Anda di halaman 1dari 17

TUGAS INDIVIDU

ELISA

OLEH:
AKHMAD MUBAROK (G1C214005)

PROGRAM KHUSUS D-IV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN & KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
HIV/AIDS termasuk jajaran penyakit yang mempunyai tingkat penularan yang
sangat tinggi. Hal ini terjadi karena seringkali seseorang tidak menyadari bahwa
dirinya telah terinfeksi HIV, sehingga menjadi sumber penularan bagi orang lain.
Seseorang terkena HIV biasanya diketahui jika telah terjadi Sindrom Defisiensi Imun
Dapatan (AIDS) yang ditandai antara lain penurunan berat badan, diare
berkepanjangan, Sarkoma Kaposi, dan beberapa gejala lainnya.
Berkembangnya teknologi pemeriksaan saat ini mengijinkan kita untuk
mendeteksi HIV lebih dini. Beberapa pemeriksaan tersebut antara lain adalah :
a. Dipstick test HIV
Test ini sering di gunakan sebagai test awal untuk mendeteksi anti bodi HIV-1
atau HIV-2 pada serum, plasma atau darah dari orang yang di anggap mempunyai
resiko terpapar dengan virus HIV, namun bila hasil tidak reaktif belum dapat
dikatakan bahwa belum pernah terpapar dengan virus HIV.
b. Test Saliva
Test ini untuk mendeteksi antibody HIV pada saliva pasien dengan menggunakan
alat OraSure test dengan akurasi 99,8%. Seperti di ketahui saliva merupakan
cairan tubuh yang dapat menularkan penyebaran dari virus HIV. Test ini di
gunakan untuk pemeriksaan virus HIV pada orang penderita hemophilia yang sulit
di ambil darahnya karena resiko perdarahan dan orang yang menggunakan obat
anti koagulan.
c. Test urine.
Urine

merupakan

cairan

tubuh

yang

mengandung

virus

HIV namun

konsentrasinya rendah sehingga dapat di gunakan untuk test anti body HIV
dengan akurasi 99,8%. Indikasi untuk penderita hemopilia dan yang sulit
mengambil sample darah karena pembuluh darah yang buruk.
d. ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay), tes ini mendeteksi antibodi yang
dibuat tubuh terhadap virus HIV, merupakan teknik pengujian serologi yang

didasarkan pada prinsip interaksi antara antibody dan antigen. Pemeriksaan


Laboratorium yang paling umum dilakukan sebagai skrining pertama kali dalam
melakukan pemeriksaan Anti HIV (merupakan pemeriksaan antibody) yaitu
dengan metode ELISA.
2. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bagaimana Pengertian ELISA?


Bagaimana prinsip dasar teknik ELISA?
Apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan dalam teknik ELISA?
Apa saja kelebihan dan kelemahan teknik ELISA?
Apa saja macam-macam teknik ELISA?
Bagaimana aplikasi tehnik ELISA alat MINI VIDAS?

3. Tujuan Penulisan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Memahami pengertian ELISA


Dapat menjelaskan prinsip dasar teknik ELISA
Mengetahui alat dan bahan yang dibutuhkan dalam teknik ELISA
Mengetahui kelebihan dan kelemahan teknik ELISA
Mengetahui apa saja macam-macam teknik ELISA
Mengetahui aplikasi tehnik ELISA alat MINI VIDAS

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
1

Pengertian ELISA
ELISA (singkatan bahasa Inggris: Enzyme-linked immunosorbent assay) atau

penetapan kadar imunosorben taut-enzim, merupakan uji serologis yang umum


digunakan di berbagai laboratorium imunologi. ELISA adalah suatu teknik biokimia
yang terutama digunakan dalam bidang imunologi untuk mendeteksi kehadiran
antibodi atau antigen dalam suatu sampel dan telah digunakan sebagai alat diagnostik
dalam bidang medis, patologi tumbuhan, dan juga berbagai bidang industri.
Penggunaan ELISA melibatkan setidaknya satu antibodi dengan spesifitas
untuk antigen tertentu. Sampel dengan jumlah antigen yang tidak diketahui
diimobilisasi pada suatu permukaan solid (biasanya berupa lempeng mikrotiter
polistirene), baik yang non-spesifik (melalui penyerapan pada permukaan) atau
spesifik (melalui penangkapan oleh antibodi lain yang spesifik untuk antigen yang
sama, disebut sandwich ELISA).
Setelah antigen diimobilisasi, antibodi pendeteksi ditambahkan, membentuk
kompleks dengan antigen. Antibodi pendeteksi dapat berikatan juga dengan enzim,
atau dapat dideteksi secara langsung oleh antibodi sekunder yang berikatan dengan
enzim melalui biokonjugasi. Di antara tiap tahap, plate harus dicuci dengan larutan
deterjen lembut untuk membuang kelebihan protein atau antibodi yang tidak terikat.
Setelah tahap pencucian terakhir, dalam plate ditambahkan substrat enzimatik untuk
memproduksi sinyal yang visibel, yang menunjukkan kuantitas antigen dalam
sampel. Teknik ELISA yang lama menggunakan substrat kromogenik, meskipun
metode-metode terbaru mengembangkan substrat fluorogenik yang jauh lebih sensitif.
Umumnya ELISA dibedakan menjadi dua jenis, yaitu competitive assay yang
menggunakan konjugat antigenenzim atau konjugat antobodienzim, dan noncompetitive assay yang menggunakan dua antibodi. Pada ELISA non-competitive
assay, antibodi kedua akan dikonjugasikan dengan enzim sebagai indikator. Teknik
kedua ini seringkali disebut sebagai "Sandwich" ELISA.

Uji ini dilakukan pada plate 96-well berbahan polistirena. Untuk melakukan teknik
"Sandwich" ELISA ini, diperlukan beberapa tahap yang meliputi:
1. Well dilapisi atau ditempeli antigen.
2. Sampel (antibodi) yang ingin diuji ditambahkan.
3. Ditambahkan antibodi kedua yang dikonjugasikan dengan enzim tertentu seperti
peroksidase alkali. Antibodi kedua ini akan menempel pada antibodi sampel
sebelumnya.
4. Dimasukkan substrat enzim yang dapat menimbulkan warna tertentu saat bereaksi.
5. Intensitas warna campuran diukur dengan spektrofotometer yang disebut ELISA
reader hingga mendapatkan hasil berupa densitas optis (OD). Dengan menghitung
rata-rata kontrol negatif yang digunakan, didapatkan nilai cut-off untuk
menentukan hasil positif-negatif suatu sampel. Hasil OD yang berada di bawah
nilai cut-off merupakan hasil negatif, dan demikian juga sebaliknya.

Plate mikrotiter yang digunakan untuk ELISA


Dalam perkembangan selanjutnya, selain digunakan sebagai uji kualitatif untuk
mengetahui keberadaan suatu antibodi atau antigen dengan menggunakan antibodi
atau antigen spesifik, teknik ELISA juga dapat diaplikasikan dalam uji kuantitatif
untuk mengukur kadar antibodi atau antigen yang diuji dengan menggunakan alat
bantu berupa spektrofotometer atau dengan cara menentukan jumlah penambahan
atau kadar antibodi atau antigen, sehingga dapat dibuat suatu kurva standard dan
kadar antibodi atau antigen yang tidak diketahui dapat ditentukan.

Prinsip Dasar Teknik ELISA


Prinsip Dasar Elisa ELISA adalah suatu teknik deteksi dengan metode

serologis yang berdasarkan atas reaksi spesifik antara antigen dan antibodi,
mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dengan menggunakan enzim
sebagai indikator. Prinsip dasar ELISA adalah analisis interaksi antara antigen dan
antibodi yang teradsorpsi secara pasif pada

permukaan fase padat dengan

menggunakan konjugat antibody atau antigen yang dilabel enzim. Enzim ini akan
bereaksi dengan substrat dan menghasilkan warna. Warna yang timbul dapat
ditentukan secara kualitatif dengan pandangan mata atau kuantitatif dengan
pembacaan nilai absorbansi (OD) pada ELISA plate reader.
3

Kelebihan dan Kelemahan Teknik ELISA

Teknik ELISA ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain :


a. Teknik pengerjaan relatif sederhana
b. Relatif ekonomis (karena jenis antibodi yang digunakan hanya satu saja, sehingga
menghemat biaya untuk membeli banyak jenis antibodi)
c. Hasil memiliki tingkat sensitivitas yang cukup tinggi.
d. Dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen walaupun kadar antigen
tersebut sangat rendah (hal ini disebabkan sifat interaksi antara antibodi atau
antigen yang bersifat sangat spesifik)
e. Dapat digunakan dalam banyak macam pengujian.
Sedangkan kekurangan dari teknik ELISA antara lain :
a. Jenis antibodi yang dapat digunakan pada uji dengan teknik ELISA ini hanya jenis
antibodi monoklonal (antibodi yang hanya mengenali satu antigen)
b. Harga antibodi monoklonal relatif lebih mahal daripada antibodi poliklonal,
sehingga pengujian teknik ELISA ini membutuhkan biaya yang relatif mahal.
c. Pada beberapa macam teknik ELISA, dapat terjadi kesalahan pengujian akibat
kontrol negatif yang menunjukkan respons positif yang disebabkan inefektivitas
dari larutan blocking sehingga antibodi sekunder atau antigen asing dapat
berinteraksi dengan antibodi bertaut enzim signal dan menimbulkan signal.

d. Reaksi antara enzim signal dan substrat berlangsung relatif cepat, sehingga
pembacaan harus dilakukan dengan cepat (pada perkembangannya, hal ini dapat
diatasi dengan memberikan larutan untuk menghentikan reaksi).
e. Kemungkinan yang besar terjadinya hasil false positive karena adanya reaksi
silang antara antigen yang satu dengan antigen lain. Hasil berupa false negative
dapat terjadi apabila uji ini dilakukan pada window period, yaitu waktu
pembentukan antibodi terhadap suatu virus baru dimulai sehingga jumlah antibodi
tersebut masih sedikit dan kemungkinan tidak dapat terdeteksi.

Alat dan Bahan Yang Digunakan


Alat yang digunakan dalam teknik ELISA adalah microtiter. Microtiter ini

berupa suatu papan plastik dengan cekungan sebanyak 96 buah (8 cekungan ke arah
bawah dan 12 cekungan ke samping). Microtiter ini terbuat dari bahan plistirena.
Cekungan dari microtiter memiliki tinggi sekitar 1 cm dan diameter 0,7 cm. Selain itu,
alat dan bahan lain yang umum digunakan dalam teknik ELISA antara lain :
a. Antigen yang dimurnikan (jika sampel yang akan dideteksi atau dikuantifikasikan
b.
c.
d.
e.
f.
g.

berupa antibodi).
Larutan standard (kontrol positif dan negatif).
Sampel yang ingin dites.
Cairan pencuci (buffer).
Antibodi atau antigen yang tertaut dengan enzim signal.
Substrat yang bersifat spesifik terhadap enzim signal.
ELISA plate reader (spektrofotometer) untuk pengukuran kuantitatif.

Macam-macam Teknik ELISA


Secara umum, teknik ELISA dibedakan menjadi dua jenis, yaitu teknik ELISA

kompetitif yang menggunakan konjugat antigen-enzim atau konjugat antibodi-enzim,


dan teknik ELISA nonkompetitif yang menggunakan dua antibodi (primer dan
sekunder). Pada teknik ELISA non kompetitif, antibody kedua (sekunder) akan
dikonjugasikan dengan enzim yang berfungsi sebagai signal. Teknik ELISA non
kompetitif ini seringkali disebut sebagai teknik ELISA sandwich.
Dewasa ini, teknik ELISA telah berkembang menjadi berbagai macam jenis
teknik. Perkembangan ini didasari pada tujuan dari dilakukannya uji dengan teknik

ELISA tersebut sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal. Berikut ini adalah
beberapa macam teknik ELISA yang relatif sering digunakan, antara lain :
5.1. ELISA Direct
Teknik ELISA ini merupakan teknik ELISA yang paling sederhana. Teknik ini
seringkali digunakan untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi antigen pada
sampel ELISA direct menggunakan suatu antibody spesifik (monoklonal) untuk
mendetaksi keberadaan antigen yang diinginkan pada sampel yang diuji.
Pada ELISA direct, pertama microtiter diisi dengan sampel yang mengandung
antigen yang diinginkan, sehingga antigen tersebut dapat menempel pada bagian
dinding-dinding lubang microtiter, kemudian microtiter dibilas untuk membuang
antigen yang tidak menempel pda dinding lubang microtiter. Lalu antibodi yang telah
ditautkan dengan enzim signal dimasukkan ke dalam lubang-lubang microtiter
sehingga dapat berinteraksi dengan antigen yang diinginkan, yang dilanjutkan dengan
membilas microtiter untuk membuang antibody tertaut enzim signl yang tidak
berinteraksi dengan antigen. Lalu, ke dalam lubang-lubang microtiter tersebut
ditambahkan substrat yang dapat bereaksi dengan enzim signal, sehingga enzim yang
tertaut dengan antibodi yang telah berinteraksi dengan antigen yang diinginkan akan
berinteraksi dengan substrat dan menimbulkan signal dapat dideteksi. Pendeteksian
interaksi antara antibodi dengan antigen tersebut selanjutnya dapat dihitung dengan
menggunakan kolorimetri, chemiluminescent, atau fluorescent end-point.
ELISA direct memiliki beberapa kelemahan, antara lain :
-

Immunoreaktifitas antibodi kemungkinan akan berkurang akibat bertaut dengan

enzim.
Penautan enzim signal ke setiap antibodi menghabiskan waktu dan mahal.
Tidak memiliki fleksibilitas dalam pemilihan tautan enzim (label) dari antibodi

pada percobaan yang berbeda.


Amplifikasi signal hanya sedikit.
Larutan yang mengandung antigen yang diinginkan harus dimurnikan sebelum

digunakan untuk uji ELISA direct.


Sedangkan kelebihan dari ELISA direct antara lain :
Metodologi yang cepat karena hanya menggunakan 1 jenis antibody.
Kemungkinan terjadinya kegagalan dalam uji ELISA akibat reaksi silang dengan
antibody lain (antibody sekunder) dapat diminimalisasi.

5.2. ELISA Indirect


Tahap umum yang digunakan dalam indirect ELISA untuk menentukan konsentrasi
antibodi dalam serum adalah:
-

Suatu antigen yang sudah dikenal dan diketahui konsentrasinya ditempelkan pada
permukaan lubang plate mikrotiter. Antigen tersebut akan menempel pada
permukaan plastik dengan cara adsorpsi. Sampel dari konsentrasi antigen yang
diketahui ini akan menetapkan kurva standar

yang digunakan untuk

mengkalkulasi konsentrasi antigen dari suatu sampel yang akan diuji.


Suatu larutan pekat dari protein non-interacting, seperti bovine serum albumin
(BSA) atau kasein, ditambahkan dalam semua lubang plate mikrotiter. Tahap ini
dikenal sebagai blocking, karena protein serum memblok adsorpsi non-spesifik

dari protein lain ke plate.


Lubang plate mikrotiter atau permukaan lain kemudian dilapisi dengan sampel
serum dari antigen yang tidak diketahui, dilarutkan dalam buffer yang sama
dengan yang digunakan untuk antigen standar. Karena imobilisasi antigen dalam
tahap ini terjadi karena adsorpsi non-spesifik, maka konsentrasi protein total harus

sama dengan antigen standar.


Plate dicuci, dan antibodi pendeteksi yang spesifik untuk antigen yang diuji
dimasukkan dalam lubang. Antibodi ini hanya akan mengikat antigen
terimobilisasi pada permukaan lubang, bukan pada protein serum yang lain atau

protein yang terbloking.


Antibodi sekunder, yang akan mengikat sembarang antibodi pendeteksi,
ditambahkan dalam lubang. Antibodi sekunder ini akan berkonjugasi menjadi
enzim dengan substrat spesifik. Tahap ini bisa dilewati jika antibodi pendeteksi

berkonjugasi dengan enzim.


Plate dicuci untuk membuang kelebihan konjugat enzim-antibodi yang tidak

terikat.
Dimasukkan substrat yang akan diubah oleh enzim untuk mendapatkan sinyal

kromogenik/ fluorogenik/ elektrokimia.


Hasil dikuantifikasi dengan spektrofotometer, spektrofluorometer atau alat optik/
elektrokimia lainnya.
Enzim bertindak sebagai amplifier, bahkan jika hanya sedikit antibodi terikat

enzim yang tetap terikat, molekul enzim akan memproduksi berbagai molekul sinyal.
Kerugian utama dari metode indirect ELISA adalah metode imobilisasi antigennya

non-spesifik, sehingga setiap protein pada sampel akan menempel pada lubang plate
mikrotiter, sehingga konsentrasi analit yang kecil dalam sampel harus berkompetisi
dengan protein serum lain saat pengikatan pada permukaan lubang. Mekanisme
indirect ELISA dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

5.3. Sandwich ELISA


Tahapan dalam Sandwich ELISA adalah sebagai berikut:
-

Disiapkan permukaan untuk mengikatkan antibodi penangkap

Semua non spesifik binding sites pada permukaan diblokir

Sampel berisi antigen dimasukkan dalam plate

Plate dicuci untuk membuang kelebihan antigen yang tidak terikat

Antibodi primer ditambahkan, supaya berikatan secara spesifik dengan antigen

Antibodi sekunder yang berikatan dengan enzim dimasukkan, yang akan berikatan
dengan antibodi primer

Plate dicuci, sehingga konjugat antibodi-enzim yang tidak terikat dapat dibuang

Ditambahkan reagen yang dapat diubah oleh enzim menjadi sinyal berwarna/
berfluoresensi/ elektrokimia

Diukur absorbansinya untuk menetukan kehadiran dan kuantitas dari antigen


Keuntungan utama dari metode sandwich ELISA adalah kemampuannya
menguji sampel yang tidak murni, dan mampu mengikat secara selektif antigen
yang dikehendaki. Tanpa lapisan pertama antibodi penangkap, semua jenis protein
pada sampel (termasuk protein serum) dapat diserap secara kompetitif oleh
permukaan lempeng, menurunkan kuantitas antigen yang terimobilisasi. Prinsip
kerja sandwich ELISA dapat dilihat pada skema berikut ini:

5.4. ELISA kompetitif


Tahapan pengerjaan ELISA kompetitif berbeda dari dua metode yang telah dibahas
sebelumnya, yaitu:
-

Antibodi yang tidak berlabel diinkubasi dengan kehadiran antigennya

Komplek antigen-antibodi ini selanjutnya ditambahkan pada lubang yang telah


dilapisi antigen

Plate dicuci, sehingga kelebihan antibodi tercuci (semakin banyak antigen dalam
sampel, semakin sedikit antibodi yang dapat terikat pada antigen yang menempel
pada permukaan lubang, karena inilah disebut kompetisi

Ditambahkan antibodi sekunder yang spesifik utnuk antibodi primer. Antibodi


sekunder ini berpasangan dengan enzim

Substrat ditambahkan, enzim akan mengubah substrat menjadi sinyal kromogenik/


fluoresensi.

Dalam ELISA kompetitif, semakin tinggi konsentrasi antigen orisinal, semakin lemah
sinyal yang dihasilkan. Prinsip kerjanya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Secara singkat tahapan kerja dalam metode ELISA dapat digambarkan sebagai
berikut:

6. Aplikasi Teknik ELISA ( ALAT MINI VIDAS )


Alat mini vidas adalah salah satu alat yang digunakan untuk pemeriksaan
imunologi. Prinsip alat ini merupakan modifikasi dari prinsip ELISA yang
pembacaannya berdasarkan fluoresensi.

Gambar alat mini vidas


Komponen-komponen mini vidas:
a. Tombol on/off
b. Tray, berfungsi sebagai tempat untuk memasukkan strip yang berisi sampel
dan reagen.
c. Display (Layar) ,berfungsi sebagai tempat untuk menampilkan program pada
alat.
d. Printer
e. Inkubator, berfungsi untuk proses inkubasi pada pemeriksaan, agar reaksi
lebih sempurna biasanya pada suhu 370C.
Sistem yang digunakan pada uji vidas:
a. Sistem VIDAS uji menggunakan sistem reagen Strip.
b. SPR (Wadah Fase Padat) dilapisi dengan antigen atau antibodi, bertindak
sebagai pipetting dan perangkat reagen transfer
c. Strip berisi semua reagen yang diperlukan untuk reaksi.
d. Pada setiap tahap reaksi, maka aspirasi reagen masuk dan keluar. Ini untuk
mencegah kontaminasi antar-reagen atau antar-sampel.
Prosedur pengoperasian mini vidas:
a. Sambungkan UPS pada listrik. Nyalakan UPS.
b. Tekan tombol on/off yang terdapat pada bagian belakang alat.
c. Alat akan melakukan inisialisasi/warming up kurang lebih 10 menit.
d. Setelah selesei, pada layar akan muncul menu utama sebagai berikut:
e. Pilih STATUS SCREEN untuk masuk pada program pemeriksaan.
Kalibrasi control dan sampel:
a. Letakkan strip dan SPR pada section yang dikehendaki (misal:section A)
b. Pilih STATUS SCREEN pada menu utama.

c.
d.
e.
f.
g.

Pilih section yang dkehendaki (misal:section A).


Pilih posisi A1 (dengan menekan angka 1 pada keypad)
Pilih S dan angka 1 pada keypad (S1 untuk posisi A1), lalu tekan enter.
Pilih S dan angka 1 pada keypad (S1 untuk posisi A2), lalu tekan enter.
Pilih S dan angka 1 pada keypad (S1 untuk posisi A3), apabila kalibrasi triplo,

lalu tekan enter.


h. Pilih C dan angka 1 pada keypad (C1 untuk posisi A4), lalu tekan enter
i. Pilih Cdan angka 2 pada keypad (C2 apabila ada, untuk posisi A5) lalu tekan
j.
k.
l.
m.

enter.
Pilih sampel ID (pasien untuk posisi A6).
Masukkan sampel ID pasien tersebut (max 12 huruf/angka), lalu tekan enter.
Setelah selesei tekan start.
Alat tersebut akan mengkalibrasi sendiri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:


a. Pemeriksaan dengan reagen baru terlebih dahulu MLE pada secara otomatis
b. SPR dan strip reagents yang digunakan harus sama.
c. Setiap 1 SPR dan 1 strip reagen hanya untuk satu t Kalibrasi dan running
control dilakukan setiap 2 minggu sekali .
d. Setelah selesai digunakan mini vidas dapat langsung dimatikan tanpa harus
melalui prosedur khusus .
Kualitas :
a. Otomatisasi
b. Tidak ada kontaminasi
c. Fluoresensi terbaca.
SKEMA ALAT:

BAB III
PENUTUP
Simpulan dan Saran
ELISA (Enzym-Linked Immunosorbent Assay), tes ini mendeteksi antibodi
yang dibuat tubuh terhadap virus HIV. Antibodi tersebut biasanya diproduksi mulai
minggu ke 2, atau bahkan setelah minggu ke 12 setelah terpapar virus HIV. Kerena
alasan inilah maka para ahli menganjurkan pemeriksaan ELISA dilakukan setelah
minggu ke 12 sesudah melakukan aktivitas seksual berisiko tinggi atau tertusuk jarum
suntik yang terkontaminasi. Tes ELISA dapat dilakukan dengan sampel darah vena,
air liur, atau urine.
Prinsip Dasar Elisa ELISA adalah suatu teknik deteksi dengan metode
serologis yang berdasarkan atas reaksi spesifik antara antigen dan antibodi,
mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dengan menggunakan enzim
sebagai indikator.

Teknik ELISA ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain :


Teknik pengerjaan relatif sederhana, Relatif ekonomis, memiliki tingkat sensitivitas
yang cukup tinggi.dan dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen
walaupun kadar antigen tersebut sangat rendah.
Sedangkan kekurangan dari teknik ELISA antara lain :
-

Jenis antibodi yang dapat digunakan pada uji dengan teknik ELISA ini hanya jenis

antibodi monoklonal, Sedangkan harga antibodi monoklonal relatif lebih mahal.


Pada beberapa macam teknik ELISA, dapat terjadi kesalahan pengujian akibat

kontrol negatif yang menunjukkan respons positif.


Reaksi antara enzim signal dan substrat berlangsung relatif cepat.
Kemungkinan yang besar terjadinya hasil false positive dan false negative.
Macam teknik Elisa meliputi : Elisa Direct, Elisa Indirect, Sandwich Elisa,

Elisa Kompetitif. Alat mini vidas adalah salah satu alat yang digunakan untuk
pemeriksaan imunologi. Prinsip alat ini merupakan modifikasi dari prinsip ELISA
yang pembacaannya berdasarkan fluoresensi.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.

http://www.catatandokter.com/2008/06/jenis-jenis-pemeriksaan-hivaids
http://www.kiatsehat2010.blogspot.com/2010/12/test-untuk-aids-elisa
http://www.ml.scribd.com/doc/224243667/Jenis-Jenis-Pemeriksaan-Hiv
http://www.moko31.wordpress.com/2011/06/28/tinjauan-tentang-elisa
http://www.scribd.com/doc/7963861/45/Tes-ELISA