Anda di halaman 1dari 16

2.1.

Intra Uteri Fetal Death


2.1.1. Definisi
Menurut WHO dan The American College of Obstetricians and Gynecologist yang
disebut

kematian janin adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat 500 gram atau

kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Kematian janin merupakan
hasil akhir dari gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau infeksi. 1
The American College of Obstetricians and Gynecologist juga menyatakan jika usia
gestasional tidak diketahui, tetapi berat lahir janin sama dengan atau lebih dari 500 gram tetap
dianggap kematian janin dalam kandungan.1
Kematian janin dalam rahim (IUFD: Intrauterine Fetal Death) adalah kematian janin
setelah 20 minggu kehamilan tetapi sebelum permulaan persalinan. Ini menyebabkan komplikasi
dan terapeutik yang lebih baru pada 2 dasawarsa yang lalu, penanganan IUFD telah beralih dari
pemantauan berpengaruh ke campur tangan yang lebih aktif. 19

2.1.2. Epidemiologi
Pada negara berkembang, terdapat 1 dalam 200 kehamilan merupakan kematian janin
dalam kandungan. Walaupun terdapat kemajuan dalam program antenatal care, kematian janin
tetap sepuluh kali lebih sering terjadi dibanding sudden infant death syndrome. Lebih dari 3.2
juta kematian janin terjadi pada setiap tahun. Pada tahun 2009, kematian janin yang terjadi di
Inggris, Wales dan Northern Ireland 5.2 per 1000 angka kelahiran. (Institute of Obstetricians and
Gybaecologist Royal College of Physicians of Ireland, 2013).
Pada Swedia, insiden dari kematian janin dalam kandungan dilaporkan 3.6 per 1000
angka kelahiran. ( Petersson, 2012 )

Gambar Kematian Janin Dalam Kandungan dan Early Neonatal Death pada Swedia 1950-2000.
Sumber : The Medical Birth Register, The National Board of Health and Walfare, Stockholm,
Sweden.
Insiden dari kematian janin dalam kandungan dilaporkan menurun dari tahun 1950 (20
per 1000 angka kelahiran) sampai dengan tahun 1980 dengan kemajuan penatalaksanaan pada
kondisi yang memperberat kehamilan seperti diabetes, preeclampsia, dan lainnya. Namun
kematian janin secara relative memiliki angka yang stabil selama 20 tahun terakhir, yakni 6,4 per
1000 angka kelahiran di United States of America pada tahun 2002. Berbeda dengan mortalitas
infant yang menurun lebih dari 30 % pada 20 tahun terakhir (Silver, 2006).

Gambar persentasi dari distribusi kematian janin pada usia 20 minggu gestasi atau lebih dan
kematian infant: United States, 2006

2.1.3. Faktor Resiko

Faktor demografi konsisten untuk kematian janin termasuk ras, status sosial
ekonomi ibu rendah, perawatan prenatal tidak adekuat, pendidikan kurang, dan

ibu lanjut usia.


Sebuah pengkajian oleh Fretts dan rekan menunjukkan bahwa peningkatan usia
ibu hamil yaitu setelah 35 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian
janin. Temuan ini memiliki konfirmasi dalam berbagai studi, dan diasosiasikan
dengan variabel seperti masalah genetik, cacat lahir, masalah medis, dan berat
badan ibu. Penelitian berbasis rawat inap di Amerika Serikat memperkirakan rasio
untuk kelahiran mati menjadi 1,28 pada wanita yang berusia 35-39 tahun dan 1,72
pada wanita yang berusia 40 tahun atau lebih dibandingkan dengan perempuan

berusia 20-34 tahun.


Tingkat kematian janin juga meningkat dengan obesitasibu hamil. Sejumlah
penelitian telah menunjukkan resiko kematian janin dua kali lipat dalam kasus ibu
obesitas (indeks massa tubuh 30 atau lebih). Peningkatan Indeks massa tubuh
meningkatkan resiko beberapa kondisi diketahui meningkatkan risiko bayi lahir

mati, seperti diabetes, kondisi hipertensi termasuk pre- eklampsia, status sosial

ekonomi, dan merokok.


Beberapa gangguan medis ibu yang berhubungan dengan peningkatan risiko
kematian janin. Hal ini diperdebatkan, apakah kondisi ini sebab akibat atau faktor
risiko karena perempuan yang menderita dari penyakit ini melahirkan bayi lahir
hidup. Hiperglikemia ibu dan gangguan pertumbuhan janin, metabolisme, dankemungkinan asidosis berkontribusi terhadap kematian janin, dan penderita
diabetes diobat dengan insulin selama kehamilan mengurangi risiko. Kematian
janin telah dikaitkan dengan berbagai lainnya penyakit ibu, termasuk hipertensi,
tiroid penyakit, penyakit ginjal, asma, penyakit kardiovaskular, dan lupus

eritematosus sistemik.
Kematian janin juga telah dikaitkan dengan trombofilia. Gangguan ini biasanya
melibatkan defisiensi atau kelainan pada protein antikoagulan atau peningkatan
protein prokoagulan, dan seperti sindrom antifosfolipid, telah dikaitkan dengan

risiko trombosis vaskular dan gugurnya kehamilan.


Merokok adalah paparan yang paling umum yang telah terkait dengan kematian
janin. Meskipun sebagian besar perempuan yang merokok melahirkan bayi lahir
hidup, pelbagai studi mengidentifikasi merokok sebagai faktor resiko untuk
kematian janin. Resiko ini biasanya 1,5 kali lipat lebih pada bukan perokok;
resiko menurun pada wanita yang berhenti merokok setelah trimester pertama.
Penyebab pasti tidak diketahui tetapi ini mungkin karena terjadinya peningkatan
karboksihemoglobin dan resistensi pembuluh darah pada janin, pertumbuhan

terganggu dan hipoksia.


Infeksi berat pada ibu dapat menyebabkan kematian janin. Contohnya termasuk
appendisitis, pneumonia, pielonefritis, dan virus seperti influenza. Patofisiologi
kehilangan janin mungkin termasuk hipoksia karena gangguan pernapasan,
penurunan perfusi uterus yang berkaitan dengan faktor-faktor seperti sepsis dan
dehidrasi, efek metabolik dari demam tinggi, dan inisiasi mediator inflamasi
toksik. Infeksi sistemik (serta infeksi intra-amniotik) juga dapat menyebabkan
kematian janin yang menyebabkan persalinan prematur, mengakibatkan kematian
intrapartum, terutama pada kehamilan previable.

2.1.4. Klasifikasi

Kematian janin dapat dibagi menjadi 4 golongan, yaitu:


1.
2.
3.
4.

Golongan I: kematian sebelum massa kehamilan mencapai 20 minggu penuh


Golongan II: kematian sesudah ibu hamil 20-28 minggu
Golongan III: kematian sesudah masa kehamilan >28 minggu (late fetal death)
Golongan IV: kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga golongan di atas

2.1.5. Etiologi
Pada 25-60% kasus penyebab kematian janin tidak jelas.kematian janin dapat disebabkan
oleh faktor maternal, fetal, atau kelainan patologik plasenta.
1. Fetal, penyebab 25-40%
Studi genetik terbaik mengenai penyebab kematian janin menyebutkan bahwa abnormalitas
kromosom merupakan penyebab utama, melaporkan 14 % dari kasus kematian janin dalam
kandungan menunjukkan karyotypes abnormal. Autosomal trisomies yang biasa terdapat pada
kematian janin ialah 21, 18, 13 dan karyotype yang biasa ditemukan pada kematian janin ialah
45x.
Kebanyakan dari kematian janin memiliki abnormalitas genetik yang tidak terdeteksi oleh
analisa cytogenic conventional. Malformasi, deformasi, syndrome, atau dysplasia telah
dilaporkan terjadi pada 35% kematian janin tipe abnormalitas genetik lain yang mungkin dapat
menyebabkan kematian janin, ialah plasenta mosaicism. Terdapat abnormalitas kromosom pada
beberapa jaringan plasenta, hal ini menyebabkan gangguan pertumbuhan dan fungsi plasenta dan
dapat menyebabkan kematian janin dalam kandungan.
Kematian janin dapat disebabkan oleh malformasi struktural mayor yang teridentifikasi saat
biopsi. Feye Petersson dkk (1999) menemukan bahwa sepertiga kematian janin disebabkan
oleh anomali struktural. Defek tabung-saraf, hidrops, hidrosefalus terisolasi, dan penyakit
jantung congenital kompleks merupakan penyebab tersering.
Infeksi telah dilaporkan sebanyak 10-25 % sebagai penyebab kematian janin pada negara
berkembang. Prevalensi kematian janin yang disebabkan oleh virus tidak dapat dijelaskan
dikarenakan kurangnya evaluasi yang sistematis. Infeksi virus juga sering kali sulit untuk di
kultur. Viral infeksi yang biasa berasosiasi dengan keguguran ialah parvovirus B19. Virus ini

menyebabkan kematian fetal karena dapat menyebabkan fetal anemia yang kemudian
menyebabkan hydrops, myocardial toxicity ataupun mekanisme lainnya. Parvovirus B19
menyebabkan kematian janin pada trimester satu ataupun dua, kematian pada gestasi akhir jarang
disebabkan oleh virus.
Infeksi virus lainnya yang dapat menyebabkan kematian janin ialah cytomegalovirus,
Coxsackie viruses (A dan B), dan virus lainnya seperti enterovirus, chickenpox, measles, rubella,
dan mumps. Plasenta dan fetal yang terinfeksi cytomegalovirus dapat menyebakan kematian
janin walau jarang. Coxsackie virus (A dan B) dapat menyebabkan inflamasi pada plasenta,
myocarditis dan hydrops.
Kebanyakan infeksi bakteri yang berasosiasi dengan kematian fetal ialah organnisme yang
mencapai fetus dengan cara naik dari traktus genital bawah menuju desidua dan chorio lalu
mencapai cairan amniontik. Fetus mungkin saja menelan cairan yang menyebabkan infeksi.
Streptococcus group B, Escherichia coli, Klebsiella, Mycoplasma hominis.
Treponema pallidum merupakan organism yang menyebabkan sifilis, organisme ini dapat
menyebrang plasenta pada trimester dua dan tiga dan menyebabkan infeksi pada fetus secara
tidak langsung Toxoplasma gondii dapat mencapai plasenta yang berasosiasi dengan infeksi
maternal akut. Organism ini menginfeksi fetus secara tidak langsung, yang biasa terjadi pada
trimester pertama kehamilan.
2. Placental, penyebab 25-35%
Banyak kematian janin akibat abnormalitas plasenta yang juga dikategorikan sebagai
penyebab maternal dan fetal. Sebagai contoh solution plasenta yang berkaitan dengan hipertensi
dianggap sebagai penyebab maternal. Insufisiensi plasenta akibat aneuploidi dapat dianggap
sebagai penyebab fetal. Solution plasenta merupakan penyebab kemtian janin tunggal yang
paling sering teridentifikasi ( Cunningham et all, 2010 ).
Infeksi membran dan plasenta yang bermakna biasanya berkaitan dengan infeksi janin
korionamnionitis ditandai dengan leukosit mononuclear dan polinuklear yang menginfiltrasi
korion. Infark plasenta terlihat sebagai area degenerasi trofoblastik fibrinoid, kalsifikasi dan
infark iskemik akibat oklusi arteria spiralis. Sindrom twin-twin transfusion merupakan penyebab
umum kematian janin pada multifetal multi korionik ( Cunningham et all, 2010 ).

Perdarahan fetal maternal yang cukup untuk menimbulkan kematian janin dilaporkan pada
4,7 persen dari 319 kematian janin di Los Angeles Country Womens Hospital. Meskipun
biasanya spontan, perdarahan tersebut sering terjadi pasca trauma maternal berat ( Cunningham
et all, 2010 ). Trauma pada uterus dan abrupsi plasenta dideskripsikan sebagai kejadian yang
menyebabkan transfusi fetomaternal, tapi pada kebanyakan kasus tidak dapat diidentifikasi
penyebabnya ( Petersson, 2012 ).
3. Maternal, penyebab 5-10%
Meskipun terlihat hanya memberikan sedikit kontribusi pada kematian janin, faktor maternal
sering kurang diperhatikan. Penyebab maternal meliputi kondisi maternal yaitu; demografi, usia
maternal, obesitas, riwayat penyakit sebelumnya dan yang menyertai kehamilan, gangguan
anticoagulant, paparan selama kehamilan, dan infeksi sistemik maternal.
Faktor demografi yang konsisten berkontribusi dalam kematian janin termasuk ras, status
sosial ekonomi yang rendah, tidak adekuatnya antenatal care, tingkat pendidikan yang rendah,
dan usia maternal yang tua. Wanita Afrika Amerika memiliki angka kematian janin lebih tinggi
dibanding wanita yang berkulit putih. Hal ini mungkin berhubungan dengan faktor lain seperti
status social ekonomi dan kurangnya antenatal care.
Gangguan hipertensi dan diabetes merupakan dua penyakit maternal yang paling sering dan
menyebabkan 5 8 % kelahiran mati. Hipertensi kronik terutama menyebabkan meningkatnya
kematian janin. Penyakit hipertensi (hipertensi gestasional, preeclampsia, kronik hipertensi,
superimposed preeclampsia) merupakan komplikasi medis yang biasa terjadi dalam kehamilan
dan merupakan penyebab utama dari morbiditas dan mortalitas perinatal. Pada penelitian metaanalisis terbaru disimpulkan bahwa hipertensi kronik meningkatkan resiko mortalitas dan
morbiditas pada perinatal.
Penyakit penyakit lain yang yang dapat menyebabkan kematian janin ialah penyakit tiroid,
gangguan ginjal, asma, penyakit kardiovaskular, dan systemic lupus erithematous. Keguguran
pada kondisi tersebut terjadi pada wanita yang memiliki klinis buruk.
Peningkatan resiko pada kematian janin dalam kandungan juga telah dilaporkan terdapat
pada wanita dengan defisiensi antitrombin herediter, activated protein C resistance, dan
defisiensi protein C dan Protein S. Phospholipid antibody syndrome juga berhubungan dengan

kematian janin dalam kandungan dan keguguran yang disebabkan gangguan implantasi,
thrombosis dan infark pada plasenta.
Infeksi maternal yang berat dapat mengakibatkan kematian janin termasuk appendicitis,
pneumonia, pyelonephritis, infeksi virus seperti influenza. Patofisiologi kematian janin
melibatkan hypoxia yang menyebabkan respiratory distress, berkurangnya perfusi uterine yang
berhubungan pada faktor-faktor lain seperti dehidrasi, efek metabolic dan mediator inflamasi
lainnya.
4. Penyebab tidak diketahui
Sekitar 10 % kematian janin tetap tidak dapat dijelaskan. Kesulitan dalam memperkirakan
kausa kematian janin tampaknya paling besar pada janin preterm.
Tabel 1. Persentase Penyebab Kematian Janin 19
Penyebab
Komplikasi placenta dan tali pusat
Penyakit hipertensi
Komplikasi medis (termasuk

Persentase Kematian Janin


10-20
5-20
penyakit 5-10

autoimun)
Eritroblastosis fetalis
Animali bawaan
Infeksi dalam rahim (TORCH dan Listeria)
Tak dapat ditemukan

3-15
5-10
5-10
50

2.1.6. Patologi
Pada KJDK, janin mati biasanya mengalami retensi didalam uterus beberapa hari sebelum
janin dikeluarkan. Janin yang mati dalam cairan amnion yang steril, selanjutnya janin mengalami
proses maserasi.
Pada keadaan ini kalau janin mati pada kehamilan yang terus lanjut terjadi perubahan sebagai
berikut:
1. Rigor Mortis

Berlangsung 2 jam 30 menit setelah kematian, kemudian lemas kembali.


2. Maserasi
o Stadium 1
Timbul lepuh pad kulit. Lepuh ini mula-mula berisi cairan jernih tetapi
kemudian menjadi merah. Berlangsung sampai 48 jam setelah anak mati.
o Stadium 2
Lepuh pecah dan mewarnai air ketuban menjadi merah coklat. Hal ini
terjadi setelah 48 jam anak mati.
o Stadium 3
Terjadi kira-kira 3 minggu stelah anak mati. Badan janin sangat lemas,
hubungan antara tulang sangat longgar dan edema dibawah kulit.
2.1.7. Gambaran klinik
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pertumbuhan janin (-), bahkan janin mengecil sehingga tinggi fundus uteri menurun
Bunyi jantung janin tak terdengar dengan fetoskop dan dipastikan dengan doppler
Keluhan ibu : menghilangnya gerak janin
Berat badan ibu menurun
Tulang kepala kolaps
USG: merupakan sarana penunjang diagnostik yang baik untuk memastikan kematian

janin di mana gambarannya menunjukan janin tanpa tanda kehidupan


g. Catatan: pemeriksaan radiolog dapat menimbulkan masalah dan tidak perlu. Bila
dilakukan 5 hari kematian janin, akan tampak gambaran sebagai berikut :
a. Tulang kepala janin tumpang tindih satu sama lain
b. Tulang belakang mengalami hiperfleksi
c. Tampak gambaran gas pada jantung dan pembuluh darah
d. Edema disekitar tulang kepala
h. Pemeriksaan hCG urin menjadi negatif. Hasil ini terjadi pada beberapa hari setelah
kematian janin. 15
2.1.8. Diagnosa
a. Anamnesis
-

Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari atau gerakan janin sangat
berkurang
Ibu merasakan perutnya bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan
tidak seperti biasanya.

Ibu kebelakangan ini merasa perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit seperti

mau melahirkan.
Penurunan berat badan
Perubahan pada payudara atau nafsu makan

b. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi
tidak kelihatan gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada ibu

yang kurus
Penurunan atau terhentinya peningkatan bobot berat badan ibu
Terhentinya perubahan payudara
Palpasi
Tinggi fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan ; tidak teraba gerakangerakan janin
Dengan palpasi yang teliti dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.
Auskultasi
baik memakai stetoskop monoral maupun doptone tidak akan terdengan denyut jantung
janin

c. Pemeriksaan Lab
-

reaksi biologis negative setelah 10 hari janin mati


hipofibrinogenemia setelah 4-5 minggu janin mati

d. Pemeriksaan Tambahan
1.

Ultrasound: - gerak anak tidak ada


denyut jantung anak tidak ada
tampak bekuan darah pada ruang jantung janin
X-Ray :
Spaldings sign (+) : tulang-tulang tengkorak janin saling tumpah tindih, pencairan
otak dapat menyebabkan overlapping tulang tengkorak.
2. Nanjouks sign (+) : tulang punggung janin sangat melengkung
3. Roberts sign (+) : tampak gelembung-gelembung gas pada pembuluh darah besar.
Tanda ini ditemui setelah janin mati paling kurang 12 jam
4. Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin

Tabel 2. Gejala dan Tanda


Gejala dan tanda yang

Gejala dan tanda yang

Kemungkinan diagnosa

kadang-kadang ada

selalu ada

Gerakan janin berkurang atau Syok,

uterus

tegang/kaku, Solusio plasenta

hilang, timbul atau menetap, gawat janin atau DJJ tidak


perdarahan

pervaginam terdengar

sesudah hamil 22 minggu


Gerakan janin dan DJJ tidak Syok, perut kembung/cairan Ruptur uteri
ada, perdarahan, nyeri perut bebas
hebat

intra

kontraksi

uterus

abdominal,
abnormal,

abdomen nyeri, bagian-bagian


janin teraba, denyut nadi Ibu
cepat
Gerakan janin berkurang atau Cairan

ketuban

bercampur Gawat janin

hilang DJJ abnormal (< 100 mekonium


x/menit atau > 180 x/menit)
Gerakan janin atau DJJ hilang

Tanda-tanda

kehamilan Kematian janin

berhenti,

berkurang,

TFU

pembesaran uterus berkurang

2.1.9. Diagnosa Banding


Diagnosa banding meliputi missed abortion, kehamilan ekstrauterin dan kehamilan mola.
2.1.10. Penatalaksanaan
Penanganan kematian janin dalam kandungan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Penanganan psikologik terhadap ibu
Bila kematian janin benar-benar telah dipastikan maka harus dilakukan pendekatan atau
memberikan penjelasan sebaik-baiknya terhadap ibu dan suami.
2. Pengeluaran hasil konsepsi
Ada dua sikap dalam pengeluaran hasil konsepsi yaitu :
A. Ekspekatif
Pada sikap ini hanya dilakukan observasi saja dan menunggu sampai terjadinya
persalinan spontan. Sikap ini masih dianjurkan karena menyadari bahwa 80% (70-

90%) janin akan lahir spontan dalam waktu 2 3 minggu setelah kematian janin.
Tetapi sikap ini mempunyai kekurangan dimana banyak pasien secara psikologis
tidak dapat menerimanya dan disamping ada risiko lain berupa kelainan pembekuan
darah yang dapat terjadi setelah 3-4 minggu.
Retensi janin KJDK:

Bila kadar fibrinogen di atas 100 mg/dL tidak mengganggu proses


pembekuan.

Kadar fibrinogen mulai menurun sekitar 25% (20-50 mg/dL) perminggu


setelah KJDK.

Selama pasien diobservasi, perlu dilakukan pemeriksaan serial COT dan


kadar fibrinogen setiap minggu untuk mengantisipasi proses koagulopati
yang juga bisa muncul sebelum 4 minggu KJDK.

Jika dijumpai hipofibrinogenemia tetapi si ibu tidak mengalami


perdarahan aktif, perlu dinberi heparin untuk mencegah intravasular
koagulasi, tetapi bila kelainan pembekuan dijumpai segera dilakukan
usaha evakuasi hasil konsepsi dari uterus.

B.

Evakuasi produk konsepsi dari rahim


Dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Pemberian oksitosin secara intravena pada kehamilan mendekati aterm, cukup efektif
dalam menimbulkan kontraksi uterus walaupun pemberiannya kadang-kadang harus
diulang. Pada kehamilan yang belum aterm, pemberian infus oksitosin kurang efektif dan
memerlukan pemberian infus oksitosin kurang efektif dan emerlukan pemberian dosis
tinggi serta memerlukan lebih dari sekali pemberian. Oksitosin sebaiknya tidak diberikan
pada keadaan bekas seksio sesaria, letak lintang (menjelang aterm) dan CPD.

Laminaria dan oksitosin

Pemakaian laminaria yang dimasukkan ke dalam kanalis servikalis


beberapa jam sebelum pemakaian infus oksitosin, dapat menambah
keberhasilan pengeluaran hasil konsepsi

Estrogen dan oksitosin

Induksi partus dengan oksitosin dapat dimulai dengan pemberian estrogen


(ethinilestradiol) 1-2 mg tiap 6 jam selama 48 jam. Setelah 48 jam
pemberian estrogen dilakukan stripping of the membrane, kemudian
ditunggu 24 jam, bila persalinan belum dimulai maka dilakukan induksi
dengan oksitosin drips.

Prostaglandin

Menurut Food and Drug administration (FDA), prostaglandin yang


digunakan untuk induksi persalinan pada KJDK adalah prostaglandin E2
(PGE2) yang diberikan dalam bentuk vaginal suppositoria. Dosis yang
digunakan 20 mg suppositoria yang diberikan tiap 3 jam, ditempatkan di
fornix vagina. Dapat juga diberikan dalam bentuk gel melalui vagina.

Suntik larutan garam hipertonis (larutan NaC; 20%)

Larutan ini disuntikkan ke dalam kantong amnion yang terkenal dengan


Salting Out.

Embriotomi

Suatu persalinan buatan dengan cara merusak atau memotong bagianbagian tubuh janin agar dapat lahir pervaginam tanpa melukai ibu. Pada
saat sekarang embriotomi merupakan tindakan yang jarang dilakukan.

Ekstraksi

Pada janin mati letak lintang, janin kecil, dan menjadi lembek, kadangkadang persalinan bisa berlangsung spontan. Janin dalam keadaan terlipat
dua melewati jalan lahir (konduplikasio korpore) atau lahir dengan
evolusio spontanea menurut cara Denman atau Douglas. Pada cara
Denman bahu tertahan pada simfisi dan dengan fleksi kuat di bagian
bawah tulang belakang, badan bagian bawah, bokong, dan kaki turun di
rongga panggul dan dilahirkan untuk kemudian dilewati oleh bokong dan
kaki, yang lahir lebih dahulu, selanjutnya diikuti oleh bagian-bagian badan
lainnya dan kepala. Dua cara ini hanya merupakan variasi-variasi dari satu
mekanisme, yaitu fleksi lateral yang maksimal dari tubuh janin.

Operasi berupa histerektomi atau SC Histerektomi, hanya dilakukan jika terpaksa.

1. Tindakan operasi Histerektomi pada KJDK dilakukan pada keadaan :


-

Bila dengan induksi mengalami kegagalan.

Pada kasus bekas seksio secar korporal, dimana bila dilkaukan induksi
dengan prostaglandin atau oksitosi ada ancaman ruptura uteri.

Seksio sesaria dilakukan pada kasus KJDK dengan plasenta previa


parsialis atau totalis dan letak lintang.

2. SC Histerektomi
Indikasi utama untuk melakukan SC Histerektomi adalah menghentikan
perdarahan yang hebat akibat insisi uterus ataupun adanya ineksi berat pada
uterus.
Indikasi lainnya adalah ruptura uteri yang tidak mungkin di repair kembali,
plasenta akreta, perdarahan akibat atonia uteri yang tidak terkontrol.
2.1.11. Pencegahan
Upaya mencegah kematian janin, khususnya yang sudah atau mendekati aterm adalah
bila ibu merasa gerakan janin menurun, tidak bergerak, ataui gerakan janin terlalu keras, perli
dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Perhatikan adanya solutio placenta. Pada gemelli dengan
T+T (Twin to Twin Tranfusion) pencegahan dilakukan dengan koagulasi pembuluh
anastomosis.13
Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang bisa diambil untuk menghidari janin
agar tidak meninggal di dalam kandungan:

1. Melakukan istirahat yang cukup selama kehamilan


Menjaga ola hidup yang sehat sangat disarankan untuk ibu hamil. Hal ini terkait dengan
imunitas di dalam tubuh agar tidak rentan terkena beberapa penyakit. Bagi sebagian
penyakit yang berhubungan dengan infeksi mikroorganisme akan membuat kekebalan
tubuh anda berkurang dan mengganggu kesehatan perkembangan janin.untuk ibu yang
sedang hamil, mencukupi kebutuhan istirahat sangat dianjurkan, apabila jika ada riwayat
keguguran sebelumnya.
2. Hindari merokok dan mengkomsumsi alkohol

Kebiasaan buruk seperti merokok dan mengkomsumsi alkohol akan meningkatkan resiko
kondisi kesehatan yang buruk pada kehamilan. Selain dapat mengakibatkan berat badan
lahir rendah dengan peningkatan cacat mental yang tinggi dan dapat menimbulkan
komplikasi kehamilan yang serius seperti perdarahan berat selama kehamilan
berlangsung dan juga akan meningkatkan resiko kematian pada janin dan ibu hamil.
3. Pemeriksaan kesehatan selama kehamilan
Sangat penting untuk mempersiapkan kondisi kesehatan selama kehamilan terkait dengan
menurunkan resiko gangguan kesehatan pada janin. Pemeriksaan berkaitan dengan
kondisi kesehatan ibu hamil diantaranya adalah dengan menurunkan resiko pada ibu
hamil yang mengalami gangguan kesehata seperti hipertensi atau lebih dikenal dengan
sebutan tekanan darah tinggim preeklamsi yaitu bagi ibu hamil yang tidak memiliki
riwayat kesehatan tekanan darah tinggi akan tetapi tiba-tiba mengidap gangguan tekanan
darah selama kehamilan sedang berlangsung. Bagi ibu hamil yang mengalami preelamsia
perhtikan pola makanan, kurangin makanan yang mengandung kandungan garam yang
tinggi dan juga hindari cemas dan stress yang berlebih.
4. Menjaga kesehatan untuk terhindar dari infeksi pada saat kehamilan
Kehamilan sangat rentan terhadap beberapa kondisi kesehatan dan tidak menutup
kemungkinan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan infeksi yang ditimbulkan
oleh virus, bakteri, jamur yang akan mengganggu kesehatan janin. Selalu perhatikan pola
komsumsi dan kebersihan makanan yang dikomsumsi begitu juga agar selalu menjaga
diri terhadap kebersihan. Beberapa imunisasi kehamilan akan menghindari dari infeksi
selama kehamilan.
5. Pemeriksaan pada janin untuk melakukan pencegahan pada kehamilan selanjutnya
Pada kasus kematian janin dalam kandungan sebaiknya dilakukan otopsi untuk
mengetahui penyebabnya sehingga pada kehamilan selanjutnya dapat lebih mewaspadai.
Salah satu penyebab kematian di dalam kandungan diantaranya ada ketidakcocokan darah
antara ibu dengan janin.
2.1.12. Komplikasi
1. Trauma emosional yang berat terjadi bila waktu antara kematian janin dan persalinan
cukup lama.
2. Dapat terjadi infeksi bila ketuban pecah.
3. Dapat terjadi koagulopati bila kematian janin berlangsung lebih dari 2 minggu.

2.1.13. Prognosis
Jika dapat dideteksi segera, prognosis untuk ibu baik.