Anda di halaman 1dari 14

Fraktur Femur Tertutup pada Pasien Kecelakaan

Kelly
102012078
C9
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
kelly.kresentia@civitas.ukrida.ac.id

Pendahuluan
Fraktur merupakan suatu gangguan pada kontinuitas tulang. Penyebab terbanyak
adalah insiden kecelakaan tetapi faktor lain seperti proses degeneratif juga dapat berpengaruh
terhadap kejadian fraktur. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress atau beban yang lebih
besar dan kemampuan tulang untuk mentoleransi beban tersebut. Fraktur dapat menyebabkan
disfungsi organ tubuh atau bahkan dapat menyebabkan kecacatan atau kehilangan fungsi
ekstremitas permanen.
Dampak masalah dari fraktur yaitu dapat mengalami perubahan pada bagian tubuh
yang terkena cedera, merasakan cemas akibat rasa sakit dan rasa nyeri yang dirasakannya,
resiko terjadinya infeksi, resiko perdarahan, ganguan integritas kulit serta berbagai masalah
yang mengganggu kebutuhan dasar lainnya. Selain itu, fraktur juga dapat menyebabkan
kematian. Kegawatdaruratan fraktur harus segera dilakukan tindakan untuk menyelamatkan
pasien dari kecacatan fisik. Kecacatan fisik dapat dipulihkan secara bertahap melalui
mobilisasi persendian yaitu dengan latihan range of motion (ROM). Range of motion adalah
latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan
dalam kemampuan

menggerakkan persendian secara normal dan lengkap untuk

meningkatkan massa otot dan tonus otot. Pasien harus diusahakan untuk kembali ke aktivitas
biasa sesegera mungkin. Hal tersebut perlu dilakukan sedini mungkin pada pasien post
operasi untuk mengembalikan kelainan fungsi pasien seoptimal mungkin.

Pembahasan
A. Anamnesis
Anamnesis yaitu pemeriksaan yang pertama kali dilakukan yaitu berupa rekam
medik pasien yang dapat dilakukan pada pasiennya sendiri (auto) atau pada keluarga
terdekat (allo). Rekam medik yang dilakukan meliputi:
a. Identitas : nama, umur, jenis kelamin, pemberi informasi (misalnya pasien,
keluarga,dan lain-lain) dan keandalan pemberi informasi.
b. Keluhan utama : keluhan yang dirasakan pasien tentang permasalahan yang
sedang dihadapinya.
c. Keluhan penyerta : keluhan lain yang menyertai keluhan utama.
d. Riwayat penyakit dahulu (RPD) : bertanya apakah pasien pernah mengalami
penyakit seperti saat ini atau tidak.
e. Riwayat penyakit sekarang (RPS) : cerita kronologis, terinci dan jelas
mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai
pasien datang berobat.
f. Riwayat penyakit keluarga : umur, status anggota keluarga (hidup/meninggal)
dan masalah kesehatan pada anggota keluarga.
g. Riwayat obat : riwayat penggunaan obat yang telah dikonsumsi sebelumnya.
h. Riwayat sosial : stressor (lingkungan kerja atau sekolah, tempat tinggal),
faktor resiko gaya hidup (makan makanan sembarangan).1
Dari kasus yang diperoleh, didapatkan anamnesis sebagai berikut:
a) Identitas
-

Jenis kelamin

: laki-laki.

Umur

: 18 tahun.

b) Keluhan utama
-

Pasien sakit pada kaki kanannya setelah mengalami kecelakaan sepeda


motor.

c) Keluhan penyerta
-

Pasien mengalami kesakitan pada tungkai bawah kanan di atas sendi lutut,
tidak dapat berdiri dan merasa kesakitan ketika berusaha mengangkat
pahanya.

d) Riwayat penyakit dahulu


-

Bertanya apakah pasien pernah mengalami kejadian patah tulang atau


tidak dan apakah pernah mengalami kanker tulang atau tidak.

e) Riwayat penyakit sekarang


-

Pasien mengeluh nyeri akibat kecelakaan sepeda motor.

f) Riwayat penyakit keluarga


-

Bertanya apakah di dalam anggota keluarga ada yang pernah mengalami


penyakit patah tulang atau tidak.

g) Riwayat obat
-

Bertanya tentang obat apa saja yang telah dikonsumsi sebelumnya.

h) Riwayat sosial
-

Bertanya tentang gaya hidupnya sehari-hari di lingkungan tempat tinggal


dan sekolahnya.

B. Pemeriksaan
Setelah anamnesis selesai, dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
1) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik diawali dengan pemeriksaan obyektif tentang hal-hal yang
terukur yaitu tekanan darah, nadi, frekuensi pernapasan, suhu, dan tingkat
kesadaran.2
Pada kasus didapatkan hasil pemeriksaan fisik sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Tanda-tanda vital : normal


Keadaan umum : compos mentis
Look (inspeksi) : edema, hematom dan deformitas
Feel (palpasi) : tidak ada panas, krepitasi (+), nyeri tekan (+), pulsasi

distal teraba, tidak melemah


e. Move (pergerakan) : pergerakan tungkai terbatas.
2) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk pasien yang menderita fraktur femur tertutup 1/3
distal dextra dapat dilakukan melalui:
a.

Foto rontgen femur dextra


Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan
kedudukan tulang. Oleh karena itu, minimal diperlukan 2 proyeksi yaitu
anteroposterior (AP) atau AP lateral. Dalam keadaan tertentu, diperlukan
proyeksi tambahan (khusus) atau indikasi untuk memperlihatkan patologi
3

yang dicari, karena adanya superposisi. Untuk fraktur baru, tujuan


dilakukannya foto rontgen adalah untuk melihat jenis dan kedudukan
fraktur serta mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung.
Oleh karena itu, perlu tampak seluruh bagian tulang (kedua ujung
persendian).3
b. Scan tulang, CT-scan atau MRI
Memperlihatkan fraktur dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan
lunak.3
c. Pemeriksaan darah lengkap
Hematokrit mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma
multiple). Peningkatan sel darah putih adalah respon stres normal setelah
trauma.3
C.

Working Diagnosis (WD)


Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang baik yang bersifat total maupun
sebagian. Fraktur terjadi akibat tekanan yang kuat diberikan pada tulang normal atau
tekanan yang sedang pada tulang yang terkena penyakit, misalnya osteoporosis.4
Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi
akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya
lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Dari beberapa pengertian di atas, maka
pengertian fraktur femur 1/3 distal dextra adalah terputusnya kontinuitas struktur tulnag
femur kanan pada 1/3 bagian ujung. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak dan mengakibatkan penderita jatuh dalam
syok. Klasifikasi fraktur femur dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :
1. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)
a. Fraktur tertutup (Simple), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih
utuh) tanpa komplikasi.
b. Fraktur terbuka (Compound), bila terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.4
2. Berdasarkan komplit atau ketidaklomplitan fraktur.
4

a. Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
b. Fraktur inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang panjang.4
3. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.
a. Fraktur transversa : fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b. Fraktur oblik : fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga.
c. Fraktur spiral : fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
d. Fraktur kompresi : fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
e. Fraktur avulsi : fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi
otot pada insersinya di tulang.4
4. Berdasarkan jumlah garis patah
a. Fraktur komunitif : fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
b. Fraktur segmental : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
c. Fraktur multiple : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.4
5. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang
a. Fraktur undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
b. Fraktur displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga
disebut lokasi fragmen.4
6. Berdasarkan posisi fraktur, sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian yaitu
1/3 proksimal, 1/3 medial dan 1/3 distal.4

Gambar 1. Jenis-Jenis Fraktur.4


Ada beberapa komplikasi yang berhubungan dengan fraktur femur antara lain
sebagai berikut:
a) Infeksi
Infeksi biasanya terjadi pada fraktur terbuka karena luka terkontaminasi oleh
organisme yang masuk dari luar tubuh. Pada fraktur tertutup dapat terjadi karena
penolakan terhadap fiksasi internal yang dipasang pada tubuh pasien.4
b) Delayed union
Delayed union adalah suatu kondisi dimana terjadi penyambungan yang lambat
yang disebabkan oleh adanya infeksi dan tidak tercukupinya peredaran darah ke
fragmen.4
c) Non union
Non union adalah penyambungan tulang yang tidak sukses memperbaiki
perpatahannya.4
d) Mal union
Mal union adalah penyambungan tulang pada posisi yang salah atau abnormal.4
D. Differential Diagnosis (DD)
Dislokasi merupakan gangguan persendian yang menyebabkan sendi bergeser
dari kedudukan semula. Dislokasi terjadi ketika gerakan memuntir atau memilin
membuat tulang tertarik keluar dari posisi normalnya dalam sendi. Fraktur dapat
sekaligus terjadi dan ligamen di sekitarnya bisa terkoyak.5
6

Dislokasi sendi biasanya terjadi setelah trauma berat, yang mengganggu


kemampuan ligamen menahan tulang di tempatnya. Untuk dislokasi akibat trauma,
terdapat nyeri terkait yang nyata, pembengkakan, dan kehilangan rentang gerak sendi.
Dislokasi sendi biasanya akan tampak pada radiograf dan diatasi dengan manipulasi
atau bedah perbaikan yang diikuti dengan imobilisasi sampai struktur sendi sembuh.5
Jari-jari tangan dan bahu merupakan sendi yang umum mengalami dislokasi.
Dislokasi terasa sangat menyakitkan dan rasa nyeri bertambah jika sendi digerakkan.
Biasanya terjadi kelainan bentuk dan bengkak di sekitar sendi. Apabila mengalami
dislokasi sendi, diperlukan penanganan medis secepatnya. Rontgen dapat dilakukan
untuk memeriksa tanda-tanda patah tulang. Apabila tidak terjadi patah, tulang yang
bermasalah biasanya digeser kembali ke posisi semula. Obat penghilang rasa sakit dan
obat penenang dapat diberikan selama proses ini dilakukan. Sendi tersebut kemudian
tidak boleh digerakkan selama beberapa minggu dan memerlukan fisioterapi saat mulai
menggerakkannya. Dislokasi dapat melemahkan sendi sehingga rentan terhadap
gangguan lain. Kadang-kadang operasi dilakukan untuk membantu menstabilkan
sendi.5

Gambar 2. Perbedaan Sendi Normal dan Dislokasi Sendi.5


E. Etiologi
Fraktur femur tertutup 1/3 distal dextra dapat disebabkan oleh berbagai hal
sebagai berikut:
a. Trauma langsung merupakan pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang
patah secara spontan, misalnya kecelakaan lalu lintas.

b. Trauma tidak langsung merupakan pukulan langsung yang berada jauh dari lokasi
benturan, misalnya jatuh dengan tangan menjulur dan menyebabkan fraktur
klavikula.
c. Proses penyakit misalnya osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang

patologis.
d. Secara spontan disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada
penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran.
e. Kelemahan abnormal pada tulang. Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang
normal jika tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau jika tulang itu sangat
rapuh (misalnya pada penyakit paget).6
F. Epidemiologi
Fraktur femur mempunyai insiden yang cukup sering, biasanya terjadi pada
tahun-tahun awal dari umur 2 tahun (18%) dan 10 tahun (4%). Sehubungan dengan
meningkatnya umur, angka kejadian semakin kecil. Lebih banyak ditemukan pada anak
laki-laki. Pada orang dewasa terjadi pada usia produktif antara 17-50 tahun dan
insidennya lebih banyak pada pria dibandingkan wanita.6
Fraktur collum femur dan fraktur subtrochanter terjadi pada wanita tua dengan
usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporosis. Trauma yang
dialami oleh wanita tua biasanya ringan sedangkan pada penderita usia muda
ditemukan riwayat mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang femur, fraktur
supracondyler, fraktur intercondyler, dan fraktur condyler banyak terjadi pada laki-laki
dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh dari ketinggian. Sedangkan fraktur batang
femur pada anak terjadi karena jatuh saat bermain di rumah atau di sekolah.6
G. Patofisiologi
Patofisiologi fraktur adalah jika tulang mengalami fraktur, maka periosteum,
pembuluh darah di korteks, sumsum tulang dan jaringan di sekitarnya rusak. Terjadi
pendarahan dan kerusakan jaringan di ujung tulang dan terbentuklah hematoma di canal
medulla. Pembuluh-pembuluh kapiler dan jaringan ikat tumbuh ke dalamnya, menyerap
hematoma tersebut, dan menggantikannya. Jaringan ikat berisi sel-sel tulang
(osteoblast) yang berasal dari periosteum. Sel ini menghasilkan endapan garam kalsium
dalam jaringan ikat yang disebut callus.7

Pada kasus fraktur femur 1/3 distal, tindakan yang dilakukan untuk
memperbaiki posisi fragmen adalah dengan reduksi secara terbuka atau dengan
tindakan operasi. Dengan adanya tindakan operasi ini, maka akan terjadi kerusakan
jaringan lunak. Tindakan operasi akan menyebabkan reaksi radang, pembuluh darah
vasodilatasi sehingga permeabilitas dinding akan meningkat. Dengan meningkatnya
permeabilitas dinding maka cairan eksudat keluar dan meningkatkan tekanan pada
jaringan interstisial. Kumpulan cairan eksudat akan mengakibatkan oedem. Oedem
akan menekan nosiseptor sehingga akan timbul nyeri. Apabila terasa nyeri, biasanya
pasien tidak ingin untuk bergerak, sehingga dapat menyebabkan penurunan lingkup
gerak sendi. Apabila hal ini dibiarkan terus-menerus dan dalam jangka waktu yang
lama, maka akan terjadi penurunan kekuatan otot sehingga aktivitas fungsional pasien
juga akan menurun khususnya aktivitas jalan.7
Namun secara fisiologis, tulang mempunyai kemampuan untuk menyambung
sendiri setelah patah tulang. Proses penyambungan tulang pada setiap individu berbedabeda. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyambungan tulang adalah usia pasien, jenis
fraktur, lokasi fraktur, suplai darah, dan kondisi medis yang menyertainya. Proses
penyambungan tulang terdiri dari beberapa tahapan yaitu:
a.

Hematoma
Pembuluh darah robek dan darah keluar sehingga terbentuk kumpulan darah di sekitar
dan di dalam tempat yang mengalami fraktur. Tulang pada ujung fragmen yang tidak

b.

mendapat pasokan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter.7
Proliferasi
Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di
bawah periosteum dan di dalam canalis medullaris yang terkoyak. Ujung fragmen
dikelilingi oleh jaringan yang kaya sel, yang menghubungkan ujung fragmen fraktur.
Hematoma yang membeku perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus
berkembang ke dalam daerah itu.7

c.

Pembentukan callus
Selama beberapa minggu berikutnya, callus bervaskular masih lunak, penuh
dengan sel berbentuk kumparan yang aktif. Tulang spongiosa membentuk callus
bila kedua ujung fragmen berdekatan, sedangkan tulang kortikal dapat
membentuk callus walaupun kedua ujung fragmen tidak berdekatan. Pergerakan
yang lembut dapat merangsang pembentukan callus pada fraktur tulang panjang.
Setelah dua minggu, endapan kalsium telah cukup terdapat pada callus yang
9

dapat dilihat pada foto sinar-X dan diraba dengan palpasi. Callus yang
mengalami kalsifikasi ini secara lambat diubah menjadi anyaman tulang
longgar terbuka yang membuat ujung tulang menjadi melekat dan mencegah
d.

pergerakan ke samping satu sama lain.7


Konsolidasi
Bila aktivitas osteoklast (sel yang mereabsorpsi tulang) dan osteoblast (sel yang
membentuk tulang) berlanjut, tulang baru akan berubah menjadi tulang lamellar
(berlapis-lapis). Sistem itu sekarang cukup kaku untuk memungkinkan osteoklast
menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur dan dekat di belakangnya osteoblast

e.

mengisi celah-celah yang tersisa di antara fragmen dengan tulang yang baru.7
Remodelling
Tulang yang fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama
beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh
proses reabsorpsi dan pembentukan tulang yang terus menerus. Lamella (lapisan)
yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya tinggi, dinding-dinding
yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk akhirnya tulang akan
memperoleh bentuk yang mirip dengan bentuk normalnya. 7

H. Gejala Klinis
Adapun gejala klinis dari fraktur femur tertutup 1/3 distal dextra yaitu:
1) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2) Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada ekstremitas. Deformitas
dapat diketahui dengan cara membandingkan dengan ekstremitas normal.
Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
3) Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah
tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5
sampai 5,5 cm.
4) Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya
derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan
lainnya.
5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam
atau beberapa hari setelah cedera.
6) Peningkatan temperatur lokal.
10

7) Pergerakan abnormal.
8) Ekimosis (perdarahan subkutan yang lebar).
9) Kehilangan fungsi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan).
10) Syok hipovolemik (hasil dari hilangnya volume cairan darah).7
I. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan fraktur adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari
patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan dan menjaga agar tulang tetap
menempel sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan memerlukan waktu minimal 4
minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah
sembuh, tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi seperti semula.8
Penatalaksanaan medis untuk penderita fraktur femur tertutup 1/3 distal dextra
dibagi menjadi 2 yaitu melalui terapi farmakologis dan non farmakologis.8
a. Terapi Farmakologis
Pada semua kasus fraktur, penatalaksanaan nyeri harus diutamakan.
Analgesik seperti asetaminofen atau NSAID (Non Steroid Anti Inflammatory
Drugs) dapat diberikan pada fase akut dari fraktur. Walupun demikian,
penambahan penghilang nyeri mungkin diperlukan bila nyeri pasien tidak hilang
hanya dengan pemberian asetaminofen atau NSAID. Pada kasus seperti ini,
golongan opioid mungkin dapat digunakan, khususnya untuk mengatasi rasa
nyeri yang hebat. Penyesuaian terhadap rasa nyeri harus dilakukan, terutama
pada fase akut.8
Kontrol terhadap rasa nyeri sangat penting pada pasien. Analgesik akan
membuat pasien nyaman, napas yang tenang, dan mempunyai efek sedatif, yang
bermanfaat bagi pasien dengan nyeri yang terus menerus. Beberapa jenis
analgesik yang dapat digunakan, antara lain:
1) Asetaminofen
- Diindikasikan untuk nyeri ringan sampai sedang. Merupakan obat
pilihan untuk nyeri pasien yang hipersensitif terhadap aspirin atau
NSAID, dengan gangguan gastrointestinal atas, atau pasien yang
-

mengonsumsi antikoagulan oral.


Dosis yang digunakan adalah 325-650 mg per oral setiap 4-6 jam atau

1.000 mg 3 sampai 4x sehari; dosis tidak lebih dari 4 gram per hari.
Untuk pasien anak 12 tahun: 325-650 mg per oral setiap 4 jam; tidak

lebih dari 5x dalam 24 jam.


Kontraindikasi pada pasien yang hipersensitif; defisiensi G6PD
(Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase).

11

Interaksi obat. Rifampisin dapat mengurangi efek analgesik;


digunakan bersama barbiturate, carbamazepine, hydantoins, dan

isoniazid akan meningkatkan hepatotoksisitas.


Efek samping bersifat hepatotoksik terutama bila pasien pecandu
alkohol. Nyeri hebat atau nyeri terus menerus atau demam tinggi

merupakan efek samping yang serius.8


2) Ibuprofen
- Obat pilihan untuk pasien dengan nyeri ringan sampai sedang.
Menghambat

reaksi

inflamasi

dengan

menurunkan

sintesis

prostaglandin.
Dosis dewasa 400-600 mg per oral setiap 4-6 jam selama gejala masih

ada; tidak melebihi 3,2 gram/hari.


Dosis anak 12 tahun: mengikuti dosis dewasa.
Kontraindikasi pada pasien yang hipersensitif; ulkus peptik,
perdarahan dan perforasi saluran cerna, insufisiensi renal, atau resiko

perdarahan.
Bila digunakan bersama aspirin akan meningkatkan efek kebalikan

dari NSAID.
Efek samping: kategori D pada trimester III kehamilan; kategori B
pada trimester I dan II kehamilan; menyebabkan hipertensi dan
menurunkan fungsi ginjal dan hati serta menyebabkan abnormalitas
antikoagulan atau selama terapi antikoagulan.8

b. Terapi Non Farmakologis


Terapi non farmakologis untuk kasus fraktur femur tertutup 1/3 distal
dextra dapat dilakukan melalui traksi dan konsultasi bedah tulang.
1) Traksi
Traksi adalah penggunaan kekuatan penarikan pada bagian tubuh.
Ini dicapai dengan memberi beban yang cukup untuk mengatasi penarikan
otot. Traksi skelet adalah traksi yang dilakukan langsung pada
skelet/tulang tubuh. Metode traksi ini digunakan paling sering untuk
menangani fraktur femur, tibia, humerus, dan tulang leher. Traksi dipasang
langsung ke tulang menggunakan pin logam atau kawat yang dimasukkan
ke dalam tulang di sebelah distal garis fraktur, menghindari saraf dan
pembuluh darah, otot, serta tendon dan sendi. Traksi skelet biasanya
menggunakan beban 7-12 kg untuk mencapai efek terapi. Pemberat yang
dipasang harus dapat melawan daya pemendekan akibat spasme otot yang
12

cedera. Ketika otot relaks, pemberat dapat dikurangi untuk mencegah


dislokasi garis fraktur dan mencapai penyembuhan fraktur.8
2) Konsultasi bedah tulang
Terjadinya

fraktur

femur

secara

umum

lebih

memerlukan

penanganan serius jika dibandingkan dengan fraktur pada tulang-tulang


ekstremitas lain. Sering terjadi kasus fraktur femur diperlakukan sama
dengan fraktur tibia, humerus dan radius. Untuk mencegah terjadinya
kesalahan yang sering dilakukan oleh individu atau komunitas dalam
penatalaksanaan kasus fraktur femur ini, maka dianjurkan untuk
berkonsultasi ke dokter spesialis/ahli bedah tulang.8
J. Prognosis
Prognosis fraktur femur tertutup 1/3 distal dextra yaitu dubia ad bonam
(meragukan ke arah baik). Penderita fraktur femur setelah mendapatkan terapi latihan
yang tepat diharapkan kemampuan fungsional anggota geraknya menjadi lebih baik.
Fraktur femur mempunyai kemungkinan yang besar untuk disembuhkan.8

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka hipotesis diterima yaitu pasien menderita
fraktur femur tertutup 1/3 distal dextra. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang
femur yang bisa terjadi akibat cedera traumatik dan biasanya lebih banyak dialami oleh lakilaki dewasa. Fraktur tertutup terjadi bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar. Dari kasus yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penyebab pasien
menderita penyakit ini yaitu trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas.

Daftar Pustaka
1. Swartz, Mark H. Intisari buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2005.h.2-8.
2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2007.h.62-5.
3. Grace PA, Norley NR. At a glance ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2007.h.85.
13

4. David C. Buku ajar bedah. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.h.380-3.
5. Davies K. Buku pintar nyeri tulang dan otot. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2007.h.108.
6. Schwartz, Seymour I. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2005.h.657-60.
7. Corwin, Elizabeth J. Buku saku patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2007.h.432-4.
8. Hayes, Peter C. Buku saku diagnosis dan terapi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2004.h.317-8.

14

Anda mungkin juga menyukai