Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
2002/2003, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih berada pada angka 307
per 100.000

kelahiran hidup atau setiap jam terdapat 2 orang ibu bersalin

meninggal dunia karena berbagai sebab. Demikian pula angka kematian bayi
(AKB), khususnya angka kematian bayi baru lahir (neonatal) masih berada pada
kisaran 20 per 1.000 kelahiran hidup. 9,10
Menurut data SKRT tahun 2001, 90 % penyebab kematian ibu karena
adanya komplikasi dan 28 % diantaranya terjadi perdarahan dimasa kehamilan
dan persalinan. Ada beberapa sebab yang tidak langsung tentang masalah
kesehatan ibu, yaitu : 9,10
Pendidikan ibu-ibu terutama yang ada di pedesaan masih rendah. Masih
banyaknya ibu yang beranggapan bahwa kehamilan dan persalinan
merupakan sesuatu yang alami yang berarti tidak memerlukan
pemeriksaan dan perawatan, serta tanpa mereka sadari bahwa ibu hamil
termasuk kelompok risiko tinggi. Ibu hamil memiliki risiko 50 % dapat
melahirkan dengan selamat dan 50 % dapat mengakibatkan kematian.
Sosial ekonomi dan sosial budaya Indonesia yang mengutamakan bapak
dibandingkan ibu, sebagai contoh dalam hal makanan, sang bapak
didahulukan untuk mendapat makanan yang bergizi sedangkan bagian

yang tertinggal diberikan kepada ibu, sehingga angka anemia pada ibu
hamil cukup tinggi mencapai 40 %.
4 terlalu dalam melahirkan, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering
dan terlalu banyak
3 terlambat, yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk
dikirim ke tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan
pelayanan kesehatan.
B. Sasaran Penyuluhan
Pasien ibu hamil yang berobat ke KIA Puskesmas Alalak Selatan
Banjarmasin.

C. Tujuan Penyuluhan
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan dengan penyuluhan diharapkan
pasien ibu hamil yang memeriksakan kehamilan mampu mengenali tanda bahaya
kehamilan dan menghindari kehamilan risiko tinggi.

D. Tempat Pelaksanaan
Balai Pengobatan KIA-KB Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin.

E. Pelaksana
Dokter muda Fakultas Kedokteran UNLAM yang sedang menjalani stase
Ilmu Kesehatan Masyarakat.

F. Metode
Ceramah dan diskusi

G. Media
Leaflet

BAB II
KEHAMILAN RISIKO TINGGI

Kehamilan risiko tinggi adalah suatu kehamilan dimana jiwa dan


kesehatan ibu serta janin atau bayi yang dilahirkan terancam. Dari definisi
tersebut dapat dijelaskan bahwa setiap kehamilan dengan adanya faktor resiko
tertentu akan menyebabkan wanita tersebut dan bayinya menghadapi morbiditas
dan mortalitas yang tinggi selama kehamilan,saat persalinan dan setelah
melahirkan (nifas).1
Untuk menentukan suatu kehamilan risiko tinggi, dilakukan penilaian
terhadap wanita hamil untuk menentukan apakah dia memiliki keadaan atau ciriciri yang menyebabkan dia ataupun janinnya lebih rentan terhadap penyakit atau
kematian (keadaan atau ciri tersebut disebut faktor resiko). Faktor resiko bisa
memberikan suatu angka yang sesuai dengan beratnya resiko. 1

2.1. FAKTOR RISIKO SEBELUM KEHAMILAN


Sebelum hamil, seorang wanita bisa memiliki suatu keadaan yang
menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan. Selain itu, jika seorang
wanita mengalami masalah pada kehamilan yang lalu, maka resikonya untuk
mengalami hal yang sama pada kehamilan yang akan datang adalah lebih besar. 1,2

2.1.1. Karakteristik ibu


Usia wanita mempengaruhi resiko kehamilan. Anak perempuan berusia 15
tahun atau kurang lebih rentan terhadap terjadinya pre-eklamsi (suatu keadaan
yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam air kemih dan
penimbunan cairan selama kehamilan) dan eklamsi (kejang akibat pre-eklamsi).
Mereka juga lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat badan rendah atau bayi
kurang gizi. Risiko kehamilan pada ibu yang terlalu muda biasanya timbul karena
mereka belum siap secara psikis maupun fisik. Secara psikis, umumnya remaja
belum siap menjadi ibu. Bisa saja kehamilan terjadi karena "kecelakaan".
Akibatnya, selain tidak 3ada persiapan, kehamilannya pun tidak dipelihara dengan
baik. Kondisi psikis yang tidak sehat ini dapat membuat kontraksi selama proses
persalinan tidak berjalan lancar sehingga kemungkinan operasi sesar jadi lebih
besar.
Risiko fisiknya pun tak kalah besar karena beberapa organ reproduksi
remaja putri seperti rahim belum cukup matang untuk menanggung beban
kehamilan. Bagian panggul juga belum cukup berkembang sehingga bisa
mengakibatkan kelainan letak janin. 1,2
Kurangnya persiapan untuk hamil juga dikaitkan dengan defisiensi asam
folat dalam tubuh. Akibat kurangnya asam folat, janin dapat menderita spina
bifida (kelainan tulang belakang) atau janin tidak memiliki batok kepala. Risiko
akan berkurang pada ibu yang hamil di usia tua karena biasanya mereka sudah
mempersiapkan kehamilan dengan baik. 1

Risiko kehamilan yang akan dihadapi pada primigravida tua hampir mirip
pada primigravida muda. Hanya saja, karena faktor kematangan fisik yang
dimiliki maka ada beberapa risiko yang akan berkurang pada primigravida tua.
Misalnya menurunnya risiko cacat janin yang disebabkan kekurangan asam folat.
Risiko kelainan letak janin juga berkurang karena rahim ibu di usia ini sudah
matang. Panggulnya juga sudah berkembang baik. Bahaya yang mengancam
primigravida tua justru berkaitan dengan fungsi organ reproduksi di atas usia 35
tahun yang sudah menurun sehingga bisa mengakibatkan perdarahan pada proses
persalinan dan preeklamsia. 1,2
Hal yang patut dipertimbangkan adalah meningkatnya risiko kelainan
sindrom down pada janin, yaitu sebuah kelainan kombinasi dari retardasi mental
dan abnormalitas bentuk fisik yang disebabkan kelainan kromosom. "Pada
kehamilan di bawah usia 30 tahun kemungkinan adanya sindrom down hanya
1:1600, tapi di atas 35 tahun menjadi 1:600, dan di usia 40 tahun menjadi 1:160.
Peningkatan beberapa kali lipat ini dikarenakan perubahan kromosom akibat usia
ibu yang semakin tua. Pada wanita hamil yang berusia diatas 35 tahun bisa
dilakukan pemeriksaan cairan ketuban (amniosentesis) untuk menilai kromosom
janin. 1,2
Wanita yang berusia 35 tahun atau lebih, lebih rentan terhadap tekanan
darah tinggi, diabetes atau obesitas dan terhadap keadaan medis lainnya.1
Seorang wanita yang pada saat tidak hamil memiliki berat badan kurang
dari 50 kg, lebih mungkin melahirkan bayi yang lebih kecil dari usia kehamilan
(KMK, kecil untuk masa kehamilan). Jika kenaikan berat badan selama kehamilan

kurang dari 7,5 kg, maka resikonya meningkat sampai 30%. Sebaliknya, seorang
wanita gemuk lebih mungkin melahirkan bayi besar. Obesitas juga menyebabkan
meningkatnya resiko terjadinya diabetes dan tekanan darah tinggi selama
kehamilan. Seorang wanita yang memiliki tinggi badan kurang dari 1,4 meter,
lebih mungkin memiliki panggul yang sempit. Selain itu, wanita tersebut juga
memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami persalinan prematur dan
melahirkan bayi yang sangat kecil.1,2

2.1.2. Riwayat Kehamilan Sebelumnya


Seorang wanita yang 3 kali berturut-turut mengalami keguguran pada
trimester pertama, memiliki resiko sebesar 35% unuk mengalami keguguran lagi.
Keguguran juga lebih mungkin terjadi pada wanita yang pernah melahirkan bayi
yang sudah meninggal pada usia kehamilan 4-8 minggu atau pernah melahirkan
bayi prematur.
Sebelum mencoba hamil lagi, sebaiknya seorang wanita yang pernah
mengalami keguguran menjalani pemeriksaan untuk: 1,2
- kelainan kromosom atau hormon
- kelainan struktur rahim atau leher rahim
- penyakit jaringan ikat (misalnya lupus)
- reaksi kekebalan pada janin (biasanya ketidaksesuaian Rh).
Jika penyebab terjadinya keguguran diketahui, maka dilakukan tindakan
pengobatan.
Kematian di dalam kandungan atau kematian bayi baru lahir bisa terjadi

akibat:
- Kelainan kromosom pada bayi
- Diabetes
- Penyakit ginjal atau pembuluh darah menahun
- Tekanan darah tinggi
- Penyalahgunaan obat
- Penyakit jaringan ikat pada ibu (misalnya lupus).
Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi prematur, memiliki resiko
yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan berikutnya.
Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi dengan berat badan kurang dari 1,5
kg, memiliki resiko sebesar 50% untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan
berikutnya.1,2
Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari
4 kg, mungkin dia menderita diabetes. Jika selama kehamilan seorang wanita
menderita diabetes, maka resiko terjadinya keguguran atau resiko kematian ibu
maupun bayinya meningkat.1,2
Pemeriksaan kadar gula darah dilakukan pada wanita hamil ketika
memasuki usia kehamilan 20-28 minggu. Seorang wanita yang telah mengalami
kehamilan sebanyak 6 kali atau lebih, lebih mungkin mengalami:
- kontraksi yang lemah pada saat persalinan (karena otot rahimnya lemah)
- perdarahan setelah persalinan (karena otot rahimnya lemah)
- persalinan yang cepat, yang bisa menyebabkan meningkatnya resiko perdarahan
vagina yang berat

- plasenta previa (plasenta letak rendah).


Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi yang menderita penyakit
hemolitik, maka bayi berikutnya memiliki resiko menderita penyakit yang sama.
Penyakit ini terjadi jika darah ibu memiliki Rh-negatif, darah janin memiliki Rhpositif dan ibu membentuk antibodi untuk menyerang darah janin; antibodi ini
menyebabkan kerusakan pada sel darah merah janin. Pada kasus seperti ini,
dilakukan pemeriksaan darah pada ibu dan ayah. Jika ayah memiliki 2 gen untuk
Rh-positif, maka semua anaknya akan memiliki Rh-positif; jika ayah hanya
memiliki 1 gen untuk Rh-positif, maka peluang anak-anaknya untuk memiliki Rhpositif adalah sebesar 50%. Biasanya pada kehamilan pertama, perbedaan Rh
antara ibu dengan bayinya tidak menimbulkan masalah, tetapi kontak antara darah
ibu dan bayi pada persalinan menyebabkan tubuh ibu membentuk antibodi.
Akibatnya, resiko penyakit hemolitik akan ditemukan pada kehamilan berikutnya.
Tetapi setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif, biasanya pada ibu yang
memiliki

Rh-negatif

diberikan

immunoglobulin

Rh-nol-D,

yang

akan

menghancurkan antibodi Rh. Karena itu, penyakit hemolitik pada bayi jarang
terjadi. 1,2
Seorang wanita yang pernah mengalami pre-eklamsi atau eklamsi,
kemungkinan akan mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya, terutama jika
diluar kehamilan dia menderita tekanan darah tinggi menahun. Jika seorang
wanita pernah melahirkan bayi dengan kelainan genetik atau cacat bawaan,
biasanya sebelum merencanakan kehamilan berikutnya, dilakukan analisa genetik
pada bayi dan kedua orangtuanya. 1,2

2.1.3. Kelainan struktur


Kelainan struktur pada organ reproduksi wanita (misalnya rahim ganda
atau leher rahim yang lemah) bisa meningkatkan resiko terjadinya keguguran.
Untuk mengetahui adanya kelainan struktur, bisa dilakukan pembedahan
diagnostik, USG atau rontgen. Fibroid (tumor jinak) di dalam rahim bisa
meningkatkan resiko terjadinya:1,2
- kelahiran prematur
- gangguan selama persalinan
- kelainan letak janin
- kelainan letak plasenta
- keguguran berulang.

2.1.4. Keadaan kesehatan


Keadaan kesehatan tertentu pada wanita hamil bisa membahayakan ibu
dan bayi yang dikandungnya. Keadaan kesehatan yang sangat penting adalah:
- Tekanan darah tinggi menahun
- Penyakit ginjal
- Diabetes
- Penyakit jantung yang berat
- Penyakit sel sabit
- Penyakit tiroid
- Lupus

10

- Kelainan pembekuan darah.

2.1.5. Riwayat keluarga


Riwayat adanya keterbelakangan mental atau penyakit keturunan lainnya
di keluarga ibu atau ayah menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya
kelainan tersebut pada bayi yang dikandung. Kecenderungan memiliki anak
kembar juga sifatnya diturunkan.

2.2. FAKTOR RISIKO SELAMA KEHAMILAN


Seorang wanita hamil dengan resiko rendah bisa mengalami suatu
perubahan yang menyebabkan bertambahnya resiko yang dimilikinya.Dia
mungkin terpapar oleh teratogen (bahan yang bisa menyebabkan cacat bawaan),
seperti radiasi, bahan kimia tertentu, obat-obatan dan infeksi; atau dia bisa
mengalami kelainan medis atau komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan.

2.2.1. Obat-obatan atau infeksi


Obat-obatan yang diketahui bisa menyebabkan cacat bawaan jika diminum
selama hamil adalah:
- Alkohol
- Phenitoin
- Obat-obat yang kerjanya melawan asam folat (misalnya triamteren atau
trimethoprim)
- Lithium

11

- Streptomycin
- Tetracyclin
- Talidomide
- Warfarin.
Infeksi yang bisa menyebabkan cacat bawaan adalah:
- Herpes simpleks
- Hepatitis virus
- Influenza
- Gondongan
- Campak Jerman (rubella)
- Cacar air (varisela)
- Sifilis
- Listeriosis
- Toksoplasmosis
- Infeksi oleh virus coxsackie atau sitomegalovirus.
Merokok berbahaya bagi ibu dan janin yang dikandungnya, tetapi hanya
sekitar 20% wanita yang berhenti merokok selama hamil. Efek yang paling sering
terjadi akibat merokok selama hamil adalah berat badan bayi yang rendah. Selain
itu, wanita hamil yang merokok juga lebih rentan mengalami:
- komplikasi plasenta
- ketubah pecah sebelum waktunya
- persalinan premature
- infeksi rahim.

12

Seorang wanita hamil yang tidak merokok sebaiknya menghindari asap


rokok dari orang lain karena bisa memberikan efek yang sama terhadap janinnya.
Cacat bawaan pada jantung, otak dan wajah lebih sering ditemukan pada bayi
yang ibunya merokok.
Merokok selama hamil juga bisa menyebabkan meningkatnya resiko
terjadinya sindroma kematian bayi mendadak.

Selain itu, anak-anak yang

dilahirkan oleh ibu perokok bisa mengalami kekurangan yang sifatnya ringan
dalam hal pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual dan perilaku. Efek ini
diduga disebabkan oleh karbon monoksida (yang menyebabkan berkurangnya
pasokan oksigen ke jaringan tubuh) dan nikotin (yang merangsang pelepasan
hormon yang menyebabkan pengkerutan pembuluh darah yang menuju ke
plasenta dan rahim).Mengkonsumsi alkohol selama hamil bisa menyebabkan cacat
bawaan.
Sindroma alkohol pada janin merupakan salah satu akibat utama dari
pemakaian alkohol selama hamil. Sindroma ini ditandai dengan:
- keterbelakangan pertumbuhan sebelum atau sesudah lahir
- kelainan wajah
- mikrosefalus (ukuran kepala lebih kecil), yang kemungkinan disebabkan oleh
pertumbuhan otak yang dibawah normal
- kelainan perkembangan perilaku.
Sindroma alkohol pada janin seringkali menyebabkan keterbelakangan
mental. Selain itu, alkohol juga bisa menyebabkan keguguran dan gangguan

13

perilaku yang berat pada bayi maupun anak yang sedang tumbuh (misalnya
perilaku antisosial dan kurang memperhatikan). 1,2
Resiko terjadinya keguguran pada wanita hamil yang mengkonsumsi
alkohol adalah 2 kali lipat, terutama jika wanita tersebut adalah peminum berat.
Berat badan bayi yang dilahirkan berada di bawah normal, yaitu rata-rata 2 kg.
Suatu pemeriksaan laboratorium yang sensitif dan tidak memerlukan biaya besar,
yaitu kromatografi, bisa digunakan untuk mengetahui pemakaian heroin, morfin,
amfetamin, barbiturat, kodein, kokain, marijuana, metadon atau fenotiazin pada
wanita hamil.
Wanita yang menggunakan obat suntik memiliki resiko tinggi terhadap:
- Anemia
- Bakteremia
- Endokarditis
- Abses kulit
- Hepatitis
- Flebitis
- Pneumonia
- Tetanus
- Penyakit menular seksual (termasuk AIDS).
Sekitar 75% bayi yang menderita AIDS, ibunya adalah pemakai obat
suntik atau pramuria. Bayi-bayi tersebut juga memiliki resiko menderita penyakit
menular seksual lainnya, hepatitis dan infeksi. Pertumbuhan mereka di dalam
rahim kemungkinan mengalami kemunduran dan mereka bisa lahir prematur.

14

Kokain merangsang sistem saraf pusat, bertindak sebagai obat bius lokal dan
menyebabkan pengkerutan pembuluh darah. Pembuluh darah yang mengkerut bisa
menyebabkan

berkurangnya

aliran

darah

sehingga

kadang janin

tidak

mendapatkan oksigen yang cukup. Berkurangnya aliran darah dan oksigen bisa
menyebabkan gangguan pertumbuhan berbagai organ dan biasanya menyebabkan
cacat kerangka serta penyempitan sebagian usus. 1,2
Pemeriksaan air kemih untuk mengatahui adanya kokain biasanya
dilakukan jika:
- seorang wanita hamil tiba-tiba menderita tekanan darah tinggi yang berat
- terjadi perdarahan akibat pelepasan plasenta sebelum waktunya
- terjadi kematian dalam kandungan yang sebabnya tidak diketahui.
31% dari wanita pemakai kokain mengalami persalinan prematur, 19%
melahirkan bayi yang pertumbuhannya terhambat dan 15% mengalami pelepasan
plasenta sebelum waktunya.Jika pemakaian kokain dihentikan setelah trimester
pertama, maka resiko persalinan prematur dan pelepasan plasenta sebelum
waktunya tetap meningkat, tetapi pertumbuhan janinnya normal. 1,2

2.2.2. Keadaan kesehatan


Tekanan darah tinggi pada wanita hamil bisa disebabkan oleh kehamilan
atau keadaan lain. Tekanan darah tinggi di akhir kehamilan bisa merupakan
ancaman serius terhadap ibu dan bayinya dan harus segera diobati. Jika seorang
wanita hamil pernah menderita infeksi kandung kemih, maka dilakukan
pemeriksaan air kemih pada awal kehamilan. Jika ditemukan bakteri, segera

15

diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi ginjal yang bisa menyebabkan


persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya. Infeksi vagina oleh
bakteri selama hamil juga bisa menyebabkan persalinan prematur dan ketuban
pecah sebelum waktunya. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, diberikan
antibiotik. 1,2
Penyakit yang menyebabkan demam (suhu lebih tinggi dari 39,4 Celsius)
pada trimester pertama menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya
keguguran dan kelainan sistem saraf pada bayi. Demam pada trimester terakhir
menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya persalinan prematur. 1,2

2.2.3. Komplikasi kehamilan


1. Inkompatibilitas Rh
Ibu dan janin yang dikandungnya bisa memiliki jenis darah yang tidak
sesuai.

Yang paling sering terjadi adalah inkompatibilitas Rh, yang bisa

menyebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. Penyakit hemolitik bisa
terjadi jika ibu memiliki Rh-negatif, ayah memiliki Rh-positif, janin memiliki Rhpositif dan tubuh ibu membuat antibodi untuk melawan darah janin. Jika seorang
ibu hamil memiliki Rh-negatif, maka dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap
janin setiap 2 bulan. 12
Resiko pembentukan antibodi ini meningkat pada keadaan berikut:
- setelah terjadinya perdarahan dimana darah ibu dan darah janin bercampur
- setelah pemeriksaan amniosentesis

16

- dalam waktu 72 jam setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif. Pada saat ini
dan pada kehamilan 28 minggu, diberikan imunoglobulin Rh-nol-D kepada ibu,
yang akan menghancurkan antibodi Rh.12
2. Perdarahan
Penyebab perdarahan paling sering pada trimester ketiga adalah:
- Kelainan letak plasenta
- Pelepasan plasenta sebelum waktunya
- Penyakit pada vagina atau leher rahim (misalnya infeksi). Perdarahan pada
trimester ketiga memiliki resiko terjadinya kematian bayi, perdarahan hebat dan
kematian ibu pada saat persalinan. Untuk menentukan penyebab terjadinya
perdarahan bisa dilakukan pemeriksaan USG, pengamatan leher rahim dan Pap
smear.12
3. Kelainan pada cairan ketuban
Air ketuban yang terlalu banyak akan menyebabkan peregangan rahim dan
menekan diafragma ibu. Hal ini bisa menyebabkan gangguan pernafasan yang
berat pada ibu atau terjadinya persalinan prematur. Air ketuban yang terlalu
banyak cenderung terjadi pada:
- ibu yang menderita diabetes yang tidak terkontrol
- kehamilan ganda
- inkompatibilitas Rh
- bayi dengan cacat bawaan (misalnya penyumbatan kerongkongan atau kelainan
sistem saraf).
Air ketuban yang terlalu sedikit ditemukan pada:

17

- bayi yang memiliki cacat bawaan pada saluran kemih


- bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan
- bayi yang meninggal di dalam kandungan.12
4. Persalinan prematur
Persalinan prematur lebih mungkin terjadi pada keadaan berikut:
- ibu memiliki kelainan struktur pada rahim atau leher rahim
- perdarahan
- stress fisik atau mental
- kehamilan ganda
- ibu pernah menjalani pembedahan rahim.
Persalinan prematur seringkali terjadi jika:
- bayi berada dalam posisi sungsang
- plasenta terlepas dari rahim sebelum waktunya
- ibu menderita tekanan darah tinggi
- air ketuban terlalu banyak
- ibu menderita pneumonia, infeksi ginjal atau apendisitis.12

5. Kehamilan ganda
Kehamilan lebih dari 1 janin juga bisa menyebabkan meningkatnya
kemungkinan terjadinya cacat bawaan dan kelainan pada saat persalinan.12
6. Kehamilan lewat waktu
Pada kehamilan yang terus berlanjut sampai lebih dari 42 minggu,
kemungkinan terjadinya kematian bayi adalah 3 kali lebih besar.12

18

2.3. KLASIFIKASI KEHAMILAN RESIKO TINGGI


Kehamilan Resiko tinggi dapat digolongkan secara sederhana berdasarkan:
2,3

A. Demografis / Umum
a. Usia Ibu
Primipara kurang dari 18 tahun
Kehamilan diatas 35 tahun
Perkawinan diatas 5 tahun ( anak mahal )
b. Suku /Ras
Bukan ras Kaukasia
Kecenderungan BBLR pada bayi kulit hitam
c. Status Sosio Ekonomi
Keadaan keuangan yang buruk
Lingkungan yang buruk
Masalah sosial yang berat / Kelas sosial
Pekerjaan orang tua
Pendidikan orang tua
d. Status Perkawinan
Orang tua tunggal
Orang tua tidak menikah

B. Riwayat Obstetri Terdahulu

19

a. Paritas
Primigravida tua primer atau sekunder
Grandemultipara
b. Riwayat kehamilan yang buruk
Pernah Keguguran ( Keguguran yang berulang lebih dari 2 kali )
Kehamilan dengan kelainan letak
Sering mengalami perdarahan saat hamil / perdarahan antepartum
(solusio plasenta / plasenta previa)
Terjadi Infeksi saat hamil
Riwayat Mola hidatidosa atau Korio Karsinoma
Kehamilan ganda dan juga Hydramnion
Kehamilan dengan Preeklamsia dan Eklampsia
Gravida Serotinus
Riwayat IUFD
Kehamilan Ektopik

c. Riwayat persalinan terdahulu


Riwayat persalinan dengan tindakan

(Ekstraksi vakum, Ekstraksi

Forceps, Operasi Sectio Caesaria, Ekstraksi Plasenta manual)


Riwayat persalinan prematur dua kali atau lebih
Riwayat persalinan lahir mati
Riwayat persalinan dengan perdarahan pasca salin
Riwayat persalinan dengan berat bayi lahir rendah

20

Riwayat persalinan dengan induksi


Terdapat Disproporsi Sevalopelvik
Sangkaan Dismaturitas
d. Komplikasi medis dari kehamilan yang berhubungan dengan:
Anemia
Hipertensi ( Tekanan darah > 140/90 mmHg )
Penyakit jantung ( RHD, CHD )
Hamil dengan penyakit menular seksual ( Chlamidia, HIV, GO )
Hamil dengan Penyakit Metabolik ( DM, Penyakit Thyroid )
Hamil dengan Kejang
Hamil dengan obesitas
Hamil dengan penyakit ginjal ( Glomerulonephritis, Nefrotik syndrome )
Hamil dengan penyakit hepar ( Hepatitis )
Hamil dengan penyakit paru ( TBC, Asma bronchiale )
Hamil dengan kelainan endokrin ( Pituitary, Adrenal )
Hamil dengan penyakit gastrointestinal ( Appendicitis )
e. Hasil kehamilan
Kelainan Kongenital ( Kemungkinan untuk berulang ) misalnya :
Hidrosepalus, anensepalus, kembar siam
f. Riwayat infertilitas

C. Riwayat Medis Terdahulu


a. Perokok

21

b. Penyalahgunaan Alkohol
c. Penyalahgunaan Obat-obatan
d. Ibu yang sedang sakit kronis dan sedang mendapatkan pengobatan
e. Riwayat operasi
Operasi plastik pada fistel vagina atau tumor vagina
Operasi persalinan atau operasi pada rahim
Riwayat adanya masalah dengan anastesi

D. Riwayat Ginekologi
a. Subfertilitas
b. Kontrasepsi
c. Ketidakteraturan pola menstruasi

E. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Kelainan kongenital
b. Diabetes Mellitus
c. Hipertensi
d. Penyakit ginjal

F. Pemeriksaan Fisik
a. Hasil pemeriksaan umum :
Berat badan ibu

22

BB < 45 kg (Resiko bayi IUGR)


BB > 65 kg (Hipertensi, Diabetes Gestasional)
Tinggi badan ibu <145 cm
Deformitas pada tulang belakang
b. Hasil pemeriksaan Kehamilan (Faktor resiko yang timbul selama kehamilan) :
Kehamilan Triemster I
Hiperemesis gravidarum berat
Perdarahan
Nyeri abdomen
Infeksi Intrauterine (CMV, TORCH)
Kehamilan Trimester II dan III
Perdarahan
Preeklamsi, Eklampsi
Gangguan pertumbuhan
Hidramnion
Kehamilan ganda
Saat Inpartu
Keadaan Resiko Tinggi Dari Sudut Ibu
- Ketuban Pecah dini
- Persalinan lama melampaui batas waktu perhitungan partograf WHO
- Persalinan terlantar
- Ruptura uteri imminens
- Ruptura uteri

23

- Persalinan kelainan letak janin


- Distosia karena tumor jalan lahir, distosia bahu bayi atau bayi yang besar
- Perdarahan antepartum
- Retensio plasenta
Keadaan Resiko Tinggi Ditinjau Dari Janin
- Distres Janin
- Pecah ketuban disertai perdarahan
- Dismaturitas
- Makrosomia
- Infeksi Intrauterine
- Pembentukan kaput yang besar

Keadaan Resiko Tinggi Paska Partus


- Persalinan dengan Retensio plasenta
- Atonia uteri paska partus
- Persalinan dengan robekan perineum yang luas, robekan serviks, vagina
dan juga ruptura uteri.

G. Pemeriksaan Laboratorium
a. Urinalisis (Glukosuria, Proteinuria, Hematuria)
b. Pemeriksaan darah rutin dan skrining antibody : Hb < 10 mg/dl
c. Skrining serologis untuk Rubella, HIV, dan sebagainya tergantung dari
prevalensi tempat ibu hamil berada (Mis : Hepatitis, HIV)

24

d.

Skrining serologis untuk anomali janin (Mis: Neural Tube Defect, Downs

Syndrome)

2.4. PENILAIAN KEHAMILAN DALAM RESIKO TINGGI


Ada 2 cara menetukan pengelompokkan kehamilan resiko tinggi, yaitu
kriteria, dan cara nilai (skor). Keduanya diperoleh dari anamnesis tentang umur,
paritas, riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu, pemeriksaan lengakp
kehamilan sekarang, dan pemeriksaan laboratorium penunjang yang diperlukan.
Kasus-kasus yang telah dikumpulkan diteliti terhadap resiko yang terjadi terhadap
ibu dan anak.4

Kriteria yang dikemukakan oleh peneliti-peneliti dari berbagai institut


berbeda-beda, namun dengan tujuan yang sama mencoba mengelompokkan kasuskasus resiko tinggi. Rochayati dkk mengemukakan kriteria kehamilan resiko
tinggi sebagi berikut :
- Primi Muda
- Primi tua
- Primi tua sekunder
- Umur 35 tahun atau lebih
- Tinggi badan 145 cm atau kurang
- Grandemultiupara
- Riwayat persalinan yang buruk

25

- Bekas seksio sesaria


- Preeklampsia
- Hamil serotinus
- Perdarahan antepartum
- Kelainan letak
- Kelainan medis dan lain-lain
Dealy (Medan) memakai krieteria sebagai berikut:
Komplikasi obstetrik
a. Umur
- 19 tahun atau kurang
- 35 tahun ke atas
b. Paritas
- Primigravida
- Grandemultipara (para lebih dari 6)
c. Riwayat persalinan yang lalu
- 2 kali abortus atau lebih
- 2 kali partus prematurus atau lebih
- Kematian janin dalam kandungan atau kematian perinatal
- Perdarahan pasca persalinan
- Preeklampsi dan eklampsi
- Kehamilan mola
- Pernah ditolong secara obstetri operatif
- Pernah operasi ginekologi

26

- Pernah insersia uteri


d. Disporposi cefalo pelvik
e. Perdarah antepartum
f. Pre eklampsi dan eklampsi
g. Kehamilan ganda
h. Hidramnion
i. Kelainan letak pada hamil tua
j. Dismaturitas
k. Kehamilan pada infertilitas
l. Persaliinan terakhir 5 tahun atau lebih
m. Inkompetensi servik
n. Postmaturitas
o. Hamil dengan tumor (mioma atau kista ovarii0
p. Uji serologik lues positif

a. Anemia
b. Hipertensi
c. Penyakit jantung
d. Diabetes melitus
e. Obesitas
f. Penyakit saluran kkencing
g. Penyakti hati
h. Penyakti paru

27

i. Penyakit-penyakit lain dalam kehamilan

Bagi tenaga paramedik atau tenaga kesehatan lainnya, memang agak sulit
menggolongkan kasus resiko tinggi denga cara kriteria. Maka dibuatlah
cara yang lebih praktis yaitu membuat daftar nilai yang dapat diisi oleh
paramedis.Sebagai contoh, disini dikemukakan daftar skor oleh Rochayati
(Surabaya). Daftar skor ini dapat diisi pada setiap kaus yang datang waktu
pemeriksaan antenatal. Dengan perhitungan secara statistik diperoleh nilai 150
sebagai batas pemisah antara kehamilan resiko tinggi dan bukan resiko tinggi.
Dasar perhitungan dibuat setelah mengadakan penelitian dan evaluasi terhadap
hasil persalinan berupa prematurisa, skor APGAR dibawah 7, dan kematian
perinatal.4

2.5. DETEKSI DAN PENCEGAHAN


Untungnya semua kelainan yang menjadi risiko kehamilan di usia rawan
sudah bisa dideteksi. Sebagian malah dapat dicegah dan yang lain bisa dirawat
sehingga mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitasnya. Tekanan darah,
misalnya bisa diukur dan diobati sehingga dapat mencegah terjadinya
preeklamsia. Kasus plasenta previa juga dapat ditangani dengan bedah sesar Jadi
sebagian kelainan bisa dikoreksi. Sebagian lagi bisa dipantau dengan ketat dan
yang lain bisa diatasi dengan melakukan tindakan untuk pertolongan. Usaha
pencegahan penyakit pada kehamilan dan persalinan tidak hanya pada segi medis
atau kesehatan saja. Faktor sosialekonomi rendah juga tidak terlepas dari

28

kemiskinan, kebodohan, ketidaktahuan, mempunyai kecenderungan untuk


menikah pada usia muda dan tidak berpartisipasi dalam keluarga berencana.
Disamping itu keadaan sosial ekonomi yang rendah juga akan mengakibatkan gizi
ibu dan perilaku pemanfaaatan kesehatan yang buruk.13,14
Transportasi yang baik disertai dengan ketersediaan pusat-pusat pelayanan
yang bermutu akan dapat melayani ibu hamil untuk mendapat asuhan prenatal
yang baik, cakupan yang luas dan jumlah pemeriksaan yang cukup. 13,14
Di negara maju setiap wanita hamil memeriksakan diri sekitar 15 kali
selama kehamilannya.Sedangkan di Indonesia biasanya wanita hamil hanya
memeriksakan diri 4-5 kali. 13,14
Jadi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa usaha yang dapat
dilakukan untuk pencegahan penyulit pada kehamilan dan persalinan adalah :
1. Asuhan prenatal yang baik dan bermutu bagi setiap wanita hamil
2. Peningkatan pelayanan, jaringan pelayanan dan sistem rujukan kesehatan
3. Peningaktan pelayanan gawat darurat sampai ke lini terdepan
4. Peningakatan status wanita baik dalam pendidikan, gizi, masalah kesehatan
wanita dan reproduksi dan peningkatan status sosial ekonominya
5. Menurunkan tingkat fertilitas yang tingggi melalui program keluarga berencana
6. Bila ditemukan kelainan risiko tinggi pemeriksaan harus lebih sering dan
lebih intensif.13,14
Kelainan yang tidak dapat dicegah adalah sindrom down. Satu-satunya
cara untuk meminimalkan risiko ini adalah ibu harus hamil di usia reproduksi
sehat. Namun kelainan tersebut dapat dideteksi dengan screening darah dan USG

29

pada kehamilan dini. Tapi deteksi terakurat hanyalah melalui tindakan


amniosentesis atau mengambil contoh jaringan janin untuk dilihat kromosomnya.
jika janin terbukti menderita down syndrome maka dokter bisa melakukan
konseling pada suami-istri. Apa yang akan terjadi, apa yang bisa dilakukan oleh
dokter, apakah kehamilan akan diteruskan atau tidak. Bila diteruskan bagaimana
risikonya dan lainnya. 1,2

2.6. STRATEGI PENANGANAN KEHAMILAN RESIKO TINGGI


Setiap kasus kehamilan resiko tinggi memerlukan penanganan yang lebih
intensif selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas oleh tenaga-tenaga
yang berpengalaman. Penanganan dilakukan sesuai dengan faktor resiko yang
dijumpai, dan kalau perlu penderita dirujuk ke tempat-tempat yang lebih mampu
menanganinya dimana tersedia tenaga dan fasilitas yang memadai. 5
Pengawasan selama kehamilan dengan cara melakukan koreksi terhadap
faktor resiko yang dijumpai, serta melakukan monitoring kadaan janian di dalam
kandungan. Dengan demikian dapat diambil sikap yang sebaik-baiknya untuk
menetukan waktu dan cara pengakhiran kehamilannya.Untuk tujuan tesebut,
perawatan antenatal/prenatal jelas memegang peranan yang sangat penting.
Demikian juga proses pengawasan selama proses persalinan, kadaan janin harus
meliputi secara seksama dan pertolongan persalinan harus diverikan dengan

30

sebaik-baiknya. Sehingga dapat ditentukan cara dan waktu yang tepat untuk
mengakhiri persalinan.5
Perawatan postpartum dengan fasilitas resusitasi bayi dan perawatan
khusus untuk bayi-bayi BBLR serta asfiksia serta neonatorum juga sangat
penting. Disamping itu dianjurkan juga perawatan pada masa antar konsepsi
seperti : perbaikan gizi, pengobatan anemia, penyembuhan penyakit kronis, dan
untuk mengikuti keluarga berencana.
Untuk penanganan yang menyeluruh diperlukan kerjasama yang baik
antara beberapa tenaga ahli seperti ahli kebidanan, ahli kesehatan anak, ahli
penyakit dalam, ahli anestesi, dan sebagainya. Juga tidak kalah pentingnya kerja
sama dengan petugas-petugas kesehatan diluar rumah sakit, terutama dalam hal
konsultasi dan rujukan. 5

Sasaran perawatan prenatal adalah menjamin bahwa setiap kehamilan


yang diinginkan diberi kesempatan maksimal untuk mencapai puncaknya delam
melahirkan seorang bayi yang sehat tanpa mengganggu kesehatan ibu. 6
Pada kunjungan prenatal pertama, anamnesis yang menyeluruh harus
dilakukan termasuk penilaian resiko dengan melakukan skrining awal seperti :
umur ibu, cara melakukan konsepsi, riwayat medis sebelumnya, riwayat keluarga,
riwayat obstetri sebelumnya, dan juga pemeriksaan fisik. Penilaian resiko dapat
dilakukan dengan cara yang telah diorganisasikan dengan menggunakan bentuk
standar seperti yang telah dibahas diatas. 5,6

31

Dan selama kehamilan dilakukan juga pemeriksaan rutin. Dalam


memerintahkan pemeriksaan laboratorium, keseimbangan antara keuntungan
informasi yang diperoleh dan biaya pemeriksaan sebaiknya ditekan. Pemeriksaan
laboratorium tertentu, yang telah bersifat tradisional atau secara hukum
diamanatkan, dapat dipertanyakan dari sudut pandang kefeektifan biaya. Karena
itu individualisasi yang tepat harus digunakan pada tiap pasien prenatal.
Pada perawatan prenatal berikutnya pengawasan yang cermat pada pasien
obstetrik diarahkan untuk pengenalan masalah yang timbul yang dapat
mempengaruhi janini secara buruk seperti : kenaikan berat badan ibu, urinalisa,
tekanan darah, perkiraan umur gestasi,pemeriksaan fundus uteri, pemeriksaan
perut, penilaian kesehatan janin, pemeriksaan non stress, penilaian ultrasonografi,
dan uji tekanan kontraksi. 5,6
Menilai kehamilan untuk menetukan resiko seperti juga melakukan
pemantuan - pemantauan yang cermat untuk mengenali munculnya resiko dalam
kehamilan harus dilakukan sedini mungkin pada masa kehamilan. Konseling
prakonsepsi pada pasien yang diketahui memiliki kelainan medis atau genetik
dapat membantu mencapai hasil yang lebih menjanjikan. Perawatan prenatal yang
dilakukan sedini dan sesering mungkin membantu dokter untuk mengidentifikasi
munculnya resiko pada kehamilan. Ditambah lagi kehamilan yang diidentifikasi
memiliki komplikasi, satu atau lebih masalah dapat diikuti dengan bermacammacam teknik pengawasan ibu dan janin untuk memaksimalkan terapi terapeutik
5,6

32

2.7. CONTOH PENANGANAN KEHAMILAN RESIKO TINGGI PADA


BEBERAPA KASUS
Hipertensi selama kehamilan merupakan suatu komplikasi serius yang
membutuhkan evaluasi seksama. Selama kehamilan normal, resistensi vaskuler
perifer menurun sebagai akibat vaskulator yang mengalami dilatasi. Tekanan
sistolik dan diastolik keduanya cenderung untuk turun pada trisemester kedua dan
kemungkinan kembali normal saat mendekati aterm. Jika resistensi perifer
meningkat, maka terjadilah hipertensi.
Sindrom dari hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan, proteinuria dan
edema dikenal dengan bermacam macam nama yaitu sindrom preeklampsiaeklampsia, toksemia, kompleks EPH (edema, proteinuria, hipertensi) dan gestosis
7

DEFINISI
Hipertensi :
Peningkatan tekanan sistolik sekurang kurangnya 30 mm Hg, atau
peningkatan tekanan diastolik sekurang kurangnya 15 mm Hg, atau adanya
tekanan sistolik sekurang kurangnya 140 mm Hg, atau tekanan diastolik
sekurang kurangnya 90 mm Hg. Hipertensi juga dapat ditentukan dengan
tekanan arteri rata rata* 105 mm Hg atau lebih atau dengan kenaikan 20 mm Hg
atau lebih. Nilai nilai yang disebutkan di atas harus bermanifestasi pada
sekurang kurangnya dua kesempatan dengan perbedaan waktu 6 jam atau lebih
dan harus didasarkan pada nilai tekanan darah sebelumnya yang diketahui. 7
Tekanan Arteri Rata rata = (2 x diastolik) + sistolik

33

3
Proteinuria :
Adanya protein dalam urin dalam konsentrasi lebih besar dari 0,3 g per
liter urin 24 jam atau dalam konsentrasi lebih besar dari 1 g per liter (1+ sampai
2+ dengan metoda turbidimetrik standard) pada kumpulan urin secara acak pada 2
atau lebih kesempatan sekurang kurangnya dengan beda waktu 6 jam. Contoh
urin harus bersih sebaiknya urin midstream atau yang diambil melalui kateter. 7

Edema :
Akumulasi cairan yang menyeluruh dan berlebihan dalam jaringan,
umumnya ditampakkan dengan adanya pembengkakan ekstremitas dan wajah.
Hipertensi kehamilan :
Berkembangnya hipertensi selama kehamilan atau dalam 24 jam pertama
postpartum pada seorang wanita yang sebelumnya normotensi. Tak ada petunjuk
petunjuk lain dari preeklampsia atau penyakit vaskular hipertensi. Tekanan darah
kembali ke batas normal dalam sepuluh hari setelah persalinan. Beberapa pasien
dengan hipertensi kehamilan sebenarnya mungkin mengidap preeklampsia atau
penyakit vaskular hipertensi, tetapi mereka tidak memenuhi kriteria untuk
diagnosis ini. 7
Preeklampsia :
Berkembangnya hipertensi dengan proteinuria atau edema atau keduanya
yang disebabkan oleh kehamilan atau dipengaruhi oleh kehamilan yang sekarang.
Biasanya keadaan ini timbul setelah umur kehamilan 20 minggu tetapi dapat pula

34

berkembang sebelum saat tersebut pada penyakit trofoblastik. Preeklampsia


merupakan gangguan yang terutama terjadi pada primigravida. 7
Eklampsia :
Terjadinya satu atau beberapa kejang yang bukan diakibatkan oleh
keadaan serebral lain seperti epilepsi, atau perdarahan otak pada pasien dengan
preeklampsia.

Preeklampsia atau eklampsia penyerta :


Berkembangnya preeklampsia eklampsia pada pasien dengan penyakit
vaskular hipertensi kronik atau penyakit ginjal. Bila hipertensi mendahului
kehamilan, seperti yang diperlihatkan oleh catatan tekanan darah sebelumnya,
suatu peningkatan sistolik 30 mm Hg atau peningkatan tekanan diastolik 15 mm
Hg dan berkembangnya proteinuria, edema atau keduanya harus terjadi selama
kehamilan untuk memastikan diagnosis. 7
Penyakit hipertensi kronik :
Adanya hipertensi persisten, oleh berbagai sebab, sebelum kehamilan atau
sebelum umur kehamilan 20 minggu, atau melebihi 42 hari postpartum.
(Diagnosis meliputi hipertensi esensial, penyakit ginjal, koarktasio aorta,
aldosteronisme primer dan feokromositoma).

35

DAFTAR PUSTAKA

1. DeCherneyH Alan, Current Obstetrics and Gynecologic Diagnosis and


Therapy, India, Mc Graw Hill, International Edition, 2003, 216-271

2. Burrow & Duffy, Medical Complicating During Pregnancy, Pensylvania, WB


Saunders Company, 1995, 1-30

3. Hartanto, Hanafi. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka


Sinar Harapan, 1994, 23-35.\
4. Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri dan Ginekologi, Jakarta,EGC, Jilid 2,
1995, 201-206

5.

Sarkawi W, Jurnal Obstetri dan Ginekologi, Bandung, 1997, 25-30

6. Hacker and Moore, Essensial Obstetric and Gynecology, USA, Hipocrates,


2nd Edition, 1992, 91-103

7. Taber Ben-zion, Kapita selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, Ed,


Melfiawati, dr. Jakarta : EGC, 1994 : 235-242,278-281,330-345,368-372

36

8. Trupin LS, Simon LP, Eskenazi B. Change in paternity: a risk factor for
preeclampsia in multiparitas. Epidemiology 1996;7:240-244
9.

http://www.depkes.go.id/en/index.php

10. http://unicef.org/infobycountry/indonesia.html
11. http://devdata.worldbank.org/wdi2005.html
12. http://www.medicastore.com/cybermed/kehamilan_resiko_tinggi.fhp
13. http://library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-haryono.pdf

14. http://www.kalbefarma.com/files/cdk/files/08 Penanggulangan Perinatal


Risiko Tinggi126.

37