Anda di halaman 1dari 2

Klasifikasi Trauma pada Gigi Sulung

2.4.1 Klasifikasi trauma gigi sulung dan permanen secara umum menurut Ellis dan
Devey :

Kelas 1: Fraktur yang sederhana dari mahkota gigi dengan terbuka sedikit atau tidak

sama sekali sebagian dentin dari mahkotanya (hanya mengenai bagian enamel).
Kelas 2: Fraktur yang terjadi pada mahkota gigi dengan terbukanya dentin yang luas,

tetapi belum mengenai pulpa (hanya mengenai bagian dentin).


Kelas 3: Fraktur pada mahkota gigi dengan terbukanya dentin yang luas, sudah

mengenai pulpa (dentin dan pulpa tekena).


Kelas 4: Trauma pada gigi yang menyebabkan gigimenjadi non vital disertai dengan

ataupun tanpa disertai hilangnya struktur mahkota gigi.


Kelas 5: Trauma pada gigi yang menyebabkan hilangnya gigi yang disebut avulsi.
Kelas 6: Fraktur pada akar disertai dengan ataupun tanpa disertai hilangnya struktur

mahkota gigi.
Kelas 7: Trauma yang menyebabkan berpindahnya gigi (intrusi, ekstrusi, labial,
palatal, bukal, distal, mesial, rotasi) tanpa disertai adanya fraktur mahkota atau akar

gigi.
Kelas 8: Trauma yang menyebabkan fraktur mahkota yang besar pada gigi (total
distruction) tetapi gigi tetap pada tempatnya dan akar gigi tidak mengalami

perubahan.
Kelas 9: Semua kerusakan pada gigi sulung akibat trauma pada gigi depan.

2.4.2 Klasifikasi trauma gigi sulung secara khusus menurut Ellis :

Kelas I : Fraktur enamel.

Kelas II : Fraktur enamel dan dentin.

Kelas III : Fraktur enamel, dentin, dan pulpa.

Kelas IV : Fraktur akar.

Kelas V : Avulsi.

(Rao, 2008)
2.5 Derajat kegoyangan:

Derajat 1: Bila penderita merasakan adanya kegoyangan gigi, tapi operator tidak

melihat adanya kegoyangan.


Derajat 2: Gigi terasa dan terlihat goyang.
Derajat 3: Kegoyangan gigi ke arah horizontal oleh lidah.
Derajat 4: Kegoyangan gigi ke arah horizontal dan vertikal oleh lidah.
(Rao A, 2008)