Anda di halaman 1dari 27

I.

Judul Percobaan
II. Hari / Tanggal Percobaan
III.
Selesai Percobaan
IV.
Tujuan Percobaan

: Koefisien Distribusi Iod (Ekstraksi)


: Selasa / 4 Maret 2014
:Selasa / 4 Maret 2014
:Mengekstrak Iod ke dalam pelarut organik
Menghitung harga KD dari Iod dalam pelarut organik

V. Kajian Teori
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau
cairan dengan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan kelarutan yang
berbeda dari komponen-komponen dalam campuran. Ekstraksi pelarut menyangkut
distribusi suatu zat terlarut (solut) diantara fasa cair yang tidak saling bercampur. Secara
umum, ekstraksi ialah proses penarikan suatu zat terlarut dari larutannya di dalam air
oleh suatu pelatut lain yang tidak dapat bercmapur dengan air. Tujuan ektraksi adalah
memisahkan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan pelarut.
Untuk mendapatkan hasil ekstrak yang optimal, harus melakukan beberapa hal
berikut ini, yaitu:
1.

Menggunakan pelarut yang sesuai.

2.

Melakukan ekstraksi secara berulang kali.kut


3. Pemilihan pH yang semakin rendah, karena ketika digunakan, pH rendah zat
yang diekstraksi berada pada fasa organik sehingga akan didapat hasil
ekstraksi yang banyak.

4.

Memperbesar volume organik, sehingga f(o) juga semakin besar.


Selain itu, dalam memilih pelarut dalam proses ekstraksi maka perlu diperhatikan
faktor-faktor seperti di bawah ini:
1. Selektivitas
Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponenkomponen lain dari bahan ekstraksi. Pada ekstraksi bahan-bahan alami, sering
terjadi bahan lain (misalnya lemak, resin) ikut dibebaskan bersama-sama dengan
ekstrak yang diinginkan. Dalam hal itu larutan ekstrak tercemar, larutan ekstrak
tersebut harus dibersihkan, misalnya diekstrak lagi dengan menggunakan
pelarut kedua.

2. Kelarutan

Pelarut hendaknya memilikinya kemampuan melarutkan ekstrak yang besar


(kebutuhan pelarut lebih sedikit).
3. Kemampuan tidak saling tercampur
Pada ekstraksi cair-cair, pelarut tidak boleh larut dalam bahan ekstraksi.
4. Kerapatan
Untuk ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang
besar antara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan agar kedua fasa
dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran (pemisahan
dengan gaya berat).
5. Reaktivitas
Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada
komponen-komponen bahan ekstraksi. Seringkali ekstraksi juga disertai dengan
reaksi kimia. Dalam hal ini bahan yang akan dipisahkan mutlak harus berada
dalam bentuk larutan.
6. Titik didih
Pemisahan ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara
penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka kedua bahan itu tidak boleh terlalu
dekat dan keduanya tidak membentuk aseotrop.
Setiap proses ekstraksi harus dicari pelarut yang paling sesuai. Beberapa pelarut
yang penting dan biasa digunakan adalah air, asam-asam organik dan anorganik,
hidrokarbon jenuh, toluene, karbon disulfit, eter, aseton, hidrokarbon yang mengandung
klor, isopropanol, etanol. Dengan satu tahap ekstraksi tunggal, yaitu mencampur bahan
ekstraksi dengan pelarut satu kali, umumnya tidak seluruh ekstrak terlarutkan. Hal ini
disebabkan adanya kesetimbangan antara ekstrak yang terlarut dan ekstrak yang masih
tertinggal dalam bahan ekstraksi (hukum distribusi). Pelarutan lebih lanjut hanya
mungkin dengan cara memisahkan larutan ekstrak dari bahan ekstraksi dan mencampur
bahan ekstraksi tersebut dengan pelarut baru. Proses ini dilakukan berulang-ulang hingga
derajat ekstraksi yang diharapkan tercapai. Ekstraksi akan lebih efisien jika dilakukan
dalam jumlah tahap yang banyak.
Setiap tahap menggunakan pelarut yang sedikit. Kerugiannya adalah konsentrasi
larutan ekstrak makin lama makin rendah dan jumlah total pelarut yang dibutuhkan

menjadi besar. Efisien ekstraksi juga dapat menggunakan proses aliran yang berlawanan.
Bahan-bahan ekstraksi mula-mula dikontakkan dengan pelarut yang sudah mengandung
ekstrak (larutan ekstrak) dan pada tahap akhir proses dikontakkan dengan pelarut yang
segar. Metode ini, pelarut dapat dihemat dan konsentrasi larutan ekstrak yang lebih tinggi
dapat diperoleh. Permukaan, yaitu bidang antar muka untuk perpindahan massa antara
bahan ekstraksi dengan pelarut harus besar pada ekstraksi padat-cair. Hal tersebut harus
dicapai dengan memperkeccil ukuran bahan ekstraksi, dan pada ekstraksi cair-cair
dengan mencerai-beraikan salah satu cairan menjadi tetes-tetes. Tahanan yang
menghambat pelarut ekstrak seharusnya bernilai kecil. Tahanan tersebut terutama
tergantung pada ukuran dan sifat partikel dari bahan ekstraksi. Semakin kecil partikel ini,
semakin pendek jalan yang harus ditempuh pada perpindahan massa dengan cara difusi,
sehingga rendah tekanannya. Sementara itu Semakin tinggi suhu semakin kecil viskositas
fasa cair dan semakin besar kelarutan ekstrak dalam pelarut. Selain itu, kecenderungan
pembentukan emulsi berkurang pada suhu tinggi.
Koefisien Distribusi (KD)
Menurut hukum distribusi Nernst, bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling
tercampur dimasukkan solut yang dapat larut ke dalam kedua pelarut tersebut, maka akan
terjadi pembagian solut dengan perbandingan tertentu. Kedua pelarut tersebut umumnya
pelarut organik dan air. Perbandingan konsentrasi solute di dalam kedua pelarut tersebut
tetap, dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan
distribusi atau koefisien distribusi. Secara matematis dinyatakan sebagai berikut:

KD

C2
C1

KD

CO
CA

atau
Dengan :
KD = Koefiseien distribusi
Co atau C2 = konsentrasi fase organik
CA atau C1= konsentrasi fase air

Jika harga KD besar, solute secara kuantitatif akan cenderung terdistribusi lebih
banyak ke dalam pelarut organic. Jika harga KD kecil, solute secara kuantitatif akan
cenderung terdistribusi lebih sedikit ke dalam pelarut organic.
Besarnya KD yang dihitung berdasarkan persamaan diatas hanya berlaku bila :
1. Solut tidak terionisasi dalam satu pelarut.
2. Solut tidak berasosiasi dalam salah satu pelarut.
3. Zat terlarut tidak bereaksi dengan salah satu pelarut atau reaksi-reaksi lain
Teknik Ektraksi
Teknik ektraksi dapat dibedakan menjadi 3 cara yaitu:
a) Ektraksi bertahap
Merupakan ekstraksi yang paling sederhana dan biasanya menggunakan alat corong
pemisah. Zat yang akan diekstrak dilarutkan dalam air kemudian dimasukkan dalam
corong pemisah. Pelarut pengektrak (biasaya pelarut organik) ditambahkan ke
larutan air agar zat terlarut dapat diekstrak ke dalam cairan pengekstrak. Campuran
dalam corong pisah harus dikocok berulang kali dan setelah didiamkan terbentuk
dua lapisan. Jika zat yang diekstrak berada dalam campuran, maka syarat ekstraksi
ini adalah D dari zat terlarut harus besar, sedang D yang lainnya kecil. Teknik ini
yang digunakan pada saat percobaan ini.
b) Ektraksi kontinyu
Teknik ini khususnya bagi zat dengan harga D sangat kecil (<1) . ektraksi ini tidak
dapat menggunakan coromg pisah karena kurang efektif. Namun menggunakan alat
ekstraksi khusus.
c) Ektrksi arah berlawanan
Teknik yang digunakan jika angka banding distribusi atau D sangat kecil. Ekstraksi
ini juga menggunakan suatu alat khusus.

VI.

Alat dan Bahan

Alat :

Bahan:

1. labu ukur 100 ml

1 buah

2. gelas ukur 10 ml

1 buah

3. gelas kimia 400 ml

1 buah

4. pipet ukur 10 ml

1 buah

5. pro pipet

1 buah

6. buret

1 buah

7. erlenmeyer

3 buah

8. corong pisah

1 buah

9. pipet tetes

5 buah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Iodium 0,01 M
aquades
H2SO4
Larutan Kanji 2%
Na2S2O3 0,011 N
Kloroform
H2SO4 2 M

VII. . Alur Percobaan


1.

Iodium 0,1 N
-

Diambil 10 ml
Diencerkan dengan air sampai
100 ml dalam labu ukur

Larutan Iodium

Dipipet 10 ml
Dipipet 10 ml
Ditambah 1 ml H2SO4
Dipindah ke corong pisah
Ditambah 3 tetes larutan kanji
Ditambah 5 ml Kloroform
Dititrasi dengan Na2S2O3 0,011 N sampai warna
Dikocok
biru
sampai
tepat hilang
kedua larutan terpisah
Diulangi 3x
Diulangi 3x

V Na2S2O3

Lapisan air

Lapisan organik

dikeluarkan

Lapisan air
Ditampung dalam erlenmeyer
Diasamkan dengan 4 ml H2SO4 2 M
Ditambah 1 ml larutan kanji 0,2 %
Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,011 N
Diulangi 3x

Warna biru tepat hilang


Konsentrasi awal mol ditentukan
Harga Kd Iod dalam sistem kloroform-air dihitung

Harga Kd Iod

VIII.Hasil Pengamatan
No
1.

Prosedur Percobaan
Iodium 0,1 N

Hasil Pengamatan
Sebelum
sesudah
- Iodium = merah - Iodium +
kecoklatan (++)

air=

merah

Dugaan/ Reaksi

Kesimpulan

I2(aq) + 2e- 2I-

Kd
Iodium
diperoleh 6,8667

2S2O32-(aq) S4O62- +

Diambil 10 ml
kecoklatan (+)
2eDiencerkan dengan air sampai 100 ml dalam
ukur
- labu
Larutan
H2SO4 = - + H2SO4 =
tidak
ada I2(aq) + 2S2O32-(aq)
tidak berwarna
perubahan
2I-(aq) + S4O62-(aq)
- Air
=
tidak
(merah
berwarna
kecoklatan +)
Larutan Iodium
- + kanji = biru
- Larutan
kanji=
kehitaman
tidak berwarna
- Setelah titrasi=
Tidak berwarna
Dipipet 10 ml
- Na2S2O3 = tidak
V1 = 12,2 ml
Ditambah 1 ml H2SO4
berwarna
V2 = 12,1 ml
Ditambah 3 tetes larutan kanji
V3 = 12,2 ml
Dititrasi dengan Na2S2O3 0,011 N sampai warna biru tepat hilang
Diulangi 3x

V Na2S2O3
Sesudah dikocok
Lapisan atas (air)

= kuning
Kloroform = tidak Lapisan
bawah
berwarna
(organik) = ungu
Larutan Iodium

Lapisan air

Dipipet 10 ml
Dipindah ke corong pisah
Ditambah 5 ml Kloroform
Dikocok sampai kedua
larutan terpisah
Diulangi 3x

Sebelum dikocok
Larutan Iodium +
kloroform = terdapat
2 lapisan, lapisan
atas berwarna coklat
dan lapisan bawah
berwarna ungu

Lapisan organik

dikeluarkan

Lapisan air +
H2SO4 2 M =

I2 (aq) + 2CHCl3 (aq)


2CHI (aq) + Cl2 (g)

kuning
+ larutan
0,2%
=
kehitaman

kanji
biru

Setelah dititrasi=
Tidak berwarna
Lapisan air
-

Ditampung dalam
erlenmeyer
Diasamkan dengan 4 ml
H2SO4 2 M
Ditambah 1 ml larutan kanji
0,2 %
Dititrasi dengan larutan
Na2S2O3 0,011 N
Diulangi 3x

Warna biru tepat hilang

Konsentrasi awal mol


ditentukan
Harga Kd Iod dalam sistem
kloroform-air dihitung

V1 = 2,7 ml
V2 = 2,7ml
V3 = 2 ml
Kd = 6,8667

Harga Kd Iod

IX.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN :


Pada percobaan ekstraksi ini bertujuan untuk mengekstrasi Iodium ke

dalam Pelaru Organik dan menghitung Koefisien distribusi (KD) Iodium.


Pertama-tama, menentukan konsentrasi awal Iod yang dapat diketahui dengan
cara melakukan titrasi I2 dengan Na2S2O3 (titrasi iodometri). 10 mL larutan Iod
(I2) 0,1 N yang berwarna merah kecoklatan (++) diencerkan dalam labu ukur
sampai volumenya 100 mL, larutan berubah warna menjadi merah kecoklatan
(+). Kemudian larutan Iod dipipet menggunakan pipet ukur dan pro pipet
sebanyak 10 mL kemudian diamsukkan ke dalam erlenmeyer. Setelah itu,
ditambah 2 mL H2SO4 2M yang bertujuan untuk memberikan suasana asam
dan menyangga pH tetap berada dibawah 7, warna larutan tidak berubah, tetap
berwarna merah kecoklatan (+). Selanjutnya ditambah 3 tetes kanji (amilum)
0,2 % yang tidak berwarna, larutan menjadi berwarna biru kehitaman. Larutan
kanji bertindak

sebagai indikator, yang mengindikasi adanya iod dengan

terbentuknya larutan yang berwarna kehitaman tersebut. Selanjutnya dititrasi


dengan Na2S2O3 0,011 N sampai warna biru tepat hilang. Na2S2O3 digunakan
sebagai titran karena Na2S2O3 merupakan salah satu agen pengoksidasi yang
diperlukan larutan asam untuk dapat bereaksi dengan iodin. Iodin akan
mengoksidasi tiosulfat menjadi tetrationat. Reaksi yang terjadi yaitu:
I2(aq)+ 2 S2O32-(aq) 2 I-(aq)+ S4O62-(aq)
Titrasi dilakukan sebayak tiga kali. Volume Na2S2O3 yang
didapatkan dari 3 kali titrasi berturut-turut adalah
V1 = 12,2 mL
V2 = 12,1 mL
V3 = 12,2 mL
Setelah diperoleh volume Na2S2O3 dapat ditentukan mmolek I2
dengan menggunakan rumus:
Mmolek I2 = mmolek Na2S2O3
Sehingga diperoleh ketiga mmolek I2 secara berturut-turut adalah
0,1342, 0,1331,dan 0,1342. Setelah diperoleh ketiga nilai mmolek tersebut

kemudian dicari mmolek rata-ratanya sebagai

mmolek [I2] awal , dan

diperoleh mmolek I2 rata-rata sebesar 0,13383 mmolek.

Kemudian langkah selanjutnya adalah mengekstraksi Iod untuk


menentukan KD atau koefisien distribusi yang diperoleh dari perbandingan
konsentrasi iod dalam pelarut organik dan konsentrasi iod dalam pelarut air.
Penentuan konsentrasi iod dalam kedua pelarut tersebut dapat diketahui dengan
melakukan ekstraksi.
Ekstraksi Iod dilakukan dengan cara mengambil 10 mL larutan Iod yang
telah diencerkan tadi. Air yang digunakan untuk mengencerkan I2 berfungsi
sebagai pelarut air (fasa air). 10 mL larutan Iod dimasukkan kedalam corong
pisah dengan menggunakan pipet ukur dan propipet. Kemudian menyiapkan
kloroform yang tidak berwarna sebanyak 5 mL, dimana kloroform bertindak
sebagai pelarut organik (fasa organik). Kemudian kloroform dimasukkan ke
dalam corong pisah yang sebelumnya telah berisi larutan Iod, terbentuk
menjadi 2 lapisan. Pemilihan penggunaan kloroform disebabkan karena
kloroform dan iod merupakan senyawa kovalen non polar. Sehingga jika iod
dikocok bersama suatu

campuran kloroform dan air serta kemudian

didiamkan, iod akan terbagi ke dalam dua pelarut tersebut yang membuat
keadaan kesetimbangan antara larutan iod dalam kloroform dan larutan iod
dalam air. Sehingga iod dapat terekstrak dari fasa air ke fasa organik.
Kemudian corong pisah dikocok dengan sesekali membuka kran pada corong
pisah yang berfungsi untuk mebuang gas yang timbul, gas yang timbul tersebut
adalah gas klor. Persamaan reaksi:
I2(aq) + 2 CHCl3 (aq) 2CHI (aq) + Cl2(g)
Pengocokan dimaksudkan agar zat terlarut (solute) dalam hal ini Iod
terdistribusi dengan sendirinya kedalam dua pelarut yakni pelarut organik dan
pelarut air. Setelah dikocok kemudian didiamkan beberapa saat sampai kedua
larutan terpisah dengan baik, yaitu lapisan organik dan lapisan air.
Terbentuknya dua lapisan ini karena adanya perbedaan kelarutan antara kedua
pelarut (air dan kloroform).
Setelah dikocok, lapisan organik berwarna ungu berada dibagian bawah
dan lapisan air berubah warna menjadi berwarna kuning berada dibagian atas. .
Hal ini terjadi karena berat jenis lapisan organik ebih besar dari berat jenis
lapisan air.

Lapisan organik dikeluarkan dari corong pisah dan disimpan

ditempat yang telah disediakan. Lapisan air yang telah didapatkan dari

ekstraksi dipindahkan ke dalam erlenmeyer, kemudian diasamkan lapisan air


tersebut dengan ditambah 4 mL H2SO4 untuk memberikan suasana asam dan
ditambahkan 2-3 tetes kanji (amilum) 0,2 % yang berfungsi sebagai indikator,
larutan menjadi berwarna biru kehitaman. Kemudian dititrasi dengan Na 2S2O3
0,01 N sampai warna biru tepat hilang.
Persamaan reaksi yang terjadi sebagai berikut:
2 S2O32-(aq)
S4O62-(aq) + 2e
I2(aq) + 2e 2 I-(aq)
22 S2O3 (aq) + I2(aq) 2 I-(aq)+ S4O62-(aq)
Volume Na2S2O3 yang dibutuhkan berturut-turut untuk 3 kali
titrasi adalah
V1 = 2,7 mL
V2 = 2,7 mL
V3 = 2,9 mL
Kemudian dihitung mmolek I2 Sesudah ekstraksi dan diperoleh mmolek
rata-rata sebesar 0,0304 sebagai mmolek I2 sisa. Setalah itu dapat ditentukan
mmolek I2 organik dengan cara mmolek I2 awal dikurangi mmolek I2 sisa
sehingga diperoleh mmolek I2 organik sebesar 0,1034. Kemudian ditentukan
konsentrasi I2 organik dan diperoleh sebesar 0,0206 M dan konsentrasi I 2 air
sebesar 0,0030 M. setelah itu dapat diperoleh nilai K D, yaitu dengan cara
membagi konsentrasi I2 organik dengan konsentrasi I2 air. Sehingga diperoleh
KD sebesar 6,8667.
X.

Diskusi
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, ternyata diperoleh harga K D
sebesar 6,8667 yang tidak sesuai dengan KD teoritis sebesar 10. Hal ini
disebabkan karena proses pengocokan larutan pada corong pisah yang kurang
kurang kuat dan kurang lama sehingga menyebabkan Iod yang terekstrak di
dalam kloroform belum terlalu banyak sehingga harga K D yang diperoleh kecil.
Semakin banyak Iod yang terekstrak di dalam kloroform maka harga K D akan

semakin besar.
XI. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah kami lakukan tentang koefisien distribusi Iod,
didapatkankesimpulan:

1. Larutan iod yang sudah diencerkan dengan air (fasa air) diekstrak dengan
kloroform (fasa organik) dapat dilakukan karena perbedaan kelarutan
kedua pelarut cukup besar.
2. Harga KD Iod dalam sistem air kloroform sebesar 6,8667.
XII. Daftar pustaka
Azizah, Utiya. dkk. 2014.Panduan Praktikum Mata Kuliah Kimia Analitik
II:Dasar-Dasar Pemisahan Kimia. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya.
Svehla, G. 1979. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. Edisi Kelima. Terjemahan oleh Ir. L. Setiono dan Dr. A.
Hadyana Pudjaatmaka. 1985. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.
Underwood, A. L. dkk. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.
XIII.
1.
2.
3.

Jakarta: Erlangga.
Pertanyaan
Apa perbedaan KD dan D ?
Bila mana harga KD sama dengan D ?
Bagaimana mencari harga hubungan antara KD dan D untuk asam
lemah HB? Asam lemah HB yang mengalami dimerisasi dalam suatu

pelarut organik ?
4. Bagaimana mencari hubungan antara KD dan D untuk basa lemah
yang terionisasi dalam pelarut air dan tidak bereaksi dalam pelarut
organic ?
5. Buktikan bahwa dengan ekstrasi berganda akan dihasilkan persen
terekstrak lebih besar daripada satu kali ekstraksi !

JAWABAN
1. Perbedaan KD dan D:
Koefisien Distribusi (KD) merupakan perbandingan konsentrasi zat
terlarut dalam fase air dan fase organik saat tidak ada interaksi antara
zat terlarut dan pelarutnya. Sedangkan angka banding distribusi (D)

adalah perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam fase air dan organic
saat zat terlarut berinteraksi dengan pelarutnya.
Secara matematis KD dinyatakan dengan:
konsantrasi solut dalam fasa organik
KD =
konsentrasi solut dalam fasa air
Sedangkan untuk D dinyatakan dengan :
D

konsentrasitotal zat terlarut dalam fasa organik


konsentrasi total zat terlarut dalam fasa air
2. Nilai KD akan sama dengan D jika:
Terjadi pada kondisi ideal dan tidak terjadi asosiasi, disosiasi atau
polimerisasi pada solute.
3. Misalnya, untuk asam lemah HB, asam tersebut monomerik dalam
kedua fase, dan anion asam tidak menembus fase organik maka:

[HB] org
[HB] aq [B - ] aq
.(i)

KDHB

[ HB] org
[HB] aq
(ii)

Ka

[ H 3O ]Org
[HB] aq
..(iii)

[ B]aq Ka

[ HB ]aq
[ H 3O]aq
(iv)

persamaan vi di subtitusi ke persamaan i

[HB] org
[HB] aq (Ka[HB]

aq

/[H 3 O aq )

[HB] org
[HB] aq{1 [ Ka /[ H 3O] aq }
KDHB
1 (Ka/[H 3 O ])

4. Bagaimana mencari hubungan antara KD dan D untuk basa lemah


yang terionisasi dalam pelarut air dan tidak breaksi dalam pelarut
organik ?
HB + H2O H3O+ + B+
H 3 O

K aHB=

+
H 3 O
(i)

o [ HB ] o
DHB =
a [ HB ] a

[ HB ] a +
[ HB ]
D= o

. (ii)

.. (iii)

Persamaan i disubstitusikan dalam persamaan iii


H 3 O

K [ HB ]
[ HB ]a + a a
[ HB ] o
D=

+
H 3 O

[ a )
K
1+ a
[ HB ] a
[ HB ] o

.. (4)

Persamaan ii disubstitusikan ke dalam persamaan iv sehingga :

H 3 O

K
1+ a
K
D= D
5. Buktikan bahwa dengan ekstraksi berganda akan dihasilkan persen
terekstrak lebih besar daripada satu kali ekstraksi!
Ekstraksi ganda akan menghasilkan persen terekstrak lebih besar, hal itu
dapat dibuktikan melalui praktikum maupun perhitungan. Misalnya pada
praktikum kali ini, perbandingan antara penggunaan kloroform sekaligus 5
ml, dan penggunaan kloroform dibagi menjadi 5 = @ 1 ml kloroform.
Perbandingannya, dapat diketahui dari perhitungan dengan menggunakan
rumus
f aq=

Vaq
)
Vaq + KDA Vorg

untuk 5 ml kloroform dalam sekali ekstraksi


f aq =

10 mL
10 mL +6,8667 x 5 mL

= 0,22

f aq = 22 %
f o = 78%
untuk 5 ml kloroform dalam 5 kali ekstraksi, @ 1 mL
f aq =

10 mL
)
10 mL +6,8667 x 1 mL

= 0,073
f aq = 7,3 %
f o = 92,7 %
Dari perhitungan di atas maka dapat diketahui bahwa persen terekstrak
ekstraksi berganda (92,7%) lebih banyak daripada satu kali ekstraksi
(78%).

Lampiran
Perhitungan
Diketahui:

N I2 = 0,1 N
N Na2S2O3 = 0,011 N
Volume sebelum ekstraksi = V1 = 12,2 ml
V2= 12,11 ml
V3 = 12,2 ml
Volume sesudah ekstraksi = V1 = 2,7 ml
V2= 2,7 ml
V3 = 2,9 ml

Perhitungan untuk sebelum ekstraksi


1. V1 = 12,2 ml
= mmolek S2O32-

Mmolek I2

= N. V1
= 0,011 N . 12,2 ml
= 0,1342 mmolek
2. V2= 12,11 ml
= mmolek S2O32-

Mmolek I2

= N. V2
= 0,011 N . 12,1 ml
= 0,1331 mmolek
3. V3 = 12,2 ml
Mmolek I2

= mmolek S2O32= N. V1
= 0,011 N . 12,2 ml

= 0,1342 mmolek
Mmolek I2 rata-rata =

mmolek 1+mmolek 2+ mmolek 3


3

0,1342+ 0,1331+ 0,1342


3

0,4015
3

= 0,13383 mmolek
Perhitungan untuk sesusah ekstraksi
1. V1 = 2,7 ml
Mmolek I2

= mmolek S2O32= N. V1
= 0,011 N . 2,7 ml
= 0,0297 mmolek

2. V2= 2,7 ml
Mmolek I2

= mmolek S2O32= N. V2
= 0,011 N . 2,7 ml
= 0,0297 mmolek

3. V3 = 2,9 ml
Mmolek I2

= mmolek S2O32= N. V1
= 0,011 N . 2,9 ml
= 0,0319 mmolek

Mmolek I2 rata-rata =

mmolek 1+mmolek 2+ mmolek 3


3

0,0297+0,0297+0,0319
3

0,0913
3

= 0,0304 mmolek

Penentuan I2 Organik
Mmolek I2 Organik = I2 awal I2 sisa
= (0,1338 0,0304) mmolek
= 0,1034 mmolek
[I2] organik

mmolek I 2 organik
volume kloform

0,1034 mmolek
5 ml

= 0,0206 M
[I2] air

mmolek I 2 sisa
volume iod

0,0304 mmolek
10 ml

= 0,0030 M
KD =

[ I 2 ] Organik
[ I 2 ] air
0,0206 M
0,0030 M

= 6,8667

Lampiran

Larutan iodium
Percobaan untuk menentukan volume sebelum ekstrasi

Larutan iodium (10mL) + H2SO4 (1mL).

Dititrasi dengan Na2S2O3 0,01 M

+ larutan kanji (2-3 tetes)

Sampai warna biru hilang

Percobaan untuk menentukan volume setelah ekstrasi


Larutan iodium (10mL) + kloroform (5mL)

Sebelum dikocok
Lapisan organik = warna ungu
Lapisan air = warna cokelat

Lapisan air + H2SO4


Dititrasi dengan Na2S2O3 0,01 M

Sesudah dikocok
Lapiasan organik = warna ungu
Lapisan air = warna kuning

+ larutan kanji

Sampai warna biru hilang