Anda di halaman 1dari 4

1.

Paraplegia merupakan paralysis permanen dari


tubuh yang disebabkan oleh luka atau penyakit
yang dipengaruhi oleh medulla spinalis.
Paraplegia adalah kondisi di mana bagian
bawah tubuh (ekstermitas bawah) mengalami
kelumpuhan atau paralysis yang disebabkan
karena lesi transversal pada medulla spinalis.
2. Osteolitik adalah peningkatan jumlah sel
osteoklast (sel destruksi tulang)
3. Gibbus adalah lengkungan ke depan punggung
atas (bungkuk)
Gibbus yaitu punggung yang membungkuk dan
membentuk sudut
Spondilitis tuberkulosa
Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis tulang
belakang adalah peradangan granulomatosa yg
bersifat kronisdestruktif oleh Mycobacterium
tuberculosis. Dikenal pula dengan nama Pottds
disease of the spine atau tuberculousvertebral
osteomyelitis. Spondilitis ini paling sering
ditemukan pada vertebraT8 L3dan paling jarang
pada vertebra C1-2. Spondilitis tuberkulosis
biasanya mengenai korpus vertebra, tetapi jarang
menyerang arkus vertebrae.
Epidemiologi
Diperkirakan 1-2% dari total kasus tuberculosis
dapat berkembang menjadi spondilitis tuberculosis.
Tuberkulosis pada tulang dan jaringan ikat adalah
kira kira 10% dari kasus tuberculosis
ekstrapulmonalis. Frekuensi kasus spondilitis
tuberculosis
berhubungan
dengan
factor
sosioekonomi dan juga riwayat kontak dengan
orang yang terinfeksi. Rasio perbandingan
spondilitis tuberculosis pada pria dan wanita
adalah 1,5-2 : 1. Pada Negara berkembang,
spondilitis tuberculosis adalah lebih banyak
ditemukan pada dewasa dan anak anak, terutama
pada usia 2-10 tahun.
Etiologi
Infeksi sekunder TB dari bagian lain tubuh :
90 % => Micobacterium Tuberculosa tipik (2/3
tipe human, 1/3 tipe bovin)
5-10% => Micobacterium Tuberculosa atipik

Perjalan Penyakit
Perjalanan penyakit spondilitis tuberkulosa terdiri
dari lima stadium yaitu:

1. Stadium implantasi Setelah bakteri berada


dalam tulang, apabila daya tahan tubuh
penderita
menurun,
bakteri
akan
berduplikasimembentuk
koloni
yang
berlangsung selama 6-8 minggu. Keadaan ini
umumnya terjadi pada daerah paradiskus
danpada anak-anak pada daerah sentral
vertebra.
2. Stadium destruksi awalSelanjutnya terjadi
destruksi korpus vertebra dan penyempitan
yang ringan pada diskus. Proses ini
berlangsungselama 3-6 minggu.
3. Stadium destruksi lanjutPada stadium ini terjadi
destruksi yang massif, kolaps vertebra, dan
terbentuk
massa
kaseosa
serta
pus
yangberbentuk cold abses, yang tejadi 2-3 bulan
setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya
dapat terbentuksekuestrum dan kerusakan
diskus intervertebralis. Pada saat ini terbentuk
tulang baji terutama di depan (wedginganterior)
akibat kerusakan korpus vertebra sehingga
menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus.
4. Stadium gangguan neurologis. Gangguan
neurologis tidak berkaitan dengan beratnya
kifosis yang terjadi tetapi ditentukan oleh
tekanan abses kekanalis spinalis. Vertebra
torakalis mempunyai kanalis spinalis yang kecil
sehingga gangguan neurologis lebih mudah
terjadi di daerah ini. Apabila terjadi gangguan
neurologis, perlu dicatat derajat kerusakan
paraplegia yaitu:
Derajat I. Kelemahan pada anggota gerak
bawah setelah beraktivitas atau berjalan
jauh. Pada tahap ini belum terjadigangguan
saraf sensoris.
Derajat II Kelemahan pada anggota gerak
bawah tetapi penderita masih dapat
melakukan pekerjaannya.
Derajat III. Kelemahan pada anggota gerak
bawah yang membatasi gerak atau aktivitas
penderita disertai dengan hipoestesia atau
anestesia.
Derajat IV. Gangguan saraf sensoris dan
motoris disertai dengan gangguan defekasi
dan miksi. TBC paraplegia atau Pott
paraplegia dapat terjadi secara dini atau
lambat tergantung dari keadaan penyakitnya.
Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia
terjadi karena tekanan ekstradural dari abses
paravertebral atau kerusakan langsung
sumsum tulang belakang oleh adanya
granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit
yang tidakaktif atau sembuh terjadi karena

tekanan pada jembatan tulang kanalis


spinalis atau pembentukan jaringan fibrosis
yang progresif dari jaringan granulasi
tuberkulosa. TBC paraplegia terjadi secara
perlahan dan dapat terjadidestruksi tulang
disertai dengan angulasi dan gangguan
vaskuler vertebra.
5. Stadium deformitas residua, Stadium ini terjadi
kurang lebih 3-5 tahun setelah stadium
implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat
permanen karenakerusakan vertebra yang
massif di depan (Savant, 2007)
Klasifikasi
Berdasarkan lokasi infeksi awal pada korpus
vertebra dikenal tiga bentuk spondilitis:
1. Peridiskal / paradiskal
Infeksi pada daerah yang bersebelahan dengan
diskus (di area metafise di bawah ligamentum
longitudinal anterior /area subkondral). Banyak
ditemukan pada orang dewasa. Dapat
menimbulkan kompresi, iskemia dan nekrosis
diskus.Terbanyak ditemukan di regio lumbal.
2. Sentral
Infeksi terjadi pada bagian sentral korpus
vertebra, terisolasi sehingga disalahartikan
sebagai tumor. Sering terjadipada anak-anak.
Keadaan ini sering menimbulkan kolaps
vertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe
lain sehinggamenghasilkan deformitas spinal
yang lebih hebat. Dapat terjadi kompresi yang
bersifat spontan atau akibat trauma.Terbanyak
di temukan di regio torakal.
3. Anterior
Infeksi yang terjadi karena perjalanan
perkontinuitatum dari vertebra di atas dan
dibawahnya. Gambaranradiologisnya mencakup
adanya scalloped karena erosi di bagian anterior
dari sejumlah vertebra (berbentuk baji).Pola ini
diduga disebabkan karena adanya pulsasi aortik
yang ditransmisikan melalui abses prevertebral
dibawahligamentum longitudinal anterior atau
karena adanya perubahan lokal dari suplai darah
vertebral.
4. Bentuk atipikal
Dikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas
dan
fokus
primernya
tidak
dapat
diidentifikasikan. Termasukdidalamnya adalah
tuberkulosa
spinal
dengan
keterlibatan
lengkung syaraf saja dan granuloma yang
terjadi di canalisspinalis tanpa keterlibatan
tulang (tuberkuloma), lesi di pedikel, lamina,
prosesus transversus dan spinosus, sertalesi
artikuler yang berada di sendi intervertebral

posterior.
Insidensi
tuberkulosa
yang
melibatkan elemen posteriortidak diketahui
tetapi diperkirakan berkisar antara 2%-10%.
PATOFISIOLOGI
Kuman yg bangun kembali dari paru-paru akan
menyebar mengikuti aliran darah ke pembuluh
tulang belakang dekat dengan ginjal. Kuman
berkembang biak umumnya di tempat aliran darah
yg menyebabkan kuman berkumpul banyak (ujung
pembuluh). Terutama di tulang belakang, di sekitar
tulang thorakal (dada) dan lumbal (pinggang)
kuman bersarang. Kemudian kuman tersebut akan
menggerogoti badan tulang belakang, membentuk
kantung nanah (abses) yg bisa menyebar sepanjang
otot pinggang sampai bisa mencapai daerah lipat
paha.
Dapat pula memacu terjadinya deformitas. Gejala
awalnya adalah perkaratan umumnya disebut
pengapuran tulang belakang, sendi-sendi bahu,
lutut, panggul. Tulang rawan ini akan terkikis
menipis hingga tak lagi berfungsi. Persendian
terasa kaku dan nyeri, kerusakan pada tulang
rawan sendi, pelapis ujung tulang yg berfungsi
sebagai bantalan dan peredam kejut bila dua ruang
tulang berbenturan saat sendi digerakkan.
Terbentuknya abses dan badan tulang belakang yg
hancur, bisa menyebabkan tulang belakang jadi
kolaps dan miring kearah depan. Kedua hal ini bisa
menyebabkan penekanan syaraf-syarf sekitar tulang
belakang yg mengurus tungkai bawah, sehingga
gejalanya bisa kesemutan, baal-baal, bahkan bisa
sampai kelumpuhan.Badan tulang belakang yg
kolaps dan miring ke depan menyebabkan tulang
belakang dapat diraba dan menonjol dibelakang
dan nyeri bila tertekan, sering sebut sebagai gibbus
Bahaya yg terberat adalah kelumpuhan tungkai
bawah, karena penekanan batang syaraf di tulang
belakang yg dapat disertai lumpuhnya syaraf yg
mengurus organ yg lain, seperti saluran kencing
dan anus (saluran pembuangan).

Manifestasi Klinis
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang
hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada
umumnya, yaitu: (Mansjoer, 2000)
1. Terdapat gejala klasik tuberkulosis berupa
penurunan berat badan, keringat malam, demam
subfebris, kakeksia. Gejala ini sering tidak
menonjol.

2. Nyeri vertebra/lokal pada lokasi infeksi sering


dijumpai dan menghilang bila istirahat.
3. Gejala dan tanda kompresi radiks atau medula
spinalis terjadi pada 20% kasus (akibat abses
dingin).
4. Onset penyakit dapat gradual atau mendadak
(akibat kolaps vertebra dan kifosis).
5. Pada awalnya terjadi nyeri radikuler yang
mengelilingi dada atau perut, kemudian diikuti
paraparesis yang lambat laun semakin
memberat, spastisitas, klonus, hiperrefleksia
dan refleks Babinsky bilateral. Dapat ditemukan
deformitas dan nyeri ketok tulang vertebra.
6. Penekanan mulai dari bagian anterior sehingga
gejala klinis yang muncul terutama gangguan
motorik.
7. Gangguan menelan dan pernapasan akibat
adanya abses retrofaring.
Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan pada penyakit spondilitis tuberkulosa
antara lain: (Rasjad, 2007)
1. Pemeriksaan laboratorium
Peningkatan laju endap darah dan mungkin
disertai leukositosis
Uji Mantoux positif
Dilakukan dengan penyuntikan intrakutan
dan multiple puncture method dengan 4-6
jarum berdasarkan cara Heaf dan Tine.
Sampai sekarang cara Mantoux masih
dianggap sebagai cara yang paling dapat
dipertanggungjawabkan karena jumlah zat
yang dimasukkan ke intrakutan dapat
diketahui banyaknya. Reaksi lokal yang
terdapat pada uji mantoux terdiri atas: (Staf
IKA UI, 2007)
1) Eritema karena vasodilatasi primer
2) Edema karena reaksi antara antigen yang
disuntikan dengan antibodi
3) Indurasi yang dibentuk oleh sel
mononukleus
Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin
ditemukan Mycobacterium
Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe
regional
Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan
tuberkel
2. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan foto toraks untuk melihat
adanya tuberkulosis paru
Foto
polos
vertebra,
ditemukan
osteoporosis, osteolitik, dan destruksi
korpus vertebra, disertai penyempitan diskus

intervertebralis yang berada diantara korpus


tersebut dan mungkin dapat ditemukan
adanya massa abses paravertebral
Pada foto AP, abses paravertebral di daerah
servikal berbentuk sarung burung (birds
nets) di daerah torakal berbentuk bulbus dan
pada daerah lumbal abses terlihat berbentuk
fusiform
Pada stadium lanjut terjadi destruksi
vertebra yang hebat sehingga timbul kifosis
Pemeriksaan foto dengan zat kontras
Pemeriksaan mielografi dilakukan bila
terdapat gejala-gejala penekanan sumsum
tulang
Pemeriksaan CT scan atau CT dengan
mielografi
Pemeriksaan MRI

Penatalaksanaan
Pada
prinsipnya
pengobatan
spondilitis
tuberkulosis harus dilakukan sesegera mungkin
untuk menghentikan progresivitas penyakit serta
mencegah paraplegia. Pengobatan terdiri atas:
(Rasjad, 2007)
1. Terapi konservatif, berupa:
Tirah baring (bed rest)
Memperbaiki keadaan umum penderita
Pemasangan brace pada penderita, baik yang
dioperasi ataupun yang tidak dioperasi
Pemberian obat antituberkulosa
Obat-obatan yang diberikan terdiri atas:
Isonikotinik hidrasit (INH) dengan dosis
oral 5 mg/kg berat badan per hari dengan
dosis maksimal 300 mg. Dosis oral pada
anak-anak 10 mg/kg berat badan.
Asam para amino salisilat. Dosis oral 812 mg/kg berat badan
Etambutol. Dosis per oral 15-25 mg/kg
berat badan per hari
Rifampisin. Dosis oral 10 mg/kg berat
badan diberikan pada anak-anak. Pada
orang dewasa 300-400 mg per hari.
Streptomisin, pada saat ini tidak
digunakan lagi.
Kriteria penghentian pengobatan yaitu
apabila:
1.Keadaan umum penderita bertambah
baik
2.Laju endap darah menurun dan
menetap
3.Gejala-gejala klinis berupa nyeri dan
spasme berkurang
4. Gambaran radiologik ditemukan
adanya union pada vertebra

2. Terapi operatif
Indikasi operasi yaitu:
Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi
perbaikan paraplegia atau malah semakin
berat. Biasanya tiga minggu sebelum
tindakan
operasi
dilakukan,
setiap
spondilitis tuberkulosa diberikan obat
tuberkulostatik.
Adanya abses yang besar sehingga
diperlukan drainase abses secara terbuka
dan sekaligus debrideman serta bone graft.
Pada pemeriksaan radiologis baik dengan
foto polos, mielografi ataupun pemeriksaan
CT dan MRI ditemukan adanya penekanan
langsung pada medulla spinalis.
Penanganan yang dapat dilakukan pada
paraplegia, yaitu:
Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata
Laminektomi
Kosto-transveresektomi
Operasi radikal
Osteotomi pada tulang baji secara tertutup
dari belakang
Operasi kifosis
Operasi kifosis dilakukan bila terjadi
deformitas yang hebat. Kifosis mempunyai
tendensi untuk bertambah berat terutama
pada anak-anak. Tindakan operatif dapat
berupa fusi posterior atau melalui operasi
radikal

Prognosis
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit
menahun dan apabila dapat sembuh secara spontan
akan memberikan cacat pembengkokan pada tulang
punggung. Dengan jalan radikal operatif, penyakit
ini dapat sembuh dalam waktu singkat sekitar 6
bulan (Tachdjian, 2005). Prognosis dari spondilitis
tuberkulosa bergantung dari cepatnya dilakukan
terapi dan ada tidaknya komplikasi neurologis.
Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang
tepat, prognosisnya baik walaupun tanpa operasi.
Penyakit dapat kambuh apabila pengobatan tidak
teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat
karena terjadi resistensi terhadap pengobatan
(Lindsay, 2008).
Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh spondilitis
tuberkulosa yaitu:

Pott's paraplegia
Ruptur abses paravertebra
Cedera corda spinalis (spinal cord injury).
Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural
sekunder karena pustuberkulosa, sekuestra
tulang, sekuester dari diskus intervertebralis
Perubahan bentuk tulang belakang (skoliosis,
kifosis, dll)