Anda di halaman 1dari 42

DIKTAT TERMODINAMIKA I

UNTUK KALANGAN SENDIRI

Disusun Oleh :
IWANUDDIN (F1C 212 052)

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MATARAM
2015

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat allah subhanu


wa Taala (SWT), atas rahmat dan karunia Nya penulis dapat menyelesaikan
DIKTAT TERMODINAMIKA I ini tepat pada waktunya walaupun masih jauh
dari kata sempurna. Tak lupa pula sholawat serta salam penulis haturkan kepada
baginda nabi besar Muhammad Shallallahualaihi wa sallam (SAW) nabi akhir
zaman, penerang dikala bumi dirundung kegelapan yang menghalangi cahaya
islam, beserta keluarga dan sahabat beliau yang senantiasa berada dalam sunnahsunnah beliau.
Diktat TERMODINAMIKA I ini dibuat atau diperuntukan untuk kalangan
sendiri, sebagai bahan kuliah penulis yang didapatkan dari berbagai sumber.
Diktat TERMODINAMIKA I ini terdiri dari tiga bab yaitu (bab I) membahas
tentang pendahuluan dari termodinamika, (bab II) membahas tentang konsep
dasar dari termodinamika, (bab iii) membahas tentang hukum-hukum dalam
termodinamika.
Akhir kata Penulis berharap semoga Diktat TERMODINAMIKA I
bermanfaat untuk kita semua dan bila terdapat kekurangan dalam pembuatan
Diktat ini penulis mohon maaf, karena penulis menyadari Diktat ini masih jauh
dari kesempurnaan. oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik serta
saran untuk diperbaiki dikemudian hari.

Mataram, Juli 2015

IWANUDDIN

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Pengertian termodinamika ...................................................... 1
1.2 Bentuk bentuk energi........................................................... 1
1.3 Sistem satuan dalam termodinamika ....................................... 3
BAB II : KONSEP DASAR TERMODINAMIKA
2.1 Usaha dalam termodinamika ................................................ 11
2.2 Sistem, proses, dan siklus termodinamika ............................. 13
2.3 Properti zat murni dan karateristik gas ideal ......................... 24
BAB III : HUKUM DALAM TERMODINAMIKA
3.1 Hukum ke nol termodinamika .............................................. 29
3.2 Hukum ke satu termodinamika ............................................. 29
3.3 Hukum ke dua termodinamika .............................................. 37
3.4 Hukum ke tiga termodinamika .............................................. 38
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Termodinamika


Termodinamika adalah cabang ilmu Fisika yang membahas tentang hubungan antara
panas (kalor) dan usaha yang dilakukan oleh kalor tersebut. Dalam melakukan pengamatan
mengenai aliran energi antara panas dan usaha ini dikenal dua istilah, yaitu sistem dan
lingkungan. Apakah yang dimaksud sistem dan lingkungan dalam termodinamika? Untuk
memahami penggunaan kedua istilah tersebut dalam termodinamika, perhatikanlah Gambar 1.
berikut.

Gambar 1. bola dan besi merupakan sisitem yang diamati


Misalkan, kita mengamati aliran kalor antara bola besi panas dan air dingin. Ketika
bola besi tersebut dimasukkan ke dalam air. Bola besi dan air disebut sistem karena kedua
benda tersebut menjadi objek pengamatan dan perhatian Anda. Adapun, wadah air dan udara
luar disebut lingkungan karena berada di luar sistem, tetapi dapat memengaruhi sistem
tersebut. Dalam pembahasan termodinamika, besaran yang digunakan adalah besaran
makroskopis suatu sistem, yaitu tekanan, suhu, volume, entropi, kalor, usaha, dan energi
dalam.

1.2 Bentuk-Bentuk Energi


Energi adalah suatu besaran turunan dengan satuan N.m atau Joule. Energi dan kerja
mempunyai satuan yang sama. Bentuk-bentuk energi yaitu berupa energi potensial, energi
kinetik, energi mekanik, energi aliran, energi dalam dan energi panas. Berikut akan dijelaskan
mengenai bentuk-bentuk energi tersebut.

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 1

Energi Potensial
Energi potensial adalah energi yang tersimpan pada benda karena kedudukannya.

Sebagai contoh, energi potensial air adalah energi yang yang dimiliki air karena
ketinggihannya dari permukaan.
Ep = m.g.h

Energi Kinetik
Energi Kinetik ; energi suatu benda karena bergerak dengan kecepatan V, sebagai

contoh : mobil yang bergerak, benda jatuh dan lain-lain , maka energinya dapat ditulis :
1

= 2 2

Energi Mekanik
Energi mekanik ; adalah energi total yaitu penjumlahan antara energi kinetik dengan

energi potesial.
Em = Ek + Ep
Adapun energi atau kerja mekanik pada mesin mesin panas, adalah kerja yang dihasilkan dari
proses ekspansi atau kerja yang dibutuhkan proses kompresi. Kerja mekanik (dW) tersebut
sebanding dengan perubahan volume (dV) pada tekanan (p) tertentu.
W = pV
sebagai contoh energi ini secara sederhana adalah pergerakan piston, putaran poros engkol,
dan lain lain.

Gambar 2. Energi atau kerja pada piston

Energi Aliran
Energi Aliran ; atau kerja aliran adalah kerja yang dilakukan oleh fluida yang mengalir

untuk mendorong sejumlah massa m ke dalam atau ke luar sistem.

Wenergi aliran = pV
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 2

Energi Dalam
Energi dalam (U); energi dari gas karena pergerakan pada tingkat molekul, pada gas

ideal hanya dipengaruhi oleh temperatur saja.


U = Q W

Energi Panas
Energy Panas (Q) ; energi yang ditransfer ke atau dari subtansi karena perbedaan

temperatur. Dengan c panas jenis pada tekanan konstan atau volume konstan, energi ini
dirumuskan :
Q = mcT

1.3 Sistem Satuan Dalam Termodinamika


Hukum Gerak
Newton telah merumuskan tiga hukum tentang gerak, dimana merupakan dasar asumsi
untuk sebuah sistem dinamis. Ketiga hukum tentang gerak ini dikenal sebagai:
1. Hukum pertama Newton tentang gerak.
2. Hukum kedua Newton tentang gerak.
3. Hukum ketiga Newton tentang gerak.
Hukum Pertama Newton
Menyatakan : Setiap benda akan tetap diam atau bergerak secara teratur dalam sebuah
garis lurus, kecuali ada gaya yang bekerja padanya.
Hukum Kedua Newton
menyatakan: Laju perubahan momentum secara langsung berbanding lurus dengan gaya
yang bekerja dan terjadi pada arah yang sama dengan arah gaya yang bekerja.
Misalkan sebuah gaya bekerja pada sebuah benda yang membuat benda itu bergerak.
Katakan:
m = massa benda
F = gaya yang bekerja
u = kecepatan awal benda
v = kecepatan akhir benda
t = waktu benda tersebut merubah kecepatannya dari u ke v dalam detik.
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 3

Menurut hukum kedua Newton tentang gerak:


F = m.a
Massa dan Berat
a. Massa
Adalah jumlah materi yang terkandung pada suatu benda, dan tidak berubah karena perubahan
posisinya di permukaan bumi. Massa benda diukur dengan perbandingan langsung dengan
massa standar dengan menggunakan timbangan.
b. Berat
Adalah jumlah tarikan, dari bumi terhadap suatu benda. Karena besar tarikan berubah karena
perbedaan jarak benda terhadap pusat bumi, maka berat benda juga akan berubah karena
perubahan posisinya di permukaan bumi. Jadi jelas bahwa berat adalah sebuah gaya.
0

Besar tarikan bumi dalam satuan Metriks, pada level permukaan laut dan lintang 45 ,
telah diambil sebagai satu satuan gaya dan disebut satu kilogram gaya. Sayangnya satuannya
sama dengan satuan massa.
Berat benda diukur dengan menggunakan timbangan pegas, yang akan menunjukkan
variasi tarikan pegas jika benda dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Pada satuan CGS, satuan gaya adalah dyne. Satu dyne didefinisikan sebagai gaya,
2

ketika bekerja pada massa satu gram, akan menghasilkan percepatan sebesar 1 cm/sec pada
arah gaya yang bekerja tersebut.
Demikian pula dalam satuan MKS atau SI, satuan gaya disebut Newton (disingkat N).
Satu Newton didefinisikan sebagai gaya, ketika bekerja pada massa satu kilogram, akan
2

menghasilkan percepatan 1 m/sec pada arah gaya yang bekerja tersebut.


Satuan Absolut dan Gravitasi dari Gaya
2

Dari penjelasan diatas, jika sebuah benda bergerak dengan percepatan 9,81 m/sec , gaya
yang bekerja pada benda tersebut adalah 9,81 N. Tetapi kita tahu bahwa massa 1 kg yang
2

mengalami tarikan bumi dengan percepatan 9,81 m/sec adalah 1 kg-berat. Sehingga:

1 kg-berat = 9,81 N

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 4

Hukum Newton Ketiga Tentang Gerak


Menyatakan bahwa setiap aksi, selalu ada reaksi yang sama besarnya dan berlawanan
arah.
Kerja
Jika sebuah gaya bekerja pada sebuah benda dan benda mengalami perpindahan,
dikatakan bahwa telah dilakukan kerja. Contohnya, jika sebuah gaya F bekerja pada sebuah
benda sehingga menghasilkan perpindahan x pada arah gaya, kemudian kerja yang dilakukan
oleh gaya:
W=F.x
Satuan kerja bergantung pada satuan gaya dan perpindahan. Pada sistem MKS, satuan kerja
adalah kilogram-meter (kg-m). Dalam sistem SI, satuan kerja adalah Newton-meter (N-m).
Daya
Adalah laju kerja atau kerja per satuan waktu. Daya adalah pengukuran kinerja suatu
mesin, misalnya: sebuah mesin melakukan sejumlah kerja dalam satu detik akan dua kali
lebih bertenaga dari pada mesin yang mengerjakan kerja yang sama dalam dua detik. Secara
matematik Daya:
Daya = Kerja yang dilakukan
Waktu yang digunakan
Dalam sistem Metrik, satuan daya adalah daya kuda yang sama dengan 4500 kg-m per menit
atau 75 kg-m per detik. Dalam sistem SI, satuan daya adalah Watt, yaitu sama dengan 1 Nm/s atau 1 J/s. Umumnya satuan daya yang lebih besar digunakan kilowatt (kW) yaitu sama
dengan 1000 W.
Energi
Energi didefinisikan sebagai kapasitas untuk melakukan kerja. Energi dijumpai dalam
berbagai bentuk, yaitu: mekanik, listrik, kimia, panas, cahaya dsb.
Hukum Kekekalan Energi
Menyatakan bahwa energi tidak bisa dibuat atau dimusnahkan, namun bisa dirubah dari
satu bentuk ke bentuk lainnya.
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 5

Tekanan
Tekanan didefinisikan sebagai gaya per satuan luas. Satuan tekanan bergantung pada
2

satuan gaya dan luas. Pada sistem MKS, satuan tekanan yang digunakan adalah kg/cm dan
2

kg/m . Kadang-kadang tekanan digunakan dengan satuan atmosfir dan ditulis dengan ata.
2

Dimana 1 atm = 1 kg/cm .


2

Pada sistem SI, satuan tekanan yang digunakan adalah N/mm , N/m , kN/m , MN/m dsb.
Tetapi kadang-kadang satuan tekanan yang lebih besar (bar) digunakan dimana:
5

1 bar = 1 X 10 N/m

Kadang-kadang tekanan dinyatakan dengan satuan lain yang disebut Pa (Pascal) dan kPa,
dimana
2

1 Pa = 1 N/m dan 1 kPa = 1 kN/m

Tekanan Gauge dan Tekanan Mutlak


Semua pengukur tekanan (pressure gauge) akan membaca perbedaan antara tekanan
aktual pada suatu sistem dengan tekanan atmosfir. Bacaan yang diperoleh dari pengukur
tekanan dikenal sebagai tekanan gauge, sedangkan tekanan aktual disebut tekanan absolut.
Secara matematik:
Tekanan absolut = Tekanan gauge + Tekanan atmosfir.
2

Harga tekanan atmosfir diambil 1,033 kg/cm atau 1,01 bar absolut pada permukaan laut.
Temperatur
Temperatur adalah istilah yang penting dan didefinisikan sebagai derjat panas atau
tingkat intensitas panas suatu benda. Benda yang panas disebut mempunyai temperatur yang
lebih tinggi, sedangkan benda dingin mempunyai temperatur yang lebih rendah.
Pengukuran Temperatur
Temperatur suatu benda diukur dengan termometer. Berikut ini adalah dua skala yang
umum digunakan dalam mengukur temperatur suatu benda yaitu:
1. Skala Centigrade atau Celsius; dan
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 6

2. Skala Fahrenheit.
Masing-masing skala ini didasarkan atas dua titik tetap yang dikenal dengan titik beku air
atau titik es, dan titik didih air atau titik uap.
1. Skala Centigrade
Skala ini umumnya digunakan oleh ahli teknik dan ilmuwan. Titik beku air pada skala ini
ditandai dengan nol, dan titik didih air ditandai dengan 100. Jarak antara titik ini dibagi
dengan 100 sehingga tiap satu jarak/garis skala adalah satu derjat centigrade (ditulis dengan
0

C).
2. Skala Fahrenheit
Pada skala ini, titik beku air ditandai dengan 32 dan titik didih ditandai dengan 212. Jarak

antaranya dibagi 180 dan setiap jarak/garis skala mewakili satu derjat Fahrenheit (ditulis
0

dengan F).

Temperatur Absolut
Jika harga temperatur digunakan dalam persamaan yang berhubungan dengan hukumhukum fundamental, maka harga temperatur yang digunakan sebagai rujukan adalah nol
sebenarnya atau nol mutlak.
0

Temperatur nol mutlak/absolut diambil pada harga -273 C atau -460 F. Temperatur
yang diukur dari nol absolut ini disebut dengan temperatur mutlak. Skala celsius mutlak
0

disebut dengan derjat Kelvin (disingkat dengan K); sehingga K = C + 273. Skala absolut
0

Fahrenheit disebut derjat Rankine (disingkat dengan R); dan R = F + 460.

Satuan Kalor
Jumlah panas/kalor diukur berdasarkan kuantitas untuk menaikkan temperatur dari massa
air yang diketahui sebesar temperatur tertentu. Satuan-satuan berikut ini biasanya digunakan
untuk mengukur jumlah kalor:

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 7

1. Calori
0

Adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur satu gram air sebesar 1 C.
Satuan yang lebih besar dari calori adalah kilokalori (kcal), yaitu jumlah kalor yang
0

diperlukan untuk menaikkan temperatur satu kilogram air sebesar 1 C.


Catatan : 1 kilocalori (kcal) = 1000 calori
2. Satuan kalor centigrade
Secara singkat ditulis C.H U. (Centigrade Heat Unit), adalah jumlah kalor yang
0

diperlukan untuk menaikkan temperatur satu pound air sebesar 1 C. Kita tahu bahwa:
1 pound = 453,6 gm
sehingga : 1 C.H.U = 453,6 calori

3. British thermal unit


British Thermal Unit Atau disingkat dengan B.Th.U. atau B.T.U., adalah jumlah kalor
0

yang diperlukan untuk menaikkan temperatur satu pound air sebesar 1 F.


Catatan : 1. Satuan calori kadang-kadang disebut gram calori (gm-cal) dan satuan kalor
centigrade disebut pound calori.
2. Pada sistem MKS, satuan kalor digunakan calori atau kilocalori (ditulis cal
atau kcal). Secara matematik, kalor yang diperlukan untuk menaikkan m kg
0

air sebesar T derjat kelvin jika kalor spesifik adalah c (dalam kcal/kg K):
Q = mcT kcal
3. Pada sistem SI, satuan kalor digunakan joule atau kilojoule (ditulis J atau kJ).
Secara matematik, kalor yang diperlukan untuk menaikkan m kg air sebesar
0

T derjat kelvin jika kalor spesifik adalah c (dalam kJ/kg K):


Q = mcT kJ

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 8

Ekivalen Mekanik dari kalor


Telah dibuktikan oleh Joule bahwa kalor dan energi mekanik bisa saling berpindah. Ia
mendapatkan dari eksperimen bahwa terdapat persamaan numerik antara satuan kalor dan
satuan kerja. Hubungan ini dituliskan dengan J (diambil dari nama Joule) dan dikenal sebagai
ekivalen Joule atau ekivalen mekanik kalor.
Sesuai dengan persamaan ini:
1 kcal = 427 kg-m (dalam satuan MKS)
Pada sistem SI, satuan kerja adalah Joule atau kiloJoule, dan satuan kalor juga Joule atau
kiloJoule, sehingga kita bisa secara langsung mengkonversikan satuan kalor ke satuan
mekanikal dan sebaliknya.

Kalor Spesifik
Kalor spesifik suatu zat secara luas didefinisikan sebagai jumlah kalor yang diperlukan untuk
0

menaikkan temperatur satu satuan massa suatu zat sebesar 1 . Biasanya dinotasikan dengan c.
0

Jika m kg suatu zat dengan kalor spesifikc diperlukan untuk menaikkan temperatur sebesar t
C, maka :

Kalor yang diperlukan = m.c.t kcal

Tabel 1 Nilai rata-rata kalor spesifik beberapa zat

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 9

Kapasitas Kalor
Kapasitas kalor sebuah zat bisa didefinisikan sebagai kalor yang diperlukan untuk
0

menaikkan seluruh massa zat sebesar 1 . Secara matematik:


Kapasitas kalor = m.c kalori
dimana, m = massa zat dalam gram
c = kalor spesifik zat
Ekivalensi Air
Ekivalensi air suatu zat bisa didefinisikan sebagai jumlah air, yang memerlukan jumlah
0

kalor yang sama ketika suatu zat dinaikkan temperaturnya sebesar 1 . Secara matematik:
Ekivalensi air suatu zat = m.s gram
dimana, m = massa zat
s = kalor spesifik zat

Entalpi
Sejumlah panas yang ditambahkan pada 1 mol gas pada tekanan konstan dengan cp panas
jenis pada tekanan konstan.

Entropi
Entropi adalah besaran yang menyatakan banyaknya energi atau kalor yang tidak dapat
diubah menjadi usaha. Ketika suatu sistem menyerap sejumlah kalor Q dari reservoir yang
memiliki temperatur mutlak, entropi sistem tersebut akan meningkat dan entropi reservoirnya
akan menurun sehingga perubahan entropi sistem dapat dinyatakan dengan persamaan :

S = Q/T

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 10

BAB II
KONSEP DASAR TERMODINAMIKA

2.1 Usaha Dalam Termodinamika


Usaha merupakan gaya yang diberikan kepada suatu benda sehingga benda berpindah
posisi atau kedudukan, dari kedudukan awal menuju kedudukan akhir.
W=Fxs
Bagaimanakah cara menghitung usaha pada gas? Tinjaulah suatu gas yang berada dalam
tabung dengan penutup berbentuk piston yang dapat bergerak bebas, seperti terlihat pada
Gambar 3.

Gambar 3. perpindahan piston sejauh S ketika gas memuai


Ketika gas tersebut dipanaskan, piston akan berpindah sejauh s karena gas di dalam tabung
memuai dari volume awal V1 menjadi volume akhir V2. Gaya yang bekerja pada piston adalah F =
pA. Jika luas penampang piston (A) dan tekanan gas dalam tabung (P) berada dalam keadaan
konstan, usaha yang dilakukan oleh gas dinyatakan dengan persamaan :

W = pA s
Oleh karena A s = V, persamaan usaha yang dilakukan gas dapat ditulis menjadi :
W = p V atau W = p(V2 V1)

Dengan :
p

= tekanan gas (N/m2),

V = perubahan volume (m3), dan


W = usaha yang dilakukan gas (joule).

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 11

Nilai W dapat berharga positif atau negatif bergantung pada ketentuan berikut.
a. Jika gas memuai sehingga perubahan volumenya berharga positif, gas (sistem) tersebut
dikatakan melakukan usaha yang menyebabkan volumenya bertambah. Dengan demikian,
usaha W sistem berharga positif.
b. Jika gas dimampatkan atau ditekan sehingga perubahan volumenya berharga negatif, pada
gas (sistem) diberikan usaha yang menyebabkan volume sistem berkurang. Dengan demikian,
usaha W pada tersebut sistem ini bernilai negatif.

Usaha yang dilakukan oleh sistem dapat ditentukan melalui metode grafik. Pada Gambar
4a dapat dilihat bahwa proses bergerak ke arah kanan (gas memuai). Hal ini berarti V2 > V1
atau V > 0 sehingga W bernilai positif (gas melakukan usaha terhadap lingkungan). W sama
dengan luas daerah di bawah kurva yang diarsir (luas daerah di bawah kurva p V dengan
batas volume awal dan volume akhir)

Gambar 4a. gas memuai


Selanjutnya perhatikan Gambar 4b. Jika proses bergerak ke arah kiri (gas memampat),
V2 < V1 atau V < 0 sehingga W bernilai negatif (lingkungan melakukan usaha terhadap
gas). W = luas daerah di bawah kurva pV yang diarsir.

Gambar 4b. gas memampat

Gambar 3. (a) Grafik PV suatu gas yang mengalami pemuaian (melakukan ekspansi) (b)
Grafik PV suatu gas yang mengalami pemampatan (diberi kompresi).

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 12

2.2 Sistem, Proses, Dan Siklus Dalam Termodinamika


Sistem termodinamika secara luas bisa didefinisikan sebagai luas atau ruang tertentu
dimana proses termodinamika terjadi. Atau adalah suatu daerah dimana perhatian kita
difokuskan dalam mempelajari proses termodinamika. Sedikit observasi akan memperlihatkan
bahwa sistem termodinamika mempunyai batas sistem, dan segala sesuatu yang ada di luar
batas sistem disebut lingkungan. Batas sistem ini bisa saja berupa batas tetap seperti pada
tangki yang berisi gas yang terkompresi, atau batas bergerak seperti yang dijumpai pada
sejumlah volume cairan di dalam saluran pipa.

Gambar 5. skema system termodinamika

Klasifikasi Sistem Termodinamika


Sistem termodinamika bisa diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok:
1. Sistem terbuka;
2. Sistem tertutup; dan
3. Sistem terisolasi.
1. Sistem Terbuka
Dalam sistem terbuka, energi dan masa dapat keluar sistem atau masuk kedalam
sistem melewati batas sistem. Panas dan kerja bisa juga melewati batas sistem. Gambar 6
menunjukkan diagram sebuah kompresor udara yang menggambarkan sistem terbuka ini.

Gambar 6. sistem termodinamika terbuka


IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 13

Zat yang melewati batas sistem adalah udara bertekanan rendah (L.P) yang memasuki
kompresor dan udara bertekanan tinggi (H.P) yang meninggalkan kompresor. Kerja melewati
batas sistem melalui poros penggerak dan panas ditransfer melewati batas sistem melalui
dinding silinder. Sebagian besar mesinmesin konversi energi adalah sistem terbuka. Sistem
mesin motor bakar adalah ruang didalam silinder mesin, dimana campuran bahan bahan bakar
dan udara masuk kedalam silinder, dan gas buang keluar sistem melalui knalpot. Turbin gas,
turbin uap, pesawat jet dan lain-lain adalah merupakan sistem thermodinamika terbuka,
karena secara simultan ada energi dan masa keluar-masuk sistem tersebut.

2. Sistem Tertutup
Dalam sistem tertutup masa dari sistem yang dianalisis tetap dan tidak ada masa keluar
dari sistem atau masuk kedalam sistem, tetapi volumenya bisa berubah. Yang dapat-keluar
masuk sistem tertutup adalah energi dalam bentuk panas atau kerja.

Sistem tertutup

ditunjukkan oleh gambar 7. Gas di dalam silinder dianggap sebagai suatu sistem. Jika panas
diberikan ke silinder dari sumber luar, temperatur gas akan naik dan piston bergerak ke atas.

Gambar 7. sistem termodinamika tertutup


Ketika piston naik, batas sistem bergerak. Dengan kata lain, panas dan kerja melewati
batas sistem selama proses, tetapi tidak ada terjadi penambahan atau pengurangan massa zat.
Contoh sistem tertutup adalah suatu balon udara yang dipanaskan, dimana masa udara
didalam balon tetap, tetapi volumenya berubah, dan energi panas masuk kedalam masa udara
didalam balon.

3. Sistem Terisolasi
Adalah sebuah sistem yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh lingkungannya. Sistem
ini massanya tetap dan tidak ada panas atau kerja yang melewati batas sistem.

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 14

Sifat-sifat Sistem
Karakteristik yang menentukan sifat dari sistem disebut property dari sistem, seperti
tekanan P, temperatur T, volume V, masa m, viskositas, konduksi panas, dan lain-lain. Selain
itu ada juga property yang disefinisikan dari property yang lainnya seperti, berat jenis,
volume spesifik, panas jenis, dan lain-lain.

Kesetimbangan Termal
Misalkan dua benda yang berasal dari material yang sama atau berbeda, yang satu
panas, dan lainnya dingin. Ketika benda ini ditemukan, benda yang panas menjadi lebih
dingin dan benda yang dingin menjadi lebih panas. Jika kedua benda ini dibiarkan
bersinggungan untuk beberapa lama, akan tercapai keadaan dimana tidak ada perubahan yang
bisa diamati terhadap sifat-sifat kedua benda tersebut. Keadaan ini disebut keadaan
kesetimbangan termal, dan kedua benda akan mempunyai temperatur yang sama. Perubahan
sistem thermodinamika dari keadaan seimbang satu menjadi keadaan seimbang lain disebut
proses, dan rangkaian keadaan diantara keadaan awal dan akhir disebut linasan proses seperti
terlihat pada Gambar 8

Gambar 8. proses dari keadaan 1 ke keadaan 2


Tergantung dari jenis prosesnya, maka keadaan 2 dapat dicapai dari keadaan 1 melalui
berbagai lintasan yang berbeda. Proses thermodinamika biasanya digambarkan dalam sistem
koordinat 2 dua property, yaitu P-V diagram, P-v diagram, atau T-S diagram. Proses yang
berjalan pada satu jenis property tetap, disebut proses iso - diikuti nama property nya,
misalnya proses isobaris (tekanan konstan), proses isochoris (volume konstan), proses
isothermis (temperatur konstan) dan la in-lain.

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 15

Proses Termodinamika
Terdapat empat proses dalam bahasan termodinamika yaitu proses isotermal, isobarik,
isokhorik, dan adiabatik.
1. Isotermal
Proses isotermal adalah suatu proses perubahan keadaan gas pada suhu tetap. Hukum
ini diformulasikan oleh Robert Boyle pada tahun 1662. Hukum ini berbunyi,
Tekanan mutlak suatu massa dari gas sempurna berubah secara berbanding terbalik
terhadap volumenya, jika temperaturnya tetap.

Gambar 9. proses isotermal

Menurut hukum boyle, Secara matematik dapat ditulis :


pV = konstan atau p1V1 = p2V2
Dalam proses ini, tekanan dan volume sistem berubah sehingga persamaan W = p V tidak
dapat langsung digunakan. Untuk menghitung usaha sistem dalam proses isotermal ini
digunakan cara integral. Misalkan, pada sistem terjadi perubahan yang sangat kecil sehingga
persamaan usahanya dapat dituliskan sebagai berikut :
dW = pdV
Jika Persamaan diatas diintegralkan maka dapat dituliskan :
dW = pdV

Dari persamaan keadaan gas ideal diketahui bahwa p = nRT/V. Oleh karena itu, integral dari
Persamaan diatas dapat dituliskan menjadi :
dW = (nRT / V)

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 16

Jika konstanta n R, dan besaran suhu (T) yang nilainya tetap dikeluarkan dari integral, akan
diperoleh :

W = nR T (lnV2 lnV1)
W = n RT ln (V2/V1)
atau
W = n RT ln (p2/p1)

2. Isobarik
Proses isobarik adalah suatu proses perubahan keadaan gas pada tekanan tetap.
Hukum ini dirumuskan oleh warga negara Perancis bernama Jacques A.C. Charles pada tahun
1787. Hukum ini berbunyi :
Volume suatu massa gas sempurna berubah dengan berbanding langsung dengan
temperatur mutlak, jika tekanan mutlaknya konstan

Gambar 10. proses isobarik


Menurut Hukum Charles, persamaan keadaan gas pada proses isobarik dinyatakan dengan
persamaan :
V/T = konstan
atau
V1/T1 = V2/T2

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 17

Oleh karena volume sistem berubah, sedangkan tekanannya tetap, usaha yang dilakukan oleh
sistem dinyatakan dengan persamaan
W = pV = p (V2 V1)
3. Isokhorik
Proses isokhorik adalah suatu proses perubahan keadaan gas pada volume tetap.
Hukum ini dirumuskan oleh Gay-Lusac, Hukum ini berbunyi :
Tekanan mutlak dari suatu massa gas sempurna berubah berbanding langsung dengan
temperatur, jika volumenya konstan.

Gambar 11. proses isokhorik


Menurut Hukum Gay-Lussac proses isokhorik pada gas dapat dinyatakan dengan persamaan :
p/T = konstan
atau
p1/T1 = p2/T2
Oleh karena perubahan volume dalam proses isokhorik V = 0 maka usahanya W = 0.
4. Adiabatik
Proses adiabatik adalah suatu proses perubahan keadaan gas di mana tidak ada kalor (Q) yang
masuk atau keluar dari sistem (gas). Proses ini dapat dilakukan dengan cara mengisolasi
sistem menggunakan bahan yang tidak mudah menghantarkan kalor atau disebut juga bahan
adiabatik. Adapun, bahan-bahan yang bersifat mudah menghantarkan kalor disebut bahan
diatermik
Proses adiabatik ini mengikuti persamaan Poisson sebagai berikut
p V = konstan
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 18

atau
p1 V1 = p2 V2
Oleh karena persamaan gas ideal dinyatakan sebagai pV = nRT maka Persamaan (94) dapat
ditulis :
T1V1( 1) = T2 V2( 1
dengan = CP/CV = konstanta Laplace, dan CP/CV > 1. CP adalah kapasitas kalor gas pada
tekanan tetap dan CV adalah kalor gas pada volume tetap. Perhatikan diagram p V pada
Gambar 12.

Gambar 12. proses adiabatik


Dari kurva hubungan p V tersebut, Anda dapat mengetahui bahwa:

1) Kurva proses adiabatik lebih curam daripada kurva proses isotermal.


2) Suhu, tekanan, maupun volume pada proses adiabatik tidak tetap.

Oleh karena sistem tidak melepaskan atau menerima kalor, pada kalor sistem proses
adiabatik Q sama dengan nol. Dengan demikian, usaha yang dilakukan oleh sistem hanya
mengubah energi dalam sistem tersebut. Besarnya usaha pada proses adiabatik tersebut
dinyatakan dengan persamaan berikut.
W= 3/2 nRTT = 3/2 (p1 V1 p2 V2)

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 19

Persamaan Gas Umum


Pada bagian sebelumnya, telah dibicarakan tentang hukum gas dimana memberikan kita
hubungan antara dua variabel, ketika variabel ketiga konstan. Dalam kondisi sebenarnya,
ketiga variabel yaitu: tekanan, volume dan temperatur, berubah secara bersamaan. Untuk
menyatakan kondisi ini, kedua hukum Boyle dan Charles digabung, dan memberikan
persamaan gas umum.
Berdasarkan hukum Boyle:
=

Atau :

dan berdasarkan hukum Charles:


vT
Terlihat bahwa

MAKA : pv T

Bentuk yang lebih berguna dari persamaan di atas adalah:

11
22
=
=
1
2
dimana notasi 1, 2 dan 3 mengacu kepada kondisi yang berbeda.
Persamaan Karakteristik Gas
Adalah modifikasi dari persamaan gas umum. Jika volume (v) pada persamaan gas
umum dinyatakan dalam per 1 kg gas (disebut dengan volume spesifik, dan dilambangkan
dengan v ) maka konstanta C (pada persamaan gas umum) bisa diwakili dengan konstanta lain
s

R ( pada persamaan karakteristik gas). Sehingga persamaan gas umum bisa ditulis ulang
sebagai:
p.v = RT
s

disini R disebut konstanta gas karakteristik atau secara sederhana disebut konstanta gas.
Untuk sembarang massa m kg, persamaan gas karakteristik menjadi:
m.p.v = mRT
s

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 20

p.v = mRT (Q m.v = v)


s

Catatan:
1. Harga konstanta gas (R) berbeda untuk gas yang berbeda. Harganya pada udara
0

atmosfir diambil 29,27 kgm/kg K (atau 287 J/kg K atau 0,287 kJ/kg K).
2. Persamaan pv = mRT bisa juga dinyatakan dalam bentuk lain, yaitu:

= =

= kerapatan gas yang bersangkutan

Hukum Avogadro
Hukum ini berbunyi: volume yang sama dari gas-gas, pada temperatur dan tekanan
yang sama, mengandung jumlah molekul yang sama.
3

Maka, sesuai dengan hukum Avogadro, 1 m oksigen (O2) akan mempunyai jumlah
3

molekul yang sama dengan 1 m hidrogen (H2) jika temperatur dan tekanannya sama.
Pembuktian menunjukkan bahwa karena berat molekul hidrogen adalah 2 dan oksigen adalah
16, sehingga molekul oksigen mempunyai berat 32/2 = 16 kali berat molekul hidrogen.
3

Karena 1 m kedua gas ini mempunyai jumlah molekul yang sama, dan berat molekul oksigen
16 kali dari berat molekul hidrogen, kerapatan (atau berat spesifik) oksigen adalah 16 kali dari
kerapatan hidrogen. Maka, hukum Avogadro menunjukkan bahwa kerapatan dua gas
berbanding lurus dengan berat molekulnya, jika gas berada pada temperatur dan tekanan yang
sama.
Berat spesifik oksigen pada Normal Temperature and Pressure (disingkat N.T.P) yaitu
0

pada 0 C dan 1,0332 kg/cm absolut adalah 1,429 kg/m .


Volume spesifik oksigen (pada 1 kg) pada NTP,
=

1
3 /
1,429

dan volume 32 kg (atau 1 kg molekul,1 kg mol) :


=

1
32 = 22,4 3
1,429

Dengan cara yang sama bisa dibuktikan bahwa volume 1 kg mol sembarang gas pada
3

NTP adalah 22,4 m .


IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 21

Catatan: 1 gm mol (berat molekul dinyatakan dalam gm) dari semua gas akan menempati
volume 22,4 liter pada NTP.
Tabel 2 Harga berat molekul dari beberapa gas

Konstanta Gas Universal atau Konstanta Molar


Konstanta gas universal atau konstanta molar dari gas (biasanya dilambangkan dengan
R ) adalah produk konstanta gas dan berat molekul gas. Secara matematik:
u

R =MR
u

Dimana, M = berat molekul gas yang dinyatakan dengan gm (yaitu gm-mol) atau kg (yaitu
kg-mol)*
R = konstanta gas
Secara umum, jika M , M , M dst, adalah berat molekul dari gas yang berbeda dan R ,
1

R , R dst, masing-masing adalah konstanta gas tersebut, maka:


2

M R = M R = M R ... = R
1 1

2 2

3 3

Catatan: 1. Harga Ru sama untuk semua gas.


2. Harganya 848 kg-m/kg mol/K dalam MKS atau 8314 J/kg mol/K dalam SI.
3. Persamaan karakteristik gas (yaitu: pv = RT) bisa ditulis dalam bentuk berat
molekul yaitu:
pv = MRT

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 22

Rasio Kalor Spesifik


Rasio dua kalor spesifik (yaitu =C /C ) dari gas adalah konstanta penting di dalam
p

termodinamika dan dilambangkan dengan . Rasio ini dikenal juga dengan indeks adiabatis.
Karena C selalu lebih besar dari C , harga selalu lebih besar dari satu.
p

Dalam satuan SI ditulis:


=1+

Atau :
=

= konstanta laplace
Untuk gas monoatomik: cv = 3/2 nR , cp = 5/2 nR

cv = 5/2 nR , cp = 7/2 nR

Untuk gas diatomik:

Tabel 3 Harga C dan C untuk beberapa gas pada temperatur antara 15 sampai 20 diberikan
v

oleh tabel berikut:

Siklus Termodinamika
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 23

Suatu sistem disebut menjalani suatu siklus, apabila sistem tersebut menjalani
rangkaian beberapa proses, dengan keadaan akhir sistem kembali ke keadaan awalnya. Pada
Gambar 13 (a) terlihat suatu siklus terdiri dari 2 jenis proses, dan Gambar 13 (b) siklus lain
dengan 4 jenis proses.

Gambar 13. diagram siklus termodinamika

2.3 Property Zat Murni Dan Karateristik Gas Ideal


2.3.1 Zat Murni
Zat murni adalah zat yang mempunyai komposisi kimia yang tetap pada semua
bagiannya. Contoh zat murni misalnya, air, nitrogin, helium, CO2, udara, dan lain -lain.
Persyaratan sebagai zat murni tidak perlu hanya satu jenis saja, tetapi dapat berupa campuran
zat asal campurannya homogin pada seluruh bagiannya. Udara merupakan campuran dari
beberapa jenis zat tetapi masih bersifat zat murni, tetapi campuran antara minyak dengan air
bukan merupakan zat murni karena tidak dapat bercampur secara homogin. Zat murni dapat
terwujud dalam fasa padat, fasa cair, atau fasa gas. Fasa padat mempunyai struktur molekul
dengan jarak antar molekul paling kecil dan gaya ikat antar molekul paling besar, fasa cair
mempunyai gaya ikat yang lebih kecil, dan fasa gas gaya ikat antar molekul paling kecil.
Posisi molekul pada fasa padat relatif tetap, pada fasa cair molekul bergerak secara oscilasi,
dan pada fasa gas molekulmolekul bergerak bebas tidak beraturan dan saling bertabrakan satu
sama lainnya.

2.3.2 Diagram Fasa


Zat murni dapat mengalami perubahan fasa pada keadaan yang berbeda-beda,
tergantung kepada kondisi property nya. Air berubah fasa menjadi gas pada temperatur sekitar
100 oC apabila tekanannya 1 atm, tetapi pada tekanan lebih tinggi maka temperatur
perubahan fasa nya lebih tinggi pula. Gambar 14. menunjukkan diagram perubahan fasa cairIWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 24

gas pada suatu zat murni, dengan koordinat tekanan dan temperatur. Dari sifat tersebut diatas
dapat digambarkan diagram perubahan fasa dari suatu zat murni secara lengkap, yaitu pada
semua lingkup keadaan untuk zat murni tersebut. Contoh diagram perubahan fasa lengkap
tersebut diperlihatkan pada Gambar 15 (a) dengan koordinat Tv dan Gambar 15 (b) untuk
koordinat P-v. Garis fasa berbentuk lengkungan tajam pada bagian atasnya, garis disebelah
kiri adalah garis liquid jenuh dan garis disebelah kanan adalah garis uap jenuh. Titik
puncaknya merupakan titik kritis, dimana diatas titik tersebut kondisi fasa.

Gambar 14. diagram perubahan fasa cair-gas pada zat murni

a). Koordinat P-v

b). Koordinat T v

Gambar 15. Diagram perubahan fasa suatu zat murni

kondisi liquid dan gas bersamaan. Keadaan titik kritis untuk zat murni air terjadi pada
tekanan Pcr = 22,09 MPa, dan temperatur Tcr = 374,14oC. Daerah diantara garis liquid jenuh
dengan garis uap jenuh adalah daerah terjadinya campuran antara fasa cair dan fasa gas. Garis
putus-putus pada diagram Gambar 15 (a) menunjukkan lintasan proses penguapan zat murni
pada tekanan konstan P1 dan P2 (dengan P2 > P1), dan terlihat bahwa lintasan proses
penguapan pada tekanan P2 terjadi pada temperatur lebih tinggi daripada lintasan pada
temperatur P1. Garis a-b menunjukkan pemanasan pada fasa liquid sampai mencapai titik cair
jenuh di b. Sedang pada garis b-c terjadi proses penguapan yang terjadi pada temperatur
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 25

konstan dan tekanan konstan, dengan fasa diantara titik b dan titik c adalah kondisi campuran
antara liquid dan gas. Pada titik b adalah 100% liquid, sedang pada titik d adalah 100% fasa
gas.
Selanjutnya garis c-d menunjukkan pemanasan lanjutan dari uap, sehingga kondisi
uapnya disebut uap panas lanjut (superheated steam). Panas yang dibutuhkan untuk
pemanasan air pada garis a-b dan pemanasan uap pada garis c-d disebut panas sensibel,
sedang panas yang diperlukan untuk proses penguapan pada garis b-c disebut panas laten.
Terlihat pada Gambar 14 bahwa semakin tinggi tekanan fluida (juga temperaturnya), semakin
pendek garis penguapan (garis b-c untuk tekanan P1) sehingga semakin kecil panas laten yang
dibutuhkan. Garis putus-putus pada Gambar 15 (b) adalah garis isothermis pada diagram
penguapan dengan koordinat P-v.

2.3.3 Tabel Property


Dalam analisis thermodinamika selalu dibutuhkan data nilai property dari suatu zat,
pada semua lingkup keadaan untuk masingmasing zat yang diteliti. Nilai property dapat
diprediksi dengan mengembangkan suatu persamaan matematis hubungan antar property dari
zat yang bersangkutan. Namun biasanya bentuk hubungan antar property untuk semua zat
sangat kompleks, srhingga sangat sulit untuk direpresentasikan dalam suatu persamaan yang
sederhana. Karena itu data property biasanya dipresentasikan dalam bentuk Tabel
Thermodinamika, yang berisi data property dari beberapa zat yang sering digunakan dalam
aplikasi thermodinamika. Tabel tersebut membutuhkan data property yang sangat banyak,
yang dikumpulkan dari hasil pengukuran yang membutuhkan waktu yang lama. Jenis
property yang biasanya ada dalam Tabel Thermodinamika adalah tekanan, temperatur,
volume spesifik, energy internal, panas laten, dan dua property baru yaitu enthalpy (h) dan
entropy (s) yang akan dibahas dalam bab selan jutnya. Data property untuk keadaan fasa
campuran tidak dapat dilihat secara langsung dalam Tabel Thermodinamika, tetapi dapat
dihitung dengan menggunakan parameter kualitas campuran (x) yaitu:
g
=

dimana : masa total campuran (mtotal)= masa liquid + masa uap = mf + m g


Parameter x mempunyai nilai nol yaitu apabila mg = 0 atau pada kondisi liquid jenuh, sedang
x = 1 apabila mf = 0 atau mg = mtotal, yaitu pada keadaan uap jenuh. Hubungan antara
parameter x dengan nilai propertytertentu, misalnya enthalpy (h) adalah:

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 26

h = hf + x . hfg
dimana: h = enthapy pada kondisi campuran
hf = enthalpy pada keadaan liquid jenuh
hfg = pana laten

2.3.4 Gas Ideal


Gas ideal adalah gas teoritis terdiri dari partikel-partikel titik yang bergerak secara
acak dan tidak saling berinteraksi. Molekul-molekul gas didalam suatu ruangan yang dibatasi
dinding bergerak kesegala arah dengan tidak beraturan (chaotic motion ). Karena gerakan
tidak beraturan tersebut kemungkinan sering terjadi tumbukan antar molekul, sebelum
menabrak dinding batas ruangan. Tabrakan molekul ke dinding ruangan tersebut terjadi secara
terusmenerus, yang menimbulkan efek tekanan gas didalam ruangan tersebut. Semakin tinggi
temperature gas, maka semakin besar kecepatan geraknya sehingga menyebabkan momentum
tumbukan terhadap dinding semakin besar. Akibatnya tekanan yang terjadi dida lam ruangan
akan semakin besar pula.

2.3.5 Persamaan Keadaan Gas


Persamaan gas ideal cukup sederhana, namun seperti telah dibahas sebelumnya
lingkup pemakaiannya terbatas. Banyak usaha dilakukan untuk mengembangkan persamaan
keadaan gas, dengan lingkup pemaka ian yang lebih luas. Namun persamaan yang didapatkan
umumnya lebih kompleks dibandingkan dengan persamaan gas ideal, seperti pada persamaan
Van der Waals dan persamaan Beattie- Bridgeman sebagai berikut:

1. Persamaan Van del Waals.


Pada tahun 1873, Van der Waals mengajukan persamaan keadaan gas dengan
tambahan dua konstanta a dan b sebagai berikut,
(P+

) =

dengan nilai konstanta a dan b sebagai berikut.

2
2

64

Persamaan Van der Waals mempunyai ketelitian yang kurang baik, tetapi apabila konstanta a
dan b dihitung menurut perilaku gas sebenarnya pada lingkup yang luas maka ketelitiannya
menjadi lebih naik.
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 27

2. Persamaan Beattie-Bridgeman
Persamaan Beattie Bridgeman diajukan pada tahun 1928, dengan menggunakan lima
konstanta sebagai berikut,
=

1 3

dengan konstanta A dan B dihitung dengan persamaan sebagai berikut,

= 0 (1 )

dan

= 0 (1 )

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 28

BAB III
HUKUM DALAM TERMODINAMIKA

3.1 Hukum Ke-nol Termodinamika


Hukum ini berbunyi: Jika dua benda berada dalam kondisi kesetimbangan termal
dengan benda ketiga, maka benda-benda tersebut berada dalam kesetimbangan termal satu
sama lainnya.

3.2 Hukum ke 1 Termodinamika


Hubungan antara kalor yang diterima atau dilepaskan suatu sistem, usaha yang
dilakukan pada sistem, serta perubahan energi dalam sistem yang ditimbulkan oleh kalor dan
usaha tersebut dijelaskan dalam Hukum Pertama Termodinamika. Hukum Pertama
Termodinamika adalah perluasan bentuk dari Hukum Kekekalan Energi dalam mekanika.
Hukum ini menyatakan bahwa: "Jumlah kalor pada suatu sistem sama dengan perubahan
energi dalam sistem tersebut ditambah usaha yang dilakukan oleh sistem." Dengan demikian,
meskipun energi kalor sistem telah berubah menjadi energi mekanik (usaha) dan energi
dalam, jumlah seluruh energi tersebut selalu tetap. Secara matematis, Hukum Pertama
Termodinamika dituliskan sebagai berikut.
Q = U + W

dengan:
Q = kalor yang diterima atau dilepaskan oleh sistem,
U = U2 U1 = perubahan energi dalam sistem, dan
W = usaha yang dilakukan sistem.

Perjanjian tanda yang berlaku untuk Persamaan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Jika sistem melakukan kerja maka nilai W berharga positif.


2. Jika sistem menerima kerja maka nilai W berharga negatif
3. Jika sistem melepas kalor maka nilai Q berharga negatif
4. Jika sistem menerima kalor maka nilai Q berharga positif

1. Perubahan Energi Dalam


IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 29

Perubahan energi dalam U tidak bergantung pada proses bagaimana keadaan sistem
berubah, tetapi hanya bergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir sistem tersebut.
Anda telah mengetahui bahwa proses-proses dalam termodinamika terbagi atas empat jenis,
yaitu isotermal, isokhorik, isobarik, dan adiabatik. Perubahan energi dalam terjadi pada setiap
proses tersebut dijelaskan sebagai berikut.

a. Proses Isotermal
Besar usaha yang dilakukan sistem proses isotermal ini adalah W = nRT In (V2/V1).
Oleh karena T = 0, menurut Teori Kinetik Gas, energi dalam sistem juga tidak berubah (U
= 0) karena perubahan energi dalam bergantung pada perubahan suhu. Ingatlah kembali
persamaan energi dalam gas monoatomik yang dinyatakan dalam persamaan U = 3/2 nRT.
Dengan demikian, persamaan Hukum Pertama Termodinamika untuk proses isotermal ini
dapat dituliskan sebagai berikut.
Q = U + W = 0 + W
Q = W = nR T ln (V2/V1)

b. Proses Isokhorik
Dalam proses isokhorik perubahan yang dialami oleh sistem berada dalam keadaan
volume tetap. Anda telah memahami bahwa besar usaha pada proses isokhorik dituliskan W =
pV = 0. Dengan demikian, persamaan Hukum Pertama Termodinamika untuk proses ini
dituliskan sebagai
Q = U + W = U + 0
Q = U = U2 - U1
Dari Persamaan Anda dapat menyatakan bahwa kalor yang diberikan pada sistem
hanya digunakan untuk mengubah energi dalam sistem tersebut. Jika persamaan energi dalam
untuk gas ideal monoatomik disubstitusikan ke dalam Persamaan didapatkan perumusan
Hukum Pertama Termodinamika pada proses isokhorik sebagai berikut.
Q = U = 3/2 nR T
atau
Q = U2 - U1 = 3/2 nR (T2 T1)

c. Proses Isobarik
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 30

Jika gas mengalami proses isobarik, perubahan yang terjadi pada gas berada dalam
keadaan tekanan tetap. Usaha yang dilakukan gas dalam proses ini memenuhi persamaan W =
P V = p(V2 V1). Dengan demikian, persamaan Hukum Pertama Termodinamika untuk
proses isobarik dapat dituliskan sebagai berikut.
Q = U + W
Q = U + p(V2 V1)
Untuk gas ideal monoatomik, Persamaan dapat dituliskan sebagai :
Q = 3/2 nR (T2 T1) + p (V2 V1)

d. Proses adiabatik
Dalam pembahasan mengenai proses adiabatik, Anda telah mengetahui bahwa dalam
proses ini tidak ada kalor yang keluar atau masuk ke dalam sistem sehingga Q = 0. Persamaan
Hukum Pertama Termodinamika untuk proses adiabatik ini dapat dituliskan menjadi
Q = U + W
0 = U + W
atau
W = - U = - (U2 - U1)
Berdasarkan Persamaan tersebut, Anda dapat menyimpulkan bahwa usaha yang
dilakukan oleh sistem akan mengakibatkan terjadinya perubahan energi dalam sistem di mana
energi

dalam

tersebut

dapat

bertambah atau

berkurang

dari keadaan awalnya.

Persamaan Hukum Pertama Termodinamika untuk gas ideal monoatomik pada proses
adiabatik ini dituliskan sebagai :
W = - U = - 3/2 nR (T2 T1)

2. Kapasitas Kalor
Kapasitas kalor gas adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu
gas sebesar 1C, untuk volume tetap disebut CV dan untuk tekanan tetap disebut Cp. Secara
matematis, kapasitas kalor (C) dinyatakan dengan persamaan :
C = Q/T
Pada gas, perubahan suhu dapat dilakukan dengan proses isobarik atau proses isokhorik.
Dengan demikian, kapasitas kalor gas dapat dibedakan menjadi dua, yakni kapasitas kalor
pada tekanan tetap (Cp) dan kapasitas kalor pada volume tetap (Cv). Perumusan kedua pada
kapasitas kalor tersebut secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut.
Cp = QP/T dan CV = QV/T
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 31

Jika besaran QP dan QV dimasukkan ke dalam persamaan Hukum Pertama Termodinamika,


akan didapatkan persamaan berikut.

a. Pada proses isokhorik


QV =

Oleh karena dalam proses ini volume sistem tetap (V = 0) maka usaha sistem W = 0
sehingga didapatkan persamaan :
QV = U

b. Pada proses isobarik


QP = U + W
Oleh karena dalam proses ini tekanan sistem tetap ( p + 0), usaha sistem W = p V. Dengan
demikian, persamaan Hukum Pertama Termodinamika dapat dituliskan
QP = U + p V
Dengan melakukan substitusi Persamaan ke Persamaan dapat dituliskan persamaan
Qp = U + p V
atau
Qp QV = p V
Selanjutnya, jika Persamaan disubstitusikan Persamaan akan diperoleh persamaan :
(Cp T) (CV T) = p V
(Cp - CV)T = p V
Cp CV = p V / T
Berdasarkan persamaan keadaan gas ideal pV = nRT, Persamaan dapat dituliskan menjadi
Cp CV = nR
Untuk gas monoatomik, energi dalam gas dinyatakan dengan persamaan :
U = 3/2 nRT
Dengan demikian, kapasitas kalor pada proses isokhorik (QV = U) dapat dituliskan sebagai :
CV = 3/2 nR
Catatan Fisika :
Umumnya memasak melibatkan proses isobarik. Hal ini disebabkan karena tekanan udara di
atas panci, wajan, atau dalam oven microwave tetap konstan sementara makanan dipanaskan.
(Sumber: Fisika Universitas, 2000)

Besar Cp dapat ditentukan dari Persamaan Cv sehingga diperoleh :


IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 32

Cp = CV + nR
Cp = 3/2 nR + nR
Cp = 5/2 nR

3. Siklus Carnot dan Efisiensi Mesin


Keadaan suatu sistem dalam termodinamika dapat berubah-ubah, berdasarkan
percobaan besaran-besaran keadaan sistem tersebut. Namun, besaran-besaran keadaan
tersebut hanya berarti jika sistem berada dalam keadaan setimbang. Misalnya, jika Anda
mengamati suatu gas yang sedang memuai di dalam tabung, temperatur dan tekanan gas
tersebut di setiap bagian tabung dapat berubah-ubah. Oleh karena itu, Anda tidak dapat
menentukan suhu dan temperatur gas saat kedua besaran tersebut masih berubah. Agar dapat
menentukan besaran-besaran keadaan gas, gas harus dalam keadaan reversibel. Apakah yang
dimaksud dengan proses reversibel?
Proses reversibel adalah suatu proses dalam sistem di mana sistem hampir selalu berada
dalam keadaan setimbang.

Gambar 16. Perubahan keadaan gas dalam siklus reversibel.


Dari grafik pV tersebut, suatu gas mengalami perubahan keadaan dari A ke B.
Diketahui bahwa pada keadaan A sistem memiliki tekanan p1 dan volume V1. Pada tekanan B,
tekanan sistem berubah menjadi p2 dan volumenya menjadi V2. Jika gas tersebut mengalami
proses reversibel, keadaan gas tersebut dapat dibalikkan dari keadaan B ke A dan tidak ada
energi yang terbuang. Oleh karena itu, pada proses reversibel, kurva pV yang dibentuk oleh
perubahan keadaan sistem dari A ke B dan dari B ke A adalah sama.
Dalam kenyataannya, sulit untuk menemukan proses reversibel karena proses ini tidak
memperhitungkan energi yang hilang dari dalam sistem (misalnya, gesekan). Namun, proses
reversibel memenuhi Hukum Pertama Termodinamika. Tahukah Anda yang dimaksud dengan
siklus termodinamika? Siklus termodinamika adalah proses yang terjadi pada sistem sehingga
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 33

akhirnya sistem kembali pada keadaan awalnya. Prinsip siklus termodinamika ini kali pertama
dijelaskan oleh seorang insinyur Perancis bernama Sadi Carnot dan disebut siklus Carnot.
Siklus Carnot adalah suatu siklus ideal reversibel yang terdiri atas dua proses isotermal dan
proses adiabatik, seperti terlihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Siklus Carnot.


Siklus Carnot ini merupakan salah satu prinsip dasar siklus termodinamika yang digunakan
untuk memahami cara kerja mesin Carnot. Perhatikanlah Gambar 18. berikut.

Gambar 18. Siklus Carnot pada mesin Carnot.


Pada gambar tersebut suatu gas ideal berada di dalam silinder yang terbuat dari bahan
yang tidak mudah menghantarkan panas. Volume silinder tersebut dapat diubah dengan cara
memindahkan posisi pistonnya. Untuk mengubah tekanan gas, diletakkan beberapa beban di
atas piston. Pada sistem gas ini terdapat dua sumber kalor yang disebut reservoir suhu tinggi
(memiliki suhu 300 K) gas memiliki temperatur tinggi (300 K), tekanan tinggi (4 atm), dan
volume rendah (4 m3). Berikut urutan keempat langkah proses yang terjadi dalam siklus
Carnot.
a. Pada langkah, gas mengalami ekspansi isotermal. Reservoir suhu tinggi menyentuh dasar
silinder dan jumlah beban di atas piston dikurangi. Selama proses ini berlangsung, temperatur

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 34

sistem tidak berubah, namun volume sistem bertambah. Dari keadaan 1 ke keadaan 2,
sejumlah kalor (Q1) dipindahkan dari reservoir suhu tinggi ke dalam gas.
b. Pada langkah kedua, gas berubah dari keadaan 2 ke keadaan 3 dan mengalami proses
ekspansi adiabatik. Selama proses ini berlangsung, tidak ada kalor yang keluar atau masuk ke
dalam sistem. Tekanan gas diturunkan dengan cara mengurangi beban yang ada di atas piston.
Akibatnya, temperatur sistem akan turun dan volumenya bertambah.
c. Pada langkah ketiga, keadaan gas berubah dari keadaan 3 ke keadaan 4 melalui proses
kompresi isotermal. Pada langkah ini, reservoir suhu rendah (200 K) menyentuh dasar silinder
dan jumlah beban di atas piston bertambah. Akibatnya tekanan sistem meningkat,
temperaturnya konstan, dan volume sistem menurun. Dari keadaan 3 ke keadaan 4, sejumlah
kalor (Q2) dipindahkan dari gas ke reservoir suhu rendah untuk menjaga temperatur sistem
agar tidak berubah.
d. Pada langkah keempat, gas mengalami proses kompresi adiabatik dan keadaannya berubah
dari keadaan 4 ke keadaan1. Jumlah beban di atas piston bertambah. Selama proses ini
berlangsung, tidak ada kalor yang keluar atau masuk ke dalam sistem, tekanan sistem
meningkat, dan volumenya berkurang.
Menurut kurva hubungan pV dari siklus Carnot, usaha yang dilakukan oleh gas
adalah luas daerah di dalam kurva pV siklus tersebut. Oleh karena siklus selalu kembali ke
keadaannya semula, Usiklus = 0 sehingga persamaan usaha siklus (Wsiklus) dapat
dituliskan menjadi
Wsiklus = Qsiklus = (Q1 Q2)
dengan:
Q1 = kalor yang diserap sistem, dan
Q2 = kalor yang dilepaskan sistem.
Ketika mesin mengubah energi kalor menjadi energi mekanik (usaha). Perbandingan
antara besar usaha yang dilakukan sistem (W) terhadap energi kalor yang diserapnya (Q 1)
disebut sebagai efisiensi mesin. Persamaan matematis efisiensi mesin ini dituliskan dengan
persamaan :
= (W/Q1) x 100 %
dengan = efisiensi mesin.
Oleh karena usaha dalam suatu siklus termodinamika dinyatakan dengan
W = Q1 Q2
maka Persamaan dapat dituliskan menjadi :
= (Q1 - Q2 / Q1) x 100 %
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 35

Pada mesin Carnot, besarnya kalor yang diserap oleh sistem (Q 1) sama dengan
temperatur reservoir suhu tingginya (T 1). Demikian juga, besarnya kalor yang dilepaskan
sistem (Q2) sama dengan temperatur reservoir suhu rendah mesin Carnot tersebut. Oleh
karena itu, Persamaan dapat dituliskan menjadi :

Dari Persamaan tersebut, Anda dapat menyimpulkan bahwa efisiensi mesin Carnot
dapat ditingkatkan dengan cara menaikkan temperatur reservoir suhu tinggi atau menurunkan
temperatur reservoir suhu rendah.

Catatan Fisika :
Lokomotif Uap

Gambar 19. Lokomotif Uap

Lokomotif uap ini bekerja dengan menggunakan hukum pertama termodinamika. Saat
panas dihasilkan oleh batubara atau kayu yang dibakar dalam mesin lokomotif, sebagian
energi menaikkan suhu air (yang mendidih dan menghasilkan uap) dalam mesin. Sisa energi
dipakai guna mengekspansikan uap untuk menghasilkan kerja dan menggerakkan lokomotif.
(Sumber: Fisika Universitas, 1998)

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 36

3.3 Hukum ke 2 Termodinamika


1. Entropi
Pada pembahasan mengenai siklus Carnot dan mesin Carnot, proses termodinamika
yang terjadi selama proses tersebut mampu mengubah seluruh energi kalor menjadi usaha dan
tidak ada energi yang hilang. Siklus termodinamika merupakan siklus ideal yang tidak pernah
ditemui dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh sederhana, missalkan Anda memasukkan
sebuah bola besi panas ke dalam bejana yang berisi air dingin. Anda tentunya telah
memahami bahwa kalor akan berpindah dari bola besi ke air sehingga suhu keduanya sama
atau dikatakan keduanya telah berada dalam kesetimbangan termal. Namun, jika Anda
membalik proses ini dengan cara memasukkan bola besi dingin ke dalam air panas,
mungkinkah suhu bola besi tersebut naik dan suhu air turun dan keduanya mencapai
kesetimbangan termal yang sama, seperti pada keadaan sebelumnya?
Proses termodinamika yang melakukan proses aliran kalor dari benda (reservoir)
bersuhu rendah ke benda (reservoir) bersuhu tinggi, seperti yang dimisalkan tersebut tidak
mungkin terjadi secara spontan (tanpa ada usaha yang diberikan ke dalam sistem). Hal inilah
yang kemudian diteliti oleh Clausius dan Kelvin-Planck sehingga menghasilkan rumusan
Hukum Kedua Termodinamika. Berikut pernyataan Kevin-Planck dan Clausius.
a. Menurut Clausius, kalor tidak dapat berpindah dari benda bersuhu rendah ke benda bersuhu
tinggi tanpa adanya usaha luar yang diberikan kepada sistem.
b. Menurut Kelvin-Planck, tidak mungkin membuat mesin yang bekerja dalam suatu siklus
dan menghasilkan seluruh kalor yang diserapnya menjadi usaha.
Dalam menyatakan Hukum Kedua Termodinamika ini, Clausius memperkenalkan
besaran baru yang disebut entropi (S). Entropi adalah besaran yang menyatakan banyaknya
energi atau kalor yang tidak dapat diubah menjadi usaha. Ketika suatu sistem menyerap
sejumlah kalor Q dari reservoir yang memiliki temperatur mutlak, entropi sistem tersebut
akan meningkat dan entropi reservoirnya akan menurun sehingga perubahan entropi sistem
dapat dinyatakan dengan persamaan :
S = Q/T
Persamaan tersebut berlaku pada sistem yang mengalami siklus reversibel dan besarnya
perubahan entropi (S) hanya bergantung pada keadaan akhir dan keadaan awal sistem.

2. Mesin Pendingin (refrigerator)


Kalor dapat dipaksa mengalir dari benda dingin ke benda panas dengan melakukan
usaha pada sistem. Peralatan yang bekerja dengan cara seperti ini disebut mesin pendingin
IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 37

(refrigerator). Contohnya lemari es dan pendingin ruangan (Air Conditioner). Perhatikan


Gambar 20.

Gambar 20. Skema kerja mesin pendingin (refrigerator).

Dengan melakukan usaha W pada sistem (pendingin), sejumlah kalor Q2 diambil dari
reservoir bersuhu rendah T2 (misalnya, dari dalam lemari es). Kemudian, sejumlah
kalor Q1 dibuang ke reservoir bersuhu tinggi T1 (misalnya, lingkungan di sekitar lemari es).
Ukuran kemampuan sebuah mesin pendingin dinyatakan sebagai koefisien daya guna
(koefisien performansi) yang diberi lambang Kp dan dirumuskan dengan persamaan :
Kr = Q2 / W
Oleh karena usaha yang diberikan pada mesin pendingin tersebut dinyatakan dengan W = Q1 Q2, Persamaan dapat ditulis menjadi :
Kr = Q2 / (Q1 - Q2)
Jika gas yang digunakan dalam sistem mesin pendingin adalah gas ideal, Persamaan dapat
dituliskan menjadi :
Kp = T2 / (T1 - T1)
Lemari es dan pendingin ruangan memiliki koefisien performansi dalam jangkauan 2 sampai
dengan 6. Semakin tinggi nilai KP, semakin baik mesin pendingin tersebut.

3.4 Hukum ke 3 Termodinamika


Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum ini
menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut, semua proses
akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini juga menyatakan
bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol

IWANUDDIN // DIKTAT TERMODNAMIKA I

Page 38

DAFTAR PUSTAKA

Ir. Sudjito, Ph.D dkk. 2003. Diktat Termodinamika Dasar. Program Semi Que IV,
Fakultas Teknik Jurusan Mesin, Universitas Brawijaya. Malang
Daryus, asyari. 2007. Diktat kuliah termodinamika 1. Jurusan Teknik Mesin,
Fakultas Teknik , Universitas Darma Persada. Jakarta.
http://perpustakaancyber.blogspot.com/fisika/

Usaha

Termodinamika, Hukum Termodinamika 1 2 dan 3.

dan

Proses

dalam