Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang1
Katarak berasal dari bahasa latin cataraca dan bahasa yunani catarak yang artinya
adalah air terjun. Katarak tidak menular dari satu mata ke mata yang lain, namun dapat
terjadi pada kedua mata secara bersamaan. Perubahan ini dapat terjadi karena proses
degenerasi, trauma mata, infeksi penyakit tertentu. Katarak dapat pula terjadi sejak lahir,
karena itu katarak dapat dijumpai pada usia anak-anak maupun dewasa.
Data badan kesehatan PBB (WHO) menyebutkan penderita kebutaan didunia
mencapai 38 juta orang, 48% di antaranya disebabkan katarak. Untuk Indonesia, survei pada
1995/1996 menunjukkan prevalensi kebutaan mencapai 1,5% dengan 0,78% di antaranya
disebabkan oleh katarak , dan yang terbesar karena katarak senilis / ketuaan
Selain penglihatan yang semakin kabur dan tidak jelas, tanda-tanda awal terjadinya
katarak antara lain merasa silau terhadap cahaya matahari, perubahan dalam persepsi warna,
dan daya penglihatan berkurang hingga kebutaan. Katarak biasanya terjadi dengan perlahan
dalam waktu beberapa bulan. Daya penglihatan yang menurun mungkin tidak disadari karena
merupakan perubahan yang berperingkat (progresif).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi 1
Secara umum katarak adalah perubahan lensa mata yang seharusnya jernih dan
tembus pandang menjadi keruh, cahaya sulit mencapai retina akibatnya penglihatan menjadi
kabur. Katarak terjadi secara perlahan-lahan, sehingga penglihatan terganggu secara beragam
sesuai tingkat kekeruhan lensa. Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat
pada usia lanjut, biasanya diatas 50 tahun

Epidemiologi

Katarak senilis sampai sejauh ini merupakan bentuk katarak yang paling sering
didapatkan. Menurut perhitungan kira-kira 90 % dari insiden katarak seluruhnya adalah
katarak senilis. 5 % dari orang berusia 70 tahun dan 10 % dari orang yang berusia 80 tahun
menderita katarak dan membutuhkan tindakan pembedahan.

Etiologi

Penyebab pasti dari katarak senilis belum ditemukan, diduga ada hubungan dengan
keturunan, oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui riwayat keluarga. Pada katarak
senilis sebaiknya disingkirkan penyakit mata lokal dan penyakit sistemik seperti diabetes
melitus yang dapat menimbulkan katarak komplikata. Selama beberapa tahun terakhir,
semakin banyak ditemukan bukti bahwa radiasi ultraviolet merupakan faktor signifikan
dalam timbulnya katarak senilis.

Patofisiologi

Dalam keadaan normal transparansi lensa terjadi karena adanya keseimbangan antara
protein yang dapat larut dalam protein yang tidak dapat larut dalam membran semipermiabel.
Apabila terjadi peningkatan jumlah protein yang tdak dapat diserap dapat mengakibatkan
penurunan sintesa protein, perubahan biokimiawi dan fisik dan protein tersebut
mengakibatkan jumlah protein dalam lensa melebihi jumlah protein dalam bagian yang lain
sehingga membentuk suatu kapsul yang dikenal dengan nama katarak. Terjadinya
penumpukan cairan/degenerasi dan desintegrasi pada serabut tersebut menyebabkan jalannya
cahaya terhambat dan mengakibatkan gangguan penglihatan. Dengan bertambah lanjut usia
seseorang maka nucleus lensa mata akan menjadi lebih padat dan berkurang kandungan airnya,
lensa akan menjadi keras pada bagian tengahnya (optic zone) sehingga kemampuan
memfokuskan benda berkurang.

Gejala Klinik4
Gejala Subyektif :
a. Bila Kekeruhan tipis, kemunduran visus sedikit atau sebaliknya.
b. Penderita mengeluh adanya bercak-bercak putih yang tak bergerak
c. Diplopia monocular yaitu penderita melihat 2 bayangan yang disebabkan oleh karena
refraksi dari lensa sehingga benda-benda yang dilihat penderita akan menyebabkan silau

d.

Pada stadium permulaan penderita mengeluh miopi, hal ini terjadi karena proses
pembentukan katarak sehingga lensa menjadi cembung dan refraksi power mata meningkat,
akibatnya bayangan jatuh dimuka retina
Gejala Obyektif :

a. Pada lensa tidak ada tanda-tanda inflamasi


b. Jika mata diberi sinar dari samping: Lensa tampak keruh keabuan atau keputihan dengan
c.

latar hitam
Pada fundus reflex dengan opthalmoskop : kekeruhan tersebut tampak hitam dengan latar
oranye. Dan pada stadium matur hanya didapatkan warna putih atau tampak kehitaman tanpa

latar orange, hal ini menunjukkan bahwa lensa sudah keruh seluruhnya
d. Kamera anterior menjadi dangkal dan iris terdorong kedepan, sudut kamera anterior
menyempit sehingga tekanan intraokuler meningkat, akibatnya terjadi glaukoma

Stadium1
Katarak senilis secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur,matur, dan
hipermatur.
Kekeruhan
Cairan lensa
Iris
Bilik MataDepan
Sudut Bilik Mata
Shadow Tes
Penyulit
Visus

Insipien
Ringan
Normal
Normal
Normal
Normal
Negatif
+

Imatur
Sebagian
Bertambah
(air masuk)
Terdorong
Dangkal
Sempit
Positif
Glaukoma
<

Matur
Seluruh
Normal
Normal
Normal
Normal
Negatif
<<

Hipermatur
Masif
Berkurang (air + masa
lensa keluar)
Tremulans
Dalam
Terbuka
Pseudopos
Uveitis+glaukoma
<<<

Bayangan iris
++<.span>
+/1. Katarak Insipien
Pada stadium ini kekeruhan lensa tidak teratur, tampak seperti bercak-bercak yang
membentuk gerigi dangan dasar di perifer dan daerah jernih di antaranya.Kekeruhan biasanya
terletak di korteks anterior dan posterior. Kekeruhan ini pada awalnya hanya nampak jika
pupil dilebarkan. Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia yang disebabkan oleh indeks

refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap untuk waktu yang
lama.
2. Katarak Imatur
Pada katarak imatur terjadi kekeruhan yang lebih tebal, tetapi belum mengenai seluruh
lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Terjadi
penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang
degeneratif. Pada keadaan lensa yang mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil,
mendorong iris ke depan, mengakibatkan bilik mata dangkal sehingga terjadi glaukoma
sekunder.Pada pemeriksaan uji bayangan iris atau sahadaw test, maka akan terlihat
bayangniris pada lensa, sehingga hasil uji shadow test (+)
3. Katarak Matur
Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Proses degenerasi yang berjalan
terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama hasil disintegrasi melalui kapsul, sehingga
lensa kembali ke ukuran normal. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal
kembali. Tidak terdapat bayangan iris pada lensayang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif
4. Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa, sehingga masa lensa yang mengalami degenerasi
akan mencair dan keluar melalui kapsul lensa. Lensa menjadi mengecil dan berwarna kuning.
Bila proses katarak berjalan lanjut disertai kapsul yang tebal, maka korteks yang
berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan sekantong susu
dengan nukleus yang terbenam di korteks lensa. Keadaan ini disebut sebagai katarak
Morgagni. Uji bayangan iris memberikan gambaran pseudo positif. Cairan / protein lensa
yang keluar dari lensa tersebut menimbulkan reaksi inflamasi dalam bola mata karena di
anggap sebagai benda asing. Akibatnya dapat timbul komplikasi uveitis dan glaukoma karena
aliran melalui COA kembali terhambat akibat terdapatnya sel-sel radang dancairan / protein
lensa itu sendiri yang menghalangi aliran cairan bola mata.

Diagnosis1
Diagnosa dari katarak senilis dibuat atas dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan seluruh tubuh terhadap adanya kelainan-kelainan harus dilakukan untuk
menyingkirkan penyakit sistemik yang berefek terhadap mata dan perkembangan katarak.
a.

Pemeriksaan mata yang lengkap harus dilakukan yang dimulai dengan ketajaman
penglihatan untuk gangguan penglihatan jauh dan dekat. Ketika pasien mengeluh silau, harus
diperiksa dikamar dengan cahaya terang.

b.

Pemeriksaan adneksa okular dan struktur intraokular dapat memberikan petunjuk terhadap
penyakit pasien dan prognosis penglihatannya. Pemeriksaan yang sangat penting yaitu tes
pembelokan sinar yang dapat mendeteksi pupil Marcus Gunn dan defek pupil aferent relatif

c.

yang mengindikasikan lesi saraf optik atau keterlibatan difus makula


Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk evaluasi opasitas lensa. Tapi dapat juga

struktur okular lain( konjungtiva, kornea, iris, bilik mata depan).


Ketebalan kornea dan opasitas kornea seperti kornea gutata harus diperiksa hati-hati
Gambaran lensa harus dicatat secara teliti sebelum dan sesudah pemberian dilator pupil
Posisi lensa dan integritas dari serat zonular juga dapat diperiksa sebab subluxasi lensa dapat
mengidentifikasi adanya trauma mata sebelumnya, kelainan metabolik, atau katarak

hipermatur
d. Kepentingan ofthalmoskopi direk dan indirek dalam evaluasi dari integritas bagian belakang
harus dinilai. Masalah pada saraf optik dan retina dapat menilai gangguan penglihatan.

Penatalaksanaan 2
Tidak ada satupun obat yang dapat diberikan untuk menyembuhkan katarak senilis.
Penggunaan obat-obatan selama ini bertujuan untuk memperlambat penebalan katarak.
Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak
mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti
kacamata. Hingga saat ini belum ada obat-obatan, makanan, atau kegiatan olah raga yang
dapat menghindari atau menyembuhkan seseorang dari gangguan katarak. Akan tetapi
melindungi mata terhadap sinar matahari yang berlebihan dapat memperlambat terjadinya
gangguan katarak. Kacamata gelap atau kacamata reguler yang dapat menghalangi sinar
ultraviolet (UV) sebaiknya digunakan ketika berada diruang terbuka pada siang hari.
Pengobatan katarak senil yang pernah dipakai adalah :

Iodium tetes, salep, injeksi dan iontoforesis, tidak jelas efektif, sedang beberapa pasien puas.
Kalsium sistein
Imunisasi dengan yang memperbaiki cacat metabolisme lensa
Dipakai lentokain dan kataraktolisin dari lensa ikan
Vitamin dosis tinggi juga dipergunakan.
Terapi definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Beberapa tahun terakhir
bermacam-macam teknik operasi telah dikembangkan dari tulisan teknik kuno sampai teknik
terbaru fakoemulsi. Berdasarkan integritas dari capsula posterior lensa, 2 tipe utama bedah
lensa adalah intracapsular catarak extraction (ICCE) dan extracapsular cataract extraction
( ECCE).

Tindakan bedah pada pasien katarak dilakukan jika telah ada indikasi seperti:

Katarak telah mengganggu pekerjaan sehari-hari walaupun katarak belum matur


Katarak matur, karena jika menjadi hipermatur akan menimbulkan penyulit katarak

hipermatur (uveitis dan glaukoma)


Katarak yang telah menimbulkan penyulit seperti katarak intumesen yang menimbulkan

glaukoma.
a. Ekstraksi katarak intra kapsular
Sebelum adanya instrumen bedah mikro yang lebih modern dan IOL yang baik, ICCE
merupakan metode yang lebih disukai untuk pengangkatan katarak. Teknik ini melibatkan
mengangkat seluruh lensa termasuk kapsula posterior. Dalam melakukan teknik ini tidak
perlu khawatir terhadap perkembangan selanjutnya dan penanganan dari opasitas kapsul.
Teknik ini dapat dilakukan dengan alat alat yang sedikit canggih dan di daerah dimana tidak
terdapat mikroskop operasi dan sistem origasi.
Bagaimanapun sejumlah kerugian dan komplikasi post operasi, insisi limbus yang lebar
sering 160o-180o dikaitkan dengan beberapa faktor risiko yang mengikutinya seperti
penyembuhan yang terlambat, keterlambatan perbaikan visus, timbulnya astigmatismat,
inkarserasi iris, luka operasi yang bocor, inkarserasi vitreus. Edem kornea merupakan suatu
keadaan yang umum terjadi saat operasi dan komplikasi post operasi. Meskipun banyak
komplikasi post operasi, namun ICCE masih dapat digunakan pada kasus-kasus dimana
zonular rusak berat, sehingga dapat dilakukan pengangkatan lensa dengan sukses.
ICCE merupakan kontraindikasi absolut pada anak-anak dan dewasa muda dengan katarak
dan kasus-kasus dengan trauma ruptur kapsular. Kontraindikasi relatif adalah miopia tinggi,
sindrom marfan, katarak morgagni, dan adanya vitreus di bilik mata depan.
b. Extra Capsular Cataract Extraction
Berbeda dengan ICCE, ECCE melibatkan pengangkatan nukleus lensa dengan
membuka kapsula anterior dan meninggalkan kapsula posterior. ECCE mempunyai sejumlah
keuntungan dibandingkan ICCE, yang berhubungan dengan intaknya kapsula posterior,
yaitu :

Insisi yang kecil pada ECCE dan sedikit trauma dari endotel kornea
Komplikasi cepat dan lambat dari vitreus sampai kornea, iris dapat diminimalisasi atau

dieliminasi
Tempat anatomi yang baik terhadap IOL bila kapsula posterior masih intak
Sebaliknya, kapsula yang intak menyebabkan masuknya bakteri dan mikroorganisme lain ke
dalam kamera okuli anterior selama proses pembedahan, yang bisa mencapai rongga vitreus
posterior dan dapat menyebabkan endoptalmitis

Komplikasi 1
Komplikasi katarak yang tersering adalah glaukoma yang dapat terjadi karena proses
fakolitik, fakotopik, fakotoksik
1. Fakolitik

Pada lensa yang keruh terdapat kerusakan maka substansi lensa akan keluar yang akan

menumpuk di sudut kamera okuli anterior terutama bagian kapsul lensa.


Dengan keluarnya substansi lensa maka pada kamera okuli anterior akan bertumpuk pula

serbukan fagosit atau makrofag yang berfungsi merabsorbsi substansi lensa tersebut.
Tumpukan akan menutup sudut kamera okuli anterior sehingga timbul glaukoma.
2. Fakotopik
Berdasarkan posisi lensa Oleh karena proses intumesensi, iris, terdorong ke depan sudut
kamera okuli anterior menjadi sempit sehingga aliran humor aqueaous tidak lancar sedangkan
produksi berjalan terus, akibatnya tekanan intraokuler akan meningkat dan timbul glaukoma.
3. Fakotoksik
Substansi lensa di kamera okuli anterior merupakan zat toksik bagimata sendiri (auto toksik)

Terjadi reaksi antigen-antibodi sehingga timbul uveitis, yangkemudian akan menjadi


glaukoma

BAB III
KASUS
Identitas Pasien
Nama

: Ny. S

Umur

: 60 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan


Alamat

: jatim

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Anamnesis (autoanamnesia)
Keluhan Utama
Mata kanan tidak bisa melihat
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan mata kanan tidak dapat melihat, keluhan dirasakan sejak 3
bulan yang lalu. Awalnya bisa melihat namun perlahan penglihatan mata kanan menurun dan
sekarang pasien hanya dapat melihat adakah cahaya atau tidak. Nyeri (-), pusing (-), mual (-),
muntah (-).
Riwayat penyakit dahulu
Tidak pernah mengalami sakit mata seperti ini
Hipertensi disangkal
Diabetes disangkal
Riwayat pengobatan
Belum pernah berobat sebelumnya dan tidak pernah memakai kacamata sebelumnya

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: Cukup

Kesadaran

: Composmentis

Vital Sign

: T=130/80 mmHg

Status Generalis
1. Pemeriksaan kepala : dbn
2. Pemeriksaan Mata
Konjungtiva

: anemis -/-

Sklera

: ikterus -/-

Pupil

: Reflek cahaya +/+

N: 88x/menit

RR : 20x/menit

3. Pemeriksaan leher

: dbn

4. Pemeriksaan thorax

: dbn

5. Pemeriksaan Abdomen

: dbn

6. Pemeriksaan ekstremitas

: dbn

Status Lokalis
Visus

Persepsi cahaya +/+


Iluminasi +/+

Segmen Anterior ODS


Palpebra

: edema -/- , spasme -/-

Konjungtiva

: hiperemi -/- , sekret -/-

Kornea

: Jernih +/+

BMD

: Dalam/dangkal

Iris

: Radier +/+

Pupil

: Bulat +/+, 0 3mm/3mm

Lensa

:Keruh/jernih

, &nbrp; Entropion -/-

ektropion -/-

Problem List
a.

Terjadi kekeruhan pada lensa mata kanan

b. Visus mata kanan menurun

Assessment
Katarak Senilis Matur OD

Planning
a.
b.
c.
d.

Informed consent
Rencana Lab. Darah lengkap
Pro USG dan Biometri
Rencana ECCE ( Ekstra Capsular Catarac Ektration) dan IOL

Monitoring
a.

Keluhan

b. Vital sign

Edukasi
a.

Menjelaskan kepada pasien bahwa pasien menderita katarak senilis , dimana katarak ini
berhubungan dengan usia serta proses penuaan yang terjadi didalam lensa

b.

Menjelaskan kepada pasien serta keluarga tentang tindakan operasi yang akan dilakukan
pada katarak senilis imatur dimana memiliki resiko post operasi serta membutukan perawatan
tertentu post operasi

BAB IV
PEMBAHASAN
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu
usia diatas 50 tahun. Perubahan yang tampak adalah bertambah tebalnya nukleus dengan
berkembangnya lapisan korteks lensa. 3
Secara klinik, proses ketuaan lensa sudah tampak sejak terjadi pengurangan kekuatan
akomodasi lensa akibat mulai terjadinya sklerosis lensa yang timbul pada usia dekade 4
dalam bentuk keluhan presbiopia. Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum
diketahui secara pasti dan sampai sejauh ini merupakan bentuk katarak yang paling sering
didapatkan. 3
Berdasarkan tingkat kematangan katarak senilis dibagi menjadi 4 stadium yaitu: 3
1.

stadium insipien kekeruhan tampak terutama dibagian periferkorteks berupa garis-garis

yang melebar dan makin ke sentral menyerupai ruji sebuah roda


2. stadium immatur kekeruhan terutama pada bagian posterior nukleus dan belum mengenai
seluruh lapisan lensa
3. stadium matur kekeruhan sudah mengenai reluruh lensa, warna menjadi putih keabu-abuan
4. hipermatur terjadi pencairan korteks dan nukleus tenggelam kebawah (katarak morgagni),
atau lensa terus kehilangan cairan dan keriput ( katarak shrunken)
Tindakan bedah pada pasien katarak dilakukan jika telah ada indikasi seperti:2

Katarak telah mengganggu pekerjaan sehari-hari walaupun katarak belum matur


Katarak matur, karena jika menjadi hipermatur akan menimbulkan penyulit katarak

hipermatur (uveitis dan glaukoma)


Katarak yang telah menimbulkan penyulit seperti katarak intumesen yang menimbulkan
glaukoma
Pembedahan berupa ekstraksi katarak yang dapat dikerjakan dengan cara : 3

a.

Intra kapsuler / ICCE


Masa lensa dan kapsul dikeluarkan seluruhnya

b. Ekstra kapsuler / ECCE


Masa lensa dikeluarkan dengan merobek kapsul bagian anterior dan meninggalkan bagian
c.

posterior
Fakoemulsifikasi
Inti lensa dihancurkan didalam kapsul dan sisa masa lensa dibersihka dengan irigasi dan
aspirasi

1.

2.
3.

4.

5.

6.
7.

Adapun komplikasi tindakan operatif katarak2


Hilangnya vitreous.
Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama operasi maka gel vitreousnya dapat masuk
ke dalam bilik mata depan yang merupakan resiko terjadinya glaukoma atau traksi pada
retina.
Prolaps iris.
Iris dapat mengalami protus melalui insisi bedah pada periode paska operasi dini. Pupil
mengalami distorsi.
Endoftalmitis.
Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius namun jarang terjadi (< 0,3%), pasien
datang dengan mata merah yang terasa nyeri, penurunan tajam penglihatan, pengumpulan sel
darah putih di bilik mata depan (hipopion).
Astigmatisma pasca operasi.
Mungkin diperlukan pengangkatan jahitan kornea untuk mengurangi astigmatisma kornea. Ini
dilakukan sebelum melakukan pengukuran kacamata baru namun setelah luka insisi sembuh
dan tetes mata steroid dihentikan. Kelengkungan kornea yang berlebih dapat terjadi pada
garis jahitan bila jahitan terlalu erat. Pengangkatan jahitan biasanya menyelesaikan masalah
ini dan bisa dilakukan dengan mudah di klinik dengan anastesi lokal,dengan pasien duduk di
depan slit lamp . Jahitan yang longgar harus diangkat untuk mencegah infeksi namun
mungkin diperlukan jahitan kembali jika penyembuhan lokasi insisi tidak sempurna.
Fakoemulsifikasi tanpa jahitan melalui insisi yang kecil menghindarkan komplikasi ini.
Selain itu, penempatan luka memungkinkan koreksi astigmatisma yang telah ada sebelumnya.
Edema makular sistoid.
Makula menjadi edema setelah pembedahan, terutama bila disertai dengan hilangnya
vitreous. Dapat sembuh seiring berjalannya waktu,namun dapat menyebabkan penurunan
tajam penglihatan yang berat.
Ablasio retina.
Teknik-teknik modern dalam ekstraksi katarak dihubungkan dengan rendahnya tingkat
komplikasi ini. Tingkat komplikasi ini bertambah bila terdapat kehilangan vitreous
Opasifikasi kapsul posterior.
Pada sekitar 20% pasien, kejernihan kapsul posterior berkurang pada beberapa bulan setelah
pembedahan ketika sel epitel residu bermigrasi melalui permukaannya. Penglihatan menjadi
kabur dan mungkindidapatkan rasa silau. Dapat dibuat satu lubang kecil pada kapsul dengan
laser sebagai prosedur klinis rawat jalan.

BAB V
KESIMPULAN

Katarak senilis matur adalah katarak yang terjadi dimana kekeruhan lensa yang
terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun dan kekeruhan sudah mengenai seluruh
lensa, warna menjadi putih keabu-abuan, serta tajam penglihatan menurun tinggal melihat
gerakan tangan atau persepsi cahaya.
Adapun terapi dari katarak senilis matur ini adalah dilakukannya pembedahan dengan
tekhnik Intra Capsular Cataract Extraction, Extra Capsular Cataract Extraction dan
fakoemulsi.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Ilyas,Sidarta, HHB Mailangkay, dkk. Lensa Mata. Dalam: Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter

Umum Dan Mahasiswa Kedokteran. Sagung Seto, Jakarta.2002


2. Setiohadji, B., Community Opthalmology., Cicendo Eye Hospital/Dept of Ophthalmology
Medical Faculty of,Padjadjaran University. 2006.
3. SMF ilmu penyakit mata. Pedoman Dianosis dan Terapi Edisi III. RSUD Soetomo. Surabaya.
2006
4. http://lomboksehat.blogspot.com/2011/11/katarak-senilis.html
Diposkan oleh mbak-aya di 12.31 Kirimkan Ini lewat Email
5. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Ed 3. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2009