Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Beraktivitas merupakan hal yang mutlak dilakukan semua makhluk hidup.
Terlebih lagi bagi manusia yang aktivitasnya lebih beragam dibandingkan
makhluk hidup yang lain. Tulang, otot, dan sendi merupakan suatu komponen
yang sangat penting dalam beraktivitas. Apabila terdapat kelainan pada tiga
komponen tersebut maka akan berpengaruh pada aktivitas. Fungsi anggota badan
(ekstremitas) manusia bagian atas yang terdiri atas lengan dan tangan merupakan
bagian yang sangat penting bagi penunjang aktivitas. Dalam kehidupan seharihari didapati ada yang mengalami masalah pada ekstremitas bagian atas terutama
disekitar bahu, yaitu tidak dapat melakukan aktivitas sepenuhnya dengan keadaan
tertentu pada ekstremitas atasnya karena suatu penyebab.1,2
Frozen shoulder yang menyakitkan dan membuat frustasi. Rasa sakit yang
terkait dengan frozen shoulder cenderung memprovokasi orang-orang dengan
kondisi ini menjadi overprotective dan membatasi penggunaan bahu mereka.3
Frozen shoulder merupakan rasa nyeri yang mengakibatkan keterbatasan lingkup
gerak sendi (LGS) pada bahu. Mungkin timbul karena adanya trauma, mungkin
juga timbul secara perlahan-lahan tanpa tanda-tanda atau riwayat trauma.
Keluhan utama yang dialami adalah nyeri dan penurunan kekuatan otot
penggerak sendi bahu dan keterbatasan LGS terjadi baik secara aktif atau pasif.
Frozen shoulder secara pasti belum diketahui penyebabnya. Namun diduga
kemungkinan terbesar penyebabnya antara lain tendinitis, rupture rotator cuff,
capsulitis, post immobilisasi lama, trauma serta diabetes mellitus.4 Respon
autoimmunal terhadap rusaknya jaringan lokal yang diduga menyebabkan
penyakit tersebut. Frozen shoulder ditandai dengan adanya keterbatasan luas
gerak sendi glenohumeral yang nyata, baik gerakan aktif maupun pasif. Hal ini
adalah suatu gambaran klinis yang dapat menyertai tendonitis, infark miokard,
diabetus mellitus, fraktur immobilisasi lama, atau redukulus cervicalis.5
Frozen shoulder terjadi 2% dari orang Amerika. Hal itu terjadi lebih sering
pada bahu yang kurang dominan digunakan, meskipun alasan kurang dipahami.
Selain itu, lebih umum terjadi pada wanita dan pada orang yang berusia antara
40-60 tahun.3
B. Rumusan Masalah
1

1. Bagaimana anatomi pada shoulder joint ?


2. Bagaimana definisi, etiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, mendiagnosis,
serta patofisiologi frozen shoulder ?
3. Bagaimana penatalaksanaan serta program rehabilitasi medik pada frozen
shoulder ?
C. Tujuan
1. Mengetahui anatomi shoulder joint.
2. Mengetahui definisi, etiologi, manifestasi klinis, cara mendiagnosis, serta
patofisiologi frozen shoulder.
3. Mengetahui penatalaksanaan serta program rehabilitasi medik pada frozen
shoulder.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi
1. Shoulder Joint
Gerakan-gerakan yang terjadi di gelang bahu dimungkinkan oleh sejumlah
sendi yang saling berhubungan erat, misalnya sendi kostovertebral atas, sendi
akromioklavikular,

sendi

sternoklavikular,

permukaan

pergeseran

skapulotorakal dan sendi glenohumeral atau sendi bahu. Gangguan gerakan di


dalam sendi bahu sering mempunyai konsekuensi untuk sendi-sendi yang lain
di gelang bahu dan sebaliknya. Sendi bahu dibentuk oleh kepala tulang
humerus dan mangkok sendi, disebut cavitas glenoidalis. Sendi ini
menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti menyisir, menggaruk
2

kepala, dan sebagainya atas kerja sama yang harmonis dan simultan dengan
sendi- sendi lainnya. Cavitas glenoidalis sebagai mangkok sendi bentuknya
agak cekung tempat melekatnya kepala tulang humerus dengan diameter
cavitas glenoidalis yang pendek kira-kira hanya mencakup sepertiga bagian
dan kepala tulang sendinya yang agak besar, keadaan ini otomatis membuat
sendi tersebut tidak stabil namun paling luas gerakannya.1,2

Otot-otot pada pergerakan bahu :6


a. Fleksi M. deltoideus anterior & m. coracobrachialis.
b. Ekstensi M. deltoideus posterior, m. teres major, dan m. latissimus dorsi.
c. Abduksi M. deltoideus (middle), m. supraspinatus, m. pectoralis major,
dan m. latissimus dorsi.
d. Eksorotasi M. infraspinatus & m. teres minor.
e. Endorotasi M. Subscapularis, m. pectoralis major, m. latissimus dorsi,
dan m. teres major.
Beberapa karakteristik pada sendi bahu, yaitu :2
a. Perbandingan antara permukaan mangkok sendinya dengan kepala sendinya
tidak sebanding.
b. Kapsul sendinya relatif lemah.
c. Otot-otot pembungkus sendinya relatif lemah, seperti otot supraspinatus,
infrapinatus, teres minor dan subscapularis.
d. Gerakannya paling luas.
e. Stabilitas sendinya relatif kurang stabil.
Dengan melihat keadaan sendi tersebut, maka sendi bahu lebih mudah
mengalami gangguan fungsi dibandingkan dengan sendi lainnya.1
3

2. Kapsul Sendi
Kapsul sendi terdiri atas 2 lapisan (Haagenars): 1
a. Kapsul Sinovial (lapisan bagian dalam) dengan karakteristik mempunyai
jaringan fibrokolagen agak lunak dan tidak memiliki saraf reseptor dan
pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan cairan sinovial sendi dan sebagai
transformator makanan ke tulang rawan sendi. Bila ada gangguan pada
sendi yang ringan saja, maka yang pertama kali mengalami gangguan
fungsi adalah kapsul sinovial, tetapi karena kapsul tersebut tidak memiliki
reseptor nyeri, maka kita tidak merasa nyeri apabila ada gangguan,
misalnya pada artrosis sendi.
b. Kapsul Fibrosa
Karakteristiknya berupa jaringan fibrous keras dan memiliki saraf reseptor
dan pembuluh darah.Fungsinya memelihara posisi dan stabititas sendi,
memelihara regenerasi kapsul sendi. Kita dapat merasakan posisi sendi dan
merasakan nyeri bila rangsangan tersebut sudah sampai di kapsul fibrosa.
3. Kartilago
Kartilago atau ujung tulang rawan sendi berfungsi sebagai bantalan sendi,
sehingga tidak nyeri sewaktu penderita berjalan.Namun demikian pada
gerakan tertentu sendi dapat nyeri akibat gangguan yang dikenal dengan
degenerasi kartilago.1
4

B. Definisi
Frozen shoulder merupakan penyakit dengan karakteristik nyeri dan
keterbatasan gerak, dan penyebabnya idiopatik yang sering dialami oleh orang
berusia 40-60 tahun dan memiliki riwayat trauma sering kali ringan.4
Frozen shoulder adalah suatu gangguan bahu yang sedikit atau sama sekali
tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memperlihatkan kelainan pada foto rontgen
tetapi menunjukkan adanya pembatasan gerak.5,7
Frozen shoulder dapat diidentikkan dengan capsulitis adhesif dan periarthritis
yang ditandai dengan keterbatasan gerak baik secara pasif maupun aktif pada
semua pola gerak.5,7

C. Etiologi Frozen Shoulder


Etiologi dari frozen shoulder masih belum diketahui dengan pasti. Adapun
faktor predisposisinya antara lain periode immobilisasi yang lama, akibat trauma,
over use, injuries atau operasi pada sendi, hyperthyroidisme, penyakit
cardiovascular, clinical depression dan Parkinson.3
Adapun beberapa teori yang dikemukakan AAOS (American Academy of
Orthopaedic Surgeons) tahun 2007 mengenai frozen shoulder, teori tersebut
adalah :8
1. Teori hormonal
Pada umumnya Capsulitis adhesive terjadi 60% pada wanita bersamaan
dengan datangnya menopause.
2. Teori genetik
Beberapa studi mempunyai komponen genetik dari Capsulitis adhesive,
contohnya ada beberapa kasus dimana kembar identik pasti menderita pada
saat yang sama.
3. Teori auto immuno
Diduga penyakit ini merupakan respon auto immuno terhadap hasil-hasil
rusaknya jaringan lokal.
4. Teori postur
Banyak studi yang belum diyakini bahwa berdiri lama dan berpostur tegap
menyebabkan pemendekan pada salah satu ligamen bahu.
D. Klasifikasi3
Terdapat dua klasifikasi frozen shoulder :
1. Frozen Shoulder Primer
Termasuk frozen shoulder yang tidak bisa diidentifikasi penyebabnya.
2. Frozen Shoulder Sekunder
Termasuk frozen shoulder karena trauma, pembedahan atau suatu penyakit.

E. Patofisiologi
Patofisiologi frozen shoulder masih belum jelas, tetapi beberapa penulis
menyatakan bahwa dasar terjadinya kelainan adalah imobilisasi yang lama. Setiap
nyeri yang timbul pada bahu dapat merupakan awal kekakuan sendi bahu. Hal ini
sering timbul bila sendi tidak digunakan terutama pada pasien yang apatis dan
pasif atau dengan nilai ambang nyeri yang rendah, di mana tidak tahan dengan
nyeri yang ringan akan membidai lengannya pada posisi tergantung. Lengan yang
imobil akan menyebabkan stasis vena dan kongesti sekunder dan bersama-sama
dengan vasospastik, anoksia akan menimbulkan reaksi timbunan protein, edema,
eksudasi, dan akhirnya reaksi fibrosis. Fibrosis akan menyebabkan adhesi antara
lapisan bursa subdeltoid, adhesi ekstraartikuler dan intraartikuler, kontraktur
tendon subskapularis dan bisep, perlekatan kapsul sendi.2
Penyebab frozen shoulder mungkin melibatkan proses inflamasi. Kapsul
yang berada di sekitar sendi bahu menebal dan berkontraksi. Hal ini membuat
ruangan untuk tulang humerus bergerak lebih kecil, sehingga saat bergerak terjadi
nyeri.9
Penemuan makroskopik dari patofisiologi dari frozen shoulder adalah
fibrosis yang padat dari ligament dan kapsul glenohumeral. Secara histologik
ditemukan prolifrasi aktif fibroblast dan fibroblas tersebut berubah menjadi
miofibroblas sehingga menyebabkan matriks yang padat dari kolagen yang
berantakan yang menyebabkan kontraktur kapsular. Berkurangnya cairan
synovial pada sendi bahu juga berkontribusi terhadap terjadinya frozen shoulder.2
Pendapat lain mengatakan inflamasi pada sendi menyebabkan thrombine dan
fibrinogen membentuk protein yang disebut fibrin. Protein tersebut menyebabkan
penjedalan dalam darah dan membentuk suatu substansi yang melekat pada sendi.
Perlekatan pada sekitar sendi inilah yang menyebabkan perlekatan satu sama lain
sehingga menghambat full ROM. Kapsulitis adhesiva pada bahu inilah yang
disebut frozen shoulder.2
F. Manifestasi Klinis
Penderita datang dengan keluhan nyeri dan ngilu pada sendi serta gerakan
sendi bahu yang terbatas kesegala arah, terutama gerakan abduksi, sehingga
mengganggu lingkup gerak sendi bahu. Rasa nyeri akan meningkat intensitasnya
dari hari ke hari. Bersamaan dengan hal itu terjadi gangguan lingkup gerak sendi
bahu. Penyembuhan terjadi lebih kurang selama 6-12 bulan, dimana lingkup
6

gerak sendi bahu akan meningkat dan akhir bulan ke 18 hanya sedikit terjadi
keterbatasan gerak sendi bahu.3
Frozen shoulder dibagi dalam 3 tahapan, yaitu : 3,9,10
a. Pain ( freezing )
Ditandai dengan adanya nyeri hebat bahkan saat istirahat, gerak sendi bahu
menjadi terbatas selama 2-3 minggu dan masa akut ini berakhir sampai 10
-36 minggu.
b. Stiffness ( frozen )
Ditandai dengan rasa nyeri saat bergerak, kekakuan atau perlengketan yang
nyata dan keterbatasan gerak dari glenohumeral yang diikuti oleh
keterbatasan gerak skapula. Fase ini berakhir 4-12 bulan.
c. Recovery (thawing)
Pada fase ini tidak ditemukan adanya rasa nyeri dan tidak ada sinovitis tetapi
terdapat keterbatasan gerak karena perlengketan yang nyata. Fase ini
berakhir selama 6-24 bulan atau lebih.

G. Diagnosis2
1. Anamnesis
Pada penderita didapatkan keluhan nyeri hebat dan atau keterbatasan
lingkup gerak sendi (LGS). Penderita tidak bisa menyisir rambut, memakai
baju, menggosok punggung waktu mandi, atau mengambil sesuatu dari saku
belakang. Keluhan lain pada dasarnya berupa gerakan abduksi-eksternal rotasi,
abduksi-internal rotasi, maupun keluhan keterbatasan gerak lainnya.
2. Pemeriksaan Fisik
Frozen shoulder merupakan gangguan pada kapsul sendi, maka gerakan
aktif maupun pasif terbatas dan nyeri. Nyeri dapat menjalar ke leher lengan
7

atas dan punggung. Perlu dilihat faktor pencetus timbulnya nyeri. Gerakan
pasif dan aktif terbatas, pertama-tama pada gerakan elevasi dan rotasi interna
lengan, tetapi kemudian untuk semua gerakan sendi bahu.
Tes appley scratch merupakan tes tercepat untuk mengevaluasi lingkup
gerak sendi aktif pasien. Pasien diminta menggaruk daerah angulus medialis
skapula dengan tangan sisi kontralateral melewati belakang kepala. Pada
Capsulitis adhesive pasien tidak dapat melakukan gerakan ini. Bila sendi dapat
bergerak penuh pada bidang geraknya secara pasif, tetapi terbatas pada gerak
aktif, maka kemungkinan kelemahan otot bahu sebagai penyebab keterbatasan.
Nyeri akan bertambah pada penekanan dari tendon yang membentuk
muskulotendineus rotator cuff. Bila gangguan berkelanjutan akan terlihat
bahu yang terkena reliefnya mendatar, bahkan kempis, karena atrofi otot
deltoid, supraspinatus dan otot rotator cuff lainnya.

H. Penatalaksanaan
1. Medikamentosa3,9
Untuk mengurangi rasa nyeri diberikan analgesik dan obat anti inflamasi
nonsteroid. Pemakaian relaksan otot bertujuan untuk mengurangi kekakuan
dan

nyeri

dengan

menghilangkan

spasme

otot.

Beberapa

penulis

menganjurkan pemberian suntikan kortikosteroid ditambah anestesi lokal pada


rotator cuff dan intra artikuler untuk menghilangkan nyeri secara cepat. Harus
diperhatikan kemungkinan ruptur dari tendon pada penyuntikan tersebut, maka
penyuntikan tidak boleh lebih dari 2 kali dalam 1 tahun. Dasar penggunaan
kortikosteroid pada frozen shoulder dikaitkan dengan kemampuan mengurangi
edema atau inflamasi saraf.
2. Istirahat/terapi dingin11,12
Pada nyeri bahu yang bersifat akut, dimana proses pembengkaan masih
bekerja, diperlukan dimmobilisasi sampai proses pembengkaan berhenti.
Selama bahu tidak digerakkan untuk menghentikan pembengkaan, diberikan
kompres dingin atau es dan obat anti bengkak dan nyeri.
3. Terapi panas11,12
8

Diberikan beberapa hari sesudah proses pembengkaan berhenti atau pada


bahu yang nyeri tanpa pembengkaan pada jaringan otot yang spasme. Terapi
panas bertujuan :
a. Memperbaiki sirkulasi darah dan metabolisme setempat
b. Mengurangi rasa nyeri
c. Relaksasi terutama untuk otot yang spasme
Terapi panas yang digunakan adalah :
Terapi panas superficial : HCP, sinar infra merah
Macam-macam sinar infrared:
Luminos: diberikan pada penderita dengan kondisi akut
Non Luminos: diberikan pada penderita dengan kondisi kronis
Dosis :

o Jarak lampu dengan punggung bawah antara 50-75 cm


o Pada kondisi akut durasi dan frekuensinya 10-15 menit/1 x 1/hari.
Terapi panas dalam :7,11
MWD (Micro Wave Diathermy)
Terapi modalitas dimana sumber energinya menggunakan
gelombang elektromagnetik, dengan panjang gelombang 12,25 cm
dan frekuensinya 2.450 mc/detik.
Dosis : jarak emitor dengan kulit pada punggung bawah antara 1020 cm, intensitas 200 watt, tetapi untuk semua kasus tergantung
toleransi penderita. Durasi dan frekuensinya 10-30 menit/hari
( kondisi akut kurang dari 10 menit).
SWD (Short Wave Diathermy)
Terapi modalitas dimana sumber energinya menggunakanarus listrik
dengan frekuensi tinggi yaitu 27,33 MHz dan panjang gelombang
11 meter. Elektrode yang digunakan dengan kondensor (pad).
Dosis : Kondisi akut intensitasnya kurang dari 40 mA (dibawah
sensasi panas), durasi dan frekuensinya 2,5-10 menit/hari. Kondisi
kronis intensitasnya antara 40-60 mA (panas comfortable) durasi
dan frekuensinya 20 menit/hari.
USD (Ultra Sound Diathermy)
Terapi modalitas dimana sumber energinya berasal dari gelombang
suara dengan frekuensi tinggi antara 0,8-1 MHz dan panjang
gelombang 1,5 mm.
Dosis : Kondisi akut intensitasnya 0,25-0,5 W/cm2 durasi 2-3
menit. Apabila tidak ada perbaikan intensitasnya dinaikkan
0,8W/cm2, durasinya 4-5 menit. Kondisi kronis intensitasnya
9

2W/cm2, durasinya 5-10 menit, apabila tidak ada perbaikan


intensitasnya dinaikkan maksimal 3 W/cm2, durasi 10 15 menit,
jika tidak ada perbaikan sampai 6x terapi, maka terapi dihentikan
mungkin ada penyakit lain.
4. Traksi leher11,12
Tujuan traksi ialah relaksasi spasme otot, meluruskan lordosis dari leher,
melebarkan foramen intervertebral, melepaskan permukaan faset dan ligamenligamen. Traksi yang digunakan adalah traksi leher statik dan intermitten dari
listrik. Beban traksi diberikan mulai dari sepertujuh sampai dengan
sepersepuluh dari berat badan total atau sesuai dengan toleransi penderita.
Waktu yang diberikan 10-20 menit. Pada kondisi akut, traksi diberikan
1x/hari/seri (7-10 x). Apabila nyeri bertambah pemberian beban dikurangi atau
traksi ditunda pemberiannya.
5. Massage sendi bahu3
Tujuannya adalah memperbaiki

sirkulasi

darah

dan

permukaan

metabolisme setempat, melemaskan otot-otot yang spasme, mengurangi nyeri,


melepaskan perlengketan antar otot dan kapsuler.
6. Manipulasi dan mobilisasi3
Manipulasi dan mobilisasi digunakan untuk mengembalikan gerakan sendi
bahu yang terganggu. Manipulasi dikerjakan dengan gerakan atau dorongan
dengan tiba-tiba dalam amplitudo kecil. Mobilisasi dikerjakan dengan gerakan
pasif bergoyang dua atau tiga kali perdetik.

Manipulasi
7. Terapi latihan: di rumah sakit7,11

Mobilisasi
10

Latihan LGS dengan menggunakan: over head pulleys shoulderwell, finger


ladder, dan lain-lain. Latihan yang dapat dilakukan di rumah misalnya latihan
codman, latihan tongkat, dan lain-lain.
I. Prognosis1,2
Pasien dengan frozen shoulder bisa sembuh, namun sebagian besar penderita
frozen shoulder kehilangan sebagian fungsi gerak dari sendi bahu.
Program Terapi Latihan pada Penderita Nyeri Bahu
Terapi latihan yang dimaksudkan adalah latihan khas (specific exercises). Tujuan
pokok terapi latihan pada nyeri bahu adalah :7,11

Mengurangi sakit dan spasme otot


Memelihara fungsi sendi bahu
Menghilangkan gangguan fungsi sendi bahu yang terjadi atau meningkatkan

fungsi sendi semaksimal mungkin.


1) Terapi latihan pada penderita nyeri bahu stadium akut7,8
Dalam stadium ini gejala peradangan stadium akut yang berupa keluhan
nyeri (nyeri khas, nyeri bahu, nyeri terulur dan nyeri kontraksi), spasme otot dan
gangguan fungsi tampak menonjol. Dalam stadium ini, bahu yang sakit perlu
mendapatkan istirahat/mobilisasi karena penggunaan sendi bahu pada stadium ini
akan

menyebabkan

memberatnya

gejala

dan

kerusakan

sendi.

Untuk

mengistirahatkan sendi bahu yang nyeri baisanya dipakai gendongan. Tetapi tidak
menutup kemungkinan untuk mengistirahatkan sendi bahu dengan cara lain,
misalnya pemasangan gips sirkuler dengan pemberian posisi optimum yaitu fleksi
300 - 400, abduksi 450 dan internal rotasi 450.
Pemberian istirahat lama pada sendi bahu yang sakit sedapat mungkin
dihindarkan karena pemberian istirahat lama dengan alasan apapun akan
memungkinkan terjadinya gangguan fungsi bahu yang dapat berupa pembatasan
jarak gerak sendi dan atau atropi otot sekitar bahu yang justru akan memperburuk
keadaan. Tujuan terapi latihan pada stadium akut ini adalah:
Mengurangi nyeri dan spasme otot
Mencegah terjadinya pembatasan jarak gerak sendi dan mencegah atrofi
otot dengan cara memberikan latihan pasif, latihan aktif dengan bantuan
(assisted) dan kontraksi statik/isometrik.
i. Latihan Pasif
Sebelum program latihan dimulai perlu diberikan penjelasan
kepada penderita tentang tujuan pelaksanaan latihan agar terjalin
11

kerjasama yang baik antara penderita dengan fisioterapis. Arah


gerakan ke semua arah gerak sendi bahu dan terutama pada arah
gerak yang terhambat karena nyeri atau faktor lain. Luas gerak sendi
disesuaikan dengan toleransi penderita sampai batas nyeri yang
tertahan oleh penderita. Latihan pasif juga dapat dilakukan dengan
latihan anjuran yang sangat populer (codman pendular exercise).
Penderita berdiri di depan meja dan membungkuk ke depan.
Lengan yang sakit tergantung bebas (rileks) pada sendi bahu
(glenohumeracle) tanpa adanya kontraksi otot. Badan digerakkan
sehingga lengan terayun bebas ke depan dan ke belakang, ke samping
dan rotasi lengan yang sakit terayun pasif. Pemberat beban harus
digantungkan pada pergelangan tangan seberat 1- 2 kg.
Gerakan pasif harus dikerjakan dengan perlahan- lahan, makin
meningkat dan dipertahankan selama mungkin dalam batas toleransi
penderita. Gerakan dengan kuat kejut dan cepat merupakan
kontraindikasi karena dapat merusak kapsul sendi. Dengan cara
tersebut, pengukuran yang berlebihan dapat dihindarkan dan
penambahan luas gerak sendi dapat tercapai sedikit demi sedikit.

12

ii.

Latihan dengan bantuan (active assisted)


Latihan ini biasanya lebih menguntungkan daripada latihan pasif
karena adanya kontraksi secara sadar yang berarti penderita ikut
mengontrol gerakan yang terjadi sampai batas toleransinya, sehingga
penderita merasa lebih aman dan memungkinkan timbulnya
ketegangan otot karena takut, dapat dihindari serta gerakan lebih
mudah dilakukan. Arah gerakan dan luas gerak sendi serupa dengan

iii.

saat latihan pasif.


Kontraksi isometric
Diberikan pada otot sekitar sendi bahu yang terkena terutama otototot yang bila dikontraksikan tidak menimbulkan nyeri. Intensitas
kontraksi disesuaikan dengan toleransi penderita. Latihan dapat
dikerjakan kira- kira 3 4 menit tiap jam dan disesuaikan juga
dengan keadaan penderita untuk memungkinkan latihan dapat
dikerjakan dengan baik. Setelah diberikan tindakan pengobatan
dengan obat-obatan atau modalitas fisioterapi yang lain untuk
mengurangi nyeri dan apasme otot. Modalitas yang digunakan pada
stadium akut ini antara lain adalah: terapi USD (Ultra Sound
Diatermy) yang mengurangi spasmeyang diberikan dalam waktu 10
30 menit.
13

2) Terapi latihan pada nyeri bahu stadium kronis2,3


Pada penderita nyeri bahu stadium kronis sering dijumpai adanya gangguan
fungsi sendi bahu yang berupa pembatasan luas gerak sendi dan atrofi otot yang
mencolok, disamping keluhan nyeri yang telah banyak berkurang. Hal ini terjadi
karena faktor kurang perhatian atau kurangnya keberhasilan dalam usaha
pencegahan. Tujuan terapi latihan pada stadium kronis ini adalah:
Meningkatkan luas gerak sendi bahu
Pembatasan luas gerak sendi pada bahu biasanya disebabkan oleh terjadinya
pemendekan dan hilangnya elastisitas jaringan lunak sendi (kapsul sendi)
bahu atau adanya perlengketan antar jaringan akibat adanya reaksi jaringan
fibrosa. Pada prinsipnya, untuk meningkatkan luas gerak sendi harus
dilakukan penguluran struktur yang memendek serta mengembalikan
jaringan yang kehilangan elastisitas dan melepaskan perlengketan antar
jaringan yang ada dengan latihan pasif, latihan aktif atau kombinasi
keduanya. Pelaksanaan latihan sebagai berikut :
o Latihan pasif
Sebelum menyusun program latihan pasif pada nyeri stadium kronis
ini, perlu diadakan pemeriksaan secara aktif tentang keadaan sendi
bahu, yaitu:
Sifat nyeri : terus menerus, kadang-kadang, atau hanya saat
tertentu
Gangguan fungsi yang ada
Pemeriksaan luas gerak sendi : secara aktif atau pasif
Isometris melawan tahanan
Codman Pendular Exercise pada mulanya adalah latihan ayunan pasif
tetapi bertujuan untuk menambahkan luas gerak sendi. Latihan
dimodifikasi menjadi active pendular exercise, dengan menambah
beban, latihan ini harus benar-benar diajarkan kepada penderita dan
dapat dilakukan dengan benar. Gerakan dimulai dari amplitudo yang
kecil meningkat sampai terasa latihan pada struktur yang memendek
atau lengket. Gerak ayunan diarahkan ke arah gerak yang mengalami
pembatasan gerakan abduksi dan eksternal rotasi.
o Latihan aktif
Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan luas gerak sendi. Latihan
harus dikerjakan dengan teknik yang benar, berulang-ulang teratur
dan berkesinambungan. Untuk itu perlu penderita diberikan
pengertian

dan

memahami

tujuan

dari

latihan

serta

cara
14

melakukannya. Penderita harus menyadari pentingnya program


latihan yang diprogramkan untuknya.
Memperkuat otot-otot bahu
Akibat immobilisasi yang lama, otot akan menjadi lebih kecil (atrofi) dan
kekuatannya berkurang/menurun. Pada orang sehat, immobilisasi total
selama 3 minggu menyebabkan penurunan kekuatan otot sebesar 50 % atau
rata- rata tiap hari 1, 3 3, 0 %. Kekuatan otot dapat diperbaiki dengan
latihan yang berulang-ulang mempergunakan kekuatan maksimum lebih dari
35 %, ketahanan otot dapat diperbaiki dengan kekuatan maksimum 20 40
% dan pengulangan yang relatif lebih besar. Latihan penguatan lebih
ditekankan pada beban yang diberikan, sedangkan latihan untuk menambah
daya tahan lebih ditekankan pada pengulangan/repetisi. Tahanan yang
dipakai dapat berupa pemberat atau secara manual, sedangkan program
latihan di rumah sakit disesuaikan dengan fasilitas yang ada, seperti stick,
finger ladder, over head pulley dan lain-lain, yang membantu menambah luas
gerak sendi bahu.
o Latihan dengan tongkat
Latihan ini cukup sederhana dan murah. Gerakan yang dianjurkan
adalah:
Pegang

tongkat

dengan

kedua

tangan,

menggantung

dimuka/depan.
Dengan siku lurus, gerakkan lengan ke atas kepala sejauh
limitasi sendi bahu memungkinkan.
Seperti gerakan di atas, tetapi gerakan tangan ke samping
kanan dan kiri. Perlu diingat bahwa gerakan berpusat di sendi
bahu.
Tongkat dipegang kedua tangan, diletakkan di belakang
kepala kemudian digerakkan naik-turun. Tangan, diletakkan
di belakang punggung bawah kemudian lakukan gerakan
menjauhi tubuh dan gerakkan ke atas dan ke bawah.

15

o Latihan dengan wall climbing


Shoulder Abduction
Penderita berdiri dengan bahu sakit disamping shoulder
abduction ladder atau dinding. Gerakan lengan abduksi dibantu
oleh gerakan jari II dan III yang memanjat dinding.
Shoulder Flexion
Penderita menghadap dinding/Wall Climbing Exercise. Gerakan
bahu fleksi dibantu oleh jari II dan jari III yang memanjat
dinding.
o Clinning bar
Penderita berdiri dengan kedua tangan memegang Clinning Bar
(Palang antara dua bingkai pintu) bar berada di atas dan belakang
kepala kemudian kedua lutut ditekuk, badan turun ke bawah.
o Overhead exercise
Dengan katrol ditempatkan di atas kepala, lengan mengalami
kelainan secara pasif dan dielevasi oleh lengan yang sehat atau
normal.
o Passive external rotation of shoulder
Penderita berdiri menghadap sudut dinding, kedua siku ditekuk.
Kedua

lengan

masing-masing

memegang

dinding

(push-up).

Permulaan latihan dengan kedua tangan lurus dengan dada kemudian


kedua tangan naik sampai lengan ekstensi penuh di atas kepala.
o Beberapa latihan untuk penderita nyeri bahu
Latihan A : Penderita tidur terlentang dengan siku di sisi tubuh dan
tangan mengarah ke atas. Eksternal rotasi secara aktif oleh pasien dan
secara pasif oleh terapis. Tahanan boleh diberikan jika lingkup gerak
memungkinkan. Latihan ini dapat dilakukan dengan posisi melawan
dinding.
Latihan B: Sama dengan latihan A dengan peningkatan abduksi
lengan.
Latihan C: Lengan di belakang kepala, gerakan siku ke belakang,
kearah lantai jika berbaring terlentang ; ke dinding jika berdiri.

16

BAB III
LAPORAN KASUS
I. Identitas Pasien :
Nama

: Bp. P

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 67 tahun

Pekerjaan

: Petani
17

Agama

: Islam

Status Pernikahan

: Sudah menikah

Alamat

: Plosorejo 05/03, Jagoan Sambi, Boyolali

No rekam medis

: 27.53.xx

Tanggal Pemeriksaan

: 29 Juni 2015

II. Anamnesis :
Dilakukan autoanamnesis dan alloanamnesis di Poliklinik Rehabilitasi Medik
RS Ortopedi Prof. DR. R Soeharso tanggal 29 Juni 2015.
Keluhan Utama
Nyeri pada bahu kanan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSO dengan keluhan nyeri pada bahu kanan dan gerakan
menjadi terbatas pada bahu tersebut. Keluhan itu dirasakan tiba-tiba dan sudah 1
bulan ini. Awal keluhan dirasakan pasien saat sulit mengkancingkan baju,
sehingga pasien memeriksakan di puskesmas terdekat. Kemudian pasien dirujuk
ke RSO pada awal mei 2015. Semenjak itu pasien sering kontrol 1 minggu sekali
hingga saat ini.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit serupa


Riwayat penyakit asma
Riwayat hipertensi
Riwayat penyakit jantung
Riwayat trauma
Riwayat DM

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluhan serupa


Riwayat penyakit asma
Riwayat penyakit hipertensi
Riwayat penyakit jantung
Riwayat penyakit DM

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

Riwayat pribadi

18

Riwayat alergi : Alergi debu (-), dingin(-), makanan (-), obat (-)
Riwayat aktivitas : Pasien bekerja sebagai petani, waktunya tidak menentu,

tetapi sering kali aktivitas macul dimulai pagi hingga siang hari.
Riwayat lingkungan sosial : Pasien merupakan tamatan SD yang pekerjaan

sehari harinya menjadi seorang petani.


Riwayat psikiatri : Tidak ada gangguan mental.

Pohon keluarga

Keterangan :
: Laki-laki

: Pasien

: Perempuan
Pasien merupakan kepala keluarga. Pasien memiliki seorang istri dan
memiliki 7 orang putra.
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien berusia 67 tahun dengan pekerjaan sebagai petani. Pasien merupakan
kepala keluarga dari istri dan 7 orang anaknya. Penghasilan pasien kurang lebih
1.000.000 - 1.500.000. Pendidikan pasien SD. Istri pasien juga bekerja sebagai
petani dengan penghasilan yang kurang lebih sama dengan pasien.
III.

Anamnesis sistemik

19

Sistem cerebrospinal

Gelisah (-), lemah (-), demam (-)

Sistem cardiovasculer

Akral hangat(+), sianosis(-), anemis(-), deg-degan(-)

Sistem respiratorius

Batuk (-), sesak nafas (-)

Sistem genitourinarius

BAK sulit (-), BAK sedikit (-), nyeri saat BAK (-)

Sistem gastrointestinal

Nyeri perut (-), mual (-), muntah (-), BAB sulit (-)

Sistem muskuloskeletal

Nyeri pada bahu kanan (+), gerakan yang sedikit


terbatas (+)

IV.

Pemeriksaan Fisik :
a. Status Generalis
Keadaan Umum : Cukup
Kesadaran

: Compos Mentis, GCS: E4V5M6

Vital Sign
TD

: 136/103 mmHg

Suhu

: 36,7C

: 88 kali/menit reguler, isi dan tegangan cukup

RR

: 18 kali/menit

Pemeriksaan Kepala
Kepala

: Mesosepal, simetris, rambut hitam

Mata

: Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Napas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), gangguan


fungsi pembauan (-)

Mulut

: bibir sianosis (-), stomatitis (-).

Telinga

: sekret (-), nyeri tekan tragus (-), gangguan fungsi pendengaran


(-)

Pemeriksaan Leher
Trachea di tengah, pembesaran kelenjar getah bening (-).
Pemeriksaan Thorax
Bentuk dada normochest, simetris, retraksi otot-otot respirasi (-),
pembesaran kelenjar limfe supraklavikular (-), infraklavikular (-).
Paru-Paru
20

Paru Depan
Inspeksi

: Simetris pengembangan , ketinggalan gerak (-/-), retraksi (-/-).

Palpasi

: Fremitus kanan kiri sama normal

Perkusi

: Sonor (+/+), batas paru hepar SIC VI dextra

Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) normal, rhonki (-/-), wheezing


(-/-)
Paru belakang
Inspeksi

: Simetris pengembangan , ketinggalan gerak (-/-), retraksi (-/-).

Palpasi

: Fremitus kanan kiri sama normal

Perkusi

: Sonor (+/+)

Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) normal, rhonki (-/-), wheezing


(-/-)
Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis teraba di SIC V 1 cm medial LMC sinistra , tidak

kuat angkat, thrill (-)


Perkusi

: Batas jantung kanan atas di SIC II Linea sternalis dextra


Batas jantung kanan bawah di SIC IV Linea sternalis dextra.
Batas jantung kiri atas di SIC II Linea Parasternalis Sinistra.
Batas jantung kiri bawah di SIC V 1 cm medial LMCS
Pinggang jantung di SIC III Linea Parasternalis sinistra
Kesan : batas jantung tidak melebar.

Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi

: distended (-), venektasi (-)

Auskultasi : Peristaltik (+)


Perkusi

: Timpani, pekak alih (-), undulasi (-)

Palpasi

: nyeri tekan (-), masa (-), hepar dan lien tidak teraba.

Pemeriksaan Ekstremitas
Superior

: atrofi (-/-)

Inferior

: atrofi (-/-)

Pemeriksaan neuromuskuler
Extremitas superior
Dextra
Sinistra

Extremitas inferior
Dextra
Sinistra
21

Kekuatan
Tonus
Reflek

3/3/3/3
Normal
Normal

5/5/5/5
Normal
Normal

5/5/5/5
Normal
Normal

5/5/5/5
Normal
Normal

fisiologis
Reflek

patologis
Sensibilitas

Normal

Normal

Normal

Normal

b. Status Lokalis

Look
Feel

Shoulder Joint Dekstra


Shoulder Joint Sinistra
Edem (-), deformitas (-)
Edrm (-), deformitas (-)
Nyeri tekan (+), spasme (+) Nyeri tekan (-), spasme (-)
Fleksi 0-90 ; Ekstensi 030

Movement

; Abduksi 0-70

Endorotasi

0-30

;
;

Eksorotasi 0-30 ; Apley

Normal

test (+) ; Drop arm test (-)

V. Diagnosis
Frozen Shoulder Dekstra
VI.

Diagnosis Banding :
1. Robekan rotator cuff
2. Tendinitis supraspinatus

VII.

Problem Rehabilitasi Medik


Impairment Nyeri pada shoulder joint dextra
Dissability Terdapat keterbatasan dalam lingkup gerak sendi (LGS)
bahu kanan.
Psikologi Penyesuaian diri terhadap kondisi tersebut.
Sosial ekonomi Penyesuaian diri terhadap pendapatan pekerjaan.

VIII. Terapi

Medikamentosa

Tidak diberikan medikametosa

Non medikametosa

Fisioterapi
o General exercise (GE) ROM Exercise
22

IX.

o IR
Okupasi terapi
o Activity daily living (ADL)
Ortotik Prostetik belum diperlukan
Terapi Bicara belum diperlukan
Terapi Sosial medik belum diperlukan
Terapi Psikologi belum diperlukan

Prognosis
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

Quo ad sanam

: dubia ad bonam

BAB IV
PROYEKSI KASUS
Telah diajukan kasus seorang laki-laki berumur 67 tahun, dengan diagnosis
frozen shoulder dextra. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik.
Dari alloanamnesis dan autoanamnesis didapatkan nyeri pada bahu kanan dan
gerakan menjadi terbatas pada bahu tersebut. Keluhan itu dirasakan tiba-tiba dan
sudah 1 bulan ini. Awal keluhan dirasakan pasien saat sulit mengkancingkan baju,
sehingga pasien memeriksakan di puskesmas terdekat. Kemudian pasien dirujuk ke
RSO pada awal mei 2015. Semenjak itu pasien sering kontrol 1 minggu sekali hingga
saat ini. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup, nyeri tekan serta
spasme pada musculus supraspinatus. Selain itu terdapat ROM yang terbatas.
Kemudian dilakukan Apley test menunjukkan hasil positif pada bahu kanan.
Diagnosis di atas sesuai dengan kepustakaan yang menyebutkan bahwa telah
terjadi keterbatasan pada lingkup gerak sendi bahu, sulit untuk melakukan aktivitas
sehari-hari seperti biasa seperti mengkancingkan baju. Kemudian pada pemeriksaan
ditemukan apley test positif pada bahu kanan.
Diagnosis banding penyakit ini adalah robeknya otot rotator cuff. Manifestasi
klinis pada kasus tersebut hampir sama dengan frozen shoulder. Diagnosis banding ini
23

dapat disingkirkan karena pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya drop arm
test. Diagnosa banding lainnya tendinitis supraspinatus. Hal tersebut menyerupai pada
pasien yaitu spasme serta nyeri tekan pada musculus supraspinatus. Akan tetapi hal
tersebut dapat disingkirkan karena pada tendinitis supraspinatus ROM masih bisa
bebas digerakkan.
Penatalaksanaan pada pasien ini tidak diberikan terapi medikametosa, karena
dirasa masih belum diperlukan bagi pasien dan pasien masih bisa menahan rasa nyeri
tersebut. Apabila medikamentosa diperlukan bisa diberi NSAID. Pasien ini diberikan
terapi fisik berupa fisioterapi dan okupasi terapi yang bertujuan melatih otot-otot yang
mengalami nyeri serta kaku pada bahu kanan tersebut. Selain itu diberikan terapi ADL
yang bertujuan supaya pasien dapat beraktivitas sebagai petani seperti biasanya.
Prognosis pasien ini baik, akan tetapi harus diikuti dengan exercise yang
dilakukan terus menerus untuk meningkatkan ROM pasien tersebut dan mencegah
terjadinya kontraktur.

24

BAB V
KESIMPULAN
1. Frozen shoulder dapat diidentikkan dengan capsulitis adhesif dan periarthritis
yang ditandai dengan keterbatasan gerak baik secara pasif maupun aktif pada
semua pola gerak.
2. Faktor predisposisi pada frozen shoulder antara lain periode immobilisasi yang
lama, akibat trauma, over use, injuries atau operasi pada sendi,
hyperthyroidisme, penyakit cardiovascular,clinical depression dan Parkinson.
3. Frozen sholder dibagi dalam 3 tahapan, yaitu: Pain, stiffness, recovery.
4. Penatalaksanaan pada frozen shoulder adalah medikamentosa, terapi, dan
pelatihan fisik.
5. Pelatihan fisik pada frozen shoulder dapat secara aktif maupun pasif dilihat
dari kekuatan otot (MMT) yang ada pasien.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Soeharyono. 2004. Sinkronisasi gerak persendian daerah gelang bahu pada gerak
abduksi lengan. Maj Fisioterapi 2004: 2(23).
2. Priguna, Sidharta. 2003. Sakit neuromuskuloskeletal dalam praktek umum.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.
3. William E. Morgan, DC & Sarah Ptthoff, DC. Managing the Frozen Shoulder.
Available online at : http://drmorgan.info/data/documents/frozen-shoulderebook.pdf [diakses tanggal 7 Juli 2015]
4. Brian R. Wolf, MD, MS. 2008. Frozen Shoulder. American Orthopaedic
Society

for

Sports

Medicine.

Available

online

at

https://www.sportsmed.org/uploadedFiles/Content/Patient/Sports_Tips/3ST
%20Frozen%20Shoulder%2008.pdf [diakses tanggal 7 Juli 2015]
5. David. Ring. 2009. Aprroach to The Patient with Shoulder Pain. In Primary Care
Medicine. Lippincott Williams and Wilkins.p:150.
6. Setianing, Retno., Kusumawati, K., Siswarni. 2011. Pelatihan Ketrampilan Medis
Pemeriksaan Muskuloskeletal Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik.
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta.
7. Djohan Aras. 2004. Penatalaksanaan fisioterapi pada frozen shoulder. Akfis:
Ujungpandang.
8. Keith, Strange. 2010. Passive Range of Motion and Codmans Exercise.
American Academy of Orthopaedic Surgeons.
9. Patient Information Guide Frozen Shoulder Syndrome (Adhesive Capsulitis) in
Seacoast

Orthopedics

&

Sports

Medicine.

Available

online

at

http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0CCoQFjA
C&url=http%3A%2F%2Forthodoc.aaos.org%2Fmobyparsons%2FPat
%2520Guide%2520Frozen
%2520Shoulder.doc&ei=4AabVaDLKcPx8gX2qb_YDg&usg=AFQjCNHCxmU
C6DBOpwuMS4ypPdiRcspYDw&bvm=bv.96952980,d.dGc [diakses tanggal 7
26

Juli 2015]
10. Brett Sanders, MD. 2003. Frozen Shoulder Adhesive Capsulitis.
Center For Sports Medicine and Orthopaedic 2415 McCallie Ave.
Available

online

at

http://sportmed.com/wp-

content/uploads/Frozen_Shoulder.pdf [diakses tanggal 7 Juli 2015]


11. Thomson, Ann M. 2001.Tidys physiotherapy, 12th ed, Butterworth-Heinemann,
2001. hal: 71.
12. Donatelli, Robert, Wooden, Micheal J. 1999. Orthopaedic Physical therapy.
Churchil

Livingstone Inc. hal: 160.

27