Anda di halaman 1dari 65

MAKALAH

Millennium Development Goals (MDGs)

Oleh :
Agustya Dwi Ariani

0718011041

Atika Damayanti

0618011011

Ayu Kesuma Wardhani

0718011008

Deby Purwanto

0418011010

Eka Ririn Marantika

0618011011

Trio Wicaksono

0718011088

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN KOMUNITAS
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013
A. Latar Belakang

1. Sejarah MDGs (Millennium Development Goals)


Kehidupan yang layak dan kesejahteraan penduduk merupakan tujuan dari
pembangunan di setiap negara, agar keadaan bumi yang aman, makmur, dan
sejahtera dapat tercapai. Untuk mewujudkan semua itu, pada Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa -Bangsa (PBB) bulan
September 2000 di New York, sebanyak 189 negara anggota PBB yang
diwakili oleh kepala negara dan kepala pemerintahan sepakat untuk
melahirkan sebuah deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) atau
dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Tujuan Pembagunan Millenium.
Dasar hukum dikeluarkannya deklarasi MDGs adalah Resolusi Majelis
Umum Perserikatan Bangsa Bangsa Nomor 55/2 Tangga 18 September 2000,
(A/Ris/55/2 United Nations Millennium Development Goals).
Deklarasi itu berdasarkan pendekatan yang inklusif, dan berpijak pada
perhatian bagi pemenuhan hak-hak dasar manusia. Di dalam KTT Milenium
tersebut juga dihasilkan konsensus yang merangkai upaya-upaya untuk
mencapai tujuan MDGs dengan perhatian utama pada hak asasi manusia, tata
pemerintahan yang baik, demokratisasi, pencegahan konflik, dan
pembangunan perdamaian.
Pada mulanya, MDGs merupakan sebuah review atas kebijakan
pembangunan yang dikeluarkan oleh OECD-DAC pada pertengahan tahun
1990 dan kemudian dimasukkan kedalam Tujuan Pembangunan Internasional
(Internasional Development Goals) tahun 2000 dan direvisi menjadi Tujuan
Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals) pada KTT
Milenium. Setiap tujuan (goal) dari MDGs memiliki satu atau beberapa target
dengan beberapa indikatornya. MDGs memiliki 8 tujuan, 18 target, dan 48
indikator yang telah disusun oleh konsensus para ahli dari sekertariat PBB,
Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan
Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia.

Masing-masing indikator digunakan untuk memonitor perkembangan


pencapaian setiap tujuan dan target. Selain Tujuan Pembangunan Milenium
(MDGs), ada beberapa tujuan pembangunan yang lain ditetapkan pada
dekade 1960-an hingga 1980-an. Sebagian terlahir dari konferensi global
yang diselenggarakan PBB pada 1990-an, termasuk KTT Dunia untuk Anak,
Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua 1990 di Jomtien,
Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan 1992 di Rio de
Janeiro, serta KTT Dunia untuk Pembangunan Sosial 1995 di Copenhagen.
MDGs tidak bertentangan dengan komitmen global yang sebelumnya karena
sebagian dari MDGs itu telah dicanangkan dalam Tujuan Pembangunan
Internasional (IDG), oleh negara-negara maju yang tergabung dalam OECD
pada 1996 hingga selanjutnya diadopsi oleh PBB, Bank Dunia dan IMF.
Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian berkaitan dengan MDGs
adalah sebagai berikut:
1. MDGs bukan tujuan PBB, sekalipun PBB merupakan lembaga yang aktif
terlibat dalam promosi global untuk merealisasikannya. MDGs adalah
tujuan dan tanggungjawab dari semua negara yang berpartisipasi dalam
KTT Milenium, baik pada rakyatnya maupun secara bersama antar
pemerintahan.
2. Tujuh dari delapan tujuan telah dikuantitatifkan sebagai target dengan
waktu pencapaian yang jelas, hingga memungkinkan pengukuran dan
pelaporan kemajuan secara objektif dengan indikator yang sebagian besar
secara internasional dapat diperbandingkan
3. Tujuan-tujuan dalam MDGs saling terkait satu dengan yang lain.
4. Dengan dukungan PBB, terjadi upaya global untuk memantau kemajuan,
meningkatkan perhatian, mendorong tindakan dan penelitian yang akan
menjadi landasan intelektual bagi reformasi kebijakan, pembangunan
kapasitas dan memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk
mencapai semua target.
5. Delapan belas target dan lebih dari 40 indikator terkait ditetapkan untuk
dapat dicapai dalam jangka waktu 25 tahun antara 1990 dan 2015

Sekalipun MDGs merupakan sebuah komitmen global tetapi diupayakan


untuk lebih mengakomodasikan nilai-nilai lokal sesuai dengan karakteristik
masing-masing negara sehingga lebih mudah untuk diaplikasikan. Dalam
sidang umum PBB yang ke-60 pada tanggal 14-16 September 2005,
dilakukan juga evaluasi pelaksanaan lima tahun MDGs. Dalam evaluasi
tersebut dikatakan bahwa 50 negara gagal mencapai paling sedikit satu target
MDGs. Sedangkan 65 negara lainnya beresiko untuk sama sekali gagal
mencapai paling tidak satu MDGs hingga 2040. Sehingga hingga kini, MDGs
masih menjadi suatu perdebatan tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai
dalam MDGs, sumber daya yang dibutuhkan dan bagaimana cara pencapaian
MDGs.
2. Keikutsertaan Indonesia dalam MDGs
Sejak Indonesia tergabung dalam keanggotaan PBB, secara otomatis
Indonesia banyak telibat dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan oleh PBB. Keikutsertaan Indonesia dalam Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bulan
September 2000 dan menandatangani Millenium Development Goals
(MDGs), menjadikan Indonesia harus berusaha untuk turut menyukseskan
MDGs sebagai komitmen global. Indonesia menyadari bahwa MDGs bukan
tujuan PBB, sekalipun PBB merupakan lembaga yang aktif terlibat dalam
promosi global untuk merealisasikannya. MDGs adalah tujuan dan tanggung
jawab dari semua negara yang berpartisipasi dalam KTT Milenium, baik pada
rakyatnya maupun secara bersama antar pemerintahan. Penggunaan indikator
MDGs akan merangsang lembaga-lembaga pemerintah dan swasta di tingkat
daerah untuk menyatukan upaya pembangunan. Sehingga bisa dihasilkan
sinergi positif yang menguntungkan rakyat banyak. Karena persatuan dan
kesatuan yang terjadi pada tingkat penduduk, terutama pada tingkat rakyat
banyak (grass root level) memerlukan pelayanan manusiawi dan dikemudian
hari bisa menikmatinya, merupakan sumbangan pembangunan yang sangat
dibutuhkan.

B. Deskripsi MDGs (Tujuan, Target, dan Indikator)

GOAL 1
Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan
TARGET 1
Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah
$1 (PPP) per hari menjadi setengahnya antara 1990-2015
INDIKATOR 1
Proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional
Konsep dan definisi
Proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya terletak di bawah garis
kemiskinan nasional yang disepakati resmi pemerintah. Garis kemiskinan ini
merupakan batas pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
minimal kalori yang diperlukan tubuh untuk beraktivitas, ditambah dengan
kebutuhan non makanan (perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan,
transpor dan kebutuhan pokok lainnya). Karena data pendapatan tidak
tersedia, maka dipakai pendekatan data konsumsi (pengeluaran). Termasuk
pengeluaran adalah perkiraan nilai barang dan jasa yang dikonsumsi berasal
dari hasil produksi sendiri dan pemberian dari pihak lain.
Manfaat
Setiap individu membutuhkan kalori untuk dapat melaksanakan kegiatan
sehari-hari (Indonesia menetapkan batas minimum 2100 kkal per kapita per
hari), fasilitas rumah, pakaian, pendidikan, kesehatan, transportasi dan
kebutuhan pokok lainnya. Indikator ini digunakan untuk mengukur
keberhasilan pemerintah dan masyarakat mengangkat kaum miskin agar
hidup layak.

Metode Perhitungan
Garis kemiskinan nasional dihitung sebagai berikut:

Menghitung rata-rata tertimbang harga kalori yang diperlukan dari 52


komoditas makanan.

Mengalikan harga tersebut dengan 2100, yang merupakan batas


kemiskinan makanan per kapita per hari.

Menghitung nilai pengeluaran per kapita non makanan.

Menjumlahkan nilai pengeluaran makanan dan non makanan per kapita,


yang dinamakan garis kemiskinan.

Menghitung proporsi penduduk miskin (Po) dengan cara membagi jumlah


penduduk miskin dengan jumlah penduduk (dinyatakan dalam persentase),
yang diformulasikan sebagai berikut:

Banyaknya penduduk
miskin

Po =

X 100%

Jumlah penduduk

INDIKATOR 2
Proporsi penduduk dengan tingkat pendapatan kurang dari $1 (PPP) per hari
Konsep dan definisi
Proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya kurang dari $1 per kapita per
hari adalah persentase penduduk yang hidup dengan pendapatan di bawah $1
(PPP) per hari. Nilai dolar dimaksud adalah nilai dolar berdasarkan Paritas
Daya Beli atau Purchasing Power Parity (PPP) yang konversinya
denganmata uang lokal berdasarkan harga tahun 1993.
Manfaat
Indikator ini dipakai untuk memonitor kemajuan upaya pengentasan
kemiskinan setiap negara serta untuk memonitor tren kemiskinan pada tingkat
global.

Metode Perhitungan
Penghitungannya menggunakan formula sebagai berikut:
Banyaknya penduduk miskin dengan
Po (dolar PPP) =

pendapatan di bawah $ 1 PPP

X 100%

Jumlah penduduk
Sumber data:
Dihitung oleh Bank Dunia berdasarkan hasil survei dari setiap Negara
INDIKATOR 3
Rasio kesenjangan kemiskinan
Konsep dan definisi
Rasio kesenjangan kemiskinan adalah jumlah rasio antara selisih pendapatan
orang miskin dengan garis kemiskinan terhadap garis kemiskinan itu sendiri,
dibagi dengan jumlah penduduk.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk mengukur "defisit kemiskinan" sehingga dapat
diketahui besar dana per kapita yang diperlukan untuk mengangkat penduduk
miskin ke garis kemiskinan.
Metode Perhitungan
Rasio kesenjangan kemiskinan:

Po =

dimana:
PG = Rasio kesenjangan kemiskinan

Z
q
Y1
n

(proverty gap)
= garis kemiskinan
= jumlah penduduk miskin
= pendapatan individu penduduk miskin
= jumlah penduduk

Sumber data:
BPS (Modul Susenas)
INDIKATOR 4
Kontribusi kuantil termiskin terhadap konsumsi nasional
Konsep dan definisi
Kontribusi penduduk kuantil termiskin (Km) adalah proporsi konsumsi dari
20 persen lapisan penduduk berpendapatan terendah terhadap konsumsi
nasional
Manfaat
Indikator ini memberikan informasi mengenai ketimpangan pendapatan
dalam masyarakat, dan disebut juga "ukuran" ketimpangan relatif.
Metode Perhitungan
Pendapatan (konsumsi) setiap rumah tangga diperoleh dari survei. Pendapatan
ini dibagi dengan banyaknya anggota setiap rumah tangga untuk
mendapatkan pendapatan (konsumsi) per kapita. Selanjutnya penduduk
diurutkan menurut besarnya pendapatan per kapita. Pendapatan 20 persen
penduduk paling rendah dijumlahkan dan dihitung persentasenya terhadap
total pendapatan (konsumsi).
Rumus yang digunakan:
Jumlah pendapatan (konsumsi) penduduk kuantil
Km=

termiskin (20 persen terendah)


Total pendapatan (konsumsi) penduduk

X 100%

Sumber data:
BPS (Susenas)
TARGET 2
Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi
setengahnya antara 1990-2015
INDIKATOR 5
Prevalensi balita kurang gizi (BKG)
Konsep dan definisi
BKG adalah perbandingan antara balita berstatus kurang gizi dengan balita
seluruhnya. Prevalensi status gizi balita diperoleh melalui indeks berat badan,
umur, dan jenis kelamin. Kategori status gizi ditentukan dengan
menggunakan standar NCHS-WHO, yang dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan
Z-score yaitu:
(1) gizi lebih (Z-score >= +2)
(2) gizi normal (-2 < Z-score < +2)
(3) gizi kurang (-3 < Z-score < -2)
(4) gizi buruk (Z-score <= -3)
Manfaat
Anak kurang gizi memiliki kemungkinan risiko kematian yang tinggi,
menghambat pertumbuhan dan mempengaruhi status kesehatannya
dikemudian hari. Privalensi balita kurang gizi secara universal digunakan
sebagai indikator untuk memonitor status kesehatan penduduk.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya balita kurang
BKG =

gizi
Jumlah balita

X 100%

Sumber data:
BPS (Survei Garam Yodium) dan Departemen Kesehatan
INDIKATOR 6
Proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum (2100
kkal per kapita per hari)
Konsep dan definisi
Proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi
minimum(PDKM)adalah perbandingan banyaknya penduduk yang tingkat
konsumsinya berada di bawah tingkat konsumsi minimum nasional yang
dinyatakan dalam persentase. Di Indonesia, minimum kalori yang ditetapkan
adalah 2100 kkal per kapita per hari.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk mengukur pentingnya aspek ketersediaan
pangan kepada penduduk. Pembangunan berkelanjutan memerlukan usaha
konkrit untuk mengurangi kemiskinan serta mencari solusi menghilangkan
kelaparan dan kekurangan gizi.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya penduduk yang tingkat
PDKM =

konsumsinya lebih rendah dari 2100 kkal


Jumlah penduduk

Sumber data:
BPS (Modul Susenas)

GOAL 2
Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua

X 100%

TARGET 3
Memastikan pada 2015 semua anak-anak dimanapun, laki-laki maupun
perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar
INDIKATOR 7
Memastikan pada 2015 semua anak-anak dimanapun, laki-laki maupun
perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar
Konsep dan definisi
Angka pertisipasi murni sekolah dasaradalah perbandingan antara murid
sekolah dasar (SD), usia 7-12 tahun termasuk Madrasah Ibtidaiyah (MI),
dengan penduduk usia 7-12 tahun, dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini dipakai untuk memonitor pencapaian tujuan pendidikan dasar
yang diidentifikasi oleh MDGs, khususnya pendidikan sekolah dasar atau
setingkat, termasuk MI.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya murid sekolah dasar usia 7-12
tahun

APM-SD =

X 100%

Banyaknya penduduk usia 7-12 tahun

INDIKATOR 8
Angka partisipasi murni di sekolah menengah pertama (APM-SMP)
Konsep dan definisi
APM di SMP adalah perbandingan antara murid SMP usia 13-15 tahun

termasuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan penduduk usia 13-15 tahun,


dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk memonitor pencapaian tujuan pendidikan dasar
yang diidentifikasi dalam MDGs khususnya pendidikan wajib belajar 9 tahun
dalam program nasional (Indonesia), termasuk MTs.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya murid SMP usia 13-15
tahun
APM-SMP =

X 100%
Banyaknya penduduk usia 13-15
tahun

Sumber:
BPS (Kor Susenas dan Supas), dan Departemen Pendidikan Nasional
INDIKATOR 9
Proporsi murid kelas 1 yang berhasil mencapai kelas 5
Konsep dan definisi
Proporsi murid kelas 1 yang berhasil mencapai kelas 5 (PM1-5) adalah
proporsi murid pada cohort murid kelas 1 yang memasuki sekolah dasar pada
tahun ajaran tertentu dan berhasil mencapai kelas 5, dinyatakan dalam
persentase.
Manfaat
Indikator ini dikenal sebagai survival rate kelas 5, dan digunakan untuk
mengukur keberhasilan sistem pendidikan yang dapat mengantarkan murid
naik dari satu kelas ke kelas berikutnya.

Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya murid kelas 5
PM 1-5
=

Banyaknya murid kelas 1 lima tahun

X 100%

yang lalu
Sumber data:
BPS (Kor Susenas) dan Departemen Pendidikan Nasional
Catatan: Depdiknas memakai istilah AB (Angka Bertahan)
Proporsi murid yang berhasil menamatkan pendidikan di tingkat dasar
Pada MDGs nasional indikator ini dipilah menjadi 2 yaitu:

Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan sekolah dasar

Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menyelesaikan 9 tahun pendidikan


dasar

INDIKATOR 10
Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan Sekolah Dasar
Konsep dan definisi
Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan Sekolah Dasar adalah
banyaknya murid kelas 1 yang berhasil menamatkan pendidikannya di sekolah
dasar pada tahun tertentu terhadap jumlah penduduk yang berusia 12 tahun,
dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk memonitor cakupan pendidikan dan kemajuan
murid untuk menamatkan pendidikan di sekolah dasar tanpa memperhatikan
apakah pernah mengulang di suatu kelas.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya murid yang tamat SD


PMT-SD =

Banyaknya penduduk usia 12

X 100%

tahun

INDIKATOR 11
Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menyelesaikan sembilan tahun
pendidikan dasar.
Konsep dan definisi
Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menyelesaikan sembilan tahun
pendidikan dasar (PMT-SMP) adalah banyaknya murid kelas 1 yang berhasil
menyelesaikan pendidikan 9 tahun (tamat SMP termasuk MTs) pada tahun
tertentu terhadap jumlah penduduk berusia 15 tahun, dinyatakan dalam
persentase.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk memonitor cakupan pendidikan dan kemajuan
murid untuk menamatkan pendidikan hingga tingkat SMP (wajib belajar 9
tahun dari program pemerintah Indonesia), tanpa memperhatikan apakah
pernah mengulang di suatu kelas.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya murid yang tamat


SMP

PMT-SMP =

Jumlah penduduk usia 15 tahun


Sumber data:
Departemen Pendidikan Nasional

X 100%

INDIKATOR 12
Angka melek huruf (AMH) penduduk usia 15-24 tahun
Konsep dan definisi
AMH penduduk usia 15-24 tahun adalah perbandingan jumlah penduduk
berusia 15-24 tahun yang dapat membaca dan menulis kalimat sederhana
dengan huruf latin dengan jumlah penduduk usia 15-24 tahun.
Manfaat
AMH pemuda merefleksikan out come pendidikan dasar sejak 10 tahun
terakhir sebagai ukuran efektifnya sistem pendidikan dasar. Indikator ini
kerap dilihat sebagai proksi untuk mengukur kemajuan pembangunan sosial
dan ekonomi.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya penduduk usia 15-24 tahun
AMH 15-24 =

yang melek huruf

X 100%

Jumlah penduduk usia 15-24 tahun


Sumber data:
BPS (Kor Susenas)

GOAL 3
Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
TARGET 4
Menghilangkan Ketimpangan Gender di Tingkat Pendidikan Dasar dan

Lanjutan pada 2005 dan di Semua Jenjang Pendidikan Tidak Lebih dari
2015
INDIKATOR 13
Rasio angka partisipasi murni (RAPM) anak perempuan terhadap anak lakilaki di tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi
Konsep dan definisi
RAPM anak perempuan terhadap anak laki-laki di tingkat pendidikan dasar,
menengah dan tinggi adalah perbandingan APM murid/mahasiswa perempuan
yang bersekolah pada setiap jenjang pendidikan di sekolah negeri dan swasta
terhadap APM murid/mahasiswa laki-laki.
Jenjang pendidikan meliputi:

Sekolah dasar dan yang setingkat untuk usia 7-12 tahun

Sekolah menengah pertama dan yang setingkat untuk usia 13-15 tahun

Sekolah menengah umum dan yang setingkat untuk usia 16-18 tahun

Perguruan tinggi dan yang setingkat untuk usia 19-24 tahun

Manfaat
Indikator kesempatan memperoleh pendidikan antara perempuan dan laki-laki
diukur dari rasio APM yang menunjukkan kesetaraan dan keadilan gender di
bidang pendidikan. Pendidikan adalah salah satu aspek penting dari
pembangunan manusia. Menghilangkan ketimpangan gender di semua jenjang
pendidikan akan meningkatkan status dan kemampuan perempuan. Karena
jumlah penduduk perempuan adalah separuh dari seluruh jumlah penduduk,
pendidikan perempuan merupakan determinan yang penting dalam
pembangunan ekonomi
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
RAPM-SD =

APM - P

X 100%

APM - L
APM - P
RAPM - SMP =

X 100%
APM - L

APM - P
RAPM - SMU =

X 100%
APM - L
APM - P

RAPM - PT =

X 100%
APM - L

Sumber data:
BPS (Kor Susenas dan Supas), dan Departemen Pendidikan Nasional
INDIKATOR 14
Rasio angka melek huruf (RAMH) perempuan terhadap laki-laki usia 15-24
tahun
Konsep dan definisi
RAMH perempuan terhadap laki-laki usia 15-24 tahun adalah perbandingan
antara RAMH penduduk perempuan terhadap RAMH penduduk laki-laki
yang berumur 15-24 tahun, dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator kesempatan memperoleh pendidikan antara perempuan dan laki-laki
diukur dari RAMH yang menunjukkan kesetaraan dan keadilan gender di
bidang pendidikan. Indikator ini merupakan indikator kunci pemberdayaan
perempuan di masyarakat.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

RAMH 15-24 = AMH perempuan usia 15-24 tahun

X 100%

AMH laki-laki usia 15-24 tahun


Sumber:
BPS (Kor Susenas dan Supas), dan Departemen Pendidikan Nasional
INDIKATOR 15
Kontribusi pekerja upahan perempuan di sektor non pertanian (KPPNP)
Konsep dan definisi
KPPNP adalah perbandingan antara pekerja upahan perempuan di sektor non
pertanian terhadap total pekerja upahan di sektor tersebut, dan dinyatakan
dalam persentase. Sektor non pertanian adalah semua sektor kegiatan
ekonomi di luar pertanian sesuai dengan Klasifikasi Lapangan Usaha
Indonesia (KLUI). Sektor non pertanian terdiri dari pertambangan dan
penggalian, industri pengolahan, energi dan air bersih, konstruksi,
perdagangan, pengangkutan, perbankan dan lembaga keuangan, serta jasa
pemerintah/swasta.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk mengukur tingkat keterbukaan pasar kerja bagi
perempuan di sektor non pertanian, yang tidak hanya mengetahui pengaruh
kesempatan kerja yang adil tetapi juga untuk mengetahui efisiensi ekonomi
melalui fleksibelitas pasar kerja serta mengatur kemampuan ekonomi untuk
menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Indikator ini merupakan salah
satu aspek partisipasi perempuan dalam kehidupan publik.

Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya pekerja upahan perempuan di sektor non


pertanian

KPPNP =

X 100%

Banyaknya pekerja upahan di sektor non pertanian


Sumber data:
BPS (Sakernas, Kor Susenas)
INDIKATOR 16
Proporsi kursi DPR atau DPRD yang diduduki perempuan
Konsep dan definisi
Proporsi kursi DPR atau DPRD yang diduduki perempuan adalah
perbandingan banyaknya kursi DPR atau DPRD yang diduduki perempuan
terhadap total kursi DPR atau DPRD, dan dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Perwakilan perempuan di parlemen merupakan salah satu aspek kesempatan
perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya anggota DPR atau


DPRD perempuan

RPDPR atau
DPRD =

Jumlah anggota DPR atau DPRD


Sumber data:
Sekretariat DPR atau DPRD

X 100%

GOAL 4
Menurunkan Angka Kematian Anak
TARGET 5
Menurunkan Angka Kematian Balita Sebesar Dua Pertiganya, antara
1990-2015
INDIKATOR 17
Angka kematian balita (Akaba)
Konsep dan definisi
Akaba adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal
sebelum mencapai usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1000 kelahiran
hidup. Nilai normatif Akaba > 140 sangat tinggi, antara 71 140 sedang dan
< 20 rendah.
Manfaat
Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan
merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan anak-anak bertempat
tinggal termasuk pemeliharaan kesehatannya. Akaba kerap dipakai untuk
mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk.
Mengingat kegiatan registrasi penduduk di Indonesia belum sempurna
sumber data ini belum dapat dipakai untuk menghitung Akaba. Sebagai
gantinya Akaba dihitung berdasarkan estimasi tidak langsung dari berbagai
survei. Brass.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Akaba =

Banyaknya penduduk yang meninggal pada


usia kurang dari 5 tahun

X 1000

Banyaknya balita
Sumber data:
BPS (SP, SDKI, Kor Susenas) dan Departemen Kesehatan
INDIKATOR 18
Angka kematian bayi (AKB)
Konsep dan definisi
AKB adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun
AKB per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Nilai normatif AKB
kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock), antara 4070 tergolong sedang namun sulit untuk diturunkan, dan lebih besar dari 70
tergolong mudah untuk diturunkan.
Manfaat
Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan
merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan anak-anak bertempat
tinggal termasuk pemeliharaan kesehatannya. AKB cenderung lebih
menggambarkan kesehatan reproduksi dari pada Akaba. Meskipun target
program terkait khusus dengan kematian balita, AKB relevan dipakai untuk
memonitor pencapaian target program karena mewakili komponen penting
pada kematian balita.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya kematian bayi (di bawah 1 tahun) selama


AKB =

tahun tertentu
Banyaknya kelahiran hidup

Sumber data:
BPS (SP, SDKI, Kor Susenas) dan Departemen Kesehatan

X 1000

INDIKATOR 19
Proporsi imunisasi campak (PIC) pada anak yang berusia 1 tahun (12-23
bulan)
Konsep dan definisi
PIC adalah perbandingan antara banyaknya anak berumur 1 tahun yang telah
menerima paling sedikit satu kali imunisasi campak terhadap jumlah anak
berumur 1 tahun, dan dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini merupakan suatu ukuran cakupan dan kualitas sistem
pemeliharaan kesehatan anak di suatu wilayah. Imunisasi adalah unsur
penting untuk mengurangi kematian balita.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya anak usia 12-23 bulan yang telah diimunisasi


campak sekurang-kurangnya 1 kali

PIC =

Jumlah anak yang berumur 12-23 bulan


Sumber data:
BPS (SDKI, Kor Susenas), dan Departemen Kesehatan

GOAL 5
Meningkatkan Kesehatan Ibu
TARGET 6
Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar Tiga Perempatnya Antara
tahun 1990-2015

X 100%

INDIKATOR 20
Angka kematian Ibu (AKI)
Konsep dan definisi
AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian
terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk
kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam
masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama
kehamilan per 100 000 kelahiran hidup. AKI diperhitungkan pula pada jangka
waktu 6 minggu hingga setahun setelah melahirkan.
Manfaat
Indikator ini secara langsung digunakan untuk memonitor kematian terkait
dengan kehamilan. AKI dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk status
kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan
melahirkan.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya kematian ibu yang berkaitan dengan kehamilan,


AKI =

persalinan dan masa nifas pada tahun tertentu


Jumlah kelahiran hidup pada periode yang sama

Metode alternatif adalah mereview semua kematian wanita pada usia


reproduksi (Reproductive Age Mortality Survei atau RAMOS).
Sumber data:
BPS (SP, SDKI, Supas, Kor Susenas), dan Departemen Kesehatan

X 100 000

INDIKATOR 21
Proporsi Pertolongan Kelahiran (PPK) oleh Tenaga Kesehatan Terlatih (TKT)
Konsep dan definisi
PPK oleh TKT adalah perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh
tenaga kesehatan terlatih, seperti dokter, bidan, perawat, dan tenaga medis
lainnya dengan jumlah persalinan seluruhnya, dan dinyatakan dalam
persentase.
Manfaat
Mengukur kematian ibu secara akurat adalah sulit, kecuali tersedia data
registrasi yang sempurna tentang kematian dan penyebab kematian. Oleh
karena itu sebagai proksi indikator digunakan proporsi pertolongan kelahiran
oleh tenaga kesehatan terlatih.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan


PPK-TKT =

terlatih

X 100%

Jumlah persalinan seluruhnya pada periode yang sama


Sumber data:
BPS (SDKI, Kor Susenas), dan Departemen Kesehatan
INDIKATOR 22
Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun (PUS)
Konsep dan definisi
KB pada PUS adalah perbandingan antara PUS yang menggunakan salah satu
alat kontrasepsi dengan jumlah PUS biasanya dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini berguna untuk mengukur perbaikan kesehatan ibu melalui

pengaturan kelahiran. Indikator ini juga digunakan sebagai proksi untuk


mengukur akses terhadap pelayanan reproduksi kesehatan yang sangat
esensial.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya PUS yang memakai salah satu
KB =

kontrasepsi

X 100%

Jumlah PUS
Sumber data:
BPS (SDKI, Supas, Kor Susenas), dan BKKBN

GOAL 6
Memerangi HIV/AIDS, Malaria, & Penyakit Menular Lainnya
TARGET 7
Mengendalikan Penyebaran HIV/AIDS dan Mulai Menurunnya Jumlah
Kasus Baru pada 2015
INDIKATOR 23
Prevalensi HIV/AIDS ibu hamil (PHIV-BUMIL) yang berusia antara 15-24
tahun
Konsep dan definisi
HIV-bumil yang berusia 15-24 tahun adalah perbandingan antara ibu hamil
berusia 15-24 tahun yang hasil tes darahnya positif mengidap HIV/AIDS
terhadap semua ibu hamil pada kelompok usia yang sama yang dites sampel
darahnya, dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk mengukur penyebaran epidemi HIV/AIDS.

Akses terhadap pengobatan masih sangat jarang dan belum ada vaksin yang
tersedia. Prevalensi HIV dimonitor pada kelompok dengan perilaku berisiko
tinggi sangat sulit oleh sebab itu digunakan proksi indikator HIV-bumil
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya ibu hamil berusia 15-24 tahun yang dites


sampel darahnya posi tif mengidap HIV/AIDS
HIV-Bumil =

X 100%
Semua ibu hamil pada kelompok umur yang sama yang
dites darahnya

Sumber data:
Departemen Kesehatan
INDIKATOR 24
Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi
Konsep dan definisi
Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi adalah
perbandingan penduduk usia 15-24 tahun yang melakukan hubungan seks
paling akhir dengan pasangan tidak tetap menggunakan kondom pada 12
bulan terakhir terhadap banyaknya penduduk pada usia 15-24 tahun yang
melakukan hubungan seks dengan pasangan tidak tetap, dinyatakan dalam
persentase.
Manfaat
Penggunaan kondom yang konsisten dengan pasangan tidak tetap akan
mengurangi risiko penularan HIV/AIDS saat berhubungan seks. Penggunaan
kondom merupakan suatu ukuran untuk proteksi terkena HIV/AIDS.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya penduduk usia 15-24 tahun yang memakai


kondom saat berhubungan seks paling akhir dengan
pasangan tidak tetap selama 12 bulan terakhir
PK-HSBT =

X 100%
Banyaknya penduduk usia 15-24 tahun yang melakukan
hubungan seks dengan pasangan tidak tetap pada 12 bulan
terakhir

Sumber data:
Departemen Kesehatan

INDIKATOR 25
Angka penggunaan kondom
Konsep dan definisi
Angka penggunaan kondom adalah perbandingan antara PUS yang memakai
kondom pada saat melakukan hubungan seks terhadap semua PUS yang
dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Angka penggunaan kondom digunakan untuk memonitor kemajuan
penghambatan dan pembalikan penyebaran HIV/AIDS sebab pemakaian
kondom adalah metode kontrasepsi yang efektif mengurangi penyebaran
HIV/AIDS. Karena angka penggunaan kondom diukur hanya pada wanita,
maka pendekatan ini perlu di suplemen dengan indikator penggunaan kondom
dalam hubungan seks dengan pasangan yang berisiko tinggi.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Angka penggunaan kondom =

Banyaknya PUS yang


memakai kondom

X 100%

Jumlah PUS
Sumber data:
BPS, BKKBN dan Departemen Kesehatan
INDIKATOR 26
Persentase penduduk berumur 15-24 tahun yang mempunyai pengetahuan
komprehensif tentang HIV/AIDS (PPK-HIV/AIDS)
Konsep dan definisi
PPK-HIV/AIDS adalah perbandingan penduduk usia 15-24 tahun yang
mempunyai pengetahuan komprehensif tentang bahaya penyakit HIV/AIDS
terhadap penduduk kelompok usia yang sama, dan dinyatakan dalam
persentase. Pengetahuan yang komprehensif tentang HIV/AIDS, meliputi
bahaya penyakit yang merusak kekebalan tubuh dan cara pencegahan
penularannya.
Manfaat
Indikator ini dapat digunakan untuk mengukur efektifitas keberhasilan
penyebarluasan informasi, pendidikan, program komunikasi, dan upayaupaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang cara pencegahan penularan
penyakit HIV/AIDS.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya penduduk berumur 15-24 tahun yang
mempunyai pengetahuan komprehensif tentang
PPK-HIV/AIDS =

HIV/AIDS
Jumlah penduduk berumur 15-24 tahun

Sumber data:
BPS (SDKI, SSP)

X 100%

INDIKATOR 27
Rasio kehadiran sekolah anak yatim piatu (RKS-YP) terhadap kehadiran
sekolah anak bukan yatim piatu berusia 10-14 tahun
Konsep dan definisi
RKS-YP terhadap kehadiran sekolah anak bukan yatim piatu berusia 10-14
tahun adalah perbandingan banyaknya anak sekolah yatim piatu yang
kehilangan ibu atau bapak atau keduanya karena HIV/AIDS sebelum berusia
15 tahun terhadap anak sekolah pada kelompok umur yang sama yang tidak
yatim piatu, dan dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator kehadiran sekolah anak yatim piatu dapat digunakan untuk
memonitor program bantuan pendidikan untuk anak-anak yang yatim piatu
karena orang tuanya menjadi korban HIV/AIDS.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Angka kehadiran sekolah anak usia 10-14 tahun yatim piatu


karena HIV/AIDS
RKS-YP =

X 100%
Angka kehadiran sekolah anak yatim piatu pada usia 10-14
tahun

TARGET 8
Mengendalikan Penyakit Malaria dan Mulai Menurunnya Jumlah Kasus
Malaria dan Penyakit Lainnya
INDIKATOR 28
Prevalensi malaria dan angka kematiannya

Konsep dan definisi


Prevalensi malaria adalah banyaknya kasus malaria per 100.000 penduduk.
Angka kematian yang disebabkan ole h malaria adalah banyaknya kematian
per 100.000 penduduk.
Manfaat
Digunakan untuk memonitor daerah yang mengalami endemi tinggi malaria
yang disinyalir meningkat pada dua dekade terakhir karena sistem kesehatan
yang buruk, meningkatnya resistensi terhadap pemakaian obat dan
insektisida, pola perubahan iklim, gaya hidup, migrasi dan pemindahan
penduduk
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Penduduk yang menderita malaria pada tahun tertentu


AMI/API =

X 100.000
Jumlah penduduk pada pertengahan tahun

Banyaknya kematian karena malaria pada tahun


tertentu

AKM =

X 100.000

Jumlah penduduk pada pertengahan tahun


Sumber data:
Departemen Kesehatan
INDIKATOR 29
Persentase balita yang tidur dengan menggunakan kelambu yang telah
diproteksi dengan insektisida
Konsep dan definisi
Cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria adalah memakai
kelambu yang telah diproteksi dengan insektisida. Indikator ini dihitung

dengan membagi banyaknya balita yang pada malam sebelum survei tidur
menggunakan kelambu dengan jumlah balita, dinyatakan dalam persen.
Manfaat
Mengukur cakupan pemakaian kelambu yang terbukti efektif untuk mencegah
penyebaran penyakit malaria di daerah yang berisiko tinggi epidemi malaria
terutama pada balita.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya balita yang pada malam sebelum survei tidur


Balita pakai

menggunakan kelambu yang sudah diproteksi dengan

kelambu =

insektisida

X 100%

Jumlah balita
Sumber data:
BPS (SDKI)

INDIKATOR 30
Persentase balita yang mendapat penanganan malaria secara efektif
Konsep dan definisi
Persentase balita yang mendapat penanganan malaria secara efektif adalah
banyaknya balita yang dalam dua minggu sebelum pelaksanaan survei sakit
malaria dan menerima obat anti malaria (chloroquin, kina, atau vansidar)
dibagi dengan jumlah balita yang sakit malaria.
Manfaat
Untuk mengukur tingkat penanganan yang cepat dan efektif bila terjadi kasus
ke fasilitas kesehatan terdekat serta tingkat pemberian obat anti malaria.

Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya balita yang sakit malaria dan


memperoleh pengobatan

PME =

X 100%

Jumlah balita yang sakit malaria


INDIKATOR 31
Prevalensi tuberkulosis dan angka kematian penderita tuberkulosis dengan
sebab apapun selama pengobatan OAT
Konsep dan definisi
Prevalensi TBC adalah banyaknya kasus TBC per 100.000 penduduk. Angka
kematian karena TBC adalah banyaknya kematian karena TBC per 100.000
penduduk. Kasus TBC didefinisikan sebagai pasien yang secara klinis telah
positif terdiagnosis mengidap TBC.
Manfaat
Mendeteksi dan mengobati TBC merupakan kunci intervensi untuk
mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Prevalensi dan
kematian karena TBC merupakan indikator yang lebih sensitif dibanding
dengan kasus baru.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya kasus penderita TBC (baru dan


Prevalensi TBC

lama)

(PTBC) =

X 100.000

Jumlah penduduk

Angka kematian TBC

Banyaknya kematian karena TBC

X 100.000

(AKTBC) =

Jumlah penduduk

Sumber data:
Departemen Kesehatan
Persentase penemuan kasus tuberkulosis dan pengobatan melalui
directly observed treatment short course (DOTS)
MDG Nasional memilah indikator ini menjadi 2 yaitu:
Angka penemuan penderita tuberkulosis BTA positif baru
Angka kesembuhan pendertia tuberculosis
INDIKATOR 32
Angka penemuan penderita tuberkulosis BTA positif baru
Konsep dan definisi
Angka penemuan penderita tuberkulosis BTA positif baru adalah persentase
penderita baru tuberkulosis yang diobati melalui directly observed treatment
short course( DOTS).
Manfaat
Indikator ini memberikan informasi tentang perkembangan penderita
tuberkulosis dan penanganan pengobatannya yang tuntas atau tidak. Penyakit
tuberkulosis berjangkit melalui udara. Pengawasan yang efektif melalui
penemuan dan penanganan kasus infeksi akan membatasi risiko
penyebarannya. Pendekatan yang direkomendasikan untuk pengawasan
adalah melalui strategi DOTS sebuah strategi murah dan dapat mencegah
jutaan penderita dari kematian.
Metode Perhitungan
Angka penemuan kasus baru tuberkulosis:

Banyaknya kasus positif baru TBC yang mendapat


pengobatan melalui DOTS pada suatu tahun
APTBC =

X 100%
Banyaknya perkiraan kasus positif baru TBC yang timbul
pada tahun tersebut

Sumber data:
Departemen Kesehatan
INDIKATOR 33
Angka kesembuhan penderita tuberkolosis (AKP-TBC)
Konsep dan definisi
AKP tuberkulosis adalah persentase kasus penderita baru yang tercatat positif
terinfeksi tuberkulosis yang berobat sendiri atau berobat melalui strategi
DOTS secara lengkap dan selesai. Angka keberhasilan pengobatan dapat
secara langsung dipantau serta akurat dalam kontrol pasien yang diobati
melalui DOTS.
Manfaat
Pengawasan yang efektif melaui penemuan dan penanganan kasus infeksi
akan membatasi risiko penyebarannya. Pendekatan yang direkomendasikan
untuk pengawasan melalui strategi DOTS sebuah strategi murah dan dapat
mencegah jutaan penderita dari kematian.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya kasus TBC positif baru yang tercatat sembuh


AKP-TBC =

X 100%
Jumlah kasus TBC positif baru

Sumber data:
Departemen Kesehatan

GOAL 7
Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup
TARGET 9
Memadukan Prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan dengan
Kebijakan dan Program Nasional serta Mengembalikan Sumber Daya
Lingkungan yang Hilang
INDIKATOR 34
Proporsi luas lahan yang tertutup hutan (PLH)
Konsep dan definisi
PLH adalah perbandingan antara luas lahan yang tertutup hutan terhadap luas
daratan yang dinyatakan dalam persentase, tidak termasuk perairan umum
seperti sungai besar dan danau di suatu wilayah. Merujuk pada UU No. 41
tahun 1999 yang dimaksud dengan hutan adalah suatu kesatuan ekosistem
berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi
pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannnya yang satu dengan yang
lainnya tidak dapat dipisahkan.
Manfaat
Indikator ini menyajikan informasi tentang ukuran relatif pentingnya hutan di
suatu wilayah. Perubahan lahan yang tertutup hutan khususnya yang
diakibatkan oleh kegiatan yang tidak legal seperti penebangan liar dan lainlain dapat mengganggu kelestarian lingkungan hidup.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

PLH =

Luas lahan yang tertutup hutan

X 100%

Total luas daratan


Sumber data:
Departemen Kehutanan
INDIKATOR 35
Rasio luas kawasan lindung (RKL) terhadap luas wilayah
Konsep dan definisi
Suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam
hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya,
yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Menurut UU No. 41 Tahun 1999 yang dimaksud dengan kawasan hutan
antara lain:
Kawasan hutan:
Wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk
dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
Hutan Lindung:
Kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem
penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan
tanah.
Hutan koservasi:
RKL terhadap luas wilayah adalah perbandingan antara luas kawasan yang
secara nasional dilindungi terhadap luas suatu wilayah yang dinyatakan dalam
persentase. Kawasan yang dilindungi meliputi luas daratan dan lautan yang
bertujuan untuk melindungi dan menjaga keanekaragaman hayati dan
sumber-sumber alam yang terkait, dikelola secara resmi dan efektif
Manfaat
Indikator ini dapat digunakan untuk mengukur upaya melindungi dan

menjaga keanekaragaman hayati serta upaya meningkatkan kehidupan sosial


dan ekonomi penduduk setempat.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Luas kawasan wilayah yang dilindungi


RKL =

X 100%
Total luas wilayah

Sumber data:
Departemen Kehutanan dan Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup
INDIKATOR 35
Rasio luas kawasan lindung (RKL) terhadap luas wilayah
Konsep dan definisi
Suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam
hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya,
yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Menurut UU No. 41 Tahun 1999 yang dimaksud dengan kawasan hutan
antara lain:
Kawasan hutan:
Wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk
dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
Hutan Lindung:
Kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem
penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan
tanah.
Hutan koservasi:
RKL terhadap luas wilayah adalah perbandingan antara luas kawasan yang

secara nasional dilindungi terhadap luas suatu wilayah yang dinyatakan dalam
persentase. Kawasan yang dilindungi meliputi luas daratan dan lautan yang
bertujuan untuk melindungi dan menjaga keanekaragaman hayati dan
sumber-sumber alam yang terkait, dikelola secara resmi dan efektif
Manfaat
Indikator ini dapat digunakan untuk mengukur upaya melindungi dan
menjaga keanekaragaman hayati serta upaya meningkatkan kehidupan sosial
dan ekonomi penduduk setempat.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Luas kawasan wilayah yang dilindungi


RKL =

X 100%
Total luas wilayah

Sumber data:
Departemen Kehutanan dan Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup
INDIKATOR 36
Energi yang dipakai (setara barel dalam metrik ton) per PDB (juta rupiah)
Konsep dan definisi
Energi yang dipakai (setara barel dalam metrik ton) per PDB (juta rupiah)
adalah penggunaan energi komersil yang disetarakan dengan satuan minyak
(barel) per satuan PDB (misalnya dalam jutaan rupiah untuk Indonesia).
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk mengukur intensitas pemakaian energi (sebagai
kebalikan dari efisiensi energi). Perbedaan rasio pemakaian antar waktu
mencerminkan perubahan struktur ekonomi dan perubahan efisiensi
pemakaian pada sektor ekonomi tertentu. Semakin rendah rasionya semakin
baik/efisien penggunaannya.

Metode Perhitungan
Konsumsi energi komersil dikonversi dalam matrik ton setara minyak
memakai tabel standar. Data PDB dinyatakan dalam jutaan rupiah. Pada tabel
standar PDB yang disajikan adalah nilai output. Data yang diperlukan adalah
nilai input yang dihitung dari berbagai jenis energi yang dipakai dan telah
disetarakan dengan satuan minyak
Rumus yang digunakan:

Input energi yang dipakai


RET =

X 100%
PDB

Sumber data:
BPS
Emisi carbon Dioxida (CO 2) per kapita, dan konsumsi zat perusak ozon
CFCs (ODP Tons)
MDG Nasional memilah indikator ini menjadi 2 yaitu:
Emisi Carbon Dioxida (CO 2)per kapita
Jumlah Konsumsi Zat Perusak Ozon (metrik ton)
INDIKATOR 37
Emisi carbon dioxida (CO2) per kapita
Konsep dan definisi
Emisi CO 2 per kapita adalah jumlah CO 2 yang dilepaskan di suatu daerah
sebagai kosekwensi kegiatan produksi dan konsumsi dibagi dengan jumlah
penduduk. Emisi CO 2 berasal antara lain dari konsumsi bahan bakar padat,
cair dan gas. Emisi CO 2 sebagian besar merupakan produk sampingan dari
kegiatan produksi energi dan penggunaannya serta mempunyai kontribusi
pada gas rumah kaca dan peningkatan pemanasan global.

Manfaat
Indikator ini memberikan informasi seberapa besar komitmen pemerintah
untuk mengurangi emisi CO 2 dan kemajuan yang dicapai setelah ratifikasi
Protokol Montreal.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya emisi CO2 di suatu daerah


ECO2 =
Jumlah penduduk
Sumber data:
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
INDIKATOR 38
Jumlah konsumsi zat perusak ozon (metrik ton)
Konsep dan definisi
Konsumsi Ozon Depleting Chlorofluora Carbons (CFCs) dalam metrik ton
(ozon depleting potential) adalah merupakan penjumlahan
konsumsi/pemakaian zat perusak ozon dalam metrik ton dari setiap individu
atau kelompok.
Ozon depleting substances adalah setiap zat yang mengandung chlorine
atau bromine yang merusak lapisan ozon di stratosfir
Manfaat
Indikator ini memberikan informasi mengenai komitmen pemerintah untuk
menghilangkan secara bertahap konsumsi zat perusak ozon. CFCs merupakan
indikator yang lebih representatif digunakan sebagai upaya untuk mengukur,
menghilangkan penggunaan zat perusak ozon.
Metode Perhitungan
Konsumsi CFCs = produksi dalam negeri + import ekspor kuantitas CFCs

yang dihancurkan penggunaan stock untuk setiap jenis CFCs.

Rumus yang digunakan:

CFCs =

Jumlah berat (konsumsi)

tertimbang dalam ton


Sumber data:

Estimasi potensi produksi zat perusak


X ozon) dari setiap jenis CFCs

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Departemen Perindustrian dan BPS


INDIKATOR 39
Proporsi penduduk atau rumah tangga yang menggunakan bahan bakar padat
untuk memasak
Konsep dan definisi
Bahan bakar padat adalah kayu bakar, arang, batu bara, sekam, batang padi,
tandan kelapa, tempurung kela pa, dll.
Manfaat
Indikator ini untuk mengetahui polusi dalam ruangan dan pengurangan
sumber daya hutan karena pemakaian bahan bakar padat.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Jumlah penduduk atau rumah tangga yang menggunakan


PPMKA =

bahan bakar padat untuk memasak


Jumlah penduduk atau rumah tangga

Sumber data:
BPS (Kor Susenas)

X 100%

TARGET 10
Menurunkan Separuh Proporsi Penduduk Tanpa Akses terhadap
Sumber Air Minum yang Aman dan Berkelanjutan serta Fasilitas
Sanitasi Dasar pada 2015
INDIKATOR 40
Proporsi penduduk ataurumah tangga dengan akses terhadap sumber air
minum yang terlindungi
Konsep dan definisi
Air minum terlindung adalah air leding, keran umum, air hujan atau mata air
dan sumur tertutup yang jaraknya lebih dari 10 m dari pembuangan kotoran
dan pembuangan sampah. Sumber air terlindung tidak termasuk air dari
penjual keliling, air yang dijual melalui tanki, air sumur dan mata air tidak
terlindung.
Proporsi penduduk atau rumah tangga dengan akses terhadap sumber air
minum yang terlindung adalah perbandingan antara penduduk atau rumah
tangga dengan akses terhadap sumber air minum yang terlindung dengan
penduduk atau rumah tangga seluruhnya, dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk memonitor akses terhadap sumber air
berdasarkan asumsi bahwa sumber air terlindung menyediakan air yang aman
untuk diminum. Air yang tidak aman diminum adalah penyebab langsung
berbagai sumber penyakit.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Fasilitas air Banyaknya penduduk atau rumah tangga dengan akses


minum =

terhadap sumber air minum terlindung

X 100%

Jumlah penduduk atau rumah tangga


Sumber data:
BPS (Kor Susenas)
INDIKATOR 41
Proporsi penduduk atau rumah tangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi
yang layak
Konsep dan definisi
Fasilitas sanitasi yang layak adalah fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat
kesehatan antara lain dilengkapi dengan leher angsa dan tanki septik.
Proporsi penduduk atau rumah tangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi
yang layak adalah perbandingan antara penduduk atau rumah tangga yang
memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak dengan penduduk atau
rumah tangga seluruhnya yang dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Sanitasi yang layak penting bagi penduduk atau rumah tangga di daerah urban
maupun rural, meskipun risikonya lebih besar di daerah urban karena lebih
sulit menghindari kontak dengan pembuangan kotoran.
Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan rakyat dari aspek
kesehatan.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya penduduk atau rumah tangga dengan akses


Fasilitas

terhadap fasilitas sanitasi yang layak

sanitasi =
Jumlah penduduk atau rumah tangga
Sumber data:
BPS (Kor Susenas)

X 100%

TARGET 11
Mencapai Perbaikan yang Berarti dalam Kehidupan Penduduk Miskin
di Permukiman Kumuh pada Tahun 2020

INDIKATOR 42
Proporsi penduduk atau rumah tangga dengan status rumah tetap dan terjamin
Konsep dan definisi
Status rumah tetap dan terjamin adalah rumah dengan status milik sendiri,
sewa atau kontrak. Indikator ini dihitung dari perbandingan antara penduduk
atau rumah tangga dengan akses terhadap tempat tinggal tetap dan jumlah
penduduk atau rumah tangga, yang dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini untuk memperoleh gambaran umum tentang kemampuan
penduduk atau rumah tangga untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar
manusia (papan).
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:

Banyaknya penduduk atau rumah tangga


Fasilitas tempat
tinggal =

dengan status milik sendiri atau


sewa/kontrak
Jumlah rumah tangga

sumber data:
BPS (Kor Susenas)

X 100%

INDIKATOR 43
Proporsi penduduk dengan akses tempat tinggal yang tetap dan terjamin di
daerah perkotaan
Konsep dan definisi
Di daerah perkotaan, tempat tinggal yang tidak tetap dan terjamin adalah
tempat tinggal yang terletak di daerah kumuh dan rawan penggusuran.
Permukiman kumuh adalah kawasan yang dihuni sekelompok orang yang
menempati bangunan sementara, tidak ada akses air yang aman untuk
diminum, tidak ada fasilitas sanitasi yang layak dan kondisi lingkungan yang
tidak memadai. Daerah rawan penggusuran antara lain adalah bantaran
sungai, pinggir rel kereta api, dan jalur hijau, termasuk permukiman liar, baik
membayar sewa atau tidak, dan lahan yang kepemilikannya ilegal.
Manfaat
Indikator ini memberikan gambaran mengenai kondisi tempat tinggal dan
bangunan fisik yang tetap dan terjamin.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya rumah tangga di kawasan kumuh dan
RTLH =

rawan penggusuran di perkotaan

1(

) X 100%

Banyaknya rumah tangga di perkotaan


Sumber data:
BPS (Podes), BPS
INDIKATOR 44
Proporsi rumah tangga dengan sertifikat kepemilikan tanah dari Badan
Pertanahan Nasional (BPN)
Konsep dan definisi
Proporsi rumah tangga dengan sertifikat kepemilikan tanah dari BPN adalah

perbandingan antara banyaknya rumah tangga yang memiliki status hukum


kepemilikan tanah yang diterbitkan oleh BPN berupa sertifikat kepemilikan
terhadap seluruh jumlah rumah tangga, dinyatakan dalam persentase.
Manfaat
Indikator ini digunakan untuk mengetahui gambaran status hukum resmi
kepemilikan tanah.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
Banyaknya rumah tangga yang memiliki
Sertifikat kepemilikan
tanah =

sertifikat tanah dari BPN

X 100%

Jumlah rumah tangga

Sumber data:
Badan Pertanahan Nasional

GOAL 8
Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan
TARGET 12
Mengembangkan lebih lanjut sistem perdagangan dan keuangan yang
terbuka, berdasarkan aturan yang jelas, terprediksi, tidak diskriminatif,
komit pada tata pemerintahan, pembangunan dan pengurangan
kemiskinan yang baik secara nasional dan internasional
TARGET 13
Menanggapi kebutuhan khusus negara-negara belum berkembang
termasuk akses bebas tarif dan kuota ekspor mereka, meningkatkan
penghapusan utang bagi negara-negara penghutang berat, pembatalan
utang bilateral resmi dan menyediakan bantuan pembangunan lebih
besar terhadap negara-negara yang komit pada pegurangan kemiskinan

TARGET 14
Menanggapi kebutuhan khusus negara-negara yang hanya berbatasan
dengan daratan dan negara-negara kepulauan kecil yang sedang
berkembang melalui program aksi untuk pembangunan berkelanjutan
TARGET 15
Menyelesaikan secara menyeluruh masalah utang negara-negara
berkembang melalui berbagai upaya nasional dan internasional agar
utangnya dapat dilunasi den dikelola secara berkelanjutan dalam jangka
panjang
INDIKATOR
45.

ODA neto sebagai persentase GNP harga berlaku negara-negara donor


OECD/ DAC.

46.

Proporsi ODA yang dialokasikan oleh negara-negara donor


OECD/DAC terhadap pelayanan sosial pokok yang meliputi pendidikan
dasar, layanan kesehatan promer, gizi, air dan sanitasi.

47.

Proporsi ODA bilateral dari donor OECD/DAC yang bersifat tidak


mengikat.

48.

Proporsi ODA yang diterima oleh negara-negara yang hanya berbatasan


dengan daratan (laud lock) terhadap GNP mereka.

49.

Proporsi ODA yang diterima oleh negara-negara kepulauan kecil


terhadap SDP mereka.

50.

Proporsi nilai impor negara-negara maju (tidak termasuk senjata) dari


negara-negara berkembang dan negara-negara belum berkembang
(LDCs).

51.

Rata-rata tarif dan kouta yang dikenakan oleh negara-negara maju


terhadap (ekspor) produk pertanian, tekstil dan pakaian jadi negaranegara berkembang.

52.

Persentase subsidi hasil-hasil pertanian negara-negara OECD terhadap


GDP mereka.

53.

Proporsi ODA yang disediakan untuk membantu kapasitas


perdagangan.

54.

Proporsi utang bilateral resmi negara-negara miskin penghutang berat


(HIPC) yang dibatalkan.

55.

Proporsi ODA yang digunakan untuk melunasi hutang.

56.

Rasio hutang terhadap nilai ekspor barang dan jasa.

TARGET 16
Bekerja Sama dengan Negara-negara berkembang untuk
mengembangkan dan melaksanakan strategi lapangan kerja yang layak
dan produktif bagi generasi muda
INDIKATOR
58.

Proporsi penduduk yang dapat mengakses obat-obatan esensial


(penting) dengan harga terjangkau dan berkelanjutan.

TARGET 18
Bekerja sama dengan sektor swasta memperluas pemanfaatan teknologi
baru khususnya teknologi informasi dan komunikasi
INDIKATOR
59.

Banyaknya pelanggan saluran telepon per 1 000 penduduk.

60.

Banyaknya pengguna personal computer (PC) per 1 000 penduduk.

61.

Banyaknya pengguna internet per 1 000 penduduk.

C. Strategi Dan Inovasi Pencapaian Mdgs 2015 Di Indonesia


Tujuan setiap warga negara terhadap kehidupannya adalah mendapatkan
kehidupan yang layak tercapai seperti apa yang di cita-citakan sebagai sebuah
bangsa. Tujuan keluarga tentunya menginginkan keluarga yang sehat dan bahagia,
dimana setiap anggota keluarganya mendapatkan pendidikan yang bermutu bagi
anak-anaknya. Harapan hidup lainnya tentunya mendapatkan sandang dan
pangan yang berkecukupan serta memiliki sebuah rumah yang layak untuk di huni
oleh seluruh anggota keluarganya.

Saat ini Indonesia sudah dikategorikan sebagai negara berpanghasilan


menengah. Dikatakan seperti itu karena penghasilan masyarakat Indonesia
berdasarkan Gross national Index (GNI), yang dihitung dari nilai pasar total
dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu,
maka penghasiln perkapita Indonesia tahun 2007 adalah $ 1.650. Nilai ini setara
dengan Rp. 1.250.000 per bulan. Jika dibandingkan dengan negara lain, maka
Indonesia masuk urutan ke-142 dari 209 negara di dunia (UNDP, 2008).
Delapan tujuan MDGs yang harus di laksanakan oleh setiap negara yang
mendeklarasikannya yaitu;
1.

menanggulangi kemiskinan dan kelaparan,

2.

mencapai pendidikan dasar untuk semua

3.

mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

4.

menurunkan angka kematian anak

5.

meningkatkan kesehatan ibu

6.

memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya

7.

memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan

8.

mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Indonesia sebagai


salah satu negara yang ikut dalam mendeglarasikan tujuan MDGs memiliki
kewajiban untuk melaksanakan upaya untuk mencapai target MDGs dan
memonitor perkembangan kemajuan pencapaian.

Upaya pencapaian MDGs merupakan sebuah rangkaian proses jangka panjang


berkesinambungan. Hal ini bukan merupakan hal yang mudah, terutama pada
saat Indonesia masih berada pada masa transisi memulihkan diri dari krisis
multidimensional yang diawali dengan krisis ekonomi-moneter pada tahun 1997,
menuju pemerintahan yang lebih demokratis dan melaksanakan reformasi
dihampir seluruh bidang kehidupan. Hal ini membutuhkan kerjasama dari
semua lapisan masyarakat mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dunia
politik, dan institusi akademis.

Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan sebagaimana diukur


oleh indikator USD 1,00 per kapita per-hari, menjadi setengahnya. Kemajuan
juga telah dicapai dalam upaya untuk lebih menurunkan lagi tingkat kemiskinan,
sebagaimana diukur oleh garis kemiskinan nasional dan dari tingkat saat ini
sebesar 13,33 persen (2010) menuju targetnya 8 10 persen pada tahun
2014. Prevalensi kekurangan gizi pada balita telah menurun dari 31 persen
pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007, sehingga Indonesia
diperkirakan dapat mencapai target MDGs sebesar 15,5 persen pada tahun 2015.
Upaya Indonesia untuk mencapai target MDGs tentang pendidikan dasar dan
melek huruf sudah menuju pada pencapaian target 2015 (on-track). Bahkan
Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan
menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan dasar
universal. Pada tahun 2008/2009 angka partisipasi kasar (APK) SD/MI termasuk
paket A telah mencapai 116,77 persen dan angka partisipasi murni (APM) sekitar
95,23 persen. Padatingkat sekolah dasar (SD/MI) acara umum disparitas
partisipasi pendidikan antarprovinsi semakin menyempit dengan APM di hampir
semua provinsi telah mencapai lebih dari 90,0 persen.
Usaha untuk mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
telah dicapai dan hasilnya telah meningkatnya kesetaraan gender disemua jenjang
dan jenis pendidikan. Rasio angka partisipasi murni (APM) perempuan terhadap
laki-laki disekolah dasar dan sekolah menengah pertama berturut-turut sebesar
99,73 dan 101,99 pada tahun 2009, dan rasio melekm huruf perempuan
terhadap laki-laki pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun telah mencapai 98,85.
Menurunkan angka kematian anak telah menunjukkan angka yang signifikan dari
68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007,
sehingga target sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015
doperkirakan dapat tercapai. Target kematian anak diperkirakan akan dapat
tercapai.

Di Indonesia, angka kematian ibu melahirkan (MMR/maternal Mortality Rate)


menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup,
sehingga diperlukan kerja keras untuk mencapai target tersebut. Upaya
menurunkan angka kematian ibu didukung pula dengan meningkatkan angka
pemakaian kontrasepsi dan menurunkan unmet need yang dilakukan melalui
peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.
Tingkat prevalensi HIV/AIDS cenderung meningkat di Indonesia, terutama pada
kelompok risiko tinggi, yaitu pengguna narkoba suntik dan pekerja seks. Jumlah
kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Indonesia meningkat dua kali lipat antara
tahun 2004 dan 2005. Angka kejadian malaria per-1000 penduduk manurun dari
4,68 pada tahun 1990 menjadi 1,85 pada tahun 2009. Sementara itu, pengendalian
penyakit Tuberkulosis yang meliputi penemuan kasus dan pengobatan telah
mencapai target.
Tingkat emisi gas rumah kaca di Indonesia cukup tinggi, walaupun upaya
peningkatan luas hutan, pemberantasan pembalakan hutan, dan komitmen untuk
melaksanakan kerangka kebijakan penurunan emisi karbon dioksida dalam 20
tahun kedepan telah dilakukan. Proporsi rumah tangga dengan akses air
minum layak meningkat dari 37,73 persen pada tahun 1993 menjadi 47,71 persen
pada tahun 2009. Sementara itu, proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi
layak meningkat dari 24,81 persen (1993) menjadi 51,19
Upaya

persen

(2009).

untuk mengakselerasi pencapaian target air minum dan sanitasi yang

layak terus dilakukan melalui investasi penyediaan air minum dan sanitasi yang
layak terus di lakukan melalui investigasi penyediaan air minum dan sanitasi,
terutama untuk melayani jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat.
Untuk daerah perdesaan, penyediaan air minum dan sanitasi dilakukan melalui
upaya pemberdayaan masyarakat agar memiliki tanggungjawab dalam
penggelolaan infrastruktur dan pembangunan sarana.
Indonesia merupakan partisipan aktif dalam berbagai forum internasional dan
mempunyai komitmen untuk terus mengembangkan kemitraan yang bermanfaat

dengan berbagai organisasi multilateral, mitra bilateral dan sector swasta untuk
mencapai pola pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada penurunan tingkat
kemiskinan (pro-poor). Indonesia telah mendapat manfaat dari mitra
pembangunan internasional. Untuk meningkatkan efektifitas kerjasama dan
pengelolaan bantuan pembangunan di Indonesia, Jakarta Commitment telah
ditandatangani bersama 26 mitra pembangunan pada tahun 2009. Bersamaan
dengan ini, Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan pinjaman luar negeri
pemerintah terhadap PDB dari 24,6 persen pada tahun 1996 menjadi 10,9 persen
pada tahun 2009. Sementara itu, Debt Service Ratio Indonesia juga telah menurun
51 persen pada tahun 1996 menjadi 22 persen pada tahun 2009.
Program-program pencapaian MDGs di Indonesia
1.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri


perkotaan dan perdesaan

Untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan


lapangan kerja, pemerintah meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM) Mandiri mulai tahun 2007. Melaui PNPM Mandiri
dirumuskan kembali mekanisme upaya penanggulangan kemiskinan yang
melibatkan unsur masyarakat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga
pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran
kritis dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, dapat dapat
ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan sebagai obyek melainkan sebagai
subyek upaya penanggulangan kemiskinan
PNPM Mandiri dilaksanakan hingga tahun 2015. Hal ini sejalan dengan target
waktu pencapaian tujuan pembangunan milenium atau Millennium Development
Goals (MDGs). Pelaksanaan PNPM Mandiri yang berdasar pada indikatorindikator keberhasilan yang terukur akan membantu Indonesia mewujudkan
pencapaian target- target MDGs tersebut.

2.

Program Keluarga Harapan (PKH)

Program keluarga Harapan (PKH) merupakan suatu program penanggulangan


kemiskinan. Program ini juga di jadikan sebagai salah satu program yang
menunjang pencapaian MDGs pada tahun
2015.
Tujuan utama PKH adalah membantu mengurangi kemiskinan dengan cara
meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada kelompok masyarakat sangat
miskin. Tujuan tersebut sekaligus sebagai upaya mempercepat pencapaian target
MDGs.
Inovasi Pencapaian MDGs
Beberapa target dari Tujuan MDGs yang perlu dilaksanakan dengan kerja keras
antara lain adalah penurunan tingkat kemiskinan secara nasional. Masih belum
menunjukkan perubahan pada tahun 1990 sebesar 15,1 persen pada tahun 2010
sebesar 15,4 persen. Ini merupakan tantangan dalam pencapaian MDGs tahun
2015. Target penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi dan
Balita menghadapi kendala karena penurunannya sangat lambat.
Keberhasilan pelaksanaan berbagai upaya pencapaian MDGs sangat ditentukan
oleh terlaksananya good governance di tingkat Kabupaten/Kota yang memiliki
otonomi dan tanggung jawab sangat besar dalam era desentralisasi ini.
Keberhasilan pencapaian tujuan MDGs di Indonesia, perlu diberikan kesempatan
kepada pemerintah daerah Kabupaten/Kota untuk ikut aktif dalam melaksanakan
kebijakan yang mengarah kepada pencapaian MDGS. Bentuk penghargaan
sebagai sebuah keberhasilan adalah wujud penghargaan dari sebuah Kinerja. Bisa
di lakukan dalam bentuk AWARDS MDGs, atau memfasilitasi dengan anggaran
atau pembiayaan inovasi pelaksanaan MDGs.

D. Capaian MDGs

TUJUAN 8
Mengembangkan Kemitraan Global
Salah satu target yang menjadi bagian tujuan ke-8 MDGs adalah lebih jauh
mengembangkan sistem perdagangan dan keuangan yang terbuka, berbasis
peraturan, mudah diperkirakan, dan tidak disriminatif. Singkat kata, ini berarti
perdagangan yang berkeadilan dan WTO adalah tempat di mana masalah-masalah
tersebut semestinya ditangani. Sayangnya, perundingan putaran terakhir, yang
disebut Putaran Doha (Doha Round), gagal terutama karena negara-negara maju
ingin memberikan proteksi terlalu banyak pada petani mereka sendiri. Ke depan,
perundingan-perundingan tersebut mungkin bisa berlanjut. Namun Indonesia,
serta banyak negara-negara berkembang lainnya, yakin bahwa kita sudah cukup
banyak memberikan konsesi. Kini, gilirannya negara-negara kaya untuk
merespon. Selain itu, negara-negara kaya didorong untuk memberikan bantuan
luar negeri. Hal ini, sesuai dengan janji mereka untuk memberikan bantuan
sebesar 0,7% dari total pendapatan nasional dalam bentuk bantuan pembangunan
resmi (ODA; Of_ cial Development Assistance) untuk Negara-negara miskin.
Hampir tidak ada yang mencapai angka tersebut, meskipun beberapa secara
perlahan mulai meningkatkan sumbangan mereka. Di masa lalu, banyak
pengeluaran pembangunan negeri ini, tergantung pada bantuan luar negeri, yang
digunakan untuk membangun infrastruktur seperti jalan raya36. Pada Gambar 8.1,
terlihat bahwa kita biasanya menerima bantuan setara dengan 40% pengeluaran
pembangunan kita. Bahkan di tahuntahun tertentu, bantuan yang kita terima lebih
besar dari angka tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik
http://www.undp.or.id/pubs/docs/Let%20Speak%20Out%20for%20MDGs%20%20ID.pdf
http://ryoshiromibu.blogspot.com/2013/01/delapan-tujuan-mdgsmillenium_4557.html