Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

HIPOTERMI PADA NEONATUS

Disusun oleh:
Veronika Haryanti Icha L,S.Ked

09700322

PEMBIMBING
dr. R. Soerjatmono,Sp.A

SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Kab. Kediri


Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1

1.1Latar belakang
Banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau
kegagalan penyesuaian biokimia dan faali yang disebabkan oleh prematuritas, kelainan
anatomik, dan lingkungan yang kurang baik dalam kandungan, pada persalinan maupun
sesudah lahir.
Masalah pada neonatus biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada
masa perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan.
Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang
kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, kurangnya
perawatan bayi baru lahir. Kalau ibu meninggal pada waktu melahirkan, si bayi akan
mempunyai kesempatan hidup yang kecil.
Hipotermia pada neonatus adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan suhu
tubuh yang disebabkan oleh berbagai keadaan, terutama karena tingginya konsumsi
oksigen dan penurunan suhu ruangan. Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal
sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan bayi baru lahir, terutama bagi
bayi prematur. Pengaturan suhu tubuh tergantung pada faktor penghasil panas dan
pengeluarannya, sedang produksi panas sangat tergantung pada oksidasi biologis dan
aktivitas metabolisme dari sel-sel tubuh waktu istirahat.
Suhu normal adalah suhu tubuh yang menjamin kebutuhan oksigen bayi secara
individual dapat terpenuhi, pada kulit bayi: 36--36,5oC; pada aksila: 36,5--37oC; dan
pada rektum 36,5--37,5oC C. Istilah hipotermia secara umum digambarkan sebagai suhu
tubuh kurang dari 35oC3-8,10,16.
Pada neonatus yang baru lahir. Dimana,di dalam tubuh ibunya, suhu tubuh fetus
selalu terjaga, begitu lahir maka hubungan dengan ibunya sudah terputus. . Peralihan dari
kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan
faali. Dengan terpisahnya bayi dari ibu, maka terjadilah awal proses fisiologik. Neonatus
harus mempertahankan suhu tubuhnya sendiri melalui aktifitas metabolismenya.
Perubahan kondisi terjadi pada neonatus yang baru lahir. Di dalam tubuh ibunya, suhu
tubuh fetus selalu terjaga, begitu lahir maka hubungan dengan ibunya sudah terputus dan
2

neonatus

harus

mempertahankan

suhu

tubuhnya

sendiri

melalui

aktifitas

metabolismenya.
Semakin kecil tubuh neonatus, semakin sedikit cadangan lemaknya. Semakin kecil
tubuh neonatus juga semakin tinggi rasio permukaan tubuh dengan massanya.
Temperatur rektal biasanya lebih rendah 1-2 oF atau 0,556- 1,112 oC di banding suhu inti
tubuhnya. Suhu membran timpani sangat akurat karena telinga tengah mempunyai
sumber vascular yang sama sebagaimana vaskular yang menuju hipotalamus.
Suhu permukaan kulit meningkat atau turun sejalan dengan perubahan suhu
lingkungan. Sedangkan suhu inti tubuh diatur oleh hipotalamus. Namun pada pediatrik,
pengaturan tersebut masih belum matang dan belum efisien. Oleh sebab itu pada
pediatrik ada lapisan yang penting yang dapat membantu untuk mempertahankan suhu
tubuhnya serta mencegah kehilangan panas tubuh yaitu rambut, kulit dan lapisan lemak
bawah kulit. Ketiga lapisan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan efisien atau tidak
bergantung pada ketebalannya. Sayangnya sebagian besar pediatrik tidak mempunyai
lapisan yang tebal pada ketiga unsur tersebut.
Transfer panas melalui lapisan pelindung tersebut dengan lingkungan berlangsung
dalam dua tahap. Tahap pertama panas inti tubuh disalurkan menuju kulit. Tahap kedua
panas tubuh hilang melalui radiasi, konduksi, konveksi atau evaporasi. Saat ini telah
dikembangkan tindakan untuk mencegah hipotermi pada neonatal yaitu dengan menunda
memandikan sampai suhu tubuh stabil

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Hipotermi?
2. Bagaimana tanda dan gejala Hipotermi?
3. Apa penyebab Hipotermi?
4. Bagaimana cara penanganan Hipotermi?
5.

Apakah patofisiologi hipotermi ?

6.

Apa sajakah jenis dari Hipotermi ?

7.

Bagaimana cara menengah Hipotermi ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Hipotermi
2. Untuk mengetahui tanda dan gejala Hipotermi
3

3. Untuk mengidentifikasi penyebab Hipotermi


4. Untuk mengetahui cara penanganan dan pencegahan hipotermi
5.

Mengetahui jenis-jenis Hipotermi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi

Suhu tubuh atau temperatur normal pada anak dan dewasa adalah :
Usia
3 bulan
6 bulan
1 tahun
3 tahun
5 tahun
7 tahun
9 tahun
11 tahun
13 tahun
Dewasa
>70 tahun

Suhu (oc)
37,5
37,5
37,7
37,2
37,0
36,8
36,7
36,7
36,6
36,4
36,0

1.0 Tabel suhu tubuh


Suhu normal pada neonatus berkisar antara 36 OC - 37,5 OC pada suhu ketiak.
Gejala awal hipotermia apabila suhu < 36 oC atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.
Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang
(suhu 32oC - < 36oC). Disebut hipotermia berat bila suhu tubuh < 32 oC. Untuk mengukur
suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading
termometer) sampai 25 OC. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan
awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Yang menjadi prinsip kesulitan sebagai akibat hipotermia adalah meningkatnya
konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi
glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia.
Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat ditanggulangi dengan
meningkatkan intake kalori.
Suhu tubuh diatur oleh sistem saraf dan sistem endokrin, dimana :
1. Sistem Saraf : Merupakan pusat pengatur suhu tubuh, yaitu hipotalamus
preoptik hipotalamus anterior. Saat terjadi pemanasan pembuluh darah

akan mengalami vasodilatasi dan saat dingin pembuluh darah akan


mengalami vasokonstriksi.
2. Sistem Endokrin : Dingin

mengakibatkan

sekresi

tiroksin

yang

mengakibatkan peningkatan metabolisme dan pembentukan panas. Hormon


kelamin pria dapat meningkatka kecepatan metabolisme basal kira-kira 1015% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada
perempuan, fluktuaso suhu lebih bervariasi daripada laki-laki karena
pengeluaran hormon progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu
tubuh sekitar 0,3-0,6 oC di atas suhu basal. Hormon pertumbuhan (growth
hormone) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar
15-20%. Akibatnya,produksi panas tubuh juga meningkat.
Fisiologi regulasi suhu, suhu tubuh adalah keadaan seimbang antara produksi panas
tubuh dan kehilangan panas dari tubuh. Diukur dengan derajat.
Produksi panas

Pengeluaran panas

Metabolisme basal

Radiasi

Aktivitas otot dan


menggigil

Konduksi
evaporasi

Tiroksin dan
epineprin
Efek suhu terhadap
sel

2.1 keseimbangan produksi dan pengeluaran panas


Terdapat 2 jenis panas/suhu tubuh yaitu :
1. suhu inti (suhu dari organ/ jaringan tubuh bagian dalam : otak, dada, perut,
dll) suhu relatif konstan 37C/98,6F.
2. Suhu permukaan ( suhu kulit, jaringan subkutan dan lemak ). Variasi suhu
antara 20C (68F) 40C (104F).
Produksi panas/heat production terdiri dari 5 faktor penting, antara lain :
a. BMR ( Basal Metabolisme Rate).
b. Aktifitas otot
c. Pengeluaran tiroxin
6

d. Stimulasi simpatis, epinephrin, dan nonepineptin


e. Demam.
Sedangkan pengeluaran panas atau kehilangan panas/heat loss terdiri dari 4 mekanisme yang
aktif dalam pengeluaran panas, yaitu :
a.
b.
c.
d.

Konduksi : perpindahan langsung dari badan ke objek tampak gerakan : kompres.


Konveksi : perpindahan melalui sirkulasi : kipas angin.
Radiasi : perpindahan antara kulit dan lingkungan.
Evaporasi : melalui penguapan ( insensibel, water loss mis, pernapasan, kulit).

2.2 Etiologi Hipotermi

Penyebab terjadinya penurunan suhu tubuh pada bayi disebabkan karena ; Luas
permukaan tubuh pada bayi baru lahir (terutama jika berat badannya rendah), relatif lebih
besar dibandingkan dengan berat badannya sehingga panas tubuhnya cepat hilang.
Pada cuaca dingin, suhu tubuhnya cenderung menurun.Panas tubuh juga bisa hilang melalui
penguapan, yang bisa terjadi jika seorang bayi yang baru lahir dibanjiri oleh cairan ketuban.
Penyebab terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :

Jaringan lemak subkutan tipis.

Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.

Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.

BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada
reaksi kedinginan.

Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi


mengalami hipotermi.

Neonatus mudah sekali terkena hipotermi, hal ini disebabkan oleh karena:
7

Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
Permukaan tubuh bayi relatif lebih luas
Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakainnya agar dia tidak

kedinginan
Keadaan yang menimbulkan kehilangan panas yang berlebihan, seperti
lingkungan dingin, basah, atau bayi yang telanjang,cold linen, selama perjalanan
dan beberapa keadaan seperti mandi, pengambilan sampel darah, pemberian

infus, serta pembedahan. Juga peningkatan aliran udara dan penguapan.


Ketidaksanggupan menahan panas, seperti pada permukaan tubuh yang relatif
luas, kurang lemak, ketidaksanggupan mengurangi permukaan tubuh, yaitu
dengan memfleksikan tubuh dan tonus otot yang lemah yang mengakibatkan

hilangnya panas yang lebih besar pada BBLR.


Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti defisiensi brown fat,
misalnya bayi preterm, kecil masa kelahiran, kerusakan sistem syaraf pusat
sehubungan dengan anoksia, intra kranial hemorrhage, hipoksia, dan
hipoglikemia.

Hipotermi dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekelilingi bayi rendah dan upaya
mempertahankan suhu tubuh tidak di terapkan secara tepat,terutama pada masa stabilisasi
yaitu:6-12 jam pertama setelah lahir.
Hipotermia

juga

bisa

menyebabkan hipoglikemia (kadar

gula

darah

yang

rendah), asidosis metabolik (keasaman darah yang tinggi) dan kematian.Tubuh dengan cepat
menggunakan energi agar tetap hangat, sehingga pada saat kedinginan bayi memerlukan lebih
banyak oksigen. Karena itu, hipotermia bisa menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke
jaringan.
jika suhu inti terancam menurun, sebagai upaya untuk mengatasinya adalah dengan
mengatur produksi panas (tremor otot dan gerak tubuh). Kedinginan yang mengancam akan
memicu perubahan sikap, tergantung penyebab yang mendasarinya (misalnya dengan
melindungi terhadap angin dengan penambahan pakaian, meninggalkan kolam renang,
berkemul, dll). Jika reaksi perubahan sikap ini tidak muncul (tidak dilakukan) dapat terjadi
hipotermia, yakni penurunan suhu inti di bawah 35 drajatC. Hal ini dapat terjadi karena
alasan fisik yang tidak memungkinkan keluar dari situasi tersebut, atau bahaya hipotermia
yang tidak disadari, atau akibat ganggua neurologist, hormon, atau metabolic. Membenamkan
diri di dalam air bersuhu 5 10 drajatC selama 10 menit dapat menimbulkan hipotermia
8

(tergantung ketebalan lemak). Memakai pakaian basah ditempat dengan hembusan angin
yang kuat bersuhu lingkungan 0 drajatC dapat menyebabkan hipotermia dalam waktu kurang
dari 1 jam.
Risiko hipotermia terutama terdapat pada orang yang sudah tua (rentang pengaturan
suhunya mulai terbatas) dan bayi (terutama bayi baru lahir) karena perbandingan luas
permukaan dengan massa tubuh relatif besar, produksi panas basal yang kurang, dan lapisan
lemak subkutan yang masih tipis. Orang dewasa muda yang tidak berpakaian tetap dapat
mempertahankan suhu inti meskipun suhu lingkungan turun menjadi 27 drajatC karena
produksi panas basalnya cukup. Pada neonatus, hipotermia dapat terjadi pada suhu
lingkungan <34 oC.
2.3 Patofisologi Hipotermi
Sewaktu kulit bayi menjadi dingin, saraf afferen menyampaikan pada sentral pengatur
panas di hipothalamus. Saraf yang dari hipothalamus sewaktu mencapaib ro wn
fat memacu pelepasan noradrenalin lokal sehingga trigliserida dioksidasi menjadi gliserol
dan asam lemak. Blood gliserol level meningkat, tetapi asam lemak secara lokal
dikonsumsi untuk menghasilkan panas. Daerah brown fat menjadi panas, kemudian
didistribusikan ke beberapa bagian tubuh melalui aliran darah.
Ini menunjukkan bahwa bayi akan memerlukan oksigen tambahan dan glukosa untuk
metabolisme

yang

digunakan

untuk

menjaga

tubuh

tetap

hangat

selalu.

Methabolicther mogenesis yang efektif adalah yang memerlukan integritas dari sistem syaraf
sentral, kecukupan dari brown fat, dan tersedianya glukosa serta oksigen. Perubahan
fisiologis akibat hipotermia yang terjadi pada sistem syaraf pusat antara lain depresi linier
dari metabolisme otak, amnesia, apatis, disartria, pertimbangan yang terganggu adaptasi yang
salah, EEG yang abnormal, depressi kesadaran yang progresif, dilatasi pupil, dan halusinasi.
Dalam keadaan berat dapat terjadi kehilangan autoregulasi otak, aliran darah otak menurun,
koma, refleks okuli yang hilang, dan penurunanyangprogressif dari aktivitas EEG.
Pada jantung dapat terjadi takikardi, kemudian bradikardi yang progressif, kontriksi
pembuluh darah, peningkatan cardiac output dan tekanan darah. Selanjutnya, peningkatan
aritmia atrium dan ventrikel, perubahan EKG dan sistole yang memanjang; penurunan
tekanan darah yang progressif, denyut jantung, dan cardiac output, disritmia serta asistole.
Pada pernapasan dapat terjadi takipnea,bronkhorea, bronkhospasma, hipoventilasi konsumsi
9

oksigen yang menurun sampai 50%, kongesti paru dan edema, konsumsi oksigen yang
menurun sampai 75%, dan apneu. Pada ginjal dan sistem endokrin, dapat terjadi cold
diuresis, peningkatan katekolamin, steroid adrenal, T3 dan T4 dan menggigil; peningkatan
aliran darah ke ginjal sampai 50%, autoregulasi ginjal yang intak, dan hilangnya aktivitas
insulin. Pada keadaan berat, dapat terjadi oliguri yang berat, poikilotermia, dan penurunan
metabolisma basal sampai 80%. Pada otot syaraf, dapat terjadi penurunan tonus otot sebelum
menggigil, termogenesis, ataksia, hiporefleksia, dan rigiditi. Pada keadaan berat, dapat terjadi
arefleksia daerah perifer14.
Akibat-akibat yang di timbulkan oleh hipotermi:
1. Hipoglikemi Asidosis metabolik, karena vasokonstrtiksi perifer dengan
metabolisme anaerob.
2. Kebutuhan oksigen yang meningkat.
3. Metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu.
4. Gangguan pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal
yang menyertai hipotermi berat.
5. Shock.
6. Apneu.
7. Perdarahan Intra Ventricular
Kedinginan yang terlalu lama dapat menyebabkan tubuh beku, pembuluh darah dapat
mengerut dan memutus aliran darah ke telinga, hidung, jari dan kaki. Dalam kondisi yang
parah mungkin korban menderita ganggren (kemuyuh) dan perlu diamputasi. Hipotermia bisa
menyebabkan

terjadinya

pembengkakan

di

seluruh

tubuh

(Edema

Generalisata),

menghilangnya reflex tubuh (areflexia), koma, hingga menghilangnya reaksi pupil mata.
Disebut hipotermia berat bila suhu tubuh < 32 oC. Untuk mengukur suhu tubuh pada
hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 25 oC.
Di samping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir
dengan kematian
Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Suhu normal pada bayi
neonatus adalah adalah 36,5-37,5 derajat Celsius (suhu ketiak). Hipotermi merupakan salah
satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir, terutama dengan berat badan kurang
dari 2,5 Kg Gejala awal hipotermi apabila suhu kurang dari 36 derajat Celsius atau kedua
kaki dan tangan teraba dingin.
10

2.4 Gejala Hipotermi

pada bayi yang baru lahir sangat perlu diperhatikan keadaan umum dari bayi ( vital
sign) berupa heart rate, respiratory rate dan temperaturenya. Keadaan umum ini penting
diobservasi agar jika terdapat kelainan, langsung dapat diketahui dan diatasi. Kelainan yang
sering terjadi pada bayi baru lahir adalah hipotermi (penurunan suhu tubuh). Manifestasi
klinis tergantung pada keparahan dan pengaruh suhu terhadap tubuh. Transient respirasi
distress bisa terlihat pada waktu di kamar bersalin. Stern (1980) memperlihatkan adanya
peningkatan risiko Kern icterus pada bayi kecil yang preterm. Gejala-gejala hipotermi pada
bayi (neonatus) antara lain :

Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, tidak kuat

menghisap asi, dan menangis lemah.


Timbulnya sklerema atau kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian

punggung, tungkai dan tangan.


Muka bayi berwarna merah terang.
tampak mengantuk.
kulitnya pucat dan dingin.
lemah, lesu, menggigil.
kaki dan tangan bayi teraba lebih dingin dibandingkan dengan bagian dada.
ujung jari tangan dan kaki kebiruan (cyanosis).
Bayi tidak mau minum/menyusui.
Bayi tampak lesu atau mengantuk saja.
Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras

(sklerema).
Kulitnya pucat dan dingin.
Selanjutnya pandangan mulai menjadi kabur, kesigapan mental dan fisik menjadi
lamban.
Bila tubuh korban basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan hebat.

11

Menurut tanda klinisnya, gejala klinis hipotermi terbagi menjadi :


1. Hipotermia sedang :
Kaki teraba dingin.
Kemampuan menghisap lemah.
Tangisan lemah.
Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata.
2. Hipotermia berat
Sama dengan hipotermia sedang.
Pernafasan lambat tidak teratur.
Bunyi jantung lambat.
Mungkin timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
3. Stadium lanjut hipotermia
Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang.
Bagian tubuh lainnya pucat.
Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan
tangan.
(sklerema).
Menurut tingkat keparahannya, Gejala Klinis hipotermia dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Mild atau ringan.
Sistem saraf pusat: amnesia, apatis, terganggunya persepsi halusinasi.
Cardiovaskular: denyut nadi cepat lalu berangsur melambat, meningkatnya
tekanan darah,
Penafasan: nafas awalnya cepat lalu berangsur melambat,
Saraf dan otot: gemetar, menurunnya kemampuan koordinasi otot.
2. Moderate atau sedang.
Sistem saraf pusat: penurunan kesadaran secara berangsur, pelebaran pupil.
Cardiovaskular: penurunan denyut nadi secara berangsur.
Pernafasan: hilangnya reflex jalan nafas(seperti batuk, bersin).
Saraf dan otot: menurunnya reflex, berkurangnya respon menggigil, mulai
munculnya kaku tubuh akibat udara dingin.
3. Severe atau parah.
Sistem saraf pusat: koma, menurunnya reflex mata ( seperti mengedip ).
12

Cardiovascular: penurunan tekanan darah secara berangsur, menghilangnya


atau menurunnya tekanan darah sistolik.
Pernafasan: menurunnya konsumsi oksigen.
Saraf dan otot: tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer
2.5 Klasifikasi Hipotermi
Beberapa jenis hipotermia, yaitu :
Accidental hypothermia terjadi ketika suhu tubuh inti menurun hingga (35c).
Primary accidental hypothermia merupakan hasil dari paparan langsung terhadap
udara dingin pada orang yang sebelumnya sehat.
Secondary accidental hypothermia merupakan komplikasi gangguan sistemik
(seluruh tubuh) yang serius. Kebanyakan terjadinya pada musim dingin (salju) dan
iklim dingin.

Sedangkan berdasarkan kejadiannya, hipotermia dibagi atas:

Hipotermia sepintas, yaitu penurunan suhu tubuh 12 derajat Celsius sesudah lahir.
Suhu tubuh akan menjadi normal kembali sesudah bayi berumur 4-8 jam, bila suhu
lingkungan diatur sebaik-baiknya. Biasanya hal ini terdapat pada BBLR, hipoksia
(suatu keadaan dimana suplai oksigen tidak mencukupi untuk keperluan sel,
jaringan atau organ), ruangan tempat bersalin yang dingin, bila bayi tidak segera
dibungkus setelah lahir, terlalu cepat dimandikan (kurang dari 4 jam sesudah lahir),
dan pemberian morfin pada ibu yang sedang bersalin.

Hipotermia akut, terjadi bila bayi berada di lingkungan yang dingin selama 6-12
jam. Umumnya terdapat pada bayi dengan BBLR di ruang tempat bersalin yang
dingin, inkubator yang tidak cukup panas, kelalaian terhadap bayi yang akan lahir,
yaitu diduga mati dalam kandungan tetapi ternyata hidup dan sebagainya.
Gejalanya adalah lemah, gelisah, pernapasan dan bunyi jantung lambat serta kedua
kaki dingin. Terapi yang dilakukan adalah dengan segera memasukkan bayi ke
dalam inkubator yang suhunya telah diatur menurut kebutuhan bayi dan dalam
keadaan telanjang supaya dapat diawasi dengan teliti.

13

Hipotermia sekunder. Penurunan suhu tubuh yang tidak disebabkan oleh suhu
lingkungan yang dingin, tetapi oleh sebab lain seperti sepsis, sindrom gangguan
pernapasan dengan hipoksia atau hipoglikemia, perdarahan intra-kranial tranfusi
tukar, penyakit jantung bawaan yang berat, dan bayi dengan BBLR serta
hipoglikemia. Pengobatannya ialah dengan mengobati penyebabnya, misalnya
dengan

pemberian

antibiotik,

larutan

glukosa,

oksigen,

dan

sebagainya.Pemeriksaan suhu tubuh pada bayi yang sedang mendapat tranfusi


tukar harus dilakukan beberapa kali karena hipotermia harus diketahui secepatnya.
Bila suhu tubuh bayi sekitar 32 derajat Celsius, tranfusi tukar harus dihentikan
untuk sementara waktu sampai suhu tubuh menjadi normal kembali.

Cold injury, yaitu hipotermia yang timbul karena terlalu lama dalam ruangan
dingin (lebih dari 12 jam). Gejalanya ialah lemah, tidak mau minum, badan dingin,
suhu berkisar antara 29,535 derajat Celsius, tak banyak bergerak, edema, serta
kemerahan pada tangan, kaki, dan muka seolah-olah bayi dalam keadaan sehat;
pengerasan jaringan subkutis. Bayi seperti ini sering mengalami komplikasi
infeksi, hipoglikemia, dan perdarahan. Pengobatannya ialah dengan memanaskan
secara perlahan-lahan, antibiotik, pemberian larutan glukosa 10 persen, dan
kortikosteroid.

2.6 Penangan pada Hipotermi


Prinsip penanganan hipotermia adalah penstabilan suhu tubuh dengan menggunakan
selimut hangat (tapi hanya pada bagian dada, untuk mencegah turunnya tekanan darah
secara mendadak) atau menempatkan pasien di ruangan yang hangat. Berikan juga
minuman hangat(kalau pasien dalam kondisi sadar).
Pencegahan dan Penanganan Hipotermi Pemberian panas yang mendadak, berbahaya
karena dapat terjadi apnea sehingga direkomendasikan penghangatan 0,5-1C tiap jam
(pada bayi < 1000 gram penghangatan maksimal 0,6 C). Untuk mencegah komplikasi
hipotermia, pemanasan terhadap bayi harus segera dilakukan. Penyebab hilangnya panas
harus segera dihentikan, suhu harus terus dimonitor, dan investigasi terhadap penyebabpenyebab patologi atau iatrogenik harus diperiksa. Jika hipotermianya ringan, dilakukan
pemanasan yang perlahan-lahan. Panas yang diberikan lebih tinggi sedikit dari panas kulit
dan perlahan-lahan dinaikkan hingga dicapai suhu yang kira-kira sama dengan suhu ruangan
14

yang normal (tabel 2). Suhu kulit, aksila, dan ruangan harus diukur setiap 30 menit selama
masa pemanasan.
Dianjurkan untuk menaikkan panas satu derajat tiap satu jam, kecuali jika berat badan
bayi yang kurang dari 1200 gram, usia kehamilan kurang dari 28 minggu, atau suhunya
kurang dari 32oC, dan bayi dapat dipanaskan lebih perlahan-lahan (rata-rata tidak lebih dari
0,6oC tiap jam).
Peralatan yang dipakai untuk mengatasi hipotermia:
1. Closed incubator.
Biasanya digunakan untuk bayi yang mempunyai berat kurang dari 1800
gram. Kerugian pemakaian alat ini adalah kita sulit untuk mengamati dan
melakukan tindakan terhadap bayi. Perubahan suhu yang berhubungan dengan
sepsis bisa kabur karena alat ini. Bayi dikeluarkan dari inkubator bila suhu tubuh
dapat bertahan pada suhu lingkungan lebih dari 30oC (biasanya sewaktu tubuh
telah mencapai kira-kira 1800 gram). Inkubator ini biasanya memakai alat-alat
berikut: Pengatur suhu sendiri, yang ditaruh di atas perut bayi. Bila suhu tubuh
bayi turun, panas akan dihasilkan sesuai target dan alat akan mati secara otomatis.
Kerugiannya adalah bila sensornya lepas atau rusak dapat terjadi panas yang
berlebihan. Air temperatur control device.
2. Radiant warmer
Khusus dipakai pada bayi yang tidak stabil atau yang sedang mengalami
pemeriksaan. Temperatur dapat diatur dengan memakai skin probe atau manual
mode. Pengaturan suhu tubuh pada bayi cukup bulan yang normal (> 2500 gram)
antara lain tempatkan bayi di bawah pemanas segera setelah bayi lahir, keringkan
seluruh tubuh untuk mencegah kehilangan panas dengan cara penguapan, tutup
kepala dengan cap, bungkus bayi dengan selimut, masukkan dalam tempat tidur
bayi.
Pengaturan suhu tubuh bayi cukup bulan yang sakit, prosedurnya sama dengan
bayi cukup bulan yang sehat, kecuali radiant warmer-nya dengan pengatur suhu
sendiri.

15

Pengaturan panas pada bayi prematur (1000-2500 gr) yaitu untuk berat bayi
1800-2500 gram, tanpa masalah medis, digunakan tempat tidur bayi, cap, dan
selimut biasanya sudah cukup. Juga dapat digunakan cara skin-to-skin (kangaroo).
Untuk bayi 1000-1800 gram, bayi yang sehat seharusnya ditempatkan di
inkubator tertutup dengan pengatur suhu sendiri. Sedangkan untuk bayi yang
sakit ditempatkan di bawah radiant warmer dengan pengatur suhu sendiri.
Pengaturan panas terhadap bayi berat badan sangat rendah (<1000 gr)
1. Radiant warmer
- Gunakan pengatur suhu sendiri dengan set temperatur kulit perut 37oC.
- Tutup kepala dengan cap.
- Pergunakan pelindung panas. Humidity level di bawah pelindung panas
-

seharusnya 40--50%.
Tempatkan pembungkus yang terbuat dari plastik di atas bayi.
Pergunakan pembungkus kasur warna hitam untuk menyerap panas.
Pertahankan suhu udara yang terhirup 34--35oC.
Tempatkan matras pemanas (K-pad) di bawah bayi yang suhunya telah
disesuaikan sekitar 35--38oC. Untuk mempertahankan proteksi, panas
diatur sekitar 35--38oC. Jika bayi hipotermi, dapat dinaikkan menjadi 37-38oC. Jika bayi tidak dapat distabilkan, pidahkan bayi ke inkubator

tertutup.
2. Closed incubator
- Gunakan servokontrol dengan set suhu pada kulit perut 36,5oC.
- Pergunakan inkubator yang mempunyai dinding dua lapis jika mungkin.
- Tutup kepala dengan cap.
- Pertahankan humidity level pada 40--50% atau lebih tinggi.
- Pertahankan suhu ventilator pada 34--35oC atau lebih tinggi.
- Lapisi inkubator dengan alumunium bila diperlukan.
- Tempatkan matres pemanas (K-pad) di bawah bayi yang telah disesuaikan
-

suhunya 35-36 oC. Untuk proteksi, panas dapat diatur antara 35-36 oC.
Untuk bayi hipotermi, dapat dibuat 37--38oC.
Letakkan pembungkus yang terbuat dari plastik di atas bayi.
Jika suhu tubuh sulit dipertahankan, coba dengan meningkatkan humidity

level.
Pada penanganan neonatal cold injury, di samping pemberian kehangatan
yang bertahap juga koreksi gangguan metabolisme, terutama hipoglikemia.

16

4.0 closed incubator dan radiant warmer

2.7 Komplikasi Hipotermi


Beberapa komplikasi yang dapat timbul akibat hipotermia: hipoglikemia karena
kekurangan cadangan glikogen. Asidosis metabolik disebabkan vasokonstriksi perifer
dengan metabolisme anaerobik dan asidosis. Hipoksia dengan kebutuhan oksigen yang
meningkat, gangguan pembekuan, dan perdarahan pulmonal dapat menyertai hipotermia
berat. Schok dengan akibat penurunan tekanan arteri sistemik, penurunan volume plasma,
dan penurunan cardiac output. Apnea dan perdarahan intra ventrikuler.

2.8 Pencegahan hipotermi


Melakukan tujuh rantai hangat, yaitu
1. menyiapkan tempat melahirkan yang hangat, kering, bersih, penerangan cukup.
2. Mengeringkan tubuh bayi segera ssetelah lahir dengan handuk kering dan bersih
3. Menjaga

bayi

tetap

hangat

dengan

mendekap

bayi

di

dada

ibunya dan keduanya di selimuti.


4. memberi ASI sedini mungkin dalam waktu 30 menit setelah melahirkan agar bayi
memperoleh kalori.
5. mempertahankan kehangatan pada bayi.
6. memberi perawatan bayi baru lahir yang memada
7. melatih semua orang yang terlibat dalam pertolongan persalinan / perawatan bayi
baru lahir
17

8. Menunda memandikan bayi baru lahir :


a.

pada bayi normal tunda memandikannya sampai 24 jam.

b.

pada bayi berat badan lahir rendah tunda memandikannya lebih lama lagi.

Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan setiap orang ialah metode dekap,

yaitu bayi diletakkan telungkup dalam dekapan ibunya dan keduanya diselimuti agar
bayi senantiasa hangat.
6.0 metode dekap

18

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hipotermi pada bayi baru lahir perlu mendapat perhatian dari para petugas kesehatan
dan khususnya calon ibu yang akan memiliki anak. Mereka perlu memiliki pengetahuan
tentang bagaimana cara memperlakukan bayi pertama kali ketika lahir.
Penanganan yang salah terhadap bayi bisa menyebabkan dampak negatif bagi mereka.
Sebagai contoh terjadinya hipotermi pada bayi disebabkan oleh kebiasaan / perilaku yang
salah seperti mengeringkan dan membersihkan tubuh bayi menunggu setelah plasenta lahir,
memandikan bayi dilakukan segera setelah lahir, membersihkan lemak bayi segera setelah
lahir, memercikkan air hangat / air dingin / air kembang / minyak wangi pada bayi baru lahir
yang tidak menangis (untuk merangsang pernafasan) , mengosok tubuh bayi dengan minyak
kayu putih / obat gosok , bayi baru lahir tidak segera didekapkan / dipisah /tidak segera
disusui oleh ibunya. Semua kebiasaan diatas justru mengakibatkan penurunan suhu tubuh
pada bayi.
Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir.
Oleh karena itu para petugas kesehatan harus melakukan tindakan pencegahan terjadinya
hipotermi di tingkat pelayanan dasar. Sebaiknya para petugas kesehatan memiliki penguasaan
dalam mencegah dan menangani hipotermi pada bayi baru lahir untuk memberikan dampak
positif yang sangat berarti dalam mencegah terjadinya kematian. Begitu pula dengan ibu,
penolong persalinan, dan keluarga di rumah yang bisa dengan mudah mencegah terjadinya
hipotermi.
3.2 Saran
a.

Upaya pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir dilakukan dengan benar bila bayi
dikeringkan dan melakukan kontak kulit langsung dengan ibu.
19

b. Suhu lingkungan selama dan setelah kelahiran sangat besar pengaruhnya pada bayi baru
lahir. Semakin dingin ruangan semakin besar terjadinya hipotermi.
c.

Cara terbaik mencegah hipotermi adalah mempertahankan tubuh bayi tetap hangat melalui
metode kanguru dan memenuhi kebutuhan kalorinya dengan memberi ASI sedini mungkin
(30 menit setelah bayi lahir).

d. Pencegahan hipotermi sangat mudah dan dapat dikerjakan dimana saja, kapan saja, oleh
siapa saja yang terlibat dalam persalinan dan perawatan bayi
e.

Penanganan hipotermi lebih sulit dibandingkan pencagahannya karena bila bayi mengalami
hipotermi berarti keadaannya sangat berbahaya dengan risiko sakit dan mati meningkat

f.

Bayi dengan berat lahir rendah mudah terkena hipotermi karena pusat pengatur suhu belum
berfungsi baik, kehilangan panas melalui permukaan kepala lebih besar, karena permukaan
kepala bayi lebih luas daripada bagian tubuh lainnya dan lapisan lemak bawah kulit tipis

DAFTAR PUSTAKA
20

Rukiyah,Ai yeyeh dan Lia yulianti.2010.Asuhan Neonatus,Bayi dan Anak Balita. Jakarta :Trans
Info Media
Sudarti.2010.Kelainan dan Penyakit Pada Bayi dan Anak.Yogyakarta:
Nuha Medika
Sudarti

dan

Afroh

Fausiah.2012.Asuhan

Kebidanan

Neonatus,Bayi

dan

Anak

Balita.Yogyakarta:Nuha Medika
Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.2002. Jakarta: YBP-SP

21

Anda mungkin juga menyukai