Anda di halaman 1dari 12

Janji Temus dari Atdik

Akhirnya BPA Amandemen Tiga UU

TROBOSAN ADVERTISING

Polemik Masisir dan Atdik


Edisi Reguler 369, 19 JULI 2015

Anggota Baru Harapan Baru


Mati satu tumbuh seribu

melihat keadaan Masisir yang banyak


diwarnai dengan berbagai permasalahan
yang muncul. Untuk mencari tahu lebih
lanjut bagaimana jalannya sidang
tersebut, temukan beritanya di rubrik
komentar peristiwa.

Hari demi hari, waktu telah berlalu. Ini


sudah merupakan seleksi alam, pun
dalam dinamika organisasi. Ketika masa
khidmat telah rampung, mesti ada
pengganti yang melanjutkan. Begitu juga
dengan masa TROBOSAN yang sudah
Dan masih terdapat rubrik-rubrik
berjalan selama satu periode yang lainnya, yang tentunya tak kalah menarik.
dinahkodai
oleh
Fahri
Ganiardi,
Untuk saran dan kritik, dengan tangan
dilanjutkan oleh Ikmal al Hudawi.
terbuka kami terima. Karena dengan
Kami berharap di kepengurusan baru kritikan dan saran para pembaca-lah kami
ini, TROBOSAN terus menjadi media bangkit dan berdiri sekokoh bangunanyang eksis, memberitakan isu-isu yang bangunan kuno peninggalan sejarah, yang
kian muncul di Masisir. Tentunya sebagai tak akan hanyut ataupun lenyap ditelan
media yang independen, tidak memiliki oleh zaman.
kepentingan apapun selain membawa
Dan kami juga mengucapkan terima
Masisir ke perubahan yang lebih baik.
kasih kepada semua pihak yang telah
Setelah sempat vakum selama masa membantu kami baik moral maupun
ujian termin dua, kini kami hadir kembali materil, hingga kami pun masih dapat
untuk para pembaca setia TROBOSAN. eksis mewarnai dinamika Masisir yang
Kami kembali hadir walaupun dengan tidak pernah tidur.
keadaan yang belum stabil karena radiasi
Selamat Membaca!
ujian. Namun kami tetap berusaha untuk
mempersembahkan yang terbaik untuk
Tajam tanpa melukai, kritis tanpa
Masisir.
menelanjangi. []
Pada edisi kali ini, kami mencari tahu
bagaimana asal-usul dan kronologi
adanya seleksi Temus haji, yang telah
merubah tradisi undian Temus Masisir di
kekeluargaan. Bukan tidak aneh, jika
adanya kebijakan baru ini menjadi bahan
sorotan bagi Masisir. Bagaimana bisa ada
kebijakan baru ini? Temukan jawabannya
di rubrik laporan utama.

TROBOSAN - Edisi Reguler 369 Juli 2015

Kami
juga
menyajikan
berita
mengenai bagaimana jalannya sidang BPA
yang telah berhasil mengamandemen tiga
Undang-undang:
Pemilu
Raya,
Pengurusan Maba, dan Organisasi. Sidang
yang berlangsung selama dua hari ini
banyak merubah beberapa pasal, karena

Sekapur Sirih, Anggota Baru Harapan Baru


Halaman 2
Sikap, Janji Temus dari Atdik
Halaman 3
Laporan Utama, Mengurai Benang Kusut Temus
Halaman 4,5,7
Komentar Peristiwa, Akhirnya BPA Amandemen
Tiga UU
Halaman 6,7
Seputar Kita, Wisuda Daroh Tahfidz Ramadan
Halaman 8
Opini, Temus dalam Sejumlah Pertanyaan
Halaman 9
Opini, Antara Aku, Kau dan Temus
Halaman 10
Sastra, Ramadan Bulan Penuh Berkah

Markaz At-Taqwa

Halaman 11

Menerima segala jenis


fotokopi

Mahattah Gamik, Hay


Asyir
Hp: 01281551421

Terbit perdana pada 21 Oktober 1990. Pendiri: Syarifuddin Abdullah, Tabrani


Sabirin. Pemimpin Umum:
Furna
Hubbatalillah.
Pemimpin Redaksi: Ikmal
Al Hudawi Pemimpin Perusahaan: Nuansa Garini,
Nenden Wia Darojatun. Dewan Redaksi: M.
Hadi Bakri, Abdul Malik, Fachry Ganiardi, Heni
Septianing, Iis Istianah. Reportase: Mohammad
Al Chudlori, Syaeful Anam, Muharrid Iqomatuddin, Anugrah Abiyyu, Amrul Irsyadi, Muhammad
Irfan. Editor: Ainun Mardiyah. Tata Letak:
Mohammad Al Chudlori. Karikatur: Rijal W. Rizkillah. Pembantu Umum: Keluarga TROBOSAN.
Alamat Redaksi: Indonesian Hostel-302 Floor
04, 08 el-Wahran St. Rabea el-Adawea, Nasr City
Cairo-Egypt. Telepon: 22609228, E-mail:
terobosanmasisir@yahoo.com.
Facebook
:
Terobosan Masisir. Untuk pemasangan iklan,
pengaduan atau berlangganan silakan menghubungi nomor telepon : 01201744923
(Ikmal),
01100159534
(Furna),
01143350499 (Nenden).

Janji Temus dari Atdik


Untuk ke sekian kalinya Atdik
menelurkan kebijakan yang mencuri
perhatian Masisir. Ini bukan pertama
kalinya, sebab tahun lalu misalnya,
kebijakan Atdik yang dinilai pelit duit dan
seakan menghambat lalu lintas dinamika
masisir sempat memanas. Kemudian, pada
10 Februari 2015 dikeluarkan surat
himbauan berisi kebijakan pengiriman
surat kepada orang tua terkait kemajuan
studi mahasiswanya di Mesir. Ibarat film
action, kini Atdik seolah kembali beraksi.
Bukan sembarang perkara yang disentil,
melainkan salah satu sumber utama geliat
mayoritas organisasi di Masisir. TEMUS.
Berbeda dari yang biasanya terjadi,
pada tahun ini seleksi bagi calon Temus
(Tenaga Energik Mahasiswa Untuk Syareat)
Haji menggunakan sistem ujian. Padahal
selama bertahun-tahun lamanya, Temus
diseleksi
berdasarkan
undian
perkekeluargaan
(kecuali
WIHDAH).
Sehingga ketika keluar kebijkan baru terkait
sistem seleksi, ini menjadi bahan sorotan
bagi Masisir. Isu ini juga sangat ramai
dibicarakan di media sosial seperti
facebook; banyak pihak yang kontra dengan
system
tersebut
mengungkapkan
kekecewaannya dalam bentuk tulisan yang
ditujukan langsung kepada pihak Atdik.
Jika kita melihat peristiwa yang pernah
terjadi, ternyata pernah ada wacana untuk
diselenggarakan ujian seleksi Temus Haji
oleh pihak Atdik. Pada awalnya ada saling
tarik menarik kehendak antara Atdik dan
Masisir tentang adanya ujian seleki
tersebut. Tetapi pihak Masisir tetap
bersikukuh untuk menolak adanya seleksi
yang direncanakan oleh Atdik tersebut.
Pada akhirnya
pihak Atdik
tetap
mengadakan seleksi ujian lisan, pertanyaan
yang diajukan juga berkutat di seputar
bagaimana praktik di lapangan. Kemudian
pada tahun-tahun berikutnya seleksi Temus
Haji ditiadakan dan diganti dengan
pelatihan supaya para Temus Haji bisa lebih
siap ketika terjun langsung dan bertugas di
tanah suci.

Memang secara teori, dengan adanya


ujian seleksi ini, dapat difilter Temus Haji
yang cukup berkompeten untuk berkhidmat
di tanah suci. Karena dalam seleksi tersebut
yang ditanyakan bukan hanya soal-soal
masalah manasik Haji saja, tapi juga
masalah bagaimana tekhnis di lapangan,
dan hal ini menjadi salah satu poin yang
penting bagi calon Temus Haji khususnya.
Karena faktanya, praktik kerja kasar di
lapangan lebih banyak
dilakukan
ketimbang
membimbing
para
Jamaah
Haji yang
tidak
mengerti
seluk beluk tata cara
bagaimana
caranya
melaksanakan ibadah
Haji.
Sudah
selayaknys
para
calon Temus Haji
mengerti bagaimana
permasalahan dan
keadaan yang terjadi
dilapangan beserta
solusinya sebelum
mereka berangkat
ke tanah suci.

hanya untuk mengabdikan diri kepada


Masisir. Selain itu, tidak dinafikan lagi
bahwa adanya organisasi yang dipimpin
masing-masing memiliki peran penting
sebagai kelanjutan tangan KBRI. Tetapi
berbeda dengan para pejabat, semua
pengabdian yang dilakukan para top leader
organisasi ini tidak mendapat gaji tetap tiap
bulannya. Oleh karenanya, imbalan jatah
Temus dianggap tepat sebagai apresiasi
atas pengabdian mereka.
Tapi apa yang kini terjadi? Dengan
adanya ujian seleksi yang dilakukan Atdik,
tahun ini terdapat 6 ketua kekeluargaan, 2
ketua DPD, dan seorang ketua Wihdah yang
tidak mendapatkan jatah Temus Haji. Tentu
saja banyak elemen Masisir yang tidak
terima.
Ada pertanyaan besar, jika di Negara
penyalur Temus Haji seperti Yordan
misalnya -dengan aturan dari KJRI yang
tidak berbeda dengan Mesir- dengan jatah
Temus Haji hanya 5 orang, mereka mampu
memberikan kuota khusus bagi top
leader tententu. Jika di negara lain bisa,
kenapa di Mesir tidak? Padahal Mesir
dan Yordan sama-sama melaksanakan
aturan dari KJRI. Dengan begitu, setidaknya
kebijakan KBRI dan HPMI Yordan patut
menjadi acuan bagi Mesir untuk mengatur
sistem ujian seleksi, terlebih dengan kuota
Temus yang jauh lebih banyak.

Untuk mengatasi permasalahan ini,


PPMI mengadakan kenduri Masisir jilid IV
pada tanggal 19 Juni silam. Acara yang
berlangsung sekitar 4 jam lebih itu,
sebagai wadah dialog antara pihak
ptduabelassukuindonesia.blogspot.com
Masisir dan Atdik terkait masalah Temus
Haji. Dari acara ini dibentuklah tim ad hoc,
Sayangnya sistem ujian seleksi yang
dilaksanakan pada tahun ini berujung pada guna mengawasi poin-poin yang telah
tidak adanya pemerataan kuota Temus Haji disepakati antara Atdik dan Masisir. Salah
satunya, bahwa Atdik menjanjikan untuk
sebagaimana biasanya. Banyak pihak yang
berusaha memberi kuota Temus bagi 9 top
seharusnya dipastikan mendapatkan jatah
Temus Haji, terpaksa tahun ini tidak leader yang tidak lulus ujian seleksi. Tim ad
mendapatkan jatahnya. Hal ini tentu saja hoc ini juga akan terus berlanjut untuk
memperhatikan pelaksanaan sistem Temus
memiliki dampak negatif terhadap masa
depan dinamika organisasi di Masisir. Haji di tahun selanjutnya.
Bayangkan saja, misalnya jika tidak ada
yang mau lagi menjadi ketua kekeluargaan
gara-gara dia tidak mendapatkan jaminan
Temus Haji. Apalagi jika ini terjadi kepada
presiden PPMI, bukan tidak mungkin
nantinya tidak ada lagi yang mau
mencalonkan diri sebagai presiden PPMI,
induk dari semua organisasi di Masisir.
Begitu juga dengan nasib top leader
organisasi yang lain seperti: ketua
Kekeluargaan, DPD, dan Wihdah.
Harus diakui peran dari Presiden PPMI,
Wihdah, DPD, dan ketua kekeluargaan
sangatlah banyak. Tidak sedikit dari mereka
yang menghabiskan waktu dan pikirannya

Sayangnya setelah sempat memanas,


pada akhirnya Atdik bersikeras menolak
menandatangani hasil akhir dialog yang
disepakati.
Beliau
hanya
bersedia
menjajikan secara lisan bahwa pihaknya
akan mengembalikan mekanisme Temus
Haji ke pangkuan Masisir dengan asas
kearifan lokal dan keadilan, serta
melaksanakan
poin-poin
kesepakatan
lainnya.
Nah, apakah Atdik mampu memegang
janji yang hanya sebatas lisan? Kita tunggu
dan saksikan.

Rubrik Sikap adalah editorial buletin TROBOSAN. Ditulis oleh tim redaksi TROBOSAN dan mewakili suara resmi dari TROBOSAN terhadap
suatu perkara. Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab redaksi.

TROBOSANEdisi Reguler 369 Juli 2015

Tak mau dikambinghitamkan begitu


saja, pihak Atdik mengaku tidak sematasemata membuat kebijakan tersebut
dengan seenaknya, pihaknya beralasan
bahwa adanya seleksi merupakan salah
satu aturan dari pihak KJRI (Konsulat
Jenderal Republik Indonesia) Jeddah yang
harus dilaksankan di setiap KBRI yang
mengirim Temus Haji. Sehingga menurut
Atdik, sudah otomatis jika ada yang mau
berangkat untuk menjadi
Haji harus
diseleksi terlebih dahulu. Di sini pihak Atdik
pun menganggap bahwa posisinya hanyalah
sebagai pelaksana dari semua prosedur
tersebut. Adapun aturan harus adanya

seleksi, itu adalah kewenangan dari pihak


KJRI Jeddah. Atdik juga beralasan bahwa
aturan ini tidak hanya berlaku untuk tahun
sekarang saja, tetapi pihak KJRI Jeddah
menginstruksikan
untuk
diadakannya
seleksi Temus Haji di setiap tahunnya.

Mengurai Benang Kusut TEMUS


Geger. Dunia Masisir kali ini dikagetkan
oleh rumor yang ternyata bukan sekedar
rumor biasa. Sebuah kebijakan yang cukup
menggemparkan terjadi, tidak hanya
organisasi induk Masisir saja yang
merasakan imbasnya. Seluruh bagian
afiliatif lainnya; kekeluargaan, almamater
sampai dengan rakyat masisir biasa yang
tidak tahu menahu akan dunia organisasi
turut merasakan, apa lagi jika bukan
perihal TEMUS?
Pasalnya, sepanjang sejarah adanya
temus ini selalu berjalan lancar tanpa
adanya pro kontra yang begitu berarti.
Utamanya
terkait
sistem
dalam
penjaringan kuota Temus Haji. Kalaupun
ada, persoalan yang selama ini terjadi
hanya berkutat pada masalah eksternal
dari sistem kebijakan yang berlaku. Namun
kali ini kebijakan baru Atdik,
terkait ujian seleksi Temus Haji
memantik persoalan baru.

TROBOSAN - Edisi Reguler 369 Juli 2015

Jika melihat ke belakang


tidak ada sejarah nya dalam
adat istiadat masisir perekrutan
anggota temus melalui ujian
seleksi tertulis. Namun amat
untuk tahun ini, kebijakan baru
yang turun dari KBRI merubah
seluruh sistem yang pernah
berlaku, dari seluruh sistem
tertulis
dalam
perundang
undangan BPA dan MPA
sekalipun bahkan berpotensi
merusak stabilitas sistem SGS
yang selama ini berlaku.
Pada tahun ini memang
banyak sekali kendala yang terjadi pada
proses temus, mulai dari keterlambatan SK
yang turun sampai berujung pada tidak
meratanya kuota anggota temus. Saat kami
mewawancarai presiden PPMI terkait
kronologi kebijakan baru tersebut, ia
mengaku bahwa memang benar SK dari
KJRI saat itu tidak kunjung turun. Namun
Agus menegaskan bahwa keterlambatan
turunnya SK dari Konjen Jeddah mengenai
masalah perekrutan Temus haji 2015 ini
tidak ada sangkut pautnya dengan KBRImesir atau PPMI, karena hal tersebut
murni dari kesalahan Konjen Jeddah.

sedang mengurus kuota temus; apakah mekanisme


ujian
dikembalikan
kuota temus masih bisa dipertahankan sepenuhnya pada suara Masisir. Maksud
dari mekanisme di sini adalah: nilai
atau tidak.
terndah dalam tes bisa dimasukkan
Adapun beberapa catatan yang perlu kembali namanya ke undian kekeluargaan,
disampaikan dan didapatkan oleh PPMI
sehingga jikalau ketua kekeluargaan gagal
dari pihak konjen Jeddah, pertama dalam tes bisa diikutkan kembali namanya
bahwasanya temus mahasiswa yang
ke undian di kekeluargaan. Kami pun
berjalan selama ini tidak prosedural atau
sempat mendengar adanya system ranking
sesuai prosedur yang diinginkan oleh dan jika sistem ini tetap diadakan maka
Konjen
Jeddah.
Yang
kedua,
kami ingin rata-rata dikembalikan ke
keterlambatan yang tidak bisa dipungkiri
kuota
masing-masing
kekeluargaan
di setiap tahun. Dan yang ketiga adanya misalnya rata-trata di A minimal 80 dan dia
gerakan massa . Yang terakhir, adanya memiliki kuota 4 orang dan untuk di B rata
transaksi jual-beli yang tidak bisa
-rata minimal 50 dan dia memiliki kuota 2
dihindari dari kawan-kawan Masisir, hal
orang jadi semua ditentukan melalui kuota
inilah yang memperburuk citra temus.
masing-masing kekeluargaan. Ujar Agus.
Meskipun demikian PPMI mengaku tidak
tinggal diam, namun tetap berusaha untuk
Dan yang
ketiga, para
ketua
mempertahankan kuota temus yang kekeluargaan atau semua orang yang
termasuk
temus
otomatis harus tetap
www.kemlu.go.id
diberangkatkan.
Misalnya para temus
otomatis
bisa
mendapatkan
nilai
tambahan jikalau masih
menggunakan
sistem
ranking.

menjadi hak masisir pada tiap tahunnya,


ini
tidak
lain
karena
beberapa
permasalahan di atas hanya bersangkutan
dengan beberapa oknum saja, dan mampu
di atasi.
Akhirnya, pada tanggal 28 Mei PPMI
mendapat informasi bahwa surat sudah
sampai di kedubes Maroko. Dari sini,
barulah diketahui adanya perubahan
mengenai seleksi temus; soal yang
biasanya berasal dari KBRI setempat
sekarang beralih pada soal asli buatan
Konjen Jeddah . Sebelumnya PPMI
mengadakan
rapat
bersama
ketua
kekeluargaan dalam skala besar. Adapun
skala kecilnya; MPA, DPA, ketua Wihdah
sudah merumuskan amandemen temus
dua bulan sebelumnya. Pada tanggal 30
Mei, bersama ketua kekeluargaan, dibahas
masalah prosedural perekrutan temus,
dalam kata lain usaha untuk menyatukan
persepsi
guna
mengantisipasi
permasalahan tersebut.

Hingga tgl 20 Mei berita tentang SK


tersebut masih belum terdengar, padahal
pada tahun sebelumnya suratnya sudah
tiba di bulan April. Begitu pula dari segi
prosedural, penyeleksian berkas dll. Akan
tetapi PPMI tidak tinggal diam, tetapi
langsung berkoordinasi dengan kawankawan PPI Timur Tengah yang lainnya.
Namun ternyata hasil yang didapatkan
tidak beda jauh, karena PPI lainnya juga
Dalam rapat tersebut, dihasilkan bebelum mendapatkan info SK tersebut. berapa poin; yang pertama adalah menolak
Setelah melakukan rapat koordinasi
adanya tes temus. Kedua, jika keadaan
dengan PPI, KBRI dan seterusnya barulah memaksa untuk mengadakan tes maka
didapatkan informasi bahwa Konjen

Akan
tetapi
rapat
selanjutnya pada tanggal
3 Juni yang di adakan
oleh PPMI bersama Atdik
dan
para
ketua
kekeluargaan
dihadapkan
dengan
ruang dialog yang sangat
sempit. Rapat hanya
berlangsung dari jam 4
sore sampai setengah 7 sore. Dan lagi-lagi
dihadapkan dengan satu pilihan: menerima
apa yang diinginkan oleh konjen
Jeddah. Jelas Presiden PPMI.
Dalam
kumpul
tersebut
sudah
diutarakan pendapat bahwa seleksi
perekrutan temus tahun ini tidak adil,
karena sebenarnya yang mengatur
prosedural seleksi adalah pihak PPMI dan
bagian afiliatif lainnya. Perlu adanya
pertimbangan berdasarkan kearifan lokal
atau budaya setempat yang sudah
dibangun dan dipertahankan sejak puluhan
tahun. Dalam rapat tersebut juga dibahas
mengenai persyaratan yang dibutuhkan
KJRI untuk tenaga musiman ini, antara
kualitas atau kuantitas.
Jika saja yang diinginkan adalah
kualitas
maka
pihak
PPMI
siap
mengadakan pelatihan setelah undian
seleksi
temus.
Pada
penghujung
pembicaraan, pihak KBRI menelpon ke
Konjen Jeddah, Saat itu yang mengangkat
telpon adalah pak Arsyad namun tidak
diberi ruang untuk berargumen dan Atdik
pun mengatakan hal tersebut sudah jelas,
dan tidak ada yang perlu dipersoalkan

lagi. Ujar Agus. Hingga akhirnya hasil rapat


berujung pada satu keputusan, yaitu
menerima apa yang diinginkan oleh Atdik
sebagai perpanjangan tangan dari Konjen
dalam sistem seleksi anggota temus
melewati tes.
Jadi permasalahan ini sudah di sepakati
oleh berbagai pihak dalam musyawarah
tersebut, bukan semata mata di terima oleh
presiden PPMI secara sebelah pihak, walau
memang meninggalkan kekecewaan yang
teramat berat. Ungkap Agus.
Sementara menurut M. Hadi Bakri selaku
Ketua MPA, kebijakan baru tersebut adalah
kebijakan prematur yang labil dan tanpa
pertimbangan. Adapun pihak yang bertanggung jawab atas hal ini menurutnya adalah
DPP-PPMI, Kekeluargaan dan Wihdah.
Karena ketiga organisasi tersebut merupakan lembaga terkait Temus sebagaimana
yang tercantum dalam UU Temus.
Nasib Kekeluargaan yang Tidak Kebagian Temus
Dengan berjalannya sistem temus yang
diatur pada tahun ini tentu meninggalkan
beberapa kesan tidak baik. Terkhusus bagi
ketua Wihdah dan beberapa kekeluargaan
yang tidak mendapatkan jatah temus sama
sekali. Seperti misalnya kekeluargaan
KMNTB dan Fosgama. Dari 4 anggota
kekeluargaan KMNTB tidak ada satupun
yang lolos dalam tes seleksi tersebut. Hal
yang tidak beda jauh dialami oleh
kekeluargaan
Fosgama,
hanya
satu
anggotanya saja yang lolos mengikuti temus.
Berangkat dari fakta tersebut, pihak
kekeluargaan
Fosgama
berencana
merundingkan untuk pemberian apresiasi
kepada ketua kekeluargaan pasca Idul Fitri.
Sementara itu Ketua KMNTB yang
mengaku tidak ada bentuk apresiasi khusus
terkait Temus yang di berikan dari pihak
kekeluargaan. Lebih jauh ia pun berpesan
kepada Atdik agar tetap membantu semua
ketua kekeluargaan untuk bisa mengikuti
temus dalam keadaan apapun, ada tes
maupun tidak ada .

cukup menggambarkan kekecewaan yang


teramat besar dirasakan oleh banyak
pihak kepada Atdik yang dinilai kurang
mampu memahami dan mempertahankan
hak istimewa para Temus otomatis.
Kebocoran Soal Temus

masyarakat. Dikhawatirkan ke depannya,


tanpa mengenal dunia ke organisasian,
Masisir hanya sibuk memikirkan diri sendiri.
Tidak ada semangat memikirkan orang lain.
Karenanya, hanya engan berorganisasi saja
jiwa toleransi dan sosial itu semakin tumbuh
dan terpupuk. Jelasnya panjang lebar.

Ternyata
tidak
hanya
sekedar
permasalahan ini saja yang menjadi
perhatian Masisir, terdengar rumor lain yang
mengatakan bahwa terdapat bocoran soal
tes temus yang beredar sebelum ujian di
adakan. Namun menurut presiden PPMI hal
itu tidak terjadi. Ia mengatakan, Tidak
adanya bocoran soal yang beredar, hanya
saja ada beberapa peserta ujian yang
memiliki soal ujian tahun- tahun kemarin
sebagai latihan soal atau kisi-kisi untuk
melihat bentuk soal ujian,. Dan soal-soal
tersebut memang kebetulan mirip.

Hal yang senada diamini oleh Presiden


PPMI Agus susanto, karena dampak yang
akan muncul sangat besar pada beberapa
aspek, yang pertama Undang-Undang yang
selama ini telah dibentuk sama sekali tidak
dihargai. Ini berarti Undang-Undang yang
dibentuk oleh MPA,DPA,dll sama sekali tidak
berguna di tahun ini. Hal terbut
menunjukkan stabilitas SGS yang sudah di
bangun telah rusak karena kebijakan baru
ini. Yang kedua siapa yang akan memangku
estafet kepemimpinan kekeluargaan yang
akan datang?

Fakta yang demikian bertolak belakang


dengan pengakuan dari ketua kekeluargaan
KMNTB bahwa kebocoran soal memang
benar-benar terjadi. Bahkan dia mengaku
mengetahui oknum yang memegang soal
bocoran tersebut, hanya saja nama tersebut
dia rahasiakan. Jika benar kebocoran soal itu
memang terjadi,tentunya hal ini menjadi
kesan yang amat buruk, khususnya moral
Masisir.

Bukan berarti para top leader tersebut


mengincar temus tapi atas dasar latar belakang-yang biasanya ketika sebuah organisasi tidak memiliki dana-maka mereka
memakai dana pribadi dengan harapan temus ini yang akan mengganti uang mereka
yang terpakai untuk kepentingan organisasi.
Apabila kebijakan ini diteruskan maka asas
keadilan di Masisir tidak ditegakkan. Dan ini
terbukti dengan adanya kekeluargaan yang
banyak mendapatkan jatah dan ada yang
tidak mendapatkan sama sekali, yang
akhirnya mengakibatkan kecemburuan
social. Yang keempat, kebijakan ini
mengakibatkan kepincangan dalam struktur
PPMI. Atas dasar itulah PPMI menolak
adanya ujian seleksi temus.

Berbicara tentang perubahan sistem


Temus kali ini, tentunya akan memberi
dampak yang besar dalam dunia keorganisasian Masisir. Menurut ketua Wihdah
2014-2015 Ikrimah Sofyan, perubahan
sistem Temus tahun ini akan memberi
dampak besar pada minat dan gairah Masisir
untuk
berorganisasi;
Sebagai solusi untuk mengantisipasi
jiwa
semangat kerancuan tersebut PPMI akhirnya menyadan
makan income atau pendapatan para peserta
temus dengan tahun lalu- yang biasanya
pendapatan itu diserahkan ke kekeluargaan
masing-masing. Pada saat wawancara dengan Presiden PPMI dilakukan, pihaknya
mengaku sudah membentuk tim khusus
untuk menangani masalah ini, walaupun tim
ini masih belum diberi nama. Setiap orang
wajib untuk membayar income sebesar 200
USD kepada tim yang sudah disepakati
bersama para ketua kekeluargaan dan para
temus otomatis.

Untuk mengatasi permasalahan ini, PPMI


mengadakan Kenduri Masisir jilid IV pada
tanggal 19 Juni silam. Setelah terjadi dialog
yang cukup alot, beberapa kesepakatan
dibentuk. Di antaranya, bahwa Bapak Fahmy
Lukman selaku Atdik menjanjikan untuk
berusaha memberi kuota Temus bagi 9 top
leader yang tidak lulus ujian seleksi.
Meskipun telah terjadi kesepakatan, dalam
hal ini Atdik tidak mau menandatangani
hitam di atas putih atas perjanjian poin-poin
kesepakatan itu dengan alasan, Janji adalah
hutang.
Lanjut ke hal 7 .

TROBOSANEdisi Reguler 369 Juli 2015

Ketidak
merataan
kuota
perkekeluargaan teramat dirasakan pada
sistem Temus tahun ini. Belum lagi rasa
kecewa yang dirasakan oleh para ketua
kekeluargaan. Tentunya, bagi para top leader
dalam
itu, temus merupakan hak istimewa yang kinerja
sudah otomatis didapatkan sebagai apresiasi
play.google.com
hasil kerja, serta kontribusi mereka dalam
mengurusi anggota.
berorganisasi pasti akan menurun, karena
Ibaratnya, Temus merupakan angin banyak waktu yang terbuang dan dana yang
segar bagi para ketua yang bersedia terpakai tidak ada gantinya, dibayarpun
berkhidmat demi kepentingan Masisir. Hal tidak. Memang benar fokus Masisir
itu sebagaimana yang diungkapkan oleh seharusnya dipusatkan pada akademik di
ketua Wihdah 2014-2015, Choiriah Ikrimah bangku kuliah, namun tidak memungkiri
Sofyan saat kami wawancarai. Demikian organisasi memegang peran penting dalam

Akhirnya BPA Amandemen Tiga UU


Setelah sistem trias politika masuk yang terjadi pada tubuh undang-undang
dalam SGS (Student Goverenment System) di organisasi induk, maka tim Terobosan
tubuh PPMI pada tahun 2004 lalu secara merasa perlu untuk menghadirkan keotomatis pelaksanaan organisasi harus sepakatan-kesepakatan dari balik ruang
sesuai dengan kaidah yang dibawa sistem Sidang Pleno IV. Karena dengan pemahatersebut, termasuk dalam hal pembagian man yang baik dan menyeluruh terhadap
kinerja antar lembaga. Dan seperti diketa- undang-undang, sebuah masyarakat bisa
hui bahwa trias politika menganut pem- ikut memantau dan mengontrol laju pebagian kekuasaan tertinggi pada tiga lem- merintahan organisasi yang mengaturnya
baga: lembaga legislatif yang diwakili oleh dengan baik pula. Sehingga jika di keBPA (Badan Permusyawaratan Anggota), mudian hari terjadi polemik dalam suatu
lembaga yudikatif yang dipegang oleh MPA hal, tidak akan dihadapi dengan hanya
(Majlis Permusyawaratan Anggota) dan mengira-ngira permasalahan tersebut atau
lembaga legislatif yang dijalankan oleh DPP PPMI.
www.Facebook.photo.bpappmi

TROBOSAN - Edisi Reguler 369 Juli 2015

Peran DPP sudah jelas,


menjalankan roda kepemerintahan, dengan AD/ART dan
berbagai macam undangundang sebagai dasar pergerakan organisasi induk
Mahasiswa Indonesia di Mesir yang berada dibawah
pengawasan penuh MPA.
Sedangkan terkait jalannya
perundang-undangan baru
sampai pada tahap pembuatan dan pengesahan dimana
BPA adalah lembaga yang
paling bertanggungjawab atasnya. Hal ini
meliputi perancangan, melangsungkan
sidang permusyawaratan yang membahas
poin perubahan atau penambahan pada
tubuh undang-undang dengan perwakilan
dari seluruh elemen Masisir, hingga proses
pengesahan oleh MPA.
Berangkat dari hal ini serta landasan
undang-undang pada Bab III pasal 19 Anggaran Rumah Tangga PPMI tentang hak dan
kewajiban BPA PPMI. Kemudian pasal
22,23, dan 24 Anggaran Rumah Tangga
PPMI tentang persidangan BPA PPMI, maka
BPA PPMI pada awal Juli lalu melangsungkan sidang pleno untuk membahas amandemen yang harus diberlakukan terhadap
sebagian undang-undang Kemudian sidang
ini mereka beri nama SP IV BPA PPMI Tahun 2015 (SIDANG PLENO IV Badan Permusyawaratan Anggota Persatuan Pelajar
dan Mahasiswa Indonesia di Mesir).

bahkan prasangka yang kerap membuat


keruh suasana, namun berlandas jelas
pada undang-undang yang sudah diberlakukan dan dipahami bersama.
Dalam Sidang Pleno IV yang dilaksanakan dua hari pada 6 dan 8 Juli 2015 tersebut, ada tiga undang-undang yang dibahas
pasal-pasal dan butir-butirnya hingga ditemukkan kata mufakat untuk merubah,
mengurangi atau menambahkan. Ketiga
undang-undang tersebut adalah, undangundang PPMI Mesir tentang Pemilihan
Umum Raya PPMI Mesir, undang-undang
Peraturan dan Perampingan Organisasi
PPMI Mesir serta undang-undang tentang
Pengurusan dan Pendaftaran Calon Mahasiswa Baru.

2012 ketika BPA berada di bawah pimpinan Hilmy Mubarok. Namun saat ini perubahan dianggap perlu, maka rancangan
undang-undang dibentuk oleh panitia
khusus dari BPA yang yang diwakili oleh
Pangeran Arsyad.
8 dari 13 bab yang ada pada undangundang tentang Pemilu Raya diusulkan
pansus untuk diamandemen, yaitu pada
bab 1,2,4,5,6,7,8,9 dan 10. Namun yang
disahkan lewat sidang tersebut hanya 4 bab
saja, meliputi bab 1 tentang ketentuan
umum, bab 4 tentang penyelenggara
pemilu raya, bab 7 tentang pemungutan suara,
penghitungan suara dan
penetapan hasil pemilu
raya, serta bab 9 tentang
tim sukses.
Perubahan paling mendasar dari bab-bab tersebut terjadi pada pasal 12
mengenai
ketentuan
umum
Penyelenggara
Pemilu
Raya
(PPR),
bahwa Anggota PPR
berasal dari setiap kekeluargaan yang telah berdomisili di Mesir selama
satu tahun ajaran, dari sebelumnya dicantumkan minimal domisili adalah dua tahun.
Kemudian, penambahan ayat terjadi pada
pasal 17 tentang screening. Disebutkan
pada ayat 4 bahwa screening dilaksanakan
maksimal 2 kali. Pasal ini tidak tercantum
pada undang-undang sebelumnya.
Selain itu, perubahan mendasar juga
terjadi pada undang-undang terkait mekanisme pemilihan umum. Sebelum perubahan, pemilihan dilaksanakan dengan pencontrengan, kemudian diubah dengan pencoblosan. Hal ini diatur oleh pasal 23 ayat 8
tentang Pemungutan Suara. Sisanya, perubahan terjadi seputar redaksi atau penertiban letak ayat dengan pasal.
UU Peraturan Organisasi PPMI

Sama dengan udang-undang tentang


Pemilu Raya, undang-undang terkait PeraUU PPMI tentang PEMILU Raya PPMI
turan Organisasi PPMI ini juga terakhir
Undang-undang
PPMI
tentang
PEMILU
diamandemen pada tahun 2012 silam. TiDengan didasari oleh pentingnya pemaRaya
ini
terakhir
diamandemen
pada
tahun
dak banyak perubahan terkait undanghaman Masisir secara luas terhadap apa

undang Peraturan Organisasi yang memiliki


12 bab dengan 22 pasal ini, selain penambahan pasal perampingan organisasi yang
dirancang Pansus pada RUU.
Panitia Khusus perancangan undangundang yang diwakili oleh Maryam Nazar
Haris, sebagai wakil ketua I Badan Permusyawaratan Anggota ini, menambahkan ayat
pada pasal 2 yang mengatur perampingan
organisasi di sekitar PPMI dengan tambahan ayat: Pencabutan Hak Anggota.
Dalam pasal tersebut, ayat tentang pencabutan hak anggota memiliki 4 butir peraturan yang berbunyi: Pencabutan hak anggota: a. Jika tidak tidak lulus uji kelayakan
organisasi oleh BPA PPMI Mesir, b. Ditetapkan ketetapan BPA PPMI Mesir melalui
Sidang Pleno dan merekomendasikan pada
MPA PPMI Mesir, c. Dalam hal sebagaimana
disebut pada poin (a) dan (b) maka pencabutan hak anggota organisasi ditetapkan
oleh MPA melalui sidang MPA PPMI Mesir,
d. Organisasi tersebut berhak mendaftarkan
diri kembali sewaktu-waktu.
Diungkapkan Maryam sebagai pansus
bahwa penambahan pasal ini bertujuan
agar peraturan organisasi yang ada di Masisir lebih tertib dan tidak menjamur begitu
saja. Sehingga untuk mendapatkan status
organisasi yang diakui, bakal calon organisasi terkait harus melewati proses uji
kelayakan. Uji kelayakan ini merupakan
sesuatu yang belum membudaya di tubuh
PPMI, karenanya kami berharap dengan
undang-undang seperti uji kelayakan akan
menjadi standar yang harus dilaksanakan.
Dan semoga BPA selanjutnya melanjutkan
apa yang telah kami rancang dan bersamasama telah kita sahkan, ujar Maryam pada
Sidang Pleno IV.
Pada tahun ini, BPA memang telah me-

laksanakan uji kelayakan pada organisasiorganisasi yang ada di sekitar Masisir. Hasilnya cukup mengejutkan, hanya 7 kekeluargaan, 2 almamater dan 1 DPD yang dinyatakan layak menjadi sebuah organisasi.
Sisanya dinilai belum memenuhi syarat
atau belum layak, sedangkan sebagian lainnya tidak memenuhi permintaan BPA untuk
diuji kelayakannya, seperti yang terjadi
pada lembaga fakultatif atau senat-senat
fakultas di mana tak ada satu pun senat
yang memenuhinya.

Pada UU tentang pengurusan dan pendaftaran Camaba ini ada 4 bab yang pasalpasalnya mengalami perubahan. Baik
berupa penghapusan seperti pada pasal 4
tentang sistem tawkil juga pada 15 ayat di
pasal 10 tentang kewajiban mediator, ataupun penambahan ayat dan perubahan redaksi.
Namun hampir semua yang berubah di
pasal-pasal tersebut berdasar pada perubahan yang terjadi pada pasal 5 tentang Sistem Sentralisasi. Di mana sebelumnya dinyatakan bahwa pengurusan pendaftaran
Maba dan segala hal terkait dilaksanakan
oleh KPP Maba yang dibentuk oleh IAAI
atas rekomendasi PPMI dan KBRI Kairo.
Kemudian diubah, bahwa KPP Maba saat ini
dibentuk oleh PPMI atas rekomendasi KPP
Maba demisioner dan atas sepengatahuan
IAAI dan pihak KBRI.

Karenanya di akhir sidang, BPA menyarankan MPA untuk tidak langsung


mengesahkan
undang-undang
terkait
perampingan
oraganisasi,
melainkan
menunggu beberapa organisasi yang belum
memenuhi standar dan atau tidak memenuhi panggilan uji kelayakan tersebut
agar menjalankan kewajibannya. Hal ini
disarankan demi mencegah adanya permaDengan begitu, pasal, ayat dan butir
salahan pada sekian banyak organisasi yang
yang berubah pada setiap bab dari UU
barangkali sudah dinilai besar di Masisir.
tersebut berubah mengikuti ketentuan
UU PPMI tentang Pengurusan dan umum yang berlaku. Maka dengan adanya
Pendaftaran Calon Mahasiswa Baru
undang-undang yang berlaku, Masisir selaku masyarakat yang dinaungi oleh PPMI
Undang-undang terkait pengurusan dan
selayaknya mengontrol laju organisasi inpendaftaran Camaba termasuk undangduk dengan merujuk pada ketetapan yang
undang yang sudah sangat lama tidak mensudah disepakati bersama.
galami amandemen. Sudah sangat lama
undang-undang ini tidak diamandemen,
Terakhir, barangkali sangat perlu untuk
sampai lupa kapan terakhir diamandemen, BPA agar mensosialisasikan hasil amandeujar Abdullah Sofyan, wakil ketua 3 BPA men ini sebagaimana seharusnya. Agar apa
PPMI Mesir.
yang telah dikorbankan berupa waktu ataupun materi untuk sidang pleno pembahasan
Dan atas dasar landasan tersebut, diamandemen ini tidak sia-sia, dalam arti
tambah dengan rekomendasi BPA deperubahan yang terjadi tidak berhenti pemisioner pada Sidang Pleno IV 2014, amanmahamannya pada peserta sidang dan pidemen UU tentang mahasiswa baru ini
hak tertentu saja, akan tetapi sampai pada
dirasa sangat perlu untuk dilaksanakan.
segenap lapisan masisir.
Apalagi, belakangan permasalahan terkait
mahasiswa baru kerap bermunculan.
[] (Iis, Ikmal, Anam, Irfan)

Sayangnya, ketika dimintai keterangan


lebih lanjut, Atdik menolak untuk diwawancarai Trobosan secara lisan. Beliau
berjanji untuk melakukan wawancara via email, namun hingga deadline berita ini, janji
beliau ucapkan itu tak kunjung ditunaikan.
Melalui acara Kenduri Masisir itu dibentuk pula tim ad hoc, guna mengawasi poinpoin yang telah disepakati antara Atdik dan
Masisir. Akan tetapi ketika Tim ini
mengadakan audiensi dengan Bapak Dubes,

Nurfaizi
Suwandi
-guna
meminta
tanggapan atas hasil kesepakatan Kenduri
Masisir-, yang bersangkutan mendadak
berhalangan karena terdapat rapat
mendesak. Akhirnya Tim Ad Hoc, Presiden
PPMI dan Trobosan-selaku mediadipanggil untuk menemui Atdik. Dalam
pertemuan itu Atdik mengatakan bahwa
pihaknya akan berusaha menyampaikan
dan mengupayakan poin-poin kesepakatan
itu, namun tidak dapat menjanjikan apa
yang menjadi permintaan tersebut dapat

terlaksana sepenuhnya.
Ada perbedaan antara janji dengan
janji untuk berusaha memang. Masihkah
kita bisa percayakan urusan Temus ini
pada Atdik? Masih bisakah elemen yang
bertanggung jawab atas UU Temus mempertahankan harapan Masisir? Waktu yang
akan menjawabnya.
[] (Furna, Nenden, Nuansa, Abiyyu,
Chudlori)

TROBOSANEdisi Reguler 369 Juli 2015

Lanjutan dari halaman 5 .

Wisuda Dauroh Tahfidz Ramadan


kawasan
Darosah
ini
merupakan penutupan dari
program kegiatan Rumah
Tahfidz selama Ramadan.
Sekitar dua puluh anggota
Rumah Tahfidz berhak untuk
wisuda
dan
mendapat
sertifikat
penghargaan
sebagai
peserta
dalam
program ini.
Acara
ini
berlangsung
selama empat jam dimulai
dengan membaca surat yasin
bersama-sama, pencerahan dan motivasi
langsung dari ustaz pembimbing Rumah
Tahfidz, kemudian ditutup dengan wisuda
dan penyerahan penghargaan serta buka

Doc: photo Rumah Tahfidz

TROBOSAN - Edisi Reguler 369 Juli 2015

Rumah
Tahfidz
Mesir
(RTM)
mengadakan acara wisuda dauroh tahfidz
Ramadan dan buka puasa bersama pada
Selasa (14/7). Acara yang bertempat di

puasa bersama.
Meraih berkah Ramadan dengan
alquran. Tema ini menjadi pemacu bagi
seluruh penghafal alquran agar selalu
bersemangat dalam menghafal dan memahami alquran. Sebagaimana dikatakan oleh
ustadz Wildan Jafri Lc., bahwa berkah itu
sedikit tapi mencukupi bukan banyak tapi
tidak mencukupi, dan sebaik-baiknya
manusia adalah yang belajar dan mengamalkan alquran. Dengan harapan untuk
terus selalu melahirkan generasi-generasi
qurani. [] (nenden)

Temus Dalam Sejumlah Pertanyaan


Oleh: Mabda Dzikara*
Di bawah matahari ini kita bertanya:
Ada yang menangis, ada yang menderita
Ada yang habis, ada yang mengikis
Dan maksud baik kita berada di pihak
yang mana?

segar setiap tahunnya dari kegiatan Temus


ini dan jaminan ketuanya masing-masing
mendapat kesempatan melaksanakan ibadah
haji.

nitas-komunitas keilmuan murni seperti


Forum Senat dan Afiliatif, misalnya. Pertanyaan saya ini berdasar pada kenyataan
bahwa Student Government System (SGS) kita
memberikan porsi yang besar bagi komunitas kedaerahan untuk menerima aliran dana

Masisir Sebagai Subjek dan Bukan


Objek Kebijakan
Manusia tidak memiliki kodrat, tapi sejarah, tutur Jose Ortega Y Gasset filsuf Spanyol itu. Pun dengan Masisir. Apa yang kita
jalani sekarang merupakan warisan dari apa
yang telah dirangkum oleh para pendahulu
kita. Kita belum mampu mencipta sesuatu
yang lebih ideal dari sistem ini, tetapi tentu
kita punya sejarah yang bisa kita rujuk terkait latar belakang semua aturan main ini.
Agar semua ini lebih beralasan.
Hukum dan aturan manusia dirangkum
untuk tujuan kemaslahatan. Sementara kita
bukan objek kemaslahatan semata, kita
adalah subjek. Kita lebih mengetahui apa
yang maslahat untuk komunitas kita. Tidak
ada korupsi, kolusi dan nepotisme selama hal
ini menjadi kesepakatan kita bersama. Toh,
tidak ada yang dirugikan. Fikih saja sebagai
turunan hukum syariat bisa dikompromikan,
apalagi hanya aturan manusia yang sering
tidak tepat sudut pandang dan sasarannya.
Seperti apa yang kawan-kawan mahasiswa
lontarkan saat acara Kenduri Masisir beberapa minggu lalu, bahwa Masisir punya
kearifan lokal. Nilai kearifan yang terbangun
jauh hari sebelum saya, anda dan para pemangku kebijakan datang ke negeri ini.

Masalah Temus hanya soal bagaimana


kita menghargai dan memberikan apresiasi
kepada orang-orang yang kita anggap berjasa dalam menjaga dan membangun tradisi
baik ini. Dengan aturan main dan transparansi yang cukup tentu itu bukan sebuah
kejahatan di mata hukum. Jangalah lalu
masyarakat atau mahasiswa ditakut-takuti
dengan kekhawatiran pribadi (baca: Atdik
Kairo) dalam menafsirkan sebuah aturan
yang hakikatnya punya celah untuk ditafsirkan lebih santun dengan tetap menjaga
kearifan yang ada, sebab menakut-nakuti itu
Satu-satunya alasan yang paling logis - bukan level mahasiswa. Wallahu Alam.
menurut saya- mengapa lalu komunitas kedaerahan di Masisir yang mendapat jatah
*Penulis adalah Ketua III PCINU Mesir.
Temus adalah nilai keadilan -dalam sudut
pandang yang luas-. Para pendahulu kita
sudah mengajarkan bagaimana menciptakan

TROBOSANEdisi Reguler 369 Juli 2015

Hal ini menjadikan komunitas kedaera(Sajak Pertemuan Mahasiswa, 1977- WS han lebih marak aktifitas ketimbang yang
Rendra) lain. Ini juga -secara otomatis- mendorong
komunitas kedaerahan menjadi basis perBerbicara Temus haji di tengah Masisir saingan politik mahasiswa pada akhirnya.
tentu bukan hanya berbicara tentang materi Baik di wilayah internal maupun di eksteran-sich, walau dalam prakteknya sering men- nalnya, semisal kompetisi pemilihan Presijadi alasan utama mengapa beragam konflik den PPMI atau Wihdah. Hasilnya, -dalam
sering terjadi akibat tidak tepatnya kebija- logika saya- ini seperti menaburkan ego kekan terkait Temus ini. Bagaimanapun, ke- sukuan di santapan politik mahasiswa. Mensempatan melaksanakan ibadah haji yang cicipinya kita akan merasa ngeri-ngeri sedibumbui harapan duniawi, bagi saya pribadi dap.
sangat manusiawi. Namun fakta ini tidak
sebatas masalah individual semata. Lebih
Meski mungkin agak subjektif, saya harus
dari itu, Temus Masisir meliputi hajat orang katakan komposisi ini kurang lezat jika ditbanyak, serta
kebutuhan untuk terus erapkan di komunitas kemahasiswaan. Asas
melanggengkan sistem ketentraman dan dan prinsip yang dibangun oleh komunitas
nilai budaya yang telah lama mengakar di kedaerahan kurang memiliki daya gedor
tanah Masisir dengan sejumlah masalahnya (bukan tidak punya) untuk membuka pintuyang terus berkembang.
pintu intelektual antara insan akademik yang
lebih bergairah. Sebab hal semacam ini akan
Sampai di sini, terlebih dulu kita harus menjerat kita pada jaring laba-laba kesukuan
sepakat bahwa perdamaian dan kerukunan ketimbang persaingan yang bersifat intelekadalah pondasi awal berdirinya komunitas tual. Memaksa kita untuk tidak lagi berbhiyang beradab sehingga tercipta peradaban neka dalam arti yang luas. Kita akan lebih
yang indah. Itulah kenapa kita harus mencip- sering bertatap muka dengan komunitas
takan aturan main yang sehat demi ketera- daerah kita; dialog, main bola, jalan-jalan, dll.
turan dalam menjaga stabilitas nilai yang Kecendrungan ini akan menjadikan civitas
kita cintai, seperti ketentraman, budaya, dari suku A merasa canggung (bukan tidak
perdamaian, kerukunan dan yang paling mau) untuk berkumpul dan berdialog denpenting adalah kebersamaan.
gan civitas dari suku B, dan seterusnya.
Ironisnya, keterjeratan kita dalam ego sekBeberapa minggu yang lalu kita dihadap- tarian ini bukan di negeri kita, tapi di negeri
kan pada polemik terkait Temus, setelah orang lain. Alih-alih membangun kedekatan
beberapa tahun ke belakang polemik semisal dengan masyarakat dan civitas akademik
ini tidak menjadi trending topic di kalangan Mesir, kita malah sibuk membuat jarak baru
Masisir. Tahun ini sepertinya suka tidak suka dengan bangsa kita sendiri. Memang tidak
kita harus bersitegang kembali antar kita, semuanya civitas merasakan ini, tapi jelas
bahkan saling sinis dan mencurigai. Sesuatu rasa itu ada di tengah kita.
yang selalu kita coba hindari bukan? Dalam
tulisan ini, secara umum saya sedang tidak
Menim(b)ang Ulang Temus di Mata
ingin mengulas apa yang terjadi beberapa
Kita
waktu yang lalu. Saya hanya ingin memberikan sebuah pandangan lain terkait Temus di
Di sejumlah negara khususnya Timur
tengah Masisir.
Tengah, komunitas kedaerahan bukan satuTemus: Antara Poros Ideal, Dilema satunya poros yang mengendalikan Temus.
Ini menjadi bukti bahwa tanpa itu komunitas
Masa Lalu dan Keadilan
mahasiswa indonesia tidak lantas menjadi
Awalnya saya kerap bertanya: Mengapa hancur atau lesu. Sebab Temus bukan satusatunya jalan untuk mendanai kegiatan kokomunitas kedaerahan yang memegang pomunitas mereka. Saya kira hal serupa juga
ros pergerakan Masisir? Bukankah sebagai
komunitas intelektual akan lebih menarik berlaku di Masisir. Terlalu berlebihan saya
kira jika kita begitu bergantung pada Temus,
jika pembangunan dialektika dalam kampus
besar ini sebaiknya- berporos pada komu- di mana tanpanya kita seakan mati.

keharmonisan sesama Indonesia. Temus


harus kita tim(b)ang seadil mungkin dalam
hal pembagiannya. Sehingga Temus tetap
sebagai salah satu- alat bantu saja untuk
tetap menjaga kebersamaan dan kelangsungannya. Memang tidak mudah menciptakan
hal yang ideal seperti ini di tengah komunitas mahasiswa dan kedaerahan yang kadang
sarat dengan kepentingan-kepentingan yang
tersirat. Namun segalanya masih bisa kita
perjuangkan, kita selesaikan secara damai.
Agar konflik soal Temus ini tidak memecah
belah persaudaraan kita. Dan kita juga tak
perlu memaksakan sesuatu yang akhirnya
menjadi pertengkaran, bukan?

10

Antara Aku, Kau, dan Temus


Oleh: Romal Mujaddiedi Ahda*

TROBOSAN - Edisi Reguler 369 Juli 2015

Adikku, tempo hari, seperti yang kau


tahu, Senat Fakultas Bahasa Arab menggelar
hajatan tahunannya: Sidang Permusyawaratan Anggota. Seperti yang kau rasakan,
acara ini tidaklah seseram nama yang ia sandang, iaseperti biasajustru lebih
mirip seperti acara silaturahim tahunan, di mana keluarga mahasiswa Fakultas Bahasa Arab lintas
angkatan berinteraksi dengan penuh
keakraban.

nah bilang, coba ya, kak, kalau ketua senat


itu dapat Temus.. pasti anak-anak pada semangat buat terjun di senat, ujarmu dengan
lugu waktu itu. Iya, aku bisa memaklumi jalan
pikiranmu, Dik. Tapi realita tidaklah yang
seperti yang kau bayangkan.

pan kebencian pada siapapun. Namun,


seperti tamtsil dalam Kitab Suci: qad alima
kullu unasin masyrabahum! Setiap dari kita
tahu tempat di mana ia minum! Percayalah
padaku, bahwa persoalan ini bukanlah
masyrab kita.

Semua keakraban dan kehangatan yang


dirasakan oleh aku, kau, serta siapa saja
yang berkecimpung di senat,
boleh jadi akan musnah
seketika apabila seanBelum ada ceritanya SPA senat kita
dainya (meski mustahil)
diwarnai jegal menjegal antar kandidat
senat benar-benar mencalon ketua, atau munculnya kubu oposisi
dapatkan jatah Temus.
yang berambisi untuk menghabisi LPJ penKarena kalau kau tinggal
gurus tahun itu, atau upaya agar kepengurusedikit lebih lama di komunitas
san senat didominasi oleh suatu unsur terMasisir ini, kau akan patentu, sambil meminggirkan unsur yang
ham bahwa jatah Temus
lain. Tidak, sama sekali tidak ada.
memiliki dua dimensi:
www.google.com dimensi ibadah, dan
Meski tiap tahun selalu saja muncul madimensi materi. Tentu tidak ada masalah
salah yang sama: siapa yang bakal jadi ketua?
pada dimensi pertama, namun seperti yang
Iya, di saat kursi kepemimpinan organisasiselalu terulang dalam sejarah peradaban
organisasi
lain
diperebutkan
dengan
umat manusia: persoalan materi sering mensedemikian rupa, kursi senat justru jarang
jadi pemicu perpecahan di antara saudara,
ada yang menginginkan. Kami para senior
bahkan saudara kandung sekalipun.
berupaya sedemikian rupa membujuk agar
para calon suksesor mau meneruskan estafet
Adikku, kalau sampai senat mendapatkan
kepengurusan, sambil meyakinkan bahwa jatah Temus, sesuatu yang buruk bisa terjadi:
visi senat itu sangat jelas dan sangat seder- kita akan memperebutkan kursi ketua seperti
hana, terangkum dalam dua kata saja: keil- fakir miskin berebut sembako. Keaktifan kita
muan dan persaudaraan.
di senat tidak lagi didasarkan atas rasa persaudaraan dan rasa senasib sepenanggungan,
Cukup ciptakan atmosfer keilmuan yang
melainkan atas dasar raihan poin-poin yang
kondusif serta suasana persaudaraan yang
absurd itu. Atau yang lebih buruk lagi: bila
hangat antar anggota, tidak lebih. Bentuklah
Senat mendapat Temus, kita nanti akan memkelompok belajar per-tingkat, adakan kajianperebutkan anggota, bersitegang bahkan
kajian seputar bahasa dan sejarah, dan sesampai memutus tali persaudaraan dengan
sekali jadwalkan jalan-jalan bareng menyusiapapun yang kita pandang berpotensi mensuri situs-situs sejarah, toko-toko buku, dan
gancam jatah Temus senat kita.
spot-spot menarik di Kairo. Itu saja.
Kau mau kita seperti itu?
Tidak perlulah kita capek-capek membentuk klub bola, klub voli, atau klub basket
Lalu, bila suatu saat aturan Temus
hanya demi sekedar eksistensi belaka. Karena dirubah oleh Depag, atau Atdik, atau siapalah
kita mahasiswa al-Azhar, bukan atlet Sea itu, kita akan gelagapan. Kita merasa hak kita
Games.
dirampas, kita merasa bahwa kita harus berjuang sekuat tenaga, dengan berbagai jalan,
Tidak perlu juga mendirikan grup band
pokoknya bagaimana pun caranya aturan
atau orkes dangdut, karena tujuan dari keTemus ini harus menguntungkan kita. Titik.
beradaan kita di Mesir adalah menjadi intelektual-intelektual dalam keilmuan Islam,
Kau pasti berpikir bahwa aku membenci
bukan menjadi penerus Ahmad Dhani.
Temus, atau orang-orang, atau kelompok
yang begitu semangat memperjuangkannya.
Adikku, aku belum lupa, saat itu kau perKukatakan padamu: tidak. Aku tidak menyim-

Bisa saja, suatu saat nanti (entah kapan)


persoalan Temus tidak lagi membuat kita
terpecah-pecah. Namun itu butuh perubahan,
dan perubahan itu butuh keikhlasan. Karena
begini: bila Temus adalah hak bagi tiap mahasiswa, secara logis harusnya ia terbuka untuk
semua. Adakan saja seleksi terbuka bagi siapapun yang sudah melengkapi persyaratan,
siapa yang layak, dia yang berangkat, beres.
Adapun soal pemasukan organisasi, itu
bisa diatur, dibicarakan dengan kepala dingin, buatlah sebuah sistem supaya jatah
masing-masing organisasi tidak berkurang.
Namun, andai apabila semua cara telah
ditempuh, tapi kata mufakat tak kunjung
dicapai, maka di situ perlu adanya pengorbanan. Salah satu harus mengalah, ber-tanazul
seperti tanazulnya Sayyidina Hasan terhadap
Sayyidina Muawiyah dulu, demi persaudaraan Umat Islam.
Dalam praktiknya, tentu skenario di atas
tidak akan terealisasi semudah aku mengetikkan kata-kata ini dengan keyboard-ku. Oleh
karena itu, dari awal sudah kubilang bahwa
itu bukan masyrab kita. Biarlah kawan-kawan
kita yang merasa bahwa itu masyrab mereka
berdinamika dan berdialektika, sambil kita
doakan semoga dinamika dan dialektika yang
mereka idam-idamkan tidak menjurus pada
pertikaian yang tidak penting.
Sedangkan kita? kita cukup lanjutkan saja
apa yang sudah berjalan: diskusi kita, belajar
kita, buku-buku yang akan kita kaji semester
ini, serta acara jalan-jalan seru yang sudah
disiapkan oleh para pengurus. Hum wa
syanuhum.
Adikku, karena persaudaraan kita terlalu
mahal untuk ditukar dengan itu semua, maka
biarlah kita seperti ini saja: tetap akrab dan
hangat, tanpa permusuhan, tanpa perebutan.
Adikku,
jangan
biarkan
materi
memisahkan kita.
*Penulis adalah Ketua Senat FBA periode 2012-2013

Ramadan Bulan Penuh Berkah


Oleh: Syaeful Anam*
Bulan yang paling dinanti oleh Ummat
Manusia
Bulan yang paling mulia

Tapi menghindari dari maksiat dan dosa

Karena Puasa adalah perisai

Memperbanyak dzikir, tadarrus dan


do'a

Wanginya mengharumi bumi


Lebih wangi dari misik maupun kasturi

Bulan ibadah dan sekaligus bulan penuh berkah

Jadilah pengembara dalam meraih


Surga Allah

www.google.com

Bulan yang penuh rahmat, ampunan


dan maghfirah
Ramadan.
Ialah muara bening nan suci
Bagaikan telaga tanpa keruh sedikitpun

Namun kekuatan iman lah dapat membasmi


Sucikan hati bersihkan pikiran
Bukan hanya menahan lapar haus dan
dahaga

Jangan sampai sia-sia tanpa mendapat


ampunan-Nya
Sehingga kegemilanganlah tercapai
didepan mata
Tetap teguh atas Rahmat Allah Yang
Maha Kuasa

Jangan penuhi dengan noda-noda tak


berarti
Godaan dan nafsu silih berganti

Gesitkan langkah-langkah dalam naungan-Nya

Karena segala amal kebaikan selalu dilipat gandakan

Ramadan bulan puasa


Limpahan pahala yang Maha Dasyat didalamnya

Kairo, 29 Juni 2015


15.00 Clt
*Penulis adalah Kru Trobosan

Puasa pelindung dari api neraka

TROBOSANEdisi Reguler 369 Juli 2015

Email/YM: transferindo.mesir@yahoo.com
FB: Tranferindo Mesir