Anda di halaman 1dari 8

DEGRADASI FOTOKATALISIS ZAT WARNA DALAM PELARUT AIR

MENGGUNAKAN FOTOKATALIS OKSIDA LOGAM


A. Tujuan
Memahami prinsip degradasi fotokatalisis menggunakan bahan semikonduktor.
B. Landasan Teori
Fotokatalisis didefinisikan sebagai kombinasi proses fotokimia dan katalis, yaitu proses
transformasi kimia yang menggunakan foton sebagai sumber energi dan katalis sebagai
pemercepat laju transformasi. Proses tersebut didasarkan pada kemampuan ganda suatu
material semikonduktor (seperti TiO2, ZnO, Fe2O3, CdS, ZnS) untuk menyerap foton dan
melakukan reaksi transformasi pada antar muka material secara simultan.
TiO2 adalah material semikonduktor yang mempunyai energi celah pita (band-gap energy) 3,2
eV. Saat partikel koloid TiO2 mengalami fotoeksitasi ( 380 nm) dihasilkan elektron, elektron dan
muatan positif disebut hole, h+ sesuai dengan persamaan reaksi berikut:
Secara berurutan, elektron dan hole memungkinkan berlangsungnya reaksi yang bersifat reduktif
dan oksidatif pada antar muka material semikonduktor. Dalam pelarut air, oksigen terlarut
bertindak sebagai penangkap elektron, sementara air akan bereaksi dengan hole menghasilkan
radikal OH sebagaimana reaksi berikut:
Radikal OH mempunyai potensial reduksi yang cukup tinggi ~ 2,8 V, sehingga bersifat sangat
oksidatif. Hal ini memungkinkan radikal OH untuk segera bereaksi dengan senyawa organik atau
anorganik yang berada dalam air (fotodegradasi). Degradasi total polutan organik ini akan
menghasilkan CO2, H2O dan mineral (mineralisasi sempurna)
(Amiruddin, 2006).
Fotokatalis adalah proses terjadinya reaksi suatu materi terhadap materi lainnya yang
diperantarai oleh energi dari penyinaran UV. Mengambil manfaat dari reaksi yang terjadi itu,
titanium dioksida yang dilibatkan dalam sistem fotokatalisis VOL 1 memunculkan enzim aktif
guna memecahkan atau menghantam bakteri, bau ataupun menjatuhkan terhadap kemungkinan
terjadinya noda akibat oksidasi yang terbentuk secara alamiah.
Dari hasil uji coba fotokatalisis yang menggunakan TiO2 khususnya terhadap faktor bau tidak
enak, ternyata memberikan grafik hasil bahwa sistem fotokatalisis ini memang secara cepat
menghapuskan bau tidak enak, dalam waktu 2 jam, misalnya dengan kepekatan 40 ppm (part
per million) (http://www.chemistry.org).
Salah satu metode yang biasa digunakan untuk mengatasi limbah industri yang mengandung zat
warna adalah melalui proses degradasi fotokatalisis TiO2 yang berfungsi sebagai katalisator
dalam degradasi senyawa-senyawa pencemar organik tersebut. Kemampuan TiO2 sangat
dipengaruhi oleh intensitas sinar ultraviolet, TiO2 dalam air yang disinari oleh sinar ultraviolet
akan membentuk pasangan h+ (lubang positif) dan e- (elektron). Pasangan ini berperan dalam
reaksi oksidasi reduksi menghasilkan radikal OH yang sangat reaktif menyerang polutan dan

mendegradasi menjadi CO2 dan H2O (Pope, 1995).


Titanium dioksida memiliki tiga struktur kristal yaitu rutil, anatase dan brukit, namun hanya rutil
dan anatase yang cukup stabil keberadaannya dan biasa digunakan sebagai fotokatalis yang
memiliki aktivitas fotokatalis yang baik adalah anatase. Perbedaan massa jenis (3,9 g/cc untuk
anatase dan 4,2 g/cc untuk rutil), luas permukaan, densitas aktifnya, perbedaan tingkat energi
hasil hibridisasi yang berasal dari kulit 3d, titanium bertindak sebagai pita konduksi, sedangkan
tingkat energi hasil hibridisasi yang berasal dari kulit 3d, titanium bertindak sebagai pita
konduksi, sedangkan tingkat energi hasil hibridisasi dari kulit 2p oksigen bertindak sebagai pita
valensi, pita konduksi dan besarnya energi diantara keduanya akan berbeda bila lingkungan
dan/atau penyusunan atom Ti dan O dalam kristal TiO2 berbeda, seperti pada struktur anatase
(Eg = 3,2 eV) (Gunlazuard, 2001).
Katalisator merupakan zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud
memperbesar kecepatan reaksi katalis ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami
perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai
kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi. Suatu katalis berfungsi
untuk mempercepat reaksi atau untuk memperbesar kecepatan reaksinya dengan jalan
memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan akan dibentuk tahap-tahap reaksi yang baru.
Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung
cepat.
Radiasi UV merupakan radiasi elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang diantara
sinar UV dengan sinar-X panjang. Daerah UV dibagi tiga yaitu UV A (380 315 nm) disebut
gelombang panjang (Long wave) atau black light. UV B (315 280 nm) disebut gelombang
medium (Medium wave) dan UV C (280 10 nm) disebut gelombang pendek (Short wave).
Matahari adalah pemancar radiasi ultraviolet yang kuat tetapi hanya ultraviolet dekat yang
mencapai permukaan bumi, sebab ozon di atmosfer menyerap semua panjang gelombang di
bawah 290 nm (Deintith, 1990).

C. Alat dan Bahan


1. Alat
Pipet ukur 10 mL
Filler

Labu takar 25 mL 5 buah


Neraca analitik
Batang pengaduk
Lampu UV
Spektronik 20D
Pipet tetes
Stopwatch
Botol semprot
Corong
2. Bahan
CuO, 0,05 gram
Metilen orange 20 ppm
Aquadest
Kertas saring
Alumunium foil

D. Prosedur Kerja
1. Pembuatan Kurva Kalibrasi

2. Pengukuran Absorbansi Sampel yang mengalami Degradasi

E. Data Pengamatan
= 430 nm
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
0
5
10
15
20 0
0,222
0,410
0,538
0,628
Sampel 0,528
Kurva Kalibrasi

y = 0,0314x + 0,0452
0,528 = 0,0314x + 0,0452
0,0314x = 0,4828
x = 15,375
Jadi, konsentrasi metilen orange 1 ppm setelah degradasi adalah 15,375 ppm
Konsentrasi metilen orange 1 ppm yang terdegradasi = 20 15,375 = 4,624 ppm
% yang terdegradasi =
F. Pembahasan
Fotokatalisis didefinisikan sebagai kombinasi proses fotokimia dan katalis, yaitu proses
transformasi kimia yang menggunakan foton sebagai sumber energi dan katalis sebagai
pemercepat laju transformasi. Proses tersebut didasarkan pada kemampuan ganda suatu
material semikonduktor (seperti TiO2, ZnO, Fe2O3, CdS, ZnS) untuk menyerap foton dan
melakukan reaksi transformasi pada antar muka material secara simultan.
TiO2 adalah material semikonduktor yang mempunyai energi celah pita (band-gap energy) 3,2
eV. Saat partikel koloid TiO2 mengalami fotoeksitasi ( 380 nm) dihasilkan elektron, elektron dan
muatan positif disebut hole, h+ sesuai dengan persamaan reaksi berikut:
Teori pita energi dapat menerangkan sifat konduksi listrik suatu bahan pita energi terdiri atas dua
jenis, yaitu pita valensi yang terisi penuh oleh elektron dari atom suatu bahan dan pita konduksi
yang terisi sebagian atau kosong elektron. Pada bahan semikonduktor, lubang (hole) dan
elektron berfungsi sebagai pembawa muatan listrik (pengantar arus). Suatu semikonduktor yang
dikenai suatu cahaya dengan energi yang sesuai, maka elektron pada pita valensi akan pindah
ke pita konduksi, dan meninggalkan lubang positif (hole), h+ pada pita valensi. Sebagian besar
pasangan elektron dan h+ ini akan berkombinasi kembali, baik dipermukaan atau di dalam
partikel. Sementara itu sebagian pasangan e dan h+ dapat bertahan sampai pada permukaan
semikonduktor. Dimana h+ dapat menginisiasi reaksi oksidasi dan e- dapat menginisiasi reaksi
reduksi zat kimia yang ada disekitar permukaan.
Degradasi merupakan suatu reaksi kimia yang secara bertahap mengubah suatu senyawa
makromolekul menjadi senyawa yang lebih sederhana. Dalam proses fotodegradasi, fotokatalisis
semikonduktor dapat diaktifkan dengan menggunakan sinar ultraviolet dan radiasi cahaya
matahari. Sinar ultraviolet yang berasal dari matahari digunakan untuk menciptakan pasangan
elektron lubang di dalam pita semikonduktor. Elektron tersebut kemudian bereaksi dengan
oksigen dalam sampel untuk membentuk O2, sedangkan lubang (h+) akan bereaksi dengan
kelompok hidroksil pada permukaan dan membentuk radikal OH sebagaimana reaksi berikut:
Katalisator merupakan zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud
memperbesar kecepatan reaksi. Katalis ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami
perubahan kimia yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai
kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama sebelum reaksi. Suatu katalisator berfungsi untuk

memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan jalan memperkecil energi


pengaktifan suatu reaksi dan akan dibentuk tahap-tahap reaksi yang baru. Dengan menurunnya
energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung lebih cepat.
Pada percobaan ini digunakan CuO yang dilarutkan dalam metilen orange dengan konsentrasi
20 ppm dan diaduk selama 30 menit sebelum disinari dengan lampu UV. TiO2 pada percobaan
ini bertindak sebagai katalis. CuO Pada percobaan ini, larutan campuran antara metilen orange
dan titanium dioksida disinari dengan lampu UV selama 1 jam. Dimana radiasi ultraungu yang
sering disingkat dengan UV merupakan radiasi elektromagnetik terhadap panjang gelombang
yang lebih pendek dari daerah dengan sinar tampak.
Absorpsi sinar ultraviolet oleh CuO akan diikuti perpindahan e- pita valensi ke pita konduksi
terbentuk pasangan (e-) dan lubang (h+). Elektron bereaksi dengan oksigen dalam sampel untuk
membentuk , sedangkan lubang akan bereaksi dengan ion hidroksil membentuk radikal OH.,
karena reaksi degradasi berlangsung optimum pada pH basa, maka ion hidroksil selain berasal
dari air juga berasal dari larutan buffer pH basa tersebut sehingga radikal OH yang terbentuk
semakin banyak. Radikal OH ini menyerang molekul zat warna metilen orange sehingga
terbentuk molekul-molekul intermediet sehingga sampai waktu tertentu akan terdegradasi
menjadi molekul CO2 dan H2O, ini sesuai dengan pernyataan Linsebigler bahwa radikal OH
yang terbentuk pada permukaan CuO yang dikenal sebagai spesies oksidator kuat dapat
mengoksidasi hampir semua pencemar organik menjadi produk yang tidak beracun.
Untuk mengetahui konsentrasi metilen orange yang terdegradasi dari fotokatalisis tersebut
dilakukan pengukuran absorbansi metilen orange dengan memvariasikan konsentrasinya yaitu 5
ppm, 10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm. Dari hasil pengukuran nilai absorbansi untuk tiap-tiap
konsentrasi secara berturut-turut yaitu 0,222; 0,410; 0,959; 0,538 dan 0,628. Yang berarti bahwa
konsentrasi metilen orange berbanding lurus dengan absorbansinya, semakin besar konsentrasi
metilen orange semakin besar pula absorbansinya. Hal ini disebabkan karena semakin pekatnya
metilen orange dalam hal ini warna metilen orange semakin jingga (pekat) sehingga warna yang
diserap pada saat pengukuran absorben juga semakin besar. Dan semakin besar konsentrasi
metilen orange semakin banyak pula yang terdegradasi.
Dimana dapat dilihat bahwa konsentrasi berbanding lurus terhadap nilai absorbansinya, yakni
semakin besar nilai konsentrasi metilen orange maka nilai absorbansinya juga semakin besar.
Dari grafik diperoleh persamaan y = 0,031x + 0,0452. Maka dapat ditentukan nilai konsentrasi
metilen orange terdegradasi sebesar 0,04 ppm dan persen metilen orange yang terdegradasi
sebesar 23,121%.
Reaksi fotodegradasi zat warna metilen orange diamati berdasarkan perubahan warna larutan
selama proses penyinaran belangsung. Perubahan warna larutan tersebut menunjukkan
penurunan konsentrasi zat warna yang semula 1 ppm (konsentrasi sebelum degradasi) menjadi
0,960 ppm (konsentrasi setelah degradasi) yang disebabkan rusaknya gugus-gugus kromofor
yang terdapat dalam zat warna akibat serangan radikal hidroksil yang sangat reaktif. Hal ini
menunjukkan bahwa reaksi fotodegradasi metilen orange berlangsung dengan baik dibawah
sinar UV ataupun matahari.

G. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa prinsip degradasi
fotokatalisis menggunakan bahan semikonduktor yakni dalam proses fotodegradasi., fotokatalisis
semikonduktor dapat diaktifkan dengan menggunakan sinar ultraviolet/radiasi cahaya matahari.
Dimana reaksi fotodegradasi zat warna metilen orange diamati berdasarkan perubahan warna
larutan selama proses penyinaran. Perubahan warna menunjukkan penurunan konsentrasi zat
warna dari yang semula 20 ppm (sebelum degradasi) menjadi 15,375 ppm (setelah degradasi) .
Dimana diperoleh nilai konsentrasi metilen orange terdegradasi sebesar 15,375 ppm dan
persentase konsentrasi metilen blue yang terdegradasi yaitu 23,121%.

DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin, 2010, Penunjuk Praktikum Kimia Fisika II, F-MIPA Universitas Haluoleo, Kendari.
Gunlazuard, J., 2001, Fotokatalis pada Permukaan TiO2: Aspek Fundamental dan Aplikasinya,
Jurusan Kimia F-MIPA UI, Jakarta.
Nurdin, M., 2007, Degradasi Fotoelektrokatalik Pada Potassium Hydrogen Phtalate, Jurnal
Teknologi Pengolahan Limbah Vol. 10(2)
Sumartono, Agustin & Winarti Andayani, 2006, Karakterisasi Katalis TiO2 dan TiO2/Karbon Aktif
yang Diimobilisasi Pada Pelat Titanium dan Uji Aktivasinya Sebagai Fotokatalis, Jurnal Kimia
Indonesia Vol.1(2)
Wijaya, Karna & Is Fatimah, 2005, Sintesis TiO2/Zeolit Sebagai Fotokatalis Pada Pengolahan
Limbah Cair Industri Tapioka Secara Adsorpsi-Fotodegradasi, Teknoin Vol.10 No. 4.