Anda di halaman 1dari 19

Laporan Pendahuluan Departemen Mental Health Nursing

ANSIETAS

Oleh
Avief Destian Purnama
105070200111001
Kelompok 12
Ruang 23 J

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
LAPORAN PENDAHULUAN
(Hari Pertama Praktek)
I.

Kasus (masalah utama) :


Ansietas

II.

Proses terjadinya masalah


A. Definisi
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berbahaya. Keadaan emosi
ini tidak memiliki objek yang spesifik ,dialami secara subjektif serta
dikomunikasikan secara intrapersonal (Stuart, 1995).
Ansietas adalah suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan
tidak dapat dibenarkan yang disertai gejala fisiologis, sedangkan pada
gangguan ansietas terkandung unsur penderitaan yang bermakna dan
gangguan fungsi yang disebabkan oleh kecemasan tersebut (David A. Tomb,
1993).
Anxiety Disorder merupakan kecemasan yang berlebihan seperti
kecemasan akan harga diri, kecemasan akan masa depan, dan sebagainya.
Dengan demikian, pengertian Anxiety Disorder adalah suatu ketegangan
yang memuncak sehingga menimbulkan kegelisahan dan kehilangan kendali
akibat adanya penilaian yang subyektif dari proses komunikasi interpersonal.
Hal ini dapat diartikan sebagai sebuah perasaan kekhawatiran yang tidak
jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak
berdaya (Gail W Stuart, 2009).
B. Penyebab ansietas
Meski penyebab ansietas belum sepenuhnya diketahui, namun gangguan
keseimbangan neurotransmitter dalam otak dapat menimbulkan ansietas
pada diri seseorang. Faktor genetik juga merupakan faktor yang dapat
menimbulkan gangguan ini.

Ansietas terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan menghadapi


situasi, masalah dan tujuan hidup (Videbeck, 2001). Setiap individu
menghadapi stres dengan cara yang berbeda-beda, seseorang dapat tumbuh
dalam suatu situasi yang dapat menimbulkan stres berat pada orang lain.
C. Faktor yang mempengaruhi ansietas
1) Faktor Predisposisi
Menurut Stuart dan Laraia (1998 : 177-181), terdapat beberapa teori yang
dapat menjelaskan ansietas, diantaranya :
a) Pandangan Psikoanalitik
Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara 2 elemen
kepribadian id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan
impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani
seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang.
Ego atau Aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang
bertentangan dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa
ada bahaya.
b) Pandangan Interpersonal
Ansietas

timbul

dari

perasaan

takut

terhadap

tidak

adanya

penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas berhubungan


dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan,
yang menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang mengalami harga
diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan ansietas yang
berat.
c) Pandangan Perilaku
Ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang
mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Pakar perilaku menganggap sebagai dorongan belajar
berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan.
Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada
ketakutan berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas dalam
kehidupan selanjutnya.
d) Kajian Keluarga

Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Ada


tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan
ansietas dan depresi.
e) Kajian Biologis
Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Reseptor
ini membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA juga berperan
utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas
sebagaimana halnya dengan endorphin. Ansietas mungkin disertai
dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas
seseorang untuk mengatasi stressor.
2)

Faktor Presipitasi
a) Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk
melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
b) Ancaman terhadap system diri seseorang dapat membahayakan
identitas, harga diri, dan fungsi social yang terintegrasi seseorang.

D. Manifestasi klinis ansietas


Anxiety Disorder adalah keseluruhan yang terkait kondisi kegelisahan,
yang terlihat sangat berbeda pada tiap orang. Setiap individu berbeda dalam
menghadapi suatu stimulus. Satu individu mungkin menderita kegelisahan
secara intensif, serangan yang menyerang tanpa peringatan, sementara yang
lain mendapat gugup dan tidak berdaya. Terkadang seseorang mencoba
untuk menghilangkan perasaan takut atau perasaan takut tersebut justru
menyelimuti hingga membuat pikiran membosankan. Keadaan tersebut
semua akan menjadi lebih parah ketika seseorang merasa terancam. Namun,
walaupun berbeda bentuk, semua Anxiety Disorder memiliki satu gejala
utama, yaitu tetap takut atau timbul perasaan khawatir dalam situasi dimana
kebanyakan orang tidak akan merasa terancam.
Selain gejala umum yang berlebihan yang ditandai dengan perasaan
takut dan khawatir, tanda umum lainnya dari gejala perasaan gelisah adalah
sebagai berikut :
1) Perasaan takut.
2) Terganggu berkonsentrasi.
3) Merasa tegang dan gelisah.

4) Antisipasi yang terburuk.


5) Cepat marah dan resah.
6) Merasakan adanya tanda-tanda bahaya.
7) Merasa seperti hilang dari pikiran kosong.
Kegelisahan yang terdapat pada Anxiety Disorder tidak hanya sekedar
menyerang perasaan, namun juga berdampak pada kondisi fisik. Sebagai
manifestasi

dari

tubuh

memerangi

atau

menjaga

keseimbangan

(homeostasis), kegelisahan melibatkan berbagai gejala fisik. Oleh karena


terdapat berbagai gejala fisik, maka mereka sering mengeluh mengenai
adanya penyakit medis. Gejala kegelisahan fisik secara umum pada Anxiety
Disorder adalah sebagai berikut :
1) Jantung berdebar.
2) Berkeringat (sweating).
3) Mual-mual dan pusing.
4) Peningkatan frekuensi BAB atau diare.
5) Sesak nafas, tremor, dan kejang.
6) Ketegangan otot.
7) Sakit kepala (headaches).
8) Kelelahan, insomnia.
Tingkat

Respon fisik

Respon kognitif

Respon

ansietas
Ringan

-Ketegangan otot ringan

-Lapang persepsi luas

emosional
-Perilaku otomatis

-Sadar akan lingkungan

-Terlihat tenang, percaya diri

-Sedikit tidak sabar

-Rilaks atau sedikit

-Perasaan gagal sedikit

-Aktivitas

gelisah

-Waspada dan memerhatikan

menyendiri

-Penuh perhatian

banyak hal

-Terstimulasi

-Rajin

-Mempertimbangkan informasi

-Tenang

-Tingkat pembelajaran optimal


Sedang

-Ketegangan otot

-Lapang persepsi menurun

-Tidak nyaman

sedang

-Tidak perhatian secara efektif

-Mudah

-Tanda-tanda vital

-Fokus terhadap stimulus

tersinggung

meningkat

meningkat

-Kepercayaan diri

-Pupil dilatasi, mulai

-Rentang perhatian menurun

goyah

berkeringat

-Penyelesaian masalah

-Tidak sabar

-Sering mondar-mandir,

menurun

memukul tangan

-Pembelajaran terjadi dengan

-Suara berubah:

memfokuskan

-Gembira

bergetar, nada suara


tinggi
-Kewaspadaan dan
ketegangan
mmeningkat
-Sering berkemih, sakit
kepala, pola tidur
berubah, nyeri
Berat

punggung
-Ketegangan otot berat

-Lapang persepsi terbatas

-Sangat cemas

-Hiper ventilasi

-Proses berfikir terpecah-

-Agitag

-Kontak mata buruk

pecah

-Takut

-Pengeluaran keringat

-Sulit berfikir

-Bingung

meningkat

-Penyelesaian masalah buruk

-Mersa tidak

-Bicara cepat, nada

Tidak mampu

adekuat

suara tinggi

mempertimbangkan informasi

-Menaarik diri

-Tindakan tanpa tujuan

-Hanya memerhatikan

-Ingin bebas

dan serampangan

ancaman

-Rahang menegang,

-Preokupasi dengan pikiran

mengerakan gigi

sendiri

-Kebutuhan ruang gerak

-Egois

meningkat
-Mondar-mandir, teriak
-Meremas tangan,
Panik

gemetar
-Flight, fight atau freeze

-Persepsi sangat sempit

-Merasa terbebani

-Ketegangan otot

-Pikiran tidak logis, terganggu

-Merasa tidak

sangat berat

-Kepribadian kacau

mampu, tidak

-Agaitas motorik kasar

-Tidak dapat menyelesaikan

berdaya

-Pupuil dilatasi

masalah

-Lepas kendala

-Tanda-tanda vital

-Fokus pada pikiran sendiri

-mengamuk, putus

meningkat kemudian

-Tidak rasional

asa

menurun

-Sulit memahami stimulus

-marah, sangat

-Tidak dapat tidur

eksternal

takut

-Hormon stres dan

-Halusinasi, waham, ilusi

-mengharap hasil

nourotransmiter

mungkin terjadi

yang buruk

berkurang

-Kaget, takut

-Wajah menyeringai,

-Lelah

mulut ternganga
E. Tingkatan Ansietas
1) Ansietas Ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari.
Individu sadar. Lahan persepsi meningkat (mendengar, melihat,
meraba lebih dari sebelumnya). Perlu untuk memotivasi belajar,
pertumbuhan, dan kreativitas.
2) Ansietas Sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting
dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami
tidak perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu lebih
banyak jika diberi arahan. Lahan persepsi menyempit (melihat,
mendengar, meraba menurun daripada sebelumnya). Fokus pada
perhatian segera.
3) Ansietas Berat
Lahan persepsi sangat sempit, seseorang hanya bisa memusatkan
perhatian pada yang detil, tidak yang lain. Semua perilaku ditujukan
untuk menurunkan ansietas.
4) Panik
Kehilangan control, seseorang yang mengalami panic tidak mampu
melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan.
F. Rentang respon ansietas
Respon adaptif
Antisipasi
Ringan

Sedang

Respon maladaptif
Berat
Panik

G. Mekanisme koping pada ansietas


Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme
koping sebagai berikut ;

1) Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistic tuntutan
situasi stress, misalnya perilaku menyerang untuk mengubah atau
mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan. Menarik diri untuk
memindahkan dari sumber stress. Kompromi untuk mengganti tujuan
atau mengorbankan kebutuhan personal.
2) Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan
dan sedang, tetapi berlangsung tidak sadar dan melibatkan penipuan
diri dan distorsi realitas dan bersifat maladaptif.
H. Pengobatan untuk gangguan ansietas umum
Sebagian besar penelitian hasil pengobatan menunjukkan bahwa
pengobatan aktif lebih baik daripada pendekatan tak langsung, dan secara
keseluruhan lebih utama daripada tanpa pengobatan. Namun sebagian besar
penelitian tersebut gagal menunjukkan angka diferensial keefektifan di antara
pengobatan aktif
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terapi perilaku-kognitif (yang
mengombinasikan latihan relaksasi dan terapi kognitif) yang bertujuan
mengendalikan proses kekhawatiran adalah terapi yang paling efektif
Benzodiazepin mengurangi gejala ansietas dan kekhawatiran pada
gangguan ansietas umum.
Buspiron tampak sebanding dengan benzodiazepine dalam mengurangi
gejala gangguan ansietas umum
Antidepresan trisiklik menunjukkan manfaatnya dalam pengobatan
gangguan ansietas umum.

III A. Pohon masalah

Ketidakberdayaan

Gangguan Pola
Tidur

Persepsi negatif
terhadap masalah

Harga Diri
Rendah

Menarik diri dari lingkungan sekitar

Ansietas
Akumulasi stressor

Koping maladapatif

Stressor
B. Data yang perlu dikaji
1) Perilaku
a) Produktivitas menurun
b) Mengamati dan waspada
c) Kontak mata jelek
d) Gelisah
e) Melihat sekilas sesuatu
f)

Pergerakan berlebihan (seperti; foot shuffling, pergerakan lengan/


tangan)

g)

Ungkapan perhatian berkaitan dengan merubah peristiwa dalam


hidup

h)

Insomnia

i)

Perasaan gelisah.

2) Afektif
a) Menyesal
b) Iritabel

c) Kesedihan mendalam
d) Takut
e) Gugup
f)

Sukacita berlebihan

g) Nyeri dan ketidakberdayaan meningkat secara menetap


h) Gemeretak
i)

Ketidakpastian

j)

Kekhawatiran meningkat, prihatin, mencemaskan

k) Fokus pada diri sendiri


l)

Perasaan tidak adekuat

m) Ketakutan
n) Distressed
3) Fisiologis
a) Suara bergetar
b) Gemetar/ tremor tangan
c) Bergoyang-goyang
d) Respirasi meningkat, nadi meningkat, dilatasi pupil, reflex
meningkat, Eksitasi kardiovaskuler, peluh meningkat, wajah
tegang,

anoreksia,

kelemahan,

jantung

wajah

berdebar-debar,

bergejolak,

mulut

vasokonstriksi

kering,

superficial,

berkedutan, sukar bernafas (simpatis)


e) Kesegeraan berkemih , nyeri abdomen, gangguan tidur, perasaan
geli pada ekstremitas, diare, keragu-raguan berkemih, kelelahan,
nadi berkurang, tekanan darah menurun atau meningkat, mual,
pingsan (parasimpatis),
4) Kognitif
a) Hambatan berfikir
b) Bingung
c) Preokupasi
d) Pelupa
e) Perenungan
f) Perhatian lemah
g) Lapang persepsi menurun
h) Takut akibat yang tidak khas
i)

Cenderung menyalahkan orang lain

j)

Sukar berkonsentrasi

k) Kemampuan berkurang dalam memecahkan masalah dan belajar


l)

Kewaspadaan terhadap gejala fisiologis

IV. Diagnosa Keperawatan


1) Ansietas
2) Gangguan pola tidur
3) Harga diri rendah
4) Ketidakefektifan koping individu
V. Rencana tindakan keperawatan
A. Tindakan keperawatan untuk pasien :
1) Membina hubungan saling percaya
2) Menyebutkan penyebab ansietas
3) Menyebutkan situasi yang menyertai ansietas
4) Menyebutkan perilaku terkait ansietas
5) Melakukan teknik pengalihan situasi
6) Melakukan teknik tarik nafas dalam
7) Melakukan teknik relaksasi otot
8) Melakukan teknik lima jari
B. Tindakan dan peran keluarga :
1) Menyebutkan pengertian ansietas
2) Menyebutkan tanda dan gejala ansietas
3) Menyebutkan penyebab ansietas
4) Menyebutkan latihan relaksasi
5) Melatih pasien teknik pengalihan situasi
6) Melatih pasien teknik tarik nafas dalam
7) Melatih pasien teknik relaksasi otot
8) Melatih pasien teknik hipnotis lima jari
9) Menyebutkan perilaku pada pasien yang perlu segera dirujuk
10) Menyebutkan cara merujuk
ANALISA DATA
DATA
1). DO: perubahan

POHON MASALAH
Ansietas

MASALAH
KEPERAWATAN
Ansietas

TTV
DS: - klien

Akumulasi stressor

mengatakan
bahwa klien

Koping maladaptive

cemas dan
bingung
1). DO: perubahan

stressor
Gang.Pola Tidur

Gang.Pola Tidur

TTV
DS: -keluarga dan

Persepsi negative

klien mengatakan

terhadap masalah

bahwa klien sukar


tidur dan sering

HDR

menangis
Menarik diri dari
lingkungan
Ansietas
Akumulasi stressor
Koping maladaptive

DO:

afek

emosinya

dan

stressor
HDR

Harga Diri Rendah

sedih,

merasa tidak berguna


DS: klien mengeluh

Menarik diri dari


lingkungan

merasa dirinya
tidak berarti,

Ansietas

menjadi seorang
ibu dan istri

Akumulasi stressor
Koping maladaptive

DO:terlihat menangis

stressor
Koping maladaptive

Ketidakefektifan

koping

DS: Klien mudah sedih

individu

dan muah

stressor

menangis, merasa
lemah

INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnose
Ansietas

1. Bina

Intervensi
hubungan

Rasional
saling 1. Memberikan rasa aman

percaya

dan

Tujuan: setelah

Mengucapkan salam

dilakukan

Berjabat tangan

tindakan

Menjelaskan tujuan interaksi

keperawatan

Membuat kontrak topik,


waktu dan tempat setiap

klien dapat

kali bertemu pasien

ansietas yang
dialami.

2. Bantu

saat

berinteraksi.

selama 4x24 jam,


mengatasi

kenyamanan

untuk 2.

klien

Membantu klien untuk


mengenali penyebab dari

mengenal ansietas

ansietas.

Bantu pasien untuk


mengidentifikasi dan

Kriteria hasil:

menguraikan

Klien mampu

perasaannya.

mengenal

Bantu klien menjelaskan

ansietas.

situasi yang menimbulkan

Klien mampu

ansietas

mengatasi

Bantu klien menyadari

ansietas melalui

perilaku penyebab

teknik relaksasi.

ansietas

Klien mampu
memperagakan

3. Ajarkan

pasien

teknik 3.

mengurangi

relaksasi

dan

Pengalihan situasi

menggunakan

Latihan relaksasi (napas


dalam, mengerutkan dan

untu mengatasi

mengendurkan otot-otot)

Klien tampak

4. Motivasi

ansietas

yang di alami klien.

teknik relaksasi
ansietas.

Teknik relaksasi dapat

pasien 4.

melakukan teknik relaksasi

Teknik relaksasi dapat


mengurangi

ansietas

tenang, tidak

setiap ansietas muncul

yang di alami klien.

binggung, tidak
gelisah.
TTV dalam batas
normal
Gangguan

Pola

Tidur

Tindakan untuk pasien


1.

Tujuan : Setelah

Bersama

pasien

1.

Digunakan

mengidentifikasi penyebab

acuan

gangguan pola tidur

intervensi

untuk

di lakukan asuhan

selanjutnya

keperawatan

pakai.

selama 2x24 jam


pola tidur klien

2.

Diskusikan
untuk

tidak

-Klien

mampu

hangat

tenang dan rileks

sebelum tidur

c. Hindarkan minum yang

penyebab

coca cola

tidur

akan dapat memulai tidur


dengan perasaan yang

mengandung kafein dan

pola

di

pada klien sehingga klien

mengidentifikasi
gangguan

akan

memberikan efek rileks

b. Minum air hangat/susu


:

yang

memenuhi

siang hari

Kriteria Hasil

apa

2. Cara-cara tersebut dapat

a. Kurangi tidur pada

gangguan

memilih

cara-cara

kebutuhan tidur:

mengalami

sebagai

d. Mandi air hangat


sebelum tidur

Klien

mampu

memenihi
kebutuhan

e. Dengarkan music
yang lembut sebelum tidur
3. Anjurkan pasien untuk

3. Memberikan pada klien

istirahat dan tidur

memilih cara yang sesuai

kesempatan

Keluarga

dengan kebutuhannya

menentukan pilihan untuk

mengidentifikasi
gejala

untuk

kebutuhannya sendiri

gangguan

pola tidur

4. Berikan pujian jika klien

Keluarga

memilih cara yang tepat

memberikan

membantu pasien

untuk

pada klien

untuk

kebutuhan tidurnya.

memenuhi

memenuhi

kebutuhan tidur
Tindakan untuk Keluarga:

4. Pujian di gunakan untuk


motivasi

1.Diskusikan
keluarga

dengan
tentang

tanda

1.

Melibatkan

keluarga

dalam pencegahan dini

dan gejala gangguan pola

atau

tidur.

gangguan pola tidur.

2. Anjurkan keluarga untuk


menciptakan

lingkungan

perawatan

dari

2. Memfasilitasi agar pasien


dapat tidur

yang tenang.
3.

Jika

lansia

mendapat

terapi

pengobatan

3.Penting ketika klien akan


di rencanakan pulang

jelaskan pada keluarga :


a. Prinsip lima benar
minum obat

(benar obat,

pasien,cara,dosis

dan

waktu).
b.

Pentingnya

penggunaan obat sesuai


anjuran dokter
c. Akibat bila obat tidak di
gunakan sesuai program
d. Jelaskan efek samping
obat dan hal-hal untuk
menghindari efek samping
e.

Jelaskan

mendapatkan
Harga Diri Rendah

cara

obat

atau

berobat
SP HDR Pasien 1

SP HDR Pasien 1

1Identifikasi kemampuan dan

Aspek positif baik secara

Tujuan : setelah

aspek positif yang dimiliki

psikis maupun fisik dapat

dilakukan

pasien

dijadikan acuan untuk

tindakan

2Bantu

pasien

menilai

membuat individu

keperawatan 3x24

kemampuan pasien yang

memulai memikirkan

jam klien memiliki

dapat digunakan

bahwa sebenarnya

harga
baik

diri

yang 3Bantu

pasien

memilih

kegiatan yang akan dilatih


sesuai

dengan

dirinya mampu dan bisa


berubah

Kriteria Hasil :
Klien

kemampuan pasien

dapat 4Latih

mengdentifikasi

pasien

sesuai

kemampuan yang dipilih

aspek positif yang 5Berikan pujian yang wajar


dimiliki

terhadap

Klien

dapat

menilai

keberhasilan

pasien
6Anjurkan

pasien

kemampuannya

memasukkan

sendiri

jadwal kegiatan

Klien
berlatih

dalam

dapat
sesuai

dengan
kemampuan yang
dimiliki

SP HDR Pasien 2
1Evaluasi

jadwal

SP HDR Pasien 2
kegiatan

harian pasien

Penggalian dan pelatihan


pada kemampuan klien

2Latih kemampuan kedua

yang lain akan membuat

3Anjurkan

pasien

klien semakin berfikir

dalam

positif tentang dirinya

memasukkan

jadwal kegiatan harian


Ketidakefektifan
koping

1. Kaji status koping yang 1. Mengetahui status koping


digunakan oleh klien

klien

Tentukan kapan mulai terjadi

dan

digunakan

Tujuan: setelah

perasaan, gejala,

menentukan

dilakukan

korelasinya dengan

selanjutnya.

tindakan

peristiwa dan

keperawatan

perubahannya.

selama 4x24 jam,

dapat
untuk
tindakan

Dengarkan dengan cermat

klien dapat

dan amati ekspresi wajah,

melakukan koping

gerakan tubuh, kontak

yang efektif

mata, posisi tubuh,


intonasi dan intensitas

Kriteria hasil:
Klien mampu

suara.
2. Berikan

dukungan

mengenal koping

klien

individu tidak

perasaannya.

efektif.
Klien mampu

jika 2. Meningkatkan

mengungkapkan

Jelaskan bahwa perasaanperasaan yang dimilikinya

percaya

diri

rasa
klien

sehingga tidak pesimis


terhadap kejadian yang
dialami klien.

mengatasi koping

memang sulit. Jika klien

individu tidak

menjadi pesimis,

efektif.

upayakan untuk lebih

Klien mampu

memberikan harapan

memperagakan

pandangan realistis

dan

3. Motivasi untuk melakukan 3. Meningkatkan

menggunakan

evaluasi dari perilakunya

percaya

koping yang

sendiri.

sehingga tidak pesimis

kostruktif untuk
mengatasi
ansietas.
Jika di ajak bicara
dapat berespon
dengan baik (tidak
diam)

Apakah hal tersebut berguna


bagi Anda.

diri

rasa
klien

terhadap kejadian yang


dialami klien.

Bagaimana hal tersebut


dapat membantu
Apa yang Anda pelajari dari
pengalaman itu.
4. Bantu

klien

memecahkan
dengan

untuk 4. Mendorong klien untuk


masalah

cara

yang

konstruktif
Apa yang menjadi masalah.
Gali cara pasien mengurangi
ansietas di masa lalu.
Dorong pasien untuk
menggunakan respon
koping adaptif yang
dimilikinya.
5. Ajarkan alternative koping
yang konstruktif
Bicara dengan orang lain.
Melakukan aktivitas yang
bermanfaat.
Olahraga.
6. Bantu pasien melakukan
kegiatan yang menarik.
Beri pasien aktifitas yang
bersifat mendukung dan

melakukan koping yang


efektif.

menguatkan perilaku
social yang produktif.

DAFTAR PUSTAKA
Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino
Gondoutomo. 2003
Tim Direktorat Keswa. Standart asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1.
Bandung: RSJP.2000
Direja. S. H, Ade. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta. Nuha Medika
Damaiyanti, Mukhripah & Iskandar. 2012. Asuhan Keperatan Jiwa. Gunarsa, Aep
(ed). Bandung : PT Refika Aditama
Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 5. Jakarta : EGC
Yosep, Iyus. 2011. Keperawatan Jiwa edisi revisi. Bandung : PT Refika Aditama