Anda di halaman 1dari 22

Referat Kanker Ovarium

Disusun oleh :
Regina Enggeline (11.2013.293)
Pembimbing :
Dr. H. Rahardjo SpOG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


RUMAH SAKIT UMUM BETHESDA LEMPUYANGWANGI
PERIODE 26 Mei s/d 02 Agustus 2014

BAB I
1

PENDAHULUAN

Secara keseluruhan mayoritas massa ovarium bersifat jinak dan memiliki risiko seumur hidup
untuk berkembang menjadi kanker ovarium sebesar 2%. Usia merupakan faktor yang paling
penting dalam menemukan risiko keganasan. Massa adneksa sering ditemukan selama usia
reproduksi. Selama tahap kehidupan ini, massa tersebut biasanya disebabkan oleh kista
ovarium fungsional, neoplasma ovarium jinak, aiau pembahan pascainfeksi pada luba
Fallopii. Pada anak perempuan yang berusia di bawah 20 tahun dan wanita di atas 50 tahun,
10% dari massa yang teraba bersifat ganas. Sekitar 85-90% kanker ovarium terjadi pada
wanita pascamenopause. Berbagai neoplasma ovarium baik jinak maupun ganas dapat berasal
dari setiap jenis sel yang terdapal di dalam ovarium. Kista sederhana dapat bersifat fungsional
dan terbentu pada lokasi ovulasi atau selama perkembangan korpus luteum. Kista ini sangat
banyak ditemukan dan dapat dibedakan dari neoplasma sejati berdasarkan riwayat alami
perubahan sel. Biasanya kista-kista ini menghilang dalam 6 minggu setelah ditemukan.
Massa yang kompleks atau padat dan yang menetap cenderung merupakan neoplasma sejati
dan membutuhkan diagnosis secara histologis.1

BAB II
2

PEMBAHASAN

Definisi
Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat
berasal dari ketiga dermoblast ( ektodermal, endodermal, mesodermal ) dengansifat-sifat
histiologis maupun biologis yang beraneka ragam.
Terdapat pada usia perimenopause kira-kira 60% dalam masa reproduksi 30% dan
10% terpadat pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak jelas
jinak tapi juga tidak jelas / pasti ganas ( borderline malignancy atau carcinoma of lowmaligna potensial) dan jelas ganas (true malignant) .
Kanker ovarium sebagian besar berbentuk kista berisi cairan maupun padat. Kanker
ovarium disebut sebagai silent killer. Karena ovarium terletak di bagian dalam sehingga tidak
mudah terdeteksi 70-80% kanker ovarium baru ditemukan pada stadium lanjut dan telah
menyebar (metastatis) kemana-mana.2
Anatomi dan Fisiologi
Ovarium
Indung telur pada orang dewasa kira-kira sebesar ibu jari tangan, terletak di kiri dan di
kanan uterus, dekat pada dinding pelvis di fossa ovarika. Ovarium dihubungkan dengan
uterus melalui ligamentum ovarii proprium. Arteria ovarika berjalan menuju ovarium melalui
ligamentum suspensorium ovarii (ligamentum infundibulopelvikum)
Ovarium terletak pada lapisan belakang ligamentum latum. Sebagian besar ovarium
berada intraperitoneal dan tidak dilapisi oleh peritoneum. Sebagian kecil ovarium berada di
dalam ligamentum latum, disebut hilus ovarii. Pada bagian hilus ini masuk pembuluh darah
dan saraf ke ovarium. Lipatan yang menghubungkan lapisan belakang ligamentum latum
dengan ovarium dinamakan mesovarium.
Bagian ovarium yang berada di dalam kavum peritonei dilapisi oleh epitel selapis
kubik-silindrik, disebut epithelium germinativum. Di bawah epitel ini terdapat tunika
albuginea dan di bawahnya lagi ditemukan lapisan tempat folikel-folikel primordial. Tiap
bulan satu folikel, kadang-kadang dua folikel , berkembang menjadi folikel de Graaf. Folikel3

folikel ini merupakan bagian ovarium terpenting dan dapat ditemukan di korteks ovarii dalam
letak yang beraneka ragam , dan juga dalam tingkat-tingkat perkembangan dari satu sel telur
yang dikelilingi oleh satu lapisan sel saja sampai folikel de Graaf matang. Folikel yang
matang ini terisi dengan likuor folikuli yang mengandung estrogen, dan siap untuk
berovulasi. 2
Pada waktu dilahirkan bayi perempuan mempunyai sekurang-kurangnya 750.000
oogonium. Jumlah ini berkurang akibat pertumbuhan dan degenerasi folikel-folikel. Pada
umur 6-15 tahun ditemukan 439.000, pada 16-25 tahun 159.000, antara umur 26-35 tahun
menurun sampai 59.000, dan atara 24-45 hanya 34.000 . Pada masa menopause semua folikel
sudah menghilang.

Gambar 1. Anatomi Sistem Reproduksi Wanita (www.healthyorigin.org)

Epidemiologi
Menurut Surveillance, Epidemiology and End Results (SEER) Program di USA, berdasarkan
data 1 Januari 2009, kira kira sebanyak 182.758 wanita yang hidup terdiagnosa sebagai
penderita kanker ovarium (jumlah tersebut termasuk wanita yang sudah melalui tahap
penyembuhan).
Tahun
1999
2000

Insidens
19,676
19,672

Kematian
13,627
14,060
4

2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013

19,719
19,792
20,445
20,069
19,842
19,994
20,749
21,613
20,460
21,880
21,990
22,280
22,240

14,414
14,682
14,657
14,716
14,787
14,487
14,621
14,362
14,436
13,850
15,460
15,500
14,030

Tabel 1. Jumlah penderita kanker ovarium.


Kanker ovarium menyumbang sekitar tiga persen dari kanker pada wanita. Sementara
kanker yang paling umum ke-11 di kalangan perempuan, kanker ovarium merupakan
penyebab utama kematian kelima terkait kanker di kalangan perempuan, dan merupakan yang
paling mematikan dari kanker ginekologi. Angka kematian sedikit lebih tinggi untuk wanita
Kaukasia daripada wanita Afrika-Amerika. Risiko terjadinya kanker ovarium pada wanita
adalah 1:72. Risiko kematian wanita yang terkena kanker ovarium adalah 1:100.
Sekitar 1,2 persen didiagnosis di bawah usia 20 tahun; 3,6 persen antara 20 dan 34;
7,4 persen antara 35 dan 44; 18,6 persen antara 45 dan 54; 23,4 persen antara 55 dan 64; 20,1
persen antara 65 dan 74; 17,6 persen antara 75 dan 84; dan 8,1 persen 85 + tahun.

Gambar No.3 Perkiraan diagnosis kanker ovarium berdasarkan umur.


Dari tahun 2005 sampai 2009, usia rata-rata saat diagnosis adalah 63. Untuk periode
yang sama, usia rata-rata kematian akibat kanker ovarium adalah 71.3,4,5
Etiologi dan Faktor Resiko

Faktor Lingkungan
Insidens kanker ovarium tinggi pada Negara Negara industri. Penyakit ini juga tidak
ada hubungannya dengan obesitas, minum alcohol, merokok, maupun minum kopi.
Juga tidak ada kaitannya dengan penggunaan bedak talcum ataupun intake lemak
yang berlebihan.

Faktor reproduksi
Makin meningkat siklus haid berovulasi ada hubungannya dengan meningkatnya
risiko timbulnya kanker ovarium. Hal ini dikaitkan dengan pertumbuhan aktif
permukaan ovarium setelah ovulasi. Induksi siklus ovulasi mempergunakan klomifen
sitrat meningkatkan resiko 2 sampai 3 kali. Kondisi yang menyebabkan turunnya
siklus ovulasi menurunkan risiko kanker seperti pada pemakaian pil Keluarga
Berencana menurunkan risiko sampai 50%, bila pil dipergunakan 50 tahun atau lebih ;
multiparitas, dan riwayat pemberian air susu ibu termasuk menurunkan risiko kanker
ovarium.

Faktor Genetik
5% - 10 % penyakit ini karena faktor herediter (ditemukan di keluarga sekurangkurangnya dua keturunan dengan kanker ovarium).5 Sebagian kecil dari kanker
ovarium disebabkan oleh mutasi gen yang diwariskan. Gen-gen yang diketahui
meningkatkan risiko kanker ovarium disebut gen kanker payudara 1 (BRCA1) dan
gen kanker payudara 2 (BRCA2). Gen ini awalnya diidentifikasi dalam keluarga
dengan beberapa kasus kanker payudara, tapi wanita dengan mutasi ini juga memiliki
peningkatan risiko yang signifikan dari kanker ovarium. Link genetik lain yang
dikenal melibatkan sindrom diwariskan turun-temurun disebut kanker kolorektal
nonpolyposis (HNPCC). Perempuan dalam keluarga HNPCC akan meningkatkan
risiko kanker dinding rahim (endometrium), usus besar, ovarium dan perut.

Riwayat keluarga kanker ovarium.


6

Diagnosis kanker sebelumnya. Jika Anda telah didiagnosa dengan kanker payudara ,
usus besar, rektum atau rahim, risiko kanker ovarium meningkat .
Bertambahnya usia. Risiko Anda meningkat kanker ovarium seiring pertambahan
usia. Kanker ovarium paling sering berkembang setelah menopause, meskipun dapat

terjadi pada usia berapa pun.


Wanita yang belum pernah hamil memiliki peningkatan risiko kanker ovarium.6

Ada 3 jenis kanker ovarium yang diturunkan yakni:


1.
2.

Kanker ovarium site specific family


Sindrom kanker payudara ovarium, yang disebabkan oleh mutasi gen BRCA-1 dan
berisiko sepanjang hidung (lifetime) sampai 85% menimbulkan kanker payudara dan
beriisiko lifetime sampai 50% timbulnya kanker ovarium pada kelompok tertentu.
Walaupun mastektomi profilaksis kemungkinan menurunkan risiko, tetapi presentase

3.

kepastian belum diketahui. Ooforektomia profilaksis mengurangi risiko sampai 2%.


Sindroma kanker Lynch tipe II, dimana beberapa anggota keluarga dapat timbul
berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektalnonpoliposis, endometrium dan
ovarium.6

Gejala Klinik
Sebagian besar pasien tidak merasa ada keluhan (95%) dan keluhan keluhan yang
timbul tidak spesifik seperti :

Dispareunia
Berat badan meningkat karena ada asites atau ada massa.
Rasa penuh pada bagian perut atau kembung
Ketidaknyamanan atau nyeri pada panggul
Gangguan pencernaan, mual
Perubahan kebiasaan buang air besar, seperti konstipasi
Perubahan kebiasaan berkemih, termasuk peningkatan frekuensi buang air kecil
Kehilangan nafsu makan atau cepat merasa kenyang
Peningkatan lingkar perut
Energi terasa berkurang / Lemas
Nyeri punggung bawah.7

Pemeriksaan Fisik
7

Pada pemeriksaan fisik terkadang hasil yang ditemukan normal, tidak tampak
kelainan pada stadium awal dari kanker ovarium, namun dapat pula ditemukan asites, efusi
pleura, massa pada daerah abdominal atau pelvis dan juga obstruksi saluran pencernaan.
Sehingga untuk mempertegak diagnosis diperlukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut.
Pemeriksaan Penunjang
Untuk jenis kanker ovarium jenis epitel dapat dilakukan pemeriksaan terhadap
penanda tumor yaitu CA-125, tumor sel germinal yaitu LDH,hCG,AFP, dan tumor sex cord
yaitu inhibin. Selain itu dapat pula dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang yang lainnya
seperti :

Pemeriksaan darah tepi


Fungsi hati
Tes fungsi ginjal, serta biokimia darah lainnya perlu dilakukan.
Pemeriksaan radiologic berupa foto paru paru, untuk mengevaluasi metastasis
paru, efusi pleura serta pemeriksaan CT abdomen pelvis.5
Tes pencitraan seperti computed tomography (CT) scan , magnetic resonance
imaging (MRI) scan, dan USG dapat memastikan apakah massa panggul. Studistudi ini tidak dapat memastikan bahwa massa adalah kanker, tetapi berguna jika
sedang mencari penyebaran kanker ovarium ke jaringan dan organ lainnya. USG
dapat berguna menemukan sebuah tumor ovarium d an melihat jika itu adalah
massa padat ( tumor ) atau kista berisi cairan. CT scan tidak menunjukkan tumor
ovarium yang kecil dengan baik, tetapi mereka bisa melihat tumor yang lebih
besar, dan mungkin dapat melihat apakah tumor tumbuh ke dalam struktur di
dekatnya. CT scan juga dapat menemukan pembesaran kelenjar getah bening,
tanda-tanda kanker menyebar ke hati atau organ lain , atau tanda-tanda bahwa

tumor ovarium mempengaruhi ginjal atau kandung kemih.


Bila ada keluhan simptomatis, perlu dilakukan pielografi intravena dan/atau
barium enema untuk evaluasi kandung kemih dan perluasan ke usus.

Klasifikasi:
Jenis kanker ovarium meliputi :
-

Kanker yang dimulai di sel-sel di bagian luar ovarium. Disebut tumor epitel, kanker
ini dimulai pada lapisan tipis jaringan yang menutupi bagian luar ovarium. Tumor
epiter terdapat sekitar 65% dari kanker ovarium.
8

Kanker yang dimulai di sel-sel yang memproduksi sel telur. Disebut tumor sel
germinal, kanker ovarium ini cenderung terjadi pada wanita muda.
Kanker yang dimulai di sel-sel yang memproduksi hormon. Kanker ini yang disebut
tumor stroma, dimulai pada jaringan ovarium yang menghasilkan hormon estrogen,
progesteron dan testosteron.8

Klasifikasi Berdasarkan Histopatologi


Jenis epitel (65% kanker ovarium) terdiri dari serosum (20% sampai 50%),
musinosum (15% sampai 25%), yang dapat tumbuh sangat besar (permagna), endometrioid
(5% dan kira kira 10% bersamaan dengan endometriosis), sel jernih (5% dengan prognosis
buruk) dan Brenner (2% sampai 3%, sebagian besar jinak). Kira kira 15% dari kanker jenis
epitel menunjukkan potensi keganasan rendah (low potential malignant).
Tumor sel germinal (25% dari semua kanker ovarium) dan yang tersering
disgerminoma, diikuti tumor campuran sel germinal. Tipe lainnya adalah teratoma imatur,
koriokarsinoma, tumor sinus endodermal, dan karsinoma embrional.
Tumor stroma sex cord (5% dari semua kanker endometrium). Yang tersering adalah
tumor sel granulose. Tipe lainnya tumor sel Sertoli Leydig. Jenis lainnya : sarcoma, tumor,
metastasis.6
Stadium Klasifikasi FIGO 1988
Stadium surgikal pada kanker ovarium
Tumor terbatas pada ovarium.
IA

: Tumor terbatas pada satu ovarium, kapsul utuh, tidak ada tumor pada permukaan

luar, tidak
IB

terdapat sel kanker pada cairan asites atau pada bilasan peritoneum.

: Tumor terbatas pada kedua ovarium, kapsul utuh, tidak terdapat tumor pada

permukaan luar,

tidak

terdapat sel kanker pada cairan asites atau pada bilasan

peritoneum.
IC

: Tumor terbatas pada satu atau dua ovarium dengan tanda tanda sebagai berikut:

kapsul pecah, tumor pada permukaan luar kapsul, sel kanker positif pada cairan asites atau
bilasan

peritoneum.
9

Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan perluasan ke pelvis.


IIA

: Perluasan dan / implant ke uterus dan / atau tuba falopii. tidak terdapat sel kanker

pada cairan

asites atau pada bilasan peritoneum.

IIB

: Perluasan ke organ pelvis lainnya. tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau

pada

bilasan peritoneum.

IIC

: Tumor pada stadium IIA/ IIB dengan sel kanker positif pada cairan asites atau pada

bilasan

peritoneum.

Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan metastasis ke peritoneum yang dipastikan
secara mikroskopik di luar pelvis dan / atau metastasis ke kelenjar getah bening regional.
IIIA

: Metastasis peritoneum mikroskopik di luar pelvis

IIIB

: Metastasis peritoneum makroskopik di luar pelvis dengan diameter terbesar 2 cm

atau kurang.
IIIC

: Metastasis peritoneum di luar pelvis dengan diameter terbesar lebih dari 2 cm dan /

atau

metastasis ke kelenjar getah bening regional

IV

: Metastasis jauh di luar rongga peritoneum. Bila terdapat efusi pleura maka cairan

pleura mengandung sel kanker positif. Termasuk metastasis pada parenkim hati.6

Penatalaksanaan Berdasarkan Stadium Kanker Ovarium


Tindakan pembedahan ada dua tujuan yakni pengobatan dan penentuan stadium
surgikal. Terapi pembedahan termasuk histerektomi, salpingo-ooforektomi, omentektomi,
pemeriksaan asites, bilasan peritoneum, dan mengupayakan delbulking optimal (kurang dari
1 cm tumor residu), limfadenektomi (pengambilan sampel untuk pemeriksaan histopatologi)
pada stadium awal, stadium IA sampai IB derajat 1 dan 2, atau semua stadium pada jenis
tumor potensial rendah ovarium. Kemudian dilakukan observasi dan pengamatan lanjut
dengan pemeriksaan CA-125.

10

Pasien dengan stadium IA derajat 1 dan 2 jenis epitel mempunyai kesintasan hidup 5
tahun 95% dengan atau pemberian kemoterapi. Beberapa klinikus akan memberikan
kemoterapi pada kanker ovarium derajat 2 stadium IA dan IB derajat 3, stadium II sampai
IV : Kemoterapi : paclitaxel (taxol) dengan carboplatin dan cisplatin.
Setelah selesai pengobatan dengan kemoterapi, ada pilihan 3 yang ditetapkan pada
pasien : observasi, teruskan pengobatan, bila tumor regresi tapi belum hilang seluruhnya dan
terapi konsolidasi dengan kemoterapi lain. Biasanya diberikan hexamethylmelamine secara
terus menerus untuk menekan agar tidak timbul residif.6
Penatalaksanaan Kanker Ovarium Secara Umum:
-

Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan utama untuk kanker ovarium. Banyaknya
operasi yang dijalani tergantung dari perkembangan kanker itu sendiri. Untuk wanita
usia subur yang memiliki beberapa jenis tumor dan kanker yang masih dalam tahap
awal, dimungkinkan untuk mengobati penyakit tanpa melepaskan kedua indung telur
dan rahim.
Untuk kanker ovarium epithelial, operasi memiliki 2 tujuan utama :
pementasan dan debulking (menghilangkan tumor sebanyak mungkin). Tujuan operasi
debulking adalah meninggalkan tidak ada tumor yang lebih besar dari 1 cm. Kanker
yang sel tumornya dapat dihilangkan secara tuntas disebut optimal debulking. Wanita
dengan kanker ini memiliki prospek yang lebih baik untuk bertahan hidup daripada
kanker yang tidak debulked benar (disebut sub - optimal debulking). Wanita dengan
kanker ovarium sub - optimal debulked mungkin perlu menjalani operasi lagi nanti.
Untuk jenis lain dari kanker ovarium (tumor sel germinal dan tumor stroma) , tujuan
utama dari pembedahan adalah untuk mengangkat kanker.
Pembedahan untuk kanker ovarium memiliki 2 tujuan utama. Tujuan pertama
adalah untuk mengetahui tahapan kanker - untuk melihat seberapa jauh kanker telah
menyebar dari ovarium. Biasanya ini berarti mengangkat rahim (operasi ini disebut
histerektomi) , bersama dengan kedua ovarium dan tuba fallopi (ini disebut salpingo ooforektomi bilateral atau BSO). Selain itu, omentum juga diangkat (sebuah
omentectomy). Omentum adalah lapisan jaringan lemak yang menutupi isi perut
seperti apron , dan kanker ovarium kadang-kadang menyebar ke jaringan ini.
Beberapa kelenjar getah bening di panggul dan perut yang dibiopsi (diambil untuk
melihat apakah mereka mengandung kanker menyebar dari ovarium).
11

Jika ada cairan di panggul atau rongga perut , maka cairan tersebut akan
diambil untuk dianalisis. Dokter bedah dapat "mencuci" rongga perut dengan air
garam (saline) dan mengirim cairan tersebut untuk dianalisis. Staging sangat penting
karena kanker ovarium pada tahap yang berbeda diperlakukan berbeda .
Sebagian besar tumor sel germinal ovarium diperlakukan dengan histerektomi
dan salpingo-ooforektomi bilateral . Jika kanker hanya dalam satu ovarium dan pasien
masih ingin untuk dapat memiliki anak , hanya ovarium yang mengandung kanker
dan tuba falopi di sisi yang sama dihapus (meninggalkan yang lainnya tabung
ovarium dan tuba dan rahim).
Tumor stroma ovarium sering hanya terbatas pada satu ovarium , sehingga
operasi mungkin terbatas pada penghapusan ovarium itu . Jika kanker telah
menyebar , jaringan lebih mungkin perlu diangkat. Hal ini bisa berarti histerektomi
dan salpingo-ooforektomi bilateral dan operasi bahkan debulking dapat dilakukan.
-

Kemoterapi
Kemoterapi (kemo) adalah penggunaan obat untuk mengobati kanker. Paling sering,
kemoterapi adalah pengobatan sistemik - obat yang diberikan dengan cara yang
memungkinkan mereka untuk memasuki aliran darah dan mencapai semua area tubuh.
Kemoterapi sistemik dapat berguna untuk kanker yang telah metastasis (menyebar).
Selama ini, kemoterapi sistemik menggunakan obat-obatan yang disuntikkan ke
pembuluh darah (IV) atau diberikan melalui mulut. Untuk beberapa kasus kanker
ovarium, kemoterapi juga dapat disuntikkan melalui kateter langsung ke dalam
rongga perut. Ini disebut intraperitoneal (IP) kemoterapi. Obat yang diberikan dengan
cara ini juga diserap ke dalam aliran darah , sehingga kemoterapi IP juga merupakan
jenis kemoterapi sistemik. Kemo untuk kanker ovarium paling sering adalah
kombinasi dari 2 atau lebih obat, diberikan IV setiap 3 - 4 minggu. Memberikan 2
atau lebih obat dalam kombinasi tampaknya lebih efektif dalam pengobatan awal
kanker ovarium daripada memberikan hanya satu obat saja.
Pendekatan standar adalah kombinasi dari senyawa platinum , seperti cisplatin
atau carboplatin , dan taxane , seperti paclitaxel ( Taxol ) atau docetaxel ( Taxotere
) . Untuk kemoterapi IV , kebanyakan dokter mendukung carboplatin lebih cisplatin
karena memiliki efek samping yang lebih sedikit dan sama efektifnya. Terapi
kemoterapi untuk kanker ovarium epitel melibatkan 3 sampai 6 siklus . Siklus adalah
jadwal rutin dosis obat , diikuti dengan periode istirahat.
Kanker ovarium epitel sering menyusut atau bahkan tampaknya hilang dengan
kemoterapi , tetapi sel-sel kanker pada akhirnya mungkin mulai tumbuh lagi. Jika
12

kemo pertama tampaknya bekerja dengan baik dan kanker menghilang untuk
sementara waktu , itu bisa diobati dengan siklus tambahan kemoterapi yang sama
yang digunakan pertama kali. Dalam beberapa kasus , obat yang berbeda dapat
digunakan. Beberapa obat kemo yang membantu dalam mengobati kanker ovarium
meliputi:
Albumin terikat paclitaxel ( menangkap - paclitaxel , Abraxane )
Altretamine ( Hexalen )
Capecitabine ( Xeloda )
Cyclophosphamide ( Cytoxan )
Etoposide ( VP - 16 )
Gemcitabine ( Gemzar )
Ifosfamide ( IFEX )
Irinotecan ( CPT - 11 , Camptosar )
Liposomal doxorubicin ( Doksorubisin )
Melphalan
Pemetrexed ( ALIMTA )
Topotecan
Vinorelbine ( Navelbine )
Obat kemoterapi membunuh sel kanker, tetapi juga merusak beberapa sel
normal. Oleh karena itu, dokter akan berhati-hati untuk menghindari atau
meminimalkan efek samping, yang tergantung pada jenis obat, jumlah yang diambil ,
dan lamanya pengobatan .
Efek samping yang umum sementara meliputi:
Mual dan muntah
Kehilangan nafsu makan
Kehilangan rambut
Tangan dan kaki ruam
Sariawan
Kemoterapi dapat merusak sel-sel darah yang memproduksi sumsum tulang ,
sehingga pasien mungkin memiliki jumlah sel darah rendah . Hal ini dapat
mengakibatkan :
Meningkatnya kemungkinan infeksi ( disebabkan oleh kekurangan sel darah

putih )
Pendarahan atau memar setelah luka kecil atau luka ( yang disebabkan oleh

kekurangan trombosit darah )


Kelelahan ( yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah yang rendah )
Sindrom myelodysplastic atau leukemia myeloid akut

13

Kebanyakan efek samping menghilang setelah pengobatan dihentikan. Rambut


akan tumbuh kembali setelah perawatan berakhir, meskipun mungkin terlihat berbeda.
Beberapa obat kemoterapi dapat memiliki efek jangka panjang atau bahkan sisi
permanen. Sebagai contoh, cisplatin dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Untuk
mencegah hal ini, dokter memberikan banyak cairan IV sebelum dan sesudah obat ini
diberikan. Kedua cisplatin dan taxanes dapat menyebabkan kerusakan saraf /
neuropati. Hal ini dapat menyebabkan masalah dengan mati rasa, kesemutan, atau
bahkan rasa sakit di tangan dan kaki. Cisplatin juga dapat merusak saraf telinga, yang
dapat menyebabkan gangguan pendengaran / ototosik. Kemo juga dapat menyebabkan
menopause

dini

dan

infertilitas

yang

mungkin

permanen.

Jarang , beberapa obat kemo secara permanen dapat merusak sumsum tulang .
Dalam intraperitoneal (IP) kemoterapi untuk kanker ovarium, selain
memberikan kemoterapi paclitaxel obat IV, obat cisplatin dan paclitaxel yang
disuntikkan ke dalam rongga perut melalui kateter (tabung tipis). Pemberian
kemoterapi dengan cara ini memberikan dosis yang paling terkonsentrasi dari obat
untuk sel-sel kanker di dalam rongga perut. Kemo ini juga akan diserap ke dalam
aliran darah sehingga bisa mencapai sel-sel kanker di luar rongga perut. Kemoterapi
IP bekerja dengan baik , tetapi efek samping sering lebih parah daripada dengan
kemoterapi biasa. Dalam sebuah penelitian terhadap wanita dengan kanker ovarium
tingkat lanjut, wanita mendapatkan kemoterapi IP mengalami nyeri lebih perut, mual ,
muntah , dan efek samping selain wanita mendapatkan kemoterapi melalui pembuluh
darah. Efek samping ini benar-benar membuat beberapa wanita menghentikan
pengobatan mereka awal. Namun, para wanita mendapatkan kemoterapi IP hidup
lebih

lama

daripada

wanita

mendapatkan

kemoterapi

biasa.

Kemoterapi IP saat ini hanya diberikan kepada beberapa wanita dengan kanker
ovarium yang telah menyebar ke bagian dalam perut. Kemudian karena IP bisa sangat
beracun , perempuan harus memiliki fungsi ginjal normal dan berada dalam kondisi
secara keseluruhan baik untuk dokter mereka harus bersedia untuk mencoba IP kemo.
Mereka juga tidak bisa memiliki banyak adhesi atau jaringan parut di dalam perut
mereka karena hal ini dapat mencegah kemoterapi menyebar dengan baik.
Pasien dengan kanker sel germinal sering harus diobati dengan kombinasi
kemoterapi . Kombinasi yang paling sering digunakan disebut PEB ( atau BEP ) , dan
termasuk obat kemoterapi cisplatin (Platinol) , etoposid , dan bleomycin.
14

Disgerminoma biasanya sangat sensitif terhadap kemoterapi, dan kadang-kadang


dapat diobati dengan kombinasi kurang beracun dari carboplatin dan etoposid.
Kombinasi obat lainnya dapat digunakan jika kanker tidak menanggapi
pengobatan atau untuk mengobati kanker yang telah berulang ( kembali ) . Ini
termasuk :
TIP : paclitaxel ( Taxol ) , ifosfamide , dan cisplatin
VeIP : vinblastine , ifosfamide , dan cisplatin
VIP : etoposid ( VP - 16 ) , ifosfamide , dan cisplatin
Kemo untuk tumor germ cell memiliki beberapa risiko yang sama dan efek
samping sebagai kemoterapi untuk kanker ovarium epitel. Ini termasuk mual /
muntah, rambut rontok, neuropati, infertilitas, dan menopause dini juga dapat terjadi .
Perkembangan

selanjutnya

dari

leukemia

jarang

terjadi.

Bleomycin

dapat

menyebabkan kerusakan paru-paru, sehingga beberapa dokter memesan tes fungsi


paru-paru sebelum menggunakan obat ini. Ifosfamide dapat menyebabkan sistitis
hemoragik (iritasi dan perdarahan dari lapisan kandung kemih).
Tumor stroma ovarium tidak sering diobati dengan kemoterapi.
-

Terapi hormon
Terapi hormon adalah penggunaan hormon atau obat hormon - blocking untuk
melawan kanker. Jenis terapi sistemik jarang digunakan untuk mengobati kanker
ovarium epithelial, tetapi lebih sering digunakan untuk mengobati tumor stroma
ovarium.
Luteinizing hormon - releasing hormone ( LHRH ) agonis. Agonis LHRH
( kadang-kadang disebut agonis GnRH ) menghentikan produksi estrogen oleh indung
telur. Obat ini digunakan untuk menurunkan kadar estrogen pada wanita yang
premenopause. Contoh agonis LHRH termasuk goserelin (Zoladex ) dan leuprolide
(Lupron ). Obat ini disuntikkan setiap 1 sampai 3 bulan. Efek samping bisa
termasuk salah satu gejala menopause, seperti hot flashes dan kekeringan vagina. Jika
mereka diambil untuk waktu yang lama (tahun), obat ini dapat melemahkan tulang
(kadang-kadang menyebabkan osteoporosis).
Tamoxifen adalah obat yang sering digunakan untuk mengobati kanker
payudara. Hal ini juga dapat digunakan untuk mengobati tumor stroma ovarium dan
jarang digunakan untuk mengobati kanker ovarium lanjut epitel. Tamoxifen bertindak
sebagai anti - estrogen dalam berbagai jaringan dalam tubuh, tetapi terkadang dapat
sebagai estrogen lemah. Tujuan terapi tamoxifen adalah untuk menjaga setiap
estrogen yang beredar dalam tubuh wanita dari merangsang pertumbuhan sel kanker.
15

Kegiatan anti - estrogen dari obat ini dapat menyebabkan hot flashes dan kekeringan
vagina. Karena tindakan tamoxifen seperti estrogen lemah di beberapa area tubuh,
tidak menyebabkan kehilangan tulang dan dapat meningkatkan risiko pembekuan
darah serius di kaki.
Aromatase inhibitor adalah obat yang menghalangi enzim (disebut aromatase)
yang mengubah hormon lain menjadi estrogen pada wanita pasca-menopause. Obat
ini tidak menghentikan indung telur dari membuat estrogen, sehingga mereka hanya
membantu dalam menurunkan kadar estrogen pada wanita setelah menopause. Obat
ini terutama digunakan untuk mengobati kanker payudara, tetapi juga dapat
digunakan untuk mengobati beberapa tumor ovarium stroma yang rekuren setelah
perawatan. Yang termasuk obat ini adalah letrozole (Femara ), anastrozole
(Arimidex ), dan exemestane (Aromasin ). Obat ini dalam bentuk pil

dan

diminum sekali sehari.


-

Terapi target
Terapi Target adalah jenis yang lebih baru pengobatan kanker yang
menggunakan obat-obatan atau zat lain untuk mengidentifikasi dan menyerang sel
kanker saat melakukan sedikit kerusakan sel-sel normal. Terapi ini menyerang inner
sel kanker. Setiap jenis terapi yang ditargetkan bekerja secara berbeda, tetapi semua
mengubah cara sel kanker tumbuh, membagi, perbaikan itu sendiri, atau berinteraksi
dengan sel lain .
Obat terapi bertarget yang telah dipelajari yang paling dalam kanker ovarium
adalah bevacizumab (Avastin ). Obat ini membantu memblokir sinyal bahwa sel-sel
kanker mengirimkan menyebabkan pembuluh darah baru untuk membentuk tumor
baru untuk menyehatkan. Dalam studi, bevacizumab telah terbukti untuk mengecilkan
atau memperlambat pertumbuhan kanker ovarium lanjut. Ujian untuk melihat apakah
bevacizumab bekerja lebih baik bila diberikan bersama dengan kemoterapi telah
menunjukkan hasil yang baik dalam hal menyusut (atau menghentikan pertumbuhan)
tumor. Tapi itu belum ditunjukkan untuk membantu wanita hidup lebih lama.
Bevacizumab belum disetujui oleh Food and Drug Administration untuk mengobati
kanker ovarium , tetapi telah disetujui untuk mengobati kanker lainnya. Ini mungkin
pilihan pengobatan untuk beberapa wanita. Obat terapi target lain sedang diteliti .

Terapi radiasi
Terapi radiasi menggunakan energi tinggi sinar-x atau partikel untuk
membunuh sel kanker. X-ray ini dapat diberikan dalam prosedur yang jauh seperti
16

memiliki (diagnostik) x - ray biasa. Dalam radiasi masa lalu digunakan lebih sering
untuk kanker ovarium , tapi sekarang terapi radiasi jarang digunakan sebagai
pengobatan utama untuk kanker.
Terapi radiasi sinar eksternal, dalam prosedur ini , radiasi dari mesin di luar
tubuh difokuskan pada sel kanker. Ini adalah jenis utama dari terapi radiasi digunakan
untuk mengobati kanker ovarium. Perawatan diberikan 5 hari seminggu selama
beberapa minggu. Setiap pengobatan hanya berlangsung beberapa menit dan mirip
dengan memiliki x - ray biasa. Seperti dengan x - ray biasa, radiasi melewati kulit dan
jaringan lain sebelum mencapai tumor. Waktu yang sebenarnya dari paparan radiasi
sangat pendek , dan sebagian besar kunjungan dihabiskan mendapatkan pasien tepat
diposisikan sehingga radiasi ditujukan secara akurat pada kanker.
Beberapa efek samping yang umum termasuk :
Perubahan kulit - kulit di daerah yang dirawat mungkin terlihat dan merasa

terbakar matahari atau bahkan melepuh dan mengelupas


Kelelahan
Mual
Diare
Iritasi vagina
Efek samping ini membaik setelah pengobatan dihentikan. Perubahan kulit

secara bertahap memudar , dan kulit kembali normal dalam 6 sampai 12 bulan.
Terapi radiasi juga dapat diberikan sebagai implan bahan radioaktif, yang
disebut brachytherapy, ditempatkan di dekat sel kanker. Hal ini jarang dilakukan
untuk

kanker

ovarium.

Fosfor radioaktif digunakan di masa lalu, tetapi tidak lagi merupakan bagian
dari pengobatan standar untuk kanker ovarium. Untuk pengobatan ini, larutan fosfor
radioaktif ditanamkan ke dalam perut. Solusinya masuk ke sel-sel kanker yang
melapisi permukaan perut dan membunuh sel tersebut. Terapi ini memiliki sedikit
efek samping langsung tetapi dapat menyebabkan jaringan parut dari usus dan
menyebabkan masalah pencernaan, termasuk penyumbatan usus.7

Strategi Pencegahan Wanita Berisiko Tinggi

Konseling genetik dan Skrining untuk Gen BRCA. Pedoman terbaru dari Preventive
Services Task Force (USPSTF) merekomendasikan pengujian BRCA bagi perempuan
yang berisiko tinggi untuk kanker ovarium. USPSTF tidak merekomendasikan
17

konseling rutin genetik atau pengujian untuk gen BRCA pada wanita berisiko rendah

(tidak ada riwayat keluarga mutasi genetik BRCA1 atau BRCA2).


Skrining dengan USG atau Tes Darah.
Skrining perempuan berisiko tinggi tidak dianjurkan :
USG transvaginal tidak membantu untuk mengidentifikasi kanker ovarium stadium
awal pada wanita berisiko tinggi . Selain itu, USG tidak memberikan informasi
spesifik yang cukup untuk andal menentukan massa abnormal kanker atau bukan
kanker.
CA- 125 tes darah tidak disetujui untuk skrining pada populasi umum.
Bukti menunjukkan bahwa tes skrining tidak membantu mencegah kematian akibat
kanker ovarium. Selain itu, tes ini menghasilkan tingkat tinggi " positif palsu, " yang
berarti bahwa perempuan mungkin salah sasaran tes yang tidak perlu invasif untuk

kanker ovarium.
Pengangkatan Ovarium (Ooforektomi). Operasi pengangkatan indung telur , yang
disebut ooforektomi , secara signifikan mengurangi risiko kanker ovarium. Ketika
digunakan untuk secara khusus mencegah kanker ovarium pada wanita berisiko
tinggi, prosedur ini disebut ooforektomi profilaksis. Ooforektomi profilaksis adalah
sekitar 95 % perlindungan terhadap kanker ovarium dan dianjurkan untuk wanita
berisiko tinggi untuk kanker ovarium. Para perempuan ini umumnya memiliki
BRCA1 atau BRCA2 mutasi genetik, atau memiliki dua atau lebih kerabat tingkat
pertama yang telah menderita kanker ovarium.
Ooforektomi bilateral adalah pengangkatan kedua indung telur. Salpingo-ooforektomi
bilateral adalah pengangkatan kedua saluran tuba ditambah kedua ovarium. Beberapa
penelitian terbaru menunjukkan bahwa salpingo - ooforektomi sangat efektif dalam
mengurangi risiko kanker ovarium pada wanita yang membawa mutasi BRCA1 atau
BRCA2.
Bahkan setelah ooforektomi , perempuan dalam kelompok berisiko tinggi untuk
kanker ovarium masih memiliki risiko untuk perkembangan kanker pada peritoneum
(selaput tipis yang melapisi bagian dalam perut).
Wanita premenopause harus menyadari bahwa ooforektomi menyebabkan menopause
langsung, yang menimbulkan risiko untuk beberapa masalah kesehatan, termasuk
penyakit jantung dan osteoporosis . Pengganti estrogen , diberikan untuk jangka
waktu tertentu , dapat membantu mengimbangi masalah ini tetapi dapat menyebabkan
masalah sendiri. Wanita yang memiliki ooforektomi bilateral dan tidak menerima
terapi penggantian hormon mungkin mengalami panas berkedip lebih parah
dibandingkan wanita yang memasuki masa menopause alami.8
18

Tingkat Kelangsungan Hidup Penderita Kanker Ovarium


Tingkat kelangsungan hidup kanker ovarium jauh lebih rendah daripada kanker jenis
lain yang mempengaruhi perempuan. Tingkat kelangsungan hidup bervariasi tergantung pada
tahap diagnosis. Wanita yang didiagnosis pada tahap awal memiliki jauh lebih tinggi tingkat
kelangsungan hidup lima tahun dibandingkan mereka yang didiagnosis pada tahap
berikutnya. Hanya sekitar 15 persen pasien kanker ovarium didiagnosis dini. Wanita yang
didiagnosis dengan kanker ovarium pada tahun 1975 memiliki tingkat kelangsungan hidup
lima tahun

36 persen; hari ini, American Cancer Society memperkirakan tingkat

kelangsungan hidup lima tahun menjadi 43 persen.

Prognosis
Untuk semua jenis kanker ovarium yang diambil bersama-sama, sekitar 3 dari 4
wanita dengan kanker ovarium hidup selama setidaknya 1 tahun setelah diagnosis. Hampir
setengah (46%) dari wanita dengan kanker ovarium yang masih hidup setidaknya 5 tahun
setelah diagnosis. Wanita didiagnosis ketika mereka lebih muda dari 65 lebih baik dari wanita
yang lebih tua.

Stadium I
Relative 5-Year
Stage

Survival Rate

89%
IA

94%

IB

91%

IC

80%

Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium stadium I memiliki prognosis yang sangat
baik. Saya pasien Tahap I dengan tumor kelas memiliki ketahanan hidup 5 tahun lebih dari
19

90%, seperti yang dilakukan pasien dalam tahap IA dan IB. Tingkat kelangsungan hidup
seringkali didasarkan pada studi dari sejumlah besar orang, tetapi mereka tidak dapat
memprediksi apa yang akan terjadi dalam hal apapun orang tertentu. Faktor-faktor lain
mempengaruhi prognosis wanita, termasuk kesehatannya secara umum, kelas kanker, dan
seberapa baik kanker merespon pengobatan.
Stadium II
Relative 5-Year
Stage

Survival Rate

II

66%
IIA

76%

IIB

67%

IIC

57%

Kebanyakan wanita didiagnosis dengan kanker ovarium Tahap II memiliki tingkat


kelangsungan hidup lima tahun sekitar 66%.
Stadium III

Stage

Relative 5-Year
Survival Rate

III

34%

IIIA

45%

IIIB

39%

IIIC

35%

Kebanyakan wanita didiagnosis dengan kanker ovarium Tahap III memiliki tingkat
kelangsungan hidup lima tahun sekitar 34%.
20

Stadium IV
Kebanyakan wanita didiagnosis dengan kanker ovarium Tahap IV memiliki tingkat
kelangsungan hidup lima tahun sekitar 18%.9
Faktor Prognosis
Faktor faktor yang memperbaiki prognosis termasuk derajat diferensiasi rendah,
stadium awal, tumor ganas potensi rendah, debulking optimal, dan usia muda.
Sementara itu faktor yang memperburuk prognosis termasuk karsinoma sel jernih,
jenis serosum, stadium lanjut, adanya asites, debulking yang tidak optimal, derajat
diferensiasi tinggi/buruk, dan usia tua.6

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kanker ovarium merupakan kanker yang menyerang wanita dan memiliki angka
kelangsungan hidup terendah dibandingkan dengan kanker payudara dan kanker
endometrium. Kanker ovarium memeiliki beberapa faktor risiko diantaranya adalah faktor
lingkungan, faktor reproduksi, faktor genetik, riwayat keluarga, usia, dan infertilitas. Gejala
klinis dari kanker ovarium pada sebagian besar pasien tidak merasa ada keluhan /
asimptomatik (95%) dan jika terdapat keluhan, keluhan keluhan yang timbul tidak spesifik.
Kanker ovarium memiliki klasifikasi berdasarkan histopatologinya yaitu berasal dari epitel,
stroma, dan germ cell. Terapi untuk kanker ovarium juga disesuaikan dengan histopatologi
dan stadium dari penderita kanker. Pencegahan bagi kanker ovarium adalah dengan
melakukan konseling genetik, skrining Ca-125 dan juga pengangkatan ovarium bagi wanita
berisiko tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

21

1. Heffner LJ, Schust DJ. At a glance system reproduksi. Edisi ke-2. Jakarta :
Erlangga.2006.h.90-1.
2. Norwitz, Errol dan Schorge, John, 2007. At a Glance Obstetri & Ginekologi Edisi
kedua. Penerbit Erlangga. Jakarta.
3. Surveillance, Epidemiology, and End Results Program/ Ovarian cancer. Diunduh
dari : http://seer.cancer.gov/statfacts/html/ovary.html. Pada tanggal 20 Juni 2014.
4. Ovarian Cancer National Alliance. Ovarian cancer. Diunduh dari

http://www.ovariancancer.org/about-ovarian-cancer/statistics/. Pada tanggal 20 Juni


2014.
5. Centers for Disease Control and Prevention. Ovarian cancer rates by rate and
ethnicity.

Edisi

12

Agustus

2013.

Diunduh

dari

http://www.cdc.gov/cancer/ovarian/statistics/race.htm. Pada tanggal 20 Juni 2014.


6. Prawirohardjo S, Wijknjosastro H, Sumapraja S, Saifuddin AB. Ilmu Kandungan.
Edisi ketiga. Jakarta : PT.Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2011. h.307-11.
7. Mayo Clinic. Disease and conditions ovarian cancer. Edisi 10 November 2012.
Diunduh

dari

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ovarian-

cancer/basics/definition/CON-20028096. Pada tanggal 20 Juni 2014.


8. American
Cancer
Society.
Ovarian
cancer.
Diunduh

dari

http://www.cancer.org/cancer/ovariancancer/ Pada tanggal 20 Juni 2014.


9. Ovarian Cancer Research Fund. Ovarian cancer staging. Diunduh

:
dari:

http://www.ocrf.org/about-ovarian-cancer/treatment-of-ovarian-cancer/staging-andgrading/stage-iv. Pada tanggal 20 Juni 2014.

22