Anda di halaman 1dari 44

PROPOSAL KEGIATAN

TERAPI MENIUP DENGAN PENDEKATAN ATRAUMATIK


CARE TERHADAP STATUS OKSIGENASI PADA ANAK
DENGAN PNEUMONIA DI RUANG BOUGENVILLE
RSUD RS HARYOTO LUMAJANG

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Program Pendidikan Profesi Ners


(P3N) Stase Keperawatan Anak

Disusun oleh:
Kelompok 3 dan 4
Khoirul Romadhan, S.Kep
Yosyita Rahmah, S.Kep
Mohammad Rofiq, S.Kep
Yohandani Frinda P, S.Kep
Triaji Windiarta Sundoko, S.Kep
Nurafifah, S.Kep

082311101031
102311101004
102311101085
092311101058
102311101072
102311101093

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
1

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1;

Latar Belakang
Anak adalah individu yang unik dan bukanlah miniature orang dewasa.

Anak memerlukan perhatian khusus untuk optimalisasi tumbuh kembang.


Tumbuh kembang anak merupakan proses yang kontinu sejak dari konsepsi
sampai maturitas atau dewasa yang dipengaruhi oleh faktor bawaan (genetik) dan
faktor lingkungan, baik lingkungan sebelum dilahirkan maupun setelah dilahirkan.
Perbedaan faktor bawaan dan faktor lingkungan tersebut membuat pencapaian
kemampauan perkembangan dan pertumbuhan setiap anak berbeda, tetapi tetap
akan menuruti patokan umum atau standar normal tumbuh kembang anak. anak
dikatakan normal dalm arti medis apabila pertumbuhan dan perkembangan fisik
maupun intelektula berlangsung secara harmonis. Menurut usia, tahap
perkembangan anak dibagi menjadi tahap perkembangan bayi, anak usia toddler,
anak usia prasekolah, sekolah, serta remaja (Soetjiningsih, 2002).
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa anak sangat kompleks, hal ini
yang menjadikan anak rentan terhadap penyakit. Selain itu sistem kekebalan tubuh
pada anak yang masih rendah juga menjadikan anak lebih beresiko terhadap
berbagai macam penyakit dibandingkan orang dewasa. Salah satu penyakit yang
sering menyerang pada anak adalah ISPA (pneumonia), menurut WHO tahun
2005 proporsi penyakit penyebab kematian anak yang paling sering adalah saluran
pernafasan yaitu sekitar 19-26% dan pneumonia tersebut merupakan 5 besar
penyakit penyebab kematian balita. Salah satu target MDGs adalah menurunkan
angka kematian balita pada tahun 2015, salah satu upaya dilakukan yaitu
menurunkan angka kematian pneumonia sebagai salah satu penyebab kematian
balita di Indonesia. Agar target tersebut dapat tercapai harus dilakukan dengan
cara komphrehensif, terpadu dan inovatif (Kementrian kesehatan ,2010).
Pneumonia tersebut merupakan infeksi saluran pernafasan akut yang
mengenai parenkim paru yang sering menyerang bayi dan anak-anak. Secara
klinis penyakit pneumonia dapat terjadi secara primer maupun akibat dari
penyakit yang lain. Secara anatomi dapat dibedakan menjadi pneumonia lobaris,

pneumonia interstisial dan bronkopnomonia. Pneumonia yang pada anak sering


kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut
Bronkopneumonia. Penyebab pneumonia pada umumnya adalah bakteri
Streptococcus pneumonia dan Hamophillus influence. Pada bayi dan anak-anak
penyebab pneumonia yang paling serius dan menyebabkan angka mortalitas dan
morbiditas tinggi adalah Staphilococus aureus (Mansjoer et al., 2000; Wong,
2009).
Penyakit pneumonia lebih sering menyerang bayi dan anak usia 1-5 tahun,
karena pada usia tersebut memilii sitem kekebalan tubuh yang masih rendah.
Selain itu banyak faktor lain yang dapat menyebabkan penyakit pneumonia pada
balita diantaranya adalah status imunisai, status gizi, pemberian ASI eksklusif,
BBLR/prematuritas, keberadaan anggota keluarga yang merorok, defisiensi
vitamin A, polusi udara yang terjadi di rumah (IDAI, 2010;Rachmawati, 2013),
Pneumonia merupakan penyebab kematian utama anak dibawah usia lima
tahun (Balita) di dunia. Setiap tahun sebanyak 2 juta anak di dunia meninggal
akibat pneumonia (www.depkes.go.id, 2012). Pneumonia di Indonesia dari tahun
ke tahun selalu menduduki peringkat atas sebagai penyebab kematian bayi dan
balita, menurut laporan UNICEF dan WHO pada tahun 2006 dalam Pneumonia:
The Forgotten Killer of Children Indonesia merupakan negara dengan kejadian
pneumonia ke-6 terbesar di dunia. Data Riskesdas tahun 2007 menunjukan angka
prevalensi pneumonia di Indonesia mencapai 25,8% serta menduduki peringkat
ke-2 penyebab kematian pada bayi dan balita setelah diare (Departemen
Kesehatan RI, 2010). Sedangkan berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun
2010 jumlah kasus pneumonia di Indonesia mencapai 499.259 dengan prosentase
23% dan angka kematian mencapai 23,60%. Jumlah tersebut menurun di tahun
2011, berdasarkan data profil kesehatan di Indonesia jumlah kasus pneumonia
menjadi 480.033 dengan prosentase 20,59%. Dari data diatas dapat disimpulkan
bahwa setiap tahun terjadi penurunan angka kejadian pneumonia pada balita
walaupun tidak signifikan, hal tersebut menununjukan sudah mulai efektifnya
program pemerintah.

Berdasarkan laporan data profil kesehatan Jawa Timur, jumlah kasus


pneumonia balita tahun 2010 sebanyak 76.745 kasus atau 78,81% dari total kasus
pneumonia di Jawa Timur (Dinas Kesehatan Jatim, 2010). Sedangkan pada tahun
2011 sebanyak 75.721 (Dinas Kesehatan Jatim, 2011). Kemudian pada tahun 2012
jumlah kasus pneumonia sebanyak 84.392 (Dinas Kesehatan Jatim 2012).
Angka penanganan pneumonia di kabupaten lumajang pada tahun 2012
adalah sebesar 35,51% dari seluruh kasus yang terjadi di kabupaten lumajang. Ini
menandakan bahwa masih jauh dari target yang ditetapkan oleh jawa timur yakni
sebesar 80% penanganan kasus.
Kondisi sakit dan dirawat di rumah sakit (hospitalisasi) merupakan salah
satu upaya untuk mendapatkan perawatan yang adekuat untuk mencapai kesehatan
yang optimal pada individu yang mengalami sakit. Namun di sisi lain,
hospitalisasi akan menimbulkan stres, baik pada anak itu sendiri maupun
keluarganya (Hockenberry & Wilson, 2009). Oleh sebab itu Setyoningrum (2006)
menentukan beberapa indikator hospitalisasi pada anak yang menderita
pneumonia yaitu apabila penderita tampak sakit berat, umur kurang dari 6 bulan,
mengalami distress pernapasan berat, hipoksemia, disertai muntah dan dehidrasi,
adanya efusi pleura dan abses paru, kondisi penurunan imun akibat suatu penyakit
tertentu, ketidakmampuan orang tua merawat anak, adanya penyakit penyerta atau
jika anak membutuhkan pemberian antibiotika secara parenteral.
Masalah yang sering muncul pada anak pneumonia yang dirawat di rumah
sakit adalah distress pernapasan yang ditandai dengan napas cepat, retraksi
dinding dada, napas cuping hidung dan disertai stridor (WHO, 2009). Distress
pernapasan merupakan kompensasi tubuh terhadap kekurangan oksigen, karena
konsentrasi oksigen yang rendah, akan menstimulus syaraf pusat untuk
meningkatkan frekuensi pernapasan. Jika upaya tersebut tidak terkompensasi
maka akan terjadi gangguan status oksigenasi dari tingkat ringan hingga berat
bahkan sampai menimbulkan kegawatan. Penurunan konsentrasi oksigen ke
jaringan sering disebabkan karena adanya obstruksi atau hambatan suplai oksigen
ke jaringan. Pada umumnya faktor penyebab obstruksi jalan napas atas dan bawah
pada anak dengan pneumonia adalah karena peningkatan produksi sekret sebagai

salah satu manifestasi adanya inflamasi pada saluran napas (Hockenberry &
Wilson, 2009).
Namun pada kenyataannya menginstruksikan teknik PLB pada anak usia
prasekolah bukan merupakan hal yang mudah, biasanya anak sulit untuk diajak
kerja sama, karena tindakan tersebut kurang menarik minat anak. Melalui
pendekatan atraumatic care, PLB dapat dianalogikan dengan aktivitas bermain
seperti meniup gelembung busa, balon, bola kapas, kincir kertas dan lain- lain
(Hockenberry & Wilson, 2009). Mekanisme yang digunakan adalah identik
dengan PLB, yaitu meningkatkan tekanan alveolus pada setiap lobus paru
sehingga dapat meningkatkan aliran udara saat ekspirasi. Peningkatan aliran udara
pada saat ekspirasi akan mengaktifkan silia pada mukosa jalan napas sehingga
mampu mengevakuasi sekret ke luar dari saluran napas. Tindakan ini sebagai
salah satu upaya yang diduga mampu meningkatkan status oksigenasi.
Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengeksplorasi sejauh mana
efektifitas atau pengaruh aktivitas bermain meniup tiupan lidah terhadap status
oksigenasi pada anak dengan pneumonia yang dirawat di ruang Bougenville
RSUD Dr. Haryoto Lumajang sebagai landasan dalam memberikan alternatif
pilihan dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak melalui pendekatan
atraumatic care.
1.2;

Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang tersebut diatas maka rumusan masalah

penelitian ini adalah bagaimana pengaruh aktivitas bermain meniup tiupan


lidah terhadap status oksigenasi pada anak dengan pneumonia yang dirawat di
ruang Bougenville RSUD Dr. Haryoto Lumajang ?
1.3;

Tujuan

1.3.1; Tujuan Umum


Tujuan umum dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh aktivitas
bermain meniup tiupan lidah terhadap status oksigenasi pada anak dengan

pneumonia yang dirawat di ruang Bougenville RSUD Dr. Haryoto Lumajang


1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
a; Mengidentifikasi karakteristik responden : umur dan jenis kelamin anak yang

dirawat di ruang Bougenville RSUD Dr Haryoto Lumajang


b; Mengidentifikasi status oksigenasi sebelum dan sesudah diberikan terapi meniup
dengan pendekatan atraumatik care pada anak dengan pneumonia yang dirawat di
ruang Bougenville RSUD Dr. Haryoto Lumajang
c; Menganalisis pengaruh aktivitas bermain meniup tiupan lidah terhadap status
oksigenasi pada anak dengan pneumonia yang dirawat di ruang Bougenville RSUD
Dr. Haryoto Lumajang

1.4;

Manfaat

1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti
tentang pengaruh aktivitas bermain meniup tiupan lidah terhadap status
oksigenasi pada anak dengan pneumonia
1.4.2 Manfaat Bagi Keluarga Anak dengan Pneumonia
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang
terapi yang dapat dilakukan dirumah jika anak sudah pulang dari rumah sakit
1.4.3 Manfaat Bagi Institusi Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan perawat lapangan khususnya di area
keperawatan anak untuk dapat melakukan terapi atraumatic care pada anak
dengan pneumonia.
1.4.4 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan informasi dan referensi tentang ilmu
keperawatan khususnya keperawatan anak dalam upaya peningkatan status
oksigenasi pada anak dengan pneumonia.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1;

Pneumonia

2.1.1; Pengertian Pneumonia


Pneumonia adalah peradangan paru dimana asinus paru terisi cairan
radang dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang kedalam dinding
alveoli dan rongga interstisium. (secara anatomis dapat timbul pneumonia
lobaris maupun lobularis / bronchopneumonia.
Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan
yang terbanyak didapatkan dan sering merupakan penyebab kematian hampir
di seluruh dunia. Di Indonesia berdasarkan survei kesehatan rumah tangga
tahun 1986 yang dilakukan Departemen Kesehatan, pneumonia tergolong
dalam penyakit infeksi akut saluran nafas, merupakan penyakit yang banyak
dijumpai.
2.1.2; Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pneumonia :
Diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pneumonia
yaitu :
a; Mekanisme pertahanan paru
Paru berusaha untuk mengeluarkan berbagai organisme yang
terhirup seperti partikel debu dan bahan-bahan lainnya yang terkumpul di
dalam paru. Beberapa bentuk mekanisme ini antara lain: bentuk anatomis
saluran pernafasan, reflek batuk, system mukosilier, juga system
fagositosis yang dilakukan oleh sel-sel tertentu dengan memakan partikelpartikel yang mencapai permukaan alveoli.
Bila fungsi ini berjalan baik, maka bahan infeksi yang bersifat
infeksius dapat dikeluarkan dari saluran nafas, sehingga pada orang sehat
tidak akan terjadi infeksi serius. Infeksi saluran nafas berulang terjadi
aakibat berbagai komponen system pertahanan paru yang tidak bekerja
dengan baik.

b; Kolonisasi bakteri di saluran nafas


Di dalam saluran nafas atas banyak bakteri yang bersifat kosal. Bila
jumlah mereka semakin meningkat dan mencapai suatu konsentrasi yang
cukup, kuman ini kemudian masuk ke saluran nafas bawah dan paru, dan
akibat kegagalan mekanisme pembersihan saluran nafas keadaan ini akan
bermanifestasi sebagai penyakit.
Mikroorganisme yang tidak dapat menempel pada permukaan
mukosa saluran nafas akan ikut dengan sekresi saluran nafas dan terbawa
bersama mekanisme pembersihan, sehingga tidak terjadi kolonisasi. Proses
penempelan organisme pada permukaan mukosa saluran nafas tergantung
dari system pangemalan mikroorganisme tersebut oleh sel eputel.
c; Pembersihan saluran nafas terhadap bahan infeksius
Saluran nafas bawah dan paru berulangkali dimasuki oleh berbagai
mikroorganisme dari saluran nafas atas, akan tetapi tidak menimbulkan
sakit, ini meninjukkan adanya suatu mekanisme pertahanan paru yang
efisien sehingga dapat menyapu bersih mikroorganisme sebelum mereka
bermultiplikasi dan menimbulkan penyakit.
Pertahanan paru terhadap hal-hal yang berbahaya dan infeksius
berupa reflek batuk, penyempitan saluran nafas dengan kontraksi otot
polos bronkus pada awal terjadinya proses peradangan, juga dibantu oleh
respon imunitas humoral.

2.1.3; Etiologi Pneumonia


Sebagian besar disebabkan oleh mikroorganisme, akan tetapi dapat juga
oleh bahan-bahan lain, sehingga dikenal:
a; Lipid pneumonia : oleh karena aspirasi minyak mineral
b; Chemical pneumonitis : inhalasi bahan-bahan organic atau uap kimia
seperti berilium
c; Extrinsik Allergik Alveolitis : inhalasi bahan-bahan debu yang
mengandung allergen, seperti debu dari parik-pabrik gula yang
8

mengandung spora dari actynomicetes thermofilik.


d; Drug Reaction Pneumonitis : nitrofurantion, busulfan, methotrexate
e; Pneumonia karena radiasi sinar rontgen
f; Pneumonia yang sebabnya tidak jelas : desquamative interstitial
pneumonia, eosinofilik pneumonia
g; Microorganisme
GROUP
Bacteri

PENYEBAB
Streptococcos pneumonia
Streptococcus piogenes
Stafilococcus aureus
Klebsiella pneumonia
Eserikia koli
Yersinia pestis
Legionnaires bacillus

TYPE PNEUMONIA
Pneumonia bacteri

Aktinomyctes

A. Israeli
Nokardia asteroids

Aktinomikosis pulmonal
Nokardiosis pulmonal

Fungi

Kokidioides imitis
Histoplasma kapsulatum
Blastomises dermatitidis
Aspergillus
Fikomisetes

Kokidioidomikosis
Histoplasmosis
Blastomikosis
Aspergilosis
Mukormikosis

Riketsia

Koksiella Burnetty

Q Fever

Klamidia

Chlamidia psittaci

Psitakosis,Ornitosis

Mikoplasma

Mikoplasma pneumonia

Pneumonia mikoplasmal

Virus

Infulensa virus, adenovirusPneumonia virus


respiratory syncytial
Pneumosistis karini
Pneumonia
pneumistis
(pneumonia plasma sel)

Protozoa

Legionnaires disease

2.1.4; Gambaran Klinis


Gambaran klinis biasanya didahului olek infeksi saluran nafas akut
bagian atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam, suhu
tubuh kadang-kadang melebihi 40 derajat C, sakit tenggorok, nyeri otot dan
9

sendi. Juga disertai batuk, dengan sputum mukoid atau purulen, kadangkadang berdarah.
Pada pemeriksaan fisik dada terlihat bagian sakit tertinggal waktu
bernafas dengan suara nafas bronchial kadang-kadang melemah. Didapatkan
ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium
resolusi.
a; Community Acquired Pneumonia yaitu, pneumonia yang didapatkan di
masyarakat, terjadinya infeksi di luar rumah sakit.
b; Hospital Acquirted Pneumonia yaitu, pneumonia yang didapat selama
penderita dirawat di rumah sakit. Hampir 1 % dari penderita yang
dirawat di rumah sakit mendapatkan pneumonia selama dalam perawatan
dan 1/3nya mungkin akan meninggal. Demikian pula halnya dengan
penderita yang dirawat di ICU lebih dari 60 % menderita pneumonia.
c; Pneumonia in the immunocompromised host yaitu, yang terjadi akibat
terganggunya system kekebalan tubuh. Macula ini semakin meningkat
dengan penggunaan obat-obatan sitotoksik dan imunosupresif, hal ini
akibat dari merningkatnya kemajuan di bidang pengobatan penyakit
keganasan dan transplantasi organ.
2.1.5; Gambaran Patogenesis
Dalam

keadaan

sehat,

paru

tidak

akan

terjadi

pertumbuhan

mikroorganisme, keadan ini disebabkan oleh adanya mekanismer pertahanan


paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan akibat ketidakseimbangan
antara daya than tubuh, mikroorganisme, dan lingkuingan sehingga
mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya sakit.
Masuknya mikroorganisme ke saluran nafas dan paru dapat melalui
berbagai cara, yaitu :
a;

Inhalsi langsung dari udara

b; Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orfaring


c;

Perluasan langsung dari tempat-tempat lain

d; Penyebaran secara hematogen

10

Gambaran patologis dalam batas-batas tertentu, tergantung pada


penyebabnya. Di antaranya yaitu :
a; Pneumonia bakteri
Ditandai oleh eksudat intra alveolar supuratif disertai konsolidasi.
Proses infeksi dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi. Terdapat
konsolidasi dari seluruh lobus pada pneumonia lobaris, sedangkan
pneumonia lobularis atau broncopneumonia menunjukkan penyebaran
daerah infeksi yang berbecak dengan diameter sekitar 3-4 cm,
mengelilingi dan mengenai broncus.
b; Pneumonia Pneumokokus
Pneumokokus mencapai alveolus-alveolus dalam bentuk percikan
mucus atau saliva. Lobus paru bawah paling sering terserrang, karena
pengaruh gaya tarik bumi. Bila sudah mencapai dan menetap di alveolus,
maka pneumokokus menimbulkan patologis yang khas yang terdiri dari 4
stadium yang berurutan :
1; kongesti (4-12 jam pertama)eksudat serusa masuk dalam alveolusalveolus dari pembuluh darah yang bocor dan dilatasi
2; hepatisasi merah (48 jam berikutnya) paru-paru tampak merah dan
tampak bergranula karena sel darah merah, fibrin, dan leukosit
polimorfonuklear mengisi alveolus-alveolus
3; hepatisasi kelabu (3-8 hari) paru-parub tampak abu-abu karena
leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi dalam alveolus yang
terserang.
4; Resolusi (7-11 hari) eksudat mengalami lisis dan direabsorbsi oleh
mikrofag sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula.
Timbulnya pneumonia pneumokokus merupakan suatu kejadian
yang tiba-tiba, disertai menggigil, demam, rasa sakit pleuritik, batuk dan
sputum yang berwarna seperti karat. Pneumonia pneumokokus biasanya
tidak disertai komplikasi dan jaringan yang rusak dapat diperbaiki
kemabali. Komplikasi tentang sering terjadi adalah efusi plura ringan.
Adanya

bakterimia

mempengaruhi

prognosis

pneumonia. Adanya
11

bakterimia menduga adanya lokalisasi proses paru-paru yang tidak efektif.


Akibat

bakterimia

mungkin

berupa

lesi

metastatik

yang

dapat

mengakibatkan keadaan seperti meningitis, endokariditis bacterial dan


peritonitis. Sudah ada vaksin untuk merlawan pneumonia pneumokokus.
Biasanya diberikan pada mereka yang mempunyai resiko fatal yang tinggi,
seperti anemia sickle-sell, multiple mietoma, sindroma nefrotik, atau
diabetes mellitus.
c; Pneumonia Stafilokokus
Mempunyai prognosis jelek walaupun diobati dengan antibiotika.
Pneumonia ini menimbulkan kerusakan parenkim paru-paru yang berat
dan sering timbul komplikasi seperti abses paru-paru dan empiema.
Merupakan infeksi sekunder yang sering menyerang pasien yang dirawat
di rumah sakit, pasien lemah dan paling sering menyebabkan
broncopneumonia.
d; Pneumonia Klebsiella / Friedlander
Penderita ini berhasil mempertahankan hidupnya, akhirnya menderita
pneumonia kronik disertai obstruksi progresif paru-paru yang akhirnya
menimbulkan kelumpuhan pernafasannya. Jenis ini yang khas yaitu,
pembentukan sputum kental seperti sele kismis merah (red currant jelly).
Kebanyakan terjadi pada lelaki usia pertengahan atau tua, pecandu alcohol
kronik atau yang menderita penyakit kronik lainnya.
e; Pneumonia pseudomonas
Sering ditemukan pada orang yang sakit parah yang dirawat di rumah
sakit atau yang mnenderita supresi system pertahanan tubuh (misalnya
mereka yang menderita leukemia atau transplantasi ginjal yang menerima
obat

imunosupresif

dosis

tinggi).

Seringkali

disebabkan

karena

terkontaminasi peralatan ventilasi.


f; Pneumonia Virus
Ditandai dengan peradangan interstisial disertai penimbunan infiltrat
dalam dinding alveolus meskipun rongga alveolar sendiri bebas dari
12

eksudat dan tidak ada konsolidasi. Pneumonia virus 50 % dari semua


pneuminia akut ditandai oleh gejala sakit kepala, demam dan rasa sakit
pada otot-otot yang menyeluruh, rasa lelah sekali dan batuk kering.
Kebanyakan pneumonia ini ringan dan tidak membutuhkan perawatan di
rumah sakit dan tidak mengakibatkan kerusakan paru-paru yang
permanen. Pengobatan pneumonia virus bersifat sympomatik dan paliatif,
karena antibiotik tidak efektif terhadap virus. Juga dapat mengakibatkan
pneumonitis berbecak yang fatal atau pneumonitis difus.
g; Pneumonia Mikoplasma
Serupa

dengan

pneumonia

virus

influenza,

disertai

adanya

pneumonitis interstitial. Sangat mudah menular tidak seperti pneumonia


virus, dapat memberikan respon terhadap tetrasiklin atau eritromisin.
h; Pneumonia Aspirasi
Merupakan pneumonia yang disebabkan oleh aspirasi isi lambung.
Pneumonia yang diakibatkannya sebagian bersifat kimia, karena
diakibatkan oleh reaksi terhadap asam lambung, dan sebagian bersifat
bacterial, karena disebabkan oleh organisme yang mendiami mulut atau
lambung. Aspirasi paling sering terjadi selama atau sesudah anestesi
(terutama pada pasien obstretik dan pembedahan darurat karena kurang
persiapan pembedahan), pada anak-anak dan pada setiap pasien yang
disertai penekanan reflek batuk atau reflek muntah. Inhalasi isi lambung
dalam jumlah yang cukup banyak dapat menimbulkan kematian yang tibatiba, karena adanya obstruksi, sedangkan aspirasi isi lambung dalam
jumlah yang sedikit dapat mengakibatkan oedema paru-paru yang
menyebar luas dan kegagalan pernafasan. Beratnya respon peradangan
lebih tergantung dari pH dari zaat yang diaspirasikan. Aspirasi pneumonia
selalu terjadi apabila pH dan zat yang diaspirasi 2,5 atau kurang. Aspirasi
pneumpnia sering menimbulkan kompliokasi abses, bronchiectase, dan
gangrean. Muntah bukan sarat masuknya isi lambung kedalam cabang
tracheobronchial, karena regurgitasi dapat juga terjadi secara diam-diam

13

pada pasien yang diberi anestesi. Paling penting pasien harus ditempatkan
pada posisi yang tepat agar secret orofarengeal dapat keluar dari mulut.
i; Pneumonia Hypostatik
Pneumonia yang sering timbul pada dasar paru yang disebabkan oleh
nafas yang dangkal dan terus menerus dalam posisi yang sama.
Daya tarik bumi menyebabkan darah tertimbun pada bagian bawah paru
dan infeksi membantu timbulnya pneumonia yang sesungguhnya
j; Pneumonia Jamur
Tidak sesering bakteri. Beberapa jamur dapat menyebabkan penyakit
paru supuratif granulomentosa yang seringkali disalah tafsirkan sebagai
TBC. Banyak dari infeksi jamur bersifat endemic pada daerah tertentu.
Contohnya di US, hystoplasmosis (barat bagian tengah dan timur),
koksibiodomikosis (barat daya) dan blastomikosis (tenggara). Spora jamur
ini ditemukan dalam tanah dan terinhalasi. Spora yang terbawa masuk
kebagian paru yang lebih difagositosis terjadi reaksi peradangan disertai
pembentukan kaverne. Semua perubahan patologis ini mirip sekali dengan
TBC sehingga perbedaan kurang dapat ditentukan dengan menemukan dan
pembiakan jamur dari jaringan paru.tes serologi serta tes hypersensitifitas
kulit yang lambat belum menunjukan tanda positif sampai beberapa
minggu sesudah terjadi infeksi, bahkan pada penyakit yang berat tes
mungkin negatif. Pneumonia jamur sering menimbulkan komplikasi pada
stadium terakhir penyakit tersebut, terutama pada penyakit yang sangat
berat, misalnya Ca atau leukemia, candida alicans adalah sejenis ragi yang
sering ditemukan pada sputum orang yang sehat dan dapat menyerang
jaringan paru. Penggunaan antibiotik yang lama juga dapat mengubah
flora normal tubuh dan memungkinkan infasi candida. Amfotinsin B
merupakan obat terpilih untuk infeksi jamur pada paru.

2.1.6; Pemeriksaan Laboratorium

14

Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leucosit,


biasanya > 10.000/l kadang mencapai 30.000 jika disebabkan virus atau
mikoplasma jumlah leucosit dapat normal, atau menurun dan pada hitung jenis
leucosit terdapat pergeseran kekiri juga terjadi peningkatan LED. Kultur darah
dapat positif pada 20 25 pada penderita yang tidak diobatai. Kadang
didapatkan peningkatan ureum darah, akan tetapi kteatinin masih dalah batas
normal. Analisis gas darah menunjukan hypoksemia dan hypercardia, pada
stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.

2.1.7; Gambaran Radiologi


Foto toraks merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat penting.
Foto toraks saja tidak dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia,
hanya merupakan petunjuk kearah diagnosis etiologi. Gambaran konsolidasi
dengan air bronchogram (pneumonia lobaris), tersering disebabkan oleh
streptococcus pneumonia. Gambaran radiologis pada pneumonia yang
disebabkan clebsibella sering menunjukan adanya konsolidasi yang terjadi
pada lobus atas kanan, kadang dapat mengenai beberapa lobus. Gambaran
lainya dapat berupa bercak daan cavitas. Kelainan radiologis lain yang khas
yaitu penebalan (bulging) fisura inter lobar. Pneumonia yang disebabkan
kuman pseudomonas sering memperlihatkan adanya infiltrasi bilateral atau
gambaran bronchopneumonia. Firus dan mycoplasma sering menyebabkan
pneumonia interstisial terutama radang sptum alveola. Pada pemeriksaan
radiologis terlihat gambaran retikuler yang difus.
2.1.8; Penatalaksanaan
a;

Koreksi kelainan yang mendasari.

b;

Tirah baring.

c;

Obat-obat simptomatis seperti: parasetamol (pada hipereksia), morfin


(pada nyeri hebat).

d;

Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit dengan batuan infus, dekstrose


5%,normal salin atau RL.
15

e;

Pemilihan obat-obat anti infeksi: tergantung kuman penyebab.

f;

Pertahankan jalan nafas

g;

Oksigenasi

2.2;

Konsep Dasar Anak

2.2.1; Pengertian Anak

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan


perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan
masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun), usia
bermain/toddler (1-2.5 tahun), pra sekolah (2.5-5 tahun), usia sekolah (5-11
tahun) hingga remaja (11-18 tahun) (Potter & Perry, 2005).

2.2.2; Pertumbuhan dan Perkembangan

Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi


sampai dewasa, yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Ini
berarti bahwa tumbuh kembang sudah terjadi sejak di dalam kandungan dan
setelah kelahiran merupakan suatu masa dimana mulai saat itu tumbuh
kembang anak dapat dengan mudah diamati. Sejak lahir hingga usia kurang
lebih dua tahun perkembangan anak sangat berkaitan dengan keadaan fisik
dan kesehatannya. Perkembangan kemampuan, terutama motorik, sangat
pesat. Perbedaannya sangat terlihat walau hanya dalam dua atau tiga bulan
saja.

2.2.3; Usia Toddler


a; Pertumbuhan anak usia toddler

Pertumbuhan pada tahun ke dua pada anak akan mengalami


beberapa perlambatan pertumbuhan fisik di mana pada tahun ke dua, anak
akan mengalami kenaikan berat badan 1.5-2.5 kg dan panjang badan 6-10
cm. Pertumbuhan otak juga akan mengalami perlambatan yaitu kenaikan
lingkar kepala hanya 2cm. Untuk pertumbuhan gigi susu termasuk gigi

16

geraham pertama, dan gigi taring sehingga seluruhnya berjumlah 14-16


buah (Hidayat, 2005).
b; Perkembangan anak usia toddler
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan
fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat
diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Di sini menyangkut
adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ
dan system organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masingmasing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi,
intelektual, dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya
(Soetjiningsih, 1998). Perkembangan anak usia toodler menurut beberapa
teori perkembangan adalah sebagai berikut:
1; Perkembangan kognitif menurut Piaget
a; Tahap sensori motor

Umur 0-2 tahun dengan perkembangan kemampuan dalam


mengasimilai dan mengakomodasi informasi dengan cara melihat,
mendengar, menyentuh dan aktivitas motorik.
b; Tahap pra operasional
Umur
2-7
tahun
dengan
perkembangan
kemampuan
mengoperasionalkan apa yang dipikiran anak, perkembangan anak
masih bersifat egosentrik (Hidayat, 2006).
2; Teori perkembangan psikoseksual anak menurut Freud
Tahhap anal, terjadi pada umur 1-3 tahun dengan perkembangan,
kepuasan pada fase ini adalah pengeluaran tinja, anak akan
menunjukkan kakuannya, sikapnya sangat narsistik yaitu cinta
terhadap diri sendiri dan egoistic, mulai mempelajari struktur
tubuhnya. Pada fase ini tugas yang dapat dilaksanakan anak dapat
latihan kebersihan (hidayat, 2005).
3; Perkembangan psikososial anak menurut Erikson
Tahap kemandirian, rasa malu dan rasa ragu, terjadi pada umur 1-3
tahun dengan perkembangan mulai mencoba mandiri dalam tugas
tumbuh kembang seperti motorik dan bahasanya.

17

2.3;

Terapi Bermain

2.3.1; Definisi Bermain


Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah
satu alat paling penting untuk menatalaksanakan stress karena hospitalisasi
menimbulkan krisis dalam kehiduapan anak dan karena situasi tersebut sering
disertai stress berlebihan, maka anak-anak perlu bermain untuk mngeluarkan
rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat koping dalam
menghadapi stress. Bermain sangat penting bagi mental, emosional dan
kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain
tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak dirumah sakit (Wong, 2009).
Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa dan merupakan aspek
terpenting dalam keidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif
menurunkan stress pada anak dan penting untuk mensejahterakan mental dan
emosional anak. Bermain dapat dijadikan sebagai suatu terapi karena berfokus
pada kebutuhan anak untuk mengekspresikan diri mereka melalui penggunaan
mainan dalam aktivitas bermain dan dapat juga digunakan untuk membantu
anak mengerti tentang penyakitnya.
2.3.2; Tujuan Bermain
Anak bermain pada dasarnya agar memperoleh kesenangan, sehingga ia
tidak akan merasa jenuh. Bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi
merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan dan cinta
kasih. Bermain adalah unsur yang paling penting untuk perkembangan fisik,
emosi, mental, intelektual, kreativitas, dan sosial.
Anak dengan bermain dapat mengungkapkan konflik yang dialaminya,
bermain cara yang baik untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, kedukaan.
Anak dengan bermain dapat menyalurkan tenaganya yang berlebihan dan hal
ini adalah kesempatan yang baik untuk bergaul dengan anak lainnya.

18

2.3.3; Fungsi Bermain


Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensorimotorik, perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkemabangan
kesadaran diri, perkembangan moral, dan bermain sebagai terapi.
a; Perkembangan sensori-motorik
Pada saat melakukan permainan aktivitas sensori-motorik merupakan
komponenn terbesar yang digunakan anak sehingga kemampuan
penginderaan anak dimulai meningkat dengan adanya stimulasi-stimulasi
yang diterima anak seperti stimulasi visual, stimulasi penginderaan,
stimulasi taktil, dan stimulasi kinetik.
b; Perkembangan intelektual (kognitif)
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi segala
sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna,
bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek
c; Perkembangan sosial
Perkemabangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi san
menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari
hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari hubungan
tersebut.
d; Perkembangan kreativitas
Dimana melalui kegiatan bermain anaka akan belajar mengembangkan
kemampuannya dan mencoba merealisasikan ide-idenya.
e; Perkembangan kesadaran diri
Melalui bermain anak akan mengembangkan kemampuannya dan
membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya
dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah
lakunya terhadap orang lain
f; Perkembangan moral

19

Anak mempelajari nilain yang benar dan salah dari lingkungan, terutama
dari orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan
mendapat kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebutsehingga
dapat diterima di lingkungan dan dapat menyesuaikan diri dengan aturanaturan kelompok yang ada dalam lingkungannya.
g; Bermain sebagai terapi
Pada saat anak dirawat dirumah sakit, anak akan mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti marah, takut, cemas,
sedih dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi
yang dialami anak kerana menghadapi beberapa stresor yang ada di
lingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak
akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan
melakukan permainan, anak akan mendapat mengalihkan rasa sakitnya
pada permainannya (distraksi).
2.3.4; Kategori Bermain
a; Bermain aktif
Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan anak,
apakah dalam bentuk kesenangan bermain alat misalnya mewarnai
gambar, meliputi kertas origami, puzzle dan menempel gambar. Bermain
aktif juga dapat dilakukan dengan bermain peran misalnya bermain dokterdokteran dan bermain dengan menebak kata.
b; Bermain pasif
Dalam bermain pasif, hiburan atau kesenangan diperoleh dari kegiatan
orang lain. Kesenangan yang diperoleh anak dalam bermain egosentris.
Sedikit demi sedikit anak akan dilatih untuk mempertimbangkan perasaan
orang lain, bekerja sama, saling membagi dan menghargai. Melalui
bermain anak dilatih bersabar, menunggu giliran dan terkadang bisa
kecewa karena in pasif berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh orang
lain. Misalnya menikmati temannya bermain, melihat hewan. Bermain
jenis ini membutuhkan sedikit energi dibandingkan bermain aktif.

20

2.3.5; Klasifikasi Permainan


Bermain dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu berdasarkan isi
permainan dan berdasarkan klasifikasi sosialnya. Menurut isi permainan,
bermain dibagi menjadi enam jenis yaitu:
a; Social of Affective Play
Dalam permainan ini, anak belajar memberi respon terhadap stimulus yang
diberikan oleh lingkungan. Contoh : Orang tua mengajak bermain ciluk
baa, maka anak memberi respon tertawa, tersenyum.
b; Sense of Pleasure Play
Anak memberi perhatian, menstimulasi indera mereka dan memperoleh
kesenangan dari objek yang ada di sekitarnya. Objek tersebut seperti :
cahaya, warna, rasa, aroma, tekstur, dan konsistensi dari suatu benda.
Kesenangan tersebut dapat diperoleh dengan memegang objek tersebut.
Contoh : anak bermain boneka yang mengeluarkan suara apabila di
goyang.
c; Skill Play
Permainan ini memberi kesempatan pada anak untuk belajar keterampilan
tertentu dan anak akan belajar secara berulang-ulang. Contoh : anak
belajar memegang sendok berukuran kecil
d; Unoccupied behaviour
Anak tidak bermain scara penuh, namun hanya berfokus sebentar pada halhal yang menarik perhatiannya. Contoh : anak memukul-mukul meja atau
kursi yang dilewatinya.
e; Dramatic Play
Anak berfantasi dengan menjalankan peran tertentu yang mereka lihat
dalam kesehariannya. Contoh : anak bermain sebagi dokter, atau bermain
dagang-dagangan.
f; Games

21

Anak memilih jenis permainan apakah permainan yang melibatkan orang


lain atau anak bermain sndiri. Contoh : anak bermain puzzel gambar atau
menyusun lego.
Menurut karakter sosial, bermain dibagi menjadi lima jenis yaitu :
1; Onlooker Play
Anak hanya mengamati hal yang menarik perhatiannya tanpa mau terlibat
atau anak hanya menjadi penonton yang aktif. Contoh : anak mengamati
anak-anak lain bermain sepeda.
2; Solitary Play
Anak asyik bermain sendirian, namun terdapat anak lain dengan mainan
yang berbeda tetapi dalam area yang sama.
3; Parallel Play
Jenis permainan ini biasanya dilakuan oleh toddler atau balita, dimana
masing-masing anak memiliki mainan yang sama, berada dalam satu area,
namun tidak ada interaksi dan tidak saling bergantung pada anak.
4; Assosiative Play
Merupakan tipe bermain dimana anak bermain dalam kelompok, dengan
aktivitas yang sama, dapat saling meminjamkan mainan, tetapi belum
teorganisir dengan baik. Anak bermain sesuai keinginan masing-masing.
Contoh : anak bermain robot-robotan, mobil-mobilan, anak bermain
masak-masakan.
5; Cooperatif Play
Merupakan tipe bermain dimana anak bermain dalam kelompok dengan
permainan yang terorganisir, terencana dan ada aturan tertentu. Contoh :
anak bermain petak umpet.
2.3.6; Fungsi Bermain di Rumah Sakit
Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh seorang anak bila bermain
dilaksanankan disuatu rumah sakit, antara lain:
a; Menfasilitasi situasi yang tidak familiar.
b; Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan kontrol.

22

c; Membantu untuk mengurangi stress terhadap perpisahan.


d; Memberi kesempatan untuk mempelajari tentang fungsi dan bagian tubuh
e; Memperbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan tujuan
peralatan dan prosedur medis.
f; Memberi peralihan dan relaksasi.
g; Membantu anak untuk merasa aman dalam lingkungan yang asing.
h; Memberikan cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan
perasaan.
i; Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang
positif terhadap orang lain.
j; Memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat.
k; Memberi cara mencapai tujuan-tujuan terapeutik (Wong, 2007).
2.3.7; Latihan Pernafasan
Terapi pernapasan pada penderita pneumonia dilakukan dengan latihan
pernapasan duduk dan pernapasan bergerak. Latihan napas pada posisi duduk
bagi penderita pneumonia merupakan pengambilan posisi dengan tenang agar
mencapai ketenangan yang mendalam, untuk memacu otak menjalankan
fungsi secara maksimal karena otak merupakan komando tertinggi bagi tubuh.
Adapun manfaat dari latihan pernapasan adalah salah satu penunjang
pengobatan pneumonia karena keberhasilan pengobatan pneumonia tidak
hanya ditentukan oleh obat pneumonia yang dikonsumsi, namun juga faktor
gizi dan aktivitas. Bagi penderita pneumonia, olah raga diperlukan untuk
memperkuat otot-otot pernapasan. Sedangkan tujuan latihan penapasan adalah
sebagai berikut:
a;

Melatih cara bernafas yang benar.

b;

Melenturkan dan memperkuat otot pernafasan.

c;

Melatih ekspektorasi yang efektif.

d;

Meningkatkan sirkulasi.

e;

Mempercepat asma yang terkontrol.

f;

Mempertahankan asma yang terkontrol.

23

g;

Kualitas hidup lebih baik.


Menurut Wara kushartanti (2002) program latihan yang dirancang bagi

penderita pneumonia pada dasarnya menitik beratkan pada latihan pernapasan


yang bertujuan untuk:
a; Meningkatkan efisiensi fase ekspirasi
b; Mengurangi aktivitas dada bagian atas
c; Mengajarkan pernapasaan diafragma
d; Merelakskan otot yang tegang
e; Meningkatkan fleksibilitas otot intercostalis, pectoralis, scalenius, dan
trapezius
Pada latihan pernapasan merupakan alternatif sarana untuk memperoleh
kesehatan yang diharapkan bisa mengefektifkan semua organ dalam tubuh
secara optimal dengan olah napas dan olah fisik secara teratur, sehingga hasil
metabolisme tubuh dan energi penggerak untuk melakukan aktivitas menjadi
lebih besar dan berguna untuk menangkal penyakit (Wisnu Wardoyo, 2003).
Latihan pernapasan telah banyak dikenal dan mempunyai efek
penyembuhan dan amat bermanfaat bagi fungsi korteks serebri, organ
abdominal dan untuk pengendalian diri. Di dalam suatu system pernapasan
pada waktu frekuensi pernapasan menurun maka kapasitas tidal dan kapasitas
vital akan meningkat. Pada meditasi terjadi relaksasi sempurna dari otot-otot
tertentu dan kunci utama keberhasilan senam pernapasan adalah keteraturan
dan kepatuhan melakukan senam tersebut.
Ada beberapa fungsi terapi pernapasan adalah:
a; Mengatur keseimbangan seluruh fungsi organ tubuh
b; Meningkatkan daya tahan terhadap suatu penyakit
c; Memulihkan organ tubuh yang mengalami disfungsional.
d; Mengatur keseimbangan cairan tubuh, aktivitas hormaon, aktivitas enzim,
dan laju metabolisme.
e; Mempelancar peredaran darah secara sistemik.
f; Meningkatkan kemampuan gerak tubuh.
g; Meningkatkan ketenangan batin dan percaya diri.

24

h; Defensive (pertahanan diri)


2.3.8; Pursed-Lip Breathing
Pursed-lip breathing (PLB) merupakan salah satu teknik termudah
dalammengurangi sesak napas. Teknik ini merupakan cara mudah dalam
memperlambat frekuensi napas sehingga napas menjadi lebih efektif.
Teknik ini dapat membantu untuk menghasilkan udara yang banyak ke
dalam paru dan mengurangi energi yang dikeluarkan saat bernapas. Selain
itu juga PLB dapat meningkatkan tekanan alveolus pada setiap lobus paru
sehingga dapat meningkatkan aliran udara saat ekspirasi. Peningkatan
aliran udara pada saat ekspirasi akan mengaktifkan silia pada mukosa jalan
napas sehingga mampu mengevakuasi sekret keluar dari saluran napas.
Tindakan ini sebagai salahsatu upaya yang diduga mampu meningkatkan
status oksigenasi (Brunner & Sudarth, 2008).
Penulis belum menemukan hasil penelitian tentang efektifitas
(PLB) yang diterapkan pada anak, namun pada orang dewasa PLB sering
digunakan terutama pada Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) dan
untukmengatasi dyspnea. Hasil penelitian menyatakan bahwa, PLB efektif
untuk mengatasi dyspnea dibuktikan dengan adanya peningkatan saturasi
oksigen setelah dilakukan pengukuran dengan menggunakan oksimetri
(Tiep, Burns, Kao, Madison & Herrera, 1986).
- Manfaat Teknik Pursed Lip Breathing :
Menurut Brunner dan Sudarth (2008), PLB merupakan bagian dari
latihan napas yang diperlukan untuk klien yang mengalami gangguan
pada sistem pernapasan, karena PLB memberikan efek yang baik
terhadap sistem pernapasan, diantaranya adalah (a) meningkatkan
ventilasi, (b) membebaskan udara yang terperangkap dalam paru-paru,
(c) menjaga jalan napas tetap terbuka lebih lama dan mengurangi kerja
napas,

(d)

memperpanjang

waktu

ekshalasi

yang

kemudian

memperlambat frekuensi napas, (e) meningkatkan pola napas dengan


mengeluarkan udara lama dan memasukkan udara baru ke dalam
paru, (f) menghilangkan sesak napas dan (g) meningkatkan relaksasi.

25

- Teknik-teknik pursed lip breathing:


Untuk mendapatkan efek yang lebih baik, maka PLB dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
a; Tarik napas dari hidung secara perlahan, sampai paru-paru penuh
terisi udara.
b; Kerutkan bibir, seolah-olah akan bersiul atau meniup lilin
c; Hembuskan napas melalui mulut, sambil tetap mengerutkan bibir
d; Ulangi hal tersebut diatas selama 2-5 menit dengan diselingi napas
biasa
e; Perhatikan jangan sampai paru-paru dalam kondisi kolaps
2.3.9; Bermain Meniup
Bermain meniup dapat dianalogikan dengan latihan nafas dalam
merupakan suatu permainan atau aktivitas yang memerlukan inhalasi lambat
dan dalam untuk mendapatkan efek terbaik. Dengan teknik tersebut maka
ekspansi alvelus pada semua lobus dapat meningkat dan tekanan didalamnya
pun menjadi meningkat. Tekanan yang tinggi dalam alveolus dan lobus dapat
mengaktifkan silia pada saluran nafas untuk mengevakuasi sekret keluar dari
jalan nafas, sehingga jalan nafas menjadi lebih efektif. Membersihkan sekret
dari jalan nafas berarti akan menurunkan tahanan jalan nafas dan
meningkatkan ventilasi, yang pada akhirnya memberikan dampak terhadap
proses perfusi dan difusi oksigen ke jaringan.
Alat yang digunakan berupa mainan yang disebut tiupan lidah. Cara
meniupnya menggunakan teknik pursed lip breathing yaitu anak bernafas
dalam dan ekhalasi melalui mulut, dengan mulut diminyongkan atau mencucu
dan dikerutkan sehingga mainan yang tadinya tergulung setelah ditiup menjadi
mengembang dan panjang karena teratasi udara. Meniup dilakukan terus
menerus sebanyak 30 kali dengan rentang waktu 10-15 menit dan setiap
tiupan diselingi dengan istirahat (nafas biasa). Posisi anak saat bermain adalah
duduk atau bersandar dengan posisi setengah duduk diatas tempat tidur atau
kursi.

26

Dalam

permaianan

ini

anak

berperan

dalam

memegang

alat,

memperhatikan, mengikuti atau mendemonstrasikan yang dilakukan oleh


perawat sedangkan perawat berperan dalam memberikan contoh untuk
bermain. Saat bermain perawat harus memperhatikan keadaan umum anak
serta dapat memberi pujian apabila anak dapat melakukan permainan dengan
benar.

27

BAB 3. KERANGKA KONSEP

Aktivitas bermain

Status oksigenasi
(HR, RR, dan
saturasi oksigen

tiupan lidah

Variabel perancu:
1;
2;
3;
4;
5;
6;

Usia
Kekuatan meniup
Kadar hemoglobin
Suhu tubuh
Tingkat dehidrasi
Hari sakit

: diteliti
: tidak ditelit

28

4. METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
eksperimental. Metode penelitian yang digunakan adalah pre- experimental
one group pretest and posttest design. Rancangan one group pretest - posttest
merupakan rancangan penelitian yang tidak menggunakan kelompok kontrol.
Peneliti melakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan peneliti
menguji perubahan yang terjadi setelah adanya perlakuan dengan observasi kedua
(posttest) sebagai pembandingnya (Notoatmodjo, 2010). Sugiyono (2010)
menambahkan bahwa pada rancangan one grup pretest-posttest terdapat pretest
(O1) sebelum diberikan perlakuan (X), dan kemudian dilakukan pengukuran atau
posttest (O2) setelah perlakuan, sehingga hasil perlakuan dapat diketahui lebih
akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberikan
perlakuan.
Rancangan

penelitian

ini

bertujuan

untuk

mengetahaui Pengaruh

Pursed Lip Breathing (PLB) dengan pendekatan atraumatic care: tiupan lidah
terhadap status oksigenasi pada anak usia pra sekolah dengan pnemonia di Ruang
Anak Bougenvile RSUD dr. Haryoto Lumajang. Responden pada penelitian ini
dibagi menjadi 1 kelompok, yaitu kelompok intervensi, dimana kelompok
intervensi diobservasi (observasi awal/pre-test) sebelum dilakukan intervensi,
kemudian diobservasi kembali setelah dilakukan intervensi (post-test) (Nursalam,
2008; Setiadi, 2007).
Pre-test (O1) dilakukan untuk mengetahui status oksigenasi pada anak
usia pra sekolah dengan pnemonia sebelum dilakukan Pursed Lip Breathing
(PLB) dengan pendekatan atraumatic care: terapi bermain tiupan lidah (X).
Post-test (O2) dilakukan untuk mengetahui perubahan status oksigenasi pada anak
usia pra sekolah dengan pnemonia setelah dilakukan Pursed Lip Breathing
(PLB) dengan pendekatan atraumatic care: tiupan lidah. Rancangan penelitian
ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Untuk menentukan bahwa hasil dari posttest merupakan akibat dari
intervensi, maka peneliti membatasi karakteristik responden dengan kriteria
tertentu. Rancangan penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut:
29

Pretest

Perlakuan

Posttest

O1 pre eksperimental
X
O2 pretest-posttest design
Gambar3.1 Rancangan
one group
(Setiadi, 2007)
Keterangan :
X : intervensi (Pursed Lip Breathing (PLB) dengan pendekatan atraumatic
care: tiupan lidah)
O1 : pre-test (status pernafasan sebelum intervensi)
O2 : post-test (status pernafasan sesudah intervensi)
4.2 Definisi Operasional
Table 3.2 Definisi Operasional
Variabel
Variabel
bebas:
Meniup
dengan
pendekatan
atraumatik
care

Definisi
Suatu
usaha
mengeluarkan
nafas
melalui
suatu alat tiupan
dengan
teknik
yang
tidak
menyakitkan/me
nyenangkan

Indikator
-

Variabel
terikat:
Status
oksigenasi

Suatu keadaana; SaO2


yang
b; RR
menunjukkan c; HR
kadar oksigen di
dalam tubuh

Alat ukur Skala


Hasil
Lembar
Nominal Dilakukan
observasi
penilaian
a; 0 = anak tidak
melakukan
aktivitas meniup
b; 1 = anak
melakukan
aktivitas meniup
Lembar
observasi

Rasio a; SaO2 = .......%


b; RR
=
......kali/menit
c; HR
=
.......kali/menit

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian


4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
dan memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh peneliti (Nursalam, 2008; Budiarto,
2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien pnemonia yang
menjalani inap di Ruang Anak Bougenvile RSUD dr. Haryoto Lumajang.
4.3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki karakteristik yang

30

hampir sama dengan populasi dan dapat mewakili populasi. Teknik sampling
yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik consequtive sampling,
yaitu teknik penentuan sampel dengan cara memasukkan setiap pasien yang
memenuhi kriteria sampai kurun waktu tertentu hingga jumlah pasien yang
diinginkan terpenuhi (Setiadi, 2007).
4.3.3 Kriteria Subyek Penelitian
Kriteria subjek penelitian terdiri dari kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.
Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang dipenuhi oleh setiap
anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010).
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan anggota populasi
yang

tidak memenuhi

kriteria

inklusi

karena

terdapat

penyakit

yang

mengganggu, keadaan yang mengganggu kemampuan pelaksanaan, hambatan


etis dan menolak berpartisipasi (Setiadi, 2007).
a. Kriteria inklusi
1; Anak usia prasekolah (3-6 tahun atau 36-72 bulan)
2; Anak yang dirawat dengan pnemonia
3; Hari rawat ke 2
4; Tingkat kesadaran anak komposmentis
5; Anak mampu diajak bekerjasama (kooperatif)
6; Ibu atau keluarga bersedia anaknya menjadi respoden penelitian yang
dibuktikan dnegan mengisi informed consent
b. Kriteria eksklusi
1; Anak dengan pnemonia disertai penyakit lain seperti kelainan jantung,
trauma atau konfigurasi struktur dada yang tidak normal
2; Sedang mendapatkan suplay oksigen
3; Kondisi anak sangat lemah sehingga tidak mampu meniup tiupan lidah
sebanyak 30 kali dalam rentang waktu 10-15 menit
4; Ibu dan keluarga tidak kooperatif
4.4 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di Ruang Anak Bougenvile kelas I, II dan
III RSUD dr. Haryoto Lumajang, bisa dilakukan berkelompok maupun individu di
ruang rawat masing-masing..
4.5 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Mei tahun 2015. Waktu penelitian ini
dihitung

mulai

dari

penyusunan proposal hingga penyusunan laporan dan

31

publikasi penelitian. Pengambilan data terkait hasil pre-test

and

post-test

perubahan status oksigenasi dan Pursed Lip Breathing (PLB) dengan pendekatan
atraumatic care: terapi bermain tiupan lidah rencananya akan di lakukan selama
14 hari setiap dinas sore (15.00-18.00 WIB).
4.6; Alat Pengumpulan Data
a; Instrumen penelitian yang meliputi data tentang karakteristik responden
b; Lembar observasi yang digunakan untuk mecatat hasil pengukuran RR,
HR, dan saturasi oksigen
c; Pulse oksimeter digunakan untuk mengukur saturasi oksigen dan HR
secara lebih akurat.
d; Respiratory rate timer digunakan saat menghitung RR selama satu jam
penuh.
e; Mainan tiupan lidah sebagai pendekatan atraumatic care.
4.7 Prosedur Pengumpulan Data
Ruang Anak Bougenvile RSUD dr. Haryoto Lumajang yang digunakan
untuk kelompok intervensi, peneliti menjelaskan dan melakukan role play
bagaimana cara melakukan intervensi aktivitas bermain meniup tiupan lidah dan
mengambil data sebelum dan sesudah intervensi dilakukan, dengan langkahlangkah sebagai berikut:
a; Mencari dan memilih calon responden sesuai dengan kriteria inklusi.
b; Peneliti memperkenalkan diri kepada responden dan keluarga serta
menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian yang dilakukan.
c; Peneliti memberikan penjelasan tentang prosedur pelaksanaan penelitian,
manfaat dan resikonya bahwa apa yang dilakukan tidak membahayakan anak.
Setelah mendapatkan penjelasan dari peneliti , keluarga responden diberikan
kesempatan untuk memberikan persetujuan atau menolak berpartisipasi dalam
penelitian.
d; Setelah keluarga menyetujui, kemudian diminta untuk menandatangani surat
persetujuan yang telah disiapkan oleh peneliti. Persetujuan dilakukan oleh
orang tua karena responden adalah anak usia prasekolah (3-6 tahun).
e; Peneliti mengisi data kuisioner dari keluarga calon responden,

32

f; Setelah mengisi kuisioner, peneliti mempersiapkan alat untuk prosedur


penelitian yaitu mainan tiupan lidah, respiratory rate timer dan pulse
oximeter.
g; Peneliti melakukan pengukuran awal terhadap RR dengan menggunakan
respiratory rate timer selama 1 menit serta saturasi oksigen dan HR dengan
menggunakan pulse oximeter yang dipasang di ujung jari tangan atau kaki,
kemudian catat hasil pada lembar observasi.
h; Peneliti memberikan contoh cara meniup mainan tiupan lidah. Cara meniup
tiupan lidah sama dengan teknik PLB yaitu tarik napas dalam melalui hidung
kemudian keluarkan udara melalui mulut yang di monyongkan atau dikerutkan
seperti mencucu, sampai tiupan lidah mengembang terisi udara sampai
ujung. Beri kesempatan responden untuk mengulang cara meniup tiupan
lidah yang telah dicontohkan oleh peneliti/asisten peneliti.
i; Mengatur posisi responden dengan posisi duduk/setengah d uduk di kursi atau
tempat tidur, memberikan mainan tiupan lidah untuk ditiup sebanyak 30 kali
dalam rentang waktu 10-15 menit yang diselingi dengan napas biasa dengan
ritme yang teratur, aktivitas bermain meniup tiupan lidah ini hanya
dilakukan satu kali.
j; Mendampingi dan memotivasi responden selama melakukan aktivitas tersebut,
memperhatikan kekuatan responden dalam meniup tiupan lidah dan mencatat
kekuatan meniup dalam lembar observasi.
k; Melakukan pengukuran yang kedua terhadap RR, HR dan saturasi oksigen
sesaat setelah intervensi selesai dilakukan dan mencatat hasil pengukuran pada
lembar observasi.
l; Memberikan pujian pada responden, keluarga dan asisten peneliti atas
keterlibatannya dalam penelitian.
Sedangkan untuk kelompok kontrol, peneliti hanya menjelaskan kepada asisten
peneliti bagaimana melakukan observasi, melakukan pengukuran dan cara
menggunakan alat pengumpul data serta mencatat hasil pengukuran pada lembar
observasi.
4.8 Etika Penelitian
Etika penelitian antara lain (Milton, 1999 dalam Bondan Palestin dalam
Notoatmodjo, 2010):
4.8.1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)
33

Peneliti perlu mempertimbangkan hak-hak subjek penelitian untuk


mendapatkan informasi tentang tujuan peneliti melakukan penelitian tersebut.
Peneliti juga memberikan kebebasan kepada subjek untuk memberikan informasi
atau tidak memberikan informasi (berpartisipasi). Dalam penelitian ini, peneliti
menghormati hak responden ketika responden tidak berkenan menjadi subjek
penelitian, dan tidak bisa mengungkapkan kendala dan masalahnya maka peneliti
menghargai keputusan tersebut.
4.8.2 Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (respect for privacy
and confidentiality)
Setiap orang mempunyai hak-hak dasar individu termasuk privasi dan
kebebasan individu dalam memberikan informasi. Setiap orang berhak untuk tidak
memberikan apa yang diketahuinya kepada orang lain. Peneliti menjamin bahwa
informasi apapun yang didapatkan dari responden tidak dilaporkan dengan cara
apapun. Peneliti menjaga kerahasiaan dengan cara tidak menampilkan informasi
tentang identitas responden baik nama ataupun alamat. Peneliti memberikan kode
yang merupakan inisial sebagai pengganti identitas responden.
4.8.3 Keadilan dan inklusivitas/keterbukaan (respect for justice an inclusiveness)
Prinsip keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti dengan kejujuran,
keterbukaan, dan kehati-hatian. Lingkungan penelitian perlu dikondisikan
sehingga memenuhi prinsip keterbukaan, yakni dengan menjelaskan prosedur
penelitian. Prinsip keadilan ini menjamin bahwa semua sampel penelitian
memperoleh perlakuan dan keuntungan yang sama, tanpa membeda-bedakan
(gender, agama, etnis). Aplikasi prinsip berkeadilan pada penelitian ini dilakukan
dengan memberikan perlakuan yang sama pada responden yang mendapatkan
pendampingan baik berlebih maupun sangat berlebih, memberikan intervensi juga
pada pasien satu ruangan yang tidak termasuk dalam sampel penelitian.
4.8.4 Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing
harms and benefits)
Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal mungkin
bagi masyarakat pada umumnya dan subjek penelitian pada khususnya.
34

Pelaksanaan penelitian harus dapat mencegah atau mengurangi masalah yang


terjadi. Kegiatan yang berlangsung pada penelitian ini telah mengikuti prosedur
yang ada yaitu dengan memberikan pemahaman tentang prosedur sebelum
penelitian dan pemberian intervensi sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP)
Pursed Lip Breathing (PLB) dengan pendekatan atraumatic care: terapi bermain
tiupan lidah, sehingga pada saat penelitian berlangsung setiap responden merasa
nyaman dan lancar saat mengikuti penelitian. Manfaat dari Pursed Lip Breathing
(PLB) dengan pendekatan atraumatic care: terapi bermain tiupan lidah bagi
responden yaitu dengan meningkatkan tekanan alveolus pada setiap lobus paru
sehingga dapat meningkatkan aliran udara saat ekspirasi. Peningkatan aliran udara
pada saat ekspirasi akan mengaktifkan silia pada mukosa jalan napas sehingga
mampu mengevakuasi sekret ke luar dari saluran napas. Tindakan ini sebagai
salah satu upaya yang diduga mampu meningkatkan status oksigenasi seperti yang
telah dilakukan oleh Sutini (2011) penelitian ini yaitu aktivitas bermain meniup
tiupan lidah berpengaruh terhadap status oksigenasi yaitu menurunkan RR
8,1 %, meningkatkan HR 6,25 %, dan meningkatkan SaO2 5,43%.

35

BAB. 5 PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan gambaran umum lokasi penelitian mini riset,
pelaksanaan mini riset, hasil mini riset . pembahasan dan keterbatasan penelitian
pada mini riset. Mini riset yang dilakukan tentang pengaruh terapi bermain
meniup dengan pendekatan atraumatik care terhadap status oksigenasi pada anak
dengan pneumonia di ruang Bougenville RSUD dr. Haryoto Lumajang.
Mini riset ini dilaksanakan di RSUD dr. Haryoto

36

LAMPIRAN

37

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL R.I


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)
Alamat: Jl. Kalimantan 37, Kampus Tegalboto, Jember
Lampiran A. Lembar Informed
SURAT PERMOHONAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
nama

: Khoirul Romadhan, S. Kep.

NIM

: 082311101031

Jabatan

: ketua kelompok penelitian

bermaksud akan mengadakan penelitian dengan judul Pengaruh Terapi Aktivitas


Bermain Meniup Tiupan Lidah terhadap Status Oksigenasi pada Anak dengan
Pneumonia di Ruang Bougenville RSUD Haryoto Lumajang. Penelitian ini tidak
akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi anak Anda. Penelitian ini dapat
memberikan manfaat bagi anak Anda untuk dapat mengetahuiperkembangan
status oksigenasi.
Kerahasiaan semua informasi akan dijaga dan dipergunakan untuk
kepentingan penelitian. Jika Anda tidak bersedia menjadi responden, maka tidak
ada ancaman bagi Anda. Jika Anda bersedia menjadi responden maka saya mohon
kesediaan untuk menandatangani lembar persetujuan yang saya lampirkan. Atas
perhatian dan kesediaannya menjadi responden, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Khoirul Romadhan, S. Kep.


NIM. 082311101031

38

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL R.I


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)
Alamat: Jl. Kalimantan 37, Kampus Tegalboto, Jember
Lampiran B. Lembar Consent
SURAT PERSETUJUAN
Setelah saya membaca dan memahami isi dan penjelasan pada lembar
permohonan menjadi responden, saya mengerti dan percaya bahwa peneliti akan
menjunjung tinggi hak-hak anak saya sebagai responden. Saya yang
bertandatangn dibawah ini bersedia anak saya turut berpartisipasi sebagai
responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa Program
Pendidikan Profesi Ners (P3N), Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas
Jember:
Nama

Alamat

Nama Anak

Saya memahami bahwa penelitian ini tidak membahayakan dan merugikan


anak saya, sehingga saya mengizinkan anak saya menjadi responden dalam
penelitian ini.
Lumajang, 2015

()
Nama terang dan tanda tangan

39

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL R.I


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)
Alamat: Jl. Kalimantan 37, Kampus Tegalboto, Jember

Lampiran C. Lembar Observasi Penilaian Pre dan Post


Tanggal Observasi

No Nama Anak dan umur K r i t e r i a

Hari Ke:
0

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2
Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2
Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2
Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2
Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2
Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2
Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2
Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2
Heart Rate
Resp. Rate
S P O 2

40

SOP
JUDUL SOP:
Tiupan Lidah

PSIK
UNIVERSITAS JEMBER
NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :
TANGGAL
TERBIT :

DITETAPKAN OLEH :

1. PENGERTIAN

Tiupan lidah merupakan suatu prosedur yang


dilakukan dengan menggunakan teknik pursed lip
breathing yaitu anak bernafas dalam dan ekhalasi
melalui mulut, dengan mulut diminyongkan atau
mencucu dan dikerutkan sehingga mainan yang
tadinya
tergulung
setelah
ditiup
menjadi
mengembang dan panjang karena teratasi udara

2. TUJUAN

Tiupan lidah membantu mengevakuasi sekret


keluar dari jalan nafas, sehingga jalan nafas
menjadi lebih efektif.

3. INDIKASI

a; P a s i e n y a n g m e n g a l a m i k e c e m a s a n

b; Pasien yang mengalami Pneumonia


4. KONTRAINDIKASI ------5. PERSIAPAN PASIEN
a; Berikan salam, perkenalkan diri anda, dan
tanyakan kondisi klien.
b; Jelaskan tentang prosedure tindakan yang
akan dilakukan, berikan kesempatan kepada
klien untuk bertanya dan jawab seluruh
pertanyaan klien.
c; Atur posisi yang aman dan nyaman pada
pasien.
6. PERSIAPAN ALAT
1 Tempat duduk atau berbaring yang nyaman
2 Mainan tiup lidah
3

7. CARA KERJA

1;

Catatan dan alat tulis

Duduk

santai

atau

berbaring

dengan

nyaman
2;

Anak bernafas dalam dan ekhalasi

41

melalui mulut
3;

Mulut diminyongkan atau mencucu

4;

Mulut diikerutkan sehingga mainan yang tadinya


tergulung setelah ditiup menjadi mengembang
dan panjang karena teratasi udara.

5;

Meniup dilakukan terus menerus sebanyak 30


kali dengan rentang waktu 10-15 menit

dan

setiap tiupan diselingi dengan istirahat (nafas


biasa)
6;

Latihan ini dilakukan selama 2 kali sehari selama


10-15 menit

8. HASIL:
1; Klien merasa lebih nyaman
2; Klien merasa lebih rileks
9. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1; Lama waktu setiap kali latihan adalah 10-15 menit.
2; Hentikan latihan saat anak mulai jenuh agar tidak enggan lagi untuk melakukan
tiup lidah.

42

DAFTAR PUSTAKA
Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA.
Brough, H., Alkurdi, R., Nataraja, R.,Surendrathan, A. 2008. Rujukan Cepat
Pediatric dan Kesehatan Anak. Jakarta :EGC
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Edisi 8).
Vol 1. Jakarta :EGC
Departemen Kesehatan RI. 2004. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi
Saluran Nafas Akut untuk Penanggulangan Pneumonia Pada Balita.
Jakarta: Depkes RI
Departemen Kesehatan RI. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi Pneumonia.
Jakarta:

[serial

http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/

online]
BULETIN

%20PNEUMONIA.pdf [diakses tanggal 02 Mei 2015]


Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2011. Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Timur tahun 2010. Surabaya. [serial online]. Error! Hyperlink
reference not valid. Maret 2013].
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2012. Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Timur tahun 2011. [serial online]. http://dinkes.jatimprov.go.id/userfile/
dokumen/1321926974_Profil_Kesehatan_Provinsi_Jawa_Timur_2011.
pdf [diakses tanggal 24 Maret 2013].
Guyton & Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku
Kedoketran EGC, Jakarta
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta:
Salemba Medika
Hockenberry, M. E., Wilson, D., Winkelstein, M. L. & Schwartz, P. (2009).
Buku ajar keperawatan pediatrik. (Edisi 6). Volume 1 & 2. Alih bahasa
Hartono, A., Kurnianingsih, S. & Setiawan. Jakarta : EGC.
Hudak & Gallo (1997). Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik Volume I,
Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.

43

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2010. Upaya percepatan penanggulangan


penumonia pada anak di Indonesia. [Serial Online]. http://idai.or.id/.
[diakses tanggal 10 Maret 2013]
Jan Tambayonmg (2000), Patofisiologi Unutk Keperawatan, Penerbit Buku
Kedoketran EGC, Jakarta.
Mansjoer, Arif., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media
Aesculapius
Potter & Perry. 2005a. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume I Edisi 4.
Jakarta: EGC
Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Soetjiningsih, dr. Sp Ak. 2002. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Sutini, Titin. 2011. Pengaruh Aktivitas Bermain Meniup Tiupan Lidah Terhadap
Status Oksigenasi Pada Anak Usia Prasekolah Dengan Pneumonia Di
Rumah Sakit Islam Jakarta. Jakarta: UI Press Sylvia A. Price (1995),
Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4 Buku 2,
Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta
WHO. 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit Pedoman
Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama Di Kabupaten/Kota.
[Serial
http://www.gizikia.depkes.go.id/wpcontent/uploads/downloads

Online]
/

2011/09/ Buku-Saku-Pelayanan-Kesehatan-Anak-di-RS. pdf [diakses


tanggal 30 Maret 2013]

44