Anda di halaman 1dari 7

BLOK BASIC MEDICAL SCIENCE-2

RESUME
SMALL GROUP DISCUSSION (SGD)
PERUBAHAN METABOLISME PUASA & KELAPARAN

Tutor/ Pembimbing :
drg.

Disusun Oleh :
Citra Veony Finastika
G1G012034

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO
2013

PERUBAHAN METABOLISME PUASA & KELAPARAN

A.

Metabolisme Sumber Energi dan Keseimbangan Energi dalam


Kondisi Normal
Menurut Waugh dan Grant (2003) dalam Fauziyati (2008), tubuh
membutuhkan energi untuk mendukung aktivitas internal maupun eksternal.
Sumber energi dapat diperoleh dari makanan yang mengandung karbohidrat,
lemak, dan protein. Makanan yang normal memiliki proporsi kandungan
karbohidrat sebesar 55-75%, lemak sebesar 15-30%, dan protein sebesar 1015%.
Menurut Sherwood, (2001), bahan makanan tersebut akan dipecah
menjadi molekul yang lebih sederhana. Selanjutnya, setengah energi di dalam
molekul nutrien tersebut akan disimpan dalam bentuk ATP. Sedangkan
setengah lainnya akan segera dimetabolisme menjadi energi panas.
Menurut Ganong, (2008), energi yang dihasilkan untuk tiap 1 gram
karbohidrat yang dioksidasi adalah sebesar 4,1 kkal/ gram. Sementara
oksidasi lemak menghasilkan 9,3 kkal/ gram dan oksidasi protein
menghasilkan 4,1 kkal/ gram. Energi yang dihasilkan akan digunakan untuk
kebutuhan kerja tubuh melalui proses metabolisme terlebih dahulu.
Menurut Ganong, (2008), karbohidrat dalam sirkulasi darah diedarkan
dalam bentuk glukosa. Glukosa menjadi sumber energi utama untuk sebagian
besar sel, terutama otak. Metabolisme karbohidrat berlangsung di dalam sel.
Glukosa akan difosfolirasi menjadi glukosa-6-fosfat dengan katalis enzim
heksokinase. Selain enzim tersebut, di dalam hati juga terdapat enzim
glukokinase. Selanjutnya glukosa-6-fosfat dipolimerisasi menjadi glikogen
atau dikatabolisasi. Proses ini disebut dengan glikogenesis. Glikogen
disimpan di dalam hati dan otot. Cadangan glikogen ini hanya cukup untuk
mencukupi kebutuhan energi kurang dari satu hari. Glikogen yang disimpan
akan dipecah menjadi glukosa melalui proses glikogenolisis. Kemudian,
glukosa yang terbentuk akan dikatabolisme kembali menjadi asam piruvat
atau laktat (atau keduanya) melalui proses glikolisis. Katabolisme glukosa
terjadi melalui jalur Embden-Meyerhoff dan jalur oksidatif langsung. Pada
jalur Embden-Meyerhoff glukosa akan diubah menjadi piruvat melalui

pemecahan fruktosa menjadi triosa. Sedangkan, pada jalur oksidatif langsung


glukosa akan diubah menjadi piruvat melalui oksidasi atau dekarboksilasi
menjadi pentosa. Piruvat akan diubah menjadi asetil-koA. Disamping itu,
pembentukan glukosa juga dapat dilakukan dari molekul nonglukosa, seperti
laktat, gliserol, dan asam amino. Proses ini disebut dengan glukoneogenesis.
Menurut Fauziyati, (2008), lemak beredar dalam darah dalam bentuk
asam lemak bebas dan disimpan dalam bentuk trigliserid pada jaringan
adiposa. Lemak yang disimpan dalam tubuh dapat memenuhi kebutuhan
energi hingga dua bulan. Oleh karena itu, lemak merupakan cadangan energi
utama dan sumber energi saat berpuasa. Ganong, (2008) menambahkan,
lemak plasma tidak larut dalam air, untuk itu diangkut dalam bentuk
kompleks lipoprotein. Metabolisme lipoprotein melalui dua jalur, yaitu jalur
eksogen dan endogen. Pada jalur eksogen diawali dari penyerapan kolesterol
dan trigliserid dalam usus oleh kilomikron. Kilomikron dibersihkan dari
sirkulasi oleh kerja lipoprotein lipase (LPL) pada permukaan endotel kapiler.
LPL mengatalisis pemecahan trigliserid menjadi FFA (free fatty acids) dan
gliserol. FFA dapat disimpan di dalam otot dalam bentuk trigliserid kembali.
Selain itu, kilomikron yang kehabisan trigliserid akan tetap berada dalam
sirkulasi sebagai sisa kilomikron. Sisa ini akan dibawa ke hati dan segera
diinternalisasi melalui proses endositosis berperantara sel. Pada jalur
endogen, trigliserid akan dibawa oleh VLDL (very low density lipoprotein)
dari hati ke sirkulasi. Selanjutnya akan diubah menjadi IDL (intermediate
density lipoprotein) kemudian berubah menjadi LDL (low density
lipoprotein). LDL akan disalurkan ke jaringan perifer berupa kolesterol.
Menurut Fauziyati, (2008), protein akan diedarkan dalam darah dalam
bentuk asam amino dan disimpan dalam bentuk protein tubuh terutama oleh
otot skelet. Cadangan energi protein tidak begitu besar, sehingga apabila
dipaksakan digunakan maka dapat menyebabkan gangguan fungsi dan
struktural tubuh. Protein dapat digunakan sebagai cadangan energi terakhir
apabila tidak ada lagi asupan dan cadangan karbohidrat, serta lemak. Ganong
(2008), menambahkan, metabolisme asam amino dalam tubuh terjadi dengan
pembentukan depot asam amino dari pemecahan protein endogen yang
berasal dari makanan. Di ginjal, asam amino akan difiltrasi dan direabsorpsi.

Sementara itu, sejumlah kecil protein akan hilang sebagai rambut, urin, dan
protein sekresi pencernaan yang tidak direabsorpsi akan dikeluarkan bersama
tinja, serta sebagai darah haid pada wanita.
Guyton dan Hall, (2007), pemakaian protein unuk energi dimulai dengan
proses deaminasi. Deaminasi merupakan proses pengeluaran gugus amino
dari asam amino. Gugus amino dari asam amino ditransfer ke asam ketoglutarat menjadi asam glutamat. Asam glutamat akan mentransfer gugus
asam amino ke zat lainnya atau melepaskannya dalam bentuk amonia (NH 3).
Dalam proses ini, asam glutamat akan kembali lagi menjadi asam ketoglutarat, sehingga siklus terjadi secara berulang-ulang. Amonia yang
dikeluarkan dari darah akan diubah menjadi ureum. Selanjutnya, ureum akan
berdifusi dari sel hati ke cairan tubuh dan dieksresikan oleh ginjal. Sementara
itu, setelah asam amino dideaminasi, asam keto yang dihasilkan dapat
dioksidasi untuk melepaskan energi melalui siklus asam sitrat.
Menurut Sherwood, (2001), energi yang dihasilkan dari metabolisme di
dalam tubuh akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pada kondisi basal
(basal metabolic rate) dan pada saat beraktivitas. Terdapat tiga kemungkinan
status keseimbangan energi, yaitu
1. Keseimbangan Energi Netral
Terjadi apabila jumlah energi yang dimasukkan melalui makanan sama
dengan jumlah energi yang dikeluarkan oleh otot untuk kerja eksternal
ditambah pengeluaran energi basal dalam bentuk panas tubuh, sehingga berat
badan akan tetap konstan.
2. Keseimbangan Energi Positif
Terjadi apabila jumlah energi yang dimasukkan melalui makanan lebih
besar dari jumlah energi yang dikeluarkan melalui kerja eksternal dan
internal. Tambahan energi yang masuk akan disimpan dalam tubuh, sehingga
berat badan akan meningkat.
3. Keseimbangan Energi Negatif
Terjadi apabila jumlah energi yang dimasukkan lebih kecil dari jumlah
energi yang dikeluarkan. Tubuh harus memecah simpanan energi untuk
kebutuhan tubuh, sehingga berat badan akan menurun.
B. Adaptasi Fisiologis Terkait Kebutuhan Energi Saat Puasa

Menurut Guyton dan Hall (2007) dalam Fauziyati (2008), sumber energi
dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya sesuai dengan kebutuhan
dengan bantuan sistem saraf dan endokrin. Asupan makanan bersifat
intermiten, tergantung pada siklus makan. Sesaat setelah makan terjadi fase
absorbsi. Pada fase ini, apabila terdapat kelebihan energi maka akan disimpan
dalam bentuk glikogen dan trigliserid. Sedangkan pada puasa, terjadi fase
paska absorbsi selama beberapa jam. Pada fase ini, simpanan energi akan
disalurkan untuk menghasilkan energi melalui gikogenolisis, lipolisis, dan
glukoneogenesis. Glikogen akan cukup untuk memenuhi kebutuhan energi
selama 10-12 jam, setelah itu akan digantikan dengan lipolisis menjadi asam
lemak dan gliserol melalui siklus Krebs.
Menurut Guyton dan Hall, (2007), pada saat berpuasa, tubuh sebenarnya
memberikan sinyal lapar dan rangsangan untuk makan. Karena kesadaran
seseorang, akhirnya rasa lapar akan ditahan dengan terjadi adaptasi terhadap
kekurangan sumber energi agar tetap tercapai keseimbangan energi. Hal ini
diatur oleh hormon insulin dan glukagon. Kerja insulin pada karbohidrat yaitu
membantu masuknya glukosa ke dalam sel, merangsang glikogenesis,
mencegah glikolisis dan glukoneogenesis. Pada lemak, insulin akan bekerja
untuk meningkatkan masuknya glukosa ke sel lemak sebagai prekusor sintesis
trigliserid, meningkatkan sintesis trigliserid, dan menghambat lipolisis. Selain
itu, pada protein, lemak akan berfungsi untuk meningkatkan masuknya asam
amino ke dalam otot dan jaringan lain, meningkatkan sintesis protein dalam
sel otot, dan mencegah degradasi protein. Sedangkan glukagon, akan bekerja
sebaliknya terhadap insulin. Sehingga pada kondisi berpuasa, glukagon akan
meningkatkan glukosa dalam darah melalui glikogenolisis, lipolisis, dan
glukoneogenesis. Fauziyati, (2008), menambahkan, pada saat puasa juga
terjadi peningkatan aktivitas hormon dan enzim lain untuk menjaga
keseimbangan energi. Beberapa diantaranya seperti kortisol, grhelin, growth
hormon, dan enzim yang memacu glukoneogenesis.
C. Adaptasi Fisiologis Terkait Kebutuhan Energi Saat Kelaparan
Menurut Guyton dan Hall, (2007), pada saat kelaparan terjadi penyusutan
cadangan makanan dalam jaringan tubuh. Pada beberapa jam pertama saat
kelaparan, terjadi penyusutan progresif jaringan lemak dan protein. Lemak

akan terus menurun drastis hingga benar-benar hilang apabila kelaparan


terjadi dalam jangka panjang. Sedangkan protein akan mengalami penyusutan
melalui tiga fase, yaitu
1. Penyusutan Fase Cepat
Penyusutan fase cepat awal terjadi karena penggunaan protein yang
mudah disalurkan dalam metabolisme secara langsung atau untuk diubah
menjadi glukosa.
2. Penyusutan Fase Sangat Lambat
Penyusutan fase sangat lambat terjadi apabila cadangan protein yang
mudah disalurkan untuk metabolisme langsung berkurang, sehingga sisa
protein sulit untuk dikeluarkan. Hal ini menyebabkan glukoneogenesis
menurun dan penyusutan protein berjalan sangat lambat. Akibatnya,
persediaan glukosa sangat sedikit dan memicu terjadinya pemecahan lemak,
serta pengubahan menjadi benda keton. Proses ini menghasilkan kondisi
ketosis.
3. Penyusutan Fase Sangat Cepat
Penyusutan fase sangat cepat terjadi apabila cadangan lemak hampir
telah mengalami penyusutan seluruhnya. Energi yang tersisa hanya protein.
Apabila protein telah menyusut sangat drastis hingga setengah kadar normal,
maka akan terjadi kematian.

Daftar Pustaka
Fauziyati, A., 2008, Adaptasi Fisiologis Selama Puasa, Jurnal Logika FK UII.
5(1): 32-35.
Ganong, W. F., 2008, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22, EGC, Jakarta.
Guyton, A. C., dan Hall, J. E., 2012, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi
11, EGC, Jakarta.
Sherwood, L, 2001, Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem, EGC, Jakarta.