Anda di halaman 1dari 18

KEPERAWATAN GERONTIK

DEMENSIA

Di Susun Oleh :
Saman Pabate
Sella Octaviani
Shaulatiya Dewi Anjani
Sri Sundari Astuti

III B Keperawatan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PRODI D-III KEPERAWATAN SAMARINDA
TAHUN 2015

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1.

DEFINISI DEMENSIA
Istilah demensia pertama kali digunakan oleh Phillipe Pinel (1745- 1826) dalam
bukunya
TREATISE
ON
INSANITY
dengan
kata
Demence.
Demensia adalah suatu sindroma klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan
ingatan/memori sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari
(Brocklehurst
and
Allen,
1987
dalam
Boedhi-Darmojo,
2009).
Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara
perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, pikiran, penilaian dan kemampuan untuk
memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian (Medicastore.com ).
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat
mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan
beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang
mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley,
A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah
sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit
atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku
(Kusumawati, 2007).

2. EPIDEMIOLOGI/INSIDEN KASUS
Usia di atas 65 tahun mempunyai risiko tinggi untuk mengalami demensia dan hal
ini tidak bergantung pada bangsa, suku, kebudayaan dan status ekonomi. Hasil penelitian
di seluruh dunia menunjukkan bahwa demensia terjadi sekitar 8 % pada warga di atas usia
65 tahun dan meningkat sangat pesat menjadi 25 % pada usia di atas 80 tahun dan hampir
40 % pada usia di atas 90 tahun.
3. PENYEBAB DEMENSIA PADA USIA LANJUT (BOEDHI-DARMOJO, 2009)
Penyebab demensia yang reversibel sangat penting untuk diketahui, karena
dengan pengobatan yang baik penderita dapat kembali menjalankan hidup sehari-hari
yang normal. Keadaan yang secara potensial reversibel atau bisa dihentikan yaitu :
Intoksikasi (Obat, termasuk alkohol dan lain-lain)
Infeksi susunan saraf pusat
Gangguan metabolik :
a) Endokrinopati (penyakit Addison, sindroma Cushing, Hiperinsulinisme,
Hipotiroid, Hipopituitari, Hipoparatiroid, Hiperparatiroid)
b) Gagal hepar, gagal ginjal, dialisis, gagal nafas, hipoksia, uremia kronis, gangguan
keseimbangan elektrolit kronis, hipo dan hiperkalsemia, hipo dan hipernatremia,
hiperkalemia.
c) Remote efek dari kanker atau limfoma.

Gangguan nutrisi :
a) Kekurangan vitamin B12 (anemia pernisiosa)
b) Kekurangan Niasin (pellagra)
c) Kekurangan Thiamine (sindroma Wernicke-Korsakoff)
d) Intoksikasi vitamin A, vitamin D, Penyakit Paget

Gangguan vaskuler
a) Demensia multi infark
b) Sumbatan arteri carotis
c) Stroke
d) Hipertensi
e) Arthritis Kranial

Lesi desak ruang


Hirdosefalus bertekanan normal
Depresi (pseudo-demensia depresif)
Penyakit degeneratif progresif :
a) Tanpa gejala neurologik penting lain :
Penyakit Alzheimer
Penyakit Pick
b) Dengan gangguan neurologik lain yang prominen :
Penyakit Parkinson
Penyakit Huntington
Kelumpuhan supranuklear progresif
Penyakit degeneratif lain yang jarang didapat

4. PATOFISIOLOGI TERKAIT DENGAN PROSES PENUAAN


Proses menua tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya demensia.
Penuaan menyebabkan terjadinya perubahan anatomi dan biokimiawi di susunan saraf
pusat yaitu berat otak akan menurun sebanyak sekitar 10 % pada penuaan antara umur 30
sampai 70 tahun. Berbagai faktor etiologi yang telah disebutkan di atas merupakan
kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi sel-sel neuron korteks serebri. Penyakit
degeneratif pada otak, gangguan vaskular dan penyakit lainnya, serta gangguan nutrisi,
metabolik dan toksisitas secara langsung maupun tak langsung dapat menyebabkan sel
neuron mengalami kerusakan melalui mekanisme iskemia, infark, inflamasi, deposisi
protein abnormal sehingga jumlah neuron menurun dan mengganggu fungsi dari area
kortikal ataupun subkortikal. Di samping itu, kadar neurotransmiter di otak yang
diperlukan untuk proses konduksi saraf juga akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan
gangguan fungsi kognitif (daya ingat, daya pikir dan belajar), gangguan sensorium
(perhatian, kesadaran), persepsi, isi pikir, emosi dan mood. Fungsi yang mengalami
gangguan tergantung lokasi area yang terkena (kortikal atau subkortikal) atau
penyebabnya, karena manifestasinya dapat berbeda. Keadaan patologis dari hal tersebut

akan

memicu

keadaan

konfusio

akut

demensia

(Boedhi-Darmojo,

2009).

5. KLASIFIKASI DEMENSIA
Demensia dapat dibagi dalam 3 tipe yaitu :
1) Demensia Kortikal dan Sub Kortikal
a. Demensia Kortikal
Merupakan demensia yang muncul dari kelainan yang terjadi pada korteks
serebri substansia grisea yang berperan penting terhadap proses kognitif seperti
daya ingat dan bahasa. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demensia
kortikal adalah Penyakit Alzheimer, Penyakit Vaskular, Penyakit Lewy Bodies,
sindroma Korsakoff, ensefalopati Wernicke, Penyakit Pick, Penyakit CreutzfeltJakob.
b. Demensia Subkortikal
Merupakan demensia yang termasuk non-Alzheimer, muncul dari kelainan yang
terjadi pada korteks serebri substansia alba. Biasanya tidak didapatkan gangguan
daya ingat dan bahasa. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demensia
kortikal adalah penyakit Huntington, hipotiroid, Parkinson, kekurangan vitamin
B1, B12, Folate, sifilis, hematoma subdural, hiperkalsemia, hipoglikemia,
penyakit Coeliac, AIDS, gagal hepar, ginjal, nafas, dll.
2) Demensia Reversibel dan Non reversible
a. Demensia Reversibel
Merupakan demensia dengan faktor penyebab yang dapat diobati. Yang termasuk
faktor penyebab yang dapat bersifat reversibel adalah keadaan/penyakit yang
muncul dari proses inflamasi (ensefalopati SLE, sifilis), atau dari proses
keracunan (intoksikasi alkohol, bahan kimia lainnya), gangguan metabolik dan
nutrisi (hipo atau hipertiroid, defisiensi vitamin B1, B12, dll).
b. Demensia Non Reversibel
Merupakan demensia dengan faktor penyebab yang tidak dapat diobati dan
bersifat kronik progresif. Beberapa penyakit dasar yang dapat menimbulkan
demensia ini adalah penyakit Alzheimer, Parkinson, Huntington, Pick, CreutzfeltJakob, serta vaskular.
3) Demensia Pre Senilis dan Senilis
a. Demensia Pre Senilis merupakan demensia yang dapat terjadi pada golongan
umur lebih muda (onset dini) yaitu umur 40-50 tahun dan dapat disebabkan oleh
berbagai kondisi medis yang dapat mempengaruhi fungsi jaringan otak (penyakit
degeneratif pada sistem saraf pusat, penyebab intra kranial, penyebab vaskular,
gangguan metabolik dan endokrin, gangguan nutrisi, penyebab trauma, infeksi dan
kondisi lain yang berhubungan, penyebab toksik (keracunan), anoksia).

b. Demensia Senilis merupakan demensia yang muncul setelah umur 65 tahun.


Biasanya terjadi akibat perubahan dan degenerasi jaringan otak yang diikuti
dengan adanya gambaran deteriorasi mental.
6. DEMENSIA BERDASAKAN ETIOLOGI YANG MENDASARI :
a. Demensia pada Penyakit Alzheimer
Merupakan penyebab demensia yang paling sering ditemukan pada sekitar 50 %
kasus demensia. Penyakit Alzheimer merupakan penyakit degeneratif primer pada
otak tanpa penyebab yang pasti. Dapat terjadi pada umur kurang dari 65 tahun (onset
dini) dengan perkembangan gejala yang cepat dan progresif, atau pada umur di atas
65 tahun (onset lambat) dengan perjalanan penyakit yang lebih lambat. Pada penyakit
ini terjadi deposit protein abnormal yang menyebabkan kerusakan sel otak dan
penurunan jumlah neuron hippokampus yang mengatur fungsi daya ingat dan mental.
Kadar
neurotransmiter
juga ditemukan
lebih
rendah
dari
normal.
Gejala yang ditemukan pada penyakit Alzheimer adalah 4A yaitu:
Amnesia : Ketidakmampuan untuk belajar dan mengingat kembali informasi baru
yang didapat sebelumnya.
Agnosia : Gagal mengenali atau mengidentifikasi objek walaupun fungsi
sensorisnya masih baik.
Aphasia : Gangguan berbahasa yaitu gangguan dalam mengerti dan mengutarakan
kata kata yang akan diucapkan.
Apraxia : Ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas motorik walaupun fungsi
motorik masih baik (contohnya mampu memegang gagang pintu tapi tak tahu apa
yang harus dilakukannya).
b. Demensia Vaskular
Merupakan penyebab kedua demensia yang terjadi pada hampir 40 % kasus.
Demensia ini berhubungan dengan penyakit serebro dan kardiovaskuler seperti
hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, diabetes, dll. Biasanya terdapat riwayat
TIA sebelumnya dengan perubahan kesadaran. Demensia ini terjadi pada umur 50-60
tahun tetapi lebih sering pada umur 60-70 tahun. Gambaran klinis dapat berupa
gangguan fungsi kognitif, gangguan daya ingat, defisit intelektual, adanya tanda
gangguan neurologis fokal, aphasia, disarthria, disphagia, sakit kepala, pusing,
kelemahan, perubahan kepribadian, tetapi daya tilik diri dan daya nilai masih baik.
c. Demensia pada penyakit lain
Adalah demensia yang terjadi akibat penyakit lain selain Alzheimer dan vaskuler
yaitu :
Demensia pada penyakit Pick
Demensia pada penyakit Huntington
Demensia pada penyakit Creutzfelt-Jakob
Demensia pada penyakit Parkinson
Demensia pada penyakit HIV-AIDS
Demensia pada alkoholisme.

7. MANIFESTASI KLINIS DEMENSIA


Pada awal perjalanan penyakit, pasien mengalami pegal-pegal, cenderung
mengalami kegagalan dalam melakukan tugas tertentu yang kompleks dan memerlukan
pemecahan masalah. Beberapa hal yang sering ditemui pada demensia adalah :
a. Kemunduran intelektual yang disertai dengan gangguan :
1) Memori (daya ingat)
2) Orientasi : Gangguan orientasi orang, tempat dan waktu tetapi kesadarannya tidak
mengalami gangguan.
3) Bahasa : Aphasia, stereotipik, sirkumstansial, gangguan penamaan objek.
4) Daya pikir dan daya nilai : Daya pikir lebih lambat, aliran ide dan konsentrasi
berkurang, sudut pandang yang jelek dan kurang, pikiran paranoid, delusi, dll.
5) Kapasitas belajar komprehensif : Gangguan otak dalam memproses informasi
yang masuk.
6) Kemampuan dalam perhitungan.
b. Perubahan emosional
Emosi sering gampang terstimulasi serta tidak dapat mengontrol tawa dan tangis.
c. Kemunduran kepribadian
1) Sering egois
2) Kurang bisa mengerti perasaan orang lain, kurang perhatian, introvert.
3) Kemunduran kebiasaan pribadi, makan, toilet, kebersihan, dll.
d. Perubahan-perubahan pada sistem tubuh :
1) Kardiovaskuler
Cardiac output menurun, kemampuan respon terhadap stress berkurang, tekanan
darah meningkat, denyut jantung setelah pemulihan melambat, cepat pegal bila
aktivitas meningkat
2) Respirasi
Volume residu paru meningkat, kapasitas vital paru menurun, kapasitas difusi dan
pertukaran gas menurun, efektivitas batuk menurun, pada aktivitas berat cepat
lelah dan sesak, oksigenasi berkurang sehingga luka susah sembuh, susah
mengeluarkan sekret batuk.
3) Integumen (kulit)
Perlindungan terhadap trauma dan suhu yang ekstrem menurun, perlindungan oleh
kelenjar minyak alami dan berkeringat menurun, kulit tipis kering, dan keriput,
sering memar, kebiruan dan cepat terbakar sinar matahari, intoleransi terhadap
panas, struktur tulang kelihatan pada kulit yang tipis.
4) Reproduksi
Pada wanita terjadi penyempitan, penurunan elastisitas dan sekresi pada dinding

vagina, sehingga menimbulkan hubungan seksual yang sakit, perdarahan, gatal,


iritasi dan lambat orgasme. Pada laki laki terjadi penurunan ukuran penis dan
testes dan respon seksual yang melambat.
5) Genito-urinaria
Kapasitas buli menurun, menurunnya sensasi untuk bak sehingga sering retensi
dan kesulitan bak. Pada laki-laki terjadi BPH, dan pada wanita terjadi relaksasi
otot perineum dan inkontinensia urine.
6) Gastrointestinal
Salivasi berkurang, susah menelan makanan, mengeluh mulut kering,
pengosongan esofagus dan lambung yang melambat sehingga sering terjadi gejala
penuh, sakit ulu hati, mobilisasi usus berkurang sehingga sering konstipasi,
bersendawa, perut tidak nyaman.
7) Muskuloskeletal
Hilangnya densitas tulang, kekuatan dan ukuran otot, degenerasi tulang rawan
sendi, sehingga terjadi penurunan tinggi badan, kyphosis, fraktur, sakit pada
punggung, merasa hilang tenaga, flexibilitas dan ketahanan sendi menurun dan
sering sakit sendi.
8) Saraf
Berkurangnya kecepatan konduksi saraf sehingga terjadi konfusi disertai dengan
keluhan fisik dan kehilangan respon lingkungan. Sirkulasi serebral menurun
sehingga terjadi penurunan reaksi dan respon, belajar perlu waktu yang lama,
sering bingung, sering lupa dan jatuh.
e. Sistem indera :
1) Penglihatan : Kemampuan untuk fokus pada objek yang dekat berkurang, tidak
toleransi terhadap sinar, kesulitan mangatur intensitas cahaya masuk mata, dan
penurunan kemampuan membedakan warna.
2) Pendengaran : Menurunnya kemampuan mendengarkan suara frekuensi tinggi.
3) Rasa dan bau : Penurunan kemampuan mengecap dan membau sehingga dapat
menggunakan gula dan garam berlebih pada makanannya.
f. Halusinasi dan delusi
g. Tanda dan Gejala lainnya :
1) Psikiatrik
Gangguan cemas, depresi, perubahan kepribadian sehingga sering menangis atau
tertawa patologis, emosi ekstrim tanpa provokasi.

2) Neurologis
Apraxia dan agnosia, kejang, sakit kepala, pusing, kelemahan, sering pingsan,
gangguan tidur, disartria, disfagia.

3) Reaksi katastropi
Agitasi yang muncul sekunder akibat kesadaran subjektif terhadap defisit
intelektual yang dialami pada keadaan yang penuh stres.
4) Sundown syndrome
Mengantuk, konfusi, ataksia, jatuh. Sindrome ini bisa muncul saat stimulus
eksternal berkurang atau karena pengaruh obat benzodiazepine.

8. KOMPLIKASI DEMENSIA
a. Peningkatan risiko infeksi di seluruh bagian tubuh :
Ulkus Dekubitus
Infeksi saluran kencing
Pneumonia
b.
c.
d.
e.
f.

Thromboemboli, infark miokardium.


Kejang
Kontraktur sendi
Kehilangan kemampuan untuk merawat diri
Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan kurang dan kesulitan menggunakan
peralatan
g. Kehilangan kemampuan berinteraksi
h. Harapan hidup berkurang

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a) Identitas
Indentias klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang
kebudayaan, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
b) Keluhan utama
Keluhan utama atau sebab utama yang menyebbkan klien datang berobat (menurut
klien dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun.
c) Pemeriksaan fisik
Kesadaran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi menurun,
takikardia, febris, BB menurun karena nafsu makan yang menurun dan tidak mau
makan.
d) Psikososial
1) Genogram.
2) Konsep diri.
a. Ganbaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran diri karena
proses patologik penyakit.
b. Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu.
c. Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara satu
peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu diman aindividu tidak
tahun dengan jelas perannya, serta peran berlebihan sementara tidak
mempunyai kemmapuan dan sumber yang cukup.
d. Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan
yang ada.
e. Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien merasa
harga dirinya rendah karena kegagalannya.
3) Hubungan sosial
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau
kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti
delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh pola hubungan sosial khususnya
dengan orang yang penting dalam kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak
sehat maka individu dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial
yang tidak adeguat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar
mempertahankan komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien cenderung
memisahkan diri dari orang lain dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang

tidak memerlukan kontrol orang lain. Keadaa ini menimbulkan kesepian, isolasi
sosial, hubungan dangkal dan tergantung.

4) Spiritual
Keyakinan klien terhadapa agama dan keyakinannya masih kuat. Tetapi tidak atau
kurang mampu dalam melaksanakan ibadahnya sesuai dengan agama dan
kepercayaannya.
5) Status mental
a. Penampilan klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat dirinya sendiri.
b. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
c. Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan adanya
peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif, manerisme, otomatis,
steriotipi.
d. Alam perasaan : Klien nampak ketakutan dan putus asa.
e. Afek dan emosi.
Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan
tertentu karena jika langsung mengalami perasaa tersebut dapat menimbulkan
ansietas. Keadaan ini menimbulkan perubahan afek yang digunakan klien
untuk melindungi dirinya, karena afek yang telah berubahn memampukan kien
mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan eksternal.
Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak sesuai karena datang
dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar,
tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen
f. Interaksi selama wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksa kurang kooperatif, kontak mata kurang.
g. Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap suatu
obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada panca indera yaitu penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat
ringan, sedang dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling
sering ditemukan adalah halusinasi.
6) Proses berpikir
Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern, tindakannya
cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak sesuai
dengan penilaian yang umum diterima.
Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif
yang dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak logis.(Pemikiran
autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar

perubahan proses pikir yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitif,


hilangnya asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan linguistik
(memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak sehingga tampak klien regresi dan
pola pikir yang sempit misalnya ekholali, clang asosiasi dan neologisme.
7) Tingkat kesadaran
Kesadaran yang menurun, bingung. Disorientasi waktu, tempat dan orang
8) Memori
a. Gangguan daya ingat jangka panjang: Tidak dapat mengingat kejadian yang
terjadi lebih dari satu bulan.
b. Gangguan daya ingat jangka pendek: Tidak dapat mengingat kejadian yang
terjadi dalam minggu terakhir.
c. Gangguan daya ingat sekarang: Tidak dapat mingingat kejadian yang baru saja
terjadi.
9) Tingkat konsentrasi
Klien tidak mampu berkonsentrasi
10) Kemampuan penilaian
Gangguan berat dalam penilaian atau keputusan.
11) Kebutuhan klien sehari-hari
a. Tidur, klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau duduk dan
gelisah . Kadang-kadang terbangun tengah malam dan sukar tidur kemabali.
Tidurnya mungkin terganggu sepanjang malam, sehingga tidak merasa segar
di pagi hari.
b. Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau makannya hanya
sedikit, karea putus asa, merasa tidak berharga, aktivitas terbatas sehingga bisa
terjadi penurunan berat badan.
c. Eliminasi, Klien mungkin tergnaggu buang air kecilnya, kadang-kdang lebih
sering dari biasanya, karena sukar tidur dan stres. Kadang-kadang dapat terjadi
konstipasi, akibat terganggu pola makan.
d. Mekanisme koping, apabila klien merasa tridak berhasil, kegagalan maka ia
akan menetralisir, mengingkari atau meniadakannya dengan mengembangkan
berbagai pola koping mekanisme. Ketidak mampuan mengatasi secara
konstruktif merupakan faktor penyebab primer terbentuknya pola tiungkah
laku patologis. Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan
delerium adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata yang cepat dan
keras (ngomel-ngomel) dan menutup diri.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan tidak
adekuat
b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan menurunya kemampuan merawat diri

c. Resiko cidera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan.

KASUS DEMENSIA
Tn. B usia 79 tahun, tinggal di panti jompo sejak 2 tahun yang lalu, keluarga
menitipkan Tn. B di sebabkan karena keluarga sibuk dengan urusan masing-masing. Tn. B
dulunya bekerja di pabrik kayu, Kondisi fisik Tn. B saat ini mengalami gangguan memori
dan orientasi. Selain itu klien tidak mampu melakukan devisit keperawatan diri secara
mandiri melainkan membutuhkan bantuan orang. Tn. B sering lupa jalan pulang apa bila
sedang berpergian, sulit mandi, berpakaian, dan toileting, Tn. B juga sering tersinggung dan
mudah marah. Sebelumnya klien pernah dibawa berobat ke puskesmas dan di diagnosa oleh
dokter bahwa Tn. B menderita demensia yang merupakan bagian normal dari proses penuaan.
Saat pengkajian di dapatkan bahwa TD : 140/80 MmHg, S : 37 0C, RR: 24 x/menit, N : 75
x/menit. Kuku klien tampak kotor, badan klien bau, penampilan kurang menarik, kulit kepala
kotor dan bau, mulut klien bau, gigi klien tampak tidak lengkap dan tampak adanya caries
pada gigi klien serta klien tampak binggung. Nafsu makan klien menurun, jumlah makan
klien yang masuk kurang satu porsi, klien sering makan makanan yang banyak mengandung
protein, mengandung karbonhidrat, dan yang mengandung kalsium untuk menjaga kesehatan
klien serta meningkatkan status nutrisi klien, fungsi mengunyah kurang baik. Jumlah minum
klien 1000 cc/hari dengan air mineral. Perawat mengatakan kekuatan otot klien menurun
sehingga klien berjalan dengan lambat, klien tampak mengalami kaku sendi, klien tampak
menggunakan tongkat, klien tampak berjalan dengan hati- hati dan kekuatan otot klien 4
( dapat gerak dan dapat melawan hambatan yang ringan) dan pemeriksaan lab. Didapatkan
hasil Hb : 9 gr/dl, leukosit : 12000 mm3, trombosit 340.000/mm3.
1. Pengkajian
Nama Panti
Ruang/ Kamar
Tanggal Masuk
Tanggal Pengkajian

: Panti Jompo
: Melati
: 18 januari 2013
: 14 Maret 2015

A. Identitas Klien
Nama Lansia
Umur
Jenis kelamin
Status merital
Agama
Suku/Bangsa
Bahasa yang digunakan
Pendidikan

: Tn. B
: 79 tahun
: Laki- laki
: Menikah
: Islam
: Jawa
: Daerah/Indonesia
: SMP

Pekerjaan
Alamat asal

: Wiraswasta
: Thehok Jambi

B. Alasan masuk
Keluarga klien minitipkan Tn. B di sebabkan karena keluaga sibuk dengan urusan
masing-masing.
Keluhan utama saat pengkajian
Keluarga klien mengatakan bahwa Tn. B mengalami gangguan memori dan orientasi.
C. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan saat ini
Keluarga klien mengatakan bahwa Tn. B mengalami gangguan memori dan
orientasi, dan Tn. B juga sering lupa jalan pulang apa bila sedang berpergian, sulit
mandi, berpakaian, dan toileting, Tn. B juga sering tersinggung dan mudah marah.
Saat pengkajian di dapatkan bahwa TD : 140/80 MmHg, S : 37 0C, RR: 24
x/menit, N : 75 x/menit. Kuku klien tampak kotor, badan klien bau, penampilan
kurang menarik, kulit kepala kotor dan bau, mulut klien bau, gigi klien tampak
tidak lengkap dan tampak adanya caries pada gigi klien serta klien tampak
binggung. Nafsu makan klien menurun, jumlah makan klien yang masuk kurang
satu porsi, klien sering makan makanan yang banyak mengandung protein,
mengandung karbonhidrat, dan yang mengandung kalsium untuk menjaga
kesehatan klien serta meningkatkan status nutrisi klien, fungsi mengunyah kurang
baik. Jumlah minum klien 1000 cc/hari dengan air mineral. Perawat mengatakan
kekuatan otot klien menurun sehingga klien berjalan dengan lambat, klien tampak
mengalami kaku sendi, klien tampak menggunakan tongkat, klien tampak berjalan
dengan hati- hati
2) Riwayat kesehatan masa lalu
Keluarnga klien mengatakan dulunya klien pernah bekerja di pabrik
alumunium. Klien tidak pernah di rawat di RS, tidak pernah dioperasi, tidak
pernah alergi obat, makan, dan klien juga tidak mempenyai kebiasaan merokok,
alkohol dan juga obat- obatan.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Dilihat dari susunan keluarga atau Genogram.
D. Kebiasaan sehari-hari
1. Nutrisi cairan / makanan
Nafsu makan klien menurun, jumlah makan klien 3x sehari, jumlah makan klien
klien yang masuk kurang satu porsi, klien sering makan makanan yang banyak

mengandung protein, mengandung karbonhidrat, dan yang mengandung kalsium


untuk menjaga kesehatan klien serta meningkat status nutrisi klien. Jumlah minum
klien 1000 cc / hari dengan air mineral.

2. Eliminasi
Frekuensi BAB 1 x 24 jam, warna feses kuning, bau khas. Frekuensi BAK 2 x 24
jam, volume urine 400cc, warna kuning, bau urine khas.
3. Aktivitas latihan
Klien makan, mandi, berpakaian, kerapian, buang air besar, buang air kecil, di
bantu orang/ perawat.
4. Tidur istirahat
Klien tampak ada tidur siang kurang lebih 30 menit, tidur malam klien kurang
lebih 5 jam.
E. Data psikologi
Klien ikhlas menerima keadaanya, walaupun suasana hatinya sedih, klien tampak
sering tersinggung dan mudah marah. Konsep diiri klien tampak menurun karena faktor
usia dan merupakan proses penuaan. Orientasi klien kurang baik karena konsentrasi yang
menurun sehingga klien mengalami penurunan daya ingat dengan nilai 11
(berat) menyebabkan klien sulit melakukan aktifitas dan devisit keperawatan diri.
Memori klien pendek karena klien sering kali lupa jalan pulang bila sedang berpergian,
sulit untuk mandi, berpakaian, dan toileting.
Bahas klien kurang jelas dan bahasa yang digunakan klien kurang dipahami oleh
orang lain. klien mnegalami gangguan memori jangka pendek dikernakan klien Tidak
dapat mengingat kejadian yang terjadi dalam minggu terakhir, bahkan klien sering
lupa jalan saat perpergian, sulit bandi, berpakaian, dan toileting.
F. Data sosial
Hubungan klien dengan keluarga / kerabat kurang baik, hubungan klien dengan
penghuni lain kurang baik, hubungan dengan petugas kurang baik dan adat istiadat yang
dianut klien yaitu melayu. Dikarenakan klien mengalami gangguan memori dan orentasi
sehingga klien kurang berintraksi sosial dengan baik.
G. Data spritual
Klien menganut agama islam, klien tampak sering sholat dan sering berdoa.
H. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan sakit
klien tampak sakit berat karena klien mengalami gangguan memori dan orientasi.
Selain itu klien tidak mampu melakukan devisit keperawan diri secara mandiri
melainkan membutuhkan bantuan orang.
2. Tanda- tanda vital

Kesadaran klien komposmentis, klien masih dalam kesadaran penuh. Tekanan darah
140/80 mmhg, nadi 75 x / menit, suhu 37 oC menggunakan axila, RR : 24x/menit, pola
pernapasan klien tampak teratur.

3. Kepala
Bentuk kepala simetris, warna rambut memutih/ beruban, keadaan rambut rontok,
kulit kepala kotor dan bau.
4. Mata/ penglihatan
Ketajaman penglihatan klien kabur, sclera putih dan jernih, ukuran isocor, warna
gelap, reaksi terhadap cahaya miosis. Refleks pupil sama besar, dan bereaksi terhadap
cahaya, konjungtiva anemis, lapang pandang kurang jelas, penglihatan klien terasa
kabur apabila tidak menggunakan kacamata.
5. Hidung/penciuman
Bentuk simetris, struktur bagian dalam merah muda, fungsi penciuman klien kurang
baik.
6. Telinga/ pendengaran
Warna kulit luar telinga bagian luar sawo matang, tidak terdapat lesi, kulit telinga
berkurang elastisitasnya. fungsi pendengaran kurang baik, tidak ada nyeri, tidak
menggunakan alat bantu pendengaran
7. Mulut/pengecap
Bibir berwarna pucat, simetris, kelembaban baik, mukosa mulut merah muda baik,
gigi kurang bersih, ada caries, gigi tidak lengkap, kaadaan gusi kurang baik, tidak ada
peradangan. Fungsi mengunyah kurang baik, fungsi pengecap tidak begitu baik,
fungsi bicara kurang jelas, bau mulut, refleks menelan juga kurang baik.
8. Leher
Saat diraba tidak terdapat pembengkakan kelenjar getah bening, kelenjar tryroid dan
sub mandibulalis baik, kaku kuduk dan sulit menelan tidak ada.
9. Dada/pernapasan
I : bentuk dada simetris, kwalitas nafas cepat, klien tidak ada batuk dan
tidak
menggunakan alat bantu pernapasan
P : tidak terdapat tonjolan, tactile fremitus seimbang kiri dan kanan
P : perkusi dada resonan
A : suara napas vesiculer
10. Kardiovaskuler
I
: bentuk jantung simetris.
P : Denyut nadi perifer teraba melemah, ictus kordis teraba.
P : Perkusi terdapat bunyi pekak
A : Bunyi jantung normal Lub Dub (tidak ada bunyi tambahan), biasanya S1
terdengar lebih keras dari pada S2, namun nada S1 lebih rendah sedangkan S2
tinggi. Jarak antara bunyi lub dan dub sekitar 1 detik / kurang.
11. Abdomen

I
A
P
P

: Tidak terdapat lesi, dan perut pasien tidak membuncit.


: Bising usus normal ( 10 x /menit )
: Tidak teraba masa.
: Perkusi terdengar : Tympani

12. Muskulo skeletal


Kekuatan otot klien 4 dan terdapat kaku sendi, gaya berjalan klien lambat.
4444 4444
4444 4444
Ket : dapat gerak dan dapat melawan hambatan yang ringan.
13. Keadaan neurologi
Penciuman pada klien terganggu N.1 (olfaktorius), penglihatan klien terganggu N.
II (optikus), refleks menelan klien terganggu N. V (trigeminus), dan pengecap klien
terganggu N. XII (hipoglosus) sedangkan untuk pendengaran klien masih normal N.
VII (koklearis).
14. Integumen/kulit
Warna kulit telinga luar sawo matang, tekstur keriput, suhu kulit normal/ alamiah,
keadaan kuku klien tampak kotor.
15. Catatan khusus
Klien tidak mengerti tentang kondisinya, hubungan klien dengan keluarga kurang
baik, orang yang paling dekat dengan klien hanya perawat.
I.

Informasi penunjang
Nama pasien
: Tn.B
Diagnosa medik
: Demensia
Tgl. Pengkajian
: 14 Maret 2015
1.

laboratorium
a) Hb : 9 gr/ dl (P : 13-18 gr dan W : 12-16 gr)
b) Leukosit : 11000 mm3 (4000 - 11000 / 5000 10000 mm3)
c) Trombosit : 340.000/ mm3 (150.000 450.000/mm3)
2. Obat obatan
a. Donezepil : 5 mg 3x/hari
b. Anti depresi : citalopram 3x 10-20 mg
c. Galantamine : 3x 3-5 mg
d. Diet makanan lunak yang kalori penuh serta gizi yang baik
3. Terapi simtomatik
a. Latihan kemampun kognitif, dan mengasah pola fikir
b. Terapi rekreasional dan aktifitas

ANALISA DATA
Nama pasien
: Tn. B
Umur
: 79 tahun
N
DATA
O
1. DS:
Petugas panti mengatakan klien sering tersinggung dan mudah
marah
Perawat mengatakan klien sering lupa jalan pulang bila berpergian
DO:
Klien tampak mengalami gangguan memori dan orientasi
Klien tampak bingung
2. DS:
Petugas panti mengatakan klien sulit mandi, berpakaian dan
toileting

MASALAH

perubahan
fisiologis
(degenerasi
neuron
ireversibel)

Perubahan
proses pikir

Menurunya
kemampuan
merawat diri

defisit
perawatan
diri

Asupan tidak
adekuat

Perubahan
nutrisi,
kurang dari
kebutuhan
tubuh

DO:
Kuku klien tampak kotor
Badan klien Bau
Penampilan kurang menarik
Kulit kepala kotor dan bau
Mulut klien bau dan Tampak adanya caries

3. DS :
Petugas panti mengatakan nafsu makan klien menurun

PENYEBAB

DO :
Gigi klien tidak lengkap
Klien tampak hanya menghabiskan setengah porsi makannya
Hb : 9 gr/dl

4. DS :
Petugas panti mengatakan kekuatan otot klien menurun sehingga
klien berjalan dengan lambat
DO :
klien tampak sering mengalami kaku sendi
klien tampak menggunkan tongkat

kesulitan
Risiko
keseimbangan cidera
dalam
beraktifitas

klien tampak berjalan dengan hati- hati


kekuatan otot klien
4444
4444
4444

4444