Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Tenaga pelayanan kesehatan yang paling utama adalah profesi dokter.

Dokter dianggap sebagai pusat konstelasi tenaga profesi kesehatan. Itulah


sebabnya mengapa tenaga kesehatan seperti para perawat dan bidan sering disebut
sebagai tenaga paramedik. Dalam sistem pelayanan kesehatan di negara
manapun, tenaga pelayanan kesehatan yang utama adalah dokter. Oleh sebab itu,
salah satu indikator utama dalam menilai baik buruknya sistem pelayanan
kesehatan di suatu komunitas atau negara adalah rasio jumlah dokter dan jumlah
penduduk. Di negara maju, dengan sistem pelayanan kesehatan yang lebih teratur
dan berjalan baik, tenaga utama pemberi pelayanan kesehatan adalah dokter, baik
di tingkat primer apalagi di tingkat sekunder dan tersier. Oleh sebab itu,
pendidikan dokter harus selalu mengacu pada upaya bagaimana agar lulusan
dokter dapat turut memperkuat sistem pelayanan kesehatan.1
Badan Kesehatan Dunia, WHO pada tahun 1996 dalam artikelnya telah
merekomendasikan lima kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap dokter
masa depan agar mampu menjawab berbagai tantangan. Kompetensi dasar
tersebut akan menjadi identitas the five-stars doctor.2
Setiap dokter diharapkan mampu memberikan beberapa peran. Pertama,
sebagai pemberi pelayanan (care provider), yang memperlakukan pasien secara
holistik, baik sebagai individu maupun bagian integral dari keluarga dan

komunitas. Setiap dokter diharapkan mampu memberikan pelayanan bermutu


tinggi, menyeluruh, berkelanjutan dan perawatan individual berjangka panjang
berdasar kepercayaan yang diberikan pasien. Kedua, pengambil keputusan
(decision maker), yang mampu memilih teknologi tepat sesuai etika dengan
mempertimbangkan cost effectiveness tanpa mengabaikan mutu pelayanan.
Ketiga, komunikator (communicator), yang mampu memperbaiki gaya hidup
sehat melalui pendidikan kesehatan dan advokasi yang efektif, sehingga dapat
memberdayakan

setiap

individu

dan

kelompok

untuk

secara

mandiri

meningkatkan dan melindungi kesehatannya. Keempat, pemimpin masyarakat


(community leader), yang setelah mendapat kepercayaan dari masyarakat
sekitarnya, mampu berinisiatif memenuhi kebutuhan kesehatan mereka. Kelima,
manajer yang mampu bekerja sama secara harmonis dengan perorangan dan
organisasi, baik di dalam maupun di luar sistem pelayanan kesehatan guna
memenuhi kebutuhan komunitasnya.2
1.2

Permasalahan
Bagaimana peran dan fungsi dokter dalam the five-star doctor ?

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1

Dokter Bintang Lima (Five-Stars Doctor)


Pembentukan dokter bintang lima di Indonesia sangat memerlukan

penekanan pada pembentukan karakter jiwa Pancasila. Salah satu contoh


penerapan adalah seorang dokter yang menjalani fungsinya sebagai health care
provider dan berkarakter Pancasila akan menampilkan kepercayaaan dan
ketaqwaaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mengakui dan memperlakukan
pasien sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha
Esa, serta mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap
pasien, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis
kelamin, kedudukan sosial, warna kulit. Di samping itu, sanggup dan rela
berkorban dalam memberi pelayanan kesehatan untuk kepentingan negara dan
bangsa dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain serta mengembangkan
sikap adil terhadap sesama. Intinya dokter akan dibina sebagai seorang yang
profesional, seseorang yang bisa memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai
dengan standar operating prosedur atau standar pelayanan medis dan standar etika
profesi. Selain itu, dokter memiliki jiwa kepemimpinan untuk memimpin
pasiennya ketika pengobatan, berkomunikasi efektif dengan pasien untuk
membentuk suatu kerja sama yang optimal dalam program promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif.1,2

Dokter biasanya terjebak pada rutinitas profesionalisme yang sempit.


Banyak dokter

yang meyakini bahwa ilmu kedokteran hanya terfokus pada

masalah penyakit. padahal idealnya selain melakukan intervensi fisik, dokter


harus berperan dalam intervensi moral dan sosial di tengah masyarakat, yang
menerapkan trias peran dokter, di mana ia dapat sebagai agen perubahan (agent of
change), agen pembangunan (agent of development), dan agen pengobatan (agent
of treatment).2
Di University of Califonia at Irvine, Medical Center, Medical Group, Dokter
keluarga, "the five star doctors" (dokter keluarga di Amerika Serikat biasanya
berbasis hospital) dilukiskan sebagai: 2
1. para dokter yang bekerja dan terlatih khusus untuk pelayanan kedokteran
tingkat pertama (front lines) dalam hal-hal pencegahan, diagnosis dan
pengobatan.
2. Mereka adalah para dokter yang pandai-cerdas, senantiasa mendengarkan
dengan seksama, mengerti akan ucapan, keinginan dan keluhan
pasiennya.
3. Mereka dapat bercakap-cakap dalam bahasa pasiennya dalam suasana
kekeluargaan dan senantiasa siap melayani kebutuhan pasiennya. Baik
dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit.
4. Mereka dapat merujuk pasiennya ke pelayanan dokter tingkat kedua,
pada saat yang tepat atau atas kehendak pasiennya.
Mereka bekerja dengan sistem pencatatan dokter yang baik, mempunyai
staf yang terlatih untuk hal-hal demikian. 2

2.1.1 Dokter sebagai Care Provider


Dokter dituntut untuk menangani pasien secara holistik, baik sebagai
individu maupun sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, serta mampu
menyediakan perawatan berkelanjutan yang berkualitas dalam lingkup hubungan
dokter-pasien yang berdasarkan kepercayaan dan saling menguntungkan. Dokter
sebagai seseorang yang mampu mengobati pasiennya yang merupakan bagian
integral dari keluarga dan masyarakat sekelilingnya dengan kualitas pelayanan
kesehatan yang memadai serta melakukan berbagai pencegahan khusus dalam
jangka waktu yang cukup lama.2,3,4
Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain menghargai kepercayaan
pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut penyakitnya, serta penggunaan
bahasa yang santun, mudah dimengerti dan dipahami oleh pasien sesuai dengan
umur, tingkat pendidikan. Selain itu, seorang dokter harus mempertimbangkan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi psikologis pasien. Kewajiban yang harus
dipenuhi yaitu pelayanan yang maksimal sesuai kondisi pasien, menjawab segala
pertanyaan pasien maupun keluarga, jujur atau memberi informasi apa adanya.2,3,4
Dokter Kepala Puskesmas berperan dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatan dari masyarakat di dalam wilayah kerjanya. Dalam melakukan
pemeriksaan dan tindakan pengobatan hendaknya mempergunakan semua fasilitas
yang ada dan kemampuan yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Hal ini sangat
penting untuk memupuk kepercayaan masyarakat dan para pejabat di lingkungan
kecamatan kepada dokter Puskesmas yang bersangkutan. Bila ada penderita yang
tidak dapat diatasi dengan fasilitas dan kemampuan yang ada, maka penderita

perlu dikirim ke Rumah Sakit yang diperkirakan memiliki kemampuan untuk


mengatasi penderita tersebut dengan persetujuan penderita setelah cukup diberi
pengertian dan motivasi. Ilmu pengetahuan terus berkembang dengan pesat, maka
perlu diusahakan untuk mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh IDI
setempat, atau membaca buku, majalah-majalah bidang klinik maupun bidang
kesehatan masyarakat. 5
2.1.2 Dokter sebagai Decision Maker
Dokter dituntut untuk mampu memilih teknologi tepat guna untuk
digunakan dalam mempertinggi pelayanan kesehatan yang layak dan berbiaya
terjangkau. Dengan kata lain, dokter adalah pengambil keputusan dalam
menentukan teknologi mana yang akan dipakainya dalam pengobatan pasien
dengan memperhatikan cost-effectiveness. Dalam melakukan prosedur klinis,
seorang dokter (dalam hubungannya sebagai Decision Maker) mengambil sikap
dan tindakan sesuai masalah, kebutuhan pasien, serta sesuai kewenangannya.2,3,4
2.1.3 Dokter sebagai Communicator
Dokter dituntut sebagai seorang yang mampu meningkatkan gaya hidup
yang sehat dengan penyuluhan yang efektif dan nasehat yang tepat dalam konteks
budaya dan ekonomi. Dengan demikian, kesehatan perorangan dan masyarakat
akan meningkat dan terjaga sehingga dapat membantu individu maupun kelompok
masyarakat dalam mengubah gaya hidupnya ke arah perilaku sehat. Sebagai
Communicator, dokter diharapkan mampu menguasai area komunikasi efektif
yaitu menggali dan bertukar informasi secara verbal atau non verbal dengan

pasien pada semua usia, anggota keluarga, masyarakat, kolega dan profesi lain.
Proses yang harus diperhatikan, baik dalam berkomunikasi dengan pasien maupun
keluarganya, yaitu rasa kesinambungan, pengumpulan informasi, mendiagnosa,
dan memberi penjelasan.2,3,4
2.1.4 Dokter sebagai Community Leader
Dokter sebagai seseorang yang karena kehormatan dan kepercayaan
masyarakat setempat mampu mengetahui kebutuhan kesehatan perorangan
maupun kelompok, sehingga dapat berperan dalam memotivasi masyarakat untuk
turut berpartisipasi meningkatkan kesehatan umum serta khususnya pada
masyarakat.2,3,4
2.1.5 Dokter sebagai Manager
Dokter sebagai seorang yang dapat bekerja secara efektif dan harmonis
dengan orang lain baik di dalam maupun di luar organisasi sistem pelayanan
kesehatan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan pasien dan masyarakat. Dokter
menjadi orang yang dapat memperdalam dan mengembangkan ilmunya untuk
mengetahui berbagai penyakit yang berada di lingkungannya dalam upaya
meningkatkan pelayanan kualitas hidup manusia. Dokter bukan hanya menjadi
seseorang yang bisa menyembuhkan penyakit saja, tetapi juga dididik untuk
berpikir bagaimana memerdekakan masyarakat atau lingkungannya dari berbagai
penyakit.2,3,4

2.1.5.1 Organisasi dan tatalaksana


Puskesmas mempunyai wilayah satu Kecamatan atau sebagian dari
kecamatan yang langsung bertanggung jawab dalam bidang teknis kesehatan
maupun administratif kepada kepala Dinas Kesehatan Dati II. Puskesmas
Pembantu dan Bidan di Desa dalam wilayah kerja Puskesmas adalah bagian
integral dari Puskesmas. Puskesmas Pembantu melaksanakan sebagian tugastugas Puskesmas sesuai dengan kemampuan tenaga dan fasilitas yang ada dalam
wilayah tertentu yang merupakan sebagian dari wilayah kerja Puskesmas. 5
Jenis dan jumlah tenaga Puskesmas yang sebenarnya tidak perlu sama
untuk tiap puskesmas, tetapi disesuaikan dengan jumlah penduduk dan luas
daerah yang dicakup serta keadaan geografis dan sarana transportasi di wilayah
kerjanya. Namun demikian jumlah tenaga yang tersedia belum dapat memenuhi
kebutuhan pada hingga saat ini, maka untuk sementara diadakan pola tenaga yang
seragam bagi setiap Puskesmas. Yang penting tenaga tersebut bekerja dalam suatu
tim, berarti pekerjaan tenaga yang satu dapat mengisi kekurangan dari tenaga
yang lain dan sebaliknya. Walupun pekerjaan yang dilakukan berbeda-beda akan
tetapi semuanya dalam kerangka satu tujuan, yakni meningkatkan kesehatan
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dan di bawah satu pimpinan yakni Kepala
Puskesmas. 5
Dalam Struktur Puskesmas, Kepala puskesmas perlu melakukan
pembagian tugas bersama-sama stafnya disesuaikan dengan jenis dan jumlah
tenaga serta kegiatan yang dilakukan. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan pula
lokasi pekerjaan dan waktu pekerjaan, sehingga bisa diadakan pembagian tugas

dan giliran kerja yang merata di antara tenaga kerja Puskesmas yang ada dan
pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik. 5
Pertemuan berkala antara Kepala Puskesmas dengan segenap stafnya,
termasuk Puskesmas Pembantu dan Bidan Desa perlu dilakukan secara teratur
setidaknya sebulan sekali. Pembagian tugas dan penjadwalan pertemuan
dilakukan melalui media Mini Lokakarya Puskesmas. 5
Tujuan pertemuan berkala tersebut, antara lain adalah: 5
- Menampung masalah / hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan
pekerjaan sehari-hari untuk dipecahkan bersama.
- Merencanakan bersama kegiatan yang perlu dilakukan dalam bulan
berikutnya atau minggu yang akan datang.
- Menilai hasil-hasil pekerjaan yang telah dilakukan dalam bulan yang lalu.
- Meneruskan informasi / instruksi / petunjuk dari atasan untuk diketahui dan
dilaksanakan bersama.
2.1.5.2 Bimbingan teknis dan supervisi
Selain pertemuan berkala dengan staf Puskesmas yang dilakukan di
Puskesmas, Kepala Puskesmas perlu juga datang untuk melihat dan memberi
bimbingan kepada staf Puskesmas secara berkala di tempat mereka bekerja di
Puskesmas, Puskesmas Perawatan, Puskesmas Pembantu, di lapangan maupun di
rumah penduduk dalam rangka kunjungan rumah. Hal ini penting sekali dilakukan
secara teratur untuk memelihara disiplin kerja staf Puskesmas dalam
melaksanakan

tugas.

Dalam

kunjungan

ini

dimanfaatkan

pula

untuk

meningkatkan sistem rujukan (referral system) dimana konsultasi dari staf

Puskesmas dapat dilakukan di tempat mereka bekerja, disamping melimpahkan


pengetahuan dan ketrampilan kepada staf Puskesmas berdasarkan referensi terkini
dan dapat dipertanggung jawabkan. 5
2.1.5.3 Hubungan kerja antar instansi tingat Kecamatan
Seorang Camat meerupakan koordinator dari semua instansi / dinas di
tingkat Kecamatan, Kepala puskesmas bertanggung jawab secara teknis kesehatan
dan administrative kepada Kepala Dinas kesehatan Dati II. Hubungan dengan
Camat adalah hubungan koordinasi, namun demikian tanggung jawab secara
moril dokter Kepala Puskesmas terhadap Camat tetap ada. 5
Hubungan kerja sama yang baik perlu dipupuk antara Puskesmas dengan
semua instansi di tingkat Kecamatan. Kepala Puskesmas harus secara aktif
mencari hubungan kerjasama dengan instansi-instansi di tingkat Kecamatan.
Usaha kesehatan tidak dapat berjalan sendiri dan perlu kerjasama dengan instansi
lain. Pertemuan berkala antar instansi tingkat Kecamatan perlu diadakan di bawah
koordinasi Camat. 5
2.1.5.4 Dokter Puskesmas sebagai penggerak pembangunan di wilayah
kerjanya
Disamping hubungan langsung antara dokter Kepala puskesmas dan staf
dengan anggota masyarakat sebagai pengunjung Puskesmas dalam rangka
pemeriksaan, pengobatan dan penyuluhan kesehatan, perlu pula dilakukan
hubungan kerja sama dengan masyarakat dalam rangka membantu masyarakat
agar dapat menolong diri mereka sendiri dalam bidang kesehatan. Khususnya
dengan pemuka masyarakat dalam rangka memperbaiki nasib mereka, baik dalam

10

ruang lingkup kesehatan maupun dalam hal-hal yang berhubungan dengan


kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat. 5
Seringkali masyarakat belum dapat mengenal masalah yang mereka
hadapi, dan belum bisa menentukan prioritas masalah yang perlu ditanggulangi.
Dokter Kepala Puskesmas beserta segenap staf bekerja sama dengan instansiinstansi terkait, perlu memberi bimbingan kepada masyarakat untuk mengenal
masalahnya dan menentukan prioritas masalah yang perlu ditanggulangi sesuai
kemampuan swadaya mereka sendiri. Untuk itu perlu dilakukan pertemuanpertemuan, baik secara individu dengan para pemuka masyarakat maupun secara
kelompok. Bila diperlukan latihan, maka Kepala Puskesmas dan segenap stafnya
harus dapat melayaninya. 5

11

BAB III
KESIMPULAN

Dokter sebagai tenaga kesehatan yang paling utama diharapkan mampu


menjalani berbagai peran terutama dalam sistem pelayanan kesehatan. Dimana
peran dokter ini dijelaskan dalam identitas dokter sebagai the five-stars doctor,
yakni : yang pertama sebagai pemberi pelayanan (care provider), kedua sebagai
pengambil

keputusan

(decision

maker),

ketiga

sebagai

komunikator

(communicator), keempat sebagai pemimpin masyarakat (community leader), dan


kelima sebagai manajer.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Lubis F. Dokter Keluarga Sebagai Tulang Punggung Dalam Sistem
Pelayanan Kesehatan. Majalah Kedokteran Indonesia, 2008;58(2):27-34.
2. Boelen C. Dr. THE FIVE-STAR DOCTOR: An asset to health care
reform? WHO, Geneva, Switzerland :1-12.
3. Anonymous. Doctors For Health: A WHO Global Strategy for changing
medical education and medical practice for health for all. WHO, Geneva,
1996:1-22.
4. Huggard P. Secondary Traumatic Stress: Doctors at Risk. New Ethic
Journal, Auckland, 2003 : 9-14.
5. Hatmoko. Materi Kuliah Manajemen Kesehatan Mahasiswa Program Studi
Kedokteran Universitas Mulawarman: Sistem Pelayanan Kesehatan Dasar
Puskesmas. 2006. Samarinda: IKM PSKU Universitas Mulawarman

13