Anda di halaman 1dari 21

Manda Malia Ubra

11 2014 037

Penanganan Batuk pada Anak

Batuk merupakan sebuah gejala penyakit yang paling umum dimana


prevalensinya dijumpai pada sekitar 15 % pada anak-anak dan 20% pada
orang dewasa. Satu dari sepuluh pasien yang berkunjung ke praktek
dokter setiap tahunnya memiliki keluhan utama batuk. Batuk dapat
menyebabkan perasaan tidak enak, gangguan tidur, mempengaruhi
aktivitas sehari-hari dan menurunkan kwalitas hidup. Batuk dapat juga
menimbulkan

berbagai

macam

komplikasi

seperti

pneumotoraks,

pneumomediastinum, sakit kepala, pingsan, herniasi diskus, hernia


inguinalis, patah tulang iga, perdarahan subkonjungtiva, dan inkontinensia
urin.
Batuk merupakan refleks fisiologis kompleks yang melindungi paru
dari trauma mekanik, kimia dan suhu. Batuk juga merupakan mekanisme
pertahanan paru yang alamiah untuk menjaga agar jalan nafas tetap
bersih dan terbuka dengan jalan : mencegah masuknya benda asing ke
saluran nafas dan mengeluarkan benda asing atau sekret yang abnormal
dari dalam saluran nafas.
Batuk menjadi tidak fisiologis bila dirasakan sebagai gangguan. Batuk
semacam itu sering kali merupakan tanda suatu penyakit di dalam atau
diluar paru dan kadang-kadang merupakan gejala dini suatu penyakit.
Batuk mungkin sangat berarti pada penularan penyakit melalui udara (air
borne infection). Batuk merupakan salah satu gejala penyakit saluran
nafas disamping sesak, mengi, dan sakit dada. Sering kali batuk
merupakan masalah yang dihadapi para dokter dalam pekerjaannya
sehari-hari. Penyebabnya amat beragam dan pengenalan patofisiologi

batuk

akan

sangat

membantu

dalam

menegakkan

diagnosis

dan

penanggulangan penderita batuk.

Refleks Batuk
Refleks batuk terdiri dari 5 komponen utama; yaitu reseptor batuk,
serabut saraf aferen, pusat batuk, susunan saraf

eferen dan efektor.

Batuk bermula dari suatu rangsang pada reseptor batuk. Reseptor ini
berupa serabut saraf non mielin halus yang terletak baik di dalam maupun
di luar rongga toraks. Yang terletak di dalam rongga toraks antara lain
terdapat di laring, trakea, bronkus dan di pleura. Jumlah reseptor akan
semakin berkurang pada cabang-cabang bronkus yang kecil, dan sejumlah
besar reseptor didapat di laring, trakea, karina dan daerah percabangan
bronkus. Reseptor bahkan juga ditemui di saluran telinga, lambung, hilus,
sinus paranasalis, perikardial dan diafragma.
Serabut aferen terpenting ada pada cabang nervus vagus, yang
mengalirkan rangsang dari laring, trakea, bronkus, pleura, lambung dan
juga rangsang dari telinga melalui cabang Arnold dari n. Vagus. Nervus
trigeminus

menyalurkan

rangsang

dari

sinus

paranasalis,

nervus

glosofaringeus menyalurkan rangsang dari faring dan nervus frenikus


menyalurkan rangsang dari perikardium dan diafragma.
Serabut aferen membawa rangsang ini ke pusat batuk yang terletak di
medula oblongata, di dekat pusat pemapasan dan pusat muntah.
Kemudian dari sini oleh serabut-serabut eferen n. Vagus, n. Frenikus, n.
Interkostal dan lumbar, n. Trigeminus, n. Fasialis, n. Hipoglosus dan lainlain menuju ke efektor. Efektor ini terdiri dari otot-otot laring, trakea,
brrmkus, diafragma, otot-otot interkostal dan lain-lain. Di daerah efektor
inilah mekanisme batuk kemudian terjadi.

Tabel 1 : Komponen Refleks Batuk

Penyebab Batuk
Batuk dapat terjadi akibat berbagai penyakit/proses yang merangsang
reseptor batuk. Selain itu, batuk juga dapat terjadi pada keadaan-keadaan
psikogenik tertentu. Tentunya diperlukan pemeriksaan yang seksama
untuk mendeteksi keadaan-keadaan tersebut. Dalam hal ini perlu
dilakukan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik, dan mungkin juga

pemeriksaan lain seperti laboratorium darah dan sputum, rontgen toraks,


tes fungsi paru dan lain-lain.

Tabel 2 : beberapa penyebab batuk

Mekanisme Terjadinya Batuk


Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi empat fase yaitu :

Fase iritasi
Iritasi dari salah satu saraf sensoris nervus vagus di laring, trakea,
bronkus

besar,

atau

serat

afferen

cabang

faring

dari

nervus

glosofaringeus dapat menimbulkan batuk. Batuk juga timbul bila


reseptor batuk di lapisan faring dan esofagus, rongga pleura dan
-

saluran telinga luar dirangsang.


Fase inspirasi
Pada fase inspirasi glotis secara refleks terbuka lebar akibat
kontraksi otot abduktor kartilago aritenoidea. Inspirasi terjadi secara
dalam dan cepat, sehingga udara dengan cepat dan dalam jumlah
banyak masuk ke dalam paru. Hal ini disertai terfiksirnya iga bawah
akibat kontraksi otot toraks, perut dan diafragma, sehingga dimensi
lateral dada membesar mengakibatkan peningkatan volume paru.
Masuknya udara ke dalam paru dengan jumlah banyak memberikan
keuntungan yaitu akan memperkuat fase ekspirasi sehingga lebih
cepat dan kuat serta memperkecil rongga udara yang tertutup

sehingga menghasilkan mekanisme pembersihan yang potensial.


Fase kompresi
Fase ini dimulai dengan tertutupnya glotis akibat kontraksi otot
adduktor kartilago aritenoidea, glotis tertutup selama 0,2 detik. Pada
fase ini tekanan intratoraks meninggi sampai 300 cmH2O agar terjadi
batuk yang efektif. Tekanan pleura tetap meninggi selama 0,5 detik
setelah glotis terbuka . Batuk dapat terjadi tanpa penutupan glotis
karena otot-otot ekspirasi mampu meningkatkan tekanan intratoraks

walaupun glotis tetap terbuka.


Fase ekspirasi/ekspulsi
Pada fase ini glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif
otot ekspirasi, sehingga terjadilah pengeluaran udara dalam jumlah
besar dengan kecepatan yang tinggi disertai dengan pengeluaran
benda-benda asing dan bahan-bahan lain. Gerakan glotis, otot-otot
pernafasan dan cabang-cabang bronkus merupakan hal yang penting
dalam fase mekanisme batuk dan disinilah terjadi fase batuk yang
sebenarnya. Suara batuk sangat bervariasi akibat getaran sekret yang
ada dalam saluran nafas atau getaran pita suara.

Gambar 1 : keempat fase batuk

Gambar 2 : Diagram gambaran aliran dan perubahan tekanan


subglotis selama fase inspirasi fase kompresi dan fase ekspirasi
baruk

Jenis-Jenis Batuk Batuk berdasarkan waktu


1. Akut
Akut

merupakan

fase

awal

dan

masih

mudah

buat

sembuh. Jangka waktunya kurang dari tiga minggu dan terjadi


karena iritasi, bakteri, virus, penyempitan saluran nafas atas.
2. Subakut

Subakut adalah fase peralihan dari akut akan menjadi kronis.


Dikategorikan subakut bila batuk sudah 3-8 minggu. Terjadi karena
gangguan pada epitel.
3. Kronis
Kronis adalah batuk
penyempitan saluran

yang

nafas

sulit

disembuhkan

atas dan terjadi

lebih

dikarenakan
dari

delapan

minggu. Batuk kronis biasanya adalah tanda atau gejala adanya


penyakit lain yang lebih berat. Banyak penyakit berat yang ditandai
dengan batuk kronis, misalnya asma, TBC, gangguan refluks lambung,
penyakit paru obstruksi kronis, sampa ikanker paru-paru. Untuk itu,
batuk

kronis

harus

diperiksakan

ke

dokter untuk

memastikan

penyebabnya dan diatasi sesuai dengan penyebabnya itu.


Berdasarkan sebabnya
1. Batuk berdahak
Batuk berdahak, jumlah dahak yang dihasilkan sangat banyak,
sehingga menyumbat saluran pernafasan.
2. Batuk kering
Batuk ini tidak mengeluarkan dahak. Tenggorokan terasa gatal,
sehingga

merangsang

timbulnya

batuk. Batuk

ini mengganggu kenyamanan,

bila

batuknya terlalu keras akan dapat memecahkan pembuluh darah pada


mata.
3. Batuk yang khas
- Batuk rejan,
-

batuknya

bisa

berlangsung

100

menyebabkan pita suara radang dan suara parau.


Batuk penyakit TBC, berlangsung berbulan-bulan,

hari.

Bisa

kecil-kecil,

timbul sekali-sekali, kadang seperti hanya berdehem. Pada

TBC

batuk bisa disertai bercak darah segar.


Batuk karena asma, sehabis serangan

dihasilkan. Lendir inilah yang merangsang timbulnya batuk.


Batuk karena penyakit jantung lemah, darah yang terbendung di

asma

lendir

banyak

paru-paru, menjadikan paru-paru menjadi basah. Kondisi basah


-

pada paru-paru ini yang merangsang timbulnya batuk.


Batuk karena kanker paru-paru yang menahun tidak sembuh.
Batuknya tidak tentu. Bila kerusakan paru-paru semakin luas,
batuk semakin tambah.

Batuk

karena

kemasukan

pernafasan berusaha

benda

asing,

mengeluarkan

pada saat

benda

asing

saluran

maka akan

menimbulkan batuk
Penatalaksanaan Batuk
Penatalaksanaan batuk yang paling baik ialah pemberian obat spesifik
terhadap etiologinya. Tiga bentuk penatalaksanaan batuk ialah :
-

Tanpa pemberian obat


Penderita-penderita dengan batuk tanpa gangguan yang disebabkan
oleh penyakit akut dan sembuh sendiri biasanya tidak perlu obat.
Pengobatan spesifik
Pengobatan ini diberikan terhadap penyebab timbulnya batuk.
Pengobatan simptomatik
Diberikan baik kepada penderita yang tidak dapat ditentukan
penyebab

batuknya

maupun

kepada

penderita

yang

batuknya

merupakan gangguan, tidak berfungsi baik dan potensial dapat


menimbulkan komplikasi.
Pengobatan Spesifik
Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan
terhadap penyebab tersebut. Dengan evaluasi diagnostik yang terpadu,
pada hampir semua penderita dapat diketahui penyebab batuk kroniknya.
Pengobatan
mekanismenya

spesifik
: Asma

batuk

tergantung

dari

etiologi

atau

diobati dengan bronkodilator atau dengan

kortikosteroid. Postnasal drip karena sinusitis diobati dengan antibiotik,


obat

semprot

hidung

dan

kombinasi

antihistamin

dekongestan

; postnasal drip karena alergi atau rhinitis nonalergi ditanggulangi dengan


menghindari lingkungan yang mempunyai faktor pencetus dan kombinasi
antihistamin - dekongestan.
Refluks

gastroesophageal

diatasi

dengan

meninggikan

kepala,

modifikasi diet, antasid dan simetidin. Batuk pada bronkitis kronik diobati
dengan menghentikan merokok. Antibiotik diberikan pada pneumonia,
sarkoidosis diobati dengan kortikosteroid dan batuk pada gagal jantung
kongestif dengan digoksin dan furosemid.

Pengobatan spesifik juga dapat berupa tindakan bedah seperti reseksi


paru pada kanker paru, polipektomi, menghilangkan rambut dari saluran
telinga luar.
Pengobatan Simptomatik
Pengobatan simptomatik diberikan apabila :
-

Penyebab batuk yang pasti tidak diketahui, sehingga pengobatan

spesifik dan definitif tidak dapat diberikan, dan/atau


Batuk tidak berfungsi baik dan komplikasinya

membahayakan

penderita.
Obat yang digunakan untuk pengobatan simptomatik ada tiga jenis
menurut

kategori

farmakologik,

yaitu

antitusif,

ekspektorans

dan

mukolitik.

Antitusif
Secara umum berdasarkan tempat kerja obat, antitusif dibagi atas
antitusif yang bekerja di perifer dan antitusif yang bekerja di sentral.
Antitusif yang bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan non
narkotik.
-

Antitusif yang bekerja di perifer


Obat golongan ini menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal di
saluran napas, yaitu pada reseptor iritan perifer dengan cara anestesi
langsung atau secara tidak langsung mempengaruhi lendir saluran
napas.
Obat-obat anestesi
Obat anestesi lokal seperti benzokain, benzilalkohol, fenol dan
garam

fenol

digunakan

dalam

pembuatan

lozenges.

Obat

ini

mengurangi batuk akibat rangsang reseptor iritan di pharing; tetapi


hanya sedikit manfaatnya untuk mengatasi batuk akibat kelainan
saluran napas bawah.

Lidokain
Obat anestesi yang diberikan secara topikal seperti tetrakain, kokain
dan lidokain sangat bermanfaat dalam menghambat batuk akibat
prosedur pemeriksaan bronkoskopi. Beberapa hal harus diperhatikan
dalam pemakaian anestesi topikal, yaitu :
-

Risiko aspirasi beberapa jam sesudah pemakaian obat


Diketahui kemungkinan reaksi alergi terhadap obat anestesi
Peningkatan tahanan jalan napas sesudah inhalasi zatanestesi
Risiko terjadinya efek toksis sistemik, termasuk aritmia dan kejang
terutama pada penderita penyakit hati dan jantung.

Demulcent
Obat ini bekerja melapisi mukosa faring dan mencegah kekeringan
selaput lendir. Obat ini dipakai sebagai pelarut antitusif lain atau
sebagai lozenges yang mengandung madu, akasia, gliserin dan anggur.
Secara obyektif tidak ada data yang menunjukkan obat ini mempunyai
efek antitusif yang bermakna,tetapi karena aman dan memberikan
perbaikansubyektif obat ini banyak dipakai.

Antitusif yang bekerja sentral


Obat ini bekerja menekan batuk dengan meninggikan ambang
rangsang yang dibutuhkan untuk merangsang pusat batuk. Dibagi atas
golongan narkotik dan nonnarkotik.
Golongan narkotik
Opiat

dan

derivatnya

mempunyai

beberapa

macam

efek

farmakologik, sehingga digunakan sebagai analgesik, antitusif, sedatif,


menghilangkan sesak karena gagal jantung kiri dan anti diare. Di
antara alkaloid ini morfin dan kodein sering digunakan. Efek samping
obat ini adalah penekanan pusat napas, konstipasi, kadang-kadang
mual dan muntah, serta efek adiksi.

Opiat

dapat

menyebabkan

terjadinya

bronkospasme

karena

penglepasan histamin, tetapi efek ini jarang terlihat pada dosis


terapeutik untuk antitusif; di samping itu narkotik juga dapat
mengurangi

efek

pembersihan

mukosilier

dengan

menghambat

sekresi kelenjarmukosa bronkus dan aktivitas silia; terapi kodein


kurang mempunyai efek tersebut.
Kodein
Obat ini merupakan antitusif narkotik yang paling efektif dan salah
satu obat yang paling sering diresepkan. Pada orang dewasa dosis
tunggal 20 60 mg atau 40 160 mg per hari biasanya efektif. Kodein
ditolerir dengan baik dan sedikit sekali menimbulkan ketergantungan.
Di samping itu obat ini sangat sedikit sekali menyebabkan penekanan
pusat napas dan pembersihan mukosilier.
Efek samping pada dosis biasa jarang ditemukan. Pada dosis agak
besar dapat timbul mual, muntah, konstipasi, pusing, sedasi, palpitasi,
gatal-gatal, banyak keringat dan agitasi.
Hidrokodon
Merupakan derivat sintetik morfin dan kodein, mempunyai efek
antitusif yang serupa dengan kodein. Efek samping utama adalah
sedasi, penglepasan histamin, konstipasi dan kekeringan mukosa.
Obat ini tidak lebih unggul dari kodein.
Derivat morfin dan kodein yang lain seperti hidromorfon mempunyai
efek an titusif. Tetapi obat ini mempunyai efek adiksi yang lebih besar
dan tidak lebih unggul dibandingkan dengan kodein.
Antitusif nonnarkotik
Dekstrometorfan
Obat ini tidak mempunyai efek analgesik dan ketergantungan,
sering digunakan sebagai antitusif nonnarkotik. Obat ini efektif bila
diberikan dengan dosis 30 mg setiap 4 8 jam. Dosis dewasa 10 20
mg, setiap 4 jam, anak-anak umur 6 11 tahun 5 -10 mg- sedangkan
anal( umur 2 6 tahun dosisnya 2,5 5 mg setiap 4 jam.

Butamirat sitrat
Obat golongan antitusif nonnarkotik yang baru diperkenalkan ini
bekerja secara sentral dan perifer. Pada sentral obat ini menekan
pusat refleks dan di perifer melalui aktivitas bronkospasmolitik dan
aksi antiinflamasi (dikutip dari 12). Obat ini ditoleransi dengan baik
oleh penderita dan tidak menimbulkan efek samping konstipasi, mual,
muntah dan penekanan susunan saraf pusat. Dalam penelitian uji
klinik, obat ini mempunyai efektivitas yang sama dengan kodein dalam
menekan batuk. Butamiratsitrat mempunyai keunggulan lain yaitu
dapat digunakan dalam jangka panjang tanpaefek samping dan
memperbaiki fungsi paru yaitu meningkatkan kapasitas vital (KV) dan
aman digunakan pada anak. Dosis dewasa adalah 3 x 15 ml dan untuk
anak-anak umur 6 - 8 tahun 2 x 10 ml, sedangkan anak berumur lebih
dari 9 tahun dosisnya 2 x 15 ml.
Noskapin
Noskapin tidak mempunyai efek adiksi meskipun termasuk golongan
alkaloid opiat. Efektivitas dalam menekan battik sebanding dengan
kodein. Kadang-kadang memberikan efek samping berupa pusing,
mual, rinitis, alergi akut dan konjungtivitis.
Dosis dewasa 15-30 mg setiap 4- 6 jam, dosis tunggal 60mg aman
dalam menekan batuk paroksismal. Anak (berumur 2 -12 tahun
dosisnya 7,5 - 15 mg setiap 3 - 4 jam dan tidak melebihi 60 mg per
hari.
Difenhidramin
Obat ini termasuk golongan antihistamin, mempunyai manfaat
mengurangi batuk kronik pada bronkitis. Efek samping yang dapat
timbul ialah mengantuk, kekeringan mulutdan hidung, kadang-kadang
menimbulkan perangsangan susunan saraf pusat. Obat ini mempunyai
efek antikolinergik, karena itu harus digunakan secara hati-hati pada
penderita glaukoma, retensi urin dan gangguan fungsi paru. Juga
harus hati-hati bila digunakan bersama obat antikolinergik lain,

penekan saraf pusat atau perangsang susunan saraf pusat. Dosis yang
dianjurkan sebagai obat batuk ialah 25 mg setiap 4 jam tidak melebihi
100 mg/hari untuk dewasa. Dosis untuk anak berumur 6-12 tahun
ialah 12,5 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 50mg/hari, sedangkan
untuk anak 2 - 5 tahun ialah 6,25 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi
25 mg/hari.
Retensi cairan yang patologis di jalan napas disebut mukostasis. Obatobat yang digunakan untuk mengatasi keadaan itu disebut mukokinesis.
Obat mukokinetik dikelompokkan atas beberapa golongan. Pada tabel 3
dapat dilihat penggolongan obat mukokinetik.
Tabel 3 : Penggolongan obat mukokinetik

1. Diluent (cairan)
Air : adalah diluent yang utama, berguna untuk mengencerkan
cairan sputum. Cairan elektrolit :
-

Larutan garam faal, merupakan larutan yang paling sesuai untuk

nebulisasi dan cairan lavage.


Larutan garam hipotonik digunakan pada pasien yang memerlukan

diet garam.
Larutan garam hipertonik bersifat lebih iritan sehingga menimbulkan
batuk. Karena sifatnya yang hipertonik, larutan ini merangsang
pengeluaran cairan dari mukosa saluran napas sehingga digunakan
untuk merangsang pengeluaran sputum pada penderita batuk yang
tidak produktif.

2. Surfaktan
Obat ini bekerja pada permukaan mukus dan menurunkan daya
lengket mukus pada epitel. Biasanya obat ini dipakai sebagai inhalasi,
untuk itu perlu dilarutkan dalam air atau larutan elektrolit lain. Sulit
dibuktikan obat ini lebih baik daripada air atau larutan elektrolit saja
pada terapi inhalasi.
3. Mukolitik
Obat ini

memecah

rantai

molekul

mukoprotein

sehingga

menurunkan viskositas mukus. Termasuk dalam golongan ini antara


lain ialah golongan thiol dan enzim proteolitik
- Golongan Thiol
Obat ini memecah rantai disulfida mukoprotein, dengan akibat
lisisnya mukus. Salah satu obat yang termasuk golongan ini adalah
asetilsistein.
Asetilsistein
Asetilsistein adalah derivat H-asetil dari asam amino L sistem,
digunakan dalam bentuk larutan atau aerosol. Pemberian langsung ke
dalam saluran napas melaluikateter atau bronksokop memberikan efek
segera, yaitu meningkatkan jumlah sekret bronkus secara nyata. Efek
samping berupa stomatitis, mual, muntah, pusing, demam dan
menggigil jarang ditemukan. Efek toksis sistemik tidak lazim oleh
karena obat dimetabolisme dengan cepat.
Dosis yang efektif ialah 200 mg, 2 - 3 kali per oral. Pemberian
secara inhalasi dosisnya adalah 1-10 ml larutan 20% atau 2 - 20 ml
larutan 10% setiap 2 - 6 jam. Pemberian langsung ke dalam saluran
napas menggunakan larutan 10-20% sebanyak 1- 2 ml setiap jam. Bila
diberikan sebagai aerosol hams dicampur dengan bronkodilator oleh
karena ia mempunyai efek bronkokonstriksi.
Obat ini selain diberikan secara inhalasi dan oral, juga dapat
diberikan secara intravena. Pemberian aerosol sangat efektif dalam
mengencerkan mukus. Bila diberikan secara oral dalam jangka waktu
yang lama obat ini ditoleransi dengan baik dan tidak mempunyai efek
toksik.

Di samping bersifat mukolitik, N-asetilsistein juga mempunyai fungsi


sebagai antioksidan. N-asetilsistein merupakan sumber glutathion,
yaitu zat yang bersufat antioksidans. Pemberian N-asetilsistein dapat
mencegah kerusakan saluran napas yang disebabkan oleh oksidan.
Pada perokok, kerusakan saluran napas terjadi oleh karena zat-zat
oksidans dalam asap rokok mempengaruhi keseimbangan oksidan dan
antioksidan. Dengan demikian pemberian N-asetilsistein pada perokok
dapat mencegah kerusakan parenkim paru terhadap efek oksidan
dalan asap rokok, sehingga mencegah terjadinya emfisema. Obat ini
juga mempunyai efek antioksidan terhadap toksisitas asetaminofen.
Pada penderita Sindroma Gawat Napas Dewasa (ARDS) sering
terjadi edema paru nonkardiak. Pada penderita ARDS kadar glutathion
dalam

plasma

rendah.

Pemberian

N-asetilsistein

intravena

meningkatkan kadar glutathion dalam darah, sehingga memberikan


perbaikan klinik, yaitu peningkatan oksigenisasi jaringan, membaiknya
compliance paru dan berkurangnya edema paru.
Penelitian pada penderita penyakit saluran napas akut dan kronik
menunjukkan bahwa N-asetilsistein efektif dalam mengatasi batuk,
sesak napas dan pengeluaran dahak. Perbaikan klinikn pengobatan
dengan

N-asetilsistein

lebih

baik

bila

dibandingkan

dengan

bromheksin.
- Enzim proteolitik
Enzim

protease

seperti

tripsin,

kimotripsin,

streptokinase,

deoksiribonuklease dan streptodornase dapat menurunkan viskositas


mukus. Enzim ini lebih efektif diberikan pada penderita dengan
sputum yang purulen. Diberikan sebagai terapi inhalasi. Tripsin dan
kimotripsin mempunyai efek samping iritasi tenggorok dan mata,
batuk, suara serak, batuk darah, bronkospasme, reaksi alergi umum
dan metaplasi bronkus. Deoksisibonuklease efek sampingnya lebih
kecil, tetapi efektivitasnya tidak melebihi asetilsistein.
4. Bronkomukotropik
Obat golongan ini bekerja langsung merangsang kelenjar bronkus.
Zat ini menginduksi pengeluaran seromucin sehingga meningkatkan

mukokinesis. Umumnya obat-obat inhalasi yang mengencerkan mukus


termasuk dalam golongan ini. Biasanya obat ini mempunyai aroma.
Contoh obat ini adalah mentol, minyak kamper, balsem dan kayu
putih.
Vicks Vapo Rub mengandung berbagai minyak yang mudah
menguap,

adalah

bronkomukotropik

yang

paling

populer.

Sulit

dibuktikan bahwa obat ini efektif dalam membantu mengeluarkan


sputum dan mengatasi batuk.
5. Bronkorrheik
Iritasi permukaan saluran naps menyebabkan pengeluaran cairan.
Saluran napas bereaksi terhadap zat-zat iritasi yang toksik, pada
keadaan berat dapat terjadi edema paru. Iritasi yang lebih ringan
dapat berfungsi sebagai pengobatan, yaitu merangsang pengeluaran
cairan sehingga memperbaiki mukokinesis. Contoh obat golongan ini
adalah larutan garam hipertonik.
6. Ekspektorans
Ekspektorans adalah obat yang meningkatkan jumlah cairan dan
merangsang pengeluaran sekret dari saluran napas. Hal ini dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu melalui :
- refleks vagal gaster
- stimulasi topikal dengan inhalasi zat
- perangsangan vagal kelenjar mukosa bronkus
- perangsangan medulla
Refleks

vagal

gaster

adalah

pendekatan

yang

paling

sering

dilakukan untuk merangsang pengeluaran cairan bronkus. Mekanisme


ini memakai sirkuit refleks dengan reseptor vagal gaster sebagai
afferen dan persarafan vagal kelenjar mukosa bronkus sebagai efferen.
Termasuk ke dalam ekspektorans dengan mekanisme ini adalah :
ammonium khlorida, kalium yodida, guaifenesin (gliseril guaiakolat),
sitrat (natrium sitrat), ipekak.
Kalium yodida
Obat ini adalah ekspektorans yang sangat tua dan telah digunakan
pada asma dan bronkitis kronik. Selain sebagai ekspektorans obat ini

mempunyai efek menurunkan elastisitas mucus dan secara tidak


langsung menurunkan viskositas mukus(3,6). Mempunyai efek samping
angiodema,

serum

sickness,

urtikaria,

purpura

trombotik

trombositopenik dan periarteritis yang fatal. Merupakan kontraindikasi


pada wanita hamil, masa laktasi dan pubertas. Dosis yang dianjurkan
pada orang dewasa 300 650 mg, 3 4 kali sehari dan 60 250 mg, 4
kali sehari untuk anak-anak.
Guaifenesin (gliseril guaiakolat)
Selain berfungsi sebagai ekspektorans, obat ini juga memperbaiki
pembersihan mukosilier. Obat ini jarang menunjukkan efek samping.
Pada dosis besar dapat terjadi mual, muntah dan pusing. Dosis untuk
dewasa biasanya adalah 200 400 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi
24 g/hari. Anak-anak 611 tahun, 100 200 mg setiap 4 jam dan tidak
melebihi 1 2 g/hari, sedangkan untuk anak 2 5 tahun, 50 100 mg
setiap 4 jam dan tidak melebihi 600 mg sehari.
7. Mukoregulator
Obat ini merupakan mukokinetik yang bekerja pada kelenjar mukus
yaitu mengubah campuran mukoprotein sehingga sekret menjadi lebih
encer, obat yang termasuk golongan ini adalah bromheksin dan Skarboksi metilsistein.
Bromheksin
Bromheksin adalah komponen alkaloid dari vasisin dan ambroksol
adalah metabolitnya. Obat ini meningkatkan jumlah sputum dan
menurunkan viskositasnya. Juga ia merangsang produksi surfaktan
dan mungkin bermanfaat pada sindrom gawat napas neonatus. Ke-dua
obat ini ditoleransi dengan balk, tetapi dapat menyebabkan rasa tidak
enak di epigastrium dan mual. Harus hati-hati pada penderita tukak
lambung. Dosis bromheksin biasanya 8 16 mg tiga kali sehari,
sedangkan ambrokso145 60 mg sehari.
Karbosistein (S-karboksi metilsistein)

Obat

ini

adalah

derivat

sistem

yang

lain,

juga

bermanfaat

menurunkan viskositas mukus. Dosis obat minum biasanya 750mg tiga


kali sehari. Obat ini memberikan efek setelah diberikan 10 14 hari.
8. Mediator otonom
Stimulator yang paling poten untuk sekresi saluran napas adalah
obat-obat kolinergik seperti asetilkolin dan metakolin. Kenyataannya
obat ini sangat kuat sehingga menimbulkan banyak efek samping
antara lain bronkospasme.
Obat-obat simpatomimetik juga bisa merangsang pengeluaran
sekret. Obat Beta 2 agonis juga menyebabkan bronkodilatasi dan
merangsang pergerakan silia. Oleh karena itu manfaat obat ini dalam
mekanisme pengeluaran sekret tidak diketahui dengan jelas.
Mediator lain seperti histamin, bradikinin, dan yang lainnya juga
bisa meningkatkan sekret saluran napas. Tetapi efek samping zat-zat
ini sangat berat menyebabkan obat ini tidak digunakan sebagai
mukokinetik.

Sebaliknya

antihistamin,

antikolinergik

dan

obat

penghambat simpatomimetik beta menghalangi efek mukokinetik.


Komplikasi
Komplikasi tersering adalah keluhan non spesifik seperti badan lemah,
anoreksia, mual dan muntah. Mungkin dapat terjadi komplikasi-komplikasi
yang lebih berat, baik berupa kardiovaskuler, muskuloskeletal atau gejalagejala lain.
Pada sistem kardiovaskuler dapat terjadi bradiaritmia, perdarahan
subkonjungtiva, nasal dan di daerah anus, bahkan ada yang melaporkan
terjadinya

henti

jantung.

Batuk-batuk

yang

hebat

juga

dapat

menyebabkan terjadinya pneumotoraks, pneumomediastinum, ruptur


otot-otot dan bahkan fraktur iga.
Komplikasi yang sangat dramatis tetapi jarang terjadi adalah Cough
syncopeatau Tussive syncope. Keadaan ini biasanya terjadi setelah batukbatuk yang paroksismal dan kemudian penderita akan kehilangan
kesadaran selama 10 detik. Cough syncope terjadi karena peningkatan

tekanan

serebrospinal

secara

nyata

akibat

peningkatan

tekanan

intratoraks dan intraabdomen ketika batuk.


Tabel 4 : Komplikasi batuk

Kesimpulan
Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh yang berguna untuk
membersihkan saluran trakeobronkial. Batuk yang tidak efektif dapat
menimbulkan

berbagai

penumpukan

sekret

efek

yang

yang

tidak

menguntungkan

berlebihan

&

berupa

atelektasis

&

gangguan pertukaran gas dan lain-lain.


Batuk yang tidak efektif mungkin terjadi karena gangguan

di

saraf

aferen & pusat batuk atau di saraf eferen yang ada. Batuk yang
berlebihan

akan

sangat beragam, bisa

terasa mengganggu.
karena

iritan,

mekanik,

Penyebab
infeksi

batuk juga
dan

berbagai

penyakit baik di paru maupun di luar paru. Keluhan batuk juga dapat
menimbulkan berbagai komplikasi mulai dari yang ringan sampai yang
berat.

Daftar Pustaka

1. Somantri I. Sistem pernapasan. Dalam : Asuhan keperawatan pada pasien dgn


gangguan sistem pernapasan. 2007. Jakarta : Salemba Medika. h 11-6

2. Djojodibroto D. Mekanisme pertahanan sistem pernapasan. Dalam : Respirologi (respiratory


medicine). 2009. Jakarta : EGC. h 55-7.

3. Staf pengajar deprtemen farmakologi fakultas kedokteran universitas sriwijaya. Obat saluran
napas. Dalam : kumpulan kuliah farmakologi. Edisi 2. 2009. Jakarta : EGC. h 557-69.

4. Guyton AC, Hall JE. Pernapasan. Dalam : Buku ajar fisiologi kedokteran.
2008. Jakarta : ECG. h 669-721
5. Sylvia A, Wilson LM. Gangguan

sistem

pernaasan.

Dalam

Patofisiologi. 2006. Jakarta : ECG. h 773-815


6. Smucny J, Hueston W J. Cough. In : Common problems respiratory
disorders. 2002. United States : McGraw-Hill Companies. h 3-20.
7. Irwin RS, Madison JM. The diagnosis and treatment of cough. N Engl J
Med 2000; 343: 1715-21.
8. Ikawati, Zullies. Farmakoterapi penyakit sistem pernapasan. 2008.
Yogyakarta : Pustaka Adipura. h 125-9.