Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PATOFISIOLOGI
DISENTRI

Oleh
Nama :

Hengki Brahmana Putra

Bp

1004036

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA


YAYASAN PERINTIS
PADANG
2014

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ..........................................................................................................1
PEMBAHASAN ..2
Shigella .2
a. Etiologi ...............................................................................................4
b. Patogenesis .........................................................................................................4
c. Manifestasi .........................................................................................................5
d. Komplikasi ...6
e. Terapi ..................................................................................................................6
f. Epidemiologi .......................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................9

PENDAHULUAN

Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus), Disentri
merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak terbatas di colon yang
ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri,yakni: 1) sakit di perut yang sering
disertai dengan tenesmus,2) berak-berak meperet, dan 3) tinja mengandung darah dan lendir 1. Adanya
darah dan lekosit dalam tinja merupakan suatu bukti bahwa kuman penyebab disentri tersebut menembus
dinding kolon dan bersarang di bawahnya 1.ltulah sebabnya pada akhir-akhir ini nama diare invasif lebih
disukai oleh para ahli1.
Disentri merupakan peradangan pada usus besar. Gejala penyakit ini ditandai dengan sakit perut dan
buang air besar encer secara terus-menerus (diare) yang bercampur lendir, nanah, dan darah.Berdasarkan
penyebabnya disentri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu disentri amuba dan disentri basiler. Disentri
amuba disebabkan oleh infeksi parasit Entamoeba histolytica dan disentri basiler disebabkan oleh infeksi
bakteri Shigella.Bakteri tersebut dapat tersebar dan menular melalui makanan dan air yang sudah
terkontaminasi kotoran dan bakteri yang dibawa oleh lalat. Lalat merupakan serangga yang hidup di
tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah menempel di tubuhnya dan menyebar di
setiap tempat yang dihinggapi.
Bakteri masuk ke dalam organ pencernaan mengakibatkan pembengkakan hingga menimbulkan luka
dan peradangan pada dinding usus besar. Inilah yang menyebabkan kotoran penderita sering kali
tercampur nanah dan darah. Gejala yang akan dialami penderita disentri biasanya berupa mencret dan
perut mulas, bahkan sering kali penderita merasakan perih di anus akibat terlalu sering buang air.
Serupa dengan penanganan penyakit gangguan pencernaan lainnya, penderita disentri harus segera
mendapat asupan cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Dalam keadaan darurat, dehidrasi ringan
dapat diatasi dengan pemberian oralit. Jika cairan yang hilang tidak segera tergantikan, dapat
menyebabkan

kematian

pada

penderita.

PEMBAHASAN
Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak terbatas
di colon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri, yakni: sakit di
perut yang sering disertai dengan tenesmus, berak-berak, dan tinja mengandung darah dan lendir.
Adanya darah dan lekosit dalam tinja merupakan suatu bukti bahwa kuman penyebab disentri
tersebut menembus dinding kolon dan bersarang di bawahnya. ltulah sebabnya pada akhir-akhir ini
nama diare invasif lebih disukai oleh para ahli.
Dulu dikenal hanya dua macam disentri berdasarkan penyebabnya, yakni disentri basiler
yang disebabkan oleh Shigella spp. dan disentri amuba yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica.
Tapi sekarang telah diketahui banyak penyebab lain berupa parasit dan bakteri, yaitu Shigella spp.,
Salmonella spp., Campylobacter spp., Vibrio parahaemolyticus, I'leisomonas shigelloides, EIEC
(Enteriinnasive E. coil), Aeromonus spp., Entamoeba histolytica atau Giardia lambha.
Wabah umumnya terjadi pada kelompok homoseksual, pada kondisi crowding, ditempattempat dimana sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan rendah seperti di penjara, tempat
penitipan anak, panti asuhan, rumah sakit jiwa dan pada tempat pengungsi yang padat. Shigellosis
endemis pada daerah iklim tropis maupun iklim sedang, kasus-kasus yang dilaporkan hanyalah
sebagian kecil saja dari kasus, yang sebenarnya terjadi.
Penularan secara orofaecal dengan ambang infeksi yang rendah dan merupakan basil yang
rapuh sehingga penularannya dapat dicegah dengan cuci tangan saja (hand washing disease). Ada
empat spesies Shigella, yaitu Shigella flexneri, Shigella dysentriae, Shigella boydii dan Shigella
sonnei. Pada umumnya S. flexneri, S.Boydii dan S. dysentriae paling banyak ditemukan di negara
berkembang seperti Indonesia. Sebaliknya S. sonnei paling sering ditemukan dan S. dysentriae paling
sedikit ditemukan di negara maju.
Antibiotik terpilih untuk infeksi Shigella adalah ampisilin, kloramfenikol, sulfametoxazoltrimetoprim. Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa kanamisin, streptomisin dan neomisin
merupakan antibiotik yang dianjurkan untuk kasus- kasus infeksi Shigella. Masalah resistensi kuman
Shigella terhadap antibiotik dengan segala aspeknya bukanlah merupakan suatu hal yang baru.
Shigella yang resisten terhadap multiantibiotik (seperti S. dysentriae 1) ditemukan di seluruh dunia
dan sebagai akibat pemakaian antibiotika yang tidak rasional.

SHIGELLA
Shigella adalah binatang tidak bergerak, gram negatif, bersifat fakultatif anaerobik yang
dengan beberapa kekecualian tidak meragikan laktosa tetapi meragikan karbohidrat yang lainnya,
menghasilkan asam tetapi tidak menghasilkan gas. Habitat alamiah Shigella terbatas pada saluran
pncernaan manusia dan primata lainnya dimana sejumlah spesies menimbulkan disentri basiler.
Berdasarkan penyebabnya disentri dapat dibedakan menjadi dua yaitu disentri amuba dan disentri
basiler2. Penyebab yang paling umum yaitu adanya infeksi parasit Entamoeba histolytica yang
menyebabkan disentri amuba dan infeksi bakteri golongan Shigella yang menjadi penyebab disentri
basiler2.
Shigellosis adalah endemik di seluruh dunia di mana dia bertanggung jawab untuk sekitar 120 juta
kasus disentri yang parah dengan darah dan lendir dalam tinja, mayoritas terjadi di negara berkembang
dan melibatkan anak-anak kurang dari lima tahun. Sekitar 1,1 juta orang diperkirakan meninggal akibat
infeksi Shigella setiap tahun, dengan 60% dari kematian yang terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun 3.
Dengan tidak adanya vaksin yang efektif yang tersedia, peningkatan frekuensi antimikroba-tahan strain
Shigella di seluruh dunia telah menjadi sumber utama keprihatinan 3.Selama survei dari 600.000 orang
dari segala usia di Bangladesh, Cina, Pakistan, Indonesia, Vietnam dan Thailand, Shigellas terisolasi di
5% dari episode diare 60 000 terdeteksi antara 2000 dan 2004 dan sebagian besar isolat bakteri resisten
terhadap amoksisilin dan kotrimoksazol 3. Demikian pula, selama penelitian surveilans 36-bulan di sebuah
distrik pedesaan di Thailand, di mana kejadian Shigellosis diukur untuk 4/1000/year dalam waktu kurang
dari 5 tahun usia, 95% dari S sonnei dan flexneri S isolat resisten terhadap tetrasiklin dan kotrimoksazol,
dan 90% dari isolat S flexneri juga resisten terhadap ampisilin dan kloramfenikol 3. Temuan serupa dibuat
di Jakarta Utara, Indonesia, dimana sebuah penelitian surveilans yang dilakukan antara Agustus 2001 dan
Juli 2003 menemukan bahwa anak usia 1 sampai 2 tahun memiliki insiden tinggi Shigellosis
(32/1000/year) dengan 73% sampai 95% dari isolat resisten terhadap ampisilin, trimetoprimsulfametoksazol, kloramfenikol dan tetrasiklin3.
Di Indonesia, amoebiasis kolon banyak dijumpai dalam keadaan endemi. Prevalensi Entamoeba
histolytica di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara 10 18 %.Amoebiasis juga tersebar luas
diberbagai negara diseluruh dunia 4. Pada berbagai survei menunjukkan frekuensi diantara 0,2 50 % dan
berhubungan dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik
dan subtropik yang sanitasinyajelek.Di RRC, Mesir, India dan negeri Belanda berkisar antara 10,1
11,5%, di Eropa Utara 5 20%, di Eropa Selatan 20 51% dan di Amerika Serikat 20% 4.Frekuensi infeksi
Entamoeba histolytica diukur dengan jumlah pengandung kista 4.Perbandingan berbagai macam

amoebiasis di Indonesia adalah sebagai berikut, amoebiasis kolon banyak ditemukan, amoebiasis hati
hanya kadang-kadang amoebiasis otak lebih jarang lagi dijumpai 4.
Infeksi amuba (amubiasis) menempati urutan ke 3 penyebab kematian karena infeksi parasit di
dunia setelah malaria dan schistosomiasis.Amubiasis terjadi pada sekitar 12% penduduk dunia atau 50%
penduduk di daerah tropis dan subtropis. Diperkirakan angka kematian

40.000-100.000 terjadi

pada 40-50 juta pasien amubiasis tiap tahun. Kejadian itu seperti fenomena gunung es karena hanya I020% pasien amubiasis memberikan gejala klinis. Insidens amubiasis tinggi di negara berkembang antara
lain Meksiko, Afrika Selatan dan Barat, Amerika Selatan dan Tengah, Bangladesh, Thailand,India serta
Vietnam.5

A. ETIOLOGI ( Penyebab penyakit )


a. Bakteri (Disentri basiler)
i. Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering ( 60% kasus
disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan
mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella
ii. Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
iii. Salmonella
iv. Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
b. Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada
anak usia > 5 tahun

B. PATOGENESIS ( Mekanisme terjadi penyakit )


Shigellosis disebut juga Disentri basiler . Disentri sendiri artinya salah satu dari berbagai
gangguan yang ditandai dengan peradangan usus , terutama kolon dan disertai nyeri perut ,
tenesmus dan buang air besar yang sering mengandung darah dan lender. Habitat alamiah kuman
disentri adalah usus besar manusia, dimana kuman tersebut dapat menyebabkan disentri basiler.
Infeksi Shigella praktis selalu terbatas pada saluran pencernaan, invasi dalam darah sangat
jarang. Shigella menimbulkan penyakit yang sangat menular. Dosis infektif kurang dari 10 3
organisme.
Proses patologik yang penting adalah invasi epitel selaput lendir, mikroabses pada
dinding usus besar dan ileum terminal yang cenderung mengakibatkan nekrosis selaput lendir,

ulserasi superfisial, perdarahan, pembentukan pseudomembran pada daerah ulkus. Ini terdiri
dari fibrin, lekosit, sisa sel, selaput lendir yang nekrotik, dan kuman. Waktu proses berkurang,
jaringan granulasi mengisi ulkus dan terbentuk jaringan parut

a. Disentri basiler
i. Shigella dan EIEC
1. MO --> kolonisasi di ileum terminalis/kolon, terutama kolon distal
invasi ke sel epitel mukosa usus --> multiplikasi --> penyebaran
intrasel dan intersel --> produksi enterotoksin --> cAMP -->
hipersekresi usus (diare cair, diare sekresi).--> produksi eksotoksin
(Shiga toxin) --> sitotoksik --> infiltrasi sel radang --> nekrosis sel
epitel mukosa --> ulkus-ulkus kecil --> eritrosit dan plasma keluar
ke lumen usus --> tinja bercampur darah.--> invasi ke lamina
propia ? --> bakteremia (terutama pada infeksi S.dysenteriae
serotype 1)
b. Salmonella
i. MO --> kolonisasi di jejunum/ileum/kolon --> invasi ke sel epitel mukosa
usus --> invasi ke lamina propia --> infiltrasi sel-sel radang --> sintesis
Prostaglandin --> produksi heat-labile cholera-like enterotoksin --> invasi
ke Plak Peyeri --> penyebaran ke KGB mesenterium -->hipertrofi -->
penurunan aliran darah ke mukosa --> nekrosis mukosa --> ulkus
menggaung --> eritrosit dan plasma keluar ke lumen --> tinja bercampur
darah.
c. Campylobacter jejuni
i. MO --> kolonisasi di jejunum/ileum/kolon --> invasi ke sel epitel mukosa
usus --> invasi ke lamina propia --> infiltrasi sel-sel radang -->
Prostaglandin --> produksi heat-stabile cholera-like enterotoksin -->
produksi sitotoksin ?? --> nekrosis mukosa --> ulkus --> eritrosit dan
plasma keluar ke lumen --> tinja bercampur darah.--> masuk ke sirkulasi
(bakteremia).

d. Disentri amoeba
i. Bentuk histolitika (trofozoit) --> invasi ke sel epitel mukosa usus -->
nekrosis jaringan mukosa ususproduksi enzim histolisin --> invasi ke
jaringan submukosa --> ulkus amoeba --> ulkus melebar dan saling
berhubungan membentuk sinus-sinus submukosa --> malabsorpsi
--kerusakan permukaan absorpsi > massa intraluminal --> tekanan
osmotik intraluminal --> diare osmotik.

C. MANIFESTASI ( Kelainan bentuk & fungsi )


Diagnosis klinis dapat ditegakkan semata-mata dengan menemukan tinja bercampur
darah. Diagnosis etiologi biasanya sukar ditegakkan. Penegakan diagnosis etiologi melalui
gambaran klinis semata sukar, sedangkan pemeriksaan biakan tinja untuk mengetahui agen
penyebab seringkali tidak perlu dilakukan karena memakan waktu lama (minimal 2 hari) dan
umumnya gejala membaik dengan terapi antibiotika empiris.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan :

Pemeriksaan tinja
o Makroskopis : suatu disentri amoeba dapat ditegakkan bila ditemukan bentuk
trofozoit dalam tinja
o Benzidin test
o Mikroskopis : leukosit fecal (petanda adanya kolitis), darah fecal .

Biakan tinja :
o Media : agar MacConkey, xylose-lysine deoxycholate (XLD), agar SS.

Pemeriksaan darah rutin : leukositosis (

5.000 15.000 sel/mm3), kadang-kadang

dapat ditemukan leukopenia.

Simtoma klinis
Disentri basiler

Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada
permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan
setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja.

Panas tinggi (39,5 - 40,0 C), kelihatan toksik.

Muntah-muntah.

Anoreksia.

Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB.

Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit
kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi).

Disentri amoeba

Diare disertai darah dan lendir dalam tinja.

Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit daripada disentri basiler (10x/hari)

Sakit perut hebat (kolik)

Gejala konstitusional biasanya tidak ada (panas hanya ditemukan pada 1/3 kasus).

D. KOMPLIKASI/Penyulit
1. Dehidrasi
2. Gangguan elektrolit, terutama hiponatremia
3. Kejang
4. Protein loosing enteropathy
5. Sepsis dan DIC
6. Sindroma Hemolitik Uremik
7. Malnutrisi/malabsorpsi
8. Hipoglikemia
9. Prolapsus rektum
10. Reactive arthritis
11. Sindroma Guillain-Barre
12. Ameboma
13. Megakolon toksik
14. Perforasi lokal

15. Peritonitis

E. TERAPI
Perhatikan keadaan umum anak, bila anak appear toxic, status gizi kurang,
lakukan pemeriksaan darah (bila memungkinkan disertai dengan biakan darah) untuk
mendeteksi adanya bakteremia. Bila dicurigai adanya sepsis, berikan terapi sesuai
penatalaksanaan sepsis pada anak. Waspadai adanya syok sepsis. 2. Komponen terapi
disentri : a. Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit. b. Diet c. Antibiotika d.
Sanitasi
a. Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit
Seperti pada kasus diare akut secara umum, hal pertama yang harus
diperhatikan dalam penatalaksanaan disentri setelah keadaan stabil adalah
penilaian dan koreksi terhadap status hidrasi dan keseimbangan elektrolit.

b. Diet
Anak dengan disentri harus diteruskan pemberian makanannya. Berikan
diet lunak tinggi kalori dan protein untuk mencegah malnutrisi. Dosis tunggal
tinggi vitamin A (200.000 IU) dapat diberikan untuk menurunkan tingkat
keparahan disentri, terutama pada anak yang diduga mengalami defisiensi. Untuk
mempersingkat perjalanan penyakit, dapat diberikan sinbiotik dan preparat seng
oral8,9. Dalam pemberian obat-obatan, harus diperhatikan bahwa obat-obat yang
memperlambat motilitas usus sebaiknya tidak diberikan karena adanya risiko
untuk memperpanjang masa sakit.
C. Antibiotika
Anak dengan disentri harus dicurigai menderita shigellosis dan mendapatkan
terapi yang sesuai. Pengobatan dengan antibiotika yang tepat akan mengurangi masa sakit
dan menurunkan risiko komplikasi dan kematian. Pilihan utama untuk Shigelosis
(menurut anjuran WHO) : Kotrimoksazol (trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan
sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) dibagi dalam 2 dosis, selama 5 hari. Dari hasil
penelitian, tidak didapatkan perbedaan manfaat pemberian kotrimoksazol dibandingkan
plasebo10. Alternatif yang dapat diberikan : o Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi
dalam 4 dosis o Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis o Ceftriaxone
50mg/kgBB/hari, dosis tunggal IV atau IM o Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari dibagi
dalam 4 dosis. Perbaikan seharusnya tampak dalam 2 hari, misalnya panas turun, sakit
dan darah dalam tinja berkurang, frekuensi BAB berkurang, dll. Bila dalam 2 hari tidak
terjadi perbaikan, antibiotik harus dihentikan dan diganti dengan alternatif lain. Terapi
antiamebik diberikan dengan indikasi : o Ditemukan trofozoit Entamoeba hystolistica
dalam pemeriksaan mikroskopis tinja. o Tinja berdarah menetap setelah terapi dengan 2
antibiotika berturut-turut (masing-masing diberikan untuk 2 hari), yang biasanya efektif
untuk disentri basiler. Terapi yang dipilih sebagai antiamebik intestinal pada anak
adalah Metronidazol 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari. Bila

disentri memang disebabkan oleh E. hystolistica, keadaan akan membaik dalam 2-3 hari
terapi.
D.Sanitasi
Beritahukan kepada orang tua anak untuk selalu mencuci tangan dengan bersih
sehabis membersihkan tinja anak untuk mencegah autoinfeksi.

F. EPIDEMIOLOGI
Disentri basiler dapat ditemukan di seluruh dunia. Disentri ini dapat terjadi di daerah
yang populasinya padat tetapi sanitasinya sangat buruk. Penyebarannya dapat terjadi melalui
kontaminasi makanan atau minuman dengan kontak langsung atau melalui vector, misalnya
lalat. Namun factor utama dari disentri basiler ini adalah melalui tangan yang tidak dicuci
sehabis buang air besar.
Pencegahan
Penyakit disentri basiler ini dapat dicegah dengan cara :
1. Selalu menjaga kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun secara teratur
dan teliti.
2. Mencuci sayur dan buah yang dimakan mentah.
3. Orang yang sakit disentri basiler sebaiknya tidak menyiapkan makanan.
4. Memasak makanan sampai matang.
5. Selalu menjaga sanitasi air, makanan, maupun udara.
6. Mengatur pembuangan sampah dengan baik.
7. Mengendalikan vector dan binatang pengerat

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Emergence of Resistant Shigella dysentriae in the


http://www.who.int/disasters/repo/5830.doc, diakses tanggal 11 Mei 2008

IDP

camps,

Anonim, 2008, Shigellosis, http://fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php?


attId=971&page=Haji%20Dadang%20Erianto, diakses tanggal 11 Mei 2008
Anonim, 2008, Shigella dysentriae, http://en.wikipedia.org/wiki/Shigella_dysenteriae, diakses
tanggal 13 Mei 2008
Ayuw, 2006, Shigellosis, http://fkuii.org/tiki-index.php?page=Shigellosis9, diakses tanggal 11 Mei
2008
Hiswani, 2003, Diare Merupakan Salah Satu Masalah Kesehatan Masyarakat yang Kejadiannya
Sangat Erat dengan Keadaan Sanitasi Lingkungan, http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkmhiswani7.pdf, diakses tanggal 8 Mei 2008
Simanjuntak, C.H., Epidemiologi Disentri,
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/08_EpidemiologiDisentri.pdf/08_EpidemiologiDisentri.ht
ml, diakses tanggal 8 Mei 2008
Jawetz, E., 1995, Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan, edisi 16, 303-306, EGC, Jakarta