Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPUTUSASAAN
1.1;

Diagnosa Keperawatan

1.2;

Keputusasaan
Tinjauan Teori
1.2.1;
Pengertian
Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seorang individu yang
melihat keterbatasan atau tidak ada alternatif atau pilhan pribadi yang
tersedia dan tidak dapat memobilisasi energy yang dimilikinya (NANDA,
2005).
Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu merasa
bahwa kehidupannya terlalu berat untuk dijalani ( dengan kata lain
mustahil ). Seseorang yang tidak memiliki harapan tidak melihat adanya
kemungkinan untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak menemukan
solusi untuk permasalahannya, dan ia percaya bahwa baik dirinya atau
siapapun tidak akan bisa membantunya.
Keputusasaan
berkaitan
dengan
kehilangan
harapan,
ketidakmampuan , keraguan .duka cita , apati , kesedihan , depresi , dan
bunuh diri. ( Cotton dan Range, 2004)
1.2.2;

Rentang Respon

Respon Adaptif

Respon Maladaptif

Harapan

Putus Harapan

Yakin

Tidak berdaya

Percaya

Putus asa

Inspirasi

Apatis

Tetap hati

Gagal dalam kehidupan


Ragu ragu
Sedih
Depresi
Bunuh diri

1.2.3;

Perilaku yang berhubungan dengan diagnosis


Adapun tanda dan gejala menurut, Keliat (2005) adalah:

1.2.4;

Ungkapan klien tentang situasi kehidupan tanpa harapan dan terasa


hampa (saya tidak dapat melakukan)
Sering mengeluh dan Nampak murung.
Nampak kurang bicara atau tidak mau berbicara sama sekali
Menunjukkan kesedihan, afek datar atau tumpul.
Menarik diri dari lingkungan.
Kontak mata kurang.
Mengangkat bahu tanda masa bodoh.
Nampak selalu murung atau blue mood.
Menunjukkan gejala fisik kecemasan (takikardia, takipneu)
Menurun atau tidak adanya selera makan
Peningkatan waktu tidur.
Penurunan keterlibatan dalam perawatan.
Bersikap pasif dalam menerima perawatan.
Penurunan keterlibatan atau perhatian pada orang lain yang bermakna.

Faktor Presdisposisi dan factor presipitasi


a; Faktor predisposisi
Faktor predisposisi yang mempengaruhi rentang respon keputusasaan
adalah:
a; Faktor Genetic : Individu yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam
keluarga yang mempunyai riwayat depresi akan sulit
mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi suatu
permasalahan
b; Kesehatan Jasmani : Individu dengan keadaan fisik sehat, pola
hidup yang teratur, cenderung mempunyai kemampuan mengatasi
stress yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang
mengalami gangguan fisik
c; Kesehatan Mental : Individu yang mengalami gangguan jiwa
terutama yang mempunyai riwayat depresi yang ditandai dengan
perasaan tidak berdaya pesimis, selalu dibayangi oleh masa depan

yang suram, biasanya sangat peka dalam menghadapi situasi


masalah dan mengalami keputusasaan.
d; Struktur Kepribadian
e; Individu dengan konsep yang negatif, perasaan rendah diri akan
menyebabkan rasa percaya diri yang rendah yang tidak objektif
terhadap stress yang dihadapi.
b; Faktor presipitasi
Ada beberapa stressor yang dapat menimbulkan perasaan
keputusasaan adalah:
1; Faktor kehilangan
2; Kegagalan yang terus menerus
3; Faktor Lingkungan
4; Orang terdekat ( keluarga )
5; Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
6; Adanya tekanan hidup
1.3;

7; Kurangnya iman
Patofisiologi (Clinical Pathway) : Patofisiologi, Situasional, Maturasional
Menurut Keliat, 2005 adapun patway dari keputusasaan adalah

Perilaku Kekerasan Risiko Bunuh Diri

: Efek

Isolasi Sosial Keputusasaan

: Core Problem

Gangguan Konsep Diri; HDR


Berduka Disfungsional
Patofisiologi

: Etiologi

Setiap penyakit kronis dan atau terminal dapat menyebabkan atau menunjang keputusasaan
(misal penyakit jantung, penyakit ginjal, kanker, dan AIDS)
Berhubungan dengan:

Kegagalan atau penyimpangan kondisi fisologis


Tanda atau gejala baru dan tidak diharapkan dari proses penyakit sebelumnya
Nyeri, tidak nyaman, kelemahan yang berkepanjangan
Kerusakan kemampuan fungsi (berjalan, eliminasi, dan makan)
Situasional
Pembatasan aktivitas yang berkepanjangan (misal: fraktur, cidera medula spinalis)
Isolasi karena proses penyakit yang berkepanjangan (misal: penyakit menular)
Dicampakan atau perpisahan dari orang-orang terdekat (orang tua atau anak-anak)
Ketidakmampuan untuk mencapai tujuan yang berharga dalam kehidupan (perkawinan,
pendidikan)
Ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan (misal: jalan-jalan atau
olahraga)
Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti
Tangung jawab memberi asuhan yang berkepanjangan
Terpajan pada stres fisiologis dan psikologis yang berkepanjangan
Kehilangan kepercayaan dalam nilai-nilai luhur dan tuhan
Keputusasaan besar yang menimbulkan stres
Riwayat penyakit fisik dan seksual
Maturasional
Anak

Berhubungan dengan:
Kehilangan pengasuh
Kehilangan kepercayaan pada orang orang terdekat
Dicampakkan oleh pengasuh
Kehilangan autonomi yang berhubungan dengan penyakit.
Kehilangan fungsi tubuh
Ketidakmampuan mencapai tugas-tugas perkembangan
Penolakan oleh keluarga

Remaja

Berhubungan denga:

Kehilangan orang-orang terdekat (teman sebaya dan keluarga)


Kehilangan fungsi tubuh
Perubahan dalam citra diri
Ketidakmampuan untuk mencapai tugas perkembangan (identitas peran)

Dewasa

Berhubungan dengan:
Kerusakan fungsi tubuh, kehilangan bagian tubuh
Kerusakan hubungan atara sesama
Kehilangan pekerjaan, karier
Kehilangan orang terdekat (kematian anak atau pasangan)
Ketidan mampuan untuk mencapai tugas perkembangan (intiminasi, komitmen)

Lansia

1.4;

1.5;

Berhubungan dengan:
Defisit sensori
Defisit motorik
Defisit kognitif
Kehilangan kemandirian
Kehilangan orang terdekat, barang-barang
Ketidakmampuan untuk mencapai tugas perkembangan (integritas)

Data yang perlu dikaji


1; Kaji dan dokumentasikan kemungkinan bunuh diri
2; Pantau afek dan kemampuan membuat keputusan
3; Pantau nutrisi: Asupan dan berat badan
Penentuan diagnosa keperawatan
Batasan Karakteristik (NANDA)

1.5.1;

Menurut Rosernberg dan Smith, 2010 dalam buku NANDA adapun


batasan karakteristiknya yaitu:

Menutup mata
Penurunan pengaruh
Penurunan nafsu makan

1.5.2;

Penurunan respons terhadap rangsangan


Penurunan verbalisasi
Kurangnya keterlibatan dalam perawatan
Kepasifan
Mengangkat bahu dalam menanggapi pembicaraan
Gangguan pola tidur
Berpaling dari pembicaraan
Isyarat verbal (Mengucapkan sesuatu yang pesimis, aku tidak bisa,
mendesah)

Tanda mayor (Lynda Jual Carpenito)


Mengungkapkan atau mengekspresikan sikap apatis yang mendalam ,
berlebihan, dan berkepanjangan dalam merespon situasi yang dirasakan
sebagai hal yang mustahil isyarat verbal tentang kesedihan.
1; Fisiologis :

respon terhadap stimulus melambat


tidak ada energi
tidur bertambah
2; Emosional :
individu yang putus asa sering sekali kesulitan mengungkapkan
perasaannya tapi dapat merasakan
tidak mampu memperoleh nasib baik, keberuntungan dan
pertolongan tuhan
tidak memiliki makna atau tujuan dalam hidup
hampa dan letih
perasaan kehilangan dan tidak memiliki apa-apa
tidak berdaya,tidak mampu dan terperangkap.
3; Individu memperlihatkan :
Sikap pasif dan kurangnya keterlibatan dalam perawatan
Penurunan verbalisasi
Penurunan afek
Kurangnya ambisi,inisiatif,serta minat.
Ketidakmampuan mencapai sesuatu

Hubungan interpersonal yang terganggu


Proses pikir yang lambat
Kurangnya tanggung jawab terhadap keputusan dan kehidupannya
sendiri.
4; Kognitif :
Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan
membuat keputusan
Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan
masalah yang dihadapi saat ini
Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir
Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali )
Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap
Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang
ditetapkan
Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur serta membuat
keputusan
Tidak dapat mengenali sumber harapan
Adanya pikiran untuk membunuh diri.

1.5.3;

Tanda Minor (Lynda Jual Carpenito)


1; Fisiologis
Anoreksia
BB menurun
2; Emosional
Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain
Merasa berada diujung tanduk
Tegang
Muak ( merasa ia tidak bisa)
Kehilangan kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani
Rapuh
3; Individu memperlihatkan
Kontak mata yang kurang mengalihkan pandangan dari pembicara
Penurunan motivasi

Keluh kesah
Kemunduran
Sikap pasrah
Depresi
4; Kognitif
Penuruna kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima
Hilangnya persepsi waktu tentang mas lalu , masa sekarang , masa
datang
Bingung
Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif
Distorsi proses pikir dan asosiasi
Penilaian yang tidak logis

1.6;

Rencana Tindakan Keperawatan\


Tujuan Keperawatan Pada Pasien
1; Tujuan Umum
Klien mampu mengekspresikan harapan positif tentang masadepan,
mengekspresikan tujuandan arti kehidupan.
2; Tujuan Khusus : Klien mampu
Membina hubungan saling percaya
Mengenal masalah keputusasaannya
Berpartisipasi dalam aktivitas
Menggunakan keluarga sebagai system pendukung
1.6.2; Tindakan Keperawatan Pada Pasien
1; Bina hubungan saling percaya
Ucapkan salam
Perkenalkan diri : sebutkan nama dan panggilan yang disukai
Jelaskan tujuan pertemuan
Dengarkan klien dengan penuh perhatiane) Bantu klien penuhi
kebutuhan dasarnya.
2; Klien mengenal masalah keputusasaannya
1.6.1;

Beri
kesempatan
bagi
klien
mengungkapkan
perasaan
sedih/kesendirian/keputusasaannya.
Tetapkan adanya perbedaan antara cara pandang klien terhadap
kondisinya dengancara pandang perawat terhadap kondisi klien.
Bantu klien mengidentifikasi tingkah laku yang mendukung putus
asa : pembicaraan abnormal/negative, menghindari interaksi dengan
kurangnya partisipasidalam aktivitas.
Diskusikan dengan klien cara yang biasa dilakukan untuk mengatasi
masalah,tanyakan manfaat dari cara yang digunakan.
Dukung klien untuk menggunakan koping efektif yang selama ini
digunakan olehklien.
Beri alternative penyelesaian masalah atau solusi.
Bantu klien mengidentifikasi keuntungan dan kerugian dari tiap
alternative.
Identifikasi kemungkinan klien untuk bunuh diri (putus asa adalah
factor risikoterbesar dalam ide untuk bunuh diri): tanyakan tentang
rencana, metode dan cara bunuh diri.
3; Klien berpartisipasi dalam aktivitas
Identifikasi aspek positif dari dunia klien (keluarga anda menelepon
RS setiaphari untuk menanyakan keadaanmu ?
Dorong klien untuk berpikir yang menyenangkan dan melawan rasa
putus asa.
Dukung klien untuk mengungkapkan pengalaman yang mendukung
pikiran dan perasaan yang positif.
Berikan penghargaan yang sungguh-sungguh terhadap usaha klien
dalam mencapaitujuan, memulai perawatan diri, dan berpartisipasi
dalam aktivitas. diri : sebutkan nama dan panggilan yang disukai.
1.6.3; Tindakan keperawatan pada keluarga
Klien menggunakan keluarga sebagai sistem pendukung
1; Bina hubungan saling percaya dengan keluarga:
Ucapkan salam
Perkenalkan diri: sebutkan nama dan panggilan yang disukai
Tanyakan nama keluarga, panggilan yang diisukai dan hubungan

dengan klien

Jelaskan tujuan pertemuan


Buat kontrak pertemuan
2; Identifikasi masalah yang dialami keluarga terkait kondisi keputusasaan

klien
3; Diskusikan upaya yang telah dilakukan keluarga untuk membantu klien
atasi masalah dan bagaimana hasilnya
4; Tanyakan harapan keluarga untuk membantu klien atasi masalahnya
5; Diskusikan dengan keluarga tentang keputusasaan:
Arti, penyebab, tanda-tanda, akibat lanjut bila tidak diatasi
Psikofarmaka yang diperoleh klien: manfaat, dosis, efek samping,
akibat bila tidak patuh minum obat
Cara keluarga merawat klien
1.6.4; Terapi Aktifitas Kelompok

Terapi Aktivitas Kelompok Pada Klien


Dengan Keputusasaan
1; Pengertian

Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu upaya untuk memfasilitasi


psikoterapis terhadap sejumlah klien pada waktu yang sama untuk memantau dan
meningkatkan hubungan antar anggota (Depkes RI, 1997).\
Terapi kerja atau terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan
partisipasi seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu yang telah ditetapkan. Terapi
ini berfokus pada pengenalan kemampuan yang masih ada pada seseorang,
pemeliharaan dan peningkatan bertujuan untuk membentuk seseorang agar mandiri,
tidak tergantung pada pertolongan orang lain (Riyadi dan Purwanto, 2009).
2; Tujuan terapi okupasi

Adapun tujuan terapi okupasi menurut Riyadi dan Purwanto (2009), adalah:
a; Terapi khusus untuk mengembalikan fungsi mental :

1; Menciptakan

kondisi tertentu sehingga klien dapat mengembangkan


kemampuannya untuk dapat berhubungan dengan orang lain dan masyarakat
sekitarnya.
2; Membantu melepaskan dorongan emosi secara wajar.
3; Membantu menemukan kegiatan sesuai bakat dan kondisinya.
4; Membantu dalam pengumpulan data untuk menegakkan diagnosa dan terapi.

b; Terapi khusus untuk mengembalikan fungsi fisik


1;
2;
3;
4;
5;

6;

:
Meningkatkan gerak, sendi, otot dan koordinasi gerakan.
Mengajarkan adl seperti makan, berpakaian, bak, bab dan sebagainya.
Membantu klien menyesuaikan diri dengan tugas rutin di rumah.
Meningkatkan toleransi kerja, memelihara dan meningkatkan kemampuan yang
dimiliki.
Menyediakan berbagai macam kegiatan agar dicoba klien untuk mengetahui
kemampuan mental dan fisik, kebiasaan, kemampuan bersosialisasi, bakat,
minat dan potensinya.
Mengarahkan minat dan hobi untuk dapat digunakan setelah klien kembali di
lingkungan masyarakat.

3; Aktivitas

Muhaj (2009), mengungkapkan aktivitas yang digunakan dalam terapi okupasi,


sangat dipengaruhi oleh konteks terapi secara keseluruhan, lingkungan, sumber yang
tersedia, dan juga oleh kemampuan si terapi sendiri (pengetahuan, keterampilan, minat
dan kreativitasnya).
a; Jenis

Jenis kegiatan yang dapat dilakukan meliputi: latihan gerak badan,


olahraga, permainan tangan, kesehatan, kebersihan, dan kerapian pribadi,
pekerjaan sehari-hari (aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti dengan
mengajarkan merapikan tempat tidur, menyapu dan mengepel), praktik prevokasional, seni (tari, musik, lukis, drama, dan lain-lain), rekreasi (tamasya,

nonton bioskop atau drama), diskusi dengan topik tertentu (berita surat kabar,
majalah, televisi, radio atau keadaan lingkungan) (Muhaj, 2009).

b; Aktivitas

Aktivitas adalah segala macam aktivitas yang dapat menyibukan


seseorang secara produktif yaitu sebagai suatu media untuk belajar dan
berkembang, sekaligus sebagai sumber kepuasan emosional maupun fisik. Oleh
karena itu setiap aktivitas yang digunakan harus mempunyai karakteristik
sebagai berikut:
1; Setiap gerakan harus mempunyai alasan dan tujuan terapi yang jelas. Jadi,
2;
3;
4;
5;
6;
7;
8;

bukan hanya sekedar menyibukkan klien.


Mempunyai arti tertentu bagi klien, artinya dikenal oleh atau ada
hubungannya dengan klien.
Klien harus mengerti tujuan mengerjakan kegiatan tersebut, dan apa
kegunaanya terhadap upaya penyembuhan penyakitnya.
Harus dapat melibatkan klien secara aktif walaupun minimal.
Dapat mencegah lebih beratnya kecacatan atau kondisi klien, bahkan harus
dapat meningkatkan atau setidaknya memelihara kondisinya.
Harus dapat memberi dorongan agar klien mau berlatih lebih giat sehingga
dapat mandiri.
Harus sesuai dengan minat, atau setidaknya tidak dibenci olehnya.
Harus dapat dimodifikasi untuk tujuan peningkatan atau penyesuaian
dengan kemampuan klien.

4; Indikasi terapi okupasi

Riyadi dan Purwanto (2009), menyatakan bahwa indikasi dari terapi okupasi
sebagai berikut:
a; Klien dengan kelainan tingkah laku, seperti klien harga diri rendah yang disertai

dengan kesulitan berkomunikasi.


b; Ketidakmampuan menginterpretasikan rangsangan sehingga reaksi terhadap
rangsang tidak wajar.

c; Klien yang mengalami kemunduran.


d; Klien dengan cacat tubuh disertai gangguan kepribadian.
e; Orang yang mudah mengekspresikan perasaan melalui aktivitas.

Orang yang mudah belajar sesuatu dengan praktik langsung daripada


membayangkan.
5; Karakteristik aktivitas terapi
f;

Riyadi dan Purwanto, (2009), mengemukakan bahwa karateristik dari aktivitas


terapi okupasi, yaitu: mempunyai tujuan jelas, mempunyai arti tertentu bagi klien, harus
mampu melibatkan klien walaupun minimal, dapat mencegah bertambah buruknya
kondisi, dapat memberi dorongan hidup, dapat dimodifikasi, dan dapat disesuaikan
dengan minat klien.

6; Analisa aktivitas

Riyadi dan Purwanto (2009), menyatakan bahwa analisa dari kegiatan terapi
okupasi, meliputi: jenis kegiatan yang dilakukan seperti latihan gerak badan atau
pekerjaan sehari-hari, maksud dan tujuan dari kegiatan dilakukan dan manfaatnya bagi
klien, sarana atau alat atau aktivitas dilakukan disesuaikan dengan jenis kegiatan yang
dilakukan, persiapan terhadap sarana pendukung dan klien maupun perawat,
pelaksanaan dari kegiatan yang telah direncanakan, kontra indikasi dan disukai klien
atau tidak disukai yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh klien.

7; Proses terapi okupasi

Adapun proses dari terapi okupasi, sebagai berikut:


a; Pengumpulan data, meliputi data tentang identitas klien, gejala, diagnosis, perilaku

dan kepribadian klien. Misalnya klien mudah sedih, putus asa, marah.
b; Analisa data dan identifikasi masalah dari data yang telah dikaji ditegakkan
diagnosa sementara tentang masalah klien maupun keluarga.
c; Penentuan tujuan dan sasaran dari diagnosa yang ditegakkan dapat dibuat sasaran
dan tujuan yang ingin dicapai.

d; Penentuan aktivitas jenis kegiatan yang ditentukan harus disesuaikan dengan tujuan

terapi.
e; Evaluasi kemampuan klien, inisiatif, tanggungjawab, kerjasama, emosi dan tingkah
laku selama aktivitas berlangsung. Dari hasil evaluasi rencanakan kembali kegiatan
yang sesuai dan akan dilakukan. Evaluasi dilakukan secara periodik, misalnya 1
minggu sekali dan setiap selesai melaksanakan kegiatan.

8; Pelaksanaan Terapi

Terapi okupasi dapat dilakukan secara individu maupun kelompok tergantung dari
kondisi klien dan tujuan terapi.
a; Metode
1;
Individual: dilakukan untuk klien baru masuk, klien yang belum mampu
berinteraksi dengan kelompok dan klien lain yang sedang menjalani persiapan
aktivitas.
2;
Kelompok: klien dengan masalah sama, klien yang lama dan yang memiliki
tujuan kegiatan yang sama. Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah
kelompok kecil yang anggotanya berkisar antara 5-12 orang (Keliat dan
Akemat, 2005). Jumlah anggota kelompok kecil menurut Stuart dan Laraia
(2001, dalam Keliat dan Akemat, 2005) adalah 7-10 orang, Rawlins, Williams,
dan Beck (1993, dalam Keliat dan Akemat, 2005) menyatakan jumlah anggota
kelompok adalah 5-10 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya
tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan,
pendapat, dan pengalamannya. Jika terlalu kecil, tidak cukup variasi informasi
dan interaksi yang terjadi. Johnson (dalam Yosep, 2009) menyatakan terapi
kelompok sebaiknya tidak lebih dari 8 anggota karena interaksi dan reaksi
interpersonal yang terbaik terjadi pada kelompok dengan jumlah sebanyak itu.
Apabila keanggotaanya lebih dari 10, maka akan terlalu banyak tekanan yang
dirasakan oleh anggota sehingga anggota merasa lebih terekspos, lebih cemas,
dan seringkali bertingkah laku irrasional.
b; Waktu

Terapi dilakukan 1-2 jam setiap sesi baik metode individual maupun
kelompok dengan frekuensi kegiatan per sesi 2-3 kali dalam seminggu. Setiap
kegiatan dibagi menjadi 2 bagian,pertama: -1 jam yang terdiri dari tahap persiapan
dan tahap orientasi, kedua: 1-1/2 jam yang terdiri dari tahap kerja dan tahap
terminasi (Riyadi dan Purwanto, 2009)

9; Pengorganisasian

1; Waktu
Kegiatan terapi kognitif ini akan dilaksanakan selama 1 hari yaitu pada:
Hari

Jam

Lama :
2; Terapis
Adapun terapis yang akan terlibat adalah
a; Fasilitator.
Menyusun rencana terapi kognitif
-

Mengarahkan kelompok mencapai tujuan

Memberikan contoh cara kerja membuat ket pot bunga

Memfasilitasi anggota untuk mengekspresikan perasaan dapat dan


memberi umpan balik

Sebagai role model

Mempertahankan kehadiran anggota

3; Klien
4; Metode dan media
a; Metode
Adapun metode yang digunakan pada terapi okupasi ini adalah dinamika kelompok
b; Media

Media yang akan digunakan meliputi:


-

Spidol

Buku catatan

Skema Ruang Terapi

K
F

K
F

KETERANGAN:

F
K

: Fasilitator
: Klien

10; Mekanisme Kegiatan

1; Persiapan

a;

Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

b; mengumpulkan informasi mengenai riwayat dan pengalaman pekerjaan pasien,


pola hidup sehari-hari, minat, dan kebutuhannya
c;

analisa tampilan pekerjaan seperti kemampuan untuk melaksanakan aktivitas


dalam kehidupan keseharian, yang meliputi aktivitas dasar hidup sehari-hari,
pendidikan, bekerja, bermain, mengisi waktu luang, dan partisipasi social

2; Orientasi
a; Salam tarapeutik

Salam dari terapis kepada klien


Terapis dan klien memakai papan nama.
b; Evaluasi / validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini
c; Kontrak
Terapis menjelaskan tujuan terapi
Menjelaskan aturan main berikut:
;

Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin
kepada terapis.

Lama kegiatan 60 menit.

Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

d; Tahap Kerja
e; Tahap terminasi.
f;

Evaluasi
1; Terapis menanyakan perasan klien setelah mengikuti terapi okupasi
2; Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.

g; Tindak lanjut

Menganjurkan klien membuat ketrammpilan seperti yang telah diajarkan


h; Kontrak yang akan datang

Buat kesepakatan baru untuk kegiatan berikutnya

11; Evaluasi Dan Dokumentasi

Hal-hal yang perlu di evalausi antara lain adalah sebagi berikut:


a; Kemampuan membuat keputusan
b; Tingkah laku selama bekerja
c; Kesadaran adanya orang lain yang bekerja bersama dia dan yang mempunyai
kebutuhan sendiri
d; Kerjasama
e; Cara memperlihatkan emosi (spontan, wajar, jelas, dan lain-lain)
f; Inisiatif dan tanggung jawab
g; Kemampuan untuk diajak atau mengajak berunding
h; Menyatakan perasaan tanpa agresi
i; Kompetisi tanpa permusuhan
j; Menerima kritik dari atasan atau teman sekerja
k; Kemampuan menyatakan pendapat sendiri dan apakah bertanggung jawab atas
pendapatnya tersebut
l; Wajar dalam penampilan
m; Orientasi, tempat, waktu, situasi, orang lain
n; Kemampuan menerima instruksi dan mengingatnya
o; Kemampuan bekerja tanpa terus menerus diawasi
p; Kerapian bekerja
q; Lambat atau cepat
1.7;

Daftar Pustaka
Azis, R. (2003).Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino
Gondoutomo.
Keliat, B.A. (2005). Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: EGC

Keliat, B.A., Akemat, Helena, N., Susanti, H., Panjaitan, R.V., Wardani, I, Y., dkk.
(2006).
Modul praktek keperawatan profesional jiwa (MPKP Jiwa). Jakarta: FIK UI dan
WHOStuart, G.W. (2007).Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 6. Jakarta: EGC.