Anda di halaman 1dari 24

Peran Dokter dalam Mengambil Keputusan Sesuai Etika Kedokteran

Citra P D C 102010307
B5
8 Januari 2014
Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat korespondensi :
Citracahya91@yahoo.com
Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl.Terusan arjuna no.6 Jakarta Barat 11510
PENDAHULUAN
Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas, yang sering
tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent, wajib simpan rahasia
kedokteran, profesionalisme, dan lain-lain. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali
tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat
menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika.

Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar profesi mengakibatkan
penilaian perilaku etik seseorang dokter yang diadukan tidak dapat
dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya. Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur
dengan keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif.

Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar prosedur dan standar
pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum, padahal selama ini profesi menganggap bahwa
memenuhi standar profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian
pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum.

1 | bioetika

Kemungkinan terjadinya peningkatan ketidakpuasan pasien terhadap layanan dokter atau rumah sakit atau
tenaga kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai akibat dari semakin tinggi pendidikan rata-rata masyarakat
sehingga membuat mereka lebih tahu tentang haknya dan lebih asertif, semakin tingginya harapan
masyarakat kepada layanan kedokteran sebagai hasil dari luasnya arus informasi, komersialisasi dan
tingginya biaya layanan kedokteran dan kesehatan sehingga masyarakat semakin tidak toleran terhadap
layanan yang tidak sempurna, dan provokasi oleh ahli hukum dan oleh tenaga kesehatan sendiri.
PEMBAHASAN
I.

SKENARIO

Seorang pasien laki-laki datang ke praktek dokter. Pasien ini dan keluarganya adalah pasien lama dokter
tersebut, dan sangat akrab serta selalu mendiskusikan kesehatan keluarganya dengan dokter tersebut. Kali
ini pasien laki-laki ini datang sendirian dan mengaku telah melakukan hubungan dengan wanita lain
seminggu yang lalu. Sesudah itu ia masih tetap berhubungan dengan istrinya. Dua hari terakhir ia
mengeluh bahwa alat kemaluannya mengeluarkan nanah dan terasa nyeri. Setelah diperiksa ternyata ia
menderita GO. Pasien tidak ingin diketahui istrinya tahu, karena bisa terjadi pertengkaran diantaranya
keduanya. Dokter tahu bahwa mengobati penyakit tersebut pada pasien ini tidaklah sulit, tetapi oleh
karena ia telah berhubungan juga dengan istrinya maka mungkin istrinya juga sudah tertular.Istrinya juga
harus diobati.
II.

ASPEK MEDIKOLEGAL

Persetujuan tindakan medic


Peraturan menteri kesehatan No 585/MenKes/Per/IX/1989 tentang persetujuan
tindakan medis
Pasal 1. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
Persetujuan tindakan medik/informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarganya atas adsar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien
tersebut; Tindakan medik adalah suatu tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien berupa diagnostik
atau terapeutik;
Tindakan invasif adalah tindakan medik yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh;
Dokter adalh dokter umum/spesialis dan dokter gigi/dokter gigi spesialis yang bekerja di rumah sakit,
puskesmas, klinik, atau praktek perorangan atau bersama. 6

Pasal 2. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989

Semua tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan.

2 | bioetika

Persetujuan dapat diberi secara bertulis atau lisan

Persetujuan sebagaiman dimaksud ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat informasi yang adekuat
tentang perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta risiko yang dapat ditimbulkannya.

Cara penyampaian dan isi informasi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan situasi
pasien6

Pasal 3. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989

Setiap tindakan medis yang berisiko tinggi harus dengan persetujuan bertulis yang ditanda tangani oleh
yang berhak memberikan persetujuan6

Pasal 4. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989

Informasi tentang tindakan medik harus diberi kepada pasien, baik diminta maupun tidak diminta.

Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya, kecuali bila dokter menilai bahwa informasi
tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan informasi. 6

Pasal 5. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989

Informasi yang diberikan mencakup keuntungan dan kerugian dari tindakan medik yang kan dilakukan,
baik diagnostik maupun terapeutik

Informasi diberikan secara lisan

Informasi harus diberiakn jujur dan benar kecuali bila dokter menilai bahwa hal itu dapat merugikan
kepentingan kesehatan pasien,

3 | bioetika

Dalam hal dimaksud dalam ayat (3) dokter dengan persetujuan pasien dapat memberikan informasi
tersebut kepada keluarga terdekat pasien. 6

Pasal 8. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989

Persetujuan diberiakan oleh pasien dewasa yang berada dalam keadaan sedar dan sehat mental

Pasien dewasa yang dimaksud ayat (1) adalah yang telah berumur 21 tahun atau telah menikah.
III.

ASPEK BIOETIKA KEDOKTERAN

Kode Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien,
kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran
Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional. 1

Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral
kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan
dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi
moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika
biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical
ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis. 1

Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan memberikan latihan dan
teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter, seperti autonomy (menghormati hak pasien,
terutama hak dalam memperoleh informasi dan hak membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan
terhadap dirinya), beneficence (melakukan tindakan untuk melakukan perbuatan yang memperburuk serta
sikap altruisme (pengabdian profesi).1kebaikan pasien), non maleficence (tidak pasien) dan justice
(bersikap adil dan jujur),
Pendidikan etik kedokteran, yang mengajarkan tentang etik profesi dan prinsip moral kedokteran,
dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama pendidikan kedokteran, dengan memberikan lebih ke arah
toolsdalam membuat keputusan etik, memberikan banyak latihan, dan lebih banyak dipaparkan dalam
berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu (clinical ethics), sehingga cara berpikir etis tersebut
diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari pembuatan keputusan medis sehari-hari. Tentu saja kita
pahami bahwa pendidikan etik belum tentu dapat mengubah perilaku etis seseorang, terutama apabila
teladan yang diberikan para seniornya bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan. 1
IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan etik profesi, yaitu
melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan cabang, serta lembaga MKEK (Majelis Kehormatan
Etik Kedokteran) di tingkat pusat, wilayah dan cabang. Selain itu, di tingkat sarana kesehatan (rumah
4 | bioetika

sakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan etik
dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis
Kehormatan Etik Rumah Sakit (Makersi).1

Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar hanya akan membawa akibat
sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu pelanggaran etik profesi dapat dikenai sanksi disiplin
profesi, dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat seperti kewajiban menjalani
pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang kompeten) dan pencabutan haknya berpraktik profesi.
Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut
melanggar etik (profesi) kedokteran.1

Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa melanggar norma
hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI
untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk
mempertahankan akuntabilitas, profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini MKEK menjadi satusatunya majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di
Kode Etik Kedokteran Indonesia

Kewajiban Umum

Pasal 1

Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.
Pasal 2

Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang
tertinggi.
Pasal 3

Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang
mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
5 | bioetika

Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
Pasal 5

Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan
untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien.
Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan
teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan
keresahan masyarakat.
Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya.
Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten
dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan
penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya
untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi,
atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan
lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan
memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat
yang sebenar-benarnya.
Pasal 9
6 | bioetika

Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta
masyarakat, harus saling menghormati.
Kewajiban Dokter Terhadap Pasien
Pasal 10
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk
kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka
atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit
tersebut.
Pasal 11

Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan
keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya.
Pasal 12

Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13

Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat

Pasal 14

Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.


Pasal 15

Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau
berdasarkan prosedur yang etis.

7 | bioetika

Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri

Pasal 16

Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.

Pasal 17

Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran/kesehatan.1
Jenis hubungan dokter-pasien sangat dipengaruhi oleh etika profesi kedokteran, sebagai konsekuensi dari
kewajiban-kewajiban profesi yang memberikan batasan atau rambu-rambu hubungan tersebut.
Kewajiban-kewajiban tersebut tertuang di dalam prinsip-prinsip moral profesi.

Sifat hubungan antara dokter dengan pasien berkembang dari sifat paternalistik hingga ke sifat
kontraktual dan fiduciary. Pada masa sebelum tahun 1950-an paternalistik dianggap sebagai sifat
hubungan yang paling tepat, dimana dokter menentukan apa yang akan dilakukan terhadap pasien
berdasarkan prinsip beneficence (semua yang terbaik untuk kepentingan pasien, dipandang dari
kedokteran). Prinsip ini telah mengabaikan hak pasien untuk turut menentukan keputusan. Sampai
kemudian pada tahun 1970-an dikembangkanlah sifat hubungan kontraktual antara dokter dengan pasien
yang menitikberatkan kepada hak otonomi pasien dalam menentukan apa-apa yang boleh dilakukan
terhadapnya. Kemudian sifat hubungan dokter-pasien tersebut dikoreksi oleh para ahli etika kedokteran
menjadi hubungan ficuiary (atas dasar niat baik dan kepercayaan), yaitu hubungan yang menitikberatkan
nila-nilai keutamaan (virtue ethics). Sifat hubungan kontraktual dianggap meminimalkan mutu hubungan
karena hanya melihatnya dari sisi hukum dan peraturan saja, dan disebut sebagai bottom line ethicts.1

Dalam profesi kedokteran dikenal 4 prinsip moral utama yaitu :

Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien
(the rights to self determination).

8 | bioetika

Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan
pasien.

Prinsip non maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien.
Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau

do no harm.

Prinsip Justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam mendistribusikan
sumber daya (distributive justice).

Otonomi pasien dianggap sebagai cerminan konsep self governance, liberty rights dan individual
choices. Immanuel Kant mengatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk memutuskan
nasibnya sendiri, sedangkan John S Mills berkata bahwa kontrol sosial atas
Seseorang individu hanya sah apabila dilakukan karena terpaksa untuk melindungi hak orang lain.

Salah satu hak pasien yang disahkan dalam Declaration of Lisbon dari World Medical

Association (WMA) adalah the rights to accept or to refuse treatment after receiving adequate
information. Secara implisit amandemen UUD 45 pasal 28G ayat (1) juga menyebutkannya demikian
Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi,... dst.

Selanjutnya UU No 23/1992 tentang kesehatan juga memberikan hak kepada pasien untuk memberikan
persetujuan atas tindakan medis yang akan dilakukan terhadapnya. Hak ini kemudian diuraikan di dalam
Permenkes tentang Persetujuan Tindakan Medis.

Suatu tindakan medis terhadap seseorang pasien tanpa memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari
pasien tersebut dapat dianggap sebagai penyerangan atas hak orang lain atau perbuatan melanggar
hukum.

9 | bioetika

Prinsip otonomi pasien ini dianggap sebagai dasar dari doktrin informed consent. Tindakan medis
terhadap pasien harus mendapat persetujuan (otorisasi) dari pasien tersebut, setelah ia menerima
IV.

dan memahami informasi yang diperlukan.2


PROSEDUR KEDOKTERAN

Prosedur kedokteran
Sebagai tenaga medis dan pengambil keputusan, dokter harus melakukan prosedur tindakan
medis sebelum pengambilan tindakan. Untuk kasus-kasus seperti euthanasia pasif seperti diatas,
sebaiknya dokter melalui langkah sebagai berikut:
1. Perhatikan keadaan umum pasien (rekam medic)
2. Status psikiatri
3. Edukasi pasien terlebih dahulu
4. Lakukan tindakan persuasive dengan pihak keluarga ajukan informed consent terlebih
dahulu
Dalam aspek hukum kesehatan, hubungan dokter dengan pasien terjalin dalam ikatan
transaksi atau kontrak terapeutik. Tiap-tiap pihak, yaitu yang memberi pelayanan (medical
providers) dan yang menerima pelayanan (medical receivers) mempunyai hak dan kewajiban
yang harus dihormati. Dalam ikatan demikianlah masalah Persetujuan Tindakan Medik atau yang
sekarang disebut Persetujuan Tindakan Kedokteran (PTM) ini timbul. Artinya, di satu pihak
dokter (tim dokter) mempunyai kewajiban untuk melakukan diagnosis, pengobatan, dan tindakan
medik yang terbaik menurut jalan pikiran dan pertimbangannya (mereka), dan di lain pihak
pasien atau keluarga pasien memiliki hak untuk menentukan pengobatan atau tindakan medik apa
yang akan dilaluinya.5
Masalahnya adalah, tidak semua jalan pikiran dan pertimbangan terbaik dari dokter akan
sejalan dengan apa yang diinginkan' atau dapat diterima oleh pasien atau keluarga pasien. Hal ini
dapat terjadi karena dokter umumnya melihat pasien hanya dari segi medik saja, sedangkan
pasien mungkin melihat dan mempertimbangkan dari segi lain yang tidak kalah pentingnya,
seperti keuangan, psikis, agama, dan pertimbangan keluarga. 5
Perkembangan terakhir di Indonesia mengenai PTM adalah ditetapkannya Peraturan Menteri
Kesehatan No. 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik (informed
consent).5
Yang dimaksud dengan informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
walinya yang berhak kepada dokter untuk melakukan suatu tindakan medis terhadap pasien
sesudah pasien atau wali itu memperoleh informasi lengkap dan memahami tindakan itu. Dengan
kata lain, informed consent juga disebut persetujuan tindakan medis. Persetujuan (consent) dapat
10 | b i o e t i k a

dibagi menjadi 2, yaitu:


1

expressed, dapat secara lisan atau secara tulisan, dan

implied, yang dianggap telah diberikan.


Persetujuan yang paling sederhana ialah persetujuan yang diberikan secara lisan, misal untuk

tindakan-tindakan rutin. Tindakan-tindakan, yang lebih kompleks yang mempunyai risiko yang
kadang-kadang tidak dapat diperhitungkan dari awal dan yang dapat menyebabkan hilangnya
nyawa atau cacat permanen, memperoleh persetujuan yang tertulis agar suatu saat apabila
diperlukan persetujuan itu dapat dijadikan bukti.
Namun, persetujuan yang dibuat secara tertulis tersebut tidak dapat dipakai sebagai alat
untuk melepaskan diri dari tuntutan apabila terjadi suatu yang merugikan pasien. Hal ini
harus diingat karena secara etik dokter diharapkan untuk memberikan yang terbaik bagi
pasien. Apabila dalam suatu kasus ditemukan unsur kelalaian dari pihak dokter, maka
dokter tersebut harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Begitu pula dari pihak
pasien; mereka tidak bisa langsung menuntut apabila terjadi hal-hal di luar dugaan karena
hams ada bukti-bukti yang menunjukkan adanya kelalaian. Dalam hal ini, harus
dibedakan antara kelalaian dan kegagalan. Apabila hal tersebut merupakan risiko dari
tindakan yang telah disebutkan dalam persetujuan tertulis, maka pasien tidak bisa
menuntut. Oleh sebab itu, untuk memperoleh persetujuan dari pasien dan untuk
menghindari adanya salah satu pihak yang dirugikan, dokter wajib memberikan informasi
sejelas-jelasnya agar pasien dapat mempertimbangkan apa yang akan terjadi terhadap
dirinya. Biasanya informasi itu meliputi:
a

sifat dan tujuan tindakan medik;

keadaan pasien yang memerlukan tindakan medis;

risiko dari tindakan itu apabila dilakukan atau tidak.


Implied consent adalah peristiwa yang terjadi sehari-hari. Misalnya, seorang ibu

datang ke poliklinik kebidanan dengan keluhan terasa ada yang aneh pada alat-alat
genital. Dalam hal ini, ia dianggap telah memberikan persetujuan untuk dilakukan
pemeriksaan sesuai prosedur. Meskipun demikian, secara etik/santunnya dokter
diharapkan meminta persetujuan lisan.
Implied consent juga dapat terjadi pada keadaan gawat darurat apabila pasien dalam
keadaan tidak sadar, kritis, sementara persetujuan dari wali tidak diperoleh karena tidak
ada di tempat. Dalam hal ini dokter secara etik berkewajiban menolong pasien jika
memang diyakini tidak ada orang lain yang sanggup.4,5
11 | b i o e t i k a

Dalam memberikan informasi tentang tindakan medis yang akan dilakukan, harus
diingat kondisi pasien pada saat itu. Mengingat pasien biasanya datang dalam keadaan
yang tidak sehat, diharapkan dokter tidak memberikan informasi yang dapat
mempengaruhi keputusan pasien karena dalam keadaan yang demikian itu pikiran pasien
tersebut mudah terpengaruh. Atau apabila kondisi pasien tidak memungkinkan untuk
menerima informasi tersebut, diharapkan wali yang berhak dapat menggantikannya.
Apabila wali tidak ada dan kondisi pasien kritis, maka implied consent dapat diambil
sebagai pegangan untuk melakukan tindakan medis.
Selain terhadap kondisi pasien pada saat ia datang, dokter juga harus dapat
menyesuaikan diri terhadap tingkat pendidikan pasien agar pasien mengerti dan
memahami pembicaraan. Pasien mempunyai hak untuk memperoleh informasi dan dokter
berkewajiban menyampaikan informasi tersebut, baik diminta atau tidak, kecuali jika
penyampaian informasi tersebut akan memperburuk kondisi pasien. Ini sesuai dengan hak
dan kewajiban dokter dan pasien.
Tujuan dari informed consent adalah agar pasien mendapat informasi yang cukup
untuk dapat mengambil keputusan atas terapi yang akan dilaksanakan. Informed consent
juga berarti mengambil keputusan bersama. Hak pasien untuk menentukan nasibnya
dapat terpenuhi dengan sempurna apabila pasien telah menerima semua informasi yang ia
perlukan sehingga ia dapat mengambil keputusan yang tepat. Kekecualian dapat dibuat
apabila informasi yang diberikan dapat menyebabkan guncangan psikis pada pasien.
Elemen-elemen informed consent
Suatu informed consent harus meliputi :
1
2

Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai tindakan, terapi dan penyakitnya
Pasien harus diberitahu tentang hasil terapi yang diharapkan dan seberapa besar
kemungkinan keberhasilannya

Pasien harus diberitahu mengenai beberapa alternatif yang ada dan akibat apabila
penyakit tidak diobati

Pasien harus diberitahu mengenai risiko apabila menerima atau menolak terapi
Risiko yang harus disampaikan meliputi efek samping yang mungkin terjadi dalam

penggunaan obat atau tindakan pemeriksaan dan operasi yang dilakukan.


Informed Consent
Hal-hal yang disampaikan pada suatu informed consent yang termasuk pada bagian
prosedur tindakan medis ialah sebagai berikut : 5

Hasil Pemeriksaan

12 | b i o e t i k a

Pasien memiliki hak untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.
Misalnya perubahan keganasan pada hasil Pap smear. Apabila infomasi sudah diberikan,
maka keputusanselanjutnya berada di tangan pasien.

Risiko
Risiko yang mungkin terjadi dalam terapi harus diungkapkan disertai upaya

antisipasi yang dilakukan dokter untuk terjadinya hal tersebut. Reaksi alergi idiosinkratik
dan kematian yang tak terduga akibat pengobatan selama ini jarang diungkapkan dokter.
Sebagian kalangan berpendapat bahwa kemungkinan tersebut juga harus diberitahu pada
pasien. Jika seorang dokter mengetahui bahwa tindakan pengobatannya berisiko dan
terdapat alternatif pengobatan lain yang lebih aman, ia harus memberitahukannya pada
pasien. Jika seorang dokter tidak yakin pada kemampuannya untuk melakukan suatu
prosedur terapi dan terdapat dokter lain yang dapat melakukannya, ia wajib
memberitahukan pada pasien.

Alternatif
Dokter harus mengungkapkan beberapa alternatif dalam proses diagnosis dan

terapi. Ia harus dapat menjelaskan prosedur, manfaat, kerugian dan bahaya yang
ditimbulkan dari beberapa pilihan tersebut. Sebagai contoh adalah terapi hipertiroidisme.
Terdapat tiga pilihan terapi yaitu obat, iodium radioaktif, dan subtotal tiroidektomi.
Dokter harus menjelaskan prosedur, keberhasilan dan kerugian serta komplikasi yang
mungkin timbul.

Rujukan/ konsultasi
Dokter berkewajiban melakukan rujukan apabila ia menyadari bahwa

kemampuan dan pengetahuan yang ia miliki kurang untuk melaksanakan terapi pada
pasien-pasien tertentu. Pengadilan menyatakan bahwa dokter harus merujuk saat ia
merasa tidak mampu melaksanakan terapi karena keterbatasan kemampuannya dan ia
mengetahui adanya dokter lain yang dapat menangani pasien tersebut lebih baik darinya.

Prognosis
Pasien berhak mengetahui semua prognosis, komplikasi, sekuele, ketidaknyamanan,

biaya, kesulitan dan risiko dari setiap pilihan termasuk tidak mendapat pengobatan atau
tidak mendapat tindakan apapun. Pasien juga berhak mengetahui apa yang diharapkan
dari dan apa yang terjadi dengan mereka. Semua ini berdasarkan atas kejadian-kejadian
beralasan yang dapat diduga oleh dokter. Kejadian yang jarang atau tidak biasa bukan
merupakan bagian dari informed consent.
13 | b i o e t i k a

RAHASIA KEDOKTERAN

Penggunaan kata privasi, kerahasiaan dan keamanan seringkali tertukar. Akan tetapi terdapat
beberapa perbedaan yang penting, diantaranya:

Privasi adalah "hak individu untuk dibiarkan sendiri, termasuk bebas dari campur tangan atau
observasi terhadap hal-hal pribadi seseorang serta hak untuk mengontrol informasi-informasi
pribadi tertentu dan informasi kesehatan".
Kerahasiaan merupakan "pembatasan pengungkapan informasi pribadi tertentu. Dalam hal ini
mencakup tanggungjawab untuk menggunakan, mengungkapkan, atau mengeluarkan informasi
hanya dengan sepengetahuan dan ijin individu". Informasi yang bersifat rahasia dapat berupa tulisan
ataupun verbal.
Keamanan meliputi "perlindungan fisik dan elektronik untuk informasi berbasis komputer secara utuh,
sehingga menjamin ketersediaan dan kerahasiaan. Termasuk ke dalamnya adalah sumber-sumber yang
digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengolah dan menyampaikan, alat-alat untuk mengatur
akses dan melindungi informasi dari pengungkapan yang tak disengaja maupun yang disengaja.
Kerahasiaan rekam medis diatur di dalam UU Praktik Kedokteran pasal 47 ayat 2 yang menyatakan
bahwa "rekam medis harus disimpan dan dijaga kerahasiannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan
sarana kesehatan". Hal yang sama dikemukakan dalam pasal 11 Peraturan Pemerintah No 10 tahun 1966
tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran. Selanjutnya, pasal 1 PP yang sama menyatakan bahwa "yang
dimaksud dengan rahasia kedokteran adalah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang dalam pasal
3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran". 2

Selanjutnya UU Praktik Kedokteran memberikan peluang pengungkapan informasi kesehatan secara


terbatas, yaitu dalam pasal 48 ayat (2):

untuk kepentingan kesehatan pasien

untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum

permintaan pasien sendiri

14 | b i o e t i k a

berdasarkan ketentuan undang-undang

Sedangkan pasal 12 Permenkes 749a menyatakan bahwa:

pemaparan isi rekam medis hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merawat pasien dengan ijin tertulis
pasien.
Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat memaparkan isi rekam medis tanpa seijin pasien berdasarkan
peraturan perundang-undangan.

Di bidang keamanan rekam medis, Permenkes No 749a/ MENKES/PER/XII/1989 menyatakan dalam


pasal 13, bahwa pimpinan sarana kesehatan bertanggungjawab atas (a) hilangnya, rusaknya, atau
pemalsuan rekam medis, (b) penggunaan oleh orang / Badan yang tidak berhak.

Rahasia Jabatan dan Pembuatan SKA / V et R

Peraturan Pemerintah No 26 tahun 1960 tentang lafal sumpah dokter Saya bersumpah/berjanji bahwa:

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan Saya akan menjalankan tugas
saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan
saya sebagai dokter........ dst.

Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia Kedokteran. Pasal 1 PP No 10/1966

Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut
dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.

15 | b i o e t i k a

Pasal 2 PPNo 10 /1966

Pengetahuan tersebut pasal l harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali
apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi dari pada PP ini menentukan lain.

Pasal 3 PP No 10/1966

Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah:

Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan.


Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan dan atau
perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan.

Pasal 4 PP No 10/1966

Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran yang tidak atau tidak dapat
dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHP, menteri kesehatan dapat melakukan tindakan
administratip berdasarkan pasal UU tentang tenaga kesehatan.

Pasal 5 PP No 10/1966

Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang disebut dalam pasal 3
huruf b, maka menteri kesehatan dapat mengambil tindakan-tindakan berdasarkan wewenang dan
kebijaksanaannya.

Pasal 6 PPNo 10/1966

16 | b i o e t i k a

Dalam pelaksanaan peraturan ini, menteri kesehatan dapat mendengar Dewan Pelindung Susila
Kedokteran dan atau badan-badan lain bilamana perlu.

Pasal 322 KUHP

Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya
baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan
atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas
pengaduan orang itu.

Pasal 48 KUHP

Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.

MA I17/K/Kr/1968 2 Juli 1969

Dalam "noodtoestand" harus dilihat adanya:

Pertentangan antara dua kepentingan hukum


Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum
Pertentangan antara dua kewajiban hukum

Pasal 49 KUHP

Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk
orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau
ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum.

17 | b i o e t i k a

Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan keguncangan jiwa yang hebat
karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana. Pasal 50 KUHP

Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang- undang, tidak dipidana.

Pasal 51 KUHP

Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa
yang berwenang, tidak dipidana.
Perintah jabatan tanpa wewenang, tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali jika yang diperintah,
dengan itikad baik mengira bahwa perinlah diberikan dengan wewenang dan pelaksanaannya termasuk
dalam lingkungan pekerjaannya.

Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)

Pasal 7c

Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan
lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.

Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK
KEDOKTERAN

Rekam Medis

Pasal 46

18 | b i o e t i k a

Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis.

Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 1 harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima
pelayanan kesehatan.

Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang memberikan
pelayanan atau tindakan.
Pasal 47

Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 merupakan milik dokter, dokter gigi, atau
sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien.

Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 1 harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter
atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.

Ketentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat 2 diatur dengan
Peraturan Menteri.
Rahasia Kedokteran

Pasal 48

Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan rahasia
kedokteran.

Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi permintaan
aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan
ketentuan perundangundangan.

Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan Menteri.
19 | b i o e t i k a

PENUTUP
Pada kasus skenario, seorang laki-laki yang sudah menikah tetapi mengaku bahwa sudah pernah
berhubungan dengan wanita lain ingin melakukan pemeriksaan dengan keluhan kencing nanah, setelah
diperiksa hasilnya positif menderita GO dan ia tidak ingin istrinya tahu, tetapi karena telah berhubungan
intim dengan istrinya, dia curiga bahwa istrinya juga telah terkena. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor
10 Tahun 1966 seorang dokter wajib menyimpan rahasia kedokteran tersebut terhadap orang lain bahkan
isterinya, kecuali: karena daya paksa, diatur dalam pasal 48 KUHP :Barang siapa melakukan suatu
perbuatan karena pengaruh daya paksa,tidak dapat dipidana, karena menjalankan perintah UU: diatur
dalam pasal 50 KUHP: Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undangundang, tidak dipidana, dan karena menjalankan perintah jabatan, diatur dalam pasal 51 KUHP Barang
siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang
diberikan oleh penguasa yang wenang, tidak dipidana. Tetapi apabila dokter membuka rahasia
kedokteran tersebut, dapat dikenai sanksi pidana penjara paling lama sembilan bulan berdasarkan pasal
322 KUHP. 3

Berdasarkan PP. No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan pasal 21, setiap tenaga kesehatan dalam
melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan. Bagi tenaga
kesehatan jenis tertentu (tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien misalnya, dokter,
dokter gigi, perawat. ) dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk : menghormati hak
pasien, menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien, memberikan infomasi yang
berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan, meminta persetujuan terhadap tindakan yang
akan dilakukan, membuat dan memelihara rekam medis. Dalam pasal 33, dalam rangka pengawasan,
Menteri dapat mengambil tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan yang tidak melaksanakan tugas
sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan yang bersangkutan berupa teguran atau pencabutan ijin
untuk melakukan upaya kesehatan.

Menurut pasal 24 UU yang sama, perlindungan hukum diberikan kepada tenaga kesehatan yang
melakukan tugasnya sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan (Perlindungan hukum di sini
misalnya rasa aman dalam melaksanakan tugas profesinya, perlindungan terhadap keadaan
membahayakan yang dapat mengancam keselamatan atau jiwa baik karena alam maupun perbuatan
manusia).2

Dasar hukum.

Pasal 322 KUHP

20 | b i o e t i k a

Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya
baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan
atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah

Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat

dituntut atas pengaduan orang itu

Pasal 170 KUHP

Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat
minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang
dipercayakan kepada merekaDalam kasus diatas, sebagai tenaga medis, kita diminta memilih atas
tindakan etis yang perlu dilakukan. Pada kasus ini, ada baiknya kita mengedukasi pasien lebih lanjut
tentang keadaan dan dampak baik-buruknya agar suami-istri dapat terobati dengan sempurna.
Menjelaskan kepada pasien tentang keadaan dengan cara yang dapat diterima. diberikan oleh penguasa
yang wenang, tidak dipidana. Tetapi apabila dokter membuka rahasia kedokteran tersebut, dapat dikenai
sanksi pidana penjara paling lama sembilan bulan berdasarkan pasal 322 KUHP. 3

Berdasarkan PP. No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan pasal 21, setiap tenaga kesehatan dalam
melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan. Bagi tenaga
kesehatan jenis tertentu (tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien misalnya, dokter,
dokter gigi, perawat. ) dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk : menghormati hak
pasien, menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien, memberikan infomasi yang
berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan, meminta persetujuan terhadap tindakan yang
akan dilakukan, membuat dan memelihara rekam medis. Dalam pasal 33, dalam rangka pengawasan,
Menteri dapat mengambil tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan yang tidak melaksanakan tugas
sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan yang bersangkutan berupa teguran atau pencabutan ijin
untuk melakukan upaya kesehatan.

Menurut pasal 24 UU yang sama, perlindungan hukum diberikan kepada tenaga kesehatan yang
melakukan tugasnya sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan (Perlindungan hukum di sini
misalnya rasa aman dalam melaksanakan tugas profesinya, perlindungan terhadap keadaan

21 | b i o e t i k a

membahayakan yang dapat mengancam keselamatan atau jiwa baik karena alam maupun perbuatan
manusia).2

Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut. pasal 48 KUHP Barang
siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.

No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan

Pasal 21

Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga
kesehatan.

Standar profesi tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 22

Bagi tenaga kesehatan jenis tertentu (Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan tertentu dalam ayat ini
adalah tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien misalnya, dokter, dokter gigi,
perawat. ) dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk :

a. menghormati hak pasien;

b. menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien;

c. memberikan infomasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan;

d meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan;

22 | b i o e t i k a

e. membuat dan memelihara rekam medis. ,

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri.

Pasal 24

Perlindungan hukum diberikan kepada tenaga kesehatan yang melakukan tugasnya sesuai dengan standar
profesi tenaga kesehatan (Perlindungan hukum di sini misalnya rasa aman dalam melaksanakan tugas
profesinya, perlindungan terhadap keadaan membahayakan yang dapat mengancam keselamatan atau jiwa
baik karena alam maupun perbuatan manusia)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri

Pasal 33

Dalarn rangka pengawasan, Menteri dapat mengambil tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan yang
tidak melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan yang bersangkutan.

Tindakan disiplin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa:

a. teguran;

b. pencabutan ijin untuk melakukan upaya kesehatan.

Pengambilan tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat
(2) dilaksanakan dengan

23 | b i o e t i k a

DAFTAR PUSTAKA

24 | b i o e t i k a