Anda di halaman 1dari 17

Hipospadia

A. Definisi
Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di bawah dan
spadon yang berarti keratan yang panjang.
Secara umum :
1. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa
terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal
(ujung glans penis). (Arif Mansjoer, 2000 : 374).
2. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra penis pada
kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal
disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum,
1991 : 257).
3. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian
bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288)
4. Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain pada bagian
belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah antara kemaluan dan anus ).
(Davis Hull, 1994 )
5. Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan
dan mudah untuk mendiagnosanya, hanya pengelolaannya harus dilakukan oleh mereka
yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.
B. Etiologi
Penyebab pasti hipospadia tidak diketahui secara pasti. Beberapa etiologi dari
hipospadia telah dikemukakan, termasuk faktor genetik, endokrin, dan faktor lingkungan.
Sekitar 28% penderita ditemukan adanya hubungan familial. Pembesaran tuberkel genitalia
dan perkembangan lanjut dari phallus dan uretra tergantung dari kadar testosteron selama
proses embriogenesis. Jika testis gagal memproduksi sejumlah testosteron atau jika sel-sel
struktur genital kekurangan reseptor androgen atau tidak terbentuknya androgen converting
enzyme (5 alpha-reductase) maka hal-hal inilah yang diduga menyebabkan terjadinya
hipospadia.2,5,8

Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab
pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa factor yang oleh para ahli dianggap paling
berpengaruh antara lain :

1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone


Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone androgennya
sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormone
androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap
saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan
dalam sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
Atau paparan hormon estrogen (penggunaan hormon estrogen oleh ibu selama
kehamilan)
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada
gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut
tidak terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi
4. Embriologi.
5. Maskulinisasi inkomplit dari genetalia karena involusi yang prematur dari sel
intersitisial testis.
C. Manifestasi klinis
1. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah
atau di dasar penis
2. Penis melengkung ke bawah
3. Penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit di
depan penis
4. Jika berkemih, anak harus duduk/jongkok

Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah
penis yang menyerupai meatus uretra eksternus

Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung
penis

Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang
hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar

Kulit penis bagian bawah sangat tipis

Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada

Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis

Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok

Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum)

Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal

Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar,
mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK.

Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan
mengangkat penis keatas.

Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.

Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.

D.Klasifikasi
Klasifikasi hipospadia berdasarkan letak meatus uretra abnormal dibagi menjadi
3, yaitu :

1. Hipospadia anterior : tipe glanular, subkoronal, dan penis


distal.

2. Hipospadia Medius : midshaft, dan penis prokoronal


3. Hipospadia Posterior : penoskrotal, scrotal, dan perineal.

(tipe glanural)

(tipe subcoronal)

(tipe perenoskrotal)

(tipe perineal)

E. Komplikasi
1. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1
jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu )
2. Psikis ( malu ) karena perubahan posisi BAK.
3. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa.
KOMPLIKASI POSTOPERASI
1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi,
juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah
dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi.
2. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi
dari anastomosis.
3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang
atau pembentukan batu saat pubertas.

4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai


parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini
angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %.
5. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna,
dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang
berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.
6. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya
stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.
Faktor resiko

Faktor genetik.
Berdasarkan penelitian oleh Alexander 2007, pada keluarga yang memiliki
kelainan kelamin(hypospadia), maka resiko yang akan terulang pada saudara
laki-laki kurang lebih 7% - 9% resiko hypospadia. Jika orang tua kandung
laki-laki memiliki kelainan kelamin (hypospadia) m a k a r e s i k o yang akan

diturunkan kepada anak kandung laki-laki kurang lebih 12% - 14 %.


Faktor etnik dan geografis
Di Amerika Serikat angka kejadian hypospadia pada kaukasoid lebih tinggi dari pada
orang Afrika,Amerika. Namun hubungan/korelasi antara faktor etnik dan
geografis dengan kenaikan insidensi hypospadia belum dapat diketahui secara
pasti (Djakovic, et all., 2008).

Faktor hormonal
Faktor hormon
hipospadia

androgen/estrogen sangat

karenaberpengaruh

terhadap

berpengaruh
proses

terhadap

maskulinisasi

kejadian
masa

embrional. Terdapat hipotesis tentang pengaruhestrogen terhadap kejadian


hipospadia

bahwa

estrogen

sangat

berperan

dalam

pembentukan

genitaleksterna laki-laki saat embrional. Perubahan kadar estrogen dapat berasal dari
androgen yaitu perubahan pola makanan yang meningkatkan lemah tubuh. (Djakovic,

et all., 2008).
Sintetis seperti oral kontrasepsi
Adanya penurunan hormon androgen yang dihasilkan oleh testis dan placenta. karena
penurunan hormone androgen maka akan menyebabkan penurunan produksi
dehidrotestosterone (DHT) yangdipengaruhi oleh 5 reduktase, hormon ini
berperan dalam pembentukan phallus (penis) sehingga, jikaterjadi defisiensi
androgen akan menyebabkan kegagalan perkembangan dan pembentukan
urethra (hypospadia) (Djakovic, et all., 2008; Hanh, et all., 2006). Secara umum
diketahui bahwa genital eksterna laki-laki dipengaruhi oleh estrogen yang

dihasilkantestis primitif. Suatu hipotesis mengemukakan bahwa kekurangan


estrogen atau terdapatnya anti-androgen akan mempengaruhi pembentukan

genitalia ekterna laki-laki (Sadler, 2006; Djakovic, et all., 2008).


Faktor pencemaran limbah industry
Limbah industri berperan sebagai Endocrin discrupting chemicals dengan sifat
anti-androgenik seperti polychlorobiphenyls, dioxin, furan, peptisida organochlorin,
alkilphenol polyethoxsylates dan phtalites (Djakovic, et all., 2008).

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan prosedur pembedahan pada
hipospadia adalah:
1. Membuat penis yang lurus dengan memperbaiki chordee
2. Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis (Uretroplasti)
3. Untuk mengembalikan aspek normal dari genitalia eksterna (kosmetik)
Ketika operasi dilakukan
Pembedahan paling baik dilakukan pada usia dini - biasanya antara usia waktu yang ideal untuk
operasi adalah antara 3 dan 18 bulan. . Secara umum, operasi sebelumnya dilakukan, semakin
sedikit traumatis itu untuk anak. Namun prosedur dapat diselesaikan pada usia berapa pun dan
bahkan menjadi dewasa. Bayi tidak boleh disunat sebelum prosedur karena jaringan kulup mungkin
diperlukan untuk operasi.

Tujuan operasi pada hipospadia adalah agar pasien dapat berkemih dengan normal, bentuk
penis normal, dan memungkinkan fungsi seksual yang normal. Hasil pembedahan yang
diharapkan adalah penis yang lurus, simetris, dan memiliki meatus uretra eksternus pada
tempat yang seharusnya, yaitu di ujung penis. Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah
tunneling Sidiq-Chaula, Thiersch-Duplay,Dennis Brown, Cecil Culp.
* Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap
1. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel
pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus
masih pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian
dorsal dan kulit penis.
2. Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah lunak. Dibuat
insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit
dibagian tengah.Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit preputium
dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan
setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang.
* Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan
penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebig
ke ujung penis).Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis
dengan pedikel (kaki)kemudian dipindah ke bawah Mengingat pentingnya preputium untuk

bahan dasar perbaikan hipospadia, maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan
dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadi. canalis uretra belum maksimal dapat
digunakan untuk lewat urin karena biasanya dokter akan memasang sonde untuk memfiksasi
canalis uretra yang dibentuknya. Urin untuk sementara dikeluaskan melalui sonde yang
dimasukkan pada vesica urinaria (kandung kemih) melalui lubang lain yang dibuat olleh
dokter bedah sekitar daerah di bawah umbilicus (pusar) untuk mencapai kandung kemih..
Anak harus dalam tirah baring.
Baik luka penis dan tempat luka donor harus dijaga tetap bersih dan kering.
Perawatan kateter.
Pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan bakteri.
Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan mengencerkan
toksin.
Pengangkatan jahitan kulit setelah 5-7 hari
Uretroplasti: yang umum dilakukan adalah MAGPI (Meatal Advancement and
Glanuloplasty Incorporated). Teknik MAGPI ini dapat digunakan untuk pasien dengan
hipospadia glanular distal. Setelah penis terlihat lurus pada tes ereksi artifisial, insisi
sirkumsis dilakukan. Skin hook diletakkan pada tepi ujung dari saluran uretra glanular lalu
kemudian ditarik ke arah lateral. Gerakan ini dapat meningkatkan transverse band dari
mukosa yang nantinya akan diinsisi longitudinal pada garis tengah.

Insisi pada dinding dorsal glanular uretra ini nantinya akan ditutup dengan jahitan
transversal dengan chromic catgut 6-0. Skin hook ditempatkan pada tepi kulit dari
korona pada garis tengah ventral. Dengan traksi distal, ujung glans ditarik ke depan
dan dijahitkan pada garis tengah dengan jahitan subkutikuler. Epitel glans ditutup
dengan jahitan interrupted. Kelebihan kulit dari prepusium dorsal dapat dijahitkan

untuk penutupan kulit.


Farmakologi
1. Antrain:
Cara Kerja:

Metamizole Na adalah turunan methanesulphonate dari aminopyrine dengan aktivitas


analgesik. Mekanisme kerja adalah pusat dan perifer menghambat transmisi nyeri.
Na Metamizole bertindak sebagai analgesik. Hal ini diserap dari saluran pencernaan,
dengan waktu paruh 1-4 jam Antrian.
Indikasi:

Untuk mengurangi rasa sakit, terutama di kolik dan pasca-operasi.


Kontra Indikasi:

Pasien yang diketahui hipersensitif terhadap Metamizole Na.

Hamil atau menyusui perempuan.

Pasien dengan tekanan darah sistolik <100 mmHg.

Bayi di bawah 3 bulan atau berat <5 kg


Efek samping:

Reaksi hipersensitivitas: reaksi pada kulit misal kemerahan

Agranulositosis
Dosis:

1 tablet jika sakit timbul, berikutnya 1 tablet tiap 6-8 jam, maksimal 4 tablet per hari.

Injeksi: 500 mg jika sakit timbul, berikutnya 500 mg tiap 6-8 jam, maksimal 3x
sehari, diberikan secara injeksi IM atau IV.

2. Cefotaxime
Deskripsi:
Sefalosporin merupakan antibiotika bakterisid yang mekanisme kerjanya mirip dengan
golongan penisilin. Antibiotik-antibiotik -lactam ini menghambat pembentukan dinding sel
bakteri pada tahap III dan tahap akhir dengan berikatan pada satu atau lebih protein-protein
pengikat penisilin (PBPs) yang terdapat di membran sitoplasma di bawah dinding sel bakteri
yang rentan. Cefotaxime memiliki afinitas yang besar terhadap PBPs Enterobacteriaceae.
Komposisi:
Tiap vial mengandung cefotaxime sodium setara dengan 1,0 g cefotaxime, Murrayae folium
120 mg
Indikasi:
Cefotaxime digunakan : Untuk penyakit

infeksi berat, terutama infeksi gram negatif,

seperti :

Infeksi saluran pernafasan bawah, termasuk pneumonia, yang disebabkan oleh :


S.pneumoniae, S.aureus (penghasil penisilinase dan bukan penghasil penisilinase),
E.coli, Klebsiella, H. influenzae (termasuk yang tahan ampicillin), P.mirabilis,

S.marcescens dan Enterobacter.


Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh : Enterococcus, S.epidermidis,
Citrobacter, Klebsiella, Proteus, S.marcescens. Juga gonore ringan (uncomplicated)

yang disebabkan oleh N.gonorrhoeae (termasuk yang menghasilkan penisilinase).


Infeksi ginekologis, termasuk penyakit inflamasi pelvis, Endometritis dan selulitis
yang disebabkan : S.epidermidis, Streptococci, Enterococcus, E.coli, P.mirabilis,

Bacteroides, Clostridium, Anaerobic cocci (termasuk Peptostreptococcus dan

peptococcus).
Bacteremia / Septicema yang disebabkan oleh : E. coli, Klebsiella dan S. marcescens.
Infeksi kulit dan struktur kulit yang disebabkan oleh : S.aureus, S.epidermidis,
S.pyogenes, Enterococcus, E.coli, Enterobacter, Klebsiella, P.mirabilis, Pseudomonas,

S.marcescens, Bacteroides, Anaerobic cocci.


Infeksi perut yang disebabkan karena E.coli, Klebsiella, Bacteroides, Anaerobic cocci.
Infeksi tulang dan atau sendi yang disebabkan oleh S.aureus
Infeksi pasca operasi.

Kontra Indikasi:
Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap antibiotik cephalosporin. Penderita ginjal
yang berat.
Dosis:
Dewasa 2 - 12 gram dalam dosis terbagi setiap 4 - 12 jam. Infeksi sedang sampai berat 1 - 2
gram setiap 8 jam.
Dewasa dan anak > 12 tahun : 1 gram setiap 12 jam. Pada infeksi berat : 2 kali 2 gram/hari
biasanya cukup. Jika diperlukan dosis yang lebih besar, interval pemberian obat dapat
diperpendek menjadi setiap 6 - 8 jam.
Bayi dan anak-anak : 50 - 100 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 2 - 4 dosis yang setara. Pada
infeksi yang mengancam jiwa dapat digunakan dosis sampai 200 mg/kg BB/hari. Karena
pada bayi prematur, klirens renal belum berkembang sempurna, dosis perhari tidak boleh
melampaui 50 mg/kg BB.
Untuk profilaksis perioperatif, dosis awal diberikan 30 - 60 menit sebelum pembedahan
dimulai. Tergantung dari resiko infeksi, dosis serupa dapat diulang.
Untuk terapi gonore non-komplikata pada orang dewasa, dosis tunggal Cefotaxime 1 gram
diberikan intramuskular. Pada bakteri yang kurang sensitif mungkin diperlukan peningkatan
dosis. Pasien harus diperiksa terhadap kemungkinan infeksi sifilis sebelum terapi dimulai.
Dosis pada gangguan fungsi ginjal. Bila klirens kreatinin < 5 mL/menit, dosis pemeliharaan
perlu dikurangi sampai separuh dosis normal. Dosis awal tergantung dari sensitivitas patogen
dan kegawatan infeksi. Rekomendasi dosis adalah berdasarkan pengalaman pada orang
dewasa.

Cara pemakaian:

Cara pemberian obat sebaiknya melalui intravena (langsung pada vena atau bagian dari katup
selang infus), walaupun pemberian dapat pula dilakukan secara intramuskular. Pada
pemberian intramuskular injeksi harus disuntikkan dalam-dalam pada otot gluteal.
Disarankan injeksi intramuskular pada satu sisi yang sama tidak melebihi 4 mL (sekitar
1gram Cefotaxime).
Peringatan dan Perhatian :

Pada pasien yang hipersensitif terhadap penicillin ada kemungkinan terjadi

sensitivitas silang.
Hati-hati pemberian pada wanita hamil.
Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan riwayat penyakit gastrointestinal

terutama kolitis.
Cefotaxime diekskresikan dalam air susu ibu sehingga penggunaannya sebaiknya

hati-hati pada ibu menyusui.


Agar dilakukan pemeriksaan hitung darah pada penderita yang mendapatkan

pengobatan lebih dari 10 hari dan pengobatan dihentikan jika timbul neutropenia.
Interaksi obat : penggunaan bersamaan dengan diuretik kuat, probenesid, obat yang

berpotensi nefrotoksik (misal Aminoglikosid).


Efek pada parameter laboratorium.
Walaupun jarang, hasil tes Coombs positif palsu dapat dihasilkan pada pasien yang

diberi Cefotaxime.
Hasil positif palsu mungkin diperoleh dari glukosa urin, bila itu ditentukan dengan
metode reduksi. Hal ini dapat dihindari dengan menggunakan metode enzimatik.

Penyimpanan:
Simpan pada suhu < 25C, terlindung dari cahaya. Obat yang sudah dilarutkan sebaiknya
digunakan segera. Larutan ini boleh disimpan maksimum 24 jam pada suhu di bawah 25C
atau 7 hari di dalam lemari es.
Kelebihan Cefotaxime:
Cefotaxime aktif terhadap bakteri gram negatif seperti E. coli, H. influenzae, Klebsiella sp. ,
Proteus sp., (indole positif & negatif ), Serratia sp. Neisseria sp, dan Bacteroides sp. Juga
bakteri gram positif antara lain Staphylococci, Streptococci aerob dan anaerob, Streptococcus
pneumoniae, Clostridium sp.
PRINSIP TERAPI DAN MANAGEMEN PERAWATAN
1.Koreksi bedah.
2.Persiapan prabedah
3.Penatalaksanaan pasca bedah

-Anak harus dalam tirah baring


-Baik luka penis dan tempat luka donor harus dijaga tetap bersih dan kering
-Perawatan kateter
-Pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan bakteri
-Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan
mengencerkan toksin
-Pengangkatan jahitan kulit setelah 5-7 hari

Khitan
Kontra indikasi : Hemophilia, hipospadia, epispedia, chordee, webbed penis
Tekhnik khitan :
-

Lakukan anastesi dan desinfeksi


Berikut adalah keadaan penis setelah di anestesi atau setelah di kasih baal.

Pembebasan Perlengketan dan Pembersihan Smegma

pada anak-anak kecil biasanya preputium (kulit luar) penis itu menempel pada
gland(kepala) penis, sehingga harus dibebaskan, bila tidak maka proses khitanan tidak
bisa berlangsung dengan sukses. Proses melepaskan perlengketan ini juga sekaligus

membersihkan (akumulasi kotoran didalam penis yang berasal dari residu/sisa dari urine),
bila tidak dibersihkan, smegma ini akan menjadi pencetus kakker pada penis.
-

Tandai batas insisi


Pasang klem tarik kedistal sampai teregang

2 buah klem kecil digunakan untuk menarik preputium, sedangkan 1 klem (pada foto di
atas menggunakan forsep) digunakan untuk membatasi area pemotongan.
-

Urutlah glans seproksimal mungkin dan fiksasi glans dengan tangan kiri
Jepit koher
Yakin bahwa glans tidak terjepit
Sayat/iris preposium dengan flashcutter dibagian atas koher

Melepaskan koher dan munculkan kembali glans


Umumnya tidak menimbulkan pendarahan, jika ada pun sedikit sentuh bagian

pendarahan dengan probe flashcutter anti pendarahan


Rapikan sayatan trutama jika mukosa masih panjang.
Hasil Pemotongan

Hecting

Metode sunat laser sempat menjadi trand di masyarakat, namun belakangan ini metode ini
banyak mendapat sorotan karena:
1. dapat menimbulkan luka bakar yang cukup serius
2. tidak praktis karena mutlak membutuhkan jaringan listrik
3. jika ada kebocoran (kerusakan) alat, dapat terjadi sengatan listrik yang sangat
berbahaya bagi pasien maupun operator

Peran Perawat
Berikan edukasi tentang penyakit, pra oprasi, dan post oprasi. Ajarkan ibu untuk memberikan
pengertian kepada anak mengenai penyakit sehingga anak tidak minder atau malu.
Dampak Psikologis pada Anak
- Sering bertanya
- Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan
- Kehilangan kontrol
- Pembatasan aktivitas
- Sering dipersepsikan sebagai hukuman, sehingga ada perasaan malu, takut, reaksi
agresif, marah, berontak tidak mau kerja sama dengan perawat
Penkes
Untuk orang tua, Kelainan ini sering ditemukan dan untuk mendiagnosanya pun terhitung
mudah. Perhatikan ketika memandikan anak laki-lakinya, kencingnya normal ataukah
kencing seperti perempuan. Jika ternyata kencingnya seperti perempuan (jongkok) maka
segera periksakan ke dokter. Bagi ibu yang hamil, jangan terlalu banyak mengonsumsi
estrogen dan progestin. Ajarkan tentang perawatan kateter dan pencegahan infeksi dengan
disimulasikan. Jelaskan tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan lapor segera ke dokter
atau perawat. Jelaskan pemberian obat antibiotic dan tekankan untuk kontrol ulang.

PATOFISIOLOGI HIPOSPADIA
Minggu ke-6 fase
Terbentuk
benjolan antara
tali pusar dan
ekor dari embrio
(tonjolan gental)
Minggu ke 7
Tonjolan
genitalia
memanjang
Membentuk phallus
(penis)
Di ujung akan terbentuk glan
penis
Minggu ke 8
Produksi testosterone
oleh sel leydig
Testis mulai mempengaruhi
deferensiasi sexual duktus
genitalia

Testis
berkembang
sempurna
klitoris
penis

Sulkus
antara
labia
minora
Menjadi
uretra

Sel testis
berkembang
secara premature
Labia
mayor
a
Ke
dalam
skrotum
sana testis

Berhentin
ya
produksi
androgen
terbentuk
Interupsi
konversi
chordee
penuh
dari genital
HIPOSPA
kurvatura

Pancaran
urine
Sisa urine

HIPOSPAD
IA

Pipis
jongkok
Gangg.bo
dy image

Indikasi
operasi

chordecto
my
Luka
insisi
Bradikinin,
dll
Menekan
saraf
perifer
hipothalam
us
Cort.cerebr
i
nyeri

Kurang
pengetahuan
hospitalisa
si

Pemasanga
n keteter

Port
dentry
Restin
g
infeks
inflamasi

Permeabilitas
kap
edem
a

Resiko
injury

Chordee
dilepas
Penis lurus
Setelah 6
bln
uretrhoplas
ty

Gangg.
Fungsi
peran

Daftar pustaka :

Suriadi SKp, dkk. (2001). Asuhan keperawatan pada anak. Jakarta : Fajar Interpratama
Mansjoer, Arif, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius.
Closkey JC & Bulechek. 1996. Nursing Intervention Classification. 2nd ed. Mosby Year
Book.
NANDA. 2005-2006. Nursing Diagnosis: Deffinition & Classification. Philadhelphia
Smelzer, Suzane. (2002). Keperawatan Medikal Bedak,edisi 8.Jakarta : EGC
www.medicastore.co.org
Smelzer, Suzane. (2002). Keperawatan Medikal Bedak,edisi 8.Jakarta : EGC
www.medicastore.co.org
Smelzer, Suzane. (2002). Keperawatan Medikal Bedak,edisi 8.Jakarta : EGC
www.medicastore.co.org
http://nursingforuniverse.blogspot.com/
www.hypospadias-surgery.com
(http://photos1.blogger.com/blogger/4603/1833/1600/op.jpg).
http://www.trinoval.web.id/2010/04/askep-hipospadia.html
http://www.medicastore.com

Anda mungkin juga menyukai