Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu upaya dalam program perbaikan gizi adalah meningkatkan
mutu konsumsi makanan, sehingga berdampak pada perbaikan status gizi
masyarakat. Sasaran program ini adalah mewujudkan pola konsumsi makanan
yang baik dan benar (Depkes RI, 1995).
Tahun 1998 telah dicanangkan program Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
yang dimotori oleh Departemen Kesehatan, yang menjadi sasaran utama program
Kadarzi adalah keluarga yang mempunyai kelainan gizi, golongan pra-sejahtera
dan sejahtera I. Perencanaan program Kadarzi bertujuan agar pada tahun 2000
paling tidak setengah keluarga Indonesia telah menjadi Keluarga Sadar Gizi.
Disebut Keluarga Sadar Gizi jika sikap dan perilaku keluarga dapat secara mandiri
mewujudkan keadaan gizi sebaik-baiknya yang tercermin pada pola konsumsi
pangan yang beraneka ragam dan bergizi seimbang (Luciasari, dkk, 2006).
Sejalan dengan adanya Inpres nomor 8 tahun 1993, tentang Gerakan
Penanggulangan Masalah Pangan dan Gizi yang berisi empat strategi utama yaitu
pemberdayaan keluarga, pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan kerjasama lintas
sektor serta peningkatan mutu dan cakupan pelayanan kesehatan, di dalam
Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional (RAPGN) 2001-2005, Undang-Undang
nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan
Indonesia Sehat 2010 ditetapkan bahwa 80% keluarga menjadi Keluarga Sadar
Gizi, karena keluarga mempunyai nilai yang amat strategis dan menjadi inti dalam
pembangunan seluruh masyarakat, serta menjadi tumpuan dalam pembangunan
manusia seutuhnya (Anonim, 2007).
Tingkat sadar gizi keluarga merupakan ukuran dari keberhasilan program
Kadarzi, diharapkan dengan adanya program Kadarzi dapat meningkatkan
kesadaran gizi keluarga. Tingkat sadar gizi keluarga dapat diukur dengan
menggunakan indikator Kadarzi yaitu makan aneka ragam makanan, memantau

status gizi dengan cara menimbang berat badan, menggunakan garam beryodium,
memberikan ASI eksklusif kepada bayi dan biasa sarapan pagi (Dinkes, 2001).
Pada umumnya masyarakat belum mengetahui atau belum mengerti apa
itu sebenarnya Kadarzi sehingga perilaku konsumsi pangan masyarakat, baik
individu maupun keluarga belum mengarah pada keseimbangan gizi sehingga
timbul masalah gizi kurang dan gizi lebih, serta penyakit degeneratif yang banyak
tejadi sekarang ini. Hal ini terjadi karena kurang memasyarakatnya Kadarzi dan
masyarakat masih belum menerapkan indikator dari Kadarzi itu secara
keseluruhan. Kurangnya pengetahuan tentang gizi atau pengetahuan untuk
menerapkan informasi yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari merupakan
faktor penting dalam masalah kurang gizi. Pandangan dan kepercayaan
masyarakat khususnya ibu tentang ilmu gizi harus dipertimbangkan sebagai
bagian dari beberapa faktor penyebab yang berpengaruh terhadap konsumsi
makanan mereka.
Peningkatan pengetahuan dan praktik ibu rumah tangga tentang indikator
Kadarzi, seharusnya seiring dengan peningkatan perilaku berupa tindakan dalam
penyusunan makanan dengan menggunakan bahan makanan yang beraneka ragam
dalam menu makanan keluarganya.
Setiap keluarga akan mengkonsumsi makanan sehat bila tersedia aneka
ragam makanan sehat sesuai selera dan setiap keluarga memiliki daya beli yang
memadai atau tinggi. Ketersediaan pangan keluarga tergantung pada tingkat
pendapatan untuk mengolah dan membeli pangan. Besar kecilnya pendapatan
keluarga berpengaruh terhadap kebiasaan makan individu. Oleh karena itu, bagi
masyarakat yang tingkat pendapatannya rendah perlu usaha untuk meningkatkan
pendapatan serta pembangunan sumber daya manusia (Budianto, 1998).
Keluarga sebagai kelompok komunitas dalam masyarakat digolongkan
dalam dua kelompok yaitu keluarga mampu dan keluarga tidak mampu. Keluarga
tidak mampu yaitu keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya
dan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan dasar, sedangkan keluarga
mampu adalah keluarga yang tingkat pendapatannya sama atau di atas Upah
Minimum Regional (UMR). Gambaran tentang pola konsumsi makanan dan

bukan makanan dari kelompok komunitas (keluarga miskin/tidak mampu dan


keluarga tidak miskin/mampu) menunjukkan bahwa secara umum porsi konsumsi
makanan dari keluarga miskin sampai sebesar 70,6% dibandingkan dengan porsi
konsumsi bukan makanan hanya 29,31%. Kondisi ini terjadi karena keluarga
miskin masih menganggap kebutuhan makanan sebagai kebutuhan utama mereka
dibandingkan dengan kebutuhan sekunder yang lain. Sementara untuk keluarga
mampu hanya menghabiskan lebih kurang 10-15% untuk kebutuhan makanannya.
Bila tingkat pendapatan meningkat, maka akan terjadi pergeseran keseimbangan
antara kategori jenis makanan. Makanan pokok cenderung mempunyai elastisitas
yang paling rendah, sementara kebutuhan akan daging, lemak dan minyak
mempunyai elastisitas cukup tinggi. Lebih lanjut lagi pada tingkat pendapatan
lebih tinggi, konsumsi makanan ini akan mencakup pada kebutuhan yang terus
menerus meningkat akan terolah (Sutiono, 2002).
1.2 Pernyataan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang
menjadi pernyataan masalah adalah masih banyaknya para ibu yang belum
mengetahui dan berperilaku Kadarzi di Desa Alue Rambee Kecamatan Kuta
Makmur.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui perilaku ibu tentang Kadarzi di Desa Alue Rambee Kecamatan
Kuta Makmur.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengetahuan ibu tentang Kadarzi di Desa Alue Rambee
Kecamatan Kuta Makmur.
2. Mengetahui sikap ibu tentang Kadarzi di Desa Alue Rambee Kecamatan
Kuta Makmur.
3. Mengetahui tindakan ibu tentang Kadarzi di Desa Alue Rambee Kecamatan
Kuta Makmur.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Ilmiah

Mini

Project

ini

diharapkan

dapat

memberikan

kontribusi

bagi

perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang perilaku ibu tentang


Kadarzi. Disamping itu temuan ini akan memberikan masukan kepada
masyarakat, terutama ibu-ibu agar lebih mengerti dan memperhatikan kecukupan
gizi anggota keluarga agar selalu dalam kondisi status gizi baik dan terjaga
kesehatannya.
1.4.2. Manfaat Praktis
Dengan adanya mini project ini, diharapkan dapat memberikan tambahan
ilmu, pengalaman dan diharapkan dapat memberikan pengaruh, baik pengaruh
perilaku ibu tentang Kadarzi yang tujuannya akan sangat penting dalam upaya
memperbaiki status gizi seluruh anggota keluarga. Petugas kesehatan dapat
memberikan informasi, arahan kepada masyarakat khususnya ibu agar
memperhatikan pola makan dan perkembangan status gizi seluruh anggota
keluarganya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)


Kadarzi adalah keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mampu
mengenali dan mengatasi masalah gizi anggota keluarganya. Yang dimaksud
perilaku gizi seimbang adalah pengetahuan, sikap dan praktek keluarga
mengkonsumsi makanan seimbang dan berperilaku hidup sehat (Depkes RI,
2004).
Kadarzi merupakan suatu gerakan yang terkait dengan program Kesehatan
Keluarga dan Gizi (KKG), yang merupakan bagian dari Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga (UPGK). Disebut Kadarzi, jika sikap dan perilaku keluarga dapat secara
mandiri mewujudkan keadaan gizi yang sebaik-baiknya yang tercermin dari pada
konsumsi pangan yang beraneka ragam dan bermutu gizi seimbang. Dalam
keluarga sadar gizi sedikitnya ada seorang anggota keluarga yang dengan sadar
bersedia melakukan perubahan ke arah keluarga yang berperilaku gizi baik dan
benar. Bisa

seorang ayah, ibu, anak, atau siapapun yang terhimpun dalam

keluarga itu (Depkes RI, 1998).


2.1.1

Pembinaan kadarzi
Pembinaan keluarga sadar gizi maksudnya adalah melakukan berbagai

upaya untuk meningkatkan kemampuan keluarga agar terwujud keluarga yang


sadar gizi. Upaya meningkatkan kemampuan keluarga itu dilakukan dengan
penyuluhan, demo, diskusi, dan pelatihan (Depkes RI, 1998).
2.1.2

Tujuan pembinaan kadarzi


Tujuan pembinaan keluarga sadar gizi (Kadarzi) adalah:

a. Mampu mengenali tanda-tanda sederhana keadaan kelainan gizi (gizi kurang


dan gizi lebih).
b. Mampu menerapkan susunan hidangan yang baik dan benar, sesuai dengan
Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).
c. Mampu mencegah dan mengatasi kejadian, atau mencari rujukan, manakala
terjadi kelainan gizi di dalam keluarga (Depkes RI, 1998).

2.1.3

Menimbang Berat Badan


Menimbang berat badan adalah mengikuti perkembangan kesehatan dan

pertumbuhan anggota keluarga, terutama bayi, balita dan ibu hamil (Suparmanto,
2006). Pertumbuhan anak dapat diamati secara cermat dengan menggunakan kartu
menuju sehat (KMS) balita. Kartu menuju sehat berfungsi sebagai alat bantu
pemantauan gerak pertumbuhan (Arisman, 2007).
a) Manfaat memantau berat badan secara teratur
1) Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak balita.
2) Mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin, mencegah ibu
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya perdarahan
pada saat melahirkan.
3) Mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut.
b) Akibat bila tidak memantau berat badan dan pertumbuhan anggota keluarga
1) Tidak mengetahui perkembangan dan pertumbuhan bayi dan anak balita
secara normal.
2) Tidak mengetahui adanya gejala penyakit pada bayi, anak balita dan ibu
hamil, misalnya kekurangan zat gizi, kegemukan, gangguan pertumbuhan
janin dan gangguan kesehatan (Suparmanto, 2006).
Laju pertumbuhan anak, wanita dan pria hampir sama cepatnya sampai
pada usia 9 tahun. Selanjutnya antara 10-12 tahun, pertumbuhan anak perempuan
mengalami percepatan lebih dahulu karena tubuhnya memerlukan persiapan
menjelang usia reproduksi, sementara pria baru dapat menyusul 2 tahun
kemudian. Anak berumur 1-3 tahun akan mengalami pertambahan berat badan
sebanyak 2-2,5 kg, dan tinggi badan rata-rata 12 cm setahun (tahun kedua 12 cm,
ketiga 8-9 cm).
Berat badan baku dapat mengacu pada baku berat badan dan tinggi badan
dari WHO/NCHS, atau rumus perkiraan berat badan anak. Pertambahan berat
anak usia prasekolah berkisar antara 0,7-2,3 kg dan tinggi badan 0,9-1,2 cm/tahun
sehingga menyebabkan tubuh mereka kelihatan kurus. Berat badan usia 7-10

tahun bertambah sekitar 2 kg dan tinggi badan 5-6 cm setiap tahun. Menjelang
puber pertambahan berat dapat mencapai 4-4,5 kg setahun.
Tabel 2.1 Rumus Perkiraan Berat Badan
Nelson of pediatrics 1992
Usia
Lahir
3-12 bulan
1-6 tahun
6-12 tahun

Berat badan (kg)


3,25
(Usia (bl) +9) : 2
(Usia (th) x 2 + 8
(Usia (th) x 7-5) : 2

Tabel 2.2
Rumus Perkiraan Tinggi Badan
Umur
Lahir
0 1 tahun
2 - 12 tahun

Nelson of pediatrics 1992


Tinggi Badan (cm)
50
75
Usia (tahun) x 6 + 77

Memantau berat badan sangat penting dilakukan. Adapun manfaat dari


menimbang berat badan antara lain adalah :
a. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau
gangguan kesehatan.
b. Menimbang dapat dilakukan oleh keluarga dimana saja.
c. Keluarga dapat mengenali masalah kesehatan dan gizi anggota keluarganya.
d. Keluarga mampu mengatasi masalahnya baik oleh sendiri atau dengan bantuan
petugas.

Memantau berat badan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:


a. Anak dapat ditimbang di rumah atau di posyandu atau di tempat lain
sekurangnya 2 bulan sekali.
b. Berat badan anak dimasukkan ke dalam KMS.

c. Bila grafik berat badan pada KMS Naik (sesuai garis pertumbuhannya),
berarti anak sehat, bila tidak naik berarti ada penurunan konsumsi makanan
atau gangguan kesehatan dan perlu ditindaklanjuti oleh keluarga atau meminta
bantuan petugas kesehatan (Depkes. 2004).
Cara memantau berat badan orang dewasa
a. Ditimbang di rumah atau di tempat lain
b. Diukur Tinggi dan Berat Badan
c. Dihitung indeks massa tubuh (IMT)
Tabel 2.3 Cara Menghitung IMT
IMT =

Berat badan( Kg)


(Tinggi badan x Tinggi badan)( m)

Arti IMT:
< 17.0 = Sangat kurus
17.0 - 18.4 = Kurus
18.5 - 25.0 = Normal
25.1 - 27.0 = Gemuk
> 27.0 = Obesitas

2.1.4

Memberikan ASI Ekslusif


Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi, yang dapat

memenuhi kebutuhan bayi usia 06 bulan hingga 100%. ASI mengandung protein,
lemak, vitamin, mineral, air, dan enzim yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi
sehingga ASI akan mengurangi risiko berbagai jenis kekurangan gizi. ASI adalah
suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik
yang disekresi oleh kelenjar payudara ibu, yang berguna sebagai makanan bagi
bayinya.

ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir. ASI adalah
makanan yang paling sempurna dan bersih, mengandung antibodi yang sangat
penting dan nutrisi yang tepat. ASI adalah sumber gizi yang sangat ideal dengan
komposisi yang sangat seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan
bayi. Memberikan ASI Ekslusif berarti hanya memberikan ASI saja selama enam
bulan kepada bayi, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, air teh, air
putih serta tanpa tambahan makanan padat seperti bubur nasi, bubur tim atau
bubur susu (Kristiyanasari, 2009).
A. Manfaat ASI
1. ASI meningkatkan daya tahan tubuh
2. ASI meningkatkan kecerdasan
3. ASI meningkatkan jalinan kasih ibu dan bayi
B. Komposisi ASI
ASI berbeda dengan susu sapi. Komposisi ASI berlainan dengan
komposisi susu sapi, karena susu sapi disesuaikan dengan laju pertumbuhan anak
sapi dan ASI disesuaikan dengan laju pertumbuhan anak manusia. Komposisi ASI
demikian spesifiknya sehingga komposisinya berbeda dari ibu yang satu dengan
ibu yang lainnya. Misalnya, komposisi air susu dari ibu yang melahirkan bayi
cukup bulan dengan ibu yang melahirkan kurang bulan berbeda, walupun kedua
ibu ini melahirkan pada waktu yang sama (Utamy, 2008).
1. Kolostrum Pelindung Kolosal
Kolostrum adalah cairan emas, cairan pelindung yang kaya zat antiinfeksi dan berprotein tinggi. Cairan emas yang encer dan sering kali berwarna
kuning atau dapat pula jernih ini lebih menyerupai darah dari pada susu sebab
mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih yang dapat
membunuh kuman penyakit (Utamy, 2008).
2. ASI Peralihan/Transisi

ASI peralihan merupakan ASI yang keluar setelah kolostrum sampai


sebelum manjadi ASI yang matang. Kadar protein makin rendah, sedangkan
kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi. Volume akan makin meningkat.
ASI Matang/Matur ASI matur merupakan ASI yang dikeluarkan pada sekitar
hari ke-14 dan seterusnya, komposisi relatif konstan. Pada ibu yang sehat
dengan produksi ASI cukup, ASI merupakan makanan satu-satunya yang
paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur enam bulan (Utamy, 2008).
C. Keunggulan ASI
Bagi bayi tidak ada pemberian yang lebih berharga dari ASI. Hanya
seorang ibu yang dapat memberikan makanan terbaik bagi bayinya. ASI tidak
ternilai harganya, selain meningkatkan kesehatan dan kepandaian secara optimal,
ASI juga membuat anak potensial memiliki emosi yang stabil, spiritual yang
matang, serta memiliki perkembangan sosial yang baik. Tidak ada susu buatan
manusia yang dapat mendekati apalagi menyamai keuntungan alami yang
diberikan oleh ASI (Kristiyanasari, 2008).
ASI dapat mencegah terjadinya anemia pada bayi karena mengandung zat
besi yang dapat diserap lebih baik dari pada zat besi dari sumber lainnya. Selain
itu ASI juga membuat bayi tidak kekurangan nutrisi karena ASI mampu
memenuhi kebutuhan energi bayi sampai enam bulan pertama. Selain itu
dibandingkan dengan susu formula keunggulan ASI yang lain adalah:
1. Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi (perasaan
hangat yang nyaman bagi ibu dan bayi).
2. ASI mengandung zat makanan yang jumlah dan komposisinya berubah-ubah
disesuaikan dengan pertumbuhan bayi yang tidak mungkin dibuat oleh
manusia.
3. ASI mencegah reaksi alergi dan asma (Kristiyanasari, 2008).
2.1.5

Makan Beraneka Ragam


Makanan ialah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi yang

berguna bila dimasukkan kedalam tubuh. Zat makanan yang diperlukan oleh

tubuh manusia meliputi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.
Protein, zat lemak dan karbohidrat disebut zat makanan pokok karena banyak
memberikan kalori (Arisman, 2007).
Zat zat makanan yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Harus cukup memberikan kalori
2. Harus ada perbandingan yang baik antara zat makan pokok, yakni:
karbohidrat, protein dan lemak
3. Protein yang masuk harus cukup banyak dan mengandung asam amino
4. Harus cukup mengandung vitamin
5. Harus cukup mengandung garam mineral
6. Harus mudah dicernakan oleh alat pencerna
7. Harus bersifat higienis (Arisman. 2007).
Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat
gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Sebaliknya, bila makanan tidak
dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zatzat gizi esensial
tertentu. Zat gizi esensial adalah zat gizi yang hanya dapat diperoleh dari
makanan. Dalam fungsi ini, zat gizi tersebut dinamakan zat pembakar. Ada 3
fungsi zat gizi dalam tubuh:
1. Memberikan Energi
Zatzat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak dan
protein. Oksidasi zat-zat gizi ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh
untuk melakukan kegiatan atau aktivitas. Kegiatan zat gizi termasuk zat organik
yang mengandung karbon yang dapat dibakar. Kegiatan zat gizi terdapat dalam
jumlah paling banyak dalam bahan pangan.

2. Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan

Protein mineral dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu,
diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganti sel-sel
rusak. Dalam fungsi ini ketiga zat tersebut dinamakan zat pembangun.
3. Mengatur proses tubuh
Protein, mineral, air dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh.
Protein mengatur keseimbangan air dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam
upaya memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai penangkal
organisme yang bersifat infektif (Almatsier, 2004).
A. Karbohidrat
Karbohidrat adalah senyawa polihidoksi aldehid atau poli hidroksi keton
atau senyawa yang jika dihidrolisis akan menghasilkan salah satu zat energi yang
diperlukan oleh tubuh. Karbohidrat merupakan sumber energi utama. Selain
sebagai sumber energi, karbohidrat berfungsi dalam penyediaan bahan pembentuk
protein dan lemak serta menjaga keseimbangan asam dan basa (Irianto, 2007).
Tiga jenis karbohidrat utama adalah :
1. Monosakarida (monosa)
2. Disakarida (boisa)
3. Polisakarida (poliosa)
Sumber karbohidrat yang banyak dikonsumsi sebagai makanan pokok di
Indonesia adalah beras, jagung, umbi-umbian, singkong, talas, dan sagu. Sumber
karbohidrat dalam bentuk hasil olahan adalah mie hun, tepung-tepungan, roti,
selai, sirup dan sebagainya. Sumber karbohidrat berupa sayuran adalah sayur
umbi-umbian seperti wortel, bit dan kacang-kacangan (Almatsier, 2004).
B. Lemak
Lemak merupakan sumber energi paling padat, yang menghasilkan 9 Kkal
untuk tiap gram yaitu 2,5 kali lebih besar dari karbohidrat dalam protein. Dalam
lemak oksigen lebih sedikit dari pada yang terdapat dalam karbohidrat. Sehingga
pada waktu pembakaran, lemak mengikat lebih banyak oksigen sehingga panas

yang dihasilkan lebih banyak. Lemak yang disimpan di bawah kulit merupakan
persediaan energi jangka panjang dan merupakan insulin dalam tubuh.
Fungsi lemak adalah :
1. Sebagai sumber energi utama bagi tubuh
2. Merupakan bahan makanan cadangan
3. Dapat melarutkan vitamin A, D , E dan K
4. Pelindung organ-organ penting seperti mata ginjal dan jantung
5. Sebagai pelindung tubuh dari suhu yang rendah agar tidak kedinginan (Irianto,
2007).
Sumber lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan (minyak kelapa, kelapa
sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung dan sebagainya), mentega, margarin,
dan lemak hewan (lemak daging ayam). Sumber lemak lain adalah kacangkacangan, biji-bijian, daging dan ayam, krim, susu, keju dan kuning telur, serta
makanan yang dimasak dengan lemak atau minyak (Almatsier, 2004).
C. Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar
tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein, setengahnya adalah
otot, seperlima di dalam tubuh dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, dan
selebihnya di dalam jaringan lain atau di dalam air. Protein mempunyai fungsi
khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta
memelihara sel-sel dan jaringan tubuh. Sebagai sumber energi protein sama
dengan karbohidrat, karena menghasilkan 4 kkal/g protein.
Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam
jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging unggas, ikan dan kerang. Sumber
protein nabati adalah kedelai dan hasilnya seperti tempe dan tahu serta kacangkacangan lainnya. Dalam merencanakan diet, di samping memperhatikan jumlah
protein perlu diperhatikan mutunya (Almatsier. 2004).

D. Vitamin

Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah


yang sangat kecil dan pada umumnya tidak dapat dibentuk oleh tubuh kecuali
vitamin K. Oleh karena itu, harus didatangkan dari makanan. Vitamin termasuk
kelompok zat pengatur pertumbuhan dan pemeliharaan kehidupan. Tiap vitamin
mempunyai tugas spesifik di dalam tubuh. Vitamin berperan dalam beberapa tahap
reaksi metabolisme energi, pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh, pada umumnya
sebagai koenzim atau sebagai bagian dari enzim. Nilai gizi makanan menjadi
kurang bila makanan dimasak terlalu lama karena vitamin tersebut rusak atau larut
dalam air rebusan.
Jenis jenis vitamin:
1. Vitamin A
2. Vitamin C
3. Vitamin D
4. Vitamin K
5. Vitamin E (Irianto, 2007).
E. Mineral
Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peranan penting
dalam pemeliharaan, fungsi tubuh baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun
fungsi tubuh secara keseluruhan. Di samping itu mineral berperan dalam berbagai
tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim-enzim.
Keseimbangan ion-ion mineral dalam cairan tubuh diperlukan untuk pengaturan
pekerjaan enzim-enzim. Keseimbangan ion-ion mineral di dalam cairan tubuh
diperlukan untuk pengaturan enzim-enzim dalam tubuh (Irianto, 2007).
Gizi makanan merupakan faktor penting dalam mempertahankan
kelangsungan hidup manusia. Kekurangan makanan dapat menimbulkan masalah
kesehatan yang fatal. Makanan bergizi terdapat pada berbagai jenis makanan.
Makanan mempunyai sifat mudah rusak, terutama bila penyimpanan dan
pengolahannya salah. Karena itu untuk mengatasi hilangnya nilai gizi makanan
karena proses pengolahan dan pengawetan, maka diperlukan kegiatan yang dapat
menghindari hilangnya zat makanan yaitu dengan cara :

1. Memilih dan memperhatikan cara mengolah dan memasak makanan.


2. Pengayaan setelah selesai pengolahan makanan, maka ditambahkan vitamin
dan mineral pada hasil akhir.
3. Memperlengkapi karena tiap bahan makanan hanya mengandung zat makanan
tertentu, dengan kadar tertentu, maka sebaiknya makanan harus bervariasi
untuk saling melengkapi (Irianto, 2007).
2.1.6

Menggunakan Garam Beryodium


Garam beryodium yaitu garam yang telah ditambah zat yodium yang

diperlukan oleh tubuh. Manfaat garam beryodium adalah mencegah terjadinya


penyakit gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), membesar kelenjar
gondok di daerah leher, sehingga mengurangi daya tarik seseorang. Defisiensi
yang berlangsung lama akan menyebabkan gangguan fungsi kelenjar tiroid, yang
secara perlahan kelenjar tersebut membesar sehinnga menyebabkan gondok.
Defisiensi yodium akan menguras cadangan yodium serta mengurangi produksi
T4. Penurunan T4 dalam darah memicu sekresi TSH yang kemudian
meningkatkan kegiatan kelenjar tiroid, selanjutnya memicu terjadinya hiperplasia
tiroid. Efisiensi pemompaan yodium bertambah dibarengi dengan pemecahan
yodium tiroid (Arisman, 2007).
1. Defisiensi pada janin
Defisiensi yodium pada janin merupakan dampak dari kekurangan pada
ibu. Keadaan ini berkaitan dengan meningkatnya insidensi lahir mati, aborsi, cacat
lahir, yang semua itu sebenarnya dapat dicegah melalui intervensi yang tepat.
Pengaruh utama defisiensi yodium pada janin ialah kretinisme (kerdil) endemis,
yang sangat berkaitan dengan bentuk sporadik.
2. Defisiensi pada bayi baru lahir
Selain berpengaruh terhadap angka kematian, fungsi tiroid pada bayi baru
lahir terhubung dengan kenyataan bahwa otak bayi baru lahir hanya sepertiga
ukuran normal otak dewasa. Kekurangan yodium yang berlangsung lama akan
berpengaruh terhadap fungsi tiroid yang kemudian mengancam otak secara dini.
3. Defisiensi pada anak

Kekurangan yodium pada anak khas terkait dengan insidensi gondok.


Angka kejadian gondok meningkat bersama usia, dan mencapai puncaknya setelah
remaja. Penelitian terhadap anak sekolah yang tinggal di daerah endemis
menunjukkan gangguan kinerja belajar serta nilai kecerdasan (IQ).
4. Defisiensi pada orang dewasa
Pemberian yodium dalam bentuk garam, roti, atau minyak beryodium
ternyata lebih efektif dalam pencegahan gondok orang dewasa. Oleh karena itu
cara ini lebih banyak diterima di masyarakat yang bermukim di daerah endemis
(Arisman, 2007).
2.1.7

Minum Suplemen Gizi


Suplemen adalah kombinasi dua atau lebih vitamin dan zat mineral yang

dibutuhkan oleh tubuh. Suplemen dapat berupa gabungan dari berbagai macam
vitamin atau zat lain seperti asam amino. Jenis suplemen tunggal bisa terdiri dari
kalsium, zink, vitamin, asam folat, dan lain-lain. Suplemen tidak diperlukan
selama pengolahan makanan menerapkan pola gizi seimbang. Asupan gizi paling
bagus adalah dari makanan (Yokozu, 2009).
Sebagai contoh suplemen yang bagus untuk bayi adalah vitamin A juga
merupakan suatu zat yang sangat penting untuk tubuh, banyak penelitian yang
telah membuktikan keterkaitan antara kekurangan vitamin A dengan berbagai
penyakit infeksi. Banyak sekali keadaan yang mempengaruhi status vitamin A
seseorang. Salah satu faktor yang penting ialah kekurangan asupan vitamin A dan
provitamin A (Arisman, 2007).
Kekurangan (defisiensi) vitamin A sering terdapat pada anak-anak balita.
Tanda-tanda kekurangan terlihat bila simpanan tubuh terpakai. Kekurangan
vitamin A dapat merupakan kekurangan primer akibat kurang konsumsi, atau
kekurangan sekunder karena gangguan penyerapan dan penggunaannya dalam
tubuh, kebutuhan yang meningkat, ataupun karena gangguan pada konversi
karoten menjadi vitamin A. Kekurangan vitamin A sekunder dapat terjadi pada
penderita kurang energi protein (KEP), penyakit hati, alfa, beta-lipoproteinemia,

atau gangguan absorbsi. Kekurangan vitamin A banyak terdapat di negara


berkembang termasuk Indonesia.
Selain itu zat besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat
dalam tubuh mannusia, yaitu 3-5 gram di dalam tubuh manusia dewasa. Besi
mempunyai beberapa fungsi esensial dalam tubuh, sebagai alat angkut oksigen
dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron di dalam sel, dan
sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam tubuh di dalam jaringan
tubuh. Kekuranagn besi sejak tiga puluh tahun terakhir diakui berpengaruh
terhadap produktivitas kerja, penampilan kognitif dan sitem kekebalan tubuh.
Sumber besi adalah makanan hewani, seperti daging ayam, dan ikan.
Sumber lain adalah telur, sereal, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa
jenis buah. Defisiensi besi merupakan defisiensi gizi yang paling umum terdapat,
baik di negara maju maupun di negara berkembang. Defisiensi besi dikaitkan
dengan anemia gizi besi. Kehilangan besi dapat terjadi karena konsumsi makanan
yang kurang seimbang atau gangguan absorbsi besi. Selain itu kekuranagan besi
dapat terjadi karena perdarahan, akibat cacingan atau luka, dan akibat penyakit
gangguan absorbsi (Almatsier, 2004).
2.2. Perilaku
Dari aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas
organisme atau mahluk hidup yang bersangkutan. Sedangkan dari aspek
psikologis para ahli merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Berdasarkan teori S-O-R
maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua yakni:
1. Perilaku tertutup (Covert behavior)
Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih
belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon tersebut masih
terbatas dalam bentuk perhatian, persepsi, perasaan, pengetahuan dan sikap
terhadap stimulus yang bersangkutan.
2. Perilaku terbuka (Overt behavior)

Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut sudah
berupa tindakan atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau
observable behavior (Notoatmodjo, 2010).
Sesuai dengan batasan perilaku menurut Skiner maka perilaku kesehatan
(Health behavior) adalah respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang
berkaitan dengan sehat sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi
sehat sakit, lingkungan, makanan, minuman dan pelayanan kesehatan. Dengan
kata lain perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang baik
yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable)
yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan misalnya
keberhasilan suatu keluarga dalam mencapai kadarzi (Notoatmodjo, 2010).
Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau melindungi diri dari
penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan dan mancari
penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan. Perilaku sehat adalah
perilaku-perilaku

atau

kegiatan-kegiatan

yang

berkaitan

dengan

upaya

mempertahankan dan meningkatkan kesehatan antara lain:


1. Makan dengan menu seimbang (appropriate diet)
Menu seimbang tersebut adalah pola makan sehari-hari yang memenuhi
kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh baik
jumlah (kuantitas) maupun jenisnya (kualitas).
2. Perilaku atau gaya hidup positif
Perilaku atau gaya hidup positif yang lain, yakni melalui kadarzi (Keluarga
Sadar Gizi) yang meliputi lima indikator tersebut yakni: menimbang berat badan,
memberikan ASI Ekslusif pada bayi usia 0-6 bulan, makan beraneka ragam,
menggunakan garam beryodium, minum suplemen gizi (tablet tambah darah,
kapsul vitamin A) sesuai anjuran. Seperti yang telah diuraikan bahwa domain atau
ranah utama perilaku manusia adalah: kognitif, afektif (emosi) dan konasi, yang
dalam bentuk operasionalnya adalah ranah: pengetahuan (knowledge), sikap
(attitude), dan tidakan atau praktek (practice) (Depkes RI, 2006).

2.2.1

Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang

terhadap objek melalui indra yang dimiliki (mata, hidung, telinga dan
sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan
pengetahuan, dimana pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas
perhatian dan dibagi dalam persepsi terhadap objek (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan adalah hal apa yang diketahui oleh orang atau responden
terkait dengan sehat dan sakit atau kesehatan, misalnya tentang penyakit
(penyebab, cara penularan, cara pencegahan), gizi, sanitasi, pelayanan kesehatan,
kesehatan lingkungan, keluarga berencana dan sebagainya. Secara garis besar
pengetahuan dibagi dalam 6 tingkatan: (Notoatmodjo, 2010)
a) Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai memanggil (recall) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
b) Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekadar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan
secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
c) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang dikatehui tersebut pada
situasi yang lain.
d) Analisis (analysis)
Analisa

adalah

kemampuan

seseorang

untuk

menjabarkan

dan

memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang


terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.

e) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau


meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen yang
dimilki.
f) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang
lain. Seorang ibu akan membawa anaknya ke posyandu untuk mendapatkan
imunisasi setelah melihat anak tetangganya mengalami penyakit polio sehingga
cacat, karena anak tetangganya tersebut belum pernah mendapat imunisasi polio
(Notoatmodjo, 2010).

2.2.2

Sikap
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan
(senang tidak senang, setuju tidak setuju, baik tidak baik dan sebagainya). Salah
seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap adalah merupakan kesiapan
atau kesediaan seseorang untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan
motif tertentu (Notoatmodjo, 2010).
Sikap adalah bagaimana pendapat atau penilaian orang atau responden
terhadap hal terkait dengan kesehatan, sehat sakit dan faktor yang terkait dan
faktor yang terkait dengan faktor risiko kesehatan. Misalnya bagaimana pendapat
atau penilaian responden terhadap penyakit demam berdarah, anak dengan gizi
buruk, tentang lingkungan, tentang gizi makanan dan seterusnya. Menurut Allport
(1954) ada tiga komponen pokok sikap yaitu:
a. Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap objek, artinya:
bagaimana keyakinan, pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya: bagaimana
penilaian orang tersebut terhadap objek.

c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave), artinya sikap merupakan


komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka (Notoatmodjo,
2010).
Sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya sebagai
berikut :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima stimulus
yang diberikan (objek).
b. Menanggapi (responding)
Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan atau objek yang dihadapi.
c. Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif
terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain.
d. Bertanggung jawab ( responding)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap
apa yang telah diyakininya. Sikap sering diperolah dari pengalaman sendiri atau
dari orang lain yang paling dekat. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak
selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Hal ini disebabkan oleh beberapa
alasan :
-

Sikap akan terwujud di dalam suatu tidakan tergantung situasi saat itu.

Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu kepada
pengalaman orang lain.

Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada
banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang (Notoatmodjo, 2010)

e. Nilai (value)
Di dalam suatu mayarakat apa pun selalu berlaku nilai-nilai yang menjadi
pegangan

setiap

orang

(Notoatmodjo, 2010).

dalam

menyelenggarakan

hidup

bermasyarakat

2.2.3

Praktik (Tindakan)
Seperti telah disebutkan di atas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk

bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk
terwujudnya tindakan perlu faktor lain adanya fasilitas, sarana dan prasarana.
Praktik adalah hal apa yang dilakukan oleh responden terhadap terkait dengan
kesehatan (pencegahan penyakit), cara peningkatan kesehatan, cara memperoleh
pengobatan yang tepat dan sebagainya. Praktik atau tindakan ini dapat dibedakan
menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya (Notoatmodjo, 2010).
a. Praktik terpimpin (guided response)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih
tergantung pada tuntutan atau menggunakan panduan.
b. Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikkan
sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis.
c. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang artinya,
apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah
dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang berkualitas. Seperti di
sebutkan bahwa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap
belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu
faktor lain antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana. Seorang ibu
sudah tahu bahwa membawa bayi ke posyandu itu penting untuk bayinya, dan
sudah ada niat untuk (sikap) untuk pergi ke posyandu.
Agar sikap itu meningkat menjadi tindakan, maka diperlukan bidan,
posyandu, atau puskesmas yang dekat dari rumahnya, atau fasilitas tersebut
mudah dicapainya. Apabila tidak, kemungkinan ibu tersebut tidak akan membawa
anak keposyandu, dengan demikian upaya keluarga mencapai kadarzi belum
berhasil (Notoatmodjo, 2010).

BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan:
a. Data Primer
Dikumpulkan

dengan

wawancara

pada

masyarakat

dengan

menggunakan kuesioner.
b. Data Sekunder
Data sekunder tentang gambaran umum lokasi penelitian yang
meliputi profil komunitas umum, data geografis, data demografis, sumber
daya kesehatan yang ada, sarana pelayanan kesehatan yang ada.
3.2 Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan mini project dilakukan dengan metode penyuluhan.
3.3 Langkah-Langkah yang dilakukan
Pelaksanaan program dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Membagikan kuesioner kepada para ibu yang datang
2. Pemberian materi penyuluhan tentang Kadarzi
3. Tanya jawab melalui diskusi.
3.4 Populasi dan Sampel
1.4.1 Populasi
Populasi dalam pelaksanaan mini project ini adalah semua ibu di Desa Alue
Rambee Kecamatan Kuta Makmur.
1.4.2

Sampel
Sampel dalam pelaksanaan mini project ini adalah semua ibu di Desa Alue

Rambee Kecamatan Kuta Makmur dengan kriteria sampel sebagai berikut:


1. Semua ibu di Desa Alue Rambee Kecamatan Kuta Makmur
2. Warga desa Alue Rambee Kecamatan Kuta Makmur

3. Setiap ibu mewaakili satu keluarga di desa Alue Rambee Kecamatan Kuta
Makmur
4. Datang pada penyuluhan pertama dan pada waktu evaluasi
3.5 Metode Pengukuran
1. Pengukuran Pengetahuan
Aspek pengukuran data dilakukan melalui jawaban responden dari
pertanyaan pengetahuan yang diberikan. Skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0
untuk jawaban salah. Sehingga skor maksimum adalah jumlah jawaban benar
dikali 1 dan skor minimum adalah jumlah jawaban salah dikali 0. Sehingga
menurut (Notoatmodjo, 2008) jika soal 10 jawaban dapat dikategorikan sebagai
berikut:
a. Baik : apabila benar menjawab >7 soal
b. Cukup : benar menjawab 5-7 soal
c. Kurang : apabila benar menjawab <5 soal.
2. Aspek Pengukuran Sikap
Aspek pengukuran sikap dilakukan berdasarkan jawaban responden dari
semua pertanyaan sikap yang diberikan dengan menggunakan skala likert yang
terdiri dari 4 jenis jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS)
dan sangat tidak setuju (STS) dengan skor: untuk jawaban SS = 4, jawaban S = 3,
jawaban TS = 2 dan jawaban STS = 1 untuk pernyataan positif dan skor jawaban
SS = 1, S = 2, TS = 3 dan STS = 4 untuk pernyataan negatif ( Machfoedz, 2005).
Total skor maksimum diperoleh jumlah jawaban (SS) dikali 4 untuk pernyataan
positif dan jawaban STS dikali 4 untuk pernyataan negatif dan skor minimum
jumlah jawaban (STS) dikali 1 untuk pernyataan positif dan jawaban SS dikali 1
untuk pernyataan negatif. Menurut rumus Sudjana (1992) hasil dapat
dikategorikan berdasarkan rumus:
Panjang kelas = Rentang / Banyak kelas
Jika diketahui rentang adalah 30 dimana kategori sikap yaitu baik, cukup
dan kurang maka nilai P adalah 10, sehingga interval dari ketiga kategori tersebut
adalah 10. Jika jumlah pernyataan 10 dengan skor maksimum adalah 40 dan skor
minimum adalah 10 dapat dikategorikan sikap responden:

a. Baik : bila mendapat skor 31 40


b. Cukup : bila mendapat skor 21- 30
c. Kurang : bila mendapat skor 10 - 20
3. Aspek Pengukuran Tindakan
Pengukuran tindakan ibu dalam melakukan kadarzi mempunyai 2 jenis
jawaban yaitu ya dan tidak, skor 1 untuk jawaban ya, skor 0 untuk jawaban tidak
untuk pernyataan positif dan skor 1 untuk jawaban tidak, skor 0 jawaban ya untuk
pernyataan negatif. Sehingga skor maksimumnya jumlah jawaban ya dikali 1 dan
skor minimum adalah jumlah jawaban tidak dikali 0 untuk pernyataan positif dan
skor maksimum jumlah jawaban tidak dikali 1 dan skor minimum jumlah jawaban
ya dikali 0 untuk pernyataan negatif. Berdasarkan rumus Sudjana (1992) untuk
mengitung panjang kelas diperoleh rumus:
Panjang kelas = Rentang / banyak kelas
Panjang kelas dengan rentang 10 dan banyak kelas 3 yaitu baik, cukup dan
kurang. Maka didapat (P) = 3 dengan nilai 10 sebagai batas bawah kelas pertama,
jika pernyataan ada 10 maka skor maksimum adalah 10 dan skor minimum adalah
0. Berdasarkan jumlah jawaban hasil dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Nilai baik : bila responden memperoleh skor 7 10
b. Nilai cukup : bila responden memperoleh skor 4 6
c. Nilai kurang : bila responden memperoleh skor 1 3
3.6 Waktu Dan Tempat
Pelaksanaan kegiatan dilakukan di wilayah puskesmas Kuta Makmur yaitu
desa Alue Rambee, yang dilaksanakan pada tanggal 23 November 2012 dan 21
Desember 2012.

BAB IV
HASIL

4.1 Profil Komunitas Umum


Kecamatan Kuta Makmur merupakan salah satu kecamatan dalam
Kabupaten Aceh Utara. Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kuta
Makmur sebanyak 187 orang.
4.2 Data Geografis
Kecamatan Kuta Makmur merupakan salah satu kecamatan dalam
Kabupaten Aceh Utara mempunyai luas wilayah 151,32 km2 (15.132 Ha) dengan
batas wilayah sebagai berikut:
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Pemerintah Kota Lhokseumawe
2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Simpang Kramat dan
Kabupaten Bener Meria
3) Sebelah Barat dengan Kecamatan Nisam
4) Sebelah timur berbatasan dengan Simpang Kramat dan Kota Lhokseumawe
Jumlah desa sebanyak 43 desa terdiri dari desa dengan status sebanyak 39
desa dan desa non status sebanyak 4 desa. Terdapat 131 dusun di Kecamatan Kuta
Makmur.
Letak geografis Kecamatan Kuta Makmur berdasarkan desa terdiri dari
dataran (67%) dan berbukit (33%). Luas tanah berdasarkan penggunaannya terdiri
dari 1.951 Ha (12,89%) merupakan lahan sawah dan 13.181 Ha (87,11%) bukan
sawah. Sumber utama penghasilan keluarga terdiri dari pertanian 62,54%,
perindustrian 0,84%, perdagangan 5,90%, transportasi 0,99% dan jasa lainnya
29,74%.
a. Kemukiman Blang Ara
1. Keude Blang Ara
2. Blang Ara
3. Buket
4. Blang Talon
5. Cot Rheu
6. Krueng Manyang
7. Bayu
8. Blang Ado
9. Dayah Meunara
10. Mns. Kumbang
11. Blang Riek
12. Mc. Bahagia

13. Lhok Jhok


14. Alue Rambe
15. Cempeudak
16. Seu nebok Drien
17. Cot Merbo
b. Kemukiman Beureughang
1. Cot Seutui
2. Langkuta
3. Saweuk
4. Meuria
5. Kulam
6. Cot Seumiyong
7. Mulieng Meucat
8. PT. Rayeuk I
9. Mulieng Manyang
10. Kereusek
11. Krueng Seupeng
12. PT. Rayeuk II
13. Sidomulyo
14. Babah Lueng
15. Alue Putro Manoe
16. Alue Sagoweng
17. Alue Mbang
18. Bevak
c. Kemukiman Keude Krueng
1. Pulo Rayeuk
2. Pulo Barat
3. Pulo Iboih
4. Keude Krueng
5. Krueng Seunong
6. Guha Uleu
7. Blang Gurah
8. Cemeucet
4.3 Data Demografis
Jumlah penduduk kecamatan Kuta Makmur pada tahun 2011 berjumlah
22.028 jiwa terddiri dari 10.846 (49,24%) laki-laki dan 11.183 (50,76%)
perempuan dengan jumlah kepala keluarga 4.993. Sex ratio laki-laki terhadap
perempuan sebesar 97% , artinya untuk setiap 100 wanita terdaoat 97 pria dan
kepadatan penduduk sebesar 146 jiwa/km2.
Perkembangan pembangunan kependudukan dipengaruhi oleh pencapaian
keberhasilan program keluarga berencana. Data badan pusat Statistik kabupaten

Aceh Utara tahun 2011 menunjukkan bahwa jumlah pasangan usia subur (PUS)
adalah 3.745 pasangan. Dari jumlah tersebut 138 PUS (3,68%) adalah peserta KB
aktif dan 68 pasangan (1,81%) adalah peserta KB baru. Sebagian besar peserta
KB menggunakan kontrasepsi suntikan dan pil, masing-masing 76,35 % dan
21,85%. Partisipasi pria menggunakan KB masih sangat rendah yaitu hanya
1,80%.
Berdasarkan data tersebut bahwa pembangunan, tergambarkan bahwa
pembangunan kependudukan Kecamatan Kuta Makmur belum menunjukkan hasil
yang menggembirakan. Upaya menurunkan tingkat fertility rate (TFR) harus
dilakukan dengan meningkatkan jumlah peserta KB aktif sehingga fertilitas dapat
ditekan. Tingkat fertilitas perlu dikurangi untuk meningkatkan kesejahteraan dan
mengurangi beban tanggungan.
Jumlah penduduk lanjut usia pada tahun 2011 penduduk berjumlah 2.140
orang. Peningkatan jumlah usia tua menunjukkan keberhasilan upaya kesehatan
dengan meningkatnya usia harapan hidup, di sisi lain adanya tantangan upaya
kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada lanjut usia melalui
program posyandu lanjut usia.
Semakin

meningkatnya

jumlah

usia

lansia

berdampak

terhadap

meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan terutama pelayanan penyakit


degenaeratif. Penyakit degenaretaif yang bersifat kronik membutuhkan perwatan
yang lama dan berkelanjutan.
Bertambahnya usia harapan hidup masyarakat perlu peningkatan program
promosi dan preventif dalam rangka meningkatkan kualitas hidup. Promosi
kesehatan melalui sosialisai perilaku hidup bersih dan sehat, perbaikan gizi
masyarakat, perbaikan gaya hidup, konsultasi gizi dan keterjaminan kesehtana
lansia. Upaya preventif melalui deteksi dini dan pencegahan faktor risiko penyakit
mwenular dan degeneratif, diharapkan kualitas hidup masyarakat lebih baik dan
pembiayaan kesehatan untuk kuratif dan rehabilitatif dapat ditekan.

4.4 Sumber Daya Kesehatan yang ada


Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kuta Makmur sebanyak
187 orang, yang terdiri dari PNS 71 orang (37%), PTT 35 orang (18%), dan
Honor/Bakti 81 orang (43%). Adapun jumlah tenaga kesehatan yang ada di
Puskesmas Kuta Makmur menurut jenjang pendidikan yaitu :
Tabel 4.1 Jumlah Tenaga Kesehatan yang ada di Puskesmas Kuta Makmur
menurut Jenjang Pendidikan
No

Jenis Kegiatan

Kepala Puskesmas

2
3
4
5
6

Kepala Tata Usaha


R/R, Perencanaan,
Evaluasi Bendahara
& Ur. Umum
Supir
Penjaga Puskesmas/
CS

7
8
9
10
11
12
13
14

Karcis, Kartu, dan


RM
Poliklinik Umum
Poliklinik Umum
Poliklinik Umum
Poliklinik Gigi
Poliklinik Gigi
Poliklinik Lansia
Poliklinik Lansia

Jenis
Tenaga

SKM
(S2)
Sarjana
Kes.
Masy
D3
Statistik/
SMA
SMEA/
SMA
SMA
SD
Perawat/
SMA
Dokter
Umum
Perawat
Pekarya
Dokter
Gigi
Perawat
Gigi
Dokter
Umum
Perawat

J
u
m
l
a
h
1

Keter
angan

1
1
2
1
1

Unit
Tata
Usaha

2
1
1
1
1
2
2
3

Unit 3

15
16
17
18
19
20
21
22
23

24

Klinik KIA&KB
Klinik KIA & KB
Perkesmas
Kes. Gizi Keluarga
UKGS
UKS
Laboratorium
Apotik
Apotik
Radiologi

25

Surveilance &
Penanggulangan
Kesling

26

Imunisasi

27
28
29

Peran serta
masyarakat
Penyuluhan
Kesehatan
Pengembangan

30

JPKM

31
32
33
34

Perawatan
Perawatan/ UGD
Kamar Persalinan
Fisioterapi

35

Puskesmas

Dokter
Umum
Bidan
Bidan
Akademi
Gizi
Dokter
gigi
Perawat
Analis
Ass.
Apoteker
Juru obat
APRO
Epidemi
ologi/
Perawat
Sanitaria
n/ D3
Kesehata
n
Perawat/
Bidan
Bidan
SKM/
Perawat
D3
Kesehata
n
Perawat/
D3
Askes
Dokter
Umum
Perawat
Bidan
D3
Fisiotera
pi
Perawat/

1
10
2
1
2
2
1
1

Unit 2

Tugas
rangk
ap
Tugas
rangk
ap
Unit 6

Unit 1

1
2

2
-

Unit 4
Tugas
rangk
ap

Tugas
rangk
ap
Unit 5
Tugas
rangk
ap
Untuk

36

Pembantu

Bidan

Poskesdes

Perawat/
Bidan

Total

4
Pustu
Untuk
2
Poske
sdes

7
1

4.5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang ada


Sarana kesehatan saat ini sudah banyak mengalami kemajuan, hal ini tidak
terlepas dari besarnya dukungan PEMDA Aceh Utara. Walaupun demikian masih
banyak juga sarana kesehatan yang memerlukan penambahan, terutama
POLINDES dan POSKESDES. Dari 43 desa hanya 14 desa yang sudah ada
POLINDES.
Adapun sarana kesehatan yang ada:
1.

Puskesmas Induk dengan fasilitas rawat jalan, rawat inap, ruang


bersalin dan UGD

2.

Puskesmas pembantu 4 unit :


a.

Puskesmas pembantu Alue Rambe,

b.

Puskesmas Pembantu Mc. Bahagia

c.

Puskesmas Pembantu Cot Seutui

d.

Puskesmas Pembantu Sidomulyo

3.

Polindes 14 Unit, yang berada didesa :


a.

Pulo Rayeuk

b.

Pulo Barat

c.

Blang Talon

d.

Blang Ado

e.

Babah Lueng

f.

Langkuta

g.

Cot Rheu

h.

Cot Merbo

i.

Guha Uleu

j.

Krueng Seunong

k.

Buket

l.

Saweuk

m.

Alue Rambe

n.

Cimpedak

4.

Poskesdes 2 unit, yang berada didesa


a.

Pulo Iboih

b.

Guha Uleu

4.6 Data Kesehatan Masyarakat (Primer)


4.6.1

Prevalensi Masalah Kesehatan Masyarakat Sebelum Penyuluhan


Sebelum dilakukan penyuluhan tentang tingkat pengetahuan, sikap dan

tindakan ibu tentang Kadarzi, didapatkan persentase dari 35 orang adalah:


Tabel 4.2 Distribusi Pengetahuan tentang Kadarzi
Pengetahuan

Frekuensi (n)

Baik
Cukup
Kurang
Total

5
23
7
35

Persentase
(%)
14,29
65,71
20
100,0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan dari 35 responden, 5 responden


(14,29%) mempunyai tingkat pengetahuan baik sebelum penyuluhan, 23
responden (65,71%) mempunyai tingkat pengetahuan cukup baik sebelum
penyuluhan, dan 7 responden (20,0 %) mempunyai tingkat pengetahuan kurang
baik sebelum penyuluhan.
Tabel 4.3 Distribusi Sikap tentang Kadarzi
Sikap

Frekuensi (n)

Baik
Cukup
Kurang
Total

7
25
3
35

Persentase
(%)
20,0
71,43
8, 57
100,0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan dari 35 responden, 7 responden


(20,0%) mempunyai sikap baik sebelum penyuluhan, 25 responden (71,43%)
mempunyai sikap cukup baik sebelum penyuluhan, dan 3 responden (8,57%)
mempunyai sikap kurang baik sebelum penyuluhan.

Tabel 4.4 Distribusi Tindakan tentang Kadarzi


Tindakan
Baik
Cukup
Kurang
Total

Frekuensi (n)
10
24
1
35

Persentase
(%)
28,57
68,57
2,86
100,0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan dari 35 responden, 10 responden


(28,57%) mempunyai tindakan baik sebelum penyuluhan, 24 responden (68,57%)
mempunyai tindakan cukup baik sebelum penyuluhan, dan 1 responden (2,86%)
mempunyai tindakan kurang baik sebelum penyuluhan.
4.6.2

Perilaku Kesehatan Masyarakat Sesudah Penyuluhan


Sesudah dilakukan penyuluhan tentang kadarzi, didapatkan persentase dari

35 orang adalah:
Tabel 4.5 Distribusi Pengetahuan tentang Kadarzi
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang
Total

Frekuensi (n)
23
12
0
35

Persentase
(%)
65,71
34,29
0
100,0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan dari 35 responden, 23 responden


(65,71%) mempunyai tindakan baik sesudah penyuluhan, 12 responden (34,29%)
mempunyai tindakan cukup baik sesudah penyuluhan, dan tidak ada responden
yang mempunyai tindakan kurang baik sesudah penyuluhan.

Tabel 4.6 Distribusi Sikap tentang Kadarzi


Sikap

Frekuensi (n)

Baik
Cukup
Kurang
Total

15
20
0
35

Persentase
(%)
42,86
57,14
0
100,0

Berdasarkan tabel atas menunjukkan dari 35 responden, 15 responden


(42,86%) mempunyai sikap baik sesudah penyuluhan, 20 responden (57,14%)
mempunyai sikap cukup sesudah penyuluhan, dan tidak ada lagi responden yang
mempunyai sikap kurang sesudah penyuluhan.

Tabel 4.7 Distribusi Tindakan tentang Kadarzi


Tindakan
Baik
Cukup
Kurang
Total

Frekuensi (n)
10
24
1
35

Persentase
(%)
28,57
68,57
2,86
100,0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan dari 35 responden, 10 responden


(28,57%) mempunyai tindakan baik sesudah penyuluhan, 24 responden (68,57%)
mempunyai tindakan cukup baik sesudah penyuluhan, dan hanya 1 responden
(2,86%) mempunyai tindakan kurang baik sesudah penyuluhan.

BAB V
DISKUSI
1. Apa semua indikator terdapat di kuesioner?
- Kuesioner yang digunakan dalam mini project ini merupakan kuesioner
yang telah divalidasi sebelumnya. Setiap pertanyaan yang diajukan dalam
kuesioner ini mencakup masing-masing indikator kadarzi mengenai
pengetahuan, sikap dan tindakan.
2. Apa jenis penelitian yang digunakan dalam mini project ini?
- Mini project ini merupakan jenis penelitian dekskriptif dengan
menggunakan metode accidental sampling, dimana peneliti mengambil
semua responden yang tersedia pada saat penelitian dengan kriteria
tertentu.
3. Apakah cukup hanya menggunakan waktu sebulan untuk pelaksanaan mini
project ini?
- Dengan alasan keterbatasan waktu, pelaksanaan mini project ini hanya
dapat menampilkan gambaran umum perilaku ibu tentang kadarzi yang
meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan. Kuesioner yang digunakan
cukup mewakili dan memenuhi apa yang diharapkan peneliti.
4. Apakah pelaksanaan mini project ini dilakukan secara bertahap?
- Pelaksanaan mini project ini dilakukan dalam dua kali pertemuan.
Pertemuan pertama untuk menilai perilaku ibu sebelum dilakukan

penyuluhan dan pertemuan kedua untuk mengevaluasi perilaku ibu


sesudah penyuluhan yang telah diberikan.
5. Mengapa ibu yang dijadikan sasaran dalam penelitian ini? Mengapa tidak
dilakukan pada bapak? Bukankah justru bapak yang mempengaruhi keadaan
gizi seseorang melalui ekonomi yang diberikan?
- Kebijakan perihal keluarga terutama mengenai gizi dalam keluarga sangat
dipengaruhi oleh keberadaan ibu. Ibu yang bijak dapat mengenali dan
mengatasi masalah yang terjadi di dalam keluarga terutama perihal gizi.
Bapak dalam hal ini terutama di daerah pedesaan lebih berpengaruh dalam
hal menentukan status ekonomi keluarga. Status ekonomi memang sangat
berpengaruh terhadap status gizi kelurga namun ketika seorang ibu bijak
menyikapinya, maka status gizi kelurga pun dapat baik.
Sebagai contoh, uang belanja yang minim diperoleh ibu dari bapak.
Seorang ibu yang bijak dapat menyikapi dengan membeli bahan makanan
yang terjangkau dan tetap bergizi serta menyediakan porsi yang cukup
sesuai kebutuhan gizi setiap anggota keluarga.
6. Tindakan tidak bisa dinilai secara langsung dan dievaluasi dalam waktu
singkat. Bagaimana menyikapinya?
- Dalam pelaksanaan mini project ini, peneliti menggunakan kuesioner yang
telah divalidasi. Sehingga diharapkan tindakan para ibu tetap dapat
diketahui dan dievaluasi melalui pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner
yang diberikan.
Melalui penyuluhan yang diberikan diharapkan dapat menambah
pengetahuan ibu yang pada akhirnya dapat meningkatkan perbaikan dalam
sikap dan tindakan ibu tentang kadarzi dalam kehidupan sehari-harinya.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari mini project yang telah dilakukan di Puskesmas
Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara tentang tingkat pengetahuan, sikap dan
tindakan tentang sanitasi dasar dan rumah sehat dapat disimpulkan bahwa:
1. Masih banyak ibu dengan pengetahuan, sikap dan tindakan yang cukup tentang
Kadarzi.
2. Secara keseluruhan didapatkan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan
mayoritas responden meningkat di kategori baik dan cukup setelah diadakan
penyuluhan.
6.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan fungsi posyandu sebagai wahana masyarakat dalam mengetahui
secara dini perihal adanya gangguan dalam pertumbuhan balita.
2. Peningkatan pendidikan dan promosi gizi yang lebih intensif dan sistematis
melalui advokasi, sosialisasi, KIE dan pendampingan keluarga.
3. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas unit kesehatan masyarakat,
terutama dalam pengelolaan dan tatalaksana masalah gizi.
4. Dukungan sarana dan prasarana untuk peningkatan cakupan dan kualitas
pelayanan gizi.
5. Peningkatan surveilans berbasis masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2004, Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia


Anonymous, 2007. Mengenal 13 Pedoman Umum Gizi Seimbang. www.

gizi. net.
Arisman. 2007. Gizi dalam Daur Kehidupan Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta:

Buku Kedokteran EGC.


Budianto, J, dkk. 1998. Strategi Menuju Perilaku Makan Sehat Dan
Implikasinya Pada Perencanaan Ketersediaan Pangan, Widya Karya

Nasional Pangan Dan Gizi. Jakarta: Bina Kerjasama Iptek LIPI.


Departemen Kesehatan RI. 1995. Panduan 13 Pesan Dasar Gizi

Seimbang. Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat.


Departemen Kesehatan RI. 1998. Keluarga Mandiri Sadar Gizi. Jakarta:

Direktorat Bina Gizi Masyarakat.


Departemen Kesehatan RI. 2004, Keluarga Sadar Gizi. Jakarta: Direktorat

Bina Gizi Masyarakat


Dinas Kesehatan Sumut. 2001. Bekalku Membina Keluarga Sadar Gizi.

Medan
Dinas Kesehatan Sumut. 2006. Rencana Aksi Pangan Dan Gizi Sumut

2006-2010. Medan
Irianto, K, & Waluyo, K. 2007, Gizi dan Pola Hidup Sehat. Bandung:

Yrama Widya.
Kristiyanasari, W. 2009. ASI, Menyusui & SADARI. Yogyakarta.
Luciasari, dkk. 1996. Menjaga Kesehatan Balita. Jakarta: Puspa Swara.
Notoatmodjo, S, 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Asdi Mahasatya
Suparmanto, Astuti, Sri. 2007. Pedoman Strategi KIE Keluarga Sadar

Gizi (KADARZI). Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat.


Sutiono, B. 2002. Menu Gizi Seimbang. Jakarta: Balai Pustaka.

Utamy, R. 2008. ASI Ekslusif. Jakarta: Trubus Agriwiya.

Yokozu, 2009, Dampak Suplemen Bagi Kesehatan. http://yokozu.


Blogspot. com. 27 oktober 2010.