Anda di halaman 1dari 25

TUGAS KEPANITERAAN KERUMAHSAKITAN BEDAH MULUT

CELAH BIBIR DAN PALATUM

Disusun Oleh:
1. Heriati Sitosari

09/288771/KG/8558

2. Auliya Ludfi F.

09/288873/KG/8565

3. Priztika Widya N.

09/288907/KG/8565

BAGIAN ILMU BEDAH MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
berkenan memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan makalah yang
berjudul Celah Bibir dan Palatum.
Tujuan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas profesi kerumahsakitan
bagan bedah mulut. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu, kritik dan saran dari para pembaca sangat diharapkan.
Kami sampaikan terima kasih kepada staf pengajar Bedah Mulut FKG UGM,
residen, dan seluruh pembimbing kami yang telah membantu dan membimbing kami
dalam menyelesaikan tugas makalah dan semua pihak yang telah membantu
penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi kami dan
umumnya bagi seluruh pembaca.
Yogyakarta, 2 Desember 2014

Tim Penulis

Daftar Isi
Halaman Judul. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .1
Kata Pengantar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2
Daftar Isi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
B. Rumusan Masalah. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .4
C. Tujuan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .5
Bab II Pembahasan
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Definisi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Embriologi dan Etiologi Celah Bibir dan Palatum. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Klasifikasi Celah Bibir dan Palatum. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .8
Abnormalitas Struktural dari Celah Bibir dan Palatum . . . . . . . . . . . . . . . . . .12
Manajemen Pasien Celah Bibir dan Palatum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
Perawatan Operasi Celah Bibir dan Palatum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .16
Prosedur Operasi Celah Bibir dan Palatum. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . 17

Bab III Penutup


A. Kesimpulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 24
B. Saran. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 24
Daftar Pustaka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Celah bibir dan palatum adalah salah satu bentuk kelainan bawaan yang paling
sering dijumpai. Celah orofasial berupa celah bibir dengan atau tanpa celah palatum
dan celah palatum yang terjadi tanpa disertai celah bibir dapat terjadi pada 1 diantara
500 hingga 1000 bayi yang lahir di dunia (Mooney & Siegel, 2002).
Efek pada kemampuan berbicara, pendengaran, penampilan, dan psikologis
dapat mengarah pada kondisi kesehatan dan integrasi sosial yang buruk pada
penderita.

Biasanya,

anak

dengan

kelainan

ini

membutuhkan

perawatan

multidisipliner sejak lahir hingga dewasa dan memiliki morbiditas dan mortalitas
yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu tanpa kelainan bawaan ini (Mossey
dkk., 2009). Keadaan ini memberikan tantangan tersendiri dalam proses perbaikan.
Menurut Wray dkk. (2003), keberhasilan dalam perawatan celah bibir dan palatum
pertama kali terjadi sekitar tahun 390 SM di Cina.
Selama

bertahun-tahun,

berbagai

teknik

telah

dikembangkan

untuk

memperbaiki deformitas celah bibir atau celah bibir yang disertai celah palatum.
Pemahaman

terhadap manajemen

deformitas

celah bibir maupun palatum

membutuhkan pengetahuan mendasar mengenai proses embriologi wajah dan


klasifikasi kelainan celah bibir dan palatum. Kelainan struktural yang menyertai
mempengaruhi manajemen pasien dan keberhasilan prosedur perawatan yang
dilakukan (Wray dkk., 2003). Sekalipun kemudahan akses terhadap perawatan telah
meningkat dalam beberapa tahun terakhir, pencegahan tetap menjadi tujuan utama
perawatan kelainan bawaan ini (Mossey dkk., 2009).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penulisan makalah ini, rumusan masalah yang dapat
diambil antara lain adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan kelainan bawaan celah bibir dan celah palatum?
2. Bagaimanakah proses embriologi wajah dan apa saja etiologi kelainan celah bibir
dan celah palatum?
3. Klasifikasi apa yang digunakan dalam mendeskripsikan kelainan celah bibir dan
celah palatum?
4. Abnormalitas struktural apa saja yang dapat menyertai kelainan celah bibir dan
celah palatum?
5. Bagaimanakah manajemen pasien dengan kelainan celah bibir dan celah palatum?
4

6. Perawatan operasi apa yang diperlukan untuk memperbaiki kelainan celah bibir
dan celah palatum?
7. Bagaimana prosedur operasi pada pasien dengan kelainan celah bibir dan celah
palatum?
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Mengetahui definisi kelainan bawaan celah bibir dan celah palatum
2. Mengetahui proses embriologi wajah dan etiologi kelainan celah bibir dan celah
palatum
3. Mengetahui klasifikasi yang digunakan dalam mendeskripsikan kelainan celah
bibir dan celah palatum
4. Mengetahui abnormalitas struktural yang dapat menyertai kelainan celah bibir dan
celah palatum
5. Mengetahui manajemen pasien dengan kelainan celah bibir dan celah palatum
6. Mengetahui perawatan operasi yang diperlukan untuk memperbaiki kelainan celah
bibir dan celah palatum
7. Mengetahui prosedur operasi pada pasien dengan kelainan celah bibir dan celah
palatum

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Celah bibir dan palatum adalah salah satu kelainan bawaan yang paling sering
dijumpai dan disebabkan oleh gangguan proses tumbuh kembang selama bayi ada di
dalam kandungan dan ditandai dengan adanya ketidaksempurnaan pembentukan bibir
bagian atas atau terdapatnya saluran abnormal yang melalui langit-langit mulut dan
menuju saluran udara di hidung (Mars dkk., 2008). Celah bibir dan palatum dapat
terjadi sendiri-sendiri maupun terjadi bersamaan (Cobourne, 2012). Sekalipun
keberadaan celah bibir dan palatum tidak terlalu membahayakan jiwa penderita,
kondisi ini menyebabkan gangguan atau kerusakan pada wajah (khususnya bila tidak
diberi perawatan apapun), gangguan proses komunikasi, dan mengakibatkan
keterbatasan perkembangan sosial individu penderita (Mars dkk., 2008).
B. Embriologi dan Etiologi Celah Bibir dan Palatum
Perkembangan embriologi wajah merupakan suatu proses yang kompleks dan
terjadi pada tahap fetal awal (Wray dkk., 2003). Diperlukan koordinasi yang baik
mulai dari migrasi sel, pertumbuhan, diferensiasi, dan apoptosis. Neural crest cell,
yang berasal dari lipatan syaraf (neural folds) berkontribusi dan bermigrasi melalui
jaringan mesenkimal ke area kraniofasial yang sedang mengalami proses
perkembangan pada minggu ke-4 intrauterin. Sel ini kemudian berpartisipasi dalam
pembentukan prosesus frontonasalis, prosesus maksilaris, dan prosesus mandibularis
yang mengelilingi rongga mulut (Mossey dkk., 2009).
Perkembangan wajah diawali pada bagian tengah prosesus frontonasalis yang
berkembang di sekitar otak yang juga sedang mengalami proses perkembangan.
Kedua prosesus maksilaris berkembang ke anterior di antara vesikel optik dan
primitive stomodeum sementara kedua prosesus mandibularis berkembang di bawah
stomodeum. Penggabungan antara prosesus maksilaris dan prosesus frontonasal
menghasilkan adalnya pembentukan premaksila yang kemudian menjadi tempat
berkembangnya gigi-gigi insisivus. Struktur fasial mulai bisa dikenali pada minggu
ke-5 hingga ke-6 intrauterin (Wray dkk., 2003). Pada akhir minggu ke-6, terjadi
penggabungan prosesus nasalis medialis dengan prosesus maksilaris yang kemudian
diikuti dengan pembentukan bibir atas dan palatum primer. Sesaat sebelum proses ini
selesai, pembelahan sel pada prosesus nasalis lateralis mengalami puncaknya
6

sehingga hal ini menyebabkan proses tumbuh kembang pada area ini sangat rentan
terhadap gangguan teratogenik dan berbagai gangguan tumbuh kembang lain
sehingga kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan pada mekanisme penyatuan
prosesus kiri dan kanan. Tanda pertama dari pertumbuhan dan perkembangan palatum
sekunder terjadi pada minggu ke-6 intrauterin yang diawali dari perkembangan
prosesus maksilaris yang mengalami pertumbuhan secara vertikal di sekitar lidah
yang sedang mengalami proses pembentukan. Pada minggu ke-7, terjadi fusi antara
prosesus palatina kiri dan kanan yang kemudian diikuti proses degenerasi yang
memungkinkan jaringan mesenkimal berkembang menutupi area ini. Jaringan
mesenkimal di palatal kemudian berdiferensiasi menjadi tulang dan otot yang masingmasing kemudian membentuk palatum keras dan lunak. Selain terjadi fusi pada garis
tengah (midline), palatum sekunder bergabung dengan palatum primer dan septum
nasalis. Proses penggabungan tersebut terjadi dan selesai pada minggu ke-10
intrauterin. Perkembangan palatum sekunder pada mamalia menyebabkan rongga
oronasal terbagi menjadi rongga mulut dan rongga hidung sehingga memungkinkan
proses pengunyahan dan respirasi berlangsung secara simultan (Mossey dkk., 2009).

Gambar 2.1 Proses perkembangan wajah pada minggu ke-5 (Wray dkk., 2003)

Pada awalnya terdapat anggapan bahwa celah fasial terjadi sebagai akibat dari
kegagalan penggabungan prosesus ektodermal seperti yang telah dijelaskan di atas.
Tetapi, pola kemunculan celah pada bibir dan palatum telah menunjukkan bukti untuk
teori yang menyatakan bahwa celah bibir dan palatum terjadi karena adanya
kegagalan

migrasi

sel

ektomesenkimal

yang

bertanggung

jawab

terhadap

pembentukan jaringan seperti otot dan syaraf dan menghasilkan dukungan yang tidak
7

adekuat untuk jaringan epitel dan mengakibatkan adanya celah. Bentuk terjadinya
celah pada palatum sekunder selalu berhubungan dengan adanya kegagalan
penggabungan tepi prosesus palatines. Celah tersebut mungkin muncul sebagai bagian
dari sindrom. Celah non-sindromik dapat timbul karena kondisi genetik dan faktor
lingkungan yang menyebabkan gangguan dalam rahim dengan mekanisme yang
belum dapat dipahami sepenuhnya (Wray dkk., 2003).

Gambar 2.2 Celah orofasial non-sindromik: (A) celah bibir dan alveolus, (B) celah palatum, (C) celah
bibir dan palatum unilateral dan tidak sempurna (incomplete unilateral cleft lip and palate), (D) celah
bibir dan palatum unilateral dan sempurna (complete unilateral cleft lip and palate), (E) celah bibir dan
palatum bilateral dan sempurna (complete bilateral cleft lip and palate)
(Mossey dkk., 2009)

Menurut Mooney & Siegel (2002), penyebab celah orofasial terbagi menjadi
2, yaitu faktor internal (genetik) dan faktor eksternal. Kondisi genetik yang
menyebabkan celah orofasial terbagi menjadi kondisi genetik sindromik dan nonsindromik. Kondisi genetik sindromik dikaitkan dengan keberadaan sindrom tertentu
sementara keadaan non-sindromik dikaitkan dengan faktor keturunan. Sementara itu
faktor lingkungan penyebab celah orofasial antara lain adalah sebagai berikut:
1. Faktor lingkungan (medikasi, racun)
2. Faktor maternal (defisiensi vitamin, gangguan hormon)
3. Faktor intrauterin
C. Klasifikasi Celah Bibir dan Palatum
Celah bibir dan palatum secara umum dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu
celah bibir atau palatum yang terjadi sendiri-sendiri dan celah bibir dan palatum yang
terjadi bersamaan (Mossey dkk., 2009). Terdapat beberapa istilah yang digunakan
dalam menjelaskan keadaan celah bibir dan palatum. Menurut Wray dkk. (2003),
istilah-istilah tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
Palatum primer: Palatum bagian anterior yang letaknya ada di sebelah anterior
dari foramen incisivum
Palatum sekunder: Palatum yang terletak di posterior foramen incisivum
Celah palatum sempurna (complete cleft palate): Celah pada palatum yang
melalui foramen incisivum

Celah palatum tidak sempurna (incomplete cleft palate): Celah pada palatum
yang tidak melewati foramen incisivum
Celah submukosa (submucous cleft): Celah pada lapisan otot dan hanya terjadi
pada palatum lunak
Celah palatal unilateral: Celah palatal yang hanya terjadi pada satu sisi saja
dengan vomer terpisah dari salah satu sisi palatum
Celah palatal bilateral: Celah palatal yang terjadi pada dua sisi dan vomer
benar-benar terpisah dari palatum
Sementara itu, beberapa klasifikasi untuk celah bibir dan palatum yang telah
ada antara lain adalah sebagai berikut:
1. Davis dan Ritchie (1922)
Davis dan Ritchie (1922) merancang sistem klasifikasi yang terdiri dari
3 kelompok. Kelompok 1 adalah kelompok untuk celah bibir saja. Kelompok
2 adalah kelompok untuk celah palatum saja. Kelompok 3 adalah kelompok
untuk celah bibir dan palatum baik unilateral maupun bilateral (Mooney &
Siegel, 2002).

Gambar 2.3 Klasifikasi celah bibir dan palatum menurut Davis dan Ritchie (1922)
(Balaji, 2009)

2. Veau (1931)
Sistem klasifikasi awal yang paling banyak diterima secara luas adalah
system klasifikasi dari Veau (1931). Veau membagi celah orofasial menjadi
empat kelompok dengan pembagian klasifikasi yang berbeda dengan
klasifikasi yang dibuat oleh Davis dan Ritchie (1922). Klasifikasi tersebut
antara lain adalah sebagai berikut:
Grup I
: Celah pada palatum lunak di bagian posterior palatum keras
Grup II
: Celah sempurna pada palatum dari foramen incisivum ke
posterior hingga ke palatum lunak
Grup III
: Celah sempurna unilateral pada bibir dan palatum
Grup IV
: Celah sempurna bilateral pada bibir dan palatum
(Mooney & Siegel, 2002)

Gambar 2.4 Klasifikasi Veau (1931)


(Balaji, 2009)

3. Harkins dkk. (1962)

Gambar 2.5 Klasifikasi Harkins dkk. (1962)


(Balaji, 2009)

4. Kernahan (1971)
Kernahan (1971) menggunakan klasifikasi berbentuk Y dengan
foramen incisivum sebagai titik referensi (Balaji, 2009).

10

Gambar 2.6 Klasifikasi Kernahan (1971)


(Balaji, 2009)

5. Spina (1974)
Spina memodifikasi dan menyederhanakan klasifikasi yang dibuat oleh
Harkins dkk. (1962).

Gambar 2.7 Klasifikasi Spina (1974)


(Balaji, 2009)

6. Kriens (1989)
Kriens (1989) membuat klasifikasi dengan sistem labeling yang
disebut dengan LAHSHAL (Lip, Alveolus, Hard palate, Soft palate, Hard
palate, Alveolus, Lip). Setiap huruf menunjukkan letak celah. Penggunaan
huruf besar dan kecil menunjukkan apakah celah yang ada merupakan celah
yang sempurna atau tidak sempurna (huruf besar untuk celah sempurna dan
huruf kecil untuk celah yang tidak sempurna). Sebagai contoh, LAS digunakan
11

untuk menunjukkan keadaan celah sempurna pada bibir sebelah kanan yang
melibatkan alveolus hingga ke ke palatum lunak. Sementara itu SHAL
digunakan untuk menunjukkan adanya celah sempurna unilateral pada sisi
kanan yang melibatkan palatum lunak hingga bibir (Mooney & Siegel, 2002).
7. Tessiers classifications
Klasifikasi Tessier untuk celah fasial terdiri dari: (A) lokasi celah di wajah,
dan (B) skeletal pathway dari celah yang ada.

Gambar 2.8 Klasifikasi Tessier (Balaji, 2009)

D. Abnormalitas Struktural dari Celah Bibir dan Palatum


Komponen anatomi deformitas celah:
1. Bibir
Terdapat diskontinuitas bibir termasuk vermilion dan kulit. Terjadi pemisahan otot
orbicularis oris dengan perlekatan yang abnormal pada kulit, crus lateral kartilago
alaris, dan tulang sekitar.
2. Hidung
Deformitas hidung terjadi minimal atau tidak ada pada celah bibir tidak sempurna
dengan anatomi otot orbicularis oris yang intak. Deformitas nasal formefruste
terjadi pada bibir yang intak. Pada kasus ini deformitas nasal terkait dengan
insersi abnormal serat otot facial.
3. Alveolus
Celah pada alveolus biasanya terjadi diantara incisivus lateral dan caninus
kemudian meluas secara obliq ke arah foramen incisivus. Besar celah alveolus
12

bervariasi mulai dari takik pada gingiva hingga celah sempurna. Akan tetapi,
manifestasi yang terlihat tidak berkorelasi dengan besarnya pemisahan tulang di
bawahnya.
4. Palatum primer
Celah pada palatum primer meluas ke posterior ke foramen incisivum,
mengakibatkan defisiensi pada bagian dasar rongga hidung. Lengkung alveolar
pada sisi yang bercelah berotasi ke mesiopalatal dan pada sisi yang tidak bercelah
berotasi keluar karena perlekatan otot wajah yang abnormal.
5. Palatum sekunder
Palatum sekunder meluas ke posterior dari foramen incisivum ke uvula, terdiri
dari palatum keras dan palatum lunak.
6. Maksila
Maksila pada sisi yang terkena terdefisiensi pada dimensi vertikal dan
anteroposterior.
7. Mandibula
Dimensi mandibula pada pasien dengan celah palatum dapat berukuran lebih
kecil.
8. Abnormalitas lain
Anatomi abnormal otot palatum lunak, terutama pada tensor velipalatini dipercaya
dapat mengganggu jalan udara pada telinga tengah karena kegagalan pembukaan
tuba eustachius saat menelan, menguap, dan pergerakan faring lainnya.
(Wray dkk.,2003)
E. Manajemen Pasien Celah Bibir dan Palatum
Kebanyakan operasi untuk mengoreksi celah bibir dan palatum dilakukan hingga
bayi berumur 3 bulan dan berat badan mencapai 10 pon. Sebelum dilakukan operasi,
terdapat beberapa perawatan untuk mempersiapkan operasi yang pertama adalah
melakukan lip taping sehingga celah pada bibir menjadi lebih sempit. Lip taping
dilakukan 23-24 jam per hari. Cara yang kedua adalah dengan cleft lip adhesion jika
lip taping sulit dilakukan misalnya karena celah pada bibir lebar. Lip adhesion
merupakan prosedur operatif dimana tepi celah bibir dijahit agar menyatu. Jahitan
pada lip adhesion memberi gaya tarikan mirip seperti lip taping.

13

Gambar 2.9 Lip taping dan adhesi bibir

Gambar 2.10 Sebelum dan sesudah lip taping

1. Jalan nafas
Bayi lahir dengan kelainan celah orofasial perlu diobservasi saluran nafasnya.
Bila terdapat obstruksi pada saluran nafas, perlu segera dilakukan tindak lanjut
(Wray dkk., 2003).
Celah bibir dan palatum dapat muncul sebagai bagian dari sindrom tertentu
atau muncul sebagai kelainan tersendiri. Pada pasien yang mengalami celah bibir
dan palatum yang merupakan bagian dari sindrom tertentu seperti Pierre-Robin
Sequence, perlu dilakukan observasi obstruksi jalan nafas. Pierre-Robin Sequence
merupakan kombinasi malformasi berupa hipoplasi mandibula, glossoptosis, dan
celah pada midline palatum sekunder. Biasanya masalah pernafasan dapat
ditangani dengan memposisikan pasien dengan cara miring. Untuk kasus yang
parah dilakukan trakheostomi (Berkowitz, 2006). Beberapa cara telah digunakan
untuk mencegah glossoptosis (lidah jatuh ke belakang menutupi orofaring) pada

14

kasus seperti ini yang merupakan penyebab obstruksi jalan nafas yang intermiten.
Cara yang digunakan adalah pemberian ASI dengan posisi miring, menjahit lidah
untuk mencegah retraksi jalur nasofaringeal/orofaringeal, intubasi endotrakheal,
dan tracheostomi (Wray dkk., 2003).
2. Feeding
Masalah makan yang berhubungan dengan celah bibir jarang terjadi. Celah
pada palatum terutama pada palatum sekunder menyebabkan ketidakmampuan
menghasilkan tekanan orofaringeal negatif dan penekanan lidah pada palatum
(Wray dkk., 2003). Ketidakmampuan maenghasilkan tekanan negatif akan
mempersulit bayi untuk menyedot susu dari botol maupun dari puting ibu. Gerak
refleks bayi untuk menghisap dan menelan normal, namun ototnya tidak
berkembang sehingga bayi tidak dapat menghisap dengan efektif. Masalah ini
dapat diatasi dengan desain puting yang diperpanjang, dengan lubang pembukaan
yang diperlebar. Cara lainnya adalah dengan memberi makan memakai pipet atau
suntikan besar yang dipasang tube dari karet. Pada cara ini bayi dapat menelan
udara sehingga bayi tidak diberi makan dalam posisi terbaring, bayi juga lebih
sering dibuat bersendawa (Peterson dkk., 2012).

15

Gambar 2.11. Desain botol susu untuk pasien dengan celah bibir dan palatum

Sangat penting untuk memastikan bahwa energi yang dikeluarkan bayi untuk
menyedot susu tidak melebihi dari kalori yang diberikan. Masalah ini dapat terjadi
saat pemberian makan melebihi 30 menit. Berat badan adalah indikator penting
untuk mengetahui kecukupan asupan makanan (Berkowitz, 2006).
F. Perawatan Operasi Celah Bibir dan Palatum
Tujuan dari perawatan bedah pada celah:
1. Memperbaiki penampilan dan kesimetrian wajah
2. Pengucapan normal
3. Oklusi normal
4. Pendengaran normal
(Wray dkk., 2003)
Komponen perawatan deformitas celah:
1. Koreksi geometri permukaan jaringan
2. Mengembalikan struktur dan fungsi anatomi
3. Menyesuaikan pertumbuhan dan perkembangan rahang dan gigi
4. Mengembangkan pengucapan dan pendengaran normal
(Wray dkk., 2003)
Masih terdapat kontroversi mengenai waktu yang terbaik untuk melakukan
operasi pada celah palatum. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa perbaikan yang
awal pada palatum berkaitan dengan kemampuan pengucapan yang lebih baik tetapi
dapat menghasilkan deformitas dentofacial. Randall dan McComb juga Lehman
melaporkan bahwa anak yang dioperasi pada umur awal memiliki pengucapan yang

16

lebih baik dan lebih sedikit memerlukan faringoplasti sekunder daripada anak yang
operasinya dilakukan di atas 12 bulan. (Patel, 2014)
G. Prosedur Operasi Celah Bibir dan Palatum
1. Operasi Primer
Tujuan dari perbaikan primer adalah untuk menutup celah, memperbaiki
simetri atau dimensi dari bibir akibat deformitas geometri dan mengembalikan
struktur dan fungsi anatmi dari jaringan yang telibat. (Wray dkk., 2003)
Waktu yang tepat untuk melakukan operasi celah bibir dan palatum dapat
dilihat pada table:

Sebelum operasi perlu diperhatikan syarat untuk dilakukan operasi, yaitu


Rule of 10, terdiri dari kadar hemoglobin 10, kadar hematokrit minimal 30%,
berat minimal 10 pounds, dan usia minimal 10 minggu.
a. Labioplasti
Teknik yang populer digunakan untuk perbaikan bibir adalah:
-

Penutupan garis lurus (operasi veau III)

Adaptasi dari perbaikan celah bibir unilateral Tennison

Perbaikan celah komplit dan inkomplit bilateral oleh Millard

Lainnya: teknik Skoog, metode Manchester, Barsky (veau II), flap primer
Abbe

17

Tennison-Randalls Procedure

Gambar 2.9 Perbaikan celah bibir bilateral dengan Tennisons procedure


(Balaji, 2009)

Millard Procedure

18

Gambar 2.10 Perbaikan celah bibir bilateral dengan Blacks bilateral repair
(Balaji, 2009)

Gambar 2.11 Abbes Flap


(Balaji, 2009)
b. Palatoplasti
Teknik yang dilakukan untuk perbaikan palatal:
- Operasi Von Langenbeck
- Palatoplasti pushback V-Y (Kilner & Wardill)
- Palatoplasti dua flap
- Furlow double opposing Z-plasty

19

(Aik-Ming dan Lun-Ju, 2008)


1. Operasi Von Langenbeck

Palatoplasti Vn Langenbeck A) Penandaan desain flap. (B) Flap


mukperiosteal bipedikle dielevasikan dari insisi lateral ke tepi
celah. (C) Penutupan layer nasal mukoperiosteal. (D) Penutupan
flap ral mukperiosteal

2. Palatoplasti pushback V-Y (Kilner & Wardill)

Veau-Wardill-Kilner atau palatoplasti VY pushback. (A) Penandaan


area insisi. (B) Flap oral mukperisteal diangkat dengan tetap
menjaga pembuluh darah palatina besar pada kedua sisi. (C)
Retroposisi dan perbaikan dari otot levator veli palatini (intravelar
veloplasti) setelah menyelesaikan perbaikan mukoperosteal. (D)
Hasil akhir setelah penutupan flap oral mukoperiosteal.

3. Palatplasti dua flap

Palatoplasti dua flap. (A) Penandaan desain flap. (B) Elevasi dari
dua flap mukperosteal dari permukaan oral. Pembuluh darah
palatina besar dari kedua sisi tetap dijaga. (C) Retroposisi dan
perbaikan dari otot levator veli palatini (intravelar veloplasti)

20

setelah menyelesaikan perbaikan mukoperosteal. (D) Hasil akhir


setelah penutupan flap oral mukoperiosteal.

4. Furlow double opposing Z-plasty

Furlow double opposing z-palatoplasti. (A) Penandaan dari insisi zplasti dan insisi kendur. Pada celah palatum yang beasr, insisi
kendur

dibuat

di

sebelah

anterior

dari

tepi

celah

sebagai

palatoplasti dua flap. (B) Elevasi dari flap oral. Layer oral terdiri
dari flap muskulmukosal pada sisi kiri dan hanya flap mukosa di
sisi kanan. Otot diangkat sebagai dasar flap posterior. Insisi yang
mirip juga ditandai berkebalikan dengan layer nasal. (D) Flap
nasal muskulomukosal pada sisi kanan dibawa melewati celah. (D)
Hsali tampak akhir layer oral yang ditutup oleh z-plasti.

2. Operasi Sekunder
Perawatan pada anak-anak dengan celah bibir atau celah palatum bervariasi. Tidak
ada dua anak yang memiliki kebutuhan yang sama. Beberapa mungkin hanya
membutuhkan dua operasi, dan anak lainnya mungkin butuh lebih dari dua operasi.
Tujuan dari perawatan adalah untuk mencapai penapilan sebaik mungkin, cara bicara
yang terbaik dan gigi terbaik dan tersehat pula.
Dibawah ini merupakan beberapa operasi tambahan yang dapat direkomendasikan
untuk anak:
-

Penutupan fistula

Operasi untuk bicara

Revisi bibir

Operasi graft tulang celah alvelar

Dynamic Sphincter Pharyngoplasty atau palatoplasti

Rhinoplasti

Operasi ortognatik

a. Penutupan Fistula

21

Penutupan fistula diikuti perbaikan celah palatal seringkali dilakukan lebih


awal bila dirasa fistula tersebut dapat menyebabkan masalah fungsional bicara,
menelan atau baliknya makanan yang sudah dicerna melalui nasal. Adanya fistula
tidak memerlukan penutupan bila tidak terdapat atau prediksi masalah fungsional
berkaitan dengan fistula (Wray dkk., 2003).
b. Operasi untuk Bicara
Faringoplasti didesain untuk mengurangi dimensi dari pembukaan velofaring
untuk memfasilitasi atau sekedar meningkatkan resistansi saluran nafas untuk
meminimalkan lolosnya udara nasal. Secara umum diklasifikasikan sebagai
prosedur dinamis (contoh: ortikokea faringoplasti) yang didesain untuk
memobilisasi otot palatofaring pada pilar tonsil posterior dan melekatkan mereka
pada dinding faring posterior. Prosedur pasif hanya mempersempit pembukaan
velofaring atau augmentasi dinding faring posterior menggunakan bahan implan
(Wray dkk., 2003).
c. Revisi bibir
Operasi tambahan pada bibir dapat disarankan untuk meningkatkan fungsi atau
penampilan dari bibir. Luka pada kulit antara hidung dan bibir harus halus dan rata.
Penampilan dari bibir harus sesimetris atau seseimbang mungkin pada kedua sisi.
Tujuan dari operasi ini untuk menjadikan bibir tampak senormal mungkin.
d. Operasi graft tulang celah alvelar
Celah alveolar adalah celah atau pembukaan pada tulang rahang atas di bawah
gusi. Tulang dibutuhkan pada rahang atas di bawah gusi agar gigi-gigi permanen
dapat erupsi, akarnya berkembang dan sehat. Tulang pada rahang atas juga
mendukung dasar dari hidung. Perasi ini sering dilakukan ketika usia anak 8 hingga
10 tahun.
e. Dynamic Sphincter Pharyngoplasty atau palatoplasti
Dalam persentase kecil, anak-anak dengan celah palatum memiliki kesulitan
bicara. Terkadang terlalu banyak udara yang masuk melalui hidung menyebabkan
suara hipernasal. Seorang patologis bicara dapat mengevaluasi cara bicara anak dan
menentukan apakah mereka tidak dapat berbicara dengan baik karena tidak dapat
menutup ruang antara palatum lunak dan bagian belakang tenggorokan (VPI atau
velopharyngeal

incompetence

atau

insufficiency).

Operasi

tambahan

dapat

mengkoreksi hal ini.

22

Operasi dynamic sphincter pharingoplasty (DSP) mengambil 2 flap dari sisi-sisi


tenggorokan untuk membuat cincin jaringan sehingga jarak velfaringeal mengecil.
f. Rhinoplasti
Usia sebelum sekolah juga waktu yang umum bagi rang tua untuk meminta
prosedur korektif kedua untuk asimetri hidung dengan prosedur rhinoplasti.
Rhinoplasti kedua pada saat mendekati akhir masa pertumbuhan umum dilakukan.
Apabila direncanakan operasi ortognati, prosedur ortognatik dapat mengembalikan
simetri dan keseimbangan astetis wajah, terutama dasar tulang hidung. Prosedur ini
dapat dikombinasikan dengan operasi ortognatik untuk meminimalkan jumlah operasi
intervensi (Wray dkk., 2003).
g. Operasi Ortognatik
Anak-anak yang memiliki celah bibir dan palatum dan menjalani perawatan
kemungkinan dapat mengahasilkan wajah yang tidak seimbang. Gigi-gigi mereka
mungkin tidak pas secara tepat (maloklusi). Sebagai tambahan, akibat dari gigitan
yang tidak tepat, bibir atas bisa tidak terproyeksikan dengan benar. Operasi
orthgnatik menunjuk pada operasi yang merubah posisi rahang atas dan atau rahang
bawah, sehingga gigi-gigi dapat tepat berada pada tempatnya dan memberikan
keseimbangan pada wajah. Biasanya operasi ini ditunda hingga anak telah beranjak
remaja dan wajah dan rahang sudah tumbuh sempurna.

23

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Keberadaan celah bibir dan palatum meskipun tidak membahayakan jiwa penderita,
namun bila tidak dilakukan perawatan dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan
pada wajah, gangguan proses komunikasi, dan mengakibatkan keterbatasan
perkembangan sosial individu.
2. Celah orofasial dapat disebabkan karena faktor internal (genetik) dan faktor eksternal.
Kondisi genetik terbagi menjadi kondisi genetik sindromik dan non-sindromik.
Sementara itu contoh faktor eksternal antara lain adalah faktor lingkungan, faktor
maternal dan faktor intrauterin.
3. Prosedur operasi harus dilakukan pada waktu yang tepat. Koreksi pada waktu yang
tidak tepat dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhan dan perkembangan
orofasial.
B. Saran
Manajemen pasien dengan deformitas celah wajah perlu dilakukan prsedur jangkapanjang dan dianalisis secara hati-hati dan menimbang kemungkinan kelebihan dan
kerugiannya.

24

Daftar Pustaka
Balaji, S. M., 2009, Textbook of Oral & Maxillofacial Surgery, Elsevier, New Delhi.
Berkowitz, S., 2006, Cleft Lip and Palate, Springer, Germany.
Cobourne, M. T., 2012, Cleft Lip and Palate, Karger, Germany.
Mars, M., Sell, D., dan Habel, A., 2008, Management of Cleft Lip and Palate in the
Developing World, John Wiley & Sons Inc., Hoboken.
Mooney, M. P., dan Siegel, M. I., 2002, Understanding Craniofacial Anomalies, Wiley-Liss,
New York.
Mossey, P. A., Little, J., Munger, R. G., Dixon, M. J., dan Shaw, W. C., 2009, Cleft lip and
palate, Lancet, 374: 1773-85.
Patel, P., 2014, Cleft Palate Repair Treatment and Management, http://emedicine.medscape.
com/article/1279283-treatment#a1128, diakses tanggal 13 November 2014.
Peterson, L., Ellis, E., Hupp, J., Tucker, M., 2001, Contemporary Oral and Maxillofacial
Surgery, Mosby, Philadelphia.
Wray, D., Stenhouse, D., Lee, D., Clark, A. J. E., 2003, Textbook of General and Oral
Surgery, Churchill Livingstone, China.

25

Anda mungkin juga menyukai