Anda di halaman 1dari 1081

TARIAN LIAR NAGA SAKTI

Oleh : Marshall
Pengantar dari Penulis
Kisah Para Naga di Pusaran Badai (KPNPB) Bagian III ini dengan sengaja diberi ju
dul: TARIAN LIAR NAGA SAKTI. Judul ini sebetulnya menggambarkan substansi kisah
dan cerita di Bagian terakhir dari Trilogi KPNPB ini. Meski dapat dibaca secara
terpisah sebagai sebuah Cerita Silat tersendiri, tetapi Kisah ini akan lebih bis
a diikuti dengan membaca Bagian I dan Bagian II yang masing-masing kami posting
di website ini (indozone.net) di bawah judul KISAH PARA NAGA DI PUSARAN BADAI.
Semua tokoh utama di KPNPB III (Tarian Liar Naga Sakti) ini adalah juga tokoh to
koh utama di Bagian I dan Bagian II. Selebihnya, alur cerita KPNPB III juga adal
ah lanjutan dan klimaks dari Bagian I dan Bagian II. Karena itu, bagi para pemba
ca KPNPB III ini, dianjurkan untuk membaca pendahuluan yang juga dimuat di websi
te ini. Kisah ini dimuat secara online hanya di indozone.net, dan tidak dimuat s
ecara online di website kisah silat lainnya. Kecuali jika ada para pembaca yang
upload kisah ini di website lainnya. Tetapi, saya pribadi selaku penulis cerita,
tidak memposting cerita ini secara online di website lainnya. Update kisah ini
dilakukan hanya di indozone.net.
Meskipun akan ada beberapa tokoh baru, tetapi fokus cerita masih tetap para Naga
Muda
Kiang Ceng Liong, Liang Tek Hoat dan adiknya Liang Mei Lan, Souw Kwi Beng
dan Souw Kwi Song, pendekar kembar dari Siauw Lim Sie, dan juga Siangkoan Giok L
ian. Tokoh-tokoh lain, juga masih akan muncul kembali di Bagian III ini: seperti
Majikan Kerudung Putih yang di Bagian III ini telah menjadi Duta Luar Lembah Pu
alam Hijau Kiang Li Hwa; Majikan Kerudung Hitam yang selanjutnya akan tampil jug
a; Para tokoh sepuh masih akan muncul tetapi dengan porsi yang lebih minimal; An
gkatan Kiang Cun Le dan Kiang In Hong (Lion-i-Sinni) seperti Tocu Lam Hay dan Ka
wcu Bengkauw, juga masih akan hadir. Begitu juga murid-murid Kiong Siang Han, Ki
an Ti Hosiang, Wie Tiong Lan dan Kiang Sin Liong.
Bahkan tokoh-tokoh utama Thian Liong Pang sebagian masih akan munculkan dirinya
dan meramaikan KPNPB III ini. Kisah ini sebagaimana prolog bagian III yang kami
re-posting di TARIAN LIAR NAGA SAKTI ini, memang dihadirkan untuk menjawab banya
knya pertanyaan yang masih menggantung. Termasuk beberapa pertanyaan yang diajuk
an beberapa pembaca melalui inbox pribadi kami di indozone.net. Ada beberapa kaw
an yang mengajukan usulan alur kisah, masukan gaya bahasa serta bahkan masukan k
limaks kisah ini. Bahkan, ada beberapa bahan cerita yang harus kami kemukakan di
peroleh dari pembaca kisah ini. Sebagian usulan kami kabulkan, tetapi mohon maaf
tidaklah semua usulan kami penuhi. Karena ketika kisah ini mulai dipostingkan,
berarti kerangka kisah hingga tamat sudah jadi. Tetapi, karena menulis ini seked
ar memenuhi hobby pribadi, maka kami mohon maaf jika updatenya tidaklah secepat
kisah-kisah lainnya. Hanya, yang kami jaminkan, kisah ini sudah pasti original d
an tidak diposting di website lainnya.
Dan, meski juga bukan janji, setelah kisah ini tamat, akan dilanjutkan dengan ki
sah yang lain dan yang merupakan kelanjutan. Artinya, sambungan dari KPNPB ini j
uga sudah dan tengah disiapkan alur dan struktur kisahnya. Ada beberapa kisah ya
ng mengisyaratkan kelanjutan KPNPB, bahkan sejak dari KPNPB I dan KPNPB II. Kela
ngsungan hidup Para Naga Muda dan keturunan mereka masing-masing akan dikisahkan
di kelanjutan KPNPB. Tetapi dalam KPNPB III, TARIAN LIAR NAGA SAKTI, fokus kisa
h masih di tokoh-tokoh yang sudah ada di KPNPB I dan II.
Singkat cerita, membaca TARIAN LIAR NAGA SAKTI (KISAH PARA NAGA DI PUSARAN BADAI
BAGIAN III) sebaiknya dimulai dengan membaca KPNPB I dan II agar bisa mengikuti
dengan baik.
Selamat menikmati .......
Lembah itu dipastikan sulit diketemukan manusia. Selain karena berada lokasi yan
g tersembunyi, juga karena nyaris sepanjang tahun lembah itu tertutupi oleh salj
u. Dan, meski tidak berada di ketinggian yang sama dengan Thian San Pay, tetapi
lembah itu juga selalu dingin dan berselimutkan es. Lembah terpencil itu berada
di puncak yang berbeda dengan Thian San Pay, tetapi di ketinggian yang lebih ren
dah.
Tetapi letaknya itu, tidaklah mengurangi dinginnya udara disekitar lembah yang h
anya ditumbuhi segelintir tetumbuhan yang memang khas udara dingin. Lembah itu b

ernama Lembah Salju Bernyanyi, sebuah lembah yang nyaris sulit diketemukan karen
a berada dalam kontur alam yang sangat berat. Untuk mencapai Lembah Salju Bernya
nyi, manusia harus melewati sejumlah jurang yang sangat dalam dan tidak terseber
angi.
Hanya saja, Lembah ini tidaklah menghadap atau searah dengan Perguruan Thian San
Pay, karena Lembah ini berada di punggung sebelah utara dari salah satu puncak
di bilangan pegunungan Thian San. Sementara di sebelah lain adalah Markas Utama
Perguruan Thian San Pay yang berada di sebelah barat dan menghadap ke arah yang
berbeda dengan Lembah Salju Bernyanyi. Itulah sebabnya, meski bertetangga tetapi
Lembah Salju Bernyanyi dan Perguruan Thian San Pay bukannya sering bertemu. Seb
aliknya, justru teramat jarang saling mengetahui dan apalagi saling bersentuhan
atau berhubungan.
Untuk saling menggapai meski berada di bilangan gunung yang sama, juga sulitnya
minta ampun. Karena bukan saja Lembah Salju Bernyanyi yang berada di antara dua
tebing yang sangat tinggi, tetapi karena hal serupa juga terjadi bagi Thian San
Pay. Dimana di area belakang perguruan itu, juga adalah sebuah jurang yang sanga
t dalam dan jarak pandangnya tertutup oleh tebing yang berjarak hampir 100 meter
dari daerah belakang perguruan itu.
Tetapi, sebagaimana Thian San Pay dihuni orang, salah satu Perguruan Pedang term
asyhur pada puluhan tahun silam, demikian juga dengan Lembah Salju Bernyanyi. Le
mbah yang sejauh mata memandang adalah lautan es yang menutupi seluruh permukaan
lembah. Dan jikapun ada tumbuh-tumbuhan, maka jumlahnyapun teramat jarang dan s
ulit untuk dikategorikan hutan.
Tempat atau pintu masuk yang paling masuk akal ke Lembah terpencil itu adalah se
buah gerbang bentukan alam. Yakni semacam area luang yang disisakan oleh ujung d
ua buah jurang atau tebing dengan lebar bagian atas bisa mencapai 10 meteran, na
mun dibagian bawah hanya selebar 1 (satu) meter belaka. Satu-satunya penanda ada
nya Lembah itu adalah, bagian bawah yang merupakan pintu gerbang alam, tidak ada s
atupun butiran salju, alias tanah belaka. Tetapi, itu hanya di seputaran gerbang
alam itu semata, dengan panjang 1 (satu) meter dan melebar menjadi semacam jalan
masuk.
Dan, di gerbang alam itu ada sesosok tubuh, seorang nenek tua jika melihat bentu
k tubuhnya yang tercetak oleh gumpalan es yang menempel di tubuhnya. Sosok tubuh
nenek tua itu duduk bersamadhi di bawah sebuah liang bentukan alam, hanya berja
rak 1 meter dari gerbang alam buatan. Liang alam itupun tidaklah besar, hanya ma
mpu menampung paling banyak 3 tubuh orang dewasa dalam posisi duduk. Tidak bisa
dalam posisi berdiri, terlampau pendek.
Jika melihat sekeliling yang dipenuhi salju, maka liang itu nampak menghadirkan
sedikit kehangatan. Sama dengan pintu masuk alamiah yang bebas salju, begitu jug
a liang yang tak jauh dari pintu masuk alamiah itu. Tidak bersalju dan nampaknya
alasnya bukan dari tanah, tetapi bebatuan. Tanpa salju, bisa dipastikan tempat
itu lebih hangat, karena terlindung dari hembusan angin.
Tetapi, meski terbungkus salju, nenek tua itu bukannya sudah berhenti bernafas.
Selain lubang hidung, kelihatannya sekujur tubuh nenek itu telah terbungkus oleh
lapisan es. Dan dari satu-satunmya lubang hawa itulah dapat diketahui sekaligus
menandakan bahwa tubuh itu adalah milik orang hidup dan bukannya orang mati . Dan ke
lihatannya lagi, orang itu sudah berada disana untuk waktu yang tidak pendek. Fa
kta bahwa tubuh itu telah dilapisi oleh es menandakan tubuh itu telah berada dis
itu untuk waktu yang panjang dan secara sengaja dibiarkan tetap seperti itu deng
an tujuan tertentu. Bukan tidak mungkin sambil melatih tenaga berhawa dingin.
Sudah hampir tiba waktunya ....... terdengar desisan dari manusia es di bawah liang
persembunyian itu. Dari Nenek tua yang terbungkus oleh lapisan es salju tersebut
. Tetapi, baru saja desisan itu terlepas dari mulutnya, tiba-tiba terdengar buny
i dari sebelah kiri liang itu:
srrrrrrrrrrrrrrtttttttttttttttt
Dan tubuh nenek tua yang terbungkus lapisan es nampak tersentak. Tetapi tak lama
kemudian kembali terdengar desisan suaranya:
Benar, waktunya kini bahkan telah tiba. Tapi, orang-orang itu sepertinya sudah ti
dak sabar lagi, nampaknya mereka telah mulai bergerak. Jika begitu, tugaskupun t
elah berakhir sudah

Dan bersamaan dengan desisan itu, perlahan-lahan lapisan es ditubuh si nenek tua
itu mulai meleleh. Awalnya perlahan saja, tetapi tak lama kemudian lapiran es i
tu meleleh, menjadi air dan akhirnya nampaklah tubuh si nenek tua yang kini terb
ebas dari lapisan es. Ach, wajah tua penuh keriputan itu, tak pelak lagi adalah
wajah yang dimiliki oleh seorang yang berwajah aduhai pada masa lalu. Bekas-beka
s kecantikan masih terasa dan terlihat jelas dari paras yang telah termakan usia
itu.
Tetapi, selepas tubuhnya dari lapisan es yang membungkus tubuhnya, tiba-tiba dar
i tebing di sebelah kirinya, asal dari bunyi tadi, meloncat keluar berapa bayang
an. Dan, hebat, meski berada sekitar 5 meter dari permukaan lembah, tetapi semua
bayangan yang meloncat tadi tidak menemui kesulitan untuk mendarat di permukaan
lembah. Sungguh ginkang istimewa yang dipertunjukkan orang-orang tersebut.
Ada hampir 7 bayangan yang mengenakan lapisan pakaian tebal, dan semuanya berwar
na emas berkilau, yang menerjang keluar dari pintu tebing sebelah kiri si nenek
tadi. Dan gerakan ke-7 bayangan tersebut sungguh luar biasa cepatnya. Gerakan tu
buh mereka bukan hanya indah, tetapi sangat cepat. Lapisan atau permukaan lembah
yang diselimuti salju tidak menjadi penghalang besar bagi mereka untuk bergerak
dengan pesat dan cepat. Dan lebih hebat lagi, tiada satupun dari ke-tujuh bayan
gan keemasan itu yang meninggalkan jejak kakinya di atas permukaan salju.
Tetapi, ketika mereka tiba di gerbang alamiah itu, secara serentak dan bersama-sam
a merekapun menghentikan langkah kaki. Apa pasal? Ternyata karena disana, di ger
bang selebar 1 (satu) meter itu, telah berdiri sesosok tubuh yang menghalangi ja
lan keluar mereka. Dan, meski hanya seorang nenek tua belaka, tetapi mereka tida
k memiliki berani untuk menyalahinya. Dan buktinya, dengan hormat salah seorang
dari ke-7 orang berpakaian hitam pekat itu telah datang dengan hormat menghampir
i Nenek tua yang berdiri menghalangi pintu keluar mereka:
Bibi Guru ..... kami bertujuh telah mengambil keputusan ......
Apa keputusan kalian .... ? tegas namun tenang berwibawa suara nenek penjaga pintu
gerbang itu.
Kami berkeputusan untuk terjun ke dunia ramai ....
Hmmmmm, itu memang hak kalian. Betapapun Lembah Salju Bernyanyi telah menyelesaik
an hukuman 100 tahun memendam diri ...
Terima kasih atas perhatian Bibi Guru. Sebelum memutuskan terjun ke dunia ramai s
etelah lewatnya hukuman 100 tahun, kami masing-masing telah menyiapkan diri untu
k kesempatan hari ini. Karena itu, kami ingin menegaskan bahwa kami telah siap
Bagus kalau memang kalian memahaminya. Tetapi, meski ini hari terakhir kalian tet
ap harus melewati proses ujian. Nach, mari, silahkan mencobanya si Nenek kemudian
mempersilahkan ke-7 orang itu untuk melakukan sesuatu. Tetapi apakah itu?
Toako, biarlah siauwte yang akan memulainya .... orang termuda dari ke tujuh orang
itu nampak mengajukan diri. Dan, orang yang dipanggil toako yang berdiri paling d
epan nampak hanya memberikan anggukan tanda persetujuan majunya orang itu.
Dan, dengan sedikit gerakan saja, tiba-tiba orang pertama dari ke-tujuh manusia
itu telah melemparkan atau tepatnya menerbangkan pakaian tebalnya ke arah salah
seorang dari kawannya yang datang tadi.
Sam ko, tolong ....... ujarnya seiring dengan terbangnya pakaian tebal hitamnya ke
arah orang terdekat dengannya yang ternyata adalah Kakak seperguruan ketiganya.
Dan hebatnya, Kakak Seperguruan Ketiga, hanya memandang ke arah jubah tebal yan
g sedang melayang kearahnya bagaikan punya mata itu. Dan akhirnya jubah keemasan
itupun berjatuhan ketangannya bagaikan memang disodorkan kepadanya.
Dan majulah orang itu mendekat kearah si Nenek, memberi hormat dan kemudian nyar
is sulit diikuti pandang mata telah menyerang si Nenek. Itupun setelah diawali d
engan kalimat ....
tecu memulai Bibi Guru.....
Begitu kalimat itu selesai, pukulannya telah tiba. Tapi hebatnya, tiada kesiur a
ngin dan tiada tanda-tanda jika pukulan itu berisikan tenaga yang luar biasa. Te
tapi, begitupun si Nenek tidak tinggal diam.
Hmmmm, tidak jelek, tidak jelek dan Nenek itu tidak menggeser kakinya, tetapi meng
ebutkan jubah kanannya menangkis pukulan itu. Tetapi, tidak terjadi benturan, ka
rena dengan cepat, pukulan tangan telah berubah menjadi sabetan yang kali ini me
nghasilkan kesiur tajam bagai tajamnya pedang. Tetapi, secepat pergantian jurus,

secepat itu juga si nenek mengimbangi dengan menotok tangan kanan. Semuanya ter
jadi dalam waktu sekejab. Tetapi, sehebat apa serangan datang, secepat itu tanpa
merubah kedudukan kaki si Nenek mementalkan semua pukulan lawan.
Jagalah tiga seranganku ini ...... dan Nenek itu tiba-tiba bergerak dengan jurus Y
an Cu Coan-in (burung wallet Menerobos Awan). Kedua kakinya bergerak cepat, maju
atau mundur tidak ketahuan, tetapi tiba-tiba telah meloncat ke atas dan selanju
tnya serangan yang luar biasa hebat telah menerjang salah satu dari ke-7 manusia
berjubah emas itu.
Tetapi dengan gerakan Fei-hun-cong (terjangan awan terbang), orang itupun dengan
manis menghindari hujan serangan si Nenek, meski nampak jelas dia kerepotan men
erimanya. Tetapi, dia masih tetap selamat dari gempuran si nenek yang mencecarny
a dari udara. Tetapi, masih tergopoh-gopoh dia menahan serangan itu, si Nenek te
lah kembali mencecarnya dengan jurus yang lebih hebat lagi: Yin-ho-lim-heng (sun
gai jernih meneguk kebencian).
Serangan kedua ini lebih gencar dan berisi tenaga yang lebih besar lagi, padahal
orang itu masih belum dalam posisi kuda-kuda yang kokoh. Tetapi, meskipun demik
ian, orang itupun rupanya telah memperhitungkan gempuran si nenek yang akan berl
anjut lebih hebat. Karena itu, dia tidak sampi berusaha memperkokoh kuda-kudanya
, melainkan langsung bergerak dengan jurus Cian Im Giok siauw (Ribuan Bayangan g
uling Kumala).
Dia tidak menunggu serangan si Nenek tetapi langsung berganti jurus. Sebab jika
dia menunggu kuda-kudanya kokoh, maka dia sudah akan terserang secara hebat oleh
si Nenek, dan akan hebat akibatnya. Dengan langsung bergerak dalam jurus Cian I
m Giok siauw (Ribuan Bayangan guling Kumala) dia jadi bisa mengirit waktu sepers
ekian detik yang sangat menentukan.
Dan untung memang. Hanya pakaian di bagian pundaknya yang sobek dan hancur di ba
wah terjangan pukulan si nenek yang menggebu-gebu dan dalam kecepatan tinggi. Da
n orang itu, masih belum terluka. Hanya saja, posisinya sudah cukup runyam. Seba
b meski tidak terluka, tetapi mengurangi daya tempurnya untuk menyambut jurus at
au serangan ke-tiga dari si Nenek. Dan seperti sebelumnya, tidak menunggu orang
itu kokoh kembali, serangan ketiga si nenek sudah datang kembali: Kali ini denga
n serangan jurus cian ci soh Te (Ribuan Jari Menyapu Bumi).
Orang itu merasa saking cepatnya serangan si Nenek, seakan ada seribu jari yang
sedang mengejarnya. Dan semuanya berasal dari atas, karena nenek itu tidak berga
nti langkah untuk kembali menyerang. Tetapi, hebat, meski dalam serangan yang lu
ar biasa cepat dan hebat itu, orang itu masih tetap tenang meski dia tidak berke
mampuan bebas dari serangan hebat si Nenek.
Terpaksa, hanya dengan jurus Ciong-hay-poh liong (menangkap naga di tengah sa-mud
ra) serangan itu bisa dikurangi kehebatannya pikir orang itu. Dan memang dia lang
sung bergerak menurut jurus hebat itu, yakni merentangkan tangan dengan cepat da
n kemudian memapak jurus cian ci soh te yang dilepaskan si Nenek. Tetapi, jurus m
enangkap Naga ternyata tidak sanggup menangkap ribuan jari yang dilepaskan si Nenek
. Dan, karena memang terpaksa, orang itu memilih jari yang mengarah ke pahanya y
ang berefek tidak terlampau berat bagi tubuhnya. Untungnya, pertarungan itu adal
ah ujian dan bukannya pertarungan hidup mati. Dan karena itu, ketika pahanya kena
tertotok oleh jari sakti si Nenek, dia tidak merasa terluka hebat. Tetapi yang p
asti, dia berhasil melewati ujian menerima 3 serangan sesepuh penjaga lembah.
Terima kasih bibi Guru, engkau bermurah hati .....
Sayang memang, aku hanya mampu melukai pahamu. Jika mengarah ke jalan kematian, t
entu aku tidak akan bermurah hati .... jawab si Nenek.
kuharap, di luar sana engkau tidak mempermalukan nama Lembah Salju Menyanyi .....
... sudah seratus tahunan kita tidak menampakkan diri ....
Terima kasih atas peringatan Bibi Guru ....
Hmmmmm, itu memang peruntunganmu ....
Dan, pada saat orang itu mundur karena dinyatakan berhasil, di arena kembali tel
ah berdiri seorang yang lain. Kembali salah satu dari ke-tujuh pendatang tadi. T
etapi, anehnya, si nenek tidak lagi se-antusias tadi. Malahan dia berkata:
Kulihat dari gerakanmu, ginkang dan sinkangmu masih mengatasi orang pertama tadi.
Karena larangan 100 tahun telah lewat, maka tidak ada gunanya lagi ujian turun
gunung ini dipertahankan ....... haiiiii, waktu begitu cepat berlalu. Pergilah,

jika memang keinginan kalian begitu kuat untuk kembali berkecimpung di dunia per
silatan
Begitu kalimat itu meluncur dari bibir si nenek tua, orang tertua dari ke-7 pend
atang tadi segera beringsut maju ke depan ke hadapan si nenek:
Bibi guru, terima kasih banyak. Kami akan berusaha keras menjaga kewibawaan Lemba
h Salju Bernyanyi ......
Baik, pergilah kalian .....
Maka beranjaklah ke-tujuh orang itu meninggalkan Lembah Salju Bernyanyi. Lembah
itupun kembali senyap. Tetapi, Nenek tua tadi, tidak lagi duduk berjaga di gerba
ng masuk tadi. Setelah menatap pintu gerbang masuk dan memandangi punggung ke-tu
juh orang tadi, diapun menarik nafas panjang. Dari mulutnya terdengar gumaman:
Lembah Salju Bernyanyi telah bebas ....... bebas dari hukuman 100 tahun. Tapi, be
rapa banyakkah mereka yang berkeinginan dan kemudian akan berlalu dari Lembah se
pi ini .....? Toch, Kakek Dewa Pedang telah lama pergi. Apakah keturunannya sama
hebat dengan dia? Sanggupkah mereka menghadapi amukan dendam Lembah Salju Berny
anyi? Dan ada siapa pula yang sanggup menahan penghuni-penghuni lembah ini kelak
di dunia persilatan jika mereka mengganas dan membalas dendam?. Acccccchhhh, pa
dahal kehidupan yang tenang dan damai disini telah begitu melenakan, tetapi semu
anya akan segera berakhir dan berlalu ......
====================
Engkau membiarkan mereka berlalu .... bukankah begitu sumoay ? terdengar sebuah sua
ra menegur si Nenek yang ternyata adalah salah seorang dari Thian San Kim Tong S
am Giokli (Anak Emas dan 3 Dewi dari Thian San).
Toako, engkau sendiri tahu, kalau tiada gunanya lagi menahan mereka yang sudah be
rkeputusan jawab nenek itu lemah.
Murid-muridku itu memang sudah tidak tahan. Tapi bagaimana dengan kita-kita yang
sudah tua ini ? tanya orang yang baru datang, yang ternyata adalah seorang kakek t
ua berpakaian keemasan. Dialah orang tertua dari Thian San Kim Tong Sam Giokli
p
ara penerus dan pemimpin dari Lembah Salju Bernyanyi. Lembah tetangga perguruan
Thian San Pay yang baru saja menyelesaikan hukuman isolasi selama 100 tahun.
Toako, engkau sudah tahu pendirian kami bertiga. Subo sudah menegaskan sebelum me
nutup mata, bahwa pertikaian dengan Kakek Dewa Pedang bersifat pribadi dan bukanla
h antara Thian San Pay dan Lembah Salju Bernyanyi. Karena itu, kami memandang ti
dak pada tempatnya memusuhi Thian San Pay. Dan setelah bersamadhi selama 2 seten
gah tahun, akupun sudah merasa sentosa dalam kedamaian dan ketenangan di Lembah
kita ini. Terserah pendirian toako
Nampaknya sebagaimana 100 tahun silam, sebagaimana Suhu dan Subo berbeda pandanga
n, demikian juga angkatan kita kali ini. Aku pribadi akan bisa menghapus permusu
han dengan Thian San Pay, tetapi anak dan cucuku serta murid-muridku berpandanga
n berbeda Kakek berjubah emas berkata sambil menarik nafas panjang.
Syukurlah jika toako berpandangan lebih terbuka. Akan jauh lebih baik akibatnya b
agi Lembah kita kelak
Akupun secarra pribadi masih merasa penasaran dengan Kakek Dewa Pedang. Hanya, ka
barnya setelah kematiannya tidak ada pewaris yang nempir dengan kemampuannya. Ra
sanya mubazir menempa diri selama puluhan tahun ini. Lagipula akupun sudah meras
a terlalu tua, meski terkadang ada keinginanku menengok dunia luar, tetapi rasan
ya akupun merasa betah untuk menghabiskan umurku di Lembah kita sumoy
Baguslah jika demikian toako. Barisan Baju Putihpun jika menilik pandangan Ji Suc
i, tidak akan berlalu dan akan tetap menjaga ketenangan Lembah kita. Untuk Baris
an Jubah Emas, terserah keputusan toako
Biarlah murid dan anakku yang memutuskannya kelak sumoy ....
tapi ....... apakah .... ? suara Nenek itu terputus
maksud sumoy ..... ?
Apakah anak-anak dan murid-muridmu sednag menuju Thian San Pay ?
Kemungkinan terbesar adalah ya ...... mengapa engkau seperti takut sumoy, bukankah
tidak ada lagi tokoh hebat di sana ?
Aku bukan mengkhawatirkan anak dan murid-muridmu, tetapi mengkhawatirkan Thian Sa
n Pay. Lagipula kemampuan anak dan murid-muridmu itu rasanya berlebihan menghada
pi Thian San Pay. Mereka harus dicegah ... Ujar Nenek itu sambil bersiap untuk me
ngejar.

Tahan sumoy ....... kakek itu justru menghalanginya.


Toako, akibatnya akan sangat mengganggu ketenangan Lembah ini jika mereka menggan
ggu Thian San Pay .... si Nenek berkeras mengejar.
Ach, belum tentu demikian ...... si Kakek berkeras.
Belum tentu bagaimana? Jika sampai ada anggota Thian San Pay yang terluka atau te
rbunuh, maka kita harus bersiap-siap terlibat dalam pertikaian yang tidak mengen
akkan itu. Ketenangan kita bakal sangat terganggu
Tapi aku sudah melarang murid-muridku untuk membunuh. Cukup menunjukkan bahwa Lem
bah Salju Bernyanyi tidak kalah dengan Thian San Pay ....
Tapi toako, pertaruhan suhu dan subo dulu bersifat pribadi, tidak melibatkan Thia
n San Pay si nenek juga berkeras.
Sudahlah Sumoy, rasanya tidak berlebihan jika Lembah Salju Bernyanyi kembali dike
nal dunia persilatan. Toch kita juga punya nama besar sebelum pertaruhan melawan
Kakek Dewa Pedang itu
hmmm, nama besar ........ nama besar. Saking besarnya sampai seorang Kakek Dewa P
edang menghukum Lembah kita akibat perbuatan-perbuatan yang melanggar asas keman
usiaan .
Aku setuju kita tidak turun gunung dan menghabiskan waktu disini. Tetapi, sumoy,
aku tidak akan menghalangi anak-anak dan murid-muridku untuk mengangkat kembali
nama Lembah Salju Bernyanyi. Dan jika mereka memulainya dengan menantang Thian S
an Pay, asal tidak membunuh, mengapa tidak boleh ?
Ach toako, maafkan, aku tidak akan merestuinya sabil berkata demikian, si Nenek su
dah berkelabat untuk mengejar ke-tujuh manusia berjubah emas yang ternyata adala
h anak-anak dann murid-murid Thian San Kim Tong.
Tetapi, belum jauh Nenek itu beranjak, sebuah suara telah mendahului dan menghal
anginya: Sumoy, mau kemana .... ?
Toako, tolong jangan menghalangiku. Anak-anak dan muridmu bakal menghadirkan keki
sruhan bagi Lembah ini jika tidak dicegah si Nenek kembali berkeras, dan kali ini
dengan nada suara yang mulai tak sabar.
Sabarlah sumoy, sudah kukatakan aku sudah melarang mereka untuk tidak membunuh. C
ukup memperkenalkan diri dan kesaktian mereka
Toako, apakah engkau tak sadar jika ada persoalan yang dipendam anak-anak dan mur
id-muridmu itu? Terutama kekesalan yang dipendam akibat di isolasi selama seratusan
tahun? Jika engkau bisa memakluminya, aku yakin mereka tidak akan mampu menerim
anya. Dan yang bakal celaka adalah Thian San Pay. Tetapi, begitu Thian San Pay t
erluka, siap-siaplah Lembah kita mengalami kegaduhan yang tidak perlu
Betapapun aku melarangmu untuk mengejar mereka sumoy ..... Thian San Kim Tong juga
berkeras.
Maaf, aku harus mengejar dan mengingatkan mereka ......
Tidak, engkau tidak boleh melakukannya sumoy ......
Kalau begitu, maafkan aku toako ... sambil berkata begitu, Thian San Giok Li melep
as serangan kosong sambil berusaha membuka celah untuk mengejar keponakan-kepona
kan muridnya yang dikhawatirkan mendatangkan masalah dengan menyerang Thian San
Pay.
Tapi, toako atau kakak perguruannya, si kakek berjubah emas bukanlah lawan dan t
okoh sembarangan. Kakak perguruannya itu adalah murid dari tokoh besar masa lalu
, lawan seimbang dari Kakek Dewa Pedang
tokoh-tokoh besar rimba persilatan Tiong
goan sebelum pendiri Lembah Pualam Hijau. Ditambah dengan kenyataan betapa selam
a puluhan tahun mereka melatih diri sambil menyembunyikan diri karena guru merek
a kalah melawan Kakek Dewa Pedang, maka bisa dibayangkan betapa hebat kepandaian
mereka sekarang ini. Kepandaian yang tenggelam dan tersembunyikan selamat serat
us tahun terakhir karena isolasi yang dilakukan kakek Dewa Pedang. Dan kini kepand
aian-kepandaian tersebut dipergunakan, meskipun sebagaimana dalam latihan, hanya
oleh mereka-mereka yang sudah saling tahu hitam putih kepandaian masing-masing.
Tetapi, siapakah mereka sebenarnya? Dari percakapan mereka, maka Kakek dan Nenek
itu sebenarnya adalah pewaris dari pemilik Lembah Salju Bernyanyi yang sama ter
kenalnya dengan Thian San Pay seratus tahun sebelumnya. Yang menjadi guru-guru m
ereka adalah kakak dan adik seperguruan yang bernama Thian San Siang Sian
Sepasa
ng Dewa Thian San. Guru mereka adalah Kakek pengembara yang mendirikan Lembah sa
lju Bernyanyi Koai Tojin (Kakek Aneh), seorang yang menjagoi rimba persilatan se

belum Kakek Dewa Pedang. Kakek aneh itu mendiami Lembah Salju Bernyanyi setelah
tua dan kemudian menerima sepasang murid yang sangat berbakat.
Sayang memang, karena kedua muridnya yang sama-sama berbakat baik itu hanya mamp
u menampung 75% kepandaiannya karena diterima di usia tuanya. Murid pertama adal
ah seorang wanita cantik yang meski sangat berbakat dan pintar, namun murah hati
dan welas asih. Murid kedua adalah seorang laki-laki yang sangat berbakat tetap
i sangat ambisius. Karena melihat perbedaan karakter itu, maka Koay Tojin telah
melatih mereka dengan ragam ilmu yang berbeda. Hal ini diaturnya agar sesuai den
gan karakter dari masing-masing muridnya. Tetapi, begitupun dia menghasilkan dua
manusia sakti yang seimbang kemampuan dan kepandaiannya. Berdasarkan kenyataan
itu, maka Koai Tojin membentuk sistem pengaturan di Lembah Salju Bernyanyi tidak
dengan cara biasa, tetapi menyesuaikan keadaan murid-muridnya.
Dia kemudian membentuk Barisan Putih
yang dibawahi oleh murid pertamanya, murid
wanita. Dan Barisan Emas yang diketuai oleh murid keduanya, sang lelaki. Tidak a
da pemimpin tunggal di Lembah Salju Bernyanyi. Keputusan selalu diambil berdasar
kan kesepakatan kedua pemimpin tertinggi. Dan karena murid tertua adalah sang wa
nita, sementara murid kedua mencintai sucinya, maka ambisi murid lelakinya bisa
diredam oleh murid tertua.
Tetapi, sayang sekali, ketika sempat turun gunung untuk mewakili guru mereka di
Tionggoan, murid laki-laki yang jarang berada dikeramaian, menjadi tertarik deng
an dunia luar. Diapun terangsang untuk angkat nama dan kemudian mengaduk-aduk du
nia persilatan Tionggoan. Dari tindakannya itulah Lembah Salju Bernyanyi menjadi
terkenal, meski terkenal karena kebusukannya. Dimana-mana si murid lelaki menan
tang ketua-ketua perguruan, mengalahkan dan melecehkan mereka.
Memang, diapun membasmi para penjahat, meskipun dilakukannya secara sadis. Tetap
i, keranjingan menang dalam perkelahian dan ketenaran yang diperolehnya serta di
takuti banyak orang, menghadirkan kepuasan baginya. Dan kelakuannya semakin menj
adi-jadi setelah gurunya yang berbudi meninggal karena kecewa dengan kelakuan mu
rid lelakinya. Memang, dia tidak melakukan kejahatan-kejahatan dan kebusukan yan
g lain, terutama karena takut dan hormat kepada sucinya. Tetapi, kemengkalan ban
yak orang, banyak perguruan yang dikalahkan, dilecehkan dan dihina oleh murid le
laki itu, telah membuat banyak pendekar meminta bantuan Kakek Dewa Pedang.
Begitulah, akhirnya Kakek Dewa Pedang menantang kedua murid Koai Tojin sekaligus
. Pertempuran itu dilakukan di Lembah Salju Bernyanyi dengan awalnya disaksikan
oleh murid perempuan Koai Tojin. Kakek Dewa Pedang kaget menemukan betapa saktin
ya murid Koai Tojin, namun dia sadar bahwa ternyata sang murid tidak mewarisi se
cara penuh ilmu gurunya. Karena itu, Kakek Dewa Pedang menyetujui pertaruhan iso
lasi 100 tahun (usul dari murid wanita) bagi yang kalah dalam pertarungan. Dan a
khir pertarungan besar itu bisa ditebak, yakni dimenangkan oleh Kakek Dewa Pedan
g, hanya sejurus setelah bertempur lebih dari 1000 jurus.
Strategi isolasi itu bisa menghindarkan Lembah Salju Bernyanyi dari aib yang sem
akin besar. Dan murid laki-laki pada akhirnya harus menyetujuinya. Betapapun sik
ap ksatria masih dimilikinya. Terlebih karena sang suci pada akhirnya bersedia m
enjadi suaminya dengan syarat dia harus seterusnya menepati janji. Begitulah, me
reka akhirnya berdiam di Lembah Salju Bernyanyi sampai akhir hidup.
Thian San Kim Tong Giok Li adalah murid dari Thian san Siang Sian, sepasang muri
d Koai Tojin dimana Kim Tong merupakan anak tunggal sepasang murid itu. Kim Tong
dididik secara ketat oleh ayahnya, sementara sang Ibu mengambil 3 wanita lain s
ebagai murid sekaligus anak angkat. Kim Tong, karena dididik oleh ayah dan ibuny
a, memiliki kemampuan sedikit di atas ketiga sumoynya. Tetapi, dia tidak akan be
rkemampuan untuk menghadapi jika ketiga sumoynya itu bergabung melawannya. Bahka
n jika kedua sumoynya bersatu melawannya, dipastikan dia akan sangat kesulitan.
Dengan demikian, keseimbangan kepemimpinan antara barisan jubah emas dan barisan
putih masih tetap terus terjaga dan terpelihara.
Tetapi isolasi bagi Lembah Salju Bernyanyi itu, membuat para penghuninya menjadi
keranjingan berlatih ilmu silat. Bahkan Thian San Siang Sian, terutama yang wan
ita, banyak menciptakan ilmu-ilmu baru yang dikembangkannya berdasarkan pengamat
an yang luas atas ilmu silat Tionggoan. Wanita ini memang sangat pintar. Dan lag
i, dia terbebas dari nafsu untuk membalas dendam sehingga dia akhirnya mampu menci
ptakan ilmu-ilmu baru yang lebih variatif dan lebih dalam.

Sementara suaminya, berkutat menemukan ilmu penangkis atau ilmu pemunah atas ilm
u yang dimiliki Kakek Dewa Pedang. Dia berusaha keras menciptakan ilmu tandingan
dari ilmu pedang Kakek Dewa Pedang yang memang mujijat. Mewarisi kepandaian aya
hnya itu, Kim Tong seterusnya menjadi sangat mahir dengan ilmu ilmu pedang. Seme
ntara ketiga sumoynya sangat luas dan dalam penguasaan ilmu mereka sebagaimana w
arisan guru mereka.
Begitulah ke-4 tokoh utama Lembah Salju Bernyanyi itu tumbuh menjadi tokoh-tokoh
tangguh yang luar biasa hebatnya. Hanya saja, mereka tidak pernah menyadarinya
karena tidak pernah mereka gunakan untuk bertarung dengan tokoh lain, kecuali be
rlatih diantara mereka sendiri. Maka, sudah bisa dipastikan akan sangat menggemp
arkan jika ke-4 tokoh tangguh Lembah Salju Bernyanyi ini tampil ke dunia luar. T
etapi, akankah mereka terus terpendam ataukah terseret kedalam arus pertarungan
dunia persilatan yang penuh intrik itu?
Ketika isolasi atau hukuman 100 tahun berakhir, usia Kim Tong dan ketiga sumoyny
a sudah 85 tahun lebih. Ketiga sumoy yang memang mewarisi kehalusan budi guru me
reka, paham benar akan janji pertaruhan 100 tahun yang memang diatur subo mereka
adalah untuk mengekang suaminya. Dan dalam didikan sang subo, mereka sependapat
dang bahkans angat menghormati pendirian dan pesan sang subo. Yakni menjaga ket
enangan Lembah Salju jauh lebih penting, daripada kembali bertualang dan menghad
irkan bahaya dan kegaduhan di Lembah.
Tetapi Kim Tong ternyata mewarisi ambisi untuk terkenal sebagaimana ayahnya dahu
lu, meski tidak seambisius ayahnya. Kim Tong terutama penasaran untuk mencoba ap
akah ilmu warisan ayahnya sudah memadai untuk mengalahkan Kakek Dewa Pedang atau
keturunannya. Inilah pesan yang terus-terus diulang, bahkan pesan terakhir mend
iang ayahnya kepada dirinya pribadi juga tentang hal yang sama. Dengan demikian
dia sepertinya menanggung sebuah tugas yang diamanatkan orang tua atau tepatnya
ayahnya.
Hal yang demikian tidaklah dimiliki oleh ketiga sumoynya yang memang dididik den
gan gaya dan cara berbeda oleh ibunya. Ketiga murid perempuan yang juga diakui s
ebagai anak angkat, benar-benar memberi diri untuk berbakti kepada subo mereka.
Lebih dari itu, sebagian besar sifat dari sang subo banyak diwarisi ketiganya. T
erutama Thian San Giokli tertua, yang dalam beberapa hal sangat banyak kemiripan
dengan subonya. Dalam kal wibawanya, kerendahan hatinya dan juga kepintarannya.
Kedua sumoynya bahkan curiga, jika diadu dengan Kim Tong bukan tidak mungkin san
g toa suci akan mampu mengimbangi, atau malah melebihi. Tetapi, karena kerendaha
n hatinya, kemampuan maksimal sang toa suci nyaris tidak diketahui secara pasti
oleh kedua adik seperguruannya, bahkan termasuk Kim Tong dan ayahnya.
Dan kini, murid-murid terpandai dari generasi ketiga Lembah Salju Bernyanyi itu
seperti sedang berlatih. Dikatakan berlatih, karena keduanya teramat mengenal ke
mampuan dan kebisaan masing-masing. Kim Tong mengetahui bahwa keunggulannya adal
ah dalam ilmu pedang dan kekuatan tenaga dalam. Sementara variasi ilmu silat dan
kecepatan bergerak adalah Nenek ketiga dari Thian San Giokli yang mendominasi.
Tetapi, bolak-balik karena saling mengetahui kemampuan masing-masing membuat ked
uanya seperti mengulangi latihan yang sudah ratusan atau malahan mungkin ribuan
kali mereka lakukan. Kim Tong tahu belaka jika menyerang dengan gaya A, maka sum
oynya itu pasti akan bergerak ke B. Dan memang begitulah kenyataannya. Kim Tong
yang berniat menahan sam sumoynya supaya tidak mengejar anak-anak dan murid-muri
dnya hanya menyerang dan bertahan seadanya.
Hal itu sudah tentu menggelisahkan sang sumoy. Tetapi, berlaku keraspun tetap di
a tidak akan unggul. Dia hanya unggul dalam kecepatan dan variasi ilmu silat yan
g lebih beragam. Maka serang kiri serang kananpun tidak akan banyak bermanfaat d
an tidak akan membuatnya mampu mengejar murid-murid keponakannya itu. Padahal, j
arak antara Thian San Pay dan Lembah Salju Bernyanyi tidaklah terlampau jauh.
Jika memang murid-murid keponakannya langsung mengarah ke Thian San Pay, maka pa
ling lama waktu yang mereka butuhkan adalah 2 jam. Padahal, sudah hampir sejam an
ak-anak itu berangkat pikir sang Sumoy. Jika demikian, jauh lebih baik mendiskusik
annya dengan toa suci dan ji suci demikian akhirnya keputusan sang sumoy. Dan seg
era setelah dia memutuskan demikian, serangannyapun dihentikan. Langsung berbali
k ke arah pintu masuk dan kemudian berkelabat menghilang.

Mereka sudah pergi, dan nampaknya mereka sedang menuju ke Thian San Pay sebagaima
na diakui juga oleh toako. Jika dilihat lebih dalam, nampaknya sudah lama mereka
merencanakan gerakan keluar
dan menggunakan Thian San Pay sebagai sasaran awal
dengan dalih mencoba ilmu silat . Jika aku tidak salah menebak, maka akan banyak ke
ributan datang ke Lembah kita setelah janji 100 tahun ini berlalu ujar seorang ne
nek yang tadi menjaga pintu gerbang Lembah Salju Bernyanyi, atau yang kita kenal s
ebagai Sam Sumoy, orang ketiga dari Thian San Giokli. Nenek ini juga yang juga s
empat bertarung dengan Thian San Kim Tong tadi.
Engkau tidak bakal salah sam sumoy. Adalah keliru jiika engkau berkeras menahan m
ereka, karena engkau sendiri memahami aturan Lembah kita. Untuk urusan keluar me
njadi hak dan kewenangan toako, dan setelah 100 tahun berlalu, kewenangannya itu
termasuk mencakupi apakah akan bergerak keluar ataukah tidak. Aku tidak meragukan
engkau memahaminya sam sumoy seorang nenek yang lain, duduk samadhi berhadapan d
alam bentuk segi tiga dengan seorang nenek yang lain lagi. Nampaknya yang berbic
ara barusan adalah dia yang menjadi orang kedua dari Thian San Giokli.
Ji suci, tentu saja aku memahaminya. Tetapi, membuat kekisruhan di Thian San Pay
akan berakibat buruk bagi kita. Ketenangan Lembah Salju Bernyanyi bakal tergunca
ng, terlebih jika mereka lepas tangan
Benar sam sumoy, akupun sependapat. Tetapi, tetap saja engkau tidak berhak melara
ng mereka, terlebih toako sendiri sudah menyetujuinya dan bukan tidak mungkin ma
lah toako yang mengutus mereka
Ruangan hening sejenak. Ketiga nenek yang duduk berhadapan dalam posisi segi-tig
a itu nampak menarik nafas panjang dan sejenak tenggelam dalam pikiran masing-ma
sing. Sepertinya sedang mencerna dan mendalami persoalan yang mungkin akan merek
a hadapi dalam beberapa waktu kedepan. Persoalan yang belum pernah mereka hadapi
selama puluhan tahun terakhir. Berapapun ada rasa yang aneh atau asing disana.
Sam sumoy, apakah selama dua setengah tahun giliranmu menjaga gerbang alam engkau
menemui ada sesuatu yang ganjil yang terjadi ? sebuah suara yang sangat lembut, l
unak tetapi sangat terang terdengar. Dan, kali ini yang mengeluarkan suara adala
h nenek ketiga, ya dia adalah toa suci atau orang pertama dari Thian San Giokli.
Seingatku, berbeda dengan masa-masaku berjaga sebelumnya, kali ini memang terdapa
t cukup banyak keanehan. Ada beberapa kali, jika kuhitung secara lebih cermat, m
ungkin ada sekitar tiga (3) kali gerakan-gerakan aneh yang mencoba mendekati ger
bang alam kita Sam sumoy berkata sambil nampak berpikir keras atau tepatnya menco
ba mengingat kembali kejadian-kejadian selama dua setengah tahun ketika dia keba
gian giliran terakhir menjaga gerbang alam Lembah Salju Bernyanyi.
Apa kesan sam sumoy dengan gerakan aneh tersebut ? kali jini Ji suci atau nenek ked
ua yang bertanya. Sama sekali tidak dapat disembunyikannya selarik sinar ketegan
gan dari wajahnya. Nenek kedua ini memang lebih reaktif dibandingkan dengan Nene
k pertama maupun nenek ketiga, karena itu dengan segera dia bereaksi. Reaksinya
yang cepat itu tertangkap Nenek pertama yang hanya mengembangkan senyum lembut k
epadanya.
Sambil menarik nafas, nenek ketiga atau sam sumoy berkata: Jika kuingat kembali,
orang yang bergerak itu, jika benar manusia, maka kepandaiannya tidak akan berad
a di bawah toako sekalipun. Tetapi, gerakan orang itu, jika memang manusia, tida
k pernah berusaha memasuki gerbang alam kita. Sepertinya hanya meninjau dan meli
hat-lihat daerah sekitar belaka .
Hmmmm, belum tentu demikian adanya sumoy. Jika memang manusia, bisa kupastikan di
a tidak hanya sekedar melihat-lihat Nenek kedua kembali bereaksi dengan cepat, se
mentara Nenek pertama hanya memandangi kedua sumoynya berbicara dan bertanya jaw
ab.
Ji suci, jika tidak terikat perjanjian 100 tahun, aku tentu sudah mengejar mereka
untuk menyelidiki dan bertanya
Maaf sumoy, bukan maksudku meragukanmu. Yang kumaksudkan, mereka, jika memang man
usia tidaklah mungkin tidak memiliki maksud tertentu mendatangi gerbang alam kit
a, terlebih di masa-masa terakhir menjelang berlalunya masa waktu isolasi Lembah
Salju Bernyanyi
Aku mengerti ji suci ..... tapi ..... Nenek ketiga tidak melanjutkan kalimatnya. T
ertahan kalimat itu dimulutnya. Memang bukan tidak mungkin mereka sedang memiliki
keperluan tertentu bahkan langsung terkait dengan Lembah kita... meski sukar, te

tapi dugaannya itu dikemukakan juga


Setelah berpikir keras, Nenek kedua kembali berkata: Tapi, apa masih ada orang ya
ng mengingat Lembah Salju Bernyanyi setelah 100 tahun .....? sungguh sulit untuk
memperkirakannya
Ji suci, itulah yang meragukan aku. Masak setelah 100 tahun masih ada manusia yan
g masih mengingat kita? Padahal, tidak pernah Lembah kita mengutus orang keluar
untuk urusan dunia persilatan. Paling-paling sekedar mencari makanan atau berbur
u semata .... sambung Sam Sumoy.
Tapi, Ji suci kembali berkata cepat: tapi, apakah engkau sama sekali tidak mencur
igai sesuatu terhadap ketiga pendatang itu ?
Aku belum yakin sebenarnya suci, tapi memang sangat mungkin mereka sedang menyeli
diki kita. Atau sangat mungkin juga hanyalah orang biasa yang sekedar lewat. Tap
i di daerah sesunyi ini, kan mustahil. Hanya saja ......... iya, aku ingat suci,
jika aku tidak salah, dari ringannya langkah sang pendatang, ketiga kejadian it
u nampaknya dilakukan oleh orang yang sama. Benar, kali ini aku sangat yakin den
gan kesimpulanku suci. Gerakan yang pertama sampai ketiga, jika dilakukan oleh m
anusia, maka aku pastikan dilakukan oleh orang yang sama dan kupastikan dengan t
ingkat kepandaian yang sangat hebat. Setidaknya tidak dibawah kita tegas sam sumo
y.
Mendengar keterangan terakhir sam sumoynya, nenek tertua atau yang menjadi orang
pertama Thian San Giokli sedikit tergerak. Tetapi, kematangan serta usia tuanya
membuat nenek itu dengan cepat mampu mengendalikan diri. Dan hanya dalam sekeja
p, gejolak ketegangan itu telah berlalu dari wajahnya dan dia kini sudah kembali
tenang. Dan kembali mengikuti perdebatan kedua sumoynya mengenai perkembangan t
erakhir Lembah Salju Bernyanyi.
Itulah, berarti masih ada orang yang mengingat Lembah Salju Bernyanyi. Keluarnya
beberapa anak murid lembah kita, bisa dipastikan berada dalam pengawasannya. Pad
ahal, kawan atau lawankah orang itu, masih belum dapat kita pastikan. Sungguh ru
nyam, sungguh runyam Ji suci kembai berkata dengan kening berkerut, menambah bany
ak kerutan di wajahnya yang memang sudah sangat banyak itu.
Ji Suci, toa suci, bagaimana kalau aku menyusul anggota Lembah kita ke Thian San
Pay sang Sam Sumoy mengajukan diri. Dan sepertinya Ji suci juga mendukung, bahkan
berkata:
Jika diperkenankan, aku juga ingin melakukannya bersama sam sumoy
Tetapi, tidak nampak reaksi setuju atau menolak dari sang suci yang masih tetap
duduk dengan tenang dan kini memandang kedua adik perguruannya dengan tatapan kh
asnya. Lembut dan penuh wibawa. Biasanya, apa yang dikatakan, dianalisis dan dik
emukakan sang toa suci adalah sesuatu yang sangat penting dan nyaris tidak perna
h dilawan dan ditolak kedua adik perguruannya ini. Dan kejadian puluhan tahun te
lah mendekatkan ketiga perempuan tua ini hingga mampu saling mengenal satu denga
n lainnya.
Setelah memandang lembut dan penuh wibawa, sang toa suci akhirnya buka mulut: jiw
i sumoy, aku senang di usia selanjut ini kalian masih bersemangat. Hanya saja, j
ika aku tidak salah, orang yang terlacak sam sumoy, memiliki niat tidak baik ter
hadap Lembah kita. Bukan tidak mungkin sekarang ini, di Thian San Pay telah terj
adi peristiwa yang tidak kita kehendaki. Dan percayalah, efeknya akan sangat pan
jang
Maksud suci ? ji suci dengan cepat bertanya kembali
ji sumoy, jangan lupa kakek guru kita adalah tokoh utama pada masa hidupnya. Kita
bersama tahu, karena membawa bibit penyakit yang berbahaya bagi keturunannya, m
embuat kakek guru memutuskan tidak memiliki keturunan. Tetapi dia memilih untuk
membesarkan suhu dan subo bagaikan anak-anaknya sendiri. Sebagian besar sisa hid
upnya digunakan di Lembah ini, mendidik murid-muridnya dan mengekang adiknya yan
g luar biasa saktinya tetapi juga tidak waras. Tetapi, dunia persilatan mengenal
kakek guru sangat baik, karena kedudukannya sama dengan Kakek Dewa Pedang meski
berbeda generasi. Boleh dibilang, Kakek Dewa Pedang adalah tokoh utama dunia pe
rsilatan setelah Kakek guru mengundurkan diri mengurus adiknya di Lembah Salju B
ernyanyi. Dan suhu dan subo belum sempat mewarisi seluruh kepandaian kakek guru,
karena itu mereka bisa dikalahkan Kakek Dewa Pedang dan kita sembunyi 100 tahun
disini

Kami mengerti dengan kisah itu toa suci, hanya saja ...... sam sumoy menahan kalim
at lanjutannya.
Tetapi, sang toa suci sudah paham maksudnya, karena itu dia berkata: Sam sumoy, b
ukankah engkau ingin mengatakan, apakah setelah seratus tahun masih ada yang men
genal kita ? Ach, engkau terlalu memandang remeh nama Lembah Salju Bernyanyi sam s
umoy. Kedudukan Lembah Salju Bernyanyi jika dibandingkan dengan kondisi masa kin
i, tidak kalah menterengnya dengan Lembah Pualam Hijau. Hanya karena sakit gila
dari adik kakek guru maka urusan Lembah banyak terbengkalai. Tetapi, soal keterk
enalan dan kehebatan ilmu silat, kita tidak di bawah kakek Dewa Pedang maupun Le
mbah Pualam Hijau sekarang ini
Terus, apakah artinya daya tarik Lembah Salju Bernyanyi masih sangat mengundang b
agi banyak tokoh persilatan ? tanya sam sumoy.
Jiwi sumoy, jika aku tidak salah menduga, orang yang barusan berkunjung dan menga
mati lembah kita adalah seorang tokoh tua, atau setidaknya murid dari seorang to
koh masa lalu yang mengenal kakek guru kita. Apa maksud utamanya kita sama sekal
i gelap. Tetapi, kalau maksudnya buruk, maka di Thian San Pay telah terjadi keja
dian yang akan merugikan kita
Kira-kira, apa keinginan orang tersebut dengan Lembah kita suci ? tanya nenek yang
kedua.
jiwi sumoy, masih ingatkah tugas utama kita bertiga dan Pek Tin (barisan putih) d
i Lembah Salju Bernyanyi ? toa suci balik bertanya.
Tentu toa suci kedua sumoynya berbareng menjawab
Syukurlah jika kalian masih mengingatnya. Dengan demikian, aku tidak perlu mengat
akan setuju atau tidak kalian berdua berangkat ke Thian San Pay. Sebab, selain s
udah sangat terlambat, juga bukan menjadi urusan dan tugas kita mengurusi urusan
disana
Kalimat terakhir sang toa suci diterima dengan anggukkan tanda mengerti dan sama
sekali tanpa penolakan dari kedua adik seperguruannya. Sungguh, ketiga nenek in
i memang memiliki ikatan yang luar biasa. Meski ingin berangkat, tetapi mendenga
r pendirian dan keterangan kakak seperguruan mereka, keinginan segera diredam. D
an dengan taat mereka mengiyakan apa yang menjadi kesimpulan kakak seperguruan t
ertua mereka itu. Tetapi, bukan berarti percakapan mereka telah selesai. Karena
sang kakak seperguruan telah kembali berkata kepada mereka:
Tidak lama lagi kita akan menyelesaikan tugas kita, baik sebagai murid di Lembah
Salju Bernyanyi, maupun sebagai manusia. Usia kita sudah begitu lanjut. Tetapi,
masing-masing kita harus menyelesaikannya sebaik-baiknya. Kuharap jiwi sumoy mem
ahaminya
Nenek kedua nampak tersentak. Sebuah pikiran aneh menyelinapi otaknya dan sepert
i biasa dia segera bereaksi:
Suci, apa maksud perkataanmu yang terakhir? Apakah engkau seperti telah memperole
h gambaran apa yang sebenarnya sedang dan akan terjadi ?
Ji sumoy, pertama aku ingin bertanya: berapa usia sumoy sekarang ?
Menurut keterangan subo dahulu, jika kuhitung yang sudah sekitar 86 tahun
Engkau tahu umurku sekarang ? kejar sang toa suci.
Jika tidak salah sudah 89 tahun jawab ji suci.
Dan engkau tahu di usia berapa subo meninggal ?
92 tahun suci
Dan ingatkah engkau apa yang dikatakannya tentang kita tiga kakak beradik ini men
jelang kepergian subo tercinta ?
Toa suci, engkau ..... engkau ...... terbata-bata ji suci. Toa suci menambahkan: At
au, sam sumoy, apakah engkau ingat ?
Ingat toa suci, yakni bahwa usia kita tidak akan melampaui usia subo
Jiwi sumoy, syukur kalau kalian mengingat kalimat-kalimat terakhir mendiang subo
yang terkasih. Kalian berdua tentu mengerti, bahwa subo memiliki ilmu yang mampu
menerawang dan memetakan masa depan. Dan harus kuberterus terang, beberapa pulu
h tahun terakhir, akupun telah menjejaki langkah subo untuk mendalami ilmu terse
but. Itulah sebabnya kukatakan tadi bahwa bukan tidak mungkin telah terjadi sesu
atu yang menggemparkan di Thian San Pay , sang toa suci terlihat berhenti sebentar,
tetapi hanya sebentar karena tidak lama kemudian dia langsung melanjutkan lagi:
Beberapa waktu terakhir, sangat mungkin bersamaan waktunya dengan sam sumoy terge

rak oleh langkah seorang asing yang sakti di sekitar gerbang alam, akupun mendap
atkan gambaran-gambaran tentang masa depan pada saat melatih ilmu-ilmuku tersebu
t. Lembah Salju ini akan bergolak cukup hebat dan subo seperti mengingatkan aku
akan tugas utama kita di Lembah ini. Ach, aku sungguh terharu dengan perhatian s
ubo kepada kita dan kepada Lembah Salju bernyanyi ini
Dengan emosional ji suci memburu: Toa suci, apakah ada pesan subo kepada kita ber
tiga menghadapi urusan ke depan ?
Tidak, dia hanya menegaskan tugas kita, sekaligus mengingatkan aku akan batas kem
ampuan kita sebagai manusia
achhh, subo ...... terdengar jeritan lirih kedua nenek lainnya, terharu.
Jiwi sumoy tentu tidak menyesalkan aku karena tidak memberi sikap soal berangkat
ke Thian San Pay bukan ? tanya toa suci seperti memahami perasaan kedua adik seper
guruannya.
Tidak, tidak sama sekali suci jawab ji suci cepat.
Bagaimana engkau sam sumoy ?
sama sekali tidak ada keberatanku toa suci
Baiklah jika demikian. Jiwi sumoy, aku ingin menegaskan beberapa hal, karena beso
k-besok kita akan sangat disibukkan dengan banyak urusan baru. Aku akan menyeles
aikan bimbinganku kepada Ki jie dan Ling jie, dan karena itu selama beberapa wak
tu belakangan ini aku akan banyak bersama mereka. Kuharap jiwi sumoy sangatlah m
emperhatikan tugas dan tanggung jawab Pek Tin terhadap Lembah Salju Merenung. Ji
ka memang jiwi sumoy bersedia, akupun memberi diri membantu Kun jie dan Gwat jie
, murid-murid jiwi sumoy selama beberapa waktu belakangan ini. Mengenai Kun jie,
sebetulnya sudah dua tahun belakangan melakukannya atas ijin sam sumoy. Ada beb
erapa jenis ilmu baru yang kuharapkan mereka bisa menguasai dengan cepat, hal ya
ng tentunya akan sangat berguna bagi Lembah Salju Bernyanyi kelak , Nenek pertama
berkata sambil memandang kedua adik seperguruannya secara sangat serius.
Kalimat kalimat tersebut membuat kedua adik perguruannya terdiam, tetapi mendeng
ar murid mereka akan dibimbing beberapa saat oleh sang toa suci yang mereka send
iri tidak tahu sampai dimana tingkat kesaktiannya sekarang ini, membuat mereka g
embira. Dan ji suci sudah berkata cepat:
Adalah berkah bagi Gwat jie untuk mendapatkan bekal tambahan dari suci. Terima ka
sih atas nama Gwat jie suci . Sementara Sam Sumoy tidak berkomentar, karena perset
ujuannya sudah diberikan 3 tahun sebelumnya. Bahkan Kwik Soat Kun sejak dua sete
ngah tahun terakhir, terhitung ketika dia mendapat giliran bersamadhi menjaga Ge
rbang Alam Lembah Salju Bernyanyi sudah dimintanya sang toa suci untuk menggembl
eng murid tersebut. Murid sam sumoy ini masih terhitung keponakannya.
Anak itu, Kwik Soat Kun sebenarnya adalah cucu tunggal dari kakak perempuannya.
Dimana keponakan perempuan, anak dari kakak perempuannya menikah dengan seorang
Pendekar preman Bu Tong Pay
Kwik Long Kun. Pendekar ini terbunuh ketika membela
sekelompok pengantar barang yang dibegal oleh para perampok di sekitar gunung Be
ng san.
Perlu dijelaskan, isolasi 100 tahun bagi Lembah Salju Bernyanyi adalah isolasi men
gadakan gerakan dan hubungan dengan dunia persilatan. Tetapi, untuk urusan priba
di atau urusan keluarga, dan urusan suplay makanan, tidak dikenakan pembatasan.
Itulah sebabnya guru ketiga Nenek Thian San Giokli, masih memiliki murid yang me
mang dicarinya secara khusus tersebut. Berbeda dengan suaminya yang memilih untu
k mendidik anak mereka semata.
Sementara itu, kembali terdengar sang toa suci berkata: Aku mengatakan demikian,
karena, terus terang jiwi sumoy, aku mendapat firasat, orang yang datang menjaja
ki Lembah kita, sebetulnya sedang menyasar Lembah Salju Merenung. Karena disanal
ah adik kakek guru kita ditempatkan dan dijaga sendiri oleh kakek guru. Tugas itu
selanjutnya diembankan kepada subo dan selanjutnya kepada kita bertiga untuk men
jaga pintu masuk Lembah sempit itu. Jiwi sumoy pasti masih ingat, disana juga di
tahan 2 gembong iblis yang ditaklukkan kakek guru setelah bertarung selama 2 har
i 2 malam. Mereka ditahan sampai akhir hayatnya di Lembah salju Merenung, dan bu
kan tidak mungkin mereka meninggalkan sesuatu disana. Dan yang mengerti kisah-ki
sah besar itu, hanya beberapa gelintir tokoh belaka. Kuharap dugaanku keliru, ha
nya aku khawatir dugaanku justru benar. Maka diharap kesediaan jiwi sumoy
Permintaan yang sudah keluar dari mulut toa suci sudah pasti akan diterima. Dan

memang demikian keadaannya, sebagaimana juga dahulu-dahulunya. Kedua sumoy denga


n cepat menyatakan kesiapan mereka:
Ach, suci, itu memang sudah tugas kita melanjutkan tugas subo jawab Nenek yang ked
ua. Dan nenek ketiga juga berkata:
Sudah kewajiban kita toa suci
Baiklah, jika demikian sudah waktunya kita akhiri percakapan. Dan ....... ach ...
.. nampak sang toa suci terdiam sejenak, wajahnya sedikit berubah, tetapi tak lam
a kemudian kembali berangsur-angsur tenang dan kembali seperti sedia kala. Tetap
i, kedua adik perguruannya sama memandangnya heran. Nenek kedua dengan cepat ber
tanya: Suci, apakah ada sesuatu yang sangat serius ?
Setelah kembali menguasai diri, sang suci kemudian berkata, perkataan yang membu
at kedua sumoynya kaget setengah mati: Terjadi bentrokan hebat di Thian San Pay,
memakan korban yang lumayan banyak. Kita harus segera bersedia dan menyiapkan di
ri kita semua .
Suci, bagaimana bisa engkau ...... engkau ..... Nenek kedua kaget memandang suciny
a, kaget karena sucinya sudah mampu menangkap sebuah kejadian di jauh sana. Hany
a subo mereka yang bisa, bahkan suhu merekapun tidak mampu melakukannya dahulu.
Sumoy, iya. Saat-saat terakhir subo membuka rahasia ilmu itu yang kudalami selama
10 tahun terakhir ini , tapi selanjutnya Nenek pertama itu telah berkata:
Sudahlah jiwi sumoy, kejadian sudah terlanjur terjadi. Kita bertemu malam nanti d
i pintu rahasia Lembah Salju Merenung, selanjutnya tugas disana kuserahkan kepad
a jiwi sumoy karena besok aku akan mulai membantu murid-murid kita untuk melanju
tkan tugas berat kedepan.
Baik suci, sampai nanti malam ujar nenek kedua
Sampai bertemu malam nanti toa suci nenek ketiga juga berpamitan.
=====================
Sementara itu, kejadian lain terjadi. Tepat ketika Nenek ketiga meninggalkan Kim
Tong untuk kemudian melakukan percakapan di ruang rahasia Pek Tin dalam Lembah
Salju Bernyanyi dengan kedua suci (kakak seperguruan perempuan), sesuatu terjadi
di gerbang alam.
Thian San Kim Tong atau nama aslinya Tham Kong Liang sebenarnya adalah pewaris d
ari Thian San Siang Sian, murid-murid dari Koai Todjin. Adalah karena menghindar
i memperoleh keturunan maka Koai Todjin tidak menikah. Koai Todjin memang memili
ki kemampuan ilmu silat dan ilmu pengobatan yang luar biasa. Karena itu, dia men
yadari bahwa jika dia memaksakan diri untuk menikah dan memperoleh keturunan, ma
ka akibatnya akan sama belaka dengan adik laki-lakinya itu.
Baik Koai Todjin maupun adiknya laki-laki, adalah tunas dunia persilatan yang me
miliki bakat sangat istimewa. Selain bakat, keduanya juga pintar luar biasa. Itu
sebabnya keduanya memiliki ilmu silat yang luar biasa dan bahkan menjagoi rimba
persilatan pada jamannya. Sayang, perlahan-lahan adiknya termakan penyakit ketur
unan (gila), dan dengan hati hancur serta bersusah payah dia harus menangkap dan
mengamankan adiknya. Untungnya, belum banyak kejahatan yang dilakukan adiknya se
belum dia berhasil mengamankannya .
Tetapi, fakta bahwa mereka memiliki garis keturunan yang berbahaya, membuat Koai T
odjin memutuskan tidak menikah. Selanjutnya dia menyepi dan membentuk perguruan
sendiri di Lembah Salju Bernyanyi, menjaga atau menyimpan adiknya disana dan kem
udian pada usia-usia pertengahan dia mengambil sepasang murid yang diwarisinya L
embah Salju Bernyanyi. Lembah yang sepi dan jikapun ada suara seperti orang berd
endang, lebih hanya karena salju-salju yang mengeluarkan suara seperti berdendan
g ketika angin berderai dan menghembus kencang di lembah tersebut. Itulah sebabn
ya Koai Todjin memberi nama tempat itu sebagai Lembah Salju Bernyanyi.
Dan kini, cucu murid Koai Todjin, Tham Kong Liang atau juga Thian San Kim Tong (
Anak Emas Thian San), sedang berdiri persis di bawah gerbang alam, satu-satunya
pintu masuk ke Lembah Salju Bernyanyi. Sepeninggal Thian San Giokli nomor tiga,
diapun tenggelam dalam lamunan sampai kemudian beberapa orang berpakaian emas be
rmunculan dari dalam Lembah. Dan beberapa saat kemudian orang-orang itu datang m
endekat kepada Anak Emas Thian San sambil berlutut berkata:
Menjumpai Majikan ......
Bangunlah .....
Terima kasih Majikan ....

Baiklah, terhitung sejak hari ini, lakukan tugas berjaga di Gerbang Alam ini seca
ra bergantian. Gerbang Alam ini harus dijaga selama 24 jam dan jangan pernah mem
biarkan siapapun untuk melintasi gerbang ini tanpa sepengetahuan ataupun seijink
u. Begitu juga bagi yang mau keluar, harus memiliki ijin dan atas sepengetahuank
u
Baik Majikan, penjagaan bergilir sudah kami lakukan, tinggal melaksanakan jawab pe
mimpin Kim Tin yang barusan datang.
Bagus jika sudah disiapkan. Sekali lagi, siapapun yang masuk, harus seijinku. Dan
siapapun yang keluar, harus dengan ijin atau tanda pengenal khusus yang kusiapk
an. Kalian paham ? .... Paham majikan jawab Kim Tin itu serempak.
Bagus, ingat-ingatlah yang kusampaikan itu....... Ech, siapa disitu .... ?
Baru saja Kim Tong, Tham Kong Liang mengeluarkan suara siapa disitu , tubuhnya tela
h melesat dengan luar biasa cepatnya ke luar lembah. Dan ketika anggota-anggota
Kim Tin atau Barisan Emas dari Lembah Salju Bernyanyi memandang ke arah tujuan M
ajikan mereka, mereka terkejut, karena jauh di depan nampak setitik bayangan kel
abu sedang berlari menjauh. Dan di belakangnya, adalah tubuh keemasan, pastilah
Thian San Kim Tong yang sedang melakukan pengejaran.
Inilah untuk pertama kalinya, secara resmi, warga Lembah Salju Bernyanyi keluar
dari Lembah dengan kekuatan ilmu silatnya. Betapa terharu Thian San Kim Tong mel
ihat pemandangan yang sudah lama ingin dia saksikan, pemandangan yang berbeda da
n tidak melulu dalam Lembah Salju Bernyanyi. Tapi, sayangnya keinginan menikmati
keindahan pemandangan harus disingkirkan, karena dia harus mencari tahu siapa y
ang mengintip percakapannya barusan dengan anak buah Lembahnya.
Tapi, betapa terkejutnya Thian San Kim Tong begitu menyadari ternyata lawan yang
dikejar tidak kalah hebatnya dengan dirinya sendiri. Jarak antara dirinya denga
n orang yang dikejar tidak bertambah pendek, meski juga tidak bertambah jauh. Te
tap dalam kisaran 100 meteran belaka, dan belum pernah memendek jarak antara ked
uanya. Tentu saja Thian San Kim Tong menjadi penasaran. Pertama kali keluar lemb
ah, langsung bertemu lawan kuat, membuat harga dirinya sedikit terusik. Hendak ku
lihat siapa gerangan engkau gumamnya penuh dengan rasa penasaran.
Dan tiba-tiba, diapun menggenjot tubuhnya, mengerahkan kekuatan ginkangnya dan m
eluncur dengan luar biasa cepatnya ke arah bayangan kelabu yang dikejarnya. Keti
ka mengempos dan mengerahkan kekuatannya, untuk beberapa saat jarak antara kedua
nya sedikit memendek. Dan rupanya, hal tersebut disadari oleh orang yang dikejar
nya. Nampak diapun menambah kekuatan dan kecepatan, dan tiba-tiba tubuhnya meles
at kedepann sama cepatnya dengan Thian San Kim Tong yang akhirnya mencak-mencak
penasaran.
Sekilas tiada yang istimewa antara peristiwa kejar-kejaran Thian San Kim Tong de
ngan orang yang diburunya. Tetapi, bagi para ahli, akan segera mengerti bahwa me
reka yang sedang berkejar-kejaran itu, bukan sekedar jago silat kelas satu, teta
pi jago silat yang hanya bisa dihitung dengan jari tangan. Kecepatan mereka luar
biasa, padahal medan dimana mereka adu ginkang adalah medan yang sangat sulit.
Tetapi, sulitnya medan tidak mengurangi kecepatan mereka dalam adu ginkang. Dan,
kali ini jarak antara merekapun tetap tidak memendek, tidak juga menjauh. Adu g
inkang antara dua orang berilmu tinggi yang sangat mendebarkan dan menegangkan.
Tetapi, orang yang dikejar rupanya tidak terlampau mengerti medan diseputar Lemb
ah Salju bernyanyi. Karena beberapa saat kemudian, dia terjebak dalam kondisi al
am yang tidak memungkinkan dia berlari lebih jauh. Di hadapannya kini terpampang
jurang yang tepian seberangnya sama sekali tidak terlihat. Bukan hanya karena t
erhalang kabut yang lumayan pekat, tetapi karena dari desau angin menandakan jik
a tebing seberang berada dalam jarak yang agak jauh dari tebing jurang tempatnya
berpijak sekarang.
Otomatis orang berjubah kelabu itu berhenti, atau tepatnya terhenti. Dan hanya d
alam hitungan detik, tubuh Thian San Kim Tong telah menyandaknya. Dan kini kedua
nya dalam sikap dan posisi berhadap-hadapan. Tiada lagi daya orang itu berlari j
auh ke depan. Dia tentu tidak akan berspekulasi meloncati jurang dihadapannya ka
rena ketidakyakinan seberapa jauh lebar jurang tersebut. Dan ketidakyakinan itu
membuatnya terpaksa harus menunggu pengejarnya untuk datang mendapatkannya. Dan
memang, sekarang mereka sudah dalam posisi saling berhadapan. Bahkan Kim Tong su
dah langsung melayangkan serangan ke arah orang yang dikejarnya itu, dan tidak t

erelakkan lagi:
Dhuaaaaaaaaaaaaaarrrrrrr
Keduanya terlontar deras kebelakang. Benturan tenaga yang sangat hebat, tetapi s
ekaligus membuat keduanya sangat berhati-hati karena lawan ternyata bukan ayam s
ayur. Bukan hanya ginkang mereka yang hebat dan istimewa, tetapi tenaga dalampun
ternyata tidak selisih banyak. Hal yang menimbulkan kerguan di antara keduanya:
Sekarang, kemana lagi engkau mau melarikan diri ... ? Kim Tong mengejek.
Kalau tidak harus berlari lari, buat apa melarikan diri. Toch aku sudah menyambut
pukulan perkenalanmu, tidak jelek memang .... ? orang yang dikejarpun membalas me
ngejek dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa takutnya sekalipun.
Siapa gerangan engkau .... ? kembali Kim Tong bertanya. Tidak lagi menyerang karena
maklum, lawan juga ternyata hebat. Hanya dia heran: kenapa pagi-pagi begini suda
h bertemu lawan hebat ?
Apa perlunya engkau mengenali diriku ...? setelah Lembah Salju Bernyanyi terisola
si selama kurang lebih 100 tahun, kuberitahukan kepadamu namakupun tetap engkau
tidak akan mampu mengenaliku. Karena itu, adalah jauh lebih baik tidak kukatakan
saja
Hmmm, engkau ternyata mengetahui dan mengenal Lembah Salju Bernyanyi jika demikia
n Kim Tong menjadi curiga. Tidak disangkanya sama sekali jika pada hari pertama i
solasi 100 tahun itu berakhir, sudah ada orang luar yang menyatroni lembahnya.
Hahahaha, jika tidak mengetahui, untuk apa aku berada disini balas orang itu.
Apakah engkau kawan ataukah lawan .... ? tanya kim Tong, terkesan polos untuk seora
ng Majikan Lembah sekelas dirinya. Tapi, begitulah, dia memang tidak pernah beri
nteraksi dengan dunia luar, selain dengan warga Lembah Salju Bernyanyi belaka.
Apa maksudmu dengan menjadi kawan atau lawan ....? orang berpakaian dan berkerudu
ng kelabu itu bertanya.
kawan berarti tidak punya maksud buruk. Lawan, berarti memiliki niat jelek dihati
nya terhadap kami tegas Kim Tong. Bagaimana kalau kukatakan aku adalah kawanmu ? pan
cing si jubah kelabu.
Kawan .....? Tapi seorang kawan tidak akan melakukan pengintaian terhadap Lembah
kami secara diam-diam seperti dirimu tegas Kim Tong. Pintar juga ternyata Thian S
an Kim Tong ini. Sebab tindakan si jubah kelabu yang mengintip adalah sama sikap
orang yang bermaksud buruk.
tentu saja aku bisa menyatakan diri sebagai kawanmu. Jelek-jelek begini, akulah o
rang pertama yang engkau jumpai setelah 100 tahun Lembahmu terisolasi dari dunia
luar
Tetapi, tindak-tandukmu tidak menunjukkan itikad baik seorang sahabat. Lebih miri
p orang jahat yang memiliki niat buruk terhadap Lembah Salju Bernyanyi, apalagi
engkau melarikan diri ketika kutanya siapa engkau gerangan. Dan hanya karena jur
ang ini sajalah maka engkau dengan terpaksa harus berbicara denganku disini
Hahahahaha, pintar .... pintar. Padahal, aku hanya ingin memastikan bahwa benar L
embah Salju Bernyanyi telah lepas dari isolasi yang dikerangkengkan oleh Kakek D
ewa Pedang 100 tahun silam
Hmmmm, engkau nampaknya tahu banyak soal Lembah Salju Bernyanyi ?
Mengapa tidak tahu .....? Banyak orang yang tahu dan masih ingat dengan Lembah Sa
lju Bernyanyi sebelum dihukum Kakek Dewa Pedang. Dan kakek Dewa Pedang adalah mu
suh perguruan kami sejak dahulu, jadi kami dengan Lembah Salju Bernyanyi sebenar
nya adalah kawan
Tidak perlu engkau memanasi aku dengan Kakek Dewa Pedang. Lihat saja, dalam waktu
dekat aku akan membayar hinaan atas Lembah Salju Bernyanyi
Membalas, membalas kepada siapa ? Hahahaha, apakah engkau tidak tahu jika Kakek Dew
a itu telah meninggal puluhan tahun silam ?
Benar, aku tahu. Tapi, toch kakek Dewa Pedang mempunyai keturunan. Aku bisa saja
melakukan pembalasan kepada anak muridnya guna melihat kepandaian siapa yang leb
ih hebat
Hahahaha, engkau menyuruh orang ke Thian San Pay, padahal murid Kakek Dewa Pedang
tidak berada disana. Dan lagi, tidak seorangpun pendekar pedang di Thian San Pa
y yang sanggup menampung 50% saja keahlian Kakek Dewa Pedang. Hahahaha, engkau s
ia-sia saja
Semerosot itukah Thian San Pay? Kalau begitu, muridnya memangnya berada dimana ji

ka tidak di Thian San Pay ?


Apakah engkau berani meluruknya jika kukatakan ? tantang si jubah kelabu yang secar
a perlahan menggiring Kim Tong kearah percakapan yang memang diinginkannya itu.
Soal takut masih belum ada di kamu Lembah Salju Bernyanyi Kim Tong tersinggung, da
n memang kelihatannya itu yang diinginkan oleh si jubah kelabu. Percakapan yang
digiringnya perlahan mulai membuahkan hasil.
Hahahaha, tapi siapa yang berani meluruk Lembah Pualam Hijau sekarang ini? Tapi e
ntah kalau Lembah Salju Bernyanyi sanggup ditambahkan lagi minyak untuk menyiram
kemarahan Kim Tong.
Kalau hanya Lembah Pualam Hijau, kami Lembah Salju Bernyanyi masih belum kehilang
an nyali untuk melabraknya. Lihat saja nanti, saatnya kami akan mencari murid Ka
kek Dewa Pedang untuk adu kesaktian, setidaknya membuktikan kami tidak kalah dar
i Kakek Dewa Pedang
Jika demikian Majikan Lembah Salju Bernyanyi, engkau boleh datang ke Lembah Puala
m Hijau pada dua bulan ke depan. Dan lihat, apakah engkau berkemampuan memasuki
Lembah Pualam Hijau dan menantang murid tunggal Kakek Dewa Pedang itu
Baiklah, tetapi siapakah gerangan engkau ? Kim Tong tetap penasaran dengan orang be
rjubah kelabu yang dikejarnya dengan susah. Dan baru bisa berbicara dan bertemu
setelah dia tidak berani terbang melintais jurang dalam itu.
Jika engkau ada di Lembah Pualam Hijau pada dua bulan menjelang, maka kita akan s
aling berjumpa dan berkenalan lebih jauh ...... awas......
Meski Kim Tong cukup awas dan waspada, tetapi dia tetap kena dipermainkan orang.
Ketika dia menoleh untuk melihat apa yang diteriakkan si jubah kelabu itu denga
n awas , tibat-iba dia merasa sesuatu tak wajar, dia merasa dikibuli karena tak ada
orang dibelakangnya. Tetapi, waktu sepersekian detik telah memberi ketika yang
cukup bagi si jubah kelabu untuk bertindak. Dalam waktu singkat tubuhnya kembali
melesat, kali ini ke arah darimana mereka datang. Dan ketika dikejar, seperti t
adi jarak mereka tidak menyempit atau memendek, tetapi selalu tetap tidak beruba
h, sampai kemudian Kim Tong membiarkannya berlalu.
Lembah Pualam Hijau?, hmmmmm, apa yang ditakuti disana ? desis Thian San Kim Tong d
alam hati. Sayang, Kim Tong tidak menyadari jika dia sebenarnya sedang digiring
si Jubah Hijau untuk mengarah ke Lembah Pualam Hijau. Dia memang mendengar nama
Lembah yang sangat terkenal dan hebat itu di jaman sekarang. Tetapi sudah tentu
dia enggan memperlihatkan kelemahannya meski harus berhadapan dengan Lembah Pual
am Hijau. Apa gerangan yang akan terjadi kelak?
Di lain tempat, Thian San Giok Li setelah berbicara panjang lebar tentang kondis
i yang terjadi dan pembagian tugas di antara mereka bertiga, telah kemudian berp
isah. Kedua nenek yang mendapat tugas untuk menjaga pintu rahasia , tugas yang tela
h mereka emban selama puluhan tahun terakhir, telah beranjak pergi. Tetapi entah
mengapa dan apa alasannya, pintu itu kini harus dijaga lebih ketat. Biasanya ya
ng menjaganya, cukup seorang di antara mereka bertiga, tetapi sekarang harus dij
aga berdua.
Meski keheranan, kedua nenek ini tetap melaksanakan pembagian tugas tersebut. En
tah bagaimana, pesona dan wibawa kakak seperguruan mereka selalu membuat mereka
tunduk. Pesona dan wibawa itu nyaris mirip dengan subo mereka, ibu guru yang tel
ah almarhum lebih 10 tahun silam. Lemah lembut, tetapi menampilkan penampilan ya
ng tegas dan kokoh, sekaligus begitu memperhatikan kebutuhan mereka sebagai muri
d-murid.
Maka kedua nenek itupun meninggalkan toa suci mereka yang masih memandangi berla
lunya kedua nenek itu sampai beberapa lama. Pada akhirnya, sang Toa Suci, orang
pertama Thian San Giokli itu, juga meninggalkan ruangan tersebut setelah menarik
nafas panjang berulang-ulang. Wajah yang berprihatin kini tak dapat disembunyik
an lagi. Meski dia sanggup menyembunyikannya dari pandangan mata kedua adik perg
uruannya, tetapi sekarang membayang jelas dari sorot mata dan tampilan wajahnya.
Lembah Salju Bernyanyi memasuki babakan baru. Hmmmm, mudah-mudahan sanggup, mudah
-mudahan demikian desis sang Nenek dalam hatinya. Entah apa dan bagaimana sebenar
nya yang dibayangkan dan diterawangnya akan terjadi bagi Lembah Salju Bernyanyi.
Bayangan tersebut, justru datang dan membayang pada hari pertama setelah selama
100 tahun Lembah Salju Bernyanyi hidup dalam kekangan, terisolasi dari dunia lu
ar.

Subo tidaklah mungkin keliru, tanda-tandanyapun kulihat semakin jelas demikian san
g nenek kembali berdesis dalam hatinya. Dan setelah beberapa waktu sang nenek te
rpekur sendirian sambil menerawang dan memandang ke atas, akhirnya diapun perlah
an-lahan turun dari tempatnya bersamadhi, dan perlahan berlalu. Dia menyusuri lo
rong-lorong dalam ruangan-ruangan khusus yang tersembunyi di dalam Lembah Salju
Bernyanyi.
Berliku-liku dia berjalan sampai akhirnya tangannya meraba kepala burung di dind
ing sebelah kiri dan seterusnya sedikit mendorongnya. Setelahnya terdengar derit
dinding-dinding yang bergeser membuka, terus membuka hingga setinggi persis tub
uh seseorang, hanya kurang lebih 2 meter dan lebarnya tak akan lebih dari 50 cm.
Hanya cukup bagi satu orang belaka untuk memasuki pintu yang membuka tersebut.
Sebuah pintu yang selalu terkunci dan mustahil dikenali orang luar karena dindin
g dimana pintu rahasia tersebut berada, persis sama dengan dinding-dinding lainn
ya. Susah ditemukan pastinya.
Tidak ada tanda khusus dan khas, bahkan benda yang disentuh oleh si nenekpun ada
lah benda biasa, berbentuk burung-burungan. Burung khas yang banyak terdapat di
Gunung Thian San dan juga banyak menghiasi dinding sepanjang lorong yang di lalu
i si Nenek. Hanya orang yang mengerti dan tahu rahasianya sajalah yang akan sang
gup mengenali kepala burung-burungan manakah yang menjadi tanda rahasia bagi pin
tu rahasia yang terbuka itu.
Secara perlahan si Nenek berjalan masuk ke ruangan rahasia tersebut. Hanya beber
apa langkah, di hadapannya kini terbentang 5 ruangan yang masing-masing ruangan
memiliki pintunya sendiri. Nampaknya, ini adalah ruangan yang biasa ditempati ol
eh si Nenek. Dia memandangi sejenak 3 pintu ruangan bagian tengah, untuk kemudia
n menarik nafas panjang. Setelahnya dia beranjak ke sudut ruangan lebih luas dar
i tempatnya berdiri saat itu, disana terdapat sebuah tempat yang biasa digunakan
bersamadhi. Sementara tepat di belakangnya, kembali terdapat sebuah pintu ruang
an.
Dengan tidak menekuk sepasang kakinya, si Nenek tiba-tiba saja bagaikan terbang,
melayang ke arah tempat dia samadhi. Dan ketika tiba ditempat, dengan ringan da
n santai dia menekuk kedua kakinya, dan diapun mendarat di tempatnya dalam posis
i samadhi. Disitu kembali si Nenek beberapa kali menarik nafas panjang, dan sete
rusnya berusaha untuk memusatkan perhatiannya. Tidak lama kemudian dia telah men
emukan ketenangan dalam samadhinya.
Tetapi, Nenek itu sepertinya memang telah mencapai puncak kesempurnaan dalam pen
guasaan ilmu-ilmunya. Belum beberapa lama dia tenggelam dalam samadhinya, mungki
n hanya ada sekitar 30 menitan, tiba-tiba matanya telah terbuka. Seterusnya terd
engar dia berguman:
Harusnya mereka telah menyelesaikannya ...... , dan setelah itu matanya kembali mem
andang kearah 3 pintu yang kini berada di sebelah kanan depannya, rapih berjejer
. Begitupun, dia masih belum menemukan adanya tanda-tanda pintu itu bergerak dib
uka orang. Kembali dia terpekur menunggu. Beberapa saat dia menunggu, tiba-tiba
dia tersentak:
Ach, sesuatu akan terjadi, apakah gerangan ......? desisnya. Nenek ini memang mewa
risi kepekaan akan sesuatu yang bakal terjadi. Sesuatu yang diwarisinya dari Sub
onya dan yang akhir-akhir ini semakin kuat melekat dalam dirinya. Sesuatu sepert
i kewaspadaan terhadap sesuatu yang bakal dan akan segera terjadi dan sangat ter
kait erat dengan lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Tetapi, belum lagi dia m
encermati secara lebih detail sesuatu yang akan terjadi itu, kembali dia tersentak
, karena tiba-tiba:
Srrrrrrrrrrrrrrttttttttt .... pintu paling ujung bergerak terbuka, dan hanya berja
rak 2-3 detik kemudian, pintu paling tengah juga berderit membuka. Dan tidak sam
pai 3-4 menit kemudian, pintu terakhir juga berderit terbuka. Dan kemudian bertu
rut-turut berkelabat tiga bayangan yang dengan segera memberi hormat dan berlutu
t di hadapan si Nenek sambil masing-masing berkata:
Toa suci ........
Subo .......
Dalam waktu singkat di hadapannya telah berdiri seorang pemuda dalam sikap sanga
t menghormat dan dua orang gadis berlutut yang ternyata adalah murid-muridnya da
n adik seperguruannya yang terkecil. Yang pertama, seorang pemuda gagah
paling b

anyak berusia 22 tahun bernama Tham Beng Kui. Dia adalah anak bungsu dari Kim To
ng dengan istrinya yang telah meninggal setelah melahirkan Beng Kui. Tepat ketik
a pada usianya yang ke 10 tahun, dia diangkat menjadi murid oleh Neneknya
ibu da
ri Kim Tong, sekaligus guru dari Thian San Giokli.
Namun, ketika berusia 12 tahun, sebelum Nenek Tham Beng Kui meninggal, dia telah
meninggalkan pesan kepada anaknya Kim Tong dan juga Thian San Giokli bahwa pend
idikan silat murid penutupnya, yang juga adalah cucunya, akan dilanjutkan oleh T
hian San Giokli nomor 1. Atau murid utamanya, yakni toa suci dari ke tiga Thian
San Giokli. Itulah sebabnya Tham Beng Kui memanggil Toa Suci kepada nenek itu, mes
ki prakteknya hanya 2 tahun dia dilatih neneknya. Danselanjutnya dia dilatih ole
h toa sucinya itu atas nama neneknya yang menjadi gurunya. Sedangkan kedua anak ga
dis yang menyusulnya memanggil subo.
Disamping Beng Kui, berlutut Cui Giok Tin dan Cui Giok Li, kakak beradik yang di
selamatkan oleh orang-orang Lembah Salju Bernyanyi yang sedang turun gunung memb
eli ransum dan bahan makanan di kaki gunung Thian San. Cui Giok Tin yang waktu i
tu berusia 3 tahun bersama ibunya yang sedang hamil, dikejar-kejar penjahat di k
aki gunung Thian San. Beruntung mereka berhasil menghindar dengan bersembunyi di
dalam sebuah gua liar dan akhirnya selamat. Namun setelah keluar dari gua perse
mbunyian, mereka berdua pingsan karena kelaparan maklum selama bersembunyi dalam
gua, 2 hari dua malam mereka tidak menyentuh makanan barang sedikitpun.
Beruntung, Giok Tin dan ibunya ditemukan oleh rombongan Lembah Salju Bernyanyi d
an selanjutnya di bawah ke perkampungan Lembah salju Bernyanyi. Nenek pertama da
ri Thian San Giokli sangat terkejut menemukan watak yang cemerlang dan tulang ya
ng sangat baik untuk berlatih silat dari Cui Giok Tin, dan pada akhirnya mengang
katnya menjadi murid. Setelah 3 bulan di lembah Salju bernyanyi, lahirlah Cui Gi
ok Li
sayangnya, ibu mereka meninggal dalam persalinan.
Rupanya, selama berbulan-bulan Giok Tin dan ibunya dikejar-kejar penjahat, sanga
t mempengaruhi kesehatan sang ibu. Dan ketika melahirkan Giok Li, akhirnya sang
ibupun menghembuskan nafas terakhir. Untungnya, sang Ibu sempat menjelaskan siap
a dirinya kepada Thian San Giokli. Sejak saat itupun, Giok Li menjadi murid penu
tup Thian San Giokli bahkan nama Giok Li diberikan sang subo.Dalam pertumbuhan,
Giok Li juga menunjukkan bakat yang hebat dalam ilmu silat.
Cui Giok Tin berusia hampir sama dengan Beng Kui, karena saat ini sudah hampir b
erusia 22 tahun, sementara adiknya berusia hampir 19 tahun. Mereka memang selisi
h usia lebih kurang 3 tahun. Tetapi, kedua anak gadis itu memang sama-sama canti
k dan apalagi keduanya sedang mekar-mekarnya. Kecantikan mereka memang membangga
kan, tetapi sang Guru lebih bangga dengan prilaku kedua anak gadis itu yang tela
h dididiknya sejak masa kecil mereka. Bahkan dia merasa dan memperlakukan keduan
ya tidak hanya sebagai murid-murid belaka, tetapi memperlakukan mereka berdua ba
gai anak-anaknya atau cucu-cucunya. Itulah sebabnya pandangannya begitu hangat d
an mesra.
Nenek pertama dari Thian San Giokli itu seterusnya memandangi ketiga anak muda d
ihadapannya untuk kemudian berkata:
Duduklah anak-anakku .... dan tanpa diulang ketiga anak muda itupun kemudian duduk
di hadapan si nenek. Termasuk Beng Kui. Nampak sekali rasa hormat dan kasihnya
kepada Nenek yang duduk dihadapannya. Meski lahirnya dia adalah sute dari si Nen
ek, tetapi rasa hormatnya tidaklah pernah hilang dari tindak tanduknya menghadap
i si Nenek. Rasa hormat serupa sebagaimana dahulu ditujukannya kepada Neneknya y
ang telah almarhum, karena wibawa kedua Nenek itu memang hampir sama.
Setelah ketiga anak muda itu duduk, sang Nenekpun bertanya:
Beng Kui sute .... bagaimana, apakah engkau telah sanggup mengendalikan sinkang w
arisan subo ... ?
Toa suci, nampaknya penggunaan Pek In Swat Kangku sudah jauh membaik. Nampaknya a
ku sudah mampu membaurkan Swat Im Sinkang Nenek kedalam Pek In Swat Kang
Hmmmm, bagus sekali Siauw sute. Hahaha, tidak percuma subo menggunakan ilmu mujij
at Memindahkan Hawa
Menukar Hidup untukmu. Sute, apakah engkau sudah sanggup mengi
bas benda apapun menjadi tumpukan salju dalam hitungan sepersekian detik ?
Mungkin masih belum secepat toa suci dan Nenek, tetapi rasanya aku sudah berkemam
puan melakukannya
Siauw sute, sebelum subo meninggal beliau meninggalkan sebuah pesan kepadaku untu

k mengetahui tahapan terakhir engkau menguasainya secara baik atau tidak. Pesan
itu dalam bentuk pertanyaan kecil, kapan engkau merasakan sekujur tubuhmu terseli
muti salju dan sekujur tubuhmu bagaikan membeku, tetapi dalam tubuhmu justru mer
asa sangat hangat mendekati panas ?
Toa suci, aaaacccchh, benarkah ada pesan demikian ? tanya Beng Kui penasaran.
Sute, apakah engkau telah mengalaminya ?
Benar toa suci, kira-kira 5 hari sebelumnya
Hmmmm, tepat seperti yang diramalkan subo. Bahwa 5 hari sebelum engkau siuman, su
bo telah memastikan engkau akan mengalaminya. Itulah tanda bahwa sinkang Swat Im
subo telah mulai membaur dengan Pek In Swat Kangmu sute
Ach, benarkah begitu toa suci ?
Engkau meragukan nenekmu sute .... ?
Tidak, tidak, tidak begitu toa suci, aku merasa sangat gembira malah
Dengan demikian, engkau sudah siap menerima ilmu Peng-Sian-Jit-Gwat Ciang (Pukula
n Matahari Rembulan Berhawa Dingin) sute
Toa suci, ilmu apakah gerangan itu ? tanya Beng Kui penasaran.
Sute, terus terang saat ini yang mampu menguasai ilmu tersebut setelah Nenekmu da
n toa sucimu ini, hampir tiada orang lain lagi. Bahkan kedua sucimu yang lain ti
dak akan sanggup menguasainya. Jika Subo dan aku tidak salah, kalian bertiga mem
iliki bakat yang memadai untuk menguasainya, dan engkau sute, sudah pada tahapan
siap untuk memasuki tahapan tersebut
Tapi, apakah ilmu itu lebih hebat dari Jit Goat Kan Kun (Matahari dan Bulan Mengg
etarkan Jagat ?
Sute, pada jaman Kakek guru, Koai Todjin menguasai dunia persilatan sebelum Kakek
Dewa Pedang (Lo Sian Kiam), ilmu pukulan yang paling terkenal adalah Peng Sian
Jit Gwat Ciang itu. Ilmu ini memang bukan dari aliran beribadat semisal Siauw Li
m Sie, tetapi tetap di aliran lurus. Tandingannya adalah ilmu silat yang dikenal
paling jahat dan buas dalam dunia persilatan yang disebut Bu-Siang-te-im-hu-kut
(pukulan dingin pembusuk tulang). Siapa yang terkena ilmu jahat ini, tulangnya
akan membusuk dengan cepat. Tetapi, syukur kakek Guru Koai Todjin berhasil mengi
kat iblis durjana itu pada masanya dan mengurung mereka sampai mereka ajal. Jika
Bu Siang te im hu kut menjagoi dunia hitam, dan ilmu pukulan Kim Kong Ciang men
guasai aliran beribadat, maka aliran lurus di luar kaum beribadat yang menjagoi
adalah ilmu Kakek guru. Dan Jit Goat Kan Kun adalah syarat untuk memasuki tahapa
n pamungkas dari perguruan kita
Sehebat itukah toa suci ... ? Beng Kui bertanya dengan mimik bangga yang tidak dapa
t disembunyikan.
Sementara itu, Nenek pertama dari Thian San Giokli telah berpaling kepada kedua
muridnya yang selama ini dengan tekun dan semangat mendengarkan guru mereka menj
elaskan kepada paman guru yang seusia dengan mereka. Si Nenekpun kemudian bertan
ya:
Giok Tin, bagaimana dengan engkau? Apakah engkau telah sanggup menguasai Swat Im
Sinkang dan juga Pek In Swat Kang?
Terima kasih Subo, dengan perkenan Subo, tecu merasa sudah sanggup menguasainya
Dan engkau Giok Li, apakah juga sudah sanggup ?
Subo, meski memang belum sesempurna Susiok dan Suci, tetapi tecu merasa sudah mam
pu menguasainya
Baiklah, jika memang kalian bertiga merasa sudah menguasainya, mari kita mencoban
ya. Ujiannya sederhana, dengan menggunakan kibasan lengan kalian pasti mampu mem
bekukan benda apapun yang menyerang dan mendekati kalian. Hal itu sangat umum da
n biasa. Kali ini, jika mampu membekukan benda yang kulemparkan kepada kalian de
ngan tiupan dari mulut masing-masing, maka berarti kalian telah mampu menguasai
tenaga dingin keluarga Lembah Salju Bernyanyi. Apakah kalian siap ?
Siap toa suci ...
Siap subo ....
Tiba-tiba di tangan Nenek pertama Thian San Giokli telah tergenggam 3 butir keri
kil dan ketika kerikil tersebut dilontarkan kepada ketiga orang muda tersebut, k
erikil kerikil tersebut telah mengeluarkan asap, bahkan ketika semakin mendekati
ketiga anak muda itu, telah mengeluarkan cahaya api. Tetapi ketiga anak muda it
u telah bersiap dengan mengerahkan tenaga inti hawa dingin dari keluarga Lembah

Salju Bernyanyi. Dan kemudian serempak secara bersamaan merekapun meniup guna me
nahan laju kerikil itu.
Tenaga yang mereka hembuskan berusaha untuk pertama menahan daya tolak dari si N
enek, dan kemudian berusaha membekukan kerikil berapi yang dilontarkan guru mere
ka. Dan dalam waktu yang tidak lama, tidak sampai sampai 3 detik Beng Kui mendah
ului Giok Tin sepersekian detik, telah bukan saja menahan laju kerikil dan memat
ikan apinya, tetapi bahkan telah membekukan kerikil itu menjadi butiran salju. S
ementara itu, Giok Li membutuhkan waktu lebih dari 3 detik, lebih 4 detik untuk
melakukan hal yang sama.
Hm, bagus, bagus. Sungguh luar biasa. Sesuai dengan harapan dan dugaanku, kalian
sudah mampu melakukannya dengan sangat baik. Beng Kui sute, engkau masih akan me
ningkat kemampuan sinkangmu karena sinkang subo akan mulai membaur, dengan demik
ian akan mudah bagimu menguasai Peng-Sian-Jit-Gwat Ciang (Pukulan Matahari Rembu
lan Berhawa Dingin)
Terima kasih toa suci .....
Giok Tin dan Giok Li, selain berlatih Peng-Sian-Jit-Gwat Ciang (Pukulan Matahari
Rembulan Berhawa Dingin), kalian harus terus meningkatkan latihan Hian Bun Kui G
oan Kang Khi (Ilmu Menghimpun Dan Menyatukan Hawa Murni). Latihan tersebut terbu
kti membuat kalian tidak tertinggal dari Siauw Sute Beng Kui, meski dia membekal
sinkang Neneknya
Baik subo ....
Satu hal lagi, kalian bertiga dilarang sekalipun meninggalkan tempat ini sebelum
sanggup menguasai dengan sempurna Peng Sian Jit Goat Ciang. Jangan memandang rem
eh, karena kekuatan tenaga dalam harus memadai, selain kekuatan batin juga dipup
uk terus menerus. Khusus untuk Giok Tin dan Giok Li kalianpun harus keluar denga
n menguasai Pat-poh-hwe-gong (delapan langkah terbang di udara) dan ilmu Hui-Sia
n-Hui-Kiam (ilmu pedang terbang memutar). Kedua ilmu itu adalah ciri khas gurumu
ini dan sudah kusempurnakan sejak diciptakan Kakek guru kalian. Kalian dilarang
mengaku sebagai muridku jika keluar tanpa menguasai kedua ilmu itu. Siauw Sute,
jika engkau juga ingin menguasai ilmu itu, engkau boleh melakukannya
Terima kasih subo ....
Catatan kedua ilmu silat yang terakhir akan kalian temukan di ruangan ini segera
setelah kalian menyempurnakan Ilmu Peng-sian-jit-gwatciang (pukulan matahari rem
bulan berhawa dingin). Siauw Sute, mungkin engkau harus keluar terlebih dahulu,
karena urusan Lembah Salju Bernyanyi kelak akan menjadi urusan besarmu. Tanggung
jawabmu untuk mengekang kedua ponakan muridmu untuk melanjutkan latihan mereka s
ebelum berlalu dari ruangan ini
Toa suci, legakan hatimu, aku akan melakukannya
Ketika kalian selesai dengan latihan Ilmu Peng-sian-jit-gwatciang (pukulan mataha
ri rembulan berhawa dingin), mungkin aku tidak berada di ruangan ini. Ingat, ber
lakulah hati-hati dan jangan dengan panas hati. Giok Tin, ingat baik-baik pesank
u ini, jangan bertindak dengan panas hati
tecu mengerti subo .....
Baiklah, sekarang masuklah ke ruangan di belakangku. Di ruangan itulah tertera se
cara rinci bagaimana melatih Ilmu Peng-sian-jit-gwatciang (pukulan matahari remb
ulan berhawa dingin). Kalian harus bangga, karena di Perguruan kita ini, kalian
adalah orang 5 yang memasuki ruangan tersebut. Artinya kalian adalah orang-orang
terpilih untuk meneruskan kejayaan Lembah Salju Bernyanyi
Maka bertindaklah ketiga anak muda itu, secara bersama mereka memasuki ruangan i
tu, dan berada disana selama beberapa jam. Dan ketika mereka keluar dari pintu t
ersebut, di ruangan semula, mereka kembali menemui Nenek pertama dari Thian San
Giok Li yang dengan sabar menunggu. Dan si Nenek tidak lagi memberi pesan apa-ap
a selain mempersilahkan mereka memasuki kembali ruangan tempat mereka harus mene
mpa diri. Dan seterusnya, ruangan itupun kembali sepi .....
Beberapa saat kemudian, Nenek sakti itu kembali duduk merenung. Dia bangga, kare
na mampu melatih Giok Tin dan Giok Li setara dengan sutenya Beng Kui. Untung aku
menemukan kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi (Ilmu Menghimpun Dan Menyatukan Hawa
Murni) di koleksi pustaka Kakek Guru. Kalau tidak, mustahil Giok Tin dan Giok Li
sanggup mendekati kepandaian beng Kui desisnya dalam hati.
Selanjutnya, si Nenek kembali merenung dan termenung. Tetapi kali ini, bukan sek

edar merenung dan melamun. Karena Nenek sakti ini sebetulnya kembali mengerahkan
kemampuan istimewanya dalam menerawang kejadian-kejadian yang sudah, sedang dan
akan terjadi. Seperti yang dilakukannya sebelum ketiga anak muda tadi menyelesa
ikan samadhi awal mereka. Tidak terasa memang kalau dia telah bercakap dan membe
kali siauw sute dan kedua murid penutupnya selama lebih kurang 3 jam.
Padahal, sebelum bercakap dengan mereka, dia telah menangkap terjadinya kejangga
lan dan terjadinya bencana jauh di luar sana. Tetapi, dia belum sempat mengetahui
lebih detail kejadiannya, karena siauw sute dan kedua muridnya telah menyelesaik
an latihan mereka dan menghadapnya. Karena itu, Nenek sakti ini ingin kembali me
lacak apa gerangan yang terjadi. Tetapi sayang, kejadiannya sudah lewat jauh. Ju
stru tanda lain yang ditemukan. Nenek ini tersentak dan mendesis:
Astaga ...... yang ini benar-benar di luar sangkaan, ada kekuatan luar biasa yang
sanggup menerobos masuk. Kim Tong, kedua sumoy dan anak murid Lembah tidak mung
kin sanggup menahan mereka ..... aku harus bergegas dan selesai berdesis demikian
, Nenek itupun berkelabat dan lenyap dari ruangan. Ada apa gerangan? Apakah yang
terjadi di luar sana?
===================
Apa gerangan yang terjadi? Dugaan Thian San Giokli memang benar. Sesuatu sedang
terjadi, tepat dalam Lembah Salju Bernyanyi. Dan sesuatu yang terjadi adalah ses
uatu yang luar biasa. Lembah Salju Bernyanyi untuk pertama kalinya selama seratu
s tahun terakhir kemasukan musuh. Tepat di jantung dan pusat Lembah Salju Bernya
nyi.
Tidak lama setelah Kim Tong kembali dari pengejaran terhadap si Jubah Hijau, mun
gkin ada sekitar 2 jam, beberapa anak murid dan anaknya yang keluar Lembah menuj
u Thian San Pay kembali ke Lembah. Hanya saja dari jumlah 7 orang yang menuju ke
Perguruan Thian San Pay, yang kembali ke Lembah Salju Bernyanyi tinggal 4 orang
belaka. Sisanya tewas dalam pertikaian yang terjadi di Perguruan Thian San Pay.
Ketika mendatangi Thian San Pay maksud utama mereka adalah menjajaki kemampuan
perguruan itu. Tapi apa lacur, bentrokan berdarah justru terjadi dan memakan ban
yak korban di pihak Thian San Pay dan dibayar oleh 3 nyawa anak murid Lembah Sal
ju Bernyanyi.
Yang pulang dengan tetap hidup namun terluka adalah murid tertua sekaligus putra
tertua dari Kim Tong yang bernama Tham Ki. Tham Ki sudah berusia hampir 60 tahu
n dan mewarisi semua kepandaian ayahnya, Thian San Kim Tong. Selanjutnya murid k
edua Kim Tong bernama Ho Cu Seng, pria berumur 58 tahun yang juga memiliki kepan
daian hampir seimbang dengan toa suhengnya. Orang ketiga adalah putra ketiga Kim
Tong bernama Tham Sin berusia 49 tahun, murid ke-lima namun yang berkepandaian
melebihi toa suheng sekaligus kakak tertuanya. Mungkin bahkan sudah melampaui ke
mampuan ayahnya, karena memang sesekali menerima pengajaran Neneknya. Dan orang
terakhir adalah murid terakhir, murid kedelapan atau penutup dari Kim Tong yang
bernama Toh Lui. Lelaki gagah berusia 32 tahun. Sebetulnya, murid terakhir Kim T
ong adalah anak bungsunya Beng Kui, tetapi anak itu telah dididik langsung oleh
neneknya dan terakhir dididik oleh orang pertama Thian San Giokli.
Sementara 3 orang yang tewas di perguruan Thian San Pay adalah putra kedua Kim T
ong bernama Tham Bu Ji sekaligus murid nomor tiga; Kemudian murid nomor empat be
rnama Hu Beng Sin, lelaki tinggi besar berusia 52 tahun; dan korban terakhir ada
lah murid ketujuh Kim Tong yang bernama Sip Kong. Seorang lagi murid ke-enam sek
aligus satu-satunya putri Kim Tong bernama Tham Wan Hoa, tidak menyertai rombong
an ke Thian San Pay karena memilih hidup di perkampungan Lembah Salju Bernyanyi
bersama suaminya.
Betapa marah Kim Tong mendengarkan laporan murid bungsunya yang memang cerdik pi
ntar itu. Dia berbicara karena dari mereka berempat, adalah Toh Lui, murid ke de
lapan dan murid kedua Ho Cu Seng yang terhitung lukanya paling ringan. Hanya saj
a, Ho Cu Seng entah mengapa sejak dari Thian San Pay menjadi begitu pendiam dan
tidak banyak bicara:
Kami bermaksud baik-baik menantang mereka suhu, toako dan ji suheng sudah berkali
-kali mengutarakan maksud untuk sekedar adu kepandaian. Tetapi, entah mengapa me
reka tidak mau menerima, bahkan beralasan Ciangbundjin mereka berhalangan dan se
dang bertugas keluar. Ketika kami menantang murid Kakek Dewa Pedang, mereka just
ru menertawakan. Toa suheng yang penasaran akhirnya lepas tangan melukai salah s

eorang murid mereka, dan pertengkaranpun terjadi sampai adu kesaktian. Awalnya k
ami sekedar melukai lawan, tetapi karena mereka kemudian menewaskan Sip Kong suh
eng, akhirnya kamipun membalasnya dan berhasil membunuh puluhan anak murid merek
a suhu
Sebentar, engkau tadi mengatakan merekalah yang terlebih dahulu melakukan pembunu
han, apa benar demikian ?
Memang demikian suhu. Kamipun heran, karena Sip Kong suheng tidak dalam keadaan t
erdesak meski dikerubuti lawan yang berkemampuan jauh lebih rendah darinya. Teta
pi, tahu-tahu entah bagaimana Sip Kong suheng terjatuh dan jatuhnya tepat mengar
ah ke pedang salah seorang pengeroyoknya yang sedang terhunus. Kebetulan tecu la
ngsung menyaksikan kejadian itu suhu
Jika demikian, ada juga orang sakti di Thian San Pay ?
Rasanya bukan demikian suhu, tecu tidak menemukan lawan yang mampu merepotkan kam
i. Kematian Sip Kong suheng sangat aneh. Dan anehnya lagi, menurut toa suheng, k
ematian sam suheng juga sama anehnya, persis seperti kematian Sip Kong suheng. D
an ji suheng terakhir melaporkan kematian Beng Sin suheng juga mirip. Disinilah
letak keanehannya suhu
Hmmm, apakah gerangan yang terjadi? Apa benar demikian adanya? bertanya Kim Tong k
epada anak tertuanya:
Benar ayah, cerita Toh Lui sute sangat benar. Kematian ketiga sute terlalu aneh
Pasti ada tokoh sakti mereka yang main gila
Tapi, jika ada masak harus menunggu sampai hampir 50-an anak muridnya terbunuh su
hu ? Toh Lui meragukan dugaan gurunya.
Atau karena kelalaian mereka bertiga ? guram wajah Kim Tong mengucapkannya
Rasanya juga bukan ayah kali ini putra sulung Kim Tong yang menyanggah pendapat ay
ahnya.
Suhu, menurut pendapat tecu, kita sebaiknya bersiap-siap. Karena dengan begitu ba
nyaknya anak murid Thian San Pay yang tewas ditangan kita, sangat besar kemungki
nan mereka akan balik menyerbu Toh Lui mengajukan pandangan yang memang sangat ji
tu. Bisa ditebak, Thian San Pay akan melakukan pembalasan. Peristiwa yang terjad
i sudah merupakan peristiwa berdarah. Terlalu banyak anak murid mereka yang terb
unuh.
Biarlah, jika mereka menyerbu, kita tentu akan meladeninya dingin suara Kim Tong y
ang masih penasaran dengan tewasnya anak dan murid-muridnya. Sebuah tanda betapa
Kim Tong kurang memahami gejolak dunia persilatan, maklum, dia hidup dalam peng
asingan sepanjang kehidupannya. Dan inilah yang akan mendatangkan bala bagi Lemb
ah Salju Bernyanyi. Keengganan untuk melakukan pemeriksaan dan pengamatan lebih
jauh, bakal sangat merugikan bagi Lembah Salju Bernyanyi yang sekaligus mengorba
nkan suasana tenang damai selama 100 tahun lebih.
Sudahlah, biarlah kalian semua beristirahat dan memulihkan diri terlebih dahulu.
Kita akan membahas dan menentukan langkah di pertemuan berikutnya menunggu kalia
n semua sembuh dan pulih terlebih dahulu
Begitulah Kim Tong. Miskinnya pengalaman di dunia persilatan membuatnya lalai da
n memperparah konflik dengan Thian San Pay. Padahal, bukanlah maksudnya untuk me
ngikat permusuhan dengan Thian San Pay. Jika dia lebih teliti, maka dia akan men
elaah informasi mengenai kematian anak dan muridnya yang aneh. Sayang, dia tidak
sanggup menemukan celah untuk menelaah lebih jauh karena miskinnya pengalaman b
erinteraksi dengan dunia luar.
Ada sekitar 10 menit setelah murid-murid dan anaknya meninggalkannya sendirian,
tiba-tiba berkelabat sesosok tubuh dan telah langsung berdiri dihadapannya. Oran
g itu ternyata adalah Nenek pertama dari Thian San Giokli, yang telah dengan ten
ang bertanya kepada Kim Tong:
Suheng, adakah sesuatu yang aneh baru saja terjadi ?
Bagaimana engkau tahu sumoy.... ? Kim Tong balik bertanya.
Aku baru saja terganggu dengan sebuah rasa gelisah tentang sesuatu yang berbahaya t
erjadi di sini, di dalam Lembah kita ini
Kim Tong paham, bahwa sumoynya ini mendapatkan warisan ilmu yang mujijat dari ib
unya. Karena itu, diapun tergerak, meski tidak sangat antusias karena mengira ha
nya laporan dari Thian San Pay saja yang penting:
Ach sumoy, telah terjadi pertikaian berdarah dengan Perguruan Thian San Pay. Aku

kehilangan seorang anak dan 2 orang anak murid, sementara mereka kehilangan pulu
han murid singkat saja informasi yang disampaikan Kim Tong yang memang menduga, i
tulah kejadian tidak enak yang diterawang oleh sumoynya itu.
Hmmmm, aku sudah menduga peristiwa ini 3 jam sebelumnya suheng. Tetapi, aku meliha
t ada sesuatu yang asing, sebuah kekuatan yang sangat hebat yang menyusup masuk k
e dalam Lembah kita demikian si Nenek berkata dengan tegas dan sangat meyakinkan.
Kim Tong tergerak dan bertanya: Apa maksudmu sumoy ?
Suheng, maksudku jelas. Ada kekuatan asing yang luar biasa yang memasuki Lembah k
ita. Jika aku tidak salah, murid-murid di gerbang alam kita sedang dalam keadaan
tertotok. Sebaiknya suheng memeriksa ke depan, aku akan ke dalam
Selesai berkata demikian, tubuh nenek itu telah berkelabat menghilang. Sementara
itu, Kim Tong meski kaget, tetapi masih ogah-ogahan. Tetapi begitupun dia beran
jak menuju pintu ke luar untuk memeriksa gerbang alam. Dan betapa kagetnya dia k
etika benar, murid-murid yang ditugaskannya menjaga di gerbang alam, semuanya da
lam keadaan tertotok. Jika demikian, benarlah bahwa Lembah Salju Bernyanyi sudah
kemasukan tokoh hebat. Tapi siapakah dia?
Kim Tong tidak lupa membebaskan anak-anak muridnya terlebih dahulu, kemudian lan
gsung berkelabat kembali menuju ke dalam Lembah Salju Bernyanyi sambil memuji ke
tajaman penerawangan sumoynya. Tengah dia berlari menuju Lembah, tiba-tiba terin
gat kepada murid keduanya yang selama dalam pertemuan tadi bersikap di luar kebi
asaan. Diam tidak pernah bicara dan pandang matanya terasa hampa. Awalnya dia me
rasa karena muridnya itu terluka, tetapi belakangan ketika dia menganalisis lebi
h jauh, dia sadar bahwa pandangan mata muridnya yang aneh, pastilah disebabkan o
leh kekuatan di luar dirinya. Ilmu siihir , begitu desis Kim Tong, dan dengan demik
ian semakin cepatlah dia bergerak langsung menuju kamar murid keduanya itu.
Sementara itu, Nenek Thian San Giokli sudah cepat bergerak menuju ke tempat raha
sia dimana kedua sumoynya dimintanya untuk berjaga-jaga. Untuk berjaga-jaga dia
memang meminta kedua sumoynya berjaga bersama, karena rasa tidak enak sudah demiki
an kuat mencekamnya sejak beberapa hari terakhir. Dan akhirnya kekhawatirannya m
emang terbukti. Ketika tiba di ruangan itu, dia menyaksikan kedua sumoynya terde
sak hebat menghadapi seorang berjubah hijau mengenakan penutup wajah yang bersil
at secara sangat hebat. Sementara di sudut ruangan lainnya, dia melihat Ho Cu Se
ng sedang berdiri dengan seorang berjubah hijau lainnya yang juga mengenakan ked
ok pelindung wajah.
Tahan ..... serunya dengan tetap tenang, namun dengan wibawa yang sangat kuat terk
andung dalam suaranya. Si jubah hijau yang sedang melawan keroyokan kedua sumoyn
ya menahan serangan dan heran atas pengaruh suara yang demikian penuh wibawa. Se
mentara kedua Nenek yang menjadi lawannya menarik nafas lega melihat kedatangan
toa suci mereka. Posisi mereka memang sudah sangat berbahaya, karena itu mereka
bersyukur dalam hati.
Hmmmmm, bertambah seorang Nenek lagi. Tiada salahnya engkau bergabung bersama mer
eka berdua untuk melawanku Nenek tua tantang si Jubah Hijau dengan pongahnya. Dia
memang dalam posisi unggul dan karenanya secara takabur dia menantang ketiga Ne
nek itu untuk segera mengerubutinya secara bersama-sama. Dia yakin menang.
Jiwi sumoy berdua, mundurlah. Kalian berdua masih bukan lawannya. Entah siapakah
tuan yang mulia ?
Engkau tidak perlu mengetahui siapakah aku. Kuberitahu namakupun engkau tidak aka
n mengenaliku
Jika demikian, apakah maksud kedatangan tuan yang sebenarnya ke dalam lembah terp
encil kami ini ?
Biarlah secara jujur kukatakan, aku ingin mengetahui apakah Thian Tee Siang Mo (S
epasang Iblis Langit Bumi) masih ditahan di dalam lembah ini ?
Hmmmm, ketahuan belangnya desis si nenek dalam hati. Tetapi, dimulutnya si nenek b
erkata:
Adakah tuan adalah sanaknya, keluarganya ataukah muridnya ?
Tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya ingin mengetahui apakah kedua tokoh tua it
u masih berada disini ataukah tidak
Mereka memang berada disini. Ditaklukkan kakek guru kami dan kemudian dikurung di
Lembah ini agar tidak mengganas di dunia luar. Tetapi, sayangnya kedua iblis it
u rasanya sudah menutup mata

Rasanya tidaklah berarti sudah pasti bukan ?


Masa 100 tahun telah lewat .... demikian si Nenek berkata, tidak menjawab pertanya
an si jubah hijau secara langsung.
Jika demikian, apakah kami boleh memastikannya ?
Sudah tentu tidak, malahan kami ingin mempersilahkan tuan untuk meninggalkan Lemb
ah kami ini secara baik-baik
Jika demikian kami akan memaksa
Jika kalian memaksa, maka kami terpaksa akan menghalangi. Dan menjadi tradisi kam
i, bila pengganggu dan penyusup seperti kalian tertangkap, maka akan kami tempat
kan di tempat dimana Lembah kami mengurung Thian Tee Siang Mo
Baiklah, cobalah menangkap kami jika demikian tantang si jubah hijau. Dan seiring
dengan kalimatnya itu, masuklah Kim Tong yang kaget melihat ada 2 tamu tak diund
ang berada dalam ruangan tersebut. Begitu masuk, Kim Tong berkata:
Sumoy, ternyata benar perkataanmu. Lembah Salju Bernyanyi telah kemasukan penyusu
p, dan untungnya kita menemukan penyusup itu berada disini. Mereka telah menyihi
r Cu Seng dan mengantarkan mereka ketempat ini, selain itu merekapun telah menut
uk para murid kita di gerbang alam. Sungguh lancang. Karena itu, biarlah aku yan
g menangani mereka Sambil berkata demikian, Kim Tong telah berjalan mendekati si
jubah hijau, tetapi dia bingung karena kini dia berjumpa dengan dua orang berjub
ah hijau. Entah yang mana dari keduanya yang telah adu balap dengannya siang tad
i.
Sobat, bukankah engkau yang telah bertemu lohu siang tadi ... ? tanya Kim Tong kepa
da si jubah hijau yang tadi bertarung dengan kedua sumoynya.
Mungkin jawab si jubah hijau singkat.
Jika demikian, kita akan melanjutkan pertempuran kita tadi sambil berkata demikian
, Kim Tong langsung membuka serangan. Tetapi kali ini dia kecele, karena seranga
nnya dengan sebat dipapak oleh si Jubah Hijau dan akibatnya dia terdorong sampai
2 langkah ke belakang sementara lawannya tetap berdiri kokoh ditempatnya. Luar b
iasa, mengapa dia hebat sekali kali ini ? desis Kim Tong dalam hati dengan hati ya
ng masih belum percaya jika dia kalah dalam bentrokan barusan.
Kembali Kim Tong menyerang dengan menggunakan tenaga lebih banyak dan kali ini d
ia menggunakan ilmu pukulan Jit Goat Kan Kun, jurus ke enam:
Sobat, sambut kembali pukulanku ini ...... hiaaaaaaattttttt
Nampaknya sederhana pukulan Kim Tong, tetapi dibalik kesederhanaan itu tersimpan
kekuatan besar yang siap meledak. Dan lawannya mengenali pukulan hebat, karena
itu dia tidak berayal dan menyambut pukulan Kim Tong dengan sama kerasnya. Akiba
tnya .........
Blaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr kembali terjadi benturan. Dan sama seperti tadi, Kim tong
terdorong dua langkah lebih banyak ketimbang lawannya. Dan fakta ini membuat Kim
Tong meradang. Selama ini dia merasa sebagai orang yang paling hebat, bahkan me
ngungguli kehebatan ketiga sumoynya. Kini, dihadapan ketiga sumoynya itu, dia te
rdorong dan kalah melawan penyusup di Lembah mereka. Bagaimana dia tidak murka?
Yang hebat adalah para penyusup. Meskipun hanya berdua, tetapi mereka nampak tid
ak gelisah dan terburu-buru meski telah dipergoki pihak lawan. Kepercayaan diri
mereka patut diacungi jempol, dan kelihatannya mereka sudah mengenal kemampuan Lem
bah Salju Bernyayi. Itulah sebabnya melawan Kim Tongpun, si Jubah Hijau tidaklah
terburu-buru dan tidak terbawa arus emosi yang berlebihan. Justru adalah Kim To
ng yang termakan emosi.
Maka jadilah Kim Tong menyerang dalam balutan emosi dan memburu si Jubah Hijau b
erkedok. Bahkan kini, dari tangannyapun berkesiutan kiam ciang atau tangan pedan
g, tanda bahwa dia telah memadukan ilmu tangan pedang dengan Jit Goat Kan Kun. F
akta ini membuat si Jubah Hijau semakin berhati-hati, meskipun tidak membuat dia
jatuh di bawah angin. Dengan berani si Jubah Hijau memapak serangan Kim Tong, b
ahkan berani beradu kekuatan tangan dan menindih kekuatan kiam ciang lawan. Bent
uran-benturan tangan mereka tidaklah menghasilkan cedera bagi si Jubah Hijau dan
semakin menambah rasa penasaran dan amarah di pihak Kim Tong. Dan inilah kelema
han utama Kim Tong akibat minimnya pengalaman tempur di dunia kang ouw. Berbeda
jauh dengan lawannya yang nampak sudah kawakan dan pintar mengatur pertempuran d
an emosi.
Tetapi, Thian San Giokli yang bermata jeli, segera paham bahwa meski tertinggal,

Kim Tong seharusnya tidak akan secepat itu untuk jatuh di bawah angin. Sayang,
emosi yang tinggi membuatnya jatuh di bawah perangkap lawan yang diduganya akan
segera menyerangnya secara gencar. Dan benar belaka.
Setelah gencar diserang di awal pertempuran, tiba-tiba si Jubah Hijau merubah ga
yanya. Dia menggebrak dan melontarkan Kim Tong yang murka dan kemudian mencecarn
ya dengan serangan-serangan yang mematikan. Serangan tangannya membadai dan memb
uat Kim Tong kehabisan daya, mati-matian membela diri guna menghindari serangan
lawan.
Hmmm, suheng terlampau gegabah. Jika menjaga ketenangan belum tentu dia kalah sec
epat ini gumam Thian San Giokli si Nenek nomor satu. Dan usai bergumam seperti it
u, diapun bertindak sambil berkata:
Suheng, hati-hati dan sejalur angin pukulan dahsyat mengarah si Jubah Hijau yang t
erpaksa harus membagi konsentrasinya karena lentikan pukulan hebat berhawa dingi
n yang menyerangnya mau tak mau diladeninya. Diapun melepas kesempatan mengalahk
an Kim Tong dan memapak serangan si Nenek. Dan akibatnya:
Dukkkkk ......
Luar biasa, dia terdorong satu langkah ke belakang, sementara si Nenek tidak nam
pak goyah oleh benturan itu. Dan satu hal lagi, Kim Tong tertolong. Segera dia d
idekati oleh kedua sumoynya yang lain sambil menanyakan keadaannya.
Tidak, aku tidak apa-apa katanya menutupi rasa malunya kepada 2 orang nenek dari T
hian San Giokli. Tetapi kedua nenek itu maklum belaka.
Sementara itu, si Jubah Hijau telah memandang Nenek nomor satu dari Thian San Gi
okli sambil mendengus:
Hmmm, engkau hebat juga
Tuan, jika suheng tidak terbakar amarah dan melayanimu dalam ketenangannya engkau
belum tentu bisa dengan mudah mengalahkannya. Tapi, betapapun engkau memang heb
at , ujar si Nenek lembut dan tidak menampakkan kemarahan. Setelah itu, diapun ber
kata ditujukan kepada Kim Tong dan kedua sumoynya:
Suheng, musuh sangat berbahaya, kita harus awas dan tenang. Bukan tidak mungkin m
ereka masih membawa teman yang lain. Karena tugas di tempat ini adalah tanggungj
awab kami, sebaiknya suheng memeriksa bagian dalam lainnya. Jiwi sumoy
jangan ra
gu melawan penyusup secara bersama, Lembah kita kemasukan musuh sedang dalam bah
aya
Baik, engkau benar sumoy sambil berkata demikian Kim Tong sudah mau beranjak kelua
r ruangan, tetapi si Jubah Hijau juga bergerak menghalanginya.
Mau kemana .... ? ujar si Jubah Hijau yang langsung menyerang Kim Tong. Kali ini di
a tidak lagi main-main dan menyimpan kemampuannya. Dia dikagetkan oleh kenyataan
betapa ada seorang tokoh hebat di dalam Lembah Salju Bernyanyi.
Tetapi Nenek Sakti Thian San Gioklipun tidak tinggal diam. Kembali dia mengibas
dan sejalur hawa sakti yang dahsyat berhawa dingin meluncur menangkis pukulan ya
ng dilepaskan si Jubah Hijau. Pada saat itulah akhirnya si Jubah Hijau yang satu
lagi bergerak, kali ini dia langsung menerjang si Nenek Sakti dengan pukulan ya
ng tidak lemah, tidak kalah dengan si Jubah Hijau yang satunya.
Si Jubah Hijau yang menyerang Kim Tong terhalang oleh pukulan si Nenek Sakti dan
kehilangan waktu untuk menghalangi Kim Tong, apalagi setelah itu kedua Nenek ya
ng lain sudah datang mengerubutinya. Sementara itu, Nenek pertama Thian San Giok
li telah terlibat adu pukulan dengan si Jubah Hijau yang lainnya. Begitupun dia
masih sempat berpesan:
Suheng, cepat lakukan tugasmu. Jiwi sumoy, hati-hati dan pelihara ketenangan, jiw
i sumoy tidak akan kalah melawan tuan itu
Benar, kali ini kedua Nenek, masing-masing Nenek kedua dan ketiga Thian San Giok
li sudah mampu memelihara ketenangan sesuai pesan toa suci mereka. Jika mereka t
erdesak hebat sebelumnya, disebabkan oleh kekagetan dan diserang mendadak oleh s
i Jubah Hijau yang menyerang dari balik tubuh ponakan murid mereka Ho Cu Seng ya
ng ternyata benar dalam keadaan tersihir. Kini, dalam kondisi biasa mereka sangg
up menahan serangan si Jubah Hijau dan bertempur seru dengan kondisi nyaris seim
bang. Memang, mereka masih belum mampu banyak berbuat, tetapi setidaknya mampu m
enjaga diri dengan lebih baik.
Sementara itu, sang Toa Suci, juga bertarung sama kuatnya dengan si Jubah Hijau
yang lain. Hal ini membuat si Nenek kaget: Begitu banyak tokoh hebat yang menyusu

p desisnya kaget dalam hati. Tapi fakta ini tidak membuatnya limbung dan goyah, s
ebaliknya membuatnya semakin awas dan berhati-hati. Hal yang sama dialami si Jub
ah Hijau, sehebat apapun dia menyerang, si Nenek selalu mampu menggagalkan seran
gan dan menyeimbangkan keadaan: Sungguh Lembah Salju Bernyanyi tidaklah bernama k
osong pikirnya.
Jiwi sumoy
Pat-poh-hwe-gong (delapan langkah terbang di udara) dan Kiam Ciang Sia
ng Tui (Tangan Pedang Saling Berkejaran) kembali Toa Suci Thian San Giokli berser
u Seruannya bermanfaat untuk membantu adik-adik perguruannya menghadapi si Jubah
Hijau, sementara dia sendiri juga memainkan ilmu yang diteriakkannya. Ilmu-ilmu
tersebut adalah ciptaan murid laki-laki Koai Todjin yang penasaran atas kekalaha
nnya dari Kakek Dewa Pedang. Maka, kehebatannya sudah pasti luar biasa.
Sepasang lengan ketiga Nenek sakti itupun berubah bagaikan pedang tajamnya dan d
engan berani memapas setiap pukulan si Jubah Hijau. Toa Suci Thian San Giokli ja
uh lebih hebat lagi, bagaikan terbang dengan ringan dia menghujani si Jubah Hija
u berkedok dengan kelabatan pedang yang berasal dari lengannya. Dan hal itu mend
atangkan kesibukan luar biasa, sekaligus rasa kagum atas ilmu lawan yang memang
luar biasa. Hanya saja, si Jubah Hijau, baik lawan sang Toa Suci maupun kedua su
moynya, memang bukan orang sembarangan.
Lengan merekapun, terutama lawan kedua Nenek sakti itu, dengan berani memapak da
n adu keras. Dan karena kekuatannya memang sedikit di atas, diapun tidak takut m
engadu lengan dengan lawan yang mengeluarkan hawa dingin dan tajam luar biasa. D
an akibatnya, meski dia merasa lengannya bagaikan berhadapan dengan dua pedang t
ajam dan mengalirkan hawa dingin, tetapi dia masih tetap mampu mengatasi rasa sa
kitnya. Malahan dia mampu membuat kedua nenek sakti itu terpental hingga dua lan
gkah mundur, sementara dia sendiri terguncang mundur selangkah ke belakang.
Sementara itu, sang Toa Suci mampu sedikit mendesak lawan yang menjadi sibuk mel
adeni kecepatan bergeraknya dibarengi dengan kesiuran angin pedang berhawa dingi
n yang terus mengejarnya. Tetapi, ketika tidak punya kesempatan untuk menghindar
, dengan berani diapun mengadu kekuatan. Tidak terdengar suara keras, selain Dukk
kkkkkk dan keduanya terdorong masing-masing satu langkah ke belakang. Pertarungan
seru yang memang berimbang. Dan kedua tokoh sakti itupun memandang dan saling m
engagumi kekuatan lawan masing-masing.
Sementara kerubutan kedua nenek sakti lainnya, dengan ilmu yang diteriakkan toa
suci mereka, membuat kedua nenek mampu mengembangkan kesaktian mereka secara leb
ih optimal. Serangan kiam ciang (tangan pedang) berhawa dingin dengan disertai l
entingan tubuh yang ringan, membuat mereka mendapatkan inisiatif untuk lebih men
yerang. Meskipun terus menyerang tetapi sambil terus berusaha menjaga agar tidak
terlampau sering mengadu kekuatan dengan si Jubah Hijau lawan mereka yang meman
g sakti.
Sementara Toa Suci mereka, tetap bertarung tenang dan berimbang dengan lawannya,
si Jubah Hijau yang lainnya lagi. Pertarungan yang menjadi semakin lama dan ber
larut. Dan kenyataan ini membuat si Jubah Hijau lawan sang Toa Suci mulai menjad
i geram disamping kagum atas lawannya. Semakin lama, posisi mereka sebagai penyu
sup bakalan menjadi semakin sulit. Ternyata ada seorang jago Lembah Salju Bernya
nyi yang memiliki kesanggupan menandingi mereka. Fakta yang memusingkan dan sung
guh di luar persangkaan dan perhitungan mereka ketika menyusup masuk.
Maka ketika terdorong mundur, si Jubah Hijau itu telah menggetarkan suaranya: Hmm
mmm Nenek tua, lihat aku akan menerkammu >>>>>>> suaranya sangat berwibawa karena
didorong kekuatan sihir. Dan sekilas sang Toa Suci terhenyak melihat lawannya b
erubah menjadi harimau raksasa. Tetapi, ketenangan, ketangkasan dan ilmu nenek i
ni memang tidak main-main. Tidak lama dia telah mampu menguasai dirinya dan berb
alik membentak: Pergi ........ sebuah bentakan yang digetarkan dengan suara yang s
angat bening berwibawa, dan membuyarkan kekuatan sihir yang dilontarkan lawan.
Akibat benturan kekuatan sihir tersebut, si Jubah Hijau kembali merasa terkejut,
kekuatan sihirnya bisa dengan mudah dipunahkan si nenek. Bahkan membuatnya sedi
kit terguncang, suatu tanda bahwa kekuatan sihir si nenek juga bukan olah-olah d
an sama sekali tidak di sebelah bawahnya. Maka semakin bertambahlah keraguan si
Jubah Hijau. Jelas maksud penyusupan mereka menghadapi pilihan gagal. Situasi aka
n sulit di atasi, apalagi masih ada dua Nenek lainnya yang ternyata mampu bertah
an di arena sebelah pikirnya.

Kondisi tersebut membuatnya mulai mengerahkan puncak kemampuan tertingginya. Dia


mengerang dan kemudian menyerang dengan kecepatan lebih tinggi, dimana kedua ta
ngannya bergerak cepat dan sulit diduga serangan bagaimana yang akan dilakukanny
a. Tetapi si Nenek sakti sudah menyadari jika lawan akan meningkatkan kemampuann
ya. Dan tentu dia tidaklah takut. Sebaliknya, diapun bersiap dengan mengerahkan
ilmu pegangannya Pek In Swat Kang
Tenaga Salju Awan Putih dan Swat Im Sinkang
Te
naga Dalam Salju.
Itupun sambil terus bergerak dengan langkah kilat yang aneh memusingkan Kiu Kion
g San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat). Karena itu, bukannya berkelit, si Nenek jus
tru memapak serangan berat musuh dengan hembusan angin dingin yang sangat menusu
k. Serangan hawa dingin membekukan itu selalu mendahului semua gerakan tubuh dan
serangannya.
Tak pelak lagi, keduanya memasuki tahapan pertarungan menentukan. Sang Toa Suci
tak lagi mampu membagi perhatian terhadap kedua sumoynya, tetapi dia memiliki ke
percayaan kepada kedua sumoynya. Dia yakin mereka akan mampu setidaknya menjaga
diri dengan memaksakan hasil imbang. Kemampuannya untuk bertahan akan menentukan
hasil akhir pertempuran. Itulah sebabnya dia tidak berayal dan tidak mau lengah
untuk menandingi lawannya yang sakti itu. Hebatnya, lawannya si Jubah Hijau, ju
ga tidak merasa takut dengan hawa dingin menusuk yang berhembus dari pengerahan
kekuatan si Nenek. Sebaliknya dia terus maju merangsek dan selanjutnya keduanya
bertarung dalam jarak dekat, dengan saling serang dan saling tangkis.
Yang hebat adalah meski terjadi berkali-kali benturan akibat tangkis menangkis p
ukulan, tidak sekalipun terdengar suara benturan yang berisik. Hal yang mengindi
kasikan bahwa keduanya sudah memasuki tahapan pengerahan kekuatan dalam tingkat
tertinggi. Dan beberapa saat kemudian tubuh keduanya terpisah. Sementara pengika
t rambut si Nenek terlepas dan rambutnya kini terurai, di pihak lawan, penutup w
ajah si Jubah Hijau hancur menjadi butiran-butiran salju dan secara otomatis men
ampakkan wajah aslinya. Dan, siapakah gerangan si jubah hijau itu?
Luar biasa, inilah dia tokoh sakti asal Thian Tok (India) yang bernama Naga Patt
inam. Tokoh hebat dengan ilmu sihir luar biasa yang bersekutu dengan pentolan Th
ian Liong Pang. Dia senantiasa dikejar-kejar oleh kakak seperguruannya Bhiksu Ch
undamani, dan anehnya dia kini muncul di Lembah Salju Bernyanyi. Dia bergabung d
engan Thian Liong Pang, perkumpulan yang telah dibubarkan dan dikalahkan para pe
ndekar muda beberapa bulan sebelumnya. Ada apa sebenarnya hingga tokoh sakti ini
tiba-tiba memunculkan diri di Lembah Salju Bernyanyi? dan mengapa pula masuk de
ngan diam-diam atau dengan jalan menyusup? Entahlah, tapi yang sudah jelas adala
h, maksudnya bukanlah untuk kepentingan yang baik. Karena memang reputasinya bur
uk dan selalu diburu kakak seperguruannya.
Hmmmmm, siapakah gerangan tuan .... ? si Nenek bertanya karena merasa tidak sedikit
pun mengenal kakek tinggi besar dan berkulit sedikit gelap yang kini wajahnya te
rsingkap akibat benturan tenaga mereka tadi.
Pentingkah engkau mengenaliku Nenek tua .... ? balas Naga Pattinam bertanya, sekali
gus penasaran karena kembali dia bertemu tokoh setanding dengannya di Tionggoan.
Tepatnya kali ini di gunung Thian San, dalam Lembah Salju Bernyanyi, lembah yan
g sunyi terpencil ini.
Selesai berucap demikian, kembali Naga Pattinam menyerang, dan sudah barang tent
u serangannya kali ini menjadi lebih berat dan lebih hebat. Tubuhnya berpusing d
an seperti hilang dari pandangan mata. Betapa hebat serangan itu tidak dapat diu
raikan lagi, karena memang Naga Pattinam bukannya tokoh sembarangan. Hanya saja,
dengan menguasai dan memainkan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat), si
Nenek tidak bisa dikibuli dan dikelabui.
Gerakannya yang cepat dalam paduan sinkang hawa dingin yang membekukan tulang ti
dak sanggup ditembus oleh ilmu silat Thian Tok yang dikembangkan Naga Pattinam.
Padahal, Naga Pattinam sudah mengerahkan kekuatan batin melandasi ilmu andalanny
a Seng Hwee Sinkang (Tenaga Dalam Api Suci) dan Seng Hwee Sin Ciang (Ilmu Pukula
n Api Suci). Dengan ilmu itu dia tidak takut dengan hawa dingin luar biasa dari
si Nenek, karena diapun mampu menghembuskan hawa panas membara dari tubuhnya. Ha
wa panas yang merupakan hembusan dari tenaga sakti yang dikerahkannya.
Tetapi yang hebat luar biasa adalah, kedua tokoh sepuh ini bertarung dengan kema
mpuan membatasi arena pertempuran dari hembusan hawa panas dan dingin. Akibatnya

akumulasi tenaga mereka benar-benar terpusat dan perpijar dalam arena yang mere
ka berdua telah batasi dengan kekuatan sinkang yang memang sudah sempurna. Resik
onya, jika salah satu alpa dan lalai, maka dia bakal dilumat oleh gabungan tenag
a mereka berdua. Makanya, tidak sedikitpun arena pertempuran kedua Nenek lainnya
yang berhadapan dengan si Jubah Hijau yang satunya lagi terganggu oleh hawa din
gin dan panas yang dikerahkan kedua tokoh sakti itu. Sungguh pertarungan dan pam
eran kekuatan yang luar biasa.
Naga Pattinam menyadarinya dan menjadi semakin kagum, demikian juga toa suci Thi
an San Giokli. Mereka makin kagum akan kekuatan lawan masing-masing, apalagi kar
ena ilmu silat lawan yang dihadapi relatif baru. Dalam artian baru kali itu mere
ka lihat dan hadapi. Maka rasa kagum dan hormat tumbuh di hati masing-masing. Te
tapi, di pihak Naga Pattinam, dengan misi rahasia yang mereka emban, membuat ras
a hormatnya bisa dengan cepat menjadi rasa penasaran dan akhirnya menjadi sirik
untuk segera menang. Itulah sebabnya, meski paham bahwa sulit mengalahkan si Nen
ek, tetap saja dia berketetapan hati untuk mengerahkan puncak kekuatannya. Apa l
agi ketika kemudian telinganya yang sangat tajam menangkap suara kaki beberapa o
rang yang agaknya cukup lihay sedang mendatangi. Apa boleh buat, diapun mengambi
l resiko itu.
Dia telah menyiapkan Ilmu Hwee Sin bit Ciat Kang Hoat
Hawa Sakti Pemusnah Tenaga
Dalam, ilmu pamungkas yang teramat jarang dikeluarkannya. Tepat pada saat dia m
enyiapkan ilmu pamungkasnya tersebut, tiba-tiba terdengar sebuah suitan panjang
dan mengerikan, yang nampaknya berasal dari tempat yang biasanya dijaga oleh Thi
an San Giokli.
Swiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttttttttt
hahahahahahahahah
ahaha
Suara tersebut sungguh hebat, tidak kalah dengan raungan Naga Pattinam ataupun s
uara yang dikeluarkan Thian San Giokli. Menggetarkan sukma dan menusuk telinga h
ingga Naga Pattinam yang maha sakti dan Nenek Thian San Gioklipun harus terperan
gah dan mengerahkan tenaganya untuk menenteramkan hati.
Dan tidak lama kemudian suara suitan dan tertawa panjang itu sirap, sementara se
mua pertempuran terhenti. Kedua nenek penjaga sumur atau liang di dalam ruangan
itu bergerak ke arah tempat biasanya mereka berjaga, karena suitan dan tawa panj
ang tadi berasal dari dalam liang tersebut. Sudah puluhan tahun mereka berjaga d
an inilah untuk pertama kalinya terjadi gerakan yang berasal dari dalam liang ya
ng mereka jaga tersebut. Teringat tugas, maka secara otomatis mereka bergerak me
ndekat ke arah liang yang menjadi tanggungjawab mereka itu.
Tetapi, belum lagi mereka berada di posisi biasanya mereka berjaga, tiba-tiba be
rhembus serangkum hawa angin yang berbau sangat busuk. Diikuti secara tiba-tiba
oleh sesosok tubuh yang melenting dengan kecepatan sangat tinggi keluar dari dal
am liang yang biasa mereka jaga itu. Sangat kebetulan, kedua Nenek penjaga, juga
sedang bergerak ke arah liang itu dan secara otomatis tidak akan terhindarkan t
abrakan antara bayangan yang melenting keluar dengan kedua nenek tersebut. Nenek
tertua dari Thian San Giokli terperanjat melihat kejadian tersebut, sebuah inga
tan muncul di benaknya, dan dengan segera dia mengenal tanda kemunculan dari seb
uah ilmu jahat yang terbenam di dasar liang itu, ilmu yang disebut Bu-siang-te-i
m-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang). Celaka ... desisnya, sambil bergerak ce
pat dan berseru:
Jiwi sumoy, mundur, cepat .......
Tetapi teriakannya sudah teramat terlambat. Meskipun dia masih sempat mengerahka
n ilmu tandingan dari ilmu busuk yang mujijat itu, yakni Ilmu Peng-sian-jit-gwat
ciang (pukulan matahari rembulan berhawa dingin), tetapi benturan antara pukulan
kedua sumoynya dengan Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang), s
udah terjadi terlebih dahulu. Terdengar dua teriakan menyayat hati dan sebuah de
ngusan berat:
Hayaaaaaaaaaaaaaaaaa .......
Hmmmmmmmmmm ........
Tubuh kedua nenek sakti penjaga liang dalam ruangan tersebut terlempar ke belaka
ng akibat benturan hebat dengan pemilik ilmu Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan ding
in pembusuk tulang). Mereka tidak sanggup menahan benturan dengan ilmu busuk tap
i mujijat tersebut dan terlontar jauh kebelakang bagaikan layangan putus. Dari b

ibir mereka mengalir darah segar, tanda bahwa mereka terluka parah oleh benturan
itu. Dan tubuh mereka terbanting deras ke belakang tanda bahwa tubuh itu sudah
tanpa daya.
Sementara itu, dengusan berat terdengar dari mulut manusia yang baru saja keluar
dari liang tadi. Rupanya dia terhajar oleh hembusan ilmu sakti Peng-sian-jit-gw
atciang (pukulan matahari rembulan berhawa dingin), yang kebetulan adalah tandin
gan ilmu busuk mujijatnya. Tetapi karena Thian San Giokli tidak sempat menyertak
an tenaga besarnya, maka tidak berefek sangat berat bagi manusia yang baru saja
keluar dari liang tersebut.
Bersamaan dengan terjadinya benturan itu, Kim Tong masuk dengan diiringi oleh be
berapa orang muridnya. Mereka memasuki ruangan dan dari rombongan tu, tiba-tiba
terdengar sebuah teriakan kaget:
Ling koko, engakaukah itu .... ? seruan dari Toh Lui, murid bungsu dari Kim Tong ya
ng terkejut melihat manusia yang keluar dari liang dan terjengkang ke belakang n
amun kemudian menempel di dinding. Manusia itu berambut panjang terurai nampak t
idak terurus, tetapi wajahnya tidak terhalang rambut. Persis di bawah dinding te
mpatnya menempel adalah liang darimana dia baru saja keluar. Dan kelihatannya, m
anusia yang dipanggil Ling koko oleh Toh Lui tadi, juga kaget melihat Toh Lui, dan
lebih kaget lagi melihat dia mampu melukai dua nenek yang memapaknya dengan ser
angan tadi.
Lui-te ...... ach, aku tidak bermaksud begini ...... tidak, aku tidak bermaksud m
elukai mereka orang tua itu ....... nampaknya benar, bahwa manusia yang baru kelu
ar dari liang itu adalah orang yang dikenal Toh Lui. Tepatnya memang adalah kaka
k tertua Toh Lui yang bernama Toh Ling.
Toh Ling berkarakter sama dengan Toh Lui, cerdas
berbakat namun berwatak lurus.
Hanya Toh Ling sedikit nakal, nakal khas anak muda. Tapi kenakalannya jugalah ya
ng membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dia adalah kakak tertua Toh Lui anak
dari pasangan penghuni perkampungan di Lembah Salju Bernyanyi. Kenakalannya sebe
narnya tidaklah tergolong sangat berat. Hanya celakanya yang terkena korban keis
engannya adalah seorang Tham Wan Hong, putri satu-satunya Kim Tong sang majikan
lembah. Dia mengincar dara lain untuk digoda, apa lacur justru adalah Tham Wan H
ong yang terkerjai.
Demi menghindari hukuman, dia kemudian menyelinap di ruang jaga Thian San Giokli
. Lebih kebetulan lagi, waktu itu adalah saat pergantian dari Giokli pertama kep
ada Giokli kedua. Pada saat ribut-ribut mengejarnya, kedua Giokli yang sedang me
lakukan pergantian itu, sempat meninggalkan ruangan untuk beberapa saat. Dan kes
empatan itu dimanfaatkan Toh Ling untuk menyusup masuk ke ruangan. Malangnya, di
a tidak paham dan tidak pernah sebelumnya memasuki ruang yang dirahasiakan itu.
Tanpa mengenali liang yang biasanya dijaga Thian San giokli, dia melompat ke ten
gah ruang jaga dan kejeblos ke bawah. Sejak saat itu, kurang lebih 15 tahun sila
m, Toh Ling dinyatakan hilang .
Sesaat setelah memperlihatkan kesedihan karena melukai kedua nenek Thian San Gio
kli, tiba-tiba Toh Ling tertawa: Hahahahahaha, tapi aku bangga karena sudah mampu
melukai mereka . Dan Toh Lui menjadi sedih melihat toakonya yang nampak dalam kon
disi kurang stabil itu. Untungnya, toakonya itu masih mengenalinya, karena memang
adalah Toh Ling yang mengemong dan menjaganya di masa kecilnya. Hubungan mereka
memang sangat dekat, apalagi adalah Toh Ling yang juga mengajarinya dasar-dasar
ilmu silat.
Hahahahaha, aku bisa, aku bisa , sambil berteriak demikian Toh Ling tiba-tiba berke
labat keluar ruangan. Tidak ada yang bisa menghalanginya, karena Thian San Giokl
i tertua sedang mengurusi kedua sumoynya. Sementara Kim Tong masih terperangah m
elihat kedua sumoynya bisa dirontokkan sekali pukul oleh bekas muridnya yang men
ghilang 15 tahun silam. Hanya seorang Toh Lui yang berusaha mengejarnya sambil b
erseru: Toako, tunggu .....
Maka loloslah dari Lembah Salju Bernyanyi seseorang yang bakal menggegerkan rimb
a persilatan karena membekal kepandaian silat maha sakti, maha busuk, yang dimil
iki tokoh hitam 100 tahun silam. Jika 100 tahun silam sepasang datuk kaum hitam,
Thian Tee Siang Mo mengaduk-aduk dunia persilatan, maka kali ini murid tunggal
mereka, Toh Ling, hadir dengan warisan kekuatan kedua gurunya yang maha sakti it
u.

Sementara itu, Nenek Sakti Thian San Giokli sudah tidak menghiraukan sekitarnya.
Perhatiannya dipusatkan kepada kedua orang sumoynya yang terluka parah oleh ben
turan dengan ilmu Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang). Yang m
enyedihkannya adalah pengetahuannya bahwa siapapun yang terkena ilmu busuk ini,
bakalan tidak dapat diobati lagi. Dahulunya hanya ilmu mujijat milik kakek gurun
ya, Koai Todjin, yang hanya dia seorang yang menguasai yang mampu menahan ilmu t
ersebut. Tetapi, ilmu itupun tidak mampu untuk mengobati korban ilmu mujijat kau
m hitam itu.
Itulah sebabnya, ketika kedua tokoh Jubah Hijau yang juga tadinya mengincar lian
g rahasia dalam Lembah Salju Bernyanyi
akhirnya juga angkat kaki, Nenek ini tida
k lagi mempedulikan. Toch mereka sudah gagal menjaga liang tersebut, telah kemas
ukan orang lain pada waktu-waktu sebelumnya. Nenek ini akhirnya menarik nafas pa
njang setelah berusaha sekuatnya menyalurkan hawa saktinya kepada kedua sumoynya
. Tetapi dia kecele, karena hawa sakti sebesar apapun yang disalurkannya, selalu
lenyap tak berbekas. Sementara perlahan-lahan kaki dan tangan kedua sumoynya mu
lai menciut, dan dihadapan matanya kedua sumoynya tak berdaya. Mereka bahkan tak
mampu mengucapkan satu kalimatpun selain memandanginya dengan tatapan pilu.
Sehebat apapun kekuatan mental Thian San Giokli, tetap saja dia terpukul melihat
keadaan kedua sumoy yang tumbuh bersamanya selama puluhan tahun. Mereka bertiga
memang disumpah sebagai murid generasi terakhir yang tidak boleh menikah karena
harus mencurahkan seluruh waktu mereka menjaga liang rahasia dalam lembah Salju
Bernyanyi. Di tahun terakhir sumpah mereka sebagai murid kepada Ibu Guru mereka
, justru maut menjemput kedua sumoynya. Sungguh, hanya air mata yang sanggup dic
ucurkan Nenek sakti dari Lembah Salju Beracun itu. Dengan pilu dan berurai mata
dipandanginya kedua sumoynya yang secara perlahan melepas jiwa dengan menatap ke
padanya penuh hormat dan kasih. Mereka melepas nyawa dengan tubuh mengempis karena
tulang membusuk.
Maka, pada hari kebebasan Lembah Salju Bernyanyi terlepas jugalah suasana damai
dan tentram yang selama 100 tahun menghiasi perjalanan hidup Lembah Salju Bernya
nyi. Penuh rasa sedih dan pedih Nenek Sakti Thian San Giokli akhirnya melepas ke
pergian kedua sumoynya. Dia sedih karena tak mampu melindungi kedua sumoynya, ka
rena terlambat melepas pukulan anti dari ilmu iblis Bu-siang-te-im-hu-kut (pukul
an dingin pembusuk tulang), dan akhirnya dibayar dengan nyawa kedua sumoynya.
Meskipun dia telah menduga bahwa dia akan segera berpisah dengan kedua adik sepe
rguruannya, sebagaimana kegelisahan yang di rasakannya beberapa hari terakhir, t
etapi tetap juga rasa sedihnya tidak berkurang. Sedapat mungkin dia menyuruh ked
ua adik seperguruannya untuk selalu bersama guna mengurangi resiko terbunuh. Tet
api, tetap saja dia tak mampu mengungguli takdir bagi kedua sumoy yang sangat di
kasihinya. Ketika batas usia manusia sudah dituliskan, maka sulit untuk menghind
arinya, apalagi karena semua memang harus melewatinya. Batas akhir kehidupan.
Kim Tong, yang juga menghabiskan puluhan tahun tumbuh bersama kedua adik sepergu
ruan, atau yang adalah murid-murid ibunya, juga merasa sangat sedih dan menitikk
an air mata. Diapun sedih dan menangis mengiringi kepergian kedua sumoy yang tum
buh bersamanya sekian puluh tahun. Hari kebebasan Lembah Salju Bernyanyi, ternya
ta adalah sebuah malapetaka. Pukulan berat berapa kali dialami Kim Tong, pukulan
yang membawa habis semua ambisinya dan mengingatkannya betapa indah kedamaian y
ang dikecapinya selama beberapa puluh tahun kehidupannya. Kehilangan anak, murid
dan sumoy.
Memang, sesuatu yang indah dan berharga akan terasa semakin berharga ketika hila
ng dari genggaman kita. Kedamaian akan terasa sangat mahal ketika kita menghadap
i kekisruhan, kekacauan dan ketidakpastian. Tetapi, kita tidak akan pernah mengh
argai kedamaian itu selama kita tidak bersentuhan dengan kekacauan dan ketidakpa
stian. Itulah yang dialami Kim Tong. Dia sempat berdebat dengan adik seperguruan
nya yang paling bungsu di gerbang alam tentang perlu tidaknya Lembah Salju Berny
anyi memasuki kekisruhan dunia persilatan. Kini, jawaban yang paling tepat, tanp
a keluar dari mulut siapapun, sudah ditemukannya.
Ternyata, tidak butuh waktu panjang, dia sudah langsung menikmati betapa mahal k
edamaian yang selama ini hadir di Lembah sunyi milikinya. Tetapi, kedamaian itu
akan sangat sulit dihadirkan kembali. Karena dia baru saja kehilangan seorang pu
tra dan dua orang murid. Karena Lembah Salju Bernyanyi baru saja kehilangan dua

orang sesepuh, Thian San Giokli nomor dua dan nomor tiga. Karena dari Lembah Sal
ju Bernyanyi, baru saja lolos calon momok menakutkan dunia persilatan. Karena Le
mbah Salju Bernyanyi baru saja menanam permusuhan hebat, melanjutkan permusuhan
masa lalu dengan Perguruan Thian San Pay. Mana bisa kedamaian datang dalam mengh
adapi sejumlah besar urusan itu?
Kim Tong yang memang keturunan keluarga besar Lembah Salju Bernyanyi dan untungn
ya tidak seambisius ayahnya, telah menerima pelajaran penting dalam hidupnya. Ki
ni, dia bisa lebih memandang dan menghargai satu-satunya sumoy yang masih dimili
kinya. Seorang yang dalam banyak sangat hal mirip almarhum ibunya. Wibawa dan pe
sona yang membuat orang mudah tunduk kepadanya. Dan hari itu juga Kim Tong melep
as ambisinya dan bahkan kemudian berketetapan untuk menyerahkan pimpinan Lembah
Salju Bernyanyi kepada putra sulungnya, Tham Ki. Kim Tong selanjutnya ingin meny
epi dan menempati kamar samadhi ibunya. Selain untuk memperdalam ilmu kepandaian
nya saat ini, juga juga untuk menyelami lebih jauh ajaran-ajaran ibunya.
Lembah Salju Bernyanyi berduka di hari pertama kebebasannya. Selama 7 hari bertu
rut-turut Kim Tong memimpin Lembah Salju Bernyanyi dalam upacara duka melepas se
orang anak, dua orang murid dan dua orang sesepuh Lembah. Dan pada hari terakhir
, dia sekaligus mengumumkan Majikan Lembah Salju Bernyanyi kini dipegang oleh Th
am Ki, dengan wakilnya Tham Sin
putra ketiga Kim Tong. Selanjutnya, Kim Tong dan
Thian San Giokli menjadi Hu Hoat atau Pelindung Lembah Salju Bernyanyi.
Perubahan struktur kepemimpinan ini, memang sudah diamanatkan Koai Todjin semasa
hidupnya. Bahwa struktur kepemimpinan Lembah Salju Bernyanyi baru akan berubah
sebagaimana struktur kepemimpinan Perguruan lain setelah 100 tahun. Baru hari in
ilah Thian San Giokli memahami pesan terselubung dari kakek gurunya yang maha sa
kti itu. Ternyata Kakek guru telah meramalkan kejadian pada hari ini tebaknya dala
m hati. Dengan lolosnya Toh Ling, maka tugasnya yang terpisah secara struktural
dengan kepemimpinan Lembah secara otomatis berubah. Tugas tersebut tidak lagi di
butuhkan secara khusus, tetapi akan menjadi tugas menyeluruh dari Pemimpin Lemba
h.
Maka, pada hari ketujuh setelah masa berkabung usai, Kepemimpinan Lembahpun seca
ra otomatis dialihkan kepada Tham Ki sebagai Majikan Lembah dan Tham Sin sebagai
Wakil Majikan. Thian San Giokli yang kini tinggal seorang, juga kini berubah st
atus menjadi Hu Hoat atau pelindung Lembah Salju Bernyanyi bersama Thian San Kim
Tong. Sejak saat itu, Kim Tong jadi banyak bertanya dan bahkan banyak belajar d
ari Thian San Giokli yang kemudian membuka banyak rahasia ilmu silat yang masih
belum dikuasai oleh Kim Tong. Dia berani membuka semuanya selain karena melihat
perubahan besar dalam diri suhengnya, juga karena suhengnya adalah putra tunggal
dari subonya.
Bahkan rahasia ilmu pusaka Lembah Salju Bernyanyi, juga kemudian dibuka kepada K
im Tong dibawah sumpah perguruan. Dan setelah mengerti bahwa Ilmu Pusaka itu han
ya teruntuk bagi mereka yang berjodoh, Kim Tongpun tidak berkeras memilikinya. A
palagi karena dia bangga begitu mengetahui seorang putranya berjodoh dengan ilmu
mujijat tersebut. Putranya itu, tepatnya putra bungsunya sedang berusaha mengua
sai dan menyempurnakan penguasaan atas ilmu pusaka perguruan mereka itu.
Demikianlah, sejak saat itu semua rahasia Lembah Salju Bernyanyi dipertukarkan o
leh kedua Hu Hoatnya untuk selanjutnya dipelihara dan diwariskan kepada mereka-m
ereka yang akan melanjutkan tugas memelihara tradisi perguruan. Setidaknya bagi
para sesepuh Lembah Salju Bernyanyi, generasi mereka maupun generasi yang akan d
atang. Dan, Thian San Giokli kemudian juga menjelaskan bahwa ketiga murid utaman
ya, termasuk putra Kim Tong, baru akan tampil setelah lewat waktu secepatnya seb
ulan atau dua bulan ke depan.
Demikianlah, setelah menjelaskan semua hal kepada Kim Tong, 10 hari kemudian Thi
an San Giokli berpamitan kepada Kim Tong dan kepada Majikan Lembah Salju Bernyan
yi, Tham Ki:
Adalah karena kelalaianku maka Lembah Salju Bernyanyi meloloskan seorang calon ma
ha durjana di dunia persilatan. Karena itu, mohon perkenan Majikan Lembah untuk
memberiku waktu beberapa bulan dalam menjejaki Toh Ling dan berusaha mengekangny
a
Ach, tapi tenaga Hu Hoat sangat dibutuhkan saat ini di Lembah. Sewaktu-waktu Thia
n San Pay akan menerjang, dan kita membutuhkan semua kekuatan untuk melawan mere

ka tolak Tham Ki secara halus.


Majikan, jika mendengar laporan Majikan dan beberapa anak murid, maka kematian mu
rid-murid Thian San Pay dan ketiga anggota Lembah kita sangat mencurigakan. Aku
akan berusaha menyelidiki kejadian tersebut dan berusaha menghapus permusuhan an
tara kedua Perguruan, mohon perkenan Majikan ....
Hmmmmm, begitu juga baik. Tapi, berapa lama waktu yang Hu Hoat butuhkan untuk sem
ua pekerjaan itu.... ? tanya Tham Ki
Paling lama 6 bulan, Majikan ....
Baiklah, jika demikian kuberikan waktu 6 bulan kepada Hu Hoat untuk melakukan sem
ua tugas tersebut. Mohon Hu Hoat melaporkan setelah waktu 6 bulan berlalu
Baik, terima kasih majikan
Thian San Giokli, tokoh paling hebat dari Lembah Salju Bernyanyi akhirnya berjal
an meninggalkan Majikan Lembah. Dia melakukan beberapa persiapan di ruangan sama
dhinya, meninggalkan beberapa pesan kepada ketiga murid yang sedang berlatih men
yelesaikan latihannya dan kemudian berpamitan kepada Thian San Kim Tong yang sem
akin tenggelam dengan ajaran-ajaran peninggalan ibunya. Hanya beberapa saat mere
ka bercakap, untuk selanjutnya Thian San Giokli pamit.
Paling akhir, dengan sedih Nenek sakti ini mengunjungi makam kedua sumoynya yang
dimakamkan di pemakaman tokoh-tokoh keluarga Lembah Salju Bernyanyi. Makam mere
ka sengaja dibuatkan berdekatan dengan makam subo yang mereka hormati. Dan disit
ulah si nenek Sakti bersujud dan menghormat sambil mohon restu kepada subonya da
n, sudah tentu juga menangis di makam kedua sumoynya, untuk selanjutnya turun gu
nung.
Maka, setelah melepas calon momok menakutkan di dunia persilatan Tionggoan, Toh
Ling, yang telah mewarisi kehebatan Thain Tee Siang Mo; sepuluh hari kemudian Le
mbah Salju Bernyanyi melepas tokoh sakti lainnya dengan misi yang berbeda. Dalam
waktu tidak lama, dua karakter berbeda dari Lembah Salju Bernyanyi memasuki rim
ba persilatan Tionggoan, entah itu merupakan berkat ataukah petaka? Siapa yang t
ahu?
======================
Suasana rimba persilatan Tionggoan menjadi relatif aman sejak Thian Liong Pang d
ikalahkan dan dibubarkan oleh kaum pendekar pada beberapa bulan sebelumnya. Teta
pi, kurang lebih 6 bulan setelah peristiwa besar penyerbuan markas utama Thian L
iong Pang, salah satu pelaku utama dalam peristiwa itu tidak lagi pernah menampa
kkan akitiftasnya di rimba persilatan. Terhitung sejak bubarnya pertemuan pada 6
bulan silam, sepak terjang Lembah Pualam Hijau benar-benar lenyap dari percatur
an rimba persilatan Tionggoan. Tiada seorangpun tokoh Lembah itu atau orang yang
atas nama Lembah itu diketemukan berkelana di luaran.
Sebagaimana perkataan Kiang Ceng Liong pada pertemuan di Siauw Lim Sie dan terak
hir di markas utama Thian Liong Pang, Lembah Pualam Hijau mengembalikan semua ke
percayaan kaum rimba persilatan Tionggoan sebagai pemimpin dan mempersilahkan ji
ka akan memilih Bengcu yang baru. Tetapi, tidak ada satupun kelompok atau tokoh
yang berani mencoba berinisiatif untuk melakukannya. Karena bukan lagi rahasia u
mum jika Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay dan juga Kay Pang sebagai Perguruan terbesar
memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pihak Lembah Pualam Hijau.
Artinya, memilih Bengcu Persilatan yang baru tanpa dukungan Siauw Lim Sie, Bu To
ng Pay ataupun Kaypang
adalah sia-sia belaka. Itulah sebabnya tidak ada sedikitp
un inisiatif memilih Pemimpin Dunia Persilatan yang baru. Meski Lembah Pualam Hi
jau telah mengundurkan diri, tetapi masih banyak yang memandang dan menghormati
Lembah itu sebagai pemimpin dunia persilatan. Wajar jika kemudian tak ada tokoh
yang berani mengambil inisiatif kontroversial untuk memilih dan menetapkan Bengc
u yang baru.
Apalagi, suasana Dunia Persilatan selama 6 bulan terakhir relatif damai-damai da
n aman-aman saja. Jikapun ada pertikaian maupun perselisihan, biasanya hanyalah
pertikaian kecil belaka dan dapat diselesaikan tanpa memiliki dampak yang luar b
iasa bagi rimba persilatan secara keseluruhan. Kondisi ini yang kemudian ikut be
rkontribusi bagi tiadanya upaya maupun inisiatif untuk memilih ataupun mencari p
emimpin dunia persilatan yang baru guna menggantikan Kiang Ceng Liong dari Lemba
h Pualam Hijau.
Karena memutus komunikasi dengan dunia luar, tiada seorangpun tokoh dunia persil

atan yang mengetahui jika Kiang Sin Liong, salah seorang Pendekar Besar dalam 10
0 tahun terakhir di Tionggoan telah meninggal dunia. Meskipun sebetulnya, tidakl
ah tepat benar untuk mengatakan bahwa tiada seorangpun di dunia luar yang menget
ahuinya. Karena dalam upacara duka yang sudah tentu dilakukan di dalam Lembah Pu
alam Hijau, mereka kedatangan tamu-tamu khusus. Tamu-tamu yang memang sangat era
t dan sangat dekat hubungannya dengan Lembah Pualam Hijau pada waktu-waktu sebel
umnya.
Tamu pertama yang datang adalah Wie Tiong Lan yang datang dengan didampingi Lian
g Mei Lan dan Sian Eng Cu Tayhiap. Orang lain boleh tidak mengetahui keadaan Kia
ng Sin Liong, tetapi tidak dengan Wie Tiong Lan. Tokoh besar terakhir yang tersi
sa dan memiliki hubungan luar biasa dekat dengan Kiang Sin Liong. Tokoh besar in
i menemani jasad Kiang Sin Liong sepanjang malam untuk kemudian esok harinya tan
pa diketahui siapapun lenyap, tidak lagi berada di Lembah Pualam Hijau.
Tokoh kedua yang datang adalah Ciangbundjin Siauw Lim Sie yang menyempatkan diri
untuk menghunjuk hormat kepada keluarga Lembah Pualam Hijau. Tokoh ini juga dat
ang dengan tidak menyolok dan hanya ditemani oleh Kong Hian Hwesio yang juga ada
lah Suheng atau kakak seperguruan dari Ciangbundjin Siauw Lim Sie. Kedua tokoh i
ni memang datang secara rahasia dan mengikuti seluruh upacara duka hingga usai.
Pihak ketiga sekaligus yang terakhir adalah tokoh-tokoh Kaypang yang diwakili ol
eh Liang Tek Hoat dan Pengemis Tawa Gila. Pihak Kaypang memperoleh informasi men
genai kematian Kiang Sin Liong dari Bu Tong Pay, khususnya atas permintaan Liang
Mei Lan dengan mengirim kabar kepada kakaknya. Segera setelah kabar diperoleh,
Tek Hoat mohon ijin mengunjungi Lembah Pualam Hijau. Pertama, karena dia pernah
memperoleh bimbingan secara pribadi dari Kakek Sakti Kiang Sin Liong dan kedua,
Kaypang berkewajiban menghadiri upacara duka di Lembah Pualam Hijau yang menjadi
sahabat erat mereka. Maka, Tek Hoatpun berangkat bersama Pengemis Tawa Gila ata
s nama Kaypang Pangcu yang masih dalam proses penyembuhan.
Selain itu, juga hadir Tik Hong Peng Ciangbundjin Thian San Pay yang masih sanga
t muda bersama dengan gurunya Nenggala dan juga Jayeng Reksa Bintang Sakti Memba
ra. Kedatangan mereka tidaklah terutama untuk melayat, tetapi untuk melanjutkan
percakapan perjodohan antara Kiang Li Hwa dengan Nenggala yang telah diajukan be
berapa waktu sebelumnya. Sayangnya, belum sempat dibicarakan lebih detail urusan
pernikahan meski sudah memperoleh persetujuan langsung Kiang Sin Liong dan Kian
g Tek Hong, sudah keburu terjadi masa berduka bagi Lembah Pualam Hijau.
Pendekar Kembar dari Siauw Lim Sie, Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song tidak memper
oleh kabar duka karena sedang berada di Siauw Lim Sie cabang Poh Thian. Karena i
tu, hanya Kiang Ceng Liong, Liang Mei Lan dan Liang Tek Hoat yang sempat melakuk
an reuni selama berada di Lembah Pualam Hijau. Tetapi, itupun mereka tidak banyak
berbicara, karena Kiang Ceng Liong memiliki kesibukan luar biasa dalam memimpin
upacara duka di Lembahnya.
Upacara duka di Lembah Pualam Hijau berlangsung secara hikmat. Selain karena tid
ak banyak tamu yang hadir, juga karena memang kejadian ini tidak disebarluaskan
oleh pihak Lembah Pualam Hijau. Hal ini disesuaikan dengan permintaan terakhir d
ari Kiang Sin Liong. Padahal, dengan jasa-jasa dan kependekaran Kiang Sin Liong
pada masa lalu, jika dia menghendaki, ratusan atau bahkan ribuan kaum pendekar b
akal tumpah ruah di Lembah Pualam Hijau. Tetapi, hal tersebut tidak dikehendaki
Kiang Sin Liong yang menginginkan kepergiannya hanya diiringi kalangan terbatas
dan bukannya dihadiri ribuan pelayat.
Tidak ada satupun kejadian yang luar biasa selama pelaksanaan upara terakhir men
ghormati Kiang Sin Liong. Semua berjalan secara normal, khikmat dan mengharukan.
Sesuai dengan keinginan terakhir dari salah satu tokoh besar Lembah Pualam Hija
u ini semasa hidupnya. Dan segera setelah upacara duka berakhir, Kong SianHwesio
Ciangbundjin Siauw Lim Sie bersama dengan Kong Hian Hwesio suhengnya, segera mi
nta diri. Kepada mereka Kiang Ceng Liong menyampaikan ucapan terima kasih sekali
gus menitipkan salam untuk kedua Pendekar Kembar Siauw Lim Sie, Souw Kwi Beng da
n Souw Kwi Song yang tidak hadir di Lembah Pualam Hijau.
Sementara itu, percakapan antara Bintang Sakti Membara dengan pihak Lembah Puala
m Hijau, terutama dengan Kiang Tek Hong dan istrinya telah berhasil menyepakati
waktu pelaksanaan perangkapan jodoh bagi Li Hwa dan Nenggala. Dengan catatan, ka
rena mengingat pesan Kiang Sin Liong, maka pernikahan tidak akan dirayakan secar

a besar-besaran dan akan dilangsungkan di Lembah Pualam Hijau kurang lebih 4-5 b
ulan kedepan.
Mempertimbangkan persiapan yang akan sangat panjang, maka dalam waktu yang tidak
lama, akhirnya Nenggala
Tik Hong Peng dengan disertai Bintang Sakti Membara akh
irnya pulang menuju perguruan Thian San Pay. Nenggala dengan terpaksa menumpang
di perguruan muridnya, Tik Hong Peng, yang dengan sukarela mengajukan pilihan it
u. Karena dengan cara itu jugalah dia beroleh waktu yang banyak untuk mendapatka
n bimbingan Nenggala. Setelah penetapan waktu, maka merekapun meninggalkan Lemba
h Pualam Hijau untuk mengatur semua persiapan dan balik kembali ke Lembah Pualam
Hijau setelah 3 bulan kedepan.
Yang mengharukan adalah pertemuan segitiga Tek Hoat
Mei Lan dan Ceng Liong. Sebe
tulnya, Kiang Sin Liong dan Wie Tiong Lan telah menyepakati perjodohan Ceng Lion
g dengan Mei Lan. Hal yang juga disokong sepenuhnya oleh Liong-i-Sinni, salah se
orang guru Mei Lan, yang berjanji kepada kakeknya Kiang Sin Liong akan bertapa d
i Lembah Pualam Hijau selama 2 tahun. Juga Kiang Cun Le dan anaknya Kiang Hong s
uami istri mendukung ide perjodohan tersebut. Tetapi Ceng Liong meminta waktu un
tuk membicarakan sesuatu dengan Mei Lan dan baru setelah itu dia akan memberikan k
eputusan terakhir.
Ceng Liong pada akhirnya membuka semua persoalan yang dihadapinya terkait dengan
jodohnya kepada Tek Hoat. Meski sudah menduga adanya ganjalan di pihak Ceng Lio
ng, tetapi Tek Hoat tidak menyangka jika persoalan Ceng Liong begitu pelik. Kare
nanya, meskipun dia kakak Mei Lan, tetapi dia tidak berani untuk atas nama adikn
ya mengambil keputusan. Bahkan dia menyarankan kepada Ceng Liong untuk membicara
kannya dengan Mei Lan secara langsung.
Lan Moi ........
begitu sepat mulut Ceng Liong untuk memulai percakapan ketika ak
hirnya dia memiliki kesempatan bercakap dengan gadis itu setelah diatur semuanya
oleh Tek Hoat.
Ada apa Liong Ko ...... ? Mei Lan sendiri tidak kurang gugup dan ketar-ketir. Dia
paham arah pembicaraan mereka. Karena sedikit banyak telah didengarnya dari Tek
Hoat kakaknya.
Kurasa engkau telah mengetahui kesepakatan kedua guru kita Lan Moi ,,,,,
Soal apa Liong Ko .... tambah gugup Mei Lan. Betapapun perkasanya, Mei Lan tetap s
eorang anak gadis.
Soal ..... soal ..... ini soal kita berdua Lan Moi ... Ceng Liong yang perkasapun
tidak kurang rikuh dan gugupnya dalam upayanya untuk menangani persoalan serta m
enjernihkannya dengan Mei Lan. Bukan hanya gagap membicarakannya, tetapi bingung
memilih kata-kata. Dan terutama bingung dalam menenteramkan hatinya. Tidak kura
ng berat melawan lawan lihay.
Nggggggg .... Hanya itu yang keluar dari mulut Mei Lan, dan Ceng Liong tambah riku
h, tambah gugup.
Bagaimana tanggapanmu Lan Moi .... ? ach sungguh pertanyaan bodoh, tapi memang demi
kian kejadiannya.
Apa yang harus kutanggapi koko .... ? dan Mei Lanpun seakan mempermainkan perasaan
Ceng Liong. Kalimat tepat sedang disusun Ceng Liong.
Begini Lan Moi ..... dan setelah kalimat pendek itu, dia kembali terhenti, kehilan
gan kata dan arah percakapan. Dia menelan ludah.
Iya koko ..... sama saja dengan Mei Lan. Gugup.
Tentang kesepakatan kedua guru kita Lan Moi .... Ceng Liong kembali mengulang kali
mat yang telah diucapkannya di bagian awal.
Apa engkau keberatan koko ... ? duh, akhirnya Mei Lan membuka saluran percakapan de
ngan pertanyaan sederhana.
Tidak, tidak. Sama sekali tidak Lan Moi ..... buru-buru Ceng Liong menyanggah, tak
ut disalah mengerti. Karena dia sadar, bahwa dia mencintai Mei Lan sejak lama. T
api, tetap saja dia salah tingkah.
Kalau begitu, apa masalahnya koko .... tuntut Mei Lan
Tidak, aku bukannya berkeberatan Lan Moi. Sejujurnya, sejujurnya ...... aku, aku e
ntah mengapa, Ceng Liong kembali gugup dengan kalimat menggantung di bibir yang
berat dilepaskannya keluar. Jidatnya nampak berkeringat.
Engkau menolaknya ..... ? suara Mei Lan terdengar getir, namun menuntut. Dalam suas
ana psikologis semacam itu, tuntutan Mei Lan wajar.

Bukan, bukan Lan Moi. Jangan engkau salah mengerti ...... Aku, aku sebetulnya men
cintaimu sejak lama .... astaga, ternyata kalimat ajaib itu yang hendak dikemukakan
Ceng Liong. Dan diucapkan dengan gagap. Sungguh berbeda dengan ketika dia mengh
adapi lawan dalam sebuah pertempuran. Di pertempuran dia memang tangguh dan koko
h, tetapi menghadapi Mei Lan dia nampak rapuh dan peragu. Tapi, memang sudah beg
itulah cinta. Dia sanggup membuat orang hebat sekalipun terlihat tolol.
Ach, Liong koko, benarkah itu ..... ? baru sekarang senyum bahagia mengembang dari
bibir mungil Mei Lan dan sinar mata berbunga-bunga penuh binar cinta ketika mema
ndang Ceng Liong. Ach, tapi anak gadis manakah yang tidak bersikap demikian keti
ka jejaka kecintaannya mengucapkan aku cinta kepadamu setelah ditunggu demikian la
ma ?
Benar, aku yakin dengan perasaanku itu Lan Moi ...... hanya saja, aku memiliki se
buah persoalan yang harus dibicarakan denganmu Setelah mengucapkan kalimat ajaib it
u, kali ini Ceng Liong telah dengan mantap menguasai diri. Kata demi kata semaki
n mudah tersusun rapih untuk disampaikan kepada Liang Mei Lan. Dia telah menemuk
an dirinya, keyakinannya.
Koko, katakanlah. Seberat apapun masalahmu, aku berjanji akan mencoba untuk memah
aminya idem ito. Mei Lan juga telah menemukan kebahagiaannya, telah mantap dengan
cintanya, dan mulai membuka diri lebar-lebar untuk lebih memahami kekasihnya. S
angat wajar.
Begini Lan Moi, kumohon pengertianmu untuk masalahku yang satu ini Ceng Liong terh
enti sejenak, tetapi Mei Lan tidak mengeluarkan tanggapannya. Tetap bersedia unt
uk terus mendengarkan. Maka, Ceng Liongpun melanjutkan:
Lan Moi, masih ingatkah engkau dengan enci dari Siangkoan Giok Lian? Seorang gadi
s bernama Siangkoan Giok Hong ?
tentu saja koko ..... suara Mei Lan sedikit berubah. Jelas, gadis mana yang tidak t
egang jika kekasihnya membicarakan gadis lain yang diketahuinya tidak kalah canti
knya itu?
Lan Moi, tentunya engkau masih ingat waktu ketika kita membantu kokomu membereska
n urusan Kaypang. Waktu itu kebetulan kami bertemu dan bertempur bersama guna me
mbebaskan Pangcu Kaypang. Akupun belum berapa lama bertemu dengan kakak beradik
Siangkoan itu. Dan secara kebetulan kita semua bersama-sama menempur tokoh-tokoh
hitam yang mengganggu Kaypang Ceng Liong berhenti sejenak.
Terus bagaimana koko .... ? suara Mei Lan kembali melunak.
Secara kebetulan, berdua dengan Nona Siangkoan Giok Hong, kami membentur pemimpin
kelompok penjahat yang sakti waktu itu, See Thian Coa Ong. Dengan gabungan tena
ga kami berdua sambil bekerjasama, kami melawan datuk sesat itu. Datuk sesat itu
memang hebat sekali dan membekal ilmu beracun Lan Moi. Meskipun kami berdua men
geroyoknya, tetapi kami lebih banyak mundur sambil memberi kesempatan Pangcu Kay
pang untuk membebaskan dirinya dengan dibantu Tek Hoat, Nona Giok Lian dan dan s
ejumlah tokoh Kaypang. Tetapi kami berdua pada akhirnya terpaksa menggabung keku
atan memapak pukulan beracun See Thian Coa Ong. Ingatkah engkau setelah itu Nona
Giok Hong menghilang ?
Benar koko, aku ingat, sangat jelas dengan pertarungan waktu itu. Karena aku mene
mpur Hek Tung Sin Kay yang juga sangat lihay pada waktu itu (lihat Bagian I KPNP
B episode 12)
Sebetulnya begitu gabungan pukulan kami membentur See Thian Coa Ong, kami berdua
terlontar oleh pukuklan beracunnya. Tetapi, See Thian Coa Ong terlontar jauh dan
terluka parah. Akupun bahkan baru bisa sadar kembali setelah beberapa hari kemu
dian, tetapi anehnya aku sama sekali tidak menemukan dimana beradanya Nona Giok
Hong
Jika demikian, berarti hilangnya Nona Giok Hong ada kaitannya dengan engkau koko.
Setidaknya kita mengetahui dari titik mana kita bisa memulai kembali mencari No
na Giok Hong. Kasihan sekali Nona Giok Lian yang sampai sekarang masih merasa ke
hilangan saudarinya itu
Benar Lan Moi. Tetapi aku bersama dengan Pangcu Kaypang telah beberapa kali menco
ba mencari Nona Giok Hong di gua tersebut, tetapi tetap tidak mampu menemukan je
jak apapun. Dan justru, apa yang disampaikan oleh Pangcu Kaypang yang menjadi pa
ngkal masalah bagiku Lan Moi ....
Apa maksudmu koko ? tanya Mei Lan kembali penasaran

Aku mengharap engkau mencernanya secara baik Lan Moi ....


Sudah kukatakan aku akan mencobanya koko .... suara Mei Lan kembali melunak.
Setelah aku menyembuhkan Pangcu Kaypang, gantian dia yang kemudian menyembuhkan p
enyakit hilang ingatanku . Tetapi, ketika memeriksa keadaan tubuhku, dia memberi ta
hu bahwa aku baru saja kemasukan Racun Dewa Asmara , racun jahat sejenis obat peran
gsang yang bisa dilepaskan See Thian Coa Ong melalui pukulan atau kebasan tangan
nya
Terus .... bagaimana koko ? Mei Lan penasaran, sekaligus hatinya mulai merasa sanga
t tidak enak.
Menurut Pangcu Kaypang yang ahli pengobatan itu, hanya ada dua cara untuk sembuh
dari racun itu Lan Moi Ceng Liong berhenti sejenak, kembali gugup melanjutkan cer
itanya.
Bagaimana kedua cara itu koko .... ? buru Mei Lan sambil membetulkan letak dan posi
si rambutnya
Pertama, memperoleh obat pemunah langsung yang hanya dimiliki oleh See Thian Coa
Ong jawab Ceng Liong
Dan kedua ? Mei Lan kembali memburu jawaban
Yang kedua, ........ menurut Pangcu itu, melalui hubungan badan antara laki-laki
dan perempuan besar kekuatan yang dibutuhkan Ceng Liong untuk mengucapkannya seca
ra langsung.
Koko, maksudnya .... ? Mei Lan terperanjat. Tanpa Ceng Liong melanjutkan kalimatnya
dia sudah dengan tepat menerka apa yang menjadi kelanjutan cerita antara Ceng L
iong dan Giok Hong.
Lan Moi, begitulah menurut Pangcu Kaypang
maksudmu, kamu, kamu dan ......... Nona Giok Hong ... ? terbata-bata Mei Lan mencob
a menegaskan dugaannya.
Lan Moi, tenanglah ..... Ceng Liong mencoba menenangkan Mei Lan dengan memegang ta
ngannya.
Tidak, tidak ..... katakan koko seterusnya bagaimana .... ?
Lan Moi, justru inilah masalah terbesarku selama ini. Kurasa engkau sudah lama me
ngerti kalau aku mencintaimu. Tetapi, setelah mendengarkan penjelasan Pangcu Kay
pang, bagaimana mungkin aku mengutarakan perasanku kepadamu sementara aku tidak
jelas dengan nasib dan keadaan Nona Giok Hong ?
Mei Lan nampak gelisah dan terpukul, tetapi berusaha menguatkan hati untuk mener
ima kenyataan yang sangat tidak mengenakkan ini. Dia bersyukur Ceng Liong sudah
begitu terbuka kepadanya, mengakui perasaan hatinya, sekaligus mengakui beban se
putar desakan perjodohan kedua guru mereka. Tetapi, apakah dia tega mengangkangi
Ceng Liong yang sudah beristrikan Giok Hong? Inilah masalahnya. Pangcu Kaypang su
dah menegaskan, begitu menurut Ceng Liong, bahwa kesembuhannya adalah karena per
setubuhannya dengan Giok Hong. Maka setelah berusaha keras dan melalui perjuanga
n hati dengan tidak menyalahkan Ceng Liong, Mei Lan akhirnya kembali berkata:
Koko, bagaimana dengan sikapmu sendiri ?
Lan Moi, sudah lebih kurang 5 tahun Nona Giok Hong tidak munculkan dirinya. Selam
a itu pula aku memendam perasaanku kepadamu. Tetapi, aku sungguh membutuhkan kep
astian apakah benar-benar telah melakukannya dengannya ataukah tidak. Engkau tahu
Lan Moi, justru kesengsaraanku melihatmu selama ini adalah karena aku mengasihim
u dengan sangat, tetapi aku sadar kemungkinan besar aku telah melakukan hubungan
suami-istri dengan Nona Giok Hong
Aku menanyakan sikap dan keputusanmu koko ... tuntut Mei Lan.
Lan Moi, aku telah menunggu selama 5 tahun. Dan masih akan menunggu hingga pertem
puran dengan Lam Hay, Thian Tok dan Bengkauw sebagai batasnya. Aku telah memohon
ijin kepada suhu dan karenanya aku memohon pengertianmu untuk menungguku hingga
setahun lebih kedepan Ceng Liong mengucapkannya dengan kalimat penuh permohonan.
Koko, engkau tahu perasaanku. Akupun memendamnya sudah sangat lama. Apapun keputu
sanmu akan kuterima dengan baik. Aku akan menunggu batas waktu itu, semoga engka
u tidak menyia-nyiakan penantianku koko ..... dan seusai mengucapkan kalimat itu
dengan penuh perasaan, Mei Lanpun melesat pergi.
====================
Sebagaimana Kiang Sin Liong, Wie Tiong Lan Pek Sim Siansu
tokoh besar Bu Tong Pa
y juga menginginkan kepergian yang damai dan tenang tanpa harus menyusahkan Bu T

ong Pay. Setidaknya, itulah yang dipesankan Wie Tiong Lan kepada ke-4 muridnya y
ang menemaninya menjelang akhir-akhir masa kehidupan sang Guru Besar. Tidak lama
setelah meninggalkan Lembah Pualam Hijau, Wie Tiong Lan telah merasakan bahwa w
aktu baginya akan segera tiba. Betapapun, sebagaimana Kiang Sin Liong, usianya t
elah melampaui angka 100, menandakan betapa tinggi dan betapa lamanya dia hidup
di dunia ini.
Pada bulan-bulan terakhir, dia masih sering membimbing ke-4 muridnya tidak lagi
dengan berlatih ilmu silat, tetapi dengan mendiskusikannya. Dan luar biasanya, j
ustru cara ini jauh lebih tepat guna meningkatkan kemampuan murid-muridnya ketim
bang dengan menghabiskan kemampuan fisik. Hal ini dikarenakan tingkat kemampuan
murid-muridnya memang sudah sangat tinggi. Sehingga dengan membuka wawasan dan p
erspektif pendalaman ilmu, jadi jauh lebih tinggi makna dan manfaatnya saat itu.
Mungkin tidak disadari ke-4 muridnya jika kemampuan mereka dibandingkan dengan 4
-5 bulan sebelumnya, sudah meningkat jauh lebih pesat lagi. Terutama bagi Kwee S
iang Le, Mei Lan dan Sian Eng Cu. Sementara murid kedua, Jin Sim Todjin lebih ba
nyak sibuk dengan urusan-urusan agama dan urusan perguruan Bu Tong Pay. Tetapi b
egitupun, sewaktu-waktu dia meluangkan banyak waktunya untuk berkumpul dengan 3
saudara perguruan lainnya. Selain untuk berlatih sekaligus juga menemani guru me
reka. Sebagai orang beribadat, dia sadar bahwa gurunya semakin mendekati ujung u
sianya.
Dan malam itu, dia masih sempat meninggalkan pesan-pesan terakhir bagi ke-empat
muridnya:
Siang Le, apapun yang terjadi engkau kularang untuk menjabat Ciangbundjin Bu Tong
Pay. Jabatan itu lebih tepat berada di tangan Song Kun ataupun Li Koan. Tetapi
ingatlah, jangan sekali-kali pergi meninggalkan Gunung kita ini. Gua ini kuwaris
kan kepadamu, menjadi tempatmu mendidik murid-murid penerus kejayaan Bu Tong Pay
. Setelah hari ini, kutugaskan engkau untuk mulai menempati Gua tempat samadhiku
ini
dan selanjutnya engkau harus memimpin dan mengarahkan sute-sutemu untuk men
egakkan kebenaran dan keadilan
Murid menerima perintahmu Suhu .... Kwee Siang Le memang sudah lama menutup diri d
i sekitar Bu Tong San dan lebih memilih menyepi ketimbang merecoki dunia ramai.
Dan sekarang, dia menerima tugas untuk menjadi pemimpin saudara saudara sepergur
uannya. Dan untuk itu, dia memang memiliki wibawa dan dihormati oleh semua adik
seperguruannya.
Song Kun, engkau memang sangat berbakat menjadi pendeta agama To. Jika Suhumu yan
g tua ini boleh menyarankan, perdalam lagi pengetahuanmu itu dan padukan dengan
pendalaman-pendalaman iweekang yang kuwariskan paling akhir. Engkau akan menemuk
an banyak jalan, dan paduanmu dengan toa suhengmu akan menjajari kemampuanku saa
t ini dan akan menyelamatkan nama besar Bu Tong Pay. Tetapi pilihan ada di tanga
nmu
Jika itu titah suhu yang mulia, tecu tidak akan mengabaikannya demikian Bouw Song
Kun atau Jin Sim Todjin
Song Kun, untuk saat ini tokoh Bu Tong Pay yang paling berpeluang menduduki kursi
Bu Tong Pay adalah dirimu. Dan jika engkau menolak pencalonanmu, hampir dipasti
kan sutemu yang akan menjabat Ciangbundjin Bu Tong Pay. Jika itu terjadi, maka k
ita tidak akan memiliki cukup kekuatan menangkal malapetaka yang menuju Bu Tong
Pay beberapa tahun kedepan. Hanya dengan hasil pendalamanmu atas warisan terakhi
rku dan bersama suhengmulah yang akan mampu menghindarkan kehancuran besar itu k
elak
Suhu, jika memang itu demi tegaknya Bu Tong Pay kita, maka aku akan dengan rela m
enekuni ajaran-ajaran terakhirmu. Biarlah sam sute yang meneruskan tampuk kepemi
mpinan Bu Tong Pay
Baik, aku memegang perkataanmu muridku. Engkau akan membuktikan ucapanku ini kela
k. Dan jika sampai saatnya kalian berdua menyelamatkan muka Bu Tong Pay, jangan
pelit mewariskan peyakinan kalian kepada anak murid berbakat dari perguruan kita
Kami berjanji suhu Jin Sim Todjin dan Kwee Siang Le menyatakan janji dan kesanggup
an mereka secara bersamaan.
Li Koan .......
Tecu disini suhu ....
Siapkah engkau untuk melanjutkan tugas menjaga wibawa perguruan kita, Bu Tong Pay

selaku Ciangbundjin ?
Tapi, tecu belum dan bukan Pendeta suhu ...
Ketika menjadi Ciangbundjin Bu Tong Pay beberapa puluh tahun silam, suhumupun bel
um dan bukan Pendeta Li Koan. Ku-ulangi, apakah engkau siap mengembang tugas ber
at itu ?
tentu akan sangat siap dengan restu Suhu ....
Baiklah. Li Koan, bukan tanpa maksud suhumu menyiapkan kalian semua dalam tugas t
ersebut. Sin Liong sendiri bukan tanpa maksud meminta Duta Agung Lembah Pualam H
ijau untuk menarik diri selama beberapa tahun ini. Semuanya untuk mengantisipasi
malapetaka besar yang siap menerjang beberapa tahun kedepan. Tetapi, yang palin
g siap menghadapi persoalan besar yang berada di depan mata, adalah engkau denga
n siauw sumoymu
Mei Lan. Itulah sebabnya kedua suhengmu kusiapkan untuk antisipa
si persoalan yang jauh kedepan, dan engkau dan sumoymu untuk masalah yang ada di
depan mata
Tecu mengerti suhu .......
Syukurlah jika demikian. Kemajuanmu selama beberapa bulan ini telah sangat pesat
meski engkau tidak menyadarinya. Kunci memahami ilmu pamungkas kita sudah kuwari
skan kepadamu dan kepada semua suhengmu. Untuk saat ini, baru sumoymu yang mengu
asainya secara sempurna karena memperoleh bimbingan banyak orang hebat. Tetapi,
kupastikan dengan pemahaman kalian saat ini, tidak akan butuh waktu lama untuk m
enguasainya
Baik, tecu sekarang paham sepenuhnya suhu ....
Mei Lan ....
Tecu disini suhu yang mulia ... Mei Lan menyahut dengan takzim
Andalan utama untuk menghadapi persoalan di depan mata berada di tanganmu dan sam
suhengmu. Suhumu tidak akan mendahului Thian, tetapi Ciangbundjin Bu Tong Pay s
aat ini akan mengalami malapetaka yang sulit dielakkan. Bahkan suhumu sendiri ma
sih kabur dengan penyebab malapetaka yang akan menimpanya. Untuk saat ini, dari
perguruan kita, yang berkemampuan menandingi tokoh hitam yang baru tampil hanyal
ah engkau. Tapi ingat, jika engkau belum melampaui tahapan yang suhumu tegaskan
bersama Kolomoto Ti Lou waktu di markas utama Thian Liong Pang, jangan memaksaka
n diri membenturnya. Untuk saat ini, yang melampaui tahapan itu memang baru bebe
rapa orang, jika suhumu tidak salah, baru Duta Agung yang bahkan sudah memasuki
tahapan pamungkas, Nenggala, dan Cun Le serta In Hong subomu itu. Padahal, kekua
tan maut yang sudah didepan mata bakal berjumlah lebih besar dan dengan daya rus
aknya yang jauh melampaui Thian Liong Pang
Suhu, benarkah awan gelap itu akan datang kembali ... ? tanya Mei Lan ragu.
Muridku, dia akan datang dengan kemampuan yang lebih mengerikan. Padahal, setelah
suhumu, Kolomoto Ti Lou sendiri sudah akan kembali ke negerinya karena menyadar
i waktunya juga sudah semakin dekat. Karena itu, suhumu ingin sekali lagi menget
ahui bagaimana kesiapanmu ...
Suhu, sudah sepuluh hari terakhir ini tecu gagal menembus batas dan halangan tera
khir itu Mei Lan menyatakan penyesalannya.
Acccch, anakku, engkau terlampau terbebani oleh masalah cintamu. Padahal, suhumu
sudah mengaturnya untukmu setelah satu setengah tahun ke depan
Suhu, engkau mempermainkan tecu ..... dari sekian murid Wie Tiong Lan, memang hany
a Mei Lan yang berani sekali-sekali bermanja-manja dengan orang tua sakti itu. S
elain karena satu-satunya wanita, juga Wie Tiong Lan memang mengasihinya seperti
Tong Li Kuan mengasihi sumoynya ini bagai anak sendiri. Meskipun demikian, Lian
g Mei Lan tidaklah pernah meninggalkan rasa hormat dan bhakti kepada gurunya itu
.
Hahahaha, muridku apa engkau kira percakapanmu dengan Duta Agung lepas dari penga
matan tua gurumu ini? Sama sekali tidak. Selain gurumu, kakek buyutnyapun telah
menegaskan kejadian kedepan yang persis sama dengan yang telah gurumu terawangka
n di masa mendatang. Karena itu, engkau harus menuntaskan latihan terakhir itu.
Karena dengan tuntasnya latihan itu, engkau belum akan sanggup mengalahkannya, b
aru mampu mengimbanginya
Suhu, sehebat itukah tokoh yang baru muncul itu ? tanya Mei Lan penasaran, mewakili
kepenasaran yang sama tumbuh dalam hati ketiga murid Pek Sim Siansu Wie Tiong L
an lainnya.

Tentu saja hebat, karena dia membekal ilmu paling jahat dan tanpa tanding pada 10
0 tahun sebelumnya. Lebih lagi, dia mewarisi dalam dirinya kekuatan ke-dua orang
gurunya, Thian Tee Siang Mo
yang menghadiahinya warisan tenaga berlimpah. Jadi,
waspadalah dan jangan bermain-main. Meskipun, engkau juga harus percaya diri ka
rena gurumu tidak main-main menyiapkanmu, juga subomu dan juga Kolomoto Ti Lou
Baiklah suhu, tecu akan dengan penuh semangat dan penuh konsentrasi untuk menyele
saikannya janji Mei Lan.
Satu hal lagi, murid-muridku, betapa berbahagianya sahabatku Kiang Sin Liong itu.
Dia telah pergi tidak dengan upacara megah dan besar. Padahal, jika ingin, dia
sanggup mendapatkannya. Tetapi dia memilih pergi dalam ketenangan. Song Kun, jik
a memang memungkinkan, berikanlah upacara sederhana dan damai seperti itu untuk
kepergian gurumu ini
Tecu akan mengupayakannya Suhu jawab Song Kun yang kurang yakin karena dia tahu ke
besaran nama gurunya dan aturan perguruan dalam menghormati tokoh sebesar guruny
a itu.
Baiklah murid-muridku, waktu suhumu sudah akan segera tiba. Satu hal, jika Duta A
gung Lembah Pualam Hijau berkunjung
kalian berempat temani dia di tempat ini unt
uk mengurai apa yang kutinggalkan untuk dia ketahui. Dia, anak itu memang telah
berkemampuan mengurainya. Ingat baik-baik pesanku ini. Dan untuk hadiah terakhir
dari suhumu yang sudah tua ini, biarlah pada hari perpisahan ini kuberikan pery
akinanku selama seratus tahun lebih dengan bagian yang berbeda-beda, tetapi dise
suaikan dengan kebutuhan kalian masing-masing dalam mengemban tugas perguruan ki
ta
Selesai berkata demikian, tiba-tiba tubuh tua renta itu nampak bergerak bagaikan
terbang melayang, tetap dalam posisi bersila dan kemudian melakukan 4 kali toto
kan yang diarahkan kepada 4 muridnya. Tidak lama, hanya dalam hitungan beberapa
detik belaka dia melakukannya dan murid-muridnya merasakan hawa dalam tubuh mere
ka bagaikan bergolak. Tak lama kemudian terdengar kembali suara orang tua itu:
Kalian masing-masing baru saja menerima warisan hawa saktiku dengan bagian berbed
a-beda. Pusatkan tenaga di tantian dan baurkan dengan tenaga sakti kalian masing
-masing. Lan Ji, jika suatu saat bertemu dengan Thian San Giokli sampaikan satu
kalimatku: bahaya lain yang lebih mengerikan masih berada di liang itu . Tidak usah
bertanya maknanya, nenek itu akan mengerti dengan sendirinya. Karena itu berkai
tan erat dengan tugas yang terutama. Dan sekarang, kalian semua lakukan sesuai p
erintahku
Demikianlah ke-empat murid Wie Tiong Lan memusatkan kekuatan mereka di tan-tian.
Mei Lan memperoleh totokan hawa sakti yang membuka peluang penguasaannya atas Ta
hapan Kedua dari kitab sakti milik Kolomoto Ti Lou, rahasia yang dibuka gurunya d
an Kolomoto Ti Lou seusai melumpuhkan Thian Liong Pang. Totokan itu mempercepat
proses penguasaan Mei Lan atas tahapan kedua, bahkan pada saat itu juga dia sege
ra sadar bahwa dia telah berkmampuan merampungkan tahapan yang tersendat selama
10 hari terakhir.
Sementara itu, Tong Li Koan Sian Eng Cu Tayhiap memperoleh sebagian besar warisa
n tenaga dalam gurunya. Hal yang memang sangat dibutuhkannya untuk memperkuat di
ri menjelang menjadi Ciangbundjin Bu Tong Pay. Bahkan sebelum dia berkonsentrasi
dia masih mendengar suara gurunya: Li Koan kuwariskan sejurus pelengkap ilmu ped
ang Liang-Gi- Kiam Hoat, kuyakinkan selama 10 tahun terakhir untuk memperkuat il
mu kebanggan kita. Jurus itu khusus diwariskan kepada seorang Ciangbundjin, inga
t pesanku ini. Catatannya berada tepat di bawah tempat suhumu bersamadhi
Sementara itu, Kwee Siang Le menerima totokan persis seperti Mei Lan, yang membu
ka kemungkinan besar baginya untuk memperdalam ilmu-ilmu pukulan yang ditinggalk
an gurunya. Dan beberapa waktu sebelumnya, gurunya memang telah mewariskan sejum
lah variasi perubahan dan jurus baru yang membuat khasanah ilmunya menjadi jauh
lebih lengkap. Sesuai dengan julukan dan peryakinannya selama ini dalam mengemba
ngkan dan mendalami ilmu-ilmu tangan kosong Bu Tong Pay.
Begitu juga Jin Sim Todjin. Dia memperoleh totokan hawa dalam sekaligus sebagian
tenaga sakti gurunya. Karena Jin Sim diproyeksikan untuk mendalami hawa sakti w
arisan suhunya dan dikombinasikan dengan ajaran agama To guna kelak dikombinasik
an dengan peryakinan toa suhengnya. Dan Jin Sim juga memperoleh bisikan seperti
Li Koan yang menunjukkan dimana dia mesti menemukan catatan petunjuk pendalaman

hawa sakti Bu Tong Pay untuk dipelajari dan dikembangkan lebih jauh lagi.
Ketika ke-empat murid itu hampir selesai dengan konsentrasi dan pemusatan kekuat
an mereka, tiba-tiba terdengar suara yang mengambang di tengah udara: Selama ting
gal murid-muridku .... suara itu mengambang di udara dan memang ditujukan kepada
mereka ber-empat. Ketika keempatnya sadar, mereka menemukan Wie Tiong Lan Pek Si
m Siansu telah menutup mata, tetapi suara mengambang itu masih berdengung. Karen
a suara itu memang merupakan pengerahan kekuatan terakhir yang di atur sedemikia
n rupa untuk mengaung sampai beberapa saat yang telah ditentukan.
=================
Seperti yang telah diduga oleh Jin Sim Todjin, Ciangbundjin Bu Tong Pay yang san
gat menghormati Wie Tiong Lan dan sekaligus pemilik otoritas dalam menjaga tradi
si menghormati tetua partai, langsung menolak usulan upacara sederhana yang diam
anatkan suhu mereka.
Mana bisa kita tidak mengabarkan kematian tetuah kita kepada rekan-rekan dunia pe
rsilatan? Kita harus mengadakan upacara keagamaan dan kehormatan, karena beliau
adalah sesepuh dan tokoh besar yang bukan hanya dihormati di Partai kita, tetapi
juga oleh seluruh rekan-rekan pendekar di dunia persilatan. Karena itu, segera
di atur pemberitahuan dan undangan ke seluruh kawan-kawan pendekar dan perguruan
sahabat demikian titah yang langsung keluar dari mulut Ciangbundjin Bu Tong Pay
begitu mendengar berita duka kematian sesepuh mereka Wie Tion Lan. Dan Jin Sim T
odjin, Sian Eng Cu Tayhiap dan Liang Mei Lan tidak sanggup membantah karena peri
ntah telah dikeluarkan oleh Ciangbundjin.
Maka beredarlah informasi dan sekaligus undangan dari Bu Tong Pay untuk menghadi
ri upacara duka di Bu Tong Pay atas kematian bekas Ciangbundjin mereka Pek Sim S
iansu Wie Tiong Lan. Dalam waktu singkat informasi itu menyebar ke seluruh pelos
ok rimba persilatan Tionggoan. Dan hanya dalam waktu 2 hari, sudah banyak tamu y
ang berbondong datang untuk menyatakan penghormatan terakhir sekaligus melayat k
e Bu Tong San. Bukan main sibuknya pihak Bu Tong Pay, tetapi untungnya titah per
siapan di Bu Tong Pay telah dilepaskan Ciangbundjin 2 hari sebelumnya, jadi mere
ka memang sudah bersiap.
Tetapi, bersamaan dengan kehebohan atas informasi meninggalnya Pek Sim Siansu Wi
e Tiong Lan, dunia persilatan tiba-tiba digemparkan oleh informasi lainnya. Info
rmasi yang tidak kalah heboh dan tidak kalah menggemparkannya. Bahkan informasi
ini semakin mengguncang dan semakin menghebohkan seiring dengan bergeraknya bany
ak tokoh dunia persilatan ke Bu Tong Pay. Informasi apakah gerangan yang begitu
mengguncangkan itu?
Entah dari mana mulai dan awalnya, beredar sebuah daftar peringkat tokoh persila
tan dan perguruan yang dianggap paling top sesuai urutannya. Urutan itu, secara
kontroversial tidak memasukkan nama-nama tokoh persilatan yang dalam kategori ses
at , tetapi secara khusus hanya mencantumkan daftar tokoh-tokoh persilatan top dar
i pendekar golongan lurus. Dan di bagian bawah daftar itu tertera pernyataan seb
agai berikut:
1. Urutan bisa berubah sesuai tingkat perkembangan kemampuan masing-masing
2. Urutan bawah yang mengalahkan peringkat di atasnya, otomatis menggantikan per
ingkat di atasnya tersebut
3. Cara tercepat untuk terkenal adalah dengan mengalahkan mereka yang berada di
dalam daftar ini
Inilah daftar menghebohkan tersebut: Peringkat pertama secara mengejutkan diberi
kan kepada KIANG CENG LIONG
Duta Agung Lembah Pualam Hijau. Peringkat kedua dibe
rikan kepada THIAN SAN GIOKLI Lembah Salju Bernyanyi. Peringkat ketiga diisi ole
h dua orang: KIANG CUN LE dan KIANG IN HONG (Liong-i-Sinni) keduanya dari Lembah
Pualam Hijau. Peringkat Keempat juga terisi dua orang: LAMKIONG BU SEK dari Lam
Hay Bun dan SIANGKOAN TEK dari Bengkauw. Peringkat Kelima diberikan kepada NENG
GALA tidak mewakili perguruan manapun. Peringkat Keenam diberikan kepada LIANG M
EI LAN dari Bu Tong Pay. Peringkat ketujuh diberikan kepada LIANG TEK HOAT dari
Kaypang. Peringkat Kedelapan diberikan kepada SOUW KWI BENG dan SOUW KWI SONG da
ri Siauw Lim Sie. Peringkat Kesembilan diberikan kepada SIANGKOAN GIOK LIAN dari
Bengkauw. Dan peringkat kesepuluh diberikan kepada KIANG LI HWA dari Lembah Pua
lam Hijau.
Bersamaan dengan peringkat top 10 pendekar dunia persilatan Tionggoan, juga bere

dar atau diedarkan secara bersamaan yakni Daftar Tujuh Perguruan Terhebat di Tio
nggoan. Adapun, peringkat Perguruan terhebat itu berturut-turut adalah sebagai b
erikut: Peringkat Pertama, LEMBAH PUALAM HIJAU; Kedua, LEMBAH SALJU BERNYANYI; K
etiga, BU TONG PAY; Keempat, KAYPANG; Kelima, SIAUW LIM SIE; Keenam, LAM HAY BUN
; Ketujuh, BENGKAUW.
Beredarnya kedua daftar peringkat tersebut, terutama daftar peringkat 10 besar p
endekar disertai dengan 3 pernyataan yang provokatif, sudah dapat dipastikan aka
n menimbulkan geger berkepanjangan. Bukan hanya geger di antara penghuni peringk
at 10 itu, tetapi terutama mereka-mereka yang kemaruk nama untuk masuk dalam daf
tar 10 besar itu. Bisa dipastikan penghuni daftar 10 besar itu tidak akan lagi m
erasakan kenyamanan berkelana di dunia persilatan. Karena pastilah akan banyak p
endekar yang tidak tercantum namanya dalam daftar yang akan nekat menantang mere
ka untuk menggantikan peringkatnya.
Apalagi dengan pencantuman pernyataan nomor 3: yakni cara tercepat untuk terkena
l dan dikenal banyak orang adalah dengan mengalahkan salah seorang di dalam daft
ar tersebut. Inilah cara brilliant sekaligus sangat licik untuk mengganggu tokoh
-tokoh kalangan pendekar. Karena tokoh-tokoh itu dipastikan akan banyak disibukk
an oleh urusan-urusan pertarungan atau diajak bertarung oleh banyak orang yang i
ngin namanya terkenal.
Dan kondisi yang heboh seperti ini, sekarang sedang menuju ke Bu Tong Pay. Kondi
si yang semakin hari semakin bertambah heboh dan semakin memanaskan rasa hati da
n rasa kepenasaran banyak orang. Apalagi karena tempat yang dituju adalah tempat
dimana ada seorang anggota di daftar 10 besar berada, dan Partay yang juga terc
antum dalam Daftar 7 perguruan utama. Bisa ditebak kekisruhan besar sangat berpo
tensi terjadi di Bu Tong Pay.
Dan benar saja, ketika informasi tentang daftar dan isinya sampai ke Bu Tong Pay
, secara darurat Ciangbundjin Bu Tong Pay memanggil para petinggi partai. Sekali
Sin Ciang Tayhiap, Tong Li Koan Sian Eng Cu Ta
gus juga mengundang Kwee Siang Le
yhiap dan Liang Mei Lan. Padahal tinggal 2 hari lagi upacara besar akan dilaksan
akan. Pertemuan darurat ketika Bu Tong Pay sedang melayani para pelayat tentu me
nandakan betapa potensi kekisruhan sangatlah besar. Dan Ciangbundjin Bu Tong Pay
menyadari hal tersebut, makanya dia berusaha mengantisipasi keadaan sebaik mung
kin.
Tetapi, karena tamu sudah demikian banyak yang berdatangan dan bahkan yang berad
a di Bu Tong San juga sudah banyak memasuki hari ketiga. Maka pertemuan penting
dan mendadak itu hanya dilakukan untuk melakukan pembagian tugas belaka. Sekalig
us melakukan koordinasi antar petinggi partai dalam mengantisipasi kemungkinan t
erburuk dengan beredarnya daftar yang sangat kontroversial tersebut.
Bisa dipastikan akan terdapat sejumlah bentrokan baik di dalam perguruan kita mau
pun di luar area perguruan kita. Tetapi, adalah tugas kita semua untuk sedapat m
ungkin tidak mengganggu jalannya upacara sambil tetap menghormati tetamu. Daftar
kontroversial itu melahirkan potensi besar bentrokan, apalagi dalam daftar itu
terdapat nama Bu Tong Pay dan juga seorang murid Bu Tong Pay demikian Ci Hong Tod
jin sang Ciangbundjin membuka pertemuan singkat.
Jika Ciangbundjin mengijinkan, sebaiknya secara cepat kita menata tugas masing ma
sing agar Bu Tong Pay tidak kecolongan, dan upacara pemakaman suhu tidak tergang
gu demikian Tong Li Koan mengusulkan.
Baik, usul tersebut kita terima, dan memang untuk itu aku mengundang kita semua b
erkumpul. Dalam keadaan terdesak seperti ini, demi menjaga wajah dan reputasi Pa
rtay, hendaknya kita semua memberi diri untuk melaksanakan tugas-tugas ini: Sese
puh Sin Ciang Tayhiap dan Sian Eng Cu Tayhiap akan bertugas mendampingi layon, d
alam ruang tempat jenasah Pek Sim Siansu disemayamkan. Ci Hong dan Jin Sim akan
bertugas untuk menjaga kuil kita dari orang-orang yang berkehendak buruk. Nona M
ei Lan kutugaskan untuk melakukan perondaan di semua lini, baik di ruang persema
yaman, di kuil Bu Tong Pay maupun di basis penjagaan murid-murid Bu Tong Pay ...
.. Demikian Ciangbundjin Bu Tong Pay membagi-bagi tugas.
Dan setiap nama yang disebutkan sang Ciangbundjin, nampak menganggukkan kepala t
anda penempatan tugas disetujui. Jika ditelaah, penempatan tugas memang sangat m
emperhitungkan hubungan dengan Pek Sim Siansu, kemampuan orang perorang dan tang
gungjawab masing-masing terhadap Partay. Oleh karenanya, tidak ada sedikitpun pe

nolakan atau bahkan tambahan usulan. Hal yang juga menandakan betapa sang Ciangb
undjin mengenal masing-masing tokoh Bu Tong Pay itu lengkap dengan kekuatan masi
ng-masing.
Tetapi, belum lagi pertemuan itu ditutup, tiba-tiba Mei Lan sedikit bergerak. Ba
hkan kemudian tubuhnya melejit setelah menghormat Ciangbundjin Bu Tong Pay sambi
l berkata: Beberapa murid kita menjadi korban, Ciangbundjin segera menjaga kuil k
ita; para suheng, cepat kembali ke layon suhu, biar tecu memeriksa keadaan di lu
ar begitu suara itu sirap, Mei Lan sudah berada jauh di luar sana, tetapi suarany
a masih sangat bening di telinga semua orang dalam ruangan.
Kita ke masing-masing posisi bertugas demikian Ciangbundjin Bu Tong Pay yang diset
ujui segera oleh semua. Dan bergeraklah tokoh-tokoh utama Bu Tong Pay itu. Kwee
Siang Le dan Tong Li Koan sudah dengan cepat memburu ke layon guru mereka yang s
ementara ditinggalkan kepada murid-murid mereka. Tetapi, alangkah terkejutnya me
reka berdua ketika menemukan dalam ruangan itu telah bertambah dengan sepasang a
nak muda yang gagah.
Begitu mengenali keduanya, Li Koan menjadi lega, bahkan beban ketegangannya sedi
kit berkurang karena kedua anak muda yang berdiri memberi hormat kepada suhu mer
eka adalah sahabat dari Siauw Lim Sie. Tepatnya adalah Pendekar Kembar dari Siau
w Lim Sie, kakak-beradik Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song. Kedua kakak-beradik in
i, juga tercantum dalam daftar kontroversial yang membuat suasana panas di hati
banyak orang dalam perjalanan menuju Bu Tong Pay.
Ji-wi locianpwee, kami berdua telah mengirimkan kabar kepada Nona Mei Lan, dan ka
mi telah menyampaikan maksud kami kepada murid-murid Bu Tong Pay yang berjaga di
luar. Kami mohon di maafkan telah memberi hormat langsung kepada yang mulia loc
ianpwee Pek Sim Siansu Wie Tion Lan, atas nama suhu kami yang mulia Kian Ti Hosi
ang.
Sudah tentu Tong Li Koan dan Kwee Siang Le tidak akan marah. Karena kedudukan me
reka, meski mereka berdua jauh lebih tua, tetapi pada dasarnya adalah sederajat.
Maka Li Koan yang lebih luwes telah berkata:
Terima kasih atas kunjungan Jiwi, kami tentunya sangat berterima kasih sahut Li Ko
an untuk kemudian mempersilahkan kedua kakak-beradik itu melanjutkan penghormata
n mereka. Dan tidak lama kemudian, kedua Kakak-beradik yang sakti ini telah dibe
rikan tempat khusus, tempat istimewa bagi para tamu Bu Tong Pay yang datang mela
yat. Apalagi, kedua Pendekar itu pernah mendapat bimbingan yang bersifat barter da
ri Wie Tiong Lan sebagai ganti Kian Ti Hosiang membimbing Liang Mei Lan. Jadi, k
edua pendekar ini masih terhitung sangat dekat dengan guru mereka Wie Tiong Lan.
Dan, tentu saja, selain itu guru kedua pendekar kembar ini, Kian Ti Hosiang adal
ah tokoh seangkatan guru mereka yang sama saktinya dan sama digdayanya. Kedua to
koh itu bergabung bersama Kiong Siang Han dari Kaypang dan Kiang Sin Liong dari
Lembah Pualam Hijau dan menjadi simbol kehebatan pendekar Tionggoan untuk puluha
n tahun lamanya. Hampir tak ada masalah pelik yang besar yang tidak dapat ditang
ani mereka ber-empat semasa hidup mereka. Dan mereka berempat sampai dijuluki 4
Manusia Dewa Tionggoan, dan nama itu masih harum dan punya gaung luar biasa hing
ga saat ini.
Sementara itu, di tempat lain, Mei Lan yang bergerak dengan ginkang istimewanya
sudah mencapai tempat yang dicurigainya . Yakni batas-batas terluar penjagaan yang
bukan menuju ke pintu masuk resmi, tetapi menuju ke hutan sebelah kiri rumah per
guruan Bu Tong Pay.
Hmmmm, benar juga, sungguh licik desis Mei Lan ketika melihat penjagaan lapis kedu
a terluar telah membujur 2 anak murid Bu Tong Pay. Bisa dipastikan telah menjadi
mayat. Dan, meski yakin bahwa lapis terluar juga telah mengalami masalah yang s
ama, tetapi Mei Lan tetap berkelabat untuk memeriksa kesana. Dan memang, sebagai
mana dugaannya, kedua murid Bu Tong Pay yang berjaga disana, juga telah menjadi
mayat.
Tetapi Mei Lan menjadi kaget ketika memeriksa mayat-mayat tersebut yang ternyata
menjadi korban sebuah ilmu mujijat dari Siauw Lim Sie, Tam Ci Sin Thong. Sebuah
ilmu lentikan jari sakti yang menjadi salah satu ilmu pusaka Siauw Lim Sie dan
tidak sembarang tokoh sanggup mempergunakannya.
Hmmm, sudah jelas Kwi Beng dan Kwi Song mengambil jalan resmi. Masakan tiba-tiba
muncul korban Tam Ci Sin Thong di sini? Ada sesuatu yang mencurigakan disini piki

r Mei Lan yang menjadi gelisah. Karena tokoh yang melakukan pembunuhan, pastilah
tekah menyusup ke atas, dan itu berarti bahaya di kuil Bu Tong Pay telah membay
ang.
Jika bukan Kwi Beng atau Kwi Song, siapakah gerangan? Sungguh cerdik si pembunuh
memilih moment tepat bersamaan dengan kedatangan Pendekar Kembar ke Bu Tong Pay.
Tapi, siapa pula pembunuh yang mampu memainkan ilmu mujijat ini dengan demikian
baik ? Sejumlah pertanyaan ini memusingkan kepala Mei Lan, karena itu dia akhirny
a bergegas kembali ke kuil Bu Tong Pay sambil mengingatkan setiap lapis penjagaa
n agar berhati-hati.
Mudah ditebak, Bu Tong Pay menjadi gempar namun tidak panik ketika Mei Lan melap
orkan kepada Ciangbundjin Bu Tong Pay. Dan segera setelah itu, lapisan terluar d
ari masing-masing penjagaan kemudian dikirimi murid-murid dari angkatan yang leb
ih tinggi dengan kemampuan memainkan barisan pedang Bu Tong Pay. Itupun masih di
tambah dengan perondaan setiap jam yang akan dilakukan bergantian antara Mei Lan
dan Jin Sim Todjin. Bu Tong Pay kini dalam keadaan waspada dan siaga ....
Bahkan Pendekar Kembar dari Siauw Lim Sie, Kwi Beng dan Kwi Song
ketika diberita
hu korban termakan totokan khas mereka Tam Ci Sin Thong, menjadi kaget dan berkera
s memberi bantuan penjagaan bagi Bu Tong Pay. Karena kondisi yang memang meningk
at panas dan berbahaya, akhirnya Kwi Beng diminta membantu penjagaan disekitar j
enasah, sementara Kwi Song menjaga sekitar kuil Bu Tong Pay, minus ruangan dalam
perguruan itu. Sementara Sian Eng Cu
setelah mendapat bantuan Souw Kwi Beng, pa
da akhirnya memutuskan untuk ikut membantu perondaan di batas-batas penjagaan te
rluar.
Meski awalnya Kwee Siang Le mencurigai kedua pendekar asal Siauw Lim Sie, tetapi
ketika Tong Li Koan sutenya dan Liang Mei Lan menegaskan integritas kedua Pende
kar Kembar itu, akhirnya kecurigaan itu berangsur berkurang. Apalagi, sumoynya t
elah memberikan penjelasan, bahwa sejak memasuki pintu masuk Bu Tong Pay, Pendek
ar Kembar memilih jalur yang berbeda dengan jalur dimana terjadi pembunuhan anak
murid Bu Tong Pay yang berjaga. Karena itu, sangat tidak beralasan mencurigai k
edua pendekar kembar yang justru sudah banyak saling membantu dengan Mei Lan dal
am pertempuran melawan Thian Liong Pang beberapa bulan sebelumnya.
Sementara itu, kekisruhan kembali terjadi di tapal batas sebelah timur dari jalu
r masuk utama. Tiba-tiba meluruk sesosok tubuh tinggi besar kearah. Ornag bertub
uh tinggi besar itu nampak menjulang, tetapi nampaknya rada-rada dogol. Begitu b
ertemu 7 murid Bu Tong Pay dari angkatan ke tiga, termasuk cucu-murid Ciangbundj
in Bu Tong Pay, tokoh ini langsung ber-hahaha hihihi tidak keruan dan kemudian b
ertanya:
Inikah jalan masuk menuju Bu Tong Pay ? tanya si tinggi besar yang rada ketolol-tol
olan itu sambil cengar-cengir. Sekali lihat, murid-murid Bu Tong Pay telah paham
dengan orang macam apa mereka sedang berhadapan. Meskipun, mereka tidak seratus
persen benar.
Benar, siapakah sicu yang gagah perkasa ? guna menjaga sopan-santun, tetap para mur
id menyapa dengan sopan.
Hehehehe, masak kalian tidak mengenali aku ? demikian jawaban si tinggi besar denga
n lagu yang dogol.
Maafkan jika kami kurang mengenal sicu kembali seorang murid Bu Tong Pay menjawab
dengan tetap tidak meninggalkan sopan santunnya, meskipun rada geli melihat si t
inggi besar yang agak dogol itu.
Masak Gu Kok Ban tidak kalian kenal, keterlaluan ? bertanya si tinggi besar dengan
gaya kebodoh-bodohannya. Tetapi, sialnya memang nama itu tidak dikenal oleh para
murid yang berjaga. Yang mengenal banyak tokoh silat utama hanyalah murid yang
menjaga pintu gerbang utama, gerbang resmi memasuki Bu Tong Pay. Padahal Gu Kok
Ban Houw Pah Ong (Raja Harimau Bengis) sebetulnya bukan bernama kecil, meskipun
memang agak dogol.
Gu Kok Ban sudah terkenal sejak 25 tahun sebelumnya. Dia terutama dikenal dengan
kekuatan tenaga gwakang yang luar biasa. Usianya sudah sekitar 50 tahunan, teta
pi memang sedikit ketolol tololan dan karenanya sangat senang diumpak orang. Jul
ukannya Raja Harimau Bengis sebenarnya olok-olok dunia persilatan kepadanya, tet
api itupun dengan senang dan bangganya dia menyandang gelar itu. Dia berada di a
ntara golongan hitam maupun putih. Atau lebih tepatnya, tergantung siapa yang me

manas-manasinya atau memanfaatkan kebodohannya untuk kepentingan yang bersangkut


an. Seperti hari ini, dia nampaknya dimanfaatkan oleh orang yang memilkii kepent
ingan tersendiri. Sejenis intrik untuk memasuki Bu Tong Pay, entah dnegan maksud
apa.
Maaf, maaf, kami kurang menghormati Gu Kok Ban
Houw Pah Ong. Tetapi, bolehkah kam
i tahu, mengapa justru sicu tidak mengambil jalan utama dan justru mengambil jal
an yang sulit ini ? tanya kembali sang murid penjaga.
Apa ....? Si manusia hijau itu menyuruhku jewat jalan ini. Katanya lebih cepat be
rtemu dengan para pendekar hebat yang termasuk dalam daftar 10 besar itu, apakah
keliru? ..... hehehe si Raja Harimau Bengis yang dogol bertanya sambil cengenges
an. Tetapi, untungnya tidak diladeni dengan emosi oleh para penjaga.
Engkau keliru Houw Pah Ong, justru jalanan ini menuju ke areal hutan dan berliku
liku hinga memasuki kuil Bu Tong Pay. Jika engkau masuk lewat pintu utama di seb
elah barat, maka engkau akan mudah menjangkau kuil Bu Tong Pay jelas si penjaga d
engan lembut kepada si Dogol.
Wuaduh, bagaimana ya? Si Manusia Hijau menyuruhku dengan sangat yakin, bahwa aku
harus melalui arah ini. Dia berkata bahwa dia menjamin dengan kepalanya si Dogol
nampak kebingungan. Dan memang dia selalu demikian. Bingung memilih dan memisahk
an mana tipuan dan mana yang benar.
Siapa sebenarnya Manusia Hijau itu Houw Pah Ong ? penasaran seorang murid bertanya
kepada si Dogol.
Manusia hijau ya manusia hijau, menggunakan jubah dan penutup muka warna hijau, m
asa begitu saja engkau tak tahu, bodoh sekali ? si Dogol sedikit jengkel, karena d
ia bingung harus memilih arah yang mana.
Meski dimaki bodoh, tetapi para penjaga tidak menjadi marah. Karena lama-kelamaa
n mereka semakin yakin jika di hadapan mereka berdiri seorang manusia dogol mesk
ipun berbadan tinggi besar dan berjulukan Raja Harimau Bengis. Dan nampaknya, ma
nusia dogol ini benar tengah dimanfaatkan orang lain. Karena itu, meski sambil s
enyum-senyum masam, mereka sudah meningkatkan kewaspadaan masing-masing.
Maaf, maaf jika demikian. Tetapi yang pasti, si Manusia Hijau telah membohongimu
karena jalanan ini menuju hutan dan berputar jauh sebelum memasuki Kuil Bu Tong
Pay tegas seorang murid sambil tetap santun. Kali ini, karena maklum yang dihadap
i sadalah seorang dogol yang sedang dikerjai orang.
Tetapi anehnya, si Dogol Houw Pah Ong tetap berkeras dengan jalanan pilihannya.
Diapun menegaskan: Tetapi baru saja si Manusia Hijau kembali menegaskan bahwa mem
ang inilah jalanannya, dan bahwa jalanan ini membawaku lebih cepat bertemu para
jago di daftar 10 besar pendekar top itu
Lama-kelamaan, meskipun sadar ada yang menjadi backing ataupun sekaligus mengerjai
si Dogol, murid-murid Bu Tong Paypun jadi kebingungan dan kehabisan akal mengha
dapi si dogol itu. Maka si pemimpin penjaga akhirnya ber suara:
Houw Pah Ong, siapapun dilarang masuk melalui jalur ini. Karena jalur ini tertutu
p dan menuju ke jalan berliku yang justru tidak langsung menuju ke Kuil Bu Tong
Pay. Siapapun yang melewati jalur ini, berarti memiliki maksud lain yang tidak b
aik bagi kami Bu Tong Pay, karena itu, maafkan kami jika tidak membiarkanmu lewa
t jalanan yang satu ini, silahkan kembali ke jalur utama sebelah barat sana
Diperlakukan demikian, si Dogol otomatis meradang. Orang seperti ini memang haru
s ditangani secara lunak, jika ditentang dan dikonfrontasi, maka dia pasti merad
ang. Seperti sebelumnya, ketika ditegur secara baik-baik dia mampu menerima, tet
api begitu disalahkan, otomatis pertimbangan rasionalnya buntu, dan ujungnya ada
lah marah.
Kurang-ajar, muter-muter kesana kemari ujungnya tetap tidak boleh. Kalau begitu,
biar kuterobos saja ......
Dan sambil berkata begitu, si Dogol Houw Pah Ong telah maju melangkah. Dan otoma
tis, langkahnya dihalangi salah seorang murid penjaga. Hanya saja, begitu mendor
ong dengan lengannya, si murid angkatan ketiga sudah merasa kurang beres, karena
pedangnya mencong kekiri, sementara angin pukulan dahsyat lawan terus memburuny
a. Otomatis dia membuang tubuhnya ke samping karena merasa tidak sanggup membent
uk pukulan luar lawan yang sangat hebat.
Melihat seorang kawan mereka dalam satu kali gebrakan telah terpental kesamping,
otomatis kawan-kawan yang lain segera mengepung dan menahan langkah maju Houw P

ah Ong. Dan Houw Pah Ong yang tidak suka banyak bicara tetapi lebih suka banyak
bekerja telah menerjang mereka dengan pukulan luarnya yang memang menderu sangat
hebat. Tetapi, kali ini dia menghadapi kerjasama beberapa orang yang sanggup sa
ling melindungi dan bekerjasama dengan baik. Maka tertahanlah si Dogol dalam per
tempuran tersebut.
Hanya saja, para murid Bu Tong Pay itu tidaklah begitu mengenal tokoh yang satu
ini. Meski dogol agak bodoh, tetapi dia memiliki kekuatan tenaga luar yang meman
g sangat hebat dan juga memiliki ketangkasan mengagumkan. Bagi mereka yang banya
k bergaul dengan rimba persilatan, maka mereka paham betul sampai dimana kehebat
an si Dogol yang sangat gampang dipermainkan orang. Begitupun, dia membekal keta
ngkasan yang juga cukup hebat dan menjadi salah satu tokoh antara hitam dan puti
h yang cukup dimalui orang.
Setelah terkurung beberapa saat dalam lingkaran pedang para pengurungnya, tiba-t
iba Houw Pah Ong mengeluarkan gerengan khas harimau, darimana nama julukannya di
a peroleh. Dan diapun menyerang lingkaran pertempuran dengan tidak takut terhada
p senjata pedang lawan. Nyata, bahwa dia telah mengerahkan kekuatannya ke kedua
cakar tangannya dan tidak takut bersentuhan dengan ketajaman pedang lawan.
Serangannya membuat lingkaran pertempuran menjadi goyah. Terlebih karena cakar h
arimaunya mampu menolak balik dan bahkan mematahkan 2 buah pedang dari pengeroyo
knya. Untungnya batang pedang lainnya sudah menyerang Houw Pah Ong di tempat-tem
pat berbahaya, hingga kedua kawan mereka bisa meloncat mundur untuk kemudian kem
bali menyerang. Hanya saja, meski serangan mereka masih cukup baik, tetapi sudah
jelas akan dapat dibobol si dogol Houw Pah Ong yang kini tertawa-tawa kegiranga
n.
Hehehe, sebaiknya beri jalan buatku, jika tidak semua pedang kalian bakalan patah
begitu si Dogol sambil bertarung masih sempat-sempatnya mengingatkan para penger
oyoknya. Hal yang tentu saja tidak diindahkan oleh murid-murid Bu Tong Pay yang
memang mendapatkan instruksi keras agar jangan ada seorangpun yang menyusup mela
lui jalur timur ataupun jalur utara. Terutama jalur utara, dimana sudah ada 4 or
ang anak murid yang menjadi korban, terbunuh lawan yang mencoba menyusup masuk.
Tetapi meskipun berkeras bertahan, sudah cukup jelas bahwa serangan dan keroyoka
n mereka sama sekali tidak merepotkan si Dogol. Sebaliknya, kembali sudah ada se
batang pedang mereka yang patah bertemu dengan cakar harimau si Dogol yang seper
ti bertarung seenaknya saja. Dan jika diteruskan, bisa ditebak dalam waktu beber
apa kejap lagi, maka korban manusia akan mulai berjatuhan. Apalagi, Houw Pah Ong
nampak tidak segan-segan menurunkan tangan kejam jika kesempatan itu pada akhir
nya datang.
Hanya saja, tiba-tiba tanpa sepengetahuan semua orang yang sedang bertempur suda
h bertambah dengan seorang Pendeta Bu Tong Pay. Bahkan, tak berapa lama kemudian
, bertambah lagi dengan seorang nona cantik jelita yang kedatangannya bahkan seo
rang Jin Sim Todjin tidak sanggup melacaknya. Tahu-tahu sudah berada disampingny
a dan berbisik:
Ji suheng, bagaimana .... ? tanya si nona cantik yang ternyata adalah Liang Mei Lan
, murid bungsu Wie Tiong Lan.
Anak-anak nampaknya sudah sulit bertahan. Apakah jalur utara masih bisa ditahan ? b
ertanya Jin Sim Todjin
Sam Suheng sudah berangkat kesana, dan jika tidak salah kita kedatangan setidakny
a 2 sahabat baik yang berkemampuan sangat tinggi jelas Mei Lan yang membuat Jin S
im Todjin tercengang. Dia memang tahu kemampuan siauw sumoynya telah melampaui m
ereka semua, ketiga suhengnya, tetapi belakangan ini dia semakin heran dengan ke
majuan sang sumoy yang seperti tak ada batasnya. Bahkan sanggup melacak suatu keja
dian yang terjadi jauh dari keberadaan dirinya. Sungguh mengagumkan.
Siauw sumoy, nampaknya anak-anak sudah susah bertahan dan sambil berkata demikian,
Jin Sim Todjin kemudian melangkah maju sambil berkata:
Houw Pah Ong, apa maksudmu membuat keributan di jalur terlarang ini ? Sambil berkat
a demikian, Jin Sim Todjin sudah melangkah mendekati area pertempuran. Dan sambi
l bicara tangannya sudah menyerang lengan cakar harimau Houw Pah Ong yang kini m
ulai mengancam tubuh murid-muridnya.
Murid-murid Bu Tong Pay begitu melihat salah seorang sesepuh mereka sudah mencam
puri area pertempuran, segera mengundurkan diri. Termasuk salah seorang dari mer

eka yang baru saja terancam pukulan serius Houw Pah Ong. Begitu terselamatkan, o
rang itupun bersyukur, karena jika tidak, bisa dipastikan dia bakalan mengalami
luka serius dibawah ancaman cakar harimau Houw Pah Ong.
Sementara itu, benturan antara Houw Pah Ong dengan Jin Sim Todjin tidak terhinda
rkan lagi : Plakkkkkk ....
Kali ini Houw Pah Ong menemukan tandingannya dan tidak bisa lagi ketawa-ketiwi a
tau cengengesan seperti sebelumnya. Karena dihadapannya kini adalah salah seoran
g tokoh Bu Tong Pay, Jin Sim Todjin, yang juga adalah salah seorang murid Wie Ti
ong Lan Pek Sim Siansu. Dengan kekuatan Pik Lek Ciang, Jin Sim Todjin tidak taku
t membentur cakar harimau lawan, dan akibatnya cakar harimau itu yang kehilangan
wibawa.
Tapi dasar dogol, Houw Pah Ong tidaklah terlampau perduli dengan keadaannya. Tid
ak perduli apakah dia menang atau kalah, selama belum tersakiti dan masih sanggu
p melakukan perlawanan, baginya dia sama sekali belum kalah. Meski demikian, dia
tahu jika lawannya kali ini jauh lebih berisi. Terbukti dari cakar harimau yang
digunakannya mampu diselewengkan oleh pukulan lawan yang kini berhadapan dengan
dirinya.
Hehehe, siapakah tuan? Hebat juga, engkau mampu memukul cakar harimauku sampai me
ncong kekanan
Jin Sim Todjin yang sekali pandang sudah mengenal tokoh bernama Houw Pah Ong ini
menjadi heran. Dia tahu sekali reputasi tokoh bukan hitam bukan putih ini, dan
dia bertanya-tanya, siapa gerangan tokoh yang memanasi Houw Pah Ong ini hingga m
eluruk ke Bu Tong Pay? Sebab setahunya, tokoh seperti Houw Pah Ong gampang sekal
i dipanas-panasi orang. Adakah hubungannya dengan daftar itu ? bertanya tanya Jin S
im Todjin dalam hatinya.
Sementara itu, si Dogol Houw Pah Ong melihat Jin Sim Todjin terdiam dan tidak me
ngeluarkan suara, sudah kembali berkata:
Si manusia hijau mengatakan kalau melalui jalanan ini, akan cepat bertemu beberap
a tokoh dalam daftar 10 besar Pendekar, apa benar begitu Pendeta ?
Pertanyaan ini menegaskan benarnya dugaan Jin Sim Todjin, sekaligus membuat Mei
Lan kaget setengah mati. Benar-benar berabe jika aku harus menghadapi gangguan to
koh-tokoh seperti Houw Pah Ong ini pikirnya. Sementara itu, Jin Sim Todjin sambil
memandang Houw Pah Ong dengan pandangan berkasihan telah berkata kembali:
Houw Pah Ong, dengan mengambil jalanan ini, artinya engkau tidak menghormati Bu T
ong Pay karena mengambil jalan menyusup secara diam-diam. Engkau bukan saja tida
k menghormati Bu Tong Pay, malahan engkau dituntun manusia hijau itu untuk terse
sat jauh ke hutan di belakangku dan membutuhkan waktu panjang untuk sampai ke Bu
Tong Pay
Benarkah demikian, tapi si manusia hijau itu mengatakan kalau melalui jalur disin
i aku bisa bertemu tokoh-tokoh hebat di daftar 10 pendekar besar dan aku akan bi
sa mencoba kepandaian mereka
Kenalkah engkau dengan manusia hijau itu ?
Tidak, hehehe
Bagaimana engkau percaya kalau omongannya itu benar ?
Hehehe, iya juga
Aku adalah sesepuh Partay Bu Tong Pay dan memberitahumu, bahwa jalanan menuju Bu
Tong Pay dimana mungkin engkau menemukan salah seorang tokoh di daftar itu, bera
da di pintu Barat, bukannya disini
Hehehe, apa benar begitu ? sambil bertanya begitu, tiba-tiba nampak pergerakan aneh
dari si manusia dogol Houw Pah Ong. Dan setelah itu, sambil tertawa-tawa kemudi
an dia memandang Mei Lan sambil berkata:
Bukankah dia juga ada di dalam daftar itu ... hehehe , tetapi karena melihat Liang
Mei Lan adalah seorang gadis yang masih muda, si Dogol menjadi ragu-ragu untuk m
enyerang. Dia menyangsikan bahwa gadis secantik dan semuda ini duduk dalam dafta
r 10 besar pendekar Tionggoan meski dia tahu ada beberapa nama perempuan dalam d
aftar itu.
Jin Sim Todjin terkejut. Tetapi, ketika melihat Houw Pah Ong berjalan mendekati
sumoynya, dengan cepat dia menghadang sambil berkata:
Sudah kujelaskan kepadamu secara baik-baik, mengapa tidak mencari jalan menuju Bu
Tong Pay yang benar ?

Hanya saja, si Dogol yang melihat jalanannya dihadang orang, sudah dengan cepat
menyerang lawan buat menyingkirkannya dari hadapannya. Dan dengan cepat kedua or
ang itu kembali saling menyerang dengan Jin Sim Todjin yang berusaha untuk menah
an diri agar tidak menurunkan tangan keras.
Sementara itu Mei Lan telah menyadari sesuatu dengan cepat. Diapun mengirimkan s
uara jarak jauh kepada suhengnya:
Ji Suheng, si manusia hijau yang bermaksud mengacau mengendalikan orang ini dari
kejauhan. Barusan dia mengirimi kabar kepada Houw Pah Ong melalui ilmu penyampai
suara dari jarak jauh. Uruslah manusia ini, biarlah kucari manusia pengacau itu
sambil berkata demikian Liang mei Lan telah berkelabat lenyap tanpa suara, Houw
Pah Ong tidak tahu bahwa Mei Lan lenyap dari sekitar arena tersebut.
Pertarungan mereka berjalan terus, hanya jika Houw Pah Ong menyerang dengan penu
h semangat, adalah Jin Sim Todjin yang meladeni dengan terus menahan diri. Dia s
adar sedang berhadapan dengan orang yang rada dogol dan orang itu dimanfaatkan p
ihak lain untuk mengacaukan konsentrasi Bu Tong Pay. Karena itu, meskipun serang
an lawan bertubi-tubi, tetap saja Jin Sim Todjin meladeninya dengan lebih banyak
menahan diri.
Padahal Houw Pah Ong telah meningkatkan tenaga serangannya, dan kini cakar harim
aunya menderu-deru mengincar banyak bagian tubuhnya. Pada saat itulah Jin Sim To
djin sadar, bahwa lawannya memang tidak bernama kosong dan benar memiliki tenaga
kasar yang luar biasa kuat. Dia sendiri sadar bahwa menghadapi tenaga kasar seb
esar itu, membutuhkan keuletan dan keseriusan jika tidak mau mengalami kecelakaa
n di tangan lawan. Karena itu, Jin Sim Todjin akhirnya kembali menggunakan Pik L
ek Ciang, dan dengan jalan itu dia meladeni kekuatan lawan dengan lebih banyak m
emukulnya dari samping.
Luar biasa, jika suhu tidak membimbingku beberapa bulan terakhir, akan sangat sul
it mengatasi tokoh ini dalam hatinya Jin Sim Todjin mengakui kehebatan lawannya.
Terutama kekuatan tenaga luarnya yang hebat. Tapi kini, dengan Pik lek Ciang, di
a tidak begitu khawatir lagi dengan membentur cakar lawan, meski tetap tidak men
erimanya secara berhadapan, melainkan membenturnya dari samping hingga memunahka
n kehebatan cakar harimau itu.
Hehehe, kakek tua, engkau hebat juga si Dogol malah semakin bersemangat, sambil me
muji lawannya dia kembali menyerang. Hanya saja, kali ini Jin Sim Todjin telah m
enemukan cara yang tepat untuk melawannya. Karena selain mengerahkan Pik Lek Cia
ng, kinipun dia mulai memainkan Thai Kek Sin Kun yang membuatnya alot dalam bert
ahan dan secara perlahan menguras kekuatan tenaga luar lawan. Benar saja, semua
pukulan membadai Houw Pah Ong jika tidak hanyut oleh tenaga lemas Jin Sim Todjin
, pastilah rusak dibentur oleh Pik Lek Ciang dari samping, atau kadang malah Jin
Sim Todjin membenturnya dari depan.
Si Dogol yang tidak mengetahui strategi lawan, terus menyerang secara menggebu-g
ebu. Sayang dia tidak mengetahui bahwa Jin Sim Todjin memang memberinya peluang
melakukan seperti itu guna menundukkannya secara halus. Meskipun jika menyerang
dengan ilmu-ilmu andalannya diapun bisa memenangkan pertempuran, tetapi adalah j
auh lebih baik mengalahkan orang secara halus. Inilah sebabnya Jin Sim Todjin ti
dak banyak membalas serangan lawan.
Setelah bertarung beberapa lama, di arena itu telah kembali muncul Liang Mei Lan
yang nampaknya tidak menemukan si manusia hijau. Karena khawatir dengan keadaan
ji suhengnya, maka Liang Mei Lan sudah dengan cepat kembali ke arena pertempura
n. Dan dia melihat bagaimana suhengnya meladeni si manusia dogol dengan gaya dan
caranya sendiri. Meski gemas, tetapi Mei Lan memang sangat mengenal ji suhengny
a. Tokoh Bu Tong Pay yang saleh, yang rada-rada alim dan penyayang orang itu.
Sementara itu, Houw Pah Ong telah tiba di puncak penggunaan ilmunya dengan mengg
unakan jurus Hekhouw-phok-thouw (Macan Hitam Menubruk Kelinci). Tubuhnya yang ti
nggi besar memang tepat diibaratkan sebagai HARIMAU HITAM atau MACAN HITAM, dan
kedua cakarnya bagaikan sedang menerjang kelinci untuk dijadikan makanan. Tetapi
, sayangnya Jin Sim Todjin bukanlah mangsa empuk baginya, sebaliknya justru dia
yang sedang mengincar si harimau dogol itu untuk ditaklukkan dengan kelemasan te
naganya.
Dengan gaya khas yang lentur dalam jurus Kim-eng-hoan-sin (Garuda Emas Membalikk
an Tubuh), Jin Sim Todjin mengerahkan nyaris tiga perempat bagian iweekangnya. D

ibutuhkannya untuk melibas serangan lawan, sambil kemudian melontarkannya dengan


menggunakan kekuatan lawan yang dikerahkan guna menyerangnya. Dia paham, bahwa
Houw Pah Ong telah banyak menguras tenaga, dan telah diperhitungkannya dengan ba
ik, bahwa dengan tiga perempat bagian tenaga dalamnya dia akan mampu dan bisa me
lontarkan tubuh Houw Pah Ong ke belakang. Dan itulah yang dilakukannya.
Benar saja, ketika kedua cakar yang menderu kencang itu menerjang datang, dengan
gesit dan sebat Jin Sim Todjin memapaknya dari samping sambil menggeser tubuh d
alam kecepatan tinggi. Selanjutnya dia melibas tubuh lawannya dan membuat si Dog
ol berkurang banyak tenaga luarnya, dari samping, dia berhasil melibas kekuatan
lawan dan dengan tenaga dalamnya dia mampu melontarkan tubuh si dogol ke belakan
g. Untungnya Jin Sim Todjin memang tidak berniat melukai lawannya, jika tidak tu
buh si Dogol pastilah sudah terluka parah.
Dasar dogol, dia sama sekali tidak merasa jika lawan sudah mengalahkan dan menga
mpuninya. Dari seharusnya menerima kekalahan, justru si Dogol menjadi marah. Ket
ika sadar dari pening akibat terlempar, dia menemukan bahwa orang terdekatnya ad
alah Mei Lan. Repotnya, dia tidak mampu membedakan mana Mei Lan dan mana Jin Sim
Todjin karena kepalanya masih berkunang-kunang. Sambil menggeram dia menyerang
Liang Mei Lan yang dalam pandangannya sama saja dengan orang lain, yakni manusia
, tanpa sanggup membedakannya perempuan ataukah laki-laki.
Serangannya yang membuta mengenai sasaran dengan telak: Dukkkkkkk , tetapi selain k
arena tenaganya sudah banyak berkurang karena kelelahan diapun memang berjarak j
auh dengan kemampuan Mei Lan. Karena itu, serangannya dengan sepenuh tenaga memb
entur Mei Lan yang telah melindungi dirinya dengan kekuatannya. Pukulan si Dogol
bagai melekat, meskipun tidak sampai mengenai perut Mei Lan. Tetapi tangannya t
ak sanggup lagi bergerak karena dilibas oleh kekuatan lemas yang bagaikah melolo
hi segenap kekuatannya hingga akhirnya dia tersungkur lemas dihadapan Mei Lan.
Mengikuti teladan ji suhengnya, Mei Lan tidak ingin menurunkan tangan kejam kepa
da Houw Pah Ong, melainkan mempercepat proses mengurangi tenaga si Dogol sebagai
mana yang dilakukan ji suhengnya. Dan karena kekuatannya memang jauh melampaui j
i suhengnya, tidak lama kemudian Houw Pah Ong kehabisan tenaga dan tersungkur le
mas. Tetapi, karena hanya kelelahan dan kehabisan tenaga, Houw Pah Ong dengan ce
pat menemukan kesadarannya. Dan seperti biasanya, jika sudah dalam keadaan demik
ian, maka si Dogol pastilah akan takluk dan mengakui kekahalannya.
Dan benar saja. Hanya, begitu menemukan bahwa yang ternyata menguras tenaganya a
dalah sang Dara yang tercantum dalam daftar 10 jago top Tionggoan, si Dogol term
angu-mangu:
Waaaaaaaaaah, ternyata engkau memang hebat ... Houw Pah Ong mencoba untuk berdiri.
Tenaganya mencukupi untuk sekedar berdiri, tetapi tidak mencukupi untuk menyera
ng atau bertarung lagi.
Engkau memiliki tenaga luar yang hebat Houw Pah Ong puji Mei Lan tulus. Pujian yan
g membuat si Dogol terhenyak, dan setelah dipandanginya sekian lama wajah Mei La
n, wajahnya tiba-tiba nampak sedih. Mei Lan sama sekali tidak marah dipandangi s
i Dogol, karena nampak jelas kalau pandangan matanya tidak mengandung sinar bera
hi, tetapi memandangnya secara aneh. Pandang mata yang menyejukkan dan dibarengi
dengan perasaan sedih seorang laki-laki. Mei Lan sebaliknya merasa terharu.
Dan episode ini yang kemudian membawa hubungan dekat antara kedua anak manusia i
tu. Sejak hari itu, si Dogol Houw Pah Ong telah menyatakan diri mengikuti si Dar
a Sakti Liang Mei Lan. Bukan sebagai murid Bu Tong Pay, tetapi sebagai pelayan L
iang Mei Lan. Mengapa?
==================
Di bagian lain mengarah ke Bu Tong San, nampak seorang Nenek yang sudah agak tua
, mungkin sudah berusia sekitar 80-tahunan. Meski terlihat berjalan secara perla
han, tetapi jarak yang ditempuhnya sama dengan orang yang berlari sangat cepat.
Dia memang menyusuri jalanan umum, tetapi Nenek ini selalu mengambil jalur di te
pian jalanan tersebut. Dia mengambil jalur tepian atau malahan agak kedalam huta
n. Sepertinya Nenek ini tidak ingin jejaknya diketahui orang banyak. Itulah seba
bnya dia berkeputusan mengambil jalur tidak biasa. Tetapi, begitupun di jalur ti
dak umum itu, si Nenek seperti tidak mengalami kesukaran untuk berjalan atau ber
lari dengan cepat.
Dan setelah berlari dan berjalan sekian lama, pada akhirnya si Nenek menemukan s

ebuah petunjuk. Sebuah papan yang dilekatkan pada sebatang pohon, meski berjarak
hampir 100 meter dari tempatnya berdiri masih bisa dibacanya. MEMASUKI WILAYAH B
U TONG PAY . Si Nenek yang memang sangaja mengambil jalur yang rada tidak biasa namp
aknya menghindari banyak para pengguna jalan umum yang juga mengambil arah yang
sama.
Di balik papan petunjuk Memasuki Wilayah Bu Tong Pay terdapat sebuah jalan yang na
mpaknya menjadi jalan utama menuju ke Bu Tong Pay. Terbukti dari jalur itu terta
ta rapih, jalanan selebar sekitar 2 meteran dan di samping kiri dan kanannya dit
anami dengan tanaman khas pegunungan Bu Tong. Itulah jalur utama menuju Bu Tong
San, dan nenek ini bersiap memasuki atau mengambil jalur itu. Tetapi, si nenek m
enunggu sampai beberapa orang berjalan masuk menyusur jalanan itu baru dia memut
uskan untuk menyusul.
Hari sudah mulai menjelang malam hari, sore hari mulai menjelang pergi guna menj
emput kegelapan malam. Itulah sebabnya, pendatang-pendatang yang memasuki jalur
utama dengan cepat pergi dan kemudian tak terlihat lagi. Maka si Nenek mengambil
keputusan untuk bergerak mengarah ke jalur utama itu. Tetapi, telinganya yang t
ajam tiba-tiba menangkap kesiur angin yang sangat halus, tanda seorang yang meng
erahkan ginkang sedang bergerak mendekat.
Benar saja, seseorang bergerak tiba dengan kesiur angin yang sangat halus nyaris
susah ditangkap telinga manusia biasa. Dan orang itu bergerak dengan pesat samp
ai berjarak 50 meteran dari papan petunjuk batas wilayah, untuk kemudian dengan
cepat membelok ke-kiri. Larinya begitu pesat tanda seorang yang berilmu sangat t
inggi. Tetapi mengapa melalui jalur samping? Sungguh sebuah tindakan yang mencur
igakan. Otomatis si nenek menjadi sangat tertarik, meskipun bekum muncul niatnya
untuk membuntuti. Sebaliknya, si Nenek memutuskan untuk mengambil jalur umum de
ngan tidak menghiraukan orang yang mendahuluinya barusan dengan mengambil jalur t
idak baisa .
Tetapi, belum lagi si Nenek bergerak, telinganya yang tajam kembali menangkap se
suatu yang aneh, yakni kesiur angin orang berlari, tetapi yang jauh lebih halus
lagi. Bahkan orang berilmu tinggipun belum tentu akan sanggup mendengarnya. Hmmm,
jika aku telah bergerak sebelumnya, belum tentu sanggup menangkap kesiur angin
orang berlari itu si Nenek dalam hatinya. Dan benar saja, tiba-tiba dua sosok bay
angan kembali berkelabat, jauh lebih pesat dan bagai tidak menginjak bumi. Hanya
saja, sama dengan bayangan pertama, kedua bayangan itu mengambil arah ke-kiri d
an bukannya melalui jalur utama.
Tetapi yang kemudian membuat si Nenek tertegun adalah, ketiga bayangan tersebut
sama-sama menggunakan JUBAH HIJAU . Dan, jika seperginya bayangan pertama belum men
imbulkan niatnya untuk membuntuti, maka melihat kenyataan bahwa mereka menggunak
an jubah dan kedok hijau membuat niatnya untuk membuntuti menjadi besar. Sesuatu ya
ng aneh dan pastinya akan merugikan Bu Tong Pay nampaknya bakalan terjadi demikia
n si Nenek berpikir dan pada akhirnya telah memutuskan untuk membuntuti orang-or
ang berjubah dan berkedok hijau itu. Hanya, dia menunggu beberapa saat, khawatir
tiba-tiba masih ada lagi tokoh berjubah hijau lainnya yang menyusul.
Tetapi, setelah menunggu beberapa saat dan menggunakan daya dengar jarak jauh de
ngan ilmu sejenis thing-hong-pian-ki (mendengar suara membedakan senjata), seger
a dia tahu jika penyelundup itu hanya berjumlah 3 orang. Maka secara hati-hati,
diapun membuntuti ketiga orang berjubah hijau yang telah berjalan terlebih dahul
u daripadanya. Dengan terus berhati-hati dan mengerahkan ilmunya, Nenek itu teru
s berjalan maju dengan mengikuti arah dan jalur yang diambil ketiga manusia berk
edok dan berjubah hiau itu.
Ada kurang lebih setengah jam dia membuntuti ketiga orang berjubah hijau itu, sa
mpai akhirnya dia mendengarkan bentakan-bentakan tanda sedang terjadi pertempura
n. Padahal daerah itu masih daerah yang berhutan lebat, tetapi jika di pandangi
lebih jauh, memang area itu merupakan area yang tepat untuk mendaki ke Bu Tong S
an dari arah utara. Meskipun medannya terlihat teramat sulit untuk dilalui dan d
ilewati
tetapi tetap saja area itu menjadi pilihan baik bagi mereka yang ingin m
enyelundup masuk.
Dari kejauhan, si Nenek menyaksikan seorang berjubah hijau yang sedang dalam kep
ungan 7 orang murid Bu Tong Pay. Namun, gerakannya demikian indah dan ringan, se
hingga kepungan itu tidaklah berarti banyak baginya. Tetapi, si Nenek tidak mene

mukan kedua manusia berjubah hijau lainnya. Kemana mereka? tanya si Nenek dalam ha
ti. Si Nenek telah mendengarkan keperwiraan Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan dan Bu
Tong Pay, karena itu secara otomatis dia telah berpihak kepada Bu Tong Pay.
Tiba-tiba terdengar suara ramai dari arena pertempuran, dan bahkan kemudian disu
sul dengan suara keluhan:
Aaaaaauuuuucccccggghhhhhh tanda bahwa ada korban. Benar, dua orang dari 7 murid Bu
Tong Pay telah menjadi korban dari si jubah hijau. Tetapi, ketika yang sama, ti
ba-tiba berkelabat sesosok tubuh dengan kecepatan tinggi, yang langsung menyambu
t serangan maut si jubah hijau ke arah murid yang lainnya:
Srrrrrrtttttttt, cuasssssss ....
Terjadi benturan yang cukup hebat antara si pendatang dari pihak Bu Tong Pay den
gan si Jubah Hijau. Sebuah benturan yang mengejutkan bagi kedua pihak karena men
yadari bahwa lawan ternyata tidaklah ringan. Terlebih bagi si Jubah Hijau. Dia m
enyadari jika lawan yang datang nampaknya bukan lawan ringan karena mampu menola
k dan menetralisasi kemampuan serangan jari tangannya yang biasanya sangat ampuh
. Sebaliknya si pendatang sudah berseru:
Hmmmm, Tam Ci Sin Thong. Engkau rupanya yang membunuh beberapa anak murid Bu Tong
Pay sehari sebelumnya
Hahaha, hebat, hebat. Sian Eng Cu, kepandaianmu rupanya telah meningkat demikian
hebat akhir-akhir ini, sungguh mengagumkan desis si Jubah Hijau, yang rupanya sud
ah saling mengenal dengan Sian Eng Cu Tayhiap, murid ketiga dari Wie Tiong Lan P
ek Sim Siansu.
Hmmm, tidak di Thian Liong Pang, ternyata dimana saja engkau pergi dan berada sel
alu menghadirkan kekisruhan. Sayang engkau tidak ikut tertumpas di markas besar
Thian Liong Pang Sian Eng Cu Tayhiap sendiri ternyata telah mengenal tokoh dibali
k jubah hijau tersebut.
Sementara itu, si Nenek telah mendatangi arena lebih dekat lagi. Itu disebabkan
dia telah dapat menjangkau dimana persembunyian kedua tokoh berjubah hijau lainn
ya yang malah kehebatannya masih melebihi tokoh pertama yang kini sedang berhada
pan dengan Sian Eng Cu Tayhiap. Kedua tokoh lainnya ternyata tidak berada jauh d
ari arena, dan khawatir keduanya main gila, si Nenek kemudian bergerak mendekati
arena. Dan sudah bisa dipastikan, jika kedua tokoh itupun sudah mencium jejakny
a.
Sementara itu, Sian Eng Cu Tayhiap telah terlibat pertempuran dengan si jubah hi
jau. Tidak tanggung-tanggung, kedua orang yang sudah saling kenal ini langsung t
erlibat perkelahian hebat. Sian Eng Cu telah memainkan ilmu kebanggaannya, yakni
Pik Lek Ciang dan Sian-eng Sin-kun (Silat Sakti Bayangan Dewa). Kedua tangannya
menjadi sekeras baja, semenntara gerakannya demikian cepat dan bagaikan bayanga
n bergerak. Sulitlah bagi lawan biasa untuk mengikuti pergerakannya saat itu. Se
baliknya, lawannya telah mengembangkan kedua ilmu saktinya, Hong Ping Ciang dan
Tam Ci Sin Thong.
Hanya saja, Sian Eng Cu Tayhiap yang sekarang ini, telah maju jauh dibandingkan
beberapa bulan sebelumnya. Menjelang akhir kehidupan gurunya, bukan saja telah m
engajarnya dengan ilmu pamungkas Ban Sian Twi Eng Sin Ciang (Pukulan Sakti Selak
sa Dewa Mendorong Bayangan), yang sebelumnya hanya dikuasai Mei Lan; tetapi juga
telah menyempurnakan Bu Tong Kiam Hoat, Bu Tong Kun Hoat, serta ilmu pusaka Bu
Tong Pay lainnya. Belum lagi dengan warisan tenaga dalam gurunya di penghujung u
sia gurunya itu. Sian Eng Cu yang sekarang bagaikan harimau tumbuh sayap.
Karena itu, si jubah hijau menjadi sangat terkejut. Dia bukan saja menemui Sian
Eng Cu yang lebih cepat, tetapi juga lebih kuat berlipat-lipat dari pertemuan me
reka yang terakhir. Dia tidak sanggup lagi mengimbangi kecepatan dan kekuatan la
wan, dan dalam waktu singkat Hong Ping Ciang dan Tam Ci Sin Thong yang hebat saj
alah yang membuatnya masih bertahan. Tetapi yang pasti, varian ilmunya sudah sul
it menandingi Sian Eng Cu yang kekuatannya sudah berlipat-lipat dibandingkan den
gan keadaannya beberapa bulan sebelumnya. Padahal, diapun sudah dilatih oleh beb
erapa tokoh hebat lainnya.
Bahkan ketika dia mengerahkan Thian cik-sian Kun Hoat (Silat sakti dewa menggeta
rkan langit), sebuah ilmu rahasia andalannya, dia tak mampu menang. Tidak mampu
mendorong tubuh Sian Eng Cu, tetapi dia tetap tergetar, sementara lawannya tetap
mencecar dengan ilmu-ilmu sebelumnya. Dia penasaran karena dalam waktu singkat

sudah jatuh terdesak hebat dibawah angin serangan lawannya yang memainkan ilmu-i
lmu khasnya Sian Eng Sin Kun dan Pik Lek Ciang. Tidak perlu disangsikan, dalam w
aktu yang tidak akan lama dia pasti jatuh oleh serangan lawannya yang terus mene
rus mencecarnya dalam kecepatan tinggi dan dengan kekuatan membahana.
Untungnya, pertolongan baginya segera datang, pada saat dia dalam keadaan yang s
angat terdesak. Ketika Sian Eng Cu kembali menyerangnya dengan kecepatan tinggi
dengan menggunakan gerakan istimewa Hwai-tiong-po-gwat (Peluk Bulan Depan Dada)
dan posisinya sudah salah langkah, tiba-tiba berkelabatlah sesosok bayangan meny
erbu masuk ke gelanggang. Tapi, bukan, bukan hanya sesosok bayangan, melainkan t
ernyata ada 2 sosok bayangan.
Bayangan pertama menyerang Sian Eng Cu buat menyelamatkan si jubah hijau, dan ba
yangan kedua menyerang si pendatang baru yang juga sama berjubah hijau dengan or
ang yang akan ditolongnya. Ternyata kedua bayangan yang meluruk masuk arena memi
liki niat yang berbeda, niat menolong orang yang berbeda dan karena itu, akhir d
ari benturan jadi berbeda.
Menyadari ada serangan yang ditujukan kepadanya, Sian Eng Cu telah mengatur tena
ganya sedemikian rupa guna memapak serangan musuh. Dan secara otomatis, lawannya
si jubah hijau, Bouw Lek Couwsu terlepas dari ancaman pukulannya. Diapun selama
t. Sementara itu, melihat ada bayangan lain yang menolongnya, Sian Eng Cu terkej
ut, tetapi lengannya tetap berbenturan dengan penyerangnya, dan akibatnya dia te
rdorong satu langkah ke belakang. Untungnya si jubah hijau pertama, bouw Lek Cou
wsu sudah sedang melompat mundur ke belakang menyeleamatkan diri. Karena itu Bou
w Lek Couwsu tidak berkesempatan menyerang Sian Eng Cu yang terdorong akibat ben
turan tadi.
Sementara si jubah hijau yang satunya lagi yang bertindak menyerang Sian Eng Cu,
mendapati betapa kuatnya angin serangan dari si Nenek. Dia menjadi sangat terke
jut karena tahu bahwa tenaga serangan si Nenek ternyata sangat membahayakan diri
nya. Terlebih, dia sadar bahwa kekuatan si nenek ternyata tidak berada di sebela
h bawah kemampuannya. Sementara dia telah sempat melepas serangan kepada Sian En
g Cu, untungnya serangan itu telah dikurangi kekuatannya. Dan akibat benturan it
u adalah:
Dukkkkk, dukkkk dua kali terjadi benturan. Benturan pertama dengan Sian Eng Cu yan
g membuat Sian Eng Cu mundur satu langkah ke belakang. Benturan kedua adalah ket
ika si jubah hijau berbenturan dengan si Nenek dan menyebabkan dia terdorong sam
pai tiga-empat langkah ke belakang. Sementara si Nenek sama sekali tidak goyah d
an apalagi terdorong ke belakang, menandakan betapa hebatnya Nenek tersebut.
Siapakah gerangan Nenek yang hebat itu? Dialah Toa Suci atau orang pertama dari
Thian San Giokli, sesepuh atau Hu Hoat dari Lembah Salju Bernyanyi. Tokoh yang s
edang memburu Toh Ling, murid pewaris Thian Tee Siang Mo yang telah membunuh ked
ua adik seperguruannya. Sementara si jubah hijau pertama yang bertarung dengan S
ian Eng Cu tidak lain adalah Bouw Lek Couwsu, si pelarian dari Tibet dan menguas
ai Tam Ci Sin Thong dan beberapa ilmu Budha sejenis dengan yang ada di Siauw Lim
Sie. Tokoh ini memang sudah lama bergabung dengan Thian Liong Pang yang sudah d
ibubarkan itu.
Pertempuran terhenti sejenak. Si jubah hijau yang baru datang dan berbenturan de
ngan si Nenek telah memandang takjub dan nyaris tidak percaya. Hanya, beberapa s
aat kemudian dia menjadi sadar dengan siapa dia berhadapan dan pada akhirnya dia
pun telah berkata ditujukan kepada si nenek:
Engkau tentu Thian San Giokli dari Lembah Salju Bernyanyi tegurnya.
Hmmm, dimana-mana kalian menggunakan jubah dan kedok hijau untuk membuat kekacaua
n. Tak nyana disinipun kalian berniat sama anteng saja si nenek menyahuti sambil
menegur lawannya.
Sementara itu, Bouw Lek Couwsu dan Sian Eng Cu terkejut mendengar bahwa Nenek ya
ng datang itu ternyata adalah Thian San Giokli yang dalam waktu singkat menjadi
begitu terkenal. Bahkan menjadi tokoh di peringkat kedua dalam daftar 10 pendeka
r top Tionggoan. Karena itu, Sian Eng Cu telah menjura sambil berkata:
Terima kasih atas bantuan locianpwee , dan Nenek Sakti berpakaian putih itu mengang
guk ramah kepada Sian Eng Cu yang menjadi bersimpati melihat si nenek yang berwa
tak perwira.
Hahahaha, engkau keliru jika menduga kami takut kepadamu Thian San Giokli. Coba e

ngkau sambut seranganku seru si jubah Hijau sambil mengerahkan sebagian besar kek
uatannya dalam serangannya itu.
Tetapi si Nenek juga tidak tinggal diam. Dengan tenang dikerahkannya Swat Im Kan
g kedalam tangannya dan dijulurkan menyambut serangan lawan. Dan terdengar suara
benturan:
Dukkkkk .... si jubah hijau terdorong setengah langkah ke belakang dengan tubuh se
dikit terpengrauh hawa dingin, sementara si nenek hanya bergoyang-goyang sedikit
di tempatnya dan tidak sampai terdorong bergeser. Keadaan ini telah menegaskan
siapa mengatasi siapa. Dan nampaknya si jubah hijau juga sadar jika nenek dihada
pannya bukanlah lawan ringan. Seorang diri belum tentu dia menang, tetapi untuk
misi malam ini, dia masih ditemani seorang yang lain, dan orang itu juga bukanla
h orang sembarangan. Benar saja, tiba-tiba sesosok bayangan, juga berjubah hijau
telah memasuki arena dan langsung menyerang si Nenek.
Kembali terjadi benturan ketika si Nenek menyambut serangan si jubah hijau yang
satunya lagi:
Dukkkkkk ..... dan seperti tadi, si jubah hijau terdorong mundur sementara si Nene
k hanya bergoyang-goyang di tempat. Tetapi, belum lagi dia kokoh berdiri, dia te
lah diserang si jubah hijau yang satunya lagi, maka bertempurlah keduanya dalam
libasan ilmu-ilmu yang istimewa. Menyusul kemudiansi jubah hijau satunya lagi ik
ut masuk arena dan mengeroyok si Nenek sakti itu.
Sian Eng Cu yang melihat keadaan yang tidak adil itu telah mencoba melerai tetap
i sudah diserang oleh Bouw Lek Couwsu. Pada akhirnya terjadilah pertempuran heba
t di tempat itu dengan terbagi menjadi dua arena. Di arena pertama Sian Eng Cu y
ang bertarung hebat untuk cepat mengalahkan lawan guna menolong si Nenek. Dan ar
ena lainnya adalah Nenek Thian San Giokli yang dikeroyok dua tokoh hebat berjuba
h hijau. Hebat pertarungan tersebut, terutama antara ketiga tokoh hebat yang ber
tanding dengan ilmu-ilmu berat.
Tetapi sayang, meski telah menggunakan Pek In Swat Kang dipadukan dengan Swat Im
Sinkang dan mengakibatkan suasana sekitarnya menjadi sangat dingin, tetapi kedu
a lawannya adalah lawan-lawan yang nyaris seimbang dengan kemampuannya. Melawan
salah seorang dari keduanya, Thian San Giokli masih menang seusap, tetapi jika k
eduanya maju bersama, maka sulit baginya untuk meraih kemenangan. Justru sebalik
nya, lama-kelamaan dia menjadi terdesak oleh libasan kedua lawannya yang juga ma
ha hebat itu.
Sian Eng Cu menyadari hal itu. Karenanya, dia kembali menyerang Bouw Lek Couwsu
dan berkeras menyerang dengan ilmu-ilmu mautnya. Hanya saja, Bouw Lek Couwsu yan
g sadar dengan kelebihan lawan, telah bertempur dengan jalan hit and run alias puk
ul lalu lari. Dia tidak bertempur sebagaimana mestinya, tetapi lebih banyak meng
hindar, menghindar dan menghindar. Mungkin hanya sesekali dia membalas menyerang
.
Akibatnya, sulit bagi Sian Eng Cu menyelesaikan pertarungannya dengan Bouw Lek C
ouwsu. Sementara itu, si Nenek Thian San Giokli telah mulai kewalahan karena ked
ua lawannya telah menyerang dengan pukulan-pukulan istimewa. Jika dicecar dengan
cara tersebut, maka lama kelamaan dia bakal kehabisan tenaga, sementara lawan-l
awannya menggilirnya dengan pukulan hebat. Karena itu, dia mencoba mencari cara
untuk menghindari benturan dengan mengandalkan ilmu silatnya.
Kedua lawannya bukan orang bodoh. Mereka sadar jika mereka mampu memenangkan per
tarungan melalui adu kekuatan secara bergilir. Tetapi, menggunakan ilmu silatpun
mereka mampu menang, tetapi dengan waktu yang lebih lama. Hanya saja, kegesitan
si Nenek menyulitkan mereka untuk mendesaknya terlebih jauh. Karena itu, pada a
khirnya keduanya bersiasat: si jubah hijau yang satu meladeni si Nenek, sementar
a yang satu lagi menyiapkan pukulan jarak jauh ketika si Nenek membentur pukulan
kawannya.
Begitulah akhirnya siasat cerdik mereka. Meskipun hebat, Thian San Giokli tetap
harus menukar jurus ketika berbenturan dengan lawan. Dan sudah dua kali dia mene
rima kerugian atas siasat cerdik dan licik kedua lawannya yang memang nyaris sei
mbang dengan dirinya. Lama kelamaan, hal tersebut akan merugikan dan membuatnya
terluka. Tetapi, ketenangan si Nenek memang patut dipuji. Dalam kondisi seperti
itu, dia tidak menjadi panik, dan tetap menyerang si jubah hijau lawannya dengan
kehebatan yang tidak berkurang.

Hanya, setelah lima kali terjadi adu kekuatan ketika menukar jurus, si nenek mul
ai merasa agak berat. Dia berpikir menukar ilmunya dengan ilmu pamungkas, tetapi
jika demikian, menghadapi 2 lawan hebat, dia tetap akan dalam posisi dirugikan.
Benar-benar serba salah pikir si Nenek bersiasat. Hebat, dia masih tetap tenang d
alam kondisinya yang repot. Apalagi, tiba-tiba karena sedikit lalai tadi, dia su
dah harus memapak pukulan si jubah hijau yang menyerangnya dengan kekuatan penuh
. Terburu-buru si Nenek terpaksa harus menangkis:
Tetapi pada posisi seperti itu, tiba-tiba berkelabat sesosok bayangan lain. Sama
hijau dengan ketiga pendatang berkedok, cuma bedanya dia sama sekali tidak berk
edok dan kecepatannya luar biasa. Hanya si Nenek yang masih sempat secara sekila
s mengenali si penolongnya yang memapak serangan lawan dengan kekuatan penuh. Di
dahului dengan suara teguran dalam suara yang dingin menggiriskan:
Orang-orang tidak tahu diri ..... dan terjadilah benturan dahsyat:
Dukkkkkk ....... dan hebat kesudahannya. Si jubah hijau yang menyerang si Nenek te
rdorong sampai 4-5 langkah ke belakang, sementara orang yang menyambut serangann
ya sudah kembali berkelabat menghilang. Hanya, Thian San Giokli seorang yang sem
pat melihat secara samar seorang anak muda berjubah hijau yang datang dengan kec
epatan tinggi, menolongnya dan kemudian berkelabat pergi dengan kecepatan yang t
idak berkurang.
Melihat pihak lawan memperoleh bantuan tokoh yang lebih lihay lagi, pihak jubah
hijau menjadi terkejut dan menyadari bahwa upaya mereka menyusup sudah gagal. Apal
agi ketika kemudian terdengar sebuah suara mengaung yang jelas dilepaskan dengan
pengerahan tenaga yang luar biasa:
Jika kalian terus memaksa, jangan salahkan jika kuturunkan tangan keras. Sampaika
n kepada Lamkiong Sek
permainan busuknya memuakkan. Tetapi akan kami ladeni hing
ga tuntas .....
Suara tersebut seperti mengambang, tetapi terdengar jelas di telinga semua orang
yang berada di arena. Mendengar kalimat itu, ketiga manusia berjubah hijau terd
iam dan kaget karena ternyata pemilik suara itu telah mampu mengenali mereka. Te
tapi, betapapun manusia-manusia berjubah hijau itu bukanlah anak kemarin sore. T
erdengar salah seorang dari yang mengeroyok Thian San Giokli telah berkata:
Siapa gerangan tuan .... ?
Siapa aku bukan masalah. Yang terpenting aku mengenali apa yang akan dan sedang k
alian kerjakan. Berusaha mengacaukan dan memporak-porandakan kaum persilatan Tio
nggoan untuk membalas sakit hati kalian karena pembubaran Thian Liong Pang. Perg
ilah dan kabarkan kepada Lamkiong Sek, Naga Pattinam dan semua kelompoknya, bahw
a kami selalu siap untuk menghadapi kalian semua. Termasuk guna menghentikan omo
ng kosong daftar pendekar di Tionggoan yang kalian ciptakan guna melahirkan huru
-haru itu
Suara itu mengambang dan tidak ketahuan darimana asalnya. Bahkan asal usul serta
usia si pengeluar suara tidak akan dapat diidentifikasi dari suara itu sendiri.
Hanya Thian San Giokli yang memiliki keyakinan bahwa penolongnya tadi yang meng
eluarkan suara tersebut. Hal ini diyakininya dari ketika benturan pukulan manusi
a hijau tadi. Jika dia paling banyak mampu mendorong mereka sampai 2 langkah, te
tapi manusia yang sekilas dilihatnya masih muda tadi, mampu mendorong manusia be
rjubah hijau lawannya tadi hingga 3-4 langkah. Dari situ dia sanggup mengukur ke
mampuan orang itu, yang diyakininya bahkan masih seusap di atas kemampuannya sen
diri.
Hmmmm, bagaimanapun tuan tidak bisa membuat kami mundur dengan cara demikian. Tun
jukkan diri tuan dan kita selesaikan urusan dengan kepandaian kembali si manusia
hijau yang berbicara tadi menantang, selain menjaga gengsi betapapun dia memang
salah satu jago andalan pihak jubah hijau.
Baik, terimalah .....
Bersamaan dengan kalimat itu, meluncurlah 2 jalur tenaga yang mengeluarkan sinar
bekilat dari balik pepohonan yang rindang di sebelah dalam hutan. Kedua jalur t
enaga tersebut meluncur dengan tidak mengeluarkan suara tetapi langsung menuju k
earah si manusia hijau yang mengeluarkan tantangan tadi. Karena diberitahu terle
bih dahulu, maka si manusia hijau masih sempat mempersiapkan dirinya dan memapak
serangan tersebut dengan sepenuh tenaganya.
Tetapi,, alangkah terkejutnya si manusia hijau ketika tenaga dorongannya bagaika

n terhempas di lautan luas tak bertepi, sementara gelombang serangan lawan tetap
maju dengan kecepatan tinggi ke arah dirinya. Dengan tak berayal lagi dia seger
a membuang diri kesamping. Tetapi bukan main terkejutnya dia, di belakangnya sam
a sekali tidak menimbulkan suara atau akibat apapun, bagai tiada sedikitpun arus
tenaga serangan yang melewatinya. Bagaimana mungkin ? si manusia hijau jadi bergid
ik membayangkannya.
Melihat kemampuan tersebut, si manusia hijau sadar, bahwa lawan memang berbahaya
dan berat. Karena itu setelah memandang kedua kawannya, diapun kemudian berkata
:
Baiklah tuan, pengajaran dan teguran serta tantanganmu akan kami sampaikan
Dan setelah itu, dia mengerling ke arah kawan-kawannya untuk kemudian berkelabat
meninggalkan arena tersebut. Sian Eng Cu yang merasa dendam dengan Bouw Lek Cou
wsu yang telah membunuh 4 anak murid Bu Tong Pay mencoba menahan. Tetapi tiba-ti
ba telinganya mendengarkan suara:
Biarkan mereka pergi, jauh lebih penting menimbang dan mencermati situasi di Bu T
ong Pay saat ini. Jika aku tidak keliru, bakal ada gangguan lebih hebat akan ata
u mungkin sedang terjadi
Sian Eng Cu yang telah melihat bagaimana si pemilik suara menggebah pergi ketiga
manusia hijau, percaya dengan apa yang diucapkan. Dia sendiri merasa sudah terl
ampau lama meninggalkan kuil Bu Tong Pay dan melakukan pengamatan ke banyak lini
penjagaan murid Bu Tong Pay. Dan rasanya sudah waktunya kembali ke kuil Bu Tong
Pay. Maka diapun sambil menjura berkata:
Terima kasih atas bantuan tuan yang mulia tetapi tidak sedikitpun terdengar lagi s
uara dari tuan penolongnya malam itu. Karenanya, Sian Eng Cu kemudian menghadap
Thian San Giokli dan mengucapkan terima kasih atas bantuan si Nenek Sakti dari L
embah Salju Bernyanyi:
Thian San Giokli, terima kasih atas bantuanmu, tanpa campur tanganmu nampaknya su
lit penjagaan disini menahan mereka
Ach itu bukan urusan besar. Kebetulan belaka mendengar banyak orang melayat ke Bu
Tong Pay, maka kuputuskan untuk ikut melayat atas nama Lembah Salju Bernyanyi.
Tapi, maafkan jika aku tidak ingin menampakkan diri secara terang-terangan dan m
ohon untuk bisa memberi penghormatan secara langsung kepada jasad Pek Sim Siansu
Wie Tiong Lan
Baiklah, menilik nama dan wibawa Thian San Giokli, marilah mengikuti aku untuk me
mberikan penghormatan terakhir kepada suhu. Kami pihak Bu Tong Pay juga menyedia
kan tempat-tempat penginapan khusus untuk tokoh-tokoh yang tidak mau diganggu. J
ika berkenan, marilah naik bersamaku ke Bu Tong San
Baiklah, terima kasih jika demikian
Maka dengan dikawani dan dituntun Sian Eng Cu, Nenek Thian San Gioklipun berangk
at langsung ke Bu Tong Pay. Sementara tokoh yang membantu mereka tadi sudah tida
k ketahuan kemana perginya.
==================
Benarkah sedang terjadi sesuatu di Bu Tong Pay? Mari kita menengok ke atas. Keja
dian di dua pintu masuk utara dan timur, sebetulnya terjadi nyaris secara bersam
aan dan nampak memang diatur secara demikian. Hanya saja, mereka tidak memperhit
ungkan kehadiran Thian San Giokli dan seorang pendatang lain yang sangat luar bi
asa itu. Ketika sedang terjadi pertempuran di sana, kejadian lain yang lebih ber
bahaya ternyata terjadi di kuil Bu Tong Pay. Hal yang di luar perkiraan Liang Me
i Lan dan semua tokoh Bu Tong Pay yang bahkan telah ditemani oleh Pendekar Kemba
r dari Siauw Lim Siew
Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song.
Hari itu adalah hari kelima, menjelang malam. Dan direncanakan, upacara duka dan
penghormatan terakhir kepada Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan akan dilakukan pada k
eesokan harinya. Itulah sebabnya menjelang malam, banyak sekali tokoh-tokoh tern
ama, terutama yang berasal dari jauh yang memasuki Bu Tong Pay. Termasuk tokoh-t
okoh sahabat seperti Kay Pang yang diwakili oleh Pengemis Tawa Gila (Hu Pangcu B
agian Luar), Ciu Sian Sin Kay (Pengemis Sakti Dewa Arak) murid pertama Kiong Sia
ng Han yang juga telah menjadi salah seorang Hu Hoat Kaypang, Ceng Fang Guan
Lan
Bun Sin Kay (Pengemis Sakti Pintu Selatan) juga seorang Hu-Hoat Kaypang, serta
Liang Tek Hoat murid terakhir Kiong Siang Han. Bersama mereka adalah tokoh-tokoh
Kaypang terdekat dengan Bu Tong San, yang kemudian dititipkan kepada Bu Tong Pa

y guna ikut menjaga keamanan di Kuil itu.


Tokoh-tokoh Kaypang ini diberikan tempat terhormat, karena memang merupakan sala
h satu perkumpulan yang memiliki hubungan sangat erat dengan Bu Tong Pay. Bahkan
Liang Tek Hoat sudah bergabung dengan Souw Kwi Beng untuk membantu menjaga temp
at persemayaman jenasah Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan setelah menemui Kwee Siang
Le Sin Ciang Tayhiap yang tentu saja mengenal kakak dari siauw sumoynya itu.
Tidak lama setelah kedatangan Kaypang, juga tiba nyaris secara bersamaan rombong
an dari Bengkauw yang terdiri dari Siangkoan Tek
Kauwcu (Ketua) Bengkauw datang
dengan diiringi oleh Oh Biauw Hiang seorang wanita sakti yang juga menjadi salah
satu Wakil Kauwcu. Seterusnya ada juga Siangkoan Han Lin, Yau Bun Liong dan Sia
ngkoan Liok (cucu-cucu Siangkoan Tek) yang merupakan tokoh-tokoh sentral di Beng
kauw saat ini. Selain mereka, juga nampak Nona Siangkoan Giok Lian
cucu kesayang
an Siangkoan Tek yang bahkan kelihayannya sudah menjajari kelihayan sang Kauwcu.
Sebagaimana Tek Hoat, Giok Lian juga memiliki hubungan dekat dengan Mei Lan, kar
ena itu setiba di Bu Tong Pay, meski disediakan kamar khusus tamu, tetapi Mei La
n berkeras langsung menjumpai Mei Lan. Tapi karena tidak ditemukan, akhirnya dia
bergabung bersama Kwi Beng dan Tek Hoat kekasihnya untuk bersama membagi cerita
sambil ikut berjaga di luar ruangan persemayaman jenasah Pek Sim Siansu Wie Tio
ng Lan.
Sementara itu, rombongan berikutnya yang tiba hampir bersamaan dengan rombongan
Kaypang adalah Ciangbundjin Siauw Lim Sie yang didampingi oleh Kong Hian Hwesio
(Kakak seperguruan Ciangbundjin Siauw Lim Sie) dan diiringi sejumlah tokoh-tokoh
sentral dari Siauw Lim Sie. Kelompok inipun sama dengan Lembah Pualam Hijau dan
Kaypang merupakan sahabat-sahabat erat, dan memperoleh tempat istrimewa di Bu T
ong Pay.
Dengan kedatangan kelompok ini, bergabung bersama dengan utusan-utusan dari Tiam
Jong Pay, Kun Lun Pay, serta sejumlah utusan perguruan lain, baik yang terkenal
maupun yang kurang terkenal, maka Bu Tong Pay saat itu telah dipadati oleh bany
aknya tamu. Bahkan ruangan khusus bagi tamu istimewa yang terletak di pesanggrah
an khusus sebelah barat bagian dalam kuil Bu Tong Pay, juga sudah nyaris penuh.
Padahal disana merupakan pesanggrahan khusus yang disiapkan bagi tamu istimewa B
u Tong Pay dan memiliki setidaknya 50 kamar istimewa dan 50 kamar tamu lainnya y
ang cukup baik.
Dan ketika malam menjelang, masih muncul juga kelompok kenamaan lainnya yang ber
asal dari Lam Hay Bun, dan dipimpin langsung oleh Tocu Lam Hay yang bernama Lamk
iong Bu Sek. Kedatangannya kali ini ditemani oleh kedua sepupunya yang juga adal
ah tokoh-tokoh utama berkepandaian hebat dari Lam Hay, yakni Liu Soan Li dan Liu
Kong. Selain tokoh-tokoh ini, juga terdapat 10 anak murid Lam Hay Bun yang dite
mpatkan terpisah dari tokoh utama mereka. Kelompok inipun adalah kelompok istime
wa, karena itu mereka ditempatkan di pesanggrahan khusus tamu istimewa Perguruan
Bu Tong Pay.
Di tengah keramaian seperti itulah kejadian aneh dan berbahaya terjadi. Tidak la
ma setelah kelompok terakhir muncul, yakni perguruan Lam Hay Bun
yang muncul sec
ara rahasia dan tidak ingin dikenali banyak orang, tiba-tiba terdengar suitan ke
ras dari area khusus perguruan Bu Tong Pay. Adalah Souw Kwi Song yang mendapat t
ugas khusus di seputaran luar Kuil Bu Tong Pay yang menemukan sebuah bayangan an
eh bergerak dengan sangat cepat. Karena khawatir terjadi sesuatu, Kwi Song seger
a memburu bayangan tersebut.
Dan dengan cepat Kwi Song menyusul orang itu yang memang tidak bermaksud untuk m
enghindar atau menyingkir dari Kwi Song.
Siapakah tuan? Kenapa bergerak secara rahasia di waktu gelap dan memasuki Bu Tong
Pay secara diam-diam ? Souw Kwi Song bertanya, sedikit heran karena melihat si pe
ndatang sama sekali tidak bermaksud menyembunyikan dirinya. Dia berpakaian hitam
-hitam, rambutnya dibiarkan tumbuh lebat, namun telah tertata dan terurus secara
rapih, usianya sekitar 40tahunan. Namun dari sorot matanya sangat terasa memanc
arkan kekuatan yang dahsyat. Dan Kwi Song yang juga memiliki kekuatan yang sudah
luar biasa tingginya, segera menyadari kekuatan hebat yang terpancar dari sorot
mata semacam itu. Tetapi sekaligus dia merasa heran, mengapa bayangan itu tidak
berusaha melepaskan diri, sebab jika dia mau, pastilah akan sangat sulit menyan
daknya.

Tidak penting siapa aku, tapi aku ingin bertanyasesuatu orang itu berhenti sejenak
, tetapi kemudian terus menyambungnya: dan aku akan sangat berterima kasih seanda
inya saudara muda bersedia memberitahuku sesuatu hal .....
Hmmmm, meski tuan masuk dengan diam-diam tetapi sama sekali tidak berusaha menyem
bunyikan diri, biarlah aku yang muda mencoba menjawab jika memang aku mengetahui
jawaban pertanyaan itu Kwi Song menjawab secara luwes sambil terus memandang si
pendatang.
Hahahaha sungguh mengagumkan. Kukagumi ketabahanmu anak muda, jika ingin bersembu
nyipun siapakah yang akan mampu dengan penjagaan seketat ini di Bu Tong Pay ? ujar
si pendatang sambil menunjuk ke anak murid Bu Tong Pay yang kini telah mengepun
g si pendatang yang memang memilih halaman yang cukup luas ketika menantikan Kwi
Song tadi.
Hahaha, benar tuan. Tapi, kukagumi ketabahanmu dan terutama kecepatan dan keterus
terangan tuan. Pertanyaan apakah yang ingin tuan ajukan ? Kwi Song menjadi gembira
karena sikap terbuka dari orang dihadapannya. Kwi Song bersama Tek Hoat memang
dikenal luwes dan sangat mudah bersahabat dengan orang, termasuk orang yang belu
m lama mereka kenal sekalipun.
Apakah benar Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan yang dikabarkan salah satu tokoh tersak
ti selama puluhan tahun ini telah meninggal ?
Bukan hanya Kwi Song, tetapi semua anak murid Bu Tong Pay yang di halaman itu, j
uga pada terkejut mendengar pertanyaan si pendatang. Dan Kwi Song mulai merasa a
neh. Pada saat itulah sesosok tubuh telah melayang menjejerinya, tanpa melihat K
wi Song sudah tahu siapa yang datang. Souw Kwi Beng, kakaknya.
Benar tuan, jika tuan bersedia menunggu semalam saja lagi, maka tuan bisa mengiku
ti upacara duka dan penghormatan terakhir besok hari .... meski keheranan tetapi
Kwi Song tetap menjawab pertanyaan tersebut.
Jika Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan masih hidup, apakah benar tidak ada satupun tok
oh dalam daftar 10 pendekar terhebat Tionggoan saat ini yang akan sanggup untuk
menandinginya ?
Kwi Song tersentak. Terdiam sejenak. Tetapi tidak kehilangan penguasaan dirinya
untuk menjawab pertanyaan itu:
Sangat mungkin, tetapi biasanya dan selalu di atas bintang selalu ada bintang yan
g lain. Karena itu, kami tidak beranggapan ada seseorang yang tidak terkalahkan
Bagaimana jika dihadapkan dengan mereka yang dalam daftar itu ? tuntut si pendatang
berkeras ingin tahu.
Beberapa orang di dalam daftar itu pernah memperoleh didikan dari Pek Sim Siansu
Wie Tiong Lan yang mulia, sangat mungkin tidak ada dari daftar itu yang mampu me
nandinginya Kwi Song memilih untuk menjawab pertanyaan si pendatang secara diplom
atis. Memang Kwi Song baru mengetahui daftar itu ketika tiba di Bu Tong Pay, dia
kaget namanya tercantum disana, juga kaget Ceng Liong memuncaki daftar itu, dis
usul Thian San Giokli yang masih belum sama sekali dikenalnya. Karena itu, dia m
asih belum memiliki pandangan khusus mengenai daftar menghebohkan itu.
Hmmm, kalau begitu daftar itu tidaklah tepat disebut sebagai daftar pendekar beri
lmu tertinggi di Tionggoan. Percuma kedatanganku jika demikian si pendatang seper
ti menyesali sesuatu. Nampak jelas, kedatangan orang ini karena pengaruh dari da
ftar pendekar top Tionggoan. Jika demikian, tokoh ini adalah salah seorang yang
gemar nama besar dan saat ini sedang berupaya untuk membesarkan namanya lewat upay
a membandingkan diri dengan para tokoh di daftar itu.
Mungkin daftar itu yang tidak tepat tuan, karena teramat sulit untuk memastikan p
osisi dan kedudukan masing-masing orang berdasarkan urutan seperti itu Kwi Song b
etapapun merasa risih dengan penempatan namanya hanya di urutan ke delapan, padaha
l meski dia mengaku kalah dengan Ceng Liong, tetapi tidak dengan Nenggala, Mei L
an dan Tek Hoat. Setidaknya bersama koko, aku berada di peringkat lima pikirnya. S
angat wajar pikiran Kwi Song, pikiran orang muda yang sedang semangat-semangatny
a mencari nama, posisi dan kedudukan. Apalagi dengan mengingat sejarah panjang S
iauw Lim Sie perguruan dari mana dia berasal, wajar jika dia dan kakaknya mendap
at posisi lebih tinggi.
Hmmm, sudahlah. Betapapun aku tidak ingin kedatanganku kemari sia-sia belaka. Tet
api beberapa petunjuk yang kuperoleh, memberitahuku bahwa di sini, di Bu Tong Pa
y sedang berkumpul beberapa tokoh yang namanya tercantum dalam daftar tersebut,

apakah memang benar informasi tersebut ? kembali si pendatang bertanya, tidak namp
ak menuntut, hanya bersifat ingin memastikan informasi yang dimilikinya. Apakah
benar atau tidak.
Kwi Song tersudut. Menjawab ya bisa dipastikan si pendatang akan bakal mencari gar
a-gara, menjawab tidak dia merasa malu, karena dirinya berada dalam daftar itu. Ja
waban tidak bisa berarti mengindikasikan dia takut. Tetapi repotnya, menjawab ya jug
a sulit, karena dia tidak ingin dalam suasana duka di Bu Tong Pay akan terjadi k
eruwetan dengan si pendatang yang dia yakini membekal ilmu yang juga sangat ting
gi tersebut.
Jika ya bagaimana dan jika tidak bagaimana tuan ?
Jika ya, sejujur-jujurnya aku ingin menantangnya untuk bertarung. Tetapi jika mem
ang tidak, aku akan segera minta diri dari tempat ini jawab si pendatang dengan t
etap kalem.
Apakah bisa pertarungan itu nanti di adakan setelah upacara duka di Bu Tong Pay t
uan? Karena, bagaimanapu kita tetap harus menghormati suasana Bu Tong Pay yang s
edang berduka
Jawabanmu berarti memang ada anak muda. Engkau memang tidak perlu berdusta karena
aku tahu, salah seorang murid Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan tercantum dalam daft
ar tersebut. Si pendatang akhirnya buka kartu sambil memandang tajam ke arah Kwi
Song.
Tuan, aku memang tidak mengatakan bahwa tidak ada orang dalam daftar itu di tempat
ini, tetapi bagaimanapun sebagai sesama orang dunia persilatan, kita harus mengh
ormati Bu Tong Pay yang sedang dalam suasana duka dan dengan sama tajamnya dia me
mbalas tatapan si pendatang.
Aku tidak terlampau perduli dengan suasana bahagia ataupun suasana duka. Mereka y
ang tercantum namanya dalam daftar itu, begitu sombong dan beraninya menyandang
dan mencantumkan nama disana. Karena itu, mereka harus mampu dan sanggup mempert
anggungjawabkan kemampuan mereka untuk berada disana si pendatang mulai buka kart
u. Memaksa.
Tuan, akhirnya anda membuka kartu. Bahwa kedatanganmu memang dengan maksud mengac
au. Tidak ada insan persilatan yang waras yang mau mengganggu suasana duka dari
sebuah perkumpulan silat
Aku memang tidak waras, hahahaha prilaku yang tadinya sangat gagah dimata Kwi Song,
sudah berubah menjadi tidak genah . Tawa si pendatang kini sudah berubah seperti or
ang tidak waras, bahkan pandang matanya yang tadinya tajam, kini berubah seperti
mata orang liar, tetapi tetap membayangkan kekuatan terpendam yang sangat kuat
dan hebat.
Tuan, jika engkau berkeras ingin merusak suasana duka di Bu Tong Pay, biarlah eng
kau menghadapiku terlebih dahulu Kwi Song telah melangkah kedepan, khawatir si pe
ndatang menjadi liar dan menyerang membuta.
Apakah engkau sanggup ?
Mengapa tidak sanggup?
Baik, engkau jagalah ini anak muda sambil berkata demikian, si pendatang mendorong
secara ringan ke arah Kwi Song. Tetapi, sebelum serangan itu tiba, serangkum ha
wa busuk telah mendahului serangan tangan dengan kekuatan hebat itu. Kwi Song ma
klum akan hebatnya serangan itu maka ia mengerahkan kekuatan besar untuk menahan
hawa busuk itu dan menyerang. Diapun sekaligus menangkis serangkum hawa seranga
n tenaga dalam yang dengan kuat menyerang kearahnya.
Sementara itu, Kwi Beng yang memang selalu cermat telah melihat bahaya lain yang
mengancam dari hawa serangan si pendatang, dan kemudian diapun berseru kepada p
ara murid Bu Tong Pay:
Mundur, hawa pukulannya mengandung racun berbahaya
Tepat pada saat banyak orang mulai mundur, benturan kekuatan antara Kwi Song den
gan si pendatang telah terjadi. Dan hebatnya, benturan itu tidak mengeluarkan se
dikitpun suara, tetapi akibatnya segera terlihat nyata. Kwi Song yang telah meng
erahkan kekuatan besarnya terdorong setengah langkah lebih ke belakang, sementar
a lawannya masih tetap kokoh berdiri. Kenyataan ini membuat baik Kwi Song maupun
Kwi Beng terperangah.
Betapa tidak? Setelah pertarungan besar di markas Thian Liong Pang, mereka telah
maju sangat pesat. Dengan percakapan dan diskusi bersama Kolomoto Ti Lou dan ke

mudian mendalami lagi ilmu mereka bersama suheng mereka di Poh Thian, awalnya me
reka menduga kekuatan mereka sudah setaraf Ceng Liong dan kawan kawan mereka yan
g lain. Tetapi kini, mereka bertemu tokoh baru, yang masih belum terlampau tua,
tetapi yang berkemampuan mendorong Kwi Song yang dalam pengerahan sebagian besar
tenaga dalamnya.
Tetapi Kwi Song tidak mau tenggelam dalam keterkejutan. Apalagi, dia telah banya
k mengalami pertarungan-pertarungan dengan tokoh-tokoh hebat. Dan ini mengajar b
anyak hal kepadanya, terutama dalam hal ketenangan dalam bertempur. Segera setel
ah benturan itu, dia yakin sebagaimana dugaannya bahwa si pendatang memang memil
iki kemampuan yang dahsyat, dan mungkin tidak disebelah bawahnya. Karena itu, di
apun menjadi tidak lagi ragu-ragu untuk mengeluarkan ilmu-ilmu dan jurus-jurus a
ndalannya.
Kini Kwi Song memadukan Pek In Ciang atau Pek In Sin Ciang yang membuat dari tan
gannya mengepulkan awan putih. Ilmu ini memang tepat digunakan untuk mengusir ha
wa busuk yang selalu mendahului serangan si pendatang, sementara untuk menyerang
dia berganti-ganti menyentil dengan menggunakan Tam Ci Sin Thong ataupun Kim Ko
ng Ci. Dari jarak jauh dia mampu menyentil dengan tam ci sin thong, tetapi dalam
pertarungan jarak dekat, dia selalu menggunakan kim kong ci yang sanggup menero
bos benteng kekebalan sehebat apapun.
Tetapi, lawannya si pendatang, juga bukan orang biasa. Kekuatannya mampu mendoro
ng awan putih Pek In Ciang untuk selalu doyong ke arah Kwi Song, dan diapun tida
k takut dengan sentilan-sentilan tam ci sin thong maupun kim kong ci yang dahsya
t itu. Dan disinilah nampak kekuatan si pendatang, dia yakin sekali dengan kekua
tan iweekangnya dan karena itu dia mampu menindih tajamnya sentilan tam ci sin t
hong Kwi Song.
Keunggulan Kwi Song nampak terlihat dalam kekokohan baik menyerang maupun bertah
an. Ilmu-ilmunya memang berasal dari aliran lurus keagamaan Budha, dan karakter
khusus ilmu-ilmu Siauw Lim Sie memang sangat tergambar dari gaya dan cara bertem
pur Kwi Song. Lurus, kokoh dan mantap. Biasanya Kwi Song akan menggiring lawan u
ntuk membuatnya salah langkah atau menjadi salah hitung. Tetapi kali ini, dia be
rhadapan dengan tokoh lain yang kekuatannya tidak kalah atau malah lebih dengan
hawa busuk beracun. Untungnya Kwi Song dan Kwi Beng sudah memasuki tahapan susah
terkena racun ketika sedang mengembangkan pucak kekuatan iweekangnya.
Ketika melihat kenyataan sulit untuk bertahan dengan sentilan jari sakti, Kwi So
ng akhirnya menukar ilmunya dan kini menggunakan Tay Lo Kim Kong Ciang. Salah sa
tu ilmu pusaka Siauw Lim Sie yang sangat jarang dikuasai Ciangbundjin atau ketua
Siauw Lim Sie sekalipun. Dengan gaya jurus Kim-ciau-si-yi (burung emas kembali k
e barat), lengannya bersilangan dan kemudian mengembang dan melahirkan kekuatan
hebat menerpa lawannya. Tetapi, si pendatang yang menjadi lawannya, juga ternyat
a membekal ilmu-ilmu dan jurus-jurus aneh, yang hebatnya mampu memecahkan keheba
tan ilmu pusaka Siauw lim Sie. Si pendatang sama sekali tidak terkejut dan tidak
takut dengan hembusan kekuatan hebat dari jurus hebat Tay Lo Kim Kong Ciang, se
baliknya mundur, dia malah menggebah maju dengan menyerang titik pusat pengeraha
n kekuatan Kwi Song badannya. Sementara Kwi Song menyerang lawan dari kedua leng
an yang terpentang dan menyalurkan kekuatan penyerang dari sepasang sayap burung
emas .
Jika tidak memiliki kekuatan hebat, maka si pendatang pastilah bunuh diri dengan
serangannya itu. Karena pusat kekuatan Kwi Song, akan mendapatkan sokongan dari
kekuatan pukul kedua lengannya, tetapi serangan lawan juga sangat cepat dan san
gat berisi. Jika sedikit terlambat dan serangan lawan cepat mendekati dada, maka
Kwi Song yang akan mengalami kerugian lebih besar. Dan itulah yang terjadi. Ser
angan cepat itu mengakibatkan batalnya serangan sayap burung emas sepasang lenga
n Kwi Song. Dan secepatnya dia mengganti jurus burung emas terbang pulang , menyatu
kan kekuatan dalam kedua tangan dan membentur serangan lawan tepat di depan dada
nya.
Tetapi kembali tidak terdengar benturan hebat. Tetapi, kedua tubuh itu terdorong
ke belakang. Kwi Song terdorong nyaris dua langkah, sementara lawannya hanya te
rdorong satu langkah ke belakang. Tetapi, ketika keduanya ingin melanjutkan deng
an membuka serangan baru, sebuah suara melengking menyerang mereka dan menggetar
kan dada keduanya:

Berhenti .....
Dan sesosok bayangan terbang mendekati keduanya dengan kecepatan luar biasa, sul
it diikuti pandangan mata. Tetapi, kedatangannya tepat ketika Kwi Song dan si pe
ndatang berbenturan dan terdorong ke belakang. Karena itu, dengan cepat dia memb
entangkan kedua tangannya dan menambah kekuatan mendorong kedua orang yang sedan
g bertarung itu. Akibatnya, sosok bayangan itu kini berdiri di tengah-tengah dan
si pendatang bersama Kwi Song bertambah langkah mundurnya masing-masing satu la
ngkah.
Bukan. Bukan karena hebatnya si pendatang dalam mengundurkan kedua orang hebat y
ang sedang bertarung. Hanya kehebatan memanfaatkan tempo yang memang luar biasa.
Jika bayangan yang memisahkan tadi masuk ketika benturan akan terjadi, maka bis
a dipastikan dia sulit menerima dorongan dua tenaga yang hebat bukan main itu. T
etapi, karena dia masuk ketika benturan telah terjadi dan kedua tokoh yang berta
rung mundur terdorong ke belakang, maka kehebatan si pendatang terletak pada: Pe
rtama, kemampuan memilih waktu untuk masuk; Kedua, kemampuan untuk membuyarkan h
awa benturan yang sangat hebat; Ketiga, mengukur takaran tenaga yang tepat untuk
mengundurkan kedua orang yang sedang bertempur itu.
Dan itulah yang terjadi. Hebatnya, yang melakukan itu adalah seorang gadis. Lian
g Me Lan. Murid bungsu Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan. Dan bersamaan waktunya deng
an kedua orang yang bertempur itu terdorong mundur, terdengar suara lainnya yang
nampaknya juga tiba pada saat yang hampir bersamaan dengan kedatangan Liang Mei
Lan:
Toh Ling, ach engkau disini rupanya suara ini berasal dari Thian San Giokli yang s
ebetulnya tidak ingin keluar berterang di dunia persilatan. Karenanya si nenek s
elalu memilih jalan yang tidak umum dalam perjalanan ke Bu Tong Pay. Bahkan memi
nta kepada Sian Eng Cu untuk tidak diperkenalkan kepada semua orang, karena dia
memang sedang memburu Toh Ling yang lolos dari liang rahasia di Lembah Salju Ber
nyanyi dengan membekal ilmu yang sangat berbahaya.
Sebetulnya adalah maksudnya untuk masuk arena, tetapi melihat ada seorang Anak G
adis telah mendahuluinya, tak terasa diapun bergumam: ginkang luar biasa, sungguh
hebat, sungguh hebat . Dan akhirnya diapun membiarkan dirinya terlihat banyak ora
ng. Dari Sian Eng Cu yang datang bersamanya, dia mendengar jika anak gadis itu a
dalah murid bungsu Wie Tiong Lan. Tetapi dia menyisakan rasa sangsi akan kehebat
an Mei Lan. Ginkang boleh hebat, bagaimana dengan kekuatan tenaga dalam dan ilmu
silatnya ? itulah yang berkecamuk dalam hati Thian San Giokli dan diam-diam merenc
anakan untuk membantu Mei Lan jika memang dia menghadapi kesulitan dari Toh Ling
.
Song te (sahabat Song), silahkan mundur terlebih dahulu sambil berkata demikian, M
ei Lan melirik ke arah Kwi Song yang tentu saja wajib menerima. Karena pada saat
ini Mei Lan bertindak sebagai tuan rumah.
Baik Nona Mei Lan, tapi hati-hati, manusia itu bermaksud tidak baik sambil mundur
Kwi Song memperingatkan Liang Mei Lan yang tentu saja sudah paham kalau si penda
tang yang namanya didengarnya didesiskan orang Toh Ling , bukanlah orang biasa. Buk
annya pendatang biasa tanpa maksud tertentu.
Tuan, apakah maksudmu membuat keonaran di pintu perguruan Bu Tong Pay dengan tida
k menghormati suasana duka di perguruan kami ?
Hahaha, maksudku hanya ingin mencoba benar-benarkah mereka yang ada dalam daftar
pendekar top Tionggoan benar-benar layak dicantumkan disana. Seandainya Wie Tion
g Lan masih hiduppun, aku ingin menantangnya karena sering disebut orang Pendeka
r terhebat saat ini
Tuan, jika memang begitu keinginanmu, kami murid-murid suhu tidak akan menolak ke
inginanmu. Tetapi, tolong hormati terlebih dahulu perguruan kami yang sedang ber
duka karena kematian suhuku. Setelah suasana duka berlalu, biarlah atas nama mur
id-murid suhu, aku menerima tantanganmu itu
Wah wah nona kecil, aku sudah disini. Masakan harus datang lagi satu saat nanti.
Hahaha, jangan pelit nona kecil, siapkan orang dari daftar itu untuk melayaniku.
Sahabat kecil tadi boleh juga, tapi dia belum cukup kuat menghadapiku
Mendengar itu, Kwi Song sudah tersinggung lagi dan sudah gatal tangan ingin berg
ebrak lagi. Tetapi, disampingnya ada kakaknya Kwi Beng yang seperti biasa bertug
as menyabarkan adiknya itu. Sabar adikku, ini bukan hak kita untuk keluar menyele

saikan masalah, sudah ada Nona Mei Lan yang memiliki hak sebagai tuan rumah untu
k menanganinya bujuk Kwi Beng. Dan seperti biasa, Souw Kwi Song akan tunduk kepad
a nasehat kakaknya, meski dengan bersungut-sungut karena merasa direndahkan oleh
si pendatang itu.
Tuan, apakah engkau berkeras hendak mengganggu Bu Tong Pay kami ? Mei Lan mulai ber
kurang kesabarannya. Tetapi ragu, seperti Kwi Song dia melihat sesekali ada sina
r aneh, seperti sinar mata orang kurang waras dari mata orang didepannya itu. Ti
dak lucu jika dia bertarung dengan orang gila, tetapi melawan Kwi Song tadi, jel
as-jelas orang ini mengeluarkan sikap orang waras dan dengan ilmu silat yang tid
ak kalah dari Kwi Song. Apa maksud sebenarnya dari manusia ini ? pikirnya curiga da
lam hatinya.
Nona kecil, sudah kukatan bahwa aku ingin membuktikan bahwa mereka yang dalam daf
tar itu telah keliru dengan sombongnya mencantumkan nama mereka dalam daftar pen
dekar top di Tionggoan. Toch orang-orang memberitahuku disini berkumpul banyak t
okoh di daftar itu. Urusan lain-lain akupun tidak tahu
Tuan, jika demikian engkau memang berniat mengganggu. Kami Bu Tong Pay tidak tahu
menahu dengan daftar itu, dan kamipun tidak mau tahu ada nama kami atau tidak d
isana bukan urusan besar. Kami mohon kemauan baik tuan untuk mundur, karena sebe
ntar lagi akan ada persiapan akhir untuk acara besok hari ... silahkan sambil ber
kata demikian Mei Lan mempersilahkan si pendatang, atau Toh Ling yang dikenali T
hian San Giokli untuk pergi.
Hahaha, nona cilik, aku bisa datang sendiri, sudah pasti juga bisa pergi sendiri
tanpa engkau usir. Hahahahaha, lucu seorang gadis mau mengusirku .... hehehe sika
p kurang waras kembali mulai muncul dari Toh Ling.
Tuan, maafkan jika selaku tuan rumah kami terpaksa mengusirmu Mei Lan tidak menemu
kan cara dan jalan lain mengenyahkan pendatang yang mulai sangat mengganggu ini.
Apalagi, persiapan akhir akan segera dilakukan, karena acara khusus buat suhuny
a akan segera digelar besok. Karena itu, Mei Lan sudah berjalan ke arah Toh Ling
, nampak seperti bejalan tapi kecepatannya luar biasa. Sampai Toh Ling sendiri t
erperangah karena tahu-tahu lambaian tangan lembut dari Mei Lan sudah begitu dek
at dengan tubuhnya.
Tak ada cara lain, Toh Ling terpaksa harus menyambut lambaian tangan gemulai yan
g sudah berada dekat tubuhnya. Diapun bergegas menggeser kaki selangkah ke belak
ang hingga lengannya akan menangkis atau membentur lengan Mei Lan, tetapi dalam
kecepatan tinggi lengan itu kini telah menyambar pundaknya, dan kembali Toh Ling
melangkah mundur guna memunahkan serangan Mei Lan. Tetapi, belum lagi kedua tan
gan mereka berbenturan, serangan Mei Lan sudah kembali berubah arah, kali ini me
lakukan totokan ke pinggang dengan merubah gerak kakinya agak agak kekiri tubuh
lawan.
Semua gerak menotok, memukul, menghindar yang dilakukan keduanya, sebetulnya dil
akukan tidak sampai dalam hitungan satu detik. Hanya refleks yang bagus dari Toh
Ling sajalah yang tidak membuatnya jatuh terpukul ataupun tertotok oleh Mei Lan
. Dan Mei Lan sendiri memang tidak bermaksud menjatuhkan lawan, hanya sekedar me
mberi peringatan kepada lawan. Serangannya tadi menggunakan ilmu khas Sian Eng C
u yang bernama Sian Eng Sin Kun. Jika menggunakan ilmu itu, sebagai pencipta, Si
an Eng Cu Tayhiap memang lebih kokoh, tetapi jika Liang Mei Lan yang membawakan
kecepatannya benar-benar hebat dan nyaris sulit diikuti pandang mata.
Setelah dengan serangannya mengundurkan Toh Ling hingga beberapa langkah ke bela
kang, akhirnya Mei Lan menahan serangannya. Diapun kemudian membiarkan Toh Ling
menemukan keseimbangannya dan kemudian berkata:
Tuan, sekali lagi atas nama bu Tong Pay, kami persilahkan tuan untuk pergi. Kami
tidak akan menahan dan mempersoalkan masuknya tuan secara diam-diam. Dan jika te
tap ingin menantang Bu Tong Pay, kami akan sangat siap setelah acara duka mengho
rmati suhu kami ini usai
Tetapi Toh Ling yang sempat keteteran karena menghadapi kecepatan gerak Mei Lan
barusan, meski kaget tetapi lebih besar rasa penasaran dan amarahnya. Bahkan kek
urang-warasannya menjadi lebih menonjol. Karena itu, sambil ber hahaha-hihihi, d
ia kemudian berkata:
Nona, Toh Ling kan belum kalah ....... hahahahaha, hihihihihi
Dan seakan ingin meniru Mei Lan, tiba-tiba dia bergerak menyerang. Kali ini dia

mendahului karena takut kembali dicecar Mei Lan dengan serangan yang dengan bera
t digagalkannya tadi. Tapi dia keliru, lawannya kali ini adalah murid si raja gi
nkang Tionggoan, yang bahkan dengan subonya Liong-i-Sinnie tinggal berbeda seusa
p. Secepat apapun dia menyerang dan mengejar Mei Lan, dengan gerakan gerakan tid
ak masuk akal dan seakan berlawanan dengan hukum alam, Mei Lan menghindar dan me
nghindar.
Bahkan seorang Thian San Giokli sampai bergumam: Luar biasa, nampaknya anak Giok
Tinpun akan sulit menghadapi nona ini kelak . Cui Giok Tin adalah murid utama Thia
n San Giokli yang sedang memasuki tahapan terakhir dalam menggodok ilmu ilmu uta
ma perguruannya di lembah Salju Bernyanyi. Bahkan bukan tidak mungkin saat itu s
udah menyelesaikan latihan terakhirnya bersama dengan seorang suheng dan sumoyny
a.
Ketika kembali melayangkan pandangan ke arena, Thian San Giokli semakin kaget. K
arena ternyata Liang Mei Lan malah sanggup mengimbangi kekuatan Toh Ling. Ketika
terpaksa terjadi benturan, Mei Lan dengan berani memapak serangan tangan lawan
yang berbau busuk itu dengan kibasan lengan Pik lek Ciang, selain itu lengan kir
inya menyampok dengan tenaga besar untuk menghalau hawa busuk yang menyertai puk
ulan-pukulan lawan. Hawa busuk inilah yang memberatkan Mei Lan, khas seorang ana
k gadis yang tentu mencintai kerapihan dan kebersihan.
Yang mengagetkan Thian San Giokli adalah, jika sebelumnya dia melihat Kwi Song t
erdorong setengah langkah lebih kebelakang, maka Mei Lan justru bertarung sama k
uat dengan lawannya, Toh Ling. Luar biasa, sungguh begitu banyak tunas muda dunia
persilatan dewasa ini . Sementara itu, Toh Ling sendiripun kaget menemui kenyataa
n jika dia diimbangi seorang anak gadis, berbeda dengan lawan sebelumnya yang ma
sih bisa dia dorong sedikit kebelakang. Kali ini, melawan seorang gadis, dia tid
ak sanggup mendorongnya, maka semakin marahlah dia. Dan secara otomatis tingkat
ketidakwarasannyapun meningkat.
Ketika marah, maka penyakit sintingnya kambuh, justru pada saat kambuh itulah ju
rus-jurus dan ilmu iblisnya keluar. Tanpa disadarinya, dalam dirinya terdapat il
mu-ilmu ampuh yang kini secara otomatis keluar dan membingungkan Mei Lan. Hong L
uan Cap Pwee Pou (Delapan belas Langkah Kacau Balau) tiba-tiba mengembang dan me
mbuat Mei Lan dengan terpaksa meningkatkan kemampuan ginkangnya. Langkah kacau b
alau dan tidak mengikuti aturan umum membuat Mei Lan kelabakan, tetapi kecepatan
geraknya selalu menyelamatkannya. Apalagi, refleks dan perasaannya seperti tela
h menyatu dalam gerak, karena itu sekacau apapun langkah Toh Ling, Mei Lan masih
sanggup mengimbangi dan menyelamatkan diri dari serangan dan sabetan kacau bala
u itu.
Tetapi, bersamaan dengan itu, meluncur pula ilmu gaib lain yang tersimpan dalam
ketidakwarasan Toh Ling, yakni Hong Luan Mo Kun Hoat Pukulan Iblis Kacau Balau).
Pukulan-pukulan aneh dan ajaib dikeluarkan bersamaan dengan delapan belas langk
ah maut, dan karena memang tata gerak, urutan dan sistemnya kacau balau, membuat
Mei Lan kalang kabut. Untuk itu, dia terpaksa menggunakan ilmu pertahanan Thai
Kek Sin Kun dan meningkatkan gerak ginkangnya dalam ajaran Liong-i-Sinnie dengan
The Hun Thian (Menapak Tangga Langit). Dengan banyak bertahan dan mengandalkan
kecepatan geraknya, Mei Lan mencoba menyelami gaya kacau balau lawannya.
Pertarungan menjadi berimbang kembali. Mei Lan kesulitan mendesak lawan yang ber
tarung secara kacau-balau sementara Toh Ling juga kesulitan menembus Mei Lan yang
memiliki pertahanan dan daya gerak yang ajaib. Kadang dia seperti sudah bakal me
ngenai Mei Lan, tetapi dalam sudut tak terkira, tiba-tiba Mei Lan bergerak dan m
ematahkan serangannya. Toh Ling semakin murka dan semakin mengalirlah kekuatan d
an ilmu-ilmu ajaib yang ditopang oleh Bu Ceng Mo Ong Sinkang (Tenaga Dalam Raja
Iblis tak berperasaan).
Apalagi ketika kemudian secara otomatis mulut Toh Ling mulai mengalunkan irama i
blis yang dikenal dengan nama Toh Hun Mi Im (Suara Pembetot sukma). Salah seoran
g dari Thian Tee Siang mo memang penggemar seruling, namun tanpa seruling dia sa
nggup memainkan irama pembetot sukma. Didera ilmu-ilmu iblis ini, Mei Lan tidak
memiliki pilihan banyak, dia memilih mengembangkan sebuah ilmu Budha, warisan Ki
an Ti Hosiang yang bernama Ban Hud Ciang (Selaksa Tapak Budha). Ilmu ini memilik
i kekuatan gaib guna memunahkan suara-suara gaib maupun suara-suara beraliran hi
tam yang membingungkan sukma banyak orang. Sebetulnya Mei Lan risih menggunakann

ya karena di sampingnya terdapat Kwi Beng dan Kwi Song, tetapi dia tidak menemuk
an pilihan lainnya lagi.
Maka bergeraklah dia dengan kecepatan penuh dan kemudian mengambil jarak untuk k
emudian mengambil sikap berdiri dengan kedua belah tangan dalam sikap menghormat
seperti gaya Budha. Pengerahan tenaga sinkangnya juga sudah melampaui tiga pere
mpat kekuatannya, dan tiba-tiba kedua telapak tangannya membuka dalam kecepatan
tinggi untuk kemudian menghamburkan jurus pertama Laksaan Tapak Budha Menerjang
Bumi. Bersamaan dengan meluncurnya jurus pertama ini, mengalun pulalah suara-sua
ra pujian kepada sang Maha Budha, dan secara perlahan saling tindih dengan To Hu
n Mi Im (Suara pembetot sukma). Pilihan Mei Lan menyelamatkan banyak anak murid
yang terpancing dengan suara pembetot yang dikeluarkan oleh Toh Ling.
Kini Mei Lan tidak hanya bertahan, tetapi diapun kini balas menyerang dengan kek
uatan yang tidak kalah dengan Toh Ling. Dari telapak tangannya mengalir kekuatan
dahsyat dan bagi Toh Ling, dia bagaikan diserang oleh begitu banyak telapak tan
gan yang mengejar-ngejarnya. Kini, hawa iblis yang menyelimuti diriinya dan mela
pisi tubuhnya dengan hawa iblis, tidak lagi mampu mempengaruhi Mei Lan. Karena k
ini serangan-serangan Mei Lan sanggup menerobos hawa pembatas tenaga sinkang ibl
is tanpa perasaan itu. Dan benturan-benturan yang terjadi menggoyahkan dirinya,
meski Mei Lan juga tidak luput dari kerugian akibat benturan benturan tersebut.
Tetapi setidaknya, dia kini tidak tertekan berat oleh alunan suara dan gangguan
hawa setan yang sebelumnya melingkupi dirinya.
Pertarungan kembali berjalan seimbang. Mei Lan kembali membuka jurus baru, jurus
jurus yang bukan hanya menghambu
ketiga, Laksaan Tapak Budha Laksana Halilintar
rkan kekuatan tenaga ke arah lawan, tetapi juga menghujamkan suara-suara pujian
Budha namun yang diterima bagai nada halilintar oleh Toh Ling. Akibatnya Toh Lin
g menjadi meradang, namun belum membuatnya tersudut dalam melakukan perlawanan.
Langkah kacau balau dan paduan pukulan tanpa perasaan disertai irama pembetot su
kma mampu membuatnya bertahan dan menahan serangan Mei Lan secara seimbang.
Sungguh pertarungan yang mendebarkan. Bahkan Mei Lan sendiri menjadi kaget seten
gah mati karena menemukan lawan seimbang setelah bertempur hebat di markas utama
Thian Liong Pang beberapa waktu lalu. Jika suhu tidak menyempurnakan aku beberap
a bulan terakhir, mustahil mengalahkan manusia sinting ini desis Mei Lan penasara
n. Tidak mungkin menggunakan puncak ilmuku, karena belum yakin jika telah menguas
ainya demikian batin Mei Lan. Pilihannya, paling melontarkan pukulan Ban Sian Twi
Eng Sin Ciang (Pukulan Sakti Selaksa Dewa Mendorong Bayangan), tetapi lawan send
iri nampaknya belum tiba di puncak penggunaan kemampuan ilmunya
Demikianlah sambil berkelahi, Mei Lan mencoba-coba mengingat apa yang harus dila
kukan. Sementara sang lawan sudah bertarung bagai lupa diri. Karena gerakan, sor
ot mata, suara dibibirnya, sudah bukan lagi suara manusia normal. Tapi memang be
gitulah Toh Ling kini, semakin tidak normal justru menjadi semakin berbahaya ger
akan, suara maupun pukulannya. Itulah yang memaksa Mei Lan memutar otak dan kemu
dian secara terpaksa melepaskan pukulan Ban Hud Ciang (selaksa tapak Budah). Tet
api itupun, dia hanya sanggup untuk membuat mereka bertempur seri. Dan fakta ini
membuat Toh Liang menjadi semakin marah dan meradang. Hebatnya semakin dia mara
h dan meradang membuat dia menjadi semakin hebat. Dan ini memaksa, Liang Mei Lan
untuk juga terus menerus meningkatkan Ban Hud Ciang hingga ke jurus-jurus selan
jutnya.
Pertempuran keduanya menjadi semakin hebat. Tetapi Mei Lan masih terus terbenam
dalam keraguan untuk melepas ilmu barunya yang memagari arena pertarungan mereka
. Keraguannya timbul karena dia merasa belum berkeyakinan untuk mampu melakukann
ya. Padahal, jika mampu melakukannya, dia akan menyelamatkan banyak murid Bu Ton
g Pay yang sebagian besar menjadi kehilangan dirinya karena betotan suara Toh Li
ng. Memang sesekali mereka sadar dengan suara pujian Budha, tetapi berganti-gant
i seperti itu, justru membuat mereka dalam bahaya, dan sangat mungkin harus beri
stirahat beberapa minggu baru menemukan pikiran normalnya kembali.
Dengan kecepatan tinggi Mei Lan melepaskan pukulan telapak tangan ke udara dalam
jurus ke Telapak Budha Mendorong Awan. Sebagai akibatnya gelanggang kembali dip
enuhi telapak tangan yang diiringi oleh bunyi-bunyian memuji nama Budha, sementa
ra Toh Ling tetap dengan gerakan-gerakan kacau balau untuk menghalau puluhan tel
apak yang mengejar-ngejarnya. Kondisi ini pada akhirnya membuat Toh Ling tiba pa

da puncak kegarangan dan kemarahannya. Sekaligus puncak kegilaan dan kekurangwar


asannya. Pada titik inilah biasanya bakalan terakumulasi semua kekuatan yang tel
ah diwarisinya dari kedua gurunya Thian Tee Siang Mo (Sepasang Iblis Langit Bumi
).
Sambil menghindar, memukul dan menepis telapak tangan yang mengejarnya, secara t
iba-tiba bukan hanya tenaga serangan Toh Ling, tetapi kini dari sekujur tubuhnya
mulai menyebar bau busuk yang sangat khas. Khas dan sekaligus sangat menusuk hi
dung. Mei Lan yang secara langsung diserang oleh hawa busuk itu tidak cukup siap
untuk menepisnya. Akibatnya dia kehilangan tempo yang sangat penting dan berhar
ga untuk menyadari bahwa lawan telah menyiapkan ilmu puncaknya yang bukan hanya
beracun, tetapi bahkan dipenuhi hawa kematian dan hawa busuk yang sangat mujijat
.
Dari semua, hanya seorang Thian San Giokli yang cepat menyadari betapa berbahaya
nya situasi Mei Lan. Sebetulnya dia sadar dan tahu bahwa Mei Lan membekal ilmu y
ang akan sanggup melindungi dirinya sendiri. Tetapi, sayangnya selain kurang mem
ahami kemujijatan ilmu lawan, Mei Lan juga kehilangan waktu yang sangat berharga
ketika mencoba menghalau bau busuk yang dikiranya adalah bau biasa. Mei Lan kur
ang menyadari jika bau itu berasal dari pengerahan tenaga dalam dan tenaga sihir
yang sangat tinggi tingkat dan takarannya itu. Dia kurang menyadari bahaya yang
mengancamnya.
Untungnya, bersamaan dengan meluncurnya hawa pukulan mujijat Bu-siang-te-im-hu-k
ut (pukulan dingin pembusuk tulang) dari Toh Ling, Thian San Giokli sudah dengan
cepat maju dan berseru:
Nona, mundurlah. Pukulan itu tidak dapat ditahan dengan pukulan biasa ..... ketika
mendengar seruan Thian San Giokli, barulah Mei Lan sadar bahwa bau busuk yang m
enyerangnya memiliki kekuatan aneh yang susah untuk ditolaknya. Tetapi sayang, d
ia sudah terlambat menyadari dan mempersiapkan penangkalnya. Untung saja meskipu
n begitup, ginkangnya yang maha tinggi masih mampu menyelamatkannya dari pukulan
busuk mujijat yang dilontarkan lawannya. Selain itu, karena secara bersamaan Ne
nek Sakti Thian San Giokli juga tidak mau terlambat sekali lagi, dan telah ikut
melepas pukulan Ilmu Peng-sian-jit-gwatciang (pukulan matahari rembulan berhawa
dingin).
Tidak sampai sedetik waktu yang dimiliki Mei Lan, tetapi itupun dia berhasil den
gan ginkang Te hun Thian untuk melejit ke-atas. Dan ketika berada di udara, kaki
nya bagaikan memanjat tangga berkali-kali melejit, melejit dan akhirnya turun ja
uh dari arena pertempuran. Sementara itu, benturan hebat terjadi antara Bu-siang
-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang) yang dilepas Toh Ling dengan Thia
n San Giokli dalam Ilmu Peng-sian-jit-gwatciang (pukulan matahari rembulan berha
wa dingin). Hawa luar biasa dingin dalam ilmu Thian San Giokli meredam keangkera
n hawa busuk mujijat yang dilepaskan Toh Ling, sekaligus meredam dan membekukan
racun jahat dalam hawa pukulan itu.
Benturan tersebut sama sekali tidak memperdengarkan benturan keras dan dahsyat.
Sebaliknya malah biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tetapi secara
tiba-tiba dari benturan mereka bagaikan sebuah balon gas besar pecah, berpendar
lah dan menghamburlah kesamping kiri, kanan dan bahkan ke atas kekuatan keduanya
yang saling berbenturan itu. Dan akibatnya, murid-murid Bu Tong Pay yang sebena
rnya berada cukup jauh dari arena menjadi korban. Ada yang terkena semburan angi
n busuk dan langsung tewas di tempat karena angin busuk tersebut adalah hawa puk
ulan beracun. Tetapi, ada pula mereka yang terkena butiran-butiran salju yang me
layang dalam kecepatan tinggi dan memukul roboh beberapa orang hingga tidak keta
huan mati hidupnya.
Sementara itu, Mei Lan kaget menyaksikan akibat benturan seorang Nenek yang memp
eringatkannya dengan lawannya yang telah menyerang dengan ilmunya yang mujijatny
a. Maka sebagai persiapan, diapun akhirnya kini mempersiapkan ilmu pamungkasnya,
Ban Sian Twi Eng Sin Ciang (Pukulan Sakti Selaksa Dewa Mendorong Bayangan). Tet
api disana, baik Toh Ling maupun Nenek Thian San Giokli juga telah bersiap untuk
kembali mengadu kekuatan dengan ilmu pukulan yang sama. Kedua ilmu pukulan yang
sudah seratus tahunan tidak muncul lagi di dunia persilatan. Bisa dipastikan, b
akalan lebih dahsyat lagi benturan tersebut, dan korban akan semakin banyak.
Dalam kondisi yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar sebuah suara: Lan Mo

i tahan dan mundur pukulan itu sungguh beracun, biar aku mencobanya. Thian San G
iokli, maafkan aku perlu menahannya sebelum semakin banyak korban dan seiring den
gan itu arena pertempuran tiba-tiba dilingkupi oleh awan putih yang dengan cepat
memagari si pendatang baru berjubah hijau dengan Toh Ling. Sementara Nenek Thia
n San Giokli terperangah melihat kondisi yang berubah sangat cepat itu dan kemud
ian berkelabat untuk kemudian bergabung bersama dengan Mei Lan. Mereka berdua te
tap berada dalam arena dan nampaknya juga mengerahkan kekuatan untuk mengitari d
iri mereka dengan kekuatan tenaga pelindung badan (khikang).
Dan hebat luar biasa, awan pelindung arena seperti terhembus oleh kekuatan dahsy
at yang berbenturan dan terlontar kemana-mana di dalam arena tersebut. Tetapi, k
ekuatan-kekuatan yang berbenturan di dalam tidak sanggup menerobos keluar dan me
lukai orang-orang disekeliling arena sebagaimana benturan sebelumnya antara Thia
n San Giokli dan Toh Ling. Pagar awan putihpun perlahan-lahan lenyap dan di dala
m arena orang-orang kemudian mulai dapat menyaksikan bagaimana Toh Ling yang ter
dorong sampai 5-6 langkah ke belakang dari mulutnya nampak merembes keluar darah
. Dan bisa dipastikan dia terluka. Sementara itu lawannya ternyata adalah Duta A
gung Lembah Pualam Hijau Kiang Ceng Liong, seorang tokoh muda berjubah hijau yan
g sengaja membenturnya.
Duta Agung yang masih muda itu juga terdorong ke belakang sampai 4 langkah, teta
pi dengan cepat dia mampu memulihkan dirinya. Dia juga sedikit terluka di dalam
tubuhnya akibat benturan tersebut. Tetapi kehebatan Giok Ceng Sinkangnya menunju
kkan diri. Ceng Liong memang telah mampu dan sanggup melakukan pengobatan sendir
i dalam 2-3 kali tarikan nafasnya, dan dengan cara tersebut dia memulihkan kekua
tan sinkangnya yang sempat terguncang hebat barusan.
Engkau hebat anak muda, tapi Toh Ling belum kalah. Dia belum sempurna dengan ilmu
warisan gurunya, dia pasti akan datang kembali suatu saat nanti ...... hahahaha
hehehehehe .......
Suara Toh Ling yang berkelabat pergi terdengar atau diperdengarkan berulang-ulan
g sampai kemudian hilang dengan sendirinya. Sebuah pameran kekuatan tenaga dalam
yang luar biasa, padahal orang itu sudah terluka. Sementara itu Thian San Giokl
i yang dengan penuh rasa heran telah mendekati Kiang Ceng Liong dan kemudian ber
tanya:
Anak muda, engkau tidak apa-apa ?
Koko, engkau baik-baik saja kan ? juga terdengar suara Liang Mei Lan, suara yang pe
nuh kekhawatiran dan tidak lagi menyembunyikan rasa kasihnya.
Syukurlah Nenek, aku memang sempat terluka, tetapi kini sudah sembuh seperti sedi
a kala, sudah tiada halangan lagi , sahut Ceng Liong dan dari wajahnya memang keli
hatan jika dia sudah tidak berhalangan sedikitpun. Kepada Mei Lan diapun berkata
: Sudah tidak ada halangan lagi Lan Moi, orang tadi memang sungguh luar biasa
Thian San Giokli dan Mei Lan menarik nafas lega. Lega karena mendapati anak muda
itu tidak berhalangan lagi. Bersamaan kemudian mendekat Kwi Beng, Kwi Song dan
Sian Eng Cu.
Hahaha, Duta Agung, kini engkau main rahasia-rahasiaan denganku ya .... Sian Eng C
u telah menyadari jika yang menggebah ketiga manusia berjubah hijau tadi sore di
jalur masuk utara gunung Bu Tong San sudah pasti adalah Ceng Liong, tidak akan
salah lagi.
Maaf kan aku locianpwee, sebetulnya alasannya sudah jelas. Lembah Pualam Hijau te
lah menarik diri dari dunia persilatan, tetapi rasa hormat suhu dan Lembah Puala
m Hijau kepada Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan yang mulia tetap mewajibkan kami unt
uk datang
Hahaha, terima kasih, terima kasih Duta Agung Sian Eng Cu tentu saja paham apa yan
g menjadi keputusan Kiang Ceng Liong di markas utama Thian Liong Pang begitu mer
eka menaklukkan Thian Liong Pang. Dia berada disana dan menjadi saksi hidup. Ole
h karena itu, dia sangat berterima kasih jika Lembah Pualam Hijau yang telah men
arik diri tetapi tetap datang untuk memberikan penghormatan kepada Bu Tong Pay m
ereka, datang guna memberi penghormatan terakhir kepada suhu mereka yang mulia P
ek Sim Siansu.
Saudara Ceng Liong, kami bersaudara mohon maaf karena diperam suheng di Poh Thian
sehingga tidak menerima kabar dukacita dari Lembah Pualam Hijau adalah Kwi Beng
yang datang menyapa dan mohon maaf kepada Ceng Liong.

Ach saudara Kwi Beng, Kwi Song, amanat suhu sebenarnya kami tidak akan mengundang
siapapun. Tetapi, entah bagaimana Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan selalu punya hub
ungan khusus dengan suhu dan mampu membaca getaran terakhir hidup suhu. Jadi, me
mang Lembah Pualam Hijau tidak mengabarkan berita itu kemanapun jelas Ceng Liong
sambil menepuk pundak Kwi Beng penuh rasa persahabatan. Sekaligus menunjukkan ra
sa kangen dan rindu atas pertemanan mereka selama beberapa tahun terakhir ini.
Sementara itu, Thian San Giokli nampak ingin menegaskan sesuatu. Dia kembali men
dekati Ceng Liong dan berujar:
Sungguh hebat anak muda, ilmu mujijat Thian Tee Siang Mo bukanlah ilmu yang dapat
dengan mudah dihadapi. Tetapi engkau, nampaknya telah memiliki kekuatan yang sa
nggup menahan dan menaklukkan Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tul
ang). Ilmu perguruankupun hanya sanggup menahannya, tetapi tidak sanggup menaklu
kkannya jika kekuatan dua orang tergabung dalam diri satu orang seperti Toh Ling
. Dia mewarisi kekuatan kedua gurunya sekaligus Thian Tee Siang Mo, karena itu a
ku tak akan sanggup menaklukannya, tetapi engkau nampaknya sanggup anak muda, su
ngguh luar biasa penuh kekaguman Thian San Giokli memandang Kiang Ceng Liong.
Terima kasih Nenek, tetapi akupun ikut terluka meski lukanya masih jauh lebih ber
at dibandingkan aku
Tetapi, nampaknya engkau telah menguasai Giok Ceng Sinkang secara sempurna. Hmmm,
kakek guruku pernah menyinggung Giok Ceng Sinkang sebagai salah satu ilmu tenag
a dalam pusaka yang memiliki kemampuan menyembuhkan diri sendiri dalam waktu rel
atif singkat jika telah dengan sempurna menguasainya. Dan, itupun masih ditambah
satu syarat, yakni pernah setidaknya setahun berbaring di ranjang pualam hijau.
Jika aku tidak salah, ranjang pualam hijaupun sudah ditemukan oleh Lembah Puala
m Hijau, benarkah ?
Ach Nenek, sungguh engkau memahami keadaan Lembah Pualam Hijau dengan sangat baik
, memang begitulah keadaannya
Hmmmm, jika demikian meskipun Toh Ling masih akan terus berkembang karena dia bel
um sempurna memadukan kedua kekuatan gurunya, tetapi sudah ada yang akan menandi
nginya kelak. Anak muda, dipandang dari sinar matamu yang sesekali bersinar kehi
jauan dan memantulkan sinar giok hijau sesekali, adalah tanda penguasaan tingkat
tertinggi Sinkang istimewa itu
Jangan takut Nenek, sebetulnya Lan Moi dann beberapa orang lainnya juga telah dis
iapkan menghadapi ilmu mujijat tersebut. Bahkan ....... Belum sempat Ceng Liong m
enyelesaikan kalimatnya terdengar seruan kaget dari dalam kuil. Seruan itu diiku
ti dengan kegemparan luar biasa tanda sesuatu yang sangat mengejutkan terjadi. M
ei Lan dengan cepat berkelabat diikuti Sian Eng Cu, sebagai tamu Ceng Liong dan
Thian San Giokli, Kwi beng dan kwi Song memiliki keterbatasan kecuali jika meman
g diundang oleh tuan rumah. Karena itu, mereka tetap tinggal diam di halaman dan
tidka bergerak, menunggu perkembangan.
Dan tidak sampai menunggu lama, kabar mengejutkan datang dari dalam. Seorang mur
id keluar dari ruangan dalam dan bergumam: Ciangbundjin dan Wakil Ciangbundjin te
rbunuh .........
Ciangbundjin (Ketua) dan Wakil Ciangbundjin Bu Tong Pay, masing-masing Ci Hong T
odjin dan Ci Sion Todjin terbunuh. Bagaimana mungkin? Tetapi itulah faktanya. En
tah bagaimana kejadiannya, tepat ketika pertarungan di halaman berakhir dengan p
erginya Toh Ling yang hebat itu, murid-murid Bu Tong Pay, terutama pelayan ruang
an khusus Ketua Bu Tong Pay menemukan Ketua dan Wakil Ketua mereka telah terbuju
r kaku, meninggal dunia.
Thian San Giokli, Kiang Ceng Liong, Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Song berempat men
jadi tegang, tetapi mereka harus menunggu ijin dari orang dalam Bu Tong Pay baru
bisa memasuki ruangan dalam kuil itu. Di perguruan manapun terdapat aturan masi
ng-masing yang berlaku dan harus dihormati. Dan sudah tentu ke-empat tokoh sakti
ini memahami adanya aturan tersebut. Karena itu, meski tegang menanti, tetapi m
ereka tetap tidak beranjak dari tempatnya, menunggu perkembangan lebih jauh dan
lebih lanjut dari dalam.
Dan mereka tidak menunggu lama, karena kemudian Jin Sim Todjin nampak berjalan m
endekati mereka dan berkata:
Saudara-saudara, bencana menimpa Bu Tong Pay, Ciangbundjin dan Wakil Ciangbundjin
kami. Atas nama Bu Tong Pay kami mengundang Duta Agung dan kawan-kawan ber-empa

t untuk meninjau ke ruangan tersebut


Dengan mengikuti Jin Sim Todjin, Ceng Liong, Thian San Giokli, Kwi Beng dan Kwi
Song kemudian berjalan masuk ke dalam kuil Bu Tong Pay. Rupanya, Ciangbundjin da
n Wakil Ciangbundjin Bu Tong Pay terbunuh tidak di dalam ruang atau kamar samadh
i ataupun kamar kerja mereka yang sangat dirahasiakan. Tetapi, terbunuh di tempa
t mereka biasa menerima tamu. Itulah sebabnya Ceng Liong dan kawan-kawan bisa di
undang masuk, karena ruang tersebut bukanlah ruangan terlarang bagi orang-orang
luar.
Dari petinggi Bu Tong Pay, masih tersisa Jin Sim Todjin yang mampu memimpin dan
mengendalikan keadaan. Karena angkatan Ciangbundjin Bu Tong Pay, yakni dari angk
atan Ci, tinggal tersisa 4 orang yakni Ci Song Todjin yang bertugas di bagian hu
kuman dan Ci Bun Todjin yang bertugas di ruang pusaka Bu Tong Pay. Selain mereka
berdua, masih ada dua orang lainnya dari angkatan Ci, yang menjadi suheng Ciang
bundjin Bu Tong Pay tetapi mereka telah lama menyucikan diri dan bertapa dengan
tidak lagi mencampuri urusan Bu Tong Pay. Mereka adalah Ci San Todjin dan Ci Sin
Todjin, keduanya telah berumur di atas 80 tahunan.
Ciangbundjin Bu Tong Pay Ci Hong Todjin masih duduk di kursi yang memang biasa d
itempatinya jika menerima tamu. Sementara Wakil Ciangbundjin Ci Siong Todjin ter
kapar di belakangnya dengan memegang sebatang pedang. Namun, tidak ada bekas apa
pun yang tertinggal di pedang itu, hingga besar kemungkinan Ci Siong Todjin belu
m sekalipun menggunakannya tetapi sudah terbunuh. Satu-satunya petunjuk adalah d
i tangan Ciangbundjin Bu Tong Pay ada sobekan kain berwarna hijau yang kemungkinan
besar berasal dari si pembunuh. Karena jubah Ciangbundjin dan wakil Ciangbundji
n berwana kelabu.
Sian Eng Cu dan Liang Mei Lan yang menjadi warga Bu Tong Pay sudah dengan segera
menduga kepada komplotan manusia berjubah hijau. Apalagi, karena di tangan Cian
gbundjin memang ada sobekan kain berwarna hijau, sejenis dengan kain jubah hijau
yang dikenakan manusia berjubah hijau yang menyerang di pintu utara beberapa wa
ktu sebelumnya. Tetapi, meskipun demikian, mereka masih menahan pandangan masing
-masing karena pada saat itu jenasah Ciangbundjin dan Wakil Ciangbundjin sudah s
edang dipindahkan setelah diteliti banyak tokoh. Terutama menyelidiki ruangan, p
osisi mayat dan semua detail yang berada di dalam ruangan tersebut.
Bu Tong Pay benar-benar sudah jatuh ketiban tangga pula. Belum usai perkabungan
buat menghormati sesepuh mereka Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan, kini menyusul kema
tian Ciangbundjin mereka bahkan sekaligus dengan wakil Ciangbundjin. Sungguh puk
ulan bertubi-tubi yang membuat semua tokoh dan semua murid Bu Tong Pay tenggelam
dalam kesedihan mendalam. Bahkan tokoh-tokoh tamupun bersimpati besar kepada mu
sibah yang di alami Bu Tong Pay dan menyatakan akan tetap berada di Bu Tong Pay
mengikuti penghormatan terakhir kepada Wie Tiong Lan dan Ciangbundjin serta Waki
l Ciangbundjin yang harinya akhirnya ditetapkan 2 hari kedepan.
Tapi kini orang-orang mulai bertanya-tanya. Pertanyaan terbesar adalah: Siapakah
sebenarnya yang membunuh Ciangbundjin dan Wakil Ciangbundjin Bu Tong Pay? Benar
kah yang membunuh mereka adalah kelompok manusia berjubah hijau yang menurut Kia
ng Ceng Liong adalah kelompok Lamkiong Sek, Naga Pattinam dan kawan-kawan mereka
yang sakit hati atas kekalahan di Markas Utama Thian Liong Pang hampir 6 bulan
sebelumnya? Siapa pula Toh Ling yang begitu perkasa, apa ada kaitannya dengan pe
mbunuhan Ciangbundjin dan Wakil Ciangbundjin Bu Tong Pay? Apakah motif utama pem
bunuhan tersebut?
Seperti biasanya, menghadapi pergolakan dunia persilatan, maka adalah Siauw Lim
Sie, Bu Tong Pay, Kay Pang dan Lembah Pualam Hijau yang memimpin sekaligus menga
mbil keputusan atas nama rimba persilatan. Dan, meskipun awalnya Kiang Ceng Lion
g menolak untuk mengikuti dan apalagi memimpin pertemuan itu, tetapi setelah dib
eri pengertian oleh Sian Eng Cu dan Pengemis Tawa Gila, akhirnya diapun setuju u
ntuk bergabung. Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, kali inipun Sian Eng Cu
dan Pengemis Tawa Gila yang mengambil inisiatif untuk memimpin pertemuan 4 Perku
mpulan Silat utama di Tionggoan itu. Tetapi, karena suasana di Bu Tong Pay yang
masih berduka maka Pengemis Tawa Gila yang lebih banyak berperan.
Malam, di ruangan pertemuan Bu Tong Pay, tempat kejadian dimana beberapa jam seb
elumnya Ciangbundjin dan Wakil Ciangbundjin Bu Tong Pay terbunuh, telah berkumpu
l beberapa orang. Mereka bukan orang-orang biasa. Mereka adalah tokoh-tokoh terk

enal di dunia persilatan. Mereka adalah


Siauw Lim Sie Ciangbundjin Kong Sian Hwe
sio yang ditemani oleh suhengnya Kong Hian Hwesio serta Souw Kwi Beng dan Souw K
wi Song; Sian Eng Cu dan Liang Mei Lan mewakili Bu Tong Pay, karena Jin Sim Todj
in sedang mengurus banyak sekali urusan dalam Bu Tong Pay; Pengemis Tawa Gila, C
iu Sian Sin Kay dan Liang Tek Hoat mewakili Kay Pang; dan terakhir satu-satunya
utusan Lembah Pualam Hijau adalah Kiang Ceng Liong, sang Duta Agung.
Meski demikian, di luar penjagaan yang dilakukan sudah dibagi dengan tokoh-tokoh
sahabat Bu Tong Pay. Bahkan Barisan 6 Pedang Lembah Pualam Hijau yang selalu me
nemani kemanapun Duta Agung pergi, ditempatkan menemani Kwee Siang Le meski di l
uar ruang persemayaman jenasah. Murid-murid Kay Pang dan Siauw Lim Sie juga tela
h diperbantukan menjaga jalur utara dan timur yang selalu berusaha diterobos mus
uh. Bersamaan dengan itu, tokoh-tokoh tingkat dua, angkatan di bawah angkatan CI
, juga sudah bersiaga penuh. Pendeknya Bu Tong Pay benar benar dalam kondisi sia
ga dengan menjaga seluruh sudut dan pelosok yang mungkin diterobos musuh.
Sementara di luar keadaannya begitu menegangkan dan bahkan terkesan sangat mence
kam, di dalam ruang pertemuan Bu Tong Pay, juga tidak kurang seriusnya dalam mem
bahas kondisi terakhir. Adalah Pengemis Tawa Gila yang membuka pertemuan dengan
menggambarkan kondisi terakhir, terutama posisi terbunuhnya Ciangbundjin dan Wak
il Ciangbundjin Bu Tong Pay yang kemudian dilanjutkan oleh Sian Eng Cu.
Saudara-saudara, sebetulnya ketegangan di Bu Tong Pay jika diteliti lebih jauh be
rmula dari munculnya daftar 10 pesilat top Tionggoan. Karena itu, kami di Bu Ton
g Pay dengan segala macam cara mencoba meningkatkan penjagaan. Karena maklum pas
tilah banyak tokoh yang ingin mengambil keuntungan dari pertemuan yang banyak di
hadiri tokoh-tokoh puncak. Boleh dibilang, ketegangan yang dihadirkan daftar 10
pesilat top itu memuncak seiring dengan kedatangan orang orang ke Bu Tong Pay. D
an di tengah kondisi itulah muncul gangguan-gangguan dari manusia berjubah dan b
erkedok hijau demikian penjelasan awal dan singkat dari Sian Eng Cu.
Jika demikian, apakah bisa dipastikan jika pelaku pembunuhan tersebut adalah kelo
mpok manusia berjubah hijau itu? Apalagi di lengan mendiang Ciangbundjin juga te
rdapat sobekan kain berwarna hijau, kain yang sejenis dengan yang dikenakan manu
sia-manusia berjubah hijau itu Pengemis Tawa Gila menanggapi secara serius.
Jika mencermati proses sejak hari-hari sebelumnya, maka sangat mungkin itu dilaku
kan oleh manusia-manusia berjubah hijau itu. Apalagi, mereka memang telah membun
uh beberapa murid Bu Tong Pay tegas Sian Eng Cu yang membuat banyak orang dalam r
uangan itu mulai menyimpulkan bahwa pembunuh memang kalangan manusia berjubah da
n berkedok hijau itu.
dan lagi ..... menurut Duta Agung, kawanan manusia berjubah hijau itu adalah beka
s-bekas kawanan Thian Liong Pang yang pastinya bersakit hati dengan pihak kami B
u Tong Pay serta kawan-kawan lain dari Siauw Lim Sie, Kaypang dan Lembah Pualam
Hijau sambung Sian Eng Cu yang membuat sebagian orang memalingkan pandangan ke ar
ah Ceng Liong. Tetapi, Ceng Liong sendiri masih memutuskan untuk berdiam diri da
n belum mengeluarkan pendapatnya.
Siancay .... siancay, apakah Duta Agung bisa menjelaskan kepada kita semua apakah
memang benar bahwa kawanan manusia berjubah hijau itu adalah pentolan-pentolan
Thian Liong Pang yang dahulu itu? bertanya Kong Hian Hwesio, seorang tokoh besar
asal Siauw Lim Sie dan bahkan masih suheng Kong Sian Hwesio, Ciangbundjin Siauw
Lim Sie saat ini.
Pertanyaan yang tepat. Karena semua orang memang menunggu penegasan serta penjel
asan Kiang Ceng Liong mengenai hal tersebut. Tuntutan dan pertanyaan Kong Hian H
wesio mau tidak mau membuat Kiang Ceng Liong ikut memberikan tanggapan maupun pe
njelasan:
Bisa dipastikan seperti itu. Mereka yang menyerbu masuk di jalur utara adalah Bou
w Lek Couwsu dan dia telah bertarung dengan Sian Eng Cu Tayhiap. Sementara dua o
rang manusia berjubah hijau lainnya adalah Bu Hok Lokay (Kakek Tua Tanpa Perasaa
n) serta Hiong Say Tiang Pek San (Singa Jantan dari Tiang Pek). Kedua tokoh tua
ini hanya berselisih sangat tipis dengan Naga Pattinam yang sakti itu, dan merek
a berdualah yang datang bersama seorang tokoh lain di jalur timur. Kita belum me
ngetahui siapa tokoh yang satunya lagi, tetapi bisa dipastikan mereka adalah tok
oh-tokoh pentolan Thian Liong Pang. Secara tidak disengaja dalam perjalanan menu
ju Bu Tong Pay ini, aku menyaksikan dan menyadap percakapan di antara mereka ber

tiga demikian jawaban Ceng Liong, tegas dan jelas bagi semua.
Duta Agung, apakah bisa dipastikan jika orang ketiga itulah yang membunuh Ciangbu
ndjin dan Wakil Ciangbundjin kami ? bertanya Sian Eng Cu penasaran. Tetapi seperti
nya Kiang Ceng Liong belum sampai pada kesimpulan tersebut, atau setidaknya masi
h ragu untuk menyimpulkannya. Tetapi, tetap dia memberikan tanggapannya setelah
berpikir beberapa saat:
Pertama, menurut Lan Moi, dia menangkap adanya pergerakan tokoh ketiga itu di jal
ur timur, tetapi tidak sanggup menjumpainya. Dengan kemampuan ginkang Lan Moi de
wasa ini, sulit membayangkan adanya tokoh yang takkan dapat dikejarnya di kawasa
n Bu Tong Pay yang sangat dikenalnya ini. Dapat dipastikan, tokoh ketiga ini ada
lah tokoh yang sangat lihay, mungkin melebihi Bu Hok Lokoay dan Hiong Say Tiang
Pek San. Tetapi, apakah tokoh ini kemudian naik ke Bu Tong San dan melakukan pem
bunuhan, masih sulit kupastikan
Di hitung dari waktu dia melenyapkan diri di jalur timur, sampai pada saat pertar
unganku dengan Toh Ling, seharusnya dia memiliki lebih dari cukup waktu untuk me
lakukan pembunuhan itu Mei Lan yang penasaran memberikan pandangan dan pendapatny
a.
Benar, tetapi jika mengikuti pemeriksaan Jin Sim Todjin dan juga Duta Agung, kema
tian Ciangbundjin dan Wakil Ciangbundjin justru terjadi hampir satu jam sebelum
pertempuran antara Nona Mei Lan dengan Toh Ling. Artinya, ketika terjadi bentrok
an pertama, si pembunuh sudah berada di kawasan dalam kuil Bu Tong Pay. Dan jika
kondisinya seperti ini, maka manusia berjubah hijau di jalur timur masih tetap
bisa kita masukkan dalam daftar orang yang dicurigai sebagai pembunuh tambah Peng
emis Tawa Gila.
Jika melihat keadaan Wakil Ciangbundjin yang belum sempat mempergunakan pedangnya
, maka dapat dipastikan tokoh yang membunuh mereka adalah tokoh yang sangat heba
t. Pukulan yang membunuh Ciangbundjin dan Wakil Ciangbundjin sangatlah halus dan
hanya dapat dilakukan tokoh-tokoh sekelas Naga Pattinam ataupun Lamkiong Sek. T
etapi, dari percakapan yang kusadap, kali ini Lamkiong Sek dan Naga Pattinam kon
on sedang menuntaskan pekerjaan terakhir mereka. Dan mereka berdua tidak ikut da
lam operasi di Bu Tong San. Maka sangat sulit memperkirakan siapa pembunuhnya. U
ntuk sementara Hiong Say Tiang Pek San dan Bu Hok Lokay (Kakek Tanpa Perasaan) d
apat dihapus dari daftar pembunuh, karena mereka memang langsung pergi setelah t
erpukul di jalur utara Ceng Liong mengemukakan argumentasi lain yang membuat daft
ar masalah terasa menjadi semakin memusingkan.
Hanya saja, suhu dan juga mendiang locianpwee Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan pernah
mengingatkanku dulu hari menjelang kematian mendiang suhu, bahwa keadaan bisa s
angat berbahaya jika Bouw Lek Cowsu dapat mengundang paman gurunya yang usianya
sebaya dengannya dari Tibet. Entahkah tokoh ketiga itu adalah paman guru Bouw Le
k Couwsu? Masih sulit kupastikan. Hanya, menurut mendiang suhu dan mendiang loci
anpwee Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan, kehebatan paman guru Bouw Lek Couwsu justru
jauh mengatasi guru Bouw Lek Couwsu sendiri. Dengan kata lain, dia memiliki kap
asitas yang sama dengan Lamkiong Sek dan Naga Pattinam untuk menjadi pembunuh di
Bu Tong Pay ini. Hanya, apakah benar dia ? tambah Ceng Liong.
Siancay, siancay ... awalnya puncho berpandangan bahwa ketegangan di dunia persil
atan akan sedikit mereda setelah Thian Liong Pang diatasi. Tetapi, nampaknya pan
dangan puncho keliru terdengar Ciangbundjin Siauw Lim Sie bergumam. Dan belum lag
i ada yang melanjutkan memberi tanggapan, Ciangbundjin Siauw Lim Sie telah menam
bahkan:
Penjelasan Duta Agung sangat tepat. Dulu ketika Bouw Lek Couwsu dan kelompok pemb
erontak mereka di Tibet bergerak, paman gurunya itu masih sedang bertapa. Dan in
formasi dari kawan-kawan di Tibet menerangkan bahwa telah muncul seorang tokoh b
aru yang sangat luar biasa tetapi yang gerakannya tidak dapat diikuti. Hanya sek
ali dia bentrok dengan wakil Dalai Lhama yang sangat sakti itu. Mereka berkesuda
han tanpa pemenang, tapi tak ada yang mengenali tokoh itu siapa karena mengenaka
n kedok wajah. Dan beberapa saat kemudian dia tidak pernah muncul lagi di Tibet.
Menghilang begitu saja. Maka sangatlah mungkin jika tokoh ini benar adalah Thay
Pek Lhama yang dulu itu, hanya entah sekarang jika dia telah berganti nama apa
Mendengar penjelasan terakhir dari Ciangbundjin Siauw Lim Sie, nampaknya banyak
orang mulai bercuriga jika Thay Pek Lama adalah manusia berkerudung hijau ketiga

yang tidak sempat ditemukan Mei Lan. Dan bersamaan dengan itu, semakin mengeruc
ut kenama tersebut sebagai pelaku pembunuhan di Bu Tong Pay. Apalagi, Bouw Lek C
ouwsu sendiri memang telah teridentifikasi sebagai salah seorang manusia berjuba
h dan berkedok hijau yang telah membunuh 4 anak murid Bu Tong Pay di jalur masuk
sebelah utara. Hanya saja, tetap masih menimbulkan tanda tanya dan persoalan be
sar, apakah memang benar-benar Thay Pek Lhama yang membunuh di Bu Tong Pay?
Satu keberatan yang terlampau telanjang dan dibuat-buat adalah adanya sobekan kai
n hijau di tangan Ciangbundjin. Jika memang dia tokoh hebat, maka sulit membayan
gkan dia membiarkan jubah hijaunya sobek, dan lebih menggelikan lagi membiarkan
sobekan itu berada di tangan korbannya. Karena itu, salah satu pemikiran yang sa
ngat mungkin adalah, adanya orang atau kelompok lain yang mempergunakan kesempat
an ini untuk kepentingannya sendiri. Hanya saja, sejauh ini masih sulit membayan
gkan pihak lain tersebut terdengar Ceng Liong kembali melontarkan pandangannya.
Pandangan yang membuat orang kembali mengernyitkan keningnya. Karena memang bena
r, untuk apa pula seorang tokoh pembunuh yang hebat tetapi meninggalkan jejak se
cara sangat konyol. Kecuali, jika jejak pembunuh itu secara sengaja ditinggalkan
. Tapi dalam kasus kali ini di Bu Tong Pay, sungguh sulit menemukan tali temali
dengan pihak lain, selain tetap dalam tuduhan semula, yakni bahwa pembunuhnya ad
alah kawanan berjubah hijau yang adalah bekas pentolan Thian Liong Pang. Karena,
pertama mereka punya motif yang kuat
yakni membalas dendam atas kekalahan Thian
Liong Pang. Kedua, fakta bahwa mereka telah mengganggu Bu Tong Pay beberapa har
i sebelum terjadinya pembunuhan. Ketiga Bu Tong Pay dengan mereka memiliki ikata
n dendam yang cukup dalam, baik antar perguruan maupun antyar tokoh yang sudah s
aling bertarung sampai beberapa kali sebelumnya.
Setidaknya untuk saat ini, kita punya kecurigaan bahwa kita sedang menghadapi law
an lama. Maka menjadi tugas kita bersamalah untuk melakukan penyelidikan lebih j
auh. Cuma untuk penyelidikan itu nampaknya harus mengandalkan kita-kita semua, t
erlebih khusus generasi kita yang lebih muda Pengemis Tawa Gila akhirnya menyimpu
lkan.
Siancay, siancay ...... Siauw Lim Sie akan menugaskan Souw Kwi Beng dan Souw Kwi
Song untuk melakukan penyelidikan. Terutama melacak siapa tokoh ketiga yang berj
ubah hijau itu, benarkah Thay Pek Lhama ataukah bukan sambil berkata demikian Kon
g Sian Hwesio memandang ke arah Kwi beng dan Kwi Song. Dan kedua anak muda itu d
engan cepat menyahut:
Terima kasih Ciangbundjin, kami menerima perintah ....
Baiklah, jika demikian meskipun Kaypang sedang disibukkan dengan rencana pemiliha
n Pangcu Kaypang yang baru dalam 6 bulan kedepan, tetapi tetap akan mengutus Lia
ng Tek Hoat untuk melakukan penyelidikan. Terutama meyakinkan sampai dimana perg
erakan manusia berjubah hijau itu nantinya
Baik, tecu menerima perintah Hu Pangcu... Tek Hoat juga dengan segera menyatakan k
esiapannya.
Kami dari Bu Tong Pay masih akan menunggu penetapan Ciangbundjin Bu Tong Pay yang
baru dan kemudian mengutus orang untuk melakukan penyelidikan. Hanya, siauw sum
oy Liang Mei Lan adalah yang paling tepat melakukannya Sian Eng Cu Tayhiap buka s
uara untuk dan atas nama Bu Tong Pay. Dan Mei Lan sudah menyatakan kesediaannya
untuk melakukan penyelidikan atas nama Bu Tong Pay dengan catatan setelah masa b
erkabung Bu Tong Pay lewat.
Setelah Bu Tong Pay, semua orang kini memandang Kiang Ceng Liong. Bukan rahasia
jika Lembah Pualam Hijau sedang berusaha menahan diri melibatkan Lembah Pualam h
ijau dalam kekisruhan rimba persilatan. Terutama setelah ternyata salah satu tok
oh utama Thian Liong Pang adalah keluarga Lembah Pualam Hijau, meski melakukanny
a dalam kondisi tertekan. Saat itu, semua ingin mendengarkan apa keputusan Ceng
Liong terkait dengan kejadian di Bu Tong Pay. Dan Ceng Liong sadar, kalau dia ha
rus mengatakan sesuatu:
Lembah Pualam Hijau akan ikut membantu penyelidikan dan mengutus seseorang ke lua
r lembah untuk kebutuhan tersebut singkat saja kalimatnya, tetapi melegakan semua
tokoh. Karena semua sadar, keputusan Ceng Liong juga bukan keputusan mudah, han
ya demi persaudaraan ke-4 perguruan utama itulah sampai Ceng Liong harus bertole
ransi mengutus orang ke luar Lembah.
Satu hal lagi .....
Pengemis Tawa gila melanjutkan percakapan: Toh Ling menurut Ne

nek Thian San Giokli telah hadir di rimba persilatan membekal ilmu sepasang ibli
s yang hidup pada 100 tahun lalu, Thian Tee Siang Mo. Bahkan, kekuatan Toh Ling
yag mampu mengimbangi Nona Mei Lan dan Nenek Thian San Giokli, berpotensi mengha
dirkan kekisruhan di dunia persilatan. Karena itu, sebaiknya kitapun awas dan be
rhati-hati dengan tokoh ini
Siancay, siancay ...... menurut cerita para sesepuh partai kami dahulu, Thian Tee
Siang Mo membekal ilmu tenaga yang sangat mujijat dan beracun. Apakah tokoh kal
i ini, Toh Ling juga membekal ilmu tersebut ? tanya Ciangbundjin Siauw Lim Sie Kon
g Sian Hwesio heran sambil memandnag Pengemis Tawa Gila.
Nona Mei Lan mungkin bisa menjawabnya ... Pengemis Tawa Gila memalingkan pandangan
ke arah Mei Lan yang memang sempat bertempur seru dengan Toh Ling di halaman Bu
Tong Pay.
Nampaknya iya, memang demikian. Meksi kami tidak saling bentur secara hebat, teta
pi harus kuakui jika memang kemampuan Toh Ling tidak berada di sebelah bawah kem
ampuanku jawab Mei Lan.
Dan lagi, Duta Agung juga telah menyaksikan, tenaga dalamnya memang busuk mujijat
dan sangatlah beracun tambah Mei Lan sambil mengerling Kiang Ceng Liong yang man
ggut-manggut membenarkan.
Padahal, menurut kisah para tetuah kami, ilmu busuk mujijat Thian Tee Siang Mo ny
aris tidak ada lawan pada masanya. Hanya Koai Todjin seorang yang sanggup mengha
dapi mereka, itupun setelah bertarung seharian penuh baru bisa dan mampu mengeka
ng kedua iblis sakti itu. Dan konon, hanya ilmu dingin Koai Todjin yang mampu me
lawan ilmu Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang). Terutama hawa
beracunnya itu Tambah Kong Hian Hwesio
Tapi, Duta Agung telah sanggup mengundurkannya tadi. Nampaknya dia terluka oleh b
enturan dengan Duta Agung, dan setelah itu Toh Ling melarikan diri sambil mengel
uarkan ancaman untuk suatu saat akan kembali Mei Lan menambahkan informasi pertar
ungan Ceng Liong dengan Toh Ling yang berakhir di terlukanya dan kaburnya Toh Li
ng. Jelas, suara Mei Lan berisi nada kebanggaan akan kehebatan kekasihnya itu. D
an itu wajar.
Siancay, benarkah demikian Duta Agung ? bertanya Kong Hian Hwesio
Memang benar demikian .... terdengar Souw Kwi Song yang nyeletuk. Karena kamipun be
rada di arena tersebut tambahnya.
Hmmmm, luar biasa, jika demikian kita tidak perlu terlalu menakuti tokoh yang sat
u ini desis Kong Hian Hwesio lebih jauh.
Losuhu, kali ini mungkin biarlah aku memberitahu sesuatu Ceng Liong bersuara, kali
ini memberitahu sesuatu mengenai Toh Ling.
Nenek Sakti Thian San Giokli hidup selama puluhan tahun menjaga agar ilmu jahat T
hian Tee Siang Mo tidak hadir lagi di dunia persilatan. Dan menurutnya, dia dan
kedua sumoynya telah gagal, bahkan kedua sumoynya terbunuh di tangah Toh Ling. M
enurut Thian San Giokli, Toh Ling mewarisi gabungan tenaga kedua Iblis itu dan l
ebih berbahaya ketimbang kedua gurunya. Jika dia kalah melawanku tadi, itu lebih
karena dia masih belum tuntas menggabungkan gabungan kekuatan gurunya. Toh Ling
akan tuntas jika telah mampu mengeluarkan pukulan itu, tanpa didahului oleh sem
buran hawa berbau busuk
Itu artinya, Toh Ling masih akan berkembang dan menjadi lebih hebat ke depan ? kali
ini Pengemis Tawa Gila bertanya dengan nada terkejut.
Menurut Nenek Thian San Giokli memang demikian kalem jawaban Ceng Liong.
Benar, menurut yang kami ketahui, puncak kekuatan ilmu busuk itu akan dicapai jik
a bau busuk tersebut justru tidak lagi tercium lawan. Dan jika Toh Ling mencapai
nya, maka keruwetan kita bertambah jauh lebih memusingkan lagi Kong Hian Hwesio m
enambahkan.
Hanya, menurut mendiang suhu, semua murid-murid 4 Manusia Dewa telah disiapkan un
tuk mengantisipasi persoalan ini. Apakah memang benar demikian adanya ? Tanya Sian
Eng Cu sambil memandang Ceng Liong, Mei Lan, Tek Hoat dan kedua Pendekar Kembar
dari Siauw Lim Sie. Dan satu persatu ke-5 pemuda dan pemudi itu menganggukkan k
epala membenarkan apa yang disampaikan oleh Sian Eng Cu. Selebihnya, Tek Hoat ke
mudian bersuara:
Jika tidak salah, kami masing-masing memang menerima pelajaran terakhir dari loci
anpwee Kolomoto Ti Lou yang memandang kedepan bahwa kerumitan akan memuncak deng

an tingkat kesulitan yang lebih tinggi lagi. Karena itu, kami masing masing semp
at berdiskusi dengan orang tua itu sebelum dia menghilang setelah urusan di mark
as utama Thian Liong Pang selesai.
Ucapan Tek Hoat dibenarkan oleh ke-4 anak muda lainnya. Nampaknya, sekali lagi k
e-5 anak muda ini memang sengaja disiapkan oleh tokoh-tokoh sepuh yang mereka ke
nal untuk mengatasi persoalan yang dihadapi rimba persilatan Tionggoan. Hanya sa
ja, lawan merekapun semakin lama semakin kuat, semakin hebat dan yang bahkan mem
iliki kemampuan yang mendekati kehebatan guru-guru mereka semasa masih hidup. Da
n setelah kematian Wie Tiong Lan, maka habislah generasi 4 Manusia Dewa Tionggoa
n, meninggalkan murid-murid mereka untuk menggantikan tugas mengamankan rimba pe
rsilatan dari generasi pengganggu yang lain.
Siancay, siancay ..... seperti itulah kehidupan. Kehilangan satu
kedatangan yang
lain. Anak-anakku, memang sudah saatnya tanggungjawab itu beralih ke tangan kali
an, biarlah kami yang tua-tua memberikan doa dan restu agar perjuangan kalian de
ngan tantangan yang semakin berat akan berhasil ........Amitabha terdengar Ciangb
undjin Siauw Lim Sie memberikan restunya.
Hal yang kemudian juga diikuti oleh Sian Eng Cu, Pengemis Tawa Gila dan tokoh-to
koh tua lainnya di tempat itu. Inilah pertemuan formal pertama, pertemuan resmi
ke-4 Perguruan Utama setelah generasi 4 Manusia Dewa Tionggoan habis masa edar nya.
Dan dari sinilah tanggungjawab dialihkan secara resmi, meski dibayangi dengan b
etapa hebat lawan-lawan yang bertumbuh dan berkembang di luar sana. Apakah merek
a akan sanggup? Sebuah pertanyaan yang masih harus dibuktikan dan dijawab kedepa
n.
Baiklah, jika demikian, biarlah apa yang mesti dikerjakan oleh kita 4 Partai utam
a ini dilimpahkan kepada kalian berlima. Masing-masing tetap akan bertanggungjaw
ab hanya saja, tanggungjawab penyelidikan kita serahkan kepada kalian berlima. T
ermasuk upaya untuk meredam efek dari daftar 10 tokoh top Tionggoan yang pastiny
a akan sangat mengganggu. Baik kalian berlima maupun perguruan kita akan mengala
mi banyak kerepotan akibat ulah iseng orang yang membuat dan mengedarkan daftar
tersebut. Malam ini, baiklah percakapan kita seputar masalah kedepan kita akhiri
..... Pengemis Tawa Gila akhirnya menutup percakapan pada malam itu, tepat tenga
h malam.
Tetapi pertemuan ke-4 perguruan utama itupun masih sempat berlanjut untuk urusan
-urusan lain yang lebih ringan serta saling menukar informasi. Hanya saja tidak
berlangsung lama karena harus memberi kesempatan kepada Sian Eng Cu dan Liang Me
i Lan untuk bergabung bersama tokoh-tokoh Bu Tong Pay guna melanjutkan kesiapan
akhir upacara penghormatan kepada Wie Tiong Lan dan Ci Hong Todjin serta Ci Sion
g Todjin. Tiga tokoh utama Bu Tong Pay yang meninggal dunia dalam waktu yang tid
ak terlampau jauh jaraknya.
Sementara itu, ke-4 pendekar muda lainnya juga masih sempat berbincang-bincang d
engan Ceng Liong seperti biasa ditempatkan sebagai pemimpin mereka. Tetapi karen
a Mei Lan tidak bergabung, mereka tidak banyak bertukar pikiran dan pada akhirny
a masing-masing minta diri untuk beristirahat. Tepat tengah malam, selain aktifi
tas anak murid Bu Tong Pay, tokoh-tokoh lain terlelap dalam istirahat. Tentu den
gan tidak menanggalkan kewaspadaan mereka masing-masing, apalagi setelah mengala
mi kejadian-kejadian yang sangat tidak mengenakkan beberapa waktu belakangan ini
.
Sementara itu, waktupun terus berlangsung. Penjagaan ketat diberlakukan di Bu To
ng Pay dengan melibatkan Kay Pang, Siauw Lim Sie dan Barisan 6 Pedang Lembah Pua
lam Hijau. Dan selama beberapa hari, sampai pada hari penghormatan terakhir, tid
ak ada lagi gangguan-gangguan berarti di Bu Tong Pay. Karena itu, upacara pengho
rmatanpun berlangsung secara hikmat, lancar dan tidak mengalami satupun gangguan
lagi, bahkan gangguan kecil sekalipun. Bahkan mereka-mereka yang berhasrat untu
k menantang tokoh dalam daftar 10 pendekar top, juga hilang selera begitu meliha
t tingkat keseriusan dan ketegangan yang ditampilkan Bu Tong Pay dan dukungan Ka
y Pang, Siauw Lim Sie dan Duta Agung Lembah Pualam Hijau yang tidak banyak menam
pilkan diri.
Dan setelah upacara penghormatan terakhir, pada hari itu juga rombongan yang men
inggalkan Bu Tong Pay mulai berkurang satu demi satu. Hal itu disebabkan mereka
memperpanjang masa kunjungan setelah Ketua dan Wakil Ketua Bu Tong Pay ikut terb

unuh. Karenanya, segera setelah upacara penghormatan, banyak tamu yang mulai min
ta diri dari Bu Tong Pay, yang perlahan-lahan kembali mulai menemukan hari-hari
seperti biasanya yang hilang selama hampir 10 hari terakhir.
Pagi menjelang tiba. Sudah hampir 3 hari berlalu sejak upacara penghormatan tera
khir bagi Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan, Ci Hong Todjin dan Ci Siong Todjin dilak
sanakan. Bu Tong Pay masih dalam suasana duka, tetapi aktifitas sehari-hari suda
h mulai berlangsung normal. Bahkan, menghadapi situasi yang nampak semakin mence
maskan, Bu Tong Pay sudah mulai merencanakan melaksanakan pemilihan Ketua (Ciang
bundjin) yang baru.
Suasana di pesanggrahan yang diperuntukkan buat tamu-tamu istimewa Bu Tong Pay j
uga sudah semakin senyap. Keramaian beberapa hari sebelumnya dimana pesanggrahan
itu terisi penuh oleh sejumlah besar tamu, berangsur-angsur senyap. Karena teta
muan tersebut satu persatu pergi meninggalkan Bu Tong Pay dan sampai pagi hari i
tu, tinggal tersisa beberapa kamar belaka yang masih ditinggali tamu-tamu pentin
g Bu Tong Pay.
Di salah satu ruangan yang paling pojok dan tersendiri terletak memepet tebing g
unung sebelah selatan Bu Tong Pay, dimana sampingnya pemandangan indah ke bawah
Gunung Bu Tong San, ada salah satu kamar yang masih berpenghuni. Kamar tersebut
memang terletak paling pojok dan dihari-hari sebelumnya, meskipun berisi orang,
tetapi tidak banyak orang mengetahui siapa penghuni kamar itu yang sebenarnya. K
arena penghuninya tidak pernah menampakkan diri dan lebih banyak berada di dalam
kamar, atau jikapun keluar hanya beberapa gelintir manusia belaka yang tahu dan
ditemuinya.
Kamar terpencil itu memang ditempati seorang tokoh yang lebih banyak menghindari
pertemuan dengan banyak orang. Dia adalah Duta Agung Lembah Pualam Hijau. Orang
yang kehadirannya meski banyak orang tahu, tetapi hanya beberapa orang belaka y
ang sering bertemu dengannya. Hal ini dikarenakan keputusan Lembah Pualam Hijau
untuk menarik diri dari kekisruhan rimba persilatan (Bu-Lim). Bahkan dengan meng
embalikan kepercayaan kaum Bu Lim bagi Lembah Pualam Hijau untuk menjadi Bu-Lim
Bengcu.
Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itupun Kiang Ceng Liong, Duta Agung Lembah Pu
alam Hijau tidak nampak melakukan aktifitas di luar ruangan. Tetapi, di luar rua
ngan, terdapat 6 orang yang menyoren pedang, juga duduk dalam keadaan samadhi. D
i dalam ruangan, Kiang Ceng Liong sendiri juga sedang dalam posisi samadhi, bahk
an sepertinya sedang tenggelam dalam kesenyapan suasana disekitarnya. Atau bahka
n mungkin sedang berlatih ilmu-ilmunya sebagaimana kebiasaannya di Lembah Pualam
Hijau.
Hanya, jika dilihat lebih dekat lagi, Ceng Liong sebenarnya tidak sedang tenggel
am dalam samadhinya. Lebih tepat dia sedang merenung, bahkan terlihat sedang ber
pikir keras. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal hatinya dan membuatnya mau t
idak mau harus memeras otaknya. Padahal, beberapa bulan terakhir aku tenggelam da
lam kesenyapan, kedamaian dan mencapai kemajuan yang luar biasa dalam latihan il
mu silatku desis Ceng Liong seperti menyesali kerumitan yang kini kembali merusak
hari-hari damai yang dikecapinya di Lembah Pualam Hijau.
Sudah pasti. Siapa gerangan tokoh Bu Lim dewasa ini yang berani mengusik ketenan
gan Lembah Pualam Hijau? Disana, bukan hanya ada Duta Agung Lembah Pualam Hijau
Kiang Ceng Liong dan Barisan 6 Pedangnya. Melulu Duta Agung dan Barisan ini saja
, sudah sulit menemukan tandingan yang setimpal. Apalagi, di dalam Lembah itu ma
sih ada Kiang Cun Le dan Kiang In Hong yang sekarang bergelar Liong-i-Sinni. Keh
ebatan kedua orang kakak beradik ini tidak usah dipercakapkan lagi, karena nama
besar dan kehebatan mereka sudah lama mengangkasa di dunia persilatan. Mereka be
rdualah yang mewarisi dan melanggengkan prestasi besar Lembah Pualam Hijau setel
ah Kiang Sin Liong mundur sebagai Duta Agung.
Selain itu, masih ada juga Kiang Hong dan Tan Bi Hiong suami istri yang juga san
gat lihay sekaligus ayah dan ibu dari Kiang Ceng Liong. Adalah Kiang Hong ini ya
ng menjadi Duta Agung sebelum Kiang Ceng Liong. Hanya saja, akibat tertawan Thia
n Liong Pang selama beberapa tahun, tugas itu kemudian dialihkan kepada Kiang Ce
ng Liong. Setelah kekisruhan Thian Liong Pang mereda, Kiang Ceng Liong berkehend
ak mengembalikan jabatan itu kepada ayahnya, tetapi ayah dan semua sesepuh Lemba
h Pualam Hijau tidak menyetujuinya. Jadilah Ceng Liong tetap melanjutkan tugasny

a sebagai Duta Agung, Pemilik Lembah Pualam Hijau.


Selain itu, disana juga masih terdapat Topeng Setan, Kiang Liong yang kepandaian
serta kehebatannya meningkat pesat setelah sembuh dari penyakit gilanya . Hanya sa
ja, setelah kesembuhannya, Topeng Setan Kiang Liong jadi lebih banyak tenggelam
dalam latihan ilmu silatnya. Terutama latihan-latihan ilmu dalam guna menguasai
dirinya. Kehadiran Liong-i-Sinni bibinya, sangat banyak membantu Topeng Setan da
lam memahami diri, kehidupan dan sudah tentu kemampuan ilmu silatnya. Karena itu
, Kiang Liong sendiri diam-diam tumbuh menjadi tokoh lihay di Lembah Pualam Hija
u.
Masih banyak tokoh-tokoh lihay lainnya. Seperti Kiang Li Hwa yang sebelumnya ada
lah Majikan Kerudung Putih dan sempat dididik oleh Wisanggeni serta terakhir Nen
ek Durganini. Kemampuan Li Hwa telah meningkat begitu jauh dan membuatnya terdaf
tar sebagai jago peringkat terakhir dalam daftar 10 jago top di dunia persilatan
. Fakta ini saja menunjukkan jika gadis ini memiliki kemampuan yang tidak perlu
diragukan lagi. Seterusnya masih ada Thio Su Kiat, murid yang mewarisi kepandaia
n khas Lembah Pualam Hijau dari Kiang Tek Hong, bekas Pangcu Thian Liong Pang. D
an sudah tentu, masih ada Kiang Tek Hong, tokoh yang bertarung seimbang dengan K
iang Ceng Liong di markas utama Thian Liong Pang.
Dengan bermukimnya tokoh-tokoh maha sakti ini di Lembah Pualam Hijau, siapa lagi
kah yang berkeberanian untuk mengganggu ketenangan Lembah Pualam Hijau? Dan duni
a persilatan maklum belaka, jika dewasa ini Lembah Pualam Hijau adalah tempat no
mor satu, tempat yang dimalui. Bahkan kehebatan mereka melampaui kemasyuran Bu T
ong Pay, Siauw Lim Sie serta juga Kaypang untuk tahun-tahun belakangan. Karenany
a wajar jika tempat itu tidak menginginkan kehadiran tamu tertentu, akan selalu
dalam keadaan tenang dan damai. Dan situasi serta kondisinya yang seperti itulah
yang dikenangkan dan dirindukan kembali oleh Kiang ceng Liong setelah menemukan
banyak keruwetan 6 bulan setelah dia menikmati kesenyapan itu di Lembah Pualam
Hijau.
Apa sebetulnya yang menghadirkan kerisauan Kiang Ceng Liong sampai begitu mengga
nggu dan melenyapkan ketenangan di pagi harinya? Kita perlu mundur beberapa hari
ke belakang.
Karena kedatangan yang serba rahasia meski telah banyak orang yang mengetahui ke
hadirannya, maka Ceng Liong meminta kepada pihak Bu Tong Pay agar tempat istirah
atnya dirahasiakan. Selain itu, diapun dengan sangat meminta tempat yang jika me
mungkinkan tidak banyak berhubungan dengan banyak orang. Itulah sebabnya Ceng Li
ong memperoleh tempat atau kamar istirahat yang paling pojok menyendiri, yang bi
asanya digunakan tokoh-tokoh khusus jika mengunjungi Bu Tong Pay. Tempat itupun
hanya beberapa kali digunakan tamu-tamu agung Bu Tong Pay dan keadaannya tidak m
enyolok mata.
Hanya, Ceng Liong keliru jika dia dapat beristirahat dengan tenang. Karena ada b
eberapa tokoh yang tidak perlu bertanya ke pihak Bu Tong Pay untuk mengetahui di
mana keberadaannya. Seperti siang hari itu, keesokan hari setelah Ceng Liong men
ggebah pergi Toh Ling. Mengira dia bisa beristirahat, Ceng Liong kemudian sebaga
imana biasanya, menggunakan banyak hari-hari terakhirnya untuk terus mendalami i
lmu-ilmunya, termasuk menciptakan beberapa ilmu baru. Tetapi, tiba-tiba ketenang
annya rada terganggu oleh sebuah suara yang sangat halus dan lunak memasuki teli
nga batinnya:
Anak muda, bolehkah kita berbincang-bincang sejenak ? dari suaranya, meski belum be
gitu kenal, tetapi Ceng Liong yakin jika yang menggugahnya adalah seorang wanita
tua. Seorang Nenek. Dan dia memastikan adalah Nenek Sakti Thian San Giokli. Dia
pun kagum dan menghormati Nenek itu, karenanya diapun segera mengirimkan isyarat
menerima kehadiran si Nenek untuk berbincang dengannya. Dan benar saja, tidak b
utuh waktu beberapa lama tiba-tiba dalam ruangan tersebut telah bertambah dengan
seorang wanita tua sakti bernama Thian San Giokli. Luar biasa cara bergerak nen
ek itu.
Terim kasih untuk kesediaanmu anak muda ....... atau dengan apakah sebaiknya aku
memanggilmu? Duta Agung ataukah ?
Silahkan duduk Thian San Giokli, apalah artinya panggilan itu. Mandat Bu Lim Beng
cu sudah kukembalikan, karena itu kehadiranku lebih karena hubungan baik dengan
Bu Tong Pay. Nenek boleh memanggilku dengan panggilan apa saja sambut Ceng Liong

sambil mempersilahkan Thian San Giokli duduk. Dalam ruangan itu, memang terdapat
sejumlah kursi yang biasa digunakan untuk menerima tamu. Dan Nenek Sakti Thian
San Giokli tidak risih untuk segera mengambil tempat duduk sambil mengucapkan te
rima kasih
Terima kasih Duta Agung, mudah-mudahan aku yang tua ini tidak akan membuatmu mera
sa terganggu dan tidak akan banyak mengganggu waktumu yang sangat berharga ini .
...
Accccchhhhh, bukan begitu Nek. Akupun mengerti, jika bukan sesuatu yang sangat pe
nting, tidak mungkin Nenek akan meminta bertemu dengan cara yang luar biasa
Engkau terlampau cepat berterus terang Duta Agung. Tapi memang benar, ada beberap
a hal yang sangat ingin kubicarakan denganmu. Beberapa hal yang sudah bertahun-t
ahun ada dalam pikiranku dan entah mengapa sejak semalam, aku seperti mendekati
jawaban atas beberapa pertanyaan tersebut
Alis mata Ceng Liong mengerut, tanda heran. Karena bagaimanapun dia belum mengen
al Nenek ini, meskipun dia berkeyakinan jika Nenek ini selain amat sakti, juga b
erdiri di jalan lurus. Inilah yang membuatnya menghargai nenek ini dan meluluska
n keinginan si Nenek untuk bertemu dan berbincang dengannya. Tetapi, Thian San G
iokli yang melihat meski sedikit saja tanda-tanya di sinar muka Ceng Liong telah s
adar, jika dia harus memperkenalkan diri terlebih dahulu:
Duta Agung, pernahkah engkau mendengarkan nama Koai Todjin ? bertanya Nenek Thian S
an Giokli.
Koai Todjin, Koai Todjin, hmmmmm ........ benar, aku ingat Nek. Kiang Sin Liong S
uhu pernah menceritakan seorang aneh bernama Koai Todjin yang menjagoi Bu Lim le
bih 100 tahun silam. Tokoh itukah yang nenek maksudkan ? Kiang Ceng Liong bertanya
sambil menatap si Nenek. Thian San Giokli tersenyum mendengar jawaban Ceng Lion
g dan berkata:
Benar Duta Agung, apa sajakah yang engkau tahu tentang Koai Todjin ?
Selain menjagoi Bu-Lim waktu itu, Koai Todjin adalah seorang pendekar aliran luru
s yang kemudian menyepi di Gunung Thian San. Sayang, waktu beliau merantau tidak
lah terlampau lama, tetapi menurut Suhu, kepandaian beliau sungguh luar biasa. M
emiliki kemampuan ilmu silat serta ilmu dalam yang sempurna dan mengatasi semua
tokoh-tokoh hitam yang sangat lihay dan buas pada masanya Ceng Liong menjelaskan
sambil mengingat-ingat penjelasan gurunya dulu. Tetapi, Koai Todjin memang salah
satu tokoh yang diceritakan gurunya dahulu dengan penuh kekaguman. Dan Thian Sa
n Giokli nampaknya gembira meski tidak tergambarkan dari sinar matanya.
Duta Agung, Koai Todjin itu sebetulnya adalah kakek guruku .... demikian akhirnya
Nenek Thian San Giokli buka kartu memperkenalkan dirinya. Dan Kiang Ceng Liong o
tomatis terkejut ketika si Nenek akhirnya menimpali perkataannya dengan kemudian
memperkenalkan dirinya.
Ach, maafkan jika aku yang muda kurang hormat Nek. Bahkan guruku sangat menghorma
ti Koai Todjin dan membicarakannya dengan nada kagum yang tak disembunyikan. Kir
anya Nenek adalah cucu murid tokoh hebat itu ucap Ceng Liong sambil memberi horma
t kepada si Nenek.
Sudahlah Duta Agung, yang hebat toch adalah kakek guruku, bukannya aku yang sudah
tua ini tolak si Nenek Thian San Giokli ketika Duta Agung Kiang Ceng Liong berke
ras memberi dia penghormatan.
Bagaimana kisah sebenarnya Nek ....? tanya Ceng Liong akhirnya setelah duduk bersi
la kembali.
Kisahnya panjang Duta Agung. Hanya intinya, Kakek Guru malu dengan musibah yang d
isebabkan saudara kandungnya yang sangat berbakat dan lihay seperti dirinya teta
pi gila. Setelah berhasil mengekang adik seperguruan itu, kakek guru akhirnya me
ngurungnya di sebuah lembah di Thian San dan menamakan lembah itu sebagai Lembah
Salju Beryanyi. Sejak itulah Kakek guru lenyap dari rimba persilatan. Murid-mur
idnya selanjutnya wajib menjaga Lembah itu, termasuk menjaga tempat rahasia dima
na dia menahan adik kandungnya serta beberapa tokoh sesat pada jaman itu
Sungguh luar biasa pengorbanan orang tua itu ..... desis Ceng Liong semakin kagum
dengan nama besar Koai Todjin.
Duta Agung, jarang orang tahu kecuali kami murid-murid keturunan Koai Todjin, bah
wa kakek guru kami itu memiliki kemampuan lain yang luar biasa .... lanjut Thian
San Giokli tetapi tidak langsung membeberkan kemampuan apa gerangan. Tetapi, Cen

g Liong tidak mengejarnya, karena sadar, nenek itu akan segera melanjutkan kisah
nya itu. Dan benar juga:
Salah satu kemampuannya baru saja terbukti beberapa waktu sebelumnya. Yaitu denga
n lolosnya Toh Ling dengan ilmu busuknya yang luar biasa itu. Kakek Guru Koai To
djin memang memiliki bakat aneh yang sama hebatnya dengan adik kandungnya. Hanya
, adik kandungnya menjadi gila ilmu dan gila kedudukan dan kemudian merusaknya.
Kakek Guru sadar dan menempuh jalan agama hingga bisa menekan nafsu liar dalam d
irinya. Puluhan tahun kemudian, dia mengasah kemampuan meramalnya, dan sejumlah
ramalan yang dibuat Kakek guru dalam sebuah kitab kecil ternyata menjadi kenyata
an
Sungguh hebat Koai Todjin itu .... bergumam Ceng Liong
Benar Duta Agung. Kami Lembah Salju Bernyanyi terisolasi dari dunia luar selama 1
00 tahun akibat kalah bertaruh dengan Kakek Dewa Pedang. Hanya saja, melalui kit
ab catatan ramalan Kakek Guru, kamu mampu mengetahui apa gerangan yang terjadi d
i luar sana ...
Maksud Nenek .... ? Ceng Liong terkejut dan semakin tertarik dengan informasi yang
melibatkan banyak tokoh tua di masa lalu itu. Karena itu, dia memotong penjelasa
n si Nenek.
Beberapa tahun setelah Kakek Guru meninggal, anaknya yang hanya mewarisi sebagian
kepandaiannya berambisi angkat nama di Rimba Persilatan dan mengalahkan banyak
tokoh termasuk mencederai banyak tokoh aliran lurus. Untuk mengekangnya, Kakek D
ewa Pedang menantangnya bertarung dengan taruhan siapa yang kalah harus mengisol
asi diri selama 100 tahun. Dan supekku itu kalah setengah jurus dari Kakek Dewa
Pedang setelah bertarung sehari semalam, dan akhirnya, kamipun tenggelam selama
100 tahun dalam isolasi sebagai akibat kekalahan itu
Ini rupanya penyebab mengapa Lembah Salju Bernyanyi seperti sebuah nama baru bagi
ku. Maafkan aku Nek ....
Bukan salahmu Duta Agung. Memang ini murni kekeliruan leluhur perguruanku. Tetapi
, bukan menceritakan dan memperkenalkan Lembah Salju Bernyanyi yang menjadi maks
ud kedatanganku mengganggumu Duta Agung
Sudah tentu, sudah tentu. Akupun yakin, pasti ada sesuatu yang sangat penting yan
g ingin dibicarakan Nenek denganku tanggap Ceng Liong cepat.
Seperti kukatakan tadi, Koai Todjin Kakek Guruku sangat hebat meramal dan menulis
kannya dalam sebuah buku. Sayangnya, tidak semua angkatan perguruanku senang mem
baca. Hanya beberapa yang gemar melakukannya termasuk suboku dan aku sendiri. Da
n akhirnya kami menemukan sebuah kitab berisi ramalan ramalan kakek guru. Dari b
uku itulah kami mengenali Kakek Dewa Pedang, mengenali Lembah Pualam Hijau, meng
enali Kiang Sin Liong, Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan, Kiong Siang Han dan Kian Ti
Hosiang. Kami mengenali keadaan dunia persilatan dari catatan Kakek Guruku itu.
Hanya saja, catatan rinci itu berakhir sampai pada generasi Duta Agung ....
Apa .... ? Kiang Ceng Liong meski bersikap tenang, tetapi tetap tergerak juga ketik
a mendengar ramalan Kakek Koai Todjin justru mencakup hingga ke angkatannya.
Benar Duta Agung, rincian tentang apa yang akan terjadi terhenti di angkatan Duta
Agung dengan satu catatan tambahan .....
Hmmm, bagaimana catatan tambahan itu Nek ... ? Ceng Liong bertanya antara percaya d
an tidak percaya.
Catatan tambahan itu berbunyi: MEREKA BERHADAPAN DENGAN BADAI PERSOALAN YANG LEBI
H BERAGAM DAN BERAT , sambil mengucapkannya si Nenek memandang tajam ke arah Kiang
Ceng Liong. Dia sadar, Ceng Liong berada dalam keadaan percaya dan tidak percay
a.
berhadapan dengan masalah yang beragam dan berat ... , Ceng Liong mengulangi catat
an penutup yang ditambahkan Nenek Thian San Giokli tadi.
Benar Duta Agung. Jika di angkatan sebelumnya Kakek Guru menulis cukup rinci apa
masalahnya, di catatan setelah angkatanmu relatif kosong. Dan hanya ada catatan
itu saja. Sejujurnya, kami mengikuti keadaan dunia persilatan dari buku catatan
tersebut. Termasuk kedatanganku kali ini ke perguruan Bu Tong Pay, salah satunya
untuk membuktikan catatan tentang kematian Ciangbundjin Bu Tong Pay, wakilnya s
erta terutama Pek Sim Siansu. Padahal, Lembah Salju Bernyanyi baru beberapa bula
n sebelumnya bebas dari isolasi 100 tahun
Apakah hanya itu saja maksud kedatanganmu Nek ... ? Ceng Liong bertanya

Engkau teliti Duta Agung. Terus terang kedatanganku ke Bu Tong Pay, meski tidak m
engenal banyak tokoh rimba persilatan, tetapi juga untuk beberapa urusan yang di
tulis oleh Kakek Guruku. Dan itu jugalah sebabnya mengapa aku yang tua ini memin
tamu untuk berbicara pada hari ini .... kalimat ini membuat Ceng Liong menjadi ta
mbah terkejut.
Baiklah Nek, aku percaya bahwa Koai Todjin memang manusia luar biasa. Suhu juga t
elah menjelaskannya kepadaku. Apa gerangan yang Nenek inginkan dariku dalam perc
akapan ini , Ceng Liong mulai masuk dalam percakapan lebih langsung dan menjurus k
e maksud utama si Nenek.
Duta Agung, meski jauh berada di Thian San, tetapi kakek guruku telah mencium ada
nya tokoh sakti yang tak sanggup ditembusnya identitas aslinya. Tetapi, dia menc
ium jika masalah di Bu-Lim banyak terkait dengan tokoh asing yang hebat tersebut
. Tidak, dia tidak mengakibatkan masalah secara langsung, tetapi dari pihaknyala
h masalah itu datang. Sebagaimana masalah selanjutnya secara tidak langsung data
ng dari Lembah Salju Beryanyi kali ini si Nenek tidak lagi sembunyi sembunyi menj
elaskan maksudnya. Bahkan masalah yang ternyata bersumber dari Lembah Salju Bern
yanyi. Ceng Liong tetap serius dan terpaku mendengarkan, lupa memberi komentar:
Meski tidak merinci semuanya, tetapi Koai Todjin meninggalkan catatan penutup dan
petunjuk yang mengantarku ke tempat ini, di Bu Tong Pay. Yakni, menurut catatan
itu: ketika manusia dewa terakhir pergi, bintang baru muncul mengalahkan beberap
a sumber masalah besar yang salah satunya lahir dari Lembah sunyi di Thian San . D
an jika benar catatan kakek guruku, maka orang yang dia maksudkan adalah Duta Ag
ung yang membantuku mengusir manusia berjubah dan berkedok hijau serta Toh Ling
yang dibesarkan di Lembah Salju Bernyanyi sampai disini Thian San Giokli kembali
jeda dan berdiam diri sambil menatap Kiang Ceng Liong.
Bahwa masalah akan berlarut dan tambah rumit, Guruku, locianpwee Kolomoto Ti Lou
dan Pek Sim Siansu locianpwee, memang telah memperhitungkannya. Sungguh luar bia
sa jika Koai Todjin ternyata telah menghitung kejadiannya sejak 100 tahun silam.
Nek, ada lagikah pesan lain yang disampaikan Koai Todjin terkait dengan masalah
ke depan ini ? Ceng Liong nampak berpikir keras dengan informasi dari Thian San G
iokli ini.
Duta Agung, Kakek Guru memang menuliskannya untuk kami secara sangat sederhana na
mun mudah dipahami, seperti ini: Lembah sunyi akan bertahan jika membantu dan dib
antu sang bintang baru . Awalnya kami kurang memahaminya, bahkan suboku juga tidak
memahaminya sampai saat kematiannya. Tetapi, setelah Lembah Salju Bernyanyi ter
lepas dari isolasi dan mengalami banyak bencana, maka akupun akhirnya memahami a
pa maksud utamanya
Nek, apa maksudmu dengan membantu dan dibantu? Dan pemahaman apa yang Nenek perol
eh dari kejadian-kejadian terakhir yang dimaksud ? Ceng Liong bertanya karena mema
ng tidak mengenal dan tidak mengerti dengan kondisi dan keadaan Lembah Salju Ber
nyanyi.
Dutra Agung, begitu lepas dari isolasi, Lembah Salju Bernyanyi menyerbu Thian San
Pay mencari Kakek Dewa Pedang atau muridnya. Disana, terjadi perkelahian dan me
newaskan 50 anak murid Thian San Pay dan Lembah Salju Bernyanyi kehilangan 3 tok
oh utamanya. Lembah Salju Bernyanyi kemudian tersusupi oleh manusia berkedok hij
au, persis dengan yang Duta Agung temui di pintu utara Bu Tong Pay. Selanjutnya,
tiba-tiba Toh Ling muncul dan membunuh kedua orang sumoyku yang menjaga liang p
enjagaan dimana adik kandung kakek guru dan Thian Tee Siang Mo di tahan oleh kak
ek guru. Kondisi Lembah Salju Bernyanyi sangat rawan saat ini, baik menghadapi T
hian San Pay maupun menghadapi manusia berkedok hijau yang tidak dimengerti apa
maunya
Mereka juga mengganggu hingga ke Lembah Salju Bernyanyi? Jika demikian, pasti ada
maksudnya manusia berjubah hijau itu menyusup ke Lembah Salju Bernyanyi. Keadaa
n nampaknya berkembang menjadi lebih rumit demikian Ceng Liong bergumam dan meras
a heran karena kawanan manusia berjubah hijau juga mengenali keadaan di Lembah S
alju Bernyanyi. Mengapa dan apa maksud mereka menyusup ke Lembah Salju Bernyanyi?
sungguh pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan segera.
Duta Agung, benar sekali. Nampaknya mereka mengerti keadaan di Lembah Salju Berny
anyi dan sangat mungkin mereka mengincar dan menduga bahwa Thian Tee Siangmo ata
upun adik kakek Guru meninggalkan murid atau sesuatu yang mungkin mereka gunakan

. Itulah alasan satu-satunya mereka menyusup memasuki Lembah Slaju Bernyanyi anal
isa Thian San Giokli cukup masuk akal. Dan nampaknya Ceng Liong menerima alasan
tersebut.
Nek, aku mengerti kalau kedepan memang persoalan akan semakin beragam dan rumit.
Padahal, aku masih harus menghadapi pertarungan tahunan dengan Lam Hay, Thian To
k dan Bengkauw. Sekarang, muncul masalah Toh Ling, Manusia berjubah hijau dan sa
tu lagi, pembunuh Ketua Bu Tong Pay yang kuyakini berbeda dengan kawanan manusia
berjubah hijau. Masalah memang cukup banyak dewasa ini, bahkan mungkin masih ak
an bertambah dengan pertikaian Lembah Salju Bernyanyi dengan Thian San Pay meski
tidak lagi menjadi Bu Lim Bengcu, tetapi jelas Ceng Liong tetap peduli dengan du
nia persilatan.
Duta Agung, justru karena masalah-masalah ini, dan juga masalah Lembah Salju Bern
yanyi maka aku mohon bertemu dan bertukar pikiran denganmu. Itupun jika Duta Agu
ng berkenan mendengar apa yang akan kukatakan selanjutnya Thian San Giokli menawa
rkan kerjasama namun mencoba masuk secara sangat halus dan nampaknya Ceng Liong
senang dengan gaya bicara si Nenek yang memang sopan dan menghargainya meski bed
a usia mereka cukup jauh.
Silahkan Nek, aku akan mencoba mendengar dan memahaminya sahut Ceng Liong mempersi
lahkan si Nenek memulai.
Duta Agung, aku atas nama Lembah Salju Bernyanyi akan memohon bantuanmu untuk mer
edakan pertikaian dengan Thian San Pay. Secara pribadi, setelah mendengar lapora
n anak murid kami yang menyerang Thian San Pay aku merasa sangat curiga. Apalagi
, diantara penyusup, ada yang memiliki kekuatan sihir yang sangat luar biasa yan
g mampu mengendalikan anak murid kami dan mengantarkannya masuk ke Lembah Salju
Bernyanyi si Nenek berhenti sejenak memandang Ceng Liong yang segera menyahut.
Untuk urusan mendamaikan atau meredakan rasanya bukanlah sebuah pekerjaan yang ma
ha sulit. Tetapi, aku perlu mendengarkan kesaksian dan keterangan kedua belah pi
hak. Artinya, jika memang terdapat kekeliruan yang fatal hendaknya masing masing
harus rela untuk menerima hukuman. Jika dalam posisi seperti itu, maka secara p
ribadi aku bersedia melakukannya jawab Ceng Liong tegas dan membuat Nenek itu mau
tidak mau mengaguminya.
Baiklah, akupun setuju dengan pandanganmu Duta Agung. Jika memang anak murid kami
melakukan kesalahan fatal, maka akupun bersedia untuk menghukum mereka sesuai a
turan perguruan mau tidak mau si Nenek menegaskan pendiriannya juga.
Jika memang begitu, aku bersedia secara pribadi untuk menengahi pertikaian antara
Lembah Salju Bernyanyi dengan Thian San Pay tegas Ceng Liong.
Baiklah, terima kasih untuk kesediaanmu Duta Agung si Nenek tidak lupa berterima k
asih atas kesediaan Ceng Liong.
Hanya, diperlukan waktu untuk mendengarkan dari kedua belah pihak dan untuk selan
jutnya menganalisa kejadian sebenarnya. Baru setelah itu aku akan berusaha untuk
mempertemukan kedua perguruan membahas persoalannya tambah Kiang Ceng Liong.
Kita tetapkan demikian Duta Agung, adil bagi keduanya tambah si Nenek. Dan kedua t
okoh itupun tersenyum satu dengan yang lain. Dan setelah menikmati kesepakatan m
enggembirakan itu selama beberapa saat, si Nenek kemudian akhirnya melanjutkan:
Hal yang kedua, Duta Agung, jika engkau berkenan akupun masih ada sebuah permohon
an yang lain. Mudah-mudahan Duta Agung bisa menimbangnya secara lebih baik dan c
ermat
Masalah apakah itu Nek ? tanya Ceng Liong
Satu hal yang masih belum kupastikan, nampaknya Kakek Guru sangat mengenal dari d
ekat Lembah Pualam Hijau. Hal itu juga ditegaskan oleh subo semasa hidupnya dulu
demikian si Nenek memulai, tetapi meski dia memberi jedah bagi Ceng Liong untuk
menyela tetapi Ceng Liong diam saja seperti membenarkan. Karena sebetulnya, Ceng
Liong juga heran dengan pengetahuan si Nenek yang cukup jelas mengenai Giok Cen
g Sinkang dan ranjang pusaka Pualam Hijau yang menjadi rahasia dalam Lembah Pual
am Hijau. Karena itu, Ceng Liong tertarik untuk mendengarkan lebih jauh.
Kakek guru bukan hanya memiliki catatan tentang keadaan di dalam Lembah Pualam Hi
jau, bahkan juga membuat beberapa catatan yang terus terang tidak dapat kupahami
. Dan kelihatannya, catatan itu adalah catatan mengenai Giok Ceng Sinkang. Penge
tahuan mengenai Lembah Pualam Hijau, kudapatkan dari catatan Kakek Guru, tetapi
catatan khusus yang berisi beberapa kalimat, sungguh tidak dapat kumengerti. Han

ya, menurut Kakek guru, Giok Ceng Sinkang memang salah satu ilmu pusaka yang san
gat tangguh dan ampuh. Keterangannya itu ditutup dengan 5 kalimat rahasia yang e
ntah ada atau tidak ada hubungan dengan Giok Ceng Sinkang. Karena dalam catatan
itu Kakek guru sedang menjelaskan Lembah Pualam Hijau dan Giok Ceng Sinkang. Say
angnya, tidak ada lagi informasi lebih jauh mengenai hal tersebut, termasuk penj
elasan apa hubungan kakek guru dengan Lembah Pualam Hijau
Hmmm, ini informasi baru yang sungguh menarik Nek. Sejujurnya, leluhurku memang m
enemukan Lembah Pualam Hijau lengkap dengan Giok Ceng Pit Kip yang memuat pelaja
ran sinkang Giok Ceng dan Giok Cap Sha Sin Kun, serta juga Ranjang Pusaka Giok C
eng. Semua keturunan keluarga Kiang, pasti diwajibkan melatih sinkangnya di atas
ranjang tersebut jawab Ceng Liong.
Tahukah Duta Agung khasiat utama ranjang itu ? tanya si Nenek
Selain memperkuat dasar Sinkang juga mempermudah penguasaannya, terlebih jika sec
ara rutin melakukannya di atas ranjang itu. Dan jika setidaknya mampu dan sanggu
p selama setahun tidur di atas ranjang pusaka itu, maka kemampuan penguasaan sin
kang itu secara sempurna terjamin dimasa depan jawab Kiang Ceng Liong.
Tepat sekali Duta Agung, hanya ada satu catatan lain dari Kakek Guru, entah Duta
Agung tahu ataukah tidak. Menurut Kakek Guru, kelima kalimat rahasia itu akan te
rbaca jika telah mencapat tingkatan seperti Duta Agung dewasa ini. Yakni ketika
dari sorot mata ataupun wajah pemilik Sinkang itu telah timbul selapis hawa hija
u. Maka ketika bersamadhi di atas ranjang pusaka itu, kelima kalimat itupun akan
muncul dengan sendirinya, itulah sebabnya Kakek Guru menuliskannya di catatan i
tu tambah si Nenek dan membuat Ceng Liong terkejut. Siapa sebenarnya Kakek Aneh K
oai Todjin itu?
Hmmmm, sungguh aneh, tapi aku akan mencobanya kelak Nek. Terima kasih atas inform
asi ini. Akan sangat menyenangkan jika suatu saat Nenek bisa memberitahu kami hu
bungan Koai Todjin dengan Pemilik Lembah Pualam Hijau pada masa lalu. Jika ditel
aah, sangat mungkin keduanya memiliki hubungan khusus, hal yang membuatku sangat
ingin berkunjung ke Lembah Salju Bernyanyi suatu saat Ceng Liong mengutarakan pe
rasaan hatinya secara langsung.
Tentu kami akan bergembira menerima kedatangan Duta Agung suatu saat. Dan soal hu
bungan Kakek Guru dengan Pemilik Lembah Pualam Hijau, biarlah sepulang dari Bu T
ong Pay ini akan kuusahakan membaca beberapa kitab peninggalan kakek guru lainny
a, siapa tahu ada penjelasan mengenai hal itu disana
Terima kasih banyak Nek
Nach, berkaitan dengan permohonanku yang kedua Duta Agung, terdapat dalam kalimat
rahasia tadi: Lembah Sunyi akan bertahan jika membantu dan dibantu sang bintang
baru . Suboku tidak berhasil memahaminya hingga meninggal, tetapi aku bisa memaham
inya karena ternyata ini adalah persoalan setelah Lembah Salju Bernyanyi lepas d
ari isolasi 100 tahun. Dan menjadi lebih mengerti lagi ketika kemudian membaca s
ebuah catatan lain kakek guru yang diberinya judul Sang Bintang Baru . Disanalah di
a menjelaskan mengenai siapa Bintang Baru dengan petunjuk kejadian di Bu Tong Pa
y ini, dan beberapa halaman terakhir tidak bisa kubuka dan kubaca. Tetapi dibagi
an akhir dari catatan itu yang bisa dibaca tertulis : Hanya Bintang Baru yang bis
a membuka dan membacanya , itulah sebabnya aku tidak pernah berusaha membuka dan m
embaca isinya. Jika Duta Agung bersedia membantu, maka permohonanku yang kedua a
dalah kiranya Duta Agung bersedia membuka dan membaca catatan tersebut si Nenek T
hian San Giokli menutup kalimat-kalimatnya dengan permohonan yang mengagetkan Ce
ng Liong. Tenryata permohonan kedua, hanya membuka dan membaca catatan peninggal
an Koai Todjin. Apa susahnya ? pikir Ceng Liong yang kemudian telah menerimanya dan
berkata:
Baiklah Nek, jika memang hanya mencoba membuka dan membaca peninggalan kakek Koai
Todjin, aku akan sangat bersedia. Apakah Nenek membawa catatan peninggalan beli
au tersebut ? tanya Ceng Liong.
Sudah tentu, aku akan menyerahkannya jika Duta Agung memenuhi permohonan tadi jawa
b si Nenek cepat dan lugas.
Jika memang untuk kepentingan banyak orang, aku bersedia untuk membuka dan membac
a catatan tersebut Ceng Liong mengiyakan dan si Nenek nampak gembira luar biasa.
Karena diapun sudah lama ingin mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan dalam ca
tatan khusus kakek gurunya itu. Maka si Nenek kemudian mengeluarkan dari balik j

ubahnya sebuah buku catatan yang terlihat sudah usang, kumal dan tua. Catatan it
u dibungkusnya secara sangat berhati-hati dengan sebuah kain berbahan sangat hal
us dan rupanya dibawanya serta dalam perjalanan ke Bu Tong Pay kali ini.
Kemudian secara perlahan si nenek membuka kain halus yang membungkus catatan Kak
ek Aneh Koai Todjin, dan perlahan hingga akhirnya muncul sebuah kertas yang suda
h berwarna kumal kekuning-kuningan. Di bagian depan kertas kumal tersebut hanya
ada tulisan sederhana dengan judul: Catatan Koai Todjin. Bahan kertas luar dan k
ertas dalamnya adalah sama, tidak berbeda dan semua sudah sama kumal dan kuning.
Buku catatan itu tidaklah tebal, paling ditilik dari ketebalan kertas, mungkin
hanya ada 15 sampai 20 lembar belaka. Apa hebatnya gerangan catatan itu ? Ceng Lion
g berpikir ketika si Nenek meletakkan catatan itu di atas meja dihadapannya.
Apakah aku diijinkan untuk membuka dan melihatnya sekarang Nek ? Ceng Liong bertany
a sambil memandang ke arah si Nenek yang memperlakukan catatan itu dengan hikmat
dan hormat. Dan terlihat si Nenek setelah menghormat ke catatan itu kemudian me
mandang Ceng Liong dan mengangguk sambil berkata:
Silahkan Duta Agung
Maka Ceng Liong kemudian turun dari tempat dia bersila tadi, secara perlahan men
dekati meja dimana catatan itu diletakkan. Kemudian, meniru si Nenek Sakti, Ceng
Liong menghormat ke arah buku tersebut, diiringi senyuman tanda senang atas pen
ghormatan Ceng Liong dari si Nenek. Dan setelah menghormat, secara perlahan Ceng
Liong mendekati catatan itu dan kemudian mengulurkan tangan untuk memegang dan
membuka catatan tersebut. Tetapi, karena sudah usang dan kumal, Ceng Liong batal
memegang, tetapi langsung membelai catatan tersebut, mengusapnya di bagian cove
r catatan dan kemudian secara perlahan dia membuka catatan tersebut. Ada beberap
a saat waktu yang digunakannya untuk membaca halaman-halaman awal dan membuatnya
mengangguk-angguk hormat serta bahkan nampak kaget dan kagum. Sementara si Nene
k yang telah membaca catatan awal, hanya mengikuti dari tempatnya duduk dan meng
awasi Ceng Liong.
Setelah membaca sekitar 5 halaman catatan tersebut, nampak Ceng Liong kaget dan
terkejut. Entah apa yang dibacanya, namun minatnya meneruskan membaca nampak san
gat besar, sementara si Nenek hanya terus mengawasinya tanpa bermaksud menggangg
u ataupun mengajak bicara. Tetapi, setelah halaman kelima, nampak perubahan dala
m diri Ceng Liong, dia tiba-tiba bersedekab, bahkan dari dalam dirinya mulai mun
cul uap putih kehijau-hijauan. Keadaannya sangatlah berwibawa, sementara si Nene
kpun mengawasinya dengan takjub tanpa tindakan apapun yang diambilnya.
Beberapa gerakan tangan dilakukan Ceng Liong, bahkan beberapa kali lengannya ber
main-main di atas catatan tersebut, tetapi herannya catatan itu tidaklah bergera
k sedikitpun. Dan Ceng Liong sendiri setelah beberapa saat, kemudian menarik kem
bali pengerahan kekuatannya, dan dari pelipisnya nampak mengalir keringat yang l
umayan banyak. Artinya, sebelumnya dia memang mengerahkan kekuatan dalam takaran
yang tidak kecil. Tetapi, sesaat setelah dia menarik kekuatannya, lima lembar d
ari catatan Koai Todjin itu perlahan-lahan bagai bunga yang layu, gugur perlahan
tertiup angin.
Si Nenek terkejut dan memandang ke arah Ceng Liong. Tetapi Ceng Liong tersenyum
ke arahnya sambil berkata:
Menurut locianpwee Koai Todjin, nenek bakal tahu apa sebabnya lima halaman awal c
atatan ini luruh menjadi debu dan tertiup angin
Ach, Duta Agung, ternyata dugaanku bahwa engkau telah mencapai tingkatan maha lua
r biasa tidak salah. Kakek Guru yang sudah wafat puluhan tahun bahkan lebih tahu
dibanding aku yang berhadapan denganmu muka dengan muka. Luar biasa, sungguh lu
ar biasa. Jika demikian, engkau sudah mampu membuka catatan utamanya Duta Agung ?
tanya si Nenek sambil terus menatap takjub kearah Kiang Ceng Liong.
Aku sudah bisa membuka dan membacanya Nek, bahkan halaman pertama yang merupakan
petunjuk membaca halaman selanjutnya sudah kubaca. Aku bisa memberitahumu Nek, b
ahwa Kakek Gurumu, Kakek Koai Todjin ternyata memang memiliki sedikit hubungan d
engan Pendiri Lembah Pualam Hijau. Tepatnya, Koai Todjin adalah cucu murid palin
g berbakat dari adik seperguruan termuda pendiri Lembah Pualam Hijau. Karena tid
ak memiliki penerus, sesepuh pendiri Lembah Pualam Hijau menitipkan pengetahuan
mengenai 5 kalimat rahasia kepada kakek Koai Todjin. Hanya dengan penguasaan ter
tinggi ilmu Giok Ceng Sinkang sajalah maka catatan rahasia ini bisa dibuka Ceng L

iong menjelaskan dengan penuh sukacita, sekaligus takjub dengan pengetahuan baru
nya tentang siapa pendiri Lembah Pualam Hijau.
Luar biasa, luar biasa. Kakek Guru memang manusia luar biasa. Dan ternyata beliau
memiliki hubungan denganmu anak muda, meski tidak sangat dekat tutur si Nenek ma
sih takjub dengan apa yang disaksikannya dan apa yang kemudian diketahuinya sete
lah sangat lama menyimpan rahasia tersebut. Tetapi setidaknya, diapun masih memi
liki hubungan perguruan dengan Lembah Pualam Hijau, hal yang membuatnya gembira.
Benar Nek, kita sebenarnya masih memiliki hubungan perguruan, meskipun tingkatann
ya sudah sulit diketahui lebih jauh tegas Ceng Liong.
Syukurlah, jika demikian Kakek Guru tidak menyuruhku meminta bantuan kepada orang
luar. Toch, Duta Agung masih keluarga perguruan sendiri si Nenek nampak bersyuku
r dengan kenyataan yang dihadapinya.
Benar Nek, betapapun kita masih keluarga perguruan yang sama. Jika Kakek Koai Tod
jin menyimpan erat rahasia ini bagi Lembah Pualam Hijau, maka sudah patut jika s
elaku Duta Agung Lembah Pualam Hijau juga melakukan sesuatu bagi keluarga pergur
uan kakek Koai Todjin tegas Ceng Liong dengan penuh semangat. Hal yang sangat men
ggirangkan Thian San Giokli.
Baiklah Duta Agung, aku gembira akhirnya seperti ini. Tahu seperti ini hasilnya,
aku tidak akan keberatan untuk turun gunung dan melaksanakan tugas Kakek Guru. H
anya, apakah gerangan isi dari lembar terakhir peninggalan kakek guru ? si nenek b
ertanya penasaran.
Bukannya menjawab, Kiang Ceng Liong mengeluarkan sebuah medali pualam hijau, tir
uan dari Medali Pualam Hijau lambang Bu lim Bengcu, dan menyerahkannya kepada si
Nenek. Seterusnya Ceng Liong berkata:
Nek, aku menunggu ke-3 murid Nenek untuk datang ke Lembah Pualam Hijau. Tanpa tan
da pegenalku ini, mereka tidak akan mungkin memasuki Lembah Pualam Hijau. Menuru
t Kakek Koai Todjin, aku perlu membuka catatan ini di atas Ranjang Pusaka
dan ke
mudian mengembalikan penguasaanku atas isi catatan ini kepada ke-tiga murid Nene
k
Ach, tidak kusangka Kakek Guru telah mengatur semuanya dengan begitu detail. Aku
memang menyangka dia meninggalkan sesuatu bagi murid-muridku, sekaligus penerus
Lembah Salju Bernyanyi, hanya tak kusangka dia melakukannya melalui garis pergur
uannya dari jalur berbeda si Nenek bergumam kagum atas pengaturan Kakek gurunya.
Nek, Kakek Koai Todjin menemukan cara yang dicatatnya ini dengan memeriksa kemamp
uannya dan kemampuan Giok Ceng Sinkang, dan menurutnya hanya ada beberapa orang
yang sanggup mengerti dan menguasai catatannya ini tambah Ceng Liong yang semakin
hormat kepada Koai Todjin yang ternyata masih punya hubungan perguruan dengan d
irinya.
Iya, aku mengerti Duta Agung. Karena Kakek Guru memang telah berpesan, bahwa keba
ngkitan kembali ilmu Thian Tee Siangmo bakal lebih dahsyat dibandingkan pendahul
unya. Bahkan aku hanya akan sanggup bertahan tanpa berkemampuan mengalahkannya j
ika dia sudah sempurna membaurkan kekuatan kedua gurunya kedalam dirinya. Dan ke
tiga muridkupun, hanya akan sanggup bertahan tanpa mampu mengalahkannya jika mer
eka berjumpa pada puncak kemampuan suatu saat. Dan ternyata Kakek Guru telah men
emukan engkau Duta Agung sebagai lawan bagi Thian Tee Siang Mo dan keturunannya.
Baiklah, jika memang demikian aku akan bergegas kembali ke Thian san, ke Lembah
Salju Bernyanyi. Dalam waktu paling lambat 2 bulan, ke-3 muridku akan menemuimu
di Lembah Pualam Hijau. Duta Agung, terima kasih atas perhatian dan bantuanmu.
Salamku Thian San Giokli kepada keluarga Lembah Pualam Hijau
Baiklah Nek, aku akan menunggu mereka. Dan salam nenek akan kusampaikan
Baiklah Duta Agung, segera setelah upacara besok, aku akan meninggalkan tempat in
i kembali ke Lembah ujar si Nenek sambil berdiri. Tetapi, belum lagi dia minta di
ri terdengar sebuah suara:
Sebentar Nek ... dan belum lagi suara itu hilang, dalam ruangan tersebut telah ber
tambah dengan seorang, bukan tetapi dua orang gadis cantik yang kedatangan merek
a sungguh bagaikan bayangan hantu belaka. Dalam ruangan tersebut telah bertambah
Liang Mei Lan dengan seorang gadis cantik lainnya, inilah Siangkoan Giok Lian,
gadis Bengkauw yang menjadi sahabat akrab Mei Lan. Mereka masuk ke ruangan tepat
ketika si Nenek sudah akan berlalu.
Ada apa jiwi-siocia ..... astaga, sungguh banyak orang muda berkepandaian luar bi

asa sekarang ini sambil bertanya si Nenek takjub memandang kedua Nona manis yang
datang bagai setan dan hantu itu. Mereka masuk dengan pameran ginkang yang sungg
uh mengagumkan; nampaknya tidak berada di sebelah bawah kemampuanku pikir si Nenek
.
Nek, kita telah berjumpa kemaren. Namaku Liang Mei Lan, murid penutup dari suhu P
ek Sim Siansu Wie Tiong Lan Mei Lan memperkenalkan diri dan disambut kekaguman si
Nenek.
Guru harimau, masakan beranak ayam? sungguh hebat, sungguh hebat. Dan siapa engka
u gadis muda ? sambil bertanya kepada Giok Lian
Siangkoan Giok Lian murid Bengkauw Nek .... Giok Lian juga ikut memperkenalkan dir
inya sendiri sambil menghormati si Nenek.
Wah, keturunan orang hebat ........ mari Nona, ada keperluan apakah denganku
Nek, aku ingin menyampaikan sebuah pesan suhu almarhum sebelum beliau meninggal Me
i Lan berkata
Pesan apa gerangan dari Pek Sim Siansu Wie Tion Lan locianpwee ? si Nenek terkejut
mendengar penyampaian Mei Lan.
Sebenarnya akupun tidak tahu maksudnya Nek, tapi guru hanya berpesan kepadaku dan
berkata: Jika suatu saat bertemu Thian San Giokli, sampaikan kepadanya bahwa bah
aya yang lebih mengerikan lagi masih berada di dalam liang itu . Hanya itu yang di
sampaikan Suhu, dan menurut Suhu yang mulia, Nenek akan mengerti dengan sendirin
ya tegas Mei Lan.
Hmmmm, suhumu benar Nona. Aku memang mempertaruhkan banyak hal, tetapi keselamata
n Lembah Salju Bernyanyi juga penting. Karena itu aku memilih datang kemari sebe
lum kemudian kembali menjalankan tugas yang kulakukan menjaga liang tersebut. No
na, aku sudah menjaga liang itu selama lebih dari 60 tahun
Syukurlah jika demikian Nek. Aku telah menyampaikan pesan suhu yang mulia, mudahmudahan Nenek boleh berjaga-jaga
Tentu, tentu Nona. Aku tahu siapa Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan, dan jika dia meni
tipiku pesan di penghujung usianya, artinya pesan itu sangatlah penting. Aku aka
n kembali menjalankan tugasku sekembalinya ke Lembah Salju Bernyanyi. Baiklah, j
ika demikian aku mohon diri ..... , Tetapi belum lagi Thian San Giokli keluar dari
pintu ruangan itu, dia kembali berbalik dan sambil menatap Mei Lan dan Ceng Lio
ng dia berkata:
Atas nama perguruanku dan Kakek Guru Koai Todjin aku mengijinkan engkau Nona muda
untuk ikut mengetahui isi catatan yang kutinggalkan kepada Duta Agung. Anggapla
h hadiah kenang-kenangan untuk Nona atas keramahan penyambutan di Bu Tong Pay in
i. Kuharap engkau akan lebih mampu menandingi Toh Ling suatu saat ..... dan tanpa
menunggu persetujuan Ceng Liong maupun Mei Lan, Nenek Thian San Giokli kemudian
telah melesat keluar meninggalkan ruangan.
=================
Tetapi kerisauan Kiang Ceng Liong bukan hanya masalah yang di ajukan Thian San G
iokli. Bukan semata soal menjadi penengah antara Lembah Salju Bernyanyi dengan T
hian San Pay. Juga bukan hanya masalah potensi kekisruhan yang bakal dihadirkan
Toh Ling yang sudah mewarisi kemampuan 2 iblis maha buas pada masa silam Thian T
ee Siang Mo. Juga bukan hanya persoalan titipan catatan Kakek Koai Todjin yang t
ernyata masih memiliki hubungan perguruan dengan Lembah Pualam Hijau. Masalah-ma
salah itu, sudah cukup menghadirkan kerutan dan keruwetan baginya, karena bagaim
anapun Lembah Pualam Hijau sedang menarik diri dari kerumitan rimba persilatan.
Hanya karena memikirkan dan mengetahui bahwa Kakek Koai Todjin ternyata memiliki
hubungan perguruan dengan Lembah Pualam Hijau yang membuat dia sedikit tentram.
Bagaimanapun membantu Lembah Salju Bernyanyi sama saja dengan membantu keluarga
perguruan sendiri begitu dia mencoba menghibur diri sendiri. Tapi, bagaimanapun,
keruwetan tersebut pasti akan menyeret dirinya untuk kembali mencampuri urusan d
unia persilatan. Padahal, menurut ramalan gurunya, Lembah Pualam Hijau sendiri b
akal disatroni orang dan karenanya sebelum meninggal gurunya meminta semua tokoh
Lembah Pualam Hijau untuk tidak berkelana selama masa waktu 2 tahun.
Masalah yang membebani Ceng Liong lebih dari yang disampaikan Thian San Giokli t
adi. Karena selain masalah tersebut, masih ada persoalan manusia berjubah dan be
rkedok hijau yang digebahnya di jalur utara Bu Tong Pay dan yang ternyata sempat
membunuh beberapa anak murid perguruan itu. Dan masalah manusia berjubah hijau

itu, masih bisa ditambah dengan pembunuhan misterius di Kuil Bu Tong Pay. Tidak
main-main, yang terbunuh adalah Ciangbundjin dan wakil Ciangbundjin Bu Tong Pay.
Tidak diragukan, Bu Tong Pay pasti akan mengerahkan semua tenaganya untuk melac
ak siapa pembunuh sebenarnya segera setelah pengganti Ciangbundjin ditetapkan.
Namun, terkait dengan misteri pembunuhan itu, Ceng Liong masih meragukan apakah
pelakunya adalah manusia berjubah hijau. Meski beberapa pihak termasuk Bu Tong P
ay cenderung menuduh mereka, tetapi Ceng Liong memiliki pertimbangan berbeda. Da
n masalah tersebut perlahan-lahan harus dibuktikan ke depan. Bu Tong Pay sudah p
asti akan memburu pembunuhnya, karena betapapun peristiwa tersebut menampar nama
baik dan nama besar Bu Tong Pay. Hampir bisa dipastikan, para pendekar preman B
u Tong Pay pasti akan dilibatkan dalam penyelidikan dan upaya balas dendam terse
but. Hal ini sudah mulai dirasakan oleh Kiang Ceng Liong selama beberapa saat te
rakhir.
Selain semua persoalan tersebut, masih ada hal lain yang mengganggu Kiang Ceng L
iong. Hal tersebut terjadi beberapa hari sebelumnya, hari yang sama ketika dia b
ercakap dengan Thian San Giokli. Setelah ditinggal oleh Thian San Giokli, Ceng L
iong sempat bercakap-cakap tetapi tidak lama dengan Mei Lan dan Giok Lian. Karen
a Liang Mei Lan harus terlibat dalam persiapan akhir upacara duka, maka percakap
an mereka berlangsung singkat. Hanya saja, sepeninggal ke dua gadis manis itu bu
kan berarti Ceng Liong mendapat waktu istirahat.
Hanya kurang lebih 30 menit dia beroleh ketenangan, karena tidak lama kemudian k
etenangannya kembali diusik oleh orang lain. Orang yang mengusik dan minta berte
mu dengannya, juga bukan tokoh-tokoh biasa. Melainkan mereka yang namanya sudah
lama menjulang tinggi diangkasa rimba persilatan. Mereka adalah Siangkoan Tek, K
auwcu Bengkauw yang hadir di Bu Tong Pay guna menghormati Pek Sim Siansu Wie Tio
ng Lan. Bersama dengannya adalah Tocu Lam Hay Bun, Lamkiong Bu Sek. Mana bisa Ce
ng Liong menolak kehadiran mereka?
Tetapi, bukan soal menolak atau menerima kehadiran mereka yang dipikiran Kiang C
eng Liong, melainkan untuk urusan apa mereka menemuinya? Karena, meski kedudukan
mereka memang sederajat setelah Ceng Liong menjadi Duta Agung Lembah Pualam Hij
au, tetapi betapapun usia mereka jauh di atasnya. Dari segi usia, Kauwcu Bengkau
w masih seangkatan dengan kakeknya, sementara Lamkiong Bu Sek, Tocu Lam Hay Bun
meski jauh lebih muda usia dari kakeknya, tapi tetap saja jauh lebih tua usia da
rinya.
Karena itu, meski keheranan dengan kedatangan kedua tokoh tersebut, tetapi Ceng
Liong dengan cepat dan hormat meski tidak meninggalkan kewibawaannya sebagai Dut
a Agung Lembah Pualam Hijau telah mengiyakan permohonan mereka. Bahkan dengan di
apun mengeluarkan suara gembira sekaligus mempersilahkan kedua tokoh itu untuk m
asuk:
Silahkan Kawucu Bengkauw dan Tocu Lam Hay Bun, tapi maafkan jika ruangan tamuku t
erasa kurang memadai sambut Ceng Liong sambil kemudian berdiri guna menyambut ked
atangan kedua tokoh dari dua perguruan yang tidak kurang masyurnya dengan Lembah
Pualam Hijau itu. Dan benar saja, tidak berapa lama dihadapannya telah berdiri
kedua tokoh besar dengan dandanan khasnya masing-masing. Tentu saja dandanan yan
g melambangkan perguruan yang dipimpin oleh masing-masing tokoh tersebut.
Mari, mari, selamat datang dan silahkan duduk jiwi locianpwee sambut Kiang Ceng Li
ong segera setelah kedua pimpinan dua perguruan besar itu hadir dalam ruangan it
u. Dan adalah Siangkoan Tek, Kauwcu Bengkauw yang memang sangat dekat dengan Kia
ng Cun Le yang tertawa sambil berkata:
Hahaha, sungguh tidak keliru Toako Kiang Cun Le mewariskan kedudukan Duta Agung L
embah Pualam Hijau kepadamu. Selamat berjumpa Duta Agung sambil berkata demikian
Siangkoan Tek telah merangkap tangan dan menyambut ucapan salam Kiang Ceng Liong
. Tapi jangan salah, Kakek yang mengenakan kopiah berlambang bulan dan matahari,
sebuah tanda berunsur terang yang menutupi hingga jenggot panjangnya yang semua
telah memutih tidak sekedar menyampaikan salam. Dia telah mengerahkan kekuatan
iweekangnya untuk mencoba kekuatan Ceng Liong yang didengarnya memiliki kesaktia
n melebihi kakeknya Kiang Cun Le. Bahkan selain itu, si Kakek berkopiah ini pena
saran, mengapa anak muda ini yang ditempatkan di tempat teratas daftar 10 pering
kat pendekar top di Tionggoan.
Serangannya sama sekali tidak mengeluarkan suara desisan sedikitpun. Tetapi Kian

g Ceng Liong yang menjadi Duta Agung, bukanlah anak kemarin sore lagi. Kepekaann
ya serta juga urat-urat syarafnya telah demikian waspada dan sanggup mengiriminy
a sinyal jika sedang diserang. Tetapi, Ceng Liong yang maklum akan perangai kake
k tinggi besar berkopiah bulan dan matahari ini, telah menggunakan sinkang halus
nya. Dan akibatnya serangan coba-coba Kauwcu Bengkauw itu seperti tenggelam begi
tu saja dan tidak mendatangkan efek apapun. Hebatnya Kauwcu Bengkauw sendiri tid
ak merasakan sedikit apapun selain serangannya tenggelam begitu saja dan tidak m
embawa efek baik baginya maupun bagi Ceng Liong. Diam diam kakek itu menarik naf
as panjang dan kagum akan kehebatan Ceng Liong yang dari caranya menghadapi sera
ngan menghormatnya , menandakan bahwa kekuatan tenaga dalamnya sudah sangat sulit u
ntuk dijajaki.
Luar biasa, luar biasa ..... hanya itu yang digumamkan Kauwcu Bengkauw sambil kemu
dian dia berbalik dan menuju kursi yang berada di tengah ruangan tersebut. Semen
tara pada saat bersamaan, Kakek yang satu lagi, lebih muda usianya, telah mengga
ntikannya memberi hormat kepada Duta Agung. Dan sepertinya, diapun mengidap peny
akit yang sama dengan Kakek tinggi besar satunya, si Ketua atau Kauwcu Bengkauw.
Kakek yang satu ini mengenakan Topi aneh menyerupai ikan hiu dengan jubah biru c
emerlang yang ditempeli dengan beragam jenis mutiara. Dan kakek inipun menghorma
t persis seperti Kauwcu Bengkauw, hormat dan salam yang diiringi dengan serangan
tenaga iweekang untuk mengukur kemampuan Duta Agung yang masih sangat muda usia
nya ini. Tetapi, sebagaimana juga Kauwcu Bengkauw, Tocu Lam Hay Bun inipun tengg
elam tenaga serangannya seperti ke dasar laut dan tidak menghadirkan efek sediki
tpun bagi dirinya dan bagi Ceng Liong. Dia mengalami kekagetan yang sama dengan
Kauwcu Bengkauw dan karena itu, sambil menggumamkan kata-kata atau kalimat-kalim
at pujian atas kehebatan Ceng Liong, diapun kemudian berbalik dan menuju kursi y
ang lainnya lagi berendengan dengan Kakek Ketua atau kauwcu bengkauw.
Setelah kedua tamunya duduk, Ceng Liongpun dengan tidak mengungkit sedikitpun ha
sil dari benturan tenaga sambil menghormat, kemudian menuju ke kursi satunya lag
i dan jadinya berhadapan dengan kedua tokoh besar itu di meja tengah ruangan tem
patnya menginap. Dengan tidak meninggalkan sikap hormat serta tentu wibawanya se
bagai Duta Agung Lembah Pualam Hijau, Ceng Liong kemudian menyapa sambil membuka
percakapan:
Terima kasih atas kunjungan yang terhormat Kauwcu Bengkauw dan Tocu Lam Hay Bun.
Ada urusan apakah gerangan hingga jiwi locianpwee berkenan untuk mengunjungi aku
di tempat ini ?
Hahahahaha, Duta Agung, tidak perlu merendahkan diri. Dengan berada di puncak daf
tar pendekar rimba persilatan dan menjadi pemilik Lembah Pualam Hijau, serta kek
uatanmu menahan seranganku tadi, membuktikan jika Duta Agung bukanlah nama koson
g belaka. Dengan kata lain, kakekmu Kiang Cun Le benar-benar telah menemukan pen
erus yang sepadan di Lembah Pualam Hijau sambil tertawa gembira Kauwcu Bengkauw m
emuji serta memandang kagum ke arah Kiang Ceng Liong. Benar, dia penasaran denga
n daftar 10 pendekar top Tionggoan, tetapi setelah mencoba Duta Agung ketika ber
temu tadi, dia mendapati kenyataan bahwa anak muda itu memang tidak bernama koso
ng. Bahkan sepertinya malahan memang melebihi kakeknya sendiri, Kiang Cun Le.
Acccchhhh, Kauwcu Bengkauw terlampau memuji ... Ceng Liong menukas sambil merendah
kan diri. Bagaimanapun dia sadar dengan siapa dia berhadapan. Yakni dengan tokoh
-tokoh puncak rimba persilatan Tionggoan yang sudah angkat nama puluhan tahun.
Ah, sudahlah Duta Agung. Siangkoan Kauwcu memang benar, betapapun dalam kedudukan
mu sebagai Duta Agung kita berdiri sama tinggi di rimba persilatan. Karena itu,
tidak perlu engkau terlampau merendahkan diri dalam menghadapi kami-kami ini. Me
skipun memang usia kami jauh lebih tinggi dari pada Duta Agung Lamkiong Bu Sek be
rsuara mendukung Siangkoan Tek, Kauwcu Bengkauw. Dan ternyata suaranya sangatlah
besar, mungkin sama besar dengan tubuhnya yang memang juga jangkung dan tinggi
besar itu.
Terima kasih, terima kasih jiwi locianpwee. Jika demikian, maafkan jika selaku Du
ta Agung aku berlaku kurang layak
Sebetulnya, bukan soal kurang layak. Justru sebaliknya, kami berdua memutuskan un
tuk menemui Duta Agung karena menemukan sejumlah persoalan dan keanehan beberapa
waktu belakangan ini ujar Kauwcu Bengkauw sambil mengelus-elus jenggotnya yang s
emua sudah memutih tersebut. Ucapan Kauwcu Bengkauw yang tiba-tiba menjadi seriu

s ini sedikit menggelitik dan menghadirkan rasa heran bagi Ceng Liong. Meskipun
demikian sambil terus menatap kedua tokoh itu, Ceng Liong tetap bersikap menungg
u penjelasan selanjutnya mengenai persoalan yang mereka informasikan tersebut.
Diamnya Duta Agung membuat Kauwcu Bengkauw dan Tocu Lam Hay Bun saling pandang.
Nampaknya keduanya sedang berusaha menyepakati siapa gerangan yang akan menjadi j
uru bicara utama dalam menjelaskan masalah yang mereka bawa kepada Duta Agung. Ke
duanya saling tatap untuk sampai pada pengertian bahwa keduanya akan saling meng
uatkan. Sementara Ceng Liong memandangi keduanya sampai akhirnya Kauwcu Bengkauw
kembali buka suara:
Duta Agung, sebelum menemukan kasus terbunuhnya Ciangbundjin Bu Tong Pay, kami be
lum akan membuka persoalan ini. Tetapi, setelah melihat korban juga menyentuh hi
ngga ke Bu Tong Pay, kami menjadi gelisah karena efeknya sangat mungkin melebar
kemana-mana demikian sang Kauwcu memulai. Akan tetapi, baru sampai di titik ini,
Kiang Ceng Liong segera menjadi sangat tertarik dan terlihat sangat antusias. Ba
hkan, karena penjelasan lebih jauh agak terlambat, Ceng Liong telah menukas lebi
h dahulu:
Apakah hal ini mengartikan bahwa jiwi-locianpwee sebenarnya mengetahui siapa gera
ngan tokoh yang melakukan pembunuhan tersebut ? sambil menatap kedua tokoh dihadap
annya menanti reaksi dan jawaban mereka.
Tahan sebentar Duta Agung. Karena persoalannya bukan semata korban di Bu Tong Pay
, tetapi bahkan juga anak murid Lam Hay Bun, Bengkauw dan beberapa pendekar dala
m perjalanan menuju Bu Tong Pay ini. Jika dihitung dari korban di sekitar laut s
elatan hingga ke Bengkauw dan perjalanan ke Bu Tong Pay, maka pembunuhan tersebu
t telah berlangsung selama hampir 2 bulan terakhir ini
Astaga, tapi apakah kematian mereka semua mirip dengan kematian Ciangbundjin Bu T
ong Pay dan wakilnya itu ? Ceng Liong bertanya secara serius. Tetapi, bukannya men
jawab pertanyaan itu, Tocu Lam Hay Bun justru sebaliknya bertanya kepada Ceng Li
ong:
Duta Agung, apakah engkau pernah sedikit saja mendengarkan cerita mengenai salah
satu imu pukulan yang dirahasiakan dan bernama Ilmu Cit Sat Sin Ciang (Ilmu Puku
lan Sakti Tujuh Gerakan) ?
Maksud Tocu, Ilmu rahasia Lam Hay Bun yang telah lenyap kurang lebih 150 tahun te
rakhir ini ? Ceng Liong balik bertanya
Tepat sekali, ilmu itu yang kumaksudkan
Hanya sekilas, suhu memang pernah menjelaskan kepadaku. Tetapi, secara lebih rinc
i mengenai jenis serta kekuatan dan kehebatan ilmu pukulan tersebut, suhu sama s
ekali tidak memberitahuku
Duta Agung, jika kami tidak keliru, kita sedang menghadapi kemunculan kembali ilm
u rahasia Lam Hay Bun. Dan celakanya, Ciangbundjin Bu Tong Pay, tidak salah lagi
telah menjadi korban dari ilmu pukulan rahasia yang telah lama hilang tersebut t
egas Tocu Lam Hay Bun
Mengapa Tocu sampai seyakin itu .... ? Ceng Liong bertanya keheranan.
Karena sebagaimana korban-korban sebelumnya, termasuk korban-korban awal di seput
ar laut selatan, semuanya tidak menunjukkan adanya sedikitpun kerusakan maupun t
erluka di bagian luarnya. Tapi jika diperiksa lebih teliti, organ-organ dalam da
ri orang-orang tersebut telah rusak berat. Disinilah ampuhnya sekaligus kejinya
ilmu rahasia tersebut. Satu tanda lagi yang tidak bakal keliru, semua korban bin
asa dengan wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dan semua korban yang k
ami periksa, menunjukkan tanda-tanda yang sama jawab Tocu Lam Hay yang nampaknya
sangat yakin bahwa penyebab kematian para korban termasuk Ciangbundjin Bu Tong P
ay adalah pukulan rahasia perguruannya yang telah dinyatakan lenyap ratusan tahu
n silam. Sebelum Ceng Liong bereaksi, Kauwcu Bengkauw telah menyambung:
Konon keampuhan pukulan tersebut adalah, meski hanya terdiri dari tujuh gerakan b
iasa, tetapi setiap gerakan yang menyusul secara otomatis membawa kandungan tena
ga yang 2 kali lebih besar dari gerakan sebelumnya. Dan jika seseorang telah san
ggup memainkannya sampai gerakan ke-7 berarti orang itu telah sanggup menguasain
ya secara sempurna. Fakta bahwa semua korban menunjukkan gejala yang sama mengar
tikan, kita sedang berhadapan dengan seorang yang telah sempurna meyakinkan Cit
Sat Sin Ciang tersebut. Dan terus terang saja Duta Agung, bahkan Tocu Lam Hay Bu
n dan Kauwcu Bengkauw sendiripun masih bukan tandingan orang tersebut , jelas seka

li bukan hanya nada, tetapi ekspressi wajah Kauwcu Bengkauw ketika mengucapkan k
alimat terakhir sangat-sangat prihatin dan bahkan terlihat begitu menyedihkan.
Menampak kerut dan keprihatinan di wajah kedua tokoh tersebut, Kiang Ceng Liong
terkejut dan segera maklum jika persoalan tersebut bukanlah perkara kecil. Kesom
bongan dan kegemaran akan nama baik dari ke-dua orang ini sudah sangat dikenal o
lehnya, termasuk kakeknya. Tetapi, bahwa mereka berdua sampai merendah dan menga
takan tidak akan sanggup menghadapi manusia yang membekal Cit Sat Sin Ciang, sun
gguh mengagetkannya. Karena itu diapun segera bertanya sekaligus berusaha menepi
s kepenasarannya:
Jiwi-Locianpwee, apakah memang Ilmu pukulan tersebut sangat dahsyat dan tidaklah
terlawan? Bagaimanakah jika dibandingkan dengan ilmu pukulan lainnya yang bernam
a Thian Tee Siang Mo yang bernama Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk
tulang)?
Kauwcu Bengkauw Siangkoan Tek menarik nafas panjang sambil kemudian menjawab per
tanyaan tersebut:
Duta Agung, pada lebih 150 tahun sebelumnya, ada 5 ilmu pukulan jahat yang menjag
oi dunia persilatan. Ke-5 ilmu pukulan tersebut adalah Cit Sat Sin Ciang dari La
m Hay, Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang) milik guru dari se
pasang Iblis Langit Bumi, Ilmu Ceng Wua Hua Liat Ciang Hoat (llmu pukulan Pengge
tar Urat Nadi) milik dari Nenek Hoa Ciu Nio yang masih merupakan Bibi Guru dari
Kakek Guruku, Ilmu Hian Men It Goan Kong Ki (Tenaga Dalam Dahsyat yang melumpuhk
an Lawan) milik Sek-mo (iblis cabul) Jit-sim-ang dan terakhir Ilmu Pukulan Si Se
sat Tidak Sesat Lurus Tidak Lurus Nenek Buyung Siok Sing yang bernama ilmu sakti
Ciat-lip-jiu (tangan sakti penerus tenaga)
Aku sudah pernah mendengar kisah 5 pukulan sakti tersebut, tetapi kehebatan dan d
etail dari masing-masing ilmu tersebut sungguh-sungguh aku tidak mengerti Kauwcu
Ceng Liong kembali bertanya ketika Kauwcu Bengkauw berhenti sejenak. Dan atas pe
rtanyaan Ceng Liong, dia kembali melanjutkan penjelasannya:
Nenek Buyung Siok Sing mungkin adalah yang paling lemah dari mereka berlima, teta
pi Ilmunya Ciat Lip Jiu (Tangan Sakti Penerus Tenaga) membuatnya mampu melawan t
okoh yang lebih lihay darinya. Pukulan sehebat apapun akan sanggup digiringnya u
ntuk diadu dengan pukulan orang lain, atau ditumbukkan ke benda keras disekitarn
ya. Jika kemampuan iweekang berimbang, dia bahkan akan sanggup mengembalikan puk
ulan lawan tersebut lebih kuat dari yang dilontarkan. Karena itu, meski iweekang
nya lebih lemah, asal tidak kalah sampai lebih dari setengah bagian, maka akan s
ulit memukulnya. Disinilah letak keampuhan Ciat Lip Jiu. Hanya sayangnya, Nenek
antik ini sudah lama menghilang bersama dengan ilmu ampuhnya tersebut. Ke-4 ilmu
lain, sebagaimana kabar di dunia persilatan memiliki keampuhan yang sama dengan
tingkat kekejian yang hampir sama. Karena itu, sebetulnya yang tepat bukan 5 pu
kulan jahat, tetapi 4 pukulan jahat, karena yang benar-benar jahat dan keji adal
ah 4 ilmu pukulan tersebut. Sementara Nenek Buyung Siok Sing sulit di terka apak
ah dia tokoh sesat ataukah tokoh lurus, berbeda dengan ke-4 tokoh lainnya yang m
emang benar-benar jahat dan sadis
Ceng Liong nampak manggut-manggut mendengarkan penjelasan tersebut. Sementara it
u, Kauwcu Bengkauw nampak beristirahat sebentar dan melirik Tocu Lam Hay untuk m
elanjutkan:
Cit Sat Sin Ciang hanya bisa dilontarkan jika seseorang telah menguasainya secara
sempurna, jika tidak baru sampai di pukulan kelima, pemiliknya bakal terkapar b
inasa kehabisan tenaga. Sebagai perbandingan Duta Agung, dengan tingkat kepandai
anku sekarang ini, aku baru bisa memadai untuk mulai belajar Cit Sat Sin Ciang.
Sayangnya, ilmu tersebut telah raib bersama dengan hilangnya Lamkiong Hok setela
h sama-sama terluka dalam pertempuran segi-lima di tepi pantai Timur. Setelah pe
rtempuran tersebut, Lamkiong Hok lenyap bersama ilmu tersebut dan tidak pernah m
uncul kembali hingga 150 tahun kemudian. Ilmu Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan din
gin pembusuk tulang) baru akan disebut sempurna jika dalam mengeluarkan ilmu ter
sebut tersiar hawa harum menggantikan bau busuk. Sepanjang pemilik ilmu tersebut
belum menguasai secara sempurna, maka bau busuk yang akan keluar dari pemilik i
lmu tersebut. Sejauh pengetahuanku, Thian Tee Siang Mo belum sampai pada tingkat
ini kecuali guru mereka. Dan ilmu inipun sudah raib bersama Thian Tee Siang Mo
Tetapi, ilmu Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang) sudah munculk

an dirinya beberapa hari sebelumnya di Bu Tong Pay ini Ceng Liong menyela, dan me
lanjutkan: Hanya saja, bau yang tersiar dari tubuh Toh Ling yang menguasai ilmu
itu masih bau busuk
Benar, sebetulnya kami berduapun heran, bagaimana bisa seorang anak muda menguasa
i ilmu Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang) tersebut. Memang s
angatlah mungkin dia adalah murid pewaris dari Thian Tee Siang Mo jawab Tocu Lam
Hay
Tepat sekali, Toh Ling nampaknya membekal ilmu tersebut dari Thian Tee Siang Mo te
gas Ceng Liong teringat penjelasan Thian San Giokli
Engkau yakin sekali dengan pandangan itu Duta Agung ? Kauwcu Bengkauw bertanya hera
n.
Beberapa waktu lalu, seorang locianpwee baru saja memberitahuku asal-usul Toh Lin
g dan siapa gurunya jawab Ceng Liong sambil memandang Kakek tinggi besar berkopia
h bulan dan matahari itu.
Siapakah tokoh tua tersebut Duta Agung ? bertanya Kauwcu Bengkauw sambil menatap ta
jam ke arah Ceng Liong
Dia adalah Thian Sat Giokli, tokoh tua dari Lembah Salju Bernyanyi dimana Thian T
ee Siang Mo di kalahkan dan disekap oleh pemilik lembah itu Koai Todjin sejak 10
0 tahun silam jawab Ceng Liong.
Ach, kiranya tokoh aneh itu yang mengalahkan dan menyekap sepasang iblis yang san
gat ganas itu bergumam Kauwcu Bengkauw, heran dan takjub akan informasi terakhir
itu. Sekaligus prihatin dengan munculnya salah satu dari 4 pukulan jahat yang me
ngganas 150 tahun silam.
Bagaimana dengan ke-2 ilmu pukulan jahat lainnya Ceng Liong kembali bertanya sambi
l memandang Tocu Lam Hay
Kedua ilmu jahat lainnya yakni Ilmu Ceng Wua Hua Liat Ciang Hoat (llmu pukulan Pe
nggetar Urat Nadi) milik dari Nenek Hoa Ciu Nio dan Ilmu Hian Men It Goan Kong K
i (Tenaga Dalam Dahsyat yang melumpuhkan Lawan) merupakan ilmu-ilmu pukulan jaha
t yang memiliki keistimewaan berbeda. Jika Ceng Wua Hua Liat Ciang Hoat dikerahk
an dengan kekuatan penuh, maka sekali saja menerobos pertahanan sinkang kita, di
pastikan urat nadi kita akan tergetar pecah. Jika sudah demikian, maka sulit men
ghindari cacat atau bahkan kematian. Sementara Hian Men It Goan Kong Ki merupaka
n lontaran tenaga dalam yang sama dengan Bu-siang-te-im-hu-kut mengandalkan hawa
racun dan kekuatan tenaga dalam. Kelihatannya ke-lima tokoh sesat pada masa lal
u ini semuanya terluka berat karena setelah pertempuran mereka di pantai timur,
selanjutnya tiada seorangpun juga yang masih menjumpai mereka hingga saat ini
Tetapi, faktanya sekarang ini kita justru sedang menghadapi 2 dari 4 pukulan jaha
t pada masa lalu. Dan jika memang benar demikian, kedua ilmu pukulan jahat itu t
elah muncul di Bu Tong Pay Ceng Liong menyimpulkan sambil memandang ke dua tokoh
dihadapannya.
Benar Duta Agung, justru karena menyadari gejolak yang sangat mungkin akan segera
kita hadapi, maka kami berdua mencoba menyampaikannya dan bertukar pikiran deng
an Duta Agung. Karena, di sela menghadapi ancaman dunia persilatan oleh kehadira
n ke dua ilmu pukulan itu, kita masing-masing sedang sibuk memikirkan pertarunga
n antara kita satu tahun setengah kedepan ujar Tocu Lam Hay yang mana di wajahnya
nampak benar kecemasan yang tak tersembunyikan.
Bagaimana menurut jiwi-locianpwee? Ancaman tersebut sudah pasti memang harus dita
nggulangi, sementara janji pertemuan kita ke depan juga sudah kita tunda sekali.
Jika memang jiwi-locianpwee punya pendapat, aku yang muda akan sedia untuk mend
engarkannya ucap Ceng Liong sambil mengembalikan ide pertarungan mereka kepada ke
dua tokoh Bengkauw dan Lam Hay tersebut.
Duta Agung, sebagaimana telah disepakati dalam beberapa pertarungan terakhir, per
temuan ataupun pertarungan antara Pendekar Tionggoan yang diwakili Lembah Pualam
Hijau, Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay dan Kaypang dengan kami Lam Hay Bun, Bengkauw
dan Thian Tok telah berubah jauh maknanya. Jika dahulu aroma memperebutkan nama
masih sangat kental, maka akhir-akhirnya lebih sebagai ajang uji kemampuan mena
kar sejauh mana kemampuan dan kemajuan masing-masing perguruan. Karena itu, kami
ingin usulkan bagaimana sekiranya pertemuan berikut dilaksanakan di salah satu
peserta dari 7 perguruan yang terlibat? Kalau selama ini dilakukan di wilayah Ti
onggoan, maka kami ingin mengusulkan Lam Hay sebagai tempat pertempuran berikutn

ya. Bagaimana kiranya pandangan dan pendapat Duta Agung ? Ide dan usul yang diajuk
an Kauwcu Bengkauw ini sangatlah menarik. Dan tentu saja Ceng Liong setuju denga
n makna pertempuran nantinya, yakni sebatas uji kemampuan dan kemajuan masing-ma
sing. Hanya, tempat pelaksanaan di Lam Hay Bun, kelihatannya Ceng Liong tidak be
rani mengambil keputusan sendiri. Karena itulah diapun berkata sambil berpikir s
ejenak:
Jiwi-locianpwee, rasanya sayapun secara pribadi sangat sepakat dengan makna perte
mpuran itu nantinya. Semua pihak rasanya tidak berkeberatan jika itu dilakukan s
ebatas mengenali kemajuan dan kemampuan masing-masing. Hanya, ijinkan aku mencob
a menjajaki keinginan kawan-kawan Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay dan juga Kaypang. D
alam waktu dekat kami akan menyampaikan keputusan terkait undangan untuk melakuk
an pertemuan dan pertarungan di Lam Hay Bun ujar Ceng Liong, meski tidak memberi
jaminan persetujuan, tetapi nampaknya dia pribadi setuju dengan ide Bengkauw dan
Lam Hay. Hal itu membuat kedua tokoh besar di hadapannya tersenyum dan manggutmanggut.
Jika memang Duta Agung memandang penting untuk membicarakan masalah tersebut deng
an Siauw Lim Sie, Bu Tong dan Kaypang, maka kami mengucapkan terima kasih. Hanya
, perlu kami tegaskan, karena keterlibatan salah seorang sesepuh Lam Hay Bun dal
am huru-hara Thian Liong Pang, serta munculnya ilmu jahat yang dahulunya dipergu
nakan salah seorang tokoh Lam Hay Bun, maka kami ingin mengundang tokoh-tokoh Ti
onggoan untuk berkunjung dan lebih mengenal Lam Hay Bun dan pulau kami di lautan
selatan. Pertemuan selanjutnya, kamipun sangat setuju jika dilakukan di salah s
atu tempat Siauw Lim Sie, Lembah Pualam Hijau, Bu Tong Pay ataupun Kaypang demiki
an Tocu Lam Hay Bun menjelaskan alasan undangannya ke Lam Hay Bun.
Ide tersebut memang sangat menarik, karena itu dengan senang hati kami akan bicar
akan dan mudah-mudahan akan disetujui sahabat-sahabat lainnya Ceng Liong mengungk
apkan rasa senangnya yang tak tersembunyikan dari raut wajahnya. Percakapan mere
kapun berjalan jauh lebih santai dan menyenangkan, meskipun masalah-masalah yang
diajukan sebetulnya adalah masalah-masalah peka yang sedang terjadi di rimba pe
rsilatan dewasa ini.
Dan ketika akhirnya percakapan mereka akan diakhiri, saat kedua kakek tersebut s
udah berdiri dari kursi yang mereka duduki, Kiang Ceng Liong teringat suatu masa
lah yang dititipkan oleh kakeknya:
Kauwcu, maafkan jika aku melupakan sesuatu. Kakek sempat membisikkan satu pesan u
ntuk disampaikan kepada Kauwcu, yakni berkaitan dengan perjodohan Nona Siangkoan
Giok Lian dengan Liang Tek Hoat Ceng Liong berkata sambil ikut berdiri, sementar
a Kauwcu Bengkauw mendengar berita tersebut telah dengan gembira membalikkan bad
an dan kembali menghadap Kiang Ceng Liong. Dari mulutnya segera terdengar permoh
onan berita selanjutnya dari Ceng Liong:
Apakah gerangan berita itu adalah berita gembira Duta Agung ? sang Kauwcu tidak men
yembunyikan nada gembira dari suaranya.
Menurut kong-kong, pihak keluarga Pangeran Liang dan Kaypang telah menyetujui per
jodohan Liang Tek Hoat dengan Non Siangkoan Giok Lian. Namun, menurut saudara Te
k Hoat dan tadipun telah kubicarakan dengan nona Giok Lian, mereka menunda hari
bahagia mereka sampai setelah pertemuan antara Perguruan Tionggoan dengan Lam Ha
y, Bengkauw dan Thian Tok. Dengan demikian, hari bahagia mereka akan dilangsungk
an lebih satu setengah tahun kedepan berkata Ceng Liong sambil tersenyum.
Hahahaha, aku tahu jika toako tidak akan mengecewakanku. Terima kasih, terima kas
ih Duta Agung, sampaikan salamku kepada kakekmu itu tawa gembira spontan terdenga
r dari mulut Kauwcu Bengkauw, dan karena lepas tak ditahan-tahan, orang di luarp
un pasti mendengarkan tawa kakek tinggi besar ini.
Kionghi, kionghi Kauwcu. Jangan lupa mengundang Lam Hay di hari bahagia cucumu it
u kelak Tocu Lam Hay memberi ucapan selamat. Dan seterusnya diapun menghadapi Cen
g Liong sambil berkata:
Duta Agung, akan ada saatnya aku yang tua ini memohon bantuanmu buat cucu cucuku
nanti, hahahaha Tocu Lam Hay ikut bergirang, sekaligus diapun ingin mengikat janj
i Ceng Liong untuk membantu mencarikan jodoh bagi putra-putri atau cucu-cucunya
kelak. Sudah tentu Ceng Liong meski sekedar berbasa-basi tidaklah akan menolak p
ermohonan ini:
Sudah tentu, jika memang berkesanggupan untuk membantu, aku akan sangat senang me

lakukannya locianpwee. Dan aku menunggu kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi
Tocu Lam Hay Bun
Hahahaha, baiklah terima kasih Duta Agung. Biarlah kami menunggu jawabanmu dalam
beberapa hari ini sebelum kami kembali ke Bengkauw dan Lam Hay , Tocu Lam Hay Bun
kemudian ikut berbalik dan menyusul Kauwcu Bengkauw yang telah berjalan ke pintu
keluar.
Terima kasih atas kunjungan Jiwi-Locianpwee Ceng Liong memberi hormat sambil mengh
antarkan kedua tokoh besar itu ke luar ruangan dan mengucap terima kasih atas ku
njungan kedua tokoh besar itu.
Baiklah, sampai berjumpa pula Duta Agung dan belum hilang nada suara itu, kedua ma
nusia tinggi besar itu sudah jauh berada di luar ruangan. Meninggalkan Duta Agun
g Kiang Ceng Liong sendirian dalam ruangan tersebut.
=================
Dan, persoalan-persoalan itulah yang kembali memenuhi pikirannya. Beberapa urusa
n telah dikerjakannya beberapa hari ini. Pertama, meminta pandangan Siauw Lim Si
e, Kaypang dan Bu Tong Pay tentang usulan pertemuan setahun lebih ke depan untuk
dilaksanakan di Lam Hay Bun. Dan, ternyata baik Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay maup
un Kaypang menyatakan persetujuan atas usulan tersebut, terlebih karena disertai
alasan guna lebih saling mengenal dan bukan semata urusan pibu atau adu kepandaian .
Karena itu baik Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay maupun Kaypang telah dengan besar ha
ti kembali memberi kepercayaan kepada Ceng Liong untuk menyampaikkan persetujuan
atas pertemuan yang ditetapkan akan dilaksanakan pada musim semi nanti.
Dengan demikian, untuk urusan yang pertama Ceng Liong telah melaksanakan tugasny
a dengan baik. Bahkan, sebelum Tocu Lam Hay Bun dan Kauwcu Bengkauw meninggalkan
Bu Tong Pay, Ceng Liong telah menyampaikan perihal persetujuan mereka untuk men
gunjungi Lam Hay Bun pada musim semi satu setengah tahun ke depan. Dan hal itu d
isambut dengan sangat gembira oleh masing-masing Kauwcu Bengkauw, terlebih Tocu
Lam Hay Bun. Merekapun pulang dengan hati gembira.
Selain urusan itu, Ceng Liong juga telah mempercakapkan persoalan munculnya pewa
ris 2 ilmu pukulan jahat pada 150 tahun silam, yakni ilmu Cit Sat Sin Ciang (Tan
gan Pengendali tenaga) dari Lam Hay Bun dan juga ilmu Bu-siang-te-im-hu-kut (puk
ulan dingin pembusuk tulang). Kiang Ceng Liong sekaligus juga mengingatkan baik
pihak Siauw Lim Sie, Bu Tong Pay dan Kaypang untuk jauh lebih awas dan waspada t
erhadap munculnya Toh Ling dengan kemampuan ilmu Bu Siang Te Im Hu Kut yang kaba
rnya masih belum sempurna. Tetapi belum sempurnapun sudah mampu mengimbangi Mei
Lan dan Kwi Song. Bagaimana jika sudah mampu menyempurnakan ilmunya?
Sekaligus, Ceng Liong juga meminta agar semua awas dengan munculnya pewaris Cit
Sat Sin Ciang yang untuk saat ini nampaknya malah lebih berbahaya. Karena Ciangb
undjin Bu Tong Pay sudah menjadi korban. Selain itu, pewaris pukulan ini tidak a
kan muncul jika belum sempurna menguasai ilmu tersebut. Karena itu, kewaspadaan
harus sangat ditingkatkan, sekaligus upaya penyelidikan harus dilakukan secara b
ersama-sama. Pertemuan merekapun menyepakati semua, baik Lembah Pualam Hijau, Ka
ypang maupun Siauw Lim Sie akan ikut membantu penyelidikan pembunuhan Ciangbundj
in Bu Tong Pay.
Akan tetapi, khusus Lembah Pualam Hijau, dalam komitmen bersama 4 perguruan baru
akan mulai bergerak setelah 2 bulan kedepan. Hal inipun hanya akan terbatas kep
ada pergerakan Duta Agung karena kebersamaan dengan 4 perguruan besar Tionggoan.
Jangka waktu 2 bulan, karena dalam waktu dua bulan ini Lembah Pualam Hijau seda
ng mempersiapkan hari pernikahan Nenggala dengan Duta Dalam Lembah Pualam Hijau,
Kiang Li Hwa. Kesempatan itu juga Ceng Liong menyampaikan undangan kepada 4 per
guruan, dan hanya mereka undangan di luar Lembah Pualam Hijau. Tidak ada undanga
n lain yang dilayangkan dan upacara pernikahan inipun tidaklah disiarkan di duni
a persilatan.
Sayangnya Kiang Ceng Liong sama sekali tidak memperhatikan, karena memang sama s
ekali tidak tahu jika ada salah seorang peserta pertemuan yang terpukul dengan k
abar gembira itu. Disudut, Souw Kwi Beng nampak tertunduk lesu, dan hanya seoran
g Kwi Song belaka, saudara kembarnya, yang mengerti benar mengapa kokonya tiba-t
iba berubah begitu lesu dan tidak bersemangat. Kabar gembira dan undangan dari C
eng Liong merupakan berita buruk dan melesukan bagi seorang Kwi Beng. Dan kabar
itu telah membuka lembaran baru yang akan ditempuh seorang Kwi Beng ke depan. Ap

a dan bagaimanakah itu?


Setelah mengatur kesepakatan dengan ke-empat perguruan Tionggoan, pada hari kedu
a setelah upacara duka, Ciangbundjin Siauw Lim Sie dan rombongannyapun meninggal
kan Bu Tong Pay. Hampir bersamaan waktunya dengan keberangkatan Tocu Lam Hay Bun
dan Kauwcu Bengkauw. Banyaknya tamu yang meninggalkan Bu Tong pada hari kedua,
hampir sama banyaknya dengan yang berangkat pada hari pertama. Karena itu, menje
lang malam hari, Bu Tong Pay sontak menjadi jauh lebih sepi dibandingkan hampir
8 hari sebelumnya yang begitu ramai dikunjungi ratusan atau mungkin ribuan tamu
pelayat.
Pada malam hari kedua itulah Ceng Liong kembali mengajak bertemu ke-4 pendekar m
uda, kawan seangkatannya untuk membicarakan kesiapan mereka menghadapi gejolak b
aru rimba persilatan. Pada kesempatan itu, Ceng Liong mengingatkan bahaya 2 ilmu
pukulan rahasia yang sangat berbahaya dan sekaligus berdiskusi bersama bagaiman
a upaya menanggulanginya. Baik Kwi Song maupun Mei Lan mengugkapkan jika tingkat
kemampuan Toh Ling tidak berada di sebelah bawah kemampuan mereka. Dan ketika m
engetahui bahwa Toh Ling bahkan belum sempurna menguasai ilmunya, semua segera s
adar jika lawan sungguh-sungguh sangat berbahaya. Itulah sebabnya Kiang Ceng Lio
ng menanyakan kembali kemampuan kawan-kawannya setelah beberapa bulan terakhir k
embali melatih diri di perguruan masing-masing.
Dan hampir semua gembira karena ternyata peninggalan Kolomoto Ti Lou bagi mereka
semua sudah mendekati tingkat akhir penguasaan tahap kedua dari lembaran sakti
Kolomoto Ti Lou. Hanya saja, mereka masing-masing memperdalam dari jalur berbeda
-beda setelah kemungkinannya dibuka oleh Kolomoto Ti Lou. Baru pada pertemuan it
ulah mereka mengerti dan tahu, bahwa masing-masing mereka, terutama Kwi Beng, Kw
i Song dan Tek Hoat telah diajak berdiskusi secara mendalam oleh tokoh aneh itu
guna mencapai tahap kedua berdasarkan ajaran ilmu perguruan masing-masing. Dan n
ampaknya, selain Kiang Ceng Liong, ke-4 pemuda lainnya sudah hampir sanggup meng
uasai tahapan kedua tersebut.
Pada akhirnya semua sepakat, bahwa menguasai tahapan kedua nampaknya akan memada
i untuk tidak kalah melawan Cit Sat Sin Ciang maupun ilmu busuk Toh Ling. Dan be
rarti, mereka masing-masing masih harus giat berlatih untuk beberapa waktu ke de
pan baru bisa merasa cukup memadai untuk melaksanakan tugas atas nama perguruan
masing-masing. Dan setelah pertemuan tersebut, Kwi Beng yang sejak awal memang k
urang bersemangat tetapi tidak kentara karena memang orangnya pendiam, langsung
mohon diri untuk berangkat meninggalkan Bu Tong Pay besok pagi harinya bersama a
diknya Kwi Song. Sementara Tek Hoat masih akan bertahan selama sehari atau dua h
ari menemani adiknya Mei Lan, selain juga masih harus bicara dengan Siangkoan Gi
ok Lian, kekasihnya, yang juga masih bertahan untuk sehari dua hari kedepan.
====================
Demikianlah, hari ketiga setelah upacara duka, sebagian besar tamu sudah meningg
alkan Bu Tong Pay. Penjagaan sudah berkurang jauh dan karena itu Barisan 6 Pedan
g Lembah Pualam Hijau sudah kembali berada bersama Duta Agungnya. Di Bu Tong Pay
, selain Kiang Ceng Liong yang sengaja di tahan bukan oleh Mei Lan, tetapi oleh
Sian Eng Cu Tayhiap dan Kwee Siang Le yang konon memang diminta oleh suhu mereka
untuk minta bantuan dari Kiang Ceng Liong untuk satu urusan tertentu; juga masi
h terdapat Liang Tek Hoat, kakak Liang Mei Lan, serta juga Siangkoan Giok Lian.
Pagi hari yang cerah dilalui Ceng Liong dengan mengenangkan kembali betapa banya
k kekisruhan yang dijumpainya hanya sekitar 6 bulan setelah dia tidak sekalipun
beranjak dari Lembah Pualam Hijau. Sayangnya, tidaklah mungkin dia benar-benar b
erlalu dari dunia persilatan karena masih terikat persahabatan dengan beberapa p
erguruan terbesar di Tionggoan. Selain itu, diapun memiliki beberapa sahabat yan
g lama sehati dalam berjuang melawan Thian Liong Pang beberapa waktu sebelumnya.
Semua fakta ini membuatnya sangat kesulitan untuk menarik diri dan tidak terlib
at dengan urusan dunia persilatan.
Dan, nampaknya hari ketiga inipun Ceng Liong tetaplah tidak akan kekurangan tamu
. Ketika matahari mulai beranjak lebih tinggi, dia mendengar di luar ada lagi ta
mu yang ingin bertemu dengannya. Dari suaranya, dia mengetahui jika yang datang
berkunjung ada 3 orang, Tek Hoat, Giok Lian dan kekasihnya Mei Lan. Dan benar sa
ja, Barisan 6 Pedang yang mengenal ke-tiga pendekar muda ini telah membiarkan ke
tiganya menemui Ceng Liong.

Ke-empat orang ini memang memiliki hubungan yang akrab, karena itu mereka tidak
berbasa-basi untuk langsung duduk. Sementara Ceng Liongpun sudah turun dari temp
at dia biasanya bersamadhi jika tidak tidur dan menyambut kedatangan ketiga oran
g sahabatnya itu. Tetapi, Ceng Liong yang baru kali ini berhadapan langsung dan
dengan cermat memandangi Giok Lian sedikit terkejut dengan getaran kekuatan yang
luar biasa dari sorot mata gadis itu. Karena terkejut, Ceng Liong segera menegu
rnya dengan halus:
Lian Moi, nampaknya engkau tidak lagi berada di bawah kemampuan Lan Moi, dan kawa
n-kawan lainnya. Kemajuanmu dan kekuatanmu nampaknya menghadapi kemajuan luar bi
asa jika aku tidak salah
Ach, matamu sungguh sulit untuk dibohongi untuk urusan kesaktian Liong ko. Semua
adalah jasa dari mendiang suhu yang terhormat, Bhiksu Chundamani yang mengangkat
ku menjadi murid penutupnya saat-saat terakhir menjelang kematian datang menjemp
utnya
Ach, tepat seperti perkiraan suhu. Bahwa dalam waktu berdekatan beliau, locianpwe
e Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan dan Bhiksu Chundamani akan berpulang. Selain kare
na usia tua, juga karena penggunaan tenaga dalam dan tenaga batin yang kelewat b
esar pada pertarungan di markas Thian Liong Pang. Mereka memang menggunakan tena
ga-tenaga tersisa dan membuat batas usia mereka menjadi lebih cepat ujar Ceng Lio
ng
Tepat, suhu juga mengucapkan hal yang sama Liong ko. Itulah sebabnya dia berkeras
mengajarku dengan metode yang sangat aneh, tetapi yang diakuinya juga pasti dil
akukan oleh Locianpwee Kiang Sin Liong, Wie Tiong Lan dan Kolomoto Ti Lou. Bahka
n konon, menurut suhu, mereka memang akhirnya bersepakat menempuh cara ini sebag
ai cara atau jalan terakhir melihat mara bahaya di depan tambah Giok Lian.
Benar, suhu juga memang menyebutkan hal yang sama Mei Lan juga nimbrung, karena me
mang cara yang aneh dan luar biasa yang ditempuh gurunya untuk mempersiapkan mer
eka ber-empat saudara seperguruan. Setahunya, cara tersebut memang luar biasa da
n terhitung mempercepat batas usia suhunya untuk datang mengakhiri kehidupannya.
Sementara Tek Hoat tidak banyak bicara. Bukan karena tidak berani menyela kekasi
hnya bicara, tetapi karena gurunya sudah beberapa tahun sebelumnya meninggal. Te
tapi, sedikit banyak dia mengerti apa yang dibicarakan Ceng Liong, kekasihnya Gi
ok Lian dan adiknya Mei Lan. Karena Kolomoto Ti Lou telah memberitahunya dan tel
ah membuka pintu selebar-lebarnya baginya untuk mampu meningkat lebih jauh bersa
ma dengan Kwi Beng, Kwi Song, Mei Lan dan Ceng Liong. Namun, lebih detail dia su
lit berbicara.
Sementara itu, berbeda dengan pertemuan sebelumnya, Ceng Liong yang kaget dan te
rkejut dengan kemampuan yang terpancar kuat dari sorot mata Siangkoan Giok Lian
telah berkata:
Lian moi, bolehkah engkau menahan seranganku ini ..... sambil berkata demikian Cen
g Liong mengibaskan lengannya secara perlahan. Bersamaan dengan itu sejalur angi
n pukulan yang sama sekali tidak mengeluarkan suara telah dengan cepat mengarah
ke Giok Lian. Dan seperti dugaan Ceng Liong, Giok Lian tidak menjadi gugup, teta
pi dengan tenang dan penuh percaya diri telah mendorongkan lengannya menyambut p
ukulannya. Dan hasilnya, keduanya terkejut tetapi keduanya juga nampak tersenyum
senang.
Luar biasa, engkau telah mampu membaurkan Bu Sing Sinkang (Tenaga Sakti Tiada Tar
a) aliran Budha dari Bhiksu Chundamani kedalam iweekang perguruanmu Lian moi, ki
onghi, kionghi. Engkau bahkan sudah berada setengah langkah di depan kawan-kawan
lainnya dengan menguasai tahapan kedua dengan bantuan Bhiksu Chundamani yang sa
kti itu
Ach, semua berkat jasa suhu. Beliau bahkan mengajariku Sam Ciang Khay Thian Loan
Te (Tiga Jurus Membuka Langit Mengacau Bumi), ilmu mujijat bermuatan kekuatan si
hir ala Thian Tok. Beliau bekerja keras selama dua bulan terakhir sebelum selesa
i menciptakannya. Tetapi engkaupun sungguh luar biasa Liong ko, nampaknya meski
aku telah maju sangat jauh, tetapi aku belum mampu menang melawanmu. Tangkisanku
bagaikan tenggelam di dasar samudera luas
Ach, tingkatan kita tidaklah jauh berbeda Lian moi, sebagaimana juga Tek Hoat dan
Lan moi. Hanya, kita masih harus bekerja keras agar sanggup menghadapi persoala
n di depan yang nampak lebih rumit itu Ceng Liong tetap merendah, meski sejujurny

a dia kaget dengan kemajuan Giok Lian yang demikian pesat itu. Dalam perkiraanny
a, Giok Lian nampaknya telah lebih dahulu menguasai tingkatan yang sejajar denga
n tahapan kedua ilmu Kolomoto Ti Lou yang sedang diadaptasi oleh teman-teman lai
nnya. Dia tahu, Mei Lan, Tek Hoat, Kwi Beng dan Kwi Song sudah sangat dekat deng
an penguasaan tahapan itu. Dengan Mei Lan ditaksirnya sebentar lagi akan segera
menguasainya dengan baik.
Dengan kondisi Giok Lian dan Mei Lan seperti sekarang membuat Ceng Liong merasa
lebih tenang untuk menghadapi gejolak dunia persilatan kedepan. Menghadapi Toh L
ing yang masih akan menyempurnakan ilmu Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pe
mbusuk tulang) maupun menghadapi Cit Sat Sin Ciang yang sudah makan korban Ciang
bundjin Bu Tong Pay. Tetapi, ketika mengingat salah satu korban adalah CIANGBUNDJ
IN BU TONG PAY , tiba-tiba naluri Ceng Liong seperti bergetar. Bukan tidak mungkin
sasaran lainnya adalah Pangcu Kaypang ataupun Ciangbundjin Siauw Lim Sie selain
dirinya sendiri? Sontak diapun berpaling ke arah Tek Hoat dan bertanya:
Tek Hoat, kapan rombongan Kaypang meninggalkan Bu Tong Pay ?
Tek Hoat yang kaget atas pertanyaan tiba-tiba dari Ceng Liong sudah dengan cepat
menjawab pertanyaan tersebut:
Kurang lebih sudah setengah harian, karena mereka berangkat tadi pagi-pagi benar.
Suheng memberitahuku ketika akan berangkat, dan jika tidak salah mereka telah b
erpamitan semalam, bukankah demikian Lan Moi ? sambil melirik Mei Lan yang membena
rkan sambil menganggukkan kepala.
Ada apa sebenarnya Liong ko ? Mei Lan bertanya, mewakili kepenasaran yang sama deng
an pertanyaan yang terkandung di benak Tek Hoat.
Jika disini Ciangbundjin Bu Tong Pay yang menjadi korban, bukan tidak mungkin Cit
Sat Sin Ciang mengincar tokoh-tokoh utama dari 4 perguruan besar yang tercantum
dalam daftar itu. Tek Hoat ...... kurasa ..... kurasa Ceng Liong tidak menyelesa
ikan kalimatnya. Tetapi kelanjutan kalimat itu sudah cukup jelas bagi semua mere
ka yang berada di dalam ruangan itu.
Benar, dugaanmu sangat mungkin. Dan jika benar dugaan tentang Cit Sat Sin Ciang,
maka rombongan Kaypang dan Siauw Lim Sie berada dalam bahaya dugaan Tek Hiat tepa
t sekali.
Pendekar Kembar, Kwi Beng dan Kwi Song telah menyusul rombongan Siauw Lim Sie. Te
k Hoat sebaiknya bersama Nona Giok Lian cepat menyusul rombongan Kaypang. Aku me
rasakan firasat yang kurang baik Ceng Liong menatap Tek Hoat dan Giok Lian bergan
tian, dan tak terasa baik Tek Hoat maupun Giok Lian menjadi seram sendiri meliha
t cahaya dan sinar mata Kiang Ceng Liong yang berubah menjadi begitu berwibawa i
tu. Belum lagi Tek Hoat dan Giok Lian memberi persetujuan, Ceng Liong telah berk
ata:
Sebaiknya kalian berdua cepat pergi, urusan nanti kita bicarakan belakangan
Tek Hoat dan Giok Lian saling berpandangan dan kemudian keduanya saling mengangg
uk. Sejenak kemudian kedua tubuh anak muda itu telah melesat pergi. Menyusul rom
bongan Kaypang.
Tidak lama setelah Tek Hoat dan Giok Lian berlalu, Sian Eng Cu datang menemui Ce
ng Liong. Begitu memasuki ruangan, Sian Eng Cu menjadi kaget menemukan dalam rua
ngan itu juga sudah ada Liang Mei Lan siauw sumoynya. Tetapi kedua orang dalam r
uangan itu, yakni Ceng Liong dan Mei Lan sedang berdiri tegak dan sepertinya sed
ang mengalami ketegangan. Karena itu, sambil mengeluarkan suara ehm , Sian Eng Cu k
emudian memasuki ruangan itu:
Duta Agung, siauw sumoy, ada apakah gerangan ?
Adalah Ceng Liong yang lebih dahulu menguasai dirinya. Dan dengan cepat dia meny
ambut kehadiran Sian Eng Cu dan mempersilahkannya duduk:
Ach, maafkan kami lupa menyambut locianpwee. Mari, mari silahkan duduk
Tapi mengapa kalian berdua sepertinya sangat tegang tadinya ? Sian Eng Cu bertanya
keheranan namun tidak beranjak ke tempat duduk yang tersedia di tengah ruangan t
ersebut.
Kami sedang membicarakan Cit Sat Sin Ciang (Ilmu Silat Tujuh Gerakan), suheng. Ka
rena Ilmu itulah yang ternyata menjadi penyebab kematian dari Bu Tong Ciangbundj
in Mei Lan menjawab setelah akhirnya diapun berhasil untuk mengatasi rasa tegangn
ya barusan.
Apanya dari Cit Sat Sin Ciang yang membuat kalian begitu tegangnya Sian Eng Cu mas

ih berpenasaran.
Locianpwee, beberapa saat sebelumnya, ketika sedang membicarakan kemunculan kemba
li Ilmu Cit Sat Sin Ciang dan penyebab kematian Bu Tong Pay Ciangbundjin, tiba-t
iba aku memperoleh firasat buruk. Karena, jika Ciangbundjin Bu Tong Pay menjadi
sasaran, mengapa tidak dengan petinggi Kaypang dan juga Siauw Lim Sie? Karena fi
rasat itu, aku telah meminta Tek Hoat dan nona Giok Lian untuk segera menyusul r
ombongan Kaypang. Untuk Siauw Lim Sie, tadi subuh Kwi Beng dan Kwi Song telah me
nyusul rombongan Siauw Lim Sie. Selain itu, Ciangbundjin Siauw Lim Sie masih dit
emani suhengnya serta 3 rombongan pendekar Siauw Lim lainnya. Tetapi, harap saja
tidak terjadi sesuatu yang berada di luar harapan kita
Mendengar penjelasan Ceng Liong, Sian Eng Cu sendiripun tertular rasa tegang yan
g sama. Tetapi tidak berlangsung lama. Pertam, sudah beberapa hari terakhir dia
tenggelam dalam ketegangan yang luar biasa setelah kematian gurunya. Kedua, kare
na memang kedatangannya adalah untuk menjemput Kiang Ceng Liong atas sebuah pesa
n gurunya. Dan urusan ini dirasakannya sangatlah penting. Entah bagaimana dia be
rfirasat ada sebuah urusan besar di balik pesan gurunya untuk dibuka bersama Cen
g Liong. Apa gerangan? Maka diapun kemudian berkata:
Duta Agung, sebagaimana sudah kukatakan sebelumnya dan mungkin siauw sumoy telah
memberitahumu, sebelum meninggal suhu meninggalkan pesan terkait denganmu. Yakni
agar kami membawamu memasuki ruangan dimana suhu biasanya samadhi dan melatih i
lmunya. Kamipun saudara seperguruan tidak memahami apa maksud utama mendiang suh
u. Melihat bahwa Duta Agung masih memiliki banyak urusan lainnya, maka bersama t
oa suheng dan ji suheng telah menyepakati. Biarlah setelah semua kesibukan telah
berlalu, hari ini kami akan membawa Duta Agung memasuki ruangan suhu tersebut.
Bagaimana, apakah sudah bisa kita menuju kesana Duta Agung ?
Baiklah, akupun sudah siap sejak pagi tadi locianpwee, silahkan sambil berdiri Cen
g Liong memberi jalan dan menunjukkan bahwa memang dia telah siap untuk mengikut
i Sian Eng Cu untuk menuju ruang khusus yang biasanya digunakan Pek Sim Siansu W
ie Tiong Lan.
Sian Eng Cu telah dengan sigap ikut berdiri dan seterusnya menoleh kepada Liang
Mei Lan sambil berkata:
Sumoy, mari
Maka berangkatlah mereka bertiga. Keluar dari ruangan tempat Ceng Liong menginap
dan dengan dipimpin Sian Eng Cu dan Liang Mei Lan. Dari arah yang dituju nampak
nya mereka mengarah ke bagian belakang kuil Bu Tong Pay. Dan tepat di pintu bela
kang kuil tersebut, yakni akses untuk menuju ke belakang gunung Bu Tong San yang
dirahasiakan dan tidak sembarang orang boleh masuk, Jin Sim Todjin telah menung
gu. Dan dengan hikmat dia menjura ke arah Duta Agung Kiang Ceng Liong sambil ber
kata:
Mari, Duta Agung
Dan ke-empat orang itupun melanjutkan perjalanan menuju ke bagian belakang Kuil
yang kebetulan juga menuju pinggang gunung yang sangat terpencil dan sulit didat
angi orang. Sebagaimana hari-hari biasa, jalan menuju ruangan yang dikhususkan b
agi Wie Tiong Lan harus ditempuh tanpa bersuara. Karena itu, keempat orang itupu
n berjalan tanpa ada yang bersuara. Semua dalam diam dan tenggelam dalam pikiran
masng-masing. Dan tak lama kemudian mereka sampai di pinggang gunung. Di bagian
tanah yang agak tinggi, nampak sebuah pintu masuk kedalam sebuah Goa yang sudah
ditata sedemikian rupa. Tidak salah lagi, itulah nampaknya ruangan khusus bagi
Wie Tiong Lan yang memang dirancang sesuai dengan keinginan sesepuh Bu Tong Pay
itu semasa masih hidup.
Toa suheng, Duta Agung telah ada bersama kami demikian Jin Sim Todjin buka suara u
ntuk memberitahu Kwee Siang Le, murid tertua Wie Tiong Lan, bahwa Kiang Ceng Lio
ng sudah berada di depan pintu masuk ruangan tersebut. Dan benar saja, tidak men
unggu sampai berapa lama, gua yang telah memiliki pintu sebagaimana ruangan dala
m rumah biasa, telah perlahan-lahan terbuka. Dan dari dalam muncullah seorang le
laki bertubuh sedang, berwajah penuh wibawa dan hanya berpakaian ala kadarnya se
perti kalangan pertapa. Dia berdiri tepat di pintu masuk, dan setelah memandangi
semua orang yang datang, tokoh itupun kemudian berkata dengan hormat:
Selamat datang Duta Agung, terima kasih atas kesediaanmu membantu kami memenuhi p
esan mendiang suhu. Mari silahkan masuk sambil menjura memberi salam dan hormat k

epada Kiang Ceng Liong. Dan begitu Ceng Liong membalas penghormatan dan beranjak
mulai bergerak, orang tua itupun, Kwee Siang Le murid kepala Wie Tiong Lan meno
leh kearah kedua sutenya dan sang sumoy:
Ji-sute, sam-sute dan sumoy, mari silahkan ikut masuk ke dalam dan mendahului semu
a, memimpin di depan Kiang Ceng Liong yang telah bergerak, tokoh yang menjadi mu
rid tertua Wie Tiong Lan itu, yakni Kwee Siang Le telah memimpin mereka semua ma
suk secara perlahan-lahan ke dalam ruangan. Di-ikuti oleh Ceng Liong dan berturu
t-turut masuk adalah Jin Sim Todjin, murid kedua Wie Tiong Lan, Sian Eng Cu muri
d ketiga dan Liang Mei Lan, murid terakhir atau penutup dari sesepuh Bu Tong Pay
itu.
Silahkan Duta Agung .... Kwee Siang Le selaku murid tertua Wie Tiong Lan kemudian
mempersilahkan Kiang Ceng Liong untuk maju ke depan. Dalam ruangan itu memang te
rdapat 4 tempat duduk tetapi bukan kursi, melainkan tempat khusus bagi orang unt
uk bersila dengan alas benda yang nampak lunak. Nampaknya memang disediakan untu
k ke-4 murid Wie Tiong Lan setiap kali datang menghadapnya. Karena ke-empat temp
at duduk bersila itu, terdapat di hadapan sebuah tempat bersila atau bersamadhi
yang sedikit agak ke atas. Sebagaimana masa hidupnya, Pek Sim Siansu memang toko
h yang sederhana. Tidak nampak kesan mewah di ruangannya, tetapi tempat itu tert
ata secara rapih dan bersih. Dan ke-tempat yang sedikit agak ke atas, nampaknya
tempat biasanya Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan samadhi, Ceng Liong di arahkan untu
k duduk. Setelah semua dalam posisinya, Kwee Siang Le selaku murid tertua telah
berkata:
Duta Agung, menurut amanat suhu, kami diminta agar Duta Agung bersedia untuk memb
antu kami. Urusan ini terkait sebuah peninggalan suhu yang kami berempat sebagai
muridnya, tak seorangpun yang mengerti apakah gerangan itu. Karena itu, silahka
n Duta Agung ...... Kwee Siang Le berbicara atas nama adik-adik seperguruannya sa
mbil mempersilahkan Kiang Ceng Liong untuk menduduki tempat dimana biasanya Wie
Tiong Lan samadhi.
Dalam keadaan biasa, hal tersebut sebetulnya sangatlah terlarang. Karena tempat
dimana suhu biasanya samadhi dan melatih diri, terlarang bagi orang-orang luar.
Hanya saja, keadaan ini justru dipesankan oleh Wie Tiong Lan sesaat sebelum dia
meninggal. Karena itu, semua murid, ke-empat muridnya tidak ada yang berani memb
angkang. Mereka telah menyepakati untuk memberikan kesempatan kepada Ceng Liong
untuk duduk di tempat itu. Karena toch hal itu berdasarkan atas pesan terakhir g
uru mereka.
Tetapi Kiang Ceng Liong sendiri sebetulnya masih belum paham betul apa yang diin
ginkan Wie Tiong Lan. Hanya saja ketika kemudian dia disuruh untuk menduduki tem
pat dimana Wie Tiong Lan biasanya berlatih dan samadhi, diapun segera sadar bahw
a ternyata seperti suhunya, Wie Tiong Lan telah mempersiapkan sesuatu sebagai pe
ninggalan bagi murid-muridnya. Tetapi entah apa gerangan peninggalan tersebut, C
eng Liong masih belum mampu meraba secarra keseluruhan, tetapi dia telah dapat m
enerka bagaimana dan apa gerangan peninggalan tersebut.
Karena diapun telah diberitahu bahwa baik Suhunya, Wie Tiong Lan dan Bhiksu Chun
damani telah menciptakan ilmu ajaib bersama Kolomoto Ti Lou begitu menyadari bah
wa batas usia mereka sudah menjelang datang. Ilmu yang mereka ciptakan diberi na
ma Thian Liong Heng Khong (Naga Langit Jalan di Udara), sejenis pewarisan kekuat
an atau kepandaian melalui medium udara . Hanya orang yang telah mencapai tingkat k
esempurnaan tertinggi yang sanggup melakukan pewarisan semacam ini. Baik Bhiksu
Chundamani, Kiang Sin Liong, Wie Tiong Lan maupun Kolomoto Ti Lou menciptakan il
mu ajaib ini dari skema utama yang dikembangkan di Thian Tok, yakni sebuah ilmu
bernama Memindahkan Hawa Mengisi Kosong Menjadi Penuh. Model ini adalah model pe
mindahan kekuatan dengan cara sesat dengan resiko yang dihadapi juga sangat besa
r.
Menurut Bhiksu Chundamani, ada satu Ilmu Sesat yang sangat terkenal di Thian Tok
namun yang diketahuinya telah punah. Ilmu tersebut memampukan seseorang yang te
lah mencapai tingkat tertinggi dalam penguasaan ilmu silat dan ilmu kebatinan te
rmasuk ilmu sihir, sanggup memindahkan hawa tenaganya kepada orang lain. Tetapi,
menurut sepengetahuannya, proses itu membutuhkan kerjasama minimal 2 tokoh berk
emampuan sama namun akan mengorbankan salah satu dari kedua tokoh itu. Atau, jik
apun hanya dilakukan satu orang, maka syaratnya sangat berat. Setelah pewarisan,

maka orang yang mewariskan hawa akan binasa. Tetapi, juga bisa dilakukan dengan
dibantu benda-benda atau barang-barang pusaka, hewan-hewan pusaka berhasiat muj
ijat ataupun obat-obatan yang teramat langka dan sangat sulit untuk ditemukan. S
i penerima manfaat, akan menjadi seperti manusia baru , namun sekaligus akan mengal
ami gangguan-gangguan. Bisa gangguan fisik ataupun bahkan gangguan kejiwaan.
Ilmu rahasia yang hanya menjadi issue di Thian Tok ini, justru ditemukan oleh Bh
iksu Chundamani dari catatan Naga Pattinam yang tertinggal ketika terjadi pertem
puran di markas utama Thian Liong Pang beberapa bulan silam. Nampaknya mereka, p
ara tokoh pentolan yang sudah sepuh itu, sedang menyelidiki dan mempelajari ilmu
tersebut ketika mengalami penyerbuan. Dan dalam ketergesaan, terutama menghadap
i pertarungan antar tokoh tua kedua kelompok, mereka terpukul kalah dan mundur den
gan meninggalkan catatan tersebut. Dan dari catatan itulah Bhisku Chundamani ber
sama Kolomoto Ti Lou, Kiang Sin Liong dan Wie Tiong Lan meramu sebuah ilmu baru.
Ilmu tersebut dibentuk dari fondasi dasar Ilmu-ilmu keagamaan, terutama melalui
Bhiksu Chundamani dan Wie Tiong Lan yang kemudian dipertajam oleh Kolomoto Ti L
ou dan Kiang Sin Liong. Jadilah ilmu Thian Liong Heng Khong , sebuah pemindahan haw
a maupun tenaga kepada orang-orang yang memiliki jalur atau fondasi tenaga iweek
ang atau sinkang yang sama.
Khusus bagi Bhiksu Chundamani maupun Wie Tiong Lan, karena landasan iweekang mer
eka memang berdasarkan jalur keagamaan (Budha dan Tao), maka mereka mampu melaku
kan pewarisan ke orang lain sejauh masih berada di jalur tenaga dalam lurus. Fun
gsinya lebih ke memperkuat daripada menambahkan . Hal yang tak mampu dilakukan oleh K
iang Sin Liong sebab dia hanya mampu untuk menambahkan atau memperkuat murid-murid a
taupun cucu-cucu muridnya semata. Dan inilah yang dialami oleh Kiang Tek Hong ya
ng kepandaiannya sudah musnah, tetapi beroleh pengampunan dari kakeknya, meski u
ntuk itu dia harus bersumpah tidak akan lagi meninggalkan Lembah Pualam Hijau de
ngan alasan apapun. Sementara Kiang Ceng Liong sendiri hanya menerima warisan ya
ng bersifat memperkuat karena Sin Liong telah melihat bagaimana murid sekaligus cu
cu buyutnya itu banyak mengalami kemajuan di tangan Kolomoto Ti Lou. Selain, Cen
g Liong sendiri memperoleh manfaat besar lainnya. Yakni, sebagai orang yang dipi
lih mereka ber-empat menjadi medium atau pihak yang membantu ke-4 anak muda lainnya
melalui pewarisan beberapa ilmu mujijat lainnya.
Skema kasar ilmu rahasia inilah yang kemudian dikembangkan bersama 4 tokoh sakti
ini untuk menandingi kemungkinan bahaya yang dilakukan oleh pentolan Thian Lion
g Pang yang masih berkeliaran. Naga langit (Thian Liong) diibaratkan tenaga sakti
d
an tenaga sakti ini bisa berpindah tempat melalui medium udara atau Heng Khong (ja
lan di udara). Akibat dari memikirkan dan menciptakan ilmu ini ke-empat tokoh sa
kti itu terpaksa mengorbankan beberapa tahun usia mereka. Terutama karena mereka
harus mempertahankan unsur lurus dari proses pemindahan agar tidak mencelakakan m
urid yang kepada mereka tenaga sakti itu diwariskan. Bhiksu Chundamani dan Wie T
iong Lan karena aliran iweekang mereka memang dari aliran Budha atau keagamaan (
Tao), maka tenaga mereka tersebut akan sangat membantu penerima menjadi jauh lebih
kuat. Karena tenaga dalam aliran mereka bersifat memperkuat tenaga dalam manapu
n sejauh beraliran lurus. Berbeda dengan Giok Ceng Sinkang milik Kiang Sin Liong
yang beraliran lurus, namun bukan dari aliran hud (Budha) maupun to (tao). Inil
ah sebabnya Kiang Sin Liong lebih dahulu kehabisan bensin dan lebih dahulu menghad
api batas usianya, karena tenaga dan pikiran yang digunakan kelewat banyak dan b
esar.
Tetapi, ilmu Thian Liong Heng Khong (Naga Langit Jalan di Udara) dilakukan oleh
seorang yang masih hidup. Dan nampaknya Giok Lian telah mengalaminya dengan Bhik
su Chundamani, sebagaimana Sian Eng Cu dan Mei Lan sebelum kematian guru mereka.
Bagaimana jika seseorang telah meninggal? Dan inilah untungnya Ceng Liong ketik
a disiapkan oleh Kolomoto Ti Lou ber-empat dalam pertemuan dan percakapan terakh
ir mereka sebelum Kolomoto Ti Lou kembali ke tanah asalnya. Lewat pertemuan ters
ebut Ceng Liong beruntung karena ditempah dengan Cing-peng-kang-khi atau ilmu ke
tenangan jiwa dan Ceng Thian Sin Ci (Telunjuk Sakti Penggetar Langit). Ilmu Cing
Peng Kang Khi adalah dasar kebatinan guna menolak dan mengembalikan kekuatan-ke
kuatan hitam dan kekuatan sihir, tetapi sekaligus menjadi landasan untuk membant
u penyaluran tenaga sakti lewat udara . Hanya, untuk membantu penyalurannya, dalam
hal si pemilik tenaga telah meninggal dan mengumpulkan tenaganya untuk disalurka

n, maka dibutuhkan ilmu Ceng Thian Sin Ci (telunjuk sakti penggetar langit) untu
k menjadi alat penggerak kekuatan tersebut.
Berdasarkan ilmu-ilmu terakhir inilah Ceng Liong kemudian menciptakan beberapa i
lmu baru, termasuk memperkuat kemampuannya dalam ilmu Tatapan Naga Sakti . Dan tanp
a disadarinya, dia kembali telah melakukan lompatan yang sangat jauh dalam pengu
asaan ilmu silatnya. Dan karena itu, maka Ceng Liong telah mengerti apa yang aka
n dilakukannya ketika Kwee Siang Le menyuruhnya menduduki tempat dimana Wie Tion
g Lan biasa bersamadhi. Dan seterusnya dihadapannya, duduk dan bersila ke empat
murid Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan, menghadapnya dengan wajah yang keheranan dan
kebingungan. Karena bagaimanapun mereka masih kurang memahami apa maksud utama
guru mereka.
Begitu menduduki tempat yang memang disediakan untuknya, sekujur tubuh Ceng Lion
g bergetar sejenak. Tetapi dia segera sadar jika tempat disekitar dia duduk adal
at tampat utama yang disiapkan Wie Tiong Lan untuk mengumpulkan warisan tenagany
a buat murid-muridnya. Hanya, karena inipun pengalaman pertama bagi Ceng Liong,
otomatis diapun sedikit tergetar dan tegang. Dia memang belum pernah menggunakan
Cing Peng Kang Khi maupun Ceng Thian Sin Ci setelah melatihnya berulang-ulang b
elakangan ini. Hanya, yang dirasakannya ilmu-ilmu tersebut seperti memudahkan di
rinya dalam mengatur ketenangan batin serta memperkuat ilmu-ilmu yang sudah dimi
likinya saat ini.
Tetapi sebelum dia memulai proses tersebut, Ceng Liong merasa perlu untuk member
i penjelasan terkait dengan apa yang akan dia lakukan. Hal ini penting guna meng
hindari gangguan-gangguan akibat ketidak-tahuan atas proses yang nanti berlangsu
ng secara berbeda tersebut. Dan, proses itu selain masih baru baginya, juga rela
tif masih baru bagi ke-empat murid Wie Tiong Lan yang sekarang sedang bersila da
n bersiap dihadapannya. Apalagi, karena diapun baru pertama kalinya melakukan da
n mempraktekkan ilmu-ilmu yang diterimanya dari ke-empat guru besar itu. Seandai
nya terjadi gangguan dari pihak penerima, maka akibatnya bakal sangat fatal bagi
mereka semua. Bukannya beroleh keuntungan, malah sebaliknya. Karena itu, Ceng L
iong kemudian berkata:
Para locianpwee dan Lan moi, proses hari ini nantinya bakalan sangat rumit dan me
nguras banyak tenaga fisik dan batin kita semua. Karena itu, ketenangan dan kese
lamatan kita semua benar-benar harus terjamin dan kita semua sama sekali tidak b
oleh diganggu orang luar. Selain itu, kita semua harus melakukan samadhi, dan ja
ngan sekali-sekali melawan ataupun mengeluarkan tenaga menolak untuk apa yang ak
an kulakukan nantinya. Yang harus dilakukan adalah membuka semua saluran hawa da
lam tubuh, sehingga kita semua sanggup mengetahui apa gerangan yang dimaksudkan
locianpwee Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan. Harap kita semua bersiap-siap, aku akan
memulainya .....
Jangan takut Duta Agung, tanpa perintah dan gerakanku, tidak akan mungkin ada sia
papun yang mampu menerobos kemari Kwee Siang Le memberikan jaminan untuk keselama
tan mereka.
Baiklah, jika demikian mari kita mulai
Setelah melihat semua sudah bersiap, Kiang Ceng Liongpun kemudian mulai berkonse
ntrasi. Dengan penguasaan Cing Peng Kang Khi yang malahan sudah setingkat di ata
s pengerahan kekuatan batinnya tempo hari, kini Ceng Liong sudah mampu mencapai
tingkat konsentrasi yang lebih tinggi dan jauh lebih cepat. Bahkan, dengan ilmu
yang dituntunkan oleh Kolomoto Ti Lou itu, dia sanggup menahan gempuran-gempuran
kekuatan yang berlandaskan sihir, kekuatan batin, maupun kekuatan-kekuatan yang
tidak nampak oleh mata. Dia telah mampu menguasai ketenangan yang luar biasa me
skipun mengalami gangguan atau serangan melalui mata, telinga ataupun mata batin
nya.
Dan benar sesuai dugaannya. Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan telah meninggalkan petu
njuk baginya. Ketika dia akhirnya memasuki kondisi ketenangan jiwa , dimana dia san
ggup berkomunikasi dengan pihak lain lewat kekuatan batin, tiba-tiba dia merasak
an sebuah getaran yang menyentuhnya untuk berkomunikasi. Dia cepat sekali sadar
jika Guru Besar Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan pastilah yang berusaha untuk member
inya petunjuk. Dan benar, segera setelah dia mengenangkan serta membayangkan Pek
k Sim Siansu Wie Tiong Lan serta mengerahkan Cing Peng Kang Khi segera menyusup ke
telinganya sejenis suara yang mengambang namun sangat jelas. Suara itu berbicar

a dan memasuki telinga batinnya , dan dengan mudah dia memahami karena di eja perla
han-lahan seakan takut Ceng Liong tak akan mampu mengingatnya kembali:
Anakku, terima kasih atas bantuanmu. Karena ini adalah percakapan satu arah setel
ah aku meninggalkan badan kasarku, maka engkau hanya bisa mendengarkan pesan-pes
an dan petunjukku satu kali saja. Hal-hal mendasar pastilah telah ditinggalkan s
uhumu dan Kolomoto Ti Lou. Hanya ada beberapa hal yang perlu kusampaikan kepadam
u dalam waktu yang singkat ini: Pertama, engkau pasti telah mendengar dan melati
h Ilmu Thian Liong Heng Khong (Naga Sakti Jalan diudara) dan telah dibekali Cing
peng kang khi dan Ceng thian sin ci oleh Kolomoto Ti Lou, Bhiksu Chundamani dan
suhumu. Aku tidak meragukan kemampuanmu saat ini. Nah, inilah satu pesanku untu
kmu dan beberapa hal yang perlu kamu lakukan: Pertama, Ilmu Ceng Thian Sin Ci (T
elunjuk Sakti Penggetar Langit) adalah peninggalan tokoh tua ratusan tahun lalu
yang kutemukan lebih 80 tahun lalu. Tetapi, karena sedang berlatih banyak ilmu B
u Tong, ilmu tersebut yang kutemukan dari rangka seorang tua dalam bentuk kitab
tipis, tidak pernah kulatih. Selain itu, aku terikat sumpah kepada mendiang guru
ku untuk tidak akan melatih ilmu lain di luar Bu Tong Pay dan ilmu yang kuciptak
an sendiri. Tak disangka, Kolomoto Ti Lou mengetahui kalau ilmu dalam kitab tipi
s itu konon adalah ilmu sakti Ciat-lip-jiu (tangan sakti penerus tenaga) yang su
dah ratusan tahun lenyap. Kitab tipis itupun, memang tidak menuliskan nama ilmu
yang tercatat didalamnya, nampaknya ditulis tergesa ketika tokoh tua itu menjela
ng ajalnya. Nach, kuminta engkau menurunkan ilmu itu kepada murid bungsuku karen
a kitab tipis itu luruh ketika kami ber-empat membukanya beberapa waktu lalu. Ko
lomoto Ti Lou dan Kiang Sin Liong telah meramunya menjadi Ceng Thian Sin Ci (Jar
i Sakti Penggetar Langit), tetapi bagi Lan-ji dan jika Li Koan berjodoh lebih te
pat tepat dengan ilmu Ciat-lip-jiu (tangan sakti penerus tenaga). Caranya mudah
anakku, cukup dengan pengerahan hawa penarik, penolak, penggetar, pembalik, peng
giring, penghantar ke lengan dan bukan sepertimu ke jari , dan seterusnya suara mengam
bang dan perlahan itu menjelaskan kouwkoat atau teori Ilmu Ciat Lip Jiu kepada C
eng Liong.
Dan selesai dengan menurunkan kouwkoat itu, kembali suara mengambang yang diting
galkan Wie Tiong Lan sebelum meninggal itu melanjutkan: kuharap engkau menaati su
mpahku kepada pemilik kitab itu, yakni tidak menurunkan ilmu tersebut kepada leb
ih dari 3 orang. Dan sebagai pemilik ilmu itu sekarang ini, engkau memiliki hak
untuk melarang orang mewariskannya kepada siapapun sebelum minta ijinmu. Dan ked
ua, hal selanjutnya adalah Ceng Thian Sin Ci digubah dengan saat engkau mengguna
kan Cing Peng Kang Khi tanpa paduan dan kombinasi itu, maka proses pemindahan ha
wa dan tenaga sakti tidak akan terjadi, karena aku sudah meninggal. Dalam posisi
mu sekarang, getarkan kekuatan penarik pada ujung jarimu untuk kemudian setelah
kekuatan sudah memadai dan sesuai dengan yang ingin engkau pindahkan, maka kombi
nasikan dengan menggunakan Thian Liong Heng Khong untuk dipindahkan kepada murid
-muridku. Anakku, karena kebutuhan untuk mempertahankan Bu Tong Pay, maka seteng
ah kekuatan tenaga yang kupupuk kutinggalkan kepada Tong Li Koan Sian Eng Cu. Mu
rid bungsuku, dengan menerima Ilmu Ciat Lip Jiu (tangan sakti penerus tenaga) da
n sepuluh persen kekuatanku sudah lebih dari cukup. Selain itu, diapun dengan wa
risan itu akan bisa dengan segera menyempurnakan tahapan kedua sesuai skema Kolo
moto Ti Lou dalam jalur ilmu ciptaanku. Kepada murid kepala dan murid keduaku, e
ngkau membaginya secara merata, karena mereka memiliki tugas dan tanggungjawabny
a masing-masing. Dan terakhir anakku, engkau akan mengalami kelelahan yang luar
biasa, tetapi menggunakan semua ilmu mujijat pada kesempatan ini adalah latihan
yang mungkin takkan pernah lagi engkau alami kedepan. Untungnya, Giok Ceng Sinka
ngmu sudah nyaris mendekati kakek buyutmu hingga tidak akan lama engkau memulihk
an diri. Baik-baiklah menjaga dirimu dan kepadamu kutitipkan Lan ji
Dan suara mengambang yang masuk ke telinga batin Ceng Liong itupun perlahan-laha
n sirna, dan Ceng Liong sadar jika pesan itu sudah disampaikan dan kekuatan peny
anggahnya secara otomatis musnah. Suara itupun hilang dan takkan pernah muncul l
agi sampai kapanpun. Tetapi, semua pesan itu sudah sangat jelas diserap Ceng Lio
ng, termasuk kouwkoat Ilmu Ciat Lip Jiu yang secara sangat aneh, ternyata sudah
puluhan tahun berada di tangan Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan. Hanya karena sumpah
kepada gurunya, maka ilmu itu terpendam selama 80 tahunan dan baru ketika diing
atkan Kolomoto Ti Loulah dia mengingatnya kembali. Untungnya, meski sudah sangat

usang, kumal dan nyaris rusak, tetapi dia masih mampu membacanya dan kemudian m
enggubahnya bersama-sama teman-temannya hingga melahirkan Ceng Thian Sin Ci deng
an disempurnakan bersama dengan Sin Liong dan Kolomoto Ti Lou serta bahkan juga
Bhiksu Chundamani.
Karena mereka berempat, yakni para tokoh tua itu, sudah sedang menghadapi saat a
khir kehidupan, tiada lagi jarak dan rasa risih untuk saling mengetahui apa dan
bagaimana ilmu itu. Tetapi, mereka menghormati sumpah Wie Tiong Lang dan karena
itu, Ceng Liong tidak bulat-bulat menerimanya. Namun, toch akhirnya kouwkoat itu
diturunkan juga kepadanya untuk dicarikan paling banyak 3 orang sebagai muridnya
dalam ilmu tersebut. Dan harus atau hanya Wie Tiong Lan seorang yang memiliki ha
k untuk menurunkan ilmu ajaib tersebut.
Pesan terakhir Wie Tiong Lan, kembali adalah penegasan tentang seorang muridnya,
murid penutupnya Liang Mei Lan. Dan ini jelas adalah pesan dan amanat seorang y
ang telah meninggal, menguatkan kembali kesepakatan antara suhunya Kiang Sin Lio
ng dengan Wie Tiong Lan. Sudah tentu Ceng Liong sangat gembira dan sangat setuju
, hanya, tetap saja dia harus jelas lebih dahulu dengan Siangkoan Giok Hong. Dan
, batas yang diberikan dan disepakatinya dengan Mei Lan adalah setelah pertemuan
antara Pendekar Tionggoan menghadapi Bengkauw, Thian Tok dan Lam Hay Bun. Ceng
Liong tidak banyak memikirkan urusan perjodohan itu, karena toch antara dia deng
an Mei Lan sudah sepakat, begitu juga kedua keluarga masing-masing. Maka diputus
kannya untuk melanjutkan kerjanya:
Sekarang, secara perlahan Ceng Liong mengerahkan tenaga penarik dari Ceng Thian
Sin Ci. Benar saja, ketika dia mengerahkan tenaga tersebut, jarinya bergetar tan
da kekuatan yang sangat besar berkumpul di ujung jarinya. Secara otomatis, tenag
a penarik itu dia kombinasikan dengan tenaga pengumpul , namun tenaga yang tertarik m
asih terus dan terus bertambah. Namun, Ceng Liong masih belum terbebani dengan p
ertambahan tenaga yang sangat besar itu. Ketika kemudian secara perlahan, tenaga
yang ditariknya mulai berkurang volume pertambahannya bahkan kemudian berhenti,
dia tahu bahwa saatnya mengerahkan Thian Liong Heng Khong. Awalnya dia bingung
di arahkan kemana, tetapi setelah mengingat urut-urutan yang dijelaskan Wie Tion
g Lan tadi, dia sadar kekuatan yang sangat besar di ujung jarinya harus di arahk
an kepada Sian Eng Cu. Yang membuat Ceng Liong memeras tenaganya adalah menahan
tenaga tersebut di ujung jarinya untuk kemudian mengerahkannya bergerak ke arah
Sian Eng Cu. Namun sebelumnya dia mengirim suara dalam percakapan batin satu arah
kepada Sian Eng Cu, dan hanya Sian Eng Cu seorang yang mampu mendengarkannya:
Locianpwee, buka saluran hawa dan sekali-sekali jangan mengeluarkan tenaga menola
k, karena kita akan celaka bersama nantinya. Ini adalah sebagian besar warisan i
nti tenaga locianpwee Pek Sim Siansu Wie Tiong Lan guna menjaga Bu Tong Pay sela
ku Ciangbundjin .....
Benar saja, Sian Eng Cu yang menerima kiriman suara itu telah membuka saluran ha
wanya dan berada dalam posisi pasrah dan terbuka . Beberapa saat kemudian dia merasa
tubuhnya tergetar hebat, karena posisinya memang membuka diri dan saluran hawa.
Ceng Liong pada saat bersamaan menarik Thian Liong Heng Khong dan mengganti deng
an tenaga memindahkan dari Ceng Thian Sin Ci. Maka semakin bergetarlah sekujur bad
an Sian Eng Cu karena secara bersamaan warisan tenaga gurunya mengalir deras ke
tubuhnya. Dia bahkan nyaris dia tak sanggup menerima warisan tenaga yang sangat
besar itu jika Ceng Liong tidak dengan cepat mengerem dan memperlambat proses pe
mindahan. Pada saat memperlambat ini, Ceng Liong terpaksa harus mengerahkan seba
gian besar kekuatan sinkangnya. Perlambatan itu tepat waktunya, karena Sian Eng
Cu sudah nyaris gelagapan untuk menyatukannya dengan hawa tenaga dalam tan-tiann
ya. Tetapi akhirnya, perlahan-lahan proses itupun berlangsung hingga usai. Saat
itu, bahkan sejak pertengahan hingga proses berakhir, banjir keringat melanda ke
duanya. Dan tubuh Sian Eng Cu sempat bergetar-getar dan bergoyang-goyang oleng k
ekiri maupun kekanan akibat penuhnya hawa yang masuk ketubuhnya dan tidak segera
dapat dipadukan dan disatukan ke tan-tian.
Beberapa waktu kemudian Ceng Liong melihat tubuh Sian Eng Cu mulai normal dan be
rarti apa yang dia lakukan sebelumnya sudah sangat tepat. Diapun kemudian menger
ahkan tenaga penyembuh (self healing) yang menjadi keistimewaan sinkangnya, Giok C
eng Sinkang dan beberapa saat kemudian diapun kembali pulih. Saat dia pulih, dia
menyaksikan Sian Eng Cu sudah tenggelam dalam proses penting, yakni meleburkan

tenaga suhunya dengan tenaganya sendiri. Tubuhnya tidak lagi bergetar-getar, tet
api telah tenggelam dalam diam. Begitupun Sian Eng Cu sama sekali tidak sadar ji
ka kekuatannya sekarang ini sudah menyamai atau nyaris menyamai kemampuan siauw
sumoynya sekarang ini. Melihat Sian Eng Cu sudah memasuki proses tersebut, maka
Ceng Liong kemudian memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Sesuai pesan Wie
Tiong Lan maka giliran selanjutnya adalah Liang Mei Lan. Murid terakhir Pek Sim
Siansu, sekaligus yang menjadi jodoh sesuai kesepakatan guru-guru mereka. Untung
nya mereka berdua saling mencintai.
Namun berbeda dengan Sian Eng Cu, proses dengan Liang Mei Lan berlangsung relati
f jauh lebih mudah. Selain karena tenaga yang diwariskan lebih kecil, juga daya
terima dan kesiapan Mei Lan memang berada di atas sam suhengnya. Karena itu, Cen
g Liong tidak banyak menguras tenaganya. Yang melelahkannya adalah, karena pada
saat bersamaan dia mengerahkan kekuatan batin dan kekuatan sinkangnya. Itulah se
babnya setelah proses kedua, Ceng Liong mengalami keletihan, terutama keletihan
tenaga batinnya yang terkuras banyak. Namun demikian kemauan keras dan keinginan
membantu membuatnya mampu bertahan dan mampu secepatnya memulihkan diri. Dan ta
k lama kemudian, diapun kembali melanjutkan pekerjaannya membantu anak murid Wie
Tiong Lan ini.
Dan sebagaimana proses dengan Mei Lan, upayanya membantu Kwee Siang Le dan Jin S
im Todjin, juga tidak berlangsung berat. Selain karena sudah mengalami proses du
a kali pemindahan tenaga dengan Sian Eng Cu dan Mei Lan, Ceng Liongpun sudah leb
ih memahami penggunaan ilmu-ilmu tersebut. Tanpa disadari Ceng Liong, ilmu Ceng
thian Sin Ci (Jari Penggetar Langit) yang dikuasainya menjadi semakin mantap pen
guasaan serta penggunaannya. Bahkan, diapun telah mampu merancang skema ilmu bar
u dengan memanfaatkan Ceng Thian Sin Ci sebagai ilmu pukulan dan ilmu totokan. M
eski memang lebih ringan, tetapi waktu yang dibutuhkan Ceng Liong dalam empat ka
li pemindahan pewarisan hawa sakti, berlangsung sama lamanya untuk setiap murid
Wie Tiong Lan itu. Lebih 4 jam lamanya Ceng Liong tenggelam dalam Cing Peng Kang
Khi serta menggunakan berganti-ganti Ceng Thian Sin Ci dan Thian Liong Heng Kho
ng.
Setelah proses tersebut selesai, mereka berlima, Ceng Liong bersama dengan ke-4
saudara seperguruan tersebut tenggelam dalam samadhi. Mereka berempat, para muri
d Wie Tiong Lan Melebur warisan kekuatan guru mereka kedalam kekuatan masing-mas
ing. Dan juga sekaligus melanjutkan dengan memeriksa dan melatih kembali kekuata
n mereka yang telah bertambah maju karena warisan tenaga murni guru mereka. Masi
ng-masing tak ada yang tahu berapa banyak dan berapa besar warisan tenaga yang m
ereka peroleh. Hanya Ceng Liong seorang yang memahami dan diapun berpendapat bah
wa adalah jauh lebih baik menutup mulut dan tidak mengemukakannya. Dan memang se
perti itu selanjutnya. Ke-empat saudara seperguruan itu telah paham bahwa masing
-masing menerima pesan dan tugas yang berbeda dari guru mereka, dan tak seorangp
un yang berniat membangkang. Itulah sebabnya tak satupun yang berusaha saling ta
hu berapa besar kekuatan yang mereka terima dari suhu mereka itu.
Satu hal yang pasti, keempatnya terharu dengan pengorbanan guru mereka yang samp
ai saat terakhir masih mengumpulkan tenaga murninya untuk diwariskan kepada mere
ka. Sang guru memang telah berpesan jika apa yang dilakukannya, semata untuk kej
ayaan dan masa depan Bu Tong Pay. Dan saat itu, guru mereka telah menyelesaikan
tugasnya, kini adalah masa mereka untuk melanjutkan tugas sang suhu. Menjaga dan
melanjutkan kejayaan Bu Tong Pay. Bahkan juga bersiaga untuk sebuah petaka yang
sangat mungkin datang menghampiri Bu Tong Pay pada masa mendatang sebagaimana r
amalan sang Guru Besar.
Hampir 6 jam kelima orang itu berada di ruangan yang dikhususkan bagi Wie Tiong
Lan semasa hidupnya. Dan ruangan itu, selanjutnya akan diwarisi oleh Kwee Siang
Le, murid yang menerima peritah gurunya untuk melanjutkan penyempurnaan ilmu-ilm
u warisan sang guru. Dan itu berarti murid pertama ini akan selalu berada di Bu
Tong Pay, menempati ruangan gurunya dan melatih murid-murid terpilih Bu Tong Pay
. Sama dengan Jin Sim Todjin yang diminta untuk memperdalam dan mengembangkan il
mu-ilmu dalam Bu Tong Pay berdasarkan dasar tenaga dalam guru mereka yang dari j
alur agama tao (to). Dan Jin Sim Todjin akan berada di kuil Bu Tong Pay menjaga
pesanggrahan perpustakaan, karena disana terdapat semua buku pusaka Bu Tong Pay.
Selain disana memang terdapat sebuah ruangan khusus yang diperuntukkan guna mel

atih kekuata tenaga dalam.


Liang Mei Lan dipersiapkan sejak masa kecilnya untuk menghadapi ancaman bagi rim
ba persilatan Tionggoan. Karena itu, ilmunya memang meningkat pesat sejak masa r
emajanya dan bahkan jauh meninggalkan kakak-kakak seperguruannya. Hanya saja, ka
rena anak perempuan itu tumbuh besar dalam penjagaan ketiga kakak seperguruannya
, maka aslinya dia adalah murid bungsu di perguruannya. Tetapi, dalam prakteknya
dia dianggap sebagai anak, baik oleh Kwee Siang Le maupun Sian Eng Cu yang mend
idik dan membesarkan Mei Lan. Sementara, Jin Sim Todjin sendiri, meski ketat ber
agama, tetapi menyayangi Mei Lan bagai anggota keluarganya sendiri. Itulah sebab
nya, kemajuan Liang Mei Lan sama sekali tidak membuat iri ketiga suhengnya yang
ikut membesarkannya sejak masa bocahnya. Sebaliknya, mereka selalu membantu dan
menyemangati sang sumoy agar berhasil ketika sednag berlatih dan menemukan kesul
itan.
Dan sebagaimana dugaan Wie Tiong Lan, tambahan tenaga serta proses pemindahan ha
wa lewat kekuatan batin, mempercepat kemajuan Mei Lan. Seusai pewarisan dan bebe
rapa jam dilakukannya untuk peleburan tenaga sakti, Mei Lan menemukan bahwa dia
telah dengan mudah mengendalikan tenaga pembatas serta memutar balik tenaga seca
ra sangat mudah. Artinya, tahapan kedua mengikuti ilmu pusaka Kolomoto Ti Lou te
lah dicapainya. Dan dia menjadi sangat bangga dan gembira dengan capaian tersebu
t.
Bahkan, diapun belakangan diajarkan teori dan penggunaan Ilmu Ciat Lip Jiu (Tang
an Penggiring Tenaga) oleh Kiang Ceng Liong. Maka semakin lengkaplah Liang Mei L
an. Apalagi karena selain itu tenaga dalamnya juga meningkat pesat dengan bantua
n hawa murni gurunya. Meski mendapat sebagian kecil saja tenaga gurunya, tetapi
Mei Lan merasakan dan mengalami kemajuan luar biasa dalam penguasaan ilmu-ilmu k
epandaiannya.
Sian Eng Cu, sebagaimana pesan gurunya akan menerima tugas besar sebagai Ciangbu
ndjin Bu Tong Pay yang baru. Sebuah wasiat telah dituliskan Wie Tiong Lan untuk
urusan tersebut. Dan sebagai seorang tokoh yang di dewa kan di Bu Tong Pay, nyaris
bisa dipastikan jika wasiatnya itu akan diterima baik oleh semua tokoh Bu Tong
Pay. Dan memang demikian adanya, sepuluh hari setelah Ceng Liong meninggalkan Bu
Tong Pay, Sian Eng Cu secara resmi ditetapkan menjadi Ciangbundjin Bu Tong Pay.
Sebelumnya, Sian Eng Cu telah berguru berhari-hari kepada ji suhengnya, Sian En
g Cu Tayhiap. Karena itu, pada saat peresmiannya menjadi Ciangbundjin Bu Tong Pa
y, diapun kemudian masuk menjadi Pendeta Agama To dan seterusnya bergelar Thian
Hoat Todjin. Selama beberapa hari, diapun belajar mengembangkan apa yang diajark
an Ceng Liong yang menggubah Ceng Thian Sin Ci menjadi ilmu-ilmu pukulan dan tot
okan yang maha sakti. Dan belakangan, ini menjadi salah satu ilmu andalan Ciangb
undjin Bu Tong Pay. Ceng Liong sengaja tidak menurunkan Ciat Lip Jiu karena baka
l makan waktu lama, padahal dia masih harus menurunkannya kepada Liang Mei Lan.
Tetapi, Ceng Liong kurang menyadari bahwa Ceng Thian Sin Ci adalah gubahan dari
Ciat Lip Jiu, hanya Ceng Thian Sin Ci telah digubahnya sendiri menjadi ilmu puku
lan dan totokan.
Itulah sebabnya Ceng Liong mengajarkan Ceng Thian Sin Ci (Jari Penggetar Langit)
sebagai sebuah ilmu pukulan dan totokan dengan membuka kemungkinan mengembangka
nnya menjadi semacam kekuatan Ilmu Ciat Lip Jiu. Hanya, ilmu ini di tangan Ciang
bundjin Bu Tong Pay berkembang menjadi salah satu ilmu tangan kosong andalan Bu
Tong Pay. Tentu saja sang Ciangbundjin hanya tahu bahwa itu warisan gurunya, tan
pa tahu bahwa ilmu mujijat itu adalah gubahan Kolomoto Ti Lou dan Kiang Sin Lion
g untuk tujuan berbeda. Tetapi, tetap saja Ciangbundjin Bu Tong ini belakangan m
enekuni ilmu mujijat ini lebih sebagai ilmu totokan dan ilmu pukulan. Berbeda de
ngan Ceng Liong dan belakangan Mei Lan yang menekuni skema utama ilmu itu dan me
ngembangkannya baik sebagai ilmu totokan maupun menggiring tenaga lawan. Toch te
rnyata yang dikembangkan sang Ciangbundjin tidak kalah lihay dan tidak kalah heb
atnya dengan dasar ilmu yang dimiliki oleh Ceng Liong dan Mei Lan tersebut.
Setelah menyelesaikan tugas di Bu Tong Pay, menjelang malam Kiang Ceng Liong akh
irnya beristirahat. Dia berencana untuk mengumpulkan kembali semua semangat dan
tenaganya yang banyak terkuras tadi. Sambil merenungkan kembali praktek pengguna
an ilmu-ilmu baik Thian Liong Heng Khong, Ciat Lip Jiu, Ceng Thian Sin Ci maupun
Cing Peng Kang Khi. Terutama dia melatih kembali ilmu Ciat Lip Jiu (Tangan Peng

giring Tenaga) untuk diwariskan kepada Liang Mei Lan. Dia memperkirakan baru aka
n meninggalkan Bu Tong Pay 2 hari lagi setelah melatih Mei Lan dalam Ilmu Ciat L
ip Jiu dan gubahan ilmu totokan dan pukulan Ceng Thian Sin Ci kepada Sian Eng Cu
.
Tetapi, malam belum lama menjelang. Ceng Liongpun baru beristirahat selama beber
apa saat setelah tenggelam dalam samadhi menggubah ilmu dan melatih diri. Tiba-t
iba pintu kamarnya diketok dan Mei Lan sudah langsung masuk dan berkata:
Liong ko, ikut aku dari nada suara Mei Lan, Ceng Liong paham kalau sesuatu peristi
wa penting telah terjadi. Dan memang benar, di salah satu ruangan tamu kemana Me
i Lan membawanya, telah berisi beberapa orang. Dan orang-orang di dalamnya adala
h: Liang Tek Hoat yang nampak kelelahan dan sedikit terluka, Siangkoan Giok Lian
yang juga nampak kelelahan, Ciu Sian Sin Kay yang nampaknya terluka dalam sanga
t parah. Sekilas pandang Ceng Liong segera paham apa yang terjadi, karena itu di
a tidak banyak bertanya, tetapi tatapan matanya terus terarah kepada Ciu Sian Si
n Kay karena dia melihat tokoh itu terluka dalam yang sangat parah.
Locianpwee, maafkan aku .... sambil berkata demikian, Ceng Liong mengerahkan tenag
a Giok Ceng Sinkang dan serangkum hawa dingin-dingin empuk segera meresap memasu
ki tubuh Ciu Sian Sin Kay. Menyadari Duta Agung muda ini memang memiliki tingkat
penguasaan Giok Ceng Sinkang yang sudah teramat tinggi, Ciu San Sin Kay segera
membuka diri dan membiarkan tenaga penyembuh Ceng Liong memasukinya. Dan benar s
aja, tidak beberapa lama, tenaga dalamnya yang sudah sulit di atur, mulai kembal
i berkumpul di tan-tian. Dan tidak lama kemudian dia telah mampu menguasai dirin
ya dan tinggal membutuhkan waktu untuk pulih kembali. Ceng Liongpun kemudian men
yudahi bantuannya, untuk kemudian sambil berpaling kepada Tek Hoat dia bertanya:
Hmm, apa sebenarnya yang terjadi ?
Benar, apa sebenarnya yang terjadi? Untuk mengetahuinya, sebaiknya kita mundur b
eberapa jam. Mundur ke masa ketika Tek Hoat dengan ditemani oleh kekasihnya Sian
gkoan Giok Lian mengerahkan segenap kekuatan mereka untuk mengejar robongan Kayp
ang yang telah berjalan mendahului mereka lebih dari 5 jam. Meski telah lama men
dahului, tetapi Tek Hoat yang adalah bagian Kaypang dengan mudah mengenali tanda
-tanda rahasia Kaypang yang sengaja ditinggalkan. Tanda itu sambung menyambung,
dan karena itu Tek Hoat tidak kesulitan menetapkan ke arah mana mereka harus men
gejar dan menyusul. Lebih beruntung lagi, karena perjalanan rombongan itu memang
tidak dilakukan secara cepat.
Tetapi, benarkah mereka tidak terlambat?
Setelah mengejar dengan kecepatan tinggi selama hampir 2 jam, akhirnya Tek Hoat
dan Giok Lian berhasil menemukan rombongan Kaypang. Hanya saja, keadaannya sudah
sangat runyam, karena dari kejauhan sudah nampak ada beberapa orang sedang bert
arung, sementara di sekitar arena sepertinya banyak orang yang rebah. Entah terl
uka ataupun tewas. Belakangan Tek Hoat baru tahu, kalau sebagian besar orang yan
g rebah itu telah tewas oleh musuh.
Apa yang terjadi? Di tengah arena ternyata sedang terjadi pertempuran seru antar
a Pengemis Tawa Gila dibantu 5 orang murid Kaypang melawan seorang berjubah dan
berkedok hijau. Jelas sekali keadaan Pengemis Tawa Gila sangat-sangat terdesak d
an meski berjumlah banyak, mereka tidak sanggup mendesak lawan. Sebaliknya, mere
ka pontang-panting membela diri dan mengelak dari dahsyatnya serangan lawan yang
bergelombang. Tapi, keadaan Pengemis Tawa Gila dan para murid yang membantunya
jelas sudah sangat terdesak, tinggal menunggu waktu perlawanan mereka berakhir.
Sementara itu, di arena kedua, Ciu Sian Sin Kay
salah seorang tokoh Kaypang juga
sedang bertarung melawan manusia berkerudung hijau yang seorangnya lagi. Meskip
un perlawanannya jauh lebih hebat ketimbang Pengemis Tawa Gila, tetapi sudah jel
as posisinya lebih banyak bertahan. Bahkan, nampaknya Ciu Sian Sin Kay sudah sed
ang memainkan ilmu andalannya yang berdasarkan pergerakan orang mabuk. Itulah ya
ng sedikit menyelamatkannya, karena lawan nampak bingung dengan gerakan menghind
ar dan menyerang yang dilakukan Ciu Sian Sin Kay. Hanya, tetap saja keadaan Ciu
Sian Sin Kay, juga tidaklah baik, posisinya lebih banyak ditekan lawan dan kuran
g mampu memberikan serangan balasan yang berbahaya. Jika dibiarkan, diapun akan
kalah.
Di arena terakhir, dan disinilah korban banyak berjatuhan. Karena seorang berjub
ah dan berkedok hijau lainnya berhadapan dengan keroyokan lebih kurang 10 orang

anggota Kaypang. Sayangnya, tidak ada anggota Kaypang yang berkepandaian lumayan
yang mengiringi Hu Pangcu dan rombongannya. Akibatnya, di arena itu sudah ada l
ebih kurang 5-6 orang yang terluka parah dan malah mungkin tewas. Meski tidak se
hebat 2 manusia berjubah hijau lainnya, manusa berjubah hijau di arena ketiga ju
stru jauh melampaui anak murid Kaypang. Dan dialah yang menjadi penyebab banyakn
ya anggota Kaypang terbunuh.
Begitulah keadaan rombongan Kaypang ketika Liang Tek Hoat dan Siangkoan Giok Lia
n kekasihnya mendatangi arena pertempuran. Dan orang-orang yang menyerang rombon
gan Kaypang rupanya sadar jika bala bantuan buat rombongan Kaypang sedang mendat
angi. Sadar jika misi mereka terancam kegagalan karena bantuan yang datang kelih
atannya sangatlah lihay, penyerang-penyerang itu dengan cepat meningkatkan seran
gan dan desakan mereka. Dan yang celaka adalah Hu Pangcu Kaypang, Pengemis Tawa
Gila yang memang sudah dalam kondisi terdesak hebat. Manusia berjubah hijau yang
menjadi lawannya, tiba-tiba menghentakkan kekuatan tenaga dalamnya hampir 8 bag
ian.
Dans ebagai akibatnya, ke-lima anak murid yang membantu Hu Pangcu terpental ke k
iri dan ke kanan, bergelimpangan dan semua terluka berat. Sasaran utamanya meman
g bukan anak murid Kaypang, tetapi Hu Pangcu Pengemis Tawa Gila. Maka, begitu ga
ngguan terhadapnya berkurang, serangan dengan tenaga besar dalam ilmu pamungkasn
ya sudah menyerang Pengemis Tawa Gila. Kondisi Pengemis Tawa Gila kebetulan suda
h salah langkah, keteteran oleh angin serangan lawan yang luar biasa kuatnya. Ka
rena itu, dengan nekat dia mengerahkan sebagian atau seluruh tenaga tersisanya u
ntuk memapak serangan lawan:
Hu Pangcu, mundur ......... teriakan mengguntur terdengar dari luar arena untuk me
mperingatkan Pengemis Tawa Gila. Tetapi terlmabat, sangat terambat. Pertama, Pen
gemis Tawa Gila sudah terluka dan sudah teramat letih melakukan perlawanan terha
dap musuh yang sangat lihay ini. Kedua, posisinyapun sudah salah langkah tersere
mpt angin serangan membadai yang dilepaskan lawan. Satu-satunya langkah memang m
emapak serangan lawan dengan kekuatan sepenuhnya. Ini yang memang diinginkan law
an, karena dengan gerakan manis, dia menghindari papakan pukulan Pengemis Tawa G
iula sementara pukulan mautnya tetap mengarah ke dada kanan Pengemis Tawa Gila.
Bluk, bressssssssss ........... , pukulan maut si manusia berjubah hijau bersarang
telah di dada kanan Pengemis Tawa Gila. Dan akibatnya:
Haiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...... , jeritan menyayat hati terdengar dari Pengemis Taw
a Gila dan selanjutnya tubuhnyapun terlempar ke belakang sambil muntah darah seg
ar. Terdengar teriakan lainnya:
Terlambat koko .....
Jeritan Pengemis Tawa Gila tadi adalah jeritan meregang nyawa. Begitu Liang Tek
Hoat menghampiri tubuh Hu Pangcu tersebut, nyawanya sudah sedang melayang akibat
luka berat yang ditimbulkan pukulan hebat lawan. Kondisi dalam tubuhnya sudah h
ancur remuk, mustahil disembuhkan lagi. Tetapi, sebelum menghembuskan nafas tera
khir, Pengemis Tawa Gila masih sempat berbisik lemah:
Sampaikan hormatku kepada Pangcu, ternyata usiaku tidak memadai hingga ke pertemu
an besar Kaypang nantinya. K ...k..k...kami semua mengandalkanmu ..... dan selepa
s kalimat singkat itu, Pengemis Tawa Gila, salah satu tokoh utama dalam menyerbu
dan mengalahkan Thian Liong Pang melepas nyawanya. Tek Hoat sedih dan gusar, te
tapi betapapun dia harus menata dan mengatur mayat Hu Pangcu terlebih dahulu. Da
n dia tidak boleh lama bersedih, karena di dua arena lainnya masih terjadi perte
mpuran.
Wajahnya yang biasa tersenyum kini berubah kelam dan gelap. Diapun bangkit dan m
enghampiri arena kedua, dimana Ciu Sian Sin Kay sedang terdesak. Karena mengalam
i penghadangan dan Hu Pangcu tewas, maka Tek Hoat berubah menjadi kelam dan gari
s serta sinar matanya mengeras. Dan diapun memasuki arena pertarungan Ciu Sian S
in Kay sambil berkata:
Suheng, balaskan kematian Hu Pangcu, biarkan bangsat ini kuselesaikan. Bantu muri
d-murid kita disana
Tanpa menunggu persetujuan suhengnya, Ciu Sian Sin Kay, Tek Hoat telah menyerang
manusia berjubah hijau lawan suhengnya. Dan, menyadari jika memang Tek Hoat leb
ih mampu melawan si manusia berjubah hijau, Ciu Sian Sin Kay memandang ke arena
ketiga. Dan melihat keadaan berbahaya, dia langsung berkelabat ke arena tersebut

dan menyerang manusia berkerudung hijau di arena tersebut. Dan, dia mendapati k
enyataan jika manusia berkerudung yang ketiga ini tidak sehebat kedua manusia be
rkerudung lainnya. Bahkan, Ciu Sian Sin Kay merasa berkemampuan untuk mengalahka
n si manusia berjubah hijau yang satu ini.
Sementara itu, Giok Lian yang menyerang manusia berjubah hijau yang membunuh Hu
Pangcu Pengemis Tawa Gila telah bekerja tidak kepalang tanggung. Selama masa pen
yerangan Thian Liong Pang, Hu Pangcu ini terbilang cukup dikenalnya. Terutama ke
pemimpinan dan keberaniannya dalam memimpin pergerakan kaum pendekar. Apalagi ka
rena Hu Pangcu Pengemis Tawa Gila adalah pemimpin Kaypang, perkumpulan besar dar
imana kekasihnya berasal. Maka tidak tanggung, Giok Lian menumpahkan kekesalan d
an kemarahannya dengan menyerang si manusia berjubah hijau secara keras dan cepa
t.
Tetapi, baik Giok Lian maupun Tek Hoat sangat heran menemukan kenyataan betapa l
awan mereka ternyata luar biasa hebatnya. Tek Hoat yang sudah langsung menyerang
dengan Hang Liong Sip Pat Ciang bertemu dengan kehebatan lawan yang tidak berad
a di sebelah bawah kemampuannya. Ilmu keras sambung menyambung yang membuatnya b
agai sedang berusaha menaklukkan Naga, mampu dihadapi lawannya meski dengan susa
h payah. Dan memang, karena Tek Hoat tidak melatih sinkang perjaka sebagaimana gur
unya, maka puncak kehebatan ilmu tersebut berbeda dengan gurunya Kiong Siang Han
. Tetapi yang mengejutkan Tek Hoat adalah, lawan yang dihadapi bersilat secara a
neh dan nampaknya belum pernah dihadapinya sebelumnya. Kekuatan sinkang lawan ti
dak berada di sebelah bawah kemampuannya dan ilmu-ilmu lawanpun mengagetkannya.
Menyadari hal tersebut, Tek Hoat merubah ilmu pukulannya. Kali ini dia menyerang
dengan pukulan berat lainnya, Pek Lekk Sin Jiu (Pukulan Petir). Dan benar saja,
lawan kembali kaget menghadapi ilmu mujijat Tek Hoat ini meskipun tidak mampu m
embuatnya terdesak hebat. Hanya, itu di awal-awalnya. Manusia berjubah hijau itu
kurang mengerti jika Tek Hoat memang berusaha secepatnya mengalahkannya. Itulah
sebabnya dia belum sempat menyerang dan membuka ilmu andalannya dalam melawan T
ek Hoat. Terlebih, dia sempat memandang remeh pada awal-awal pertempuran mereka.
Akibatnya, memasuki jurus ketiga dan selanjutnya, dia benar benar dalam kesulit
an hebat. Tek Hoat terus memberondongnya dengan jurus-jurus keras dari Pek Lek S
in jiu yang diiringi oleh suara petir bertalu-talu yang menusuk kuping maupun ba
tinnya. Diapun sedikit goyah.
Sementara itu, Giok Lian di arena yang satunya lagi, juga menyerang lawan secara
hebat. Meski heran karena lawan ternyata berilmu tinggi, tetapi Giok Lian tidak
lah kehabisan akal, apalagi keder. Sebaliknya, meniru kekasihnya Tek Hoat, diapu
n langsung mencecar lawan yang juga kaget dan heran melihat kesaktiannya. Jit-go
at-sin-kang (Hawa Sakti Bulan Matahari) telah mengalami kemajuan yang sangat lua
r biasa beberapa waktu belakangan. Kemajuannya seandainya dia tahu, pastilah aka
n membuatnya kaget. Karena bahkan dibandingkan dengan kesaktian kakeknya yang me
njadi Kauwcu Begkauw, Giok Lian justru telah melampauinya. Karenanya tidak heran
jika lawannya si manusia berkerudung hijau juga dilanda kekagetan luar biasa. G
adis muda ini bahkan mampu menandingi dan mencecarnya dengan pukulan sakti yang
mampu menggetarkan pertahanan sinkangnya.
Apalagi karena selain menyerang dengan Toat bengci (Jari pencabut nyawa) yang da
hulunya adalah ilmu sesat nenek buyutnya, Giok Lian juga secara cepat bergerak d
engan Jiauw-sin-pouw-poan-soan (Langkah Sakti Ajaib Berputar-putar). Toat Beng C
i, memang dahulunya adalah ilmu andalan nenek buyutnya yang sangat sadis dan kej
am. Di tangan Giok Lian, kegarangan dan kesadisan itu tidaklah berkurang, justru
semakin meningkat tajam. Hanya saja, hawa magisnya telah berkurang banyak, teta
pi tetap saja ketajaman kekuatan pengerahan sinkang melalui jari justru menjadi
jauh lebih hebat dan mematikan. Apalagi masih diiringi dengan suara mencicit yan
g mengiringi kearah mana totokan jari itu terarah.
Kini kekuatan bergeser jauh atau bahkan berbalik. Jika sebelumnya posisi rombong
an Kaypang berada dalam keadaan terdesak dan sangat berbahaya, bahkan menelan ko
rban jiwa Pengemis Tawa Gila, maka sekarang berbalik. Posisi ketiga manusia berj
ubah hijau, kini berada dalam ancaman bahaya maut. Karena disemua arena mereka d
alam posisi terdesak. Baik arena melawan Giok Lian, Tek Hoat maupun Ciu Sian Sin
Kay. Sangat mungkin dalam waktu tidak lama lagi, salah satu dari ketiga manusia
berjubah hijau itu akan menjadi korban. Karena baik Ciu Sian Sin Kay, Tek Hoat

maupun Giok Lian memang tidak lagi tanggung-tanggung dalam mendesak dan menyeran
g lawan. Apalagi posisi manusia berjubah hijau yang sedang melawan Ciu Sian Sin
Kay yang kini bersilat di puncak kemampuannya.
Dan benar saja. Tidak lama kemudian, Ciu Sian Sin Kay mengerahkan kekuatan besar
dalam ilmu Hang Liong Sip Pat Ciang. Ilmu ini sudah selama 6 bulan terakhir dit
ekuninya melalui kitab catatan ilmu silat Kiong Siang Han yang dititipkan melalu
i Liang Tek Hoat. Melalui kitab inilah Kiong Siang Han mewariskan semua peryakin
an ilmu silatnya beberapa tahun terakhir, termasuk yang telah diturunkannya kepa
da Tek Hoat murid penutupnya. Karena itu, Ciu Sian Sin Kay yang sekarang, sudah
jauh berbeda dengan yang bertarung di markas utama Thian Liong Pang sebelumnya.
Meskipun belum sempurna benar dalam memainkan Hang Liong Sip Pat Ciang, tetapi k
ekuatan tenaga perjakanya justru masih lebih kokoh dibandingkan Liang Tek Hoat y
ang tidak melatih sinkang tersebut. Karena itu, kehebatan Hang Liong Sip Pat Cia
ng di tangan Ciu Sian Sin Kay tidaklah kalah jauh dari adik seperguruan termudan
ya.
Memasuki jurus kesebelas dengan gaya Liong Cong Liat Hong (Naga Menerjang Bagai
Pusaran Angin), Ciu Sian menggerakkan bukan hanya tangannya, tetapi juga hawa si
nkang yang bergerak bagai angin lesus. Karena sudah terlibat oleh hawa pukulan d
an sinkang yang bergerak mengurung semua jalan keluarnya, si manusia berjubah hi
jau tak punya pilihan lain. Dengan sangat terpaksa diapun bergerak sepenuh tenag
a menangkis pukulan Ciu Sian Sin Kay yang bergerak dengan kekuatan hawa pukulan
luar biasa. Tetapi, begitu dipapak lawan, Ciu Sian telah bergerak dengan ciri kh
ilmu gerak dewa mabuk - dan langsung menyerang lawan dari samping den
as ilmunya
gan jurus Hai Liong Lu Jiau (Naga Laut Menjulurkan Cakar). Dan kali ini, kepalan
tangan yang penuh hawa sinkang bergelora itu telak memukul bagian samping dada
si manusia berkerudung. Dan yang terdengar hampir secara bersamaan adalah:
Dukkkkkkk ......
Hoaaaaaaakkkkkkkkkk
Si Manusia berkerudung terpukul telak ke belakang sambil meyemburkan darah segar
. Dan tanpa perlu memandang lebih jauh, Ciu Sian Sin Kay mengerti jika manusia i
tu telah terluka sangat parah dan tidak akan mungkin tertolong lagi. Namun, pada
saat bersamaan tiba-tiba berkelabat dua sosok bayangan memasuki arena. Dan dari
gerakan mereka, bisa ditebak kalau kedua pendatang baru itu juga membekal kepan
daian yang luar biasa. Dan terdengar salah seorang dari kedua pendatang yang jug
a mengenakan jubah dan kerudung, namun bukannya hijau tetapi warna kelabu dan ba
hkan agak kelam dan pekat, telah mendengus:
Sungguh berani melukai orang ..... hmmm, terimalah
Dan salah seorang dari pendatang itu telah mengerahkan kemampuannya yang luar bi
asa untuk menyerang Ciu Sian Sin Kay. Sementara itu, Ciu Sian Sin Kay yang masih
bangga dengan kemenangannya, sudah keheranan melihat kedatangan dua orang lainn
ya lagi. Modelnya sama, manusia berjubah dan berkkerudung, hanya kali ini dengan
warna jubah yang agak kelabu cenderung gelap, tetapi bukan hitam. Salah seorang
dari kedua pendatang itu telah menyerangnya, dan nampaknya tidaklah main-main.
Diapun bersedia, tetapi dalam herannya, ilmu pukulan yang dilontarkan kepadanya
ternyata sangatlah luar biasa. Dengan tergesa-gesa diapun menangkis pukulan ters
ebut:
Dukkkkkk .......
Accccchhhhhhhhhhhhhhhhhhh ....
Dan menyusul Manusia berjubah hijau sebelumnya, Ciu Sian Sin Kay juga terdorong
ke belakang dan nampaknya terluka hebat. Luar biasa si pendatang baru berjubah k
elabu itu. Dengan sebuah kibasan saja dia telah mampu melontarkan Ciu Sian Sin k
ay. Namun, sebetulnya bukan karena perbedaan kemampuan yang terlampau jauh, mela
inkan karena Ciu Sian masih belum mengenali pendatang yang menyerangnya dan belu
m cukup siap menangkis pukulan lawan. Itulah sebabnya dia sampai terluka cukup p
arah oleh kibasan tangan lawan yang telah memukulnya dengan hampir tiga perempat
kekuatan tenaganya. Otomatis Ciu Sian Sin Kay kedodoran, kalah dan akhirnya ter
lontar ke belakang dengan menderita luka dalam yang tidak ringan.
Jatuhnya Ciu Sian Sin Kay tidak terlepas dari pengamatan Tek Hoat dan Giok Lian.
Juga kelihatannya tidak terlepas dari pengamatan kedua lawan sepasang anak muda
sakti itu. Hal itu terbukti. Ketika Tek Hoat dan Giok Lian bergerak ke arah Ciu

Sian Sin Kay, kedua manusia berjubah hijau itupun berkelabat ke arah manusia be
rjubah hijau yang satu lagi, yang terluka parah di bawa pukulan Ciu Sian Sin Kay
. Bahkanpun, begitu melihat keadaan kawan mereka yang sudah diambang kematian, d
engan cepat salah seorang dari manusia berjubah hijau telah mengangkat tubuh kaw
annya yang terluka itu, dan hanya selang sedetik dua detik, merekapun berkelabat
pergi dan lenyap.
Tindakan mereka sungguh tidak diduga dan tidak mampu diantisipasi baik Giok Lian
, Tek Hoat dan juga kedua pendatang baru. Hanya saja, tak seorangpun yang berger
ak mengejar karena setelah melihat Ciu Sian Sin Kay hanya terluka meski agaknya
cukup parah, Tek Hoat segera bangkit diiringi Mei Lan dan menghadapi kedua penda
tang baru yang juga tidak mereka kenal. Hanya, dari dandanan keduanya, dapat dit
ebak jika salah seorang adalah wanita. Sementara yang satunya lagi jelas seorang
laki-laki. Repotnya, sulit untuk mengetahui apakah dan bagaimanakah rupa yang s
eorang lagi, karena dia benar-benar menutupi wajahnya dengan penutup wajah selai
n dengan caping lebar.
Ada permusuhan apakah gerangan dengan suhengku sampai jiwi melukainya sedemikian
rupa ? Tek Hoat sudah kehilangan keluwesannya akibat pukulan beruntun yang diterim
anya. Setelah Hu Pangcu Pengemis Tawa Gila terpukul tewas, kini toa suhengnya ju
ga terluka parah di tangan musuh. Siapa yang tidak menjadi sangat geram?
Dia terlebih dahulu menyerang dan melukai orang dingin nada jawaban dari si jubah
kelabu. Dan benar, nada suara yang bening melengking menandakan dia seorang wani
ta, hanya jelas sekali jika nada suaranya telah diubah sedemikian rupa. Apa gera
ngan maksudnya?
Apakah anda berdua tidak melihat jika lawan yang dilukainya telah membunuh sekian
banyak anak murid Kaypang ? tanya Tek Hoat kembali dengan nada amarah yang masih
sangat lekat.
Maaf, kami tidak perduli dengan semua itu. Memangnya, jika anak murid Kaypang apa
kah tidak boleh dilukai dan dibunuh ? tambah dingin suara si wanita berjubah kelab
u. Dan suasana menjadi semakin panas.
Hmmmmm, tidak salah dugaanku. Kita sedang berhadapan dengan musuh Kaypang, nampak
nya sampah-sampah dunia persilatan desis Tek Hoat marah, juga disambut kegeraman
serupa dari kedua lawannya.
Hmmmm, apakah karena anda berdua berada di daftar 10 jago pendekar di Tionggoan t
erus memandang ringan yang lain? .....hmmm sombongnya si wanita berjubah kelabu j
uga nampak menahan kemarahannya. Tetapi, orang disampingnya yang juga sama berju
bah kelabu sudah tidak mampu menahan kemarahannya. Dengan disertai erangan penuh
kemarahan dia kemudian menyerang Tek Hoat, tetapi lawan yang diserang juga suda
h siap sedia sejak tadi. Gerakan lawan yang cepat tidak mengejutkannya, tetapi k
ekuatan serangan lawan yang mengejutkan. Karena bahkan masih melebihi kekuatan d
an kehebatan manusia berjubah hijau yang telah kabur melarikan diri tadi.
Melihat kawannya sudah menyerang Tek Hoat, si wanita berjubah kelabu juga sudah
menyerang Giok Lian. Dan kembali terjadi pertarungan seru di tempat itu. Hanya s
aja, meski cuma ada 2 arena perkelahian, tetapi pertempuran kali ini masih lebih
berbahaya dan lebih menguras tenaga. Dalam waktu singkat Tek Hoat menemukan ken
yataan jika lawannya sungguh-sungguh berat. Dia harus mengerahkan seluruh kekuat
an sinkang dan ginkang, malahan mengisi dengan kekuatan batin agar tidak keteter
an menahan serangan lawan. Sementara sebaliknya, Siangkoan Giok Lian juga menemu
kan lawan yang tidak kurang hebatnya dengan lawan sebelumnya. Hal yang membuatny
a heran, mengapa dalam waktu lebih kurang 6 bulan muncul tokoh-tokoh hebat yang t
idak jauh beda kepandaiannya denganku? Padahal aku sudah maju jauh berkat Bhiksu
Chundamani desis Giok Lian dalam hatinya.
Sementara itu, lawan Tek Hoat selalu menyerang dengan kekuatan mengerikan. Kekua
tan yang baru dengan pengerahan tenaga nyaris sepenuhnya baru bisa ditahan dan d
ilawan Tek Hoat. Bahkan, ketika menyerang dengan Pek Lek Sin Jiu, lawannya tidak
menunjukkan gelagat ketakutan atau ngeri. Sebaliknya, dia mampu dan sanggup mel
adeni Pek Lek Sin Jiu dengan baik, dan membalas serangan dengan sama keras dan s
ama kuatnya. Seperti halnya Giok Lian, Tek Hoatpun terkejut dengan lawan-lawan b
aru yang muncul tetapi dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Nampaknya, Ceng Li
ong benar, bakalan ada gejolak baru di dunia persilatan dalam waktu dekat. Inila
h rupanya maksudnya Tek Hoat berkata dalam hatinya sendiri.

Tetapi, meskipun berkata-kata dalam hatinya sendiri, Tek Hoat tidak pernah menge
ndurkan serangan dan pertahanan. Dia pada akhirnya bertarung bertahan dan menyer
ang dengan sama baiknya. Karena lawan yang dihadapi adalah lawan terkuat yang di
temuinya setelah pertempuran di markas Thian Liong Pang. Tek Hoat telah bertempu
r dengan memadukan Tian-liong-kia-ka (naga langit menggerakkan kakinya) ilmu gink
ang tingkat tinggi warisan gurunya dan dipadukan dengan Pek lek Sin Jiu. Dengan
paduan inilah dia mampu mengimbangi lawannya yang luar biasa hebatnya. Tek Hoat
mengeluh dalam hati, karena lawannya kelihatannya tidak berada di sebelah bawah
kemampuannya.
Sementara itu, Giok Lian seperti mengenali gaya dan cara bertarung lawannya. Sep
erti tidak asing baginya. Tetapi, tetap saja dia tidak mampu mengingatnya, karen
a lawannya kali ini memiliki kemampuan hebat. Tidak kalah dengan kemampuan lawan
sebelumnya. Hanya saja, kekuatan sinkangnya memang belum sanggup mengimbangi la
wan sebelumnya meski beda tipis belaka. Hal ini ditutupi dengan variasi ilmu dan
jurus aneh serta dahsyat yang dilontarkannya. Untuk itu, Giok Lian mengimbangi
serangan lawan dengan Jiauw-sin-pouw-poan-soan (Langkah Sakti Ajaib Berputar-put
ar) dan juga memadukan dengan Koai Liong Sin Ciang (Ilmu Pukulan Naga Siluman).
Paduan kedua ilmu ini membuatnya beroleh waktu memadai untuk menengok keadaan Te
k Hoat. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat betapa hebat lawan Tek Hoat, s
ekilas dia melihat pelipis Tek Hoat mulai berkeringat, sementara lawannya juga d
alam kondisi sama, bahkan masih sedikit lebih bugar.
Melihat Tek Hoat memperoleh lawan yang sangat hebat, kelihatannya masih melebihi
lawannya, Giok Lian menjadi gelisah. Cepat diapun menggunakan ilmu dan jurus an
dalannya selama ini, Sam Koai Sian Sin Ciang (3 Jurus Ilmu Pukulan Dewa Siluman)
. Ilmu yang terdiri dari hanya 3 jurus ini adalah ilmu pukulan mujijat dari Beng
kauw, ilmu yang selama ini hanya diwarisi dan dikuasai tokoh-tokoh puncak Bengka
uw. Ilmu tersebut memang sangat tepat dimainkan dengan langkah ajaib Jiauw-sin-p
ouw-poan-soan (Langkah Sakti Ajaib Berputar-putar). Maka sambil berputar-putar,
Giok Lian kemudian memuntahkan pukulan-pukulan berat bagaikan ledakan mortir yan
g sambung-menyambung menyerang lawan dari segala penjuru. Akibatnya, lawan menja
di sibuk menghindar dan menangkis kesana kemari. Tetapi karena kekuatan singkang
nya kurang mampu meladeni Giok Lian yang telah semakin matang, diapun keteteran.
Tak tersembunyikan keterkejutan si perempuan berjubah kelabu melihat betapa kem
ampuan Giok Lian telah maju sedemikian jauhnya. Dan akibatnya, diapun keteteran
menghadapi lawannya.
Sementara itu, Tek Hoatpun mengalami kekagetan serupa. Menghadapi pek Lek Sin Ji
u yang semakin lama semakin menggelegar, lawannya dengan cepat telah menyiapkan
ilmu anehnya. Hal itu tepat dilakukannya ketika Tek Hoat memasuki jurus pamungka
s Pek Lek Sin Jiu, jurus kedelapan Halilintar meledak Bumi Melepuh. Jurus kedela
pan ini, sejatinya belum pernah dikeluarkannya secara penuh, tetapi sekarang den
gan terpaksa dikeluarkannya karena lawan juga menyerangnya dengan kekuatan yang
luar biasa dahsyatnya. Terlebih, dia merasa kekuatan lawannya semakin lama semak
in berat menekannya. Sejak 3 gebrakan sebelumnya, setiap menyerang, kekuatan law
an seperti bertambah 2 kali lipat ketika menerpanya. Hal yang mengagetkannya dan
dengan terpaksa dia mengerahkan jurus pamungkas dari pek Lek Sin Jiu. Tetapi la
wannyapun tidak nampak takut atau ngeri untuk memapak pukulan ampuhnya itu:
Blaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrr dan akibatnya, baik Tek Hoat maupun la
wannya terpental ke belakang. Dari mulut Tek Hoat nampak merembes darah merah ta
nda dia telah terluka, tetapi lawannya juga nampak goyah. Jika mampu melihat waj
ahnya, maka Tek Hoat pasti puas, karena wajah itupun nampak pucat. Sementara itu
, Giok Lian yang selalu mengikuti pertarungan Tek Hoat menjadi khawatir melihat
dari mulut kekasihnya merembes darah. Memang belumlah berarti bahwa kekasihnya t
erluka parah. Tetapi betapapun hati seorang gadis sudah tentu akan merasa sangat
khawatir karenanya. Karena itu, diapun menyerang dengan segenap kekuatannya dal
am jurus ketiga dari ilmu andalannya itu. Akibatnya, si wanita berjubah kelabu p
ontang-panting menyelamatkan diri. Hanya saja tetap sebuah angin serangan Siangk
oan Giok Lian sempat menyerempetnya. Meski tidak sampai terluka berat, tetapi cu
kup mampu menciutkan nyali lawan. Keadaan itu tidak lepas dari pengamatan lawan
tek Hoat. Sebagaimana Siangkoan Giok Lian selalu mengikuti pertarungan Tek Hoat
dengan lawannya, demikian juga lawan Tek Hoat selalu mengawasi arena Giok Lian d

engan kawannya. Karena itu, dia sempat menyaksikan kalau posisi mereka berbahaya
.
Dan ketika Giok Lian melihat lawannya terserempt pukulannya dan sedikit terluka,
dia mengalihkan pandangan ke arah lawan Tek Hoat. Pada saat bersamaan, mereka b
erdua saling memandang. Getaran kekuatan beradu, bukan hanya getaran kekuatan te
naga dalam, adu tahan kekuatan mata, tetapi juga adu kekuatan batin. Dan pada sa
atnya, keduanya bergerak saling menyerang. Sadar lawan luar biasa hebatnya, Giok
Lian telah dengan cepat memutuskan menggunakan kekuatan dari kedua gurunya. Yak
ni Jit Goat Sinkang yang dilebur kembali dengan Bu Sing Sinkang Bhiksu Chundaman
i. Giok Lian menyerang dengan jurus Ceng Kou Cih Meng (Lonceng Dan Genta Berbuny
i Serentak) dari ilmu terbarunya Sam Ciang Khay Thian Loan Te (Tiga Jurus Membuk
a Langit Mengacau Bumi). Dan benturan yang kesekian dengan pelakon berbeda kemba
li terjadi.
Giok Lian terdorong sampai tiga langkah dan bahkan kemudian membiarkan dirinya m
elayang ke belakang untuk menetralisasi kekuatan lawan yang menggulung mengejarn
ya. Sementara itu, lawannya juga kaget setengah mati melihat getaran dan gulunga
n pukulannya tidak mampu mengalahkan lawan. Lawan memang terdorong ke belakang 3
langkah, sama seperti dirinya. Hanya, meski lawan terdorong dan melayang kebela
kang, diapun sadar kalau Giok Lan sengaja melakukannya agar gulungan tenaga ters
isa yang menyerangnya tidak melukainya. Luas biasa desis si manusia berjubah hijau
. Dan melihat Giok Lian sanggup menghadapinya, apalagi nampaknya Tek Hoat juga s
udah bersiap menyerang, si manusia berjubah kelabu segera berkata sambil berkela
bat ke arah temannya si wanita yang berjubah kelabu:
Kita pergi .....
Dan sejurus kemudian, tempat itu jadi sepi. Giok Lian memandang ke arah Tek Hoat
yang menarik nafas panjang menemukan kenyataan betapa hebat lawan tadi dan dia
sempat sedikit terluka. Itu sebabnya keduanya membiarkan saja manusia manusia be
rjubah kelabu itu berlalu. Selain itu, perasaan Tek Hoat juga sedang galau dan g
eram dengan kematian Hu Pangcu Kaypang dan terlukanya toa suhengnya Ciu Sian Sin
Kay. Dengan perlahan Giok Lian menghampiri Tek Hoat dan menyentuh lembut pundak
anak muda itu:
Koko, sekarang bagaimana .... ?
Tek Hoat memandang Giok Lian penuh rasa terima kasih dan cinta. Tetapi, kerisaua
n dan kesedihan serta kegeraman dihatinya tidak mampu diusirnya dengan cepat. Di
a memang merasakan getaran kasih dan mesra dari Giok Lian, hanya itu tidak mencu
kupi untuk membuatnya keluar dari lingkaran perasaan galau dan marahnya. Marah k
epada musuhnya sudah tentu. Risau karena di depan matanya menyaksikan kematian H
u Pangcu dan terlukanya sang toa suheng. Tetapi, toch akhirnya dari harus member
i keputusan:
Kita kembali ke Bu Tong Pay. Toa suheng butuh bantuan Ceng Liong, sambil menyiapk
an penjemputan anak murid Kaypang
Dan sambil memberi keputusan demikian, Tek Hoat melemparkan senyum mesra kepada
kekasihnya sambil kemudian memandang dan bergerak kearah anak murid Kaypang. Dia
pun segera mengeluarkan perintah:
Sampaikan kabar ke markas Kaypang, dan perintahkan anak murid Kaypang cabang terd
ekat untuk menuju ke kuil Bu Tong Pay. Jenasah Hu Pangcu untuk sementara kubawa
ke Bu Tong Pay menunggu jemputan anak murid Kaypang dari markas pusat , dalam seka
li perintah Tek Hoat menugaskan berapa orang sekaligus untuk bertugas.
Saat itu, murid Kaypang yang masih bugar tinggal 5 orang belaka, sisanya selain
terluka, telah terpukul mati oleh lawan. Maka, diapun menyuruh 2 orang murid ke
Markas Utama Kaypang guna memberi kabar. Selain itu, 2 orang murid memberitahu c
abang Kaypang terdekat untuk menuju Bu Tong Pay untuk mengatur kekuatan menganta
rkan jenasah Hu Pangcu ke markas Kaypang. Dan seorang lagi turut bersamanya untu
k mengangkat jenasah Hu Pangcu menuju Kuil Bu Tong Pay. Untungnya, meski telah t
erluka cukup parah, tetapi Ciu Sian Sin Kay masih memiliki kekuatan untuk melaku
kan perjalanan.
Dalam keadaan seperti itulah rombongan Kaypang yang tersisa, bersama Giok Lian t
iba di Bu Tong Pay:
Sebagaimana dugaanmu Liong ko, rombongan Hu Pangcu disergap orang di tengah jalan
. Konon awalnya disergap oleh 3 orang manusia berjubah hijau dan berkerudung hij

au pula. Menghadapi mereka saja, rombongan Kaypang sudah pontang-panting, karena


terutama dua orang diantaranya memiliki kepandaian yang sangat luar biasa. Menu
rut suheng, dia sendiri masih belum sanggup menandingi salah seorang diantara ke
duanya. Begitu juga mendiang Hu Pangcu, yang terpukul binasa oleh salah seorang
dari kedua manusia berjubah dan berkerudung hijau itu. Sayang aku dan Lian moi t
erlambat beberapa waktu jelas Tek Hoat yang nampak sangat menyesali kedatangannya
yang begitu terlambat dan yang mengakibatkan Hu Pangcu Pengemis Tawa Gila menja
di korban oleh penyerang itu. Karena ketika mereka tiba, Pengemis Tawa Gila mema
ng telah terpukul telak dan mengalami luka yang tak tersembuhkan lagi.
Hmmm, tetapi sepengetahuanku kedua manusia berjubah dan berkedok hijau itu masih
belum mampu melukaimu dengan Nona Giok Lian Ceng Liong bertanya karena melihat Te
k Hoat sedikit terluka dan heran Ciu Sian Sin Kay juga terluka oleh pukulan yang
agak aneh.
Benar Liong ko ... kali ini Giok Lian yang bicara
Saat kami tiba dan terlibat dalam pertempuran, Ciu Sian locianpwee sebenarnya tel
ah mampu memukul jatuh salah seorang dari manusia berjubah hijau itu. Bahkan ora
ng itu menurut Hoat ko kemungkinan besar sudah binasa. Tetapi, bersamaan dengan
berhasilnya Ciu Sian cianpwee memukul salah seorang dari manusia berjubah hijau
itu, tiba-tiba muncul dua orang berjubah kelabu dan bercaping lebar. Salah seora
ng dari mereka memukul dan melukai Ciu Sian locianpwee. Saat itu, 2 manusia berj
ubah hijau menyambar teman mereka dan menghilang, sementara kami terlibat perkel
ahian dengan ke-2 manusia berjubah kelabu tersebut. Dan terus terang, kemampuan
kedua manusia berjubah kelabu itu tidak kalah, atau malah masih di atas manusia
berjubah hijau. Akupun terus terang saja tidak akan sanggup untuk menjatuhkannya
Dan sayangnya, mereka berjubah kelabu dan mengenakan penutup wajah hingga tidak m
ampu dikenali. Bahkan akupun sedikit terguncang oleh salah satu dari manusia ber
jubah kelabu, entah siapa orangnya tambah Tek Hoat.
Apapun dan siapapun mereka, nampaknya mereka memang menyasar Bu Tong Pay, Kaypang
, Siauw Lim Sie dan Lembah Pualam Hijau berkata Sian Eng Cu yang juga merasa sang
at penasaran dengan kejadian yang menimpa Bu Tong Pay dan sekarang menimpa Kaypa
ng. Bahkan, nampaknya bukan tidak mungkin mereka juga menghadang dan menyerang ro
mbongan Siauw Lim Sie dalam perjalanan pulang ke Siong San , tambah Sian Eng Cu.
Benar, bukan tidak mungkin mereka melakukan penghadangan itu terdengar Mei Lan men
ambahkan sambil memandang Ceng Liong.
Sudahlah, jauh lebih baik kita beristirahat semua dan memberi waktu Ciu Sian cian
pwee untuk beristirahat. Kita semua butuh istirahat saat ini, dan biarlah kita l
anjutkan percakapan malam nanti setelah kita beristirahat sejenak , Ceng Liong tid
ak merespons dugaan Mei Lan, tetapi semua memiliki keyakinan yang sama bahwa kem
ungkinan itu memang sangatlah besar. Tetapi, saran Ceng Liong akhirnya disetujui
nya karena semua memang sedang letih. Mereka semua butuh istirahat untuk melanju
tkan percakapan malam nanti.
Ceng Liong masih berdiam di Bu Tong Pay selama 3 hari, dan dia menetapkan untuk
mewariskan Ciat Lip Jiu kepada Mei Lan dan Tek Hoat. Sementara kepada Sian Eng C
u dia menurunkan ilmu pukulan dan totokan Ceng Thian Sin Ci. Setelah tiga hari,
bukan hanya Ceng Liong, tetapi Tek Hoat dan rombongan Kaypang juga akhirnya meni
nggalkan Bu Tong Pay.
====================
Lepas pagi hari, saat itu matahari sedang memancarkan sinarnya yang indah sekali
. Indah karena belum dengan terik matahari menyinari bumi, sementara pantulan da
ri barisan pepohonan dikejauhan sungguh menawan hati. Tidak heran, karena memang
di Gunung Hong-san sering memantulkan cahaya gemilang karena keragaman pepohona
n yang dimilikinya. Terlebih di kaki puncak gunung bunga-bunga yang tumbuh di sa
na dipadukan dengan rerumputan menyebarkan aroma yangi segar, harum mewangi. Sud
ah pasti hawa di sekitar tempat itu terasa dingin karena angin terus bertiup wal
aupun halus dan sepoi-sepoi.
Pada saat suasana sesunyi itu, di lereng gunung tampak berkelebatnya 3 sosok bay
angan. Ketiga sosok bayangan itu bagaikan sedang berkejar-kejaran. Dari jauh bel
um kelihatan jelas, tetapi semakin mendekat semakin jelas bagaimana rupa ketiga
bayangan yang berkelabat cepat dan pesat itu. Tidak salah, ketiga bayangan itu p
astilah tokoh silat berkepandaian hebat. Ginkang yang mereka peragakan sungguh m

enggugah dan mengagumkan. Hanya saja, ketika ketiga bayangan itu semakin mendeka
t, mereka yang menduga bahwa ketiga bayangan itu adalah orang yang berkepandaian
sangat tinggi mungkin akan terkaget-kaget. Apakah gerangan yang menjadi sebabny
a?
Karena ketiga bayangan tersebut ternyata adalah bayangan orang-orang muda yang u
sianya masih sangat kecil. Paling tinggi usianya paling adalah si anak muda yang
tampan dan mengenakan jubah berwarna putih. Gerakannya sungguh mantap, kokoh da
n lincah serta tentu gesit dalam bergerak. Ginkangnya bukan ginkang tokoh kelas
biasa, tetapi ginkang kelas atas yang akan membuat kagum banyak orang. Meski mud
a usia, tetapi laki-laki muda berpakaian putih itu jelas memperagakan kepandaian
yang hebat.
Orang kedua, adalah seorang gadis yang sangat cantik, usianya kelihatannya tidak
berbeda jauh dengan usia si anak muda yang tampan itu. Mungkin malah sebaya. Ji
ka si lelaki muda mengenakan jubah berwarna putih, maka si gadis mengenakan paka
ian ringkas khas pendekar wanita yang berwarna hijau muda. Dan orang terakhir, j
uga ada seorang gadis yang tidak kurang jelitanya dibandingkan dengan orang kedu
a. Bahkan, wajah kedua gadis cantik itu nyaris serupa, namun usia mereka jelas b
erbeda. Gadis pertama mungkin adalah kakak dan gadis kedua yang jika ditaksir ba
ru berusia 17 tahunan, pasti adalah adik. Dan sang adik yang masih nampak remaja
itu mengenakan pakaian berwarna kuning.
Ketiga bayangan itu berlari berkejaran dengan menggunakan ginkang istimewa. Tida
k heran jika tidak lama waktu yang mereka butuhkan untuk memasuki sebuah kota be
rnama Seng Ceng atau Seng Ceng Kwan. Kota itu tidaklah besar-besar amat, tetapi
termasuk salah sebuah kota yang ramai dan termasuk bercuaca dingin karena berada d
i kaki gunung Hong San. Di kota ini biasanya banyak beristirahat para pelancong,
termasuk para pedagang dan bahkan perusahaan penghantar barang. Inilah yang men
yebabkan kota Seng Ceng selalu saja ramai, terutama di pagi hari menjelang para
pelancong melanjutkan perjalanan. Juga pada saat bersamaan perusahaan penghantar
barang juga akan melanjutkan perjalanan mereka. Sebelum berjalan, biasanya mere
ka menyempatkan diri untuk sarapan atau mengisi perut agar tidak kelaparan di pe
rjalanan. Selain itu, pada malam hari juga biasanya sangat ramai, ketika kelompo
k-kelompok di atas tiba dan mencaru tempat untuk menginap dan beristirahat.
Dan restoran yang paling terkenal di kota seng ceng adalah restoran bernama Resto
ran Angin Awan . Restoran ini di bangun dan ditata secara sangat apik dan rapih. B
angunannya dibuat di kedua sisi sungai kecil yang mengalir deras di bawah bangun
an restoran. Kedua sisi sungai itu dihubungkan oleh bangunan restoran yang juga
berfungsi sebagai jembatan. Dan jembatan penghubung itu, juga terdiri dari dua b
uah jalur yang dalam posisi paralel menghubungkan kedua bangunan restoran di dua
sisi sungai kecil itu.
Meski sungainya kecil, tetapi alirannya terhitung cukup deras. Paling banyak leb
ar sungai itu ada sekitar 10 meteran. Dan bangunan restoran yang menjadi jembata
n penghubung kedua sisi sungai itulah yang tarif makannya paling mahal. Namun me
skipun mahal tetap saja diserbu banyak orang, baik pelancong, pengawal barang an
taran, kaum pedagang maupun para pendekar dari rimba persilatan. Kelompok-kelomp
ok seperti merekalah yang sebetulnya meramaikan kota ini, selain tentu saja warg
a kota yang terhitung kayaraya atau berada. Hanya kelas elite seperti ini sajala
h yang mampu memasuki restoran awan-angin karena memang levelnya termasuk tinggi
dan berharga mahal.
Sebagaimana biasanya, jam-jam ketika matahari mulai meninggi, meski restoran itu
masih ramai, tetapi tidak lagi seramai di pagi harinya. Karena pada jam seperti
sekarang, para pelancong, pedagang dan piauwsu (pengawal barang antaran) sudah
pada melanjutkan perjalanan. Ketika ketiga anak muda itu memasuki kota seng ceng
, mereka langsung menuju ke restoran angin-awan setelah bertanya kesana kemari.
Dan karena sungai kecil itu melintasi tengah kota, maka restoran awan angin juga
berada di jantung kota seng ceng. Sekali melihat, ketiga anak muda itu sudah la
ngsung jatuh hati dan bergegas memasuki restoran terkenal di kota kecil seng cen
g tersebut.
Sangat kebetulan mereka mendapatkan sebuah meja di bagian pojok bangunan penghub
ung dua sisi sungai, yang baru saja ditinggalkan oleh serombongan piauwsu. Hal i
ni sangat menggirangkan si nona berbaju kuning yang dengan senangnya nyaris tanp

a menghiraukan penghuni lainnya, berkicau memuji keindahan alam di sekitar resto


ran itu. Bahkan, si nona berpakaian kuning ini tak henti-hentinya mengganggu dan
memohon persetujuan kedua teman perjalanannya bahwa pemandangan di luar sungguh
indah. Nona itu seperti tidak memperdulikan memesan makanan dan membiarkan tema
n-temannya yang mengurusi soal makanan. Dia sibuk mengagumi sungai yang mengalir
, pohon-pohonan serta bunga-bungaan yang memekar indah, serta betapa ramainya ko
ta itu di pagi hari. Seakan akan gadis cantik itu belum pernah dengan puas dan l
eluasa memandangi alam seperti yang baru dilihatnya di Seng ceng ini.
Kedua teman seperjalanannya tidak terlampau menggubris kegembiraan si gadis berp
akaian kuning. Sebaliknya mereka sibuk dengan pelayan rumah makan yang menawari
mereka berjenis-jenis makanan yang dianggapnya lezat dan andalan restoran terseb
ut. Dan setelah cukup lama mereka bercakap dengan si pelayan, akhirnya merekapun
menetapkan pilihan menu yang dipesan. Selanjutnya keduanya saling berpandangan
tanda maklum melihat betapa senangnya si gadis berpakaian kuning saat itu. Kedua
nya tersenyum sambil sesekali mengangguk untuk sekedar membenarkan pujian si gad
is atas alam sekitar yang menurutnya sangat indah serta sangat menyenangkan.
Hanya saja, ketika keduanya mereka melayangkan pandangan ke ruangan sebelah mere
ka yang berjarak sekitar 3 meter dari posisi duduk saat itu, terdengar suara per
cakapan yang mengagetkan mereka. Percakapan yang awalnya biasa saja, tetapi perl
ahan dan lama kelamaan membuat mereka sangat tertarik:
Sungguh luar biasa, bahkan Pendekar-pendekar di posisi 10 besar itu banyak yang m
emunculkan dirinya di Bu Tong Pay. Itu baru sebuah keramaian terdengar si tamu ya
ng membelakangi mereka bercakap. Sayang wajahnya tidak bisa dilihat karena duduk
membelakangi mereka.
Benar, setengah bahkan mungkin lebih dari daftar 10 pendekar top itu muncul di Bu
Tong Pay. Bahkan konon, beberapa dari mereka sempat bertempur dengan orang lain
dan sudah barang tentu mempertontonkan kehebatan ilmu silat mereka ujar orang ya
ng duduk tepat menghadap mereka. Wajahnya bulat gemuk tetapi penuh senyuman di b
ibirnya. Dia berkata dan berbincang sambil tidak berhenti untuk memasukkan makan
an kedalam mulutnya.
Wah benar-benar hebat, terus bagaimana hasil akhir pertempuran-pertempuran yang t
erjadi itu ? tanya seorang yang nampak paling muda dari 5 orang yang sedang makan
sambil bercakap-cakap itu.
Hahahaha, kejadian yang menarik itu justru terjadi di Bu Tong Pay tukas si orang y
ang membelakangi ketiga anak muda itu sambil tertawa. Tetapi, nampaknya karena m
emiliki informasi, dia tahan harga untuk segera bicara. Mudah ditebak, kawan kaw
an lainnya segera mencecarnya:
Maksudmu, memang terjadi pertempuran seru disana ? tanya orang yang duduk di sebela
h kiri dari pembicara kedua, muka bundar gemuk yang duduk menghadap ke tiga anak
muda itu.
Bukan berita namanya jika tidak terjadi pertempuran seru disana tukas si wajah bun
dar gemuk yang duduk menghadap ketiga anak muda itu. Tetapi, sampai disana, perc
akapan di ruang sebelah tidak membuat ketiga anak muda itu tertarik. Apalagi kar
ena mereka memang sedang kelaparan sehingga otomatis perhatian mereka sedang ter
tuju kemakanan yang dipesan.
Seseru apa memang ? tanya si muka tirus yang duduk di sebelah kanan si wajah bundar
gemuk.
Jika terjadi pertempuran dengan salah seorang dari 10 pendekar top itu, sudah pas
ti pertempurannya seru. Apalagi, di Bu Tong Pay hadir beberapa orang yang tercan
tum di dalam daftar 10 peringkat tertinggi pendekar di Tionggoan. Konon ada Sian
gkoan Giok Lian di peringkat 9, ada Pendekar Kembar dari Siauw Lim Sie, ada kaka
k beradik Liang Tek Hoat dan Liang Mei Lan di peringkat 7 dan 6, dan bahkan ada
Kauwcu Bengkauw dan Tocu Lam Hay Bun di peringkat 4. Bukankah ini merupakan beri
ta besar ? sombong si orang yang duduk membelakangi ketiga anak muda yang sedang p
esan makan itu.
Ach, informasimu kurang lengkap. Karena selain mereka, yang justru lebih menggemp
arkan adalah munculnya Nenek Sakti Thian San Giokli yang duduk di peringkat kedu
a. Padahal, Nenek sakti itu baru munculkan dirinya beberapa bulan lalu. Dan yang
paling menggemparkan adalah kemunculan Duta Agung Lembah Pualam Hijau yang masi
h muda usia tetapi berada di peringkat pertama daftar 10 pendekar paling top di

Tionggoan sombong si bundar gemuk dengan informasi lengkap yang dimilikinya.


Hmmmm, benar, engkau hebat saudaraku. Tetapi, apakah engkau sempat mendapat infor
masi bahwa mereka juga sempat ikut melakukan pertempuran di Bu Tong Pay ? bertanya
si lelaki yang membelakangi ketiga anak muda itu. Sementara, ketiga anak muda i
tu mendengar penjelasan terakhir dari makan di ruangan sebelah mereka sudah menj
adi sangat tertarik. Ketertarikan mereka terutama karena baru saat itulah mereka
tahu bahwa Guru atau Subo mereka ternyata adalah pendekar nomor 2 terhebat di T
ionggoan. Bagaimana mereka tidak terkejut dan sudah tentu bangga? Lebih dari itu
, ketiga anak muda miskin pengalaman itu bahkan mulai menilai diri mereka begitu
tinggi. Jika guru nomor 2 terhebat, tentunya merekapun tidak akan jauh dari per
ingkat gurunya. Salahkah ktu?
Siapakah mereka memangnya? Benar, ketiganya adalah murid-murid kesayangan Nenek
Sakti Thian San Giokli. Orang pertama, si anak muda berjubah putih adalah Tham B
eng Kui, putra bungsu Thian San Kim Tong yang adalah pewaris Lembah Salju Bernya
nyi. Namun tokoh itu telah mundur sebagai Majikan Lembah Salju Bernyanyi dan dig
antikan salah seorang anaknya. Tham Beng Kui ini anak bungsu dari Thian San Kim
Tong dan seorang anak muda yang paling berbakat dari semua anak Kim Tong, dan ba
hkan dia mewarisi kekuatan dari Neneknya. Terakhir, dia menjadi murid dari Nenek
Thian San Giokli. Umur Beng Kui pada saat ini sudah mendekati angka 25 tahun da
n baru saja menamatkan pelajarannya kepada gurunya yang terakhir, Thian San Giok
li. Dia mengajukan keinginannya untuk turun gunung dan kemudian minta diri kepad
a ayahnya untuk berkelana.
Orang kedua, si gadis yang berpakaian hijau muda, gadis cantik yang meski sudah
matang namun kelihatan masih segar ini, bernama Cui Giok Tin. Cui Giok Tin sebet
ulnya adalah murid utama Thian San Giokli, namun sejak masuknya Beng Kui menjadi
murid subonya, posisi murid utama menjadi milik Beng Kui. Karena sebetulnya sej
ak masa bayinya, resminya Beng Kui berada dalam pendidikan Thian San Giokli atas
nama gurunya yang adalah nenek dari Beng Kui. Cui Giok Tin sendiri memang diang
kat murid sejak ditemukan oleh Thian San Giokli dalam pengejaran penjahat yang m
embunuh ayahnya.
Cui Giok Tin sebetulnya nyaris sebaya dengan Geng Kui, mereka hanya berselisih u
mur setahun belaka. Satu keunggulan yang mungkin kurang disadari Ciu Giok Tin ad
alah penampilannya yang sungguh cantik menarik. Bahasa modern, sex appealnya sun
gguh tinggi dan mudah menarik perhatian kaum adam. Tubuhnya benar-benar sexy dan
proporsional dengan gunungan gembar di dadanya selalu menantang lelaki untuk me
lirik dan menikmatinya. Hanya, berkat pendidikan Thian San Giokli, Ciu Giok Tin
bertumbuh menjadi gadis muda yang lihay, cantik dan cerdas. Hanya saja semua itu
tentunya tidak sanggup untuk meluruhkan kesan sex appealnya yang tinggi.
Orang terakhir, anak muda terakhir adalah seorang gadis yang masih muda remaja.
Dia adalah adik Cui Giok Tin bernama Cui Giok Li. Ibu mereka meninggal ketika me
lahirkan Cui Giok Li dan karena itu, sejak lahirnya Giok Li relatif telah diangk
at murid oleh gurunya. Nenek itu membesarkan kedua muridnya ini sejak masih boca
h, sejak masih kecil. Karena itu Nenek Thian San Giokli menyayangi keduanya sepe
rti menyayangi anaknya sendiri. Nyaris tidak ada kemampuan yang tidak diwariskan
Nenek ini kepada murid-muridnya.
Dan Giok Li tumbuh dalam limpahan kasih sayang kakaknya dan gurunya, bahkan juga
dimanjakan oleh toa suhengnya Tham Beng Kui. Jika Cui Giok Tin kakaknya melaran
g, maka si cantik centil dan manja ini tidak sungkan mengadu ke toa suhengnya. D
an biasanya si toa suheng itu akan sangat sulit menolak kemauan dari siauw sumoy
nya yang memang sangat manja, pintar merayu dan membujuknya itu. Tetapi, karena
Beng Kui adalah anak bungsu, memiliki adik perempuan dalam diri Giok Li benar-be
nar membuatnya sangat senang dan bangga. Itulah sebabnya Cui Giok Li diperlakuka
nnya sebagai adik perempuannya.
Sebagai anak murid dari tokoh yang ditempatkan nomor 2 di Tionggoan, maka kepand
aian mereka bertiga sudah tentu tidak rendah. Bahkan, setelah menempa diri selam
a beberapa tahun terakhir, termasuk menempah diri tanpa bersentuhan dengan orang
luar, kepandaian mereka sudah meningkat begitu tinggi. Paling akhir, mereka mem
peroleh warisan ilmu mujijat perguruan mereka, yakni Ilmu Peng-sian-jit-gwatcian
g (pukulan matahari rembulan berhawa dingin). Ilmu tersebut melengkapi sinkang P
ek In Swat Kang (Sinkang Tangan Awan Salju) yang telah mereka kuasai secara semp

urna. Dari mereka bertiga, memang Giok Li masih sedikit tertinggal karena usia l
atihan yang masih belum matang. Hanya, tokoh kelas satupun belum akan menang mel
awan dara cantik nan manja ini.
Sekembalinya Thian San Giokli dari perjalanan di Bu Tong Pay, diapun kemudian me
lanjutkan pendidikannya atas murid-muridnya itu. Kebetulan mereka bertiga memang
telah menyelesaikan latihan terakhir dan sedang menunggunya sebelum turun gunun
g. Karena itu, sebagai seorang guru Thian San Giok Li menjelaskan kondisi rimba
persilatan, tata kramanya, tokoh-tokohnya serta seluk beluk rimba persilatan lai
nnya. Hanya saja, dia tidak memberitahukan jika namanya juga berada di daftar 10
pendekar paling top di Tionggoan.
Pada kesempatan itupun, sekaligus dia meminta murid-muridnya itu agar menjaga na
ma baik Lembah Salju Bernyanyi. Menjaga sikap kependekaran, menjaga diri dari pe
rgaulan dan tindakan sesat. Serta selalu berusaha menegakkan kebenaran dan keadi
lan. Untuk hal yang satu ini, Thian San Giokli sampai meminta ketiga muridnya un
tuk bersumpah. Dan ketika dia melihat kesungguhan hati ketiga muridnya, barulah
Nenek sakti itu lega dan mengijinkan mereka untuk turun gunung.
Rimba Persilatan Tionggoan kedatangan tiga pendekar muda, tiga tokoh baru yang m
emiliki kesaktian hebat. Dan sebagaimana instruksi gurunya, ketiga pendekar muda
miskin pengalaman ini sedang berjalan menuju LEMBAH PUALAM HIJAU. Dengan membek
al tanda khusus dari Ceng Liong yang diserahkan kepada Nenek Thian San Giokli, m
erekapun melakukan perjalanan mereka untuk pertama kali di dunia persilatan.
Percakapan di ruangan sebelah menjadi semakin seru bahkan semakin bersemangat me
reka bercakap. Si muka bulat gemuk yang tidak malu kalah info, dan nampak memang
karakternya tidak mau kalah, telah menyambung dengan suara kurang senang:
Siapa bilang aku tidak tahu? Malahan aku tahu kalau telah muncul seorang tokoh ba
ru yang sangat hebat dan sakti mandraguna. Masih muda dan mampu bertarung sama k
uat dengan Nenek Sakti Thian San Giokli. Hanya saja, tokoh itu dipukul mundur ol
eh Ceng
i
koai hiap (Pendekar Aneh Berbaju Hijau)
Duta Agung Lembah Pualam Hijau
Kiang Ceng Liong. Sudah jelas, mana bisa dia menang melawan tokoh nomor satu ?
Benar-benarkah memang Duta Agung yang masih muda itu pilih tanding di Tionggoan?
Sungguh-sungguh tak kusangka terdengar orang yang duduk disebelah kiri si wajah b
ulat gemuk bergumam tanda kagum.
Kalau ada yang mengagumi Duta Agung Kiang Ceng Liong yang juga dipuji-puji guru
mereka, maka ketiga anak muda ini tidaklah tersinggung. Meskipun Beng Kui menyim
pan rasa penasaran, tetapi terbersit kekagumannya kepada Duta Agung yang masih m
uda seperti dia. Karena menurut subonya, melawan Toh Ling, Duta Agung itu malah
mampu mendesak dan menggebah pergi tokoh hebat yang lahir dari Lembah mereka. Da
n subonya hanya sanggup bertarung imbang atau jikapun menang selisihnya terlampa
u tipis. Itulah sebabnya, ketiga anak muda yang baru keluar sarang, menyimpan ke
kaguman terhadap Duta Agung Lembah Pualam Hijau. Tetapi tentu saja, masih belum
tentu jika terhadap tokoh lain yang belum mereka kenal kehebatan dan kesaktianny
a.
Sementara itu, percakapan di ruangan sebelah sudah dipenuhi oleh puja-puji atas
kehebatan Duta Agung Kiang Ceng Liong dan Thian San Giokli. Karena memang dua pe
ndekar itu adalah pendekar nomor satu dan pendekar nomor dua di Tionggoan dewasa
ini.
Benar, benar. Orang itu konon masih muda, tampan, selalu berpakaian hijau dan kes
aktiaannya sungguh sukar dicari bandingan
Selain itu, diapun memukul mundur beberapa penyusup yang mencoba mengganggu upaca
ra duka di Bu Tong Pay. Sungguh hebat orang itu
Ya, masih sangat muda tetapi telah memiliki kesaktian yang sungguh luar biasa. Si
apapun mengakui kalau nampaknya sangat sulit untuk mencarikan tandingannya pada
masa sekarang ini
Lembah Pualam Hijau memang selalu berdiri terdepan melawan kejahatan. Dan nampakn
ya di bawah Duta Agung yang sekarang, mereka akan kembali menjadi kelompok pergu
ruan nomor satu di Tionggoan .......
Begitu ramai percakapan di ruangan sebelah. Dan karena terlampau mengumbar pujia
n atas orang lain, Beng Kui, Giok Tin dan Giok Li akhirnya menjadi jemu. Bersama
an waktunya pesanan makanan mereka akhirnya datang. Sebentar saja, merekapun ten
ggelam menikmati makanan, sementara suara puja-puji bagi Lembah Pualam Hijau dan

Kiang Ceng Liong tetap saja berlangsung riuh di sebelah. Hanya saja rasa lapar
yang menghinggapi ketiga anak muda itu membuat mereka tidak tertarik lagi mengik
uti percakapan di ruangan sebelah. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada me
nemukan makanan saat perut sudah teramat lapar.
Tetapi, meskipun begitu, bukan berarti ketiga anak muda yang baru turun gunung i
tu melepaskan semua kewaspadaan mereka. Sama sekali tidak. Saat itu mereka hampi
r menyelesaikan makanan yang tersedia sesuai pesanan. Dan sebelah tetap riuh ren
dah dan ramai diskusi soal kehebatan Lembah Pualam Hijau dan Duta Agungnya yang
masih muda. Ehhhhhhhh, tiba-tiba telinga mereka yang terlatih menangkap bunyi de
siran yang sangat halus:
Srrrrrrrrrrrrr, Srrrrrrrrrrrr, Srrrrrrrrrrrr, Srrrrrrrrrrrrrrr, Srrrrrrrrrrrrr dan
hanya beberapa ketika setelah mendengar desiran halus tersebut, tiba-tiba suara
riuh-rendah di ruangan sebelah sontak berubah menjadi hening. Dan ketiga anak m
uda lihay itu sudah saling pandang, sebab mereka tentu saja paham bunyi desiran
tadi bermakna apa. Dan memang, tidak salah dugaan mereka. Suara yang mereka deng
ar adalah desiran suara senjata rahasia yang dilemparkan ataupun dilepaskan oran
g untuk tujuan tertentu. Dan nampaknya, orang-orang yang di ruangan sebelah tela
h menjadi korban senjata rahasia tersebut. Itulah sebabnya ruangan sebelah terse
but dengan tiba-tiba berubah senyap.
Lebih hebat lagi, dan ini yang membuat ketiga anak muda itu tercengang, adalah k
elima orang yang sedang berbincang di ruangan sebelah, tak satupun yang jatuh da
ri tempat duduknya. Jelas mereka telah binasa termakan senjata rahasia lawan, te
tapi mengapa tak satupun yang jatuh? Ada beberapa kemungkinan, jika senjata raha
sia yang dilemparkan itu hanya bertujuan menotok jalan darah seseorang, maka ber
arti pelakunya memang orang hebat. Tetapi, jika selain membunuh tetapi juga meno
tok jalan darah seseorang, maka itu jauh lebih hebat lagi. Bagaimana dengan si p
elepas senjata rahasia ini?
Tetapi mereka tidak perlu menunggu lama, karena tiba-tiba terdengar dengusan ber
nada hinaan yang sengaja dilepas si penyerang:
Hmmmmm, orang gemuk goblok, sengaja kubiarkan engkau hidup agar engkau memberitah
u orang-orang lain supaya tidak sembarangan memuji-muji Lembah Pualam Hijau di h
adapan kami ....
Setelah suara ancaman tadi menghilang, tiba-tiba terdengar gerakan di samping ki
ri murid-murid Thian San Giokli. Sejak tadi mereka memang sudah curiga jika peny
erang berada dekat mereka, dan memang benar. Penyerang berada di sisi kiri merek
a, tepatnya di atas sebuah pohon yang cukup rindang dan melepas senjata rahasian
ya dari sana. Dan beberapa saat kemudian terdengar suara desiran halus lainnya,
kali ini bukan senjata rahasia, tetapi tanda ada orang di pohon itu yang sedang
berkelabat pergi.
Belum lagi Giok Tin maupun Beng Kui bergerak atau berinisiatif melakukan sesuatu
, tiba-tiba bayangan Giok Tin telah berlalu sambil berkata: Suheng, suci, tunggu
disini, aku penasaran ingin siapa gerangan orang yang sembarangan membunuh itu da
n Giok Li orang termuda di antara mereka bertiga telah berkelabat lenyap. Mudah
di tebak nona muda itu ingin benar mengetahui siapa sebetulnya yang melepaskan s
enjata rahasia dan mengancam mereka mereka yang memuji Lembah Pualam Hijau. Kare
na betapapun mereka merasa punya hubungan dengan Lembah yang mereka sedang tuju
itu.
Bayangan Giok Li dengan cepat menyusul guna menyandak si pelepas senjata rahasia
. Hanya saja si pelepas senjata rahasia juga bukan tokoh sembarangan. Setelah me
mbunuh empat orang di ruangan sebelah dan menotok seorang yang lainnya lagi, dia
telah berkelabat pergi dengan mengeluarkan suara ancaman. Sementara Giok Li han
ya secara sangat sekilas melihat jika si penyerang sebelum menghilang ke kerumun
an banyak orang. Penyerang itu nampaknya adalah seorang manusia berjubah hijau,
namun selebihnya tak sempat dia memperhatikan. Selain jaraknya terlampau jauh, j
uga si penyerang memiliki ginkang yang juga tidak rendah.
Namun karena masih penasaran, Giok Li terus dan terus mengejar si pelepas senjat
a rahasia. Kota Ceng seng tidaklah besar, karena itu setelah kejar sini-kejar sa
na akhirnya Giok Li kembali melihat bayangan si penyerang. Nampaknya orang itu s
edang bergegas menuju pintu masuk sebelah barat. Dan Giok Li yang melihat kembal
i buruannya, dengan cepat mengejar. Bahkan terus sampai ke luar kota. Nampaknya

target yang diburu masih belum menyadari kalau ada orang yang sedang membuntutin
ya. Dia terus berlari-lari ringan namun pesat dan kini mendekati hutan dengan pe
pohonan yang cukup lebat.
Sementara itu, Beng Kui dan Giok Tin setelah melihat adik mereka berkelabat meng
ejar si pelepas senjata rahasia, segera memanggil pelayan untuk membayar rekenin
g makan. Si pelayanpun datang dan menyodorkan rekening yang harus di bayar Beng
Kui dan Giok Tin. Hanya beberapa saat, tetapi beberapa saat itu tanpa diketahui
kapan datangnya, di ruangan sebelah telah bertambah dengan seorang anak muda yan
g nampak tampan gagah. Beberapa saat kemudian, menyusul beberapa orang. Sepertin
ya mereka berasal dari perkumpulan Pengemis, gampang dikenali dari dandanan yang
mereka kenakan. Hanya saja, dari banyak orang yang datang, hanya seorang pengem
is tua belaka yang masuk ke ruangan:
Hmmmm, semakin mencurigakan, sungguh aneh .... terdengar si muda mendesis lirih, n
amun terdengar jelas di telinga Giok Tin dan Beng Kui.
Toanglo, apa gerangan yang telah engkau temukan ..... ? seorang pengemis tua memasu
ki ruangan. Namun begitu melihat 5 tubuh yang tertotok tak berdaya di kursi dudu
k saat makan, membuat suara itu terhenti.
Astaga, apa lagi ini Tianglo ? tanya si pengemis tua.
Hmmm, bisakah engkau memeriksa keadaan mereka empek Lie ? si anak muda yang dipangg
il Tianglo telah berpaling kepada si pengemis tua yang dipanggilnya Empek Lie.
Baiklah, sebentar biar kuperiksa keadaan orang-orang ini .. sambil berkata demikia
n, si Empek Lie kemudian mendekati seorang dan memeriksanya. Hanya sebentar, mat
anya telah menunjukkan kepenasaran dan kekagetan. Dan ketika memeriksa yang seor
ang lagi, keterkejutan telah memenuhi sinar mata dan raut wajahnya. Dan karena i
tu, pada akhirnya si Empek Lie memeriksa semuanya, ke lima orang yang menderita
oleh senjata rahasia aneh yang ditemukan di tubuh mereka. Dan ketika pada akhirn
ya dia akan memeriksa orang yang terakhir, dia sedikit berpaling kepada si Tiang
lo yang masih muda itu. Keduanya saling berpandangan, dan sorot kekagetan muncul
dari sinar mata keduanya, khususnya bagi orang yang dipanggil empek Lie.
Dan, hanya beberapa saat setelah memeriksa orang yang terakhir, si Empek Lie seg
era berpaling kepada si tianglo muda sambil berkata:
Tianglo, lepaskanlah totokan di tubuhnya. Jika berhasil, maka orang ini akan ping
san selama kurang lebih 5 jam. Namun, untuk menyadarkannya, cukup dengan mengula
ngi kembali totokan yang dilepaskan untuk membebaskannya tadi. Jika tidak demiki
an, jangan harap dia mampu bangun selama 5 jam ini. Silahkan Tianglo, jika aku b
enar, maka para penyerang tadi bisa kita kenali
Mendengar ucapan si Empek Lie, sang Tianglo muda itu segera mendekati si wajah b
undar gemuk. Dan setelah meraba tubuh gemuk itu sejenak, diapun segera melepaska
n totokan. Benar saja, tubuh si bundar gemuk segera merosot kebawah, tanda dia t
ertidur atau pingsan tidak tahu diri. Melihat keadaan itu, si Tianglo muda meman
dang ke arah Empek Lie, dan dia hanya menyaksikan si Empek mengangguk kearahnya.
Dan sekali lagi dia melakukan totokan ke arah tubuh si bundar gemuk, dan kali i
ni diiringi dengan dengusan tertahan si bundar gemuk.
Beberapa saat dia mengucak-ucak matanya, dan secara perlahan-lahan rupanya kesad
aran mulai diperolehnya. Dan setelah beberapa saat dia selesai mengucak mata dan
berusaha mengingat-ingat sesuatu, tiba-tiba dia tersentak:
Ada dimana .......? mengapa .......? orang tersebut nampak sangat kebingungan. Da
n lebih bingung lagi, ketika melihat ke-empat kawannya duduk diam tak bergerak d
engan mata terpejam. Sementara diapun melihat dalam ruangan tersebut telah berta
mbah dengan 2 orang asing yang tidak dikenalnya. Seorang anak muda dan seorang k
akek tua berpakaian penuh tambalan. Nampaknya seorang pengemis. Dan otomatis, ke
luarlah kegalakannya:
Siapa kalian ......? mengapa kalian berani-beraninya mengganggu makan kami berlim
a ....... ? tanya si bundar gemuk dengan sok jagoan dan sok arogannya. Dia tidak s
adar jika dia baru saja terjungkal ditangan orang.
Hmmmm, anak muda, lihatlah sekitarmu. Jika bukan karena tianglo muda kami, engkau
sudah tewas seperti ke-empat kawanmu itu ...
Apa? Mereka ........ teman-temanku itu ......? bergegas si wajah bundar gemuk unt
uk memeriksa teman-temannya. Dan dalam kagetnya, ketika memeriksa orang terakhir
dan mereka semua sudah mulai dingin badannya, si bundar gemuk terbelalak ketaku

tan. Dan ketika mulai kembali menemukan dirinya, justru ketakutan yang menerpany
a. Tetapi, sebelum dia berteriak dan lari, si tianglo muda telah bergerak menoto
k urat bicara dan sekaligus membuat si bundar gemuk terdiam.
Semua kejadian di ruangan itu tidaklah terlepas dari pengamatan Beng Kui dan Gio
k Tin. Apalagi karena urusan mereka membayar rekening makanan pesanan sudah ters
elesaikan. Hanya, posisi dan kondisi mereka membuat orang-orang di ruangan sebel
ah menjadi curiga. Kekurang-pengalaman kedua muda-mudi itu telah membuat aktifit
as mendengar percakapan di ruangan sebelah dapat diidentifikasi dengan mudah. Be
nar saja, beberapa saat kemudian terdengar suara si anak muda dari ruangan sebel
ah:
Sahabat dan Nona muda di ruangan sebelah, daripada menguping ada jauh lebih baik
jika kalian bergabung kemari
Suara itu bening, lirih dan terdengar jelas di telinga Beng Kui dan Giok Tin. Sa
darlah mereka jika orang di ruangan sebelah bukanlah orang biasa. Orang yang mam
pu mengirim suara dengan bening dan lirih ke telinga mereka, mestinya bukan oran
g biasa. Karena itu, keduanya saling pandang dan dalam sorot mata masing-masing
mereka telah bersepakat untuk melakukan sesuatu. Serentak berdirilah mereka berd
ua dan dengan langkah tetap menyeberang ke ruangan sebelah. Disana mereka meliha
t betapa si muka bundar gemuk dalam keadaan tertotok dengan mata nyalang ketakut
an. Kemudian ada seorang kakek pengemis yang berwajah terang dan ramah, serta se
orang muda yang gagah dan tampan.
Maafkan kami kakak beradik yang tidak sengaja menguping pembicaraan kalian. Tapi
sebetulnya, kami telah berada di ruangan sebelah jauh sebelum ke-empat saudara i
ni terkena serangan senjata rahasia demikian Beng Kui mewakili mereka berdua untu
k menyapa dan menyampaikan ketidaksengajaan mereka mendengar percakapan orang la
in.
Ehmmmm, dua orang muda yang gagah. Kami melihat tiada maksud jahat kalian memang,
tetapi siapakah gerangan tuan yang gagah dan nona yang jelita ini ? terdengar Emp
ek Lie telah dengan ramah menyambut kedua anak muda yang masuk ke ruangan itu. S
ementara si tianglo muda masih tetap berdiam diri sambil mengawasi Beng Kui dan
Giok Tin.
Perkenalkan, kami berdua datang dari jauh, tepatnya Lembah Salju Bernyanyi. Siauw
te bernama Tham Beng Kui dan nona ini adalah sumoyku sendiri bernama Cui Giok Ti
n. Seorang adik kami sedang mengejar si pelepas senjata rahasia, tetapi masih be
lum kembali Beng Kui dengan ramah memperkenalkan diri. Dan mendengar nama mereka,
si tianglo muda nampak terkejut dan seterusnya menukas penjelasan dan perkenala
n Beng Kui:
Apa hubungan kalian dengan seorang Nenek Sakti yang bernama Thian San Giokli dari
Lembah Salju Bernyanyi ?
Beliau adalah subo kami ..... kembali Beng Kui menjawab dengan gembira karena tern
yata si tianglo muda mengenali guru mereka. Sementara itu, sang tianglo muda usi
a itu menarik nafas lega mendengarkan mereka adalah murid-murid Nenek Sakti dari
Lembah Salju Bernyanyi.
Hmmmmm, murid orang hebat. Murid Naga Sakti tentunya bukanlah serigala dan pasti
tidaklah lemah ... gumam si Tianglo muda yang nampak kenal dengan subo kedua anak
muda itu. Tetapi belum lagi Tham Beng Kui dan Cui Giok Tin bereaksi terhadap gu
maman si Tianglo, terdengar kembali si tianglo muda itu berbicara kepada mereka
berdua:
Hendaknya kalian berdua tidak secara gegabah membiarkan Nona cilik itu mengejar l
awan. Mereka, pelepas senjata rahasia ini bukanlah orang-orang bodoh yang mudah
dihadapi
Mendengar peringatan itu, Giok Tin dan Beng Kui terkejut. Benar, tidak seharusny
a mereka melepas adik mereka mengejar lawan tadi. Dalam terkejutnya, Giok Tin te
lah bertanya dengan cepat:
Siapa sebetulnya anda ?
Guru kalian, Nenek Thian San Giokli mestinya mengenalku Liang Tek Hoat dari Kaypa
ng ujar si tianglo muda sambil memperkenalkan namanya. Sepulang dari Bu Tong Pay,
dalam rangka penyusunan kembali Kaypang menuju Perkumpulan Besar Anggota Kaypan
g, Tek Hoat telah diangkat menjadi salah seorang TIANGLO Kaypang. Apalagi, karen
a dia memang membekal salah satu tanda pengenal sesepuh Kaypang yang diwarisinya

dari suhunya.
Ach, selamat berjumpa saudara Tek Hoat. Subo menceritakan dengan gembira dan namp
aknya mengagumi saudara. Tetapi, siapa pula para penyerang itu saudara Tek Hoat?
Beng Kui juga telah bertanya dengan tegangnya, tetapi tidak lupa memuji Tek Hoat
karena dia mendnegar Tek Hoat sebagai salah satu tokoh muda hebat pada jaman it
u. Bahkan ikut masuk di daftar 10 pendekar top.
Empek Lie pasti bisa menjelaskan kepada kalian berdua Tek Hoat berkata lembut dan
berusaha menenangkan Beng Kui dan Giok Tin, sambil memandang Giok Tin yang meman
g ayu. Bukan, bukan karena mata keranjang Tek Hoat memandangnya, tetapi Giok Tin
memang punya daya tarik khas seorang wanita.
Empek Lie ......
tak mau lama-lama memandang Giok Tin, Tek Hoat telah menyapa Emp
ek Lie, yang nama sebenarnya adalah Lie Hoan Tay, murid kepala Kim Ciam Sin Kay,
Pangcu Kaypang sekarang ini. Lie Hoan Tay sudah berusia kurang lebih 60an dan t
elah mewarisi sebagian besar ilmu kepandaian Kim Ciam Sin Kay, terutama ilmu pen
gobatannya. Kepandaian silatnya mungkin tidaklah terlampau menonjol, meskipun ji
uga tidaklah lemah. Tetapi yang membuat Lie Hoan Tay menjadi penting bagi Kaypan
g adalah karena dia dikenal sangat cerdik dan menjadi pemikir yang dimiliki dan
diandalkan Kaypang dewasa ini.
Tianglo ....., apa yang bisa kulakukan ?
Empek Lie, berikanlah penjelasan singkat dengan siapa kita sedang berhadapan seka
rang ini, terutama dengan jarum dan totokan khas itu
Baiklah Tianglo dan Lie Hoan Tay kemudian berpaling kearah Beng Kui dan Giok Tin s
ambil berkata:
Anak-anak muda yang berani, jika aku yang tua ini tidak salah, maka kita sedang b
erhadapan dengan salah satu kelompok kekuatan misterius dalam rimba persilatan.
Jarum sakti yang digunakan membunuh 4 orang tadi adalah senjata rahasia bernama
Bu Eng Sin Mo (Jarum Setan Tanpa Bayangan). Jarum ini bisa digunakan untuk membu
nuh ataupun untuk menotok jalan darah seseorang. Untungnya, jarum sakti ini tida
klah beracun. Jarum ini adalah ciri khas sebuah keluarga persilatan yang sudah p
uluhan tahun menghilang dan entah kenapa hari ini muncul di daerah pegunungan Ho
ng San. Tepatnya, mereka berasal dari Bwee-hoa-cung (Patok bunga bwee), dengan k
epandaian mereka yang paling mujijat adalah mengenali Barisan Rahasia . Selain itu,
kepandaian melepas senjata rahasia dan ilmu ginkang yang tinggi. Buat mereka, t
ak ada barisan rahasia yang tidak bisa mereka tembus, itulah keahlian utama mere
ka. Untungnya mereka tidak punya keinginan bergaul dengan dunia luar. Jarum tadi
, sudah pasti milik keluarga ini. Hanya saja pertanyaan pentingnya, mengapa mere
ka berada di Tionggoan ? si Empek Liu menjelaskan secara rinci apa yang diketahuin
ya. Baik tentang jarum setan maupun tentang pemilik yang biasa menggunakannya.
Nampaknya adik kalian sedang mengejar orang yang sangat berbahaya. Karena itu, ti
dak ada salahnya jika kalian cepat-cepat menyusulnya. Biarlah urusan disini kami
selesaikan. Jika tidak salah, dalam waktu tidak lama kita pasti akan berjumpa p
ula Tek Hoat memandang kedua kakak beradik seperguruan itu yang segera mengiakan
dan kemudian berkelabat mengejar adik mereka.
Sepeninggal mereka, Tek Hoat nampak tercenung. Dan kemudian sambil menarik nafas
dia berkata:
Empek Lie, ini adalah kelompok ketujuh selama 3 hari terakhir yang kita temukan d
engan tanda-tanda yang hampir sama. Kelompok ini adalah korban jarum Bwee-hoa-cu
ng (Patok bunga bwee) yang ketiga, artinya sedikit banyak Bwee Hoa cung terlibat
. Tetapi, mengapa pula ada korban dengan luka yang berbeda? Ini sungguh aneh desi
s Tek Hoat. Nampaknya dia dibingungkan oleh banyaknya pembunuhan beberapa hari t
erakhir dengan 2 jenis luka yang berbeda.
Benar Hu Hoat, bisa dipastikan ketujuh kelompok korban terakhir dibunuh oleh dua
kekuatan yang berbeda. Hanya, kelompok yang pertama sama sekali aku tidak punya
pegangan untuk mengungkapkannya
Korban dengan sabetan pedang bersilang di badan korbannya...... siapa pula kelomp
ok yang punya kegemaran membunuh dengan gaya aneh seperti ini ? bertanya Tek Hoat.
Tianglo, Akupun belum pernah mendengarkannya selama 50 tahun terakhir ini Lie Hoan
Tay juga sama bingungnya.
Jika pelakunya menggunakan pedang, maka masuk di akal sayatan yang begitu halus t
etapi tidak mengeluarkan darah. Tetapi hebatnya, ada yang dilakukan dengan pedan

g dan ini tidak aneh, tetapi aku curiga ada yang dilakukan dengan kekuatan hawa
pedang. Padahal sepanjang yang kutahu, tokoh yang sanggup melakukannya hanyalah
Nenggala. Atau ada lagikah tokoh terpendam atau tokoh baru yang memiliki kehebat
an seperti ini ?
Apakah Tianglo menduga bahwa beberapa korban dibunuh bukan dengan pedang ? tanya Li
e Hoan Tay kaget
Jika ditelaah, beberapa korban dibunuh dengan senjata pedang. Dan hal ini nampakn
ya memang disengaja. Tetapi, ada beberapa korban yang sepertinya dibunuh entah d
engan kekuatan hawa pedang, atau jika tidak, mereka dibunuh dengan senjata yang
sangat ampuh. Beberapa tanda perbedaannya telah kuteliti dari beberapa korban ya
ng kita temukan selama ini. Dengan demikian, aku yakin kalau para pembunuh terdi
ri dari dua kelompok berbeda. Sementara satu kelompok yang membunuh dengan sayat
an pedang bersilang, juga membunuh dalam dua gaya yang berbeda
Hmmmm, pandang mata Tianglo sungguh tajam. Tetapi apakah Tianglo bisa menelisik k
ira-kira siapa kelompok yang yang melakukan pembunuhan-pembunuhan ini ? bertanya L
ie Hoan Tay dengan nada penasaran.
Tidak bisa kupastikan Empek Lie, tapi bisa dipastikan salah satu dari kelompok it
u bertanggungjawab atas kematian Hu Pangcu. Selain itu, mereka membunuh tokoh to
koh yang kelihatannya mendukung dan mengagumi Lembah Pualam Hijau, Siauw Lim Sie
, Kaypang dan Bu Tong Pay. Jika tidak salah, tak lama lagi mereka akan berani un
tuk tampil secara berterang. Dan soal siapa mereka, tadinya aku berpikir Empek L
ie yang memiliki pengetahuan lebih dibandingkan aku dapat memberitahu siapa dan
dari mana mereka sebenarnya
Tetapi Empek Lie nampak tidak punya ide lagi mengenai pembunuh kedua yang memili
ki kegemaran membunuh korban dengan sayatan bersilang di tubuh korban. Keduanya
tidak mampu memecahkan tuntas persoalan yang dihadapi. Sampai akhirnya keduanya
meninggalkan rumah makan terkenal di kota Ceng seng itu.
Kita tinggalkan sejenak Tek Hoat yang telah menjadi Tianglo muda Kaypang dan yan
g sedang kebingungan dengan Lie Hoan Tay. Bingung mengidentifikasi siapa pelaku
pembunuhan-pembunuhan yang mereka temukan beberapa hari terakhir ini. Kita akan
ikuti kemana perginya Cui Giok Li yang sedang mengejar si pelepas senjata rahasi
a pembunuh itu.
Giok Li yang masih mentah dan kurang pengalaman, kurang mengetahui bahaya mengej
ar orang yang memasuki hutan dengan barisan pohon yang cukup padat. Untungnya, o
rang yang dikejarnya seperti tidak begitu memperdulikan apakah dirinya sedang di
buntuti ataukah tidak. Begitupun, ketika Giok Li memasuki hutan, dia kebingungan
karena kehilangan orang yang dikejarnya. Semakin jauh dia memasuki hutan itu ta
npa takut sedikitpun, semakin penasaran gadis itu karena tidak melihat lagi lawa
nnya.
Akhirnya, dengan gemas dan uring-uringan Giok Li memutuskan untuk kembali menjum
pai toa suheng dan kakaknya. Tapi celakanya, dia kebingungan dan kehilangan arah
. Bingung menentukan dari arah manakah dia memasuki hutan ini tadinya. Tapi Giok
Li memang tabah, dia tidak menjadi takut dan panik. Sebaliknya, dia berusaha be
rpikir keras untuk menentukan arah mana yang sebaiknya ditempuh. Tentu dengan pe
rtimbangan arah tersebut akan membawanya kembali ke kota Ceng seng. Tetapi, arah
manakah gerangan? Inilah yang membingungkannya.
Setelah berpikir dan menimbang sejenak, akhirnya diapun memutuskan untuk melangk
ah. Meskipun dia tidak menyusuri jalan dari mana dia datang tadi, tetapi Giok Li
tidaklah menjadi pusing. Dia tetap melangkah dan mencari-cari jalan kembali ke
Kota. Patokannya hanyalah dari arah mana dia tadi datang. Tetapi, tanpa disadari
nya dia justru tambah menjauhi arah dan jalur yang mestinya membawanya kembali k
e Kota Ceng seng. Akibatnya, bukannya menempuh jalan singkat ke Ceng seng, justr
u menjauhinya.
Hebatnya, meski gelisah, Giok Li tidaklah takut dan terus berusaha untuk menerob
os hutan yang lumayan lebat tersebut. Dan nyaris setelah hampir 2 jam Giok Li be
rputar-putar mencari arah yang benar, akhirnya dia menemukan sebuah kuil yang na
mpaknya sudah rusak. Entah kuil agama kaum Budha ataukah kuil agama Tao, kurang
jelas terlihat dari luar. Hanya saja, kuil itu sudah tak terpakai. Bahkan seteng
ah dari bangunan tersebut sudah roboh hingga tinggal menyisakan tidak sampai set
engah bagian dari bangunan tersebut.

Belum lagi Giok Li mendekati kuil bobrok yang sudah roboh sebagian besarnya itu,
telinganya yang tajam mendengar tarukan nafas berat. Nafas orang lemah tak berk
epandaian juga tidak akan seberat tarikan nafas yang baru didengarnya. Hanya saj
a, tariksan nafas tersebut hanya sekali didengarnya dan kemudian senyap. Belum h
ilang rasa kagetnya, beberapa menit kemudian dia kembali mendengar satu kali tar
ikan nafas yang sama, dan kemudian senyap kembali. Hmmmmm, sungguh aneh pikir Giok
Li penasaran.
Rasa penasaran dan keberanian membawanya untuk berjalan mendekati kuil rusak itu
sambil berjalan perlahan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Dia masih
mendengarkan sekali dua kali tarikan nafas berat yang berinterval semakin panjan
g itu. Mendengar interval yang semakin lama, Giok Li segera sadar jika orang itu
pasti sedang menderita luka berat. Karena itu, kali ini dengan bergegas Giok Li
menuju ke kuil bobrok itu. Tidak lagi memperhatikan keadaan ruangan kuil yang s
udah rubuh lebih setengahnya, tetapi langsung mencari-cari orang yang sedang ter
luka. Mana tahu orang yang sedang terluka itu bisa membantunya untuk menunjukkan
jalan kembali ke Ceng seng?
Tetapi anehnya, Ciu Giok Li tidak menemukan orang yang sedang terluka dalam ruan
gan itu. Dia berkelabat mencari-cari di seputar ruangan dalam kuil, tetapi tetap
tidak menemukan adanya orang terluka. Hanya saja dia masih mendengar sekali lag
i tarikan nafas berat yang datang atau berasal dari sekitar ruangan kuil itu. Bu
kannya takut dan merinding, Giok Li justru merasa sangat penasaran. Matanya berk
eliling mencari, tubuhnya bergerak menuju tempat yang dicurigai, tetapi tetap da
lam ruangan itu tidak terdapat sosok tubuh terluka.
Memandang ke atas, tidak mungkin berada disana. Loteng sudah rapuh dan jika dibe
bani tubuh manusia pasti runtuh. Dalam ruangan, sudah pasti tidak, karena tak ad
a lagi ruangan yang belum diperiksanya. Apakah mungkin berasal dari luar ruangan
? Hmmmmm, mungkin saja batin Giok Li. Dan itu dia lakukan dengan segera mencelat k
eluar ruangan dan menemukan sedikit keanehan. Karena ternyata dinding sebelah be
lakang, melekat pada sebatang pohon yang sangat besar dan sangat rindang. Apakah
berasal dari pohon besar itu ? pikirnya celingak-celinguk mencari-cari. Bahkan dia
melesat ke balik pohon itu, tetapi juga tidak menemukan apapun juga disana.
Paling akhir dia menyusuri badan pohon itu dan menyadari betapa besarnya batang
pohon itu dan juga dahan-dahannya. Ketika memandang ke atas itu, Giok Li kembali
mendengar tarikan nafas berat, tetapi tetap saja berasal dari dalam ruangan. Ka
li ini Giok Li tidak mudah terpedaya, dia tahu benar bahwa bukan dari ruangan ku
il rusak itu asal suara. Pasti di sekitar atau bahkan di atas pohon. Dan karena
pemikiran itu, Giok Li meloncat dengan ringannya ke arah satu dahan pohon yang d
ilihatnya paling besar. Dia menduga dari sana asalnya orang yang bernafas berat
terluka itu.
Benar saja, dia tersentak kaget ketika menemukan sesosok tubuh sedang berkutat d
i atas dahan itu. Tubuh itu terlentang dan nampak kesakitan hebat sambil tersand
ar setengah terlentang di ujung dahan yang menempel di batang pohon besar. Ruang
di dahan itu membuat tempat yang sangat besar dan leluasa bagi seorang manusia.
Dan disanalah tubuh itu bersandar setengah telentang dan bernafas sesekali dala
m keadaan yang mengenaskan. Dan yang membuat Giok Li tersentak adalah orang yang
terluka itu masih muda dan belum begitu tua, paling juga usianya di sekitar 27
atau 28 tahun. Dan, wajah itu sungguh gagah dan tampan dalam balutan jubah berwa
rna hijaunya. Hal itu membuat Giok Li sedikit terperangah dan sedikit jengah men
yaksikannya. Seorang anak muda rupanya desisnya lirih.
Perlahan dia mendekati tubuh itu. Tetapi, bukan main kagetnya ketika dari dekat
dia melihat wajah lelaki muda itu dari yang tadinya pucat bagai kertas, kini tel
ah berubah mendadak merah bagaikan sedang terpanggang panasnya api. Ach, rupanya
dia sedang terluka dalam, sedang terjadi pertarungan hawa sakti dalam tubuhnya de
sis Giok Li. Karena berpikiran lurus dan welas asih, tanpa pikir panjang Giok Li
telah memegang lengan si pemuda yang sedang menderita itu. Tapi alangkah kagetn
ya ketika lengan pemuda itu panasnya bahkan jauh melebihi bara api. Sungguh pana
s menyengat. Untungnya dia memiliki dasar tenaga Swat Im Sinkang yang berhawa sa
ngat dingin. Itulah sebabnya Giok Li sama sekali tidak terluka, kecuali kaget.
Tidak lama kemudian hawa sinkang Swat Im Sinkang mulai mengalir dari tangan Giok
Li dan memasuki si anak muda yang terluka. Tetapi sungguh celaka, si anak muda

sepertinya sedang dipenuhi hawa sakti yang luar biasa besarnya namun sangat tida
k stabil. Tambahan lagi si anak muda yang terluka itu, nampaknya memiliki ilmu y
ang langka dan luar biasa. Ilmu yang memampukannya untuk membaurkan ilmu sinkang
nya dengan sinkang pemberi ataupun sinkang orang yang diserapnya. Hanya saja, ka
li ini yang terjadi adalah, daya serap sinkang si anak muda mengalir bersama kem
ampuan menyatukan tenaganya dengan tenaga orang yang diserapnya.
Akibatnya, tenaga dalam Swat Im Sinkang Giok Li mengalir dengan lancar dan memas
uki sekaligus membaur bersama dengan kekuatan sinkang si anak muda yang terluka.
Awalnya setelah sinkangnya merosot dan keluar memenuhi si anak muda, Giok Li su
dah merasa kaget namun tak sanggup menghentikannya. Namun beberapa saat kemudian
, tenaga itu kembali membanjiri dirinya. Dan kejadiannya berlangsung sekian lama
tanpa sanggup ditolaknya. Beberapa lama baru kemudian berhenti. Prosesnya dapat
digambarkan secara sederhana, tetapi kejadiannya berlangsung selama lebih dari
dua jam.
Dalam jangka waktu dua jam itu, bukan saja si anak muda sembuh dari sakitnya, Cu
i Giok Li pun begitu sadar menemukan kenyataan yang mengherankan. Dalam pikiran
sebelumnya dia sudah sangat khawatir bahwa sinkangnya habis sudah. Tetapi kenyat
aannya, justru ditemukannya kalau keadaannya sekarang bertolak belakang. Sinkang
nya justru melonjak jauh meskipun masih belum disadarinya. Tubuhnya terasa jauh
lebih segar dan ringan. Hanya, ini yang disayangkan, sinkangnya tidak lagi murni
Swat Im Sinkang.
Apa sebenarnya yang terjadi? Bolehlah ini dinamakan takdir. Sesuatu yang tidak p
ernah diduga, namun terjadi. Tubuh si anak muda sedang dipenuhi hawa sakti yang
luar biasa besarnya. Apabila tidak dibaurkan dan disalurkan keluar, maka anak mu
da itu bukan hanya mabuk tenaga sakti, tetapi bagai balon penuh hawa yang siap m
eledak. Ketika Giok Li menemukannya, si anak muda memang sudah diambang ajalnya.
Untungnya Giok Li menyalurkan hawa sakti Swat Im Sinkang yang mujijat ketika si
anak muda bertarung dengan hawa panas. Pada saat itu saluran tenaga sinkang Gio
k Li merangsang sinkang mujijat si anak muda untuk bereaksi. Dan mujijatnya seca
ra sekaligus sinkangnya menyerap dan kemudian membaurkan.
Setelah menyerap dan membaurkan tenaganya dengan Giok Li, maka ssecara otomatis
kelebihan hawa dalam tubuh si anak muda kembali dialirkan kepada Giok Li guna me
nemukan keseimbangan baru. Dengan kata lain, besaran sinkang yang tertinggal di
tubuh si anak muda sudah sesuai dengan daya tampung wadahnya dan sesuai dengan t
ingkat penguasaan maksimal. Jika melebihnya, maka justru akan merusak wadah si a
nak muda. Dalam hal ini, baik si anak muda maupun Giok Li sama-sama beroleh keun
tungan besar. Si anak muda nampaknya menyadari hal tersebut, Giok Li baru menyad
arinya belakangan.
Giok Li tidak menyadari bahwa sinkangnya meloncat pesat hampir dua kali lipat da
ri kemampuan sebelumnya. Hanya kerugiannya adalah, dia kehilangan kemurnian sink
ang Swat Im Sinkang. Sementara bagi si anak muda, memang hawa sakti dalam tubuhn
ya mengalami kekurangan. Tetapi, berkurangnya hawa sakti itulah yang justru tela
h menyelamatkan jiwanya. Jika tidak, paling sedikit dia akan mengalami kelumpuha
n seumur hidup akibat salah jalan alias menemukan jalan api . Untungnya, Giok Li da
tang pada saat yang tepat, memberikan tenaganya, sekaligus menyerap kelebihan si
nkang si anak muda. Sederhananya, telah terjadi mekanisme take and give bagi ked
uanya yang saling menguntungkan meski terjadi tanpa disengaja keduanya.
Si anak muda dan Giok Li dengan cepat memulihkan diri karena hawa sinkang hebat
yang kini mengalir dalam tubuh keduanya. Memang si anak muda yang terlebih dahul
u menyelesaikan proses pemulihannya yang kemudian diikuti Giok Li beberapa waktu
kemudian. Dan ketika Giok Li membuka matanya, di hadapannya telah duduk dan mem
andanginya si anak muda yang nampak semakin gagah dan tampan. Apalagi karena waj
ah si anak muda sudah bersinar dan sorot matanya nampak jelas ucapan terima kasi
h yang tak terhingga.
Terima kasih banyak Nona, aku benar-benar berhutang budi dan berhutang nyawa kepa
damu. Seandainya tanpa bantuanmu, paling sedikit aku sudah sekarat dan bukan tid
ak mungkin telah binasa, sekali lagi terima kasih banyak ujar si anak muda sambil
menjura ke arah Giok Li.
Ach, sudahlah. Bukan pekerjaan berat, lagipula adalah kewajiban kita untuk saling
tolong menolong. Tetapi, siapa dan mengapa sampai engkau terluka begitu berat ? b

ertanya Giok Li yang jelas menginginkan perkenalan. Sekilas sudah bisa dipahami
jika Giok Li menaruh perhatian kepada si anak muda. Hanya karena tidak terbiasa
bergaul, maka dengan ceplas-ceplos dia meminta perkenalan.
Mendengar pertanyaan Giok Li, si anak muda yang kini sudah sembuh nampak sedikit
guncang dan gugup, namun hanya sekilas. Karena tidak berapa lama diapun sudah b
erkata:
Ach, namaku Lie Hong Po seorang pengelana dari daerah Kanglam. Aku baru saja bert
arung dengan seorang tua yang sangat sakti dan ternyata terpukul kalah. Untungny
a nona telah bersedia menolongku .............. akhirnya si anak muda memperkenal
kan diri bernama Lie Hong Po, dan dari pandang matanya si anak muda juga nampak
tertarik dengan Giok Li. Lagipula, Giok Li memang cantik dan sedang mekar-mekarn
ya. Bedanya, si anak muda lebih mampu menyimpan rasa suka dan rasa simpatinya.
Ach, kiranya Lie Hong Po koko, sungguh gagah dan mirip toakoku Tham Beng Kui. Aku
bernama Cui Giok Li dan berasal dari Lembah Salju Bernyanyi, bolehkah aku meman
ggilmu Hong Po koko .... ? Giok Li yang memang lincah dan pandai bicara tidak meny
embunyikan rasa sukanya. Memang tidak ada cela yang nampak secara fisik dari Lie
Hong Po, yakni masih muda meski mungkin berbeda 10 tahun dengan Giok Li serta g
agah dan tampan. Lebih dari itu, dari perbauran tenaga mereka tadi, Giok Li tahu
jika kekuatan sinkang si anak muda masih mengalahkan tenaga dalam toako dan suc
i yang juga kakaknya.
tentu saja ... tentu saja boleh nona .... tergetar Lie Hong Po menghadapi kepolosa
n dan keterus terangan Giok Li. Tapi nampak jelas jika dia senang dan bahagia de
ngan perlakuan Giok Li.
Aku memanggilmu Hong Po koko, masak engkau memanggilku Nona segala ? Giok Li mereng
ut namun justru nampak semakin menggemaskan. Lie Hong Po jadi gugup, maklum diap
un jarang berhadapan dengan anak gadis yang begitu berani, terbuka dan blak-blak
an dengannya. Dan anehnya, baru kali ini dia merasa suka terhadap seorang anak gad
is. Tak ada rasa marah diperlakukan begitu, justru dia senang. Wajahnya menjadi
panas, tetapi meski dengan susah diapun berkata:
Baiklah N....n ..... ech, Moi-moi
Begitu baru tepat .....hihihi, terima kasih koko ....
Tapi, bagaimana caranya moi-moi menemukan aku disini ? si anak muda bertanya meski
sebenarnya untuk menenangkan debar hatinya yang berdetak demikian kencang. Entah
bahagia entah terharu, entah apa. Yang pasti, sejak melihat wajah Giok Li yang
berusaha membantunya meski secara samar dan dalam keadaan mati hidupnya, dan ber
kenalan dengan rasa suka si gadis yang tak tersembunyikan, wajah gadis itu sudah
melekat erat dalam sanubarinya.
Achhhhh, itulah koko. Adikmu ini melihat seorang yang suka sewenang-wenang membun
uh manusia. Dia membunuh 5 orang dan kemudian lari. Sayang orang itu menghilang
di hutan ini dan rasa gemas nampak jelas menyorot dari wajah Giok Li yang mengepa
lkan tangan karena penasaran tak mampu mengejar si penjahat. Giok Li sama sekali
tidak sadar kalau wajah si anak muda sedikit terlihat tergetar dengan penjelasa
nnya barusan. Tetapi, anak muda itu memang lihay. Sebentar saja wajahnya sudah p
ulih kembali. Malahan segera berkata:
Dan seterusnya engkau tersesat hingga kemari, apakah begitu moi-moi ?
Benar koko, engkau tahu saja ......hihihi Giok Li menjawab sambil cekikikan.
Dan sebetulnya mau kemana moi-moi dengan toakomu ?
Toako bersama suci yang juga kakakku, nama kakakku adalah Cui Giok Tin. Toakoku j
uga gagah perkasa seperti engkau, sementara suci sungguh cantik jelita dan kedua
nya jauh lebih lihay kalau dibandingkan dengan aku koko. Engkau pasti akan senan
g mengenal mereka
Moi-moi, tadi engkau mengatakan berasal dari Lembah Salju Bernyanyi, apakah kalia
n bersaudara memang sedang dalam perjalanan pulang ataukah ada urusan ke tempat
yang lain........ ? Hong Po menahan untuk menyebutkan tujuan lainnya menunggu resp
ons Giok Li.
Tidak, tidak koko, kami sedang menuju Lembah Pualam Hijau memenuhi janji subo ter
hadap tokoh muda hebat luar biasa bernama Kiang Ceng Liong. Orang itu menurut Ne
nek sungguh hebat luar biasa, bahkan terkenal sebagai tokoh nomor satu di rimba
persilatan Tionggoan. Apakah koko mengenalnya ?
Tetapi Hong Po tidak bereaksi apapun. Hanya mata ahli yang mampu melihat getaran

khusus di mata Lie Hong Po yang gagah dan tampan itu. Dan seterusnya diapun ber
sikap sangat sopan dan berwibawa untuk kemudian menjawab:
Tidak moi-moi, aku belum mengenalnya, tetapi akupun pernah mendengar nama Duta Ag
ung muda yang sangat hebat itu ....
Apakah koko besedia berjalan bersama kami bertiga kakak beradik ... ? tanya Giok Li
tanpa risih mengundang Hong Po untuk bergabung bersama mereka bertiga kakak ber
adik. Hanya saja, Hong Po nampaknya memiliki kesulitannya sendiri, karena itu di
a segera berkata:
Sebetulnya aku senang berjalan bersamamu moi-moi, tetapi karena masih ada urusan,
kokomu ini pasti akan bergabung nanti. Karena akupun punya urusan di daerah sek
itar Lembah itu ......
Waaaaah, janji kalau begitu koko. Janji kalau koko nanti bergabung dengan kami na
ntinya jika urusan koko sudah selesai .... Giok Li bahkan sudah berani merajuk ke
pada si anak muda. Dan si anak mudapun nampak senang dengan keadaan tersebut, me
ski sesekali sorot matanya bersinar sedih.
Pasti moi-moi, aku berjanji nanti akan menemui kalian dalam perjalanan. Sekarang,
baiklah kuantarkan moi-moi kembali ke Ceng seng ....
Engkau tahu arahnya koko .... ?
Sudah pasti tahu moi-moi, mari ...... Hong Po kemudian bergerak berdiri di cabang
besar itu dan kemudian bersama-sama kedua muda-mudi itu bergerak meluncur turun
dari atas pohon. Dan seterusnya keduanya kemudian bergerak ke timur ke arah kota
Ceng seng.
Hanya saja, baru kurang lebih 20 menit mereka berlari seakan berlomba menuju Kot
a Ceng seng, mereka kembali bertemu sebuah peristiwa. Saat itu mereka baru saja
keluar dari kepungan pepohonan besar di hutan yang menuju ke arah puncak gunung
Hong San. Betul masih banyak pepohonan disekitar mereka, tetapi kondisi alamnya
sudah lebih luang ruang gerak dan pepohonan yang banyak sudah semakin jauh inter
val atau jaraknya. Disanalah mereka melihat dari kejauhan betapa dua orang yang
sedang dikerubuti oleh 5 orang yang bersenjatakan pasangan pedang, berkelahi den
gan penuh semangat.
Giok Li yang berpandangan tajam, apalagi setelah kekuatan sinkangnya meningkat t
anpa disadarinya, tiba-tiba kaget. Meski dari jauh, tapi dia bisa mengenali jika
dua orang yang sedang terkepung itu adalah orang-orang dekatnya. Adalah toakony
a Tham Beng Kui dengan kakaknya Cui Giok Tin. Dan keduanya sedang dilibas dalam
kepungan 5 orang yang bersenjata pasangan pedang. Ke-lima orang itu nampaknya bu
kan orang-orang yang lemah, dan karenanya keadaan kedua saudaranya itu agak meng
khawatirkan. Maka tanpa sadar dia segera berseru: Toa-suheng, suci , sambil berseru
demikian Cuik Giok Li telah berkelabat menuju ke arah arena pertarungan kurang
seimbang dimana 2 orang melawan 5 orang.
Otomatis Lie Hong Po juga mengejar dan terus menjejeri Cui Giok Li, karena dia k
hawatir dengan keadaan gadis yang menarik hatinya itu. Keduanya dalam waktu bebe
rapa detik saja sudah berada disekitar arena pertarungan dua orang melawan 5 ora
ng dimana posisi barisan penggempur jauh lebih baik. Dan disekitar arena itu men
ggeletak 3-4 orang yang nampak telah tewas dengan kondisi badan mengerikan. Tubu
h mereka terdapat sayatan bersilang. Tetapi anehnya, sama sekali tidak ada darah
di tubuh korban tersebut.
Sementara itu, Keadaan Beng Kui dan Giok Tin sudah agak mengkhawatirkan. Mereka
berdua terdesak terutama karena kerjasama team para penyerang sangat bagus dan s
aling mengisi. Selain itu, secara orang-perorang ketika bertempur sebelumnya, me
reka tahu masing-masing penggempur itu hanya sedikit atau bahkan seimbang dengan
kemampuan mereka berdua. Begitu kelimanya bergerak bersama dalam satu barisan,
keadaan mereka menjadi jauh lebih runyam. Relatif kini mereka tinggal bertahan m
enjaga diri.
Giok Li yang melihat pertempuran itu sudah menjurus ke keadaan yang membahayakan
bagi kedua saudaranya itu, tiba-tiba membentak sambil memasuki arena pertempura
n:
Kurang ajar, siapa berani mengeroyok kakak-kakakku ... ?
Maka bertambahlah jumlah mereka yang bertempur disitu. Masuknya Giok Li membuat
semangat tempur Beng Kui dan Giok Tin bangkit secara tiba-tiba. Apalagi, karena
mereka bertiga sering berlatih bersama dan mencoba formasi ilmu Hui-Sian-Hui-Kia

m (ilmu pedang terbang memutar). Entah bagaimana, ketiganya justru menemukan for
masi memainkan ilmu Hui-Sian-Hui-Kiam (ilmu pedang terbang memutar) secara berti
ga. Mereka tidak pernah menyangka, ini akan menjadi barisan ampuh Lembah Salju B
ernyanyi pada suatu hari kelak. Mereka bertigalah pencipta barisan ampuh Lembah
Salju Bernyanyi itu.
Kagetlah semua pengeroyok yang semuanya mengenakan jubah kelabu dan topeng tengk
orak berwarna hitam pekat, serta 10 batang pedang yang semuanya berwarna hitam d
an berhawa pekat. Mereka terkejut dengan masuknya Giok Li dan waktu sempit itu d
imanfaatkan ketiga saudara seperguruan itu untuk mengatur nafas dan formasi perl
awanan. Dalam sekali pandang, mereka sudah maklum apa yang akan mereka lakukan b
ertiga. Dan Beng Kui segera maju 2 langkah kedepan dan dibelakangnya Giok Tin da
n Giok Li segera membalikkan badan dan mereka bertiga kini berdiri saling membel
akangi dengan membentuk segitiga.
Maka ketika barisan kepungan kelima mahluk bertopeng tengkorak itu kembali mener
pa, ketiga saudara seperguruan itu tiba-tiba bergerak. Dan di tangan mereka masi
ng-masing kini telah tergenggam pedang. Merekapun secara bersamaan segera melepa
s ilmu mereka Hui-Sian-Hui-Kiam (ilmu pedang terbang memutar) menyambut serangan
lawan. Dari segitiga mereka, tiba-tiba menyambar desingan pedang yang berputarputar bagaikan senjata boomerang yang digerakkan oleh kekuatan tenaga dalam. Des
ingan pedang itu bergerak luar biasa kesana kemari dan mengancam keseluruh arena
pertempuran dan dengan segera mendesak kelima penyerang yang menjadi kaget. Kag
et setengah mati menemukan lawan mereka yang bertambah seorang anak gadis kini m
ampu menahan serangan dan bahkan mendesak mereka secara hebat. Ini luar biasa. D
esingan pedang itu menyambar mereka dari semua jurusan dan seperti memiliki mata
mengejar mereka kemanapun mereka bergerak.
Sebetulnya bukan karena ilmu kelima orang itu kalah merek. Yang benar, mereka ka
get setengah mati menghadapi serangan baru lawan yang mengejar mereka dengan des
ingan pedang yang sangat tajam. Terlebih, pedang itu seperti memiliki nyawa, eng
gan membentur pedang panjang mereka dan menyerang kesemua sudut yang memungkinka
n. Secara perlahan, barisan merekapun goyah. Apalagi, ketika kemudian selain des
ingan pedang, merekapun kini harus saling jaga atas serangan pukulan ketiga lawa
n muda itu. Barisan penyerang yang kaget itu membuat semangat ketiga kakak berad
ik seperguruan itu menemukan kembali semangatnya. Kini mereka kembali bertempur
dengan semangat menyala.
Pada saat bersamaan, kini arena itu dipenuhi desingan pedang yang dikendalikan o
leh tenaga dalam dan sambaran pukulan berhawa teramat dingin. Repotnya, kelima o
rang itu, meski memiliki pukulan hebat, tetapi tidak mampu bekerjasama untuk mem
pergunakan ilmu pukulan mereka. Artinya, mereka tidak mampu bekerja dalam team j
ika mempergunakan ilmu tersebut, sebab mereka harus melepas pedang di tangan. Re
potnya lagi, jika mereka melepas pedang, bagaimana menangkis desingan pedang yan
g menyambar mereka dari semua jurusan itu? Maka kalutlah perlawanan kelima orang
itu.
Jika hanya menghadapi desingan pedang terbang, mereka sebetulnya masih memiliki
kemampuan yang memadai. Begitupun jika hanya menghadapi serangan hawa pukulan di
ngin, mereka mampu menahannya dengan kekuatan iweekang. Tapi yang celaka, jika m
ereka harus menghadapi keduanya secara serentak. Padahal, mereka harus berkonsen
trasi menggunakan ilmu pasangan pedang dalam barisan untuk menghalau serangan pe
dang terbang. Tetapi karena selain itu harus juga menghadapi pukulan-pukulan ber
hawa teramat dingin, membuat mereka kini kedodoran dan mulai terancam bahaya.
Kini barisan 5 orang bersenjatakan pasangan pedang itu sudah kocar-kacir. Bisa d
itebak, dalam waktu dekat mereka akan terkalahkan barisan 3 orang muda yang sang
at luar biasa dengan pedang terbangnya. Sementara itu, sambil bertempur Beng Kui
dengan Giok Tin kaget dan gembira sekaligus heran melihat kini Giok Li sudah ma
mpu mencapai atau bahkan mungkin melampaui tingkat mereka saat itu. Hanya saja,
ketika memukul dengan kekuatan sinkang dingin, kali ini kekuatan pukulan dan kek
uatan hawa dingin Giok Li sudah berubah agak aneh. Tetapi, kekuatan itu tidak be
rada di bawah Beng Kui maupun Giok Tin, bahkan mungkin melebihi mereka berdua. K
emampuannya mengendalikan pedang terbang bahkan lebih kokoh, lebih kuat dan lebi
h variatif kali ini.
Keheranan itu menjadi kekaguman dan membuat mereka bertiga jadinya bertempur den

gan semangat berlimpah. Mereka berdua seakan lupa jika tenaga mereka sudah nyari
s terkuras oleh pertempuran sebelumnya. Melihat adik bungsu mereka bertarung beg
itu hebat dalam membela mereka berdua, membuat mereka terharu dan membangkitkan
semangat yang tadinya sudah amat suram. Memang benar, semangat membangkitkan ten
aga cadangan yang tersisa. Dan itu dialami oleh Beng Kui dan Giok Tin yang bangk
it kembali kekuatan mereka setelah Giok Li bergabung. Dan kini mereka bahkan mam
pu mendesak lawan-lawan yang sebelumnya membuat mereka kocar-kacir.
Dan gabungan antara bantuan Giok Li, semangat berlimpah, dan ilmu pedang terbang
dalam barisan, yang membuat mereka mampu melumpuhkan kehebatan barisan lawan. D
an sekarang mereka telah memegang kendali pertempuran. Meskipun memiliki gerakan
hebat dan sabetan maut, namun kelima manusia bertopeng tengkorak itu kini terde
sak hebat. Sabetan maut itu tinggal berfungsi menghalau desingan pedang terbang,
sementara semangat mereka runtuh ketika masih harus menghadapi dan menolak sera
ngan hawa dingin lawan. Gerakan mereka semakin lama semakin kalut, tetapi masih
tetap belum tertembus total untuk meruntuhkan mereka. Karena itu, sekuat tenaga
kelima orang bertopeng tengkorak itu bertahan dan terus bertahan.
Namun, akhirnya ketika salah seorang dari mereka lalai, tiba-tiba terdengar suar
a suara nyaring dari arena:
cressssssssssssssssss , suara yang cukup nyaring terdengar ketika lengan kanan sala
h seorang dari 5 manusia bertopeng tengkorak itu tersayat oleh pedang terbang la
wan. Tetapi hebatnya, meskipun berdarah lengannya, manusia bertopeng itu tidakla
h mengeluarkan rintihan maupun jeritan kesakitan. Dia tetap bertarung meski gera
kannya mulai sedikit terhalang rasa sakit. Sementara Tham Beng Kui, Cui Giok Tin
dan Cui Giok Li semakin bersemangat mendesak lawan-lawan mereka. Setelah salah
seorang lawan mulai limbung, maka barisan lawan menjadi semakin mudah terterobos
. Sekali lagi, seorang lawan termakan serangan. Cuma kali ini bukan terkena sera
ngan pedang tetapi pukulan hawa dingin Cui Giok Li yang menyambar pundak salah s
eorang dari mereka berlima. Tetapi sebagaimana kawannya tadi, orang itupun masih
nekat dan tahan untuk terus bertarung. Tetapi sudah jelas sebentar lagi barisan
itu akan hancur.
Ditengah kekalutan dan frustasi menghinggapi kelima penyerang bertopeng tengkora
k itu, tiba-tiba terdengar sebuah alunan suara yang terdengar ber-irama rada ane
h bahkan cenderung sumbang. Namun alunan suara itu membawa nuansa dan aroma miti
s. Irama itu semakin lama semakin memenuhi arena. Dan keanehan terjadi. Karena s
emakin lama semakin lama semangat dan daya tarung kelima orang bertopeng semakin
garang dan semakin hebat. Sebaliknya Beng Kui dan Giok Tin sudah mulai terpenga
ruh dan sedikit goyah. Justru Giok Li yang masih bertarung dahsyat meski sadar b
ahwa alunan suara itu menyerang mereka. Cuma, kehebatan pedang terbang mereka mu
lai mereda dengan kondisi Beng Kui dan Giok Tin yang mulai agak lamban.
Pertarungan kembali berlangsung seru dan mulai kembali berimbang. Dengan Giok Ti
n dan Beng Kui yang melamban, serangan mereka mulai gampang terbaca lawan. Pedan
g Terbang dalam barisan segi tiga mulai melonggar. Akibatnya kini serang menyera
ng menjadi sedikit lebih berimbang, lawan akhirnya menemukan kembali kebugaran m
ereka. Bahkan semakin lama bertarung seperti dengan semangat baru dan menggebu.
Bahkan terkesan sedikit nekat. Akibatnya Giok Li menjadi kewalahan, karena kini
dialah yang lebih banyak menjadi pengatur serangan mereka bertiga. Dan dia jugalah
yang menjadi penyanggah bagi barisan mereka bertiga menghadapi serbuan serangan l
awan.
Di sisi lain, Hong Po si anak muda yang berjubah hijau menjadi gelisah melihat p
erimbangan yang bergeser. Dia tahu benar kalau alunan suara sumbang itu membantu
5 manusia bertopeng tengkorak dan memukul semangat kakak dari gadis penolongnya
. Aku harus bertindak pikirnya. Dan segera dilakukannya. Dengan bersedekab, tiba-t
iba saja Hong Po mengeluarkan suara erangan yang dengan segera memenuhi arena da
n menandingi alunan suara sebelumnya. Hebat akibatnya. Pertarungan kekuatan suar
a segera terjadi. Saling belit, saling dorong dan saling tindih. Serunya pertaru
ngan aneh itu dapat dilihat dari posisi Hong Po yang bersedekab dan dalam waktu
tidak lama telah mengeluarkan keringat di jidatnya. Tetapi, begitupun dia tidak
terdesak. Hanya saja, suara alunan suara sumbang bernuansa mitis itupun tidak te
rdesak. Nampaknya kedudukan mereka berdua dalam pertarungan kekuatan suara berim
bang. Pertempuran aneh ini tidak kalah serunya, meski hanya bisa dihitung dengan

jari orang yang mampu melihat serunya pertarungan suara itu.


Tetapi, efeknya bagi pertarungan perlahan-lahan segera terasa. Giok Li gembira m
endapatkan kawannya yang dikaguminya ternyata memiliki kekuatan yang mampu memun
ahkan pengaruh dan serangan suara atas dirinya dan kakaknya. Sementara itu, Beng
Kui dan Giok Tin juga mulai menemukan lagi kesadarannya. Tetapi, sekaligus mere
ka menemukan kenyataan betapa mereka sudah demikian letih dan lelah. Untungnya,
barisan 5 manusia bertopeng tengkorak itupun sudah sama letih dan lemah. Apalagi
setelah bantuan alunan suara mitis itu menghilang, dan mereka harus kembali ber
tarung dengan kekuatan sendiri.
Maka tak lama kemudian, keseimbangan pertarungan kembali berubah. Ke-lima manusi
a bertopeng tengkorak itu mulai kembali terdesak, terutama oleh gempuran membada
i yang dilakukan oleh Giok Li. Meski tidak separah keterdesakan mereka sebelumny
a, tetapi jika diteruskan kekalahan sudah pasti mereka derita. Dan pada saat yan
g berbahaya bagi kelima manusia bertopeng tengkorak itu, tiba-tiba alunan suara
sumbang bernuansa mitis itu berhenti. Begitu juga dengan erangan Hong Po, juga t
erhenti. Namun bersamaan dengan itu, terdengar suara:
Kita pergi. Sahabat, lain kali kita bertanding pula
Bersamaan dengan suara itu, Giok Li beserta Giok Tin dan Beng Kui merasakan meny
ambarnya angin serangan yang sangat kuat kearah mereka. Giok Li berusaha menempu
rnya, tetapi terdengar suara Hong Po:
Li Moi, biarkanlah mereka pergi .... dan benar saja, Giok Li menahan serangan dan
tangkisannya dan kemudian membiarkan semua manusia bertopeng tengkorak itu berla
lu. Dan tidak lama kemudian, tempat pertempuran itu menjadi sepi. Karena Beng Ku
i dan Giok Tin sudah langsung berusaha mengembalikan kebugaran mereka, sementara
Giok Li telah menemui Hong Po dan berkata:
Hong Po koko, terima kasih atas bantuanmu. Penyerang dengan suara itu agaknya heb
at luar biasa, tetapi engkau mampu menandinginya koko. Terima kasih .... Ucapan t
erima kasih itu diiringi oleh lirikan mesra yang kini tidak mampu lagi disembuny
ikan Giok Li. Atau, mungkin yang sebenarnya adalah, dia memang tidak berniat men
yembunyikan lirikan mesra tersebut.
Bukankah kita sepakat untuk saling tolong Li Moi ... ? Hong Po merendahkan diri den
gan hati gembira. Kegembiraan hatinya jelas tergambar dari sorot mata yang berbi
nar-binar penuh kegembiraan. Namun, sekaligus juga dengan sedikit kerutan tanda
khawatir di wajah dan matanya.
Sudahlah Hong Po koko, baiklah kita melihat keadaan toa suheng dan ji suci ajak Gi
ok Li sambil kemudian mendahului Hong Po mendekati Beng Kui dan Giok Tin yang se
dang memulihkan semangat mereka. Tak ada pilihan lain bagi Hong Po, diapun mengi
kuti kemauan Giok Li dan berjalan mendekati tempat dimana Giok Tin dan Beng Kui
berada. Persis dekat dengan 4 sosok tubuh yang telah menjadi mayat, korban kegan
asan 5 manusia bertopeng tadi. Kini jelas, bahwa merekalah yang bertanggungjawab
atas banyaknya korban dengan sayatan pedang bersilang di tubuh korban. Hong Po
memandangnya sekilas, namun tiada emosi yang muncul dari wajahnya. Sungguh heran
, siapakah anak muda yang sangat hebat ini?
Tak lama kemudian hampir bersamaan Beng Kui dan Giok Tin telah menyelesaikan upa
ya mereka mengembalikan semangat dan kondisi. Pertempuran tadi memang membuat se
mangat dan kekuatan mereka. Sungguh mendebarkan dan meletihkan. Dan melihat toa
suheng dan kakaknya sudah segar dan bugar kembali, Cui Giok Li dengan gembira me
ndekati mereka berdua. Dan seperti biasanya dengan gaya kenes dan manjanya:
Toa suheng, engkau tentu sudah segar kembali dan kemudian sambil berpaling kepada
kakaknya, diapun berkata, Enci, bagaimana keadaanmu? Sudah rada baikan bukan ? dari
nadanya terlihat jelas jika kedua kakak-beradik ini memiliki hubungan yang luar
biasa kuatnya.
Ach adikku, kemana saja engkau? Lihat, sampai aku dengan toa suhengmu berlari-lar
i kesana kemari mencari jejakmu Giok Tin berkata sambil merangkul sayang adik sat
u-satunya ini. Adik yang memang selalu manja terhadapnya. Sementara itu, terdeng
ar suara Beng Kui membuyarkan pameran ekspresi kasih sayang kedua kakak beradik
jelita itu:
Siauw sumoy, siapakah temanmu yang gagah ini? Jika aku tidak salah, dia telah mem
bantu kita tadi
Mendengar suara toa suhengnya, si manja Cui Giok Li segera sadar jika dia belum

mengenalkan kawan baru yang menarik hatinya kepada kakak serta suhengnya. Maka s
ambil melepaskan diri dari pelukan kakaknya Cui Giok tin, diapun segera berinisi
atif memperkenalkannya:
Ach benar suheng, enci, mari kuperkenalkan sahabat baruku. Hong Po koko, mari kup
erkenalkan dengan suheng dan enciku yang cantik ini .... Begitu Giok Li dengan lu
wes berbicara memperantarai perkenalan suheng dan kakaknya dengan sahabat baruny
a Lie Hong Po.
Ach terima kasih Li Moi, perkenalkan namaku Lie Hong Po. Senang berkenalan dengan
saudara berdua dengan sopan Hong Po memperkenalkan dirinya kepada Beng Kui dan G
iok Tin. Cui Giok Tin senang melihat Lie Hong Po yang sopan dan tidak memandangn
ya dengan mata nyalang sebagaimana pemuda lainnya. Tetapi, entah bagaimana dia s
eperti waspada melihat rasa tertarik antara adiknya dengan laki-laki dihadapanny
a ini. Jelas suara adiknya penuh kekaguman terhadap pemuda Lie Hong Po itu. Teta
pi waspada semacam apakah itu? Entahlah.
Achhh, kiranya saudara Lie Hong Po. Mari, perkenalkan namaku Tham Beng Kui dari L
embah Salju Bernyanyi. Dan terima kasih banyak atas bantuan saudara tadi Beng Kui
merangkap tangan sambil memberi hormat sebagaimana tadi Hong Po juga melakukann
ya. Beng Kui termasuk cepat mengerti dan memahami tata krama pergaulan di Tiongg
oan.
Namaku Cui Giok Tin, kakak Giok Li, senang bisa mengenal saudara Hong Po. Berasal
dari manakah gerangan saudara Hong Po ? melihat saling lirik adiknya dengan si pe
muda Hong Po, Giok Tin ingin menggunakan kesempatan ini untuk lebih mengenal si
pemuda. Dan nampaknya Hong Po juga mengerti akan hal tersebut. Dan sudah barang
tentu Lie Hong Po harus menjawab dan menjelaskan siapa dirinya. Hal yang nampakn
ya telah dipersiapkannya sejak beberapa waktu sebelumnya. Karena itu dia tidak r
agu menjawab:
Terima kasih, terima kasih boleh berkenalan. Aku yang rendah berasal dari daerah
Kanglam dan sedang berkelana di rimba persilatan. Sebetulnya adalah adik Giok Li
yang membantuku, bahkan menyelamatkan nyawaku. Melihatnya sedang mencari jiwi b
erdua dan hendak menuju Ceng seng, maka akupun menawarkan menghantarkannya. Untu
ngnya dapat bertemu jiwi di tempat ini, dan beruntung boleh mengenal sekalian ka
kak-kakak dari adik Giok Li
Benar enci, kami baru saja saling mengenal. Dan Kakak Hong Po berkenan membantu u
ntuk menemukan jalan ke Ceng seng, ech, mana tahu di tempat ini bertemu toa suhe
ng dan enci. Syukurlah ...... dan sekali lagi bahkan lebih jelas Giok Tin bisa me
lihat pendar bahagia dari sinar mata adiknya. Tak salah lagi, adiknya itu nampak
nya tertarik dengan Lie Hong Po dan hal yang sama juga nampak dari tindak tanduk
Hong Po. Tapi mereka kan baru slaing mengenal protes Giok Tin dalam hatinya, teta
pi tentu tetap tak berdaya. Meskipun begitu, sebagai kakak dia memiliki rasa tan
ggungjawab yang tinggi untuk kebahagiaan adiknya.
Kamipun gembira bisa mengenal saudara Hong Po dan sudah tentu, kami berterima kas
ih atas bantuan saudara menghadapi para pengeroyok dan pentolan mereka yang meny
embunyikan diri itu. Tanpa bantuan saudara Hong Po, belum tentu kami sanggup mel
alui masa berbahaya tadi dengan tulus Giok Tin menyampaikan ucapan terima kasih d
an rasa senangnya berkenalan. Dan Hong Po menanggapinya hanya dengan senyuman, t
idak nampak rasa sombong dan pongahnya sama sekali.
Adalah kewajiban sesama kaum persilatan untuk saling mermbantu Hong Po menanggapi
santai sambil kembali melirik Giok Li yang tersenyum ke arahnya. Dan kembali Ben
g Kui bersuara:
Benar ji sumoy, kita memang patut mengucap syukur atas bantuan saudara Hong Po. T
etapi, kemanakah arah saudara Hong Po sekarang ?
Sebetulnya aku hanya berkelana tanpa arah tertentu. Hanya, agak heran akhir-akhir
ini karena banyak tokoh silat yang terbunuh dengan sayatan pedang bersilang ata
u kena semacam jarum pembunuh. Inilah yang menahanku disini dan ingin untuk meny
elidikinya. Untungnya malah mendapat jawaban atas salah satu penyebab pembunuhan
itu di tempat ini sahut Hong Po diplomatis.
Ach, sungguh mulia upaya saudara Hong Po. Sayangnya, kami harus bergegas karena s
edang mengemban misi dari subo kami bertiga. Karena itu, mohon maaf jika sekiran
ya kami bertiga harus segera mohon diri dari saudara Hong Po. Tadinya aku ingin
mengajak saudara berjalan bersama, tetapi mungkin lain waktu jika memang memungk

inkan Beng Kui kembali berkata. Maklum tugas mewakili subo mereka menuju Lembah P
ualam Hijau sudah semakin dekat waktunya. Tinggal lebih kurang 7 hari lagi merek
a harus sudah berada di Lembah Pualam Hijau.
Sebetulnya setelah mengantarkan Adik Giok Li, akupun masih harus menuntaskan sebu
ah urusan perguruan. Baru setelah itu akan melanjutkan perjalanan. Karena itu, m
enyesal tidak dapat menyertai saudara bertiga. Baiklah, lain kesempatan aku ingi
n berkelana bersama dengan saudara bertiga. Hanya saja, harap berhati-hati, kare
na nampaknya dunia persilatan sedang dan akan bergejolak kembali setelah banyak
tokoh yang binasa akhir-akhir ini Hong Po menolak secara halus ajakan untuk jalan
bersama. Penolakannya ini melegakan Giok Tin dan dia berpikir telah berprasangk
a buruk terhadap anak muda ini. Karena itu diapun berkata:
Baiklah, kami berjalan lebih dahulu saudara. Sekali lagi, terima kasih dan semoga
kita bisa melakukan perjalanan bersama suatu saat nanti ....... sambil berkata G
iok Tin mengucapkan salam berpisah. Diapun menarik Giok Li, namun Giok Li masih
sempat-sempat berkata:
Baiklah Hong Po koko, ingat janjimu untuk berjalan bersama kelak ya ..... kami ak
an menunggunya nanti terasa sangat berat kalimat perpisahan Giok Li itu. Bukan ha
nya Giok Tin yang merasakannya, bahkan Beng Kui juga. Apalagi Lie Hong Po, dia m
aklum benar akan nada pemrohonan dalam suara itu. Dan dia senang, karena diapun
nampaknya memiliki ketertarikan yang sama.
Adik Giok Li, aku telah berjanji, pasti akan kupenuhi. Pergilah bersama kedua kak
akmu, suatru saat kita bertemu kembali .... suara Hong Po sendiri juga terdengar
sedikit bergetar. Dan Cui Giok Tin tidaklah bodoh untuk tidak menangkap dan mema
haminya.
Baiklah saudara Hong Po, sampai berjumpa kembali dan Beng Kuipun kemudian mengucap
kan selamat berpisah.
Tempat itupun kembali sepi.
==================
Ketiga kakak beradik seperguruan itupun akhirnya memutuskan beristirahat di kota
Ceng seng sebelum melanjutkan perjalanan. Selain karena letih dan butuh istirah
at, mereka juga sudah mencari tahu bahwa tinggal butuh waktu 3 atau 4 hari untuk
sampai ke Lembah Pualam Hijau. Bahkan jika berjalan cepat 2 hari waktu yang dib
utuhkan. Padahal pesta yang hendak mereka datangi baru akan dilaksanakan 6-7 har
i lagi. Maka merekapun memutuskan untuk menginap di penginapan terbesar di Kota
Ceng seng. Menjelang sore hari mereka telah berada di Kota Ceng seng dan kemudia
n berupaya untuk menemukan penginapan buat mereka bertiga beristirahat.
Baru saja mereka mendapatkan 2 buah kamar di Penginapan Mutiara Biru, dan bersia
p-siap untuk diantarkan pelayan ke kamar, tiba-tiba masuk 2 orang pria. Dari dan
danan, jelas mereka adalah orang-orang pengelana rimba persilatan. Tetapi sikap
mereka begitu gagah dan tetap sopan. Salah seorang dari kedua orang tersebut seg
era bertanya dengan sopan:
Apakah masih tersedia sedikitnya 5 kamar buah kami di lantai bawah ?
Kebetulan masih tersedia tuan, tetapi jika tidak salah hanya tersisa 4 buah kamar
di lantai bawah petugas penginapan menyahut dengan sopan setelah memeriksa catat
an tamunya sejenak.
Terlihat kedua tamu yang mencari kamar itu berpandangan sejenak dan kemudian ked
uanya saling mengangguk. Dan setelah mereka sepakat, salah seorang kembali mende
kati si petugas dan berkata:
Baiklah, kami menyewa ke-empat kamar tersebut. Tetapi barang hantaran yang kami k
awal akan ditempatkan di dalam sebuah kamar yang kami sewa, untuk menjaga hal-ha
l yang tidak diinginkan. Apakah pelayan penginapan bisa membantu kami melakukann
ya?
Baiklah tuan, pelayan penginapan akan membantu tuan untuk membawa barang-barang t
ersebut dari gerobak tuan
Baiklah jika demikian , dan transaksipun kemudian disepakati dan dilakukan dimana k
edua tamu itu memesan dan sekaligus melunasi pembayaran.
Sementara itu Beng Kui, Giok Tin dan Giok Li telah diantarkan ke kamar mereka ya
ng kebetulan juga berada di lantai dasar penginapan tersebut. Bahkan belakangan
mereka tahu terletak tidak jauh dari kamar para tamu yang menyewa empat buah kam
ar guna mengawal barang hantaran mereka. Karena memang letih, baik Beng Kui, Gio

k Tin maupun Giok Li tidak lagi keluar dari penginapan dan memilih makan malam d
i penginapan tersebut.
Beng Kui yang tidur sendirian dalam kamarnya sudah langsung terlelap atau entah
apa yang dilakukannya dalam kamarnya. Sementara kakak beradik Giok Li dan Giok T
in nampak masih berbincang-bincang, sesekali berbisik-bisik dan sesekali terdeng
ar cekikikan dari Giok Li.
Adikku, tidak salah lagi. Engkau pasti menyukai orang muda bernama Hong Po itu bu
kan? Hayo ngaku .....
Ach enci, bukankah dia memang gagah dan tampan? Hihihi si manja Giok Li bukannya m
alu malahan secara terus terang mengakuinya kepada kakaknya. Dan memang seperti
itulah hubungan kedua kakak beradik itu sejak masa kanak-kanak mereka berdua.
Ach, tapi engkau belum begitu mengenalnya adikku
Menyukainya kan belum tentu buat menikah dengannya enci, tenang saja. Pesan subo
akan kujunjung tinggi, untuk tidak mempermalukan subo dan perguruan kita di Lemb
ah Salju Bernyanyi
Syukurlah adikku. Memang si Hong Po itu gagah dan tampan. Tapi, adikku juga bukan
nya tidak cantik dan manis kan >>>> goda Giok Tin.
Ach enci, engkaupun sudah sewajarnya memiliki pasangan. Di Lembah Pualam Hijau na
nti biarlah adikmu ini mencarikan pasangan yang setimpal denganmu, hihihi Giok Li
bukannya risih malah balik menggoda. Dan jika sudah demikian, Giok Tin selalu k
alah dari adiknya.
Demikianlah keduanya bercakap panjang lebar. Terutama Giok Li menceritakan keane
han Hong Po dan juga sinkangnya yang terserap tetapi kemudian bisa dikuasainya k
embali. Malahan bisa memperoleh kemajuan yang juga mengherankan bagi dirinya sen
diri. Tetapi porsi terbesar adalah puja-puji Giok Li kepada Hong Po yang memang
sangat dikaguminya.
Giok Tin menarik nafas panjang mendengarkannya. Tiba-tiba dia sadar, bahwa adikn
ya ini sudah menjadi remaja yang sangat cantik. Sepertinya dia masih memikirkan
dan memperhatikan Giok Li yang manja, kenes, suka ngambek dan suka menangis meng
adukan sesuatu kepadanya. Padahal itu telah berlalu. Kini adiknya bukan lagi gad
is cilik, tetapi gadis remaja. Dialah satu-satunya adik yang dimilikinya. Karena
kelahiran adiknya ini, ibunya meninggal. Otomatis, adiknya ini adalah satu-satu
nya keluarga yang dimilikinya dalam dunia ini. Wajar jika Giok Tin begitu menyay
angi dan memperhatikan pertumbuhan Giok Li.
Dan tanpa terasa waktu telah berlari dan memasuki tengah malam. Giok Tin dan Gio
k Li perlahan-lahan akhirnya tertidur. Dan keheningan bukan hanya melingkupi kam
ar peristirahatan mereka, tetapi juga Kota Ceng seng. Kesibukan kota itu kini le
bur dalam hening dengan tidak menyisakan hiruk-pikuk di siang hari yang penuh ke
sibukan tersebut. Kota itu hening, sepi. Penduduknya terlelap. Termasuk juga mer
eka-mereka yang menginap di Penginapan Mutiara Biru.
Tapi benarkah tiada lagi aktifitas pada malam hari? Benarkah semua penghuni kota
termasuk penghuni penginapan itu telah terlelap dalam tidur dan mimpi mereka? S
iapa bilang? Sama sekali keliru. Karena masih tetap ada orang-orang yang berakti
fitas pada malam hari. Seperti pencuri misalnya. Orang sering berkata, hati-hati
dengan malam hari karena banyak hal mungkin terjadi di malam hari. Kegelapan ma
lam memang sering dimanfaatkan banyak orang untuk melakukan kegiatan dan aktifit
as tersembunyi.
Penginapan itu memang senyap. Nyaris seluruh penghuninya telah terlelap. Masa ma
sa tengah malam dan lewat tengah malam adalah jam paling tepat untuk terlelap. J
adi wajar jika banyak orang terlelap. Tetapi bagi beberapa orang di kamar lantai
dasar atau lantai terbawah dari penginapan mutiara biru, siang atau malam tetap
sama. Lihat saja, di salah satu kamar penerangan kamar tidak padam dan dari lua
r nampak jika ada beberapa orang yang tidak terlelap. Tugas mereka memang menjag
a barang antaran. Bahkan di luar kamar tersebut nampak ada 4 orang yang berdiri
berjaga di depan pintu.
Bagi orang-orang itu siang dan malam tetap bekerja. Terkadang memang demikian. A
da sejenis pekerjaan yang memang harus tetap dilakukan meski pada malam hari. Te
ngah malam sekalipun. Jadi bukan hal mengherankan menemukan penjaga berdiri dide
pan pintu kamar. Tetapi malam ini, mereka yang berjaga benar-benar naas. Nasib m
ereka kurang beruntung. Karena mereka tiba-tiba menjadi sasaran dari sebuah sera

ngan gelap yang dilepaskan oleh sesosok bayangan yang bergerak begitu ringan, be
gitu cepat namun sangat mematikan. Sosok bayangan itu bergerak bagaikan hantu, b
erkelabat dari atas wuwungan dan melepaskan serangkaian angin pukulan yang luar
biasa hebat. Dan akibatnya, ke-empat manusia yang berjaga di depan pintu tidak s
adar apa yang terjadi. Tiba-tiba saja ke-empatnya terdiam, tertotok dan tewas se
ketika namun tubuh mereka tetap dalam keadaan berdiri. Setidaknya begitu menurut
angggapan si penyerang.
Tetapi, gegabah menduga bahwa mereka yang diserang benar-benar alpa. Si penyeran
g yang telah menyerang dan mengira membinasakan 4 penjaga di pintu kamar yang di
tuju, dengan ringan turun dekat kamar tersebut. Tetapi, begitu berjalan mendekat
ke arah pintu kamar, terdengar sebuah suara lirih yang memang khusus ditujukan
kepadanya:
Hmmmmm, besar amat nyalimu. Seorang pendeta mengendap-endap menuju kamar orang la
in apakah pantas ? suara itu menahan langkah orang yang ternyata memang berjubah k
eagamaan. Namun, setelah diteliti lebih jauh, gaya jubahnya adalah gaya Lhama Ti
bet. Entah mengapa Lhama asal tibet itu justru berencana untuk membunuh orang-or
ang yang berjaga di depan pintu. Tetapi, mengetahui kehadirannya tidak dapat dis
embunyikan lagi, Lhama Tibet tersebut tidaklah menjadi takut, sebaliknya ia sege
ra mendengus dan berkata:
Hmmm, kalianpun harus membayar harga perbuatan kawan-kawanmu atas orang perguruan
kami sambil mengeluarkan ancaman tersebut, Lhama itupun berkelabat pergi, melari
kan diri. Dan serentak 4 orang yang tadinya diserang si Lhama tiba-tiba bergerak
dan terus mengejar. Kiranya mereka hanya bersandiwara seakan-akan terkena pukul
an si Lhama. Dan dilihat dari gerakan mereka yang sungguh pesat meskipun masih b
elum secepat si Lhama yang mereka kejar, bisa diduga mereka bukan orang-orang se
mbarangan. Bahkan, orang-orang yang tadinya berjaga dalam kamar, juga ikutan kel
uar dan melayang mengejar si Lhama penyerang. Bahkan dari 3 kamar lainnya, melay
ang juga masing-masing sepasang orang yang bahkan lebih cepat lagi untuk ikut me
ngejar.
Tetapi yang paling hebat adalah ketika tiba-tiba ada lagi sesosok bayangan yang
mengejar pergi. Hanya saja, bayangan tadi terlampau sulit untuk diikuti dengan m
ata telanjang. Lesatan dan kecepatannya sungguh di luar nalar bahkan jangkauan l
ompatannyapun nyaris tidak masuk di akal jauhnya. Dia berkelabat pergi bagaikan
angin ringannya, pergi begitu saja tanpa ancang-ancang.
Dan dalam waktu singkat 4 kamar yang dipesan untuk para pengawal pembawa barang
antaran telah kosong. Penghuninya pada mengejar si Lhama. Keadaan itu tentunya s
angat mengherankan dan tidak lazim. Bukannya konsentrasi mengawal dan menjaga ba
rang, sebaliknya sebagian besar orang-orang penjaga barang malah meninggalkan ba
rang bawaan. Dan mereka semua mengejar si Lhama yang tadi mengeluarkan ancaman d
an berkelabat pergi. Benar saja, karena tak berapa lama kemudian setelah sebagia
n besar orang pergi mengejar, tiba-tiba berkelabat 2 sosok bayangan lainnya.
Kedua bayangan itu langsung menuju ke kamar yang tadinya dijaga 4 orang yang dis
erang Lhama yang melarikan diri tadi. Dengan penuh kepercayaan diri kedua orang
yang ternyata adalah juga Lhama Tibet, telah mendorong pintu kamar yang lampunya
masih menyala. Tanpa rasa takut sedikitpun keduanya melangkah masuk kedalam kam
ar, dan karena tidak mengalami penghadangan, merekapun terus melangkah masuk ke
tengah ruangan. Karena di tengah ruangan, nampak bertumpuk barang-barang antaran
yang dikemas dalam bentuk kotak agar mudah di angkut menuju tempat tujuan.
Hanya saja, ketika mereka berdua telah berada dalam ruangan, tiba-tiba terdengar
suara seseorang yang jelas ditujukan kepada mereka:
Selamat datang para sahabat. Tengah malam seperti ini bertamu di kamar orang, apa
kah pantas bagi para pendeta ?
Dan dalam waktu singkat dalam ruangan itu telah bertambah dengan 6 orang lainnya
dan seorang Nona yang masih nampak muda. Nona muda itu kelihatannya sangat diho
rmati oleh 6 orang lainnya yang sudah berusia parobaya. Paling tidak usia mereka
rata-rata sekitar 45 tahunan, dan masing-masing membekal pedang dengan ukuran y
ang nyaris sama. Salah seorang dari mereka yang telah menyapa kedua Lhama yang m
emasuki kamar yang mereka jaga itu.
Paman, dengarkan dulu keterangan mereka. Mana tahu mereka memang punya tujuan khu
sus bagi kita, hihihi suara si Nona menimpali perkataan salah seorang dari 6 manu

sia ber pedang. Dan kelihatannya si Nona tidak mengenal rasa takut dan dengan be
bas mempermainkan kedua Lhama yang tertangkap basah memasuki kamar orang tanpa i
jin.
Hmmmmmm, melihat kalian ber-enam, apakah mungkin kalian yang disebut orang Barisa
n 6 Pedang dari Lembah Pualam Hijau ? terdengar salah seorang dari Lhama itu bersu
ara. Hebat, dia langsung mengenal siapa-siapa tokoh yang berada dalam ruangan te
rsebut. Memang benar, Barisan 6 Pedang Lembah Pualam Hijau telah memiliki setida
knya 3 barisan terlatih. Dan barisan yang berada di dalam ruangan itu adalah Bar
isan lapis kedua, karena Barisan 6 Pedang lapis pertama adalah pelindung Duta Ag
ung.
Kemanapun Duta Agung pergi, kesanalah mereka berada sebagai pelopor sekaligus pe
lindung. Sementara lapis kedua ini diproyeksikan untuk menggantikan lapis pertam
a Barisan 6 Pedang yang rata-rata usia mereka sudah 55 tahun. Yang paling muda b
erusia 55 tahun sementara yang tertua sudah mendekati angka 60 tahun. Jadi wajar
jika regenerasi Barisan 6 Pedang yang terkenal ini dilakukan oleh Lembah Pualam
Hijau.
Hebat ..... hebat, sekali pandang kalian telah mampu mengenali kami. Memang benar
, kamilah Barisan 6 Pedang Lembah Pualam Hijau, sedang bertugas untuk menjemput
barang antaran dari Thian San Pay. Entah ada pengajaran apakah kedua pendeta yan
g terhormat ?
Hahahaha, benar-benar tidak bernama kosong. Tetapi, sehebat apapun karena pihak k
alian telah membinasakan ketiga saudara seperguruan kami, maka kalian akan meras
akan akibat pembalasannya. Termasuk merusak seluruh apa yang kalian rencanakan u
ntuk dikerjakan
Wah paman, pendeta itu galak juga. Tapi apakah kemampuannya sama galaknya dengan
mulutnya yang besar itu ? terdengar si Nona jelita menyela dengan tiada rasa takut
sedikitpun. Bukannya takut justru dengan penuh keberanian dia memandang sorot m
ata marah kedua Lhama yang tertuju kepada dirinya itu. Sorot mata tajam dan nyal
ang seakan ingin mengunyahnya habis.
Jaga mulutmu Nona kecil, jika engkau laki-laki tentu sudah kuhajar mulutmu yang u
sil dan binal itu berkata salah seorang dari Lhama itu. Wajahnya guram dan memera
h. Mungkin gondok juga dia karena selalu disindir oleh seorang anak gadis yang m
asih remaja pula.
Cobalah menghajar mulutku gundul tua besar mulut. Memangnya sopan bagi gundul tua
semacam kalian menyelinap ke kamar orang ? bukan takut, si Nona malah semakin taj
am mulutnya. Dan semakin mengkal perasaan kedua Lhama itu, tapi mereka bingung h
arus melakukan apa.
Dan rasa mengkal itu akhirnya ditumpahkan dengan menyerang kearah tumpukan baran
g antaran. Ternyata, barang-barang atau benda itu adalah benda-benda dari Thian
San Pay sebagai mas kawin sekaligus kado dari Thian San Pay untuk pasangan penga
ntin di Lembah Pualam Hijau. Karena Nenggala yang adalah suhu dari Ciangbundjin
Thian San Pay sudah dianggap sebagai tokoh di perguruan itu setelah menjadi pewa
ris Kakek Dewa Pedang. Dan kado itulah yang kini ingin dicuri atau dirusak oleh
kedua Lhama itu.
Tentu saja Barisan 6 Pedang dan si Nona tidak akan membiarkan serangan kedua Lha
ma itu merusak barang antaran. Karena itu, Barisan 6 Pedang segera bergerak dan
menyatukan tenaga untuk menangkis pukulan kedua Lhama yang dilontarkan ke arah b
arang antaran tersebut. Dan segera terdengar benturan:
Dukkkkkkk .....
Meskipun bukan lapis pertama, tetapi Barisan 6 Pedang yang datang kali ini bukan
lah barisan yang tidak dapat diandalkan. Memang, mereka masih kalah dari senior
mereka, tetapi bukan berarti mereka tidak berkemampuan hebat. Keliru jika demiki
an. Orang per orang, mungkin mereka bukan jagoan hebat di dunia persilatan, teta
pi begitu bergabung, mereka akan sanggup menghadapi tokoh kenamaan dan jika perl
u mengalahkannya. Merekapun sudah berlatih gabungn sinkang. Karena itu, tidak be
rhalangan bagi mereka untuk bersatu menangkis pukulan kedua Lhama itu. Dan hasil
nya, mereka tidak tergetar, pukulan ditangkis dan sama sekali tidak sampai merus
ak barang-barang dalam ruangan.
Tetapi, sebelum Barisan 6 Pedang menyerang dan melibas kedua Lhama Tibet itu, ti
ba-tiba terdengar suara si Nona:

Paman-paman, aku ingin mencoba kehebatan Lhama pencuri ini .... dan begitu suara i
tu raib, tanpa dapat dicegah si Nona telah menyerang salah seorang dari kedua Lh
ama tersebut. Melihat itu, Barisan 6 Pedang tidak dapat mengatakan apa-apa, kare
na mereka semua sadar dan tahu belaka sampai dimana kehebatan si Nona. Akan teta
pi, siapa gerangan Nona manis itu?
Tidak lain dan tidak bukan adalah Kiang Sian Nio. Nona ini adalah adik perempuan
satu-satunya dari Kiang Ceng Liong yang menjadi Duta Agung Lembah Pualam Hijau.
Sejak kecil, Nona remaja ini telah berlatih dibawah asuhan bibi-neneknya sendir
i, yakni Kiang In Hong alias Liong-i-Sinni. Sempat melarikan diri dari perguruan
tetapi akhirnya ditemukan lagi dan terakhir dilatih di Lembah Pualam Hijau oleh
neneknya yang sakti itu. Dan akhir-akhir ini, Nona yang masih remaja ini telah
dibekali kemampuan luar biasa. Terutama hasil dari membujuk-bujuk kakaknya Ceng
Liong untuk mengajarinya ilmu-ilmu hebat. Karena itu, tidak heran jika Kiang Sia
n Nio bertumbuh menjadi gadis muda yang berkepandaian hebat.
Dan seperti juga Mei Lan yang menjadi sucinya meski hanya mewarisi ginkang istim
ewa gurunya, Sian Nio ini juga bergerak cepat bagaikan hantu. Belum selesai dia
berbicara, pukulannya sudah tiba dan mengejutkan salah seorang Lhama Tibet yang
menjadi keki karena diserang seorang Nona yang masih muda remaja. Tetapi, betapa
kagetnya dia ketika pukulan si Nona ternyata tidak main-main. Si Nona menyerang
nya dengan sebuah lentikan jari sakti yang sangat berbahaya. Itulah bengalnya Si
an Nio, tanpa ba-bi-bu telah menyerang lawan dengan menggunakan salah satu ilmu
istimewanya, yakni Tan Cit Pa Siat (Telunjuk sakti menotok jalan darah). Ilmu ya
ng dihadiahkan kakaknya.
Sian Nio memang belum paham betul dimana kehebatan ilmu jari sakti ini, yang dia
tahu adalah dia sanggup melubangi batu karang yang keras sekaipun. Jika dipakai
dalam pertempuran bagaimana hasilnya? Nach, hari inilah si Nona ingin melihat h
asil latihannya terhadap Ilmu tersebut. Dia takut mencoba Ceng Thian Sin Ci kare
na kakaknya telah wanti-wanti dan berpesan dengan keras agar tidak sembarangan m
empergunakannya. Dan, hanya Kakaknya yang ditakutinya di Lembah itu. Maklum kaka
knya adalah Duta Agung Lembah. Tapi dia tahu benar bahwa kakaknya itu sangat men
yayanginya.
Dan celaka si Lhama yang memandang enteng Sian Nio. Sudah gerakannya sangat pesa
t dan bagaikan menghilang, sementara serangan jari saktinya juga meletup cepat d
an tahu-tahu sudah dihadapannya. Terpaksa dengan tergesa-gesa dia mengibas, dan
tahu-tahu terdengar suara:
Srrrrrtttttt ...... dan jubah di bagian lengan si Lhama telah berlubang ketika dig
unakannya untuk menghalau serangan jari sakti si Nona. Dan melihat hasil itu, Si
an Nio girang luar biasa. Sebaliknya, si Lhama meringis malu dan akhirnya bangki
t kemarahannya. Kelalaiannya ditebus oleh bolongnya lengan jubahnya. Dan ini san
gat memalukan, apalagi karena penyerangnya hanya seorang gadis remaja. Mau ditaruh
kemana mukanya?
Dalam amarahnya si Lhama menggereng dan segera membuka serangan. Diserang dengan
sentilan jari sakti, maka diapun menyerang dengan menggunakan ilmu sejenis yang
bernama Tam Ci Sin Thong. Maka bertarunglah keduanya dengan tidak ditahan-tahan
lagi. Sian Nio memanfaatkan kesempatan itu untuk melatih ilmu dan pengalaman be
rtempur, sementara si Lhama berusaha untuk membalas kekalahan memalukan yang bar
u dideritanya. Kekalahan dari seorang gadis remaja. Betapa memalukannya. Wajar j
ika wajahnya merah padam, malu bercampur gusar ketika menyerang Sian Nio.
Suara mencicit datang dari adu kehebatan ilmu jari keduanya. Hanya, jika Tam Ci
Sin Thong Bouw Lek Couwsu dan adik-adik seperguruannya mencicit dengan ketajaman
mengerikan, maka Lhama yang satu ini jauh lebih halus. Bahkan sesekali serangan
jarinya nyaris tidak mengeluarkan suara cicitan sama sekali. Tetapi, kehebatann
ya jauh melampaui Bouw Lek Couwsu bertiga. Jelas Lhama yang satu ini berlipat ka
li kehebatannya.
Tapi Sian Nio yang seperti subonya dan sucinya memiliki keistimewaan dalam berge
rak, tidaklah merasa tersudut dan terdesak dengan serangan-serangan lawan. Selai
n mampu bergerak cepat, ilmu jarinya sendiri tidaklah kalah mutu. Apalagi setela
h adu kekuatan, diapun tidak merasa kalah melawan kekuatan lawan. Karena itu, pi
kiran isengnya muncul, dan segera terlontar dari mulutnya:
Paman-paman, pendeta pencuri ini lumayan lihay. Sebaiknya kalian menjaga pendeta

pencuri yang satu lagi jangan sampai meloloskan diri


Maksud Sian Nio sebetulnya hanya sekedar menggoda Lhama lawannya itu. Tetapi, be
gitu kalimat itu terucap, kedua Lhama itu menjadi tersinggung dan tambah marah.
Dan akhirnya pecah jugalah pertarungan kedua di ruangan yang sangat sempit terse
but. Tetapi disinilah sekali lagi kehebatan Barisan 6 Pedang teruji. Meski ruang
an sangat sempit, tetapi mereka mampu beradaptasi dengan ruang dan mampu memaksi
malkan serangan mereka. Justru adalah lawan yang membutuhkan ruangan lebih luang
untuk banyak bergerak dan menemukan cela pertahanan dari badai serangan Barisan
6 Pedang.
Sementara itu, Sian Nio sendiri menghadapi gelombang serangan baru dari Lhama la
wannya itu. Kali ini, bukan saja menggunakan ilmu jari saktinya, tetapi juga mul
ai mendesaknya dengan melepas pukulan-pukulan berat berdasarkan kekuatan sinkang
nya. Si Lhama menduga bahwa Sian Nio tidak akan berani memapak serangan sinkangn
ya. Dia tidak tahu jika si Nona telah membekal Giok Ceng Sinkang tingkat tinggi.
Karena itu, ketika dia memukul dengan Hong Ping Ciang dan melanda Sian Nio deng
an sinkang berpusing, Sian Nio dengan berani memapaknya dengan jurus rembulan ber
kaca angin mendesing dari Ilmu silat keluarganya Giok Ceng Cap Sha Ciang. Dan ben
turan tak terhindarkan:
dukkkkkk .....
Tetapi betapa kagetnya Lhama itu melihat betapa si gadis sanggup menahan pukulan
nya. Memang dia lebih matang dan ini kelebihannya. Tetapi, seorang gadis remaja
menangkis pukulan berhawa sinkangnya, benar-benar membuatnya kaget. Kini dia mul
ai melihat kenyataan betapa tugas dan pekerjaan mereka ternyata tidak ringan. Se
baliknya sangat berat. Melirik kawannya, dia semakin khawatir karena kawannya ju
stru sedang dalam desakan Barisan 6 Pedang. Celaka, ternyata orang-orang Lembah P
ualam Hijau tidak bernama kosong pikirnya.
Tapi karena berayal meski hanya sejenak, sekali lagi lengan jubahnya, kali ini y
ang sebelah kanan menjadi korban. Adalah Sian Nio yang setelah menangkis segera
bergerak luar biasa cepatnya mengambil poisisi menyerang dari samping. Meski tid
ak sampai sedetik konsentrasi si Lhama terganggu, tetapi cukup bagi Sian Nio men
girimkan satu sentilan jari saktinya yang memang maha ampuh tersebut. Dan karena
nya segera terdengar benturan lagi:
Srrrrrrrttttttttttt ......
kali ini lengan jubah sebelah kiri yang bolong oleh ja
ri sakti Sian Nio. Sementara si Lhama mulai berkeringat. Dia sadar dia sedikit a
lpa dan memberi kesempatan bagi Sian Nio untuk mengulangi kejadian tadi, yakni m
elubangi lengan jubahnya. Hati si Lhama menjadi semakin sakit ketika mendengar s
uara tertawa cekikikan dari si Gadis:
Hihihihi, lama-lama jubahmu bolong semua pendeta pencuri
Mendengar sindiran yang memalukan itu, si Lhama terpaksa kembali menguras ilmu-i
lmu simpanan perguruannya. Maka kembali dia mengeraskan hati menyerang dengan me
mpersiapkan salah satu ilmu andalan mereka, Bi Ciong kun (Ilmu Silat Menyesatkan
). Ilmu ini adalah warisan dari guru mereka, Thay Pek Lhama yang maha sakti itu.
Dengan ilmu ini, maka jurus dan ilmu yang sederhana bisa membuat lawan kebingun
gan. Karena begitu banyak bayangan palsu yang dilepas, bahkan tubuhpun bisa dipa
lsukan. Ilmu ini memang tehnik sihir khas Tibet dan merupakan ilmu hitam dari da
erah Tibet.
Maka dalam amarahnya, Lhama yang bernama Thay Si Lhama, orang kedua dari 3 murid
utama Thay Pek Lhama, telah mengerahkan sekaligus ilmunya Tam Ci Sin Thong deng
an Bi Ciong kun. Serangan utama tetap pada sentilan jari sakti, tetapi silat Bi
Ciong kun membuat serangan-serangan jari sakti si Lhama akan memiliki bayangan k
embar. Dan akibatnya, Sian Nio seperti menghadapi 3-5 serangan jari sakti secara
serentak. Hanya karena kehebatan ginkang Sian Nio yang akhirnya menyelamatkan s
i Nona dari ancaman lentikan jari sakti yang hebat itu.
Tetapi, Thay Si Lhama yang melihat peluang menangnya membayang di pelupuk mata,
tidak mengendorkan serangan. Sebaliknya, kini dia mencecar Sian Nio dengan seran
gan-serangan berbahaya. Dan kali ini, Sian Nio benar-benar mendapat ujian sesung
guhnya dari apa yang dinamakan pertarungan . Dia harus mengandal kepada kecerdasan
dan bukan semata ilmu silatnya. Dan kini, dia harus dan wajib bersilat dengan pe
nuh perhitungan dan memilah ilmu mana yang pas dan tepat untuk dipergunakan. Dan
untuk hal yang satu ini, Sian Nio memang belum teruji. Kini dia menghadapi kesu

litan sekaligus pengalaman untuk menguji semuanya itu.


Untungnya, meskipun di Lembah Pualam Hijau Kiang Sian Nio banyak menangnya jika
berlatih, tetapi latihan dilakukan secara serius. Jarang sekali proses latih ter
masuk latih tanding dengan membiarkan gadis itu menang dengan mudah. Dan bukan s
ekali Sian Nio dikurung habis-habisan oleh Barisan 6 Pedang untuk memberinya pen
galaman menghadapi lawan yang kuat. Hanya saja, Barisan 6 Pedang tentu saja tida
k berani untuk melukainya. Jauh berbeda dengan lawannya kali ini Thai Si Lhama y
ang sudah murka. Jelas Lhama ini takkan ragu untuk memberinya oleh-oleh tamparan
atau luka yang bisa berakibat gawat. Apalagi kelihatannya Lhama ini tidak lagi
memperdulikan harga dirinya, yang jelas dia merasa harus menghajar Sian Nio baru
merasa puas.
Tapi Thay Si Lhama keliru besar jika beranggapan bahwa Sian Nio akan segera dapa
t dijatuhkannya. Bagaimanapun gadis remaja itu adalah murid dari tokoh dan manus
ia-manusia luar biasa dari Lembah Pualam Hijau, khususnya murid Liong-i-Sinni. D
an gadis itupun adalah anak dari keluarga perguruan ternama. Menghadapi ilmu sih
ir sudah tentu telah dikuasainya dan telah kepada anak gadis ini bagaimana memun
ahkannya. Selain itu, diapun memiliki bekal ilmu yang jauh dari memadai untuk me
nghadapi ilmu sihir . Belum lagi kehebatan ginkang yang menjadi ciri khas diriny
a, sucinya dan tentu juga gurunya. Hanya saja, inilah kali pertama dia menghadap
i ilmu sihir. Otomatis membuat Sian Nio menjadi kelabakan.
Ketabahan dalam pertarungan. Inilah kuncinya. Tidak semua orang bisa menguasai d
an bahkan mempelajarinya. Ketabahan dalam sebuah pertarungan adalah kombinasi pe
rcaya diri, kemampuan silat, kecerdasan, ketelitian dan pengalaman. Seorang pesi
lat yang terdesak hebat tetapi jika memiliki ketabahan, maka akan tersedia banya
k jalan baginya. Tetapi, meskipun berilmu sangat tinggi tetapi tidak memiliki ke
tabahan, maka banyak ilmu-ilmu sakti yang bakalan mubasir. Dan ketabahan tidak d
apat dilatih secara fisik tetapi secara mental.
Sian Nio untungnya memiliki ketabahan ini. Dia ditempa oleh neneknya, dilatih ol
eh kakaknya dan bahkan ilmu kebanggaan kakeknya Kiang Cun Le yang dikuasai hanya
oleh ayahnya, juga telah dikuasainya dengan baik. Pada enam bulan terakhir ini,
Sian Nio boleh dibilang ditempa habis-habisan bukan hanya oleh gurunya, tetapi
juga kakeknya dan bahkan kakaknya. Setelah diharuskan tidur setahun di ranjang Pua
lam Hijau pasca pelariannya dari rumah perguruan Bibi Neneknya sekaligus gurunya
Liong-i-Sinni, diapun dihukum untuk tidak kemana-mana sekaligus digembleng habi
s-habisan.
Selama 6 bulan terakhir dia menerima 2 ilmu hebat dari kakeknya Khong-in-loh-Thi
an (Awan Kosong Menggugurkan Langit) dan sejenis ilmu langkah ajaib yang diberin
ya nama Sian-jin-ci-lou (Dewa Menunjukkan Jalan). Kedua ilmu itu adalah ciptaan
kakeknya Kiang Cun Le yang memang sudah mengundurkan diri dan bertapa di Lembah
Pualam Hijau bersama subonya. Selain itu dari Ceng Liong kakaknya, dia menerima
Ceng Thian Sin Ci yang mujijat dan Tan Cit Pa Siat. Dan diapun diwajibkan subony
a untuk menyempurnakan ilmu Hue-hong-bu-liu-kiam (tarian pedang searah angin) da
n juga ilmu Hun-kong-ciok-eng" (menembus sinar menangkap bayangan).
Ilmu pusaka ciptaan kakeknya Kiang Cun Le hanya diwarisi ayahnya. Tetapi Sian Ni
o dengan bantuan subonya telah meminta Kakeknya untuk membimbingnya langsung dal
am ilmu-ilmu mujijat ciptaannya. Bahkan Ceng Liongpun tidak mewarisi kedua ilmu
pusaka kakeknya itu. Ditambah dengan ilmu andalan dari subonya, maka Sian Nio se
betulnya memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk menandingi Thay Si Lhama. Te
tapi, kekalutan karena diserang oleh ilmu sihir membuat si dara jelita dari Lemb
ah Pualam Hijau ini panik. Untung saja gadis ini membekal ginkang yang mujijat d
ari nenek sekaligus gurunya. Secara otomatis dia melangkah dengan dasar langkah
Sian ji ci lou (dewa menunjukkan jalan) dalam landasan gerak Tee Hun thian yang
mujijat itu.
Maka selamatlah dia dari bayangan pukulan lawan yang membuatnya tergetar. Dan ke
tika lawan kembali mencecar dengan pukulan dan serangan, Sian Nio melihat adanya
kejanggalan. Karena sesekali dia melihat tubuh lawannya seakan terpisah dan men
ciptakan bayangan kembar. Dan penglihatan inilah yang membuat Sian Nio sadar. Di
a teringat sesuatu, Aha, engkau menggunakan ilmu sihir rupanya. Pantas lenganmu b
erubah banyak, jurusmu berubah aneh dan tubuhmu bisa jadi banyak. Hmmmm, akupun
bisa desis si gadis dalam hati. Dan inilah yang namanya gabungan rasa percaya dir

i, kekuatan moral dan kepandaian serta kecerdasan. Ketabahan yang dimiliki Sian
Nio membuat dia mampu membaca secara teliti apa yang sedang dilakukan lawan. Dan
kini dia telah menemukan kuncinya. Sekaligus gadis remaja ini menemukan pengala
man penting bagi seorang pendekar silat.
Dan inilah Hun-kong-ciok-eng" (menembus sinar menangkap bayangan), sebuah ilmu p
usaka dari subonya. Dia memilih ilmu ini, karena memang ilmu inilah yang paling
dikuasainya dibandingkan yang lain. Dia tahu sebagaimana penjelasan gurunya, bah
wa mengerahkan ilmu ini banyak menguras tenaga dan pikiran. Terutama, karena ter
pancar kekuatan mujijat, kekuatan dalam yang sangat besar. Dan untuk mampu menge
rahkannya dengan baik, Sian Nio diwajibkan tidur setahun di atas ranjang Pualam Hi
jau. Dan itu telah dilakukan dan dilewatinya. Apa yang akan terjadi sekarang jika
kukerahkan ilmu subo ? itu yang berada dalam pikiran Kiang Sian Nio sekarang. Mak
lum, dia nyaris kehabisan akal menghadapi Bi Ciong Kun (Ilmu Pembingung) lawan.
Maka menyeranglah Sian Nio dengan Soan Hong Sin Ciang dengan dilandasi oleh ilmu
mujijat Hun Kong Ciok Eng. Dari lengannya menghembus angin badai yang menyertai
serangannya. Dan benar saja, kali ini Bi Ciong Kun kehabisan bisa. Tidak lagi b
isa menipu mata Sian Nio. Maka dengan terpaksa Thay Si Lhama menangkis dengan il
munya Kong-jiu cam-liong (Dengan Tangan Kosong Membunuh Naga). Hanya, kali ini d
ia kalah momentum. Dia masih belum menyadari jika Sian Nio telah menemukan keten
angan batin dan telah menyiapkan diri dengan ilmu khusus penangkal sihir. Bahkan
perbawa ilmu yang dikembangkan Sian Nio juga berubah banyak, membentuk banyak b
ayangan pukulan mengejar dirinya dan membuat Thay Si Lhama kelabakan. Dan pada a
khirnya diapun harus menangkis Soan Hong Sin Ciang dengan persiapan tenaga ala k
adarnya. Kelengahan karena asyik menyerang dan menyangka sudah akan menang membu
at dia jelas kalah tenaga:
Dukkkkkkkk .......... Bresssss hebat, tubuh Thay Si Lhama terdorong sampai beberap
a langkah ke belakang. Maklum, dia baru mampu menghimpun tenaga pertahanan sebes
ar 4 bagian, sementara Sian Nio menyerang dengan kekuatan lebih dari 7 bagian te
naganya. Tanpa ampun Thay Si Lhama terdorong sampai 3-4 langkah. Dan belum lagi
dia berdiri tegak, hamparan pukulan membadai dari Sian Nio telah kembali menjela
ng datang. Dan kali ini, seperti juga beberapa saat tadi Thay Si Lhama pontang-p
anting untuk menyelamatkan dirinya. Dengan cepat keadaan pertarungan keduanya be
rubah. Kini kembali Thay Si Lhama yang terdesak hebat karena gagal mengantisipas
i perubahan ilmu dan jurus lawan.
Namun yang sebenarnya terjadi, Thay Si Lhama tidak menduga jika Sian Nio telah j
uga membekal ilmu yang menolak dan menaklukkan ilmu sihir. Tadinya, dia melihat
Kiang Sian Nio yang pontang panting menyelamatkan diri, terhipnotis dan seperti
tidak berdaya untuk bertarung terus. Herannya, anak gadis itu masih bisa cepat m
enemukan dirinya dan kemudian bahkan sanggup memunahkan ilmu sihir yang dikerahk
annya dalam ilmu-ilmu pukulan menyerang. Dan harga dari kelalaiannya adalah dia
kini terdesak hebat. Bahkan sekali lagi sebuah pukulan dari Sian Nio terpaksa ha
rus ditangkisnya dengan tenaga seadanya:
Dukkkkkk ...... akibatnya, kembali tubuhnya terdorong sampai sejauh 5 langkah kebe
lakang. Lebih jauh dari benturan sebelumnya. Untung baginya, Sian Nio tidak berk
einginan untuk melukai atau membunuhnya. Dalam pikiran remajanya, jika Thay Si L
hama kalah, maka dia pasti akan minta maaf dan kemudian selesai semuanya. Tetapi
bukan pikiran polos ala remaja jelita itu yang terjadi. Bukannya mengejar lawan
dan melumpuhkannya, Kiang Sian Nio justru hanya sekedar memandang lawan yang te
rdorong mundur sambil tersenyum dan berkata:
Pendeta, apakah engkau belum mau mengakui kekalahanmu .... ? pertanyaan yang wajar,
tetapi bagi si Lhama adalah pertanyaan kurang ajar. Dan sudah jelas pertanyaan
itu membangkitkan hawa amarah. Dengan mati-matian Lhama Tibet itu menekan rasa m
arah yang menggelegak dan membludak dalam dadanya. Sungguh sulit baginya menerim
a kekalahan itu. Dan kemarahan yang tertahan membuatnya setengah kalap dan akhir
nya dia memutuskan kembali menyerang:
Aku belum kalah bangsat kecil ...... terima pembalasanku
Lhama Tibet itu menyerang hebat dan kali ini dengan mengerahkan tenaga sebesarny
a guna membalas kekalahan dan rasa malunya. Dan keduanya kembali terlibat dalam
perkelahian seru. Keadaan menjadi lebih baik bagi si Lhama, karena sebetulnya me
ski menang tetapi Sian Nio tidak akan mampu mengalahkan Lhama itu dalam waktu si

ngkat. Tingkat keduanya tidak berbeda jauh, terutama karena Sian Nio memang masi
h mentah dan kurang pengalaman tempur. Sementara keduanya bertarung, di arena sa
tu lagi Barisan 6 Pedang juga mengurung Lhama yang seorang lagi. Orang tertua da
ri 3 Lhama murid Thay Pek Lhama, dan namanya adalah Thay Ku Lhama. Meski kepanda
ian Thay Ku Lhama masih melebihi Thay Si Lhama, tetapi menghadapi Barisan 6 Peda
ng dia keteteran.
Sementara itu, pertarungan mereka yang seru telah membangunkan beberapa penghuni
kamar di lantai bawah. Termasuk membangunkan Beng Kui, Giok Tin dan Giok Li. Da
n Giok Li yang penuh rasa ingin tahu, telah menyeret kakaknya Giok Tin untuk men
getahui apa dan siapa gerangan yang sedang bertempur. Karena pertempuran itu ter
jadi tak jauh dari ruangan mereka. Khawatir Giok Li kembali menimbulkan urusan d
an mengejar seseorang hingga menghilang , Cui Giok Tin dengan terpaksa mengiyakan.
Dan betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat lewat pintu kamar yang terbu
ka dan didalamnya ada 9 orang yang sedang bertempur seru. Keduanya kaget dan kag
um ketika menyaksikan bagaimana seorang Kiang Sian Nio yang adalah seorang gadis
dan seperti Giok Li masih sangat muda, tetapi mampu mendesak Thay Si Lhama.
Enci, lihat, gadis itu lihay juga. Padahal Pendeta itu menyerang dengan ganas, te
tapi dia selalu mampu menangkis dan balas mendesak dengan hebat
Hmmmm, benar adikku. Tapi jangan ikut campur sebelum benar-benar paham persoalan
mereka yang sebenarnya Giok Tin mengiyakan sambil mengingatkan adiknya. Tetapi, d
iapun memang mengagumi si gadis remaja dalam kamar yang bersilat dengan sebat, c
epat dan ilmunya mantap meyakinkan. Dan keduanya hanya tersenyum tanpa melirik k
etika Tham Beng Kui sang suheng bergabung dan ikut menyaksikan pertarungan dalam
kamar sempit tersebut. Bahkan dengan usilnya si nakal Giok Li menyapa toa suhen
gnya dengan berkata:
Toa suheng, lihat gadis di dalam itu hebat sekali
Hmmmm, engkau benar siauw sumoy Beng Kui melirik sebentar Giok Li sambil kemudian
kembali memandang kearena pertempuran yang seru. Diapun heran dan kagum, karena
kepandaian gadis dalam ruangan itu sungguh hebat. Bahkan bukan tidak mungkin ber
ada sejajar atau di atas kemampuan mereka kakak beradik seperguruan. Itulah seba
bnya sebentar saja Beng Kui menyahuti adiknya itu.
Tapi yang lebih hebat lagi, dia cantik jelita toa suheng, hihihihi
Tanpa terasa wajah Beng Kui memerah. Hal yang mengherankan Giok Tin, karena hamp
ir tidak pernah toa suheng mereka ini memerah mukanya hanya karena urusan seoran
g gadis. Tapi kali ini? Ada apakah?. Tapi benar-benar jail Giok Li ini. Melihat
toa suhengnya memerah mukanya diapun segera berkata:
Tenang saja toa suheng, siauw sumoymu yang cantik ini pasti akan berusaha sekeras
-kerasnya untuk membantumu mengenalnya
Sembarangan .... Beng Kui membentak lirih, tetapi dia benar-benar memang tidak tah
u kalimat apa yang tepat untuk dikeluarkan. Selebihnya, daripada meladeni ocehan
Giok Li, dia memilih untuk berdiam diri dan memandang ke dalam ruangan dimana p
ertarungan seru sedang berlangsung.
Pada saat itu, Thay Ku Lhama sedang didesak oleh kerjasama yang luar biasa rapih
dan ampuh dari Barisan 6 Pedang. Jangankan seorang diri, bertiga bersama adik a
dik seperguruannyapun, belum tentu dia menang. Sudah beberapa kali jubahnya menj
adi korban dari sayatan pedang lawan. Untungnya, Barisan 6 Pedang hanya berkehen
dak untuk mengajar adat dan tidak berniat melukai lawan. Tetapi, Thay Ku Lhama y
ang keras kepala tidak menyadarinya. Dia telah mencoba semua kesaktiannya, terma
suk kekuatan Bi Ciong Kun dan ilmu sihir. Tetapi semua tertolak dan mental oleh
gabungan kerjasama luar biasa dari Barisan 6 Pedang.
Kemanapun dia menyerang dalam waktu singkat dapat dipunahkan, bahkan dalam waktu
yang sama dia menerima serangan ganda dari sekurangnya 2 atau tiga orang anggot
a barisan. Akibatnya Lhama itu menjadi marah, tetapi tetap tidak mengerti bagaim
ana cara memunahkan serangan barisan lawan yang sangat istimewa. Sebaliknya, ber
kali-kali dia terancam, tetapi diselewengkan oleh penyerangnya yang nampaknya ti
dak ingin melukainya dengan parah. Sayang hal ini dilihat sebagai penghinaan ole
h Thay Ku Lhama.
benar-benar kalian sungguh menghina ....... rasakan pembalasanku maka menyeranglah
Thay Ku Lhama dengan jurus-jurus dari ilmu simpanannya, termasuk mengerahkan il
mu sihirnya. Tetapi, meski telah menggunakan Pukulan Udara Kosong dan Bi Ciong K

un andalan gurunya, Barisan 6 Pedang tidak pernah terdesak. Malah sebaliknya, ge


taran kekuatan sihirnya terpental dan tidak mampu menunjukkan keampuhannya. Dan
dalam waktu tidak lama, kembali Thay Ku Lhama didesak oleh desingan hawa pedang
yang memutari tubuhnya dan sewaktu-waktu akan menggores lengan, kaki, pundak ata
u anggota badan lainnya.
Diam-diam Lhama itu bergidik. Bukan main, barisan ini memang benar-benar sulit di
terobos. Bayangan dan desingan pedang berada dimana-mana. Dimanakah Suhu dan sia
uw sute gerangan? dalam suasana terdesak seperti itu, Thay Ku Lhama mulai berhara
p bantuan dari gurunya serta juga adik seperguruannya. Termasuk adik seperguruan
nya yang melarikan diri memancing lawan meninggalkan kamar. Tetapi harapannya it
u masih belum menjadi kenyataan, sebaliknya posisinya semakin runyam. Mau mengak
u kalah sungguh memalukan. Tetapi, melawan terus juga jelas tidak akan menguntun
gkan mereka.
Dia mulai menyayangkan tindakan mereka bertiga yang memang sombong dan keras kep
ala. Tadinya guru mereka melarang untuk bergerak dan meminta mereka menunggu wak
tu yang tepat. Tetapi karena pandang enteng dan beranggapan lawan-lawan di Tiong
goan tidak memadai kepandaian dengan mereka bertiga, maka mereka memutuskan send
iri untuk menyerang. Maklum, selama ini mereka memang belum pernah terkalahkan j
ika maju bertiga di Tionggoan. Bahkan menemukan tandingan dalam perang tanding s
atu-lawan-satu juga sulit menemukan lawan. Itulah sebabnya mereka memutuskan sen
diri untuk menyerang rombongan Thian San Pay tanpa mereka tahu di penginapan kot
a Ceng seng telah menunggu barisan 6 pedang dan pihak Lembah Pualam Hijau. Akhir
nya, mereka meninggalkan suhu mereka Thay Pek Lhama dengan murid bungsunya di lu
ar kota Ceng seng.
Tapi, ternyata harapannya bukan harapan kosong. Bantuan memang datang. Tetapi ya
ng datang bukannya gurunya bersama adik perguruannya, tetapi orang-orang berpaka
ian hijau dan berkedok hijau. Tiba-tiba melayang turun di depan pintu 4 bayangan
berjubah dan berkedok hijau. Gaya ginkang mereka sungguh luar biasa, tak diragu
kan ke-empatnya adalah tokoh-tokoh hebat yang bersembunyi dibalik jubah dan kedo
k hijau. Tetapi, entah siapa mereka ini? Karena bukankah salah seorang dari mere
ka yang berjubah dan berkedoh hijau itu justru telah terbunuh di sekitar Bu Tong
San beberapa bulan sebelumnya. Kali ini, siapakah mereka sesungguhnya dan apa m
aksud mereka?
Begitu sampai di depan pintu, tanpa menyapa dan menghiraukan Beng Kui bertiga, m
ereka sudah menuju ke pintu masuk. Untungnya Kiang Sian Nio dan Barisan 6 Pedang
sudah bersiaga. Bahkan terdengar suara dari Sian Nio:
Paman-paman, bentuk Barisan 6 Pedang, hadang mereka ..... dan efek dari suara yang
dikeluarkan Sian Nio tersebut terbukti manjur. Barisan 6 Pedang segera membentu
k barisan menghadang 4 pendatang baru, manusia berjubah dan berkedok hijau. Seme
ntara Thay Ku Lhama, begitu melihat datangnya pertolongan sudah meloncat mundur
guna memulihkan semangat dan tenaganya yang sudah terkuras habis itu.
Teriakan Kiang Sian Nio juga mengundang bantuan bagi mereka. Begitu Beng Kui men
dengar bahwa yang bertempur di dalam adalah Barisan 6 Pedang, maka dia sudah den
gan cepat memutuskan siapa yang harus dibela. Barisan 6 Pedang sudah identik den
gan Lembah Pualam Hijau, dan Thian San Giokli telah memberitahu murid-muridnya m
asalah ini. Karena itu, Beng Kui, Giok Tin dan Giok Li segera saling pandang, da
n ketiganya sepakat untuk turun tangan membantu. Dan, memang benar, Lembah Puala
m Hijau sedang butuh bantuan, karena ke-empat orang yang baru datang itu adalah
orang-orang berkepandaian yang sangat hebat. Bahkan masih jauh mengatasi Thay Ku
Lhama yang dipermainkan oleh Barisan 6 Pedang sebelumnya.
Menghadapi Barisan 6 Pedang Lembah Pualam Hijau, ke-4 manusia berjubah dan berke
dok hijau nampaknya tidaklah takut. Sebaliknya, salah seorang dari mereka telah
berkata dengan pongahnya:
Menghadapi kalian kami tidak takut, tetapi jika menghadapi Duta Perdamaian dalam
Barisan 6 Pedang, baru kami berpikir tiga kali , nampaknya ke-4 orang itu begitu m
emahami seluk beluk Lembah Pualam Hijau. Termasuk memahami seluk beluk Barisan 6
Pedang yang telah melatih sampai 3 barisan untuk mendukung Barisan 6 Pedang uta
ma yang tokoh-tokohnya menjadi Duta Perdamaian Lembah Pualam Hijau pada masa lal
u. Tepatnya pada masa Lembah Pualam Hijau memegang tampuk pimpinan tertinggi rim
ba persilatan Tionggoan sebagai BENGCU. Sayang jabatan itu telah ditanggalkan Ce

ng Liong, meski Siauw Lim Sie, Bu Tong dan Kay Pang tetap memperlakukan Lembah P
ualam Hijau secara istimewa.
Siapapun yang mencoba mengganggu sahabat-sahabat Lembah Pualam Hijau serta berusa
ha merebut benda-benda sahabat kami, akan kami lawan mati-matian pemimpin dari Ba
risan 6 Pedang telah menyahut dengan beraninya. Tidak nampak rasa takut di wajah
nya, yang ada adalah keyakinan dan kematangan selaku seorang Pendekar. Tepat, ka
rena dia memang menyandang nama besar Lembah Pualam Hijau yang legendaris di rim
ba persilatan.
Baiklah, jika begitu kamipun ingin berkenalan lebih jauh dengan Barisan 6 Pedang
Lembah Pualam Hijau .... berkata salah seorang manusia berjubah dan berkedok hija
u itu. Tetapi, belum lagi mereka menyerang, pada saat itulah berkelabat masuk 3
orang muda lainnya, Tham Beng Kui, Cui Giok Tin dan Cui Giok Li yang langsung me
nyapa Barisan 6 Pedang dan Kiang Sian Nio:
Murid-murid Lembah Salju Bernyanyi siap membantu ..... adalah Beng Kui yang mengel
uarkan suaranya tepat ketika mereka bertiga kini berdiri bersama Barisan 6 Pedan
g untuk menjaga barang antaran yang ditempatkan di sudut ruangan, dekat ranjang
tempat istirahat.
Hahahaha, inilah rupanya murid-murid Lembah Salju Bernyanyi. Hmmmm, tidak buruk,
tidak buruk
Siapapun yang memusuhi Lembah Pualam Hijau akan juga bermusuhan dengan Lembah Sal
ju Bernyanyi tegas Beng Kui dengan berani dan penuh semangat. Sampai Kiang Sian N
io yang juga mendengar ucapan Beng Kui terperangah kaget sekaligus senang karena
mendapatkan bantuan. Tentu saja dia telah mendengar berita mengenai Lembah Salj
u Bernyanyi yang konon menurut kakaknya masih memiliki hubungan perguruan dengan
mereka. Sekilas dia melirik Beng Kui, dan dia harus mengakui kalau anak muda it
u menarik hati. Nampak gagah dan kokoh, penuh ketenangan dan berwibawa.
Tapi, akibat lamunannya itu, dia nyaris termakan pukulan lawannya. Karena itu, d
ia akhirnya memutuskan untuk berkonsentrasi menghadapi Thay Si Lhama dan bahkan
mulai berpikir menyelesaikan lawannya itu. Soalnya musuh bertambah kuat sementar
a dia belum menyelesaikan perlawanan Thay Si Lhama. Berpikir demikian, maka Kian
g Sian Nio kembali mengetatkan serangan, bahkan kini dia kembali mulai menyerang
dengan ilmu-ilmu andalannya.
Sementara itu Barisan 6 Pedang telah bertempur dengan salah seorang dari ke-empa
t pendatang. Hebat, mereka mampu menahan dan mendesak tokoh yang masuk menghadap
i mereka. Barisan 6 Pedang memang istimewa. Secara perorangan, salah seorang dar
i mereka pasti kalah menghadapi lawannya, bahkan mungkin hanya seimbang dengan T
hay Ku Lhama. Tetapi, jika mereka bergabung, maka kekuatan dahsyat akan diperole
h dari gabungan kerjasama dan sekaligus gabungan tenaga sinkang. Itulah yang mem
buat Barisan 6 Pedang begitu terkenal dan sekaligus termasyur.
Seperti juga pertempuran kali ini. Barisan lapis kedua ini, orang-per-orang mala
han kalah jika diadu dengan Thay Ku Lhama. Tetapi, ketika bertempur bersama, mer
eka mampu mempermainkan Thay Ku Lhama. Bahkan serangan sihir Lhama itu mampu mer
eka tolah dan mentahkan. Seandainya mereka mau, dalam beberapa gebrakan mereka a
kan sanggup melukai dan mengalahkan Thay Ku Lhama. Tetapi mereka tidak melakukan
nya, sebaliknya mereka sekedar menghajar si Lhama agar sadar akan kekeliruannya.
Sayangnya, bukan demikian akhirnya. Musuh malah bertambah tangguh, dan kini mer
eka menghadapi musuh baru.
Meski demikian, Barisan 6 Pedang ini sama sekali tidak goyah. Meski lawan mereka
jauh lebih hebat dibandingkan Thay Ku Lhama, tetapi mereka masih mampu menahan
serangan lawan dan bahkan menyerang lebih sering dan lebih kuat. Hal ini membuat
tokoh-tokoh berjubah dan berkedok hijau itu menjadi kaget dan terkejut. Sekali
pandang mereka sadar jika kawan mereka tidak akan menang. Karena kawan mereka be
rhadapan dengan barisan yang bergerak rapih saling bantu dan mampu menyatukan te
naga hingga menjadi gabungan tenaga 6 orang. Kawan mereka lebih sering diserang
dan terdesak ketimbang melakukan serangan.
Benar, keadaannya memang demikian. Tokoh berjubah dan berkedok hijau yang tadiny
a sesumbar mau mengalahkan Barisan 6 Pedang, semakin lama semakin terdesak. Mesk
i tidak separah Thay Ku Lhama, tetapi jika dibiarkan terus bertarung, bisa dipas
tikan dia akan terkalahkan. Paling tidak akan terluka. Dan tokoh itu bukan tidak
menyadari posisinya yang semakin kalut itu. Ketika mencoba dengan ilmu-ilmu and

alannya, semuanya tidak membuatnya menjadi dalam posisi lebih menyerang, karena
setiap satu serangannya akan segera dibalas oleh rangkaian serangan membadai dar
i sekaligus 3-5 pedang anggota barisan. Itulah sebabnya, lama kelamaan tokoh itu
mulai terlihat gelisah. Bahkan keringat tak dapat disembunyikan oleh orang ters
ebut.
Keadaan kawan mereka yang terdesak tak terlepas dari pengamatan ketiga manusia b
erjubah dan berkedok hijau itu. Bahkan salah seorang dari mereka yang bertubuh p
aling kurus dan paling langsing, nampak sudah gatal tangan untuk segera turun ta
ngan. Benar saja, tak lama kemudian Barisan 6 Pedang menerima seorang lagi dari
manusia berjubah dan berkedok hijau itu. Itu terutama setelah mereka mampu mende
sak dan nyaris menusuk lengan kanan manusia berjubah hijau yang sudah mereka des
ak itu.
Hyaaaaaaaaatttttttttttt ...... dengan suara melengking, mirip suara seorang wanita
satu lagi manusia berjubah dan berkedok hijau masuk ke dalam Barisan 6 Pedang.
Dan kelihatannya orang kedua ini tidak disebelah bawah kepandaiannya dengan oran
g yang pertama. Tetapi kedatangannya sungguh membantu banyak. Bahkan mengatur da
n menentukan keseimbangan pertempuran tersebut. Jika sebelumnya kedudukan manusi
a berjubah hijau selalu terdesak, maka masuknya orang kedua ini membuat pertempu
ran menjadi lebih seru. Kedudukan nampaknya menjadi lebih seimbang, meski sebetu
lnya kuantitas serangan masih lebih banyak dilakukan oleh Barisan 6 Pedang.
Sungguh hebat Barisan ini ..... terdengar seorang manusia berjubah hijau bergumam
tanda heran dan kagum akan kehebatan Barisan tersebut.
Benar, tetapi kita harus menyelesaikan tugas kita ..... ujar manusia berjubah hija
u yang seorangnya lagi.
Baiklah, lebih cepat kita menyelesaikannya jauh lebih baik .... dan sambil berkata
demikian, Manusia berjubah hijau yang masih tersisa dua lagi itu nampak berjala
n mendekati tumpukan barang. Tetapi, langkah kaki mereka terhalangi oleh ketiga
anak muda yang kini berdiri menentang mereka.
Jika menjadi kalian, maka aku akan memilih menyingkir daripada membela mereka yan
g sebentar lagi akan menghadap malaikat maut ....
Hmmmm, belum tentu. Orang jahat akan selalu terkalahkan, hanya soal waktu dengan g
agah Beng Kui menjawab dan berkeras menghalangi upaya ke dua manusia berjubah hi
jau itu.
Kalah begitu, maafkan kami akan berlaku keras kepada kalian orang muda ... selepas
berkata demikian, seorang dari Manusia berjubah hijau itu telah menyerang. Teta
pi, sebelum Beng Kui menangkis serangan itu, Giok Li telah maju menggantikan sam
bil berkata:
Toa Suheng, engkau masih harus memperhatikan semua arena, biar aku yang melawanny
a dan sambil berkata demikian Giok Li telah menyongsong serangan lawan. Hanya saj
a, berbeda dengan pertarungan sebelumnya, Giok Li menjadi kaget, karena lawannya
sungguh luar biasa hebatnya. Benturan pertama telah membuat tangannya tergetar
dan terdorong mundur tanda bahwa lawan memang hebat. Tetapi, untungnya Giok Li t
elah mengalami kemajuan yang tak diduganya beberapa jam yang baru berlalu. Karen
a itu, dia menjadi besar hati dan memiliki kepercayaan diri yang meningkat jauh.
Hanya saja, kali ini dia bertemu lawan yang benar-benar hebat. Dan dia harus be
rjuang untuk melawan orang itu.
Sementara itu, Beng Kui telah diserang oleh Manusia berjubah hijau yang satunya
lagi. Dan sama seperti Giok Li, Beng Kui menemukan kenyataan betapa lawannya mem
ang sangat hebat. Bahkan harus diakuinya, lawan masih lebih kuat dan lebih hebat
daripadanya. Yang menguntungkannya adalah, dia mewarisi kekuatan dari Neneknya
dan proses peleburan tenaga saktinya masih sedang terus berlangsung. Berhadapan
dengan orang kuat, justru akan sangat membantu proses peleburan itu. Prosesnya a
kan berlangsung lebih cepat. Hanya saja, hal ini tidak disadari oleh Beng Kui. Y
ang pasti, semakin sering dia bertarung dengan adu tenaga, semakin kuat landasan
tenaganya. Karena benturan itu merangsang peleburan tenaga sakti neneknya kedal
am dirinya.
Itulah sebabnya Beng Kui heran, mengapa tenaga dalam lawannya pada awalnya sanga
t kuat, tetapi lama kelamaan terasa biasa saja baginya. Dia tidak menyadari, jik
a lawannya itu justru seperti sedang membantunya. Meskipun setiap benturan dia m
erasa seperti tidak tahan, tetapi dalam sekali atau dua kali menarik nafas, dia

merasakan kesegaran yang lebih. Dia kurang menyadari kalau sedang terjadi proses
peleburan. Dan lawan yang lebih kuat, justru membantunya untuk meningkatkan pro
ses dan kualitas peleburan itu. Hakekatnya, Tham Beng Kui sebenarnya sedang berl
atih pada saat itu. Hanya, dia kurang menyadarinya.
Adalah Giok Li yang memang benar-benar keteteran. Dia memang kalah kuat meskipun
tenaga sinkangnya telah mengalami kemajuan pesat beberapa waktu sebelumnya. Han
ya, tetap saja sulit baginya untuk mengimbangi lawan, apalagi dalam ruangan yang
sempit itu. Sementara itu, Beng Kui dan lawannya telah bergerak keluar dari rua
ngan kamar dan telah mulai bertarung di halaman depan kamar. Keduanya bertarung
dengan Beng Kui lebih banyak bertahan, namun kedudukannya tidaklah mengkhawatirk
an.
Giok Tin mengalihkan pandangan ke Barisan 6 Pedang. Tidak salah, Barisan itu mem
ang sangat mujijat. Mereka sanggup menghadapi 2 manusia berjubah yang sangat heb
at. Mereka tidak nampak terdesak, meski kedua tokoh berjubah dan berkedok hijau
itu telah mengerahkan tenaga dalam dan kekuatan sihir untuk memoprak-porandakan
barisan lawan. Bukannya mengendor, Barisan itu malah semakin ketat dan semakin b
ekerjasama dengan sangat baiknya. Akibatnya, pertarungan tersebut menjadi sangat
seru dan seimbang. Sulit menentukan siapa yang akan menang nantinya.
Di arena Sian Nio, Giok Tin melihat bagaimana dara remaja itu kini mulai menguas
ai arena. Hal ini disebabkan si dara remaja telah mengeluarkan ilmu saktinya Cen
g Thian Sin Ci yang menyebabkan semua jemarinya kini bagai bercahaya tajam. Giok
Li sendiri kaget melihat perbawa ilmu ajaran kakaknya ini. Semua jemarinya dala
m puncak pengerahan kekuatannya seperti berpijar dan lawannya kini takut beradu
lengan apalagi jari dengannya. Karena getaran kekuatan di tangan dan jarinya mam
pu menggetar dan menggiring tenaga lawannya untuk diarahkan ke benda atau orang
lain. Lhama lawannya nampak hampir kehabisan bensin, sebentar lagi pasti Sian Ni
o akan mengalahkan lawannya.
Sementara itu melirik keadaan adiknya, Giok Li, dia semakin heran. Mengapa dalam
waktu beberapa jam saja kekuatan adiknya kini bahkan sudah menyamainya? Jika di
adu, dia yakin bahwa kekuatan Giok Li adiknya, kini tidak lagi jauh tertinggal d
ari dirinya. Hal ini mengherankannya. Karena semua ilmu Giok Li masih tetap sama
. Hanya kekuatannya sajalah yang meningkat secara tajam. Dan kini dia menyaksika
n adiknya berkelahi meski sedang terdesak. Tapi lawan adiknya itu memang hebat l
uar biasa, dia sendiri kelihatannya tak akan sanggup melawan manusia berjubah da
n berkedok hijau itu.
Setelah melihat keadaan adiknya yang berbahaya, Giok Tin memutuskan untuk memban
tunya. Didahului dengan ucapan:
Adikku, aku datang membantumu ....... masuklah Giok Tin kedalam pertarungan itu. K
edatangannya memang banyak membantu karena Giok Li semakin terdesak dan sulit un
tuk menemukan ruang lebih karena sempitnya ruangan. Dengan bantuan kakaknya, ked
uanya bisa saling membantu dan saling melindungi. Dan benar saja, masuknya Giok
Tin banyak membantu keseimbangan pertempuran. Giok Li dan Giok Tin yang menghada
pi lawan berat jadi lebih banyak menangkis dan bertahan dengan mengutamakan pert
ahanan diri. Dan itulah yang meyelamatkan keduanya dari kekalahan. Lawan memang
hebat, tetapi dengan gabungan Swat Im Sinkang dan Tenaga Salju Awan Putih, merek
a bergabung untuk menahan serangan musuh. Ilmu Langkah Kilat mereka kurang berma
nfaat karena ruangan terlampau sempit dan mereka harus berbagi arena dengan kawa
n-kawan lain.
Sementara itu, Sian Nio kembali dalam posisi runyam. Dia kini dikerubuti dua ora
ng Lhama, yakni Thay Ku Lhama dan Thay Si Lhama. Melawan salah seorang saja, Sia
n Nio harus mengerahkan semua kekuatannya untuk menang. Kini, dia melawan dua or
ang Lhama sekaligus. Hal ini memusingkannya, tetapi dia tidak dapat berbuat apaapa selain harus melawan. Dan dalam hal ini dia diuntungkan oleh gerak tubuhnya
yang memang luar biasa cepat dan pesat. Dengan sangat terpaksa, diapun menggunak
an Ceng Thian Sin Ci warisan kakaknya untuk membantu menangkis dan menghalau ser
angan musuh.
Satu hal positif yang dipelajarinya adalah, ternyata meski kekuatan tenaganya le
bih lemah dibandingkan gabungan tenaga lawan, tetapi kekuatan di jarinya mampu m
embuat serangan lawan terpeleset . Dengan beberapa kali percobaan, dia menemukan ke
nyataan betapa dia mampu menyingkirkan atau mengebut gabungan tenaga lawan hingg

a mengurangi bebannya. Penemuan ini sangat menggirangkan hatinya dan diam-diam d


ia berterima kasih kepada kakaknya yang mewarisinya ilmu yang sangat bagus ini.
Pada akhirnya, semua arena pertarungan berlangsung secara seimbang. Dan sulit un
tuk ditentukan kalah menangnya dalam waktu dekat. Hal ini mengejutkan kedua bela
h pihak. Bukan hanya penyerang yang kaget menemukan kenyataan betapa mereka meng
hadapi perlawanan yang luar biasa. Tetapi, para penyerangpun terlihat kaget kare
na tidak menduga akan ada dua kekuatan yang mengincar mereka. Bukan hanya mengin
car barang, tetapi nampaknya juga mengincar keselamatan mereka. Boleh dibilang m
ujur bagi mereka mendapatkan bantuan dari 3 orang kakak beradik dari Lembah Salj
u Bernyanyi.
Sedang seru-serunya pertandingan di dalam maupun luar ruangan penyimpanan barang
antaran itu, tiba-tiba berkelabat sesosok tubuh. Cepat sekali memasuki ruangan
dan dengan kecepatan yang luar biasa telah mendekati tumpukan barang antaran ter
sebut. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya. Terutama karena semua jag
o dalam ruangan telah terlibat dalam pertempuran seru yang tidak bisa begitu saj
a ditinggalkan. Dan sosok tubuh itu begitu dekat telah melontarkan sebuah pukula
n yang luar biasa hebatnya. Angin pukulan menderu-deru dari tangannya dan mengar
ah ke barang antaran yang disimpan dalam ruangan itu.
Tetapi belum lagi serangan itu mengenai tempatnya tiba-tiba terdengar suara perl
ahan namun sangat tegas dan tenang:
Perlahan anak muda, barang-barang tersebut sama sekali tiada dosanya dan serangkum
hawa yang juga sangat kuat telah mengalir keluar dari seorang pemuda yang tahutahu telah menghalangi serangan si anak muda. Dan benturanpun tidak terelakkan a
ntara si anak muda pendatang yang sekilas usianya tidak jauh berbeda dengan Giok
Li maupun Sian Nio. Paling banyak berusia 19 atau 20 tahun. Tetapi angin pukula
nnya tidak kalah hebat dibandingkan dengan Giok Li ataupun Sian Nio. Tanda bahwa
anak muda ini juga sangatlah hebat kemampuannya.
Duaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr ....... dan tubuh si anak muda pendatang telah terdorong j
auh ke belakang, bahkan sampai terhuyung-huyung. Dia tidak menyangka jika masih
ada tokoh yang menjaga atau berjaga di balik barang-barang hantaran itu. Lebih k
aget lagi, karena orang yang berjaga itu ternyata masih berada di atas kemampuan
nya. Terbukti dia terlempar jauh ke belakang dalam benturan tenaga sakti tadi. D
an dalam kagetnya, dia melihat kini telah bertambah seorang lagi anak muda yang
berdiri kokoh dan tangguh di depan barang hantaran yang menjadi target mereka un
tuk direbut atau dirusakkan.
Siapa gerangan orang itu? Inilah murid pewaris Ilmu Lembah Pualam Hijau dari gar
is Kiang Tek Hong. Tokoh muda itu adalah Thio Su Kiat. Karena itu, wajar jika si
anak muda pendatang tidak sanggup menghadapinya. Anak muda yang telah matang da
n menjadi salah satu Duta Hukum Lembah Pualam Hijau, sudah tentu bukan lagi toko
h sembarangan. Dan Thio Su Kitalah yang mendapat tugas memimpin Barisan 6 Pedang
untuk menyambut kedatangan utusan Thian San Pay yang membawa kado dan mas kawin
atas nama Nenggala. Dan sudah tentu Thio Su Kiat sudah dibekali informasi betap
a Lembah Pualam Hijau kini menjadi target banyak musuh untuk diperangi. Terutama
bekas-bekas tokoh Thian Liong Pang yang menaruh dendam kepada mereka. Karena it
u, Thio Su Kiat telah mengatur dengan jeli strategi melindungi utusan Thian San
Pay dan barang-barang yang dibawanya. Dalam perjalanan, tahu-tahu Sian Nio telah
bergabung. Su Kiat kurang mengerti, apakah atas seijin Duta Agung ataukah tidak
.
Anak muda, belajarlah sopan-santun sedikit. Dan hargailah barang-barang yang dian
tarkan untuk keperluan tertentu ..... tegur Su Kiat dengan suara keren sambil mem
andang tajam ke arah si anak muda yang pukulannya dia tangkis tadi. Tapi dalam h
erannya, dia melihat seorang anak muda yang masih remaja, seusia dengan Kiang Si
an Nio. Dan nampaknya juga seusia dengan Cui Giok Li gadis remaja yang telah dis
aksikannya ikut membantu pihaknya. Tapi Su Kiat tidak bisa berlama-lama dalam ke
kagetannya. Karena tiba-tiba dia mendengar sebuah suara peringatan yang ditujuka
n kepadanya:
Saudara Su Kiat, cepat menyingkir ...... tahu-tahu tanpa diketahuinya kapan, disam
pingnya telah berdiri seorang anak muda lainnya lagi. Usianya lebih muda darinya
, tetapi bukan orang dan usia lebih muda darinya yang penting, tetapi posisi ora
ng itu yang nampak sedang mengerahkan seluruh kekuatannya. Dan tanpa berayal dia

segera bergeser mengikuti saran pemuda yang memang sudah dikenalnya, Souw Kwi S
ong. Apalagi ketika tiba-tiba dirasakannya adanya kesiuran angin pukulan yang lu
ar biasa hebatnya sedang menerpa mereka.
Kwi Song yang entah darimana datangnya, melangkah maju dua langkah dalam hitunga
n nyaris kurang sedetik dan kemudian melepaskan pukulannya memapak pukulan orang
yang mengarah ke Thio Su Kiat tadinya. Tak ada yang menyaksikan dan tak ada seo
rangpun yang menyadari. ketika sesosok tubuh yang bagaikan melayang dan tidak se
dikitpun mengeluarkan suara telah melesat masuk dan sedang dalam posisi melontar
kan pukulan. Bahkan Su Kiat yang lihaypun tidak menyadarinya. Untungnya ada seor
ang Kwi Song yang sekali pandang langsung mengenali orang maha sakti yang sedang
menyerang.
Dengan tidak ragu-ragu Kwi Song mengerahkan segenap kekuatannya dan melontarkan
pukulan Tay Lo Kim Kong Sin Ciang. Salah satu ilmu ampuh dan mujijat dari Siauw
Lim Sie. Dan kali ini dikerahkan dalam puncak kekuatan oleh seorang tokoh paling
hebat yang dimiliki Siauw Lim Sie dewasa ini. Penyerangnya sampai saat memasuki
ruangan itu tidaklah jelas terlihat. Namun pastilah dia melihat Souw Kwi Song y
ang menggantikan Su Kiat untuk memapak pukulannya. Dia heran tapi mendengus keti
ka melihat pukulan yang cukup dikenal keampuhannya itu. Dan terdengarlah dengusa
n menghina dari mulutnya:
Hmmmm, Tay Lo Kim Kong Sin Ciang ......
Desssssssssss ........ Orang-orang disekitar arena sama sekali tidak menyadari jik
a dalam ruangan itu baru saja terjadi benturan hebat antara dua orang sakti. Sea
ndainya arena mereka tidak dibatasi oleh kekuatan yang tidak nampak, maka bentur
an kekuatan mereka pasti akan mengguncang isi ruangan. Tetapi, Kwi Song demi mel
indungi benda-benda di belakangnya telah mengerahkan kekuatan mujijatnya. Akibat
nya, benturan keduanya total melanda Kwi Song dan lawannya. Tubuh yang melayang
menyerangnya terhenti sejenak di udara, sementara Kwi Song melangkah mundur samp
ai dua langkah baru kemudian tegak kembali. Jelas kelihatan kalau Kwi Song masih
kalah seurat, namun demikian tidaklah berarti dia telah terkalahkan. Adu tenaga
sakti tadi telah menghadirkan kesan dan impresi berbeda antara kedua orang itu.
Souw Kwi Song terbelalak, karena kembali dia bertemu tokoh mujijat. Meskipun kek
uatan dan ilmunya telah menanjak secara luar biasa, tetapi akhir-akhir ini dia s
ering bertemu tokoh yang jika tidak seimbang, justru masih sedikit lebih kuat di
banding dirinya. Sungguh di atas langit memang masih ada langit desisnya dalam hat
i, sekaligus mengagumi lawan yang masih belum jelas dia lihat bentuk fisiknya. T
etapi, dia yakin bahwa penyerangnya adalah seorang yang sudah tua, namun memilik
i kekuatan yang sangat luar biasa dan telah mampu memaksanya menggunakan sebagia
n besar kekuatannya.
Sementara itu, si penyerang yang tertahan bobot dan daya terjangnya ke dalam, ju
ga kaget setengah mati. Tidak disangkanya Tay Lo Kim Kong Sin Ciang bisa digunak
an sedemikian rupa untuk menghadapinya dan bahkan menahan daya terjang tubuhnya.
Benar-benar banyak tokoh hebat di Tionggoan, bahkan seorang anak muda ini saja s
udah hampir menyamai kekuatanku desisnya heran, kagum sekaligus kesal karena tuju
annya terhalangi. Karena itu, sekali lagi dia memutuskan untuk menyerang Kwi Son
g:
Anak muda, terima sekali lagi pukulanku ....... bersamaan dengan itu, dia telah me
lontarkan tenaga pukulannya. Hebatnya, tidak nampak mulutnya bersuara dan tidak
nampak tangannya bergerak memukul. Namun Kwi Song menyaksikan betapa puluhan tel
apak tangan sedang mencecarnya dengan kekuatan yang tidak olah-olah hebatnya. Ast
aga, ilmu apa pula ini? Ilmu sihirkah ? desisnya kaget dan penuh kekaguman dalam h
ati. Apa boleh buat Kwi Song akhirnya bergumam. Dan serentak dengan itu, kedua tan
gannya bergerak dan kembali telah menyiapkan tandingan dari pukulan lawan.
Inilah Ilmu Pek-in Tai-hong-ciang (Tangan Angin Taufan Awan Putih), sebuah ilmu
mujijat yang diciptakan Kian Ti Hosiang. Lahir dari pendalamannya atas ilmu-ilmu
Siauw Lim Sie kemudian dimatangkan dalam diskusi dengan Wie Tiong Lan dan bahka
n Kolomoto Ti Lou. Pada saat ini, Kwi Song dan Kwi Beng sudah sanggup menggunaka
n ilmu ini dalam puncak perbawa dan puncak kehebatannya. Karena bahkan tenaga ba
tin yang disertakan dalamnya sungguh menghadirkan perbawa ilmu yang sangat mujij
at. Hanya jika lawan memang benar-benar hebat baru Kwi Song atau Kwi Beng memutu
skan menggunakannya. Bahkan bagi Kwi Song, setelah menguasainya secara sempurna,

baru kali ini dia dipaksa mengeluarkannya. Tanda bahwa lawan memang bukan orang
sembarangan.
Dan ketika Kwi Song mengerahkannya, arena antara mereka berdua sudah dipenuhi ol
eh bayangan telapak tangan yang saling kejar. Tetapi yang lebih berbahaya lagi,
adalah karena arena dimana mereka berdua berada, telah dipenuhi oleh arus kekuat
an yang sangat luar biasa. Jangan manusia, benda keras seperti batu ataupun bahk
an besi akan bisa lebur dalam godokan tenaga luar biasa yang berpusing-pusing dala
m arena itu. Dan keduanya, baik Kwi Song maupun penyerangnya maklum belaka betap
a bahayanya arena pertempuran tenaga sakti antara keduanya. Tetapi sudah tidak a
da jalan mundur. Keduanya sudah saling libas dan dengan terpaksa merekapun harus
mengerahkan segerap kekuatan untuk saling serang, saling bertahan dengan puncak
kekuatan masing-masing. Kekokohan dan kemurnian sinkang Kwi Song membuatnya san
ggup bertahan sama kuatnya meskipun dia masih sedikit di bawah lawannya.
Sementara pertempuran mujijat itu terus berlangsung, meskipun dalam waktu yang s
angat singkat mereka saling serang menyerang, membuat arena yang lainnya jadi me
nghentikan pertempuran. Bukan apa-apa, meskipun arena pertarungan terbatasi, tet
api sebagian besar mereka terpengaruh oleh kekuatan batin dan kekuatan sihir yan
g berseliweran dalam arena pertempuran yang dibatasi oleh hawa sinkang mujijat i
tu. Lontaran kekuatan Kwi Song maupun si penyerang akan membentur dinding kekuat
an pembatas dan membuatnya membal. Lontaran dan membalnya kekuatan tersebut akan
sangat mungkin menyerang siapapun dari kedua orang yang sedang bertempur itu.
Hal itulah yang mengagumkan dan bisa dipandang orang-orang di luar arena. Mereka
menyaksikan pertarungan yang maha hebat antara Kwi Song dengan lawannya. Meski
berilmu hebat, sebagian besar dari mereka terperangah menyaksikan betapa kedua p
etarung memang bertarung secara luar biasa. Kombinasi pertarungan menggunakan il
mu-ilmu ampuh, kekuatan tenaga dalam yang mumpuni serta dukungan ilmu sihir dan
ilmu batin. Akibatnya para penonton bagaikan menyaksikan pertarungan dua orang d
engan menggunakan tangan yang begitu banyak. Bahkan awan, angin dan benda-benda
sekitar mereka yang bertarung sesekali digunakan sebagai senjata.
Dari para penonton, adalah 4 manusia berjubah dan berkedok hijau yang paling tin
ggi kepandaiannya. Tetapi begitupun, mereka juga terperangah menyaksikan pameran
pertempuran yang begitu luar biasa. Hebatnya lagi, kedua orang yang bertempur i
tu pada menggunakan ilmu-ilmu Budha dengan tingkat kematangan yang berbeda. Kwi
Song nampak kokoh dalam kemurnian ilmu dan sinkangnya, tetapi lawannya lebih mat
ang dan sedikit lebih kuat sinkangnya. Akibatnya, dia sering memaksakan adu puku
lan, tetapi dengan ilmu mujijatnya Kwi Song tidak khawatir kehabisan tenaga dala
m.
Itulah penyebab mengapa pertarungan itu begitu mendebarkan, begitu seru dalam me
mamerkan ilmu-ilmu mujijat yang dikuasai kedua orang yang bertempur itu. Perlaha
n namun pasti Kwi Song akhirnya sanggup mengenali jika lawannya adalah seorang P
endeta Lhama berdandanan asal Tibet yang sudah sangat tua. Bahkan masih lebih tu
a dari 2 pendeta Lhama Tibet lainnya yang datang mengacau lebih dahulu. Tetapi,
Lhama tua ini berapa kali lipat lebih hebat kepandaiannya jika dibandingkan deng
an dua orang Lhama yang datang sebelumnya. Kekuatan tenaga serta ilmu sihirnya b
egitu mengerikan. Bahkan kekuatan batin Kwi Songpun masih sedikit di sebelah baw
ahnya. Hanya kemurnian sinkang, keuletan dan ilmu silat sajalah yang membuat Sou
w Kwi Song sanggup bertahan dan menandingi dengan posisi yang tidak terlampau me
ngkhawatirkan.
Srrrrrrrrrtttttt
Sebuah suara yang sangat halus dan nyaris tak ada yang tahu. Mungkin hanya seora
ng saja, yakni Lhama tua itu. Karena memang asal suara halus itu dari belakang K
wi Song. Hanya Lhama Tibet yang sudah tua itu yang tahu dan menyaksikan meski te
ramat samar tapi sangat mengagetkannya. Tidak sampai sedetik sesosok bayangan ba
gaikan hantu saja telah memasuki ruangan di luar sepengetahuan hampir semua oran
g dalam ruangan itu. Tetapi, orang itu hanya berkelabat ke balik tumpukan barang
antaran dan kemudian keadaan hening. Tidak nampak upaya campur tangan orang ter
sebut.
Hanya saja, keadaan yang tertangkap oleh Lhama tua yang sedang bertempur dengan
Kwi Song karena memang melintas di hadapannya, membuat Lhama itu kaget. Gerakan
tubuh tadi memang teramat mujijat dan teramat cepat. Ternyata masih ada tokoh heb

at lainnya lagi dari pihak lawan, hmmmmm bukan hal mudah menghadapi mereka malam
ini. Biarlah aku pergi sebelum keadaan menjadi semakin memburuk demikian si Lham
a tua akhirnya mengambil keputusan dalam hati. Dan segera dikerjakannya.
Dalam puncak ilmu sihir dan ilmu silatnya, dia mendorongkan telapak tangannya ke
arah Kwi Song. Dan kembali seakan ratusan telapak tangan menerpa dan menerjang
Kwi Song. Setidaknya begitu di mata hampir semua mereka yang menonton pertarunga
n seru itu. Tetapi Souw Kwi Song sendiri telah tenggelam sepenuhnya dalam kekuat
an batin binaan gurunya Kian Ti Hosiang. Karena itu, dia segera tahu bahwa lawan
memang sedang menggunakan ilmu pembingung mata dan pikiran . Di kerahkannya kembal
i ilmu kebanggaan gurunya, Ilmu Pek-in Tai-hong-ciang (Tangan Angin Taufan Awan
Putih), sambil memapak pukulan lawan yang bertenaga penuh itu
Kembali terjadi benturan hebat antara keduanya. Hebatnya, tidak ada seorangpun d
ari penonton yang mendengar dan merasakan akibat dari benturan dahsyat itu. Berb
eda dengan Souw Kwi Song dan penyerang itu yang memang berada dalam lingkaran pu
saran perbenturan kekuatan yang dibatasi oleh kekuatan mujijat. Keduanya mengala
mi bukan hanya akibat benturan pukulan yang menerpa tubuh, tetapi juga masih ter
ganggu dengan pekaknya bunyi yang memukul langsung ke kedalaman tubuh mereka. Te
tapi, jelas bahwa dari akibatnya, Souw Kwi Song memang masih kalah seurat. Kemba
li dia mundur sampai hampir tiga langkah ke belakang, sementara lawannya terdoro
ng hanya satu langkah saja. Wajah Kwi Song sudah memucat sementara lawannya send
iripun tidak kurang merananya meski tidak seberat Kwi Song.
Sebagian besar penonton adalah pentolan-pentolan ilmu silat. Karena itu, mereka
sadar sepenuhnya bahwa pertarungan yang terjadi benar-benar hebat dan teramat da
hsyat. Meski mereka tidak melihat dan mendengar benturan-benturan yang terjadi,
tetapi getaran-getaran mujijat akibat dari benturan pukulan kedua orang yang ber
tarung menyerang langsung ke mata dan telinga batin. Efeknya tentu jauh lebih ku
at dibandingkan dengan serangan-serangan ke bagian fisik mereka belaka. Itulah s
ebabnya semua orang menahan nafas saking tegang dan saking kagumnya terhadap dua
orang yang bertarung secara hebat itu. Bahkan manusia-manusia berjubah dan berk
erudung hijaupun nampak terkesima memandang kedua tokoh yang sedang bertarung se
ru itu.
Hanya saja, begitu benturan terjadi tubuh Lhama tua yang begitu sakti nan digday
a tersebut telah langsung melenting jauh ke belakang. Bersamaan dengan mundurnya
dia kebelakang, Thay Si Lhama dan Thay Ku Lhama beserta dengan seorang anak mud
a yang membentur Thio Su Kiat tadi, juga berkelabat pergi menyusul si Lhama tua.
Rupanya Lhama tua itu telah memberi peringatan untuk meninggalkan tempat itu ke
pada murid-muridnya. Kelihatannya penyerangan terakhir yang dilakukannya tadi, m
emang dimaksudkan untuk secara sengaja memberi mereka moment yang tepat guna men
inggalkan ruangan tanpa rintangan orang-orang. Benar saja, tidak lama terdengar
sebuah suara mengaung meski Lhama itu telah pergi: Anak muda engkau hebat juga. K
ian Ti Hosiang si tua itu memang tidak percuma mendidikmu. Tetapi beritahukan ke
kawanmu yang berada di balik tumpukan barang antaran itu, tidak perlu bersembun
yi lagi, lain kali kita akan bertemu lagi untuk menentukan siapa kalah dan siapa
yang menang. Kalian masih harus membayar hutang kematian anggota perguruanku . Be
rsamaan dengan mengalunnya suara itu, manusia-manusia berjubah dan berkedok hija
u, juga ternyata telah ikut menyusul pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Dan melihat kalau lawan-lawan telah meninggalkan arena, Kwi Song telah dengan se
gera mengumpulkan kembali tenaga dan semangatnya akibat benturan hebat dengan Lh
ama tua tadi. Sementara itu Beng Kui, Giok Tin dan Giok Li sama seperti Su Kiat,
Sian Nio dan Keenam anggota Barisan 6 Pedang membiarkan saja lawan-lawan mereka
pergi. Pertama, karena mereka masih takjub dengan pertempuran Kwi Song melawan
Lhama tua yang sangat sakti tadi. Selain itu, karena mereka merasa tidak cukup a
man mengejar lawan yang sudah pergi melarikan diri. Dari sebaliknya mengejar law
an, mereka justru bersama memandangi Kwi Song yang sedang memulihkan diri dengan
rasa kagum dan takjub.
Tidak berapa lama kemudian beberapa orang yang tadinya terpancing pergi mengejar
Lhama Tibet yang seorang lagi telah kembali bergabung. Nampaknya mereka tidak m
ampu mengejar Lhama tersebut, tetapi keadaan mereka juga tanpa halangan. Orang-o
rang tersebut adalah anak murid perguruan Thian San Pay yang sudah cukup tinggi
tingkatannya. Tetapi, ketika anak murid Thian San Pay tersebut mengetahui adanya

3 orang anak murid Lembah Salju Bernyanyi dalam ruangan tersebut, sontak keadaa
n mendadak menjadi tegang. Terutama ketika pemimpin dari 10 anak murid Thian San
Pay itu berkata:
Permusuhan kami dengan Lembah Salju Bernyanyi harap dimaafkan membuat kami harus
menyelesaikannya sekarang ini. Terlampau banyak korban anak murid Thian San Pay
yang dibantai mereka ....... anak-anak, maju ....
Tetapi, belum lagi anak murid Thian San Pay bergerak maju, Thio Su Kiat telah ma
ju ke tengah ruangan sambil berkata:
Tahan ....... Saudara Oh Yan Cau, dengarkan kata-kataku terlebih dahulu, tahan ke
marahanmu. Keadaan dan kondisi kita pada hari ini dan hari seterusnya perlu memb
uat kita lebih menahan diri ...
Melihat Thio Su Kiat telah majukan diri, Oh Yan Cau yang menjadi Wakil Ciangbund
jin urusan luar dari Thian San Pay memandang penuh keraguan. Tetapi bara kemarah
an dari matanya belum memudar. Dengan masih menahan rasa amarah kepada ketiga or
ang dari Lembah Salju Bernyanyi itu, diapun kemudian memandang kearah Su Kiat sa
mbil berkata:
Duta Hukum, silahkan jika ada yang hendak engkau sampaikan. Kami dari Thian San P
ay akan bersabar sementara ....
Saudara Oh Yan Cau, Duta Agung Lembah Pualam Hijau telah menitahkan kepadaku untu
k jika bertemu pihak Thian San Pay dan Lembah Salju Bernyanyi agar meminta kedua
belah pihak bersabar sebentar. Bukan hanya Thian San Pay, tetapi juga Lembah Sa
lju Bernyanyi. Untuk urusan Lembah Salju Bernyanyi dengan Thian San Pay, Duta Ag
ung telah menjanjikan akan turun tangan untuk ikut membantu penyelesaiannya. Bah
kan beliau telah melihat sejumlah kejanggalan yang akan segera diselidiki setela
h semua urusan di Lembah Pualam Hijau selesai. Selain itu Saudara Oh, kita sedan
g menuju ke pesta yang melibatkan Thian San Pay, bukankah adalah baik untuk sedi
kit menahan diri pada saat ini? Thio Su Kiat menjelaskannya dengan sabar.
Duta Hukum, apakah ini berarti kami harus menelan hinaan dan kematian begitu bany
ak saudara-saudara seperguruan kami beberapa waktu yang lalu? ..... Apakah kami
harus membiarkan sebanyak 50 jiwa anak murid Thian San Pay untuk penasaran denga
n berjalan bersama musuh-musuh perguruan kami ? Oh Yan Cau masih tetap berkeras.
Saudara Oh Yan Cau, Duta Agung Lembah Pualam Hijau sendiri yang bahkan akan turun
tangan menyelesaikannya
Dan mendengar hal tersebut, kemarahan Oh Yan Cau banyak berkurang. Tetapi, dia m
asih tetap tidak mampu berlaku ramah dan berbasa-basi dengan Beng Kui, Giok Tin
dan Giok Li. Untungnya, ketiga anak muda inipun tidak ada yang sumbu emosinya pe
ndek dan mudah meledak. Bahkan Giok Li sendiripun nampaknya tidak mudah tersulut
. Sebaliknya, matanya lebih banyak memandang dan mengagumi Kwi Song yang sudah h
ampir menyelesaikan samadhi mengumpulkan tenaga dan semangat yang banyak dihambu
rkan tadi.
Baiklah, jika demikian biarlah kami meminta keadilan tersebut melalui Duta Agung
segera setelah pesta ini usai sambil berkata demikian dengan menarik nafas panjan
g Oh Yan Cau, wakil ciangbundjin Thian San Pay kembali menyimpan pedangnya diiku
ti oleh anak murid Thian San Pay lainnya.
Terima kasih atas pengertian saudara Oh. Percayalah, Lembah Pualam Hijau akan mem
bantu Thian San Pay dan Lembah Salju Bernyanyi untuk menemukan keadilan bagi ked
ua belah pihak
Keadaanpun sedikit mereda. Kemarahan Oh Yan Cau dapat dikendalikannya meski masi
h berat bersahabat dengan Beng Kui serta kakak beradik Giok Tin dan Giok Li. Semen
tara itu, ketegangan itu sedikit teralihkan ketika Souw Kwi Song selesai dengan
upaya pemulihan dirinya. Begitu melihat banyak orang dalam ruangan tersebut, Kwi
Song telah bergumam:
Sungguh hebat Pendeta Lhama asal Tibet itu. Herannya ilmu-ilmunya memiliki begitu
banyak kemiripan dengan ilmu-ilmu Siauw Lim Sie kami. Entah siapa gerangan dia
yang sesungguhnya ?
Saudara Kwi Song, bagaimana keadaanmu sekarang ? Su Kiat melihat peluang mengalihka
n ketegangan ke topik percakapan lain.
Saudara Su Kiat, semua baik-baik saja. Bagaimana kabarmu sekarang ?
Seperti yang engkau lihat, kami semua juga baik-baik saja. Bagaimana dengan sauda
ra Kwi Beng? Mengapa aku tidak melihatnya bersama saudara Kwi Song? bertanya Su

Kiat dengan heran melihat Kwi Song berjalan sendirian.


Acccccch, panjang ceritanya saudara Su Kiat. Kwi Beng koko yang telah memilih jal
annya sendiri untuk menjadi Pendeta di Kuil Siauw Lim Si cabang Poh Thian
Maksud saudara Kwi Song, saudara Souw Kwi Beng itu sekarang sudah, ..... sudah ? ka
limat Thio Su Kiat terputus.
Benar saudara Su Kiat, dan aku meninggalkannya sekarang ini agar dia mampu berpik
ir dan mengambil keputusan bagi pilihan hidupnya secara jernih. Dia ditemani seo
rang suheng kami di Poh Thian
Acccccccchhhhhhhhh ..... hanya desahan yang mampu dikeluarkan Su Kiat. Dia tahu be
nar apa yang berada didalam hati Kwi Beng terhadap sumoynya Kiang Li Hwa yang ak
an segera menikah beberapa hari kedepan. Apakah karena urusan pernikahan sumoy at
aukah ..... ? Su Kiat mencoba menebak-nebak dalam hatinya, tetapi dia tetap tidak
sanggup menemukan jawaban. Baginya adalah sebuah keanehan jika Kwi Beng memilih
jalan agama. Bagaimanapun yang mampu menjawabnya hanyalah Kwi Beng. Meski Kwi So
ng juga sedikit banyak mengetahui alasan lain Kwi Beng. Tetapi setelah berdebat
beberapa waktu lamanya, akhirnya Kwi Song memilih membiarkan kakak kembarnya unt
uk beberapa waktu kedepan merenungi diri dan hidupnya.
Sudahlah saudara Su Kiat. Koko Kwi Beng sedang merenungi keputusannya. Bagaimana
dengan keadaan kita sekarang ini ? tanya Kwi Song yang tidak ingin membahas masala
h Kwi Beng berlama-lama.
Terima kasih atas bantuanmu saudara Kwi Song. Secara umum tiada satupun diantara
pihak kita yang terluka, begitu juga nampaknya dengan keadaan pihak lawan. Untun
glah ada bantuan saudara Kwi Song, jika tidak, akan teramat sulit menandingi Lha
ma tua tadi. Dia sungguh hebat luar biasa. Mungkinkah dia yang dipanggil dengan
nama Thay Pek Lhama, paman guru dari mendiang Bouw Lek Couwsu yang binasa di Bu
Tong Pay itu ?
Hmmmm, sangat mungkin jika demikian. Tingkat kepandaiannya jauh melampaui Bouw Le
k Couwsu meski ilmu mereka pada dasarnya hampir sama. Jelas tokoh ini selain leb
ih tua, juga jauh lebih sakti dibandingkan keponakan muridnya. Menurut suheng di
Poh Thian, memang ada tokoh bernama Thay Pek Lhama yang menyimpang dan berkhian
at di Tibet. Tetapi, justru dia jauh lebih lihay dan berbakat dibandingkan paman
guru maupun guru dari Bouw Lek Couwsu. Mungkin hanya wakil Dalai Lhama dan Toa
Suhengnya Thay Hok Lhama yang akan sanggup mengimbangi atau mengalahkan tokoh in
i jelas Kwi Song.
Pantas jika demikian. Tapi, ach, maafkan jika aku lupa memperkenalkan sahabat sah
abat kita yang lain yang ikut membantu dalam pertempuran tadi. Meskipun beberapa
dari mereka, aku sendiripun masih belum begitu mengenal Su Kiat telah bertindak
sebagai tuan rumah bagi semua. Karena, sudah jelas Thian San Pay sebagai pengawa
l ataupun pembawa barang antaran akan sulit menjadi tuan rumah bagi pihak Lembah
Salju Bernyanyi.
Mari, mari kuperkenalkan kepada kita sekalian, pendekar muda dari Siauw Lim Sie,
Souw Kwi Song. Dia ini salah satu pendekar muda yang menumbangkan Thian Liong Pa
ng beberapa bulan lalu. Bahkan bersama kakak kembarnya, dia ini dicantumkan dala
m daftar 10 jago top rimba persilatan Tionggoan demikian Su Kiat dengan gembira d
an bangga memperkenalkan Souiw Kwi Song. Penegasan dan perkenalannya ini langsun
g mengena di hati banyak orang, terutama ketiga murid Lembah Salju Bernyanyi. Ke
tiganya kagum dan memberi perhatian dengan level dan kualitas yang berbeda-beda.
Beng Kui memandang kagum luar biasa melihat bagaimana Kwi Song tadi bertahan ter
hadap serangan luar biasa dari lawannya. Dia mengakui bahwa menghadapi Lhama tua
tadi, dia masih belum sanggup. Melihat kesanggupan Kwi Song, Beng Kui benar-ben
ar jadi ingin berkenalan dan bersahabat. Apalagi, Kwi Song ternyata namanya turu
t tercantum dalam daftar 10 jago top rimba persilatan Tionggoan. Pantas dia demik
ian lihay demikian Kwi Song dalam hatinya dan bertekad untuk berkenalan dan berte
man dengan Kwi Song.
Jika Kwi Song memantapkan hati untuk berkenalan dan berteman, maka Giok Tin yang
terlihat biasa saja dan merasa wajar. Benar, diapun kagum akan kehebatan Kwi So
ng, tetapi masih dalam batas yang wajar. Dan diapun sudah barang tentu menyimpan
keinginan yang sama dengan Beng Kui jika bisa. Yakni ingin berkenalan dan berte
man baik dengan Souw Kwi Song. Sekali lihat, Giok Tin sudah tahu jika Kwi Song a
dalah seorang yang berwatak pendekar sejati, dan meski gagah dan tampan tetapi n

ampaknya tidaklah gemar pipi licin. Dan bukan pemuda mata keranjang. Layak jadi
sahabat.
Lain Giok Tin lain lagi adiknya Giok Li. Gadis yang sedang mekar-mekarnya dan ca
ntik jelita ini memang sedang dalam masa pubernya. Karena itu, wajar jika dia te
lah dengan senyam senyum memandang penuh kekaguman dan rasa suka tak tersembunyi
kan terhadap Kwi Song. Apalagi dalam balutan jubah putih, Kwi Song memang nampak
gagah dan tampan. Meski tidak setampan Lie Hong po, tetapi yang ini nampak lebih
gagah desis Giok Li dalam hati. Wajar anak gadis muda usia dan sedang mekar-meka
rnya untuk mudah menyukai dan menyenangi seorang pemuda. Apalagi pemuda sehebat
Kwi Song. Dalam waktu beberapa hari saja, Cui Giok Li sudah menaruh simpati seti
daknya terhadap dua orang pemuda pilihan. Sungguh luar biasa.
Tetapi, tetap saja watak gagah didikan gurunya melekat dalam diri Giok Li. Karen
a itu, bersama kakak dan toa suhengnya diapun kemudian berkenalan dengan Souw Kw
i Song. Dan kemampuan Kwi Song yang seperti Tek Hoat sangat pandai bicara, denga
n mudah membuat suasana akrab dengan ketiga anak muda itu. Tentunya termasuk den
gan Giok Li yang tidak menyembunyikan rasa sukanya. Kwi Song bukannya tidak meng
erti akan rasa suka Giok Li, diapun menyukai gadis yang terbuka dan ceria itu. T
etapi, masih terbersit sedikit rasa sakit ketika melihat gadis yang disukainya leb
ih memilih temannya yang lain.
Kwi Song sebetulnya menyukai Siangkoan Giok Lian, tetapi sayangnya sahabat kenta
lnya Liang Tek Hoat lebih dahulu menarik hati Giok Lian dan bahkan telah saling
mengikat janji untuk menikah setelah pertarungan dengan Lam Hay, Bengkauw dan ut
usan Thian Tok (India). Karena rasa sakit itulah Kwi Song bersama kakaknya yang me
nderita sakit serupa menyepi ke Poh Thian, menemui suheng mereka dan banyak berl
atih. Mereka berdua memang mengalami kemajuan hebat dalam ilmu silat, berhasil m
enembus tahapan kedua dari ilmu mujijat Kolomoto Ti Lou, tetapi gagal dalam cint
a.
Itulah sebabnya Kwi Song mampu bersikap terbuka dan bahkan lebih dewasa dalam be
rgaul dengan lawan jenisnya. Setitik rasa sukanya melihat Giok Li dan Giok Tin,
tetapi dia telah jauh lebih matang secara emosional untuk tidak terseret lebih j
auh. Biarlah semua mengalir sebagaimana adanya tekadnya dalam hati. Dan keadaan in
i membuat Giok Tin sangat menghargainya sebagai sahabat dan membuat Giok Li sema
kin menyukainya. Entah siapa yang akan dipilih Giok Li jika disandingkan Kwi Son
g dengan Lie Hong Po. Yang jelas, bibit-bibit kekaguman telah menghiasi hatinya
dan tinggal selangkah berubah memekar menjadi rasa yang lebih dalam, yang orangorang menyebutnya CINTA. Cinta kepada siapa?
Begitu mengenal Kiang Sian Nio, keadaan menjadi semakin cair. Karena meski tidak
sebinal Giok Li, tetapi Sian Nio juga bukannya gadis pemalu yang jarang bergaul
. Sebaliknya, diapun gemar bersahabat dan mengenal banyak orang. Begitu melihat
Souw Kwi Song, dia sudah bisa menerka siapa dia. Karena dia telah banyak mendeng
ar siapa anak muda berpakaian putih itu dari kakaknya dan juga bahkan dari subon
ya. Dan paduan Sian Nio, Giok Li dan Kwi Song, membuat suasana tegang secara per
lahan mulai cair. Apalagi, ketika pihak Thian San Pay mengetahui bahwa ketiga ka
kak beradik dari Lembah Salju Bernyanyi itu, ternyata telah ikut menyabung nyawa
untuk mempertahankan barang antaran mereka. Hanya, tetap saja ada ganjalan dala
m hati mereka.
Demikianlah rombongan itu akhirnya memutuskan untuk beristirahat beberapa jam la
gi untuk kemudian berjanji akan berjalan bersama pada pagi menjelang siang untuk
menuju Lembah Pualam Hijau.
==================
Rombongan itu berjalan tidak terburu-buru tetapi juga tidaklah sangat lamban. Di
bagian depan rombongan yang berjumlah lebih dari 20 orang tersebut berjalan Thi
o Su Kiat, Duta Hukum Lembah Pualam Hijau. Di belakangnya berjalan dengan rapih
Barisan 6 Pedang yang sedang bertugas menyambut dan mengawal barang antaran dari
Thian san Pay. Sementara itu, di bagian kiri dan kanan berbaris masing-masing 5
orang anak murid Thian San Pay. Hanya, jika di bagian kanan dikawani oleh Cui G
iok Li dan Kiang Sian Nio yang dengan cepat menjadi akrab, maka di sebelah kiri
dikawani oleh Beng Kui dan Giok Tin. Tidak nampak adanya pendekar kembar Siuw Li
m Sie Souw Kwi Song berjalan bersama dengan rombongan yang sedang menuju Lembah
Pualam Hijau itu.

Perjalanan dilakukan tidak tergesa-gesa, tetapi nampak jelas dilakukan dengan pe


nuh kewaspadaan. Serangan di penginapan dalam kota Ceng seng menyadarkan semua o
rang bahwa mereka sedang menjadi target dari setidaknya dua kelompok yang berbed
a. Karena itu, semua bersiaga penuh. Kecuali kedua orang sahabat baru yang tetap
saja cekikikan dan berbicara dengan lepas tanpa beban. Keduanya adalah Sian Nio
dan Giok Li yang masing-masing gembira karena beroleh teman seperjalanan yang n
ampaknya cocok dalam banyak hal. Dengan cepat keduanya sudah saling panggil kaka
k dan adik. Ternyata Sian Nio berusia lebih tua daripada Giok Li meski hanya ber
selisih 3-4 bulan semata. Karena itu, Sian Nio yang menjadi enci dari Giok Li. Dem
ikianlah keduanya tidak kekurangan bahan berceloteh menghabiskan waktu dan kepen
atan sepanjang perjalanan.
Hanya saja, ketegangan dalam perjalanan itu ternyata tidak banyak mempengaruhi k
edua gadis remaja itu. Bahkan sambil berseloroh Giok Li berkata:
Bagus juga enci Sian Nio jika mereka menyerang kembali. Kali ini, kita harus memb
eri mereka tanda mata yang tak akan mereka lupakan seumur hidup
Hihihi, engkau benar Li moi, kita harus membuat mereka kapok mengganggu perjalana
n orang. Biar mereka kita buat seperti anjing yang tak sanggup untuk menggonggon
g lagi .......
Hihihi, cici, jika anjing sudah tak bisa menggonggong lagi, habis dia akan gimana
dong nantinya ?
Ah, adikku paling tidak dia masih bisa menggeram. Tapi untuk menggigit pastilah t
idak akan bisa lagi, hihihi, tinggal ompongnya
Begitulah, selama dalam perjalanan keduanya berseloroh tiada hentinya. Ada saja
bahan percakapan mereka. Bukan tidak perduli dengan keadaan dan kondisi mereka y
ang dalam ancaman, tetapi bagi Giok Li yang penting ada suheng dan kakaknya, dan
semua aman. Begitu juga dengan Sian Nio, yang penting ada Su Kiat dan Barisan 6
Pedang. Maka hal-hal yang lain tidaklah terlampau perlu untuk dirisaukan. Maka
keduanya dengan bebas dan ceria bertukar cerita dan bertukar kisah-kisah lucu ya
ng pada akhirnya membuat mereka terpingkal-pingkal berdua. Sangat kontras diband
ingkan dengan rombongan lainnya yang berwajah serius dan terlihat berusaha tenan
g meski tegang.
Sedang ramai-ramainya mereka berseloroh secara bergantian, tiba-tiba Su Kiat mem
beri isyarat untuk menghentikan perjalanan. Dan secara otomatis semua orang terl
anda kekagetan dan ketegangan, tidak terkecuali Giok Li dan Sian Nio. Tetapi tid
ak terdengar aba-aba ataupun instruksi lainnya dari Thio Su Kiat. Yang jelas sem
ua berhenti berjalan dan Su Kiat nampak berbisik-bisik kepada salah seorang dari
Barisan 6 Pedang. Dan setelah itu, Thio Su Kiatpun kemudian kembali memerintahk
an rombongan untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi, salah seorang anggota Barisan
6 Pedang yang tadi berbisik-bisik dengan Su Kiat, tak berapa lama berjalan lebi
h lambat. Dia kemudian menyampaikan sesuatu kepada Beng Kui dan seterusnya kepad
a Sian Nio dan Giok Li.
Perjalanan kembali berlanjut, kali ini secara lebih perlahan. Canda Sian Nio dan
Giok Li sudah tidak terdengar lagi. Sebaliknya, keduanya nampak lebih serius da
n memberi perhatian lebih ke jalanan. Tetapi semakin mereka melangkah maju ke de
pan semakin ketegangan menggerogoti ketenangan mereka. Setiap sudut seakan merek
a dinanti lawan. Dan repotnya, lawan berada dibalik kegelapan dan siap sewaktu-w
aktu untuk menerjang. Ketegangan menyergap mereka karena informasi yang diterima
Su Kiat. Informasi yang menyebutkan bahwa perjalanan mereka selalu dalam pengam
atan dan pengawasan beberapa kekuatan yang masih belum menampakkan diri.
Penyebutan beberapa kelompok terhitung mengejutkan Su Kiat. Setidaknya dia telah t
ahu bahwa ada kelompok manusia berjubah dan berkedok hijau yang sejak dari Bu Tong
Pay memang mencari-cari perkara dengan Lembah Pualam Hijau. Tetapi, selain kelomp
ok itu, dia telah menemukan jejak Lhama Tibet yang bertujuan balas dendam dan me
ngincar Bu Tong, Siauw Lim, Kaypang dan Lembah Pualam Hijau. Padahal, masih ada
lagi kelompok pembunuh yang meninggalkan jejak korban dengan sayatan bersilang t
anpa darah di tubuh korban. Selain kelompok kelompok ini, adakah kelompok lainny
a lagi?
Padahal, satu kelompok dari ketiga kelompok tadi, sudah merupakan lawan berat. D
an juga dua dari tiga kelompok itu telah menyerang mereka subuh tadi. Bagaimana
jika kekuatan penuh kedua atau ketiga kelompok itu menyatu dan menyergap mereka

di perjalanan? Bukankah keadaan akan tambah berabe? Memikirkan hal tersebut memb
uat Thio Su Kiat menarik nafas khawatir. Tetapi, dia mewarisi kejantanan gurunya
yang membesarkannya untuk Lembah Pualam Hijau. Tak ada rasa takut sedikitpun, a
palagi karena dia sedang menjalankan tugas, sekaligus membimbing adik Duta Agung
, Kiang Sian Nio yang nyelonong untuk ikut dalam rombongan pada saat-saat terakh
ir. Sudah barang tentu dia yang harus bertanggungjawab karena dialah pucuk pimpi
nan tertinggi Lembah Pualam Hijau dalam menjemput dan mengawal barang antaran te
rsebut. Untuk tugas itu, dia mempertaruhkan banyak hal, karenanya meski khawatir
, tetapi Su Kiat tetap terlihat tenang dan tetap penuh percaya diri.
Tetapi setelah memasuki sore hari bahkan menjelang malam, sama sekali tidak ada
lagi gangguan. Mungkinkah mereka merubah rencana dan strateginya ? demikian Su Kiat
bertanya-tanya dalam hati. Dan, memang demikian jawaban yang diperolehnya menje
lang malam. Hanya sebuah pesan singkat yang diterimanya melalui sebuah kertas te
tapi dengan tulisan tangan seorang wanita . Tulisannyapun singkat saja Jalanan telah
dibersihkan, lawan merubah rencana . Hal yang melegakan sekaligus membuatnya bert
anya-tanya. Apakah mereka tahu jika barang antaran yang sebenarnya sudah jauh men
dahului rombongan ini ?. Tetapi, tentu saja Su Kiat tidak mendapatkan jawabannya.
Yang menggirangkannya adalah, bahwa perjalanan mereka seterusnya akan terasa leb
ih aman dan nyaman. Meskipun perjalanan tinggal satu hari setengah lagi tanpa be
ristirahat. Jikapun beristirahat di kota terdekat, masih tersisa banyak hari seb
elum pesta pernikahan di Lembah Pualam Hijau berlangsung. Berpikir demikian, Thi
o Su Kiat merasa jauh lebih lega dan mulai mengendorkan kewaspadaannya. Sayang s
ekali dia keliru. Justru sore hari kurang lebih sejam dua jam lagi sebelum gelap
sesuatu terjadi.
Tepat ketika mereka keluar dari jalanan yang agak berat dan memasuki jalanan yan
g langsung menuju kota dimana mereka berencana beristirahat, yakni Kota Cu Kui,
tiba-tiba telah menghadang di jalanan 5 orang yang semuanya berjubah dan berkeru
dung hijau. Tidak tanggung-tanggung dan tidak berbasa-basi, seorang dari ke-lima
manusia berjubah dan berkerudung hijau itu telah berkata dengan nada rawan namu
n penuh ancaman:
Urusan di Ceng seng belum tuntas, kami sengaja menunggu disini untuk menuntaskan
urusan tersebut. Lebih baik jika barang-barang itu ditinggalkan disini dan tuantuan semua silahkan melanjutkan perjalanan. Jika tidak, maaf, kami terpaksa bert
indak keras
Thia Su Kiat yang berjalan di depan selaku pemimpin rombongan sedikit kaget kare
na mengira musuh telah melepaskan niat menghadang mereka. Tetapi, tentu saja dia
siap sedia menghadapi penghadangan ini:
Ach, setelah terpukul mundur di Ceng seng, tuan-tuan masih tetap berniat mengulan
gi untuk digebah mundur dari hadapan kami ?
Hmmmm, kurang ajar, siapa yang mengatakan kami sudah kalah? Mari, aku masih berke
yakinan akan mampu keluar dari Barisan itu setelah melirik salah seorang dari man
usia berkerudung hijau lainnya dan saling menganggukkan kepala, merekapun maju b
erdua. Dan Barisan 6 Pedang, begitu melihat isyarat dari Thia Su Kiat juga telah
maju mengatur barisan. Mereka segera mengenali bahwa kedua manusia berjubah hij
au itu adalah lawan mereka di penginapan subuh tadi. Dan kedua orang itu, tadiny
a memang berkemampuan menahan serangan mereka dan bertarung nyaris secara seimba
ng. Itulah sebabnya kali ini Barisan 6 Pedang itu, memasang sikap lebih berhatihati dan bersiap menggunakan segenap kekuatan mereka.
Dan, pertempuran kali ini benar-benar jauh lebih seru dan jauh lebih dahsyat dib
andingkan dengan pertarungan di ruangan sempit dalam kamar penginapan di Ceng se
ng. Kali ini, dalam arena yang lebih luas dan lapang, Barisan 6 Pedang lebih mam
pu mengembangkan kehebatan mereka. Keampuhan mereka justru bertambah lihay jika
di daerah yang lebih lapang dan luas, karena mereka mampu mengatur posisi bergan
tian secara lebih cepat dan tepat. Hanya, dalam kagetnya, Barisan 6 Pedang juga
menjumpai fakta betapa meski kehebatan mereka meningkat, lawan justru lebih mamp
u mengimbangi. Bahkan mampu memberi serangan balasan yang terhitung membahayakan
barisan tersebut.
Jelas sekali jika kedua lawan mereka telah lebih mengenali langkah, perubahan se
rta beberapa bentuk perubahan rahasia Barisan 6 Pedang. Karena itu, kedua lawan
itu lebih mampu mengantisipasi serangan Barisan 6 Pedang dan bahkan juga melakuk

an serangan balasan yang tidak kurang bahayanya. Kali ini Barisan 6 Pedang kini
terbelit pertarungan dahsyat yang tidak bisa diprediksi siapa yang akan mampu ke
luar untuk memenangkan pertempuran itu. Karena meski mampu menyeimbangkan posisi
, kedua lawan Barisan 6 Pedang juga telah mengerahkan kekuatan besar dan kemudia
n baru sanggup mengimbangi kerjasama penggabungan tenaga 6 orang yang bersilat d
engan gaya saling mengisi dan menyatukan tenaga dan semangat.
Siapapun yang menyaksikan pertarungan itu akan mengaminkan betapa serunya pertem
puran itu. Karena kedua lawan bergerak aneh, lincah, licin dan bahkan sesekali n
ampak bagai burung yang beterbangan kian-kemari. Tak salah, mereka memang telah
mengerahkan puncak tertinggi kekuatan sihir yang dikuasai. Untungnya ke-6 lawan
mereka, juga menyatukan semangat dan kekuatan, hingga mampu menghalau serangan-s
erangan sihir lawan. Tetapi, itulah salah satu yang membuat pertarungan itu berj
alan imbang dan saling serang.
Di arena lain, Su Kiat yang melihat Barisan 6 Pedang telah dilibas lawan dan ber
tarung seru, telah menyambut seorang dari manusia berjubah hijau itu. Dan keduan
ya telah bertarung seru, saling serang dan bertahan dengan sama hebatnya. Disini
Su Kiat beroleh keuntungan, karena kegesitan dan tenaga keduanya berimbang, han
ya usia muda Su Kiat membuatnya yakin akan mampu bertahan jauh lebih lama. Karen
a itu, Su Kiat tidak takut untuk adu kekuatan, bahkan terus menerus memaksa adu
kekuatan. Sinkang Giok Ceng yang sudah dikuasainya, telah membuatnya mampu memul
ihkan diri dalam tarikan nafas 3-4 kali. Pertarungan di arena kedua ini posisiny
a sedikit menguntungkan pihak Thian San dan Lembah Pualam Hijau.
Sementara itu, Beng Kui telah kembali bertemu lawan yang bertempur dengannya pad
a subuh tadi. Tetapi, keadaannya lebih baik karena entah bagaimana, melihat Beng
Kui lebih banyak diserang lawan membuat Giok Li usil dan memanasi Sian Nio untu
k membantu suhengnya itu:
Cici Sian Nio, coba lihat, toa suhengku sepertinya sedikit terdesak melawan manus
ia berbaju hijau itu. Engkau harus membantu suhengku itu. Kulihat, lawan yang se
orang lagi disana, juga tidak kurang saktinya. Aku harus melawannya bersama deng
an ciciku Giok Tin baru memiliki peluang untuk bertahan atau bahkan menang. Maka
menjadi tugasmu untuk membantu toa suheng bisik si usil Giok Li dengan alasan ya
ng sebenarnya dibuat-buat. Tetapi, Sian Nio tidak menyadari jika sedang dikerjai G
iok Li.
begitupun, memang dia sendiri menyimpan bibit kekaguman atas anak muda yang sela
lu membantu pihaknya itu. Gagah dan simpatik serta terlihat berwibawa. Hampir mir
ip Liong koko kalau sedang diam dan berpikir berkata Sian Nio dalam hatinya. Tanp
a sadar dia membandingkan Beng Kui dengan kakaknya Kiang Ceng Liong yang memang
menjadi tokoh idola dan sangat dihormati sekaligus dicintainya sebagai kakaknya.
Semua pria muda hampir selalu diperbandingkannya dengan kakaknya selaku tolok u
kur atau pembanding. Jika terlampau jauh jaraknya, hampir mustahil muncul rasa s
ukanya.
Baiklah, biarlah aku membantu toa suhengmu .... sambil berkata demikian, dengan di
iringi senyum dikulum di bibir Giok Li, Sian Nio maju mendekati arena Beng Kui m
elawan musuhnya. Dan, dengan kalimat singkat dia memberitahu:
Saudara, biar aku membantumu mengusir orang-orang jahat ini .... sambil berkata de
mikian Sian Nio masuk ke gelanggang membantu Beng Kui. Sementara Giok Tin memand
angi adiknya sambil mengagumi keusilannya yang juga memang berkenan baginya. Yak
ni berusaha mencocok-cocokkan suheng mereka dengan Sian Nio. mudah-mudahan usaha
adikku berhasil gumam Giok Tin dalam hati. Tetapi kedua gadis itu tidak bisa lama
-lama menikmati keberhasilan mereka mendorong Sian Nio dalam satu arena dengan B
eng Kui. Karena orang terakhir yang berjubah dan berkerudung hijau telah terkeke
h-kekeh mendatangi mereka sambil berkata dengan nada tengik dan ceriwis:
Hehehehe, ada sepasang gadis cantik. Sayang kalau dibiarkan menganggur. Wah, wah,
wah, engkau seksi dan manis sekali....... hanya, sambil berkata demikian tangan
si ceriwis entah bagaimana dengan begitu cepatnya sudah datang begitu dekatnya d
engan pipi Giok Tin. Untunglah Giok Tin sudah waspada sejak tadi, karena itu dia
masih sanggup menghindar kesamping dengan terburu-buru. Tetapi, herannya tangan
si ceriwis itu mengikuti gerakannya, kini bahkan secara sangat kurang-ajar menu
ju ke gundukan membukit yang indah menantang di dada Giok Tin. Hal ini membuat m
urka baik Giok Tin maupun Giok Li.

Hanya saja, begitu lengan Giok Tin yang penuh amarah tetapi tetap awas beradu de
ngan lengan si ceriwis dalam menangkis serangan kurang-ajar ke arah buah dadanya
, lengannya tersampok dan tergetar. luar biasa, dia hebat sekali keluh Giok Tin da
lam hati. Dan giok Li yang memang tumbuh dan sehati dengan encinya segera tahu k
alau lawan sangatlah hebat. Karena itu, begitu benturan terjadi, dia segera bers
eru:
Lihat serangan ..... dan meluncurlah dari tangannya serangan hawa dingin yang lang
sung mengarah si ceriwis. Serangan itu sangat cepat dan berbahaya, tetapi keliha
tannya dihadapi secara santai oleh si ceriwis.
hahahaha, hehehehe, majulah, majulah gadis-gadis cantik. Sungguh sangatlah menyen
angkan bermain-main dengan kalian berdua ...... tentunya lebih senang lagi jika
mampu tidur berdua dengan kalian ......... hahahahaha si ceriwis terus berkoar ko
ar dengan kalimat joroknya. Dan adalah Giok Li yang tidak tahan dengan olok-olok
seperti itu. Giok Tin juga sebenarnya merah padam wajahnya, tetapi dia segera m
elihat kalau lawannya agak aneh, mungkin rada kurang waras. Tetapi, yang jelas l
awan itu berkepandaian masih jauh di atasnya, bahkan masih mengatasi mereka berd
ua meski maju berbareng.
Sementara itu, baik Beng Kui dan Sian Nio maupun Thio Su Kiat merasa agak aneh d
engan pertempuran mereka. Lawan mereka jelas-jelas memiliki kemampuan hebat, tet
api kelihatannya mereka tidak begitu serius menghadapi pertempuran itu. Yang nampa
k agak seru adalah pertempuran antara Barisan 6 Pedang dengan dua manusia berjub
ah hijau. Pertempuran itu benar-benar seru dan menegangkan dengan posisi seimban
g yang tercipta. Sementara pertempuran mereka, Beng Kui dan Sian Nio melawan seo
rang manusia berjubah hijau, lebih terasa sebagai sebuah latihan ketimbang pertemp
uran hidup mati. Beng Kui dan Sian Nio seperti memperoleh teman latih tanding ya
ng tepat guna mengembangkan ilmu mereka. Bahkan, tanpa sadar keduanya jadi lebih
banyak saling melindungi dan cenderung tidak memperhatikan diri sendiri ketika
menolong temannya.
Yang dialami Thio Su Kiat juga lebih kurang sama. Mereka memang bertarung hebat,
posisi keduanya seimbang. Bahkan keduanya mengerahkan kekuatan hebat dalam puku
lan-pukulannya. Tetapi, setelah tahu posisi mereka imbang, keduanya seperti tida
k mengejar kemenangan. Apa maksud mereka sebenarnya ? Su Kiat jadi heran, curiga da
n bertanya-tanya dalam hati. Sungguh sulit dia menebak apa sebenarnya yang diren
canakan orang-orang itu. Apa mereka sudah tahu strategi mengantar barang antaran
Thian San Pay ini tebak Su Kiat dalam hati, meski jawabannya tetap meragukannya.
Di arena pertempuran Giok Tin dan Giok Li melawan manusia berjubah hijau yang ce
riwis, justru pertempuran juga agak sengit. Hal ini sebetulnya dipicu sikap kura
ng ajar dari si ceriwis yang sedikit-sedikit berusaha menyentuh dan mengusap bag
ian terlarang di tubuh kedua gadis itu. Terutama lebih sering dia mengarahkan ta
ngan mesumnya kepada Giok Tin yang memang terlihat sangat sexy dan berdaya tarik
seksual yang tinggi. Jangankan si ceriwis ini, pria normal lainpun akan memanda
ng bergairah ke arah tubuh Giok Tin yang memang penuh pesona dan daya tarik bagi
lawan jenisnya. Dandanan sopanpun tidak sanggup menutupi pesona dan daya tarik
seksnya yang memang tinggi dan mengundang pria manapun.
Giok Li nyaris kalap menghadapi keceriwisan itu. Untungnya ada kakaknya yang sel
alu mengingatkannya. Tetapi, betapapun amarah berkobar-kobar di dadanya. Dan itu
membuatnya sering membuka peluang terserang lawan secara sangat hebat. Untungny
a lawan juga tidak bermaksud melukai dan menyerangnya guna melukai atau membunuh
. Tetapi hanya bemaksud menggoda dan mengelus lembut tubuhnya, dan inilah yang m
emurkakannya. Perbuatan lawan yang demikian itu, akhirnya membuat Giok Li semaki
n lama semakin bertambah kheki dan murka. Dia jadi bertarung habis-habisan dan m
ati-matian guna menyerang dan melukai lawannya. Jika mampu membunuhpun, pasti ak
an dengan senang hati dilakukan gadis muda yang sedang marah itu.
Lama-kelamaan, menghadapi kemurkaan Giok Li yang menyerangnya dengan gencar dan
habis-habisan, si ceriwis kesal juga. Dia memang berkali-kali nyaris menyentuh d
an mengusap lembut Giok Tin, tetapi selalu terhalang oleh terjangan Giok Li yang
sedang murka. Sadar jika tidak menjinakkan Giok Li dia tidak akan sanggup menye
ntuh tubuh sexy Giok Tin, si ceriwis mengganti strategi. Tiba-tiba lengannya ber
gerak dan seperti berubah menjadi seratusan lebih ular yang menyerang terutama k
e arah Giok Li.

Bagi seorang gadis, binatang yang paling menjijikkan dan dihindari bukan karena
berbahaya, tetapi geli dan jijik adalah cacing dan ular. Dan kini, lengan si cer
iwis berubah bagai seratusan lebih ular yang sedang menyerang dan mengintainya k
emanapun dia bergerak. Hal ini secara otomatis membuat Giok Li menjadi goyah. Un
tungnya kakaknya Giok Tin sempat berteriak:
Ilmu sihir .......
Dan teriakan ini sungguh manjur dan ampuh. Giok Li akhirnya dengan cepat sadar k
alau sedang berhadapan dengan jago ilmu sihir, segera bergerak cepat. Dia memusa
tkan keuatannya dan kemudian bergerak dengan pedang kini tergenggam di tangan. D
ia memang mampu mengusir rasa takut dan jijiknya, tetapi karena kekuatan mereka
terpaut cukup jauh, hanya sebentar dia membebaskan diri dari sihir. Selanjutnya,
dia kembali tenggelam dalam kekagetan dan rasa jijik serta geli melihat puluhan
ular mengejar-ngejarnya. Untungnya dia tahu itu hanyalah sihir. Dan setelah ber
kali-kali melakukan pengerahan kekuatan sinkang, dia mampu sesekali menjinakkan
sihir itu. Begitu berulang-ulang, Giok Li dan Giok Tin tenggelam dalam perangkap
ilmu sihir lawan. Tetapi keduanya bagaimanapun adalah murid seorang tokoh sakti
yang sangat hebat. Dan tentunya tidak mudah mereka menyerah begitu saja, apalag
i dalam ancaman penghinaan orang.
Enci, tutup mata dan gunakan Hui Liong ...... bisik Giok Li yang kini berubah taba
h menghadapi lawan berat. Dan tindakannya diikuti Giok Tin yang segera melolos s
enjatanya bersamaan dengan memejamkan mata. Kini mereka siap melakukan perlawana
n hebat. Menjaga nama baik dan bertahan dari musuh.
Si ceriwis yang menyaksikannya sedikit tertegun. Tidak disangkanya jika lawan ma
sih berkemampuan bertempur setelah terpengaruh oleh sihirnya beberapa saat tadi.
Bahkan, keduanya kini telah siap untuk melontarkan serangan pedang yang bisa di
tebaknya pastilah sakti dan berbahaya. Meski dia lebih kuat dan sakti, tetapi di
a sadar kedua lawannya ini juga memiliki bekal dari orang-orang sakti. Dan dalam
posisi seperti itu, si ceriwis menjadi sedikit kesal. Bukan saja nafsunya merem
as bagian menggairahkan di tubuh Giok Tin lama tertunda, bahkan kini dia diancam
untuk diserang dengan pedang. Tidak, kalian harus melihat bagaimana aku menunduk
kan kekerasan hati kalian demikian dia berdesis dan bersiap.
Bersamaan dengan terbangnya serangan dua bilah pedang ke arahnya, si ceriwis men
ggerak-gerakkan lengannya. Dan dari sana keluar bunyi-bunyian mendesis bagai kel
uar dari mulut seekor ular raksasa. Memang, ilmu andalan tokoh ini adalah bergay
a ular dengan nunasa magis yang keluar dari desisan ular besar. Dia menjadi mara
h, karena bersamaan desiran angin pukulan sedingin salju bagaikan membentuk temb
ok di depannya. Dan dia harus terlebih dahulu memecahkan tembok dinding dingin y
ang kini membatasinya berhadapan dengan kedua anak gadis yang hebat dan menimbul
kan rangsangan baginya itu.
Kini diapun menyerang. Desisan suara ular besar semakin keras dan merusak konsen
trasi lawan. Bahkan kedua pedang terbang yang mengejarnya, tak sanggup melukainy
a, tetapi terpental atau terpeleset oleh kenyal, licin dan liatnya kulit tubuh s
i ceriwis yang hebat itu. Tetapi sebaliknya, pukulannya merusak tembok dingin di
hadapannya dan kini pukulannya mengarah langsung kepada lawan. Giok Li yang menj
adi pengendali pedang terbang sedang kehilangan tempo, karena pedangnya sulit di
kendalikan setelah dipelesetkan si ceriwis. Giok Tin yang melontarkan pukulan di
ngin, terdorong sampai 6-7 langkah ke belakang, kalah tenaga dan dari mulutnya m
engalir darah, meskipun tidaklah banyak.
Giok Li yang kaget melihat cicinya terluka menjadi lupa diri. Dengan berani dan
nekad dia menahan serangan kedua tangan lawan yang memang ditujukan kepada dirin
ya. Mata lawannya sudah berubah liar, nyalang dan seperti mata orang tidak waras
. Tetapi, kekuatannya sungguh mengerikan. Giok Tin saja terdorong demikian jauh
dan terluka, bagaimana dnegan Giok Li? Untuk menyingkir memang sudah kasip, kare
na itu dengan mengeraskan hati dikerahkannya seluruh kekuatannya guna menangkis
serangan lawannya.
Celaka, jangan ....... terdengar jeritan penuh kekhawatiran. Tetapi teriakan itu s
udah amat terlambat jika diarahkan kepada Giok Li. Dan orang yang berteriak itu
sadar bahwa bahaya mengancam Giok Li. Sebab ketika menyerang Giok Tin, si ceriwi
s masih menahan sebagian tenaganya, tetapi melawan Giok Tin, dia mengerahkan ten
aga lebih besar. Hal ini nampaknya disadari oleh pendatang yang berteriak mengin

gatkan Giok Li namun sudah kasip. Orang yang mengeluarkan suara tadi ternyata me
miliki gerakan cepat dan pesat, karena sambil berteriak diapun mendekat ke arena
dan segera setelah benturan Giok Li dan si ceriwis terjadi, lengannya telah men
opang tubuh Giok Li.
Usahanya sangat tepat, sebab jika terlambat sedetik saja lagi, maka benturan yan
g lebih besar akan sangat merusak tubuh Giok Li. Untungnya, pada saat yang begit
u tepat, si pendatang mampu menopang tubuh Giok Li dan menyalurkan tenaga saktin
ya ketubuh Giok Li. Bahkan sambil tangan satunya menyalurkan tenaga, tangan satu
nya lagi secara luar biasa melakukan dorongan ke arah si ceriwis sambil membenta
k keras:
Engkau keterlaluan, enyah ........
Dan akibatnya, tubuh si ceriwis terdorong sampai 4-5 langkah ke belakang. Bukan
karena kalah hebat, tetapi karena memang pada saat itu bagian tenaga peindung ba
dannya jauh berkurang akibat menyerang Giok Li. Maka ketika si penyerang mendoro
ngnya, diapun terlontar ke belakang beberapa langkah. Sementara itu, melihat sia
pa penolongnya, mulut Giok Li segera tersenyum sambil berkata:
Hong Po koko, terima kasih. Engkau .... engkau menyelamatkan nyawaku ...... meski
tersenyum, tetapi dari mulut gadis itu mengalir darah. Hanya saja, sekali lihat
Hong Po tahu kalau luka itu tidaklah berat.
Hmmmm, engkau terlalu nekad moi-moi, tidak seharusnya menghadapinya dengan bertuk
ar pukulan. Dia terlalu hebat untuk engkau layani dengan adu pukulan
Toch akhirnya ada engkau Hong Po koko untuk menolongku ... Giok Li bersuara lemah,
tetapi kalimatnya membuat Lie Hong Po terharu. Anak muda itu terharu mendengar
kepercayaan gadis itu yang demikian besar terhadapnya. Karena itu, sambil menger
askan hati, dia kemudian berkata:
Cepat bersila, sembuhkan dirimu. Tenagamu cukup untuk melakukannya ...
Baik koko, harap engkau menjagaku dan juga melihat keadaan enciku , Sambil berkata
demikian, Giok Li sudah langsung bersemadhi dann memusatkan tenaga untuk melakuk
an pengobatan dengan tenaga dalam. Dan Hong Po kemudian memeriksa kondisi Giok T
in yang juga terluka sama parahnya dengan Giok Li akibat beradu pukulan dengan s
i ceriwis tadi. Melihat Giok Tin ternyata tidak berhalangan dan juga si ceriwis
yang memandanginya tanpa tahu apa yang harus dilakukan, Lie Hong Po memandang se
kejap ke arah si ceriwis. Dan setelah itu dia berteriak:
Awas pukulan ........
Lie Hong Po dengan cepat menyerang si ceriwis yang juga mengerahkan tenaganya un
tuk menangkis. Akibatnya, Lie Hong Po terdorong sampai 3 langkah ke belakang, te
tapi lawannya mundur sampai lima langkah. Kembali Lie Hong Po menyerang dan bent
uran keduanya tak terhindarkan. Dan kali ini diakhiri dengan si ceriwis yang ter
lontar ke belakang. Begitu hinggap, dia langsung melayang menjauh, kebetulan dek
at dengan arena pertempuran kedua kawannya melawan Barisan 6 Pedang. Dan sambil
berteriak kepada rekan-rekannya:
Kita pergi, lawan terlampau kuat .....
Setelah berteriak diapun menyerang ke dalam barisan dan mengacau barisan itu hin
gga membuka celah bagi kedua kawannya untuk lepas dari libasan Barisan 6 Pedang.
Sementara itu, lawan Beng Kui dan Sian Nio juga tidak terlampau sulit untuk mel
epaskan diri dari pertarungan, karena Beng Kui dan Sian Nio memang tidak bermaks
ud untuk menahannya.
Sedangkan manusia berjubah hijau yang menjadi lawan Thio Su Kiat juga bisa melay
ang pergi dengan cepat karena Su Kiat sama seperti Beng Kui dan Sian Nio tidak b
erkehendak merintangi lawan. Karena itu, kelima manusia berjubah dan berkerudung
hijau itu akhirnya bisa berlalu dari arena pertempuran tanpa gangguan yang bera
rti. Maka berakhirlah pertempuran itu.
Thio Su Kiat, Sian Nio dan Beng Kui mendekati arena dimana Giok Li dan Giok Tin
tadi bertarung. Hanya kedua gadis itu sekarang sedang mengumpulkan semangat dan
tenaga untuk mengobati luka dalam yang mereka derita dari si ceriwis berjubah hi
jau tadi. Melihat keadaan kedua adik seperguruannya tidaklah berbahaya, Beng Kui
segera menarik nafas panjang sambil bergumam:
Siapa sebenarnya orang-orang itu? Bahkan kami di Lembah Salju Bernyanyi juga pern
ah mendapat gangguan dari orang-orang itu
Jika aku tidak salah menduga, mereka ada gerombolan sisa Thian Liong Pang yang me

ngusung dendam terhadap Lembah Pualam Hijau, Bu Tong, Siauw Lim dan juga Kaypang
. Seorang dari mereka adalah bekas pelindung hukum yang telah terbunuh di dekat
Bu Tong San. Jadi, memang kemungkinan besar mereka adalah tokoh tokoh Thian Lion
g Pang yang hendak menuntut balas terang Su Kiat.
Tetapi, mengapa pula Lembah kami mendapatkan gangguan mereka ? bertanya Beng Kui se
cara penasaran.
Tenanglah saudara Beng Kui, pada waktunya kita pasti akan mengetahui mengapa mere
ka melakukan semua kerusuhan ini
Sambil berkata menyabarkan Beng Kui, Thio Su Kiat telah mendekati Lie Hong Po ya
ng masih menjaga Giok Li dan Giok Tin. Diapun segera menyapa sambil mengucapkan
terimakasih atas bantuan pemuda itu:
Terima kasih banyak atas bantuan saudara, bolehkah kami berkenalan dan mengetahui
nama saudara ?
Ach, aku bukan siapa-siapa. Aku Lie Hong Po, seorang pengembara dari daerah Kangl
am. Kebetulan pernah ditolong adik Giok Li ketika sedang sekarat
teman adik Giok Li rupanya. Betapapun terima kasih atas bantuan saudara ucap Su Ki
at dengan tulus, meskipun hatinya berdebar-debar entah apa sebabnya. Entah menga
pa, nalurinya seperti membisikkan ada sesuatu yang aneh dan suara orang didepann
ya seperti diatur sedemikian rupa. Ataukah ini hanya dugaan atau naluri yang keli
ru belaka ?
Lembah Pualam Hijau !!! Dalam dunia persilatan dewasa ini, baik kalangan penjaha
t ataupun kaum hek-to maupun kalangan pendekar atau golongan putih, siapa yang t
idak kenal dan tidak jeri dengan Lembah tempat dimana banyak Naga tinggal? Ya, s
iapapun kaum pendekar yang berkelana, ataupun kaum penjahat sekalipun, pasti tah
u dan jeri mendengar nama Lembah Pualam Hijau. Karena memang, Lembah Pualam Hija
u sudah punya nama besar dan bertahan sudah sangat lama. Sudah kurang lebih 100
tahun kokoh dan berkibar di rimba persilatan. Karenanya, wajar jika siapapun seg
an dan hormat dengan kebesaran nama dan sejarah Lembah itu.
Bukan sekali atau dua kali saja pihak Lembah Pualam Hijau unjuk kedigdayaan mewa
kili Tionggoan dalam menghadapi gangguan-gangguan. Baik gangguan dari dalam dala
m bentuk pertikaian-pertikaian antar individu maupun antar kelompok maupun pergu
ruan; Ataupun juga gangguan-gangguan dan tantangan-tantangan yang datang dari lu
ar. Keterlibatan mereka di front depan itu yang lekat kuat dikenangan banyak ora
ng. Itulah sebabnya Lembah itu menjadi sangat terkenal bagi kaum pendekar dan me
ndatangkan rasa jeri di kalangan kaum penjahat.
Sejak pendiri Lembah Pualam Hijau angkat nama, berturut-turut sudah ada setidakn
ya 4 generasi yang pemimpin Lembah Pualam Hijau dan yang sekaligus mengharumkan
nama Lembah itu. Mulai dari Kiang Sim Hoat sang pendiri, diteruskan Kiang Sin Li
ong, Kiang Cun Le, Kiang Hong dan kini diemban oleh Kiang Ceng Liong. Kiang Sim
Hoat dikenal sebagai pendiri Lembah Pualam Hijau, sementara Kiang Sin Liong terk
enal sebagai "Manusia Dewa" bersama 4 tokoh besar lainnya dari Tionggoan.
Kiang Cun Le, meski tidak sehebat Kiang Sin Liong, tetapi juga adalah pendekar s
akti yang sangat dihormati di Tionggoan. Mengikuti jejak pendahulunya, diapun be
radu kesaktian dengan tokoh-tokoh dari seberang laut dan Thian Tok dan berhasil
mempertahankan nama baik Tionggoan sekaligus nama besar Lembah Pualam Hijau. Jas
anya itu, bersama adik perempuannya Kiang In Hong, membuat mereka sangat terkena
l dan sangat dihargai. Mereka berdualah yang banyak tampil di Tionggoan untuk me
lanjutkan tugas dan tradisi yang diemban Lembah Pualam Hijau membantu menenteram
kan dunia persilatan Tionggoan.
Kiang Hong, meski hanya beberapa tahun menjabat sebagai Duta Agung sebelum kemud
ian menghilang, kini telah tampil kembali dan tentunya telah bertambah hebat kes
aktiannya. Tetapi, adalah Kiang Ceng Liong putranya, yang kini mendekati kemasyu
ran baik pendiri Lembah Pualam Hijau, Kiang Sim Hoat ataupun ketenaran dan keheb
atan kakeknya, sekaligus gurunya Kiang Sin Liong. Meskipun Kiang Ceng Liong yang
menjabat sebagai Duta Agung (Pemilik Lembah Pualam Hijau) sudah melepaskan diri
dari tugas dan status sebagai Bengcu Dunia Persilatan Tionggoan, tetapi masih t
erlampau banyak kaum pendekar yang menempatkannya serta memperlakukannya sebagai
Bengcu. Sudah rahasia umum jika banyak orang yang masih tetap meminta pertolong
an dan bantuan Lembah Pualam Hijau mengurusi urusan pertikaian di rimba persilat
an.

Dan, Lembah Pualam Hijau generasi terkini, menjadi semakin hebat dan semakin dih
argai banyak orang. Hanya saja, meskipun bergelimang nama besar dan dihormati ba
nyak orang, tidaklah berarti bahwa semua orang akan memuja dan menghormat Lembah
Pualam Hijau. Dimanapun, sehebat apapun, seseorang ataupun kumpulan orang tidak
akan sanggup mengendalikan dan menundukkan semua orang atau semua pihak. Selalu
akan ada yang iri, yang cemburu dan kemudian dengan sadar mengambil posisi seba
gai lawan atau musuh. Dan demikian juga yang dialami oleh Lembah Pualam Hijau.
Lembah Pualam Hijau yang terkenal itu terletak daerah Pegunungan Taliang-san, di
perbatasan Propinsi Kuangsi dan Propinsi Hunan. Salah satu gunung di deretan pe
gunungan Taliang-san agak ke utara adalah Gunung Kembar, karena adanya dua buah
gunung yang dipandang dari selatan, nampak benar mirip atau serupa. Dari gunung
kembar ini, mengalirlah dua buah sungai yang melalui Gunung Haiyang dan turun ke
arah utara memasuki Propinsi Hunan dan Sungai Li atau Sungai Kemala yang mengali
r ke Propinsi Kuang Si.
Sungai Kemala di daerah Propinsi Kuangsi ini adalah aliran yang terkena banjir b
andang dan menimpa 5 orang anak yang nantinya menjadi Naga-Naga Sakti di kemudia
n hari (Bagian I, Episode 2). Tetapi, tentu saja tidak ada kaum pendekar yang me
ngerti kisah 5 orang anak tersebut, dan kejadiannya sebetulnya tidak terlampau j
auh dari Lembah Pualam Hijau. Tepatnya, Lembah itu berada di sebelah utara Propi
nsi Kuangsi, atau sebelah selatan Propinsi Hunan. Terletak di barisan gunung Tal
iang-san yang panoramanya dipenuhi tebing-tebing yang melingkar-lingkar karena b
entang alam yang memang menatanya demikian.
Dari bentangan Gunung Kembar, mengalirlah sebuah sungai yang nantinya pecah menj
adi dua sungai yang kelak alirannya berbeda arah melalui gunung Haiyang. Letak L
embah Pualam Hijau justru sangat dekat dekat aliran sungai tersebut. Gunung Kemb
ar yang di sisi Selatan memiliki akses untuk turun terus ke arah Gunung Haiyang
dan terus mengarah ke Hunan atau Kuangsi, sementara yang sisi utaranya tidak mem
iliki akses sama sekali. Alias daerah tak bertuan dan sulit untuk mengetahui apa
kah daerah diseputar gunung itu didiami manusia ataukah tidak.
Lembah Pualam Hijau demikian nama yang diberikan pendiri Lembah itu, terletak di
gunung kembar sebelah utara. Daerah yang masih belum memiliki akses. Di sebelah
depan Lembah itu adalah sungai yang alirannya teramat deras, membelah Gunung ke
mbar tepat di tengahnya. Dengan demikian, akses utama menuju Lembah Pualam Hijau
, normalnya adalah melalui sungai tersebut. Meski alirannya deras, tetapi lebar
sungai itu tidak akan lebih dari 10 meteran, sehingga masih memungkinkan untuk d
iseberangi. Apalagi bagi mereka yang berkepandaian tinggi.
Di salah satu tepian sungai yang agak landai, terdapatlah jalan yang mengarah ke
Lembah Pualam Hijau. Jalanannya sangat menanjak dengan kemiringan hingga 45-50
derajat sampai kurang-lebih 100 meteran dengan jalanan di kiri-kanannya ditumbuh
i sejumlah pepohonan khas yang tumbuh di tepi sungai. Tetapi, setelah berjalan m
enanjak hingga 100 meteran, sebuah jalanan yang tertata rapih, sepanjang hampir
50 meteran menghampar indah. Kali ini tanjakannya tidaklah setajam jalanan sebel
umnya. Hamparan yang ditumbuhi beragam jenis bunga khas daerah pegunungan dengan
warna-warni yang menyejukkan mata. Jalanan itu disisi kiri dan kanannya ditumbu
hi banyak bunga-bunga yang indah, dan baru putus ketika memasuki sebuah pintu ge
rbang yang terbuat dari PUALAM HIJAU.
Pintu gerbang Pualam Hijau itu sendiri sudah menggambarkan isi dari Lembah yang
namanya Pualam Hijau. Pintu Gerbang terbuat dari bebatuan atau bahan bebatuan be
rwarna hijau dan nampak berkilat ketika terkena sinar matahari. Di atas pintu ge
rbang itu tertulis LEMBAH PUALAM HIJAU dan berjarak lebih 200 meter dari tepian
sungai berarus deras itu. Menilik tempatnya, bukan sembarangan orang yang akan b
isa datang dan menyambangi Lembah Pualam Hijau. Melulu lokasi dan pintu gerbangn
ya, sudah jelas jika dibutuhkan lebih dari sekedar kemauan untuk mencapai pintu
gerbang atau pintu masuk. Belum memasuki Lembah tersebut.
Tempat atau lokasi Pintu Gerbang itu sendiri berdiri megah dan kokoh di tengah-t
engah apitan dua buah tebing tinggi yang hanya selebar tidak lebih dari 10 meter
belaka. Dan baru melebar atau semakin luas ketika memasuki bagian dalam dari Le
mbah Pualam Hijau. Tetapi, masih ada jarak hampir 100 meter sedikit menanjak bar
u mencapai daerah yang lebih luas dalam Lembah. Jalanan kedalam dengan kedua sis
i kiri dan kanannya terdapat barisan pohon yang sangat lebat tumbuhnya. Di daera

h yang sangatk lapang dalam lembah itu, barulah terdapat bangunan dalam kompoisi
si: Bagian depan menghadap ke pintu gerbang, bagian belakang mengarah ke barisan
hutan dan bagian dalam lembah, sisi kanan adalah tebing yang melekat ke Gunung
kembar dan sisi kiri adalah jurang terjal yang membelah Gunung Kembar Utara dan
Selatan, dimana jurang curam di bawahnya adalah aliran sungai juga.
Dan di sisi kanan itu, terdapat juga barisan hutan yang cukup lebat yang membata
si daerah luas yang merupakan area utama Lembah Pualam Hijau. Daerah belakang ya
ng dipagari hutan pepohonan itu mengisolasi sebuah tempat khusus di Lembah Puala
m Hijau yang menjadi tempat tinggal tokoh-tokoh utama Lembah, selain sejumlah Gu
a rahasia yang menempel di dinding tebing. Daerah belakang ini, terpisah oleh hu
tan yang sangat lebat, namun memiliki akses jalanan yang membelah hutan dikanankirinya. Dan dalam jarak yang cukup jauh, beberapa tempat tinggal sederhana namu
n apik terletak. Cukup jauh terpisah dari area utama Lembah Pualam Hijau yang bi
sa diakses oleh orang luar.
Sementara dinding-dinding tebing dimana Gua-gua tempat tinggal yang lain itu ber
ada, sesuai namanya, terbuat dari sejenis bebatuan yang menyinarkan warna hijau,
mirip dengan pualam hijau. Tetap, Pualam Hijau sesungguhnya barulah akan banyak
ditemukan di dalam Gua Rahasia yang jalan masuk dan keluarnya hanya dikuasai or
ang-orang dalam Lembah Pualam Hijau. Dalam tebing-tebing itulah ditemukan banyak
sekali Pualam Hijau, dan dari sanalah nama Lembah Keramat ini diambil dan kemud
ian dikenal dunia luas.
Di pintu gerbang, hanya ada sebuah "gardu" kecil tempat para penjaga yang tidak
cukup banyak di Lembah Pualam Hijau. Tidak semua keluarga keluarga Lembah Pualam
Hijau tinggal di lembah ini, karena Lembah Pualam Hijau adalah tempat dimana me
reka yang mendalami ilmu silat tinggal. Mereka yang tidak berlatih silat, tingga
l di perkampungan tersendiri yang letaknya juga sangat rahasia. Jika yang tingga
l di Lembah Pualam Hijau mengetahui lokasi dan siapa-siapa yang berada di perkam
pungan keluarga mereka, maka yang berada di perkampungan tidak tahu apapun tenta
ng Lembah Pualam Hijau. Bahkan keberadaan Lembah Pualam Hijau juga asing bagi me
reka.
Penghuni Lembah Pualam Hijau sejak didirikan tidak pernah lebih dari 40 orang. P
enghuni tetapnya adalah Duta Agung, Duta Luar dan Duta Dalam, 3 orang Duta Hukum
dan Barisan 6 Pedang (Duta Perdamaian). Ditambah dengan pelayan yang selalu tid
ak lebih dari 8 orang dan petugas yang berjaga, rata-rata murid dari tokoh Lemba
h Pualam Hijau sebanyak 10 orang, dan sisanya adalah keluarga Lembah Pualam Hija
u yang berbakat dan berlatih silat. Anak murid yang belum mencapai tingkatan ter
tentu, belum akan diijinkan untuk menetap dan memperkuat Lembah Pualam Hijau. Ka
rena itu, bahkanpun penjaga Lembah Pualam Hijau bukanlah tokoh atau orang sembar
angan.
Meski hanya dihuni sedikit orang, tetapi bangunan utama dalam Lembah itu sangatl
ah megah. Bangunan utama adalah tempat dimana para pelayan dan murid tinggal, se
kaligus mengurusi bangunan tersebut. Tempat dan kamar mereka berada di bagian pa
ling belakang. Selain itu, di bagian tengah hingga ke depan dalam bangunan itu,
juga terdapat kamar tamu yang cukup nyaman dan sanggup untuk menampung tamu samp
ai 20-an orang. Jika ditambah dengan paviliun khusus yang terdapat di sisi kanan
, sejauh kurang lebih 20 meter dari tebing sungai yang menghadap ke Gunung Kemba
r satunya lagi, maka tamu yang bisa ditampung akan berjumlah sampai 30-an orang.
Bahkan akan bisa lebih banyak jika sebuah kamar yang memang cukup luas, dihuni
oleh 2 orang tamu.
Sebuah ruangan atau balai pertemuan terdapat di tengah-tengah bangunan tersebut.
Tepat di tengah-tengah, membelah kamar-kamar tamu yang berada dalam ruangan ter
sebut. Di bahagian belakang, terdapat beberapa kamar khusus yang dibuat di lanta
i dua. Kamar terbesar adalah kamar khusus buat Duta Agung dan kemudian ada juga
4 kamar lainnya yang mengapit kamar utama itu di bagian kiri dan kanannya dan 1
lagi yang berhadapan langsung dengan kamar Duta Agung. Disinilah tempat bertugas
nya Duta Agung, Duta Luar, Duta Dalam dan 3 Duta Hukum jika sedang berada dalam
Lembah. Semua kemegahan Lembah Pualam Hijau dipamerkan di kamar utama atau ruang
an khusus Duta Agung. Di sanalah terdapat Pedang dan Medali kehormatan yang dibu
atkan oleh Kakek Dewa Pedang untuk menghormati jasa Lembah Pualam Hijau.
Tokoh-tokoh utama Lembah Pualam Hijau yang tinggal di tempat terpisah wajib bera

da di bangunan utama ini setiap harinya. Kecuali jika sedang bertugas luar, atau
sedang melatih diri. Tetapi, sehari-hari demikianlah kondisi dan keadaan Lembah
Pualam Hijau yang dari letaknya memang sulit dijangkau oleh orang biasa. Nampak
nya, Lembah Pualam Hijau adalah tempat yang memang diperuntukkan bagi para pesil
at, dan juga bukan pesilat biasa, tetapi pesilat dengan kemampuan yang memang ta
ngguh dan hebat.
Jika di hari-hari biasanya Lembah Pualam Hijau adalah Lembah yang sepi dengan ri
tual sehari-hari yang nyaris selalu seragam, maka hari-hari terakhir Lembah Pual
am Hijau menjadi begitu ramai. Hal ini dimungkinkan karena dalam waktu tidak lam
a lagi, Lembah Pualam Hijau akan melaksanakan pesta pernikahan antara Kiang Li H
wa seorang pemimpin dari Lembah Pualam Hijau dengan Nenggala. Usia keduanya sebe
tulnya tidak mudah lagi. Kiang Li Hwa sudah berusia hampir 30 tahunan, atau tepa
tnya sudah berusia sekitar 28 tahunan, sementara Nenggala sendiri telah berumur
30 tahun.
Kiang Li Hwa bukanlah tokoh sembarangan. Dewasa ini dia menjadi Duta Luar Lembah
Pualam Hijau, terhitung tokoh nomor 2 atau 3 di dalam Lembah Pualam Hijau. Menj
abat sebagai Duta Dalam masih tetap Kiang Sian Cu, anak tertua Kiang Cun Le atau
Bibi Kiang Ceng Liong, sementara Duta Hukum kini dipegang oleh Thio Su Kiat dan
Kiang Liong dan satu posisi lainnya kosong. Dalam posisi Li Hwa yang menjadi pe
mimpin di Lembah Pualam Hijau, wajar jika kemudian keramaian berlangsung menjela
ng hari istimewanya, hari pernikahannya.
Apalagi, pasangannya adalah juga tokoh muda yang sangat menonjol. Nenggala, seba
gaimana diketahui berasal dari seberang lautan, cucu murid tokoh besar seangkata
n dengan kakek buyut Li Hwa. Salah seorang murid murtad dari tokoh itu, sempat m
enurunkan ilmu mujijatnya kepada Li Hwa. Nenggala adalah cucu murid Kolomoto Ti
Lou, tokoh super sakti yang sering bersama dengan Kiang Sin Liong, Wie Tiong Lan
, Kiong Siang Han dan Kian Ti Hosiang. Tokoh besar ini pula yang banyak membantu
anak-anak muda murid para tokoh besar dalam upaya menyempurnakan ilmu kesaktian
mereka (Baca Bagian II Kisah ini).
Lebih dari itu, Nenggala juga menerima warisan ilmu mujijat Kakek Dewa Pedang, s
alah seorang sesepuh Partai Thian San Pay pada masa lalu. Dari Kakek Dewa Pedang
, Nenggala mewarisi ilmu mujijat yang justru telah lama punah dari Thian San Pay
, dan karena itu kini Nenggala menjadi sesepuh dan di tuakan di partay tersebut.
Lebih dari itu, Ciangbundjin muda Thian San Pay dewasa ini adalah murid dari Ne
nggala. Karena itu, boleh disebut pernikahan ini adalah pernikahan 2 perguruan t
ernama dewasa ini, yakni antara Li Hwa dari Lembah Pualam Hijau dan Nenggala dar
i Thian San Pay.
Pernikahan 2 tokoh muda sakti ini tentunya menarik perhatian. Tetapi, sayangnya,
sebagaimana pesan terakhir Kiang Sin Liong - sesepuh yang sangat dihormati di L
embah Pualam Hijau - agar pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana. Pesan in
i, sama dengan pesan Kolomoto Ti Lou sebelum berpamitan untuk kembali ke Jawadwi
pa dan seterusnya ke tanah asalnya. Karena itu, selain tokoh-tokoh Lembah Pualam
Hijau dan Thian San Pay, yang diundang hanya kerabakt-kerabat dekat yang saling
kenal dengan kedua calon mempelai.
Kini, di Lembah Pualam Hijau berbeda dengan hari-hari sebelumnya sudah terasa be
gitu berbeda. Sangat ramai. Rombongan dari Thian San Pay sudah tiba di Lembah Pu
alam Hijau kurang lebih 4 hari sebelumnya. Dengan dipimpin langsung oleh Ciangbu
ndjin muda, Tik Hong Peng bersama dengan rombongan mereka yang semuanya berjumla
h 15 orang. Termasuk didalam rombongan tersebut adalah Paman yang sekaligus menj
adi guru Nenggala, yakni Bintang Sakti Membara, Jayeng Reksa. Dialah yang kini m
enjadi wali bagi Nenggala dan sekaligus masih tinggal di Tionggoan untuk urusan
terakhir yang sudah diamanatkan gurunya, Kolomoto Ti Lou. Apalagi kalau bukan ur
usan perguruan mereka.
Selain tokoh-tokoh Thian San Pay dan Lembah Pualam Hijau, di Lembah Pualam Hijau
juga telah tiba tokoh-tokoh sakti lainnya. Siangkoan Giok Lian dan Liang Tek Ho
at datang bersama mengawal barang antaran dan kado pernikahan Thian San Pay yang
dikawal secara rahasia bersama beberapa murid Kaypang. Selain kedua tokoh muda
sakti itu, juga telah tiba Liang Mei Lan dan Souw Kwi Song, tetapi kedua tokoh m
uda itu masih mengawal beberapa orang lain yang sedang menuju Lembah Pualam Hija
u. Diperkirakan besok rombongan terakhir itu akan tiba, tepat 2 hari sebelum per

nikahan itu dilangsungkan.


Lembah Pualam Hijau benar-benar menjadi tempat dimana para naga sedang bercengke
rama. Karena disana, kini berkumpul pentolan-pentolan pendekar utama rimba persi
latan Tionggoan, baik kaum tuanya seperti Kiang Cun Le, Liong-i-Sinni, Kiang Tek
Hong, Durganini (Nenek Sakti asal India yang menjadi salah satu guru Li Hwa), B
intang Sakti Membara Jayeng Reksa; Maupun tokoh-tokoh lain seperti Kiang Hong da
n Tan Bi Hiong suami istri, Kiang Liong, Kiang Sian Cu - tokoh-tokoh usia perten
gahan yang sangat mumpuni; maupun juga tokoh-tokoh muda yang kini sangat dimalui
di dunia persilatan: Kiang Ceng Liong, Liang Tek Hoat, Liang Mei Lan, Siangkoan
Giok Lian dan Souw Kwi Beng.
Belum lagi dengan adanya Kiang Li Hwa dan Nenggala, pasangan calon pengantin yan
g sangat sakti digdaya itu. Keduanya adalah murid-murid orang besar. Kiang Li Hw
a pernah dididik oleh ayahnya, kemudian juga menerima ilmu dari Wisanggeni - pam
an guru Nenggala yang menyeleweng tetapi pernah berkenan melatih Li Hwa. Belum l
agi didikan khas India dari Durganini yang menyayangi Kiang Li Hwa selama bebera
pa bulan bekerjasama dengan pentolan Thian Liong Pang. Kasihnya kepada Kiang Li
Hwa dan janji juga Kiang Li Hwa untuk kelak akan memberikan anaknya sebagai muri
d pewaris Durgnini, membuat nenek ini terharu dan menyeberang melawan Thian Lion
g Pang.
Sementara Nenggala sendiri, selain menerima didikan paman sekaligus gurunya, Bin
tang Sakti Membara, juga menerima warisan dari Kakek Dewa Pedang dari Thian San
Pay yang mujijat itu. Bahkan, sebelum dan sesudah pertempuran hebat di markas Th
ian Liong Pang, Nenggala telah menerima didikan langsung dari kakek gurunya, Kol
omoto Ti Lou. Didikan yang membuatnya menjadi jauh lebih matang, jauh lebih masa
k dalam mendalami dan menekuni ilmu-ilmu sakti yang kini mengeram dalam tubuhnya
. Pasangan calon pengantin ini benar-benar pasangan sempurna, baik dari segi fis
ik maupun terutama kemampuan silat mereka yang kini sudah sulit menemukan tandin
gannya di dunia persilatan.
Tapi, apakah tempat dimana para naga itu berkumpul benar-benar tidak berani dida
tangi orang lain? Mungkin bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagi orang-orang ber
kemampuan khusus. Terutama bagi mereka yang sudah merasa berkemampuan "tanpa-tan
ding" dan selalu tidak puas dengan capaian orang lain. Seperti tiga orang tua ya
ng begitu gelap menjelang datang dan berganti malam, nampak menyatroni Lembah Pu
alam Hijau. Tetapi, tunggu dulu. Bukan hanya tiga, tetapi kelihatannya ada 4 ora
ng. Karena salah satu diantara 3 kakek tua yang bergerak begitu cepat bagai baya
ngan, nampaknya membawa sesosok tubuh yang tidak berdaya. Siapa gerangan orang-o
rang tua hebat yang begitu berani mati membayangi dan menyatroni Lembah Pualam H
ijau di waktu malam itu?
"Sungguh sombong, mereka membiarkan pintu gerbang hanya dengan penjagaan 2 orang
semata"? terdengar salah seorang kakek berkata. Dalam kegelapan malampun dia ma
sih sanggup mengetahui kalau ruang perondaan atau penjagaan di pintu masuk Lemba
h Pualam Hijau hanya di jaga dua orang belaka.
"Hmmmm, jika aku tidak salah, mereka tidak melulu mengandalkan penjagaan biasa.
Penjagaan yang "tidak biasa" itu yang justru akan menyulitkan kita" berujar seor
ang kakek yang satu lagi.
"Apakah yang engkau maksudkan barisan pohon-pohon itu yang merupakan penjagaan "
tidak biasa" itu"? kakek pertama bertanya kembali.
"Kalau tidak salah, itu hanya salah satunya. Jika tanpa penjagaan yang luar bias
a, mustahil Lembah Pualam Hijau bertahan begitu lama nama besarnya dalam rimba p
ersilatan Tionggoan"
"Hmmmm, masuk di akal. Tetapi, entah mengapa aku tidak melihat dan merasakan kea
nehan dari barisan pepohonan di sisi jalan masuk ke Lembah Pualam Hijau" kembali
kakek yang pertama menukas.
"Jika teramat mudah untuk dikenali dan diketahui, bukan barisan biasa namanya. R
asanya sudah saatnya kita meminta bantuan orang itu. Bangunkan dia" Kakek kedua
yang selalu menjawab pertanyaan kakek pertama memerintahkan kepada kakek ketiga
yang membawa sesosok tubuh kaku dalam perjalanan mereka. Dan si kakek ketiga seg
era menjawab:
"Baiklah, biar kusadarkan dia ...." sambil berkata demikian, si kakek ketiga tel
ah menurunkan tubuh seorang yang selalu dipanggulnya. Dan kemudian dengan kibasa

n tangan seperti kibasan biasa saja, tiba-tiba totokan atas tubuh orang itu tela
h lepas. Disusul dengan dengusan tertahan bernada kekagetan dari orang tertotok
yang selalu dibawa-bawa kakek ketiga tadi.
"Achhh, dima......."? belum selesai orang itu bersuara, tiba-tiba dia merasakan
sesuatu terjadi atas tubuhnya dan tiada satu suara lagipun yang mampu dikeluarka
nnya. Hanya terdengar desisan di telinganya yang mendenging dan mengingatkan dia
:
"Diamlah, jangan bersuara. Kita berada di kandang Naga, apa yang harus kau lakuk
an, lakukan dan jangan banyak bertanya. Nach, kini waktunya engkau menunjukkan k
emahiranmu. Cobalah engkau mempelajari barisan di sisi kanan dan kiri jalan masu
k ke Lembah Pualam Hijau. Sanggupkah engkau"?
Ornag yang tadi tertotok hanya mengangguk. Tetapi beberapa saat kemudian dia ing
in mengatakan sesuatu, tetapi tetap saja tiada sedikit suarapun yang keluar. Den
gan terpaksa dia menggunakan bahasa isyarat, tangannya digerak-gerakkan menunjuk
ke kejauhan. Agaknya dia ingin mengatakan bahwa jarak terlampau jauh baginya un
tuk mengenali barisan yang dimaksud.
"Apakah maksudmu harus datang lebih dekat lagi biar lebih bisa menganalisanya"?
Orang itupun mengangguk-angguk. Dan si Kakek kedua yang biasanya menjawab pertan
yaan kakek pertama nampak telah mengerahkan tenaga dan berdiskusi dengan kedua k
awannya yang lain:
"Penjaga di pintu gerbang biarpun hanya berdua, tetapi memiliki kepandaian yang
cukup memadai. Tetapi, menyerang mereka meski sanggup melumpuhkan keduanya akan
sama saja memberitahu penghuni Lembah Pualam Hijau akan kedatangan kita. Repotny
a, si keroco Bun Tho Hoa ini harus datang agak dekat baru mampu menganalisa bari
san pohon itu. Bagaimana usulan kalian"?
"Kedatangan kita hanya untuk berurusan sejenak dengan Duta Agung, sekaligus mena
kar kebenaran ucapan Kolomoto Ti Loudan Kiang Sin Liong. Ada lebih baik kita men
ghindari bentrokan yang tidak perlu dengan orang-orang lain" terdengar kakek ket
iga bersuara memberi usulan.
"Tapi, tak ada salahnya kita mengenali barisan aneh di Lembah ini, tidak setiap
saat kita punya kesempatan seperti malam ini" mendesis kakek yang pertama.
"Hmmmm, aku cenderung menyetujui usulan kalian berdua" berkata kakek kedua setel
ah menimbang-nimbang beberapa saat.
"Maksudmu ...."? Kakek pertama bertanya heran.
"Maksudku, kita tidak harus masuk berterang melalui pintu masuk ini, tetapi kita
perlu mengenali jenis barisan dalam Lembah Pualam Hijau. Untuk maksud itu, kita
masing-masing akan memiliki tugas sendiri-sendiri"
"Baik, aku setuju" Kakek pertama memberi persetujuan
"Akupun setuju jika demikian" sahut kakek ketiga.
"Kita tetapkan demikian; tugasku membawa si Bun Tho Hoa mendekati pintu gerbang
dan tugas kalian berdua mengerahkan ilmu sihir dan kekuatan batin untuk membente
ngi pergerakanku dari kedua penjaga itu. Bagaimana?"
"Baik, kita lakukan demikian"
"Baik, akupun setuju"
Dan tidak berapa lama kemudian dari kejauhan kakek pertama dan ketiga telah bers
ila mengerahkan kekuatan mereka. Bersamaan dengan itu, kakek kedua telah berkela
bat mendekati gardu penjagaan. Dia melaju di depan diikuti Bun Tho Hoa, tetapi k
eduanya tidak sampai memasuki pintu gerbang dan datang terlalu dekat. Bukannya t
akut. Tetapi, kakek kedua dengan cepat menahan tangan Bun Tho Hoa, si jago baris
an dari Bwe Hoa Cung.
"Perlahan ......, cukup sampai disini. Kita tidak boleh melangkah maju lebih jau
h lagi. Meskipun terlindung kekuatan sihir, tetapi terlampau dekat dengan pintu
gerbang dan jalan masuk bisa gampang dideteksi lawan. Lakukan saja tugasmu"
"Aku membutuhkan waktu yang cukup lama guna mengenali barisan dari luarnya. Meks
ipun tidak akan selengkap jika secara langsung memasuki pusat barisan itu, tetap
i akan cukup jika sekedar mengenali kehebatan dan perubahan-perubahan dasarnya.
Baik, aku akan mulai ....."
Setelah cukup lama memandang, menilai posisi pohon, letak persilangan pepohonan,
posisi jalanan dan detail pepohonan yang ditanam, Bun Tho Hoa akhirnya menarik
nafas dan kemudian berkata:

"Sudah cukup" sambil berkata demikian dia melirik ke arah kakek kedua yang menja
ga dan membawanya mendekati gardu jaga itu. Tetapi dalam kagetnya, dia melihat b
etapa Kakek kedua yang membawanya juga sedang terperangah dan nampak bingung mem
andangi jalanan dan barisan pepohonan di dalam Lembah Pualam Hijau. Bahkan nampa
k seperti orang tua itu memandang takjub. Maka, sekali lagi dia berkata:
"Sudah cukup locianpwee ....." dan kali ini dia berhasil beroleh respons dari si
kakek kedua itu. Kakek tua itu memandangnya sekejab, sambil menggelengkan kepal
a seakan tidak percaya dia mendesis:
"Sungguh sulit dipercaya ......" dan sambil terus mendesis keduanya melangkah ke
mbali ke tempat persembunyian kedua kakek lainnya.
Ketika kembali mereka bertemu, kakek kedua telah dengan cepat berkata:
"Kita harus cepat berlalu. Barisan pepohonan di dalam Lembah dan pintu masuk mun
gkin saja kita terobos. Tetapi ada kekuatan lain yang memagari pintu masuk itu,
dan sungguh tidak cerdas bagi kita untuk menerobosnya. Tetapi, aku berkeyakinan
pasti ada jalan masuk yang tidak akan diduga oleh penghuninya. Mari ....."
Maka berlalulah keempat orang itu. Meskipun medannya luar biasa sulit, tetapi de
ngan mudahnya keempat orang itu, terutama ketiga kakek itu untuk berlalu dan men
yelidiki keadaan disekitar Lembah Pualam Hijau. Hanya saja, setelah berjam-jam m
enelisik, tetap saja mereka tidak menemukan cara masuk melalui bagian depan dan
samping. Apalagi jika mau masuk melalui tebing, sudah dipastikan mustahil dilaku
kan diwaktu malam.
Meskipun menurut Bun Tho Hoa barisan pepohonan masih mungkin diterobos, tetapi k
akek kedua yang nampaknya bertindak sebagai pemimpin menampik kemungkinan itu.
"Tidak bisa. Melawan dengan kekuatan sihir ataupun dengan kekuatan batin guna me
nyingkap tabir penjagaan itu adalah pekerjaan berat dan akan menghabiskan kekuat
an kita. Apalagi, jelas kelihatan bahwa tabir itu bukan dibangun dengan kekuatan
yang sewajarnya, sangat mungkin merupakan rahasia alam yang kemudian dimanfaatk
an oleh tokoh pemasang tabir itu. Inilah sebabnya pagar itu justru sangatlah kua
t dan kokoh, sangat sulit ditembus. Jikapun memaksakan diri, kita akan dengan sa
ngat cepat ketahuan lawan, dan jika sudah demikian tidaklah baik untuk missi kit
a malam ini"
"Jika demikian, nampaknya pilihan kita sangatlah terbatas. Karena bagi kita, tin
ggal pilihan tersulit yang masih tetap memungkinkan untuk dilakukan. Meskipun un
tuk pilihan itu, kita harus banyak mengeluarkan keringat dan kekuatan fisik. Bag
aimana, apakah untuk menerobos memang tinggal kemungkinan itu"? Kakek ketiga mem
beri saran untuk memecah kebuntuan.
"Jika memang tinggal pilihan itu, terpaksa memang kita harus lakukan" berkata ka
kek kedua dengan nada mendesis.
"Hmmmmmmm ..." kakek pertama hanya mengeluarkan suara seperti mendengus. Karena
memang sulit bagi dia mengeluarkan ide atau usulan lain.
"Baiklah, jika memang pilihannya demikian, kita harus segera mengerjakannya. Kit
a harus mengeluarkan banyak tenaga guna mencapai titik itu, dan masih harus teap
membawa si Bun Tho Hoa guna menjaga kemungkinan barisan hutan di bagian itu jug
a adalah barisan gaib"
Dan berangkatlah kembali keempat manusia itu. Melesat pergi dari tempatnya bagai
bayangan tanpa meninggalkan jejak maupun suara sedikitpun. Dan lebih dua jam ke
mudian, di bagian samping atau sisi kanan Lembah Pualam Hijau, tempat yang diper
kirakan "mustahil" didatangi orang, perlahan-lahan dan satu persatu muncul penda
tang yang tidak diharapkan. Gampang ditebak, mereka adalah ketiga kakek sakti ya
ng mencoba membobol pintu gerbang Lembah Pualam Hijau bersama seorang ahli baris
an gaib dari Bwe Hoa Cung, Bun Tho Hoa.
Keempat manusia itu, menempuh jalanan super sulit untuk mencapai posisi mereka s
ekarang. Karena mereka harus memanjat tebing terjal atau bahkan tebing yang berd
iri vertikal dan selalu licin dan lembab. Itulah sebabnya mereka membutuhkan wak
tu yang lama, karena mereka harus menggunakan ketajaman mata, kehebatan ginkang
dan masih harus membantu Bun Tho Hoa yang belum selihay mereka bertiga dalam ilm
u meringankan tubuh. Alhasil, begitu mencapai lokasi saat ini, mereka bertiga at
au berempat dengan Bun Tho Hoa sudah banyak menggunakan tenaga fisik. Padahal, p
osisi mereka masih terpaut sekitar 2-3 meter lagi dari tanah datar di atas tebin
g yang ditumbuhi pepohonan.

Tetapi, disinilah justru ketegangan diantara mereka meningkat. Mereka belum tahu
apakah pepoponan di atas diatur berdasarkan barisan tertentu dan apakah "pagar"
seperti di pintu gerbang juga dipasang di hutan atas tebing tersebut. Dan untun
gnya setelah beristirahat sejenak, kakek kedua dan kakek ketiga sudah saling pan
dang dan tersenyum. Senyum keduanya ditingkahi dengan pertanyaan kakek pertama:
"Apakah kalian sudah yakin jika "pagar pengaman" tidak dipasang di atas"?
"Benar ....." adalah kakek ketiga yang menjawab sambil tersenyum
"Tetapi, pepohonan itu diatur menurut barisan yang mirip dengan barisan di pintu
masuk Lembah. Jika harus masuk, kita mau-tidak-mau harus menaklukkan barisan it
u" berkata Bun Tho Hoa setelah memandang beberapa saat sambil menilai dan mengan
alisis keadaan di atas.
"Kita memang harus masuk dan harus menaklukkan barisan itu tanpa suara. Dan itu
adalah bagianmu ...." berkata kakek kedua dengan suara keren.
"Jangan takut, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga, tetapi perkenankan aku men
ganalisis terlebih dahulu dari mana kita memasuki barisan itu terlebih dahulu" B
un Tho Hoa memberikan jaminannya bahwa mereka akan bisa menaklukkan barisan itu
tanpa mengeluarkan suara.
Tetapi, setelah bolak-balik menganalisis barisan pepohonan di atas tebing, Bun T
ho Hoa masih belum sanggup menemukan pintu mana yang paling pas dan paling tepat
untuk dimasuki. Apalagi dibawah desakan dan tekanan ketiga kakek sakti yang sem
akin lama semakin tidak sabar untuk segera melangkah memasuki barisan itu. Untun
gnya dia berhasil mencegah dengan mengatakan:
"Jenis barisan seperti ini, sekali kita salah melangkah masuk, maka sulit bagi k
ita untuk menemukan pusatnya dan menemukan perubahan-perubahannya. Bahkan, bukan
tidak mungkin pihak Lembah Pualam Hijau akan mencium keberadaan kita jika baris
an itu bergerak"
Kalimat itulah yang membuat ketiga kakek sakti itu dengan terpaksa mengiyakan an
alisa Bun Tho Hoa. Sebetulnya mereka bertiga punya kemampuan untuk mengubrak-abr
ik barisan itu, dan bahkan mereka merasa sanggup keluar dari barisan itu. Masala
hnya adalah, jika itu mereka lakukan, dengan cepat jejak mereka akan ketahuan mu
suh. Dan resikonya adalah, bakalan buyar misi utama untuk menyatroni Lembah Pual
am Hijau. Dan karena itu pula, mereka bertiga rela untuk sedikit bersusah-susah
agar mampu menyusup masuk ke Lembah Pualam Hijau tanpa ketahuan. Bahkan untuk ma
ksud itu, mereka sampai harus menyandera salah seorang "ahli barisan" dari kelua
rga persilatan Bwe Hoa Cung yang sudah lama tidak berkeliaran di dunia persilata
n.
"Jadi haruskah misi malam ini gagal? Hmmmm, setelah bersusah-susah sampai disini
, terlampau mahal harganya kalau mundur" kakek pertama yang memang biasanya pali
ng tidak sabaran telah buka mulutnya. Tetapi, kekesalannya tidak digubris Bun Th
o Hoa yang nampak tetap tenggelam dalam analisis dan hitungan rumit atas barisan
gaib di atas tebing itu. Adalah kakek kedua yang menjawab kekesalan kakek perta
ma:
"Dan, malam ini adalah batas terakhir yang memungkinkan semua upaya kita selama
beberapa bulan terakhir ini untuk terwujud. Jika kita gagal, maka semua upaya ki
ta bakalan gagal total. Lupakan upaya kita mengalahkan orang tua bangka itu" des
isnya sambil menerawang keangkasa bagaikan sedang mengamati bintang-bintang yang
jauh disana.
"Jika memang terpaksa, apa boleh buat kita harus membuka jalan darah" kembali Ka
kek pertama mengusulkan dengan mengepalkan tangannya. Semakin jelas, kakek perta
ma ini memang yang paling berangasan.
"Sabarlah, kekuatan mereka di Lembah Pualam Hijau ini meski sudah tanpa Kiang Si
n Liong masih teramat hebat. Apalagi terdapat Durganini dan Bintang Sakti Membar
a selain Kiang Cun Le dan si Nenek Liong-i-Sinni. Jika kita sanggup menyusup mas
uk tanpa halangan mereka semua, ditanggung lebih setengah bagian missi kita tela
h tercapai" Kakek ketiga menyabarkan si Kakek pertama, sementara Kakek kedua tet
ap sibuk menghitung bintang.
"Ach, analisismu memang benar dan sangat tepat. Tapi harus diingat, waktu terus
berjalan. Padahal saat ini sudah hampir mendekati tengah malam. Artinya kita tin
ggal memiliki waktu dan kesempatan tidak lebih dari 6 jam kedepan. Sampai kapan
kita harus menunggu"?

Belum lagi Kakek kedua dan ketiga menimpali kalimat terakhir kakek pertama, tiba
-tiba terdengar Bun Tho Hoa mendesis:
"Dapat, aku dapat caranya ......... harusnya begitu ...."
Dan mendengar desisan Bun Tho Hoa, Kakek pertama dan kakek ketiga sudah dengan c
epat berpaling dan memegang tangan Bun Tho Hoa. Terutama Kakek pertama, dengan c
epat dia bertanya:
"Jelaskan, bagaimana caranya kita menaklukkan Barisan di atas"
Sambil memandang kakek pertama yang nampak tegang dengan meringis kesakitan Bun
Tho Hoa berkata:
"Lepaskan dulu remasan tanganmu ...... sakit"
"Maaf, maaf ....... " ujar Kakek pertama sambil melonggarkan remasan di tangan B
un Tho Hoa. Rupanya, saking tegangnya, dia telah mengerahkan banyak tenaga secar
a otomatis ketika memegang lengan Bun Tho Hoa.
"Sekarang, jelaskan apa yang engkau temukan seputar menaklukkan barisan itu" ter
dengar Kakek ketiga yang kini menanyai Bun Tho Hoa setelah Kakek pertama melongg
arkan remasan tangannya.
"Aku sudah bisa menduga dimana jalan masuknya. Tetapi, dibutuhkan bantuan locian
pwee bertiga agar aku mampu melihat dari dekat kondisi barisan itu, terutama dar
i bagian atas"
Kakek pertama dan ketiga memandang antusias dan Kakek kedua, juga telah ikut ant
usias mendengarkan penjelasan Bun Tho Hoa. Jelas nampak Bun Tho Hoa menjadi sena
ng karena pengetahuannya membuat ketiga Kakek yang luar biasa lihay ini terkagum
-kagum kepadanya. Maka dia melanjutkan:
"Karakteristik barisan di atas, nampaknya dibangun di atas pijakan satu titik pu
sat dengan 6 jalur atau 6 sisi"
"Ya, aku tahu itu ....." Kakek kedua menyela
"Memasuki barisan itu tanpa menggerakkannya hanya dimungkinkan melalu sisi-sisi
peralihan setiap sisi. Tetapi, resiko bergeraknya barisan sangat besar. Nampakny
a, barisan hutan di atas tebing hanya terdiri dari satu barisan tunggal, dan jik
a demikian maka satu-satunya cara paling aman adalah memasukinya melalui pusatny
a dan langsung menekan titik pusatnya agar tidak menggerakkan 6 sisinya. Hanya c
ara ini yang memungkinkan kita memasuki barisan dan Lembah Pualam Hijau tanpa di
ketahui orang-orang di dalam Lembah. Dan, satu hal lagi, Barisan itu tidak akan
mengeluarkan kemampuan gaibnya selama titik pusat di bagian tengahnya tetap dala
m penguasaan kita. Hanya itu yang bisa kukatakan mengenai Barisan di atas tebing
dan bagaimana memasukinya dengan aman" Bun Tho Hoa menjelaskan panjang lebar da
n setelah itu dia kembali berdiam diri. Nampaknya dia menikmati kediamannya sete
lah penjelasannya membuat ketiga Kakek lihay itu terdiam dan terang kagum atas p
engetahuannya.
Tetapi setelah berpandangan sekian lama, Kakek kedua yang kelihatannya bertindak
sebagai pemimpin missi telah berkata:
"Apa pula maksudmu dengan membutuhkan kami bertiga"?
"Kepandaian silatku memang tidak rendah, tetapi masih belum sanggup untuk melomp
at setinggi lebih 10 meter guna memasuki barisan itu secara vertikal. Lihat saja
, jarak ke atas tebing masih ada sekitar 2 meter, pepohonan yang digunakan sebag
ai barisan sudah kuhitung tadi ada sekitar 3-4 meter, totalnya ada 6-8 meter. Da
n untuk memasuki pusat barisan, harus dilakukan minimal 2 kali tinggi pepohonan
yang menjadi barisan itu. Artinya, aku harus melompat tinggi ke atas minimal tin
gginya 10 meter. Dan terus terang saja, aku tidak memiliki kesanggupan untuk mel
akukannya" jelas Bun Tho Hoa dan hal tersebut membuat ketiga Kakek itu manggut-m
anggut paham.
"Kalau urusan itu serahkan kepada kami" Kakek pertama telah dengan cepat menukas
yang dianggukkan tanda setuju oleh kedua kakek lainnya.
"Baiklah, jika demikian mari kita segera bersiap. Caranya demikian ...." Kakek k
edua kembali mengambil alih koordinasi dan kemudian mengatur mereka berempat unt
uk bagaimana memasuki barisan. Bahkan kemudian mengatur sampai bagaimana keluar
dari Lembah melalui Barisan tersebut. Ada kurang lebih 10 menit mereka melakukan
persiapan, dan setelahnya upaya memasuki barisan dilakukan melalui aksi yang na
mpak akrobatik.
Bun Tho Hoa melompat terlebih dahulu, tetapi baru 3 meter ketinggian lompatannya

tiba-tiba dia merasa selarik angin pukulan mendorong dari bawah tubuhnya dan ot
omatis dia beroleh pijakan untuk melambung lebih jauh. Dan ketika memasuki ketin
ggian 7-8 meter, tiba-tiba sebuah tangan, nampaknya tangan Kakek ketiga kembali
mendorongnya untuk melambung lebih jauh hingga melampaui ketinggian 10 meter dar
i tempat atau titik dia melompat. Dan meski hanya beberapa ketika, tetapi teorin
ya tentang akses masuk Barisan aneh melalui titik pusat ternyata memang benar. D
ia mampu melihat dari ketinggian arah dan celah mana yang harus digunakan untuk
memasuki pusat barisan pohon itu. Diapun meluncur turun dan ditunggu dengan penu
h ketegangan oleh ketiga Kakek lihay itu.
"Bagaimana ..... memang benar demikian"? kembali Kakek pertama yang langsung men
cecarnya dengan pertanyaan.
Bun Tho Hoa memandang sejenak Kakek pertama dan kemudian sambil tersenyum dia me
ngangguk dan berkata:
"Tidak salah lagi"
Jawabannya disambut dengan tarikan nafas lega ketiga Kakek sakti itu. Tidak perc
uma mereka berupaya sekeras itu untuk menemukan cara dan jalan paling tepat untu
k memasuki Lembah Pualam Hijau. Tetapi, apa sebenarnya keperluan ketiga Kakek sa
kti itu memasuki Lembah Pualam Hijau?
Tidak berapa lama, kembali mereka berempat kini melakukan persiapan. Pertama ada
lah membantu Bun Tho Hoa untuk memasuki Barisan dan menguasai titik pusat Barisa
n. Dan untuk melakukannya, mereka bertiga harus bahu-membahu dan bekerja sama. S
eperti aksi akrobatik tadi, Kakek kedua mendorong dengan kekuatannya untuk menam
bah daya luncur ke atas Bun Tho Hoa. Pada ketinggian 6 meter, Kakek pertama meny
usul Bun Tho Hoa dan menghempaskannya kembali ke-atas, dan di ketinggian itu, di
a juga membantu Kakek ketiga untuk meluncur lebih jauh ke atas. Pada ketinggian
10 meter, Kakek ketiga meluncur horisontal beberapa meter sambil menjinjing Bun
Tho Hoa yang menunjukkan jalan akses guna secara vertikal turun ke pusat barisan
. Dan ....... berhasil.
Jika dijelaskan, proses tersebut berlangsung secara sangat singkat meskipun cuku
p banyak dan panjang kalimat yang harus digunakan untuk menjelaskan dan menggamb
arkannya. Yang pasti, Kakek ketiga dan Bun Tho Hoa kini telah meluncur masuk dan
berada dalam barisan aneh di atas tebing tersebut. Beberapa saat kemudian, terd
engar suara yang dikirimkan Kakek ketiga, terdengar jelas di telinga Kakek perta
ma dan kedua:
"Sudah dikuasai, kalian sudah bisa segera menyusul" dan seiring dengan suara itu
berlalu, Kakek pertama telah melontarkan sesuatu keudara dan dengan cepat tubuh
nya mencelat mengejar benda itu diangkasa. Pada ketinggian sekitar 6-7 meter, Ka
kek pertama menggerakkan kakinya untuk mendapatkan daya pijakan agar mampu melon
tarkan tubuhnya lebih tinggi lagi. Dan luar biasa, dia sanggup mencapai ketinggi
an 10 meter bahkan lebih guna kemudian memasuki barisan lewat jalan yang di atur
dan dijelaskan Bun Tho Hoa. Cara yang sama juga dilakukan oleh Kakek kedua, dan
dalam waktu tidak lama mereka berempat kini sudah berada di dalam barisan di at
as tebing tersebut.
"Selamat datang di dalam LEMBAH PUALAM HIJAU. Kini, waktunya kita melakukan gera
kan dan missi yang sebenarnya" desis Kakek kedua sambil memandang Kakek pertama
dan Kakek ketiga yang menyambut ucapannya dengan anggukkan kepala
Dan tidak lama kemudian berkelabatlah bagaikan bayangan yang demikian cepatnya d
ari ketiga Kakek itu. Barulah terlihat betapa hebat ketiganya, terutama ketika m
ereka mengerahkan ginkangnya yang membuat mereka melayang bagai terbang. Sementa
ra Bun Tho Hoa ditinggalkan di titik pusat barisan pohon di atas tebing. Hal itu
dilakukan agar pergerakan mereka tidak terlacak, barisan tidak bekerja dan keti
ka akan berlalu, juga tidak akan mudah terlacak lawan. Begitulah siasat yang dia
tur ketiga Kakek lihay yang kini mulai melakukan aksinya di dalam Lembah Pualam
Hijau. Hanya saja, benar-benarkah aksi ketiga Kakek lihay itu tidak ada seorangp
un yang mampu dan sanggup melacaknya?
Tanpa bersuara, ketiga Kakek itu bergerak cepat. Sepertinya mereka telah mendapa
tkan gambaran dan bayangan bagaimana bentuk dan isi dari Lembah Pualam Hijau ter
sebut. Aneh memang. Darimana mereka ketiga tokoh lihay ini beroleh informasi ter
sebut? Apakah sudah pernah mereka atau setidaknya salah seorang dari mereka mema
suki Lembah ini sebelumnya? Jika demikian, siapa sebenarnya ketiga Kakek lihay i

ni jika demikian? Kita tahan pertanyaan ini. Yang jelas, ketiganya bergerak menu
ju tempat yang biasanya dikhususkan bagi tokoh-tokoh utama Lembah Pualam Hijau.
Dan terlebih khusus lagi, tempat khusus dan istimewa bagi Duta Agung Lembah Pual
am Hijau. Dan memang, mereka menuju lokasi atau tempat yang tepat dan benar.
Hanya saja, mereka terlampau optimistis terhadap kenyataan bahwa mereka mampu me
masuki Lembah Pualam Hijau tanpa terlacak. Dan bayangan bahwa mereka akan menemu
kan Duta Agung Lembah Pualam Hijau sedemikian mudah, terlampau muluk. Karena mes
ki mengetahui sedikit kondisi dalam Lembah itu, tetapi toch Lembah Pualam Hijau
sendiri bukannya terisi mahluk-mahluk yang tidak menggunakan otak dan pikiran. I
tulah sebabnya ketika ketiga Kakek lihay ini memasuki daerah yang sebenarnya "te
rlarang" jangankan bagi orang luar, tetapi pun bagi orang-orang Lembah Pualam Hi
jau yang tidak berkepentingan, mereka tiba-tiba kaget. Kaget, karena tiba-tiba d
i hadapan mereka telah berdiri 3 orang tua lainnya yang sepertinya telah menungg
u mereka bertiga.
Benar, mereka telah berada pada jalur yang tepat. Satu tikungan lagi, mereka aka
n memasuki tempat dimana Duta Agung biasanya melatih diri. Tempat dimana dulunya
Kiang Cun Le dibokong orang (Bagian I KPNDPB - Episode 1 dan 2) dan dilontarkan
nya Kiang Ceng Liong ke sungai yang menyebabkan anak itu kehilangan ingatan. Tet
api, yang tidak mereka ketahui adalah sebelum mencapai tempat yang dikhususkan b
agi Duta Agung tersebut, mereka harus melewati tempat dimana tokoh-tokoh utama L
embah Pualam Hijau biasanya tinggal dan bersamadhi. Tempat dimana Kiang Cun Le,
Kiang In Hong - Liong-i-Sinni dan Kiang Tek Hong sedang melakukan samadhi. Dan m
ereka bertigalah yang kini berdiri menyambut kedatangan tiga orang tamu yang tid
ak diundang.
"Selamat datang di Lembah Pualam Hijau ...... hmmmm, bertamu tidak pada waktu ya
ng tepat, berarti menyusup. Menyusup ketempat orang hanya dilakukan orang-orang
rendah yang tidak bermaksud baik. Sungguh sangatlah mengherankan tokoh-tokoh bes
ar seperti ketiga locianpwee juga memiliki kemauan dan keinginan melakukan penyu
supan ketempat orang"
Suara itu mengapung bebas di udara dan jelas terdengar oleh ketiga tamu yang seb
enarnya tidaklah diundang itu. Tanda bahwa orang yang memergoki mereka bukanlah
orang atau tokoh sembarangan. Pasti tidak jauh selisihnya dengan kemampuan merek
a. Dan menemukan kenyataan bahwa mereka terlacak orang, benar-benar membuat kage
t ketiga Kakek lihay itu. Hanya saja, meski kaget, mereka tidak kehilangan kewas
padaan dan tidak kehilangan keberanian. Terutama Kakek pertama yang sudah dengan
sombongnya berkata:
"Ketahuan ya ketahuan, tetapi kami sedikitpun tidak merasa takut. Kami yang suda
h mampu masuk sejauh ini, tentu saja berani dan bersedia menghadapi siapapun dar
i Lembah Pualam Hijau"
"Hmmmm, kami tahu kalian bertiga memang sangat lihay. Kongkong Kiang Sin Liong d
an locianpwee Kolomoto Ti Lou telah mengingatkan kami, bahwa pada saatnya kalian
bertiga memang akan berkunjung untuk maksud licik. Hanya saja, jika locianpwee
Lamkiong Sek tidak secara licik menyelusup ke Lembah Pualam Hijau mengikuti kaka
kku Kiang Tek Hong dan kemudian melukaiku pada saat latihan berapa tahu silam, t
idak akan mungkin kalian sanggup memasuki Lembah Pualam Hijau kami semudah itu"
Hebat sambutan Kiang Cun Le. Sekaligus jelaslah peristiwa lama ketika Kiang Cun
Le menyalurkan tenaga saktinya kepada Kiang Ceng Liong cucunya dan dibokong oran
g. Pada peristiwa itu, Siangkoan Tek - Kauwcu Bengkauw juga sempat hadir dan sam
pai dituduh melukai Kiang Cun Le. Baru sekarang jelas, bahwa ternyata pelakunya
adalah Lamkiong Sek - adik tiri mantan Tocu Lam Hay Bun Lamkiong Bun Ouw yang ma
sih seangkatan dengan Kiang Sin Liong ber-empat.
Lamkiong Sek memang jauh lebih muda dibandingkan dengan kakak tirinya Lamkiong B
un Ouw yang pada zamannya adalah tocu Lam Hay Bun yang sangat lihay. Tetapi Lamk
iong Sek memiliki bakat yang sama besar dengan kakak tirinya itu. Bedanya, dia m
asih jauh lebih ambisius dan juga jauh lebih licik dalam mempergunakan kepandaia
n dan kepintarannya. Dan rupanya, tokoh inilah yang dulu menyusup ke Lembah Pual
am Hijau namun tidak mau teridentifikasi kehadirannya. Ini jugalah alasan mengap
a ketiga Kakek ini seperti memahami dan mengetahui isi Lembah Pualam Hijau. Terb
ukti dengan upaya mereka untuk langsung mencari tempat Duta Agung biasa berlatih
. Dari sini nampak jelas bahwa Lamkiong Sek memang ternyata "memanfaatkan" keber

adaan dan posisi Kiang Tek Hong sebagai "Pangcu Thian Liong Pang" dahulu kala. D
an tentunya untuk manfaat dan kepentingannya sendiri.
Untunglah Kiang Tek Hong yang akhirnya diampuni oleh kakeknya Kiang Sin Liong te
lah membuka semua lembaran kisah tersebut. Dan Kiang Sin Liong berani memastikan
kalau Lamkiong Sek pasti suatu saat akan muncul kembali di Lembah Pualam Hijau.
Ini jugalah alasan mengapa Kiang Sin Liong sampai meminta semua cucunya dan sem
ua tokoh Lembah Pualam Hijau termasuk Liong-i-Sinni berjanji untuk berada di Lem
bah Pualam Hijau selama 2 tahun terakhir. Rupanya, baik Kiang Sin Liong, maupun
Kolomoto Ti Lou telah membaca kemana arah pergerakan Lamkiong Sek dan kawananann
ya kedepan. Dan untuk itu, tiada cara lain selain menyiapkan anak-anak muda dan
generasi di bawah Kiang Sin Liong untuk menghadapi Lamkiong Sek dan begundalnya.
Melihat rencana mereka telah mampu diantisipasi lawan, Lamkiong Sek yang selama
ini menjadi pemimpin ketiga kakek yang menyusup masuk ini tersentak juga. Tetapi
, sekelabatan jalan pikirannya yang cerdik licik telah dengan cepat bekerja menc
ari cara untuk merubah strategi. Bagaimanapun juga, yang dikhawatirkannya hanyal
ah Kiang Sin Liong. Dan sebagaimana dugaannya, kakek sakti itu nampaknya telah b
erpulang (meninggal dunia), dan kondisi ini tentu saja akan sangat memudahkannya
. Tetapi, dia masih harus berhitung dengan kehadiran tokoh-tokoh lain yang sanga
t banyak berkumpul di Lembah Pualam Hijau dewasa ini. Dan inilah yang sedang dip
erhitungkannya. Apakah mereka akan ikut terlibat jika terjadi kekisruhan ataukah
tidak.
"Hmmmmm, jika memang tua bangka Sin Liong dan Kolomoto Ti Lou telah dengan tepat
memprediksikan kehadiran kami, sudah barang tentu kalian sudah sangat siap deng
an semua kekuatan menghadapi kami. Silahkan saja, kami sama sekali tidak merasa
takut" tantang Lamkiong Sek cerdik. Meski sudah salah berhitung, tetapi Lamkiong
Sek tidak biasanya keliru menilai siapa lawannya. Dan sekali ini, kembali dia m
emainkan kartu truf tersebut. Boleh dibilang ini adalah kartu terakhir yang mung
kin dimainkannya melihat rencana utamanya sudah dengan jitu tertebak lawan. Tepa
tnya secara jitu telah diprediksikan baik oleh Kiang Sin Liong maupun oleh Kolom
oto Ti Lou.
"Hmmmm, urusan ini adalah urusan Lembah Pualam Hijau. Karena itu, hanya tokoh-to
koh Lembah Pualam Hijau yang akan meladeni locianpwee bertiga. Kecuali segera se
telah locianpwee meninggalkan Lembah Pualam Hijau, maka urusan-urusan pertikaian
rimba persilatan dapat diselesaikan masing-masing. Terutama dengan locianpwee W
isanggeni yang punya hutang tersendiri dengan perguruannya" Cun Le yang mewakili
Lembah Pualam Hijau telah memutuskan secara gagah bahwa hanya orang Lembah Pual
am Hijau yang akan terlibat.
"Hahahahaha, sungguh gagah, sungguh gagah ....." mau tak mau Lamkiong Sek memuji
sekaligus senang. Memang inilah yang ingin didengarnya dari pihak Lembah Pualam
Hijau. Mereka bertiga menyusup dengan maksud agar tak terekam jejaknya oleh ban
yak orang yang berkumpul di Lembah Pualam Hijau. Tetapi upaya mereka untuk "mene
mui" Duta Agung dalam missi rahasia telah tertebak lawan. Bahkan telah ditunggu
lawan sejak lama. Apa boleh buat, strategi mengurangi kemungkinan kekuatan lawan
harus dilakukan. Dan Lamkiong Sek paham dengan "kegagahan" ala Lembah Pualam Hi
jau itu. Dan dengan licik dia memanfaatkan aspek psikologis itu untuk mengurangi
kehebatan dan kekuatan pihak lawan. Tidak, dia merasa tidak sanggup jika harus
dikerubuti semua tokoh yang berada di Lembah Pualam Hijau saat itu. Meski tanpa
Kiang Sin Liong sekalipun.
"Karena ini berkaitan dengan nama baik Lembah Pualam Hijau, maka tiada orang lua
r yang akan terlibat urusan ini. Tetapi, akan seperti apa akhirnya, juga sangat
tergantung apa yang dikehendaki dan apa yang akan dilakukan locianpwee bertiga.
Kami sendiri menyarankan, jauh lebih baik locianpwee bertiga untuk segera angkat
kaki dari Lembah Pualam Hijau. Lembah ini tidak menginginkan kedatangan locianp
wee bertiga" Kiang Cun Le tetap berkata dengan hormat, tetapi nadanya teramat sa
ngat tegas.
"Hmmmmm, kemana kami ingin pergi masakan harus meminta pendapat kalian terlebih
dahulu? sungguh sombong" desis Kakek pertama yang ternyata adalah Wisanggeni, ad
ik seperguruan Jayeng Reksa - Bintang Sakti Membara yang juga berada dalam Lemba
h itu.
"Amitabha ........ bukan maksud kami dimintai pendapat. Tetapi, kebetulan tempat

ini adalah kediaman yang memiliki pemiliknya. Maka kami sebagai pemilik Lembah
ini, kami berhak untuk mengatakan tidak kepada mereka yang datang diam-diam deng
an maksud tidak baik, siancay, siancay" terdengar Liong-i-Sinni ikut berbicara m
embantu Kiang Cun Le.
"Hmmm, tahukah engkau maksud kedatangan kami ke Lembah Pualam Hijau Sinni"? bert
anya Lamkiong Sek.
"Dengan masuk secara diam-diam dan menyelusup diwaktu yang sangat tidak biasa, s
ulit untuk menduga bahwa kedatangan kalian bermaksud baik ...... " bukan Liong-i
-Sinni yang menjawab pertanyaan tersebut, tetapi adalah Kiang Cun Le yang tampil
menjawabnya.
"Hmmmm, bukankah Kolomoto Ti Lou si tua bangka dan Kiang Sin Liong telah menebak
dengan tepat bahwa suatu saat kami memang akan datang? Masakan mereka tidak mem
beritahu kalian apa maksud kedatangan kami bertiga"? kembali Lamkiong Sek mendes
ak dengan pertanyaan.
"Sekilas kong-kong dan locianpwe yang mulia Kolomoto Ti Lou telah menjelaskan. T
etapi, buat apa kami kemukakan? toch yang datang dengan urusannya sudah berada d
isini. Jika memang ingin dan berkeras melakukan missi tersebut silahkan, tetapi
maaf kami pihak Lembah Pualam Hijau tidak akan bersedia dan bermurah hati untuk
tujuan tak benar itu" Kiang Cun Le menjawab lebih diplomatis.
"Hmmm, bahkan seorang Kiang Sin Liong, kakekmu sendiri tidak akan begitu gegabah
berbicara seberani itu terhadapku ......"
"Kong-kong memang selalu sabar terhadap siapapun, terhadap orang jahat sekalipun
. Tetapi buat kami, menghadapi manusia yang bertujuan buruk bagi Lembah Pualam H
ijau, tidak akan sesabar kakek kami itu ...."
"Hanya kalian bertiga yang akan menghalangi kami ...."?
"Percayalah, Lembah Pualam Hijau memiliki kemampuan lebih dari cukup untuk mengu
sir locianpwee sekalian. Sebelum semuanya terlambat, kusarankan untuk segera mun
dur ......" Kiang Cun Le menjawab kalem, namun terdengar tegas dan penuh percaya
diri.
"Hmmmm, selain Kiang Sin Liong seorang, tidak ada tokoh Lembah Pualam Hijau yang
kutakuti. Setelah dia orang tua meninggal, Kolomoto Ti Lou kembali ke Jawadwipa
dan Bhiksu Chundamani merat ke Thian Tok menunggu ajalnya dan Wie Tiong Lan tut
up mata, mana ada tokoh lain yang kami takuti. Lebih baik kalian ijinkan kami be
rtiga membuktikan ucapan besar Kolomoto Ti Lou dan Kiang Sin Liong tentang Duta
Agung kalian" Wisanggeni si Bintang Sakti Berpijar berbicara dengan nada yang sa
ngat meremehkan. Tetapi Kiang Cun Le tidak terpancing amarahnya. Betapapun dia s
adar, tokoh-tokoh yang ada di depannya memang tokoh-tokoh puncak yang sejajar ke
kuatannya dengan kakeknya Kiang Sin Liong. Namun, setelah temuan terbaru Duta Ag
ung dan keyakinan atas kemampuan sendiri dalam mengemban dan menegakkan nama bai
k Lembah Pualam Hijau, mana mau dia merendahkan kemampuan sendiri? Karena itu, s
etelah berpikir sejenak dengan bijak namun sangat tegas dia berkata:
"Benar, locianpwee bertiga adalah seangkatan dengan kong-kong Kiang Sin Liong. T
anpa mengurangi rasa hormat kami, tentunya locianpwee telah menyaksikan dan paha
m kemampuan Ji-ko Kiang Tek Hong. Apalagi kong-kong telah mengijinkannya kembali
menggunakan kekuatan puncak Lembah Pualam Hijau. Sementara lohu sendiri bersama
Liong-i-Sinni tidaklah terlampau jauh tertinggal dari locianpwee bertiga. Tapi
di atasnya, kami akan bertarung mempertahankan nama baik Lembah Pualam Hijau, da
n kami berkeyakinan sanggup mengusir locianpwee bertiga dengan kekuatan Lembah P
ualam Hijau sendiri
Hebat ucapan Kiang Cun Le. Dia tidak menyombongkan diri tetapi langsung memukul
pusat kesombongan ketiga pendatang, terutama Wisanggeni dan Lamkiong Sek. Tetapi
, mereka tidak bisa berkata apa-apa, betapapun mereka memang dalam posisi "menyu
sup" dan ketahuan oleh tuan rumah. Selain itu, kalimat Kiang Cun Le benar belaka
. Mereka, tokoh Lembah Pualam Hijau itu memang tidak jauh tertinggal kepandaiann
ya. Dan bukan perkara mudah untuk mengalahkan ketiganya. Tetapi, setelah berkali
-kali dikalahkan Kolomoto Ti Lou dan Kiang Sin Liong, Lamkiong Sek - Wisanggeni
dan Naga Pattinam bertiga, ingin melihat karya terakhir mereka sanggup menang. D
an kehausan mereka atas kemenangan membuat mereka menutup mata atas banyak rasa
kepantasan yang sebetulnya sangat memalukan untuk mereka kerjakan dalam kondisi
biasa.

"Bagaimanapun juga aku harus membuktikan bahwa meski hanya sekali ini, aku perna
h memenangkan pertarungan melawan Kolomoto Ti Lou, Kiang Sin Liong dan kawan-kaw
annya. Karena itu, maafkan, kami terpaksa merepotkan kalian ....." Lamkiong Sek
akhirnya berbicara dalam nada memutuskan sambil melirik kedua kawannya yang sera
gam mengangguk tanda setuju.
Melihat gelagat ketiga orang tua itu akan memaksa menerobos, Liong-i-Sinni dan K
iang Tek Hong yang sejak tadi tidak sekalipun berbicara telah bersiap. Dan meman
g benar, bersamaan dengan mereka meningkatkan kesiagaan tiba-tiba ketiga orang t
ua lihay itu telah secara bersamaan bergerak. Bergerak dengan tidak sembarang be
rgerak, bergerak sama dengan tidak bergerak. Karena ketiganya secara luar biasa
telah mengembangkan gabungan ilmu sihir yang sangat kuat guna menerobos penjagaa
n ketiga tokoh tua Lembah Pualam Hijau dewasa ini.
Tetapi, Kiang Tek Hong yang lebih mengenal mereka sudah dengan cepat berseru kep
ada Kiang Cun Le dan Liong-i-Sinni:
"Gabungan Ilmu sihir ....."
Dan terdengar seruan Liong-i-Sinni:
"Amitabha ........."
Pertempuran sudah segera pecah dengan cara yang luar biasa. Kekuatan sihir dipad
u dengan tenaga batin tingkat tinggi telah dikerahkan ke-enam orang tua sakti it
u dan dengan segera berbenturan. Baik Kiang Cun Le, Kiang Tek Hong maupun Liongi-Sinni sadar benar dengan siapa mereka sedang berhadapan. Bahkan mereka, meski
telah diingatkan akan suatu saat kedatangan ke-tiga tokoh sepuh ini, sebetulnya
tidak disiapkan oleh kakek mereka Kiang Sin Liong untuk berhadapan muka dengan m
uka. Siapa tahu pada kesempatan malam ini, mereka benar telah bertemu dan mau ti
dak mau adu kekuatan.
Kembali Lamkiong Sek bertiga kecele. Mereka yang tadinya hanya "segan" kepada Ki
ang Sin Liong menemukan kenyataan betapa tembok perlawanan tiga orang pemuka Lem
bah Pualam Hijau ini luar biasa kuatnya. Benar memang belum sehebat Kiang Sin Li
ong dan kekuatan yang digunakan dibangun oleh kekuatan 3 tokohnya. Tetapi, merek
apun terdiri dari 3 orang dan telah menggabungkan kekuatan batin dan kekuatan si
hir dalam ilmu rahasia yang skemanya secara teori dikuasai oleh Naga Pattynam. A
rtinya, kekuatan gabungan mereka bertiga kali ini, mestinya sudah lebih dari cuk
up menghadapi semua tokoh Lembah Pualam Hijau. Bahkan mereka yakin, jika mereka
telah menguasai ilmu ini pada pertempuran di markas utama Thian Liong Pang, mere
ka tidak akan kalah secara tragis dan memalukan.
Yang mereka tidak paham adalah, Lembah Pualam Hijau terutama melalui Duta Agungn
ya, telah menemukan kembali salah satu simpul kekuatannya yang dibawa melalui Th
ian San Giokli. Ini yang mampu dilihat Kiang Sin Liong dan Kolomoto Ti Lou meski
masih sangat samar. Jika memang Kiang Sin Liong melihatnya secara tegas, maka t
idak perlu dia meminta Liong-i-Sinni untuk ikutan bertapa di Lembah Pualam Hijau
. Tetapi, karena melihatnya secara sangat "samar" seperti juga Kolomoto Ti Lou,
maka untuk "keamanan", Kiang Sin Liong telah meninggalkan pesan kepada semua ket
urunannya untuk berada di Lembah Pualam Hijau selama dua tahun kedepan.
Dan Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le dan Liong-i-Sinni yang semang sehari-harinya be
rsamadhi telah mendalami temuan Duta Agung melalui warisan Koai Todjin dan disam
paikan oleh Nenek Thian San Giokli. Tidak heran jika mereka mampu menyusul pesat
dan tidak terpaut jauh kemampuan mereka dibandingkan gabungan kekuatan Lamkiong
Sek, Wisanggeni dan Naga Pattynam. Hanya, harus diakui mereka memang masih seus
ap di bawah kekuatan tiga tokoh tua yang sudah terkenal lihay dan se jaman denga
n kakek mereka.
Ketiga Kakek lihay ini sendiri memang terpukul ego dan kebanggaan mereka ketika
gabungan kekuatan mereka dihancurkan Kolomoto Ti Lou, Kiang Sin Liong, Wie Tiong
Lan dan Bhiksu Chundamani (Lihat episode terakhir Bagian II Kisah ini). Kekalah
an yang memalukan itu telah meninggalkan dendam membara dan membuat mereka berti
ga mati-matian untuk mempelajari kombinasi kekuatan batin dan sihir. Baik dengan
mengeksplorasi teori Memindahkan Hawa Mengisi Kosong Menjadi Penuh - sebuah Ilm
u Rahasia Thian Tok (yang juga ternyata, teorinya dikenal dan oleh dikuasai Bhik
su Chundamani), maupun gabungan dengan kekuatan mitis dari Jawadwipa. Mereka mem
ang mampu menemukan dan menggabungkan kekuatan, bahkan sanggup menciptakan tokoh
-tokoh tangguh dan sakti mandraguna dalam waktu singkat.

Mereka sadar benar dengan pesatnya peningkatan penguasaan kekuatan baru itu. Mes
kipun bagi tokoh yang mereka didik, mereka tidak sanggup memprediksi masa depan
dan stabilitasnya, terutama stabilitas mental dan kejiwaannya. Tetapi, ketika da
lam waktu singkat mereka menyaksikan murid-murid binaan mereka meningkat pesat k
ekuatannya dan bahkan sudah sanggup merendengi kemampuan mereka masing-masing, m
embuat semangat membalas dendam mereka bertambah hebat. Inilah yang terus menumb
uhkan harapan dan optimisme bagi mereka untuk melakukan pembalasan secara tuntas
dan berhasil.
Meski murid bentukan mereka kurang stabil secara emosi dan kejiwaan, tetapi keku
atannya bahkan terus dan terus menanjak dari waktu kewaktu. Puncak kemajuan mere
ka bahkan sulit mereka prediksi. Inilah yang mereka harapkan menjadi alat pamung
kas buat balas dendam. Tetapi sesuatu yang membuat mereka tetap penasaran adalah
apa yang dikemukakan Kiang Sin Liong dan Kolomoto Ti Lou mengenai "seseorang" y
ang sudah disiapkan menyambut "proyek berbahaya" mereka. Dan orang itulah yang a
kan tampil menggagalkan ambisi dan mahluk bentukan kawanan Lamkiong Sek.
Sebetulnya, ketika terjadi pertarungan kekuatan batin antara Lamkiong Sek dan ka
wan-kawan melawan Kolomoto Ti Lou - Kiang Sin Liong - Wie Tiong Lan dan Bhiksu C
hundamani, Naga Pattynam telah mengeluarkan ancaman. Ancaman tersebut adalah aka
n ada murid mereka yang berkepandaian luar biasa menurut skema gaib Memindahkan
Hawa Mengisi Kosong Menjadi Penuh - sebuah Ilmu Rahasia Thian Tok. Ilmu rahasia
di Thian Tok yang menganut "transfer" tenaga sakti kepada orang terpilih yang me
miliki bakat yang hebat. Di luar tahu Naga Pattynam, skema itupun dikenal Bhiksu
Chundamani dan melahirkan ilmu baru setelah digodok bersama ke-4 manusia sakti
itu di sisa-sisa usia mereka.
Sebaliknya, Lamkiong Sek dan kawan-kawan menemukan betapa tidak terbatasnya kema
juan murid binaan mereka meski dengan kondisi kejiwaaan dan emosi yang menjadi s
angat tidak stabil. Semakin melaju jauh kepandaian murid mereka akan semakin ber
bahaya kondisi mental dan kejiwaannya. Tetapi, hal tersebut tidak menghentikan u
paya mereka untuk membalas dedam. Untuk menuntut kekalahan mereka dari kelompok
Kiang Sin Liong dan kawan-kawannya. Dan mereka segera sadar, bahwa orang yang di
siapkan Kiang Sin Liong dan kawan-kawan, pastilah Duta Agung Lembah Pualam Hijau
.
Berada pada puncak kekuatan mereka dan sebentar lagi murid mereka akan beradu de
ngan kekuatan murid yang disiapkan dari pihak para pendekar, ke tiga Kakek aneh
ini berencana merusak "karya" Kiang Sin Liong dan kolomoto Ti Lou. Kekuatan bati
n mereka telah menangkap secara jelas bahwa Duta Agung semakin matang dan semaki
n berbahaya. Bahkan kekuatan mereka mampu menerobos Lembah Pualam Hijau dan mene
mukan kenyataan betapa Duta Agung yang sekarang telah menjadi jauh lebih berbaha
ya lagi. Tetapi, pada saat-saat terakhir "terawangan" mereka, juga ditemukan bah
wa sekarang adalah saat-saat menentukan Duta Agung untuk mencapai titik tertingg
i dalam penguasaan ilmunya. Dan inilah yang membuat mereka bertiga akhirnya memu
tuskan untuk "merusak" usaha saingan mereka. Demi nama dan demi pembalasan denda
m kepada Kiang Sin Liong serta Kolomoto Ti Lou dan kawan-kawannya.
Meski telah mengantisipasi kedatangan Lamkiong Sek, Naga Pattynam dan Wisanggeni
, tetapi sebetulnya ketiga tokoh tua Lembah Pualam Hijau kurang tahu maksud utam
a mereka. Hanya, ketika mereka menyatakan ingin bertemu Duta Agung sementara wak
tu-waktu sekarang adalah menentukan bagi pelajaran Kiang Ceng Liong, sadarlah me
reka betapa gawatnya situasi. Sebagaimana mereka melakukannya beberapa waktu seb
elumnya, sekarang ini Ceng Liong sedang berusaha menembus batas terakhir itu. Ba
tas yang dicatat oleh Koai Todjin, tokoh yang masih memiliki kaitan perguruan de
ngan mereka. Padahal, Ceng Liong berada di batas-batas menentukan dalam latihann
ya. Titik inilah yang membuat ketiga tokoh tua Lembah Pualam Hijau jadi berjuang
mati-matian.
Mereka menghadapi tabir gelap yang dipenuhi ringkikan dan bentakan-bentakan gaib
yang menghentak kekuatan dalam mereka. Padahal, kondisi dan cuaca tenang-tenang
saja di lokasi pertempuran. Tetapi bagi Kiang tek Hoat, Kiang Cun Le dan Liongi-Sinni, justru seperti sedang terjadi badai besar. Dunia bagai bergolak dengan
riuh rendah suara bentakan dan tiupan angin sekeras topan yang melanda mereka. T
etapi mereka sadar betul, bahwa kondisi itu disebabkan oleh kekuatan sihir lawan
. Itulah sebabnya mereka bertahan mengerahkan kekuatan batin dan tenaga dalam me

reka untuk bertahan dari serangan lawan.


Jika dibandingkan, maka Liong-i-Sinni memiliki tenaga batin paling kokoh diantar
a ketiga tokoh utama Lembah Pualam Hijau. Pendalamannya atas agama Budha telah m
emupuk kekuatan batin yang tidak rendah, apalagi karena kekuatan tenaga dalamnya
sudah teramat tinggi dan sempurna. Maka dibandingkan kedua kakaknya, Kiang Cun
Le dan Kiang Tek Hong, dia sedikit unggul dalam kematangan kekuatan batinnya. Se
mentara Kiang Cun Le unggul dalam kekuatan tenaga dalam, kekuatan iweekang yang
dipupuknya selama puluhan tahun terakhir. Apalagi, dia menemukan keajaiban ketik
a membentuk Ceng Liong dan mempersiapkannya. Meski sedikit dibawah kekuatan bati
n adiknya, Liong-i-Sinni, tetapi dia memiliki keunggulan di tenaga iweekang. Sem
entara Kiang Tek Hong sebetulnya memiliki keunggulan di ilmu silatnya yang berva
riasi dan banyak memiliki ilmu-ilmu hebat yang sudah dinyatakan lenyap dari rimb
a persilatan.
Demikianlah ketiga tokoh utama yang juga adalah cucu-cucu Kiang Sin Liong memper
tahankan Lembah Pualam Hijau melawan tokoh-tokoh seangkatan kakek mereka. Dan, h
ebatnya mereka masih terus dan terus sanggup mempertahankan diri meski sedikit d
idesak oleh kekuatan lawan. Apalagi, karena sesekali lawan melalui Wisanggeni me
lontarkan Gelap Ngampar untuk memukul semangat perlawanan mereka. Hanya saja, la
ndasan dan dasar tenaga mereka yang sama dan sekeluarga yang melahirkan kekokoha
n dan kerjasama yang saling mendukung dan saling melengkapi. Inilah yang menyela
matkan mereka.
Bahkan untuk memperkokoh daya tahan mereka, kini baik Kiang Cun Le, Kiang Tek Ho
ng maupun Liong-i-Sinni telah duduk bersila. Dan dari pengerahan kekuatan puncak
Giok Ceng Sinkang, dari tubuh mereka keluar selapis cahaya halus berwarna kehij
au-hijauan. Inilah tanda dan ciri khas seorang penguasa Giok Ceng Sinkang yang t
elah mencapai puncaknya. Dan jika dikeluarkan dan dikerahkan, maka dari tubuh si
pengguna akan keluar selapis cahaya kehijauan yang berfungsi menolak hawa-hawa
sesat. Ini berarti, ketiga tokoh tua Lembah Pualam Hijau sedang dalam pengerahan
tertinggi penguasaan mereka atas ilmu-ilmu pusaka Lembah Pualam Hijau.
Kali ini pertempuran berjalan sedikit berbeda. Jika pertarungan menggunakan keku
atan sihir untuk melemahkan semangat lawan tidak memperoleh hasil yang memuasaka
n meski posisi sedikit unggul, kali ini Lamkiong Sek dan kawan-kawannya menempuh
strategi baru. Kali ini pertarungan dilakukan satu lawan satu dengan menggunaka
n ilmu-ilmu silat. Tetapi pertarungannya bukanlah pertarungan secara fisik, mela
inkan memainkannya melalui pertarungan batin. Bahkan tokoh-tokoh kelas satu rimb
a persilatanpun tidak akan sanggup lagi mengikuti pertarungan seperti ini. Perta
rungan dimana serang menyerang dilakukan melalui "dunia tidak terlacak" oleh mat
a dan indra biasa manusia.
Menang atau kalah tidak ditentukan oleh kena atau tidaknya pukulan yang dilambar
i tenaga kasar atau tenaga dalam. Tetapi lebih ditentukan oleh perbawa batiniah
yang tercipta melalui kehebatan ilmu silat, kekuatan tenaga iweekang dan tinggin
ya tenaga batin. Bagi mereka yang bertempur, pertempuran memang seperti di arena
biasa dengan menggunakan ilmu-ilmu silat pamuncak. Bedanya adalah, arena sebena
rnya adalah arena bentukan mereka yang bertempur dan saling serang disana dengan
serunya. Terjadi pertempuran yang mengkombinasikan ilmu silat, ilmu sihir atau
tenaga batin dengan tenaga iweekang atau tenaga dalam. Karena itu, bisa dibayang
kan betapa dahsyat akibatnya bagi mereka yang bertarung. Sebaliknya bagi penonto
n, jikapun ada, mereka hanya melihat dua tubuh manusia biasa yang bersila saling
berhadapan dengan ekspressi yang berbeda-beda yang bisa mereka tampilkan. Yakni
ekspressi orang yang memang benar-benar sedang melangsungkan pertarungan seru.
Arena "mitis" yang tercipta terdapat diantara 6 tubuh yang terkelompok menjadi 2
kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang. Kedua kelompok ber
beda itu saling berhadapan dan kini semua dalam posisi duduk bersamadhi dengan k
erut wajah yang serius dikedua belah pihak. Sementara itu, dihadapan ke-enam ora
ng tua itu, sedang bertarung Kiang Tek Hong melawan Naga Pattynam. Tubuh kedua o
rang itu saling libas dan saling libat di arena dihadapan ke-enam orang tua yang
saling berhadapan secara berkelompok itu. Tubuh keduanya bagaikan sedang terban
g kesana kemari bagai kupu-kupu, saling kejar, saling serang, saling pukul dan s
aling menghindar.
Tiada efeknya bagi dunia fisik. Tetapi efeknya bagi mereka yang bertarung sunggu

h mendebarkan. Tubuh fisik Tek Hong nampak berkerut dan mengeluarkan keringat, j
auh lebih letih kelihatan dibandingkan tubuh dan wadah fisik Naga Pattynam. Bisa
dimengerti, Naga Pattynam memang unggul di tenaga dan kekuatan sihirnya, meski
sedikit keteteran menghadapi variasi ilmu silat Kiang Tek Hong. Jika bertempur s
ecara fisik, belum tentu Naga Pattynam bisa mendesak Kiang Tek Hong. Tetapi dala
m pertempuran jenis "batiniah" ini, yang paling penting adalah kekuatan iweekang
dan kekuatan batin atau kekuatan sihir. Nach, disinilah keunggulan Naga Pattyna
m yang memang memiliki kemampuan sihir paling hebat diantara ketiga kakek pendat
ang atau penyusup itu.
Kekuatan tenaga dalam keduanya tidak jauh selisihnya. Naga Pattynam sebenarnya b
erasal dari perguruan Budha, tetapi telah banyak mencampur adukkan dasar tenagan
ya dengan tenaga dalam kaum sesat. Bahkan telah menggodok tenaga gabungan dengan
aliran tenaga lain dari Jawadwipa dan Tionggoan. Akibatnya, kekokohannya berkur
ang. Sebaliknya, Kiang Tek Hong justru telah mengalami "pemurnian" oleh kakeknya
Kiang Sin Liong dan kemudian menempa diri dalam puncak kemahiran Giok Ceng Sink
ang bersama Liong-i-Sinni dan Kiang Cun Le. Karena itu, meski usianya jauh lebih
muda, tetapi kekokohan tenaga dalam Kiang Tek Hong masih sanggup memadai dan me
nandingi keampuhan Naga Pattynam. Hanya dalam hal tenaga batin dan tenaga sihir,
dia memang masih tercecer dan masih belum sanggup meladeni Naga Pattynam. Itula
h sebabnya kernyitan di wajah Kiang Tek Hong sering terlihat, tanda dia sedang d
iserang dan terdesak.
Celakanya, dalam pertarungan seperti ini yang memegang peranan penting adalah ke
kuatan batin. Kemampuan menekan dan mempengaruhi mental dan ketenangan seseorang
adalah yang paling menentukan. Dan itulah sebabnya dalam pertarungan ini Kiang
Tek Hong lebih banyak didesak daripada mendesak. Bahkan akhir-akhirnya dia berko
nsentrasi untuk menjaga ketenangannya dan tidak banyak melakukan serangan. Untuk
itu landasan Tek Hong yang lebih murni cukup menguntungkannya. Dia terhindar da
ri desakan bertubi-tubi karena kemampuan dan daya tahannya yang memang lebih ule
t dan dasar serta landasan tenaga dalam yang lebih murni.
Tetapi melihat keadaan Tek Hong seperti itu membuat Liong-i-Sinni memutuskan unt
uk ikut terjun dalam pertempuran. Dan kali ini dia disambut oleh Wisanggeni yang
memang telah bersiap melihat gelagat Liong-i-Sinni akan menceburkan diri kedala
m pertempuran. Dan tidak lama kemudian keduanya telah membentuk arena kedua, are
na pertempuran batin tingkat tinggi yang tidak mungkin diikuti manusia biasa sec
ara mata telanjang. Hanya, jika dalam pertempuran biasa Liong-i-Sinni adalah "ra
ja ginkang", maka dalam pertempuran jenis ini kemampuan itu menjadi biasa saja.
Tetapi untungnya Liong-i-Sinni memiliki keunggulan tenaga batin yang lebih dalam
dibandingkan lawannya. Dengan landasan tenaga iweekang yang tidak terpaut jauh,
Liong-i-Sinni mampu menahan serangan-serangan Wisanggeni.
Yang menyulitkan adalah, Wisanggeni memiliki kemampuan menyerang melalui kekuata
n suara, yakni ilmunya "Gelap Ngampar". Dan karena itu, sesekali Liong-i-Sinni t
erpaksa harus menandinginya dengan lontaran-lontaran kekuatan melalui suaranya.
Arena mereka sesekali terjadi adu suara yang menyerang telinga batin keduanya, s
aling silang antara erangan khas Gelap Ngampar: "Arrrrrrrrrrrrrrrrrrrccch" dan s
esekali ditimpali lentingan suara "Amitabha ...........". Keunggulan tenaga bati
n Lionmg-i-Sinni banyak membantunya untuk menutupi ketertinggalannya dari kekuat
an iweekang dan serangan Gelap Ngampar lawan. Karena itu, posisi dan kondisi Lio
ng-i-Sinni relatif sedikit lebih baik dibandingkan dengan Kiang Tek Hong. Kondis
inya jauh lebih seimbang.
Melihat semuanya sudah terlibat dalam pertarungan, Kiang Cun Le memutuskan melib
at Lamkiong Sek dalam pertempuran serupa. Hal ini untuk menghindarkan terjangan
Lamkiong Sek masuk lebih kedalam. Betapapun tinggal beberapa jam, waktu yang dib
utuhkan Duta Agung untuk latihan terakhirnya. Karena itu, sedapat mungkin harus
diupayakan agar pertempuran ini berlangsung lama dan berlarut-larut. Sementara L
amkiong Sek sendiri berpikir serupa. Hanya, bedanya keyakinan dirinya sudah runt
uh beberapa persen sejak melihat kemampuan Tek Hong yang meningkat pesat serta j
uga Liong-i-Sinni yang ternyata juga nyaris setingkat dengan mereka. Kini, Lemba
h Pualam Hijau bukan semata Kiang Sin Liong seorang.
Nampaknya kekuatan pamuncak yang memang disiapkan untuk kebutuhan darurat harus
segera dilepaskan. Tetapi sebelum itu dia begitu ingin mencoba. Mencoba cucu Kia

ng Sin Liong yang selama ini menjadi sandaran Lembah Pualam Hijau sebelum Duta A
gung yang sekarang tampil dewasa. Kiang Cun Le memang menjadi tulang punggung ut
ama Lembah Pualam Hijau sepeninggal Kiang Sin Liong dan banyak berjasa melewati
masa-masa sulit Lembah Pualam Hijau bersama adiknya Liong-i-Sinni - Kiang In Hon
g.
Maka pada akhirnya bentroklah ke-enam manusia sakti itu dalam pertempuran aneh y
ang sulit dibayangkan. Tubuh atau wadag kasar mereka sedang bersila saling berha
dapan, tetapi dari wadag kasar mereka itu masing-masing mengeluarkan kekuatan lu
ar biasa untuk saling mengalahkan lawannya. Efek serangan mereka tidak akan tera
sa bagi dunia fisik, tetapi begitu terasa dan begitu hebat efeknya bagi lawan. H
anya orang-orang yang telah menguasai ketenangan mental, jiwa dan kekuatan batin
serta tenaga dalam sempurna yang sanggup melakukannya.
Kiang Cun Le segera merasa betapa berat memang lawannya. Dia harus mengakui bahw
a tokoh yang menjadi lawannya memang adalah lawan sekaliber kakeknya Kiang Sin L
iong. Dan harus diakuinya dia masih belum memiliki cukup kemampuan untuk mengala
hkannya. Tetapi untuk sekedar bertahan, dia masih memiliki cukup keyakinan. Tanp
a penemuan terakhir Duta Agung dari Koai Todjin dia tidak berkeyakinan untuk men
ahan kakek lawannya ini cukup lama. Hanya memang, tenaganya masih lebih murni di
bandingkan Lamkiong Sek yang liar dan menghentak-hentak. Dan hanya kekuatan "pen
yembuh" yang telah meningkat dari Giok Ceng Sinkang yang membuat dia dan kedua s
audaranya masih sanggup bertahan melawan libasan kekuatan lawan yang luar biasa
hebatnya.
Lamkiong Sek sendiri harus kagum dengan kemampuan Kiang Cun Le. Usianya jauh leb
ih besar daripada Kiang Cun Le, tetapi Kiang Cun Le mampu memberikan perlawanan
berarti kepadanya. Bahkan nampaknya tenaga murni Kiang Cun Le tidak tertinggal j
auh daripadanya. Hanya kekuatan sihirnya memang masih lebih kuat karena terasah
secara baik dalam pergaulannya akhir-akhir ini dengan Naga Pattynam dan Wisangge
ni. Inilah modal utamanya dalam menekan dan mendesak Kiang Cun Le yang terpaksa
lebih banyak dalam tekanan. Untungnya daya tahannya sudah jauh lebih baik akhirakhir ini.
Memang benar, pertarungan antar "gajah" ini tidak menimbulkan kegaduhan di alam
fisik. Tetapi, bagaimanapun getaran-getaran kekuatan batin akan tertangkap getar
annya dari tempat jauh akibat benturan-benturan yang dilakukan oleh mereka yang
berkekuatan hebat. Mereka yang memiliki kepandaian tinggi akan dengan mudah mena
ngkap getaran-getaran aneh, apalagi dengan kuatnya getaran yang ditimbulkan oleh
benturan kekuatan maha dahsyat tersebut. Dan bisa ditebak, tokoh hebat disekita
r Lembah Pualam Hijau pastilah telah menangkap benturan-benturan getaran batin y
ang teramat kuat ini.
Hanya saja, siapapun tokoh dalam Lembah Pualam Hijau sadar betul dimana tempat m
ereka berada. Karena itu, tidak sembarangan orang yang berani bergerak untuk mel
acak dimana tempat terjadinya atau sumbernya getaran-getaran kekuatan batin yang
memancar tersebut. Kondisi tersebut bukannya tidak disadari oleh Lamkiong Sek.
Semakin lama pertarungan mereka, akan semakin beresiko besar bagi mereka bertiga
. Padahal, waktu yang mereka miliki semakin terbatas. Sewaktu-waktu Duta Agung b
akal sangat mungkin untuk menyelesaikan "kerjanya" dan jika itu terjadi, maka le
bih banyak celaka yang akan mereka terima. Karena mereka paham sampai dimana kek
uatan dan kehebatan "Duta Agung" yang masih muda itu. Apalagi, karena Kiang Sin
Liong dan Kolomoto Ti Lou, dua tokoh hebat yang paling mereka benci, telah secar
a tersamar menyebut anak itu sebagai penghalang bagi mereka.
Lamkiong Sek berpikir waktu sudah sangat terbatas. Sudah saatnya dengan sangat t
erpaksa menggunakan rencana cadangan. Yakni dengan mengerahkan serangan pamungka
s dari gabungan kekuatan mereka yang digodok untuk membentuk kedua murid mereka
bertiga: gaib Memindahkan Hawa Mengisi Kosong Menjadi Penuh. Harus diakui, Lamki
ong Sek memang seorang jenius. Seperti juga Wisanggeni yang lapar ilmu dan Naga
Pattynam yang tergila-gila dengan rangkaian-rangkaian silat yang mujijat. Paduan
ketiganya, terutama rangkaian dan tafsiran Lamkiong Sek atas "Memindahkan Hawa
Mengisi Kosong Menjadi Penuh" mampu membuat mereka bertiga "sembuh" dari seranga
n kekuatan batin Kolomoto Ti Lou, Kiang Sin Liong, Bhiksu Chundamani dan Wie Tio
ng Lan.
Dengan mengais-ngais kembali kekuatan mereka yang nyaris lebur kemana-mana, sela

ma sebulan penuh mereka berkonsentrasi mengumpulkan, saling memindahkan dan sali


ng mengisi. Sampai kemudian formula mujijat dari Thian Tok itu mampu dikembangka
n Lamkiong Sek dengan mengkombinasikannya dengan pengetahuan dia sendiri serta d
engan penguasaan Wisanggeni dan Naga Pattynam. Ketiganya, dengan juru racik Lamk
iong Sek, secara gemilang mampu menggodok formula Thian Tok dan dikombinasikan d
engan lembar pusaka Kolomoto Ti Lou dan khasanah pengetahuan Lam Hay. Terciptala
h jalan bagi mereka dalam memendam kekuatan luar biasa meski sebelumnya tenaga d
alam mereka nyaris buyar. Dan dengan dengan formula seperti itu pula-lah, mereka
akhirnya "membentuk" murid-murid mereka, yakni Janawasmy dan Majikan Kerudung H
itam untuk dengan cepat menjadi tokoh maha sakti.
Puncak dari gubahan mereka adalah menempatkan satu orang di depan untuk menyalur
kan segenap kekuatan tenaga dalam dan tenaga batin menjadi berdaya serang bergel
ombang. Bisa dibayangkan bagaimana hebatnya gabungan ketiga Kakek yang luar bias
a lihaynya itu. Tidak akan ada seorangpun rasanya yang sanggup menahan gabungan
serangan seperti itu, kecuali dilawan dengan sistem serupa. Bila mampu diramu me
njadi sebuah serangan tunggal, maka siapakah gerangan yang akan mampu menahan ar
us gelombang serangan tersebut?
Dan Lamkiong Sek yang melihat waktu semakin terbatas telah menimbang-nimbang unt
uk melakukannya. Dalam keterbatasan waktu, memang harus memikirkan dengan cepat
strategi baru guna mencapai tujuan. Dan Lamkiong Sek sadar, bahwa meski belum se
mpurna benar, tetapi pilihan paling akhir adalah menempuh jalan terakhir itu. Ya
kni jalan penggabungan semua tenaga dan semangat guna melancarkan serangan pamun
gkas. Serangan itu, bahkan bisa menyasar ketempat yang lebih jauh saking ampuhny
a gabungan serangan mereka. Dan Lamkiong Sek telah menghitung tempat dimana Duta
Agung berada masih dalam areal yang bisa diserang dengan tingkat kerusakan ting
gi.
"Toch waktuku memang sudah sangat sempit dan terbatas. Tidak lama lagi waktu hid
up yang kumiliki, rasanya tidak ada salahnya demi cita-cita yang terakhir aku te
rpaksa melakukannya. Biarlah tugas terakhir diserahkan kepada anak-anak muda" ti
mbang Lamkiong Sek.
Apa yang membuat Lamkiong Sek banyak berpikir dan menimbang adalah: karena ilmu
itu belum sempurna dan belum matang betul. Maka pengerahan tenaga terakhir akan
sangat membahayakan orang yang mengambil posisi terdepan. Artinya, jika dia yang
memerintahkan melakukan penyerangan dengan gaya itu, maka dia yang wajib mengam
bil posisi terdepan. Dan dia juga yang harus berani untuk menerima resiko terber
at dari tenaga gabungan mereka bertiga. "Tetapi bagaimanapun waktu semakin menip
is, aku harus memutuskan. Biarpun hanya sekali ini, tetapi aku tetap harus menik
mati sekali saja kemenangan atas Kiang Sin Liong dan Kolomoto Ti Lou, harus ....
... harus kulakukan" gumamnya dalam hati.
Rasa penasaran karena melulu kalah dari Kiang Sin Liong berempat dari Tionggoan
dan belakangan dari Kolomoto Ti Lou dan juga Bhiksu Chundamani benar-benar meron
grong rasa tinggi hati Lamkiong Sek. Tokoh cerdik pandai asal Lam Hay ini benarbenar penasaran. Apalagi, Lam Hay juga tidak pernah sanggup menang melawan Kiang
Sin Liong meskipun mereka telah tidak henti-hentinya berlatih dan meningkatkan
kemampuan. Masakan sampai ada akhir kehidupan tidak mampu menang walau hanya sek
alipun? Seperti itu kira-kira pemikiran Lamkiong Sek yang sebenarnya amat pandai
dan berbakat itu.
"Kita harus dan akan segera melakukannya ....." tiba-tiba dia memberi isyarat da
n komunikasi dalam kekuatan batin kepada kedua temannya, Wisanggeni dan Naga Pat
tynam. Kedua tokoh itu menjadi kaget tak terkira, sampai-sampai konsentrasi mere
ka menghadapi Kiang Tek Hong dan Liong-i-Sinni terganggu.
"Kau gila, tetapi kita masih belum menyempurnakan pelepasan kekuatan tersebut se
cara frontal. Bisa sangat berbahaya bagi dirimu ...." Naga Pattynam mengingatkan
Lamkiong Sek akan bahaya yang mereka tahu bersama.
"Ketiga cucu Kiang Sin Liong ini hebat juga, kita tidak akan sanggup dengan cepa
t mengalahkan mereka. Padahal waktu sudah sangat terbatas. Hanya dengan gabungan
kekuatan, kita bukan saja mengalahkan mereka bertiga tetapi juga menyerang lang
sung Duta Agung itu. Kulihat waktu kita semakin sempit" Lamkiong Sek berkeras un
tuk melakukannya.
"Tetapi itu akan berarti akhir kehidupanmu, kita harus memikirkannya lebih jerni

h" Naga Pattynam masih mencoba mengingatkan Lamkiong Sek. Sementara Kiang Cun Le
, Kiang Tek Hong dan Liong-i-Sinni heran mengapa daya tempur ketiga Kakek ini ti
ba-tiba mengendor. Mereka kurang paham jika saat-saat penentuan justru sudah did
epan mata mereka.
"Sobat, sebetulnya aku memang sudah tidak berkemampuan untuk hidup lebih lama la
gi. Aku sudah melihat betapa dekat batas hidupku, pertempuran kali ini membuat a
ku lebih jelas lagi akan batasku. Tugas selanjutnya menjadi tanggungjawab kalian
berdua bersama kedua murid kita itu. Sebaiknya kita bersiap ...." Lamkiong Sek
akhirnya tegas dengan keputusannya. Bulat sudah. Sementara Wisanggeni dan Naga P
attynam menjadi tegang sendiri.
Selama beberapa bulan terakhir, bahkan beberapa tahun terakhir mereka tahu benar
keampuhan dan kepintaran Lamkiong Sek. Bahkan formula rahasia dari Thian Tok me
njadi tertafsirkan dan bisa mereka manfaatkan karena kepintaran Lamkiong Sek. Da
n kini, mereka mendengar langsung jika Lamkiong Sek telah memutuskan untuk melak
ukan "adu jiwa". Lebih dari itu, mereka tersentak mendengar Lamkiong Sek telah b
erada di penghujung usia kehidupannya.
Wisanggeni yang biasanya licik dan tidak punya rasa setia kawan, pun menjadi teg
ang dan menunjukkan simpatinya:
"Saudara Lamkiong, apakah engkau sadar dengan keputusanmu"?
"Sebaiknya kita segera bersiap. Jika terlampau lama, ketiga orang cucu Sin Liong
dihadapan kita akan bisa cepat menebak apa yang kita persiapkan. Dan sekali lag
i ingat, segera setelah kita menyelesaikan misi di tempat ini, pembalasan dendam
selanjutnya sudah menjadi tanggungjawab kalian berdua bersama murid-murid dan k
awan-kawan kita yang lain. Ayo kita mulai ........"
Selesai berkata demikian Lamkiong Sek telah menarik kembali serangannya dan kini
berkonsentrasi penuh dalam pengerahan kekuatan batin dan kekuatan murni sepenuh
nya. Dia kemudian berjalan satu langkah ke depan, mau dihadapan kedua kawannya,
Wisanggeni dan Naga Pattynam sambil kedua lengannya direntangkan. Gaya dan gerak
annya bagaikan gerak tubuh yang membentang dan menghisap serta menerima semua ke
kuatan yang berada di sekitarnya. Dan memang demikian adanya. Wisanggeni dan Nag
a Pattynam telah mengerahkan kekuatan keduanya untuk diserap dan digabungkan ole
h Lamkiong Sek guna melakukan serangan pamungkas. Dibandingkan kawan-kawan merek
a yang lain, Bu Hok Lodjin dan Singa Jantan dari Tiang Pek San serta bahkan Mahe
ndra dan Gayatri, ketiga Kakek ini memang masih berada setingkat di atas.
Ketiganyalah yang secara intensif memeriksa formula rahasia Thian Tok dan menemu
kan kemungkinan penyatuan. Hanya, karena mereka bertiga yang terus bekerja, maka
mereka bertiga sajalah yang sanggup melakukan "penggabungan" tenaga untuk diker
ahkan menjadi sebuah serangan pamungkas. Dan kini, ketiganya sudah dalam proses
menyiapkan serangan pamungkas tersebut. Sebuah serangan yang sangat berbahaya da
n mematikan, bukan hanya karena hentakan tenaga gabungan, tetapi karena bahkan t
enaga gabungan ini dapat dilontarkan melalui kekuatan batin untuk menyerang oran
g yang berada dalam radius dan daya jangkauan pukulan mereka. Meski belum sempur
na, tetapi mereka mampu memukul roboh pesilat tangguh sekalipun dalam jarak hamp
ir 250 meteran.
Padahal, dalam hitungan Lamkiong Sek, jarak mereka dengan tempat dimana Duta Agu
ng biasanya bersamadhi, dan dia sudah meyakininya melalui kekuatan batinnya tadi
, hanyalah berjarak kurang dari 150 meter. Inilah yang menumbuhkan optimisme Lam
kiong Sek bahwa dia akan sanggup melukai Duta Agung, menggagalkan rencana Sin Li
ong dan Kolomoto Ti Lou dan menjadi satu-satunya kemenangannya atas Sin Liong da
n Kolomoto Ti Lou selama masa hidupnya. Sebuah kemenangan yang gemilang. Dan di
bibirnya telah tersungging senyum kemenangan tersebut. Benar-benarkah dia menang
di akhir hidupnya ?
Sementara itu Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le dan Liong-i-Sinni sempat terpana dan
tidak mengerti apa yang akan dilakukan ketiga Kakek yang amat lihay itu. Mereka
mulai curiga ketika ketiga Kakek itu nampak bersiap dalam sebuah formasi aneh de
ngan Lamkiong Sek berada satu langkah di depan ke dua kakek lainnya. Dalam posis
i masih ayal-ayalan tiba-tiba mereka bertiga mendengar bisikan dari suara yang s
ama, suara yang sangat mereka kenal:
"Bersiaplah dengan cepat, gabungan kekuatan mereka bertiga itu akan terlampau da
hsyat, karena itu segera kerahkan segenap kekuatan batin kalian dan biarkan sisa

nya ditanggungnya ......."


"Toako ....."? terdengar Kiang Tek Hong mendesis dan saling pandang dengan kedua
saudaranya yang lain, Kiang Cun Le dan Liong-i-Sinni yang nampaknya sama mengen
al sumber suara yang membisiki mereka. Dan karena itu setelah saling kedip tanda
setuju, dengan cepat dan sigap ketiganya bersiap untuk menandingi lontaran keku
atan dahsyat yang dilepaskan oleh gabungan 3 (tiga) kekuatan dahsyat yang tidak
nampak itu.
Begitu mereka bersiap - pada saat itulah Lamkiong Sek mengerang serta melontarka
n kekuatan gabungan mereka bertiga; Lamkiong Sek - Wisanggeni - Naga Pattynam. S
ebuah gabungan kekuatan maha raksasa yang bukan hanya didorong oleh kekuatan ten
aga iweekang tetapi juga tenaga batin dan sihir yang luar biasa kuatnya. Dengan
segera keadaan di sekitar ke-enam orang itu bagai diserang angin ribut, karena b
ahkan pepohonanpun bergoyang-goyang seperti terkena terjangan angin dan badai. D
an dari segi tiga posisi tubuh Lamkiong Sek - Wisanggeni dan Naga Pattynam, tiba
-tiba berhembuslah pusaran angin lesus yang luar biasa kuat dan dahsyatnyanya. K
ekuatan itu bergulung-gulung dan memancar menerjang kesemua arah dalam pusaran k
ekuatan yang luar biasa kuatnya.
"Lontarkan gabungan kekuatan tenaga batin kalian secepatnya, kurangi kedahsyatan
tenaga gabungan mereka bertiga itu. Mudah-mudahan "dia" akan cukup sanggup untu
k menanggulangi sisa kekuatan lainnya ......" kembali terdengar suara yang sanga
t dikenal dan akrab di telinga ketiga tokoh puncak Lembah Pualam Hijau itu. Dan
sambil saling lirik, mereka bertigapun saling mengangguk dan secara bersama mend
orongkan kekuatan mereka ke arah posisi segi tiga manusia yang menjadi pusat dan
sumber pusaran utama kekuatan gabungan itu. Dan sebagai akibatnya sungguh luar
biasa hebat ......
Hanya saja, puusaran kekuatan itu memang hebat luar biasa. Begitu membenturnya,
Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le dan Liong-i-Sinni segera sadar bahwa mereka membent
ur kekuatan yang terlampau besar. Tetapi untungnya, meski menyerang dengan kekua
tan masing-masing, tetapi pusaran kekuatan itupun sedikit tergedor. Serangan kua
tnya yang merambat kemana-mana bisa dikurangi, meskipun kekuatan tenaga murni ya
ng menyambar keluar, terutama ke-arah yang dituju mereka bertiga masih teramat k
uat dan besar. Dan tenaga murni yang telah dilontarkan itu tetap menerjang cepat
ke arah yang telah mereka tetapkan, meskipun tanpa dorongan kekuatan sihir atau
kekuatan batin yang telah dibentur oleh Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le dan Liongi-Sinni.
Tetapi, ketiga tokoh Lembah Pualam Hijau itu sendiri mengalami kejadian yang jar
ang mereka alami dan rasakan. Begitu mengalami benturan mereka langsung terlempa
r dan terlontar ke belakang. Dan hanya karena kekuatan mereka yang luar biasa sa
jalah mereka sanggup mengatur cara jatuh mereka dengan duduk bersila. Hanya saja
, wajah mereka menjadi sangat pucat dan sinar mata mereka menjadi sayu bagaikan
tiada cahaya kehidupan. Itulah tanda kalau mereka mengalami guncangan dan keleti
han fisik serta psikhis yang luar biasa.
Sebagai tokoh yang sudah malang melintang dengan kekuatan tenaga murni dan tenag
a batin yang relatif sempurna, mereka sadar jika semangat mereka tergedor sangat
keras. Kekuatan tenaga iweekang mereka juga terbentur keras, tetapi untuk urusa
n itu mereka tidak khawatir. Dalam waktu tidak lama, mereka akan sanggup mengump
ulkan kembali tenaga murni dan iweekang mereka. Tetapi, gedoran terhadap semanga
t dan mental mereka sungguh begitu kuat. Bakal dibutuhkan waktu yang lama untuk
mengembalikan "semangat" maupun gedoran yang didera oleh benturan dengan gabunga
n kekuatan batin lawan.
Sementara itu, serangan utama gabungan kekuatan 3 kakek itu terus meluruk ke ara
h gua yang berada tidak jauh dari areal pertempuran mereka. Gabungan kekuatan ya
ng telah dinetralisasi sokongan kekuatan batinnya oleh ketiga tokoh utama Lembah
Pualam Hijau itu masih teramat ampuh. Itulah ancaman fisik yang maha hebat kare
na Itulah gabungan kekuatan iweekang tiga tokoh sepuh yang terus meluruk ke arah
yang telah mereka tentukan. Tetapi tiba-tiba, kekuatan luar biasa yang tidak na
mpak itu tiba-tiba bagai tergulung-gulung dan kemudian membentuk pusaran kekuata
n yang sangat luar biasa.
Seluruh kekuatan tenaga iweekang ketiga kakek itu meluruk dan terhenti di satu t
empat untuk kemudian bergulung-gulung membentuk pusaran besar. Hebatnya pusaran

kekuatan itu semakin lama semakin lebar daya jangkaunya. Dan sudah barang tentu
kekuatannya juga menjadi berlipat ganda. Dan pada saat yang sangat menegangkan i
tu, tiba-tiba gulungan kekuatan itu melesat dengan kecepatan tinggi menyeberangi
jurang di samping gua dan tidak berapa lama kemudian terdengar sebuah ledakan k
eras luar biasa:
"Dhhhhhhhhhhuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrr ....."
Jarak antara gua di bentangan gunung kembar sebelah selatan dengan tebing gunung
kembar sebelah utara yang di bawahnya mengalir sungai itu kira-kira ada 150 met
er atau bahkan mungkin hampir 200 meter lebih. Tetapi ledakan yang diakibatkan o
leh gabungan 3 kekuatan itu menghasilkan daya ledak yang bergemuruh dan diikuti
dengan runtuhnya material tebing sebelah ke sungai yang berada di bawahnya. Suar
anya berderik keras dan menghasilkan kebisingan luar biasa di tengah kondisi ala
m yang sedang senyap. Tetapi, selama bunyi ledakan dan runtuhnya material di teb
ing sebelah bergemuruh, di Lembah Pualam Hijau darimana kekuatan dahsyat itu ber
asal, sebaliknya justru menjadi sangat hening. Malah teramat hening kesannya.
Yang terdengar hanyalah tarikan nafas beberapa manusia. Ada tarikan nafas yang l
emah dan berasal dari Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le dan Liong-i-Sinni, dan ada ta
rikan nafas yang lebih lemah lagi. Nampaknya berasal dari Lamkiong Sek yang buka
n hanya mengalami guncangan akibat lontaran gabungan kekuatan mereka "berbelok"
arah ke tebing sebelah. Lebih dari itu, Kakek pintar yang lihay itu shock berat
melihat gabungan kekuatan itu seperti "dibelokkan" oleh seseorang. Tetapi yang m
embuatnya terbelalak adalah "siapa gerangan tokoh yang berkemampuan untuk membel
okkan gabungan tenaga yang begitu besar dan dahsyat"? Inilah pukulan terberat ya
ng diterima oleh Lamkiong Sek.
Sementara itu, Wisanggeni dan Naga Pattynam sendiri masih terperangah. Mereka se
ndiripun masih belum mengerti, bagaimana bisa tenaga sedahsyat itu bisa dihalau
orang hingga nyasar ke tebing sebelah? Ada siapakah tokoh sehebat itu yang memba
ntu pihak Lembah Pualam Hijau? Benar-benar sulit dibayangkan. Mereka memang tida
k terluka, hanya mengalami keterkejutan yang luar biasa. Baru mulai menemukan ke
sadaran ketika terlihat sesosok tubuh berjubah hijau secara perlahan bagaikan te
rbang perlahan-lahan turun dalam posisi bersila di depan Gua yang disasar oleh g
abungan tenaga mereka tadi.
Di keremangan malam mereka tidak sanggup mengenali siapa gerangan tokoh tersebut
. Tetapi jubah hijau dengan rambut terurai kusut masai dan dalam posisi bersila
turun secara perlahan bagai tak punya bobot, hanya sanggup dilakukan sedikit ora
ng. Dan tak sengaja Wisanggeni bergumam:
"Kiang Sin Liong ....... bukankah ........ bukankah dia .....?" tetapi suaranya
segera terputus. Diantara yakin dan tidak yakin. Hanya saja, pameran kekuatan ya
ng ditunjukkan tadi memang mengarah ke tingkat kepandaian tokoh sekaliber Kiang
Sin Liong. Siapa lagi jika bukan dia?
"Ma ...... ma ..... mana bisa dia, bukankah di ... dia, Kiang Sin Liong itu suda
h meninggal dunia ...."? terdengar suara kaget dan terbata-bata dari Lamkiong Se
k. Kegagalan pukulan gabungan tadi berefek sangat besar bagi tubuhnya yang menja
di landasan tenaga gabungan itu. Dia kehabisan tenaga dan kini tubuhnya menjadi
teramat lemah. Kehabisan tenaga.
"Segeralah berlalu dari tempat ini sebelum kesabaran kami semua habis. Dari mana
kalian datang dan menyusup, dari sana pulalah kalian harus pergi dan berlalu. S
ilahkan ...... maaf, kami tidak mengantarkan" terdengar suara yang memang mirip
suara Kiang Sin Liong, hanya saja dilepaskan oleh kekuatan tak berujud dan hanya
terdengar oleh ketiga kakek itu belaka.
"Engkau, engkau belum mati ......"? terdengar Wisanggeni bergumam setengah perca
ya setengah tidak percaya.
"Bukan urusanmu ....... pergilah sebelum kami berubah pikiran ....."
Dan sebelum ketiga Kakek itu bergerak penuh kelesuan karena menghadapi kegagalan
atas misi mereka, tiba-tiba terdengar suara yang mengalun di angkasa dan dituju
kan kepada banyak orang:
"Mereka telah kulepaskan ...... menghormati hari pernikahan di Lembah Pualam Hij
au kulepaskan ke tiga orang ini. Hutang-hutang lain, biarlah diselesaikan selepa
s hari ini ..... biarkan mereka pergi dari tempat mereka datang tadi ......"
Suara itu terdengar jelas dan tegas bagi semua. Sampai-sampai beberapa tokoh yan

g juga telah berada di sekitar tempat kejadian sama-sama menarik nafas panjang.
Terutama Nenggala dan Jayeng Reksa paman sekaligus gurunya. Mereka sebetulnya su
dah gatal tangan untuk menerjang Wisanggeni yang sekali lagi mendatangkan malu b
agi perguruan mereka dengan meluruk dan menyusup masuk ke Lembah Pualam Hijau. S
elain memang, urusan internal perguruan mereka masih tetap belum terselesaikan.
Tetapi perintah tadi telah dengan tegas melarang siapapun menghalangi kepergian
ketiga Kakek itu. Jelas sebagai tamu di Lembah Pualam Hijau, mereka berdua, Neng
gala dan Jayeng Reksa tetap harus menghormati keputusan tuan rumah. Karena itu,
dengan kesal dan juga berat hati mereka memandangi Wisanggeni bersama Naga Patty
nam yang berlalu sambil memayang Lamkiong Sek.
Tiba-tiba terdengar suara yang lain, pastinya bukan suara yang disangka atau did
uga Wisanggeni sebagai suara Kiang Sin Liong. Suara terakhir adalah suara dari o
rang yang disangka dan dipanggil "toako" oleh Kiang Tek Hong. Suara yang menging
atkan mereka untuk bersiaga menghadapi lontaran kekuatan ketiga Kakek yang kini
berjalan pergi dengan lesu setelah kalah dan dipermalukan di Lembah Pualam Hijau
.
"Amitabha, Lamkiong Locianpwee, hari-harimu sudah akan menjelang datang. Semoga
locianpwee masih berkesempatan untuk menemukan penerangan Budha ...... siancay,
siancay ......."
"Terima kasih ...... "Orang Suci dari Siauw Lim Sie" ternyata juga ikut berkunju
ng datang. Siapapun memang akan datang waktunya .........." Lamkiong Sek yang te
lah kehilangan kekuatannya hganya sanggup berbicara wajar bagai manusia biasa la
innya. Nampaknya di puncak kekecewaannya, Lamkiong Sek justru menjadi pasrah dan
kini dia sadar dan percaya bahwa ternyata memang benar, Lembah Pualam Hijau mem
iliki kemampuan untuk menghadapi mereka bertiga. Dan dia bersama kedua kawannya
telah membuktikannya. Hanya saja, dia masih sulit memahami bagaimana lontaran te
naga gabungan mereka bisa gagal. Sungguh teramat sulit untuk dipahaminya.
"Tapi, siapa gerangan yang telah melontarkan dan membelokkan tenaga gabungan kam
i bertiga ....."? Lamkiong Sek masih tetap penasaran dan mengajukan pertanyaan k
epada orang yang disebutnya "Manusia Suci Dari Siauw Lim Sie". Tokoh yang sebena
rnya adalah juga warga Lembah PUalam Hijau. Tepatnya, dia adalah saudara tertua
dari Kiang Cun Le, Kiang Tek Hong dan Kiang In Hong bertiga yang sudah lama memu
tuskan untuk bertapa di Siauw Lim Sie untuk mendalami ilmu agama.
"Dia adalah tokoh Lembah Pualam Hijau juga ....... tetapi dia terluka sangat par
ah setelah menerima dan kemudian membelokkan tenaga gabungan kalian. Untung dia
belum sanggup mengembalikan tenaga kalian, baru pada tahap sanggup untuk membelo
kkannya ....... Amitabha ......"
"Accchhhh, Kiang Sin Liong, bukankah dia .......?" suara Lamkiong Sek terputus d
i tengah jalan. Kaget setengah mati.
"Sama sekali bukan, kong-kong memang sudah meninggal beberapa waktu lalu" kali i
ni adalah Liong-i-Sinni yang berbicara. Kekuatan tenaga batinnya memang adalah y
ang paling dalam dan kuat diantara mereka bertiga, dan karena itu pengaruh tenag
a gabungan tadi lebih lemah memerosotkan semangatnya dibandingkan dengan Kiang T
ek Hong dan Kiang Cun Le.
"Jadi, dia ..... dia ..... bukan Kiang Sin Liong. Habis, siapakah dia ......? Ac
ccccch, apakah dia ..... dia ....." Lamkiong Sek tidak sanggup meneruskan kalima
tnya. Sebaliknya dia melirik kedua temannya dan kemudian berkata:
"Mari kita pergi, kita sudah terpukul kalah ....."
Dan kepada Manusia Suci Dari Siauw Lim Sie yang tidak menampakkan diri dia menye
mpatkan diri berkata:
"Terima kasih, aku menerima kekalahanku. Dan benar, hari-hariku memang sudah men
dekat. Teramat dekat malahan ....." dan setelah berkata demikian Lamkiong Sek me
mbalikkan badan untuk kemudian berjalan pergi dengan langkah yang sangat lemah,
malahan sambil dipayang oleh Wisanggeni.
Dan berlalulah ketiga Kakek luar biasa itu. Kembali masuk ke dalam barisan pepoh
onan, dan dengan susah payah akhirnya meninggalkan Lembah Pualam Hijau dari mana
mereka masuk tadi. Dan berahirlah "pesta" pertama di Lembah Pualam Hijau, pesta
yang sangat menegangkan menyambut pesta yang sesungguhnya yang besok harinya ba
ru akan dilaksanakan.
Sementara itu, untuk beberapa lama tidak ada seorangpun tokoh yang berusaha mend

ekati tempat dimana Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le dan Liong-i-Sinni duduk bersila
. Memang sekilas mereka sedang bersila dan ber-samadhi memulihkan diri, namun ke
tika Kiang Hong, Kiang Liong, Tan Bi Hiong, Kiang Li Hwa dan Kiang Sian Cu berus
aha mendekati orang tua mereka masing-masing, terdengar suara Duta Agung Kiang C
eng Liong:
"Biarkan mereka beristirahat dan melepas rindu masin-masing ....... akan besar m
akna dan manfaatnya untuk mereka semua"
Dan memang, tidak ada orang yang mampu melihat. Hanya beberapa gelintir belaka y
ang menangkap getaran-getaran tenaga mujijat yang sedang terjadi. Tetapi Ceng Li
ong yang baru menyelesaikan samadhinya untuk mengobati luka setelah melontarkan
kekuatan raksasa gabungan tiga kakek lihay tadi, sangat paham apa yang sedang te
rjadi. Meski tidak berhadap-hadapan secara fisik, tetapi dia paham bahwa "paman
kakeknya" yang kini telah menjadi "Manusia Suci dari Siauw Lim Sie" sedang berca
kap-cakap bersama-sama dengan adik-adiknya. Sebuah "reuni" antara 4 (empat) oran
g kakak beradik yang puluhan tahun baru terjadi kembali. Hanya saja, percakapan
itu tidak dapat diikuti sembarang orang, karena bukan "percakapan biasa". Percak
apan yang hanya dilakukan mereka berempat tanpa orang lain mampu mendnegar atau
apalagi merecokinya..
Kiang Sin Liong memiliki 4 orang cucu dari seorang anak tunggal yang mati muda.
Ke-empat cucunya itu adalah Kiang Siong Tek, Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le dan Ki
ang In Hong. Kiang Siong Tek dikenal paling dekat hubungannya dengan Kiang Tek H
ong, sementara Kiang Cun Le sangat dekat dengan adik perempuan mereka satu-satun
ya Kiang In Hong. Musibah yang di alami Kiang Tek Hong membuat Kiang Siong Tek m
emutuskan masuk biara menjadi murid Budha di Siauw Lim Sie. Sementara dengan ter
paksa Kiang Cun Le dididik kakeknya menjadi Duta Agung, bersama dengannya juga d
ididik Kiang In Hong. Merekalah yang dipasrahi masa depan Lembah Pualam Hijau.
Dan kini, ke-empat Kakak-Beradik itu sedang "bercengkerama". Atau tepatnya, "Man
usia Suci Dari Siauw Lim Sie" sedang membantu adik-adiknya untuk "membenahi" sho
ck yang dialami akibat terjangan gabungan kekuatan tiga lawan mereka yang memang
luar biasa lihaynya tadi. Untungnya, sokongan kekuatan batin telah dinormalisas
i mereka bertiga, jika tidak, maka Duta Agung tidak akan sanggup menahan lontara
n tenaga raksasa tadi. Itupun Duta Agung masih terluka cukup parah. Tetapi, meng
andalkan sinkang istimewa Giok Ceng Sinkang, Kiang Ceng Liong dengan berani mema
pak tenaga gabungan, terluka dalam yang parah, tetapi dengan cepat menyembuhkann
ya.
Sebagaimana diketahui "Manusia Suci Dari Siauw Lim Sie" yang dulunya bernama Kia
ng Siong Tek justru memiliki kemampuan kekuatan batin yang luar biasa sempurnany
a. Bahkan sebelum Kiang Sin Liong mampu melakukan komunikasi jarak jauh, dia tel
ah sanggup melakukannya. Dan kali inipun, dia melakukannya sesuai dengan permoho
nan terakhir kakeknya Kiang Sin Liong sebelum meninggal. Dan ternyata, prediksi
kakeknya memang benar terjadi. Adalah kehadirannya yang menyelematkan ketiga adi
knya. Meski sebagai murid Budha dia telah melepaskan semua ikatan duniawi, tetap
i bagaimanapun panggilan Lembah Pualam Hijau, panggilan kekeluargaan adalah sebu
ah ikatan "suci" yang sulit dilepas begitu saja. Karena itu orang selalu dan ser
ing rindu dengan kata "pulang". Kembali bertemu dengan "rumah" dan keluarga dari
mana dia berasal dan dimana dia tumbuh serta besar secara bersama.
Dan benar saja, setelah beberapa saat keadaan Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le dan L
iong-i-Sinni nampak semakin baik. Kondisi mereka sudah membaik, tidak selesu seb
elumnya. Bahkan Ceng Liong paham kalau mereka berempat, Kakak-Beradik yang sudah
lama tidak berkumpul lagi sedang bertukar cerita dan bertukar kisah. Dan berlal
ulah salah satu episode yang sangat menegangkan di Lembah Pualam Hijau. Tetapi,
benar-benarkah ketegangan di Lembah Pualam Hijau sudah berlalu? Sudah tenang dan
normalkah kondisi Lembah Pualam Hijau terutama menjelang serta pada saat pesat
pernikahan nantinya?
====================
Tak terlihat sisa-sisa ketegangan yang terjadi menjelang pagi hari. Lembah Puala
m Hijau sedang berbenah dan sedang bersolek. Karena kini memasuki hari-hari tera
khir persiapan pernikahan Nenggala dengan Kiang Li Hwa. Dan karena hari pernikah
an ditetapkan pada keesokan hari, maka hari ini, meski di awali dengan keteganga
n di lokasi tempat tinggal bagian dalam Lembah Pualam Hijau, tetapi kini tidak l

agi berbekas. Semua pelayan bekerja keras seperti juga semua anak murid Thian Sa
n Pay yang ikut membantu persiapan-persiapan terakhir pernikahan sesepuh mereka.
Meskipun Lembah Pualam Hijau sibuk, tetapi yang sibuk adalah kaum pelayan dan an
ak murid mereka semata. Dan yang memegang kendali atas semua persiapan pesta ada
lah Kiang Sian Cu, Duta Dalam sekaligus sepupu Kiang Li Hwa si calon pengantin.
Sementara tokoh-tokoh utama Lembah Pualam Hijau, Kiang Tek Hong, Kiang Cun Le, L
iong-i-Sinni masih sedang beristirahat. Demikian juga dengan Duta Agung Kiang Ce
ng Liong masih tetap belum nampak berada di kamar kerjanya. Tetapi, menikmati in
dahnya pemandangan di pegunungan telah nampak beberapa tamu yang berjalan-jalan.
Pagi itu yang nampak berjalan-jalan menikmati indahnya pemandangan Gunung Kembar
Utara dan Selatan antaranya adalah Liang Tek Hoat, Siangkoan Giok Lian dan dite
mani oleh Liang Mei Lan. Ketiganya nampak berjalan-jalan sambil bercakap-cakap,
bersenda gurau menikmati indahnya pemandangan di pegunungan. Sesekali mereka mel
ongokkan kepala untuk mengukur, sejauh atau sedalam apakah gerangan jurang yang
memisahkan tebing gunung kembar utara dan gunung kembar selatan. Selain itu, ten
tunya menikmati indahnya barisan pepohonan yang mendatangkan hawa dan pemandanga
n menyejukkan mata. Sejauh mata memandang memang adalah hamparan hutan dengan li
ku-liku belokan sungai yang mengular ke arah bawah.
"Koko, jika engkau menikah kelak kira-kira akan menikah dimana? Apakah di Markas
Kaypang ataukah Bengkauw"?
"Dimana saja bisa adikku ...... "
"Wah, apa benar demikian Giok Lian? Benarkah menikah di mana saja engkau rela? t
entunya bahkan di tempat terpencil sekalipun? waaaaaaaahhhhh, engkau sungguh san
gat keterlaluan koko ..."
"Hahahaha, tentu saja harus disepakati dengan Lian Moi adikku ....." santai saja
Tek Hoat bicara. Selain karena memang ramah, Tek Hoat sendiri membangun komunik
asi yang baik dengan Giok Lian pacarnya dan juga dengan Mei Lan adiknya. Karena
itu, tidak jarang mereka bertiga bercanda dan tertawa bersama-sama, sebagaimana
pagi ini.
"Dan jika pada saatnya engkau menikah, nampaknya tempat ini sangat menarik dan l
ebih dari mencocoki seleraku untuk datang menghadirinya Lan Moi" Siangkoan Giok
Lian kini gantian untuk menggoda Mei Lan. Dan setelahnya merekapun tertawa riang
bersama-sama.
"Ach, engkau menggoda saja Enci Lian, engkau tentu tahu Ceng Liong Koko baru bis
a membicarakan urusan tersebut setelah temu tanding tahun mendatang, sama sepert
i kalian berdua"
"Hahaha, sabar adikku. Toch waktunya segera menjelang datang ...." Tek Hoat mene
ngahi sebelum suasana menjadi syahdu.
Tetapi ketiganya berhenti bicara ketika rombongan yang dipimpin oleh Thio Su Kia
t memasuki Lembah. Dan secara sangat kebetulan merekapun tiba di ujung jalan yan
g diapit barisan pepohonan memasuki Lembah Pualam Hijau setelah puas melihat-lih
at jurang dan dinding terjal di di sisi kanan Lembah Pualam Hijau. Thio Su Kiat
dengan gembira menyapa 3 orang muda sakti yang sudah sangat dikenalnya itu sambi
l memperkenalkan tamu-tamu yang berjalan bersamanya itu:
"Ach kiranya saudara Liang Tek Hoat, Siangkoan Giok Lian dan Liang Mei Lan. Sela
mat bertemu, selamat bertemu ....."
"Hahahaha, adikku selama beberapa hari ini selalu membayangi rombongan kalian sa
udara Thio. Baru semalam akhirnya dia memutuskan untuk masuk mendahului rombonga
nmu yang besar ini ......" Berkata Tek Hoat sambil memberi hormat dan salam kepa
da semua orang yang bersama-sama Thio Su Kiat.
Sementara itu, Kiang Sun Nio telah maju beberapa langkah mendekati Liang Mei Lan
untuk kemudian berkata:
"Suci ...... engkau sudah berada disini rupanya ...."?
"Hihihi, sumoy maafkan. Beberapa hari ini sebetulnya sucimu ini selalu membayang
i rombonganmu. Soalnya toakomu terlalu malas untuk meninggalkan Lembah Pualam Hi
jau akhir-akhir ini dan menitipkanmu untuk kuawasi, tetapi rupanya kemampuanmu s
udah maju jauh sumoy ...."
"Tapi menurut subo, toako memang harus berkonsentrasi penuh dan bahkan dijagai k
ongkong dan subo segala ....... manja amat siy dia ......"

"Hikhik, aku mengerti sekarang, gara-gara itu engkau baru berani merat dari Lemb
ah Pualam Hijau ya sumoy ..."
"Tapi tolong nanti engkau membujuk dia supaya tidak memarahiku ya suci ....... t
oako kan paling takut kepadamu"
"Hussshhhhh, sudahlah. Perkenalkan dulu sahabat-sahabatmu yang datang bersamamu,
urusan lain kita atur nanti saja ...."
"Weeeehhhhhh, suci, belum menjadi ipar saja sudah galak begini, apalagi kalau su
dah jadi ipar beneran ..... hihihi ....."
Usai menggoda sucinya Mei Lan, Sun Nio kemudian berinisiatif memperkenalkan semu
a anggota rombongan yang berjalan bersama mereka. Dan dengan gaya kekanak-kanaka
nnya diapun memperkenalkan:
"Koko yang hebat ini berasal dari Lembah Salju Bernyanyi, namanya Tham Beng Kui,
dia datang bersama dua adik seperguruannya yang cantik-cantik, Cui Giok Tin dan
Cui Giok Li ....." demikian secara jenaka Sun Nio memperkenalkan tiga orang mud
a dari Lembah Salju Bernyanyi sambil menunjuk mereka satu demi satu. Tidak disem
bunyikannya kekagumannya kepada Tham Beng Kui, dan memang selama beberapa hari i
ni keduanya dengan cepat menjadi akrab setelah melakukan perjalanan bersama-sama
.
"Dan koko yang satu ini, adalah seorang pendekar muda yang dahsyat, berasal dari
Kang Lam dan penjadi Pendekar Kelana bernama Lie Hong Po. Dia adalah sahabat ke
kal Nona Cui Giok Lie dan karena tidak punya tujuan khusus aku mengundangnya dat
ang ke pesta di Lembah Pualam Hijau ....."
Demikianlah semua rombongan diperkenalkan oleh Sun Nio dengan gaya kekanak-kanak
annya. Dan semua yang diperkenalkan saling memberi salam dengan Tek Hoat bertiga
. Hanya saja, sekilas Tek Hoat merasa kaget namun menyimpannya dalam hati ketika
melihat "nyala" dalam sinar mata Lie Hong Po, meski sangat sekilas. Bahkan hati
kecilnya seperti berkata "aku mengenal orang ini, tapi mengapa begitu asing ...
.."?. Hanya saja, pertanyaan dan keanehan-keanehan ini disimpannya dalam hati. A
palagi karena Kiang Sun Nio, penghuni Lembah Pualam Hijau yang mengundang orang
tersebut.
Dan setelah semua orang saling berkenalan lengkap dengan kesenangan maupun kepen
asaran masing-masing, Sun Nio pada akhirnya menyerahkan pengaturan para tamu dan
pengaturan penginapan masing-masing tamu itu kepada pelayan-pelayan Lembah Pual
am Hijau. Tetapi, beberapa saat kemudian dalam herannya dia celingak-celinguk se
perti mencari-cari seseorang, sampai akhirnya dia melirik kearah Mei Lan dan ber
tanya:
"Suci, kenapa sampai sekarang aku tidak melihat Ceng Liong koko ....? Berada dim
ana gerangan dia?
"Entahlah sumoy, lebih baik engkau bertanya kepada ayah atau ibumu saja. Karena
subo sendiripun tidak mengatakan apa-apa setelah adanya kunjungan "tamu tak diun
dang" beberapa waktu lalu"
"Apa katamu suci? Ada tamu tak diundang berani memasuki Lembah ....? Berani bena
r orang-orang itu?"
Tetapi Liang Mei Lan tidak lagi menjawab pertanyaan Sun Nio tetapi hanya mengang
guk membenarkannya. Betapapun, dia memang berkeinginan mendengar kabar Ceng Lion
g, tetapi pasca bentrokan dengan tamu tak diundang tadi subuh, dia masih belum m
endengar kabar kondisi Ceng Liong. Dia tahu belaka bahwa bukan Kiang Sin Liong y
ang melontarkan gabungan kekuatan Lamkiong Sek dan kawan-kawannya, tetapi adalah
Ceng Liong. Hanya, apa dan bagaimanakah akibatnya bagi Ceng Liong, ini yang mem
usingkannya. Dia ingin bertanya kepada Subonya, Liong-i-Sinni, tetapi Nenek itup
un sepertinya sedikit terguncang dan sedang berusaha menyembuhkan dirinya sendir
i. Bertanya kepada tokoh Lembah Pualam Hijau lainnya, dia merasa malu. Untung da
tang sumoynya ini ....
Sementara itu, Kiang Sun Nio begitu mendengar adanya kejadian yang nampaknya men
ggemparkan terjadi dalam Lembah, sudah dengan cepat melesat masuk kedalam. Menda
hului semua orang, dia berkelabat mencari orang tuanya, Kiang Hong dan Tan Bi Hi
ong. Tetapi, dalam kagetnya, meskipun menjelang hari pernikahan bibinya Kiang Li
Hwa, tetapi tokoh-tokoh utama Lembah Pualam Hijau sebagian besar justru tidak b
erada di Gedung utama. Jika di hari-hari biasa tidak berada di Gedung utama mend
ampingi para tamu, maka bisa dipastikan ada sesuatu yang luar biasa.

Dalam gedung dia hanya menemukan Kiang Sian Cu bibinya dan juga ibunya Tan Bi Hi
ong, tetapi tidak menemukan tokoh-tokoh lainnya. Bahkan juga tidak menemukan Kia
ng Li Hwa dan Nenggala. Melulu hanya Kiang Sian Cu dan ibunya yang nampaknya sed
ang sibuk-sibuk bertugas untuk mengatur dan menata gedung dengan memberi perinta
h atau komando kepada para pelayan untuk menata dan mengatur ruangan.
"Ibu ......." sapa Sun Nio begitu menemukan ibunya yang sedang memberi perintah
bersama Kiang Sian Cu kepada para pelayan.
"Hmmmmm, anak bengal, dari mana saja engkau?. Subomu pasti akan sangat senang me
mberi hukuman kurung beberapa hari ......" Tan Bi Hiong melirik senang melihat a
nak gadisnya sudah berada di dalam Lembah. Betapapun, setelah serangan subuh tad
i, dia mulai mengkhawatirkan keadaan anak bungsunya ini. Meski Mei Lan telah mem
beri informasi keadaannya baik-baik saja, tetapi ibu mana yang tidak mengkhawati
rkan anaknya?
"Ach Ibu, tapi apakah subo dan koko baik-baik saja ...."? Sun Nio senang melihat
tidak ada sinar amarh di mata ibunya.
"Lebih baik engkau menengok subomu terlebih dahulu, ajak sekalian sucimu. Keliha
tannya dia orang tua sudah rada baikan, tadi dia sempat menanyakan keberadaanmu
dan sucimu ...."
"Tapi ....... pestanya bagaimana ibu ...."?
"Biar ibumu bersama Bibi Sian Cu yang mengurusnya, engkau pergilah, segeralah te
mui subomu ...."
"Baik ibu ....... Bibi Sian Cu, aku menemui subo dulu ....."
Seusai mendapat persetujuan Ibu dan Bibi Neneknya, Kiang Sun Nio segera menemui
Liang Mei Lan guna menemui subo mereka Liong-i-Sinni. Sebetulnya ada rasa heran
di hati anak gadis itu, mengapa justru pada saat-saat terakhir persiapan pesta,
tokoh-tokoh Lembah Pualam Hijau tidak berada di Gedung utama. Rasa penasarannya
bertambah ketika ibunya tidak memarahinya ketika pulang (Karena memang dia pergi
meninggalkan Lembah secara diam-diam alias tanpa pamit), tetapi justru segera m
emintanya untuk bersama sucinya menemui subonya. "Ada apa gerangan?" dengan tand
a tanya inilah Sun Nio menemui subonya. Tentunya setelah memanggil sucinya terle
bih dahulu.
Begitu kedua gadis itu mendekati gua yang menjadi tempat samadhi Liong-i-Sinni d
an belum lagi keduanya minta ijin untuk masuk, sudah terdengar suara yang lembut
tetapi rada lemah, berbeda dengan hari-hari biasanya:
"Masuklah murid-muridku ......."
Maka tanpa banyak berkata-kata, keduanyapun memasuki gua tersebut. Dan merekapun
sangat terkejut menemukan subo mereka berwajah sangat letih dan kelihatan jauh
lebih tua dibandingkan penampilannya sebelumnya. Tetapi, sinar lembut dan teduh
di wajah subo mereka tetap lekang dan tidak meninggalkan wajah itu. Wajah dan si
nar teduh yang sudah tentu sangat dikenal keduanya. Hanya saja, Mei Lan yang leb
ih berpengalaman dan bermata jauh lebih tajam sudah dengan cepat bertanya kepada
subonya:
"Subo, accccccchhhhhhhh, engkau terluka parah ......" desis Mei Lan terharu meli
hat kondisi Liong-i-Sinni.
"Acccccch, matamu tidak mudah lagi dibohongi Lanj-ji. Benar, pertarungan melawan
ketiga tokoh sepuh itu menguras hampir semua kekuatan iweekang dan tenaga batin
ku. Untung "Manusia Suci Dari Siauw Lim Sie" datang membantu dan untung juga Lio
ng Jie telah hampir berhasil. Jika tidak, benar-benar petaka mengunjungi Lembah
ini ....."
"Tapi subo, apakah bisa muridmu membantu ...."? Mei Lan bertanya harap-harap cem
as melihat kondisi subonya yang nampak begitu lemah. Sampai-sampai tanpa sadar b
erdua dengan Sun Nio mereka saling meremas lengan saking cemas dan saking sedih.
Betapapun melihat keadaan orang tua yang banyak membantu dan mendidik mereka be
rdua selama ini, tentunya mendatangkan rasa haru dan rasa sedih untuk kondisinya
itu.
"Hmmmm, Lan-ji, engkau tahu betul keadaan subomu seperti ini tidak akan mungkin
dibantu siapapun penyembuhannya. Hanya dengan beristirahat penuh dan mengumpulka
n kembali semangat dan tenaga murni yang akan membuat subomu bisa segera segar k
embali. Apalagi, dewasa ini, tenagamu akan sangat dibutuhkan untuk atas nama sub
omu ikut menjaga serta melindungi Lembah ini selama beberapa hari kedepan"

"Maksud Subo ....."?


"Lan-ji, Nio-ji, Lembah Pualam Hijau baru saja mendapatkan kunjungan 3 tamu tak
diundang yang luar biasa lihaynya semalam. Dewasa ini, hanya kekuatan kong-kong
Kiang Sin Liong yang sanggup menghadapi mereka, itupun satu lawan satu. Ketika m
ereka bertiga bergabung, bahkan Kong-kong Kiang Sin Liong juga akan sangat kesul
itan menghadapi mereka bertiga. Kami bertiga, bergabungpun masih belum sanggup u
ntuk mengalahkan mereka. Untungnya ada bantuan "Manusia Suci dari Siauw Lim Sie"
dan Liong Jie yang berhasil untuk melontarkan gabungan tenaga mereka. Jika tida
k demikian, maka bencana besar pasti telah menimpa Lembah ini ........... amitab
ha, untungnya Sang Budah masih tetap memberi perlindungan kita semua di Lembah P
ualam Hijau ....."
"Siapa-siapa tamu itu subo ....."? terdengar Sun Nio bertanya dengan nada geram
yang tidak mampu disembunyikannya.
"Hmmmm, Nio-ji, ini adalah urusan kakakmu. Kakakmu telah mengenali mereka dan te
ntu telah menyiapkan cara untuk menyelesaikan gangguan dan urusan yang timbul ka
rena kunjungan mereka secara menyusup"
Mendengar ucapan subonya, Sun Nio sebetulnya sangat tidak puas. Dan hal itu terp
ancar jelas dari raut wajahnya dan Liong-i-Sinni sangat paham dengan keadaan ter
sebut. Bagaimanapun, Kiang Sun Nio memang orang dalam Lembah Pualam Hijau dan ka
renanya berhak marah dan tersinggung dengan penyusupan beberapa tamu yang menyeb
abkan beberapa tokoh terluka, termasuk dirinya. Hanya saja, Liong-i-Sinni tidak
mengharapkan muridnya ini untuk balas dendam. Bukan terutama karena "tidak mampu
", tetapi karena beranggapan "balas dendam" tidak akan menyelesaikan masalah. Un
tuk urusan tersebut, dia lebih percaya kepada Kiang Ceng Liong yang akan tampil
dan menyelesaikannya.
"Lan jie ...." setelah hening beberapa saat, terdengar suara Liong-i-Sinni.
"Tecu disini subo ....."
"Menurut pengamatan kami, beberapa hari ini, Lembah Pualam Hijau sangat mungkin
dimasuki orang luar. Dalam kondisi sekarang ini, subomu tidak mampu melacak siap
a-siapa yang menerobos tabir perlindungan Lembah Pualam Hijau. Karena itu, pinni
menugaskanmu untuk ikut berjaga dalam Lembah Pualam Hijau selama beberapa hari
ini. Nio-jie ...... engkau harus berada dalam perintah toakomu selama beberapa h
ari kedepan. Jagalah sikapmu dan berhati-hatilah, keadaan kedepan akan sangat be
rbahaya ...."
"Baik subo ....." serentak Mei Lan dan Sun Nio mengiyakan.
"Bagaimana dengan kemampuanmu sekarang Lan-jie"?
"Atas berkah subo dan bantuan Liong-ko, tecu telah banyak mengalami kemajuan. Te
cu akan siap jika para penyusup itu berani melakukannya lagi subo ......"
"Pinni tidak meragukan kemampuanmu Lan-jie. Liong-jie telah menceritakan tingkat
kemampuanmu kini telah maju sangat pesat. Menghadapi tokoh-tokoh penyusup semal
am memang bisa diandalkan jika melawan satu lawan satu, akan tetapi jika mereka
maju dalam gabungan ilmu dan tenaga, sungguh amat sulit untuk menemukan tandinga
n mereka ....."
"Sebegitu hebatkah gabungan ilmu dan tenaga mereka subo"?
"Sangat hebat, terutama kekuatan batin dan sihir mereka yang amat sulit untuk di
lawan. Seandainya kondisi Liong-jie bisa dengan cepat pulih kembali seperti sed
ia kala, keadaan tentunya akan jauh lebih baik ....." sampai disitu Liong-i-Sinn
i seperti menyadari sesuatu, tetapi terlambat, dia telah mengutarakannya keluar,
dan seperti yang diduganya, kedua gadis itu dengan cepat mencecarnya dengan per
tanyaan seputar kondisi Kiang Ceng Liong.
"Subo ...... apakah, apakah Liong-koko terluka parah"? baik Sun Nio dan apalagi
Liang Mei Lan menatap Liong-i-Sinni untuk mendapatkan jawaban dan kepastian. Kar
ena keduanya, terutama Liang Mei Lan sejak pagi memang gelisah guna mengetahui k
ondisi terakhir Kiang Ceng Liong, pemuda pujaan hatinya itu.
Liong-i-Sinni kaget telah kelepasan bicara, tetapi apa boleh buat, sudah terlanj
ur. Karena tidak ingin berdusta, akhirnya diapun berkata:
"Sebetulnya gabungan kekuatan mereka bertiga sanggup ditahan Liong-jie, tetapi r
epotnya, Liong-jie sedang dalam tahapan terakhir untuk menyempurnakan Giok Ceng
Sinkang yang baru ditemukannya formula terakhirnya itu. Menerima dan kemudian me
lontarkan gabungan tenaga besar itu entah berkah entah kutuk baginya, masih belu

m jelas sampai sekarang ini. Bahkan "Manusia Suci Siauw Lim Sie" tutup mulut den
gan kondisi ini dan hanya mengatakan bahwa keadaan ini adalah "rahasia alam". Ki
ta masih akan menunggu sampai malam hari guna mengetahui keadaan Liong-jie yang
sebenarnya. Karena setelah menggertak ketiga tamu sakti itu, diapun pingsan hing
ga saat ini ...."
"Subo, apakah dia, dia ......" Liang Mei Lan nampak goncang mendnegar kabar tent
ang Ceng Liong dan tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Terutama mendengar bahw
a kondisinya masih belum dapat dipastikan.
"Amitabha, Lan-jie, serahkan semua kepada sang Budha, takdir telah ditentukannya
. Toch kita masih harus menunggu apakah kondisi Liong-jie lebih baik ataukah jus
tru akan memburuk. Sabarlah dan kuatkan hatimu ....."
"Ba ...ba... baik subo ....." Mei Lan tetap tidak mampu membendung rasa sedih da
n khawatirnya, apalagi karena dia tidak bisa melihat secara langsung keadaan Cen
g Liong. Dan menyadari kegalauan Mei Lan, Sun Nio yang tak kalah sedih mendengar
kondisi kakaknya segera bertanya sambil terisak:
"Subo, apakah kami tidak bisa menjenguk toako"?
"Belum saatnya, belum saatnya muridku. Tunggulah beberapa saat lagi, pada saatny
a pasti kalian berdua bisa menengok keadaannya. Sekarang, yang terpenting adalah
, kalian berdua segera menyiapkan diri untuk menjaga segala kemungkinan di Lemba
h Pualam Hijau ini"
Diingatkan akan tugas menjaga Lembah Pualam Hijau, Kiang Sun Nio dengan cepat me
nemukan semangat dan keperwiraannya. Jiwa kepahlawanan Lembah Pualam Hijau meman
g ada dalam dada dan semangatnya. Sementara Mei Lan sendiri meski tetap dirundun
g duka dan kekhawatiran, tetapi tetap masih sanggup menggunakan pikirannya untuk
segera mempersiapkan sesuatu. Ya, dia harus segera bertemu Tek Hoat kakaknya da
n Siangkoan Giok Lian. Dia harus membantu tugas Ceng Liong kekasihnya ...... har
us. Karena pikiran itu, tak lama kemudian dari gua Liong-i-Sinni berjalan keluar
dua orang gadis perkasa yang siap menjalankan tugas menjaga Lembah Pualam Hijau
.
Kiang Sun Nio yang penasaran dan marah karena terjadinya penyusupan masih belum
puas dengan informasi yang diperolehnya. Dia, apalagi setelah sucinya meminta to
long, ingin menghadap ayahnya guna mengetahui keadaan toakonya yang sebenarnya.
Tetapi dalam kagetnya, ayahnya yang juga tidak sempat memarahinya karena sedang
sibuk kondisi Lembah Pualam Hijau tidak dapat memberinya informasi lebih dari ya
ng disampaikan subonya. Sampai di titik ini, sadarlah Sun Nio kalau kondisi sema
lam ternyata bukanlah kondisi biasa. Semua tokoh Lembah Pualam Hijau sudah turun
tangan, dan ini bukan kejadian biasa. Bukan kejadian yang sering terjadi, tetap
i teramat jarang dijumpainya.
Sementara itu, LIang Mei Lan sendiri akhirnya bertemu dan menceritakan kondisi t
erakhir kepada Siangkoan Giok Lian, LIang Tek Hoat kakaknya dan terakhir datang
bergabung Souw Kwi Song. Mendengar bahwa Ceng Liong terluka cukup parah dan kond
isinya belum diketahui, membuat mereka berempat bersepakat untuk membantu Lembah
Pualam Hijau menjelang hari pernikahan dan bahkan beberapa hari setelah pesta p
ernikahan.
Ketegangan yang dirasakan oleh Lembah Pualam Hijau tidaklah terasa bagi orang lu
ar. Bahkan Li Hwa dan Nenggala sendiripun tidak begitu paham apa yang sebenarnya
sedang terjadi. Itu karena memang arus informasi sepertinya sengaja tidak disam
paikan kepada kedua calon mempelai tersebut. Dalam keadaan seperti itu, Sun Nio
merasa begitu tegang, meskipun tokoh-tokoh Lembah Pualam Hijau lainnya seperti t
idak tersentuh, bahkan menampakkan diripun tidak. Hanya Liang Mei Lan, Tek Hoat,
Giok Lian dan Kwi Song yang sadar bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi.
Mereka bahkan tidak melihat sedikitpun bayangan Ceng Liong yang biasanya sangat
akrab dan dekat dengan mereka berempat.
Meskipun berusaha tenang, tetapi Mei Lan tidak mampu memungkiri dirinya sendiri.
Dan kekhawatirannya jelas terbaca kakaknya Tek Hoat:
"Sudahlah Lan moi, ada banyak tokoh-tokoh hebat di Lembah ini yang sedang memban
tunya. Jauh lebih baik kita berkonsentrasi membantunya menjaga Lembah Pualam Hij
au ini ...."
"Aku mengerti koko, tapi entah mengapa aku khawatir dan resah sekali ..."
"Akupun demikian moi-moi, apalagi melihat sinar mata sahabat Lie Hong Po. Aku su

ngguh khawatir dan seperti mengenalnya ...."


"Memang dia agak aneh, tapi bagaimanapun dia membantu kita. Apalagi, kelihatan s
ekali kalau dia dan adik Giok Li saling menyukai ...."
"Hmmmmm, mudah-mudahan saja Lan Moi ....."
Kedua kakak beradik itupun berlalu tanpa menyadari adanya sepasang mata yang men
gikuti dan membayangi kemana mereka pergi. Berlalu nya mereka berdua membuat tem
pat mereka bercakap-cakap tadi kembali senyap, tetapi orang yang menatap mereka
berdua berlalu nampak manggut-manggut. Setidaknya dia paham kini, bahwa Lembah P
ualam Hijau sedang tidak tenang. Lembah Pualam Hijau sedang dilanda ketegangan.
Nampaknya, sedikit banyak dia tahu apa gerangan sumber ketegangan Lembah Pualam
Hijau.
Meski tegang, suasana semarak dalam hari-hari menjelang pernikahan tidaklah meno
njolkan ketegangan Lembah Pualam Hijau. Sebaliknya, menjelang sore hari, suasana
di Lembah Pualam Hijau justru semakin ramai dan semarak. Selama beberapa hari,
Li Hwa dan Nenggala sudah tidak bisa bertemu lagi. Karena memang seperti itulah
adat istiadat pernikahan. Bahkan sebetulnya prosesi pernikahan sudah dimulai sej
ak beberapa hari sebelumnya. Pada satu hari sebelum pernikahan, ranjang penganti
pun sudah di rias, Gedung utama Lembah Pualam Hijau juga sudah bersolek dan namp
ak sangat meriah dan cantik.
Dan menjelang malam, para pemuda dan pemudi yang berada di Lembah Pualam Hijau s
udah menantikan upacara "Liauw Tiaa", sebuah upacara dimana teman-teman kedua ca
lon mempelai datang menghadiri. Upacara ini sejatinya memang dilaksanakan di rum
ah calon mempelai wanita, dan pada saat-saat seperti ini calon mempelai wanita b
ebas untuk digoda teman-temannya. Tradisi "Liauw Tiaa" ini secara otomatis diiku
ti dan dihadiri oleh semua kaum muda di Lembah Pualam Hijau minus Kiang Ceng Lio
ng. Semua nampak hadir, baik Tek Hoat dan Giok Lian, Mei Lan, Sun Nio, Giok Tin,
Giok Li, Beng Kui, Lie Hong Po, Thio Su Kiat dan semua tokoh muda asal Thian Sa
n Pay, termasuk juga Thian San Ciangbundjin Tik Hong Peng yang sudah memasuki us
ia 18 tahun dan nampak semakin gagah.
Hanya saja, karena usia Li Hwa sudah cukup banyak, akhirnya hanya Sun Nio yang s
esekali berani mengusilinya. Selebihnya lebih banyak bercakap-cakap bebas dengan
Li Hwa atau bercakap dengan sahabat-sahabat yang berada di sekitarnya. Adalah K
wi Song yang menyampaikan permohonan maaf kakaknya Kwi Beng kepada Li Hwa:
"Kwi Beng koko menyampaikan permohonan maafnya untuk tidak bisa menghadiri acara
bahagia Kiang kouwnio, tetapi dia mendoakan segala kebaikan bagi Nona dan sahab
at Nenggala ...."
"Accccch, terima kasih. Sampaikan salam kami kepada saudara Kwi Beng ....." sahu
t Li Hwa dengan ramah. Dan untungnya, Kwi Song bukan seseorang berpandangan semp
it, lagipula dia sangat pintar mencari bahan-bahan obrolan yang membuat suasana
percakapan menjadi lebih hidup.
"Tentu, tentu akan kusampaikan. Mudah-mudahan kami bisa berkunjung untuk melihat
kebahagiaan Nona dan sahabat Nenggala, apalagi jika kami bisa melihat keponakan
kami nantinya ...... hahahaha"
"Terima kasih saudara Kwi Song, kami bersama koko Nenggala pasti akan menyambut
dengan senang hati.
"Tapi menurut Song Koko, kira-kira bibi Li Hwa bakal dapat banyak anak atau tida
k ya ...? tiba-tiba Sun Nio nimbrung
Kwi Song menoleh sejenak memandang Kiang Sun Nio, gadis remaja yang sedang mekar
-mekarnya. Cantik, lihay dan keturunan keluarga ternama pula. "Siapa siy yang ti
dak akan kepincut dengan gadis manis ini" pikirnya dalam hati. Tapi, sudah tentu
lain lagi kalimat yang keluar dari mulutnya:
"Adik Sian Nio, paling tepat kita doakan supaya bibimu ini dapat banyak anak. Bi
ar banyak sepupumu yang umurnya jauh dibawahmu, kan enak bisa banyak yang disuru
h mengerjakan ini itu nantinya ..... hahahaha"
"Yeeeeeeeee, maunya. Dapat aja belum ......."
"Sudah, sudah. Jangan bertengkar disini kan banyak orang. Ntar kalian berjodoh,
baru tau rasa ya ......." gantian Li Hwa beroleh kesempatan menggoda Kwi Song da
n Kiang Sun Nio. Tapi kalau biasanya baik Kwi Song maupun Sun Nio dengan cepat b
isa dengan cepat menangkal dan menangkis godaan orang, kali ini baik Kwi Song ma
upun Sun Nio justru jadi gagap dan gugup. Dan Li Hwa melanjutkan:

"Waaaaaaaah, kok sampai memerah begitu wajahmu Sun Nio? tadi sempat dandan dan m
emakai pemerah wajah ya ..... hihihi ..... dan kamu Kwi Song, sama juga, kok jad
i gagap dan gugup? lagi naksir ponakanku ya ..........?"
Serangan berganda Li Hwa membuat Kwi Song yang biasanya lincah dan jenaka kehila
ngan kejenakaannya. Dan apalagi si remaja Sun Nio, wajahnya semakin memerah dan
hanya mampu berkata:
"Bibi Li Hwa jahat ach ......" dan setelah itu, si nakal Sun Nio telah melesat p
ergi.
"Sun Nio, mau kemana ....."? dengan nada menggoda Li Hwa memanggil Kiang Sun Nio
yang berlari meninggalkan ruangan saking malunya.
"Mencari enci Mei Lan yang lagi meronda ........" terdengar alasan mengada-ada y
ang diucapkan Sun Nio, meski orangnya sudah diujung ruangan.
"Waaaaah, engkau juga mau meronda ya saudara Kwi Song ...."? goda Kiang Li Hwa l
ebih jauh kepada Souw Kwi Song. Tetapi, perginya Kiang Sun Nio membuat Kwi Song
menemukan dirinya kembali.
"Waaaah, sudah cukup Mei Lan dan Tek Hoat melakukannya Nona, biarlah aku ikut me
ramaikan malam "Liauw Tiaa" ini" ucap Kwi Song sambil kemudian berlalu dan berga
bung bersama Giok Tin, Giok Li dan Beng Kui serta Lie Hong Po. Beberapa saat seb
elumnya, Mei Lan, Tek Hoat dan Giok Lian minta diri untuk melakukan satu putaran
perondaan.
Ketika kemudian mereka bergabung kembali, suasana menjadi lebih meriah, bahkanpu
n meski Li Hwa akhirnya beristirahat untuk persiapan acara besoknya. Semua anak
muda itu masih tetap melanjutkan kisah malam hari. Hanya saja, Kwi Song yang dih
entakkan oleh kejahilan Li Hwa yang menggodanya dengan Sun Nio, kembali membangk
itkan kenangannya atas kisahnya yang putus di tengah jalan dengan Siangkoan Giok
Lian. Tetapi, ketika digoda dengan Sun Nio tadi, dia kehilangan kata-kata bukan
karena gugup menyukai Sun Nio. Tetapi tiba-tiba dia sadar jika dia telah kembal
i mencintai seorang gadis. Bukan, bukan Kiang Sun Nio, tetapi Cui Giok Li. Tetap
i repotnya, kelihatannya Giok Li meski akrab dan nampak menyukainya, tetapi saat
itu justru sedang "dekat" dengan Lie Hong Po.
Kwi Song menarik nafas panjang. "Apakah kisah cinta ini akan kembali kandas di t
engah jalan"? pikirnya nelangsa. Sesekali dia melirik Giok Li yang juga sesekali
meliriknya, tetapi lebih sering berbicara dan bercanda dengan Lie Hong Po. Inil
ah sebetulnya yang menjadi pangkal keterkejutan dan kehilangan "pegangan" untuk
beberapa saat ketika Kwi Song di goda dan dijahili oleh Kiang Li Hwa dan menjodo
hkannya dengan Kiang Sun Nio. Dalam sekejab dia sadar jika dia jatuh cinta kepad
a Giok Lie, bukan kepada Kiang Sun Nio. Tapi, dia juga khawatir jangan sampai Gi
ok Li salah sangka.
Nyaris serupa dengan yang dirasakan Kiang Sun Nio. Dia melesat lari meninggalkan
ruangan, bukan karena keki digoda dengan Kwi Song. Dia sadar kalau Kwi Song jug
a adalah pemuda pilihan. Tetapi dia kurang menyukai Kwi Song yang banyak bicara,
dan sebaliknya dia lebih tertarik dan menyukai Beng Kui yang tidak banyak bicar
a tetapi nampak gagah dan berwibawa, persis kakaknya. Sebelum dikerjai lebih jau
h oleh bibi Li Hwa, Sun Niopun memutuskan untuk "pergi" dari pesta tersebut. Say
angnya, Li Hwa tidak mengetahui apa yang sebenarnya berkecamuk dalam hati Kwi So
ng dan Sun Nio. Dia tetap berpikir bahwa kedua orang muda itu sama-sama saling s
uka, tanpa berpikir keduanya sebetulnya menyukai orang lain.
Tapi sudah barang tentu Sun Nio tidak akan lama meninggalkan pesta dan keramaian
khusus anak muda teman-teman calon mempelai. Tidak berapa lama dia balik ke rua
ngan bersama-sama dengan Liang Mei Lan, Tek Hoat dan Giok Lian. Karena itu, mala
m upacara Liauw Tiaa akhirnya dimeriahkan oleh mereka-mereka, pendekar-pendekar
muda. Hanya saja, Mei Lan tetap tidak mampu dan tidak sanggup untuk menikmati ke
meriahan itu. Apalagi sebabnya jika bukan karena keadaan Ceng Liong yang sampai
saat itu masih tidak diketahuinya? Mana bisa dia ikut tertawa lepas seperti yang
lain-lainnya?
Hanya, jika Mei Lan susah menikmati malam meriah itu, adalah orang-orang lain ya
ng dikecamuk rasa bahagia. Liang Tek Hoat dan Siangkoan Giok Lian tidak malu mal
u memamerkan kemesraan mereka sebagai pasangan kekasih. Kiang Sun Nio mendekati
Giok Tin dan Giok Li untuk bisa lebih erat dan lebih dekat dengan Tham Beng Kui.
Hanya saja, anak gadis itu masih tahu "malu" untuk langsung "menyerang" Beng Ku

i yang nampak kalem dan tidak banyak bicara. Tetapi, sudah jelas jika diapun men
aru hati kepada Sun Nio, hanya terlampau sopan untuk memperlihatkannya, apalagi
di depan sumoy terkecilnya Giok Li yang pasti bakal menggodanya habis-habisan. K
arena itu, Sun Nio dan Beng Kui lebih banyak saling lirik dengan pancaran kemesr
aan masing-masing.
Jika tidak ada Lie Hong Po, mungkin gelagat aneh Beng Kui akan cepat tertangkap
mata tajam Giok Li. Tetapi, karena diapun sibuk bercengkerama dan berbincang den
gan Hong Po, gelagat aneh toakonya itu tidak tertangkap. Karena itu dengan bebas
anak-anak muda itu bergaul dan bercakap, melempar rasa dan menangkap suka satu
dengan yang lain. Adapun Kwi Song lebih banyak bercakap dengan Giok Tin yang mem
ang tidak kurang menariknya dibandingkan anak gadis lainnya. Bahkan bergabung ju
ga Tok Hong Peng dan belakangan Mei Lan, Tek Hoat dan Giok Lian dan membuat suas
ana menjadi semakin ramai. Keramaian yang seakan menenggelamkan ketegangan yang
dirasakan oleh sebagian penghuni Lembah Pualam Hijau.
Semakin malam berjalan larut, semakin berkurang waktu anak-anak muda itu berceng
kerama. Hanya, sudah semakin jelas jika Sun Nio memang menyukai Beng Kui dan nam
paknya perasaan mereka berdua bertaut. Kini mereka sudah berani bercakap tanpa p
erantara Giok Tin. Dan upaya percakapan untuk lebih mengenali satu dengan yang l
ain terus berlangsung.
Lain lagi dengan Giok Li. Jelas Lie Hong Po menyukainya, tetapi sesekali gadis i
tu meninggalkan Lie Hong Po dan bergabung dengan rombongan lain dimana Kwi Song
berada. Ada dimana hati anak gadis itu? Entahlah. Tetapi, jika Kwi Song ketar-ke
tir dengan gelagat Giok Li, adalah Lie Hong Po yang seperti tidak memiliki kekha
watiran. Wajahnya tetap tenang dan tidak menggambarkan adanya perubahan emosi ak
ibat dari kejadian-kejadian disekitarnya, termasuk dengan gelagat yang ditunjukk
an Cui Giok Lie.
Dan begitulah, pesta atau upacara Liauw Tiaa berlangsung. Bahkan berlangsung hin
gga larut malam, jauh setelah calon mempelai wanita Kiang Li Hwa meninggalkan me
reka untuk persiapan pernikahan esoknya. Pesta atau upacara Liauw Tiaa seakan me
nenggelamkan perasaan tegang dan perasaan tidak menentu sebagian penghuni Lembah
yang memang tidak memberitahu banyak orang mengenai kondisi sebenarnya. Terutam
a kondisi Kiang Ceng Liong.
====================
Dan ....... hari pesta pernikahan Nenggala dan Li Hwa pun datanglah. Pada pagi h
ari dilakukan Cio Tao atau upacara Sembahyang kepada Tuhan. Upacara ini dilakuka
n setelah kedua calon mempelay dipertemukan dan dengan disaksikan oleh keluarga
kedua belah pihak. Setelahmya Nenggala dan Kiang Li Hwa diantar menuju meja semb
ahyang yang bernama Sam Kay. Meja sembahyang berwarna merah 3 tingkat. Di bawahn
ya diberi 7 macam buah, a.l. Srikaya, lambang kekayaan. Di bawah meja ada jamban
gan berisi air, rumput berwarna hijau yang melambangkan alam nan makmur. Di bela
kang meja ada tampah dengan garis tengah 2 meter dan di atasnya ada tong kayu be
risi sisir, timbangan, sumpit. yang semuanya itu melambangkan kebaikan, kejujura
n, panjang umur dan setia.
Dan kemudian dengan disaksikan orangtua dan sanak keluarga kedua belah pihak, ke
dua mempelai melakukan sembahyang sam kay sebagai persyaratan sahnya perkawinan.
Setelah sam kay, Nenggala dan Kiang Li Hwa melakukan te pay untuk menghormati o
rangtua dan generasi yang lebih tua, dengan urut-urutan: Penghormatan kepada Tuh
an - Penghormatan kepada Alam - Penghormatan kepada Leluhur - Penghormatan kepad
a Orang tua - Penghormatan kepada kedua mempelai. Dan setelah selesai upacara te
rsebut, resmilah Nenggala mempersunting Kiang Li Hwa, seorang gadis pilihan dari
Lembah Pualam Hijau.
Nenggala nampak gagah dalam balutan pakaian pernikahannya yang menarik, yakni me
ngenakan kemeja kerah warna putih, celana panjang dengan warna yang sama. Atribu
t jubah hitam serta caping merah ala bangsawan. Sementara Kiang Li Hwa juga namp
ak sangat jelita dalam balutan pakaian pernikahan yang didominasi oleh warna mer
ah cemerlang. Dan kini keduanya secara resmi telah bersanding menjadi pasangan s
uami-istri.
Usainya upacara pernikahan Nenggala dan Kiang Li Hwa ditimpali dengan tarikan na
fas gembira dan lega dari Liang Mei Lan. Sejak awal dia memang merasa tegang dan
selalu siaga, menjaga jangan-jangan ada pihak yang berusaha "mengacau" pada saa

t-saat upacara pernikahan itu dilaksanakan. Tetapi untungnya, sampai upacara itu
usai, tidak ada suatu hal yang mencurigakan yang terjadi. Boleh dikatakan upaca
ra pernikahan itu berlangsung secara sempurna, mulus dan khusyuk. Kegembiraan me
njadi milik Nenggala dan Li Hwa, beserta kedua keluarga besar. Nampak paman seka
ligus guru Nenggala, Jayeng Reksa sampai menitikkan airmata melihat kebahagiaan
Nenggala. Bagaimanapun, dialah yang membawa Nenggala dalam pengembaraan ke Thian
Tok hingga ke Tionggoan. Memelihara, membesarkan, mendidik dan sekaligus melati
h Nenggala hingga sukses seperti hari ini. Betapa tidak membuatnya terharu?
Hal serupa juga nampak dari sinar mata Kiang Tek Hong, yang meskipun sedikit puc
at tetapi tidak melunturkan senyum bahagia atas pernikahan putrinya. Apalagi ibu
Li Hwa, setelah bertahun-tahun hidup dalam sekapan dan merindukan suami serta p
utra-putrinya, maka kini dalam upacara pernikahan putrinya, tak henti-hentinya d
ia tersenyum dan menangis bergantian. Sungguh kebahagiaan yang tak terhingga dan
membuatnya sangat senang sekaligus terharu. Inilah kebahagiaan yang lama diimpi
kannya. Semua derita bertahun-tahun yang ditanggung serta dirasakannya bagaikan
menguap, dan kini dia sedang menikmati apa yang dinamakan "kebahagiaan".
Tak usah disebutkan lagi bagaimana kegembiraan kedua belah pihak serta tentu ked
ua mempelai. Usia mereka memang tidak muda lagi, tetapi itu tentunya tidaklah me
nghalangi Nenggala dan Li Hwa untuk menikmati kebahagiaan mereka berdua dihari-h
ari kedepan mereka. Seusai upacara pernikahan keduanya diselamati oleh orang-ora
ng dekat dan tentu saja para undangan yang memang tidak terlampau banyak. Hanya
keluarga dan kenalan dekat kedua mempelai yang ikut menghadiri upacara pernikaha
n tersebut. Tetapi, meskipun demikian tidaklah mengurangi kebahagiaan kedua kelu
arga. Tidak pula mengurangi kemeriahan upacara pernikahan tersebut dan tentunya
tidak sampai mengurangi rasa bahagia yang terpancar dari mata Nenggala dan Kiang
Li Hwa. Pada hari itu, secara resmi mereka berdua terangkap sebagai pasangan su
ami dan istri.
Dan kini, setelah upacara pernikahan, kedua keluarga sebagaimana lazimnya melanj
utkan dengan upacara memperkenalkan mempelai laki-laki di kediaman keluarga wani
ta (atau upacara Cia Kiangsay). Tetapi, acara ini sekaligus dengan acara "reseps
i" pernikahan dimana keluarga kedua mempelai dan para undangan bersama-sama dala
m sebuah acara penuh sukacita dan kegembiraan. Acara ini diselenggarakan di bala
i utama atau balai pertemuan yang memang cukup besar dan telah dirias sedemikian
rupa untuk kebutuhan acara ini. Karena itu, tidak heran jika ruangan tersebut s
angat semarak dengan panorama hiasan yang didominasi oleh warna merah. Dan di ru
angan inilah kemudian acara dilanjutkan, dimana kedua mempelai akan menerima sem
acam "kado" atau pemberian dari para tamu dan undangan yang hadir. Dan di ruanga
n yang cukup besar itu kini berkumpul semua keluarga besar Lembah Pualam Hijau m
inus Duta Agung Kiang Ceng Liong dan Kiang Cun Le. Selain keduanya, semua tokoh
utama termasuk Liong-i-Sinni telah berada dalam ruangan pertemuan.
Pada kesempatan ini, beberapa tokoh selain memberi ucapan selamat juga sempat me
mberi wejangan kepada kedua mempelai. Dan sebelum siang hari, tepatnya sebelum m
akan siang, dilanjutkan dengan acara pemberian kado dari masing masing orang yan
g berkenan menyampaikan pemberian tanda selamat kepada kedua mempelai. Satu pers
atu kado diberikan dan disampaikan dari para undangan termasuk kawan-kawan kedua
mempelai. Tetapi yang paling menarik adalah kado khusus yang disampaikan oleh D
urganini, salah seorang guru Kiang Li Hwa. Bahkan salah seorang anak Nenggala da
n Li Hwa dijanjikan untuk menjadi murid pewaris Durganini. Dan si Nenek sakti da
ri India ini menganugerahkan kado menarik kepada kedua mempelai dan mempertonton
kannya kepada semua orang yang memang sedang bersukacita:
"Kado ini khusus kuhadiahkan kepada muridku Li Hwa dan suaminya, sekaligus guna
menghibur seluruh hadirin .........."
Setelah berkata demikian Durganini telah berjalan perlahan-lahan ke depan, tepat
berhadapan dengan Nenggala dan Kiang Li Hwa. Kedua mempelai, terutama Kiang Li
Hwa nampak tersenyum senang melihat salah seorang gurunya yang membelot dari Thi
an Liong Pang karena mengikuti dirinya, berkenan memberinya kado. Dan dia tahu b
enar keanehan subonya yang sering aneh tetapi begitu mencintainya. "Apa lagi ger
angan yang disiapkan subo"? begitu Kiang Li Hwa berpikir sambil melirik suaminya
untuk kemudian tersenyum bersama. Merekapun melirik Durganini yang kini sudah b
erada tepat dihadapan mereka. Dan tepat pada saat itu Durganini mengeluarkan seb

uah barang yang terbungkus dengan sebuah kain yang sudah kelihatan sangat lusuh.
Tetapi, Durganini tidak membuka kain yang nampaknya menjadi pembungkus sebuah b
enda yang menyerupai batangan pedang pendek. Paling banyak benda itu sepanjang 3
0 sampai 40 cm.
"Benda ini kuhadiahkan terutama kepada mempelai pria. Karena kutahu dia membekal
kepandaian mujijat seorang yang sangat terkenal pada seratusan tahun sebelumnya
. Karena itu, pasti akan sangat bermanfaat baginya ......"
Sambil mengucapkan kata demikian, Durganini segera melontarkan benda itu kepada
Nenggala. Dan ....... hebat, benda itu tidak terbang dengan kecepatan luar biasa
tetapi sebaliknya melayang perlahan dan tiba di genggaman Nenggala dengan empuk
bagaikan disodorkan oleh sepasang tangan Durganini. Padahal, jarak mereka berdu
a masih ada kurang lebih 3-4 meteran. Sungguh pameran tenaga dalam yang luar bia
sa. Melontarkan sebuah benda dalam kecepatan tinggi sudah banyak disaksikan oran
g dan bukan pameran luar biasa lagi. Tetapi, melemparkan sebuah benda dengan ber
at seperti sebuah batu atau pedang dengan kecepatan yang lamban, justru adalah p
ameran tenaga luar biasa. Dan, semua orang tentu saja kaget melihat kehebatan Du
rganini dan serempak kemudian bertepuk tangan. Adalah Nenggala yang kemudian ber
kata:
"Subo, terima kasih ........"
Tetapi, ketika melihat benda apa yang berada di genggaman tangannya, wajah Nengg
ala nampak tertegun dan kaget luar biasa. Sebuah benda yang tiada seorangpun sel
ain dirinya dan Durganini yang mengerti benda apa itu gerangan. Itulah Sam Kiam
It Hui Cah Yun (3 Pedang Sekali Terbang Menembus Awan), sebuah Pedang pusaka yan
g dituliskan dalam tulisan Kakek Dewa Pedang kepadanya. Tetapi, Kakek Dewa Pedan
g tidak pernah menyebutkan ada dimana dan di tangan siapa pedang mujijat tersebu
t. Kini, secara luar biasa ketiga pedang pusaka gurunya muncul di tangannya mela
lui Durganini yang adalah subo dari istrinya Kiang Li Hwa. Betapa dia tidak kage
t?
"Subo, ini ...... ini ......" sampai Nenggala tidak sanggup mengeluarkan suara u
ntuk sekedar bertanya saking kaget dan senangnya.
"Nenggala, engkau tidak tahu jika benda itu ada hubungan sangat erat bukan hanya
denganmu tetapi juga dengan istrimu. Karena benda itu berasal dari suboku yang
berarti dari Nenek guru Li Hwa istrimu. Suboku telah mengasah pedang peninggalan
dan tanda mata kekasihnya dari Tionggoan menjadi jauh lebih hebat dan mampu men
embus kekuatan sihir sekalipun. Akupun sangat paham, jika benda itu kembali keta
nganmu saat ini, maka itu sesuai dengan harapan suboku ....."
Dan Nenggala tersentak kaget, bahkan orang-orang Thian San Pay sekalipun kaget s
etengah mati. Baru mereka tahu bahwa Kakek Dewa Pedang pernah punya kekasih yang
berasal dari Thian Tok, bahkan menghadiahkan Sam Kiam It Hui Cah Yun (3 Pedang
Sekali Terbang Menembus Awan) kepada kekasihnya itu. Banyak orang yang kurang me
ngerti kehebatan 3 pedang itu, kecuali Nenggala. Dengan kemampuan menembus garis
sihir, maka kehebatan pedang itu menjadi bertambah tambah. Diam-diam Nenggala m
erasa sangat bersyukur telah menemukan Pedang peninggalan gurunya, dan nampaknya
Pedang itu dihadiahkan gurunya kepada seorang wanita asal Thian Tok sebagai bar
ang kenangan. Karena itu dengan sangat terharu, sambil menggenggam dan mencium p
edang mujijat ditangannya, Nenggala berkata kepada Durganini:
"Subo, kami berdua suami-istri mengucapkan banyak terima kasih kepada engkau ora
ng tua ..... kami sungguh-sungguh berterima kasih ..."
"Hari ini adalah saat yang tepat mengembalikan benda pribadi Suhumu dan Suboku,
dan sungguh luar biasa adalah anak-anak didikan perguruan kedua orang tua itu ya
ng kembali mewarisinya. Hal ini sudah sewajarnya anakku ...... sudahlah ..."
Dan sambil berkata demikian, Durganini kemudian berbalik kepada semua hadirin sa
mbil berkata dengan suara tegas:
"Mengapa kita tidak bergembira saja...."?
Dan tiba-tiba Nenek sakti yang memang mahir sihir itu menggerakkan-gerakkan kedu
a tangan, dan dari mulutnya terdengar suara berwibawa mengalun: "Lihatlah Naga-n
aga inipun ikut bersuka cita bersama kita .......". Dan ajaib, di depan panggung
tiba-tiba nampak bergulung-gulung "seekor Naga" yang penuh hiasan berwarna-warn
i namun dominan warna merah. "Sang Naga" melenggang-lenggok dan bergerak-gerak b
agaikan mengikuti irama dan membuat suasana menjadi riuh-rendah karena hadirin,

terutama mereka yang berkekuatan lemah telah tenggelam dalam pameran kekuatan si
hir yang dilontarkan Durganini. Tapi, sebagian besar hadirin memang membiarkan d
iri untuk ikut tenggelam dalam sihir yang luar biasa itu dan menghasilkan suasan
a gembira dan meriah yang luar biasa.
Orang-orangpun terus tenggelam dalam hiburan luar biasa yang dilakukan Durganini
. Sementara Nenek Durganini sendiripun melakukannya dengan gembira, terutama kar
ena memang hari ini adalah pernikahan muridnya. Dan memang, aksinya menambah sem
arak dan meriahnya pesta pernikahan di Lembah Pualam Hijau. Semua bergembira, se
mua senang. Hanya seorang Liang Mei Lan yang tetap susah untuk bergembira. Apala
gi ketika beberapa kali subonya melalui suara batin mengingatkannya untuk terus
waspada. Ya, memang tidak semua orang tenggelam dalam semaraknya pesta. Tetap ad
a beberapa orang yang menjaga kewaspadaan dengan terus dan terus mengawasi keada
an sekitar ruangan tersebut.
Kembali terdengar lentingan suara yang berwibawa, suara yang berasal dari Nenek
Durganini yang membawa semua orang dalam ruangan untuk memperhatikannya: "Naga i
tu senang menari rupanya" ..... dan ajaib, Naga di depan panggung itu tiba-tiba
melenggang-lenggok dan menghadirkan keadaan yang menggelikan. Naga biasanya dike
nal karena kegarangannya, tetapi Naga yang diciptakan Durganini justru sanggup m
elenggang-lenggok dan menari dengan irama tertentu. Benar-benar pertunjukkan yan
g mengocok perut, dan membuat mereka-mereka yang tenggelam penuh dalam sihir sam
pai tertawa terbahak-bahak saking lucunya. Tentunya pertunjukan itu semakin mena
mbah kemeriahan acara pernikahan Nenggala dan Kiang Li Hwa.
"Tetapi, awas ........ hati-hati, Naga itu juga sangat mungkin menyerang orang.
Karena itu, sekali lagi, hati-hati dia menyerang......."
Tiba-tiba terdengar bentakan yang pastinya tidak berasal dari Nenek Durganini. D
ari siapa gerangan? Ach, rupanya dari pintu masuk nampak berdiri dua orang tua l
ainnya. Siapa lagi jika bukan sepasang ahli sihir dari Thian Tok, Mahendra dan G
ayatri yang nampak memadukan kekuatan mereka untuk mengadu sihir dengan Durganin
i. Maklum, keduanya memang bukan tandingan Nenek Durganini jika harus maju satu
lawan satu. Tetapi, jika mereka berdua bergabung, kekuatan mereka akan memadai u
ntuk bertahan menghadapi Nenek Durganini. Dan memang benar seperti itu kejadiann
ya. "Naga" ciptaan Nenek Durganini, tiba-tiba mengerang hebat dan tiba-tiba berb
alik bahkan berubah wujudnya menjadi seekor Naga buas yang siap menerkam para ha
dirin.
Secara otomatis hadirinpun berteriak panik. Tetapi, karena semua berada dalam ce
ngkeraman ilmu sihir, mereka tidak sanggup berbuat apa-apa selain berteriak teri
ak ngeri dan penuh ketakutan. Maklum, sebagian besar dari hadirin di bawah pangg
ung memang adalah tokoh-tokoh Thian San Pay, murid-murid penjaga Lembah Pualam H
ijau yang berilmu belum cukup tinggi. Tetapi untungnya, terdengar suara Nenek Du
rganini:
"Hmmmmm, ada gangguan rupanya. Kembalikan Nagaku ........" dan seiring dengan su
ara Nenek Durganini tersebut, Naga yang siap menerkam para hadirin, kembali beru
bah ujud menjadi Naga lucu yang pintar dan sanggup menari-nari mengikuti irama m
usik. Tetapi, kejadian itupun tidak berlangsung lama, karena sekejab kemudian, N
aga itu beurbah lagi menjadi Naga garang yang siap menyerang para hadirin. Dan b
egitu berkali-kali kejadiannya. Nampaknya pertarungan sihir itu memang seru dan
Durganini berhasil diimbangi oleh Mahendra yang bergabung dengan Gayatri untuk m
enandinginya.
Sementara itu, Mei Lan, Tek Hoat, Giok Lian dan Kwi Song sudah dengan cepat meny
adari keadaan yang tidak beres itu. Benar saja, Lembah Pualam Hijau kembali kebo
bolan dan kemasukan orang yang tidak diundang. Tetapi, kelihatannya semua tokoh
Lembah Pualam Hijau sudah siap. Bersamaan dengan pertandingan sihir yang hebat i
tu, Kiang Hong, Tan Bi Hiong, Kiang Liong, Kiang Sian Cu dan Thio Su Kiat telah
menyusup ke luar. Kemana lagi jika tidak membagi tugas untuk mengamankan tempattempat yang dirahasiakan oleh Lembah Pualam Hijau? Kiang Sian Cu dan Thio Su Kia
t segera menuju kamar khusus bagi Duta Agung dimana Barisan 6 Pedang lapis kedua
berjaga-jaga. Sementara Kiang Liong, Kiang Hong dan Tan Bi Hiong segera menuju
ke tempat Duta Agung yang berada bersama ayah mereka Kiang Cun Le dan Barisan 6
Pedang utama.
Sementara itu, pertarungan sihir berlangsung terus antara Mahendra dan Gayatri m

elawan Durganini. Pertarungan mereka kini diawasi oleh Jayeng Reksa yang menyaba
rkan Nenggala dan Kiang Li Hwa yang sudah marah dan hendak turun tangan. Tetapi
untungnya ada Jayeng Reksa yang menjaga disekitar Durganini, dan Nenggala sendir
ipun meski marah, tetapi tidak meninggalkan kewaspadaannya. Dia yakin, jika Mahe
ndra dan Gayatri berani datang, berarti mereka memiliki persiapan yang matang. T
idak, tidak mungkin hanya mereka berdua yang datang. Pasti ada kelompok lain yan
g juga ikut datang dan menyokong kedua Kakek dan Nenek licik asal Thian Tok itu.
Karena itu, Nenggala masih tetap berdiam diri dan tidak bergerak sambil terus m
engawasi keadaan di dalam ruangan tersebut.
Dan memang benar. Sesaat setelah Kwi Song dan Tek Hoat bergerak mendatangi Mahen
dra dan Gayatri, tiba-tiba di kanan kiri kedua kakek dan nenek asal India itu te
lah berdiri dua orang lainnya. Siapa lagi jika bukan Bu Hok Lokoay dan Hiong Say
Tay Pek San? Bahkan di belakang keduanya berdiri cengengesan Janawasmy. Tetapi,
melihat keadaan yang ramai, Janawasmy dengan cepat menyusup kembali keluar dan
seterusnya lenyap. Entah kemana perginya.
"Ach, kenalan lama rupanya saudara Tek Hoat ......"
"Benar, para pecundang ingin melakukan pembalasan ..... hahahha"
Mengenali Bu Hok Lokoay dan Hiong Say Tay Pek San, Kwi Song dan Tek Hoat yang me
miliki karakter yang sama sudah dengan cepat menyindir lawan. Bahkan keduanya sa
mbil pandang dengan mimik lucu dan membuat kedua orang kakek yang berada di samp
ing kiri dan kanan Mahendra dan Gayatri menjadi marah. Tetapi selangkahpun merek
a tidak berani beranjak dari samping Mahendra dan Gayatri. Dan sudah tentu gelag
at itu dimengerti Tek Hoat dan Kwi Song. Sudah jelas, orang-orang ini datang den
gan niat mengacau, dan mereka jelas akan mempertahankan Gayatri dan Mahendra yan
g sedang mengacau pesta. Padahal, pesta itu sendiri memang sudah "kacau".
Dan dalam kekacauan itu, tiba-tiba sesosok tubuh berkelabat masuk dengan mengena
kan jubah berwarna hijau. Sekujur tubuhnyapun tertutup jubah hijau dan juga penu
tup wajah yang berwarna hijau. Entah apa maksud orang tersebut mengenakan jubah
dan penutup berwarna hijau, justru di Lembah terkenal yang bernama Lembah Pualam
Hijau. Dan yang paling penting adalah, siapa gerangan tokoh terakhir yang berke
labat masuk dengan kecepatan yang sangat luar biasa itu? karena bahkan Tek Hoat
yang melihat bayangan tersebut sampai berdecak kagum dan mendesis lirih:
"Hebat, mungkin hanya kalah dari Lan moi ......"
"Benar saudara Tek Hoat, siapa lagikah tokoh yang satu ini"? timpal Kwi Song yan
g juga ikut tergetar melihat kehebatan seorang lawan lagi yang baru masuk.
Tetapi di luar dugaan banyak orang, bayangan yang baru masuk dan mengenakan penu
tup wajah dan tubuh berwarna hijau itu, berkelabat ke panggung. Dan bukannya men
yerang orang atau membantu Mahendra dan Gayatri, tetapi langsung menuju ke depan
Nenggala dan Kiang Li Hwa. Setelah berada dalam jarak 3-4 meter dari sepasang s
uami-istri baru itu tokoh itupun berhenti. Tetapi pada saat itupun, Jayeng Reksa
yang sakti sudah bergerak untuk menghadang di hadapan Nenggala dan Li Hwa.
Tetapi tokoh tersebut segera mundur kembali begitu melihat Nenggala memberinya i
syarat untuk mundur dan membiarkan si jubah hijau untuk berhadapan dengan mereka
berdua suami-istri. Jayeng Reksa paham siapa Nenggala saat ini, meski anak didi
k dan keponakannya, tetapi Nenggala telah maju jauh dan tidak berada di sebelah
bawah kemampuannya. Tetapi, bagaimanapun ini hari bahagia murid sekaligus kepona
kannya itu, dan dia adalah wali dan orang tua Nenggala pada saat itu. Siapa tida
k meradang?
Terdengar Nenggala mengeluarkan suara menegur si pendatang misterius yang kini b
erdiri berhadap-hadapan dengan dirinya:
"Siapakah saudara ....."? nampaknya Nenggala telah tahu jika orang dihadapannya
masih berusia muda dan tidak jauh selisihnya dengan dirinya sendiri.
"Kenalan lama ....... tapi, perkenankan aku menyampaikan ucapan Selamat berbahag
ia bagi kalian berdua ......." dan sambil mengatakan demikian, si Jubah Hijau ya
ng misterius benar-benar memberi hormat kepada sepasang suami-istri baru tersebu
t. Dan begitu mendengar suara itu, Kiang Li Hwa nampak tersentak kaget, dia sepe
rti ingat dan kenal dengan nada suara yang dikeluarkan si Jubah Hijau tersebut.
Tapi siapa dia sebenarnya?
"Engkau, engkau siapakah? ....... siapakah engkau ...."? Li Hwa tergagap-gagap a
ntara kenal dan tidak kenal. Hanya saja, hati kecilnya merasa sangat yakin jika

dia mengenal tokoh yang berdiri di hadapannya itu. Repotnya, dia tidak sanggup m
enunjuk dan mengatakan siapa sebenarnya orang itu. Dia melirik ayah dan ibunya,
terutama ayahnya, tetapi Kiang Tek Hong nampak menundukkan kepala. Bahkan sekeda
r memandang kearah si pendatangpun tidak. Tidak mau tahu atau?
Dan si pendatang atau si Jubah Hijau, ternyata tidak berniat untuk memperpanjang
keributan dalam ruangan tersebut. Tiba-tiba dia membentak sambil mendorongkan t
angannya tepat ketengah-tengah pertarungan sihir antara Durganini menghadapi Mah
endra dan Gayatri. Dan akibatnya, Naga jadi-jadian yang sebentar menjadi "Naga b
anci" sebentar menjadi "Naga garang" tiba-tiba lenyap bagai asap. Selesai? belum
. Karena pada saat naga jadi-jadian itu lenyap, tubuh Durganini terdorong sampai
3-4 langkah dengan nafas terengah-engah.
Ketika kemudian Nenek Durganini sanggup berdiri dengan tubuh terlihat letih kare
na menghadapi Mahendra dan Gayatri dan pada saat terakhir masih dibentur pula ol
eh si Jubah Hijau, Nenek Gayatri mendelik gusar sekaligus kaget memandang ke ara
h si Jubah Hijau.
"Siapa engkau ...."?
Pertanyaan yang tidak dijawab oleh si Jubah Hijau, dan pertanyaan itu pertanyaan
banyak orang. Hanya saja, Nenek Durganini tidak berani menyerang si Jubah Hijau
. Pertama, karena dia banyak kehilangan tenaga dan kekuatan sihir akibat adu sih
ir dengan gabungan Mahendra dan Gayatri. Dan yang kedua, Nenek Durganini rada te
rgetar dengan kekuatan yang ditunjukkan di Jubah Hijau. "Kekuatan sihirnya nisca
ya tidak berada di bawah kekuatanku atau Naga Pattynam, siapa gerangan tokoh heb
at ini"?.
Selagi Nenek Durganini tenggelam dalam kekagetannya menemukan betapa hebatnya si
Jubah Hijau, terdengar si Jubah Hijau berkata:
"Aku tidak bermaksud mengacau pesta pernikahan ini. Tetapi aku ingin menantang s
eseorang di tempat ini, karena aku tahu orang itu berada di sini ....."
Jayeng Reksa yang berdiri di panggung sebagai wali Nenggala, sudah tentu tidak s
enang dengan keadaan dan pesta nikah yang terkacaukan ini. Untung saja upacarany
a sudah selesai. Tetapi, bagaimanapun sebagai wali pihak Nenggala, dia merasa te
rsinggung dengan kekacauan tersebut. Karena itu, dengan ketus dia berkata atau t
epatnya bertanya:
"Siapa gerangan orang yang ingin engkau tantang dan mengapa pula engkau tidak me
nunggu sampai waktunya tepat ...."
"Aku tahu orangnya berada di Lembah Pualam Hijau ...... aku ingin ....."
Belum lagi si Jubah Hijau mengeluarkan tantangannya dan menyebutkan siapa yang d
ia tantang, tiba-tiba terdengar sebuah suara lain ....... yang diikuti dengan ha
dirnya orang lain lagi dalam ruangan itu. Bahkan langsung ke depan, tepatnya di
panggung yang digunakan oleh sepasang mempelai baru:
"Sebentar kawan ....... aku ingin mengajukan tantangan terlebih dahulu. Kemana D
uta Agung Lembah Pualam Hijau, jangan sembunyi ........ aku menantangnya untuk b
ertarung dan membalas kekalahanku beberapa waktu lalu" sambil berkata demikian,
pendatang yang paling akhir masuk itu celingak-celinguk mencari-cari seseorang.
Siapa gerangan orang yang dicari si pendatang baru itu? dan siapa pula si pendat
ang baru itu? Tidak salah, dan ini yang mengagetkan banyak orang dalam ruangan t
ersebut. Pendatang baru yang terakhir masuk adalah seorang tokoh baru yang beber
apa orang dalam ruangan tersebut mengenalnya dengan jelas.
Siapa dia? Tidak salah. Inilah tokoh baru bernama Toh Ling, seorang tokoh muda a
sal Lembah Salju Bernyanyi yang secara kebetulan menemukan warisan Ilmu mujijat
dari Thian Tee Siang Mo. Beberapa bulan sebelumnya Toh Ling terpukul kalah oleh
Kiang Ceng Liong di Bu Tong San dan akibatnya tokoh ini menghilang selama bebera
pa bulan. Siapa tahu, beberapa hari sebelumnya Toh Ling muncul kembali dan menuj
u Lembah Pualam Hijau untuk menuntut balas atas kekalahan di Bu Tong Pay. Dan ki
ni, pria gagah yang membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya berd
iri gagah mengajukan tantangan kepada Kiang Ceng Liong, Duta Agung Lembah Pualam
Hijau.
Tetapi, melihat orang yang ditantangnya tidak berada di tempat, Toh Ling yang me
mang sewaktu-waktu kesadarannya "hilang" akibat ilmu sesat yang dipelajarinya me
njadi sewot. Segera diapun berkata:
"Masakan Duta Agung Lembah Pualam Hijau bersembunyi di rumahnya sendiri"?

"Sombong betul ........ lihat serangan ....."


Kiang Sun Nio yang sama dengan tokoh-tokoh Lembah Pualam Hijau lainnya sudah kes
al dengan keributan dalam pesta tersebut jadi naik pitam. Mendengar kakaknya yan
g dibangga-banggakannya dihina orang, meletuslah amarahnya dan tidak sanggup lag
i ditahannya. Diapun berkelabat menyerang Toh Ling. Tetapi, Toh Ling yang menden
gar bentakan seorang gadis remaja, sudah tentu malu dan enggan untuk turun tanga
n keras. Hanya dengan mengibaskan sebelah tangannya diapun mendengus sambil berk
ata:
"Nona muda, engkau belum pantas ........"
Dan benar demikian. Meski hanya mengibaskan sebelah lengannya tetapi sudah cukup
menahan serangan Sun Nio dan bahkan mendorong tubuh gadis remaja itu ke belakan
g. Tetapi, Sun Nio juga bukan pepesan kosong. Akan percuma dia menjadi murid Lio
ng-i-Sinni jika takut hanya dengan dorongan tersebut. Bahkan bukan hanya tidak t
erluka, tetapi gaya turunnyapun menggunakan ginkang istimewa ajaran gurunya dan
membuat Toh Ling terbelalak kagum:
"Ach ....... engkau hebat jika nona muda, siapakah engkau"?
"Akan percuma aku menjadi adik Duta Agung Lembah Pualam Hijau jika takut menghad
apimu manusia hantu ........"
"Waaaaaaah, mulutmu tajam juga adik kecil. Tapi aku tetap malu menghadapimu, eng
kau masih terlihat seperti anak kecil ......."
"Kurang ajar, siapa anak kecil? kalau begitu rasakan dulu pukulan anak kecil ini
" sambil meraung murka karena dipanggil anak kecil, Kiang Sun Nio kembali berkel
abat menyerang Toh Ling. Hanya saja, kali ini maksud Kiang Sun Nio tidak kesampa
ian. Karena hanya beberapa saat setelah dia melepaskan pukulannya, mendadak terd
engar dua buah suara yang nyaris bersamaan keluarnya dari dua mulut yang berbeda
:
"Sumoy, tahan pukulanmu ......
Dan bertambah lagi satu orang di panggung ruangan pertemuan Lembah Pualam Hijau
itu. Inilah Liang Mei Lan, murid Wie Tiong Lan Pek Sim Siansu sekaligus juga mur
id Liong-i-Sinni. Dan semua orang sudah tahu belaka, setelah Liong-i-Sinni, inil
ah tokoh dengan kehebatan ginkang yang tak terlawan. Gaya dan kecepatan Liang Me
i Lan melayang ke panggung sungguh menakjubkan dan menawan. Bahkan bukan sedikit
orang yang berseru kagum melihat Mei Lan melayang ke atas panggung dan dengan k
ecepatan tinggi telah menahan serangan sumoynya Kiang Sun Nio. Dan perlahan dia
menyabarkan adik seperguruannya itu.
"Suci, biarkan aku maju. Dia, dia sungguh menghina ......"
"Sumoy, biarkan sucimy yang maju nanti. Tahan kemarahanmu ......"
"Nio jie, biarkan sucimu yang mewakili kakakmu. Orang itu masih belum sanggup en
gkau tandingi ......" terdengar bisikan lirih Liong-i-Sinni di telinga Kiang Sun
Nio. Dan memang, cuma Liong-i-Sinni seorang yang diindahkan Kiang Sun Nio, bahk
an ibu dan ayahnya sekalipun kewalahan menangani gadis remaja yang kadang bengal
nya minta ampun di Lembah Pualam Hijau ini. Dan bisikan Liong-i-Sinni ini manjur
, terbukti kemudian Sun Nio melirik gurunya sambil berbisik:
"Baiklah jika memang demikian subo ......" dan Kiang Sun Niopun kemudian beranja
k turun dari panggung dengan berat hati. Tapi, belum begitu jauh dia kembali ber
balik dan berkata:
"Suci, balaskan penghinaannya kepadaku tadi ......"
Dan disambut dengan senyum bijak oleh Mei Lan. Selanjutnya Mei Lan menghadapi To
h Ling yang segera mengenalinya karena sempat berjumpa di Bu Tong Pay. Toh Ling
pun segera berkata:
"Engkau juga berada disini Nona ....."?
"Sudah beberapa hari aku disini. Maafkan jika Duta Agung tidak akan bisa menemui
tuan pada hari ini. Dan kami memohon kesabaranmu, tunggulah beberapa hari lagi,
karena hari ini adalah hari bahagia saudara Nenggala dan Kiang Li Hwa. Setelah
hari ini, kujamin Duta Agung dengan senang hati akan menyediakan waktu untuk ber
tarung melayani tuan ...."
"Tidak bisa ...... aku harus menghadapinya dan membalaskan kekalahanku pada hari
ini. Dia harus merasakan pahitnya kekalahan ...."
"Jika tuan tetap berkeras, maka aku akan menggantikan Duta Agung untuk menghadap
i tuan ...."

"Engkau .....? Hahahahaha, Duta Agung Lembah PUalam Hijau bersembunyi dibalik pu
nttung seorang perempuan? Sungguh menggelikan, sungguh menggelikan".
"Apakah engkau takut menghadapiku tuan ....."? dengan tenang Liang Mei Lan melad
eni Toh Ling. Dan mendengar kata "takut", Toh Ling jadi meradang, suara tertawan
ya terhenti dan dengan mata tajam dia memandangi Mei Lan.
"Siapanya Duta Agung sehingga engkau berani menghadapiku"?
"Calon istrinya ........" sahut Mei Lan tandas. Dan kalimat ini disambut dengan
penuh kekagetan oleh banyak orang, termasuk Liang Tek Hoat dan Siangkoan Giok Li
an sekalipun. Hanya seorang Liong-i-Sinni seorang yang tidak terkejut karena "ep
isode" ini memang sudah dalam dugaannya beberapa waktu sebelumnya. Bahkan ide un
tuk memaksakan status Ceng Liong dan Mei Lan menjadi calon suami istri dan bertu
nangan, baru muncul kemarin. Dan bertindak sebagai wali bagi muridnya, dia telah
menyetujui pinangan yang dilakukan oleh Kiang Hong suami-istri. Tidak heran jik
a kemudian pengakuan Mei Lan ini menghasilkan kasak-kusuk dan diskusi diam-diam
diantara banyak orang, terutama pihak keluarga Lembah Pualam Hijau, para pelayan
dan murid mereka.
"Hmmmm, calon istrinya. Tapi apakah engkau sanggup menghadapiku"?
"Jika hanya membekal kemampuan seperti waktu engkau dikalahkan Duta Agung bebera
pa waktu lalu, maka yakinkan dirimu bahwa engkau tidak akan sanggup mengalahkank
u tuan ...." jawab Mei Lan kembali dengan tandas sambil menantang pandangan mata
tajam menusuk dari Toh Ling. Sementara itu, Tham Beng Kui, Cui Giok Tin dan Cui
Giok Li memandang gelisah ke atas panggung. Mereka tahu kalau mereka bukan lawa
n Toh Ling, tetapi membiarkan Mei Lan melawan iblis itu, mereka sungguh tak rela
. Apalagi setelah tahu gadis cantik itu adalah calon istri Duta Agung Kiang Ceng
Liong yang namanya mereka kagumi.
"Engkau sombong juga Nona, baiklah aku akan mengalah 10 jurus menghadapimu. Sila
hkan memulai Nona ....."
"Tidak, harus pihak penantanglah yang memulai. Dan jika engkau memang tidak bera
ni memulai, sebaiknya engkau menarik tantanganmu kepada Duta Agung Lembah Pualam
Hijau dan mengaku kalah ...."
"Engkau keterlaluan Nona ...." Toh Ling mulai diliputi amarah, dan dalam keadaan
demikian biasanya dia tidak sanggup banyak berkata-kata. Dan justru dalam keada
an seperti itu, ilmunya akan merasuki dirinya.
"Karena itu, mulailah jika engkau berkeras menantang ....."
"Tapi aku menantang Duta Agung. Masakan dia begitu pengecut berlindung dibalik s
eorang perempuan meskipun dia calon istrinya"?
"Jika engkau sanggup melewatiku, kupastikan dia akan datang untuk mengalahkan da
n menaklukkanmu tuan ....."
"Benarkah demikian ...."?
"Kupastikan memang demikian ......"
"Jika begitu, maafkan jika aku harus membekuk mulut besarmu terlebih dahulu" sua
ra Toh Ling belum berlalu, tetapi serangannya sudah menjelang datang. Sungguh he
bat. Tetapi, lebih hebat lagi gaya dan kecepatan bergerak Liang Mei Lan. Dan mel
etuslah perkelahian pertama di resepsi pernikahan Nenggala dan Kiang Li Hwa ini
....
"Ooooops ........ luput ....., engkau harus berusaha lebih cepat dan lebih keras
lagi" begitu cepat Liang Mei Lan bergerak dan mengelakkan pukulan Toh Ling. Dan
kecepatan bergerak Mei Lan kembali membuat Toh Ling takjub, dan karena itu dia
sadar apa yang diandalkan lawan menghadapinya.
"Hmmmm, ingin kulihat sampai berapa lama engkau bertahan dengan kecepatan berger
akmu Nona ...." ejek Toh Ling untuk kemudian kembali menyerang dengan ganas dan
dengan cepat dan penuh berisi tenaga.
"Hihihihihi, engkau salah besar Toh Ling, karena aku juga akan bisa menyerangmu.
Lihat serangan ....."
Sambil mengelak dan mundur dua langkah ke belakang, Mei Lan tiba-tiba telah meny
erang balik dengan kecepatan yang mengagumkan dan dengan takaran tenaga yang kem
bali mengejutkan Toh Ling. "Hmmmmm, Nona ini nampaknya semakin berisi juga. Beda
dengan pertarungan sebelumnya di Bu Tong San. Pantaslah jika dia masuk menjadi
salah satu dari 10 tokoh puncak dalam daftar pesilat terlihay di Tionggoan" Toh
Ling berdesir hatinya dan mulai tidak berani menganggap enteng Liang Mei Lan. Mu

lailah dia memandang Mei Lan dengan lebih awas dan lebih berhati-hati. "Kecepata
nnya jelas diatasku, tenaganya entah bagaimana kalau diadu" kembali Toh Ling ber
encana dalam hatinya.
Dan tidak berapa lama kemudian Toh Ling menyerang dengan gaya kacau balau, ilmu
kacau balau tak beraturan, tetapi membawa perbawa yang sungguh mengerikan. Inila
h Hong Luan Mo Kun Hoat
Pukulan Iblis Kacau Balau. Ilmu ini berlawanan dengan se
mua kaidah dan teori silat pada umumnya di Tionggoan, tetapi karena perbawa tena
ga dan kecepatannya memang luar biasa, maka tokoh sembarangan akan dengan mudah
tumbang di tangan pemilik ilmu ini. Bahkanpun Mei Lan, harus banyak bergerak dan
mengerahkan ginkangnya untuk mengusir perbawa buruk yang didatangkan oleh ilmu
pukulan lawan tersebut.
"Ihhhhhh, ilmu ini semakin lama nampak semakin jahat ...." Mei Lan berseru sambi
l bergerak cepat untuk kemudian menyampok pukulan lawan yang mengarah dan mengan
cam daerah lehernya. Tetapi sambil bergerak, untuk menjaga keamanannya diapun ba
las memukul lengan lawan, dan tak pelak lagi terjadilah benturan pertama antara
keduanya:
"Blaaaaaaaaarrrrrrr ......."
Akibat benturan tersebut, keduanya baik Toh Ling maupun Mei Lan jadi sadar jika
akan membutuhkan waktu lama dan panjang untuk menyelesaikan pertempuran. Tetapi
keduanya heran, karena setelah pertempuran mereka di Bu Tong San, kini mereka be
rdua nampaknya telah mengalami kemajuan yang luar biasa. Tenaga merekapun tidakl
ah bertaut sangat jauh, tipis saja bedanya. "Entah jika kugunakan ilmu pamungkas
ku" pikir Toh Ling. "Tetapi, bagaimana mungkin bertempur dengan ilmu mujijat itu
sementara lawan hanyalah seorang perempuan muda"? kebimbangan menggerogoti Toh
Ling. Haruslah dimengerti, Toh Ling sejatinya adalah seorang tokoh dari aliran l
urus. Sayangnya, ilmu yang ditekuninya dan diterimanya dari Thian Tee Siang Mo m
emang beraliran jahat dan busuk. Hanya, sedikit banyak, kegagahan dalam diri Toh
Ling masih ada sisanya, masih berbekas. Terutam ketika dia waras.
Karena kembimbangan tersebut, maka pertarungan keduanya berlangsung seru dan sei
Pukulan Iblis Kaca
mbang. Meski aura aneh yang dibawa ilmu Hong Luan Mo Kun Hoat
u Balau memang mengganggu Mei Lan, tetapi perlahan-lahan dengan berusaha meningk
atkan kekuatan batinnya, Mei Lan dapat juga mengusir perbawa buruk itu. Bahkan k
ini, Mei Lan mulai unjuk kemampuan dan mampu menunjukkan kehebatan bergeraknya.
Tetapi, tetap saja Mei Lan kaget, karena kini aura magis Toh Ling sudah berlipat
-lipat kehebatannya. Dia kini mengitari Toh Ling yang tetap kokoh dalam mengguna
kan ilmu Hong Luan Mo Kun Hoat dan membuat mereka berdua terlibat dalam pertarun
gan aneh yang mendebarkan.
Tidak mau didesak terus-menerus dengan kecepatan bergerak Mei Lan, tiba-tiba Toh
Ling bergerak aneh dengan tetap melontarkan pukulan-pukulan berbahaya. Tetapi,
kini dia bergerak secara aneh, mengimbangi kecepatan bergerak Mei Lan, dia membu
at gerakan-gerakan tubuh tak lazim. Hanya, hebatnya, dengan cara demikian dia ma
mpu mengimbangi Mei Lan yang juga tersentak kaget melihat lawan bergerak tak ber
aturan, namun sangat effektif dan effisien dalam mengurangi tekanannya. Itulah H
ong Luan Cap Pwee Pou (Delapan belas Langkah Kacau Balau), sebuah dasar gerakan
yang lebih mengutamakan unsur-unsur keanehan, ketidakberaturan dan dipadukan den
gan kegesitan dan kecepatan bergerak.
Dan hasilnya, kelebihan Mei Lan dalam kecepatan gerakan kembali dapat diimbangi
oleh Toh Ling. Bukan karena ginkang Toh Ling menyamai Mei Lan, tetapi karena ket
idakberaturan, keanehan dan kegaiban ilmu Toh Ling yang membuat Mei Lan harus ba
nyak berpikir. Untungnya Mei Lan sudah mencapai titik bergerak sesuai dengan hat
i, karena itu kemana dan arah mana yang akan ditempuhnya bisa dengan otomatis me
mbuatnya melahirkan gerakan sesuai pikiran dan perasaannya. Sungguh beda kualita
s kecepatan dan kegesitan dalam bergerak antara keduanya. Hanya, yang pasti pada
saat itu, Mei Lan dan Toh Ling kembali saling serang dan saling desak dalam kec
epatan tinggi. Pertempuran yang menyita perhatian banyak orang dan membuat semua
terkesima menyaksikan kehebatan kedua orang yang sedang adu kepandaian itu. Han
ya, Mei Lan semakin kaget, karena Toh Ling yang sekarang jelas sudah berbeda den
gan beberapa waktu lalu di Bu Tong. Kemampuan tenaganya, kemampuan kekuatan hita
mnya, jelas-jelas telah maju sangat pesat. Dan kini dia ragu apakah dia akan mam
pu menghadapi dan mengalahkan Toh Ling dengan kemampuan dan kehebatan yang ditun

jukkannya hari ini.


Tak dinyana muncul lagi seorang tokoh muda bernama Toh Ling ini. Dan dia memang h
ebat, nampaknya bukan hal yang mudah bagi Lan Jie untuk mampu memenangkan pertem
puran itu. Tokoh itu bahkan masih menyimpan kemujijatan yang lain ...... mudah-m
udahan Lan ji sanggup mengatasinya" desis Liong-i-Sinni yang dengan serius mengi
kuti pertempuran muridnya itu.
Dan memang benar. Kemujijatan Toh Ling, bahkan mungkin di luar sangkaan serta pe
ngetahuan Toh Ling sendiri. Terutama setelah 6 bulan terakhir dia menyepi dan me
latih diri di tempat yang ditunjukkan Thian Tee Siang Mo kepadanya. Kemujijatan
itu secara otomatis keluar dari dirinya ketika sedang bertempur dan memiliki kem
ampuan mempengaruhi kondisi dan area pertempuran. Termasuk tentu saja secara oto
matis mempengaruhi lawan. Tanpa disadari Toh Ling, ketika dia mengerahkan ilmu-i
lmu puncak perguruannya, dari lingkaran tubuhnya mengalir keluar daya magis, kek
uatan magis yang sangat kuat. Inilah ciri khas tokoh-tokoh mujijat yang membekal
5 ilmu sesat dan busuk pada 150 tahun sebelumnya. Untungnya, Liang Mei Lan tela
h mendapatkan didikan dari Kolomoto Ti Lou yang menyempurnakan ilmu dalamnya dan
ini yang membuatnya mampu bertahan menghadapi Toh Ling. Tanpa kemampuan itu, me
ski memiliki ilmu-ilmu hebat serta ginkang tak terlawan, niscaya Mei Lan akan ja
tuh di bawah angin. Inilah yang mampu dilihat secara detail dan dalam oleh Liong
-i-Sinni. Karena itu, wanita sakti ini meski mengagumi Toh Ling, keanehan serta
kekuatan magis yang berhawa sesat, tetapi tetap memiliki dan memelihara keyakina
nnya terhadap kemampuan muridnya itu.
Hanya saja, karena inilah pertama kalinya Mei Lan berhadapan dengan jenis lawan
dengan ilmu hebat dan mujijat serta berhawa magis ini tanpa tanda-tanda lawan me
lepaskannya, membuatnya harus menggunakan bukan hanya kemampuan fisik tetapi jug
a kecerdasannya. Bahkan beberapa kali dia dibuat terkejut dan akibatnya jatuh da
lam gempuran Toh Ling yang setiap menemukan celah sekecil apapun akan dengan cep
at menyerang. Karakter Toh Ling memang gagah, tetapi ilmunya sungguh tak beratur
an dan bahkan cenderung kasar, kejam dan memang sesat. Tetapi, kondisi inilah ya
ng justru membuat pertarungan mereka menjadi sangat seru dan terlihat luar biasa
bagi mata banyak orang. Terutama bagi mereka yang rata-rata adalah penggemar il
mu silat di ruangan itu.
Bahkanpun Nenggala dan Li Hwa saling pandang dengan muka berkerut. Tanda keduany
a yang juga berilmu tidak di bawah Mei Lan menjadi sangat kaget. Nenggala bahkan
mendesis dan berkata kepada Li Hwa:
"Hwa moi, kita berduapun kemungkinan besar tidak akan lebih ungkulan melawan Toh
Ling dibandingkan Lan moi. Sungguh benar-benar tidak kusangka jika dia membekal
kemampuan yang begitu mujijat"
"Benar koko, nampaknya kekuatan magis, kekuatan hitam yang hebat dan menyebar da
ri tubuhnya yang menyulitkan Lan ji. Selain itu, tatanan geraknya sungguh tidak
beraturan dan sulit diterka ....."
"Engkau benar Hwa moi ...... kita berduapun jika maju satu lawan satu dengan Toh
Ling, pasti mengalami kesulitan seperti Lan moi ......"
Li Hwa menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengiyakan sudut pandang suaminy
a. Sebagai penggemar ilmu silat, meski keduanya marah karena pesta mereka tergan
ggu, tetapi tanpa sadar mereka berdua kini malah tenggelam dalam keasyikan menga
mati jalannya pertarungan yang memang langka namun sangat berbobot itu. Keduanya
sudah tentu sangat mengenal kemampuan Liang Mei Lan dan mengenal kehebatan ilmu
Liang Mei Lan. Tetapi melihat bagaimana Toh Ling melawan Mei Lan, mereka segera
sadar jika Toh Ling juga bukan tokoh kacangan. Bukan, sama sekali bukan tokoh a
yam sayur. Yang sebenarnya, Toh Ling membekal kemampuan yang luar biasa, kemampu
an yang bahkan dapat mendesak dan merepotkan Mei Lan yang dikenal ratu ginkang b
ersama subonya Liong-i-Sini. Sudah jelas mereka berduapun tidak akan lebih baik
melawan Toh Ling dibandingkan Mei Lan yang memiliki tingkat kepandaian seimbang
dengan mereka berdua.
"Ya, tepat, memang harus begitu ......" terdengar akhirnya Nenggala berbisik. Te
pat pada saat itu, Mei Lan yang memang kerepotan menghadapi ketidakberaturan ger
ak pukulan dan silat lawan, serta terutama hawa magis dari Toh Ling, sudah merub
ah gerakan dan ilmunya. Sangat kebetulan Mei Lan memilih Ban Hud Ciang, sebuah i
lmu aliran lurus yang memiliki kekuatan menghadapi kekuatan ilmu hitam. Mei Lan

sengaja memilihnya ketika merasa terhimpit oleh nuansa magis dan melemahkan tena
ganya. Selain itu, dia pernah menggunakan ilmu ini dengan hasil memuaskan waktu
mereka bertempur untuk pertama kalinya di Bu Tong San.
Jelas Mei Lan sadar apa yang dialaminya dan kekuatan apa yang menghimpitnya. Seb
agai murid didikan 3 tokoh super sakti, Wie Tiong Lan Pek Sim Siansu, Liong-i-Si
nni dan Kolomoto Ti Lou, Mei Lan dengan cepat menyadari yang sedang dihadapinya.
Kekuatan sihir atau kekuatan ilmu hitam yang menyerang semangat dan kesadaranny
a. Hanya, dia sendiri heran, karena dia tidak melihat Toh Ling sedang melepaskan
kekuatan ilmu hitamnya. Mei Lan memang belum sadar, jika Toh Ling sudah berkema
mpuan menyebarkan kekuatan magis karena penguasaan ilmu sesat dan busuk warisan
Thian Tee Siang Mo.
Tetapi, ketika dia melepaskan kekuatan ilmu aliran Budha dalam ilmu Ban Hud Cian
g (Selaksa Telapak Budha), dengan cepat perasaannya menjadi sangat lega dan lepa
s. Semua kekhawatiran, ketakutan, rasa seram serta efek-efek ilmu hitam yang men
yerangnya, secara otomatis terangkat dan lepas menghimpitnya. Semangatnya yang s
empat kendor dan membuatnya jatuh dalam desakan lawan kini kembali berkobar. Dan
ketika dia menyerang dengan jurus pertama dari ilmu Ban Hud Ciang, dia akhirnya
menemukan ketenangan dan menemukan kepercayaan akan kemampuan dirinya kembali.
Benturan kembali terjadi, hanya, jika benturan sebelumnya dia merasa menggigil d
an merasa seram, kali ini benturan mereka hanya berefek terasanya kekuatan doron
gan lawan. Tidak ada lagi rasa seram, rasa lelah dan rasa khawatir akan kekuatan
tenaga lawan.
"Memang harus begitu, sungguh tepat. Ach, Lan ji memang cerdik ...." Liong-i-Sin
ni melepas pujian meski dalam hatinya saja. Terutama ketika melihat muridnya akh
irnya menemukan cara yang tepat untuk melawan dan mengatasi pengaruh sesat dan j
ahat ilmu hitam Toh Ling.
Dan sebentar kemudian, pertempuran kembali berlangsung secara normal dengan meng
andalkan kecepatan dan kekuatan tenaga dalam. Benar, kekuatan magis tetap terusmenerus menghambur keluar dari lingkaran tubuh Toh Ling. Tetapi Liang Mei Lan te
lah menemukan cara yang sangat tepat untuk menangkal serta memukul kekuatan pene
kan yang bersifat magis itu. Karena itu, kini Mei Lan kembali menemukan keunggul
an gerak tubuhnya dan membuatnya kini berbalik lebih banyak menyerang lawannya.
Toh Ling yang sebelumnya sudah merasa senang, kini berbalik kembali didesak Mei
Lan, terutama karena kecepatan gerak Mei Lan yang melandasi pelepasan Ban Hud Ci
ang. Diapun memaki-maki dalam hati, tetapi tidak mungkin melepas perhatian dan k
onsentrasinya dari pertempuran mereka.
Di tengah saling libas melalui kecepatan bergerak dan berkesiurannya ilmu pukula
n, maka kehilangan konsentrasi akan sangat berbahaya. Itulah sebabnya Toh Ling t
idak mengendorkan ilmu pukulan dan ilmu gerak tidak beraturan yang dilepaskannya
. Sebaliknya, dengan penuh konsentrasi dia mengembangkan jurus-jurus dari kedua
ilmu itu untuk balas menyerang dan juga balas menekan Mei Lan. Hanya saja, tetap
dia terserang lebih banyak dan lebih sering dibandingkan Mei Lan. Meskipun kond
isi itu belum atau tidaklah berarti bahwa Toh Ling sudah jatuh di bawah angin, k
arena betapapun pertempuran keduanya masih akan berkembang dan meningkat lebih s
eru dan jauh lebih berbahaya.
Menghadapi serangan cepat dan berbahaya dari Mei Lan, Toh Ling akhirnya hilang k
esabaran. Bagaimanapun dia tidak mau kehilangan gengsi dan apalagi jika sampai k
alah, maka dia harus mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya. Tetapi begitupun dia mas
ih tetap ragu menggunakannya kepada seorang perempuan, meski perempuan itu tidak
berbeda jauh kepandaiannya dibandingkan kemampuan dirinya sendiri. Maka diapun
mundur beberapa langkah ke belakang setelah balas menyampok serangan Mei Lan dan
kemudian berkata:
"Nona, sekali lagi aku memohon engkau panggilkan Duta Agung. Jika dia tidak kelu
ar ama aku akan dengan sangat terpaksa melepaskan ilmu pamungkas yang nantinya a
kan sangat merugikanmu ......"
"Toh Ling, dibandingkan dengan di Bu Tong San engkau memang sudah maju sangat pe
sat. Kemampuanmu meningkat secara louar biasa. Tetapi, engkau masih belum akan m
ampu mengalahkanku ......."
"Nona, jangan engkau memaksaku ....." Toh Ling berkeras dan kini, biji matanya m
ulai jelajatan, tanda amarahnya mulai terbangkitkan dan merangsang "naluri setan

iah" yang kini bersarang dalam tubuhnya melalui kekuatan ilmu yang dikuasainya.
"Toh Ling, jadilah tamu yang baik di Lembah Pualam Hijau ....." Mei Lan sudah ba
rang tentu berkeras dengan pendiriannya.
"Hehehehe, Nona ...... engkau memaksaku ....."? Toh Ling yang murka mulai menunj
ukkan gelagat yang aneh. Mulai muncul tanda-tanda kekurang warasannya. Ini sekal
igus menjadi tanda bahwa ilmu sesat dan busuk yang dikuasainya, mulai mengendali
kan pikiran dan perasaan Toh Ling. Bahkan beberapa saat kemudian, dari sekujur t
ubuhnya justru tersiar hawa yang tercium harum di hidung. Hanya saja, hawa dan b
au yang harum itu tidaklah mendatangkan rasa nyaman bagi banyak orang termasuk M
ei Lan, tetapi sebaliknya justru mendatangkan perasaan seram dan kurang nyaman.
Inilah luar biasa dan sangat aneh, bahkanpun aneh bagi Mei Lan. Tetapi, begitu m
elihat gelagat Toh Ling yang semakin kurang waras dan dari tubuhnya tercium bau
harum aneh yang mendatangkan rasa tidak nyaman, Beng Kui dan Giok Tin sudah sali
ng pandang. Keduanya nampak kaget dan seperti tersangat kalajengking:
"Sumoy, nampaknya ..... dia, dia sudah ......." Beng Kui sampai jadi gagap dan t
idak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Benar toako, nampaknya Toh Ling sudah menguasai secara sempurna ilmu busuk itu.
Aku khawatir nona Mei Lan tidak akan mampu menahannya ......" desis Giok Tin.
"Engkau benar sumoy, aku akan mengingatkannya ...." Beng Kui berkata kepada Giok
Tin yang menganggukkan kepalanya memberi persetujuan. Dan kemudian, Beng Kui be
rdiri dan berseru kepada Mei Lan:
"Nona Mei Lan, hati-hati, dari gelagatnya Toh Ling sudah mampu menguasai secara
sempurna ilmu busuk dan mujijat Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk t
ulang). Nona, teramat jarang ilmu pukulan yang memiliki kesanggupan untuk menaha
n ilmu busuk nan mujijat itu. Bau harum yang menyebar dari tubuhnya adalah perta
nda kesempurnaan penguasaan imu sesat itu"
Mei Lan menoleh kepada Beng Kui dan kemudian berkata:
"Terima kasih saudara Beng Kui, harap tenang. Rasanya aku masih berkemampuan unt
uk sekedar bertahan menghadapinya ........"
Sementara itu, Toh Ling kini sudah secara penuh dikuasai oleh ketidakwarasannya.
Kini dia mulai tertawa-tawa, ber - hahaha - hihihi, sambil menuding-nuding Mei
Lan:
"Hihihihi Nona manis, lebih baik engkau mundur sebelum tubuhmu membusuk ...... h
ihihihi, membusuk nona manis ....."
Tetapi mana Mei Lan takut dan mundur? Meski dia kaget mendengar Toh Ling sudah s
empurna menguasai Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang) tetapi
Mei Lan tidak gentar sama sekali. Dia membekal banyak ilmu mujijat, membekal kem
ampuan tenaga batin dan kemampuan ginkang yang luar biasa. Tidak, tidak ada kata
takut dalam kamus Mei Lan.
"Hmmmm Toh Ling, silahkan jika engkau ingin melepaskan ilmu busukmu. Aku, Liang
Mei Lan sudah siap menerimanya ....."
"Nona ........ lihat, aku Toh Ling akan memukulmu .... hahahahahaha."
Dasar tenaga Toh Ling bernama Bu Ceng Mo Ong Sinkang (Tenaga Dalam Raja Iblis ta
k berperasaan) sudah dikerahkannya. Dengan tenaga mujijat yang sangat sesat ini
Toh Ling akan sanggup mengerahkan bermacam-macam ilmu sesat dan mujijat yang san
gat berbahaya. Pukulan dan langkah tidak beraturan akan menjadi berlipat kemampu
annya dan selain itu, Toh Hun Mi Im (Suara Pembetot sukma) yang mujijat dan memi
liki kemampuan menyerang lawan lewat kekuatan sihir dan magis melalui suara akan
bisa dikerahkannya. Belum lagi pukulan pamungkas yang sangat sesat, keji namun
mujijat Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang). Jika bertempur d
i Bu Tong San mereka nyaris seimbang, dan kini Toh Ling sudah sempurna dengan il
munya, maka apakah gerangan yang akan terjadi?
Tapi begitupun, Mei Lan nampak tetap teguh dan penuh percaya diri. Dia tidak ber
geming dan tidak mundur atau apalagi takut menghadapi Toh Ling yang sekarang. Da
n kini, suara, desisan, tawa dan gerakan Toh Ling sudah menghadirkan hawa dan ke
kuatan magis yang berlipat. Bahkan penontonpun bisa merasakannya, apalagi Mei La
n yang akan menjadi sasaran utamanya?
Begitu bergerak memukul, Toh Ling sudah menggunakan pukulan Hong Luan Mo Kun Hoa
t Pukulan Iblis Kacau Balau). Pukulan itu disertai gerakan Hong Luan Cap Pwee Po
u (Delapan belas Langkah Kacau Balau) dan didorong oleh Bu Ceng Mo Ong Sinkang (

Tenaga Dalam Raja Iblis tak berperasaan). Dorongan tenaga sakti Bu Ceng Mo Ong S
inkang, ciptaan khusus guru Thian Tee Siang Mo, membuat gerakan dan pukulan Toh
Ling berlipat kali kehebatannya. Tetapi pada saat bersamaan, Mei Lan juga telah
meningkatkan kemampuan sinkang, tenaga dan kekuatan batin serta ginkang pada tin
gkat yang sangat tinggi. Dia telah sangat siap.
Maka dimulailah babakan baru pertempuran mereka yang kini jauh lebih berbahaya d
an jauh lebih berisi. Gerakan, pukulan dan suara yang mereka keluarkan, kini sem
uanya saling belit, saling serang dan saling bertahan. Akibat dari semua seranga
n dan bahkan suara yang mereka keluarkan bersifat menyerang dan bertahan. Sement
ara bagi Toh Ling dari mulutnya yang kini penuh sumpah serapah dan kalimat makia
n, dikerahkannyalah Toh Hun Mi Im. Pertempuran kini menjadi jauh lebih berbahaya
, bahkan juga berbahaya bagi mereka yang menonton terlampau dekat dengan kemampu
an ilmu yang kurang matang. Bisa dipastikan mereka yang berkemampuan rendah dan
dekat dengan arena, bakal terkena imbas pertarungan suara dan pertarungan kekuat
an batin yang kini dikerahkan secara luar biasa oleh keduanya. Itulah sebabnya b
anyak penonton yang berkemampuan belum memadai telah memilih untuk menjauhi aren
a pertarungan.
Sementara pertarungan berlangsung secara luar biasa, tiba-tiba Kiang Liong yang
dulu menjadi Topeng Setan dan membantu para pendekar melawan Thian Liong Pang me
masuki ruangan. Tetapi, dia hanya melirik sekejap ke arah pertempuran antara Lia
ng Mei Lan dengan Toh Ling dan kemudian bergegas ke kumpulan para pendekar. Namp
ak dia bercakap sejenak dengan Kiang Sun Nio dan kemudian dengan Tham Beng Kui d
an terakhir dengan Tik Hong Peng, Ciangbundjin muda Thian San Pay. Kelihatannya
cukup serius percakapan mereka, bahkan beberapa saat kemudian Kiang Liong mengha
mpiri Nenggala dan Li Hwa dan merekapun bercakap-cakap secara serius. Entah apa
yang mereka percakapkan, hanya saja beberapa saat kemudian dengan langkah berat
Tham Beng Kui, Kiang Sun Nio dan Tik Hong Peng meninggalkan ruangan tersebut unt
uk turut bersama Kiang Liong.
Tidak ada seorangpun yang memperhatikan pergerakan mereka, kecuali kelompok Mahe
ndra, Gayatri, Bu Hok Lokoay, dan kelompok mereka. Bahkanpun ketika Mahendra, Ga
yatri, Bu Hok Lokoay meninggalkan ruangan itu, tidak banyak yang memperhatikan.
Nyaris semua orang tenggelam mengikuti pertarungan Toh Ling melawan Liang Mei La
n yang semakin mencekam. Memang tidak lagi seseru babak sebelumnya, tetapi perte
mpuran saat ini jauh lebih membahayakan dan jauh lebih hebat. Kesalahan sedikit
saja bisa berakibat fatal bagi salah seorang diantara keduanya. Itu terutama kar
ena mereka telah melibatkan kekuatan sihir dan kekuatan batin dalam pertempuranm
tersebut.
Bahkan sebagian penonton terjebak dalam permainan sihir dan kamuflase ilmu hitam
yang dikembangkan Toh Ling. Toh Ling tetap tertawa-tawa dan berkata-kata dengan
nada sumpah serapah, tetapi jangan salah, nadanya sangat berwibawa dan sangat k
uat. Berbahaya bagi mereka yang berilmu cetek. Untungnya, bersamaan Mei Lan tela
h mengembangkan Ban Hud Ciang hingga jurus kesembilan Laksaan Tapak Budha Menggo
yang Mayapada. Ilmu yang memang merupakan tandingan tepat bagi kekuatan sihir la
wan. Dengan kekuatan tenaga murni dan dorongan kekuatan batin, semua suara-suara
dan cercaan serta makian Toh Ling mampu ditangkal dan dipunahkan daya serangnya
. Tetapi, semua serangan telapak tangannya bisa dengan tepat dipapak dan ditangk
is Toh Ling. Dan benturan-benturan mereka menyebabkan keduanya merasa kesakitan,
meski tidak sampai melukai tubuh bagian dalam karena kuatnya khikang yang merek
a kerahkan.
Setelahnya, dengan kecepatan geraknya Me Lan kembali mengejar dan mencecar Toh L
ing dengan telapak tangan yang menjadi nampak besar dan raksasa bagi para penont
ong. Telapak tangannya mengejar kemanapun Toh Ling bergerak dan dengan terpaksa
dia melakukan langkah-langkah tidak teraturnya untuk bertahan. Tetapi tidak lama
dia terserang, karena tidak berapa lama kemudian, diapun kembali membalas seran
gan Mei Lan dengan cecaran kekuatan sinkang, sihir dan suara dan tawa pembetot s
ukmanya. Kombinasi ini sungguh terasa sangat berat bagi Mei Lan, hanya untungnya
dia membekal ilmu murni dari kalangan Budha, selain menguasai tenaga dalam murn
i dari gurunya Wie Tiong Lan, seorang pentolan Bu Tong Pay selama seratus tahun
terakhir.
Sementara itu, bau harum dari sekujur tubuh Toh Ling semakin menyebar dan semaki

n pekat. Bersamaan dengan itu, kesadarannyapun semakin lama semakin sirna, dan T
oh Ling kini bagai berubah menjadi mahluk berbeda. Kini wajahnya nampak sangat m
enyeramkan, matanya nyalang memerah, mulutnya menyeringai sadis dan tertawa-tawa
ngakak dengan nada mengejek dan nada yang sangat meremehkan. Tetapi, bersamaan
dengan itu, pukulan serta terjangannya semakin membabi buta dan menjadi jauh leb
ih berbahaya. Dan disinilah sebenarnya rahasia kehebatan Toh Ling. Semakin dia k
ehilangan kesadaran, semakin kekuatan yang dikuasainya menggiringnya dengan tiad
a lagi kemampuan dirinya untuk menahannya. Apabila amarah menguasainya dan dia k
ehilangan kuasa dan kendali atas dirinya, maka pada saat itulah kemampuan tertin
ggi ilmu busuk mujijat Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan dingin pembusuk tulang) da
pat terlontarkan. Rahasia utamanya adalah, biarkanlah nafsu membunuh menguasai d
iri dan kekuatan ilmu itu akan mencapai puncaknya.
Ketika mendapati hawa harum menyeramkan itu semakin mengental dan kekuatan Toh L
ing semakin lama semakin menyeramkan, Mei Lan segera sadar jika lawan berada di
ambang penggunaan kekuatan puncaknya. Tetapi, pada saat itu terjadi kegamangan d
alam diri Mei Lan. Apakah menggunakan Ban Sian Twi Eng Sin Ciang (Pukulan Sakti
Selaksa Dewa Mendorong Bayangan), Jurus pamungkas Ban Hud Ciang di jurus ke-12 B
udha Merangkul Langit dan Bumi yang juga mujijat ataulah menggunakan ilmu sakti
Ciat-lip-jiu (tangan sakti penerus tenaga) yang menjadi tandingan ilmu Toh Ling
dan diajarkan Ceng Liong kepadanya dan Tek Hoat di Bu Tong San beberapa waktu se
belumnya. Padahal, jika menggunakan Ciat Lip Jiu yang mampu menolak tenaga lawan
, Mei Lan beroleh keuntungan. Tetapi, kemana tenaga lawan mau disalurkan? inilah
persoalan utama Mei Lan. Masalahnya, Mei Lan belum memiliki keberanian untuk me
mbenturkan sinkang lawan dengan tenaga lawan itu sendiri. Pengetahuan dan kemamp
uan itu membutuhkan daya dan latihan yang sangat lama, tekun dan penuh konsentra
si.
Karena itu jugalah maka Mei Lan akhirnya memutuskan terus menggunakan Ban Hud Ci
ang melawan Toh Ling dan menyiapkan Ban Sian Twi Eng Sin Ciang (Pukulan Sakti Se
laksa Dewa Mendorong Bayangan) sebagai persiapan lebih jauh. Dan jika itu terjad
i, maka inilah untuk pertama kalinya Mei Lan menggunakan ilmu-ilmu pamungkasnya
dalam sebuah pertempuran yang memang menguras tenaga, pikiran dan semangatnya.
Betul juga, semakin pekatnya bau harum menyeramkan dan semakin tidak warasnya To
h Ling, rupanya adalah pertanda kalau ilmu maut Bu-siang-te-im-hu-kut (pukulan d
ingin pembusuk tulang) akan dilepaskan. Dan ini untuk kedua kalinya ilmu tersebu
t tampil kembali di hadapan umum setelah lenyap lebih seratus tahun silam. Hebat
luar biasa, ilmu tersebut dilepaskan dalam suasana magis yang menghentak dan sa
ngat kental. Kombinasi hamburan tenaga dalam yang luar biasa, kekuatan magis yan
g juga sangat kental dan hentakan suara dan tawa yang membetot sulit untuk ditah
an secara bersamaan. Tetapi Mei Lan mencoba dengan ilmu pamungkasnya Ban Sian Tw
i Eng Sin Ciang (Pukulan Sakti Selaksa Dewa Mendorong Bayangan). Sekujur tubuhny
a tiba-tiba diselimuti selapis awan putih dan membungkusnya semakin lama semakin
tebal dan menjadi dinding atau tabir lapisan khikang tingkat tinggi.
Dengan lapisan khikang tersebut Mei Lan tidak usah takut terhadap kekuatan busuk
lawan, tidak takut dengan betotan suara dan tawa lawan serta ilmu hitam yang me
nyertai pukulan busuk mujijat yang legendaris itu. Semua serangan magis tidak sa
nggup menerobosnya. Tetapi apakah Mei sanggup menahan pukulan yang sudah berusia
sangat tua dan terkenal mujijat dan busuk membunuh orang tersebut?
Dan tidak menunggu waktu lama, tiba-tiba gempuran yang dilakukan Toh Ling yang s
udah benar-benar tidak waras sudah dilepaskan. Pada saat itu secara serentak dia
mengeluarkan kombinasi pukulan yang menakjubkan. Sementara itu, Mei Lan sendiri
telah bersiap dan mendorongkan sepasang lengannya dan serangkum hawa yang luar
biasa kuatnya terlepas dengan diiringi tiupan awan putih pekat. Dan yang hebat d
an luar biasa segera tersaji kembali dihadapan begitu banyak orang yang menyaksi
kan pertempuran hebat dan seru itu. Sama sekali tidak terdengar suara benturan y
ang keras menggegap, tetapi awan putih yang mengiringi pukulan Mei Lan segera te
rpencar kemana-mana. Demikian juga kilatan berwarna hitam keungu-unguan yang men
yergap dengan diiringi deru suara menggegap, tiba-tiba memancar kemana-mana.
Tetapi jangan salah sangka. Angin pukulan luar biasa yang tidak bersuara itu men
gakibatkan guncangan luar biasa ditempat berpijak Mei Lan dan Toh Ling. Bahkan t
okoh-tokoh seperti Liong-i-Sinni, Nenggala, Li Hwa, Durganini, Jayeng Reksa, sam

pai geleng-geleng kepala karena benturan itu ikut membuat mereka mengerahkan ten
aga yang sangat besar untuk tetap bisa berdiri kokoh. Tetapi mereka yang bertemp
ur, baik Mei Lan maupun Toh Ling yang saling membentur kekuatannya sudah tentu y
ang paling menderita dari semuanya.
Setelah benturan awan putih pekat dan kilatan berwarna hitam keungu-unguan membu
yar, secara luar biasa ada tiga jalur letikan berwarna hitam keungu-unguan yang
terus melaju kearah Mei Lan. Tetapi, pada saat bersamaan - Mei Lan bergerak-gera
k cepat dan melepaskan pukulan ke arah Toh Ling. Rupanya Mei Lan percaya diri de
ngan lapisan khikang yang membungkus tubuhnya dengan awan putih yang pekat itu.
Serangan Mei Lan tetap menggunakan ilmu mujijatnya Ban Sian Twi Eng Sin Ciang (P
ukulan Sakti Selaksa Dewa Mendorong Bayangan) dan meluncur deras mengarah Toh Li
ng.
Pada saat Toh Ling sibuk dengan sinar pukulan putih cemerlang yang dilepaskan Me
i Lan, Mei Lan sendiripun tiba-tiba terkejut setengah mati. Apa pasal? meski puk
ulan lawan yang berbentuk letikan sinar hitam keungu-keunguan kekuatannya sepert
i sirna ketika membentur hawa khikhangnya, tetapi hawa pukulan itu tetap menyusu
p masuk. Hanya saja, untung bagi Mei Lan, kekuatan letikan sinar itu telah berku
rang sangat banyak membentur hawa khikang. Tetapi begitupun, hawa beracun pukula
n tersebut masih memiliki kemampuan untuk menyusup sampai menyentuh kulit tubuh
Mei Lan yang tidak sempat lagi bergerak menghindar. Hanya letikan sinar yang men
garah ke tangannya yang berhasil di elakkan, selebihnya dua hawa beracun menyusu
p mengenai bagian pundak dan perutnya.
Sementara Toh Ling sendiripun, karena bernafsu menyarangkan letikan pukulan pamu
ngkasnya, membiarkan atau tepatnya tak berkemampuan untuk menghindari pukulan ba
lasan Mei Lan. Toh Ling berpikir, jika hawa beracunnya menyentuh lawan dan menyu
sup masuk, maka dia menang karena lawan keracunan. Yang tidak diduganya adalah,
Mei Lan telah memupus semua kekuatan penodorng pukulan lawan dan hanya menyisaka
n hawa beracun yang menyentuh kulitnya tetapi tanpa kekuatan pendorong untuk mem
asuki tubuh lawan. Benar Mei Lan keracunan, tetapi dengan penanganan yang tepat
dan cepat, racun itu tidak akan membahayakan nyawanya.
Sementara Toh Ling, karena berkeras untuk memasukkan racun ke tubuh Mei Lan, jus
tru terkena pukulan lawan. Hanya, sama dengan Mei Lan, pukulan itu sudah berkura
ng banyak kekuatannya akibat membentur daya pelindung tubuh. Sebagai akibatnya,
Toh Ling merasa dadanya sedikit sesak dan itu tanda jika dia terluka, meskipun s
ebetulnya bukanlah luka parah. Tapi, dia senang karena hawa beracun telah menyen
tuh tubuh Mei Lan.
Pada saat bersamaan keduanya terdorong mundur masing-masing tiga langkah, dan ke
tika akhirnya keduanya mampu berdiri tegak lagi nampak wajah Mei Lan agak pucat.
Sudah jelas dia tidak terluka dalam tetapi hawa beracun yang menyentuh kulitnya
, membutuhkan waktu untuk memulihkannya. Dia menahan racun di kulit dengan kekua
tan tenaga dalamnya yang memang sudah amat tinggi. Tetapi, di sudut lain, Toh Li
ng juga sudah menjadi waras kembali. Biasanya, dia akan melihat lawan yang tubuh
nya berubah warna menjadi merah kehitam-hitaman dan kemudian lawan akan membusuk
menjadi cairan berwarna ungu kehitam-hitaman. Tetapi, ketika melihat Mei Lan ma
sih tegak berdiri dan tidak terlihat tanda akan "membusuk" oleh racunnya, dia me
lengak heran dan segera berkata:
"Nona, engkau tidak segera menjadi busuk ......"? tanyanya dengan gaya lucu. Hil
ang sudah keseraman yang menyertai polahnya ketika dirasuki ilmu iblisnya.
"Toh Ling, engkau belum mampu untuk membuatku membusuk ........"
Jawaban Mei Lan membuat Toh Ling melengak. Pandangannya terarah kelangit langit
bangunan sambil bergumam:
"Hmmmm, dia tidak membusuk. Dia tidak mati ........ hahahahahaha ...... dia tida
k mati. Syukurlah dia tidak mati ......" Toh Ling tertawa berkepanjangan. Entah
apa makna tawanya. Entah senang ataukah justru kesal. Sulit diperkirakan.Tetapi,
yang jelas, tawanya kini tidak lagi mengandung hawa magis seperti sebelumnya. T
ak disangsikan lagi, nampaknya diapun terluka sama dengan Mei Lan. Meskipun buka
n luka berat, tetapi diapun terguncang oleh sentilan pukulan Mei Lan. Dan bebera
pa saat kemudian, tawanya berubah nada dan kemudian segera disambut tawa lain ya
ng nampaknya mendekat, mendekat dan mendekat.
"Nona, kita berjumpa lagi lain waktu. Toh Ling akan datang untuk menagih janji D

uta Agung guna membalas kekalahannya, sekaligus menandingi Nona ....... hahahaha
haha" tawa Toh Ling sungguh panjang. Panjang, panjang dan panjang. Untuk kemudia
n dengan tiba-tiba dia melesat ke luar ruangan dan disambut oleh 3 bayangan lain
nya. Dan merekapun berlalu dengan cepat meninggalkan ruangan pesta yang kini ber
ubah senyap, takjub dan terkejut dengan level pertempuran yang baru saja mereka
saksikan. Sungguh luar biasa, sungguh mendebarkan.
Kesenyapan itu berubah ketika beberapa saat kemudian Mei Lan bergoyang-goyang da
n kemudian duduk bersimpuh. Dan disaat bersamaan Liong-i-Sinni telah melayang da
n menyusupkan sebutir pil ke mulut Mei Lan. Sementara Nenggala dan Li Hwa segera
menghalau orang-orang yang datang merubung ingin melihat keadaan Liang Mei Lan,
si gadis perkasa yang mampu menandingi Toh Ling dengan ilmu busuknya yang luar
biasa hebat dan mujijat itu.
"Untung dia membekal ilmu mujijat gurunya Wie Tiong Lan Pek Sim Siansu, jika tid
ak obat dewapun tidak akan sanggup menyembuhkannya saat ini ........ sungguh ber
bahaya, sungguh berbahaya ....... Amitabha" berkata Liong-i-Sinni.
"Sinni, Lan moi sebenarnya membekal ilmu lain yang menjadi tandingan ilmu Toh Li
ng, mengapa dia tidak mencobanya ...."? bertanya Tek Hoat yang bisa mendekati Me
i Lan. Maklum Mei Lan adalah adik kandungnya.
"Amitabha ....... bukan kekuatan pukulan Toh Ling yang berbahaya, tetapi hawa be
racun dalam pukulan itu. Kekuatan ilmu tersebut dapat ditangkal, demikian juga h
awa magis mujijat yang disisipkan secara luar biasa oleh pencipta ilmu tersebut.
Terbukti Ban Sian Twi Eng Sin Ciang (Pukulan Sakti Selaksa Dewa Mendorong Bayan
gan) mampu menandingi hawa hitam magis dan menawarkan kekuatan Bu-siang-te-im-hu
-kut (pukulan dingin pembusuk tulang) yang legendaris itu. Tetapi, masih ada haw
a beracun yang mampu menyusup dengan sisa-sisa kekuatan yang didorong Toh Ling.
Jika pinni tidak salah, Lan ji telah menemukan cara yang lebih baik jika harus m
enghadapinya suatu saat nanti"
"Tapi Sinni, apakah Lan moi akan baik-baik saja ...."?
"Baik Toh Ling maupun Lan ji terluka sama parahnya. Meski terluka secara berbeda
. Toh Ling terpukul oleh lontaran pukulan Lan jie karena dia berkeras memasukkan
hawa beracun ke tubuh Lan jie. Dia berhasil, tetapi kekuatan pendorong hawa ber
acun itu terhenti di hawa khikang dan karenanya tidak mampu menyusup masuk ke tu
buh Lan jie. Untungnya, hawa magis membusuk telah ditawarkan Ban Sian Twi Eng Si
n Ciang (Pukulan Sakti Selaksa Dewa Mendorong Bayangan). Selanjutnya, tidak akan
sulit menawarkan hawa beracun yang terlanjur menyusup memasuki Lan jie, engkau
tidak usah khawatir anakku, adikmu akan baik-baik saja ....."
"Baik, terima kasih Sinni ......" ujar Tek Hoat sambil memandangi adiknya dengan
penuh rasa haru dan kasih sayang yang tak tersembunyikan. Diapun kemudian mundu
r dengan ditemani Siangkoan Giok Lian yang menemani kekasihnya menengok keadaan
Liang Mei Lan yang juga adalah teman dekatnya.
Tetapi belum lagi Tek Hoat dan Giok Lian turun dari panggung, tiba-tiba sebuah s
uara menahan langkahnya:
"Liang Tek Hoat, jika engkau memiliki cukup keberanian, maka aku ingin menantang
mu adu kepandaian di tempat ini" si Jubah Hijau telah mengajukan tantangan. Inil
ah rupanya maksudnya yang didahului oleh Toh Ling tadi. Menantang Liang Tek Hoat
. Tetapi apa maksudnya yang sesungguhnya? Hal yang membuat Tek Hoat menjadi kage
t dan keheranan. Seingatnya, dia tidak punya perselisihan dengan si Jubah Hijau.
Adalah justru adiknya dari pihak Bu Tong Pay yang punya perhitungan dendam deng
an si pihak si Jubah Hijau dan teman-temannya.
"Hmmmmmm, siapa engkau? mengenakan cadar bukan tindakan seorang ksatria. Aku, Li
ang Tek Hoat tidak melayani tantangan orang yang tidak kukenal atau orang yang s
ecara pengecut menyembunyikan wajahnya dibalik kain cadar" Tek Hoat yang masih k
esal karena adik kesayangannya terluka dan kini ditantang orang, sudah dengan ke
sal menjawab tantangan orang.
"Tidak usah mencari-cari alasan. Katakan saja, engkau berani ataukah tidak"?
"Berani sudah pasti. Tetapi menghadapi orang yang tidak kukenal hanya membuang b
uang waktu dan tenagaku secara percuma"
"Bilang saja kalau engkau takut ....."
"Anggap saja memang takut, kalau itu yang engkau kehendaki ...."
"Apakah engkau tidak berkeinginan untuk membalaskan kematian beberapa orang muri

d Kaypang yang terbunuh beberapa hari ini dalam perjalanan ke Lembah Pualam Hija
u"? bertanya si Jubah Hijau memanasi Tek Hoat.
"Engkau tidak punya motif untuk melakukan pembunuhan itu. Sudah kami selidiki be
berapa waktu lalu ....."
"Selain penakut, engkau juga keliru melihat fakta. Aku yang memimpin mereka yang
membunuh para murid Kaypang ......"
"Jadi, itu yang engkau pikir menjadi alasanku bertarung denganmu dan mengganggu
jalannya pesta ini"?
"Pesta ini justru akan menjadi lebih semarak dengan pertarungan adu kepandaian a
ntara kita berdua......" si Jubah Hijau berkeras.
"Hmmmmm, aku justru heran dengan motivasimu menantangku berkelahi. Apalagi setel
ah kawanan serta para begundalmu telah menyusup ke dalam Lembah ketika semua ora
ng sedang asyik menyaksikan pertarungan tadi. Katakan, apa maksud kalian yang se
benarnya"?
"Aku berkepentingan menantangmu berkelahi, sementara mereka memiliki maksud dan
kepentingannya sendiri-sendiri"
"Baiklah, sebagai pemimpin orang-orang yang berjubah dan bercadar hijau yang mel
akukan teror di Bu Tong San, membunuhi para pembawa barang antaran buat calon me
mpelai termasuk membunuhi beberapa anak murid Kaypang, aku akan menghadapimu. Ha
nya, perlu engkau ketahui, Lembah Pualam Hijau sudah bersiap menghadapi kalian s
emua. Berharaplah agar teman-temanmu yang suka menusuk dari belakang, menyusup k
e rumah orang masih selamat sampai saat ini ......."
Si Jubah Hijau nampak tersentak dengan kalimat Tek Hoat yang terakhir. Karena me
reka sebelumnya menyangka bahwa setelah menyusupnya tiga orang tetua ke Lembah P
ualam Hijau, maka Duta Agung sangat mungkin terluka. Dan Lembah Pualam Hijau pas
ti terpukul dengan suasana itu. Ditambah dengan kesibukan mempersiapkan pernikah
an Kiang Li Hwa dan Nenggala, mereka menghitung Lembah Pualam Hijau pasti akan a
lpa dan kurang terjaga. Perhitungan mereka yang keliru ataukah Tek Hoat yang men
coba menjatuhkan mentalnya? Yang pasti, Janawasmy yang selihay dirinya sampai se
karang belum kembali, sementara kawan-kawannya yang lain juga masih belum keliha
tan setelah menyusup masuk ketika Mei Lan bertarung melawan Toh Ling. Sampai dis
ini si Jubah Hijau menarik nafas panjang.
Tapi, dia sepertinya tidak begitu perduli dengan apa yang sedang dan akan dilaku
kan oleh kawan-kawannya. Karena agendanya yang terutama memang tertuju kepada Li
ang Tek Hoat. Entah mengapa ...... Tetapi, yang pasti si Jubah Hijau tidak perdu
li dengan sukses atau gagalnya teman-temannya. Di tetap berkeras untuk menantang
Tek Hoat berkelahi.
"Katakan saja jika memang engkau berani melawanku. Jika tidak, cukup dengan meng
atakan takluk dan kemudian berlutut menghormatiku, maka tantanganku akan segera
kucabut"
"Engkau terlampau menghina sahabat. Baiklah, kusambut tantanganmu. Tetapi, untuk
tidak menambah kekisruhan di pesta ini, bagaimana kalau kita bertanding di aren
a yang lebih menyenangkan"?
"Hmmmm, jika demikian katakan saja dimana tempat yang menurutmu menyenangkan unt
uk tempat kita bertanding ...."
"Di luar, di arena terbuka. Bagaimana, beranikah engkau"?
"Baik, jika demikian. Kuterima usulanmu ......." sambil berkata demikian si Juba
h Hijau telah melayang ke luar ruangan. Di luar ruang pertemuan, tepatnya disisi
kanan Lembah Pualam Hijau memang terdapat ruang terbuka yang cukup nyaman digun
akan sebagai tempat bertanding silat. Dan kesanalah si Jubah Hijau melayang untu
k kemudian diikuti oleh LIang Tek Hoat.
Ketika kedua orang itu, si Jubah Hijau dan Tek Hoat telah saling berhadapan di t
anah lapang samping ruangan pertemuan, seseorang nampak masuk dan berbisik-bisik
kepada Li Hwa dan Nenggala. Nampak Li Hwa agak tegang dan saling pandang dengan
Nenggala, tetapi repotnya mereka tidak bisa banyak bertindak karena keduanya da
lam pakaian penganten. Apa yang akan mereka lakukan? dan bagaimana pertarungan T
ek Hoat dengan si Jubah Hijau?
Sore hari. Di lapangan terbuka, kini berhadapan dua sosok tubuh. Tidak banyak or
ang yang menyadari bahwa dua sosok tubuh yang saling berhadapan itu berada dalam
keadaan yang menegangkan. Tetapi, disana, sudut dimana Kiang Tek Hong dan istri

nya, serta Nenggala dan Kiang Li Hwa, ketegangan sedang memuncak. Mungkin lebih
tegang dari dua sosok tubuh yang sedang dalam kondisi dan siap tempur di arena p
ertempuran yang mereka pilih sendiri.
Tek Hoat, entah mengapa perlahan-lahan diliputi perasaan yang tidak menentu. Ent
ah bagaimana, dia merasa seperti mengenal manusia yang kini berdiri dihadapannya
dengan jubah dan kerudung hijaunya. Hawa manusia itu seperti sesuatu yang tidak
asing baginya. Tetapi, tetap saja dia tak mampu menebak siapa gerangan lawannya
itu. Suatu hal yang pasti, hawa mematikan memancar dengan sangat kuatnya dari s
osok tubuh dihadapannya yang menjadi lawannya.
Sementara sosok tubuh yang bersembunyi dibalik jubah dan kerudung itu, berdiri d
engan sangat misterius. Ada beberapa pasang mata yang dengan cermat mengamati ge
rak geriknya, berbeda dengan Tek Hong dan Li Hwa. Tetapi, mata-mata yang menadan
g dengan tegang dan bertanya-tanya itu, masih belum memperoleh kepastian mengena
i siapa gerangan si jubah hijau. Suatu hal yang pasti, hawa menyeramkan semakin
menonjol dan memancar keluar dari tubuh misterius itu.
Tek Hoat yang berada paling dekat dengan si Jubah Hijau sudah dengan segera mema
stikan bahwa dia kembali beroleh lawan yang tidak berada disebelah bawah kemampu
annya. Tetapi, Tek Hoat telah banyak maju dan menemukan keseimbangan dirinya dan
otomatis menambah rasa percaya dirinya selama beberapa waktu terakhir. Penguasa
an ilmu-ilmunya sudah semakin matang, dan pengalaman tempurnya sudah sangat teru
ji selama 2 tahun belakangan. Karena itu, Tek Hoat dengan mudah menetralisasi pe
rasaan seram yang tumbuh dalam hatinya dari kuatnya hawa membunuh yang memancar
keluar dari sosok tubuh misterius dihadapannya.
Demikianlah, seiring dengan sore yang semakin menjelang datang dan matahari yang
semakin doyong ke barat, dua sosok tubuh di lapangan meski masih tetap dalam po
sisi berhadapan. Jangan salah. Mereka bukannya berdiam diri belaka. Karena kedua
nya, meski secara fisik belum melakukan kontak fisik, tetapi pertarungan sesungg
uhnya telah terjadi. Saling taksir kekuatan dengan bentuk-bentuk serangan non fi
sik telah terjadi melalui aksi saling mempengaruhi perasaan lawan. Karena itu, T
ek Hoat telah terlihat dalam posisi serius, sementara sang lawan yang misterius,
juga telah tegak berdiri dengan tingkat kesiagaan tertingginya.
Meski menantang-nantang tadinya, tetapi ketika berada di arena, nampak sekali ji
ka si Jubah Hijau tidaklah meremehkan lawannya. Terbukti dengan tidak terburu-bu
runya dia melakukan serangan mematikan, tetapi menunggu saat yang tepat untuk tu
run tangan. Dan kondisi inilah yang membuat sekeliling arena ikut tercekam oleh
ketegangan yang mendera. Hal ini dikarenakan sebagian besar orang yang berada di
sekitar arena adalah manusia-manusia dengan ilmu silat yang mumpuni.
Ada lebih setengah jam keduanya menghabiskan waktu bertarung dan menguji mental
lawannya, tetapi tak ada yang terlihat merasa memenangkan pertarungan itu. Sampa
i akhirnya sebuah kibasan tangan nampak dilakukan keduanya secara berbareng. Ya,
pada waktu yang bersamaan keduanya menggerakkan lengan masing-masing untuk mela
kukan kontak dan serangan pertama. Jika dikisahkan, hanya sekejap mata si Jubah
Hijau dan Tek Hoat memutuskan untuk menyerang dan dilakukan dari tempat berdiri
keduanya tanpa bergerak maju ataupun mundur.
Tetapi kibasan tangan keduanya tidak nampak memberikan pengaruh apa-apa terhadap
lawannya, dan mata telanjang siapapun bisa menyaksikan jika kibasan tangan kedu
anya tidak berdampak apa-apa bagi sekitarnya. Hanya mata tajam orang-orang terte
ntu saja yang bisa melihat jika serangan pertama kedua pihak bukan sekedar salin
g menakar kemampuan lawan. Tetapi berisi kekuatan luar biasa yang dilontarkan ka
rena pengetahuan masing-masing bahwa lawannya memang hebat. Dan ini nampak dari
wajah Tek Hoat, yang meski masih tetap tenang tetapi matanya sempat mengerut, ta
nda kaget bahwa dia sedang berhadapan dengan lawan tangguh.
"Luar biasa, kembali hari ini aku bertemu lawan yang pilih tanding" desis Tek Ho
at dalam hati. Tetapi, sudah tentu dia tidak takut, karena diapun kini memiliki
kepercayaan diri yang semakin tinggi dari hari ke hari.
Dan naga-naganya, bentrokan pertama juga memberi dampak yang sama kepada si Juba
h Hijau. Terbukti setelah benturan lewat kibasan tangan masing-masing, si Jubah
Hijau tiba-tiba bergerak maju sambil memukul. Terlihat sederhana pukulannya, tet
api Tek Hoat paham bahwa tersembunyi kekuatan mematikan dibalik kesederhanaan pu
kulan tersebut. Dan benar saja, tidak butuh waktu lama bagi Tek Hoat untuk memas

tikan dugaannya.
Gerakan si Jubah Hijau terlihat sangat aneh, terkesan campuran dari banyak alira
n yang berbeda-beda. Sekali-sekali ada gerakan-gerakan licin dan licik yang meng
ingatkan Tek Hoat terhadap gaya-gaya serangan Mahendra ataupun Nenek Gayatri, te
tapi sesekali dia melihat kemiripan gerakan serang yang dimiliki Nenggala. Tetap
i juga tidak sepenuhnya benar, karena serangan-serangan yang mantap, berbahaya d
an kaya variasi adalah khas Tionggoan, dan gaya seperti ini sudah sangat dikenal
nya. "Siapa gerangan orang ini" demikian Tek Hoat berpikir dalam hati.
Tetapi, semakin lama serangan-serangan aneh yang dilontarkan lawan, semakin meny
ulitkan Tek Hoat. Apalagi, karena tenaga besar yang dilontarkan lewat pukulan pu
kulan berat, harus dihadapinya secara serius dan berhati-hati. "Sungguh tak kusa
ngka hari ini kembali harus menemukan lawan sehebat ini" desisnya kembali dalam
hati. Begitupun, Tek Hoat bersilat secara serius dan dari gerakan-gerakannya yan
g semakin mantap, terlihat jelas bahwa dia kembali telah mengalami kemajuan yang
tidak sedikit dalam penguasaan ilmunya.
Dan akhirnya, menghadapi deraan serangan lawan yang cepat, aneh dan bervariasi y
ang kelihatannya gabungan dari beberapa aliran berbeda-beda, Tek Hoat memantapka
n hatinya untuk balas menyerang. Dia membekal banyak ilmu sakti yang sekarang te
lah dengan sempurna dikuasainya. Dia tak perlu banyak mengingat, tetapi menyesua
ikan jurus yang akan digunakan dengan keadaannya saat itu. Karena itu, secara ot
omatis dia telah menggunakan Hang Liong Sip Pat Tjiang, sebuah ilmu pusaka Kay P
ang yang beraliran sangat keras. Artinya, dia menyambut keras melawan keras. Apa
lagi, kini dia telah mampu mengisi kepalannya dengan hawa pedang yang dipelajari
nya dari Toa Hong Kiamsut warisan Kiang Sin Liong.
Tetapi, dia tidak kaget jika tidak mampu membuat lawannya kaget dan kewalahan. K
arena memang lawannya juga bukan orang lemah. Apalagi, karena ilmu dan jurus yan
g digunakan lawan sangatlah membingungkannya. Selain aneh serta penuh dengan var
iasi, tetapi sekaligus juga ganas dan buas mematikan. Untungnya dia telah berger
ak cepat dan kokoh dengan menggunakan Tian-liong-kia-ka (naga langit menggerakkan
kakinya) yang membuatnya mampu bergerak gesit, tetapi tetap berkesempatan untuk
melayangkan serangan balasan dengan tidak kalah kuat dan hebatnya. Pertempuran
mereka menjadi adu taktik, strategi, kecepatan, kekuatan dan daya tahan. Sampai
pada titik ini, tiada seorangpun yang berani memprediksikan siapa yang akan kelu
ar sebagai pemenang. Karena memang kedua-duanya sama cepat, sama kuatnya dan mem
bekal ilmu-ilmu mumpuni.
Dengan cara ini, pertempuran mereka menjadi panjang. Tidak terasa sejam sudah me
reka bertarung dan matahari semakin condong ke Barat. Tetapi pertempuran mereka
masih tetap belum menunjukkan gelagat siapakah nanti yang kalah dan siapa menang
. Yang pasti, jika Tek Hoat bertarung dengan tenang dan kokoh, lebih banyak mena
han serangan lawan, maka si Jubah Hijau nampak lebih emosional dan menyerang den
gan keras, tajam dan bermaksud mengalahkan atau bahkan melukai lawannya. Jika me
mungkinkan, malah dia berkeinginan untuk membunuh Tek Hoat. Jelas terlihat dari
betapa kejam dan kejinya serangan-serangannya.
Tiba-tiba berkesiutan angin serangan yang tajam mematikan, dilakukan secara cepa
t dan membingungkan lawan. Untung lawannya Tek Hoat, jika lawan tanggung, bisa d
ipastikan serangan ini akan berakibat mengerikan. Tetapi, serangan dengan ilmu j
ari berhawa dingin, Tan Ci Kong Im (Jari Sakti Hawa Dingin), mengingatkan Tek Ho
at atas lawan-lawan masa lalunya dari pihak Thian Liong Pang. Tetapi, kali ini s
erangan jari ini dikombinasikan dengan gerakan-gerakan sihir yang membingungkan
lawan dan dengan variasi ilmu lain yang tak kurang kejamnya.
Tidak ada cara lain, pada saat itu dia memilih serangan keras melawan keras dala
m jurus terakhir, jurus ke-18 dari Hang Liong Sip Pat Tjiang. Tubuhnya bergerakgerak kekanan-kekiri bagaikan seekor Naga sakti yang mempersiapkan serangannya,
dan menyambut curahan serangan jari lawan yang dikombinasikan dengan gerakan-ger
akan bernuansa mitis. Pada puncaknya, benturan keduanya yang disokong oleh kekua
tan tenaga dalam yang sempurna membuat mereka masing-masing terlontar dan terdor
ong ke belakang. Pada saat itu Tek Hoat mengalami deraan tenaga lawan berhawa di
ngin dan membuatnya sedikit menggigil, tetapi disana kerudung hijau si Jubah Hij
au terhempas dan terlepas dari kepalanya. Siapakah dia?
Meski sekilas, tetapi banyak orang terperanjat dan beberapa terdengar mendesis:

"accccch, dia rupanya". Benar, wajah tampan namun dingin membesi dari seorang mu
da yang cukup dikenal beberapa orang membuat beberapa orang terperanjat. Terdeng
ar keluhan lirih:
"accccchhhhh, koko ......" desisan dari mulut Kiang Li Hwa, sementara Kiang Tek
Hoat nampak mematung. Kelihatannya sejak awal dia sudah menduga siapa si Jubah H
ijau, yang memang tak lain adalah salah seorang anaknya, Kiang Hauw Lam yang dah
ulunya menjadi Majikan Kerudung Hitam di Thian Liong Pang dan membantu dirinya s
ebagai Pangcu boneka Thian Liong Pang. Itu sebabnya sejak awal pertarungan Kiang
Tek Hong lebih banyak diam dan menahan nafas, karena memang dia telah mengenali
si Jubah Hijau sebagai anaknya.
Mengetahui samarannya terbuka, Kiang Hauw Lam atau si Majikan Kerudung Hitam pad
a masa lampau, nampak murka. Menutupi suasana hati yang guncang, ia langsung kem
bali menyerang dengan kecepatan tinggi. Dan tentu dengan serangan-serangan yang
lebih mematikan mematikan. Dan Tek Hoat segera sadar, jika saat itu dia sedang b
erhadapan dengan musuh lama yang berniat membalas kekalahannya. Sebagaimana dike
tahui, Majikan Kerudung Hitam pernah dikalahkan secara mengenaskan oleh Tek Hoat
dan nyaris ajal. Untung dia masih terselamatkan, tetapi kini, dia datang dan me
mbekal ilmu yang membuat Tek Hoat mengerutkan alisnya.
Mereka kini setanding, dan jelas pertarungan mereka bakal ketat.
Dan Hauw Lam mulai menyerang dengan ilmu-ilmu baru yang belakangan ini dipelajar
inya secara serius dan mendalam. Dia kini membekal ilmu Hian Goan Sin Ciang (Ilm
u Sakti Melumpuhkan Lawan), sebuah ilmu dahsyat yang menggabungkan pengetahuan d
an kesaktian 3 orang hebat: Naga Pattynam, Lamkiong Sek dan Wisanggeni. Itulah s
ebabnya, gerakan-gerakan, landasan sihir, variasi gerakan dan dorongan tenaga be
sar, menjadi ciri khas baru Hauw Lam, berbeda dengan kemampuan sebelumnya yang b
erdasarkan ilmu-ilmu dari Lam Hay.
Ketika kembali menyerang, gerakannya sarat dengan landasan gerakan pembingung ya
ng mengikuti ilmu Mi im ci sut (kepandaian bayangan pembingung), tetapi variasi
serangan dan arah serangan sangat keji dan kejam. Sementara kekuatan yang juga t
erkandung dalam serangannya, sungguh mengerikan. Semua ciri itu menyertai ilmu b
arunya yang bernama ilmu Hian Goan Sin Ciang (Ilmu Sakti Melumpuhkan Lawan) yang
kini dikerahkannya menyerang tek Hoat.
Dan Tek Hoat segera mengerti, bahwa hanya dengan ilmu-ilmu saktinya dia akan san
ggup bertahan. Maka mengalirlah Pek Lek Sin Jiu (Pukulan Geledek) yang juga memb
awa perbawa mengerikan, sebuah pukulan yang lebih keras lagi. Jika Hang Liong Si
p Pat Tjiang masih mengandalkan gerakan-gerakan dan tipuan sakti seekor Naga, ma
ka Pek Lek Sin Jiu benar-benar mengandalkan hawa panas dan kerasnya pukulan ters
ebut. Bedanya, Hang Liong Sip Pat Tjiang dari gurunya Kiong Siang Han, tidak aka
n sanggup dikuasainya secara sempurna, karena harus didukung dengan Tenaga Sakti
Perjaka yang tidak diwariskan gurunya kepadanya.
Terdengar 2 jenis ledakan yang susul menyusul. Ledakan pertama adalah serangan y
ang dilakukan Tek Hoat, sementara ledakan kedua adalah benturan dua kekuatan bes
ar yang dilontarkan Hauw Lam dan Tek Hoat. Ledakan itu terlihat menghasilkan pij
aran kekuatan yang terlontar kesamping kiri kanan Hauw Lam dan Tek Hoat, tetapi
anehnya tidak sangat mengganggu penonton. Jika di awasi lebih teliti, terutama o
leh mata ahli, maka dari tubuh kedua tokoh muda yang bertarung, sudah terlindung
hawa sakti, atau khikang. Maka pijaran-pijaran kekuatan yang mendekati keduanya
dengan mudah runtuh dan tak mampu menembus lapisan hawa sakti pelindung badan i
tu. Sungguh mencengangkan dan luar biasa. Karena keduanya telah mulai mengerahka
n kekuatan-kekuatan tersembunyi masing-masing.
Keduanya telah sama paham bahwa saat itu mereka sedang menghadapi lawan tangguh.
Dan karena itu, sudah saatnya mereka mengerahkan puncak kekuatan masing-masing.
Sesuai namanya, ilmu Hian Goan Sin Ciang (Ilmu Sakti Melumpuhkan Lawan) memang b
erisi kekuatan besar yang mampu melumpuhkan lawan seketika. Bukan sekedar melawa
n dan mengalahkan lawan, tetapi memang benar-benar untuk membuat lawan menjadi l
umpuh seketika. Karena dalam serangan dan tenaga yang disertakan di jurus-jurus
ilmu tersebut, adalah serangan dan tenaga keji yang mampu membuat lawan paling k
urang lumpuh. Baik karena kekuatan serangan, maupun karena daya rusak tenaga yan
g disertakan selalu bertujuan merusak jaringan peredaran darah ataupun tulang la
wan.

ilmu Hian Goan Sin Ciang (Ilmu Sakti Melumpuhkan Lawan) adalah peryakinan tiga t
okoh tua yang memang bertujuan membalas dendam atas rangkaian kekalahan mereka d
ari gabungan tokoh-tokoh pembela kebenaran. Rangkaian kekalahan tersebut telah m
embuat mereka mata gelap dan segala macam carapun akhirnya ditempuh, termasuk me
nyatukan ciri khas dan kehebatan ilmu silat mereka sekalipun. Maka lahirlah ilmu
jahat ini. Ilmu yang menggabungkan ciri khas dan kehebatan 3 tokoh sakti yang d
idukung dengan mekanisme transfer tenaga yang membuat anak didik mereka melonjak
kekuatannya dengan cara yang tidak biasa.
Dan kehebatan ilmu tersebut segera nampak. Tokoh sekaliber Tek Hoatpun sampai ke
repotan menghadapi ilmu khas yang berhawa jahat ini. Dan terpaksa kembali harus
mengandalkan penguasaannya yang telah melonjak jauh dalam Pke Lek Sin Jiu, baru
dia bisa bernafas lega. Karena tenaga keras dan hawa panas membakar yang dikonse
ntrasikan di arena pertempuran mereka, membuat Hauw Lam juga mau tidak mau harus
mengerahkan sebagian tenaganya menahan hawa panas membakar dari pukulan Tek Hoa
t.
Dan kembali pertempuran berlanjut dengan jual beli serangan disertai gelombang p
ukulan bertenaga luar biasa. Hampir setengah jam kembali berlalu, dan matahari s
emakin mendekati ufuk barat sementara pertempuran justru bertambah seru. Tek Hoa
t harus mengakui bahwa lawan yang dulu mampu dikalahkannya secara telak, kini te
lah mampu merendengi kemampuannya. Hanya kekokohan dan kemurnian sajalah yang me
mbuat dia bisa bertahan dengan terjangan ilmu lawan yang keji dan ganas mematika
n. Tetapi benarkah posisi mereka kini seimbang?
Melihat ilmu Hian Goan Sin Ciang (Ilmu Sakti Melumpuhkan Lawan) mampu merepotkan
Tek Hoat, Hauw Lam menjadi semakin besar hatinya. Tetapi, lama kelamaan diapun
menjadi tidak sabar. Nafsunya untuk membalas kekalahan dulu membuat dia berusaha
keras untuk mengalahkan Tek Hoat dan membalas kekalahan menyedihkan yang dialam
inya dulu. Sampai pada penggunaan ilmu barunya, dia masih yakin bahwa dia telah
mampu menyusul ketertinggalannya, tetapi dia masih menyimpan kemampuan lain. Seb
uah ilmu lain yang sangat diyakini olehnya akan mampu membuat Tek Hoat bertekuk
lutut. Dia hanya ingin mengalahkan Tek Hoat, harus. Soal Tek Hoat mati atau tida
k bukanlah kepedulian utamanya, yang penting harus menang.
Kembali mereka harus bertarung beberapa lama dengan posisi seimbang. Keadaan ini
mulai menggugah amarah Hauw Lam, dan ini memicunya untuk sampai pada jurus-juru
s pamungkas ilmu barunya. Kini dengan menggunakan jurus San Pang Te Liat (Gunung
Runtuh Bumi Retak) - Hauw Lam yang mulai dikuasai amarahnya karena masih dalam
posisi seimbang - menggerakkan sepasan tangannya yang dipenuhi hawa saktinya. Lu
ar biasa, entah mengapa kekuatan tenaga Hauw Lam justru meningkat ketika "nafsu
amarah" mulai menyertai penggunaan tenaganya. Dan akibatnya, tanah berpijak Tek
Hoat bagaikan bergoyang-goyang dan sejenak membuatnya goyah. Tetapi, rangkaian t
enaga yang menghembus dan menggempurnya, di luar dugaan kini lebih kuat dari bia
sanya.
Merasa sedikit terlambat, dengan cepat Tek Hoat memapak jurus mengerikan itu den
gan jurus ketujuh Pek Lek Sin Jiu. Dan kembali benturan hebat terjadi, tetapi se
cara sangat cepat, kembali keduanya dalam posisi bersiap. Karena Hauw Lam yang t
erdorong kebelakang, bukannya mencari pijakan kokoh terlebih dahulu sebelum meny
erang, sebaliknya telah mengerahkan jurus pamungkan ilmu barunya yakni jurus Hoa
n Thian Coan Te (Membalikkan Langit Memutarkan Bumi). Inilah gabungan ciri khas
luwes dari Wisanggeni dengan kecepatan yang licik dari Naga Pattynam dan berisi
dorongan tenaga besar ala Lamkiong Sek.
Menghadapi sergapan mematikan ini, Tek Hoat yang telah bersiap dengan jurus ketu
juh dalam penggunaan puncak kini juga sudah siap. Meski sebelumnya dia merasa se
dikit keteteran dengan tenaga lawan, tetapi diua beranggapan bahwa kekurangsiapa
nnyalah yang membuat dia keteter. Kini, dia sadar bahwa lawan akan langsung meny
erang dengan jurus mematikan, karena itu ketika terjadi benturan, dengan cepat d
ia bersiap dengan puncak pengerahan jurus ketujuh yang pernah dilatihnya bersama
dengan Ceng Liong.
Dan dari tangannya mengepullah awan panas berpijar menyongsong serangan dengan e
fek sihir dahsyat dari Hauw Lam yang telah murka. Dan, hebat, kembali tenaga Hau
w Lam bagaikan bertambah ketika mereka kembali berbenturan. Kali ini, Tek Hoat m
ulai sadar, bahwa entah bagaimana kini tenaga Hauw Lam bertambah hebat dari bias

anya. Tetapi, untungnya dia masih mampu menerima serangan berbahaya yang sangat
kuat dan mujijat dari lawannya, meski dia sedikit menderita kerugian karena atau
akibat benturan terakhir. Tetapi di sisi lain, Hauw Lam yang tidak mampu merubu
hkan Tek Hoat telah semakin dikuasai dendam dan amarahnya. Apa akibatnya?
Hauw Lam yang menyelesaikan ilmu barunya dengan hanya mampu mendesak dan mendoro
ng mundur Tek Hoat, semakin murka. Dan nampak wajahnya semakin kental menunjukka
n perasaan amarahnya tersebut. Dan tiba-tiba terdengar dia mendesis:
"Hmmmmm, sudah saatnya engkau bertekuk lutut ..."
Tiba-tiba wajahnya putih memucat dan dari wajahnya terpancar keluar aura menakut
kan dan menyeramkan, sementara bola matanya memerah dan bagaikan mengeluarkan si
nar ancaman yang menggidikkan. Dengan kedua belah tangan terbuka membentang dan
badannya sedikit doyong ke belakang, sekilas tiada yang istimewa dari posisi bhe
si (kuda-kuda) bertempurnya. Tetapi, yang mengagetkan adalah ketika terdengar de
sisan yang terdengar oleh segelintir manusia saja:
"Acccccchhhhhhh, Cit Sat Sin Ciang ........ benar-benarkah dia menguasainya"? Ki
ang Tek Hong kaget ketika desisannya membuat banyak orang tersentak kaget, dan k
ini memandangnya dengan penuh tanda-tanya.
"Cuwi sekalian, posisi tempur dan tanda-tanda yang ditunjukkannya adalah ciri kh
as Ilmu Jahat Cit Sat Sin Ciang yang termasyhur ratusan tahun silam. Tetapi bena
r-benarkah memang ilmu itu yang akan dikeluarkan anak itu"? Kiang Tek Hong menje
laskan dengan suara perlahan dan membuat orang-orang menjadi bukan hanya tertari
k, tetapi menahan nafas untuk melihat Ilmu Jahat yang sangat sakti dan telah len
yap ratusan tahun lamanya. Selain dari itu, tentu ada beberapa orang yang masih
ingat, bahwa ilmu jahat itulah yang telah membunuh Ciangbundjin Bu Tong Pay. Jad
i, anak inikah pelakunya?
Sementara itu, Tek Hoat telah melindungi dirinya dengan jurus ketujuh Pek Lek Si
n Jiu yang memang mujijat. Dia telah melontarkan satu gerakan dari jurus ketujuh
tersebut, dan masih ada dua gerakan mujijat yang disiapkannya sebelum memasuki
jurus pamungkas, jurus kedelapan dari Pek Lek Sin Jiu. Telinganya yang tajam sem
pat menangkan disebutnya nama Ilmu Hauw Lam yang siap menyerangnya, diapun tahu
soal ilmu itu. Tetapi, sebagaimana Mei Lan mampu menahan ilmu busuk lainnya di B
u Tong Pay, diapun berkeyakinan mampu menahan Cit Sat Sin Ciang lawannya. Selain
itu, diapun mulai menyiapkan rangkaian jurus kedelapan Pek Lek Sin Jiu dan puku
lan pamungkasnya Sin-kun Hoat-lek (Ilmu Sihir Silat Sakti).
Maka ketika akhirnya dia melihat persiapan jurus istimewa lawannya, diapun telah
menetapkan hatinya. Tek Hoat paham dia sedang berhadapan dengan sebuah ilmu pam
ungkas yang sangat terkenal ratusan tahun sebelumnya