Anda di halaman 1dari 24

STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
Nama

: Tn. S

Jenis kelamin

: Laki-laki

Tempat, tanggal lahir : Purbalingga, 21-11-1951


Umur

: 63 tahun

Status

: Menikah

Pekerjaan

: Pensiunan TNI

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Raya Tanjung Barat RT/RW 009/007

Tanggal masuk RS

: 08-07-15

No RM

: 34 78 40

II. Keluhan Utama


Penonjolan pada bagian selangkangan sampai kantung buah zakar semenjak 10 jam
SMRS
III. Anamnesis
Autoanamnesis
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke Unit Gawat Darurat RUMKITAL Marinir Cilandak
mengeluhkan adanya penonjolan pada bagian selangkangan sampai kantung buah
1

zakar semenjak 10 jam SMRS. Pasien sempat BAB sebanyak 1x semenjak masuk
rumah sakit. BAB lunak tidak berair ataupun adanya bercak darah. Saat pasien
mengejan saat BAB, pasien menyatakan benjolan tersebut membesar. Pasien juga
menyatakan adanya rasa nyeri pada bagian perut bawah dan pada buah zakar.
Kualitas nyeri tersebut dinilai 6/10 dan dideskripsikan sebagai perasaan penuh
dan nyeri yang tumpul.
Pasien menambahkan adanya rasa mual yang tidak disertai dengan muntah.
Pasien menyangkal adanya demam. Riwayat jatuh, benturan di perut, atau batuk
hebat dalam beberapa hari terakhir disangkal pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menyangkal riwayat penyakit diabetes mellitus, hipertensi, ataupun alergi.
Pasien tidak pernah dioperasi ataupun di rawat inap di rumah sakit. Ini merupakan
kejadian yang pertama kali.
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit turunan seperti diabetes mellitus,
hipertensi, ataupun penyakit jantung. Pasien mengaku keluarga pasien tidak ada
yang mengidap penyakit seperti dialami pasien.
Riwayat Sosial Ekonomi dan Kebiasaan
Pasien adalah pensiunan TNI. Kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol
disangkal pasien.

IV. Pemeriksaan Fisik


Tanda-tanda vital
2

Keadaan Umum/Kesadaran: TSS/CM


Tekanan darah

: 150/90 mmHg

Nadi

: 90x/menit

Pernafasan

: 24x/menit

Suhu

: 36,6 C

Status Generalisata
Kepala : normosefal, jejas Mata : bentuk kedua bola mata normal dan simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva
anemis -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tak langsung +/+, pupil isokor
dengan diameter 3 mm
Hidung : tidak tampak deformitas, septum nasi di tengah, nares bilateral paten, konka
inferior bilateral tidak hipertrofi dan tidak hiperemis, tidak ada sekret dari kedua nares
Telinga : pinna dalam batas normal, kanalis auditus eksterna dalam batas normal, tidak
ada sekret dari kanalis auditus eksterna
Mulut : mukosa lembab, tidak ada sianosis, gigi geligi dalam keadaan baik
Tenggorok : tonsil T1-T1, faring tenang
Leher : bentuk normal, tidak ada nyeri tekan, pergerakan bebas, trakea di tengah, tiroid
tidak membesar
KGB : kelenjar getah bening di preaurikular, retroaurikular, oksipital, submandibula,
supraklavikula, aksila, dan inguinal tidak teraba.
Ekstremitas: akral hangat, pengisian kapiler < 2 detik, turgor baik

Toraks
inspeksi : Bentuk normal, tidak ada jejas, tidak ada skar bekas operasi, simetris, retraksi
3

pulsasi iktus kordis tidak tampak


palpasi : Taktil fremitus normal, simetris pada kedua hemithoraks, iktus kordis teraba di
interkostal V linea midklavikula sinistra
perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru; batas jantung kanan pada interkosta V
parasternal kanan, batas jantung kiri pada interkosta V aksila anterior kiri, pinggang
jantung pada interkosta III parasternal kiri
auskultasi : Suara napas vesikular, simetris, tanpa ronki, tanpa mengi; bunyi jantung I-II
reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop
Abdomen
Inspeksi

: Bentuk abdomen normal

Palpasi
: Abdomen teraba supel, nyeri tekan (+) suprapubis.Hepar teraba 2 cm
dibawah arkus kosta lunak dengan tepi tumpul, lien tidak teraba.
Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus positif, dengan frekuensi normal

Status Lokalis
Regio Inguinal Sinistra
Inspeksi
: Terlihat penonjolan denga posisi supine dan upright, membesar
saat batuk tanpa eritema ataupun lesi kulit
Palpasi

: NT (+), konsistensi lunak, hangat

Regio Scrotalis Sinistra


Inspeksi
eritema (-), Lesi (-)

: Scrotum terlihat membesar dengan posisi supine dan upright

Palpasi

: NT (+), hangat, tidak dapat dilakukan reduction

Transillumination

: (-)

V. Pemeriksaan Penunjang

A. Pemeriksaan darah
08/07/2015
Hemoglobin

: 15,8 g/dL

Hematokrit

: 47%

Lekosit

: 21,100/uL

Trombosit

: 310,000/uL

CT/BT

: 5 menit/3 menit

Gula Darah Sewaktu : 219 mg/dL


B. Urine Lengkap
08/07/2015
Warna

: Kuning

Kejernihan

: Jernih

Berat Jenis

: 1.015

pH

: 5.0

Protein

:-

Glukosa

:-

Keton

:-

Urobilinogen : Bilirubin

:-

Urobillin

:+

Nitrit

:-

Blood

:-

Lekosit

: 1-2/LPB

Eritrosit

: 0-1/LPB

Epitel

:+
5

Bakteri

:-

Silinder

:-

Kristal

:-

C. Pemeriksaan EKG

kesan:
irama sinus, premature ventricular complexes
Anterolateral Infarct
HR: 90 kali per menit
QRS<120ms
kesimpulan: Old MCI
D. Rontgen Toraks
kesimpulan dalam batas normal
VI. Diagnosa Kerja :
6

Hernia Scrotalis Incarcerata Sinistra


Old MCI

VII. Diagnosa Banding:

Hydrocele

VIII. Penatalaksanaan
-

IVFD RL 14 tpm
Inj. Ceftriaxone 2 x 1gr
Inj. Ketorolac 1 amp 30 mg
Pro-Operasi Hernioraphy jam 06.30 09/07/2015

IX. Komplikasi

Hernia Scrotalis Strangulasi

Ileus Obstruktif Mekanik

ad vitam: dubia ad bonam

ad functionam: dubia ad bonam

ad sanationam: dubia

X. Prognosis

Follow up9 Juli 2015 Pre-Op (perawatan hari kedua)


7

Subjective:
-

Nyeri pada bagian inguinal dan scrotum


Penonjolan pada bagian inguinal dan scrotum
Pusing
Mual
Demam (-)
Muntah (-)
BAB (+)
Flatus (+)

Objective:
o Keadaan umum: sakit sedang/compos mentis
o TD: 130/80 mmHg
o Nadi: 80 kali per menit
o Suhu: 36,2

oC

o Pernapasan: 20 kali per menit


Scrotum: Tampak membesar, NT(+), eritema (-)
Inguinal: tampak benjolan, NT(+) , eritema (-), lesi (-)
Assessment:
-

Hernia Scrotalis Incarcerata


Old MCI

IVFD RL 20 tpm
Inj. Ceftriaxone 2 x 1gr
Inj Ketorolac 1 amp 30mg bolus
Rencana Hernioraphy

Plan:

09 Juli 2015 Post-Op (perawatan hari kedua)

Subjective:
-

Pusing
Mual
Muntah (-)
Nyeri Post-Op

Objective:
Keadaan umum: TSS/CM
TD: 140/70 mmHg
Nadi: 83 kali per menit
Suhu: 36,5

oC

Pernapasan: 23 kali per menit


Abdomen: Tampak tertutup kassa verban, rembesan (-), darah (-), BU (-), NT (+)
Pemeriksaan Laboratorium:
Hemoglobin

: 15,8 g/dL

Hematokrit

: 47%

Lekosit

: 17,100/uL

Trombosit

: 310,000/uL

Gula Darah Sewaktu : 219 mg/dL


Assessment:
-

Post-Hernioraphy h-0
Old MCI

IVFD RL:D5% = 1/3= 20 tpm


Inj. Ceftriaxone 2 x 1gr
Inj Tramadol 2 x 100 mg
ISDN 3 x 5mg PO
Bisoprolol 1 x 5mg PO

Plan:

10 Juli 2015 (perawatan hari ketiga)

Subjective:
-

Pusing

Objective:
Keadaan umum: TSR/CM
TD: 120/90 mmHg
Nadi: 82 kali per menit
Suhu: 36,5

oC

Pernapasan: 18 kali per menit


Abdomen: Tampak tertutup kassa verban, rembesan (-), darah (-), BU (+), NT (+)
Assessment:
-

Post-Hernioraphy h-1
Old MCI

Rawat Jalan
Cefadroxil 3 x 500mg
Asam Mefenamat 3 x 500mg

Plan:

TINJAUAN PUSTAKA
10

Definisi
Hernia didefinisikan sebagai suatu penonjolan abnormal organ atau jaringan
melalui daerah yang lemah (defek) yang diliputi oleh dinding. Meskipun hernia dapat
terjadi di berbagai tempat dari tubuh kebanyakan defek melibatkan dinding abdomen
pada umumnya daerah inguinal.1
Hernia ingunalis dibagi menjadi dua yaitu Hernia Ingunalis Lateralis (HIL) dan
Hernia Ingunalis Medialis. Disini akan dijelaskan lebih lanjut hernia ingunalis lateralis.
Hernia inguinalis lateralis mempunyai nama lain yaitu hernia indirecta yang artinya
keluarnya tidak langsung menembus dinding abdomen. Hernia inguinalis lateralis (HIL)
dikarenakan kelainan kongenital meskipun ada yang didapat seringkali karena riwayat
operasi sebelumnya, sering mengangkat barang berat (reaksi vasalva), dan usia lanjut. 3
Tabel. 2.1. Perbedaan HIL dan HIM.3
Tipe

Deskripsi

Hernia

Penojolan

ingunalis

melewati

lateralis

inguinal

Hubungan

Dibungkus oleh

Onset biasanya

dg vasa

fascia

pada waktu

epigastrica

spermatica

inferior
Lateral

interna
Ya

cincin

Congenital
Dan bisa pada

dan

waktu dewasa.

biasanya
merupakan
kegagalan
penutupan

cincin

ingunalis

interna

pada waktu embrio


setelah penurunan
Hernia

testis
Keluarnya

ingunalis

langsung

medialis

menembus

Medial
fascia

dinding abdomen
11

Tidak

Dewasa

KLASIFIKASI
Casten membagi hernia menjadi tiga stage, yaitu:3
Stage 1

: hernia indirek dengan cincin interna yang normal.

Stage 2

: hernia direk dengan pembesaran atau distorsi cincin interna.

Stage 3

: semua hernia direk atau hernia femoralis.

Klasifikasi menurut Halverson dan McVay, hernia terdapat terdapat 4 kelas:3


Kelas 1

: hernia indirek yang kecil.

Kelas 2

: hernia indirek yang medium.

Kelas 3

: hernia indirek yang besar atau hernia direk.

Kelas 4

: hernia femoralis.

Sistem Ponka membagi hernia menjadi 2 tipe:3


1. Hernia Indirek
hernia inguinalis indirek yang tidak terkomplikasi.
hernia inguinalis indirek sliding.
2. Hernia Direk
suatu defek/kelemahan kecil di sebelah medial segitiga Hesselbach, dekat
tuberculum pubicum.
hernia divertikular di dinding posterior.
hernia inguinalis direk dengan pembesaran difus di seluruh permukaan segitiga
Hesselbach

ETIOLOGI
Penyebab terjadinya hernia inguinalis masih diliputi berbagai kontroversi, tetapi diyakini
ada tiga penyebab, yaitu:2
12

1. Peninggian tekanan intra abdomen yang berulang.


Overweight
Mengangkat barang yang berat yang tidak sesuai dengan ukuran badan
Sering mengedan karena adanya gangguan konstipasi atau gangguan saluran
kencing
Adanya tumor yang mengakibatkan sumbatan usus
Batuk yang kronis dikarenakan infeksi, bronchitis, asthma, emphysema, alergi
Kehamilan
Ascites
2. Adanya kelemahan jaringan /otot.
3. Tersedianya kantong.
PATOFISIOLOGI HERNIA INGUINALIS LATERALIS
Ligamentum gubernaculum turun pada tiap sisi abdomen dari pole inferior gonad
ke permukaan interna labial/scrotum. Gubernaculum akan melewati dinding abdomen
yang mana pada sisi bagian ini akan menjadi kanalis inguinalis. Processus vaginalis
adalah evaginasi diverticular peritoneum yang membentuk bagian ventral gubernaculums
bilateral. Pada pria testes awalnya retroperitoneal dan dengan processus vaginalis testes
akan turun melewati canalis inguinalis ke scrotum dikarenakan kontraksi gubernaculum.
Pada sisi sebelah kiri terjadi penurunan terlebih dahulu sehingga ,yang tersering hernia
inguinalis lateralis angka kejadiannya lebih banyak pada laki-laki dan yang paling sering
adalah yang sebelah kanan.
Pada wanita ovarium turun ke pelvis dan gubernaculum bagian inferior menjadi
ligamentum rotundum yang mana melewati cincin interna ke labia majus.
Processus vaginalis normalnya menutup, menghapuskan perluasan rongga peritoneal
yang melewati cincin interna. Pada pria kehilangan sisa ini akan melekatkan testis yang
dikenal dengan tunika vaginalis. Jika processus vaginalis tidak menutup maka hidrokel
atau hernia inguinalis lateralis akan terjadi. Sedangkan pada wanita akan terbentuk kanal
Nuck. Akan tetapi tidak semua hernia ingunalis disebabkan karena kegagalan
menutupnya processus vaginalis dibuktikan pada 20%-30% autopsi yang terkena hernia
ingunalis lateralis proseccus vaginalisnya menutup.5
13

Gambar 2.1. Perbandingan HIL dan Anatomi Normal5

ANATOMI
Regio inguinal merupakan batas bawah abdomen dengan fungsi yang terdiri atas lapisan
miopaneurotis. Penamaan struktur anatomi di daerah ini banyak memakai nama
penemunya sebagai pengakuan atas kontribusi mereka.
Pada dasarnya inguinal dibentuk dari lapisan:
1. Kulit (kutis).
2. Jaringan sub kutis (Campers dan Scarpas) yang berisikan lemak.
Fasia ini terbagi dua bagian, superfisial (Camper) dan profundus (Scarpa). Bagian
superfisial meluas ke depan dinding abdomen dan turun ke sekitar penis, skrotum,
perineum, paha, bokong. Bagian yang profundus meluas dari dinding abdomen ke arah
penis (Fasia Buck).
3. Innominate fasia (Gallaudet) : lapisan ini merupakan lapisan superfisial atau lapisan
luar dari fasia muskulus obliqus eksternus. Sulit dikenal dan jarang ditemui.
4. Apponeurosis muskulus obliqus eksternus, termasuk ligamentum inguinale
(Poupart) merupakan penebalan bagian bawah aponeurosis muskulus obliqus
eksternus.
Terletak mulai dari SIAS sampai ke ramus superior tulang publis., Lakunare
14

(Gimbernat) Merupakan paling bawah dari ligamentum inguinale dan dibentuk dari
serabut tendon obliqus eksternus yang berasal dari daerah Sias. Ligamentum ini
membentuk sudut kurang dari 45 derajat sebelum melekat pada ligamentum pektineal.
Ligamentum ini membentuk pinggir medial kanalis femoralis.
dan Colles. Ligamentum ini dibentuk dari serabut aponeurosis yang berasal dari crus
inferior cincin externa yang meluas ke linea alba. 2

Gambar 2.2. Lapisan-lapisan abdomen1

15

6. Muskulus transversus abdominis dan aponeurosis muskulus obliqus internus, falx


inguinalis (Henle) dan konjoin tendon.
7. Fasia transversalis dan aponeurosis yang berhubungan dengan ligamentum pectinea
(Cooper), iliopubic tract, falx inguinalis dan fasia transversalis.
8. Preperitoneal connective tissue dengan lemak.
9. Peritoneum
10. Superfisial dan deep inguinal ring. 5
Bagian bagian dari hernia 7
a. Pintu hernia adalah lapisan lapisan dinding perut dan panggul. Hernia dinamai
berdasarkan dari pintunya
b. Kantung hernia adalah peritoneum parietalis, bagiannya adalah kolum, korpus dan
basis
c.

Kanalis inguinalis adalah saluran yang berjalan oblik (miring) dengan panjang 4
cm dan terletak 2-4 cm di atas ligamentum inguinale. Dinding yang membatasi
kanalis inguinalis adalah:
- Anterior :

Dibatasi oleh aponeurosis muskulus obliqus eksternus dan 1/3


lateralnya muskulus obliqus internus.

- Posterior :

Dibentuk oleh aponeurosis muskulus transversus abdominis yang


bersatu dengan fasia transversalis dan membentuk dinding
posterior dibagian lateral. Bagian medial dibentuk oleh fasia
transversa dan konjoin tendon, dinding posterior berkembang dari
aponeurosis muskulus transversus abdominis dan fasia transversal.

- Superior :

Dibentuk oleh serabut tepi bawah muskulus obliqus internus dan


muskulus transversus abdominis dan aponeurosis.

- Inferior :

Dibentuk oleh ligamentum inguinale dan lakunare.

16

Gambar 2.4. Canalis Inguinalis1

Bagian ujung atas dari kanalis inguinalis adalah internal inguinal ring. Ini
merupakan defek normal dan fasia transversalis dan berbentuk huruf U dan V dan
terletak di bagian lateral dan superior. Batas cincin interna adalah pada bagian atas
muskulus transversus abdominis, iliopublik tract dan interfoveolar (Hasselbach) ligament
dan pembuluh darah epigastrik inferior di bagian medial. External inguinal ring adalah
daerah pembukaan pada aponeurosis muskulus obliqus eksternus, berbentuk U dangan
ujung terbuka ke arah inferior dan medial. 9
d. Isi kanalis inguinalis pria : 10
1

a. Duktus deferens

b. 3 arteri yaitu :

1. Arteri spermatika interna


2. Arteri diferential
3.Arteri spermatika eksterna

c. Plexus vena pampiniformis

d. 3 nervus: 1. Cabang genital dari nervus genitofemoral


2. Nervus ilioinguinalis
3. Serabut simpatis dari plexus hipogastrik

17

e. 3 lapisan fasia: 1. Fasia spermatika eksterna,


lanjutan dari fasia

innominate.
2. Lapisan kremaster, berlanjut dengan serabutserabut muskulus obliqus internus dan fasia
otot.
3. Fasia spermatika interna, perluasan dari fasia
transversal.

GEJALA DAN TANDA KLINIK


Gejala
Pasien mengeluh ada tonjolan di lipat paha ,pada beberapa orang adanya nyeri
dan membengkak pada saat mengangkat atau ketegangan.seringnya hernia ditemukan
pada saat pemeriksaan fisik misalnya pemeriksaan kesehatan sebelum masuk kerja.
Beberapa pasien mengeluh adanya sensasi nyeri yang menyebar biasanya pada hernia
ingunalis lateralis, perasaan nyeri yang menyebar hingga ke scrotum. Dengan bertambah
besarnya hernia maka diikuti rasa yang tidak nyaman dan rasa nyeri, sehingga pasien
berbaring untuk menguranginya.11
Pada umumnya hernia direct akan memberikan gejala yang sedikit dibandingkan
hernia ingunalis lateralis.dan juga kemungkinannya lebih berkurang untuk menjadi
inkarserasi atau strangulasi.11
Tanda
Pada pemeriksaan hernia pasien harus diperiksa dalam keadaan berdiri dan
berbaring dan juga diminta untuk batuk pada hernia yang kecil yang masih sulit untuk
dilihat kita dapat mengetahui besarnya cincin eksternal dengan cara memasukan jari ke
annulus jika cincinnya kecil jari tidak dapat masuk ke kanalis inguinalis dan akan sangat
sulit untuk menentukan pulsasi hernia yang sebenarnya pada saat batuk. Lain halnya pada
cincin yang lebar hernia dapat dengan jelas terlihat dan jaringan tissue dapat dirasakan
pada tonjolandi kanalis ingunalis pada saat batuk dan hernia dapat didiagnosis.9

18

Perbedaan hil dan him pada pemeriksaan fisik sangat sulit dlakukan dan ini tidak
terlalu penting mengingat groin hernia harus dioperasi tanpa melihat jenisnya. Hernia
ingunalis pada masing-masing jenis pada umumnya memberikan gambaran yang sama .
hernia yang turun hingga ke skrotum hampir sering merupakan hernia ingunalis lateralis.9
Pada inspeksi
Pasien saat berdiri dan tegang, pada hernia direct kebanyakan akan terlihat
simetris,dengan tonjolan yang sirkuler di cicin eksterna. Tonjolan akan menghilang pada
saat pasien berbaring . sedangkan pada hernia ingunalis lateralis akan terlihat tonjolan
yang yang bebentuk elip dan susah menghilang pada saat berbaring.9
Pada palpasi
Dinding posterior kanalis ingunalis akan terasa dan adanya tahanan pada hernia
inguanalis lateralis. Sedangkan pada hernia direct tidak akan terasa dan tidak adanya
tahanan pada dinding posterior kanalis ingunalis. Jika pasien diminta untuk batuk pada
pemeriksaan jari dimasukan ke annulus dan tonjolan tersa pada sisi jari maka itu hernia
direct. Jika terasa pada ujung jari maka itu hernia ingunalis lateralis. Penekanan melalui
cincin interna ketika pasien mengedan juga dapat membedakan hernia direct dan hernia
inguinalis lateralis. Pada hernia direct benjolan akan terasa pada bagian depan melewati
Trigonum Hesselbachs dan kebalikannya pada hernia ingunalis lateralis. Jika hernianya
besar maka pembedaanya dan hubungan secara anatomi antara cincin dan kanalis
inguinalis sulit dibedakan. Pada kebanyakan pasien, jenis hernia inguinal tidak dapat
ditegakkan secara akurat sebelum dilakukan operasi.9
KOMPLIKASI
Hernia inkarserasi :

Hernia yang membesar mengakibatkan nyeri dan tegang

Tidak dapat direposisi

Adanya mual ,muntah dan gejala obstruksi usus.

Hernia strangulasi :

Gejala yang sama disertai adanya infeksi sistemik

Adanya gangguan sistemik pada usus.12


19

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Untuk mendukung ke arah adanya strangulasi, sebagai berikut:
Leukocytosis dengan shift to the left yang menandakan strangulasi.
Elektrolit, BUN, kadar kreatinine yang tinggi akibat muntah-muntah dan menjadi
dehidrasi.
Tes Urinalisis untuk menyingkirkan adanya masalah dari traktus genitourinarius yang
menyebabkan nyeri lipat paha.8
Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis tidak diperlukan pada pemeriksaan rutin hernia. Pemeriksaan foto
abdomen 3 posisi dapat dilakukan jika dicurigai terjadinya obstruksi
Ultrasonografi dapat digunakan untuk membedakan adanya massa pada lipat paha atau
dinding abdomen dan juga membedakan penyebab pembengkakan testis.8
Pada pemeriksaan radiologis kadang terdapat suatu yang tidak biasa terjadi, yaitu adanya
suatu gambaran massa. Gambaran ini dikenal dengan Spontaneous Reduction of Hernia
En Masse. Adalah suatu keadaan dimana berpindahnya secara spontan kantong hernia
beserta isinya ke rongga extraperitoneal.
Ada 4 tipe pembagian reduction of hernia en masse :
1.
2.
3.
4.

Retropubic
Intra abdominal
Pre peritoneal
Pre peritoneal locule

20

PENATALAKSANAAN HERNIA
Mengurangi hernia (Hernia Reduction)
Memberikan sedasi yang adekuat dan analgetik untuk mencegah nyeri. Pasien harus
istirahat agar tekanan intraabdominal tidak meningkat.
Menurunkan tegangan otot abdomen.
Posisikan pasien berbaring terlentang dengan bantal di bawah lutut.
Kompres dengan kantung dingin untuk mengurangi pembengkakan dan menimbulkan
proses analgesia.
Posisikan kaki ipsi lateral dengan rotasi eksterna dan posisi flexi unilateral (seperti kaki
kodok)
Posisikan dua jari di ujung cincin hernia untuk mencegah penonjolan yang berlanjutselam
proses reduksi penonjolan
Usahakan penekanan yang tetap pada sisi hernia yang bertujuan untu mengembalikan isis
hernia ke atas. Jika dilakukan penekanan ke arah apeks akan menyebabkan isis hernia
keluar dari pintu hernia.
Konsul ke ahli bedah jika usaha reduksi tidak berhasil dalam 2 kali percobaan
Teknik reduksi spontan memerlukan sedasi dam analgetik yang adekuat dan posisikan
Trendelenburg, dan kompres dingin selama 20-30 menit.7
Indikasi operasi :

21

- Hernia inguinalis lateralis pada anak-anak harus diperbaiki secara operatif tanpa
penundaan, karena adanya risiko komplikasi yang besar terutama inkarserata, strangulasi,
yang termasuk gangren alat-alat pencernaan (usus), testis, dan adanya peningkatan risiko
infeksi dan rekurensi yang mengikuti tindakan operatif.
- pada dewasa, dilakukan operasi elektif atau cito terutama pada keadaan
inkarserata dan strangulasi. Pada pria tua, ada beberapa pendapat (Robaeck-Madsen,
Gavrilenko) bahwa lebih baik melakukan elektif surgery karena angka mortalitas, dan
morbiditas lebih rendah jika dilakukan cito surgery.

1. Konservatif :
- Reposisi bimanual : tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong
sedangkan tangan kanan mendorongnya ke arah cincin hernia dengan tekanan lambat dan
menetap sampai terjadi reposisi
- Reposisi spontan pada anak : menidurkan anak dengan posisi Trendelenburg,
pemberian sedatif parenteral, kompres es di atas hernia, kemudian bila berhasil, anak
boleh menjalani operasi pada hari berikutnya.
- Bantal penyangga, bertujuan untuk menahan hernia yang telah direposisi dan
harus dipakai seumur hidup. Namun cara ini sudah tidak dianjurkan karena merusak kulit
dan otot abdomen yang tertekan, sedangkan strangulasi masih mengancam
2. Operatif
-Anak-anak Herniotomy :
Karena masalahnya pada kantong hernia,maka dilakukan pembebasan
kantong hernia sampai dengan lehernya, dibuka dan dibebaskan isi hernia, jika ada
perlekatan lakukan reposisi, kemudian kantong hernia dijahit setinggi-tinggi mungkin
lalu dipotong.
Karena herniotomi pada anak-anak sangat cepat dan mudah, maka kedua
sisi dapat direparasi sekaligus jika hernia terjadi bilateral
-

Dewasa Herniorrhaphy :
22

Perawatan kantung hernia dan isi hernia


Penguatan dinding belakang (secara Bassini, Marcy Ferguson, Halsted /
Kirchner, Lotheissen-Mc Vay (Coopers ligament repair), Shouldice, Tension free
herniorrhaphy)
Berliner repair
The Lichtenstein repair
The Wilkinson Technique
Abrahamson Nylon Darn Repair
Lichtenstein Plastic Screen Reinforcement
Klasifikasi dan terapi menurut Gilbert tipe I-IV
Rutkow Mesh-plug hernioplasty
Rives Prosthetic Mesh Repair
Stoppa Gerat Prosthetic for Reinforcement of the Visceral Sac
Minimally Invasive Surgery (Laparoscopy)

TAPP = Trans Abdominal Pre Peritoneal

TEP = Total Extra Peritoneal

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Townsend, Courtney M. 2004. Hernias. Sabiston Textbook of Surgery. 17 th
Edition. Philadelphia. Elsevier Saunders. 1199-1217.
2. Brunicardi, F Charles. 2005. Inguinal Hernias. Schwartzs Principles of Surgery.
Eighth edition. New York. Mc Graw-Hill. 1353-1394.
3. Inguinal Hernia: Anatomy and Management
http://www.medscape.com/viewarticle/420354_4
4. Manthey, David. Hernias .2007. http://www.emedicine.com/emerg/topic251.htm
5. Norton,Jeffrey A. 2001. Hernias And Abdominal Wall Defects. Surgery Basic
Science and Clinical Evidence. New York. Springer. 787-803.
6. Kerry V. Cooke.incarcerated hernia.2005. http://www.webmed.com
7. Way, Lawrence W. 2003. Hernias & Other Lesions of the Abdominal Wall.
Current Surgical Diagnosis and Treatment. Eleventh edition. New York. Mc
Graw-Hill. 783-789.
8. http://www.webmed.com/digestive-disorders/tc/Inguinal-Hernia
9. Bland, Kirby I. 2002. Inguinal Hernias. The Practice of General Surgery. New
York. WB Saunders Company. 795-801

24

Anda mungkin juga menyukai