Anda di halaman 1dari 310

2 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Sanksi Pelanggaran Pasal 72


Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan
ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1
(satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah),
atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3

Kedamaian,
di Manakah Kau Berada?
Catatan dan Pembicaraan Sepanjang Penziarahan Hidup

Seeking Peace
Notes and Conversations along the Way

Johann Christoph Arnold


Kata Pengantar oleh Madeleine L’Engle
Pendahuluan oleh Thich Nat Hanh

Penerbit DIOMA – Malang


4 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Seeking Peace
Notes and Conversations along the Way

DM 220048
Copyright terjemahan Indonesia ada pada Penerbit Dioma © 2008

PENERBIT DIOMA (Anggota IKAPI)


Jl. Bromo 24 Malang 65112
Telp. (0341) 326370, 366228; Fax. (0341) 361895
E-mail: info@diomamedia.com
Website: www.diomamedia.com

Diterjemahkan dari buku ‘SEEKING PEACE


NOTES AND CONVERSATIONS ALONG THE WAY’,
by The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation, 1998

All rights reserved


Published under agreement with The Plough Publishing House,
Woodcrest Community, Rifton NY 12471, USA
Darvell Community, Robertsbridge TN32 5DR, UK
© 1998 by The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation

Cetakan pertama, Januari 2009

Penerjemah: Bambang Kussriyanto


Editor: L. Heru Susanto Pr
Tata letak: Yosef Benny Widyokarsono
Desain sampul: Ginanjar Pratama

ISBN 10 : 979 - 26 - 0024 - 8


ISBN 13 : 978 - 979 - 26 - 0024 - 7

Hak cipta dilindungi undang-undang


Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk
dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi,
tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetak oleh Percetakan DIOMA Malang


Isi di luar tanggung jawab Percetakan
5

P ikirkanlah sejenak makna kata “damai”. Tidakkah


kelihatan aneh ketika para malaikat menggemakan
damai, sementara dunia terus-menerus dilanda Perang
dan ketakutan akan Perang? Tidakkah Anda menganggap
suara-suara malaikat itu keliru, dan bahwa janji itu
mengecewakan dan palsu?
Ingatlah sekarang, bagaimana Tuhan kita sendiri
bicara tentang damai. “Damai Kutinggalkan padamu,
damai-Ku Kuberikan padamu,”1 kata-Nya kepada para
murid-Nya. Apakah Tuhan memaknai damai itu seperti
yang dipahami para murid-Nya. Apakah Tuhan
memahami damai itu seperti yang kita pikirkan: Kerajaan
Inggris berdamai dengan negara-negara tetangga, para
buron penguasa daerah berdamai dengan Raja, kepala
rumah tangga menghitung penghasilannya dengan
tenteram, hatinya tenang, menyajikan anggur terbaik di
meja kepada seorang sahabat, istrinya menyanyi untuk
anak-anak? Para murid-Nya tidak mengenal keadaan
seperti itu: mereka melakukan perjalanan sampai jauh,
menderita di darat dan di laut, disiksa, dipenjarakan,
dikecewakan, mengalami kematian sebagai martir. Lalu
apa maksud Tuhan? Jika Anda bertanya demikian,
ingatlah bahwa Dia juga berkata, “bukan seperti yang
diberikan dunia ini, yang Kuberikan kepadamu.” Dengan
demikian, Tuhan memberikan kepada para umat-Nya
damai, tetapi bukan damai yang diberikan dunia.
T.S Eliot
Cuplikan dari: Pembunuhan di Katedral

1
Yoh.14:27
7

Ucapan Terimakasih

B elasan orang membantu sampai buku ini selesai


dicetak, tetapi aku ingin menyampaikan terimakasih
khususnya kepada editorku Chris Zimmerman;
sekretarisku: Emmy Maria Blough, Hanna Rimes dan Ellen
Keiderling, dan seluruh staf dari Plough Publishing House.
Terima kasih juga kepada mereka yang telah memberi
izin kepadaku menggunakan anekdot dan surat-surat, dan
mereka yang membantuku dengan berbagai cara
mengerjakan buku ini: Mumia Abu- Jamal, Imam
Muhammed Salem Agwa, Dale Aukerman, Daniel
Berrigan, Philip Berrigan, Rabbi Kenneth L.Cohen, Tom
8 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Cornell, Pastor Benedict Groeschel, Thick Nath Hanh,


Molley Kelly, Frances Kieffer, Suster Ann La Forest,
Madeleine L’Engle, Pendeta William Marvin, Elizabeth Mc
Alister, Bill Peke. Uskup Samuel Ruiz Garcia, dan Assata
Shakur – juga banyak anggota komunitasku, Bruderhof.
Atas segalanya, terima kasih pada istriku - Verena.
Tanpa dukungan dan semangat darinya, buku ini tak akan
pernah bisa kutulis.
9

Daftar Isi

Ucapan Terimakasih .............................................. 7


Kata Pengantar .................................................... 13
Pendahuluan ......................................................... 17

Bagian I
Mengupayakan Damai .......................................... 21

Bagian II
Berbagai Makna ................................................... 27
10 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Damai Karena Tak Ada Perang .................................. 30


Damai Dalam Kitab Suci ............................................ 33
Damai Sebagai Tujuan Sosial ...................................... 36
Damai Dalam Hidup Perorangan ................................ 39
Damai Tuhan ............................................................. 45
Damai yang Mengatasi Pemahaman ............................ 48

Bagian III
Berbagai Paradoks ................................................. 51
Bukan Damai Tapi Pedang .......................................... 53
Kekerasan Kasih ........................................................ 60
Tak Ada Hidup Tanpa Kematian ................................. 66
Kebijaksanaan Orang Bodoh ....................................... 75
Kekuatan dari Kelemahan .......................................... 82

Bagian IV
Berbagai Batu Pijakan .......................................... 91
Kesederhanaan .......................................................... 101
Kesunyian ................................................................. 107
Kepasrahan ................................................................ 115
Doa ........................................................................... 127
Percaya ...................................................................... 138
Pengampunan ............................................................ 149
Bersyukur .................................................................. 157
Ketulusan .................................................................. 166
Kerendahan Hati ....................................................... 175
Ketaatan .................................................................... 187
Keputusan ................................................................. 196
Penyesalan ................................................................. 205
Keyakinan ................................................................. 216
Realisme .................................................................... 226
Pelayanan .................................................................. 235
Daftar Isi 11

Bagian V
Hidup yang Berkelimpahan ................................... 245
Jaminan Keselamatan ................................................. 256
Kepenuhan ................................................................ 265
Kegembiraan .............................................................. 275
Tindakan ................................................................... 285
Keadilan .................................................................... 294
Harapan .................................................................... 304
13

Kata Pengantar
Oleh: Madeleine L’Engle2

S halom. Damai. Suatu damai yang tidak pasif, tetapi


aktif. Suatu damai yang bukan hanya karena
berhentinya kekerasan, tetapi meliputi dan lebih dari
mengatasi kekerasan. Damai sejati.
2
Madeleine L’Engle adalah seorang penulis novel dan buku rohani
Amerika. Mendapat banyak gelar doktor kehormatan dari berbagai
universitas, khususnya di bidang sastra dan yang terakhir doktor dalam
teologi dari Berkeley Divinity School. Di masa tuanya ia mengisi
waktu sebagai pustakawan pada Katedral (Gereja Episcopal) Santo
Yohanes Suci di Manhattan. Lahir pada 1918 di New York City dan
meninggal pada 6 September 2007 di Connecticut pada usia 88 tahun.
14 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Pada akhir suatu abad yang kita ketahui jauh dari damai,
menyenangkan sekali membaca buku yang bagus dari Johann
Christoph Arnold: Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
Ia mengutip definisi kakeknya tentang damai: “damai rohani
antara kita dengan Allah; tidak ada kekerasan sepenuhnya,
melalui hubungan damai dengan sesama dan berlakunya
tatanan sosial yang adil dan damai.” Namun setiap pagi jika
aku mendengarkan berita, sepertinya kita makin jauh dan
lebih jauh lagi dari ketiga ambang damai itu. Kita memerlukan
buku ini untuk membimbing jalan kita menuju Shalom.
Pada suatu sore di masa Puasa sepuluh tahun yang lalu,
di Gereja Katedral Santo Yohanes Suci di Manhattan, aku
mendengarkan Pastor Canon Edward West bicara tentang
damai yang kita cari. Ia menggunakan perumpamaan yang
tidak lazim tentang kereta bawah tanah.
Kebanyakan dari kami yang hadir pada malam hari
itu menumpang kereta bawah tanah untuk pergi ke
Katedral dan untuk pergi dan pulang kerja. Ia
menunjukkan kepada kami, jika kita lihat sesama
penumpang kereta bawah tanah, kebanyakan dari mereka
tampak seolah-olah tak dicintai seorang pun. Dan itu
pada umumnya benar. Kemudian pastor melanjutkan, jika
kita mau berkonsentrasi tanpa menyolok mata kepada
seseorang di antara mereka, dan diam- diam kita
menyatakan dengan yakin dalam hati bahwa dia itu anak
yang dikasihi Allah, dan entah bagaimana keadaan di
sekitarnya, dapat tinggal dalam damai Allah, mungkin
kita akan melihat perbedaannya. Damai tidak selalu
merupakan sesuatu yang Anda “buat”; damai adalah
anugerah yang Anda sampaikan pada seseorang.
Di kesempatan lain ketika aku menumpang kereta
bawah tanah lagi, aku melirik seorang wanita di pojok
yang bertopang dagu dengan tangan terkepal, wajahnya
Kata Pengantar 15

menunjukkan ketegangan tanpa harapan. Tanpa


melihat dia, aku mulai mencoba mengirimkan damai
kasih Allah kepadanya. Aku tidak bergerak. Aku tidak
memandang dia. Aku hanya mengikuti saran Pastor
Canon West, dan aku heran karena wanita itu tampak
berubah lebih santai. Kepalan tangannya dibuka;
tubuhnya lebih lentur; garis-garis kecemasan hilang dari
wajahnya. Saat itu adalah saat yang penuh syukur
bagiku, dan aku sendiri merasa diliputi dan dipenuhi
oleh kedamaian juga.
Itulah yang kucoba kuingat bila aku menumpang
kereta bawah tanah atau naik bus, atau berjalan di jalanan
yang padat, atau berdiri antre di depan kasir supermarket.
Jika damai Tuhan ada di hati kita, dan kita membawanya
serta, kita dapat memberikannya kepada mereka yang ada
di sekitar kita. Bukan karena keutamaan dan kemauan
kita. Melainkan oleh Roh Kudus yang bekerja melalui kita.
Kita tidak memberikan apa yang kita tak punya, tetapi
jika Roh bertiup menembus awan kelabu, dan masuk ke
hati kita, maka kita pun dapat dijadikan-Nya wahana
damai, dan dengan demikian damai di hati kita juga
bertambah. Makin banyak damai yang kita sebarkan, makin
banyak pula damai yang kita peroleh.
Dalam buku Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
ini Christoph Arnold menceritakan banyak kisah seperti
itu, baik sebagai selingan maupun penjelasan tentang
damai yang diamanatkan agar kita upayakan. Buku ini
penting dan indah, suatu buku yang sungguh perlu untuk
membantu kita membawa damai Tuhan di pengujung
milenium baru ini.
Goshen, Connecticut
Musim Panas 1998
16 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
KATA PENGANTAR 17

Pendahuluan
Oleh: Thich Nhat Hanh3

D alam Khotbah di Bukit, Yesus berkata : “Berbahagialah


orang yang membawa damai, karena mereka akan
disebut anak-anak Allah.”4 Untuk mengupayakan damai,
Anda sendiri harus punya hati yang damai. Dan jika Anda
punya kedamaian itu, Anda anak Allah. Sayangnya banyak
orang yang mengupayakan damai justru tidak damai hatinya.

3
Thich Nhat Hanh adalah seorang bhiksu Zen Buddhisme, lahir di
Vietnam 1926. Menjadi promotor Damai di berbagai forum. Pada
tahun 1967 dicalonkan untuk menerima Hadiah Nobel untuk
Perdamaian. Mengajar ilmu perbandingan agama. Tinggal di
Dordogne, Perancis, dalam Biara Village des Pruniers (Plum Village).
4
Mat 5:9
18 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Mereka malahan marah dan frustrasi, sehingga apa yang


dikerjakannya tidak sungguh-sungguh menghasilkan damai.
Kita tak dapat merasakan bahwa mereka itu telah
menyentuh Kerajaan Allah. Untuk memelihara damai, hati
kita sendiri harus berdamai dengan dunia. Dengan saudara-
saudara kita. Kebenaran inilah yang merupakan inti dari
buku Christoph Arnold yang kita sambut ini, Kedamaian,
di Manakah Kau Berada?
Kita sering memikirkan damai sebagai keadaan di
mana tak ada perang; sehingga jika negara-negara yang
kuat mengurangi persenjataan mereka, kita mungkin
akan mendapatkan damai. Tetapi jika kita merenung
lebih dalam tentang senjata-senjata itu, kita melihat
dalam batin kita ada prasangka, ketakutan dan sikap
acuh tak acuh. Sekalipun kita pindahkan semua senjata
dan bom itu ke bulan, akar peperangan dan sebab-sebab
adanya bom itu masih tetap ada di sini, dalam hati dan
batin kita, yang membuat kita cepat atau lambat akan
membuat senjata dan bom yang baru.
Yesus berkata, “Ada tertulis, “Jangan membunuh, siapa
yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata
kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya
harus dihukum ... siapa yang berkata, ‘Jahil!’ harus diserahkan
ke dalam neraka yang menyala-nyala.”5 Mengupayakan Damai
berarti lebih dari sekadar meniadakan senjata. Awalnya
haruslah mencabuti akar perang yang ada dari antara kita
dan dari hati semua orang lelaki dan perempuan.
Bagaimana kita mengakhiri lingkaran kekerasan?
Arnold menyatakan bahwa sebelum kita berdamai dengan
orang lain dan dengan dunia, kita harus berdamai dengan
diri kita sendiri. Itu sungguh benar. Jika kita sendiri
berperang melawan orang tua kita, melawan keluarga kita

5
Mat 5:21-22
Pendahuluan 19

atau Gereja kita maka boleh jadi suatu perang sedang


berlangsung dalam diri kita juga. Dengan demikian langkah
dasar yang harus dilakukan dalam mengupayakan damai
adalah kembali pada diri kita sendiri dan menciptakan
keselarasan di antara unsur-unsur yang ada dalam diri kita:
perasaan kita, persepsi kita, keadaan mental kita.
Sambil membaca buku ini, usahakanlah mengenali
unsur-unsur yang saling bertentangan dalam diri Anda dan
apa yang menjadi penyebabnya. Usahakanlah agar Anda
lebih menyadari apa yang menyebabkan kemarahan dan
perpisahan, dan apa yang bisa mengatasi hal itu. Cabutlah
akar kekerasan dalam kehidupan Anda dan belajarlah
hidup dengan memerhatikan orang lain dan berbelas kasih.
Upayakan damai. Jika Anda punya damai di hati Anda,
maka damai dengan orang lain pun jadi niscaya.
Village des Pruniers, Perancis
Musim Semi 1998
20 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
21

Bagian

Mengupayakan Damai
“Harapan adalah yang tersisa bagi kita
di masa yang sulit.”
(Pepatah Irlandia)
22 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Mengupayakan Damai

K ita hidup dalam suatu dunia yang tidak damai;


walaupun ada pembicaraan terus-menerus tentang
damai, nyatanya hanya sedikit saja damai yang ada.
Begitu sedikitnya damai yang sesungguhnya, sehingga
ketika aku memberitahu seorang sahabat dekat tentang
buku ini, ia menyatakan bahwa menulis tentang damai
tidak hanya sesuatu yang naif, tetapi juga sesuatu yang
bertentangan dengan kenyataan.
Tak seorang pun menyangkal adanya kekerasan yang
memengaruhi hidup orang di seluruh dunia, mulai dari
tempat-tempat yang bergejolak seperti Chiapas, Irlandia
Utara, Timor Timur, Irak dan Tepi Barat, sampai ke jalanan
di kota-kota kita. Juga dalam kehidupan pribadi, sekalipun
di tempat-tempat yang paling damai di luar kota, setiap
hari situasi tidak-damai terwujud – dalam kekerasan
rumah tangga, dalam berbagai bentuk kecanduan yang
tidak sehat, dalam ketegangan yang merusak memecahkan
teman usaha, sekolah dan gereja-gereja.
Kekerasan juga tersembunyi di balik wajah
masyarakat yang kita anggap telah mendapat pencerahan.
Ada di balik kerakusan, penipuan dan ketidak-adilan
yang menggerakan lembaga-lembaga keuangan besar dan
lembaga-lembaga budaya kita. Ada di balik prasangka-
prasangka yang mengikis perkawinan Kristiani yang
terbaik sekalipun. Ada pada sikap munafik yang
menggerogoti kehidupan rohani dan menodai ungkapan
pelaksanaan agama yang paling saleh sekalipun hingga
menjadi tidak kredibel lagi.
Mengupayakan Damai 23

Melihat secara manusiawi segala hal itu, rasanya sia-


sia menulis sebuah buku tentang damai. Tetapi kita juga
mendengar jeritan kerinduan akan damai tertuju ke surga.
Suatu jeritan kerinduan dari relung hati yang paling dalam.
Sebutlah dengan nama lain sesuka Anda, apakah
keselarasan, ketenteraman, kesatuan, ketenangan jiwa,
kerinduan akan semua itu ada pada setiap orang. Tak ada
yang suka mendapat masalah, sakit kepala dan sakit hati.
Setiap orang menginginkan damai, bebas dari kecemasan
dan keraguan, kekerasan dan perpecahan. Setiap orang
menghendaki ketenangan dan keamanan.
Sementara orang dan organisasinya (misalnya
International Fellowship of Reconciliation) memusatkan
perhatian pada perdamaian global. Tujuannya adalah
mencapai kerjasama politik dalam skala internasional.
Yang lain (misalnya Greenpeace) mengusahakan
peningkatan keselarasan antara manusia dan makhluk
hidup lainnya, dan kesadaran akan adanya hubungan
timbal balik dengan lingkungan.
Yang lain mencari damai dengan mengubah gaya
hidup: dengan pindah kerja, pindah tempat tinggal dari
kota ke pinggiran kota (dan dari pinggiran kota ke
pedalaman), mengurangi anggaran belanja, melakukan
penyederhanaan, atau apa pun untuk meningkatkan mutu
kehidupan mereka. Ada anak muda yang setelah tinggal
di luar negeri kembali pada komunitasku, sesudah
meluncur liar dengan pergerakan uang yang begitu cepat
dan hubungan-hubungan zinah, ia rindu sekali untuk dapat
bangun pagi hari dan berdamai dengan diri sendiri dan
dengan Tuhan. Yang lain masih bertahan pada kehidupan
mereka sekarang: senang dan kecukupan, sehingga mereka
bilang tak memerlukan apa-apa lagi, tapi kukira di balik
apa yang tampak itu mereka tak punya damai sejati.
24 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Ketika mengerjakan buku ini aku melihat iklan dengan


foto seorang wanita di atas kapal. Ia meringkuk di sebuah
kursi, memandang jauh ke seberang telaga pada matahari
yang sedang tenggelam. Tertulis di situ: “Suatu impian
tentang pekerjaan, anak-anak yang baik. Perkawinan yang
bahagia. Dan perasaan kosong sama-sekali yang sedang
mengancam.” Ada berapa banyak orang yang berbagi dengan
ketakutan yang tak terungkapkan dari wanita itu?
Pada tingkatan tertentu kita semua mengusahakan
hidup sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Suatu
kehidupan yang selaras, gembira, adil dan damai. Masing-
masing dari kita memimpikan kehidupan tanpa sakit dan
penderitaan, yang dikeluhkan orang setelah hilangnya
Taman Eden (menurut Kitab Suci).
Kerinduan akan tempat dan waktu seperti itu ada
sejak dulu dan selalu di mana saja. Beberapa ribu tahun
yang lalu, Nabi Yesaya mengimpikan kerajaan damai di
mana singa berbaring dengan anak domba.6 Dan setelah
berabad-abad kemudian, bagaimana gelapnya cakrawala,
dan betapapun sengitnya peperangan, lelaki dan
perempuan menaruh harapan kepada visi Nabi itu.
Ketika aktivis antiperang Phillip Beriggan7 belum
lama berselang diadili dan dijatuhi hukuman karena
keterlibatannya dalam pembangkangan sipil di suatu
6
Yes 11:6-9
7
Phillip Berrigan adalah seorang aktivis antiperang kelahiran Two
Harbors, Minnesota, 1923. Ia ditahbiskan menjadi pastor Katolik
pada 1955 dan setelah 18 tahun berkarya ia meninggalkan imamat
pada 1973. Dalam banyak aksinya menentang perang Phil terkesan
anarkis. Pada tahun 1999 ia ditahan dan dijatuhi hukuman penjara
30 bulan. Ia dilepaskan dari penjara pada Desember 2001. Selama
hidupnya ia dipenjara 11 tahun karena aksi-aksinya. Pada 6 Desember
2002 ia meninggal pada usia 79 tahun meninggalkan seorang istri
dan tiga orang anak.
Mengupayakan Damai 25

galangan kapal di Maine, banyak orang tidak menyukai


tindakannya. Phillip menyatakan bahwa berdasarkan
norma apa pun mereka “membentuk suatu panggung
absurd.” Tetapi ia menambahkan bahwa ia lebih suka di
penjara karena keyakinannya daripada mati “di pantai
seperti itu”. Berapa banyak dari kita yang bisa berkata
begitu? Phillip berumur tujuh puluh tahun waktu itu,
tetapi ia terus saja melakukan kampanye tak jemu-jemu
melawan industri senjata nuklir dengan kekuatan yang
tak sesuai dengan usianya.
Komunitasku, Bruderhof, juga sering dituduh tidak
realistis. Yah. Kami memang meninggalkan lorong
kehidupan yang cocok bagi kebahagiaan kelas-menengah.
Kami meninggalkan rumah dan kekayaan, karier, rekening
bank, reksa-dana bersama dan masa pensiun yang nyaman.
Sebaliknya kami berusaha hidup bersama menurut contoh
umat Kristiani Perdana. Kami memperjuangkan kehidupan
melalui pengorbanan dan disiplin dan saling melayani. Cara
ini bukanlah suatu damai yang diberikan dunia.
Apa itu damai, dan apa itu realitas? Untuk apa kami
hidup dan apa yang hendak kami wariskan kepada anak-
anak dan cucu-cucu kami? Walaupun mungkin kita
bahagia, apa yang kita punya sesudah perkawinan dan
anak-anak. Sesudah punya mobil dan pekerjaan? Haruskah
yang kita wariskan adalah realitas dunia yang berisik oleh
senjata, dunia kebencian antar-kelas sosial dan keluhan
keluarga, dunia di mana tak ada cinta dan orang menusuk
dari belakang, ambisi egois dan penghinaan? Atau adakah
realitas yang lebih besar, di mana semua itu diatasi oleh
kuasa Sang Pangeran Perdamaian?
Dalam halaman-halaman berikut kuusahakan untuk
tidak menguraikan pokok-pokok masalah ini, juga tidak
menyajikan argumentasi yang kokoh. Buku pedoman
26 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

rohani “Bagaimana Caranya” dapat diperoleh di toko-toko


buku, namun pengalaman hidup damai tidaklah serapi itu.
Seringkali hidup ini acak-cakan tidak karuan.
Bagaimanapun setiap pembaca akan mendapatkan tempat
yang cocok bagi dia, berbeda-beda dalam pencariannya.
Aku juga akan berusaha menghindari jangan hanya tinggal
pada akar situasi tidak-damai. Orang dapat memusatkan
seluruh buku untuk membahas pokok persoalan, tetapi hal
itu dapat membuat pembaca terlalu tertekan. Tujuanku
sangat sederhana saja, yaitu menyajikan batu loncatan di
sepanjang jalan dan harapan secukupnya agar Anda selalu
Mengupayakan Damai.
27

Bagian

II

Berbagai Makna
“Hanya jika Anda telah berdamai
dengan diri Anda sendiri
barulah Anda dapat menciptakan damai di dunia.”
(Rabbi Sincha Bunim)
28 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Berbagai Makna

M ulai dari kartu-kartu ucapan sampai sisipan


pembatas buku, dari papan reklame sampai handuk
lap piring, kebudayaan kita berlimpah dengan bahasa
damai. Kata-kata seperti “damai dan kehendak baik”
tampaknya sangat luas penggunaannya, sehingga begitu
disusutkan menjadi slogan klise. Di dalam surat-
menyurat, banyak di antara kita memberikan sebagai
penutup surat pribadi dengan kata “Peace” atau “Damai”.
Pada tataran lain, banyak pemerintahan Negara dan
media massa berbicara tentang batalion “penjaga
perdamaian” bersenjata berat ditempatkan di wilayah-
wilayah yang porak-poranda oleh perang di seluruh dunia.
Di dalam gereja-gereja, para pastor dan pendeta menutup
ibadat dengan “Pergilah dalam damai,” dan walaupun
kata-kata itu dimaksudkan sebagai bagian dari berkat,
tetapi lebih sering dipahami sebagai isyarat untuk bubar
dan sampai ketemu dalam ibadat hari Minggu berikutnya.
Muhammad Salem Agwa, Imam utama (Mubaliqh,
guru Islam) di New York City menunjukkan bahwa para
Muslim yang baik menyapa satu sama lain waktu berjumpa
dengan kata-kata Assalamu’alaikum. Namun katanya,
juga di antara mereka salam damai itu seringkali jatuh
menjadi kelaziman basa-basi yang disampaikan hanya
dengan sedikit kesadaran akan tanggungjawab bersama
yang terkandung di dalamnya:
Saya menggunakan Assalamualaikum sebagai
sapaan sehari-hari, tetapi artinya bukan sekadar
“Selamat Pagi” atau “Selamat Sore”. Sapaan itu berarti
“Damai dan berkat dari Allah atas dirimu.” Ketika saya
Berbagai Makna 29

mengucapkannya, saya merasa damai dengan diri saya


sendiri, dan antara saya dan Anda. Saya mengulurkan
tangan untuk membantu Anda. Saya datang kepada
Anda untuk menyampaikan damai kepada Anda. Dan
sementara itu, sampai kita bertemu lagi, itu berarti
bahwa saya berdoa agar Allah memberkati Anda dan
mengasihani Anda dan mempererat hubungan saya
dengan Anda sebagai saudara.
Dunia niscaya akan berbeda keadaannya seandainya
kita sungguh-sungguh berdamai dengan siapapun yang
kita sapa sepanjang hari, jika kata-kata kita lebih dari
basa-basi kesopanan belaka dan sungguh-sungguh timbul
dari dalam hati kita. Dalam kenyataannya, seperti yang
tak henti-hentinya ditunjukkan oleh orang-orang yang
tak ber-Tuhan, beberapa konflik yang begitu banyak
menumpahkan darah sepanjang sejarah umat manusia
adalah karena kita tak berhenti bertengkar mengenai
perbedaan agama. Tak heran para Nabi zaman dulu
berkata, “Mereka mengobati luka umatku dengan
berkata, ‘Damai, damai’ padahal tak ada damai.”8

8
Yer 6:14; 8:11
30 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Damai
Karena Tak Ada Perang

B agi banyak orang damai berarti secara nasional keadaan


aman, stabil, tertib dan teratur. Berhubungan dengan
pendidikan, kebudayaan dan kewajiban kewarganegaraan,
kemakmuran dan kesehatan nyaman dan tenang. Damai
adalah kehidupan yang sentosa. Tapi dapatkah damai
didasarkan pada hal-hal yang didistribusikan kepada semua
orang? Jika kehidupan yang sentosa berarti ada pilihan yang
tak terbatas dan konsumsi berlebihan pada sedikit orang
yang punya privilege (hak-hak khusus) saja, dan selanjutnya
itu pasti berarti kerja keras dan kemiskinan yang meruyak
bagi jutaan orang yang lain. Inikah damai?
Di penghujung awal Perang Dunia Kedua, kakekku,
Eberhard Arnold9, menulis:
Cukupkah sikap yang membela ketenangan?
Kukira tidak memadai.
Bila ribuan orang dibunuh secara tidak adil, tanpa
proses pengadilan di bawah pemerintahan baru Hitler,
bukankah itu sudah berarti perang?
Jika ratusan ribu orang dimasukkan ke dalam kamp
konsentrasi, direnggut kemerdekaannya, dicopot
martabat kemanusiaannya, bukankah itu perang?

9
Eberhard Arnold adalah pendiri Komunitas Bruderhof
berdasarkan Khotbah di Bukit. Penulis, filsuf, teolog Kristiani.
Lahir di Prusia pada 1888. Meninggal 1935. Komunitasnya
dilanjutkan oleh putranya, dan kemudian oleh cucunya, yang
adalah penulis buku ini.
Berbagai Makna 31

Jika jutaan rakyat Asia mati kelaparan, sedang di


Amerika Utara dan di tempat lain ada jutaan ton gandum
ditumpuk, bukankah itu perang?
Jika ribuan perempuan melacurkan tubuhnya dan
menghancurkan kehidupan mereka demi uang; jika jutaan
bayi digugurkan setiap tahun, bukankah itu perang?
Jika orang dipaksa bekerja sebagai budak karena
mereka tak dapat memberikan susu dan roti kepada
anak-anak mereka, bukankah itu perang?
Jika orang-orang kaya hidup di dalam villa-villa yang
dikelilingi kebun-kebun, sedang di kawasan lain
keluarga-keluarga hanya punya satu kamar untuk tinggal
bersama, bukankah itu perang?
Jika orang menyimpan uang dalam jumlah besar
dalam rekening bank sementara yang lain tidak cukup
mendapat uang untuk kebutuhan dasar mereka,
bukankah itu perang?
Jika pengemudi yang ceroboh menyebabkan ribuan
orang mati oleh kecelakaan di jalan setiap tahun,
bukankah itu perang?
Aku tak dapat mewakili suatu aliran yang suka
ketenteraman yang mengatakan bahwa tak ada perang
lagi. Pernyataan itu tidak benar; perang sudah ada hari-
hari ini.... Aku tidak setuju dengan sikap suka
ketenteraman yang wakil-wakilnya justru berpegang
pada akar-akar penyebab perang : para tuan tanah dan
kapitalis. Aku tidak percaya kepada sikap pembela
ketenangan yang ditunjukkan oleh para pengusaha yang
justru menghabisi pesaingnya sampai bangkrut atau para
suami yang tidak dapat hidup dalam damai dan dalam
kasih justru dengan istrinya sendiri....
Aku lebih suka sama sekali tidak menggunakan
istilah “pacifism” (penyuka ketenangan). Tetapi aku mau
memajukan perdamaian. Yesus berkata, “Berbahagialah
orang yang membawa damai!” Jika aku memang
32 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

menghendaki perdamaian, aku harus mewakili damai


di semua bidang kehidupan.
Di dalam khazanah politik, damai mungkin
mengambil bentuk perjanjian dagang, kompromi dan
perjanjian damai. Perjanjian semacam ini biasanya sedikit
lebih dari perimbangan kekuatan yang rapuh, yang
dirundingkan dengan tegang dan acapkali malah
menanamkan benih-benih konflik baru yang lebih buruk
daripada konflik-konflik yang sedang diusahakan untuk
dipecahkan. Ada banyak contohnya, mulai dari Perjanjian
Versailles yang mengakhiri Perang Dunia Pertama tetapi
menghasilkan nasionalisme yang menyulut Perang Dunia
Kedua, hingga Konferensi Yalta, yang mengakhiri Perang
Dunia Kedua tetapi menyebabkan ketegangan yang
mengarah pada Perang Dingin. Gencatan senjata
bukanlah suatu jaminan yang mengakhiri kebencian.
Semua orang setuju bahwa damai merupakan
jawaban atas perang, tapi damai macam apa? Rabbi
Kenneth L. Cohen menulis:
Kegelapan terjadi karena tak ada cahaya, tetapi
damai bukan sekadar karena permusuhan berhenti.
Perjanjian mungkin ditandatangani, para duta besar
berganti, dan tentara dipulangkan ke barak-barak kembali,
namun tetap saja tak ada damai. Damai mempunyai
implikasi metafisik dan kosmis. Damai lebih dari sekadar
tak ada perang. Sesungguhnya, damai bukan berarti
sesuatu tidak ada, tetapi lebih merupakan penegasan
mutlak dari sesuatu yang seharusnya ada.
Berbagai Makna 33

Damai
Dalam Kitab Suci

S alah satu cara mempelajari makna damai adalah


dengan melihat apa yang dikatakan Kitab Suci. Di
dalam Perjanjian Lama mungkin tidak ada konsep yang
lebih kaya daripada kata Ibrani untuk damai: Shalom.
Shalom sulit diterjemahkan karena cakupan konotasinya
begitu dalam dan luas. Maknanya tidak tunggal,
walaupun orang dapat menerjemahkannya sebagai
sesuatu yang lengkap, mendalam dan menyeluruh.
Jangkauannya lebih jauh dari “damai” seperti yang
umumnya kita ketahui dalam bahasa kita.
Shalom memang berarti berakhirnya perang atau
konflik, tetapi juga berarti persahabatan, senang, aman
dan sehat; kemakmuran, kelimpahan, ketenangan,
keselarasan dengan alam, bahkan keselamatan. Dan
semuanya itu untuk semua orang, bukan hanya untuk
sekelompok orang pilihan saja. Shalom akhirnya adalah
berkat, karunia dari Allah. Damai bukan berasal dari
usaha manusia. Shalom berlaku untuk orang perorangan,
tetapi juga berlaku untuk hubungan-hubungan di antara
orang-orang, bangsa-bangsa, dan antara Tuhan dan
manusia. Selain itu, Shalom sangat erat kaitannya dengan
keadilan, karena Shalom adalah kesukaan atau perayaan
dari hubungan manusia yang dibenarkan.
Dalam buku He Is Our Peace, Howard Goeringer
melukiskan makna yang lebih dalam dari Shalom:
Kasih kepada musuh.
34 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Pada tahun 600 SM tentara Babilon menyerang Yudea


dan membawa tawanan dari Yerusalem ke tempat
pengasingan/pembuangan. Situasinya begitu sulit sehingga
Yeremia menuliskan suratnya yang hebat ini kepada para
tawanan di Babilon yang membenci musuh mereka:
“Carilah shalom di kota di mana Aku mengirim kamu
dalam pembuangan, dan berdoalah kepada Allah demi
mereka, sebab dalam Shalom mereka kamu akan
mendapatkan shalommu.”10
Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia
:”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu aku
buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab
kesejehteraannya adalah kesejahteraanmu.”
Para tawanan dipaksa hidup sebagai orang buangan
dan mereka memerhatikan kebudayaan Yahudi mereka
runtuh. Karena membenci orang yang menawan mereka,
rindu kembali ke tanah air mereka, dan kecewa pada
kegagalan Tuhan dalam melindungi mereka, orang-orang
itu tidak percaya pada perkataan Yeremia. Bagaimana
mungkin orang gila suruhan Tuhan itu menyuruh mereka
mengasihi orang yang menawan mereka, menyuruh
mereka berbuat baik kepada musuh, dan menyuruh
mereka memintakan agar Tuhan memberkati para
penganiaya itu dengan shalom?
Seperti dugaan kita, Surat Yeremia itu tidak populer,
bukan best seller. Kaum buangan yang menderita tidak
bisa memahami bagaimana kesejahteraan mereka dan
kesejehteraan musuh mereka terjalin menjadi satu tak
terpisahkan. Membayangkan bagaimana mereka disuruh
melayani bangsa yang menawan mereka dengan semangat
kebaikan hati, merawat bangsa lawan yang sakit,

10
Yer 29:7
Berbagai Makna 35

mengajari anak-anak bangsa musuh dengan permainan


Yahudi, bekerja lembur untuk bangsa asing itu! – itu
semua jelas–jelas bodoh! Tidak masuk akal. Bukan hanya
di mata kaum cerdik pandai dunia, tetapi juga bagi umat
yang paling religius sekalipun.
Damai merupakan tema sentral dalam Perjanjian Baru,
di mana kata eirene paling sering dipakai. Dalam konteks
biblis, eirene jauh melebihi makna klasik kata Yunani itu:
“tenteram,” dan meliputi berbagai konotasi dari shalom.
Di dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus adalah pembawa
tanda dan sarana damai dari Allah. Paulus menyatakan
Kristus adalah perdamaian kita.11 Di dalam Dia segala
sesuatu didamaikan. Dalam Kabar Gembira Kerajaan Allah
itulah segalanya dijadikan benar.

11
Ef 4:12
36 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Damai
Sebagai Tujuan Sosial

D unia penuh dengan para aktivis yang


memperjuangkan tujuan-tujuan yang beharga: ada
yang membela lingkungan hidup dan yang membela para
gelandangan, para aktivis antiperang dan pejuang keadilan
sosial, para pembela kaum wanita yang teraniaya dan kaum
minoritas yang tertindas. Pada tahun enam puluhan banyak
orang dari berbagai kalangan keagamaan turun ke jalan
bersama Martin Luther King12. Dalam tahun sembilan
puluhan banyak orang berjuang menghapus hukuman
mati. Komunitas saya sangat gigih memperjuangkan hal
itu, yang dalam arti yang lebih luas lagi, berjuang melawan
ketidakadilan dalam sistem peradilan Amerika.
Keprihatinan yang kami lontarkan baik di dalam maupun
di luar negeri menunjukkan dengan jelas bahwa politik
tertib hukum lebih terkait dengan kekerasan dan
ketakutan daripada dengan perdamaian.
Beberapa pria dan wanita yang kukenal dalam karya
ini adalah yang paling dedikatif di antara orang-orang
yang pernah kujumpai, dan sedikit pun aku tak
meremehkan prestasi mereka. Namun perpecahan yang

12
Martin Luther King Jr adalah seorang pastor Gereja Baptist yang
menjadi penjuang gerakan hak-hak sipil Amerika Serikat. Orator
ulung. Lahir pada tahun 1929. Pada tahun 1964 menerima Hadiah
Nobel Perdamaian (yang termuda dalam sejarah). Pada tahun 1968
mati ditembak orang (belakangan terungkap pembunuhnya sesama
pendeta). Kematiannya menimbulkan huru-hara di 60 kota karena
para pengagumnya marah. 300.000 orang hadir ketika ia dimakamkan.
Berbagai Makna 37

terjadi pada kehidupan orang lain dan pemisahan yang


sering kali disebabkan oleh pertengkaran mereka sendiri,
tampak jelas menyedihkan.
Mengenang kembali tahun enampuluhan, suatu masa
di mana banyak orang disebut pecandu damai, timbul
beberapa gagasan. Para penggemar kelompok band The
Beatles yang dengan rindu menyanyi; “Beri peluang pada
damai” berulang-ulang tak dapat diremehkan; aku
merasakan mereka itu sungguh-sungguh spiritual. Tidak
seperti mayoritas besar anak muda sekarang, pria maupun
wanita, banyak kaum muda angkatan enam-puluhan dan
tujuh-puluhan menerjemahkan harapan dan impian mereka
menjadi tindakan. Mereka mengadakan demonstrasi dan
mengorganisir acara-acara rapat umum; membentuk
kelompok-kelompok dan melakukan aksi mogok; mereka
melakukan aksi duduk dan pendudukan, berbagai protes
dan melaksanakan proyek pengabdian masyarakat. Tak
seorang pun menuduh mereka itu tak berperasaan. Namun
sulit melupakan kemarahan yang mengubah wajah beberapa
orang yang paling keras menyerukan damai di tahun-tahun
itu, juga perbuatan anarki dan sinisme yang kemudian
melanda seluruh wilayah.
Apa yang terjadi ketika idealisme luntur, ketika pawai
berakhir, ketika Musim Panas Cinta usai? Apa yang terjadi
ketika kelompok-kelompok damai dan hubungan-
hubungan cinta lalu cerai-berai? Apakah damai hanya
menjadi komoditi budaya berupa suatu simbol yang disablon
pada T-Shirt atau dicetak menjadi stiker tempelan di
bemper mobil? Dalam buku The Long Loneliness Dorothy
Day 13, radikal legendaris yang mendirikan Catholic Worker

13
Dorothy Day adalah seorang wartawati Amerika. Seorang Katolik
yang saleh. Lahir pada 1897. Ia menjadi Katolik pada 1927 dan
38 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

memberi komentar tentang kaum muda yang merindukan


dunia yang lebih baik itu kadang melakukan hal yang sama
dengan kaum nihilis (golongan yang yakin bahwa tatanan
sosial adalah buruk sehingga perlu dirusakkan tanpa
memberi alternatif yang konstruktif) dan egois juga. Kaum
muda mengidealkan perubahan, kata Dorothy, tetapi
jarang bersedia untuk mengubah diri mereka sendiri.
Mengutip Rabbi Cohen lagi:
Orang dapat melakukan arak-arakan untuk
perdamaian dan memilih perdamaian, dan mungkin
punya pengaruh kecil terhadap keprihatinan dunia.
Tetapi orang kecil yang sama dapat merupakan raksasa
di mata seorang anak di rumah. Jika damai hendak
ditumbuhkan, mulainya haruslah dari orang perorangan.
Damai dibangun bata demi bata.

mendirikan Gerakan Catholic Worker pada 1933. Gerakannya pada


dasarnya pro-perdamaian, tetapi kadang-kadang juga anarkis. Dorothy
keluar masuk penjara karena aktivitas gerakannya. Anti free-sex pada
tahun 1960-an. Ia meninggal pada 1980. Pada tahun 2000 dicalonkan
menjadi orang kudus oleh Keuskupan Agung New York. Dorothy
oleh banyak orang sudah dianggap orang kudus ketika ia masih hidup.
Berbagai Makna 39

Damai
Dalam Hidup Perorangan

S ylvia Beels bergabung dengan komunitas kami dari


London ketika ia gadis muda sebelum Perang Dunia
Kedua meletus. Sekarang dalam usia sembilan puluh
tahunan ia menceritakan sikap di dalam gerakan
perdamaian di masa mudanya dulu – suatu sikap anti
pembunuhan tetapi tidak menentang ketidakadilan
sosial. Sikap itu mengecewakan dirinya dan membuatnya
penasaran dan mencari sesuatu yang lebih lagi.
Sebuah film perang yang kulihat ketika umurku
sembilan tahunan membuatku ketakutan, dan sejak itu
aku tak pernah menganggap perang sebagai sesuatu yang
baik, walaupun alasannya mungkin baik.
Sesudah aku menikah, suamiku Raymond dan aku
bergabung dengan Left Book Club dan membaca semua
buku mereka. Kami bertemu secara berkala dengan suatu
kelompok teman, membicarakan gagasan-gagasan dalam
buku-buku ini. Kami mencari dan mencari lagi untuk
mendapatkan jalan dalam labirin gagasan manusia –
perang, damai, politik, moral konvensional lawan cinta
bebas – tapi kami tidak juga lebih dekat untuk
menemukan suatu masyarakat yang adil dan damai.
Di kemudian hari, dalam proses persalinan yang sulit
dan lama ketika melahirkan anaknya yang pertama, Sylvia
menyadari bahwa kehidupan pribadinya diwarnai oleh
kesulitan-kesulitan seperti yang dilawannya dalam
masyarakat. Kendati kariernya dalam musik menjanjikan,
namun perkawinannya goyah dan hatinya dalam kemelut.
40 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Suatu ketika di situlah ia memutuskan, bahwa sebelum


ia dapat menyumbangkan sesuatu bagi perdamaian dunia,
ia perlu menemukan damai dalam dirinya dan orang lain
(tak lama kemudian suami Sylvia meninggal karena
penyakit jantung, tetapi mereka dapat berdamai
menjelang kematiannya).
Maureen Burn, seorang anggota komunitas yang lain,
memperoleh kesimpulan yang sama setelah bertahun-tahun
menjadi aktivis antiperang, mula-mula di Edinburgh dan
kemudian di Birmingham, di mana uang, hubungan sosial
dan kepribadian yang ceria membuatnya sangat terkenal
dan menjadi pengikut kelompok pacifisme yang efektif:
Aku selalu seorang yang idealis dan pemberontak.
Walaupun waktu itu aku masih anak-anak, Perang Dunia
Pertama menakutkan aku. Kami diberi tahu bahwa Pemimpin
(Kaiser) Jerman telah memulai perang, dan ketika umurku
sepuluh tahun aku menulis surat kepadanya memohon agar
ia menghentikan perang. Aku selalu menentang perang.
Suamiku, Matthew, seorang pejabat kesehatan
publik yang cukup dikenal, juga seorang pengikut
pacifisme. Setelah mengalami tinggal dalam parit
perlindungan dalam Perang Dunia Pertama, ia menjadi
sangat antimiliter dan pejuang keadilan sosial. Persamaan
minat kami dalam mempelajari Revolusi Rusia 1918,
karya-karya sastrawan Rusia Leo Tolstoy 14 dan
perjuangan Mahatma Gandhi15 dari India menciptakan

14
Leo Tolstoy sastrawan dan filsuf Rusia. Karyanya antara lain Anna
Karenina dan War and Peace. Bersama Mahatma Gandhi dan Martin
Luther King Jr dianggap paling berpengaruh pada abad ke-20. Lahir
pada 1828, meninggal pada 1910. Hidupnya dipengaruhi oleh
Sakyamuni Buddha dan Santo Fransiskus Assisi, dan Khotbah di
Bukit. Seorang pecinta perdamaian yang antikekerasan.
15
Mohandas K. Gandhi atau Mahatma Gandhi dilahirkan pada 1869
di Porbandar, India, adalah tokoh yang memperjuangkan prinsip
Berbagai Makna 41

ikatan di antara kami yang mengantar kami ke dalam


perkawinan. Banyak anak muda akan ke pergi ke
Moskow pada tahun-tahun itu, dan karena kami tertarik
pada cita-cita komunis “dari setiap orang berdasarkan
kemampuannya, untuk setiap orang berdasarkan
kebutuhannya,” aku ingin juga pindah ke Rusia dengan
anak-anakku yang masih kecil.... Hanya kemudian
Matthew berkata, “sebuah bom yang dijatuhkan seorang
komunis sama jahatnya dengan bom yang dijatuhkan
kapitalis,” dan aku mengubah pendirianku.
Matthew selalu menghilang pada Hari Angkatan
Bersenjata. Aku tidak tahu ke mana ia pergi. Ia
berpendapat bahwa parade militer besar-besaran di
Cenotaph merupakan penghinaan terhadap prajurit-
prajurit tak dikenal yang mati dan dikuburkan, yang tak
pernah mendapatkan tanda jasa. Setelah perang ibunda
Matthew memberi tahu aku bahwa Matthew suatu ketika
pernah berkata bahwa ia tak akan berbuat sesuatu lagi
bagi masyarakat yang begitu bobrok, di mana bahkan
pemuka agama pun mengkhotbahkan pembunuhan
kepada kaum muda….
Dalam Perang Dunia Kedua, selama pengeboman atas
Inggris, banyak kota di Inggris mulai melakukan evakuasi
anak-anak dan keluarga Burn harus mendapatkan tempat
bagi keempat anak mereka, sedang yang bungsu belum
genap setahun umurnya. Pekerjaan Matthew sementara
itu mengharuskan dirinya tetap tinggal di kota, dan
Maureen tidak tahu harus pergi ke mana. Pada hari-hari
itu juga Maureen tahu bahwa ia hamil, mengandung
anaknya yang ke lima. Dalam keadaan yang tak menentu

satyagraha atau perlawanan pada tirani dengan pemogokan, dan


ahimsa atau antikekerasan yang mengantarkan India pada
kemerdekaan dari penjajahan Inggris pada 1945. Ia meninggal pada
tahun 1948 di usia 78 tahun karena ditembak.
42 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

karena perang, dia dan Matthew memutuskan untuk


melakukan aborsi.
Waktu aku pulang sesudahnya, suamiku
menyarankan agar aku pergi ke rumah saudariku
Kathleen untuk beristirahat beberapa hari. Kathleen
tinggal di Bruderhof.16 Aku menulis padanya apakah
aku bisa datang dan tinggal di sana untuk beberapa
hari, dan dia menjawab boleh.
Aku tidak membayangkan kejutan yang sedang
menungguku di sana. Aku membaca beberapa literatur
mereka, aku lupa judul bukunya. Di dalamnya
dikatakan dengan tegas bahwa aborsi adalah suatu
pembunuhan: membunuh kehidupan baru dalam
rahim dan di mata Tuhan hal itu tak dapat dibenarkan,
sama dengan pembunuhan yang terjadi di medan
perang. Sampai saat itu aku adalah seorang yang
rasional dan tidak menganggap aborsi begitu
mengerikan. Tapi setelah itu hatiku kemelut dan aku
merasakan untuk pertama kalinya betapa mengerikan
tindakan yang telah kulakukan.
Biasanya aku tidak gampang-gampang menangis
tetapi pada saat itu yang kulakukan adalah menangis
dan terus menangis. Aku sangat menyesal atas apa yang
telah kulakukan dan aku berharap seandainya saja
waktu bisa diputar berbalik dan aku dapat membatalkan
tindakanku itu. Aku hanya seorang tamu dalam
komunitas itu, tetapi saudariku mengantarkan diriku
pada salah seorang pendeta di situ, dan aku
menceritakan semuanya. Ia mengundangku ikut dalam
suatu persekutuan, di mana mereka berdoa untuk

16
Bruderhof berarti tempat untuk para saudara. Didirikan pada tahun
1920 oleh Eberhard Arnold di Jerman sebagai suatu komunitas
yang menghayati cara hidup orang kristen perdana dan Khotbah di
Bukit dari Yesus Kristus (Mat 5-7). Tentang komunitas ini berangsur-
angsur diuraikan dalam buku ini.
Berbagai Makna 43

diriku. Aku segera tahu bahwa aku memperoleh


pengampunan. Suatu mukjizat, suatu karunia. Aku
merasa penuh dengan kegembiraan dan damai, dan
dapat memulai suatu hidup baru.
Tidak ada yang lebih penting atau lebih
menyedihkan dari hidup dan hati kita sendiri yang kita
tahu tidak-damai. Bagi sebagian dari kita, itu berarti
kita masih dikuasai rasa benci atau dendam; bagi yang
lain karena pengkhianatan, pengasingan, atau
kebingungan; yang lain lagi merasa kosong dan tertekan
jiwanya. Dalam makna yang terdalam, semua itu
merupakan kekerasan dan karena itu harus dihadapi
dan diatasi. Thomas Merton17 menulis:
Ada sebentuk kekerasan zaman ini yang begitu
luas tersebar, sehingga biarpun para idealis yang berjuang
untuk damai dengan metode antikekerasan pun mudah
kerasukan aktivisme dan kerja berlebihan. Ketegangan
dan tekanan kehidupan modern merupakan suatu
wajah, mungkin wajah yang paling umum, dari
kekerasan pada diri seseorang. Membiarkan diri terbawa
hanyut oleh begitu banyak urusan mendesak yang saling
bertabrakan, menyerah pada begitu banyak tuntutan,
mengikat diri pada begitu banyak proyek, berhasrat
membantu setiap orang dalam segala hal, adalah sama
saja dengan menyerah pada kekerasan hidup. Lebih
dari itu, orang bahkan bekerja sama dengan kekerasan
itu. Aktivis yang sangat sibuk mengebiri karyanya atas
nama damai. Kesibukannya yang luar biasalah yang
menghancurkan buah dari pekerjaannya, karena
17
Thomas Merton lahir di kalangan jemaat Gereja Inggris pada 1915.
Ia menjadi Katolik pada 1938 dan tinggal di Amerika Serikat. Pada
tahun 1941 menjadi biarawan trapis dan menulis banyak buku
keagamaan yang bersifat mistik. Pada 1949 ia ditahbiskan menjadi
imam. Ia cinta perdamaian dan menentang Perang Vietnam. Sejak
1960 memengaruhi banyak aktivis Katolik. Ia meninggal pada 1968.
44 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

kesibukan itu membunuh akar kebijaksanaan batin


yang mestinya dapat membuat pekerjaannya berbuah.
Banyak orang merasa terpanggil memperjuangkan
alasan-alasan damai, tetapi kebanyakan dari mereka lalu
terpukul mundur begitu mereka sadar bahwa mereka tak
dapat memberikan damai sebelum mereka sendiri
memiliki damai dalam diri mereka. Karena tak dapat
menemukan keselarasan dalam hidup mereka, dengan
segera mereka minggir dari perjuangan itu.
Malahan ada beberapa kejadian yang sangat tragis,
di mana seseorang yang sangat menderita setelah
menyadari ilusi mereka lalu bunuh diri. Penyanyi lagu-
lagu rakyat Phil Ochs, seorang aktivis perdamaian pada
tahun enam puluhan melakukannya; begitu pula Mitch
Snyder, pendiri Pusat Kegiatan Kreatif Non-Kekerasan.
Seorang pembela gelandangan yang sangat dihormati
di Washington DC.
Berbagai Makna 45

Damai Tuhan

D amai sejati bukan sekadar tujuan luhur yang


dijunjung tinggi dan dikejar dengan sungguh-
sungguh. Damai sejati juga tidak begitu saja
didapatkan atau dimiliki. Damai membutuhkan
perjuangan. Damai ditemui dengan melakukan
pertarungan dasar dalam kehidupan: hidup lawan mati,
baik lawan buruk, benar lawan salah. Memang, damai
itu karunia, tetapi damai juga merupakan hasil dari
usaha yang sangat bersungguh-sungguh. Beberapa ayat
di dalam Mazmur menyatakan bahwa di dalam proses
untuk memperoleh damai itulah maka damai itu
ditemukan. Damai semacam itu merupakan hasil dari
usaha menghadapi dan mengatasi konflik, bukan
menghindari konflik. Karena begitu berakar dalam
kebenaran, damai sejati (yaitu damai Allah) mengusik
hubungan-hubungan yang penuh kepalsuan,
menggoyang sistem- sistem yang tidak benar, dan
menelanjangi kebohongan yang dijadikan dasar dari
damai yang palsu. Damai sejati mencabuti akar dan
benih-benih situasi yang tidak damai.
Damai Allah tidak secara otomatis mencakup
ketenangan batin, ketiadaan konflik atau taksiran-
taksiran damai duniawi lainnya. Seperti kita lihat dari
kehidupan Kristus, damai yang sempurna justru
ditegakkan dari penolakan-Nya atas dunia dan atas damai
yang ditawarkan dunia. Dan damai yang sempurna itu
berakar pada kesediaan-Nya untuk mengorbankan diri
dengan cara yang paling mengerikan: mati di kayu salib.
46 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Banyak orang yang menyebut diri sebagai orang


Kristiani dewasa ini melupakan hal ini, atau menutup mata
sepenuhnya pada kenyataan itu. Jika pun kita
menghendaki damai, kita memperjuangkan damai yang
dasarnya adalah keinginan kita sendiri. Kita menghendaki
damai yang gampangan. Tetapi damai tidak terwujud
dengan cepat atau gampang jika diharapkan punya daya
untuk bertahan lama. Damai itu bukan semata-mata
kesejahteraan atau keseimbangan psikologis, suatu perasaan
yang hari ini ada dan besok tiada. Damai Tuhan lebih dari
suatu tingkat kesadaran. Dorothy Sayers menulis:
Aku yakin adalah suatu kesalahan besar
mewartakan Kekristenan sebagai sesuatu yang indah
dan populer, bahwa tak ada yang diserang di
dalamnya.... Kita tak dapat memejamkan mata pada
fakta bahwa Yesus yang lemah lembut itu begitu tegas
pendirian-Nya dan begitu tajam menyerang dalam kata-
kata-Nya sehingga Ia didorong keluar dari tempat
ibadat, dilempari batu, dikejar-kejar dari satu tempat
ke tempat lain dan akhirnya ditangkap sebagai
penghasut dan musuh masyarakat. Apa pun damai-Nya
itu, yang jelas bukanlah damai yang timbul dari sikap
bersahabat yang tak acuh pada keadaan.
Hendak aku katakan bahwa kendati aku beriman
kepada Kristus dan kendati bahasa buku ini yang oleh
sementara orang dianggap agak gerejawi, aku tidak yakin
bahwa orang harus menjadi Kristiani untuk mendapatkan
damai Yesus itu. Memang kita tidak dapat melalaikan
pernyataan Yesus: “Dia yang tidak mengumpulkan
bersama-sama Aku, ia mencerai-berikan,” dan “Siapa
tidak bersama Aku melawan Aku.”18 Tetapi apa artinya
perkataan itu bagi Yesus sendiri? Bukankah Dia
18
Mat 12:30
Berbagai Makna 47

menyatakan dengan jelas bahwa masalahnya bukanlah


kata-kata ibadat ataupun sekadar wujud kesalehan
belaka? Ia menghendaki sikap yang lembut dan penuh
belas kasihan – demi cinta kasih.19 Dia berkata biarpun
hanya segelas air untuk orang yang kehausan akan
dihargai “dalam Kerajaan Surga”.20
Yesus adalah seorang pribadi, bukan suatu konsep
atau karangan teologi, dan kebenaranNya menjangkau
lebih luas dari sekadar yang dapat dipahami oleh pikiran
kita yang terbatas. Dalam kasus tertentu jutaan
pengikut Buddha, para Muslim, orang Yahudi, bahkan
mereka yang tidak mengenal Allah dan yang
menyangkal Allah (ateis) melaksanakan cinta yang
diperintahkan Yesus agar dilakukan 21, lebih mantap
daripada banyak orang yang menyebut dirinya Kristiani.
Maka tidaklah pada tempatnya bagi kita untuk menilai
apakah mereka memiliki damai Kristus atau tidak.

19
Mat 9:13; 12:7.
20
Mat 10:42
21
Yoh 15:12
48 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Damai
yang Mengatasi Pemahaman

B eberapa pembaca mungkin dapat menimba manfaat


jika di sini aku melanjutkan kajian atas berbagai
pemahaman akan damai, dan membahas apakah damai
itu suatu status (keadaan) ataukah cara hidup. Yang
lain mungkin hanya ingin tahu apakah yang
kumaksudkan ketika aku mengatakan bahwa orang
mengupayakan damai. Apakah mereka berusaha agar
lebih akrab dengan orang lain, ataukah mereka haus
akan damai untuk diri mereka sendiri? Apakah mereka
rindu akan kepercayaan dan cinta kasih, akan sesuatu
yang lebih baik daripada hanya menarik diri dan diam
saja? Sesuatu yang berbeda sama sekali? Intinya, apa
itu damai? Suatu gagasan dari buku-buku kakekku
membantuku. Ia menulis tentang damai tiga dimensi:
kedamaian jiwa bersama Tuhan; hubungan yang rukun
dan damai tanpa kekerasan dengan orang lain; dan
ditegakkannya tatanan sosial yang adil dan damai.
Namun pada akhirnya, masalahnya bukanlah
mengenai definisi yang terbaik, sebab definisi tidak
membantu kita mendapatkan damai itu. Untuk
mendapatkan makna damai itu kita harus mengalaminya
dalam kenyataan praktis, bukan hanya sesuatu yang ada
dalam kepala kita, juga bukan hanya dalam hati kita,
melainkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sadhu Sundar Singh, seorang mistikus Kristiani dari
India dari permulaan abad yang lalu menulis:
Berbagai Makna 49

Misteri dan realitas hidup yang bahagia dalam Tuhan


tidak dapat dipahami tanpa menerima, menghayati, dan
mengalaminya. Jika kita berusaha memahaminya dengan
pikiran saja, usaha kita itu tidak berguna.
Seorang ilmuwan memegang burung di tangannya.
Ia melihat burung itu punya kehidupan. Lalu ia ingin
tahu di bagian tubuh yang mana dari burung itu terletak
kehidupannya. Maka ia mulai mengiris-iris burung itu.
Hasilnya, kehidupan yang dicarinya itu hilang. Mereka
yang berusaha memahami misteri hidup sejati secara
intelektual niscaya menemui kegagalan seperti itu. Hidup
yang dicarinya akan lenyap dalam analisisnya.
Seperti air tak akan tenang sebelum mencapai
kepenuhannya, jiwa pun tak akan damai sebelum
tinggal dalam Tuhan.
50 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
51

Bagian

III

Berbagai Paradoks
“Aku seorang tentara Kristus. Aku tak bisa berperang.”
St. Martinus dari Tours
52 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Berbagai Paradoks

K ita telah melihat bahwa walaupun kerinduan akan


damai begitu mendalam, suatu kelaparan universal,
namun damai sulit dirumuskan. Memang begitulah
kebanyakan hal yang bersifat rohani. Elias Chacour,
seorang imam Palestina, teman baikku, memberikan
komentar tentang hal ini dalam bukunya Blood Brothers.
Ketika bicara tentang agama-agama besar dari Timur ia
menunjukkan bagaimana para pemikir mereka (kontras
dengan banyak pemikir dalam budaya Barat) merasa
nyaman dengan berbagai paradoks dan bersedia
menerimanya dan hidup dengan paradoks-paradoks itu
dan tidak berusaha menyingkirkannya.
Barangsiapa membaca Injil tentu tahu betapa Yesus
juga mengandalkan paradoks dan perumpamaan untuk
melukiskan kebenaran yang sangat dalam. Bagi pikiran
rasional, suatu paradoks tampak bertentangan
(kontradiktif), namun justru karena sifatnya itu, paradoks
memaksa kita melihat kebenaran di dalamnya dengan
mata yang baru. Dalam pengertian ini aku menulis bagian
berikut, masing-masing bagian merupakan suatu papan
loncatan ke arah pengertian yang lebih dalam atas damai.
Berbagai Paradoks 53

Bukan Damai Tapi Pedang


Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang
untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan
untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku
datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, dan
anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari
ibu mertuanya dan musuh orang ialah orang-orang seisi
rumahnya. Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih
daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa
mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih
daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Yesus dari Nazareth

K etika Matius mencatat kata-kata Yesus ini dalam bab


kesepuluh dari Injilnya22, ia memberikan argumen
yang disukai generasi-generasi Kristiani untuk
mempertahankan penggunaan kekuatan dalam berurusan
dengan orang lain. Tetapi sesungguhnya apa yang
dimaksud oleh Yesus? Yang pasti ia tidak bermaksud
membenarkan atau memajukan kekerasan dengan
menggunakan senjata. Bahkan sekalipun Ia mengusir
para penukar uang dari Bait Allah dengan cambuk 23,
namun Ia kemudian menegur Petrus karena telah
memotong telinga seorang prajurit dengan pedang dan
berkata, “Barang siapa menggunakan pedang, akan
binasa oleh pedang,”24 dan apa yang dilakukannya sampai
hembusan napas terakhir di kayu salib, mencerminkan

22
Mat 10:34-35
23
Yoh 2:12
24
Mat 26: 52
54 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

kata-kata-Nya “Segala sesuatu yang kamu kehendaki


supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian
juga kepada mereka.”25
Bagiku jelas bahwa pedang yang dimaksudkan
Yesus bukanlah pedang yang merupakan senjata
manusia. Di dalam surat Rasul Paulus kita membaca
tentang pedang Roh Kudus yang dibandingkan dengan
pedang pemerintah, yang kadang-kadang disebut
pedang yang fana atau pedang kemurkaan Allah 26
Paulus menyatakan bahwa Allah Bapa menarik Roh
Kudus dari dunia karena pria dan wanita tidak taat
kepada-Nya; sebaliknya, Ia menyerahkan mereka
kepada “pedang” pemerintahan dunia, yang
kelangsungan dan wewenangnya berakar dalam
kekuatan tentaranya. Tetapi Gereja tentu tidak boleh
menggunakan senjata fisik, Gereja harus setia kepada
satu kekuatan saja: Kristus, dan pengikut-pengikutNya
hanya boleh menggunakan pedang Roh Kudus.
Di tempat lain dalam Kitab Suci pedang digunakan
sebagai lambang kebenaran. Seperti senjata fisik yang
dilukiskannya, pedang, ini memotong segala sesuatu yang
mengikatkan kita pada dosa. Pedang itu membersihkan
dan menonjolkan (penulis Surat kepada orang Ibrani
menyebutnya “memisahkan sendi-sendi dan sumsum)27,
namun maksudnya bukanlah menghancurkan atau
membunuh. Mengutip penyair Phillip Britts dari Bruderhof,
damai adalah “persenjataan kasih dan penebusan.... bukan
persenjataan dunia, tapi persenjataan hasrat akan
kebenaran.” Perangnya bukan pergumulan antarmanusia

25
Mat 7:12
26
Rm 13:4
27
Ibr 4:12
Berbagai Paradoks 55

satu sama lain, tetapi antara “sang pencipta melawan si


perusak; perang antara hasrat akan kehidupan melawan
hasrat kematian; perang antara cinta melawan kebencian;
antara persatuan melawan perceraian.”
Di dalam Injil tertulis, “sejak tampilnya Yohanes
Pembaptis sampai sekarang, kerajaan surga diserong dan
orang yang menyerong mencoba mengusainya.” 28
Walaupun ini merupakan salah satu di antara wejangan
Yesus yang sulit, arti kata “diserong” cukup sederhana.
Kita tak dapat duduk dan menunggu surga, demi
kerajaan damai dari Allah, agar jatuh ke pangkuan kita.
Kita harus merebutnya dengan penuh hasrat. Thomas
Cahill menyatakan: “yang penuh hasrat, habis-habisan
dan di luar batas punya kesempatan lebih baik untuk
merebut surga daripada mereka yang puas diri, ragu-
ragu dan yang lengket dengan dunia.” Yang menarik,
kosa kata Kristiani tidak sendirian menggunakan bahasa
kekerasan untuk melukiskan jalan damai. Menurut
seorang nara sumber Muslim kata jihad tidak hanya
berarti perang suci Islam, tetapi juga perang spiritual
yang terjadi dalam diri setiap orang.
Banyak orang Kristiani sekarang menyepelekan
perang spiritual. Di satu pihak mereka menganggap hal
itu semacam imajinasi; di lain pihak ada yang merasa
bahasa yang digunakan untuk melukiskannya terlalu
konfrontatif, terlau kasar, dan yang lebih buruk lagi,
terlalu kuno. Namun perang kosmis antara malaikat
Allah dan cecunguk setan terus berlangsung hingga saat
ini, kendati makin kurang saja yang percaya tentang hal
itu. Mengapa hanya karena kita tidak dapat melihatnya
kita menganggap hal itu hanya rekaan pikiran?

28
Mat 11:12
56 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Aku percaya bahwa daya yang tampil dari yang baik


dan yang jahat sungguh nyata seperti daya-daya fisik yang
membentuk alam semesta, namun karena kita tidak bisa
mengetahuinya, kita tidak dapat menyaksikan
pertempuran besar yang terjadi di antara mereka.
Sebagaimana cahaya tidak dapat berbagi ruang dengan
kegelapan, maka baik dan jahat tidak dapat ada bersana
dalam damai, dan karena itu kita harus memutuskan
untuk ikut di pihak mana.
Sekitar dua puluh lima tahun lalu, sebagai tetua
komunitas Bruderhof, ayahku29 menyusun suatu dokumen
yang berulangkali dilihat orang lagi selama bertahun-
tahun. Suatu “kesepakatan” yang ditanda-tangani oleh
semua anggota komunitas kami ketika ditulis (dan
disetujui oleh setiap anggota terbaru), karena sering
membantu kami mempertajam fokus kami pada akar suatu
masalah tertentu yang sedang kami hadapi.
Kami memaklumkan perang kepada segala pelecehan
terhadap semangat seperti anak-anak yang
diajarkan Yesus.
Kami memaklumkan perang kepada segala kekejaman
emosional dan fisik terhadap anak-anak.
Kami memaklumkan perang kepada semua usaha untuk
menguasai jiwa orang lain.
Kami memaklumkan perang kepada segala kebesaran
manusia dan semua bentuk pameran kehebatan.
Kami memaklumkan perang kepada kebanggaan palsu
termasuk kebanggaan kolektif.
Kami memaklumkan perang kepada semangat dendam,
kebencian dan keengganan untuk memaafkan.

29
Yang dimaksud adalah J. Heinrich Arnold (1913-1982).
Berbagai Paradoks 57

Kami memaklumkan perang kepada segala macam


bentuk kekejaman kepada orang lain termasuk
kekejian terhadap pendosa.
Kami memaklumkan perang kepada semua
keingintahuan tentang sihir atau kegelapan setan.
Salah satu risiko terbaru di dalam berperang melawan
yang jahat adalah salah menerapkan sesuatu perlawanan
sifat pada tatanan fisik manusia, dengan menciptakan
kubu antara “orang baik” dan “orang jahat. Kita sering
bicara tentang Tuhan dan gerakan yang berlawanan
dengan setan dan dunia, namun kenyataannya adalah
garis pemisah antara baik dan jahat itu juga melewati
setiap hati manusia. Dan siapa yang akan kita adili selain
diri kita sendiri?
Gandhi suatu ketika mengajar, “jika Anda membenci
ketidakadilan, tirani, keserakahan dan kerakusan,
bencilah semua itu dalam diri Anda lebih dulu.” Setiap
orang membentuk suasana tertentu di sekelilingnya. Ketika
“bertarung demi kebaikan” janganlah lupa berhenti
sebentar, di sana atau di sini, dan bertanya pada diri sendiri,
apakah suasana yang terbentuk itu penuh ketakutan atau
suasana kasih yang menyingkirkan rasa takut.
Ada godaan untuk membawa pertarungan itu ke luar
melawan orang lain daripada ke dalam melawan diri
sendiri. Karena ngeri pada keadaan dunia dan cara hidup
orang lain, kita mungkin dipenuhi perasaan bahwa kita
benar (jika bukan pembenaran diri). Namun bukannya
mengajak orang lain menuju hidup baru dengan menarik
hatinya, kita hanya memisahkan diri dari mereka,
membuat jarak. Padahal, pertarungan itu seharusnya
terlaksana dalam hati kita dulu.
Tentang ini seorang pelayan umat, Glenn Swinger,
baru-baru ini menulis kepadaku:
58 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Setelah mengalami pertobatan, saya dibaptis pada


pertengahan usia empat puluhan. Saya mengakui setiap
dosa yang saya ingat, memperbaiki hubungan yang salah
dengan orang lain dan berusaha melihat betapa dalam
saya telah menentang Allah. Saya merasa mendapat
pengampunan, yang membawa kegembiraan dan
perdamaian. Tetapi ayah Anda, yang membaptis saya,
berkata “Sekarang pertarungan yang sesungguhnya
dimulai.” Saya pada waktu itu tidak benar-benar
mengerti masalahnya, tetapi saya berkata pada diri saya
sendiri agar waspada.
Sedikit demi sedikit ternyata kembali lagi pada
cara hidup saya yang lama, dan berangsur-angsur setan
kecil kesombongan, iri hati dan kecemburuan masuk
lagi dalam hidup saya. Memang, pengalaman baptis
mengubah diri saya, saya tidak menyangkal. Namun
saya belum mengalahkan diri saya sendiri. Diri saya
sendiri masih merupakan pusat dari semua pengalaman
batin saya. Saya menghayati kehidupan yang hebat
dengan kekuatan saya sendiri, dengan kemampuan
saya sendiri. Saya tidak “berjaga dan berdoa” sehingga
pencobaan masuk ke dalam hati saya.... Akhirnya cinta
pertama saya dengan Kristus berantakan.
Kemudian muncullah sikap munafik, dan saya
mengalami sakitnya tuntutan keadilan. Saya diminta
lengser dari tugas saya sebagai pelayan jemaat dan
pengajar. Saya meninggalkan Bruderhof selama empat
bulan, dan selama itu saya dapat melihat dosa-dosa saya
dan menyesalinya. Setelah pulang kembali dan
menerima maaf dari saudara-saudara yang tempo hari
saya tinggalkan, saya mendapatkan kebebasan baru,
cinta dan perdamaian.
Perjuangan masih timbul setiap hari, tetapi selama
beberapa tahun saya belajar sesuatu dari 1 Kor 13:13;
“demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman,
pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya
Berbagai Paradoks 59

adalah kasih.” Saya tak dapat mengadili atau memandang


rendah orang lain, bagaimana pun keadaannya. Orang
yang kaya membuat jarak antara dirinya dan Lazarus,
dalam kehidupan selanjutnya kedudukan mereka
dibalik.30 Ada dua kekuatan dasar yang bekerja dalam
diri kita, baik dan jahat, dan dalam pertarungan di antara
keduanya kita diadili dan berkali-kali memperoleh
pengampunan. Di dalam pertarungan yang terus
berlangsung inilah kita mengalami damai sejati.
Pengamatan Glenn Swinger sangat menentukan
pemahaman atas paradoks. “Aku datang ke dunia bukan
membawa damai, tetapi pedang”, karena menyentuh
maknanya yang paling dalam. Pedang Kristus adalah
kebenaran, dan kita harus membiarkannya memotong
tandas dan berulang kali kapan saja dosa bertumbuh
dalam hidup kita, menegarkan diri dan melindungi diri
kita terhadap pedang itu berarti menutup diri kita pada
kerahiman dan kasih Allah.

30
Luk 16:19-31
60 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Kekerasan Kasih

D amai sejati memerlukan senjata, dan juga


mengucurkan darah, tetapi bukan dalam makna
yang sekadar kita bayangkan. Kristus melarang kita
menggunakan kekerasan terhadap orang lain, namun
ia jelas meminta kita sedia menderita di tangan orang
lain. Dia sendiri “memberikan perdamaian kepada kita
melalui darahnya,”31 seperti dikatakan dalam Perjanjian
Baru, dan selama berabad-abad pria dan wanita
mengikuti teladanNya, dan bersedia mengorbankan
dirinya demi iman mereka.
Pentingnya kematian seseorang demi iman mungkin
merupakan suatu hal yang paling sulit dijelaskan.
Kebanyakan dari kita gemetar ngeri membayangkan
pemandangan orang yang dibakar, ditenggelamkan, dan
dibelah. Namun para saksi mata berulang kali menulis
tentang damai yang diperlihatkan oleh para martir itu
pada saat-saat terakhir mereka.
Buku The Chronicle of The Hutterian Brethren, suatu
sejarah era Reformasi yang memuat catatan tentang
banyak martir, menggambarkan orang- orang yang
menyongsong kematian mereka sambil menyanyi gembira.
Seorang di antaranya, Conrad, anak muda yang akan
dihukum mati, tetap tenang dan begitu mantap sehingga
orang-orang yang menonton berharap tak ingin bertemu
dia lagi, anak muda itu membuat mereka resah.
Bagi kebanyakan orang kematian sepertinya tak
akan berakhir. Kita tidak lagi diminta mempertahankan
31
Lih Kol 1:20
Berbagai Paradoks 61

iman kita dengan kata-kata, dan gambaran menderita


secara fisik demi iman kelihatannya sangat berlebihan.
Bersamaan dengan itu tidaklah dirasakan menyakitkan
lagi untuk mempertimbangkan iman bagi mereka yang
telah siap menderita demi keyakinan-keyakinan mereka,
juga bagi kita sendiri jika kita telah siap melakukan
hal yang sama. Setiap orang bisa mengendalikan
emosinya dan dapat tetap berdiri teguh menghadapi
kesulitan-kesulitan setiap hari. Namun supaya tetap
damai menghadapi perjuangan keras termasuk
menghadapi kematian, diperlukan lebih dari sekadar
maksud baik. Di suatu tempat pasti ada cadangan
kekuatan yang sangat besar.
Uskup Agung dari El Salvador Oscar Romero
menyentuh rahasia damai ini ketika ia berpidato, tak
lama sebelum ia mati tentang pentingnya “menerima
kekerasan cinta.” Romero dibunuh pada tahun 198032
karena lantang membela kaum miskin.
Kekerasan cinta ... membiarkan Kristus tergantung
pada salib; kekerasan itulah yang harus kita lakukan
pada diri kita sendiri untuk mengatasi egoisme kita dan
ketidakadilan yang kejam di antara kita. Kekerasan
itu bukan kekerasan pedang atau kekerasan kebencian.
Itu adalah kekerasan persaudaraan, kekerasan yang
melebur persenjataan menjadi hal yang tidak
menyakitkan demi karya perdamaian.

32
Oscar Romero adalah Uskup Agung San Salvador . Lahir 1917.
Ditahbis menjadi imam tahun 1942. Pada tahun 1966 menjadi rektor
Seminari Tinggi Interdiosesan Salvador. Tahun 1975 menjadi Uskup
Santiago. Menjadi Uskup Agung San Salvador 1977. Ia
memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang ketidak adilan
dan membela kaum miskin. Untuk itu ia memajukan Teologi
Pembebasan. Pada 1980 ia ditembak sesudah homili dan meninggal.
Tahun 1997 ia dicalonkan menjadi orang kudus.
62 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Demikianlah cinta Kristus merupakan daya bagi


kebenaran dan kekudusan, yang melawan hingga
mendasar semua yang tidak suci dan bertentangan dengan
kebenaran. Kasih semacam itu jelas sangat berbeda dengan
yang diajarkan pengarang Marianne Williamson dari aliran
New Age yang populer, yang menyatakan bahwa untuk
memperoleh damai, yang perlu kita lakukan adalah
mengasihi diri kita sebagaimana adanya dan “menerima
Kristus yang telah ada dalam diri kita.”
Tidak mengherankan bahwa banyak orang menyukai
khotbah Marianne. Kita tahu bahwa setiap orang
Kristiani harus memanggul salibnya sendiri, tetapi kita
tidak ingin membahas soal itu. Kita lebih menyukai
religiositas gereja modern yang hangat bersahabat dan
suka cita yang dijanjikan para malaikat di Betlehem33
daripada kedamaian yang telah dimenangkan Yesus
dengan susah payah di Golgotha. Kita mengakui hasil
karya Yesus ketika Ia mati - “Bapa, ke dalam tanganMu
kuserahkan jiwaKu” 34, tetapi melupakan sakratulmaut
yang dialamiNya di taman Getsemani pada malam yang
panjang dan sepi sebelumnya 35. Kita lebih menyukai
kebangkitan tanpa penyaliban.
Belakangan ini suatu ayat dalam Kitab Yeremia
menyentuhku: “Bukankah kata-kataku seperti api,
seperti palu yang memukul hancur batu karang?”36 Tuhan
hanya bermaksud menggambarkan kerasnya hati manusia.
Biasanya kita menggambarkan kekerasan hati itu pada
wujud orang terpidana: pembunuhan, pemerkosaan,
33
Luk 2:14
34
Luk 23:46
35
Mat 26:36-46 par
36
Yer 23:29
Berbagai Paradoks 63

pezinah, pencuri. Tetapi dalam perjumpaan rohani dengan


penghuni penjara aku mendapatkan betapa penjahat yang
paling keji sekalipun punya hati yang lembut, karena ia
sangat sadar akan dosa-dosanya. Betapa ingin aku
mengatakan hal seperti itu pada orang-orang lain yang
kulayani – orang “baik-baik” yang penuh dengan ego dan
citra diri yang dibangun dengan cermat. Sebab mungkin
justru hati yang paling keras adalah hati mereka yang
tertimbun oleh hal-hal semacam itu.
Sekalipun kita sadar akan kekurangan-kekurangan
dan perjuangan kita, seringkali kita menolak kekerasan
cinta. Kita mencari damai sejati dan abadi dan tahu
bahwa damai itu menuntut pengorbanan dari kita, tapi
dengan cepat kita menawar pengorbanan itu sekecil-
kecilnya. Seorang anak muda dalam jemaatku suatu
ketika berkata, “Saya berjuang terus untuk mendapatkan
kedamaian, tetapi kemudian saya bertanya pada diri saya
sendiri, ‘untuk apa kamu bersusah payah seperti itu?
Apakah sungguh ada gunanya?’ Tentu saja aku tak dapat
memberikan suatu jawaban bagi dirinya. Tetapi ketika
mengenangkan hal itu aku dapat kembali mengajukan
pertanyaan kepadanya: jika damai tidak berharga bagimu,
bagaimana mungkin kamu berusaha mencarinya?
Walaupun kedengaran aneh, mereka yang paling
yakin bahwa mereka tidak mempunyai kedamaian
kadang-kadang berada sangat dekat untuk mendapatkan
kedamian itu. Robert (nama samaran) adalah seorang
terpidana di suatu penjara negara. Ia melakukan
kejahatan yang mengerikan dan berulangkali ia tersiksa
oleh kenangan tentang apa yang telah dilakukannya
sehingga ia merasa tak tahan hidup sehari lagi. Kadang-
kadang, situasi seperti itu membuatnya merasa damai.
Dalam sepucuk suratnya ia menulis:
64 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Anda bertanya apakah saya dapat menulis


sesuatu tentang damai, damai Tuhan. Saya ingin
mendapatkannya, tapi saya merasa tidak layak.
Perasaan bahwa saya tidak layak itu adalah karena
saya rasa damai yang Anda bicarakan itu justru berada
di luar seluruh hidup saya.
Saya mencari damai dalam banyak cara melalui
para wanita, nenek saya, melalui prestasi, melalui
narkotika, dan kadang-kadang melalui kekerasaan dan
kebencian; melalui seks, perkawinan, anak-anak, uang
dan harta. Saya tak memperoleh damai dari semua hal
itu. Namun sungguh aneh. Walaupun saya tak pernah
mengalami kedamaian, tetapi saya mengenalnya dan
saya tahu rasanya. Saya melukiskannya sebagai
kemampuan untuk bernapas dan tidur. Sepanjang hidup
saya (dan masih sering saya alami) saya merasa tercekik
atau tenggelam sehingga saya harus terus berjuang
untuk bisa bernapas dan beristirahat.
Saya merindukan damai semacam itu. Saya tahu …
bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkan damai
seperti itu adalah melalui Kristus, namun damai itu tetap
menolak saya. Saya tidak mengalami damai karena apa
yang telah saya lakukan dan apa yang dialami orang lain
karena tindakan saya itu. Saya menyesal, sungguh.
Saya mohon untuk mendapat kesempatan kedua,
di luar penjara dari baja dan beton buatan manusia, dan
di luar penjara dosa dari setan. Saya tahu bahwa Tuhanlah
yang dapat memberikan hal itu dan di situlah kutaruh
iman dan harapanku.
Jika Tuhan akhirnya menjawab doa saya setelah
semua derita, kegelisahan dan usaha saya ini, niscaya
saya akan merasakan kedamaian. Begitu pula saya merasa
damai karena tahu bahwa ada orang yang mengasihi
saya begaimana pun saya ini dan apa pun yang telah
Berbagai Paradoks 65

saya lakukan dan memberi ampunan agar saya


memperoleh kesempatan kedua itu….
Nada surat yang ditulis Robert serasa tak punya
harapan, tetapi aku (dan teman-teman lain yang
berkunjung kepadanya) memerhatikan perubahan yang
pasti pada dirinya sejak ditangkap tiga tahun sebelumnya.
Bukan karena dia telah mencapai “pencerahan” dan
mantap; sejujurnya tak seorang pun bisa mengatakan
bahwa Robert memperoleh kedamaian itu. Tapi Robert
sangat lapar akan kedamaian itu. Dan karena ia akan
berjuang keras melalui penyesalan yang sesungguhnya, ia
mungkin lebih dekat dengan Tuhan daripada kami semua.
Dalam suatu paragraf tentang damai dalam sebuah
naskah Hindu kuno, Bhagawad Gita37, dikatakan: Bahkan
para pembunuh dan pemerkosa ... dan kaum fanatik yang
paling kejam sekalipun dapat mengenal penebusan melalui
kekuatan cinta, jika saja mereka bersedia menerima
rahmatnya, yang sekalipun pahit namun menyembuhkan.
Melalui transformasi yang menyakitkan mereka akan
memperoleh kebebasan, dan hati mereka akan menemukan
kedamaian.” Dan di dalam surat Kepada Orang Ibrani kita
baca, “Memang didikan dan ajaran pada waktu diberikan
tidak mendatangkan suka cita, tetapi duka cita. Tetapi
kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang
memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”38
Robert mungkin tidak mengenal kedua naskah itu. Tetapi
di dalam usaha perjuangannya, ia mengalami kebenaran
dari keduanya. Ia menghayati kekerasan cinta.
37
Bhagavad Gita adalah naskah dari abad ke-3 Seb.M yang merupakan
petikan dari Mahabaratha, episode Bhisma Parwa, berisi
pembicaraan antara Krisna dan Arjuna mengenai tugas seorang
senapati perang dan Pangeran ketika Arjuna ragu melawan
kakeknya sendiri, Bhisma dalam perang.
38
Ibr 12:11
66 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Tak Ada Hidup


Tanpa Kematian

S ewaktu mengerjakan buku ini, dua perkataan Yesus


dalam Injil Yohanes secara khusus memperdalam
pemahamanku tentang damai: “jikalau biji gandum
tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji
saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak
buah.” Dan “barang siapa (demi Aku) tidak mencintai
nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk
hidup yang kekal.”39
Begitu pula tak ada perdamaian abadi tanpa
perjuangan, sebagaimana tak ada hidup sejati tanpa
kematian. Karena kita tidak berhadapan dengan ancaman
maut, kita tak dapat memahami fakta yang penting ini.
Kita lupa bahwa untuk memahami damai Yesus, kita
pertama-tama harus memahami penderitaanNya.
Kesediaan untuk menderita memang penting, tetapi tidak
memadai. Penderitaan itu juga harus dialami. Sebagaimana
pernah dituliskan oleh ayahku: “Mengalami, biarpun
sedikit, cita–rasa yang dipersembahkan ‘demi Tuhan’ sangat
menentukan bagi hidup rohani kita.”
Bagi kebanyakan dari kita, cita rasa yang
dipersembahkan “demi Tuhan” mungkin tampak negatif
dan tak berhubungan dengan damai. Sebab hal itu terkait
dengan duka cita, bukan suka cita; penderitaan, bukan
kebahagiaan; pengorbanan diri, bukan pemeliharaan diri.
Hal itu berkaitan dengan kesepian, penyangkalan,

39
Yoh 12:24-25
Berbagai Paradoks 67

pengasingan dan rasa takut. Namun jika kita mau


menyadari artinya kehidupan, kita harus dapat
menemukan makna itu dari semua hal ini! Penderitaan,
seperti dikatakan oleh psikiater terkenal Viktor Frankl
“tak dapat dihapus dari paket kehidupan. Tanpa
penderitaan, hidup manusia tidak sempurna.”
Banyak orang berusaha menghabiskan waktunya
menghindari kebenaran ini; mereka adalah orang-
orang yang paling bahagia di dunia ini. Yang lain
memperoleh damai dan kepunahan dengan menerima
hal ini. Mary Poplin, seorang Amerika yang tinggal
bersama para Misionaris Suster-suster Cinta Kasih di
Kalkuta pada 1996, berkata:
Para misionaris memandang pencobaan dan
hinaan sebagai saat untuk memeriksa diri, untuk
membangun kerendahan hati dan kesabaran untuk
mencintai musuh – itulah kesempatan-kesempatan
untuk bertambah kudus. Bahkan penyakit pun sering
ditafsirkan sebagai cara untuk mendekatkan diri pada
Tuhan, cara Tuhan mewahyukan diri dengan lebih jelas,
dan peluang untuk merenungkan masalah-masalah
karakter dengan lebih mendalam lagi.
Kita telah membuang banyak waktu dalam hidup
kita dalam usaha untuk memperingan dan
menghindari penderitaan, dan ketika penderitaan itu
datang, kita tak tahu harus berbuat apa. Kita bahkan
tidak mengerti bagaimana menolong orang lain yang
menderita. Kita melawan penderitaan, melemparkan
kesalahan kepada perorangan dan sistem sosial serta
berusaha melindungi diri sendiri. Jarang di antara kita
menganggap penderitaan sebagai karunia dari Allah,
yang memanggil kita untuk menjadi lebih suci.
Sementara kita sering berkata bahwa krisis dan masa
penderitaan membangun karakter, kita justru menghindar
dari keduanya sejauh mungkin dan berusaha terus
68 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

menciptakan berbagai teknik untuk memberikan


kompensasi demi menekan atau mengatasi penderitaan.
Banyak bacaan sekuler kita menunjukkan bahwa ibu Teresa
dan para misionaris secara psikologis cacat, karena menerima
penderitaan dan rasa sakit. Setelah bekerja bersama mereka,
aku kira pandangan sekuler itu meleset jauh sekali dari
kebenaran. Kita orang Amerika jarang sekali memikul
tanggungjawab atas penderitaan kita sendiri. Dan tanpa
memandang situasi, setiap kita adalah yang paling miskin
dalam hal pilihan untuk menanggapi penderitaan.
Bagi para misionaris itu, penderitaan bukan hanya
suatu pengalaman fisik, tetapi juga suatu penjumpaan
spiritual yang mendorong mereka untuk mempelajari
tanggapan-tanggapan baru, untuk mengusahakan
pengampunan, untuk berpaling kepada Allah, untuk
bertindak seperti Kristus, dan untuk bersyukur karena
penderitaan memberikan hasil yang baik pada diri
mereka. Dan akhirnya penderitaan itu membuat
mereka melakukan tindakan.
Begitu pula kesaksian orang seperti Philip Berrigan40,
yang tidak hanya menerima derita di dalam kehidupan
mereka, tetapi juga merangkulnya. Philip tahu lebih
banyak tentang makna kehilangan nyawa “demi Aku”
daripada kebanyakan orang Kristiani sekarang. Baginya
menjawab panggilan Kristus untuk hidup sebagai murid-
Nya berarti penganiayaan dari penjara di masa yang satu
ke penjara yang lain di masa lainnya pula. Pada tahun
1960-an, Daniel, saudaranya juga ditangkap karena
memprotes Perang Vietnam dan selama sebelas tahun
meringkuk dalam penjara.
Musim gugur yang lalu aku mengunjungi Philip di
suatu penjara di kota Maine di mana ia ditahan karena
pembangkangan sipil. Beberapa minggu kemudian ia
40
Lih. Catatan kaki no. 7
Berbagai Paradoks 69

dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Dua tahun lagi ia


harus berpisah dengan istrinya, Elizabeth McAlister dan
ketiga anak mereka. Ini bukan yang pertama kali mereka
berpisah. Tapi baik Phillip maupun Elizabeth tidak kecil
hati. Dalam sepucuk surat yang ditulis Elizabeth
untuknya, Elizabeth merenungkan dasar perjuangan
perdamaian mereka, yang sering salah dimengerti dan
dikritik karena terlalu dipolitisir, dengan menunjukkan
optimismenya dan iman yang tak pernah padam.
Sungguh tidak adil – pada umur tujuh puluh tiga
tahun kamu untuk kesekian kalinya masuk penjara demi
keadilan dan demi perdamaian. Dan kamu
mendapatkannya tanpa melalui pengadilan. Tapi apalagi
yang kita harapkan jika jutaan orang lainnya juga
dipenjara di seluruh dunia, dan banyak di antara mereka
itu disiksa, kelaparan, hilang, keluarga mereka diancam?
Sungguh tidak adil – kita tidak dapat menikmati
rumah yang kita bangun bersama; mengagumi mawar
yang kita tanam sedang mekar bunganya; makan buah
yang kamu rawat; membanggakan anak-anak yang kita
besarkan. Tapi apa lagi yang kita harapkan, jika jutaan
orang lainnya tak punya rumah, jutaan orang menjadi
pengungsi karena perang, mengalami wabah kelaparan
dan penindasan – jiwa mereka telah kusut karena penat
dan takut melihat keindahan di sekeliling mereka;
harapan dan hati mereka hancur luluh karena anak-
anak mereka mati setiap harinya...?
Sungguh tidak adil – kita tak dapat menghadiri
bersama wisuda Frida dan Jerrry. Mereka merindukan
dirimu di samping mereka untuk ikut ambil bagian
dalam kebanggaan, prestasi dan awal yang baru bagi
mereka. Mereka ingin mendengarkan kata-kata
kebijaksanaanmu, kehangatan hatimu, kehadiranmu
dalam tahap baru kehidupan mereka. Namun apa
lagi yang bisa kita harapkan jika ada begitu banyak
70 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

anak-anak dalam kolese, suatu keluarga yang


menyayangi, suatu komunitas yang peduli, namun
bukan lagi merupakan buah impian, sebaliknya
menjadi k orban-korban kelembagaan yang
mengharapkan mereka asal lulus saja, korban-korban
dari sikap melalaikan masa depan yang merupakan
warisan masyarakat untuk mereka?
Sungguh tidak adil – kita tidak dapat bersama-sama
mengantar Kate menjelang kelulusan Sekolah
Menengah Atas dan menjadi seorang wanita muda….
Sungguh tidak adil – komunitas yang selama
bertahun-tahun kamu abdi dalam membangun dan
membangun ulang tak lagi kamu dampingi, doa,
karya, impian, dan tawa yang tertuang dari karunia,
visi dan rahmat yang khusus diberikan padamu. Tapi
apalah yang kita harapkan jika komunitas seperti itu
dicurigai, diancam, digerogoti, ketika pemberangusan
nyaris tuntas, ketika rakyat dijadikan pengecut,
dapat dibeli, dicerai-beraikan dan dijadikan
pelaksana kepunahan mereka sendiri?
Rasa damai dan teguh pendirian yang mengalir dari
orang-orang seperti Philip dan Elizabeth tidak dihargai
dan juga tidak dipahami dalam masyarakat kita. Cita rasa
itu adalah buah dari kemerdekaan Kristus yang paradoks,
yang berkata: “Tak seorang pun dapat mengambil
hidupKu, namun Aku menyerahkannya atas keinginanKu
sendiri. Aku berkuasa untuk mengambilnya kembali.”
Bagi Philip, pengorbanan berpisah dari orang-orang
yang disayanginya merupakan bagian dari kematian yang
harus diderita, palang halang di jalan menuju
perdamaian. Yang didapatnya bukanlah damai yang
diberikan dunia, namun seperti tulisannya dari penjara
pada bulan September 1997, ia memandang damai yang
lebih besar dan lebih dalam:
Berbagai Paradoks 71

Adalah damai ketika tak ada lagi dominasi, di


mana ketidak-adilan dibongkar, ketika kekerasan
telah menjadi sisa masa lalu, ketika pedang telah
hilang dan mata–bajak banyak tersedia. Adalah
damai ketika semua orang diperlakukan sebagai
saudara, lelaki dan perempuan, dengan penghargaan
dan martabat, ketika setiap kehidupan dianggap suci,
dan di mana ada masa depan bagi anak-anak. Dunia
seperti itulah yang untuk membantu perwujudannya
Allah berkenan memanggil kita.
Di negeri kita untuk menanggapi panggilan seperti
itu bisa berarti masuk penjara, mempertaruhkan reputasi,
pekerjaan, penghasilan, atau bahkan dirampok oleh
keluarga dan teman sendiri. Namun dalam suatu negara
kriminal yang setiap hari menyiapkan bencana nuklir,
tantangan itu sungguh-sungguh berarti kemerdekaan,
komunitas teman dan kerabat yang baru. Sesungguhnya,
artinya adalah kebangkitan.
Bagi kebanyakan dari kita proses kematian yang
harus kita tempuh untuk dapat berbuah benar-benar biasa
saja. Kita tidak berhadapan dengan regu tembak (seperti
gambaran Dostoevsky) atau pengadilan federal (seperti
Philip Berrigan dan saudaranya), sebab yang kita dapat
hanyalah sedikit lebih sulit dari persoalan hidup sehari-
hari saja: soal mengatasi kesombongan, berteriak kepada
seseorang yang berbuat salah, meredam kebencian,
mendiamkan anggota keluarga atau rekan yang marah
atau frustrasi. Tidak ada sesuatu yang heroik dalam
memilih melakukan hal-hal ini.
Namun “jika benih tidak jatuh di tanah” kita tak
akan pernah menemukan damai sejati atau pun dapat
menyampaikannya kepada orang lain.
Laurel Arnold, jemaat gerejaku yang kukenal sejak
akhir 1950-an berkata:
72 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Bila aku merenungkan kata-kata Yesus dalam Injil


Yohanes 14:27 “Damai sejahtera-Ku Kuberikan
kepadamu, dan yang Kuberikan tidak seperti yang
diberikan oleh dunia kepadamu,” – aku teringat betapa
sering ayat ini dibacakan pada upacara pemakaman,
namun tetap berada di luar diriku.
Aku dibesarkan di suatu lingkungan yang terlindung
dan tersendiri agar menjadi wanita yang benar, saleh dan
kritis. Aku ingin menjadi seorang ternama, mungkin
seorang penulis yang terkenal, dan aku bekerja keras dan
dihargai di universitas. Aku ingin populer, namun aku
mengadili teman-teman yang juga ingin dikenal. Aku
sangat idealistis dan mencintai aliran pacifisme, tapi aku
benar-benar orang kulit putih kelas menengah yang buta
terhadap ketidak-adilan sosial dan permainan politik.
Selama perang aku mengajar di New York City,
sementara Paul, suamiku, menjadi pelaut. Setelah
perang, kami tergugah melihat realitas kehidupan orang
lain. Paul telah menyaksikan kerusakan yang
mengerikan di kota-kota yang terkena bom di Eropa;
aku tersandung orang-orang yang mabuk di jalanan dan
aku peduli pada anak-anak yang tak pernah bermain di
rerumputan. Kami kira kami dapat membantu seorang
pecandu alkohol dan merengkuhnya dalam keluarga
kami, tapi ia kabur mencuri uang dari toko kami.
Kami menawarkan diri kepada majelis gereja kami
untuk menjadi misionaris dan dikirim ke Afrika. Walaupun
kemudian kami meninggalkan bidang misi, kami makin
terlibat dalam kegiatan gereja. Namun kami tidak
menemukan hubungan dari hati ke hati yang kami cari,
karena semua kegiatan bersifat dangkal dan gosip belaka.
Kami ingin menghayati kehidupan yang mengikuti Yesus
setiap hari, bukan hanya pada hari Minggu saja.
Kemudian, kami tertarik pada cita- cita
persaudaraan, dan kami mulai mempelajari berbagai
persoalan dan bidang-bidang kehidupan yang belum
Berbagai Paradoks 73

terpikir oleh kami sebelumnya: materialisme, rumah


pribadi, sebab-sebab perang. Pada 1960 kami
bergabung dengan Bruderhof.... Adalah mudah untuk
menyerahkan rumah, mobil dan penghimpunan harta
bersama; kami bisa mengerti. Namun kesukaan kami
menyampaikan pendapat, cara-cara berprinsip untuk
menanggapi berbagai hal, pertimbangan berdasarkan
kebenaran pribadi; sikap seperti bos, dan keyakinan
diri yang menggilas orang lain, semua itu masih sulit
untuk dikorbankan. Untuk masa yang panjang aku
berusaha agar tidak bertindak menurut aturan,
melainkan supaya lebih dibimbing oleh Roh; berusaha
agar tidak mencari citra diri “baik” atau ramah, dan
lebih bersikap tulus dan jujur. Sulit!
Tentu saja ada suka duka yang seimbang dan
kesetiaan pada Tuhan selama itu, berusaha
menimbang-nimbang, mendapatkan ampunan dan
kesempatan untuk permulaan yang baru. Aku masih
tak suka dianggap salah – tak ada orang yang suka –
tapi aku mendapatkan rahmat, kasih dalam kerahiman
Allah. Pada usia tujuh puluh empat, tak ada waktu
untuk rileks dan bermalas-malasan. Ada begitu
banyak hal yang masih perlu kupelajari, begitu banyak
yang harus ditanggapi....
Ada orang yang di dalam doa bersyukur kepada
Allah karena telah menjadi putraNya. Aku tidak seyakin
itu. Apakah aku sungguh-sungguh siap mati? Yang pasti
aku tidak hidup “dengan tenang”, seperti dalam lagu yang
kita nyanyikan “Peace I ask of Thee, O River.” Ada
kegelisahan dan kerinduan tertentu pada diriku. Kukira
kita semua merupakan bagian dari makhluk yang
mengeluh yang disebut dalam Surat untuk Jemaat Roma
8. Walau kulihat diriku sendiri mudah goyah, sedang Allah
begitu setia sepanjang hidupku, di sanalah kudapatkan
iman dan kedamaianku.
74 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Tidak ada yang istimewa dalam cerita Laurel itu. Namun


perjuangannya yang biasa-biasa saja – tugas umum sepanjang
hayat untuk belajar hidup dalam damai dengan Tuhan,
dengan tetangga, dan diri sendiri – tidaklah kalah penting
dibanding kemartiran yang heroik. Kakekku menulis:
Sejauh terkait dengan umat manusia seluruhnya,
hanya satu hal yang berharga bagi Kerajaan Allah:
Kesediaan kita untuk mati. Namun kesediaan ini perlu
dibuktikan dalam hal-hal yang remeh-remeh dalam hidup
sehari-hari, sehingga kita dapat memperlihatkan
keberanian dalam masa-masa yang kritis dalam sejarah.
Maka kita harus sepenuhnya mengatasi sikap dan perasaan
yang kecil-kecil, supaya dapat menyerahkan cara pribadi
kita seluruhnya dalam menanggapi hal-hal, yaitu rasa
takut, khawatir dan kegelisahan batin kita – pendeknya,
ketidakpercayaan kita. Sebaliknya, kita memerlukan
iman. Iman yang walaupun sebesar biji sesawi, namun punya
peluang untuk tumbuh menjadi besar.
Itulah yang kita perlukan, tak kurang, tak lebih.
Berbagai Paradoks 75

Kebijaksanaan
Orang Bodoh

D alam suratnya yang pertama kepada Jemaat di


Korintus, Rasul Paulus menulis, “Janganlah ada orang
yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang
menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini biarlah
ia menjadi bodoh supaya ia berhikmat. Karena hikmat
dunia ini adalah kebodohan bagi Allah.41 “Kebijaksanaan
orang bodoh (dan kebodohan orang bijak) tampaknya tidak
berkaitan dengan damai yang diberikan dunia ini, maka
damai itu tidak dapat ditemukan oleh mereka yang
mengikuti kebijaksanaan dunia, oleh mereka yang
merangkul kebodohan di mata Allah.
Secara praktis, kebodohan ini sering disepelekan atau
dilupakan. Cerita tentang Fransiskus Asisi bisa dijadikan
contoh. Hingga sekarang Fransiskus Asisi sangat dikenal
sebagai biarawan yang lembut hati, yang membuat nyanyian
untuk matahari dan berdamai dengan binatang dan burung-
burung. Namun Santo Fransiskus bukanlah penyair yang
lembek. Dengan semangatnya yang meluap-luap, dia
menjadikan dirinya sama dengan orang miskin dengan
membagi-bagikan bukan hanya semua warisan yang
diterimanya, tetapi juga baju yang disandangnya. Wasiat
terakhirnya luar biasa kritis terhadap kekayaan dan lembaga
keagamaan, sehingga surat itu disita dan dibakar sebelum
ia sendiri akhirnya dinyatakan sebagai orang suci. Dan
beberapa kata yang ditinggalkannya bagi kita

41
1Kor 3:18-19
76 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

mengungkapkan semangat yang niscaya menantang kita,


setiap kali kita membacanya – sekalipun karena sering
diucapkan lalu terasa usang:
Tuhan, jadikan aku pembawa damai
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa kasih;
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa ampunan;
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa iman;
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan;
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku terang;
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan.
O Guru Ilahi,
Buatlah diriku agar lebih berusaha:
Menghibur, daripada dihibur;
Memahami, daripada dipahami;
Mencintai, daripada dicintai.
Sebab dengan memberi aku menerima;
Dengan mengampuni aku diampuni;
Dan dengan mati aku bangkit lagi
Untuk hidup abadi.
Mereka yang merinding mendengar jawaban religius
seperti yang diberikan Santo Fransiskus tujuh abad yang
lalu, sepertinya sekarang malah akan diolok-olok orang.
Seperti Santo Fransiskus, mereka mungkin juga tahu
bahwa jalan menuju perdamaian abadi menuntut kesediaan
untuk tidak dipahami dan salah dimengerti orang.
Dalam bukuku tentang kematian dan proses menuju
kematian, I Tell You A Mystery, aku menceritakan kisah
bibiku Edith yang menukarkan gaya hidup yang nyaman
sebagai mahasiswa Teologi di Universitas Tubingen
dengan hidup miskin di Bruderhof. Kebodohan Edith
(sementara Hitler berkuasa, dan komunitas kami
dianggap sebagai ancaman bagi negara) membuat orang
tuanya marah sehingga mereka mengurungnya di kamar
Berbagai Paradoks 77

loteng yang terkunci dan tidak diberi makan sampai dia


mengubah keputusannya. (Bibi membuat tali dari selimut
dan melarikan diri dari jendela).
Marjorie Hindley, seorang periang yang berusia
delapan puluh tahun dan tinggal dalam salah satu di
antara empat komunitas kami di Inggris, menemui
hambatan yang berbeda, namun sama tegangnya:
Aku dibesarkan sebagai jemaat Gereja
Metodis42, namun kemudian aku pindah menjadi
seorang Anglikan 43 . Ketika aku dan saudara-
saudaraku masih kecil, ibuku selalu berdoa bersama
kami menjelang tidur. Dalam keluarga kami berlaku
moral konvensional yang standar.
Ayahku punya pemikiran sosialistis, dan aku setuju
dengan hasratnya yang begitu kuat tentang keadilan.
Tetapi ibuku yang lebih konservatif dan saudara lelakiku,
menentang pemikiran itu dan kami sering bertengkar.
Ketika remaja aku tak pernah kehilangan iman atas
ajaran Kristiani, tetapi aku harus bekerja keras untuk
memahami maknanya. Aku hampir enam belas tahun
ketika mengalami gejolak pemikiran pertama: ada sepupu
dari teman kelasku yang dengan sadar menolak perang
dan dipenjarakan. Aku sungguh-sungguh terguncang dan
sejak saat itu aku mulai kritis bertanya dan ingin tahu
ajaran Kristiani. Aku teringat pernah protes keras atas
42
Gereja Metodis termasuk Gereja Protestan, didirikan di Inggris
pada abad ke-18 oleh John Wesley yang dipengaruhi oleh teolog
Belanda Jacobus Arminius, lalu tersebar ke Amerika dan negara-
negara lain. Terpecah-pecah menjadi berbagai jenis Metodis, dengan
pengaruh-pengaruh lain, seperti Calvinis, termasuk Bala Keselamatan,
dan United Metodist Church (A.S.) namun secara konsultatif
bergabung dalam Dewan Metodis Dunia.
43
Gereja Anglikan adalah gereja khas Inggris yang banyak dipengaruhi
Gereja Katolik Roma, namun sebagian bersifat Protestan. Di
Amerika Serikat menyebut diri Episcopal.
78 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

ketidakadilan tentang suatu hal di rumah. Dan ibuku


berkata, “Tunggu saja sampai kamu kehilangan ilusimu.”
Aku berkeras pada diriku sendiri, “Aku tak kan pernah
melepaskannya,” tapi kemudian aku mulai ragu: betulkah
semua itu hanya ilusi, ataukah benar-benar kenyataan,
sedang yang lainnya justru hanya ilusi?
Marjorie Hindley bekerja sebagai seorang sekretaris
mula-mula di kota Manchester dan kemudian di
Universitas Cambridge. Pekerjaan itu menyenangkan, jam
kerjanya pendek, liburnya panjang dan ada pensiun ke depan
untuk empat puluh tahun. Ia bertahan hanya dua tahun,
lalu keluar, karena merasa, “pasti ada sesuatu yang lebih
hidup daripada pekerjaan ini.” Kemudian ia belajar psikologi
industri. Setelah bekerja pendek-pendek pada beberapa
pabrik yang berbeda, ia mendapat suatu jabatan sebagai
supervisor keselamatan kerja di suatu perusahaan di Brsitol.
Aku mengambil pekerjaan ini karena sungguh
ingin membuat diriku berguna membantu memecahkan
kebutuhan dunia dengan cara sederhana, dan
menghayati suatu kehidupan yang lebih Kristiani. Tapi
aku mendapatkan lebih banyak masalah daripada
jawaban. Para pekerja sangat ramah dan saling
membantu; tapi para mandor wanita tidak begitu; dan
para direktur lebih mengejar untung besar saja. Siapa
yang membutuhkan aku: para pekerja atau para direktur?
Para pekerja memberi aku lebih banyak daripada yang
dapat kuberikan pada mereka. Jika aku mencari
kepenuhan, apa artinya kepenuhan itu bagi mereka? Apa
yang terjadi pada api Roh Kudus bagi para rasul pertama,
yang bangkit dan mengikuti Yesus? Sebenarnya apa yang
menjadi maksud orang Kristiani dan damai Kristus?
Aku menyimpan Kitab Perjanjian Baru di laci
meja kantorku dan membacanya ketika makan siang
dengan mengunci pintu. Aku membaca Khotbah di
Bukit dan merenungkannya.
Berbagai Paradoks 79

Aku pergi ke suatu gereja dan pindah ke gereja


yang lain pada hari Minggu. Dan aku mengunjungi
Balai Rakyat, suatu pusat kaum muda, pada akhir
pekan. Suatu ketika aku berdiri di depan pintu pastoran
dan ragu apakah akan bertanya sesuatu kepada pastor.
Tapi aku mundur tak jadi bertanya. Di waktu lain aku
menelusuri jalan dengan sangat frustrasi, dan aku
mendengar suatu suara yang jelas sehingga aku
mencari-cari siapa yang bicara. Tak ada seorang pun
tapi suara itu berkata: “Tak akan lama lagi.”
Kemudian aku mengetahui seorang di antara para
direktur di tempat aku bekerja adalah seorang Quaker44
dan aku meminjam beberapa buku darinya. Ia
membawakan untukku buku George Fox Journal, dan
Studies in Mystical Religion karangan Rufus Jones. Buku-
buku itu bermanfaat bagiku. Pada sore hari di Balai
Rakyat, aku bertemu dengan pemuda-pemudi yang
membicarakan keadaan mutakhir. Perang sedang
berkecamuk di Eropa Daratan. Bagaimana kita harus
bersikap? Mengapa gereja-gereja tidak memberi
tuntunan yang jelas?
Ahirnya pencarian Majorie membawanya ke suatu
sumber kebijaksanaan religius konvesional, jauh dari
Quaker yang memberinya buku-buku tetapi tidak dapat
menjawab pertanyaannya; jauh dari Church of England,
yang mengelu-elukan uskup-uskupnya ketika menulis
drama tentang perdamaian, tetapi menolak memberi
dukungan kepada mereka yang menentang konflik
dengan Jerman. Ketika mengunjungi Bruderhof, katanya,
ia lalu tahu jelas apa yang harus dilakukannya.
44
Quaker atau Religious Society of Friends didirikan oleh George Fox
di Inggris pada abad ke-17 dan pada mulanya dianggap Kristiani.
Mereka menolak prinsip hanya Alkitab dari Protestan, namun lebih
berorientasi pada Yesus Kristus sebagai Sabda Allah. Mereka
menghayati Yesus Kristus sebagai Cahaya Batin. Bersifat mistik.
80 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Tiba-tiba, di tengah-tengah kemiskinan dan


mencabuti rumput dan menyiangi tanaman, aku tahu apa
yang harus aku lakukan. Aku harus melepaskan semua
pengertianku yang keliru dan mengabdikan diriku
mengikuti Yesus. Cahaya yang menyinari aku sungguh
mengagumkan – suatu penemuan kegembiraan
keyakinan dan damai.
Majorie bergabung dengan Bruderhof, walaupun ia
akan pertama-tama protes jika cerita dirinya dijadikan alat
untuk meyakinkan orang bahwa untuk memperoleh damai
orang harus bergabung dengan gereja tertentu, termasuk
komunitas tertentu. Tetapi keyakinannya pada panggilan
Kristus untuk pemuridan secara radikal tak bergeming.
Ketika ia memberi nasihat kepada kaum muda, pria maupun
wanita, dari tahun ke tahun, ia berkata bahwa damai sejati
berasal dari mengikuti hati nurani, “tak peduli betapa
kuatnya tantangan dari orang tua, para majikan, teman-
teman, rekan sekerja, maupun dari gerejamu sendiri.”
Kenyamanan hidup seringkali membuat kita buta
pada masalah kehidupan. Secara material dan spiritual
kita merasa puas dengan kebijaksanaan budaya kita dan
tak pernah merasa perlu membangkitkan rohani kita,
bahkan tidak menyembulkan pertanyaan dasar seperti
yang mengusik Majorie. Sekurang-kurangnya hal yang
tidak menguntungkan ini merampas kesempatan kita
untuk mengalami kedamaian yang ditemukan dalam
mencari jawaban atas pertanyaan kita sendiri. Yang
paling buruk, keadaan seperti itu membutakan kita secara
religius, atau malah membuat kita tidak waras lagi, novelis
Annie Dillard menulis:
Secara keseluruhan, aku tidak menemukan orang
Krstiani di luar katakomba yang cukup peka pada
keadaan. Tidaklah ada seorang pun yang punya gagasan
Berbagai Paradoks 81

betapa pun sangat samar tentang kekuasaan macam apa


yang sedang kita dukung. Atau, menurut dugaanku,
apakah tak ada orang yang percaya? Gereja adalah anak-
anak yang bermain di halaman dengan perangkat kimia.
Mereka.membuat ramuan TNT untuk membunuh pada
hari Minggu pagi. Adalah tidak waras memakai topi
anyaman untuk pergi ke gereja; kita seharusnya memakai
helm baja. Mereka seharusnya membagikan pelampung
untuk alat keselamatan, dan pelontar cahaya tanda
kecelakaan; mereka seharusnya mengikat kita pada
bangku Gereja (dengan sabuk keselamatan). Sebab Allah
yang sedang tidur mungkin bangun suatu saat dan
melakukan pembalasan, atau Allah yang bangkit
mungkin berkenan mengungsikan kita ke suatu tempat
tanpa bisa balik kembali.
82 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Kekuatan
dari Kelemahan

A ku sering merenungkan perkataan paradoks Yesus –


sekurang-kurangnya supaya dapat mempraktikkan –
yang mungkin paling sulit dalam Injil Matius, di mana
Yesus menunjuk pada seorang anak. Ia berpaling
memandang murid-muridNya dan berkata kepada mereka:
“Barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak
kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.”45
Menjadi seperti anak-anak berarti melepaskan lagi
semua yang telah diajarkan masyarakat kita tentang
bertumbuh dewasa. Itu berarti mengatasi godaan untuk
tampak kuat, gagah perkasa. Ia berarti bersedia terluka,
bukan sibuk melindungi diri. Itu berarti mengetahui
bahwa kita punya keterbatasan dan kelemahan, dan
dengan rendah hati mau menerima dengan ikhlas hati
semua kelemahan dan keterbatasan itu.
Kristus menyembuhkan orang sakit, memberi makan
kerumunan orang, mengubah air menjadi anggur, dan
berjalan di atas air. Ia punya kuasa yang sangat besar
untuk digunakan. Tetapi ketika Ia ditangkap, dibawa
ke depan Pilatus, dihina, dicambuki dan disalibkan, Ia
tak mau membela diriNya sendiri. Dan Ia tidak memilih
untuk dilahirkan di istana, melainkan dalam kandang
binatang yang sederhana.
Kristus memilih “kelemahan” kepasrahan, dan mungkin
itulah kunci rahasia dari damaiNya. Dorothy Day menulis:

45
Mat 18:4
Berbagai Paradoks 83

Kita diminta mengenakan Kristus, dan kita


mengingat Dia dalam hidup pribadi-Nya, hidup-Nya
dalam kerja, hidup-Nya di dalam masyarakat, ajaran-
Nya dan penderitaan hidup-Nya. Namun kita kurang
mengenangkan hidup-Nya sebagai anak kecil,
sebagai bayi. Ia tak bisa apa-apa. Ia tidak berdaya
kuasa. Dan Ia harus puas dengan keadaan seperti
itu. Tidak mampu melakukan apa-apa, dan tidak bisa
melakukan prestasi apa pun.
Gertrud Wegner seorang anggota Bruderhof yang
berusia tujuh puluh tahun terpaksa menerima
keadaan ketika suatu kecelakaan membuatnya
lumpuh, tak bisa bergerak.
Aku mengunjungi pameran bisnis bersama suamiku
di Washington D.C. dan aku jatuh dan terluka parah
pada urat tulang belakang. Aku segera tahu bahwa
keadaanku kritis; seluruh tubuhku mati-rasa, dan aku
lumpuh seluruhnya dari leher ke bawah.
Dua operasi yang dilakukan banyak menolong,
tetapi jam-jam untuk terapi (rutin dua kali sehari) berarti
kerja keras dan perlu ketangguhan, sangat melelahkan.
Dan dokter juga tidak tahu apakah aku bisa mendapatkan
kembali kemampuanku untuk bergerak…. Kecelakaan
yang kualami mengajarkan kerendahan hati, karena
dalam hal-hal kecil aku harus dibantu orang. Bulan demi
bulan kemajuan yang kuperoleh hanya sedikit. Dan
perjuangan yang kulakukan sangat panjang dan
menanjak. Ada saat-saat yang sangat sulit, namun aku
juga belajar menerima kelemahanku, aku mencoba
mengingat kata-kata Santo Paulus: “Kekuatan Kristus
memperlihatkan diri dengan cara yang sangat mulia
melalui kelemahan kita.”46

46
Bdk 2Kor 12:9-10
84 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Ada perang batin dalam diriku. Kerinduanku yang


besar akan kedamaian dan iman yang hendak
kudapatkan kembali membantu aku melewatkan perang
batin itu. Sepertinya jika suatu ketika dalam hidup Anda
damai pernah bersemayam, damai itu akan datang lagi
pada Anda berulang kali.
Ketika memikirkan hidupku lagi, ada banyak hal
yang terlintas. Aku berharap menjadi ibu yang lebih baik
bagi anak-anakku. Aku ingin meluangkan waktu lebih
banyak dengan ayahku yang sedang menjelang
kematiannya karena kanker. Aku ingin menunjukkan
bakti kasih pada ibuku justru pada waktu yang sulit seperti
itu, dan menyemangati dia lebih banyak. Aku ingin lebih
ramah kepada orang lain.... Ada banyak harapan tentang
apa yang akan dilakukan dan dengan cara yang lain, tapi
semua itu tidak membantu. Satu-satunya yang dapat kita
lakukan adalah menerima keterbatasan kita dan
melakukan awal yang baru setiap hari.
Damaiku kurasakan dalam pengharapanku untuk
dapat mengabdi Yesus dan melayani saudara-saudariku,
sampai akhir hayatku, walaupun aku tahu bahwa untuk
itu aku harus memohon rahmat khusus. Ketika aku
bertambah tua, makin jelas bagiku bahwa tak seorang
pun mendapatkan rahmat istimewa itu. Damai yang
kuharapan tidak pada tempat yang selayaknya.
Pendapat Gertrud menyentuh kebenaran yang
penting: makin yakin kita pada kekuatan dan kemampuan
kita sendiri, makin sedikit keserupaan kita dengan Kritus.
Kelemahan kita sebagai manusia tak boleh menjadi
penghalang yang menghindarkan kita dari Allah. Sejauh
kita tidak memanfaatkan kelemahan itu untuk berdosa,
kelemahan itu tak apa-apa. Namun penerimaan
kelemahan itu lebih dari sekadar mengakui keterbatasan.
Hal itu adalah pengalaman akan kekuatan yang lebih
besar dari kekuatan kita sendiri dan kepasrahan padanya.
Berbagai Paradoks 85

Inilah sumber rahmat itu: menyerahkan kekuatan


kita sendiri. Kapan saja suatu kuasa kecil berkembang
dalam diri kita, Roh dan kuasa Allah mundur sampai
tingkat tertentu. Kukira inilah salah satu pemahaman yang
paling penting sehubungan dengan kerajaan Allah.
Eberhard Arnold
Kathy Trapnell, seorang anggota lainnya dari
komunitas kami mengakui kebenaran kata-kata itu dalam
hidup dan pencariannya:
Kerinduan akan damai pada diriku berawal ketika
aku sudah cukup umur untuk merasakan tidak adanya
kedamaian dalam keluargaku, dan seringkali hal itu
tertangkap dengan cara yang hebat. Sepanjang pendidikan
Katolik-ku, sejak awal Sekolah Dasar sampai tahun
terakhir di Perguruan Tinggi selalu ada pergumulan
mencari kedamaian dalam diriku dan di antara teman-
temanku. Jika seorang anak kecil Katolik yang baik
menyadari dirinya melakukan kesalahan dan merasa
menyesal, yang selanjutnya harus dilakukan adalah pergi
ke kamar pengakuan dosa. Aku ingat benar betapa gembira
diriku sebagai anak sekolah setelah mengaku dosa!
Bahkan ketika masih di Perguruan Tinggi aku melakukan
apa yang kusebut pengakuan “terbuka” kepada seorang
Yesuit yang kukenal baik, dan bagiku perasaan dibenarkan
oleh Allah menjadi sumber kedamaian.
Lalu tibalah masa pemberontakan pada waktu aku
jadi mahasiswa, fase aku jadi hippie yang kubanggakan.
Aku marah pada status-quo dan segala sesuatu di
dalamnya. Kukira waktu itu semua itu melawan kasih
dan kedamaian. Aku mengganggap diriku sedang
memperjuangkan damai, dengan berusaha mengakhiri
Perang Vietnam dengan melakukan pawai protes,
menyanyi, mendukung para penentang perang, dan lain-
lain. Aku mengira diriku melakukan keadilan demi para
pekerja migran dengan memboikot buah anggur dan
mengacak-acak super-market yang menjualnya. Aku
86 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

berusaha berbagi dengan segala yang kupunya, aku


melakukan yoga, berhimpun dengan teman-teman lain
dan belajar hidup bahagia dalam suatu kelompok.
Tak satu pun dari semua itu memberikan damai
padaku. Kukira sebabnya mengapa aku dulu tidak
menemukan damai adalah karena motif dasarnya, yaitu
orientasiku, tidak benar. Tak ada satu pun dari yang
kulakukan dulu dan sekarang punya alasan dasar yang
tepat. Aku menjadi allah bagiku sendiri, aku menjadi
ukuran normatif dalam menilai hidupku sendiri dan
hidup orang lain. Aku berdosa karena dengan sengaja
dan menakutkan menjadi tuhan untuk diriku sendiri,
dan aku berusaha melakukan apa saja dengan
kekuatanku sendiri. Sia-sia.
Kemudian aku mendapatkan semangat damai yang
sama sekali berbeda – damai dari iman yang tanpa syarat
menerima semua kelemahan kita, mengakuinya, dan
mengarahkan kita kepada Yesus, pada Kerajaan,
pemerintahan Allah di masa depan yang damai sejahtera.
Pengertian baru ini membuat aku mawas diri. Aku
melihat betapa egoisnya diriku, dan betapa aku bukan
orang yang pendamai. Namun dengan menyerahkan
hidupku kepada Tuhan, bukan hanya pada kasihNya,
tetapi juga pada kerahiman-Nya - dan memberikan
diriku untuk melayani orang lain, aku menemukan
kekuatan baru, keajaiban dari kedamaian setiap hari.
Segala sesuatu dalam masyarakat kita bergerak
menjauh dari pengertian Kathy akan damai. Kita diajar
untuk melakukan pertimbangan sebagai ukuran untuk
mencela, untuk berkuasa. Kita semua menginginkan kasih
dan damai. Tak seorang pun menyangkal bahwa kasih
dan damai itu baik. Tetapi berbeda sekali jika kita mau
berhenti sejenak dan bertanya apakah kita sudah
mendapatkan kasih dan damai itu dalam hati kita
sendiri. Sebab hal itu bukanlah bahan untuk dibicarakan.
Berbagai Paradoks 87

Mungkin itulah sebabnya begitu banyak orang yang


mencari damai tidak mendapatkannya. Kita terlalu
memikirkan peranan kita sendiri dalam mencari damai.
Kita kurang rendah hati dan tidak ugahari, alih-alih
berpaling pada Yesus dan memohon damai dari Dia, kita
justru mengkhawatirkan citra kita di hadapan orang lain.
Kita lupa bahwa Sabda Bahagia tidaklah ditujukan
kepada para santo yang hebat yang bersinar di hadapan
orang lain, tetapi ditujukan kepada orang-orang kecil.
Penulis Henri Nouwen 47 yang meninggalkan
kariernya yang gilang-gemilang di Harvard, Yale dan
Notre Dame dan melayani orang-orang cacat, memahami
hal ini bersama beberapa orang lainnya.
Kita dipanggil agar menghasilkan buah:48 bukan
menjadi orang yang sukses, bukan orang yang produktif,
bukan orang yang telah berprestasi menyelesaikan ini-itu.
Sukses bersumber dari kekuatan, stres, dan usaha manusia.
Menghasilkan buah bersumber pada kerentanan dan
pengakuan kita akan kelemahan kita sendiri.
Untuk sekian lama aku mencari aman dan
tenteram di antara para cendekia dan bijaksana, tanpa
menyadari bahwa kerajaan Allah diwartakan untuk
anak kecil; bahwa Allah telah memilih mereka yang
berdasarkan standar manusia disebut bodoh adalah
untuk mempermalukan mereka yang bijaksana. Tetapi
ketika aku mengalami penerimaan tanpa pamrih dan
hangat dari mereka yang tidak mempunyai

47
Henri Nouwen seorang pastor Katolik Belanda dan penulis lebih
dari 40 judul buku rohani yang disukai baik oleh pembaca Protestan
maupun Katolik. Setelah dua puluh tahun menjadi pengajar yang
ternama, ia mengabdi di lingkungan orang-orang cacad di Toronto.
Dilahirkan pada tahun 1932, Nouwen meninggal pada tahun 1996
karena serangan jantung.
48
Yoh 15:16
88 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

kebanggan apa pun dan mengalami pelukan kasih dari


mereka yang tidak mempertanyakan apa pun, aku lalu
menyadari bahwa peluang secara rohani berarti
kembali pada situasi miskin dalam roh, yang pada
mereka itu Kerajaan Surga disediakan.
Apa yang menggerakkan seseorang mencari situasi
“miskin dalam Roh”? Kakekku menulis:
Soalnya adalah benturan di antara dua tujuan yang
bertentangan. Salah satu tujuan dikejar oleh orang-
orang yang berkedudukan tinggi, orang besar, kaum
religius, orang cerdik pandai, orang hebat, orang yang
karena berkat-berkat yang ada padanya mewakili suatu
puncak yang tinggi dalam rangkaian pegunungan
kemanusiaan. Tujuan yang lain dicari oleh orang-orang
yang sederhana, kaum minoritas, orang cacat dan
terbelakang secara mental, para terpidana, yaitu lembah-
lembah yang rendah di antara puncak-puncak yang
tinggi. Mereka itu adalah yang direndahkan, diperbudak,
dieksploitasi, kaum lemah dan miskin, yang paling miskin
di antara yang miskin. Tujuan yang pertama
menghendaki kemuliaan pribadi, ketenteraman bakat,
hingga pada suatu tataran yang mendekati ilahi. Dan
akhirnya orang itu disebut sebagai ilahi, dewa, tuhan.
Yang lain mencari keajaiban dan misteri Allah menjadi
manusia, Allah yang sedang mencari tempat yng paling
rendah di antara manusia.
Dua arah yang sama sekali berbeda. Yang satu
bergerak naik menuju kemuliaan diri sendiri. Yang lain
bergerak turun ke bawah menjadi manusia. Yang satu
adalah ajakan cinta-diri dan kemuliaan-diri. Yang lain
adalah jalannya Cinta Allah dan cinta pada sesama.
Bila seseorang mendapatkan damai yang berasal dari
penghayatan akan cinta Tuhan dan cinta sesama maka tak
ada apa pun yang tak bisa dihadapi olehnya. Lihatlah Yesus
di kayu salib. Di situlah letaknya kerentanan yang paling
Berbagai Paradoks 89

rendah, tetapi juga merupakan contoh utama kedamaian


Allah. Apa pun yang dilakukan orang pada Yesus, Dia tidak
mengasihani diri, tetapi justru memandang dan memaafkan
para penjahat yang disalibkan di samping-Nya. Ia juga dapat
berkata tentang para algojo yang menyalibkan diriNya.
“Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa
yang mereka lakukan.”49 Ingatlah Stefanus, martir Kristiani
pertama yang berlutut dan memandang ke surga dengan
wajah yang bersinar-sinar sementara dilempari batu sampai
mati. Ia juga berkata, “Tuhan, jangan tanggungkan dosa
ini pada mereka.”50 Aku tidak yakin kedamaian seperti itu
diperoleh oleh kekuatan manusiawi.

49
Luk 23:34
50
Kis 7:60
90 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
91

Bagian

IV

Berbagai Batu Pijakan


“Kita Memperoleh Kemajuan Sedikit Demi Sedikit”
Rasul Paulus
92 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Berbagai Batu Pijakan


Thomas Jefferson begitu yakin bahwa
mengupayakan kebahagiaan tidak dapat dipisahkan
dari hak asasi manusia sehingga ia mencantumkannya
di dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat dan
menyebutnya sebagai kebenaran yang telah jelas
sendiri. Namun orang Kristiani juga punya keyakinan
ini: barangsiapa mengejar kebahagiaan ia tak akan
pernah mendapatkannya. Karena kegembiraan dan
damai begitu sulit diraih, maka kebahagian juga seperti
cahaya yang bergerak di malam hari, suatu bayang-
bayang, yang jika kita ulurkan tangan untuk meraihnya,
ia lenyap di udara. Tuhan mengaruniakan kegembiraan
dan damai bukan kepada orang yang mengejarnya,
tetapi kepada mereka yang mencari Dia dan rindu
mengasihi Dia. Kegembiraan dan damai hanya
ditemukan dalam kasih dan tidak di tempat yang lain.
John Stott

W alaupun pikiran kita sulit menerima, namun


nyatanya kehadiran damai di dalam hidup kita
sedikit sekali hubungannya dengan usaha keras dalam
rangka mencarinya. Adalah fakta semata bahwa damai
kadang lenyap dari dia yang paling ngotot mencarinya.
Sedang mereka yang tidak mengejar damai itu – dalam
beberapa kejadian malahan yang tak pernah
memikirkannya – dengan kebetulan mendapatkan damai.
Kitab Suci memuat belasan ayat seperti 1 Petrus 3:11 yang
meminta kita menjauhi yang jahat dan melakukan yang
baik, dan berusaha hidup dalam damai, “sekalipun harus
mengejar, menangkap dan memeluk damai itu.”
Berbagai Batu Pijakan 93

Masalah apakah kita harus mengejar secara aktif


damai itu atau tidak belum pernah sepenuhnya terjawab.
Damai adalah tema yang sangat luas, dan untuk
membahasnya dalam suatu pernyataan yang besar dan
mencakup segalanya tidaklah akan membantu siapa pun.
Begitu juga usaha untuk memperoleh suatu solusi akbar,
misalnya suatu usaha menyelamatkan umat manusia atau
mewujudkan damai dunia. Kebanyakan dari kita
sebenarnya tidak kurang komitmen untuk mewujudkan
apa yang mungkin dapat kita jangkau, mungkin hal-hal
kecil, namun penting untuk kita perhatikan. Itulah
sebabnya aku percaya bahwa tulisan Stott itu mungkin
memuat kunci petunjuk yang lain ke arah damai: daripada
mengejar damai demi damai itu sendiri, kita harus
mencarinya dengan cara melakukan kasih. Santo Paulus
menyarankan hal yang sama dalam surat kepada Jemaat
di Roma: “marilah kita mengejar apa yang mendatangkan
damai sejahtera.”51 Setiap kita dapat melakukan kasih, dan
setiap kita tentu dapat menemukan di suatu tempat dan
suatu masa dalam hidup kita, sesuatu yang bisa kita
lakukan yang mengantarkan kita pada damai itu.
Tentu saja sebelum melakukan apa pun, kita harus
menilih apa yang akan kita lakukan. Yesus berkata:
“Damai-Ku Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku
kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak
seperti yang diberikan kepadamu oleh dunia,” 52 dan
perkataan itu mengandung suatu janji, sekaligus
mengundang kita untuk memilih. Kita dapat menerima
damai yang ditawarkan oleh Yesus, atau kita dapat balik
badan memunggungi Dia dan mencari damai yang
diberikan oleh dunia. Satu pilihan di antara begitu
51
Rm 14:19
52
Yoh 14:27
94 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

banyak yang lain, namun hendak kukatakan bahwa


pilihan itu sangat menentukan, karena pengaruhnya akan
sangat dirasakan dalam semua bidang kehidupan kita,
dan setiap pilihan lain yang kita buat entah yang bersifat
ekonomis, pribadi, politis dan sosial akan dipengaruhi
olehnya, cepat atau lambat.
Bahkan Yesus sendiri menghadapi pilihan-pilihan.
Setelah dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis,
Roh membimbingnya ke padang gurun dan di sana Ia
dicobai iblis. Ia berpuasa empat puluh hari empat puluh
malam, dan sesudahnya, dalam keadaan yang sangat lemah
dan rentan Yesus tersudut dan harus mengambil keputusan,
apakah mengambil “jalan yang mudah” dan menyerah
dalam rancangan setan, atau tegak berpihak pada Allah.53
Sepanjang hayat kita, setiap orang di antara kita pasti
mengalami masa-masa pencobaan walaupun mungkin
cobaan itu tidak begitu dahsyat. Tetapi keputusan Yesus
untuk tetap setia kepada Bapa – dan kemenangan yang
kemudian didapat – tentulah memberi kita harapan dan
kekuatan. Persitiwa itu juga mengingatkan kita bahwa
kita semua dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah.
Allah menebar kebaikan
Tak seorang pun terlahir jahat
Kita semua dipanggil agar suci....
Mengapa kemudian ada banyak kejahatan?
Karena kecenderungan yang ada dalam hati manusia
Merusak, dan perlu dimurnikan....
Tak ada orang yang terlahir sebagai penculik
Tak ada orang yang terlahir sebagai penjahat
Tak ada orang yang terlahir sebagai penyiksa
Tak ada orang yang terlahir sebagai pembunuh
Kita semua dilahirkan sebagai orang baik
53
Mat 4:1-11
Berbagai Batu Pijakan 95

Supaya saling mengasihi


Supaya saling memahami
Lalu mengapa, ya Tuhan, begitu banyak
Onak duri tumbuh di kebun-Mu?
Musuh melakukannya, kata Kristus
Dan orang membiarkan saja
Onak duri tumbuh di hatinya....
Kaum muda: sadarlah, engkau dipanggil untuk kebaikan
namun generasi tua – kusesalkan, generasiku sendiri-
memberimu warisan egoisme yang begitu pekat
dan kejahatan yang begitu padat.
Buatlah baru, gandum baru, tebaran benih baru
Ladang masih segar dari tangan Allah.
Anak-anakmu, kaum muda, jadikan dunia baru
Oscar Romero
Aku beruntung tumbuh dewasa bersama orang tua
yang mendorongku (dalam kata-kata Uskup Romero)
“sadarlah, engkau dipanggil untuk kebaikan.” Bagi
orang tuaku, janji Kristus akan damai itu bukan hanya
ayat dalam Kitab Suci, melainkan tawaran yang nyata
yang harus diambil. Baik Papa maupun Mama bukan
orang suci. Mereka membenci kesalehan yang munafik
dan kadang-kadang membuat orang lain marah karena
cara-cara mereka yang blak-blakan, langsung menukik
ke pokok persoalan. Namun tak seorang pun yang
mengenal mereka akan menyangkal bahwa mereka
selalu berusaha menyatukan kata dan perbuatan
mereka, dan bahwa kebahagiaan hidup mereka adalah
dalam melayani Tuhan dan sesama.
Bila Papa bicara tentang damai Tuhan, konteksnya
selalu sama: bahwa damai itu hanya diberikan kepada
mereka yang tidak terikat pada harta duniawi. “Di
mana hartamu berada, di situlah juga hatimu berada.”54
96 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Ayah Papa, seorang penulis dan dosen terkenal di


Berlin, meninggalkan kariernya dan menghayati hidup
dengan kemiskinan dalam tata cara biarawan
Fransiskan (menurut teladan Santo Fransikus Asisi).
Ketika anak-anaknya masih muda, ayah Papa
memberitahukan bahwa ia tidak meninggalkan warisan
uang; yang diwariskannya untuk mereka adalah
teladan hidup yang berpusat pada Kristus.
Orang tuaku memberikan warisan yang sama
kepadaku, walaupun aku tidak selalu menghargainya.
Malahan ketika aku remaja dulu, dengan sadar aku
memberontak. Memang tidak dengan melakukan hal-
hal yang sekarang pun dianggap skandal. Aku tahu nilai-
nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tuaku dan kurang
lebih aku sendiri juga memberlakukannya untuk diriku.
Aku juga menyadari pengorbanan-pengorbanan yang
mereka lakukan untuk mengikuti Tuhan. (Ibuku
meninggalkan sekolah asrama berlawanan dengan
harapan keluarganya yang menginginkan dia menjadi
seorang profesor, dan hanya setelah bertahun-tahun
kemudian ketegangan di antara mereka itu mencair).
Tapi mula-mula yang kuinginkan adalah sekadar
bersenang-senang. Jika ada kesempatan untuk itu,
biasanya aku berpihak bersama-sama teman sebayaku,
sekalipun hal itu melukai hati orang tuaku.
Tetapi kemudian Tuhan menghentikan jalanku. Ketika
umurku empat belas tahun, keluarga kami pindah
meninggalkan komunitas kami di pedalaman Paraguay di
mana aku dibesarkan, ke Woodcrest, komunitas kami yang
baru di New York. Pada waktu kedatangan kami di Amerika
Serikat, sepertinya ada suasana umum yang penuh optimisme

54
Mat 6:21
Berbagai Batu Pijakan 97

– ekonomi tumbuh pesat, cahaya gemilang “kemenangan”


Amerika atas Jerman dan Jepang belum pudar. Sementara
itu Perang Dingin sedang berlangsung ketat, dan banyak
orang takut pada bencana nuklir. Setidak-tidaknya di dalam
lingkaran di mana orang tuaku pindah, orang-orang tak
lagi mengelu-elukan kemenangan, kelimpahan dan perang,
dan mencari sesuatu yang baru: kesederhanaan,
kebersamaan, keselarasan, dan damai.
Sejak kami tiba di Woodcrest tampak olehku pencarian
itu. Ada ratusan tamu (kebanyakan masih muda) dan
belasan anggota baru dengan berbagai latar belakang yang
berbeda, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
sebelumnya tak terpikirkan olehku. Di sini pria dan wanita
yang telah sukses secara duniawi memilih meninggalkan
segalanya dan menggantikannya dengan suatu kehidupan
yang diabdikan kepada Allah. Di sini ada orang-orang yang
dengan suka rela menjual rumah dan mobil mereka dan
meninggalkan pekerjaan mereka yang baik dan memilih
hidup miskin. Bagiku pancaran wajah dan nada kata-kata
mereka mencerminkan kepuasan dan kegembiraan. Dengan
segera semua hal yang tadinya kuinginkan tampak menjadi
kurang penting lagi, dan rencana-rencana hidupku setelah
Sekolah Menengah Atas: Perguruan Tinggi, uang dan
kebebasan orang dewasa – mulai berubah. Tak berapa lama
kemudian semua itu tampak remeh-temeh dan tak berarti.
Aku punya tujuan-tujuan dan prioritas baru.
Sulit untuk menunjukkan peristiwa terpenting mana
yang telah mengubah arah yang hendak kutuju. Aku
masih ingat saat aku memberitahukan keputusanku
untuk hidup secara lain – bagi Tuhan, bukan demi diriku
sendiri – sejak sekarang, kepada orang tuaku. Aku tidak
yakin apakah aku bisa menyebutkan sebagai suatu
“pertobatan” definitif. Tetapi peristiwa itu adalah satu di
98 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

antara sekian pengalaman penting yang menguatkan


kerinduanku untuk menemukan tujuan sejati dari
hidupku, dan memperdalam keyakinanku.
Berbagai buku, khususnya novel-novel dan cerita
pendek dari Leo Tolstoy dan Dostoevsky membantu
membentuk wawasanku walaupun baru di kemudian
hari aku menyadarinya. Aku seorang yang kutu buku,
tetapi aku tidak menganggap buku-buku itu sebagai
bahan religius. Pembicaraan dengan para tamu seperti
Dorothy Day dan Pete Seeger55 meninggalkan dampak
besar pada diriku. Mengenangkan kembali hal itu, aku
juga menyadari peran yang dimainkan oleh orang tuaku,
walaupun aku belum menyadarinya, setidak-tidaknya
sampai aku melihat air mata mereka menetes ketika aku
memberitahukan perubahan niatku. Mereka tentu
sering berdoa untukku, dengan tekun.
Mungkin faktor yang paling penting pada tahun-tahun
itu adalah pengaruh ayahku sebagai pemimpin jemaat,
memerhatikan Papa membaptis orang lain selalu
mengesankan diriku. Aku merasakan kehadiran Roh
Kesucian, kehadiran Allah, dan perasaan ini dikuatkan
kemudian hari, ketika aku menyaksikan perubahan hidup
orang-orang yang dibaptis itu. Ada yang berubah sama
sekali. Tampaknya mereka mendapatkan kepribadian yang
baru seluruhnya. Aku menginginkan hal seperti itu pada
diriku sendiri agar terputus sama sekali dari keinginkanku
yang egois, dan memperoleh kebebasan dan kegembiraan

55
Pete Seeger adalah penulis dan penyanyi lagu-lagu rakyat Amerika
Serikat. Lagunya antara lain We Shall Overcome, Where Have All
The Flowers Gone (dipopulerkan The Kingstons Trio, 1962), If I
Had a Hammer (dipopulerkan oleh Peter, Paul & Mary, 1963) dan
Turn, Turn, Turn (The Byrds, 1966). Dia juga aktivis politik (kiri)
dan lingkungan hidup.
Berbagai Batu Pijakan 99

dari suatu yang baru. Ketika umurku delapan belas tahun


aku dibaptis dan itu merupakan peristiwa yang
menentukan; sekarang aku tahu tak dapat berpaling lagi
dari keputusanku untuk mempersembahkan hidupku
sepenuhnya dan selamanya kepada Tuhan.
Di awal buku ini aku mengutip seorang rabbi yang
menyatakan bahwa damai dibangun “bata demi bata”.
Gambaran itu bagus sekali. Suatu pembicaraan tentang
sebuah buku, suatu pengalaman yang menggerakkan
hati kita (sekalipun kita tidak bisa menjelaskan
sebabnya), dan suatu keputusan, pada dirinya sendiri
masing-masing tidak harus mengubah arah hidup kita.
Namun bersama- sama, semuanya itu membentuk
bangunan yang kemudian mewujudkan diri kita.
Akhirnya mereka jugalah yang nantinya entah akan
mencegah kita mendapatkan kedamaian hati, atau
malahan akan mengantarkan kita padanya.
Aku berjumpa dengan orang-orang yang dapat
menceritakan kapan tepatnya mereka bertobat,
bagaimana terjadinya, dan aku tak meragukan
kesungguhan mereka. Namun banyak dari kita mungkin
sama dengan apa yang dikatakan almarhum penulis
Inggris Malcom Muggeridge56, yang menulis:
Beberapa orang mempunyai pengalaman seperti
Rasul Paulus di Jalan Damaskus57, dan aku sering berdoa
memohon terjadinya peristiwa yang begitu dramatis
dalam hidupku, yang akan membuatku memulai
lembaran sejarah baru, seperti dari Seb. Masehi menjadi
56
Malcolm Muggeridge (1903-1990) seorang wartawan dan penulis
Inggris. Ia dikenal sebagai “penemu” Ibu Teresa dengan melakukan
wawancara televisi pada tahun 1968. Pada usia 79 tahun, ia yang
tadinya seorang agnostik menjadi Katolik bersama istrinya pada tahun
1982, terkesan pada Ibu Teresa.
57
Kis 9:1-19
100 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Masehi. Tetapi aku tidak juga kunjung mengalami


peristiwa semacam itu; aku cuma tertatih-tatih, seperti
Peziarah yang digambarkan Bunyan 58.
Bagiku, pertobatan bukanlah suatu langkah tuntas,
melainkan suatu proses. Pertama-tama adalah kerinduan
akan sesuatu yang baru, kemudian awal untuk melayani
orang lain, dan selanjutnya pembaptisan. Sekarang, setelah
empat puluh tahun berlalu, aku masih mengajukan
pertanyaan-pertanyaan baru dan menemukan jawaban-
jawaban baru. Kemudian terlintaslah gambaran tentang
batu-batu pijakan dalam pikiranku.
Dalam bagian berikut ini disajikan semacam pijakan
kaki. Tidak semuanya halus dan aman. Misalnya
kerendahan hati dan kepercayaan, mengandung risiko-
risiko yang ternyata dapat menjadikan orang tergelincir.
Namun sepanjang lintasan menuju damai, masing-masing
batu pijakan itu harus dilalui.

58
Dua volume buku cerita Pilgrim Progress karangan John Bunyan,
penulis kristen abad ke-17.
Berbagai Batu Pijakan 101

Kesederhanaan
Pada umumnya tujuan hidup bukanlah
untuk berpihak pada mayoritas, tetapi supaya kita
tidak tergolong dalam kelompok yang tidak waras
... ingatlah bahwa ada Allah yang tidak
menghendaki pujian dan kemuliaan dari manusia
yang diciptakan menurut citra-Nya, namun lebih
mengharapkan agar mereka itu, dibimbing oleh
pengertian yang dianugerahkan-Nya, bertindak
menjadi makin serupa dengan Dia. Pohon ara
jelas punya tujuan sendiri, begitu juga anjing,
begitu pula lebah. Lalu, apakah mungkin manusia
tidak memenuhi panggilan hidupnya? Namun
sayang, kebenaran yang agung dan suci ini hilang
dari kenangan. Kesibukan hidup sehari-hari,
perang, ketakutan yang luar biasa, keluhan jiwa
dan adat kebiasaan telah menjadi penyebabnya.
Marcus Aurelius

B agi kebanyakan dari kita hasrat akan kedamaian


tidak timbul dari semacam tindakan luhur yang
berusaha menyatu dengan Allah, walaupun kerinduan
seperti itu juga dirasakan. Biasanya, hasrat itu digerakkan
oleh sesuatu yang sederhana seperti kekecewaan, stres
dan ketegangan dalam hidup kita, dan kekhawatiran
(seperti yang disebutkan oleh Marcus Aurelius) kalau-
kalau kita nanti tidak waras.
Budaya kita tidak hanya ditandai oleh ketergesaan,
tetapi bahkan didorong oleh keadaan yang serba tergesa
102 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

itu. Kita terobsesi (menguntip Thomas Merton) dengan


adanya kekurangan waktu dan ruang, dengan semangat
penghematan waktu, dengan penaklukan angkasa-luar,
dengan membuat arah baru ke masa depan dan
“kekhawatiran akan ukuran, volume/isi, jumlah,
kecepatan, nomer, harga, daya tenaga dan percepatan.”
Ia melanjutkan pernyataannya, bahwa kita hidup dalam
waktu tanpa ruang yang adalah waktu dari masa akhir.
Kita berjumlah miliaran, dijadikan massa himpunan,
dipimpin, diberi nomor, dibariskan di sana sini.
Diarahkan, dilatih, dipersenjatai, ditarik pajak ... dibuat
mual pada kehidupan. Dan ketika akhir mendekat, sudah
tak ada lagi ruang bagi alam. Kota-kota berjubel
memenuhi permukaan bumi. Tak ada ruang untuk
ketenangan. Tak ada ruang untuk menyendiri dalam
sepi. Tak ada tempat untuk merenung. Tak ada ruang
untuk memerhatikan dan menyadari keadaan kita.
Yang lebih buruk lagi, kita tidak hanya kekurangan
damai (waktu, ruang, tempat) untuk diri kita; kita bahkan
mencegah satu sama lain untuk mendapatkannya.
Dalam dua puluh lima tahun terakhir saja berbagai
penemuan dan pengembangan sangat mengubah cara
hidup kita. Komputer pribadi, mesin facsimile, telepon
tanpa kabel dan speaker transistor, e-mail dan berbagai
perangkat teknologi tinggi yang menghemat tenaga begitu
mengubah kehidupan kerja dan rumah tangga kita.
Namun apakah semua itu membawa kedamaian dan
kebebasan yang dijanjikan kepada kita?
Tanpa menyadarinya, kehidupan kita menjadi kering
(atau malah mengalami cuci-otak) karena hasrat kita yang
menggebu-gebu akan teknologi itu. Kita menjadi budak
dari suatu sistem yang mendesak kita agar terus membeli
alat-alat baru, dan kita telah menerima dorongan itu tanpa
Berbagai Batu Pijakan 103

mempersoalkan lagi alasan bahwa dengan bekerja lebih


keras, kita niscaya akan punya waktu yang lebih leluasa
untuk mengerjakan hal-hal yang lebih penting. Itu adalah
logika yang salah kaprah. Ketika penyempurnaan semua
benda dari perangkat lunak sampai ke mobil kemudian
ternyata membuat kita terpaksa terpental-pental
menyesuaikan diri; dan jika nyatanya kita lalu harus terus
berusaha bersaing dengan para tetangga (sekalipun
berlawanan dengan pemikiran kita), kita harus bertanya
pada diri sendiri: apanya yang telah kita hemat selama ini,
dan apakah hidup kita menjadi lebih damai?
Yang pasti kerumitan hidup yang terus bertambah
sekarang ini merampok ketenangan kita dan menghasilkan
wabah yang diam-diam meluas terkait dengan ketegangan,
kekhawatiran, dan kebingungan. Pendidik dari Jerman
Friedrich Wilhelm Foerster (1896-1966) lima puluh tahun
yang lalu sudah menulis:
Sejak dulu kala, peradaban teknis kita telah
memanjakan hidup dalam segala hal, namun lebih dari
situasi di masa lalu, manusia kini tanpa berdaya terpuruk
oleh ledakan hidup. Hal ini semata-mata disebabkan
budaya yang sekadar teknis–material tidak dapat
membantu kita menghadapi tragedi. Manusia dewasa ini,
bagaimanapun penampilan luarnya, tak punya gagasan,
tak punya daya kekuatan untuk menguasai kegelisahan
dan keterpecahan dalam dirinya sendiri. Ia tak tahu harus
berbuat apa dengan penderitaan – bagaimana melakukan
sesuatu yang konstruktif dari penderitaan itu – dan hanya
memandang penderitaan itu sebagai sesuatu yang
menindas dan menguras dia dan menghalangi hidup. Ia
tak punya kedamaian. Dan pengalaman yang sebenarnya
dapat membantu seseorang mengaktifkan hidup rohani
agar mengendalikan jalannya kehidupan seperti itu,
malahan bisa mengirimnya ke tempat perawatan mental.
104 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Dalam kaitan dengan “trend’ mutakhir, majalah


mingguan Time memuat laporan tentang pasangan
muda yang pindah dari lingkungan mewah di pinggir
kota Ohio karena yang wanita merasa muak tinggal di
antara tetangga di mana orang-orang “menggunakan
semua waktu mereka, termasuk waktu tidur, untuk
bekerja keras supaya dapat memenuhi rumah mereka
yang besar dan luas dengan barang-barang yang mahal.”
Wanita itu merindukan “ketenangan, kesederhanaan,
semacam kedamaian hati.”
Mulanya, kehidupan mereka dalam lingkungan kota
kecil baru itu serasa sempurna, namun tak lama kemudian,
orang-orang yang tak punya pekerjaan membuat angka
kejahatan meningkat, dan kesulitan dengan para tetangga
yang berpikiran sempit memusingkan kepala. Mengambil
keputusan untuk tidak menyerah, wanita itu menyibukkan
diri dengan masalah renovasi (pemugaran) tanah dan
bangunan bersejarah di situ dan urusan Dewan Sekolah.
Tampaknya semua ini tidak memuaskan juga. Akhirnya
pasangan itu membuat rencana besar untuk mendapatkan
pola hidup yang tenang: mereka pindah ke Nantucket untuk
memulai cara hidup yang lebih tenang, yang memungkinkan
mereka mengalami “sarapan–di–tempat–tidur”....
Seperti kebahagian, kesederhanaan tidak selalu bisa
dikejar. Pencarian kesederhanaan yang diusahakan demi
kesederhanaan belaka mungkin hanya akan menghasilkan
kekecewaan. Kita mungkin tak mau disilaukan oleh gaya
hidup materialistis dan ingin lepas dari belenggunya, namun
untuk itu mungkin kita dituntut melakukan lebih dari
sekadar mengubah kecepatan langkah kita.
Dalam masa muda orang tua saya di Eropa pada
tahun 1920-an, kerinduan akan hidup sederhana
dipadukan dengan kerinduan akan hal-hal yang saleh,
Berbagai Batu Pijakan 105

dekat dengan alam, komunitas dan keselarasan dengan


sang Pencipta. Seperti kaum muda di tahun enam
puluhan, kaum muda di zaman orang tuaku juga
membentuk koperasi yang membuat mereka lebih akrab
satu sama lain dan – walaupun sangat jauh dari kosa-
kata bahasa agama – lebih dekat dengan Tuhan.
Dewasa ini, suara-suara seperti Wendell Berry59 (yang
dikenal dengan Henry David Thoreau60 dari Kentucky)
menekankan perlunya kembali ke alam, belajar untuk
berswa-sembada, dan “menghayati hidup sederhana supaya
orang lain juga hidup sederhana.” Di sebelah barat daya
Perancis, Thich Nhat Hanh menyelenggarakan Village des
Pruniers (Desa Plum), suatu tempat retret dan komunitas
yang terutama dipenuhi oleh para biksu, biksuni dan
keluarga-keluarga Vietnam. Ia banyak membicarakan
hubungan tentang kesederhanaan dan damai.
Dari antara kami yang mempunyai anak-anak muda
(atau cucu, keponakan lelaki dan perempuan) tak akan
lupa bahwa kesederhanaan mereka mengajarkan hal-hal
yang penting kepada kami. Lain dari orang dewasa, anak-
anak cenderung merangkul hal-hal yang mendasar dan
langsung. Mereka memperoleh kegembiraan besar dalam
hal-hal yang sederhana dan alamiah. Mereka menghayati
hidup yang lebih penuh sekarang ini dan lebih siap
bertindak sepenuh hati dengan spontan, karena pikiran
mereka lebih bebas dari berbagai rencana, skema,
larangan-larangan dan motif-motif.

59
Sastrawan, budayawan, kritikus ekonomi, pecinta lingkungan
Amerika. Lahir tahun 1934.
60
Henry David Thoreau (1817-1862) adalah filsuf , penulis ekologi
dan sejarah alam yang menjadi dasar bagi ilmu lingkungan hidup
sekarang ini.
106 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Kesederhanaan bukanlah suatu tujuan. Namun


kesederhanaan tetap merupakan sesuatu yang terus-
menerus dihayati ketika harta, kegiatan, dan agenda-
agenda memisahkan kita dari hal-hal yang penting dalam
hidup kita: keluarga, teman, hubungan-hubungan yang
konstruktif dan pekerjaan yang bermakna. Semua ini
menghubungkan kita satu sama lain dan membuat kita
makin akrab. Kita harus lebih banyak meluangkan waktu
bersama-sama anak-anak kita tanpa perangkat dan
mainan-mainan kita agar tidak terlalu bergantung pada
barang-barang itu dan lebih dekat pada Tuhan.
Kristus berkata, “Apa gunanya seseorang mendapatkan
seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?”61 Aku sering
merenungkan pertanyaan sederhana itu dan mendapatkan
kedamaian di dalam renunganku itu. Bukanlah suatu
ancaman yang membayangi kepala kita di situ, melainkan
sungguh suatu pedoman, sesuatu yang mengingatkan kita
tentang prioritas yang benar bagi kita.

61
Mat 16:26
Berbagai Batu Pijakan 107

Kesunyian
Lidah adalah senjata yang sangat ampuh dalam
rangka manipulasi. Arus kata-kata deras mengalir dari
kita karena kita terus-menerus berproses menyesuaikan
citra diri kita dalam masyarakat. Kita begitu khawatir
akan apa yang kita kira dilihat orang dalam diri kita,
sehingga kita perlu bicara untuk meluruskan pengertian
mereka. Jika aku telah melakukan sesuatu yang salah
(atau bahkan sesuatu yang benar namun kukira Anda
salah mengerti) dan mendapatkan bahwa Anda tahu
tentang hal itu, aku akan tergoda untuk membuat Anda
memahami tindakanku itu.
Kesunyian, diam, merupakan disiplin yang
mendalam dari roh, karena diam menghentikan segala
macam pembenaran diri. Salah satu buah dari kesunyian,
diam, adalah kebebasan untuk mempersilakan Allah
menjadi hakim bagi pembenaran diri kita. Kita tak perlu
meluruskan pendapat orang lain.
Richard J. Foster62

S alah satu hambatan terbesar untuk memperoleh damai


adalah ketidakmampuan kita untuk diam dalam
kesunyian. Sebab setiap kali kita berusaha menahan lidah
kita dan memikirkan diri kita sendiri, selalu ada orang
lain yang membuat kepala kita berpaling dan nimbrung
bicara. Kita terus-menerus merampas damai dari diri kita
sendiri, karena kita memilih untuk terjun ke tengah-
tengah urusan orang lain. Kita bicara. Kita bergosip.
Bergunjing. Dan kita lupa bahwa untuk setiap kata-kata
yang kita ucapkan dengan sia-sia, kita akan dihakimi.63
62
Seorang teolog dan penulis dari tradisi Quaker.
63
Mat 12:36
108 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Diam dalam sunyi mungkin bukan “urusan besar”


dibanding dengan aspek-aspek lain dari damai yang kita
bahas dalam buku ini. Penulis Max Picard menyatakan
bahwa diam dalam sunyi “menjauhkan dunia untung-rugi
dan kegunaan. Tak dapat dieksploitasi. Anda tak kan dapat
memperoleh apa-apa dari situ. Sesuatu yang “tidak
produktif”. Karena itu sering dianggap tidak berguna. Ada
banyak pertolongan dan kesembuhan dalam kesunyian
daripada dalam semua hal yang berguna.”
Bila kita sendirian, sunyi di luar mudah kita
kembangkan (Namun di dalam diri kita, mungkin kita
sama sekali tidak tenang; kepala kita mendengung dengan
berbagai gagasan dan rencana-rencana). Dan bila kita
bersama orang lain, kesunyian menjadi lebih sulit. Bukan
hanya menyangkut sikap untuk tidak bicara, tetapi lebih
dari itu juga kesediaan kita untuk belajar mendengarkan.
Dalam komunitas Bruderhof, di mana pertemuan
malam tentang ibadat, bisnis, bacaan atau sharing informal
diselenggarakan beberapa kali dalam seminggu, orang
mungkin mengira kami mengerti nilai kesunyian. Mungkin
memang begitu. Namun heran juga bagaimana hasrat kami
untuk mengungkapkan diri, untuk menyuarakan pendapat
dan untuk membuat diri kita didengarkan, memperoleh
jalan dalam dialog yang menghasilkan buah.
Tanpa maksud untuk bereaksi, bukan untuk
merevisi, membumbui atau menjelaskan, bahkan tidak
untuk menanggapi, semata-mata mendengarkan saja
sudah merupakan suatu karunia. Jika kita sungguh dapat
mendengarkan, sungguh memerhatikan, lalu Tuhan bisa
bicara. Ini merupakan suatu disiplin. Pekerjaan murid.
Ibu Teresa menyatakan bahwa apa yang harus kita
katakan tidaklah sepenting apa yang Tuhan hendak
katakan kepada kita dan melalui kita: “semua kata-
Berbagai Batu Pijakan 109

kata kita tidak ada gunanya jika tidak berasal dari


dalam. Kata-kata yang tidak membawa terang Kristus
hanya menambah kegelapan.”
Banyak orang menganggap kesunyian sebagai
perangkap bagi hidup yang menderita tanpa ada perlunya
– sesuatu yang hanya untuk para biarawan atau suster,
bagi kaum religius. Memang benar dalam banyak ordo
dan kongregasi religius para anggotanya melatih
kesunyian. Dalam komunitas kami, janji untuk berdiam
diri hanya dilakukan untuk waktu yang pendek oleh
seseorang yang bermaksud mendapatkan penegasan
komitmen dirinya, atau sebagai suatu tanda penyesalan.
Namun mengapa kesunyian dipandang secara negatif
begitu? Kesunyian dapat membebaskan kita dari beban
keharusan untuk menjawab. Kesunyian membantu kita
menghindarkan situasi hanyut oleh hal-hal remeh-temeh.
Di antara kelompok awal Society of Friends (Quaker),
ibadat dan pelayanan berada di tempat kedua, dan yang
pertama adalah praktik bersama untuk berdiam diri, yang
mereka pandang bukan sebagai suatu tujuan, melainkan
sebagai cara untuk menunggu Allah. Kelompok Friends
merasakan seperti itu, karena kesunyian menjauhkan
seseorang dari dirinya sendiri, dan memasuki suatu
kawasan yang lebih besar, suatu situasi yang sangat banyak
menghasilkan, di mana didapatkan kosensus dan kesatuan
sekalipun untuk masalah yang berdaya mencerai-beraikan.
Jika bicara, pencarian, dan doa tidak dapat membawa kita
kemana pun, kesunyian memungkinkan Roh didengarkan
dan suatu jawaban diperoleh.
Berdiam diri di hadapan Allah memiliki arti yang
sungguh mendalam: dalam keheningan itu, jiwa
seseorang tenggelam ke dalam api unggun kebersamaan.
Dalam lingkaran ibadat, paduan nada kehidupan yang
110 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

mendasar dan paling pribadi mendapatkan rangsangan


yang terdalam.... Dalam kegiatan bernapas yang senyap
dan dalam dialog tanpa kata antara jiwa dengan Allah,
hanya berdua saja, dapat diperoleh kedalaman
kebersamaan yang menyatu (communion).
Eberhard Arnold
Kadang-kadang berdiam diri membutuhkan
suasana sunyi. Jika kita hidup bersama dalam jalinan
yang erat dengan orang lain, dalam keluarga yang
akrab, atau komunitas yang rukun, misalnya, sangat
perlu kadang-kadang mempunyai waktu untuk
menyepi sendirian. Bonhoeffer 64 menyatakan bahwa
mereka yang tidak dapat hidup dalam komunitas tidak
dapat hidup sendirian, namun yang sebaliknya juga
benar. Mereka yang tidak dapat hidup sendiri tidak
dapat hidup dalam komunitas. Kakekku menulis:
Ketika kita menghidup dan menghembuskan napas
saja, kita memerlukan kesendirian untuk memperoleh
kekuatan bagi masa-masa di mana kita bersama orang
lain. Dari karya Nietzche 65 kita tahu kehidupan
Zoroaster66, bahwa nabi kuno itu sering menyendiri
bersama binatang peliharaannya. Ia pergi keluar dan
berjalan diam-diam di antara binatang-binatang buas
yang cerdas, kuat, agung namun jinak, dan melalui
tindakan seperti itu ia memperoleh kekuatan dan merasa
terdorong lagi untuk menghadapi manusia.
64
Dietrich Bonhoeffer adalah seorang teolog Lutheran (1906-1945).
Karena melawan Nazi ia ditangkap dan digantung sebelum Perang
Dunia Kedua berakhir.
65
Friedrich Nietzche filsuf eksistensialis dan pasca-modernisme
Jerman (1844-1900). Bukunya antara lain Also sprach Zarathrusta
(Demikianlah Zarathrusta Berkata).
66
Zoroaster atau Zarathrusta adalah nabi kuno dari abad ke-5 sebelum
Masehi dari daerah Persia. Ia bicara soal yang baik dan yang jahat.
Berbagai Batu Pijakan 111

Secara pribadi, kupikir penting untuk memperoleh,


saat teduh setiap hari sekalipun hanya untuk beberapa
menit saja. Aku dan istriku berjalan-jalan dalam diam pada
pagi hari sesering mungkin, dan itu adalah cara yang baik
untuk memfokuskan pikiran kita. Orang-orang lain di
dalam komunitasku juga melakukan hal itu: salah satu
pasangan yang lebih tua berjalan-jalan sebelum makan
malam setiap hari, semata-mata untuk menenangkan diri
bersama dan menikmati malam.
Terutama ketika sedang mengalami saat- saat
kemelut atau kehilangan, daya penyembuh dari
keheningan malam jangan diremehkan. Aku masih
mendengar suara Ria Kiefer, seorang tua di masa
sekolahku dulu, terngiang di telingaku ketika ia
menyuruh seseorang yang kelihatan sedang sedih, “Freu’
dich an der Natur!”- Keluarlah. Nikmatilah alam!
Dalam bukunya Freedom from Sinful Thoughts ayahku
menulis tentang kesunyian jenis lain – pelepasan, sepi
batin. Ada banyak yang dapat dikatakan tentang
pelepasan; para mistikus menulis banyak buku tentang
itu. Namun pelepasan dapat juga dikatakan dengan
sangat sederhana sebagai rasa damai yang timbul setelah
kita membuang apa saja yang memenuhi pikiran kita –
seluk-beluk pekerjaan, rencana-rencana, dan kecemasan
tentang masa depan – dan secara batin menjadi teduh.
William Penn, seorang Quaker abad ketujuh belas
memberi penjelasan mengapa ini penting:
Cintailah kesunyian bahkan dalam pikiran;
karena hubungan gagasan-gagasan terhadap pikiran
adalah sama dengan hubungan kata-kata dengan
tubuh, mengganggu. Banyak berkata, sama dengan
banyak berpikir, adalah pemborosan; di dalam banyak
gagasan, sebagaimana dalam banyak kata-kata terdapat
112 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

dosa. Kesunyian sejati adalah pikiran yang tenang, yang


hubungannya terhadap Roh adalah sama dengan
artinya tidur bagi tubuh, yaitu gizi dan kesegaran.
Kesunyian dalam pikiran adalah keutamaan besar;
mencegah kebodohan, menyimpan rahasia,
menghindari pertengkaran, dan mencegah dosa.
Kita semua tahu seperti apa rasanya duduk
bersanding dengan orang yang kita cintai, walaupun kita
tidak berkata apa-apa namun merasa tenang sempurna.
Namun kesunyian tidak selalu menjadi sumber damai.
Kadang-kadang jeda sebentar dalam suatu percakapan
cukup membuat kita tidak tenang, dan kita harus meraba-
raba suatu tanggapan segera untuk mengisi celah yang
tidak menyenangkan itu. Jika ada sesuatu yang tidak
benar di dalamnya, jika ada sesuatu di antara kita dan
orang lain, atau di antara kita dengan Tuhan, kesunyian
bisa sangat menakutkan.
Seorang wanita yang telah berkonsultasi denganku
selama beberapa tahun suatu ketika bilang kepadaku,
bahwa ia menemukan kedamaian dengan melepaskan
segala sesuatu dan menjadi teduh hati:
Sepertinya bila Anda tak dapat damai dengan diri
Anda, akan sulit bagi Anda menghadapi ruang kosong,
entah visual (tak ada yang bisa dipandang atau dilihat),
entah audio (tak ada yang bisa didengarkan), atau fisik
(tak ada yang bisa dilakukan, atau tak mampu apa-apa).
Anda berusaha keras melepaskan diri dari kemelut batin
(penderitaan batin, tujuan yang bertentangan,
ketakutan, tuduhan-tuduhan, hati nurani yang terusik,
apa saja) tetapi Anda malah jadi lebih frustrasi.
Bagaimanapun usaha Anda menghindari ruang kosong
itu, Anda akan mendapatkan berkat justru bila Anda
menerimanya dan memanfaatkannya demi kebaikan
jiwa Anda. Memang sungguh berat menghadapi jiwa
Berbagai Batu Pijakan 113

yang sedang kemelut, tapi justru di situ tersedia rahmat


kedamaian, dan juga suatu kehidupan yang lebih sesuai
dengan kehendak Allah.
Sophie Loeber, seorang teman ayahku dari masa kecilnya
yang kukenal, menulis kepadaku baru-baru ini dengan nada
yang sama. “Aku sering harus bergumul untuk mendapatkan
damai dalam hidupku,” katanya, “tapi kesunyian
membantuku melakukan introspeksi dan teringat bahwa
Tuhan merengkuh setiap kita dengan tangan-Nya.”
Sophie adalah seorang anggota Bruderhof Jerman
yang diserang dan dibubarkan oleh Gestapo (polisi rahasia
Jerman) pada tahun 1937. Sesudah Gestapo mengepung
mereka, membariskan para pria sepanjang dinding dan
mengunci para wanita dan anak-anak, polisi melakukan
interogasi dan memberikan ultimatum bahwa dalam
tempo dua puluh empat jam mereka harus meninggalkan
tempat itu dan keluar dari Jerman.
Ketika Nazi memaksa kami meninggalkan rumah
yang kami cintai di Rhon, kami tidak diperbolehkan
membawa apa-apa selain baju di dalam ransel kami.
Tapi kami membawa harta pusaka kami (yaitu
kegembiraan dan kesusahan, perjuangan dan masa-
masa perayaan dan semua yang telah kami alami selama
bertahun-tahun) dalam hati kami.
Beberapa tahun kemudian Sophie dan suaminya,
Christian, kehilangan kedua putranya yang meninggal
karena wabah yang jarang terjadi. Mula-mula kedua anak
itu buta, lalu mengalami kemunduran fungsi mental.
Keduanya meninggal dalam usia belasan tahun, hanya
berbeda beberapa tahun. Sophie sedih tak terkatakan.
Pertanyaan yang disampaikan orang serasa menyiksa hatinya,
namun berangsur-angsur semua itu mengantarnya pada
suatu keheningan di mana ia menemukan iman dan damai:
114 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Berulangkali aku bertanya pada diri sendiri:


mengapa Allah memasukkan kami dalam pencobaan
sedahsyat ini? Kadang-kadang kami merasa tak mampu
lagi menanggung beban karena patah hati. Namun
ketika aku dapat kembali menghimpun daya pikirku
dan merasa tenang, aku menyadari betapa keprihatinan
dan doa-doaku terlalu kecil, terlalu bersifat pribadi.
Christian dan aku hanya berputar-putar di sekitar
kebutuhan kami sendiri, lupa bahwa ada orang lain di
dekat kami yang juga punya kebutuhan. Kami juga
melupakan janji “Carilah dulu Kerajaan Allah,
selebihnya akan ditambahkan kepadamu.”67
Beberapa waktu kemudian Sophie kehilangan
suaminya karena kanker, dan putranya yang ketiga
(menikah, punya anak) karena kecelakaan listrik.
Allah sungguh menguji dia, tapi ia berkata bahwa
penderitaannya telah mengajar dirinya agar tenang
dan agar “melepaskan segala sesuatu yang mengikat
kita di dunia.” Demikianlah ia bisa memberikan ruang
bagi Allah, dan “membiarkan Dia memenuhi hatiku,
dan luka-lukaku mulai sembuh.”
“Kini aku sendiri mendekati akhir hayatku, dan
kesunyian makin penting bagiku. ‘Tenanglah dan ini Aku,
Tuhan’68 Segala sesuatu perlu kita singkirkan agar Allah
memenuhi diri kita seluruhnya. Maka kita akan mengalami
kegembiraan sejati dan mendapatkan kedamaian.”

67
Mat 6:33
68
Mat 14:27
Berbagai Batu Pijakan 115

Kepasrahan
Kesulitan tidak perlu menekan atau
menenggelamkan kita. Kasih yang menggenggam kita
begitu agung sehingga kelemahan kecil dari diri kita
masing-masing tak akan mampu mengalahkannya.
Karena itu aku minta satu hal darimu: jangan terlalu
khawatir akan dirimu. Bebaskan dirimu dari semua
rencana dan tujuan. Mereka terlalu banyak menjajah
kamu. Serahkanlah dirimu pada matahari, pada hujan,
pada angin, seperti bunga-bunga dan burung,
Serahkanlah dirimu kepada Allah. Hanya satu saja
harapanmu: Terjadilah kehendak-Mu, datanglah
Kerajaan-Mu, lalu Dia akan mewahyukan diri. Dan
kita semua diselamatkan.
Eberhard Arnold.

J ika kita terus-menerus memfokuskan segalanya pada


diri kita sendiri, ditanggung tak akan ada kedamaian
hati yang kita peroleh. Mawas diri, untuk memilah motif-
motif, untuk mengajukan pertanyaan yang selama ini kita
hindari, mengapa kita takut pada perubahan yang terjadi
dalam diri kita sendiri – semua ini merupakan bagian
yang penting untuk memeriksa akar penyebab rasa tidak
damai. Namun menghentikannya dapat berarti kematian.
Mawas diri tidak sama dengan berpaling kepada Allah,
namun baru setelah kita menimbang masalah-masalah
kita, kita dapat berserah diri kepada Allah dan bergerak
maju. Makin cepat kita melakukan semua ini, makin
cepat pula kita mendapatkan kedamaian.
Beberapa orang cenderung terus memandangi dirinya
seperti di dalam cermin dan hal itu menyebabkan
116 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

ketegangan yang tidak perlu. Yang lain mungkin tidak


begitu peduli pada keadaan batinnya, tetapi juga tegang
karena tidak dapat melupakan luka hati yang lama. Yang
satu mungkin membiarkan kekecewaan terus menyala;
yang lain membawa terus hasrat yang tak sampai atau
frustrasi yang tak terpadamkan.
Winifred Hildel, seorang anggota komunitasku,
melewati suatu masa dukacita yang dalam setelah satu-
satunya anak lelakinya mati waktu dilahirkan. Ia tak
dapat merelakan kematian putranya itu dan merasa
melakukan kesalahan sewaktu mengandung, walaupun
dokter menyatakan bahwa bukan itu masalahnya. Baru
setelah bertahun-tahun ia berhenti menyiksa diri. Dengan
menceritakan semua detail yang dibayangkannya sebagai
kesalahan dirinya kepada orang lain, barulah ia dapat
melepaskan rasa bersalahnya itu.
Konflik diri Winifred yang berkepanjangan itu
menunjukkan salah satu sumber dari tidak adanya damai
yang membuat banyak orang pusing: mereka berusaha
berkompromi dengan suatu tragedi yang karena hal itu
mereka merasa bertanggung jawab. Apakah mereka itu
menanggung rasa bersalah secara obyektif atau tidak,
kunci untuk mengatasi hal itu adalah kepasrahan.
Kerendahan hati merupakan keutamaan, tetapi
menyalahkan diri bukan. Bukan pemulihan yang
dihasilkannya, malah mengarah pada upaya mawas diri
yang tidak sehat.
Bagi beberapa yang lain, salah satu sumber yang
menyebabkan tidak adanya kedamaian adalah ketidak-
mampuan melepaskan kendali yang mereka usahakan
untuk diterapkan pada orang lain. Sebagai seorang
konselor keluarga, aku melihat hal semacam ini
membuat kepincangan dalam rumah tangga, terutama
Berbagai Batu Pijakan 117

ketika kendali yang diterapkan itu letaknya ada di


dalam hubungan antara orang tua dan anaknya. Dalam
banyak rumah tangga, ada banyak ketegangan
terutama antara pemuda-pemudi (atau anak-anak yang
mulai dewasa) dengan orang tuanya yang baru dapat
mencair jika para orang tua berkenan melepaskan
putra-putrinya dan menyerahkan masa depan mereka
ke tangan Allah. Ibuku, seorang guru sering
memberitahu para orang tua, “Adalah suatu pelayanan
terburuk yang dapat anda lakukan bagi putra-putri
anda jika anda mengikat mereka pada diri Anda.
Biarlah mereka pergi. Ikatlah mereka kepada Tuhan.”
Ikatan emosional juga menciptakan ketegangan di
luar rumah tangga, utamanya di tempat kerja, di gereja,
dan dalam organisasi sosial. Kecenderungan untuk
nimbrung dan turut campur tangan, untuk memberi
nasihat, untuk mengkritik orang lain, membuat banyak
orang koyak-moyak sendiri dan membuat hidup orang di
sekitarnya malah menyedihkan.
Mungkin penyebab yang paling umum dari
tiadanya kedamaian semata-mata adalah hasrat diri
kita sendiri - kenekatan kita untuk menentukan arah
hidup kita sendiri. Adalah wajar menghendaki suatu
tujuan untuk diri sendiri. Tetapi hal itu tidak
memberi ruang kepada Allah. Jika kita menghendaki
damaiNya ada dalam hidup kita, kita harus rela
dipimpin oleh-Nya, entah keadaannya lancar, entah
situasinya sedang sulit. Kita perlu bersungguh-
sungguh bila berdoa: “Jadilah kehendakMu.” 69
Dalam rangka karya tulis dan pidatoku, aku
bertemu dengan Moly Kelly70, seorang ibu , pengarang

69
Mat 6:10
118 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

buku dan penceramah, beberapa kali. Molly sangat


terkenal oleh keahliannya di bidang seksualitas remaja,
tetapi ia juga punya banyak pandangan yang berharga
dalam mencari kedamaian hati, dan tentang peranan
kepasrahan dalam mendapatkannya.
Aku dibesarkan dalam suatu keluarga Katolik
dengan lima saudara laki-laki dan seorang saudari.
Ayah dan Ibu sangat menyayangi kami. Tidak segala
hal berjalan dengan baik, namun kasih di antara kami
merupakan pengikat yang mempersatukan kami.
Aku kuliah di perguruan tinggi ... dan bertemu
dengan cinta hidupku, Jim, seorang mahasiswa
kedokteran yang tampan di Georgetown. Jim dan aku
mulai berpacaran sejak aku berada pada tahun kedua
kuliahku, dan kami menikah tak lama setelah aku
diwisuda. Orang bilang perkawinan kami harmonis.
Jim mencintai aku, aku mencintai Jim, dan karena
cinta kami satu sama lain itu kami mempersilakan
Tuhan menjadi pembimbing keluarga kami. Dan
begitu murah hati Dia. Kami dikaruniai delapan orang
anak dalam waktu sebelas tahun.
Bagaimana dengan damai? Memikirkan kata
damai itu, kukira pertama-tama banyak orang terlalu
terikat padanya dan menyalahgunakannya...
Suatu hari dua puluh tahun lalu hidupku berubah
selamanya. Aku dengan Jim berlibur akhir pekan dengan
beberapa pasangan teman baik kami. Tidaklah mudah
untuk memperoleh kesempatan pergi jauh karena jadwal
kerja Jim yang ketat di rumah sakit, dan karena
kedelapan anak kami masih muda. Kami pergi
menghabiskan akhir pekan kami di suatu tempat istirahat
70
Molly Kelly adalah ibu rumah tangga, pengarang buku,
penceramah tentang seksualitas dan pendidikan pro life, ibu enam
putra dan dua putri. Janda sejak 1975. Menerima Penghargaan
Outstanding Catholic Leadership Amerika 2001.
Berbagai Batu Pijakan 119

musim dingin di Poconos. Tapi perkenankan aku maju


lebih cepat pada peristiwa yang membuat diriku jatuh
dalam kegelisahan dan kesedihan yang meremukkan
semua jaringan hidupku selama bertahun-tahun, hingga
saat aku membiarkan Tuhan datang dan mengatur
perjalanan hidupku menuju damai dan kegembiraan.
Aku berada di puncak untuk berselancar, sambil
ngobrol dengan teman-teman, ketika kuperhatikan di
bawah lereng sana terjadi keributan. Jim baru saja
meluncur ke bawah bukit dengan papan selancarnya,
tapi karena aku tidak memerhatikan dirinya, jadi aku
tidak tahu apa-apa tentang dia. Aku melihat beberapa
orang melambaikan tangan memanggil kami, dan aku
heran apa yang terjadi di sana. Lalu ada orang yang
memanggil namaku agar cepat-cepat turun karena Jim
terluka. Aku meluncur turun dengan berlari ke bawah
bukit, terpeleset, jatuh berguling-guling dan bangun lagi,
dan ketika aku sampai di sana orang -orang mengerumuni
Jim di sampingnya. Ia setengah pingsan dan berdarah-
darah. Aku lewatkan detilnya dan menyampaikan
akhirnya saja. Jim meninggal dunia.
Aku merasa hancur. Jim adalah sahabat terbaikku,
temanku bicara di atas bantal, ayah dari anak-anakku,
pembangun impian kami. Tak dapat kubayangkan hidup
tanpa dia. Tak dapat kulupakan ketika aku pulang dan
memeluk erat satu demi satu anak-anakku, yang sudah
diberi tahu bahwa ayah mereka meninggal. Anak sulung
kami, Jim, baru berumur dua belas tahun, dan anak bungsu
kami, empat belas bulan. Anak-anak yang lebih besar pucat,
sedih dan saling berangkulan. Yang kecil-kecil masih tak
tahu apa yang sedang terjadi. Rumah kami penuh orang,
ribut dan ada banyak orang, banyak sekali makanan
(indah sekali bagaimana orang membawa makanan untuk
menghibur keluarga yang sedang berdukacita). Tuhan
begitu rahim dan melindungi dan mengelilingi kami
dengan kerabat dan teman-teman baik, dan aku sangat
120 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

mensyukuri siraman kasih mereka, namun hatiku terlalu


sedih untuk bisa mengungkapkan terima kasihku pada
setiap orang . Aku pun terluka dan berdarah-darah seperti
Jim, dan tak seorang pun dapat menyembuhkan lukaku,
sampai luka itu menyusut dan menutup sendiri selang
beberapa tahun kemudian.
Aku dapat terus maju merawat anak-anak karena
aku sangat menyayangi mereka, dan karena aku berjanji
kepada diri sendiri, bahwa aku tak akan mempermalukan
kenangan akan Jim karena ceroboh dalam membesarkan
anak-anak kami. Masih ada dua orang anak yang masih
pakai popok, dan karena anak-anak ingin keadaan
menjadi lebih baik dengan lebih cepat, sisanya kembali
main bola di ruang tamu, menjadikan tempat tidurku
sebagai ruang bermain dan menuntut waktu dan
kesabaran diriku. Waktulah yang masih kumiliki.
Sebenarnyalah beban yang kutanggung berat, seolah-
olah aku tak pernah dapat menyelesaikan semua
pekerjaan yang harus kulakukan. Setiap hari berlalu, aku
ingin agar jam tidur segera tiba supaya aku pergi tidur
dan melupakan sebentar bahwa Jim telah tiada. Aku
agak kurang sabar.
Aku tak pernah sendirian, namun aku merasa
kesepian. Hanya kemudian, ketika kurasakan
kedamaian, aku dapat membedakan antara kesepian dan
menyendiri, aku masih tersiksa oleh kesepian, tetapi aku
menikmati saat-saat yang melegakan ketika aku
menyendiri dengan diriku sendiri dan dengan Tuhan.
Tak lama setelah kematian suaminya, Molly
menggeluti suatu masalah yang sangat memprihatinkan
Jim: aborsi. Sebagai seorang dokter Katolik yang percaya
pada kekudusan seluruh kehidupan, Jim sangat gigih
sebagai penentang perkara Roe Versus Wade, dan Moly
seperasaan dengannya walaupun Molly tak pernah
menyatakan hal itu kepada umum.
Berbagai Batu Pijakan 121

Aku tak pernah bicara di depan umun sebelumnya,


dan aku takut sekali karena harus melakukannya
sekarang. Tapi aku berkata pada diriku sendiri “Kamu
telah lolos dari situasi yang terburuk: kematian Jim.
Apakah berpidato lebih buruk dari itu?
Aku mulai memberi ceramah soal aborsi di sekolah-
sekolah menengah Katolik setempat, dan dalam beberapa
tahun aku cukup berpengalaman memberi ceramah.
Aku mengatur acaraku sedemikan rupa sehingga bisa
pulang ke rumah di sore hari, ketika anak-anak pun
pulang dari sekolah.
Selang beberapa waktu kemudian, aku sadar bahwa
aku belum sampai pada inti masalahnya. Aku tahu bahwa
aku perlu bicara tentang akar dari aborsi, yang
berhubungan dengan kehamilan yang tak dikehendaki,
yang terkait dengan perilaku seks yang sembarangan. Lalu
aku bicara tentang tanggung jawab seksual, yang kusebut
kemurnian. Itulah permulaannya kebangkitanku untuk
mengajar, dan undangan untuk memberi ceramah pun
datang membanjir. Aku diminta bicara di banyak sekolah
dan banyak tempat sehingga aku begitu sibuk dan tak
tahu lagi jalan untuk mundur.
Teman-teman menyarankan agar aku mengurangi
kegiatan berceramah. Tetapi aku merasa Tuhan
memanggilku untuk melakukan misi berbicara kepada
umum ini, dan aku tak mau melepaskan hal itu. Namun,
sesuatu harus kupersembahkan. Barulah kemudian kusadari
bahwa yang harus kupersembahkan adalah diriku. Aku
harus mempersembahkan diriku seluruhnya pada Tuhan.
Pasrah kepada-Nya, dan aku tidak terbiasa melakukannya.
Aku suka pegang kendali. Aku ibu dari delapan
orang anak, dan aku menjalankan bahtera rumah tangga
dengan ketat. Aku memberi bahan makan, menyiapkan
makan, mencuci baju anak-anak, membantu mereka
mengerjakan pekerjaan rumah, aku mengantar mereka
bermain-main dan bertanding bola. Aku menjadi kepala
122 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

rumah tangga dan kepala sekolah. Istilah menyerah


pasrah tidak ada dalam kamusku. Yang tidak kusadari
ialah bahwa menyerah pasrah kepada Tuhan bukanlah
berarti memberikan segalanya seperti mengalihkan
semuanya. Tapi aku memang harus mengalihkan
pengendalianku, kegelisahanku, kesepianku dan rasa
kewalahanku, bahkan anak-anakku, kepada Tuhan.
Dan dalam setiap bidang di mana aku bisa melakukan
hal ini dalam hidupku, hampir dengan serta merta aku
mengalami kedamaian.
Satu hal yang terjadi adalah suatu kesadaran baru
akan Roh Kudus. Untuk yang pertama kali sejak aku
mendapat urapan Krisma dalam Sakramen Penguatan.
Aku dibesarkan dengan berdoa kepada Tuhan dan
membayangkan Yesus, sedangkan Roh Kudus hanya
masuk telinga kiri keluar telinga kanan pada
kesempatan Sakramen Krisma itu. Di dalam
menyerahkan diriku kepada Tuhan (dan untuk itu
perlu perjuangan setiap hari) aku mulai menyadari
bahwa Pentakosta, turunnya Roh Kudus dalam hidup
kita, merupakan peristiwa yang terus berlangsung.
Molly memberi ceramah kepada lebih dari sejuta
remaja yang disebutnya “Anak-anak kesayanganku di
seluruh dunia,” dan kepada ribuan orang tua. Baru-baru
ini ia berpidato di depan himpunan sekitar enam ribu
pastor di Roma, dan menemui lima puluh Kardinal dan
Uskup di Kalifornia.
Jadwalku mungkin sangat padat, tetapi aku tak lagi
kewalahan. Damaiku begitu dalam. Ketenangan batin
itu tampaknya bertahan lama, sejauh aku dapat
memperbarui penyerahan diriku kepada Tuhan. Aku
setuju untuk memberi ceramah jika aku bisa dan jika
kukira Tuhan menghendaki aku melakukannya. Dan
aku menolak jika aku tidak bisa. Apakah aku selalu
benar? Aku meragukannya. Namun aku yakin dalam
Berbagai Batu Pijakan 123

pengetahuanku, bahwa Tuhan tak akan mengambil


karunia damai-Nya jika kami selalu menyerahkan diri
kita kepadaNya bahkan ketika di sana sini kita gagal....
Aku sungguh menyadari bahwa dalam kepasrahan
diri itulah damai sejati akan datang. Menyerah dalam
perang berarti kalah, takluk. Pasrah diri kepada Tuhan
adalah menang, dan mengalihkan hidup Anda
kepadaNya. Aku memulai setiap hari dalam Misa Kudus,
memohon bantuan Tuhan agar menyerupai Dia bagi siapa
saja yang kutemui sepanjang hari, dan bahkan yang lebih
penting lagi, melihat Dia dalam setiap orang yang
kujumpai. Tetapi kemudian aku keluarkan bendera
putih yang hanya Tuhan yang dapat melihatnya dan
mengayun-ayunkannya, agar Tuhan tahu bahwa hari
ini aku menyerah kepadaNya, sekali lagi, kepada
kehendakNya. Latihan setiap hari itulah yang
meneguhkan hidup rohaniku; dan percayalah, Tuhan
selalu memberiku kegembiraan dan damai.
Banyak orang terus berjuang dengan gagah perkasa,
walaupun mereka telah merasa babak-belur, hanya karena
mereka tidak bersedia menyerahkan pertahanan mereka
ke hadapan Allah. Mereka tetap mengendalikan hidup
mereka sendiri sampai kapan pun. Orang-orang seperti
itu terlalu banyak menyanggupkan diri dan memerlukan
waktu libur untuk menimba kekuatan. Mereka berusaha
mengatur keseimbangan jadwal mereka dan menimbang
prioritas-prioritas, mereka berdoa, mereka bekerja keras,
mereka berusaha rendah hati dan penuh kasih di rumah
dan tetap gigih dalam karya. Pada setiap akhir hari
mereka, tak ada kedamaian yang mereka rasakan.
Baru-baru ini seseorang bertanya kepadaku,
“Bagaimana kamu menjaga keseimbangan dari hari ke
hari. Apakah kamu tidak merasa sakit mencemaskan
jiwa-jiwa yang kamu gembalakan?” Melayani sebagai
124 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

gembala jemaat selalu menantang, dan sebagai tetua


suatu gereja yang terdiri dari 2500 orang berulang kali
aku merasa diriku tidak memadai. Aku beryukur karena
dibantu oleh belasan gembala dalam membimbing
jemaatku yang diserahkan dalam tanggung jawabku,
ditemani oleh seorang istri yang banyak membantu selama
tiga puluh tahun ini, kadang-kadang dari kacamata
insani, keadaan tampak sulit sekali.
Namun justru dalam kesempatan seperti itulah,
ketika kita merasa ada bahaya besar kehilangan
keseimbangan, Tuhan memberi kita jaminan rohani dan
damai – jika kita berpaling kepada-Nya. Begitu kita
menyerahkan masalah kita kepada-Nya dan menyerahkan
kebutuhan kita untuk memecahkan masalah itu menurut
cara kita kepada-Nya, akan kita dapatkan bahwa bukit
yang tinggi itu tak lagi mustahil didaki. Kepada kita telah
dijanjikan dalam Mazmur: “Serahkanlah bebanmu
kepada Tuhan, dan ia akan menopangmu.” Bagi pikiran
orang modern hal ini kedengaran terlalu sederhana,
begitu indah untuk dipercaya, namun bagi mereka yang
beriman, tawaran Tuhan selalu mendatangkan kebaikan.
Chritian Friedrich Blumhardt yang dianggap “bapak
sosialisme keagamaan” dari akhir abad kesembilan belas,
seorang gembala jemaat besar, konon selalu dapat tidur
dengan tenang setiap malam sementara istrinya, Emillie
bangun terus karena gelisah. Heran pada kemampuan
suaminya mendoakan jemaat, ganti suasana, dan tidur lelap,
Emillie menanyakan rahasianya kepada suaminya. “Apakah
Tuhan begitu tak berdaya sehingga kekhawatiranku akan
membantu kesejahteraan jemaat?” jawab Blumhardt. “Ada
saatnya setiap hari kita harus meletakkan semua beban kita
dan menyerahkannya kepada Tuhan.”
Berbagai Batu Pijakan 125

Walau dengan usaha keras apa pun kekuatan kita


tidak berarti dan solusi kita hanya sepercik saja.
Menyerah pada Allah berarti mengakui kemahakuasaan
Allah dan menyediakan ruang bagi-Nya untuk berkarya
dalam hidup kita.
Ada baiknya sekali kita mundur dan memandang
lebih jauh. Kerajaan Allah bukan hanya melampaui
usaha kita, namun bahkan jauh di luar jangkauan
pandang kita. Apa yang kita lakukan semasa hidup
kita hanyalah kecil saja dari usaha besar yang adalah
karya Allah sendiri. Tak ada yang bisa kita selesaikan
sebagai yang betul-betul lengkap, artinya Kerajaan
Allah masih jauh dari jangkuan kita. Tak ada
ungkapan yang tuntas mengatakan segala-galanya;
tak ada doa yang sepenuhnya mengungkapkan iman
kita. Tak ada pengakuan yang menghasilkan
kesempurnaan; tak ada pelayanan pastoral yang
mampu melengkapkan seluruhnya. Tak ada program
yang menyelesaikan misi Gereja. Tak ada tujuan dan
sasaran yang mencakup segala-segalanya.
Beginilah kita ini: kita menanam benih yang
pada suatu hari akan tumbuh, kita menyirami benih
yang kita tabur dengan sadar akan janji akan masa
depan. Kita membangun dasar yang memerlukan
pengembangan selanjutnya....
Kita tidak dapat melaksanakan segalanya, dan
dalam kesadaran akan hal itu kita memperoleh suatu
perasaan yang membebaskan. Hal itu memungkinkan
kita untuk melakukan sesuatu yang kecil, dan berusaha
melakukannya sebaik-baiknya. Mungkin tidak lengkap,
sebab hanya suatu permulaan, satu langkah saja ke
depan, suatu peluang agar dipenuhi oleh rahmat Allah
dan Dia sendirilah yang akan menyelesaikan selebihnya.
Kita mungkin tidak melihat hasil akhirnya, namun itulah
bedanya antara si pemilik bangunan dan pekerja.
126 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Kita hanyalah para pekerja, bukan si pemilik


bangunan; gembala dan domba-domba, bukan sang
penebus. Kita hanyalah nabi-nabi untuk masa depan
yang bukan milik kita.
(konon berasal dari Mgr. Oscar Romero)
Berbagai Batu Pijakan 127

Doa
Doa mempersatukan kita dengan Allah; dan jika
seseorang bersama Allah, ia terpisah dari musuh.
Melalui dia kita melindungi kemurnian kita,
mengendalikan amarah kita, menjauhkan kita dari
kesombongan, dan membuat kita melupakan
penghinaan, mengatasi iri hati, mengalahkan
ketidakadilan, dan melakukan silih atas dosa-dosa.
Melalui doa didapatkan kesentosaan fisik, rumah
yang damai dan bahagia, masyarakat yang kuat dan
tertata rapi. Doa melindungi para musafir, menjagai orang
yang tidur dan memberi keberanian pada para penjaga,
doa menyegarkan mereka yang letih lesu dan menghibur
mereka yang berdukacita.
Doa adalah kesukaan dari mereka yang bersuka
ria dan hiburan bagi mereka yang susah. Doa berakrab-
akrab dengan Allah dan persatuan dengan yang tidak
kelihatan. Doa adalah sukacita akan segala yang telah
ada dan akibat dari segala yang akan datang.
Gregorius dari Nyssa71

A da masanya tak ada yang bisa memberi kita damai


selain daripada doa. Kita mungkin berusaha
mewujudkan kesederhanaan dan kesunyian (bagi pelepasan
sumber-sumber) namun lalu terjadi kekosongan dalam diri
kita yang kita harapkan hanya diisi oleh Tuhan. Dan jika
Dia tidak segera berkenan memasuki hati kita tanpa
undangan, maka kita harus mengundang-Nya datang.
71
Seorang Bapa Gereja,335-395, lahir di Kaisarea, Kapadokia, lalu
menjadi Uskup Nyssa, membantu pelaksanaan Konsili Antiokia dan
Konsili Konstantinopel.
128 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Dalam Mazmur 130, salah satu yang menjadi


kesukaanku, baris: “Dari jurang yang dalam aku berseru
kepadaMu,” memberikan gambaran bagaimana kita harus
berdoa dalam kesesakan. Sesungguhnya tercermin di
dalamnya semangat bahwa kita harus selalu berpaling
kepada Allah: kita selalu ada di jurang yang dalam,
membutuhkan bantuan dan bimbingannya, dan Ia selalu
ada di atas kita, kokoh, aman dan sentosa.
Filsuf Yahudi, Martin Buber, mengatakan bahwa
ketika kita berdoa kita selalu berseru, membayangkan diri
kita tergantung pada suatu karang tinggi dengan sehelai
rambut kita, sedang badai mengamuk di sekitar kita begitu
keras dan kita yakin bahwa tinggal beberapa detik saja
waktu kita untuk memperoleh keselamatan. Buber
melanjutkan, “Dan sebenarnya tak ada penghiburan, tak
ada tempat pengungsian, dan tak ada seorang pun di sana,
hingga orang hanya bisa mengarahkan pandangan dan
hatinya pada Tuhan dan berseru kepadaNya saja. Orang
harus melakukan hal ini selamanya, karena manusia berada
dalam bahaya besar di dunia.”
Lukisan Martin Buber itu begitu dramatis, namun
tidaklah berlebihan. Dalam budaya seperti yang kita
punyai, di mana lengan panjang media massa mencapai
hingga berita-berita tentang selebriti, skandal atau
bencana dan dapat menghentikan jutaan orang untuk
memerhatikan. Perorangan tak bisa bertahan terhadap
arus untuk mengikuti kerumunan. Nietzche melihat hal
ini seratus tahun lalu ketika ia membahas kebenaran
pepatah tua, “Gemeinschaft macht gemein,” - komunitas
membentuk kebersamaan. Dan memperingatkan bahaya
dari suatu masyarakat di mana nilai-nila massa begitu
kuat sehingga dapat meruntuhkan bahkan hati nurani
yang paling kuat sekalipun.
Berbagai Batu Pijakan 129

Tanpa hidup doa yang aktif kekuatan watak kita bisa


hilang dan menyerah terhadap apa yang oleh para sosiolog
disebut naluri kawanan. Kita menjatuhkan mangsa kita
karena takut pada yang lain, dan tunduk pada ambisi,
pada hasrat untuk menyenangkan orang lain. Tanpa doa,
lalu-lintas pendapat yang terus mengalir dari orang lain
akan menyerap hidup kita sendiri dan akhirnya
menenggelamkannya. Kita mengira kita adalah tuan bagi
diri sendiri, namun yang sebenarnya banyak dari antara
kita tidak lagi dapat berpikir untuk kita sendiri, apalagi
berdoa sendiri. Setelah kehilangan hubungan dengan
Tuhan, hidup kita hanya terdiri dari (mengutip Neitzche
lagi) “penyesuaian terus-menerus kepada segala masalah
perbedaan akibat pengaruh kolektif dan tuntutan sosial.”
Sebagai perisai di sekitar nyala hati yang diam, doa
adalah pertahanan terbaik untuk menghadapi serangan
seperti itu. Lebih lagi: doa merupakan disiplin yang
memberi kehidupan yang dapat mengembalikan
pengertian sendiri - kembali pada Tuhan - ketika diri
kita cerai-berai. Doa mengarahkan kita dan memusatkan
perhatian kita kepada sumber kedamaian.
Secara pribadi aku menemukan dispilin yang begitu
besar perannya untuk memelihara damai dan keteraturan
dalam hidupku.
Lebih dari yang lain lagi, tampaknya doa (atau
kekosongan akan doa) dapat menentukan hasil yang kita
peroleh pada hari itu. Seperti yang ditunjukkan oleh
Bonhoeffer dalam Letters and Papers from Prison “Waktu
yang kita boroskan, godaan yang kita ikuti, kemalasan
atau keengganan kerja kita, umumnya setiap kekurangan
disiplin dalam pikiran atau dalam hubungan kita dengan
orang lain, seringkali berasal dari kelalaian kita berdoa.”
130 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Doa tidak perlu formal, bagiku dan istriku, adalah


sesuatu yang wajar memulai hari dan mengakhiri hari
bersama-sama; kami berdoa setiap pagi ketika bangun,
dan setiap malam sebelum tidur. Ada orang yang mungkin
berdoa lebih sering dari itu, yang lain kurang dari itu.
Sementara orang berdoa dengan berlutut; yang lain
menggunakan buku doa. Yang satu bicara, yang lain sama
sekali tidak berkata-kata. Blumhardt yang telah
kusebutkan di depan dikenal orang suka membuka
jendela setiap malam untuk menyampaikan selamat
malam kepada Tuhan. Sejauh doa kita bersungguh-
sungguh, bukan sekadar upacara kosong belaka, tidaklah
menjadi persoalan entah bagaimana kita berdoa, yang
penting adalah bahwa kita menyediakan ruang untuk
doa dalam hidup kita di mana pun.
Di dalam kemelut hidup di bagian luar, dan
kegelapan putus asa di dalamnya, selalu ada kemungkinan
untuk menepi dan menunggu Tuhan. Sebagaimana
ditengah badai ada bagian yang teduh, dan di atas awan
ada langit terang, begitu pula bisa dilakukan menyibak
hutan dan membuka ruang kosong yang kecil dari hasrat
insani kita untuk bertemu dengan Tuhan. Ia akan selalu
muncul, walaupun dalam rupa samaran. Dan dalam
keadaan yang tak terbayangkan – mungkin dalam arak-
arakan mega kemuliaan, mungkin sebagai seorang
pengemis, dalam kesenyapan gurun, atau dalam hiruk
pikuk Soho di London, atau Time Square di New York.
Malcom Muggeridge
Gagasan Muggeridge selaras dengan tuntutan Kitab
Suci agar “berdoa terus-menerus”72. Bagi mereka yang
mencari Allah gagasan itu cukup sederhana. Molly Kelly
berkata, “Biasanya aku berdoa ketika mau bicara dengan

72
Luk 21 : 36
Berbagai Batu Pijakan 131

Allah pada waktu-waktu tertentu, misalnya pagi hari


atau menjelang tidur. Namun sekarang bagiku doa
adalah wawancara sepanjang hari dengan Tuhan. Aku
berdoa ketika aku dalam perjalanan ke bandara atau
pun di lorong supermarket.”
Untuk yang lain pemikiran seperti itu
mengandung hambatan. Bagaimana orang berdoa
sepanjang hari? Apa artinya “terus-menerus”? James
Alexander, seorang anggota Bruderhof yang telah tua
memikirkan hal ini bertahun-tahun:
Walaupun aku berdoa kapan saja aku teringat,
mulainya adalah ketika aku memahami doa sebagai cara
hidup – sebagai sikap yang tetap, bukan ulangan
tindakan – itulah yang kupahami mengenai doa terus-
menerus. Doa Yesus seperti yang dijelaskan dalam buku
The Way of a Pilgrim – “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah
aku, orang berdosa” – juga sangat membantu. Buku itu
berkata bahwa jika ada sesuatu yang dapat kita
persembahkan kepada Tuhan, itulah doa yang terus-
menerus berlangsung. Bukan semata-mata sebagai
rentetan kata-kata. Tapi suatu sikap hidup.
Penyair Inggris abad kesembilan belas Gerard Manley
Hopkins73, mengatakan hal yang sama:
Bukan hanya doa yang memuliakan Allah, tetapi
juga pekerjaan. Menyiapkan besi tempa, memasah balok,
mengapur tembok, mengendara kuda, menyapu,
menggosok agar bersih, semuanya memuliakan Allah,
karena dalam rahmat-Nya semua itu dilaksanakan
sebagai kewajiban. Menerima komuni sungguh sangat
memuliakan Tuhan, namun menyantap makan dengan
rasa syukur dan penguasaan diri juga memuliakan Tuhan.
Mengangkat tangan dalam doa memuliakan Allah,

73
1844-1900. Seorang pastor Yesuit.
132 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

namun lelaki yang mengayunkan cangkul dengan


tangannya, dan wanita yang mencuci pun memuliakan
Allah. Maha besar Allah sehingga segala sesuatu dapat
dimaksudkan orang untuk menunjukkan kemuliaan-
Nya. Jadi, saudara-saudaraku, hayatilah.
Setiap orang berbeda-beda cara berdoanya. Keadaan
hidup kita berubah: sakit, usia tua, mengalami krisis misalnya
– maka doa kita juga berubah pula sesuai keadaan.
Seorang anggota jemaatku, Doug Moody, selagi
masih muda hanya sedikit mengerti makna doa. Waktu
itu ia kecewa dengan kemunafikan jemaat gereja besar
yang diikutinya, dan Doug bertambah-tambah
bertentangan dengan gerejanya, termasuk dalam hal
wajib militer, yang dengan sadar dilawannya karena ia
menentang perang. Sesudah Pearl Harbour dibom oleh
Jepang, teman kuliah dan para dosennya di Universitas
North Carolina memuji keberaniannya menolak
pendaftaran tentara, tetapi gerejanya tidak. Hakim yang
mengadili dirinya dan menjatuhkan hukuman kepadanya
karena pelanggaran hukum darurat perang itu adalah
justru anggota gerejanya sendiri.
Aku duduk di kamar penjara yang sudah lusuh,
dengan banyak kutu, makanan yang buruk, pancuran
air yang rusak, dengan baju kotor. Beruntung ibuku dapat
memberi sabun dan celana dalam untuk ganti. Itulah
masa awal yang paling berat dari masa hukumanku, yang
hanya diringankan dengan mendengarkan cerita dari
hari ke hari dari seorang warga Jerman yang masuk
penjara secara menyedihkan. Seorang tetangga menuduh
dirinya sebagai mata-mata.
Di dalam penjara aku membaca dalam majalah FOR
Fellowship bahwa sepasang anggota gereja Mennonitte yang
mengompori aku agar tidak mendaftar tentara malah
berubah pendirian. Aku marah sekali. Namun ada berkat
Berbagai Batu Pijakan 133

lain yang kuperoleh dari hidup dalam penjara, berangsur-


angsur melalui derita kecil yang kualami, bertahan
melawan rasa bosan dan omongan kasar yang menjijikkan,
dan diperlakukan bukan sebagai manusia tetapi sekadar
nomor, aku jadi memerhatikan kebutuhan teman
sekamarku. Kegembiraan yang timbul dari hidup melayani
orang lain membangkitkan semangat diriku.
Aku mulai memahami apa yang dimaksud oleh
Thomas Kelly sebagai “keabadian saat ini”, karena setiap
teman satu sel terus-menerus membicarakan waktu yang
tersisa sampai tiba saatnya nanti mereka keluar dari
penjara, kami selamanya hidup dalam masa depan.
Ketika aku mulai menghayati waktu (bukan demi saat
dilepaskan nanti, bukan menuggu makan, film atau
waktu tidur berikutnya) aku malahan bisa mengalami
damai sekalipun dalam penjara.
Bertahun-tahun kemudian, selama mengalami
pergumulan yang berat dalam kehidupan pribadinya,
Doug mendapatkan makna baru dari doa.
“Menggantikan cara-cara umum untuk menghindar
dari putus asa dan perasaan tertekan, doa (dalam arti
yang sederhana berpaling kembali pada kasih Allah
dan kepada sesama) menjadi dasar bagi rasa damai yang
bertahan lama dan tujuan hidupku.” Kini Doug
memasuki usia tua dan ia mengatakan bahwa doa
pribadinya menjadi sangat penting dibanding dengan
masa sebelumnya.
Doa yang teratur dengan istriku, atau sendiri pada
pagi, siang, malam atau ketika aku terbangun di tengah
malam, menjadi lorong kehidupan yang merupakan
satu-satunya bantuan untuk menghadapi kegagalan
yang tak terelakkan, cobaan, kemerosotan semangat,
yang kami alami di suatu ketika.
134 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Doa bukanlah selalu berupa kata-kata. Bagian dari


doa itu bisa saja saat teduh berhadapan dengan Tuhan,
menatap ke atas mengheningkan cipta sejenak untuk
mengingat seseorang yang sedang sakit, sedang
menderita, atau sedang berjuang. Bagian yang lain
mungkin memikirkan berbagai keprihatinan dan
masalah hari itu. Bagian yang lain lagi adalah mawas
diri, melihat kesalahan yang kulakukan, untuk
mengetahui apakah aku menyakiti hati orang lain. Doa
membantu diriku memperkuat komitmenku pada
Kristus dan kepada sesamaku, lelaki dan perempuan.
Dalam semua itu ada kedamaian, bukan seperti yang
diberikan dunia, tetapi damai Yesus.
Karl Barth 74 suatu ketika menulis bahwa
mengatupkan tangan dalam doa merupakan permulaan
perlawanan terhadap kekacauan dunia. Jika itu benar,
dan aku yakin memang begitu, maka doa kita tak bisa
hidup dalam belahan dunia yang terpisah, bahwa doa-
doa kita harus lebih dari sekadar kerinduan dan maksud-
maksud pribadi saja. Sebagimana iman tanpa perbuatan
adalah mati secara rohani, maka doa tanpa kerja adalah
munafik. Sekalipun tanpa diterjemahkan menjadi
tindakan, doa-doa kita seharusnya bukan hanya terpusat
pada permohonan bagi kebahagiaan pribadi, melainkan
agar juga bermanfaat bagi dunia ini.
Doug menyebutkan perlunya memasukkan orang lain
dalam doa kita. Dari antara jemaat Kristiani perdana
hingga ke sepanjang sejarah Gereja yang dianiaya dengan
para martirnya, kita temukan gagasan yang sama, bahkan
yang lebih radikal, yaitu praktik mendoakan orang yang
menganiaya kita seperti yang diperintahkan oleh Yesus75

74
Teolog Protestan dari Swiss, 1886-1968.
75
Mat 5 : 44
Berbagai Batu Pijakan 135

kita harus bersedia melakukan hal seperti itu pada mereka


yang menyakiti kita, entah karena menusuk dari
belakang, memfitnah, dan lain-lain.
Bila kita berkata kita mencintai musuh kita, namun
tidak berdoa bagi mereka, kita menipu diri. Pendiri
Majalah Sojourners Jim Wallis menulis:
Selama kita tidak berdoa bagi musuh kita, kita terus
berpegang hanya pada pandangan kita melulu – pada
kebenaran menurut kita – dan dengan demikian
meremehkan pandangan mereka. Doa meruntuhkan
dinding perbedaan antara kami dan mereka. Jika kekerasan
membuat pihak lain menjadi musuh, doa, di pihak lain,
membuat musuh menjadi teman.
Bila kita membawa masuk musuh ke dalam hati
kita dalam doa, kita jadi sulit mempertahankan
perseteruan yang perlu bagi kekerasan. Dalam membuat
mereka itu menjadi dekat dan akrab dengan diri kita,
doa bahkan memberi perlindungan pada musuh kita.
Dengan demikian doa berlawanan dengan propaganda
dan rencana-rencana dasar yang membuat kita
membenci dan takut akan musuh. Dengan melunakkan
hati kita sendiri terhadap lawan maka kita bahkan dapat
menggemboskan semangat perlawanan. Doa yang
dewasa untuk musuh kita dengan demikian akan sangat
menghalangi perang dan berbagai perasaan yang
mengantarkan orang pada terjadinya perang.
Banyak doa diucapkan di saat perang atau krisis
nasional, tetapi jarang ditunjukkan dalam semangat
seperti itu, sekurang-kurangnya secara publik. Aku
teringat sesuatu semasa Perang Teluk, setelah Amerika
Serikat melakukan serangan besar-besaran ke Irak pada
awal 1991. Ketika memberikan pidato televisi kepada
rakyat, Presiden Bush menghimbau para pemirsa agar
menghentikan sejenak pekerjaan mereka dan berdoa
136 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

untuk “anak-anak Amerika” dalam Perang Teluk. Ia


mengakhiri pidatonya dengan suasana mantap, “Tuhan
memberkati Amerika Serikat.”
Banyak orang mungkin berhenti kerja sejenak dan
mengheningkan cipta sebagai tindakan patriotik tanpa
berpikir lebih jauh lagi. Namun seperti yang dikatakan
oleh Thick Nhat Hanh, mungkin juga tepat pada saat
yang sama ada banyak muslimat Irak membungkukkan
diri kepada Allah, melantunkan doa-doa mereka untuk
para suami dan anak-anak mereka yang maju berperang.
Kepada bangsa manakah Tuhan Allah akan berpihak?
Orang berdoa kepada Tuhan karena mereka ingin
agar Tuhan memenuhi kebutuhan mereka. Jika mereka
hendak piknik, mereka mungkin memohon pada Tuhan
hari yang baik, cerah dan terang. Pada waktu yang sama,
para petani yang membutuhkan air untuk tanaman
mereka mungkin berdoa kepada Tuhan mohon hujan.
Jika udara cerah mereka yang piknik berkata:”Tuhan
berpihak kepada kita; Ia menjawab doa-doa kita.”
Tetapi jika hujan turun, para petani berkata Tuhan
berkenan mendengarkan doa-doa mereka. Seperti itulah
biasanya kita berdoa. Di dalam Khotbah di Bukit, Yesus
mengajar: “Berbahagialah mereka yang membawa
damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
Mereka yang bekerja bagi perdamaian haruslah
mempunyai hati yang penuh rasa damai. Jika hati Anda
sungguh damai, Anda adalah anak Allah. Tetapi banyak
orang yang bekerja demi perdamaian tidak merasa damai.
Mereka masih marah dan frustrasi, dan pekerjaan mereka
tidak sungguh-sungguh damai....
Untuk dapat memelihara damai, hati kita harus
berdamai dengan dunia, dengan saudara-saudara kita,
lelaki dan perempuan. Jika kita berusaha mengalahkan
kejahatan dengan kejahatan, kita tidak bekerja untuk
Berbagai Batu Pijakan 137

damai. Jika Anda berkata, “Saddam Husein itu jahat.


Kita harus menghentikannnya agar tidak terus-
menerus berbuat kejahatan.” 76 dan Anda lalu
menggunakan cara-cara yang sama dengan yang
digunakan Saddam. Anda sama saja dengan dia.
Berusaha mengatasi kejahatan dengan kejahatan
bukanlah cara untuk melakukan perdamaian.
Jika Anda berdoa hanya untuk keperluan piknik
Anda dan tidak untuk petani yang membutuhkan
hujan, Anda melakukan hal yang berlawanan dengan
yang diajarkan Yesus. Yesus berkata, “Kasihilah
musuhmu … mintalah berkat bagi orang yang
mengutuk kamu.” 77. Jika kita melihat lebih dalam
lagi kemarahan kita, kita akan melihat bahwa orang
yang kita sebut sebagai musuh itu juga menderita.
Begitu kita melihat hal itu, kita punya kemampuan
untuk menerima dia dan berbelas kasihan kepadanya.
Yesus mengatakan hal ini sebagai “mencintai musuh.”
Jika kita dapat mencintai musuh kita, dia bukan lagi
musuh kita.Gagasan tentang “musuh” lenyap dan
diganti oleh gambaran seseorang yang sangat
menderita yang memerlukan belas kasihan kita.
Kadang-kadang mencintai musuh adalah tindakan
yang lebih mudah daripada yang kita bayangkan.
Maka jangan terlalu dipikirkan, tetapi laksanakanlah.
Jika kita membaca Kitab Suci, tetapi tidak
melaksanakannya, hal itu tak ada gunanya.
Thick Nhat Hanh

76
Saddam Hussein, presiden Irak, akhirnya ditangkap pada tahun
2002 dalam penyerbuan Amerika Serikat dan dihukum mati pada
tahun 2006.
77
Luk 6 : 27-28
138 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Percaya
Percayalah kepada dokter, dan minumlah
obat darinya
Dengan tenang tanpa banyak rewel
Sebab tangannya, betapa pun berat dan keras,
Dibimbing oleh tangan lembut Dia yang tak tampak.
Dan gelas yang diberikannya, betapa pun panas
bagi bibirmu
Dibuat dari tanah Tukang Periuk78
Yang membasahinya dengan air mata-Nya
yang suci.
Kahlil Gibran

S ejak masa kecil pada kita diajarkan bahwa begitu saja


percaya adalah berbahaya. Dan dalam hal tertentu
ajaran itu benar. Percaya memang mengandung risiko.
Percaya berarti membuat orang lain memperoleh manfaat
dengan hilangnya keraguan. Maka percaya menuntut
kesediaan untuk membuat diri sendiri dalam keadaan
rentan. Hal itu karena kita tahu bahwa keselamatan kita
berada di tangan Yang Maha Kuasa, dan bahwa
kedamaian diri kita bukan lagi bergantung kepada
kemampuan kita untuk mempertahankannya. Percaya
adalah berserah diri kepada Tuhan dengan iman.
Bertentangan dengan pendapat umum, percaya
tidaklah sama dengan sikap naif yang kurang kemauan.
Percaya tidak menyuruh kita untuk selalu menunjukkan
78
Tuhan
Berbagai Batu Pijakan 139

hidup yang mulus dan bahagia, seolah-olah tak ada


persoalan, tak ada yang salah dan menerima segala sesuatu
seperti yang tampak, dengan nominal. Kepercayaan
semacam itu sama saja dengan bunuh diri dalam keadaan
sekarang. Namun alternatifnya – kekhawatiran,
ketidakpuasan, kecurigaan, juga sama-sama buruk. Penulis
Daniel Hess yang jemaat Mennonite menyatakan:
Tidaklah soal berapa banyak pekerja yang
mendapatkan asuransi kesehatan, bahwa bekerja
empat-puluh jam seminggu memberi cukup waktu
untuk bersantai, bahwa gaji bisa memberi
kelimpahan tertentu, bahwa ilmu pengetahuan terus
saja menghasilkan perangkat alat yang aman dan
handal dalam memperkirakan perubahan alam.
Tetap saja kita terus khawatir.
Perut menjadi tegang dan telapak tangan
berkeringat sebagai akibat kebiasaan kita merasa cemas,
gelisah, takut akan sesuatu yang bisa terjadi. Panik yang
disebabkan oleh ketergantungan obat dan depresi karena
kimia tubuh kita tidak seimbang, karena ada banyak
tuntutan dan karena kita punya terlalu banyak
kesanggupan dan hasrat-hasrat yang belum terpenuhi.
Banyak orang mencemaskan hubungan-hubungan
antar pribadi mereka, tertekan oleh gesekan perasaan
dan diperlemah oleh pengkhianatan. Mereka menderita
karena takut yang sangat nyata akan tuntutan hukum.
Akan persaingan yang tidak sehat, akan berbagai
penciutan, dan akan pencaplokan harta dan usaha tanpa
melalui perundingan (pengambil–alihan perusahaan
secara mendadak dengan memborong saham di bursa).
Yesus sendiri menasihati kita agar bersikap “cerdik
seperti ular dan tulus seperti merpati”79. Namun selain
itu, Ia juga mengingatkan kita, dengan cara mengajukan
79
Mat 10:16
140 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

pertanyaan yang sederhana, bahwa kekurangan-


percayaan kita kepada-Nya dan kepada Allah Bapa
sungguh tidak berguna: “Siapakah di antara kamu yang
dengan kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta
saja pada jalan hidupnya?”80
Yang menyedihkan, pengkhianatan, gosip, dan
menusuk dari belakang merupakan bagian hidup yang
tak terpisahkan dan menghambat keberanian orang untuk
percaya. Clare Stober, seorang wanita pengusaha, yang
belakangan bergabung pada komunitas kami, menulis:
Ketidak-percayaan penting diperhatikan karena
menjadi hambatan damai. Kita mungkin berusaha
membela diri dan mereka yang kita cintai dengan
bersikap agresif, namun akibatnya kita mendirikan
dinding-dinding prasangka. Jika orang mengambil
keuntungan dari diri kita dan bertindak tidak fair, kita
langsung menyimpulkan hal-hal yang terburuk, dan tidak
hanya untuk saat itu, tapi berlangsung untuk seterusnya.
Kita memandang sisi lain dari kepercayaan, yaitu
kerentanan sebagai tanda kelemahan, sesuatu yang
bodoh atau terlalu menyederhanakan persoalan.
Ketika kita tidak mau memercayai orang lain, kita
mungkin mengira hal itu adalah untuk melindungi diri
kita sendiri, tetapi yang sebenarnya justru berkebalikan.
Kasih adalah perlindungan yang terbesar, keamanan yang
kokoh. Ketika kita banyak curiga dan tidak percaya,
kita tak dapat memberi ataupun menerima kasih. Kita
memisahkan diri dari Tuhan dan dari setiap orang.
Pada komunitas Bruderhof, seperti dalam kelompok
orang yang terjalin erat, situasi rumah kami yang
berdekatan dan dalam kehidupan sehari-hari semua
orang bisa kelihatan, menciptakan potensi tidak-damai
yang dapat dipertajam oleh dugaan-dugaan belaka atau
80
Mat 6 : 27
Berbagai Batu Pijakan 141

gosip. Namun sejak awal kehidupan komunitas kami tujuh


puluh lima tahun yang lalu, kami telah membangun suatu
komitmen bersama untuk bicara secara terbuka, agar
dapat memelihara suasana percaya dan damai.
Tidak ada peraturan lain, hanya kasih. Dan cinta
menggembirakan orang lain. Lalu, apa itu marah pada
mereka? Kata-kata yang timbul dari kasih harus
menyalurkan kegembiraan yang kita miliki ke
hadapan saudara-saudara, pria maupun wanita. Maka
tak boleh terjadi ada pembicaraan tentang orang lain
yang dilambari oleh rasa marah atau jengkel. Tak boleh
ada pembicaraan baik terang-terangan maupun
dengan menyindir yang menyerang saudara, pria dan
wanita, atau watak masing-masing, ataupun kepada
seseorang yang tidak hadir. Bergunjing, bahkan dalam
keluarga sendiri, tidak diperkenankan.
Tanpa hal semacam ini tidak akan ada loyalitas,
dan tanpa loyalitas tidak ada komunitas. Satu-satunya
yang dapat dilakukan adalah bicara langsung; kita
mengharapkan pembicaraan spontan yang didasari oleh
rasa persaudaraan dari pria dan wanita atas seseorang
yang kelemahannya menyebabkan reaksi negatif dalam
komunitas. Kata-kata yang terbuka dan langsung pada
orang lain dapat memperkokoh persahabatan dan cara
itu tidak ditolak. Namun jika dua orang tidak dapat
segera akur diperlukan bantuan orang ketiga yang
dihormati oleh kedua-duanya. Dengan cara itu mereka
dapat diantarkan pada suatu solusi yang mengikat
mereka berdua pada tataran yang terdalam dan tertinggi.
Eberhard Arnold
Ellen Keiderling bergabung dengan komunitas kami
beberapa dasawarsa yang lalu, tetapi ia masih teringat
betapa ia kagum membaca tulisan di atas untuk pertama
kalinya – dan ia tahu bahwa itu dilaksanakan:
142 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Ketika aku bergabung dalam komunitas ini dan


tidak ada gosip di dalamnya – tidak ada orang yang
membicarakan orang lain yang tidak hadir – sepertinya
beban yang berat terlepas dari pundakku. Di tempat
asalku, gosip merupakan cara hidup. Seperti setiap orang
lainnya, kami khawatir dengan apa yang dipikirkan atau
dikatakan orang tentang diriku ketika aku tak hadir,
tetapi aku tidak benar-benar ambil peduli pada
kekhawatiran itu, karena sadar bahwa beban itu tak ada
gunanya; hal itu dapat sangat memengaruhi hidup kami
dari tahun ke tahun. Dan sekarang kami tahu bahwa
seseorang akan datang dan memberitahu kami jika kami
melakukan kesalahan – serasa inilah bumi yang baru
bagi kami di sini. Aku tak bisa melakukan komitmen
untuk bicara terus terang selama beberapa tahun, namun
tetap ada kepercayaan. Itulah sesuatu yang tetap kokoh
dan bisa menjadi pegangan.
Sangat sering damai sejahtera kita dalam hubungan
dengan orang lain berantakan karena tidak adanya
kepercayaan ini. Apa pun alasannya, benar atau tidak,
kita tak berani percaya bahwa kita dikasihi sebagaimana
adanya, dengan semua kelemahan dan kekurangan kita.
Tetapi hanya itulah yang perlu kita lakukan. Daripada
kita menyembunyikan diri kita dalam rasa takut dan tidak
percaya, lebih baik kita bersedia memercayai sesama kita
kapan saja - bahkan kepada mereka yang mengkhianati
kepercayan kita sekalipun.
Kepercayaan kepada Tuhan dalam segala hal sangat
vital. Seorang penulis melukiskan seorang wanita yang
begitu khawatir sehingga ketika ia pergi ke surga, yang
ditinggalkannya ternyata hanya setumpukan rasa khawatir.
Walaupun tampaknya pelukisan itu lucu, namun dengan
tepat lukisan itu menggambarkan keadaan banyak orang.
Seandainya saja mereka sadar, apakah mereka percaya atau
Berbagai Batu Pijakan 143

tidak, Tuhan hadir di sana dan mengulurkan tangan


kepada mereka. Tuhan tahu rahasia yang terdalam
sekalipun dari hati kita dan tetap setia mengasihi kita. Ia
tahu segala sesuatu yang kita perlukan sebelum kita
memohon kepada-Nya. Dari diri kita, yang diharapkan
hanyalah agar kita di hadiratNya menjadi seperti anak-
anak, apa adanya, dan membiarkan Dia menolong kita.
Bagi sementara orang (ibu-ibu mempunyai bayi atau
anak kecil misalnya) kepercayaan semacam itu tidak
mudah. Mereka khawatir dengan segala hal yang
mengerikan yang mereka baca atau dengar dari berita-
berita: perang dan bencana, terorisme dan kejahatan yang
kejam. Kadang-kadang mereka bertanya tentang
kebijaksanaan dalam hal bagaimana mengantarkan anak-
anak mengenal dunia yang seperti itu. Ketakutan seperti
itu bukan barang baru.
Aku dilahirkan ketika Inggris mengalami pengeboman
dalam Perang Dunia Kedua, dan setiap malam pesawat-
pesawat melintasi angkasa di atas kami. Dua kali bom
dijatuhkan di dekat kami. Yang satu di dalam pekarangan
kami, dan yang lain di tanah desa sebelah. Namun yang
lebih ditakutkan oleh orang tuaku ketimbang bom itu adalah
serangan darat tentara Nazi. Bagi mereka (sebagai orang
Jerman yang mengungsi ke negeri lain karena bicara keras
menentang Hitler) dan bagi kami anak-anak, serangan
darat itu bisa berarti kematian bagi kami. Ibu kami sangat
khawatir setiap kali memikirkannya. Bertahun-tahun
kemudian, mengingat masa-masa itu, ayah menulis kepada
pasangan suami-istri yang meminta nasihat:
Walaupun sekarang kita tidak ketakutan akan
pesawat pengebom lagi, zaman kita juga sangat
menderita dan ada banyak kematian. Sangat mungkin
bahwa banyak di antara kita, termasuk orang tua anak-
144 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

anak kecil seperti Anda – suatu ketika menderita dan


mati karena iman kita. Dari relung hatiku aku berharap
kalian sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Ada banyak
perikop yang mengerikan dalam Kitab Suci, terutama
dalam Kitab Wahyu. Namun bahkan di sana pun
dikatakan bahwa Allah sendiri akan menghapus air
mata mereka yang begitu menderita. Kita harus
sungguh-sungguh yakin bahwa Yesus datang bukan
untuk mengadili tetapi untuk menyelamatkan . “Allah
begitu mencintai manusia.” Berpeganglah pada
perkataan ini. Kita diingatkan bahwa akhirnya kita
akan bersatu dengan Allah. Kita harus yakin akan hal
ini, demi diri kita sendiri dan demi anak-anak kita juga.
Kadang-kadang mereka yang sangat ketakutan,
secara manusiawi, justru dikaruniai perasaan
ketenangan batin yang sangat mendalam. Seorang
pasien rumah sakit menderita penyakit yang akan
membawanya pada kematian, orang itu sedang
menyongsong kematian, akan menjadi korban maut.
Kita pasti mengira orang itu tidak damai batinnya.
Ketika wajah maut memandang orang itu, justru soal-
soal lain yang biasanya dalam keadaan yang tidak
begitu mengancam mengganggu dirinya, sekarang
malah tersisihkan, dan ia harus memerhatikan
keabadian. Ia berhadapan dengan pilihan sederhana:
berusaha melarikan diri dari hal yang tak terelakkan
dengan membenturkan kepalanya pada dinding, atau
menyerahkan diri kepada Allah dalam iman.
George Burleson, seorang warga Bruderhof dan
teman akrabnya yang berjuang melawan kanker yang
secara pelan-pelan namun pasti menyebar dalam tubuhnya
selama empat tahun, baru-baru ini menulis:
Sejak diriku ketahuan mengidap kanker dan sadar
bahwa masa depanku begitu tak pasti, aku telah belajar
Berbagai Batu Pijakan 145

tentang perlunya memercayakan diri sepenuhnya secara


mutlak kepada kerahiman Allah. Hanya jika aku telah
seperti itu, rasa kekhawatiranku hilang. Kematian datang
kepada setiap orang – kita semua dalam situasi yang sama
dalam berhubungan dengan kematian itu – maka
berkutat melawan hal yang sudah pasti itu hanyalah
pemborosan waktu. Hidup kita ada di tangan Tuhan.
Itulah yang penting, dan jika kita dapat menerima hal
itu, kita akan mengalami kedamaian.
Penulis Dale Aukerman memberi kesaksian lain
tentang kekuatan kepercayaan sebagai sarana damai.
Seperti George, baginya sumber kedamaian terletak pada
penyerahan diri pada fakta bahwa ia akan segera mati;
seperti mereka yang lain, kasihnya akan kehidupan justru
tidak berkurang, dan ia dengan mantap terus berjuang.
Sekalipun begitu, kedekatannya dengan kematian tidak
membuatnya gentar atau jadi limbung. Kepercayaanya
kepada Yang Maha Kuasa memberinya kekuatan terus-
menerus dan juga ketenangan.
Pada 5 November 1996 aku kedapatan mengidap
tumor sebesar sepuluh senti melintang di paru-paruku
sebelah kiri. Pemeriksaan selanjutnya menunjukkan
bahwa kanker itu telah menyebar ke hati, di punggung
kanan, dan di dua tempat pada tulang belakang. Aku
diberitahu bahwa peluang hidupku hanya antara dua
hingga enam bulan lagi, dan perkiraan garis tengahnya
adalah empat bulan. Menakjubkan sekali memperoleh
gambaran bahwa hidup ini tinggal beberapa bulan lagi.
Setiap hari dan setiap hubungan dekat lalu menjadi
sangat berharga lebih dari masa lalu. Setiap pagi aku
mengingat penanggalan dalam bulan – yaitu hari yang
diberikan kepadaku oleh Tuhan. Dengan lebih
sungguh-sungguh aku memandang keluarga, rumahku
dan ciptaan Allah, karena aku tahu waktuku untuk
melihat mereka akan segera berakhir.
146 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Ketika menerima urapan minyak segera setelah


diagnosis itu aku mengaku dosa bahwa aku kurang
memberi perhatian pada Tuhan. Karena kanker itu,
Tuhan lalu lebih banyak menjadi perhatianku.
Ketika saudariku, Jane, meninggal karena kanker
ganas pada usia empat belas tahun, ibuku menerima hal
itu sebagai kehendak Allah: Allah berkenan mengambil
dia, siapa orang yang dapat menentang kehendak-Nya?
Bagi sementara orang, pandangan seperti itu merupakan
penghiburan. Aku agak berbeda. Aku pikir Tuhan tidak
mengirimkan kanker maupun penyakit jantung. Jika
seorang pemabuk mengendarai mobil dan menabrak
beberapa orang hingga meninggal, aku tidak percaya
bahwa hal itu adalah kehendak Allah. Ada banyak hal
yang terjadi di dunia ini bukan karena dihendaki oleh
Allah dan bukan karena Allah menginginkannya....
Tetapi Allah berjuang bersama setiap kita yang
melawan maut. Dengan cara yang tidak kita
ketahui dan tidak kita pahami, Allah memukul
mundur kekuatan maut. Ketika masih anak-anak
aku hampir mati terlindas mobil pertanian. Beberapa
tahun berikutnya aku juga hampir mati karena
sesuatu, yang mungkin keracunan arsenik. Aku
juga hampir mati dalam mobil.
Setelah mengalami enam rangkaian kemoterapi
dan mendapat banyak tambahan gizi, dan berkat doa-
doa para sahabat, aku mengalami scan CAT, yang
menunjukkan bahwa tumor dalam paru-paruku
menyusut hingga tinggal seperempatnya dari ukuran
awalnya. Tuhan telah menjauhkan aku dari kematian
dan memberi kehidupan lebih panjang kepadaku.
Di dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus 1:19-22
Paulus menulis, “Betapa hebat kuasaNya bagi kita yang
percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang
dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan
Dia dari antara orang-orang mati dan mendudukanNya di
sebelah kananNya di surga.” Kita membaca Allah
Berbagai Batu Pijakan 147

meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus – yaitu


bahwa Allah membuat Kristus menaklukkan semua daya
yang memberontak. Itulah gambaran Kitab Suci mengenai
perjuangan kemenangan dan kuasa yang menaklukkan.
Dia yang telah mati dan bangkit lagi, mengalahkan kanker,
penyakit jantung, AIDS ; Alzheimer, sizofrenia, pelecehan
anak-anak. Dia adalah pemenang atas perjuangan melawan
eksploitasi kaum miskin, atas pengurasan habis-habisan bumi
yang dengan baik diciptakan Allah, atas kegilaan
pembelanjaan untuk militer dan senjata nuklir.
Namun mungkin kita bertanya, jika Kristus sudah
mengalahkan hal-hal semacam itu mengapa masih
banyak terjadi hal-hal demikian itu? Mengapa segala
keburukan itu begitu meruyak di banyak tempat? Di
dalam perang mungkin hanya ada satu pertempuran yang
menentukan pihak mana yang menang. Karena
pertempuran yang menentukan itulah pihak yang satu
pasti maju terus hingga mencapai kemenangan yang
lengkap, walaupun pihak yang lain masih punya pasukan
di medan tempur dan pertempuran masih berlanjut.
Namun hanyalah tinggal masalah waktu saja pihak lawan
itu akan habis seluruhnya.
Harapan kita yang pertama-tama bukanlah untuk
mendapatkan hidup abadi setelah kematian. Puncak
harapan yang diberikan dalam Perjanjian Baru adalah
bahwa Kerajaan Allah yang akan datang penuh
kemuliaan, dan Tuhan yang telah dibangkitkan dan tidak
tampak itu lalu tampil dengan mulia untuk memperbarui
segala ciptaan Allah, dan segala yang jahat dan merusak
akan dihilangkan. Sejarah manusia akan dibenarkan.
Kisah manusia akan menerima akhirnya dari Allah. Pada
waktu itulah Tuhan akan menguasai alur peristiwa
manusia dan menaruhnya dalam kegemilangan kerajaan
baru yang tak terbayangkan. Harapan kita pertama-tama
adalah pemenuhan segala janji Allah; dan baru
kemudian kita berharap dapat memperoleh secuil surga.
148 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Dalam seluruh hidupku di masa dewasa, aku


melibatkan diri di dalam usaha menciptakan damai
dan menjadi saksi damai, dan selama bulan-bulan
terakhir khususnya aku membaca ayat-ayat Kitab Suci
tentang damai. Dari Injil Yohanes, Tuhan yang bangkit
berkata kepada para murid yang ketakutan di ruang
atas: “Damai Sejahtera bagi kamu.” 81, yang satunya
lagi, yang kurenungkan ketika aku dimasukkan ke
dalam dan dikeluarkan dari lubang MRI, berasal dari
surat kepada Jemaat di Filipi: “Damai sejahtera Allah
yang melampui segala akal, akan memelihara hati dan
pikiranmu dalam Kristus Yesus.”82
Yesaya menyatakan, “Engkau terus memberikan
damai sejahtera yang sempurna pada dia yang
hatinya terarah kepada-Mu, karena ia percaya
kepada-Mu.” Damai sejahtera yang sempurna itu,
dalam pengertian Kitab Suci, bukan sekadar hati
yang tenteram. Tetapi seluruh hidup dan hubungan-
hubungan yang teguh melawan segala yang hendak
mengganggu dan merusak kita. Itulah anugerah yang
membuat kita tetap tegak ketika harus melalui
kegelapan yang paling pekat sekalipun.

81
Yoh 20:19
82
Fil 4:7
Berbagai Batu Pijakan 149

Pengampunan
Seorang rabbi bertanya kepada murid-
muridnya: kapankah, di waktu fajar orang dapat
memisahkan terang dari gelap? Seorang
muridnya menjawab: ketika saya bisa
memisahkan seekor kambing dari keledai.
Tidak, jawab rabbi itu. Yang lain berkata, ketika
saya bisa membedakan sebatang pohon palma
dari pohon ara. Bukan, kata rabbi itu pula. Nah,
jika begitu, apa jawabnya? Murid-muridnya
mendesak. Kata rabbi itu, barulah ketika kamu
memandang wajah setiap orang lelaki dan setiap
orang perempuan dan kamu melihat saudaramu
laki-laki dan perempuan, barulah saat itu kamu
melihat cahaya. Di luar itu adalah kegelapan.
Cerita Mistik Yahudi

D i dalam kodrat manusia, kemampuan melihat laki-


laki atau perempuan siapa pun yang kita jumpai
sebagai saudara adalah rahmat. Bahkan hubungan kita
dengan orang lain yang dekat dengan kita bisa diliputi
awan kelabu kapan saja, sekalipun hanya karena keluhan-
keluhan kecil. Damai sejati dengan orang lain
memerlukan usaha. Kadang-kadang untuk itu
diperlukan kesediaan untuk mengalah. Pada orang yang
lain lagi diperlukan kesedian untuk jujur berterus terang.
Hari ini mungkin kita harus berendah hati dengan
berdiam diri; besok mungkin perlu keberanian untuk
bertemu langsung dan bicara. Namun ada satu hal yang
tidak berubah: bila kita menginginkan damai dalam
150 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

hubungan-hubungan kita, kita harus bersedia memaafkan,


mengampuni, berulang kali.
Suatu ketika kita tentu pernah merasa dibuat sakit
hati, dan setiap kita juga membuat orang lain sakit hati.
Dan karena itu, sebagaimana kita semua harus
mengampuni, jika kita mau diampuni. Tanpa pengampunan
itu, kita tak akan menemukan kedamaian.
Apa yang dimaksud dengan pengampunan? Di
dalam bukuku Seventy Times Seven (Tujuh puluh kali
tujuh) yang sepenuhnya bicara tentang soal
pengampunan, aku menunjukkan bahwa ada
pengampunan yang ditawarkan oleh Allah, dan
pengampunan yang kita berikan satu sama lain sebagai
sesama manusia. Walaupun keduanya berbeda, namun
pengampunan yang satu berhubungan erat dengan
pengampunan yang kedua. Agar dapat mengalami damai
yang diberikan Allah melalui pengampunan dari-Nya,
sepertinya pertama-tama kita harus bersedia
mengampuni orang lain. Ayahku menulis:
Tuhan menyuruh kita memaafkan orang lain dulu
agar kita mendapat ampunan, dan itu sangat penting
bagi hidup kita semua. Dan itu paling penting pada saat
kematian kita. Mereka yang yakin telah mendapatkan
ampunan atas dosa dan kesalahannya, dan telah
mengampuni mereka yang bersalah kepadanya, akan
dilepaskan dari derita sakratul maut.
Mengampuni tidak ada kaitannya dengan sikap fair,
ataupun dengan membolehkan suatu perbuatan yang
jelas salah; pengampunan itu berarti memaafkan
seseorang atas suatu perbuatan yang tak termaafkan.
Ketika kita memaafkan seseorang, kita menyisihkan
kesalahan-kesalahannya. Bila kita memaafkan seseorang,
sebenarnya kita bisa saja mempertahankan sakit hati kita,
Berbagai Batu Pijakan 151

namun bagaimanapun, kita harus melepaskannya. Kita


tak mau balas dendam. Walaupun maaf kita itu tidak
selalu diterima orang lain, namun mengulurkan tangan
dalam usaha pendamaian menghindarkan diri kita dari
amarah dan dendam. Walaupun kita masih tetap merasa
luka, namun sikap kita yang memaafkan itu mencegah
kita melakukan pembalasan pada seseorang yang
menyebabkan kita menderita. Dan hal itu memudahkan
kita untuk memaafkan lagi ketika di belakang hari kita
disakiti lagi. Dorothy Day menulis:
Dari cerita Yesus tentang kembalinya anak yang
durhaka, Allah berdiri di pihak anak yang tidak pantas....
Para pembaca mungkin mengira anak durhaka itu
dengan sangat menyesal pulang ke rumah bapanya. Tapi
siapa tahu, ia mungkin pergi lagi dan memboroskan uang
pada hari Sabtu berikutnya, ia mungkin menolak bekerja
untuk menggembalakan ternak dan sebaliknya minta
dikirim ke tempat lain untuk melanjutkan sekolahnya,
dan dengan begitu jawaban lain pada persoalan itu, yaitu
bahwa orang harus mengampuni saudaranya tujuh puluh
kali tujuh kali. Selalu ada jawaban, walaupun tidak perlu
selalu dihitung-hitung.
Ironisnya, mereka yang pernah mengalami penderitaan
yang sangat berat dalam hidup biasanya lebih bersedia
memaafkan. Bill Pelke adalah seorang veteran perang
Vietnam dari Indiana yang kutemui dalam suatu acara anti
hukuman mati. Ia kehilangan neneknya yang dibunuh orang
dengan keji. Namun ia berusaha melakukan rekonsiliasi
dengan gadis remaja yang membunuh neneknya itu.
Nenek Bill suka keluar rumah memberi pelajaran
Kitab Suci kepada anak-anak di lingkungan tetangga.
Pada suatu sore di bulan Mei 1985 ia menerima kedatangan
empat gadis remaja dari suatu Sekolah Menengah Atas
152 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

tak jauh dari situ. Tanpa mengetahui apa-apa, anak-anak


itu menyerangnya sampai ia terjatuh di lantai. Beberapa
menit kemudian rumah itu dirampok, dan anak-anak itu
pergi menggunakan mobil tua si nenek, membiarkan nenek
itu tergeletak di lantai, mati kehabisan darah, karena
banyak luka tusuk. Bill teringat:
Anak-anak itu ditangkap setelah mengajak teman-
teman lain bersenang-senang naik mobil curian. Lalu
mereka diadili. Setelah proses pengadilan berjalan selama
lima belas bulan, keputusan hukumpun dijatuhkan.
Seorang gadis dihukum penjara tiga puluh lima tahun,
dua orang gadis dihukum masing-masing enam puluh
tahun, dan yang terakhir Paula Cooper, dihukum mati.
Aku puas karena setidak-tidaknya seorang dari mereka
akan dieksekusi. Kurasa, jika tidak begitu pengadilan
niscaya menganggap nenekku tidak penting, padahal
bagiku nenek adalah orang yang sangat penting.
Sekitar empat bulan setelah keputusan pidana
dijatuhkan atas Paula, aku putus hubungan dengan
pacarku. Aku berusaha keras untuk memperbaiki
hubungan itu dan sangat sedih. Hatiku tak bisa
mendapatkan kedamaian.
Pada suatu hari, ketika aku sedang bekerja
mengoperasikan mobil angkat (crane) dari tempat yang
tinggi (aku bekerja pada perusahaan Bethlehem Steel)
aku merenungkan mengapa hubunganku tidak
berjalan baik, termasuk kematian nenekku. Dan aku
mulai berdoa. “Mengapa, Tuhan? Mengapa?” Tiba-
tiba aku teringat kepada Paula – dan aku
membayangkan anak itu (wanita yang paling muda
yang menunggu giliran pidana eksekusi mati) sedang
berkata, “Apa yang telah kulakukan? Apa yang telah
kulakukan?” dan aku teringat ketika keputusan itu
diumumkan; saat itu kakeknya hadir di ruang
pengadilan dan berteriak, “Mereka membunuh
Berbagai Batu Pijakan 153

cucuku.” Dia digiring keluar dari ruang pengadilan.


Air matanya mengalir membasahi pipinya....
Aku mengingat juga nenekku, imannya, dan apa
yang dikatakan Kitab Suci tentang pengampunan. Aku
teringat tiga ayat, yang satu mengatakan bahwa supaya
mendapatkan pengampunan Tuhan, kamu harus
mengampuni orang lain83; yang kedua Yesus menyuruh
Petrus memaafkan tujuh puluh kali tujuh kali84; yang
ketiga yang dikatakan Yesus ketika ia tergantung di
kayu salib, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka
tidak tahu apa yang mereka lakukan.”85 Paula tidak
tahu apa yang dilakukannya. Ketika gadis itu menusuk
seorang wanita tua tiga puluh tiga kali, pikirannya
sedang tidak waras.
Tiba-tiba aku merasa harus memaafkan Paula, aku
langsung berdoa, agar Tuhan mengasihi aku dan rahim
kepada Paula. Doa itu mengubah hidupku. Aku tak ingin
gadis itu mati di kursi listrik. Apa artinya eksekusi itu
bagiku dan bagi orang lain?
Ketika aku masuk ke ruang pengoperasian pesawat-
angkat itu aku adalah seorang pecundang. Empat puluh
lima menit kemudian ketika aku keluar dari situ aku
adalah orang yang berbeda sama sekali.
Bill mengunjungi Paula beberapa kali sejak itu dan
berusaha menunjukkan iman neneknya kepada gadis itu
– bukan dengan berkhotbah, tetapi dengan menunjukkan
belas kasihan. Ia tidak lagi dihantui oleh gambaran
neneknya yang tersayang itu terbujur dibantai di lantai
ruang makan - ruang tempat keluarga biasanya berkumpul
untuk berbagai kesempatan yang sangat bahagia. Bill jelas
masih merasa menderita karenanya, namun kemudian
83
Mat 6:12. 14-15
84
Mat 18,21-22
85
Luk 23 : 34
154 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

penderitaan itu bercampur dengan keputusan untuk


memastikan bahwa orang lain juga harus sama-sama
menanggung pahitnya situasi yang harus dilaluinya.
“Sepanjang aku membenci anak-anak itu, mereka
mengendalikan hidupku. Namun begitu aku memilih
memaafkan mereka, hatiku merasa bebas.”
Sebagai aktivis yang gigih dari “gerakan keadilan
restoratif ” yang sedang berkembang, Bill sekarang
melakukan perjalanan ke mana-mana di seluruh pelosok
negeri dengan suatu organisasi yang disebut “Perjalanan
Harapan: dari Kekerasan ke Penyembuhan.” Dia juga
menjadi anggota Keluarga Korban demi Rekonsilasi.
“Pengampunan,” katanya, “adalah satu-satunya jalan yang
harus ditempuh, lepas dari kekerasan menuju
penyembuhan. Pengampunan melindungi Anda dari karat
kebencian dan memberikan kebebasan lagi kepada Anda
agar mendapatkan damai di dalam diri Anda sendiri.”
Kebanyakan dari kita tidak mempuyai urusan yang
berkaitan langsung dengan pembunuhan; dan banyak
hal yang menjadi obsesi kita bisa dikatakan sepele
dibanding dengan pembunuhan. Namun kita sering
merasa kesulitan untuk memaafkan. Terutama jika
kekecewaan itu berkembang terus dalam masa yang
panjang, perlu beberapa waktu dan usaha besar untuk
mencabut akarnya. Dan apakah rasa sakitnya hanya
bayangan saja atau pun nyata, hal itu akan menggerogoti
kita selama terus kita pelihara.
Bukanlah maksudnya untuk menelan luka hati
kita. Sebaliknya orang yang menekan keluhan-
keluahan ke dalam alam bawah sadar dengan maksud
untuk melupakannya sebenarnya membuat pincang
dirinya saja. Sebelum kita mengampuni suatu luka
batin, kita harus dapat memberi nama luka itu.
Berbagai Batu Pijakan 155

Kadang-kadang tidak mungkin (atau kalaupun


mungkin, tidak membantu) untuk berhadapan dengan
orang yang kita perjuangakan agar kita ampuni, maka
solusi terbaiknya adalah berbagi luka batin itu dengan
seseorang yang kita percaya. Setelah hal itu kita
lakukan, luka batin kita lepaskan. Jika tidak demikian
selamanya kita akan terus kecewa dan menyesal,
menunggu permintaan maaf yang tak pernah datang.
Dan kita akan tetap terpisah dari Allah.
Selama kita tetap menggerutui seseorang, pintu
Tuhan tetap tertutup. Begitu rapat tertutup sehingga tak
ada jalan untuk menuju Dia. Aku yakin banyak doa tidak
didengarkan karena orang yang berdoa masih menggerutui
seseorang, walaupun dia tidak menyadarinya. Jika kita
menginginkan damai Tuhan dalam hati kita, pertama-
tama kita harus belajar memaafkan.
J. Heinrich Arnold
Adalah wajar bila kita meminta pengampunan.
Bagaimanapun setiap orang adalah pendosa di mata
Allah. Sekalipun “kebaikan” kita menghalangi kita untuk
melihat diri kita demikian. Suatu cerita tentang Bruder
Angelo, seorang biarawan Fransiskan, melukiskan
masalah itu dengan bagus sekali.
Pada malam Natal, Bruder Angelo membersihkann
pondoknya yang sederhana di sebuah bukit dan
menghiasinya untuk Misa Natal. Ia berdoa, menyapu
halaman, memasak air, dan duduk menunggu Bruder
Francis, yang diharapkannya datang kemudian. Tiba-tiba
muncullah tiga orang gelandangan di depan pintu, minta
makanan. Bruder Angelo ketakutan sekaligus marah dan
menyuruh mereka pergi dengan tangan hampa, sambil
ngomel memberi peringatan, bahwa para pencuri akan
dimasukkan ke dalam api neraka.
156 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Ketika Bruder Francis datang, ia merasakan ada yang


tidak beres. Bruder Angelo menceritakan kepadanya ketiga
orang gelandangan yang berkunjung. Bruder Francis
menyuruh Bruder Angelo naik ke bukit membawa anggur
dan roti untuk mencari dan menemukan mereka itu. Dan
minta maaf. Bruder Angelo berkilah membantah. Berbeda
dari Bruder Francis, ia tidak bisa memandang ketiga
gelandangan itu sebagai saudara. Mereka itu hanyalah
gelandangan liar. Sekalipun mengomel, Bruder Angelo
patuh dan sebelum malam tiba (dengan mengikuti jejak
kaki mereka di salju), ia menemukan mereka di suatu gua
dan berdamai. Menurut ceritanya, beberapa hari kemudian,
para gelandangan itu turun gunung meninggalkan gua dan
bergabung dengan Ordo Fransiskan.
Berbagai Batu Pijakan 157

Bersyukur
Hayatilah hidup Anda sedemikian rupa sehingga
perasaan takut mati tak akan pernah ada di hatimu. Bila
bangun di pagi hari, berterimakasihlah kepada cahaya
pagi. Bersyukurlah atas hidupmu dan kekuatanmu.
Beryukurlah atas makanan dan atas kegembiraan
hidupmu. Dan jika kamu pada sutau ketika tak dapat
mensyukuri semua itu, yakinlah bahwa ada yang tidak
beres di dalam dirimu.
Ketua Suku Indian Tecumseh

M istikus abad pertengahan Meister Eckhardt86 suatu


ketika pernah menyatakan bahwa kalaupun doa
yang dapat kita ucapkan hanyalah “terima kasih,” itu
sudah mencukupi. Jika kita ikuti nasihatnya begitu saja,
mungkin untuk sesaat mudah rasanya. Namun beryukur
kepada Tuhan dengan hati tulus atas segala anugerah-
Nya, dan untuk menghayati hidup dengan semangat
syukur, berlaku untuk selamanya.
Apa maksudnya bersyukur? Henri Nouwen menulis:
Bersyukur atas sesuatu hal baik yang kita alami pada
suatu ketika adalah tindakan yang mudah. Tetapi
mensyukuri seluruh hidup, entah baik, entah buruk, saat-
saat gembira dan saat-saat berduka, keberhasilan maupun
gagal, dihargai ataupun ditolak memerlukan kerja keras
spiritual. Namun, kita sungguh orang yang tahu bersyukur
jika kita mengucapkan terima kasih atas segala hal yang
mengantar kita pada saat ini. Jika kita tetap membagi

86
Biarawan Ordo Dominikan, 1260-1327, dikecam Paus waktu itu
karena ajaran Panteisme.
158 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

hidup kita di antara peristiwa-peristiwa dan orang-orang


yang hendak kita kenang, dan semua yang hendak kita
lupakan saja, kita belum dapat menyatakan bahwa
seluruh keberadaan kita adalah anugerah Allah yang
harus kita syukuri.
Janganlah kita takut memandang segala sesuatu
yang telah membawa kita di sini saat ini dan percayalah
bahwa kita akan segera melihatnya di dalam bimbingan
tangan Allah yang penuh kasih.
Sama pentingnya mensyukuri juga hal-hal yang buruk
yang kita alami seperti hal-hal yang baik. Selama kita
menghindari kenangan akan hal-hal yang menyedihkan,
setiap situasi yang menakutkan atau membuat kita kecil
hati, kita tak akan mengenal damai. Ini tidak berarti
kita harus diam-diam saja menerima semua yang datang
pada kita dengan cara seperti itu. Tuhan Yesus sendiri
mengajar kita berdoa. “Jangan membawa kami ke dalam
pencobaan.” 87 Namun karena ada banyak hal dalam
kehidupan ini yang tak bisa kita kendalikan, kita perlu
menyikapi hal-hal yang menguji kita itu bukan sebagai
hambatan, melainkan sebagai peluang untuk bertumbuh.
Filsuf Perancis Simone Weil88 suatu ketika menulis,
“Tuhan terus-menerus menyinari dengan sepenuh
rahmatNya segala makhluk di dunia, namun kitalah yang
memilih apakah kita telah menerima lebih banyak, atau
hanya sedikit. Dalam hal yang semata-mata spiritual,
Tuhan mengabulkan semua keinginan. Mereka yang
mendapatkan sedikit adalah karena permohonannya
memang sedikit.” Suatu gagasan yang mengusik hati.

87
Mat 6:13
88
1909-1943 mistikus dan pejuang keadilan sosial
Berbagai Batu Pijakan 159

Kemudian, jika kita bersungguh-sungguh dengan


ucapan “Terjadilah kehendak-Mu” 89 , niscaya kita
mensyukuri apa pun yang diberikan kepada kita.
Bahkan anak-anak Israel dijawab dengan puluhan
hukuman berkali-kali. Mereka tidak hanya menerima
manna dari surga. Berkenaan dengan hal-hal baik
(keluarga, makanan, rumah, sahabat, cinta,
pekerjaan), jika kita jujur, kita harus mengakui bahwa
kita sering mendapatkannya sebagai pemberian.
Namun kita lebih memperlakukan semua itu sebagai
hak, daripada sebagai karunia.
Seorang jemaat gerejaku, Caroll King, menunjukkan
bahwa justru ketika pergumulan atau permasalahan dirasa
paling berat bebannya pada seseorang maka rasa syukur
dapat mengubah seluruh pandangan akan hidup.
Suatu ketika sewaktu aku merasa sangat
tertekan, aku sadar bahwa jika aku dapat menemukan
satu hal saja untuk kusyukuri, maka itu merupakan
satu langkah untuk bangkit. Selalu ada sesuatu yang
bagi Anda membahagiakan.... Dalam hidupku, bebas
dari rasa takut dan cemas adalah suatu hal yang
banyak kuperjuangkan. Tetapi jika kita dapat
membeberkan kesulitan-kesulitan kita itu ke tangan
Tuhan, ada kedamaian di situ, bukan hanya ketika
kita menerima hasil yang terbaik yang diberikan pada
Anda, namun dengan sungguh-sungguh bersyukur
atas segala sesuatu, apa pun adanya.
Kutipan dari Pastor Jesuit Alfred Delp berikut ini
memperlihatkan sikap yang sama. Delp menulis dari
penjara pada tahun 1944 ketika ia menunggu hukuman
mati akibat menentang Hitler.

89
Mat 6:10
160 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Keadaaan kelihatan sangat buruk. Kali ini adalah


Tahun Baru pertama yang kualami hanya dengan
sepotong roti saja. Sama sekali tidak ada yang bisa
kulakukan sesuai kehendakku sendiri. Satu-satunya
pertanda kehendak baik yang kulihat adalah sipir yang
bersedia melonggarkan borgolku, supaya tangan kiriku
dapat kukeluarkan dari borgolku. Borgol itu
menggantung dari pergelangan tangan kananku
sehingga aku masih dapat menulis. Tapi aku harus
mendengarkan ke arah pintu sebab bisa runyam bila
mereka mendapatkan aku menulis.
Tak dapat kusangkal bahwa diriku sudah sangat
dekat dengan bayang-bayang tiang gantungan. Jika aku
tidak dapat mengalahkan setiap butir tuduhan, sudah
dapat dipastikan aku akan digantung.
Namun di atas altar penderitaanku, sudah banyak
yang termakan api, dan banyak yang telah meleleh
sehingga dapat dilipat. Ini adalah salah satu dari berkat
Allah, salah satu tanda dari rahmatnya yang kuterima,
sehingga aku selalu dapat dengan baik sekali setia kepada
janji-janjiku. Aku yakin, Tuhan juga akan memberikan
berkat-Nya pada tata-lahirku begitu aku siap untuk tugas
selanjutnya yang atas kehendak-Nya dipercayakan
kepadaku. Dari tindakan lahiriah dan cahaya batin yang
makin kuat, suatu hasrat baru akan timbul untuk menjadi
saksi atas Tuhan yang hidup, karena aku benar-benar
telah belajar mengenal Dia semasa pencobaan ini dan
aku merasakan kehadiran-Nya yang menyembuhkan.
Gagasan bahwa: “Tuhan saja telah cukup” sungguh-
sungguh dan mutlak benar bagiku.
Dietrich Bonhoeffer memperlihatkan keteguhan yang
sama dalam suatu surat yang ditulisnya untuk
tunangannya, Maria Wedemeyer, menjelang hukuman
mati yang dilaksanakan baginya. “Janganlah engkau
mengira aku tidak bahagia. Apa itu kebahagiaan atau
Berbagai Batu Pijakan 161

ketidakbahagiaan? Hal itu sedikit bergantung pada


keadaan, namun lebih banyak bergantung pada apa yang
terjadi dalam hati. Aku sangat bersyukur setiap hari
karena kamu, dan hal itu membuat diriku bahagia.”
Seturut pengalamanku, yang umumnya
menyebabkan orang tidak bisa bersyukur bukanlah
keadaan yang sangat buruk, melainkan pengertian yang
salah tentang kebahagiaan. Baik pastor Delp maupun
Bonhoeffer mengatakan bahwa keadaan yang sangat
buruk (ada atau tidak ada) tidak menentukan keadaan
hati atau jiwa kita. “Tuhan saja telah cukup.” Hanya
dengan gagasan itu saja akan timbul rasa syukur yang
tidak ada habisnya dalam diri kita.
Tidak akan ada sesuatu yang memuaskan kita jika
harapan kita yang egois membuat kita kecewa pada
bagian yang kita peroleh; dari situ ada ungkapan “rumput
di halaman tetangga selalu lebih hijau.” Maka selama
pandangan kita dihalangi oleh hal-hal yang membuat kita
tidak memahami kebutuhan dan keperluan kita sendiri
yang sesungguhnya, kita juga tidak melihat apa yang
dibutuhkan dan diperlukan orang lain, apalagi memahami
dalam hal apa kita harus bersyukur. Ayahku suatu ketika
menulis untuk seorang teman yang tidak bahagia: “Kamu
selalu punya alasan untuk menggerutu, jika kamu ingin
damai di hati, kamu harus melepaskan semua itu.
Kuharap: berhentilah hanya memikirkan hasratmu untuk
dikasihi saja, sebab itu justru berlawanan dengan
semangat Kristiani kita.”
William Marvin adalah seorang pastor Anglikan di
Alabama. Baru setahun aku melakukan hubungan surat
menyurat dengannya, karena ia menawarkan bantuan
pada gerejaku untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan
162 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

ke Kuba. Walliam punya banyak penderitaan, tapi tak


pernah kudengar dia mengeluh. Kendati ia mengalami
rangkaian cobaan seperti Ayub: ia sakit berat, anak
bungsunya meninggal, ia kehilangan pekerjaan, lalu
bercerai dengan istrinya, ia masih bisa berkata: “Aku belum
direbus kesakitan....” Kukira sikap inilah yang
merupakan kunci dari rasa damai dalam dirinya.
Aku sekarat, saat itu bulan Desember 1960.
Umurku tiga puluh lima tahun. Beberapa hari yang lalu
aku operasi usus buntu. Dini hari awan kepastian
mendatangi diriku, bahwa aku akan mati, dan karena
itu aku panik. Aku punya seorang istri, tiga orang anak,
dan menanggung utang. Aku merasa aku sangat gagal,
aku akan mati dan meninggalkan mereka semua dalam
kepapaan. Lalu aku mendengar suara yang jelas dan
nyaring di telingaku: “Jadi mau apa? Apakah dirimu
sendiri itu tidak penting? Hanya Tuhan?”
Aku sering memikirkan cara Tuhan bicara pada
kita. Dalam seluruh pengalamanku Tuhan biasanya
bicara dengan berbisik, menggunakan sedikit kata-kata
saja. Kejadian yang menyentuh hatiku itu adalah ketika
Tuhan berbicara dengan nada keras, seperti percikan air
dingin di wajahku. Kesembuhan berlangsung sangat
lambat, tapi aku pulih.
Ada banyak peristiwa yang menentukan dalam
hidupku. Ibuku mendadak meninggal ketika aku
berumur delapan tahun. Setahun kemudian ayahku
menikah lagi dengan seorang wanita yang jauh lebih
muda. Di rumah, kami tidak bahagia. Ayahku adalah
seorang kepala sekolah yang sangat terkenal disiplin dan
punya standar akademis yang tinggi. Ia menerapkannya
di rumah juga. Aku sering dihajar. Bahkan ibu tiriku
pernah menampar aku. Kata-kata yang kasar dan
umpatan adalah senjata pilihan mereka. Peraturan yang
berlaku adalah, “Apa kata mama.” Pemberontakan masa
Berbagai Batu Pijakan 163

remajaku terjadi dalam bentuk nilai yang pas-pasan saja


untuk lulus sekolah. Nilai sangat penting bagi mereka,
sehingga hanya dalam hal itulah aku dapat membalas
menyakiti hati mereka. Aku disuruh pergi begitu lulus
Sekolah Menengah Atas. Aku menumpang pada paman
dan bibiku sampai umurku cukup untuk menjadi tentara.
Tahun-tahun dinasku dalam ketentaraan sangat berat.
Aku berperang. Aku melihat orang mati dalam perang.
Aku juga terluka. Sesudah dinas tentara aku kuliah,
walaupun aku masih tak tahu mau jadi apa.
Aku segera menikah dan punya dua anak, sebuah
rumah di pinggir kota, utang cicilan rumah, sebuah mobil,
dan bekerja sebagai pengantar surat. Aku bingung
setelah tiga atau empat tahun kemudian. Setelah
serangkaian usaha mencari nasihat dan latihan rohani,
aku memutuskan untuk menjadi Pastor Episcopal (istilah
untuk gereja Anglikan Amerika). Sesudah dua bulan di
seminari kami melakukan retret. Aku kebingungan. Aku
menghadap pemimpin retret, seorang biarawan dari Ordo
Salib Suci (OSC), dan aku berkata kepadanya bahwa
aku telah melakukan kesalahan: “Aku tidak layak.”
Jawabannya adalah “Tentu saja, kamu tidak pantas! Tak
seorang pun dari kita layak. Tapi Tuhan memilih bekerja
sama dengan kita!”
Setelah wisuda dan ditahbiskan, William melayani
beberapa paroki dan dengan segera ia melihat perbedaan
pandangan mengenai posisinya antara dirinya dengan
atasannya. Tak lama kemudian ia tidak diberi tugas. Untuk
waktu yang cukup lama ia menganggur; masalahnya, ia
telah berbicara keras mengecam arah yang ditempuh
Gereja Episcopal. Akhirnya ia ditempatkan di suatu paroki
Anglikan, di mana sekarang ia melayani jemaat.
Sepanjang tahun-tahun itu, tragedi datang
bergantian. Mula-mula anak bungsu William mati dalam
kecelakaan lalu lintas; lalu istrinya selingkuh dengan pria
164 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

lain dan pergi meninggalkan rumah, setelah mereka resmi


bercerai; anaknya yang kedua kecanduan alkohol dan
karena serangan jantung yang keras, mati pada usia tiga
puluh lima tahun. Namun ada juga hal yang
membahagiakan: anak sulungnya menjadi pengacara yang
sukses: anak perempuannya mendapat gelar doktor dan
menjadi dosen di Universitas Notre Dame. William sendiri
lalu membangun suatu keluarga baru di antara para
anggota jemaatnya yang hangat dan hidup terasa ringan.
Apakah aku memperoleh kedamaian? Kukira
begitulah! Aku telah melakukan kewajibanku terhadap
anak-anakku; kini aku melayani anggota jemaatku, dan
aku ingin melakukan sejauh Allah menghendaki.
Aku mengawali setiap pagi dengan mendoakan
Venite90 dengan ayat keempatnya. “Bagian-bagian bumi
yang paling dalam ada di tangan-Nya.” Pada malam hari
aku mendaras Nunc Dimittis91 dan mengucapkan kata-
kata Yesus di kayu salib. “Ke dalam tangan-Mu, ya Bapa,
kuserahkan jiwaku.” Jika aku terbangun aku mendaras
Doa Yesus. Suatu bagian pokok dari mistik Ortodoks
Timur, sering kuucapkan: “Tuhan Yesus Kristus, Putra
Allah yang hidup, kasihanilah aku yang berdosa ini.”
Setiap kali aku mengucapkan doa ini, yang juga
mengungkapkan kerinduanku, aku menyadari lagi
bahwa kerahiman Allah tak lain dan tak bukan semata-
mata adalah kasih-Nya. Aku merasa hangat. Aku
bersyukur karena aku diampuni dan diterima Tuhan.
Tinggal satu hal yang akan kualami. Aku pasti mati.
Sampai saat itu, walaupun aku punya rencana-rencana
awal, aku berusaha menghidupi hari-hari, seolah-olah
itulah hari terakhirku.

90
Mazmur 95, yang merupakan bagian tetap dalam Doa Pagi harian
91
Kidung Simeon, yang merupakan bagian tetap dari ibadat Penutup
atau Completorium, pada malam hari; Sekarang, Tuhan ,
perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera.
Berbagai Batu Pijakan 165

Tidaklah sulit untuk percaya bahwa sejak lahirku


aku berada di tangan Tuhan. Kematian anak-anakku
dan kepergian istriku meninggalkan janji perkawinan
tidak membuatku marah-marah. Semua itu terjadi
karena dunia tidak sempurna. Dua puluh satu tahun
lalu, setelah aku dilepas dari Gereja Episcopal, anak
bungsuku meninggal dalam kecelakaan, istriku sembuh
dari serangan jantung (dan hampir meningggalkan
diriku, dan aku hanya bekerja sepuluh jam dalam
seminggu) seorang teman berkata bahwa aku tentu
merasa seperti Ayub. Aku berkata, “Ah, aku belum
menderita seperti direbus.” Sampai saat ini aku belum
pernah mengalami penderitaan seperti itu.
Hari ini aku menemani seorang pensiunan dokter,
dan ini kulakukan setiap hari Jumat, dan ia sedang
menjelang kematiannya. Ia telah kehilangan tiga orang
putrinya karena kanker. Istrinya telah mengalami operasi
bedah kanker beberapa tahun lalu. Setiap hari Minggu
aku memberikan komuni kepadanya. Bukan hanya dia
seorang dari jemaatku yang mendapat rahmat khusus
untuk menanggung beban seperti itu. Hampir setiap
orang pada waktu tertentu menanggung beban seperti
itu. Salah satunya, seorang ibu muda mengalami
kebakaran tingkat ketiga, lebih dari empat puluh persen
dari tubuhnya. Suaminya meninggalkan dia, dan ia harus
membesarkan tiga orang anak kecil yang baik sendirian.
Ibu itu melaksanakannya dengan baik. Tuhanlah yang
mengizinkan aku mengenal orang-orang seperti itu,
supaya aku dapat membagikan hidupku pada mereka,
dan itu adalah berkat yang sangat hebat. Hal itu
memberiku damai Tuhan, “dengan pengertian
sebagaimana yang diberikan-Nya.”
166 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Ketulusan
Anda mengira tidak peduli untuk memuji prestasi
yang menurut Anda bukan merupakan jasa-jasa Anda,
sedemikian rupa sehingga bila Anda merasa tergoda
untuk merasa tersanjung, Anda selalu teringat bahwa
pujian itu terlalu berlebihan. Anda mengira diri Anda
tak acuh sampai Anda merasa cemburu pada seseorang
yang dengan naif berusaha “membuat dirinya tampak
penting,” sementara Anda mengusahakan sikap yang
tak acuh pada diri sendiri itu tampak menonjol.
Berkenaan dengan ketegaran hati dan kekerdilannya,
perkenankanlah saya membaca buku di mana hari-hariku
dituliskan (dengan mata terbuka) dan belajar.
Dag Hammarskjold92

J ika ada seorang yang memintaku menyebutkan syarat


yang paling dasar dari kedamaian hati, mungkin aku
akan memilih ketulusan. Entah ketulusan itu diartikan
jujur menyampaikan hal yang benar, sebagimana
umumnya, atau menunjukkan keadaan yang sebenarnya.
Atau kemampuan untuk berbicara terus terang, atau
kesediaan untuk mengakui kegagalan di depan orang
lain. Ketulusan atau kejujuran merupakan syarat dasar
bagi perdamaian. Kita mungkin berusaha keras dan
berjuang untuk mewujudkan damai sampai napas terakhir,
tetapi kita tak akan mendapatkannya bila kita tidak mau
menempatkan diri kita di bawah cahaya terang dari
kebenaran. Ketidaktulusan, ketidakjujuran, merupakan

92
Diplomat Swedia. Sekretaris Jenderal PBB 1953-1961, juru damai
yang hebat dan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1961.
Berbagai Batu Pijakan 167

salah satu hambatan besar bagi jalannya perdamaian,


karena hal itu menghalangi kita memperoleh dasar
berpijak yang tepat bagi usaha kita.
Aku tidak terlalu memikirkan apakah
penampilanku menyenangkan secara lahiriah, dan
berbeda dari kenyataan batin kita. Bila kita membiarkan
Allah menarik diri kita ke suatu arah, dan iblis ke arah
yang lain, masing-masing punya kuda-kuda yang kokoh,
tanpa memerhitungkan bagaimana pandangan hati
nurani kita, maka semuanya akan berantakan.
Henry David Thoreau
Langkah awal untuk berpaling kepada Tuhan, yang
sama artinya dengan berpaling pada kedamaian, adalah
mengenali keadaan kita yang sebenarnya. Kita harus
mengakui seberapa jauh jarak kita dari Allah, sebelum kita
dapat berharap menemukan diri kita di dalam Dia. Untuk
itu Thomas Merton berkata, kita harus “menyadari.... bahwa
gambaran orang yang kita anggap sebagai diri kita, di sini
dan sekarang ini, adalah asing dan palsu. Kita harus terus-
menerus mempertanyakan motif-motif di baliknya dan
membuka tabir penyamarannya.” Jika tidak, usaha kita
untuk mengenal diri niscaya akan gagal.
Mengenal diri hanyalah merupakan langkah yang
pertama. Hal itu saja tidak memberikan kedamaian pada
kita, bahkan dapat menjauhkan kita dari kedamaian itu
jika kita terperangkap dalam spiral perhatian pada diri
sendiri. Kakekku menulis:
Orientasi yang terarah pada diri sendiri merupakan
semangat yang menyesatkan. Itu merupakan suatu
penyakit yang mematikan, dan orang yang
mementingkan diri sendiri adalah orang yang sakit berat
dan memerlukan penebusan.
168 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Mereka hanya mementingkan diri sendiri tidak


mengetahui bahwa kekristenan mengandung suatu
sasaran obyektif, yang membuat kita benar-benar dapat
melupakan diri kita sepenuhnya bersama dengan ego-
ego kita betapa pun kecilnya.
Orientasi yang mementingkan diri sendiri
membentuk sikap munafik, yang memengaruhi dan
menghambat kekudusan. Sikap itu sangat berbahaya
karena menghasilkan orang-orang kudus palsu yang
menjalani penderitaan tapi hanya untuk pamer. Dan
upaya itu berakar pada kemunafikan....
Untuk melihat Allah dari sudut pandang Anda
sendiri, dan membuat Dia berhubungan dengan Anda,
adalah sama saja dengan memandang dunia melalui lensa
yang menyesatkan. Aku bukan kebenaran, dan karena
aku bukan kebenaran maka aku tak bisa menempatkan
diriku sendiri menjadi pusat dari pikiran-pikiranku. Hal
itu membuat diriku sendiri menjadi berhala. Tuhanlah
yang seharusnya menjadi pusat hidupku.
Kita harus menyadari bahwa Tuhan sepenuhnya
berada di luar diri kita. Ini bukan hanya berarti bahwa diri
kita tidak penting; kita memang tidak berharga. Jika kita
tulus hati, jujur, maka kita mengakui bahwa kita ini
hambatan, yang berlawanan dari Allah. Baru setelah kita
mengakui hal ini dan melihat diri kita dengan cara ini
karya penebusan ilahi mulai dalam diri kita.
Mengenali siapa diri kita berarti mau menghadapi soal-
soal yang di masa lalu kita hindarkan tetapi sekarang harus
benar-benar kita pandangi. Namun itu juga berarti berpaling
kepada Allah. Untungnya, sebagian besar dari kita tidak
perlu menghadapi gambaran diri yang pertama, maupun yang
kedua, apalagi yang ketiga, karena pada dasarnya kita takut
pada perubahan-perubahan yang dituntut dari diri kita.
Kenyamanan dari kepuasan diri umumnya sangat enggan
Berbagai Batu Pijakan 169

untuk kita lepaskan. Ah, seandainya saja kita tahu, betapa


dalam dan agungnya kedamaian yang berasal dari hidup
dengan nurani yang sadar sepenuhnya!
Jeanette Warren, seorang anggota komunitas kami,
baru-baru ini memberitahu aku bagaimana sebagai wanita
muda ia telah mencari kedamaian dari tahun ke tahun
melalui gerakan buruh dan organisasi politik, kelompok
kampus, koperasi dan berbagai komunitas, tetapi ia telah
melupakan tugas penting untuk mengurus dulu dirinya yang
carut-marut. Seperti banyak orang lainnya, dia berkata
bahwa selama ini dirinya mencari buah busuk semata-mata,
begitu ia dapat menerima kenyataan dirinya yang sebenarnya
dengan mawas diri dalam-dalam dan setulus hati.
Ketulusan hati sama pentingnya dengan pengenalan
diri untuk menemukan kedamaian hati. Tanpa itu kita
menjadi munafik dan terpaksa harus terus-menerus
menyesuaikan citra diri sedemikian rupa untuk
memanipulasi cara orang lain memandang kita. Yesus di
dalam Injil Matius khususnya mengingatkan kita dalam
hal itu. Ia berkata agar kita tidak pura-pura saleh di mata
orang lain: “Kamu munafik, sebab cawan dan pinggan
kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya
penuh rampasan dan kerakusan. Bersihkanlah dahulu
sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan
bersih”93, lebih jauh lagi Ia mengatakan: “Kamu seperti
kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya tampak
bersih memang, tetapi di dalamnya penuh tulang belulang
dan pelbagai jenis kotoran. Demikian juga kamu yang
tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam
kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.”94 Mengenai
ayat-ayat ini ayahku menulis:
93
Mat 23 : 25
94
Mat 23: 27-28
170 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Janganlah mengunakan kata-kata keagamaan jika


kamu tidak bermaksud untuk sungguh-sungguh dalam
hal itu. Misalnya jika kita bicara dengan hebat tentang
pemuridan, tetapi kita sendiri menolaknya, hal itu akan
mengoyak batin kita sendiri. Hendaklah jujur dan tulus,
katakan apa yang Anda pikirkan, juga sekalipun kita
tidak relevan dengan apa yang Anda pikirkan, daripada
menggunakan kata-kata yang benar, namun tanpa
makna. Damai yang sempurna menuntut ketulusan yang
sempurna. Kita tak dapat hidup dalam damai dengan
saudara-saudara kita tanpa membawa kebenaran dalam
hati kita dan tulus dalam kasih kita.
Ketidaktulusan dapat menjadi kebiasaan. Begitu kita
terbiasa dengannya, kita dengan segera menjadi penuh
tipu daya. Jika hal itu terjadi, diperlukan usaha keras
untuk membuang semua kepalsuan dan membuka segala
yang kita tutupi kepada mereka yang telah kita kelabui.
Zoroaster, penyair kuno dari Persia, membandingkan
keadaan itu dengan suatu pertempuran:
Memandang dunia ini
Aku ingin menjerit:
Bisakah kebenaran benar-benar lebih baik
Di mana ada begitu banyak dusta?
Dan haruskah aku tak turut serta
Dalam lolongan iblis mereka?
Tuhanku, jangan tinggalkan aku
Kuatkan aku dalam cobaan ini
Beri aku daya kekuatanmu.
Berlutut, pikir pemberontak:
Lehermu terancam pedang!
Hanya mereka yang tahu
Sumber yang memancarkan hidup
Dapat minum dari sumur abadi
Ketegaran satu-satunya
Adalah kebenaran yang memuaskan
Berbagai Batu Pijakan 171

Jika Zoroaster tampaknya berlebihan menggambarkan


hebatnya perjuangannya, adalah mungkin karena
kefasihannya menulis. Pertempuran antara kebenaran dan
kebohongan tidak hanya terjadi di antara dua lawan
khayalan; itulah pertempuran antara Allah dan setan, yang
disebut “bapak kebohongan” oleh Kitab Suci. Mengingat
kembali percakapan yang kulakukan dengan orang-orang
pada masa krisis, dapat kukatakan bahwa pertempuran
ini juga merupakan pertempuran hebat yang dialami orang,
terutama bila orang itu sangat yakin bahwa ketulusan
adalah harga yang terlalu tinggi bagi perdamaian. Orang
itu mungkin tidak merasa perlu untuk berjuang dalam hal
ini, karena ia sangat dibutakan oleh fakta, bahwa dirinya
sendiri melakukan kebohongan.
Dalam buku The Brothers Karamazov, Dostoevsky
menampilkan seorang tokoh: Fyodor Pavlovitch, seorang
lelaki tua, yang sambil mengejek, bertanya kepada Pastor
Zossima apa yang harus dilakukan untuk mencapai hidup
abadi. Pastor itu menjawab:
Kamu sudah lama tahu apa yang harus kamu
lakukan. Jangan jatuh dalam kemabukan dan
omongan yang tak ada gunanya; jangan berzinah
dan jangan jatuh cinta pada uang melebihi segalanya,
jujurlah pada diri sendiri. Orang yang membohongi
diri sendiri dan mendengarkan dustanya sendiri
memasuki lorong di mana ia tak lagi bisa
membedakan kebenaran di dalam dan di sekitar
dirinya, dan karena itu tidak bisa menghargai dirinya
dan orang lain. Karena tak bisa menghargai, ia tak
bisa mengasihi, dan demi menyibukkan diri dan
mengalihkan perhatiannya yang kehilangan cinta,
ia hanyut dalam nafsu-nafsu dan kenikmatan-
kenikmatan kasar, dan perilaku seperti binatang,
semuanya karena kebohongan terus-menerus pada
172 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

orang lain dan pada diri sendiri. Orang yang menipu


dirinya sendiri lebih mudah tersinggung daripada
orang lain siapa pun juga. Kamu tahu, tak seorang
pun menghina dia, tetapi ia lebih menemukan sendiri
penghinaan untuk dirinya, berbohong dan melebih-
lebihkan agar gambarannya lebih dramatis, lalu ia
tersentuh oleh suatu kata dan menhangatkannya
menjadi serupa suatu gunung tinggi dari titik tahi
lalat. Ia tahu bahwa dirinya sendirilah yang bersalah,
tetapi ia merasa diserang, lalu ia melakukan
pembalasan dan mendapatkan kepuasan di situ,
menjadi pembalasan dendam sungguhan.
Shakespeare mengatakan hal yang sangat mirip:
Beginilah terutama: Agar membuat dirinya benar
Dan memeliharanya siang malam
Dan dianggap tidak salah oleh siapa pun.
Dalam kodrat manusia, nasihat yang sering dikutip
ini lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan.
Bahkan orang yang paling jujur pun dikatakan
menyangkal bahwa ia pernah berbohong di masa lalu,
malah berkali-kali. Sesungguhnya banyak orang sudah
tidak tulus dan jujur sejak mereka masih kecil, kecuali
mereka terus-menerus dan dengan teguh diajari untuk
mengatakan kebenaran, maka berbohong dapat
bertumbuh menjadi kebiasaan yang makin sulit
dihilangkan. Kita mungkin menganggap tindakan anak-
anak mencuri hal itu normal, tapi tapi dikemudian hari
tanpa rasa sesal belajar “nilep” (menjiplak) atau
seterusnya “ngutil” (mencopet) di toko, melakukan
penggelapan pajak atau menipu istrinya ketika ia
menjadi dewasa. Para anggota Gereja dan sinagoga pun
tahu, kaum religius pun juga sama rentannya dalam hal
berbohong dengan sesamanya yang dari dunia “sekuler”.
Berbagai Batu Pijakan 173

Namun jika kita mau mendapatkan damai di hati,


selalu ada jalan keluarnya: mengakui kesalahan kita
kepada orang lain. Sebagai suatu ritus atau praktik agama,
pengalaman hal ini terlalu luas untuk dibahas di sini.
Namun sekadar mengakui dosa untuk memperoleh
kebebasan dan rasa damai bukanlah sesuatu yang rumit.
Begitu kita merasakan adanya ketidak selarasan antara
watak kita yang asli dan sisi luar yang kita tampilkan
kepada orang lain, kita akan terus merasakan tegangan
itu sampai kita dapat mendamaikan kedua sisi itu.
Sekalipun kita memperbaiki cara-cara kita dan berubah
dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kita tak dapat
mengalami kedamaian hati sepenuhnya sampai kita
bersedia membagi beban rahasia kita kepada orang lain.
Itulah sebabnya Mazmur berkata, “Aku tidak mendapatkan
damai, karena dosa mengeram dalam tulangku.”
Untuk bersikap tulus, bahkan (dan mungkin
terutama) kepada orang yang kita cintai dan kita percaya,
selalu merupakan tindakan yang tidak mudah. Namun
akan kita lihat nanti dalam buku ini, tidak ada jalan
lain. Jika kita ingin mendapatkan damai Kristus, kita
harus siap menerima penderitaan salib -Nya. Kita
mungkin benar-benar tidak menginginkan penderitaan
ini, namun jika kerinduan kita pada Tuhan cukup dalam,
niscaya kita akan bersedia menanggungnya dan
membiarkan Dia memperbarui diri kita melalui derita itu.
Terimalah aku, Tuhanku; terimalah aku sejenak
Biarlah masa-masa yatim piatuku
tanpa Engkau terlupakan
Biarlah setitik saatku terhampar luas di pangkuan-Mu
Di bawah sinar cahaya-Mu
Sudah lelah aku berputar-putar
mengejar suara yang memanggilku
174 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Biarlah aku duduk damai mendengarkan sabda-Mu


Dalam keteduhan jiwaku
Jangan palingkan wajah-Mu
dari rahasia gelap di hatiku
Sinarilah mereka agar terbakar sirna
Dengan api cinta-Mu
95
Rabindranath Tagore
Dalam sekejap damai dapat lenyap karena ketegaran
hati, dusta, kesombongan, cinta diri dan kenyamanan
palsu yang merupakan jalan keluar yang mudah. Namun
tak pernah ada kata terlambat bagi kita untuk mulai
mencarinya lagi, meskipun untuk itu diperlukan waktu
bertahun-tahun supaya kita dapat memandang diri kita
dengan tulus dan jujur: siapa aku di mata Allah, bukan
di mata orang lain? Maka niscaya tidak sulit bagi kita
untuk memfokuskan lagi kerinduan kita pada Yesus. Di
dalam kebenaran-Nya selalu ada kedamaian.

95
Sastrawan India, 1861-1941, pemenang Nobel Kesusastraan 1913.
Berbagai Batu Pijakan 175

Kerendahan Hati
Kristus wafat untuk menghindar dari kuasa, sedang
manusia berusaha memperoleh kekuasaan itu.
Kekuasaan merupakan godaan yang terbesar. Betapa
mengerikan kekuasaaan itu dalam segala manifestasinya
– suara yang melengking untuk memberi perintah,
tangan terentang untuk menangkap, mata merah penuh
hasrat. Uang gampang disebarkan; organisasi boleh
dibubarkan; badan-badan bertebaran, sama sekali tak
ada kedamaian, kecuali jika orang sanggup memandang
jauh melintasi waktu, hingga di seberang keabadian,
seperti memandang kejauhan dari atas puncak gunung.
Malcom Muggeridge

D ari antara semua batu pijakan menuju damai


dalam buku ini, kerendahan hati merupakan yang
paling sulit dikenali. Kerendahan hati bukanlah
sekadar sopan dan lembut hati. Kerendahan hati juga
menuntut kerentanan, kesediaan untuk terluka.
Meliputi kesediaan untuk tidak diperhatikan, untuk
menjadi yang terakhir, untuk menerima yang paling
sedikit. Kerendahan hati tidak menawarkan damai
seperti yang diberikan dunia, dan ada banyak yang
dapat menghancurkannya. Namun kerendahan hati
menggambarkan jalan Kristus lebih baik dari kata-kata
yang lain. Kerendahan hati adalah jalan Kristus. Dan
jalan itu sedemikian rupa hingga memberikan damai
yang paling dalam dan yang paling tahan lama.
Bukan suatu kebetulan bila para malaikat mewartakan
kelahiran Yesus – “Kemuliaan bagi Allah di tempat tinggi
dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang
176 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

berkenan kepada-Nya,” ditujukan pertama-tama kepada


para gembala. Bagi orang yang punya uang, pendidikan
dan kebudayaan, pesan Kristus bertentangan dengan
kebijaksanaan insani, dan sulit diterima. John Cardinal
O’Connor dari New York menulis: “warta ini bertentangan
dengan segala ajaran dunia tentang kekuasaan dan
kemuliaan berikut cara-cara mencapainya, tentang
kemakmuran, dan sukses dan gengsi.”
Juga bukan suatu kebetulan bila Yesus memilih para
nelayan yang sederhana dan bukan para ahli kitab
untuk menemani-Nya berkeliling dan mengajar di
Yudea. Mereka yang tidak punya banyak pretensi
cenderung lebih terbuka kepada kebodohan Injil dan
damai yang ditawarkannya.
Ada banyak orang yang dapat menulis praktik
tentang kerendahan hati, tetapi tak ada yang bisa
menggantikan praktek. Hanya dengan kesungguhan
praktik kerendahan hati dari hari ke hari dalam membuka
diri pada orang lain kita dapat menemukan berkat
tersembunyi dari kerentanan, dan hanya dengan
menerima kekalahan kita belajar menerima damai yang
berasal dari penyerahan diri. Itulah sebabnya Kitab Putra
Sirakh dari Deuterokanonika menyatakan: “Segala-
galanya yang menimpa dirimu terimalah saja, dan
hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu.
Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang
kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan.
Percayalah pada Tuhan maka Ia pun menghiraukan dikau,
ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.”96
Tentang bagaimana menjadi rendah hati, juga
banyak yang dapat dikatakan. Dalam bukunya The
Shepherd (Pastor), Hermas dari kelompok Kristiani
96
Sir 2:4-6
Berbagai Batu Pijakan 177

awal membandingkan setiap orang dengan batu-batu


yang dipilih oleh para ahli bangunan. Jika batu itu
dapat dipotong untuk dipasang pada sebuah dinding,
maka batu itu dapat dipakai. Namun jika batu itu punya
tepian yang kasar oleh kesombongan dan hasrat cinta
diri dan terlalu sulit dibentuk, maka tidak digunakan
dan dibuang. Yesus membuat perbandingan seperti itu
dalam kata-kata perpisahan-Nya kepada para murid-
Nya: Ia berbicara tentang ranting-ranting yang harus
dipangkas agar menghasilkan buah: “Akulah pokok
anggur yang benar dan Bapa–Kulah pengusahanya.
Setiap ranting yang tidak berbuah, dipotong-Nya, dan
setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya
ia lebih banyak berbuah.” 97 Kedua penggambaran itu
mudah dimengerti. Apakah kita cukup rendah hati
untuk menerima dengan syukur pukulan pahat tukang
batu atau pangkasan pisau pekerja kebun adalah
persoalan yang berbeda.
Tom dan Monica Cornell adalah sahabat-sahabat
dari Marlboro New York dan tinggal di suatu rumah
gerakan Catholic Worker. Mereka menyatakan bahwa
berdasarkan pengalaman mereka, damai Tuhan sekalipun
diberikan secara bebas, tidak dapat terus dinikmati tanpa
pangkasan berkelanjutan. Tom menulis:
Adalah berat membicarakan bagaimana
pemangkasan dilakukan atas seseorang, bagaimana
Tuhan memotong sesuai dengan bentuk dan ukuran
yang dikehendaki. Yesus berbicara tentang seorang
pemilik kebun yang memeriksa pohon ara yang selama
tiga tahun tidak berbuah. Ia hendak menebangnya,
tetapi tukang kebun menyakinkan dia. “Tuan
biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan

97
Yoh 15:1-2
178 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk


kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak,
tebanglah dia!” (Luk 13:6-9). Itulah yang dilakukan
Tuhan pada kita. Untuk membuat kita berbuah, ia
mencangkul sekeliling kita dan memangkas kita juga,
dan kadang banyak sekali yang dipangkasnya.
“Mengapa aku, Tuhan?” aku mendengar orang
berseru ketika ayunan pahat dan parang yang keras
menimpa, dan aku juga mendengar suaraku sendiri.
“Mengapa aku, Tuhan?” Santa Teresa dari Avilla, seorang
pembaru Ordo Karmel suatu ketika menyeberangi sungai
menunggang kuda. Ia terjatuh ke dalam air karena
kudanya jatuh terperosok lubang. Ia mengeluh kepada
Tuhan. “Beginilah Aku memperlakukan sahabat-
sahabat-Ku,” terdengar suatu suara. “Tak heran teman-
teman-Mu hanya sedikit!” Teresa menjawab.
Ayahku meninggal ketika umurku empat belas
tahun. Kejadian itu bukan suatu pukulan mendadak, tapi
disiapkan selama sepuluh tahun. Ayahku runtuh
kesehatannya karena bekerja keras sejak dini hari untuk
menghidupi keluarganya, dan sepuluh tahun kemudian
ia meninggal. Aku tahu ketika ia meninggalkan
sanatorium satu hari setelah ulang tahunnya yang kelima
puluh dua, bahwa aku tak akan melihat dia lagi. Enam
bulan kemudian ibuku terganggu pikirannya karena begitu
besar kesedihannya. Dan getaran perasaan yang dahsyat
menerpa diriku. Mestinya hal seperti ini tak boleh terjadi.
Lalu, bagaimana kami bisa hidup?
Sungguh aneh untuk dipikirkan, aneh untuk
dikatakan, bahwa semua itu adalah demi kebaikan. “Segala
sesuatu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi
mereka yang mengasihi Dia.” (Rm 8:28). Juga semua ini?
Aku dapat membayangkan bahwa seandainya
ayah masih hidup ketika aku berkembang dewasa,
dan mengikuti lorong pemuridan Kristiani yang
memberontak, maka dia dan aku niscaya akan terus
Berbagai Batu Pijakan 179

bertengkar dengan hebat. Sebab ayahku adalah


seorang pengikut aliran politik nasionalis chauvinis
yang ekstrem. Ibuku tentu ada di tengah di antara
ayah dan aku. Karena ayah meninggal, lalu
pertarunganku yang diwarnai pola kasih Oedipus98
hanyalah tinggal melawan semangat ayah saja, dan
itu tak akan pernah berakhir.
Kami tetap hidup, ibuku, saudariku, dan aku bekerja
keras dan berhemat. Aku bahkan bisa menempuh sekolah
matrikulasi Yesuit dan perguruan tinggi di Fairfax. Di dalam
pekerjaan, sebagai seorang remaja di suatu pabrik aku
memperoleh pengalaman yang sangat berharga dari
pekerjaan. Pekerjaan yang kulakukan bersifat berulang
(repetitive), suatu pekerjaan yang dilakukan dalam posisi
membungkuk, bukan berdiri juga bukan duduk. Pekerjaan
itu memerlukan kedua belah tangan dan satu kaki untuk
setiap tindakan yang berlangsung dalam dua detik dan
dilakukan selama enam puluh jam seminggu, bahkan
diharapkan lebih cepat, untuk menghasilkan lebih banyak
satuan hasil kerja. Namun aku tak pernah melihat produk
akhir yang lengkap dari pekerjaanku itu, maka aku pun
tidak pernah merasakan bahwa pekerjaan itu berarti.
Kehidupan menjadi baik setelah aku mendapat
panggilan kerja pada Catholic Worker. Berdasarkan
bacaan dari The Long Loneliness karya Dorothy Day, di
situ aku dapat menyatukan dua hal: iman dan
pengalaman. Aku dimasukkan dalam kelompok inti
intelektual di dalam Catholic Worker sekalipun
kuliahku belum selesai; hanya sedikit di antara kami
yang seperti itu. Sesudah diwisuda aku pergi ke New
York, mula-mula aku ditugaskan di suatu proyek
pemindahan penduduk pertanian di sebelah selatan,
dan kemudian dipindahkan ke proyek gerakan

98
Dalam psikologi : Kecenderungan di mana anak lelaki akan bertengkar
dengan ayahnya memperebutkan cinta ibunya.
180 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

perdamaian yang lebih besar, bekerja sama dengan A.J


Muste dan rekan-rekannya dalam Komite Aksi Non–
Kekerasan dan Liga Penentang Perang. Muste adalah
tokoh terbesar dalam gerakan non–kekerasan radikal
pada waktu itu. Aku ingin secara pribadi kenal dengan
tokoh-tokoh besar itu sehingga aku dapat membawa
pengetahuan dan kontak-kontak itu bila aku ditarik
kembali ke Catholic Worker nanti, dan aku menjadi
duta dari suatu gerakan yang lebih besar, dan aku
memang diterima di situ.
Tak lama kemudian aku dinilai pantas untuk bekerja
di bidang Otoritas bidang Perang dan Damai dan Non–
Kekerasan, walaupun aku tak tahu apa yang menjadi dasar
penilaiannya. Namun aku merasa bahwa kehendak Allah
memintaku untuk membantu mengembangkan teori dan
praktik non–kekerasan di dalam lingkungan Catholic
Worker. Pekerjaan di situ sangat sukses dan secara pribadi
sangat memuaskan.
“Pemangkasan” yang paling menyakitkan adalah
ketika melihat hasil kerja selama ini dibatalkan. Bagiku,
itulah yang terjadi di tengah jalan. Aku mendapatkan
diriku berada di tengah rimba yang semakin gelap.
Gerakan tanpa kekerasan sedang surut. Bahkan sebelum
dibunuh, Martin Luther King sudah dibayangi ancaman
para nasionalis kulit hitam dan kaum separatis yang punya
slogan: dengan segala cara yang diperlukan. Banyak
komponen di dalam lingkungan mereka dengan
“keharusan revolusioner” para aktivis menggunakan
istilah non–kekerasan, namun tak lagi merujuk kepada
prinsip-prinsip maupun praktik Gandhi lagi. Setelah lima
belas tahun bekerja, aku dipecat.
Pekerjaan itu baik. Fellowship of Reconciliation
(FOR) merupakan organisasi ekumenis dan pecinta
perdamaian antar agama yang terbesar di dunia. Gajiku
cukup untuk menunjang keluarga dan untuk menerima
tamu-tamu (kegiatan yang penting bagi seorang Catholic
Berbagai Batu Pijakan 181

Worker), untuk memelihara sebuah rumah sederhana


dan mobil bekas, dan pekerjaan itu juga memungkinkan
diriku masuk dalam kalangan yang lebih luas lagi. Aku
melakukan perjalanan di seluruh pelosok negeri, bahkan
ke Amerika Latin, ke Timur Tengah dan Eropa, memberi
ceramah dan menulis tentang non–kekerasan dan
memperkuat jaringan aktivis non–kekerasan. Aku
mengharapkan dari situ suatu pensiun yang nantinya
dapat memungkinkan diriku berdiri sendiri, dengan
jadwal kerjaku sendiri, dan aku membayangkan wilayah
kerja yang bertambah luas. Lalu segalanya runtuh.
Pekerjaanku “dihapuskan”.
Lalu aku bekerja free-lance selama tiga tahun,
melakukan pekerjaan yang bernilai seperti biasa (bahkan
mungkin lebih), tetapi hasilnya tidak mencukupi. Rumah
kami terjual. Hatiku hancur.
Meninggalkan FOR membuat diriku sangat
menderita. Itulah suatu “pemangkasan”. Ironisnya,
pekerjaan yang paling penting dan bertahan lama untuk
perdamaian justru tiba setelah pemisahan itu, dalam tahun-
tahun pengembaraanku di gurun. Atas desakanku Gereja
Katolik di Amerika Serikat bertekad untuk membantu
siapa pun yang mengalami masalah karena rencana militer,
dan aku diizinkan, dengan seizin dan surat rekomendasi
para Uskup, untuk menyusun program pelatihan konselor
untuk berapa keuskupan di Amerika Serikat. Pada saat
yang sama Uskup Agung Oscar Romero yang menjadi
ketua Konferensi para Uskup Amerika Tengah
memberikan penugasan menghimpun bantuan
perdamaian untuk El Salvador. Beliau dengan dua orang
suster Amerika, para peserta dalam program yang
kurancang, menyuburkan ladang Tuhan dengan darah
mereka sendiri karena dibunuh tak lama kemudian. Tapi
aku masih tak mampu menunjang kehidupan keluargaku.
Katanya, jika Tuhan menutup satu pintu, ia
membuka pintu yang lain. Namun terjadinya tidak serta
182 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

merta. Dengan putus asa aku terpaksa mengajar di


sekolah menengah negeri di New Hampshire,
“pengasinganku di utara” selama setahun. Ini
pemangkasan habis-habisan. Aku sama sekali tidak
mengerti. Menjelang musim dingin berakhir, kuterima
sebuah telepon dari Konferensi Para Uskup Amerika
Serikat, suatu organ kerja para Uskup Amerika. “Gereja
membutuhkan kamu,” kata Red Dougherty sedikit
melucu. Ia bertanya “apakah kamu mau menerima
undangan untuk bertemu dengan lima Uskup yang
sedang menyusun suatu Nota Pastoral tentang damai
yang akan diterbitkan pada tahun 1983?” Ada beberapa
konsultan yang diundang dari Pentagon dan
Departemen Luar Negeri untuk membentuk suatu
panitia, tetapi hanya ada tiga tempat untuk aktivis
pecinta perdamaian. Dapatkah aku melakukannya?
Untuk sesaat surga pun terbuka.
Kemudian Dewan Gereja wilayah Waterbury
(Connecticut) memanggil aku dan keluargaku untuk
membantu menyelenggarakan suatu dapur umum
pembagian sup. Betapa hebatnya! Menukar posisi guru
sekolah menengah dengan pelayanan kepada tiga
ratusan orang pecandu alkohol, pemadat, perampok,
pencopet, pencuri dan pembunuh, dan sejumlah besar
orang lagi yang kejahatannya semata-mata karena
mereka itu miskin! Aku menyediakan sesuatu yang
mereka butuhkan: sup dan senyuman, dan mereka
membuka hidup mereka untukku. Seandainya saja aku
tidak “dipangkas” dari jabatanku yang terhormat maka
aku pasti menjadi “birokrat perdamaian”. Orang-orang
yang sekarang kulayani membuat diriku tulus hati!
Sekarang istriku Monica dan aku ditarik kembali
ke “komunitas induk” gerakan Catholic Worker, sehingga
aku bisa menulis dan memberi ceramah lagi dan
melakukan perjalanan. Sebagai orang sederhana, dalam
arti telah dipangkas dari berbagai ilusiku. Betapa naif
Berbagai Batu Pijakan 183

dan muluk-muluk pikiranku dulu, melalui usaha-


usahaku yang menganggap pekerjaan ini adalah
perluasan Gandhi dari India di Amerika! Sepanjang masa
Perang Dingin aku dapat berhubungan dengan pemikir-
pemikir perdamaian dan gerakan-gerakan radikal di
empat benua. Kami merencanakan arah kejadian-
kejadian. Dan kami keliru dalam segalanya. Lebih dari
itu, gerakan yang kupikir telah kulayani dan
kukembangkan selama ini, gerakan non–kekerasan
model Gandhi, ternyata telah disalib, diruntuhkan oleh
orang-orang bodoh, dan yah, biarlah kusebut mereka itu
bajingan. Hal itu membuat aku merasa dendam dan
marah selama bertahun-tahun. Namun aku harus
mengingatkan diriku bahwa “bukan akulah yang harus
mempertanggungjawabkan semua itu.” Di dalam
program pemulihan bagi para pecandu ada slogan:
“Lepaskanlah, lalu biarlah Tuhan mengambil alih.”
Begitulah gunting pangkas itu datang lagi.
Ketika aku muda, aku ingin melakukan hal-hal
yang hebat. Lalu aku bertemu Dorothy Day, dan untuk
pertama kalinya aku mendengar dia bicara berkenaan
dengan hasil: jangan pikirkan hari esok; berhati-hatilah
dengan arah angin. Katanya: “Ada hal-hal besar yang
harus dilakukan, dan siapa yang harus melakukannya
selain kaum muda. Namun bagaimana mereka akan
melakukannya jika mereka sendiri hanya memikirkan
jaminan kehidupan mereka sendiri?” Ketika mengatakan
itu Dorothy masih lebih muda dari aku sekarang. Aku
mungkin memperbaiki nasihatnya itu, dan mungkin dia
sendiri juga akan melunakkan nasihatnya, setelah
mempunyai banyak pengalaman. Namun bagaimanapun
kami telah melakukan hal-hal yang hebat, baik secara
kebetulan, maupun berkat rahmat Allah.
Kami ikut ambil bagian dalam membongkar struktur-
struktur hukum atas perlakuan rasial di Amerika Serikat
melalui gerakan non-kekerasan (walaupun sekarang,
184 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

empat puluh tahun kemudian, kondisi warga kulit hitam


yang sangat miskin justru lebih buruk daripada dulu).
Kami telah menyuntikkan lagi kesadaran non-kekerasan
ke dalam kalangan Katolik dan kelompok utama Protestan
(walaupun ancaman perang tetap ada sekarang ini, dan
lebih berat lagi dalam beberapa hal). Kini, suatu generasi
baru haus akan hal-hal yang bersifat kepahlawanan. “Ada
hal-hal besar yang harus dilakukan....beranilah bertindak!”
Dalam pergumulanku aku tahu bahwa hal-hal yang
terbesar adalah hanya melakukan hal-hal sehari-hari
dengan orang-orang biasa dengan semangat cinta, masuk
dalam kehidupan mereka dan membiarkan diri dikasihi
oleh mereka, dan dibimbing oleh kebutuhan komunitas
dan mengikuti suara mereka. Santa Theresa dari Lisieux
menyebutnya “jalan kecil”. Inilah yang menghasilkan
damai sejati, damai Kristus. Ini adalah buah Roh Kudus
dan ini berasal dari ranting yang dipangkas.
Kata-kata Tom banyak yang perlu dicerna sehubungan
dengan kerendahan hati dan damai. Begitu juga pemikiran
Derek Wardle, seorang warga Inggris yang mengunjungi
Bruderhof dalam Perang Dunia Kedua dan kemudian
memutuskan untuk bergabung.
Derek dibesarkan dalam keluarga kelas menengah
yang menyenangkan tetapi lalu menyadari akan adanya
kemiskinan ketika ia naik kereta api melewati kawasan
East End London. Beberapa film seperti The Stars Look
Down (tentang para buruh tambang batu bara Welsh)
dan The Grape of Wrath juga membuka matanya dan
menyebabkan hati nuraninya bergolak untuk pertama
kalinya. Kemudian ia ikut Parade Satu Mei (Hari Buruh),
mengikuti protes-protes, bergabung dengan Left Book
Club, dan menjadi seorang komunis.
Seperti banyak orang Eropa pada masa itu, Derek
berkata bahwa ia buta terhadap jahatnya Stalinisme. Ia
Berbagai Batu Pijakan 185

menganggap Uni Soviet sebagai utopia sosialis. Dan seperti


umumnya anak muda waktu itu, kecenderungan
politiknya menjadi sumber kepicikan pemikirannya. “Aku
menggolong-golongkan orang menurut hubungan-
hubungan politiknya dan sangat tidak menghargai dan
kadang-kadang sangat membenci mereka yang tidak
sehaluan denganku.” Hanya kemudian ia melihat bahwa
kecongkakannya menjadi sumber kekerasan seperti
kesadaran kelas borjuis yang diprotesnya di jalanan.
Pada Agustus 1939, persis sebulan sebelum perang
pecah, aku pergi ke Leipzig mengujungi sahabat pena,
seorang anggota Pemuda Hitler yang dapat diyakinkan,
dan mendapat pelajaran bahwa bahkan yang disebut Nazi
pun ternyata adalah orang biasa. Walaupun aku dipanggil
pulang oleh orang tuaku yang khawatir setelah tiga hari,
pengalamanku itu cukup mampu menghancurkan
kebiasaanku menggolong-golongkan orang sebagai “baik”
dan “buruk” dan membuatku mengenal mereka sebagai
orang, manusia. Pelajaran ini mengendap dalam diriku....
Aku belajar betapa penting artinya berserah diri dalam
segala bentuk, dari perhatian yang berlebihan atas
kelemahan dan kegagalan seseorang, sampai pada
kebanggaan dan ambisi. Kapan saja aku larut dalam
semua hal ini, aku tak dapat menikmati damai; ketika
dengan rendah hati dan sepenuhnya aku berserah diri
kepada Tuhan, damai itu dianugerahkan. Selalu saja suatu
pilihan, dan pilihan seperti itu juga berlaku bagi anak-
anak muda sekarang. Walaupun mungkin mereka harus
belajar dengan keras untuk itu seperti yang kualami.
Ibu Teresa mengatakan bahwa pengenalan diri
membuat orang berlutut. Itulah yang juga kualami
sendiri. Aku tak lagi percaya bahwa diriku dapat
mengubah dunia. Aku yakin Tuhan bisa. Walaupun
186 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

begitu aku masih terus memprotes ketidakadilan -


rasisme, kapitalisme, nasionalisme. Apa saja. Namun
kurasa tindakan sehari-hari yang kecil yang didorong
oleh cintalah yang membuktikan ketulusan kita, seperti
juga hal-hal besar yang kita lakukan.
Mudah sekali kita dibuat frustrasi oleh daya-daya jahat
di dunia dan menjadi pahit hati. Tetapi kita juga bisa
bersikap rendah hati dan berusaha mengubah ketidakpuasan
kita menjadi sesuatu yang positif, seperti melayani sesama.
Berbagai Batu Pijakan 187

Ketaatan
Ia datang sebagai orang yang tidak kita kenal - tanpa
nama, sebagai orang tua di tepi danau, ia menjumpai
mereka yang tidak mengenal dirinya. Ia mengucapkan
kata-kata yang sama kepada kita: “Ikutilah Aku!” dan
memberikan tugas kepada kita, tugas yang
dikehendaki-Nya agar kita laksanakan. Ia memberi
perintah, dan kepada mereka yang mematuhi Dia,
entah mereka itu orang bijaksana, entah sederhana, ia
akan mengungkapkan diri-Nya dalam susah payah,
konflik dan penderitaan yang akan mereka lalui
bersama rekan-Nya, dan sebagai suatu misteri yang tak
dapat dikuasai, mereka akan mengenal dari
pengalaman mereka sendiri.
Albert Schweitzer

W alaupun sebagai seorang gembala jemaat, ayahku


tidak suka menggunakan istilah-istilah keagamaan.
Ia tak pernah mengingatkan kami, anak-anaknya, akan
suatu kebenaran penting menggunakan Kitab Suci untuk
menjelaskannya. Jika Papa bicara tentang belas kasih, kisah
Yesus dengan wanita di sumur segera terlintas dalam
pikiran; ketika bicara tentang keyakinan, ia akan mengutip
kata-kata Yohanes dalam Kitab Wahyu tentang Allah yang
memuntahkan dari mulut-Nya mereka yang acuh tak acuh,
dan untuk menggambarkan pentingnya kepatuhan atau
ketaatan ia menggunakan perikop di mana Yesus mengirim
murid-murid-Nya untuk mendapatkan tunggangan.
Ketika Yesus menyuruh dua orang agar pergi dan
mendapatkan tunggangan bagi-Nya, mereka tak punya
tugas lain di dunia ini yang lebih penting daripada
188 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

mendapatkan tunggangan itu. Orang lain mungkin


berkata kepada mereka: “Kamu dipanggil untuk
melakukan hal-hal yang lebih besar; siapa saja dapat
pergi untuk mendapatkan seekor keledai bagi Kristus.
Bagiku dan bagi setiap orang, aku berharap dapat
melakukan tugas yang diperintahkan Tuhan agar aku
laksanakan, besar maupun kecil dengan penuh
kesediaan. Tidak ada yang lebih besar daripada
ketaatan kepada Kristus.
J.Heinrich Arnold
Bagi kebanyakan dari kita, ketaatan adalah sesuatu
yang melekat. Kita menamakan diri murid-murid, tetapi
kita kekurangan kegembiraan dan kepatuhan yang
seharusnya menjadi bagian dari sebutan murid itu. Bahkan
ketika tugas yang ada di depan kita bersifat langsung,
kita mungkin terhambat oleh kesombongan kita sendiri
untuk melaksanakannya, dan karena itu kita tidak maju
dalam upaya kita mendapatkan damai.
Hal ini tidak mengherankan dalam masyarakat kita
yang memuja perorangan dan individualisme. Sejak kecil
kita diajari, dan kemudian kita mengajari anak-anak
pentingnya mengikuti naluri kita sendiri untuk
menunjukkan prakarsa, dan untuk mengembangkan
keterampilan memimpin. Semua ini baik dan tepat. Namun
bagaimana dengan sisi lain tentang pentingnya kepatuhan
yang juga bernilai? Kapan kita belajar bahwa kepentingan
diri kita tidak selalu sama dengan apa yang dikehendaki
Tuhan, dan bahwa kecenderungan kita untuk menjadi tuan
dari diri kita sendiri dan melakukan urusan diri kita sendiri
mungkin lebih banyak menghasilkan buah-buah yang buruk
daripada buah-buah yang baik?
Yang menyedihkan, orang-orang yang mau mengikuti
orang lain tanpa pamrih (atau bila tanpa tuntutan
Berbagai Batu Pijakan 189

pengorbanan) sering kali dipandang lemah, atau telah


mengalami cuci otak. Otoritas, termasuk otoritas ilahi,
dipandang remeh. Gagasan menghormati ayah atau ibu
dinilai ketinggalan zaman; hormat kepada orang yang
lebih tua merupakan praktik masa lalu, dan Tuhan sering
dijadikan obyek dari sikap pemberontakan yang kasar.
Kita melupakan ketidaktaatan bangsa Israel dan
kemarahan Tuhan yang menjadi akibatnya berulang kali.
Kita juga lupa bahwa damai yang kita cari bersumber
dari Sang Pencipta yang menertibkan kekacauan alam.
Tuhan menciptakan hidup dari yang dulunya hanya
“kekosongan dan debu.” Ia bukan Tuhan kekacauan, tapi
Tuhan kedamaian.
Jalan yang berubah dari penentuan diri sendiri beralih
menjadi ketaatan suka rela bukanlah jalan yang mudah.
Bahkan bagi Yesus sendiri, pertarungan yang paling berat
adalah dalam hal ketaatan. Dalam malam terakhirnya
yang panjang di Taman Getsemani, Dia bergumul sampai
mengeluarkan keringat darah demi ketaatan: “Ya Bapa,
sekiranya mungkin biarlah cawan ini berlalu daripada-
Ku.” Tetapi kemudian Ia dapat berkata: “Bukan
kehendak-Ku, Bapa, tetapi kehendakMu.”99
Ketaatan dikatakan sebagai akar dari rahmat, namun
perkataan itu tidak djelaskan lebih lanjut. Dorothy Day
juga merasakan panggilan pemuridan itu (walaupun samar-
samar) pada masa mudanya. Tetapi mula-mula Ia terjun
dalam “hal-hal yang lebih penting.” Ia terjun dalam arus
kegiatan kewartawanan, dan kemudian politik; kemudian
ia menyukai perjalanan dan cita rasa Gempita Tahun Dua-
Puluhan di New York City, Italia, dan Hollywood. Ia
membuat novel, beberapa naskah film, aborsi, perkawinan
99
Mat 26:36-48 par
190 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

yang berumur pendek, dan punya anak. Namun masih


belum jelas baginya bahwa ia melarikan diri dari Tuhan,
dan bahwa segala kerinduannya tak akan pernah tercapai
sebelum ia taat kepada-Nya.
Lalu tibalah suatu malam yang tak akan terlupakan
di sebuah bar di Greenwich Village ketika seorang
temannya, penulis drama Eugene O’Neill, membacakan
puisi Francis Thompson “Hound of Heaven” (Seruan Surga)
baginya – suatu sajak yang berisi pesan yang membuatnya
tercenung. Sajak itu antara lain berbunyi:
Aku lari dari-Nya, siang dan malam
Aku lari dari-Nya, menyusuri bentangan tahun-tahun
Aku lari dari-Nya, bersembunyi dalam lorong ruwet berliku
Dalam pikiranku sendiri; dan dalam kabut air mata
Aku sembunyi dari-Nya, juga di bawah arus tawa ria.
Dorothy mengalami apa yang disebut pertobatan.
Teman-temannya yang berhaluan kiri mengejek dirinya
setelah tahu Dorothy punya minat baru membaca Kitab
Suci: bukankah Dorothy, yang adalah seorang sosisalis
radikal, berasal dari kelompok orang yang tahu bahwa
agama hanyalah semacam kruk bagi orang yang lemah?
Tetapi Dorothy justru memantapkan dirinya, Yesus
menjanjikan masyarakat baru yang adil dan damai yang
selama ini mereka cari-cari, katanya; dan jika orang-
orang Kristiani yang mereka kenal adalah orang-orang
yang munafik yang bermental lembek, itu bukan salah
Yesus. Dorothy mencoba mengikuti Yesus.
Ketika Dorothy Day meninggal pada tahun 1980, jelas
bahwa yang telah dilakukannya bukan sekadar mencoba
saja. Terguncang oleh situasi tanpa harapan karena
terjadinya jutaan pengangguran di tahun-tahun malaise100,
ia melepaskan ambisinya untuk menjadi penulis terkenal,
Berbagai Batu Pijakan 191

dan menghabiskan sisa umurnya untuk melayani Allah dan


kaum miskin, yang pada wajah mereka ia melihat Yesus.
Walaupun ia memublikasikan pandangan-pandangannya
akan non-kekerasan dengan tindakan-tindakan pemogokan
dan pembangkangan sipil (karena itu ia dipenjara beberapa
kali), atau “mewartakan Sabda melalui buku-buku dan
artikel di dalam koran; ia begitu yakin bahwa Kristus
meminta lebih dari sekadar kata-kata saja.
Sejauh yang dikatakan Dorothy, Yesus mengharapkan
“karya belas kasih”: memberi makan mereka yang
kelaparan, memberi tumpangan pada kaum gelandangan,
mengunjungi orang sakit, dan mencuci ratusan piring dan
mangkuk kotor dari ratusan tamu-tamu yang ribut, yang
sering juga tak tahu terima kasih yang antre pembagian
makanan dari hari ke hari, tahun demi tahun. Inilah yang
dilakukan dengan suka cita dalam gerakan Catholic
Worker, sebuah rumah singgah bersama yang dengan ramah
menyediakan segala bagi tamu-tamu siapa saja, yang
didirikannya di kawasan Lower East Side kota New York.
Seringkali alasan ketidaktaatan kedengaran cukup
logis: kita kurang berani, kurang kuat, tidak punya visi
yang jelas; kita merasa tidak cocok untuk tugas di
hadapan kita. Dan sama seringnya, alasan yang ada
adalah alasan yang tidak mulia: malas, sombong, keras
hati dan cinta diri. Ibu Teresa, ketika berbicara tentang
tahun-tahun yang dialaminya bersama para Misionaris
Suster Cinta Kasih, menangani akar dari masalah ini:
yaitu hasrat kita untuk mendapatkan pengertian mengapa
kita harus melakukan sesuatu yang diperintahkan agar
kita lakukan, dan kemudian godaan, yang kita tahu,
untuk melakukannya dengan cara kita sendiri.

100
Depresi ekonomi, 1929-1939
192 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Memang benar karya Anda bisa dilaksanakan


dengan lebih baik, jika Anda tahu bagaimana Tuhan
menghendaki agar Anda melakukannya. Tetapi Anda
tak akan mengetahui hal itu selain melalui ketaatan.
Taatlah kepada atasan Anda, persis seperti tanaman
merambat Ivy101. Tanaman itu tidak akan hidup jika
tidak berpegang kuat pada sesuatu. Anda tak akan
tumbuh ataupun menghayati kesucian kalau tidak
berpegang teguh pada ketaatan. Maka setialah dalam
hal-hal kecil. Di dalam ketekunan dan ketaatanlah
terdapat kekuatan sejati.
Seperti pada umumnya anggota baru dalam suatu
komunitas religius, juga dalam komunitasku, para novis
dalam ordo Ibu Teresa mengungkapkan kaul ketaatan
ketika mereka bergabung. Tetapi menghayati kaul itu
merupakan tugas sepanjang hayat seperti yang
diungkapkan Thomas Merton dalam sepucuk suratnya
kepada seorang sahabat mudanya:
Kamu boleh jadi sedang berusaha membangun
citra dirimu sendiri dalam pekerjaanmu, dari apa yang
kamu lakukan, dan dari kesaksian hidupmu. Boleh
dikatakan, kamu menggunakannya untuk melindungi
dirimu dari perasaan tidak berarti, dari suatu
pengosongan. Ini bukan pemanfaatan pekerjaanmu
yang benar: semua kebaikan yang kamu lakukan bukan
berasal dari dirimu, tetapi dari fakta bahwa kamu
menyediakan diri, dalam kekuatan iman, untuk
menjadi alat kasih Tuhan. Pikirkanlah hal ini lebih
banyak, dan pelan-pelan kamu akan dibebaskan dari
keinginan untuk membuktikan dirimu sendiri, dan
lebih terbuka kepada daya kekuatan yang akan bekerja
melalui dirimu tanpa kamu sadari.

101
Hedera
Berbagai Batu Pijakan 193

Pada akhirnya yang terpenting adalah hidup, bukan


mencurahkan semua hidupmu untuk melayani suatu
mitos; dan kita mengubah hal yang terbaik itu menjadi
mitos. Jika kamu dapat membebaskan dirimu dari
cengkeraman macam-macam alasan dan tujuan itu dan
hanya mengabdi kepada kebenaran Kristus saja, kamu
akan dapat melakukan lebih banyak hal lagi dan akan
tidak terlindas oleh berbagai kekecewaan yang tak
terhindarkan. Sebab aku hanya melihat dalam lorong itu
banyak kekecewaan, frustrasi, dan kebingungan belaka.
Harapan kita yang sebenarnya bukanlah pada
sesuatu yang kita kira dapat kita lakukan, melainkan
pada Tuhan yang membuat sesuatu menjadi kebaikan
dari apa yang kita lakukan, dengan cara yang tidak kita
ketahui. Jika kita dapat melaksanakan kehendak-Nya,
kita niscaya membantu dalam proses itu. Namun kita
tidak perlu tahu segala sesuatu tentang itu sebelumnya.
Suatu cerita dalam Kitab Kedua Raja-raja membuat
pokok yang sama mudah diingat. Ketika Naaman, seorang
panglima raja, pergi menemui Nabi Elisa dan memohon agar
dia menyembuhkan lepra yang disandangnya, nabi itu
menyuruh Naaman pergi dan mandi di Sungai Yordan tujuh
kali. Naaman yang merasa dipermainkan pulang dengan
marah-marah. Tak lama kemudian para pembantunya
berusaha bicara dengannya: “Jika nabi itu menyuruh perkara
yang sukar kepadamu, bukankah akan Anda lakukan juga?
Apalagi sekarang, turutilah dia!”102 Akhirnya Naaman dapat
dibujuk; walaupun masih marah dan malu, ia membenamkan
diri dengan patuh tujuh kali ke dalam sungai. Kita membaca:
“Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak,
dan ia menjadi sembuh.”103.

102
2Raj 5:13
103
2Raj 5:14
194 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Daniel Berrigen menunjukkan secara umum, di dalam


Kitab Suci, tindakan iman terbesar yang dilakukan tanpa
memerhitungkan hasil atau keberhasilannya. Abraham
mengambil anaknya dan pergi ke gunung, karena Tuhan
memerintahkan padanya melakukan itu. Malaikat Gabriel
datang dengan berita yang sangat sulit dipercaya, dan Maria
begitu saja percaya dan mematuhinya.
Melompat ke abad kedua-puluh, surat-surat Ewald
von Kleist, seorang korban pembantaian Nazi,
mengandung kesaksian atas kesediaan dan kepatuhan
yang sama. Salah satunya dikutip di sini:
Carilah damaimu dalam Tuhan dan kamu akan
mendapatkannya. Ia akan memegang tangan kita,
membimbing kita dan akhirnya menerima kita dalam
kemuliaan. Dan taatilah kehendakNya; ia akan
mengurus segala sesuatunya.
Jangan pernah, jangan sekalipun pernah, walau di
relung yang paling dalam dari hatimu, engkau
memberontak pada apa yang ditimpakan Tuhan
kepadamu, maka kamu akan tahu betapa ringannya
menanggung segala sesuatu. Aku tidak menulis satu kata
pun yang tidak berdasarkan pengalaman diriku sendiri,
dengan bersyukur kepada Tuhan. Ini benar untuk
selamanya. Semua ini tidak begitu saja jatuh ke pangkuan
kita. Perlu diperjuangkan terus-menerus dengan diri sendiri
setiap hari, bahkan dalam pergumulan setiap jam. Namun
rasa bahwa engkau diberkati dalam dirimu menebus
segalanya, dan tak akan pergi darimu. Percayalah padaku.
Aku telah mengalaminya.
Seorang yang sinis mungkin berkata bahwa Kleist
bisa melihat hal itu begitu jelas karena ia tak punya
pilihan lain, dan dalam hal tertentu mungkin penilaian
itu benar. Bagi seseorang yang berada di depan pintu
kematian, hal-hal yang penting dalam hidup bisa sangat
Berbagai Batu Pijakan 195

meringankan. Namun sikap Kleist “Jangan pernah, jangan


sekalipun pernah berontak” - merupakan tantangan ganda
mengingat keadaannya. Atas dasar hukuman mati yang
akan diterimanya, sikapnya itu tak akan mengubah
nasibnya. Ketaatan tidak akan menyelamatkannya.
Di antara kita yang mengalami pencobaan dengan
begitu banyak pilihan biasanya akan lebih memuaskan
diri sendiri dan mengikuti hasrat diri. Kita mungkin tidak
lari dari suatu tugas atau panggilan yang kita kenali. Kita
akan mencari suatu “pemecahan” dan solusi di mana saja
kecuali di tempat di mana jawaban Tuhan menunggu
seperti yang dialami orang Israel kuno, kita lebih suka
mengikuti rencana kita sendiri dan meninggalkan Tuhan
dengan kebodohan kita.
Sebab perintah ini yang kusampaikan kepadamu
pada hari ini, tidaklah selalu sukar bagimu dan tidak pula
terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya sehingga engkau
berkata “Siapakah yang akan naik ke langit untuk
mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya
kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di
seberang laut tempatnya sehingga engkau berkata :
“Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut
untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya
kepada kita, supaya kita melakukannya?” Tetapi firman
ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan
di dalam hatimu, untuk dilakukan.
Ulangan 30:11-14
196 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Keputusan
Jika tidak dimintakan sesuatu langkah yang pasti,
panggilan pun lenyap di udara yang tipis. Dan jika orang
membayangkan diri mereka dapat mengikuti Yesus tanpa
melangkah, mereka itu bermimpi seperti kaum fanatik.
Walaupun Petrus tidak mengalami pertobatan sendiri,
namun toh ia dapat meninggalkan pukatnya juga.
Dietrich Bonhoeffer

A da benang merah yang menghubungkan pria dan


wanita yang pandangannya tercantum dalam buku
ini, yaitu bahwa dalam diri mereka pilihan dan
kehendak bebas berperan dalam upaya mereka mencari
damai. Bisa saja damai adalah suatu anugerah tetapi
damai juga merupakan “mutiara yang sangat berharga”
yang dicari. Dan bagaimanapun tempat untuk
mendapatkan dan mengupayakannya sekuat tenaga
harus ditentukan lebih dulu, melalui suatu keputusan.
Victor Frankl menulis bahwa damai adalah
kebebasan di hadapan tiga hal: naluri kita atau “kodrat
alam yang rendah,” sikap atau kecenderungan bawaan,
dan lingkungan kita.
Pastilah orang punya naluri, namun naluri-naluri itu
janganlah menguasai dirinya. Mengenai faktor bawaan,
penelitian tentang sifat-sifat turunan menunjukkan betapa
tingginya kebebasan manusia berhadapan dengan
kecenderungam bawaan itu. Dalam hal lingkungan, kita
tahu bahwa lingkungan tidak menciptakan orang, tetapi
segalanya bergantung pada apa yang dilakukan orang pada
lingkungan dan pada sikapnya terhadap lingkungan.
Berbagai Batu Pijakan 197

Maka manusia bukanlah semata-mata produk


dari keturunan dan lingkungan. Ada unsur yang lain:
keputusan. Akhirnya orang mengambil keputusan
bagi dirinya sendiri! Dan pada akhirnya, pendidikan
haruslah pendidikan menuju daya kemampuan
untuk mengambil keputusan.
Frankl melanjutkan: Beberapa di antara kita
membuat pilihan hidup yang penting dengan kepastian
tertentu. Jika kita menarik kembali keputusan itu dan
melakukan kompromi sana-sini, kita seringkali kurang
punya pendirian yang teguh. Oleh karena itu kita selalu
berada dalam situasi cemas gelisah. Sering kita berjalan
tanpa rencana dan sikap kita sehari-hari hanyalah
menunggu apa saja yang datang kepada kita. Pada
kesempatan lain kita berserah pada nasib saja (fatalistik)
dan bersikap seperti pecundang. Suatu ketika kita tampak
ngelumpruk tak punya tulang belakang dan sama sekali
tidak mempunyai pendapat yang jelas; dalam waktu yang
lain kita berpegang kuat dan keras kepada suatu gagasan
dan menjadi fanatik. Akhirnya, kata Frankl, semua gejala
ini dapat dilacak kembali pada situasi kita yang takut
bertanggungjawab dan buahnya adalah keterombang-
ambingan tanpa keputusan.
Pada dasarnya beberapa pilihan yang kita hadapi
mudah dibuat, sementara yang lainnya hanya dapat
dilakukan dengan pergulatan batin yang sangat berat.
Namun kemudian Tuhan dapat membimbing kita untuk
mengambil langkah yang tepat jika kita terbuka kepada
pimpinan dari-Nya. Aku tidak bicara soal kilat atau
gemuruh di sini (banyak di antara kita tampaknya
mendapat jawaban segera tanpa berdoa), tetapi yang
kumaksud adalah “saat-saat rahmat” - yaitu waktu-waktu
ketika Tuhan datang mendekat pada kita, melunakkan
hati kita. Dan membuka telinga hati kita bagi Sabda-Nya.
198 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Saat-saat rahmat semacam itu mungkin kita alami


sekali, dua kali atau bisa berkali-kali. Jika kita terbuka
pada saat-saat seperti itu, suara Allah mungkin terdengar
begitu jelas sehingga jalan ke depan yang harus kita
tempuh tampak jelas. Alfred Delp menulis:
Ada masanya dalam kehidupan setiap orang kita
merasa begitu jijik dengan diri sendiri, ketika kesadaran
akan kegagalan kita mengoyak topeng keyakinan diri
dan pembenaran diri, dan kenyataan pun
memunculkan diri - sekalipun hanya sebentar.
Momentum kebenaran seperti itu dapat menghasilkan
perubahan yang sifatnya permanen. Namun kita punya
kecenderungan alamiah untuk menghindar. Ini karena
kesombongan dan sikap pengecut kita (dan kesadaran
kita bahwa satu-satunya jalan keluar dari situasi adalah
merendahkan diri dan berserah kepada Allah)
menggoda kita untuk menganggap momentum
semacam itu tidak nyata dan palsu.
Kejutan yang membangkitkan semangat mungkin
baru terasakan ketika dosa sudah sedemikian jauh
sehingga akhirnya menyerap seluruh keyakinan diri kita,
dan memaksa kita mawas diri lebih dekat lagi. Segalanya
bergantung pada sikap kita, apakah kita serius
menanggapi hilangnya keyakinan diri ini (yang adalah
sungguh-sungguh hilangnya kebanggaan), atau kita
menyepelekannya sebagai sekadar suatu “kelemahan”.
Berusaha buru-buru lepas dari saat-saat seperti itu
bisa berarti tenggelam lebih dalam lagi pada kesalahan
dan dosa. Segala sesuatu malahan jadi lebih buruk lagi.
Kita akan menjadi “kebal” pada dosa dan tidak bisa lagi
membedakan yang salah dan yang benar. Seringkali kita
malahan berakhir dengan membedakan kesalahan kita
dengan klise yang saleh seperti “determinasi diri” - “hak
untuk memilih” dan sebagainya.
Berbagai Batu Pijakan 199

Dalam suratnya baru-baru ini, John Winter, seorang


anggota komunitasku dalam usianya yang tujuh puluhan,
menulis bahwa bagian dari hidupnya yang paling subur
adalah ketika ia melakukan keputusan yang kokoh dan
bermaksud bertahan apa pun yang akan terjadi.
Aku meninggalkan sekolah pada usia enam
belas tahun dan mulai bekerja di suatu laboratorium,
perusahan yang membuat pipa timah dan cat dan
pada malam hari pergi ke London, belajar untuk
memperoleh gelar di bidang sains. Masa itu adalah
masa yang berat: bekerja di siang hari, naik kereta,
lalu kuliah dan naik kereta malam (pulang di rumah
jam sebelas malam) dan membuat pekerjaan rumah
di akhir pekan. Ketika umurku sembilan belas tahun
aku harus melakukan wajib militer. Aku seorang
pecinta damai, maka aku memutuskan untuk
mengikuti wajib militer namun dengan keberatan
yang kusadari. Ketika aku memberitahu atasanku,
ia menunjukkan bahwa perusahaan sekarang sedang
membuat peluru, bukan lagi pipa dan cat. Dan bahwa
pendirianku itu tidak sejalan dengan perusahaan
tempatku bekerja. Aku terguncang, dan aku masih
dapat mengingat akhir pekan itu seolah-olah hari ini,
ketika selama berjam-jam aku memikirkan apa yang
harus aku lakukan. Sejujurnya aku tak dapat
melanjutkan pekerjaan itu, namun rasanya tak
terpikirkan pula untuk meninggalkannya.
Seorang temanku yang pecinta damai juga
mengalami ketegangan serupa. Namun kemudian karena
tidak bisa menemukan dasar yang kuat untuk menolak
berperan-serta dalam perang ia mengubah pendiriannya
dan bergabung dengan Angkatan Udara Inggris.
Pada akhir pekan itu – ketika aku harus memilih
apakah aku akan tetap bertahan pada keyakinanku
tentang perang dan bertindak atas dasar itu, ataukah
200 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

akan melanjutkan hidup seperti biasa – merupakan saat


yang menentukan bagiku. Aku tidak bisa tidur selama
beberapa jam, tapi akhirnya aku tahu apa yang harus
kulakukan: melepaskan pekerjaanku.
Sepertinya suatu soal kecil sekarang, namun
kemudian ternyata jadi soal besar bagiku. Mungkin
tidaklah pertama kalinya aku sungguh-sungguh memilih
di antara berbagai harapanku sendiri dan apa yang
dikehendaki oleh hati nuraniku agar kulakukan. Yang
dapat kukatakan sekarang, lima puluh delapan tahun
kemudian ialah pada saat itu aku mengalami damai yang
diberikan Tuhan. Sejak itu aku harus memikirkannya
beberapa kali dalam hidupku, ketika hati nuraniku
mendesak agar mengambil suatu keputusan yang pada
mulanya tak kuinginkan. Setiap kali aku mengikuti hati
nuraniku, aku merasa dibimbing mendapatkan kedamaian
hati, yang sepenuhnya benar dan tak dapat kulukiskan.
Di pihak lain dari persoalan yang sama, kehidupan
juga membuatku sadar bahwa jika Anda mendengar
suatu panggilan dan tidak Anda ikuti, maka sesuatu
terjadi dalam diri Anda, dan mungkin ketika Tuhan
bicara kepada Anda di kemudian hari, Anda tak akan
dapat mendengarkannya dengan jelas. Tuhan mungkin
juga tidak akan pernah menyerah memanggil kita,
ketika kita membanggakan diri dan keras kepala, tetapi
aku merasa yakin aku tiba di suatu titik di mana kita
merasa sudah sangat terlambat.
Sesudah melepaskan pekerjaanku, aku menganggur
selama beberapa bulan. Aku mencari-cari pekerjaan yang
tidak ada hubungannya dengan perang, tapi tak
mendapatkannya. Atau setidaknya, tidak ada yang sesuai
dengan pendidikan dan pengalamanku, dan mengganggur
adalah sesuatu yang mengerikan. Aku bahkan tak dapat
bekerja di kantor atau toko. Namun tak dapat kusangkal
bahwa ketika aku merasa damai karena apa yang telah
kulakukan, aku merasa hidupku berada di tangan Tuhan.
Berbagai Batu Pijakan 201

Kita semua mengenal orang yang (berbeda dari John)


tidak memperoleh damai dalam dirinya, karena tidak
berpegang teguh pada suatu keputusan. Orang seperti itu
menjalani hidup bagaikan kapal layar tanpa kemudi, yang
bergeser arahnya karena tiupan angin yang paling kecil
sekalipun dan hanya mencapai tujuannya dengan melewati
kesulitan. Ada yang sama sekali tak pernah sampai ke
tujuan, namun tahun demi tahun berusaha memutuskan
untuk mengetahui apa yang akan mereka hadapi. Yang
paling buruk, sikap yang terus terombang-ambing seperti
itu mengarah kepada emosi yang tidak seimbang dan
bahkan ketidakseimbangan mental seluruhnya.
Sehubungan dengan iman, adanya keputusan yang pasti
sangat penting demi hidup yang sehat dan produktif. Yesus
menawarkan kedamaian tanpa akhir, namun pertama-tama,
Ia meminta janji kesetiaan tanpa akhir pula. Mungkin alasan
banyak orang yang tidak mengalami damai seperti itu adalah
karena tidak bersedia terbuka diketahui orang lain. Aku
selalu menyukai kata-kata, “Jikalau kamu tidak makan
daging anak manusia dan minum darahNya, kamu tidak
mempunyai hidup dalam dirimu.”104 Itu bukanlah filsafat yang
perlu direnungkan atau dianalisis. Kata-kata itu merupakan
pernyataan langsung, dan kita harus menentukan apakah kita
menolaknya atau menerimanya. Tak seorang pun dapat acuh
tak acuh terhadap Yesus. Kita harus menentukan, apakah
kita bersama Dia atau melawan Dia.
Bart (nama samaran) adalah seorang anak muda
dalam komunitas saya. Ketika umurnya menjelang dua
puluh satu tahun ia berada di peringkat atas dalam
kelasnya pada suatu universitas yang bergengsi di Pantai
Timur Amerika dan ia sedang menunggu wisuda. Ia
sudah menerima tawaran kerja yang baik. Namun Bart
104
Yoh 6:53.
202 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

tidak sepenuhnya bahagia. Di relung hatinya ia melihat


kekosongan hidupnya sepintas kilas, dan berangsur-angsur
mendapat gagasan untuk melepaskan semuanya dan
pulang kembali ke komunitasnya di mana ia dibesarkan,
walaupun hal itu berarti harus melepaskan talenta, waktu
dan uang yang menjadi tujuan umumnya, dan bekerja di
mana dia dibutuhkan. Pada pertengahan semester
terakhir Bart meninggalkan sekolahnya dan menulis surat
berikut ini, yang diizinkannya untuk dikutip di sini:
Aku sungguh-sungguh terkoyak selama dua hari
yang lalu. Di satu pihak, aku merasa sangat tertarik untuk
meneruskan kuliah, memperoleh gelar, mendapat
pekerjaan dan melakukan sesuatu yang hebat seperti
menjadi penyiar radio. Aku berusaha memikirkan alasan
untuk tinggal di sini, melakukan pekerjaanku sendiri,
terpisah dari komunitas dan apa saja. Tapi akhirnya aku
sadar bahwa aku tak dapat memutuskannya.
Kemarin malam aku membaca Injil Matius tentang
para murid yang meninggalkan jala dan berlari mengikuti
Yesus. Itulah yang sekarang harus kulakukan: pergi segera
dari tempat ini, meninggalkan bagianku dalam hal
pengetahuan teori dan banyak keterampilan praktis,
namun tidak banyak yang lain, sekurang-kurangnya
dalam hal pertumbuhan pribadi atau rohani....
Kadang-kadang Anda harus membuat keputusan
tanpa benar-benar tahu mengapa dan tidak memahami
apa yang Anda lakukan. Aku benar-benar tidak
mengetahui alasannya mengapa aku memutuskan seperti
ini, namun lagi-lagi tak seorang pun dari kita sungguh
tahu apa yang sedang dilakukannya. Aku harus lebih
percaya kepada Tuhan. Aku menduga Dia sedang
memberitahu sesuatu kepadaku sekarang ini, dan aku
berharap dapat mendengarkan Dia.
Jika keputusan seperti itu tampak gila-gilaan, hal itu
bukan karena menyimpang dari kebiasaan umum.
Berbagai Batu Pijakan 203

Keputusan itu malah berlawanan dengan gagasan umum,


bahwa sekalipun kita dengan jelas mendengar panggilan
Tuhan, namun akan lebih cermat dan hati-hati bila orang
berhenti dulu dan mempertimbangkannya seperti ucapan
klise “berdoa tentang itu”. Namun bukankah Yesus
menyuruh para murid untuk meninggalkan jala dan
mengikuti Dia?105 Dan bukanlah Dia menasihati kita agar
membiarkan orang mati menguburkan orang mati? 106.
Mungkin kita begitu yakin bahwa Dia memberi kita cukup
waktu untuk menimbang pilihan-pilihan kita. Marilah kita
mohon agar Tuhan membantu kita melihat jalan hidup
yang kita ambil dari sudut pandang iman. Lalu segalanya
akan mendapatkan tempatnya dengan tepat.
Pertanyaan di mana kita hidup dan apa yang akan
dilakukan sungguh-sungguh tidak penting dibanding
pertanyaan tentang bagaimana memusatkan perhatian dan
hati kita pada Tuhan. Aku bisa mengajar di Universitas
Yale, bekerja di toko roti di Genesse Abbey, atau berjalan-
jalan bersama anak-anak miskin di Peru dan merasa sama
sekali tak berguna, sedih dan tertekan dalam semua itu.
Masalahnya bukanlah tempat yang tepat, pekerjaan
yang tepat, panggilan atau pelayanan yang tepat. Aku
bisa senang atau tidak senang dalam semua situasi. Aku
yakin, karena aku telah mengalaminya. Aku bisa merasa
sedih dan gembira dalam situasi baik berkelimpahan
maupun miskin, baik populer maupun tidak dikenal, baik
berhasil maupun gagal. Perbedaannya tidak terletak pada
keadaannya, melainkan pada keadaan hati dan pikiranku.
Jika aku tahu aku berjalan bersama Tuhan aku selalu
merasa bahagia dan damai. Namun ketika aku
terperangkap dalam keluhan dan kebutuhan emosionalku
sendiri, aku akan selalu merasa resah dan terpecah belah.
105
Mat 4:18-22.
106
Mat 8:22
204 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Itulah kebenaran sederhana yang kusadari


sekarang, setiap kali aku mengambil keputusan tentang
masa depanku. Mengambil keputusan ini atau itu, atau
yang lain untuk lima, sepuluh atau dua puluh tahun ke
depan bukanlah keputusan besar. Berpalinglah
sepenuhnya, tanpa syarat dan tanpa takut pada Tuhan.
Kesadaran itu niscaya membebaskan diriku.
Henri J.M. Nouwen
Berbagai Batu Pijakan 205

Pertobatan
Orang jatuh berdosa bukan hanya karena ia makhluk
yang tidak sempurna dan membutuhkan perbaikan: dia
seorang pemberontak yang harus meletakkan senjatanya.
Letakkan senjatamu, menyerahlah, katakanlah kamu
menyesal, sadarilah bahwa kamu telah salah jalan dan
bersiaplah untuk memulai hidup baru dari awal lagi - hanya
itulah jalan keluar dari suatu lubang. Proses penyerahan
ini, gerak cepat putar haluan ini oleh orang Kristiani disebut
sebagai pertobatan.
C.S. Lewis.

”B ertobatlah, karena Kerajaan Surga sudah dekat!”


Mungkin ayat dari kita Kitab Suci107 ini sangat
sering didengar, namun selama sekian generasi orang-orang
Kristiani begitu buru-buru menghindari konsekuensinya
setelah mendengarkannya. Seruan ini mengajak kita
rendah hati, lembut, dan baik hati. Namun gundah kelana?
Mengakui kesalahan dan menangisinya? Bertobat? Biarpun
terasa keras, tetapi memang tidak ada damai tanpa
penyesalan. Sebagaimana penderitaan Kristus di kayu salib
tetap tak berguna bagi kita selama kita menolak menderita
bersama-Nya. Kebangkitan-Nya tetap dijanjikan pada kita,
hanyalah jika kita bersedia turun bersamanya menempuh
maut. Tidak ada hidup baru tanpa kematian.
Sesal tobat berarti mematikan manusia lama, Adam
yang lama. Itu berarti meninggalkan kebobrokan dunia
dosa dan menempatkan diri dengan rela dan suka cita di
bawah sinar terang Allah, yang melihat apa yang
107
Mat 3:2
206 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

tersembunyi dalam hati manusia. Ketika seorang


menyesali dosanya, hatinya yang dari batu lalu berubah
menjadi hati dari daging dan setiap gagasan dan setiap
perasaannya diubah bersama-sama. Seluruh penampilan
orang itu pun berubah.
Sebagai seorang konselor, salah satu sebab yang
paling sering menyebabkan kemelut emosional, sejauh
yang kuperhatikan, adalah sikap melawan moral. Aku
tak mengatakan bahwa hawa-nafsu itu lebih buruk dari
dosa lain. Rasul Paulus mengatakan dengan tegas bahwa
kesombongan dan cinta diri, misalnya, sungguh melawan
Tuhan. Sesungguhnya, dosa- dosa itu sulit diatasi
dibanding dosa lain karena tidak begitu jelas. Namun
karena seksualitas kita adalah hal yang paling dilindungi,
sesuatu yang paling intim bagi kita, maka dosa seksual
yang tersembunyi sering paling berat membebani.
Beberapa tahun yang lalu seorang wanita muda
mengunjungi komunitas kami. Sue (bukan nama
sebenarnya) dibesarkan dalam suatu keluarga yang
terpelajar dan secara materi serba kecukupan. Tetapi
keadaannya menyedihkan. Ia merindukan damai dan
kepenuhan hidup, namun ia dibebani oleh rasa benci diri
dan penyesalan, ia merasa begitu cemas dan habis.
Jika seorang bertanya kepadaku pada tahun
1972 apa artinya “damai”, aku akan bilang,
“berakhirnya Perang di Vietnam”. Dibesarkan pada
tahun enam puluhan, aku tak tahu makna damai
yang lebih dalam dari itu.
Sebagai salah satu dari empat anak dari seorang
ayah pecandu alkohol yang sering melakukan kekerasan,
aku adalah hasil dari keluarga yang tidak berfungsi: kelas
menengah yang tidak bahagia. Pada umur sembilan atau
sepuluh tahun aku sudah bermain-main dengan seks.
Berbagai Batu Pijakan 207

Aku memerhatikan bahwa jika seorang anak lelaki


tetangga “menginginkan “ aku, aku berkuasa atas dia,
dan aku mulai menggunakan penampilanku
sepenuhnya. Aku memimpin banyak anak laki-laki dan
pria dengan cara ini tanpa bermaksud melakukan seks
dengan mereka. Aku hanya ingin mengendalikan
mereka. Namun sedikit pun tak kusadari bahwa belenggu
jahat mengikatku sedikit demi sedikit.
Pada tahun 1968 ketika umurku empat belas tahun,
saudaraku perempuan dan suaminya meninggal di
apartemen mereka. Menikah baru tiga bulan dengan
seorang anggota angkatan laut, hidup wanita dua puluh
dua tahun yang cantik itu berakhir. Apa karena
pertengkaraan? Apakah lelaki itu putus asa? Apakah itu
sebabnya ia pergi berperang ke Vietnam? Hanya dua
tubuh tak bernyawa dan sepucuk pistol yang tertinggal
ketika aku dan saudara perempuanku yang lain
memasuki kamar itu saja yang bisa cerita....
Kehidupan Sue kacau-balau setelah kejadian itu.
Setelah bereksperimen dengan papan Oujia untuk
berkomunikasi dengan roh dan jampi-jampi dan mantra-
mantra, ia diliputi oleh ketakutan yang mendalam akan
dunia supranatural dan merasa dihantui oleh arwah
saudarinya. Namun ia tak dapat menceritakan kepada
orang lain ketakutan-ketakutannya.
Dengan penuh kemarhan dan kebencian,
terutama terhadap ayahku, aku mulai terperosok ke
dalam amphetamine, ganja, marijuana, dan mabuk
setiap akhir pekan dengan laki-laki yang berbeda-
beda. Ketika umurku tujuh belas tahun, secara seksual
aku telah melakukan apa saja. Ironisnya beberapa
temanku dan aku merupakan bagian dari gerakan
damai, kasih, dan antiperang yang begitu kuat pada
waktu itu. Benar, pada awal 1970-an ada idealisme
yang sangat hebat, namun cinta diri di dalam
kehidupan seks berlawanan dengan cita-cita itu.
208 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Ketika umurku sembilan belas tahun aku


mengunjungi Bruderhof. Aku seorang wanita yang
dihantui, berbeban berat dan putus asa, dan kejahatan
masa laluku begitu berat menekan jiwaku, sehingga
menghilangkan aura kesegaran masa mudaku. Orang
mengira umurku tiga puluhan tahun.
Selama sepuluh tahun aku berjuang untuk
memperoleh kedamaian. Dalam komunitas Bruderhof
saudara pria dan wanita telah berusaha menolong diriku,
namun betapa keras pun aku berusaha, aku tak dapat
keluar menerobos belenggu penjara ketidak-murnianku
yang begitu gelap.
Hanya dengan melihat kebebasan yang ditawarkan
oleh seorang anggota lain yang mengakui dosa hawa-
nafsulah baru timbul fajar kesadaranku, bahwa aku pun
dapat memperoleh kebebasan itu. Aku sadar bahwa aku
harus merendahkan pagar diriku sekali untuk selamanya,
dan memperlihatkan diriku yang menyedihkan itu. Aku
harus menemukan seseorang yang dapat kupercaya dan
menceritakan rahasiaku yang paling gelap. Aku harus
bertobat maka Tuhan akan menganugerahkan damai
yang kucari-cari sekian lama.
Pada hari-hari berikutnya seluruh hidupku
mengalir di hadapanku, seolah-olah aku melihat lagi
setiap sentuhan, tatapan, ucapan dan pikiran kotor yang
telah kutelan dulu, setiap orang yang dengan sengaja
kusesatkan dan kusakiti. Dengan penuh derita, namun
juga dengan bahagia, aku mengakukan dosa-dosaku
yang paling pekat itu kepada istri gembalaku. Aku harus
datang beberapa kali padanya sebelum akhirnya dapat
menuntaskan semuanya. Damai merasuk dalam hatiku
yang telah kucuci bersih. Tahun-tahun itu seakan
merontokkan diriku dan aku merasa bebas seperti
seorang anak lagi.
Sekarang umurku lebih dari empat puluh tahun. Aku
menikah dan punya anak. Tapi aku merasa jauh lebih
Berbagai Batu Pijakan 209

muda daripada dulu ketika umurku sembilan belas tahun.


Dan jika seseorang bertanya kepadaku hari ini, apakah
damai? Aku sudah punya jawaban yang jauh lebih baik.
Kita semua mengharapkan hidup yang baru, diubah
seluruhnya – tapi bukan itu yang jadi masalahnya.
Pertanyaannya adalah bagaimana? Ayahku menulis:
“Mestinya Tuhanlah yang mengubah kita, dan Dia mungkin
melakukannya dengan cara yang mengecewakan harapan
dan gagasan kita, termasuk rencana-rencana kita untuk
pertumbuhan rohani dan kepenuhan pribadi. Agar sesuai
dengan masa depan Tuhan, kita pasti dibentuk oleh-Nya.”
Namun orang tak mau menerima hal ini dan lebih
menyukai solusi mereka sendiri. William, Pastor Anglikan
yang telah kuceritakan di depan, mengisahkan padaku
bahwa ia telah berhadapan dengan “segala macam dan
keadaan dosa” selama lebih dari empat puluh tahun
pelayanannya, namun ia hanya melihat sedikit penyesalan.
“Yang lebih sering terjadi, rasa bersalah itu
dirasionalisasi108 daripada disesali.”
Banyak orang tidak memahami apa itu pertobatan.
Mereka tidak menyukai apa yang harus mereka lihat.
Mudah sekali membuat hal yang salah menjadi benar
dengan cara pembelaan (apologi), atau menutup mata
saja, atau memoles sesuatu; inilah yang dilakukan
orang setiap hari. Namun bukan penyesalan. Ketika
jiwa terluka oleh dosa, satu- satunya cara untuk
sembuh adalah melalui pertobatan.
Semasa Reformasi dulu, imam “mengampuni” dosa
melalui ‘dagang’ indulgensi. Sekarang, psikolog dan
psikiater “mengampuni” dosa dengan cara yang sama.
Orang membayar mereka, dan orang-orang itu lalu

108
Diringankan, dengan pemikiran-pemikiran
210 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

diberitahu “kamu tidak melakukan kesalahan apa pun;


perilaku kamu normal. Kamu tak perlu merasa bersalah;
kamu hanya terpaksa harus melakukannya.” Begitulah
caranya dunia mengampuni dosa.
Dalam Injil Matius kita mendapatkan contoh
penyesalan yang jelas dan benar. Cerita tentang Petrus,
yang menyangkal Yesus tiga kali sebelum penyaliban.
Petrus bisa saja membela tindakannya sebagai dosa yang
bisa dimaafkan. Bagaimanapun Yesus berada di tangan
para penguasa dan sudah dijatuhi hukuman mati. Dalam
arti tertentu, para murid tak bisa melakukan apa pun
yang dapat mengubah situasi. Namun alih-alih berdalih,
Petrus justru memandang penyangkalannya itu sebagai
pengkhianatan yang kelam. Hatinya pedih, lalu ia keluar
dan menangis dengan sedihnya.109
Pertobatan bukanlah menyiksa diri; juga bukan
tekanan jiwa dan pemikiran yang memusat pada diri
sendiri. Namun, jika bersungguh-sungguh, pertobatan
bisa sakit sekali. Seperti bajak, pertobatan membalik
tanah, merecah padas, mencabut akar, dan menyiapkan
tanah untuk tanaman baru.
Lihat padang di hatiku merah terluka
Kau tanamkan gandum hijau muda
Gandum hijau muda bersemi anggun
Gandum hijau muda selamanya berlantun
Dan kita lalu memandang padang gandum telah ranum
Tiba sudah saatnya panen raya berlangsung
Dan gandum pun menjadi roti suci
Dengannya dikenyangkan jiwa insani

109
Mat 26:75
Berbagai Batu Pijakan 211

Roti suci yang tiada tara nilainya


dari Kristus, Kerahiman sepanjang masa
John Masefield
Setiap orang berdosa. Karena itu kita perlu dibajak
seperti itu. Dengan berbagai cara, kita semua merusak
hidup kita sendiri. Dengan mengakui kesalahan kita, kita
mengalami kelemahan kita dan ketergantungan kita satu
sama lain dan pada Tuhan. Yang lebih penting lagi, kita
menghindar dari bahaya menenggelamkan suara dari hati
nurani yang terkubur. Damai yang bertahan lama tidak
ditemukan dari penyangkalan kegagalan, namun dari
kejujuran memandang kegagalan itu.
Kalau pun jalan penyesalan menyakitkan, siksaan hidup
karena menyembunyikan dosa jauh lebih buruk lagi. Seperti
yang ditulis oleh Martin Buber, kerinduan besar akan
keselarasan dan kebersamaan dengan Allah mendorong hati
lebih dekat pada damai, seperti badai yang berlangsung
sebelum saat teduh, menolak hal itu berarti memilih hidup
dalam situasi yang tegang sekali terus-menerus. “Jika orang
tidak mengadili dirinya sendiri, segala sesuatu mengadili
dia, dan segala sesuatu menjadi utusan Tuhan.”
Gerald (bukan nama sebenarnya) adalah seorang
anggota komunitas kami yang sudah tua. Ia mencari
kedamaian hati tahun demi tahun tapi tidak berhasil.
Walaupun ia sangat sedih karena dosa-dosanya di masa
lalu, ia tidak pernah mengakui dosa-dosa itu sepenuhnya
atau sungguh-sungguh menyesalinya. Gerald adalah
seorang pekerja yang handal dan pekerja keras, namun
di dalam batinnya ia tersika. Di balik tampilannya yang
giat melaksanakan kehidupan menggereja dan hidup
keluarga, ia menyimpan rahasia hubungan gelap dari
masa mudanya, dan ia punya seorang anak dari hubungan
itu. Anak itu berada di kota lain yang jauh.
212 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Pada waktu krisis ketika ia mendekati usia


pertengahan, Gerald dapat mempertimbangkan nilai hidup
yang benar sampai titik itu dan akhirnya “Keadilan Allah
mulai menyentuh hatiku.” Gerald bahwa ia tak mungkin
bisa “menutupi atau membatalkan” apa yang telah ia
lakukan, namun ketika ia dapat merasakan sakitnya beban
dari kesalahannya, hatinya penuh dengan penyesalan, dan
ia pergi bertemu dan meminta maaf kepada setiap orang
yang dikhianatinya. Akhirnya, ia dapat mengalami
perasaan dibersihkan dan dimaafkan berkat penyesalannya.
Ia mengingat hal ini dengan dramatis, dan Gerald
menyatakan bahwa pengalaman ini dan rasa damai
yang diperolehnya bukanlah peristiwa yang terjadi
sekali, melainkan suatu proses yang berlangsung terus
sampai hari ini.
Berulangkali aku mengira akhirnya aku
mendapatkan damai, namun ternyata yang kudapatkan
hanyalah suatu batu pijakan saja dan aku masih harus
melangkah lebih dalam lagi. Ini mungkin akan terus
berlanjut. Mungkin di dalam upaya yang tulus untuk
mendapatkan damai itulah hal ini kudapatkan.
Dapat kukatakan inilah jalan menuju ke sana: Aku
yakin aku mengenali diriku, dan dosa-dosaku
ditunjukkan padaku oleh Allah dalam keadilan sehari-
hari. Aku terus-menerus menyesali dosa-dosa yang telah
kulakukan dan aku mensyukuri pengampunan dari
Tuhan. Aku berdoa terus kepada Tuhan agar Ia
menunjukkan kegagalanku dan selanjutnya memohon
kejelasan dan kekuatan untuk tugasku setiap hari.
Setiap hari aku melepaskan rasa bangga diri, ambisi, dan
segala sesuatu dari diriku. Dan setiap hari aku bergembira
dalam Tuhan atas segala karunia dan rahmat-Nya, dan
terutama mukjizat dari salib.
Berbagai Batu Pijakan 213

Pentingnya pertobatan juga diperlihatkan dalam cerita


tentang bibiku Emy-Margret, seorang wanita yang
mungkin berjuang habis-habisan untuk mencari
kedamaian hatinya, lebih dari orang lain yang kukenal.
Ketika Emy-Margret yang sekarang menjelang usia
sembilan puluhan bertemu dengan pria yang kemudian
menjadi suaminya, ia mengagumi (sebagaimana orang lain
yang mengenal pria itu) kecerdasannya, semangatnya dan
kharismanya. Hans adalah seorang pengusaha yang cakap
dan hangat dan lebih dari itu ia sangat memerhatikan
kesejahteraan Brudehof, yang masih merupakan komunitas
yang baru tumbuh sayapnya waktu ia bergabung.
Namun yang tadinya dimulai sebagai perkawinan
yang bahagia itu lalu berubah menjadi mimpi buruk.
Dilihat dari luar, segalanya tampak hebat: Hans dan Emy-
Margret adalah anggota komunitas yang aktif; anak-
anak, lahir satu demi satu; kehidupan berjalan indah dan
harmonis. Namun dalam pribadiya, Hans mulai
menunjukkan sisi yang berbeda. Ia sangat haus akan
kekuasaan dan tak pernah puas, ia terus-menerus
memupuk kekuasaan, tak peduli pada akibatnya terhadap
orang lain dan terhadap dirinya sendiri.
Emy-Margret pada mulanya resah karena cara
suaminya yang manipulatif itu, namun keresahannya tidak
berlangsung lama. Mengkritisi Hans berarti akan
menerima ucapannya yang kasar dan tajam, maka lebih
mudah, lebih bebas dan lebih nyaman, menerima pria itu
apa adanya. Sikap itu pun tidak sepenuhnya
menyenangkan karena Hans tidak percaya kepada hampir
setiap orang, dan ada beberapa orang yang lebih
dibencinya dari keluarga istrinya, yang dicurigainya
menggerogoti pengaruhnya dalam komunitas. Tak lama
kemudian Hans mencapai tujuannya. Dipuja oleh
214 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

beberapa orang pilihan, ditakuti oleh banyak yang lain,


ia memimpin komunitas sebagai sorang diktator yang
efektif. Ia membungkam atau mengusir siapa saja yang
meragukan atau melawan dirinya.
Sepuluh tahun kemudian Emy-Margret menyadari
bahwa kesetiaannya pada suaminya tidak dapat mencegah
Hans mendapatkan apa yang diinginkannya: Emy
mengetahui bahwa suaminya terus berzinah dengan
sekretarisnya selama bertahun-tahun. Emy-Margret
hancur. Hans meninggalkan dirinya dan komunitas pada
saat rahasianya itu terbuka, namun ketergantungan
emosional Emy-Margret pada Hans begitu besar sehingga
selama bertahun-tahun ia buta terhadap kerusakan yang
mereka buat. Ratusan anggota komunitas menderita di
bawah pimpinan mereka. Belenggu yang bentuknya
adalah pemujaan (yang anehnya berbentuk pembelaan)
terhadap Hans dan segala sesuatu yang menjadi
pendiriannya berlanjut terus, sekalipun Hans sudah mati
secara tragis karena tabrakan pesawat di atas Perancis.
Namun tak lama kemudian, Emy-Margret akhirnya
mulai melihat bahwa ia hidup atas dasar suatu kebohongan;
bahwa segala sesuatu yang diandalkannya seperti gengsi,
kekuasaan, dan perhatian dari orang yang mengagumi
(atau iri pada status sosialnya), tidak memberikan
kepadanya kebahagiaan yang nyata, melainkan kerusakan
pribadi. Dalam beberapa bulan berikutya ia mengalami
proses yang menyakitkan dalam memilah antara loyalitas
dan emosi yang bertentangan, kebohongan dan setengah
kebohongan yang membebani dirinya selama puluhan
tahun. Pertarungan dalam dirinya itu sengit dan
berlangsung lama, tetapi ia berjuang terus untuk
mengetahui kesalahannya dan segera meluruskannya. Ia
meminta dan menerima dukungan komunitas.
Berbagai Batu Pijakan 215

Kini dua puluh lima tahun berlalu sejak Emy-Margret


mengakhiri pertarungannya itu. Namun bagi dirinya dan
komunitas kami, diperoleh kemenangan yang buah-
buahnya tampak jelas. Secara duniawi pertarungannya
tampak percuma. Ia tetap kehilangan Hans tanpa sempat
berdamai, ia berseteru dengan teman-teman lama yang
dulu berpihak pada suaminya, dan ia mengasingkan diri
dari beberapa anaknya dalam proses itu.
Jelas perjuangan bibiku untuk memperoleh damai
penuh dengan penderitaan. Namun bibi meyakinkan aku
bahwa dengan memutuskan belenggu emosional pada
suaminya dan dengan penyesalan, ia lalu menemukan
kepenuhan diri dan kesembuhan yang dulu tak pernah
dikenalnya. Ia menulis kepada saudaranya, Hardy
beberapa tahun lalu, “Kebebasan besar dan damai yang
dianugerahkan kepadaku masih mengalir hingga
sekarang, jauh melebihi harapan dan permohonan doaku.”
Bonhoeffer menulis bahwa yang membuat sesal-tobat
begitu sulit adalah tuntutan utamanya. Kesediaan untuk
mengalami kematian “yang menyakitkan dan hina di
hadapan seorang saudara.” Karena rasa kehinaan itu bisa
begitu besar, kita terus-menerus berusaha menghindarinya,
Kadang-kadang, bahkan sesudah mengenali dosa-dosa
kita, kita berusaha melompatinya (“atau mengatur
sedemikin rupa hingga tersimpan rapi”) tanpa benar-benar
menyesalinya. Namun justru kecemasan inilah, salib yang
menampakan keselamatan dan pertolongan bagi kita:
Manusia lama telah dikalahkan, namun Tuhanlah yang
telah melakukannya. Kini kita berbagi dalam kebangkitan
dan hidup abadi. Setelah mula-mula melalui kematian,
hidup selanjutnya jauh lebih besar.
216 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Keyakinan
Bahwa ada begitu banyak pertentangan tidaklah
berarti diri kita sendiri harus terpecah belah. Namun
berkali-kali kita mendengar orang berkata bahwa karena
kita berada di dunia yang serba bertentangan itu maka
kita harus menyesuaikan diri. Anehnya gagasan yang sama
sekali tidak Kristiani itu justru sangat sering dikemukakan
oleh mereka yang disebut Kristiani.
Bagaimana kita dapat mengharap kebenaran
bertahan jika hanya sedikit saja orang yang berdiri tegak
utuh tak berbagi demi suatu kebenaran? Baru-baru ini
aku sering teringat cerita dari Perjanjian Lama: Musa
berdiri siang dan malam dengan tangan terangkat, berdoa
kepada Tuhan memohon kemenangan. Dan ketika
tangannya turun, musuh menang atas Israel. Masih
adakah sekarang orang yang tak kenal lelah
mengarahkan segenap pikiran dan tenaganya, sepenuh
hati, kepada suatu tujuan luhur?
Sophie Scholl

S ophie Scholl dipenggal kepalanya oleh Nazi pada


tahun 1943 karena keterlibatannya dengan White
Rose, suatu kelompok mahasiswa di Munich yang menulis,
mencetak dan menyebarkan pamflet antipemerintah.
Sophie juga bukanlah seorang gadis biasa yang berumur
dua puluh satu tahun. Ia juga bukan seorang aktivis biasa.
Dalam buku The Resistance of The White Rose, pengarang
Inge Scholl, saudarinya, teringat pada aura damai yang
menyertai Sophie, seolah-olah Kristus hadir padanya
dalam masa-masa yang paling gelap, membimbingnya dan
memberi dia kekuatan.
Berbagai Batu Pijakan 217

Mulanya ketika Sophie datang ke White Rose dan


mengetahui bahwa Hans, saudaranya, adalah pendiri dan
aktivis gerakan itu, ia marah. Namun serentak dengan
itu ia merasakan bahwa White Rose adalah satu-satunya
suara kebenaran dan jika tidak dibantu olehnya, White
Rose mungkin akan segera tenggelam oleh suara gemuruh
propaganda dan kebohongan Nazi. Dengan segera Sophie
mencurahkan segala daya untuk membantu White Rose.
Beberapa tahun sebelumnya, Hans dan Shopie sama-
sama terpukau pada janji Hitler untuk membangun Jerman
Baru dengan penuh semangat. Namun sesudah mereka
menyadari betapa banyak nurani dan jiwa yang menjadi
korban kerakusan akan kekuasaan dari dikatator iblis itu,
mereka makin mantap menentang arus. Menjelang akhir
1942 sulit ditemukan suatu sel perlawanan yang kuat atau
berbahaya melebihi White Rose.
Pada Februari 1943 para pemimpin White Rose
ditangkapi dan diperiksa dan dalam lima hari saja kedua
orang dari keluarga Scholl dan para pembantu terdekat
mereka ditemukan mati. Hukuman mati selanjutnya
dilaksanakan pada bulan April dan Juli.
Hans dan Shopie Scholl menjemput maut dengan
berani, bahkan bangga. Ketika Shopie mendengar
hukumannya - mati dengan guillotine - ia diceritakan
berkata dengan tenang: “Hari begitu cerah dan
matahari bersinar terang, dan aku harus pergi. Namun
tak apalah, jika melalui kami ribuan orang lainnya akan
bangkit dan bertindak!” Di sini damai terlahir dari iman
yang tak tergoyahkan.
Sekarang keyakinan seperti itu sungguh langka (siapa
di antara kita yang begitu peduli akan keyakinan kita
sehingga bersedia mati untuknya?). Namun demikianlah
218 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

jaminan dan damai yang dicurahkan dalam suatu


perjuangan. Jika kita tidak yakin akan kebenaran dari apa
yang kita lakukan, kita tak akan mampu menghadapi ujian
seperti itu dengan begitu tegar. Mungkin itulah hal
terpenting yang diajarkan White Rose kepada kita.
Aku teringat pada cerita kesukaanku dari Perjanjian
Lama, tentang Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Di situ
ketiga orang muda yang tiada taranya dalam kesetiaan
itu diuji. Ceritanya sudah begitu dikenal, namun ada
gunanya diulang di sini.
Berkatalah raja: “Jika kamu menolak menyembah
patung emas yang kudirikan, kamu akan dicampakkan
seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala.
Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari
dalam tanganku?”
Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab: “O,
Nebukadnezar, kami tidak khawatir akan apa yang akan
terjadi pada kami. Jika kami dilemparkan ke dalam
perapian yang menyala-nyala, Allah kami sanggup
melepaskan kami, Ia pun akan melepaskan kami dari
tanganmu, ya raja. Tetapi seandainya tidak, kami tak
akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah
patung emas yang tuanku dirikan itu.”
Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air
mukanya berubah terhadap Shadrakh, Mesakh dan
Abednego. Lalu diperintahkannya agar perapian itu
dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. Kepada
beberapa orang yang terkuat dari tentaranya disuruhnya
mengikat ketiga anak muda itu dan mencampakkan
mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.
Lalu diikatlah ketiganya dengan kuat dan
dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala,
berpakaian lengkap. Karena perintah raja itu keras, untuk
memanaskan perapian itu luar biasa, meluaplah nyala
Berbagai Batu Pijakan 219

api itu membakar mati prajurit yang mengangkat dan


melemparkan mereka ke dalam perapian.
Sadrakh, Mesakh dan Abednego jatuh ke dalam
perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat. Tetapi
tiba-tiba, selagi memerhatikan, Nebukadnezar bangun
dengan segera karena terkejut dan berkata kepada para
menterinya. “Bukankah tiga orang itu telah kita
campakkan ke dalam api?” Kata mereka “Benar, ya raja?”
“Lihat,” kata Nebudkanezar, “Aku melihat empat orang
berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu;
mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya
seperti anak dewa!”
Lalu Nebudkadnezar mendekati pintu yang bernyala-
nyala itu dan berkata: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego,
hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan
kemarilah!” lalu keluarlah mereka dari api itu.
Dan para pangeran, penguasa, bupati dan menteri
raja datang mengelilingi mereka dan melihat bahwa api
itu tidak mempan menyentuh mereka, rambut di kepala
mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah,
bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka!
Berkatalah Nebukadnezar, “Terpujilah Allahnya
Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus
malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya yang
telah menaruh percaya kepada-Nya dan melanggar
perintah raja dan yang bersedia mati daripada
menyembah ilah lain kecuali Allah mereka.”
(Bdk. Daniel 3:15-28)
Ada berapa banyak “hamba-hamba yang percaya”
kepada Allah, yang bersedia mempertahankan iman,
apalagi bersedia mati demi iman itu sekarang? Berapa
banyak di antara kita yang akan ditolak dari tempat damai
abadi oleh kata-kata, “Aku tidak mengenal kamu”?110

110
(Mat 7:23; 25:12)
220 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Mengingat perjalanan hidupku sendiri, orang-orang


yang besar pengaruhnya padaku adalah mereka yang mati
karena keyakinannya. Beberapa di antaranya tak kukenal
secara pribadi (Dietrich Bonhoeffer, Alfred Delp, dan
Oscar Romero, misalnya) yang lain, seperti Marthin
Luther King, walaupun singkat aku mendapat
kehormatan untuk bertemu dengannya.
Kakekku, seorang lawan yang vokal terhadap rezim
Hitler, lolos dari nasib yang umumnya diterima oleh
kebanyakan penentang hanya karena ia meninggal
akibat komplikasi setelah suatu amputasi. Namun
menurut nenek, kemungkinan kurungan penjara
semakin besar untuk kakek.
Beberapa kali kakek mau melakukan perjalanan ke
Kantor Distrik Nazi di Kassel di mana begitu mudah pintu
ditutup di belakangnya, dan ia hanya dapat keluar karena
diizinkan untuk mengajukan petisi atau keberatan.
Hampir ajaib kakek selalu mendapat kesempatan
membela diri dan sesudah itu dibebaskan.
Beberapa hari sebelum meninggal, pada Hari
Pertobatan (suatu hari libur agama Kristen Lutheran),
kakekku berteriak-teriak di tempat tidurnya, di rumah
sakit, sehingga dapat didengar di seluruh ruangan.
“Apakah Goebbels sudah bertobat? Juga Hitler?” Orang-
orang Jerman bisa digiring ke kamp konsentrasi untuk
kesalahan yang lebih ringan dari itu.
Bertahun-tahun kemudian, sebagai remaja empat
belas tahun di sekolah negeri di New York, aku
terinspirasi oleh tindakan pembangkangan ini untuk
memperlihatkan sikapku sendiri. Janji Setia Negara
dibacakan setiap hari, dan setiap pelajar bergiliran
memimpin pembacaan janji itu. Ketika aku mendapat
Berbagai Batu Pijakan 221

giliranku pada suatu hari, aku berdiri di depan kelas dan


menolak melakukannya. Kesetiaanku hanya untuk
Tuhan, kataku, bukan untuk selembar bendera.
Guruku dan teman-teman terperangah, kelas begitu
sunyi hingga Anda bisa mendengarkan suara peniti jatuh.
Tak terbayangkan! (saat itu adalah puncak zamannya
politisi McCarthy (1908-1957), dan di Washington sedang
terjadi dengar pendapat dari Komite Kegiatan Non-
Amerika di DPR. Pada hari itu aku dilaporkan kepada
kepala sekolah dan dihadapkan pada semua guru untuk
memberi penjelasan. Walaupun terguncang, setelah aku
menjelaskan bahwa aku tidak bermaksud untuk
menghina, tetapi hanya bertindak berdasarkan
keyakinanku, mereka menunjukkan pengertian.
Di rumah, orang tuaku juga agak terkejut, tetapi
sepenuhnya mendukung aku. Hal itu sederhana bagi
ayahku: jika kamu tidak mengikuti hati nuranimu, kamu
tak akan pernah mendapatkan damai. Jika hal semacam
itu mengguncangkan tatanan, biarlah. Memang kembali
duduk dan berpura-pura segala sesuatu baik-baik saja
selalu lebih disukai.
Dalam bagian yang terdahulu aku telah menyebutkan
beberapa orang yang kutemui ketika umurku belasan tahun
dan mereka berpengaruh padaku. Salah satunya yang
sangat jelas kuingat adalah Dwight Blough, seorang tamu
muda dari Iowa yang kemudian bergabung dengan
komunitasku dan menjadi tangan kanan ayahku.
Dwight adalah orang yang teguh keyakinannya. Ia
bekerja keras, berjuang keras. Orangnya sederhana, baik
dalam kata-kata maupun perilakunya. Ia melaksanakan
pekerjaannya dengan sepenuh hati, dan jika ada yang
perlu dikatakannya, ia akan mengatakannya. Ia tidak
sabar dengan pembicaraan yang bertele-tele.
222 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Janda Dwight, Norann menyatakan suaminya sebagai


remaja yang khas Amerika “dalam segala macam hal”,
dan keluar dari anggota Angkatan Udara ketika berumur
delapan belas tahun. Pada tahun pertamanya di perguruan
tinggi Dwight mulai menginginkan masa depan yang jelas
di hadapannya: suatu gelar akademis, menikah, punya
anak, suatu karier dan akhirnya pensiun dan melihat
anak-anakya mengambil langkah yang sama. Dalam tahun
kedua kuliahnya, ia belajar Kitab Suci dan merasa yakin
bahwa kepuasan hanya dapat diperoleh dengan melayani
orang lain. Begitu kuatnya keyakinan itu sehingga ia
menganggap keputusannya untuk bergabung dengan
Angkatan Udara adalah suatu kekeliruan, dan dengan
segera status hidupnya berubah.
Dalam tiga tahun berikutnya, Dwight dan Norann
yang telah menikah, tahu tentang komunitas kami,
berkunjung dan bermaksud tinggal.
Dwight mengajar di sekolah kami dan tak lama
kemudian bakatnya sebagai gembala umat diakui dan
diteguhkan. Bukan karena dia orang yang kudus.
Kadang-kadang tindakannya impulsif, dilakukan karena
dorongan hati yang spontan, dan kecenderungannya
untuk bicara terus terang daripada berdiplomasi dapat
menyebabkan gesekan. Begitulah dia lebih menyukai
bertindak daripada menimbang-nimbang.
Aku tak dapat melupakan hari buruk dalam
komunitas kami ketika bangsal utama komunitas kami
terbakar dalam musim dingin 1957. Dengan cepat Dwight
menemukan tangga dan ia muncul di jendela lantai atas.
Asap dan nyala api menghentikan dia sebelum dapat
mengambil barang-barang yang hendak diselamatkannya,
tetapi ia sudah berusaha. Kami semua yang ada di bawah
berteriak-teriak supaya ia turun sebelum terlambat. Dia
Berbagai Batu Pijakan 223

selalu begitu setiap ada kecelakaan, atau ada seseorang


yang sakit keras. Dwight biasanya adalah orang pertama
yang datang di sana.
Pada awal 1970-an Bruderhof membeli sebuah pesawat
untuk mempermudah perjalanan antar komunitas kami, dan
antusiasme Dwight meluas sampai kepada soal penerbangan.
Pada 30 Desember 1974 Dwight meninggal ketika
pesawat yang dilayaninya sebagai ko-pilot menabrak
lereng gunung yang berkabut, Norann ditinggalkan
menjanda dengan dua belas anak, yang bungsu baru tujuh
minggu umurnya. Di antara kertas-kertas suaminya
Norann menemukan catatan untuk khotbah yang akan
disampaikannya, bertemakan keyakinan dan kesediaan.
Kematian Dwight merupakan pukulan besar bagi
setiap anggota komunitas, dan menjadi sebuah peringatan
setiap orang yang mengenalnya. Dia diambil secara
mendadak dan tak terduga pada usia empat puluh tahun,
bagaimana dengan kita yang lain. Apakah kita siap mati?
Ketika aku memikirkan pertanyaan saat itu, dua puluh
lima tahun kemudian, sepertinya setiap saat berlangsung
begitu. Untuk apakah damai Tuhan, jika kita tidak siap
bertemu dengan Dia? Jika damai adalah kesiap-sediaan,
tentu maksudnya adalah kesiap-sediaan dalam seluruh segi
kehidupan kita: kesiap-sediaan untuk memafkan yang tak
termaafkan; untuk mengingat ketika kita terlalu cepat
melupakan, dan untuk melupakan apa yang ingin selalu
kita ingat lekat-lekat. Itu berarti kesiapan untuk mengasihi
ketika kita membenci; untuk pergi ke tempat yang justru
tak ingin kita pergi ke sana, dan untuk menunggu jika kita
dilupakan; untuk memandang ke depan, bukan menengok
ke belakang, untuk mencoret masa lalu dan berpaling pada
cahaya. Artinya kesediaan untuk memberikan segala
sesuatu dan menyerahkan hidup kita bagi saudara kita.
224 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Sejauh berkenaan dengan Dwight, jawabannya


sudah jelas. Ia menghayati hidup sepenuhnya. Dan
dengan suatu cara yang di kemudian hari tampak sebagai
suara kenabian, ia bicara tentang kesediaannya untuk
menghadap Tuhan, bukan hanya dalam catatan
terakhirnya, namun juga dalam surat pastoral yang
ditulisnya dua bulan sebelumnya:
Kata-kata Yesus, “Jikalau kamu menuruti
perintahKu, kamu akan tinggal dalam kasihKu,”111 begitu
penting bagi kita, justru ketika dunia berlomba-lomba
melawan moral, gila uang, dan berdosa.... Aku merasakan
panggilan agar lebih radikal di dalam kepatuhan dan dalam
mengikuti Yesus. Kita sering bilang bahwa dunia akan
tahu bahwa kita adalah milik Kristus, hanya jika kita
bersatu dan saling mengasihi. Jika demikian, maka kasih
kita haruslah makin kuat pada Kristus dan saudara-saudara
kita. Dan pada semua orang.
Dan aku pun harus melakukan penyesalan jauh
lebih dalam atas apa pun, untuk keseimbangan, sikap
setengah hati, wawasan sempit, atau cinta diri....
Semua egoisme, keras kepala, dan kesombongan
haruslah dilepaskan dan diatasi sehingga hidup kita
semata-mata bagi Kristus, demi kehendakNya, misiNya,
masa depanNya dan KerajaanNya di dunia.
Yesus berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya
kamu saling mangasihi seperti aku mengasihi kamu.
Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang
yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu melakukan apa
yang Kuperintahkan kepadamu.”112 Orang-orang Kristen
perdana saling mengasihi satu sama lain dan mengasihi
Kristus. Apakah kita juga begitu?
111
Yoh 15:10
112
Yoh 15:12-14
Berbagai Batu Pijakan 225

Dalam kata penutupnya, Dwight mengutip kata-kata


kakekku, yang merupakan alinea kesukaannya:
Siap sedialah untuk segalanya! Maka harapan akan
kedatangan Tuhan haruslah membuat kita aktif berjaga-
jaga, sehingga kita siap menyambut tangan-Nya, siap
disalib bersama Dia; sehingga kita berlutut dan siap
merendahkan diri di hadapan-Nya dan kita melepaskan
segala kekuatan kita, agar dia berkuasa atas diri kita.
Marilah kita siap sedia!
226 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Realisme
Bersabarlah dan baharuilah dirimu setiap hari
dan percayalah pada pertolongan Tuhan; kasih-
Nya adalah baru setiap pagi. Maka kamu akan
tahu bahwa kehidupan adalah soal menjadi dan
bertumbuh, dan bahwa kamu niscaya bergerak
menuju hal-hal yang lebih besar. Walau kamu
bertempur melawan kekuatan kegelapan,
kemenangan ada padamu, sebab dalam Kristus
setiap kejahatan telah dikalahkan. Kamu selalu
berada di awal usahamu, karena kamu terus-
menerus diubah, namun percayalah dalam iman
bahwa kamu akan mendapatkan kepenuhan dari
segala kerinduanmu.
Eberhard Arnold

T anpa pengampunan dan kemungkinan akan


permulaan baru setiap hari, kita niscaya tergoda
menganggap upaya mendapatkan damai adalah tindakan
yang tak ada gunanya. Pertobatan dapat menjadikan kita
pria dan wanita baru; doa, kerendahan hati, pertobatan
dan semua yang lain dapat menjaga kita di jalur yang benar.
Namun pada akhirnya harapan kita akan damai haruslah
selaras dengan pengakuan kita akan ketidak-sempurnaan
manusia. Jika kita tidak menyesuaikan diri dengan realitas
itu dan berpaling kepada Kristus yang sungguh manusia
walaupun tanpa dosa, kita akan terus frustrasi selamanya.
Art Wiser, seorang anggota lama dari gerejaku, baru-
baru ini menulis kepadaku:
Berbagai Batu Pijakan 227

Apakah aku mendapatkan damai? Aku belum


merasa damai. Bila aku keliru dan seseorang
mengingatkan diriku, aku jadi kelabakan sesaat dan
sering bergumul melawan diriku sendiri. Aku tak bisa
tidur. Aku gugup dan sakit perut. Namun Yesus
berkata, “Kuberikan padamu damai sejahtera.” Dan
betapa pun berdosanya aku, betapa pun bandelnya
diriku, aku mengikuti Dia, aku menerima sabda-Nya
dengan gembira. Pada malam yang sama Yesus
berkata: “Jiwaku gelisah”; dan kemudian ia mengalami
sakratul maut di Taman Getsemani. Jika Dia
mengalami penderitaan seberat itu demi kita; siapakah
aku ini yang mempersoalkan damai dalam diriku? Aku
menerimanya, aku mengamininya walaupun aku
tetap merindukan dan memohon demi itu. DamaiNya
merupakan bagian dari pertarungan yang belum
berakhir demi Kerajaan-Nya.
Ketegangan yang dibicarakan Art adalah bagian yang
sewajarnya dari hidup. Semua orang mengalami perubahan
perasaan dan hari-hari buruk, dan bodohlah berharap bahwa
kita akan mengatasinya dengan sempurna. Namun seperti
Marlene Bowman, anggota lain dari gerejaku, menulis surat
berikut: pengertian bahwa Allah yang mengendalikan segala
sesuatu memberi kita suatu jaminan yang dapat kita pegang
berulang kali. Seperti kemudi kapal, jaminan Tuhan itu
mengembalikan arah yang benar setiap kali kecemasan
mengancam kemantapan kita.
Jika aku gugup dan sangat cemas akan segala
sesuatu, biarpun orientasi Kerajaan Allah itu penting, aku
toh kehilangan ketenangan batin. Jika banyak hal tidak
sesuai dengan keinginanku, atau terjadi sesuatu yang
membuatku frustrasi jika rencana-rencana atau gagasan
tentang bagaimana harusnya sesuatu berjalan ternyata
terganggu - bahkan ketika aku berdoa, kalau-kalau
228 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

diriku sangat berlebihan mementingkan diri – aku toh


kehilangan rasa damai. Damai hati berasal sepenuhnya
dari penyerahan diri kepada Allah.
Tiap kali kita merasakan desakan untuk
melaksanakan karya Allah, itulah isyarat bahwa kita
kehilangan kepercayaan pada-Nya, lupa bahwa
Dialah yang pegang kendali. Tidak soal apakah
sesuatu terjadi dalam kehidupan pribadi kita atau
keluarga kita, atau berasal dari suatu berita yang kita
dengar, atau sesuatu yang terjadi dalam pekerjaan kita.
Jika kita berusaha memecahkan segala hal sendiri,
kita jadi gelisah, kurang semangat, cemas. Kita
kehilangan damai Tuhan.
Pergumulan yang dilukiskan Marlene Bowmen itu
niscaya dirasakan oleh mereka yang aktif berusaha
mengubah dunia dalam hal tertentu, entah bekerja dalam
hal keadilan dan perdamaian atau dalam cita-cita lain.
Kadang terasa pergumulan itu sia-sia. Penulis dari Swiss
Friedrich Durrematt menunjukkan bahwa kita seorang
diri tak akan dapat menyelamatkan dunia: “itu adalah
harapan yang sia-sia dari usaha Sisipus113 yang malang”.
Ia melanjutkan bahwa tugas ini tidaklah diletakkan di
tangan kita, juga bukan di tangan seorang penguasa suatu
bangsa, “atau bahkan setan-iblis yang paling kuat
sekalipun. Tugas itu, terletak di tangan Tuhan, yang akan
bekerja sendiri.” Karena itu berikut suatu nasihat.
Menghadapi ketegangan pekerjaan yang melampaui
kekuatan kita, kita harus berpaling ke dalam, pada sang
Sumber kekuatan. Jika kita mengukur daya insani
113
Sisipus adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang dihukum
tergantung di tebing jurang. Ia berusaha terus mencapai tepian jurang
yang tidak terlalu tinggi. Namun setiap ia hampir mencapai tepian
itu, sisi jurang runtuh dan ia jatuh kembali ke tempat awalnya.
Setiap kali selalu berulang seperti itu.
Berbagai Batu Pijakan 229

terhadap pekerjaan yang ada di hadapan kita, niscaya


kita akan merasa putus asa, dan jika kita melaksanakan
dengan daya insani itu niscaya kita frustrasi ... lalu terjerat
entah dalam keengganan untuk melanjutkan, entah
dalam kejengkelan. Tak ada pelajaran yang lebih sehat
daripada mengenal keterbatasan diri kita sendiri, sejauh
hal ini diikuti oleh penyerahan kekuatan kita untuk lebih
mengandalkan kekuatan dari Allah. Roda kehidupan
tentu terpental lepas jika tidak terkunci pada Poros, dan
kita menempatkan diri kita sendiri dalam bahaya, jika
kita tidak menghirauhkan hal ini, jika kita selalu bergegas
maju dan lupa meluangkan waktu untuk kerohanian kita.
Philip Britts
Dalam masa Reformasi yang penuh bahaya, bahkan
kaum Anabaptis 114 menyadari hal ini ketika terus-
menerus menyerukan perubahan. Pria dan wanita yang
tak kenal takut itu berusaha mengubah dunia dari bawah
ke atas, dengan menelanjangi kemunafikan gereja yang
mapan, dengan melawan wewenang negara, dan dengan
mengobrak-abrik adat masyarakat yang dianggap suci.
Kendati upaya mereka itu belum berhasil, iman mereka
realistis. Mereka tidak mengalami ilusi tentang semacam
musim semi yang menyenangkan sedang tiba; mereka
sungguh sadar bahwa iman mereka akan menuntut
pengorbanan besar. Serentak dengan itu, sekalipun
mereka yakin akan nasib mereka, mereka juga yakin
bahwa Tuhan akan menang pada suatu hari. Ketika
kemudian datang penganiayaan dengan siksaan dan
tiang gantungan, parang dan pedang, mereka berjuang
terus pantang menyerah.
Bagi kita yang hidup dalam zaman di mana upaya
kita demi perdamaian menuntut sedikit pengorbanan
114
Kelompok radikal dalam Protestantisme Swiss, Jerman, Belanda
pada abad ke 16
230 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

saja, kaum Anabaptis banyak mengajar kita. Seperti


mereka, kita perlu menyadari bahwa yang penting
bukanlah efektivitas atau keberhasilan kita, namun
apakah kita melaksanakan tugas-tugas dengan sikap
iman. Beberapa tahun sebelum meninggal, ayahku
berkata tentang ini:
Ada kebutuhan yang tiada akhirnya di bumi, jadi
lebih banyak daripada yang kita tahu. Sebagian darinya
adalah kebutuhan ekonomis, sebagian darinya
kebutuhan sosial, namun yang lebih dalam lagi adalah
kebutuhan rohani yang justru tersembul dalam
kehidupan manusia karena adanya daya-daya kegelapan
serta ketidakadilan, pembunuhan dan ketidaksetiaan,
sebagian dari kita yakin bahwa melalui tindakan politik
dan sosial dapat terjadi perubahan radikal dalam
masyarakat kita - perubahan yang akan menjawab semua
kebutuhan kita. Namun telah kita saksikan berulang
kali negara selalu terbelit dalam jaringan-jaringan
ketidakjujuran dalam dirinya sendiri; kekuasaan uang,
keserakahan dan ketidaksetiaan ada di mana-mana.
Kita tahu bahwa tak mungkin kita mengubah dunia
dengan kekuatan kita sendiri. Namun Kristus mampu
mengubahnya, dan kita dengan sukarela ingin
menyerahkan diri kita kepada-Nya. Ia menuntut seluruh
pribadi kita dan seluruh hidup kita. Ia datang untuk
menyelamatkan dunia. Dan kita percaya bahwa Dia
bukan pemimpin insani, yang akan memerintah bumi.
Bagi Dialah kita hidup, dan bagi Dialah kita bersedia
mati. Itulah yang diminta dari kita semua. Yesus tidak
mengharap kesempurnaan, namun ia mengharapkan
kita mengabdi kepada-Nya sepenuh hati.
Untuk mengabdi Kristus sedemikian, tidak berarti
hidup kita lalu awut-awutan. Jika kita memandang
dunia dengan kacamata idealistis, kedamaian yang kita
cari niscaya merupakan damai yang sempurna, tak
Berbagai Batu Pijakan 231

terbagi dan sangat jauh. Jika kita realistis, kita akan


lebih bersedia menerima fakta bahwa damai yang dapat
kita nikmati di dunia ini mempunyai kerterbatasan,
sehingga kita akan lebih obyektif dalam mengolah
prioritas-prioritas kita.
Ambillah doa sebagai contoh. Salah satu titik rabun
pada umumnya adalah gagasan bahwa kita akan dapat
mencapai lebih banyak dengan “mengerjakan” sesuatu.
Sesungguhnya buah dari doa, saat teduh, kontemplasi
adalah hasil perjuangan “aktif” yang paling heroik. Dalam
bukunya (“Berbahagialah yang lembut hati”) Blessed Are
The Meek, Uskup Afrika Selatan Desmond Tutu
mengingatkan kita bahwa ketika kita memperjuangkan
damai, kita tak boleh melupakan bahwa doa-doa yang
tersembuyi yang dilantunkan para birarawati, para
pertapa, para orang tua pria maupun wanita, orang-orang
sakit “juga membentuk bagian penting dari perjuangan
kita,” yang sama berharganya dengan kegiatan yang lebih
tampak, yang dilaksanakan di garis depan oleh kaum
muda dan yang secara fisik kuat.
Benedict Groeschel, teman dekatku menempuh
suatu kehidupan yang sangat sibuk dengan doa dan
tindakan, melayani kaum miskin dan gelandangan di
Bronx, bicara melawan aborsi dan memimpin sebuah
wisma kecil para rahib Fransiskan. Seorang
cendekiawan dan imam, Pastor Benedict mengucapkan
kaul kebiaraan ketika usianya tujuh belas tahun. Kini
usianya enam-puluhan tahun, namun pandangannya
tentang hidup tetap membumi. Dan walaupun ia bekerja
keras, ia tak pernah tampak habis karena kelelahan.
Dia sangat realistis dalam tujuan-tujuannya, dan nyaman
dengan keterbatasan-keterbatasannya. Dalam suatu
pembicaraan baru-baru ini ia berkata:
232 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Kukira damai berasal dari iman, harapan dan kasih.


Namun damai bukan sekadar perasaan. Damai
membantu kita melanjutkan perjuangan hidup. Ingat,
aku dari Jersey City dan akhir cahaya di terowongan
Jersey City adalah Hoboken. Kami bukan orang yang
optimis. Kami bukan orang yang menjalani hidup dan
berpikir bahwa segalanya indah. Yang kami tahu, ada
lembah air mata. Maka kami tidak terlalu berharap akan
dunia ini. Dan konsekuensinya, hal-hal yang menggangu
orang lain tidak begitu menganggu bagi kami.
Aku selalu mendapat banyak penghiburan dari
Kitab Ayub. Aku sangat menyukai ayat yang indah ini:
“Di manakah engkau ketika aku meletakkan dasar
bumi? Ceritakanlah, kalau engkau punya pengertian....
Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika
dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah
engkau ... memimpin bintang Biduk dan pengiring-
pengiringnya? Apakah engkau mengetahui hukum-
hukum langit? Atau menetapkan pemerintahannya di
atas bumi? Katakankah kepadaku!”115
Ada humor tertentu dalam buku Ayub ini. Kamu
tahu bagaimana segalanya serba salah? Segalanya?
Seperti ini:
“Bagaimana keadaanmu?”
“Hari yang terburuk dalam hidupku.”
“Bagaimana segala sesuatu berjalan?”
“Semuanya serba salah. Segalanya! Tidak ada yang
tidak keliru.”
Kita mendapatkan humor seperti ini pada Santo
Paulus juga: “Demi cinta Kristus aku mati sepanjang
hari.” Nuansanya sangat Yahudi. Jika dia orang Inggris
sejati, niscaya ia akan berkata: “Yah, itu agak tidak
menyenangkan, Anda tahu; agak tidak menyenangkan.
Cukup banyak sulitnya, Anda tahu.”
115
Ayb 38:4.31-32-33
Berbagai Batu Pijakan 233

Aku punya teman-teman Yahudi. Mereka berkata


kepadaku, “Kamu datang ke sini setiap hari dan tak
pernah menanyakan keadaanku.”
“Maafkan aku,” kataku. “Bagaimana kabarmu?”
“Jangan tanya!”
Pastor Benedict dipenjarakan lebih dari sekali karena
kegiatan pro-life115 dan ketika tentang itu kutanyakan
kepadanya, ia berkata:
“Yah pertama kali aku dipenjara menyenangkan
juga, karena aku di sana hanya setengah hari. Aku
berdoa, melakukan meditasi, makan. Menyenangkan.
Yang berikutnya mengerikan. Aku selalu berusaha
berbaik-baik pada para petugas penjara; jika ada orang
yang menyulitkan mereka, aku bilang: ‘Jangan begitu.
Mereka bekerja hanya cari makan”
Tetapi lalu kulihat betapa buruk mereka
memperlakukan para narapidana. Untuk alasan
tertentu, seorang lelaki yang kelihatannya terhormat
yang menjadi sipir penjara ternyata memperlakukan
setiap orang seperti binatang....
Mengerikan. Aku ditelanjangi tiga kali untuk
diperiksa dalam dua puluh empat jam. Yang benar-benar
baik hanyalah dokter dan para narapidana. Para
narapidana itu sangat baik. Mereka tidak tahu aku
seorang pastor, tetapi mereka menyebutku Pop. Ketika
menjelang dikeluarkan, mereka memberikan pakaianku,
dan aku ditempatkan di ruang besar bersama narapidana
lainnya yang juga sudah habis masa hukumannya. Anda
tak akan percaya bagaimana rusaknya bahasa mereka di
sana. Tapi mereka tidak bermaksud kurang hormat.
Mereka hanya tak tahu bahwa itu bahasa yang keliru.
Ketika mereka melihat aku memakai jubah, mereka
bertanya “Kenapa Anda di sini, Bapa?” Aku bilang aku di

116
Membela hidup, anti aborsi
234 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

sini karena melempari suatu klinik aborsi, dan mereka


semua marah. Tapi ada seorang tua kulit hitam, yang lalu
berdiri dan menenangkan para narapidana itu. “Tidak,
memang harus begitu. Dia harus berada di penjara.”
“Tutup mulut. Duduklah!”
“Tapi benar begitu, kok.”
“Kok bisa?”
“Karena Yesus berkata dalam Injil. ‘Berbahagialah
orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.’”
Yah, wajahku serasa tertampar supaya aku
berhenti merasa kasihan pada diri sendiri. Karena Sabda
Allah itu di sini justru diucapkan dengan tepat oleh
seorang narapidana.
Pastor Benedict lalu bicara tentang penyaliban
Kristus, dan pentingnya hal itu terutama bagi mereka
yang menghendaki damai, tetapi tidak mau berusaha
menerimanya. Mereka tidak realistis, katanya.
Mereka seperti orang yang ingin memperoleh gaji
tanpa mau bekerja, mau memperoleh kemenangan
tanpa perjuangan. Dengan mengutip secara bebas
Kardinal Newman ia melanjutkan:
Penyaliban Kristus menempatkan nilai dan makna
segala sesuatu di dunia, yang baik, yang buruk, kaya,
miskin, derita, suka cita, sedih, sakit, semuanya,
bergabung ada di salib itu. Tentu, sesudah penyaliban itu
ada kebangkitan. Namun jika ada yang bicara tentang
kebangkitan tanpa penyaliban.... Itu palsu.
Ada banyak orang yang lebih suka melewatkan
bagian penyaliban dan langsung sampai pada
kebangkitan, itu tidak bisa. Mereka harus berputar dulu
dan mengalami bagian penyaliban.
Berbagai Batu Pijakan 235

Pelayanan
Inilah kegembiraan hidup yang sebenarnya:
berguna untuk suatu tujuan yang luhur, mulai menjadi
daya kekuatan, bukan setitik kecil yang serba sakit,
gemetaran dan keluhan, yang terus menggerutu karena
dunia tidak mau membuat Anda bahagia.
Aku adalah orang yang berpendapat bahwa
hidupku milik orang lain, dan sepanjang hayatku adalah
hak pribadiku untuk melakukan apa yang bisa
kulakukan. Aku ingin berguna habis-habisan sampai saat
matiku, sebab semakin keras aku bekerja, makin
bermakna hidupku....
Hidup bukanlah sebatang lilin kecil bagiku. Namun
semacam obor besar yang kupegang suatu masa, dan aku
ingin agar hidupku seperti obor yang besar cahayanya
sebelum kuserahkan kepada generasi mendatang.
George Bernard Shaw

D i antara semua akar dari situasi tidak-damai,


yang paling umum dan luas sebarannya boleh jadi
adalah sikap mementingkan diri sendiri, entah dalam diri
kita sendiri, entah dalam hubungan dengan orang lain,
atau dalam dunia. Dan akar itu adalah yang paling sulit
dicabut. Masalah-masalah seperti kecongkakan, curiga,
marah atau kecewa dapat langsung diurus karena tampak
jelas; biasanya kita dapat mengambil langkah tertentu
untuk mengetahui sebab-musababnya dan berusaha
mengatasinya. Namun sikap mementingkan diri tidak jelas
batasannya, tidak tampak namun begitu kuat kuasa dan
begitu dalam letaknya sehingga membentuk penampilan
luar dari seluruh hidup kita.
236 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Kadang-kadang sikap mementingkan diri itu


mengambil bentuk sebagai dosa yang jelas seperti
hawa nafsu atau kerakusan. Namun tidak jarang,
seperti misalnya dalam upaya egosentris untuk
mewujudkan kebahagian dan kekudusan pribadi,
sikap itu mengambil suatu bentuk yang begitu “jinak”
sehingga bahayanya tidak disadari. Namun, begitu
sikap mementingkan diri itu dikenali adanya, obat
yang sederhana dan umum untuknya adalah
pelayanan pada orang lain.
Pelayanan menurut mistikus abad ke-16 Santa Teresa
dari Avilla, adalah tindakan perpanjangan tangan Allah
satu bagi yang lain: “Tuhan tidak punya tangan, tidak
punya kaki, tidak punya suara selain kita; melalui kitalah
Tuhan bekerja.” Dibesarkan dalam suatu keluarga besar
di desa di mana semunya bekerja keras, aku tak pernah
mendengar orang bicara tentang pelayanan seperti itu,
namun orang tuaku tentu memandang pelayanan dengan
rujukan yang sama di masa lalu.
Yang jelas kami diajar mengenal pentingnya
pekerjaan. Sejak kecil aku ingat ayahku menekankan
fakta bahwa Yesus adalah “hamba yang menderita,” yang
menyamakan diri dengan kaum miskin dan tertindas; yang
memilih keledai (bukan kuda) sebagai tunggangannya
untuk masuk ke kota Yerusalem; yang menyambut anak
kecil, mengunjungi orang tersisih, menyembuhkan orang
sakit, berbicara dengan para pendosa, akhirnya, Ia
membasuh kaki para murid-Nya; namun pelayanan-Nya
tidak dikhotbahkan sebagai suatu keutamaan. Pelayanan
hanya perlu dilaksanakan.
Ketika satu-satunya pekerjaan yang didapat ayahku
adalah menjadi tukang kebun di suatu lokasi penderita
kusta, ayah tidak mencari keuntungan dari situ.
Berbagai Batu Pijakan 237

Walaupun di sana bisa saja dia tertular kusta dan


karenanya bisa tinggal permanen di sana, namun kepada
anak-anak ia tak pernah berkata begitu. Dia berkata
bahwa ia merasa terhormat dapat melayani orang lain
dengan rendah hati dan dengan suka cita.
Tentang ibuku, ia selalu sibuk, membawakan warga
yang tua atau ibu lain seikat bunga atau semangkuk
masakan, ia terlambat makan karena menemani orang sakit;
bangun pagi-pagi untuk menulis surat untuk seseorang yang
kesepian, atau menyelesaikan rajutan untuk hadiah.
Pada tahun-tahun selanjutnya aku terkesan pada
pelayanan yang kulihat di tempat-tempat seperti Catholic
Worker, di mana para sukarelawan membuatkan sup dan
sandwich, menyapu lantai dan meluangkan banyak waktu
untuk mendengarkan masalah para gelandangan dan
orang-orang miskin, yang tidak selalu tahu terima kasih.
Ruth Land, seorang anggota Bruderhof dan mantan
dokter menyatakan pelayanan sederhana semacam itulah
yang mendatangkan kepuasan pada dirinya:
Anda bisa mencari damai ke mana-mana, tetapi
Anda tak akan menemukannya. Mungkin juga Anda
bisa melupakan diri sendiri dan melanjutkan pekerjaan
apa saja yang Anda hadapi. Itulah yang
mendatangkan damai - melakukan apa saja yang harus
dilakukan di rumah, menunjukkan kasih kepada
pasangan Anda, atau siapa yang Anda pikirkan. Jika
hal itu Anda laksanakan demi Kerajaan Allah,
pekerjaan itu mendatangkan damai.
Suatu cerita yang dikisahkan ulang oleh Gandhi
menyentuh kebenaran yang serupa: kebaikan kecil yang kita
perhitungkan pada orang lain adalah sama martabatnya
dengan prestasi-prestasi yang lebih mulia. Seorang wanita
yang mengalami masalah datang menjumpai seorang guru
238 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

dan berkata: “O Guru, ternyata saya tak dapat melayani


Tuhan.” Guru itu bertanya “Apakah tidak ada sesuatu yang
kamu cintai?” wanita itu menjawab, “Keponakan saya yang
masih kecil.” Dan Guru itu berkata kepadanya, “Di situlah
pelayananmu pada Tuhan, dalam cintamu kepada anak itu.”
Kadang-kadang malahan pelayanan yang besar nilainya
tidak diperhatikan. Dalam komunitasku, anggota yang tua
bekerja beberapa jam sehari, melipat pakaian di tempat cuci,
membereskan buku-buku di perpustakaan, atau membantu
di bengkel kayu atau besi kami. Dalam hal apa pun
pelayanan mereka sangat tak ternilai, bukan hanya
sehubungan dengan apa yang mereka hasilkan. Pelayanan-
pelayanan itu membuat mereka sejahtera dan damai, dan
kegembiraan yang terpancar di mata mereka ketika
membicarakan pekerjaan itu memperkaya kehidupan kami
bersama dengan begitu indahnya.
Joe Bush, yang berusia tujuh puluh tahun dan
menderita penyakit Parkinson, dulunya adalah seorang
tukang kebun yang andal. Kini kegiatannya terbatas pada
suatu meja, duduk beberapa jam sehari di mana ia
melakukan proyek terjemahan yang panjang, yang lamban
majunya, susah payah mengetik dengan satu jari. Orang
lain mungkin frustrasi bekerja seperti itu, tetapi Joe tidak.
Pekerjaanku sungguh menyenangkan. Tentang itu
aku ingin mengingatkan sesuatu yang terlintas dalam
pikiranku. Di suatu gereja seorang pendeta terus-
menerus menyebut penghargaan yang kita dapatkan
dari kerja keras dan setia. Sepertinya ia yakin bahwa
kita punya neraca pahala di surga. Aku tidak cocok
sama sekali dengan gagasan itu.
Sebab bagaimanapun, dalam neraca itu kita punya
kekurangan besar, utang besar… lalu kita akan mati sebagai
pendosa, sekalipun kita sudah berusaha keras menyesal
Berbagai Batu Pijakan 239

dan bertobat setiap hari untuk sekian lama, tapi aku tidak
merisaukan hal itu. Aku punya tugas untuk kukerjakan,
suatu pelayanan yang harus kulakukan, dan aku ingin
terus melakukannya dan menyerahkannya selebihnya
kepada Tuhan, menyerahkan diri kepada-Nya dan
menunggu saat kedatangan Kerajaan-Nya dengan segala
kemuliaanNya dan dunia baru yang diciptakanNya.
Istri Joe, Audrey, juga mendapatkan kedamaian
dengan melayani orang lain.
Joe dan aku mungkin tinggal sebentar lagi dalam
kehidupan yang fana ini, tetapi ada keabadian
terbentang di depan kami, dan hal itu menimbulkan
pemikiran yang sangat mengagumkan. Jika kita berkata:
“Tidak terima kasih, aku bisa melakukanya,” kepada
mereka yang peduli pada kami (setengah buta dan
setengah lumpuh), adalah bukan karena kami tidak
bersyukur. Masalahnya adalah hidup ini jadi lebih
mengagumkan ketika kami dapat memanfaatkan diri
kami sejauh mungkin. Lilin yang tinggi tidak segera
padam walaupun tinggal dua senti saja; lilin itu terus
menyala sampai tinggal tersisa seonggok kecil saja. Masih
ada banyak hal yang bisa kami lakukan.
Walaupun kami nanti tak lagi dapat melakukan
sesuatu yang berguna sama sekali, kami masih bisa
mendoakan orang lain yang melakukan pekerjaan itu.
Dan kami merasa nyaman karena baris terakhir Soneta
“On His Blindness” karya Milton, yang ditulisnya pada
akhir hidupnya setelah ia buta: “Mereka juga melayani,
walau hanya dengan berdiri dan menunggu.”
Baik Joe maupun Audrey menyatakan bahwa
pekerjaan mereka bermakna karena punya suatu tujuan.
Pekerjaan itu bukan sekadar pekerjaan saja; dan jika
tanpa tujuan, pekerjaan bukanlah pekerjaan, tanpa
sesuatu maksud di dalamnya, pekerjaan tak ada artinya
240 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

dan menyebabkan frustrasi dan putus asa belaka, sama


seperti pengangguran atau situasi tanpa kegiatan yang
dipaksakan. Menurut Victor Frankl, hidup pada umumnya
ada kebenaran yang sama:
Berulang kali aku melihat permohonan untuk hidup
terus, untuk bertahan dalam situasi yang tidak baik,
hanya terjadi jika kelangsungan hidup itu punya suatu
makna dan makna itu haruslah sangat khas dan pribadi,
suatu makna yang hanya dapat diwujudkan oleh orang
itu sendiri dan memberinya kedamaian hati . Kita harus
ingat selalu bahwa setiap orang adalah unik di dunia.
Aku teringat dilema yang kualami di kamp
konsentrasi, ketika berhadapan dengan seorang pria dan
wanita yang hampir bunuh diri. Keduanya menyatakan
bahwa mereka tidak mengharapkan apa-apa lagi dari hidup
ini. Kenapa pertanyaannya tidak dibalik, apa yang
diharapkan dari kita? Aku menyatakan kepada mereka
bahwa hiduplah yang sedang menunggu sesuatu dari kita.
Sesungguhnya, wanita itu ditunggu oleh anaknya di luar
negeri, dan yang pria sedang mengerjakan serangkaian buku
yang mulai ditulis dan sedang dicetak, namun belum selesai.
Kepada yang pria kukatakan, seharusnya ia tidak
bertanya tentang apa yang diharapkannya dari hidup
ini, tetapi seharusnya ia tahu bahwa kehidupan
mengharapkan sesuatu dari dirinya. Bisa juga dikatakan
begini: pada akhirnya, orang tidak menanyakan “Apa
artinya hidupku ini?” tetapi seharusnya sadar bahwa
dirinyalah yang ditanyai. Hiduplah yang menyampaikan
pertanyaan padanya, dan terserah kepadanya mau
menjawab apa atas pertanyaan dari hidup itu secara
bertanggungjawab; hanya dia sendirilah yang dapat
memberi jawaban pada kehidupan ini dengan
mengatakan jawabannya kepada hidupnya sendiri.
Hidup adalah tugas. Kaum religius tampaknya
berbeda dari mereka yang tidak religius hanya karena
Berbagai Batu Pijakan 241

mereka itu mengalami keberadaan bukan sekadar sebagai


suatu tugas saja, tetapi sebagai misi. Ini berarti bahwa
mereka juga menyadari keberadaan Tuan yang
mempunyai Pekerjaan, sumber misi perutusan mereka.
Selama ribuan tahun, sumber itu disebut Tuhan.
Dipandang dengan cara ini, hidup menyediakan
maksud yang indah bagi kita, yaitu agar sepenuh-
penuhnya digunakan untuk melayani orang lain, sehingga
kita siap sedia bertemu dengan Tuhan ketika kematian
tiba. Aku sering berada di samping ranjang orang yang
sedang menjelang kematian, dan jelas, sebagian
meninggal dalam damai, sedang yang lain begitu tersiksa.
Perbedaaan mereka itu terletak pada cara hidup mereka,
apakah mereka melayani, ataukah mereka hidup minta
dilayani? Pada akhirnya, satu-satunya yang berharga
hanyalah hubungan dengan sesama dan dengan Tuhan.
Hidup demi diri sendiri terus menarik kita agar
memikirkan apa yang harus kita serahkan, sekalipun
kita melakukan pengorbanan juga di sana sini. Akhirnya
kita memandang segala sesuatu dari sudut bagaimana
akibatnya pada diri kita sendiri. Cara hidup seperti itu
menghasilkan sedikit kedamaian. Pelayanan kepada
orang lain menghindarkan kita dari situasi seperti itu,
karena hal itu mengingatkan kita terus-menerus akan
tujuan untuk apa kita hidup, dan membantu kita
melupakan diri sendiri. Pola itu juga memberikan suatu
perspektif baru pada kita, perspektif yang
memungkinkan kita melihat seberapa besar ukuran
kehidupan kita terhadap yang lain di alam semesta ini.
Pelayanan yang benar selalu merupakan tindakan
yang menunjukkan cinta kepada orang lain. Hal ini
mudah sekali dilupakan, juga dalam komunitas religius
sekalipun, di mana pelayanan merupakan inti dari
242 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

komitmen setiap warga. Setiap kali kita menganggap


pekerjaan kita menjadi suatu tujuan sendiri, kita
kehilangan pandangan akan kasih sayang yang
memberikan pada pekerjaan itu maksud yang lebih dalam,
sehingga berangsur-angsur pekerjaan itu menjadi tanpa
jiwa, sekadar kegiatan mekanis saja. Dengan kasih,
pekerjaan yang paling duniawi pun punya makna. Tanpa
kasih, pekerjaan yang mulia menjadi remeh-temeh.
Beberapa waku yang lalu aku mengunjungi Village
des Pruniers (Plum Village), suatu komunitas Buddhis
Thich Nhat Hanh di Perancis. Suatu hal yang sangat
mengesankan adalah para penghuni di sana terus-menerus
memupuk kesadaran akan pekerjaan sebagai pelayanan.
Selalu ada banyak yang perlu dikerjakan di Plum
Village, misalnya terkait dengan pendirian gedung-
gedung, pemugaran rumah-rumah lama dan beberapa
kebun anggur yang masih perlu dipertahankan. Namun
bekerja demi kerja saja diragukan. Mereka tidak begitu
saja menerima kebiasaan Barat yang menekankan apa
yang harus diselesaikan selama hari itu, para penghuni
Plum Village mengembangkan gagasan menghayati saat
ini. “Ketika mereka berhadapan dengan setiap situasi,
setiap tindakan, setiap pertemuan dengan orang lain,
mereka menganggapnya sebagai peluang untuk menjadi
“hidup secara lebih penuh (more fully alive)’.” Karl Rich,
seorang penghuni di sana menjelaskan:
Kiat bekerja dengan kesadaran penuh membantu
kami merenungkan gagasan tentang menjadi efektif. Hal
itu membantu kami mempertanyakan obsesi kami dengan
berbagai tujuan dan gagasan, bahwa segala sesuatu harus
dilaksanakan “seperti itu.” Kami lalu memandang secara
baru gambaran yang kami miliki tentang diri kami,
apakah baik atau tidak baik dalam tugas kerja tertentu,
Berbagai Batu Pijakan 243

dan membantu menyingkapkan kegembiraan, yang


seharusnya menginspirasikan segala sesuatu yang kita
lakukan, entah bekerja di ruang kaca untuk persemaian,
entah memotong kayu, membersihkan toilet, menulis
atau menjemur cucian. Sangat sering kita berkerja begitu
saja, tanpa kesadaran penuh dan membiarkan kesibukan
kita merusak keselarasan dan kebahagiaan kita.
Sebuah bait dari buku nyanyian di situ menjelaskan
lebih lanjut sikap itu dan menunjukkan prioritas, sejauh
berkaitan dengan pelayanan.
Aku berjanji menyampaikan kegembiraan kepada satu
orang di pagi hari
Dan meringankan kesedihan satu orang di sore hari.
Aku berjanji hidup sederhana dan sehat,
Mencukupkan diri dengan sedikit harta.
Aku berjanji merawat diriku secara sehat .
Aku berjanji melepaskan segala cemas gelisah
Supaya hidupku ringan dan bebas.
Orang-orang yang skeptis mungkin meremehkan
pengertian kerja sebagai sesuatu yang sangat disadari,
atau kesadaran diri yang luar biasa ini. Namun mereka,
kita juga, harus ingat bahwa (lebih dari yang lain),
pelayananlah yang memberikan tangan dan kaki kepada
Injil. Pelayanan kasih adalah hakikat dari ajaran Yesus -
Yesuslah yang berjanji bahwa jika kita mengikuti Dia,
maka Dia akan memberikan kepada kita damai yang
melampui segala akal.
Kristus tidak menyelamatkan orang yang beseru
kepadanya “Tuhan, Tuhan.” Tetapi Dia menyelamatkan
orang yang dengan tulus memberikan roti kepada orang
yang kelaparan, tanpa berpikir tentang Dia sedikit pun.
Dan mereka ini, ketika Yesus memuji, menjawab : Tuhan,
244 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

kapankah kami memberi Engkau makan? .... Seorang


Ateis dan orang “kafir” yang sungguh dapat berbelas
kasihan, adalah sama dekatnya dengan orang Kristiani
kepada Tuhan, dan karenanya mereka mengenal Dia
sama baiknya, sekalipun pengenalan mereka itu
dinyatakan dengan kata-kata yang lain, atau tetap tak
terucapkan. Sebab “Allah adalah kasih.”
Simone Weil
245

Bagian

Hidup yang Berkelimpahan


“Kami memandang hidup
dan tak dapat menguraikan gita abadi:
Cincin dan Simpul suka dan duka
dijalin dan saling kait semuanya.”
Ramayana
246 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Hidup
yang Berkelimpahan

K ita tak akan pernah mencapai situasi damai yang


sempurna, atau mendapatkannya sekali untuk
selamanya. Kita dapat meniti batu pijakan melintasi
arus dengan hati-hati seperti yang kita kehendaki,
namun sampai di sisi lain sana, kita masih diri kita
sendiri yang tidak berubah.
Pada saat yang sama, tidak diragukan lagi bahwa
sekali kita mengalami damai, hati kita terbuka pada
dimensi baru hidup ini. Dalam arti tertentu, dimensi baru
itu lebih dari sekadar damai. Hidup baru itu keberadaan
baru yang dijanjikan kepada kita dalam perkataan Yesus,
“Aku datang supaya mereka memperoleh hidup, dan
mempunyainya dalam segala kelimpahannya.”117
Beberapa orang yang menjadi kontributor buku ini
berkata kepadaku, justru ayat itulah yang paling
menentukan ziarah perjalanan mereka. Mereka bilang,
mencari damai sebagai suatu tujuan sendiri juga
merupakan suatu tindakan yang terlalu tertuju pada diri
sendiri: “Kini damai sudah kudapat. Lalu apa lagi?”
Tentang “hidup yang berkelimpahan” mereka
menganggap ungkapan itu paling tepat melukiskan apa
yang sedang mereka cari, dan hal itu bukan bagi diri
mereka sendiri – suatu kebebasan hidup dan kegembiraan,
komitmen, kasih, keadilan dan kesatuan. Bukannya suatu
hidup tanpa air mata dan penderitaan, namun suatu hidup

117 Yoh 10:10


Hidup yang Berkelimpahan 247

di mana semuanya itu mendapatkan tempatnya dengan


latar belakang yang kuat dari Kerajaan Allah, di mana
damai yang sempurna berada.
Josef Ben-Eliezer seorang Eropa keturunan Yahudi
yang bergabung dengan komunitas kami beberapa tahun
yang lalu dalam rangka mencari kehidupan seperti itu,
walaupun pada waktu itu ia seorang ateis, melukiskannya
dengan cara lain:
Yang menggerakkan pencarianku adalah
kebencian dan pertumpahan darah yang kulihat di masa
kecilku dan masa mudaku, khususnya selama Perang
Dunia Kedua, ketika keluargaku lari dari Jerman ke
Polandia, kemudian ke Siberia, dan akhirnya ke Israel.
Aku rasa damai hanya dapat ditemukan dalam konteks
jawaban kebutuhan universal dalam persaudaraan. Itulah
yang mendorongku untuk mencarinya.
Aku terlibat dalam gerakan pembebasan nasional
di Israel dan konflik-konflik yang disebabkannya, lalu
pergi meninggalkannya setelah aku mengalami bahwa
setelah gerakan ini memperoleh kekuasaan, ia bersifat
menindas. Kemudian aku mencari jawabannya dalam
revolusi dunia. Aku mempelajari Marx, Lenin dan
Trotsky, dan kemudian di Paris, aku melibatkan diri dalam
berbagai gerakan sayap kiri. Namun suatu pertanyaan
yang terus mengganggu dan makin lama makin terasa
adalah: di manakah ada jaminannya bahwa jika suatu
revolusi berjaya, mereka yang memperoleh kekuasaan
tidak menindas rakyat mereka sendiri, seperti yang terjadi
di Rusia atau di tempat lainnya?
Ketika aku mengunjungi Bruderhof dan membaca
tentang orang-orang Kristiani perdana yang mengilhami
cara hidup komunitas itu, aku terkesan oleh sesuatu yang
baru. Aku memandang gereja perdana sungguh-sungguh
suatu gerakan revolusioner yang mewartakan suatu
tantanan baru dan menghayatinya. Dan walaupun Yesus
merupakan pusat hidupnya, namun bukanlah Yesus dari
248 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

agama Kristiani konvensional, melainkan Yesus yang sejati,


yang adalah Putra Allah historis, yang kuasa-Nya
mengatasi pemisahan antar pribadi dan bangsa-bangsa....
Aku menemukan suatu persatuan hati yang kucari-
cari selama bertahun-tahun. Aku yakin kesatuan itu
dirindukan setiap orang. Namun, memang diperlukan
pembaruan hati sebelum kesatuan itu diberikan. Itulah
sebabnya Yesus menyerukan pertobatan untuk
mengubah seluruh hidup kita. Aku telah mengalaminya
dan terus mengalaminya. Namun Yesus tidak mengajar
kita untuk mencari keadaan jiwa yang damai bagi diri
sendiri. Ia berkata, “Carilah dulu Kerajaan Allah!”118
Dalam bukunya, Inner Land, kakekku membahas
pencarian damai dengan cara yang serupa. Ia berkata,
“Walaupun banyak orang berkata bahwa mereka akan
mendapatkan damai dengan mengusahakan kebahagiaan
sendiri, hal itu adalah gagasan yang keliru.” Damai tidaklah
sama dengan pemulihan emosi, tulisnya, damai juga lebih
dari sekadar perasaan pribadi. “Adalah dorongan yang lain
sama sekali yang menempatkan diriku di jalan pemuridan;
yaitu panggilan untuk mewartakan kehendak Allah dalam
mengikuti Kristus. Panggilan yang berasal dari tempat
kerajaan-Nya di masa depan, yang menaruh keadilan dan
hormat melebihi kenyamanan perorangan....”
Damai sejati, lanjutnya, haruslah lebih dari kepuasan
jiwa. Yang jelas, kebersamaan dengan Kristus dan dengan
sesama menuntut agar setiap orang dapat berdamai dengan
dirinya sendiri. Namun tidak hanya berhenti di situ. Karena
damai itu juga berarti bebas dari pemisahan, justru karena
merupakan “buah dari kehendak ilahi akan kesatuan, dan
dari situ segala situasi dan hubungan, segala sesuatu dan
tindakan dituangkan dan cahaya dari Kerajaan Allah.”

118
Mat 6:33
Hidup yang Berkelimpahan 249

Jane Clement, seorang wanita penulis yang sudah


lama menjadi anggota komunitas kami menyatakan
bahwa sebelumnya bertahun-tahun ia mengupayakan
kedamaian hati. Namun justru setelah melupakan
pencariannya dan menempatkan hidupnya dalam sesuatu
yang lebih besar daripada dirinya sendiri, barulah dia
mendapatkan damai itu.
Dalam proses yang terus-menerus untuk lepas dari
diri sendirilah kita menjadi makin lebih mengandalkan
Tuhan. Kita mengupayakan perkembangan Kerajaan,
bukan demi diri kita sendiri. Tujuan kita bukanlah dispilin
diri melainkan berfungsinya komunitas di sekeliling kita
secara harmonis.... Bagiku adalah sesuatu yang hebat
dapat menjadikan diriku bebas dan tidak dianggap
penting, karena dengan hal itu kudapatkan ketenangan
dan keselarasan jiwa yang dulunya kucari-cari melalui
pemeriksaan diri dan kepekaan diri yang berebihan.
Sedikit dari antara kita mengalami pembebasan
seperti itu. Kita menyerah pada perpecahan dan situasi
tidak – damai. “Seperti itulah biasanya,” dan kita
melupakan khazanah yang disediakan Tuhan bagi kita.
Hanya jarang-jarang saja kita dapat mengerling pada
kebesaran-Nya. Pada umumnya karena kesibukan dari
hari ke hari dan karena kebodohan dan kekerasan hati
kita sendiri, kita dihalangi untuk melihat lebih jauh
dari ujung hidung kita sendiri. Jika pun kita
mengupayakan damai, kita cenderung mengejarnya
untuk diri kita sendiri.
Ketika menulis tentang mencari damai untuk diri
sendiri, Thomas Merton menyarankan agar upaya itu
disertai oleh apa yang disebutnya keterbukaan kasih.
Ketika aku datang di biara tempatku berada, aku
memberontak terhadap kekacauan dari suatu kehidupan
250 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

yang tiada artinya, yang di dalamnya ada begitu banyak


kegiatan, begitu banyak simulasi di permukaannya saja
dan tidak perlu, yang menyebabkan aku lupa siapa aku.
Namun faktanya tetap saja bahwa pelarianku dari dunia
bukanlah karena kesalahan Anda yang tetap di dunia,
dan aku tidak berhak melawan dunia dengan cara yang
negatif semata, karena jika hal itu kulakukan, pelarianku
itu tidak akan mengantar aku pada kebenaran dan
kepada Tuhan, melainkan pada suatu ilusi yang bersifat
pribadi walaupun saleh....
Kehidupan kontemplatif memang mencari
damai, tetapi bukan dalam suatu keasingan yang
abstrak dari semua realitas di luar, bukan dengan
menutup indra secara kosong dan menyangkal dunia,
namun dalam keterbukaan kasih.
Mary Wiser, seorang anggota komunitas kami, mulai
mencari makna hidup ketika ia masih anak-anak. Ia
segera mendapatkan bahwa upayanya itu menyangkut
lebih dari sekadar kedamaian jiwa dan pencapaian
kebahagiaan pribadi.
Ada benang yang menghubungkan seluruh
hidupku yang membuatku selalu mencari Kerajaan
Allah. Sejak masa kanak-kanakku aku mencintai bumi
ini, dan aku selalu terikat erat dengan apa pun yang
kucintai, namun aku tak teringat tepatnya kapan suatu
saat ketika aku lalu tahu ada negeri lain yang lebih cerah,
lebih semarak dan lebih hidup daripada bumi ini, dan
aku adalah warganya.
Dari kecil aku sudah mengenal kata-kata Yesus,
“Carilah dulu kerajaan Surga”119 dan “Barang siapa tidak
membenci ayah dan ibunya....” 120 Aku merasa bahwa
Yesus memanggilku. Tetapi aku juga sangat sadar akan

119
opcit
120
Luk 14:26
Hidup yang Berkelimpahan 251

keyakinan orang tuaku bahwa bentuk kasih dan


kebahagiaan yang tertinggi adalah hidup demi keluarga.
Aku memerhatikan orang-orang usia paruh baya yang
mengantuk di gereja menyanyi : “Iman dari para bapa
kami ... dapatkah kami seperti mereka mati untuk
Tuhan?” Apakah mereka tahu apa yang mereka
nyanyikan? Aku bergabung di gereja ketika umurku dua-
belas tahun, dan heran serta bingung karena tampaknya
orang tidak begitu menganggapnya penting. Acara-acara
pertemuan Free Methodist menarik hatiku namun
sekaligus membuatku tak suka.
Dan perang? Aku dilahirkan pada 1918 persis
ketika Perang Dunia Pertama berakhir, di suatu sudut
pedesaan yang tampaknya aman di New York. Namun
dari kenangan awalku dari mendengarkan para veteran,
aku tahu pengalaman mereka di Perancis. Suatu hari
seorang teman mainku dan aku mendapatkan di kamar
neneknya serangkaian foto pertempuran di lubang
pertahanan. Aku tak percaya: orang yang biasa kukenal
sehari-hari membunuh orang lain!
Sekolah Minggu Metodis kami melakukan
serangkaian acara yang bertema damai, dan aku
mengikutinya dengan suka cita. Di sekolah menengah
aku melakukan penelitian tentang sebab-sebab perang.
Tak ada orang lain yang berminat.
Ayahku menginginkan aku menempuh arah hidup
yang lazim: Perguruan Tinggi yang baik, pekerjaan yang
aman, lalu hidup mapan. Tetapi pada akhir sekolah
menengah pikiranku mengembara jauh dari lingkungan
kota kecilku, suatu milieu Republikan: aku begitu haus
akan hidup. “Aku datang supaya mereka memperoleh
hidup, dan melukiskan dengan segala kelimpahannya.”121
Kata-kata itu bergema di hatiku.

121
Yoh 10:10
252 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Mary menerima bea siswa dari Universitas Cornell


dan menemukan cakrawala dunia yang luas dan
dipengaruhi oleh perikemanusiaan sekular, politik yang
progresif, dan kehidupan seksual yang liberal. Dia juga
menemukan sekelompok teman di kampus yang punya
minat yang sama dalam hal rasisme dan perang.
Kami sungguh-sungguh radikal pada waktu dan
masa itu. Perang Saudara sedang berlangsung di Spanyol,
dan Hitler baru saja mengembang-luaskan otot-ototnya.
Kami harus berpikir dengan semangat cinta damai –
kelompok kami menyusut lebih kecil lagi.
Selama semester pertama tahun terakhirku kami
mengalami periode depresi ekonomi untuk yang pertama
kali dalam hidupku. Aku diwisuda namun dasar
kepercayaanku kepada Yesus melemah, dan walaupun
aku masih berpegang pada ajaran Injil sosial-Nya, aku
kehilangan damai yang kupunyai di masa kecil. Aku
tidak dapat memperolehnya kembali.
Setelah mengajar di Sekolah Menengah di dekat
Ithaca, Mary bertemu Art, seorang pecinta damai yang
gigih dan aktivis antiperang. Mary menikah dengan Art,
“walaupun aku tidak pernah mendengar penolakan yang
penuh kesadaran selain di Perguruan Tinggi.” Sesudah
mereka menikah, Mary terkejut mendapatkan Art ternyata
tidak percaya kepada Tuhan, tetapi Mary percaya pada
kebulatan sikapnya yang merujuk kepada Khotbah di Bukit.
Tahun-tahun selanjutnya, 1941-1945, mencobai
kami, sebagaimana dialami oleh seluruh generasi kami.
Di dalam “perang hebat yang terakhir itu” ada banyak
penghinaan terhadap perwira tentara seperti suamiku,
yang menolak membantu untuk menghentikan Hitler.
Kami menderita bersama teman-teman yang menolak
perang juga dan penderitaan yang mengerikan dari
Hidup yang Berkelimpahan 253

jutaan orang yang negaranya dilanda perang di seberang


sana, selalu kami sadari. Gereja kami memasang bendera
Amerika di atas gentengnya dan aku tak pernah masuk
ke dalamnya lagi.
Seperti kebanyakan penentang perang lainnya, Art
ditahan selama perang. Art dikirim ke kamp Pelayanan
Publik Sipil di North Dakota. Mary pindah mendekati
Art dan mendapat pekerjaan dengan mengajar di suatu
sekolah satu kelas. Sentimen anti Jerman begitu kuat
dan para pecinta damai tidak disukai.
Pada suatu malam para orang tua murid yang
kudidik menggerombol melawan aku di sekolah,
tempatku tinggal dan mengajar. Untungnya mereka
segera ditenangkan dan menyimpulkan bahwa suamiku
yang “pengecut” di kamp PPS di dekat situlah yang
bertanggungjawab....
Menjelang akhir perang Art merasa bahwa ia harus
memprotes seluruh mesin perang – ia tidak ingin lagi
menjadi bagian darinya dan keluar dari kamp. Ia segera
ditangkap dan dipenjara selama beberapa bulan.
Kami berbagi tahun-tahun itu dengan beberapa
pasangan lain yang mencari cara hidup yang lebih
sederhana, suatu cara hidup yang menghilangkan sebab-
sebab dari perang. Kami memutuskan untuk mempelajari
komunitas, kemudian kami tinggal bersama sekelompok
orang yang sama di suatu komunitas di Georgia Utara.
Namun ketika kami hidup bersama, lalu jelas sekali
bahwa kami terlalu dangkal dalam melawan kejahatan,
karena kepercayaan kami dan gagasaan kami berbeda-
beda. Saatnya untuk berubah.
Art dan aku mengalami banyak “Semangat
Kerajaan” pada diri teman-teman dan dalam beracam-
macam kalangan yang terhormat, Kristiani, maupun
bukan Kristiani, dan mengalami banyak kebaikan pada
orang-orang yang “baik”. Namun kami begitu silau
254 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

dibutakan oleh Raja Kerajaan, satu-satunya kekuatan


yang dapat mengatasi yang jahat dalam masyarakat, yang
juga terdapat dalam setiap orang. Akhirnya aku sadar
bahwa aku selalu membayangkan Yesus. Aku tak pernah
berhenti bertanya siapa Dia. Begitu aku melakukan hal
itu, dengan cepat kudapatkan lagi kepercayaanku.
Kemudian aku menceritakan pegalamanku
kepada Heinrich, seorang teman dekat. Aku tak pernah
mendapatkan jawabannya: “Sama saja dengan apa
yang kualami, hanya aku juga telah diadili.” Aku
terkesan pada kerendahan hatinya. Dan selanjutnya
aku tahu bahwa aku perlu, dan merasa rindu, untuk
memperoleh keadilan juga.
Mengenang kembali masa itu, Mary melihat
pentingnya sesal-pertobatan.
Aku sekarang melihat bahwa ternyata diriku sendiri
melawan Kerajaan dengan citra-diriku yang baik dan
ambisi agar aku digunakan oleh Tuhan. Aku telah
menerima segala kebaikan yang berasal dari Tuhan
untukku, namun tidak mau menunjukkan hatiku yang
bergolak. Cahaya tentu menerobos masuk ke celah
hatiku sebelum menyentuh keburukan itu, yang
malunya, perlu waktu lama untuk itu. Namun dengan
pertolongan saudara-saudara, pria dan wanita, aku
bergumul hingga lahir dan batinku bersatu, lalu aku
mendapatkan kebebasan yang indah.
Aku berpendapat bahwa nilai-nilai yang kupegang
sejak masa muda sudah berubah secara radikal, tetapi
telah diperdalam, dari idealisme persaudaraan insani
menjadi hidup nyata yang dihayati, dengan Doa Yesus:
“Supaya mereka menjadi satu, ya Bapa, sama seperti kita
adalah satu”122 menjadi jangkar dan kebahagiaanku. Doa
berangsur-angsur menjadi suatu keajaiban bagiku, dan
kini aku menganggapnya sebagai suatu tannggug jawab,
setelah aku tak dapat aktif lagi.
122
Yon 17:32
Hidup yang Berkelimpahan 255

Ya, aku tahu damai yang diberikan Yesus. Tetapi


damai itu bukan ketenangan belaka. Tetapi ada masa
penuh pergumulan. Bagiku, damai adalah pergulatan
Roh Kudus untuk menaklukkan seluruh bumi, termasuk
ranah batin yang tak kelihatan, bersenjatakan kasih,
untuk diserahkan kepada Tuhan. Untuk mengalami
kedamaian dan menghargai sebagai mutiara yang paling
berharga itulah hidup mendapatkan maknanya.
Ketika aku menyadari bahwa pertarungan demi
Kerajaan Allah itu berlangsung di seluruh semesta, aku
kagum, terutama oleh kedatangan Allah Putra, Yesus ke
dunia, dan kesetiaan-Nya menyertai kita melalui perjuangan
kecil kita. Aku percaya bahwa kisah hidup perorangan kami
juga merupakan bagian dari pertarungan itu pula, karena
merupakan karya Allah. Dan aku dengan gentar
memandang keabadian sebagai kelanjutan dari kisah Allah
yang indah ini. Aku yakin kasih itu akan terus bergulir.
Pemikiran Mary membawa kita jauh melampui pencarian
kedamaian hati kembali pada paradoks kebenaran, bahwa
hanya dia yang kehilangan nyawanya yang mendapatkannya.
Mereka yang menyerahkan hidup sepenuhnya demi Kerajaan
Allah sedemikian rupa sehingga upaya mereka mencari
kesempurnaan pribadi jadi tidak penting lagi, dan mereka
akan mendapatkannya seratus kali lipat.
Hidup kita tidak dipersempit, malahan diperluas;
tidak terbatas namun melampaui-batas; tak lagi diatur,
namun lebih meluap; tak lagi sekadar pameran belaka,
tetapi diberikan dengan murah hati; bukan hanya
sehat, tetapi penuh semangat; tidak lagi kecil hati, tapi
berani; tidak kosong lagi dan sekadar insani, tetapi
dipenuhi Allah; tidak sedih, tapi gembira; tidak tanpa
daya, tapi kreatif. Semua ini adalah karena Yesus dan
semangatNya yang bebas dan damai. Ia sedang datang
kepada kita; “Marilah kita menjelang masa depanNya
yang gemilang dengan gembira.”
Eberhard Arnold
256 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Jaminan Keselamatan
Aku tidak percaya bahwa Tuhan menghendaki
kita berpura-pura tidak merasa takut, menyangkal rasa
takut, atau menelannya begitu saja. Rasa takut
mengingatkan bahwa kita ini makhluk ciptaan yang
lemah, rentan, sepenuhnya bergantung pada Tuhan.
Namun rasa takut tak boleh mendominasi diri kita hingga
mengendalikan dan mengungkung diri kita, namun, rasa
takut itu harus tunduk pada iman dan kasih, jika tidak
rasa takut itu bisa membuat kita tidak percaya,
diperbudak dan tidak manusiawi lagi.
Aku menyadari bahwa perjuangan meliputi rasa
takut namun aku menolak arahannya, menganggapnya
hanya sekadar melihat gejala luar saja, sedang iman dan
kasih melihat esensinya, melihat realitas, melihat Allah,
karena itu: “Jadilah berani. Jangan takut!”
Philip Berrigan

D ua kali dalam hidupku aku mendapat kehormatan


bertemu Ibu Teresa dan dua kali aku mengagumi
hal yang sama: keyakinannya. Ibu Teresa dikenal dalam
sejarah pertama-tama dan terutama karena karyanya
di Kalkuta mengurus orang yang sedang sakit keras
tak terawat dan menjelang kematian. Itu tepat. Tapi
siapa pun yang meluangkan waktu melayani kaum
miskin tahu bahwa pekerjaan baik seperti itu saja tidak
menghasilkan kepenuhan hidup. Sesungguhnya
banyak orang yang menyerahkan diri dalam karya
semacam ini malahan frustrasi dan lelah luar biasa.
Ketenangan Ibu Teresa berakar lebih dalam daripada
sekadar karyanya belaka: ada rasa aman dalam
Hidup yang Berkelimpahan 257

panggilannya itu, dan ada jaminan pula untuk


tempatnya dalam kehidupan.
Rasa aman itu banyak bentuknya: keyakinan, bebas
dari rasa takut, tak ada rasa cemas dan ragu. Jaminan
itu juga meliputi pengertian akan tujuan kita, akan jatidiri
dan maksud keberadaan kita di dunia. Pada diri Ibu
Teresa, cita rasa misi ini begitu kuat. Menggunakan suatu
perumpamaan ia mengatakan bahwa dirinya hanyalah
sebatang pensil di tangan Allah. Ini memberinya daya
kekuatan, betapa pun ia dikritik dan dicela orang.
Orang zaman ini kekurangan jatidiri yang kuat;
Soren Kierkegaard123 menunjukkan satu setengah abad
yang lalu, bahwa orang tidak berani bertahan berpegang
pada pendapat yang berlawanan, dan lebih buruk lagi,
tak berani punya pendapat. Apakah mengherankan jika
hanya sedikit yang dapat menemukan damai? Bukan
maksudku menganjurkan agar kita berusaha meniru
semangat kerja yang hebat dan komitmen Ibu Teresa.
Orang yang lain mempunyai panggilan yang berbeda, dan
sering kali jalannya menuju damai lebih panjang dan
berat, dengan belokan dan putaran yang tak terduga.
Namun stabilitas batin timbul pada seseorang yang merasa
yakin di hadapan Tuhan, dan janganlah hal ini
diremehkan. Orang semacam ini mempunyai keamanan
yang tidak dapat direbut oleh siapa pun, sebagai buah
dari kedamaiannya.
Freda Dyroff, seorang anggota Bruderhof,
meninggalkan tanah airnya, Inggris, dan bergabung
dengan komunitas kami di Jerman pada tahun 1930-
an. Secara lahiriah hal itu agak mengherankan. Sebab
dengan bergabung ia menerima kemiskinan ekstrem,
belajar bahasa dan adat yang asing baginya, dan pindah
123
Filsuf dan teolog Denmark, 1813-1855.
258 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

ke suatu negara yang hendak berperang melawan


negara kelahirannya. Namun Freda yakin ia memilih
jalan yang tepat:
Secara material tidak ada yang menarik bagiku,
namun yang pasti ada panggilan yang menimbulkan
pertentangan namun menjanjikan damai. Komunitas
memang begitu miskin, dan hidup di sana keras dan
kasar. Tapi hal itu tidak menggentarkan diriku. Di situ
pria dan wanita hidup selaras dalam dunia yang justru
sedang terpecah-pecah. Mereka menghayati suatu
solusi: menghapuskan perbedaan kelas dan ketidak-
samaan sosial, dengan meninggalkan harta pribadi dan
menghimpunnya jadi satu. Tak seorang pun memiliki
sesuatu dan setiap orang berbagi dengan apa yang
mereka punya. Dan hal itu bukan hanya suatu visi,
sesuatu yang dibaca saja, misalnya dalam Kisah Para
Rasul, tapi suatu kenyataan.
Aku bergabung, dan dengan itu aku akhirnya
merasakan damai dari Allah yang kucari-cari selama
bertahun-tahun: mengajar, bekerja di tempat-tempat
kumuh di London, dan lain-lain. Tentu saja aku harus
melepaskan banyak hal untuk mendapatkan kedamaian
itu: rumahku, rumah tanggaku, keluarga besar, dan
teman-teman; negaraku, bahasaku; kenyamanan
kehidupan borjuis dan sebagainya.
Tak seorang pun memahami mengapa aku
melakukan hal ini dan aku membuat heran, bahkan
melukai hati hingga menimbulkan permusuhan
bahkan kebencian dari orang-orang yang tadinya
sangat dekat dengan diriku. Selanjutnya aku malahan
masih harus menanggalkan banyak hal lagi;
individualisme (namun bukan hati nuraniku), hasrat
diriku dan pendapatku yang kuat.
Sebaliknya aku mendapatkan kasih yang besar dan
tak bersyarat, damai yang dikatakan Yesus, yang merupakan
Hidup yang Berkelimpahan 259

jaminan bahwa Allah akan memelihara diriku dalam


segalanya, termasuk dalam kematian. Aku telah melewati
peristiwa-peristiwa yang mengguncangkan – horor dari
Perang Dunia Kedua, dan penyeberangan yang berbahaya
ke Amerika Selatan ketika Perang Atlantik sedang
memuncak, di mana aku melahirkan anak pertamaku. Ada
situasi yang amat sangat berbahaya dan ketakutan kadang-
kadang menggenggam hatiku. Namun di dasar segalanya
aku selalu merasakan ketenangan batin yang aneh:
Keyakinan kepada Tuhan. Siapa lagi yang aku percaya?
Damai ini berasal dari pengetahuan bahwa sekalipun aku
berada dalam bahaya, kehendak Allah sajalah yang akan
terjadi dan kami semua berada di tangan-Nya.
Semua situasi ini tidak terjadi “begitu saja”. Hidup
bukan satu peristiwa kebetulan, dan damai tidak begitu
saja jatuh ke pangkuan kita. Selalu ada perjuangan, dan
selalu ada pilihan yang harus dibuat.
Di masa mudaku, bertahun-tahun aku mencari
damai. Aku mondar-mondir, bergantian mengabdi Tuhan
dan Mammon, dan hal itu tidak membuatku tenang.
Aku membayangkan semua orang muda mengalami
pengalaman seperti kerinduan dan frustrasi, bahkan suatu
kemelut yang luar biasa. Namun aku tahu hal yang sama:
Carilah! Carilah sampai Anda temukan, dan jangan
menyerah. Berdoalah juga, sekalipun Anda mengira diri
Anda bukan orang beriman, karena Tuhan
mendengarkan keluhan “mereka yang tidak percaya”.
Tuhan akan menolong Anda. Jangan menyerah, dan
lebih-lebih, hindarkan cobaan yang memisahkan Anda
dari apa yang sudah lama Anda rindukan. Jika Anda
jatuh, bangun dan berjalanlah lagi di jalan yang tepat.
Seperti banyak hal lainnya dalam hidup ini, keamanan
bukanlah sesuatu yang selalu seperti itu. Keamanan itu
adalah buah dari damai, itu pasti, tetapi bukan berarti lalu
tidak ada pergumulan dan ketakutan sama sekali.
260 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Sebaliknya, dengan keyakinanlah pergumulan dan semua


kekhawatiran bisa diatasi. Kakekku menulis:
Dunia membuat kita resah. Dan situasi membuat
kita tidak merasa tenteram. Tetapi damai Yesus yang
melawan semua itu bukanlah sekadar rasa-hati. Damai
Yesus lebih dari itu, lebih dari kepuasan atau rasa nyaman.
Dunia juga memberikan “damai” ketenangan dan
penerimaan, sejauh digunakan untuk mencari tujuan
yang lebih mulia. Namun di situ tidak ada kesadaran
akan tujuannya yang paling mendasar. Yaitu hidup yang
sejati dalam Tuhan. Kesadaran ini dengan teguh
dibangun dari kepastian bahwa sang Penyelamat yang
disalib sajalah yang menjadi sumber dan pemelihara
damai kita. Karena dia telah mengalahkan dosa yang
menyebabkan situasi tidak-damai.
Damai terus-menerus baru dan segar, seperti sungai
yang terus-menerus mengalir ke depan dengan air yang
baru dan tak pernah terhenti atau kering. Pengalaman
akan Kristus dalam diri kitalah yang terus bertahan,
yang ingin tinggal dalam diri kita, agar kita juga tinggal
di dalam Dia.
Perasaan dan keadaan hati berganti-ganti. Namun
hasil-hasil dari kasih terus mendorong kita agar terus
berpegang kepada tangan Kristus yang membimbing.
Berangsur-angsur karakter kita diteguhkan dari dalam,
dan sekalipun perubahan dalam sistem perasaan kita
seperti cuaca buruk yang bisa sangat menekan, namun
hanya sedikit saja memengaruhi hidup rohani kita.
Ketika angin kencang meniup permukaan arus
sungai, permukaan itu bergolak, dan timbul gelombang,
seolah-olah arus didorong agar kembali menuju hulu lagi.
Namun arus air tidak akan berganti. Dan dalam
kedalaman dasar sungai, arus bawah terus mengalir tak
peduli bagaimanapun kuatnya angin bertiup melawan
permukaannya. Jadi biarlah orang memperlakukan kita
Hidup yang Berkelimpahan 261

sesuka hati mereka. Jika damai meliputi jiwa kita, arah


kita tetap dijamin mantap, dan tak ada sesuatu pun yang
menggoyahkan kita.
Dalam bukuku I Tell You A Mistery, aku membahas
sesuatu yang sepertinya mendatangkan tantangan besar
pada keyakinan insani kita. Ketakutan universal akan
kematian. Aku tak akan mengupasnya lagi di sini, dan
hanya ingin mengatakan bahwa bahkan tantangan pada
damai ini pun dapat diatasi oleh jaminan yang berasal
dari iman dan melalui kasih, yang dikatakan oleh Yohanes
Rasul melenyapkan ketakutan.124
Martin Luther King Jr. punya alasan tersendiri dalam
hal takut akan kematian itu. Karena kharismanya yang
begitu besar dan sikapnya yang begitu vokal, ia
mempertaruhkan hidupnya berulang kali demi persamaan
ras. Seperti yang kita tahu, pada akhirnya ia terbunuh.
Seperti orang lain juga, King tentu takut mati, namun dalam
beberapa kesempatan perjumpaanku dengan dia, ketika
mendengarkan dia bicara, ia memancarkan ketenangan dan
damai yang mendalam. Tak diragukan bahwa dia begitu
teguh berpegang pada misinya, dan tidak ada rasa takut
yang membuatnya lumpuh dalam melaksanakan misinya.
“Tidak ada kebebasan pada orang yang takut mati,”
katanya pada peserta demonstrasi hak-hak sipil di tahun
1963. “Begitu kalian mengalahkan rasa takut mati,
seketika itu juga Anda merasa bebas.” Teman-temanya
mendesak agar dia mengurangi risiko, tetapi dia
mengabaikannya. “Aku tak bisa mengkhawatirkan
keselamatanku,” katanya. “Aku tak boleh hidup dalam
ketakutan yang telah kukalahkan, itulah rasa takut akan
kematian.... Jika orang belum menemukan tujuan utuk
apa ia akan mati, ia tidak pantas untuk hidup.”
124
1 Yoh 4:18
262 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Magdalena Boller, seorang anggota komunitasku


yang kehilangan ibunya yang mati mendadak ketika
umurnya belasan tahun, merasa bebas dari rasa takut
dalam situasi yang sangat berbeda. Dalam mengenang
pengalamannya itu, ia menyentuh sesuatu yang penting:
damai yang suatu saat memenuhi hati dapat dilimpahkan
kepada orang lain.
Dalam hidupku, damai datang dengan cara yang
aneh dan sangat indah, meluap dari ibuku pada waktu
yang sangat mendesak.
Saudara bungsuku, Felix, sakit keras ketika umurnya
baru sembilan bulan, dan tiba-tiba mati. Kami tinggal di
suatu daerah terpencil di Amerika Selatan, dan
pertolongan medis yang tersedia terbatas dan sederhana.
Pada waktu itu ibuku menulis dalam buku hariannya:
Detak jantung Felix sangat lemah.
Monika, perawat kami, memberikan suntikan
kamfer, dan aku dapat merasakan detaknya
lagi... lalu tiba-tiba matanya terbuka, terus
melebar, begitu biru lazuardi.... Namun
kemudian, cahayanya terus meredup. Hanya
aku yang memerhatikannya. “Moni, dia akan
mati!” aku menjerit. Kami mengatupkan
tangan. Kata-kata doa kami begitu kuat
memohon ke surga: “Tuhan, berilah dia hidup,
jika Engkau menghendaki.” Ah, aku lebih tahu.
Keputusan sudah dibuat. Felix diambil. “Yesus
datanglah!” kata-kata itu terlompat dari hati
kami. Ah, Yesus sungguh datang. Ia datang
untuk mengambil sendiri anakku. Namun
jantung Felix masih berdetak lemah. Ia disuntik
lagi. Lalu diberi napas buatan. Akhirnya kami
tahu semuanya telah berlalu.
Biar aku menggendongnya. Monika
memberikan Felix kepadaku. Anakku terbaring
Hidup yang Berkelimpahan 263

di pangkuanku, begitu lembut, begitu tenang,


sedang jiwanya yang kecil pulang ke tempat
abadi. Ataukah keabadian yang justru datang
kepada kita? Di sampingku, Leo merasakannya
juga. Sangat terasa damai di sekeliling kami dan
di dalam kami. Tenteram, tenteram abadi.
Anakku pulang ke tempat para malaikat dari
mana ia dulu datang. Tenanglah. Jangan bicara
sekarang. Anakku, dengan susah payah aku
melahirkan kamu. Apakah yang memenuhi
hatiku sekarang ini kegembiraan atau
penderitaan, aku tak tahu. Yang kutahu
hanyalah bahwa aku menyerahkan kembali
anakku kepada Tuhan, yang telah memberikan
dia kepadaku. Dan sekarang, pelan-pelan jasad
anakku menjadi dingin di pangkuanku.
Saat itu hari Minggu pagi. Sebagian dari kami, anak-
anak, baru pulang dari jalan-jalan, dan seorang tetangga
menggamit aku dan memberitahu bahwa adikku baru
saja meninggal. Aku sedih sekali dan lari pontang-panting
ke rumah. Ibuku ada di sana. Dia memandangku penuh
cinta. Matanya basah. Ia merangkul aku: “Felix sudah
pergi kepada Yesus,” katanya. Kedamaian dan
kepasrahan ibu meliputi diriku.
Sembilan tahun kemudian ibuku juga meninggal
dengan tiba-tiba, dan kepergiannya sungguh membuatku
menderita. Umurku baru tujuh belas tahun dan belum
setahun aku meninggalkan rumah, dan pulang hanya
untuk satu dua minggu saja. Mama adalah jantung
keluarga kami, aku dan dia sangat dekat. Dan kini ia
pergi, setelah aku kehilangan dia selama setahun yang
lalu. Aku tak dapat begitu saja menerima berita tentang
kepergiannya itu. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Dalam kepasrahanku, bayangan ibu yang matanya
basah namun begitu damai wajahnya, terlintas lagi. Aku
melihat dia di samping ranjang adikku bertahun-tahun
264 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

yang lalu. Dan ketika aku mengenangkan ibu dalam


dukacitanya sekali lagi damainya meliputi diriku, seolah-
olah itulah hadiah perpisahan darinya.
Damai yang dirasakan Magdalena mungkin sesuatu
yang langka, namun ada. Dan Yesus menjanjikan hal yang
sama pada tiap-tiap kita. “DamaiKu Kuberikan kepadamu.”
Mungkin agak lain karena hanya sedikit dari kita yang
bersedia menerimanya. Tolstoy menulis:
Orang mempertanyakan mengapa aku hanya
punya sedikit rasa takut dan mengira ada sesuatu yang
mistik dalam pandanganku tentang hidup dan mati.
Tidak ada hal seperti itu. Aku menyukai tamanku, aku
suka membaca buku, aku suka membelai anak. Dengan
kematian aku akan kehilangan semua itu, maka aku
tak ingin mati, aku takut mati.
Mungkin seluruh hidupku terdiri dari hasrat-hasrat
yang fana seperti itu dan aku menghargainya, maka tak
bisa tidak aku takut pada sesuatu yang akan mengakkiri
semua itu. Namun, makin banyak kulepaskan berbagai
hasrat dan keinginan, dan menggantikannya dengan satu
hasrat yang lain, yaitu hasrat untuk melaksanakan
kehendak Tuhan dan memberikan diriku kepadaNya,
ketakutanku akan kematian lalu berkurang, dan makin
kecillah pengaruh kematian itu pada diriku. Dan jika
seluruh hasratku itu telah diubah, maka yang ada
hanyalah hidup, bukan kematian.
Menggantikan segala yang duniawi dan fana
dengan yang abadi merupakan cara hidup, dan dengan
itulah kita berziarah. Namun bagaimana mengenai
keadaan jiwa seseorang, hanya orang itu sendirilah
yang mengetahuinya.
Hidup yang Berkelimpahan 265

Kepenuhan
Bagaimana tidak hilang jiwa kita, jika segala sesuatu
dan setiap orang menarik kita ke arah yang berbeda-
beda? Bagaimana kita “mempertahankan keutuhan” jika
kita terus-menerus dikoyak-koyak?
Yesus berkata, “Tidak sehelai pun dari rambut
kepalamu akan hilang, kalau kamu bertahan, kamu akan
memperoleh hidupmu.” (Luk 21:18-19). Kita hanya dapat
bertahan di dunia bila kita percaya bahwa Tuhan mengenal
kita lebih daripada kita sendiri mengenal diri kita. Kita
hanya dapat hidup utuh sepenuhnya, jika kita percaya
bahwa Tuhan memelihara kita sepenuhnya. Kita hanya
dapat memperoleh hidup kita jika kita tetap setia pada
kebenaran, bahwa setiap bagian dari diri kita sekalipun
kecil seperti rambut, sepenuhnya aman dalam lindungan
ilahi Tuhan kita. Dengan kata lain: jika kita menghayati
hidup rohani, tak ada yang perlu kita takutkan.
Henri J.M. Nouwen

B agaimanapun uniknya setiap orang, ada benang yang


menjalin segalanya menjadi satu dalam upaya
menuju damai. Sedikit banyak, setiap orang berziarah
menuju suatu keseluruhan kesatuan yang penuh. Ada
orang yang berkata mencari kedamaian jiwa; yang lain
kedamaian hati. Ada yang mencari persahabatan, yang
lain mengusahakan keselarasan dunia. Di dasar
segalanya, semua kerinduan ini digerakkan oleh
percikan-percikan kecil dari hidup dan oleh hasrat-
hasrat yang perlu diatasi.
Charles Headland, seorang anggota Bruderhof yang baru-
baru ini meninggal dalam usia delapan-puluhan, pernah
266 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

bercerita padaku bahwa justru kompartementalisasi hidupnya


itulah yang membuatnya mencari damai. Sebagai seorang
akuntan pada suatu perusahaan besar, ia punya sekelompok
teman; sebagai aktivis perdamaian ia punya kelompok teman
yang lain lagi; sebagai anggota gereja, ia ada teman-teman
lagi; dan akhirnya, kerabat dan handai tolan. Tidak ada yang
mengaitkan pelbagai sektor itu, maka setiap hari Charles harus
melakukan penyeimbangan terus dalam rangka memenuhi
komitmennya pada keempat bidang itu.
John Hinde, sesama gembala dalam komunitasku
menyatakan bahwa ia tidak merasa nyaman dengan gaya
hidupnya begitu menjadi aktivis cinta-damai tak lama
menjelang Perang Dunia Kedua dulu. Sebagai anggota
aktif dalam gerakan perdamaian pada malam hari dan
pada akhir pekan, ia melaksanakan apa saja yang dapat
mengungkapkan sikapnya melawan konflik bersenjata.
Tetapi pada siang harinya ia bekerja sebagai pialang
Asuransi Lloyd di London dan ia merasa memberikan
kontribusi pada semacam pembagian kelas dalam
masyarakat dan semacam konflik sosial yang
menciptakan perang setiap hari.
Hidup ini memang penuh dengan pembagian yang
memisah-misahkan: antara rumah dengan pekerjaan;
antara hidup pribadi dan hidup bermasyarakat; antara
kegiatan kerja dan kegiatan waktu senggang; kegiatan
politik, kegiatan profesional, dan kegiatan pribadi. Pada
dirinya sendiri tak ada yang salah pada masing-masing
kegiatan, atau komitmen dalam tiap-tiap bidang itu.
Masalah mulai terasa ketika pembagian-pembagian itu
menimbulkan kontradiksi dan konflik satu sama lain.
Kemudian sikap yang berbeda-beda terhadap setiap
bidang menimbulkan kompromi dalam satu pribadi, yang
lalu berkembang menjadi kemunafikan, hipokrisi.
Hidup yang Berkelimpahan 267

Barbara Greenyer, seorang anggota Bruderhof,


mengisahkan suatu contoh:
Pada akhir 1930-an dalam usaha mengembangkan
komunikasi dan pemahaman yang lebih besar, kelompok
perdamaian kami dalam gereja mengundang beberapa
anggota Kaum Muda Hitler dari suatu gereja di Jerman
agar tinggal di rumah kami. Hanya seorang gadis saja
yang mau datang. (Aku masih berhubungan dengan dia
sampai sekarang). Begitu dia pulang, perang meletus.
Dan aku teringat betapa terguncang hatiku setelah
meyadari bahwa “dia” sekarang menjadi “musuh kami”.
Sebagai protes atas pembunuhan dalam perang,
suamiku, Kenneth dan aku memutuskan untuk tidak
turut campur apa pun dengan segala sesuatu yang terkait
dengan perang. Kami menolak mengambil masker gas
maupun membangun lubang perlindungan yang
diinstruksikan Menteri Anderson; kami yakin bahwa
Departemen Pertahanan berusaha membangun cita-rasa
keamanan yang tidak benar kepada masyarakat.
Kemudian Kenneth mendapat sepucuk surat dari seorang
senior dalam Majelis Gereja Methodis Wesley, yang
melarang kelompok perdamaian kami mengadakan
pertemuan dalam gedung-gedung milik gereja, dan
katanya ia akan mengajari Kenneth apa yang harus
dilakukan seandainya saja Kenneth adalah putranya.
Surat itu bernada marah. Aku ingin menemui orang itu
dan ingin habis-habisan berbantah dengannya, tetapi
Kenneth mengingatkan aku bahwa putra orang itu sudah
dikirim ke medan perang di garis depan, dan kita harus
berbela rasa dengan dia.
Kami mematuhi surat majelis itu, tetapi
kemudian menghadapi persoalan mengenai
hubungan kami dengan gereja. Dapatkah kami ikut
ambil bagian dalam persekutuan pada hari Minggu
karena mereka menyetujui perang? Kami merasa tak
268 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

bisa, dan kami menulis surat kepada pendeta. Ia


membujuk kami agar tetap ikut persekutuan, tapi
kami tetap menolak. Keputusan itu sangat berat,
karena gereja merupakan pusat hidup kami. Kami
berdua melayani Sekolah Minggu di sana.
Danniel Berrigan menulis tentang “hati nurani yang
terpecah” yang merupkan akar dari dilema semacam itu.
Di masa damai, para imam dan pendeta berkhotbah
tentang perdamaian dan tentang sepuluh Perintah Allah
“Jangan membunuh....” Di masa perang mereka
memberkati pesawat pengebom. Mereka yang antiperang
menjadi pro-aborsi, sedangkan para tentara menjadi
antiaborsi; para aktivis antiaborsi ternyata juga pro-
hukuman mati, dan seterusnya. “Setiap orang ingin
memerangi kejahatan tertentu dengan harapan dapat
menciptakan dunia sebagai tempat yang lebih baik.
Mereka lupa bahwa mereka tidak dapat serentak
membela bom dan anak-anak sekaligus....”
Rabbi Kenneth L. Cohen mengatakan hal yang
sangat serupa. Dalam salah satu karangannya ia
mengingatkan pembaca tentang dua wajah kehidupan
Nazi yang mengerikan, di mana suami dan para ayah yang
begitu ramah serentak juga para pembunuh yang
profesional, yang “menembak mati orang Yahudi pada
pagi hari dan mendengarkan musik Mozart dengan tenang
pada malam hari.” Contoh yang diberikan mungkin
terlalu tajam, namun menunjukkan ujung-ujung terakhir
yang dapat terjadi ketika konflik itu tidak diselesaikan
dan bukan hanya mengancam perdamaian saja, tetapi
bahkan mengancam hidup sendiri.
Jawaban Kristus atas soal ini sederhana dan sungguh
jelas: bahwa kita harus tampak sama luar-dalam; bahwa
kita harus menyerahkan hidup kita, supaya dapat
Hidup yang Berkelimpahan 269

diselamatkan. Kristus menuntut integritas tanpa cacat


yang menghubungkan setiap dan semua aspek dari
kehidupan kita, suatu pertarungan yang konsisten
membela segala yang baik dan memberi hidup, melawan
apa saja yang merusak dan menyebabkan kematian.
Apakah dengan demikian kepenuhan (keseluruhan,
totalitas, integritas) merupakan persyaratan yang
diperlukan bagi damai Tuhan, ataukah hasil yang berasal
darinya? Apakah kepenuhan itu batu pijakan, ataukah
buahnya? Sebagai tanda dari hidup yang berkelimpahan
yang ditawarkan oleh Yesus aku memandangnya sebagai
tanda-tanda kedamaian – sesuatu yang mengalir dari
damai itu – bukan lorong menuju damai.
Charles Moore, seorang pengajar seminari yang baru-
baru ini datang mengunjungi kami bersama istrinya,
merindukan kepenuhan hidup ini tetapi tidak
mendapatkannya. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa
sejauh dirinya masih menjadi pusat pencarian pribadi, ia
tak akan memperoleh jawaban yang memuaskan. Hanya
jika ia mempersilakan Kristus menjadi titik fokus
hidupnya, barulah segala sesuatu akan mendapatkan
tempatnya yang tepat.
Ketika aku merenungkan hidupku sepuluh tahun
lalu, aku sadar bahwa aku menghayati disintegrasi
pribadi yang berangsur-angsur dan pelan-pelan
mematikan. Ledakan energi dari masa mudaku boros
tercurah bukan karena aku hidup sembarangan,
melainkan karena usahaku untuk memadukan secara
berlebihan segala sesuatu. Energi itu lelah karena
pikiranku sendiri. Aku punya obsesi untuk berusaha keras
agar dapat hidup baik, dapat memenuhi kebutuhan, dapat
menyenangkan Tuhan dan dapat melakukan hal-hal
yang benar. Ada banyak alasan untuk melakukan
270 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

hubungan, dan ada banyak hubungan yang perlu dibina,


ada banyak orang yang harus kutemui, ada banyak
pengetahuan yang harus kukuasai, ada banyak
kewajiban yang harus dilaksanakan, dan ada banyak
peluang yang harus dijelajahi. Namun begitu aku terjun
ke dalam pusaran kemungkinan itu, secara sistematis
diriku jadi terpecah-belah. Damai di hatiku pergi
menjauh, dan damai hidupku lalu menghilang.
Semua kejadian ini lebih mudah kulihat sekarang,
namun waktu itu tak bisa kusadari. “Diriku” sendiri betul-
betul tak mampu mengintegrasikan benang-benang yang
tak kelihatan, namun bisa terasakan dari cara hidup
dengan komitmen-komitmen yang berlebihan itu. Masing-
masing, satu demi satu, benang hidup itu tidak bisa
dipadukan menjadi suatu keseluruhan yang bermakna.
Pekerjaanku sebagai dosen filsafat dan teologi dan
kegiatan studiku untuk memperoleh gelar doktor sama-
sama menuntut waktuku, sama-sama menuntut
dedikasiku. Keduanya hanya kusatukan dalam
“gagasan” saja, namun sesungguhnya kedua bagian dari
hidupku itu merupakan dunia-dunia yang terpisah.
Ada hubungan profesional dengan sesama rekan
pengajar, yang dipersatukan oleh iman yang satu dan sama,
namun mereka bekerja dalam struktur dan bidang wacana
yang sepenuhnya berbeda. Keyakinaan dan praktik
seringkali betul-betul asing satu sama lain. Kukira keduanya
bisa dijembatani, dan memang ada usaha yang berhasil.
Namun ketika tuntutan hidup bertambah, kemampuanku
tetap sama saja, tidak berkembang. Di samping itu, aku
bukan hanya seorang akademisi saja. Aku juga punya urusan
yang lain-lain lagi, kepentingan lainnya. Masih ada
kehidupan pribadiku – istriku, Leslie, teman-temanku dan
teman-temannya, keluargaku dan keluarganya – dengan
pelbagai dimensi yang sangat berlainan yang tampaknya
sungguh berlainan jalurnya. Kadang-kadang bersinggungan,
tetapi tak pernah benar-benar menyatu.
Hidup yang Berkelimpahan 271

Lalu ada lagi gereja dan pelayananku di sana,


yang berbeda dari komunitas kecil di mana aku dan
Leslie menjadi bagiannya, dan berbeda pula dari
pelayanan lintas batas di lingkungan lain di mana kami
berdua juga terlibat. Ada acara-acara yang
diselenggarakan oleh kelompok aktivis yang kuikuti,
juga acara-acara keluarga, semuanya mewajibkan
diriku untuk hadir. Aku memang menginginkan
semua itu, dan semua itu kudapatkan. Namun dari
semuanya itu tak ada yang membuat hidupku terasa
utuh. Aku terpecah-pecah lahir batin.
Bagaimanapun kerasnya aku berusaha, aku tak
dapat melepas salah satu darinya namun aku juga
kelabakan mengendalikan semuanya sekaliguss,
walau aku telah membuat mekanisme kerja yang
kukira dapat mengatur semuanya itu. Aku punya
hubungan konseling rahasia dengan seorang sahabat,
suatu hubungan curahan hati; aku telah mencoba
memanfaatkan kesempatan santai untuk “melepas-
beban” melalui hiburan dan lain sebagainya dengan
istriku, aku telah berusaha menunda jadwal studi
doktoralku dan melakukan penyesuaian jadwal dan
beban mengajarku; aku mengurangi hubungan yang
makan waktu di sana-sini, dan sebagainya. Namun
pengurangan, penyesuaian dan tambal-sulam itu tidak
memadai. Karena tuntutan intensitas perhatian dan
dedikasi, tetap saja aku pontang-panting, dan kacau-
balau, dan hidupku terasa tetap cerai-berai.
Semuanya membingungkan. Kukira mengikuti
Yesus berarti menyediakan diri digunakan oleh Tuhan
untuk kerajaanNya. Tetapi mengapa aku tidak
mendapatkan damai yang dijanjikan, damai yang
melebihi segala akal dan pengertian itu? Mengapa
aku merasa hidupku seolah-olah terkoyak-koyak ke
mana-mana? Mengapa aku menjadi begitu frustrasi,
begitu terpojok, begitu kacau?
272 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Masyarakat kita begitu egoistis, individualistis,


materialistis dan serba memaksa ; tidak ada cukup ruang
untuk komunitas di dalamnya – kebutuhanku, hasratku,
kekuatan dan kelemahanku dan kemampuanku
merupakan daya-daya pendorong ; dan hidupku adalah
sebuah benteng yang dipagari, dijaga dan hanya terbuka
di sana-sini untuk beberapa orang saja.
Kini jika aku menengok ke belakang lagi, ironis
kelihatannya, bahwa hidupku yang begitu sibuk itu
terasa benar tidak lengkap. Aku selalu menginginkan
pekerjaan yang bermakna, kehebatan intelektual,
kegiatan sosial, teman-teman yang punya perhatian
hangat, keberhasilan material, dan kebebasan untuk
menyesuaikan jadwalku bila kurasa perlu. Namun aku
tidak merasa damai. Batas-batas hidupku terbuka luas,
dan aku memenuhi semua pilihanku.
Dalam merenungkan kembali semua itu kulihat
aku memeragakan kebohongan besar: itulah hidupmu!
Laksanakan seperti yang kamu inginkan. Aku membuat
hidupku sebagai proses alam semesta, walaupun seolah-
olah di dalam pengabdian kepada Allah. Aku
terperangkap dalam kegilaan gaya hidup kelas menengah
yang sedang berpusar (bukan hanya pada tujuan
akhirnya, namun dalam tata cara lahirnya) di sekitar
kebutuhan dan hasratku – namun aku tidak melihat
bahwa hidup semacam ini tidak nyata, tidak benar, tidak
selaras dengan maksud Allah menciptakan kita.
Bagaimanapun usahaku untuk menambal
kekuranganku di dalam menyelaraskan hidupku, aku
tetap tidak mampu, sampai aku harus berhenti menempuh
cara hidup yang ditentukan oleh persyaratan-persyaratan
duniawi itu (syarat-syarat atau kriteria yang berpusat pada
kebebasan dan pemenuhan hasrat pribadi) dan mulai
mendapatkan cita rasa keutuhan diri. Aku melihat suatu
pilihan yang dapat kuambil: aku bisa terus melanjutkan
kehidupan dengan cara itu, tawar-menawar dengan
berbagai-bagai tuntutan dan hubungan pilihanku sendiri;
Hidup yang Berkelimpahan 273

atau, aku dapat memulai suatu dasar yang baru yang


berbeda, dasar di mana batu sendinya adalah komunitas
(bukan diri sendiri), pelayanan timbal-balik (bukan
pemenuhan tugas pribadi sendiri), dan kerajaan Allah
(bukan kerajaanku).
Ketika Charles dan Leslie mendengar tentang
komunitas kami, mereka membuat rencana kunjungan,
dan setahun kemudian mereka memutuskan untuk
datang. Tak bisa dikatakan bahwa kehidupan dalam
Bruderhof merupakan panggilan untuk semua orang, juga
tak bisa dikatakan bahwa “komunitas” seperti itu adalah
jalan menuju kedamaian. Namun Charles dan Leslie
berkata, bahwa rasa kepenuhan, kelengkapan diri yang
mereka dapatkan hari ini tidak terpisahkan dari integritas
diri mereka dalam suatu kehidupan yang dijalani bersama
dengan orang-orang lain. “Di dalam komunitas, segala
yang bersifat pribadi dan komunal, yang berorientasi pada
keluarga dan berorientasi pada kerja, yang bersifat praktis
dan yang spiritual tidak saling bersaing, tetapi lebur jadi
satu. Dan semua diperkaya dan dipelihara dengan
komitmen timbal balik.” Charles melanjutkan:
Kukira masalah damai pribadi tidak lalu selesai
sepenuhnya. Aku masih bergumul dengan fakta bahwa
diriku masih jauh dari apa yang dikehendaki Allah.
Walaupun salib menjembatani kesenjangan itu, dan aku
berpegang padanya dalam iman, pertarungan antara
ketidaksempurnaan dan dosa masih terus berlanjut.
Namun maksud hatiku dan arah tindakanku tidak
berbeda-beda lagi; aspek lahiriah dan aspek batiniah
hidup sudah berpadanan ; mereka berjalan seiring, tidak
berpencar-pencar oleh hasrat, melainkan oleh citra rasa
damai yang dalam dari Tuhan.
Kini, setelah tidak lagi menempatkan diriku sebagai
poros hidupku, aku lebih siap untuk menyerahkan proyek-
proyek pribadiku dengan tujuan-tujuannya, dan juga
274 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

melepaskan usahaku untuk mengejar maksud-maksud


hidupku sendiri. Tuhan mengatur hidupku dengan cara
baru. Ia memberikan padaku perasaan utuh penuh dan
suatu kedamaian yang dulu tak pernah kurasakan.
Tuhan menciptakan suatu komunitas bagi kita,
dan dari situ selanjutnya timbul kedamaian yang
menopang hidup. Komunitas bukanlah obat mujarab
untuk segala hal, tetapi komunitas menawarkan cara
hidup di mana segala sesuatu ada bersama sebagai suatu
keseluruhan. Tidak ada pembagian, penggolongan di
sana. Aku berdamai dengan diriku sendiri, dengan
sesama, dan dengan Tuhan. Jika aku kehilangan
damaiku, aku mempunyai suatu dasar untuk berjuang
kembali untuk mendapatkannya (atau dengan
pertolongan orang lain). Aku tak lagi memboroskan
tenagaku untuk memadukan hidupku, sebaliknya aku
dapat melupakan diriku sendiri dan mengabdikannya
pada sesuatu yang lebih besar; sesuatu yang menyatukan
hidup, bukan mengoyak-koyakannya.
Damai yang kurasakan jauh melebihi suatu
berkat pribadi, damai ini bukan cuma milikku semata-
mata. Damai itu adalah milik dari suatu keseluruhan
yang lebih besar, suatu badan yang anggotanya bukan
sekadar orang lain yang tak kukenal, tetapi saudara-
saudari yang kukenal. Inilah anugerah yang sungguh
kaya dari damai Tuhan. Dan misterinya ialah damai
itu datang padaku bukan karena perjuanganku untuk
mendapatkannya, tetapi karena mataku memandang
lebih jauh melampaui mitos pemenuhan diri, dan
melihat realitas mengenai hidup yang lebih
berkelimpahan. Untuk mengalami hal itu sama artinya
dengan mengalami rahmat Allah. Namun untuk itu
juga merupakan suatu pilihan.
Hidup yang Berkelimpahan 275

Kegembiraan
Tak ada yang dapat kuberikan padamu sebagai
sesuatu yang belum kamu punya; tetapi ada banyak hal
yang dapat kuberikan yang dapat kamu terima. Tak ada
surga yang dapat datang pada kita jika hati kita tidak
dapat tenang di dalamnya. Ambillah surga. Tidak ada
damai yang letaknya di masa depan yang tidak tersembunyi
di saat sekarang. Ambillah damai! Kegelapan dunia
hanyalah kabut bayangan; namun di baliknya, bisa
dijangkau, adalah kegembiraan. Terimalah kegembiraan!
Ada sinar dan kemuliaan dalam kegelapan,
seandainya kita dapat melihatnya; dan untuk
melihatnya, kita hanya perlu memandangnya. Aku
sangat berharap kamu memandangnya. Hidup sangat
murah hati dalam memberi, namun umumnya kita
menilai pemberiannya berdasarkan kemasannya,
membuangnya karena buruk, berat, dan kasar. Bukalah
kemasannya, dan akan kamu dapatkan keindahan
hidup, dijalin oleh kasih, dengan kearifan, dengan
kekuatan. Terimalah, peganglah, dan akan kamu sentuh
tangan malaikat yang memberikannya kepadamu.
Segala sesuatu yang kita sebut pencobaan, penderitaan,
atau tugas, percayalah padaku, menyembunyikan tangan
malaikat di dalamnya; ada anugerah di sana, dan kegiatan
dari Dia. Ada juga kegembiraan kita: jangan hanya berpuas
diri dengan kegembiraan itu saja. Mereka juga
menyembunyikan anugerah ilahi.
Begitulah saat ini aku menyampaikan salam
padamu. Tidak seperti yang diberikan dunia, namun
salam dengan penghargaan yang sangat dalam dan
dengan doa bagimu, kini dan selamnya semoga cerahlah
hari dan lenyaplah semua awan bayangan.
Fra Giovanni
276 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

D i dalam kritiknya yang paling serius tentang


kekristenan, Friedrich Nietzche suatu ketika
mengeluh: “kesulitan dengan orang-orang Kristiani ialah
bahwa mereka itu tidak punya kegembiraan.” Ya, kita
tahu apa itu kebahagiaan; apa yang membuat kita senang
dan puas dan bahkan nikmat. Tetapi kegembiraan?
Menurut Molly Kelly yang kisahnya telah dikemukakan
dalam buku ini, ada perbedaan penting.
Kita semua mempunyai saat-saat bahagia dalam
hidup kita, tetapi kebahagiaan bukan kegembiraan.
Kegembiraan hanya dialami ketika Anda damai.
Kebahagiaan hanya setebal kulit, dan mengembang.
Kegembiraan meresap ke dalam jiwa kita; dan bertahan
lama. Kebahagiaan memang merasakan sesuatu yang
baik; kegembiraan bisa dirasakan dengan penderitaan.
Kebahagiaan berkaitan dengan kemenangan;
kegembiraan sering datang dari penyerahan.
Kegembiraan jelas merupakan anugerah yang lebih
besar. Namun seperti yang dikatakan Fra Giovani,
kegembiraan sering dikemas dalam rupa penderitaan atau
kesengsaraan. Karena kita tak dapat menerimanya, dan
“membuangnya karena buruk, berat, dan kasar,” maka
kita tidak sungguh-sungguh memahami kegembiraan.
Ketika menulis tak lama sebelum kematiannya di
tangan kaum Nazi yang menghukumnya, Ewald von
Kleist menyatakan bahwa banyak orang Kristiani,
bahkan ketika mereka sungguh menerima penderitaan,
tidak dapat menemukan kegembiraan, karena mereka
berpegang pada asumsi yang keliru tentang sifat dan
maknanya. Ia menyimpulkan:
Setiap hari semakin jelas bagiku bahwa kita
manusia (terutama orang kulit putih, orang Eropa)
keliru menilai segala sesuatu, karena kita terasing dari
Hidup yang Berkelimpahan 277

Tuhan. Dunia sekarang tidak lagi merupakan ukuran


yang benar untuk nilai-nilai. Orang mengejar tujuan-
tujuan yang mengambang dan tidak mengenal
kebahagiaan, juga tak tahu di mana letaknya; mereka
tak tahu lagi apa yang harus disyukuri.
Miriem Potts, seorang anggota gerejaku berkata
bahwa baginya kegembiraan, syukur, dan damai sangat
erat berkaitan:
Jika seorang bertanya kepadaku, “Apakah kamu
mempunyai kedamaian hati? Apakah kamu merasa
damai dengan Tuhan?” Aku ragu. Itulah pertanyaan yang
sulit kujawab. Apakah aku mengerti? Kadang-kadang
aku sendiri tak tahu apakah aku punya iman.
Tetapi bila ada orang bertanya, “Apakah kamu
gembira? Apakah kamu bahagia?” lalu aku akan
langsung menjawab dengan segenap hati, ya! Aku
mencintai pekerjaanku. Aku sangat bahagia jika
sedang melakukan sesuatu bagi orang lain, misalnya
membungkus buku untuk orang-orang yang dipenjara.
Aku sangat bahagia ketika aku sedang sibuk, bekerja
sampai jatuh tidur di ranjang di malam hari.
Jika aku tidak bahagia, yang kemudian kulakukan
adalah menghitung karunia yang kuperoleh, memikirkan
segala sesuatu yang bisa aku syukuri, dan kemudian aku
bahagia lagi. Tapi bagaimana mungkin aku bahagia jika
aku tidak dalam keadaan damai? Mungkin itu sama saja....
Bagi Ann (bukan nama sebenarnya) pencarian
kebahagiaan dan pemenuhan diri berlangsung dari tahun
ke tahun. Lalu ia berhenti melihat kepentingan dirinya
sendiri dan memalingkan dirinya kepada Tuhan.
Bila kita berpikir tentang damai, cinta dan
kegembiraan dan semua hal lain yang kucari-cari dalam
hidupku, aku teringat pada suatu pertanyaan yang
diajukan dalam hidupku, aku teringat pada suatu
278 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

pertanyaan yang diajukan teman-teman ketika aku


datang pertama kali di Bruderhof: mengapa seorang
wanita yang dicintai suaminya, punya empat anak yang
cakep-cakep, terjamin dalam hal keuangan, punya
rumah sendiri mau melepaskan semuanya dan hidup
bersama dengan orang lain?
Untuk menjawab pertanyaan itu sejujurnya, perlu
lebih dulu kujelaskan bahwa apa yang mereka lihat di
luar sangat jauh berbeda dari apa yang mereka lihat,
seandainya mereka dapat memandang ke dalam hatiku.
Aku dan suamiku sangat aktif di gereja dan di
antara teman-teman seperkumpulan. Kami melayani
orang lain, berbagi dengan orang lain, dan mereka merasa
bahagia bersama sesama. Syukur kami akan kebersamaan
dari kerinduan kami untuk memperoleh lebih dari itu
mengantar kami untuk mengenal komunitas. Kami
merasa sangat terdorong untuk mencari komitmen yang
lebih besar, sebab kekristenan yang hanya nyata pada
hari Minggu saja ternyata tidak cukup bagi kami. Begitu
pula acara mempelajari Kitab Suci pada setiap Rabu
malam. Bagiku, pertanyaan yang besar adalah: Apakah
hanya itu? Aku telah mendapatkan apa saja yang
diperlukan seorang wanita, atau sekurang-kurangnya aku
sedang hendak mendapatkannya. Namun sebagian dari
diriku menjerit: “Aku tak ingin apa-apa.” Pasti ada
sesuatu dalam hidup ini yang lebih dari sekadar pasangan
dan anak-anak yang baik, rumah yang nyaman dan
jaminan keuangan. Aku bertambah resah dan takut.
Mengapa aku tidak bahagia.
Aku dibesarkan di suatu keluarga yang tampak
baik dari luar. Ibu dan ayahku pekerja keras. Ayah
seorang pekerja pabrik dan mengatur rumah tangga.
Kami adalah keluarga Katolik yang “kuat”, yang tak
pernah melewatkan Misa Minggu, melakukan pantang
daging pada hari Jumat, dan mengaku dosa sebulan
sekali. Di paroki kami segalanya sangat ketat: kamu
Hidup yang Berkelimpahan 279

tak boleh jatuh dalam “dosa berat” dan ditelan neraka.


Aku belajar takut – takut membuat kesalahan, takut
berkelakuan buruk, takut pada Tuhan dan apa yang
dilakukan-Nya pada kami.
Orang mengira kami baik-baik, tak ada yang tahu
neraka sudah kami alami. Ayah adalah bapak keluarga
yang bekerja keras. Dan sopan, dan ibu menyayangi
kami. Mengenangkan mereka ada banyak hal yang harus
kusyukuri. Banyak anak-anak kelaparan dan bertumbuh
tanpa orang tua, itu benar. Tetapi juga fakta bahwa
banyak anak dengan kedua orang tua yang lengkap dan
ada banyak tersedia makanan, namun juga mengalami
banyak penderitaan. Luka-luka mereka ditutupi begitu
saja – tidak dibicarakan dan tak terlihat – di balik
penampilan yang normal, dan tak ada seorang pun yang
tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
Misalnya, tak seorang pun tahu bahwa aku secara
seksual dilecehkan oleh kakakku selama tiga tahun,
sejak umurku enam tahun. Lalu ia punya teman
perempuan. Tak ada yang tahu saudariku yang ketiga
sebagai remaja yang tidak stabil dipukuli oleh ayah
dengan ikat pinggang di depan seluruh anggota keluarga,
hanya karena ayah tidak bisa mengatasi dia, dan dengan
melampiaskan kemarahan menjadikan keadaan diri ayah
lebih baik. Tak ada orang yang tahu bahwa hal kecil
seperti menumpahkan susu di meja makan sudah cukup
untuk membuat ayah marah besar selama dua jam.
Kami hidup dengan rasa ketakutan akan berbuat
kesalahan, yang dapat membuat ayah marah. Sebab
ayah minum sampai enam botol bir setiap malam
sepulang dari kerja, dan bisa menghabiskan satu krat
sepanjang akhir pekan. Jika ia marah-marah sesudah
itu, dan itu pasti terjadi beberapa malam dalam
seminggu, tak ada yang bisa kami lakukan, termasuk
mama, yang hanya duduk saja dan menanggung semua
itu dengan diam. Sepanjang malam ayah akan terus
280 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

ngomel-ngomel, menyebut ibu dengan berbagai kata-


kata yang tak pantas dan menggebrak meja.
Di tengah malam, kami kadang mendengar ayah
mulai lagi, berteriak-teriak karena ibu tidak ingin
berhubungan intim. Kami anak-anak lalu menghambur
ke dalam kamar kami dan menutup telinga kami
dengan bantal, atau meninggalkan rumah dan
menjumpai seorang teman untuk mengobrol, atau
mengeraskan suara TV. Kami ketakutan, cemas,
bingung, dan tak bisa melakukan apa-apa selain
menutup telinga karena kemarahan ayah.
Salah satu caraku untuk lari dari penderitaan
adalah menyanyi. Aku terbiasa menyanyi dan
menyanyi. Aku menyanyi terus sampai saudaraku,
lelaki dan perempuan jadi terganggu. “Yah, kan aku
tidak bisa berkelahi,” kilahku. Tentu saja aku belum
menyadari bahwa dengan menyanyi itu aku
menyalurkan kecemasanku. Aku merasa tidak
dicintai dan sangat ingin dicintai. Aku berpikir:
seandainya aku baik dan berperilaku menyenangkan,
yang lain pasti bahagia. Seandainya saja ada
kedamaian dalam keluargaku, aku pasti bahagia.
Ketika aku lebih dewasa aku tidak dapat melakukan
apa pun dengan benar, dan aku merasa lebih tidak
berharga lagi. Segala sesuatu memburuk ketika
umurku belasan tahun, dan aku melibatkan diri
dalam semua kejahatan umum. Yang terburuk adalah
bahwa semua itu tersembunyi: kebutuhanku di masa
kanak-kanak, dosa-dosa masa remaja....
Dari luar aku seorang wanita muda yang “normal”,
“sopan” bahkan “saleh”. Tetapi di dalam diriku ada
kemelut dan kegelapan. Hidupku adalah suatu
kebohongan besar. Ketika aku menikah, setengahnya
aku mengira masalahku akan reda sendiri. Namun
ternyata terus berlanjut. Seperti masa kecil dan masa
mudaku, perkawinanku juga tampak baik-baik dari jauh,
namun sejujurnya, perkawinanku berantakan juga.
Hidup yang Berkelimpahan 281

Ketika aku gadis kecil, aku tahu diriku


membutuhkan Tuhan, dan kalau aku putus asa aku
terdorong berdoa memohon pertolongan. Bukan karena
aku berharap mendapat pertolongan dari Tuhan. Sebab
aku mengira Tuhan tidak menyayangi aku. Aku kurang
baik, aku yakin bahwa Tuhan tidak akan berkenan
mencintai orang seperti diriku. Makin aku ingin dicintai
dan disayangi, makin keras hatiku, dan makin berkurang
kemampuanku untuk menerima kasih.
Nah, sebagai seorang wanita yang telah menikah
dan punya keluarga yang bertumbuh, aku masih tak
punya kedamaian. Aku tahu bahwa aku meragukan
diriku sendiri dan membenci diri cukup lama, dan aku
malah memproyeksikan, menyorotkan perasaan itu
keluar kepada orang lain. Aku membenci seluruh dunia.
Aku marah dan aku merasa ditolak dan tidak dihargai.
Secara emosional aku hancur.
Lebih dari yang lain, aku memerlukan kebebasan
dari luka-luka masa laluku, namun aku mencarinya di
tempat yang salah. Sejujurnya, aku hanya mencari satu
hal, dan aku mengejarnya dengan penuh hasrat: aku
ingin dicintai. Aku mencari cinta itu dari suamiku, Bob,
dan karena ia tidak memuaskan aku, aku mencarinya
dari teman-teman, tapi mereka juga tidak memuaskan.
Kukira aku juga mencarinya pada Tuhan. Aku pergi ke
pusat doa bagi orang Kristiani untuk mendapatkan
penghiburan dan doa kesembuhan. “Yesus mencintai
Anda dan memaafkan Anda,” katanya. Namun cinta
itu tetap tak teraih olehku. Aku tak dapat merasakan
kasih-Nya dan tak dapat mengalaminya. Dalam derajat
tertentu konseling bermanfaat, namun tidak
menghasilkan kedamaian hati yang tahan lama.
Walaupun bagitu aku tak mau menyerah.
Beberapa tahun yang lalu, Bob dan aku
memutuskan untuk bergabung dengan Bruderhof. Kami
merasa Tuhan memanggil kami untuk berhimpun
282 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

sepenuhnya bersama yang lain, dan menjawab panggilan


itu menimbulkan kegembiraan besar dan kebebasan.
Kami menjual rumah kami, melunasi utang-utang, dan
bergabung. Sesudah delapan belas bulan di Bruderhof
kami meminta menjadi anggota sepenuhnya.
Dalam semacam retret persiapan untuk itu, kami
mencoba membuka hati kami pada Tuhan dan pada
saudara-saudara, lelaki dan perempuan, dalam
komunitas, dan mempertimbangkan arah hidup kami.
Retret itu merupakan suatu proses penebusan, namun
sangat menyakitkan saat itu, karena mengantar kami
untuk melihat kenyataan bahwa sebenarnya
perkawinan kami berantakan. Kami lalu menyadari
bahwa kami perlu bicara berdua dengan Tuhan secara
jujur, sekali untuk selamanya. Kami meminta diri untuk
meninggalkan komunitas; kami merasa masih perlu
waktu dan ruang baik sebagai perasaan suami istri
maupun sebagai orang tua untuk merenungkan apa
yang sungguh-sungguh kami harapkan jauh di lubuk
hati kami. Komunitas dengan penuh kasih mendukung
keputusan kami dan membantu kami mendapatkan
rumah pribadi dan pekerjaan bagi Bob.
Selama masa yang sulit itulah aku mendapatkan
damai Yesus. Namun sebelumnya aku harus malu lebih
dulu karena mendapatkan diriku ternyata begitu
berpusat pada diri sendiri, yang mati-matian mencari
kebahagiaan untuk diri sendiri; dan lebih jauh lagi,
aku telah membenci suamiku, yang kupikir tidak
memuaskan aku dan tak dapat memberikan cinta yang
sangat kubutuhkan dan sangat kuharapkan. Memang,
Bob tidak memuaskan aku dalam beberapa hal,
namun kini aku melihat diriku seekor lintah emosi.
Bertahun-tahun lamanya aku mengisap seluruh
cintanya, dan membuatnya mundur. Pendeknya,
akulah yang jadi biang masalahnya. Akhirnya aku
dapat mengaku bahwa sebab utama dari penderitaan
kami adalah aku mencari diri sendiri.
Hidup yang Berkelimpahan 283

Aku mohon Tuhan agar menunjukkan kebenaran


padaku dan menolong aku, dan kali ini aku percaya
bahwa Dia akan melakukannya. Tuhan berkenan,
memang. Tiba-tiba aku dapat merasakan penyesalan atas
penderitaan yang telah kutimbulkan pada orang lain.
Aku bukannya merasa kasihan pada diri sendiri, juga
tidak khawatir bahwa diriku akan dilukai orang lain.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bahkan
merasakan keinginan untuk memaafkan mereka yang
telah melukai aku, terutama ayahku. Aku merasa
menyesal kepada Tuhan, dan sebagai balasannya, aku
dapat merasakan kasih-Nya. Aku merasakan penerimaan
dan ampunan Tuhan pada diriku.
Pada hari-hari itu sebuah petikan dari Injil
Markus selalu kuingat dan menjadi nyata bagiku,
yaitu ucapan bahwa yang sehat dan kuat tidak
memerlukan tabib, melainkan orang yang sakit; “Aku
datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17).
Aku merasa sangat lega. Aku mulai mengerti apa
itu kebahagiaan. Penyingkapan bahwa kasih Tuhan
adalah untuk aku yang berdosa begitu memenuhi diriku.
Pengertian itu menjadi batu penjuru dari imanku yang
baru dan memberikan kegembiraan dalam hatiku.
Ketika Bob dan Ann mulai membicarakan hal-hal
di antara mereka, mereka saling memandang, tidak
seperti dulu lagi. Mereka dapat memaafkan satu sama
lain untuk segala sesuatu yang membuat perkawaninan
mereka menyedihkan, dan mereka terus bergerak maju.
Mereka segera kembali ke dalam komunitas kami dan
menjadi anggota penuh. Ann melanjutkan:
Lalu bagaimana hidup berlanjut? Sekali damai
Anda peroleh, apakah damai itu ada selamanya? Aku
tidak selalu merasakan kedamaian. Aku tidak selalu
bersungguh-sungguh menghayati kasih Allah. Aku
284 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

masih bergumul dengan rasa cemas berulang kali,


kembali pada kekhawatiran dan ketakutan masa lalu.
Aku masih harus berusaha untuk bersungguh-sungguh
berjuang melawan godaan untuk menyenangkan orang
lain atau mendapatkan persetujuan mereka. Namun
ketika semua hal itu meliputi diriku, aku menyerukan
teriakan perangku: “Yesus adalah pemenang dalam
tubuhku, pikiranku, dan jiwaku.”
Aku tetap seorang pendosa. Seperti itulah aku
mulanya datang pada Tuhan, bukan sebagai orang
baik. Aku tidak mau memboroskan energi untuk
memikirkannya lagi. Ada banyak yang masih harus
dilakukan, bekerja bagi Kerajaan. Makin aku
menyediakan diri untuk tugas itu dengan melayani
orang lain dan dengan melupakan diriku yang lama,
aku merasa lebih bahagia.
Ada rasa kepenuhan diri dalam melakukan hal-
hal untuk orang lain. Apa pun itu. Suatu ketika aku
bahagia menunggu bayi atau membersihkan rumah; di
hari lain dalam menyiapkan makan untuk seseorang atau
mencuci baju. Aku bersyukur jika mendapat kesempatan
untuk merawat orang tua.
Aku masih punya luka-luka hati, tetapi aku
menerima diriku sebagaimana adanya. Karena dapat
memberikan diriku pada orang lain, aku memperoleh
karunia yang tak kutemukan ketika mencari diri
sendiri: kegembiraan sejati.
Hidup yang Berkelimpahan 285

Tindakan
Waktu bersifat netral; dapat digunakan baik untuk
merusak maupun untuk membangun. Makin lama kurasa
orang yang punya kehendak buruk makin efektif
menggunakan waktu daripada orang-orang yang
berkehendak baik. Kita harus mempertobatkan bukan
hanya kata-kata dan tindakan orang-orang yang jahat,
tetapi juga orang-orang baik yang diam saja
menjemukan. Kemajuan manusia tidak menggelinding
di atas roda-roda keterpaksaan; kemajuan itu berasal dari
usaha yang tak kenal lelah dari mereka yang bersedia
bekerja sebagai mitra Tuhan, dan tanpa kerja keras itu,
waktu sendiri menjadi sekutu dari daya-daya kemacetan.
Marthin Luther King Jr.

H ingga saat ini tentu jelas bagi pembaca, bahwa damai


tidak berarti keadaan tidak aktif. Damai memang
dapat meliputi ketenangan atau istirahat. Orang sering
mengutip Santo Agustinus: “Hatiku tak akan tenang,
sebelum beristirahat pada – Mu”, kata-kata yang
mendalam kebenarannya. Namun apa artinya “beristirahat”
dalam Tuhan? Suatu kepastian, puas diri, hingga malas?
Karunia damai adalah jawaban bagi kerinduan yang
belum terpenuhi; karunia damai merupakan akhir bagi
keraguan dan dosa yang membuat lapuk dan koyak. Suatu
kepenuhan dan kesembuhan. Namun sejauh demikian,
damai juga suatu panggilan bertindak dan hidup baru.
Damai bisa berasal dari doa dan meditasi, tetapi tidak
terhenti di situ. Damai menimbulkan kewajiban baru,
energi baru dan kreativitas baru. Seperti benih di balik
tanah, damai bertumbuh diam-diam dan tak terlihat, lalu
286 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

muncul bersemi dan berkembang dengan daya hidup,


menjadi besar, berbunga dan akhirnya menghasilkan buah.
Dalam buku Inner Land kakekku menulis bahwa
berakhirnya zaman bukanlah akhir dari kegiatan:
“Gapura kota di atas bukit tidak ditutup, tetapi tetap
terbuka.” Dengan pengertian yang sama, orang yang
memperoleh karunia damai tidak boleh menyimpannya
untuk diri sendiri, menutup diri terhadap kebisingan di
sekitar kita, tutup mata terhadap mereka yang belum
mendapatkannya:
Memang baik dan indah mendapatkan damai dan
ketenangan hidup, namun mereka yang seperti itu sering
tergoda oleh kecenderungan insani untuk mengabaikan
kehendak dasar Yesus: bahwa ketika mereka yang
berbeban berat dan lelah dikuatkan lagi, haruslah mereka
menjadi sumber kekuatan dan energi untuk bertindak.
Tenggelam tanpa daya dalam keheningan yang lumpuh
berarti sungguh tidak berguna bagi hidup, ke arah mana
Yesus memanggil kita.
Bicara dari perspektif penganut Buddha yang aktif,
yang memberikan tekanan yang seimbang baik pada
meditasi maupun pada komitmen yang dedikatif pada
orang lain, Thick Nhat Hanh mengingat dilema yang
dihadapinya dalam Perang Vietnam: Apakah buah damai
itu kontemplasi, ataukah tindakan?
Ada begitu banyak desa yang terkena bom.
Bersama dengan para bikku dan biksuni aku harus
mengambil keputusan tentang apa yang harus
dilakukan. Apakah kita harus melanjutkan adat
kebiasaan dalam vihara kita, ataukah kita
meninggalkan banyak meditasi untuk menolong orang-
orang yang menderita karena bom? Setelah merenung
dengan cermat, kami memutuskan untuk melakukan
Hidup yang Berkelimpahan 287

keduanya – pergi ke luar menolong orang, tetapi di


dalam melaksanakannya kita juga harus tetap dengan
semangat pencerahan yang aktif ... dalam melihat,
memahami, kita juga harus melaksanakannya. Jika
tidak, apa gunanya kita tahu dan paham?
Jika kita berusaha hidup damai bersama sesama kita,
ada tanggungjawab tertentu yang tak terelakkan
dibebankan di atas pundak kita, dan kita harus
melaksanakannya seperti yang dilakukan oleh Thich Nhat
Hanh dan para bikku dan biksuni. Kita tidak dapat hanya
memilih tenang damai dengan Tuhan, hanya dengan diri
kita sendiri, dan mengabaikan orang lain.
Setelah ibuku bergabung dengan Bruderhof ketika
umurnya awal dua puluhan, berbulan-bulan lamanya ia
merenungkan apa artinya damai secara konkret. Ia ingin
mengabdikan diri kepada Tuhan, namun pada saat yang
sama ia juga harus menjawab pertanyaan yang diajukan
oleh keluarga dan teman-temannya: bagaimana ia dapat
berbuat sesuatu untuk perdamian dunia jika ia sudah
tidak “berada di dunia” lagi?
Di dalam sepucuk surat kepada ibunya, ia mengaku
tidak bisa menjawab dengan bukti yang jelas dan tak
terbantah. Namun ia yakin bahwa agar dapat hidup damai
ia harus meninggalkan kehidupan borjuis dan menempuh
arah yang berbeda. Dan ini bukan berarti suatu
kehidupan tidak aktif yang saleh:
Komunitas kami tidak mencari kedamaian hidup
seperti pertapa atau menolak dunia dan bangsa-bangsa
untuk dapat mengejar tujuan kami sendiri, tanpa
gangguan. Tidak! Kami secara aktif mengikuti arus
kejadian apa pun, nasional dan internasional. Hingga
kami dapat bersama-sama melakukan tindakan dan
punya pendirian yang tegas dan terbuka, dan
288 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

mewujudkannya dalam praktik yang bisa dilihat semua


orang. Itulah yang bagi kami berarti. Bagi kami pokok
masalahnya bukan memisahkan diri di dalam dinding-
dinding biara demi mencari damai dan ketenangan.
“Damai dan ketenangan” justru sangat bertentangan
dengan apa yang dicari-cari ibuku, begitu pula oleh mereka
yang melawan jalan tikus kaum menengah yang sia-sia.
Ketika seseorang bertekad menemukan damai, pencariannya
berangkat dari hasrat untuk mendapatkan hidup yang lebih
dalam dan sungguh-sungguh penuh berisi, bukan yang
makin kosong. Para veteran perang, pengusaha, ibu rumah
tangga dan pendeta, mereka yang tidak lanjut sekolah
maupun para profesional terpelajar semuanya menyatakan
hal sama padaku. Damai bukanlah sekadar menolak
kekerasan, kerakusan, hawa nafsu atau kemunafikan.
Namun mengamini sesuatu yang menggantikan semua itu.
Dalam bagian yang terdahulu sudah tersampaikan
cerita tentang John Winter, seorang mantan pekerja
laboratorium yang meninggalkan pekerjaanya setelah ia
tahu bahwa perusahaannya melakukan pengujian
amunisi. Ia berkata:
Aku menolak kekerasaan dan mulai mencari
damai, namun aku segera menyadari bahwa damai lebih
dari sekadar tidak ada perang. Aku bosan mengatakan
bahwa aku tak dapat bergabung dengan angkatan
bersenjata. Apa yang dapat kulakukan? Aku
mengusahakan alternatif praktis dari perang, bukan
hanya mengakhiri perang. Aku ingin hidup melakukan
komitmen, bukan sekadar sesuatu yang kita lawan.
Gertrud Dalgas, seorang guru yang bergabung dengan
kakekku dan komunitasnya yang masih kecil pada tahun
1921, hanya beberapa bulan setelah didirikan, merasakan
hal yang sama. Wanita itu menulis dalam sebuah majalah:
Hidup yang Berkelimpahan 289

Visi kami adalah suatu kerajaan damai dan tanpa


kekerasan, kerajaan kebebasan yang berakar pada
Tuhan. Kritik dan penolakan atas kondisi yang sekarang
ada menuntut dari kami suatu contoh tindakan yang
berbeda. Namun tepatnya karena kami mengancam
kapitalisme, kebencian antarkelas, pembunuhan, perang,
kebohongan dalam hubungan sosial itulah maka kami
merasa wajib menunjukkan cara hidup yang sama sekali
berbeda dan baru. Kami memang hanya beberapa gelintir
orang dari kelas yang berbeda, pekerjaan dan profesi yang
berlainan. Namun kami membentuk komunitas yang
menentang tuntutan negara, gereja, hak-milik pribadi
dan hak-hak khusus sosial ekonomi.
Tak seorang pun, apakah Gertrud, John atau siapa
saja yang telah kukutip perkataannya di sini menyatakan
bahwa jawaban atas masalah dunia adalah komunitas
belaka, apalagi Bruderhof. Namun mereka jelas sepakat
bahwa jika damai berarti tindakan dan komitmen, maka
damai juga menuntut perjuangan. Begitu pulalah Dick
Thomson, seorang alumnus Cornell yang kukenal selama
empat puluh tahun. Ia menulis:
Sebagai pemuda berusia dua puluh tahun, aku
tahu betul bahwa damai sulit ditemukan dalam dunia
dewasa ini. Aku dibesarkan selama Perang Dunia
Kedua berlangsung, ketika koran-koran penuh dengan
berita perang dan propaganda, yang memuncak
dengan jatuhnya bom atom di Jepang. Aku teringat
benar akan pertarungan antara John L. Lewis125 dan
serikat buruh tambang dengan manajemen
perusahaan besar juga. Ibuku membela Partai
Demokrat sedangkan ayahku membela Partai
Republik, namun tak seorang pun bicara tentang
Tuhan dan aku pun tidak mendapatkan sesuatu yang
menarik atau pun bisa diharapkan dari agama.
125
Pemimpin serikat buruh Amerika, 1880-1969
290 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Yang lebih kupercaya adalah ilmu pengetahuan dan


pikiran manusia dan aku merasa mempunyai otak yang
sangat tajam. Namun alangkah sedikitnya pengertianku
tentang semua keadaan tidak damai di dunia ini, bahkan
juga di dalam diriku sendiri, yang tidak pernah menderita
karena perang, kemiskinan, penindasan, sakit keras,
maupun tantangan mental apa pun yang tak pernah
kujumpai. Namun ketika aku makin dewasa, aku
dikejar-kejar oleh rasa bersalah karena dosa-dosa yang
berulang terjadi dan tak dapat kuatasi, dan oleh
tantangan batin yang justru malahan menjadi-jadi ketika
aku berusaha mengatasinya.
Yesus berkata: “Damaiku Kuberikan kepadamu:
dan apa yang telah Kuberikan tidak seperti yang
diberikan oleh dunia kepadamu,”126 dan lagi, “Jangan
kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa
damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa
damai, melainkan pedang.”127
Di lingkungan Brudrehof aku bertemu dengan pria
dan wanita biasa yang telah menemukan damai dan suka
cita dalam suatu keyakian bersama yang telah mereka
dapatkan dari gelanggang pergumulan hidup. Mereka
tahu untuk apa (atau siapa) mereka berjuang. Demi
Tuhan mereka, mereka bersedia menghadapi tantangan
atau penderitaan apa pun.
Inilah damai yang menyentuh hatiku: bukan suatu
penarikan diri ke dalam kesunyian seperti kematian
dan kepasifan, namun sebaliknya: damai dari
pengampunan dan permulaan hidup baru, damai dari
keberanian dan kegiatan dan penentangan yang
lantang pada segala bentuk kejahatan, bersama dengan
kasih pada semua orang.

126
Yoh 14:27
127
Mat 10:34.
Hidup yang Berkelimpahan 291

Bila aku ditanyai tentang sumber dari damai dan


suka cita ini, yang belum pernah kualami dalam hidupku
sebelumnya, aku diberitahu: “Yesus Kristus.” Tanpa
melihat sendiri, nicaya aku tak akan percaya tapi ini
sungguh nyata. Kemudian aku menyadari bahwa aku
telah menemukan perjuangan yang di dalamnya aku
juga dapat dan harus mencurahkan hidupku sendiri.
Aku tahu bahwa pengalamanku bagi Bruderhof,
tidaklah unik bukan satu-satunya, dan bahwa Kerajaan
Allah tidak terbatas pada orang-orang yang disebut Kristiani.
Gagasan menemukan damai “dalam suatu pertarungan:
juga terdapat dalam tulisan para perintis Quaker-George
Fox, Isaac Pennington, dan banyak lainnya yang di masa
mereka mengalami kelahiran iman yang baru di tengah-
tengah abu kematian religiositas formal. Gagasan itu juga
ada di antara para tahanan politik dan tahanan karena hati
nurani yang kukenal, termasuk para mantan anggota
Phanter dan anggota organisasi MOVE dari Philadelphia.
Mereka adalah pria dan wanita yang bicara dengan bahasa
yang berbeda dan menghayati hidup yang lebih radikal
daripada komunitas Bruderhof, namun hati dan semangat
mereka sangat dekat dengan apa yang telah saya coba
gambarkan, sekalipun pers secara tidak adil menganggap
mereka jahat sebagai kaum radikal yang gila karena
pendirian mereka yang tidak mendapat dukungan umum
mengenai ras dan keadilan sosial. Jika Anda berhubungan
dengan mereka atau mengunjungi mereka, Anda akan
rasakan bahwa kendati berbagai kesulitan yang mereka
alami (beberapa di antara mereka mengalaminya selama
bertahun-tahun) mereka mempunyai damai dan suka cita.
Mereka gigih, tetapi mereka tidak melakukan kekerasan,
juga tidak irasional. Dan mereka tahu hakikat perjuangan
mereka; mengungkapkan kebenaran yang mereka kenali
dan mereka bela.
Kembali lagi, ketika aku datang ke Bruderhof
sebagai pemuda yang tidak-damai, justru kedamaian
292 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

yang sama seperti itulah yang mendorong diriku, damai


yang memancar dari orang-orang yang tahu akan
pertarungan yang sedang mereka lakukan, tahu akan
perang yang mereka jalani.
Ketika Tuhan memberikan kepada kita damai,
kasih atau suka cita, semua itu tetap milik-Nya dan kita
tidak dapat merebutnya atau menyimpannya untuk diri
kita sendiri. Sejauh Dia berkenan memberikannya
kepada kita, semuanya itu tersedia. Jika kita kehilangan
karunia itu karena kendor berjuang, atau entah karena
hal-hal lain, Tuhan masih menggenggam semua itu di
tangan-Nya dan kita dapat menghadap Dia lagi untuk
mendapatkannya kembali.
Pengarang Amy Carmichael menggunakan gambaran
medan perang untuk melukiskan damai. Wanita itu
mengatakan bahwa prajurit yang terbaring di ranjang itu
mengatakan bahwa perang yang sedang berlangsung tidak
memiliki damai. Sebaliknya damai itu ada pada mereka
yang sedang mempertaruhkan hidupnya di medan laga.
Mereka yang bertempur sangat dekat dengan
pemimpinnya adalah mereka yang sangat dekat dengan
luka dan maut, namun juga paling besar damainya.
Orang bicara tentang damai sepanjang masa; semua
orang menginginkan damai, tidak ada yang menentangnya.
Namun siapakah yang menyadarkan diri untuk bekerja
mengusahakannya menjadi kenyataan? Bagi setiap orang
panggilan untuk bertindak mengambil bentuk sesuatu yang
unik. Bagi yang satu panggilan itu mengantarkannya pada
kehidupan aktif; untuk yang lain, pada hidup berkomunitas;
yang berikutnya, mengantar pada suatu yang sangat berbeda
sepenuhnya. Mungkin sekadar menjadi suatu seruan untuk
rekonsialisasi di tempat kerja, atau mungkin suatu ajakan
agar lebih bersedia mengampuni dan mencintai di rumah.
Hidup yang Berkelimpahan 293

Suatu perbuatan besar bisa lebih mulia daripada


tindakan sehari-hari yang tidak menyolok. Namun
perbuatan hebat dapat mengalihkan kita dari kewajiban
kita untuk melakukan hal yang benar di sekeliling kita.
Perbuatan hebat dapat membuat hati menjadi keras
terhadap mereka yang sangat membutuhkan kita. Jean
Vanier mengingatkan: “Kadang-kadang lebih mudah untuk
mendengarkan tangisan kaum miskin dan tertindas dari
tempat yang sangat jauh daripada jeritan saudara lelaki
dan perempuan dalam komunitas kita sendiri. Tidak ada
yang hebat dalam menanggapi mereka yang bersama kita
dari hari ke hari dan yang mengesalkan kita.”
Di mana pun kita berada dan apa pun yang kita
lakukan, selalu ada pengorbanan yang harus kita buat dan
komitmen untuk kita penuhi agar damai kita menghasilkan
buah. Sebab berbeda dari damai palsu yang mengacaukan
segala sesuatu dan tidak punya suatu komitmen pun, damai
Tuhan datang sebagai angin yang menggebu dan
menggerakkan segala-galanya yang ada di jalannya.
Jika kita tidak beranjak lebih jauh dari
penyimpangan pribadi dengan Yesus yang mengubah diri
kita, kita kehilangan keagungan karunia-Nya. Itulah
sebabnya kita disuruh-Nya lebih dulu mencari Kerajaan
Allah dan kebenaran-kebenarannya, agar kita bisa
menjadi lebih layak bukan hanya bagi berkat pribadi,
tetapi juga sebagai bentara Kerajaan-Nya.
Marilah kita lebih bersungguh-sungguh menghayati
Kehendak Tuhan! Jika kita tidak merindukan Dia dalam
setiap aspek kehidupan kita, sebenarnya kita sama sekali
tidak mengharapkan Dia. Aku bertanya pada diriku
setiap hari: apakah aku cukup berharap, cukup berjuang,
dan cukup mengasihi? Harapan kita akan Kerajaan Allah
niscaya mengantar kita agar melakukan sesuatu.
J. Heinrich Arnold
294 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Keadilan
Yang menjadi motif adalah kasih persaudaraan,
dan kita diperintahkan agar mengasihi saudara-saudara
kita. Jika agama begitu melalaikan kebutuhan kaum
miskin dan begitu banyak pekerja, dan membiarkan
mereka itu hidup dalam keputus-asaan yang
menyedihkan dan hanya menghibur mereka dengan
gambaran janji akan kehidupan sesudah kematian
ketika semua air mata akan diusap, agama itu pantas
dicurigai. Siapa yang akan percaya kepada para
penghibur Ayub? Di pihak lain, jika mereka yang
mengaku beragama berbagi kehidupan dengan kaum
miskin dan bekerja mengusahakan nasib yang lebih baik
dan mempertaruhkan hidup mereka sendiri seperti
kaum revolusioner, atau seperti yang dilakukan serikat
buruh di masa lalu, maka di sana ada lingkaran
kebenaran tentang janji kemuliaan yang akan datang.
Salib akan diikuti oleh kebangkitan.
Dorothy Day

D i antara semua slogan yang kudengar di dalam pelbagai


demonstrasi dan pawai-pawai dalam beberapa
dasawarsa terakhir, yang paling sederhana dan paling kuat
adalah “No Justice, No Peace.” Tak ada damai tanpa
keadilan. Jika berbicara atau menulis tentang damai itu
penting, maka berdoa untuk damai dan bekerja
melaksanakannya secara praktis bahkan lebih penting lagi.
Namun setelah segala yang dikatakan dan dilaksanakan,
damai hanya nyata sejauh dia melahirkan keadilan.
Dalam surat Santo Yakobus kita baca: “Apakah
gunanya saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan,
Hidup yang Berkelimpahan 295

bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai


perbuatan? Dapatkah imannya menyelamatkan dia? Jika
seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian
dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari
kamu berkata: ”Selamat jalan, kenakanlah kain panas
dan makanlah sampai kenyang,” tapi ia tidak memberikan
kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya
itu?”128 Dan Christoph Blumhardt menulis: “Pada akhir
analisis, seluruh kehidupan spiritual kita tidak ada
artinya jika tidak menunjukkan konsekuensi yang dapat
dirasakan dan tampak di dunia.”
Dengan cara yang sama ketidakadilan dalam
perbedaan perlakuan sosial, penindasan, perbudakan dan
perang, sengketa dan perpecahan, damai berkaitan dengan
kadilan, sebab keadilan berkembang ketika semua hal di
atas dapat diatasi. Dalam keadaan kita sekarang ini
tidaklah mengherankan jika orang menganggap damai dan
keadilan sebagai kebodohan utopis. Bagaimana orang dapat
damai, tanya mereka, jika kemelut dan penyakit ada di
mana-mana, sedang tumpukan senjata pemusnah massal
mencibir pada gagasan kelangsungan hidup manusia?
Bagaimana mungkin ada keadilan bila keinginan beberapa
gelintir orang yang kuat dan kaya menghancurkan hidup
jutaan orang di seluruh dunia? Enam puluh tahun yang
lalu, dalam sebuah esai tentang hubungan antara hak milik
pribadi dan perang, kakekku menulis, “Di mana tak ada
keadilan, kebodohan merajalela.” Entah apa yang hendak
dikatakannya sekarang.
Ada orang yang mau berkeras menyatakan bahwa
semangat damai tetap hidup dan baik-baik saja,
sekalipun tersembunyi di balik jubah kemunafikan di

128
Yak 2: 14-16.
296 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

sana sini. Jika damai dan keadilan yang kita serukan


tidak didasarkan pada tindakan dan perbuatan, maka
seruan itu kosong belaka. Kita tetap saja penjahat-
penjahat saleh, seperti yang dikeluhkan oleh Yeremia:
“Mereka membalut luka umat-Ku dengan berkata,
‘Damai! Damai’ Padahal tak ada damai.”129
Di pihak lain, sekalipun kita gagal berkali-kali dalam
kesetiaan kita pada visi Kerajaan Allah dan dalam
berusaha hidup selaras dengan semangat Kerajaan Allah
itu, faktanya tidak berubah bahwa Tuhan adalah Tuhan
Perdamaian. Kerajaan-Nya adalah kerajaan keadilan,
kebenaran, dan kasih. Kalaupun iman kita tidak
bersungguh-sungguh, itu bukan kesalahan Tuhan,
melainkan kelemahan kita. “Sayangnya, pada tumit
Kristus ada orang-orang Kristiani yang begitu keras.”
(Annie Dillard).
Damai Kerajaan menyerukan tatanan sosial dan
hubungan yang baru. Itulah sebabnya mengapa Yesus
mendesak agar kita berpihak pada kaum miskin dan
tertindas, pada para terpidana, dan orang sakit. Itulah
sebabnya Ia berkata: “Berbahagialah orang yang
membawa damai.” 130 Itu juga sebabnya Dia
memerintahkan kita: “Pergilah ke seluruh dunia.”131 dan
mewartakan damai-Nya dan Kabar Gembira. Dan jika
orang menolak damaimu itu, kata-Nya, kita harus
mengibaskan debu dari kaki kita dan melanjutkan
perjalanan.132 Kita diarahkan untuk berjumpa dengan
mereka yang telah merindukannya.

129
Yer 6:14; 8 : 11.
130
Mat 5:9
131
Mrk 16:15
132
Mrk 6:11
Hidup yang Berkelimpahan 297

Beberapa bulan yang lalu aku mengunjungi Chiapas,


Meksiko, menemui Uskup Samuel Ruiz Garcia. Ia dikenal
sebagai Don Samuel dan dicalonkan sebagai Penerima
Hadiah Nobel Perdamian karena karyanya bagi rakyat di
sana, terutama bagi petani pribumi yang berdiam di desa-
desa pegunungan yang miskin di kawasan itu.
Don Samuel membaktikan diri begitu saja pada apa
yang dianggapnya sebagai tugas bermata-dua demi damai
dan keadilan. Pada tahun-tahun terakhir tugasnya itu
termasuk menyuarakan Zapatista, suatu gerakan akar
rumput yang digalang untuk memperjuangkan hak asasi
manusia seperti pemilikan tanah dan hak untuk
mendapatkan pemeliharaan kesehatan. Tidak
mengherankan bahwa karena begitu vokal, ia dibenci
dan diancam, terutama oleh pemerintah daerah yang
bersikap menindas, dan ia menjadi sasaran sekurang-
kurangnya dua kali usaha pembunuhan belakangan itu.
Dalam pembicaraan kami pada bulan Desember 1997
Don Samuael berkata:
Perdamaian demi kemanusiaan bukan hanya
berakhirnya perang atau tindak kekerasan. Pepatah
orang Romawi mengatakan “Jika kamu menginginkan
damai, bersiaplah untuk perang.”133 Bagi mereka damai
adalah masa untuk mempersiapkan perang. Bagi kita
juga begitu, namun caranya lain. Bagi kita damai
berdasarkan hubungan baru yang mendasar antara
manusia dan Tuhan. Itulah sebabnya Kristus mengatakan
bahwa Ia memberikan damai “yang tidak seperti yang
diberikan dunia.” Ia membawa damai yang berbeda.
Dalam masyarakat dewasa ini, damai itu harus
dipahami dan dibangun atas dasar keadilan: Kerajaan
Allah, yang adalah kerajaan damai, kerajaan keadilan,

133
Dari pepatah Latin: Si vis pacem, para bellum
298 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

kerajaan kebenaran, dan kasih. Karena itu bagi kita


damai memiliki fondasi sosial dan fondasi spiritual yang
menuntut hubungan persaudaraan yang baru di antara
semua orang. Termasuk di dalamnya tuntutan akan suatu
perubahan struktur sosio-ekonomi yang menindas.
Kita mengerti bahwa damai adalah anugerah dari
Allah. Kristus berkata: “Aku memberikannya padamu.
Aku memberikan padamu damai-Ku.” Tetapi damai itu
juga suatu tugas; suatu pekerjaan yang harus
dikembangkan. Dalam arti ini, kehadiran orang miskin
dalam hubungan dengan Kerajaan adalah kehadiran
Kristus secara sakramental. Kristus hadir sebagai Sakramen
kaum miskin, karena Ia sendiri berkata bahwa pertanyaan
terakhir dan satu-satunya yang akan diajukan adalah
berkenaan dengan kasih kita kepada Kristus. “Aku lapar,
kamu memberi aku makan. Aku haus, dan kamu memberi
Aku minum.” Kapan semua ini kita lakukan. “Segala
sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-
Ku, kamu telah melakukannya untuk Aku.”134 Titik
tekanannya bukan doktrin atau ajaran, namun praktik.
Aku tidak ditanyai tentang kesalahan dan dosa-dosa,
tetapi aku akan ditanyai apakah aku mengasihi saudara-
saudaraku atau tidak.
Damai datang dari orang miskin. Ia berada di tengah
jalan menuju damai. Orang miskin menentukan sejarah
masyarakat manusia. Orang menjadi miskin karena konflik
sosial. Ada suatu sistem yang membuat orang menjadi
miskin, suatu sistem yang merampok dirinya. Jika dalam
suatu masyarakat orang yang paling miskin menjadi titik
rujukan, suatu indeks bagi kesejahteraan umum, maka
kita punya suatu masyarakat yang sedang berfungsi
melaksanakan tugasnya. Namun jika di dalam suatu
masyarakat orang miskin malah dijerembabkan di lantai,
itu berarti masyarakat berlawanan dengan Kerajaan Allah.

134
bdk. Mat 25:35.37.40
Hidup yang Berkelimpahan 299

Sering kali kita menutup telinga pada orang


seperti Don Samuel. Kecurigaan dan ketakutan
membuat kita membungkam suara- suara mereka,
mengabaikan mereka, bahkan menghilangkan suara
mereka dengan membunuh mereka.
Harus diakui bahwa banyak orang yang memper-
juangkan keadilan bukanlah para pembawa damai dalam
pengertian Kristiani. Mereka membela keadilan dengan
cara- cara yang tidak damai. Sebagian bahkan
menganjurkan revolusi bersenjata. Namun sekalipun
berbeda tujuan dan cara-caranya, kita harus mengakui
bahwa mereka itu adalah suara kaum tertindas, dan
bahwa tidak akan ada keadilan dan damai sejati di bumi
ini jika keadilan dan damai bagi mereka belum
terwujudkan. Perjuangan mereka mungkin terjadi pada
jalur yang berbeda, tetapi perjuangan demi kebebasan
dan hak-hak yang sama seperti yang diperoleh kulit putih
Eropa dan Amerika itu mempertaruhkan hidup mereka.
Jika kita mengabaikan fakta ini, kita tak punya hak
untuk mencela perjuangan mereka.
Dalam gereja perdana, orang Kristiani menye-
diakan makanan bagi mereka yang lapar dengan biaya
yang mereka keluarkan sendiri; mereka memberi
pakaian orang yang telanjang dan memberi tumpangan
pada yang tidak punya rumah dengan pengorbanan
pribadi. Tak terpikirkan bagi mereka bicara tentang
damai tanpa sekaligus membicarakan keadilan. Dan
orang-orang sezaman bicara tentang mereka: “Lihatlah
betapa mereka itu saling mengasihi!” Sekarang
keadaan sangat berbeda. Seorang pendiri Catholic
Worker, Peter Maurin, menulis:
Sekarang kaum miskin tidak mendapat makanan,
pakaian, dan tumpangan dari pengorbanan pribadi
300 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

sesamanya, melainkan atas beban para pembayar pajak.


Dan karena itu orang-orang kafir berkata tentang
orang-orang Kristiani: “Lihatlah, bagaimana mereka itu
sibuk menyalurkan dana.”
Christoph Blumhardt memerhatikan kurangnya
perhatian seperti itu di antara para pemeluk agama yang
saleh dari generasinya, dan tak putus-putusnya ia
menyuarakan kecamannya. Ia melihat akar permasalahannya
adalah kesibukan demi keselamatan diri sendiri, yang dipadu
dengan ketidakpedulian pada keadaan sesama.
Ada banyak kelompok orang Kristiani yang
sudah bersuka ria karena mereka akan diubah dan
diangkat dengan awan ke surga. Namun bukan
seperti itu caranya. Sekaranglah waktunya
melaksanakan tugas dalam hal apa kita pertama-tama
akan diadili, bukan pertama-tama menerima sofa di
surga. Hanya bagi mereka yang pertama-tama
sungguh dapat bertahan di hadapan pengadilan Sang
Penyelamat, barulah ada alasan untuk terus
menerima anugerah keadilan-Nya.
Sebenarnya aku mengira banyak orang Kristen yang
baik akan terkejut melihat siapa yang sudah ada di surga
ketika para malaikat “memilih dari seluruh penjuru
dunia”,135 semakin bertambah umurku dan makin dalam
kulihat hebatnya ketidakadilan dalam masyarakat kita,
makin besar keyakinanku bahwa jika Yesus sungguh-
sungguh datang bagi mereka “yang haus dan lapar akan
keadilan dan kebenaran”,136 maka mereka yang dipilihnya
termasuk para gelandangan, nara pidana, kaum terbuang
dan terlupakan yang berserakan di bumi.

135
Mat 13:27
136
Mat 5:6
Hidup yang Berkelimpahan 301

Kita cepat-cepat melupakan hal itu, tetapi nilai-nilai


tatanan Yesus tetap berlaku di hadapan kita. Keadilannya
memutar-balikkan tata nilai keadilan manusiawi. Ia berkata:
“Orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan
yang terakhir akan menjadi yang terdahulu”;137 dan bahwa
“barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa kehilangan
nyawanya karena Aku ia akan memperolehnya.”138
Apa maksudnya kehilangan nyawa? Maksud Yesus
adalah meninggalkan semua hak khusus dan setiap
pertahanan, dan mengambil jalur yang terendah.
Sebelum Yesus wafat, Ia berkata bahwa Ia akan
diserahkan ke tengah mereka yang berkuasa: para
pemuka agama dan pemerintah.139 Dia harus menyerah,
tanpa pembelaan, pada kekuasaan mereka. Dan ketika
para murid bertanya: “Tuhan, apakah Engkau mau,
supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk
membinasakan mereka?” 140 Yesus bertanya kepada
mereka: “Tahukah kamu Roh apa yang memasuki
kamu?” Kamu telah melupakan Roh Kudus! Kamu telah
melupakan panggilanmu yang terbesar. Kamu
meninggalkan Roh Kudus begitu kamu memilih
kekuasaan bukan kasih, sekalipun kamu mendatangkan
api dan petir dari langit dan keajaiban ilahi.
Eberhard Arnold
Bagi kita yang menyatakan diri pengikut Kristus,
penggunaan kekerasan atau kekuasaan tidak dapat
dianggap sebagai suatu cara untuk mencapai keadilan.

137
Mat 19:30
138
Mat 16:25
139
Mat 20:17-19
140
Luk 9:94
302 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Namun hal itu juga tidak membuat kita berhak menilai


orang lain, membujuk atau memikat mereka agar setuju
dengan cara pemikiran kita. Kita tak dapat berpidato di
hadapan para petani dunia yang sedang berjuang, para
gerilyawan kota, para polisi, tentara, dan berkata:
“Letakkan senjatamu, ikutilah jalan kasih dan damai.”
Iman tidak dikaruniakan kepada semua orang, iman
juga tidak setiap saat diperhatikan setiap orang.
Sekalipun begitu, mungkin tidak jelas juga bagaimana
kita dapat memperoleh pengertian. Dalam pengalamanku,
jawaban pada masalah hidup yang penting tidak kita
peroleh sebagai paket yang lengkap. Kadang-kadang
jawaban itu sama sekali tidak kita terima sebagai paket
kiriman; kitalah yang harus mencarinya, dengan coba-
coba dan melakukan ralat perbaikan, dengan perjuangan
yang panjang.
Dalam bukunya On Pilgrimage, Dorothy Day
merenungkan masalah yang peka bagaimana orang
Kristiani harus menyeimbangkan tuntutan keadilan dan
tuntutan damai. Dorothy tidak memberikan jawaban yang
sederhana, tetapi mengungkapkan dasar yang baik untuk
setiap usaha dalam hal itu: merendahkan hati.
Pastilah kebebasan yang diberikan Tuhan kepada
kita merupakan anugerah yang mengerikan, dan Dia
meninggalkan kita untuk melakukan tugas
mengembangkannya melewati rawa-rawa dosa dan
kebencian dan kekejaman dan penghinaan yang ada di
sekitar kita. Rawa-rawa yang kita buat sendiri. Aku bisa
bersimpati pada naluri kemarahan suci yang membimbing
orang angkat senjata dalam suatu revolusi, ketika aku
melihat orang-orang tua yang dilupakan di rumah sakit
jiwa, orang-orang yang tidur di emper-emper toko, atau
mengaduk-aduk tempat sampah mencari makanan; atau
Hidup yang Berkelimpahan 303

mengunjungi keluarga di pemukiman kumuh, yang


sering kali kedinginan, atau para pengungsi....
Kita memang bukan kaum Sosialis Marxis, kita juga
tidak percaya pada revolusi yang kejam. Namun kita
sungguh percaya bahwa lebih baik melakukan revolusi,
berjuang, seperti yang dilakukan Fidel Castro141 dan para
pengikutnya, daripada tidak berbuat apa-apa, .... Sampai
kita sendiri sebagai para pengikut Kristus menyangkal
penggunaan perang sebagai cara mencapai keadilan dan
kebenaran, kita tidak ke mana-mana hanya dengan
mengecam mereka yang menggunakan perang untuk
mengubah tatanan sosial.
Berbicara ketika Gerakan Hak-hak Sipil memuncak,
Martin Luther King Jr membahas hal yang sama, mengkritik
orang-orang yang hanya berdiri di pinggir lapangan, yang
hanya bicara tentang keadilan namun terus-menerus
menghambat setiap usaha untuk melakukan sesuatu.
“Dalam beberapa tahun aku sangat kecewa dengan kaum
moderat kulit putih ... yang lebih membela “hukum dan
ketertiban” daripada membela keadilan.”
Orang lain, terutama banyak kaum muda Afrika-
Amerika merasa bahwa King sangat berhati-hati dan
tidak efektif karena mengandalkan kekuatan gerakan
tanpa kekerasan (ahimsa) versi Gandhi. King menolak
imbauan mereka untuk mengikuti metode kerja yang
kurang damai untuk mengusahakan perubahan, tetapi
ia tidak mengecam taktik mereka: “jika kaum tertindas
disangkal hak-haknya untuk melakukan revolusi damai,
bagaimana mereka bisa disalahkan jika kemudian
berubah menjadi revolusi dengan kekerasan?”

141
Pemimpin Kuba
304 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Harapan
Di mana pun Tuhan berada, damai ada di
dekat-Nya. Kehadiran-Nya membawa lepasan dari
keresahan batin, dari rasa hancur, dan dorongan-
dorongan yang bermusuhan; diberikan-Nya
keselarasan antara hati, budi, dan jiwa. Tapi Dialah
Allah yang hidup, dan karena itu Dia adalah
tindakan sebagaimana Dia adalah damai. Dan atas
dasar keselarasan yang dibawa-Nya, Ia
memberikan kesatuan yang lebih luas. Kesatuan
itu adalah kegembiraan kasih; kesatuan antara
tujuan dan tindakan, komunitas, persaudaraan,
dan keadilan untuk semua.
Eberhard Arnold

D amai adalah daya yang memberi kehidupan. Damai


menyembuhkan apa yang telah patah, meremajakan
yang telah usang, melepaskan apa yang terikat dan
terkungkung. Damai memberi harapan di mana ada putus
asa, keselarasan di mana ada perselisihan, kasih di mana
ada kebencian. Damai memberikan kesatuan pada apa yang
cerai-berai, ketaatasasan di mana ada kompromi dan
kemangkiran. Damai menembus setiap sudut, baik spiritual
maupun material, baik material maupun spiritual. Jika tidak
dapat melaksanakan transformasi itu tentulah bukan damai
sejati, tetapi sungguh-sungguh damai palsu belaka.
Damai berasal dari Allah, tapi jangkauannya sampai
ke bumi. Dan ketika dayanya bertiup, damai itu
mengubah orang dan pelbagai struktur. Tujuannya
Hidup yang Berkelimpahan 305

seluruh kosmos tapi awalnya diam-diam, sering kali tak


terasakan, dari dalam. Di mana damai itu memerintah,
ada kesatuan antara diri dengan diri sejati, antara pria
dan wanita, antara Allah dan manusia. Ada kesatuan
antara pokok dan ranting anggur; tempat-tempat ibadat
disucikan dan tubuh disembuhkan.
Tak satu pun hal itu terjadi dengan sendirinya, atau
dalam ruang kosong. Sepanjang buku ini telah kita lihat
bahwa jalan damai tidak ada kaitannya dengan kepasifan
atau sikap lepas tangan. Damai bukanlah untuk yang
tidak berdiri tegak atau yang diam bergelung tidur, atau
mereka yang berpuas diri. Damai menuntut ketulusan
hidup kita di hadirat Allah dan di hadapan sesama, dalam
terang hati nurani. Damai tidak datang tanpa beban
kewajiban, karena damai menuntut tindakan cinta kasih.
Damai merupakan usaha tak kenal lelah yang hanya
mungkin karena ditopang oleh harapan, keberanian, visi
dan komitmen. Untuk mencapai damai orang tak bisa egois,
mementingkan diri sendiri. Upaya itu bukanlah semata-
mata demi mencapai batas akhir, atau menemukan
pemenuhan, atau seperti yang dikatakan Aristoteles
mewujudkan potensi manusiawi kita saja. Tidak!
Mengupayakan damai berarti mengusahakan terus
keselarasan di dalam diri kita sendiri, dalam hubungan
dengan sesama dan dengan Tuhan. Itu berarti
mengupayakan persatuan yang dikemukakan Kristus dalam
doa terakhir-Nya: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama
seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam
Engkau, agar mereka juga di dalam Kita supaya dunia
percaya, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku.”142

142
Yoh 17:21
306 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Bahkan ketika kita berdamai dengan Allah dan merasa


bersatu dengan Dia, perbedaaan antara kekecilan kita dan
keagungan Allah niscaya membuat kita ciut. Namun kita
tak boleh membiarkan pengetahuan tentang hal itu
membuat kita menyerah. Kierkegaard menulis: “Kita harus
menyingkirkan rasa takut dan tak boleh lagi bersembunyi
dalam cangkang dengan menghindar dari tanggung jawab
kita di hadapan kebenaran.... Kita harus masuk ke dalam
kepenuhan hidup di mana segala sesuatu yang kita lakukan
kita laksanakan dalam kaitan dengan keabadian.”
Walaupun kedengarannya sangat hebat, namun
sebenarnya hal itu sangat sederhana. Ketika mata kita
menatap keabadian, kita akan digerakkan oleh kasih.
Kasih pada sesama kita, kasih pada pasangan kita, kasih
pada musuh kita, dan pada teman-teman kita. Dan kita
akan berusaha hidup dalam keselarasan dengan semua
orang dan dengan segala makhluk. “Sebab jika kamu
tidak mengasihi saudaramu yang kelihatan, bagaimana
mungkin kamu mengasihi Allah yang tidak kelihatan?”143
Jika kita tidak punya damai, boleh jadi itu karena kita
lupa untuk saling mengasihi. Namun tak ada alasan untuk
itu. Aku tidak percaya bahwa orang sedemikian
kekurangan karunia kemampuan sehingga ia tidak bisa
mengasihi. Santa Teresa dari Lisieux menulis:
Kasih merupakan kunci bagi panggilan hidupku.
Aku sadar bahwa jika Gereja merupakan suatu tubuh
yang terdiri dari berbagai-bagai anggota, Gereja tak
mungkin ada tanpa bagian-bagian anggota yang terbaik
dan yang paling penting dari semua bagian anggotanya
yang lain. Aku sadar bahwa kasih meliputi semua panggilan
hidup, bahwa kasih adalah segalanya, dan karena sifatnya
yang abadi, kasih ada di segala masa dan tempat.
143
1 Yoh 4:20
Hidup yang Berkelimpahan 307

Dipenuhi oleh kegembiraan yang meluap, aku


berteriak, “Akhirnya kudapatkan panggilan hidupku.
Panggilan hidupku itu adalah kasih! Aku telah
mendapatkan tempatku. Aku akan menjadi kasih.
Maka aku akan menjadi segala seuatu dan impianku
terlaksana!” Mengapa aku menyebutkan kegembiraan
yang meluap? Rupanya istilah yang kurang tepat.
Seharusnya yang kusebutkan adalah damai, tenang
dan tenteram seperti yang dirasakan seorang nakhoda
ketika ia melihat mercu suar yang mengantarkannya
ke dalam suatu pelabuhan. Dan aku tahu bagaimana
aku mendapatkannya dan bagaimana aku
memperoleh nyalanya bagi diriku.
Kebanyakan dari kita tak punya antusiasme biar hanya
separuh saja dari antusiasme Santa Teresa. Sebaliknya,
seperti yang dicatat oleh Christoph Blumhardt, damai dan
kesatuan malah hilang dari hidup kita.
Kita segera terjerat dalam jaring-jaring gosip,
kebencian, iri hati, penuh dengan racun.... Kita
bertengkar dan cemburu satu sama lain bahkan dalam
nama Kristus. Hal itu sepertinya akan berlanjut terus
selamanya, yang satu menyerang yang lain, dan tak
seorang pun bisa mewujudkan damai. Kita ini begitu jauh
dari yang seharusnya sebagai orang yang menyimpan
sabda Tuhan dalam hati kita dan mengikuti Kristus
Penyelamat dalam praktik hidup kita!
Ia terus melanjutkan, “Namun mengapa hati kita tidak
terbuka lebar dan jadi bebas, agar kita menjadi saudara
dan saudari? Mengapa kita tidak berpengharapan?”
Rabbi Hugo Gryn, seorang yang berhasil selamat dari
bencana kamar gas beracun Nazi Jerman belajar tentang
pentingnya harapan sebagai seorang pemuda di Auschwitz,
di mana ia dipenjarakan dalam satu barak dengan ayahnya.
308 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Kendati situasinya tak terperikan, banyak orang


Yahudi, termasuk ayahku, tetap berusaha menjalankan
kewajiban agama sejauh mungkin. Pada suatu malam
di tengah musim dingin seorang teman sekamar
mengingatkan ayah bahwa sebentar lagi adalah malam
pertama Hanukkah, pesta cahaya. Selama beberapa hari
ayahku membuat kandela sembilan cabang kecil dari
logam-logam bekas. Untuk sumbu lampunya ia
mengurai benang dari baju seragam penjaranya. Dan
sebagai ganti minyak untuk lampu itu ia mengusahakan
mentega dari seorang penjaga.
Ibadat semacam itu dilarang keras, tapi kami sudah
biasa mengambil risiko. Yang aku protes adalah mengapa
kita “memboroskan” kalori yang sangat berharga.
Bukankah sebaiknya membagikan mentega itu untuk
roti-roti kita daripada membakarnya?
“Hugo,” kata ayahku, “kamu dan aku tahu bahwa
orang bisa hidup lama tanpa makanan tertentu. Tapi
biarlah kamu tahu, orang tak dapat tetap hidup biar sehari
pun tanpa harapan. Mentega ini akan menghidupkan
nyala harapan. Jangan biarkan harapan padam. Di sini
atau di mana pun. Ingatlah ini!”
Cerita Rabbi Gryn menyentuh suatu kebenaran yang
diketemukan banyak orang baik sebelum maupun sesudah
dia: pada akhirnya, harapanlah yang memungkinkan kita
hidup terus dari hari ke hari.
Visi apokaliptik memberi kami harapan, bahwa
walaupun bukti-bukti yang nyata ada tidak mendukung,
pada akhirnya yang baiklah yang akan menang. Di dalam
Kitab Wahyu dikatakan bahwa keadilan akan
dipulihkan dan Allah akan datang bersama mereka yang
mengalami penderitaan yang paling keji, ketidakadilan
dan kekerasan di dunia. Tuhan yang tidak akan
membentak-bentak dan kejam seperti seorang diktator,
Hidup yang Berkelimpahan 309

melainkan yang dengan lembut “menghapus semua air


mata dari mata mereka” 144
Kathleen Norris
Jika kita beriman, tak ada yang dapat menghalangi
tindakan kita atas dasar harapan. Kita mungkin “dengan
sabar menunggu kedatangan Tuhan,” seperti yang
dianjurkan Injil, tetapi jika kita sungguh-sungguh berharap
niscaya akan ada tindakan dalam penantian kita itu.
Pada hari terakhir 1997 di Chiapas, Meksiko, ratusan
orang Indian Tzotzil melakukan pawai peringatan di desa
Acteal, tempat empat-puluh-lima pejuang mereka,
kebanyakan wanita dan anak-anak, secara kejam telah
dibunuh oleh milisi pro-pemerintah sembilan hari
sebelumnya. Hidup di suatu kawasan terpencil di mana
penindasan politik dapat menyebabkan orang tiba-tiba
“hilang” satu demi satu, para peserta pawai itu tahu bahwa
pawai mereka itu bukannya tidak berbahaya.
Tanpa membawa senjata para peserta pawai itu
menghadapi bahaya dari dua jurusan karena posisi
mereka: walaupun mereka itu mendukung tujuan
perjuangan para pejuang kemerdekaan setempat,
Zapatista, mereka tetap menentang penggunaan
kekerasan dan dengan demikian mereka dituduh oleh
kedua pihak yang berlawanan baik sebagai partisan di
satu sisi maupun tidak loyal di sisi yang lain. Namun pawai
itu juga bukan suatu tindakan untung-untungan. Pawai
peringatan itu merupakan tindakan perlawanan yang
dilakukan dengan tekad penuh dan harapan.
Suatu papan tanda yang digantung pada salib yang
berada di depan iring-iringan itu tertera, “Waktu untuk

144
Why 19:1-2; 7:17; 21:4
310 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

panen, waktu untuk membangun,” dan banyak di antara


para pria membawa bata (untuk melambangkan beban
penderitaan yang mereka pikul, tutur seseorang) yang
rencananya untuk membangun tugu nisan bagi para
korban. Beberapa orang berencana untuk menetap dalam
desa lagi, walaupun mereka tahu mungkin mereka
terpaksa harus lari lagi. Dan sambil mengusung patung
Santa Perawan Maria yang telah rusak “atas nama damai”,
mereka tetap setia pada sikap menolak kekerasan.
Siapakah pria dan wanita yang begitu pemberani
berhadapan dengan maut itu? Apakah kedamaian
mereka merupakan tanda dari kekuatan luar biasa yang
layaknya ditunjukkan para martir? Mungkin mereka
hanya merasa seperti istri Phil Berrigan, Elizabeth
McAlister yang menulis setelah masa hukuman penjara
terakhir yang dialami suaminya:
Visi Tuhan, atau lebih tepat janji Tuhan, tentang
suatu masyarakat yang adil dan penuh kasih merupakan
janji di mana kita mempertaruhkan hidup kita. Tak
seorang pun dari kami puas sebelum mewujudkan janji
ini bagi segala bangsa dan segala bumi. Demikianlah
kamu mempertaruhkan hidupmu atas visi Allah pada
Yesaya, akan tiba saatnya orang akan melebur pedang
mereka dan menjadikannya mata bajak, dan tombak-
tombak mereka menjadi sabit; karena itu kita bertahan
dan ditopang oleh Allah sendiri. Dengan memasang
badanmu demi visi Allah itu sekarang, kamu ambil bagian
di dalam mewujudkannya-tak kurang, tak lebih.
Di dalam Novel The Brothers Karamazov, Fyodor
Dostoevsky menulis dengan harapan dan iman yang
serupa itu. Pembicaraan terjadi antara Pastor Zossima
(yang waktu itu masih muda) dengan seorang tamu
misterius yang tak dikenal.
Hidup yang Berkelimpahan 311

Kata tamu itu, “Surga letaknya tersembunyi di


dalam diri kita yang ada di sini dan letaknya tersembunyi
dalam diriku sekarang, dan jika aku menghendakinya,
surga itu akan dinyatakan padaku besok dan selamanya.”
Aku menatapnya. Ia bicara dengan penuh perasaan
dan memandang diriku dengan cara yang aneh, seolah-
olah sedang mengujiku.
“Dan bahwa kita semua bertanggung jawab pada
semua orang dalam segalanya, lepas dari dosa-dosa kita
sendiri, pikiranmu sangat tepat dalam hal itu, dan hebat
sekali bahwa kamu bisa memahami hal itu dengan segera
semuanya. Dan dengan sesungguh-sungguhnya, begitu
orang dapat memahami hal itu, Kerajaan Surga bukan
lagi impian baginya, melainkan suatu kenyataan hidup.”
“Lalu kapan,” teriakku dengan hati pedih,
“kapan semuanya itu lenyap? Haruskah ia datang
untuk berlalu setiap kalinya? Dengan begitu
bukankah ia hanya impian saja?”
“Lalu apa? Apakah kamu tidak percaya?” balas tamu
itu. “Kamu menyatakannya dalam khotbahmu namun
kamu sendiri tidak percaya? Percayalah, impian yang
kamu sebutkan itu, niscaya akan datang untuk berlalu;
ia akan datang, tapi bukan sekarang, karena segala
sesuatu ada prosesnya sendiri. Suatu proses rohani, proses
secara psikologis. Untuk mengubah dunia, untuk
menjadikannya baru, orang harus ganti haluan
menempuh jalur psikologis. Sampai kamu sungguh-
sungguh menjadi saudara bagi semua orang,
persaudaraan itu datang menetap tak akan lenyap.
Bukan semacam ajaran ilmiah, bukan semacam
kepentingan umum, ajarkanlah selalu kepada semua
orang agar berbagi kekayaan dan hak-hak secara merata.
Setiap orang akan mengira bagian yang diperolehnya
terlalu kecil, dan mereka akan selalu iri hati, mengeluh
dan saling mengecam. Tanyakan, kapan hal itu datang
312 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

dan berlalu. Hal itu akan datang untuk berlalu, tapi mula-
mula kita harus melalui pengasingan dulu.”
“Apa maksudnya pengasingan itu?”
“Mengapa? Pengasingan terjadi di mana-mana,
terutama dalam zaman kita ini, walaupun belum
sepenuh-penuhnya, belum mencapai batas akhirnya.
Sebab setiap orang harus menyembunyikan dirinya
sendiri sejauh mungkin. Semua orang akan berharap
mengamankan sebaik-baiknya kepenuhan hidupnya
sendiri dan lupa bahwa jaminan yang sesungguhnya
terdapat pada solidaritas sosial ketimbang pada upaya
perorangan yang terasing sendirian. Namun
individualisme yang mengerikan ini tak dapat tidak
harus diakhiri, dan mendadak semuanya akan mengerti
betapa tidak tepat kita terpisah satu sama lain. Itu akan
menjadi semangat suatu masa, dan orang akan heran
sendiri mengapa begitu lama mereka itu duduk
sendirian di tempat gelap tanpa melihat cahaya. Lalu
suatu tanda Putra Manusia akan tampak di langit.
“Namun sebelum itu, kita harus terus
mengibarkan panji-panji. Kadang-kadang orang harus
memberi contoh, sekalipun harus melakukannya
sendirian dan kelakuannya itu seperti orang gila, dan
dengan demikian menarik jiwa orang-orang keluar
dari keterasingannya dan memasukkannya dalam
tindakan kasih persaudaraan, itulah gagasan yang tak
akan pernah hilang.”