Nacl
5. Syringe pump
Cara kerja :
1. Cek instruksi dokter dan konfersikan kebutuhan pasien dalam
hitungan ml /jam.
2. Sambungkan infus set / selang perfusor dengan CVP atau
vena besar.
3. Labeling dan tempelkan perhitungan dosis pada infus /
perfusor.
4. Monitor hemodinamik pasien.
5. Dokumentasikan tindakan dan rapihkan peralatan pasien.
Nama Pasien : .............................
BB
: .......................Kg
ADRENALIN 4 mg / 50 cc
1 cc = 4 mg/ 50 = 80 mcg
Dosis = ............. Meg / KgBB / Menit
0,1 meg = 0,1 x BB X 60 = ....... cc / jam
80
0,2 meg =
............cc / jam
0,3 meg =
............cc / jam
0,4 meg =
............cc / jam
0,5 meg =
............cc / jam
0,6 meg =
............cc / jam
0,7 meg =
............cc / jam
0,8 meg =
............cc / jam
0,9 meg =
............cc / jam
1 meg =
............cc / jam

Nama Pasien : .............................


BB
: .......................Kg
ADRENALIN 8 mg / 50 cc
1 cc = 4 mg/ 50 = 80 mcg
Dosis = ............. Meg / KgBB / M
0,1 meg = 0,1 x BB X 60
160
0,2 meg =
............c
0,3 meg =
............c
0,4 meg =
............c
0,5 meg =
............c
0,6 meg =
............c
0,7 meg =
............c
0,8 meg =
............c
0,9 meg =
............c
1 meg =
............c

TTD

TT

46

UNIT TERKAIT

1. Instalasi Farmasi.
2. Sijangmed

47

UJI AIR
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Uji air adalah suatu test absorbsi terhadap gastro intestinal

TUJUAN

Untuk mengetahui fungsi absorbsi dan peristaltik usus, indikasi :


1. Pada penderita dengan penurunan kesadaran.
2. Pada penderita setelah di puasakan pada waktu tertentu.
3. Pada penderita yang sesudah dilakukan tindakan operasi.
4. Pada penderita yang terpasang ventilasi mekanik invasif.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektolit.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan :
1. NGT
2. Spuit 50 cc
3. Air putih ( Dextrose 5 % )
4. Lap Makan
Langkah langkah :
1. Cek posisi NGT
2. Aspirasi isi lambung
3. Berikan pada :
a.
Jam I
30
ml air putih ( Dextrose 5 % )
b.
Jam II
30
ml air putih ( Dextrose 5 % )
c.
Jam III 30
ml air putih ( Dextrose 5 % )
d.
Jam IV 30
ml air putih ( Dextrose 5 % )
4.
- Klem NGT, tunggu 1 jam
aspirasi, bila jumlah residu
> 60 ml, tunda enteral, jika
Jumlah residu < 60 ml coba enteral 25 ml / jam selama 4 jam.
- Klem NGT, tunggu 1 jam aspirasi, bila = cairan aspirasi
> 50 ml, stop enteral. Jika cairan aspirasi < 50 ml, teruskan
enteral.
5.
Tingkatkan enteral sesuai
kebutuhan.

UNIT TERKAIT

1. Instalasi gizi
2. Instalasi farmasi.
48

ASISTENSI PEMASANGAN CVC dan


PEMANTAUAN CVP
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/3

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

TUJUAN

Suatu tindakan pemasangan kateter vena sentral dan pengukuran


tekanan darah di atrium kanan atau vena kava dengan
menggunakan kateter vena. Tekanan vena sentra diukur dalam cm
H2O dengan menggunakan manometer air atau dalam mmHg
dengan memakai tranduser tekanan.
Nilai normal CVP ( nafas spontan ) :
4 s/d 15 cm H2O
3 s/d 11 mmHg
Untuk mengetahui secara tidak langsung keadaan :
1.
Hypovolemik
2.
Hypervolemik
3.
Gagal jantung
4.
Tamponade jantung
Indikasi :
1.
atrium kanan / vena kava.
2.
cairan.
3.
pompa.
4.
darah.

Mengukur tekanan darah di


Parameter volume darah /
Efektivitas jantung sebagai
Keadaan

tonus

pembuluh

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit.

PROSEDUR PELAKSANAAN

Persiapan
Daerah pemasangan :
1.
2.
3.
4.

Vena jugularis
Vena subklavia
Vena femoralis
Vena antekubital / brakhialis

Persiapan alat
49

Untuk pemasangan :
1.
Kateter ukuran sesuai daerah
pemasangan.
2.
Cairan Nacl 0,9 %
3.
Infus set
4.
Xylocain 2 %
5.
Spuit 2,5 cc, 20 cc
6.
Cairan antiseptik
7.
Kapas alkohol
8.
Kassa steril
9.
Duk steril
10.
Gunting
11.
Standar cairan
12.
CVP monometer
13.
Three way stopcock
14.
Masker, sarung tangan
15.
Benang steril dan jarum
16.
Bila
memakai
sistem
tranduser siapkan : monitor, tranduser, manometer line,
pressure bag
17.
Bengkok
Untuk pencabutan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Gunting
Pinset anatomi
Pinset chirrugi
Kassa steril
Kassa alkohol
Plester
Sarung tangan steril
Bak instrumen
Bengkok

Langkah langkah pemasangan CVC :


1.
Prosedur dikerjakan dengan
tekhnik aseptic setelah dokter memakai sarung tangan,
bersihkan lokasi penusukan dengan cairan antiseptic.
2.
Lakukan lokal anestesi,
pasang duk lubang steril.
3.
Kepala pasien dimiringkan
ke arah yang berlawanan.
4.
Dokter melakukan pungsi
vena.
5.
Jarum intraduser dicabut dan
hubungkan kateter dengan cairan dan infus set.
6.
Perhatikan tanda perdarahan
selama pemasangan.
7.
Fikasasi, tutup kassa steril
dan salep tutup dengan plester hypavik.
8.
Foto
thorak
untuk
mengetahui posisi kateter.
Langkah langkah pemantauan CVP :
1.
Posisi pasien terlentang,
tentukan titik nol dengan membuat garis setinggi atrium
kanan yaitu garis mid axillaries daerah intercosta ke 5 atau
kurang lebih 5 cm dibawah sternum, kemudian samakan garis
atrium kanan dengan titik nol pada manometer dengan water
ring.
50

2.
Isi manometer dengan cairan
Nacl 0,9 % sambil membuka three way stopcock ke pasien
dibuka.
3.
Nilai CVP diambil pada
keadaan cairan dalam manometer stabil, sambil
memperhatikan fluktuasi cairan manometer.
4.
Undulasi fluktuasi cairan
dalam manometer dipengaruhi irama penafasan.
5.
Perubahan nilai CVP harus
di interprestasikan sesuai dengan gambaran klinis pasien.
6.
Kalibrasi setiap 4 jam atau
setiap perubahan posisi pasien.
Hal hal yang harus diperhatikan :
1.
hemathoraks
2.
3.
4.
5.
6.
7.
UNIT TERKAIT

1.
2.

Pneumothoraks

Dysritmia
Infeksi
Emboli udara
Thrombophlebitis
Tamponade pericard
Lesi saraf
Instalasi farmasi
Instalasi radiologi

51

PENGISIAN DOKUMENTASI MONITORING HARIAN


( FLOW SHEET )
No. Dokumen
RUMAH SAKIT ANNA
Jl. Raya Pekayon No. 36
Bekasi Selatan 17147
Telp. (021) 82432211
Fax. (021) 82419079

PT /

No. Revisi

Halaman

1/1

/ 2015

Tanggal Terbit

PROSEDUR TETAP

Di tetapkan
Kepala Rumah Sakit

Januari 2015
dr. Yulika Harniza, MARS.

PENGERTIAN

Bagian dari clinical record ( rekam medis ), merupakan kumpulan


data komprehensif yang menggambarkan kondisi pasien,
kebutuhan perawatan, pelayanan kesehatan yang diberikan dan
respon terhadap perawatan.

TUJUAN

1.
Sarana komunikasi bagi
semua staf di IRI
2.
Legal proteksi bagi rumah
sakit
3.
Media pembelajaran bagi
staf dan peserta didik di IRI
4.
Dasar pemberi asuhan dan
pendidikan bagi pasien dan keluarga.
5.
Salah satu data kendali mutu
dan penelitian.
6.
Sebagai dasar perhitungan
biaya.

KEBIJAKAN

Memenuhi kebutuhan keamanan.

PROSEDUR PELAKSANAAN

1.

a. Masuk : di isi tanggal pasien masuk ke IRI


52

b. Dari : di isi bangsal / instalasi asal pasien sebelum masuk


ke IRI
c. Keluar : di isi tanggal pasien keluar dari IRI
d. Ke : di isi bangsal / instalasi dipasien dipindah dari IRI.
2.

Identitas
a.
No. Dok.
Med : di isi rekam medik pasien ( No. RM )
b.
Tanggal :
di isi tanggal saat instruksi harian dibuat.
c.
Nama :
di isi nama pasien.
d.
Umur :
di isi umur pasien dalam tahun / bulan atau hari.
e.
Diagnos
a : di isi diagnosa medis saat masuk dan selama di IRI.
f.
Hari ke :
di isi hari keberapa pasien di rawat di IRI dihitung mulai
pasien masuk IRI.
g.
Dr.
ICU : di isi dokter yang merawat dan bertanggung jawab
di IRI.

3.

Intake
a.
Enternal :
di isi jenis makanan, jumlah dan cara pemberian / 24 jam
b.
Volume :
di isi volume enteral ( cc ) dalam 24 jam
c.
Kalori :
di isi total kalori dari karbohidrat dan lemak yang
terkandung dalam diit enteral.
d.
Protein :
di isi jumlah protein yang terkandung dalam diit enteral.
e.
Parentera
l : di isi jenis, jumlah dan cara pemberian nutrisi
parenteral dalam 24 jam.
f.
Volume :
di isi volume parenteral ( cc ) dalam 24 jam.
g.
Kalori :
di isi total kalori dari karbohidrat dan lemak yang
terkandung dalam nutrisi parenteral.
h.
Protein :
di isi jumlah gram protein yang terkandung dalam nutrisi
parenteral.

4.

Pola ventilasi, di isi jenis ventilasi pasien, yaitu :


a.
Spontan
tanpa / dengan oksigen binasal / NRM / RM beserta
alirannya.
b.
Alat
bantu ( ventilasi mekanik ) : jika menggunakan ventilasi
mekanik ( ventilator ) harus dituliskan mode yang
digunakan dan FiO2.
c.
Ventilato
r : di isi merk dan seri ventilator yang digunakan,
misalkan : Servo 900 C.

5.

Obat
a.

Enteral /
53

lain lain : di isi nama, dosis, cara dan jadwal pemberian


obat dalam 24 jam.
b.
Parentera
l : di isi nama, dosis, cara dan jadwal pemberian obat
dalam 24 jam.
6. Laboratorium dan foto thorax : di isi jenis pemeriksaan
laboratorium dan rontgen thorax yang di programkan pada
hari tersebut.
7. Lain lain : di isi instruksi dokter yang tidak terprogram
sebelumnya, misalkan fisiotherapi, brain protection, drassing,
balance cairan negatif atau positif.
8.

Jam : jelas

9.

SSP ( Susunan Saraf Pusat )


a.
Kes : di
isi kesadaran pasien secara kualitatif ( compos mentis /
cm, somnolen, apatis, soporous coma, coma )
b.
Pupil :
kolom ini diganti menjadi pengisian kesadaran GCS
( Kualitatif ).
c.
Ref : di
isi ukuran pupil dalam bentuk gambar lingkaran atau
besar pupil dalam cm serta refleksi pupil terhadap cahaya
( - / + / - / lambat / cepat ).
d.
GCS :
NILAI
1) Buka mata ( E )
a) Spontan
4
b) Respon perintah lisan
3
c) Respon rangsang sakit
2
d) Tidak ada respon
1
2) Respon motorik terbaik ( M )
a) Sesuai perintah
b) Terlokasi pada sakit
c) Menarik terhadap rangsang sakit
d) Fleksi abnormal
e) Respon ekstensor
f) Tidak respon
3)

6
5
4
3
2
1

Respon verbal (V)


a) Orientasi baik
5
b) Bingung, bicara mengacau, diorientasi tempat dan
waktu
4
c) Bicara hanya dalam bentuk kata-kata, tidak dapat
membentuk suatu kalimat
3
d) Suara tanpa arti (mengerang)
2
e) Tidak ada respon
1

UNIT TERKAIT

54

55