Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KASUS

PERSALINAN KALA II DENGAN GAWAT JANIN


Kelompok III

Tasya Rahmani
Tri Annisa
Vania Paramitha
Yulius Nugroho
Zaki Audah
Almirazada Zhes Putri
Amanda Fitriadhianti K
Amelia Shadrina
Anak Agung Anom Suwahyu
Anastasia Yunike Eka M
Anasti Putri Paramatasari
Andrian Astugono Bayu Prakoso
Anggi Miranda Tanjung

030.09.251
030.09.257
030.09.263
030.09.280
030.09.285
030.10.022
030.10.024
030.10.025
030.10.026
030.10.027
030.10.028
030.10.029
030.10.031

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI


JAKARTA

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

SKENARIO KASUS

PEMBAHASAN
1. Analisis masalah

2. Tindakan episiotomi

Definisi
Indikasi dan Kontraindikasi
Jenis Episiotomi
Klasifikasi Robekan Perineum
Alat Yang Dibutuhkan
Cara Melakukan Episiotomi
Prinsip Operatif Penjahitan Luka Episiotomi
Perawatan Pasca Tindakan Episiotomi
Komplikasi Tindakan Episiotomi

7
7
7
8
11
11
12
12
13

KESIMPULAN

14

DAFTAR PUSTAKA

15

BAB I
PENDAHULUAN
Episiotomi adalah pengguntingan mulut rahim sebagai jalan lahir pada saat proses
persalinan. Bila persalinan dilakukan dengan tindakan episiotomi, maka sebaiknya jika habis ke
buang air kecil atau besar, bekas luka dikompres dengan obat antiseptik. Hal ini untuk
menghindari terjadinya infeksi. Selain kompres, bisa juga dilakukan dengan mengolesinya
dengan salep antibiotik.
Jika robekan tersebut hingga mengenai anus, maka sesudah anusnya dibenahi, pasien
harus diet sampai luka di anusnya sembuh, kira-kira 5-7 hari. Pengguntingan mulut rahim sebagai
2

jalan untuk kelahiran janin pada saat persalinan kadangkala perlu dilakaukan. Melahirkan tanpa
pengguntingan bisa mengakibatkan robekan ke mana-mana. Episiotomi merupakan tindakan
bedah ringan berupa sayatan/irisan di daerah perineum antara lubang kemaluan (vagina) dan
lubang pelepasan (anus).
Gracia, menemukan bahwa dari total 1951 kelahiran spontan pervaginam, 57% ibu
mendapat mendapat jahitan (28% karena episiotomi dan 29% karena robekan). Oleh karena itu
perawatan luka ini merupakan bagian umum asuhan postnatal.

BAB II

SKENARIO KASUS
Seorang wanita, dalam keadaan inpartu ditemani oleh bidan datang ke kamar bersalin RS
Kyai Tapa. Dari keterangan bidan pengantar, si ibu berumur 24 tahun, hamil pertama kali. Pasien
kontrol teratur di bidan dan saat ini hamil cukup bulan. Ibu dirujuk karena sudah dipimpin
meneran hampir dua jam tetapi janin belum lahir. Pada pemeriksaan obstetri didapatkan janin
letak memanjang dengan presentasi kepala. Denyut jantung janin 100x/menit. Pemeriksaan dalam
didapatkan pembukaan serviks lengkap, ketuban sudah pecah dan kepala janin sudah di dasar
panggul. Dokter merencanakan mempercepatkan kala II dengan ekstraksi forcep, didahului
dengan tindakan episiotomi.

BAB III
PEMBAHASAN
1. Analisis masalah
Masalah yang terdapat pada pasien ini :

Ibu yang akan partus sudah dipimpin meneran lebih dari 2 jam namun janin belum
lahir,

Denyut jantung janin 100x per menit (bradikardi/ tanda gawat janin)
Nilai normal DJJ = 120-160 x per menit

Ketuban sudah pecah dan kepala janin sudah di dasar panggul.


SEBAB TERJADINYA PROSES PERSALINAN
1. Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen menurun
mendadak, nutrisi janin dari plasenta berkurang.

2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi


stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus.
3. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin
merangsang terjadinya kontraksi.
4. Peningkatan beban / stress pada maternal maupun fetal dan peningkatan
estrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison, prostaglandin,
oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses persalinan

PERSALINAN DITENTUKAN OLEH 3P :

Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan
kardiovaskular respirasi metabolik ibu.

Passage
Keadaan jalan lahir

Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan
anatomi mayor)
(++ faktor2 P lainnya : psychology, physician, position)
Dengan adanya keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor P tersebut,
persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.

FASE PENGELUARAN BAYI

Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap.

Berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap.

His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat.

Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2.

Peristiwa penting pada persalinan kala 2

1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar
panggul
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis
sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota
badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar
jalan lahir (episiotomi).
Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam.

Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala :

1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan
pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas
panggul (asinklitismus anterior / posterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari
daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi

otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi
dan menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari
diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipitobregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran
ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala
melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati
bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi,
hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan
sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior
sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan
mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter
depan dan belakang, tungkai dan kaki.

2. Tindakan episiotomi
Definisi
Episiotomi adalah tindakan menggunting perineum dengan tujuan untuk membuat jalan lahir
menjadi lebih lebar . Tindakan episiotomi tidak selalu dilakukan , namun perlu dikaji ulang .
Indikasi
Episiotomi dipertimbangkan pada beberapa keadaan seperti.

Persalinan pervaginam dengan penyulit (sungsang , distosia bahu , ekstraksi cunam , preterm, bayi besar,

vakum)
Penyembuhan rupture perinea tingkat III-IV
Gawat janin
Perlindungan kepala bayi premature jika perineum ketat
Perineum yang kaku

Jenis Episiotomi
Macam-macam episiotomi:
1.

Episiotomi median atau midline memotong ke dalam titik tendinosa perineum, memisahkan dua sisi otot
bulbokavernosa dan otot perinei transversa superfisial dan kadang-kadang otot perinei ransfersa profunda.
Episiotomy media, menyebabkan kehilangan darah yang lebih sedikit, proses pemulihan yang lebih
baikdengan hasil bagus pada anus dan menyebabkan dispareunia berkurang, disbanding tipe episiotomy

2.

lain. Kerugiannya ialah bahwa luas potongan sampai ke sfingter rectum.


Episiotomi mediolateral memotong ke dalam titik tendinosa pusat pada perineum mengarah ke tuberositas
iskium, melalui otot bulbukavernosus, otot perinei transversa superfisial dan profunda, dank e dalam otot
pubokoksigeus. Insisinya harus dimulai dari pusat untuk menghindari kelenjar Bartholin dan menyisakan
jarak sekurang-kurangnya 1 cm lateral ke sfingter rektal sehingga memungkinkan perbaikan. Perbaikan ini
lebih sulit, 10% pulih disertai ketidaksempurnaan anatomi, lebih banyak ibu mengalami pemulihan lebih
lama, lebih banyak ibu mengalami dyspareunia (lokasi menyebabkan peningktan ketegangan pada luka) dan
menyebabkan kehilangan darah yang lebih banyak. Luas perbaikan sampai mencapai sfingter rektal lebih
sedikit.

Klasifikasi Robekan Perineum


1. Ruptur Perineum Spontan
Yaitu luka pada perineum yang terjadi karena sebab-sebab tertentu tanpa dilakukan
tindakan perobekan atau disengaja. Luka ini terjadi pada saat persalinan dan biasanya tidak
teratur.
Tingkat robekan perineum dapat dibagi atas 4 tingkatan:
Tingkat I : Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit
perineum sedikit.
Tingkat II : Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu selain mengenai selaput lendir vagina juga
mengenai muskulus perinei transversalis, tapi tidak mengenai sfingter ani.
8

Tingkat III : Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai mengenai otot-otot sfingter
ani. Ruptura perinei totalis di beberapa kepustakaan yang berbeda disebut sebagai termasuk dalam
robekan derajat III atau IV. Beberapa kepustakaan juga membagi tingkat III menjadi beberapa
bagian seperti :
Tingkat III a. Robekan < 50 % ketebalan sfingter ani.
Tingkat III b. Robekan > 50% ketebalan sfinter ani
Tingkat III c. Robekan hingga sfingter ani interna
Tingkat IV :Robekan hingga epitel anus. Robekan mukosa rectum tanpa robekan sfingter ani sangat
jarang dan tidak termasuk dalam klasifikasi diatas.

Teknik menjahit robekan perineum


Tingkat I : Penjahitan robekan perineum tingkat I dapat dilakukan hanya dengan
memakai catgut yang dijahitkan secara jelujur (continuous suture) atau dengan
cara angka delapan (figure of eight).
Tingkat II : Sebelum dilakukan penjahitan pada robekan perineum tingkat II
maupun tingkat III, jika dijumpai pinggir yang tidak rata atau bergerigi, maka
pinggir bergerigi tersebut harus diratakan terlebih dahulu. pinggir robekan sebelah
kiri dan kanan masing-masing diklem terlebih dahulu, kemudian digunting.
Setelah pinggir robekan rata, baru dilakukan penjahitan luka robekan. Mula-mula
otot-otot dijahit dengan catgut. Kemudian selaput lendir vagina dijahit dengan
catgut secara terputus-putus atau jelujur. Penjahitan selaput lendir vagina dimulai
dari puncak robekan, terakhir kulit perineum dijahit dengan benang sutera secara
terputus-putus.
Tingkat III : Mula-mula dinding depan rectum yang robek dijahit. Kemudian fasia
perektal dan fasia septum rektovaginal dijahit dengan kromik catgut, sehingga
bertemu kembali. Ujung- ujung otot sfingter ani yang terpisah oleh karena robekan
diklem dingan klem pean lurus. Kemudian dijahit dengan 2-3 jahitan kromik
catgut sehingga bertemu kembali. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis
seperti menjahit robekan perineum tingkat II.
Tingkat IV : Pasien dirujuk ke fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai.

2.

Ruptur Perineum Disengaja (Episiotomi)


9

Suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput
dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum.

Robekan pada perineum umumnya terjadi pada persalinan dimana :

kepala janin terlalu cepat lahir

persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya

sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut

pada persalinan dengan distosia bahu

Persalinan seringkali menyebabkan perlukaan pada jalan lahir. Perlukaan pada jalan lahir
tersebut terjadi pada :

Dasar panggul/perineum,

vulva dan vagina,

servik uteri,

uterus

Sedangkan ruptur pada perineum spontan disebabkan oleh :

Perineum kaku,

kepala janin terlalu cepat melewati dasar panggul,

bayi besar,

lebar perineum,

paritas.

Alat Yang Dibutuhkan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Pinset anatomis
Pinset sirurgis
Gunting benang
Sarung tangan
Naldpooder
Jarum jahit bulat
Benang chromik
Spuit 5 cc
Aquades
Ball tampon
Duk steril
Kapas
Lampu sorot
Lidokain 2%
10

Cara Melakukan Episiotomi


-

Episiotomi dilakukan bila perineum telah tipis atau kepala bayi tampak sekitar 3-4cm
Lakukan tindakan sepsis dan asepsis
Suntikan lignokain 0,5% pada garis tengah , sisi dari garis tengah , bagian tengah dari dinding belakang

vagina .
Tunggu 2 menit agar obat anestesi bekerja
Letakkan 2 jari diantara kepala bayi dan perineum dengan menggunakan saeung tangan steril
Gunting dan buatkan sayatan 3-4cm mediolateral
Jaga perineum dengan tangan pada saat kepala bayi lahir agar insisi tidak meluas

Prinsip Operatif Penjahitan Luka Episiotomi


Yang harus dilakukan adalah :
1.
2.
3.
4.

Hemostasis yang baik, mendekatkan jaringan untuk menghindari dead space.


Sedikit mungkin melakukan penjahitan.
Melakukan rectal toucher untuk menentukan kedalaman atau luas luka.
Perbaikan luka dengan cara visualisasi yang baik, menggunakan instrumen yang sesuai, menggunakan
benang yang sesuai yaitu poligaktin 3-0 karena penyerapan lebih cepat dan analgesia yang kuat (lokal atau

5.

regional).
Pada luka derajat III/IV dilakukan irigasi luka sebelum penjahitan, pemberian antibiotik proflaksis, sfingter
anal dan mukosa rectum dijahit lebih dahulu diikuti otot perineum dan juga dilakukan jahitan awal pada 1
cm daerah puncak luka.

Perawatan Pasca Tindakan Episiotomi

Selagi jahitan belom sembuh, jangan membawa atau mengangkat barang-barang yang berat dan aktivitas
yang berat, terutama yang mengganggu perineum.

Jangan membiarkan diri terlalu stress, banyaklah ciptakan suasana rilex.

Meminimumkan pergerakan perineum.

Minum air secukupnya, karena akan mengurangi jangkitan kuman, terutama pada daerah vagina.

Usahakan agar jangan sampai terjangkit infeksi saluran kencing dengan menjaga kebersihan di daerah
vagina.

Komplikasi Tindakan Episiotomi

Nyeri post partum, rasa nyeri setelah melahirkan lebih sering dirasakan pada pasien bekas episioomi, garis
jahitan (sutura) episiotomi lebih menyebabkan rasa sakit
11

Dyspareunia (nyeri pada alat kelamin,atau nyeri di dalam panggul yang terjadi selama melakukan hubungan

seksual) , keadaan ini dapat terjadi apabila jahitan episiotominya terlalu erat.
Nyeri pada saat menstruasi pada bekas episiotomy dan terabanya masa.
Trauma perineum posterior berat.
Trauma perineum anterior.
Cedera dasar paggul dan inkontinensia urin.
Infeksi lokal sekitar kulit akan mudah timbul pada bekas insisi episiotomi.

BAB V
KESIMPULAN
Episiotomi merupakan tindakan yang dilakukan dengan membuat insisi bedah kecil ke dalam
perineum, yang membantu mencegah peregangan berlebihan oleh kepala bayi pada jaringan
vulva posterior serta otot-otot perineum, dan mengganti robekan vagina serta perineum yang
tidak beraturan dengan jaringan yang terpotong rapi dan bersih sehingga memungkinkan
perbaikan optimal.

12

DAFTAR PUSTAKA

1.

Prawirohardjo S . Saifuddin AB , Wiknjosastro GH , Affandi B , Waspodo D ,editors. Buku Panduan


Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal . Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono

2.
3.

Prawirohardjo ; 2002 . p . P16


Sinclair C. Buku saku kebidanan. Jakarta: EGC; 2009. p. 239
Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editors. Ilmu Kandungan. 2 nd ed. Jakarta: PT Bina Pustaka

4.

Sarwono Prawirohardjo;2009
Cunningham F.G, Gant N.F, Leveno K.J. Obsetri William. 21st ed. Jakarta: EGC;2005. p. 1622-24.

5.

Mary Hamilton, Persis. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC

6.

Ochtar Rustam. 1998 : Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC

13