Anda di halaman 1dari 3

1. Efek samping OAT (Isoniazid dan Rifampisin)?

(Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak, IDAI 2008)


2. Efek samping antibiotik Eritromycin?
Eritromisin merupakan golongan makrolid menghambat sintesis protein kuman dengan
jalan berikatan secara reversibel dengan ribosom sub unit 50S dan umumnya bersifat
bakteriostatik walaupun terkadang dapat bersifat bakterisidal untuk kuman yang sangat
peka.
Eritromisin memiliki spektrum antibakteri yang mirip dengan penisilin, sehingga obat ini
digunakan sebagai alternatif pada pasien yang alergi terhadap penisilin. Eritromisin
menyebabkan mual, muntah dan diare pada beberapa pasien.
Dalam penggunaan antibiotik diperlukan monitoring efektivitas maupun efek samping,
yakni :
- Monitoring
1) Dokter, apoteker dan spesialis mikrobiologi klinik melakukan pemantauan
terapi antibiotik setiap 48-72 jam, dengan memperhatikan kondisi klinis pasien
dan data penunjang yang ada.

2) Apabila setelah pemberian antibiotik selama 72 jam tidak ada perbaikan kondisi
klinis pasien, maka perlu dilakukan evaluasi ulang tentang diagnosis klinis
pasien, dan dapat dilakukan diskusi dengan Tim PPRA Rumah Sakit untuk
-

mencarikan solusi masalah tersebut.


Monitoring efek samping/Adverse Drug Reactions (ESO/ADRs)
Efek samping/ADRs akibat penggunaan antibiotik yang perlu diwaspadai seperti syok
anafilaksis, Steven Johnsons Syndrome atau toxic epidermal necrolysis (TEN).
Antibiotik yang perlu diwaspadai penggunaannya terkait kemungkinan terjadinya
Steven Johnsons Syndrome atau Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) adalah golongan
sulfonamid (kotrimoksazol), penisilin/ampisilin, sefalosporin, kuinolon, rifampisin,
tetrasiklin dan eritromisin.
(Pedoman Penggunaan Antibiotik, Kemenkes 2011)

3. Cara melakukan pemeriksaan hepar?


Untuk melakukan pengukuran besarnya hepar, digunakan 2 patokan garis, yakni :
1. Garis yang menghubungkan pusat dengan titik potong garis midklavikularis kanan
dengan arkus kosta
2. Garis yang menghubungkan pusat dengan prosesus xifoideus
Pembesaran hepar diproyeksikan pada kedua garis ini dan dinyatakan dengan berapa
bagian dari kedua garis tersebut.
Dalam keadaan normal anak Indonesia sampai umur 5-6 tahun hepar masih dapat teraba
sampai berukuran 1/3-1/3 dengan tepi tajam, konsistensi kenyal, permukaan rata dan
tidak terdapat nyeri tekan. Pembesaran hati (hepatomegali) terdapat pada berbagai
keadaan, diantaranya pada penyakit infeksi (misalnya hepatitis, sepsis), anemia misalnya
anemia sikle, talasemia, penyumbatan saluran empedu dan sebagainya.
(Latief, Abdul et al. Diagnosis Fisik pada Anak. Jakarta. Sagung Seto : 2009)
4. Cara melakukan pemeriksaan lien?
Besarnya limpa diukur menurut cara Schuffner. Jarak maksimum dari pusat ke garis
singgung pada arkus kosta kiri dibagi menjadi 4 bagian yang sama. Garis ini diteruskan
ke bawah sehingga memotong lipat paha, garis dari pusat ke lipat paha ini pun dibagi
menjadi 4 bagian yang sama. Pembesaran limpa dinyatakan dengan memproyeksikannya

ke dalam bagian bagian ini. Limpa yang membesar sampai pusat dinyatakan sebagai
schuffner IV, sampai lipat paha schuffner VIII.
Splenomegali terdapat pada berbagai penyakit infeksi misalnya sepsis, demam tifoid,
malaria atau toksoplasmosis.
(Latief, Abdul et al. Diagnosis Fisik pada Anak. Jakarta. Sagung Seto : 2009)