Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN DIABETES MELLITUS

Oleh :
Galuh Angga Setyawan
0710722069

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSTAS BRAWIJAYA
MALANG
2009

Diabetes Mellitus
I.

Definisi, Etiologi dan Klasifikasi


Diabetes Melitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan
herediter, dengan tanda tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau
tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya
insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme
karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein
( Askandar, 2000).
DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat
menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang
peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai
kemungkinan etiologi DM yaitu :
1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel
beta melepas insulin.
2. Faktor faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang
dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang
diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang
disertai pembentukan sel sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan
kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta
oleh virus.
4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan
terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran
sel yang responsir terhadap insulin
Diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

II.

Insiden

Jumlah penderita diabetes mellitus yang terus meningkat di Indonesia perlu


diwaspadai karena kini Indonesia menempati urutan keempat terbesar dunia dengan
prevalensi 8,6 persen dari total penduduk setelah India, China, dan Amerita Serikat.
Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan, jumlah pasien diabetes rawat
inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama dari seluruh
penyakit endokrin. Tahun 1995 jumlah pengidap diabetes diperkirakan 4,5 juta,
tetapi tahun 2005 diperkirakan menjadi 12,4 juta penderita. Peningkatan ini terutama
diakibatkan oleh pertumbuhan populasi, proses penuaan, pola makan yang tidak
sehat, obesitas, dan gaya hidup sedentaris (kurang olahraga).
III. Prognosis Penyakit
Tujuh puluh lima persen penderita diabetes akhirnya meninggal karena
penyakit vaskular. Serangan jantung, gagal ginjal, stroke dan gangren adalah
komplikasi yang paling utama. Selian itu, kematian fetus intrauterin pada ibu-ibu
yang menderita diabetes tidak terkontrol juga meningkat.
IV.

Patofisiologi, Pohon Masalah, Tanda dan Gejala


Diabetes tipe I
Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin
karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemiapuasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu
glukosa yang dihasilkan oleh makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun
tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postpandrial (sesudah
makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut
muncul dalam urin (glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan diekskresikan ke
dalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan
cairan yang berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih
(poliuria) dan rasa haus (polidipsia).
Defesiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang
menyebabkan penurunan berat badan. Pasien yang mengalami peningkatan selera
makan (polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup
kelelahan dan kelemahan.

Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan


glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asamasama amino serta substansi lain), namun pada penderita defesiensi insulin, proses
ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut turut menimbulkan hiperglikemia.
Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan
produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan
keton merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam-basa tubuh apabila
jumlahnya

berlebihan.

Ketoasidosis

diabetik

yang

diakibatkannya

dapat

menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntuh,


hiperventilasi, nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan meninmbulkan
perubahan kesadaran, koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama dengan
cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelianan
metabolik tersebut dan mengatasi gejalan hiperglikemia serta ketoasidosis. Diet dan
latihan disetai pemantauan kadar glukosa darah yang sering merupakan komponen
terapi yang penting.
Diabetes tipe II
Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan
insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan
terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin
dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa
di dalam sel. Resisitensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan
reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi
pengambilan glukosaoleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam
darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang diekskresikan. Pada penderita
toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang
berlebihan, dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau
sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi
peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi
diabetes tipe II.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetes
tipe II, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah
pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu \,
ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikian, diabetes

tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya, yang
dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik.
Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia
lebih dari 30 tahun dan obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat
(selama bertahun-tahun) da progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan
tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan
dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, lua pada kulit yang
lama sembuh, infeksi vagina atau pandangan kabur (jika kadar glukosanya sangat
tinggi).
Untuk sebagian besar pasien (kurang lebih 75%), penyakit diabetes yang
dideritanya ditemukan secara tidak sengaja (misalnya, pada pasien yang menjalani
pemeriksaan laboratorium yang rutin). Salah satu konsekuensi tidak terdeteksinya
penyakit diabetes selama bertahun-tahun adalah bahkan komplikasi diabetes jangka
panjang (misalnya, kelainan mata, neuropati perifer, keliananvaskuler perifer)
mungkin sudah terjadi sebelum diagnosa ditegakkan.

PATOFISIOLOGI:

DIFISEINSI INSULIN
- Sel dan pulau langerhans kurang peka
terhadap rangsangan -->sentak insulin
sesudah makan tidak begitu kuat
- Menekan jumlah resptor insulin pada
target

- Faktor Herediter:
- Degenerasi/tertekannya sel/
perbedaan kepekaan seseorang
terhadap pertambahan umur

- Faktor Herediter:
Berkembangnya kekebalan pada
sel -> distruksi, autonom pada sel
- Degenerasi ringan pada sel
- Penyakit virus

Diabetes Mellitus
IDDM
NON IDDM

- Kelebihan dosis insulin


- kurang jumlah kalori
yang dikonsumsi
- Meningkatnya aktivitas
jasmani lebih cepat

Kelainan Metabolisme Lemak

Glikosuria

Glikosilasi

Retina

Retina angiopati

katarak lentis

Fasilitas
transmembran
asam amino
berkurang

Mobilisasi asam lemak meningkat

Hiperglikemia

Lensa mata

Kelainan Metabolisme Protein

Lipogenesis menurun, Lipolisis meningkat

Output glukosa darah


menurun (glikogenolisis
menurun, glikolisis dalam
otot menurun, lipogenesis
di adiposa menurun

Input glukosa darah


meningkat (glikogenolisis
dalam hepar meningkat,
glukoneogenesis meningkat

PK
Arterosklerosis

Angiopati

Berat badan
menurun

Mk: Penurunan
dtt, kelelahan

Asam amino
sulit masuk
sel

Berat badan
menurun

Asetil Ko A meningkat

Mk: Penurunan
dtt, kelelahan

Ketogenesis meningkat

Sintesis kolesterol meningkat

Benda keton meningkat

kolesterol meningkat

Nafsu makan meningkat

Hiperkolesterolemia dan
ketonimia

Osmolalitas
urine meningkat
Volume urine
meningkat

Masalah Kesehatan:
Gangguan pola makan

PK:
Neuropati
MK:
-Potensial cedera
-Potensial kerusakan
jaringan kulit

Gagal
jantung

Pembuluh
darah kecil

Ganggren
dengan arkus
kecil

Trombosis dengan
oklusi p.d

Perubahan
kulit, atropi

Amputasi minor

Gangguan luas

Ulserasi

MK: Kerusakan
jaringan perifer

Osmotik diuresis
Rasa haus
meningkat

Sisntesis
protein
menurun
PK: Ketoasidosis

Penurunan Proses
-Transkripsi
-Translasi
-Replikasi
-Proliterasi sel
Pertumbuhan jaringan
terhambat

- Luka tidak terkontrol


- Sukar sembuh

PK Infeksi

Arterosklerosis
Masalah kesehatan:
Resiko tinggi perluasan
infeksi dan Kelelahan

Diuresis
Pembuluh darah besar/
makrovaskuler/makroangiopati

-Berkeringat
-Gemetar, sakit
kepala, Palpitasi

Hipoglikemia

Kelainan Metabolisme

Kelainan Metabolisme Karbohidrat

Mk:
Kebutuhan belajar
penatalaksanaan
penyakit

Poliori
MK:
-Gangguan pola
eliminasi
-Gangguan
volume cairan

Dehidrasi
(air dan glukosa
terbuangan
PK: Koma
Diabetikum
MK: Gangguan
pemenuhan
kebutuhan O

Tanda gejala
Menurut Askandar (1998) seseorang dapat dikatakan menderita
diabetes mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu :
a. Keluhan TRIAS : poliuri, polidipsi, penurunan berat badan
b. Kadar glukosa darah waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
c. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl
Sedangkan menurut Waspadji (1996) keluhan yang sering trjadi pada
penderita diabetes mellitus adalah poliuri, polidipsi, polifagi, berat badan
menurun, lemah, kesemutan,gatal, visus menurun, bisul/luka, keputihan.
V.

Pemeriksaan Penunjang
1. Glukosa darah sewaktu
2. Kadar glukosa darah puasa
3. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM
(mg/dl)
Bukan DM

Belum pasti DM

DM

Kadar glukosa darah sewaktu


-

Plasma vena

< 100

100-200

>200

Darah kapiler

<80

80-200

>200

<110

110-120

>126

Kadar glukosa darah puasa


-

Plasma vena

Darah kapiler
<90
90-110
>110
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan :
1.

Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)

2.

Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)

3.

Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah


mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

VI. Komplikasi dan Penatalaksanaan


1. Komplikasi

1.1 Komplikasi Akut


d. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi kalau kadar glukosa darah turun dibawah 50
hingga 60 mg/dl (2,7-3,3 mmol/L). Keadaan ini dapat terjadi akibat
pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi
makanan yang terlalu sedikit, atau karena aktivitas fisik yang berat.
Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari.
Kejadian ini bisa dijumpai sebelum makan, khususnya jika waktu
makan tertunda atau bila pasien lupa makan camilan.
Gejala hipoglikemia dibagi menjadi 3:
Ringan : glukosa darah turun merangsang saraf simpatis
pelimpahan adrenalin ke dalam darah perspirasi, tremor, takikardi,
palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
Sedang : glukosa darah turun sel-sel otak kekurangan energi
sulit konsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat,
patirasa di daerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak
terkoordinasi, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan.
Berat
: glukosa darah turun gangguan berat pada sistem saraf
pusat disorientasi, kejang, sulit dibangunkan, hilang kesadaran.
e. Diabetes ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak
cukupnya jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini mengakibatkan
gangguan pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Tiga
gambaran klinis yang penting pada diabetes ketoasidosis yaitu
dehidrasi, kehilangan elektrolit dan asidosis.
f. Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Nonketotik
Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik merupakan keadaan
yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai
perubahan tingkat kesadaran. Pada saat yang sama tidak ada atau
terjadi ketosis ringan. Kelainan dasar biokimia pada sindrom ini
berupa kekurangan insulin efektif. Keadaan hipergikemia persisten
menyebabkan diuresis osmotik sehingga terjadi kehilangan cairan dan
elektrolit. Untuk mempertahankan keseimbangan osmotik, cairan akan
berpindah dari ruang intrasel ke dalam ruang ekstrasel. Dengan
adanya glukosuria dan dehidrasi, akan dijumpai keadaan hipernatremi
dan peningkatan osmolaritas.

1.2 Komplikasi Jangka Panjang


Komplikasi jangka panjang meliputi :
a. Komplikasi Makrovaskular
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar sering terjadi
pada diabetes. Komplikasi makrovaskular yang terjadi antara lain
penyakit arteri koroner, penyakit serebrovaskular, dan penyakit
vaskular perifer
b. Komplikasi Mikrovaskular
Penyakit mikrovaskular diabetik

ditandai

dengan

penebalan

membran basalis pembuluh kapiler. Membran basalis mengelilingi


sel-sel endotel kapiler. Komplikasi mikrovaskular yang terjadi antara
lain retinopati diabetik, katarak, perubahan lensa, dan nefropati.
c. Neuropati
Neuropati dalam diabetes mengacu kepada sekelompok penyakit
yang menyerang semua tipe saraf, termasuk saraf perifer, otonom
dan spinal. Kelainan tersebut tampak beragam secara klinis dan
bergantung pada lokasi sel saraf yang terkena.
2. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan
aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi
komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe
diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1.

Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan
diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes bertujuan untuk :
a.

Memberikan semua unsur makanan esensial

b.

Mencapai dan mempertahankan berat badan ideal

c.

Memenuhi kebutuhan energi

d.

Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah

e.

Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat

Perencanaan makan bagi pasien diabetes harus mempertimbangkan


kegemaran makan pasie, gaya hidup, jam-jam makan, dan latar belakang
budaya. Bagi pasien yang mendapat terapi insulin intensif, penentuan jam

makan dan banyaknya makanan mungkin lebih fleksibel dengan cara


mengatur kebiasaan makan serta latihan.
2.

Latihan
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya
dapat

menurunkan

kadar

glukosa

darah

dengan

meningkatkan

pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin.


Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan berolahraga. Latihan
dengan cara melawan tahanan dapat meningkatkan lean body mass dan
dengan demikian menambah laju metabolisme istirahat. Semua efek ini
sangat bermanfaat pada diabetes karena dapat menurunkan berat badan,
mengurangi rasa sres dan mempertahankan kesegaran tubuh. Latihan juga
akan mengubah kadar lemak darah , yaitu meningkatkan kadar HDLkolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta trigliserida.
3.

Pemantauan

4.

Terapi (jika diperlukan)


Terapi pada pasien DM meliputi :
g. Obat Hipoglikemi Oral (OHO)
1) Sulfonylureas

Efek utama untuk meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta

Pilihan utama untuk klien dengan BB normal/kurang

Efek samping yang utama yaitu BB naik dan hipoglikemia

2) Biguanides

Membantu sel dalam tubuh merespon lebih efektif terhadap


insulin

Dianjurkan untuk klie gemuk

Kontraindikasi pada klien dengan penyakit ginjal dan hati

3) Inhibitor glucosidase (Acarbase)

Efek utama menurunkan puncak glikemik sesudah makan

Memperlambat absorbsi glukosa di intestine

h. Insulin
Insulin mutlak diberikan pada pasien DM tipe I, sedangkan pada DM
tipe I indikasi penggunaannya adalah :

Ketoasidosis, koma hiperosmolar dan asidosis laktat

Stres berat (infeksi sistemik, operasi berat)

BB menurun dengan cepat

Kehamilan/DM

gestational

yang

tidak

terkendali

dengan

perencanaan makan

Tidak berhasil dikelola dengan OHO dosis maksimal atau ada


kontraindikasi dengan OHO
Kategori insulin (Black & Hawks, 2005)

Insulin

Lama kerja

Awitan

Puncak

Durasi

Reguler(R) Short acting

- 2 jam

2 4 jam

4 6 jam

NPH

Intermediete acting

2 4 jam

4 10 jam

10 16 jam

Long acting

6 10 jam

none

18 20 jam

(neutral
protamine
hagedom)
Lente (L)
Ultralente
(UL)

5.

Pendidikan
Yang perlu diinformasikan ketika memberikan pendidikan kepada pasien
antara lain: pengertian DM, makna perlunya pengendalian dan pemantauan
DM, komplikasi DM, perencanaan makan, kegiatan jasmani, makan dan
perawatan kaki.

VII. Diagnosa Keperawatan


1. Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan gejala poliuri dan
dehidrasi

2. Gangguan nutrisi berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin


dan intake nutrisi yang kurang
3. Resti infeksi (sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi,
penurunan fungsi leukosit, perubahan sirkulasi.
4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya

pengetahuan

tentang

penyakitnya
5. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi
VIII. Intervensi Keperawatan
Dx 1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan gejala poliuri
dan dehidrasi.
Tujuan

: kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi

Kriteria Hasil :Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh


tanda vital stabil .( S : 36 37,50C, N: 60 80 x /menit, T : 100
130 mmHg, RR : 12 20 x /menit ), nadi perifer dapat diraba,
turgor kulit dan pengisian kapiler baik (< 2 detik), haluaran urin
tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.
Rencana intervensi :
1.

Awasi masukan / haluaran. Hitung kehilangan tak kasat mata dan


keseimbangan cairan.
Rasional : menentukan keseimbangan intake dan output

2.

Awasi tekanan darah dan frekuensi jantung


Rasional : Perubahan dapat menunjukkan efek hipovolemia (dehidrasi)

3.

Evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler, dan kondisi umum membran mukosa.
Rasional : Indicator langsung status cairan / hidrasi

4.

Perhatikan adanya mual / demam.


Rasional : Mempengaruhi pemasukan, kebutuhan cairan dan rute penggantian

5.

Dorong cairan sampai 3-4 L/hari

Kolaborasi
6.

Berikan cairan IV sesuai indikasi


Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit pada tak
adanya pemasukan melalui oral.

7.

Cek laboratorium elektrolit (Ht, BUN, Na, K)


Rasional : mengetahui gangguan pada elektrolit

Dx 2. Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh


berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin dan intake
makanan yang kurang.
Tujuan

: Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi

Kriteria hasil : 1. Berat badan dan tinggi badan ideal.


2. Pasien mematuhi dietnya.
3. Kadar gula darah dalam batas normal.
4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.
Rencana Tindakan :
1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.
Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien
sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.
2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.
Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya
hipoglikemia/hiperglikemia.
3. Timbang berat badan setiap seminggu sekali.
Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan
merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ).
4. Identifikasi perubahan pola makan.
Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang
ditetapkan.
5.Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetic
Rasional : insulin dapat mengontrol kadar gula darah pasien
Dx 3. Resti infeksi (sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi,
penurunan fungsi leukosit, perubahan sirkulasi.
Tujuan

: Tidak terjadi infeksi/sepsis

Kriteria Hasil : 1. Pasien dapat mendemonstrasikan teknik dan perubahan gaya


hidup untuk mencegah infeksi.

Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda infeksi
Rasional : Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah
mencetuskan keadaan ketoasidosis.
2. Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada
semua orang yang berhubungan dengan pasien.
Rasional : Mencegah timbulnya infeksi silang
3. Pertahankan teknik aseptic pada prosedur invasive.
Rasional : Kadar glukosa menjadi media yang baik bagi pertumbuhan kuman
4. Berikan perawatan kulit dengan teratur, masase daerah tulang yang tertekan.
Rasional : Sirkulasi perifer bias terganggu
5. Posisikan semifowler.
Rasional : member kemudahan paru untuk berkembang
6. Kolabirasi, lakukan pemeriksaan GD dan beri pengobatan insulin secara teratur
sesuai program terapi.
Rasional : Insulin menurunkan kadar GD

Dx 4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang


penyakitnya.
Tujuan

: rasa cemas berkurang/hilang.

Kriteria Hasil : 1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.


2. Emosi stabil., pasien tenang.
3. Istirahat cukup.
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.
Rasional : Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga
perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.
2. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.
Rasional : Dapat meringankan beban pikiran pasien.
3. Gunakan komunikasi terapeutik.

Rasional : Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien
kooperatif dalam tindakan keperawatan.
4. Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk
ikut serta dalam tindakan keperawatan.
Rasional : Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien
dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.
5. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain
selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.
Rasional : Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan
kecemasan yang dirasakan pasien.
6. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara
bergantian.
Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang
menunggu.
7. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
Rasional : lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa
cemas pasien.
Dx 5. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil :
1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya
dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.
2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang
diperoleh.
Rencana Tindakan :
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM
Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu
mengetahui

sejauh

mana

informasi

pasien/keluarga.
2. Kaji latar belakang pendidikan pasien.

atau

pengetahuan

yang

diketahui

Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan katakata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.
3. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien
dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak
menimbulkan kesalahpahaman.
4. Jelasakan prosedur yang akan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan
pasien didalamnya.
Rasional : Dengan penjelasan yang ada dan ikut secara langsung dalam tindakan
yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.
5. Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada
/memungkinkan).
Rasional : gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah
diberikan

Daftar Pustaka
1. Avicena. 2009. Diabetes Mellitus. (online) www.rajawana.com/index.php.
diabetes-mellitus...pdf
2. Carpenito, Lynda juall. 1997. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 6.
Jakarta: EGC.
3. Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih
bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.
4. Ismail. 2009. Asuhan keperawatan pada klien dengan diabetes mellitus.
(online) http://images.mailmkes.multiply.com/. Diakses tanggal 23 Juli
2009. Jam 16.00 WIB.
5. Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine McCarty. 2005. Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-proses Penyakit., EGC, Jakarta
6. Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry
Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.

Beri Nilai