Anda di halaman 1dari 82

HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN LAPTOP

DAN KETAJAMAN PENGLIHATAN PADA SISWA


SMA LABSCHOOL JAKARTA

SKRIPSI

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

LATHIIFA HERLY HENDY


030.11.164
PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA, FEBRUARI 2015

Bidang Ilmu : Komunitas

SKRIPSI

HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN LAPTOP


DAN KETAJAMAN PENGLIHATAN PADA SISWA
SMA LABSCHOOL JAKARTA

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran

LATHIIFA HERLY HENDY


030.11.164

PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA, FEBRUARI 2015

PERSETUJUAN
Skripsi
Judul :
HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN LAPTOP DAN
KETAJAMAN PENGLIHATAN PADA SISWA
SMA LABSCHOOL JAKARTA

LATHIIFA HERLY HENDY


030.11.164

Telah disetujui untuk diuji di hadapan


Tim Penguji Skripsi
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Pada Hari Selasa, Tanggal 24 Februari 2015

Pembimbing

Dr. Purnamawati Tjhin, M. Pd. Ked

PENGESAHAN SKRIPSI
Judul:

HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN LAPTOP DAN


KETAJAMAN PENGLIHATAN PADA SISWA
SMA LABSCHOOL JAKARTA
Nama Mahasiswi: Lathiifa Herly Hendy
NIM 030.11.164
Telah diuji dan disahkan di hadapan Dewan Penguji Proposal Skripsi
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Pada Hari Selasa, tanggal 24 Februari 2015
Ketua Tim Penguji
Nama

NIK

Anggota Penguji
Nama

NIK

Anggota Penguji
Nama

NIK

Jakarta, .2015
Dekan FK Trisakti

dr. Suriptiastuti, DAP&E, MS

NIK

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabilalamin
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Hubungan
Intensitas Penggunaan Laptop dan Ketajaman Penglihatan pada Siswa SMA
Labschool Jakarta. Shalawat serta salam selalu penulis panjatkan kepada
kehadirat Nabi Muhammad SAW beserta keluarga and para sahabatnya.
Skripsi ini juga penulis buat untuk menunjang pelaksanaan dan penulisan
skripsi penulis selanjutnya, sehingga skripsi yang penulis buat dapat bermanfaat
bagi banyak pihak khususnya di bidang kedokteran.
Dalam pengerjaan skripsi ini penulis mengalami beberapa kesulitan yang
tidak dapat diselesaikan tanpa bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada
1. Allah SWT, karena rahmat-Nya lah penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.
2. Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, dr. Suriptiastuti, DAP&E, MS
3. dr. Purnamawati Tjhin, M. Pd. Ked selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan serta motivasi dengan sabar sampai penulis bisa
menyelesaikan skripsi.
4. Dosen penguji yang telah menyempatkan waktu hadir dalam ujian serta
kritik dan masukannya.
5. Seluruh dokter selaku staf pengajar yang memberikan pengajaran,
bimbingan serta kerjasamanya selama di Fakultas Kedokteran Universitas
Trisakti.
6. Siswa siswi SMA Labschool Jakarta, Pak Ano, Ibu Ika, Ibu Ita, dan Ibu
Puri yang telah mengizinkan serta membantu terlaksananya penelitian ini.
7. Larasati Adita Chairunissa yang tak lelah memberikan semangat dan
dukungan moril kepada penulis.
8. Only group one (Lingkan, Linda, Lusi, Lia, Lala, Lidia, Lulu, Acel, Vina,
Lalu, Margo, Megi) dan Puun Isep Teh (Nani, Stefi, Sacha, Mesa, Nauli,
Sarah, Adam, Bahong, Oji) yang selalu memberikan keceriaan dalam
penulisan skripsi ini.
9. Keluarga tercinta atas segala dukungannya.

10. Dan teman-teman mahasiswa Fakultas Kedokteran Trisakti lainnya yang


senasib seperjuangan yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang terus
memotivasi dan membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini sangat jauh dari
sempurna, dikarenakan keterbatasan yang dimiliki penulis. Namun penulis
berharap semoga dapat memberikan manfaat betapapun kecilnya untuk ilmu
pengetahuan, masyarakat dan penulis lain.
Jakarta, 1 Februari 2014

Lathiifa Herly Hendy

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI


Yang bertanda tangan di bawah ini:
5

Nama

: Lathiifa Herly Hendy

NIM

: 030.11.164

Program Studi

: Pendidikan Kedokteran

Alamat Korespondensi

: Jalan Kayu Putih Timur 1 No. 53, Kayu Putih,


Jakarta Timur

Telepon / mobile

: 085213577777

E-mail

: lathifahendy@yahoo.com

Judul Skripsi

: Hubungan Intensitas Penggunaan Laptop dan


Ketajaman Penglihatan Pada Siswa SMA Labschool
Jakarta

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini adalah benar-benar
merupakan hasil karya ilmiah saya sendiri. Skripsi ini belum pernah diajukan
sebagai suatu karya ilmiah untuk memperoleh gelar keserjanaan di suatu
perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara
tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau
keseluruhan skripsi ini merupakan hasil karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan SK Permendiknas No. 17
tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di perguruan tinggi.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya, agar dapat dimanfaatkan
sebagaimana mestinya.
Jakarta, 2 Februari 2015

Lathiifa Herly Hendy


030.11.164

DAFTAR ISI
HALAMAN
6

HALAMAN JUDUL .. i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING........ ii
HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI.iii
KATA PENGANTAR..iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI.vi
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR...... xi
DAFTAR LAMPIRAN.... xii
BAB I

PENDAHULUAN.. 1
1.1 Latar belakang... 1
1.2 Perumusan masalah.... 3
1.3 Tujuan.....3
1.3.1 Tujuan umum...... 3
1.3.2 Tujuan khusus...... 3
1.4 Hipotesis.. 4
1.5 Manfaat.... 4
1.5.1 Manfaat untuk peneliti.... 4
1.5.2 Manfaat untuk masyarakat...... 4
1.5.3 Manfaat untuk institusi pendidikan..... 4
1.5.4 Manfaat untuk ilmu pengetahuan.................................... 4

BAB II

TINJAUAN, RIGKASAN PUSTAKA DAN KERANGKA


TEORI..5
2.1 Mata.... 5
2.1.1 Komponen Optik Mata.....5
2.1.2 Komponen Neural Mata.. ....6
2.1.3 Fisiologi Penglihatan....7
2.2 Penurunan Ketajaman Penglihatan.7
2.2.1 Klasifikasi Penurunan Ketajaman Penglihatan............8
2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Ketajaman
Penglihatan......................................................................9
2.2.3 Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan..........................11
2.3 Intensitas Penggunaan Laptop.13
2.3.1 Definisi....13
2.3.2 Laptop.13
2.3.3 Gangguan Visual Akibat Penggunaan Laptop14
2.3.4 Mekanisme Penglihatan pada Layar Monitor.15
2.4 Ringkasan Pustaka..17

2.5 Kerangka Teori...18


BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL.... 19


3.1 Kerangka konsep....19
3.2 Variabel Penilitian..20
3.2.1 Variabel Tergantung20
3.2.2 Variabel Bebas.20
3.3 Definisi Operasional...20

BAB IV

METODE..... 21

4.1 Desain Penelitian....21


4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian..21
4.3 Populasi dan sampel penelitian...21
4.3.1 Populasi...21
4.3.2 Sampel.21
4.3.2.1 Besar sampel... ...21
4.3.2.2 Pemilihan Sampel...23
4.4
Bahan dan instrument penelitian...23
4.5 Analisis data.......23
4.5.1 Analisis univariat.....23
4.5.2 Analisis bivariat...23
4.6 Alur kerja penelitian.24
4.7 Etika penelitian.24
4.8 Penjadwalan penelitian.25
BAB V

HASIL PEMBAHASAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

26

5.1 Analisis Univariat..........26


5.1.1 Karakteristik Responden....................................................26
5.2 Analisis Bivariat....................28
BAB VI

PEMBAHASAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

31

6.1 Pembahasan................................................................................31
6.2 Keterbatasan Penelitian..............................................................34
6.3 Kelebihan Penelitian...................................................................35
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36
7.1

Kesimpulan.............36
7.2 Saran.......................................36

DAFTAR PUSTAKA.38
LAMPIRAN....41

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Intensitas Penggunaan Laptop.............................................................14
Table 2 Ringkasan Pustaka...............................................................................17
Tabel 3 Definisi Operasional............................................................................20
Tabel 4 Karakteristik Responden Siswa Kelas XI SMA Labschool.................26
Tabel 5 Distribusi Penggunaan Laptop.............................................................27
Tabel 6 Hubungan Penggunaan Laptop dan Jenis Kelamin.............................28
Tabel 7 Hubungan Penggunaan Laptop dan Ketajaman Penglihatan...............29

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Anatomi Mata..................................................................................6
Gambar 2 Perbedaan Gambar dan Pixel...........................................................15
Gambar 3 Resting Point of Accomodation.......................................................16
Gambar 4 Skema Kerangka Teori.....................................................................18
Gambar 5 Skema Kerangka Konsep.................................................................19
Gambar 6 Alur Kerja Penelitian.......................................................................24

10

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Formulir Permohonan Kaji Etik...................................................
Lampiran 2. Informed Consent.........................................................................
Lampiran 3. Kuisioner......................................................................................
Lampiran 4. Formulir Persetujuan Etik Riset...................................................
Lampiran 5. Data Entry....................................................................................
Lampiran 6. Output SPSS.................................................................................
Lampiran 7. Surat Pernyataan Kontribusi Kepengarangan..............................

11

12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mata adalah salah satu indera yang paling penting bagi manusia. Fungsi mata
sebagai indera penglihatan menyebabkan kelainan apapun yang terjadi di mata
dapat sangat mengganggu aktivitas hidup sehari-hari. Seorang siswa tanpa
penglihatan yang baik akan sulit menyerap dan memahami pelajaran yang
diberikan oleh gurunya dalam proses kegiatan belajar mengajar. Penurunan tajam
penglihatan yang minimal mungkin tidak disadari oleh siswa tersebut karena
kemampuan pemahaman siswa tersebut terhadap proses yang terjadi pada dirinya
belum maksimal. Penurunan tajam penglihatan atau visus jika dibiarkan dapat
mengakibatkan semakin parahnya kerusakan mata yang terjadi dan menurunnya
prestasi belajar siswa.(1)
Indonesia memiliki prevalensi tertinggi kedua kebutaan dan penglihatan dari
negara manapun di dunia, di belakang hanya Ethiopia.(2) Menurut data terakhir
yang tersedia mengenai kebutaan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia),
pada tahun 2000 tingkat kebutaan di Indonesia adalah 1,5%, dan merupakan
tingkat tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara; tingkat kebutaan di
Bangladesh adalah 1,0%, di India 0,7%, dan di Thailand 0,3%. Tapi, belum ada
data yang tepat pada penurunan ketajaman penglihatan dan kebutaan pada anakanak di Indonesia.(3) Sebuah survei tahun 2003 di Sumatera ditemukan bahwa 2,2
persen orang yang buta bilateral dan 5,8 persen memiliki bilateral rendah vision.(4)
Ciner dkk tahun 1998 menyatakan, kelainan refraksi berada di urutan ke
empat kelainan terbanyak pada anak, dan merupakan penyebab utama kecacatan
pada anak. Di Indonesia, gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi dengan
prevalensi sebesar 22,1% juga menjadi masalah yang cukup serius mengingat
kelainan refraksi merupakan penyebab penurunan ketajaman penglihatan mata.(5)
Kecendrungan bekerja di dalam ruangan akan memicu kerja mata untuk
melihat sangat dekat, misalnya ketika bekerja menggunakan komputer, bermain
play station, juga menyaksikan acara televisi. Dalam hal ini gangguan pada mata

disebabkan adanya kejadian berulang yang menyebabkan bayangan tidak jatuh


pada retina sehingga mengakibatkan seseorang mengalami penurunan ketajaman
penglihatan.(6)
Secara global, komputer pribadi adalah salah satu perangkat yang paling
umum. Hampir semua lembaga, perguruan tinggi, universitas, sekolah dan rumah
saat ini menggunakan komputer secara teratur. Menggunakan komputer telah
menjadi kebutuhan abad ke-21. Penggunaan komputer untuk menjelajahi internet
dan video game juga meningkat; akibatnya, sebagian besar orang menghabiskan
sebagian besar waktu mereka di depan komputer, terlebih sejak ditemukannya
teknologi baru berupa komputer portable yang disebut komputer jinjing atau
laptop.(7) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, laptop adalah komputer pribadi
yang agak kecil, dapat dipangku penggunaannya, dan dibawa kemana-mana. Bila
dilihat dari segi penggunaannya, laptop semakin menjadi primadona dibandingkan
dengan komputer. Hal ini dikarenakan harga laptop yang semakin terjangkau
dibandingkan harga computer dan lebih fleksibel karena mudah dibawa kemanamana.(8)
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam penelitian Younger Americans
library habits and expectations, 91% dari siswa SMA berusia 16-17 tahun
memiliki komputer dan laptop, mengalahkan kelompok umur yang lain. Usia 3049 tahun merupakan kelompok umur tertinggi kedua, yaitu 85%. Orang Amerika
berusia 18 sampai 24 dan mereka yang berusia 25 sampai 29 dilaporkan sebanyak
82% sedangkan antara 50- 64 taun sebanyak 75%. Dan kepemilikan komputer
dan laptop di usia 65 tahun keatas adalah 57%.(9)
Penelitian di University of South Carolina mengkategorikan penggunaan
komputer menjadi tiga kategori yaitu ringan (kurang dari 2 jam), sedang (2-4
jam), dan berat (lebih dari 4 jam) per hari. Penelitian Sen et al (2007)
menunjukkan hampir setengah dari pengguna komputer menggunakan komputer
secara terus menerus tanpa istirahat lebih dari 2 jam per harinya. Penelitian
Hoesin et al (2007) di 16 kota di Indonesia menunjukkan rata-rata penggunaan
komputer di Indonesia kurang dari 5 jam per hari. Berdasarkan penelitian
Indriawati et al (2008), di Bantul, 7 % pengguna komputer menggunakan

komputer dalam intensitas yang rendah, 3 % dengan intensitas sedang, 83 %


dengan intensitas tinggi.(8)
Tingginya intensitas penggunaan komputer dan laptop dapat menimbulkan
gangguan penglihatan. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa gejala
penglihatan muncul pada 75%-90% pengguna komputer. Bausch dan Lomb
melaporkan bahwa 60 juta orang menderita masalah mata atau penglihatan karena
pekerjaan yang menggunakan komputer dan satu juta kasus baru dilaporkan tiap
tahunnya.(9) Gejala yang dilaporkan sering dialami oleh pengguna komputer
adalah lelah mata, iritasi, mata merah, diplopia, dan penurunan tajam penglihatan
atau mata kabur.(10) Grace dkk melaporkan hasil penelitiannya bahwa ada
hubungan signifikan antara waktu penggunaan laptop dengan keluhan penglihatan
pada mata pada mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Makassar.(8)
Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
ketajaman penglihatan mata, khususnya hubungan antara intensitas penggunaan
laptop dan ketajaman penglihatan mata agar dapat dilakukan upaya antisipasi dan
mencegah terjadinya penurunan tajam penglihatan mata.
1.2 Perumusan masalah
Apakah ada hubungan antara intensitas penggunaan laptop dan ketajaman
penglihatan siswa SMA Labschool Jakarta?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan laptop dan ketajaman
penglihatan siswa SMA Labschool Jakarta.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui prevalensi ketajaman penglihatan pada siswa SMA Labschool
di Jakarta
b. Mengetahui intensitas penggunaan laptop dalam satu hari pada siswa SMA
Labschool Jakarta.

c. Mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan laptop dan ketajaman


penglihatan pada siswa SMA Labschool Jakarta.
1.4 Hipotesis
Intensitas penggunaan laptop berhubungan dengan penurunan visus siswa
SMA Labschool Jakarta.
1.5 Manfaat
1.5.1 Peneliti
Sebagai pengalaman dan pembelajaran dalam menyusun sebuah
1.5.2

penelitian serta sebagai syarat kelulusan Sarjana Kedokteran.


Masyarakat
Sebagai masukan informasi mengenai dampak penggunaan laptop

1.5.3

berlebihan terhadap penurunan visus mata.


Institusi Pendidikan
Sebagai referensi Perpustakaan Fakultas Kedokteran Universitas

1.5.4

Trisakti serta bahan informasi untuk penelitian selanjutnya.


Ilmu Pengetahuan
Memperkaya pengetahuan mengenai tajam penglihatan

serta

hubungannya dengan intensitas penggunaan laptop.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mata
4

Mata merupakan organ penglihatan yang berbentuk bola dengan diamater


sekitar 2,5 cm, terletak dalam rongga orbita dan diselimuti bantalan lemak untuk
meredam goncangan. Supaya dapat menjalankan fungsi penglihatan, mata terdiri
dari komponen optik dan komponen neural dan dapat bekerja secara efektif
menerima cahaya dengan rentang intensitas sekitar 10 milyar cahaya.(11,12)
2.1.1 Komponen Optik Mata
Komponen optik mata adalah elemen transparan dari mata yang tembus
cahaya serta mampu membelokkan cahaya (refraksi) dan memfokuskannya pada
retina. Bagian-bagian ini mencakup kornea, aqueous humor, lensa, dan badan
vitreus.(12)
Kornea merupakan selaput bening mata yang tembus cahaya dan avaskuler,
berfungsi untuk memfokuskan bayangan dengan cara membiaskan atau
membelokkan berkas cahaya. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan
anterior dari kornea. Perubahan bentuk dan kejernihan kornea akan mengganggu
pembentukan bayangan normal di retina. Karena itu, kelainan sekecil apapun yang
terjadi di kornea dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat.(11)
Aqueous humor merupakan cairan serosa yang disekresi oleh badan siliar ke
kamera okuli posterior (ruang antara iris dan lensa). Cairan ini mengalir melalui
pupil menuju kamera okuli anterior yaitu ruang antara kornea dan iris. Dari area
ini, cairan yang disekresikan akan direabsorbsi kembali oleh pembuluh darah yang
disebut kanalis Schlemm.(11)

Gambar 1. Anatomi Mata(6)


Lensa terletak di belakang pupil dan digantung oleh ligamentum suspensorius
ke badan siliaris. Tegangan dari ligamentum suspensorius memipihkan lensa

sehingga mencapai ketebalan 3,6 mm dengan diameter 9,0 mm.(11) Badan


vitreus merupakan suatu jeli transparan yang mengisi ruangan besar di belakang
lensa untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis.(11)
2.1.2 Komponen Neural Mata
Komponen neural mata terdiri dari retina dan nervus optikus. Retina
merupakan suatu membran

tipis dan transparan yang terfiksasi pada diskus

optikus dan ora serrata. Diskus optikus merupakan lokasi dimana nervus optikus
meninggalkan bagian belakang (fundus) bola mata. Karena tidak mengandung
reseptor penglihatan, bagian ini sering disebut sebagai bintik buta. Ora serrata
merupakan tepi anterior dari retina. Retina tertahan ke bagian belakang dari bola
mata oleh tekanan yang diberikan oleh badan vitreus. Pada bagian posterior dari
titik tengah lensa, pada aksis visual mata, terdapat sekelompok sel yang disebut
makula lutea dengan diameter kira-kira 3 mm. Pada bagian tengahdari makula
lutea terdapat satu celah kecil yang disebut fovea centralis. Fovea centralis
menghasilkan gambar/visual yang tajam.(11,12)

2.1.3 Fisiologi Penglihatan


Proses kerja mata diawali dengan masuknya cahaya melalui kornea,
kemudian dibiaskan oleh aqueous humour ke arah pupil. Pada bagian pupil,
jumlah cahaya yang masuk dikontrol secara otomatis. Bila jumlah cahaya yang
masuk banyak ukuran pupil akan mengecil, sedangkan bila jumlah cahaya yang
masuk sedikit ukuran pupil akan melebar. Ketika dilatasi maksimal, pupil dapat
dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika sedang
konstriksi maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil
pada iris yaitu papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan
papillary dilator yang terdiri dari sel-sel epitelial kontraktil yang telah
termodifikasi. Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai myoepithelial cells.(12,14)
Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata, pembentukan
bayangan pada retina bergantung pada kemampuan refraksi mata. Kornea
merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa hanya berfungsi untuk
menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada benda yang dekat
dan jauh. Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan mencapai retina,
cahaya maupun objek yang telah difokuskan pada retina, merangsang sel saraf
batang dan kerucut untuk bekerja kemudian akan diteruskan ke serat saraf optik,
ke otak dan kemudian otak bekerja untuk memberi tanggapan sehingga
menghasilkan penglihatan. Sel saraf batang bekerja untuk penglihatan dalam
suasana kurang cahaya, misal malam hari. Sedangkan sel saraf kerucut bekerja
untuk penglihatan suasana terang, misal siang hari.(12,14)
2.2 Penurunan Ketajaman Penglihatan
Ketajam penglihatan adalah kemampuan untuk membedakan antara dua titik
yang berbeda pada jarak tertentu. Bila pandangan diarahkan ke suatu titik yang
jaraknya kurang dari 6 meter, mekanisme pemfokusan mata untuk menambah
kekuatan fokus mata dan mendapatkan bayangan yang jelas di retina harus
diaktifkan. Kemampuan mata untuk merubah daya fokusnya disebut akomodasi,
yang berubah tergantung usia. Tajam penglihatan normal rata-rata bervariasai
antara 6/4 hingga 6/6. Penglihatan yang optimal hanya dapat dicapai bila terdapat

suatu jalur saraf visual yang utuh, stuktur mata yang sehat serta kemampuan fokus
mata yang tepat.(15)
2.2.1 Klasifikasi Penurunan Visus
Penurunan ketajaman penglihatan dapat diklasifikasikan berdasarkan hasil
pengukuran menggunakan Snellen chart Optotipe, sebagai berikut(12):
1. Tajam penglihatan normal
Pada tahap ini penglihatan mata normal dan sehat. Yang termasuk tajam
penglihatan normal adalah visus dengan pengukuran optotipe snellen yang
berjarak 6 meter didapatkan visus 6/3, 6/5, 6/6, dan 6/7,5.
2. Tajam penglihatan hampir normal
Pada tahap ini penurunan visus tidak menimbulkan masalah gawat, akan tetapi
perlu diketahui penyebab mungkin suatu penyakit yang dapat diperbaiki. Yang
termasuk tajam penglihatan hampir normal adalah visus dengan pengukuran
optotipe snellen yang berjarak 6 meter didapatkan visus 6/9, 5/9, 6/12, 6/15, 6/18,
dan 6/21.
3. Gangguan penglihatan sedang
Pada tahap ini dengan kaca mata kuat atau kaca pembesar masih dapat
membaca dengan cepat. Yang termasuk gangguan penglihatan sedang adalah visus
dengan pengukuran optotipe snellen yang berjarak 6 meter didapatkan visus 6/24,
6/30, dan 6/38.
4. Gangguan penglihatan berat
Pada tahap ini masih mungkin orientasi dan mobilitas umum akan tetapi
mendapat kesukaran pada lalu lintas dan melihat nomor mobil. Untuk membaca
diperlukan dengan kaca pembesar kuat. Yang termasuk gangguan penglihatan
berat adalah visus dengan pengukuran optotipe snellen yang berjarak 6 meter
didapatkan visus 6/60, 6/90, dan 6/120.
5. Gangguan penglihatan nyata
Pada tahap ini dengan penderita mulai bertambah masalah orientasi dan
mobilisasinya. Yang termasuk gangguan penglihatan nyata adalah visus dengan

dengan pengukuran optotipe snellen yang berjarak 6 meter didapatkan visus


6/240.
6. Hampir buta
Yang termasuk hampir buta adalah visus dengan penglihatan kurang dari 4
kaki untuk menghitung jari.
7. Buta total
Penderita tidak mengenal rangsang sama sekali.
Menurut data terakhir yang tersedia mengenai kebutaan (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia), pada tahun 2000 tingkat kebutaan di Indonesia
adalah 1,5%, dan merupakan tingkat tertinggi di antara negara-negara Asia
Tenggara; tingkat kebutaan di Bangladesh adalah 1,0%, di India 0,7%, dan di
Thailand 0,3%. Tapi, belum ada data yang tepat pada penurunan tajam
penglihatan dan kebutaan pada anak-anak di Indonesia.(17)
Penurunan ketajaman penglihatan sering diikuti oleh penurunan kinerja
manusia dalam menangani tugas yang dibebankan.(20,22)
2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Ketajaman Penglihatan
1. Kuat penerangan atau pencahayaan
Menurut Amrita (2000), penelitiannya menunjukkan adanya pengaruh
pencahayaan terhadap ketajaman penglihatan yang berkaitan dengan kecepatan
dan ketelitian tenaga kerja bagian pengelasan di industry kecil Tabanan, Bali .(15)
Apabila seseorang berada di tempat yang sangat terang untuk waktu yang lama,
maka banyak sekali fotokimiawi yang terdapat didalam sel batang dan sel kerucut
diubah menjadi retinal dan opsin. Selanjutnya sebagian besar retinal dalam sel
batang dan sel kerucut akan banyak berkurang, akibatnya sensitivitas terhadap
cahaya juga turut berkurang. Pencahayaan yang kurang memadai dapat
menimbulkan kelelahan mata akibat kontraksi otot siliaris yang terus-menerus
untuk mendapatkan penglihatan yang baik.(17) Hal ini dapat mengganggu
kemampuan akomodasi mata yang berujung pada penurunan ketajaman
penglihatan.(16)

2. Radiasi elektromagnetik
Pengaruh gelombang sinar yang dihasilkan layar monitor komputer dan laptop
dapat mempengaruhi daya akomodasi mata. Hal ini dikarenakan sinar biru yang
dihasilkan komputer paling bersifat miopigenik.(16)
3. Intensitas penggunaan elektromagnetik
Mata sebenarnya tidak terlalu tepat untuk menatap layar monitor karena mata
tidak dapat terlalu lama berusaha untuk memfokuskan pada titik-titik kecil atau
pixel yang membentuk bayangan pada layar monitor.(4) Seorang pengguna laptop
harus terus-menerus berusaha memfokuskan matanya untuk menjaga ketajaman
gambar yang dilihatnya pada layar monitor. Proses tersebut mengakibatkan
timbulnya stres yang berulang-ulang pada otot mata. Hal tersebut semakin
diperberat dengan berkurangnya frekuensi berkedip sehingga mata menjadi kering
dan terasa perih. Akibatnya kemampuan mata untuk memfokuskan diri menjadi
berkurang dan penglihatan akan menjadi kabur.(5)
4. Usia
Ketajaman penglihatan berkurang menurut bertambahnya usia. Pada tenaga
kerja berusia lebih dari 40 tahun, visus jarang ditemukan 6/6, melainkan
berkurang. Oleh karena itu kontras dan ukuran benda perlu lebih besar untuk
melihat dengan ketajaman yang sama. Penurunan kemampuan akomodasi yang
berkaitan dengan usia disebut presbiop. Presbiop timbul mulai umur kira-kira 40
tahun.(15) Bertambahnya umur mengakibatkan lensa bertambah besar dan lebih
pipih, berwarna kekuningan dan menjadi lebih keras. Kondisi seperti ini
mengakibatkan lensa kehilangan kekenyalan dan kapasitas untuk melengkung
juga berkurang.(11)
5. Herediter
Proporsi gangguan penglihatan pada kelompok yang memiliki keluarga
berkacamata

lebih

tinggi

dibandingkan

yang

tidak

memiliki

keluarga

berkacamata. Dari penelitian yang dilakukan pada 479 siswa di Kabupaten


10

Karangasem pada bulan Agustus 2008, 95% mengalami kebutaan dan 4,6%
mengalami gangguan penglihatan parah. Dari data tersebut 35,9% penyebab
kebutaan atau gangguan penglihatan parah terletak pada bola mata, 18,9% pada
retina, 16,4% pada lensa, serta 16,1% pada kornea. Sebagian besar tidak diketahui
penyebabnya, akan tetapi 31,9% disebabkan oleh faktor herediter.(16)
2.2.3 Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan
Pemeriksaan tajam penglihatan merupakan pemeriksaan fungsi mata.
Gangguan penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab
kelainan mata yang mengakibatkan turunnya tajam penglihatan. Tajam
penglihatan perlu dicatat pada setiap mata yang memberikan keluhan mata.(12)
Untuk mengetahui tajam penglihatan seseorang dapat dilakukan dengan kartu
Snellen menentukan jumlah jari (hitung jari), ataupun proyeksi sinar. Untuk
besarnya kemampuan mata membedakan bentuk dan rincian benda ditentukan
dengan kemampuan melihat benda terkecil yang masih dapat dilihat pada jarak
tertentu.(12)
Kemampuan mata melihat benda atau secara rinci sebuah objek secara
kuantitatif ditentukan dengan 2 cara :
1. Sebanding dengan sudut resolusi minimum (dalam busur menit). Ini
merupakan tajam penglihatan resolusi. Disebut juga resolusi minimum tajam
penglihatan.
2. Dengan fraksi Snellen. Ini ditentukan dengan mempergunakan huruf atau
cincin Landolt atau objek ekuivalen lainnya.
Biasanya pemeriksaan tajam penglihatan ditentukan dengan melihat
kemampuan mata membaca huruf-huruf berbagai ukuran pada jarak baku untuk
kartu. Hasilnya dinyatakan dengan angka pecahan seperti 20/20 untuk penglihatan
normal. Pada keadaan ini mata dapat melihat huruf pada jarak 20 kaki yang
seharusnya dapat dilihat pada jarak tersebut.(12)
Dengan kartu Snellen standar dapat ditentukan tajam penglihatan atau
kemampuan melihat seseorang, seperti:(12)

11

Bila tajam penglihatan 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada jarak 6

meter, yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter
Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan angka

30, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/30


Bila pasien hanya dapat membaca huruf pada baris yang menunjukkan angka

50, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/50


Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti ia hanya dapat terlihat pada jarak 6

meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter
Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen maka
dilakukan uji hitung jari. Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada

jarak 60 meter
Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang
diperlihatkan pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam 3/60. Dengan
pengujian ini tajam penglihatan hanya dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti

hanya dapat menghitung jari pada jarak 1 meter.


Dengan uji lambaian tangan, makan dapat dinyatakan tajam penglihatan
pasien yang lebih buruk daripada 1/60. Orang normal dapat melihat gerakan
atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila mata hanya dapat melihat
lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatannya adalah

1/300.
Kadang-kadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat
melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai tajam penglihatan 1/~.

Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tak terhingga.
Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar, maka dikatakan
penglihatannya adal 0 (nol) atau buta total.

2.3 Intensitas Penggunaan Laptop


2.3.1 Definisi
Intensitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan
tingkatan. Menurut John M. Echols, dalam Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, kata
intensitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu intense yang berarti semangat, giat.
Secara sederhana, intensitas dapat diartikan sebagai tingkatan usaha yang
dilakukan seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga dapat disimpulkan

12

bahwa intensitas penggunaan laptop adalah tingkatan usaha (seberapa sering) dan
seberapa lama waktu seseorang dalam menggunakan laptop.
2.3.2

Laptop
Dimulai pada pertengahan tahun 1970-an, perakit komputer menawarkan

produk komputer mereka ke masyarakat umum. Sejak itu komputer tidak hanya
digunakan di lembaga-lembaga saja, komputer juga dapat dimiliki secara pribadi.
Dengan bantuan perangkat komputer, pekerjaan yang dilakukan menjadi semakin
cepat dengan akurasi yang cukup tinggi sehingga akan terjadi penghematan baik
tenaga dan waktu.(18)
Komputer kemudian berevolusi menuju ukuran yang lebih kecil, dari
komputer yang digunakan di atas meja (desktop computer) menjadi komputer
yang dapat dimasukkan ke dalam tas (laptop). Komputer dengan mobilitas lebih
tinggi ini membuatnya lebih praktis bila disbanding dengan PC sehingga ia lebih
banyak diminati berbagai kalangan masyarakat. Hal ini terlihat berdasarkan data
Apkomindo (Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia), pada kuartal keempat
tahun 2009, penjualan PC diyakini stagnan di level 300.000 unit, sedangkan
penjualan laptop tembus hingga 450.000 unit.(18)
Menurut Hedge, Direktur Human Factors and Ergonomics Laboratory di
University Cornell, mengatakan bahwa dilihat dari desainnya, laptop tidak pernah
dimaksudkan sebagai pengganti PC. Laptop seharusnya hanya sebagai pengguna
sesekali, tidak untuk menjadi mesin yang digunakan saat bekerja selama 8 jam
sehari, 52 minggu dalam setahun. Peran laptop yang sangat besar dewasa ini,
ditambah penggunaan internet yang semakin popular menyebabkan kebanyakan
orang menghabiskan waktu di depan laptop sedikitnya 3 jam sehari. The
University of North Carolina at Asheville mengelompokkan beban kerja pekerja
laptop atas dasar lama waktu kerja:(18)
1. Pekerja komputer/laptop dengan beban kerja berat adalah pekerja dengan
lama waktu kerja 4 jam sehari secara terus-menerus.
2. Pekerja komputer/laptop dengan beban kerja sedang adalah pekerja
dengan lama waktu kerja 2-4 jam sehari secara terus-menerus
3. Pekerja komputer/laptop dengan beban kerja ringan adalah pekerja dengan
lama waktu kerja kurang dari 2 jam sehari secara terus-menerus

13

Tabel 1. Intensitas Penggunaan Laptop(18)


Intensitas Penggunaan Laptop

Minggu

Bulan

Keterangan

>10 jam

40 jam

Tinggi

Pengguna Sedang

2,5-10 jam

10-40 jam

Sedang

Pengguna Ringan

<2,5 jam

<10 jam

Berat

Pengguna Berat

Gangguan yang sering terjadi pada pengguna laptop adalah gangguan


muskuloskeletal dan gangguan visual(19)
2.3.3 Gangguan Visual Akibat Penggunaan Laptop
Keluhan yang akan ditimbulkan akibat penggunaan laptop pada mata hampir
sama dengan keluhan yang ditimbulkan akibat penggunaan komputer PC.
Grandjean (1981) dalam Oborne (1995) membedakan keluhan dari pengguna
Visual Display Unit termasuk laptop menjadi dua jenis, yaitu(18) :
1. Visual discomfort, dengan gejala mata terasa sakit, panas, lelah, sakit yang
menusuk, dan pusing.
2. Visual Impairment, dengan gejala penglihatan kabur (rabun dekat dan
jauh), sering berkedip, dan penglihatan ganda.
2.3.4 Mekanisme Penglihatan pada Layar Monitor
Sistem fokus mata manusia tidak diperuntukkan untuk karakter elektronik
yang dihasilkan dari layar monitor. Sistem fokus mata merespon sempurna
terhadap gambar dengan tepi yang didefinisikan dengan jelas, seperti latar
belakang yang memiliki kontras baik (misalnya huruf hitam dengan latar belakang
putih). Huruf-huruf pada layar monitor terbentuk dari pixel-pixel kecil. Setiap
pixel lebih terang di bagian tengahnya dengan penurunan tingkat keterangan di
bagian tepi luarnya.(21)

14

Gambar 2.
Perbedaan Gambar dan Pixel
Sulit bagi mata manusia untuk fokus ke karakter dari pixel layar laptop. Mata
bisa fokus ke laptop tetapi tidak bisa mempertahankan fokus tersebut dalam jarak
panjang. Karenanya, mata akan berelaksasi dengan fokus ke belakang layar. Titik
tempat mata berelaksasi tersebut disebut resting point of accommodation atau
disebut juga dengan titik gelap. Titik gelap masing-masing orang berbeda, namun
jarak antara mata dan titik gelap ini lebih jauh daripada jarak normal mata melihat
layar laptop, yaitu 60 cm.(23) Oleh karena itu, mata merelaksasikan dirinya ke titik
gelap dan berusaha memfokuskan diri lagi ke layar monitor secara terus-menerus.
(21)

Gambar

3. Resting

Point of
Accomodation
Perubahan terus menerus dari usaha badan siliaris untuk memfokuskan mata
menyebabkan kelelahan pada mata yang berdampak pada penurunan daya

15

akomodasi mata. Tanpa adanya daya akomodasi mata yang memadai, tidak bisa
didapatkan ketajaman penglihatan yang normal.(21)

2.4 Ringkasan Pustaka


No

Peneliti

Lokasi
Penelitian

Studi
Desain

Subjek Studi
Mahasiswa
FK UNSRAT
angkatan
2011
berjumlah
100 orang
yang diambil
secara acak

1.

Grace P.
Manado,
Kurmasela, Indonesia
J. S. M.
Saerang ,
Laya Rares

Studi cross
sectional

2.

Hendra,
Devie Fitri
Octaviani

Studi cross
sectional

Jawa
Barat,
Indonesia

Variabel
yang diteliti

Variabel
bebas :
Waktu jeda
penggunaan
laptop
Variabel
tergantung:
Keluhan
penglihatan
Mahasiswa
Variabel
FKM UI
bebas :
yang
Penggunaan
menggunakan laptop
laptop yang
Variabel
berjumlah
tergantung
100 orang
Keluhan
yang diambil kesehatan
secara acak

Hasil
Waktu jeda
penggunaan
laptop
berhubungan
dengan lama
waktu mulai
merasakan
keluhan
penglihatan
Bagian tubuh
yang banyak
dikeluhkan
adalah
bagian leher,
mata, bahu,
punggung
bagian atas
dan
pergelangan
tangan.

Tabel 2. Ringkasan Pustaka

16

2.5 Kerangka Teori

Faktor penurunan ketajaman penglihatan

17

Menurunnya ketajaman penglihatan

Usia

18

Radiasi elektromagnetik

Gambar 4. Kerangka Teori


Kuat penerangan

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Faktor risiko penurunan visus mata

Intensitas
penggunaan
elektromagnet
ik

INTENSITAS
PENGGUNAAN
LAPTOP

KETAJAMAN
PENGLIHATAN

Kuat penerangan

Radiasi elektromagnetik

Pencahayaan terlalu terang


Usia

Herediter

19

Fotokimia di dalam se

Keterangan :
= variabel bebas
= variabel terikat
= yang diteliti

Gambar 5. Kerangka konsep


3.2 Variabel Penelitian
3.2.1 Variabel Tergantung
Ketajaman penglihatan yang diukur dengan alat ukur kartu Optotipe Snellen
pada siswa-siswi SMA X Jakarta
3.2.2 Variabel Bebas
Intensitas penggunaan laptop yang diperoleh melalui kuesioner.
3.3 Definisi Operasional
Tabel 3. Definisi Operasional
No

Variabel

Definisi
operasional

Cara
pengukuran

Alat ukur

Hasil ukur

Skala

1.

Tajam
penglihatan

Kemampuan
untuk
membedakan
antara dua titik
yang berbeda
pada
jarak
tertentu.

Mengukur
visus

Kartu
snellen

-Tajam
penglihatan
normal
-Penurunan
tajam
penglihatan

Ordinal

20

2.

Intensitas
penggunaan
laptop

Tingkatan
usaha
(seberapa
sering) dan
seberapa lama
waktu
seseorang
dalam
menggunakan
laptop

Pengisian
kuesioner
oleh siswa

Kuisioner -Intensitas

Ordinal

Ringan
-Intensitas
SedangTinggi

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Desain penelitian
Penelitian merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional.
4.2 Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian akan dilakukan di SMA Labschool Jakarta yang berlokasi di Jalan
Pemuda, Pulogadung, Kota Jakarta Timur. Pengumpulan data akan dilaksanakan
pada bulan September 2014.
4.3 Populasi dan sampel penelitian
4.3.1 Populasi
Populasi umum pada penelitian ini adalah siswa SMA dengan populasi target
SMA Labschool Jakarta kelas XI yang tercatat aktif sekolah pada tahun ajaran
2014/2015.
4.3.2 Sampel

21

Sampel yang digunakan pada penelitian ini disesuaikan dengan jumlah siswa
SMA Labschool Jakarta, serta disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi
yang ada.
4.3.2.1 Besar Sampel
Dalam menentukan jumlah sampel yang valid, peneliti menggunakan rumus
sebagai berikut :

Populasi infinit

n = Z2 x p x q
d2
Keterangan :
= 1,962 x 0,5x 0,5
n = Besar sampel optimal yang dibutuhkan
0,052
= 384,1 (384)

Z = Pada tingkat kemaknaan 95% besarnya 1,96


p = Prevalensi yang mengalami penurunan tajam penglihatan = 50%(24)
q = Prevalensi yang tidak mengalami penurunan tajam penglihatani (1-p)
d = Akurasi dari ketepatan pengukuran, untuk p = > 10%
adalah 0,05

Populasi finit
n = n0
1 + (n0/N)
=
384
1 + (384/120)
= 91,4

Keterangan
n : Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit
n0 : Besar sampel dari populasi infinit
N : Besar populasi finit

22

Kemudian hasil tersebut ditambahkan dengan faktor drop-out sebesar 15%


menjadi :
= 91 x
15/100
= 13,7
Sehingga besar sampel yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah 100 + 13,7
menjadi 113,7 yang dibulatkan menjadi 114 orang.

4.3.2.2 Pemilihan Sampel


Penelitian dilakukan pada siswa kelas X1 SMA Labschool Jakarta. Kelas XI
SMA Labschool Jakarta terdiri dari 6 kelas. Memakai cara cluster random
sampling, terpilih 3 kelas yang akan dijadikan sampel penelitian. Kemudian dari
masing-masing kelas yang terpilih akan diambil sampel dengan cara simple
random sampling.
a. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
- Siswa SMA Labschool Jakarta kelas X1 yang masih aktif
- Bersedia mengikuti penelitian
b. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
-

Sampel yang sudah memakai kacamata


Sampel yang tidak menggunakan laptop

4.4 Bahan dan Instrumen Penelitian


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Optotipe Snellen yang
terdiri dari deretan huruf kapital atau angka-angka dengan ukuran yang semakin
mengecil. Selain itu, subyek juga diwawancara dengan kuesioner dengan tujuan
untuk mengetahui intensitas penggunaan laptop pada subyek.

23

Bersedia
Informed Consent

4.5 Analisis Data


4.5.1 Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan
presentase dari tiap variabel yang terdiri dari intensitas penggunaan
laptop
dan Jakarta
Siswa SMA
Labschool
ketajaman penglihatan.
4.5.2

Analisis data

Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan

variabel tergantung dengan menggunakan uji chi square. Uji statistik ini
digunakan untuk mendapatkan nilai probabilitas kejadian antara intensitas
penggunaan laptop dan ketajaman penglihatan dengan menggunakan derajat
Pengumpulan data

kepercayaan (CI) 95% dan tingkat kemaknaan 0,05. Jika >0,05 maka tidak ada

hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung, jika <0,05 berarti ada
hubungan yang bermakna antara variabel bebas dan variabel tergantung.
4.6 Alur Kerja Penelitian

Kuesioner

Penilaia

24

Gambar 5. Alur Kerja Penelitian


4.7 Etika penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penelitian harus mematuhi etika-etika dalam
menjalankan penelitian. Etika-etika yang dimaksud antara lain ialah :
a. Permohonan Izin
Permohonan izin tertulis dengan sepengetahuan Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Trisakti peneliti ajukan kepada SMA Labschool Jakarta untuk dapat
melakukan penelitian di SMA tersebut.
b. Informed Consent
Responden yang dijadikan sampel akan terlebih dahulu diberikan
informed consent
kerahasiaan

yang

terhadapa

bertujuan
data-data

untuk
yang

menjadi

diberikan

jaminan

oleh

mengenai

responden,

dan

responden berhak menerima atau menolak untuk dijadikan subyek


4.8 Penjadwalan penelitian
Aktivitas penelitian ini secara keseluruhan dilaksanakan selama enam
bulan, sejak bulan Agustus 2014 sampai dengan bulan Januari 2015.
No

Tahapan

1
2
3

Kegiatan
Persiapan
Observasi
Pengumpulan

data
Pengolahan
dan

Waktu pelaksanaan
Jun Jul Agus Sept Okt

Nov

Des

Jan

analisis

data
Konsultasi

BAB V
HASIL PENELITIAN

25

5.1 Analisis Univariat


5.1.1 Karakteristik Responden
Tabel 4. Karakteristik Responden Siswa kelas XI SMA Labschool
Frekuensi
Variabel
Jumlah (n)
Persen (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki
59
48,7
Perempuan
56
51,3
Usia
15 tahun
16 tahun
17 tahun
19 tahun
Jumlah

20
89
5
1

17,4
77,4
4,3
0,9

115

100,00

Dari data sampel yang berjumlah 115 orang, lebih dari setengah
siswa SMA Labschool Jakarta berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak
59 orang atau sebesar 48,7%. Sisanya berjenis kelamin perempuan, yaitu
sebanyak 56 orang atau sebesar 51,3%. Responden sebagian besar berusia
16 tahun, yaitu sebanyak 89 orang atau sebesar 77,4% dari total
keseluruhan sampel, diikuti dengan siswa yang berusia 15 tahun sebanyak
20 orang atau 17,4%, yang berusia 19 tahun sebanyak 1 orang atau 0,9%,
dan sisanya merupakan siswa yang berusia 17 tahun, yaitu sebanyak 5
orang atau 4,3%.
5.1.2

Distribusi Penggunaan Laptop


Durasi penggunaan laptop pada penelitian ini paling banyak

berdurasi antara 2-4 jam dalam satu kali pemakaian yaitu sebanyak 56
orang atau 48,7%. Frekuensi penggunaan laptop dalam satu minggu
dominan 3-10 kali, yaitu 65 orang atau 56,5%, dan lama istirahat 0-15
menit merupakan lama istirahat dominan, yaitu 94 orang atau 81,7%.

26

Tabel 5. Distribusi Penggunaan Laptop


Frekuensi
Variabel
Jumlah (n)
Durasi per hari
< 2 jam
16
2-4 jam
56
4 jam
43
Frekuensi per minggu
<3 kali
18
3-10 kali
65
10 kali
32
Lama Istirahat
0-15 menit
94
16-30 menit
21
Intensitas Penggunaan Laptop
Intensitas ringan
5
Intensitas sedang-tinggi
110
Ketajaman Penglihatan
Normal
36
Menurun
79

Persen (%)
13,9
48,7
37,4
15,7
56,5
27,8
81,7
18,3
4,3
95,7
31,3
68,7

Berdasarkan tabel 5, dapat dilihat bahwa dari 115 orang siswa


SMA Labschool Jakarta, terdapat 5 orang atau sebesar 4,3 %
menggunakan laptop dengan intensitas ringan dan sebanyak 110 orang
atau sebesar 95,7 % merupakan pengguna laptop dengan intensitas tinggi.
Ketajaman penglihatan siswa SMA Labschool Jakarta didominasi dengan
ketajaman penglihatan mengalami gangguan, yaitu sebanyak 79 oang atau
sebesar 68,7% dan sisanya sebanyak 36 oang atau 31,3% memiliki tajam
penglihatan normal.

5.2 Analisis Bivariat


Tabel 6. Hubungan penggunaan laptop dan jenis kelamin
Jenis Kelamin

p27

Perempuan
n(%)
Durasi Penggunaan Laptop
< 2 jam
8 (7,0%)
2-4 jam
29 (25,2%)
4 jam
19 (16,5%)
Frekuensi per minggu
<3 kali
11 (9,6%)
3-10 kali
34 (29,6%)
10 kali
11 (9,6%)
Lama Istirahat

Laki-laki
n(%)

Total
n(%)

8 (7,0%)
27(23,5%)
24 (20,9%)

16 (13,9%)
56 (48,7%)
43 (37,4%)

7 (6,1%)
31 (26,6%)
21 (18,3%)

18 (15,7%)
65 (56,5%)
32 (27,8%)

0-15 menit

48 (41,7%)

46 (40,0%)

94 (81,7%)

16-30 menit

8 (6.7%)

13 (11,3%)

21 (18,3%)

value

0,750

0,130

0,282

Intensitas Penggunaan Laptop


Intensitas ringan

3 (2,6%)

2 (1,7%)

5 (4,3%)
0,605

Intensitas
sedang-tinggi

53 (46,1%)

57 (49,6%)

110 (95,7%)

Ketajaman Penglihatan
Normal
14 (12,2%)

22 (19,1%)

36 (31,3%)

37 (32,2%)

79 (68,7%)

Menurun

42 (36,5%)

0,156

Ket: n=jumlah responden; Uji Chi-square ; * : perbedaan bermakna; Uji


Fisher
Berdasarkan tabel 6, tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan
durasi penggunaan laptop (p=0,750), frekuensi penggunaan dalam seminggu
(p=0,130), lama istirahat (0,282), intensitas penggunaan laptop (p=0,605),
dan ketajaman penglihatan (p=0,156).
Responden laki-laki lebih cenderung menggunakan laptop lebih dari 4 jam
per kali penggunaan, lebih dari 10 kali penggunaan per minggu, intensitas
penggunaan laptop termasuk kategori tinggi, dan memiliki lama istirahat yang
lebih lama dibandingkan dengan responden perempuan. Ketajaman
penglihatan responden laki-laki lebih baik dibandingkan dengan perempuan.

28

Tabel 7. Hubungan penggunaan laptop dan ketajaman penglihatan


Ketajaman Penglihatan
Normal
Menurun
n (%)
n(%)
Durasi Penggunaan Laptop
< 2 jam
5 (4,3%)

11 (9,6%)

Total
n(%)

p-value

16 (13,9%)

2-4 jam

17 (14,8%)

39 (34,0)%)

56 (48,7%)

4 jam

14 (12,2%)

29 (25,1%)

43 (37,4%)

<3 kali

11 (9,6%)

7 (6,1%)

18 (15,7%)

3-10 kali

21 (18,3%)

44 (38,3%)

65 (56,5%)

10 kali
Lama Istirahat

8 (7,0%)

24 (20,7%)

32 (27,8%)

20 (17,4%)

74 (64,3%)

94 (81,7%)

5 (4,3%)

21 (18,3%)

0,973

Frekuensi per minggu

0-15 menit

16-30 menit
16 (14,0%)
Intensitas Penggunaan Laptop

0,576

0,000*

Intensitas ringan
2 (1,7%)
3 (2,6%)
5 (4,3%)
0,648
Intensitas sedang34 (29,6%) 76 (66,0%)
110 (95,7%)
tinggi
Ket.: n=jumlah responden; Uji Chi-square ; * : perbedaan bermakna; Uji Fisher
Berdasarkan tabel 7, analisis statistik menunjukkan tidak terdapat
hubungan antara tajam penglihatan dengan durasi penggunaan laptop
(p=0,973), frekuensi penggunaan dalam seminggu (p=0,576), dan intensitas
penggunaan laptop (p=0,648). Tetapi, ketajaman penglihatan berhubungan
secara bermakna dengan lama istirahat (p= 0,000).
Responden dengan ketajaman penglihatan menurun paling banyak terdapat
pada responden yang durasi penggunaan laptop antara 2-4 jam (34,0)%),
frekuensi 3-10 kali per minggu (38,3%), lama istirahat 0-15 menit (64,3%),
dan intensitas penggunaan laptop sedang-tinggi (66,0%).

29

BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Pembahasan

30

Subjek pada penelitian ini adalah anak SMA kelas XI yang berekolah di
SMA Labschool Jakarta dengan rentang usia 15 sampai 19 tahun, dengan rerata
usia kurang lebih 16 tahun. Jumlah seluruh subjek yang memenuhi kriteria inklusi
sebanyak 115 orang. Mayoritas subyek sangat antusias hingga membuat antrian
dalam pemeriksaan meskipun peneliti hanya memberi imbalan dalam bentuk
makanan kecil. Subjek didominasi dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak
59 orang (51,3%) dan sisanya memiliki jenis kelamin perempuan sebanyak 56
orang (48,7%).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian,
yaitu sebanyak 56 orang menggunakan laptop dengan durasi 2 sampai 4 jam per
hari (48,7%) atau yang disebut juga sebagai pengguna laptop dengan beban
sedang. Kemudian diikuti dengan 43 orang subjek yang menggunakan laptop
lebih atau sama dengan 4 jam per hari (37,4%) atau yang disebut juga sebagai
pengguna laptop dengan beban berat. Dan sebagian kecil dari subjek, yaitu 16
orang menggunakan laptop kurang dari 2 jam per hari (13,9%) atau yang disebut
juga sebagai pengguna laptop dengan beban ringan. Hal ini sesuai dengan
penelitian Hoesin dkk di 16 kota di Indonesia, dimana hasil penelitian tersebut
menunjukkan rata-rata penggunaan komputer di Indonesia kurang dari 5 jam per
hari.

(8)

Frekuensi penggunaan laptop sebagian besar subjek, yaitu 65 orang

merupakan 3-10 kali dalam seminggu (56,5%). Dan hanya sebagian kecil subjek
yang menggunakan laptop kurang dari 3 kali perminggu.
Lama istirahat subjek tiap 2 jam dalam satu kali penggunan laptop
didominasi dengan tidak beristirahat sama sekali sampai beristirahat selama 15
menit, yaitu sebanyak 94 orang (81,7%). Sisanya beristirahat selama 16 sampai 30
menit, yaitu sebanyak 21 orang (18,3%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Yulyana dkk, dimana lebih banyak responden beristirahat kurang
dari 15 menit setelah penggunaan komputer dan laptop selama 2 jam secara
berturut-turut, yaitu sebanyak 73,3% dari responden.(29)
Sebagian besar subjek termasuk dalam kategori intensitas penggunaan
laptop sedang-berat, yaitu sebanyak 110 orang (95,7%). Dan hanya 5 orang dari
subjek yang menggunakan laptop dengan intensitas yang ringan (4,3%).

31

Ketajaman penglihatan dari 79 subjek (68,7%) mengalami penurunan, sedangkn


36 subjek (31,3%) lainnya memiliki tajam penglihatan yang normal.
Pada penelitian ini, jenis kelamin responden tidak memiliki hubungan
yang bermakna secara statistik dengan durasi penggunaan laptop (p-value=0,750),
frekuensi penggunaan per minggu (p-value=0,130), lama istirahat dalam
penggunaan latop (p-value=0,282), intensitas penggunaan laptop (p-value=0,605),
dan ketajaman penglihatan (p-value=0,156). Namun didapatkan presentase durasi
penggunaan laptop laki-laki lebih banyak yang menggunakan laptop lebih besar
atau sama dengan 4 jam per hari dibandingkan dengan perempuan, yaitu laki-laki
sebanyak 20,9% dan perempuan sebanyak 16,5%. Didapatkan pula frekuensi
penggunaan laptop pada laki-laki dengan frekuensi penggunaan per minggu lebih
atau sama dengan 10 kali lebih banyak, yaitu 18,3% pada laki-laki dan 9,6% pada
perempuan. Responden laki-laki lebih banyak yang menggunakan laptop dengan
intensitas sedang-berat (49,6%) dibandingkan dengan responden perempuan
(46,1%). Responden laki-laki lebih sedikit (32,2%) yang mengalami penurunan
ketajaman penglihatan dibandingkan perempuan (36,5%), walaupun secara
statistik perbedaannya tidak bermakna (p=0,156). Hal ini mungkin disebabkan
karena lama istirahat lebih dari 15 menit pada laki-laki lebih banyak daripada
perempuan walaupun intensitas, durasi, dan frekuensi penggunaan laptop lebih
banyak pada laki-laki. dapat disimpulkan bahwa ketajaman penglihatan lebih
banyak dipengaruhi oleh lamanya istirahat. Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian Dedy dkk yang dilakukan di Jatinegara, Jakarta Timur, dimana
persentase kejadian kelainan tajam penglihatan lebih banyak pada perempuan
dibandingkan laki-laki, yaitu perempuan 53,2% dan laki-laki 46,8%. Tidak adanya
hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dan kelainan tajam penglihatan
juga sesuai dengan hasil penelitian Dedy dkk. (17)
Intensitas penggunaan laptop adalah tingkatan usaha (seberapa sering) dan
seberapa lama waktu seseorang dalam menggunakan laptop. Responden yang
memiliki intensitas penggunaan laptop tinggi lebih cenderung mengalami
penurunan ketajaman penglihatan (66,0%) dibanding yang memiliki intensitas

32

penggunaan laptop ringan (2,6%), walaupun secara statistik tidak bermakna. Hal
ini mungkin disebabkan karena durasi penggunaan laptop yang lama, frekuensi
penggunaan laptop yang sering, dan lama istirahat yang kurang.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Santy dkk, terjadi penurunan
tajam penglihatan yang bermakna secara statistik sesuai dengan lamanya
penggunaan laptop dan komputer. Pada penelitian tersebut subjek yang
mengalami penurunan visus mengalami pengingkatan sesuai dengan lama
penggunaan komputer.(25) M. Logaraj dkk juga menyimpulkan pada penelitiannya
bahwa penurunan ketajaman penglihatan lebih terbukti terjadi sesuai dengen
pengingkatan waktu penggunaan komputer dan laptop. Pada sampel yang
memakai laptop lebih dari 4-6 jam sehari, didapatkan penurunan

tajam

penglihatan. Sedangkan sampel yang mengunakan laptop kurang dari 1 jam per
hari lebih jarang mengalami gangguan penglihatan yang salah satunya adalah
penurunan tajam penglihatan.(7)
Peningkatan jam kerja di depan komputer tanpa diselingi oleh aktivitas
lain dapat menurunkan kemampuan akomodasi sehingga akan memperberat gejala
gangguan penglihatan pada pekerja pengguna komputer dan laptop.(27) Hal ini
mungkin disebabkan karena jika mata terus-terusan menggunakan laptop dalam
durasi yang panjang, akan terjadi kelelahan yang diakibatkan oleh kontraksi otot
siliaris yang terus-menerus. Hal ini akan mempengaruhi penurunan daya
akomodasi mata yang menyebabkan terganggunya tajam penglihatan.(21)
Melalui uji statistik secara Chi-square, dengan melihat nilai p-value 0,000
yang lebih kecil dari p<005 dapat dikatakan ada hubungan yang signifikan antara
lama istirahat dalam penggunaan laptop dan ketajaman penglihatan, atau dapat
dikatakan pula, semakin singkat waktu istirahat seseorang, semakin tinggi juga
resiko terjadinya penurunan tajam penglihatan seseorang. Hasil ini didukung
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bhagat, dimana pada penelitian
tersebut didapatkan bahwa waktu istirahat selama 15 menit setiap 2 jam
pemakaian laptop yang terus-menerus dapat mencegah terjadinya Computer
Vision Syndrome dimana penurunan tajam penglihatan juga merupakan salah satu
gejala utama dari sindroma tersebut. Dengan mengistirahatkan mata selama

33

sekurang-kurangnya 15 menit setiap 2 jam pemakaian dapat membantu


penglihatan kembali fokus.(26) Namun hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil
penelitian Grace, dimana pada penelitian tersebut didapatkan kesimpulan bahwa
waktu jeda penggunaan laptop berhubungan dengan keluhan munculnya gangguan
penglihatan.(8)
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) VDT
Studies and Information menyarankan untuk melakukan istirahat minimal selama
15 menit terhadap pemakaian komputer selama dua jam. Frekuensi istirahat yang
teratur berguna untuk memotong rantai kelelahan sehingga akan menambah
kenyamanan bagi pengguna komputer dan laptop. (28,

29)

Hal ini sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Ye dkk yang menyatakan bahwa istirahat semakin
lama dan sering beristirahat saat menggunakan komputer dan laptop bisa menjadi
faktor protektif terhadap munculnya keluhan penglihatan, sedangkan tidak
beristirahat dapat menyebabkan menjadi faktor resiko gangguan penglihatan.(29)
penggunaan laptop dan komputer secara selama 2 sampai 3 jam perhari tanpa
beristirahat memiliki resiko untuk mengganggu fungsi normal penglihatan.(30)
6.2 Keterbatasan Penelitian
Terdapat beberapa keterbatasan yang membuat penelitian ini memiliki
beberapa kekurangan. Di antaranya mungkin ada subjek yang mengisi kuisioner
tidak sesuai dengan kebiasaan mereka sebenarnya ataupun subjek yang kurang
mengerti isi kuisioner namun tidak bertanya kepada penulis. Selain itu jumlah
sampel yang kecil yang hanya dilakukan pada kelas XI saja sehingga tidak dapat
menggambarkan hasil pada keseluruhan populasi di SMA Labschool Jakarta. Pada
penelitian ini digunakan desain studi potong silang, yaitu hanya dalam
pengamatan sewaktu. Yang seharusnya akan lebih baik jika dapat meninjau atau
menilai subyek kembali di satu bulan berikutnya.
6.3 Kelebihan Penelitian
Kelebihan dari penelitian ini adalah masih sedikitnya penelitian yang
membahas mengenai ketajaman penglihatan. Sebagian besar jurnal hanya

34

membahas mengenai Sindroma Penglihatan Komputer tanpa membahas lebih


lanjut mengenai gangguan pada ketajaman penglihatan dari subjek. Hal ini bisa
menjadi pemicu untuk peneliti lain meneliti mengenai hal tersebut.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian yang telah dibahas di bab
sebelumnya, dapat disimpulkan:

35

1. Prevalensi gangguan tajam penglihatan (menurun) siswa SMA Labschool


Jakarta adalah sebesar 68,7%.
2. Intensitas penggunaan laptop siswa SMA Labschool Jakarta didominasi oleh
intensitas penggunaan laptop sedang-berat, yaitu sebanyak 95,7%.
3. Responden yang memiliki intensitas penggunaan laptop tinggi lebih
cenderung mengalami gangguan tajam penglihatan (menurun) (66,0%)
dibanding yang memiliki intensitas penggunaan laptop ringan walaupun
secara statistik tidak bermakna.
4. Lama istirahat dalam menggunakan laptop berhubungan bermakna dengan
penurunan tajam penglihatan. Penggunaan laptop dengan jeda istirahat kurang
dari 15 menit lebih berisiko untuk mengalami penurunan tajam penglihatan.
7.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan beberapa hal :
1. Untuk peneliti selanjutnya disarankan agar benar-benar ditekankan kepada
subjek untuk mengisi kuisioner sesuai kebiasaan mereka sebenarnya,
menggunakan sampel tidak hanya pada angkatan tertentu tetapi dengan
menjadikan seluruh siswa SMA Labschool Jakarta sebagai populasi
penelitian, dan menggunakan desain studi Kohort agar tajam penglihatan
responden bisa ditinjau kembali.
2. Bagi pengguna laptop disarankan untuk mengistirahatkan matanya selama
lebih dari 15 menit setiap 2 jam pemakaian untuk menghindari gangguan
pada tajam penglihatan.
3. Bagi guru dan orang tua diharapkan dapat memperhatikan kebiasaan siswa
dan anak dalam penggunaan laptop sehingga dapat mencegah terjadinya
gangguan tajam penglihatan.

36

DAFTAR PUSTAKA
1. Sutrisna,EM,dkk. 2007. Pelatihan Pemeriksaan Tajam Penglihatan
Pada Siswa Kelas 5 SD Gedongan I, Colomadu, Karanganyar. Warta
No.1/Vol /10/Maret 2007: 19 24.
2. Husain R, Saw S, Farook M, et al. Prevalence and Causes of Visual
Impairment in Sumatra, Indonesia. Investigative Ophthalmology
2003;44.

37

3. R. Sitorus, M. Preising, B. Lorenz. Causes of blindness at the Wiyata


Guna School for Blind, Indonesia. Br J Ophtalmol 2003; 87.
4. Ratnaningsh N. 2007. Prevalence of Blindness and Low Vision in
Sawah Kulon Village, Purwakarta District, West Java, Indonesia.
Journal of Community Eye Health 2007;20.
5. Launardo, dkk. 2010. Kelainan Refraksi pada Anak Usia 3-6 tahun di
Kecamatan Tallo Kota Makassar. Universitas Hasanudin.
6. Saladin, K.S. 2006. Anatomy & Physiology: The Unity of Form and
Function. 3rd ed NewYork: McGraw-Hill.
7. Logaraj M, Madhupriya V, Hegde S. 2014. Computer Vision
Syndrome and Associated Factors Among Medical and Engineering
Students in Chennai. Ann Med Health Sci Res. 4(2)/2006: 179185.
8. Kurmasela G , Saerang J, Rares L. 2013. Hubungan Waktu
Penggunaan Laptop dengan Keluhan Penglihatan pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jurnal e-Biomedik
(eBM), Volume 1/ Nomor 1/2013; 291-299.
9. Edi S. Affandi. Sindrom Penglihatan Komputer. Majalah Kedokteran
Indonesia Vol 3;2005:297-300.
10. Rajeev A, Gupta A, Sharma M. Visual Fatigue and Computers Use
Among College Students. Indian J Comm Med 2006;31:192-3.
11. Affandi, E. Sindrom Penglihatan Komputer. Majalah Kedokteran
Indonesia. No. 03/Vol. 55/Februari 2005. Halm. 298.
12. Ilyas, Sidarta. 2011. Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI.
Jakarta, Indonesia.
13. Saladin, K.S. 2006. Anatomy & Physiology: The Unity of Form and
Function. 3rd ed NewYork: McGraw-Hill.
14. Noer, H. Analisis Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Kelelahan Mata.
Jakarta: Universitas Indonesia 2009; 5-8.
15. Ulfah, Nur et all. Pengaruh Usia dan Status Gizi terhadap Ketajaman
Penglihatan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Jendral Soedirman 2013;Vol. 6, No.1.
16. Indah N, Astrid B, Tri R. Hubungan Antara Kerja Jarak Dekat dengan
Miopia pada Penjahit Wanita Departemen Stitching Atletik II Pabrik
Sepatu X Tahun 2004. Maj Kedokt Indon 2010, Volum: 60, Nomor:
3.

38

17. Farchian, Deddy et all. Prevalensi Kelainan Tajam Penglihatan pada


Pelajar SD X Jatinegara Jakarta Timur. Maj Kedokt Indon, Volum:
59, SNomor: 6, Juni 2009.
18. Amanda Zulkarnain. Peranan Laptop Support dalam Mengurangi
Kelelahan pada Pengguna Laptop. INSAN Vol. 14 No. 02, Agustus
2012.
19. Hendra.; Octaviani, D.F.0. Keluhan Kesehatan Akibat Penggunaan
Laptop Pada Mahasiswa. Jurnal Departemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
2010, Jakarta.
20. Aakre, B.M. & Doughty, M.J. Are There Differences Between Visual
Symptoms and Specific Ocular Symptoms Associated with Video
Display Terminal (VDT) Use?. Contact Lens & Anterior Eye 2007: 30
(3): 174-182.
21. Saman Wimalasundera. Computer Vision Syndrome. Galle Medical
Journal 2006;Vol.11(1) 25-29.
22. Nur Ulfah, Siti Harwanti, Ngadiman. Pengaruh Usia dan Status Gizi
terhadap Ketajaman Penglihatan. Universitas Jenderal Soedirman.
Jurusan Kesehatan Masyarakat 2013;75-84.
23. Deddy farchian et all. Prevalensi Kelainan Tajam. Penglihatan pada
Pelajar SD X Jatinegara. Maj Kedokt Indon 2009;Volume: 59.
24. Jobke, Sandra, Erich Kasten, Christian Vorwerk. The Prevalence rates
of refractive errors among children, adolescents, and adults in
germany. Clinical Ophtalmology, 2:2008, 601-606.
25. Kusumawaty, Santy, Siti Rukiah Syawal, Junaedi Sirajuddin.
Computer Vision Syndrome Pada Pegawai Pengguna Komputer di PT.
Bank

Negara

Indonesia

(Persero)

Tbk

Makassar.

Makassar:

Universitas Hasanuddin.
26. P.R, Bhagat, Pawar G. A. Computers: The Dryness of Technology.

Journal of Clinical Research Letters 2013;Vol.4(1) 65-69


27. Blehm C, Vishnu S, Khattak A, Mitra S, Yee RW. Computer vision

syndrome: a review. J Surv Ophthal. 2005; 50(3) : 253-262.


28. Murtopo, Ichwan, Sarimurni. Pengaruh Radiasi Layar Komputer
Terhadap Daya Akomodasi Mata Mahasiswa Pengguna Komputer di
39

Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jurnal Penelitian Sains dan


Teknologi, Vol 6, No. 2. 2005; 153-163.
29. Dewi, Yulyana Kusuma, Rico Januar S., Hamzah H. Faktor-Faktor

yang Berhubungan dengan Kelelahan Mata pada Operator Komputer


di Kantor Samsat Palembang Tahun 2009. Jurnal Publikasi Ilmiah
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya, 2009.
Palembang.
30. Chiemeke SC, Akhahowa AE, Ajayi OB. Evaluation of Vision-Related

Problems Amongst Computer Users: A Case Study of University of


Benin, Nigeria. Proceeding of the World Congress on Engineering;
2007 Jul 2-4; London.

FormulirF
Lampiran 1
Komisi Etik Riset
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Nomor
Tahun
(diisioleh
KER)

:
:

PERMOHONAN UNTUK MEMPEROLEH PERSETUJUAN ETIK RISET


Kepada

: Sekretaris Komisi Etik Riset


Fakultas Kedokteran
Universitas Trisakti
Jakarta

Judul Riset

: Hubungan Intensitas Penggunaan Laptop dan Ketajaman


Penglihatan Siswa SMA Labschool Jakarta

Peneliti Utama
NIM

: Lathiifa Herly Hendy


: 03011164

40

Kontak Person
Nama

: Lathiifa Herly Hendy

Bagian

: Mahasiswa

Alamat

: Jl. Kayu Putih Timur 1 no. 53, Kayu Putih, Jakarta Timur

Telepon

: 085213577777

Faksimili
Email

:: lathifahendy@yahoo.com

DATA RISET
1.Penyerahan penelaahan riset : (Beri tanda X pada kotak tersedia)
Baru

Perbaikan

dari riset nomor


(tulis nomor riset
sebelumnya)

Perbaikan lanjutan

: dari riset nomor


(tulis nomor riset sebelumnya)

2.Tanggal dimulai riset : 10 September 2014


3.Perkiraan tahapan waktu berlangsungnya riset : 3 Bulan
4.Apakah
luar institusi ? *

peneliti

ya
tida

mengajukan permohonan pendanaan dari

k
(Bila tidak, langsung ke pertanyaan no.5)

41

(Bila ya, berilah penjelasan tentang Badan Pendana dan lampirkan


aplikasinya)

5.Uraikan dengan singkat dan jelas tentang latar belakang ilmiah riset ini.
Penggunaan laptop tertinggi tedapat pada kelompok usia remaja.

Tingginya

penggunaan intensitas laptop menimbulkan beberapa gangguan visual, salah


satunya penurunan tajam penglihatan.
6.Uraikan dengan singkat dan jelas tujuan serta hipotesis riset ini!
Tujuan pada penelitian ini, diharapkan responden dapat mengetahui hububngan
antara intensitas penggunaan laptop dan ketajaman penglihatan agar bisa
dihindarkannya penurunan tajam penglihatan karena penggunaan laptop berlebih.
Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan intensitas penggunaan
laptop dan ketajaman penglihatan pada siswa SMA Labschool Jakarta.
7.Uraikan dengan singkat dan jelas hasil signifikan yang diharapkan dari riset ini!
Hasil yang diharapkan adalah terdapat hubungan intensitas penggunaan laptop
dan ketajaman penglihatan pada siswa SMA Labschool Jakarta.
8.Uraikan dengan singkat semua cara pengumpulan data yang digunakan
dalam riset ini yang berkaitan dengan subjek

penelitian (misalkan

wawancara, pengukuran tinggi badan, pengambilan darah perifer/vena dan


lain-lain)
Cara pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan kuisioner untuk
mengetahui identitas subjek penelitian dan untuk mengetahui ketajaman
penglihatan digunakan Optotipi Snellen.
9.Uraikan tentang kemungkinan bahaya, risiko atau kerugian, yang berkaitan
dengan cara pengumpulan data yang dijelaskan pada nomor 7 di atas, dan

42

upaya-upaya

apa

yang

dapat

dilakukan

untuk

mencegah,dan

meminimalkannya.
Pemeriksaan ini tidak memiliki bahaya atau risiko.
10. Jelaskan secara singkat fasilitas tersedia yang dapat digunakan untuk
mengatasi kemungkinan terjadinya peristiwa atau hal-hal yang tidak
menyenangkan subjek penelitian akibat cara pengumpulan data yang
disebutkan pada pertanyaan nomor 7 di atas.
Tidak ada
11. Jelaskan manfaat untuk subjek penelitian yang dapat diperoleh bila
mengikuti kegiatan riset ini.
Subjek penelitian ini diharapkan dapat mengetahui ketajaman penglihatannya
dan menghindari penggunaan laptop yang berlebihan untuk menghindari
turunnya tajam penglihatan.
12. Adakah insentif yang diberikan kepada subjek penelitian?

Ada /

Tidak

13. Bila ada, jelaskan insentif yang diberikan : -

14. Uraikan dengan singkat cara merekrut subjek penelitian.


15. Pertama peneliti memilih 3 kelas dari 6 kelas siswa kelas XI SMA Labschool
Jakarta dengan menggunakan metode cluster random sampling, kemudian dari
3 kelas yang terpilih akan diambil subjek penelitian dari masing-masing kelas
dengan menggunakan metode simple random sampling.

16. Uraikan kriteria inklusi dan eksklusi subjek penetian.


Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

43

Siswa SMA Labschool Jakarta kelas XI yang masih aktif


Bersedia ikut dalam penelitian ini
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Sampel yang sudah memakai kacamata


Sampel yang tidak menggunakan laptop

17. Adakah hubungan khusus antara peneliti dan subjek riset?


Tidak ada
17. Lampirkan salinan format Informed Consent dan materi penjelasan
yang telah diberikan kepada subjek riset!
18.Siapa yang memberikan penjelasan tentang riset ini kepada subjek
penelitian?
Peneliti
19.Apakah ada hubungan khusus antara si pemberi penjelasan dan subjek
penelitian?
Tidak ada
20.Kapan penjelasan itu diberikan?
Penjelasan diberikan sebelum melakukan pengambilan data

21.Apakah subjek penelitian dapat memberikan persetujuan (Informed Consent)


sendiri?*
Ya
Tida
Bila tidak, mengapa?
Karena subjek penelitian

k
masih kurang dari 18 tahun

44

22.Siapa yang akan diberi penjelasan dan siapa yang akan memberikan
persetujuan (Informed Consent)?
-Yang akan diberikan penjelasan mengenai penelitian ini adalah guru SMA Labschool
Jakarta dan Siswa kelas XI SMA Labschool Jakarta
- Yang memberikan persetujuan/Informed Consent adalah orang tua serta siswa kelas XI
SMA Labschool Jakarta

Pernyataan
Yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan bahwa semua penjelasan yang
diberikan adalah benar dan bertanggungjawab penuh terhadap pelaksanaan riset di
atas.

Status Peneliti
Peneliti Utama

Nama
Lathiifa Herly Hendy

Tanggal
3 September 2014

Tandatangan

* Coret yang tidak perlu

45

Lampiran 2
INFORMED CONSENT
Penjelasan mengenai penelitian
Kami memohon Ibu/Bapak mengizinkanputra atau putri Ibu/Bapak turut
ambil bagian pada penelitian mengenai hubungan antara intensitas antara
intensitas penggunaan laptop dan ketajaman penglihatan pada siswa SMA di
Jakarta. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan petunjuk deteksi dini
kepada siswa-siswi sehingga dapat mengambil tindakan/pemeriksaan selanjutnya
untuk mencegah perjalanan penyakit mata yang lebih serius.
Oleh karena itu kami mengharapkan putra atau putri Ibu/Bapak untuk ikut
serta dalam penelitian ini. Bila bersedia maka peneliti akan melakukan wawancara
berupa kuesioner dan dilanjutkan dengan pemeriksaan ketajaman penglihatan
dengan menggunakan kartu Snellen. Pemeriksaan ini hampir tidak mengandung
risiko dan dijamin kerahasiaannya dan kerahasiaan masing-masing informasi akan
tetap terjaga.
Bila ada pertanyaan mmengenai penelitian ini, Ibu/Bapak dapat mengubungi
peneliti di nomor telepon 085213577777.
Ibu/Bapak bebas untuk mengizinkan atau menoak ikut serta dalam penelitian
ini. Jika Ibu/Bapak mengizinkan, kami mohon membubuhkan ikut dalam

46

penelitian ini kami mohon untuk membubuhkan tanda tangan pada formulir
persetujuan bawah ini.

Jakarta,.2014

(Lathiifa Herly Hendy


FORMULIR PERSETUJUAN
Semua penjelasan di atas telah disampaikan kepada saya dan telah saya pahami.
Dengan menandatangani formulir ini saya SETUJU untuk ikut dalam penelitian
ini.

Nama peserta penelitian :


Tanda tangan :

47

INFORMED CONSENT
Penjelasan mengenai penelitian
Penelitian ini mengenai hubungan antara intensitas penggunaan laptop dan
penurunan visus (fungsi penglihatan) bertujuan agar dapat memberikan
pengetahuan dalam menjaga kesehatan mata.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan petunjuk deteksi dini
kepada siswa-siswi sehingga dapat mengambil tindakan/pemeriksaan selanjutnya
untuk mencegah perjalanan penyakit mata yang lebih serius.
Oleh karena itu kami mengharapkan siswa-siswi untuk ikut serta dalam
penelitian ini. Bila bersedia maka peneliti akan melakukan wawancara berupa
kuesioner dan dilanjutkan dengan pemeriksaan ketajaman penglihatan dengan
menggunakan kartu Snellen. Pemeriksaan ini hampir tidak mengandung risiko dan
dijamin kerahasiaannya dan semata-mata digunakan hanya untuk kepentingan
penelitian.
Bila siswa-siswi bersedia ikut dalam penelitian ini kami mohon untuk
membubuhkan tanda tangan pada formulir persetujuan bawah ini.

Jakarta,.2014

48

(Lathiifa Herly Hendy)

FORMULIR PERSETUJUAN

Semua penjelasan di atas telah disampaikan kepada saya dan telah saya pahami.
Dengan menandatangani formulir ini saya SETUJU untuk ikut dalam penelitian
ini.

Nama peserta penelitian :


Tanda tangan :
Tanggal :

49

Lampiran 3
KUESIONER
Identitas Murid
-

Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Kelas :
Berikan ceklis () pada jawaban yang menurut Anda sesuai!
1. Dalam satu hari saya menggunakan laptop sebanyak
a. 4 kali
b.

2-3 kali

c.

1 kali

2. Dalam satu kali penggunaan, saya menggunakan laptop selama..


a. >4 jam
b. 2-4 jam

3. Dalam satu kali penggunaan laptop, saya

c. <2 jam

mengistirahatkan mata selama


a. 0 menit (tidak beristirahat sama sekali)
b. 5-15 menit
c.

16-30 menit
50

4. Dalam satu minggu, saya menggunakan laptop sebanyak...


a. >10 kali
b. 3-10 kali
c. <3 kali

Lampiran 4

51

Lampiran 5
Nam

Usi
a

Jenis
Kelam
in

SA
DTJ
RAN
JHS
IB
AAD
D
HS
MRR
MIF
FAP
NA
RLB
SRA
JA
ARP
R
MIN
K
BA
HDF
IR
PF
RAS
DJP
AQ
N

1
1
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2

0
1
0
1
0
0
1
1
0
0
0
0
0
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2
2
2

0
0
1
0
0
1
1
1
1

Intensita
s
Penggun
aan
Laptop
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Lama
Istira
hat

Dura
si/ha
ri

Freku
eni/mi
nggu

Ketajam
an
pengliha
tan

0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1

1
1
0
2
2
0
1
2
1
1
2
2
2
2
2
1
1

1
1
1
0
2
1
1
2
1
1
2
2
2
1
1
0
1

1
1
1
0
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1

1
0
1
1
1
1
1
1

0
0
0
0
0
0
0
0

2
0
1
1
2
0
0
0

2
0
2
1
2
2
1
1

0
1
1
0
1
1
1
1
52

ITW
MRA
TN
AS
ASD
RPT
F
MIV
DRG
DN
RD
NNA
MFA
ADL
AMX
KQ
FP
MA
MF
RD
IW
SKH
DTK
AP
IGIW
RSM
ANA
S
NA
MFA
A
RF
NAA
VMI
VA
JAP
IYN
SFR
AU
AVA
MRI
GDR
HHP

2
2
2
1
2
1
2
2
1
2
1
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
1
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0

2
2

0
0

2
1
2
2
2
3
2
1
2
3
2
3
2

0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
0

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1

0
1
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1

2
2
2
2
2
1
1
1
2
1
2
2
1
1
1
1
1
0
1
1
1
2
0
0
1
2

0
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
2
1
2
2
2
1
0
1
2

1
1
0
0
1
0
0
0
0
1
1
1
0
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
0
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
1

0
2
1
2
1
1
2
1
2
1
1
2

2
2
1
1
1
1
1
0
1
2
1
2

1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
53

AAP
SS
SG
KA
NAN
AT
VW
RFE
R
RAJP
MFR
A
MRA
L
RFI
DJ
KKN
EP
KKU
DNJ
AS
HA
CV
GEP
NAD
MMR
GADJ
EG
JAP
RP
AT
AF
MS
IP
BMR
M
RK
MGY
FP
AAM
DA
MFR
RN

2
2
2
2
2
2
2

1
1
1
0
1
1
1

2
2

0
1

2
2
2
2
4
2
2
2
1
2
2
2
1
1
2
1
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1

0
0
0
1
0
1
1
0
0
1
1
1
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
0
0

1
0
1
0
1
1
1

0
0
0
1
0
1
0

1
0
2
0
1
1
1

1
0
1
0
1
2
1

0
0
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1

0
0
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0

2
2
1
1
1
2
2
1
1
1
2
2
1
1
1
2
1
1
2
2
2
0
0
1
1
1
2
1
0

0
2
1
0
1
1
2
0
1
0
2
1
1
0
1
2
2
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1

1
0
1
1
1
0
1
1
1
0
1
0
1
1
1
0
1
0
0
0
1
1
0
1
1
1
1
1
1
54

RPA
MHR
AB
IFM
AK
ASP
SCK
AVA

3
2
2
2
1
2
2
2

0
0
0
0
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1

0
0
0
0
1
0
0
0

2
0
2
2
1
2
1
1

2
2
2
1
1
0
1
2

1
1
1
1
0
0
0
1

Keterangan :

Usia
15 tahun : 1
16 tahun : 2
17 tahun : 3
19 tahun : 4

Jenis Kelamin
Laki-laki : 0
Perempuan : 1

Intensitas Penggunaan Laptop


Intensitas Ringan : 0
Intensitas Sedang-Berat : 1

Lama Istirahat
0-15 menit : 0
16 menit -30 menit : 1

Durasi Penggunaan Laptop per Hari


< 2hari : 0
2-4 jam : 1
> 4 jam : 2

Frekuensi per Minggu


< 3 kali : 0

55

3-10 kali : 1
10 kali : 2

Ketajaman Penglihatan
Normal : 0
Gangguan : 1

Lampiran 6

Frequency Table

Valid

Valid

Valid

P
L
Total

JENISKELAMIN
Frequenc
Valid
Cumulative
y
Percent
Percent
Percent
56
48.7
48.7
48.7
59
51.3
51.3
100.0
115
100.0
100.0

<2
2-4
>4
Total

DURASISEHARI
Frequenc
Valid
Cumulative
y
Percent
Percent
Percent
16
13.9
13.9
13.9
56
48.7
48.7
62.6
43
37.4
37.4
100.0
115
100.0
100.0

<3 kali

FWSEMINGGU
Frequenc
Valid
Cumulative
y
Percent
Percent
Percent
18
15.7
15.7
15.7

56

3-10 kali
>10 kali
Total

65
32
115

56.5
27.8
100.0

56.5
27.8
100.0

INTENSITAS
Frequenc
y
Percent
Valid

Valid

intensitas
ringan
intensitas tinggi
Total

0-15 menit
16-30 menit
Total

72.2
100.0

Valid
Percent

Cumulative
Percent

4.3

4.3

4.3

110
115

95.7
100.0

95.7
100.0

100.0

LAMAISTIRAHAT
Frequenc
Valid
Cumulative
y
Percent
Percent
Percent
94
81.7
81.7
81.7
21
18.3
18.3
100.0
115
100.0
100.0
VISUS

Valid

Frequenc
y
Percent
menurun
79
68.7
normal
36
31.3
Total
115
100.0

Valid
Cumulative
Percent
Percent
68.7
68.7
31.3
100.0
100.0

Crosstabs
Case Processing Summary
Cases
Valid
Missing
N
Percent
N
Percent

Total
N
Percent

57

JENISKELAMIN
*
DURASISEHAR
I
JENISKELAMIN
*
FWSEMINGGU
JENISKELAMIN
*
LAMAISTIRAHA
T
JENISKELAMIN
* INTENSITAS
JENISKELAMIN
* VISUS

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

JENISKELAMIN * DURASISEHARI
Crosstab

JENISKELA
MIN

Total

DURASISEHARI
<2
2-4
>4
8
29
19

Count
Expected
Count
Count
Expected
Count
Count
Expected
Count

Total
56

7.8

27.3

20.9

56.0

27

24

59

8.2

28.7

22.1

59.0

16

56

43

115

16.0

56.0

43.0

115.0

Chi-Square Tests
Value
Pearson ChiSquare
Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

.575a

.750

.576

.750

58

Linear-by-Linear
.348
1
.555
Association
N of Valid Cases
115
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5.
The minimum expected count is 7.79.

JENISKELAMIN * FWSEMINGGU
Crosstab

JENISKELA
MIN

Total

FWSEMINGGU
<3 kali 3-10 kali >10 kali
11
34
11

Count
Expected
Count
Count
Expected
Count
Count
Expected
Count

Total
56

8.8

31.7

15.6

56.0

31

21

59

9.2

33.3

16.4

59.0

18

65

32

115

18.0

65.0

32.0

115.0

Chi-Square Tests
Value
Pearson ChiSquare
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

4.077a

.130

4.135

.127

3.818

.051

59

N of Valid Cases
115
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5.
The minimum expected count is 8.77.

JENISKELAMIN * LAMAISTIRAHAT
Crosstab

JENISKELA
MIN

Total

Count
Expected
Count
Count
Expected
Count
Count
Expected
Count

Value
Pearson ChiSquare
Continuity
Correctionb
Likelihood Ratio

LAMAISTIRAHAT
0-15 menit 16-30 menit
48
8

Total
56

45.8

10.2

56.0

46

13

59

48.2

10.8

59.0

94

21

115

94.0

21.0

115.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig.
df
(2-sided)

Exact Sig.
(2-sided)

1.156a

.282

.695

.405

1.166

.280

Exact Sig.
(1-sided)

60

Fisher's Exact
.339
.203
Test
Linear-by-Linear
1.146
1
.284
Association
N of Valid Cases
115
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 10.23.
b. Computed only for a 2x2 table

JENISKELAMIN * INTENSITAS
Crosstab

JENISKELA
MIN

Total

Count
Expected
Count
Count
Expected
Count
Count
Expected
Count

Value
Pearson ChiSquare

INTENSITAS
intensitas
intensitas
ringan
tinggi
3
53

.267a

2.4

53.6

56.0

57

59

2.6

56.4

59.0

110

115

5.0

110.0

115.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig.
df
(2-sided)
1

Total
56

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

.605

61

Continuity
.004
1
.952
Correctionb
Likelihood Ratio
.269
1
.604
Fisher's Exact
.674
.475
Test
Linear-by-Linear
.265
1
.607
Association
N of Valid Cases
115
a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 2.43.
b. Computed only for a 2x2 table

JENISKELAMIN * VISUS
Crosstab

JENISKELA
MIN

Total

Count
Expected
Count
Count
Expected
Count
Count
Expected
Count

Value
Pearson ChiSquare
Continuity
Correctionb
Likelihood Ratio

VISUS
menurun normal
42
14

Total
56

38.5

17.5

56.0

37

22

59

40.5

18.5

59.0

79

36

115

79.0

36.0

115.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig.
df
(2-sided)

2.017a

.156

1.486

.223

2.031

.154

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

62

Fisher's Exact
.166
.111
Test
Linear-by-Linear
2.000
1
.157
Association
N of Valid Cases
115
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 17.53.
b. Computed only for a 2x2 table

Crosstabs
Case Processing Summary
Cases
Valid
Missing
N
Percent
N
Percent
VISUS *
INTENSITAS
VISUS *
DURASISEHAR
I
VISUS *
FWSEMINGGU
VISUS *
LAMAISTIRAHA
T

Total
N
Percent

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

115

100.0%

0.0%

115

100.0%

VISUS * INTENSITAS
Crosstab
INTENSITAS
intensitas
intensitas
ringan
tinggi

Total
63

VISU
S

Total

menurun Count
Expected
Count
normal
Count
Expected
Count
Count
Expected
Count

Value

76

79

3.4

75.6

79.0

34

36

1.6

34.4

36.0

110

115

5.0

110.0

115.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig.
df
(2-sided)

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

Pearson Chi.184a
1
.668
Square
Continuity
.000
1
1.000
Correctionb
Likelihood Ratio
.176
1
.674
Fisher's Exact
.648
.501
Test
Linear-by-Linear
.182
1
.669
Association
N of Valid Cases
115
a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 1.57.
b. Computed only for a 2x2 table

VISUS * DURASISEHARI

VISU

menurun Count

Crosstab
DURASISEHARI
<2
2-4
>4
11
39
29

Total
79

64

S
normal

Total

Expected
Count
Count
Expected
Count
Count
Expected
Count

11.0

38.5

29.5

79.0

17

14

36

5.0

17.5

13.5

36.0

16

56

43

115

16.0

56.0

43.0

115.0

Chi-Square Tests
Value

df

Asymp. Sig.
(2-sided)

Pearson Chi.055a
2
.973
Square
Likelihood Ratio
.055
2
.973
Linear-by-Linear
.026
1
.871
Association
N of Valid Cases
115
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5.
The minimum expected count is 5.01.

VISUS * FWSEMINGGU

VISU
S

menurun Count
Expected
Count
normal
Count
Expected
Count

Crosstab
FWSEMINGGU
<3 kali 3-10 kali >10 kali
11
44
24

Total
79

12.4

44.7

22.0

79.0

21

36

5.6

20.3

10.0

36.0

65

Total

Count
Expected
Count

18

65

32

115

18.0

65.0

32.0

115.0

Chi-Square Tests
Value

df

Asymp. Sig.
(2-sided)

Pearson Chi1.103a
2
.576
Square
Likelihood Ratio
1.110
2
.574
Linear-by-Linear
1.092
1
.296
Association
N of Valid Cases
115
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5.
The minimum expected count is 5.63.

VISUS * LAMAISTIRAHAT

VISU
S

Total

menurun Count
Expected
Count
normal
Count
Expected
Count
Count

Crosstab
LAMAISTIRAHAT
0-15 menit 16-30 menit
74
5

Total
79

64.6

14.4

79.0

20

16

36

29.4

6.6

36.0

94

21

115

66

Expected
Count

Value

94.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig.
df
(2-sided)

21.0

Exact Sig.
(2-sided)

115.0

Exact Sig.
(1-sided)

Pearson Chi24.070a
1
.000
Square
Continuity
21.584
1
.000
Correctionb
Likelihood Ratio
22.587
1
.000
Fisher's Exact
.000
.000
Test
Linear-by-Linear
23.861
1
.000
Association
N of Valid Cases
115
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 6.57.
b. Computed only for a 2x2 table

Regression
Variables Entered/Removeda
Variables
Variables
Model
Entered
Removed
Method
1
INTENSITAS
. Enter
b
a. Dependent Variable: VISUS
b. All requested variables entered.
67

Model Summaryb
R
Adjusted R Std. Error of
Model
R
Square
Square
the Estimate
a
1
.040
.002
-.007
.467
a. Predictors: (Constant), INTENSITAS
b. Dependent Variable: VISUS
ANOVAa
Sum of
Squares

Mean
Square

Model
df
1
Regressio
.040
1
n
Residual
24.691
113
Total
24.730
114
a. Dependent Variable: VISUS
b. Predictors: (Constant), INTENSITAS

.040

Sig.
.671b

.181

.219

Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
.400
.209

Model
1
(Constant)
INTENSITA
-.091
S
a. Dependent Variable: VISUS

Standardize
d
Coefficients
Beta

.214

-.040

t
1.913

Sig.
.058

-.425

.671

Residuals Statisticsa

Predicted Value
Residual
Std. Predicted
Value
Std. Residual

Minimum Maximum
.31
.40
-.400
.691

Mean
.31
.000

Std.
Deviation
.019
.465

N
115
115

-.212

4.670

.000

1.000

115

-.856

1.478

.000

.996

115
68

a. Dependent Variable: VISUS

NPAR TESTS
/K-S(NORMAL)=RES_1
/MISSING ANALYSIS.

NPar Tests
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardi
zed Residual
N
115
Normal
Mean
.0000000
a,b
Parameters
Std.
.46538900
Deviation
Most Extreme
Absolute
.434
Differences
Positive
.434
Negative
-.227
Test Statistic
.434
Asymp. Sig. (2-tailed)
.000c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.

69