Anda di halaman 1dari 20

LABORATORIUM FARMASI

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
PRAKTIKUM TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL
FORMULA SMALL VOLUME PARENTERAL
MORFIN SULFAT VIAL INJECTION

OLEH :
KELOMPOK I (SATU)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

DIRSAN
EGA RINA
MUH. SAIPUL ASRAT
NUR AFIDAH ANAS
SATRIANA NASRUN
WD.MARFIAH SAFITRI
WD. NUR BADRIYAH

(F1F1 12 094)
(F1F1 12 096)
(F1F1 12 110)
(F1F1 12 114)
(F1F1 12 121)
(F1F1 12 130)
(F1F1 12 131)

KELAS C 2012
SUPERVISOR : NIRWATI RUSLI, S.Si., M.Sc., Apt.
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
FORMULA STERIL
MORPHINE SULFATE VIAL INJECTION
1.

FORMULA ASLI

2.

R/ Morfin Sulfat
MASTER FORMULA
1.
Nama produk
2.
Jumlah Produk
3.
Tanggal Formulasi
4.
No registrasi
5.
No batch

: MORFONE
: 100 vial
: 22 Maret 2015
: DKL 1500100143A1
: D 5430011

Dibuat oleh : PT. UHO Farma


No.
Kode
Nama Bahan
1.
2.
3.
4.
6.
8.

3.

Bahan
01MS
02NS
03AS
04ASK
06NMB
08WFI

Morfin Sulfat
Natrium sitrat
Asam sitrat
Asam askorbat
Cresol
Air injeksi

Disetujui oleh : Supervisor


Fungsi
Perdosis

Batch

Zat aktif
Buffer
Buffer,Chelating
Antioksidan
Pengawet
Solven

500 mg
0,383%
0,12%
0,1%
0,15%
500 ml

5 mg
0,383 %
0,12%
0,1%
0,15 %
5 ml

ALASAN PEMILIHAN DAN DEFENISI BENTUK SEDIAAN


- Obat injeksi adalah sediaan cair yang terdiri dari zat obat dan atau larutan.
Obat untuk injeksi adalah padatan kering dengan penambahan pembawa
yang cocok (biasanya pembawa dimana obat stabil dan larut) memberikan
larutan yang sesuai dengan persyaratan untuk suntikan (Swarbrick, 2007 :

4.

1006).
ALASAN PENAMBAHAN
a. Morfin
1) Penggolongan Obat Secara Farmakologi
Morfin merupakan obat golongan analgesic opioid (FKUI, 2012).
2) Efek Farmakologi & Mekanisme Kerja
Efek morfin pada susunan saraf pusat dan usus terutama
ditimbulkan karena morfin bekerja sebagai agonis pada reseptor.
Selain itu morfin jga mempunyai afinitas yang lebih lemah terhadap
reseptor dan (FKUI, 2012).

3) Farmakokinetika
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat
diabsorpsi melalui kulit luka. Morfin juga dapat menembus mukosa.
Dengan kedua cara pemberian ini absorpsi kecil sekali. Morfin dapat
diabsorpsi usus tetapi efek analgetik setelah pemberian oral jauh
lebih rendah daripada efek analgetik yang timbul setelah pemberian
parenteral dengan dosis yang sama. Mula kerja semua alkaloid
opioid setelah suntikan i.v sama cepat, sedangkan nsetelah suntikan
subkutan, absorpsi berbagai alkaloid opioid berbeda-beda. Setelah
pemberian dosis tunggal, sebagian morfin mengalami konjugasi
dengan asam glukoronat di hepar, sebagian dikeluarkan dalam
bentuk bebas dan 10% tidak diketahui

nasibnya. Morfin dapat

melintasi sawar uri dan mempengaruhi janin. Ekskresi morfin


terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas dikeluarkan
dalam tinja dan keringat. Morfin yang terkonjungasi ditemukan
dalam empedu. Sebagian yang sangat kecil dikeluarkan bersama
cairan lambung (FKUI, 2012)
4) Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk
merekan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati
dengan analgesic non-opioid. Lebih hebat nyerinya makin besar
dosis yang diperlukan. Untunglah pada nyeri hebat depresi napas
oleh morfin jarang terjadi, sebab nyeri merupakan antidotum
fisiologik bagi efek depresi napas morfin. Morfin sering diperlukan
untuk nyeri yang menyertai: infark miokard, neoplasma kolik renal

atau empedu, oklusio akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau


koroner, perikarditis akut, pleuritis pneumotoraks spontan, dan nyeri
akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pascabedah.
Sebagai medikasi praanestetik, morfin sebaiknya hanya diberikan
pada pasien yang sedang menderita nyeri. Bila tidak ada nyeri dan
obat praanestik hanya dimaksudkan untuk menimbulkan ketengan
atau tidur, lebih baik digunakan pentobarbital atau diazepam (FKUI,
2012).
5) KI
Bayi dan anak kecil tidak lebih peka terhadap alkaloid
opium, asal saja dosis diperhitungkan berdasarkan berat badan.
Tetapi orang lanjut usia dan pasien penyakit berat agaknya lebih
peka terhadap efek morfin. Morfin dan opioid lain juga harus
digunakan

dengan

hati

hati

bila

daya

cabangan

napas

( respiratory/reserve) telah berkurang misalnya pada emfisem,


kifoskoliosis, korpulmonale kronik dan obesitas yang ekstrim.
Meskipun pasien dengan keadaan seperti in tampaknya dapat
bernafas normal, sebenarnya mereka telah menggunakan mekanisme
kompensasi, misalnya berupa frekuensi napas yang telah tinggi. Pada
pasien tersebut kadar CO2

plasma tinngi secara kronik dan

kepekaan pusat napas terhadap CO2 telah berkurang. Pembebanan


lebih lanjut dalam bentuk depresi oleh morfin dapat membahayakan
(FKUI, 2012).
6) Dosis Terapi
3 sampai 4 dd 5 sampai 10 mg (Tjay & Rahardja, 2007).
7) Interaksi Obat

Efek depresi SSP beberapa opioid dapat diperhebat dan


diperpanjang oleh fenotiazin, penghambat monoamin oksidasi dan
antidepresi trisiklik. Mekanisme supraaditf ini tidak diketahui
dengan tepat, mungkin menyangkut perubahan dalam kecepatan
biotranformasi opioid. Beberapa fenotiazin mengurangi jumlah
opioid yang diperlukan untuk menimbulkan tingkat

analgesia

tertentu. Tetapi efek sedasi dan depresi nafas akibat morfin akan
diperberat oleh fenotiazin tertentu, dan selain itu ada efek hipotensi
fenotiazin. Beberapa derivate fenotiazin meningkatkan efek sedasi,
tetapi dalam saat yang sama bersifat antianalgetik dan meningkatkan
jumlah opioid yang diperlukan untuk menghilangkan nyeri. Dosis
kecil amfetamin meningkatkan efek analgesic dan euphoria morfin
dan dapat mengurangi efek sedasinya. Selain itu didapatkan
b.

senergisme analgesic antara poioid dan obat obat sejenis aspirin.


Zat tambahan
1) Keuntungan
a. Buffer sitrat
Asam sitrat juga dapat digunakan sebagai agen sequestering
dan antioksidan sinergis (Rowe, 2009 : 182).
b. Asam askorbat
Asam askorbat digunakan sebagai antioksidan dalam
formulasi farmasi cair pada konsentrasi 0,01-0,1% b / v. Asam
askorbat telah digunakan untuk mengatur pH larutan untuk
injeksi, dan sebagai tambahan untuk cairan oral. Hal ini juga
banyak digunakan dalam makanan sebagai antioksidan (Rowe,
2009).
c. Cresol

Kresol digunakan pada konsentrasi 0,15-0,3% sebagai


antimikroba pengawet di intramuskular, intradermal, dan
subkutan formulasi farmasi suntik. Hal ini juga digunakan
sebagai pengawet dalam beberapa formulasi topikal dan sebagai
disinfektan (Rowe, 2009).
d. Air untuk injeksi
Air ini disuling, bebas pirogen dan disterilkan. Meskipun
jenis air ini digunakan terutama ketika peracikan persiapan air
untuk penggunaan parenteral, diproduksi secara komersial Air
untuk Injeksi BP merupakan nyaman, meskipun mahal, sumber
air yang dikenal berkualitas tinggi, yang dapat digunakan dalam
situasi di mana sumber-sumber air lainnya yang dipertanyakan
(Marriot, 2010 : 77)
2) Kerugian
a. Buffer sitrat
Asam sitrat dapat meningkatkan penyerapan alumunium di
usus. Bila berlebihan dan sering menggunakan asam sitrat

dapat menimbulkan erosi gigi (ROWE 2009).


Natrium sitrat meskipun umumnya dianggap tidak beracun
namun

konsumsi

berlebihan

dapat

menyebabkan

ketidaknyamanan pencernaan atau diare (ROWE, 2009).


b. Asam askorbat
Asam askorbat tidak stabil dalam larutan, khususnya
larutan alkali, mudah menjalani oksidasi pada paparan udara. Itu
Proses oksidasi dipercepat oleh cahaya dan panas dan dikatalisis
oleh jejak tembaga dan besi. Asam askorbat maksimum solusi

pameran stabilitas di sekitar pH 5,4. Solusi dapat disterilkan


dengan filtrasi (Rowe, 2009).
c. Cresol
Kresol telah dilaporkan tidak sesuai dengan klorpromazin.
aktivitas antimikroba berkurang dengan adanya nonionic
surfaktan (Rowe, 2009).
d. Air untuk injeksi
Air ini harus disterilkan dan didestilasi terlebih dahulu
(Marriot, 2010 : 77).
3) Konsentrasi
a. Buffer sitrat
Asam sitrat digunakan sebagai buffer dengan konsentrasi
0,1 sampai 2,0 % dasn natrium sitrat digunakan sebagai buffer
dengan konsentrasi 0,3 sampai 2,0 % (Rowe, 2009).
b. Asam askorbat
Asam askorbat digunakan sebagai antioksidan dalam
formulasi farmasi cair pada konsentrasi 0,01-0,1% b / v (Rowe,
2009).
c. Cresol
Kresol digunakan pada konsentrasi 0,15-0,3% sebagai
antimikroba

pengawet

di

intramuskular, intradermal,

subkutan formulasi farmasi suntik (Rowe, 2009).

dan

5.

URAIAN EKSIPIEN
1) Nama latin
: Morphine Sulfate
Nama lain
: Morfin Sulfat;
RM / BM
: (C17H19NO3)2,H2SO4,5H2O / 758.8.
Pemerian
: Sebuah putih atau hampir putih, bubuk Kristal halus, kubus
kristal, atau bubuk kristal putih. Tidak berbau dan ketika
Kelarutan

terkena udara secara bertahap kehilangan air hidrasi..


: Larut dalam air; sangat sedikit larut dalam alkohol; praktis
tidak larut dalam toluena. Lindungi dari cahaya. larut

Penyimpanan

dalam kloroform dan dalam eter.


:Simpan dalam wadah kedap udara pada suhu sampai
40sebagaimana diizinkan oleh produsen. Lindungi dari

cahaya.
Inkompatibilitas: ketidakcocokan data untuk morfin telah dipelajari secara
ekstensif dan mungkin tergantung pada banyak faktor
seperti formulasi yang digunakan, dan ketertiban dan
rasio pencampuran; Namun, kebanyakan studi biasanya
hanya jangka pendek dan mengandung beberapa rincian
tentang pencampuran obat yang sama dalam berbagai
situasi yang berbeda. Garam morfin yang sensitif
terhadap perubahan pH dan morfin dapat dikenakan
diendapkan dari larutan dalam lingkungan alkalin.
2) Nama Zat Aktif

: Acidum citrium

Nama Kimia

: Asam sitrat

Sinonim

: Asam sitrat

Gambar Struktur Molekul

Rumus Molekul

: C6H8O7

BM, Kelarutan

: 192,12

pH

: 2,2

Titik Lebur

: 100oC

Inkompatibilitas

: Alkalium,Alkali, Sulfida dan Asetat

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

3) Nama Zat Aktif

: Natrii klorida

Nama Kimia

: Natrium Klorida

Sinonim

: Sodium Klorida

Gambar Struktur Molekul

: Na - Cl

Rumus Molekul

: NaCl

BM, Kelarutan

: 58,44

pH

: 4,5 -7,0

Titik Lebur

: 804oC

Inkompatibilitas

: Larutan NaCl menyebabkan korosif


pada besi

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

4) Nama Zat Aktif

: Natrii Citras

Nama Kimia

: Natrii Citras

Sinonim

: Natrium sitrat

Gambar Struktur Molekul

Rumus Molekul

: NaC6H8O7

BM, Kelarutan

: 294,10

pH

: 6,4 - 7,5

Titik Lebur

: 150oC

Inkompatibilitas

: Garam alkaloid akan mengendap dari


larutan hidroalkohol atau cairannya.

Penyimpanan
5) Nama Zat Aktif

: Dalam wadah tertutup rapat


: Aqua Destillta

Nama Kimia

: Aqua destilata

Sinonim

: Air suling

Gambar Struktur Molekul

:HO-H

Rumus Molekul

: H2O

BM, Kelarutan

: 18,02

pH

:7

Titik Lebur

: 00C

Inkompatibilitas

: Air dapat bereaksi dengan obat atau


tambahan lain yang dapat menyebabkan
hidrolisis pada temperatur tertentu. Air juga
dapat bereaksi dengan logam alkali.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

6) Nama latin : Cresol


Nama lain : Asam Cresylic; cresyl; hydroxytoluene; tricresol
RM/BM : C7H8O / 108.14
Rumus struktur :

Pemerian : Tidak berwarna, kekuningan pucat cairan kuning kecoklatan,


atau pink berwarna, dengan bau yang khas mirip dengan fenol tetapi lebih
seperti tar. Sebuah larutan memiliki rasa pedas
Penyimpanan: hindari dari paparan udara dan cahaya.
7) Nama latin : Ascorbic acid
Nama latin : Asam sitrat
Nama lain : Acidum ascorbicum, C-97; Asam cevitamic; 2,3didehydro-L-treo hexano-1,4-lakton
RM/BM : C6H8O6 / 176.13
Rumus struktur :

Pemerian : Kristal putih berwarna kuning, non higroskopis, tidak


berbau, kristal bubuk atau tidak berwarna dengan, rasa asam
yang tajam. Secara bertahap gelap dalam warna setelah
terpapar sinar.
PH : Larutan asam askorbat menunjukkan stabilitas maksimum
pada sekitar pH 5,4.
Kestabilan: Dalam bentuk bubuk, asam askorbat relatif stabil di
udara. Dengan tidak adanya oksigen dan zat pengoksidasi lain
juga panas stabil. Asam askorbat tidak stabil dalam larutan,
larutan alkali khususnya, mudah menjalani oksidasi pada
paparan udara. Proses oksidasi dipercepat oleh cahaya dan
panas dan dikatalisis oleh jejak tembaga dan besi.
Penyimpanan: Bahan massal harus disimpan dalam wadah yang
tertutup logam non, terlindung dari cahaya, di tempat yang
sejuk dan kering.

6. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN


a. Perhitungan per dosis (bahan)
Morfin
: 5 mg
Asam sitrat 0,12%
: 0,12/100 x 5 mg = 0,006 mg
Natrium sitrat 0,383%
: 0,383/100 x 5 mg = 0,01915 mg
Asam askorbat 0,1%
: 0,1/100 x 5 mg = 0,005 mg
Cresol 0,15%
: 0,15/100 x 5 mg = 0,0075 mg
b. Pehitungan per batch (100 vial)
Morfin
: 5 mg x 100 vial = 500 mg
Asam sitrat 0,12%
: 0,006 mg x 100 vial = 0,6 mg
Natrium sitrat 0,383%
: 0,01915 mg x 100 vial = 1,915 mg
Asam askorbat 0,1%
: 0,005 mg x 100 vial = 0,5 mg
Cresol 0,15%
: 0,0075 mg x 100 vial = 0,75 mg
c. Perhitungan tonisitas
E morfin = 0,14% / 1%
Larutan acuan = 0,9% NaCl
x 5 mL = 0,045 gram NaCl
E = 0,14 gram NaCl/ gram obat

x 5 mL = 0,007 gram NaCl

0,045 gram 0,007 gram = 0,0038 gram NaCl

d. Perhitungan Bufer
pH = pka + log
5 = 4,7 + log
5 4,7 = log
0,3 = log
= 1,995
pH = -log H+
5 = -log H+

= 1 x 10

-5

pka = -log ka
4,7 = -log ka
Ka = 1,99 x 10

-5

= 2,3 C
0,01 = 2,3 C
0,01 = 2,3 C
0,01 = 2,3 C
0,01 = 2,3 C. 0,2225
0,01 = 0,51175. C
C=
= 0,0195
C = (A) + (G)
0,0195 = A + 1,995 asam
0,0195 = 2,995 asam
Asam
= 6,5 x 10

-3

C = (A) + (G)
0,0195 = 6,5 x 10 -3 + garam
Garam = 0,0195 6,5 x 10 -3
Garam = 0,013
mol =
as =
6,5 x 10

-3

gr = 6,5 x 10 -3 .192,2
= 1,2493 gr/l

garam =
0,013 =
gr = 0,013 x 294,1
= 3,823 gr/l
asam =
garam =
asam =
garam =

7.

TABEL STERILISASI (ALAT & BAHAN)


No.

1.

Alat/Bahan
Ampul

Metode Sterilisasi
Autoklaf 121oC selama 15

2.

Gelas ukur

menit
408
Autoklaf 121oC selama 15 Jenkins, 1957 :

Gelas kimia

menit
408
o
Autoklaf 121 C selama 15 Jenkins, 1957 :

Corong kaca

menit
408
o
Autoklaf 121 C selama 15 Jenkins, 1957 :

5.

Pipet tetes tanpa

menit
408
o
Autoklaf 121 C selama 15 Jenkins, 1957 :

6.

karet
Karet pipit tetes

menit
Air mendidih

408
Jenkins, 1957 :

6.

Batang pengaduk

Autoklaf 121oC selama 15

413
Jenkins, 1957 :

7.

Spatula

menit
Dipanaskan

menggunakan

408
Jenkins, 1957 :

8.

Cawan porselen

Bunsen
Oven 180oC selama 30 menit

407
Patil, 2009 : 257

3.
4.

Pustaka
Jenkins, 1957 :

9.
10.

8.

Pinset logam
Air untuk injeksi

Patil, 2009 : 257


Jenkins, 1957 :

menit

408

Cara Membebas-alkalikan
menggunakan larutan HCl

Pustaka
Jenkins, 1957 :

panas 0,1 N ke dalam alat,

203

TABEL BEBAS ALKALI


No.

1.

Oven 180oC selama 30 menit


Autoklaf 121oC selama 15

Alat/Bahan
Ampul

kemudian dibiarkan selama


30 menit dan kemudian
dibilas. Setelah dibilas
dengan air destilasi yang
segar, pembersihan barang
pecah belah harus dibiarkan
mongering dalam keadaan
2.

Gelas ukur

terbalik.
menggunakan larutan HCl

Jenkins, 1957 :

panas 0,1 N ke dalam alat,

203

kemudian dibiarkan selama


30 menit dan kemudian
dibilas. Setelah dibilas
dengan air destilasi yang
segar, pembersihan barang
pecah belah harus dibiarkan
mongering dalam keadaan
terbalik.

3.

Gelas kimia

menggunakan larutan HCl

Jenkins, 1957 :

panas 0,1 N ke dalam alat,

203

kemudian dibiarkan selama


30 menit dan kemudian
dibilas. Setelah dibilas
dengan air destilasi yang
segar, pembersihan barang
pecah belah harus dibiarkan
mongering dalam keadaan
4.

Corong kaca

terbalik.
menggunakan larutan HCl

Jenkins, 1957 :

panas 0,1 N ke dalam alat,

203

kemudian dibiarkan selama


30 menit dan kemudian
dibilas. Setelah dibilas
dengan air destilasi yang
segar, pembersihan barang
pecah belah harus dibiarkan
mongering dalam keadaan
terbalik.
9.

TABEL BEBAS SULFUR


No.

1.

Alat/Bahan
Karet

Cara Membebas-sulfurkan
Untuk menghilangkan

Pustaka
Jenkins, 1957 :

kelebihan sulfur dan senyawa

204

tidak murni lainnya, penutup


karet harus direbus dengan
menggunakan 2% sodim
karbonat yang mengandung
0,1% Natrium lauril sulfat
selama 15 menit. Kemudian
2.

Spatula plastik

dibilas dengan air destilasi.


Direbus dengan

Jenkins, 1957 :

menggunakan 2% sodim

204

karbonat yang mengandung


0,1% Natrium lauril sulfat
selama 15 menit. Kemudian
dibilas dengan air destilasi.
10. PROSEDUR PEMBUATAN SEDIAAN
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b. Disterilkan masing-masing alat sesuai dengan cara sterilisasinya.
c. Alat-alat gelas dibebasalkalikan dengan cara direndam dalam HCl
panas 0,1 N selama 30 menit kemudian dibilas dengan air suling.
d. Alat-alat dari karet dibebassulfurkan dengan cara direndam dengan
Na2CO3 2% yang mengandung Na Lauril Sulfat 0,1% selama 15
menit kemudian dibilas dengan air suling.
e. Buret disterilkan dengan cara direndam dalam larutan sublimate 1%
selama 24 jam.
f. Disiapkan air bebas CO2 (DOP Cooper : 214) Mendidihkan air untuk
injeksi selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan
dengan udara selama sesempurna mungkin, dinginkan.

g. Ditimbang morfin, dilarutkan dalam API sebanyak 100 ml.


Ditambahkan Benzethonium klorida dan disodium edetat.
h. Dicek pH.
i. Ditambahkan air bebas CO2 sampai 115 ml.
j. Disaring dengan kertas saring bebas serat lalu hasil saringan pertama
k.
l.
m.
n.
o.

dibuang 2 ml.
Larutan dimasukkan dalam buret.
Larutan dimasukkan dalam vial sebanyak 10 ml.
Larutan injeksi dialiri gas inert.
Vial disegel.
Sediaan disterilisasi akhir dalam otoklaf suhu 121 0C selama 15

menit.
p. Diberi etiket, dimasukkan dalam wadah serta dilengkapi brosur.

11. ETIKET DAN BROSUR


a. Etiket
ALFATRON

ALFATRON

Ondansetron HCl 4 mg/2ml

Ondansetron HCl 4 mg/2ml

Injeksi Steril

Indikasi : Mual dan muntah


akibat
radioterapi
dan
sitostatika. Pencegahan dan
pengobatan mual dan muntah
pasca operasi
Kontraindikasi :
Hipersensitif dan gangguan
fungsi hati.
Dosis : Dewasa dan anakanak 4 mg secara IV almbat
PT. FARMASI UHO
KENDARI-INDONESIA

Komposisi :
Tiap ampul mengandung :
Ondansetron HCl 4mg/2ml

PT. FARMASI UHO


KENDARI-INDONESIA

b. Brosur
ALFATRON

ALFATRON

No. Reg. : DKL 1500100143A1


No. Batch : D 5430011

No. Reg. : DKL 1500100143A1


No. Batch : D 5430011

Komposisi :
Tiap ampul mengandung :
Ondansetron HCl .. 4mg/2ml

Composition :
Each ampul contain :
Ondansetron HCl .. 4mg/2ml

Indikasi :
Mual dan muntah akibat radioterapi
dan sitostatika. Pencegahan dan
pengobatan mual dan munath pasca
operasi.

Indication :
Nausea
and
vomiting
because
radiotherapy
and
sitostatica.
Prevention
and
treatment
of
postoperative nausea and vomiting.

Kontraindikasi :
Hipersensitif
ondansetron
gangguan hati.

dan

Contraindication :
Hypersensitivity ondansetron and liver
disorders.

Dosis :
Dewasa dan anak-anak > 8 tahun : 4
mg secara IV lambat 30 menit sebelum
kemoterapi.

Dosage :
Adults and children> 8 years: 4 mg IV
within
30
minutes
before
chemotherapy.

Efek Samping :
Konstipasi, sakit kepala, dan reaksi
hipersensitif.

Side effect :
Constipation,
hipersesitivity..

fatigue,

and

Penyimpanan :
Storage :
Simpan pada suhu di bawah 30oC, Store at temperatures below 30 oC,
terlindung dari cahaya.
protected from light.
Diproduksi oleh :

Prodused by :

PT. FARMASI UHO


KENDARI-INDONESIA

PT. FARMASI UHO


KENDARI-INDONESIA

DAFTAR PUSTAKA
AbouGhalia, A. H., dan H. H. Shehata, 2013, Repeated generalized seizures
shortly after single intramuscular dose is an additional reasonable cause to
restrict the use of ondansetron: A case report, Advances in Biological
Chemistry, Egypt.
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Jenkins, G. L., D. E. Francke, E. A. Breth, dan G. J. Sperandio, 1957, Scovilles
The Art of Compounding, MCGrowBill Book Company, London.
Patil, U.K., dan P. Muskan, 2009, Essentials of Biotechnology, International
Publishing House, New Delhi.
Rowe, R. C., P. J. Sheskey, dan M. E. Quiin, 2009, Handbook of Pharmaceutical
Excipient, Pharmaceutical Press, London.
Swarbrick, J., 2005, Injectable Dispersed Systems Formulation, Processing, and
Performance, Taylor & Francis Group, North Caroline.
Sweetman,S. C., 2010, Martindale 36th Edition, Pharmaceutical Press, London.
Tatro, D. S., 2003, A to Z Drug Fact, Facts and Comparison.