Anda di halaman 1dari 4

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Seiring Perkembangan jaman dan persaingan dalam rangka menghadapi

pasar bebas pada Era globalisasi yang serba modern seperti saat ini,masyarakat
perlu dilindungi dari peredaran obat dan bahan obat yang tidak memenuhi
persyaratan mutu, keamanan dan khasiat/manfaat. Dimana semua perindustrian
semakin meningkat pesat seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi terutama dalam bidang farmasi. Salah satunya adalah perusahaan besar
yang mendistribusikan obat-obatan. Untuk memenuhi kebutuhan obat tersebut,
maka sangat diperlukan suatu sarana yang dapat menyalurkan obat yaitu melalui
Pedagang Besar Farmasi (PBF). Pedagang Besar Farmasi adalah suatu usaha
berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan,
penyaluran, perbekalan farmasi dalam jumlah besar sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku.
Pembangunan di bidang kesehatan pada dasarnya ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur
kesejahteraan sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia tahun 1945. Terlebih sejak digulirkannya Peraturan
Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian dan Undangundang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang memberikan wewenang
penuh kepada tenaga kefarmasian dalam mengelola sediaan farmasi dan alat
kesehatan.
PT.Hasil Karya Sejahtera, Bandung merupakan salah satu perusahaan di
Bandung yang bergerak dibidang penjualan obat-obatan farmasi terutama produkproduk PT. Ifars, PT. Sam pharindo perdana (Alp ha & Beth a), PT. First
medipharma, PT. Trim an, PT. Be rlico, PT. Rama Em erald, Universal, Cito, Afi
Farma, PT PIM dan alat-alat Kesehatan. Produk-produk tersebut disalurkan

kepada outlet-outlet atau pelanggan secara terus-menerus dengan jumlah dan mutu
produk yang terus terjaga kualitasnya. Untuk itu dibutuhkan Sumber Daya
Manusia yang banyak dan berkualitas agar tercapainya tujuan dari PBF PT. Hasil
Karya Sejahtera tentang pengadaan, penyimpanan dan pendisrtibusian barangbarang Farmasi.
Standar distribusi obat yang baik diterapkan untuk memastikan bahwa
kualitas produk yang dicapai melalui CDOB dipertahankan sepanjang jalur
distribusi. Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) merupakan ketentuan dan
standar yang harus dijalankan oleh setiap pelaku bisnis distribusi farmasi. Aturan
tersebut bersifat mutlak dan akan ada sanksi apabila tidak dijalankan. Sumber
daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian
mutu yang memuaskan dalam pendistribusian obat oleh pedagang besar farmasi.
Oleh sebab itu, pedagang besar farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan
personil yang terkualifikasi dengan jumlah yang memadai untuk melaksanakan
tugas. Tiap personil yang terdapat pada pedagang besar farmasi hendaklah
memahami prinsip Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan memperoleh
pelatihan awal dan berkesinambungan termasuk instruksi yang berkaitan dengan
pekerjaan.
Dalam mewujudkan pelaksanaan pekerjaan kefarmasian yang baik, apoteker
harus terlibat langsung dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraannya.
Apoteker harus memiliki keahlian dan kewenangan dalam menyelenggarakan
pekerjaan kefarmasian. Dalam melaksanakan wewenang tersebut harus didasarkan
pada Standar Pelayanan dan Standar Prosedur Operasional yang berlaku sesuai
fasilitas kesehatan dimana pekerjaan kefarmasian dilakukan.Kontribusi positif
apoteker sangat penting demi terlaksananya pekerjaan kefarmasian yang baik.
Akan tetapi hal tersebut tentunya harus disertai dengan peningkatan pengetahuan
dari apoteker yang selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi kefarmasian.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian, seorang apoteker merupakan penanggung jawab pada fasilitas
distribusi atau penyaluran sediaan farmasi. Bentuk perwujudan tanggung jawab

keprofesian terutama dalam bidang distribusi atau penyaluran sediaan farmasi


maka seorang apoteker harus memiliki pemahaman, wawasan, pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman praktis tentang peran, fungsi, posisi dan tanggung
jawab apoteker di fasilitas distribusi farmasi.
Oleh karena itu sebagai bentuk proses pembekalan bagi para calon apoteker
maka Program Pendidikan Profesi Apoteker Sekolah Tinggi Farmasi Bandung
melakukan kerja sama dengan PT. Hasil Karya Sejahtera Bandung dalam rangka
memberikan kesempatan bagi mahasiswa tingkat profesi apoteker untuk
mengetahui tugas, tanggung jawab dan wewenang Apoteker di Pedagang Besar
Farmasi. Praktek Kerja Profesi Apoteker di Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT.
Hasil Karya Sejahtera Bandung yang terletak di jalan Golf Raya No. 39
Cisaranten Bina Harapan, Bandung dilaksanakan pada tanggal 16 sampai 30
November 2013.
1.2.

Tujuan
Adapun tujuan diadakannya Praktek Kerja Profesi Apoteker adalah

sebagai berikut:
1.

Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi


dan tanggungjawab Apoteker di distribusi farmasi.

2.

Membekali calon Apoteker agar memiliki wawasan, pengetahuan,


keterampilan dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan farmasi
dibidang distribusi farmasi.

3.

Memberi kesempatan kepada calon Apoteker untuk menerapkan prinsip


Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan penerapan nyata dalam
distribusi farmasi.

4.

Mempersiapkan calon Apoteker dalam memasuki dunia kerja sebagai


tenaga farmasi profesional di distribusi farmasi.

5.

Memberi gambaran nyata permasalahan yang dihadapi dalam distribusi


farmasi sehingga tidak canggung untuk bekerja .

1.3.

Manfaat PKPA

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari Praktek Kerja Profesi


Apoteker adalah sebagai berikut:
1.

Mengetahui, memahami dan mampu mengerjakan tanggungjawab Apoteker


dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian di distribusi farmasi.

2.

Memperoleh pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di


distribusi farmasi.

3.

Meningkatkan kepercayaan diri untuk menjadi Apoteker profesional


dibidang distribusi farmasi.