Anda di halaman 1dari 14

BABIV

PEMBAHASAN MENGENAl
PENGAKUAN DANPENGUKURANPENDAPATAN PADA PT QIP

embahasan Umnm
Berdasarkan data yang diperoleh dan yang dijabarkan oleh penulis di Bab III, PT

IP melakukan beberapa perlakuan akuntansi dalam hal pengakuan dan

pengukuran

endapatannya. Perlakuan akuntansi tersebut disesuaikan dengan alur proses teijadinya

ransaksi. Dan sebagian besar pedoman yang digunakan oleh PT QIP mengacu kepada

emyataan Standar Akuntansi Keuangan dan

sebagian lainnya disesuaikan dengan

ituasi dan kondisi dari perusahaan.


Pengakuan dan pengukuran pendapatan yang akan di bahas pada bab ini adalah
engakuan dan pengukuran dari penjualan barang dagangan dan kontrak konstruksi.
ejualan dari barang dagangan terdiri dari

penjualan tunai, kredit, dan

icilan. Sedangkan penjualan dari kontrak kontruksi terdiri dari


engukuran dengan menggunakan metode kontrak selesai dan

penjualan

pengakuan dan

metode persentase

enyelesaian.
Secara umum perlakuan akuntansi yang digunakan oleh PT QIP telah mengikuti

uran-aturan

akuntansi. yang

berlaku umum. Tetapi dalam penerapannya PT

QIP

melakukan beberapa penyesuaian. Hal ini bisa dilihat dari penjualan kredit, yaitu

danya penangguhan pendapatan karena adanya ketidakpastian retur yang relatif tinggi.

valuasi Perlakuan Akuntansi pada Penjualan Barang Dagangan.


Pembahasan yang akan dilakukan pada penjualan barang dagangan ini meliputi
ebijakan akuntansi yang digunakan oleh PT QlP, dan perlakuan teori akuntansi yang
eharusnya dilakukan. Berikut akan d:ibahas lebih lanjut mengena:i perlakuan akuntans:i
enjualan tunai, penjualan kredit, dan penjualan cicilan.

V.2.1. Penjnalan Tnnai


Transaks:i dalam penjualan tunai terjadi, jika suatu perusahaan menjual
barang daganganya dimana si pembeli akan langsung melakukan pembayaran.
Perusahaan yang menjual

barang

dagangan tersebut

langsung mengakui

pendapatan pada saat pembayaran dilakukan dan setelah resiko kepemilikan


atas barang tersebut telah berp:indah tangan.
A. Evaluasi Perlakuan Akuntansi pada Transaksi Penjualan Tunai Tanpa ada
Retur.
Perlakuan akuntansi yang telah dilakukan oleh PT QIP untuk mengakui
pendapatan telah mengikuti aturan yang telah d:itetapkan oleh PSAK No.23
paragraf 13 yaitu pendapatan akan diakui jika:

1. Perusahaan telah memindahkan resiko secara signifikan kepada pembeli.


2.

Perusahaan tidak lagi mengelola atas barang yang telah dijual.

3. Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andaL


4. Manfaat ekonomi dapat diterima oleh perusahaan.
5. Biaya yang berhubungan dengan transaksi penjualan dapat diukur
dengan andal.

Kelima syarat tersebut telah dipenuhi oleh PT QIP sebagai berikut:


L

Pada saat terjadi penjualan maim terjadi perpindahan hak atas barang
dari PT

QIP kePT

Sinar Jaya Prakarsa. Karena telah terjadi

perpindahan hak tersebut maka PT QIP tidak lagi menanggung resiko


signifikan.
2.

Karena barang telah dijual PT QIP tidak lagi memegang kendali atas
barang tersebut, karena hak sudah berpindah tangan.

3.

PT QIP telah menerima sejumlah kas

dari PT Sinar Jaya Prakarsa,

maka jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal dan

manfaat

ekonomi sudah diperoleh


4.

Biaya-biaya yang berhubungan dengan penjualan dapat diukur dengan


andal seperti harga pokok penjualan dan ongkos kirim.
PT QIP mengukur jumlah pendapatan dengan melihat seberapa besar

harga jual yang diperoleh. Pada transaksi di Bab Ill hal

43 PT

QIP

melakukan penjualan sebesar Rp 158.790.000,-. Perlakuan akuntansi ini


sepaham dengan Hendriksen yaitu dimana jumlah pendapatan diukur dengan
nilai tukar dari barang yang telah dijual. Teori ini juga

didukung dalam

PSAK No.23 paragraf 08, yaitu pendapatan diukur dengan nHai

wajar

imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. PT QIP telah menerima
imbalan berupa kas sebesar Rpl58.790.000,-. Kas yang telah diterima
tersebut merupakan nilai tukar dari barang yang telah dijualnya.
Berdasarkan pembahasan diatas, maka alasan perlakuan akuntansi yang
telah dikemukan oleh pihak manajemen telah sesuai dengan teori akuntansi.

Alasan tersebut bisa kita lihat pada pendapatan akan diakui pada saat resiko
atas barang telah berpindah tangan dan pembayaran dilakukan.
B. Evaluasi Perlakuan Akuntansi pada Transaksi Penjualan Tunai dengan
Penggantian Barang yang Rusak.
Ada beberapa penyesuaian kebijakan akuntansi yang dilakukan oleh PT
QIP, yaitu:
l. Pendapatan diakui pada saat barang telah dipasang dan dapat digunakan.
Kebijakan ini d:ibuat karena penjualan tuna:i yang dilakukan merupakan
penjualan paket (menjual barang danjasa pemasangan),
2. Penggantian barang yang rusak atau cacat dianggap retur.
3.

Kerugian yang teljadi akibat penggant:ian barang yang rusak akan


mengurangi pendapatan.

4. Karena penjualan paket, pendapatan diukur dengan harga jual dari paket
tersebut (termasuk biaya pemasangan).
Bila kita lihat dari segi teori akuntansi dan Pemyataan Standar
Akuntansi Keuangan, maka ada beberapa perlakuan akuntansi yang menarik
untuk dibahas yaitu:
1. Perlakuan akuntansi untuk kerugian dari barang yang rusak
Dalam PSAK No.l4 paragraf 28

alinea 38 (tentang pengakuan

sebagai beban persedian) menyatakan bahwa setiap penurunan nilai


persediaan di

bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh

kerugian harus diaku:i sebagai beban pada periode teljad:inya penurunan


atau kerugian tersebut. Maka dilihat dari segi PSAK No.l4 paragraf 28

alinea 38, kerugian yang diakibatkan oleh nilai persedian yang turun
(barang yang rusak) hams dilaporkan sebagai beban bukan sebagai
pengurang pendapatan pada laporan rugi laba.
Hal ini menyebabkan perbedaan pengukuran jumlah pendapatan
yang

akan dilaporkan. Bila kerugian dilaporkan sebagai beban, maka

kerugian tersebut tidak mengurangi pendapatan melainkan mengurangi


laba

kotor. Tetapi akibat perbedaan pedakuan akuntansi ini

tidak

mengubah laba bersih yang akan diperoleh. Dalam transaksi pada Bab III
hal45 PT QIP memperoleh laba kotor dari transaksi penjualannya sebesar
Rpl.245.001,-.{(9.100.000-7.770.499)-84.500}.
Bila menggunakan pendekatan PSAK No.l4 paragraf 28 alinea 38,
maka laba

kotor yang

dihasilkan sebesar Rp

1.329.501,-(9.100.000-

7.770.499). Selisih laba kotor tersebut sebesar Rp84.500,- (1.329.5011.245.001) yaitu kerugian penjualan barang yang rusak. Bila diasumsikan
tidak ada beban lainnya maka laba bersih yang dilaporkan oleh PT QIP
sebesar Rp 1.245.001,- sedangkan menurut PSAK No.l4 paragraf 28
alinea 38 menghasilkan laba bersih sebesar Rp 1.245.001,- (1.329.501 84.500). Jadi yang membedakan hanya pada pelaporan pendapatan dan
laba kotomya saja. Jumal penutup yang hams dilakukan untuk kerugian
barang yang rusak sebagai berikut
J:khtisar rugi laba .................................................84.500
Kerugian penjualan barang yang rusak.............84.500

Akibat dari perbedaan perlakuan akuntansi ini, PT QIP melaporkan


pendapatan dan laba kotor tedalu kecil. Hal ini akan menyebabkan
salahnya pengambilan keputusan oleh manajemen dalam kebijakan
penjualan tunainya.
2. Perlakuan akuntansi untuk pengukuran pendapatan
PT QIP mengukur jumlah pendapatannya sebesar harga jual barang
dan jasa pemasangan. Hal ini disebabkan karena penjualan tunai yang
d:ilakukan secara paket. Bila kita lihat dari segi teori akuntansi penjualan
barang dagangan dan penjualan jasa berbeda definisi. Pemyataan tersebut
tercantum dalam PSAK No.23 paragraf 02 dan paragraf 03. Paragraf 02
menyatakan bahwa penjualan barang meliputi barang yang diproduksi
perusahaan untuk dijual dan barang yang dibeh untuk dijual kembali,
seperti barang yang dibeli pengecer atau tanah dan properti lain yang
dibeli untuk dijual kembali. Sedangkan paragraf 03 menyatakan bahwa
penjualan jasa

biasanya menyangkut pelaksanaan tugas yang

secara

kontraktual telah disepakati untuk dilaksanakan selama suatu periode


waktu yang disepakati.
Penjualan barang dagangan yang dilakukan oleh PT QIP merupakan
penjualan barang dagangan sedangkan pemasangan barang yang

dibeli

merupakan penjualan jasa. Hal ini dapat kita lihat pada syarat penjualan
barang dagangannya, yaitu PT QIP

akan menjual barang dagangannya

dan pemasangan barang yang telah dijualnya. Secara tidak langsung PT


QIP telah melakukan kontraktual jasa yaitu pemasangan barang. Oleh

sebab itu seharusnya PT QIP memisahkan jumlah pendapatan yang


diterima dari penjualan paket pada Bab ill hal 45. Yaitu penjualan dari
barang dagangan sebesar Rp8.100.000,- (sesuai dengan harga jual dari
barang

tersebut)

dan

penjualan

dari

jasa

pemasangan

sebesar

Rpl.OOO.OOO,-.
Jumal yang harus dilakukan untuk mencatat pendapatan sebagai
berikut:
Kas................................................................8.100.000
Pendapatan penjualan......,.............................8.100.000
Kas................................................................l.OOO.OOO
Pendapatan dari biaya pemasangan................ l.OOO.OOO
Akibat dari tidak memisahkan jumlah pendapatan dari penjualan paket ini
akan menyebabkan penjualan dari barang dagangan dicatat lebih. Dan akan
merugikan perusahaan karena pihak manajemen akan melihat pendapatan
dari penjualan barang dagangan sesuai yang dilaporkan pada laporan laba
rugi. Maka akibatnya manajemen akan salah mengambil keputusan untuk
kebijakan

penjualan barang dagangarmya, karena manajemen melihat

pendapatan tersebut hasil dari barang yang dijual bukan dari tambahan
pendapatan jasa, sehingga informasi yang dihasilkan menjadi tidak relevan
(kurang akurat) untuk menganalisa kinerja dari penjualanjasa.
3. Penggantian barangyang rusak atau cacat dinggap retur.
Menurut teori akuntansi, retur merupakan suatu pengembalian barang
yang diakibatkan oleh faktor-falctor seperti kerusakan barang

selama

pengiriman dan

barang yang

cacat. Jika barang dikembalikan maka

pendapatan dari penjualan akan berkurang.


Ada dua kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan bila retur te:rjadi.,
yaitu

penggantian barang yang

rusak

dengan pengembalian

kas

dan

penggantian barang yang rusak dengan barang yang baru. Untuk itu hila retur
penggantian barang dilakukan

atas

barang diretur, maka tidak

akan

mengurangi pendapatan penjualan, sebab barang tersebut tetap te:rjual dan


barang yang rusak tersebut nilainya akan dilaporkan sebagai beban kerugian.
Dan untuk retur dengan pengembalian kas akan mengurangi pendapatan
karena penjualan barang yang rusak dibatalkan oleh pembeli, dan si penjual
mengembalikan kas yang telah diterimanya sesuai dengan harga jual barang
tersebut. Sedangkan untuk barang yang rusak tersebut tetap akan dilaporkan
sebagai beban kerugian. Maka dari itu sesuai. yang telah kita bahas pada
bagian perlakuan

akuntansi

untuk kerugian

dari

barang yang rusak,

dilaporkan sebagai kerugian bukan pengurang pendapatan.


Bila kita melihat dari sisi alasan pihak manajemen dalam mengemukakan
periakuan akuntansinya, memang telah sesuai dengan kondisi dari perusahaan.
Tetapi perlakuan tersebut ada yang perlu dipertimbangkan ulang seperti untuk
membebankan kerugian ke

pendapatan dan menentukan jumlah besamya

pendapatan. Meskipun kerugian tersebut akibat dari transaksi penjualan, tetap


saja bukan pengurang dari pendapatan karena penjualan telah te:rjadi dan barang
rusak diakibatkan bukan oleh faktor penjualan melainkan oleh faktor barang
tersebut. Dan untuk mengukur seberapa jumlah besamya pendapatan tetap harus

dipisahkan dari

penjualan barang, meskipun penjualan tersebut merupakan

penjualan paket.

V.2.2. Penjualan Kredit


Sesuai data yang dipemleh dan diuraikan pada Bab Til, ada transaksi dari
penjualan yang menarik untuk dibahas. Transaksi tersebut adalah penjualan
k.redit

dimana pendapatan ditangguhkan, dan penangguhan tersebut terjadi

dalam satu periode akuntansi dan dua periode akuntansi pelaporan.


B. Evaluasi Perlakuan Akuntansi pada Penjualan Kredit dimana Pendapatan
Ditangguhkan (Dua Periode Akuntansi).
PT QIP melakukan penangguhan pendapatan karena retur yang terjadi
tidak bisa diketahui jumlahnya. Perlakuan akuntansi tersebut di.dukung juga
oleh faktor barang yang mudah rusak yaitu barang jenis spare part. Karena
dalam transaksi ini ada dua periode akuntansi, maka pendapatan akan
diakui dan dilaporkan hingga masa jangka waktu retur telah kadaluarsa
yaitu peri.ode akuntansi berikutnya.
Menurut teori akuntansi, penjualan yang dilakukan oleh PT
merupakan penjualan k.redit

QIP

dan pendapatan harus dilaporkan pada saat

terjadi transaksi atau yang telah memenuhi syarat PSAK No.23 paragraf 13
tentang pengakuan pendapatan pada penjualan barang dagangan. Tetapi
menurut pendapat Dyckman dan Donald E Kieso, retur yang jumlahnya
relatif tinggi pengakuan pendapatan hams ditangguhkan hingga batas waktu
pelanggan dapat meretur atau dapat diakui langsung jika jumlah barang

yang diretur dapat diestimasi. Pemyataan ini ilidukung dalam PSAK No.23
paragraf 16 alinea 4 yaitu pendapatan dapat diakui j:ika penjual dapat
mengestimasi secara andal retur yang akan terjadi berdasarkan pengalaman.
Bila kita lihat dari segi penjualan kredit PT

QIP, penangguhan

pendapatan dikarenakan retur yang relatif tinggi dan t:idak dapat diest:imasi
berdasarkan pengalaman. Oleh sebab itu, PT QIP menggunakan perlakuan
akuntans:i tersebut. Tetapi retur yang terjadi dalam transaksi ini bukan
pengembahan kas melainkan akan iliganti dengan barang yang baru. Sesuai
yang telah dibahas hila ada retur terjadi maka pendapatan dari penjualan
tidak terpengaruh atas retur tersebut, karena penjualan tetap sejumlah
barang yang d:ijual hanya timbul beban kerugian akibat barang yang rusak.
Untuk dapat melaporkan pendapatan secara andal, maka berdasarkan
asumsi.-asumsi ili atas PT QIP seharusnya tidak menangguhkan pendapatan
sampai tahun 2004. Tetapi diakui pada periode terjadi penjualan yaitu
tahun 2003. Bila pendapatan ditangguhkan maka pendapatan yang akan
dilaporkan pada tahun 2003 terlalu kecil.
Ada dua pemecahan yang dapat dilakukan oleh PT QIP untuk tetap
dapat mengakui pendapatannya pada tahun 2003, yaitu:
1.

QIP tetap menangguhkan pendapatan sampai hak retur kadaluarsa.


Tetapi pada akhir periode akuntansi pendapatan tersebut hams diakui
dan b:ila terjadi retur PT QIP harus melakukan jumal penyesuaian untuk
mencatat retur dan pendapatan yang berkurang akibat retur tersebut.
Akibatnya saldo laba awal tahun 2004 harus dikoreksi.

2. Tetap menangguhkan pendapatan sampai hak retur kadarluasa dan pada


akhir periode akuntansi pendapatan dialrui

dengan membuat beban

estimasi untuk mengantisipasi retur yang dibayarkan kas. Bila terjadi


retur maka dibuat jurnal penyesuaian.
Bila menggunakan kedua metode tersebut di atas maka jurnal untuk
mencatat pengakuan dan pengukuran pendapatan sebagai berikut:
1. Pendapatan ditangguhkan sampai akhir tahun buku.
a. Mencatat penjualan kredit dan penangguhan pendapatan.
Piutang usaha......................................l2.000.000
Harga pokok persediaan...............................10.850.000
Laba kotor yang ditangguhkan........................1.150.000
b. Mencatat pembayaran kredit.
Kas.......................................................12.000.000
Piutang usaha......................................... l2.000.000
c. Pada akhir periode akuntansi pendapatan diakui.
Harga pokok penjualan........................10.850.000
Laba kotor yang ditangguhkan.............. 1.150.000
Pendapatan penjualan....................................12.000.000
d. Bila terjadi retur rnaka jurnal penyesuaian untuk mencatat retur dan
pendapatan sebagai berikut:
Spare part yang rusak
Spare part yang bam

Kemgian spare part yang msak


Spare part yang msak
Ikhtisar mgi laba
Kemgian spare part yang msak
Pendapatan tetap diakui sebesar harga jual yang teljadi, karena retur
yang teljadi mempakan penggantian barang yang msak dengan barang
yang bam. Sehingga penjualan yang teljadi sesuai dengan unit yang
dijual. Akibat dari penggantian barang yang msak ini timbul beban
kemgian akibat barang yang

msak dan

kemgian tersebut tidak

mengurangi pendapatan. Tetapi kemgian tersebut akan mengurangi


perolehan laba bersih, maka dari itu saldo laba awal tahun 2004 hams
dikoreksi.
2. Membuat beban estimasi untuk mengantisipasi retur yang dibayarkan

kas.
a. Mencatat penjualan kredit dan penangguhan pendapatan.
Piutang usaha...................................... l2.000.000
Harga pokok persediaan............................10.850.000
Laba kotor yang ditangguhkan.....................1.150.000
b. Mencatat pembayaran kredit
Kas....................................................... l2.000.000
Piutang usaha.........................................12.000.000

c. Pada akhir periode akuntansi pendapatan diakui.


Harga pokok penjualan........................ l0.850.000
Laba kotor yang ditangguhkan............ 1.150.000
Pendapatan penjualan......................12.000.000
d. Membuat ayat jurnal beban estimasi pada kewajiban estimasi
Behan estimasi
Kewajiban estimasi
e. Bila terjadi retur dengan penggantian kas
Kewajiban estimasi
Kas
f. Bila tidak terjadi retur

Kewajiban estimasi

xxxxx

Beban estimasi
g. Bila retur terjadi penggantian barang, maka jumal yang dibuat sama
dengan metode pertama.
Dalam transaksi penjualan kredit ini PT QIP tidak menerima barang
yang

diretur dan pendapatan dialrui pada tahun 2004. Bila menggunakan

kedua metode tersebut diatas maka pendapatan dilaporkan pada tahun 2003
yaitu sebesar Rp 12.000.000,- sama dengan yang dilaporkan oleh PT QIP
pada tahun 2004. Sehingga bila PT QIP mengakui pendapatan pada tahun
2003, maka pendapatan yang dilaporkan benar-benar merupakan kinerja
perusahaan pada tahun 2003 bukan tahun 2004 dan informasi menjadi
relevan untuk pengambilan keputusan.

A Evaluasi Perlakuan Akuntansi pada Penjualan Kredit dimana Pendapatan


Ditangguhkan (Satu Periode Akuntansi).
Kebijakan ak:untansi yang digunakan pada transaksi ini sama dengan
penjualan kredit dalam dua periode akuntansi, yaitu pendapatan sama-sama
ditangguhkan sampai hak retur kadaluarsa. Tetapi dalam kasus ini berbeda,
penjualan dan kadarluasa hak retur terjadi dalam satu periode akuntansi.
Sehingga pendapatan yang ditangguhkan maupun diakui langsung pada saat
terjadi penjualan tidak berpengaruh terhadap pelaporan pendapatan pada
tahun yang bersangkutan.
Seharusnya pihak manajemen mengakui pendapatannya sesuai dengan
teori akuntansi penjualan kredit, yaitu diakui pada saat penjualan. Sebab
pendapatan yang akan diperoleh tidak dipengaruhi oleh periode akuntansi.
Bila transaksi ini kita sesuaikan dengan teori akuntansi, maka jumal untuk
pengakuan dan pengukuran pendapatan yang digunakan sebagai berikut:

l. Untuk mencatat pendapatan pada saat terjadi penjualan.


Piutang usaha..............................................15.550.000
Pendapatan penjualan....................................15.550.000
Harga pokok penjualan.....................................l2.961.665
5 unit Filter TR 3000KVA 1533 lt......................12.961.665
2.

Mencatat pembayaran dengan potongan tunai


Kas.............................. 3.995.000
Potongan tunai.................1.555.000
Piutang usaha....................15.550.000