Anda di halaman 1dari 108

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DAN KELAYAKAN

USAHATANI VANILI PADA KETINGGIAN LAHAN 350-800 M DPL


DI KABUPATEN TASIKMALAYA
(Studi Kasus: Desa Cibongas, Kecamatan Pancatengah,
Kabupaten Tasikmalaya)

Disusun oleh :

Avenia Nur Aulia


A14304041

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN

AVENIA NUR AULIA. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Kelayakan Usahatani
Vanili Pada Ketinggian Lahan 350-800 mdpl di Kabupaten Tasikmalaya (Studi Kasus:
Desa Cibongas, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya). Dibimbing oleh
YAYAH K. WAGIONO.
Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat berperan dalam pembangunan
ekonomi nasional. Hal tersebut bisa dilihat dari kontribusinya terhadap PDB (produk
domestik bruto), penyerapan tenaga kerja, penghasil devisa. PDB sektor pertanian,
termasuk pula kehutanan dan perikanan, adalah sebesar Rp 63,8 triliun, nilai ini terus
meningkat menjadi Rp 66,4 triliun pada tahun 2000. Besarnya PDB pertanian tersebut
memberikan kontribusi sekitar 17 persen terhadap PDB nasional.
Sektor pertanian tidak akan pernah lepas dari fungsinya sebagai sumber utama
untuk penyediaan bahan pangan. Dalam meningkatkan ketahanan pangan, tantangan
besar saat ini adalah konsumsi masih bertumpu pada beras. Segala upaya telah dilakukan
dalam rangka peningkatan produksi pangan terutama beras yang masih terus menjadi
masalah utama. Meskipun revolusi hijau yang diiringi social engineering di bidang
produksi telah berhasil mengejar tingginya pertumbuhan penduduk, namun masih belum
dapat mengubah ketergantungan masyarakat terhadap beras.
Dewasa ini masalah yang timbul terkait dengan peran pertanian sebagai sektor
penghasil bahan pangan utama adalah terancamnya kestabilan pangan yang diakibatkan
oleh adanya krisis pangan dimana produktivitas produk pertanian semakin berkurang.
Ada dua faktor yang menjadi penyebab dari adanya pengurangan produktivitas pertanian,
yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu adanya pengaruh dari
buruknya sistem ketahanan, sedangkan faktor eksternal yang merupakan fenomena yang
telah melanda sejumlah negara yakni pemanasan global.
Keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim
digambarkan oleh hubungan sebab akibat dimana efek rumah kaca menyebabkan
terjadinya akumulasi panas di atmosfer bumi. Dengan adanya akumulasi yang berlebihan
tersebut, iklim global melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud adalah salah
satunya peningkatan temperatur bumi, kemudian disebut pemanasan global dan
berubahnya iklim regional, seperti perubahan pola curah hujan, penguapan, pembentukan
awan.
Salah satu gejala pemanasan global seperti naiknya permukaan laut menjadi
masalah dasar yang dapat menggangu stabilitas lahan pertanian yang berpengaruh
terhadap ketahanan pangan di negara Indonesia. Mekanisme peningkatan permukaan air
laut menyebabkan terjadinya pergeseran lahan tanam pertanian dari lahan dataran rendah
dialihkan ke dataran tinggi. Akibat adanya pergeseran lahan pertanian dari dataran rendah
ke dataran tinggi menyebabkan persaingan antara tanaman untuk lahan dataran rendah
dan tanaman lahan dataran tinggi. Hal ini tentu saja dapat menjadi masalah bagi para
petani dalam memanfaatkan lahan mereka yang terbatas, sementara lahan pertanian
mereka harus dimanfaatkan agar dapat memberikan keuntungan yang optimal, baik
secara finansial maupun sosial.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani padi dan


kelayakan finansial usahatani vanili di Kabupaten Tasikmalaya dilihat dari aspek
finansial dan lingkungan serta membandingkan keuntungan usahatani padi dan usahatani
vanili di Kabupaten Tasikmalaya dilihat dari aspek finansial dan lingkungan.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh melalui pencatatan dan wawancara langsung dengan para petani
padi maupun vanili menggunakan kuesioner yaitu kuesioner yang meminta jawaban rinci
dan lengkap dari responden tentang kegiatan usahatani yang mereka lakukan. Data
sekunder berupa literatur yang dibutuhkan yang berkaitan dengan penelitian. Sebagai
data penunjang digunakan data dari media massa, internet, artikel dan data statistik dari
instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian. Metode yang
digunakan yaitu analisis pendapatan usahatani dan analisis kelayakan usaha.
Analisis pendapatan usahatani menunjukan bahwa usahatani padi di Desa
Cibongas menguntungkan secara finansial dengan R/C ratio lebih besar dari satu yaitu
2,86 atas pendapatan tunai dan 1,62 untuk pendapatan total. Analisis kelayakan
usahatani vanili di Desa Cibongas juga bersifat layak dan menguntungkan secara
finansial terlihat dari nilai NPV yang positif yaitu
Rp 8.593.840,85 IRR lebih
besar dari tingkat suku bunga (30,56>16), nilai gross B/C lebih besar dari satu (2,1>1)
serta payback period yang lebih kecil dari umur proyek (5,71<10)
Lain halnya apabila dilihat dari aspek lingkungan, komoditi vanili lebih bersifat
ramah lingkungan sehingga dapat dikatakan lebih menguntungkan karena menggunakan
bahan kimia yang lebih sedikit dibandingkan dengan usahatani padi yang boros unsur
hara dan merupakan tanaman yang menghantarkan metana ke atmosfer dengan baik.
Sehingga apabila dilihat dari aspek lingkungan usahatani vanili lebih menguntungkan
dibandingkan dengan usahatani padi. Oleh karena itu, tanaman vanili djadikan sebagai
rekomendasi terhadap para petani dan pihak terkait karena selain masih bersifat
menguntungkan, usahatani vanili juga lebih bersifat ramah lingkungan.

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DAN KELAYAKAN


USAHATANI VANILI PADA KETINGGIAN LAHAN 350-800 M DPL
DI KABUPATEN TASIKMALAYA
(Studi Kasus: Desa Cibongas, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten
Tasikmalaya)

Oleh :
Avenia Nur Aulia
A14304041

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN SUMBERDAYA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

Judul

Nama
NRP

: Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Kelayakan Usahatani Vanili


Pada Ketinggian Lahan 350-800 m dpl di Kabupaten Tasikmalaya
(Studi Kasus Desa Cibongas, Kecamatan Pancatengah,
kabupaten
Tasikmalaya)
: Avenia Nur Aulia
: A14304041

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Ir. Yayah K Wagiono, MEc


NIP. 130 350 044

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian IPB

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr


NIP. 131 124 019

Tanggal Kelulusan :

PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
ANALISIS

PENDAPATAN

USAHATANI

PADI

DAN

KELAYAKAN

USAHATANI VANILI PADA KETINGGIAN LAHAN

350-800 M DPL DI

KABUPATEN

DESA

TASIKMALAYA

(STUDI

KASUS

CIBONGAS,

KECAMATAN PANCATENGAH, KABUPATEN TASIKMALAYA) ADALAH


BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH
DIAJUKAN SEBAGAI KARYA TULIS ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI
LAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH
GELAR AKADEMIK TERTENTU.

Bogor, Juli 2008

Avenia Nur Aulia


A14304041

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tasikmalaya, pada tanggal 2 Maret 1987 sebagai anak
pertama dari pasangan Endang Hermawan dan Yustiraty Rahayu. Penulis menyelesaikan
pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Mandalahayu pada tahun 1998. Tahun 1998, penulis
melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri I Salopa di Kecamatan
Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya dan lulus pada tahun 2001. Penulis kemudian
melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum Negeri I Cikatomas, Kabupaten
Tasikamalaya dan lulus pada tahun 2004.
Penulis diterima menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun
2004 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis diterima sebagai
mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Program Studi Ekonomi Pertanian
Sumberdaya (EPS), Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian. Selama
menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif dalam kegiatan organisasi MISETA
(Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian) pada periode
2005/2006.

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat
serta Ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul
Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Kelayakan Usahatani Vanili Pada Ketinggian
Lahan 350-800 m dpl di Kabupaten Tasikmalaya (Studi kasus Desa Cibongas,
Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya) ini disusun untuk menyelesaikan studi
dan memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.
Adapun topik dan judul penelitian ini berdasarkan pada minat yang tinggi dari
penulis terhadap bidang Studi kelayakan proyek serta usahatani. Pengaruh adanya
pemanasan global terhadap sektor pertanian terlihat dari adanya kecenderungan
pergeseran tempat tanam dari dataran rendah ke dataran yang lebih tinggi, sehingga
diperlukan analisis agar diketahui tanaman yang dapat memberikan keuntungan yang
lebih tinggi baik secara finansial maupun sosial sehingga dapat direkomendasikan kepada
pihak-pihak terkait yang berkepentingan.

Penulis

menyadari

sepenuhnya

bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penyusunan skripsi ini. Harapan
penulis, semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Bogor,

Juni 2008

Avenia Nur Aulia


A14304041

UCAPAN TERIMAKASIH

Segala Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Seiring dengan berakhirnya satu
tahap pendidikan di Institut Pertanian Bogor, maka penulis ingin mengucapkan
terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu terutama dalam penulisan
skripsi ini. Pihak-pihak yang telah membantu penulis diantaranya:
1. Kedua orang tua (Papap dan Mamah) Endang Hermawan, BA dan

Ny.

Yusty Raty Rahayu serta kedua adik tercinta (Wemphy Primadhyta dan Nizar
Luthfy Pauzy), terimakasih atas cinta dan kasih sayang, suri tauladan, nasihat
serta semangat, kesabaran, serta berbagai dukungan baik moril maupun materi
yang telah diberikan kepada penulis.
2. Ir. Yayah K Wagino, M.Ec. selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan penuh
kesabaran selalu bersedia membimbing, membantu, mengarahkan penulis dalam
menyelesaikan skripsi serta terimakasih atas ilmu, nasihat dan kepercayaan yang
telah diberikan untuk penulis.
3. Dr. Ir. Ahyar Ismail, M.Agr selaku dosen penguji utama. Terimakasih atas segala
kebaikan hati, bimbingan masukan, kritik serta saran dalam penulisan skripsi ini.
4. A. Faroby Falatehan SP, M.E selaku dosen penguji wakil departemen.
Terimakasih atas segala masukan, kritik dan saran yang dapat bermanfaat bagi
penulisan skripsi ini.
5. Muhammad Asyhar Agmalaro, terimakasih atas kesabaran, semangat, serta
dukungannya.
6. Teman-teman satu perjuangan Idhoet, Rissa, Irna, Uci, Wulan, Vina, Cita, Teteh
Fitri, Emil, Juventy N, Jimmy, Merika, Mail, Kevin, Yudi, Devi, Lingga, Deli,
Nana, Pipih, serta teman-teman kelas semua yang tidak bisa disebutkan satu
persatu.
7. Ua Gandha, Ua Cayur, Teh Yani, Tante muda Reni, Rizwan, Naufal, deRizky,
Riska, Gian, Bayu, Zam-zam, Cu-am, dan keluarga besar papap dan mamah
lainnya.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL
ix
DAFTAR GAMBAR . x
DAFTAR LAMPIRAN .. xi
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Perumusan Masalah................................................................ 10
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................... 14
1.4 Manfaat Penelitian.. 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Vanili dan Budidaya Vanili..................................................... 15
2.2 Padi dan Budidaya padi .......................................................... 18
2.3 Hasil-hasil Penelitian Terdahulu............................................. 19
2.3.1. Penelitian Usahatani...................................................... 19
2.3.2. Penelitian Analisis Kelayakan Usahatani ..................... 21

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ............................................... 24
3.1.1 Pendapatan Usahatani ............................................. 24
3.1.2 Konsep Usahatani .................................................. .. 24
3.1.3 Studi Kelayakan Proyek ........................................... .. 27
3.2 Kerangka Berpikir Operasional .. .. 40

BAB IV

METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................
4.2 Jenis dan Sumber Data ..........................................................
4.3 Teknik Pengambilan sampling..............................................
4.4 Metode Analisis Data............................................................
4.4.1 Analisis Pendapatan Usahatani ..................................
4.4.2 Analisis Kriteria Kelayakan Usaha..............................

44
44
44
45
45
46

GAMBARAN UMUM
5.1 Kondisi geografis
5.1.1 Letak Geografis dan Wilayah..
5.1.2 Topografi ...
5.1.3. Hidrologi dan Klimatologi.
5.2 Penggunaan Lahan dan Kawasan Budidaya...........................
5.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Struktur Ekonomi.............
5.3.1 Pertumbuhan Ekonomi..
5.3.2 Struktur Ekonomi ...
5.4 Kependudukan...

51
51
51
53
54
54
54
56
58

BAB V

BAB VI

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DAN KELAYAKAN


USAHATANI VANILI
6.1 Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah ... 64
6.1.1 Penerimaan Usahatani
. 65
6.1.2 Biaya Usahatani. 67
6.1.3 Perbandingan Pendapatan Usahatani Padi. 69
6.2 Analisis Kelayakan Usahatani Vanili.. 73
6.2.1 Nilai Arus Tunai Usaha 73
6.2.2 Analisis Kelayakan Finansial .... 74
6.2.3 Analisis Sensitivitas
.. 75
6.2.4 Analisis Nilai Pengganti. 77

BAB VII

PERBANDINGAN KEUNTUNGAN USAHATANI PADI DAN


VANILI
7.1 Aspek Finansial.. 79
7.1.1 Pendapatan Usahatani Padi ... 79
7.1.2 Pendapatan Usahatani Vanili... 79
7.2 Aspek Lingkungan 80
7.2.1 Aspek Lingkungan Usahatani Padi .. 80
7.2.2 Aspek Lingkungan Usahatani Vanili.. 83
7.3 Dampak Isu Pemanasan Global .... 86

BAB VIII

KESIMPULAN DAN SARAN


8.1 Kesimpulan 88
8.2 Saran .. 89

DAFTAR PUSTAKA 90
LAMPIRAN ............................................................................................... 92

DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1.
Perkembangan Ekspor Vanili Indonesia Tahun 2002-2006............... 7
2.

Luas Lahan Tanam, Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2002-2006 9

3.

Produksi Vanili Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2002 2006........... 9

Luas Areal dan Produksi Perkebunan Vanili Rakyat


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 200................................................... 10

5.

Rekapitulasi Luas Areal, Produksi dan Produktivitas


Perkebunan Rakyat Tanaman Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya
Menurut Keadaan Tanam Tahun 2002-2006. 12

6.

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya dan Propinsi


Jawa Barat Tahun 2001-2005 (dalam persen)........... 54

7.

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya per sektor


Usaha Tahun 2004-2005 (dalam persen)........................................... 55

8.

Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Tasikmalaya dan


Propinsi Jawa Barat Atas Dasar Harga Berlaku
Tahun 2005 (dalam persen)
........................................................ 57

9.

Penduduk Kabupaten Tasikmalaya Menurut Jenis Kelamin


Tahun 2001-2005....... 58

10.

Karakteristik Responden Petani Padi dan Petani Vanili di Desa


Cibongas, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya.. 60

11. Rata-rata Pendapatan Petani Responden Per Hektar di Desa Cibongas,


Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya
..........
66
12

Hasil Perbandingan antara Usahatani Permusim dengan


Perubahan Output maupun Input........................................................ 70

13.

Emisi Metana dan Hasil Gabah Beberapa


Varietas Padi yang Ditanam.. 82

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1. Cashflow Usahatani Vanili per Hektar................. 93

2. Analisis Sensitivitas Usaha Vanili


(Kenaikkan Harga Pupuk Sebesar 10 Persen)..................................

94

3. Analisis Sensitivitas Usaha Vanili


(Kenaikkan Harga Upah Tenaga Kerja sebesar 10 persen)......

94

4. Analisis Sensitivitas Usaha Vanili


(Penurunan Harga Jual sebesar 10 persen)...

95

5. Analisis Sensitivitas Usaha Vanili


(Penurunan Volume Produksi sebesar 5 persen)..

94

6. Nilai Pengganti (switching Value) Usaha Vanili


dengan Kenaikkan Biaya .

96

7. Nilai pengganti (switching Value) Usaha Vanili


dengan Penurunan Penerimaan ............................

97

8. Tabel Rata-rata Produksi Vanili Responden ....

98

9. Tabel Rata-rata Biaya Usahatani Vanili Responden..........................

99

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat berperan dalam pembangunan

ekonomi nasional. Hal tersebut dapat dilihat dari kontribusinya terhadap PDB (Produk
Domestik Bruto), penyerapan tenaga kerja, dan penghasil devisa. PDB sektor pertanian
termasuk pula kehutanan dan perikanan adalah sebesar Rp 63,8 triliun pada tahun 1996,
nilai ini terus meningkat menjadi Rp 66,4 triliun pada tahun 2000. Besarnya PDB
pertanian tersebut memberikan kontribusi sekitar 17 persen terhadap PDB nasional. 1
Sektor pertanian berikut sistem agribisnisnya sangat dominan perannya dalam
penyerapan tenaga kerja. Sektor tersebut mampu menyerap 45 persen dari total
penyerapan tenaga kerja nasional atau menempati urutan pertama dalam penyerapan
tenaga kerja. Pada tahun 2005 struktur kesempatan kerja pedesaan secara agregat
menunjukkan bahwa 59 persen dari total kesempatan kerja pedesaan berasal dari sektor
pertanian, yang secara absolut besarnya 58 juta orang. Peran sektor pertanian di luar Jawa
juga lebih besar yaitu sebesar 67 persen dibandingkan dengan di Jawa yang besarnya 51
persen. Sebaliknya, sektor non-pertanian di Jawa hanya menyumbang 49 persen dan di
luar Jawa menyumbang 33 persen kesempatan kerja, yang pada umumnya berupa jasa
perdagangan, jasa kemasyarakatan, bangunan, dan jasa pengangkutan.

Keadaan ini

menunjukkan masih tetap dominannya peran sektor pertanian dalam perekonomian


rumah tangga pedesaan, baik di Jawa maupun di luar Jawa.
1

Kebijakan dan Strategi Pembangunan Nasional:Sektor Pertanian Sebagai Prime MoverPembangunan

Ekonomi Nasional (kwik kian gie) www.bappenas.go.id, diakses 15 Mei 2008

Sektor pertanian tidak akan pernah lepas dari fungsinya sebagai sumber utama
untuk penyediaan bahan pangan. Dalam meningkatkan ketahanan pangan, tantangan
besar saat ini adalah konsumsi masih bertumpu pada beras. Segala upaya telah dilakukan
dalam rangka peningkatan produksi pangan terutama beras yang masih terus menjadi
masalah utama. Meskipun revolusi hijau di bidang produksi telah berhasil mengejar
tingginya pertumbuhan penduduk, namun masih belum dapat mengubah ketergantungan
masyarakat terhadap beras.
Dewasa ini masalah yang timbul terkait dengan peran pertanian sebagai sektor
penghasil bahan pangan utama adalah terancamnya kestabilan pangan yang diakibatkan
oleh adanya krisis pangan dimana produktivitas produk pertanian semakin berkurang.
Ada dua faktor yang menjadi penyebab dari adanya pengurangan produktivitas pertanian,
yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu adanya pengaruh dari
buruknya sistem ketahanan pangan, sedangkan faktor eksternal yang merupakan
fenomena yang telah melanda sejumlah negara yakni pemanasan global.2
Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat
peningkatan jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Pemanasan akan diikuti dengan
perubahan iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga
menimbulkan banjir dan erosi sedangkan di belahan bumi lain akan mengalami musim
kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikkan suhu.

Pemanasan global dan

perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia, terutama yang berhubungan dengan
penggunaan bahan bakar fosil dan pertanian. Kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung
maupun tidak langsung menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu
peningkatan jumlah gas rumah kaca secara global.
2

Pemanasan Global Pertanian padi harus dikaji ulang,www.mediatani.wordpress.com diakses 15 Mei 2008

Keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim
digambarkan oleh hubungan sebab akibat dimana efek rumah kaca menyebabkan
terjadinya akumulasi panas di atmosfer bumi.

Adanya akumulasi yang berlebihan

tersebut, iklim global melakukan penyesuaian. Penyesuaian yang dimaksud adalah salah
satunya peningkatan temperatur bumi, kemudian disebut pemanasan global dan
berubahnya iklim regional, seperti perubahan pola curah hujan, penguapan, pembentukan
awan.
Dampak-dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim terutama bagi sektor
pertanian diantaranya adalah meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana, kenaikkan
permukaan laut, permukaan tanah turun dan kesuburan tanah pertanian berkurang.
Dampak-dampak tersebut berpengaruh terhadap produktivitas produk pertanian termasuk
tanaman pangan dalam hal ini adalah padi. Sebagai gambaran, dalam rentang tahun 1995
sampai 2005 total padi yang terendam banjir seluas 1.926.636 ha, dari jumlah tersebut
sebagian diantaranya puso yaitu sebesar 471.711 ha, sedangkan untuk lahan yang
kekeringan seluas 2.131.579 ha serta sebagian diantaranya mengalami gagal panen yaitu
seluas 328.447 ha. Pada tahun 2005 luas padi yang mengalami gagal panen akibat
kekeringan dan banjir mencapai 189.773 ha dari total luas lahan 577.046 ha. Pada tahun
2006 gabah yang hilang mencapai 872.955 ton dengan rata-rata produksi 4,6 ton per ha.
Adapun tahun 2007, luas lahan yang mengalami gagal panen adalah 189.773 ha, dari luas
total 577.046 ha, dengan rata-rata produksi 5 ton gabah per ha, dan gabah yang terbuang
mencapai 948.865 ton. 3
Penurunan produktivitas yang terjadi akibat pengaruh pemanasan global tidak
hanya terjadi di negara kita, tetapi juga menimpa sejumlah negara termasuk Cina yang
3

Stok Beras Dunia Menipis. www.prakarsa-rakyat.org diakses tanggal 7 Juni 2008.

mengalami banjir dan Filipina yang mengalami perubahan iklim.

Hal ini semakin

menyebabkan persediaan beras dunia semakin berkurang, karena harus diperebutkan oleh
negara-negara konsumen lainnya.

Berdasarkan data produksi beras Departemen

Pertanian Amerika Serikat, persediaan akhir beras dunia per juli 2007 diproyeksikan
sebesar 71,99 juta ton, lebih rendah dibandingkan dengan pada tahun 2006/2007, serta
tahun 2005/2006 sebesar 77,26 juta ton.

Meskipun produksi beras dunia per juli

2007/2008 sebesar 420,81 juta ton lebih tinggi sebesar 4,44 juta ton dari tahun
sebelumnya, akan tetapi kebutuhan dunia pun ikut meningkat 6,36 juta ton dibandingkan
periode sebelumnya. 4
Penurunan persediaan beras dunia yang terjadi menyebabkan harga beras di pasar
Internasional meningkat, harga beras di pasar Internasional kini berada diatas 300 dollar
AS per ton, sebelumnya harga rata-rata beras dunia tersebut hanya 220 dollar AS per ton.
Peningkatan harga beras ini mempunyai dampak positif maupun negatif yang akan
ditimbulkan, dampak positif peningkatan harga akibat pengurangan persediaan beras
tersebut akan memacu para petani untuk meningkatkan produksinya demi memenuhi
kebutuhan mereka sendiri maupun untuk kebutuhan komersil yang pada akhirnya akan
dapat memenuhi persediaan beras nasional, sehingga negara kita tidak terlalu terpengaruh
dengan adanya pembatasan kuota ekspor oleh negara-negara produsen beras. Selain itu,
dengan adanya pengadaan persediaan beras dalam negeri yang terus meningkat akan
mampu mengurangi angka ketergantungan beras dari luar negeri sehingga dapat
mendukung kebijakan pengurangan kuota impor. Kuota impor yang diizinkan pada tahun
2007 yang sesuai dengan izin Menteri Perindustrian dan Perdagangan adalah sebesar 1,5
juta ton dan baru terealisasi 700 ribu ton.
4

Ibid

Selain dampak positif kenaikkan harga beras dunia juga menimbulkan dampak
negatif terkait dengan upaya pengadaan persediaan beras dalam negeri dengan
meningkatkan produktivitas padi tentu memerlukan adanya perluasan lahan sawah, oleh
karena itu dilakukan pembukaan lahan sawah yang baru. Lahan dataran rendah yang
biasanya digunakan sebagai lahan sawah sudah berkurang akibat naiknya permukaan laut
yang dapat menenggelamkan lahan pertanian produktif serta berkurangnya tingkat
kesuburan lahan dataran rendah, oleh karena itu para petani akan memutuskan untuk
mengalihkan tempat olahannya ke dataran yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan
terancamnya mutu serta jumlah suplai air. 5 Selain itu lahan perkebunan yang biasanya
terdapat di dataran tinggi akan terdesak, sehingga menyebabkan adanya persaingan
tempat tanam antara tanaman dataran rendah dan tanaman dataran tinggi.
Adanya persaingan lahan antara tanaman dataran rendah dan dataran tinggi
tersebut dapat menjadi masalah baru bagi para petani dalam menentukan keputusan
penggunaan lahannya. Para petani cenderung lebih mengutamakan keuntungan finansial
dalam menggunakan lahan pertaniannya dengan melihat komoditi yang lebih besar
memberikan keuntungan tunai. Disamping pertimbangan melalui aspek finansial, aspek
lain yang lebih penting untuk diperhatikan adalah aspek lingkungan yang merupakan
faktor penting dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan yang mampu menjaga
kesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Komoditi yang akan ditinjau dalam hal ini adalah komoditi padi dan komoditi
vanili. Komoditi padi dipilih karena komoditi ini merupakan sumber makanan pokok
paling utama bagi penduduk negara kita sehingga terkait dengan kepentingan sebagian
besar penduduk Indonesia, terlihat dari banyaknya petani Indonesia yang sebagian besar
5

Dampak Pemanasan Global dan Perubahan Iklim.www.ecoton.or.id diakses tanggal 23 Mei 2008.

merupakan petani padi.

Selain itu, sifatnya yang rentan terhadap adanya pengaruh

pemanasan global sehingga menyebabkan adanya kecenderungan perubahan tempat


tanam dari dataran rendah ke dataran tinggi yang sengaja dilakukan oleh para petani
untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi akibat adanya
pengaruh pemanasan global tersebut, seperti banjir, kekeringan ataupun lahan yang
kurang subur.
Vanili dipilih sebagai pembanding karena merupakan tanaman perkebunan yang
masih mempunyai prospek cerah untuk dikembangkan, melihat kebutuhan vanili dunia
diperkirakan mencapai 2.000-2.500 ton per tahun, sementara produksi nasional baru
mencapai 1.300 ton per tahun, dengan demikian masih kurang 700-1.200 ton per tahun.
Vanili juga merupakan komoditi ekspor andalan Indonesia terutama pada tahun 20022004 dimana harga vanili basah pada tahun 2002 mencapai rata-rata Rp 250.000 per kg,
bahkan pada tahun 2003 mencapai Rp 400.000 per kg kemudian pada tahun 2004 harga
vanili basah mulai mengalami penurunan mencapai rata-rata Rp 50.000 per kg hingga
tiga tahun terakhir terus mengalami penurunan bahkan mencapai Rp 6.500 per kg hingga
Rp 9.000 per kg. Berikut ini adalah Tabel perkembangan ekspor vanili Indonesia tahun
2002 sampai 2006.
Tabel 1. Perkembangan Ekspor Vanili Indonesia Tahun 2002-2006
Kuantitas (kg)
Tahun
Nilai ($)
2002
38.320.725
7.196.882
2003
38.529.337
12.724.840
2004
33.003.382
1.481.918
2005
10.693.224
555.300
2006
11.783.396
998.076
Sumber : United Nations Commodity Trade (COMTRADE) Statistic Database, 2007
(diolah) 6
6

http ://unstats.un.org/unsd/comtrade, diakses pada 30 maret 2008

Alasan lain pemilihan vanili sebagai tanaman pembanding karena vanili


merupakan komoditi perkebunan yang secara tidak langsung akan terpengaruh oleh
adanya pemanasan global. Pengaruhnya pemanasan global tersebut dikhawatirkan akan
menyebabkan tanaman-tanaman dataran tinggi dalam hal ini tanaman perkebunan yaitu
tanaman vanili akan terdesak oleh tanaman dataran rendah yang telah beralih tempat
tanam ke dataran yang lebih tinggi sehingga tersaingi oleh adanya tanaman dataran
rendah dalam hal ini adalah padi.
Penelitian ini akan menganalisis perbandingan pendapatan antara komoditi padi
dan komoditi vanili dengan melihat dua aspek yang dipertimbangan, yaitu aspek finansial
yang akan membandingkan jumlah pendapatan yang diterima petani dari kedua komoditi
tersebut, sedangkan aspek lain yang akan dijadikan bahan pertimbangan adalah aspek
lingkungan yang akan membandingkan kemampuan dari kedua komoditi tersebut dalam
mendukung program pertanian yang ramah lingkungan, sehingga dapat mengurangi
pengaruh adanya pemanasan global.
Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu wilayah dengan struktur ekonomi
masih didominasi sektor pertanian sebesar 34,91 persen, dengan karakteristik petani pada
umumnya menjadikan usahatani padi sebagai usahatani utama sebagai pemenuhan
kebutuhan pokok, luas lahan yang digunakan untuk sawah mencapai 18,12 persen yaitu
seluas 49.658 ha (BPS Tasikmalaya, 2007). Selain usahatani padi, sebagian petani di
Kabupaten Tasikmalaya juga menanam tanaman investasi yang diharapkan dapat
memberikan keuntungan yang lebih besar untuk penghasilan mereka, tanaman investasi
yang ditanam oleh para petani di Kabupaten Tasikmalaya adalah tanaman perkebunan,
sebagian diantaranya memilih vanili sebagai tanaman investasinya.

Wilayah Kabupaten Tasikmalaya dikatakan cocok untuk budidaya komoditi padi.


Indikator yang dapat dilihat diantaranya adalah produktivitas, luasan lahan tanam, serta
produksi dari komoditi tersebut. Produktivitas padi di Kabupaten Tasikmalaya selalu
mengalami peningkatan, begitu pula dengan produksi dan luas lahan tanam yang samasama meningkat dari tahun ke tahun seperti ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Luas Lahan Tanam, Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2002-2006
Tahun
1.

Tanam (Ha)

Panen (Ha)

Produktivitas
(Kw/ha)

Produksi
(Ton)

Padi Sawah
2002
2003
2004
2005
2006

106.790
106.881
120.861
125.078
106.453

102.981
93.017
113.404
120.201
101.516

50,12
52,32
52,22
53,97
56,67

516.141
486.666
592.167
648.725
575.291

2002
2003
2004
2005
2006

9.061
7.529
6.602
6.448
2.578

8.274
9.046
7.309
6.912
6.319

20,58
24,56
24,60
25,19
25,17

17.028
22.217
17.980
17.412
15.905

2. Padi Ladang

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, 2007


Lain halnya dengan produktivitas padi yang senderung terus meningkat,
produktivitas komoditi vanili di Kabupaten Tasikmalaya cenderung lebih fluktuatif.
Produksi mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2004, walaupun
mulai mengalami penurunan pada tahun 2005 dan 2006, namun meskipun mengalami
penurunan produksi vanili tahun 2005 dan 2006 masih lebih besar dibandingkan dengan
tahun 2002.

Produktivitas komoditi vanili Kabupaten Tasikmalaya tahun 2002 sampai

tahun 2006 dapat dilihat dari Tabel 3 dibawah ini.


Tabel 3. Produksi Vanili Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2002 2006

Tahun

Produksi
(Ton)
66
66
101
281
147

2002
2003
2004
2005
2006
Sumber : Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Barat 7

Selain produktivitas indikator lain yang dapat dilihat adalah luas lahan yang
ditempati, dan rata-rata produksi. Data yang digunakan untuk melihat keseluruhan
indikator tersebut digunakan data tahun terakhir yaitu data untuk tahun 2007 seperti
ditunjukkan oleh Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Vanili Rakyat Kabupaten
Tasikmalaya Tahun 2007
Variabel
Jumlah
Luas areal tanam (ha)
204,58
Produksi (ton)
142,39
Produktivitas (Kw/ha)
6,96
Jumlah petani pemilik
981
Jumlah kelompok tani
14
Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya, 2007
Desa Cibongas yang terletak di Kecamatan Pancatengah merupakan salah satu
desa yang terdapat di Kabupaten Tasikmalaya. Kondisi topografi di daerah penelitian
cocok untuk masing-masing komoditi, selain itu desa ini merupakan desa yang
mempunyai tren pertanian komoditi padi dan vanili dengan ketinggian lahan rata-rata 370
m dpl, serta karakteristik pertanian yang masih menjadikan padi sebagai tanaman utama
dengan vanili sebagai tanaman investasinya.
1.2.

Perumusan Masalah
Dalam kurun waktu

beberapa tahun terakhir laju pertumbuhan penduduk

meningkat pesat. Seiring dengan adanya peningkatan penduduk, terjadi pula peningkatan
7

www.disbun.jabar.go.id

aktivitas manusia yang dapat menjadi faktor penyebab timbulnya pemanasan global.
Gejala-gejala adanya pemanasan global dapat dilihat dari perubahan iklim yang tidak
menentu, naiknya permukaan laut dan lain-lain. Salah satu gejala pemanasan global
seperti naiknya permukaan laut menjadi masalah dasar yang dapat menggangu stabilitas
lahan pertanian yang berpengaruh terhadap ketahanan pangan di negara Indonesia.
Mekanisme peningkatan permukaan air laut menyebabkan terjadinya pergeseran lahan
tanam pertanian dari lahan dataran rendah dialihkan ke dataran tinggi. Akibat adanya
pergeseran lahan pertanian dari dataran rendah ke dataran tinggi menyebabkan
persaingan antara tanaman untuk lahan dataran rendah dan tanaman lahan dataran tinggi.
Hal ini tentu saja dapat menjadi masalah bagi para petani dalam memanfaatkan lahan
mereka yang terbatas, sementara lahan pertanian mereka harus dimanfaatkan agar dapat
memberikan keuntungan yang optimal, baik secara finansial maupun sosial.
Komoditi yang akan ditinjau dalam masalah diatas untuk penelitian ini adalah
komoditi padi sebagai tanaman yang mempunyai kecenderungan di tanam di dataran
rendah dan vanili sebagai tanaman dataran tinggi. Sebagai tanaman yang pada umumnya
ditanam di dataran rendah, komoditi ini akan rentan terhadap adanya kenaikan
permukaan laut yang diakibatkan oleh buruknya tata ruang, daerah resapan air dan juga
buruknya sistem irigasi yang telah memicu banjir termasuk di daerah sawah. Keadaan ini
akan membuat lahan dataran rendah yang potensial semakin berkurang, sehingga
mengakibatkan adanya pengalihan tempat tanam yang dilakukan petani padi yang
biasanya menanam padi di dataran rendah menjadi cenderung menanam di dataran tinggi.
Hal tersebut akan menyebabkan tanaman dataran tinggi dalam hal ini vanili akan terdesak
karena terjadi persaingan dalam penggunaan lahan antara komoditi padi dan vanili.

Kabupaten Tasikmalaya merupakan salah satu wilayah yang memiliki tren


pertanian dengan dua komoditas padi dan vanili. Komoditi padi merupakan tanaman
pokok bagi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya, sehingga tanaman ini tetap
dipertahankan karena selain dijual, dapat juga mereka gunakan untuk pemenuhan
kebutuhan pokok mereka sehari-hari (subsisten).

Dilain hal, komoditi vanili tetap

dipertahankan para petani atas dasar spekulasi mereka sendiri yang masih berkeyakinan
bahwa harga vanili yang fluktuatif sewaktu-waktu dapat kembali tinggi.
Adanya pemanasan global tampaknya sudah mulai berpengaruh di wilayah
Kabupaten Tasikmalaya, diperkirakan telah terjadi persaingan lahan antara komoditi padi
dan vanili. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan produktivitas serta penggunaan lahan
dari salah satu komoditi, yaitu padi sementara pada komoditi vanili cenderung menurun,
seperti yang terlihat pada Tabel 5. Oleh karena itu, wilayah ini dipilih sebagai daerah
penelitian karena dengan adanya persaingan penggunaan lahan tersebut semakin lama
akan semakin membuat petani kesulitan dalam menentukan komoditi yang akan ditanam
diantara kedua komoditi tersebut sehingga perlu perlu dianalisis komoditi mana yang
lebih menguntungkan para petani baik secara finansial maupun lingkungan.
Tabel 5. Rekapitulasi Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Padi dan Vanili
Rakyat Kabupaten Tasikmalaya Menurut Keadaan Tanaman Tahun 20022006
Produktivitas
Produksi
Tahun
Luas Areal (Ha)
(Kw/ha)
(Ton)
Padi
Vanili
Padi
Vanili
Padi
Vanili
2002
115.851
93
46,02
7,10
533.167
66
2003
114.410
93
44,48
7,10
508.872
66
2004
127.463
65
47,87
15,54
610.178
101
2005
131.526
131
50,65
21,45
666.152
281
2006
109.031
151
54,23
9,74
591.241
147
Sumber : 1. Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, 2007

2. Dinas Perkebunan Jawa Barat 8

Analisis yang dilakukan untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh dari kedua
komoditi tersebut adalah analisis pendapatan usahatani yang digunakan untuk
menghitung tingkat pendapatan yang diperoleh para petani padi serta analisis kelayakan
usahatani yang digunakan untuk menghitung tingkat kelayakan dari usahatani tersebut.
Alat analisis yang digunakan berbeda antara komoditi padi dan vanili dikarenakan ada
perbedaan jangka waktu dalam kemampuan produktivitasnya. Padi sebagai tanaman
dengan umur panen lebih pendek dari vanili, sedangkan vanili mempunyai umur panen
yang jauh lebih lama dari padi sehingga vanili dikatakan sebagai tanaman investasi.
Hasil dari analisis diharapkan dapat dijadikan rekomendasi bagi pihak-pihak
terkait terutama para petani itu sendiri sehingga dapat membantu mereka dalam
menentukan komoditi yang akan mereka tanam agar mereka dapat mengusahakan lahan
pertanian mereka secara efisien karena lahan yang mereka punya cenderung berskala
kecil. Selain itu, pertimbangan lain yang harus diperhatikan terkait dengan lingkungan.
Oleh karena itu, analisis perlu dilakukan untuk mengetahui komoditi yang memberikan
keuntungan yang lebih besar bagi para petani di Kabupaten Tasikmalaya ditinjau dari
aspek finansial maupun lingkungan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan finansial
maupun sosial para petani itu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian
ini adalah :
1. Bagaimana pendapatan usahatani dari komoditi padi dan kelayakan finansial usahatani
vanili di Kabupaten Tasikmalaya?

www.disbun.jabar.go.id

2. Bagaimana perbandingan keuntungan usahatani padi dan usahatani vanili dilihat dari
aspek finansial dan lingkungan ?
1.3.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Menganalisis pendapatan usahatani padi dan kelayakan finansial usahatani vanili di


Kabupaten Tasikmalaya.
2. Membandingkan keuntungan usahatani padi dan usahatani vanili di Kabupaten
Tasikmalaya dilihat dari aspek finansial dan lingkungan.
1.4.

Manfaat penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai :

1. Salah satu pertimbangan bagi pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan pada


komoditi vanili dan padi
2. Masukan bagi para petani dalam mengambil keputusan.
3. Wacana bagi masyarakat serta dapat menjadi sumber literatur bagi siapapun yang
akan melakukan penelitian lebih lanjut.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
1.

Penelitian hanya dilakukan pada satu desa sehingga memiliki batasan hanya
menganalisis pendapatan usahatani padi dan kelayakan usahatani vanili di satu desa
saja

2.

Aspek lingkungan dianalisis tidak secara mendalam, hanya gambaran deskriptif


mengenai dampak lingkungan secara sederhana baik itu aspek lingkungan pada
usahatani padi maupun pada usahatani vanili.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Vanili dan Budidaya Vanili


Vanili (Vanila planifolia andreas)
Tanaman vanili termasuk famili orchidaceae (angrek-anggrekan), yang
merupakan famili terbesar dalam tanaman bunga. Vanili mempunyai 700 genus dan
20.000 spesies (Purseglove et al,1981). Dari sekian banyak jenis, jenis yang mempunyai
nilai ekonomi yaitu vanilla planifoka, v. pompana, dan v. tahinensis. diantara ketiga
tersebut, v. planifoka atau dikenal pula dengan v. fragnans salisha. Mempunyai produksi
yang lebih tinggi dan lebih bermutu karena kadar vanili yang lebih tinggi. V. planifola
juga paling banyak dijumpai di Indonesia (Hadisutrisno, 2005). Kedudukan tanaman ini
dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Angiospermae

Subkelas

: Monocotyledoneae

Famili

: Orchydaceae

Genus

: Vanilla

Species

: Vanili sp

Tanaman vanili berbunga setelah 2 tahun, mulai berbuah setelah 3 tahun dan
mencapai hasil maksimal dalam 10-12 tahun (Health dan Reinecaus, 1986). Buah vanili
berbentuk kapsul (polong), bersudut tiga, bertangkai pendek, panjang 10-25 cm, diameter
5-15 mm, dan permukaan licin. Buah vanili akan cukup masak dalam waktu 8-9 bulan
setelah pembuahan. Buah muda berwarna hijau, sedangkan bila sudah masak warnanya

menjadi kekuning-kuningan, biji buahnya banyak, berwarna hitam dan berukuran ratarata 0,2 mm (Rismunandar dan Sukma, 2003).
Budidaya Vanili
Keadaan iklim yang diperlukan oleh tanaman vanili adalah suhu udara 25-38C,
kelembaban udara sekitar 80 persen dan intensitas hujan berulang ulang tetapi tidak
banyak. Keasaman (pH) tanah yang dikehendaki 6 7 dengan keadaan drainase yang
baik. Di wilayah Indonesia dengan curah hujan antara 2000 3000 mm per tahun pada
ketinggian 350 800 mdpl, tanaman vanili akan bisa tumbuh dan berproduksi dengan
baik.
Dalam menanam tanaman vanili yang perlu diperhatikan yaitu keadaan iklim, tipe
tanah dan kesuburan tanah. Lahan datar yang memungkinkan air tergenang di sekitar
perakaran vanili, dan lahan yang terlalu curam kurang baik untuk vanili. Perakaran vanili
relatif dangkal, karena itu sebaiknya vanili ditanam di lahan yang lapisan humusnya
tebal. Di lahan dengan kandungan humus tinggi, perkembangan akarnya 85 persen lebih
baik daripada bila ditanam di daerah biasa dan mengakibatkan pertumbuhan batang
barunya lebih baik.
Tanaman vanili memerlukan tanah yang gembur, ringan, porous, sehingga mudah
ditembus oleh akar. Unsur mineral dalam tanah dengan jumlah yang cukup dan imbangan
yang sesuai sangat diperlukan oleh tanaman vanili. Tanaman vanili sangat memerlukan
unsur Kalium (K) dan kalsium (Ca), karena unsur ini memegang peranan penting
terhadap pertumbuhan tanaman vanili, dengan ditemukannya kedua unsur ini pada bagian
vegetatifnya.

Sebelum vanili ditanam perlu disiapkan tanaman penegak atau pelindung terlebih
dahulu. Penanaman tanaman penegak atau pelindung ini dilakukan 6 12 bulan sebelum
stek vanili ditanam karena tanaman penegak berfungsi sebagai penunjang (panjatan) dan
juga sebagai naungan. Tanaman penegak atau pelindung memiliki lingkar batang yang
tidak besar, kuat sebagai penyangga, mudah diperbanyak dengan stek, tidak mengalami
pengguguran daun, daunnya relatif kecil, dan pertumbuhannya cepat. Percabangannya
hendaknya diatur pada ketinggian 1,5 2 m, sehingga sulur vanili mudah menggantung,
dan mudah dicapai oleh pekerja pada waktu mengawinkan bunga.
Jarak tanam yang digunakan untuk tanaman penegak atau pelindung adalah 1,5
1,25 m 2 1 m (jarak 1,5 m dan 2 m adalah jarak antar barisan). Banyaknya naungan
yang diperlukan tergantung pada tinggi tempat/lokasi penanaman dari permukaan laut.
Semakin tinggi tempat maka akan semakin sedikit diperlukan naungan. Jenis tanaman
yang baik untuk digunakan sebagai penegak atau pelindung adalah tanaman leguminosa
(bunga kupu kupu), karena tanaman tersebut dapat memperbaiki kesuburan tanah
melaui peningkatan N dari udara. Tanaman penegak atau pelindung sebaiknya dijaga agar
pada ketinggian 1,5 2 m sudah bercabang.
2.2. Padi dan Budidaya Padi
Padi (Oryza sativa L.)
Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian
kuno ini berasal dari dua benua, yaitu asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti
sejarah menunjukkan bahwa penanaman padi di Zheziang (China) sudah dimulai pada
3000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesa India
sekitar 100-800 SM (Purnamawati & Purwono, 2002).

Batang padi berbuku dan berongga, dari buku batang ini tumbuh anakan dan
daun, bunga atau malai muncul dari buku terakhir pada tiap anakan . Akar padi adalah
akar serabut yang sangat efektif dalam penyerapan hara, tetapi peka terhadap kekeringan.
Akar padi terkonsentrasi pada kedalaman antara 10-20 cm.
Budidaya Padi
1. Padi Sawah
Ciri khusus padi sawah adalah adanya penggenangan selama pertumbuhan
tanaman. Budidaya padi sawah dilakukan pada tanah yang berstruktur lumpur. Oleh
sebab itu, tanah yang ideal untuk sawah harus memiliki kandungan liat minimal 20
persen.

Waktu pengolahan tanah yang baik tidak kurang dari 4 minggu sebelum

penanaman. Pengolahan tanah terdiri dari pembajakan, garu, dan perataan. Sebelum
diolah lahan digenangi air terlebih dahulu sekitar 7 hari. Kemudian untuk benih
disarankan menggunakan benih bersertifikat atau berlabel biru dan pada setiap musim
tanam perlu adanya pergiliran varietas benih yang digunakan memperhatikan ketahanan
terhadap serangan wereng dan tungro.
2. Padi Gogo
Padi gogo adalah budidaya padi di lahan kering, sumber air seluruhnya tergantung
pada curah hujan. Oleh karena itu, untuk pertumbuhan yang baik, tanaman padi gogo
membutuhkan curah hujan lebih dari 200 mm per bulan selama tidak kurang dari 3 bulan.
Lahan kering yang digunakan untuk padi gogo di Indonesia umumnya adalah lahan
marjinal yang sebenarnya kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman.
Pemberian bahan organik pada lahan kering sebanyak 2-20 ton per ha sangat disarankan
karena dapat memperbaiki struktur fisik, kimia, dan biologi tanah. Pada lahan masam

sebaiknya dilakukan pengapuran dengan kapur pertanian atau dolomit untuk menaikkan
pH dan memperbaiki kesuburan tanah
Kebutuhan benih untuk padi gogo lebih banyak daripada padi sawah, yaitu sekitar
50 kg per ha. Hal ini disebabkan karena persentase pertumbuhan padi gogo lebih kecil.
Meskipun demikian, padi gogo memiliki kalebihan yaitu tidak perlu disemai terlebih
dahulu, benih dapat langsung ditanam dalam lubang atau diperlakukan seperti pada padi
sawah.
2.3. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu
2.3.1 Penelitian Usahatani
Penelitian mengenai pendapatan usahatani padi hibrida telah dilakukan oleh
Basuki (2008). Kesimpulan yang dapat diperoleh dari analisis diatas yaitu usahatani padi
hibrida yang dilaksanakan oleh petani padi, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang,
Jawa Barat pada musim rendeng 2006/2007 memberikan pendapatan yang lebih kecil
dari usahatani padi hibrida pada waktu dan tempat yang sama. Pendapatan atas biaya
yang dibayarkan usahatani padi inbrida dan padi hibrida adalah Rp 6.152.080,57 dan Rp
4.384.536,55. R/C usahatani padi inbrida lebih besar dari R/C usahatani padi hibrida
menandakan bahwa usahatani padi inbrida lebih efisien daripada usahatani padi hibrida.
R/C atas biaya tunai pada usahatani inbrida adalah 2,10 dan R/C atas biaya tunai pada
usahatani padi hibrida adalah 1,62.
Selain menganalisis efisiensi usahatani padi hibrida, Basuki juga menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi benih padi hibrida. Hasil analisis menunjukkan
bahwa ada empat variabel yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap penerapan

benih padi hibrida di tempat penelitian, yaitu luas lahan, status lahan, rasio pendapatan
usahatani terhadap pendapatan total, dan umur.
Penelitian mengenai analisis pendapatan usahatani padi sawah juga dilakukan
oleh Tiku (2008) dengan membedakan sistem usahatani padi menjadi dua yaitu sistem
mina padi

dan non mina padi.

Pendapatan usahatani padi sawah dengan metode

minapadi di Desa Tapos I dan Tapos II secara umum hampir sama dengan sistem mina
Padi di daerah lain, terutama di Jawa Barat, namun usahatani mina padi didaerah lain ini
masih tergolong ke mina padi pembibitan karena usahatani mina padi ini cenderung
dijadikan bibit bagi usaha perikanan lain di daerah penelitian.

Jika irigasi tersedia

melimpah, maka petani mengusahakan padi sawah minimal satu kali penanaman dalam
setahun, selain menurut petani untuk kebutuhan konsumsi dan dinilai menguntungkan.
Hal tersebut dapat menjaga keseimbangan dan kesuburan tanah dan jika air bukan hanya
melimpah, namun stabil ketersediaannya. Maka petani akan berusaha memelihara ikan di
sawah.
Hasil analisis pendapatan usahatani dapat diketahui bahwa pada sistem mina padi
pendapatan atas biaya tunai dan atas biaya tidak tunainya lebih besar dari sistem non
mina padi jika tidak terserang penyakit, sedangkan jika terserang penyakit yang terjadi
justru sebaliknya. Dari hasil analisis dengan rata-rata lahan yang sama, sistem mina padi
menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari sistem non mina padi. Pada saat tidak
terserang penyakit, nilai R/C petani sistem mina padi atas biaya tunai dan biaya tidak
tunai 3,64 dan 2,12 lebih besar dari nilai R/C sistem non mina padi atas biaya tunai dan
tidak tunai yakni 3,19 dan 1,98. Namun, pada saat terserang penyakit nilai R/C atas
biaya tunai dan tidak tunai sistem mina padi 1,94 dan 1,24. Nilai tersebut lebih rendah

dibandingkan dengan non mina padi yaitu 2,18 dan 1,65. Dari penelitian ini dapat dikaji
bahwa bertambahnya faktor resiko yang muncul harus ditanggung petani yang
mengusahakan sistem mina padi, khususnya jika penyakit yang muncul tidak dapat
diatasi oleh ikan. Jika ikan tidak dapat mengatasi hama dan penyakit di sawah, ikan-ikan
menjadi penghalang petani untuk melakukan penyemprotan. Dalam kondisi tersebut,
petani harus memilih lahan sawah alternatif usaha antara ikan atau padi.
Penelitian mengenai usahatani vanili telah dilakukan oleh Salim (1993) dan
menyatakan bahwa pendapatan dari usahatani vanili memang besar tetapi biaya yang
diperlukan sebelum tanaman vanili berproduksi juga cukup besar. karena itu petani
vanili pemula, diperlukan bantuan pembiayaan dari lembaga keuangan seperti Bank
berupa kredit, untuk mengatasi permodalan awal
2.3.2. Penelitian Analisis Kelayakan Usahatani
Studi kelayakan finansial dan pemasaran komoditi lada telah dilakukan oleh
Wuriyanto (2002) dengan menggunakan metode studi kasus dengan melakukan metode
survei dan observasi langsung. Data yang digunakan dianalisis secara kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis keragaan usahatani lada dan
aspek pemasaran lada.

Analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui kelayakan

usahatani lada dengan menggunakan kriteria NPV, Payback Period, Net B/C dan IRR,
serta mengetahui keragaan pasar lada dengan menghitung marjin pemasaran dengan
tingkat keterpaduan pasar menggunakan metode autoregresi. Hasil analisis kelayakan
finansial menggunakan menunjukkan usahatani lada layak diusahakan pada tingkat
diskonto 16 dan 18 persen.

Analisis sensitivitas dilakukan dengan menggunakan

skenario kenaikkan biaya operasional sebesar

16 persen, penurunan produksi

sebesar 22 persen, penurunan harga jual sebesar

26 persen menyebabkan usahatani

tidak layak. Analisis switching value yang dilakukan didapat nilai toleransi penurunan
harga dan produksi lada sebesar 15,22 persen dan 6,83 persen.

Kenaikan biaya

operasional yang dapat ditolerir adalah sebesar 19,93 persen dan dan 6,83 persen untuk
tingkat diskonto 16 dan 18 persen.
Aisyah (2002) menganalisis kelayakan usaha florist di pusat promosi dan
pemasaran bunga/tanaman hias. Analisis switching value dilakukan untuk melihat sejauh
mana perubahan yang terjadi dapat memenuhi tingkat minimum diterimanya proyek
untuk usaha florist skala besar (lima unit florist), pada penurunan harga output 25 persen,
dan kenaikan harga input 35 persen. Aspek finansial untuk usaha florist skala besar layak
dan menguntungkan untuk dijalankan, sedangkan usaha florist kecil tidak.

Analisis

sensitivitas menunjukkan usaha florist skala besar sangat sensitif terhadap perubahan
harga output dan input.
Pada tahun 2003, Apriyadi melakukan penelitian tentang analisis kelayakan usaha
dan nilai tambah pengolahan ikan pada industri kerupuk udang/ikan di Indramayu.
Sistem produksi yang digunakan bukan berdasarkan skala ekonomi namun berdasarkan
focused facilities, yang membuat kapasitas pabrik tidak digunakan seluruhnya. Total
penerimaan produsen yang berproduksi dalam skala kecil pada industri ini adalah Rp
871.983.150 dengan total output yang dijual sebesar 113.900 Kg sehingga
keuntungannya sebesar Rp108.623.250. Penerimaan produsen yang berproduksi pada
skala besar adalah Rp 2.982.292.300 dengan total output sebesar 382.600 Kg. Nilai
tambah pada produsen yang berproduksi pada skala kecil adalah Rp 5.055 dicapai pada
tingkat 18,40 persen dari total inputnya dan keuntungan perusahaan sebesar 65,21 persen.

Produsen yang berproduksi dengan skala besar, nilai tambah ini diperoleh pada tingkat
21,21 persen dari total inputnya dan keuntungan perusahaan sebesar 71,95 persen. Hasil
analisis terhadap nilai tambah ini menyimpulkan bahwa dengan semakin besar nilai
tambah yang diperoleh dan semakin efisien produsen dalam usaha.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya karena penelitian ini
berusaha menganalisis antara dua komoditi yaitu komoditi vanili dan komoditi padi
dengan melihat besar pendapatan yang diperoleh dari masing-masing komoditi serta
mengidentifikasi kelayakan usaha dari masing-masing komoditi menggunakan analisis
pendapatan usahatani untuk komoditi padi dan analisis kelayakan usaha untuk komoditi
vanili dalam rangka peningkatan kesejateraan petani dengan introduksi aspek lingkungan
sebagai pertimbangan bagi para petani dan pihak terkait. Penelitian ini juga diharapkan
dapat menjadi acuan untuk mengembangkan Kabupaten Tasikmalaya sebagai kabupaten
dengan tingkat kesejahteraan tinggi di Jawa Barat.

BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis


3.1.1. Pendapatan Usahatani
Soehardjo dan Patong (1973) mengemukakan definisi dari pendapatan adalah
keuntungan yang diperoleh dengan mengurangkan biaya yang dikeluarkan selama proses

produksi dengan penerimaan.

Tujuan utama dari analisis pendapatan adalah untuk

menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan dan tindakan. Bentuk dan
jumlah pendapatan ini mempunyai fungsi yang sama, yaitu memenuhi keperluan seharihari dan memberikan kepuasan petani agar dapat melanjutkan kegiatannya. Pendapatan
ini juga digunakan untuk mencapai keinginan-keinginan dan memenuhi kewajibankewajibannya.
3.1.2. Konsep Usahatani
Menurut Tjakrawiralaksana dan Soeriatmadja dalam Hantari (2007), usahatani
adalah suatu organisasi produksi di lapangan pertanian dimana terdapat unsur lahan yang
mewakili alam, unsur tenaga kerja yang bertumpu pada anggota keluarga tani, unsur
modal yang beraneka ragam jenisnya dan unsur pengelolaan atau manajemen yang
perannya dibawakan oleh seseorang yang disebut petani untuk memenuhi kebutuhan
keluarganya dan mencari keuntungan atau laba.

Ilmu usahatani pada dasarnya

memperhatikan cara-cara petani memperoleh dan memadukan sumberdaya (lahan, tenaga


kerja, modal, waktu, dan pengelolaan) yang terbatas untuk mencapai tujuannya
(Soekartawi, 1986).
Adapun tujuan usahatani menurut Soekartawi (1986) adalah memaksimumkan
keuntungan atau meminimumkan biaya. Konsep memaksimumkan keuntungan adalah
bagaimana mengalokasikan sumberdaya dengan jumlah tertentu seefisien mungkin untuk
mendapatkan keuntungan maksimum. Sedangkan konsep meminimumkan biaya yaitu
bagaimana menekan biaya sekecil-kecilnya untuk mencapai tingkat produksi tertentu.
Adapun ciri-ciri usahatani di Indonesia adalah : (1) sempitnya lahan yang dimiliki petani,

(2) kurangnya modal, (3) pengetahuan petani yang masih terbatas serta kurang dinamis,
dan (4) masih rendahnya tingkat pendapatan petani.
Kegiatan usahatani berdasarkan coraknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu
usahatani subsisten bertujuan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, sedangkan
usahatani komersil adalah usahatani dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya. Dari segi petani, pengelolaan usahatani pada dasarnya terdiri dari
pemilihan antara berbagai alternatif penggunaan sumberdaya yang terbatas yang terdiri
dari lahan, tenaga kerja, modal, waktu, dan pengelolaan. Hal ini dilakukan agar ia dapat
mencapai tujuan sebaik-baiknya dalam lingkungan yang penuh resiko dan kesukarankesukaran lain yang dihadapi dalam melaksanakan usahataninya.
Beberapa faktor kendala yang mempengaruhi produksi usahatani yaitu faktor
intern dan faktor ekstern. Faktor kendala intern terdiri dari kualitas dan kuantitas unsurunsur produksi seperti lahan, tenaga kerja, dan modal. Faktor ekstern meliputi adanya
pasar bagi produksi yang dihasilkan, tingkat harga sarana produksi dan hasil, termasuk
tenaga kerja buruh dan sumber kredit, tersedianya informasi dan teknologi yang mutakhir
dan kebijaksanaan yang menunjang (Tjakrawiralaksana dan Soeriatmadja, 1983 dalam
Dewi, 2007). Tingkat produksi dan produktivitas usahatani dipengaruhi oleh teknik
budidaya, yang meliputi

varietas yang digunakan, pola tanam, pemeliharaan dan

penyiangan. Pemupukan serta penanganan pasca panen. Ketersediaan berbagai macam


sarana produksi di lingkungan petani mendukung teknik budidaya. Berbagai sarana
produksi yang perlu diperhatikan yaitu bibit, pupuk, obat-obatan serta tenaga kerja.
Brown (1979) mengemukakan bahwa setiap usahatani membutuhkan input untuk
menghasilkan output, sehingga produksi yang dihasilkan akan dinilai secara ekonomi

berdasarkan biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh. Selisih keduanya
merupakan pendapatan dari kegiatan usahatani. Pendapatan ini dianggap sebagai balas
jasa untuk faktor-faktor produksi yang digunakan.
Penerimaan usahatani merupakan nilai produk total usahatani dalam jangka waktu
tertentu. Sedangkan pengeluaran usahatani adalah nilai semua input yang habis terpakai
dalam proses produksi tetapi tidak termasuk biaya tenaga kerja keluarga. Pengeluaran
tunai adalah pengeluaran yang harus dibayar dengan uang, seperti pembelian sarana
produksi, biaya untuk membayar tenaga kerja.

Sedangkan pengeluaran yang

diperhitungkan digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani


apabila bunga modal dan nilai kerja keluarga diperhitungkan. Selisih antara penerimaan
dan pengeluaran usahatani disebut pendapatan usahatani (net farm income). Pendapatan
bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan
faktor-faktor produksi.

Oleh karena itu pendapatan usahatani merupakan ukuran

keuntungan usahatani yang dapat dipakai untuk membandingkan keragaan beberapa


usahatani.
3.1.3 Studi Kelayakan Proyek
Proyek mempunyai beberapa pengertian. Proyek menurut Kadariah et.al (1999)
adalah

suatu

keseluruhan

aktivitas

yang

menggunakan

sumber-sumber

untuk

mendapatkan kemanfaatan (benefit) atau suatu aktivitas yang mengeluarkan uang dengan
harapan untuk mendapatkan hasil (returns) diwaktu yang akan datang dapat
direncanakan, dibiayai, dan dilaksanakan sebagai suatu unit. Sedangkan menurut
Gittinger (1986) proyek didefinisikan sebagai suatu kegiatan investasi yang mengubah
sumber-sumber finansial menjadi barang-barang kapital yang dapat menghasilkan

keuntungan atau manfaat setelah beberapa periode waktu. Pengertian lainnya yang
diungkapkan oleh Husnan & Suwarsono (2004), proyek ialah suatu usaha yang
direncanakan sebelumnya dan memerlukan sejumlah pembiayaan serta penggunaan
masukan lain yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu dan dilaksanakan dalam
waktu yang tertentu pula, atau suatu pendirian usaha baru kedalam suatu bauran produk
yang sudah ada dengan menginvestasikan sumberdaya yang dapat dinilai secara
independen.
Analisis kelayakan usaha atau juga dapat disebut studi kelayakan proyek perlu
dilakukan untuk melihat apakah suatu proyek dapat memberikan manfaat atas invetasi
yang telah ditanamkan. Definisi studi kelayakan proyek menurut Husnan dan Suwarsono
(2000) studi kelayakan proyek adalah suatu penelitian tentang dapat atau tidaknya suatu
proyek dilaksanakan dengan berhasil. Proyek yang dimaksudkan disini biasanya
merupakan proyek investasi.
Analisis kelayakan proyek memiliki tujuan antara lain untuk memperbaiki
pemilihan investasi. Pemilihan antara berbagai proyek perlu dilakukan mengingat
sumber-sumber daya yang tersedia terbatas. Kesalahan pemilihan proyek dapat
mengakibatkan pengorbanan terhadap sumber-sumberdaya yang langka (Kadariah et. al,
1999). Selain untuk memperbaiki pemilihan investasi, analisis kelayakan proyek juga
bertujuan menghindari ketelanjuran penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan
yang ternyata tidak menguntungkan (Husnan dan Suwarsano, 2000). Suatu proyek
investasi umumnya memerlukan dana yang cukup besar dan mempengaruhi perusahaan
dalam jangka panjang, karena itu perlu dilakukan analisis untuk menghindari kesalahan
dan menginvestasikan dana.

Dalam studi kelayakan hal-hal yang perlu diketahui adalah :


a. Ruang lingkup kegiatan proyek, untuk menentukan pada bidang-bidang apa proyek
akan beroperasi.
b. Cara kegiatan proyek dilakukan, untuk menentukan apakah proyek akan ditangani
sendiri atau diserahkan pada pihak lain.
c. Evaluasi terhadap aspek-aspek yang menentukan berhasilnya seluruh proyek, untuk
mengidentifikasi faktor-faktor kunci keberhasilan usaha.
d. Sarana yang diperlukan oleh proyek, menyangkut kebutuhan proyek dan fasilitasfasilitas pendukung.
e. Hasil kegiatan proyek serta biaya-biaya yang harus ditanggung untuk memperoleh
hasil tersebut.
f. Akibat-akibat yang bermanfaat maupun tidak bermanfaat akibat dari adanya proyek
tersebut (manfaat dan pengorbanan ekonomis dan sosial).
g. Langkah-langkah rencana mendirikan proyek.
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), lembaga-lembaga yang memerlukan
studi kelayakan adalah :
1. Investor
Pihak yang akan menanamkan modal dalam suatu usaha akan lebih
memperhatikan proyek tersebut.

Prospek disini adalah tingkat keuntungan yang

diharapkan dari investasi tersebut beserta resikonya. Semakin tinggi resiko investasi,
tingkat keuntungan yang diminta oleh investor tersebut juga tinggi.
2. Kreditur (Bank)

Para kreditur (Bank) akan lebih memperhatikan segi keamanan dana yang
dipinjamkan mereka.

Dengan demiklian mereka mengharapkan agar bunga plus

angsuran pokok pinjaman bisa dilakukan tepat pada waktunya, dengan memperhatikan
pola aliran kas selama jangka waktu pinjaman tersebut.
3. Pemerintah
Pemerintah berkepentingan dengan manfaat proyek tersebut bagi perekonomian
nasional. Manfaat ini terutama dikaitkan dengan penanggulangan masalah-masalah yang
sering dihadapi oleh negara tersebut.
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), tahap-tahap untuk melakukan proyek
investasi adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi pengamatan dilakukan terhadap lingkungan untuk memperkirakan
kesempatan dan ancaman dari usaha tersebut.
2. Perumusan merupakan tahap untuk menerjemahkan kesempatan investasi kedalam
suatu rencana proyek yang kongkrit, dengan faktor-faktor yang penting dijelaskan
secara garis besar.
3. Penilaian dilakukan dengan cara analisa dan menilai aspek pasar, teknik, keuangan
dan perekonomian.
4. Pemilihan dilakukan dengan mengingat segala keterbatasan dan tujuan yang akan
dicapai.
5. Implementasi yaitu menyelesaikan proyek tersebut dengan tetap berpegang pada
anggaran.
Aspek-Aspek Studi Kelayakan

Untuk menjalankan suatu proyek terlebih dahulu harus ditentukan aspek-aspek


apa yang akan dipelajari. Aspek-aspek studi kelayakan usaha yang biasanya dianalisis
antara lain menyangkut aspek pasar, teknis, keuangan, hukum dan ekonomi. Menurut
kadariah et al (1978) menyatakan bahwa proyek dapat dievaluasi dari aspek teknis, aspek
manajerial administratif, aspek organisasi, aspek komersil, aspek finansial, dan aspek
ekonomi. Dilain pihak, Gitingger (1986) menyebutkan proyek penelitian memiliki enam
aspek yaitu aspek teknis, aspek institusional manajerial, aspek komersil, aspek sosial,
aspek finansial, dan aspek ekonomi.
Aspek Pasar
Menurut Husnan dan Suwarsuono (2000), aspek pasar dan pemasaran
mempelajari tentang :
1. Permintaan, baik secara total maupun diperinci dan proyeksi permintaan dimasa
mendatang
2. Penawaran, baik yang berasal dari dalam negeri maupun impor. Perkembanganm di
masa lalu dan yang akan datang, jenis barang yang menyaingi, dan sebagainya.
3. Harga, perbandingan dengan barang-barang impor dan produksi dalam negeri lainnya,
serta pola perubahan harganya.
4. Program pemasaran, mencakup stategi pemasaran yang akan dipergunakan, marketing
mix, identifikasi siklus kehidupan produk, dan pada tahap apa produk akan dibuat.
5. Perkiraan penjualan yang bisa dicapai perusahaan, market share yang bisa dikuasai
oleh perusahaan
Pengkajian aspek pasar dilakukan karena tidak ada proyek yang berhasil tanpa
adanya permintaan atas barang/jasa.

Pemasaran adalah kegiatan perusahaan yang

bertujuan menjual barang/jasa yang diproduksi perusahaan ke pasar. Oleh karena itu,
aspek ini bertanggung jawab dalam menentukan ciri-ciri pasar yang akan dipilih.
Struktur pasar adalah suatu dimensi yang menjelaskan pengambilan keputusan
oleh perusahaan maupun industri, jumlah perusahaan dalam suatu pasar, distribusi
perusahaan menurut berbagai ukuran, deskripsi produk atau diferensiasi produk, syaratsyarat masuk dan sebagainya. Kohls (1998) mengklasifikasikan pasar menjadi dua
macam berdasar sifat bentuknya, yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar bersaing tidak
sempurna. Asumsi yang harus dipenuhi pada pasar bersaing sempurna antara lain: (1)
Banyak pembeli dan penjual, (2) pembeli dan penjual hanya menguasai sebagian kecil
dari barang atau jasa yang dipasarkan (sebagai price taker), (3) barang dan jasa yang
dipasarkan bersifat homogen (tidak ada diferensiasi produk), (4) pembeli maupun penjual
bebas keluar masuk pasar, dan (5) informasi pasar yang sempurna.
Struktur pasar yang kedua adalah pasar bersaing tidak sempurna yang dapat
dilihat dari sisi pembeli dan penjual. Berdasarkan sisi pembeli terdapat pasar persaingan
monopsonistik, oligopsoni ,dan monopsoni. Apabila dilihat dari sisi penjual terdiri dari
pasar persaingan monopolistik, oligopoli, dan monopoli.
Aspek Teknis
Dalam

pemilihan

teknologi

yang

akan

dipergunakan

sebaiknya

tidak

dipergunakan teknologi yang telah usang, atau teknologi yang masih tahap coba-coba
(Hasan dan Suwarsono, 2000) teknologi yang sudah usang akan mengakibatkan sebuah
perusahaan sulit untuk bersaing dengan perusahaan yang lain, sedangkan teknologi yang
masih dicoba-coba mengakibatkan kesulitan dalam perawatan fasilitas

Kuntjoro (2002) menyebutkan bahwa aspek teknis menyangkut berbagai hal


berkaitan dengan proses produksi yasng dijalankan, seperti teknologi yang digunakan dan
skala produksi yang dipilih, fasilitas lokasi dan produksi, dan pemilihan proses produksi
mencakup teknologi, perlengkapan dan alat-alat, bahan, tenaga kerja dan pengawasan
kualitas.
Aspek Manajemen
Aspek manajemen menurut Gittinger (1986) berkisar diantara penetapan institusi,
organisasi dan manajerial yang tepat dan tidak tumpang tindih, yang secara jelas
memiliki pengaruh yang penting terhadap pelaksanaan proyek. Kuntjoro (2002)
menyatakan bahwa aspek manajemen merupakan manajemen dalam pelaksanaan proyek,
penjadwalan penyelesaian proyek, serta struktur organisasi dalam manajemen
operasional, seperti deskripsi jabatan.
Aspek Ekonomi dan Sosial
Kuntjoro (2002) menyatakan adanya keterkaitan aspek ekonomi dan sosial,
sehingga dalam pelaksanaan suatu proyek, harus memperhatikan manfaat proyek tersebut
bagi masyarakat, penambahan atau pengurangan devisa, penambahan kesempatan kerja,
dan pengaruh terhadap perkembangan industri lain. Aspek sosial dapat dilihat
manfaatnya pada lingkungan sekitar, dapat berupa manfaat maupun pengorbanan yang
dirasakan.
Menurut Gittinger (1986) analisis ekonomi dilakukan dengan mempertimbangkan
apakah suatu proyek bisa memberikan sumbangan atau peranan nyata terhadap
perekonomian secara keseluruhan dan apakah sumbangan tersebut cukup besar dalam
menentukan

penggunaan

sumberdaya

yang

diperlukan.

Analisa

sosial

harus

mempertimbangkan pola dan kebiasaan dari pihak yang dilayani oleh proyek, karena
pertimbangan ini berhubungan langsung dengan kelangsungan suatu proyek.
Aspek Finansial
Kadariah et, al. (1978) menyatakan bahwa analisis finansial dimulai dengan
analisis biaya dan manfaat suatu proyek. Analisis finansial bertujuan untuk
membandingkan pengeluaran uang dengan revenue earning dari suatu proyek, apakah
proyek akan menjamin atas dana yang diperlukan, apakah proyek akan mampu
membayar kembali dana tersebut, dan apakah proyek akan berkembang sedemikian rupa
sehingga secara finansial dapat berdiri sendiri.
Kuntjoro (2002) menyebutkan bahwa biaya yang diperlukan untuk proyek terdiri
dari biaya modal, biaya operasional dan biaya lainnya yang terlibat dalam pendanaan
suatu proyek. Biaya modal merupakan dana untuk investasi yang penggunaanya bersifat
jangka panjang, contohnya tanah, bangunan dan perlengkapannya, pabrik dan mesin,
biaya pendahuluan sebelum operasi seperti biaya penelitian. Biaya operasional disebut
sebagai biaya modal kerja karena biaya ini dikeluarkan untuk menutupi kebutuhan dana
yang diperlukan pada saat proyek mulai dilaksanakan dan didasarkan pada situasi
produksi, biasanya dibutuhkan sesuai dengan tahap operasi contohnya biaya bahan
mentah, biaya tenaga kerja, biaya perlengkapan penunjang. Biaya lain yang dikeluarkan
proyek diantaranya pajak, bunga pinjaman, dan asuransi.
Gittinger (1986) menyebutkan beberapa biaya yang menyangkut proyek pertanian
antara lain meliputi barang-barang fisik, tenaga kerja, tanah, cadangan-cadangan yang
tidak terduga, pajak, jasa pinjaman dan biaya yang tidak diperhitungkan. Penambahan
nilai suatu proyek bisa diketahui melalui peningkatan produksi, perbaikan kualitas,

perubahan dalam waktu penjualan. Perubahan dalam bentuk produksi, pengurangan biaya
melalui mekanisasi, pengurangan biaya pengangkutan, penghindaran kerugian dan
manfaat tidak langsung proyek.
Kadariah et al (1978) mengungkapkan bahwa benefit dari proyek terbagi menjadi
direct benefit, indirect benefit dan itangible benefit. Direct benefit disebutkan sebagai
peningkatan output produksi

ataupun penurunan biaya. Indirect benefit merupakan

keuntungan sampingan akibat adanya proyek, sedangkan itangible benefit merupakan


keuntungan yang tidak dapat diukur dengan uang seperti perbaikan lingkungan hidup dan
sebagainya
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), dalam menganalisa suatu proyek
investasi lebih relevan terhadap kas bukan terhadap laba, karena dengan kas seseorang
bisa berinvestasi dan dengan kas pula seseorang membayar kewajibannya, sehingga
untuk mengetahui sejauh mana keadaan finansial perusahaan maka perlu dilakukan
analisa aliran kas (cashflow). Kuntjoro (2002) menyebutkan bahwa cashflow adalah
susunan arus manfaat bersih tambahan sebagai hasil pengurangan arus biaya tambahan
terhadap arus manfaat. Tambahan ini merupakan perbedaan antara kegiatan dengan
proyek (with project) dan tanpa project (without project), arus tersebut menggambarkan
keadaan dari tahun ketahun selama jangka hidup (life time period). Adapun yang
termasuk kedalam komponen cashflow ini terdiri dari inflow dan outflow.

Inflow

biasanya terdiri dari nilai produksi total, penerimaan pinjaman, bantuan, nilai sewa dan
nilai sisa (salvage value). Komponen outflow diantaranya biaya barang modal, bahanbahan tenaga kerja, tanah, pajak dan debt service (biaya bunga).

Nilai waktu uang adalah adalah suatu konsep dimana sejumlah uang tertentu pada
masa yang akan datang memiliki manfaat yang lebih kecil jika dibandingkan pada waktu
sekarang dengan nilai nominal yang sama, sehingga dalam penilaian kriteria investasi
akan lebih baik jika digunakan konsep nilai waktu uang yang diwujudkan dengan
perhitungan present value dari suatu anggaran tertentu. Kuntjoro (2002) menyebutkan
alasan penggunaan present value yaitu karena adanya ketidakpastian dari hasil, harga dan
biaya yang ditetapkan sepanjang proyek berjalan, serta jika dipikirkan secara logis, nilai
uang yang sama jumlahnya yang diterima atau dikeluarkan sekarang, akan lebih berharga
dari pada nilai uang itu pada masa yang akan datang.
Menurut Kadariah et. al,1999 dalam menentukan umur suatu proyek terdapat
beberapa pedoman yang dapat dijadikan sebagai acuan, antara lain:
1. Sebagai ukuran umum dapat diambil suatu periode yang kira-kira sama dengan umur
proyek secara ekonomis yaitu umur ekonomis suatu aset berupa jumlah tahun selama
pemakaian aset dapat meminimumkan biaya tahunnya.
2. Proyek-proyek dengan investasi modal yang sangat besar, umur proyek yang
digunakan berdasarkan unsur-unsur pokok investasi adalah umur teknis yang lama
dengan umur ekonomis yang dapat lebih pendek akibat obsolescence (ketinggalan
zaman karena penemuan teknologi baru yang efisien menggantikan teknologi lama).
3. Proyek dengan umur diatas 25 tahun dapat diambil 25 tahun, karena nilai-nilai
sesudah itu, jika di-discount dengan discount rate sebesar 10 persen keatas maka
present value-nya sudah sangat kecil.
Kuntjoro (2002) menyatakan bahwa aspek keuangan mempelajari beberapa faktor
penting yang mempengaruhi kelancaran jalannya proyek, meliputi ketersedian dana, baik

modal tetap dan modal kerja, sumber dana, proyeksi keuangan dan besaran dana yang
diperlukan dalam proyek, dan menghitung biaya dan manfaat finansial melalui analisis
kelayakan investasi seperti Net Present Value, Payback Period, dan Internal Rate Return
Metode penilaian yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian
aliran kas dari suatu investasi dan menganalisis kelayakan finansialnya, yaitu:
Net Present Value
Net Present Value yaitu selisih antara present value dari investasi dengan nilai
sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang untuk
menghitung nilai sekarang perlu ditentukan dengan tingkat bunga yang relevan.
Sedangkan NPV dari suatu proyek merupakan nilai bersih sekarang arus kas tahunan
setelah pajak dikurangi dengan pengeluaran awal.
Suatu proyek dikatakan layak atau bermanfaat untuk dilaksanakan jika NPV
proyek tersebut lebih besar atau sama dengan nol (NPV 0). Jika nilai NPV sama
dengan nol, berarti proyek tidak untung tetapi juga tidak rugi (hanya mampu menutupi
biaya yang dikeluarkan). Jika nilai NPV lebih kecil dari nol, maka proyek tidak layak
untuk dijalankan karena tidak menghasilkan senilai biaya yang keluarkan. Oleh karena
itu, sumberdaya yang digunakan dalam proyek tersebut sebaiknya dialokasikan pada
kegiatan atau proyek lain yang lebih menguntungkan.
Internal Rate of Return (IRR)
Metode ini digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai
sekarang dari arus kas yang diharapkan dimasa mendatang atau penerimaan kas dengan
pengeluaran investasi awal.

Suatu proyek dikatakan layak jika nilai IRR yang diperoleh oleh proyek tersebut
lebih besar dari tingkat diskonto. Sedangkan jika nilai IRR yang diperoleh lebih kecil dari
tingkat diskonto, maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Penerapannya
lebih sulit bila dibandingkan dengan

NPV, karena dalam hal tertentu terdapat

kemungkinan dihasilkannya nilai IRR yang lebih dari satu yang dapat membuat NPV
sama dengan nol.
Net B/C Ratio
Net B/C Ratio merupakan angka perbandingan antara nilai kini dan arus manfaat
dibagi dengan nilai sekarang arus biaya. Untuk pemilihan ukuran B/C Ratio dari manfaat
proyek adalah memilih semua proyek yang nilai B/C Ratio sebesar satu atau lebih jika
arus biaya dan manfaat didiskontokan pada tingkat biaya opportunitas kapital (Gittinger,
1986).
Suatu proyek dinyatakan layak jika nilai Net B/C lebih besar atau sama dengan
satu, hal ini berarti proyek tersebut layak untuk dilaksanakan. Sedangkan jika nilai Net
B/C lebih kecil dari satu, maka proyek menghasilkan manfaat lebih kecil dibandingkan
dengan biaya yang dikeluarkan yang artinya tidak layak untuk dilaksanakan.
Payback Period (PP)
Payback period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali
pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas. Payback period dapat diartikan
juga sebagai rasio antara nilai investasinya dengan kas masuk bersih, yang hasilnya
merupakan satuan waktu. Kelemahan metode ini yaitu tidak memperhatikan aliran kas
masuk setelah payback, sehingga metode ini pada umumnya digunakan sebagai
pendukung metode lain yang lebih baik.

Analisis Switching Value


Analisis switching value (nilai pengganti) digunakan dalam rangka menganalisis
sampai pada tingkat mana perubahan-perubahan yang terjadi masih dapat ditolerir
sehingga suatu proyek masih dapat dikatakan layak atau terus diusahakan. Dalam analisis
ini dicoba melihat kondisi kelayakan yang terjadi apabila dilakukan perubahan-perubahan
biaya dan manfaat.
Pada analisis switching value dicari berapa nilai pengganti pada komponen biaya
dan penurunan manfaat yang terjadi, yang masih memenuhi kriteria minimum kelayakan
investasi atau masih mendapatkan keuntungan normal. Keuntungan normal terjadi
apabila nilai NPV sama dengan nol, IRR sama dengan tingkat diskonto yang digunakan,
dan nilai Net B/C sama dengan satu (cateris paribus).
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas merupakan suatu analisis kembali untuk dapat melihat
pengaruh-pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Dalam analisis
sensitivitas perubahan nilai yang dipilih dianalisis terhadap masalah yang dianggap
penting pada analisis proyek dan akan menentukan pengaruh perubahan tersebut terhadap
daya tarik proyek.
Proyek-proyek pertanian umumnya sensitif terhadap terhadap perubahanperubahan 4 variabel berkut ini:
1. Harga jual output yang akan berpengaruh terhadap manfaat, manfaat sekarang netto,
dan tingkat pengembalian secara finansial maupun ekonomi
2. Keterlambatan pelaksanaan yang akan mempengaruhi biaya maupun manfaat dan
akhirnya akan mempengaruhi manfaat netto

3. Kenaikan biaya
4. Produk yang dihasilkan

Adapun kelemahan yang dimiliki analisis sensitivitas, antara lain :


1. Analisis ini tidak dipakai dalam pemilihan proyek karena merupakan analisis parsial
dan hanya mengubah satu parameter masa suatu saat tertentu
2. Analisis ini hanya mengidentifikasi apa yang akan terjadi bila terdapat perubahan
biaya atau manfaat bukan menentukan kelayakan suatu proyek
3.2. Kerangka Berpikir Operasional
Sektor pertanian merupakan sektor sentral yang mempunyai peran sangat penting
bagi perekonomian suatu negara karena merupakan salah satu

yang memberikan

kontribusi cukup besar yaitu sekitar 17 persen terhadap PDB (produk domestik bruto)
nasional, begitu pula di Kabupaten Tasikmalaya sektor pertanian memberikan kontribusi
paling besar terhadap PDRB yaitu sekitar 34,91 persen pada akhir tahun 2005 (BPS,
2006). Oleh karena itu sektor pertanian haruslah mendapat perhatian yang lebih besar
dan perlu terus dikembangkan.
Dalam peranannya sebagai sektor sentral bagi pembangunan nasional, masih
terdapat berbagai macam permasalahan yang hingga saat ini masih belum dapat teratasi,
seperti penurunan produktivitas pertanian terutama bahan pangan utama yang dapat
mengakibatnya terancamnya ketahanan pangan yang disebabkan oleh adanya krisis
pangan. Salah satu faktor penyebab adanya penurunan produktivitas pertanian yaitu
adanya ketidakpastian cuaca yang diakibatkan oleh perubahan iklim, sehingga petani sulit
memperkirakan kegiatan dan hasil pertaniannya.

Pemanasan global merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya


perubahan iklim. Pemanasan global diakibatkan oleh adanya efek rumah kaca
menyebabkan terjadinya akumulasi panas di atmosfer bumi. Dengan adanya akumulasi
yang berlebihan tersebut, iklim global kemudian melakukan penyesuaian. Penyesuaian
yang dimaksud salah satunya adalah peningkatan temperatur bumi, disebut pemanasan
global dan berubahnya iklim regional, seperti perubahan pola curah hujan, penguapan,
pembentukan awan. Dampak-dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim terutama
bagi sektor pertanian diantaranya adalah meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana,
kenaikkan permukaan laut, permukaan tanah turun dan kesuburan tanah pertanian
berkurang. Akibat lain yang akan ditimbulkan dengan adanya pemanasan global tersebut
terkait dengan perubahan tempat tanam dari tanaman dataran rendah ke tempat yang lebih
tinggi sehingga tanaman dataran tinggi terdesak dan terjadi persaingan dalam penggunaan
lahan antara tanaman dataran rendah dan tanaman dataran tinggi.
Komoditi yang akan ditinjau kali ini adalah komoditi padi serta vanili. Padi
sebagai tanaman yang mempunyai kecenderungan ditanam di dataran dataran rendah padi
rentan terhadap adanya pengaruh pemanasan global, terlihat dengan adanya penurunan
produktivitas yang terjadi beberapa tahun ini akibat adanya perubahan iklim tanaman
padi pun akan berpindah tempat tanam ke permukaan yang lebih tinggi karena dari
berkurangnya lahan dataran rendah yang potensial.

Sedangkan tanaman vanili

merupakan tanaman perkebunan yang masih mempunyai prospek cerah untuk


dikembangkan dikhawatirkan akan terganggu stabilitas tanamnya akibat adanya
pergeseran tempat tanam yang terjadi dengan tanaman dataran rendah termasuk padi.

Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis keuntungan yang dihasilkan oleh kedua
komoditi tersebut dilihat dari aspek finansial maupun lingkungan.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan yang
akan digunakan untuk menghitung pendapatan yang dihasilkan petani dari komoditi padi,
sedangkan untuk menghitung pendapatan yang dihasilkan vanili digunakan analisis
kelayakan usaha. Analisis yang digunakan untuk kedua komoditi tersebut berbeda karena
adanya perbedaan sistem tanam, tanaman padi lebih pendek masa tanamnya sehingga
dalam setahun tanaman ini sudah mengalami dua kali masa panen, sedangkan untuk
komoditi vanili merupakan tanaman tahunan yang mempunyai umur proyek biasanya
sepuluh tahun dan baru menghasilkan pada tahun tanam ke tiga. Selain itu, dilakukan
juga identifikasi mengenai aspek lingkungan dari masing-masing komoditi untuk
mengetahui komoditi yang lebih ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi pengaruh
pemanasan global.
Penelitian dilakukan di Kabupaten Tasikmalaya, yaitu di Desa Cibongas,
Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya. Kondisi topografi di daerah penelitian
cocok untuk masing-masing komoditi, selain itu desa ini merupakan desa yang
mempunyai tren pertanian komoditi padi dan vanili. Hasil penelitian dapat dijadikan
bahan pertimbangan bagi petani maupun pemerintahan setempat untuk menanam
komoditi yang tidak hanya menguntungkan tetapi juga bersifat ramah lingkungan
sehingga dapat mendukung terwujudnya sistem pertanian yang berkelanjutan.

Adanya pemanasan global yang dapat


menurunkan produktivitas pertanian
Adanya persaingan antar tanaman dataran
rendah dan tanaman dataran tinggi
Produktivitas padi meningkat dan
vanili di Tasikmalaya cenderung
fluktuatif

Analisis untuk mengidentifikasi


komoditi yang mempunyai tingkat
keuntungan lebih tinggi

Tanaman dataran
rendah
PADI

Aspek lingkungan

Tanaman dataran
tinggi
VANILI

Aspek finansial

Analisis Pendapatan
Usahatani

Aspek finansial

Analisis Kelayakan
Usaha

REKOMENDASI

Aspek lingkungan

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir Operasional

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Desa Cibongas, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten

Tasikmalaya pada bulan Maret-April 2008. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja
(purposive) dengan pertimbangan :
1) Kabupaten Tasikmalaya mempunyai letak topografi yang sesuai untuk penanaman
padi dan vanili
2) Vanili merupakan komoditas tren di Desa Cibongas, Kecamatan pancatengah,
Kabupaten Tasikmalaya
4.2

Jenis dan Sumber Data


Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder.

Data primer yaitu data hasil wawancara dan panduan kuesioner terhadap petani mengenai
data output dan input, Sedangkan data sekunder diperoleh dari beberapa instansi terkait
yaitu Biro Pusat Statistik (BPS), Departemen Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, Dinas
Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya .
4.3

Teknik Pengambilan Sampling


Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini dilakukan dengan cara simple

random sampling atau pengambilan responden secara acak sederhana. Jumlah responden
yang dipilih adalah 20 petani padi dan 20 petani vanili di Desa Cibongas, Kecamatan
Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya.

4.4

Metode Analisis Data


Analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan usahatani dan analisis

kelayakan usahatani. Analisis pendapatan usahatani digunakan untuk menghitung nilai


kuantitatif suatu usaha berupa pendapatan, nilai R/C rasio. Dalam penggunaan analisis
pendapatan usahatani, data yang dipakai adalah data dari komoditi padi karena
merupakan komoditi pokok yang memiliki syarat kuantitatif untuk penghitungan nilai
pendapatan dan nilai R/C rasio. Analisis kedua yaitu analisis kelayakan investasi untuk
menghitung kriteria investasi seperti NPV, IRR, Net B/C, payback period dan analisis
switching value. Data yang dipakai untuk analisis ini adalah data dari komoditi vanili
yang memiliki kriteria sebagai suatu proyek atau usaha dengan sifat investasi atau
memberi manfaat berjangka dalam suatu periode waktu tertentu.
4.4.1. Analisis Pendapatan Usahatani
Pendapatan petani padi dalam penelitian ini dibedakan atas pendapatan biaya
tunai, pendapatan biaya total dan pendapatan tunai. Pendapatan atas biaya tunai diperoleh
dari pengurangan penerimaan total usaha tani dengan biaya tunai yang benar-benar
dikeluarkan dalam bentuk uang tunai atau pendapatan atas biaya yang benar-benar
dikeluarkan oleh petani (explicit cost). Pendapatan atas biaya total adalah pendapatan
yang diperoleh dengan memperhitungkan biaya input milik keluarga sebagai biaya
(imputed cost). Pendapatan biaya total didapat dari penerimaan total petani setelah
dikurangi oleh biaya tunai ditambah biaya yang diperhitungkan. Sedangkan pendapatan
tunai adalah pendapatan dari hasil penerimaan tunai dalam bentuk uang tunai setelah
dikurangi oleh biaya tunai. Penerimaan tunai didapat dari penerimaan total yang

dikurangi dengan penerimaan diperhitungkan yang merupakan penerimaan atas nilai


produksi dari jumlah fisik produk yang dikonsumsi sendiri. Ketiga pendapatan tersebut
dirumuskan sebagai berikut (Hantari, 2007):

biaya tunai = Ptotal B tunai


biaya total = Ptotal Btunai Bdiperhitungkan
tunai = Ptunai B tunai Bdiperhitungkan
Dimana:

biaya tunai

= pendapatan atas biaya tunai

Btunai
biaya total

= biaya tunai
= pendapatan atas biaya total

Bdiperhitungkan

= biaya diperhitungkan

tunai

= pendapatan dari penerimaan tunai


= penerimaan tunai
= penerimaan total

Ptunai
Ptotal

4.4.2. Analisis Kriteria Kelayakan Usaha


Kelayakan suatu usaha untuk terus dilakukan atau dikembangkan dapat dilakukan
dengan menggunakan beberapa kriteria investasi antara lain :
1. Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) ialah nilai bersih manfaat yang dihasilkan oleh suatu
proyek selama umur proyek. Dengan kata lain Net Present Value (NPV) merupakan
selisih antara nilai sekarang dari penerimaan yang diperoleh dari penjualan yang
dilakukan dengan nilai sekarang dari pengeluaran yang dilakukan untuk memproduksi
produk yang dihasilkan pada tingkat bunga tertentu. Rumus untuk mendapatkan NPV
ialah (Gittinger, 1986) :
n

NPV=
t=1

Bt-Ct
(1+i) t

Dimana :
Bt
= manfaat yang diperoleh tiap tahun
Ct
= biaya yang dikeluarkan tiap tahun
n
= jumlah tahun
i
= tingkat bunga (diskonto)
Penilaian kelayakan finansial berdasarkan NPV yaitu :
a) NPV > 0, berarti manfaat yang dihasilkan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan,
sehingga suatu proyek dapat dikatakan layak untuk dilanjutkan atau
dikembangkan.
b) NPV < 0, berarti manfaat yang diperoleh lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan,
sehingga dapat dikatakan proyek tidak layak untuk dikembangkan atau
dilanjutkan.
c) NPV = 0, berarti suatu proyek sangat sulit untuk diteruskan atau dikembangkan
karena manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya yang
dikeluarkan.
2. Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan tingkat pengembalian dari investasi yang dilakukan terhadap
suatu proyek. IRR juga mengandung pengertian bahwa tingkat suku bunga (discount
rate) yang membuat besarnya net present value (NPV) suatu usaha atau proyek sama
dengan nol. Nilai Internal Rate of Return (IRR) diperoleh dengan menggunakan rumus
(Kadariah et.al, 1999) sebagai berikut :

NPV1
IRR=i1 +
( i 2 -i1 )
NPV1 -NPV2

Dimana :
i1
= discount rate yang menghasilkan NPV positif
i2
= discount rate yang menghasilkan NPV negatif
NPV1 = NPV yang bernilai positif

NPV2 = NPV yang bernilai negatif


Jika ternyata IRR suatu proyek sama dengan nilai i (tingkat suku bunga yang
berlaku), maka NPV proyek itu adalah nol. Namun jika IRR kurang dari tingkat suku
bunga yang berlaku, maka nilai NPV kurang dari nol. Maka suatu proyek akan layak
untuk dilaksanakan apabila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku.
3. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan manfaat yang akan diperoleh oleh
suatu proyek dari investasi yang ditanamkan pada proyek tersebut. Perhitungan Net B/C
dilakukan untuk melihat berapa manfaat yang diterima oleh proyek untuk setiap satu
rupiah pengeluaran proyek. Net B/C merupakan angka perbandingan antara nilai kini
(present value) dari net benefit yang positif dengan present value dari net benefit yang
negatif (Kadariah et. al, 1999). Rumus yang digunakan untuk menghitung IRR adalah
sebagai berikut :
Bt-Ct

Net B/C =

(1+i )

Bt-Ct

(1+i )

(Bt - Ct > 0)
(Bt Ct < 0)

Dimana :
Bt
: penerimaan (benefit) pada tahun ke-t
Ct
: biaya (cost) pada tahun ke-t
N
: umur proyek
I
: tingkat suku bunga
Penilaian nilai net B/C ratio adalah sebagai berikut :
1. Net B/C ratio 1, maka proyek dapat dikatakan layak
2. Net B/C ratio 1, maka proyek tidak layak
4. Discounted Payback Period

Discounted Payback Period (periode pengembalian kembali yang didiskontokan)


atau tingkat pengembalian investasi merupakan metode yang mengukur periode jangka
waktu atau jumlah tahun yang dibutuhkan untuk menutupi pengeluaran awal investasi.
Dalam hal ini biasanya digunakan pedoman untuk menentukan suatu proyek yang akan
dipilih adalah suatu proyek yang paling cepat mengembalikan biaya investasi tersebut.
Rumus yang digunakan dalam perhitungan Payback Periode adalah sebagai berikut :
Payback period =
Dimana :
I
Ab

I
Ab

= besarnya investasi yang diperlukan


= manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya

Jika masa pengembalian investasi (payback periode) lebih kecil dari umur proyek
yang ditentukan, maka proyek tersebut layak untuk dilaksanakan.

Pada dasarnya

semakin cepat discounted payback periode menunjukkan semakin kecil resiko yang
dihadapi oleh investor (pengusaha).
5. Analisis Switching value
Analisis switching value dilakukan untuk mengetahui seberapa besar perubahan
pada tingkat manfaat dan biaya yang terjadi, sehingga masih memenuhi kriteria minimum
kelayakan investasi.

Analisis switching value dalam penelitian ini dilakukan

menggunakan parameter perubahan terhadap peningkatan harga input. Biaya tersebut


merupakan biaya yang cukup penting dalam kegiatan produksi. Selain itu penurunan
volume penjualan dengan menggunakan tingkat diskonto sebesar 16 persen sampai
proyek tersebut masih layak untuk dilaksanakan.

Parameter-parameter tersebut

diperkirakan dapat mempengaruhi tingkat kelayakan dari usahatani vanili. Pengolahan

data dilakukan dengan menggunakan bantuan kalkulkator dan komputer dengan


menggunakan program Microsoft Excel.
6. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat pengaruh
yang akan terjadi apabila kedaan berubah-ubah. Dalam melakukan analisis sensitivitas,
pemilihan perubahan nilai yang dipilih dianalisis terhadap nilai-nilai yang dianggap
penting dalam analisis proyek dan akan menentukan pengaruh perubahan tersebut
terhadap daya tarik proyek. Dalam analisis ini dilakukan analisis sensitivitas terhadap
proyek usahatani vanili dengan perubahan nilai diantaranya kenaikkan biaya produksi
seperti peningkatan harga bibit, harga pupuk serta biaya kerja. Selain kenaikkan biaya
produksi dilakukan juga analisis sensitivitas dengan perubahan harga jual produk dan
perubahan volume produksi. Tingkat diskonto yang digunakan yaitu 16 persen hingga
proyek mencapai titik impas dengan nilai Net Present Value sama dengan nol.

BAB V
GAMBARAN UMUM

5.1. Kondisi Geografis


5.1.1. Letak Geografis dan Luas Wilayah
Secara geografis Kabupaten Tasikmalaya terletak di sebelah Tenggara Propinsi
Jawa Barat, dan secara astronomis terletak antara 1070 56 BT - 1080 8 BT dan 70 10 LS

- 70 49 LS dengan jarak membentang Utara Selatan sepanjang 75 Km dan arah Barat


Timur 56,25 Km. Luas keseluruhan sebesar 271.251,71 Km2
Secara administrasi Kabupaten Tasikmalaya terdiri dari 39 Kecamatan, yang
meliputi 351 desa, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
-

Sebelah Utara

: Kab. Majalengka/Ciamis/Kota Tasikmalaya

Sebelah Barat

: Kab. Garut

Sebelah Timur

: Kab. Ciamis

Sebelah Selatan

: Samudera Indonesia

Kecamatan yang memiliki luas wilayah relatif besar yaitu: Kecamatan Cipatujah
sebesar 24,465,45 ha, meliputi 15 Desa. Adapun kecamatan yang memiliki luas wilayah
relatif kecil yaitu : Kecamatan Sukaresik sebesar 1.749,88 ha meliputi 8 desa, dan
kecamatan yang memiliki jumlah desa paling sedikit yaitu: Kecamatan Karangjaya
dengan luas wilayah sebesar 4.785,56 ha meliputi 4 desa.
5.1.2. Topografi
Wilayah Kabupaten Tasikmalaya memiliki ketinggian berkisar antara 0 2.500
meter di atas permukaan laut (dpl). Secara umum wilayah tersebut dapat dibedakan
menurut ketinggiannya, yaitu : bagian Utara merupakan wilayah dataran tinggi dan
bagian Selatan merupakan wilayah dataran rendah dengan ketinggian beskisar antara 0
100 meter dpl.
Dilihat dari ketinggiannya Kecamatan Leuwisari, Cigalontang, Sukaratu,
Kadipaten, Pagerageung, dan Taraju merupakan kecamatan yang mempunyai ketinggian
wilayah 1.000 meter diatas permukaan air laut (mdpl), dan kecamatan Cipatujah,
Cikalong, dan Karangnunggal merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian

berkisar antara 0 100 m di atas permukaan air laut (dpl). Sedangkan kemiringan lereng
di wilayah Kabupaten Tasikmalaya berkisar antara 0% - 8% sampai dengan kemiringan
> 40 %, untuk kemiringan masing-masing kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya.
Kondisi kemiringan lahan di Kabupaten Tasikmalaya berturut-turut yaitu : Sangat
Curam (> 40 %) sebesar 33,39 persen dari luas Kabupaten Tasikmalaya, Agak
Curam

(15 % - 25 %) sebesar 24,54 persen, Curam (25 % - 40 %) sebesar 20,54

persen, Landai (8 % - 15 %) sebesar 14,36 persen, dan Datar ( 0 % - 8 %) sebesar 7,17


persen dari luas Kabupaten Tasikmalaya.

Dari data kemiringan lahan terlihat bahwa

sebagian besar bentang alam Kabupaten Tasikmalaya didominasi oleh bentuk permukaan
bumi agak curam sampai dengan curam yaitu sebesar 78,47 persen kondisi kemiringan
lahan tersebut kurang menguntungkan untuk pengembangan prasarana dan sarana
wilayah. Sedangkan kemiringan lahan yang sangat menunjang untuk pengembangan
permukiman perkotaan hanya sebesar 21,53 persen dari total luas kabupaten atau sebesar
58.388,89 ha, luasan tersebut umumnya terdistibusi di sekitar kota-kota kecamatan.
5.1.3. Hidrologi dan Klimatologi
Kabupaten Tasikmalaya pada umumnya beriklim tropis, dengan temperatur
normal rata-rata 20 - 34 C. Temperatur di dataran rendah pada umumnya 34 C dan
kelembaban 50 persen, sedangkan pada daerah dataran tinggi mempunyai temperatur 18
- 22 C dengan kelembaban berkisar antara 61 % - 73 %. Curah hujan rata-rata per tahun
217,195 mm dengan jumlah hari hujan efektif selama satu tahun sebanyak 84 hari. Curah
hujan tertinggi terjadi pada bulan November, dengan musim hujan terjadi antara bulan
Oktober-Mei dan musim kemarau terjadi antara bulan Juni-September.

Pengelompokkan daerah hujan berdasarkan ketinggian curah hujan pada masingmasing wilayah di Kabupaten Tasikmalaya adalah sebagai berikut:
1. Wilayah dengan curah hujan antara 2500-3000 mm per tahun meliputi Kecamatan
Sukaraja, Cibalong, Salopa, Pagerageung, Ciawi, dan Jamanis.
2. Wilayah dengan curah hujan antara 3000-3500 mm per thn meliputi: Kecamatan
Cipatujah, Bantarkalong, Karangnunggal, Salopa, Sodonghilir, Cineam, dan
Manonjaya.
3. Wilayah dengan curah hujan antara 3500-4000 mm per thn meliputi Kecamatan
Bojonggambir,

Sodonghilir,

Singaparna,

Cisayong,

Rajapolah,

Cikalong,

Pancatengah, Cikatomas, sebagian Pagerageung.


4. Wilayah dengan curah hujan di atas 4000 mm per thn meliputi Kecamatan Taraju,
Salawu, Cigalontang, Leuwisari, dan Cisayong.

5.2. Penggunaan Lahan dan Kawasan Budidaya


Secara garis besar penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Tasikmalaya meliputi
: Sawah, Pekarangan (Permukiman), Tegalan (kebun), Ladang(Huma), Padang Rumput,
Hutan, Perkebunan, Kolam (empang). Dari klasifikasi tersebut yang memiliki prosentase
terbesar yaitu : Kawasan Hutan yang meliputi hutan rakyat dan hutan negara yaitu
sebesar : 24,25 persen, Tegalan (kebun), campuran yaitu sebesar 23,53 persen, dan sawah
yang meliputi sawah irigasi teknis, semi teknis, dan tadah hujan yaitu sebesar 18,12
persen, lahan Kolam (empang) memiliki persentase terkecil yaitu sebesar 1,75 persen.
5.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Struktur Ekonomi

5.3.1. Pertumbuhan Ekonomi


Pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan pertumbuhan PDRB atas dasar harga
konstan

Tahun

2000,

pertumbuhan

ekonomi

Kabupaten

Tasikmalaya

dan

perbandingannya dengan propinsi Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut
Tabel 6. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya dan Propinsi Jawa Barat
Tahun 2001-2005 (%)
Tahun
Laju Pertumbuhan Ekonomi
Elastisitas pertumbuan
ekonomi Kab.
Kabupaten
Propinsi Jawa
Tasikmalaya-Jawa Barat
Tasikmalaya
Barat
(1)
(2)
(3)
(4)
2001
2,95
3,84
0,77
2002
3,12
4,39
0,71
2003
3,23
4,92
0,66
2004
3,44
5,99
0,57
2005
3,83
5,00
0,77
Rata-rata elastisitas
0,70
Sumber : BPS Kab. Tasikmalaya
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tasikmalaya dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan, yaitu dari 2,95 persen pada tahun 2001 menjadi 3,44 persen pada tahun
2004. Tingkat elastisitas terhadap pertumbuhan propinsi rata-rata 0,70 persen, berarti
untuk setiap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat 1 persen mengangkat pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Tasikmalaya 0,70 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Tasikmalaya masih dibawah pertumbuhan Jawa Barat dan belum
berperanan penting dalam pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Kenaikan pertumbuhan
ekonomi Kabupaten Tasikmalaya terutama disebabkan oleh naiknya produksi yang
menyumbang cukup besar yaitu sektor pertanian terutama sub sektor Tanaman Bahan
Makanan. Gambaran selengkapnya mengenai pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Tasikmalaya per sektor dapat dilihat pada Tabel berikut ini
Tabel 7. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya per sektor Usaha
Tahun 2004-2005 (%)

Atas Dasar Harga


Konstan Tahun
No.
Sektor
2000
2004
2005
1.
Pertanian, Peternakan, Perkebunan, 2,97
4,01
Kehutanan, Perikanan
2.
Pertambangan dam penggalian
2,27
2,14
3.
Industri Pengolahan
4,17
4,00
4.
Listrik, Gas dan Air Minum
5,18
6,90
5.
Bangunan
4,18
3,74
6.
Perdagangan, Hotel dan Restoran
4,54
2,89
7.
Pengangkutan dan Komunikasi
4,55
5,00
8.
Keuangan, Persewaan dan Jasa
4,52
2,87
9.
Jasa-jasa
2,32
4,49
Pertumbuhan PDRB
3,44
3,83
Sumber : BPS Kab. Tasikmalaya

Atas Dasar
Harga Berlaku
2004
7,54

2005
20,83

6,78
11,35
12,63
12,43
10,81
13,34
11,08
7,65
9,29

20,57
26,82
29,61
69,35
24,23
29,78
24,54
24,56
26,25

Pertumbuhan sektoral di Kabupaten Tasikmalaya terutama pada sektor pertanian


mengalami peningkatan cukup tajam terutama pada harga berlaku (hingga lebih dari 200
persen) walaupun pada pertumbuhan

menurut harga konstan, yang menunjukkan

peningkatan produksi peningkatannya lebih kecil. Hal ini menunjukkan peningkatan


harga yang tajam dari komoditi pertanian melebihi peningatan produksi pertanian itu
sendiri. Hanya masih harus diteliti kembali apakah peningkatan harga tersebut sampai
pada tingkat petani, atau pada tingkat tengkulak yang tidak berdampak pada peningkatan
kesejahteraan petani. Secara umum masing-masing sektor usaha mengalami peningkatan
harga cukup besar pada tahun 2005, hal ini dimungkinkan karena kenaikkan harga BBM
yang mengakibatkan kenaikan harga pada hampir seluruh komoditi.
5.3.2. Struktur Ekonomi
Struktur ekonomi secara kuantitatif digambarkan dengan menghitung besarnya
persentase peranan nilai tambah bruto dari masing-masing sektor terhadap nilai total
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Dengan membandingkan struktur ekonomi
Kabupaten Tasikmalaya dengan propinsi Jawa Barat dapat diperoleh pula indicator LQ

(Location Quetient) yang menggambarkan kemampuan daerah dalam memberikan


kontribusi perekonomian terhadap propinsi Jawa Barat. Jika suatu sektor memiliki LQ >
1 menunjukkan bahwa sektor daerah tersebut mampu menopang perekonomian propinsi,
dan jika suatu sektor memiliki LQ < 1 menunjukkan bahwa sektor tersebut belum mampu
menopang perekonomian propinsi
Struktur ekonomi Kabupaten Tasikmalaya dan perbandingannya dengan Jawa Barat
dapat dilihat pada Tabel 8:

Tabel 8 . Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Tasikmalaya dan Propinsi Jawa


Barat Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005 (%)
Distribusi Persentase
Location
(%)
No.
Sektor
Quetient
Kab.
Jawa
(LQ)
Tasikmalaya Barat
1. Pertanian, Peternakan, Perkebunan,
34,91
14,29
>1
Kehutanan, Perikanan
2. Pertambangan dam penggalian
0,16
0,20
<1
3. Industri Pengolahan
7,53
32,99
<1
4. Listrik, Gas dan Air Minum
1,00
3,59
<1
5. Bangunan
8,18
3,26
>1
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran
24,87
15,55
>1
7. Pengangkutan dan Komunikasi
3,83
6,19
<1
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa
3,62
3,35
<1
9. Jasa-jasa
15,90
13,04
>1
Sumber : BPS Kab. Tasikmalaya
Struktur ekonomi Kabupaten Tasikmalaya masih didominasi sektor pertanian
sebesar 34,91 persen, sektor perdagangan hotel dan restoran sebesar 24,87 persen, dan
sektor jasa sebesar 15,90 persen, dan bangunan sebesar 8,18 persen. Keempat sektor
tersebut memiliki nilai LQ > 1, hal ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Kabupaten
Tasikmalaya memiliki kemampuan untuk menopang perekonomian Jawa Barat. Struktur

ekonomi tradisional masih menjadi ciri perekonomian Kabupaten Tasikmalaya,


perubahan struktur ekonomi sebagaimana diharapkan dari sector pertanian yang memiliki
nilai tambah yang kecil kepada sektor industri pengolahan yang memiliki nilai tambah
yang besar belum terjadi. Kondisi ini berbeda dengan propinsi Jawa Barat yang telah
memiliki struktur ekonomi dengan kontribusi yang besar di sektor industri pengolahan.

5.4. Kependudukan
Jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, distribusi penduduk menurut umur
dan jenis kelamin serta pengelompokan umur berdasarkan usia sekolah merupakan
beberapa statistik penting yang diperlukan dalam perencanaan pembangunan. Secara
umum hal ini berkaitan dengan kepentingan penyusunan perencanaan dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan rakyat serta rencana intervensi program dalam berbagai
sektor seperti perencanaan tingkat kebutuhan pangan, kebutuhan sarana dan prasarana
pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur wilayah.
Penduduk Kabupaten Tasikmalaya rata-rata mengalami peningkatan sebesar 1,01
persen dari 1.567.059 jiwa pada tahun 2001 menjadi 1.616.102 jiwa pada tahun 2004.
Pertumbuhan penduduk sebesar 1,01 persen tersebut masih lebih kecil dari rata-rata
pertumbuhan penduduk Propinsi Jawa Barat. Sejalan dengan percepatan pembangunan
ibukota diperkirakan pertumbuhan penduduk Kabupaten Tasikmalaya akan lebih
meningkat, sehubungan dengan pertumbuhan kawasan perkotaan yang menjadi daya tarik
terjadinya urbanisasi. Selengkapnya jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya menurut
jenis kelamin disajikan pada Tabel 9 berikut ini :

Tabel 9. Penduduk Kabupaten Tasikmalaya Menurut Jenis Kelamin Tahun 20012005


Tahun
(1)
2001
2002
2003
2004
2005

Jumlah Penduduk
Laki-laki
Perempuan
(2)
(3)
778.918
786.988
785.737
797.056
796.515
810.196
811.848
814.649
820.285
829.582

Total

Sex Ratio

LPP

(4)
1.565.906
1.582.793
1.606.711
1.626.497
1.649.867

(5)
98,98
98,58
98,31
99,66
98,88

(6)
1,30
1,35
1,42
1,23
1,30

Sumber : BPS Kab. Tasikmalaya


Rata-rata lama sekolah merupakan salah satu komponen utama yang
mempengaruhi indeks pendidikan suatu daerah yang besarannya tergantung pada tingkat
partisipasi penduduk usia sekolah pada setiap jenjang baik partisipasi kasar maupun
partisipasi murni menurut jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dalam menyusun
program dan tolok ukur kinerja sektor pendidikan memerlukan basis data penduduk
menurut kelompok umur usia 0-24 tahun menurut jenis kelamin serta penduduk usia 7-24
tahun yang masih sekolah menurut jenis kelamin. Penduduk Kabupaten Tasikmalaya
menurut kelompok umur, proporsi terbesar berada pada kelompok umur 7-12 tahun yaitu
sebesar 213.848 orang, yang terdiri dari 104.130 laki-laki dan 109.718 perempuan.
Kemudian kelompok umur 19-24 tahun sebesar 213.848 orang, yang terdiri dari 79.791
laki-laki dan 78.644 perempuan.
Kondisi Umum Desa Cibongas
Desa Cibongas terletak di wilayah Pembangunan Tasik Selatan dan merupakan
salah satu desa di Kecamatan Cikatomas. Luas wilayah desa ini sekitar 1.215,4 ha yang
digunakan untuk lahan sawah seluas 169 ha, sawah tadah hujan seluas 108 ha,
pemukiman seluas 145 ha, perkebunan rakyat seluas 402 ha, dan hutan rakyat seluas 70
ha. Jumlah penduduk pada tahun 2006 adalah 4.013 jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki

2.164 jiwa dan penduduk perempuan 1.939 jiwa dan jumlah kepala keluarga sebanyak
1.039 orang.
Karakteristik Responden di Desa Cibongas
Karakteristik petani padi maupun vanili di Desa Cibongas, Kabupaten
Tasikmalaya dapat diungkapkan bahwa para kepala keluarga petani responden masih
dapat digolongkan usia kerja (berusia antara 27 53 tahun), dengan rata-rata memiliki
anak 4 orang, sementara itu tingkat pendidikan yang dimiliki masih relatif rendah. Ratarata setara sekolah

menengah pertama (SMP) walau terdapat juga

petani yang

berpendidikan perguruan tinggi, dengan pengalaman bertani yang relatip cukup lama
yaitu antara 4 15 tahun. Berikut adalah tabel karakteristik penduduk Desa Cibongas
Tabel 10. Karakteristik Responden Petani Padi dan Petani Vanili di Desa Cibongas,
Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya
Kriteria
Jenis Kelamin

Usia

Pendidikan
Terakhir
Pekerjaan
diluar
Usahatani

Tingkat
Pendapatan
Jumlah

Karakteristik
Laki-laki
Perempuan
<30 tahun
30-40 tahun
41-50 tahun
> 50 tahun
SD
SMP
SMU
Perguruan Tinggi
PNS
Wiraswasta
Buruh
Hanya bertani
<Rp 600.000
Rp 600.000-Rp
800.000
Rp 800.000-Rp
1000.000
Rp 1000.000-Rp
2000.000
>Rp 2000.000
3-4 Orang

Jumlah
(Petani
Padi)
18
2

Persentase(%)
90
10

12
6
2
11
7
2

60
30
10
55
35
10

5
3
3
9
7

25
15
15
45
35

Jumlah
(Petani Vanili)
17
3
1
9
7
3
6
6
6
2
4
7
3
6
2

Persentase
(%)
85
15
5
45
35
15
30
30
30
10
20
35
15
30
10

20

15

15

10

50

2
4
5

10
20
25

3
2
6

15
10
30

Tanggungan

5-6 Orang
7-8 Orang
> 8 Orang

3
7
5

15
35
25

8
4
2

40
20
10

Sumber : Data Primer (diolah)


Kepemilikan lahan berkisar antara 0,02 0,41 ha yang terdiri atas sawah, tegal,
kebun dan kolam. Sedangkan luas lahan yang digunakan untuk usahatani vanili yaitu
berkisar antara 0,02 0,5 ha dan untuk usahatani padi antara 0,02-0,4 ha. Pendapatan
para responden terutama diperoleh dari bertani, disamping itu juga banyak yang bekerja
sebagai pegawai dan melakukan usaha budidaya tanaman perkebunan lainnya seperti
kelapa dan kakao. Umumnya dari keadaan yang ditemui di daerah penelitian bahwa
tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengusahakan padi maupun vanili tersebut
merupakan tenaga kerja dalam keluarga. Adapun tujuan penggunaan tenaga kerja oleh
para petani padi maupun vanili adalah sebagai upaya agar dapat menekan biaya
usahataninya.
Tingkat pendapatan para petani responden berkisar antara Rp 500.000 sampai Rp
2.500.000 serta pekerjaan yang dilakukan diluar usahatani terdiri dari Pegawai Negeri
Sipil (PNS), wiraswasta, dan buruh. Sementara itu terdapat juga responden yang tidak
melakukan kegiatan diluar usahatani dan hanya bertani saja.
Permodalan biasanya merupakan modal sendiri ataupun sedikit meminjam dari
keluarga. Hal ini adalah disebabkan karena tidak terbiasanya atau kekurang pahaman
mereka tentang arti dan peran usaha perbankan, juga karena adanya kekhawatiran mereka
bahwa nantinya akan mendapat hukuman bila tidak mampu mengembalikan pinjaman
tersebut sesuai perjanjian.
Pada proses pemasaran produksi tanaman vanili maupun padi terlihat adanya
kebiasaan ataupun rasa ketergantungan para petani kepada pedagang pengumpul. Kondisi

ini juga menyebabkan besarnya selisih harga jual yang di peroleh para petani karena tidak
langsung memasarkan padi maupun vanili, sehingga sangat diperlukan peran aktif dan
insentif harga yang menarik dari para pedagang di tingkat ini terutama kepada para petani
vanili agar tetap tertarik untuk mengusahakan dan tidak menelantarkan atau bahkan
mengganti tanaman vanilinya dengan tanaman lainnya.
Penentuan harga biasanya dilakukan oleh para pedagang dan para petani dengan
cara tawar menawar, namun biasanya lebih mendekati ke harga yang ditawarkan oleh
pedagang. Hal ini menggambarkan bahwa masih banyak petani menerima harga yang
seadanya, tanpa memiliki kemampuan untuk sekedar tawar menawar agar memperoleh
tingkat harga yang sedikit lebih baik dari harga seadanya tersebut.
Keadaan ini mengindikasikan bahwa betapa sangat pentingnya para petani
membentuk seperti kelompok pemasaran sehingga kedudukan mereka dalam bargainning
position bisa semakin kuat. Dalam hal ini peran pemerintah bisa saja membantu
memfasilitasi permodalan seperti jasa kredit yang lebih transparan, mudah dimengerti
oleh petani mengenai proses dan manfaatnya bagi para petani yang membutuhkannya.
Sebagian besar petani responden vanili menyatakan bahwa mereka tetap memiliki
rasa optimisme yang besar dimana vanili akan tetap mempunyai pangsa pasar
internasional (dunia) dan peluang ekspor yang meningkat berdasarkan informasi dari
media massa yang bisa mereka ketahui setiap hari. Hal ini dilatar belakangi kepercayaan
mereka bahwa vanili akan tetap dibutuhkan bahkan akan lebih diminati seiring dengan
perkembangan maupun makin beragamnya produk-produk olahan yang mempergunakan
vanili sebagai bahan bakunya. Namun peluang ini lebih sering tidak didukung dengan
tindakan perbaikan pemeliharaan tanaman vanilinya. Para petani lebih sering

membiarkan pertanaman vanili tumbuh dengan apa adanya, disebabkan adanya


ketidakpastian pasar dan harga vanili serta tingginya biaya pemeliharaan yang akan
dikeluarkan bila dilakukan tindakan pemeliharaan seperti yang dianjurkan para pemerhati
vanili. Untuk itu bukanlah hal yang mudah diharapkan dapat terjadinya perbaikan
produksi, mutu dan produktivitas vanili tersebut. Lain halnya dengan para petani vanili
yang mengusahakan vanili sepenuhnya untuk tujuan komersil (dijual) sebagai tanaman
investasi para petani responden padi menyatakan bahwa tujuan utama dari usahatani
mereka adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri (subsisten) untuk kemudian dijual
apabila kebutuhannya dirasa sudah tercukupi.

BAB VI
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DAN KELAYAKAN
USAHATANI VANILI

6.1. Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah per Hektar di Desa Cibongas
Pendapatan merupakan balas jasa dari kerjasama faktor-faktor produksi lahan,
tenaga kerja, modal, dan pengelolaan. Secara harfiah pendapatan dapat didefinisikan
sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang
dikeluarkan. Untuk mengukur keberhasilan usahatani dapat dilakukan dengan melakukan
analisis pendapatan usahatani, dengan melakukan analisis ini dapat diketahui gambaran
usahatani saat ini sehingga dapat melakukan evaluasi untuk perencanaan kegiatan
usahatani pada masa yang akan datang.
Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu
tertentu. Penerimaan usahatani merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total
padi sawah dengan harga jual dari hasil produksi tersebut. Biaya atau pengeluaran
usahatani adalah nilai penggunaan faktor-faktor produksi dalam melakukan produksi
usahatani.

Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang

diperhitungkan. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan


oleh petani untuk pembelian barang dan jasa bagi usahataninya. Untuk biaya yang
diperhitungkan merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan oleh petani.
Komponen penerimaan terdiri atas nilai produk yang dijual atau penerimaan yang
diterima secara tunai oleh petani serta produk yang dikonsumsi atau penerimaan yang
sebenarnya tidak diterima tunai oleh petani,

sedangkan yang tergolong biaya tunai

adalah yang dikeluarkan untuk biaya benih, pupuk, petisida, sewa alat bajak atau traktor,

pajak lahan atau Pajak Bumi dan Banguna dan biaya untuk membayar tenaga kerja luar
keluarga (TKLK). Sedangkan yang termasuk biaya diperhitungkan adalah biaya untuk
sewa lahan, upah tenaga kerja dalam keluarga (TKDK).
Pendapatan atas biaya tunai adalah jumlah pendapatan apabila menggunakan nilai
tunai baik itu biaya maupun manfaatnya diperoleh dengan cara pengurangan penerimaan
tunai oleh biaya tunai. Begitu pula dengan biaya total yaitu jumlah pendapatan yang
diterima apabila menggunakan nilai yang diperhitungkan, diperoleh dengan cara
mengurangi penerimaan yang diperhitungkan dengan biaya yang diperhitungkan,
sedangkan penerimaan total adalah pendapatan yang diperoleh setelah memperhitungkan
biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan, nilainya diperoleh dari hasil pengurangan
antara penerimaan total dengan biaya total.
6.1.1. Penerimaan Usahatani
Penerimaan usahatani padi dihitung dari jumlah output yang dihasilkan dari
budidaya padi tersebut. Untuk penghitungan penerimaan usahatani padi, komponen yang
dihitung adalah penjualan padi selama satu musim tanam. Jumlah produksi yang
dihasilkan dari usahatani padi, mencapai 4.798,35 kg dalam bentuk gabah kering panen
(GKP) dengan harga jual rata-rata Rp 2.500 perkilogram, penerimaan tunai yang
diperoleh petani dari produksi padi adalah Rp 6.888.900 atau 57,43 persen dari total
penerimaan usahatani diperoleh dari hasil perkalian antara produksi padi sawah perhektar
yang dijual yaitu 2.755,56 Kg dengan harga jual yang sama yaitu Rp 2.500 per kg.
Penerimaan diperhitungkan diperoleh dari

hasil kali antara produksi padi sawah

perhektar yang tidak dijual oleh keluarga petani sebesar 2.042,79 Kg dengan harga jual
yang sama yaitu Rp 2.500 per kg, maka penerimaan diperhitungkan yang diterima petani

adalah Rp 5.106.975 atau 42,57 persen dari total penerimaan usahatani. Rata-rata
pendapatan responden dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 11. Rata-rata Pendapatan Responden Petani Padi Per Musim Tanam per
Hektar di Desa Cibongas, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten
Tasikmalaya Periode Januari-April 2008
Uraian
A. Penerimaan Usahatani
A.1. Penerimaan Tunai
A.2. Penerimaan Diperhitungkan
A 3. Total Penerimaan Usahatani
B. Biaya Usahatani
B.1. Biaya Tunai
1. Benih
2.Pupuk
a. Urea
b. SP-36
c. KCL
d. Kandang
3. Pestisida
4. Tenaga Kerja Luar Keluarga
- Perempuan
- Laki-laki
5. Sewa Traktor
6. Pajak Lahan
7. Irigasi
Total Biaya Tunai
B.2 Biaya diperhitungkan
1.Sewa Lahan
2. Tenaga Kerja Dalam Keluarga
- Perempuan
- Laki-laki
3. Penyusutan Alat
Total Biaya Diperhitungkan
C Total Biaya Usahatani (B1+B2)
D. Pendapatan Atas Biaya Tunai
(A3-B1)
E. Pendapatan Atas Biaya Total
(A3-C)
F. Pendapatan Tunai
(A1-B1)
G. R/C Atas Biaya Tunai (A3/B1)
H. R/C Atas Biaya Total (A3/C)

Satuan Harga/satuan Volume


(Rp)

Nilai
(Rp)

Persentase
(%)

Kg
Kg
Kg

2500 2755,56 6.888.900


2500 2042,79 5.106.975
2500 4798,35 11.995.875

Kg

5000

24,83

124.150

1,48

Kg
Kg
Kg
Kg

2500 197,56
2000 132,54
2500
62,6
200 1860,34

493.900
265.080
156.500
372.068
272.037,69

5,89
3,16
1,87
4,44
3,24

60,75
26,86
1
1
1

911.250
537.200
830.466,4
44.333,29
175.000
4.181.985,34

12,32
7,27
11,23
0,60
2,37
56,52

2.399.177

32,43

16,79
27,21

251.850
544.200
21.262,5
3.216.489,5
7.398.474,84

3,40
7,36
0,27
43,48
100

HOK
HOK
Ha
Ha
Ha

15000
20000

Ha
HOK
HOK

15000
20000

57,43
42,57
100

7.813.889,66
4.597.408,16
2.706.914,66
2,86
1,62

Sumber : Data Primer (diolah)

Penerimaan total usahatani terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan


diperhitungkan. Penerimaan tunai yang diperoleh petani dari produksi sawahnya adalah

sebesar Rp 6.888.900 per hektar dan penerimaan diperhitungkan yang diterima petani
permusim tanam adalah Rp 5.106.975 per hektar sehingga total penerimaan yang
diperoleh petani permusim tanam adalah sebesar Rp 11.995.875 per hektar.
6.1.2. Biaya Usahatani
Biaya usahatani untuk usahatani padi terdiri atas dua komponen yaitu biaya tunai
dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai terdiri atas pembelian benih, upah Tenaga Kerja
Luar Keluarga (TKLK), biaya obat-obatan, pembelian pupuk, sewa traktor, dan pajak
lahan. Selain itu untuk biaya yang diperhitungkan diantaranya adalah biaya sewa lahan
dan Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK). Total biaya usahatani yang dikeluarkan
selama satu kali musim tanam adalah sebesar Rp 8.389.624,84. Biaya yang dikeluarkan
sepenuhnya dari petani itu sendiri. Sedangkan biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani
adalah Rp. 4.181.985,34 atau sebesar 56,54 persen dari besar total biaya usahatani
perhektar dengan biaya yang diperhitungkan Rp 3.216.489,5 atau sebesar 43,47 persen
dari total biaya usahatani.
Pengeluaran terbesar yang dikeluarkan oleh petani untuk usahatani padi sawah
adalah adalah sewa lahan yaitu sebesar Rp 2.399.177 per hektar atau sebesar 32,42 persen
dari total biaya usahatani. Sebagian besar petani responden merupakan petani pemilik
lahan, maka biaya untuk sewa lahan ini merupakan biaya yang diperhitungkan.
Pengeluaran terbesar kedua adalah untuk biaya tenaga kerja yaitu sebesar Rp 1.617.750,HOK per hektar atau 19 persen dari total biaya usahatani ditambah dengan biaya tenaga
kerja yang diperhitungkan yaitu biaya tenaga kerja dalam keluarga yaitu sebesar Rp
796.050,- HOK atau 10,76 persen dari total biaya usahatani. Jumlah pengeluaran total
untuk biaya tenaga kerja yaitu Rp 2.413.800 HOK per hektar atau sebesar 28,37 persen

dari total biaya usahatani.

Besarnya biaya untuk faktor produksi tenaga kerja ini

disebabkan karena tanaman padi sawah sangat rentan terhadap hama dan penyakit
sehingga usahatani ini sangat membutuhkan perawatan yang cukup intensif mulai dari
kegiatan pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman padi, seperti pemupukan, penyiangan,
pemberantasan hama dan penyakit sampai dengan kegiatan pemanenan.
Pengeluaran terbesar selanjutnya adalah untuk pembelian pupuk yaitu sebesar Rp
1.287.548 per hektar atau sekitar 17,41 persen dari total biaya usahatani. Besarnya biaya
untuk faktor produksi pupuk disebabkan karena padi merupakan tanaman yang boros
unsur hara. Oleh karena itu dibutuhkan pupuk yang banyak untuk memenuhi kebutuhan
hara untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan padi tersebut.

Pengeluaran

terbesar keempat adalah biaya untuk sewa traktor karena sebagian besar petani di Desa
Cibongas melakukan kegiatan pengolahan dengan menggunakan traktor. Biaya yang
dikeluarkan untuk sewa traktor yaitu Rp 830.466,4 per hektar atau sekitar 11,23 persen
dari total pengeluaran usahatani. Pengeluaran untuk biaya pestisida adalah sebesar Rp
272.037,65 perhektar atau sekitar 3,68 persen dari total biaya usahatani.
Total biaya usahatani padi sawah yang dikeluarkan petani di Desa Cibongas untuk
satu kali musim tanam adalah sebesar Rp 7.398.474,84 per hektar yang terdiri dari total
biaya tunai sebesar Rp 4.181.985,34 atau 56,53 persen dari total biaya usahatani dan
biaya yang diperhitungkan sebesar Rp 3.216.489,5 atau sebesar 43,47 persen dari total
biaya usahatani. Pendapatan atas biaya tunai usahatani diperoleh dengan mengurangi
total penerimaan dengan total biaya tunai, maka diperoleh pendapatan atas biaya tunai
sebesar Rp 7.813.889,66 per hektar. Pendapatan atas biaya total usahatani diperoleh
setelah total penerimaan dikurangi dengan total biaya usahatani, maka diperoleh

pendapatan atas biaya total sebesar 4.597.408,16 per hektar. Sedangkan pendapatan tunai
merupakan pengurangan antara penerimaan tunai dengan total biaya tunai, sehingga
pendapatan tunai yang diperoleh adalah sebesar Rp 2.706.914,66 per hektar.
Hasil analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis) menunjukkan
bahwa usahatani ini memiliki penerimaan yang lebih besar dibandingkan dengan biaya
usahatani. Hal ini ditunjukkan oleh nilai R/C rasio lebih besar dari satu. Nilai R/C rasio
atas biaya tunai adalah 2,87, artinya bahwa setiap

Rp 1 biaya tunai yang dikeluarkan

oleh petani akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 2,87. dengan memasukkan biaya
yang diperhitungkan sebagai komponen biaya total, maka nilai R/C rasio atas biaya total
adalah sebesar 1,62, artinya setiap Rp 1 biaya total yang dikeluarkan dapat menghasilkan
penerimaan sebesar Rp 1,62. Nilai R/C rasio yang lebih besar dari satu menunjukkan
bahwa usahatani padi sawah di Desa Cibongas layak untuk diusahakan.
6.1.3 Perbandingan Pendapatan Usahatani Padi
Analisis

perbandingan

pendapatan

usahatani

padi

dilakukan

untuk

membandingkan antara tingkat keuntungan dari usahatani atas perubahan-perubahan


yang terjadi. Dalam analisis ini dilakukan pengambilan contoh analisis pendapatan yang
dapat mewakili kejadian yang akan terjadi dengan bahan pertimbangan kejadian-kejadian
pada tahun sebelumnya.
Analisis ini membandingkan tingkat keuntungan dari beberapa usahatani ketika
terjadi perubahan biaya input maupun harga jual output. Variabel-variabel input yang
digunakan adalah kenaikan harga pupuk, benih, upah tenaga kerja, sewa traktor
sedangkan untuk variabel output terjadi penurunan harga jual.

Berikut ini

Tabel hasil perbandingan antara usahatani permusim dengan perubahan

output maupun input.


Tabel 12. Hasil Perbandingan antara Usahatani Padi Permusim dengan Perubahan
Output maupun Input
Variabel
yang
berubah
Harga
Benih
(10%)
Harga
Pupuk
(10%)
Harga
Pestisida
(10%)

Total Biaya
Atas
Usahatani
(Rp)

Pendapatan
Atas Biaya
Tunai
(Rp)

Pendapatan
Atas Biaya
Total
(Rp)

Pendapatan
Tunai
(Rp)

R/C
Atas
Biaya
Tunai

R/C
Atas
Biaya
Total

7.410.889,84

7.891.474,66

4.584.985,16

2.694.499,66

2,86

1,62

7.527.229,64

7.685.134,86

4.468.645,36

2.578.159,86

2,78

1,59

7.125.678,61

7.786.685,90

4.570.196,40

2.679.710,90

2,85

1,62

7.622.924,84

7.669.044,66

4.372.950,16

2.562.069,66

2,77

1,57

7.481.521,48

7.730.843,02

4.514.353,52

2.623.868,02

2,81

1,60

7.409.958,16

7.802.806,34

4.586.316,84

2.685.831,34

2,86

1,61

7.398.474,84

6.614.302,16

3.397.812,66

2.018.024,66

2,58

1,46

Harga Upah
(10%)
Harga sewa
Traktor
(10%)
Harga Pajak
Lahan
(25%)
`Penurunan
Harga jual
(10%)

Sumber : Data Primer (diolah)


Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel tersebut, usahatani padi dengan adanya
kenaikan harga input ataupun penurunan harga output, tetap memberikan keuntungan dan
usahatani masih bersifat layak untuk diusahakan. Ketika terjadi peningkatan harga benih
sebesar 10 persen, total biaya atas usahatani adalah sebesar Rp 7.410.889,84. Pendapatan
atas biaya tunai sebesar Rp 7.891.474,66 sedangkan pendapatan atas biaya total yaitu Rp
4.584.985,16. Pendapatan tunai sebesar Rp 2.694.499,34. R/C atas biaya total yaitu
sebesar 2,86 artinya setiap setiap Rp 1 biaya total yang dikeluarkan dapat menghasilkan

penerimaan sebesar 2,86 sedangkan R/C atas biaya tunai sebesar 1,62 yang artinya setiap
setiap Rp 1 biaya total yang dikeluarkan dapat menghasilkan penerimaan sebesar Rp
1,62. karena B/C lebih dari satu, maka usahatani padi dengan perubahan kenaikan biaya
benih 10 persen masih menguntungkan dan layak untuk di usahakan.
Ketika terjadi peningkatan harga pupuk sebesar 10 persen, total biaya atas
usahatani adalah sebesar Rp 7.527.229,64.

Pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp

7.685.134,86 sedangkan pendapatan atas biaya total sebesar Rp 4.468.645,36. Pendapatan


tunai sebesar Rp 2.578.159,86. R/C atas biaya total yaitu sebesar 2,78 nilai R/C atas
biaya tunai adalah 1,59.
Perubahan harga pestisida yang mengalami kenaikan sebesar 10 persen total biaya
usahatani adalah sebesar Rp 7.125.678,61 dengan nilai pendapatan atas biaya tunai
sebesar Rp 7.786.685,90 dan nilai pendapatan atas biaya total adalah sebesar

Rp

4.570.196,40 pendapatan tunai yang diterima petani adalah Rp 2.679.710,90.

Hasil

perhitungan menunjukkan nilai R/C rasio atas biaya total sebesar 2,84 dan R/C rasio
untuk biaya tunai adalah 1,62.
Kenaikan harga upah sebesar 10 persen menghasilkan total biaya atas usahatani
sebesar Rp 7.622.924,84 dan pendapatan atas biaya tunai Rp 7.669.044,56 sedangkan
pendapatan atas biaya total adalah Rp 4.372.950,16 Pendapatan tunai yang diterima
petani sebesar Rp 2.526.206,66 Nilai R/C rasio yang diperoleh adalah 2,77 untuk R/C
atas biaya total dan 1,57 untuk R/C atas biaya tunai.
Ketika terjadi kenaikan harga sewa traktor sebesar 10 persen maka total biaya
usahatani yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 8.472.671,48. Pendapatan atas biaya tunai
adalah Rp 7.561.543,02 dan pendapatan atas biaya total adalah Rp 3.523.203,52 serta

pendapatan total yaitu Rp 2.454.568,02. Nilai R/C biaya total adalah 2,701dan R/C atas
biaya tunai sebesar 1,41.
Harga pajak lahan yang mengalami kenaikan sebesar 25 persen akan
menyebabkan total biaya usahatani menjadi Rp 8.406.249,82 begitu pula dengan
pendapatan atas biaya tunai yang berubah menjadi Rp 7.627.964,68 Pendapatan atas
biaya total yang diterima petani sebesar Rp 3.589.625,18 dan pendapatan tunai sebesar
Rp 2.520.989,68 nilai R/C rasio yang diperoleh yaitu 2,73 dan 1,43 masing-masing
merupakan R/C rasio atas biaya total dan R/C rasio atas biaya tunai.
Perubahan harga jual yang mengalami penurunan sebesar 10 persen akan
menyebabkan total biaya atas usahatani berubah menjadi Rp 8.400.708,16 dan
pendapatan atas biaya tunai juga menjadi Rp 6.433.918,84 serta pendapatan atas biaya
total menjadi sebesar Rp 2.395.579,34.

Sedangkan untuk pendapatan tunai yang

diperoleh petani menjadi Rp 1.837.641,34. Nilai R/C rasio atas biaya total dan biaya
tunai masing-masing adalah 2,47 dan 1,29.
Perubahan-perubahan yang terjadi atas variabel-variabel diatas, baik itu
perubahan kenaikan harga input maupun penurunan harga output tetap memberikan hasil
yang menunjukkan bahwa usahatani padi tersebut bersifat layak, terlihat dari nilai R/C
rasio dari masing-masing perubahan yang masih lebih besar dari satu. Pendapatan yang
diterima dari masing-masing perubahan tersebut juga masih menunjukkan nilai yang
positif.
6.2. Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Vanili
6.2.1. Nilai Arus Tunai Usaha

Perhitungan nilai arus tunai sangat diperlukan untuk mengetahui arus biaya dan
penerimaan secara periodik dari usahatani vanili di daerah penelitian. Nilai arus tunai
(cashflow) memuat perhitungan penerimaan, biaya investasi, dan biaya operasional yang
meliputi biaya variabel, dan biaya tetap serta net benefit selama umur proyek berjalan.
Komponen penerimaan yang terdapat dalam perhitungan cashflow adalah nilai penjualan
produk. Penerimaan yang masuk dalam cashflow budidaya vanili adalah sebesar Rp
57.846.187,5 pada tahun kelima sampai tahun kesepuluh, sedangkan untuk tahun kesatu
sampai tahun keempat belum ada komponen penerimaan yang masuk ke cashflow karena
tanaman vanili baru berproduksi pada tahun kelima. Biaya yang yang dikeluarkan dari
tahun kesatu hingga tahun keempat yaitu sebesar Rp. 14.834.565.
Biaya yang masuk ke dalam cashflow terbagi menjadi dua macam yaitu biaya
sarana dan prasarana serta biaya tenaga kerja. Biaya sarana dan prasarana terdiri dari
biaya pembelian bibit vanili, stum lamtoro, pupuk kandang, pestisida, handsprayer dan
biaya perlengkapan lainnya. Biaya tenaga kerja terdiri dari biaya persiapan lahan,
penanaman lamtoro, penanaman vanili, pemeliharaan, penyerbukan dan pemanenan.
Biaya yang dikeluarkan untuk sarana dan prasarana Rp 18.278.743,4 sementara itu untuk
biaya tenaga kerja sebesar Rp 19.844.432,4, sehingga biaya total selama sepuluh tahun
proyek adalah sebesar Rp 38.123.175,8.
6.2.2. Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk menilai secara finansial apakah
suatu proyek layak untuk dilaksanakan. Dalam analisis finansial dilakukan pengukuran
terhadap berbagai kriteria investasi yaitu Net Present value, Gross B/C, Internal Rate of
return, Break Even Point dan Payback Period (Lampiran 1).

A. Net Present Value (NPV)


Perhitungan NPV dilakukan untuk usahatani vanili menggunakan tingkat diskonto
16 persen. Dari perhitungan dihasilkan nilai NPV pada usahatani vanili sebesar Rp
8.593.840,85. Nilai NPV merupakan jumlah total penjumlahan Present Value tiap tahun
dari tahun ke-nol sampai tahun ke-sembilan, menunjukkan selisih antara nilai sekarang
dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih dimasa yang
akan datang. NPV pada usahatani vanili sebesar Rp 8.593.840,5 lebih besar dari nol
artinya usahatani vanili layak untuk dilaksanakan.
B. Gross Benefit/Cost (Gross B/C)
Perhitungan gross B/C pada usahatani vanili menghasilkan nilai gross B/C sebesar
2,1 dimana nilai tersebut lebih besar dari satu (2,1>1) yang artinya setiap pengeluaran
sebesar Rp 1 akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 2,1. Nilai tersebut diperoleh dari
hasil pembagian antara total biaya manfaat sebesar

Rp 82.219.925 dengan biaya

total pengeluaran sebesar Rp 39.208.302,9


C. Internal Rate of Return (IRR)
Nilai Internal Rate of Return menggambarkan kemampuan pengembalian
investasi suatu proyek terhadap pengeluaran investasinya.

Pemakaian nilai IRR ini

khususnya ditujukan bagi para investor untuk memperkirakan pengembalian investasi


yang akan diterimanya atas proyek yang diinvestasikannya.

Nilai IRR selalu

dibandingkan dengan tingkat bunga yang berlaku seperti tabungan ataupun deposito.
Nilai IRR yang lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku menyebabkan proyek
investasi menarik bagi investor. Usahatani vanili ini dibandingkan dengan tingkat bunga
16 persen. Nilai IRR untuk usahatani vanili ini adalah sebesar 30,56 persen, artinya

tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang
penerimaan kas bersih di masa yang akan datang adalah tingkat bunga 30,56 persen.
proyek tersebut layak untuk dilaksanakan karena IRR lebih besar dari tingkat suku bunga
yang berlaku (30,56>16).
D. Payback Period
Payback Period merupakan penetapan jangka waktu maksimum untuk
mengembalikan jumlah nilai investasi yang telah dikeluarkan (A. Kartamihardja, 1983).
Payback period menggambarkan waktu yang dibutuhkan oleh sebuah proyek investasi
untuk melunasi seluruh pengeluaran investasinya. Metode ini tidak memperhitungkan
nilai uang menurut waktu. Payback period proyek ini adalah 5,71 tahun.
6.2.3. Analisis Sensitivitas
Nilai NPV, gross B/C dan IRR yang diperoleh dari perhitungan diatas
menunjukkan bahwa usahatani vanili masih layak untuk diusahakan. Namun seringkali
proyeksi-proyeksi yang telah dilakukan mengandung ketidakpastian dalam beberapa
harga, seperti perubahan pada harga bibit, harga pupuk, harga pestisida, penurunan harga
jual dan naiknya biaya tenaga kerja yang digunakan. Untuk kejadian-kejadian seperti itu
maka diperlukan analisis sensitivitas terhadap perubahan-perubahan yang mungkin
terjadi. Perkiraan perubahan biaya variabel didasarkan pada perubahan-perubahan yang
terjadi di daerah penelitian dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
1. Kenaikan biaya produksi
Biaya produksi yang mengalami fluktuasi dalam usahatani vanili adalah
perubahan harga bibit, perubahan biaya pupuk, dan perubahan biaya tenaga kerja,

Fluktuasi harga bibit didaerah penelitian mengalami peningkatan harga bibit


sebesar 15 persen menyebabkan perubahan pada nilai NPV menjadi

Rp

8.593,684 dan IRR menjadi 27,78, B/C rasio menjadi 2,07 serta payback period
menjadi 5,72 tahun dan usahatani vanili masih layak diusahakan

Fluktuasi harga pupuk yang terjadi di daerah penelitian mengalami peningkatan


sebesar 10 persen juga menyebabkan perubahan pada nilai NPV menjadi Rp
8.122.132 dan IRR menjadi 25,92, B/C rasio menjadi 2,05 serta payback period
menjadi 5,72 tahun dan usahatani vanili juga masih layak diusahakan

Biaya kerja di daerah penelitian dalam kurun waktu tiga tahun terakhir mengalami
kenaikan 10 persen menyebabkan nilai NPV berubah menjadi

Rp 7.696.709,597

dan IRR menjadi 25,08, B/C rasio menjadi 1,99 serta payback period menjadi
5,72 tahun dan usahatani vanili juga masih layak diusahakan
2. Perubahan harga jual produk
Terjadi fluktuasi perubahan harga jual usahatani vanili, yaitu harga jual produk
mengalami penurunan sebesar 10 persen. Dengan demikian yang akan digunakan dalam
perhitungan analisis sensitivitas sebesar -10 persen dengan NPV Rp 5.852.977,329, IRR
25,34, dan B/C rasio 1,89 serta payback period 5,74 tahun dan usahatani vanili juga
masih layak diusahakan
3. Perubahan volume produksi
Perubahan yang akan dipakai dalam analisis sensitivitas volume produksi
menggunakan penurunan produktivitas sebesar 5 persen dari volume produksi. Sehingga
NPV berubah menjadi Rp 7.223.408,969, IRR menjadi 28,7 dan B/C rasio menjadi 1,99
serta payback period 7,39 tahun dan usahatani vanili masih layak diusahakan.

Hasil perhitungan analisis usahatani vanili dengan penurunan harga jual,


penurunan volume produksi, kenaikkan harga bibit, harga pupuk dan biaya tenaga kerja
perubahan dapat dilihat pada Lampiran 2 sampai Lampiran 5.

Berdasarkan hasil

perhitungan analisis sensitivitas terlihat bahwa penurunan harga jual merupakan faktor
yang paling berpengaruh terhadap kelayakan usahatani vanili.
6.2.4. Analisis Nilai Pengganti (Switching Value)
Analisis switching value dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat
perubahan yang dapat ditolerir oleh proyek agar proyek dapat dilaksanakan. Untuk
mendapatkan nilai perubahan yang menyebabkan proyek impas dan tetap layak
dilaksanakan, harus dicoba beberapa tingkat perubahan yang menyebabkan nilai NPV
sama dengan nol.

Perubahan dapat dilakukan untuk menurunkan nilai NPV atau

menaikkan nilai NPV sesuai dengan kondisi awal proyek. Jika hasil perhitungan analisis
kelayakan menghasilkan nilai NPV lebih besar daripada nol (positif) maka harus
dilakukan perubahan yang mengarah penurunan nilai NPV.
Dalam analisis usahatani vanili digunakan skenario penurunan nilai NPV sama
dengan nol, hal ini disebabkan karena nilai NPV proyek positif. Angka dari hasil analisis
ini menunjukkan nilai maksimum perubahan yang dapat ditolerir oleh usahatani vanili
agar proyek ini dapat tetap dilaksanakan. Perubahan melebihi nilai maksimum akan
menyebabkan proyek menjadi tidak layak untuk diusahakan.
1. Peningkatan biaya
Hasil analisis switching value menunjukkan peningkatan biaya total maksimum yang
dapat ditolerir oleh proyek usahatani vanili adalah sebesar 45,75 persen (Lampiran 6).
Peningkatan biaya sebesar 45,75 persen menyebabkan Net Present Value bernilai nol

pada Discount factor 16 persen. Peningkatan biaya lebih dari jumlah tersebut proyek
tidak layak untuk dilaksanakan.
2. Penurunan penerimaan
Penurunan penerimaan total yang masih dapat ditolerir oleh proyek adalah 17,8
persen (Lampiran 7). Pada tingkat ini didapat nilai Net present value sebesar nol
pada discount factor 16 persen. Penurunan penerimaan lebih dari itu akan menjadikan
proyek tidak layak untuk diusahakan.

BAB VII
PERBANDINGAN KEUNTUNGAN USAHATANI PADI DAN VANILI

7.1. Aspek Finansial


7.1.1. Pendapatan Usahatani Padi
Rata-rata pendapatan tunai yang dihasilkan dari usahatani padi dalam satu kali
musim tanam adalah Rp 2.706.914,66 untuk menghitung perkiraan rata-rata pendapatan
dalam satu tahun diperoleh dengan cara mengalikan jumlah pendapatan dari rata-rata
pendapatan satu kali musim tanam dengan jumlah musim tanam dalam dua tahun yaitu
lima kali musim tanam. Jadi rata-rata pendapatan tunai yang diperoleh petani dalam dua
tahun adalah Rp 13.534.573,3 dengan asumsi kondisi lingkungan serta faktor-faktor
produksi bersifat tetap.
Karena pendapatan usahatani padi akan dibandingkan dengan pendapatan
usahatani vanili, maka pendapatan usahatani harus disesuaikan dengan umur proyek
vanili selama 10 tahun, oleh karena itu dilakukan konversi nilai pendapatan dua tahun

terhadap nilai pendapatan 10 tahun menjadi Rp 67.672.866,5 juga dengan menggunakan


asumsi seluruh variabel faktor produksi bersifat tetap.
7.1.2. Pendapatan Usahatani Vanili
Pendapatan usahatani vanili belum bisa diterima pada musim tanam pertama
sampai musim tanam keempat,

karena komoditas ini baru bisa berproduksi dan

menghasilkan buah pada tahun tanam

keempat (tahun kelima), oleh karena itu

pendapatan yang didapat selama sepuluh tahun merupakan pendapatan yang diperoleh
pada tahun tanam keempat sampai umur terakhir proyek pada tahun tanam ke enam.
Tahun pertama hingga tahun kelima belum menghasilkan pendapatan karena
vanili belum menghasilkan, biaya yan diperlukan dari tahun pertama sampai tahun ke
empat adalah Rp 14.834.565,4 dan pendapatan yang dihasilkan pada tahun tanam kelima
hingga tahun tanam ke sembilan yaitu Rp 57.846.187,5 sehingga pendapatan total yang
didapatkan oleh petani selama 10 tahun masa tanam adalah Rp 43.011.622,1. Jumlah
tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan besar pendapatan yang dihasilkan oleh
komoditi padi.
7.2. Aspek Lingkungan
Aspek lingkungan termasuk sebagai aspek sosial. Aspek sosial yaitu aspek yang
bersifat intangible dimana keuntungan ataupun dampaknya sulit dihitung. Pertimbangan
analisis sosial harus dipertimbangkan secara cermat agar dapat menentukan apakah suatu
usahatani atau proyek bertanggung jawab terhadap keadaan sosial tidak terkecuali aspek
lingkungan diantaranya memperhatikan kualitas hidup masyarakat.

Pihak yang

melaksanakan suatu proyek juga harus mempertimbangkan masalah dampak lingkungan


(Lee 1982 dalam Gittinger 1986)

7.2.1. Aspek lingkungan Usahatani Padi


Selain aspek finansial yang hanya mengidentifikasi jumlah pendapatan yang
diperoleh juga dilakukan identifikasi mengenai aspek lingkungan terkait dengan adanya
isu pemanasan global yang telah melanda dunia. oleh karena itu dilakukan identifikasi
dampak lingkungan terhadap komoditi padi karena tanaman ini diketahui merupakan
salah satu komoditi pertanian yang berperan besar dalam menyebabkan adanya
pemanasan global.
Tanaman padi berperan aktif sebagai media pengangkut metana dari lahan sawah
ke atmosfer. Lebih dari 90 persen metana diemisikan melalui jaringan aerenkima dan
ruang interseluler tanaman padi, sedangkan kurang dari 10 persen sisanya dari gelembung
air. Kemampuan tanaman padi dalam mengemisi metana beragam, bergantung pada sifat
fisiologis dan morfologis suatu varietas. 9 Selain itu, masing-masing varietas mempunyai
umur dan aktivitas akar yang berbeda yang erat kaitannya dengan volume emisi metana.
Pemilihan varietas padi yang ditanam di suatu daerah ditentukan oleh potensi hasil panen,
kondisi ekosistem, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit endemik serta kondisi
ekstrim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap varietas padi menghasilkan emisi
metana yang berbeda-beda, sehingga penggunaan varietas yang tepat diharapkan dapat
menekan emisi metana. Padahal jumlah varietas padi sangat banyak. Oleh karena itu
diperlukan penelitian yang berkelanjutan untuk mengetahui varietas padi yang mampu
menekan emisi metana. Penekanan emisi metana dengan menanam varietas yang tepat
merupakan pilihan yang paling mudah diterapkan petani. Apalagi varietas-varietas padi
yang diintroduksikan ke petani mempunyai daya hasil yang tinggi atau minimal sama

Varietas padi Rendah Emisi Gas, Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. www.pustaka-deptan.go.id
diakses tanggal 15 juni 2008

dengan varietas yang biasa ditanam petani. Hasil pengujian beberapa varietas padi sawah
irigasi, sawah tadah hujan maupun sawah pasang surut sejak tahun 1995 menunjukkan
bahwa varietas Cisadane mengemisi metana paling tinggi, sedangkan IR36 dan Dodokan
paling rendah. Cisadane diduga mempunyai kemampuan fotosintesis yang lebih baik dari
varietas lain sehingga eksudat akar yang dihasilkan lebih mudah terdegradasi.
Tabel 13. Emisi metana dan hasil gabah beberapa varietas padi yang ditanam 10

10

Ekosistem/varietas

Emisi CH4 (Kg/ha)

Hasil (Ton/ha)

Dodokan

74

3,3

Indeks produksi padi


per Kg
44,5

Balian

115

5,1

44,3

Maros
Cisantana

117
124

4,3
5,4

36,7
43,5

Muncul

127

4,6

36,2

Way Apoburu

154

7,4

48,1

Memberamo

173

7,4

42,8

Ciherang

175

5,8

33,1

IR64

176

6,7

38,1

Tukad Unda

185

5,3

28,6

Batang Anai

196

4,5

23,2

Cisadane

218

6,4

29,4

IR36

112

4,9

43,8

Martapura

171

5,99

34,9

Sei Lalan

153

6,75

42,2

Indragiri

141

6,03

42,7

Setyanto, Prihastyo. Warta Penelitian dan pengembangan Pertanian Vol.28 No.24.2006 diakses tanggal 9
Juni 2008

Punggur

105

5,65

63,4

Padi merupakan sumber bahan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat
Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaannya sangat diperlukan dalam rangka mendukung
kestabilan pangan nasional. Sementara pemerintah terus menerus mengadakan program
peningkatan produktivitas pangan termasuk padi, tetapi kurang memperhatikan dampakdampak yang terjadi dengan adanya peningkatan produktivitas tersebut, terutama yang
akan dihasilkan oleh tanaman padi.
Padi

merupakan

tanaman

pangan

yang

mempunyai

kemampuan

aktif

menyalurkan metana dari lahan sawah ke atmosfer, seperti diketahui metana merupakan
salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi pada peningkatan pemanasan global. Lahan
sawah Indonesia yang luasnya sekitar 10,9 juta hektar diduga memberi kontribusi sekitar
1 persen dari total global metana. 11
Dilihat dari penggunaan pupuk, padi membutuhkan berbagai macam pupuk kimia
seperti urea, SP-36, KCL, dan ZA selain itu diperlukan juga pestisida kimia seperti
pestisida cair maupun pestisida padat. Semakin banyak bahan kimia yang digunakan
tentu saja lebih berbahaya terhadap lingkungan.

Dilihat dari perakarannya, padi

merupakan tanaman dengan akar serabut sehingga tidak bisa dijadikan sebagai tanaman
konservasi.
7.2.2. Aspek Lingkungan Usahatani Vanili
Upaya penanggulangan pemanasan global adalah dengan pengurangan jumlah gas
CO2 di atmosfir dengan mereduksi pemanfaatan bahan bakar fosil dan produksi gas
rumah kaca, menekan atau menghentikan penggundulan hutan, serta penghutanan

11

Dampak Pemanasan Global Bagi Indonesia. www.handy.hagemman.com, diakses tanggal 15 juni 2008

kembali tanah-tanah kritis secara besar-besaran untuk menciptakan wilayah serapan gas
CO serta melokalisasi gas CO2 atau dengan menangkap dan menyuntikkannya ke dalam
sumur-sumur minyak bumi. Peran perkebunan menjadi sangat penting terkait dengan hal
tersebut, karena dapat berperan sebagai wilayah serapan CO2. Tanaman perkebunan yang
bersifat tahunan seperti karet, kelapa sawit, kelapa, kakao maupun vanili dapat sekaligus
menjadi tanaman penghijauan untuk lahan-lahan gundul atau kritis yang di sisi lain
memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat. Tanaman perkebunan seperti jambu
mente dan jarak pagar merupakan jenis tanaman yang cocok untuk konservasi lahan
karena dapat tumbuh dengan baik di lahan kritis dan relatif mampu bertahan di wilayah
kering.
Usaha tani perkebunan sebagai kegiatan produksi menghasilkan limbah dari
kegiatannya berupa sampah-sampah organik hasil pembersihan kebun dan sampah ikutan
dari pembelian bahan-bahan sarana produksi berupa bekas kemasan pupuk organik
maupun anorganik, botol-botol dari plastik dan gelas bekas kemasan pupuk daun
(gandasil) dan fungisida. Jumlah limbah bekas kemasan ini tidak begitu banyak dan
dapat dikelola dengan cara dijual kepada lapak pemulung barang bekas, atau dipakai
sendiri untuk keperluan lain. Sedangkan limbah organik berupa rerumputan, sisa-sisa
daun dan batang pohon vanili yang ditebang pada waktu proses pemangkasan dan
pembersihan kebun biasanya dikumpulkan disuatu tempat untuk dijadikan kompos.
Vanili merupakan tanaman perkebunan yang biasanya di tanam di dataran dataran
tinggi, tanaman ini membutuhkan tanaman penegak sebagai tempat merambat, tanaman
untuk merambat tersebut biasanya merupakan tanaman perakaran tunggang yang kuat
seperti lamtoro (digunakan di daerah penelitian) sehingga tanaman tersebut cocok

ditanam sebagai tanaman konservasi karena mampu menyerap dan menyimpan air
sehingga dapat mencegah loncor ketika terjadi hujan.
Dilihat dari penggunaan pupuk tanaman vanili hanya menggunakan pestisida
sebagai pupuk kimianya, karena sebagian besar pupuk yang digunakan adalah pupuk
organik.

Sedangkan pestisida kimia yang digunakan adalah insektisida dan fungisida

dalam jumlah terbatas. Usahatani vanili sebagai kegiatan produksi menghasilkan limbah
dari kegiatannya berupa sampah-sampah organik hasil pembersihan kebun dan sampah
ikutan dari pembelian bahan-bahan sarana produksi berupa bekas kemasan pupuk organik
maupun anorganik, botol-botol dari plastik dan gelas bekas kemasan pupuk daun
(gandasil) dan fungisida. Jumlah limbah bekas kemasan ini tidak begitu banyak dan
dapat dikelola dengan cara dijual kepada lapak pemulung barang bekas, atau dipakai
sendiri untuk keperluan lain. Sedangkan limbah organik berupa rerumputan, sisa-sisa
daun dan batang pohon vanili yang ditebang pada waktu proses pemangkasan dan
pembersihan kebun biasanya dikumpulkan disuatu tempat untuk dijadikan kompos.
Dilihat dari penggunaan pupuk maupun kemampuannya sebagai tanaman
konservasi, tanaman vanili lebih bersifat ramah lingkungan dibandingkan dengan
komoditi padi, sehingga dilihat dari aspek lingkungan komoditi vanili lebih disarankan
ditanam oleh para petani karena meskipun keuntungannya tidak sebesar keuntungan yang
diperoleh dari usahatani padi, komoditi vanili tentu saja akan lebih besar peranannya
dalam melestarikan lingkungan dan mengurangi pengaruh pemanasan global.

7.3. Dampak Isu Pemanasan Global Bagi Produktivitas dan Penggunaan Lahan
Pertanian di Desa Cibongas.

Pemanasan global kini tengah menjadi perhatian dunia, dampak pemanasan


adalah terjadinya perubahan iklim yang selanjutnya akan mempengaruhi kehidupan di
bumi. Perubahan iklim merupakan ancaman yang serius bagi kehidupan di bumi karena
akan memberikan dampak seperti naiknya permukaan laut akibat mencairnya es dan
gletser di kutub, naiknya curah hujan di sebagian belahan bumi dan di belahan lain terjadi
kekeringan, serta penyebaran penyakit tropis dan punahnya beberapa spesies karena tidak
mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Secara global suhu bumi mengalami peningkatan 0,8

C sejak satu abad yang

lalu. Peningkatan suhu tersebut disebabakan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah
kaca seperti metana dan karbondioksida di atmosfer akibat kegiatan manusia yang
berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak, gas, batubara dan adanya
alih fungsi lahan serta aktivitas pertanian.
Isu pemanasan global yang bergulir akhir-akhir ini cukup mendapat perhatian
bagi sebagian besar petani padi dan pengusaha komoditi vanili di Kabupaten
Tasikmalaya. Masing-masing pengusaha tani baik padi maupun vanili, sedikit banyak
merasakan dampak yang terjadi akibat pemanasan global seperti perubahan siklus hujan,
serta kekeringan. Gejala-gejala tersebut tentu mempengaruhi produktivitas dari usahatani
baik petani padi maupun petani vanili.
Walaupun demikian produktivitas dan penggunaan lahan komoditi baik padi
maupun vanili tetap stabil, bahkan cenderung meningkat karena para petani masih
mampu mengatasi kendala yang terjadi. Tren komoditi pangan utama sebagai makanan
pokok yang terus diusahakan serta diupayakan ketersediaanya begitu pula dengan para
petani vanili yang dijalani oleh pengusaha tani di Kabupaten Tasikmalaya telah

berlangsung lama sebelum isu pemanasan global terjadi. Selain itu, para petani di Desa
penelitian juga menyadari bahwa pola usahatani berbagai aspek, baik finansial, maupun
sosial dan lingkungan, yaitu mengharapkan kesejahteraan sosial dengan tetap
memperhatikan lingkungan agar terjaga dari kerusakan- kerusakan sehingga nantinya
dapat diwariskan ke anak cucu mereka, terlihat dengan telah diadakannya program
pertanian padi organik yang diselenggarakan sebagai program dari pemerintahan
setempat walaupun masih terdapat berbagai kendala seperti ketidakyakinan dari para
petani itu sendiri dalam melaksanakannya, sehingga masih sedikit para petani yang
bersedia mengubah sistem pertanian mereka menjadi sistem pertanian organik.

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN
8.1 Kesimpulan

1. Analisis pendapatan usahatani padi di Desa Cibongas menunjukkan bahwa komoditi


tersebut menguntungkan terlihat dari nilai R/C rasio atas biaya total sebesar 1,62 yang
artinya setiap pengeluaran biaya total usahatani sebesar Rp 1 akan menghasilkan
penerimaan sebesar 1,62, sedangkan untuk R/C rasio atas biaya tunai sebesar 2,86
yang artinya setiap pengeluaran biaya tunai sebesar Rp 1 akan menghasilkan
pendapatan sebesar Rp 2,86
2. Analisis kelayakan usahatani vanili di Desa Cibongas bersifat layak. Hal ini terlihat
dari NPV yang bernilai positif yaitu sebesar Rp 8.593.840,85, IRR yang lebih besar
dari tingkat suku bunga (30,56>16), nilai gross B/C sebesar 2,1 dan nilai payback
periodnya adalah 5,71 tahun.
3. Dilihat dari aspek finansial, analisis pendapatan usahatani padi menunjukkan bahwa
usahatani tersebut mampu memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani yaitu
sebesar Rp 67.672.866,5 selama 10 tahun dibandingkan dengan usahatani vanili yang
menghasilkan keuntungan pendapatan petani sebesar

Rp 43.011.622,1 selama 10

tahun umur proyek, tetapi apabila dilihat dari aspek lingkungan, komoditi vanili lebih
ramah lingkungan karena lebih sedikit dalam penggunaan bahan-bahan kimia.
Sehingga apabila mempertimbangkan kedua aspek tersebut, tanaman vanili dipilih
sebagai rekomendasi karena selain ramah lingkungan, usahatani vanili masih
menguntungkan walaupun tingkat keuntungannya lebih rendah dibandingkan dengan
usahatani padi.
8.2. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan peneliti berdasarkan hasil analisis, yaitu :

1. Dalam menentukan suatu proyek ataupun usahatani penting dilakukan pertimbangan


dari berbagai aspek, tidak hanya mementingkan aspek finansial yang bersifat profit
oriented, tetapi aspek lain yang lebih penting menyangkut kepentingan orang banyak
seperti aspek lingkungan demi terciptanya sistem pertanian yang berkelanjutan,
dengan demikian komoditi vanili lebih dianjurkan untuk ditanam di dataran tinggi
karena lebih bersifat ramah lingkungan dibandingkan dengan komoditi padi.
2. Diperlukan kebijakan pertanian ke depan tidak saja hanya terkonsentrasi

pada

peningkatan produktivitas saja, namun juga mengintroduksi isu pemanasan global.


Walaupun penanggulangan pemanasan global memang tidak secara langsung
berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat maupun pemberantasan
kemiskinan, namun permasalahan ini sangat terkait dengan kelangsungan hidup umat
manusia di masa yang akan datang.
3. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya pada sektor pertanian terutama komoditaskomoditas didataran tinggi maupun dataran rendah. Hal ini mengingat dampak
pemanasan global yang kian hari mengganggu stabilitas lahan tanam komoditas
pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
Aisah, Siti. 2002. Analisis Kelayakan Usaha Florist di Pusat Promosi dan Pemasaran
Bunga/ Tanaman Hias, Rawa Belong Jakarta. Skripsi. Departemen Ilmuilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Apriyadi, Andri.2003. Analisis Usaha dan Nilai Tambah Pengelolaan Ikan Pada Industri
Kerupuk Udang di Indramayu. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial
Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Tasikmalaya. Kabupaten Tasikmalaya Dalam Angka
2006. BPS. Tasikmalaya.
Basuki, Thohir. 2008. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Petani Untuk Menanam Padi Hibrida. Skripsi. Departemen
Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor.
Brown, Maxwell L. 1979. Farm Budgets, From farm Income Analysis to Agricultural
Project Analysis. The Jhon Hopkins University Press, Baltimore and
London.
Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya. 2005. Budidaya Padi .Tasikmalaya.
Gittinger, J Price.1986. Analisa Ekonomi
Indonesia (UI- Press). Jakarta.

Proyek-proyek Pertanian. Universitas

Gunawan , Prayitno. 2004. Analisis Pendapatan Usahatani dan Sistem pemasaran Pisang
Lampung, Kasus Desa Bumi Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi
Lampung. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Hantari, Indiarti. 2007. Analisis Pendapatan dan Produksi Usahatani Padi Sawah Lahan
Sempit. ). Skripsi. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Husnan, Suad dan Suwarsono.1999. Studi Kelayakan Proyek. Penerbit LIPP AMP
YKPN. Yogyakarta.
Kohls, R.L and W.D Downey. 1972. Marketing of Agricultural Products, Fouth Ed.
Macmillan. New York.
Kuntjoro, 2002. Kelayakan Finansial Proyek. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi,
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Prestiani, I. 2004. Analisis Usahatani dan Pemasaran Buah-buahan Unggulan di
Kabupaten Serang. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian.
IPB. Bogor.
Purnamawati, Heni dan Purnomo.2007. Budidaya Delapan Jenis Tanaman Pangan
Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rahmiati, Ayi. 2006. Analisis Respon Penawaran Padi di Provinsi Jawa Barat. Skripsi.
Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Riyanto, Sudrajat. 2007. Analisis Pendapatan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Produksi Usahatani Padi Ladang di Kabupaten Purwakarta. Skripsi.
Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor.
Soehardjo dan Patong. 1973. Sendi-sendi Pokok Usahatani. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial
Ekonomi Pertanian. IPB. Bogor.
Soekartawi, dkk.1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil.
Universitas Indonesia. Jakarta.
Tiku, Gilda . 2008.Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah Menurut Sistem Minapadi
dan Sistem Non Minapadi di Kabupaten Bogor. Skripsi. Departemen Ilmuilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor..
Wuriyanto, Lilik. 2002. Studi Kelayakan Finansial dan Pemasaran Komoditi Lada (Studi
Kasus Desa giri Mulya, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur,
Provinsi Lampung). Skripsi. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN

93

Lampiran 1. Cashflow Usahatani Vanili per Hektar di Desa Cibongas


Tahun

10

606,9973
4248981,1
4248981,1

2101,336
14709352
14709352

3054,07
21378490
21378490

3219,521
22536647
22536647

2064,656
14452592
14452592

699,1235
4893864,5
4893864,5

1257274,5
370000
250000

1257274,5
370000

838183
370000

838183
370000

838183
370000

CASH
INFLOW (Rp)

1.Produksi
2.Nilai produk
Total (Rp)
CASH
OUTFLOW (Rp)
3. Biaya Sarana
dan Prasarana
Bibit vanili
Stum lamtoro
Pupuk kandang
Pestisida
Handsprayer
Perlengkapan
lainnya
Total (Rp)
4. Biaya tenaga
kerja
Total biaya
sarana&prasarana
dan TK (Rp)
NET BENEFIT
Discount Factor 16
%
Present Value DF
16%
NPV DF 8,04%
(Rp)
IRR (%)
Gross B/C
Payback Period
(tahun)

2034304
1017152
838183

838183
370000

1257274,5
370000

1257274,5
370000

1257274,5
370000

460000
2565335

3242487

1627274,5

1627274,5

1627274,5

460000
2337274,5

1627274,5

1208183

1208183

1208183

653495,4

1804773

1206000

2107926

2526273

2526273

2526273

2526273

2526273

2526273

3218830,4
-3218830,4

5047260
-5047260

2833274,5
-2833275

3735200,5
-3735200,5

4153547,5
95433,6

4863547,5
9845804,5

4153547,5
17224942,5

3734456
18802191

3734456
10718136

3734456
1159408,5

0,862068966

0,743162901

0,6406577

0,552291098

0,476113015

0,410442255

0,35382953

0,305025457

0,26295298

0,226683603

-2774853,793

-3750936,39

-1815159

-2062917,98

45437,17907

4041134,198

6094693,307

5735146,899

2818365,801

262818,8966

250000

8593729,068
30,56%
2,03
5,71

93

94

Lampiran 2. Analisis Sensitivitas Usaha Vanili (Kenaikkan Harga Pupuk sebesar 10 persen)
Tahun Biaya
Manfaat
Net Benefit
DF 16%
PV 16%
1
3302647,7
-3302647,7 0,862068966
-2847110,086
2
5131078,3
-5131078,3 0,743162901
-3813227,036
3
2959001,95
-2959001,95 0,640657674
-1895707,305
4
3860927,95
-3860927,95 0,552291098
-2132356,136
5
4279274,95
4248981
-30293,95 0,476113015
-14423,34388
6
4989001,95 14709354
9720352,05 0,410442255
3989643,212
7
4179274,95 21378488 17199213,05
0,35382953
6085589,468
8
3818274,3 22536648
18718373,7 0,305025457
5709580,488
9
3818274,3 14452590
10634315,7
0,26295298
2796325,004
10
3818274,3
4893864
1075589,7 0,226683603
243818,549
Total
40156030,65 82219925 42063894,35
8122132,812
Net B/C = 2,047511262
IRR= 25 % +5{1805914,536/1805914,536-(-153144)}=25%+0,92=25,92%
PBP=5,72

Df 30%
0,769230769
0,591715976
0,455166136
0,350127797
0,269329074
0,207176211
0,159366316
0,122589474
0,094299595
0,07253815

PV 30%
-2540498,231
-3036141,006
-1346837,483
-1351818,196
-8159,041512
2013825,708
2740975,225
2294675,586
1002811,668
78021,28731
-153144,4841

DF 25%
0,8
0,64
0,512
0,4096
0,32768
0,262144
0,2097152
0,16777216
0,134217728
0,107374182

PV 25%
-2642118,16
-3283890,11
-1515009
-1581436,09
-9926,72154
2548131,968
3606936,405
3140421,987
1427313,692
115490,5646
1805914,536

Lampiran 3. Analisis Sensitivitas Usaha Vanili (Kenaikkan Harga Upah Tenaga Kerja sebesar 10 persen)
tahun biaya
manfaat
net benefit
df 16%
PV 16%
1
3284179,94
-3284179,94
0,862068966
-2831189,603
2
5227737,3
-5227737,3
0,743162901
-3885060,419
3
2953874,5
-2953874,5
0,640657674
-1892422,365
4
3945993
-3945993
0,552291098
-2179336,806
5
4406174,8
4248981
-157193,8
0,476113015
-74842,01412
6
5113174,8 14709354
9596179,2
0,410442255
3938677,427
7
4406174,8 21378488
16972313,2
0,35382953
6005305,601
8
3987083,5 22536648
18549564,5
0,305025457
5658089,385
9
3987083,5 14452590
10465506,5
0,26295298
2751936,121
10
3987083,5
4893864
906780,5
0,226683603
205552,2713
Total 41298559,64 82219925 40921365,36
7696709,597
Net B/C =1,990866648
IRR= 25 % +5{153578,115/1535787,115-(-368505)}=25%+0,08=25,08%
PBP=5,7

Df 30%
0,769230769
0,591715976
0,455166136
0,350127797
0,269329074
0,207176211
0,159366316
0,122589474
0,094299595
0,07253815
3,091539499

PV 30%
-2526292,262
-3093335,68
-1344503,641
-1381601,835
-42336,86065
1988100,047
2704815,032
2273981,355
986893,0283
65776,18019
-368504,6367

DF 25%
0,8
0,64
0,512
0,4096
0,32768
0,262144
0,2097152
0,16777216
0,134217728
0,107374182

PV 25%
-2627343,95
-3345751,87
-1512383,74
-1616278,73
-51509,2644
2515580,8
3559352,057
3112100,503
1404656,505
97364,8148
1535787,115

94

95

Lampiran 4. Analisis Sensitivitas Usaha Vanili (Penurunan Harga Jual sebesar 10 persen)
Tahun Biaya
Manfaat
Net Benefit
DF 16%
PV 16%
1
3218830,4
-3218830,4 0,862068966
-2774853,793
2
5047260
-5047260 0,743162901
-3750936,385
3
2833274,5
-2833274,5 0,640657674
-1815159,05
4
3735200,5
-3735200,5 0,552291098
-2062917,985
5
4153547,5
3824082,99
-329464,51 0,476113015
-156862,3413
6
4863274,5
13238416,8
8375142,3 0,410442255
3437512,289
7
4153547,5
19240641
15087093,5
0,35382953
5338259,2
8
3734456
20282982,3
16548526,3 0,305025457
5047721,794
9
3734456
13007332,8
9272876,8
0,26295298
2438330,588
10
3734456
4404478,05
670022,05 0,226683603
151883,0127
Total
39208302,9 73997933,94 34789631,04
5852977,329
Net B/C =1,887302649
IRR= 25 % +558551,3425/(558551,3425+(-1057500)}=25%+0,34=25,34%
PBP=5,74

Df 30%
0,769230769
0,591715976
0,455166136
0,350127797
0,269329074
0,207176211
0,159366316
0,122589474
0,094299595
0,07253815

PV 30%
-2476023,385
-2986544,379
-1289610,605
-1307797,521
-88734,37151
1735130,249
2404374,513
2028675,134
874428,5302
48602,16016
-1057499,675

DF 25
0,8
0,64
0,512
0,4096
0,32768
0,262144
0,2097152
0,16777216
0,134217728
0,107374182

PV 25%
-2575064,32
-3230246,4
-1450636,54
-1529938,12
-107958,931
2195493,303
3163992,831
2776382,002
1244584,456
71943,06981
558551,3425

Lampiran 5. Analisis Sensitivitas Usaha Vanili (Penurunan Volume Produksi sebesar 5 persen)
Tahun Biaya
Manfaat
Net Benefit
DF 16%
PV 16%
1
3218830,4
-3218830,4 0,862068966
-2774853,793
2
5047260
-5047260 0,743162901
-3750936,385
3
2833274,5
-2833274,5 0,640657674
-1815159,05
4
3735200,5
-3735200,5 0,552291098
-2062917,985
5
4153547,5
4036531,95
-117015,55 0,476113015
-55712,62636
6
4863274,5
13973886,3
9110611,8 0,410442255
3739380,049
7
4153547,5
20309563,6
16156016,1
0,35382953
5716475,581
8
3734456
21409815,6
17675359,6 0,305025457
5391434,636
9
3734456
13729960,5
9995504,5
0,26295298
2628347,695
10
3734456
4649170,8
914714,8 0,226683603
207350,847
Total
39208302,9 78108928,75 38900625,85
7223408,969
Net B/C =1,992152758
IRR = 25%+5(1357449,24/1357449,24+453527,9913)=25+3,75=28,75%
PBP=6,3

Df 30%
0,769230769
0,591715976
0,455166136
0,350127797
0,269329074
0,207176211
0,159366316
0,122589474
0,094299595
0,07253815

PV 30%
-2476023,385
-2986544,379
-1289610,605
-1307797,521
-31515,68977
1887502,033
2574724,77
2166813,036
942572,0299
66351,71963
-453527,9913

DF 25%
0,8
0,64
0,512
0,4096
0,32768
0,262144
0,2097152
0,16777216
0,134217728
0,107374182

PV 25 %
-2575064,32
-3230246,4
-1450636,544
-1529938,125
-38343,65542
2388292,22
3388162,148
2965433,259
1341573,904
98216,75378
1357449,24

95

96

Lampiran 6 . Nilai Pengganti (Switching Value) Usaha Vanili dengan Kenaikkan Biaya
Kenaikkan
Kenaikkan
Biaya
Manfaat
Net benefit
DF 16%
PV 16%
Manfaat
Net Benefit
Biaya 25%
Biaya 50%
1
3218830,4
4023538
-4023538
0,862068966 -3468567,241
4828245,6
-4828245,6
2
5047260
6309075
-6309075
0,743162901 -4688670,482
7570890
-7570890
3
2833274,5 3541593,125
-3541593,125
0,640657674 -2268948,812
4249911,75
-4249911,8
4
3735200,5 4669000,625
-4669000,625
0,552291098 -2578647,481
5602800,75
-5602800,8
5
4153547,5 5191934,375
4248981
-942953,375
0,476113015 -448952,3748
6230321,25
4248981
-1981340,3
6
4863274,5 6079093,125 14709354
8630260,875
0,410442255
3542223,732
7294911,75 14709354
7414442,25
7
4153547,5 5191934,375 21378488
16186553,63
0,35382953
5727280,66
6230321,25 21378488
15148166,8
8
3734456
4668070 22536648
17868578
0,305025457
5450371,167
5601684 22536648
16934964
9
3734456
4668070 14452590
9784520
0,26295298
2572868,692
5601684 14452590
8850906
10
3734456
4668070
4893864
225794
0,226683603
51183,79756
5601684
4893864
-707820
Total
39208302,9 49010378,63 82219925
33209546,38
23407470,7
3890141,657 58812454,35 82219925
kenaikkan secara proporsional yang mengakibatkan manfaat sekarang netto sama dengan nol pada tingkat oportunitas kapital 16 % =
25%+25(3890141,657/3890141,657+813557,5363)=25+20,75=45,75%
Tahun

PV 16%
-4162280,69
-5626404,578
-2722738,575
-3094376,977
-943341,881
3043200,394
5359868,72
5165595,13
2327372,108
-160451,1882
-813557,5363

96

97

Lampiran 7. Nilai Pengganti (Switching Value) Usaha Vanili dengan Penurunan Penerimaan
Tahun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Total

Penurunan
Manfaat
50%

Penurunan
Manfaat
25%

Biaya
Manfaat
Net Benefit DF 16%
PV 16%
Net Benefit
PV16%
Net Benefit
3218830,4
-3218830,4 0,862068966
-2774853,793
-3218830,4
-2774853,8
-3218830,4
5047260
-5047260 0,743162901
-3750936,385
-5047260
-3750936,4
-5047260
2833274,5
-2833274,5 0,640657674
-1815159,05
-2833274,5
-1815159
-2833274,5
3735200,5
-3735200,5 0,552291098
-2062917,985
-3735200,5
-2062918
-3735200,5
4153547,5
4248981
95433,5 0,476113015
45437,13146 2124490,5
-2029057
-966060,45
-4153547,5
4863274,5 14709354
9846079,5 0,410442255
4041247,07
7354677
2491402,5 1022576,86
3611633,85 -1251640,65
4153547,5 21378488 17224940,5
0,35382953
6094692,599 10689244
6535696,5 2312522,42
12502950,9
8349403,4
3734456 22536648
18802192 0,305025457
5735147,204 11268324
7533868 2298021,53
18171714,8
14437258,8
3734456 14452590
10718134
0,26295298
2818365,275
7226295
3491839 918189,471
19156150,8
15421694,8
3734456
4893864
1159408 0,226683603
262818,7833
2446932
-1287524
-291860,58
12284701,5
8550245,5
39208302,9 82219925 43011622,1
1901659,6
8593840,85
-5110478 65727151,85 26518848,95
Penurunan secara proporsional yang mengakibatkan manfaat sekarang netto sama dengan nol pada tingkat oportunitas kapital 16 % =
15%+35(456226,5566/456226,5566+5110478)=15+2,8=17,8%

PV 16%
-2774853,793
-3750936,385
-1815159,05
-2062917,985
-1977558,025
-513726,2104
2954265,48
4403731,46
4055180,604
1938200,46
456226,5565

97

Lampiran 8. Tabel Rata-rata Produksi Vanili Responden per Hektar


Respon
den
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Total
Rata-rata

Luas
(bata)
Luas (ha)
50
0,071429
200
0,285714
250
0,357143
100
0,142857
50
0,071429
80
0,114286
100
0,142857
150
0,214286
20
0,028571
250
0,357143
230
0,328571
140
0,2
150
0,214286
150
0,214286
180
0,257143
300
0,428571
200
0,285714
160
0,228571
40
0,057143
70
0,1

Produksi Tahun panen ke1


40
200
250
100
45
50
75
150
12,5
250
200
120
120
100
135
250
200
150
40
65

2
150
600
750
300
150
250
300
450
65
825
800
350
450
400
500
925
600
400
120
235

3
230
850
1000
450
200
325
450
675
90
1150
1000
600
650
500
825
1400
950
700
180
320

4
250
900
1250
450
250
400
450
700
100
1200
1000
650
650
700
650
1125
930
700
200
325

Produksi tahun panen ke-(per ha)


5
150
500
700
300
150
225
280
450
60
780
700
350
325
500
550
1100
625
425
125
230

6
60
200
500
150
55
70
100
125
18
225
175
120
100
150
140
275
200
130
35
70

1
560
700
700
700
630
437,5
525
700
437,5
700
608,6957
600
560
466,6667
525
583,3333
700
656,25
700
650
12139,95
606,9973

2
2100
2100
2100
2100
2100
2187,5
2100
2100
2275
2310
2434,783
1750
2100
1866,667
1944,444
2158,333
2100
1750
2100
2350
42026,73
2101,336

3
3220
2975
2800
3150
2800
2843,75
3150
3150
3150
3220
3043,478
3000
3033,333
2333,333
3208,333
3266,667
3325
3062,5
3150
3200
61081,39
3054,07

4
3500
3150
3500
3150
3500
3500
3150
3266,667
3500
3360
3043,478
3250
3033,333
3266,667
2527,778
2625
3255
3062,5
3500
3250
64390,42
3219,521

5
2100
1750
1960
2100
2100
1968,75
1960
2100
2100
2184
2130,435
1750
1516,667
2333,333
2138,889
2566,667
2187,5
1859,375
2187,5
2300
41293,12
2064,656

6
840
700
1400
1050
770
612,5
700
583,3333
630
630
532,6087
600
466,6667
700
544,4444
641,6667
700
568,75
612,5
700
13982,47
699,1235

99

Lampiran 9. Tabel Rata-rata Biaya Usahatani Vanili Responden per Hektar


Pupuk Kandang (karung)
Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Luas
12
45
72
25
10
20
25
35
5
65
50
30
40
35
45
75
45
35
10
15

Hektare
168
160
201,6
175
140
175
175
163,3333
175
182
152,1739
150
186,6667
163,3333
175
175
157,5
153,125
175
150
3352,732
167,6366

Tenaga Kerja/bata/Tahun Tenaga Kerja/Hektare/Tahun


Bibit
Bata
400
1500
2000
750
350
600
700
1000
150
1750
1500
1000
1000
1000
1500
2000
1500
1200
300
500

Hektare
5600
5250
5600
5250
4900
5250
4900
4666,667
5250
4900
4565,217
5000
4666,667
4666,667
5833,333
4666,667
5250
5250
5250
5000
101715,2
5085,761

1
5
10
10
6
3
5
6
9
2
15
12
8
8
9
10
16
10
8
3
6

2
9
35
40
17
8
15
15
25
4
40
40
25
26
25
30
50
35
25
8
12

3
6
22
28
12
6
10
10
15
3
25
25
16
17
15
20
35
20
18
6
8

4
8
35
55
22
10
18
20
30
6
50
45
28
30
30
35
60
35
32
6
14

5
13
48
60
25
12
20
25
36
5
60
55
34
36
35
40
70
45
38
10
16

1 per ha
70
35
28
42
42
43,75
42
42
70
42
36,52174
40
37,33333
42
38,88889
37,33333
35
35
52,5
60
871,3273
43,56636

2 per ha
126
122,5
112
119
112
131,25
105
116,6667
140
112
121,7391
125
121,3333
116,6667
116,6667
116,6667
122,5
109,375
140
120
2406,364
120,3182

3 per ha
84
77
78,4
84
84
87,5
70
70
105
70
76,08696
80
79,33333
70
77,77778
81,66667
70
78,75
105
80
1608,515
80,42574

4 per ha
112
122,5
154
154
140
157,5
140
140
210
140
136,9565
140
140
140
136,1111
140
122,5
140
105
140
2810,568
140,5284

5 per ha
182
168
168
175
168
175
175
168
175
168
167,3913
170
168
163,3333
155,5556
163,3333
157,5
166,25
175
160
3368,364
168,4182

99