Anda di halaman 1dari 73

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja dalam masa perkembangannya terjadi perubahan, baik secara
biologis, psikologis maupun sosial, yang umumnya pematangan fisik
terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan atau psikososial
(Depkes RI, 2000). Perubahan alamiah dalam diri remaja sering berdampak
pada

permasalahan

remaja

yang

cukup

serius.

Triswan

(2007)

mengemukakan perilaku remaja saat ini sudah sangat mengkhawatirkan,


hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya kasus-kasus seperti aborsi,
kehamilan tidak diinginkan (KTD), dan penyakit menular seksual (PMS)
termasuk HIV/AIDS di kelompok remaja.
Remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar tetapi kurang
mempertimbangkan akibat dan suka mencoba hal-hal baru. Bila tidak
diberikan informasi/pelayanan yang tepat dan benar, maka perilaku remaja
sering mengarah kepada perilaku yang berisiko, seperti masalah tumbuh
kembang (perubahan fisik dan psikososial), masalah gizi remaja (anemia
kurang darah, KEK, obesitas), penyalahgunaan NAPZA (Narkotika,
Psikotropika dan Zat Aditif lainnya), infeksi menular seksual (IMS),
HIV/AIDS, dan perilaku seksual yang tidak sesuai norma-norma yang
berlaku.
Masa remaja, dianggap sebagai masa topan badai dan stress (storm
and stress), karena telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib

diri sendiri. Disinilah peran penting keluarga dalam membimbing dan


mengarahkan remaja menuju masa depan yang cerah.
Masa remaja adalah suatu masa transisi antara masa anak anak dan
dewasa, masa dimana terjadi perubahan - perubahan fisik, mental dan
psikologis secara drastis. Karena perubahan perubahan seperti inilah
masa remaja sering disebut sebagai suatu masa kritis.
Keluarga sering menjadi sorotan utama bila remaja bermasalah.
Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri karena remaja itu sendiri merupakan
bagian dari keluarga. Peran kelurga dalam membina dan mengatasi masalah
remaja amatlah diperlukan. Perawatan kesehatan pada remaja sebagai
bagian dari perawatan kesehatan keluarga, juga merupakan suatu upaya
dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh remaja . Pendekatan
pada keluarga, diharapkan mampu untuk mengenal masalah masalah
yang terjadi pada keluarga khususnya masalah yang terjadi pada remaja,
sehingga permasalahan yang ada dapat diatas secara efektif.
Keperawatan keluarga merupakan salah satu area spesialisasi didalam
keperawatan yang berfokus kepada keluarga sebagai target layanan dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan kepada keluarga dan
anggota dalam situasi sehat sakit.
Salah satu tujuan perawatan keluarga adalah memberikan pelayanan
kepada keluarga untuk mencapai sehat yang optimal, keluarga disini adalah
dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu

rumah tangga, berinteraksi satu sama lain didalam peranannya masingmasing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan (Bailan
& maglaya, 1978).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga pada anak
remaja dengan menggunakan pendekatan proses asuhan keperawatan
dan model konseptual Friedman.
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan gambaran tentang konsep keluarga, konsep anak
remaja, konsep asuhan keperawatan keluarga dan konseptual model
keperawatan Friedman.
b. Mampu melakukan pengkajian keperawatan keluarga pada keluarga
dengan tahap anak remaja.
c. Mampu menentukan diagnosa keperawatan keluarga dengan tahap
anak remaja pada tingkatan atau level III atau IV dan
mengintegrasikan dengan model Friedman.
d. Mampu membuat perencanaan tindakan keperawatan keluarga
dengan tahap anak remaja pada tingkatan atau level III atau IV dan
mengintegrasikan dengan model Friedman.
e. Mampu menganalisis antara teori (konsep) dengan kasus keluarga
pada tahapan perkembangan keluarga dengan anak remaja.
f. Mampu memberikan rekomendasi terhadap asuhan yang dibuat.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A.

Konsep Dasar Keperawatan Keluarga


1. Pengertian
Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan kumpulan dari
beberapa komponen yang saling berinteraksi satu dengan lainnya
(Logans, 2004). Keluarga adalah sebagaimana sebuah kesatuan yang
komplek dengan atribut yang dimiliki tetapi terdiri dari beberapa
komponen yang masing-masing mempunyai sebagaimana individu
( Illis, 2004 ). Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua
orang atau lebih masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan
yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, dan nenek. (Raisner, 2009).
Duvall (1986, dalam Ali, 2009 ), menguraikan bahwa keluarga adalah
sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang
bertujuan

untuk

menciptakan,

mempertahankan

budaya

dan

meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari


setiap anggota keluarga.
Istilah keluarga akan menghadirkan gambaran adanya individu
dewasa dan anak yang hidup bersama secara harmonis dan memuaskan.
Keluarga bukan sekedar gabungan dan jumlah dari beberapa individual.
Keluarga memiliki keragaman seperti anggota individunya dan klien
memiliki nilai nilai tersendiri mengenai keluarganya yang harus
dihormati.

Keluarga

sebagai

suatu

kelompok

hubungan

yang

indentifikasi klien sebagai keluarga atau jaringan individu yang

mempengaruhi kehidupan masing masing tanpa melihat adanya


hubungan biologis atau pun hukum (Perry, 2009, hal 202).
Menurut (Friedman, 1998), membuat defenisi yang berorientasi
pada tradisi dan digunakan sebagai referensi secara luas :
a. Keluarga terdiri dari orang orang yang disatukan oleh ikatan
perkawinan, darah dan ikatan adopsi.
b. Para anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama sama dalam
satu rumah, atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap
menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumah mereka.
c. Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain
dalam peran peran sosial keluarga seperti suami-istri, ayah dan
ibu, anak laki laki dan anak perempuan, saudara dan saudari.
d. Keluarga sama sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur
yang diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri.
2. Tipe Keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari
berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial
maka tipe keluarga berkembang mengikuti. Agar dapat mengupayakan
peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka
perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga (Suprajitno, 2004).
Menurut (Friedman, 2009), adapun tipe keluarga sebagai berikut :
a. Tipe keluarga tradisional
1) Keluarga Inti (The nuclear family)
Keluarga yang terdiri dari suami istri dan anak (kandung atau
angkat).
2) Keluarga Dyad
Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
3) Single Parent
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak (kandung atau
angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.

4) Single adult living alone


Suatu rumah tangga yang terdiri dari 1 orang dewasa hidup sendiri.
5) The childless
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah, bisa disebabkan
karena mengejar karir atau pendidikan.
6) Keluarga Besar (The extended family)
Keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain,
seperti paman, bibi, kakek, nenek dan lain-lain.
7) Commuter family
Kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada hari
minggu atau hari libur saja.
8) Multi generation
Beberapa generasi atau kelompok umum yang tinggal bersama
dalam 1 rumah.
9) Kin-network family
Beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan
menggunakan barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang
sama.
10) Blended family
Keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak
dari perkawinan sebelumnya.
11) Keluarga usila
Keluarga terdiri dari suami dan istri yang ssudah usia lanjut,
sedangkan anak sudah memisahkan diri.
b. Tipe keluarga non tradisional
1) Keluarga Orang Tua Tunggal Tanpa Menikah (The unmerrid
teenage mother).
Keluarga yang terdiri dari 1 orang dewasa terutama ibu dan anak
dari hubungan tanpa nikah.
2) The step parents family
Keluarga dengan orang tua tiri.
3) Commune family
Keluarga yang terdiri dari lebih dari satu paangan monogami yang
menggunakan fasilitas secara bersama.
4) The nonmarrital hetero seksual cohabiting family

Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa nikah.


5) Keluarga Homoseksual (Gay and lesbian family)
Seorang yang mempunyai persamaan seks tinggal dalam 1 rumah
sebagaimana pasangan suami istri.
6) Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena
alasan tertentu.
7) Group marriage family
Beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah berbagi
sesuatu termasuk seks dan membesarkan anak.
8) Group nertwork family
Beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan, hidup
berdekatan dan saling menggunakan barang yang sama dan
bertanggung jawab membesarkan anak.
9) Foster family
Keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan saudara
untuk waktu sementara.
10) Home less family
Keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena
keadaan ekonomi atau problem kesehatan mental.
11) Gang
Keluarga yang dekstruktif dari orang-orang muda yang mencari
ikatan emosional, berkembang dalam kekerasan dan kriminal.
3. Fungsi Keluarga
Menurut (Friedman, 2009), mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga
yaitu :
a. Fungsi afektif
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang
merupakan basis kekuatan keluarga. Berguna untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif
tampak pada kebahagian dan kegembiraan dari seluruh anggota

keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang


positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangan melalui interaksi
dan hubungan dalam kelurga. Dengan demikian kelurga yang
berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat
mengembangkan konsep diri yang positif. Komponen yang perlu
dipenuhi oleh keluarga dalam fungsi afektif adalah :
1) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima,
saling mendukung antar anggota keluarga. Setiap anggota yang
mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari anggota yang lain
maka kemampuan untuk memberikan kasih sayang akan
maningkat yang pada akhirnya tercipta hubungan yang hangat
dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga
merupakan modal dasar memberi hubungan dengan orang lain
diliat keluarga atau masyarakat.
2) Saling menghargai bila anggota keluarga saling menghargai dan
mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta
selalu mempertahankan iklim yang positif maka fungsi afektif
akan tercapai.
3) Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan sepakat
memulai hidup baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan
melalui proses identifikasi dan penyesuian pada berbagai aspek
kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus mengemban proses
identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat meniru
perilaku yang positif tersebut.

Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan


kabahagian keluarga keretakan keluarga. Keretakan keluarga,
kenakalan anak atau masalah kelurga timbul karena fungsi afektif
keluarga tidak terpenuhi.
b. Fungsi sosialisasi
Individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar
berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak lahir,
keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi.
Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui
interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan
dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar normanorma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan
keluarga.
c. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah
sumber daya manusia.
d. Fungsi ekonomi
Keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang seperti
kebutuhan makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan
kesehatan yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan
merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga
memberikan asuahan kesehatan mempengaruhi status kesehatan
keluarga.

Kesanggupan

kelurga

melaksanakan

pemeliharaan

kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang


dilaksanakan.

Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut :


1) Mengenal masalah.
2) Membuat keputusan tindakan yang tepat.
3) Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
4) Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
5) Mempertahankan hubungan dengan fasilitas kesehatan
masyarakat.
4. Dimensi dasar struktur keluarga
Menurut (Friedman, 2009), struktur keluarga terdiri atas:
a. Pola dan proses komunikasi
Pola interaksi keluarga yang berfungsi:
1) Bersifat terbuka dan jujur.
2) Selalu menyelesaikan konflik keluraga.
3) Berfikir positif.
4) Tidak mengulang-ulang isu dan pendapatnya sendiri.
Karakteristik komunikasi keluarga yang berfungsi:
a) Karakteristik pengirim:
1) Yakin dalam mengemukakan pendapat.
2) Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas.
3) Selalu minta maaf dan menerima umpan balik.
b) Karakteristik penerima :
1) Siap mendengar.
2) Memberikan umpan balik.
3) Melakukan validasi.
b. Struktur peran
Peran adalah serangkaian prilaku yang diharapkan sesuai dengan
posisi sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau
status individu dalam masyarakat misalnya sebagai suami atau istri
atau anak.
c. Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan dalam (potensial atau aktual) dari
individu untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah
prilaku seseorang kearah positif. Tipe struktur kekuatan antara lain :
1) Legitimate power/authority
Hak untuk mengatur seperti orang tua pada anak.
2) Referent power
Seseorang yang ditiru.

3) Reword power
Pendapat ahli.
4) Coercive power
Dipaksakan sesuai keinginan.
5) Informational power
Pengaruh melalui persuasi.
6) Affectif power
Pengaruh melalui manipulasi cinta kasih.
d. Nilai nilai dalam keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara
sadar atau tidak, memepersatukan anggota keluarga dalam satu
budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman prilaku dan
pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan. Norma adalah
pola perilaku yang baik, menurut masyrakat bardasarkan sistem nilai
dalam keluarga. Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang
dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan tujuan untuk
menyelesaikan masalah.
5. Peran Perawat Keluarga
Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang
ditujukan pada keluarga sebagai unti pelayanan untuk mewujudkan
keluarga

sehat.

menyelesaikan

Fungsi
masalah

perawat
kesehatan

membantu
dengan

keluarga

cara

untuk

meningkatkan

kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan kesehatan


keluarga (Suprajitno, 2004). Peran perawat dalam melakukan perawatan
kesehatan keluarga adalah sebagai berikut (Suprajitno, 2004) :
a. Pendidik
Perawat perlu melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga
agar :
1) Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan secara
mandiri.
2) Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga

b. Koordinator
Koordinasi diperlukan pada perawatan agar pelayanan komperhensif
dapat dicapai. Koordianasi juga diperlukan untuk mengatur program
kegiatan atau terapi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi
tumpang tindih dan pengulangan.
c. Pelaksanaan
Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada klien dan
keluarga dengan menggunakan metode keperawatan.
d. Pengawas kesehatan
Sebagai pengawas kesehatan harus melaksanakan hime visit yang
teratur untuk mengidentifikasi dan melakukan pengkajian tentang
kesehatan keluarga.
e. Konsultan
Perawat sebagai narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah
kesehatAn. Rgar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat,
hubungan perawat dan klien harus terbina dengan baik , kemampuan
perawat dalam menyampaikan informasi yang disampaikan secara
terbuka dapat dipercaya.
f. Kolaborasi
Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan
anggota tim kesehatan lain untuk mencapai kesehatan keluarga yang
optimal.
g. Fasilisator
Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti masalah
sosial ekonomi, sehingga perawat harus mengetahui sistem
pelayanan kesehatan seperti rujukan dan penggunaan dana sehat.
h. Penemu kasus
Menemukan dan mengidentifikasi masalah secara dini di masyrakat
sehingga menghindari dari ledakan kasus atau wabah.
i. Modifikasi lingkungan

Mampu memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun


masyarakat agar tercipta lingkungan sehat.
6. Tingkat Pencegahan
Mengembangkan sebuah kerangka kerja, yang disebut sebagai tingkat
pencegahan,

yang

digunakan

untuk

menjelaskan

tujuan

dari

keperawatan keluarga. Tingkat pencegahan tersebut mencakup seluruh


spektrum kesehatan dan penyakit, juga tujuan tujuan yang sesuai
untuk masing masing tingkat. Leavell dkk. (1965, dalam Friedman,
1998). Ketiga tingkatan tersebut adalah adalah :
a. Pencegahan primer yang meliputi peningkatan kesehatan ddan
tindakan preventif khusus yang dirancang untuk menjaga orang
bebas dari penyakit dan cedera.
b. Pencegahan sekunder yang terdiri dari atas deteksi dini, diagnosa,
dan pengobatan.
c. Pencegahan tertier, yang mencakup tahap penyembuhan dan
rehabilitasi, dirancang untuk meminimalkan ketidakmampuan klien
dan memaksimalkan tingkat fungsinya.
Ketiga tingkat pencegahan itu, merupakan tujuan dari keperawatan
keluarga. Tujuan tujuan tersebut terdiri atas peningkatan,
pemeliharaan, pemulihan terhadap kesehatan ( Hanson, 1987 dalam
Friedman,

1998).

Peningkatan

kesehatan

merupakan

pokok

terpenting dari keperawatan keluarga. Akan tetapi, sudah tentu,


pendeteksian secara dini, diagnosa dan pengobatan merupakan
tujuan penting pula. Pencegahan tertier atau rehabilitasi dan
pemulihan kesehatan secara khusus menjadi tujuan yang penting
bagi keperawatan keluarga saat ini, mengingat perkembangan

keperawatan kesehatan dirumah dan pravelensi penyakit penyakit


kronis, serta ketidakberdayaan dikalangan lanjut usia yang
populasinya semakin meningkat dan cepat (Friedman, 1998).
B.
REMAJA
1. Pengertian Remaja
Remaja adalah periode perkembangan selama dimana individu
mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa,
biasanya antara usia 13 dan 20 tahun. Istilah adolesens biasanya
menunjukkan maturasi psikologis individu, ketika pubertas menunjukkan
titik dimana reproduksi mungkin dapat terjadi. Perubahan hormonal
pubertas mengakibatkan perubahan penampilan pada orang muda, dan
perkembangan mental mengakibatkan kemampuan untuk menghipotesis
dan berhadapan dengan abstraksi (Potter& Perry, 2005).
Masa remaja dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran. Bukan
saja kesukaran bagi individu, tetapi juga bagi orang tuanya, masyarakat
bahkan sering kali pada aparat keamanan. Hal ini disebabkan masa
remaja merupakan masa transisi antara kanak-kanak dan masa dewasa.
Masa transisi ini sering kali menghadapkan individu yang bersangkutan
kepada situasi yang membingungkan, disatu pihak ia masih kanak-kanak,
tetapi dilain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang dewasa
(Purwanto, 1999).
Menurut Purwanto (1999), tingkat-tingkat perkembangan dalam
masa remaja dapat dibagi dengan berbagai cara. Salah satu pembagian
yang dilakukan oleh Stolz adalah sebagai berikut:

a. Masa prapuber: satu atau dua tahun sebelum masa remaja yang
sesungguhnya. Anak menjadi gemuk, pertumbuhan tinggi badan
terhambat sementara.
b. Masa puber atau masa remaja: perubahan-perubahan sangat nyata dan
cepat. Dimana anak wanita lebih cepat memasuki masa ini dari pada
pria. Masa ini lamanya berkisar antara 2,5 3,5 tahun.
c. Masa postpuber: pertumbuhan yang cepat sudah berlalu, tetapi masih
nampak perubahan-perubahan tetap berlangsung pada beberapa
bagian badan.
d. Masa akhir puber: melanjutkan perkembangan sampai mencapai
tanda-tanda kedewasaan.
Sedangkan menurut Purwanto (1999), periode remaja adalah
periode yang dianggap sebagai masa yang amat penting dalam
kehidupan seseorang khususnya dalam perkembangan kepribadian
individu. Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu
berintegrasi dengan masyarakat dewasa, dimana usia anak tidak lagi
merasa di bawah tingkat orang orang yang lebih tua melainkan
berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam
masalah hak (Hurlock, 1998).
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak anak ke
masa dewasa, seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan
sebagai kanak-kanak namun masih belum cukup matang untuk dapat
dikatakan dewasa. Pada masa ini remaja relatif belum mencapai tahap
kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi
tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak
perubahan-perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangan yang

dialami remaja, mencakup fisik, mental, emosi dan perilaku sosial.


Oleh karena itu, remaja sangat rentan sekali mengalami masalahmasalah psikologis dan fisiologis. Masalah tersebut yang akan
berakibat pada masalah kesehatan pada remaja (Santrock, 2007).
Masalah-masalah yang terjadi pada remaja tidak dapat terlepas
dari pengaruh interaksi dari faktor-faktor biologis, psikologis dan
sosial terhadap berkembangnya masalah-masalah remaja dan orangorang yang berasal dari berbagai usia lainnya. Menurut pendekatan
biologis, masalah yang terjadi pada remaja dapat berkaitan dengan
perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Sedangkan faktor-faktor
psikologis yang dianggap sebagai sebab timbulnya masalah remaja
adalah gangguan berpikir, gejolak emosional, proses belajar yang
keliru, dan relasi yang bermasalah. Selanjutnya faktor sosial yang
melatarbelakangi timbulnya masalah pada remaja yaitu berasal dari
latar belakang budaya, sosial-ekonomi, latar belakang keluarga, dan
lingkungan (Santrock, 2007).
2. Tahap umur Remaja
Sebelum memahami remaja dan permasalahannya, kita harus terlebih
dahulu memahami karakteristik psikososial yang dialami oleh remaja.
Menurut Depkes RI (1999) dalam Purwanto (1999) dijelaskan bahwa
perkembangan psikososial remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
perkembangan

psikososial

remaja

awal

(10-14

tahun),

remaja

pertengahan (15-16 tahun), dan remaja akhir (17-19 tahun).


a.
Remaja Awal (10 -14 tahun)
Masa remaja awal merupakan masa transisi dari masa anak-anak
yang biasanya tidak menyenangkan, dimana dengan meningkatnya

kesadaran diri (self consciousness) terjadi juga perubahan secara


fisik, psikis maupun sosial pada remaja sehingga remaja mengalami
perubahan emosi ke arah yang negatif menjadi mudah marah,
tersinggung bahkan agresif. Selain hal tersebut, remaja juga menjadi
sulit bertoleransi dan berkompromi dengan lingkungan sekitar
sehingga cenderung memberontak dan terjadi konflik.
Masa remaja awal ini juga remaja senang bereksperimen dalam
pakaian, gaya yang dianggap tidak ketinggalan zaman dan senang
membentuk kelompok sebaya yang sesuai dengan mereka. Rasa
keterikatan dengan kelompoknya ini sangat penting bagi remaja,
sehingga cenderung mengikuti apa yang dipakai oleh kelompoknya
karena keinginan untuk tampak sama dan dianggap dalam kelompok
pergaulan. Konsumsi obat (narkoba) juga dapat berkaitan dengan
alasan sosial, yang membantu remaja merasa lebih nyaman dan
menikmati kebersamaan dengan orang lain (Ksir, Hart, & Ray dalam
Santrock, 2007).
b.
Remaja Pertengahan (15 16 tahun)
Remaja pertengahan terjadi pada usia 15-16 tahun, pada tahap ini
biasanya remaja lebih mudah untuk diajak bekerjasama karena
mampu berkompromi, tenang, sabar, lebih toleran untuk menerima
pendapat orang lain. Saat ini remaja lebih belajar untuk berfikir
independen dan menolak campur tangan orang lain termasuk orang
tua. Remaja juga mulai terfokus pada diri sendiri, mudah
bersosialisasi, tidak lagi pemalu dan mulai membutuhkan lebih
banyak teman bersifat solidaritas bahkan mulai membina hubungan

dengan lawan jenis sehingga lebih memilih untuk menghabiskan


waktu dengan teman-teman dibandingkan keluarga. Remaja mulai
memiliki minat yang besar dalam seni, olah raga, organisasi, dan
sebagainya seiring dengan berkembangnya intelektualitas mereka.
Pada masa ini remaja mampu berfikir abstrak, berhipotesa dan peduli
untuk mendiskusikan atau berdebat terhadap permasalahannya
sehingga remaja sering bereksperimen untuk mendapatkan citra diri
yang dirasakan nyaman bagi mereka walaupun berisiko. Beberapa
remaja menyalahgunakan narkoba karena tertarik dengan keterangan
yang diberikan oleh media mengenai sensasi yang dihasilkan, mereka
bertanya-tanya

seandainya

obat

yang

dideskripsikan

dapat

memberikan pengalaman yang sangat unik (Santrock, 2007).


c. Remaja Akhir (17 19 tahun)
Masa remaja akhir ini, remaja lebih berkembang

dalam

intelektualitasnya sehingga mulai menggeluti masalah sosial, politik,


agama. Remaja yang tumbuh dengan baik dan tanpa masalah akan
mulai belajar mandiri baik secara finansial maupun emosional
dengan lebih baik mengatasi stress sehingga pada tahap ini remaja
ingin diakui sudah menjadi seseorang yang dewasa dan dapat
menentukan keputusan hidupnya sendiri. Remaja juga mulai menjalin
hubungan yang serius dengan temantemannya, khususnya lawan jenis
sehingga semakin sulit untuk diajak dalam acara keluarga. Keluarga
diharapkan terus memantau perkembangan remaja di tahap ini tanpa

memberikan banyak peraturan karena mereka sudah ingin dianggap


dewasa.
3. Ciri-ciri Pertumbuhan Fisik Remaja
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan
merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan
perubahan ini meliputi perubahan ukuran tubuh; proporsi tubuh,
munculnya cirri-ciri kelamin yang utama (primer) dan cirri-ciri kelamin
kedua (sekunder).
Menurut Muss (Sarlito, 1991) ukuran perubahan fisik adalah sebagai
berikut :
a. Pada anak perempuan :
1) Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggotaanggota badan menjadi panjang).
2) Pertumbuhan payudara.
3) Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan.
4) Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap
tahunnya.
5) Bulu kemaluan menjadi keriting.
6) Menstruasi atau haid.
7) Tumbuh bulu-bulu ketiak.
b. Pada anak laki-laki :
1) Pertumbuhan tulang-tulang.
2) Testis (buah pelir) membesar.
3) Tumbuh bulu kemaluan yang halus dan berwarna gelap.
4) Awal perubahan suara.
5) Ejakulasi (keluarnya air mani).
6) Bulu kemaluan menjadi keriting.
7) Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap
tahunnya.
8) Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis, jenggot).
9) Tumbuh bulu ketiak.
10) Akhir perubahan suara.
11) Rambut-rambut di wajah bertambah tebal dan gelap.
12) Tumbuh bulu dada.
4. Penyebab perubahan fisik remaja

Penyebab perubahan pada masa remaja adalah adanya dua


kelenjar yang menjadi aktif bekerja dalam sistem endoktrin. Kelenjar
pituitri yang terletak didasar otak mengeluarkan duamacam hormon yang
diduga erat hubungannya dengan perubahan pada masa remaja. Kedua
hormon itu adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya
perubahan ukuran tubuh dan hormon ganadotropik atau hormon yang
merangsang gonad agar mulai aktif bekerja. Tidak berapa lama sebelum
saat remaja dimulai, kedua hormon ini sudah mulai diproduksi dan
semakin banyak dihasilkan. Seluruh proses ini dikendalikan oleh
perubahan yang terjadi dalam kelenjar endoktrin. Kelenjar ini diaktifkan
oleh rangsangan yang dilakukan kelenjar hypothalmus, yaitu kelenjar
yang dikenal sebagai kelenjar untuk merangsang pertumbuhan pada saat
remaja berkembang.
Meskipun kelenjar gonad atau kelenjar kelamin sudah ada dan
aktif sejak seseorang dilahirkan, namun kelenjar ini seolah-olah tidur dan
baru akan aktif setelah diaktifkan oleh hormon gonadotropik dari
kelenjar pituitry pada saat akan memasuki masa remaja. Setelah tercapai
kematangan alat kelamin, maka hormon gonad akan menghentikan
aktivitas hormon pertumbuhan. Dengan demikian pertumbuhan fisik
akan terhenti. Keseimbangan yang tepat antara kelenjar pituitry dan
gonad menimbukan pertumbuhann fisik yang tepat pula. Sebaliknya
apabila terjadi gangguan dalam keseimbangan ini, maka akan timbul
penyimpangan pertumbuhan selama masa remaja, seluruh tubuh

mengalami perubahan baik bagian luar maupun bagian dalam tubuh, baik
perubahan struktur maupun fungsinya.
Perubahan- perubahan fisik yang penting dan yang terjadi pada
masa remaja adalah :
1. Perubahan ukuran tubuh
Irama pertumbuhan mendadak menjadi cepat sekitar 2 tahun
sebelum anaak mencapai

taraf pematangan kelaminnya, setahun

sebelumnya, anak akan bertambah tinggi 10 sampai 15 cm dam


bertambah berat 5-10 kg setelah terjadi pematangan kelamin ini.
Pertumbuhhan fisik selanjutnya masih terus terjadi namun dalam tempo
yang sedikit lebih lambat. Selama 4 tahun perutumbuhan tinggi badan
akan bertambah 25 persen dan berat badannya hampir mencapi dua kali
lipat. Anak laki-laki tumbuh terus lebih cepat dari pada anak perempuan.
Pertumbuhan anak laki-laki akan mencapai bentuk tubuh dewasa pada
usia 19 sampai 20 tahun sedang pada perempuan pada usia 18 tahun.
2. Perubahan proporsi tubuh
Ciri tubuh yang kurang proporsional pada masa remaja ini tidak
sama untuk seluruh tubuh, ada bagian tubuh yang semakin tidak
proporsianal dan ada pula bagian tubuh yang semakin proposional.
Proporsi yang tidak seimbang ini akan berkembang terus sampai seluruh
mas apubur selesai dilalui sepenuhnya sehingga sehingga akhrinya
proporsi tubuhnya mulai tampak seimbang menjadi proporsi dewasa.
Perubahan ini terjadi baik di dalam maupun di bagian luar tubuh anak.
3. Ciri kelamin yang utama

Pada masa kanak-kanak, alat kelamin yang utama masih belum


berkembang dengan sempurna. Ketika memasuki masa remaja alat
kelamiin mulai berfungsi pada saat ia berumur 14 tahun, yaitu saat
pertama kali anak laki-laki mengalami mimpi basah, sedangkan anak
perempuan indung telurnya mulai berfungsi pada usia 13 tahun, yaitu
pada saat pertama kali mengalami haid atau menstruasi. Bagian lain dari
alat perkembangbiakan pada anak pperempuan pada saat ini masih belum
berkembang

dengan

sempurna

sehingga

belum

mampu

untuk

mengandung anak atau beberapa bulan atau setahun lebih. Masa interval
ini disebut sebagai masa steril.
4. Ciri kelamin kedua
Ciri kelamin kedua pada anak perempuan adalah membesarnya
buah dada dan munculnya putting susu,pinggul melebar lebih lebar
daripada

lebar

bahu,tumbuh

kemaluan/kelamin,tumbuh

rambut

rambut

disekitar

diketiak,suara

alat

bertambah

nyaring.Sedangkan anak laki-laki ditandai oleh tumuhnya kumis dan


jenggot,otot-otot mulai tampak,bahu melebar lebih lebar daripada
pinggul,nada suara membesar,tumbuh jakun,tumbuh bulu ketiak,bulu
dada,bulu di sekitar alat kelamin,serta perubahan jaringan kulit menjadi
lebih kasar dan pori-pori membesar.
Ciri-ciri kelamin kedua inilah yang membedakan bentuk fisik
antara laki-laki dan perempuan.Ciri ini pula yang seringkali merupakan
daya tarik antara jenis kelamin.Pertumbuhan disebut berjalan seiring

dengan perkembangan ciri kelamin yang utama dan keduanya akan


mencapai taraf kematangan pada tahun pertama atau tahun kedua masa
remaja.
Perubahan fisik sepanjang masa remaja meliputi dua hal,yaitu:
a. Percepatan pertumbuhan
Masa dan proses pertumbuhan tidak sama bagi semua
remaja.Banyak faktor individual mempengaruhi jalanya pertumbuhan
ini sehingga baik awal maupun akhir prosesnya terjadi secara berbeda
.Pada titik awal pertumbuhan biasanya tidak terdapat banyak
berbeda,akan tetapi kecepatan pertumbuahan setiap individu menjadi
sangat

berbeda

sesuai

dengan

iramanya

masing-masing.jadi

perbebaan individual tentang pertumbuhan tampak dalam perbedaan


awal percepatan dan cepatnya pertumbuhan.
Percepatan

bagi remaja laki-laki umumnya berbeda dan

berkisar antara 10,5 tahun dan 16 tahun ,sedangkan remaja


perempuan antara 7,5 tahun 11,5 tahun dengan umur rata-rata 10,5
tahun.Puncak pertambahan ukuaran fisik dicapai pada usia 12
tahun,yakni kurang lebih bertambah 6-11 cm setahun.
b. Proses kematangan seksual
Meskipun kematangan seksual berlangsung dalam batasbatas tertentu dan urutan tertentu dalam perkembangan cirri-ciri
kelamin sekundernya,namun kematangan seksual anak-anak remaja

berjalan

secara

individual

sehingga

hanya

mungkin

untuk

memberikan ukuran rata-rata.


Ada tiga kriteria yang membedakan anak laki-laki daripada
anak perempuan,yaitu dalam hal:
a.

kriteria kematangan seksual nampak,lebih jelas pada anak


perempuan

daripada

anak

laki-laki.

Kriterianya

adalah

menstruasi pertama sebagai tanda permulaan pubertas. Setelah


itu dibutuhkan satu tahun lagi baru anak wanita betul-betul
matang untuk reproduksi. kriteria sejelas ini tidak terdapat pada
anak laki-laki. Sehubungan dengan ejakulasi (pelepasan air
mani) pada laki-laki permulaannya sangat sedikit sehingga tidak
b.

jelas.
permulaan kematangan seksual pada anak perempuan 2 tahun

c.

lebih cepatnya daripada laki-laki .


untuk gejala-gejala kematangan seksual pada wanita dimulai
dengan tumbuhnya buah dada (8-13 tahun). Menjelang
haid,jaringan pengikat disekitarnya mulai tumbuh hingga
payudara mulai memperoleh bentuk yang lebih dewasa. Kelenjar
payudara baru mengadakan reaksi pada masa kehamilan dengan
suatu pembengkakan sedangkan produksi air susu terjadi pada
akhir kehamilan. Hal ini merupakan akibat reaksi-reaksi fisiologi
yang menyebabkan perubahan-perubahan pada organ-organ
kelamin internal dalam hipofise lobus frontalis.
Pada anak laki-laki kematangan seksual dimulai dengan
pertumbuhan testes yang dimulai antara umur 9,5 dan 13,5 tahun

dan berakhir antara umur 13,5 dan 17 tahun. Pada usia kurang
lebih 15-17 tahun, anak laki-laki dan perempuan pangkal
tenggorokan (jakun) mulai membesar yang menyebabkan pita
suara menjadi lebih panjang. Menstruasi merupakan ukuran yang
baik karena hal ini menentukan salah satu ciri

kematangan

seksual yang pokok, yaitu suatu disposisi untuk konsepsi (hamil)


dan melahirkan,juga merupakan manifestasi yang jelas meskipun
pada awalnya masih terjadi pendarahan sedikit.
Perubahan proporsi tubuh menunjukkan keanekaragaman
antara laki-laki dan perempuan. Remaja laki-laki cenderung
menuju bentuk tubuh mesomorf (cenderung menjadi lebih
kekar,berat dan segi tiga) sedangkan anak perempuan cenderung
menjadi gemuk dan berat (endomorf) akan memperlihatkan ciri
ektomrf (cendrung kurus dan bertulang panjang).
Beberapa kondisi yg mempengaruhi pertumbuhan fisik
anak yaitu :
a. Pengaruh

keluarga

meliputi

faktor

keturunan

dan

b.

lingkungan, terutama terhadap tinggi dan berat badan.


Pengaruh gizi bagi anak,terutama terhadap tinggi dan berat

c.

badan.
Gangguan

emosional

yang

sering

menyebabkan

terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan , dan akan


membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon
d.

pertumbuhan di kelenjar pituitry.


Jenis kelamin, dimana anak laki-laki cenderung lebih tinggi
dan lebih berat daripada anak perempuan, kecuali pada usia

12 dan 15 tahun anak perempuan biasanya sedikit lebih


tinggi dan lebih berat daripada anak laki-laki. Perbedaan ini
karena bentuk tulang dan otot anak laki-laki memang
e.

berbeda dengan anak perempuan .


Status sosial ekonomi keluarga

f.

berpengaruh terhadap tinggi dan berat badan anak.


Kesehatan jelas berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik

g.

(tinggi dan berat badan ).


Bentuk tubuh (mesomorf , ektomorf dan endomorf ) akan

yang

berbeda

juga

berpengaruh terhadap besar kecilnya tubuh anak. Anak yang


bentuk tubuhnya mesomorf akan lebih besar daripada yang
endomorf atau ektomorf.
5. Pengaruh Pertumbuhan Fisik Terhadap Perilaku
Perubahan perubahan psikologis yang muncul sebagai akibat
dari perubahan fisik, yaitu rasa kecanggungan bagi remaja karena ia
harus menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan yang terjadi
pada dirinya sendiri. Pertumbuhan badan yang mencolok misalnya,
perbesaran payudara/buah dada yang cepat membuat remaja tersisih dari
teman temannya. Demikian pula dalam menghadapi haid dan mimpi
basah, anak anak remaja perlu mengadakan penyesuain tingkah laku
yang tidak ada dukungan dari orang tua.
Perubahan fisik hampir selalu dibarengi dengan perubahan
perilaku dan sikap. Dalam masa remaja perubahan yang terjadi sangat
mencolok sehingga dapat menggangu keseimbangan yang sebelumnya
sudah terbentuk. Perilaku mereka mendadak menjadi sulit diduga dan
sering kali agak melawan norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu,

masa ini seringkali dinamakan sebagai masa negatif. Pada saat irama
pertumbuhan sudah sedikit lambat dan perubahan tubuhnya telah
sempurna akan terjadi keseimbangan kembali.
Meskipun pengaruh pubertas terhadap anak anak berbeda
beda, cara mereka melampiaskan gangguan keseimbangan tampaknya
sama, seperti mudah tersinggung, tidak dapat diikuti jalan pikirannya
ataupun perasaannya, ada kecenderungan untuk menarik diri dari
keluarga atau teman dan lebih senang menyendiri, menentang
kewenangan ( orang tua dan guru), sangat mendambakan kemandirian,
dan sangat kritis terhadap orang lain, tidak suka melakukan tugas
dirumah atupun disekolah dan sangat tampak bahwa dirinya tidak
bahagia.
Akibat perubahan pada beberapa kelenjar pertumbuhan yang
menyebabkan terjadinya perubahan dalam bentuk dan ukuran tubuhnya,
anak-anak remaja secara fisik seringkali merasa tidak nyaman, misalnya
ada keluhan, gelisah, nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan,
sakit kepala dan sebagainya. Gangguan ini lebih banyak menghinggapi
anak perempuan daripada anak laki- laki.
Umumnya tanggapan anak remaja terhadap perubahan dirinya
dapat

digolongkan

menjadi

dua,

yaitu

memperhatikan normal tidaknya dirinya, dan

mereka

yang

terlalu

mereka yang terlalu

memperhatikan/memikirkan tepat tidaknya kehidupan kelaminnya. Bila


mereka memperhatikan teman sebayanya, kemudian ternyata dirinya
berbeda dari mereka, maka akan segera muncul pikirannya tentang
normal tidaknya dirinya. Misalnya, hanya berbeda dalam hal kecepatan

pertumbuhan sudah dapat menimbulkan rasa kekhawatiran dalam


dirinya. Anak-anak tergolong cepat dan lebih awal tumbuh, sering kali
merasa khawatir bahwa pada masa dewasanya nanti, tubuhnya akan
terlalu tinggi, dan juga sebaliknya.
Terlalu memperhatikan kaadaan kehidupan kelaminnya, juga
merupakan hal yang biasa terjadi dalam tahap ini. Pada saat seseorang
mencapai masa remaja, dalam pikirannya telah terbentuk konsep
tertentu mengenai wajar tidaknya kehidupan kelamin dalam penampilan
seseorang. Konsep ini terbentuk melalui pengalaman si anak sehari-hari,
misalnya dari televisi, bioskop, buku cerita, komik dan atau orang-orang
disekelilingnya yang dikagumi. Bila mereka berpendapat bahwa dirinya
kurang memenuhi persyaratan maka segera menentukan bahwa dirinya
tidak wajar. Sayangnya konsep yang telah terbentuk itu sukar
dihilangkan bahkan mungkin dapat menetapseumur hidupnya.
Salah satu dari beberapa konsekuensi masa remaja yang paling
penting adalah pengaruh jangka panjangnya terhadap sikap, perilaku
sosial, minat dan kepribadian. Kalau sikap dan perilaku remaja kurang
dapat diterima, maka keadaan ini cukup parah. Sejumlah studi tlah
menemukan bahwa ciri kepribadian dan sikap tertentu yang sudah
terbentuk ini biasanya sulit dihilangkan, terutama dalam kasus
penyimpangan usia kematangan kelaminnya.
C.

Ketidakefektifan Koping
Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, respons terhadap situasi yang

mengancam. Koping yang efektif akan menghasilkan adaptasi. Koping dapat


diidentifikasi melalui respons, manifestasi (tanda dan gejala) dan pertanyaan
klien dalam wawancara. (Keliat dkk, 2005).
Ketidakefektifan koping merupakan ketidakmampuan penilaian
yang tepat terhadap stressor, pilihan yang tidak adekuat terhadap respons
untuk bertindak, dan ketidakmampuan untuk menggunakan sumber yang
tersedia (NANDA, 2012). Salah satu batasan karakteristik secara subjektif
dari ketidakefektifan koping yaitu perubahan dalam pola komunikasi yang
biasanya.

1.

Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang
kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui
media). Harrol D. Lasswel (dalam Riswandi, 2009) menjelaskan bahwa
komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan
siapa mengatakan apa dengan saluran apa, kepada siapa, dan
dengan akibat apa atau hasil apa. Berdasarkan pengertian tersebut
dapat

disimpulkan

bahwa

komunikasi

merupakan

penyampaian

informasi dalam sebuah interaksi tetep muka yang berisi ide, perasaan,
perhatian makna, serta pikiran yang diberikan pada penerima pesan
dengan harapan si penerima pesan menggunakan informasi tersebut
untuk mengubah sikap danperilakunya.

a.

Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang berjalan dua
arah dan dapat mencapai tujuan dari komunikasi tersebut (Gunarsa,
2004). Tujuan dari komunikasi efektif ini antara lain untuk
membangun hubungan yang harmonis dengan remaja, membentuk
suasana keterbukaan dan mendengar, membuat remaja mau bicara
pada saat mereka menghadapi masalah, membuat remaja mau
mendengar dan menghargai orang tua dan dewasa saat mereka
berbicara serta membantu remaja menyelesaikan masalahnya.
Dalam berkomunikasi, orang tua dan orang dewasa biasanya ingin
segeramembantu menyelesaikan masalah yang dihadapi remaja,
sehingga cenderung (1) Lebih banyak bicara daripada mendengar;
(2) Merasa tahu lebih banyak; (3) Cenderung memberi arahan dan
nasihat; (4) Tidak berusaha untuk mendengar dulu apa yang
sebenarnya terjadi dan yang dialami para remaja; (5) Tidak
memberi kesempatan agar remaja mengemukakan pendapat; (6)
Tidak mencoba menerima dahulu kenyataan yang dialami remaja
dan memahaminya; (7) Merasa putus asa dan marah-marah karena
tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan terhadap remaja (BKKBN,
2002).

b.

Komunikasi Tidak Efektif


Komunikasi antara orang tua dengan remaja mempengaruhi
pertumbuhan kepribadiannya. Di samping itu komunikasi juga erat

hubungannya dengan perilaku dan pengalaman dalam keluarga.


Melalui komunikasi remaja dapat menemukan dirinya sendiri,
mengembangkan konsep diri, dan dapat menetapkan hubungan
remaja dengan lingkungan. Hubungan antara orang tua dengan anak
remaja akan menentukan intelektualitas dan kualitas hidup orang
tersebut. Jika orang tua tidak memahami gagasan anak remaja, dan
pesan dari remaja itu menjengkelkan mereka, ini berarti ada
problema yang tidak berhasil diatasi. Jika remaja menentang
pendapat orang tua, maka orang tua tidak "dalam berkomunikasi"
dengan remaja. Jika semakin sering orang tua berkomunikasi
namun semakin jauh jaraknya dengan mereka, dan jika orang tua
selalu gagal untuk memotivasi remaja untuk bertindak, berarti orang
tua telah gagal berkomunikasi. Dengan kata lain komunikasi antara
orang tua dengan remaja tidak efektif (Effendy, 2000).
2. Pola Komunikasi Keluarga
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), mengartikan pola
sebagai

bentuk

(struktur)

yang

tetap,

sedangkan

komunikasi

didefinisikan sebagai pengiriman dan penerimaan pesan atau berita


antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan yang
dimaksud dapat dipahami. Menurut asal katanya, istilah komunikasi
berasal dari bahasa Latin, yaitu communication, yang akar katanya
adalah communis. Arti communis di sini adalah sama, dalam arti kata
sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal (Effendy, 2000).

Jadi, komunikasi berlangsung bila antara orangorang yang terlibat


terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan.
Dengan demikian, pola komunikasi di sini dapat dipahami sebagai pola
hubungan antara dua orang atau lebih dalam pengiriman pesan dengan
cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
Komunikasi dalam keluarga dapat berlangsung secara timbal
balik dan silih berganti, bisa dari orang tua ke anak atau dari anak ke
orang tua, atau dari anak ke anak. Awal terjadinya komunikasi karena
ada sesuatu pesan yang ingin disampaikan. Siapa yang berkepentingan
untuk menyampaikan suatu pesan akan berpeluang untuk memulai
komunikasi.

Sedangkan

yang

tidak

berkepentingan

untuk

menyampaikan suatu pesan akan cenderung menunda komunikasi.


Wursanto

(2007)

mengatakan

bahwa

komunikasi

dapat

berlangsung setiap saat, di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan
dengan siapa saja. Semenjak lahir, manusia sudah mengadakan
hubungan dengan kelompok masyarakat sekelilingnya. Kelompok
pertama dialami oleh individu itu dengan ibunya, bapaknya, dan anggota
keluarga lainnya. Makin bertambah umurnya, makin luas pula hubungan
yang dapat dijangkau oleh individu itu. Selain sebagai makhluk
individu, manusia adalah makhluk sosial, makhluk bermasyarakat.
Komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak remaja
merupakan faktor penting dalam interaksi, karena komunikasi
menyebabkan adanya saling pengertian antar anggota keluarga.

Komunikasi efektif terjadi apabila anak dapat mengungkapkan perasaan


dan masalah yang dihadapi sedang orang tua memahami dan membantu
menyelesaikan masalah yang dihadapi (Balson, 2003).
Komunikasi orang tua dengan remaja pada dasarnya harus
terbuka, walaupun remaja lebih cenderung terbuka dengan teman
sebaya. Hal tersebut karena remaja merupakan bagian dari keluarga.
Komunikasi

yang

terbuka

diharapkan

dapat

menghindari

kesalahpahaman antara orang tua dengan remaja. Apabila remaja telah


dapat berfikir secara baik, remaja telah dapat mempertimbangkan secara
baik mengenai hal yang dihadapi. Dengan demikian akan menimbulkan
saling pengertian di seluruh anggota keluarga, sehingga akan terbina dan
tercipta tanggung jawab sebagai anggota keluarga (Gunarsa, 2004).
Gunarsa (2004) mengemukakan bahwa komunikasi efektif
antara orang tua dan remaja membentuk pola dasar kepribadian remaja
secara normal dan perkembangan psikologis yang sehat bagi remaja,
karena merupakan hakekat seorang remaja dalam pertumbuhan dan
perkembangan membutuhkan uluran tangan orang tua, orang tua lah
yang bertanggung jawab dalam mengembangkan keseluruhan eksistensi
remaja termasuk kebutuhan fisik dan psikis sehingga anak dapat tumbuh
dan berkembang kearah kepribadian yang matang dan harmonis.
Kualitas komunikasi antara orang tua dan remaja dapat
menghindari remaja dari perilaku berisiko remaja, hal ini dikarenakan
antara orang tua dan remaja terjalin hubungan atau komunikasi yang

intensif sehingga kemungkinan terjadi sharing, dan pemecahan masalah


(Laily & Matulessy, 2004; dalam Fauzi, 2010).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA DENGAN
TAHAP PRKEMBANGAN KELUARGA REMAJA
I.

Data Umum
1. Nama KK

: Ny. A

2. Umur KK

: 42 Tahun

3.

Alamat dan N.Telp : Kelurahan Paoman Rw :


04 Rt : 02 Kec : Indramayu

4. Pekerjaan

: Swasta

5. Pendidikan KK

: SLTA

6. Tanggal Pengkajian

: 14 Juni 2015

7. Komposisi keluarga
No

Nama

Umur

1.

Ny. A

42

Jenis
Hub Dengan Pendidikan
Kelamin
KK
P
Istri
SLTA

Pekerjaan

2.

An. R

18

Anak

SD

TB

3.

An. S

12

Anak

SD

TB

Swasta

4.

An.W

Anak

TK

TB

8. Genogram :

An. R

9. Tipe keluarga : Single Family


10. Budaya
-

Suku bangsa : Jawa

Bahasa yang digunakan : Jawa

Pantangan : Tidak ada

Kebiasaan budaya yang berhubungan dengan masalah kesehatan :


Tidak ada

11. Agama
Seluruh keluarga Ny. A beragama Islam. Kegiatan ibadah keagamaan
keluarga Ny. A yaitu sholat lima waktu dan puasa dilakukan. Menurut
keluarga Bp. R, agama berperan sangat penting dalam kehidupan
mereka, bahkan dalam hal kesehatan. Ketika ada anggota keluarga yang
sedang sakit, keluarga juga selalu mendoakan untuk kesembuhan
anggota keluarga yang sakit tersebut.
12. Status sosial ekonomi keluarga

Di keluarga Ny. A, pencari nafkah utama adalah Ny. A yang bekerja


sebagai Wiraswasta dengan penghasilan 2.000.000 setiap bulan.
13. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Keluarga Ny. A tidak memiliki jadwal khusus untuk rekreasi keluarga,
hanya sesekali anaknya mengajak berwisata. Waktu liburan biasanya
disesuaikan dengan jadwal libur kerja dan libur anak sekolah, tetapi
sekarang jarang dilakukan, hanya jika ada waktu saja keluarga pergi
rekreasi. Di rumah, Ny. A mengatakan keluarganya dapat menikmati
hiburan melalui TV dan radio yang tersedia di rumahnya. An. H
mengatakan jika banyak kegiatan dan membuat dirinya stress maka dia
akan main keluar dengan teman-temannya, biasanya nongkrong sambil
mengobrol, main ke warnet atau rental PS dan menonton balapan motor.
An. H juga mengatakan sering main dengan teman-temannya hingga
malam hari.
II.

Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


1. Tahapan perkembangan keluarga saat ini
Tahapan perkembangan keluarga saat ini

: Remaja

Tugas perkembangan keluarga saat ini

: Pasangan Usia Subur

Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja


menjadi dewasa dan mandiri.
Keluarga sudah memberikan kesempatan bagi An. R untuk memilih apa
yang ingin dilakukAn. Rn. A mengatakan tanggung jawabnya adalah
belajar dan membantu orang tua.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
a. Tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga yaitu :
Berkomunikasi secara terbuka dengan anak-anak.
Ny. A mengatakan bahwa An. R adalah anak yang pendiam dan
jarang berbicara jika tidak ditanya. Terutama saat memasuki usia
remaja, An. R sudah mulai jarang berkumpul dengan keluarga, jika
berada di rumah An. R banyak menghabiskan waktunya untuk
bermain HP di dalam kamarnya. Ny. A juga mengatakan An. R

jarang berada di rumah waktunya sering dihabiskan untuk


berkumpul dengan teman-temannya. An. R mengatakan tidak
mengetahui tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya
sebagai remaja, karena sebelumnya tidak pernah mendapatkan
informasi

mengenai tugas perkembangan

maupun tanggung

jawabnya sebagai remaja.


b. Penyebab belum terpenuhinya tugas perkembangan keluarga:
Komunikasi yang kurang efektif.
3. Riwayat keluarga inti
Ny. A merupakan seorang ibu yang sekaligus mencari nafkah untuk
anak-anaknya.
4. Riwayat keluarga sebelumnya :
Tidak ada riwayat penyakit keluarga yang menurun. Bila sakit, keluarga
Ny. A pergi ke dokter atau puskesmas langganan keluarga. Tidak ada
pola makan atau jenis makanan yang dibatasi.
III.

Lingkungan
1. Karakteristik rumah :
a. Status rumah :

Jenis bahan dinding

: Tembok

Jenis lantai

: Keramik

Tipe atap rumah

: Genteng

b. Perincian denah rumah

Dapur
K. tidur

R. makan
R.
keluarga

K. mandi
R. tamu

c. Keadaan rumah :

Pencahayaan baik, terdapat halaman, terdapat jendela yang


terbuka dipagi hari, dan tidak terdapat asap dapur yang masuk
kerumah.

d. Kebiasaan keluarga dalam perawatan rumah

Sistem pembuangan sampah : Keluarga klien mengatakan


terdapat sampah rumah tangga, tidak dilakukan pemilihan
sampah, sampah dikumpulkan oleh petugas kebersihan, dan jenis
sampah yang dimiiki terbuka.

e. Sistem drainase air :

Keluarga klien mengatakan sistem penyaluran limbah dialirkan


ke got dan jenis penyaluran air limbah terbuka.

f. Penggunaan jamban : jenis dan jarak dengan sumber air


Jamban menggunakan kakus, keadaannya bersih.
g. Kondisi air : Kondisi air jernih (Air PAM).
h. Pengetahuan keluarga mengenai masalah kesehatan yang berkaitan
dengan lingkungan : keluarga selalu menguras bak mandi dan selalu
membuang sampah di tempat sampah yang sudah disediakan.
2. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW
Ny. A jarang berkumpul dengan tetangga karena kesibukannya, namun
Ny. A aktif di arisan PKK dan pengajian yang ada di lingkungan rumah.
Ny. A sendiri bekerja wiraswasta. Keluarga Ny. A tinggal di RT 01 RW
04, yaitu di rumah kontrakan. Kehidupan bertetangga terlihat rukun dan
harmonis.

3. Mobilitas geografis keluarga


Saat ini, keluarga Ny. A tinggal di rumah kontrakan dan menetap di
rumah yang sekarang untuk saat ini berniat untuk pindah.
a. Alat transportasi di daerah : Menggunakan motor, angkutan umum,
becak.

b. Alat

transportasi

yang

biasa

digunakan

oleh

keluarga

Menggunakan motor.
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Ny. A selalu berusaha mengikuti acara yang diadakan oleh RT/RW,
misalnya pengajian, arisan RT dan kegiatan lainnya. Apabila ada waktu
luang Ny. A mengajak anaknya bermain ke tetangga. Hubungan anggota
keluarga terlihat rukun, tidak ada konflik antara satu dengan yang lain
(terlihat harmonis).
Anak-anak Ny. A tidak ada yang aktif mengikuti kegiatan
kemasyarakatan di daerah setempat RW 04. An. R mengatakan
sudah tidak sekolah.
5. Sistem pendukung keluarga
a. Sistem pendukung di dalam keluarga : Setiap sakit berobat di mantri
dan dokter.
b. Sistem pendukung di komunitas : Setiap sakit berobat di Puskesmas
c. Persepsi keluarga mengenai pentingnya sistem pendukung : Sangat
baik dan membantu
IV.

Struktur keluarga
1. Pola Komunikasi Keluarga
Ny. A mengatakan bahwa komunikasi pada keluarganya menekankan
keterbukaan. Bila ada masalah dalam keluarga, Ny. A mendiskusikan
bersama keluarga, terkadang meminta bantuan nasihat dari orang tua.
Waktu yang biasanya digunakan untuk komunikasi pada saat santai
yaitu malam hari dan waktu makan bersama dengan anggota keluarga.
Namun An. R mengatakan lebih suka menceritakan masalahnya kepada
teman-temannya dibandingkan kepada orang tua atau pun keluarganya
yang lain. Ny. A sibuk bekerja dan jarang menyempatkan berbicara
kepada anaknya.
2. Struktur Kekuatan keluarga
Pemegang keputusan di keluarga adalah Ny. A sebagai kepala keluarga,
tetapi tidak menutup kemungkinan suatu ketika Ny,M punya pendapat

sendiri dan membuat keputusan sendiri, misalnya pada saat membeli


keperluan rumah tangga dan mengatur posisi perabotan rumah tangga.
Terkadang Ny. A juga berinisiatif sendiri untuk membawa anaknya ke
pelayanan kesehatan, bila ada yang sakit dan tidak bisa sembuh dengan
mengkonsumsi obat warung.
3. Struktur Peran:
a. Ny. A
Sebagai ibu sekaligus kepala keluarga, bertanggung jawab dalam
mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.
b. An. R
An. R mengatakan malas belajar dan jarang mengerjakan tugas
Sekolahnya

sehingga

memutuskan

untuk

tidak

melanjutkan

sekolahnya lagi. Ny. A mengatakan jarang memantau aktivitas belajar


anaknya di rumah.
c. An. S
An. S masih duduk di bangku SD dan selalu sekolah sesuai dengan
jadwal yang telah ditentukan.
d. An.W
An.W merupakan anak terakhir dari Ny. A berumur 6 tahun dan
masih TK, namun sebentar lagi akan melanjutkan ke Sekolah Dasar.
4. Nilai dan Norma Budaya
Nilai dan norma yang dipegang oleh Ny. A adalah sesuai dengan nilainilai ajaran Islam dan tidak terpengaruh oleh norma budaya.
Penerimaan keluarga terhadap perawat sangat baik, setiap masalah yang
ada diutarakan dan menerima kehadiran perawat.
V.

Fungsi keluarga
1. Fungsi Afektif
Ny. A mengatakan bahwa setiap anggota keluarga dalam rumah
dapat saling terbuka dalam menyampaikan pendapat walaupun An.

R termasuk anak yang pendiam dan jarang menyampaikan


pendapatnya.
2. Fungsi Sosialisasi
Hubungan antaranggota keluarga dalam rumah berjalan dengan baik.
Hubungan anggota keluarga dengan tetangga juga baik apalagi
keluarga Ny. A tergolong baru tinggal di wilayah tersebut.
3. Fungsi Biologis
4. Fungsi Psikologis

: Keadaan emosi stabil

5. Fungsi Spiritual

: taat beribadah

6. Fungsi Kultural
Ny. A menerima dengan baik setiap budaya, namun tidak setiap
budaya yang ada selalu diikuti karena ada yang menurut Ny. A
bertentangan dengan nilai dan norma.
7. Fungsi Reproduksi : Ny. A memiliki 3 orang anak.
8. Fungsi Ekonomi : Ny. A sebagai kepala keluarga bertugas untuk
mencari nafkah.
9. Fungsi Perawatan Keluarga
Ny. A mengatakan bahwa ketika ada anggota keluarga yang sakit,
maka yang sakit akan langsung diberikan obat dari warung atau
VI.

Stress dan Koping Keluarga


1. Stressor Jangka Pendek
Keluarga Ny. A mencemaskan pergaulan An. R yang sudah memasuki
masa remaja. An. R sudah mulai ditawari untuk mencoba merokok
oleh teman-temannya, baik teman di sekolah maupun teman di
lingkungan rumahnya. An. R juga sering nongkrong tidak jelas dengan
teman sekolah maupun teman di sekitar rumahnya tersebut.
2. Stressor Jangka Panjang
Ny. A mengeluhkan biaya sekolah ketiga anaknya yang semakin
mahal, terlebih lagi tahun ini anak keduanya yaitu An. S akan lulus
dari SD dan akan memasuki SMP.
3. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Masalah

Jika ada masalah, keluarga berupaya untuk mencari jalan keluar dari
masalah tersebut dengan jalan musyawarah. Keluarga meyakini kalau
setiap masalah ada jalan keluarnya, misalnya dengan minta bantuan
dari orang tua dan tetangga yang terdekat.
4. Strategi Koping yang Digunakan
Ny. A mengatakan selalu menyerahkan semua masalah yang terjadi
kepada Allah SWT tetapi tetap berusaha untuk mengatasi masalah
yang ada.
5. Strategi Adaptasi Disfungsional : Tidak ada.
VII.

Harapan Keluarga
Keluarga berharap dengan kedatangan mahasiswa berkunjung ke
rumahnya adalah keluarga dapat mengetahui status kesehatan keluarga.
Dengan demikian keluarga berharap akan selalu berada dalam kondisi
sehat lahir dan batin. Mereka juga berharap akan mendapatkan banyak
pengetahuan
perawatannya.

tentang

berbagai

macam

jenis

penyakit

dan cara

VIII. Pemeriksaan Fisik


No. Pemeriksaan
1.
TTV

Ny. A (KK)
TD : 110/80,

An. R
TD : 120/80,

An. S
TD : 120/80,

An.W
TD : 120/80,

N : 80x/m, R : 20x/m, S N : 80x/m, R : 23x/m, S N : 80x/m, R : 23x/m, S : N : 80x/m, R : 23x/m, S :


2.

Kepala

: 36,7C.
: 37,0C.
37,0C.
37,0C.
Benjolan (-), lesi (-), Benjolan (-), lesi (-), Benjolan (-), lesi (-), Benjolan (-), lesi (-),
rambut

3.

Mata

hitam

tidak rontok, pusing (+). tidak rontok.


Konjungtiva
tidak Konjungtiva
anemis,

sklera

ikterik,
4.

kabur.
Hidung dan Hidung
Mulut

lurus, rambut hitam panjang, rambut hitam panjang, rambut hitam panjang,

tidak anemis, skelera tidak anemis,

pengelihatan ikterik,
:

tidak rontok.
tidak Konjungtiva

Polip

pengelihatan ikterik,

sedikit kabur.
(-), Hidung : Polip

tidak anemis,

tidak

skelera

pengelihatan

sedikit kabur.
(-), Hidung : Polip

(-),

sinusitis (-), penciuman sinusitis (-), penciuman sinusitis (-), penciuman sinusitis (-), penciuman
bersih,
berbau,

Telinga

tidak

pengelihatan ikterik,

sedikit kabur.
(-), Hidung : Polip

baik. Mulut : Lidah baik. Mulut : Lidah baik.

5.

skelera

tidak rontok.
tidak Konjungtiva

nafas
tidak

tidak bersih,
ada berbau,

nafas
tidak

sariawan.
sariawan.
Tidak ada benjolan pada Tidak ada
telinga,

fungsi pada

tidak bersih,

telinga,

ada berbau,

Mulut

nafas
tidak

Lidah baik.
tidak bersih,
ada berbau,

Mulut

nafas
tidak

Lidah
tidak
ada

sariawan.
sariawan.
benjolan Tidak ada benjolan pada Tidak ada benjolan pada
fungsi telinga,

fungsi telinga,

fungsi

6.
7.

Leher

pendengaran baik.
pendengaran baik.
pendengaran baik.
pendengaran baik.
Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran

Dada

kelenjar tiroid.
kelenjar tiroid.
kelenjar tiroid.
Dada : Bentuk dada Dada : Bentuk dada Dada : Bentuk

kelenjar tiroid.
dada Dada : Bentuk

dada

simetris, tidak ada nyeri simetris, tidak ada nyeri simetris, tidak ada nyeri simetris, tidak ada nyeri
tekan.

Paru-paru

: tekan.

Paru-paru

: tekan. Paru-paru : Bunyi tekan. Paru-paru : Bunyi

Bunyi nafas veskuler, Bunyi nafas veskuler, nafas


TD : 110/80,

TD : 120/80,

veskuler, TD

120/80,

: nafas

veskuler,

TD

120/80,

N : 80x/m, R : 20x/m, S N : 80x/m, R : 23x/m, S N : 80x/m, R : 23x/m, S : N : 80x/m, R : 23x/m, S :


:

36,7C,

tidak

ada :

37,0C.

tidak

ada 37,0C.

tidak

wheezing dan ronchi. wheezing dan ronchi. wheezing


Jantung : Tidak ada Jantung : Tidak ada Jantung
pembesaran
tidak
8.

Abdomen

tambahan.
Bentuk
simetris,

jantung, pembesaran

ada

suara tidak

tidak

ada simetris,

suara tidak
tambahan.
abdomen Bentuk

tidak

ada

tidak

ronchi. wheezing

Tidak

jantung, pembesaran

ada

tambahan.
abdomen Bentuk

dan

ada 37,0C.
ada Jantung

dan
:

tambahan.
abdomen Bentuk

ronchi.

Tidak

jantung, pembesaran
suara tidak

ada

ada

ada

jantung,
suara
abdomen

ada simetris, tidak ada acites, simetris, tidak ada acites,

acites, bising usus (+), acites, bising usus (+), bising usus (+), BAB 1- bising usus (+), BAB 19.

Ekstremitas

BAB 1-2x perhari.


BAB 1-2x perhari.
2x perhari.
2x perhari.
ROM klien baik/penuh, ROM klien baik/penuh, ROM klien baik/penuh, ROM klien baik/penuh,

klien seimbang dalam klien seimbang dalam klien


berjalan, kemampuan
menggenggam

berjalan, kemampuan

baik, menggenggam

seimbang

dalam klien

berjalan, kemampuan

seimbang

dalam

berjalan, kemampuan

baik, menggenggam baik, otot menggenggam baik, otot

otot ekstremitas ka/ki otot ekstremitas ka/ki ekstremitas ka/ki sama ekstremitas ka/ki sama
10.

Kulit

sama tidak ada nyeri.


sama tidak ada nyeri.
tidak ada nyeri.
Inspeksi: tekstur kulit Inspeksi: tekstur kulit Inspeksi: tekstur
lembab,

peningkatan lembab,

keriput(-), lembab,

tidak ada nyeri.


kulit Inspeksi: tekstur

keriput(-), lembab,

kulit

keriput(-),

pigmen (-), dekubitus peningkatan pigmen (-), peningkatan pigmen (-), peningkatan pigmen (-),
(-),

bekas

Palpasi:
normal.

luka

turgor

(-). dekubitus

(-),

bekas dekubitus (-), bekas luka dekubitus (-), bekas luka

kulit luka (-). Palpasi: turgor (-). Palpasi: turgor kulit (-). Palpasi: turgor kulit
kulit normal.

normal.

normal.

IX.

Analisa Data
No.
1.

Data Fokus
DS :
Ny.
A
mengatakan
bahwa An. R
sulit
untuk
diatur.
Ny.
A
mengatakan
bahwa An. R
lebih
suka
menghabiskan
waktunya
di
dalam kamar
daripada
berkumpul
dengan
keluarga.
Ny.
A
mengatakan di
rumahnya tidak
ada peraturan
yang
jelas
tentang
apa
saja
tugas
setiap anggota
keluarga.
An.
R
mengatakan
tidak
mengetahui
tugas
perkembangan
maupun
tanggung
jawabnya
sebagai remaja
An.
R
mengatakan
sering ditawari
untuk mencoba
merokok oleh
teman-

Tipologi
Ancaman

Penyebab

Masalah
Ketidakefektifan
performa peran
remaja
pada keluarga Ny.
A
khususnya An. R.

temannya.
DO :
Ny. A jarang
dirumah.
Defisiensi
pengetahuan
tentang

tugas

perkembangan
maupun
tanggung jawab
2.

sebagai remaja.
DS :
An.

mengaku tidak
pernah
menceritakan
masalah yang
dihadapinya
pada

orang

tua.
An.

mengatakan
lebih

suka

menceritakan
masalahnya
kepada temantemannya
dibandingkan
kepada orang
tua atau pun
keluarganya

Ancaman

Ketidakefektifan
koping keluarga

yang lain.
DO :
Ny. A sibuk
bekerja.
X.

Diagnosa Keperawatan Keluarga


1. Ketidakefektifan manajemen terapeutik keluarga berhubungan dengan
ketidaktepatan manajemen masalah remaja.
2. Ketidakefektifan

koping

keluarga

berhubungan

dengan

ketidakmampuan keluarga mengenal masalah pada remaja.


XI.

Skoring Masalah
1. Ketidakefektifan performa peran remaja pada keluarga Ny. A khususnya
An. R.

NO
1

Kriteria
Sifat Masalah:
Aktual

Perhitungan
Skor
3/3 x 1

Kemungkinan
masalah
dapat
diubah :
Skala : Mudah

2/2 x 2

Potensi masalah
dapat
untuk
dicegah :
Skala : Rendah

1/3 x 1

Nilai
1

1/3

Pembenaran
Saat ini An. H masih dalam
tahap perkembangan remaja
yang membutuhkan perhatian
dan komunikasi yang efektif
dalam
mengungkapkan
masalahnya.
Orang
tua
biasanya hanya menanyakan
kemana An. R pergi dan
kadang memarahi jika ada
masalah dengan sekolah.
An. H masih dapat diajak
berkomunikasi dan menurut
pada orang tuanya, melalui
pendekatan komunikasi yang
efektif akan pengenalan
peran dan tanggung jawab
remaja maka penerapan
peran pada remaja di
keluarga Ny. A akan efektif.
Adanya perhatian yang baik
dari orang tua dan saudara
An. R akan perkembangan
peran dan
tanggung jawabnya.

Menonjolnya
masalah.
Skala : masalah
berat, harus di
tangani.

2/2 x 1
1

Keluarga mengatakan ada


masalah dan segera perlu
ditangani karena mereka
takut anaknya tidak bisa
penerapkan
peran
dan
tanggung jawab remaja di
keluarga.

Total Nilai

4 1/3

2. Ketidakefektifan koping keluarga

NO

Perhitungan
Skor
masalah
3/3 x 1

Kriteria

Nilai

Pembenaran

Timbul mekanisme koping


negatif baik pada orangtua,
keluarga maupun remaja
karena kurangnya kualitas
komunikasi antara mereka.
Pola
komunikasi
antara
remaja dan orang tua
merupakan suatu proses yang
harus dimulai dan dijaga
keberlangsungannya,
keluarga sudah memberikan
respon
positif
dengan
bertanya cara komunikasi
yang baik dengan remaja.
Keluarga sudah mengetahui
stressor
dan
cara
mencegahnya.

Sifat
skala :
Aktual

Kemungkinan
masalah
dapat
diubah :
Skala : hanya
sebagian

2/2 x 2

Potensi masalah
dapat
untuk
dicegah :
Skala : tinggi
Menonjolnya
masalah.
Skala : tidak perlu
segera ditangani
Total Nilai

2/3 x 1

0,67

2/2 x 1

XII.

Keluarga
menganggap
masalah terjadi tetapi tidak
menjadikan masalah ini
prioritas utama.

3,67

Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan performa peran remaja pada keluarga Ny. A
khususnya An. R.

2. Ketidakefektifan

koping

keluarga

berhubungan

ketidakmampuan keluarga mengenal masalah pada remaja.

dengan

XIII. Intervensi Keperawatan Keluarga


No. Dx Kep.
1.
Ketidakefektifan
performa peran
remaja
pada
keluarga Ny. A
khususnya An.
R.

TU
Setelah
dilakukan
Intervensi
sebanyak 3 kali
kunjungan,
performa peran
remaja menjadi
efektif.

TK
Setelah 1 x 20 menit
pertemuan, keluarga
mampu mengenal
masalah tumbuh
kembang remaja,
dengan mampu:
1. Menyebutkan
definisi tumbuh
kembang.

K.Evaluasi

R.Verbal

S.Evaluasi

Intervensi
Diskusikan
bersama keluarga
apa yang diketahui
keluarga mengenai
pengertian tumbuh
kembang.
Keluarga mampu
Berikan pujian
Menyebutkan
kepada keluarga
pertumbuhan adalah
tentang
bertambahnya ukuran
pemahaman
anak dari segi jasmani.
keluarga yang
Sedangkan
benar.
perkembangan adalah Berikan informasi
berkembangnya
kepada keluarga
kemampuan atau
mengenai
keahlian anak.
pengertian tumbuh
kembang dengan
menggunakan
media lembar
balik dan leaflet.
Berikan
kesempatan
kepada keluarga
untuk bertanya

tentang materi
yang disampaikan.
Berikan
penjelasan ulang
terhadap materi
yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga
untuk mengulang
materi yang telah
dijelaskan.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha
keluarga.

2. Menyebutkan
definisi remaja.

R.Verbal

R.Verbal

Diskusikan
Keluarga mampu
bersama keluarga
menyebutkan remaja
apa yang diketahui
adalah anak yang
keluarga mengenai
berusia 13-21 tahun.
pengertian remaja.
Remaja merupakan
Berikan pujian
masa transisi/peralihan
kepada keluarga
dari masa kanaktentang
kanak menuju dewasa
pemahaman
yang ditandai dengan
keluarga yang
adanya perubahan
benar.

R.Verbal

R.Afektif

aspek fisik, psikis dan


psikososial.

Berikan informasi
kepada keluarga
mengenai
pengertian remaja
dengan
menggunakan
media lembar
balik dan leaflet.
Berikan
kesempatan
kepada keluarga
untuk bertanya
tentang materi
yang disampaikan.
Berikan
penjelasan ulang
terhadap materi
yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga
untuk mengulang
materi yang telah
dijelaskan.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha
keluarga.

3. Menyebutkan
definisi tumbuh
kembang remaja.

R.Verbal

Keluarga mampu
menyebutkan tumbuh
kembang
remaja
adalah proses lebih
lanjut remaja menuju
tahap perkembangan
dan pertumbuhan
selanjutnya (dewasa).

Diskusikan
bersama keluarga
apa yang diketahui
keluarga tentang
definisi tumbuh
kembang remaja.
Berikan pujian
kepada keluarga
tentang
pemahaman
keluarga yang
benar.
Berikan informasi
kepada keluarga
tentang definisi
tumbuh kembang
remaja dengan
menggunakan
media lembar
balik dan leaflet.
Berikan
kesempatan
kepada keluarga
untuk bertanya
tentang materi
yang disampaikan.
Berikan

penjelasan ulang
terhadap materi
yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga
untuk mengulang
materi yang telah
dijelaskan.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha
keluarga.

4. Menyebutkan
perubahan
perubahan yang
terjadi pada
remaja.

R.Verbal

Diskusikan
bersama keluarga
Keluarga mampu
apa yang diketahui
menyebutkan 6 dari 11
keluarga tentang
perubahan perubahan
perubahanperubah
yang terjadi pada
an pada remaja.
remaja.
Berikan pujian
kepada keluarga
tentang
pemahaman
keluarga yang
benar.
Berikan informasi
kepada keluarga

tentang
perubahanperubahan pada
remaja dengan
menggunakan
media lembar
balik dan leaflet.
Berikan
kesempatan
kepada keluarga
untuk bertanya
tentang materi
yang disampaikan.
Berikan
penjelasan ulang
terhadap materi
yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga
untuk mengulang
materi yang telah
dijelaskan.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha
keluarga.

Tanyakan kepada

5. Mengidentifikasi
anggota keluarga
yang berusia
remaja.

2.

Ketidakefektifan Setelah
koping keluarga. dilakukan
intervensi
sebanyak 3 kali
kunjungan,
diharapkan
koping keluarga
menjadi efektif.

R.Verbal

Setelah 2 x 15 menit
pertemuan, keluarga
mampu mengenal
komunikasi yang
efektif dengan remaja,
dengan mampu:
1. Menyebutkan
R.Verbal
pengertian
komunikasi.

Keluarga mengatakan
An. R adalah remaja.

Keluarga
mampu
menyebutkan
komunikasi
adalah
pengiriman
dan
penerimaan pesan atau
berita antara dua orang
atau lebih dengan cara
yang tepat sehingga

keluarga, adakah
anggota keluarga
yang memiliki
kriteria remaja
sebagaimana yang
telah dibahas.
Berikan
reinforcement
positif atas apa
yang telah
dikemukakan
keluarga yang
tepat dan
benar.
Diskusikan
bersama keluarga
apa yang diketahui
keluarga mengenai
pengertian
komunikasi.
Berikan
pujian
kepada
keluarga
tentang
pemahaman
keluarga
yang
benar.
Berikan informasi
kepada
keluarga

pesan yang dimaksud


dapat dipahami.

2. Menyebutkan
pengertian

R.Verbal

mengenai
pengertian
komunikasi dengan
menggunakan
media lembar balik
dan leaflet.
Berikan
kesempatan kepada
keluarga
untuk
bertanya
tentang
materi
yang
disampaikan.
Berikan penjelasan
ulang
terhadap
materi yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga
untuk mengulang
materi yang telah
dijelaskan.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha
keluarga.

Keluarga
mampu Diskusikan
menyebutkan
bersama keluarga

komunikasi
keluarga
efektif.

yang

komunikasi keluarga
apa yang diketahui
yang efektif adalah
keluarga mengenai
komunikasi
yang
pengertian
berjalan dua arah dan
komunikasi
dapat mencapai tujuan
keluarga
yang
dari komunikasi
efektif.
tersebut.
Berikan
pujian
kepada
keluarga
tentang
pemahaman
keluarga
yang
benar.
Berikan informasi
kepada
keluarga
mengenai
pengertian
komunikasi
keluarga
yang
efektif
dengan
menggunakan
media lembar balik
dan leaflet.
Berikan
kesempatan kepada
keluarga
untuk
bertanya
tentang
materi
yang
disampaikan.

Berikan penjelasan
ulang
terhadap
materi yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga
untuk mengulang
materi yang telah
dijelaskan.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha
keluarga.
3. Menyebutkan
R.Verbal
penyebab
komunikasi tidak
efektif.

Keluarga mampu
menyebutkan 3 dari 6
penyebab komunikasi
tidak efektif.

Diskusikan
bersama keluarga
apa yang diketahui
keluarga
tentang
penyebab
komunikasi tidak
efektif.
Berikan
pujian
kepada
keluarga
tentang
pemahaman
keluarga
yang
benar.
Berikan informasi

kepada
keluarga
tentang penyebab
komunikasi tidak
efektif
dengan
menggunakan
media lembar balik
dan leaflet.
Berikan
kesempatan kepada
keluarga
untuk
bertanya
tentang
materi
yang
disampaikan.
Berikan penjelasan
ulang
terhadap
materi yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga
untuk mengulang
materi yang telah
dijelaskan.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha
keluarga.
4. Menyebutkan

R.Verbal

Keluarga mampu

Diskusikan

syarat-syarat
komunikasi efektif
dalam keluarga.

menyebutkan 4 dari 6
syarat-syarat
komunikasi efektif
dalam keluarga.

bersama keluarga
apa yang diketahui
keluarga
tentang
syarat-syarat
komunikasi efektif
dalam keluarga.
Berikan
pujian
kepada
keluarga
tentang
pemahaman
keluarga
yang
benar.
Berikan informasi
kepada
keluarga
tentang
syaratsyarat komunikasi
efektif
dalam
keluarga
dengan
menggunakan
media lembar balik
dan leaflet.
Berikan
kesempatan kepada
keluarga
untuk
bertanya
tentang
materi
yang
disampaikan.
Berikan penjelasan

ulang
terhadap
materi yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga
untuk mengulang
materi yang telah
dijelaskan.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha
keluarga.
5. Mengidentifikasi
R.Afektif
ketidakefektifan
koping
pada
keluarga Ny. A
terutama masalah
komunikasi
inefektif
antara
orang tua dan
remaja.

Keluarga mengetahui Motivasi keluarga


bahwa
komunikasi
untuk menyebutkan
yang terjadi antara
syaratsyarat
orang tua dan remaja
komunikasi yang
di keluarga adalah
efektif
dalam
komunikasi yang tidak
keluarga.
efektif.
Bantu
keluarga
untuk
mengidentifikasi
komunikasi yang
tidak efektif pada
keluarga.
Berikan
reinforcement
positif atas usaha

keluarga.

XIV. Implementasi

No

Diagnosa

Implementasi

Evaluasi

Keperawatan
1.

Mendiskusikan bersama keluarga


apa yang diketahui keluarga
performa
peran
mengenai
pengertian
tumbuh
remaja pada keluarga
kembang.
Ny. A khususnya An. Memberikan informasi kepada
keluarga mengenai pengertian
R.
tumbuh
kembang
dengan
menggunakan media lembar balik
dan leaflet.
Mendiskusikan bersama keluarga
Ketidakefektifan

Subjektif :
Keluarga (Ny. A) menyebutkan
pengertian tumbuh kembang.
Ny. A menyebutkan pengertian remaja
Ny. A mampu menyebutkan definisi
tumbuh kembang remaja
Ny. A mampu menyebutkan syaratsyarat komunikasi efektif dalam
keluarga.
Ny. A menyebutkan perubahan-

Paraf

apa yang diketahui keluarga


mengenai pengertian remaja.
Memberikan informasi kepada
keluarga mengenai pengertian
remaja
dengan
menggunakan
media lembar balik dan leaflet.
Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
tentang definisi tumbuh kembang
remaja.
Memberikan informasi kepada
keluarga tentang definisi tumbuh
kembang
remaja
dengan
menggunakan media lembar balik
dan leaflet.
Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
tentang perubahan-perubahan pada
remaja.
Memberikan informasi kepada
keluarga
tentang
perubahanperubahan pada remaja dengan
menggunakan media lembar balik
dan leaflet.
Menanyakan kepada keluarga,
adakah anggota keluarga yang
memiliki
kriteria
remaja

perubahan pada remaja.


Objektif:
Orang tua (Ny. A) dapat
mendemonstrasikan cara komunikasi
terbuka dengan remaja
Analisis:
TUK 1, 2 dan 3 tercapai ditandai
dengan keluarga telah mampu
mengenal masalah tumbuh kembang
remaja, mengambil keputusan yang
tepat untuk mengasuh anak remaja dan
mendemonstrasikan komunikasi yang
terbuka dengan anak remaja.
Planning:
Evaluasi TUK 1, 2 dan 3 kemudian
- lanjutkan ke TUK 4 dan 5

sebagaimana yang telah dibahas.


Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
tentang akibat perubahan fisik pada
remaja.
Memberikan informasi kepada
keluarga
mengenai
akibat
perubahan fisik pada remaja
dengan
menggunakan
media
lembar balik dan leaflet.
Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
tentang akibat perubahan kejiwaan
pada remaja.
Memberikan informasi kepada
keluarga
mengenai
akibat
perubahan kejiwaan pada remaja
dengan
menggunakan
media
lembar balik dan leaflet.
Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
tentang akibat perubahan sosial
pada remaja.
Memberikan informasi kepada
keluarga
mengenai
akibat
perubahan sosial pada remaja
dengan
menggunakan
media

lembar balik dan leaflet.


Membantu
keluarga
untuk
mengenal dan menyadari akan
adanya remaja di keluarganya.
Membantu
keluarga
untuk
memutuskan
mengasuh
anak
remaja dengan tepat sesuai dengan
tumbuh kembangnya.
Mendorong
keluarga
untuk
menceritakan sikap orang tua
dalam mengasuh anak remaja.
Menginformasikan
kepada
keluarga tentang sikap orang tua
dalam mengasuh anak remaja
dengan
menggunakan
media
lembar balik dan leaflet.
Menginformasikan
kepada
keluarga tentang sikap anak remaja
dalam menjalani masa remaja
dengan
menggunakan
media
lembar balik dan leaflet.
Menanyakan kepada keluarga, hal
apa yang telah dibicarakan dengan
anggota keluarga yang remaja.
Memberikan
pujian
kepada
keluarga
tentang
pemahaman
keluarga yang benar.

2.

Ketidakefektifan
koping keluarga.

Memberikan kesempatan kepada


keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan.
Memberikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
Memotivasi
keluarga
untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan.
Memberikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
mengenai pengertian komunikasi.
Memberikan informasi kepada
keluarga mengenai pengertian
komunikasi dengan menggunakan
media lembar balik dan leaflet.
Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
mengenai pengertian komunikasi
keluarga yang efektif.
Memberikan informasi kepada
keluarga mengenai pengertian
komunikasi keluarga yang efektif
dengan menggunakan media
lembar balik dan leaflet.

Subjektif :
Ny. A mengatakan sedikit mengerti
tentang komunikasi efektif.
Objektif:
Orang tua (Ny. A) dapat
mendemonstrasikan cara komunikasi
yang efektif dengan remaja.
Orang tua (Ny. A) dapat
mendemonstrasikan cara mendengar
aktif dan menyampaikan pesan
saya pada remaja
Analisis:
TUK 1, 2 dan 3 tercapai ditandai
dengan keluarga telah mampu mengenal

Mendiskusikan bersama keluarga


apa yang diketahui keluarga
tentang penyebab komunikasi
tidak efektif.
Memberikan informasi kepada
keluarga
tentang
penyebab
komunikasi tidak efektif dengan
menggunakan media lembar balik
dan leaflet.
Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
tentang syarat-syarat komunikasi
efektif dalam keluarga.
Memberikan informasi kepada
keluarga tentang syarat-syarat
komunikasi
efektif
dalam
keluarga dengan menggunakan
media lembar balik dan leaflet.
Memberikan informasi kepada
keluarga mengenai jenis-jenis
komunikasi dengan menggunakan
media lembar balik dan leaflet.
Mendiskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
tentang
hambatan
dalam
berkomunikasi.
Memberikan informasi kepada

komunikasi yang efektif antara orang


tua
dengan
remaja,
mengambil
keputusan
dalam
menciptakan
komunikasi yang efektif dalam keluarga
dan mendemonstrasikan komunikasi
yang efektif dengan anak remaja.
Planning:
Evaluasi TUK 1, 2 dan 3 kemudian
lanjutkan ke TUK 4 dan 5.

keluarga mengenai hambatan


dalam berkomunikasi dengan
menggunakan media lembar balik
dan leaflet.
Mendemonstrasikan
dengan
keluarga cara berkomunikasi
efektif antara orang tua dan
remaja.
Memberi kesempatan keluarga
bertanya.
Memberi kesempatan keluarga
mendemonstrasikan kembali cara
berkomunikasi efektif antara
orang tua dan remaja.
Memberikan
pujian
kepada
keluarga tentang pemahaman
keluarga yang benar.
Memberikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan.
Memberikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
Memotivasi
keluarga
untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan.
Memberikan reinforcement positif

atas usaha keluarga.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Remaja dalam masa perkembangannya terjadi perubahan, baik secara
biologis, psikologis maupun sosial, yang umumnya pematangan fisik
terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan atau psikososial
(Depkes RI, 2000).
Remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar tetapi kurang
mempertimbangkan akibat dan suka mencoba hal-hal baru. Bila tidak
diberikan informasi/pelayanan yang tepat dan benar, maka perilaku remaja
sering mengarah kepada perilaku yang berisiko, seperti masalah tumbuh
kembang (perubahan fisik dan psikososial), masalah gizi remaja (anemia
kurang darah, KEK, obesitas), penyalahgunaan NAPZA (Narkotika,
Psikotropika dan Zat Aditif lainnya), infeksi menular seksual (IMS),
HIV/AIDS, dan perilaku seksual yang tidak sesuai norma-norma yang
berlaku.

B. SARAN
1. Perawat
Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, hal pertama yang harus
dilakukan adalah membangun hubungan saling percaya dengan
didasarkan

sifat

empati

bukan

simpati,

dan mengetahu

tugas

perkembangan keluarga khususnya keluarga dengan anak usia remaja.

2. Puskesmas
Tenaga

kesehatan

khususnya

pekerja

puskesmas

mampu

mengaplikasikannya kepada masyarakat terutama pada keluarga dengan


usia remaja.
3. Keluarga
Keluarga memahami tugas perkembangan khususnya pada keluarga
dengan

usia

keluarganya.

remaja

dan

mampu

mengaplikasikannya

terhadap