Anda di halaman 1dari 17

DAFTARISI

DAFTARISI.....................................................................................................1
BABIPENDAHULUAN.............................................................................2
1.1Latarbelakang............................................................................2
1.2Perumusanmasalah....................................................................2
1.3Tujuan........................................................................................2
BABIITINJAUANPUSTAKA...................................................................2
2.1SusunanNeuromuskulus...........................................................2
2.1.1UpperMotorneurone......................................................3
2.1.2LowerMotorneurone......................................................8
2.1.3NeuromuscularJunction................................................10
2.1.4OtotSkeletal..................................................................11
DAFTARPUSTAKA.....................................................................................16

BABI
PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Segala aktivitas susunan saraf yang dapat dilihat, didengar, diperiksa, dan direkam,
muncul dalam bentuk gerakan otot. Hasil fikiran yang dinyatakan dalam tulisan atau
pidato ialah hasil karya gerak otot jari, tangan, larings, dan oto pernafasan. Juga gerak
jalan, gerak otot wajah, dan gerak otot yang menen menentukan sikap tubuh,
kesemuanya menjadi manifestasi eksternal dari susunan saraf pusat.
Otot-otot

skeletal

dan

serangkaian

neuron-neuron

menyusun

susunan

neuromuscular volunteer, yaitu susunan yang mengurus dan melaksanakan gerakangerakan otot yang dikendalikan oleh kemauan. Secara anatomik, susunan
neuromuskulus volunteer dapat dibagi dalam (1) Motorneurone, (2) Lower
Motorneurone, (3) Alat penghubung antara unsure sarafi dan unsure otot
(Neromuscular Junction), dan (4) Otot Skeletal
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana susunan neuromuskulus secara anatomik?

Bagaimana susunan Upper Motorneurone?

Bagaimana susunan Lower Motorneurone?

Bagaimana susunan Neuromuscular Junction?

Bagaimana susunan Otot Skeletal?

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui susunan neuromuskulus secara anatomik

Untuk mengetahui susunan Upper Motorneurone

Untuk mengetahui susunan Lower Motorneurone

Untuk mengetahui susunan Neuromuscular Junction

Untuk mengetahui susunan Otot Skeletal


2

BABII
TINJAUANPUSTAKA

2.1SusunanNeuromuskulus
Segala aktivitas susunan saraf yang dapat dilihat, didengar, diperiksa, dan
direkam, muncul dalam bentuk gerakan otot. Hasil fikiran yang dinyatakan dalam
tulisan atau pidato ialah hasil karya gerak otot jari, tangan, larings, dan oto
pernafasan. Juga gerak jalan, gerak otot wajah, dan gerak otot yang menen
menentukan sikap tubuh, kesemuanta menjadi manifestasi eksternal dari susunan saraf
pusat.
Otot-otot skeletas dan serangkaian neuron-neuron menyusun susunan
neuromuscular volunteer, yaitu susunan yang mengurus dan melaksanakan gerakangerakan otot yang dikendalikan oleh kemauan.
Secara anatomik, susunan neuromuskulus volunteer dapat dibagi dalam :

Motorneurone

Lower Motorneurone

Alat penghubung antara unsure sarafi dan unsure otot (Neromuscular


Junction)

Otot Skeletal

Gaya Sarafi yang disalurkan melalui lintasan-lintasan sarafi dinamakan impuls


dan impuls yang disampaikan kepada otot sehingga menghasilkan gerak otot
dinamakan impuls motorik.

2.1.1 U p p e r M o t o r n e u r o n e ( U M N )

Semua neuron yang menyalurkan impuls motorik ke Lower Motorneurone tergolong


dalam UMN. Upper Motor Neurons (UMN) merupakan kumpulan saraf-saraf
motorik yang menyalurkan impuls dan area motorik di korteks motorik
sampai inti-inti m o t o r i k d i s a r a f k r a n i a l d i b a t a n g o t a k a t a u
k o r n u a n t e r i o r m e d u l a s p i n a l i s . Berdasarkan perbedaan anatomik
dan fisiologik kelompok UMN dibagi dalam susunan piramidal dan
susunan ekstrapiramidal.
A. Susunan Piramidalis
Susunan piramidal terdiri dari traktus kortikospinal dan traktus kortikobulbar.
Traktus kortikobulbar fungsinya untuk geraakan-gerakan otot kepala dan
leher, sedangkan traktus kortikospinal fungsinya untuk gerakan-gerakan otot
tubuh dan anggota gerak.
Sel-sel yang berada di lapisan V dari korteks presentralis (area 4) serta akson mereka
mnyusun sistema piramidalis. Korteks presentalis merupakan kortek motorik utama.
4

Neuron-neuron disitu memmpunyai hubungan dengan pola gerakan otot tertentu. Hal
ini dinamakan penataan somatotopik.
Di permukaan medial belahan otak terletak proyeksi tungkai dan kaki.
Selanjutnya, dati bagian medial tersebut sampai ke bagian terbawah
korteks presentralis, terdaoat proyeksi dari toraks, lengan, wajah, dan
larings. Di dalam genu kapsula interna serabut-serabut tersebut berjalan
melalui korona radiate dan memusat di kapsula interna. Di dalam genu
kapsula interna serabut-serabut itu berkumpul secara somatotopik juga.
Daerah anggota gerak bawah berada di bagian paling posterior dan
daerah wajah dan leher berada di bagian paling anterior. Serabutserabut ini kemudian menurun ke pedunkulus serebri dan mendudukin
tiga per lima bagian tengahnya. Serabut-serabut untuk otot wajah
berada di daerah paling medial, sebagaimana dapat diduga dari caracara

serabut

kapsula

interna

melilit

ke

arah

basis

pedunkuli

(mesenfalon)
Dalam pons, serabut-serabut itu yang tadinya terkumpul secara kompak
terpecah menjadi sejumlah berkas-berkas kecil oleh adanay serabutserabut pontoserebeler yang melintang tegak lurus terhadap serabutserabut piramidalis. Di tingkat medulla oblongata serabut-serabut
piramidalis terkumpul kembali secara padat di dalam piramis medulla
oblongata. Sepanjang batang otak, serabut piramidalis meninggalkan
tempat induk mereka untuk menyilang garis tengah batang otak dan
berakir di neuron-neuron penghubung yang berada di sekitar inti-inti
saraf otak sisi kontralateral (N. III, IV, V, VI, VII, IX, X, XI, dan XII).
Sebagian dari serabut tersebut berakhir di inti motorik saraf otak sisi
ipsilateral.

Serabut-serabut

piramidalis

ini

dinamakan

serabut

kortikobulber.
Serabut piramidalis lainnya, yang melanjutkan perjalanan ke
medulla spinalis dinamakan serabut kortiko-spinalis. Pada peralihan
antara medulla oblongata dan medulla spinalis kira-kira 85% dari
serabut kortikospinalis membelok kea rah dorsolateral dan menyilang
5

garis tengah untuk kemudian menduduki tempat di funikulus lateralis


spinalis sisi kontralateral. Kelompok serabut yang menyilang itu
dinamakan jaras kortokospinalis lateralis atau traktus piramidalis
lateralis. Tempat serabut-serabut piramidalis menyilang dinamakan
dekusasio piramidalis. Serabut kortikospinalis yang tidak menyilang
meneruskan perjalan di bagian medial dari funikulus ventralis dan
dinamakan jaras kortikospinalis anterior (ventralis).
Motorneuron dibedakan menjadi sel yang berukuran besar () dan
kecil (). Baik maupun menerima impuls motorik melalui jaras
piramidalis. Impuls yang langsungs disampaikan kepada motorneuron
merupakan impuls eksitasi motorikm sedangkan impuls yang diterima
oleh interneuron di sekitar motoneuron dapat bersifat inhibisi atau
eksitasi bagi motoneuron yang bersangkutan. Daerah otak yang mana
dapat dianggap sebagai impuls motorik yang primer? Oleh karena sebab
dan akibat sukar dibedakan antara motorik dan sensorik, maka daerah
sensorik berikut dengan daerah motorik primer dapat duanggap sebagai
sumber impuls motorik primer. Oleh karena itu kedua daerah tersebut
disebut dengan daerah sensomotorik. Secara sederhana dapat dikatan
bahwa

gerakan

tangan

untuk

mengambil

sesuatu

dibangkitkan

sehubungan denga tibanya impuls visual (melihat benda) dan gerakan


tangan untuk menjauhi sesuatu yang dibnagkitkan oleh tibanya impuls
protopatik termik (panas)
Gerakan yang dibangkitkan oleh impuls piramidalis bersifat
tangkas jikat susunan ekstrapiramidalis bekerja sama. Jadi, walaupun
ketangkasan gerakan ditentukan oleh susunan piramidalis, kegiatan
susunan

ekstrapiramidalis

menentukan

landasan

untuk

dapat

terwujudnya gerakan yang tangkas. Dalam fisiologi, dibedakan gerakan


fasik dan tonik. Yang pertama diwujudkan dengan perantaraan impuls
piramidalis

dan

yang

terakhir

dengan

perantaraan

impuls

ekstrapiramidalis. Impuls ekstrapiramidalis mengurus pengendalian dan


pembagian tonus otot yang menentukan sikap tubuh dan anggota gerak.

B. Susunan Ekstrapiramidalis
Lintasan esktrapiramidalis bukan terdiri dari satu jaras yang
membujur, tetapi terdiri dari berbagai jaras. Ada yang pendek dan ada
yang panjang. Jaras-jaras tersebut menyusun lintasan yang membujur
menuju

ke

motoneuron.

Inti-inti

yang

ikut

menyusun

sistema

ekstrapiramidalis adala (1) korteks motorik tambahan, (2) ganglia


basalis, (3) nucleus ruber dan formasio retikularis batang otak, dan (4)
serebelum.
Lintasan sirkuit pertama, lingkaran yang disususn oleh jarasjaras penghubung berbagai inti melewati korteks piramidalis, mukleus
dentatus,

nucleus

ruber,

nucleus

ventrolateralis

talami,

korteks

piramidalis dan ekstrapiramidalis. Secara fungsionil dapat dikatakan


baha serebelum sebenarnya merupakan mekanisme feedback yang
bertujuan untuk mengendalikan gerakan seleama gerakan berlangsung.
Lintasan sirkuit kedua, menghubungkan korteks area 4s dan 6
dengan korteks motorik piramidalis dan ekstrapiramidalis melaluo
substansia nigra, globus pelidus, nucleus ventrolateralis talami.
Lintasan sirkuit ketiga merupakan lintasan untuk impuls yang
dicetuskan di area 8 dan 4s untuk disampaikan kepada nucleus
kaudatus. Kemudain melalui jaras striopalida, impuls berikutnya tiba di
globys

palidus.

Dari

situ

impuls

yang

dicetuskan

nucleus

ventrolateralis talami disampaikan pada korteks dan area 6. Impuls


yang akhirnya

dikembalikan lagi kepada korteks melalui sirkuit ini

merupakan impuls penekanan (suppressor). Jika korteks piramidalis


(area 4) dan area 6 tifak terkelola oleh impuls penekan tersebyr, maka
mungkin akan bangkit gerakan spontan yang tidak terkendali yang
dikenal sebagai khorea atetosis. Keadaan itu dijumpai pada kerusakan
di globus palidus dan nucleus kaudatus.
7

2.1.2

Low er Motorneurone
Lower Motor Neuron (LMN) merupakan kumpulan saraf-saraf motorik yang

berasal dari batang otak, pesan tersebut dari otak dilanjutkan ke berbagai
otot dalam tubuh seseorang. Neuron-neuron yang menyalurkan impuls
motoric pada tahap perjalanan terakhir ke sel otot dinamakan
lower

motoneurone

untuk

membedakannya

dengan

upper

motoneurone. Lower motoneurone menyusun inti-inti saraf otak


motoric dan inti-inti radiks ventralis saraf spinalis. Dua jenis lower
motoneurone dapat dibedakan. Yang satu berukuran besar dan
menjulurkan akson yang tebal (12-20) ke serabut-serabut otot
ekstrafusal (dinamakan motoneuron). Yang lain dikenal sebagai
motoneuron ukurannya kecil dan aksonnya halus (2-8). Motoneuron
ini mensyarafi serabut-serabut otot intrafusal.
Dengan perantara dua macam motoneuron tersebut, impuls
motoric piramidalis dapat mengemudikan keseimbangan tonus otot
yang diperlukan untuk tiap gerakan tangkas. Tiap motoneuron
menjulurkan hanya satu akson. Tetapi pada bagian ujungnya tiap
akson bercaban-cabang. Cabang tersebut menghubungi beberapa
serabut otot sehingga tiap akson dapat menyarafi sejumlah serabut
otot. Sebuah motoneuron dengan sejumlah serabut otot yang
dipersyarafinya merupakan suatu kesatuan motoric atau satu
motor unit. Kesatuan motoric yang disebut besar adalah sebuah
motoneuron yang berhubungan dengan 120-150 serabut otot.
Motor unit yang kecil adalah sebuah motoneuron yang menyarafi
80-100 serabut otot. Otot yang digunakan untuk berbagai gerakan
tangkas terdiri dari banyak motor unit yang kecil-kecil. Sebaliknya
otot-otot yang mempunyai fungsi mototrik yang sederhana terdiri
dari motor unit besar-besar tetapi jumlah motoneuronnya kecil.
Bilamana suatu impuls motoric tiba-tiba

di motoneuron, ia

menjadi aktif dan menyebabkan timbulnya gerak otot. Tugas untuk


8

menghambat

aktivitas

otot

bukanlah

diserahkan

kepada

motoneuron, melainkan kepada interneuron yang menerima impuls


dari pusat inhibisi.

Penghambatan aktivitas sel serabut otot

diselenggarakan melalui penghambatan aktivitas motoneuron yang


bersangkutan. Interneuron yang menghambat motoneuron sebagai
reaksi atas kedatangan impuls dari motoneuron itu juga, dikenal
sebagai sel dari Renshaw.

Penggalakan terhadap sel Renshaw ini

mengakibatkan dilepaskannya impuls inhibisi terhadap motoneuron.


Corak gerkan otot tangkas ditentukan oleh kedatangan pola
impuls

yang

ekstrapiramidalis.

dibawakan
Pola

oleh

impuls

lintasan
tersebut

piramidalis

dan

menggalakan

dan

menghambat dan motoneuron tertentu. Motoneuron-motoneuron


hanya bekerja sebagai pelaksana bawahan belaka. Jika motoneuronmotoneuron dibebaskan
ekstrapiramidalis

dari pengaruh sistema piramidalis dan

(misalnya

jika

lintasan

piramidalis

dan

ekstrapiramidalis terputus) maka motoneuron-motoneuron masih


dapat menggalakan sel-sel serabut otot. Maka oleh karena itu,
motoneuron dengan akson dinamakan final common path dari
impuls motoric.
Bergantung pada jumlah motoneuron yang rusak, otot lumpuh
ringan(paresis) atau lumpuh sama sekali (paralisis). Ole karena
motoneuron

dengan sejumlah serabut otot yang dipersyarafinya

merupakan satu kesatuan, maka kerusakan pada motoneuron


membangkitkan keruntuhan pada serabut-serabut otot juga. Otot
yang terkena menjadi kecil (kurus) atau atrofik. Dan disamping itu
dapat juga terlihat adanya kegiatan abnormal pada serabut otot
sehat (yang tersisa), yang dinamakan fasikulasi. Akson motoneuron
mengubungi serabut serabut otot dengan cara penyentuhan antara
ujung-ujung akson tersebut dan sarkolemna otot, dan bukannya
bersambung dengan otot dalam arti kata adanya pengikatan.
Sarkolemna tersebut memperhatikan struktur yang disebut motor
end plate. Diantara ujung-ujung akson dan sarkolemna terdapat
ruang bebas yang berjarak antara 200-500A. Gaya listrik sarafi
9

yang merupakan kenyataan dari impuls, tidak dapat melintasi


jurang selebar 200-500A. Jurang tersebut dikenal sebagai synaptic
gap.

2.1.3 Neuromuscular junction

Regio antara motor neuron dan sel otot disebut neuromuscular junction.
Membran sel neuron dan serat otot dipisahkan oleh celah sempit (20- nm), belahan
sinap. Pada saat depolarisasi potensial aksi saraf terminal, terjadi influks ion-ion
kalsium melalui gerbang saluran kalsium bervoltasi ke sitoplasma saraf yang
menyebabkan

vesikel

di

membran

terminal

dan

mengeluarkan

asetilkolin

(Acethylcholine). Molekul acethylcholine berdifusi sepanjang belahan sinap untuk


berikatan dengan reseptor nikotinik kolinergik pada membran otot, di motor endplate. Setiap neuromuscular junction berisi 5 juta reseptor, tapi hanya diperlukan
500,000 reseptor untuk kontraksi normal otot.

10

Struktur

reseptor

acethylcholine

bervariasi

di

setiap

jaringan

dan

perkembangannya juga berbeda. Setiap reseptor acethylcholine pada neuromuskular


junction normalnya mempunyai 5 subunit protein, 2 subunit dan subunit tunggal ,
, dan . Hanya sub unit identik yang bisa mengikat molekul acethylcholine. Bila
kedua tempat pengikat diduduki acethylcholine, terjadi perubahan cepat pada subunit
(1milisekon) membuka saluran ion pada inti reseptor (gambar 2). Saluran ini tidak
akan terbuka jika acethylcholine hanya menduduki satu tempat.
Kation keluar melalui saluran acethylcholine yang terbuka (sodium dan
kalsium masuk; potasium keluar), menghasilkan end-plate potential.Jika reseptorreseptor telah cukup diduduki oleh acethylcholine, end-plate potential akan cukup
kuat mendepolarisasi membran perijunctional. Saluran-saluran sodium pada bagian
ini akan terbuka bila ambang batas voltase terlewati, berlawanan dengan reseptorreseptor end-plate yang terbuka jika ada acethylcholine (gambar 3). Area
perijunctional pada membran otot mempunyai densitas yang lebih tinggi terhadap
saluran-saluran sodium dibandingkan bagian-bagian lainnya. Resultan potensial aksi
menyebar sepanjang membran otot dan sistem T-tubule yang membuka saluransaluran sodium dan melepaskan kalsium dari sarkoplasma retikulum.
Kalsium intraselular ini membuat actin dan myosin berinteraksi, yang
membuat kontraksi otot. Jumlah acethylcholine yang biasanya terlepas dan jumlah
reseptor- reseptor yang selanjutnya teraktivasi secara normal melebihi kebutuhan
minimum dihidrolisis ke dalam bentuk asetat dan kolin oleh enzim spesifik
acetylcholinesterase. Enzim ini (disebut juga specific cholinesterase atau
true cholinesterase) tertanam pada membran motor end-plate dan segera
mendekati reseptor-reseptor acethylcholine. Akhirnya reseptor saluran ion
menutup, menyebabkan repolarisasi end-plate. Ketika potensial aksi berhenti,
saluran-saluran sodium pada membran otot juga tertutup. Kalsium memisahkan diri
ke sarkoplasmik retikulum, dan sel otot relaks.
2.1.4 Otot Skeletal
Otot merupakan jaringan yang kegiatannya dapat digalakkan.
Kegiatan otot skeletal berupa kontraksi, yaitu memendekkan
11

dirinya. Dengan demikian karya otot dipergunakan untuk


memindahkan bagian bagian skelet yang berarti bahwa suatu
gerakan terjadi.
Seberkas serabut otot terdiri dari beberapa serabut otot.
Sebatang serabut otot manusia dewasa berdiameter 60u dan
panjangnya berkisar antara beberapa millimeter sampai beberapa
puluh centimeter.
Tiap serabut otot mengandung seberkas serabut serabut
halus yang dinamakan miofibri. Jumlahnya sekitar 60 1000. Di
antara myofibril-miofibril terdapat sela yang terisi dengan
sarkoplasma yang merupakan zat cair yang dikandung oleh
sarkolema.
Tiap miofibril tersusun oleh sejumlah serabut serabut halus
yang dinamakan filament. Filamen tersebut tidak lain daripada
struktur dari molekul molekul suatu jenis protein. Susunannya
sangat rapih, maka tampaklah pada gambaran mikroskopik dari
serabut otot yang terpotong longitudinal, garis garis yang
dinamakan band.
Pada kebanyakan otot terdapat juga serabut otot yang
terbungkus dalam suatu kapsul, yang dinamakan serabut otot
intrafusal. Serabut intrafusal berikut dengan inti yang terkandung
dalam kapsul tersebut dikenal sebagai kerucut otot (muscle
spindle). Pada satu ujung , kerucut otot terikat pada otot ekstrafusal
dan ujung lainnya melekat pada aponeurosis. Maka posisi kerucut
otot sejajar dengan serabut otot biasa. Impuls yang dibangkitkan
oleh inti kerucut otot atas perangsangan tadi disalurkan ke
motoneuron otot otot ekstensor. Impuls terakhir ini merangsang
motoneuron ekstensor sehingga otot otot ekstensor berkontraksi.

12

Pada keadaan patologik, misalnya pada pemotongan batang


otak setinggi kolikulus superior dan inferior, maka impuls inhibisi
tidak dapat disampaikan kepada interneuron, sedangkan impuls
eksitasi masih dapat mengalahkan motoneuron. Akibat keadaan
tersebut ialah pemendekan serabut otot intrafusal yang berarti
bahwa inti kerucut otot terangsang.
Lintasan impuls yang melingkari motoneuron, serabut otot
intrafusal, inti kerucut otot, aferen kerucut otot dan motoneuron
dinamakan gama loop. Tergantung pada kegiatan di dalam gama
loop dan interneuron inhibisi yang menerima impuls dari pusat
inhibisi, maka tonus otot dapat meninggi atau merendah.
Tempat suatu gundukan dan inilah yang dikenal sebagai
motor end plate. Andaikata miofibril-miofibril disingkirkan dari
tempat mereka, maka otot yang tampaknya sebagai suatu batang
yang kerangka luarnya dibentuk oleh sarkolemna dan kerangka
dalamnya disusun oleh terali-terali yang membujur sepanjang
batang tersebut. Diantara terali-terali tersebut terdapat jembatanjembatan sarkoplasma yang tegak lurus terhadap terali-terali
(Gambar 11).
Kallo kerangka dalam dari sarkoplasma ditinjau dari motor end
plate, maka dapatlah dikatakan bahwa baik terali-terali maupun
jembatan-jembatan merupakan juluran-juluran dari sarkoplasma
yang menyusun motor end plate. Oleh karena terali-terali
sarkoplasma dan jembatan-jembatan sarkoplasam mempunyai arti
fisiologik, maka terali-terali tersebut dinamakan sistema SR. Dan
jembatan-jembatan menyusun sistema yang dinamakan sistema T.
Gaya sarafi yang telah dipindahkan kepada motor end plate
dengan

perantaan

acetylcholine,

menimbulkan

perubahan-

perubahan keseimbangan ion kalium dan natrium di sarkoplasma


motor end plate. Tiap ion mebawakan suatu gaya melalui sistema

13

T dan SR gaya tersebut dapat didistribusikan kepada miofibrilmiofibril.


Tiap miofibril tersusun oleh beberapa sarkomer. Untuk dapat
memahami hubungan antara sarkomer dan miofibril, baiklah diberi
uraian histologik terlebih dahulu. Tiap miofibril tersusun oleh
serabut-serabut halus yang dinamakan filamen. Filamen tersebut
tidak lain daripada struktur dari molekul-molekul suatu jenis protein.
Susunan filamen-filamen sangat rapih. Karena itu, tampaklah pada
gambran mikroskopik dari serabut otot yang terpotong longitudinal,
garis-garis yang dinamakan band. Filamen-filamen yang tebal
menyusun garis A ( A Band) dan filamen-filamen yang halus
menyusun garis I (I Band). Dipertengahan garis I terdapat garis
tebal yang tegak lurus terhadap garis I. Garis tebal tersebut
dinamakan garis Z. Berkas filamen-filamen yang dibatasi oleh dua
garis Z , itulah sarkomer. Jadi tiap sarkomer terdiri dari garis A dan
setengah dari garis I.
Filamen tebal (garis A) terdiri dari hanya satu jenis protein
yaitu myosin. Filamen halus (garis I) tersusun oleh tiga jenis protein:
actin,

tropomyocin,

terkenal

sebagai

troponin.
protein

Ketiga

kontraktil

macam

protein

tersebut

yang

mampu

(protein

berkontraksi). Kontraksi merupakan suatu manifestasi fisik dari


penggabungan

antara

myotin

dan

actin

yang

terkait

pada

pemecahan adenosine triphasphate (ATP). Proses pemendekan


struktur protein-protein tersebut, yang merupakan kontraksi pokok
dari serabut otot adalah sebagai berikut.
Gaya sarafi tiba disarkoplasama motor end plate. Gaya
tersebut mengakibatkan perubahan ion (depolarisasi) disistema T
dan

SR.

Gaya

yang

dibangkitkan

akibat

kejadian

tersebut

melepaskan ion kalsium didalam sarkoplasma. Kalsium ini kemudian


diikat oleh troponin. Akibat dari kejadian tersebut adalah diformasi
14

dari struktur molekul dari troponin yang disusul dengan perubahan


struktur molekul dari tropomisosin. Karena kejaidan yang terakhir
ini, creatine phosphate dipecahkan menjadi creatine dan phosphate
oleh creatine kinase, dan adenocine triphasphate (ATP) untuk
menjadi adenocine diphasphate (DTP) karena kegiatan ATP-ase.
Karena pemecahan kedua zat itu, gaya yang cukup besar terbebas.
Gaya yang dibebaskan akibat proses tersebut memungkinak actine
melekat pada myocin. Hal ini menimbulkan perubahan besar pada
molekular

myocin.

Dengan

cara

melilitkan

dirinya

myocin

memendek. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemendekan


dilaksanakan dengan cara menyorongkan filamen tebal dal halus
terhadap satu dengan yang lain. Sementara itu kalsium diikat oleh
sistema SR karena itu aktivitas inhibisi terhadap enzim ATP-ase
dihambat dan ATP tidak lagi terpecah dan gabungan antara myocin
dan actin terlepas. Filamen-filamen mendapat kembali molekular
semula, yang mana berarti bahwa relaksasi tercapai.
Serabut otot terlukis di atas adalah serabut otot skeletal biasa
atau serabut otot ekstrafusal. Pada kebanyakan otot terdapat juga
serabut otot yang terbungkus dalam suatu kapsul, yang dinamakan
serabut otot intrafusal. Serabut otot intrafusal berikut dengan inti
yang terkandung dalam kapsul tersebut

dikenal sebagai kerucut

otot (muscle spindle). Pada satu ujung, kerucut otot terikat pada
otot ekstrafusal danm ujung lainnya melekat pada aponeurosis.
Dengan demikian, kerucut otot terletak sejajar dengan serabutserabut otot biasa. Dipusat kerucut otot terdapat inti. Perangsang
pada inti tersebut dilaksanakan oleh tarikan serabut-serabut otot
ekstrafusal atau impuls yang disalurkan oleh serabut eferen dari
gamma motoneuron spiral. Impuls yang dibangkitkan oleh inti
kerucut

otot

atas

perangsangan

tadi

disalurkan

oleh

delta

motoneuron otot-otot ekstensor. Impuls terakhir ini merangsang


motoneuron ekstensor sehingga otot-otot ekstensor berkontraksi.

15

Pada

keadaan fisiologik,

seperti

misalnya

sikap badan

yang

ditengadahkan terlampau jauh, otot-otot ekstensor (misalnya, M.


Kuadriseps)

tertarik.

Akibat

keadaan

tersebut,

serabut-seraut

intrafusal tertarik pula dan merangsang inti kerucut otot. Hasil dari
penggalakan tersebut adalah perangsangan terhadap otot-otot
ekstensor (M. Kuadriseps) sehingga otot-otot tersebut berkontraksi.
Dengan demikian kapsel sendi lutut tersebut dieratkan dan sikap
badan menjadi lebih mantap. Ditinjau dari aspek fisiologi maka
tugas dari kerucut otot adalah memelihara panjangnya otot.
Pada keadaan patologik, misalnya pada pemotongan batang
otot setinggi kolikulus superior dan interior, maka impuls inhibisi
tidak dapat disampaikan kepada interneuron, sedangkan impuls
eksitasi masih dapat menggalakan gamma motoneuron. Akibat
keadaan tersebut ialaha pemendekan serabut intrafusal yang
berarti bahwa inti kerucut otot terangsang , kegiatan inti yang
ditingkatkan itu mengakibatkan terangsangnya delta motoneuron
yang membangkitkan kontraksi serabut serabut otot ekstrafusal.
Dalam keadaan ini otot berkontraksi secara menetap dan dikenal
sebagai keadaan kaku atau spastik.
Lintasan impuls yang melingkari gamma motoneuron, serabut
otot intrafusal, inti kerucut otot, aferen kerucut otot dan dleta
mototneuron dinamakan gama loop. Tergantung pada kegiatan
didalam

kegiatan

gama

loop

dan

interneuron

inhibisi

yang

menerima impuls dari pusat inhibisi maka tonus otot dapat


meninggi atau merendah.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Bowsher D. Pengantar kepada Ilmu Urai dan Faal Susunan
Saraf. P.T. Dian
Rakyat-Blackwell Scientific Publ. Jakarta-Oxford, Edisi ke-3,
cetakan edisi
Indonesia kedua.
2. Brodal A. Neurological Anatomy in Relation to Clinical
Medicine. Oxford University Press, 2nd Ed., Toronto, 1969.
3. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : PT Dian Rakyat.
1981 : 1-18.

17