Anda di halaman 1dari 27

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Wilayah pesisir dan laut merupakan situs strategis dimana umat manusia
memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dari lingkungan darat dan laut
sekaligus. Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan intensitas
pembangunan, dan kenyataan bahwa sumberdaya alam di daratan (semisal hutan,
lahan pertanian, peternakan, bahan tambang dan lain-lain) terus menipis atau
sukar dikembangkan, maka sumberdaya kelautan menjadi tumpuan harapan bagi
kesinambungan pembangunan ekonomi nasional di masa mendatang.
Sumberdaya alam di wilayah pesisir merupakan aset bangsa yang strategis
untuk dikembangkan dengan basis kegiatan ekonomi pada pemanfaatan
sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan kelautan. Dalam perkembangan
selanjutnya akibat dari pertambahan jumlah penduduk, perluasan pemukiman dan
kegiatan industri, maka wilayah ini akan mendapat tekanan berat akibat
eksploitasi sumberdaya alam di lingkungan sekitarnya. Untuk itu langkah
antisipatif

dengan

mempertemukan

mencari

berbagai

alternatif
tuntutan

pendekatan/paradigma

kepentingan

pemanfaatan

yang

dapat

konservasi

sumberdaya untuk pembangunan yang berkelanjutan mutlak diperlukan.


Pembangunan sumberdaya kelautan pada saat ini layak untuk menjadi
andalan bagi bangsa Indonesia dalam melakukan pemulihan ekonomi akibat krisis
multi-dimensi yang masih terus mendera kehidupan berkebangsaan kita. Pada saat
yang sama perlu diperhatikan prospek keberlangsungan sumberdaya ini agar dapat
memberikan manfaat yang berkesinambungan hingga ke generasi mendatang.
Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan dan paradigma dengan pemihakan yang
jelas terhadap keberlanjutan sumberdaya untuk menjadi arah penyusunan modelmodel pemanfaatan sumberdaya yang sekaligus memperhatikan aspek preventif
pengendalian kerusakan lingkungan demi keberlanjutan potensi sumberdaya
tersebut.

Tantangan utama kini bagi pemerintah, utamanya institusi penyusun


kebijakan dan instrumen pengendali pemanfaatan lingkungan seperti Instansi yang
terkait selaku pengelola sumberdaya alam, adalah bagaimana memanfaatkan
kekayaan alam yang ada sebaik-baiknya untuk kemakmuran ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat, pada saat yang sama menjaga keseimbangan daya
dukung lingkungan agar proses pemanfaatan tersebut dapat senantiasa
berlangsung

dan

berkelanjutan.

mengimplementasikan

Dengan

kaidah-kaidah

kata

Pembangunan

lain,
yang

bagaimana
Berkelanjutan

(Sustainable Development) ke dalam kebijakan dan aktifitas pembangunan. Untuk


mencapai hal tersebut salah satu masalah mendasar yang penting untuk dilakukan
adalah memahami secara umum kondisi sumberdaya alam yang ada serta
dinamika masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya tersebut.
Seiring dengan meningkatnya usaha penangkapan dalam memenuhi
kebutuhan pangan baik bagi masyarakat di sekitarnya maupun terhadap permintaan
pasar antar pulau dalam negeri dan luar negeri. Ghofar (2004), mengatakan bahwa
perkembangan

eksploitasi sumberdaya

alam

laut dan

pesisir dewasa ini

(penangkapan, budidaya, dan ekstraksi bahan-bahan untuk keperluan medis) telah


menjadi suatu bidang kegiatan ekonomi yang dikendalikan oleh pasar (market driven)
terutama jenis-jenis yang bernilai ekonomis tinggi, sehingga mendorong eksploitasi
sumberdaya alam laut dan pesisir dalam skala dan intensitas yang cukup besar.
Sebagai akibatnya pemanfaatannya cenderung melebihi daya dukung sumberdaya
(over eksploitation) dan bersifat destruktif. Kondisi ini semakin diperparah oleh
peningkatan jumlah armada penangkapan, penggunaan alat dan teknik serta teknologi
penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Disamping itu berbagai aktivitas manusia
baik di wilayah pesisir dan laut serta kegiatan di daratan (upland) yang juga dapat
menimbulkan dampak pencemaran lingkungan. Kondisi ini menimbulkan tekanan
lingkungan bahkan

cenderung merusak sumberdaya alam pesisir dan laut yang

cenderung meningkat intensitasnya dari waktu kewaktu, sehingga pada akhirnya


menimbulkan menurunnya daya dukung sumberdaya dan dalam jangka panjang akan
mengakibatkan suatu tragedi bersama (open tragedy).

Laut Indonensia memiliki kekayaan sumber daya berlimpah. Namun


pengelolaan dan regulasi yang mengatur penggunaan kekayaan laut tersebut
dinilai masih kurang memberi keuntungan bagi negara. Sehingga perlu upayaupaya dari berbagai pihak untuk bekerjasama dalam pemanfaatan kekayaan laut
secara optimal dan terarah.
Pembangunan kelautan dan perikanan dimasa datang diharapkan menjadi
sektor andalan dalam menopang perekonomian negara dalam pemberdayaan
masyarakat yang bergerak di sektor kelautan dan perikanan. Menyadari hal
tersebut, maka peran ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dan perikanan
menjadi sangat penting dan perlu dioptimalkan serta diarahkan agar mampu
melaksanakan riset yang bersifat strategis yang dapat diaplikasikan oleh
masyarakat luas terutama oleh para pelaku industri dan masyarakat pesisir pada
umumnya.
Tujuan Kegunaan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari
pemberdayaan masyarakat pesisir dalam pemanfaatan potensi sumber daya pesisir
dan laut serta program dan pola pemanfaatannya.
Sedangkan kegunaan dari makalah ini adalah sebagai bahan referensi yang
dapat digunakan

dalam memberdayakan masyarakat pesisir tentang arti

pentingnya potensi smber daya pesisir dan laut, serta dapat menambah khasanah
ilmu pengetahuan khususnya bagi mahasiswa Fakultas Perikanan.

MASYARAKAT PESISIR
Pengertian Masyarakat Pesisir
Masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang
luas sifatnya. Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu
terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan.
Menurut (Harold j. Laski 1947 dalam Dahuri 2001) Masyarakat adalah
suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai
terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama. Jadi dapat di simpulkan bahwa
Masyarakat

adalah

sekelompok

manusia

yang

saling

berinteraksi

dan

berhubungan serta memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang kuat untuk mencapai
tujuan dalam hidupnya.
Menurut (Soegiarto, 1976; Dalam Dahuri et al, 2001), Pesisir merupakan
daerah pertemuan antara darat dan laut. ke arah darat meliputi bagian daratan,
baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti
pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut meliputi
bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat
seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan
manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Masyarakat pesisir adalah sekumpulan masyarakat yang hidup bersamasama mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas
yang terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumber daya pesisir.
Secara teoritis, masyarakat pesisir didefinisikan sebagai masyarakat yang
tinggal dan melakukan aktifitas sosial ekonomi yang terkait dengan sumberdaya
wilayah pesisir dan lautan. Dengan demikian, secara sempit masyarakat pesisir
memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan potensi dan kondisi
sumberdaya pesisir masyarakat yang tinggal secara spasial di wilayah pesisir
tanpa mempertimbangkan apakah mereka memiliki aktifitas sosial ekonomi yang
terkait dengan potensi dan kondisi sumberdaya pesisir dan lautan.

Karakteristik Masyarakat Pesisir


Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik masyarakat
agraris atau petani. Dari segi penghasilan, petani mempunyai pendapatan yang
dapat dikontrol karena pola panen yang terkontrol sehingga hasil pangan atau
ternak yang mereka miliki dapat ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan
yang mereka inginkan. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata
pencahariannya didominasi dengan nelayan. Nelayan bergelut dengan laut untuk
mendapatkan penghasilan, maka pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa
dikontrol. Nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan
beresiko tinggi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan
memiliki karakter yang tegas, keras, dan terbuka (Satria, 2002).
Selain itu, karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari beberapa aspek
diantaranya, aspek pengetahuan, kepercayaan, dan posisi nelayan sosial. Dilihat
dari aspek pengetahuan, masyarakat pesisir mendapat pengetahuan dari warisan
nenek moyangnya misalnya mereka untuk melihat kalender dan penunjuk arah
maka mereka menggunakan rasi bintang. Sementara, dilihat dari aspek
kepercayaan, masyarakat pesisir masih menganggap bahwa laut memilki
kekuatan magic sehingga mereka masih sering melakukan adat pesta laut atau
sedekah laut. Namun, dewasa ini sudah ada dari sebagian penduduk yang tidak
percaya terhadap adat-adat seperti pesta laut tersebut. Mereka hanya melakukan
ritual tersebut hanya untuk formalitas semata. Begitu juga dengan posisi nelayan
sosial, pada umumnya, nelayan bergolong kasta rendah.
Menurut Fahmi (2010), Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan
sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan
sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada
pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan pemilik,
buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan,
pengolah ikan, supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang nonperikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-

lain. Yang harus diketahui bahwa setiap komunitas memiliki karakteristik


kebudayaan yang berbeda-beda.
Tipologi masyarakat pesisir menurut Muluk (1995) dapat diklasifikasikan
berdasarkan mata pencaharian utamanya atau berdasarkan sifat mereka bermukim.
Dengan kombinasi kedua kriteria itu, masyarakat pesisir dapat dibagi ke
dalam

Masyarakat nelayan,
Masyarakat petani dan nelayan
Masyarakat petani,
Masyarakat pengumpul atau penjarah (collector, forager),
Masyarakat perkotaan dan perindustrian, dan
Masyarakat tidak menetap/sementara atau pengembara (migratory).

POTENSI SUMBER DAYA PESISIR DAN LAUT

Potensi Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan


Dahuri R. (2001) mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada definisi
wilayah pesisir yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum di
Dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan
lautan. Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu wilayah pesisir
memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu: batas yang sejajar garis pantai
(longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore).
Potensi pembangunan yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan secara
garis besar terdiri dari tiga kelompok: (1) sumber daya dapat pulih (renewable
resources), (2) sumber daya yang tak dapat pulih (non renewable resources), dan
(3) jasa-jasa lingkungan (environmental services). Pertanyaannya adalah sudah
seberapa besar pemanfaatan yang telah digali dari ketiga kelombok sumber daya
tersebut. Padahal jika pemanfaatannya dapat dioptimalkan, akan sangat
menguntungkan untuk peningkatan produk domestik bruto dan kesejahteraan
rakyat.
1. Sumber Daya Dapat Pulih
Hutan Mangrove
Hutan mangrove merupakan ekosisitem utama pendukung kehidupan yang
penting di wilayah pesisir dan lautan. Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai
penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan berbagai
macam biota, penahan abrasi, amukan angin taufan, dan tsunami, penyerap
limbah, pencegah intrusi air laut, dan lain sebagainya, hutan mangrove juga
mempunyai fungsi ekonomis penting seperti, penyedia kayu, daun-daunan sebagai
bahan baku obat-obatan, dan lain-lain. bahkan Saenger et al.(1993) Dalam Dahuri
(2001) telah mengidentifikasi lebih dari 70 macam kegunaan pohon mangrove
bagi kepentingan umat manusia, baik produk langsung seperti: bahan bakar, bahan
bangunan, alat tangkap ikan, pupuk pertanian, bahan baku kertas, makanan, obat-

obatan, minuman, dan tekstil maupun produk tidak langsung seperti: tempat
rekreasi, dan bahan makanan.
Segenap kegunaan ini telah dimanfaatkan secara tradisional oleh sebagian
besar masyarakat pesisir di tanah air. Potensi lain dari hutan mangrove yang
belum dikembangkan secara optimal adalah sebagai kawasan wisata alam
(ecotourism). Padahal di negara lain, seperti Malaysia dan Australia, kegiatan
wisata alam di kawasan hutan mangrove sudah berkembang lam dan
menguntungkan.
Indonesia memiliki lebih banyak hutan mangrove dibandingkan dengan
negara lain. Hutan-hutan ini dapat menempati bantaran sungai-sungai besar
hingga 100 km masuk kepedalaman seperti yang dijumpai disepanjang Sungai
Mahakam dan Sungai Musi. Luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 1982
tercatat seluas 5.209.543,16 ha, kemudian pada tahun 1993 luas tersebut menurun
menjadi sekitar 496.185 ha.
Ekosisitem hutan mangrove di Indonesia mempunyai keanekaragaman
hayati tertinggi di dunia dengan jumlah total spesies sebanyak 89, terdiri dari 35
spesies tanaman, 9 spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit, dan 2 spesies
parasitik (Nontji, 1987). Tingginya keanekaragaman hayati hutan mangrove ini
merupakan aset yang sangat berharga tidak saja dilihat dari fungsi ekologinya
tetapi dari fungsi ekonomi.
Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas organik yang sangat
tinggi dibandingkan ekosisitem lainnya, demikian pula keanekaragaman
hayatinya. Disamping mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi
biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan, tempat bermain, dan asuhan
berbagai biota; terumbu karang juga menghasilkan berbagai produk yang
mempunyai nilai ekonomi penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang
karang, alga, teripang, dan kerang mutiara.
Di beberapa tempat di Indonesia, karang batu (hard coral) di pergunakan
untuk berbagai kepentingan seperti konstruksi jalan dan bangunan, bahan baku

industri, dan perhiasan. Dalam industri pembuatan kapur, karang batu kadangkadang ditambang sangat intensif seperti terjadi di pantai-pantai Bali hingga
mengancam keamanan pantai.
Dari segi estetika, terumbu karang yang masih utuh menampilkan
pemandangan yang sangat indah, jarang ditandingi oleh ekosistem lainnya.
Taman-taman laut yang terdapat di pulau atau pantai yang mempunyai terumbu
karang menjadi terkenal seperti Taman Laut Bunaken di Sulawei Utara.
Keindahan yang dimiliki oleh terumbu karang merupakan salah satu potensi
wisata bahari yang belum optimal dimanfaatkan.
Sementara itu; potensi lestari sumber daya ikan pada terumbu karang
diperairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 80.802 ton/km2/tahun (direktoral
Jendral Perikanan, 1991), dengan luas total terumbu karang kurang lebih 50.000
km2 (Moosa et al., 1996,. Dalam Dahuri 2001).
Indonesia memiliki kurang lebih 50.000 km2 ekosisitem terumu karang yang
terbesar diseluruh wilayah pesisir dan lautan di seluruh Nusantara. Terumbu
karang di Indonesia sangat beragam jenisnya, dimana semua tipe terumbu karang
yang mencakup terumbu karang tepi (fringing reefs), terumbu karang penghalang
(barrier reefs), terumbu karang cincin (atoll) dan terumbu tambalan (patch reefs)
terdapat diperairan Indonesia.
Terumbu karang tepi terdapat di sepanjang pantai dan mencapai keda;laman
tidak lebih dari 40 meter; terumbu karang penghalang berada jauh dari pantai
(mencapai puluhan atau ratusan kilometer) dipisahkan oleh laguna yang dalam
sekitar 40-75 meter, di Indonesia diantaranya terbesar di Selat Makassar dan
sepanjang tepian Paparan Sunda; sedangkan terumbu karang cincin tersebar di
Kepulauan Seribu dan Taka Bone Rate.
Padang Lamun
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya
menyesuaikan diri untuk hidup di bawah permukaan air laut. Lamun hidup di
perairan dangkal agak berpasir, Bering juga dijumpai di ekosistem terumbu
karang. Sama halnya dengan rerumputan di daratan, lamun juga membentuk

padang yang luas dan lebat di dasar laut yang masih terjangkau oleh cahaya
matahari dengan tingkat energi cahaya yang memadai bagi pertumbuhannya.
Lamun tumbuh tegak, berdaun tipis yang bentuknya mirip pita dan berakar jalar.
Tunas-tunas tumbuh dari rhizoma, yaitu bagian rumput yang tumbuh menjalar di
bawah permukaan dasar laut. Berlawanan dengan tumbuhan lain yang hidup
terendam dalam laut (misalnya ganggang/alga laut), Lamun berbuah dan
menghasilkan biji. Pertumbuhan padang lamun memerlukan sirkulasi air yang
baik. Air yang mengalir inilah yng menghantarkan zat-zat nutrien dan oksigen
serta mengangkut hasil metabolisme lamun seperti karbon dioksida (CO 2) keluar
daerah padang lamun. Secara umum semua tipe dasar laut dapat ditumbuhi lamun,
namun padang lamun yang luasnya hanya dijumpai pada dasar laut lumpur
berpasir lunak dan tebal. Padang lamun sering terdapat diperaiaran laut antara
hutan rawa mangrove dan terumbu karang.
Di wilayah perairan Indonesia terdapat sedikitnya 7 marga dan 13 species
Lamun, antara lain marga Hydrocharitaceae dengan speciesnya Enhalusacoroides.
Penyebaran ekosistem padang Lamun di Indonesia mencakup perairan Jawa,
Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Di
dunia, secara geografis Lamun ini tampaknya memang berpusat di 2 wilayah yaitu
di Indo Pasifik Barat dan Karibia.
Sumber Daya Perikanan Laut
Pengertian sumber daya perikanan laut sebagai sumber daya yang dapat
pulih sering disalahtafsirkan sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi secara
terus menerus tanpa batas. Potensi sumber daya perikanan laut di Indonesia terdiri
dari sumber daya perikanan pelagis besar (451.830 ton/tahun) dan pelagis kecil
(2.423.000 ton/tahun), sumber daya perikanan demersal (3.163.630 ton/tahun),
udang (100.720 ton/tahun), ikan karang (80.082 ton/tahun), dan cumi-cumi
(328.960 ton/tahun). Dengan demikian, secara nasional potensi lestari sumber
daya perikanan laut sebesar 6,7 juta ton/tahun dengan tingkat pemanfaatan
mencapai 48% (Ditjen Perikanan, 1995 dalam Dahuri 2001).

10

2. Sumber Daya Tidak Dapat Pulih


Sumber daya tidak dapat pulih (non-renewable resources) meliputi seluruh
mineral dan geologi. Mineral terdiri dari tiga kelas yaitu A (mineral strategis:
minyak, gas, dan batu bara), kelas B (mineral vital: emas, timah, nikel, bauksit,
bijih besi, dan cromite); dan kelas C (mineral industri: termaksud bahan bangunan
dan galian seperti granit, kapur, tanah liat, kaolin dan pasir).
Berbagai potensi sumber daya mineral wilayah pesisir dan lautan di
Indonesia merupakan penghasil devisa utama dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Beberapa kegiatan eksploitasi minyak bumi di daerah lepas pantai telah mulai
berproduksi seperti Laut Jawa dan Selat Makassar.
Berdasarkan pada keadaan geologi regional, logam mulia (emas) sekunder
diperkirakan terdapat didaerah Selat Sunda (sekitar perairan Lampung), peairan
Kalimantan Selatan (sekitar daerah muara Sungai Barito kearah Pulau Laut), dan
di daerah perairan Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Sedangkan mangan noduler
(manganese nodule) diduga terdapat di Laut Banda dan laut dalam lainnya.
Sumber daya geologi sektor pertambangan lainnya yang telah dieksploitasi
adalah bahan baku industri dan bahan bangunan, antara lain kaolin, pasir
kuarsa,pasir bangunan, kerikil, dan batu pondasi. Pemanfaatan sumber daya
geologi sektor pertambangan, geoteknik, dan kelautan merupakan bukti berperan
aktifnya sumber daya wilayah pesisir dalam kegiatan pembangunan, yang
diusahakan berkesinambungan dan berwawasan lingkungan.
3. Jasa-jasa Lingkungan
Wilayah pesisir dan lautan Indonesia juga memiliki berbagai macam jasajasa lingkungan (environmental services) yang sangat potensial bagi kepentinga
pembangunan dan bahkan kelangsungan hidup manusia. Dalam hal ini, yang
dimaksud dengan jasa-jasa lingkungan meliputi fungsi kawasan pesisir dan lautan
sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, media transportasi dan komunikasi,
sumber energi, sarana pendidikan dan penelitian, pertahanan keamanan,
penampungan limbah, pengatur iklim (climate regulator), kawasan perlindungan

11

(konservasi dan preserfasi), dan sisitem penunjang kehidupan serta fungsi


ekologis lainnya.
Wilayah pesisir dan lautan ini juga memiliki potensi sumber daya
energiyang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal sebagai
mana diketahui, wilayah pesisir dan lautan sudah mulai dijajaki sebagai salah satu
sumber energi alternatif karena resiko polusi terhadap lingkungannya kecil.
Sumber energi yang dapat dimanfaatkan tersebut antara lain: arus pasang surut,
gelombang, perbedaan salinitas, angin, dan pemanfaatan perbedaan suhu air laut
di lapisan permukaan dan lapisan dalam perairan yang dikenal dengan OTEC
(Ocean Thermal Energy Conversion) (Dahuri R. 2001)

POLA PEMANFAATAN SUMBERDAYA

Pengeloaan Sumber Daya Yang Berkelanjutan


Sebagaimana

diketahui

bahwa

sumberdaya

perikanan

adalah sumberdaya yang dapat pulih (renewable) yang berarti


bahwa apabila tidak terganggu, maka secara alami kehidupan

12

akan terjaga keseimbangannya, dan akan sia-sia bila tidak


dimanfaatkan. Apabila pemanfaatannya tidak seimbang dengan
daya pulihnya maka sumberdaya tersebut dapat terdegradasi
dan terancam kelestariannya, yang sering dikenal sebagai
tangkap berlebih (overfishing). Untuk menghindari kemungkinan
terjadinya kondisi tangkap lebih maka perlu adanya pengelolaan
sumberdaya perikanan.
Prinsip dasar yang mendasari ide pengelolaan adalah
bahwa pemanfaatan sumberdaya harus didasarkan pada sistem
dan kapasitas daya dukung (carrying capacity) alamiahnya
(Saputra, 2009). Besar kecilnya hasil tangkapan tergantung pada
jumlah stok alami yang tersedia di perairan dan kemampuan
alamiah dari habitat untuk menghasilkan biomass.

Pendekatan Pengelolaan Perikanan


Salah

satu

pertanyaan

mendasar

dalam

pengelolaan

sumberdaya ikan adalah bagaimana memanfaatkan sumberdaya


tersebut sehingga menghasilkan manfaat ekonomi yang tinggi
bagi pengguna, namun kelestariannya tetap terjaga. Secara
implisit pertanyaan tersebut mengandung dua makna, yaitu
makna ekonomi dan makna konservasi atau biologi. Dengan
demikian, pemanfaatan optimal sumberdaya ikan mau tidak mau
harus mengakomodasi kedua disiplin ilmu tersebut. Oleh karena
itu, pendekatan bio-ekonomi dalam pengelolaan sumberdaya
ikan merupakan hal yang harus dipahami oleh setiap pelaku
yang terlibat dalam pengelolaan sumberdaya ikan.

Pengaturan Musim Penangkapan Ikan (MPI)

13

Manajemen

sumberdaya

perikanan

melalui

pendekatan

penutupan musim penangkapan, memerlukan dukungan semua


lapisan masyarakat khususnya masyarakat nelayan sebagai
pemanfaat sumberdaya untuk memiliki rasa kepedulian dan
disiplin yang tinggi dalam pelaksanaan peraturan perundangundanganyang ada. Sebagaimana dikatakan Nikijuluw (2002),
bahwa penutupan musim penangkapan merupakan pendekatan
manajemen yang umumnya dilakukan di negara yang sistem
penegakan hukumnya sudah maju.
Beddington dan Retting (1983) mengatakan, paling tidak
ada dua bentuk penutupan musim penangkapan ikan. Pertama,
menutup musim penangkapan ikan pada waktu tertentu untuk
memungkinkan ikan dapat memijah dan berkembang. Contoh
dari bentuk ini adalah penangkapan ikan teri (anchovy) di Peru
yang biasanya menutup kegiatan penangkapan pada awal tahun
ketika juvenil dan ikan berukuran kecil sangat banyak di perairan.
Kedua,

penutupan

kegiatan

penangkapan

ikan

karena

sumberdaya ikan telah mengalami degradasi, dan ikan yang


ditangkap semakin sedikit.
Penutupan Daerah Penangkapan Ikan
Pendekatan penutupan daerah penangkapan ikan berarti
menghentikan kegiatan penangkapan ikan disuatu perairan pada
musim tertentu atau secara permanen. Pendekatan ini dilakukan
seiring dengan penutupan musim penangkapan. Penutupan
daerah penangkapan dalam jangka panjang biasanya dilakukan
dengan

usaha-usaha

konservasi

jenis

ikan

tertentu

yang

memang dalam status terancam kepunahan. Hal ini juga


dilakukan secara permanen atau sementara untuk menutup

14

kegiatan penangkapan ikan di daerah tempat ikan berpijah


(spawning ground) atau daerah asuhan (nursery ground).

Selektifitas Alat Tangkap


Pendekatan

manajemen

sumberdaya

perikanan

ini

dilaksanakan melalui penggunaan alat penangkapan ikan yang


tinggi selektifitasnya. Beberapa contoh pendekatan ini adalah
pembatasan minimum terhadap ukuran mata jaring (mesh size),
pembatasan minimum ukuran mata pancing, serta pembatasan
ukuran mulut perangkap pada kondisi terbuka.
Masalah utama yang dihadapi dalam penerapan kebijakan
ini

adalah

tingginya

biaya

pelaksanaan,

pengawasan,

pemantauanatau pengendalian. Disamping itu juga diperlukan


adanya personil perikanan yang memiliki kemampuan teknis
dalam bertindak cepat di lapangan untuk menentukan jenis dan
skala alat tangkap yang digunakan.
Pelarangan Alat Tangkap
Pelarangan jenis alat tangkap tertentu dapat dilakukan
secara permanen atau sementara waktu, yang dilakukan untuk
melindungi sumberdaya ikan dari penggunaan alat tangkap yang
merusak atau destruktif, atau pertimbangan lain yang bertujuan
untukmelindungi nelayan kecil/tradisional.
Cara-cara penangkapan ikan yang dewasa ini sudah lazim
dilarang adalah penangkapan ikan dengan menggunakan racun
dan bahan peledak.

15

Kuota Penangkapan Ikan


Kuota

penangkapan

ikan

adalah

salah

satu

cara

pendekatan dalam manajemen sumberdaya perikanan, yaitu


pola manajemen rasionalisasi yang dicapai melalui pemberian
hak

kepada

industri

atau

perusahaan

perikanan

untuk

menangkapikan sejumlah tertentu dalam suatu perairan.


Ada tiga cara dalam mengimplementasikan pendekatan TAC,
yaitu :
1) Penentuan TAC secara keseluruhan pada skala nasional
atas jenis ikan atau perairan tertentu.
2)

Membagi TAC kepada setiap nelayan, kapal, atau armada

dengan keberpihakan pemerintah kepada nelayan atau kapal


tertentu

atas

dasar

perbedaan/kesenjangan

keadilan,

pendapatan

antar

sehingga
nelayandapat

diperkecil.
3)

Membatasi atau mengurangi efisiensi penangkapan ikan

sedemikian rupa sehingga TAC tidak terlampaui. Cara ini


secara ekonomis tidak efisien serta tidak akurat karena
kesulitan dalam pengaturan dan memprediksi jumlah ikan
yang tertangkap setiap kapal, akibatnya seringkali TAC
terlampaui.
Pengendalian Upaya Penangkapan Ikan
Pengendalian

upaya

penangkapan

adalah

salah

satu

pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan yang bertujuan


untuk meningkatkan hasil tangkapan, kinerja ekonomi industri
perikanan

melalui

pengurangan

upaya

atau

kapasitas

penangkapan ikan yang berlebihan. Pendekatan lain yang dapat

16

dilakukan dalam mengendalikan upaya penangkapan ikan adalah


penentuan jumlah unit penangkapan ikan yang diperbolehkan
melalui pengaturan perijinan. (Saputra, 2009)

Tujuan Pengelolaan Perikanan


Tujuan pengelolaan seperti dikemukakan diatas adalah

pemanfaatan dalam jangka panjang atas sumberdya perikanan


secara berkelanjutan. Untuk mewujudkan tujuan ini diperlukan
pendekatan proaktif dan berusaha secara aktif menemukan cara
untuk mengoptimalkan keuntungan ekonomi dan social dari
sumberdaya yang tersedia.

Pertimbangan Pengelolaan Perikanan


Seandainya sumberdaya hayati laut bukan tidak terbatas

dan bukan tidak terusakkan, maka kita dapat saja membiarkan


manusia

untuk

pemanfaatan

memanfaatkannya

itu

dengan

cara

dan

menyalahgunakan

semena-mena.Produksi

dan

potensi perikanan dibatasi oleh sejumlah faktor yang dapat


dikelompokkan

ke

dalam

biologi,

ekologi

dan

lingkungan,

teknologi, sosial, kultural dan ekonomi.


Pertimbangan Biologi
Sebagai

populasi

atau

komunitas

yang

hidup,

sumberdaya hayati laut mampu membarui dirinya melalui proses

17

pertumbuhan

dalam

ukuran

(panjang)

dan

massa

(bobot)

individu selain pertambahan terhadap populasi atau komunitas


melalui reproduksi (yang biasa disebut dalam dunia perikanan
sebagai rekrutmen).
Dalam populasi yang tidak dieksploitasi, mortalitas total
mencakup mortalitas alami yang terdiri dari proses-proses
seperti pemangsaan, penyakit, dan kematian melalui perubahanperubahan drastisdari lingkungan dan lain-lain. Dalam populasi
yang dieksploitasi, mortalitas total terdiri dari mortalitas alami
plus mortalitas penangkapan. Tugas utama dari pengelolaan
perikanan adalah menjamin bahwa mortalitas penangkapan tidak
melampaui kemampuan populasi untuk bertahan dan tidak
mengancam atau merusak kelestarian dan produktivitas dari
populasi ikan yang sedang dikelola.
Pertimbangan Ekologi dan Lingkungan
Kelimpahan

dan

dinamika

populasi

ikan

mempunyai

peranan penting dalam perikanan tetapi populasi akuatik tidak


hidup dalam isolasi. Mereka menjadi salah satu komponen
ekosistem yang rumit, terdiri dari komponen biologi yang
mungkin memangsa, dimangsa, atau berkompetisi dengan stok
atau populasi tertentu. Komponen fisik ekosistem, seperti air itu
sendiri, substrat, masukan air tawar atau nutrient atau proses
non-biologi lainnya mungkin juga menjadi sangat penting dalam
pertimbangan ini.
Lingkungan dari ikan jarang bersifat statis dan kondisi
lingkungan akuatik dapat berubah secara nyata menurut waktu,
seperti

pasang

surut,

suhu

air,

dan

lain-lain.

Perubahan

lingkungan seperti itu mempengaruhi dinamika dari populasi

18

ikan, pertumbuhan, rekrutmen, mortalitas alami atau kombinasi


dari itu semua.
Pertimbangan Sosial, Budaya, dan Kelembagaan
Populasi manusia dan masyarakat bersifat dinamis seperi
halnya populasi biologi lainnya. Selain itu perubahan sosial
berlangsungterus

menerus

dalam

skala

yang

berbeda,

dipengaruhi oleh perubahan dalam cuaca, lapangan pekerjaan,


kondisi politik, penawaran dan permintaan produk perikanan, dan
faktor-faktor

lainnya.

Perubahan

seperti

itu

mempengaruhi

efektifitas dari strategi pengelolaan dan oleh sebab itu harus


dipertimbangkan dan diakomodasi.
Kendala social utama dalam pengelolaan perikanan adalah
bahwa

masyarakat

dan

perilakunya

tidak

mudah

ditransformasikan. Keluarga dan komunitas nelayan mungkin


tidak akan bersedia pindah ke pekerjaan lainnya, atau ketempat
jauh dari rumah mereka yang bila terjadi surplus kapasitas dalam
perikanan, meskipun kualitas hidup mereka akan mengalami
penurunan sebagai akibat sumberdaya yang menipis atau rusak.
Disamping itu, ketersediaan lapangan pekerjaan bagi mereka
juga tidak tersedia secara memadai.
Pertimbangan Ekonomi
Kekuatan pasar sangat berpengaruh terhadap pengelolaan
perikanan.

Selain

itu

pengelolaan

perikanan

masih

sering

dihadapkan pada persoalan perikanan akses terbuka (open


acces),

dimana

setiap

orang

diperbolehkan

masuk

ke

dalamusahaperikanan. Dibawah keadaan seperti itu orang akan


terus

masuk

ke

perikanan

sampai

keuntungan

dariusahaperikanan sedemikian rendah, sehingga tidak lagi

19

menarik bagi pelaku usaha baru (new entrance). Akibat yang


tidak dapat dielakkan dari usaha perikanan akses terbuka adalah
hilangnya keuntungan sehingga mengarah kepada tidak efisiensi
secara ekonomi, dan jika tidak dapat ditegakkan tindakan
pengelolaan yang efektif, akan terjadi over exploitation. (Nur
Bambang, A., Suharso, Asriyanto. 2004).
Pengelolaan Secara Terpadu
Perencanaan

terpadu

dimaksudkan

untuk

mengkoordinasikan

dan

mengarahkan berbagai aktifitas dari dua atau lebih sector dalam perencanaan
pembangunan dalam kaitannya dengan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan.
Perencanaan terpadu biasanya dimaksudkan sebagai suatu upaya secara
terprogram

untuk

mencapai

tujuan

yang

dapat

mengharmoniskan

dan

mengoptimalkan antara kepentingan untuk memelihara lingkungan, keterlibatan


masyarakat, dan pembangunan ekonomi. Seringkali, keterpaduan juga di artikan
sebagai koordinasi antara tahapan pembangunan di wilayah pesisir dan lautan
yang meliputi : pengumpulan dan analisis data, perencanaan, implementasi, dan
kegiatan konstruksi (Sorensen dan Mc Creary, 1990 dalam Dahuri 2001).
Dalam konteks perencanaan pembangunan sumber daya alam yang lebih
luas, Hanson (1988) dalam dahuri (2008) mendefinisikan perencanaan sumber
daya secara terpadu sebagai suatu upaya secara bertaha dan terprogram untuk
mencapai tingkat pemanfaatan system sumber daya alam secara optimal dengan
memperhatikan semua dampak lintas sektoral yang mungkin timbul. Dalam hal
ini yang dimaksud dengan pemafaatan optimal adalah suatu cara pemanfaatan
sumber daya pesisir dan lautan yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomis
secara berkesinambungan untuk kemakmuran masyarakat,
Sementara itu, Lang (1986) dalam dahuri (2001) menyarankan bahwa
keterpaduan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam, seperti
pesisir dan lautan, hendaknya dilakukan pada tiga tataran (level): teknis,
konsultatif, dan koordinasi. Pada tataran teknis, segenap pertimbangan teknis,

20

ekonomis, social, dan lingkungan hendaknya secara seimbang atau proposional


dimasukkan kedalam setiap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumber
daya pesisir dan lautan.
Pada tataran konsultatif, segenap aspirasi dan kebutuhan para pihak yang
terlibat (stakeholders) atau terkena dampak pembangunan sumber daya pesisir dan
lautanhendaknya diperhatikan sejak tahap perencanaan sampai pelaksanaan.
Tataran koordinasi mensyaratkan diperlukannya kerjasama yang harmonis
antarsemua pihak yang terkait dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan,
baik itu pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum.
Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu adalah suatu pendekatan
pengelolaan wilayah pesisir yang melibatkan dua atau lebih ekosisitem,sumber
daya, dan kegiatan pemanfaatan (pembangunan) secara terpadu (intergrated) guna
mencapai pembangunan wilayah peisir secara berkelanjutan. Dalam konteks ini,
keterpaduan (integration) mengandung tiga dimensi: sektoral, bidang ilmu, dan
keterkaitan ekologis.
Keterpaduan secara sektoral berarti bahwa perlu ada koordinasi tugas,
wewenang dan tanggung jawab antar sector atau instansi pemerintah pada tingkat
pemerintah tertentu (horizontal integration); dan antar tingkat pemerintah dari
mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, sampai tingkat pusat (vertical
integration).
Keterpaduan dari sudut pandang keilmuan mensyaratkan bahwa didalam
pengelolaan wilayah pesisir hendaknya dilaksanakan atas dasar pendekatan
interdisiplin ilmu (interdisciplinary approaches), yang melibatkan bidang ilmu:
ekonomi, ekologi, tehnik, sosiologi, hokum, dan lainnya yang relevan. Ini wajar
karena wilayah pesisir pada dasarnya terdiri dari sisitem social yang terjalin secara
kompleks dan dinamis.
Seperti diuraikan diatas, bahwa wilayah pesisir pada dasarnya tersusun
dari berbagai macam ekositem (mangrove, terumbu karang, estuaria, pantai
berpasir, dan lainnya) yang satu sama lain saling terkait, tidak berdiri sendiri.
Perubahan atau kerusakan yang menimpa satu ekosistem akan menimpa pula
ekosistim lainnya. Selain itu, wilayah peisir juga dipengaruhi oleh berbagai

21

macam kegiatan manusia maupun prosese-proses alamiah yang terdapat di lahan


atas (upland areas) maupun laut lepas (oceans). Kondisi empiris semacam ini
mensyaratkan bahwa Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan secara terpadu
(PWPLT) harus memperhatikan segenap keterkaitan ekologis (ecological
linkages) tersebut, yang dapat mempengaruhi suatu wilayah pesisir.
Mengingat bahwa suatu pengelolaan (management) terdiri dari tiga tahap
utama: perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi; maka jiwa/nuansa
keterpaduan tersebut perlu diterapkan sejak tahap perencanaan sampai evaluasi.

22

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR


Pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu pada
kata

empowerment

yaitu

sebagai

upaya

untuk

mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat.


Jadi,

pendekatan

pengembangan

pemberdayaan

masyarakat

pesisir

masyarakat
dan

nelayan

dalam
adalah

penekanan pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri


(selffreliant

communities),

sebagai

suatu

sistem

yang

mengorganisir diri mereka sendiri. Pendekatan pemberdayaan


masyarakat

yang

demikian

tentunya

diharapkan

dapat

memberikan peranan kepada individu bukan sebagai objek,


tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup mereka.
(Moebyanto 1996,. Dalam Wahyono, 2001)
Saat ini banyak program pemberdayaan yang menklaim
sebagai program yang berdasar kepada keinginan dan kebutuhan
masyarakat (bottom up), tapi ironisnya masyarakat tetap saja
tidak merasa memiliki akan program-program tersebut sehingga
tidak aneh banyak program yang hanya seumur masa proyek
dan berakhir tanpa dampak berarti bagi kehidupan masyarakat.
Pertanyaan kemudian muncul apakah konsep pemberdayaan
yang salah atau pemberdayaan dijadikan alat untuk mencapai
tujuan tertentu dari segolongan orang?
Memberdayakan masyarakat pesisir berarti menciptakan
peluang

bagi

masyarakat

pesisir

untuk

menentukan

kebutuhannya, merencanakan dan melaksanakan kegiatannya,


yang

akhirnya

menciptakan

kemandirian

kehidupan masyarakat itu sendiri.


23

permanen

dalam

Memberdayakan
memberdayakan
karena

masyarakat

pesisir

kelompok-kelompok

didalam habitat pesisir

tidaklah

masyarakat

terdapat banyak

seperti
lainnya,

kelompok

kehidupan masayarakat diantaranya:


a) Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat
pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap
ikan dilaut.

Kelompok ini dibagi lagi dalam dua kelompok

besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap


tradisional. Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis
kapal/peralatan

yang

digunakan

dan

jangkauan

wilayah

tangkapannya.
b) Masyarakat

nelayan

pengumpul/bakul,

adalah

kelompok

masyarakt pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan


dan pelelangan ikan. Mereka akan mengumpulkan ikan-ikan
hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari sisa
ikan

yang

tidak

terlelang

yang

selanjutnya

dijual

ke

masyarakat sekitarnya atau dibawah ke pasar-pasar lokal.


Umumnya yang menjadi pengumpul ini adalah kelompok
masyarakat pesisir perempuan.
c) Masayarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat
nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan
masyarakat pesisir. Ciri dari mereka dapat terlihat dari
kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka,
mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai
untuk usaha produktif. Umumnya mereka bekerja sebagai
buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal juragan
dengan penghasilan yang minim.
d) Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah,
dan kelompok masyarakat nelayan buruh.

24

Setiap kelompok masyarakat tersebut haruslah mendapat


penanganan dan perlakuan khusus sesuai dengan kelompok,
usaha,

dan

aktivitas

ekonomi

mereka.

Pemberdayaan

masyarakat tangkap minsalnya, mereka membutukan sarana


penangkapan dan kepastian wilayah tangkap. Berbeda dengan
kelompok masyarakat tambak, yang mereka butuhkan adalah
modal kerja dan modal investasi, begitu juga untuk kelompok
masyarakat pengolah dan buruh.

Kebutuhan setiap kelompok

yang berbeda tersebut, menunjukkan keanekaragaman pola


pemberdayaan yang akan diterapkan untuk setiap kelompok
tersebut.
Dengan

demikian

program

pemberdayaan

untuk

masyarakat pesisir haruslah dirancang dengan sedemikian rupa


dengan tidak menyamaratakan antara satu kelompk dengan
kelompok lainnya apalagi antara satu daerah dengan daerah
pesisir lainnya.

Pemberdayaan masyarakat pesisir haruslah

bersifat bottom up dan open menu, namun yang terpenting


adalah

pemberdayaan

menyentuh kelompok
mungkin

harus

itu

sendiri

masyarakat
dijawab

yang

harus

langsung

sasaran. Persoalan
adalah:

yang

Bagaimana

memberdayakannya?
Banyak sudah program pemberdayaan yang dilaksanakan
pemerintah,

salah

satunya

masyarakat pesisir (PEMP).

adalah

pemberdayaan

ekonomi

Pada intinya program ini dilakukan

melalui tiga pendekatan, yaitu:


1.

Kelembagaan.

Bahwa untuk memperkuat posisi tawar masyarakat, mereka


haruslah terhimpun dalam suatu kelembagaan yang kokoh,
sehingga segala aspirasi dan tuntutan mereka dapat disalurkan
secara baik. Kelembagaan ini juga dapat menjadi penghubung
25

(intermediate)
kelembagaan
menjamin

antara
ini

pemerintah

juga

terjadinya

dapat

dan

menjadi

perguliran

swasta.
suatu

dana

Selain

forum

produktif

itu

untuk

diantara

kelompok lainnya.
2.

Pendampingan

Keberadaan

pendamping

memang

dirasakan

sangat

dibutuhkan dalam setiap program pemberdayaan. Masyarakat


belum dapat berjalan sendiri mungkin karena kekurangtauan,
tingkat

penguasaan

ilmu

pengetahuan

yang rendah,

atau

mungkin masih kuatnya tingkat ketergantungan mereka karena


belum pulihnya rasa percaya diri mereka akibat paradigmaparadigma pembangunan masa lalu.
peran

pendamping

masyarakat

sangatlah

menjalankan

Terlepas dari itu semua,

vital

aktivitas

terutama

usahanya.

mendapingi
Namun

yang

terpenting dari pendampingan ini adalah menempatkan orang


yang tepat pada kelompok yang tepat pula.
3.

Dana Usaha Produktif Bergulir

Pada

program

PEMP

juga

disediakan

dana

untuk

mengembangkan usaha-usaha produktif yang menjadi pilihan


dari masyarakat itu sendiri. Setelah kelompok pemanfaat dana
tersebut berhasil, mereka harus menyisihkan keuntungannya
untuk

digulirkan

kepada

kelompok

masyarakat

lain

yang

membutuhkannya. Pengaturan pergulirannya akan disepakati di


dalam forum atau lembaga yang dibentuk oleh masyarakat
sendiri dengan fasilitasi pemerintah setempat dan tenaga
pendamping (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2001).
PENUTUP
Kesimpulan

26

Berdasarkan uraian makalah seminar pustaka, maka dapat penulis


simpulkan sebagai berikut:
1. Wilayah pesisir dan lautan merupakan sumber kekayaan yang melimpah
yang sampai saat ini belum dikelola dengan baik oleh masyarakat dan
pemerintah
2. Pemberdayaan masyarakat pesisir dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu,
pendekatan secara kelembagaan, pendampingan (penyuluhan), serta
dengan adanya Dana Usaha yang Bergulir.
3. Pemberdayaan masyarakat perlu keterlibatan semua pihak pemerintah,
pengusaha dan masyarakat.
Saran
Dari beberapa gambaran di atas penulis dapat menyarankan bahwa dalam
memanfaatkan sumber daya pesisir dan laut pemerintah harus membangun
kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mau dan mampu mengorganisasikan
dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber
daya

lainnya

melalui

peningkatan

mutu

pendidikan,

program-program

pemberdayaan dan mampu menjaga kelestarian lingkungan sebagai dasar untuk


meningkatkan tingkat pengetahuan dan cakrawala berfikir dalam menjadi pesaing
yang kreatif serta berakhlak.

27