Anda di halaman 1dari 27

Makalah Blok 30:

Kematian Tidak Wajar Akibat Kekerasan Tajam


Nadirah Binti Hassan (102010385)
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana.
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510.
naddyhassan@gmail.com

PENDAHULUAN
Ilmu Kedokteran Forensik disebut juga Ilmu Kedokteran Kehakiman (Legal
Medicine), merupakan salah satu mata ajaran wajib dalam rangkaian pendidikan
kedokteran di Indonesia, dimana peraturan perundangan mewajibkan setiap dokter untuk
membantu melaksanakan pemeriksaan kedokteran forensik bagi kepentingan pengadilan
bilamana diminta oleh polisi penyidik. Dengan demikian, dalam penegakan keadilan yang
menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, bantuan dokter dengan pengetahuan
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang dimilikinya amat diperlukan.
Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang
berlaku setelah kematian serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran forensik yang mempelajari tentang
luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai tindak kekerasan.Berdasarkan sifat
serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan menjadi kekerasan mekanik, fisik dan
kimia.

ISI
1

Skenario
Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam
keadaan mati tertelungkup. Ia mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang
di bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan
baju (yang kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju
lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setingggi 60 cm. Posisi tubuh relatif
mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah
membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang
memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka di daerah
tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan
tajam.
Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah
suatu daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat.

Aspek Hukum
Pasal 338 KUHP
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan,
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.3
Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang
dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau
untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap
tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan
hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling
lama dua puluh tahun.3

Pasal 340 KUHP


Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang
lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima
tahun.3
Pasal 351 KUHP
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan
atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.3
Pasal 354 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan
penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama sepuluh tahun.3
Pasal 355 KUHP
(1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama lima belas tahun.

Prosedur medikolegal
Penemuan dan pelaporan

Dilakukan oleh warga masyarakat yang melihat, mengetahui atau mengalami suatu

kejadian yang diduga merupakan suatu tindak pidana.


Pelaporan dilakukan ke pihak yang berwajib,dalam hal ini Kepolisian RI dan lain-lain.

Penyelidikan

Dilakukan oleh penyelidik untuk mengetahui apakah benar ada kejadian seperti yang

dilaporkan.
Menurut Pasal 4 KUHAP, penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara Republik
Indonesia.

Penyidikan

Dilakukan oleh penyidik


Tindak lanjut setelah diketahui benar-benar terjadi suatu kejadian.
Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli.
Menurut pasal 2 PP No 27/1983, penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia
dengan pangkat serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua, dan pejabat pegawai negeri
sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang sekurang-kurangnya
Pengatur Muda Tingkat 1(golongan II/b).

Pemberkasan perkara

Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya dan diteruskan ke


penuntut umum.

Penuntutan

Dilakukan oleh penuntut umum di sidang pengadilan setelah berkas perkara yang lengkap
diajukan ke pengadilan.

Persidangan

Persidangan pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim.


Dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, para saksi dan juga para ahli.
Dokter dapat dihadirkan di sidang pengadilan untuk bertindak selaku saksi ahli atau selaku
dokter pemeriksa.

Putusan pengadilan

Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan, yaitu keyakinan pada diri hakim bahwa
memang telah terjadi suatu tindak pidana dan bahwa terdakwa memang bersalah.
Keyakinan hakim harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya dua dari lima alat bukti yang
sah, sebagaimana yang tertulis dalam pasal 184 KUHAP.

I. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan

Pasal 133 KUHAP


(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.3
Penjelasan Pasal 133 KUHAP
(2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman
disebut keterangan.3
Pasal 179 KUHAP
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah
atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya
menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.3
II. Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.3
Pasal 184 KUHAP
(1) Alat bukti yang sah adalah:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
5

c. Surat
d. Pertunjuk
e. Keterangan terdakwa
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.3
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.3
Pasal 180 KUHAP
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta
agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
(2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
(3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2).
(4) Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh
instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang
mempunyai wewenang untuk itu.3
III.Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya
dapat ditambah sepertiga.3
6

Pasal 222 KUHP


Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.3
Pasal 224 KUHP
Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau
jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undangundang ia harus melakukannnya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9
bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6
bulan.3

Pasal 522 KUHP


Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak
datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan
ratus rupiah.3

Pemeriksaan
I.

PEMERIKSAAN TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP)


Bilamana pihak penyidik mendapat laporan bahwa suatu tindak pidana yang

mengakibatkan kematian korban telah terjadi, maka pihak penyidik dapat meminta/
memerintahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP)
tersebut sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku dan sesuai pula dengan UndangUndang Pokok Kepolisian tahun 1961 no. 13 pasal 13 atau sesuai dengan ketentuan pasal 3
Keputusan Men Han Kam/ Pangab No. Kep/B/17/V1/1974.
Bila dokter menolak maka ia dapat dikenakan hukuman berdasarkan pada Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 224.
Selama melakukan pemeriksaan harus dihindari tindakan-tindakan yang dapat
mengubah, menganggu atau merusak keadaan di TKP tersebut walaupun sebagai
kelanjutan dari pemeriksaan itu harus mengumpulkan segala benda bukti (trace evidence)
7

yang ada kaitannya dengan manusia, seperti mengumpulkan bercak air mani atau darah
yang terdapat pada pakaian atau benda-benda di sekitar korban, yang pada dasarnya
tindakan pengumpulan benda bukti tadi akan merusak keadaan di TKP itu sendiri.
Dengan demikian sebelum pemeriksaan dilakukan, TKP harus diamankan, dijaga
keasliannya dan diabadikan dengan membuat foto-foto dan atau sktesa sebelum para
petugas menyentuhnya.
Sebelum datang di TKP ada beberapa hal yang harus dicatat sehubungan dengan alasan
atau persyaratan yuridis, demi kepentingan kasus itu sendiri, yaitu:
a. Siapa yang meminta/ memerintahkan datang ke TKP, otoritas, bagaimana permintaan/
perintah itu sampai keterangan dokter, di mana TKP dan kapan saat permintaan/ perintah
tersebut dikeluarkan. Dokter dapat meminta sedikit gambaran mengenai kasus yang akan
diperiksa dengan demikian ia dapat mempersiapkan perlengkapannya dengan baik.

b. Perlu diingat motto : to touch as little as possible and to displace nothing.


Ia tidak boleh menambah atau mengurangi benda bukti: tidak boleh sembarangan
membuang puntung rokok, perlengkapan jangan tertinggal, jangan membuang air
kecil di kamar mandi oleh karena ada kemungkinan benda-benda bukti yang ada di
tempat tersebut akan hanyut dan hilang.
c. Di TKP dokter/ penyidik membuat foto dan sketsa yang mana harus disimpan
dengan baik, oleh karena kemungkinan ia akan diajukan sebagai saksi selalu ada;
foto dan sketsa tersebut berguna untuk memudahkan mengingatkan kembali
keadaan yan sebenarnya.
Metode pencarian barang bukti
Untuk dapat memperoleh barang bukti yang diperlukan didalam proses penyidikan
dikenal 5 macam metode, yaitu: strip method, double strip or grid method, spiral method,
zone method, dan wheel method. Metode-metode tersebut tentu sudah diketahui penyidik,
namun perlu juga diketahui oleh dokter yang melakukan pemeriksaan di TKP agar tidak
mengubah atau merusak keaslian keadaan TKP.
Pemeriksaan darah di TKP
Pemeriksaan darah di TKP kasus kriminal dapat memberikan informasi yang
berguna bagi proses penyidikan. Pemeriksaan yang sederhana dan dapat dilakukan oleh
setiap penyidik adalah pemerhatian terhadapa bentuk dan sifat bercak darah sehingga dapat
diketahui:

Perkiraan jarak antara lantai dengan sumber perdarahan


Arah pergerakan dari sumber perdarahan baik dari korban maupun dari si pelaku

kejahatan
Sumber perdarahan, darah yang berasal dari pembuluh balik (pada luka yang
dangkal), akan berwarna merah gelap, sedangkan yang berasal dari pembuluh nadi
(pada luka dalam) akan berwarna terang.

Darah yang berasal dari saluran

pernafasan atau paru-paru berwarna merah terang dan berbuih (jika telah
mengering tampak seperti gambaran sarang tawon). Darah yang berasal dari saluran
pencernaan akan berwarna merah-cokelat sebagai akibat dari bercampurnya darah

dengan asam lambung.


Darah dari pembuluh nadi akan memberikan bercak kecil-kecil menyemprot pada
daerah yang lebih jauh dari daerah perdarahan; sedangkan yang berasal dari
pembuluh balik biasanya membentuk genangan (ini karena tekanan dalam
pembuluh nadi lebih tinggi dari tekanan atmosfir sedangkan tekanan dalam

pembuluh balik lebih rendah sehingga tidak mungkin menyemprot).


Perkiraan umur/ tuanya bercak darah. Darah yang masih baru bentuknya cair
dengan bau amis, dalam waktu 12-36 jam akan mengering sedangkan warna darah
akan berubah menjadi cokelat dalam waktu 10-12 hari. Oleh karena banyak faktor
yang memengaruhi darah maka didalam prakteknya hanya disebutkan bahwa darah
tersebut sangat baru (beberapa hari), baru, tua, dan sangat tua (beberapa
tahun): yaitu berdasarkan perubahan-perubahan warna serta perbandingan jumlah
dengan intensitas reaksi terhdap uji-uji yang dilakukan di laboratorium.

Dari distribusi bercak darah pada pakaian dapat diperkirakan posisi korban sewaktu
terjadinya perdarahan. Pada orang yang bunuh diri dengan memotonong leher dalam posisi
tegak atau pada kasus pembunuhan di mana korbannya sedang berdiri, maka bercak/ aliran
darah akan tampak berjalan dari atas ke bawah.
Dari distribusi darah yang terdapat di lantai dapat diduga apakah kasusnya kasus bunuh
diri (tergenang, setempat), ataukah pembunuhan (bercak dan genangan darah tidak
beraturan, sering tampak tanda-tanda bahwa korban berusaha menghindar atau tampak
bekas diseret).
Pemeriksaan bercak darah yang telah kering. Di dalam melakukan pemeriksaan bercak
darah yang telah kering di TKP atau pada barang-barang bukti seperti pisau, palu, tongkat
pemukul, dan lain sebagainya, penyidik harus memperoleh kejelasan di dalam 3 hal yang
pokok, yaitu:

Apakah bercak tersebut memang bercak darah?


Jika bercak darah, apakah berasal dari manusia?
Jika berasal dari manusia, apakah golongan darahnya?
Kejelasan dari ketiga hal yang pokok tersebut penting dalam penyelesaian kasus,

oleh karena bercak darah yang kering tidak dapat dibedakan dari bercak-bercak lainnya.

II.

IDENTIFIKASI PERSONAL

Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati,
berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi forensik merupakan
usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik,
yaitu kepentingan proses peradilan.
Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan
memberikan hasil positip (tidak meragukan). Secara garis besar ada dua metode
pemeriksaan, yaitu:
a. Identifikasi primer :
Merupakan identifikasi yang dapat berdiri sendiri tanpa perlu dibantu oleh kriteria
identifikasi lain. Teknik identifikasi primer yaitu :
Pemeriksaan DNA
Pemeriksaan sidik jari
Pemeriksaan gigi
Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan dua sampai tiga
metode pemeriksaan dengan hasil positif.
b. Identifikasi sekunder :
Pemeriksaan dengan menggunakan data identifikasi sekunder tidak dapat berdiri sendiri
dan perlu didukung kriteria identifikasi yang lain. Identifikasi sekunder terdiri atas cara
sederhana dan cara ilmiah. Cara sederhana adalah melihat langsung ciri seseorang dengan
memperhatikan perhiasan, pakaian dan kartu identitas yang ditemukan. Cara ilmiah yaitu
melalui teknik keilmuan tertentu seperti pemeriksaan medis. Ada beberapa cara identifikasi
yang biasa dilakukan, yaitu:

10

1) Pemeriksaan sidik jari


Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari
antemortem. Pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi
akurasinya dalam penentuan identitas seseorang, oleh karena tidak ada dua orang yang
memiliki sidik jari yang sama.
2) Metode visual
Metode ini dilakukan dengan cara keluarga/rekan memperhatikan korban (terutama wajah).
Oleh karena metode ini hanya efektif pada jenazah yang masih utuh (belum membusuk),
maka tingkat akurasi dari pemeriksaan ini kurang baik.
3) Pemeriksaan dokumen
Metode ini dilakukan dengan dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, kartu golongan
darah, paspor dan lain-lain) yang kebetulan dijumpai dalam saku pakaian yang dikenakan.
Namun perlu diingat bahwa dalam kecelakaan massal, dokumen yang terdapat dalam saku,
tas atau dompet pada jenazah belum tentu milik jenazah yang bersangkutan.
4) Pengamatan pakaian dan perhiasan
Metode ini dilakukan dengan memeriksa pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenzah.
Dari pemeriksaan ini dapat diketahui merek, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang
semuanya dapat membantu identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah.
Untuk kepentingan lebih lanjut, pakaian atau perhiasan yang telah diperiksa, sebaiknya
disimpan dan didokumentsikan dalam bentuk foto.
5) Identifikasi medik
Metode ini dilakukan dengan menggunakan data pemeriksaan fisik secara keseluruhan,
meliputi tinggi dan berat badan, jenis kelamin, warna rambut, warna tirai mata, adanya
luka bekas operasi, tato, cacat atau kelainan khusus dan sebagainya. Metode ini memiliki
akurasi yang tinggi, oleh karena dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan
berbagai cara atau modifikasi.
6) Pemeriksaan Gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi yang dapat dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan manual, sinar x, cetakan gigi serta rahang. Odontogram memuat data tentang
jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya. Bentuk gigi dan rahang
merupakan ciri khusus dari seseorang, sedemikian khususnya sehingga dapat dikatakan
11

tidak ada gigi atau rahang yang identik pada dua orang yang berbeda, bahkan kembar
identik sekalipun.
7) Serologi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan golongan darah yang diambil baik dari tubuh
korban atau pelaku, maupun bercak darah yang terdapat di tempat kejadian perkara. Ada
dua tipe orang dalam menentukan golongan darah, yaitu:
Sekretor : golongan darah dapat ditentukan dari pemeriksaan darah, air mani dan cairan
tubuh.
Non-sekretor : golongan darah hanya dari dapat ditentukan dari pemeriksaan darah.
8) Metode ekslusi
Metode ini digunakan pada identifikasi kecelakaan massal yang melibatkan sejumlah orang
yang dapat diketahui identitasnya. Bila sebagian besar korban telah dipastikan identitasnya
dengan menggunakan metode identifikasi lain, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat
ditentukan dengan metode tersebut di atas, maka sisa diidentifikasi menurut daftar
penumpang.
9) Identifikasi kasus mutilasi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan apakah potongan berasal dari manusia atau
binatang. Bila berasal dari manusia ditentukan apakah potongan tersebut berasal dari satu
tubuh. Untuk memastikan apakah potongan tubuh berasal dari manusia dilakukan
pengamatan jaringan secara makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan serologik.
10) Identifikasi kerangka
Identifikasi ini bertujuan untuk membuktikan kerangka tersebut adalah kerangka manusia,
ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila
memungkinkan dapat dilakukan rekonstruksi wajah. Kemudian dicari pula tanda kekerasan
pada tulang serta keadaan kekeringan tulang untuk memperkirakan saat kematian.
11) Forensik molekuler
Pemeriksaan ini memanfaatkan pengetahuan kedokteran dan biologi pada tingkatan
molekul dan DNA. Pemeriksaan ini biasa dilakukan untuk melengkapi dan
menyempurnakan berbagai pemeriksaan identifikasi personal pada kasus mayat tak
dikenal, kasus pembunuhan, perkosaan serta berbagai kasus ragu ayah (paternitas).

12

III.

AUTOPSI FORENSIK
Autopsi forensik dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan

undang-undang, setelah menerima surat permintaan visum et repertum dari pihak penyidik.
Agar pemeriksaan dapat terlaksana dengan secermat mungkin, pemeriksaan harus
mengikuti sistematika yang telah ditentukan. Autopsi terbagi kepada dua; pemeriksaan luar
dan pemeriksaan dalam.
Pemeriksaan luar
Pada pemeriksaan tubuh mayat sebelah luar, untuk kepentingan forensik,
pemeriksaan harus dilakukan dengan cermat, meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium,
maupun teraba, baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu dan
lain-lain, juga terhadap tubuh mayat itu sendiri. Sistematika pemeriksaan luar adalah
seperti berikut:
1. Label mayat
Mayat laki-laki yang dikirimkan untuk pemeriksaan kedokteran forensik diberi label dari
pihak kepolisian, merupakan sehelai label berwarna merah muda dengan materai lak merah
terikat pada ibu jari kaki kanan. Adalah kebiasaan yang baik, bila dokter pemeriksa dapat
meminta keluarga terdekat dan mayat untuk sekali lagi melakukan pengenalan/pemastian
identitas.
2. Tutup mayat
Mayat seringkali dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan ditutupi oleh sesuatu.
Jenis/bahan, warna serta corak dari penutup ini dicatat. Bila terdapat pengotoran pada
penutup, catat pula letak pengotoran serta jenis/bahan pengotoran tersebut.
3. Bungkus mayat
Mayat kadang-kadang dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan terbungkus. Bungkus
mayat ini harus dicatat jenis/bahannya, warna, corak, serta adanya bahan yang mengotori.
Dicatat pula tali pengikatnya bila ada, baik mengenai jenis/bahan tali tersebut, maupun
cara pengikatan serta letak ikatan tersebut.
4. Pakaian
Pakaian mayat dicatat dengan teliti, mulai dan pakaian yang dikenakan pada bagian tubuh
sebelah atas sampai tubuh sebelah bawah, dari lapisan yang terluar sampai lapisan yang
terdalam. Pakaian dari korban yang mati akibat kekerasan atau yang belum dikenal,
sebaiknya disimpan untuk barang bukti. Bila ditemukan saku pada pakaian, maka saku ini

13

harus diperiksa dan dicatat isinya dengan teliti pula.


5. Perhiasan
Perhiasan yang dipakai oleh mayat harus dicatat pula dengan teliti. Pencatatan meliputi
jenis perhiasan, bahan, warna, merk, bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan
tersebut. Benda di samping mayat. Bersamaan dengan pengiriman mayat, kadangkala
disertakan pula pengiriman benda di samping mayat, misalnya bungkusan atau tas.
6. Benda di samping mayat
Bersamaan dengan pengiriman mayat, kadangkala disertakan pula pengiriman benda di
samping mayat, misalnya dompet atau tas. Terhadap benda-benda ini pun dilakukan
pencatatan yang teliti dan lengkap.
7. Tanda kematian
Di samping untuk pemastian bahwa korban yang dikirimkan untuk pemeriksaan benarbenar telah mati, pencatatan tanda kematian ini berguna pula untuk penentuan saat
kematian. Waktu/saat dilakukannya pemeriksaan terhadap tanda kematian ini dicatat agar
pencatatan terhadap tanda kematian ini bermanfaat. Tanda-tanda pasti kematian :
a. Lebam mayat (livor mortis)
Lebam mayat dapat di gunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan sebab
kematian, mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadi lebam mayat
yang menetap dan memperkirakan saat kematian. Terhadap lebam mayat, dilakukan
pencatatan letak/ distribusi lebam, adanya bagian tertentu di daerah lebam mayat yang
justru tidak menunjukkan lebam (karena tertekan pakaian, terbaring di atas benda keras dan
lain-lain). Warna dari lebam mayat serta intensitas lebam mayat (masih hilang pada
penekanan, sedikit menghilang atau sudah tidak menghilang sama sekali).
Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat
gaya gravitasi, mengisi vena dan venula, membentuk bercak darah berwarna ungu (livide)
pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah
tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluih darah.
Lebam mayat biasanya mulai tampak pada 20-30 menit pasca mati, makin lama
intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8- 12 jam. Sebelum
waktu itu, lebam mayat masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika
posisi mayat diubah.
Memucatnya lebam mayat akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan

14

atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis.
Tetapi walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah
masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang
dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah.
Menetapnya lebam disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup
banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh
darah ikut mempersulit perpindahan tersebut.
Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap
dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk
lebam mayat baru di daerah perut dan dada. Mengingat pada lebam mayat darah terdapat
didala pembuluh darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan
resapan darah akibat trauma (ekstravasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan
kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam
mayat, sedangkan resapan darah tidak menghilang.
b. Kaku mayat (rigor mortis)
Distribusi kaku mayat serta derajat kekakuan pada beberapa sendi (daerah dagu/tengkuk,
lengan atas, siku, pangkal paha, sendi lutut) dicatat dengan menentukan apakah mudah atau
sukar dilawan. Apabila ditemukan adanya spasme kadaverik (cadaveric spasm) maka ini
harus dicatat dengan sebaik-baiknya, karena spasme kadaverik memberi petunjuk apa yang
sedang dilakukan oleh korban saat terjadi kematian.
Kaku mayat timbul 1-3 jam postmortem, dipertahankan 6-12 jam, dimulai dari otot
kecil: rahang bawah, anggota gerak atas, dada, perut dan anggota bawah kemudian kaku
lengkap dalam 6-12 jam dan dipertahankan 24-48 jam. Faktor yang mempercepat
terjadinya rigor mortis, yaitu :

Aktivitas fisik pra kematian / pre mortal.


Suhu tubuh tinggi.
Konstitusi berupa tubuh kurus.
Suhu lingkungan tinggi.
Umur yaitu anak-anak dan orang tua.
Gizi yang jelek.

Kekakuan yang menyerupai kaku mayat :


1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor)

akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada
15

saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum
meninggal
2. Heat stiffening

kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas

serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku,


paha dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude) pada kasus mati
terbakar

3. Cold stiffening

terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan


lemak subkutan dan otot

c. Penurunan suhu tubuh (algor mortis)


Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda
yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi.
Grafik penurunan suhu tubuh ini hamper berbentuk kurva sigmoid atau seperti
huruf S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban
udara, bentuk tubuh, posisi tubuh dan pakaian. Selain itu, suhu saat mati perlu diketahui
untuk perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada
suhu keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang
kurus, posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang
tua serta anak kecil.
d. Pembusukan (decomposition, putrefaction)
Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja
bakteri. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan
steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pasca mati dan
hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk
ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh.
Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii.
Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S dan HCN, serta asam amino
dan asam lemak.

16

Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada
perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri
serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulfmet-hemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan
dada, dan bau busuk pun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti
melebar dan berwarna hijau kehitaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan
pembusukan mayat adalah:
Faktor eksternal
1) Mikroorganisme/sterilitas.
2) Suhu optimal yaitu 21-380C (70-1000F) mempercepat pembusukan. Berhenti pada
suhu 2120F
3) Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pembusukan.
4) Hukum Casper tentang sifat medium. Udara : air : tanah = 8 : 2 : 1 (di udara
pembusukan paling cepat, di tanah paling lambat).
Faktor internal
1) Umur. Bayi yang belum makan apa-apa paling lambat terjadi pembusukan.
2) Konstitusi tubuh. Tubuh gemuk lebih cepat membusuk daripada tubuh kurus.
3) Keadaan saat mati. Udem, infeksi dan sepsis mempercepat pembusukan. Dehidrasi
memperlambat pembusukan.
4) Seks. Wanita baru melahirkan (uterus post partum) lebih cepat mengalami
pembusukan.
Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira
36-48 jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca
mati, di alis mata, sudut mata, lubang hidung dan di antara bibir. Telur lalat tersebut
kemudian akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies,
lalat dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dapat
dipergunakan untuk memperkirakan saat mati, dengan asumsi bahwa lalat biasanya
secepatnya meletakkan telur setelah seseorang meninggal.
e. Lain-lain
Adiposera

17

Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak,
berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Adiposera dapat
terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi lemak superficial yang
pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat terlihat di pipi,
payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah
menjadi adiposera.
Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga
bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih
dimungkinkan.
Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan
lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang meghambat adalah air yang mengalir yang
membuang elektrolit. Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang
hangat akan mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan
mempercepat pembentukannya.
Mummifikasi
Mummifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat
sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan.
Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput dan tidak
membusuk karena kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang kering.
Mummifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh
yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu).
Perkiraan Saat Kematian
Selain tanda-tanda pasti kematian yang dijelaskan di atas, terdapat beberapa perubahan lain
yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian korban. Perubahan-perubahan
tersebut adalah seperti yang berikut.

Perubahan pada mata: Kekeruhan menyeluruh pada kornea terjadi kira-kira 10-12

jam pasca mati


Perubahan dalam lambung: Pengosongan lambung yang terjadi dalam 3-5 jam
setelah makan terakhir, misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam
sedangkan makan besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna.
Kecepatan pengosongan lambung ini dipengaruhi oleh penyakit-penyakit saluran
cerna, konsistensi makanan dan kandungan lemaknya.
18

Perubahan rambut: Panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk

memperkirakan saat kematian, kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari


Pertumbuhan kuku: Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1 mm/hari
Perubahan dalam cairan serebrospinal : Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14
mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, Kadar nitrogen non protein

kurang 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam


Metode Entomologik: Larva Musca domestica mencapai panjang 8 mm pada hari
ke-7, berubah menjadi kepompong pada hari ke-8, menjadi lalat pada hari ke-14.
Larva Sarcophaga cranaria mencapai panjang 20 mm pada hari ke-9, menjadi
kepompong pada hari ke-10 dan menjadi lalat pada hari ke-18. Necrophagus
species akan memakan jaringan tubuh jenazah. Sedangkan predator dan parasit
akan memakan serangga Necrophagus. Omnivorus species akan memakan
keduanya baik jaringan tubuh maupun serangga. Telur lalat biasanya akan mulai
ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari postmortem. Larva ditemukan pada 6-10
hari postmortem. Sedangkan larva dewasa yang akan berubah menjadi pupa

ditemukan pada 12-18 hari.


Reaksi supravital: Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama
seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Rangsang listrik dapat
menimbulkan

kontraksi

otot

mayat

hingga

90-120

menit

pasca

mati,

mengakibatkan sekresi kelenjar sampai 60-90 menit pasca mati, trauma masih dapat
menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati
8. Identifikasi umum

Tanda umum seperti jenis kelamin/ bangsa/ ras/ umur/ warna kulit/
status gizi/ berat badan / panjang atau tinggi badan/ zakar disirkumsisi
atau tidak/ striae albicans ada atau tidak.

9. Identifikasi khusus

Rajah/tattoo : letak,bentuk,warna,tulisan dan dokumentasi foto

Jaringan parut : disebabkan penyembuhan luka atau bekas luka operasi

Callus

Kelainan kulit

Anomali dan cacat pada tubuh

19

10. Pemeriksaan rambut

Distribusi/warna/keadaan rambut/sifat rambut

11. Pemeriksaan mata

Kelopak mata terbuka/tertutup

Apakah ada kekerasan pada mata/kelainan

Apakah ada pembuluh darah yang melebar/bintik atau bercak


perdarahan

12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung

Bentuk daun telinga dan hidung

Kelainan dan tanda kekerasan yang ditemukan

Apakah ada cairan/busa/darah yang keluar

13. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut

Meliputi bibir,lidah,rongga mulut dan gigi

Data gigi yang lengkap

Apakah ada sumbatan/benda asing dalam rongga mulut

14. Pemeriksaan alat kelamin

Apakah ada kelainan atau tanda kekerasan

15. Lain-lain

Tanda perbendungan/ikterus/sianosis/edema

Bekas pengobatan

Bercak kotoran

16. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan/ luka


Berdasarkan kasus korban mempunyai tanda-tanda kekerasan oleh benda tajam. Ada tiga
hal yang ciri khas/ hasil dari trauma yaitu :
20

1. Adanya luka
2. Perdarahan dan/ atau skar
3. Hambatan dalam fungsi organ
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat
disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan,
sengatan listrik , atau gigitan hewan atau juga gangguan pada ketahanan jaringan tubuh
yang disebabkan oleh kekuatan mekanik eksternal, berupa

potongan atau kerusakan

jaringan, dapat disebabkan oleh cedera atau operasi. Pemeriksaan terhadap luka meliputi:
i.

Penyebab luka

Gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda


yangmengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk
bulat panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulnya marginal
haemorrhage.

ii.

Luka lecet tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka.


Arah kekerasan

Pada luka lecet geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini
sangat membantu dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara.

iii.

Cara terjadinya luka

Luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Bagian
tubuh yang terlindung seperti ketiak dan daerah lipat siku jarang mendapat luka
suatu kecelakaan.

Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh.
Jika korban pembunuhan sempat mengadakan perlawanan, dapat ditemukan luka
tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak
tangan.

Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan(tentative
wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar.

iv.

Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati


Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh

21

kekerasan yang menyebabkan luka

Harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang
terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital)

Adanya tanda

intravitalitas

luka

berupa

reaksi

jaringan

terhadap

luka:

ditemukannya resapan darah, proses penyembuhan luka, sebukan sel radang,


pemeriksaan histo-enzimatik, pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin
jaringan

Sekiranya ditemukan bahwa luka bukan penyebab kematian, harus dicari penyebab
lainnya.

Gambaran umum luka yang diakibatkan oleh benda tajam seperti:

Tepi dan dinding luka yang rata

Berbentuk garis

Tiada jembatan jaringan

Dasar luka berbentuk garis/titik

Kedalaman luka tidak melebihi panjang luka

Jika didapatkan satu sudut luka lancip dan satu lagi tumpul, benda tajam yang
digunakan bermata satu.

Jika kedua sudut luka lancip, benda tajam yang digunakan bermata dua.

Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan :

Dapat dilakukan dengan benda tumpul, benda tajam, maupun senjata api.

Pembunuhan dengan kekerasan tumpul, luka dapat terdiri dari luka memar, luka
lecet maupun luka robek. Perhatikan adanya luka tangkis yang terdapat pada daerah
ekstensor lengan bawah

Pembunuhan dengan kekerasan tajam, perhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut luka,
keadaan sekitar luka serta lokasi luka. Cari kemungkinan terdapatnya lukatangkis di
daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan.

Luka biasanya terdapat beberapa buah, distribusi tidak teratur

Pembunuhan dengan senjata api, penembakan dapat dilakukan dari berbagai jarak
dan luka yang ditemukan dapat merupakan luka tembak masuk jarak dekat,sangat
dekat atau jarak jauh dan jarang luka tembak tempel.

22

Kematian akibat penjeratan:

Kadang kala masih ditemukan jerat pada leher korban. Jerat harus diperlakukan
sebagai barang bukti dan dilepaskan dari leher korban dengan jalan menggunting
secara miring pada jerat, di tempat yang paling jauh dari simpul, sehingga simpul
pada jerat tetap utuh.

Jerat biasanya berjalan horizontal/mendatar dan letaknya rendah. Jerat ini


meninggalkan jejas jerat berupa luka lecet jenis tekan yang melingkari leher. Catat
keadaan jejas jerat dengan teliti, dengan menyebutkan arah, lebar serta letak jerat
yang tepat. Perhatikan apakah jejas jerat menunjukkan pola tertentu yang sesuai
dengan permukaan jerat yang bersentuhan dengan kulit leher.

Pada umumnya dikatakan simpul mati ditemukan pada kasus pembunuhan,


sedangkan simpul hidup ditemukan pada kasus bunuh diri. Namun perkecualian
selalu terjadi.

Tanda-tanda asfiksia ditemukan: lebam mayat lebih gelap dan luas, busa halus pada
lubang hidung, mulut dan saluran pernafasan, perbendungan alat-alat dalam serta
Tardieus spot.

17. Pemeriksaan terhadap patah tulang


Tentukan letak patah tulang dan sifat/jenis patah tulang tersebut

Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan organ atau alat tubuh biasanya dimulai dari lidah, oesofagus, trakea, dan
seterusnya sampai meliputi seluruh alat tubuh. Sistematikanya adalah seperti berikut:
1.

Lidah

2.

Tonsil

3.

Kelenjar gondok

4.

Kerongkongan

5.

Batang tenggorok

6.

Tulang lidah, rawan gondok, dan rawan cincin

7.

Arteri carotis interna

8.

Thymus

9.

Paru-paru

23

10.

Jantung

11.

Aorta thoracalis

12.

Aorta abdominalis

13.

Anak ginjal

14.

Ginjal, ureter, dan kandung kencing

15.

Hati dan kantung empedu

16.

Limpa dan kelenjar getah bening

17.

Lambung, usus halus, dan usus besar

18.

Pancreas

19.

Otak besar, otak kecil dan batang otak

20.

Alat kelamin

21.

Timbang dan catatlah berat masing-masing alat / organ

Interpretasi Temuan
1. Mayat laki-laki yang dijumpai telah mulai membusuk dan mati dalam keadaan
tertelungkup di sungai penuh batu-batuan dan bagian bawah celana panjang yang
digulung hingga setengah tungkai bawah.

Pembusukan mulai tampak 24 jam pasca kematian berupa warna kehijauan pada
perut kanan bawah disebabkan terbentuknya sulf-met-Hb. Secara bertahap warna
kehijauan ini akan menyebar ke seluruh tubuh dan bau busuk akan tercium. Maka
saat kematian korban diperkirakan sudah lebih dari 24 jam.

Turut diperhatikan keadaan sekitar TKP yang mungkin mempengaruhi proses


pembusukan menjadi lebih cepat.

Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata yaitu 3648 jam pasca mati.

Dengan mengidentifikasi spesies lalat dan panjang larvanya maka dapat diketahui
usia larva tersebut yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian
korban.

Korban mati dalam keadaan tertelungkup maka harus dipastikan apakah


kepalanya terbenam di dalam air atau tidak walaupun pada saat dijumpai sungai
dalam keadaan kering.

24

Bawah celana yang digulung harus dicurigai bahwa sebelumnya sungai ini tidak
kering dan si korban berencana untuk menyeberangi sungai atau korban memang
berencana masuk ke ladang sehingga korban menggulungnya sendiri. Karena
kebiasaan masyarakat di pedesaan setiap kali berjalan menusuri hutan sering
menggulung celananya dan membuka baju kemudian disandangkan di bahu.

2. Lehernya terikat dengan lengan baju miliknya sendiri dan ujung lengan baju yang lain
terikat ke pohon perdu setinggi 60cm. Posisi tubuh saat ditemui relatife mendatar.

Pada pemerhatian pertama, korban disangka membunuh diri dengan cara


gantung diri menggunakan lengan bajunya. Namun tidak ditemukan simpul
pada baju yang terikat di leher maupun yang menyangkut pada pohon.

Pemeriksaan dalam harus mendapatkan hasil kematian bukanlah disebabkan


asfiksia mekanik untuk menyangkal dugaan bunuh diri.

3. Ada satu luka terbuka ditemui di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh
darah ketiak yang putus dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri
sesuai kekerasan akibat benda tajam. Selain itu, ditemukan memar di bahu kanan sisi depan
dan memar pada hidung sebelah kiri.

Luka terbuka di daerah ketiak kiri menunjukkan pembuluh darah yang putus,
maka kemungkinan pembuluh darah yang putus adalah pembuluh darah besar
yang menyebabkan korban meninggal karena perdarahan yang massif.

Luka terbuka di daerah tungkai bawah kiri dan kanan menunjukkan


kemungkinan korban coba untuk melepaskan diri dan terkena ranting serta
batu-batuan di sungai.

Luka yang ditemukan berbentuk sayatan dengan kedua sudut lancip dan relatif
superfisial, bentuk garis lurus, tak ada lecet atau memar di sekitar luka, tepi
dinding rata, folikel rambut terpotong, serta tidak ada jembatan jaringan.

Memar yang ditemukan pada korban kurang jelas, karena proses pembusukan
telah terjadi, teapi memar menunjukkan akibat kekerasan tumpul.

Temuan ini menyingkirkan bahwa korban mati bunuh diri melalui cara gantung diri. Baju
korban yang terikat pada pohon juga menunjukkan pasien bukan dijerat, tetapi baju
tersebut menyangkut pada pohon saat pasien didorong ke jurang. Baju yang terikat pada

25

leher juga tidak ditemukan simpulan. Senjata atau benda tajam tidak ditemukan pada
pasien maupun di sekitarnya. Luka yang ditemukan merupakan tanda bukti penganiayaan
terhadap korban, begitu juga dengan memar yang ditemukan.
4. Rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah daerah suatu perbukitan

yang berhutan cukup lebat.


Keterangan ini memperkuat asumsi bahwa pembunuhan berlangsung di tempat
tersebut karena letaknya jauh dari pemukiman sehingga memberi kesempatan
serta memudahkan pelaku untuk melakukan tindak kejahatan tersebut.

Identifikasi jenazah
Dalam mengidentifikasi jenazah, maka harus ditunjang dengan pemeriksaan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah. Identifikasi dilakukan melalui:
Pemeriksaan sidik jari
Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante
mortem. Setelah mengambil sidik jari jenazah, hasilnya diberikan kepada pihak yang
berwajib.
Metode visual
Jenazah Tn.Purwadi sudah membusuk, maka metode ini kurang efektif dilakukan, karena
metode visual hanya efektif apabila didapatkan jenazah yang belum membusuk.

Pemeriksaan dokumen
Ditemukan dompet dan kartu identitas pada korban, yang memberikan informasi bahwa
korban bernama Purwadi, usia 42 tahun, alamatnya di Desa Palalangon, Cianjur, bekerja
sebagai seorang petani, agama Islam.
Pemeriksaan pakaian dan perhiasan
Pada pemeriksaan didapatkan mayat berpakaian
i. Atas: kaos dalam (oblong) berwarna putih tanpa merek yang berlumuran
darah di bagian ketiak kiri sehingga perut kiri korban.
ii. Bawah: celana panjang berwarna coklat tidak bermerek dengan dua buah
saku di bagian belakang, serta bawah celana digulung hingga setengah
tungkai bawah korban. Pada saku kiri belakang ditemukan dompet berisi
duit Rp.20,000 beserta kartu identitas.

KESIMPULAN
26

Berdasarkan temuan yang didapatkan pada korban, pemeriksaan luar dan pemeriksaan
dalam, maka berikut merupakan kesimpulan dari interpretasi kasus ini:

Saat kematian: lebih dari 24 jam


Sebab kematian: perdarahan massif akibat luka di daerah axilla
Cara kematian: kematian tidak wajar (pembunuhan)

DAFTAR PUSTAKA
1. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan Perundang-undangan
Bidang Kedokteran. Hukum Acara Pidana, Prosedur Medikolegal, dan Kejahatan
terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI;
1994.
2. Budiyanto A et al. Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997.h.25-36, 37-44, 55-63.
3. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Teknik Autopsi Forensik.
Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2000.h.12-20, 32-44, 62-3.
4. Safitry O. Mudah membuat visum et repertum kasus luka. Jakarta: Departemen
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI; 2013.h.16-35, 49-52.

27