Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

TUBERCULOSIS PARU (TBC)


PUSKESMAS DINOYO MALANG

Disusun Oleh:

Fitrianti. S. Dg. Badjo


201320461011086

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2014
LAPORAN PENDAHULUAN
TUBERCULOSIS PARU (TBC)
A. Definisi
Tuberkulosis (TB) Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi. (Mansjoer,
2009).
Tuberkulosis adalah penyakit infeksius yang disebabkan Mycobacterium
Tuberkulosis terutama menyerang parenkim paru, dapat juga ditularkan ke
bagian tubuh lainnya, termaksuk meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe.
(Brunner, 2002: hal 349).
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium Tuberculosis dan biasanya menjangkiti paru. (Esther, 2010: hal
193).
Tuberkulosis adalah contoh lain infeksi saluran napas bawah. Penyakit ini
disebabkan oleh mikro-organisme Mycobacterium Tuberculosis, yang biasanya
ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet), orang ke orang, dan
mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus. (Elishabeth, 2001: hal 414).
B. Klasifikasi
Di Indonesia klasifikasi yang banyak di pakai adalah berdasarkan kelainan klinis,
dan mikro biologis:
1. Tuberculosis paru.
2. Bekas tuberculosis paru.
3. Tuberkulosis tersangka
Tuberculosis tersangka terbagi menjadi tuberculosis tersangka yang
diobati, disini sputum BTA negatif, tetapi tanda-tanda lain positif. dan
tuberculosis paru tersangka yang tidak diobati, disini sputum BTA negatiaf,
dan tanda-tanda lain juga meragukan.
Dalam 2-3 bulan, TB tersangka ini sudah harus dipastikan apakah
termaksuk TB paru aktif atau bekas TB paru. Dalam klsifikasi ini perlu

dicantumkan: status biakan bakteriologi, mikriskopik sputum BTA,


(langsung), biakan sputum BTA, status radiologis, kelainan yang relevan
untuk tuberculosis paru, dan status kemoterapi, riwayat pengobatan dengan
obat anti tuberkuosis.
WHO berdasarkan terapi membagi TB dalam 4 kategori yaitu:
1. Kategori I
Ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan
bentuk TB berat.
2. Kategori II
Ditujukan terhadap kasus kambuh dan kasus gagal dengan sputum BTA
positif.
3. Kategori III
Ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan yang tidak luas dan
kasus TB ekstra paru selain yang disebutkan dalam kategori I
4. Kategori IV
Ditujikan kepada : TB kronik.
C. Etiologi
Penyebab

penyakit

tuberkulosis

adalah

bakteri

Mycobacterium

Tuberculosis dan Mycobacterium Bovis. Kuman tersebut mempunyai ukuran 0,5


4 mikron x 0,3-0,6 mikron dengan bentuk batang tipis, lurus atau agak
bengkok, bergranular atau tidak mempunyai selubung, tetapi mempunyai lapisan
luar tebal yang terdiri dari lipoid (terutama asam mikolat).
Bakteri ini mempunyai sifat istimewa yaitu dapat bertahan terhadap
pencucian warna dengan asam dan alkohol, sehingga sering disebut basil tahan
asam (BTA), serta tahan terhadap zat kimia dan fisik. Kuman tuberculosis juga
tahan dalam keadaan kering dan dingin, bersifat dorman dan anaerob.
Bakteri tuberculosis ini mati pada pemanasan 100 0C selama 5 10 menit
atau pada pemanasan 60 oC selama 30 menit, dan dengan 70 95 % selama 1530 detik. Bakteri ini tahan selama 1-2 jam di udara terutama di tempat yang
lembab dan gelap (bisa berbulan-bulan), dapaat hidup bertahun-tahun di dalam
lemari es, hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dorman. Dari sifat
dorman ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberculosis aktif lagi,

namun tidak tahan terhadap sinar atau aliran udara. Data pada tahun 1993
melaporkan bahwa untuk mendapatkan 90 % udara bersih dari kontaminasi
bakteri memerlukan 40 kali partukaran udara.
Di dalam jaringan kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni di dalam
sitoplasma makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya
karena banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini
menunjukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan
oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apical paru paru lebih
tinggi dari bagian lain, sehingga bagian apical ini merupakan tempat predileksi
penyakit tuberculosis. (Widoyono, 2008: hal 15).
D. Patofisiologi
Infeksi diawali karena seseorang menghirup basil M.Tuberculosis. Bakteri
menyebar melalui jalan nafas menuju alveoli lalu berkembang biak dan terlihat
bertumpuk. Perkembangan M.Tuberculosis juga dapat menjangkau sampai ke
area lain dari paru-paru (lobus atas). Basil juga menyebar melalui system limfe
dan aliran darah ke bagian tubuh lain (ginjal, tulang dan korteks cerebry).
Selanjutnya system kekebalan tubuh memberikan respon dengan melakukan
reaksi inflamasi. Neutrofil dan makrofag melakukan aksi fagositosis (menelan
bakteri), sementara limfosit spesifik tuberculosis menghancurkan (melisiskan)
basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan terakumulasinya
eksudat dalam alveoli yang menyebabkan bronchopneumonia. Infeksi awal
biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar bakteri.
Interaksi antara M. tuberculosis dan system kekebalan tubuh pada masa
awal infeksi membentuk sebuah masa jaringan baru yang disebut granuloma.
Granuloma terdiri atas gumpalan basil hidup dan mati yang dikelilingi oleh
makrofag seperti dinding. Granuloma selanjutnya berubah bentuk menjadi massa
jangringan fibrosa. Bagian tengah dari massa tersebut disebut ghon tubercle.
Materi yang terdiri atas makrofag dan bakteri menjadi nekrotik yang selanjutnya
membentuk materi yang penampakannya seperti keju (necrotizing caseosa) hal

ini kan menjadi kalsifikasi dan akhirnya membentuk jaringan kolagen, kemudian
bakteri menjadi non aktif.
Setelah infeksi awal, jika respon system imun tidak adekuat maka penyakit
akan menjadi lebih parah. Penyakit yang kian parah dapat timbul akibat infeksi
ulang atau bakteri yang sebelumnya tidak aktif kembali menjadi aktif. Pada
kasusu ini, ghon tubercle mengalami ulserasi sehingga menghasilkan necrotizing
caseosa didalam brounkhus. Tubercle yang ulserasi selanjutnya menjadi sembuh
dan membentuk jaringan parut. Paru-paru yang terinfeksi kemudian meradang
mengakibatkan

timbulnya

bronkopneumonia,

membentuk

tuberkel,

dan

seterusnya. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya. Proses ini
berjalan terus dan basil terus difagosit atau berkembang biak didalam sel.
Makrofag mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu
membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan
10 20 hari). Daerah yang mengalami nekrosis dan jaringan granulasi yang
dikelilingi sel epiteloid dan fibroblas akan menimbulkan respons berbeda, pada
akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang dikelilingi oleh tuberkel.
E. Manifestasi Klinis
Menurut Sudoyo, dkk (2009), Tanda dan gejala tuberculosis Paru, yaitu:
1. Demam
Biasanya subfebris menyerupai demam influenza tetapi panas badan kadangkadang dapat mencapai 40-41 oC. serangan demam pertama dapat sembuh
sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya hilang
timbulnya demam influsnza ini, sehingga pasien merasa tidak pernah
terbebas dari serangan demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi
oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis
yang masuk.
2. Batuk atau Batuk Darah
Gejala ini banyak di temukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada
bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-prosuk radang
keluar. Karena terlibatnya bronkus di setiap penyakit tidak sama, mungkin

saja batuk baru ada setelah batuk berkembang dalam jaringan paru yakini
setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan bermula. Sifat
batuk dimulai dari batuk kering (non Produktif) kemudian setelah timbul
peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut
adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah.
Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat
juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
3. Sesak Napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas.
Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang
infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
4. Nyeri Dada
Gejala ini agak jarang ditemukan, nyeri dada tibul bila infiltrasi radang
sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan
kedua pleura sewaktu pasien menarik atau melepaskan napasnya.
5. Malaise
Penyakit tuberculosis bersifat randang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan berupa aneroksia, tidak ada nafsu maka, badan makin kurus
(berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam dan
lain-lain. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang
timbul secara tidak teratur.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium darah rutin: LED normal/meningkat, limfositosis.
2. Pemeriksaan sputum BTA: untuk memastikan diagnostik TB paru, namun
pemeriksaan ini tidak spesifik karena hanya 30 70 % pasien yang dapat
didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini.
3. Tes PAP (Peroksidase Anti Peroksidase)
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen staining
untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB.
4. Tes Mantoux/Tuberkulin

Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen staining


untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB.
5. Tehnik Polymerase Chain Reaction
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam meskipun
hanya satu mikroorganisme dalam spesimen juga dapat mendeteksi adanya
resistensi.
6. Becton Dickinson diagnostic instrument Sistem (BACTEC)
Deteksi growth indeks berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme
asam lemak oleh mikobakterium tuberculosis.
7. MYCODOT
Deteksi antibody memakai antigen liporabinomannan yang direkatkan pada
suatu alat berbentuk seperti sisir plastic, kemudian dicelupkan dalam jumlah
memadai memakai warna sisir akan berubah.
8. Pemeriksaan radiology: Rontgen thorax PA dan lateral
Gambaran foto thorax yang menunjang diagnosis TB, yaitu:
a. Bayangan lesi terletak di lapangan paru atas atau segment apikal lobus
b.
c.
d.
e.
f.
g.

bawah
Bayangan berwarna (patchy) atau bercak (nodular)
Adanya kavitas, tunggal atau ganda
Kelainan bilateral terutama di lapangan atas paru
Adanya klasifikasi
Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
Bayangan millier

Menurut Sudoyo, dkk (2009), pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada
klien dengan tuberculosis paru, yaitu:
1. Pemeriksaan radiologis (Photo Thorax)
Lokasi lesi tuberculin umumnya di daerah apex paru (segmen apical
lobus atas atau segmen apical lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai
lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus menyerupai tumor paru
(misalnya pada tuberculosis endobronkial).
Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang
pneumonia, gambaran radiologis berupa bercak-bercak seperti awan dan
dengan batas-batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat
maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas. Lesi ini
dikenal dengan tuberkuloma.

Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdinding


tipis. lama-lama dinding menjadi sklerotik dan terlihat menebal. Bila terjadi
fibrosis terlihat bayangan yang bergaris-garis. Pada klasifikasi bayangannya
tambak sebagai bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Pada atelektasis
terlihat seperti fibrosis yang luas disertai penciutan yang dapat terjadi pada
sebagian atau satu lobus maupun pada satu bagian paru.
Gambaran tuberculosis millier terlihat berupa bercak-bercak halus
yang umumnya tersebar merata pada seluruh lapang paru.
Gambaran radiologis lain yang sering menyertai tuberculosis paru
adalah penebalan pleura (pleuritis), massa cairan dibagian bawah paru (efusi
pleura/empiema), bayangan hitam radioulsen di pinggir paru/pleura
(pnemothorax).
Pada satu foto dada sering di dapatkan bermacam-macam bayangan
sekaligus (pada tuberculosis yang sudah lanjut) seperti infiltrate, garis-garis
fibrotik, klasivikasi kavitas (non sklerotik/sklerotik) maupun atelektasis dan
emfisema.
2. Computed Tomography Scanning (CT-Scan)
Pemeriksaan radiologis dada yang lebih canggih dan saat ini sudah
banyak dipakai di rumah sakit rujukan

adalah Computed Tomography

Scanning (CT-Scan). Pemeriksaan ini lebih superior dibandingkan dengan


radiologis biasa. Perbedaan densitas jaringan terlihat lebih jelas dan sayatan
dapat dibuat transversal.
3. Magnetic Resonsnce Imaging (MRI)
Pemeriksaan MRI ini tidak sebaik CT-Scan, tetapi dapat mengevalusai
proses-proses dekat apek paru, tulang belakang, perbatasan dada perut.
Sayatan dapat dibuat transversal, segital dan koronal.
4. Darah
Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya kadangkadang meragukan, hasilnya tidak sensitive dan tidak spesifik. Pada saat
tuberculosis baru mulai aktif akan didapatkan jumlah leukosit sedikit
meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di
bawah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai

sembuh jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi,
laju endap darah mulai turun kearah normal lagi.
5. Sputum (BTA)
Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya
ditemukan 3 batang kuman

BTA pada satu sediaan. Dengan kata lain

diperlukan 5.000 kuman dalam 1 ml sputum.


6. Tes tuberculin/tes mantoux
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakan
diagnosis tuberculosis terutama pada anak-anak (balita). Biasanya dipakai
tes mantoux yakini dengan menyuntikan 0,1 cc tuberculin P.P.D (purified
protein derivative).
Bila ditakutkan reaksi hebat dengan 5 T.U dapat diberikan dulu 1 atau
2 T.U ( first strength). kadang-kadang bila dengan 5 T.U masih memberikan
hasil negative, berarti tuberculosis dapat disingkirkan , umumnya tes
mantoux dengan 5 T.U. Sudah cukup berarti. Tes tuberculin hanya
menyatakan apakah seorang individu sedang atau pernah terserang
Mycobacterium tuberculosis, mycobacterium bovis.
Tes mantoux ini dapat dibagi kedalam beberapa kategori yaitu:
a. Indurasi 0-5 mm (diameternya ) mantoux negative = golongan non
sensitivity.
b. Indurasi 6-9 mm: hasil meragukan = golongan low grade sensitivity.
Disini peran antibody normal masih menonjol.
c. Indurasi 10-15 mm: mantoux positif kuat = golongan hypersensitivity
disini peran antibody selular paling menonjol.
G. Penatalaksanaan Medik
1. Pengobatan
Menurut (Widuyono, 2008: hal 18), pengobatan yang dapat diberikan pada
klien dengan tuberculosis Paru, yaitu:
a. Kategori I (2 HRZE/4 H3R3) untuk pasien TBC baru.
b. Kategori II (2 HRZES / HRZE/5 H3R3E3) untuk pasien ulangan (pasien
yang pengobatan kategori 1 nya gagal).

c. Kategori III (2 HR/ 4H3R3) untuk pasien yang baru dengan BTA
negative RO positif.
d. Sisipan (HRZE) digunakan sebagai tambahan bila ada pemeriksaan
akhir tahap intensif dari pengobatan dengan kategori I atau kategori II
ditemuukan BTA positif. Obat diminum sekaligus 1 jam sebelum
sarapan pagi.
Dosis pemberian obat kategori 1:
a. Tahap permulaan diberikan setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE):
1) INH (H)
: 300 mg 1 tablet.
2) Rimfapisin (R) : 450 mg - 1 kaplet
3) Pirazinamid (P) :1500 mg - 3 kaplet @ 500 mg
4) Ethambutol (E) : 750 mg 3 kaplet @250 mg
Obat tersebut diminum setiap hari secara intensif sebanyak 60 kali
regimen ini di sebut kombipak II
b. Tahap lanjutan diberikan tiga kali dalam semingggu selan 4 bulan (4
H3R3):
1) INH (H)
: 600 mg 2 tablet @ 300 mg
2) Rimfapisin (R) : 450 mg 1 kaplet
Obat tersebut diminum 3 kali dalam seminggu (intermiten) sebanyak 54
kali regimen ini disebut kombipak III.
2. Pembedahan
Menurut Mansjoer (2000 : hal 474 ), pembedahan pada TB Paru. Peranan
pembedahan dengan adanya OAT yang poten telah berkembang. Indikasi
pembedahan dibedakan menjadi indikasi mutlak dan indikasi relative.
a. Indikasi mutlak pembedahan adalah:
1) Semua pasien yang telah mendapat OAT tetapi sputum tetap
posoitif.
2) Pasien batuk darah masih tidak dapat diatasi dengan cara
konservatif
3) Pasien dengan fisula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat
diatasi secara konservatif.
b. Indikasi relative pembedahan adalah:
1) Pasien denga sputum negative dan batuk-batuk darah perulang
2) Kerusakan 1 paru atau lobus dengan keluhan
3) Sisa kavitas yang menetap.

H. Komplikasi
Menurut Sudoyo, dkk (2009), komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan
tuberculosis Paru, yaitu:
1. Pleuritis tuberkulosa
Terjadi melalui fokus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening,
sebab lain dapat juga dari robeknya perkijuan ke arah saluran getah bening
yang menuju ronggal pleura, iga atau columna vertebralis.
2. Efusi pleura
Kelaurnya cairan dari peembuluh darah atau pembuluh limfe ke dalam
jaringan selaput paru, yang disebabkan oleh adanya penjelasan material
masuk ke rongga pleura. Material mengandung bakteri dengan cepat
mengakibatkan reaksi inflamasi dan exudat pleura yang kaya akan protein.
3. Empiema
Penumpukann cairana terinfeksi atau pus (nanah) pada cavitas pleura,
rongga pleura yang di sebabkan oleh terinfeksinya pleura oleh bakteri
mycobacterium tuberculosis (pleuritis tuberculosis).
4. Laryngitis
Infeksi mycobacteriym pada laring yang kemudian menyebabkan laryngitis
tuberculosis.
5. TBC Milier (tulang, usus, otak, limfe)
Bakteri mycobacterium tuberculosis bila masuk dan berkumpul di dalam
saluran pernapasan akan berkembang biak terutama pada orang yang daya
tahan tubuhnya lemah, dan dapat menyebat melalaui pembuluh darah atau
kelenjar getah bening, oleh karena itu infeksi mycobacterium tuberculosis
dapat menginfeksi seluruh organ tubuh seperti paru, otak, ginjal, dan saluran
pencernaan.
6. Keruskan parennkim paru berat
Mycobacterium tuberculosis dapat menyerang atau menginfeksi parenkim
paru, sehingga jika tidak ditangani akan menyebabkan kerusakan lebih lanjut
pada parenkim yang terinfeksi.
7. Sindrom gagal napas (ARDS)

Disebabkan oleh kerusakan jaringan dan organ paru yang meluas,


menyebabkan gagal napas atau ketidak mampuan paru-paru untuk
mensuplay oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
I. Prognosis.
Tuberculosis paru dapat disembuhkan secara total dengan pemberian obat
antituberculosis (OAT) yang di konsumsi selama 6 bulan secara rutin. (Sylvia,
1995 : hal 759)
J. Pencegahan
Tindakan pencegahan

yang

dapat

dilakukan

untuk

mencegah

infeksi

mycobacterium tuberkuloisi adalah sebagai berikut:


1. Oleh penderita dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk, dan
membuang dahak tidak di sembatang tempat (di dalam larutan disinfektan).
2. Dengan memberikan vaksin BCG pada bayi.
3. Disinfeksi, cuci tangan, dan tata rumah tangga dan kebersihan yang ketat,
perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah, memperbaiki ventilasi,
sirkulasi udara, dan penyinaran matahari di rumah.
4. Menghindari faktor predisposisi seperti merokok, udara yang lembab dan
kotor (polusi).
5. Mencegah kontak langsung dengan penderita tuberculosis paru.
K. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Pada konsep dasar asuhan keperawatan ini akan dibahas tentang

pengkajian,

diagnosa keperawatan, intervensi,implementasi, evaluasi dan perencanaan


pulang.
1. Pengakajian
Pengkajian menurut 11 pola Gordon yaitu:
a. Pola pemeliharaan kesehatan
1) Adanya riwayat keluarga yang mengidap penyakit tuberculosis paru
2) Kebiasaan merokok atau minum alcohol.
3) Lingkungan yang kurang sehat, pemukiman padat, ventilasi rumah
yang kurang.
b. Pola nutrisi metabolic
1) Nafsu atau selera makan menurun
2) Mual

3) Penurunan berat badan


4) Turgor kulit buruk,kering, kulit bersisik
c. Pola eliminasi
1) Adanya gangguan pada BAB seperti konstipasi
2) Warna urin berubah menjadi agak pekat karena efek samping dari
obat tuberculosis paru
d. Pola aktivitas dan latihan
1) Kelemahan umum/ anggota gerak
2) Pemenuhan kebutuhan sehari-hari terganggu.
e. Pola tidur dan istirahat
1) Kesulitan tidur pada malam hari
2) Mimpi buruk
3) Berkeringat pada malam hari
f. Pola persepsi kognitif
Nyeri dada meningkat karena batuk
g. Pola persepsi dan konsep diri
1) Perasaan isolasi/ penolakan karena panyakit menular
2) Perasaan tidak berdaya
h. Pola peran hubungan dengan sesame
1) Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran
2) Frekuensi ineraksi antara sesame jadi kurang.
i. Pola reproduksi seksualitas
Gangguan pemenuhan kkebutuhan biologis dengan pasangan
j. Pola meknisme koping dan toleransi terhadap stress
1) Menyangkal (khususnya selama hidup ini)
2) Ansietas
3) Perasaan tidak berdaya
k. Pola sistem kepercayaan
Kegiatan beribadah terganggu
L. Diagnosa Keperawatan yang Muncul
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan mukus dalam jumlah
berlebih
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar
4. Ketidakeseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis
5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis (inflamasi paru, batuk
menetap)
6. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.

7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai


dan kebutuhan oksigen.
8.

9.