Anda di halaman 1dari 224

STRATEGI

IMPLEMENTASI
PEMBANGUNAN DI
JANTUNG KALIMANTAN
(HEART OF BORNEO / HoB)
MELALUI PENDEKATAN
EKONOMI HIJAU
Strategy for developing
The Heart of Borneo (HoB)
through a Green
Economy

WWF-Indonesia / Didiek Surjanto

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

STRATEGI
IMPLEMENTASI
PEMBANGUNAN DI
DI JANTUNG KALIMANTAN
(HEART OF BORNEO / HoB)
MELALUI PENDEKATAN
EKONOMI HIJAU
Strategy for developing
The Heart of Borneo (HoB)
through a Green Economy

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

SAMBUTAN MENTERI
KOORDINATOR BIDANG
PEREKONOMIAN
REPUBLIK INDONESIA
Perkenankan saya untuk mengucapkan
rasa syukur kepada Allah SWT karena
atas rahmat dan karunia-Nya, maka Buku
Strategi lmplementasi Pembangunan di
Heart of Borneo (HoB) melalui Pendekatan
Ekonomi Hijau dapat diselesaikan dengan
baik. Buku ini tentu saja sangat penting
bagi kami - Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian - sebagai panduan
bagi Kementerian, provinsi dan kabupaten
terkait untuk menggerakkan pelaksanaan
pembangunan berkelanjutan di kawasan
Jantung Kalimantan.
Saya ingin menyampaikan bahwa
Ekonomi hijau dapat dilihat sebagai
paradigma ekonomi baru, yang dapat
mendorong pertumbuhan pendapatan
dan lapangan kerja,sekaligus mengurangi
resiko kerusakan lingkungan, dan
diharapkan mampu mewujudkan
pembangunan berkelanjutan. Ekonomi
hijau diharapkan secara signifikan dapat
mengurangi kerusakan lingkungan,
namun sebaliknya akan mampu
memperbaiki lingkungan dengan
pendekatan adaptasi terhadap perubahan
iklim. lni merupakan mekanisme ekonomi
alternatif yang mempertimbangkan
nilai-nilai sumber daya alam
bagikesejahteraan masyarakat.
Konsep Ekonomi Hijau diharapkan mampu
menciptakan keseimbangan tiga pilar
pembangunan (ekonomi, sosial dan
lingkungan). Pulau Kalimantan dalam
Master Plan Percepatan Pembangunan

MESSAGE FROM
THE COORDINATING
MINISTER FOR
ECONOMIC AFFAIRS
OF THE REPUBLIC OF
INDONESIA
Please allow me to express gratitude
to God the Most Holy and the Most High
for His grace and blessing that the book
titled Implementation Strategy for
Development in the Heart of Borneo
(HoB / HoB) Through the Green Economy
Approach could be duly finished. Of
course, this book is very important
to us the Coordinating Ministry for
Economic Affairs -- as a guide for
ministries, provinces and districts to
drive the implementation of sustainable
development in a region known as
Indonesias Heart of Borneo (HoB).
I would like to state that green economy
can be seen as a new economic paradigm
that could spur revenue growth,
employment growth, as well as reducing
the risk of environmental damage, and
expected to progress to sustainable
development. Green economy is expected
to be able to significantly reduce damage
to the environment, and in the other hand
will be able to repair the damage through
adoption approaches towards climate
change. This is an alternative economic
mechanism that takes into account the
values of natural resources for the welfare
of the people.
It is expected that the concept of green
economy is able to strike a balance

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Saya ingin menyampaikan bahwa


Ekonomi hijau dapat dilihat sebagai
paradigma ekonomi baru, yang dapat
mendorong pertumbuhan pendapatan
dan lapangan kerja,sekaligus mengurangi
resiko kerusakan lingkungan, dan
diharapkan mampu mewujudkan
pembangunan berkelanjutan. Ekonomi
hijau diharapkan secara signifikan dapat
mengurangi kerusakan lingkungan,
namun sebaliknya akan mampu
memperbaiki lingkungan dengan
pendekatan adaptasi terhadap perubahan
iklim. lni merupakan mekanisme ekonomi
alternatif yang mempertimbangkan
nilai-nilai sumber daya alam
bagikesejahteraan masyarakat.
Konsep Ekonomi Hijau diharapkan mampu
menciptakan keseimbangan tiga pilar
pembangunan (ekonomi, sosial dan
lingkungan). Pulau Kalimantan dalam
Master Plan Percepatan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) ditetapkan
sebagai Pusat Produksi dan Pengelolaan
Hasil Tambang dan Lumbung Energi
Nasional menjaditantangan bagi
Pulau Kalimantan dalam mewujudkan
pembangunan berkelanjutan di Pulau
Kalimantan, sehingga peranan tiap
sektor menjadi sangat penting dalam
mewujudkan pembangunan hijau di pulau
Kalimantan.
Buku ini kami harapkan dapat menjadi
panduan bagi kementerian/lembaga,
pemerintah daerah dan sektor swasta
dalam mewujudkan pembangunan
berkelanjutan di kawasan Jantung
Kalimantan. Selain itu, buku ini juga bisa
menjadi pembelajaran bagi daerah lain
dalam pengembangan ekonomihijau.
Akhirnya, saya ingin mengajak semua
pemangku-kepentingan yang terkait
dengan Jantung Kalimantan untuk
mendedikasikan pemikiran dan dukungan
lainnya untuk membangun kawasan
Jantung Borneo secara berkelanjutan
dengan pendekatan ekonomi hijau.
Semoga Allah SWT memberikan rahmatNya kepada kita untuk membangun
Jantung Kalimantan.

among the three pillars of development


(economic, social and environmental). The
island of Kalimantan, under the Master
Plan for the Acceleration of Indonesian
Economic Development (MP3EI), has been
designated as a Center of Production
and Management of Mined Minerals and
a National Energy Barn. This designation
poses a challenge in realizing sustainable
development on the island. Therefore,
the role of each sector becomes very
important in realizing green growth in
Kalimantan.
This book is expected to be used as
guidance for government ministries/
agencies, local governments and the
private sector in achieving sustainable
development in the Heart of Borneo. In
addition, it is also expected that there
are lessons that other provinces could
learn from this book on green economy
development.
Finally, I would like to invite all the
relevant stakeholders in the Heart of
Borneo to dedicate their thoughts and
other supports to develop the Heart
of Borneo area sustainably with green
economy approaches. May God the Most
Glorified and Most High bless our efforts
to develop the Heart of Borneo.

CHAIRUL TANJUNG
MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

KATA PENGANTAR
Acknowledgements

uji dan syukur patut kita panjatkan kepada Allah SWT atas selesainya penyusunan buku Strategi lmplementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart
of Borneo/HoB) Melalui Pendekatan
Ekonomi Hijau. Buku ini adalah merupakan hasil kajian yang telah dilakukan oleh
para tim pakar dari 6 (enam) Perguruan
Tinggi Negeri di Indonesia, yaitu: Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia,
lnstitut Pertanian Bogor, Universitas
Mulawarman, Universitas Tanjungpura,
dan Universitas Palangka Raya.
Pembangunan melalui pendekatan
ekonomi hijau tidak hanya memberi
manfaat terhadap keberlanjutan
sumberdaya alam dan lingkungan, namun
juga mampu memberi manfaat ekonomi
dan sosial bagi para pihak di semua
lapisan. Hal ini mendasari implementasi
pembangunan melalui ekonomi hijau
menjadi pilihan yang tepat bagi dasar
pembangunan di kawasan HoB karena
sesuai dengan visi misi HoB yaitu:
konservasi dan prinsip pembangunan
secara berkelanjutan.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan
terima kasih kepada para Tim Penyusun,
Prof. Dr. Busta nul Arifin dan Dr. lrsjal
Yasman selaku Editor, WWF-Indonesia,
GIZ-FORCLIME, dan semua pihak yang
telah memberikan kontribusi dalam
penerbitan buku ini.
Diharapkan buku ini dapat menjadi
panduan atau referensi bagi para JaJaran
pemerintahan dan pemangku-kepentingan
dalam menyusun rencana pembangunan
di daerah sehingga mampu mewujudkan
pembangunan yang lestari dan sejahtera
bagi setiap lapisan masyarakat.

et praises and gratitude be to God


the Most Holy and Most High for the
completion of the preparation of the
book titled Implementation Strategy for
Development in the Heart of Borneo (HoB)
Through Green Economy Approach. This
book is resulted from studies conducted
by teams of experts from six (6) State
Universities in Indonesia, that is, the
Gadjah Mada University, the University of
Indonesia, the Bogor Institute of Agriculture, the Mulawarman University, the
Tanjungpura University, and the University
of Palangkaraya.
Development through a green
economy approach not only benefits
the sustainability of natural resources
and the environment but is also able to
provide economic and social benefits to
the stakeholders at all levels. This is the
underlying reason why the implementation
of development through green economy is
the right choice for and the cornerstone
of development in the Heart of Borneo as
this corresponds to the vision and mission
of the Heart of Borneo initiative, that is,
conservation and sustainable development
principles.
On this occasion I would like to thank the
Editorial Team, Prof. Dr Bustanul Arifin
and Dr. Irsjal Yasman as Editor, WWFIndonesia, GIZ-FORCLIME, and all who
have contributed to the publication of this
book.
This book is expected to be a guide or
reference for all tiers of government and
stakeholders in preparing development
plans in provinces, districts and cities in
order to make sustainable development
and prosperity a reality for all.

DR. IR. PRABIANTO MUKTI WIBOWO, MSc.


KETUA POKJANAS HoB

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

RINGKASAN EKSEKUTIF
Executive Summary

antung Kalimantan atau Heart of


Borneo (HoB) merupakan wilayah di
jantung Pulau Kalimantan seluas lebih
dari 23 juta ha yang berbatasan dengan
tiga negara yakni Brunei Darussalam,
Indonesia dan Malaysia. Wilayah HoB
memiliki kekayaan keanekaragaman
hayati yang tinggi serta berperan penting sebagai pengatur ekosistem, baik di
daerah hulu maupun hilir. Wilayah HoB
menyimpan potensi ekonomi yang sangat
tinggi baik yang bersifat ekstraktif seperti
pertambangan, perkebunan, pertanian
dan kehutanan, maupun yang bersifat
non-ekstraktif yang berasal dari jasa
lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Pemeliharaan wilayah HoB bukan saja
vital dalam konteks konservasi, namun
juga vital dalam menunjang pertumbuhan
ekonomi berbasis sumber daya alam dan
jasa lingkungan di jantung Pulau Kalimantan. Menyadari akan pentingnya peran
HoB tersebut, tiga negara di kawasan
HoB, yakni Brunei Darussalam, Indonesia
dan Malaysia mendeklarasikan inistiatif
HoB dengan satu visi konservasi sekaligus
bertujuan meningkatkan kesejahteraan
rakyat melalui kerjasama pengelolaan
sumber daya alam yang berkelanjutan.
Salah satu bentuk implementasi inisiatif tersebut adalah mengembangkan
berbagai kebijakan dan program yang
terkait dengan pembangunan ekonomi
yang berkelanjutan, yang disebut sebagai
ekonomi hijau yang berdasarkan pada tiga
prinsip yaitu rendah emisi (low emission), efisiensi sumber daya (resources
efficiency), dan keterlibatan masyarakat
(social inclusive). Laporan ini menyajikan
prinsip-prinsip, kebijakan dan proposal
untuk mengembangkan ekonomi hijau di
berbagai sektor, baik yang berdampak
langsung dengan masyarakat maupun
yang berdampak tidak langsung. Dalam
laporan ini juga disampaikan beberapa
langkah kebijakan dan peran masyarakat
dalam mengembangkan ekonomi hijau di
wilayah HoB.

he Heart of Borneo (HoB) refers to


a region in the heart of the island of
Borneo. The region covers an area of more
than 23 million hectares that borders
three countries: Brunei, Indonesia and
Malaysia. The HoB is extremely rich in
biodiversity and plays an important role
as an ecosystems regulator, both upstream and downstream. The HoB has a
high economic potential for the extractive sector (such as mining, plantation,
agriculture and forestry) as well as the
non-extractive sector (that stems from
environmental and biodiversity services).
The maintenance of the HoB is vital not
only for conservation purposes but also
for supporting economic growth based on
natural resources and environmental services in the heart of the island of Borneo.
Recognizing the importance of the role of
the HoB, three countries in the HoB, that
is Brunei Darussalam, Indonesia and Malaysia, have declared an HoB initiative with
one vision of conservation, which is aimed
at improving peoples welfare through cooperation for the sustainable management
of natural resources.
One form of implementation of the initiative is to develop different policies and
programs contingent on sustainable economic development referred to as green
economy that is based on three principles:
low-emission, resources efficiency, and
community involvement (social inclusion). This report presents the principles,
policies and proposals to develop green
economy in various sectors, which have
a direct as well as indirect impact on the
community. This report also presents
some policy measures and the role of the
community in developing green economy
in the HoB.
In the context of national macro-economic
policy, green economy policies in the HoB
can be derived from the existing macroeconomic policies and the incentives they
provide such as a green economy-based

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Dalam konteks kebijakan makro nasional,


kebijakan ekonomi hijau di wilayah HoB
dapat diturunkan dari berbagai inisiatif
kebijakan makro yang ada saat ini seperti kebijakan fiskal yang terkait dengan
ekonomi hijau (insentif fiskal berupa
DTPbiaya ditanggung pemerintah),
pengembangan Dana Alokasi Khusus
(DAK), kebijakan terkait dengan REDD+
dan implementasi instrumen-instrumen
ekonomi untuk pengelolaan lingkungan,
sebagaimana diatur dalam UndangUndang No 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan
Hidup. Selain itu, kebijakan pada tingkat
daerah yang ada saat ini seperti Peraturan Daerah (Perda) Kalimantan Tengah
Nomor 5 tahun 2011 yang mendukung
perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan berbagai inisitaif daerah lainnya
patut dikembangkan untuk mendukung
ekonomi hijau di HoB. Kebijakan-kebijakan
lain di tingkat provinsi dan kabupaten/kota
seperti zonasi, Perda tentang pengelolaan
Daerah Aliran Sungai (DAS), Jasa Lingkungan, CSR (Corporate Social Responsibility) dan sejenisnya dapat dijadikan
sebagai leverage (pengungkit) kebijakan
untuk mengembangkan ekonomi hijau di
daerah HoB.
Di tingkat operasional di wilayah HoB,
beberapa paket usulan kebijakan seperti
perencanaan tata ruang yang sinergis,
pembentukan kawasan industri terpadu, pengembangan insentif untuk best
practices perkebunan, kehutanan, pertambangan dan pertanian serta beberapa
kebijakan terkait regional seperti energi
terbarukan patut dikembangkan di wilayah
HoB. Selain itu, penguatan kelembagaan
untuk mendukung implementasi kebijakan
ekonomi hijau di tingkat kabupaten/kota
dan provinsi sangat vital untuk diperkuat,
sehingga akan memininumkan potensi
konflik yang mungkin terjadi baik antar
sektor mapun antar lembaga.
Di tingkat sektoral, implementasi ekonomi
hijau di wilayah HoB dapat dikembangkan
di sektor hasil hutan kayu dengan penerapan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari (PHL) dan Sistem Verifikasi Legalitas
Kayu (SVLK), penerapan ISPO (Indonesian

fiscal policy (that provides fiscal incentives


in which the costs associated with the incentives are borne by the government), the
development of Special Allocation Fund
(DAK), policies related to REDD+ and the
implementation of economic instruments
for environmental management, as stipulated under Law No. 32 of 2009 on Environmental Management and Protection.
In addition, existing policies at provincial
level such as Regulation of the Province of
Central Kalimantan Number 5 of 2011 that
supports sustainable oil palm plantations
and other provincial initiatives need to be
promoted to support green economy in the
HoB. Other policies at the provincial level
and district/ city levels such as the one on
zonation, provincial government regulations on the management of watersheds,
environmental services, CSR (Corporate
Social Responsibility) and the like can
also be used as leverage to develop green
economy in the HoB.
At the operational level in the HoB, some
packages of policy proposals such as
synergistic spatial planning, formation
of integrated industrial areas, development of incentives for best practices in the
plantation, forestry, mining and agriculture sectors and some regionally related
policies such as renewable energy should
be developed in the HoB. In addition, it
is imperative to strengthen institutional
framework to support the implementation
of green economy policies at district / city
and provincial levels in order to minimize
potential conflicts that may occur both
between sectors and or between institutions/ agencies.
At the sector level, the implementation of green economy in the HoB can be
pursued in the timber forest products
sector with the application of the principles of sustainable forest management
(SFM) and the Timber Legality Verification System (SVLK), the application of the
ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil)
[Principles] to oil palm plantations, the
implementation of responsible mining, the
utilization of biodiversity for the production of bio-prospecting, the development and utilization of NTFP (Non-Timber
Forest Products) and the application of

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Sustainable Palm Oil) untuk perkebunan


kelapa sawit, penerapan pertambangan
yang bertanggung jawab, pemanfaatan
keanekaragaman hayati untuk produksi
bioprospecting, pengembangan dan
pemanfaatan HHBK (Hasil Hutan Bukan
Kayu) dan penerapan sistem dan mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL).
Khusus untuk PJL, pemerintah pusat
perlu mendorong untuk segera disahkannya draft Peraturan Pemerintah terkait
dengan PJL tersebut sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No 32 tahun
2009. Sektor-sektor strategis seperti disebutkan di atas juga akan memberikan high
impact bagi perekonomian di wilayah HoB
dengan memicu pertumbuhan ekonomi
berbasis komoditas yang ramah lingkungan, penciptaan lapangan kerja baru dan
potensi pengembangan penerimaan dari
jasa lingkungan.
Disamping aspek sektoral, pengembangan ekonomi hijau di wilayah HoB
juga memerlukan peran serta aktif dari
masyarakat dan pemerintah daerah.
Peran aktif masyarakat dapat diwujudkan jika kesempatan berusaha di bidang
ekonomi dapat dikembangkan di wilayah
HoB. Potensi peran masyarakat dapat
dikembangkan baik sebagai komponen
pendukung penting dari ekonomi hijau
sektor strategis maupun sebagai pelaku
dalam mengembangkan ekonomi hijau
berbasis masyarakat. Di sisi lain peran
pemerintah daerah baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi sangat penting untuk mewujudkan ekonomi hijau di
wilayah HoB melalui dukungan kebijakan,
iklim investasi yang kondusif, maupun
dukungan kelembagaan lainnya.
Laporan strategi implementasi pengembangan ekonomi hijau di wilayah HoB ini
ditutup pada bagian akhir dengan beberapa catatan terkait dengan kendala
yang harus diatasi oleh pemerintah, dan
beberapa hal yang akan terjadi di masa
mendatang serta pengembangan kewilayahan di kawasan HoB seperti pembentukan Provinsi Kalimantan Utara dan
kabupaten baru lainnya yang tentu saja
akan mengubah landscape HoB beserta
konsekuensi kebijakan yang akan diturunkannya.

the system and mechanism of Payment


for Environmental Services (PES). The
central government needs to push for the
immediate passing of the draft government regulation associated with the PES
as mandated by Law No. 32 of 2009. The
strategic sectors as mentioned above will
also make a high impact on the economy
in the HoB by triggering economic growth
that is based on environmentally friendly
commodities, the creation of new jobs and
the potential of generating revenues from
environmental services.
In addition to these sector-based aspects,
green economy development in the HoB
also requires active participation on the
part of local communities and provincial
governments. Active participation by local
communities could be realized if business and economic [income-generation]
opportunities in the HoB are explored and
realized. Moreover, local communities
have potential that could be developed.
They could serve either as an essential
supporting component of green economy
in the strategic sectors, or as actors in developing community-based green economy. Meanwhile, sub-national governments, be they district, city or provincial
governments, play a very important role in
making green economy in the HoB a reality by supporting green economy policies,
providing a conducive environment for
green economy-based investments and
other institutional supports.
This report, which describes the implementation strategy for green economy
development in HoB, concludes with notes
highlighting the constraints and obstacles
that the government has to address, as
well as concerns over future issues and
changes in the administrative division
taking place within the HoB, such as the
recent creation of the Province of North
Kalimantan and the creation of new districts which will change the landscape of
the HoB and affect future policies.

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

DAFTAR SINGKATAN
Abbreviations
AMDAL:

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

APBD:

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Bappeda:

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Bappenas :

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

BAU:

Business As Usual

BBM:

Bahan Bakar Minyak

BKPM:

Badan Koordinasi Penanaman Modal

BPS:

Badan Pusat Statistik

BUMN PTPN: Badan Usaha Milik Negara PT Perkebunan Nusantara


CDM:

Clean Development Mechanism

COP:

Conference Of Parties

CPO:

Crude Palm Oil

CSR:

Corporate Social Responsibility

DAK:

Dana Alokasi Khusus

DAS:

Daerah Aliran Sungai

DBH:

Dana Bagi Hasil

DDPI:

Dewan Daerah Perubahan Iklim

DKI:

Daerah Khusus Ibukota

DKFE:

Delta Kayan Food Estate

DME:

Desa Mandiri Energi

DMSI:

Dewan Minyak Sawit Indonesia

EBT:

Energi Baru dan Terbarukan

EQI:

Environment Quality Index

FORCLIME:

Forest and Climate Change

FSC:

Forest Stewardship Council

GAP:

Good Agricultural Practices

GDP:

Gross Domestic Product

GGGI:

Global Green Growth Institute

GIZ:

German International Cooperation

GRK:

Gas Rumah Kaca

GW:

Giga Watt

Ha:

Hektar

HAKI:

Hak Atas Kekayaan Intelektual

HCVF:

High Conservation Value Forest

HDI:

Human Development Index

HDI:

Human Development Index

HGU:

Hak Guna Usaha

HHBK:

Hasil Hutan Bukan Kayu

HKm:

Hutan Kemasyarakatan

HoB:

Heart of Borneo

10

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

HTR:

Hutan Tanaman Rakyat

ILO:

International Labor Organizations

Inpres:

Instruksi Presiden

IPM:

Integrated Pest Management

IPR:

Izin Pertambangan Rakyat

ISPO:

Indonesian Sustainable Palm Oil

IUPHHK HA: Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam
IUPHHK HT: Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman
IUPHHK RE: Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem
IUP:

Izin Usaha Perkebunan

ITTO:

International Timber Trade Organization

ISCC:

International Sustainability and Carbon Certification

Kalbar:

Kalimantan Barat

Kalsel:

Kalimantan Selatan

Kaltara:

Kalimantan Utara

Kalteng:

Kalimantan Tengah

Kaltim:

Kalimantan Timur

Kehati:

Kenekaragaman Hayati

KCP:

Kaltim Carbon Partnership

KK:

Kepala Keluarga

KLH:

Kementerian Lingkungan Hidup

KLHS:

Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Konreg:

Konsultasi Regional

KPHP:

Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi

KPHL:

Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung

KPHK:

Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi

KPI:

Key Performance Indicator

KSN:

Kawasan Strategis Nasional

KTT:

Konferensi Tingkat Tinggi

LEI:

Lembaga Ekolabel Indonesia

LSM:

Lembaga Swadaya Masyarakat

MAKSI:

Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia

Migas:

Minyak dan gas bumi

MW:

Mega Watt

MP3EI:

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia

OECD:

Organization for Economic Cooperation and Development

PAD:

Pendapatan Asli Daerah

PBS:

Perkebunan Besar Swasta

PDB:

Produk Domestik Bruto

PDRB:

Produk Domestik Regional Bruto

11

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

PEMDA:

Pemerintah Daerah

PERDA:

Peraturan Daerah

PES:

Payment for Environmental Services

Perpres:

Peraturan Presiden

Pergub:

Peraturan Gubernur

Perbup:

Peraturan Bupati

Permen:

Peraturan Menteri

Permenhut: Peraturan Menteri Kehutanan


Permentan:

Peraturan Menteri Pertanian

PEFC:

Programme for Endorsement of Forest Certification

PHPL:

Pengelolaan Hutan Produksi Lestari

KP:

Kuasa Pertambangan

PKP2B:

Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara

PKS:

Pabrik Kelapa Sawit

PJL:

Pembayaran Jasa Lingkungan

PLTA:

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air

PNBP:

Penerimaan Negara Bukan Pajak

Pokjanas:

Kelompok Kerja Nasional

PP:

Peraturan Pemerintah

PPP:

Public Private Partnership

PT:

Perseroan Terbatas

PTSP:

Pelayanan Terpadu Satu Pintu

RAD GRK:

Rencana Aksi Daerah penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

RE:

Restorasi Ekosistem

REDD+:

Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation Plus

RIL:

Reduced Impact Logging

RIL-C:

Reduced Impact Logging low Carbon emission

RKTN:

Rencana Kehutanan Tingkat Nasional

Rp:

Rupiah

RPJP:

Rencana Pembangunan Jangka Panjang

RPJM:

Rencana Pembangunan Jangka Menengah

RPJMN:

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

RPJMD:

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

RPPLH:

Rencana Perlindungan dan Pengeloaan Lingkungan Hidup

RPP:

Rancangan Peraturan Pemerintah

RSPO:

Rountable Sustainable Palm Oil

RTRW:

Rencana Tata Ruang dan Wilayah

SAN:

Sustainable Agriculture Network

SDG:

Sustainable Development Goal

SVLK:

Sistem Verifikasi Legalitas Kayu

12

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

SFM:

Sustainable Forest Management

SRAP REDD+: Strategi dan Rencana Aksi Provinsi REDD+


TBS:

Tandan Buah Segar

TNC:

The Nature Conservancy

TNKM:

Taman Nasional Kayan Mentarang

UKP4:

Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan

UNEP:

United Nations Environment Programme

UNDP:

United Nations Development Programme

UNCTAD:

United Nations Conference on Trade and Development

UNFCCC:

United Nations Framework Convention on Climate Change

US$:

United States Dollar

WWF:

World Wide Fund for Nature

13

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

DAFTAR ISI
Kata Pengantar 4
Ringkasan Eksekutif 5
I. PENDAHULUAN 11
1.1 Inisiatif Heart of Borneo 12
1.2 Hubungan antara Ekonomi dan Modal Alam dan Lingkungan 18
II. EKONOMI HIJAU UNTUK HEART OF BORNEO 25
2.1 Apa itu Ekonomi Hijau? 26
2.2 Mengapa Diperlukan Ekonomi Hijau? 31
2.3 Manfaat Kebijakan Berbasis Ekonomi Hijau 36
2.4 Kebijakan dan Instrumen untuk Mendorong Ekonomi Hijau 40

2.4.1 Kebijakan pada Tingkat Nasional 40

2.4.2 Kebijakan pada Tingkat Daerah 44

III. PAKET USULAN KEBIJAKAN EKONOMI HIJAU DI HEART OF BORNEO 49


3.1 Rasionalisasi Kebijakan 50
3.2 Signifikansi Implementasi Deklarasi Heart of Borneo:

Studi Kasus Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah 52

3.3 Usulan Paket Kebijakan Heart of Borneo 59


IV. IMPLEMENTASI SEKTORAL EKONOMI HIJAU DI HoB 69
4.1 Sektor Hasil Hutan Kayu 70
4.2 Sektor Pertambangan 79
4.3 Sektor Kelapa Sawit 81
4.4 Sektor Energi Terbarukan

85

4.5 Sektor Inovatif 88


V. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN EKONOMI PADA HIGH-IMPACT SECTOR 93
5.1 Kontribusi High-Impact Sectors terhadap Perekonomian Kalimantan Timur,

Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah 95

5.2 Degradasi Lingkungan yang Bersumber dari Aktivitas High-Impact Sectors 97


5.3 Implementasi Ekonomi Hijau : High-Impact Sectorss 97
5.4 Alternatif Solusi Rehabilitasi Ekonomi Hijau pada High-Impact Sectors 105
5.5 Indikator Implementasi Penerapan Prinsip-prinsip Ekonomi Hijau

134

VI. STRATEGI IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU DI JANTUNG KALIMANTAN 137


6.1 Implementasi Ekonomi Hijau di Kalimantan

141

6.2 Kalimantan Barat - Penguatan Basis Ekonomi Produktif 153


6.3 Kalimantan Tengah - Agroindustri Minyak Sawit Berkelanjutan 164
6.4 Kalimantan Timur - Tata Ruang, Satu Data Satu Peta

174

6.5 Kalimantan Utara - Jasa Lingkungan dan Lumbung Pangan 186

14

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

TABLE OF CONTENTS
Foreword 4
Exwcutive Summary 7
I. INTRODUCTION 17
1.1 Heart of Borneo Initiative 18
1.2 Relations between the economy, natural capital and the environment 24
II. A GREEN ECONOMY FOR THE HEART OF BORNEO 33
2.1 What is Green Economy? 34
2.2 Why the Green Economy is Needed? 39
2.3 Benefits of Green Economy-Based Policies 46
2.4 Policies and Instruments to Encourage a Green Economy 51

2.4.1 Policies at the National Level 51

2.4.2 Policies at the Regional Level 57

III. PACKAGE OF PROPOSED GREEN ECONOMY POLICIES IN THE HEART OF BORNEO 63


3.1 Rationalization of Policies 64
3.2 Significance of the Implementation of the HoB Declaration:

Case Studies in West Kalimantan, Central Kalimantan and East Kalimantan 66

3.3 Package of Proposed HoB Policies 74


IV. SECTORAL IMPLEMENTATION OF A GREEN ECONOMY IN THE HEART OF BORNEO 85
4.1 Timber Forest Products Sector 86
4.2 Mining Sector 96
4.3 Palm Oil Sector 100
4.4 Renewable Energy Sector

105

4.5 Innovative Sectors 109


V. IMPLEMENTATION OF ECONOMIC POLICIES IN HIGH IMPACT SECTORS 115
5.1 Contribution of High Impact Sectors to the Economy of East Kalimantan,

West Kalimantan, and Central Kalimantan Provinces 117

5.2 Environmental Degradation Caused by the Activities of High Impact Sectors 119
5.3 The Implementation of Green Economy: High-Impact Sectors

120

5.4 Alternative Solutions for Green Economy Rehabilitation on High-Impact Sectors 127
5.5 Indicators for the Implementation of Green Economy Principles

134

VI. Green Economy Implementation Strategy in the Heart of Borneo 137


6.1 Green Economy Implementation in Kalimantan

141

6.2 West Kalimantan Barat - Strengthening Productive Economy Base 153


6.3 Central Kalimantan - Sustainable Palm Oil Agro-Industry 164
6.4 East Kalimantan - Spatial Plan, One Data One Map

174

6.5 North Kalimantan - Environmental Services and Food Granaries 186

15

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

VII. PERAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN SEKTOR BERBARIS EKONOMI HIJAU


113
7.1 Peran Masyarakat dalam Sektor Hasil Hutan Bukan Kayu 115
7.2 Peran Masyarakat dalam Sektor Agroforestri 118
7.3 Peran Masyarakat dalam Sektor Pertanian 121
7.4 Peran Masyarakat dalam Sektor Pariwisata 123
VIII.

CATATAN PENUTUP 126

Daftar Pustaka 130

VII. ROLE OF COMMUNITIES IN THE DEVELOPMENT OF A GREEN ECONOMY BASED


SECTOR 195

7.1 Role of Communities in Non-Timber Forest Products Sector 198


7.2 Role of Communities in the Agroforestry Sector 203
7.3 Role of Communities in the Agricultural Sector 206
7.4 Role of the Communities in the Tourism Sector 208
VIII.

CONCLUDING REMARK 214

Bibliography 219

16

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

I.
PENDAHULUAN
Introduction

17

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

1.1
Inisiatif Heart of Borneo
Heart of Borneo Initiative

ulau Borneo yang terdiri dari Kalimantan (Indonesia), Sabah dan


Sarawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam, merupakan salah satu pulau
terbesar di Asia Tenggara dan pulau
terluas ketiga terbesar di dunia dengan
luas 726 000 km2. Pulau Borneo juga
merupakan pulau yang dibatasi oleh tiga
negara sekaligus yakni Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia. Di pulau
ini, sekitar 30% atau lebih dari 23 juta ha
(Tabel 1), merupakan kawasan di pusat
atau di tengah Pulau Borneo yang dikenal sebagai Jantung Kalimantan atau
Heart of Borneo (HoB), yang merupakan
hutan lintas batas terbesar yang masih
tersisa di Asia Tenggara (van Paddenburg et al., 2012)1 .

The Island of Borneo consists of Kalimantan (Indonesia), Sabah and Sarawak


(Malaysia) and Brunei Darussalam. It
is one of the largest islands in Southeast Asia and the third largest island in
the world, covering an area of 726,000
square kilometers. The Island of Borneo
is also an island that is shared by three
countries, that is, Brunei Darussalam,
Indonesia and Malaysia. About 30% of
the islands land mass or more than
23 million hectares (see Table 1) are
situated in the center or in the middle
of the island and is therefore known as
the Heart of Borneo (HoB), which is the
largest cross-border forest still remaining in Southeast Asia (Van Paddenburg
et al., 2012) 1.

Tabel 1: Luas kawasan Heart of Borneo (HoB) di tiga negara.


Table 1: The size of the Heart of Borneo (HoB) in three countries.

Negara/Country

Luas / Width (ha)

Persentasi (%)

Indonesia (Total)

16.794.300,78

72,23

Kalimantan Barat / West Kalimantan

4.8892.136,18

21,04

Kalimantan Tengah / Central Kalimantan

3.027.214,72

13,02

Kalimantan Timur / East Kalimantan

8.874.949,88

38,17

Malaysia (Total)

6.031.911,67

25,94

Sarawak

2.139.471,04

9.20

Sabah

3.892.440,63

16,74

424.076,66

1,82

23.250.289,11

100,00

Brunei Darussalam (Total)


HoB (Total)

Wilayah HoB dikenal memiliki keanekaHoB dikenal memiliki keanekaragaman


hayati (kehati) yang tinggi dan mewakili
sekitar 6% kehati dunia. Menurut van
Paddenburg et al. (2012) di wilayah HoB
telah ditemukan sekitar 500 spesies
1

The HoB is known to have high biological diversity (biodiversity) and accounts
for about 6% of the worlds biodiversity.
According to van Paddenburg et al.
(2012), about 500 new species have been
discovered in the HoBo since 1995 (or

 an Paddenburg, A., et al. 2012. Heart of Borneo: Investing in Nature for A Green Economy.
V
WWF HoB Global Initiative, Jakarta.

18

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Brunei
Darussalam

Malaysia

baru sejak tahun


1995 (atau hampir 3 spesies baru
per bulan) dan
menjadi hulu dari
14 sungai utama di
Kalimantan.

Heart of Borneo

Indonesia

Menyadari akan pentingnya hutan


Kalimantan dalam menjaga kehati dan
ekosistem global, tiga negara yang
berada di Pulau Borneo yakni Brunei
Darussalam, Indonesia dan Malaysia
mendeklarasikan Heart of Borneo pada
tahun 2007. HoB mengedepankan prinsip kerja sama dalam konservasi hutan
dan pengelolaan lahan yang berkelanjutan serta kesejahteraan masyarakat
yang ada di wilayah HoB.
Inisiatitif HoB menyepakati setiap
negara berkomitmen untuk mengelola
kawasan di jantung Kalimantan masingmasing sebesar 335.000 ha (Brunei
Darussalam), 16,8 juta ha (Indonesia)
dan 6 juta ha (Malaysia) dengan moto
Three countries, one conservation vision.
Kemudian menetapkan visi bersama untuk HoB adalah Bridging conservations
and sustainable development of three
countries.

almost three new


species are discovered every month).
The sources of 14
major rivers in Kalimantan are situated upstream
in the HoB.

Recognizing the important contribution


of Kalimantan forests to the maintenance of the worlds biodiversity and
ecosystems, the three countries in the
island of Borneo Brunei Darussalam,
Indonesia and Malaysia signed the
Heart of Borneo Declaration in 2007.
The HoB Declaration - a conservation
agreement - advocates the principles of
cooperation in promoting forest conservation, sustainable land management
and the welfare of people in the HoB.
Under the HoB initiative, each country is
committed to managing the part of the
HoB under their respective jurisdictions
- 335,000 hectares in Brunei Darussalam, 16.8 million hectares in Indonesia and 6 million hectares in Malaysia
with the motto of three countries, one
conservation vision. The shared vision
set for the HoB is Bridging conservations and sustainable development of
three countries.

With one conservation vision and with a view to promote peoples welfare, we will cooperate
in ensuring the effective management of forest resources and conservation of a network of
protected areas, productive forests and other sustainable land-uses within an area which
the three respective countries will designate as the Heart of Borneo (HoB).
(Heart of Borneo Declaration, 2007)

19

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Inisiatif HoB secara spesisifik dibangun


dengan tujuh tujuan utama yakni:

The HoB initiative is specifically developed


with the following seven main objectives:

1.  K awasan HoB sebagai salah satu


kawasan konservasi keanekaragaman
hayati penting di dunia

1.  [to turn] the HoB [into] one of the important biodiversity conservation areas in
the world

2.  K awasan HoB sebagai menara air pulau


Kalimantan

2.  [to turn] the HoB [into a center of] water


storage and supply for Kalimantan

3.  K awasan HoB sebagai pengatur gas


rumah kaca
4.  Pusat pengembangan budidaya berbasis pengelolaan sumberdaya alam yang
ramah lingkungan dan berkelanjutan

3.  to turn] the HoB [into a] greenhouse gas


regulator
4. [to establish] a center for the
development of cultivation based on the
environmentally friendly and sustainable
management of natural resources
5.  [to support the establishment of a
system/ network of environmentally
friendly infrastructures and structures in
order to render isolated areas accessible

6.  Penguatan masyarakat adat

6.  to empower indigenous people

7.  Kerjasama pengelolaan lingkungan kawasan negara

7.  [to facilitate] collaboration in the


environmental management of Stateowned areas

Meski HoB memiliki peran yang sangat


vital dalam konteks ekosistem regional
dan global, sumber daya alam di wilayah
ini telah dieksploitasi pada tingkat yang
mengkuatirkan. Degradasi lingkungan, deforestasi, kehilangan kehati dan
perubahan peruntukan lahan merupakan ancaman yang riil yang dihadapi
wilayah ini. Hal ini terjadi karena pada
beberapa dekade ke belakang, pembangunan Indonesia lebih menekankan
pada pertumbuhan ekonomi dengan

Although the HoB plays a very vital role


in the context of regional and global
ecosystems, natural resources in this
area have been exploited at an alarming rate. Environmental degradation,
deforestation, biodiversity loss and
land use change are real threats facing the area because in the past few
decades, the emphasis of Indonesias
development has been predominantly
placed on economic growth through the
exploitation of natural resources such

Erma /Photovoices Intl-WWF/HoB

5.  Dukungan sistem prasarana dan sarana


ramah lingkungan dalam membuka ke
terisolasian wilayah

20

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

mengeksploitasi hasil dari sumber daya


alam seperti tambang dan hutan, tanpa
memperhatikan nilai instrinsik dari
sumber daya alam dan jasa lingkungan.
Nilai-nilai ekosistem dari jasa lingkungan dan peran-peran jasa lingkungan
dalam memberikan kontribusi kepada kesejahteraan masyarakat dalam
konteks yang lebih luas, lebih sering
diabaikan ketika indikator pembangunan
hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi
dan gross domestic product/GDP (Produk
Domestik Bruto) semata.

Pola pembangunan yang tidak berkelanjutan ini menimbulkan biaya sosial
dan ekosistem yang cukup besar bagi
masyarakat dan lingkungan. Beberapa
dampak yang ditimbulkan di wilayah
HoB akibat pembangunan yang tidak
berkelanjutan ini antara lain (van Paddenburg et al., 2012):
P
 enurunan layanan dari daerah
aliran sungai di wilayah HoB. Wilayah
HoB memiliki 29 sungai yang menyuplai air untuk kebutuhan rumah
tangga dan kegiatan ekonomi lainnya
untuk wilayah seluas 54 juta ha. Kerusakan di wilayah hulu tidak diragukan
lagi akan mengganggu layanan jasa
ekosistem ini yang berdampak pada
kerugian ekonomi yang cukup besar.

as mineral resources/ deposits and


forests, without taking into account the
intrinsic value of natural resources and
environmental services. The values and
roles of ecosystems, the environmental
services they provide and their contribution to peoples welfare in a broader
context are often overlooked as development indicators are measured solely by
economic growth and Gross Domestic
Product (GDP).

This unsustainable development has
given rise to quite significant social and
ecosystem costs for people and the environment. Some of the adverse impacts
afflicted by this unsustainable development upon the HoB are, among others
(van Paddenburg et al., 2012) include:
D
 eclining services of the watersheds
in the HoB: There are 29 rivers in the
HoB. The rivers supply water that
is used for domestic and economic
activities in an area of 54 million hectares. Damage in the upstream part of
the rivers would undoubtedly disrupt
these ecosystem services and cause
considerable economic losses.
S
 eawater intrusion and declining
supply of water: Seawater intrusion
and a decline in water supply would

21

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

P
 enurunan suplai air dan intrusi
air laut. Dampakyang terjadi pada
penurunan suplai air dan instrusi air
laut akan membebani masyarakat
untuk memperoleh suplai air bersih di
Kalimantan, baik dalam skala rumah
tangga maupun industri.
P
 encemaran air dari industri. Industri kelapa sawit yang tumbuh berkembang dengan cepat di Kalimantan
menimbulkan penurunan kualitas air
akibat penggunaan pestisida, pupuk
dan limbah dari pabrik kelapa sawit
(PKS).
P
 eningkatan terhadap frekuensi ban
jir. Beberapawilayah di Kalimantan
seperti Samarinda lebih sering mengalami banjir seiring dengan makin
maraknya kegiatan penambangan
di wilayah hulu Sungai Mahakam.
Dampak dari banjir yang terjadi pada
periode 2008-2009 saja diperkirakan menelan kerugian sebesar US$
19 juta (Rp 186,2 milyar), semantara
pemerintah daerah telah pula mengeluarkan anggaran sekitar US$ 7 juta
(Rp 68,6 milyar) untuk membangun
polder untuk mencegah meluasnya
banjir di wilayah ini.
P
 eningkatan sedimentasi yang tinggi
di beberapa sungai di Kalimantan te
lah mengurangi kapasitas angkut dari
industri-industri di beberapa wilayah
di Kalimantan. Perkiraan kerugian
terbatasnya daya angkut ini sekitar
US$ 100 juta /tahun, sementara biaya
dredging untuk mengurangi sedimentasi ini diperkirakan mencapai US$ 11
juta.
K
 egiatan pembukaan ladang de
ngan cara pembakaran telah sering
menyebabkan kebakaran hutan di
wilayah Kalimantan selama periode

22

make it difficult for the public to obtain clean water in Kalimantan, both
on a household scale and an industrial
scale.
W
 ater pollution caused by industrial
discharges. The oil palm plantation
industry, which is growing rapidly in
Kalimantan, leads to a decrease in
water quality due to contamination
associated with the use of pesticides,
fertilizers and wastes from palm oil
milling (due to lack of Milling Certificate of Competency or MCC).
I ncreased frequency of flooding:
Some areas in Kalimantan, like
Samarinda experience floods more
frequently as mining activities in the
upper reaches of the Mahakam River
proliferate and intensify. The floods
that occurred in 2008-2009 are estimated to have caused a loss of US$
19 million (USD 186.2 billion). Meanwhile, the East Kalimantan provincial
government has allocated a budget
of approximately US$ 7 million (USD
68.6 billion) to build polders [dikes]
to prevent widespread flooding in the
region.
I ncreased or high sedimentation rate
in some rivers in Kalimantan has
reduced the capacity of industries for
cargo shipping by river transport in
some areas of Kalimantan. The losses
incurred are estimated at approximately US$ 100 million / year while
the cost of dredging to reduce such
sedimentation is estimated at US$ 11
million.
Burn-offs for land clearing purposes
triggered forest fires in Kalimantan
during 1997-1998, causing economic
losses of about US$ 1,012 million. The
loss in forest honey production is estimated at US$ 67,000 to US$ 84,000
per forest honey harvesting group.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

1997-1998 yang menyebabkan kerugian ekonomi sekitar US$ 1.012 juta,


sementara kerugian produksi dari
madu hutan diperkirakan mencapai
US$67.000 sampai US$ 84.000 per
kelompok.
Dengan berbagai masalah lingkungan
dan dampak ekonomi yang ditimbulkan
di wilayah HoB tersebut, kebijakan HoB
secara umum bertujuan untuk :
1. Mempertahankan kawasan konservasi dan hutan lindung.
2. Pengembangan dan pengendalian
koridor antar kawasan konservasi.
3. Mempertahankan kawasan resapan air di bagian hulu dari 14 sungai
penting.
4. Pengembangan prasarana konservasi sumberdaya air.
5. Penetapan kawasan penyerapan
karbon di kawasan hutan tropis.
6. Pengembangan kebijakan dan
mekanisme untuk pengendalian dan
pengaturan proses penyerapan dan
penyimpanan karbon.
7. Pengembangan budidaya kehutanan, pertanian, perkebunan yang
berkelanjutan dan pertambangan
yang bertanggung jawab.
8. Pengembangan sistem infrastuktur
berbasis eko-konstruksi.

With various environmental issues afflicting the HoB and the ensuing economic impacts thereon, the HoB policy
is generally aimed at:
1.  Maintaining conservation areas and
protected forests.
2.  Developing and controlling the corridors between protected areas.
3.  Maintaining water catchment areas
in the upstream part of 14 important
rivers.
4.  Developing infrastructure for water
resources conservation.
5.  Determining carbon sequestration
areas in tropical forest areas.
6.  D
 eveloping policies and mechanisms for the control and regulation
of the process of carbon sequestration and storage.
7.  Developing sustainable forestry, agriculture, and plantation cultivation
as well as responsible mining.
8.  D
 eveloping infrastructure systems
on the basis of eco-construction.
9.  Determining indigenous peoples
forests.
10.  Developing joint management
between countries in riparian areas
[river basins].

9.  Penetapan hutan masyarakat adat.


10. Pengembangan pengelolaan bersama antar negara berbasis wilayah
sungai.

23

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

1.2 
Hubungan antara Ekonomi dan
Modal Alam serta Lingkungan
Relations between the Economy, Natural
Capital and the Environment

eran sumber daya alam dan jasa


lingkungan sangat penting dalam
menunjang kesejahteraan masyarakat
dalam proses pembangunan. Namun
demikian, selama beberapa dasa warsa
belakangan, sumber daya alam dan jasa
lingkungan hanya dilihat semata-mata
dari sisi faktor produksi (seperti lahan)
untuk menunjang aliran ekonomi dari
konsumen dan produsen demikian juga
sebaliknya. Paradigma ini yang disebut
sebagai circular flow dalam ekonomi
merupakan paradigma neo-klasik yang
cenderung mengabaikan peran sumber
daya dan jasa lingkungan dari sisi aspek
non-moneter. Seperti terlihat pada
Gambar 1 di bawah ini, kegiatan ekono-

Biaya
Cost

atural resources and environmental


services play a very important role
in supporting peoples welfare in the
process of development. However, over
the past few decades, natural resources
and environmental services have been
seen as mere production factors (such
as land) to support economic flow from
consumers to producers and vice versa.
This paradigm, which is referred to as
the circular flow of the economy, is
a neo-classical paradigm that tends
to ignore the role of natural resources
and environmental services in terms of
non-monetary aspects. As shown below
in Figure 1, economic activities are only
seen in terms of market inputs and

Upah, Sewa
PA SAR INPUT
Rumah tangga menjual
Produsen membeli

Wage, Rent

INPUT MARKET
Faktor Produksi

Household sell
Producer buy

Production Factor

Modal, Tenaga
kerja, Lahan
Capital,
Manpower, Land

Gambar 1: Circular
flow dalam ekonomi
konvensional

BISNIS
(Produsen)

RUMAH TANGGA
(Konsumen)

Figure 1: Circular
flows in a conventional
economy

BUSINESS
(Producer)

Barang & jasa


Goods & Services

PASAR OUTPUT

HOUSEHOLDS
(Consumer)

Barang & jasa


Goods & Services

Produsen menjual
Konsumen membeli
OUTPUT MARKET
Penerimaan
Revenue

24

Producer sell
Consumer buy

Pengeluaran, Konsumsi
Consumption expenses

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

mi hanya terlihat dari aspek pasar input


dan output serta interaksi antara pelaku
usaha dan rumah tangga. Faktor sumber daya alam hanyalah faktor eksogen
(eksternal) yang tidak dipertimbangkan
sama sekali sebagai salah satu modal
dalam proses ekonomi yang memiliki
nilai-nilai lain di luar harga komoditas
yang dihasilkan dari sumber daya alam.

GNP-monetized
1/2 of cake
Top two layers

outputs as well as interaction between


businesses and households. Natural
resources are only treated as external
factors that are not considered as one of
the capitals in an economic process that
has values other than merely the price
of commodities produced from natural
sources.

PRIVATE Sector
PUBLIC Sector

GNP Private Sector


Rests on

GNP Public Sector


Rests on

UNDERGROUND Economy

Non-monetized
Productive 1/2 of cake
Lower two layers

LOVE Economy

MOTHER NATURE

Social Cooperative
Love Economy
Rests on
Natures layer

Gambar 2: Kue Ekonomi Model Henderson


Figure 2: Hendersons Economic Cake

Dalam konteks makro ekonomi, peran


sumber daya alam dan lingkungan merupakan kue pembangunan yang tidak
dimasukan dalam komponen perhitungan produk domestik bruto (PDB).

In a macroeconomic context, natural and


environmental resources are treated
as a cake of development that are not
included in the calculation of the components of gross domestic product (GDP).

Sebagaimana terlihat pada Gambar 2


kue alam (mother nature) merupakan
bagian paling mendasar dalam kontribusi membangun kue pembangunan,
sementara bagian atas yang tercatat
dalam statistik pembangunan adalah
kue yang didasarkan pada investasi dan
konsumsi baik dari sektor swasta maupun publik (pemerintah). Dalam konteks
pembangunan di daerah Kalimantan

As shown in Figure 2, the cake of


nature (Mother Nature) is the most fundamental part in the contribution to the
building of the development cake while
the upper part, which is recorded in the
statistics of development, is cake based
on consumption and investment from
both the private and public sectors (government). In the context of development
in Kalimantan, timber and mining prod-

25

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

misalnya, hasil kayu dan tambang serta


belanja pemerintah untuk menangani
banjir dan kebakaran hutan merupakan
kue lapisan atas yang akan memberikan
kontribusi dalam ekonomi di HoB. Pandangan seperti ini akan menimbulkan
fenomena yang disebut sebagai broken
window fallacy dimana semakin banyak bencana alam semakin baik untuk
pertumbuhan ekonomi. Hal ini tentu saja
bertentangan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dimana bukan
saja aspek ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat yang perlu diperhatikan
namun juga keberlanjutan sumber daya
alam dan lingkungan itu sendiri untuk
menyuplai barang dan jasa bagi kegiatan ekonomi.
Pandangan seperti ini perlu diubah
yakni dengan menghubungkan kembali
peran modal alam dalam konteks kegiatan ekonomi. Interaksi antara modal
alam dan proses ekonomi ini secara diagramatik dapat dilihat pada Gambar 3.

ucts as well as government spending


on floods and forest fires constitute the
top layers of the cake that contribute to
the economies within the HoB. This view
leads to a phenomenon known as the
broken window fallacy which falsely
believes that the more natural disasters
there are, the better it is for economic
growth. Of course, this is contrary to the
principles of sustainable development
in which needs to be considered are not
only economic and social welfare, but
also the sustainability of natural and
environmental resources in order to
supply goods and services for economic
activities.
This view needs to be changed by reconnecting the role of natural capital in the
context of economic activity. Interaction
between natural capital and economic
process is shown in Figure 3.

Gambar3: Hubungan Antara Sistem Lingkungan Dengan Sistem Ekonomi (Fauzi, 2009)2
Figure 3: Relation between environmental and economic systems (Fauzi, 2009)2

Preference

Pollution
Social System

Economy System

Output

Degradation

Carrying Capacity
Extraction

Environment
System

Environmental
Quality

Fauzi, A. 2009. Rethinking Pembangunan Ekonomi dan Sumber Daya Alam Indonesia. Orange Book, IPB Press, Bogor.

26

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Saliah /Photovoices Intl-WWF/HoB

Sebagaimana terlihat pada Gambar 3,


dengan memasukan sistem lingkungan
ke dalam sistem ekonomi dan sosial,
maka nampak adanya umpan balik (feed
back) dari sistem lingkungan ke dalam
sistem ekonomi dan sosial. Sistem
lingkungan bukan hanya memberikan
barang dan jasa bagi ekonomi dalam
bentuk ekstraksi yang dihasilkan, namun juga memberikan manfaat sosial
yang tidak termoneterisasi ke sistem
sosial melalui perbaikan kualitas lingkungan. Di sisi lain dalam sistem konvensional, daya dukung degradasi, serta
pecemaran yang merupakan interaksi
antara sistem lingkungan dengan sistem
ekonomi tidak dimasukan dalam model
konvensional. Hal ini disebabkan karena
dalam pandangan konvensional diasumsikan bahwa alam memiliki kemampuan

As shown in Figure 3, by incorporating


environmental systems into social and
economic systems, feedback from the
environmental systems in the economic
and social systems becomes apparent.
Environmental systems not only provide
goods and services for the economy
in the form of benefits, but also social
benefits through the improvement of
environmental quality.
In a conventional model, the limit of
the earths carrying capacity to absorb
degradation and pollution which involves
interactions between environmental
and economic systems, is not included
because the conventional view assumes
that the universe has an unlimited ability to support economic activities - and
also - an equally unlimited ability to take

27

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

tidak terbatas dalam mendukung kegiatan ekonomi, serta kemampuan yang


tidak terbatas pula dalam menyerap
degradasi dan pencemaran yang dihasilkan. Asumsi ini tentu saja sangat absurd
karena adanya respon negatif dari alam
seperti banjir, erosi, perubahan iklim
dan bencana alam lainnya adalah bukti
dari keterbatasan daya dukung dan daya
serap dari alam tersebut. Di sisi lain
kualitas lingkungan yang baik bukan
saja memberikan aliran barang dan jasa
yang kontinyu terhadap ekonomi namun juga berkontribusi positif terhadap
sistem sosial seperti perbaikan kesehatan, udara yang bersih, keindahan dan
sebagainya.
Kesulitan memasukkan aspek lingkungan ke dalam sistem ekonomi selama
ini adalah karena banyak aspek lingkungan tidak dapat dinilai secara ekonomi
(unpriced), dan sehingga terjadi dengan apa yang disebut kegagalan pasar
terhadap nilai-nilai lingkungan dimana
pada berbagai hasil penelitian nilainya
jauh lebih besar dari produk-produk
yang dihasilkan dari sumber daya alam.
Kondisi ini cenderung akan lebih besar
merusak lingkungan daripada apabila
kita dapat menilai lingkungan dan memasukkannya dalam sistem ekonomi.
Sistem ekonomi saat ini terus diperbaiki
dari waktu ke waktu dan sejalan dengan
perkembangan isu perubahan iklim dan
pembangunan ekonomi berkelanjutan,
aspek lingkungan ini diupayakan untuk dapat dinilai dan dijadikan insentif
pembangunan melalui pengembangan
pasar jasa lingkungan (Payment for Environmental Services/PES), wisata, pasar
karbon atau pemberian insentif pada
kebijakan-kebijakan pengurangan emisi
GRK melalui Mekanisme Pembangunan
Bersih/MPB (CDM), skema REDD+ dan
lain-lain. Dengan demikian, menjaga
dan meningkatkan kualitas lingkungan
dalam memanfaatkan sumber daya
alam untuk pertumbuhan ekomomi
dapat berjalan bersamaan.

28

... perlakuan yang baik terhadap


sumberdaya alam dan lingkungan akan
berdampak positif pada sistem ekonomi
dan sosial dan akan memberikan umpan
balik positif pada sistem lingkungan.
...a good treatment to natural
resources and environment will have
positive impact on the economic and
social systems and will give positive
feedback on the environmental system.

environmental degradation and pollution


generated by the economic activities.
This assumption is of course absurd
because the negative response of nature
against environmental degradation
and pollution - such as floods, erosion,
climate change and other natural disasters - are evidence of the limitation of
natures carrying capacity. On the other
hand, good environmental quality provides not only a continuous flow of goods
and services for the economy but also
contributes positively to social systems
such as improved health, clean air, a
beautiful environment and so on.
It is difficult to incorporate environmental aspects into the economic system
because many aspects of the environment cannot be assessed economically,
thus resulting in the so-called failure of
the market to understand and capture
the (financial and economic) value of the
environment which, as various research
findings have shown, is much greater
than that of the produce and products
that can be extracted from natural resources. If we are not able to financially
and economically assess the different
aspects of the environment and put
them into the economic system, then the
environmen has little value. In line with
issues of climate change and sustainable economic development, efforts have
been made to enable environmental
aspects to be assessed and used as development incentives ranging from the
development of a market for environ-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Hasil studi United Nations Environment


Programme (UNEP) telah memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat
ditingkatkan dari kegiatan konservasi
dan pengelolaan berkelanjutan dari
sumber daya alam, melalui peningkatan produktivitas dan pengembangan
ekonomi jasa lingkungan seperti wisata
dan lainnya (UNEP, 2011). Dengan melihat pada diagram di atas, nampak terlihat bahwa perlakuan yang baik terhadap
sumber daya alam dan lingkungan akan
berdampak positif pada sistem ekonomi
dan sosial dan akan memberikan umpan
balik positif pada sistem lingkungan.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan
untuk memperbaiki interaksi alam dan
ekonomi serta sosial tersebut, khususnya dalam konteks HoB. Investasi
yang baik pada sumber daya alam dan
lingkungan (modal alam), baik dalam
bentuk perlindungan ekosistem maupun pengelolaan jasa lingkungan yang
baik (good management of environmental
services) tidak hanya akan meningkatkan
kontribusi terhadap perekonomian dan
kesejahteraan namun juga akan menghasilkan investasi pada modal alam
yang lebih berkelanjutan di masa mendatang. Dalam konteks pembangunan
di wilayah HoB, investasi pada modal
alam dalam bentuk perlindungan dan
pengelolaan yang baik, bisa dilakukan
dengan menetapkan areal perlindungan
maupun areal pengelolaan produktif
yang baik pada daerah konsesi, serta
pengakuan atas hak-hak masyarakat
tradisional dalam mengelola sumber
daya alam dan lingkungan mereka.
Selain sisi investasi, peningkatan
kualitas lingkungan dapat dilakukan
dengan cara mengurangi tekanan pada
lingkungan (panah yang mengarah ke
sistem lingkungan) sehingga degradasi lingkungan akan berkurang dan
dengan demikian jasa lingkungan yang
memberi manfaat ekonomi dan sosial
kepada sistem ekonomi dan sosial akan
bertambah. Pengurangan tekanan pada
sistem alam ini dapat dilakukan dengan

mental services (Payment for Environmental Services / PES) such as tourism,


carbon markets or incentive payments,
to policies for reducing greenhouse
gas (GHG) emissions through the Clean
Development Mechanism (CDM), REDD+
and other schemes. Thus, maintaining
and improving the quality of the environment can go hand in hand with utilizing
natural resources for economic growth.
A study of the United Nations Environment Programme (UNEP) has shown
that it is possible to foster economic
growth through conservation and
sustainable management of natural
resources by exploring, developing and
realizing the economic potential of environmental services and increasing their
revenue-generating capabilities and the
associated payments for environmental
services such as from tourism and other
related services (UNEP, 2011).
By looking at Figure 3, it seems apparent that a good treatment of natural
resources and the environment will
have a positive impact on economic and
social systems and will provide positive
feedback to the environmental system.
There are several ways to improve interactions between nature and the environment on the one hand and economic
and social systems on the other hand,
especially in the context of the HoB. A
good investment in natural resources
and the environment (natural capital), in
the form of both ecosystem protection
and good management of environmental services, will not only increase the
contribution to the economy and wellbeing, but will also lead to more sustainable investment in natural capital in
the future. As far as development in the
HoB is concerned, investment in natural
capital in the form of good protection
and management of ecosystems and environmental services can be made by officially designating protected areas and
distinguished from productive management areas within concession areas, as

29

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

menerapkan pola-pola pertanian yang


berkelanjutan (sustainable agriculture),
pertambangan yang ramah lingkungan (green mining) dan pengembangan
ekonomi yang berbasis keanekaragaman hayati (biodiversity based economy).
Cara lain untuk membuat interaksi
sistem modal alam dan ekonomi lebih
berkelanjutan adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi hijau
pada sektor ekonomi, khususnya sektor
yang memberikan dampak besar pada
kesejahteraan masyarakat. Dengan
mengembangkan beberapa mekanisme
insentif pada industri kehutanan yang
berkelanjutan misalnya, maka selain
tekanan terhadap lingkungan yang akan
berkurang, juga akan menghasilkan
manfaat ekonomi yang lebih berkelanjutan pada sektor industri sendiri. Pemberian insentif pada community based
economy juga akan membantu menghijaukan ekonomi pada skala yang lebih
kecil dan sekaligus juga mengurangi
tekanan pada modal alam dan lingkungan. Demikian juga dengan penerapan
teknologi yang dapat memperbaiki
sistem pemanfaatan sumber daya alam
kepada sistem yang berdampak rendah
emisi dan lebih efisien.
Mekanisme terakhir yang juga membantu mengembangkan ekonomi dan
modal alam yang berkelanjutan adalah
dengan mengembangkan atau memicu
sektor finansial untuk mengembangkan ekosistem yang lebih sehat melalui
green financing dan reformasi di sektor
fiskal yang lebih mengedepankan pada
investasi yang ramah lingkungan. Mekanisme ini juga perlu didukung dengan
kelembagaan yang kuat yang memiliki
misi yang jelas terkait dengan pengembangan investasi hijau di sektor-sektor
hulu dan hilir.

30

well as recognizing the rights of traditional communities to manage their own


natural resources and environment.
In addition to investment, improvements
in the quality of the environment can be
made by reducing the pressure on the
environment so that environmental degradation will be reduced and the environmental services that provide economic and social benefits to social and
economic systems will increase. Reducing pressure on these natural systems
can be done by applying the principles of
sustainable agriculture, environmentally-friendly mining (green mining) and a
biodiversity-based economy.
Another way to make the interaction of
natural capital and economic systems
more sustainable is to apply the principles of green economy in economic
sectors, particularly in sectors that have
a major impact on peoples welfare.
For example, by developing incentive
mechanisms for the sustainable forestry
industry, the pressure on the environment will be reduced and this will also
result in more sustainable economic
benefits to the industry itself.
Providing incentives to a communitybased economy will also help greening
the economy on a smaller scale and at
the same time reducing pressure on
natural capital and the environment. The
same holds true for the application of
technologies that are capable of making
the extraction of natural resources more
efficient, with low carbon emissions. The
last mechanism, which would also help
develop the economy and natural capital
sustainably, is to stimulate or trigger the
financial sector to help develop a healthier ecosystem through green financing
and fiscal sector reforms that put more
priority on environmentally friendly investments. This mechanism also needs
to be supported by strong institutions
whose mission is clearly associated with
the development of green investments in
both upstream and downstream sectors.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

31

Rodiah /Photovoices Intl-WWF/HoB

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

32

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

II.
EKONOMI HIJAU
UNTUK HEART
OF BORNEO
A Green Economy for
The Heart of Borneo

33
33

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

2.1 
Apa itu Ekonomi Hijau?
What is Green Economy?

konomi hijau sebenarnya bukan


merupakan sebuah paradigma baru
namun merupakan kristalisasi proses
terhadap pencarian rumusan tentang
pengukuran pembangunan berkelanjutan. Sejak Rio Summit yang pertama
pada tahun 1992, konsep pembangunan
berkelanjutan telah menjadi kesepakatan internasional untuk mengintegrasikan aspek pembangunan antara
ekonomi, sosial dan lingkungan. Namun
demikian, selama kurun waktu dua
puluh tahun tersebut aspek lingkungan
tidak terlalu mendapat perhatian yang
penuh dibanding dengan aspek ekonomi
dan sosial. Paradigma pertumbuhan
(growth oriented) tetap menjadi primadona selama dua dasa warsa terakhir.
Setiap negara berusaha menjadikan
pertumbuhan ekonomi sebagai acuan
pembangunan. Di sisi sosial, Human Development Index (HDI) paling tidak telah
digunakan sebagai proxy bagi pengukuran kemajuan pembangunan di bidang
sosial. Di sisi lain, aspek lingkungan
seperti indeks kualitas lingkungan hidup
(Environment Quality Index) masih merupakan indikator parsial yang bersifat
voluntary bagi setiap negara. Kebutuhan
integrasi aspek pembangunan yang terukur ini yang kemudian mengerucut ke
dalam paradigma ekonomi hijau.
Ekonomi hijau sendiri telah berevolusi cukup lama, bahkan filsuf Yunani,
Zeno (332- 263 SM) menyatakan bahwa
kemakmuran bukan diukur dari penguasaan atas sumber daya alam, namun
lebih kepada kebijakan pemanfaatannya. Prinsip ini kemudian didengungkan
kembali oleh American Conservation
Movement (ACM), Kenneth Boulding,
Club of Rome dan sebagainya. Dari sisi

34

reen economy is actually not a new


paradigm but a crystallization of
the process of looking for formulas for
measuring sustainable development.
Since the first Rio Summit in 1992, the
concept of sustainable development has
been internationally agreed. The concept
integrates different aspects of development (such as economic, social and environmental aspects). Ironically, twenty
years after Rio, environmental aspects
are still not fully considered, compared
to economic and social aspects. Growthoriented paradigm has remained the the
foundation of development over the last
two decades. Each country has been
using economic growth as a barometer
for their development. On the social
side, the Human Development Index
(HDI) has been used at least as a proxy
for measuring progress in the field of
social development. On the other hand,
environmental aspects such as the ones
measured and reflected in the Environment Quality Index are still considered
as partial indicators whose adoption
is voluntary and left to the discretion
of each country. It is this need for the
integration of measurable aspects of
development that finally culminates in
the paradigm of green economy.
Green economy itself has had a long
evolution. The Greek philosopher Zeno
of Citium (332- 263 BC) stated that
prosperity is not measured by the control over natural resources but by the
policy that governs their utilization [extraction]. This principle was echoed by
the American Conservation Movement
(ACM), economist and interdisciplinary
philosopher Kenneth Boulding, the Club
of Rome and so on. From the aspect of

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

economic development theory, a very


aspek teori ekonomi pembangunan
brilliant Harvard University economist
pun, ekonom Harvard (yang kemudian
Nicolas Geogerscu-Roegen (1906-1994)
pindah ke Vanderbilt), yang sangat brilwho later moved to Vanderbilt University
ian bernama Nicolas Geogerscu-Rogen
and who was best known for his 1971
tahun 1960an mengeluarkan Magnum
Magnum Opus titled The Entropy Law and
Opus-nya yang bertajuk The Entropy Law
the Economic Process reminded us that
and the Economic Process, telah mengineconomic development should
gatkan akan pentingnya pembangunan
follow natural law (the
ekonomi yang harus mengikuti
law of entropy) where
kadiah hukum alam (hukum
chaos is a natural
entropy), dimana chaos
kemakmuran bukan
characteristic
merupakan ciri alam
diukur
dari
penguasaan
atas
[observable in
sehingga pembansumberdaya alam, namun lebih
many natural
gunan yang tidak
kepada
kebijakan
pemanfaatannya
systems, such
bercirikan hukum
as weather
alam cenderung
Zeno (332 - 263 SM)
and climate].
akan mengarah ke
Prosperity is not measured from the
So, developketidakteraturan
control of natural resources, but rather
ment that
(chaos). Belakangan
the utilization policy
does not follow
pemikiran Nicolas
Zeno (332 - 263 BC)
natural law will
Goergecu-Rogen ini
likely lead to chaos.
kembali menjadi pijakan
Recently, the thinking of
bagi pembangunan berbasis
Nicolas Geogerscu-Roegen
lingkungan termasuk diantaranya
has made a comeback and is being
Ekonomi Hijau yang kita kenal saat ini.
used as a foundation for environmentbased development including the green
Kristalisasi ke arah ekonomi hijau muneconomy as we know it today.
cul pada tahun 1989 ketika para ekonom
lingkungan terkemuka yakni Edward
Crystallization towards green economy
Barbier, David Pearce dan Markandya
emerged in 1989 when leading environmeliris laporan kepada Pemerintah
mental economists Edward Barbier,
Inggris dengan judul Blueprint for a
David Pearce and Markandya released a
Green Ecoonoy. Blueprint pertama ini
report addressed to the British Govkemudian diikuti dengan blueprint ke
ernment with the title Blueprint for a
dua berjudul Greening the World EconGreen Economy. This first blueprint
omy dan blueprint yang ketiga dengan
was followed by a second, Greening the
judul Measuring Sustainable DevelopWorld Economy and the third entitled
ment. Konsep yang dikemukakan dalam
Measuring Sustainable Development.
blueprint ini relatif belum mendapat
At the time the concepts introduced in
respon global ketika itu, karena perhathese blueprints received relatively little
tian terhadap ekonomi dan lingkungan
attention as few serious concerns had
belum mengemuka secara signifikan
been raised about the negative effects
pada periode tersebut.
of economic growth on the environment.
Timbulnya berbagai krisis ekonomi
The emergence of various global ecoglobal dan menguatnya isu perubahan
nomic crises and the proliferation of
iklim pada awal tahun 2000an, meclimate change issues in the early 2000s
nyebabkan dunia kembali menengok
prompted a revisiting of a development
alternatif pembangunan yang selama
alternative (touted since the 1960s)
ini diabaikan yakni pembangunan yang
that has thus far been neglected, that
ramah terhadap sumber daya alam dan
is, development that is friendly to the
lingkungan sebagaimana telah diden35

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

gungkan sejak tahun 1960an. Timbulnya


krisis ekonomi dan finansial serta semakin masifnya kerusakan lingkungan
dan dirasakannya dampak dari perubahan iklim karena kegiatan ekonomi,
telah menempatkan konsep ekonomi
hijau dalam agenda pembangunan kembali. Pada tahun 2008, badan lingkungan
PBB yaitu UNEP merilis Green Economy
Initiative untuk mendukung kebijakan
terkait dengan investasi dan internalisasi biaya lingkungan. Pengarusutamaan (mainstreaming) ekonomi hijau
kemudian makin menjadi global ketika
badan-badan dunia lain seperti Organization for Economic Co-operation
and Development (OECD), International
Labor Organization (ILO), United Nations
Conference on Trade and Development
(UNCTAD), masing-masing mengembangkan konsep green growth, green jobs
dan green industries. Konsep ekonomi
hijau kemudian lebih dimatangkan dan
dideklarasikan sebagai sebuah gerakan
ekonomi baru pada pertemuan UNEP
Global Ministerial Environmental Forum
di Nusa Dua - Bali pada bulan Februari 2010. Pada deklarasi ini diyakini
bahwa ekonomi hijau dapat menjawab
tantangan dan peluang pembangunan
ekonomi saat ini, yang menguntungkan semua bangsa. Perjalanan ke arah
ekonomi hijau kemudian lebih diperkuat
lagi dengan munculnya Resolusi PBB
Nomor 64/236 yang dihasilkan pada
bulan Maret 2010, dimana disepakati
bahwa ekonomi hijau dalam konteks
pembangunan berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan dijadikan tema
khusus dalam pertemuan Earth Summit
di Rio de Janeiro Brazil pada tahun
2012 yang dikenal dengan Pertemuan
Rio+20.
Dalam konteks definisi, memang tidak
ada definisi yang universal tentang
ekonomi hijau. Namun sebagai acuan,
umumnya digunakan definisi yang
dikembangkan oleh UNEP yang mendefinisikan ekonomi hijau sebagai one
that results in improved human wellbeing

36

Ekonomi hijau merupakan


kristalisasi proses terhadap pencarian
rumusan tentang pengukuran
pembangunan berkelanjutan.

The green economy is


culmination of a process
seeking a formula to measure
sustainable development.
environment and natural resources. The
onset of economic and financial crises
and the increasingly massive damage
economic development inflicts on the
environment with the negative effects of
climate change due to economic activities has put the green economy concept
back on the development agenda.
In 2008, the United Nations Environmental Programme (UNEP) released Green
Economy Initiative to support policies
associated with investments and internalization of environmental costs. The
mainstreaming of green economy is
increasingly becoming global as other
international bodies such as the Organization for Economic Co-operation and
Development (OECD), the International
Labour Organisation (ILO), United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) respectively developed
the concept of green growth, green
jobs and green industries. The green
economy concept was declared as a
new economic movement at the UNEP
Global Ministerial Environmental Forum
in Nusa Dua, Bali in February 2010. With
this declaration, it is believed that the
green economy would be able to address
the challenges and opportunities of
todays economic development to benefit
all nations.
The adoption of green economy was further reinforced with the issuance of UN
Resolution No. 64/ 236 in March 2010
whereby it was agreed to have green
economy in the context of sustainable
development and poverty alleviation as a

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Aprianus /Photovoices Intl-WWF/HoB

Creating
decent
jobs

Internalizing
the cost of
natural resource
depletion

green

economy

Ensuring
sustainable
economic
growth

Efforts to
alleviate
poverty

and social equity, while significantly reducing environmental risks and ecological
scarcities. It is low carbon, resource efficient, and socially inclusive (UNEP, 2011)3.
Definisi UNEP ini menekankan pentingnya efisiensi dalam penggunaan sumber
daya alam, pengurangan risiko ekologis, ekonomi yang rendah karbon dan
mampu mengurangi kemiskinan. Dalam
konteks Indonesia, Delegasi Indonesia
pada pertemuan Global Ministerial Forum
di Bali mengusulkan pengertian yang
relatif sama, namun menekankan pada
3

special theme during the Earth Summit


in Rio de Janeiro, Brazil, in 2012, known
as the Rio+20 Summit.
There is no universal definition for green
economy, however the definition that is
commonly used is one developed by the
UNEP which defines green economy as
one that results in improved human wellbeing and social equity, while significantly
reducing environmental risks and ecological scarcities. It is low carbon, resourceefficient, and socially inclusive (UNEP,
2011)3. This UNEP definition emphasizes
the importance of efficiency in the use
of natural energy sources, reduction of
ecological risks, low-carbon economy
and poverty reduction. At the meeting
of the Global Ministerial Forum in Bali,
the Indonesian delegation proposed a

NEP. 2011. Towards a Green Economy: Pathway to Sustainable Development and Poverty Eradication. A Synthesis for Policy Makers. UNEP. France

37

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

pengurangan kemiskinan dan internalisasi biaya lingkungan. Definisi ekonomi


hijau menurut Indonesia adalah:

relatively similar definition but with an


added emphasis on poverty reduction
and environmental cost internalization:

a development paradigm that based on resource efficiency approach with strong emphasizes on internalizing cost of natural resource depletion on environmental degradation,
efforts on alleviate the poverty, creating decent jobs, and ensuring sustainable economic
growth (Indonesian Delegation/DELRI, UNEP 11th G SS, February, 2010)
Posisi Indonesia terkait dengan ekonomi
hijau menekankan pula pada aspek
internalisasi biaya lingkungan karena
sesuai dengan Undang-Undang No 32
tahun 2009 tentang Pengeloaan dan
Perlindungan Lingkungan Hidup, dimana
Indonesia memiliki instrumen untuk
mengendalikan lingkungan melalui
penggunaan instrumen ekonomi seperti
instrumen fiskal dan instrumen perencanaan lainnya untuk menginternalisasi biaya lingkungan. Indonesia juga
menekankan pentingnya ekonomi hijau
yang inklusif dengan memperhatikan
aspek pengentasan kemiskinan. Dengan
demikian, ekonomi hijau tidak diposisikan untuk mengerem laju pertumbuhan
ekonomi, namun bagaimana pertumbuhan ekonomi tersebut sejalan dengan
perlindungan lingkungan dan dapat
menciptakan pertumbuhan-pertumbuhan baru melalui pemanfaatan sumber
daya alam dan lingkungan yang dapat
menciptakan lapangan pekerjaan dan
mengurangi kemiskinan.
Berbagai organisasi atau kelompokkelompok ekonom mempunyai definisi yang dikembangkan berdasarkan
pemahaman dan mazhab yang dianut
masing-masing, akan tetapi susbtansinya tetap mencakup definisi sebagaimana
yang dianut oleh UNEP. Kebanyakan
negara juga mengadopsi defenisi UNEP
dengan penekanan pada beberapa
aspek sesuai dengan strategi pembangunan masing-masing seperti halnya
Indonesia dengan memasukan upaya
pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Oleh karena itu
di dalam tulisan ini pemahaman konsep
ekonomi hijau menggunakan definisi
UNEP dan menjadi referensi yang diacu
selanjutnya.
38

Indonesias position on green economy


emphasizes aspects of the internalization of environmental costs in accordance with Law No. 32 of 2009 on the
Protection and Management of the Environment. The law provides economic
instruments to control the environment
such as fiscal instruments and other
planning instruments to internalize
environmental costs. Indonesia also
stressed the importance of inclusive
green economy by focusing on poverty
alleviation. Thus, green economy is not
positioned to put the brakes on economic growth but to bring economic
growth into alignment with environmental protection and create new growth
through the utilization of natural and environmental resources that would lead
to employment creation and poverty
reduction.
Different organizations and groups of
economists have their own definitions of
green economy that were developed on
different understandings and schools
of thought. Yet the substance of these
varied definitions still captures the
definition adopted by the UNEP. Most
countries have also adopted the UNEPs
definition of green economy by emphasizing some aspects according to their
respective development strategies, as
Indonesia has done by incorporating
poverty alleviation and job creation measures. Therefore the concept
of green economy as presented in this
paper is understood to be the UNEP
definition, which is used hereinafter.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

2.2 
Mengapa Diperlukan Ekonomi Hijau?
Why the Green Economy is Needed?

alam lebih dari dua dekade terakhir


isu perubahan iklim banyak mempengaruhi politik dan ekonomi suatu
negara, dan selalu menjadi topik hangat
bahasan dalam pertemuan tahunan
para pihak (Conference of Parties/COP)
di United Nations Frameworks Conference of Climate Change (UNFCCC) karena
keputusan konferensi tahunan ini akan
mempengaruhi kebijakan lingkungan dan ekonomi negara-negara yang
terlibat. Pendekatan ekonomi hijau
menjadi pilihan strategi pembangunan ekonomi karena sejalan dengan
prinsip-prinsip Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (Sustainable Development
Goal/SDG). Ekonomi hijau dipandang
dapat mengurangi kekuatiran dampak
perubahan iklim dibandingkan apabila
sistem ekonomi berjalan seperti biasa
(Business As Usual/BAU). Diyakini oleh
banyak pakar bahwa dampak perubahan
iklim dari aktivitas yang mendukung
sistem ekonomi saat ini akan mempengaruhi Gross Domestic Product (GDP)
negara-negara di dunia di masa yang
akan datang.
Biaya untuk menjaga stabilisasi Gas
Rumah Kaca (GRK) pada tingkat yang
tidak memperburuk dampak perubahan
iklim diperkirakan mencapai antara 4%
dan sampai minus 2% dari GDP atau
perkiraan rataan 1%. Pada pihak lain
bahwa jika dunia gagal mengurangi
emisi GRK maka biaya ekonomi yang
harus dibayar jauh lebih besar dan
diperkirakan dapat mencapai setara
dengan 5-20% dari GDP setiap tahun.
Artinya bahwa biaya yang diperlukan untuk menjaga lingkungan dan mencegah
terjadinya dampak perubahan iklim jauh

n the last two decades climate change


issues have affected many countrys
political and economic decisions and
have always been a hot topic of discussion at the annual meeting of the Conference of Parties (COP) at the United
Nations Frameworks Conference on Climate Change (UNFCCC) as resolutions
at this annual conference will affect the
environmental and economic policies of
the countries that are party to it.
The green economy approach is chosen
for economic development strategies
because it is in line with the principles of
Sustainable Development Goals (SDG).
Green economy is seen as a means to
alleviate concerns over the negative effects of climate change which would not
be the case if the current economic systems remain at work and continue unchanged (business as usual/BAU). Many
experts believe that climate change
impacts from activities that support the
current [brown] economic systems will
affect the Gross Domestic Product (GDP)
of the worlds economies in the future.
The cost to keep greenhouse gas (GHG)
emissions at a level that does not
worsen the impacts of climate change is
estimated at between 4% and minus 2%
of the GDP, an average of 1%. On the other hand, if the world fails to reduce GHG
emissions, the economic costs to be paid
would be much greater and is expected
to reach the equivalent of 5-20% of GDP
annually. This means that the costs
required to protect the environment and
prevent the negative effects of climate
change would be much greater when
nothing is done to prevent damage to the

39

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

lebih besar dibandingkan apabila tidak


melakukan sesuatu mencegah terjadinya kerusakan lingkungan atau terjadinya
peningkatan GRK dalam jangka panjang
(Stern, 2007). Oleh karena itu para pakar
sepakat untuk mencari sistem ekonomi
yang dapat pengakomodasikan kedua
hal yaitu ekonomi dan lingkungan/perubahan iklim, sebagaimana perkembangan yang diuraikan di atas.

environment or an increase in greenhouse gases in the long term (Stern,


2007). Therefore, experts agreed to seek
an economic system that is capable of
accommodating both economic pursuits
and environmental / climate change
concerns, as previously described.
As noted above, so far the progress of
development is conventionally measured

Gambar 4: Indikator pembangunan daerah Indonesia tahun 2010


Figure 4: Indonesia provincial development indicators of 2010
35
30
25
20
15
10
5
0

DKI
Jakarta

Jawa
Tengah

Jawa Timur

Riau

Jawa Barat

Rangking PDRB/ RGDP Rank

Kalimantan
Timur
Papua

Sulawesi
Selatan

Jambi

Kalimantan
Barat

Yogyakarta

Rangking IPM/ HDI Rank

Sumatera
Barat

Maluku
Utara

Nusa
Tenggara
Barat

Lampung

Bali

Sulawesi
Tengah

Rangking IKLH/ EQI Rank

Sumber: Fauzi, 2012 4 / Source: Fauzi, 2012 4

Sebagaimana telah dikemukakan di atas,


selama ini kemajuan pembangunan secara konvensional diukur dengan Produk
Domestik Bruto (PDB) dan PDB per kapita. Namun PDB sendiri telah lama diakui
memiliki kelemahan mendasar karena
gagalnya memasukan biaya lingkungan
dan sosial yang timbul akibat pembangunan itu sendiri. Selain itu penggunaan
PDB hanya mengukur salah satu dari
tiga aspek pembangunan berkelanjutan,
padahal dalam konteks pembangunan
berkelanjutan, selain aspek ekonomi,
aspek sosial dan lingkungan juga harus
mendapat porsi yang sama. Namun hal
ini sering tidak sejalan. Dalam konteks
pembangunan di Indonesia misalnya,
ketiga indikator tersebut sering tidak
selaras. Gambar 4 memperlihatkan
peringkat pembangunan provinsi yang
diukur dari Produk Domestik Regional
Bruto/PDRB (ekonomi), Indeks Pem4

by Gross Domestic Product (GDP) and


GDP per capita. But it has long been
recognized that GDP has a fundamental
weaknesses because of its failure to
include environmental and social costs
arising from development. In other
words, GDP only measures economic
performance, which is one of the three
aspects of sustainable development,
and ignores social and environmental
aspects, which should be afforded the
same importance in the equation. In fact
economic growth and prosperity is often
pursued at the expense of other aspects.
In Indonesia for example, the three
aspects (measured by their respective
indicators) are often not aligned. Figure
4 shows the ranking of selected Indonesian provinces as measured by the
Gross Domestic Product (PDRB) which
represents the economic aspect, the
Human Development Index (IPM), which

Fauzi, A. 2012. Greening MP3EI. Bahan presentasi Greening MP3EI, 14 Desember 2012

40

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

represents the social aspect, and the


Environment Quality Index (IKLH) which
represents the environmental aspect.
The bar diagram shows that provinces
that score high on economic and social
advancement do not necessarily have
a good environment rank. Take Jakarta
as an example. This province has the
highest PDRB and PMI scores, but
scores low on environmental quality. By
contrast, North Maluku scores relatively
low on GDP and HDI but its environmental quality index is high. These gaps
indicate a disproportional relationship
between one development indicator and
another. The low environmental quality
index indicates the price that has to be
paid for economic growth and prosperity.

bangunan Manusia (IPM) yang mewakili


aspek sosial dan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup mewakili aspek lingkungan hidup. Dari Gambar 5 terlihat
bahwa provinsi yang memiliki kemajuan
ekonomi dan sosial yang tinggi belum
tentu memiliki peringkat lingkungan
yang baik. Sebagai contoh DKI Jakarta
dengan PDRB dan IPM tertinggi ternyata
memiliki skor kualitas lingkungan yang
rendah. Sebaliknya Maluku Utara misalnya ranking PDRB dan IPM-nya relatif
rendah namun memiliki indeks kualitas
lingkungan yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa belum konsistennya satu
indikator pembangunan dengan indikator pembangunan lainnya. Selain itu
pencapaian pertumbuhan ekonomi juga
harus dibayar dengan biaya lingkungan
yang ditunjukkan dengan indeks kualitas
lingkungan yang rendah.

Tabel 2: Biaya Degradasi Lingkungan Pembangunan Indonesia dengan Business As Usual


Table 2: Cost of Environmental Degradation due to the Nations Development under the Business-As-Usual Scenario

Type of Degradation

Cost of Degradation (US$ billion, 2007)

% to GDP (2007)

Climate Change

Increasing over time

2.5 - 7.0

Water, sanitation

7.7

Outdoor air pollution

3.9

0.9

Indoor air pollution

1.6

0.4

Soil degradation

0.56

0.13

Sumber: Leitmann et al 2009 / Sources: Leitmann et al 2009 5

Pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup selama


ini berjalan atau yang merupakan BAU
terbukti dari beberapa kajian telah
menimbulkan ongkos pembangunan
yang cukup mahal. Hasil studi dari Bank
Dunia yang diketuai oleh Leitmann et al.
(2009) tentang ongkos pembangunan di
Indonesia dengan BAU menghasilkan
data yang cukup mencengangkan. Bank
Dunia memperkirakan bahwa 2.5%
sampai 7% Gross Domestic Product (GDP)
Indonesia akan tergerus untuk menangani dampak dari perubahan iklim,
sementara ongkos degradasi lingkungan
terkait dengan air dan sanitasi mencapai
US$ 7,7 milyar atau setara dengan 2%
dari GDP Indonesia. Hasil studi Bank
Dunia ini sesuai dengan analisis global
5

Development that disregards environmental aspects has been going on for


quite a while. That is, the one taking
place under the business-as-usual scenario, as is evident from several studies,
and which has led to costly development.
A World Bank study headed by Leitman
et al. (2009) on the cost of development
in Indonesia under the business-as-usual scenario has issed data that is quite
astonishing. The World Bank estimates
that measures to address the negative
effects of climate change will erode
Indonesias Gross Domestic Product
(GDP) by as much as 2.5% to 7%, while
the cost of environmental degradation
associated with water and sanitation will
reach US $ 7.7 billion, equivalent to 2%
of Indonesias GDP. The outcomes of this

 eitmann, et al. 2009. Investing in a More Sustainable Indonesia: Country Environmental Analysis. CEA Series, East Asia and
L
Pacific Region, World Bank, Washington, DC.

41

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

sebagaimana yang disampaikan oleh


Stern (2007) di atas. Tabel 2 memperlihatkan secara rinci ongkos degradasi
lingkungan terkait dengan pembangunan dengan BAU di Indonesia.

World Bank study are consistent with


the results of global analysis as presented by Stern (2007) in the previous
section. Table 2 shows in detail the cost
of environmental degradation associated
with development under the businessas-usual scenario in Indonesia.

Gambar 5: PDB Hijau Indonesia 1971-1984 dan 2001-2005


Figure 5: Green GDP of Indonesia 1971-1984 and 2001-2005
GDP and Green GDP 1971-1984 (Constant 1973 billion Rupiah)

Green GDP

16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0

1971

1972

1973

1974

1975

1976

1977

1978

Growth Rate of Brown GDP and Green GDP in Indonesia

1979

1980

1981

Brown GDP

1982

1983

1984

Green GDP

6
5
4
3
2
1
0

2001 2002 2003 2004 2005

Ongkos pembangunan dengan BAU


juga terbukti dari besarnya nilai deplesi
dan degradasi lingkungan yang diukur
dengan PDRB hijau Indonesia. Data dari
PDB nasional tahun 2009 menunjukkan
bahwa PDB Indonesia yang mencapai Rp
5.606 trilyun, ternyata setelah dihitung
dengan PDB hijau (minus deplesi dan
degradasi) hanya mencapai Rp 4.521
trilyun (Danida-KLH, 2012). Dengan
demikian, lebih dari Rp 1.5 trilyun merupakan ongkos lingkungan dalam bentuk
deplesi sumber daya alam (minyak,
gas, tambang dan sumber daya alam
terbarukan) serta degradasi lingkungan
dalam bentuk pencemaran udara, air
dan lahan.

Deplesi sumber daya merupakan cerminan dari eksploitasi sumber daya alam
yang tidak berkelanjutan. Deplesi dan

42

The high economic price that the country has to pay for its development and
economic growth under the businessas-usual scenario is also reflected in
the high economic costs of the depletion of natural resources and environmental degradation as measured by
the countrys green provincial gross
domestic products. National GDP data
from 2009 showed that Indonesias GDP
had reached IDR 5,606 trillion. However,
after green calculation of the GDP
was made, in which the economic costs
of the depletion of natural resources
and environmental degradation were
taken into account, the GDP eventually went down to IDR 4,521 trillion
(Danida-KLH,2012). Thus, more than
IDR 1.5 trillion of the countrys 2009 GDP
represents environmental costs, that is,
costs connected with the actual deple-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

degradasi lingkungan pada akhirnya


akan menggerogoti kue pembangunan
yang dinikmati berupa PDRB coklat,
yang secara struktural tidak memasukan aspek perubahan kualitas lingkungan dan penurunan kuantitas maupun
kualitas dari sumber daya alam yang
menjadi modal dalam meningkatkan
PDRB coklat. Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditopang
dari sumber daya alam sejak tahun
1970-an telah menimbulkan deplesi
yang cukup besar. Hasil studi Repetto
dari World Resource Institute dengan
Wasting Asset-nya telah menunjukkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia yang
pada waktu itu berkisar pada 7% per
tahun ternyata setelah disesuaikan dengan deplesi dan degradasi dari sumber
daya alam, menghasilkan pertumbuhan

tion of natural resources (oil, gas, mineable mineral resources and renewable
natural resources) and environmental
degradation (air, water and land pollution) due to economic activities.
Depletion of natural resources reflects
unsustainable exploitation. Resource
depletion and environmental degradation will eventually eat away the provincial gross domestic product as reflected
in the economic development revenues
generated through brown economy
activities, which structurally do not take
into account aspects associated with
changes in environmental quality and a
decrease in the quantity and quality of
natural resources that were cashed in
to increase the brown provincial gross
domestic products.

Gambar 6: PDRB Hijau provinsi di Indonesia tahun 2010


Figure 6: Green GDPs of Indonesian provinces in 2010
PDRB (RGDP)

PDRB Hijau (Green RGDP)

Total
30 Papua
29 Malut
28 Maluku
27 NTT
26 NTB
25 Bali
24 Sultra
23 Sulsel
22 Sulteng
21 Gorontalo
20 Sulut
19 Kaltim
18 Kalsel
17 Kalteng
16 Kalbar
15 Jatim
14 DIY
13 Jateng
12 Banten
11 Jabar
10 DKI
9 Lampung
8 Bengkulu
7 Babel
6 Sumsel
5 Jambi
4 Riau
3 Sumbar
2 Sumut
1 NAD

20

40

60

80

100

120

Sumber: Status Lingkungan Hidup Indonesia 2011 6 / Sources: Environment Status of Indonesia 2011 6

Kementerian Lingkungan Hidup. 2012. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2011. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Jakarta.

43

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

hijau sekitar 4% (Gambar 5), dengan


demikian sekitar 3% merupakan ongkos
lingkungan dari BAU. Perhitungan PDRB
terkini yang dilakukan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup (KLH) dan Bappenas
menunjukkan kisaran PDRB hijau antara
3% sampai 4%, dengan pertumbuhan
PDRB coklat antara 5% sampai 6%.
Jika dilihat pada level provinsi, data
terakhir perhitungan PDRB hijau yang
dirilis oleh Status Lingkungan Hidup
Indonesia (SLHI) tahun 2011, PDRB hijau
di tiap provinsi di Indonesia berkisar
antara 65% sampai 85% terhadap PDRB
coklat. Yang berarti sekitar 15% sampai 35% dari kue pembangunan berupa
PDRB tersebut, sebenarnya merupakan deplesi dan degradasi lingkungan.
Gambar 6 di bawah ini memperlihatkan
distribusi PDRB hijau terhadap PDRB
coklat untuk setiap provinsi di Indonesia.
Dari Gambar 6 terlihat bahwa provinsiprovinsi di Kalimantan mengalami
deplesi dan degradasi yang relatif besar.
Deplesi di Kalimantan paling banyak
terjadi di Kaltim dengan PDRB hijau
sekitar 72% dari PDRB coklat, disusul
kemudian dengan Kalimantan Selatan
dengan PDRB hijau 79% terhadap PDRB
coklat. Hal ini disebabkan kedua provinsi
tersebut mengekstrak sumber daya
alam tidak terbarukan (batubara dan
tambang) yang cukup besar sehingga
menghasilkan deplesi dan degradasi
lingkungan yang relatif besar terhadap
PDRB coklatnya.
Dari berbagai indikator di atas nampak bahwa, pembangunan dengan BAU
melalui pendekatan ekonomi konvensional akan menghasilkan kemajuan
yang semu (pseudo growth), dimana hasil
pembangunan berbasis sumber daya
alam hanya dilihat dan dinikmati dari
sisi aset manusia dengan biaya yang
harus dibayar oleh sumber daya alam
dan lingkungan yang relatif mahal.
Satu hal yang perlu dicatat bahwa sampai saat ini memang PDB hijau maupun
PDRB hijau belum menjadi acuan dan

44

Nationally, Indonesias economic growth


which has been relying on natural
resources since the 1970s, has led to
a substantial depletion of these resources. The Robert Repetto study from
the World Resources Institute with its
concept of Wasting Assets [national resources in the national income accounts]
shows that Indonesias brown economic
growth, which at that time stood at
around 7% per year, was actually about
4% after the costs of the depletion and
degradation of natural resources were
calculated to find out how it performed
in terms of green growth (Figure 5).
Thus, about 3% of the growth actually
accounted for environmental costs as
economic activities took place in a business-as-usual manner. The most upto-date calculation of the countrys GDP
made by the Ministry of Environment
(MOE) and the National Development
Planning Agency (Bappenas) shows that
green provincial gross domestic products range between 3% to 4%, with a
brown GDP growth of between 5% to 6%.
The recent data on the green provincial
GDP calculations released by the Indonesia Environment Status (SLHI) in 2011
showed that the green provincial GDP
of each province in Indonesia accounted
for 65% to 85% of its respective brown
counterpart. In other words, about 15%
to 35% of the provinces economic development reflected in their provincial GDP
actually constituted the costs associated with the depletion of their natural
resources and the degradation of their
environment.
Figure 6 shows the distribution of green
provincial GDP as compared to its brown
counterpart for every province in Indonesia. It is apparent that the provinces
in Kalimantan experienced a relatively
high rate of depletion and degradation.
Most of Kalimantans resource depletion
occured in the East Kalimantan Province
whose green GDP accounts for about
72% of its brown counterpart, followed

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

indikator pembangunan di daerah. Untuk menjembatani defisiensi tersebut,


maka Indeks Kualitas Lingkungan dapat
dijadikan sebagai acuan dasar menuju
pembangunan berkelanjutan.

by South Kalimantan whose green GDP


accounts for 79% of its brown counterpart. The reason for this is that the two
provinces have been extracting the nonrenewable natural resources of coal and
minerals on a very large scale, as a result of which the costs of their resource
depletion and environmental degradation account for a relatively large portion
of their brown GDP.

Of the various indicators presented


above, it appears that business-as-usual
based development through conventional economic approach will yield pseudo
growth, in which natural resourcebased development is only seen and
enjoyed from the viewpoint of human assets with a relatively high price paid by
natural resources and the environment.
One thing to note is that until now, both
green GDP and green provincial GDP
have not been used as a reference for
development indicators in the provinces.
To bridge these deficiencies, the Environmental Quality Index can be used
as a basic reference for sustainable
development.

45

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

2.3 
Manfaat Kebijakan
berbasis Ekonomi Hijau
Benefits of Green Economy-based Policies

y looking at the deficiencies of the


conventional approach, development
of a green economy is a necessity. Green
economy not only brings benefits to the
sustainability of natural resources and
the environment, but more importantly,
gives sustainable economic and social
benefits. Some benefits of the green
economy can be described as follows:

engan melihat defisiensi dari pendekatan konvensional di atas, maka


pendekatan pembangunan melalui
ekonomi hijau adalah sebuah keniscayaan. Pendekatan ekonomi hijau
bukan saja membawa manfaat terhadap
keberlanjutan sumber daya alam dan
lingkungan, namun lebih penting lagi
adalah manfaat ekonomi dan sosial yang
berkelanjutan. Beberapa aspek terkait
dengan manfaat pendekatan ekonomi
hijau tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:

46

WWF-Indonesia / Didiek Surjanto

1. E
 fisiensi sumber daya: Salah satu
ciri penting dari ekonomi hijau adalah
pemanfaatan sumber daya alam
untuk input produksi secara efisien.
Sumber daya air, misalnya merupakan komponen penting dalam setiap
aktivitas ekonomi. Jika sumber daya
ini tidak dimanfaatkan dengan baik
dan efisien, maka defisit air akan selalu terjadi dan menimbulkan dampak
pada seluruh sektor ekonomi, karena
air merupakan sumber daya yang
terkait dengan cross-sectoral issue.
Ekonomi hijau mensyaratkan bahwa
penggunaan input (air) harus dimanfaatkan secara efisien, sehingga
bukan hanya aspek berkelanjutan
namun juga aspek keadilan dimana
ada biaya korbanan terhadap penggunaan air untuk kepentingan lain.
Efisiensi sumber daya juga terkait
dengan masalah pemanfaatan sumber daya alam, energi dan proses
produksi. Ekonomi hijau mensyaratkan penggunaan energi yang rendah
karbon dan pemanfaatan energi yang

1. R
 esource efficiency: One of the
important features of green economy
is efficient utilization of natural
resources. Water, for example, is an
important resource in any economic
activity. If this resource is not utilized
properly and efficiently, a lack or
shortage of water will occur and will
have an impact on all sectors of the
economy. Water is a natural resource
that is considered a cross-sectoral
issue. Green economy requires that
water (as an input) should be utilized

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

tidak boros. Kegiatan ekonomi dikatakan hijau apabila dalam proses


produksi barang dan jasa digunakan
bahan baku yang lebih efisien, dengan proses produksi menggunakan
energi yang rendah emisi dari BAU
dan melalui proses produksi yang
memenuhi kaedah-kaedah sesuai
ketentuan (misalnya legalitas sumber
bahan baku, sistem ketenagakerjaan). Dengan demikian, bukan hanya
lingkungan yang diuntungkan, namun
juga masyarakat secara kesuluruhan
dimana ongkos akibat pembakaran
energi fosil yang berlebihan akan
dapat ditekan dan dampak perubahan
iklim terhadap kesehatan dan resiko
bencana dapat dikurangi.
2. P
 emanfaatan jasa lingkungan: Nilai
jasa lingkungan merupakan komponen sumber daya alam yang selama ini mengalami missing market
atau market failure, dimana pasar
tidak dapat bekerja melalui mekanisme harga konvensional karena sifat
dari barang publik dan kepemilikan
atas sumber daya alam yang tidak
terdefinsikan. Dengan mekanisme
ekonomi hijau, maka jasa lingkungan ini dapat dimanfaatkan secara
optimal melalui mekanisme PES
atau Pembayaran Jasa Lingkungan,
sehingga bukan hanya terhindarnya

efficiently, not only for the sake of


sustainability but also for fairness
where there is a price that has to be
paid for the use of water for other
purposes. Resource efficiency is also
related to the utilization of natural
sources, energy and production
process. Green economy requires
the use of low-carbon energy and
utilization of energy that is not wasteful. Economic activity is said to be
green when raw materials are used
more efficiently in goods and services production processes, in which
low-emission energy is used in and
through business-as-usual production processes that meet the required
standards, rules and regulations
(such as ensuring the legality of the
source of raw materials and compliance with applicable labor laws and
regulations). Not only will this benefit
the environment but also the society
as a whole because the costs associated with the excessive burning of
fossil fuels could be reduced and the
adverse impacts of climate change
on health and disaster risks can be
mitigated.
2. U
 se of environmental services: The
value of environmental services is a
natural resource component which
has thus far been suffering from

47

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

ekstraksi yang berlebihan (eksternalitas), namun juga memberikan


manfaat bagi masyarakat hulu
untuk menikmati nilai ekonomi dari
kompensasi atas usaha mereka memelihara dan mentransaksikan jasa
lingkungan. Melalui mekanisme PES
dapat memperlihatkan bahwa siapa
yang menikmati jasa lingkungan
maka dia yang harus membayar kepada yang bisa memelihara sumber
jasa lingkungan itu. Banyak contohcontoh mekanisme PES yang ada di
Indonesia yang telah terbukti mampu
mengangkat pendapatan masyarakat
setempat tanpa harus merusak
lingkungan (Fauzi, 2012). Kosta Rica
merupakan salah satu negara yang
mengembangkan PES sangat baik
dan memberikan kontribusi yang
besar bagi negaranya..
3. Pengembangan ekonomi rendah
karbon, baik yang berbasis lahan,
teknologi ataupun berbasis ekono
mi kerakyatan: Pengembangan
ekonomi berbasis pertanian seperti
kebun harus berdasarkan pertimbangan mengurangi deforestasi dan
degradasi hutan serta penggunaan
teknologi ramah lingkungan. Untuk
sektor energi dan pertambangan
diarahkan untuk dapat memanfaatkan energi terbarukan sehingga akan
memicu pertumbuhan ekonomi yang
lebih ramah lingkungan. Demikian
pula untuk pengembangan kebun
rakyat, sektor inovatif dan pertanian
subsisten harus mempertimbangkan aspek ramah lingkungan. Dengan demikian, bukan saja manfaat
penurunan kerusakan lingkungan,
pencemaran udara dan air, namun
juga memicu kebutuhan inovasi
dan investasi ekonomi yang rendah
karbon.
4. M
 engurangi risiko lingkungan:
Ekonomi yang berbasis ekonomi hijau
tidak diragukan lagi akan mengu-

48

missing market or market failure


in which the market cannot work
through the conventional price mechanism because the indefinable nature
of public goods and natural resource
ownership. With green economy,
these environmental services can be
utilized optimally through the Payment for Environmental Services
(PES) mechanism, which would
prevent not only excessive extraction
(externalities) but also provide benefits to upstream communities to enjoy
the economic value of the compensation paid for their efforts to maintain
and transact environmental services.
Under the PES mechanism, anyone
who enjoys environmental services is
required to pay to those who are able
to maintain their sources. There are
many examples of PES mechanisms
in Indonesia that have been proven to
lift the income of local communities
without damaging the environment
(Fauzi, 2012). Costa Rica is one of the
first countries to develop a very good
PES mechanism which has made a
great contribution to the nation.
3. L
 ow-carbon economic growth, be
it land-based, technology-based, or
based on people-centered economy:
The development of agriculturebased economy such as land development for cultivation purposes
should be based on efforts to reduce
deforestation and forest degradation and the use of environmentally
friendly technologies. The energy and
mining sectors are geared to take
advantage of renewable energy to
trigger economic growth that is more
environmentally friendly. Likewise,
the development of peoples or smallholder estates, innovative sectors
and subsistence agriculture should
be environmentally friendly. This will
reduce not only environmental damage, air and water pollution but will
also trigger the need for low-carbon

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

rangi risiko terhadap ekologi atau


lingkungan. Risiko lingkungan ini
sebagaimana telah dijelaskan pada
bagian terdahulu merupakan ongkos
yang harus dibayar oleh masyarakat.
Dengan berkurangnya risiko lingkungan, maka manfaat ekonomi yang
diperoleh dapat dikembalikan kepada
masyarakat sehingga masyarakat
dapat menikmati hasil dari alam
dan meningkatkan kesejahteraan
mereka.
5. E
 konomi berbasis hayati: Sebagaimana diketahui kehati berkontribusi terhadap 40% perekonomian dunia dan 80% masyarakat di pedesaan
dan masyarakat miskin, dipenuhi dari
kehati khususnya dari hutan (TEEB,
2011)7. Ekonomi hijau dengan memanfaatkan kehati bukan saja melindungi
ekosistem dari kerusakan namun
juga mampu memberikan manfaat
ekonomi dan lapangan pekerjaan bagi
masyarakat miskin dan masyarakat
di sekitar daerah hutan. Dalam skala
ekonomi besar, kehati akan memicu
investasi di bidang biofarmaka sehingga memicu insentif untuk memelihara kehati Indonesia.
6. D
 ampak terhadap ekonomi secara
makro. Ekonomi hijau akan meningkatkan investasi hijau pada sektor industri, sehingga akan meningkatkan
permintaan agregat (agregat demand)
akan bahan dan teknologi. Dengan
peningkatan permintaan agregat
tersebut, secara makro pertumbuhan
ekonomi juga akan meningkat karena
dipicu oleh investasi dan belanja
pemerintah yang lebih ramah lingkungan dan menciptakan lapangan
kerja baru dengan apa yang disebut
sebagai green jobs.
7. M
 anfaat bagi pengembangan ekono
mi regional. Sehubungan dengan
adanya injeksi investasi hijau, maka
daerah akan diuntungkan karena
7

innovation and economic investment.


4. R
 educing environmental risks:
Green-based economy will undoubtedly reduce ecological and environmental risks. Environmental risks,
as described in the previous section,
is the price that communities have to
pay. With the reduction of environmental risks, economic benefits can
be returned to the community so that
people can enjoy the fruits of nature
and improve their well-being.
5. B
 iodiversity-based economy: As is
well known, biodiversity contributes
up to 40% of the worlds economy
while 80% of rural and poor communities rely on biodiversity, especially
that of forests (TEEB, 2011)7 for their
livelihoods. By utilizing biodiversity,
green economy not only protects ecosystems from damage but is also capable of providing economic benefits
and jobs for the poor and for communities around forests. On a larger
economic scale, biodiversity may
trigger bio-pharmaceutical investments and thus, provide incentives to
maintain the countrys biodiversity.
6. M
 acroeconomic impacts: Green
economy will boost green investment in the industrial sector, thereby
increasing the aggregate demand
for materials and technology. With
the increase in aggregate demand,
macroeconomic growth will also
increase, triggered by government
spending and investment that is more
environmentally friendly, and new
green jobs will be created.
7. B
 enefits to provincial economic
development: With the injection of
green investment, provinces will
benefit because (in Indonesia) district, city and provincial governments
will have the authority to manage
their natural resources. Thus, green

 EEB. 2011. The Economics of Ecosystems and Biodiversity in National and International Policy Making. Edited by Patrick ten Brink.
T
Earthscan, London and Washington.

49

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

dalam kasus Indonesia, pemerintah


kabupaten/kota dan provinsi kini
memiliki kewenangan untuk mengelola sumber daya alamnya. Dengan demikian, investasi hijau baik di
sektor hulu maupun hilir di daerah,
bukan saja akan menggerakkan roda
ekonomi lokal, namun juga lintas
kabupaten/kota, bahkan provinsi.
Dengan aspek-aspek yang terkait dengan ekonomi hijau tersebut di atas sering muncul pertanyaan: apakah dengan
pendekatan ekonomi hijau ini pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dapat
dipertahankan atau ditingkatkan? Dalam
jangka pendek pendekatan ekonomi
hijau dengan investasi-investasi yang
menjamin penurunan emisi, peningkatan efisiensi dan memperhatikan
keterlibatan masyarakat dalam prosesproses produksi dan pemanfaatan
sumber daya alam akan meningkatkan
biaya yang signifikan. Akan tetapi dalam
jangka panjang pendekatan ekonomi hijau ini diyakini akan dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi yang lebih baik
dan menjamin keberlanjutan.
Pasca krisis ekonomi tahun 2008 beberapa negara seperti Korea Selatan
telah membuktikan melalui pendekatan
pertumbuhan hijau mampu bangkit dan
ekonominya tumbuh lebih baik karena terjadi efisiensi sumber daya dan
penghematan pada penggunaan energi
dalam proses produksi barang dan jasa.
Oleh karena itu ekonomi hijau dinilai
merupakan pendekatan yang tepat bagi
pertumbuhan ekonomi ke depan sejalan
dengan tututan bagi semua negara untuk mengurangi resiko dampak perubahan iklim bagi berlanjutan kehidupan di
masa yang akan datang.

investments in both upstream and


downstream sectors in the provinces
will drive not only local economies
but also district, city, and even provincial economies.
With these aspects related to green
economy, a question often arises as to
whether with green economy, economic
growth as a whole can be maintained
or improved. In the short term, putting
the green economy into practice with
investments that guarantee reduced
emissions, increased efficiency and
community engagement in production
processes and utilization of natural
resources will increase the cost significantly. In the long term however, it is
believed that green economy will be able
to induce better economic growth and
ensure sustainability.
After the economic crisis of 2008, some
countries such as South Korea have
proven through a green growth approach, their ability to overcome the
crisis and their economy grew better
thanks to the efficiency of resources and
saving on energy use in the production
of goods and services. Therefore, green
economy is considered an appropriate
approach for future economic growth in
line with the demand for all countries to
reduce the risks and negative impacts of
climate change for the continuity of life
in the future.

Akan tetapi dalam jangka


panjang pendekatan ekonomi
hijau ini diyakini akan dapat
meningkatkan pertumbuhan
ekonomi yang lebih baik dan
menjamin keberlanjutan.

In the long term it is believed


that green economy will be able
to induce better economic growth
and ensure sustainability.

50

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

2.4 
Kebijakan dan Instrumen untuk
Mendorong Ekonomi Hijau
Policies and Instruments to Encourage
a Green Economy

2.4.1. Kebijakan pada Tingkat Nasional

2.4.1. Policies at the National Level

Ekonomi hijau telah menjadi kebijakan


nasional dan secara implisit tertuang
dalam Undang-Undang Nomor 17 tahun
2007 mengenai Rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang (RPJP),
dimana salah satu visi pembangunan
Indonesia adalah mewujudkan Indonesia yang hijau dan lestari. Selanjutnya
dalam Peraturan Presiden Nomor 7
tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2004 2009 Bagian IV, dalam
agenda meningkatkan Kesejahteraan
Rakyat, telah tercantum Bab 32 tentang
Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya
Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup. Demikian pula dalam
Peraturan Presiden RI Nomor 5 tahun
2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
tahun 2010 2014 telah pula ditetapkan
bahwa untuk mewujudkan visi dan misi
pemerintah 2010-2014, salah satu dari
sebelas Prioritas Pembangunan Nasional adalah Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana. Sektor Kehutanan
merupakan salah satu sektor yang pada
RPJMN 2009-2014 berada pada prioritas
pembangunan nomor 9 yaitu Lingkungan
Hidup dan Pengelolaan Bencana. Akan
tetapi dalam RPJMN 2014-2019 (draft
Januari 2014) sektor kehutanan mempu-

Green economy has become a national


policy. It is implicitly stated under Law
No. 17 of 2007 on the Long-Term National Development Plan (RPJP), where one
of Indonesias development visions is to
make the vision of a green and sustainable Indonesia a reality. Furthermore,
under Part IV of Presidential Regulation
No. 7 of 2005 on the National Medium
Term Development Plan (RPJMN) for
the periods 2004-2009, which describes
the agenda for improving Peoples
Welfare, there is Chapter 32 providing
for Improvement of the Management
of Natural Resources and Conservation
of Environmental Functions. Likewise, Regulation of the President of the
Republic of Indonesia No. 5 of 2010 on
the National Medium Term Development
Plan (RPJMN) for the periods 2010-2014
lists eleven National Development Priorities to realize the vision and mission
of the government during the periods
2010-2014 and one of them is Environment and Disaster Management.
Forestry sector is one of the sectors
which in the 2009-2014 National Medium
Term Development Plan is listed as
development priority number nine, that
is, Environment and Disaster Management. But the January 2014 draft of the
2014-2019 National Medium Term De-

51

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

nyai 7 program prioritas pembangungan


yaitu 1) Reformasi Birokrasi dan Tata
Kelola Kementerian Kehutanan, 2). Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan,
3). Kesehatan, 4). Ketahanan Pangan, 5).
Energi, 6). Ekonomi, dan 7). Lingkungan
Hidup dan Pengelolaan Bencana.
Dengan prioritas pembangunan demikian, sektor kehutanan telah menetapkan
visinya Menjadi terdepan dalam meningkatkan kemakmuran rakyat melalui
pengelolaan hutan lestari, produktif dan
berdaya saing tinggi. Dari visi ini terlihat
bahwa peran sektor ekonomi menjadi
lebih penting, dan ekonomi hijau harus
menjadi strategi pengembangan untuk
sektor kehutanan.
Ekonomi hijau juga telah dituangkan
dalam berbagai program di beberapa
sektor lainnya seperti energi, transportasi, pertanian, pariwisata dan industri8.
Program-program ekonomi hijau diimplementasikan dalam berbagai bentuk
seperti promosi hemat energi, energi
ramah lingkungan dan energi terbarukan, bus rapid transporation system, low
input agriculture (penggunaan pertanian
rendah air) dan pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management/SFM).
Untuk mendorong pengembangan
ekonomi hijau, di tingkat nasional ada
beberapa instrumen kebijakan yang
saat ini sedang dan dapat dikembangkan
antara lain:
Kebijakan Tata Ruang dan Peman
faatan Ruang di Kawasan HoB.
Pemerintah sejak tahun 2010 memicu
inKebijakan tata ruang menjadi kondisi
pemungkin (enabling condition) utama
bagi terselenggaranya ekonomi hijau
di kawasan HoB. Pemerintah pusat
bersama pemerintah daerah harus
segera menyelesaikan tata ruang
Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar),
Kalimantan Tengah (Kalteng) dan
Kalimantan Timur (Kaltim) yang telah
lama dibahas dan diusulkan berdasar8

52

velopment Plan states that the countrys


forestry sector has seven development
priority programs: 1) Bureaucracy and
Governance Reforms of the Ministry
of Forestry, 2). Education, Research
and Development, 3). Health, 4). Food
Security, 5). Energy, 6). Economy, and 7).
Environment and Disaster Management.
With such development priorities, the
forestry sector has set its vision to
be a leader in improving peoples welfare through productive and competitive
sustainable forest management. It is
apparent from this vision that the role of
the economic sector is becoming more
important and green economy should be
the strategy for the development of the
forestry sector.
Green economy has also been stated in
various programs in several other sectors such as energy, transportation, agriculture, tourism and industry.8 Green
economy programs are implemented in
various forms such as the promotion of
energy saving, environmentally friendly
energy and renewable energy, rapid
transporation system buses, low input
agriculture (agriculture with low use of
water) and sustainable forest management (SFM).
To encourage the development of green
economy, there are several policy
instruments at the national level that
are currently being developed, which,
among others, include the following:
Spatial Plan Policy and Spatial Use
within the Heart of Borneo area. Spatial policy is the main enabling condition for the implementation of green
economy in the Heart of Borneo. The
national government together with the
provincial governments should immediately resolve the issues affecting
the spatial layout of West Kalimantan
(Kalbar), Central Kalimantan (Kalteng)
and East Kalimantan (Kaltim) provinces that have long been deliberated

Fauzi, A. 2010. Stock taking green economy Indonesia. Report submited to the United Nations Environment Programme (UNEP).

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

kan hasil Tim Terpadu masing-masing


provinsi. Tanpa kepastian tata ruang
maka kebijakan pemanfaatan ruang/
lahan di wilayah HoB akan selalu
tumpang tindih dan terjadinya pemanfaatan tata ruang yang tidak sesuai.
Jika kondisi pemungkin ini sudah
terbangun maka kebijakan ekonomi
hijau akan dirancang sesuai dengan
kekuatan dan potensi ekonomi yang
ada di wilayah tersebut.
Penyusunan pedoman pemanfaatan
tata ruang sesuai dengan struktur ruang yang dirancang bersama pemerintah daerah. Hal ini diperlukan untuk
menghindari pemanfaatan tata ruang
yang tidak sesuai dan berorientasi
kepentingan ekonomi jangka pendek
(unsustainable).
Instrumen fiskal. Pemerintah sejak
tahun 2010 memicu investasi hijau
untuk energi terbarukan seperti panas
bumi (geothermal) dengan cara mengurangi beban fiskal pelaku usaha
dengan mekanisme DTP (Ditanggung
Pemerintah). Diharapkan dengan
dukungan fiskal tersebut kendala
investasi yang selama ini menjadi
momok pengusaha dapat dikurangi.
Instrumen fiskal juga digunakan untuk
subsidi transportasi yang dipromosikan oleh pemerintah melalui program
bus rapid system di beberapa kota,
dimana sebagian besar tarif ditanggung pemerintah.
Instrumen pendanaan melalui Dana
Alokasi Khusus (DAK). UndangUndang Nomor 32 tahun 2009 tentang
perlindungan dan pengelolaan lingkugan hidup menyediakan berbagai
instrumen ekonomi untuk digunakan
sebagai instrumen kebijakan implementasi ekonomi hijau, baik di pusat
maupun di daerah. Selain instrumen
pajak lingkungan, subsidi instrumen lingkungan yang tersedia dalam
undang-undang adalah dana amanah
(trust fund), asuransi lingkungan,

in which proposals have been made


based on the results of the deliberation by the integrated team of each
province. Without the certainty of spatial layout, policies on land use in the
Heart of Borneo will always overlap
and lead to incompatible or conflicting
spatial layout utilization. Once the enabling condition is put in place, green
economy policies will be designed in
accordance with the power and economic potential in the region.
Guidelines for the utilization of spatial
layout shall be prepared in accordance with the spatial structure that
is designed together with provincial
governments. This is necessary in
order to avoid incompatible spatial
layout utilization that is oriented to the
pursuit of unsustainable short-term
economic interests/ goals.
Fiscal instruments. The government has, since 2010, promoted green
investment for renewable energy resources such as geothermal energy by
reducing the fiscal burden of business
actors under the DTP mechanism. It is
expected that with such fiscal support,
investment constraints that have thus
far been the scourge of the entrepreneur can be reduced. Fiscal instruments are also used for transport
subsidies promoted by the government
through rapid bus system programs in
some cities, where most of the tariffs
incurred are borne by the government.
Funding instruments through the
Special Allocation Fund (DAK). DAK
can be a motivating factor for developing green economy in the region so
that the provinces have an incentive to
develop green economy without being
burdened by allocating a budget that
has to be taken from the provincial
budgets (APBD). DAK through environmental components such as the
application of green provincial GDP
has been administered by the Min-

53

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

WWF-Canon / Simon Rawles

54

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

perdagangan izin (tradable permit),


pembayaran jasa lingkungan, imbal
jasa (kompensasi) jasa lingkungan dan
berbagai instrumen pendanaan lainnya.
Penggunaan instrumen ekonomi.
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyediakan
berbagai instrumen ekonomi untuk
digunakan sebagai instrumen kebijakan implementasi ekonomi hijau, baik
di pusat maupun di daerah. Selain
instrumen pajak lingkungan, subsidi
instrumen lingkungan yang tersedia
dalam undang-undang adalah dana
amanah (trust fund), asuransi lingkungan, perdagangan izin (tradable permit),
pembayaran jasa lingkungan, imbal
(kompensasi) jasa lingkungan dan berbagai instrumen pendanaan lainnya.
Peraturan pelaksana dari Undangundang 32 tahun 2009 ini perlu segera
dibuat agar bisa diterapkan.
 Instrumen ekonomi hijau yang terkait
dengan perencanaan pembangu
nan adalah PDRB hijau dan neraca
sumber daya alam dan lingkungan.
Penggunaan PDRB dan neraca akan
membantu pemerintah daerah dalam
menyusun prioritas pembangunan
dengan ketersediaan sumber daya
dan indikator pembangunan hijaunya.
Pemerintah pusat dan pemerintah
daerah diharapkan dapat segera penyiapkan perangkat peraturannya agar
tolok ukur PDRB hijau dalam perencanaan pembangunan dapat diterapkan.
Penggunaan instrumen-instrumen
ini dalam pelaksanaannya memang
masih menunggu peraturan pemerin
tah terkait dengan beberapa instru
men di atas. Sampai saat ini peraturan
pemerintah yang dimaksud memang
belum juga disahkan dan ini memang
menyulitkan untuk implementasinya
di daerah. Namun demikian, payung
hukum instrumen tersebut secara

istry of Environment. Other similar


components can actually be expanded
through the DAK mechanism.
The use of economic instruments.
Law No. 32 of 2009 on the Environmental Protection and Management
provides a wide range of economic
instruments to be used as a policy
instrument for the implementation
of green economy, both at national
and provincial levels. In addition to
the environmental tax instruments,
environmental instruments subsidies provided in the legislation are
trust funds, environmental insurance,
tradable permits, payment for environmental services, compensation for
environmental services and various
other financing instruments. The
implementing regulation of Law No 32
of 2009 needs to be created in order to
render it effective.
T
 he green economy instruments that
are related to development planning
are the green provincial GDP and the
natural and environmental resources
balance sheet. The use of the green
provincial GDP and the balance sheet
will help local governments draft
development priorities with the available natural resources using green
development indicators. It is expected
that the national government and
provincial governments would be able
to immediately prepare the regulatory framework for these instruments
so that the use of green provincial
GDP as a benchmark for development
planning can be made official.
T
 hese instruments are still waiting
for the issuance of the relevant gov
ernment regulations that will render
them applicable. Until now these
government regulations have neither
been approved nor legislated, thus
making it difficult for the provinces to
implement them. Legislatively, the national legal umbrella for these instru-

55

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

undang-undang sudah tersedia tinggal


bagaimana kemudian pemerintah daerah memanfaatkannya dalam konteks
implementasi ekonomi hijau.
Perlunya peningkatan anggaran
berbagai Kementerian dan Lembaga
(KL) untuk pelaksanaan komitmen
HoB Indonesia, khususnya ekonomi
hijau di HoB. Ini adalah kesempatan
untuk menunjukkan kepada dunia
bahwa transboundary activities untuk
HoB berjalan baik. Dengan demikian,
dukungan dari berbagai negara donor
menjadi lebih mudah diperoleh.
Kebijakan anggaran. Kebijakan anggaran memegang peranan penting
dalam implementasi ekonomi hijau,
baik di tingkat pusat maupun daerah.
Keberpihakan pada ekonomi hijau
akan tercermin dalam porsi anggaran
pemerintah, baik pusat dan daerah
untuk pembangunan yang mengarah
pada ekonomi hijau. Kebijakan anggaran menyangkut penentuan prioritas
pembangunan, scaling up anggaran
untuk kegiatan yang berkaitan dengan
ekonomi hijau dan pengembangan kapasitas kelembagaan yang mendukung
implementasi ekonomi hijau.
Perlu dikaji formula Dana Bagi Hasil
(DBH) dan DAK untuk provinsi dan
kabupaten/kota di kawasan HoB,
seberapa jauh masih dapat ditingkatkan, sehingga pelaksanaan komitmen
HoB, khususnya ekonomi hijau dapat
ditingkatkan.
Pencantuman ekolabel yang kredibel atas produk-produk kehutanan
dari kawasan HoB perlu terus ditingkatkan, sehingga selain mencerminkan manajemen hutan yang
berkelanjutan, juga dapat menunjukkan komitmen yang tinggi dari pihak
Indonesia.
Sistem insentif atau penghargaan
(awards) perlu diberikan kepada

56

ments (Law No. 32 of 2009) is already


available. Thus, the question now is
how the provincial governments utilize
it to implement green economy.
I t is necessary to increase the
budgets of various Ministries and
Agencies to support the implementa
tion of Indonesias HoB commitment,
especially the implementation of
green economy in the HoB. This is an
opportunity to show the world that the
transboundary activities for the HoB
are going well so that financial support from various donor countries can
be more easily obtained.
B
 udget policy. Budget policy plays an
important role in the implementation
of green economy, both at national and
provincial levels. Support for green
economy will be reflected in the portion of both the national and provincial
government budgets that are dedicated to development and thatthat lead
to the realization of green economy.
A budget policy that supports green
economy would highlight the concept
of setting development priorities
and provide for the scaling up of the
budget for activities related to green
economy and institutional capacity
building to support the implementation of green economy.
I t is necessary to study the formula
created for the Revenue Sharing
Funds (Dana Bagi Hasil/DBH) and the
Specific-Purpose Grant commonly
known as the Special Allocation Fund
(DAK) for the provinces, districts and
cities within the HoB and how much
these funds can be increased so that
implementation of HoB commitments,
in particular green economy, can be
improved.
T
 he inclusion of credible ecolabels
on forestry products from the HoB
needs to be promoted to reflect sus-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

pemerintah daerah yang kinerjanya


terbaik dalam menjaga kelestarian
ekosistem di HoB bersamaan dengan
pertumbuhan ekonomi yang tetap
tinggi di daerahnya. Dengan demikian
ada kompetisi yang sehat dan positif
untuk mengembangkan pembangunan
berbasis ekonomi hijau di wilayah HoB.
Terkait dengan hal di atas, pengarus
utamaan (mainstreaming) ekonomi
hijau dalam konteks pembangunan
berkelanjutan tetap harus menjadi prioritas karena tanpa pengarusutamaan
ini, pembangunan ekonomi masih
tetap akan menjadi BAU.

2.4.2. Kebijakan pada Tingkat Daerah


Kawasan HoB memiliki peran yang
sangat penting bagi kegiatan dan pertumbuhan ekonomi di Pulau Kalimantan. Berdasarkan lokasinya, aktivitas
perekonomian di pulau ini dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu aktivitas
ekonomi yang berada di dalam kawasan
HoB dan aktivitas ekonomi yang berada
di luar kawasan HoB. Peran HoB bagi
kegiatan dan pertumbuhan ekonomi di
dalam kawasan HoB adalah sebagai penyedia sumber daya alam baik yang terbarukan, misalnya berbagai jenis hasil
hutan dan perkebunan maupun yang
tidak terbarukan seperti bahan-bahan
tambang. Bagi aktivitas ekonomi di luar
kawasan, peran terbesar HoB adalah
sebagai penyangga kestabilan hidrologi
semua sungai-sungai besar yang ada
di Pulau Kalimantan. Penduduk Pulau
Kalimantan tersebar di sepanjang aliran
sungai dimana hampir semua kota-kota
besar di pulau ini berada di tepi sungai
dan pelabuhan-pelabuhan besar juga
berlokasi di muara sungai. Oleh karena
itu, keberadaan sungai-sungai besar
di pulau ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat karena
sungai masih digunakan sebagai sarana
transportasi yang sangat penting, sebagai sumber air konsumsi, untuk mobili-

tainable forest management and also


to demonstrate Indonesias strong
commitment to green economy.
T
 here should be a system put in place
that grants incentives or rewards to
provincial authorities that perform
best in preserving the ecosystems
in the HoB and yet remain capable of
maintaining a high economic growth
in their respective regions. In this way
there will be a healthy and positive
competition to develop a green economy-based development in the HoB.
I n respect of the above, the main
streaming of green economy in the
context of sustainable development
should remain a priority because
without such mainstreaming, economic development will still be
business-as-usual.

2.4.2. Policies at Provincial Level


The HoB has a very important role for
the activities and economic growth on
the island of Kalimantan. In terms of
location, the islands economic activities can be classified into (1) economic
activities within the HoB and (2) economic activities outside the HoB. The
role of the HoB for economic activity
and growth within it, is as a provider of
natural resources, both renewable such
as forest and plantation products and
non-renewable such as minerals. For
economic activities outside the HoB,
the biggest role is as a buffer for hydrological stability of all the major rivers in
Kalimantan.
The population of the island of Kalimantan is clustered along its riverbanks
where almost all the major cities are
situated. Major ports are also located at
the mouth of the islands rivers. These
large rivers affect the economy because
they are used as an important means
of transportation - for staple food and

57

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

tas penduduk, pengangkutan barang


kebutuhan pokok masyarakat dan untuk
pengapalan berbagai jenis sumber daya
alam yang akan diekspor ke luar Pulau
Kalimantan. Selain itu, kawasan HoB
juga berpengaruh terhadap aktivitas
perekonomian di wilayah pesisir karena
dinamika ekosistem pesisir Pulau Kalimantan juga dipengaruhi oleh dinamika
hidrologi sungai-sungai besar yang
mengalir dari kawasan HoB.
Kawasan HoB tidak saja berperan positif
terhadap aktivitas dan pertumbuhan
ekonomi, tetapi dapat juga menjadi
faktor penyebab kerugian ekonomi.
Akhir-akhir ini telah mulai dirasakan
adanya perubahan dinamika hidrologi
yang ekstrim antara musim penghujan
dan musim kemarau yang disebabkan oleh terganggunya fungsi hutan
di kawasan HoB. Penurunan ekstrim
debit air sungai di musim kemarau telah
menyebabkan terganggunya distribusi
barang, sehingga menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga kebutuhan
pokok masyarakat di daerah pedalaman.
Penurunan debit air sungai juga bisa
menyebabkan terhentinya aktivitas pengangkutan dan bongkar muat komoditas
yang akan diekspor (hasil pertanian,
kehutanan dan pertambangan) yang
dapat berdampak pada perekonomian
nasional.
Tergradasinya kawasan hutan dan
banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi
di kawasan HoB dimana hutan tidak lagi
dapat secara optimal menjaga tata air
telah meningkatkan resiko kebakaran
lahan dan hutan. Hutan dan lahan bergambut di beberapa kawasan di Kalteng
dan Kalbar semakin sering terjadi kebakaran yang sulit dipadamkan. Lahan
gambut yang mengering dan atau telah
menjadi lahan-lahan pertanian ditengarai sebagai salah satu pengemisi GRK
yang tinggi.
Sebaliknya, di musim hujan telah mulai
terjadi kenaikan ekstrim debit air sun-

58

other basic needs and for the shipment


of various types of export-bound natural
resources - as well as a source of water
for consumption. In addition, economic
activity in coastal areas is dependent on the coastal ecosystems that are
influenced by the hydrology of the large
rivers that flow out of the HoB.
The HoB not only contributes positively
to economic growth and activities but
can also be a factor in economic loss.
Lately it has become obvious that there
is a extreme change in hydrological
dynamics between the rainy season and
dry season caused by disturbances in
forest functions within the HoB. Extreme decreases in river flow during the
dry season has led to the disruption of
the distribution of goods, causing shortages and rising prices of basic needs in
rural areas. Disruption to the transportation of export-bound commodities will,
in turn, adversely impact the national
economy.
Degradation of forest areas and the
numerous land conversion activities in
the HoB result in the forests being no
longer able to properly maintain the
water systems, leading to increased
risk of land and forest fires. Forests and
peatlands in some areas in Central and
West Kalimantan are becoming more
frequently gutted by fire that is difficult
to extinguish. Peatland areas that have
become dry and or have been converted
into agricultural land areas are considered as one of the high GHG emitters.
By contrast, during the rainy season an
extreme increase of water flow in the islands major rivers takes place. Over the
last few years several cities in Kalimantan such as Muara Teweh and Kasongan
in Central Kalimantan and Samarinda in
East Kalimantan have been submerged
due to the Barito River, Katingan River
and Mahakam River overflowing. Such
flooding causes large economic losses
through disruption of community ac-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

gai-sungai besar di Kalimantan. Selama


beberapa tahun terakhir beberapa kota
di Kalimantan seperti Muara Teweh dan
Kasongan di Kalimantan Tengah dan
Samarinda di Kaltim terendam banjir
akibat meluapnya Sungai Barito, Sungai
Katingan dan Sungai Mahakam. Kerugian ekonomi akibat banjir ini sangat
besar karena terganggunya aktivitas
masyarakat di pusat-pusat aktivitas
ekonomi seperti pasar, perkantoran dan
kawasan pemukiman padat penduduk.
Berdasarkan peran penting HoB bagi
kegiatan dan pertumbuhan ekonomi di
atas, maka beberapa kebijakan dan instrumen ekonomi yang bisa mendorong
ekonomi hijau di tingkat provinsi dan
kabupaten adalah sebagai berikut:
1. Tingkat Provinsi
Bersama pemerintah pusat memastikan percepatan penetapan tata ruang
provinsi dan kabupaten yang telah
dihasilkan oleh Tim Terpadu. Dalam
masa penyelesaian tata ruang ini
pemerintah daerah dapat menggunakan tata ruang usulan Tim Terpadu
yang ada sebagai rujukan sementara
khususnya untuk penggunaan lahanlahan yang sudah pasti (tidak terjadi
perbedaan kepentingan selama dalam
penyusunan tata ruang oleh Tim Terpadu).
Penyusunan zonasi kawasan HoB lintas kabupaten/kota.

tivities in markets, offices and densely


populated residential areas.
Considering the important role that the
HoB plays for the regions economic
growth and activities, it is necessary
to put in place economic policies and
instruments to promote green economy
to the regions provincial and district
governments.
1. Provincial Level
T
 ogether with the national government, the provincial and district governments should ensure the acceleration of the deliberation for the setting
of provincial and district spatial layout
plans that have been generated by the
Integrated Team. While waiting for
the final resolution on their respective spatial layout plans, the provincial
and district governments can use the
spatial layout plans proposed by the
integrated team as a temporary reference, in particular for the use of land
areas that have been identified with
absolute certainty to be free from any
conflict of interest or encumberances.
P
 reparation for the zoning of the HoB
across districts and cities.
M
 anagement and operation of largescale forest parks across districts
and cities.

Penyelenggaraan pengelolaan taman


hutan raya lintas kabupaten/kota.

D
 eveloping a forestry and plantation
macro-planning across districts and
cities.

Penyusunan rencana makro kehutanan dan perkebunan lintas kabupaten/


kota.

A
 doption of provincial regulations
for watershed management across
districts and cities.

Penetapan Peraturan Daerah (Perda)


pengelolaan DAS lintas kabupaten/
kota.

A
 doption of provincial regulations on
guidelines for the setting of tariffs
charged for the collection of non-timber forest products (NTFPs) across
district and city borders.

Penetapan Perda tentang pedoman


untuk penentuan tarif pungutan hasil
hutan bukan kayu (HHBK) lintas batas
kabupaten/kota.

A
 doption of provincial regulations on
environmental service compensation mechanisms across districts and
cities.

59

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Penetapan Perda tentang mekanisme


kompensasi jasa lingkungan (environmental service compensation mechanisms) lintas kabupaten/kota.

A
 doption of provincial regulations
on integrated economy development
between upstream and downstream
areas.

Penetapan Perda tentang pengembangan perekonomian terpadu antara


hulu dan hilir.

S
 ome of the above policy instruments have been and are being run by
some provincial governments in the
HoB. For example, West Kalimantan
Provincial Government is currently
drafting the Academic Plan of the Provincial Regulation on the Protection
and Management of the Environment
(RPPLH) to be used as the Provinces
PPLH instrument. They are also
targeting ecolabelling in their Medium
Term Development Plan (RPJMD)
for the periods 2013-2018 in addition
to the revisions associated with the
Revenue Sharing Fund. Several other
provinces have also undertaken initiatives that will be described elsewhere
in this document.

Sebagian dari beberapa instrumen


kebijakan di atas, telah dan sedang
dijalankan oleh beberapa pemerintah provinsi di wilayah HoB. Sebagai
contoh, Pemerintah Provinsi Kalbar
saat ini sedang menyusun Naskah
Akademis Perda Rencana Perlindungan dan Pengeloaan Lingkungan Hidup
(RPPLH) sebagai instrumen PPLH
Kalbar. Pemprov Kalbar juga telah
menargetkan ekolabel dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018, selain revisi
yang terkait dengan DBH. Beberapa
provinsi juga telah melakukan beberapa inisiatif yang akan diuraikan pada
bagian lain dalam dokumen ini.

2. Tingkat kabupaten
Mempedomani tata ruang ruang
provinsi dan kabupaten (sementara)
yang ada (sebagaimana usulan) sampai ada penetapan tata ruang oleh
pemerintah pusat.
Pembentukan struktur kelembagaan
untuk implementasi instrumen dana
kerja lingkungan atau Environment
Performance Bond dan Restribusi
Pengguna atau User Charge.
P
 embuatan Perda yang mengatur
pelaksanaan kegiatan best practice
bisnis sektor kehutanan dan pertambangan dan perkebunan yang sesuai
dengan prinsip-prinsip ekonomi hijau
(rendah emisi, efisien, dan keterlibatan
masyarakat).
Perumusan mekanisme untuk mengeluarkan dan menjual dana kerja lingkungan atau Environment Performance
Bond dan Restribusi Pengguna atau
User Charge.

60

2. District Level
P
 roviding a temporary guideline for
the existing provincial and district
spatial layout plans (as proposed)
until the national government comes
up with an official decision on spatial
layouts.
E
 stablishing an institutional structure
for the implementation of the environmental work fund instrument or
Environment Performance Bond and
User Charge.
P
 reparing a provincial regulation that
governs the implementation of best
practice activities for forestry, mining and plantation businesses in accordance with the principles of green
economy (low emission, efficient, and
engaging communities).
F
 ormulating a mechanism for issuing and selling environmental work
funds or Environment Performance
Bond and User Charge.
F
 ormulating a Provincial Regulation
on Corporate Social Responsibility

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Perumusan Perda tentang Corporate


Social Responsibility (CSR) dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

(CSR) in the context of sustainable


development

M
 enentukan, mengolah dan mempromosikan serta menerapkan label
HHBK sebagai produk unggulan HoB.

D
 efining, managing, promoting and
applying Non-Timber Forest Products with eco-labels as superior HoB
products

B
 eberapa komponen kebijakan yang
telah diuraikan di atas sebagian
mungkin dapat dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota maupun provinsi
dalam satu paket regulasi. Misalnya
saja regulasi yang berkaitan dengan
DAS, jasa lingkungan dan pengelolaan
lingkungan lainnya bisa disatukan
dalam satu paket kebijakan RPPLH di
daerah.

S
 ome components of the policies
described above may in part be carried out by district, city and provincial governments in one package of
regulations. For example, regulations
relating to watershed, environmental
services and other environmental
management can be incorporated into
one package of RPPLH policies in the
provinces.

61

Maspuri /Photovoices Intl-WWF/HoB

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

62

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

III.
PAKET USULAN
KEBIJAKAN
EKONOMI HIJAU
DI HEART
OF BORNEO
Proposed Green Economy
Policy Package in The
Heart of Borneo

63

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

3.1 
Rasionalisasi Kebijakan

ebagaimana diuraikan di atas pentingnya


memasukkan faktor lingkungan dalam
sistem ekonomi sehingga dapat menjamin
keberlanjutan fungsi lingkungan dan atau
sumber daya alam sebagai faktor penting
sistem ekonomi. Pertumbuhan ekonomi
merupakan salah satu indikator utama
(leading indicators) kinerja perekonomian.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi mempresentasikan kinerja perekonomian yang baik
dan kerusakan lingkungan tidak berpengaruh selama sumber daya alam melimpah
dan tidak terbatas. Kondisi ini sudah sangat
jarang ditemui. Dalam pandangan sistem
ekonomi modern pertumbuhan dipengaruhi
oleh beberapa faktor dimana salah satunya adalah faktor lingkungan. Lingkungan
adalah penyedia input yang digunakan dalam
proses produksi. Namun dalam praktiknya
terdapat kontradiksi antara usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan
usaha penyelamatan lingkungan. Kegiatankegiatan produksi yang dilakukan membawa
eksternalitas terhadap lingkungan sehingga
terjadi masalah lingkungan.Oleh karena itu,
kegiatan ekonomi dengan ukuran GDP tidak
boleh terpisah dari daya yang mendukungnya yaitu sumber daya alam.

Selama ini metode populer yang digunakan
untuk perhitungan GDP belum memasukkan
unsur degradasi lingkungan di dalamnya.
Padahal, sebagaimana telah diuraikan
dalam paragraf sebelumnya, lingkungan
merupakan salah satu faktor penyedia input
dalam perekonomian suatu negara. Revolusi
industri dan eksplorasi sumber daya alam,
seperti pertambangan, serta globalisasi
yang mulai terjadi pada awal abad ke-19
merupakan suatu terobosan penting dalam
sejarah perkembangan manusia. Terciptanya alat-alat transportasi, mesin pabrik dan
komunikasi berdampak pada peningkatan
kesejahteraan manusia. Namun di sisi lain,
seiring dengan peningkatan kegiatan industrialisasi dan eksplorasi sumber daya alam,
degradasi lingkungan pun terjadi. Kawasan
rawan banjir mengalami peningkatan, kualitas udara dan air pun mengalami penurunan
karena hutan banyak dialih fungsikan menjadi area pertambangan atau pabrik.

64

Policy Rationalization

s outlined above, it is important to


incorporate environmental factors into
the economic system in order to ensure the
continuity of the functions of the environment and or natural resources as important
factors of the economic system. Economic
growth is one of the leading indicators of
economic performance. High economic
growth presents a good economic performance and environmental damage has no
effect as long as there are abundant and
unlimited natural resources. This condition
is very rarely found. The modern economic
system views growth as being influenced
by several factors, one of which is environmental factors. Environment is a provider
of inputs used in the production process.
However, in practice there is a contradiction between attempts to increase economic
growth and efforts to save the environment.
Production activities that are carried out
bring externalities into the environment as
a result of which environmental problems
occur. Therefore, economic activities and
GDP measure should not be separated or
disconnected from the natural resources
that supports them.
So far, methods used for the calculation of
GDP have not incorporated environmental
degradation into it. In fact, the environment
is one of the input providers in the economy
of a country. The industrial revolution and
exploration of natural sources, such as mining, as well as the globalization that began in
the early 19th century constituted an important breakthrough in the history of human
development. Transportation, manufacturing
machines and communications equipment
impacted human welfare. However due to
increased activities of industrialization and
exploration of natural resources, environmental degradation increased. Areas prone
to flooding have got larger as air and water
quality has declined because many forests
have been converted into mining areas or
manufacturing sites.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Gambar 7: Hubungan Sumber Daya Alam dengan PDB


Figure 7: Relationship between Natural Resources and GDP

Labour

Natural Capital

Ecosystem
Services

GDP

Capital
Natural
Stocks

Ecosystem
Goods

Total
Factor
Productivity

Production
Practices

Sumber: Heart of Borneo, Investing in Nature for Green Economy (2012)


Source: Heart of Borneo, Investing in Nature for Green Economy (2012)

Gambar 8: Wilayah Heart of Borneo


Figure 8: The Heart of Borneo Region
Heart of Borneo
Protected Area
Watershed Boundary
Vulnerability to erosion
High
Low

Sumber: Heart of Borneo,


Investing in Nature for Green
Economy (2012)
Source: Heart of Borneo, Investing
in Nature for Green Economy
(2012)

65

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

3.2 
Signifikansi Implementasi Deklarasi
HoB: Studi Kasus Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah dan Kalimantan
Timur
Significance of the Implementation of the
HoB Declaration: West Kalimantan, Central
Kalimantan and East Kalimantan Case Studies

mplementasi yang efektif dan efisien


dari Deklarasi HoB sangat penting bagi
tiga negara tersebut, khususnya Indonesia. Indonesia memiliki wilayah terbesar
di kawasan HoB, degradasi lingkungan
serta permasalahan yang ditimbulkannya pun relatif lebih besar dibandingkan dua negara lain. Pulau Kalimantan
berkontribusi secara signifikan terhadap perekonomian Indonesia karena di
pulau tersebut terdapat hasil bumi yang
berorientasi ekspor, seperti kayu, hasil
pertambangan dan hasil perkebunan.
Namun, peningkatan eksplorasi sumber
daya alam tersebut juga diiringi dengan
degradasi lingkungan di Kalimantan.
Hasil analisis tutupan hutan oleh Forest
Watch Indonesia (FWI) menunjukkan
bahwa pada tahun 2009 adalah 88,17
juta ha atau sekitar 46,33% dari luas
daratan Indonesia, dimana Kalimantan
menempati kedudukan kedua setelah
Papua dan Papua Barat dengan selisih
8%. Persentase luas tutupan hutan
terhadap luas daratan di Provinsi Papua
dan Papua Barat mencapai 79,62%
sedangkan Kalimantan 51,35%. Sebaran
tutupan hutan Indonesia ditunjukkan
Gambar 9.

66

ndonesia has the largest area in the


HoB. Environmental degradation and
the ensuing problems Indonesia experiences in its part of the central highland
rainforests, too, are relatively larger
than those of the other two countries.
Kalimantan contributes significantly to
the Indonesian economy because the
island is endowed with abundant natural
wealth (agricultural and mining resources) that can be used as export commodities. However, increased exploitation of
such natural resources has also led to
increased environmental degradation.
Therefore, effective and efficient implementation of the HoB Declaration is very
important to all three countries, especially Indonesia.
Analysis of Indonesian forest cover by
Forest Watch Indonesia (FWI) indicates
that in 2009, forest cover accounted for
88.17 million hectares or about 46.33%
of Indonesias land area, where Kalimantan occupies a position second only
to Papua and West Papua by a margin
of 8%. The percentage of forest cover to
total land area in Papua and West Papua
provinces reached 79.62% while in
Kalimantan, the percentage was 51.35%.
Distribution of Indonesian forest cover is
shown in Figure 9:

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Gambar 9: Sebaran Tutupan Hutan di Indonesia 2009


Figure 9: Distribution of Forest Cover In Indonesia 2009

Sumatera

14%
39%

Papua
Jawa

1%

Bali &
Nusa Tenggara

Kalimantan

4%

Maluku

1%

31%

Sulawesi

10%

Sumber: Sumargo, dkk. (2011). Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode Tahun 2000-2009
Sources: Sumargo, et al. (2011). The state portrait Forests Indonesia Year Period 2000-2009

Kaltim merupakan wilayah HoB dengan


luas hutan terbesar dibanding Kalbar
dan Kalteng. Luas hutan di Kaltim
adalah seluas 8,861,884 ha dengan lima
peruntukan hutan, sedangkan Kalbar
dan Kalteng dengan delapan peruntukan hutan yang dimiliki masing-masing
seluas 4,847,257 ha dan 3,027,868 ha.

Of the three Kalimantan provinces in the


HoB, East Kalimantan has the largest
forest area of 8,861,884 hectares with
five forest designations, while West Kalimantan and Central Kalimantan have
eight forest designations each covering
a total area of 4,847,257 hectares and
3,027,868 hectares respectively.

Tabel 3: Status Hutan di kawasan HoB Indonesia di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, & Kalimantan Timur, 2009
Table 3: Forest Status within the Indonesian part of the Heart of Borneo, West Kalimantan, Central Kalimantan, and East
Kalimantan, 2009

Kalimantan Barat
West Kalimantan
(ha)

Kalimantan Tengah
Central Kalimantan
(ha)

Kalimantan Timur
East Kalimantan
(ha)

1,243,930

611,447

2,398,152

Hutan Produksi / Production Forest

359,305

92,627

644,034

Hutan Produksi Konversi /


Converted Production Forest

108,153

34,030

Hutan Produksi Terbatas /


Limited Production Forest

1,201,309

1,960,780

3,899,666

Taman Nasional / National Park

1,024,163

125,600

1,312,243

Badan Air / Water Bodies

18,037

197,128

Taman Wisata Alam /


Nature Recreation Park

1,842

5,478

890,518

778

607,789

4,847,257

3,027,868

8,861,884

Jenis Hutan /
Types of forests
Hutan Lindung / Protected Forest

Area Penggunaan Lainnya /


Other Land Use
Total

Sumber: Kementerian Kehutanan, 2009 / Source: Ministry of Forestry, 2009

67

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Meskipun Kalimantan masih memiliki


luas hutan yang cukup besar dan merupakan wilayah dengan tutupan hutan
terbesar kedua secara nasional, Kalimantan juga merupakan wilayah yang memiliki tingkat deforestasi paling tinggi
selama tahun 2000-2009. Hal tersebut
dapat dilihat dalam Gambar 10.

Kalimantan still has fairly large areas


of forest and is a region with the second
largest forest cover nationally. However,
Kalimantan is also a region that has the
highest rate of deforestation during the
periods 2000-2009 as seen in Figure 10.

Gambar 10: Sebaran Deforestasi Indonesia 2000-2009


Figure 10: Forest loss in Indonesia from 2000 to 2009
Sumatera

Jawa

25%

9%

Bali &
Nusa Tenggara

Kalimantan

Papua

4%

Maluku

8%

Sulawesi

11%

7%

36%

Sumber: Sumargo, dkk. (2011). Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode Tahun 2000-2009 /
Source: Sumargo, et al. (2011). The state portrait Forests Indonesia Year Period 2000-2009

Berdasarkan potret keadaan hutan Indonesia periode 2000-2009, tutupan hutan


antara tahun 2000 sampai tahun 2009
terlihat bahwa hutan di Indonesia yang
mengalami deforestasi adalah sekitar
15,15 juta ha. Provinsi yang mengalami
deforestasi terbesar adalah Provinsi
Kalteng dengan luas mencapai 2 juta ha
atau laju deforestasi tahun 2000-2009
mencapai 200.290,85 ha/tahun. Total
hutan yang terdeforestasi di Kalimantan
tahun 2000-2009 mencapai 5.505.863,93
ha dan laju deforestasi tahun 2000-2009
sebesar 550.586,39 ha/tahun atau sekitar 4% dari total hutan di Indonesia yang
terdeforestasi.
Deforestasi di Kalimantan khususnya di
kawasan HoB paling banyak diakibatkan

68

According to the report Portrait of


the State of Indonesias Forests in the
periods 2000-2009, about 15.15 million
hectares of Indonesias forests suffered
from deforestation. Central Kalimantan,
which covers a total area of 2 million
hectares, had the highest deforestation
which reached 200,290.85 hectares per
year during the 10-year period. The total
forest area in Kalimantan that was deforested reached 5,505,863.93 hectares
or 550,586.39 hectares per year, which
constituted about 4% of the total deforested forest area in Indonesia.
Deforestation in Kalimantan, especially
in the HoB, is mostly caused by illegal
logging and activities from the timber
forest products sector, the oil palm

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

oleh pembalakan liar dan aktivitas tiga


industri utama yaitu sektor hasil hutan
kayu, kelapa sawit, dan pertambangan.
Permasalahan lingkungan dari sektor
hasil kayu muncul ketika pemanenan
kayu dilakukan dengan tidak memperhatikan keberlanjutan pemanenan kayu.
Penebangan kayu yang sering kali dilakukan secara asal bahkan ilegal tanpa
memperhatikan apabila hutan tersebut
merupakan hutan primer dan juga tidak
memperhatikan kriteria-kriteria pohon
yang sudah bisa ditebang. Setelah pemanenan dilakukan tidak terdapat upaya
untuk melakukan regenerasi hutan
karena notabene penebangan di HoB
dilakukan secara ilegal.
Sebagai konsekuensi dari perluasan
lahan untuk area perkebunan sawit adalah semakin berkurangnya luas hutan
di Indonesia. Dalam periode 2000-2009,
deforestasi mencapai 15.158.926,58 ha.
Deforestasi terbanyak terjadi di Kalimantan yaitu 5.505.864 ha atau 36,32%
dan di Sumatra seluas 3.711.797 ha atau
22,49%.

plantation sector, and the mining sector.


Environmental issues from the timber forest products sector arise when
timber harvesting is done with no regard
to sustainability. Logging is often done
haphazardly, indiscriminately and even
illegally without regard to forest type or
the legal requirements for cutting down
trees. To make matters worse, after
harvesting there is no attempt to regenerate the forest as logging in the HoB is
illegal.
Due to the expansion of oil palm plantations, forest areas in Indonesia are
decreasing. Deforestation in Indonesia
from 2000-2009 reached 15,158,926.58
hectares, most of which were situated in Kalimantan (5,505,864 hectares
or 36.32% of the total) and Sumatra
(3,711,797 hectares or 22.49%).

Gambar 11: Deforestasi Indonesia 2000-2009


Figure 11: Deforestation in Indonesia, 2000-2009

16.000.000

15.158.926,58 ha

14.000.000
12.000.000
10.000.000
8.000.000
5.505.864 ha

6.000.000
4.000.000
2.000.000
0

Sumatera

Jawa

Bali & Kalimantan Sulawesi Maluku


Nusa
Tenggara

Papua

Total

Sumber: Kementerian Kehutanan, diolah penulis / Source: Ministry of Forestry, processed by author

69

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Pulau Kalimantan, dimana kawasan


HoB berada (yang merupakan Kawasan
Strategis Nasional/KSN), justru merupakan pulau dengan tingkat deforestrasi
paling tinggi. Kerusakan hutan pada
kawasan HoB, yaitu Kalbar, Kalteng
dan Kaltim secara rinci disajikan dalam
Tabel 4.

The island of Kalimantan, where the


HoB is, (and a National Strategic Area/
KSN), has the highest rate of deforestation. Damage to forests in the Indonesian provinces in the Hob, West Kalimantan, Central Kalimantan and East
Kalimantan are presented in detail in
Table 4 below:

Tabel 4: Kerusakan Hutan di HoB-Indonesia Periode 2000-2009


Table 4: Forest damage in the Indonesian part of the HoB, 2000-2009

Luas /
Width (ha)

Kontribusi /
Contribution (%)

Kalimantan Barat / West Kalimantan

1,324,822.55

24

Kalimantan Tengah / Central Kalimantan

2,002,908.83

36

Kalimantan Selatan / South Kalimantan

319,835.23

Kalimantan Timur / East Kalimantan

1,858,297.62

34

Kalimantan

5,505,864.23

100

Propinsi / Province

Sumber: Kementerian Kehutanan Indonesia (2012) / Source: Ministry of Forestry of Indonesia (2012)

Data terakhir angka deforestasi yang


terjadi wilayah HoB memperlihatkan
bahwa kontribusi ketiga provinsi (Kalbar,
Kalteng dan Kaltim) terhadap luas deforestasi nasional mencapai 39,31% dari
deforestasi nasional tahunan (Tabel 5).

Recent data on the rate of deforestation


within the HoB shows that the contribution of three provinces (West Kalimantan, Central Kalimantan and East
Kalimantan) to national deforestation
reached 39.31% of the annual national
deforestation (Table 5).

Tabel 5: Angka Deforestasi (di dalam dan di luar kawasan hutan) Wilayah HoB di Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah dan Kalimantan Timur, Periode 2009-2012 (Ha/Tahun)
Table 5: Deforestation Rate (inside and outside forest areas) in the HoB in West Kalimantan, Central Kalimantan and East
Kalimantan Provinces in the Periods 2009-2012 (Hectares/ Year)

Kalimantan
Barat
West Kalimantan
(Ha/Ta)

Kalimantan
Tengah
Central
Kalimantan
(Ha/Ta)

Kalimantan
Timur
East Kalimantan
(Ha/Ta)

Angka
Deforestasi
Nasional
National
Deforestation rate
(Ha/Ta)

Primer / Primary

586,1

697,8

317,3

17.219,9

Hutan Produksi / Secondary

41.151

105.421,6

30.403,8

376.306

361,5

3.255,3

57.107,8

41.737,9

106.480,9

33,976,8

450.637,1

9,2%

23,6%

7,5%

Kelompok Hutan /
Types of forests

Hutan Tanaman / Planted


Forests
Jumlah / Total
% terhadap Deforestasi
Nasional /
% to the National
Deforestation Rate

Sumber: Statistik Kehutanan Indonesia 2012 / Source: Indonesia Forestry Statistics 2012.

70

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Tabel 6: Luas dan Persentase Pelepasan


Kawasan Hutan Periode Tahun 2003-2008

Gambar 12: Persentase Pelepasan Kawasan


Hutan Periode Tahun 2003-2008

Table 6: Area and Percentage of Cleared Forest


Areas (2003-2008)

Figure 12: Percentage of Cleared Forest Areas


(2003-2008)

No.

Pulau / Island

Luas / Width (ha)

Sumatera

158,431.97

Jawa

Kalimantan

Sulawesi

6,722.45

Maluku

35,299.30

Papua

32,546.30

17 %

122,494.78

Total

18 %
62 %
3%

355,494.80

Sumber: Kementerian Kehutanan Subdit Statistik dan Jaringan Komunikasi data Kehutanan, 2009 dan Kementerian Kehutanan, 2009.
Eksekutif Data Strategis Kehutanan 2009
Source: Ministry of Forestry Subdit Statistic and Communication
Network of Forestry Data, 2009 and Ministry of Forestry, 2009.
Eksekutif Data Strategis Kehutanan 2009

Selanjutnya perkembangan pelepasan


kawasan hutan untuk tambang dan non
tambang (misalnya transmigrasi) pada
tahun 2008-2012 yang berkonribusi
pada angka deforestasi di tiga provinsi
wilayah HoB dapat dilihat sebagaimana
Tabel 7.

Kalimantan

Sulawesi

Maluku

Papua

The further expansion of the relinquishment of forest areas for mining and
non-mining purposes (for example, for
resettlement) in the periods 2008-2012
contributed to the deforestation rates in
three provinces in the Heart of Borneo
as can be seen under Table 7 below:

Tabel 7: Perkembangan Penggunaan Kawasan Hutan untuk Tambang dan Non Tambang tahun 2008-2012 di Provinsi
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur
Table 7: Developments concerning the Use of Forest Areas for Mining and Non-Mining Activities in the Periods 2008-2012 in
West Kalimantan, Central Kalimantan dan East Kalimantan Provinces

Luas izin prinsip /


Area under principle license
(ha)

Luas izin pinjam pakai


Eksploitasi /
Area under borrow-anduse permit for forest
area exploitation (ha)

Kalimantan Barat / West Kalimantan

12.882

4.345

Kalimantan Tengah / Central Kalimantan

81.678

49.997

Kalimantan Timur / East Kalimantan

114.585

89.092

Propinsi / Province

Sumber: Statistik Kehutanan Indonesia 2012 / Source: Indonesia Forestry Statistics 2012

71

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Tingginya angka konversi hutan untuk


ekspansi perkebunan kelapa sawit disebabkan oleh tingginya target produksi
kelapa sawit Indonesia9 dan target luas
area lahan untuk kelapa sawit yang
mencapai 26 juta hektar. Di luar alasan
tersebut juga disebabkan oleh ketidakpastian kepemilikan tanah10.Oleh karena
itu, Indonesia merupakan salah satu
negara yang tidak patuh pada tujuh
prinsip (P7) standar sertifikasi sukarela
(voluntary) Roundtable on Sustainable
Palm Oil (RSPO). Dalam pemberian izin
pembukaan lahan baru, otoritas pemberi izin seringkali mengabaikan nilai
konservasi tinggi (High Conservation
Value/HCV), masyarakat setempat, adat
dan perlindungan daerah dari nilai karbon tinggi seperti yang terdapat dalam
World Bank Group Standards and the
Palm Oil Sector:

The high rate of conversion of tropical


forests for the expansion of oil palm
plantations is attributable to Indonesias
high palm oil production target9 and the
area of land targetted for oil palm plantations which has reached 26 million
hectares. Another reason is uncertainty
of land ownership10. Therefore, Indonesia is one of the countries that do not
adhere to the seven principles (P7) of
voluntary certification standards set by
the Roundtable on Sustainable Palm Oil
(RSPO). In granting a license to clear a
forested area to be used as a new plantation site, licensing authorities often
ignore high conservation values (HCVs),
areas subject to indigenous peoples
customary rights or customary use, and
areas of high-value carbon values as
stated in the World Bank Group Standards on the Palm Oil Sector:

...do not seek to identify and protect HCVs, do not identify or protect areas subject
to indigenous peoples customary rights or customary use and do not identify or
protect areas of high carbon values.
Pada tahun 2011 Menteri Pertanian
mengeluarkan standar tersendiri terhadap pengelolaan perkebunan sawit
berkelanjutan yang disebut dengan
Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO)
yang merupakan mandatory (wajib)
diperoleh perkebunan kepala sawit.
Semua perkebunan kelapa sawit wajib
memenuhi standar pengelolaan ISPO
selambat-lambatnya akhir tahun 2014,
dan apabila tidak memenuhi maka akan
dikenai sanksi penghentian operasional.
Di tiga provinsi di Kalimantan yaitu
Kalbar, Kalteng dan Kaltim terdapat
mineral bijih, kerak, logam dan batubara. Batubara merupakan sumber mineral yang banyak terdapat di Kaltim dan
beberapa area di Kalteng, sedangkan di
wilayah Kalbar hanya terdapat beberapa
area tambang bijih, kerak dan logam
yang rata-rata hanya berkontribusi
kurang dari 5% terhadap PDRB Kaim9

In 2011, the Ministry of Agriculture issued its own standards for sustainable
oil palm plantation management called
the Indonesian Sustainable Palm Oil
(ISPO), which is mandatory for oil palm
plantations. Under this scheme, all oil
palm plantations are required to meet
the ISPO standards of sustainable oil
palm plantation management by no later
than the end of 2014, and if they fail to
do so, a sanction, which will effectively
discontinue their operations, will be
imposed on them.
In the three Kalimantan provinces of
West Kalimantan, Central Kalimantan
and East Kalimantan, there are mineral
and metal deposits in the earths crust.
Coal is abundant in East Kalimantan and
in some areas of Central Kalimantan. In
West Kalimantan, there are only a few
mining areas that on average contribute less than 5% to West Kalimantans

S umargo, S.et al., 2011. Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode Tahun 2000-2009. Halaman 30

10

National Wildlife Federation. 2010. Food, Fuel, or Forest?: Charting a Responsible U.S Role in Global Palm Oil Expansion. Halaman 23

72

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia / Wiwin Effendi

antan Barat dalam 5 tahun terakhir.


Menurut Walhi (2011), rata-rata 200 juta
ton batubara dikeruk dari Kaltim dalam
jangka waktu 5 tahun terakhir. Sampai
tahun 2011, 71% dari wilayah Kaltim
telah dijadikan sebagai area pertambangan batubara. Hal tersebut menimbulkan degradasi lingkungan di wilayah
tersebut. Sampai dengan tahun 2011,
terdapat 839 ha lahan yang rusak akibat
tambang. Akibatnya, terjadi peningkatan
kawasan rawan banjir di area tersebut.
Pada tahun 2010, terdapat 29 titik rawan
banjir dan pada tahun 2011 kawasan
rawan banjir meningkat menjadi 35 titik.

GDP over the last 5 years. According to


the Indonesian Forum for the Environment (2011), an average of 200 million
tons of coal has been dredged from East
Kalimantan within the last 5 years. Until
2011, 71% of the area of East Kalimantan
has been used as a coal mining area.
This has led to environmental degradation with 839 hectares of land damaged
by mining.As a result, there was an
increase in the number of flood-prone
areas in the region. In 2010, there were
29 locations prone to flooding but in 2011
the number of flood-prone areas had
increased to 35.

Bukan hanya kawasan rawan banjir yang


meningkat, kualitas udara dan kualitas
air di Kaltim pun mengalami penurunan.
Hal tersebut diakibatkan oleh kawasan
hutan yang dialihfungsikan menjadi
kawasan tambang. Dari segi infrastruktur, jalan-jalan di wilayah pertambangan
juga mengalami kerusakan karena banyaknya truk-truk yang melintas.

In addition to the increase in flooding,


air quality and water quality in East
Kalimantan are also deteriorating following the conversion of forest areas to
mining areas. Moreover, many roads in
the provinces mining areas have been
damaged by heavy trucks.

73

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

3.3 
Usulan Paket Kebijakan HoB
Package of Proposed HoB Policies

raian pada sub bab sebelumnya


telah menguraikan permasalahan
utama yang dihadapi oleh Provinsi
Kalbar, Kalteng dan Kaltim, yaitu degradasi lingkungan yang diakibatkan oleh
peningkatan aktivitas kehutanan, pertambangan dan perkebunan. Peningkatan aktivitas tersebut juga merangsang
deforestasi sebagai akibat pengalihan
fungsi hutan.
Besarnya akibat yang telah ditimbulkan oleh aktivitas bisnis dan juga
masyarakat terhadap tutupan hutan di
HoB, maka diperlukan paket kebijakan
yang bersifat integratif untuk melestarikan HoB. Paket kebijakan tersebut tentunya berdasar pada kerangka
pemikiran ekonomi hijau. Paket kebijakan untuk HoB berdasarkan masalah
dan akar masalah yang ada di kawasan
tersebut.
Deskripsi Usulan Kebijakan untuk HoB
Deskripsi kebijakan-kebijakan adalah
sebagai berikut:
a. P
 erencanaan tata wilayah berdasar
utilitas yang sinergis
P
 erencanaan tata wilayah sangat
diperlukan demi tercapainya pemanfaatan ruang atau wilayah yang
optimal. Oleh karena itu, dalam
perencanaan tata wilayah harus
didasarkan pada potensi wilayah atau
penggunaan maksimal yang dapat
diperoleh tanpa mengabaikan perlindungan terhadap lingkungan. Dalam
upaya pencapaian visi HoB, seluruh

74

he previous sub-chapter outlined


the main issue that beleaguered
West Kalimantan, Central Kalimantan
and East Kalimantan provinces, that
is, environmental degradation caused
by increased activities in the provinces
forestry, mining and agricultural sectors. Increased activities in these three
industrial sectors have also triggered
deforestation as forest functions are
altered by human activities.
Given the negative impacts inflicted by
business activities and communities on
the forest cover in the HoB, it is necessary to have an integrated policy package to preserve the HoB. The package
must be based on a green economy
mindset and address the root problems
in the region.
Description of Proposed Policies
for the HoB
The description of the policies is as follows:
a. Regional layout planning based on
synergetic utility
Regional layout planning is indispensable for the achievement of optimum
spatial or territorial utilization. Therefore, regional layout planning should
be based on the regions potentials or
maximum use that can be obtained
without neglecting environmental
protection. In an effort to achieve
the HoB vision, all the provinces
that make up the entire region must
together devise a regional layout plan
to produce synergistic regional layout

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

wilayah yang tergabung di dalamnya


harus menyusun rencana tata wilayah
secara bersama-sama untuk menghasilkan perencanaan yang bersinergi. Perencanaan tata wilayah
yang bersinergi ialah perencanaan
yang saling terkait antar wilayah
atau adanya pendekatan kolaborasi
di antara wilayah HoB. Hal tersebut
mengindikasikan faktor penentu
batas, bukan hanya batas kabupaten,
negara, atau batas-batas administratif lainnya melainkan pertimbangan
batas-batas ekosistem.
 ungsi wilayah HoB seperti wilayah
F
pemukiman penduduk, pusat pemerintahan, kawasan industri dan kehutanan (hutan lindung, hutan produksi
dan hutan konservasi) harus direncanakan secara jelas. Tata wilayah ini
akan menjadi acuan terhadap penggunaan lahan atau wilayah. Hasil dari
perencanaan tata ruang tersebut diharapkan dapat menjamin pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan
di kawasan HoB dan menjadi basis
untuk pengembangan ekonomi hijau.
b. Percepatan kawasan industri
yang terpadu
 oB memiliki potensi besar menjadi
H
kawasan industri yang maju. Industri
yang berkembang pesat saat ini adalah produksi kelapa sawit dan hasil
tambang (terutama untuk Kaltim).
Namun sayangnya hingga saat ini, Indonesia masih dikenal hanya sebagai
penghasil bahan mentah, kemampuan
menghasilkan hasil olahan yang lebih
bernilai masih rendah. Jumlah perusahaan hulu jauh lebih banyak dibanding perusahaan hilir. Apabila besarnya
hasil bahan mentah diikuti oleh
pengolahan lebih lanjut, maka akan
menjadi sebuah industri yang kuat,
lebih efisien, dan kompetitif. Diperlukan pembangunan infrastruktur yang
memadai agar konsep pengembangan
industri terpadu ini menjadi layak.

planning. This is planning in which all


areas within the region are linked to
each other and collaborate together.
This will not only determine the
boundaries of the districts, countries,
or other administrative boundaries
within the region, but also considers
the boundaries of all the ecosystems
found there.
 he functional designation of areas
T
within the HoB, such as settlement
areas, areas designated as government/ administrative centers, industrial areas and forest areas (which
are further broken down into protected forests, production forests and
conservation forests, etc) should be
clearly planned. This regional layout
plan will be used as a reference for
land use. The results of the spatial layout planning are expected to
ensure the implementation of sustainable development in the HoB and
become the basis for the development
of green economy.
b. Acceleration of Integrated Industrial
Areas
 he HoB has great potential to beT
come a developed industrial area.
Currently, the rapidly growing industries in the region are oil palm plantation and mining (especially in East
Kalimantan). Unfortunately Indonesia
is only known as a producer of raw
materials and its ability to produce
processed products of higher value is
still low. If the abundant raw materials in this region can be processed
domestically, the provinces will have
strong, more efficient and competitive industries due to the proximity of
their raw materials to raw material
processing facilities. Adequate infrastructure development is needed so
that the concept of integrated industrial development becomes feasible.

75

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Kawasan terpadu merupakan kawasan


dimana sektor hulu dan hilir terintegrasi. Oleh karena itu, pendirian industri
hilir dalam hal ini perlu didorong untuk
memperkuat jaringan atau integrasi
dengan industri hulu. Integrasi ini dapat
membatasi margin ganda sehingga konsumen dapat diuntungkan karena bisa
mendapatkan produk dengan harga yang
lebih murah, sehingga dapat menjadi
produk yang lebih kompetitif. Perusahaan juga diuntungkan dengan strategi
ini melalui pemanfaatan efisiensi teknis
dan efisiensi biaya transaksi sehingga
laba total yang didapatkan akan lebih
besar dibandingkan bila mereka harus
membeli bahan baku dari perusahaan
lain atau mendistribusikan produknya
lewat perusahaan lain. Selain keuntungan berupa efisiensi juga berupa kepastian pasokan bahan baku.

The establishment of downstream


industries should be encouraged to
strengthen the network of integration
with their upstream counterparts.
Such integration may limit double
profit margins, which will benefit
consumers who can buy the products
at cheaper price, thus making the industries more competitive on the open
market.

Kelapa sawit Indonesia hingga saat


ini sebagian besar diekspor, namun
masih dalam bentuk bahan mentah.
Produk turunan (hilir) kelapa sawit yang
berkembang di Indonesia mayoritas
masih berupa hasil pangan terutama
minyak goreng, belum mengalami banyak perkembangan. Apabila integrasi di
sektor kelapa sawit telah berkembang
maka peningkatan hasil dari kelapa
sawit tidak terpaku lagi dengan peningkatan di sektor hulu, tetapi bisa beralih
ke pengembangan produk turunan kelapa sawit di industri hilir yang memiliki
nilai tambah. Hal ini dapat mendorong
pengurangan pembukaan lahan untuk
perkebunan kelapa sawit. Kebijakan
pemerintah daerah untuk memberikan
izin konversi hutan ke perkebunan dengan alasan ekonomi seperti pembukaan
lapangan kerja baru dapat dikurangi.

Indonesian oil palm is largely exported


in the form of crude palm oil. In Indonesia, the majority of products derived
from crude palm oil are food products,
especially frying oil. If integration of
upstream and downstream industries
in the oil palm sector can be achieved,
palm oil companies would not get
too fixated on increasing yield in the
upstream sector but can switch to
manufacturing products derived from
crude palm oil in downstream industries that have added value. This may
eventually reduce the need to clear
land for new oil palm plantations and
also curtail local governments policy
to grant permission for the conversion
of forests to plantations for economic
and employment reasons.

This strategy would also benefit the


companies thanks to technical efficiency and efficiency of transaction
costs so that the total profit earned
will be greater than if they had to
purchase raw materials from other
companies or distribute their products
through other companies. In addition
there is the certainty of the supply of
raw materials.

The designation of HoB areas for


Fungsi wilayah HoB seperti
wilayah pemukiman penduduk,
pusat pemerintah, kawasan industri,
dan kehutanan (hutan lindung,
hutan produksi, hutan konservasi)
harus direncanakan secara jelas.

76

residential, government, industry,


and forestry needs (protected forest,
production forest, conservation forest)
must be clearly planned.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

c. Insentif dan Disinsentif (reward) dan


kemudahan-kemudahan berusaha
bagi perusahaan dan masyarakat
atas pelestarian hutan, dan green
tax bagi perusahaan dan masyarakat
atas kerusakan lingkungan.
Praktik ekonomi berkelanjutan yang
menerapkan prinsip perlindungan terhadap lingkungan secara sadar akan
sulit terlaksana di HoB pada saat ini
tanpa adanya insentif atau reward dan
disinsentif seperti pajak tambahan.
Perusahaan dan masyarakat sekitar
telah terbiasa dengan memanfaatkan
dan mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dari alam tanpa
memperhatikan dampak buruk yang
ditimbulkan. Pemerintah harus membuat peraturan dan skema pemberian
reward yang jelas bagi perusahaan
maupun masyarakat yang telah
menerapkan prinsip-prinsip ekonomi
berkelanjutan dan memberikan
disinsentif kepada pihak-pihak yang
melanggar prinsip ekonomi berkelanjutan. Pajak atas kegiatan-kegiatan
yang melanggar prinsip-prinsip
ekonomi berkelanjutan, seperti polusi
yang melebihi indikator lingkungan,
populer dengan istilah green tax.
Dalam pemberian reward kepada
perusahaan, perusahaan tersebut
telah lulus dari kriteria atau sertifikasi produksi yang ramah lingkungan
dari pihak yang berkompeten dalam
pemeliharaan lingkungan (biasanya
lembaga sertifikasi dan LSM) dan
kemudian mendapatkan sertifikat.
Produsen yang telah lolos sertifikasi
juga akan mendapatkan ekolabel pada
produknya. Produk tersebut kemudian
akan dihargai lebih tinggi sehingga
perusahaan dapat memperoleh premi
harga. Ekolabel juga dapat sebagai
salah satu alat untuk memperluas
akses pasar, terutama pasar luar
negeri pada negara ekosensitif yang
mensyaratkan produk-produk Indonesia memiliki ekolabel. Sedangkan

c. I ncentives and disincentives in the


form of reward and the easiness of
doing business for companies and
communities engaged in forest con
servation and the imposition of green
tax on companies and communities
that cause environmental damage.
A
 t the moment, it is difficult to implement sustainable economic practices
that apply principles of environmental
protection in HoB without any incentives or rewards, as well as disincentives in the form of, say, additional
taxation. Companies operating in the
region and the surrounding communities are accustomed to extracting as much profit as possible from
nature without regard to the negative
consequences of their actions. The
government should therefore create
clear rules and schemes that provide
rewards to companies and communities who have applied the principles of
economic sustainability, and impose
disincentives to those who violate
such principles. An additional tax
should be imposed on activities, such
as pollution, that exceed environmental indicators. Such a tax is popularly
known as a green tax.
When granting rewards to a company,
effort should be made to ensure that
the company has met the criteria for
environmentally friendly production as
assessed and certified by the competent authorities in the maintenance of
the environment (usually certification
institutions and NGOs). Manufacturers who pass certification will receive
ecolabels for their products. Such
products can have a higher value so
that the company that produces them
can obtain a premium price. Ecolabelling is also a tool to expand market
access, especially foreign markets in
eco-sensitive countries that demand
ecolabel certification from Indonesian
products.

77

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

pemerintah akan memberikan reward


dalam bentuk kemudahan ekspor,
kemudahan dalam perizinan, perpajakan, dan terkait birokrasi pemerintahan lainnya. Sehingga konsekuensi
dari perusahaan yang tidak ramah
lingkungan adalah mendapat disinsentif dari pemerintah maupun pihak
eksternal dan akan mengalami kerugian terutama dalam jangka panjang
ketika isu lingkungan semakin marak.
Secara khusus bagi sektor-sektor
swasta seperti sektor hasil hutan,
perkebunan sawit, dan pertambangan
yang bersertifikat baik akan diberikan
berbagai insentif seperti:

Meanwhile, the government should give


rewards in the form of export facilities, ease of processing associted with
licensing, taxation, and government
bureaucracy. On the other hand, companies that are not environmentally friendly will be subjected to disincentives by
the government and external parties
and will eventually lose out in the long
run, especially when environmental issues become increasingly widespread.
Certified private sectors such as the
ones engaged in forest products, oil
palm plantation and mining will be made
eligible for incentives such as:


Sektor

Insentif
Mengurangi jumlah pengecekan tahunan (seperti membebaskan lisensi alat
berat).

Hasil hutan kayu

Diberikan tunjangan untuk mengekspor bagian dari produk mereka langsung


ke pasar ekspor.
Diberikan prioritas perizinan baru untuk memperluas wilayah dan konsesi
baru.
Dibebaskan dari pajak tanah.
Diberikan subsidi pupuk untuk petani plasma.

Kelapa sawit
(pada lahan
terdegradasi)

Pengeluaran minyak kelapa sawit memungkinkan hanya untuk lahan yang


terdegradasi.
Peningkatan tarif pada kayu dari lahan hutan dikonversi menjadi perkebunan
kelapa sawit.
Peningkatan pendapatan pajak untuk perkebunan kelapa sawit di kawasan
hutan.

Pertambangan

Pajak atau pungutan terhadap polutan dan limbah (green tax) atau bentuk
insentif ekonomi lainnya

Sector

Incentive
Reduce the number of annual checks (such as heavy equipment license exemption)

Timber forest
products

Provide allowances to export part of the products directly to the export markets
Grant new licensing priorities to expand the area and new concessions
Exemption from land tax
Fertilizer subsidy for plasma farmers

Oil palm
(on degraded lands)

The production of palm oil is only possible on degraded lands


Increase the tariff on timber from forest land converted to oil palm plantations
Increase tax on oil palm plantations in forest areas

Mining

78

Tax or levy on pollutants and waste (green tax) or other forms of economic
incentives

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia / Wiwin Effendi

Insentif finansial baru termasuk


pembayaran untuk jasa ekosistem,
pembayaran untuk kredit karbon yang
dihasilkan melalui skema Reducing Emissions from Deforestation and
forest Degradation (REDD+) untuk
sektor kehutanan dan proyek Clean
Development Mechanism (CDM) untuk
sektor kehutanan dan tambang dapat
diberikan bagi industri yang berbasis
ekonomi hijau.

N
 ew financial incentives including
payment for ecosystem services,
payment for carbon credits generated
through the Reducing Emissions from
Deforestation and Forest Degradation (REDD+) scheme for the forestry
sector and the Clean Development
Mechanism (CDM) project for the forestry sector and the mining sector can
be accorded to green economy-based
industries.

Dana internasional harus disediakan


untuk mengakui jasa atau insentif
dari pengelolaan lingkungan yang
disediakan secara internasional. Dana
ditujukan kepada kelompok usaha

International funds should be provided


to acknowledge services or incentives
from environmental management that
are provided internationally. The funds
are directed to community business

79

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

masyarakat dan juga perusahaan atas


upaya pengurangan emisi karbon
melalui pengelolaan hutan yang baik
seperti pengelolaan secara berkelanjutan (SFM), penebangan dengan
dampak yang dikurangi (Reduced
Impact Logging/RIL), atau restorasi
ekosistem dan konservasi hutan.
Model insentif dan reward hanya akan
berhasil apabila terdapat skema yang
jelas. Skema atas pemberian reward
tersebut harus disusun secara jelas
dalam sebuah peraturan ataupun
dalam bentuk perjanjian. Seperti yang
diterapkan di Kolumbia atas aktivitas
penambangan emas skala kecil yang
berkelanjutan. Dari produksi yang
berkelanjutan memungkinkan emas
mendapatkan premi di pasar dan
keuntungannya diteruskan kepada
produsen dan masyarakat seperti contoh berikut:
10% diberikan kepada penambang
yang bersertifikasi sebagai insentif
ekonomi langsung untuk jasa lingkungan.
30% memungkinkan sayap komersial
dari program itu untuk dapat dipertahankan.
60% diinvestasikan kembali di wilayah
tersebut dalam proyek pembangunan.
d. Energi Alternatif yang Ramah
Lingkungan
 ahan bakar minyak (BBM) masih
B
merupakan energi utama yang digunakan dimanapun termasuk hampir
semua sektor ekonomi di wilayah
HoB menggunakan BBM (fossil fuel)
yang beremisi tinggi. Pada pihak lain
wilayah HoB mempunyai potensi panas bumi dan sumber energi alternatif
dari kelapa sawit, serta hydro power
yang besar. Sudah waktunya pemerintah daerah merancang pengembangan energi ramah lingkungan ini
buat sektor ekonomi wilayah HoB
kedepan yang merupakan bagian
dari strategi pengembangan ekonomi
hijau.
80

groups and also companies for efforts


to reduce carbon emissions through
good forest management such as
sustainable forest management (SFM),
reduced impact logging (RIL), ecosystem restoration and forest conservation.
The incentive and reward model will
only be successful if there is a clear
scheme. The reward scheme should
be drawn up clearly in the form of a
regulation or in the form of an agreement like the one applied in Colombia
to small-scale gold mining activities
that are sustainable. Such sustainable
production allows the gold produced
to fetch a premium price on the
market while the profit is passed on
to producers and the community as
follows:
10% of the profits are paid to certified
miners as a direct economic incentive
for environmental services.
30% of the profits are used to enable
the commercial side of the program to
be maintained.
60% of the profits are reinvested in
the region in the form of development
projects.
d. Environmentally-Friendly Alterna
tive Energy
F
 ossil fuels (BBM) are still the main
source of energy used almost everywhere, including in the HoB. On the
other hand, the HoB has geothermal potential and alternative energy
sources from palm oil, as well as good
hydro-power potential. It is time for
the HoB provincial governments to develop environmentally friendly energy
as part of a green economy development strategy.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

e. Optimalisasi Penerimaan Asli Dae


rah (PAD) Non Kehutanan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada
provinsi-provinsi di kawasan HoB
ditunjang oleh sektor-sektor strategis
pertanian/perkebunan, pertambangan
dan kehutanan. Tumbuhnya sektor
strategis ini akan mempuyai multiflier
effect bagi tumbuhnya sektor Usaha
Kecil dan Menengah (UKM) di bidang
pertanian masyarakat, perdagangan,
jasa dan lain-lain. Dalam rangka meningkatkan kapasitas sektor UKM dan
masyarakat perlu dilakukan pelatihan
melalui pola kemitraan antara sektor
usaha besar yang difasilitasi pemerintah daerah.
f. P
 enguatan Kelembagaan
Pengelolaan hutan sesuai tingkatan
(provinsi, kabupaten/kota dan unit
pengelolaan) sesuai dengan karakteristik lahan, tipe hutan, fungsi
hutan, kondisi daerah aliran sungai,
sosial budaya, ekonomi, kelembagaan masyarakat setempat, termasuk
masyarakat hukum adat dan batas
administrasi pemerintahan dan penegakan hukum. Kementerian Kehutanan dalam RPJMN 2014-2019 telah
menetapkan pembangunan Kesatuan
Pengelolaan Hutan (KPH) baik untuk
hutan produksi (KPHP) maupun untuk
hutan konservasi (KPHK) dan hutan
lindung (KPHL) di wilayah HoB. Lembaga yang merupakan Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) di bawah
kendali pemerintah daerah (Gubernur atau Bupati) ini diharapkan dapat
melaksanaan pengelolaan hutan lebih
baik dan melakukan koodinasi rencana pemanfaatan hutan di tingkat
tapak yang lebih efektif. Oleh karena
itu pengembangan ekonomi hijau berbasis sektor kehutanan dan pemanfaatan lahan hutan perlu dilakukan
intergrasinya dengan pengembangan
kelembagaan KPH ini.

e. Optimizing Provincial Own-Source


Revenues from Non-Forestry Sourc
es
O
 wn-source revenues of the provinces
in the HoB are supported by the strategic sectors of agriculture / plantation, mining and forestry. The growth
of these strategic sectors will have
a multiflier effect for the growth
of small and medium enterprises
(SMEs) in community agriculture,
trade, service sectors and others. In
order to enhance the capacity of SMEs
and communities, it is necessary to
administer training through partnerships between big businesses that are
facilitated by the provincial governments.
f. I nstitutional Strengthening
F
 orest management shall be administered through provincial, district
and or city management units in line
with the characteristics of the land,
including: forest type, forest function,
watershed condition, socio-cultural,
economic, and local community institutional frameworks that take into
account customary (adat) law, communities, government administration
boundaries and law enforcement.
Under the National Medium-Term
Development Plan for the periods
2014-2019 (RPJMN 2014-2019), the
Ministry of Forestry has resolved to
develop Forest Management Units
(FMU) for production forests (KPHP),
conservation forests (KPHK) and
protected forests (KPHL) in the HoB.
Institutions that constitute or serve
as Local Government Units (SKPD)
under the control of sub-national
governments (under the jurisdiction
of a governor or a district chief) are
expected to be able to carry out better
forest management and perform better coordination of forest utilization
plans at the site level. Therefore, it is
necessary to integrate the develop-

81

Strategi Implementasi Pembangunan di Heart


Jantung
of Borneo
Kalimantan
(HoB)
(Heart
Melalui
of Borneo
Pendekatan
/ HoB)
Ekonomi
MelaluiHijau
Pendekatan Ekonomi Hijau

Disamping itu perlu adanya kerja


sama yang sinkron antara instansi
kehutanan di tingkat provinsi, kabupaten/kota dan unit pengelolaan lainnya dalam menentukan karakteristik
lahan, tipe hutan, fungsi hutan dan
kondisi DAS. Dalam hal ini, setiap instansi kehutanan baik antara tingkat
provinsi dengan daerah atau unit pengelolaan lainnya, harus saling berkerja sama dalam manajemen hutan.
Manajemen hutan harus terintegrasi
dan kebijakannya tidak boleh tumpang tindih antara instansi kehutanan
di tingkat provinsi, kabupaten/kota
maupun di unit pengelolaan lainnya.
Praktik ekonomi berkelanjutan yang
menerapkan prinsip perlindungan
terhadap lingkungan secara sadar akan
sulit terlaksana di HoB pada saat ini
tanpa adanya insentif atau reward dan
disinsentif seperti pajak.

ment of the forestry sector-based


green economy into the development
of industries that make use of forest
land by developing an institutional
framework for Forest Management
Units. This needs cooperation by all
forestry government agencies to determine the characteristics of forest
land, forest type, forest functions and
watershed conditions. Each forestry
government agency, irrespective of
whether it is a provincial, district
or city level agency, or some other
management unit, should cooperate
so that forest management policies
will be an integrated whole with no
overlap between different agencies
and other management units.
Sustainable economic practice which
applies the protection to environment
principle consciously will be hard to do
in HoB today without the presence of
incentive or reward and disincentive
like tax.

g. Tata Kelola Pengusahaan Hutan


(izin, pelaksanaan, pengawasan dan
evaluasi) yang Transparan dan Ber
tanggung Jawab
P
 emerintah telah membuat Rencana
Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN)
2011-2030 yang merupakan masterplan bagi pembangunan kehutanan di
masa yang akan datang. Dalam RKTN
ini dimuat informasi mengenai rencana peruntukan hutan bagi pengembangan usaha skala besar, kecil dan
masyarakat, serta konservasi (hutan
lindung, konservasi, cagar alam dan
lain lain). RKTN ini harus menjadi
rujukan bagi semua pihak (pusat dan
daerah) dalam rencana pemanfaatan
kawasan hutan.
Dalam hal pengelolaan hutan saat ini,
perbaikan tata kelola menjadi faktor
penting untuk menjamin kelestarian hutan. Hasil studi UNDP tahun
2011-2012 memperlihatkan bahwa
indeks tata kelola hutan, baik pusat

82

g. Transparent and Responsible Forest


Concessions Governance (licenses,
implementation, monitoring and
evaluation)
T
 he government has adopted the
National Forestry Plan (RKTN) for
the periods 2011-2030. It is a master
plan for the countrys future forestry
development. The Plan contains information on the countrys forest land allocation for the development of largescale, small-scale and community
businesses, and also for conservation (protected forests, conservation
forests, nature reserves, and others).
This National Forestry Plan should be
used as a reference for all stakeholders (at both national and sub-national
levels) dealing with forest land use.
Under the current forest management, improved governance is an
important factor to ensure sustainability. The results of a 2011-2012

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

maupun daerah masih lemah dengan


indeks 2,3-2,5 dari skala 5,0 (Situmorang, et al. 2013). Oleh karena
itu semua pemangku kepentingan
kehutanan sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya (tupoksi) berupaya memperbaiki ini agar prinsip
pengembangan ekonomi hijau dapat diwujudkan. Unsur penting dari
tata kelola ini adalah meningkatkan
sistem pengelolaan yang transparan,
bertanggung jawab dan bertanggung
gugat (transparent, responsible, and
accountable) dalam setiap pengambilan keputusan dan mempedomani
ketentuan yang ada dalam pengelolaan hutan.
Beberapa provinsi di wilayah HoB
seperti Kalbar sudah membentuk
apa yang disebut sebagai Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (PTSP). Inisiatif
seperti ini bisa dioptimalkan untuk
mempercepat implementasi ekonomi
hijau sekaligus pengelolaan yang
lebih terkendali.

UNDP study showed that the index of


forest governance, both at national
and sub-national levels is still weak,
ranging from 2.3 to 2.5 on a scale of
5.0 (Situmorang, et al. 2013).
Therefore, all forestry stakeholders,
in accordance with their respective
main duties and functions, should
strive to address this weakness so
that the development of green economy can be realized. An important
element of forest governance is continuous improvement of the current
forest management system to make
it more transparent, responsible, and
accountable in each decision-making
process and in serving as guidelines
for the implementation of the existing
provisions on forest management.
Some provinces in the HoB, such as
West Kalimantan, have already established that an Integrated One-Stop
Services Center. An initiative like this
can be optimized to accelerate the implementation of green economy and
more controllable management.

83

Susiana /Photovoices Intl-WWF/HoB

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

84

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

IV.
IMPLEMENTASI
SEKTORAL
EKONOMI HIJAU
DI HEART OF
BORNEO
Sector-based
implementation of
Green Economy in the
Heart of Borneo

85

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

4.1 
Sektor Hasil Hutan Kayu
Timber Forest Product Sector

alah satu sektor unggulan di wilayah


HoB adalah sektor kehutanan dengan produk hasil hutan kayu. Hasil hutan
kayu jika dimanfaatkan secara konvensional tentu akan menjadi bumerang
bagi wilayah HoB karena akan menimbulkan bahaya deforestasi dan hilangnya
kehati. Oleh karenanya hasil hutan kayu
harus dimanfaatkan secara optimal dan
berkelanjutan. Saat ini terdapat sejumlah Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Hasil
Kayu Hutan Alam (IUPHHK HA) dan
Hutan Tanaman (IUPHHK HT) dan Hutan
Rakyat di wilayah HoB sebagaimana
Tabel 8. Selain tiga jenis izin pemanfaatan hutan produksi tersebut, ada pula
izin yang diberikan kepada masyarakat
dalam bentuk Hutan Kemasyarakatan
(HKm), dan izin usaha HHBK.

ne of the prominent sectors in the


HoB is the forestry sector with its
timber forest products. Timber forest
products if utilized conventionally would
certainly backfire for the HoB because
their conventional utilization would lead
to deforestation and loss of biodiversity. Therefore, timber forest products
should be utilized optimally and sustainably. Currently there are a number
of Commercial Timber Forest Product
Utilization Permits for Natural Forests (IUPHHK HA), for Planted Forests
(IUPHHK HT) and Peoples Forests in the
HoB as presented in Table 8. In addition
to the three types of production forest
utilization permits, there are also the
permits that are granted to communities
in the form of Community Forest (HKM)
and Commercial Non-Timber Forest
Product Utilization Permits.

Tabel 8: Jumlah Unit dan Luas IUPHHK Hutan Alam dan IUPHHK Hutan Tanaman dan Hutan Tanaman
Rakyat (HTR) di Masing-masing Provinsi di Wilayah HoB
Table 8: Number of Units and Size of IUPHHK Hutan Alam (Commercial Timber Forest Product Utilization Permit
from Natural Forests) and IUPHHK Hutan Tanaman (Commercial Timber Forest Product Utilization Permit from
Planted Forests) and Peoples Planted Forests (HTR) in Each Province in the HoB
Provinsi /
Province

IUPHHK Hutan Alam

IUPHHK Hutan Tanaman

Hutan Tanaman Rakyat /


Peoples Planted Forest

Unit

Luas / Size (ha)

Unit

Luas / Size (ha)

Unit

Luas / Size (ha)

Kalimantan
Barat / West
Kalimantan

24

1.157.655

51

2.639.657

14.080

Kalimantan
Tengah / Central
Kalimantan

59

4.028.716

24

687.585

Kalimantan
Timur / East
Kalimantan

81

5.294.615

53

2.041.095

86.450

161

10.480.986

128

5.368.337

100.530

Jumlah /Total

Sumber: Statistik Kehutanan Indonesia 2012 (Kementerian Kehutanan, 2013) / Source: Indonesia Forestry Statistics 2012 (Ministry of Forestry, 2013)

86

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Selain sektor hulu usaha kehutanan


dalam bentuk IUPHHK HA dan HT, di
ketiga provinsi wilayah HoB tersebut
terdapat sejumlah industri pengolahan kayu dan industri bubur kayu dan
kertas. Industri pengolahan kayu primer
berupa kayu lapis, penggergajian dan
kayu olahan (moulding) umumnya
menggunakan bahan baku dari hutan
alam yang ada di kawasan HoB. Sementara industri bubur kayu dan kertas
(pulp and paper) menggunakan bahan
baku dari hutan tanaman. Inilah bidang
usaha sektor kehutanan yang menjadi
penggerak ekonomi hijau
Di bidang usaha hulu kehutanan dalam
bentuk IUPHHK HA saat ini mengalami
berbagai pemasalahan. Sistem dan
regulasi pemanfaatan hutan yang
dikeluarkan pusat harus diakui belum
dapat menjamin keberlanjutan usaha.
Hal ini terlihat dari semakin menurunnya kinerja unit manajemen IUPHHK HA
yang terlihat dari menurunnya jumlah
produksi kayu, menurunnya produktivitas dan semakin banyaknya unit
manjemen yang tidak aktif berproduksi
di lapangan. Selain itu semakin bertambahnya luas kawasan hutan yang tergradasi dan tidak dapat dikelola sebagai
unit usaha yang berkelanjutan. Hal ini
menunjukkan bahwa sistem pengelolaan hutan alam produksi perlu diperbaiki dalam rangka menunjang kegiatan
ekonomi hijau dari sektor hulu kehutanan. Oleh karena itu dalam rangka
membangun ekonomi hijau dari sektor
hulu ini diperlukan kebijakan yang dapat
mendorong perbaikan sistem pengelolaan hutan produksi. Perbaikan dalam
sistem pemanenan dengan menerapkan
sistem pemanenan berdampak rendah
karbon (reduced impact logging with low
carbon emission/RIL-C) dan peningkatan
efisiensi pemanenan kayu akan dapat
akan mendorong tercapainya pengelolaan hutan lestari produktif dan efisien.
Sementara itu di sektor hulu hutan tanaman dalam bentuk IUPHHK HT, pengem-

IIn addition to playing host to upstream


forestry businesses operating with commercial timber forest product utilization
permits for natural forests (IUPHHK HA)
and for planted forests (HT), the three
Indonesian provinces in the HoB are also
home to a number of wood/ timber processing industries and pulp and paper
industries. Primary wood processing industries, which produce plywood, sawn
timber and other processed wood (such
as molding and wood shaped for decorative and architectural features) generally use raw materials from natural
forests in the HoB, while the pulp and
paper industries get their supply of raw
materials from planted forests. These
are the forestry sector businesses that
drive the green economy.
Upstream forestry businesses with
commercial timber forest product
utilization permits for natural forests
(IUPHHK-HA) are currently beset with
many problems. The forest utilization
systems and regulations issued by the
national government are not yet able to
guarantee the sustainability of business.
This is evident from the decline in the
performance of the management units
for IUPHHK HA as seen from a decrease
in timber production, declining productivity and the increasing number of
management units that are not active.
In addition, the size of degraded forest
areas that cannot be managed as sustainable business units are increasing.
This suggests that the natural production forest management systems need
to be improved in order to support green
economic activities of the upstream
forestry sector. Therefore, in order to
build green economy from the upstream
forestry sector, it is necessary to have
policies that can promote improvements in production forest management
systems.
Improvements in harvesting through
implementing a low carbon impact

87

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

bangan konsep ekonomi hijau harus


dimulai dari proses pemberian izin.
Kawasan hutan yang dicadangkan untuk
pembangunan hutan tanaman harus
hutan yang tergradasi dan tidak boleh
mengkonversi hutan alam yang masih
baik. Jika dalam kawasan izin masih
terdapat hutan yang masih baik maka
harus dikeluarkan dalam rencana penanaman dan dimasukkan dalam bagian
hutan High Conservation Value Forest
(HCVF). Dalam operasional pembangunan hutan tanamannya harus menerapkan teknologi yang ramah lingkungan
seperti penyiapan lahan tanpa bakar,
penggunaaan bibit berkualitas dan sistem pengolahan tanah dan pemupukan
yang rendah emisi.
Di sektor industri pengolahan kayu
pengembangan konsep ekonomi hijau
diarahkan pada dua aspek yaitu pada
upaya penggunaan energi yang rendah
emisi dan peningkatan efisiensi pengunaan kayu. Saat ini hampir semua
industri pengolahan kayu masih menggunakan energi yang bersumber dari
bahan bakar fossil seperti BBM atau
pembangkit tenaga listrik dari batubara.
Hal ini dikarenakan ketersediaan energi
di dalam negeri sebagian besar dari dua
sumber tersebut di atas. Jika dalam
konsep pengembangan energi kedepan
di wilayah HoB dapat memanfaatkan
dari hydro power, atau energi alternatif
dari kelapa sawit maka industri perkayuan seharusnya memanfaatkan energi
yang terakhir ini.
Dalam hal efisiensi pemanfaatan bahan
baku, kebanyakan industri pengolahan
kayu di wilayah HoB masih menggunakan kayu dari hutan alam (meranti, kapur dan keruing) yang mempunyai nilai
komparatif tinggi tetapi menghasilkan
produk yang bukan bernilai tinggi (high
end) seperti kayu lapis, kayu gergajian
dan moulding, dimana oleh negara-negara pesaing Indonesia seperti Tiongkok, Malaysia dan Vietnam diproduksi
dari bahan baku hutan tanaman.

88

harvesting system (reduced impact logging with low carbon emission / RIL-C)
and increasing the efficiency of timber
harvesting may lead to the achievement
of productive and efficient sustainable
forest management. The development
of planted forests should be implemented through environmentally friendly
technologies such as preparing the
land without burning, the use of quality
seeds, low-emission soil management
and fertilizing systems.
Meanwhile, the concept of green economy within upstream businesses operating on the basis of commercial timber
forest product utilization permits for
planted forests (IUPHHK-HT) should
start with the licensing process. Forest
areas reserved for the development of
planted forests must be degraded forest areas, while the conversion of still
good natural forests into planted forests
should be prohibited. If a natural forest that is still good is found within the
licensed forest area, the natural forest
must be exempted from the planting
plan and incorporated into High Conservation Value Forests (HCVF).
In the wood processing industry sector,
the .green economy concept is directed
at two aspects, namely, the use of lowemission energy sources and increasing
the efficiency of timber use. Currently,
almost all wood processing industry
companies in Indonesia are still using
energy that is derived from fossil fuels
or from electricity generated from coal.
If the concept of future energy development in the HoB can take advantage of
hydropower or alternative energy from
palm oil, the timber industry, too, should
take advantage of such energy sources.
For efficient utilization of raw materials,
most wood processing industry companies in the HoB are still using timber
from natural forests (such as meranti
(Shorea sp.), kayu kapur (Dryobalanops
aromatica) and keruing (Dipterocarpus

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Di bidang industri bubur kayu dan kertas, pengembangan ekonomi hijau diarahkan pada upaya penggunaan energi
yang rendah emisi, efisiensi penggunaan
energi dan bahan baku serta penanganan limbah yang mengalir ke sungaisungai besar di wilayah HoB.
Dalam usaha untuk menunjukkan bahwa
suatu unit usaha kehutanan memanfaatkan hutan secara lestari maka sejak tahun 1999 telah dibuat suatu kriteria dan
indikator yang dikeluarkan oleh International Timber Trade Organization (ITTO)
yang kemudian diadopsi oleh Lembaga
Ekolabel Indonesia (LEI). Lembaga ini
telah ditetapkan dalam keputusan Dewan Standarisasi Nasional DSN 99-1988
Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan
Produksi Lestari (PHPL). Pemerintah
telah mewajibkan semua unit pemegang
izin IUPHHK HA dan HT untuk memperoleh sertifikat PHPL dalam menjalankan
usahanya. Dalam rangka mempercepat
dan mendorong pemegang izin memperoleh sertifikat ini pemerintah telah
memberikan berbagai insentif diantaranya memudahan administrasi perizinan dalam proses bisnis pemanfaatan
kayu. Namun demikian sampai saat ini
baru sekitar 50% dari pemegang izin
IUPHHK memperoleh sertifikat PHPL.
Selain sertifikasi pengelolaan hutan lestari yang wajib, sebagian IUPHHK juga
memperoleh sertifikasi sukarela seperti
Forest Stewardship Council (FSC) dan
Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) yang
berorientasi pasar dimana kebanyakan
konsumen di luar negeri menginginkan
standar sertifikasi yang sudah lebih dulu
populer dan diterima pasar.
Disamping itu, perkembangan terkini
terkait dengan penangangan legalitas
produk kayu pemerintah mengeluarkan
Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)
yang diterapkan kepada hutan, industri
perkayuan dan unit-unit pendukungnya
seperti penyedia bahan baku dan jaringan pemasaran produk. Sistem ini dapat

sp.), which, despite their comparatively


high value, are used for products that
are not of high value (high end) such
as plywood, sawn timber and molding.
Meanwhile, competitor countries such
as China, Malaysia and Vietnam get their
supply of raw materials from planted
forests to create such products.
In the pulp and paper industry, the
green economy is geared to the use
of low-emission energy sources, efficiency in the use of energy and raw
materials as well as the handling of the
industrys waste water that flows into
the major rivers in the HoB. In efforts
to demonstrate that a forestry business
unit utilizes forests sustainably, the
International Timber Trade Organization
(ITTO) in 1999 issued a set of criteria and
indicators which the Indonesian Ecolabelling Institute (LEI) has adopted.
This institute was established on the
decision of the National Standardization
Council (DSN 99-1988) on the Sustainable Forest Management Certification
System. The government requires all
units holding IUPHHK-HA and HT to
obtain Sustainable Production Forest Management certificates in doing
their business. In order to accelerate
and encourage licensees to obtain this
certificate, the government has provided various incentives, which include
facilitating administrative licensing for
businesses that process and utilize timber. However, until now, only about 50%
of those holding IUPHHK permits have
obtained Sustainable Production Forest Management certificates. In addition
to being required to have sustainable
forest management certification, which
is mandatory, some IUPHHK permit
holders have also obtained voluntary,
market-oriented certification from the
Forest Stewardship Council (FSC) and
the Indonesian Ecolabelling Institute
(LEI) because many overseas consumers tend to opt for certification standards that are already known and wellaccepted with the market.

89

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

WWF-Canon / Simon Rawless

dijadikan pendorong bagi penerapan


prinsip-prisip produksi yang ramah
lingkungan, sekaligus juga menjadi pintu
masuk dalam menerapkan ekonomi
hijau di sektor kehutanan. SVLK akan
memicu setiap pelaku ekonomi untuk
bertanggung jawab terhadap produk
yang dihasilkan dengan tidak merusak
lingkungan.
Berikut ini disampaikan bagaimana implementasi ekonomi hijau dalam usaha
sektor hasil hutan kayu dari berbagai
pihak yang berkepentingan:
1. Peran Pengusaha
Melaksanakan kegiatan pemanfaatan
hutan yang berlandaskan prinsip kelestarian dan optimalisasi hasil serta
mengikuti aturan yang telah ditetapkan
dalam peraturan perundang-undangkan
di bidang kehutanan (PHPL), di antaranya adalah:
Menerapkan teknik-teknik pemanenan hutan ramah lingkungan
dan rendah emisi (RIL-C).

90

In addition, in response to the recent


developments related to the handling of
the legality of wood/ timber products,
the government has issued the Timber
Legality Verification System (SVLK) that
is applicable to the timber industry and
its supporting units, such as raw material providers and networks for marketing
products. This system can be used as an
impetus for the application of the principles of environmentally friendly production, as well as serving as an entry point
for implementing green economy in the
forestry sector. The TLVS will trigger
each economic actor to be responsible
for products that are produced without
harming the environment.
The following is a description of the
roles of different interested parties in
how green economy in timber forest
production businesses shall be implemented:

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

M
 elakukan penanaman kembali atau
penanaman pengayaan pada area
yang rusak akibat pemananen (enrichment planting).
Melaksanakan sistem pengelolaan
hutan bersertifikasi baik yang wajib
yaitu PHPL atau SVLK atau yang sukareka sesuai keinginan pasar seperti
FSC, PEFC, LEI.
Melaksanakan pembinaan sosial
khususnya bagi masyarakat sekitar
hutan.
Melaksanakan pengamanan hutan
dari kegiatan perambahan, pemanfaatan lahan hutan tanpa izin dan
pembalakan liar.
Menyusun dan melaksanakan kegiatan pemantauan lingkungan sebagaimana dokumen AMDAL.
2. Peran Pemerintah Kabupaten
Di dalam peraturan perundangan
(Undang-Undang Nomor 41 tahun
1999; PP No 6 tahun 2006 jo PP No
3 tahun 2007) diatur bahwa peran
pemerintah daerah kabupaten/kota
melalui Dinas Kehutanan atau yang
mengurusi kehutanan sangat penting
dalam fungsinya untuk melakukan
pembinaan, pengawasan dan monitoring kegiatan pengelolaan hutan di
lapangan dan memberikan rekomendasi untuk dapat melakukan kegiatan.
Bentuk pembinaan, pengawasan dan
monitoring yang dilakukan dapat
dilakukan dalam bentuk:
a. Mengoptimalkan fungsi pengawasan oleh Dinas Kehutanan dan
memastikan sistem pengawasan
dilakukan secara transparan, bertanggung jawab dan sederhana.
b. Memastikan rencana tata ruang
dan wilayah (RTRW) kabupaten
secara konsisten dipedomani
dalam setiap rencana pemanfaatan
ruang untuk berbagai kepentingan
pembangunan.
K
 epastian Kawasan dan Pemanfaatan
Ruang: Kepastian kawasan dan pemanfaatan ruang sangat tergantung

1. Role of Mining Companies and


Operators
Conducting forest utilization [exploitation] activities based on the principle of
sustainability and optimization of yields
and following the applicable forestry
laws and regulations on sustainable
production forest management (PHPL),
that includes:
Applying environmentally-friendly and
low-emission forest harvesting techniques (reduced impact logging with
low carbon emissions/RIL-C).
Conducting replanting or enrichment
planting in areas damaged by harvesting.
Implementing a forest management
system that is either mandatorily certified (under sustanaible production
forest management/PHPL or timber
legality verification system/TLVS certification scheme) or voluntarily certified as demanded by the market such
as certification by the Forest Stewardship Council (FSC), Programme for
Endorsement of Forest Certification
(PEFC), and the Indonesian Ecolabelling Institute (LEI).
Engaging in social development for
the benefit of forest communities who
live close to forest areas.
Protecting forests from encroachment and the use of forest land without permission or illegal logging.
Developing and implementing environmental monitoring activities as
required by the Environmental Impact
Analysis (AMDAL) document.
2. Role of the District Government
L aw No. 41 of 1999 and Government
Regulation No. 6 of 2006 in conjunction with Government Regulation
No. 3 of 2007 stipulates that district
and city governments, through their
forestry service departments, play a
very important role to provide guidance, supervision and monitoring of
forest management activities and
provide recommendations before such
activities can be carried out. Guid-

91

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

kepada ketersediaan rencana tata


ruang provinsi atau kabupaten/kota
yang sudah disahkan oleh pemerintah. Bagi provinsi atau kabupaten
yang telah ditetapkan pembentukan
KPHP/KPHL-nya dapat memanfaatkannya untuk kepentingan pemanfaatan ruang di wilayah admistratifnya. Sebagaimana yang diamanahkan
dalam Undang-Undang Kehutanan No
41 tahun 1999 bahwa dalam rangka
pengelolaan hutan di tingkat tapak
perlu dibentuk KPHP dan KPHL, dan
untuk itu telah terbit Permendagri
No 61 tahun 2010 tentang Pedoman
Organisasi dan Tata Kerja Kesatuan
Pengelolaan Hutan Lindung dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Di
Daerah. Sesuai Permendagri tersebut maka KPHP adalah SKPD yang
bertanggung jawab langsung kepada
Gubernur atau Bupati/Walikota. Pengelolaan hutan berbasis KPHP dan
KPHL ini sebagaimana maksud pembentukannya, diyakini dapat memperbaiki sistem pengelololaan hutan
yang ada dan merupakan bentuk
desentralisasi pengurusan hutan yang
lebih baik. Di ketiga provinsi wilayah
HoB telah terbentuk sejumlah KPHP
dan KPHL (Tabel 9) dan perlu dimaksimalkan fungsinya oleh pemerintah
daerah. KPHP dan KPHL di dalam
rencana pengelolaannya memuat
informasi yang lengkap tentang informasi potensi pemanfaatan kawasan
hutan yang ada di dalam wilayah
KPHP/KPHL. Oleh karena itu pemerintah daerah dapat menggunakan data
dan informasi ini sebagai bagian dari
sistem perencanaan pembangunan
WWF-Indonesia /

92

ance, supervision and monitoring are


performed by:
a. Optimizing the oversight functions
of district and city forestry service
departments and ensuring that
oversight is carried out in a transparent, accountable and uncomplicated manner.
b. Ensuring that district spatial and
regional layout plans are consistently followed in every spatial
utilization plan for development
purposes.
Certainty in Area and Spatial Utilization: This is dependent on the availability of provincial or district / city
spatial plans that have been officially
approved by the central and or national government. Provinces or districts
whose formation of Production Forest
Management Units (KPHP) / Protected
Forest Management Units (KPHL) that
have been officiated may use them for
the benefit of spatial utilization in their
respective admistrations.
As mandated under Forestry Law No.
41 of 1999, which stipulates that in the
framework of forest management at
the site level, it is necessary to establish Protected Forest Forest Management Units (KPHL) and Production
Forest Management Units (KPHP),
the Regulation of Minister of Home
Affairs No. 61 of 2010 on Organiza-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

ekonomi di kawasan hutan yang ada


wilayah administrasinya.

tional Guidelines and Procedures for


Protected Forest Forest Management
Units and Production Forest Management Units in the provinces.

Tabel 9: Perkembangan Pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan (Unit dan Luas)) di Provinsi
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur sampai dengan Tahun 2012.
Table 9: Development of Forest Management Unit and Area Formation in West Kalimantan, Central Kalimantan
and East Kalimantan Provinces until 2012.
Provinsi / Province

KPH LINDUNG /
Protection FMU

KPH PRODUKSI /
Production FMU

JUMLAH / Total

Unit

Luas / Size
(ha)

Unit

Luas / Size (ha)

Unit

Luas / Size (ha)

Kalimantan Barat /
West Kalimantan

1.372.343

29

5.601.268

34

6.973.613

Kalimantan Tengah /
Central Kalimantan

454.443

29

8.056.081

33

8.510.524

Kalimantan Timur /
East Kalimantan

734.685

30

11.832.454

34

12.567.139

Sumber: Statistik Kehutanan Indonesia 2012 / Source: Indonesia Forestry Statistics 2012

Dalam rangka memaksimalkan


pemanfaatan sumber daya hutan dan
pemerataan maka pemerintah daerah
kabupaten/kota dapat memfasilitasi
keinginan warga untuk membangun
hutan desa dan hutan tanaman rakyat
(HTR) dalam usaha untuk membuka
lapangan kerja dan meningkatkan
kegiatan ekonomi desa. Disamping itu
juga dapat memaksimalkan peluangpeluang masyarakat dalam memperoleh Hutan Kemasyarakatan (HKm)
dan melegalisasi keberadaan Hutan
Adat melalui Peraturan Daerah.

As defined under the Minister of


Home Affairs Regulation, a Production Forest Management Unit (KPHP)
is a Local Government Unit directly
responsible to the Governor or District Chief / Mayor. It is believed that
KPHP and KPHL-based forest management, as reflected in the intent of
its formation, is able to improve the
existing forest management system
and is a form of decentralization for
better forest management. In the
three Indonesian provinces in the
HoB, a number of KPHPs and KPHLs
(see Table 9) have been established
and the respective local governments
need to maximize their functions.

93

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

3. Pemerintah Provinsi
Kawasan hutan di wilayah HoB berada
pada lintas batas wilayah administrasi
pemerintah kabupaten/kota sehingga
peran dan fungsi pemerintah provinsi
menjadi penting. Oleh karena itu pemerintah provinsi harus mampu mengkoordinasikan singkronisasi kebijakan
pemanfaatan kawasan hutan lintas
kabupaten di kawasan HoB. Mengingat
HoB adalah komitmen antar tiga negara
maka peran pemerintah provinsi sebagai representasi daerah untuk mengkoordinasikan dengan pusat sangat
penting agar kebijakan tingkat pusat
dalam pembahasan tingkat negara
dapat sejalan dengan keinginan daerah
(provinsi dan kabupaten/kota).
4. Pemerintah Pusat
Keberhasilan pengembangan penerapan
konsep ekonomi hijau di suatu daerah
sangat tergantung kepada kebijakan
pemerintah pusat, mengingat banyak
kondisi pemungkin yang harus diciptakan berada pada kewenangan pusat.
Oleh karena itu tanpa pemahaman yang
sama dan koordinasi antara pusat dan
daerah maka akan sulit diwujudkan.
Oleh karena itu beberapa kebijakan yang
dapat dilakukan dan berada di bawah
kewenangan pemerintah pusat di antaranya adalah:
a. Menyelesaikan tata ruang wilayah
provinsi untuk menjamin kepastian kawasan untuk pembangunan
di daerah dan proses perubahan
fungsi tata ruang di tingkat daerah
dapat dilaksanakan secara baik.
b. Membuat kriteria dan indikator
yang jelas dalam mengatur adanya
pemanfaatan sumber daya hutan
yang lestari (mulai dari penerbitan
izin sampai kepada pelaksanaan
kegiatan). Kementerian Kehutanan
telah menyusun pedoman pengelolaan hutan lestari (PHPL dan SVLK)
dan sejumlah peraturan menteri
sebagai pedoman pelaksanannya.
c. Terkait dengan beberapa pembata-

94

Each KPHP and KPHL has a management plan that contains complete information about the potential utilization of forest areas. Therefore, local
governments may use the information
and the data associated with it as part
of the economic development planning systems in forest areas that belong to their respective jurisdictions.
I n order to maximize the utilization of
forest resources and equitable distribution, district / city governments
may facilitate the formation of village
forests and peoples planted forests
(HTR), in an effort to create jobs and
promote rural economic activities. In
addition, efforts can also be made to
maximize peoples opportunities to
obtain Community Forests (HKM) and
legalize the existence of Indigenous
Forests through local legislation.
3. Provincial Government
The forest areas in the HoB are situated
where the administrative boundaries of
districts / cities cross. Hence, the roles
and functions of the provincial government are needed to coordinate and synchronize cross-district forest utilization
policies in the HoB. Given that the region
(HoB) is under the commitment of three
countries, the provincial government
plays a very important role in coordinating with the national government to
ensure that any national-level policies
adopted by the national government as
a result of its discussions with other
HoB countries, remains in line with the
wishes of the province and districts.

... terjadi penyimpanganpenyimpangan karena adanya


motif mencari keuntungan
yang berlebihan.
... deviations have occurred
to maximize profits due to the
lack of supervision from the
government

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

lan pasal-pasal di Undang Undang


Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang menyangkut penetapan kawasan hutan dan pengakuan
atas status kawasan hutan adat,
maka pemerintah pusat harus
segera menyelesaikan dampak perubahan aturan pelaksanaan agar
tidak terjadi interprestasi berbagai
pihak yang berkepentingan di tingkat lapangan.
d. Dukungan bantuan dana khusus
dari pusat untuk pengembangan
ekonomi hijau di daerah.

4. Central / National Government


The successful development of of green
economy in a given area is highly dependent on national government policies, given that many enabling conditions that must be created, rest with the
national authority. Therefore, without a
common understanding and coordination between the national government
and the sub-national governments, it
will be difficult to realize green economy. Some of the applicable policies
under the authority of the national government include:
a. Completing the provincial spatial
layout plan to ensure certainty
concerning which forest areas are
allowed for development and also
to ensure that processes associated
with changes in spatial functions at
the district/ city level can be carried
out and completed as they should.
b. Setting clear criteria and indicators
to regulate sustainable utilization of
forest resources (ranging from issuing a permit to the implementation of
activities). The Ministry of Forestry
has developed guidelines for sustainable forest management (SFM
and TLVS) and a number of ministerial regulations as guidelines for its
implementation
c. In relation to the cancellation of
some provisions of Law No. 41 of
1999 on Forestry, which involves
defining forest areas and recognizing
the status of indigenous peoples forest areas, the national government
should immediately resolve the impacts of changes in its implementing
regulation to prevent any interpretation by various stakeholders/ interest
groups on the ground.
d. Financial support in the form of
a special grant from the national
government for the development
of green economy in the provinces,
districts/ cities.

WWF-Indonesia / Sukri

95

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

4.2 
Sektor Pertambangan
Mining sector

alam rangka mewujudkan


masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur pada tahun
2025, pemerintah telah menyusun
Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
2011-2015 yang biasa disingkat dengan
MP3EI. Dalam MP3EI seluruh wilayah
Indonesia dibagi menjadi 6 koridor
ekonomi yang tema pembangunannya
dirumuskan berdasarkan keunggulan
wilayah masing-masing. Tema pembangunan di Koridor Ekonomi Kalimantan
adalah sebagai pusat produksi dan
pengolahan hasil tambang dan lumbung
energi nasional. Salah satu sektor yang
diprioritaskan untuk terus dipacu pertumbuhannya di pulau ini adalah sektor
pertambangan yang meliputi minyak
dan gas bumi, batubara, besi dan baja
serta bauksit.
Harus diakui bahwa sektor pertambangan merupakan sektor strategis
dan memberikan kontribusi pendapatan
yang besar bagi keuangan pemerintah
pusat dan daerah. Sektor pertambangan
yang ada di wilayah HoB adalah sektor
pertambangan yang mempunyai dampak
lingkungan yang besar seperti batubara
dan bauksit, dimana ekploitasinya secara terbuka (open pit mining). Dampak
lingkungan ini apabila tidak dapat ditekan maka sektor ini tidak dapat dikatakan sebagai penggerak ekonomi hijau
karena prinsip low emission sebagai
bagian kriteria ekonomi hijau tidak dapat
dipenuhi. Oleh karena itu pencegahan
dan penanganan masalah kerusakan
lingkungan dalam sekor pertambangan
menjadi kriteria penting untuk menilai

96

n order to achieve an Indonesian


society that is independent, progressive, just and prosperous in 2025, the
government has prepared a Master
Plan for the Acceleration and Expansion of Indonesian Economic Development 2011-2015, which is commonly
abbreviated to MP3EI. Under this master
plan, the entire territory of Indonesia
is divided into six economic corridors
whose development themes are based
on the corridors respective advantages.
For Kalimantan, the development theme
of the economic corridor is for the island
to serve as a center of production and
processing of minerals and a national
energy granary. One priority sector on
the island is mining and includes oil and
gas, coal, iron, steel and bauxite.
Mining is a strategic sector that contributes large revenues to the finances of
both the national and sub-national governments. In the HoB, mining has a huge
impact on the environment as can be
seen in the open pit mining of coal and
bauxite. If such environmental impacts
cannot be mitigated, this sector cannot
be a driver of green economy as it does
not meet the principles of low emissions that are part of green economy
requirements. Therefore, prevention and
mitigation of environmental degradation
in mining is an important measure for
assessing the sectors performance in
implementing green economy.
Given that mining in Kalimantan is a
priority sector under the MP3EI, the
implementation of green economy in the
Kalimantan corridor can only be realized

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

implementasi ekonomi hijau sektor ini.


Mengingat diprioritaskannya sektor
pertambangan dalam MP3EI di Pulau
Kalimantan, maka pengimplementasian
ekonomi hijau di koridor Kalimantan
hanya akan dapat terwujud dengan
adanya sinergisitas antara para pengusaha sebagai pelaku bisnis pertambangan dan pemerintah sebagai regulator kegiatan investasi di daerah ini.
Berikut adalah usulan peran masingmasing stakeholders dalam pengimplementasian ekonomi hijau sektor pertambangan:
1. Peran Pengusaha
Melakukan pertambangan sesuai
zonasi kawasan HoB dan melakukan
pertambangan yang ramah lingkungan.
Melaksanakan Praktik Terbaik (best
practice) kegiatan pertambangan dan
melaksanakan kewajiban yang melekat pada pemberian izin yang harus
dilaksanakan sesuai ketentuan.
Menggunakan energi yang rendah
emisi (non fossil fuel) yang efisien
dalam kegiatan pertambangan.
Menyusun Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL) dan melaksanakan rekomendasinya secara konsekuen selama kegiatan pertambangan.
Mencegah dampak lingkungan kegiatan pengangkutan hasil tambang.
Melaksanakan Sustainable CSR
(misalnya mengolah dan mempromosikan satu produk unggulan HoB)
dan membangun ketahanan ekonomi
masyarakat.
Berkomitmen untuk mematuhi kewajiban dana kerja lingkungan dan
restribusi pengguna.
2. Peran Pemerintah Kabupaten
Menyusun Perda yang mengatur
zonasi kegiatan pertambangan dan
melarang kegiatan pertambangan di
wilayah perkotaan dan pemukiman.

by synergy between mining operators


and the government acting as a regulator of investment activities. The following is the proposed role for each stakeholder in implementing green economy
in the mining sector:
1. The Role of Mining Companies/
Operators
Perform mining activities according to the HoBs zonation and engage
in environmentally friendly mining
activities.
Implement mining activity best practices and fulfill obligations attached to
the granting of licenses that must be
carried out as required in the provisions.
Use low-emission efficient energy
sources (non-fossil fuel) in mining
activitiues.
Prepare an Environmental Impact Assessment (AMDAL) and consequently
implement its recommendations in all
mining activities.
P
 revent activities associated with the
transportation of mining products
from adversely impacting the environment.
I mplement Sustainable Corporate
Social Responsibility (CSR) programs
(for instance, by manufacturing and
promoting one featured HoB product)
and building local peoples economic
resilience.
C
 omply with the obligation to pay
environmental funds [or dana kerja
lingkungan - part of the profits set
aside for local community empowerment programs] and users fee or
retribusi pengguna payment for the
use of governments infrastructure/
facilities/ services such as roads.
2. Role of the District Government
D
 evelop a district regulation governing zonation for mining activities that
prohibits mining activities in urban
areas and settlements.
D
 evelop a best practice regulation for
mining activities and set a criterion

97

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Menyusun Perda best practice kegiatan


pertambangan dan mengharuskan pemulihan dampak lingkungan sebagai
kriteria pentingnya.
Mengelola DBH sektor pertambangan
dan dana CSR untuk pembangunan
berkelanjutan secara transparan dan
akuntabel. Selain DBH untuk pembangunan secara umum, sebaiknya ada
yang dialokasikan khusus untuk membangun infrastruktur ekonomi hijau
(misalkan pembangunan sumber energi hidro power atau energi alternatif,
dan dana CSR buat pengembangan
ekonomi pertanian masyarakat ramah
lingkungan).
Melakukan pembinaan, pengawasan
dan penindakan terhadap pelanggaran
Perda best practice pertambangan.
3. Peran Pemerintah Provinsi
Pemberian sertifikat (penilaian kelayakan dengan standar yang lebih
tinggi) kepada perusahaan pertambangan yang telah melaksanakan best
practice.
Pemberian insentif dan kemudahan
investasi di sektor pertambangan
yang melaksanakan pertambangan
bertanggung jawab dan ramah lingkungan berdasarkan penilaian kepada
bentuk investasi dan teknologi yang
digunakan.
Mengatur penggunaan infrastruktur
untuk pengangkutan hasil tambang
agar tidak merugikan masyarakat
umum.
Menyelenggarakan pertemuan tahunan forum tahunan ekonomi hijau
pertambangan HoB untuk mendorong
lebih banyak sektor terlibat dan mensosialisasikan konsep ekonomi hijau.

98

that requires the addressing of negative environmental impacts and the


taking of measures to rehabilitate the
environment.
Manage the mining sectors Revenue
Sharing Funds (DBH) and CSR funds
for sustainable development in a
transparent and accountable manner. In addition to the DBH for general
development, it is advisable that there
is a fund specifically allocated for
building green economy infrastructure (such as the construction of a
hydro-power plant as an alternative
energy source and a CSR fund specifically allocated for the development
of a community agricultural economy
that is environmentally friendly).
Direct and supervise the implementation of district regulations on mining
best practices and take action against
violations.
3. Role of the Provincial Government
Award a certificate (after acceptable
feasibility assessment against higher
criteria/ standards) to mining companies that have implemented mining
best practices.
Provide incentives and ease of investment to mining companies that implement responsible and environmental
friendly mining based on the assessment of the form of investment and
the technology being used.
Regulate the use of infrastructure for
the transport of mining products so
as not to disadvantage the general
public.
Organize annual meetings on green
economy mining in the HoB to encourage more sectors to get involved
and to promote the concept of green
economy.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia /

4. Peran Pemerintah Pusat


Menyusun protokol nasional ekonomi
hijau sektor pertambangan. Sudah
saatnya pemerintah mempersiapkan
ketentuan yang mengharuskan kegiatan pertambangan bawah tanah (close
pit mining) pada kawasan penting
bernilai konservasi strategis.
Melaksanakan evaluasi nasional
ekonomi hijau HoB dan melakukan
pemeringkatan (ranking) dan diikuti
dengan pemberian insentif.
Sinkronisasi Peraturan Pemerintah
(PP) tentang instrumen ekonomi untuk
lingkungan hidup yang di dalamnya
memuat aturan terkait dengan pembayaran jasa atau kompensasi lingkungan melalui mekanisme penandaan (earmarking) yang tepat
.

4. Role of the Central / National


Government
Develop a national green economy
protocol for the mining sector. It is
time for the government to prepare
regulations for underground mining
activities (close-pit mining) in environmentally significant areas of strategic
conservation value.
Carry out national evaluation of the
implementation of HoB green economy principles and use the evaluation
results to rank and rate the performance, followed by the administratering of incentives
Synchronize the existing Government
Regulations on economic instruments
for the environment which stipulate
rules related to the payment or compensation for environmental services
using the right mechanism (of earmarking).

99

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

4.3 
Sektor Kelapa Sawit
Palm Oil Sector

erkebunan sawit telah mengubah


wajah banyak wilayah di Indonesia
dengan berbagai konsekuensinya. Di
satu sisi, wilayah hutan yang dikonversi
menjadi perkebunan sawit menjadi lebih
produktif, meningkatnya penyerapan
tenaga kerja serta kontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut menjadi indikator penting. Namun
di sisi lain, degradasi kualitas lingkungan yang terjadi juga tak terbantahkan
yang berpengaruh pada kualitas hidup
masyarakat di sekitarnya. Banjir, erosi
dan polusi merupakan beberapa contoh penurunan mutu lingkungan hidup.
Untuk itu, perlu ada keseimbangan
antara faktor ekonomi dan faktor lingkungan guna mendorong kualitas hidup
masyarakat menuju ke arah yang lebih
baik.
Saat ini minyak sawit dan berbagai
jenis produk turunannya telah menjadi
komoditas yang sangat dibutuhkan di
seluruh dunia. Hal ini mendorong perluasan perkebunan sawit secara besarbesaran dan terus menerus. Apalagi
salah satu produk derivatif perkebunan
sawit dapat menjadi salah satu alternatif
energi terbarukan. Perluasan ini jika
dilakukan tanpa mempertimbangkan
kualitas lingkungan hidup akan menjadi
kontra produktif, terutama dalam jangka
panjang.

100

il palm plantations have changed the


face of many regions across Indonesia. On one hand a forest area that is
converted into an oil palm plantation becomes more productive [economically]
because the plantation provides employment and thus increases labor absorption and contributes to economic growth
in the region. This is considered to be an
important indicator. On the other hand
the ensuing degradation of environmental quality through (for example) flooding, erosion and pollution, undisputably
affects the quality of life for the surrounding communities. There needs to
be a balance between economic factors
and environmental factors in order to
promote a better quality of life.
Currently, palm oil and its diverse array of derivatives have become muchneeded commodities. This encourages
the expansion of large scale oil palm
plantations. One derivative from oil palm
plantations may be an alternative renewable energy source. However, if this
is done without considering the quality
of the environment, it will be counterproductive in the long run.
One day, the expansion of oil palm
plantations will not be possible because
available land is limited, so production
can only be increased by increasing pro-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Pada saatnya, perluasan perkebunan


sawit tidak lagi dapat dilakukan karena
keterbatasan lahan dimana untuk meningkatkan produksi hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitasnya. Selain itu, industri perkebunan
sawit harus didorong untuk bergerak ke
arah hilir dengan potensi nilai tambah
yang lebih besar, sehingga dapat mengurangi tekanan perluasan perkebunan
sawit.
Penerapan ekonomi hijau di seluruh
lini usaha dan mata rantai produksi
pada perkebunan sawit, khususnya di
wilayah HoB, hanya dapat dilaksanakan
dengan baik dan optimal jika terdapat
komitmen kuat dan kerja sama yang
baik antara pemerintah, perusahaan
dan masyarakat. Di satu sisi, penerapan ekonomi hijau bisa saja merupakan
tambahan beban perusahaan, sehingga
berpotensi menjadi disinsentif bagi penerapan prinsip-prinsip ekonomi hijau.
Sedangkan pemerintah sebagai regulator harus memiliki sumber daya yang
kuat dan mencukupi untuk memaksa
penerapan prinsip-prinsip ekonomi hijau. Di sisi lain, masyarakat adalah pihak
yang akan merasakan berbagai konsekuensi langsung dari pengusahaan
perkebunan sawit, baik dalam jangka
pendek, jangka menengah, maupun
jangka panjang, sehingga masyarakat
harus turut berpartisipasi secara aktif.
Kontroversi terhadap pengembangan
kebun yang sangat pesat di Indonesia
masih menjadi persoalan yang belum
ada ujungnya. Isu konversi lahan hutan, tenurial, pemanfaatan lahan gambut, dampak sosial ekonomi terhadap
masyarakat sekitar dan isu lingkungan
terkait perubahan iklim dan sebagainya,
telah menjadikan pertumbuhan kebun
sawit dalam ancaman ketidakpastian.
Dalam situasi seperti ini pada kenyataannya pertumbuhan kebun sawit di
Indonesia telah menempatkan Indonesia saat ini sebagai negara penghasil
Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia

ductivity. In addition, the oil palm plantation industry should be encouraged to


move downstream where added value
is potentially greater, in order to reduce
the pressure to clear more land for the
expansion of oil palm plantations.
The implementation of green economy
across business lines and production
chains in oil palm plantations, especially
the ones situated in the HoB, can only
be done properly and optimally if there
is a strong commitment and cooperation between government, companies
and communities. On the one hand, the
implementation of green economy can
be an additional burden on companies,
thereby potentially become a disincentive, but it is communities that feel the
consequences of concessioning forest
lands for oil palm plantations. So, the
community should participate actively in
the implementation of green economy.
Controversy over the very rapid expansion of oil palm plantations in Indonesia
is still an issue that has not been resolved. Issues on forest land conversion,
land tenure, peatland utilization, and
socio-economic impacts to surrounding
communities and environmental issues
related to climate change and other
related issues have made the growth of
oil palm plantations uncertain.
The growth of oil palm plantations has
placed Indonesia as the largest producer of Crude Palm Oil (CPO) in the
world, ahead of Malaysia. However, if
controversial issues are not addressed,
Indonesias palm oil plantations may
one day be delegitimized and destabilize
the countrys economic growth. Therefore, the concept of green economy in
the plantation sector, especially in the
oil palm plantation sector, should be
formulated properly.
To encourage cooperation so that a
strong and positive synergy can be
behind the principles of green economy,

101

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

mengalahkan Malaysia. Apabila isu-isu


yang menjadi kontroversi tidak dibenahi,
maka suatu waktu akan dapat terjadi
delegitimasi keberadaan kebun sawit
Indonesia dan dapat mengguncang
pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu
konsep ekonomi hijau di sektor perkebunan khususnya sawit harus dirumuskan
dengan baik.
Untuk mendorong kerja sama ketiga
pihak tersebut sehingga dapat membentuk sinergi yang kuat dan positif dalam
penerapan prinsip-prinsip ekonomi
hijau, khususnya di wilayah HoB, peran
serta masing-masing pihak diharapkan
dapat memenuhi berbagai hal berikut
ini.
1. Peran Pemerintah Pusat
Melakukan pemetaan ulang secara
komprehensif berbagai wilayah yang
harus menjadi wilayah konservasi
lingkungan dan wilayah yang bisa
dijadikan lahan produktif pada setiap
pemberian izin pemanfaatan hutan
dan lahan.
Menyusun indikator dan kriteria yang
jelas tentang prinsip-prinsip ekonomi
hijau yang harus diterapkan pada pengusahaan perkebunan sawit.
Membuat berbagai peraturan yang
memberi insentif dan disinsentif bagi
pelaksanaan ekonomi hijau, termasuk
mekanisme pelaksanaan pembayaran
jasa lingkungan dan kompensasi
dampak lingkungan.
Melakukan sinkronisasi berbagai
peraturan pelaksana (undang-undang
tata ruang, kehutanan dan lingkungan
hidup) dan mengeliminasi peraturanperaturan yang menjadi penghambat
pelaksanaan ekonomi hijau.
Memberi insentif dan penghargaan
bagi perusahaan perkebunan sawit
yang telah berhasil menerapkan
prinsip-prinsip ekonomi hijau dengan
baik.

102

especially in the HoB, as well as the role


each party is expected to meet through
the following:
1. Role of the Central / National
Government
Conduct a comprehensive re-mapping of areas that should be assiged
a conservation status and areas that
can be used as [or are suitable to be
converted into] productive land upon
the granting of any forest and land
use permits.
Develop clear indicators and criteria
on green economy principles that
should be applied to the concessioning of forest land for oil palm plantations.
Create a variety of regulations that
give incentives and disincentives
for the implementation of green
economy, including the mechanism of
payment for environmental services
and compensation for the negative
impacts inflicted on the environment.
Synchronize various implementing
regulations (laws that govern spatial
layout plans, forestry and the environment) and eliminate regulations
that hamper the implementation of
green economy.
Provide incentives and rewards to
palm oil plantation companies that
have successfully applied the principles of green economy.
2. The Role of Sub-National Govern
ments (Provinces, Districts and
Cities)
Create rules to encourage the application of the principles of green
economy and impose strict sanctions
on those who do not comply.
Make annual evaluations of the implementation of green economy by
both the government and by oil palm
plantation companies.
Design a sustainable development
of oil palm plantation cultivation by,
among others, encouraging the palm

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

2. Peran Pemerintah Daerah (provinsi


dan kabupaten/kota)
Membuat peraturan yang dapat
mendorong penerapan prinsip-prinsip
ekonomi hijau dan pemberian sanksi
tegas bagi yang tidak menerapkan.
Membuat evaluasi tahunan dari
pelaksanaan ekonomi hijau, baik yang
dilakukan pemerintah maupun pengusaha perkebunan sawit.
Merancang pembangunan berkelanjutan dari pengusahaan perkebunan sawit, dengan salah satunya mendorong
industri sawit bergerak ke arah hilir
sehingga dapat mereduksi tekanan
perluasan lahan perkebunan sawit.
Melakukan pengelolaan secara
akuntabel dan transparan dana dari
hasil pengusahaan perkebunan sawit
untuk mendorong penerapan prinsipprinsip ekonomi hijau di masyarakat.
Melakukan monitoring dan evaluasi
pelaksanaan CSR oleh perusahaan
perkebunan sawit.

WWF-Indonesia / Wiwin Effendi

oil industry/ companies to go downstream in order to reduce the pressure to expand oil palm plantations or
the land area devoted to oil palm.
Manage funds from the proceeds of
oil palm plantation concessions in an
accountable and transparent manner
to encourage the application of the
principles of green economy in the
community.
Monitor and evaluate the implementation of CSR by oil palm plantation
companies.
3. The Role of Oil Palm Plantation Op
erators/ Companies
Apply green economy practices
across each business line and production chain in oil palm plantations,
particularly in the HoB.
- Conduct a thorough annual evaluation
of the environmental impacts of the
concessing of forest land for oil palm
plantations.
- Direct CSR programs to promote the
adoption and implementation of green
economy principles in the community
on an sustainable or ongoing
basis, including measures
to enable local
communities to

103

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

WWF-Indonesia / Hartmut Jungius

3. Peran Pengusaha
Menerapkan praktik-praktik ekonomi
hijau di setiap lini dan mata rantai
usaha di perkebunan sawit, khususnya
di wilayah HoB.
Melakukan evaluasi menyeluruh setiap tahun mengenai dampak lingkungan dari pengusahaan perkebunan
sawit yang telah dilakukan.
Mengarahkan CSR pada upaya mendorong penerapan berbagai prinsip
ekonomi hijau di masyarakat secara
berkelanjutan, termasuk ekonomi
produktif masyarakat lokal (HHBK,
agroforestri, pariwisata dan lain-lain).
Mematuhi seluruh peraturan pemerintah, termasuk memenuhi berbagai
kewajiban dalam penerapan ekonomi
hijau dan menjaga kualitas lingkungan secara umum, misalnya dengan
mengikuti kriteria dan standar ISPO
dan RSPO.

104

engage in productive economy activities (Non-Timber Forest Products,


agro-forestry, tourism and others).
Comply with all applicable government regulations; fulfill the obligations for the implementation of green
economy and maintain the quality of
the environment, for example, by following the criteria and standards of
the RSPO and the ISPO.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

4.4 
Sektor Energi Terbarukan
Renewable Energy Sector

ektor energi merupakan basis


pengembangan ekonomi hijau pada
kebanyakan negara maju melalui berbagai kebijakan yang dapat menghemat
pemakaian energi dan mengembangkan
energi yang rendah emisi dan murah.
Berbagai negara termasuk Indonesia
berupaya menemukan sumber-sumber
energi panas bumi dan mengembangkan
energi terbarukan dari biomassa untuk
menggantikan energi dari pembakaran
bahan bakar fossil yang dominan saat
ini. Pontensi panas bumi, bioenergi dan
tenaga air banyak terdapat di wilayah
HoB. Oleh karena itu sektor energi
merupakan salah satu komponen dalam
pengembangan ekonomi hijau di daerah
HoB.
Tantangan pengembangan energi di
daerah dalam derajat tertentu memang
akan sangat ditentukan oleh kebijakan
energi nasional mengingat sektor energi
merupakan sektor strategi dan derajat kepentingan nasional yang sangat
besar. Potret energi nasional selama
ini dicirikan oleh beberapa hal, antara
lain tingginya konsumsi energi berbasis
bahan bakar fosil yakni hampir mencapai 95%. Dengan tingkat pertumbuhan
konsumsi energi sebesar 7% per tahun,
konsumsi energi fosil akan terus meningkat yang tentu saja akan berakibat
buruk bagi lingkungan hidup. Di sisi
lain, sektor energi juga dicirikan dengan
subsidi energi yang besar dimana pada
tahun 2012 subsidi ini mencapai Rp 300
trilyun lebih. Kombinasi kedua faktor di
atas, selain akan memicu permasalahan

he energy sector is the basis of the


development of green economy in
most developed countries through policies which can save energy consumption
and develop low emissions and cheaper
energy sources. Various countries,
including Indonesia, have tried to find
geothermal energy sources and develop
renewable energy from biomass to replace energy from the burning of fossil
fuel. Potential geothermal, bio-energy
and hydropower sources are abundant
in the HoB. Therefore, the energy sector
is one of the components in the development of green economy in the HoB:
Challenges associated with energy
development in provinces are, to some
degree, largely determined by the
national energy policy, - given that the
energy sector is a strategic sector vital
to the national interest. The nations
energy scene is characterized by (among
others) the high consumption of fossil fuel-based energy that accounts for
nearly 95%. With energy consumption
growth at 7% per year, the consumption
of fossil fuels will continue to increase
which is bad for the environment. On the
other hand, the energy sector is also
characterized by large energy subsidies.
In 2012, such subsidies went beyond
IDR 300 trillion. The combination of
these two factors will not only trigger
a major environmental problem in the
future, but is also likely to hamper the
use of renewable energy. Currently, the
use of renewable energy accounts for

105

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

lingkungan yang besar di masa mendatang, juga cenderung menghambat


penggunaan energi terbarukan. Saat
ini penggunaan energi terbarukan baru
sekitar 5% dari total penggunaan energi
di Indonesia, padahal Indonesia memiliki
potensi energi terbarukan yang cukup
besar dan bervariasi. Potensi energi
terbarukan Indonesia antara lain terdiri
dari:
Tenaga air (hidro power) sebesar 75
GW ekivalen.
Panas bumi sebesar 29 GW ekivalen
Mini/mikro hidro sebesar 769 MW
ekivalen
Biomassa sebesar 50 GW ekivalen
Energi surya sebesar 4,8 kWh/m2 /hari
Energi angin sebesar 3-6 m/detik
Uranium sebesar 3.000 MW
Dengan potensi energi terbarukan yang
cukup besar tersebut, secara makro nasional Indonesia telah mengembangkan
kebijakan untuk memanfaatkan energi
terbarukan ini di masa mendatang
melalui pemanfaatan energi terbarukan
di atas yakni:
Tenaga air 5.700 MWe (7,5% dari total
potensi)
Panas bumi 1.189 MWe (4,17% dari
total potensi)
Mini/mikro hidro 217 MW (28% dari
total potensi)
Biomassa 1.600 MW (3,25% dari total
potensi)
Energi surya 13,5 MW
Energi angin 1,87 MW
Uranium sebesar 30 MW (1% dari total
potensi)
Selain itu melalui Peraturan Presiden
No 5 tahun 2006, pemerintah telah menetapkan penurunan elastisitas energi
kurang dari satu pada tahun 2025 atau
sebesar 1% per tahun dan penyediaan
energi terbarukan sebesar 17% pada tahun 2025 melalui pengembangan energi:
Panas bumi 5%
Batubara tercairkan (liquefied coal) 2%
Bahan bakar nabati (biofuel) 5%

106

only about 5% of the total energy use in


Indonesia, while it has potential renewable energy sources that are large and
varied. These consist of the following:
H
 ydro-power: 75 GW equivalent.
Geothermal: 29 GW equivalent
Mini/ micro hydro-power: 769 MW
equivalent
Biomass: 50 GW equivalent
Solar power: 4,8 kWh/m2/ day
Wind power: 3-6 m/ second
Nuclear power (Uranium): 3.000 MW
With the great potential of renewable
energy sources, Indonesia has, on a
macro-economic and national scale, developed a policy to utilize these renewable energy sources in the future:
Hydro-power: 5,700 MWe (7,5% of the
total potential)
Geothermal: 1,189 MWe (4,17% of the
total potential)
Mini/ micro hydro-power: 217 MW
(28% of the total potential)
Biomass: 1.600 MW (3,25% of the total
potential)
Solar power: 13,5 MW
Wind power: 1,87 MW
Nuclear power (Uranium): 30 MW (1%
of the total potential)
In addition, through Presidential Regulation No. 5 of 2006, the government has
lowered energy elasticity by less than
one in 2025 or at 1% per year and the
provision of renewable energy by 17% by
2025 through the development of:

 eothermal :5%
G
Liquefied coal: 2%
Biofuel: 5%
Other renewable energy [sources]
such as hydro, solar, wind, nuclear,
ocean power and others: 5%

Development of renewable energy is in


line with the 25/25 Vision in which the
use of renewable energy is projected to
account for 25% of total energy use in
2025. The use of renewable energy will

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia / Kalimantan Tengah

Energi baru terbarukan lainnya (hidro,


surya, angin, nuklir, samudra dan
lain-lain) 5%

also correspond to the governments


program to reduce greenhouse gas
emissions by 26% by 2020.

Pengembangan energi terbarukan juga


sejalan dengan Visi 25/25 dimana penggunaan energi terbarukan menjadi 25%
dari total penggunaan energi pada tahun
2025 mendatang. Penggunaan energi
terbarukan ini juga akan sejalan dengan
program pemerintah untuk menurunkan
emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada
tahun 2020 mendatang.

By looking at the above, the development


of green economy in the energy sector
in the HoB should also be directed to
the development of green energy in line
with the Policy Directive of the President
of the Republic Indonesia in the Tampak
Siring presidential palace in 2010, which
states that green energy is a form of
energy that can be used to strengthen
the countrys energy security.

Dengan melihat konteks di atas, maka


pengembangan ekonomi hijau di sektor
energi di wilayah HoB juga semestinya
diarahkan pada pengembangan energi
hijau sejalan dengan Policy Directive
Presiden RI di Tampak Siring pada
tahun 2010, dimana salah satu bentuk
ketahanan energi adalah melalui energi
hijau (green energy).

Potential green energy that could be


developed in the HoB includes energy
generated from biomass, micro-hydro
power, wind power and solar power.
Micro-hydro based energy programs
can be run in conjunction with the SelfSufficient Energy Village (DME) program
run by district / city governments.

Beberapa potensi energi hijau yang bisa


dikembangkan di wilayah HoB adalah

In addition, some of the initiatives that


have been implemented in Kalimantan

107

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

potensi energi biomassa, mikro hidro,


bayu/angin dan surya. Program energi
berbasis mikro hidro dapat dijalankan
dengan program pemerintah kabupaten/
kota berupa Desa Mandiri Energi (DME).
Selain itu beberapa inisiatif yang sudah dijalankan di Kalimantan untuk
pengembangan energi dalam bentuk
pemanfataan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sudah diterapkan sejak tahun
2011, berupa pemasangan pompa air
tenaga surya di Pulau Maratua Kaltim.
Di Wilayah HoB sendiri banyak potensi
mikro hidro yang dapat dikembangkan
sehingga selain dapat menjadi kebutuhan energi pada skala kecil, juga ramah
lingkungan.
Secara umum saat ini masih belum
tersedia data menyeluruh tentang potensi energi terbarukan di wilayah HoB.
Oleh karena itu pemerintah pusat perlu
mendorong pemerintah daerah untuk
memetakan potensi energi terbarukan
tersebut dan melakukan studi kelayakan
pengembangannya. Hal ini diperlukan
karena sektor energi bersifat kapital
intensif dan memerlukan skala ekonomi
yang layak. Bila dalam skala ekonomi
yang besar belum memungkinkan untuk
dikembangkan, maka paling tidak dalam
skala ekonomi desa seperti pengembangan mikro hidro dapat dikembangkan melalui inisiatif daerah.
Pengembangan energi untuk
masyarakat pedesaan sekitar hutan
harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena apabila tidak
ditangani secara baik maka ancaman
terhadap hutan sebagai sumber bahan
bakar kayu akan semakin tinggi. Pengadaan teknologi kompor hemat energi
dan berbahan bakar biomassa adalah
salah satu alternatif yang dapat dikembangkan.

108

for energy development through the


utilization of New and Renewable Energy
(EBT) have been put in place since 2011.
The initiatives include the installation of
solar-powered water pumps on Maratua
Island in East Kalimantan. Within the
HoB there are many micro-hydro power
potentials that can be realized to meet
the need for energy on a small scale in
an environmentally friendly way.
Currently, there is no comprehensive
data on the potential of renewable energy sources in the HoB. Therefore, the
national government should encourage
local/ sub-national authorities to map
the renewable energy potentials in their
respective jurisdictions and conduct a
feasibility study to develop them. This is
necessary because the energy sector is
capital intensive and requires feasible
economies of scale. If it is not yet possible to develop renewable energy on a
large scale, renewable energy should at
least be developed on a village economic
scale. A micro hydro-power potential,
for instance, can be tapped, developed
and realized with a district initiative.
Energy development for village communities around forest areas should
be dealt with by the local government
because if it is not handled properly, the
threats to forests as a source of wood
fuel will be higher. Technology to produce energy-efficient stoves fuelled by
biomass is one of the alternatives that
can be developed.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

4.5 
Sektor Inovatif
Innovation Sectors

4.5.1. Bioprospek dan Bioteknologi

4.5.1. Bioprospecting and Biotechnology

Bioprospek (Bioprospecting) dan Bioteknologi (biotechnology) merupakan


sektor inovatif yang sejalan dengan
pengembangan ekonomi hijau di HoB.
Bioprospecting adalah upaya penemuan
produk-produk baru yang bersumber dari
sumber daya biologi alami, biasanya berdasarkan pengetahuan masyarakat local
(indigenous knowledge). Hasil temuan ini
kemudian dikembangkan menjadi komersial. Menggali potensi bioprospek dimulai
dari kegiatan penelitian dan eksplorasi
berbasis kehati, terutama potensi genetika
dan biokimia yang potensial dan memiliki
nilai. Sementara itu, biotechnology adalah
penggunaan teknologi untuk memanfaatkan organisme hidup (seperti tumbuhan,
hewan) dan turunannya untuk menghasilkan produk berguna. Bioteknologi merupakan istilah yang mempresentasikan
revolusi pada produksi agrikultur yang
berbasis pada ilmu pengetahuan.

Bioprospecting and biotechnology belong


to the innovative sector that corresponds
with the development of a green economy
in the HoB.

Kawasan HoB memiliki tingkat kehati yang


tinggi, sehingga peluang bioprospek dan
bioteknologi untuk dikembangkan sangat
besar. Bioprospek dapat dipandang dari
dua perspektif. Perspektif pertama yaitu
bioprospek dan bioteknologi menimbulkan
peluang pendapatan yang berasal dari hal
tersebut. Adapun perspektif kedua yaitu
memandang bioprospek dan bioteknologi
sebagai peluang negara asal dalam hal ini
yakni HoB untuk mengadakan kerja sama
dengan negara donor dalam pembangunan lembaga penelitian tentang alam
dan pembangunan sumber daya manusia
sekitar.

The HoB has a high level of biodiversity.


This means it has very large bioprospecting and biotechnology potentials for development. Bioprospecting can be viewed
from two perspectives. The first sees bioprospecting and biotechnology as giving
rise to revenue opportunities. The second
sees bioprospecting and biotechnology
providing opportunities to the countries
whose territories make up the HoB to
work with donor countries to develop a
research institute to study nature and how
it relates to the development of human
resources.

Bioprospecting refers to the effort of finding new products sourced from natural
biological resources, usually based on
the knowledge of local people. The findings are then developed commercially.
The tapping of bioprospecting potentials
starts with biodiversity-based research
and exploration activities, particularly on
genetic and biochemical potentials that
have value.
Biotechnology refers to the use of technology to take advantage of living organisms
(such as plants, animals) and their derivatives to produce useful products. Biotechnology is a term that represents revolution
in science-based agricultural production.

109

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Isu penting lainnya yaitu bahwa bioprospek dan bioteknologi sangat dibutuhkan
dalam industri pertanian dan farmasi,
seperti obat-obatan dan kosmetik. Adanya
bioprospek dan bioteknologi dapat menambah manfaat dan nilai jual dari produk
mentah. Contohnya yaitu penemuan bibit
padi yang lebih produktif dan tahan hama,
obat untuk penyakit tertentu dan makanan
kemasan yang berkualitas. Beberapa contoh potensi bioprospek yang dapat dikembangkan di kawasan HoB yang berdasarkan pengetahuan masyarakat setempat
antara lain adalah tanaman Calophyllum
laningerum untuk obat anti HIV/AIDS, tanaman Pasak Bumi/Tongkat Ali (Eurycoma
longifolia Jack.) untuk suplemen minuman
dan anti malaria, damar dari beberapa
jenis Dipterocarpacea (meranti, kampur
dan keruing) untuk bahan bioinsektisida
dan beberapa getah tanaman hutan untuk
alat kontrasepsi, jamur-jamur hutan (seperti Tuber) untuk penyedap makanan dan
lain-lain.
Dalam rangka memaksimalkan potensi
pemanfaatan bioprospek di kawasan HoB
ini ada beberapa langkah langkah yang
dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu
sebagai berikut:
1. Membangun pusat studi dan pengembangan bioprospek dan biofarmaka di
salah satu universitas di kawasan HoB
yang didukung oleh sumber daya (manusia dan finansial) yang memadai.
2. Mengadakan explorasi dan menghimpun
database spesies yang ditemukan di
HoB dan pengetahuan tradisional yang
terkait.
3. Menetapkan prosedur untuk mengamankan hak atas kekayaan intelektual
(HAKI) dan meningkatkan kesadaran
masyarakat tentang HAKI.
4. Membentuk mekanisme keterlibatan
masyarakat dan menentukan sistem pembagian keuntungan dengan
masyarakat lokal.

110

Another important point is that bioprospecting and biotechnology is very


much needed in the agricultural and
pharmaceutical industries, and by extension, the cosmetics industry. Bioprospecting and biotechnology can increase the
benefits and the selling value of a crude
product. Examples include the discovery
of rice seeds that are more productive
and pest-resistant, the development of
drugs for certain diseases and the production of quality packaged food. Some
examples of bioprospecting potentials that
can be developed in the HoB are based
on the knowledge of indigenous people
about the medicinal, horticultural and
culinary properties of certain plants. Such
plants include Calophyllum laningerum
(bioprospected for its anti-HIV properties) and Eurycoma longifolia Jack., an
aphrodisiac plant known as pasak bumi in
Indonesian and tongkat Ali in Malaysian
(bioprospected for male supplement drink
and its anti-malarial properties), the resin
of some dipterocarp trees (such as meranti
(Shorea sp.), kayu kapur (Dryobalanops
aromatica) and keruing (Dipterocarpus sp.)
bioprospected for use as bio-pesticide ingredient and the sap of some forest plants
(bioprospected for contraceptives), forest
mushrooms (Tuber sp.) for flavoring food
and other uses.
In order to maximize the potential of bioprospecting utilization in the HoB, several
steps can be taken by the government as
follows:
1. B
 uild a study center for bio-prospecting
and biopharmaceutical development at
one of the universities in the HoB that
is supported by sufficient human and
financial resources.
2. Conduct exploration and compile a database of species found in the HoB and
associated traditional knowledge.
3. Establish procedures for securing intellectual property rights (IPR) and raise
public awareness.
4. Establish a community engagement
mechanism and determine and decide

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Pengembangan bioprospek dan bioteknologi di kawasan HoB akan memberikan


beberapa keuntungan. Keuntungan yang
pertama yaitu menjaga keseimbangan
lingkungan di HoB. Keuntungan yang kedua yaitu penurunan tingkat kemiskinan karena kegiatan tersebut dapat melibatkan
masyarakat lokal. Keuntungan yang ketiga
yaitu pertumbuhan ekonomi. Perusahaan
farmasi atau makanan dapat memperoleh
manfaat dari kegiatan ini karena penjualan produknya dapat meningkat. Negara
kita berpeluang mendapatkan pendapatan
dari kegiatan ini.
4.5.2 Public Private Partnership dalam
pemanfaatan potensi keanekaragaman
hayati.
Besarnya potensi kehati di kawasan HoB
belum dimanfaatkan secara maksimal
karena terkendala pendanaan, penelitian
dan pengembangan dalam pemanfaatan
kehati. Pemerintah pusat dan pemerintah
daerah seyogianya dapat mengembangkan potensi ini melalui kerja sama dalam
skema Public Private Partnership (PPP)
dengan beberapa perusahaan nasional
atau multi-nasional yang bergerak di
bidang industri farmasi, makanan dan
bioteknologi. Diperlukan payung hukum
yang kuat agar sistem ini dapat berjalan
dan tidak merugikan para pihak baik negara maupun masyarakat, karena potensi
ekonomi dan kepemilikan HAKI atas hasil
PPP ini sangat besar.
4.5.3 Restorasi Ekosistem
Restorasi Ekosistem (RE) secara umum
dapat diartikan sebagai proses membantu
pemulihan sebuah ekosistem yang telah
tergradasi, rusak atau hancur. RE adalah
upaya untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem sebagaimana aslinya
sehingga bermanfaat bagi masyarakat.
Isu penting dari restorasi ekosistem yaitu
ekosistem (lingkungan) merupakan salah
satu faktor input perekonomian melalui
pemanfaatan. Degradasi ekosistem menyebabkan penurunan kualitas lingkun-

on a profit sharing scheme/ system


with local communities.
Bioprospecting and biotechnology development in the HoB will provide several
advantages. The first advantage is the
maintenance of environmental equilibrium in the HoB. The second advantage
is a decrease in the poverty rate because
bioprospecting and biotechnology activities may involve local communities. The
third advantage is economic growth.
Pharmaceutical or food companies may
benefit from this activity because it can
increase the sales of their products, and
our country has the opportunity to obtain
revenues from this.

4.5.2 Public Private Partnership in the


utilization of biodiversity potentials
The full potential of biodiversity in the HoB
has not been fully utilized because of constrained funding, research and development. The central and local governments
should be able to develop this potential
through collaboration under the Public Private Partnership (PPP) scheme
together with several national and multinational companies in the pharmaceutical, food and biotechnology industries. A
strong legal framework is needed to run
this system without being detrimental to
the State and society because the economic potential and the potential ownership of intellectual property rights over
the results of this partnership are huge.

4.5.3 Ecosystem Restoration


Ecosystem Restoration (ER) can generally
be defined as the process of assisting the
recovery of an ecosystem that has been
degraded, damaged or destroyed. ER is an
attempt to restore the equilibrium of the
ecosystem to the original state in order to
make it beneficial to society. An important
feature of ER is that the ecosystem (and
by implication, the environment) is one
of the economic inputs through utilization. The degradation of ecosystems leads

111

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

WWF-Indonesia / Kalimantan Barat

gan yang berdampak pada peningkatan


potensi bencana alam dan penurunan kesehatan masyarakat. Degradasi ekosistem
juga menyebabkan ekosistem tersebut
tidak dapat didayagunakan lagi sebagai
input perekonomian atau sebagai penyedia
jasa lingkungan.
Dalam perspektif kehutanan RE adalah
upaya mengembalikan fungsi hutan yang
telah rusak atau tergradasi akibat sistem pemanfaatan yang salah pada hutan
produksi, atau yang rusak akibat perambahan, pembalakan liar, kebakaran hutan
pada hutan konservasi dan hutan lindung.
Saat ini Kementerian Kehutanan telah
mempunyai aturan untuk kegiatan RE di
hutan produksi dan di hutan konservasi.
Untuk RE pada hutan produksi berpedoman pada Permenhut No. P 50/MenhutII/2010 tentang Tata Cara Pemberian
dan Perluasan Areal Kerja IUPHHK-HA,
IUPHHK-RE atau IUPHHK Hutan Tanaman
Industri pada Hutan Produksi; jo Permenhut: P 26/Menhut-II/2012 tentang Perubahan P 50/Menhut-II/2010.
Kegiatan RE di sektor kehutanan ini
berpotensi untuk menggerakan ekonomi
hijau di wilayah HoB. Kawasan RE di hutan
produksi saat ini banyak dikembangkan
menjadi proyek Demonstration Activities (DA) skema REDD+ yang didukung
oleh berbagai lembaga internasional.
Apabila kegiatan pada kawasan hutan
untuk proyek REDD+ terlaksana, maka
akan banyak kegiatan non ekploitatif
seperti penanaman, pemanfaatan sumber daya kehati dan peningkatan kapasitas, yang dapat menggerakkan ekonomi

112

to environmental degradation which, in


turn, increase the potential for natural
disasters and public health decline. The
degradation of an ecosystem also renders
the ecosystem unusable because it can no
longer be utilized as an economic input or
as a provider of environmental services.
In the forestry perspective, ER is an attempt to restore the function of forests
that have been damaged or degraded as
a result of wrong utilization in production
forests, or as a result of encroachment,
illegal logging, and forest fires on conservation forests and protected forests. Currently, the Ministry of Forestry has rules
for RE activities in production forests and
conservation forests. ER in production
forests shall be based on the Regulation of
the Minister of Forestry No. P 50 / Menhut-II / 2010 on Procedures for the Granting and the Expansion of the Area of Work
for holders of IUPHHKHA, IUPHHK-RE or
IUPHHK for Industrial Forest Plantation in
production forests; in conjunction with the
Regulation of the Minister of Forestry P 26
/ Menhut-II / 2012 on Amendment C 50 /
Menhut-II / 2010.
ER activities in the forestry sector have
the potential to drive green economy in the
HoB. ER areas in production forest areas
are currently being extensively developed
into project demonstration activities (DA)

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia / Kalimantan Barat

masyarakat sekitar hutan. Pada akhirnya


proyek seperti ini akan dapat memberikan keuntungan finansial kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah dan
masyarakat melalui skema insentif dari
dana REDD+ atas upaya penurunan emisi
GRK sebagaimana yang dimaksudkan
dalam program REDD+ tersebut. Provinsi
wilayah HoB yaitu Kalbar, Kalteng dan
Kaltim merupakan provinsi pilot untuk
mempersiapkan REDD+ (Readiness Phase)
sebagai suatu skema insentif bagi kebijakan penurunan emisi sektor kehutanan
dan mulai diimplementasikan penuh tahun
2015 (Implemention Phase).

of REDD + schemes that are supported by


various international agencies. If activities
on forest areas for REDD+ projects are
implemented, there will be many nonexploitative activities such as planting,
use of biodiversity resources and capacity
building, which may stimulate the economy of the communities who live around
the forest.
In the end, a project like this will be able
to provide financial benefits to the national
government, sub-national governments
and the community through the incentive scheme of REDD+ funds for efforts to
reduce GHG emissions as intended in the
REDD + program. West, Central, and East
Kalimantan are pilot provinces to prepare
for REDD + (Readiness Phase) as an incentive scheme for forestry sector emission
reduction policies and will begin full implemented in 2015 (Phase Implemention).

113

Wilson Umar / Photovoices Intl-WWF/HoB

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

114

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

V.
IMPLEMENTASI
KEBIJAKAN
EKONOMI
PADA SEKTOR
STRATEGIS
Implementation of
Economic Policies in
Strategic Sectors

115

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Ketujuh belas kabupaten yang dimaksud


yaitu Kapupaten Kapuas Hulu, Melawi dan Sintang di Kalbar; Kabupaten
Katingan, Barito Utara, Gunung Mas,
Murung Raya, Kapuas dan Seruyan di
Kalteng; Kabupaten Kutai Barat, Kutai
Timur, Kutai Kartanegara, Berau, dan
Mahakam Ulu di Kaltim; dan Kabupaten
Nunukan, Malinau dan Bulungan di Kalimantan Utara (Kaltara); serta sub bab
ini akan menguraikan kontribusi sektorsektor tersebut terhadap perekonomian
di Provinsi Kalbar, Kalteng dan Kalbar,
degradasi lingkungan yang ditimbulkan,
serta implementasi ekonomi hijau pada
sektor-sektor strategis tersebut.

The seventeen districts in question


are Kapuas Hulu, Melawi and Sintang
districts in the province of West Kalimantan; Katingan, Barito Utara, Gunung
Mas, Murung Raya, Kapuas and Seruyan
districts in Central Kalimantan; Kutai
Barat, Kutai Timur, Kutai Kartanegara,
Berau, and Mahakam Ulu districts in
East Kalimantan; and Nunukan, Malinau and Bulungan districts in North
Kalimantan. This sub-chapter will also
describe the contributions of the sectors
to the economies of West Kalimantan,
Central Kalimantan and East Kalimantan provinces, the ensuing land degradation and the incorporation and implementation of green economy principles
into those sectors.

isi HoB adalah pembangunan


berkelanjutan dan konservasi di
kawasan Jantung Kalimantan. Oleh
karena itu, tujuh belas kabupaten dan
empat provinsi yang berada dalam kawasan HoB harus menerapkan prinsip
berkelanjutan, terutama bagi sektorsektor strategis yang memiliki dampak
besar (hasil kayu, kelapa sawit dan
pertambangan). Sektor-sektor strategis
ini mempunyai dampak besar (high impact) dikarenakan sistem pemanfaatan
sumber daya alamnya bersifat ekploitatif, seperti penebangan kayu, pertambangan atau bersifat mengkonversi
hutan alam seperti perkebunan dan
hutan tanaman industri. Sektor strategis
ini juga terbukti berperan penting dalam
perekonomian Kalimantan saat ini. Hal
tersebut dapat terlihat dari kontribusi
sektor-sektor tersebut terhadap PDRB
di Provinsi Kalbar, Kalteng dan Kaltim
dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Namun, peningkatan aktivitas dari sektor-sektor tersebut ternyata berdampak
buruk pada degadrasi lingkungan sekitar, yaitu ketujuh belas kabupaten yang
terdapat di empat provinsi tersebut.

116

he vision of the HoB Initiative is


sustainable development and conservation. Therefore, seventeen districts
and four provinces situated within the
HoB must apply the principle of sustainability, especially for high-impact
strategic industries (wood/ timber
products, palm oil and mining). These
strategic sectors are referred to as high
impact sectors because of the exploitative nature of their operation in utilizing
natural resources as in logging and mining operation or in converting natural
forests into plantations and industrial
tree plantations. These strategic sectors have also proved instrumental in
todays Kalimantan economy. This can
be seen from their contribution to the
GDPs of the provinces of West, Central,
and East Kalimantan within the last five
years. However, the increased activities
of these sectors have a negative impact
on the surrounding environment and
degrades the land in all the seventeen
districts across the four provinces of
Kalimantan.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

5.1 
Kontribusi Sektor Strategis terhadap
Perekonomian Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah dan Kalimantan
Timur
The Contribution of Strategic Sectors to West
Kalimantan, Central Kalimantan and East
Kalimantan Economies

alam kurun waktu lima tahun


terakhir (2007-2011), sektor-sektor
strategis yang berdampak besar, seperti kehutanan, pertanian dan pertambangan berkontribusi signifikan dalam
PDRB di Provinsi Kalbar, Kalteng dan
Kaltim yang meliputi juga Kaltara. Pertanian rata-rata berkontribusi di atas
20% terhadap PDRB Kalbar dan Kalteng,
sedangkan pertambangan rata-rata
berkontribusi lebih dari 30% terhadap
PDRB Kaltim setiap tahunnya. Komposisi PDRB ketiga provinsi tersebut dapat
dilihat dalam Tabel 10 dan Tabel 11.

n the past five years (2007-2011), strategic sectors of great significance such
as forestry, agriculture and mining have
contributed substantially to the provincial GDPs of West Kalimantan, Central
Kalimantan and East Kalimantan which
also includes North Kalimantan. On
average, agriculture contributes more
than 20% of the GDPs of the Provinces
of West and Central Kalimantan, while
mining contributes more than 30% of the
GDP of East Kalimantan annually. The
composition of the GDPs of the three
provinces is presented in Table 10 and
Table 11:

Tabel 10: Kontribusi Sektoral PDRB Kalimantan Timur, 2008-2010 dan Kalimantan Barat, 2007-2009
Table 10: Contribution of Sectoral RGDP of East Kalimantan, 2008-2010 and West Kalimantan, 2007-2009
Indikator / Indicator (%)

Kalimantan Timur

Kalimantan Barat

2008

2009

2010

2007

2008

2009

Pertanian
Agriculture

4.97

5.25

5.6

25.21

25.49

25.45

Pertambangan dan Penggalian


Mining and Quarrying

45.4

49.4

48.1

1.34

1.38

1.43

Industri Pengolahan
Manufacturing Industries

34.2

25.6

24.0

18.35

17.73

17.12

Konstruksi
Construction

0.23

0.36

0.27

0.43

0.32

0.3

Listrik, Gas, Air Bersih


Electricity, Gas, Clean Water

2.13

2.59

2.88

7.86

7.93

8.11

Perdagangan, Restoran, Hotel


Trading, Restaurant, Hotel

5.74

7.56

8.46

23.55

23.55

23.58

Transportasi dan Komunikasi


Transportation & Communication

2.97

3.6

3.83

7.18

7.55

7.86

Keuangan & Jasa Perusahaan


Finance and Corporate Services

1.79

2.17

2.41

4.89

4.84

4.81

Jasa-Jasa
Services

2.09

3.48

4.29

0.11

0.11

0.11

Sumber: Kalimantan Timur dalam Angka, 2010, BPS dan Kalimantan Barat dalam Angka, 2010, BPS
Source: Kalimantan Timur dalam Angka, 2010, BPS and Kalimantan Barat dalam Angka, 2010, BPS

117

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Tabel 11: Kontribusi Sektoral PDRB Kalimantan Tengah


Table 11: Contribution of Sectoral RGDP of Central Kalimantan
Kalimantan Tengah
2010

Indikator (%)

2011
TW.

TW.

III

IV

29.36

31.46

27.61

29.86

11.08

11.11

9.82

10.27

10.89

8.03

7.18

7.77

7.42

7.59

7.15

0.44

0.46

0.44

0.46

0.46

0.46

0.45

5.45

5.58

6.25

5.44

5.68

5.68

6.11

5.53

18.55

18.56

18.70

18.28

18.21

18.52

18.32

19.06

18.70

Transportasi dan Komunikasi


Transportation & Communication

8.14

8.25

8.31

7.99

7.70

7.92

7.83

8.16

7.85

Keuangan & Jasa Perusahaan


Finance and Corporate Services

5.60

6.06

5.93

6.60

6.33

6.27

6.22

6.76

6.42

Jasa-Jasa
Services

12.49

12.96

12.21

13.34

12.48

12.91

12.80

13.98

13.15

TW. I

TW. II

TW. III

TW. IV

TW. I

TW. II

32.54

30.86

31.50

28.73

31.15

Pertambangan dan Penggalian


Mining and Quarrying

9.36

9.41

9.60

10.32

Industri Pengolahan
Manufacturing Industries

7.76

8.00

7.72

Konstruksi
Construction

0.43

0.45

Listrik, Gas, Air Bersih


Electricity, Gas, Clean Water

5.13

Perdagangan, Restoran, Hotel


Trading, Restaurant, Hotel

Pertanian
Agriculture

Sumber: Bank Indonesia, 2012 (diolah penulis)


Source: Bank Indonesia, 2012 (processed by the author)

118

2012

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

5.2 
Degradasi Lingkungan yang
Bersumber dari Aktivitas Sektor
Strategis

Environmental Degradation due to the


Activities of Strategic Sectors

Peningkatan aktivitas sektor berdampak


besar di Kalimantan berpengaruh pada
peningkatan degradasi lingkungan di
wilayah tersebut. Degradasi lingkungan yang terjadi pada sektor industri
kehutanan antara lain diakibatkan oleh
pembalakan yang tidak ramah lingkungan, konversi hutan alam yang tidak
sesuai ketentuan, penebangan liar dan
industri perkayuan yang mencemari
lingkungan (udara dan sungai). Di bidang
pertambangan degradasi ringan diakibatkan oleh pertambangan terbuka
yang menciptakan cekungan-cekungan
bekas tambang yang tidak direklamasi,
serta dampak pencucian mineral tanah
pada bekas tambang yang mengalir ke
sungai-sungai dan penanganan limbah
pertambangan yang tidak sebagaimana
mestinya, maupun transportasi hasil
tambang yang menggunakan jalan-jalan
negara. Sedangkan di bidang perkebunan, degradasi lingkungan terjadi
karena tidak diikutinya kaedah-kaedah
perkebunan berkelanjutan (tidak memelihara kehati, sistem pengolahan
tanah yang tidak baik, pemupukan yang
tidak tepat dan lain-lain).
Dampak dari aktivitas ekonomi sektor
strategis ini terhadap degradasi lingkungan apabila tidak ditangani maka
akan berakibat pada penurunan kualitas
lingkungan seperti peningkatan kawasan rawan banjir, peningkatan tingkat
polusi udara dan peningkatan tingkat
polusi air dan pada akhirnya akan berdampak kepada kesehatan masyarakat.
Jika ini terjadi maka konsep pengembangan ekonomi hijau tidak tercapai
sebagaimana yang dimaksudkan.

Increased activities of strategic sectors in Kalimantan have significantly


increased environmental degradation.
Environmental degradation that occurs
in the forestry industry is mainly caused
by unsustainable logging, natural forest
conversion that doesnt comply with
requirements, illegal logging and timber
industries that pollute the environment
(air and river).
In the mining sector, light degradation
is caused by open-pit mining that creates holes in former mines that are not
reclaimed. There is also the impact of
mineral leaching in former mine areas
flows into rivers, inappropriate handling
of mining waste and transport of mining products that use State roads. In
the plantation sector, environmental
degradation occurs because sustainable
plantation principles are not followed
(not maintaining biodiversity, inappropriate soil treatment systems, improper
fertilization, etc.)
The impact of the strategic sectors
economic activities on the environment,
if not handled properly, will result in
environmental quality degradation such
as increased flood prone areas, increased levels of air and water pollution
levels that will ultimately have an impact
on public health. If this continues to
happen, the concept of green economy
development will not be achieved as
intended.

119

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

5.3 
Implementasi Ekonomi Hijau
Sektor Strategis
The Implementation of Green Economy in
Strategic Sectors
Kebijakan ekonomi hijau pada sektorsektors strategis difokuskan pada suatu
usaha untuk menjaga keberlangsungan
produksi pada sektor-sektor tersebut
dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Implementasi ekonomi hijau pada sektor
strategis diuraikan sebagai berikut:

Green economy policies in strategic


sectors are focused on an attempt to
maintain continuity of production and
environmental equilibrium. The implementation of green economy in strategic
sectors is as follows:
5.3.1. Sustainable Timber Harvesting

5.3.1. Pemanenan Kayu yang Berkelan


jutan
Untuk mengimplementasikan kebijakan ekonomi hijau dalam pemanfaatan
hasil hutan kayu, menerapkan konsep
PHPL atau dalam bahasa yang lebih
sederhana adalah memanfaatkan hasil
hutan kayu sesuai dengan kemampuan
hutan itu untuk memproduksinya. Upaya
mewujudkan target ini diantaranya ialah
mengurangi dampak penebangan hutan
dengan menerapkan RIL, memperoleh
sertifikasi pengelolaan hutan mandatory
dan voluntary (SVLK, PHPL, dan FSC, LEI
atau PEFC).

To implement green economy policies


in the utilization of timber forest products, the concept of sustainable forest
management has to be applied, which
refers to the utilization of timber forest
products in accordance with the forests
capacity to produce. Efforts made to
achieve this include measures to reduce
the impact of deforestation by applying
RIL and obtaining mandatory and voluntary forest management certifications
(TLVS, SFM, and FSC, LEI or Program
for the Endorsement of Forest Certification / PEFC).
5.3.2. Sustainable Palm Oil

5.3.2. Minyak Sawit yang Berkelanjutan


Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO)
adalah pedoman bagaimana mengelola perkebunan kelapa sawit secara
berkelanjutan. Pedoman ini termaktub
di dalam Peraturan Menteri Pertanian No 19/Permentan/OT.140/3/2011.
Pedoman ini bersifat wajib dilaksanakan
oleh industri perkebunan kelapa sawit.
Paling lambat tanggal 31 Desember
2014, perkebunan kelapa sawit (kelas I
dan II) harus sudah bersertifikasi ISPO.

120

The Indonesian Sustainable Palm Oil


(ISPO) scheme is a set of guidelines on
how to manage oil palm plantations in a
sustainable manner. Set out under the
Regulation of the Minister of Agriculture
No. 19 / Permentan / OT.140 / 3/2011,
these guidelines are mandatory and are
to be implemented, no later than December 31, 2014, all oil palm plantations
(classified under class I and II categories) must be ISPO certified.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

ISPO adalah sistem usaha di bidang


perkebunan kelapa sawit yang layak
ekonomi, layak sosial dan ramah terhadap lingkungan, yang didasarkan pada
peraturan perundangan yang berlaku di
Indonesia. Untuk memperoleh sertifikasi ISPO, usaha perkebunan kelapa sawit
harus memenuhi unsur kepatuhan dari
aspek/segi hukum, ekonomi, lingkungan
dan sosial. Prinsip dan kriteria ISPO untuk perkebunan kelapa sawit berkelanjutan adalah:
Sistem perizinan dan manajemen
perkebunan.
Penerapan pedoman teknis budidaya
dan pengolahan kelapa sawit.
Pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
Tanggung jawab terhadap pekerja.
Tanggung jawab sosial dan komunitas.
Pemberdayaan kegiatan ekonomi
masyarakat.
Peningkatan usaha secara berkelanjutan.
Ruang lingkup sertifikasi ISPO selain
kebun pemasok milik perusahaan dan
PKS, juga termasuk pemasok lainnya.
Dengan demikian, apabila suatu perkebunan kelapa sawit menerima pasokan
dari kebun plasma, maka tandan buah
segar (TBS) plasma ini harus memenuhi
sertifikasi ISPO. Demikian pula, sertifikasi ISPO dikembangkan sampai dengan
tersertifikasinya rantai pasokan ISPO
(sistem sertifikasi rantai pasok ISPO).
Selanjutnya, semua usaha perkebunan
kelas I dan II di Indonesia (termasuk
perkebunan rakyat) dipersiapkan untuk
memenuhi kriteria pengelolaan usaha
yang berkelanjutan.
Prinsip ISPO dengan demikian bisa
disejajarkan dengan RSPO dan ISCC
(International Sustainability and Carbon
Certification). Salah satu kunci ISPO yang
akan berkembang adalah ISPO secara
internal memberikan insentif kepada
usaha perkebunan untuk memenuhi

ISPO is a business system promoting oil


palm plantations that are economically
viable and environmentally friendly,
based on the prevailing laws and regulations in Indonesia. To obtain ISPO certification, oil palm plantations must meet
the compliance requirements on legal,
economic, environmental and social
aspects. ISPO principles and criteria for
sustainable palm oil plantations are:
Licensing system and plantation management.
Application of technical guidelines
on oil palm cultivation and palm oil
processing.
Environmental management and
monitoring.
Responsibility towards workers.
Social responsibility towards community.
Empowerment of peoples economic
activities.
Scaling up business sustainably.
ISPO certification is intended for oil
palm plantation estates belonging to
large-scale oil palm companies and operators that supply fresh fruit bunches
to their own companies, but also for
other suppliers. Thus, if an oil palm
company accepts a supply of fresh fruit
bunches from a smallholder outgrower
estate, the fresh fruit bunches in question will have to meet ISPO certification
criteria, which implies that all the smallholders under the outgrower scheme
agreement with the company will have
their farms ISPO certified. This requirement will continue to be applied until
the entire supply chain gets certified.
Eventually, all plantation businesses under the class I and II categories across
Indonesia (including smallholdings or
peoples plantations) will meet sustainable business management criteria
set under the ISPO scheme. The ISPO
certification scheme is thus in alignment with RSPO and ISCC (International
Sustainability and Carbon Certification)
schemes. One of ISPOs key features is

121

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

sertifikasi ISPO. Beberapa catatan untuk


mendorong implementasi ISPO (Sugiyanto, 2013, p. ) adalah:
1. Komprehensif
ISPO juga memasukkan unsur strategis
di dalam sektor perkebunan kelapa
sawit, yaitu perkebunan rakyat. Hal ini
mengingat kontribusi perkebunan rakyat
di dalam total perkebunan Indonesia
masih besar yaitu sekitar 35%.
2. Integrasi dengan Strategi Daerah
Kebijaksanaan ISPO harus diintegrasikan dengan kebijakan pembangunan
daerah. Hal ini agar terjadi sinkronisasi
antara kebijakan yang memiliki misi
jangka pendek (para anggota dewan dan
bupati/walikota yang masa edarnya 5
tahunan) dengan misi jangka panjang
ISPO.
3. Tata Kelola yang Baik Indonesia termasuk salah satu negara korup. Dengan
demikian, kredibilitas dari para auditor
dan lembaga yang terkait harus tinggi.
4. Pengakuan Internasional ISPO juga
harus memperoleh pengakuan internasional seperti dari negara-negara European Union (EU), USA, dan Tiongkok,
sebagai negara importir minyak sawit
mentah utama Indonesia. Tanpa adanya
pengakuan dari mitra dagang, maka
upaya sertifikasi ISPO akan menjadi siasia dari sisi bisnis.
5. Insentif Pasar
Salah satu bentuk insentif bisnis adalah
harga. Apakah dengan memperoleh
sertifikasi ISPO maka akan memperoleh
harga premium. Sertifikasi ISPO perlu
merencanakan insentif financial yang
terinternalisasi dan didorong oleh sistem ISPO sehingga bersifat lestari.
Prinsip ISPO dengan demikian searah
dengan strategi perdagangan pada umumnya, bagaimana meraih kemenangan
di tengah persaingan yang ketat. Pada
prinsip berkelanjutan terdapat banyak
kelebihan di setiap aktivitas proses bisnis yang tercermin dalam sebuah rantai

122

that ISPO provides incentives to plantation businesses to meet ISPO certification criteria and get certified. ISPO
has the following features to promote
certification (Sugiyanto, 2013, p.) :
1. Comprehensive
ISPO incorporates a strategic element
in the oil palm plantation sector, namely
smallholdings because the contribution
of smallholders plantations to the countrys total plantation is still quite large,
that is, around 35%.
2. Integrated with Regional Strategies
ISPO policies should be integrated into
provincial development policies. This is
intended to enable synchronization between policies with short-term missions
(the members of the local parliaments,
district chiefs and mayors with a 5-year
term of office) and the long-term missions of the ISPO.
3. Good Governance
Indonesia is among the worlds more
corrupt countries. Thus, the credibility
of the auditors and the relevant institutions should be high.
4. International Recognition
It is necessary for ISPO to obtain international recognition from the European
Union (EU), USA, and China because they
are the main importers of Indonesian
crude palm oil. Without recognition from
trading partners, the ISPO certification
efforts will be in vain from a business
point of view.
5. Market Incentives
One form of business incentive is price.
Will ISPO certification lead to a premium price? It is necessary to plan ISPO
certification that is linked to a financial
incentives that are internalized and
driven by the ISPO system to make it
sustainable.
This ISPO principle is thus in line with
trading strategies in general, and within

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

nilai (value chain) yang dapat diambil


bila perusahaan industri kelapa sawit
tersebut dapat menerapkan prinsip kelestarian lingkungan hidup (Wijk, 2009).
Selain memenuhi persyaratan sertifikasi wajib seperti ISPO, perkebunan
sawit juga dapat memenuhi sertifikasi
sukarela untuk memperluas pasar luar
negeri seperti RSPO, ISCC (International
Standard for Carbon Certification) dan
SAN (Sustainable Agriculture Network).
5.3.3. Pertambangan yang bertanggung
jawab
Pertambangan yang bertanggung jawab
mengacu kepada tuntutan untuk melakukan perbaikan kegiatan pertambangan yang mencakup kegiatan operasional dan strategi pemasaran produk
tambang untuk mendorong kegiatan
operasional lebih ramah lingkungan dan
secara sosial dapat diterima. Kegiatan
pertambangan yang bertanggung jawab
merupakan suatu kegiatan tambang
tanpa mengesampingkan keseimbangan
lingkungan. Pertambangan mengikuti
panduan praktik terbaik internasional,
dengan memperbaiki pengelolaan limbah agar mengurangi dampak terhadap
kualitas udara dan air. Dengan kata lain,
dampak negatif dari kegiatan pertambangan harus diminimalisasi, baik
dampak negatif pada lingkungan maupun pada masyarakat.
Berdasarkan seminar yang diselenggarakan oleh The World Bank Group:
Bank Information Center yang berjudul
Responsible Mining: The Key to Profitable
Resource Development (2012), terdapat delapan prinsip atau indikator yang
harus dipatuhi dalam pertambangan
yang bertanggung jawab. Prinsipprinsip atau indikator-indikator tersebut
adalah:

this principle of sustainability there are


many advantages that are reflected in
the value chain. These advantages can
be retrieved if the oil palm industry is
able to apply the principles of environmental sustainability (Wijk, 2009).
In addition to having to meet the requirements for government-sanctioned
mandatory ISPO certification, oil palm
plantations may also opt for voluntary
certification to expand their markets
overseas, such as the ones provided
under the RSPO, ISCC (International
Standard for Carbon Certification) and
SAN (Sustainable Agriculture Network).
5.3.3. Responsible mining
Responsible mining refers to demands
for improvement of mining activities,
which include operational activities and
strategies to market mining products
and to promote operational activities
that are more environmentally friendly
and socially acceptable. Responsible
mining activities are mining operation
activities that do not compromise the
environmental equilibrium. Responsible mining follows international best
practices-based guidelines, and improves waste management in order to
reduce the impact on air and water quality. In other words, responsible mining is
concerned with minimizing the negative
impacts of mining activities on the environment and the public (including local
communities).
Based on a seminar organized by The
World Bank Groups Bank Information
Center entitled Responsible Mining:
The Key to Profitable Resource Development (2012), there are eight principles
or indicators that should be followed in
responsible mining. The principles or
indicators are:

1. Penilaian Sosial dan Lingkungan


Kegiatan pertambangan harus dimulai dengan penilaian lingkungan dan

123

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

WWF-Indonesia /

masyarakat di kawasan yang akan dijadikan daerah pertambangan. Penilaian


terhadap lingkungan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan, apakah
lingkungan tersebut layak untuk kegiatan tambang? Bagaimana dampak pertambangan terhadap lingkungan? Serta
bagaimana dampak pertambangan
terhadap kondisi sosial masyarakat? Hal
tersebut dapat dilakukan oleh pemerintah dan pakar lingkungan sehingga dapat merumuskan suatu landasan hukum
yang efektif. Perusahaan yang berniat
untuk melakukan kegiatan tambang di
suatu tempat harus lolos uji penilaian
lingkungan.
2. Transparan
Kegiatan pertambangan harus bersifat
transparan, baik dari sisi pemerintah
maupun dari sisi perusahaan yang
berkepentingan. Pihak-pihak yang
terlibat dalam pertambangan wajib
mempublikasikan isi kontrak kegiatan pertambangan yang dilakukan dan
hasil dari kegiatan pertambangan, baik
bernilai uang atau satuan berat, dampak
terhadap lingkungan, serta rehabilitasi
lingkungan yang dilakukan. Dengan
perkembangan sistem komunikasi yang
semakin inovatif, hal-hal tersebut dapat
dipublikasikan melalui internet dengan
akun resmi.

124

1. Social and Environmental Assess


ment
Mining activities should begin with an
assessment of the environment that will
be converted into a mining area, and the
communities in that area. This should
answer the questions of whether the environment is suitable for mining operations; what impact the mining operation
would have on the environment; and
what impact the mining operations will
have on the community. Such assessment can be made by the government
and environmental experts in order to
formulate an effective legal basis for the
mining operation. Companies that intend
to conduct mining activities must pass
this environmental assessment test.
2. Transparency
Transparency is required of both the
government and the mining companies
concerned. Parties engaged in mining
activities shall publish the contents of
their contracts detailing mining activities with the results, the amount of mining products extracted and their value,
the impact of their operaiton on the environment, and environmental remediation. Such information can be published
on the internet through their respective
official web sites.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

3. Penerimaan oleh Para Pihak


Dalam ini yang dimaksudkan dengan stakeholder adalah pihak-pihak
yang berkepentingan dalam kegiatan
tambang, yaitu perusahaan pertambangan, pegawai perusahaan tambang,
masyarakat lokal dan pemerintah.
Setelah penilaian terhadap lingkungan
dipublikasikan, apabila terdapat pihak
yang tidak menyetujui pertambangan
tersebut, maka kegiatan pertambangan
tidak dapat dilakukan. Apabila kegiatan pertambangan telah disetujui oleh
semua stakeholder, perusahaan tambang wajib menyalurkan CSR kepada
masyarakat lokal.
4. Food Production Trumps Questionable
Mining
Pertambangan tidak boleh menurunkan
sumber daya air dan tanah yang berperan penting dalam ketahanan pangan.
Dengan kata lain, pertambangan tidak
boleh menyebabkan produksi pangan
dan air menjadi berkurang. Oleh sebab
itu manajemen lingkungan dalam pertambangan, seperti manajemen air dan
tanah sangat penting. Kegiatan pertambangan juga harus mengutamakan
kesejahteraan para pekerja tambang
dan masyarakat lokal.
5. Patuh pada Standar Internasional
Tambang yang bertanggung jawab adalah suatu kegiatan pertambangan yang
mematuhi segala standar sosial dan
lingkungan yang telah berlaku secara
internasional.
6. Prakualifikasi atau sertifikasi bagi
pencari izin tambang yang berpotensi
Semua kegiatan tambang harus memiliki sertifikat yang menyatakan bahwa
kegiatan tersebut tidak menyalahi
standar internasional. Sertifikat tersebut harus dikeluarkan oleh pihak ketiga,
bukan pemerintah negara yang memiliki kawasan pertambangan. Saat ini,
terdapat beberapa organisasi yang telah
diakui baik secara internasional dalam
memantau proses pertambangan dan

3. Acceptance by Stakeholders
Stakeholders refers to parties interested in mining activities, that is, mining
companies, mining company employees,
local communities and governments.
Once the environmental assessment
is published, if there are parties who
do not approve of the proposed mining
operation, no mining activities may take
place. If the mining operation has been
approved by all the stakeholders, the
mining company is required to fulfill its
CSR obligations to the local community.
4. Food Production Trumps Question
able Mining
Mining must not deplete water and soil
resources that play an important role
in food security. In other words, mining
should not lead to the reduction in the
production of food and water. Therefore, environmental management in any
mining operation such as water and soil
management is very important. Mining activities should also prioritize the
welfare of mine workers and local communities.
5. Compliance with International
Standards
Responsible mining refers to a mining
operation that complies with all social
and environmental standards that are
internationally applicable.
6. Pre-qualification or certification of
potential mining permit seekers
All mining activities must have a certificate stating that such activities do not
violate international standards. Such
certificates must be issued by a third
party, not the government of the country
which has the mining area. Currently,
there are several organizations that
have been recognized internationally in
monitoring mining processes and can
certify companies that meet their criteria. These organizations include, Global
Witness, the Environmental Investigation Agency, the Environmental Law
Institute, SGS of Geneva, Switzerland,

125

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

mengeluarkan sertifikat tersebut pada


perusahaan-perusahaan yang layak.
Organisasi-organisasi tersebut, antara
lain adalah Global Witness, Environmental Investigation Agency, Environmental
Law Institute, SGS of Geneva, Switzerland,
atau badan PBB yang bergerak di bidang
pengawasan lingkungan.
7. Asuransi dan Kinerja Obligasi
Obligasi telah banyak digunakan sebagai sumber pembiayaan suatu usaha,
salah satunya usaha pertambangan.
Tantangannya adalah memformulasikan
tingkat asuransi dan obligasi sehingga
cukup untuk menutup kecelakaan atau
hal-hal yang tidak diinginkan dalam
kegiatan pertambangan. Kadang setelah pertambangan ditutup, perusahaan
tambang menyatakan diri bangkrut atau
diambil alih oleh perusahaan lain. Seringkali kerusakaan lingkungan terjadi
setelah pertambangan selesai, maka
adanya obligasi yang diperuntukkan
untuk membiayai kerusakan lingkungan
akan sangat bermanfaat.
8. Royalti, Pajak dan Biaya
Sistem pertambangan yang bertanggung jawab menilai secara akurat
semua biaya yang relevan dan manfaat
yang dihasilkan untuk memastikan
apakah tambang yang diusulkan akan
mendapatkan keuntungan bersih yang
signifikan.

...pertambangan tidak boleh


menyebabkan produksi pangan
dan air menjadi berkurang

126

and United Nations agencies working in


the field of environmental monitoring.
7. Insurance and Performance Bonds
Bonds have been widely used as a
source of financing for business. The
challenge is to formulate a scheme of
insurance and bonds-based financing at a level that is sufficient to cover
accidents or other unwanted contingencies in the course of mining activities.
Sometimes after a mine is closed, the
mining company declares bankruptcy
or is taken over by another company. It
often happens that the damage to the
environment occurs after the mining
operation is concluded. In this case, the
existence of bonds that are intended to
finance rehabilitative measures to address the damage the mining operation
inflicted on the environment would be
very useful.
8. Royalties, Taxes and Fees
A responsible mining system accurately
assesses all relevant costs and benefits
to determine whether a proposed mine
will yield a significant net profit.

...mining should not lead to


the reduction of food and water
production.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

5.4 
Alternatif Solusi Rehabilitasi
Ekonomi Hijau pada Sektor
Strategis yang berdampak besar
The Alternative Solution of Gren Economy-based
Rehabilitation in High Impact Strategic Sectors

emanenan kayu yang berkelanjutan,


minyak sawit yang berkelanjutan
dan tambang yang bertanggung jawab
merupakan implementasi ekonomi hijau
yang penting di kawasan HoB, yang
dapat mengurangi potensi kerusakan
lingkungan akibat pertumbuhan ekonomi yang pesat di tiga atau empat provinsi di kawasan tersebut. Harus diakui
fakta yang terjadi saat ini bahwa degradasi lingkungan di kawasan HoB telah
mencapai taraf yang mengkuatirkan
dilihat dari data deforestasi kawasan ini
sebagaimana yang disampaikan pada
bab sebelumnya. Oleh sebab itu diperlukan upaya untuk merehabilitasi dampak
pemanfaatan sumber daya alam pada
sektor-sekor tersebut dan memperbaiki
sistem pengelolaan yang ada saat ini.
Tabel 12 merangkum permasalahan
serta alternatif solusi yang dapat dijalankan dengan berlandaskan kerangka
pemikiran ekonomi hijau. Alternatif
solusi lain yang dapat dijalankan juga
mengacu pada praktik terbaik internasional (international best practice) yang
terjadi di Australia dan skema REDD
(Reducing Emissions from Deforestation
and forest Degradation).

ustainable timber harvesting, sustainable palm oil and responsible


mining constitute important implementation of green economy in the Heart of
Borneo, which may reduce the potential for environmental damage from
rapid economic growth in the three or
four provinces in the region. It must be
admitted that the current environmental
degradation in the HoB has reached an
alarming level, as apparent from the
data on the deforestation of this region
as presented in the previous chapter.
Therefore it is necessary to take rehabilitative action to address the negative impact of the utilization of natural
resources in such sectors and improve
the existing management system.
Table 12 summarizes issues and alternative solutions.

127

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Tabel 12: Spesifikasi Permasalahan Lingkungan dari Aktivitas High-Impact Sectors di HoB - Indonesia

Sektor

Hasil
Hutan
Kayu

Kerusakan lingkungan
yang ditimbulkan

Deforestasi dan degradasi


hutan (Hutan Hak, Produksi,
Lindung dan Konservasi).

Melakukan kebijakan ekonomi


hijau bagi pelaku ekonomi
(BUMN,BUMD, Swasta dan
Perorangan).

Emisi karbon yang tinggi.

Mempromosikan kegiatan
menanam 1000 pohon,
revegetasi.

Penurunan kualitas tanah.

Menggunakan metode
pemanenan pohon yang
berkelanjutan.

Kerusakan lingkungan.

Membuat kebijakan yang ketat


mengenai pemanfaatan hutan
lindung dan produksi.

Punahnya beberapa spesies


hewan dan tumbuhan.

Perkebunan
Kelapa
Sawit

Solusi Alternatif
Rehabilitasi

Merevitalisasi vegetasi hutan


alam yang sudah rusak.
Membuat cagar alam lebih
banyak.

Pencemaran sungai dari


tandan kosong dan limbah
kelapa sawit.

Daur ulang untuk dijadikan


pupuk.

Emisi karbon akibat


pembakaran palmoil cake.

Digunakan sebagai pakan ternak


(diekspor ke Eropa).

Emisi karbon akibat


pembakaran sisa vegetasi
sebelum penanaman kembali.

Daur ulang untuk dijadikan


pupuk.

Deforestasi.

Revegetasi.

Pasokan air yang semakin


sedikit akibat pengalihan hutan
menjadi perkebunan.

Penerapan zero-burning policy.

Penghentian pemberian izin


konversi pada hutan primer.
Pengubahan status hutan
primer menjadi hutan
permanen.
Reklamasi.

Pertambangan

Pond atau kolam besar bekas


penambangan batubara.

Pencemaran air tanah dan air


permukaan akibat kegiatan
pertambangan.

128

Revegetasi.
Pembuatan danau buatan.
Alih fungsi lahan menjadi
area publik.
Pembuatan jalur pipa hasil
limbah pertambangan.
Penggunaan teknologi untuk
mengatasi limbah.

Deforestasi yang diakibatkan


oleh alih fungsi area hutan
menjadi tambang.

Revegetasi.

Peningkatan kawasan rawan


banjir karena deforestasi.

Revegetasi.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Table 12: Environmental Issues in High-Impact Sectors in HoB - Indonesia

Sector

Timber
Forest
Products

Environmental Damage
that Has Been Occured

Alternative Solutions of
Environment Rehabilitation

Deforestation and forest


degradation (Forest Rights,
Production, Protection and
Conservation)

Implement green economy


policies for economic actors
(state owned enterprises,
regional government owned
enterprises, Private Company
and Individual)

High carbon emissions

Promote planting 1,000 trees


activities, revegetation

Land degradation

Use sustainable method of tree


harvesting

Environmental damage

Make strict policies on the


utilization of protected and
production forest

Extinction of some animal


and plant species

Revitalize the natural forest


vegetation that has been
damaged
Make more nature reserves

Perkebunan
Kelapa
Sawit

River pollution caused by


empty fruit bunches and
waste of oil palm

Recycled to be used as fertilizer

Carbon emissions from


palmoil cake burning

Used as animal feed (exported to


Europe)

Carbon emissions from


burning of vegetation
remnant before replanting
Deforestation
Dwindling water supply due
to conversion of forest to
plantations

Recycled to be used as
fertilizer
Application of zero-burning
policy
Revegetation
Suspension of provision of
conversion permit of primary
forests.
Changing the status of primary
forest into permanent forest
Reclamation

Mining

Pond or large pond former


coal mining

Revegetation
Making artificial lake
Land conversion into public

Pollution of ground water and


surface water due to mining
activities

Making mining waste results


pipeline
Using technology to overcome
the waste

Deforestation caused by the


conversion of forest areas into
mining areas

Revegetation

Increase in areas prone to


flooding due to deforestation

Revegetation

129

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Praktik Terbaik Internasional dari


Pertambangan yang Bertanggung
Jawab di Australia
International Best Practice of
Responsible Mining in Australia

mineral dan energi menyumbang 47% dari

and energy sector contributes 47 percent

total ekspor Australia (2011). Seiring dengan

of Australias exports (2011). But environ-

perkembangan pertambangan, degradasi

mental degradation (such as decreasing air

lingkungan, seperti penurunan kualitas

and water quality), as well as the expansion

udara, penuruan kualitas air dan pening-

of flood-prone areas, are also happening

katan kawasan rawan banjir pun terjadi di

in Australia. Environmental degradation in

Australia. Degradasi lingkungan di Australia

Australia has compelled the Government to

berdampak pada peningkatan biaya yang

increase spending to prevent the impacts

harus dikeluarkan oleh Pemerintah Austral-

of degradation. In the 1960s, the Australian

ia untuk menghadapi dan mencegah dampak

Government prepared the legal foundations

dari degradasi tersebut. Oleh sebab itu

and concrete measures to restore natural

pada dekade 1960-an, Pemerintah Australia

balance, while maintaining the health of the

menyusun landasan hukum serta langkah-

Australian economy.

ustralia merupakan negara maju


dimana pertambangan berkontribusi

besar terhadap perekonomiannya. Sektor

ustralia is one of the developed countries where mining makes significant

contributions to the economy. The minerals

langkah konkrit untuk mengembalikan


keseimbangan alam, namun perekonomian

Australia strengthened the legal basis

Australia tetap berjalan baik.

through concrete and sustainable measures


to restore natural balance in former mining

130

Secara umum Australia menerapkan

areas. The decision to issue mining permits

memperkuat landasan hukum serta

is left to each state. Companies that mine in

melakukan langkah-langkah konkrit dan

Australia must abide by the relevant envi-

berkesinambungan untuk mengembalikan

ronmental indicators, such as acidity levels

keseimbangan alam di wilayah bekas per-

and so on. Mining companies must also

tambangan. Keputusan untuk memberikan

meet technological requirements which are

izin untuk pertambangan diserahkan kepada

applied by the Government. The Australian

masing-masing negara bagian di Australia.

Government consulted with environmental-

Perusahaan-perusahaan yang melakukan

ists and technology experts to formulate

pertambangan di Australia wajib mema-

the legal basis for mining in Australia. The

tuhi indikator-indikator lingkungan yang

Government expects that it can minimize the

berlaku di Australia, seperti kadar asam

negative impact of mining. The Australian

dan sebagainya. Perusahaan-perusahaan

law also expressly requires companies with

penambangan juga wajib memenuhi per-

mining permits to perform environmen-

syaratan teknologi yang diterapkan oleh

tal restoration after the mine permit has

Australia. Pemerintah Australia telah

expired. The most frequently carried out en-

melakukan konsultasi dengan para pakar

vironmental improvement activity in former

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

lingkungan serta teknologi untuk menyusun

mining areas in Australia is reclamation.

landasan hukum tentang pertambangan di

Reclamation of former mining areas is an at-

Australia. Pemer intah Australia berharap,

tempt to restore or recover the land and veg-

hal tersebut dapat meminimalisasi dampak

etation of a forest that has been destroyed by

negatif dari pertambangan. Hukum Australia

energy extraction and mining activities.

juga secara tegas mewajibkan perusahaanperusahaan yang telah mendapatkan izin

Alcoa of Australia Ltd is an internationally

tambang untuk melakukan perbaikan

recognized Australian company due to its

lingkungan setelah izin untuk melakukan

success in rehabilitating a former bauxite

usaha tambangnya habis. Upaya perbaikan

mine of 2,000 hectares in Sydney. Alcoa of

lingkungan yang dilakukan di area bekas

Australia Ltd carried out the rehabilitation

tambang di Australia yang paling sering di-

by building a public parking area and an arti-

lakukan adalah reklamasi. Reklamasi bekas

ficial river facility for rafting and recreation.

tambang adalah usaha memperbaiki atau

The artificial river was even used as a row-

memulihkan kembali lahan dan vegetasi

ing area during the 2000 Sydney Olympics.

dalam kawasan hutan yang rusak sebagai


akibat kegiatan usaha pertambangan dan

Besides the recovery efforts, Australia also

energi.

uses preventive measures when a company


is about to perform mining operations. The

Alcoa of Australia Ltd merupakan pe-

Australian government cooperates with

rusahaan Australia yang mendapatkan

environmentalists and technology experts to

pengakuan dunia terkait dengan keber-

map the mining areas in Australia. Besides

hasilannya merehabilitasi bekas tambang

that, the Australian Government has also

bauksit sebesar 2000 ha di Sydney. Alcoa of

formulated a long-term mining plan, such

Australia Ltd melakukan rehabilitasi dengan

as setting up maximum periods for permits

cara membangun area parkir umum dan

given to mining companies, technological

membangun fasilitas sungai buatan yang

standards to be used by mining companies,

diperuntukkan untuk kegiatan arung jeram

as well as environmental indicators, such

dan rekreasi. Sungai buatan tersebut bah-

as the level of acidity in water and air qual-

kan digunakan sebagai area mendayung

ity levels, which mining companies must

pada Olimpiade Sydney 2000.

comply with.

Selain usaha pemulihan, Australia juga


menggunakan langkah-langkah preventif
ketika suatu perusahaan akan melakukan
usaha pertambangan. Pemerintah Australia
bekerja sama dengan para pakar lingkungan
dan teknologi untuk memetakan area pertambangan di Australia. Selain itu, Pemerintah Australia juga telah menyusun rencana
pertambangan dalam jangka panjang,
seperti jangka waktu optimal terkait izin
yang diberikan untuk perusahaan tambang,
teknologi yang harus dipakai oleh perusahaan tambang, serta indikator-indikator
lingkungan, seperti kadar keasamaan air
dan kadar udara, yang harus dipatuhi oleh
perusahaan-perusahaan tambang.

131

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Pengurangan Emisi dan


Deforestasi melalui Skema REDD
Reducing Emissions, Deforestation and Forest
Degradation through REDD+ Scheme

educing Emissions from Deforestation and


Degradation (REDD) merupakan inisiatif

untuk mengurangi emisi dari deforestasi


dan perusakan hutan yang berakar dari
komitmen Indonesia diranah internasional.
Nicholas Stern menyorot potensi yang dapat
digali dari perlindungan aktif hutan alami
terkait pemanasan bumi. Sebesar 18% gas
rumah kaca berasal dari deforestasi, yang
menurut Stern dapat dikurangi secara cepat
dan tanpa perlu inovasi teknologi yang mahal yaitu melalui penghutanan kembali. 12

Di Konferensi Iklim Dunia di Bali tahun 2007,

educing Emissions from Deforestation


and Degradation (REDD) is an initiative
to reduce the emissions from deforestation
and forest damage, rooted in Indonesias
commitment in the international arena. Sir
Nicholas Stern has highlighted the potential for actively protecting natural forests
with regards to global warming. Around 18
percent of greenhouse gases come from deforestation, and according to Nicholas Stern,
these can be reduced rapidly and without the
need for expensive technological innovation
through reforestation.12

akan mengkompensasi kelebihan- kelebihan

During the World Climate Conference in


Bali (2007), the coalition of tropical forest
protection REDD fleshed out the framework
that may be designed to help developing
and industrial countries protect the sustainability of their forests. The main idea is
to consider forests as a repository of CO2
based on economic considerations. In the
form of financial rewards, these countries
will receive an incentive for conserving their
forest and thus also contribute in reducing
and containing CO2 emissions. This step will
compensate the excessive expenditures for
conservation and reduce lost revenue, which
must be addressed by countries that do not
convert their forest into profitable invest-

pengeluaran untuk tindakan perlindungan

ment land.13

koalisi perlindungan hutan tropis REDD


mengemukakan kerangka yang mungkin
dibuat untukmembantu negara berkembang
dan negara industri baru dalam melindungi
kelangsungan hutan mereka. Gagasan
intinya adalah memandang hutan sebagai
lumbung penyimpanan CO2 berdasarkan
pertimbangan ekonomis. Dalam bentuk
imbalan finansial, negara-negara ini akan
memperoleh insentif untuk melestarikan
hutan mereka dan dengan demikian turut
memberikan sumbangsih untuk mengurangi
serta mengikat pembuangan CO2. Cara ini

dan meredam kehilangan pendapatan yang


harus ditanggulangi oleh negara-negara
yang tidak mengubah kawasan hutannya
menjadi lahan investasi yang menguntungkan.13
Selama Konferensi Iklim di Kopenhagen
tahun 2009, gagasan-gagasan ini dibahas
lebih jauh: untuk menjawab para kritikus
12

13

132

During the Climate Conference in Copenhagen in 2009, these ideas were discussed
further. To respond to critiques that REDDs
sustainability initiative is too short, an addition was made and summarized under the
REDD+ denotation. The plus sign here
means including such factors as nature

Stern, N. Stern Review on the Economics of Climate Change (London, 2006), terutama Bab 25 (Reversing Emissions from Land Use
ChangeMembalikkan Emisi dari Perubahan Penggunaan Lahan), p. 537-538.
W WF Jerman, Politische Manahmen: REDD. Industrielnder finanzierenStopp der tropischen Entwaldung, um Emissionenzuverringern Tindakan Politis: REDD.Negara Industri Membiayai Penghentian Deforestasi Hutan Tropis, Guna Mengurangi Emisi, http://wwf.de/
themen/kampagnen/waelder-indonesiens/rettungsplan/redd

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

yang merasa keberlanjutan inisiatif REDD


terlalu singkat, dilakukan penambahan yang
dirangkum di bawah denotasi REDD+. Tanda plus di sini maksudnya perluasan agar
mencakup faktor-faktor seperti perlindung
an alam, manajemen hutan berkelanjutan
dan penghutanan kembali.14
Dari segi volume finansial global sebesar
kira-kira 3,3 miliar euro,15 sebagai hasil dari
perjanjian REDD bilateral dan multilateral,
Indonesia mengambil tempat terdepan
diantara negara-negara akseptor. Proyekproyek REDD yang kini berjumlah empat
puluh terutama didanai oleh tiga sumber
finansial.16 Dilingkup multilateral melalui
keturutsertaan dalam fase pilot REDD
dari PBB,17 dan dilingkup bilateral melalui
perjanjian antara Pemerintah Indonesia
dengan Australia dan Norwegia.
Dalam perjanjian bilateral antara Australia dan Norwegia, Indonesia mendapatkan tambahan 55 juta euro pada 2010
dari Australia untuk pengurangan emisi.18
Sedangkan Norwegia hendak menyediakan
satu miliar dolar Amerika (kira-kira 740
juta euro) dalam kurun waktu tujuh sampai
delapan tahun yang akan datang, apabila
Pemerintah Indonesia terbukti mampu
mengurangi gas rumah kaca dengan cara
melestarikan keberadaan hutan.19 Pada Mei
2010 Pemerintah Norwegia dan Indonesia
telah menyepakati rencana tiga tahap untuk
melindungi hutan. Bagian yang terlihat
paling peka adalah kewajiban Indonesia
untuk tidak memberikan lagi konsesi baru
untuk daerah lahan gambut dan hutan alam
selama kurun waktu dua tahun. Sementara
Norwegia memberi imbalan finansial kepada
Indonesia untuk mengawali dan menerapkan

protection, sustainable forest management


and reforestation.14
In terms of global financial volume about 3,3
billion euro,15 as the result of bilateral and
multilateral REDD agreement, has put Indonesia at the fore of other acceptor countries.
Forty REDD projects are funded by three
financial sources. 16 In multilateral scope it
comes from the participation in REDD pilot
phase from UN, 17 and in bilateral scope
it comes from by the agreement between
the Indonesian, Australian and Norwegian
Goverment.
In the bilateral agreement between Australia
and Norway, Indonesia received an additional 55 million euro in 2010 from Australia
to reduce emissions.18 Meanwhile, Norway is
preparing to provide US$ 1 billion (about 740
million euro) within the next seven to eight
years if the Indonesian Government can
reduce greenhouse gas emissions through
forest conservation.19 In May 2010, the Norwegian and Indonesian Governments agreed
on a three-stage plan to protect forests. The
most sensitive part of the agreement is Indonesias obligation to stop issuing concessions on peat land areas and natural forests
during a two-year period. Norway will give
financial rewards to Indonesia to start and
implement political reforms.

reformasi politik.

14

Klute, M. 2010. Die Geheimspracheder Klima PolitikerBahasa Rahasia Politikus Iklim, Suara,3, p. 20-22.

15
16

Acharya, K. Top Leaders See the Green in REDD+ - Para Pemimpin Papan Atas Melihat Jalan Keluar pada REDD+, TheJakartaPost.
 ogarty, D & Rondonuwu, O. Indonesia Chooses Climate Pact Pilot Province Indonesia Memilih Provinsi Percontohan Pakta Iklim,
G
Reuters, Accessed on 30/12/2010, http://reuters.com/article/2010/12/30/us-indonesia-climateidUSTRE6BT0NP20101230[14/02/2011.

17 

Yang Termasuk Negara-negara Percontohan REDD adalah Bolivia, Republik Demokrasi Kongo, Indonesia, Panama, Papua Nugini,
Paraguay, Zambia, Tanzania dan Vietnam. Di bulan Oktober 2010 Sulawesi Tengah terpilih menjadi provinsi percontohan REDD Indonesia.
Bdk. UN-REDD laudsC.Sulawesis Active Support for ForestsREDD-PBB memuji dukungan aktif Sulawesi Tengah untuk hutan, The
Jakarta Post, Accessed on 22/01/2011,http://thejakartapost.com.

18 

Neilson, Fn. 3; FidelisE. Satriastanti, Indonesia Sees Small Victories At Cancn Talks Indonesia Memperoleh Kemenangan-Kemenangan
Kecil di Pertemuan di Cancn, The Jakarta Globe, Accessed on 1112/12/2010.

19 

Frings, M, Peran Indonesia dalam Kebijakan Iklim Internasional Insentif Finansial untuk Melindungi Kelangsungan Hutan Apakah Ini
Model Yang Efektif? Diakses pada Oktober 2012, http://wwf.de/themen/kampagnen/waelder-indonesiens/rettungsplan/redd

133

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

5.5 
Indikator Implementasi Penerapan
Prinsip-prinsip Ekonomi Hijau
Indicators for the Implementation of Green
Economy Principles

uatu sektor atau industri yang


telah menerapkan prinsip-prinsip
ekonomi hijau dapat dilihat seberapa
jauh sektor atau industri tersebut telah
melaksanakan perbaikan sistem operasional yang memenuhi kriteria sebagaimana prinsip-prinsip ekonomi hijau
yang dirumuskan oleh UNEP. Hal ini
meliputi operasional yang rendah emisi,
peningkatan efisiensi pada faktor-faktor
produksi seperti penggunaan bahan
baku dan energi serta dan produktivitas
dalam proses produksi, dan seberapa
jauh aspek-aspek sosial dapat diakomodasikan dalam aspek produksi dan pemasaran dan penggunaan produk yang
dihasilkan. Tabel 13 berikut ini beberapa
contoh indikator implementasi ekonomi
hijau pada sektor-sektor penting di
kawasan HoB.

134

f a sector or an industry claims that


it has already implemented green
economy principles, it is necessary to
find out to which extent the sector or
industry has carried out improvement
of its operations to fulfill the criteria of
green economy principles as formulated
by UNEP. This includes low-emission
operations, increased efficiency of production factors as reflected in the use of
raw materials and energy, and productivity in the process of production. It
is also necessary to find out to which
extent social aspects can be accommodated into production and marketing
aspects and the use of delivered products. Table 13 that follows, presents
examples of green economy implementation indicators in the main industrial
sectors in the HoB.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Tabel 13: Indikator Implementasi Ekonomi Hijau untuk Masing-masing Sektor Strategis di Wilayah HoB
Table 13: Green Economy Implementation Indicators for Each Strategic Sector in the HoB

Sektor / Sector

Indikator Implementasi Ekonomi Hijau /


Green Economy Implementation Indicators
Rendah Emisi /
Low Emission

Hasil Hutan Kayu


Timber Forest Product
1.IUPHHK Hutan Alam - Penerapan RIL-C; HCVF,
rahabilitasi tegakan
IUPHHK for Natural
tinggal
Forests

2.IUPHHK Hutan
Tanaman / IUPHHK
for planted forests

- Penyiapan lahan tanpa


bakar; RIL; HCVF;
Penggunaan pupuk organik
- Penggunaan energi
terbarukan

3.Industri Perkayuan;
bubur kayu dan
kertas / Timber
- Pengolahan limbah
industry; pulp and
paper industry
Perkebunan:
1.Besar
- Tidak mengkonversi hutan
yang baik

Efisiensi Sumber Daya/


Efficiency of resources

- Optimalisasi pemanfaatan
kayu

- Tidak merambah kawasan


hutan

- CSR; Bina Desa

- Pemanfaatan limbah
pembalakan
- Penggunaan benih unggul
produktivitas tinggi

- Peningkatan rendemen
(recovery) pengolahan

- CSR; Kemitraan
Perusahaan dan
masyarakat

- CSR; Pemanfaatan bahan


baku dari hutan rakyat

- Hemat energi dan bahan


baku

- Penggunaan bibit
produktivitas tinggi

- CSR; Pendampingan untuk


ISPO atau RSPO di untuk
kebun rakyat.
- Pembinaan kebun-kebun
plasma

- Penyiapan lahan tanpa


bakar

2.Rakyat

Keterlibatan Sosial/
Social engagement

- Penggunaan bibit unggul

- Penyiapan lahan tanpa


bakar

Pertambangan

- Pemanfaatan pupuk
organik
- Melakukan pertambangan
tertutup (close pit mining);
atau mengunakan
teknologi rendah emisi.

- Peningkatan recovery;
efisiensi
- Penghematan energi.

- CSR
- Sosialisasi hemat energi

- Penggunaan energi rendah


emisi (non fossil fuel)

Pertanian /
Perkebunan Rakyat

- Reklamasi

- Penggunaan benih unggul;


teknologi tepat guna

- Tidak merambah kawasan


hutan

- Penggunaan teknlogi
penyimpanan dan
pengolahan yang baik.

- Penyiapan lahan tanpa


bakar
- Penggunaan pupuk organik
- Agroforestri

- Membentuk kelompokkelompok pemasaran


bersama untuk
meningkatkan nilai tawar.

- Membentuk sentrasentra pengolahan dan


pemasaran bersama.

135

WWF / Suriyanto

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

136

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

VI.
STRATEGI
IMPLEMENTASI EKONOMI
HIJAU DI JANTUNG
KALIMANTAN
Green Economy
Implementation Strategy in
the Heart of Borneo

137

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

ebagaimana disebutkan sebelumnya,


strategi ekonomi hijau amat relevan untuk diterapkan di kawasan HoB,
mengingat kompatibilitasnya dengan
pembangunan berkelanjutan dan konversi HoB. Stategi ekonomi hijau yang
telah dijelaskan pada bab-bab terdahulu
memiliki beberapa dimensi strategis,
lintas sektoral dan lintas daerah dan
wilayah. Perencanaan pembangunan
berkelanjutan dengan tiga matra penting bidang ekonomi, sosial dan lingkungan perlu secara komprehensif dirumuskan. Kemudian, sistem organisasi
dan tata hubungan antar sektor, antar
daerah dan antar wilayah perlu diperjelas melalui suatu diskusi komprehensif
dan prinsip-prinsip jaringan kerja yang
saling mendukung. Akhirnya, implementasi ekonomi hijau di HoB, terutama
yang dilaksanakan oleh pemerintah
provinsi, dan pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota, memerlukan suatu
pemahaman substansi dan kompetensi
aparat pemerintah yang memadai. Oleh
karena itu implementasi ekonomi hijau
tentu tidaklah berdiri sendiri, tapi juga
terkait dengan sektor dan daerah lain.
Kinerja keberhasilan dari implementasi
ekonomi hijau tidak hanya dilihat melalui
dimensi atau pada sektor yang bersangkutan, tetapi perlu juga mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan pada
sektor dan daerah lain. Strategi ekonomi
hijau mensyaratkan proses pengambilan
keputusan yang dilandasi sistem musyawarah mufakat dengan tetap memegang
teguh pada visi HoB akan meningkatkan
tata kelola dari seluruh rangkaian perencanaan, organisasi dan implementasi
ekonomi hijau di wilayah HoB.
Ketujuh belas kabupaten di kawasan
HoB tentu memiliki tanggung jawab
yang lebih besar dalam implementasi
strategi eknomi hijau, dibandingkan
dengan kabupaten lain di sekitarnya.
Maksudnya, implementasi ekonomi hijau
di kabupaten dalam Kawasan HoB bukan merupakan suatu opsi, tetapi suatu
keniscayaan yang harus menjadi bagian

138

s mentioned earlier, it is very relevant to implement green economy


principles and by extension, strategies, in the Heart of Borneo, given their
compatibility with the importance of
sustainable development and conservation in the Heart of Borneo. Green
economy as described in previous
chapters has several strategic, crosssector, cross-province, district and city
and cross-regional dimensions. And it
is necessary to comprehensively formulate sustainable development planning
that incorporates three main dimensions
of green economy (economic, social and
environmental). And then, it is necessary to clarify the system that governs
organization and relationships between
sectors, provinces and regions through
a comprehensive discussion and the
putting into place of mutually supporting
networks. Finally, to implement green
economy strategies in the Heart of Borneo, it is necessary for the provincial,
district and city government officials in
the region to have a good understanding
of the substance of green economy and
competency to implement its strategies.
Therefore, green economy implementation is not a stand alone affair but is also
associated with relevant sectors and
other administrative areas. Successful
implementation of green economy is not
only seen through its dimensions or the
sectors in which it is implemented but
should also consider the impacts it generates on the related sectors and other
administrative areas.
Green economy strategy requires that
the decision-making process shall be
based on consensus through deliberation by continuing to hold fast to the
Heart of Borneos vision, which will
improve the governance of the whole
series of planning, organization and
implementation of green economy in the
Heart of Borneo.
The seventeen districts in the Heart
of Borneo area certainly has greater

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

terpadu dalam perencanaan pembangunan, organisasi dan implementasinya di


tingkat lapangan. Implementasi ekonomi
hijau di tingkat kabupaten tentu perlu
lebih konkrit sehingga dapat dilaksanakan dengan melibatkan pemanggu
kepentingan (stakeholders) secara langsung, terutama dari kalangan petani,
pekebun, masyarakat lokal yang banyak
bergantung pada sektor-sektor berbasis
sumber daya alam.
Dimensi strategis dan cakupan sektor
dalam prinsip-prinsip ekonomi hijau
yang tidak secara langsung dijumpai di
kabupaten dalam kawasan HoB tentu
perlu ditangani di tingkat provinsi.
Perencanaan pembangunan di tingkat provinsi akan sangat menentukan
keberhasilan implementasi ekonomi
hijau di kawasan HoB. Sub-bab ini lebih
banyak membahas strategi implementasi ekonomi kawasan HoB di tingkat
provinsi, tapi dengan contoh dan adaptasi langsung di tingkat lapangan di
kabupaten. Pengumpulan data dilakukan melalui publikasi resmi instansi
pemerintah di tingkat pusat, seperti
Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (Bappenas) dan Badan Pusat
Statistik (BPS), serta makalah atau bahan presentasi yang disampaikan dan/
atau Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) Provinsi pada saat
Konsultasi Regional (Konreg) Perencanaan Pembangunan dan Produk Domestik Regional Bruto se-Kalimantan,
tanggal 16 Juni 2014 di Balikpapan.
Wawancara mendalam dan beberapa
verifikasi juga telah dilakukan dengan
pejabat pemerintah di kelima provinsi di
Kalimantan. Cakupan pembahasan lebih
bersifat makro kewilayahan, sementara
pembahasan detail masih dapat disinergikan pada Tim Koordiansi, Sekretariat
Wilayah dan Kelompok Kerja Nasional
(Pokjanas) HoB.
Sistematika yang disajikan pada bab ini
adalah pembahasan tentang sembilan
dimensi penting dalam implementasi

responsibility in the implementation of


green economy strategies as compared
to the other districts in the vicinity. In
other words, the implementation of
green economy across the districts situated in the Heart of Borneo is not an option but a must that must constitute an
integral part of planning, development,
organization and implementation activities on the ground across the districts.
Implementation of green economy at
district level would have to be concrete
and directly involve relevant stakeholders, especially smallholders, smallscale planters and local communities
whose livelihood is highly dependent on
natural resources-based sectors.
Strategic dimensions and the scope
of the sectors under green economy
principles that are not directly found
across the district in the Heart of Borneo should, of course, be addressed at
provincial level. Development planning
at provincial level will very much determine the success of the implementation
of green economy in the Heart of Borneo. This sub-chapter discusses more
about economic implementation strategies in the Heart of Borneo at provincial
level but with examples and direct adaptation on the ground at district level.
Data were collected from official publications of government agencies at
national level, such as the National Development Planning Agency (Bappenas)
and the National Statistics Agency (BPS)
and also from papers/ presentations delivered and / or Provincial Development
Planning Boards (BAPPEDA) during the
Kalimantan-wide Regional Consultation
on Development Planning and Regional
Gross Domestic Product dated June 16,
2014 in Balikpapan.
In-depth interviews and some verification have also been carried out by
government officials in five provinces
in Kalimantan. The scope of discussion
is tilted more towards regional macro-

139

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

WWF-Indonesia / Roni Mulyadi

ekonomi hijau di wilayah HoB yang dijelaskan secara komprehensif. Kemudian,


strategi implementasi ekonomi hijau di
seluruh keempat provinsi akan dibahas
secara berturut-turut mulai dari Kalbar,
Kalteng, Kaltim dan Kaltara. Di dalam
pembahasannya, implementasi ekonomi
hijau juga dalam konteks integrasi dan
sinkronisasi dengan pembangunan
ekonomi secara umum di Kalimantan,
khususnya di kawasan HoB.

140

economic issues while detailed discussions can still be synergized at the Coordination Team, the Regional Secretariat
and the National Working Group on the
Heart of Borneo.
This chapter discusses nine important
dimensions in the implementation of
green economy in the Heart of Borneo,
which will be described comprehensively. Then, green economy implementation
strategies across all the four provinces
will be discussed consecutively starting from West Kalimantan over Central
Kalimantan to East Kalimantan including North Kalimantan. The discussion
will also highlight the implementation
of green economy in the context of its
integration into and synchronization
with general economic development in
Kalimantan, particularly in the Heart of
Borneo.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

6.1 
Implementasi Ekonomi Hijau di
Kalimantan
Green Economy Implementation in Kalimantan

ada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa ekonomi hijau adalah


kristalisasi dari evolusi strategi pembangunan berkelanjutan, terutama setelah 20 tahun KTT Bumi di Rio de Jeneiro
(Rio+20). Strategi ekonomi hijau dianggap lebih mudah diingat dan mudah
dimengerti sehingga diharapkan lebih
mudah diaplikasikan dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Dibandingkan dengan
pendekatan trimatra dalam pembangunan berkelanjutan yang selama ini
dikenal, yaitu: ekonomi, sosial dan
lingkungan hidup, ekonomi hijau dianggap lebih inklusif karena diarahkan pada
peningkatan kesejahteraan, perbaikan
pemerataan pendapatan dan pengurangan risiko lingkungan serta kelangkaan ekologis. Disamping itu, tujuan
yang ditekankan di ekonomi hijau adalah
efisiensi sumber daya, internalisasi biaya deplesi sumber daya dan kerusakan
lingkungan, pengentasan kemiskinan,
penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Implementasi ekonomi hijau di kawasan
HoB tentu menimbulkan tantangan
tersendiri karena basis ekonomi ekstraktif di sektor kehutanan dan pertambangan yang selama ini menjadi
keseharian di Kalimantan belum mem-

t has been explained In the previous


section that green economy is the crystallization of the evolution of sustainable
development strategies, especially 20
years after the Earth Summit in Rio de
Janeiro (Rio+ 20). Green economy strategies are considered easier to remember and easy to understand so hopefully
they will also be more easily applied to
economic development and daily life.
Compared to the three-dimensional
approach to sustainable development,
which involves economic, social and environmental dimensions, green economy
is considered more inclusive because it
is directed at promoting peoples welfare, improving income distribution and
reducing environmental risks and ecological scarcity. Moreover, the objectives
that are emphasized in green economy
are efficiency of resources, internalization of the costs of resource depletion
and environmental damage, poverty
alleviation, job creation and sustainable
economic growth.
Implementation of green economy in
the Heart of Borneo would present
particular challenges because extractive economic base in the forestry and
mining sectors which have become part
of daily activities in Kalimantan has

141

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

bawa kinerja pertumbuhan ekonomi


yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama dua dekade
terakhir, ekspansi kebun kelapa sawit
dan tambang batubara ke seluruh
pelosok Kalimantan, bahkan sampai ke
kawasan HoB, telah cukup sulit untuk
dikendalikan, kecuali ada kebijakan yang
tegas dari pemerintah. Sementara di sisi
lain, pembangunan infrastruktur dasar
di Kalimantan masih belum memadai
dan sangat signifikan mempengaruhi
kinerja pengentasan kemiskinan dan
penciptaan lapangan kerja baru. Akibatnya, pangsa (share) ekonomi Kalimantan terhadap perekonomian nasional
pada tahun 2013 masih cukup rendah,
yaitu 8,67% atau ketiga terbesar setelah
Jawa dan Sumatera. Kinerja pertumbuhan ekonomi Kalimantan bahkan hanya
3,49% per tahun atau terendah di Indonesia, terutama karena kinerja Provinsi
Kaltim yang hanya 1,59% per tahun.
Memburuknya kinerja pertambangan
minyak dan gas bumi, yang selama ini
menjadi andalan Kaltim, telah memukul
kinerja kualitas ekonomi Kalimantan
secara keseluruhan. Secara statatistik
pendapatan per kapita Kaltim tahun
2013 mencapai Rp 110 juta per tahun,
atau lima kali lipat dibandingkan empat
provinsi lainnya. Akan tetapi, ketika sektor minyak dan gas bumi (migas) tidak
dipertimbangkan, pendapatan per kapita
Kaltim bahkan tidak lebih tinggi dari
provinsi lainnya.
Tantangan terbesar implementasi
ekonomi hijau di Kalimantan adalah
karena seluruh lima provinsi menerapkan strategi pembangunan ekonomi
yang secara umum akan: (1) membangun industri agro berbasis kelapa
sawit, karet, rotan, perkayuan, udang,
ikan, dan rumput laut, bahkan beberapa
mengembangkan kawasan pangan skala
besar atau food estate; (2) mengembangkan industri yang ada seperti migas, besi baja, bauksit, pupuk, batubara
dan lain-lain dengan menekankan pada
peningkatan nilai tambah atau strategi

142

not yet led to an economic growth and


performance that is capable of improving peoples welfare. Over the past
two decades, the expansion of palm oil
plantations and coal mines to all corners of Kalimantan that has even crept
into the Heart of Borneo has been quite
difficult to control, unless there is a firm
policy [and strong will to control it] on
the part of the government. Meanwhile,
the development of basic infrastructure
in Kalimantan is still inadequate and
this has seriously affected the performance of poverty reduction and employment creation programs. As a result,
Kalimantans economic share to the
national economy in 2013 was quite low
(8.67%) despite being the third-largest
after Java and Sumatra. Kalimantans
economic growth in that year was only
3.49% per year, the lowest in Indonesia,
particularly due to the economic performance of East Kalimantan Province,
which was only 1.59% per year.
The worsening performance of the
oil and gas sector, which has been
the mainstay of East Kalimantan, has
negatively affected the overall economic
performance of Kalimantan. Statistically, the per capita income of East Kalimantan in 2013 was IDR 110 million per
year, or five times higher than that of the
other four provinces. However, when the
performance of the provinces oil and
gas sector is not taken into account, its
per capita income was not even higher
than the other provinces.
The biggest challenge in green economy
implementation in Kalimantan is the
implementation of the economic development strategies of all the islands
five provinces, which, in general, are
oriented towards: (1) the establishment of agro-industries based on oil
palm, rubber, rattan, timber, shrimp,
fish, and seaweed, and even towards
the development of large-scale food
estates; (2) the further development of
the existing industries such as oil and

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

hilirisasi produk untuk meningkatkan


daya saing; dan (3) mendorong reinvestasi pendapatan dari sumber daya
alam untuk pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia dalam
kerangka MP3EI Koridor Kalimantan.
Secara teoretis, implementasi ekonomi
hijau menjadi agak pelik karena dalam
jangka pendek sering menghasilkan
trade-off antara target pertumbuhan
ekonomi, kesejahteraan sosial dan
pelestarian lingkungan hidup. Tantangan
terbesar bagi segenap lapisan pemerintahan, mulai dari tingkat pusat, provinsi
dan kabupaten/kota adalah mengurangi
atau memitigasi trade-off tersebut,
setidaknya melalui sinergi manfaat
jangka pendek seperti penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan,
peningkatan efisiensi dengan tujuan
yang lebih berjangka panjang yang lebih
mengarah pada keberlanjutan pembangunan ekonomi itu sendiri.

gas, steel, bauxite, fertilizers, coal and


other related industries with an emphasis on increasing the value added, which
constitutes products-downstreaming
strategies to improve competitiveness;
and (3) the promotion of the reinvestment of income from natural resources
for the development of infrastructure
and human resources within the framework of Kalimantans MP3EI Corridor.
Theoretically, the implementation of
green economy becomes rather complicated because it often results in a shortterm trade-off between the targetted
economic growth, social welfare and environmental conservation. The biggest
challenge for all levels of government
from the national down to provincial
and district / city levels is to reduce or
mitigate the trade-off, at least through
the synergy of short-term benefits such
as job creation, poverty reduction, and
increased efficiency with longer-term
goals that lead more to the sustainability of economic development itself.

Tabel 14: Struktur Perekonomian Kalimantan Tahun 2013 (persen)


Table 14: Kalimantans Economic Structure in 2013 (percent)

Lapangan Usaha
Pertanian
Pertambangan
Industri Manufaktur
Listrik, Gas, Air

Kalbar

Kalteng

Kalsel

Kaltim* Indonesia

23,08

27,11

18,79

6,74

14,43

2,01

9,96

22,25

42,91

11,24

16,27

6,65

8,93

24,55

23,70
0,77

0,45

0,70

0,57

0,28

Konstruksi

11,48

5,39

6,17

3,41

9,99

Perdagangan, Hotel, Restoran

23,02

21,49

16,93

9,61

14,33

Pengangkutan

7,36

8,80

8,94

4,41

7,01

Keuangan

4,86

6,22

5,47

3,52

7,52

Jasa-jasa

11,48

13,69

11,94

4,57

11,02

143

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Tabel 14 menampilkan struktur perekonomian Kalimantan pada tahun 2013


yang masih didominasi sektor pertanian,
disandingkan dengan struktur perekonomian nasional. Kecuali Provinsi
Kaltim yang didominasi sektor pertambangan, pangsa sektor pertanian di Kalimantan masih sangat besar, sementara
sektor industri manufaktur masih kecil.
Dengan kata lain, proses transformasi
struktural perekonomian Kalimantan
masih sangat lemah, sehingga belum
dapat diandalkan untuk meningkatkan
kualitas pertumbuhan ekonomi yang
mampu mengentaskan kemiskinan,
menyerap angkatan kerja dan menciptakan lapangan kerja baru. Semua paham bahwa keterbatasan infrastruktur
dan lemahnya pengembangan sumber
daya manusia adalah faktor kunci pada
rendahnya transformasi struktural di
Kalimantan dari basis pertanian, ke
arah industri, lalu jasa.

Table 14 presents the structure of Kalimantans economy in 2013, which was


still dominated by the agricultural sector as compared to the structure of the
national economy. Except for East Kalimantan Province, which was dominated
by the mining sector, the share of the
agriculture sector in Kalimantan is still
very large while the share of the manufacturing industry sector is still small.
In other words, the process of structural
transformation of Kalimantans economy
is still very weak, so it cannot be relied
upon to improve the quality of economic
growth to enable poverty reduction,
labor force absorption and the creation
of new jobs. Everybody understands
that lack of infrastructure and human
resources development is the key factor
behind the islands low efficiency of the
structural transformation of its agricultural base into manufacturing and
services-oriented industries.

Sementara itu, untuk memenuhi pangan


pokok saja, Kalimantan masih sangat
tinggi tergantung pada provinsi lain,
seperti Jawa dan Sumatera. Penurunan
pangsa produksi pangan di Kalimantan
pada lima tahun terakhir terjadi sangat serius, terutama karena alih fungsi
lahan pangan menjadi kegunaan lain
sebesar belasan ribu hektar di setiap
provinsi. Misalnya, total produksi padi
Kalimantan pada tahun 2008 hanya 4,38
juta ton atau 7,3% dari produksi nasional. Walaupun produksi padi meningkat
menjadi 4,69 juta ton pada tahun 2012,
secara persetase angka tersebut menurun menjadi 6,8% karena produksi padi
di tempat lain meningkat cukup pesat.
Demikian juga untuk periode 2008-2012
ini, penurunan pangsa terjadi pada
jagung, dari 1,8% menjadi 1,5% ; kedelai
dari 1,3% menjadi 1%; kacang tanah dari
2,9% menjadi 2,3%; ubikayu dari 2,3%
menjadi 1,6%; dan ubi jalar dari 4,3%
menjadi 2,4%. Program pengembangan
lahan pangan skala luas (food estate)
masih agak lambat, karena proses
perizinan yang cukup kompleks dan

Meanwhile, just to meet the need for


staple food, Kalimantan is still highly
dependent on other provinces, such as
Java and Sumatra. The decline in the
share of food production in Kalimantan
in the last five years is very serious, particularly due to the conversion of tens of
thousands of hectares of food crops land
into land for other uses, which has been
taking place in each province. For example, Kalimantans total rice production in
2008 was only 4.38 million tons, or 7.3%
of the national production. Even though
rice production increased to 4.69 million
tons in 2012, in terms of percentage,
however, it actually declined to 6.8% as
rice production elsewhere increased
quite rapidly. The same also holds true
for the periods 2008-2012, during which
the decline in share happened to maize,
from 1.8% to 1.5%; soybeans, from 1.3%
to 1%; peanuts, from 2.9% to 2.3%;
cassava, from 2.3% to 1.6%; and sweet
potato, from 4.3% to 2.4%.

144

The food estate development program


is still running a bit slow, because the

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

dukungan infrastruktur dasar yang tidak


memadai. Sektor swasta masih melihat
perkembangan dan menunggu perbaikan prasyarat utama ini untuk masuk
lebih jauh dalam food estate.
Produksi perkebunan di Kalimantan
umumnya meningkat, tapi masih sangat
kecil untuk berkontribusi pada pertanian
nasional, kecuali minyak kelapa sawit.
Produksi TBS Kalimantan pada tahun
2012 tercatat sebesar 7,3 juta ton atau
26,5% dari produksi nasional. Provinsi
Kalteng berkontribusi paling besar,
yaitu 40,7% disusul Kalbar 24,7%, Kalsel
17,7% dan Kaltim 17% (termasuk Kaltara). Produksi karet Kalimantan pada
tahun 2012 mencapai 670 juta ton atau
22% dari produksi karet nasional. Angka
produksi tersebut cenderung menurun
karena rendahnya harga global menjadi
insentif negatif bagi petani untuk melakukan peremajaan dan peningkatan
produksi dan produktivasnya. Untuk
meningkatkan kualitas pertumbuhan
ekonomi di Kalimantan, produk pertanian tersebut masih perlu diolah menjadi
produk turunan yang bernilai tambah
tinggi yang mampu menyerap angkatan
kerja dan mengentaskan masyarakat
dari kemiskinan. Pengolahan lanjutan
menjadi akan semakin meningkatkan
dampak ganda (multiplier effect) dari industri minyak sawit pada kesejahteraan
masyarakat. Pemerintah pusat, yang
dimotori Kementerian Perindustrian dan
Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM) perlu lebih konsisten meningkatkan investasi swasta yang mampu
mengolah produk pertanian menjadi
produk hilir bernilai tambah tinggi, baik
melalui strategi pengembangan kluster
industri, pewilayahan industri, kompetensi inti industri unggulan dan lain-lain.
Kalimantan masih amat terbuka untuk
menerapkan strategi pembangunan
ekonomi yang mampu mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas.
Langkah pertama yang perlu dilakukan
dalam implementasi ekonomi hijau di

licensing process is quite complicated


and the basic infrastructure support is
inadequate. The private sector is still
waiting to see the development and the
improvement of the main pre-requisites
prior to taking any further steps into this
program.
The production of the plantation industry
in Kalimantan is generally increasing
but the increase is still insignificant to
contribute to the national agriculture
production substantially, except for
palm oil. Kalimantans FFB production
in 2012 amounted to 7.3 million tons, or
26.5% of the national production with
Central Kalimantan Province contributing the most (40.7%), followed by West
Kalimantan (24.7%), South Kalimantan (17.7%) and East Kalimantan (17%)
including North Kalimantan. Meanwhile,
Kalimantans rubber production in 2012
reached 670 million tons, or 22% of the
national production. These production
figures are likely to decline because
globally low prices serve as negative
incentive for farmers to rejuvenate their
oil palm trees [replace mature oil palm
trees with young and productive ones]
and increase production and productivity. To improve the quality of economic
growth in Kalimantan, agricultural products still need to be processed into high
value-added derivatives that are able to
absorb the provinces labor force and alleviate poverty. Further processing will
be further increased the multiplier effects of the palm oil industry on peoples
welfare.
The national government, led by the
Ministry of Industry and the Investment
Coordinating Board (BKPM), needs to
be more consistent in increasing private
investment that is capable of processing
agricultural products into high valueadded downstream products, either
through industrial cluster development
strategies, industrial zoning, featured
industry core competencies, etc. There
are still ample opportunities in Kaliman-

145

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Kalimantan adalah kejelasan RTRW


dari awal, yang diarahkan menuju
keberlanjutan sampai jangka sangat
panjang (Tabel 15). Seluruh pemerintah
provinsi di Kalimantan perlu sejak awal
menetapkan zona pembangunan dan
konservasi, termasuk lahan kritis dan
daerah tangkapan air, serta kawasan
pengembangan sampai pada food estates seperti disebutkan sebelumnya.
Khusus untuk kabupaten yang masuk
kawasan HoB, tata ruang dan wilayah
untuk pengembangan dan konservasi
sumber daya alam dan kehati perlu
lebih tegas dan pasti (decisive) karena
menyangkut masa depan penghidupan
seluruh Kalimantan. Pemerintah pusat
juga perlu berperan penting dalam
melakukan koordinasi dan sinergi yang
melibatkan beberapa provinsi, serta
melakukan integrasi tata ruang nasional
dengan RTRW tingkat provinsi dan
kabupaten/kota. Integrasi ini diperlukan
untuk mengurangi peluang tumpangtindih penggunaan lahan, lebih khusus
lagi antara sektor kehutanan, perkebunan dan pertambangan.
Di sektor kehutanan, implementasi
ekonomi hijau di kawasan HoB perlu
lebih tegas bahwa seluruh perusahaan
konsesi hutan wajib menerapkan metode RIL dan mengarah pada sertifikasi
manajemen kehutanan secara berkelanjutan (SFM). Prinsip-prinsip yang telah
menjadi best practice di tingkat nasional
dan internasional ini perlu terus menerus dikawal di tingkat lapangan. Agar
tidak terkesan diskriminasi, perusahaan konsesi kehutanan yang beroperasi di luar kawasan HoB juga perlu
secara bertahap atau bahkan secara
sekaligus juga menerapkan metode
silvikultur yang baik tersebut. Apabila
harus dilakukan penglepasan hak atau
konversi hutan menjadi kegunaan lain,
terutama perkebunan dan pertanian,
maka hal itu dapat dimulai dari kawasan
hutan yang telah terdegradasi, bukan
kawasan hutan yang bernilai konservasi
tinggi (HCVF). Implementasi ekonomi

146

tan to implement economic development


strategies that encourage higher quality
growth.
The first step that needs to be done in
the implementation of green economy in
Kalimantan is clarifying the provinces
regional spatial layout plan right from
the beginning, which is geared towards
sustainability for a very long period of
time (Table 15). All Kalimantan provincial governments need to establish,
right from the beginning, development
and conservation zones, including zones
for severely degraded land, water catchment areas, and zones for food estates
development as mentioned earlier.
As far as the districts that belong to the
Heart of Borneo are concerned, their
spatial layout plans and areas for the
development and conservation of natural resources and biodiversity need to
be more assertive and definitive (decisive) because this is vital for the future
of livelihood throughout the province.
The national government also needs
to play a prominent role in conducting coordination and creating synergy
involving several provinces, as well as
in the integration between the national
spatial layout plan and the provincial
and district / city spatial layout plans.
This integration is necessary to reduce
the chances of overlapping land use,
more specifically between the forestry
sector, the agriculture sector and the
mining sector.
When implementing green economy in
the Heart of Borneo, it needs to be more
firmly asserted that all forest concession companies are mandatorily required to apply Reduced Impact Logging
(RIL) methods and apply for sustainable
forest management (SFM) certification.
The principles that have become best
practices at national and international
levels, too, need to be constantly guarded at the field level.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Tabel 15: Implementasi Ekonomi Hijau di Wilayah HoB


Table 15: Green Economy Implementation in the HoB
Dimensi / Dimension

Kegiatan Ekonomi Hijau / Green Economy Activities

Tata Ruang / Spatial layout plan

Jelas dari awal, menuju keberlanjutan: termasuk lahan kritis,


hutan kemasyarakatan dan perlindungan daerah tangkapan air
/ Clear from the beginning, towards sustainability: including spatial
layout of severely degraded land, community forestry land and
protection of water catchment areas

Kawasan Proteksi / Protected


areas

Perlindungan flora dan fauna, keterhubungan seluruh kawasan


proteksi / Flora and fauna protection, inter-connectedness
throughout protection areas

Kehutanan / Forestry

Pelaksanaan RIL, sertifikasi SFM, konversi ke perkebunan


kawasan terdegradasi bukan HCVF. Manajemen konsesi, kawasan
hutan tidak aktif diproteksi, restorasi areal konsesi hutan
yang rusak / RIL implementation, SFM certification, conversion of
degraded but non HCVF areas into plantation estates. Concession
management, addressing forest areas that are not actively protected,
and restoration of damaged forest concession areas

Perkebunan Sawit / Oil palm


plantations

Ekspansi pada kawasan terdegradasi. Tukar guling perlu


dilakukan, jika izin konversi hutan alam telah dikeluarkan. Aplikasi
RSPO dan ISPO, perbaikan budidaya tanaman menuju pertanian
yang baik (good agricultural practices/GAP) dan pertanian presisi
/ Expansion on degraded areas. A swap needs to be made if the permit
to convert a natural forest has been issued; applying RSPO and ISPO
certification, improving plant cultivation and moving forward towards
the adoption of good agricultural practices/GAP) and precision
agriculture

Pertambangan / Mining

Mengikuti kaidah pertambangan internasional yang bertanggung


jawab, perbaikan pengelolaan limbah, pengurangan dampak pada
kualitas air dan udara / Complying with international mining codes
for responsible mining, improvement in waste management, reducing
the impacts of mining operation on water and air quality

Pertanian / Agriculture

Pertanian berkelanjutan, restorasi kualitas tanah, pengurangan


pupuk kimia, bank plasma-nutfah dari spesies eksotis dapat
dikembangkan pada skala komersial untuk mengurangi hama
penyakit tumbuhan / Sustainable agriculture, soil quality restoration,
reducing the use of chemical fertilizer, a germplasm bank for the
storing of germplasm from exotic species may be developed on a
commercial scale to reduce plant diseases

Energi / Energy

Pengurangan konsumsi energi domestik, peningkatan energi


alternatif dan terbarukan, investasi pembangkit energi hidro,
pengurangan konsumsi batubara untuk listrik dan rendah emisi
GRK / Reducing domestic energy consumption, promoting alternative
and renewable energy, investing in hydro-power generator, reducing
coal consumption for electricity, and opting for low-emission
alternatives

Usaha Kehati / Biodiversity


conservation

Produk kehutanan non-kayu (HHBK) dari HKm dan agroforestri,


bioteknologi dan bioprospek untuk kualitas produksi minyak,
minimisasi erosi dan sedimenasi dan pemanfaatan karbon hutan
/ Non-timber forest products (HHBK) from community forestry and
agro-forestry, biotechnology and bioprospecting for the quality of oil
production, minimizing erosion and sedimentation and utilization of
forest carbon

Hijau Inovatif / Green innovation

Ekonomi lokal, pemanfaatan limbah (by-products) dari industri


yang ada di wilayah HoB / Local economy, utilization of wastes (byproducts) from industries within the Heart of Borneo

Sumber: Dimodifikasi dari van Paddenburg et al. (2012)


Source: Modified on the basis of the writing by van Paddenburg et al. (2012)

147

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

hijau di sektor kehutanan juga menekankan pada manajemen konsesi pada


perusahaan kehutanan agar melakukan
proteksi dan restorasi pada kawasan
hutan tidak aktif dan restorasi areal
konsesi hutan yang rusak. Pemerintah
pusat, dalam hal ini Kementerian Kehutanan, perlu lebih aktif untuk membangun kerja sama dengan pemerintah
provinsi untuk melakukan restorasi
areal konsesi hutan yang rusak, dengan
standar yang terukur dan obyektif.
Dalam hal kawasan proteksi, terutama
dalam kerangka jaringan taman nasional dan hutan lindung, implementasi
ekonomi hijau perlu secara lebih detail
mampu menyediakan insentif bagi perlindungan flora dan fauna dan proteksi
daerah tangkapan air yang sangat vital
di wilayah HoB. Sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku, taman
nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem
asli, dikelola dengan sistem zonasi
yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, pariwisata, dan
rekreasi (Pasal 1, Butir 14 UndangUndang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber daya Alam). Sedangkan Kawasan Pelestarian Alam adalah
kawasan dengan ciri khas tertentu,
baik di darat maupun di perairan yang
mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan
satwa, serta pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (Pasal 1 Butir 13 UU No 5 tahun
1990). Di Kalimantan terdapat delapan
taman nasional, yaitu Taman Nasional
Gunung Palung, Danau Sentarum,
Betung Kerihun, Bukit Baka-Bukit Raya,
Tanjung Puting, Kutai, Kayan Mentarang dan Sebangau. Langkah-langkah
preservasi dan konservasi taman nasional ini perlu lebih terhubung secara
program dan konsisten dalam implementasi pelaksanaannya.

148

In order to avoid the impression of


discriminating against forest concession companies operating in the Heart
of Borneo, the forest concession companies operating outside of the Heart
of Borneo, too, should be required to
gradually - or even simultaneously apply good silviculture methods. If a
forest area has to be relinquished or
converted for other uses, particularly
for plantation and agriculture purposes,
the forest area in question has to be,
first and foremost, a forest area that has
been degraded, not a forest area of high
conservation value (HCVF). Moreover,
implementation of green economy in
the forestry sector should also emphasize the importance of good concession
management to forestry companies and
urge them to protect and restore forest
areas that are not actively managed and
to restore damaged forest concession
areas. The national government, in this
case the Ministry of Forestry, should
be more active in building cooperation
with the islands provincial governments
to restore degraded forest concession
areas, using measurable and objective
standards.
In the case of protected areas, particularly those within the network of the
countrys national parks and protected
areas, the implementation of green
economy needs to be able to provide
incentives for the protection of flora
and fauna and the protection of water
catchment areas that are vital in Heart
of Borneo. In accordance with the provisions of applicable laws and regulations,
a national park is defined as a nature
conservation area which still retains its
native ecosystem, managed with a zoning system that is utilized for research,
scientific, and educational purposes to
support plant cultivation, tourism, and
recreation (Article 1, Article 14 of Law
No. 5 of 1990 on the Conservation of
Natural Resources).

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Pada perkebunan kelapa sawit, implementasi ekonomi hijau dapat dilakukan


lebih konsisten karena beberapa prinsip
dan kriteria telah dikembangkan oleh
pemerintah pusat. Setidaknya terdapat
empat peraturan perundangan yang
dimaksudkan untuk lebih menekankan
pada aspek keberlanjutan bagi perkebunan kelapa sawit, yaitu: (1) Instruksi
Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 2011
tentang Moratorium Penanaman di Lahan Gambut, (2) Inpres Nomor 6 Tahun
2013 tentang Penundaan Izin Baru dan
Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam
Primer, (3) PP Nomor 27 Tahun 2012
tentang Izin Lingkungan, dan (4) Peraturan Menteri Pertanian (Permentan)
Nomor 98 Tahun 2013 tentang Pedoman
Perizinan Usaha Perkebunan. Peraturan
perundangan itu berlaku pada pemberian izin baru bagi perkebunan kelapa
sawit, terutama di kawasan HoB. Untuk
perkebunan kelapa sawit yang telah terlanjur terbuka dan beroperasi di lapangan, implementasi ekonomi hijau perlu
difokuskan pada peningkatan produksi
dan produktivitas, termasuk adopsi
sertifikasi industri sawit berkelajutan
atau ISPO. Salah satu aspek penting
implementassi ekonomi hijau pada sektor perkebunan adalah menyelesaikan
status perizinan pada kawasan hutan
atau penyelesaian perizinan pelepasan
kawasan hutan pada perkebunan yang
terlanjur terjadi.
Sertifikasi ISPO ini dimaksudkan untuk
untuk menghindari dan mengurangi
dampak perusakan lingkungan, emisi
gas rumah kaca, hingga pemicu deforestasi. Sertifikasi ISPO adalah (1) suatu
sistem perizinan dan manajemen risiko,
(2) penerapan pedoman teknis budidaya
dan pengolahan kelapa sawit; (3) penundaan izin lokasi pemberian hak atas
tanah untuk usaha perkebunan, (4) pengelolaan dan pemantauan lingkungan;
(5) perbaikan tanggung jawab terhadap
pekerja; (6) peningkatan tanggung jawab
sosial dan pemberdayaan ekonomi
masyarakat; dan (7) peningkatan usaha

Meanwhile, a conservation area is an


area with certain typical characteristics,
both on land and in waters that have
a function of protecting life support
systems, preservation of flora and fauna
biodiversity, and sustainable utilization
of natural biological resources and their
ecosystems (item 13 of Article 1 of Law
No 5 of 1990). There are eight national
parks in Kalimantan, that is, Gunung
Palung, Lake Sentarum, Betung Kerihun, Bukit Baka-Bukit Raya, Tanjung
Puting, Kutai, Kayan Mentarang and Sebangau. Preservation and conservation
measures of these national parks need
to have their programs more connected
with each other and implemented more
consistently.
In oil palm plantations, the implementation of green economy can be made
more consistent because some of
the principles and criteria have been
developed by the national government.
At least there are four laws and regulations that are intended to put more
emphasis on aspects of sustainability
for palm oil plantations, namely: (1)
Presidential Instruction No 10 of 2011
on a moratorium on the planting on
peatland, (2) Presidential Instruction
No 6 of 2013 on the Suspension of New
Permits and Improvement of the Governance of Primary Natural Forests, (3)
Government Regulation No 27 of 2012
on Environmental Permits, and (4) the
Regulation of the Minister of Agriculture
Number 98 Year 2013 on the Guidelines
for Plantation Permits.
These laws and regulations apply to the
granting of new permits for oil palm
plantations, especially the ones in the
Heart of Borneo. For oil palm plantations that have already been operational,
the implementation of green economy
needs to be focused on increasing production and productivity, including the
adoption of sustainable palm oil industry certification or ISPO. One important
aspect of the implementation of green

149

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

secara berkelanjutan. Dengan adopsi


sertifikasi ISPO, maka industri kelapa
sawit Indonesia akan memperbaiki
kualitas lingkungan, meningkatkan daya
saing minyak sawit dan mendukung program pengurangan GRK secara umum.
Di bidang pertambangan modern dan
padat modal, implementasi ekonomi
hijau sebenarnya cukup komprehensif,
yang telah banyak diadopsi di beberapa
negara maju sesuai dengan kaidah-kaidah pertambangan internasional yang
bertanggung jawab. Misalnya, pertambangan bertanggung jawab tersebut
secara konsisten melakukan perbaikan
dalam pengelolaan limbah, reklamasi,
pengurangan dampak pada kualitas air
dan udara yang berhubungan dengan
sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Pada pertambangan yang juga melibatkan perusahaan rakyat seperti
pertambangan batubara, pemerintah
pusat bekerjasama dengan pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota perlu secara konsisten menerapkan kriteria dan
indikator pembangunan berkelanjutan.
Di sektor pertanian, implementasi
ekonomi hijau sebenarnya sangat mudah dipahami karena sesuai dengan
prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan.
Apalagi, jika hampir semua provinsi di
Kalimantan akan mengembangkan pertanian pangan skala luas (food estates),
maka ketentuan kebijakan dan enforcement tentang restorasi kualitas tanah
perlu dilakukan dengan tegas. Untuk
petani skala kecil, ketentuan ini mungkin cukup sulit diterapkan, tapi untuk
perkebunan besar dengan manajemen
agribisnis modern, restorasi kualitas
tanah dapat diintegrasikan ke dalam
prinsip-prinsip pertanian baik (GAP).
Demikian pula tentang strategi pengurangan pupuk kimia dan promosi pupuk
organik dan proses daur ulang lainnya,
maka pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dapat melakukan percontohannya pada beberapa daerah, terutama
di kawasan HoB. Dalam bidang perta-

150

economy in the plantation sector is the


settlement of licensing status in forest areas or settlement of the permit to
relinquish a forest area that has already
been converted into a plantation.
ISPO certification is intended to avoid
and mitigate the impacts of environmental destruction, greenhouse gas
emissions, and drivers of deforestation.
ISPO certification refers to (1) a system
of licensing and risk management, (2)
the application of technical guidelines
for the cultivation of oil palm and the
processing of palm oil; (3) postponement
of location permits that grant rights over
land for plantation, (4) environmental
management and monitoring; (5) improvement of responsibility to workers;
(6) improvement of social responsibility
and community economy empowerment; and (7) scaling up of business in a
sustainable manner. With the adoption
of the ISPO certification, the Indonesian
palm oil industry will improve environmental quality, enhance the competitiveness of palm oil and support GHG
reduction program in general.
In modern and capital-intensive mining
operations, the implementation of green
economy is actual quite comprehensive.
Green economy has been widely adopted
in some developed countries in accordance with the international principles
of responsible mining. For example,
a responsible mining operation shall
consistently be making improvements
in waste management, reclamation,
reduction of mining operations impacts
on air and water quality, which affect
peoples life. As for mining activities that
involve peoples enterprises such as coal
mining, the national government in collaboration with provincial, district / city
governments needs to consistently apply
the criteria and indicators of sustainable
development.
In the agricultural sector, the implementation of green economy is actually very easy to understand because it

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

nian, implementasi ekonomi hijau juga


dapat berbentuk pengendalian hama
terpadu (integrated pest-management/
IPM) yang melindungi musuh alami dan
pengendalian hama penyakit tumbuhan
secara umum. Hal yang strategis lain
yang merupakan implementasi ekonomi
hijau di pertanian adalah pengembangan
bank plasma-nutfah dari spesies eksotis
Kalimantan, yang merupakan salah
satu mega-biodiveristy di dunia, dapat
dikembangkan pada skala komersial
yang kelak merupakan sumber pangan
fungsional dan bidang kesehatan yang
tidak akan mudah dimiliki oleh negaranegara lain.
Di bidang energi, implementasi ekonomi
hijau dapat ditempuh dengan cara
pengurangan konsumsi energi domestik, peningkatan energi alternatif dan
terbarukan dan energi rendah emisi
(non fossil fuel). Pemerintah pusat telah
lama berusaha menanggulangi krisis
energi di dalam negeri, termasuk mengurangi subsidi BBM yang telah membebani anggaran negara. Ekonomi hijau
juga dapat dicapai melalui perbaikan
pencapaian bauran energi yang lebih
seimbang, konversi minyak bumi ke
gas untuk rumah tangga dan transportasi, serta pengembangan transportasi
umum. Dalam bidang energi, ekonomi
hijau dapat dilaksanakan melalui
strategi pengurangan konsumsi batubara untuk listrik atau dengan mencari
sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan memiliki tingkat emisi GRK
yang lebih rendah.
Di bidang kehati, implementasi ekonomi
hijau dapat dimulai dari pengembanan
produk HHBK, pengembangan HKm dan
perhutanan sosial lainnya, konsistensi
pemasyarakatan sistem agroforestri
dan lain-lain. Bahkan pengembangan
bioteknologi dan bioprospek untuk
peningkatan kualitas produksi minyak
juga termasuk ranah implementasi
hijau melalui pemanfaatan kehati yang
berhubungan dengan penghidupan

accords with the principles of sustainable agriculture. Moreover, if almost all


provinces in Kalimantan are developing
large-scale food crops agriculture (food
estates), the policies, provisions concerning soil quality restoration and their
enforcement need to be firmly applied.
For small-scale farmers, this requirement may be quite difficult to follow, but
for a large-scale plantation estate with
modern agribusiness management, restoration of soil quality can be integrated
into the principles of good agricultural
principles (GAP).
The same is also true for strategies to
reduce the use of chemical fertilizers
and to promote the use of organic fertilizers and other recycling processes.
Thus, the provincial and district / city
governments may carry out its pilot
projects in some areas, especially in
the Heart of Borneo. In agriculture, the
implementation of green economy can
also take the form of integrated pest
management, which protects the natural
enemies of plant diseases and controls
pests and plant diseases. Another strategy, which is an implementation of green
economy in agriculture, is the development of germplasm banks to store the
exotic species of Kalimantan, which is
one of the worlds mega-biodiveristy
repositories, on a commercial scale.
In the future, the germplasm will be a
source of functional food in the health
sector that will not be easily owned by
other countries.
In the energy sector, green economy
can be implemented by reducing domestic energy consumption, promoting
alternative and renewable energy and
low-emission energy (non fossil fuel).
The national government has long tried
to overcome energy crisis in the country,
including by reducing fuel subsidies that
have burdened the state budget. Green
economy can also be realized through
improvements aimed at achieving a
more balanced energy mix, the conver-

151

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

masyarakat. Pada tingkat yang lebih


komprehensif, strategi pengurangan
emisi karbon dari deforestasi dan
degradasi hutan (REDD+) juga dapat
dihubungkan dengan upaya pemanfaatan kehati di tingkat lapangan karena
hal tersebut berhubungan dengan upaya
minimisasi erosi dan sedimenasi tanah
serta upaya pemanfaatan karbon hutan
lebih baik.
Pada bidang ekonomi kreatif inovatif, implementasi ekonomi hijau
dapat dilakujan secara integratif dengan dengan pemberdayaan ekonomi
masyarakat lokal. Pemerintah provinsi
dan pemerintah kabupaten/kota perlu
mengembangan industri rumah tangga,
handycraft, kerajinan anyaman khas
setempat, industri kuliner yang dapat
menggerakkan ekonomi masyarakat
dan pendapatan rumah tangga. Pemerintah perlu lebih intensif melakukan
pembinaan, fasilitasi dan pendampingan yang secara konsisten dan berkala
untuk meningkatkan kapasitas kepada
para calon wirausaha. Pemerintah perlu
secara aktif mengembangan teknologi
dan menghubungkan sentra-sentra
produksi ekonomi kreatif inovatif rakyat
ini dengan pasar domestik dan pasar
internasional, yang diharapkan mampu
menggerakkan ekonomi masyarakat
yang lebih memberikan tambahan pendapatan serta ekonomi lokal umumnya.

152

sion of oil to gas for households and


transportation, as well as the development of public transport. Moreover,
green economy can also be implemented by reducing the consumption of coal
for electricity or by looking for energy
sources that are more environmentally
friendly and have lower greenhouse gas
emissions.
In the field of biodiversity, implementation of green economy can be from developing of non-timber forest products,
the development of community forestry
and other social forestry initiatives,
consistency in promoting agroforestry
systems and other green initiatives.
Even the development of biotechnology and bioprospecting for improving
the quality of oil production is part of
green economy implementation through
utilization of biodiversity that is related
to community livelihoods. Strategies
for reducing carbon emissions from
deforestation and forest degradation
(REDD +) can be linked with efforts to
utilize biodiversity at field level because
it is related to efforts to minimize soil
erosion and sedimentation as well as efforts to utilize forest carbon better.
In the field of innovative creative economy, green economy implementation is
integrated with the economic empowerment of local communities. The provincial, district and city governments need
to develop cottage industries, handicrafts, locally typical woven handicrafts,
and culinary centers that can drive the
local economy and household incomes.
The government needs to intensify
supervision, facilitation and assistance
consistently and regularly to increase
the capacity of prospective entrepreneurs. The governments need to actively
develop technology and connect peoples
innovative creative economy production
centers with domestic and international
markets, which is expected to drive
peoples economy through additional
income generation and promote local
economic development in general.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

6.2 
Kalimantan Barat - Penguatan
Basis Ekonomi Produktif
West Kalimantan Barat - Strengthening
Productive Economy Base

rovinsi Kalbar memiliki luas areal


146.807 km2 dihuni oleh 5,2 juta penduduk, terdiri dari 12 kabupaten dan 2
kota, memiliki 176 kecamatan dan 1.881
desa serta 89 kelurahan. PDRB Kalbar
tercatat 12,93% terhadap PDRB seluruh Kalimantan, atau terbesar kedua
setelah Kaltim. Kinerja pertumbuhan
ekonomi Provinsi Kalbar pada tahun
2013 mencapai 6,08% per tahun, tertinggi kedua setelah Kalteng. Dalam lima
tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan
ekonomi Kalbar sebesar 5,63%, terutama karena kontribusi sektor pertanian
dan perdagangan. Tingkat pengangguran terbuka juga cukup rendah sekitar
4%, atau tertinggi kedua setelah Kaltim.
Jumlah penduduk miskin masih tercatat 369 ribu orang, sehingga tingkat
kemiskinannya masih sebesar 8,74%
atau tertinggi di Kalimantan. Indeks
Pembangunan Manusia (HDI) masih
amat rendah, yaitu 70,31 berada pada
urutan 28 dari seluruh provinsi atau nomor 5 dari bawah di Indonesia. Kinerja
pembangunan seperti ini sebenarnya
menjadi salah satu penciri dari tahap
awal proses ekonomi pembangunan,
terutama karena proses transformasi
struktur perekonomian masih belum
berlangsung dengan baik. .

est Kalimantan Province has an


area of 146,807 km2 and a population by 5.2 million people. The province
consists of 12 districts and 2 cities,
has 176 sub-districts and 1,881 rural
villages and 89 urban villages. West
Kalimantans GDP accounts for 12.93%
of Kalimantans total GDP, the second
largest after East Kalimantan. In 2013,
West Kalimantan grew 6.08%, second
only to Central Kalimantan. In the last
five years, West Kalimantans average
economic growth was 5.63%, mainly due
to the contribution of agriculture and
trade sectors. The open unemployment
rate was also quite low at about 4%, the
second highest after East Kalimantan.
The number of poor people was recorded at 369,000. The provinces poverty
rate was 8.74%, the highest in Kalimantan. Its Human Development Index (HDI)
is still quite low. At 70.31, it ranks 28th
among all the Indonesian provinces or
ranks 5th from the bottom. Such development performance actually serves as
an identifier of the early stages in the
course of economic development, especially since the process of structural
transformation of the economy is still
not going well.

153

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Tabel 16: Struktur Perekonomian Kalimantan Barat 2009-2013 (persen)


Table 16: West Kalimantans Economic Structure in 2009-2013 (percent)
Lapangan Usaha / Main industries

2009

Pertanian / Agriculture

2010

2011

2012

25,71

25,05

25,13

24,02

23,08

1,93

1,99

2,03

2,00

2,01

18,96

18,40

17,94

17,01

16,27

Listrik, Gas dan Air Bersih /


Electricity, Gas and Water

0,52

0,52

0,50

0,47

0,45

Konstruksi / Construction

8,86

9,23

9,94

10,80

11,48

22,34

22,74

22,53

22,73

23,02

Pengangkutan dan Komunikasi /


Transportation & Communication

7,12

7,33

7,39

7,34

7,36

Keuangan / Financial services

4,83

4,80

4,86

4,84

4,86

Jasa-jasa / Business and other


services

9,73

9,94

9,69

10,80

11,48

Pertambangan dan Penggalian /


Mining and quarrying
Industri Pengolahan /
Manufacturing

Perdagangan, Hotel dan Restoran


/ Trade, Hotel & Restaurant

2013

Sumber: BPS dan Bappeda Kalbar, 2014


Source: National Statistics Agency and Development Planning Agency of the Province of West Kalimantan, 2014

Struktur perekonomian Kalbar pada


tahun 2013 didominasi sektor pertanian
(23,08%), sedikit lebih tinggi dibandingkan sektor perdagangan, hotel
dan restoran (23,02%). Sebagaimana
lazimnya dalam proses pembangunan, pangsa sektor pertanian mengalami penurunan dari 25,71% pada
tahun 2009 menjadi 23,08% pada tahun
2013. Sebaliknya, sektor perdagangan,
hotel dan restoran mengalami sedikit
peningkatan dari 22,34% pada tahun
2009 menjadi 23,02% pada tahun 2013.
Transformasi struktural dari basis
sektor pertanian menjadi sektor jasa
seperti ini agak di luar kebiasaan, dan
menjadi salah satu faktor penjelas atas
tingginya angka kemiskinan dan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia
(HDI). Proses transformasi yang lazim
dalam proses pembangunan ekonomi
adalah dari basis pertanian, ke industri
manufaktur, baru kemudian ke sektor jasa. Sementara itu, pangsa sektor
industri pengolahan justru mengalami

154

West Kalimantans economic structure


in 2013 was dominated by the agricultural sector (23.08%). This figure is slightly
higher than that of the trade, hotel and
restaurant sector combined (23.02%).
As is usual in the process of development, the share of the agricultural sector has decreased from 25.71% in 2009
to 23.08% in 2013. By contrast, the share
of the trade, hotel and restaurant sector
increased slightly from 22.34% in 2009
to 23, 02% in 2013.
The structural transformation from
agriculture-based sectors into the
service sector like this is somewhat
unusual, and this explains why the provinces poverty rate is high and its Human
Development Index (HDI) is low. The
process of transformation that is prevalent in the process of economic development normally starts with the agricultural base moving to the manufacturing
industry and then to the service sector.
Meanwhile, the share of the manufac-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

menurunan penurunan dari 18,96% pada


tahun 2009 menjadi 16,27% pada tahun
2013. Dengan kata lain, Provinsi Kalbar
masih memiliki pekerjaan rumah yang
tidak ringan, yaitu memperkuat basis
ekonomi produktif pada sektor-sektor
tradeable seperti pertanian, industri
manufaktur, termasuk pertambangan.
Pertanyaannya adalah apakah strategi
ekonomi hijau dapat mengangkat kinerja
perekonomian Kalbar dan sekaligus
berkontribusi pada pelestarian sumber
daya alam dan pembangunan berkelanjutan? Seharusnya dapat. Sepanjang
perencanaan pembangunan mampu
lebih terintegrasi, prasyarat perencanaan tata ruang wilayah mampu lebih
tegas dan proteksi serta konservasi
kawasan HoB mampu dilaksanakan secara konsisten dan bertanggung jawab.
Tiga kabupaten di Kalbar berada pada
kawasan HoB, yaitu Sintang, Melawi dan
Kapuas Hulu, sehingga strategi implementasi ekonomi hijau di tingkat provinsi perlu diintegrasikan dengan programprogram di tingkat lapangan, terutama
yang bersentuhan langsung dengan
upaya konservasi HoB dan kehidupan
masyarakat.
Secara umum, Provinsi Kalbar mengusung visi pembangunan, yaitu untuk
Mewujudkan Masyarakat Kalimantan
Barat yang Beriman, Sehat, Cerdas,
Aman, Berbudaya, dan Sejahtera.
Pemerintah provinsi memiliki strategi
umum untuk (1) fokus pada program/
kegiatan yang mempunyai daya ungkit untuk mengurangi pengangguran
dan kemiskinan, (2) perbaikan sinergi
antara pemerintah, dunia usaha dan
masyarakat, dan (3) penerapan standar
kegiatan pembangunan menuju standar
nasional dan internasional. Bahasa
lain dari strategi umum di atas adalah
penguatan basis ekonomi produktif
melalui kerja sama sinergis tiga komponen penting dalam pembangunan
yakni pemerintah (pusat dan daerah),
dunia usaha dan masyarakat madani,

turing sector went down from 18.96% in


2009 to 16.27% in 2013. In other words,
West Kalimantan still has to work hard
to strengthen the base of its productive
economy in tradeable sectors such as
agriculture and manufacturing, including mining. So, the question is whether
green economy strategies can elevate
the economic performance of West Kalimantan and simultaneously contribute
to the preservation of natural resources
and sustainable development? The answer should be in the affirmative.
More integrated development planning
would lead to firmer [stricter] regional
spatial planning prerequisites and more
consistent and responsible protection
and conservation of the Heart of Borneo.
Three districts in West Kalimantan are
situated in the Heart of Borneo, namely
Sintang, Melawi and Kapuas Hulu, so
that green economy implementation
strategies at the provincial level needs
to be integrated with programs at the
field level, especially those in direct contact with Heart of Borneo conservation
efforts and community life.
In general, West Kalimantan Province
is carrying on its shoulders its vision
of development, that is, to make West
Kalimantans citizens religious, healthy,
smart, safe, cultured, and prosperous.
The provincial government has a general strategy to (1) focus on programs
/ activities that have the leverage to
reduce unemployment and poverty, (2)
enhance the synergy between government, business and society, and (3) apply
its standards for development activities
and scale them up towards national and
international standards. In other words,
the general strategy speaks of the
strengthening of the productive economic base through synergistic collaboration of three important components
in development, namely, government
(national and sub-national), private sector and civil society, including academic
circles.

155

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

termasuk kalangan akademik. Kegagalan dalam mewujudkan strategi umum


di atas akan berpengaruh pada proses
transformasi struktural perekonomian
Kalbar, yang boleh jadi akan lebih memburuk dan menghasilkan ketimpangan
pendapatan yang semakin besar. Benar,
bahwa sektor pertanian masih cukup
dominan di Kalbar. Akan tetapi apabila
perpindahan tenaga kerja dari sektor
pertanian dan perdesaan ke arah sektor
industri dan jasa, yang umumnya ada di
perkotaan tidak terjadi dengan mulus,
maka transformasi struktural itu tidak
terjadi. Faktor yang paling berpengaruh
pada proses transformasi ini adalah
kualitas pendidikan dan kapabilitas
atau kemampuan tenaga kerja produktif
untuk mampu mengisi pasar kerja yang
lebih dinamis dan kompetitif.
Tekanan yang dihadapi Provinsi Kalbar
tentu saja tidak ringan. Di satu sisi, daerah ini perlu membangun infrastuktur
ekonomi untuk memperkuat interkoneksi daerah otonom dan pusat-pusat
pertumbuhan, tapi di sisi lain juga tetap
berpegang teguh pada prinsip-prinsip
konservasi dan keberlanjutan pembangunan, terutama di kawasan HoB.
Implementasi ekonomi hijau dimaksudkan untuk mewujudkan keberlanjutan
pembangunan ekonomi dalam jangka
panjang, menjaga dan memanfaatkan
sumber daya alam sesuai dengan daya
dukungnya serta meningkatkan upaya
konservasi di daerah-daerah tertentu
yang mampu menyediakan jasa lingkungan hidup bagi sekitarnya bagi generasi
yang akan datang. Ekonomi hijau juga
dapat menjadi panduan (guidelines)
pada tata kelola pemerintahan, pembagian manfaat yang lebih berimbang
antara tingkat provinsi dan tingkat
kabupaten/kota, serta antara pusat dan
daerah, maupun antara daerah otonom
satu dan lainnya, terutama yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber
daya alam dan lingkungan. Rencana
pengembangan infrasturktur yang
tertuang dalam MP3EI perlu diarah-

156

Failure to realize the above general


strategy will affect the process of transformation of the provinces economic
structure, which will probably get worse
and result in greater income disparity/
inequality. It is true that the provinces
agricultural sector is still quite dominant. However, if the movement of labor
from the agricultural sector and rural
areas to the industrial and service sectors that are generally situated in urban
areas does not proceed smoothly, the
structural transformation would not
happen. The most influential factor in
this transformation process is the quality of the education and skills or ability
of the productive workforce to get absorbed in the labor market that is more
dynamic and competitive.
Pressures faced by West Kalimantan
Province are certainly not light. On the
one hand, this province needs to build
economic infrastructure to strengthen
the interconnection of autonomous
regions and centers of growth. On the
other hand, however, the province has
to stick to the principles of conservation
and sustainable development, especially
in the Heart of Borneo. Implementation
of green economy is meant to embody
the sustainability of economic development in the long term, maintaining and
utilizing natural resources in accordance with their carrying capacity and
improving conservation efforts in certain areas that are able to provide environmental services to the surrounding
environment for generations to come.
Green economy can also be a guide
(guideline) on governance, more equitable sharing of benefits between
the province and the districts / cities
within it as well as between the national
government and sub-national governments, and between one and the other
autonomous regions, particularly those
associated with the utilization of natural
resources and the environment. The
infrastructure development plan stated
under MP3EI needs to be directed in

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

kan agar mampu memberdayakan dan


memberi peluang pada pasar kerja yang
masih akan tumbuh signifikan. Misalnya, dalam hal tata ruang, Provinsi
Kalbar tetap perlu fokus pada finalisasi
RTRW, terutama untuk mengakomodasi kepentingan konservasi hutan dan
dearah tangkapan air pada kabupaten
konservasi dan masuk dalam kawasan
HoB. Integrasi dengan RTRW tingkat kabupaten/kota dan tingkat nasional masih
diperlukan untuk mengurangi peluang
tumpang-tindih penggunaan lahan, lebih
khusus lagi antara sektor kehutanan,
perkebunan dan pertambangan. Aplikasi
hutan kemasyarakatan dan skema perhutanan sosial lainnya perlu dimasalkan
pada tingkat kabupaten/kota dan tingkat
lapangan atau landskap. Tiga kabupaten
yang berada di kawasan HoB, yaitu Kapuas Hulu, Melawi dan Sintang, tampak
tidak akan main-main dalam hal tata
ruang dan wilayah, karena hal tersebut
akan menjadi kriteria dan indikator yang
mudah dilihat dan dipantau stakeholders secara luas.
Di sektor kehutanan, implementasi
ekonomi hijau di Kalbar dapat lebih
konsisten diterapkan pada metode RIL
di seluruh perusahaan konsesi yang
beroperasi di segenap penjuru provinsi.
Pelaksanaannya dapat dilakukan secara
bertahap, tapi dapat juga dilakukan
secara sekaligus, baik di kawasan HoB,
maupun di luar kawasan HoB. Beberapa
perusahaan telah menerapkan sertifikasi majamenen kehutanan secara
berkelanjutan (SFM), sehingga apabila
pemerintah provinsi dapat bekerja sama
lebih erat dengan pemerintah labupaten/kota, maka implementasi ekonomi
hijau akan lebih mudah. Pemerintah
provinsi bekerja sama dengan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian
Kehutanan, dapat menjadi pelopor untuk
melakukan restorasi areal konsesi
hutan yang rusak, dengan standar yang
terukur dan muda dilakukan pengendalian dan evaluasi (monitoring and
evaluation).

order to empower and provide opportunities in the labor market that will still
grow significantly.
For example, in terms of spatial layout arrangement, the Province of West
Kalimantan still needs to focus on the
finalization of its Spatial Layout Plan,
primarily in the interest of forest conservation and the conservation of water
catchment areas in conservation districts that belong to the Heart of Borneo.
Integration between the provinces spatial plan and the other ones at district /
city and even national levels is needed
to reduce the chance of overlapping land
use, more specifically between the forestry sector, the agriculture sector and
the mining sector. The implementation
of community forestry and other social
forestry schemes needs to be publicly
mainstreamed at district, city, field or
landscape levels.
The three districts situated in the Heart
of Borneo, that is, Kapuas Hulu, Melawi
and Sintang, seem to be very serious
about their spatial and regional layout
plans, because this will be used as one
of the criteria and indicators that will be
easily viewed and monitored by stakeholders on an area-by-area basis.
In the forestry sector, the implementation of green economy in West Kalimantan can be more consistently applied
to the RIL methods throughout all the
concession companies operating in all
corners of the province. Implementation
can be done in stages, but it can also be
done at once, both inside and outside
the Heart of Borneo. Some companies
have implemented sustainable forestry
management (SFM) certification. So, if
the provincial government can work
more closely with the district / city governments, then the implementation of
green economy will be much easier.
The provincial government in cooperation with the national government, in this
case the Ministry of Forestry, may be a

157

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan


berkembang sangat pesat, dari sekitar
336 ribu ha pada tahun 2002 menjadi
lebih dari 1 juta hektar pada tahun 2012.
Petani yang terlibat pada perkebunan
kelapa sawit berkembang dari 52 ribu
kepala keluarga (KK) menjadi lebih dari
100 ribu KK. Akan tetapi, perkembangan
produksi CPO yang dihasilkan masih
cukup rendah, yaitu sekitar 1 juta ton
pada tahun 2012. Kelapa sawit di Kalbar
masih tergolong muda, artinya komposisi kebun dengan tabangan belum
menghasilkan (TBM), masih lebih besar
dari tanaman menghasilkan (TM) atau
kebun yang sudah produktif. Produktivitas CPO yang di bawah 1 ton per hektar
tentu masih akan meningkat, apabila
komposisi tanaman produktif telah
semakin besar, yang diharapkan dapat
menggerakkan perekonomian Kalbar.
Kesenjangan produktivitas kebun sawit
rakyat dan kebun sawit perusahaan
besar adalah hal yang perlu diperbaiki.
Pengolahan CPO menjadi produk turunan yang bernilai tambah tinggi akan
semakin meningkatkan dampak ganda
(multiplier effect) dari industri minyak
sawit pada kesejahteraan masyarakat.
Provinsi Kalbar memerlukan investasi
swasta dalam jumlah besar yang
mampu mengolah CPO menjadi produk
industri hilir seperti: oleokimia, shortening, bahkan produk kosmetik, yang
akan menjadi salah satu sumber transformasi struktur ekonomi Kalbar, untuk
menyerap tenaga kerja, menciptakan
lapangan kerja baru dan mengentaskan
masyarakat dari kemiskinan.

158

precursor to the restoration of degraded


forest concession areas, with measurable standards and easy-to-control
monitoring and evaluation.
Oil palm plantations in Kalimantan are
growing very rapidly, from about 336
thousand hectares in 2002 to more than
1 million hectares in 2012. The number
of growers/ smallholders who are involved in oil palm plantations has grown
from 52 thousand household heads to
more than 100 thousand household
heads. However, the development of the
resulting CPO production is still quite
low, around 1 million tonnes in 2012.
The oil palm trees in West Kalimantan
are still relatively young. This means
that the portion of plantation estates
with immature trees (TBM) is still
greater than the portion of estates with
mature, productive trees. Of course,
the CPO productivity rate under 1 ton
per hectare would still increase, if the
portion of productive trees is increasingly greater, which is expected to drive
the provinces economy. The productivity
gap between peoples oil palm plantations and large-scale oil palm plantations operated by big corporations is
something that needs to be fixed.
The processing of crude palm oil into
derivative products of high added value
will increase the multiplier effect impact
of the palm oil industry on peoples
welfare. West Kalimantan needs large
amounts of private investment that
is capable of processing crude palm
oil into downstream products such as
oleochemicals, shortening, and even
cosmetic products, which will be one
of the sources of transformation of the
provinces economic structure, to provide employment by creating new jobs
and to alleviate poverty.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Tabel 17: Luas Areal Kebun Kelapa Sawit dan Produksi CPO Kalbar Tahun 2012
Table 17: Areas of Oil Palm Estates and CPO Production of West Kalimantan in 2012
Luas Areal
(Ha)

Kabupaten / District
TBM

TM

Total Areal
(Ha)

Produksi
(Ton CPO)

Petani
(KK)

Rusak

7.662

395

8.057

698

430

52.733

35.736

135

88.604

62.185

6.284

Sambas

41.976

25.020

66.996

43.992

7.701

Bengkayang

37.460

15.753

53.213

35.473

4,354

Singkawang

3.361

2.756

6.117

2.358

112

Sanggau

63.951

155.031

1.249

220.231

304.026

35.253

Sekadau

37.239

48.302

85.541

93.162

12.084

Sintang

45.967

57.996

103.963

116.669

11.333

Melawi

16.392

8.953

25.345

29.325

3.202

Kapuas Hulu

36.960

9.631

46.591

17.401

1.510

Ketapang

151.181

127.344

278.525

266.350

16.891

Kayong Utara

16.468

13.968

30.436

10.968

847

Kubu Raya

35.161

11.471

46.632

25.378

762

546.511

512.356

1.384

1.060.251

1.007.985

100.763

Pontianak
Landak

Grand Total

Sumber: Dinas Perkebunan Kalbar, 2014 http://www.disbun-kalbar.go.id


Source: West Kalimantan Plantation Department, 2014 http://www.disbun-kalbar.go.id

Tantangan implementasi ekonomi hijau


di HoB sisi Kalbar menjadi agak pelik
ketika perkembangan areal kelapa sawit
di tiga kabupaten Sintang, Melawi dan
Kapuas Hulu yang berada di kawasan
HoB juga berlangsung sangat pesat.
Pada tahun 2002, kebun kelapa sawit
di Sintang mencapai hampir 45 ribu
hektar, di Melawi belum ada kebun dan
di Kapuas hulu hanya 8 ribu hektar.
Pada tahun 2012, areal kelapa sawit di
Sintang telah mencapai 104 ribu hektar,
di Melawi 25 ribu hektar dan di Kapuas
Hulu 47 ribu hektar (Lihat Tabel 18),
suatu perkembangan yang amat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Berhubung Provinsi Kalbar masih belum
mengeluarkan kebijakan moratorium
ekspansi kebun kelapa sawit, maksudnya perizinan kebun sawit masih akan
terus dikeluarkan oleh daerah-daerah
otonom, maka kriteria dan indikator
yang mengarah pada konservasi sumber
daya alam harus lebih jelas dan tegas.
Misalnya, kebun-kebun sawit baru tidak
boleh dibuka pada areal hutan alam dan
lahan gambut, sesuai dengan kebijakan

Green economy implementation challenges in the Kalimantan side of the


Heart of Borneo became somewhat
complicated when oil palm acreage in
three districts located in the Heart of
Borneo, that is, Sintang, Melawi and
Kapuas Hulu, expands very rapidly.
In 2002, oil palm plantation estates in
Sintang covered an area of almost 45
thousand hectares, in Melawi no plantation estates and in the upper Kapuas
only 8 thousand hectares. In 2012, oil
palm acreage in Sintang has reached
104 thousand hectares, in Melawi 25
thousand hectares and in Kapuas Hulu
47 thousand hectares (See Table 18),
which signified a very significant development in the last 10 years.
Because West Kalimantan Province
has not yet issued a moratorium on
the expansion of oil palm plantations,
which means that permits for oil palm
plantations will continue to be issued
by the provinces autonomous regions
[self-governed districts and cities], the
criteria and indicators for the conserva-

159

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

pemerintah pusat dan ketentuan perundangan yang berlaku. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, empat ketentuan
perundangan yang berhubungan dengan
kebun sawit seperti Inpres No 10 tahun
2011 tentang Moratorium Penanaman di
Lahan Gambut, Inpres No 6 tahun 2013
tentang Penundaan Izin baru, PP No 27
tahun 2012 tentang Izin Lingkungan dan
Permentan No 98 tahun 2013 tentang
Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan
seharusnya dilaksanakan di daerah
secara konsisten. Apabila mendesak,
ekspansi kebun baru dapat dilakukan
pada kawasan yang terdegradasi, bukan
pada hutan alam dan lahan gambut.
Pemerintah daerah dapat menambahkan ketentuan khusus tentang kewajiban
pemulihan lahan dan intervensi bidang
ketanagakerjaan dan lain-lain.
Provinsi Kalbar sebenarnya juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi
karet nasional, karena tanaman karet
diusahakan di hampir seluruh kabupaten di Kalbar, termasuk yang berada
di kawasan HoB. Perkembangan luas
areal karet di Kalbar tidak sepesat
perkembangan areal kelapa sawit. Pada
tahun 2002 luas areal karet tercatat 464
ribu hektar dan melibatkan 245 ribu
rumah tangga petani, kemudian meningkat menjadi 593 ribu hektar pada tahun
2012 dan melibatkan 318 rumah tangga
petani. Produksi karet mentah juga
meningkat dari 245 ribu ton pada tahun
2002 menjadi 259 ribu ton pada tahun
2012. Pemerintah Kalbar seharusnya
lebih konsisten melaksanakan kebijakan
pengembangan komoditas karet yang
sebenarnya lebih ramah terhadap lingkungan, terutama melakukan peremajaan pohon-pohon karet berumur tua,
mengganti dengan klon karet bibit unggul yang memiliki produktivitas tinggi.
Kisah komoditas lada di Kalbar yang
pernah jaya pada masa lalu, tapi menurun drastis pada masa kini, seharusnya
tidak terjadi pada komoditas karet.
Pemerintah Kalbar sebenarnya telah
berencana mengembangkan kawasan

160

tion of natural resources must be clear


and unequivocal. For example, new oil
palm plantations should not be allowed
on natural forest and peatland areas,
in accordance with the policies of the
national government and the provisions
of the existing laws and regulations.
As mentioned earlier, the four regulations on oil palm plantations, that is, the
Presidential Instruction No. 10 of 2011
on the moratorium on the conversion of
peatland areas into oil palm plantations,
Presidential Instruction No. 6 of 2013
on the postponement of new permits,
Government Regulation No. 27 of 2012
on Environmental Permits and to the
Regulation of Minister of Agriculture
No. 98 of 2013 on Plantation Licensing
Guidelines should have been implemented in the province consistently. In urgent
cases, the expansion of new plantations
should be allowed only on degraded
forest areas, not on natural forests and
peatlands. Local governments may add
specific provisions on the obligation for
land restoration, labor intervention and
other relevant provisions.
West Kalimantan Province is known as
one of the national rubber production
centers because rubber is cultivated in
almost all districts in West Kalimantan,
including those located in the HoB. The
development of rubber plantations in
West Kalimantan has not been as fast
as the development of oil palm estates.
In 2002, it was recorded that a total area
of 464 thousand hectares were used for
rubber plantations, on which 245 thousand farmer households were engaged.
In 2012, the areas used for rubber plantations had increased to 593 thousand
hectares and 318 farmer households
were engaged. The provinces crude
rubber production had also increased
from 245 thousand tons in 2002 to 259
thousand tons in 2012.
The Government of West Kalimantan
should be more consistent in implementing policies to develop the prov-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

industri di beberapa tempat, untuk


meningkatkan nilai tambah dari produkproduk pertanian, sekaligus untuk
menyerap tenaga kerja dan menciptakan
lapangan kerja baru. Beberapa aktivitas
perencanaan dan pembebasan lahan
telah mulai dilakukan di Kawasan Industri Mandor, Kawasan Industri Tayan dan
Kawasan Industri Sempruk. Pengembangan kawasan industri ini merupakan
kerja sama pemerintah pusat, dalam hal
ini Kementerian Perindustrian dengan
pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota setempat.

inces rubber plantation industry, which


is actually more environmentally friendly, especially in rejuvenating old rubber
trees and replacing them with quality
clones that have high productivity. The
provinces pepper plantation industry
that used to flourish in the past but has
now drastically declined should not happen to its rubber plantation industry.
The government of West Kalimantan has
planned to develop industrial areas to
increase the added value of agricultural
products as well as to provide employment and create new jobs. Some planning and land acquisition activities have
begun in the Mandor Industrial Area, the
Tayan Industrial Area and the Sempruk
Industrial Area. These industrial areas
are being developed by the Ministry
of Industry, in collaboration with the
provincial and the district / city governments.

Tabel 18: Implementasi Ekonomi Hijau di Kawasan HoB sisi Kalimantan Barat
Table 18: Green Economy Implementation in the West Kalimantan part of the HoB
Dimensi / Dimension

Kegiatan Ekonomi Hijau / Green Economy Activities

Tata Ruang / Spatial layout plan

Finalisasi RTRW, hutan kemasyarakatan dan perlindungan daerah


tangkapan air, terutama di kabupaten konservasi / Finalization of the
provinces Regional Spatial Layout Plan (RTRW), community forestry and
protection of water catchment areas, especially in conservation districts

Kawasan Proteksi / Protected


areas

Perlindungan flora dan fauna, keterhubungan seluruh kawasan


proteksi / Protection of flora and fauna, connectedness of the entire
protection areas

Kehutanan / Forestry

Pelaksanaan RIL, sertifikasi SFM, restorasi areal konsesi hutan yang


rusak / Implementation of RIL, SFM certification, restoration of damaged
forest concession areas

Perkebunan Sawit / Oil palm


plantations

Ekspansi pada kawasan terdegradasi. Perkebunan lain: karet dan


lada menjadi andalan masyarakat / Expansion to degraded areas; the
planting of other crops such as rubber and pepper treasured as mainstay
commodities by the communities

Pertambangan / Mining

Pertambangan yang bertanggung jawab, reklamasi bekas tambang


(terutama batubara) / Responsible mining, reclamation of ex-mine sites
(particularly coal mines)

Pertanian / Agriculture

Pengembangan food estates mengacu pada prinsip-prinsip


pertanian berkelanjutan / Developing food estates based on sustainable
agriculture principles

Energi / Energy

Pengurangan konsumsi energi domestik, peningkatan energi


alternatif dan terbarukan / Reducing domestic [fossil fuel-based]
energy consumption, increasing production of alternative and renewable
energy

Usaha Kehati / Biodiversity


conservation

Aplikasi sistem pembayaran jasa lingkungan hidup, minimisasi


erosi dan sedimentasi lahan / Implementing systems of payment for
environmental services, minimizing erosion and land sedimentation

Hijau Inovatif / Green innovation

Pengembangan indusri rumah tangga berbasis lidah buaya dan


produk turunannya / Developing household industries based on aloe
vera and its derivatives

Sumber: Diolah dari Bappeda Kalimantan Barat (2014)


Source: based on data from the Development Planning Agency of West Kalimantan (2014)

161

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Dalam bidang pertambangan, implementasi ekonomi hijau di Kalbar harus


lebih tegas dan konsisten mengatur dan
menerapkan pertambangan bertanggung jawab. Langkah-langkah yang
perlu ditekankan kepada perusahaan
tambang diantaranya adalah antisipasi
penceramaran pada kualitas air dan
udara, reklamasi lahan pasca tambang dan pengembangan modal sosial
masyarakat sekitar tambang, berikut
pemberdayaan ekonominya. Potensi
pertambangan yang sangat menjanjikan
di Kalbar adalah dengan ditemukannya
di Kabupaten Melawi potensi uranium
yang cukup besar sebagai bahan utama
produksi energi yang ramah lingkungan.
Provinsi Kalbar bekerja sama dengan
pemerintah kabupaten setempat juga
telah merencanakan pengembangan
pertanian pangan skala luas untuk
membantu penyediaan pangan pokok,
terutama beras di Kalbar. Di Kabupaten Pontianak, proses penetapan
lahan pangan seluas 20.000 ha sudah
dilakukan. Demikian juga di kabupaten
lain, seperti di Sanggau seluas 35.100
ha, di Kubu Raya seluas 5.000 ha dan di
Ketapang seluas 20.000 ha yang akan
ditingkatkan menjadi 100.000 ha dalam
waktu dekat.
Implementasi ekonomi hijau dalam
bidang ekonomi kreatif inovatif di Kalbar
dilakukan secara sinergis dengan
pemberdayaan ekonomi masyarakat
lokal, industri rumah tangga berbasis
lidah budaya, bank sampah, kerajinan
tangan dan industri kuliner yang dapat
menggerakkan ekonomi masyarakat
dan pendapatan rumah tangga. Beberapa pelaku industri kreatif ini bahkan
telah menjadi referensi pengembangan
budaya dan ekonomi kreatif di tingkat
nasional. Oleh karena itu Pemerintah
Kalbar dan pemerintah kabupaten/kota
perlu lebih serius dalam melakukan
pembinaan, fasilitasi dan pendampingan yang secara konsisten dan berkala
untuk meningkatkan kapasitas kepada

162

As far as the mining sector in West


Kalimantan is concerned, more effort
must be made to firmly and consistently
implement green economy principles
through responsible mining.
It must be emphasized to the mining
companies that they have to take anticipatory measures to prevent their
operation from polluting air and water
in the neighborhood, to carry out postmining land reclamation and develop
social capital in communities around
the mine and empower their economy. A
very promising mining potential in West
Kalimantan is the discovery of potentially substantial uranium deposits in the
District of Melawi, which can be used
as a main ingredient for production of
environmental friendly energy.
The government of West Kalimantan
Province in collaboration with the provinces local district governments has
also planned the development of food
crops agriculture on an area scale to
help provide staple food, especially rice
in West Kalimantan. In the District of
Pontianak, the process of officially delineating and defining food crops land of
20,000 hectares has been done. A similar process has also taken place in other
districts such as in Sanggau (35,100
hectares), Kubu Raya (5,000 hectaes)
and Ketapang (20,000 hectares), which
will be scaled up to 100,000 hectares in
the near future.
Green economy implementation in the
field of innovative creative economy
in West Kalimantan is carried out in
synergy with the economic empowerment of local communities, aloe verabased domestic industry, garbage/ trash
banks, handicrafts and culinary industry
that can drive the local economy and
increase household income. Some of
these creative industry actors have even
served as references for the development of creative culture and economy
at national level. Therefore, the govern-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia / Erma

para calon wirausaha. Masyarakat


lokal yang tersebar di seluruh provinsi
perlu mendapat perhatian dan sentuhan
fasilitasi, pemihakan, pemberdayaan
dan penghubungan (bridging and matchmaking) industri kreatif dengan pasar
domestik dan pasar internasional. Daya
saing ekonomi lokal dapat dimulai dari
industri kreatif-inovatif, tidak harus
industri padat modal, tapi ekstraktif dan
tidak berkelanjuitan.

ment of West Kalimantan Province and


the district/ city governments in the
province should be more serious in providing supervision, facilitation and assistance consistently and periodically to
build the capacity of prospective [micro,
small and medium-scale] entrepreneurs
to start their own business. The government should give attention to the local
communities who are spread across
the entire province, side with them,
empower them and facilitate them to be
in touch with the creative industry. The
government should act like a matchmaker, bridge ties between them and
creative industries, domestic markets
and international markets. The competitiveness of the provinces local economies can be enhanced through exposure
to creative-innovative industries, which
do not have to be capital-intensive but
extractive and unsustainable.

163

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

6.3 
Kalimantan Tengah - Agroindustri
Minyak Sawit Berkelanjutan
Central Kalimantan - Sustainable Palm Oil
Agro-Industry

Implementasi ekonomi hijau pada tingkat pembangunan yang masih awal seperti di Kalteng seharusnya relatif lebih
mudah karena sektor ekstraktif sumber
daya alam masih dapat dikendalikan
lebih awal. Dengan kata lain, walau-

This actually has an implication for the


sources of growth in Central Kalimantan, which are still open such as the
manufacturing sector which can process agricultural production and other
primary sector production, thus making
it one of the very potential providers
of employment. In 2013, the number
of industrial sector workers in Central
Kalimantan was 31,560, which is quite
low as it accounts for only 3% of the
provinces total workforce. The increase
in value added through the processing of
products of advanced level will be one of

ebagaimana disebutkan sebelumnya,


kinerja pertumbuhan ekonomi
Provinsi Kalteng pada tahun 2013
mencapai 7,37% per tahun, atau paling
tinggi di seluruh Kalimantan. Tingkat
pengangguran terbuka mencapai 3%
atau paling tinggi di Kalimantan dan
tingkat kemiskinan mencapai 6,23%
atau terendah kedua setelah Kalsel yang
mencapai 4,76%. Struktur perekonomian
di Kalteng pada 2013 masih didominasi
sektor pertanian, yaitu sebesar 27,11%,
disusul sektor perdagangan, hotel dan
restoran sebesar 21,49% dan sektor jasa
sebesar 13,69%. Hal ini sebenarnya berimplikasi pada masih terbukanya sumber-sumber pertumbuhan di Kalteng,
seperti sektor industri manufaktur yang
dapat mengolah produksi pertanian dan
sektor primer lainnya, sehingga menjadi
salah satu pencipta lapangan kerja yang
amat potensial. Tenaga kerja sektor
industri di Kalteng masih cukup rendah,
yaitu sebanyak 31.560 orang atau hanya
3% dari total angkatan kerja pada tahun
2013. Peningkatan nilai tambah melalui
proses dan pengolahan produk tingkat
lanjutan akan menjadi salah satu mesin
pertumbuhan Kalteng di masa mendatang.

164

entral Kalimantans economic


structure in 2013 was still dominated by the agriculture sector which
accounted for 27.11% of the provinces
economy, followed by the trade, hotel
and restaurant sector (21.49%) and the
service sector (13,69%). As mentioned
earlier, the provinces economic growth
performance in 2013 reached 7.37% per
annum, which was the highest in the
whole of Kalimantan, the open unemployment rate 3%, which was also the
highest in Kalimantan, and the poverty
rate 6.23%, which was second to South
Kalimantans, which was 4.76%. Central
Kalimantans economic structure in
2013 was still dominated by the agricultural sector, which accounted for 27.11%,
followed by the trade, hotels and restaurants sectors, which accounted for
21.49% and the services sector, which
accounted for13.69%.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

pun potensi pertambangan batubara


di Kalteng masih cukup terbuka lebar,
strategi pembangunan yang tidak hanya
mengandalkan aktivitas ekstraktif seperti sektor pertambangan, justru akan
berkontribusi pada pencapaian tingkat
keberlanjutan pembangunan. Kalteng
sejauh ini masih fokus pada pengembangan kelapa sawit terutama skala
besar, yang mengalami perkembangan
amat pesat dalam beberapa tahun
terakhir. Luas perkebunan kelapa sawit
di Kalteng pada tahun 2013 mencapai
874.846 ha, sebagian besar (90%) adalah
perusahaan inti dan sisanya adalah
kebun sawit plasma skala kecil yang
dikelola rakyat. Kontribusi sektor perkebuan mencapai 12,12% terhadap PDRB
Kalteng. Akan tetapi, peran rakyat kecil
dan masyarakat lokal pada pengembangan kelapa sawit di Kalteng tidak
terlalu menonjol, sehingga menjadi
tantangan tersendiri bagi implementasi
ekonomi hijau, menuju pembangunan
yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan.
Langkah peningkatan peran ekonomi
rakyat, usaha kecil menengah, terutama
dari masyarakat lokal, sebenarnya amat
sesuai dengan visi Pemerintah Kalteng,
yaitu Meneruskan dan Menuntaskan
Pembangunan Kalimantan Tengah agar
Rakyat Lebih Sejahtera dan Bermartabat dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalteng sebenarnya
telah memiliki Perda Provinsi Kalteng
No 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalteng.
Akan tetapi, Perda No 8 tahun 2003 belum mampu operasional lebih jauh karena masih harus disinkronkan dengan
RTRW di tingkat daerah dan Rencana
Tata Ruang Nasional yang sampai saat
ini masih belum selesai. Selain untuk
mencapai rakyat yang lebih sejahtera
melalui pembangunan ekonomi, sosial
dan lingkungan hidup, visi Pemerintah
Kalteng juga menjadikan rakyat lebih
bermartabat, yaitu masyarakat yang
memiliki nilai martabat yang tinggi den-

the provinces future growth engines.


The implementation of green economy
in provinces whose development is
still in the early stages such as Central
Kalimantan should be relatively easier
because interventions can be made earlier to control the extractive sector. In
other words, although the potential for
coal mining in Central Kalimantan is still
pretty wide open, a development strategy that does not rely solely on extractive
activities such as mining will contribute
to the attainment of sustainable development. Thus far, Central Kalimantan
is still focused on the development of
large-scale oil palm plantations, which
has grown very rapidly in recent years.
In 2013, around 874,846 hectares of land
was used as oil palm plantation areas
in Central Kalimantan. The majority of
it (90%) belongs to large-scale palm oil
corporations and the rest are smallscale oil palm outgrower estates managed by smallholders.
The contribution of the plantation
sector accounts for 12.12% of Central
Kalimantans GDP. However, the role
of low-income smallholders and local
communities in the development of oil
palm industry in Central Kalimantan is
not too prominent, so that it becomes
quite a challenge for the implementation
of green economy that leads to a more
sustainable and equitable development.
Measures to promote the significance
of peoples economy, small and medium
enterprises, especially those belonging to local communities, are actually
very much in line with the vision of the
Government of Central Kalimantan, that
is, Fostering and Accomplishing the
Development of Central Kalimantan to
Make its Citizens More Prosperous and
Dignified within the Purview of the Unitary State of the Republic of Indonesia.
Central Kalimantan actually has already
enacted Provincial Regulation No. 8 of
2003 on the Provinces Regional Spatial
Layout Plan. However, this regulation
has not been able to be operational any

165

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

gan tetap menjunjung budaya bangsa


dan didasarkan pada semangat huma
betang dan bhinneka tunggal ika.
Provinsi Kalteng memiliki enam kabupaten yang berada di kawasan HoB,
yaitu: Kabupaten Katingan, Barito Utara,
Gunung Mas, Murung Raya, Kapuas dan
Seruyan. Provinsi Kalteng dan keenam
kabupaten ini memiliki tanggung jawab
yang lebih besar dalam konservasi
kawasan HoB, menerapkan strategi
ekonomi hijau pada segenap aspek
pembangunannya ke depan. Misalnya,
semua kabupaten di kawasan HoB
kecuali Murung Raya, memiliki perkebunan kelapa sawit yang akan terus
memperoleh tekanan untuk menjaga
kelestarian lngkungan hidup, disamping
tekanan untuk meningkatkan produksi
dan produktivitasnya. Total areal kelapa
sawit di Kalteng sekitar 869 ribu ha
dengan tingkat produksi CPO sebesar
2,5 juta ton pada tahun 2013 (Table 19).
Total produksi CPO di Kalteng meningkat amat pesat jika dibandingkan dengan
produksi pada tahun 2010 yang masih
tercatat 1,6 juta ton (tidak terlihat pada
tabel). Sebagian besar kebun kelapa
sawit di Kalteng telah memasuki fase
produktif, dan dikelola dengan manajemen perkebunan modern oleh perusahaan besar atau perusahaan inti dan
sebagian kecil saja dikelola oleh rakyat.
Oleh karena itu produktivitas CPO
sebesar 2,6 ton per ha di Kalteng tentu
sangat jauh lebih tinggi dibandingkan
produktivitas di Kalbar yang tercatat di
bawah 1 ton per ha.

WWF-Indonesia / Alain Compost

166

further because it still has to be synchronized with the spatial layout plans
of the provinces districts and cities and
also with the National Spatial Layout
Plan which until now is still unfinished.
In addition to achieving a more prosperous people through economic development, social and environmental vision of
the Government of Central Kalimantans
vision is not just to improve peoples
welfare through economic, social and
environmental development but also to
enhance the dignity of its citizens while
upholding the nations culture based on
the spirit of huma betang [Dayak Longhouse] and Unity in Diversity.
Central Kalimantan province has six
districts that are located in the Heart of
Borneo area, namely: Katingan, Barito
Utara, Gunung Mas, Murung Raya, Kapuas and Seruyan. The province and its
sixth districts have a greater responsibility in the conservation of the Heart of
Borneo, and implement green economy
strategies in all aspects of their future
development. For example, all the provinces districts in the Heart of Borneo
- except Murung Raya, has oil palm
plantations that will continue to receive
pressure to preserve the environment
as well as to the pressure to increase
their production and productivity. The
total oil palm area in the province stands
at approximately 869 thousand hectares
with a Crude Palm Oil production level
of 2.5 million tons in 2013 (Table 19).
Total CPO production in Central Kalimantan in 2013 grew very rapidly when
compared with the total in 2010, which
was 1.6 million tonnes (not shown on the
table). Most of the oil palm plantations/
estates in Central Kalimantan have entered the productive phase. They are operated with modern plantation management by large-scale corporations. Only a
small portion is managed by the people.
Therefore, Central Kalimantans [rate of]
CPO productivity, which was 2.6 tons per
hectare, is certainly much higher than
West Kalimantans, which was less than
1 ton per hectare.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Tabel 19: Luas Areal Kelapa Sawit dan Produksi CPO Kalimantan Tengah 2013
Table 19: Central Kalimantans Oil Palm Area and CPO Production in 2013
Luas Areal
(Ha)

Kabupaten / District
Plasma
Kota Waringin Timur

Inti

Produksi
(Ton CPO)
Rusak

20,217

237,616

257,833

917,496

5,000

165,767

170,767

236,078

Kota Waringin Barat

20,286

129,162

149,448

935,706

Lamandau

15,531

22,008

37,539

168,825

Sukamara

9,150

6,750

15,900

71,768

4,292

16,036

20,328

92,972

Seruyan

Murung Raya
Barito Utara

341

504

18,850

19,354

856

2,340

7,141

9,481

2,153

Pulang Pisau

Gunung Mas

10,377

10,377

4,398

Barito Selatan
Barito Timur
Kapuas

151

Katingan

3,534

3,534

118,082

Lintas Kabupaten/Kota

2,989

171,139

174,128

83,843

784,846

868,689

Palangka Raya

Kalimantan Tengah

2,548,826

Sumber: : BPS dan Bappeda Kalimantan Tengah, 2014


Source: The National Statistics Agency and the Development Planning Agency of the Province of Central Kalimantan, 2014

WWF-Indonesia

167

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Perkembangan luas areal kebun inti


cukup pesat, walaupun ada beberapa
yang masih memiliki masalah tumpangtindih perizinan lahan, yang tidak saja
mengganggu peningkatan produktivitas
tanaman, tapi juga mengganggu keharmonisan hubungan sosial masyarakat
setempat dengan perkebunan swasta
skala besar. Dominasi dan majoritas
perkebunan skala besar yang tersebar
di seluruh Kalteng tidak dapat dibiarkan
begitu saja, karena akan menjadi potensi
dan sumber konflik sosial dan ekonomi
yang dapat mempengaruhi kinerja
pembangunan di Kalteng. Pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota perlu secara serius dan sistematis mendorong
investasi lokal berupa kebun sawit skala
rakyat, yang akan memberikan perimbangan komposisi ekonomi yang lebih
harmonis. Secara spesifik, perkebunan
kelapa sawit di Kalteng masih menghadapi banyak kendala, terutama yang
berhubungan dengan tingkat keberlanjutan dan pelestarian lingkungan
hidup. Luas hamparan lahan gambut
yang sangat luas di Kalteng tentu saja
menjadi tantangan tersendiri bagi peningkatan produktivitas dan pelestarian
lingkungan hidup, karena vulnerebilitas
(kerentanan) dari lahan gambut, apalagi
jika sampai terbentuk kubah gambut,
yang sebenarnya terlarang untuk dieksplotiasi.
Agroindustri atau pengolahan produk
kepala sawit menjadi produk turunan
di Kalteng yang bernilai tambah tinggi
masih sangat rendah. Kalteng masih
menghadapi persoalan perizinan perusahaan perkebunan yang tidak memiliki
industri pengolahan sederhana TBS
menjadi CPO atau sering disebut pabrik
kelapa sawit (PKS). Di sisi lain, terdapat
juga beberapa PKS yang tidak memiliki
areal perkebunan yang memadai, untuk
sekadar memenuhi pasokan bahan
baku industri. Kondisi seperti ini adalah
tantangan tersendiri yang harus dijawab
oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Kalteng, apabila ingin segera

168

There has been rapid development of


areas under large-scale oil palm plantation corporations although some of them
are still beset by issues of overlapping
land permits, which not only disrupt
efforts to increase crop productivity but
also disturb the harmony and social relations between them and local communities. The dominance and prevalence of
large-scale plantations that are spread
throughout Central Kalimantan is such
that action needs to be taken to address the situation because this will be a
potential source of social and economic
conflicts, which could affect the development of the province.
The provinces provincial government
and district / city governments need to
seriously and systematically encourage local investment in the form of the
establishment and operation of peoples
or smallholders oil palm estates, which
will contribute to a more harmonious
economic composition of players in this
industry.
The oil palm plantation industry in
Central Kalimantan is still facing a lot
of challenges especially in terms of
environmental sustainability and preservation. Broad expanse of vast peatland in Central Kalimantan poses quite
a challenge for improving productivity
and preserving the environment due to
the vulnerability of peatlands, especially
where peat domes are formed, in which
exploitation is actually prohibited.
In Central Kalimantan, the processing
of palm oil into derivative products of
high added value is still very uncommon.
The province is still beset with licensing
issues as there are plantation companies that do not have simple processing facilities called palm oil mills to
convert fresh fruit bunches (FFB) into
crude palm oil (CPO). Conversely, there
are also palm oil mills that do not have
sufficient oil palm plantation area. They
operate just to provide raw material

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

melaksanakan transformasi perekonomian ke arah tingkat pembangunan yang


lebih maju. Tingginya kontribusi sektor
pertanian di Kalteng, seperti dijelaskan di muka, juga menunjukkan bahwa
industri manufaktur dan pengolahan
lanjutan produk pertanian menjadi
produk setengah jadi dan produk jadi,
juga masih rendah. Kalteng memerlukan investasi swasta dalam jumlah besar untuk mengembangkan agroindustri
berbasis minyak kelapa sawit, sekaligus
menerapkan prinsip-prinsip ekonomi
hijau yang lebih ramah lingkungan dan
comply terhadap ketentuan standar
pasar domestik dan pasar global.
Sebagaimana disebutkan dalam Perda
Provinsi Nomor 8 Tahun 2003 tentang
Tata Ruang, Implementasi Ekonomi
Hijau di Kalteng dilakukan melalui penataan ruang yang mendukung pengembangan ekonomi unggulan daerah yang
mengarusutamakan lingkungan hidup,
yang merupakan Kebijakan Umum
Strategi I pada Visi-Misi Pemerintah
Provinsi Kalteng. Sasaran dari kebijakan umum ini adalah terlaksananya
penataan tata ruang yang sesuai dengan arahan dan selaras dengan sasaran pembangunan diharapkan dapat
menumbuhkan dan mengembangkan
cluster ekonomi, baik di provinsi maupun di kabupaten/kota dengan tidak lupa
memperhatikan kelestarian lingkungan.
Pemerintah Kalteng senantiasa melakukan pengembangan ekonomi unggulan
direncanakan terlebih dahulu dalam tata
ruang dengan memperhatikan pelestarian alam dan lingkungan.

supply to the industry. This situation


poses quite a challenge that must be addressed by the provinces provincial, district and city governments if economic
transformation to a more advanced level
of development is to be immediately carried out.
The high contribution of the agricultural
sector in the province, as described earlier, also showed that the manufacturing
industry engaged in the further processing of agricultural products into semifinished products and finished products
is still rare. The province needs large
amounts of private investment to develop its palm oil-based agro-industry
and apply the principles of green economy that is more environmentally friendly
and complies with the provisions and
standards of both domestic and global
markets.
As stipulated under Provincial Regulation No. 8 of 2003 on Spatial Planning,
the implementation of green economy in
Central Kalimantan shall be conducted
through a spatial layout plan that supports the development of the provinces
economy and its featured products
through environmental mainstreaming,
which constitutes General Policy Strategy I on the Vision and the Mission of the
Government of the Province of Central
Kalimantan.
The objective of this General Policy is to
implement and put in place a spatial layout plan that accords with the direction
and the goals of the provinces development, which is expected to be able to
create and develop economic clusters,
both at the provincial level and at the
district / city level, without ignoring environmental sustainability. The Government of Central Kalimantan continues to
develop its featured economic sectors
through a pre-planned spatial layout
arrangement that upholds the preservation of nature and environment.

169

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Tabel 20: Implementasi Ekonomi Hijau di kawasan HoB sisi Kalimantan Tengah
Table 20: Green Economy Implementation in Central Kalimantans part of the HoB
Dimensi / Dimension

Kegiatan Ekonomi Hijau / Green Economy Activities

Tata Ruang / Spatial layout plan

Pembahasan final RTRW, pemanfaatan lahan kritis, terutama


rehabilitasi eks mega proyek gambut / Final deliberation on the
provinces Regional Spatial Layout Plan (RTRW); utilization of severely
degraded land; rehabilitation of land that used to be subjected to the
operation of former peat mega-projects

Kawasan Proteksi / Protected


areas

Daerah penyangga buffer zone, kawasan proteksi yang berbatasan


dengan HoB / Buffer zones, protected areas that border the Heart of
Borneo

Kehutanan / Forestry

Pelaksanaan RIL, pengurangan konversi kawasan hutan alam dan


gambut menjadi kebun sawit / Implementation of RIL, scale down the
conversion of natural forest and peatland area into oil palm plantations.

Perkebunan Sawit / Oil palm


plantations

Meningkat pesat, dari 1,6 juta ton (2010) menjadi 2,5 juta ton (2013).
Kebun sawit rakyat perlu juga dikembangkan, perbaikan budiadaya
dan sedapat mungkin tersertifikasi RSPO dan ISPO / Expand rapidly,
from 1.6 million tons (in 2010) to 2.5 million tons (in 2013). Peoples or
smallholder oil palm estates, too, should be developed, their cultivation
methods improved and their undertaking certified under RSPO and
ISPO certification schemes.

Pertambangan / Mining

Mengikuti kaidah pertambangan internasional yang bertanggung


jawab, perbaikan pengelolaan limbah, pengurangan dampak pada
kualitas air dan udara / Complying with internationally-sanctioned
responsible mining codes, improving waste management, reducing the
mining operations impacts on water and air quality.

Pertanian / Agriculture

Energi / Energy

Usaha Kehati / Biodiversity


conservation
Hijau Inovatif / Green innovation

Pertanian tanaman pangan dan hortikultura, aplikasi keberlanjutan


difokuskan pada lahan eks mega proyek gambut / Food crops
production and horticulture; sustainable agricultural application shall
be focused on the land formerly used for peat mega-projects
Peningkatan energi alternatif dan terbarukan, investasi
pengurangan konsumsi batubara / Promoting alternative and
renewable energy; investing in alternative and renewable energy
development to reduce coal consumption/ dependency on coal.
Aplikasi HKm dan agroforestri terutama di kawasan HoB /
Implementing community forestry programs (HKM) and agro-forestry
programs, particularly in the HoB.
Pengembangan ekonomi kreatif skala rumah tangga dan UMKM /
Creative economy development on a household scale and on a micro,
small and medium enterprise scale.

Sumber: Diolah dari Bappeda Kalimantan Tengah (2014)


Source: Based on data from the Development Planning Agency of Central Kalimantan (2014)

WWF-Indonesia / T. Bangun

170

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Salah satu langkah integral dari implementasi ekonomi hijau di Kalteng adalah
penyempurnaan pengelolaan perkebunan kelapa sawit, peningkatan produksi
dan produktivitas dan prinsip-prinsip
keberlanjutan lainnya. Sebagaimana
disebutkan di awal, Kementerian Pertanian telah mengembangan sertifikasi
ISPO, yang dimaksudkan untuk menghindari dan mengurangi dampak perusakan lingkungan, emisi GRK, hingga
pemicu deforestasi. ISPO dimaksudkan
untuk meningkatkan kesadaran pengusaha kelapa sawit Indonesia untuk
memperbaiki linkungan, meningkatkan
daya saing minyak sawit Indonesia di
luar negeri, dan mendukung program
pengurangan GRK. Ketiga syarat ini
sering dijadikan persyaratan utama
oleh negara importir CPO Indonesia,
terutama jika akan dikonversi menjadi biodiesel, yang ramah lingkungan.
Perusahaan perkebunan kelapa sawit
di Kalteng seharusnya mulai mengadopsi ketentuan dalam ISPO, yang telah
menjadi kewajiban bagi seluruh industri
sawit di Indonesia.

One of the integral steps of green economy implementation in Central Kalimantan is improving the management of oil
palm plantations, increasing production
and productivity and promoting other
sustainability principles. As mentioned
earlier, the Ministry of Agriculture has
developed ISPO certification, which is
intended to prevent and reduce environmental impacts and greenhouse gas
emissions, and the drivers of deforestation. ISPO is meant to raise the awareness of Indonesian palm oil companies/
producers/ operators of the importance
of preserving the environment, to improve the competitiveness of Indonesian
palm oil internationally, and to support
greenhouse gas reduction program.
These three points are often used as
major requirements by Indonesias CPO
importing countries, especially if the
CPO is to be converted into biodiesel,
which is environmentally friendly. Oil
palm plantation companies in Central
Kalimantan should begin adopting ISPO
provisions, which is mandatory for the
entire palm oil industry in Indonesia.

Di sektor kehutanan, implementasi


ekonomi hijau dapat lebih ditekankan
pencapaian sertifikasi SFM/PHPL pada
izin-izin pemanfaatan hutan dengan
penerapan best practice, misalnya
penerapan RIL yang sebenarnya sudah
mulai diadopsi oleh perusahaan kehutanan. Kawasan hutan di Kalteng adalah
10,3 juta ha atau tepatnya 10.294.853,52
ha, sekitar 67,4% dari total luas wilayah
Kalteng yang tercatat 15.356.700 ha.
Dengan kata lain, kawasan non-hutan
di Kalteng hanya 5,1 juta ha atau 32,96%
dari total luas wilayah provinsi. Rincian
dari kawasan hutan di Kalteng terdiri dari hutan produksi tetap seluas
4.232.518,38 ha, hutan produksi terbatas seluas 3.784.495,64 ha, hutan
konservarsi seluas 1.484.485,60 ha,
hutan lindung seluas 766.392,06 ha,
hutan tanaman industri seluas 21.958.04
ha dan hutan penelitian & pendidikan
seluas 5.003,80 ha. Komitmen terhadap

In the forestry sector, the implementation of green economy may be conducted


with an added emphasis on the importance of obtaining sustainable forest
management (SFM) certification for forest utilization permits with the application of best practices, such as the implementation of RIL which is already being
adopted by forestry companies. The
province of Central Kalimantan has a
total forest area of 10.3 million hectares
or 10,294,853.52 hectares to be precise,
which accounts for approximately 67.4%
of the total area of the province, which
is recorded at 15,356,700 hectares. In
other words, the non-forest areas in the
province comprise an area of only 5.1
million hectares or 32.96% of the total
area of the province. Central Kalimantans forest area consists of permanent
production forest area of 4,232,518.38
hectares, limited production forest area
of 3,784,495.64 hectares, conservation

171

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

implementasi ekonomi hijau di Provinsi


Kalteng perlu diarahkan untuk pengurangan atau pencegahan konversi kawasan hutan alam dan gambut menjadi
kebun sawit dan perbaikan tata kelola
sektor kehutanan. Kalteng adalah salah
satu dari provinsi pilot proyek REDD+
yang sangat penting. Oleh karena itu keberhasilan implementasi ekonomi hijau
di provinsi ini akan jadi contoh bagi keberhasilan proyek-proyek pengurangan
emisi berbasis kawasan untuk provinsi
lain di Indonesia.
Di sektor pertambangan, implementasi
ekonomi hijau dapat diarahkan pada
perlindungan kawasan eksotis dengan
kandungan mineral sangat tinggi, yang
dikenal dengan Borneo Gold Belt,
khususnya di kawasan utara Kalteng
yang merupakan kawasan HoB. Dalam
ilmu geologi, satuan sedimen dari
sabuk emas ini terdiri atas tiga cekungan besar masing-masing Cekungan
Barito, Cekungan Melawi dan Cekungan
Kutai. Ketiga cekungan ini mangandung
cebakan minyak dan gas bumi, batubara, logam mulia dan logam dasar
sekunder. Di lokasi seluas 87.537,94 ha
tersedia potensi 3,5 miliar ton batubara,
terdiri atas 1.606 miliar ton dengan
klasifikasi terukur dan 684.931 juta
ton dengan klasifikasi terukur. Kondisi
ini menarik para investor untuk berinvestasi di bumi Kalteng. Ini terlihat
dari jumlah perizinan dan kontrak yang
ada mulai dari enam Kontrak Karya
(KK), 15 Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara (PKP2B), 289
Kuasa Pertambangan (KP), 60 Surat Izin
Pertambangan Rakyat Daerah, 23 Surat
Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Apabila
sejak awal, pemerintah provinsi dan
kabupaten/kota menekankan dan mengenforce pelaksanaan pertambangan
bertanggung jawab, mengendalikan
pencemaran terhadap air dan udara,
dan mendorong reklamasi pasca-tambang dengan kriteria pemulihan yang
dapat diandalkan, maka implementasi
ekonomi hijau akan mendapat tempat
yang memadai.
172

forest area of 1,484,485.60 hectares,


protected forest area of 766,392.06
hectares, planted industrial forest area
of 21.958.04 hectares and research and
education forests of 5,003.80 hectares.
Commitment to the implementation of
green economy in the province should
be directed to the reduction or prevention of the conversion of peatland and
natural forest areas into oil palm plantations and should also be aimed at forest
sector governance reform. Central
Kalimantan is one of the very important
REDD+ pilot provinces. Therefore, the
successful implementation of green
economy in this province will inspire
area-based emission reduction projects
in other provinces in Indonesia.
In the mining sector, the implementation
of green economy can be directed to the
protection of the exotic region known
for its very high mineral content called
the Borneo Gold Belt, especially in the
northern part of Central Kalimantan,
which is situated in the Heart of Borneo.
The sedimentary section of this gold belt
is found in three large basins, that is,
the Barito Basin, the Melawi Basin and
the Kutai Basin. The three basins have
deposits of oil and gas, coal, precious
metals and secondary base metals.
The location, which covers an area of
87537.94 hectares has a potential coal
reserve of 3.5 billion tons, consisting of
1,606 billion tonnes of inferred category
and 684,931 million tonnes of measured
category.
These conditions attract investors to
invest in Central Kalimantan. This is
evident from the number of licenses and
contracts ranging from six Contracts of
Work (CoW), 15 Coal Contracts of Work
(PKP2B), 289 Mining Concessions (KP),
60 Local Peoples Mining Permits, 23
Peoples Mining Permits (IPR) . If right
from the beginning, the provincial, district and city governments have already
stressed the importance of responsible
mining and enforced its implementation,

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Kalteng sangat peduli terhadap


pengembangan energi alternatif, mulai
dari skala besar, menengah dan skala
kecil, yang mampu bersinergi dengan
strategi pemberdayaan masyarakat
di daerah. Produksi CPO yang besar
dapat diarahkan untuk energi alternatif
biodiesel. Strategi ekonomi hijau dalam
bidang energi alternatif ini kelak diharapkan juga mampu menyediakan prasarana pembangkit listrik yang memprioritaskan pengembangan ekonomi
kerakyatan dan interkoneksi jaringan
listrik dengan sistem se-Kalimantan.
Ekonomi hijau juga secara aktif memberdayakan ekonomi rakyat, terutama
yang kreatif inovatif, peningkatan
kapasitas sumber daya manusia dan
dukungan kelembagaan lainnya. Langkah ini juga untuk meningkatkan modal
sosial di tengah-tengah masyarakat
yang berbeda golongan, tetapi menjadikan budaya lokal sebagai basis penguatan dalam keberagaman. Pemerintah
provinsi telah berupaya melakukan: (1)
pengembangan pusat-pusat ekonomi
unggulan daerah, (2) pengembangan
sarana dan prasarana bagi tenaga pendidik dan kependidikan (3) peningkatan
kesejahteraan dan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan, (4) penyelenggaraan sistem pendidikan dan kesehatan,
(5) penyediaan sarana-prasarana dan
infrastruktur pendidikan dan kesehatan,
(6) peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan, (7) penyediaan
energi terjangkau, (8) pengembangan
infrastruktur dan jaringan transportasi,
komunikasi, informatika, pengairan
dan kelistrikan, (9) peningkatan kapasitas kelembagaan dan keterampilan
masyarakat, (10) peningkatan inovasi
dan produktivitas ekonomi kerakyatan,
(11) pengembangan kapasitas dan kinerja aparatur, dan (12) pengembangan
budaya lokal.

put in place measures to control/ curb


water and air pollution, and push for
post-mining reclamation with reliable
recovery criteria, then the implementation of green economy will be much
easier.
Central Kalimantan is very concerned
about the development of alternative energy, on large, medium and small scale,
which is able to synergize with community development strategies in the
region. Large CPO production can be directed to biodiesel as alternative energy.
Green economy strategies in the area
of alternative energy are later expected
to provide future electricity generation
infrastructure that prioritizes peoplecentered economic development and
interconnection with the entire electrical
grid systems all over Kalimantan
Green economy is also actively empowering peoples economy, especially
creative innovative economy, enhance
human resources capacity and other
institutional support. This step is also
meant to increase social capital among
different classes of society and make
local culture as a base for reinforcing
diversity.
The provincial government has attempted to: (1) develop featured provincial economic centers, (2) develop
structure facilities and infrastructure
for educators and education personnel (3) improve the welfare and quality
of educators and education personnel,
(4) administer education and health
systems, (5) provide education and
health structure and infrastructure,
(6) increase the quality and quantity of
health personnel, (7) provide affordable
energy, (8) develop transportation, communications, informatics, irrigation and
electricity infrastructure and networks,
(9) develop institutional capacity and
community skills, (10) improve innovation and people-centered economic
productivity, (11) develop the capacity
and performance of the apparatus, and
(12) develop local culture.
173

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

6.4 
Kalimantan Timur - Tata Ruang,
Satu Data Satu Peta
East Kalimantan - Spatial Plan, One Data
One Map

mplementasi ekonomi hijau di Provinsi


Kaltim sebenarnya merupakan tantangan tersendiri, terutama karena
dominasi sektor ekstraktif sumber daya
alam seperti pertambangan dan penggalian yang cukup besar. Akan tetapi,
dengan semakin menurunnya kinerja
sektor ekstraktif ini dalam satu dasa
warsa terakhir, Kaltim seharusnya tidak
hanya bergantung pada sektor ekstraktif
sumber daya alam tersebut, tapi perlu
bergeser ke arah sektor ekonomi yang
mampu menjamin tingkat keberlanjutan
dari pembangunan itu sendiri.
Data dari BPS dan Bank Indonesia
Kaltim menunjukkan bahwa sektor pertambangan migas dan batubara berkontribusi masing-masing 33,4% dan 27,9%
pada perekonomian atau PDRB Kaltim.
Kedua sektor ini mampu menyerap 200
ribu orang tenaga kerja atau sekitar
12% dari total tenaga kerja di Kalitim.
Devisa yang dihasilkan dari pertambangan migas dan batubara di Kaltim
adalah masing-masing US$ 12,8 miliar
dan US$ 16 miliar. DBH yang diperoleh
Kaltim dari pemerintah pusat dari sektor pertambangan migas dan batubara
mencapai masing-masing Rp 3.14 triliun
dan Rp 1.35 triliun atau hampir setengah dari total penerimaan daerah pada
APBD Provinsi Kaltim. Kinerja pertumbuhan ekonomi sektoral di Kaltim pada
satu dasa warsa terakhir dapat dilihat
pada Tabel 21:

174

mplementation of green economy in


the province of East Kalimantan is
actually a challenge, especially since the
sector that extracts natural resources
from earth such as mining and quarrying has a dominant position in the
provinces economy. However, with the
increasingly declining performance of
the extractive sector in the last decade,
East Kalimantan should not only depend
on the extractive sector but should also
embrace other sectors that are able to
guarantee the level of sustainability of
the development itself.

Data from the National Statistics Agency


and Bank Indonesias East Kalimantan
Chapter in the 2004-2013 periods indicate that the oil and gas sector and the
coal mining sector contributed to 33.4%
and 27.9% respectively to the provinces
economy or GDP. Both of these sectors
have been able to absorb 200 thousand
workers, which account for about 12%
of the total workforce in the province.
The foreign exchange reveneues generated from the oil and gas industry and
the coal mining industry in the province
are US $ 12.8 billion and US $ 16 billion respectively. The Revenue Sharing
Funds from the oil and gas sector and
from the coal mining sector that the
province obtained from the national government reached IDR 3.14 trillion and
IDR 1.35 trillion respectively, accounting for nearly half of the total revenues
in the provinces budget. The provinces
economic performance/ growth over the
last decade is presented in Table 21:

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Tabel 21: Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Kalimatan Timur, 2004-2013 (persen)


Table 21: East Kalimantans Economic Growth by Sector in the periods 2004-2013 (in percent)

Sumber: BPS Kaltim dan Bank Indonesia Kaltim, 2014


Source: East Kalimantan Chapters of the National Statistics Agency and the central bank, Bank Indonesia, 2014

WWF-Indonesia / Ery Bukhorie

175

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Kinerja pertumbuhan ekonomi Kaltim


pada tahun 2013 hanya mencapai 1,59%,
mengalami penurunan dari kinerja
3,98% per tahun pada tahun 2012. Angka
tersebut merupakan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terendah di seluruh
Kalimantan, terutama karena sektor
pertambangan migas semakin tidak
dapat diandalkan sebagai penopang
ekonomi daerah dan kesejahteraan
masyarakat. Kinerja pertumbuhan
ekonomi PDRB migas di Kaltim pada
tahun 2013 adalah minus 6,60%, suatu
tradisi regresif yang terjadi sepanjang
satu dasa warsa terakhir. Namun demikian, kinerja pertumbuhan ekonomi
Kaltim tanpa migas pada tahun 2013
justeru masih positif 5,17% per tahun.
Dunia usaha, sektor pemerintahan,
kalangan akademik dan masyarakat
umum di Kaltim sebenarnya telah amat
paham bahwa sektor non migas seperti pertanian, agroindustry dan sektor
jasa lain yang dikelola dengan prinsipprinsip ekonomi hijau merupakan masa
depan perekonomian Kaltim dan perekonomian Kalimantan secara umum.
Lebih jauh Tabel 22 juga menjelaskan
bahwa kinerja pertumbuhan dari sektor
migas hampir selalu negatif sepanjang
satu dasa warsa terakhir. Pada tahun
2013, sektor pertambangan migas
Kaltim mengalami kontraksi negatif
5,73% per tahun, atau sedikit mengalami
perbaikan dibandingkan dengan negatif
8,70% per tahun pada tahun 2012.
Secara umum, sektor pertambangan
Kaltim masih negatif 0,23%, karena
tertolong oleh kinerja tambang batubara
dan penggalian yang positif. Berhubung
memburuknya sektor migas ini, maka
kinerja sektor industri pengolahan juga
terus-menerus mengalami kontraksi
atau pertumbuhan negatif sepanjang
satu dekade 2004-2013. Pada tahun 2013
sektor industri pengolahan mengalami
penurunan atau tumbuh negatif 3,93%,
sedikit perbaikan dari kinerja pertumbuhan negatif 5,91% pada tahun 2012.
Secara tidak langsung Tabel 22 di atas

176

East Kalimantans economic growth in


2013 was only 1.59%, a drop from 3.98%
achieved in 2012. This figure is the lowest rate of economic growth throughout
Kalimantan as the provinces oil and
gas mining sector increasingly cannot
be relied on to sustain the provinces
economic and social welfare. The contribution of the oil and gas sector to East
Kalimantans GDP growth in 2013 was
minus 6.60%, reflecting a regressive
trend over the last decade. However,
East Kalimantans GDP growth in 2013
without the contribution of the oil and
gas sector being calculated into was still
positive, at 5.17%.
Businesses, government sector, academics and the general public in East
Kalimantan actually already understand
that the non-oil sectors such as agriculture, agroindustry and other service
sectors that are managed on the basis of
green economy principles are the future
of the provinces economy and also the
future of Kalimantans economy.
Table 22 also explains that the performance of the oil and gas sector has
almost always been negative throughout
the last decade. In 2013, East Kalimantans oil and gas mining sector contracted to minus 5.73%, a slight improvement compared to the sectors negative
performance of minus 8.70% in 2012.
In general, the provinces mining sector in 2013 was still negative (0.23%),
despite being on the coattails of the
positive performance of the coal mining
and quarrying sector. Due to the deterioration of the oil and gas sectors performance, the manufacturing sector had
also been continually subjected to contraction or a negative growth throughout
the decade (2004-2013).
In 2013, the manufacturing sector experienced a decline or negative growth
of minus 3.93%, a slight improvement
compared to the negative 5.91% growth
it experienced in 2012. Indirectly Table

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

juga menjelaskan bahwa sektor jasa dan


sektor ekonomi yang berbasis sumber
daya alam terbarukan dapat menjadi harapan baru untuk memulihkan
perekonomian Kaltim yang senantiasa
menurun setiap tahun.

22 also explains that the service sector


and economic sector that are based on
renewable natural resources may provide a new hope for the recovery of East
Kalimantans economy that continually
took a dip every year.

Dalam merespons tekanan masyarakat


yang demikian besar untuk melakukan
transformasi pembangunan ekonomi
Kaltim pasca migas dan batubara, maka
Pemerintah Kaltim telah mencangkan
strategi pembangunan yang baru, yaitu
Visi Kaltim Maju 2030 berupa Terwujudnya Pertumbuhan Ekonomi Hijau
yang Berkeadilan dan Berkelanjutan
(Green Economy with Equity). Dokumen
penting yang diluncurkan pada Juli 2013
tersebut telah secara eksplisit untuk
melakukan transformasi pembangunan
ekonomi secara menyeluruh. Salah
satunya adalah strategi Kaltim Hijau
atau Kaltim yang memiliki perangkat kebijakan, tata kelola pemerintahan serta
program-program pembangunan yang
memberikan perlindungan sosial dan
ekologis terhadap masyarakat Kaltim,
memberikan jaminan jangka panjang
terhadap keselamatan dan kesejahteraan masyarakat serta keberlanjutan
lingkungan hidup.

In response to public pressure that was


so great to transform the provinces
economic development at the twilight of
its oil, gas and coal mining industries,
East Kalimantan Government has announced a new development strategy,
namely The 2030 Vision of East Kalimantan Making Progress towards the
Realization of Equitable and Sustainable Green Economic Growth (also known
as Green Economy with Equity). The
important document that was launched
in July 2013 explicitly calls for the transformation of economic development as
a whole. One of the strategies to achieve
this goal is called Green East Kalimantan, which aspires to see an East Kalimantan whose policies, administrative
governance and development programs
provide the citizens of East Kalimantan
with social and ecological protection,
long-term assurance of safety, prosperity and environmental sustainability.
The objective of the Green Kalimantan
campaign is to: (a) improve the quality of life of East Kalimantans citizens
thoroughly and equitably, in economic,
social, and cultural terms and in terms
of the quality of their living environment; (b) reduce the threat of ecological
disasters, such as floods, landslides,
droughts, forest and land fires across
East Kalimantan; (c) reduce the pollution
and destruction of the quality of land,
water and air ecosystems in East Kalimantan, (d) increase the knowledge and
awareness among East Kalimantans
institutions and people of the importance of the conservation of renewable
natural resources and the wise use of
natural non-renewable resources (the
2030 Vision of East Kalimantan Making
Progress), Chapter 6, page 52).
Green Kalimantan that was declared

Tujuan Kaltim Hijau adalah untuk:


(a) meningkatkan kualitas hidup
masyarakat Kaltim secara menyeluruh
dan seimbang, baik secara ekonomi,
sosial, budaya dan kualitas lingkungan
hidupnya; (b) mengurangi ancaman
bencana ekologi, seperti banjir, longsor,
kekeringan, kebakaran hutan dan lahan
di seluruh wilayah Kaltim; (c) mengurangi terjadinya pencemaran dan pengrusakan kualitas ekosistem darat, air
dan udara di Kaltim, (d) meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran di kalangan
lembaga dan masyarakat Kaltim akan
pentingnya pelestarian sumber daya
alam terbaharui serta pemanfaatan
secara bijak sumber daya alam tidak
terbaharui (Visi Kaltim Maju 2030, Bab6, halaman 52).

177

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Kaltim Hijau yang dicanangkan pada


Januari 2011 cukup banyak mewarnai
Visi Kaltim Maju 2030, karena Dewan
Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Tingkat
Provinsi Kaltim cukup aktif mewadahi,
mengkoordinasikan dan mendukung semua hal yang berhubungan dengan inisiatif perubahan iklim. Kelompok kerja
yang berkaitan dengan REDD+ cukup
aktif bekerja sama dengan beberapa
pihak, termasuk dengan sektor swasta,
LSM dan pemerintah. Di lapangan, para
bupati/walikota juga aktif melakukan
koordinasi dengan kelompok kerja dan
memberi laporan secara langsung
kepada gubernur. Disamping dokumen
Visi Kaltim Maju 2030, Provinsi Kaltim
telah memiliki tiga dokumen Strategi
dan Perencanaan Pembangunan Rendah
Karbon, yaitu: (1) Strategi Pembangunan
Kalimantan Timur yang Berkelanjutan
dan Ramah Lingkungan, (2) Rencana
Aksi Daerah penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD GRK) yang telah dilegalkan berdasarkan keputusan Gubernur
No 54 Tahun 2012, dan (3) Strategi dan
Rencana Aksi Provinsi REDD+ (SRAP
REDD+). Esensinya adalah bahwa
pembangunan bertransformasi untuk
melepaskan ketergantungan ekonomi
pada sumber daya alam ekstraktif serta
untuk meningkatkan daya saing dan nilai
tambah dengan di dasarkan pada struktur ekonomi yang sehat.
Dalam hal tata ruang, Gubernur Kaltim
dengan tegas menggariskan melalui Visi
Kaltim Maju 2030 bahwa pelaksanaan
penataan wilayah dan pembangunan
daerah mengikuti informasi dan data
spasial yang akurat. Sebagaimana
dimaklumi, beberapa SKPD Kaltim
menerbitkan data spasial, terutama
data berupa peta, yang tidak bersumber dari referensi yang sama, format
yang berbeda dan tidak terintegrasi.
Akibatnya beberapa perizinan yang
sudah diterbitkan sering saling tumpang
tindih. Langkah pertama yang dilakukan
adalah kerja sama dan nota kesepahaman antara Kepala Badan Informasi

178

in January 2011 was pretty much the


backbone of the 2030 Vision of Kalimantan Making Progress, because the
Council on Climate Change (DDPI) of the
Province of East Kalimantan has been
quite actively facilitating, coordinating
and supporting all that relates to climate
change initiatives. The working groups
that are related to REDD + have been
quite actively working together with
several parties, including the private
sector, NGOs and the government. On
the ground, district chiefs/ mayors are
also actively coordinating with the working groups and report directly to the
governor.
In addition to the 2030 Vision document,
East Kalimantan Province already has
three Low Carbon Development Strategy and Planning documents, that is:
(1) Sustainable and Environmentally
Friendly East Kalimantan Development
Strategy, (2) Provincial Action Plan for
Greenhouse Gas Emissions Reduction
(GHG RAD) which has been made official
on the basis of the Governors Decision No. 54 of 2012, and (3) Provincial
REDD+ Strategy and Action Plan (REDD
+ SRAP). In essence, development shall
transform itself to discard economic
dependence on extractive natural resources and improve competitiveness
and added value based on sound economic structure.
In terms of spatial layout, the Governor
of East Kalimantan has firmly outlined,
through the 2030 Vision of East Kalimantan Making Progress, that the implementation of the provinces regional
layout plan and development shall
follow accurate information and spatial
data. As we know, some East Kalimantan Local Government Units have
published spatial data, especially the
ones in the form of maps, which are not
derived from the same reference, presented in different formats and are not
integrated.As a result, several permits
have already been issued overlap with
each other.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Geospasial dan Gubernur Kaltim tentang


Pemanfaatan dan Pengembangan Ilmu
Pengetahuan serta Teknologi terkait
Informasi Geospasial di Kaltim. Pada
tanggal 2 April 2014, bertepatan dengan
Musyawarah Rencana RPJMD Kaltim
2013-2018, Pemerintah Kaltim dengan
resmi meluncurkan satu data satu peta
(One Data One Map/ODOM). Tujuan
utama dari ODOM (Bappeda Kaltim,
2014) ini adalah untuk:
1. Mewujudkan perencanaan pembangunan yang berkualitas dan pengendalian pembangunan yang efektif,
melalui pengelolaan data pembangunan Provinsi Kaltim yang akurat,
mutakhir, terintegrasi, lengkap,
akuntabel, dinamis, handal, sahih,
mudah diakses dan berkelanjutan;
2. Memiliki satu basis data pembangunan yang akurat, terpusat dan terintegrasi;
3. Menghasilkan analisis kebijakan pembangunan yang tepat, aktual, bermutu
dan akuntabel bagi provinsi, kabupaten/kota dan pemangku kepentingan;
4. Menghasilkan perencanaan pembangunan secara terukur dan komprehensif;
5. Mewujudkan pengendalian, monitoring, evaluasi dan pelaporan pembangunan yang terpercaya;
6. Membangun satu referensi peta dasar
yang sama pada skala tertentu;
7. Membentuk kelembagaan daerah
dalam suatu sistem jaringan dengan
basis data spasial yang terstruktur
serta terintegrasi;
8. Mengurangi adanya duplikasi informasi maupun kegiatan sehingga
terbentuk data yang seragam dan
standar, serta terhindar dari keraguan dalam pemanfaatan data spasial;
9. Meningkatkan kualitas program kegiatan sehingga efektif dalam optimalisasi pemanfaatan potensi sumber
daya alam dan pembangunan daerah;
dan

The first step taken to address the


situation was agreeing on cooperation
and a memorandum of understanding between the Head of the [National]
Geospatial Information Agency and the
Governor of East Kalimantan on the
Utilization and Development of Geospatial Information-related Science and
Technology in East Kalimantan. On April
2, 2014, to coincide with the deliberation
of the provinces medium-term development plan for the periods 2013-2018,
East Kalimantan Government officially
launched what is known as One Data
One Map (Odom). The main objectives
of Odom (as stated by East Kalimantans
Provincial Development Agency (BAPPEDA Kaltim), 2014) are:
1. To put in place a quality development
planning and control that is effective through the management of the
provinces development data that are
accurate, up to date, integrated, complete, accountable, dynamic, reliable,
valid, accessible and sustainable;
2. To have an accurate, centralized and
integrated development database;
3. To produce a correct, actual, quality
and accountable development policy
analysis for the province, districts /
cities and stakeholders;
4. To produce measurable and comprehensive development planning;
5. To achieve control, monitoring, evaluation and reporting on development
that is reliable;
6. To build the same one base map reference on a certain scale;
7. To establish a regional institutional
framework in a system of networks
with a structured and integrated spatial database;
8. To reduce the duplication of information and activities to form uniformed
and standardized data, in order to
avoid any doubt in the utilization of
spatial data;
9. To improve the quality of activity
programs to make them effective in

179

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

10. Menyempurnakan sistem-sistem


penunjang pembangunan yang ada
di Provinsi Kaltim melalui integrasi
dengan sistem yang telah ada.
Setelah berpisah dengan Kaltara, kini
ada lima kabupaten di Kaltim yang
masuk kawasan HoB, yaitu: Kutai
Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat,
Mahakam Ulu dan Berau. Kelima kabupaten inilah yang sebenarnya memiliki
tanggung jawab ekstra untuk melaksanakan ekonomi hijau di kawasan HoB. Beberapa kabupaten ini memilik perkebunan kelapa sawit yang telah berada pada
fase produktif, dengan produktivitas di
atas 1 ton CPO per ha. Kebun sawit di
Kutai Barat masih belum produktif, sehingga produktivitasnya masih rendah.
Sampai akhir tahun 2013, total areal
kelapa sawit di Kaltim mencapai 945
ribu ha, yang mampu menghasilkan CPO
di atas 1,24 ton per ha (Table 22) dan
memperkerjakan sekitar 194 ribu tenaga
kerja petani, tersebar di hampir seluruh
daerah otonom di Kaltim.

optimizing the utilization of potential


natural resources and regional development; and
10. To improve the existing development
support systems in East Kalimantan
Province through integration with
the existing systems
After losing four districts and one city
to the newly created North Kalimantan
Province, now there are five districts
in East Kalimantan that are part of the
Heart of Borneo, namely: Kutai, East
Kutai, West Kutai, Ulu Mahakam and
Berau. It is the five districts that actually
have an extra responsibility to implement green economy in the Heart of
Borneo. Some of these districts have
oil palm plantations that are already in
the productive phase, with productivity above 1 tonne of CPO per hectare.
Oil palm plantations in West Kutai are
not yet productive and its productivity is therefore still low. Until the end
of 2013, the total oil palm plantations
area in East Kalimantan reached 945
thousand hectares, and the plantations
were capable of producing more than
1.24 tonnes of CPO per hectare (Table
22). They employed about 194 thousand
farmworkers, spread in almost all of
East Kalimantans autonomous regions.

Tabel 22: Areal Kelapa Sawit, Produksi dan Tenaga Kerja Kalimantan Timur 2013
Table 22: Oil Palm Areas, Production and Labor Force in East Kalimantan 2013

Sumber: Diolah dari Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, 2014


Source: processed from the data obtained from the Plantation Department of East Kalimantan, 2014

180

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Implementasi ekonomi hijau, khususnya


di kawasan proteksi dan konservasi
HoB, Pemerintah Provinsi Kaltim sebenarnya telah melakukan kerja sama dan
membangun kemitraan dengan berbagai LSM dan lembaga asing seperti
GIZ (Gesselschaft fr Internationale
Zussamenarbeit), GGGI (Global Green
Growth Institute), Satuan Tugas REDD+,
WWF-Indonesia, The Nature Conservancy (TNC) dan institusi lainnya untuk
mempercepat dan mengawal penerapan ekonomi hijau dalam pelaksanaan
pembangunan. Sementara itu, untuk
meningkatkan peran serta dunia usaha
dan masyarakat dalam penurunan jejak
karbon telah dibentuk Forum Kemitraan
Karbon Kaltim (Kaltim Carbon Partnership/KCP) yang berfungsi sebagai
wadah komunikasi dan koordinasi dunia
usaha dalam mengembangkan kegiatan
ekonomi yang efisien dalam pemanfaatan sumber daya alam sekaligus
mengurangi emisi GRK.
Langkah pertama untuk implementasi
ekonomi hijau di sektor perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batubara
adalah menertibkan tumpang tindih
pengelolaan lahan. Setelah itu, barulah
prinsip-prinsip keberlanjutan pembangunan di masing-masing sektor dapat
dibenahi secara sistematis. Selama ini
pola pemanfaatan dan alih fungsi lahan
di Kaltim didominasi oleh sektor perkebunan kelapa sawit dan pertambangan
batubara. Dari 4,6 juta ha lahan yang
sesuai untuk pengembangan kelapa
sawit, Pemerintah Provinsi Kaltim telah
menerbitkan izin lokasi perkebunan
seluas 3,8 juta ha bagi 330 perkebunan
besar swasta (PBS) sampai September
2012.

For the implementation of green


economy, particularly in the protection
and conservation areas of the Heart of
Borneo, the Government of the Province
of East Kalimantan has actually entered
into cooperation and build partnerships
with different NGOs and foreign agencies such as GIZ (Gesellschaft fr Internationale Zussamenarbeit), GGGI (Global
Green Growth Institute), REDD+ Task
Force, WWF-Indonesia, The Nature Conservancy (TNC) and other institutions to
accelerate and oversee the implementation of green economy in the implementation of development. Meanwhile,
in order to increase the participation of
business communities and society in
reducing carbon footprint, a partnership
forum called East Kalimantan Carbon
Partnership (KCP) has been created.
The partnership serves as a forum for
communication and coordination among
business communities in developing efficient economic activities in the utilization of natural resources while reducing
GHG emissions at the same time.
The first step for the implementation of
green economy in the palm oil plantation sector and the coal mining sector
is to sort out overlapping land management issues. After that, the issues
on the application of the principles of
sustainable development in each sector can be addressed systematically.
So far, land utilization and land conversion in East Kalimantan are dominated
by the oil palm plantation sector and
the coal mining sector. There are 4.6
million hectares of land suitable for oil
palm plantation development and, as
of September 2012, East Kalimantans
provincial government has issued plantation location permits for a total area of
3.8 million hectares to 330 large-scale
private plantation estates.

181

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Tabel 23: Implementasi Ekonomi Hijau di Kawasan HoB sisi Kalimantan Timur
Table 23: Green Economy Implementation in the East Kalimantan part of the HoB
Dimensi / Dimension

Kegiatan Ekonomi Hijau / Green Economy Activities

Tata Ruang / Spatial layout plan

Penyelesaian RTRW dan sinergi antar-kabupaten / Settlement of


regional spatial layout plan issues (RTRW); creation of synergy among
districts

Kawasan Proteksi / Protected


areas

Perlindungan flora dan fauna, keterhubungan seluruh kawasan


proteksi / Flora and fauna protection, inter-connectedness of the
entire protected areas

Kehutanan / Forestry

Prioritas SFM. Manajemen konsesi, kawasan hutan tidak aktif


diproteksi, tidak dikonversi / IPrioritizing sustainable forest
management; resolving issues pertaining to the management of
concessions and unconverted forest areas that are not actively
protected.

Perkebunan Sawit / Oil palm


plantations

Penyelesaian izin lokasi yang telah dikeluarkan. Sertifikasi


ISPO diterapkan pada seluruh kebun swasta dan BUMN PTPN
XIII / Settlement of location permits that have been issued; ISPO
certification made applicable to all private plantation estates and
those belonging to state-owned forestry PTPN XIII.

Pertambangan / Mining

Pertambangan yang bertanggung jawab, perbaikan pengelolaan


limbah / Responsible mining, waste management improvement.

Pertanian / Agriculture

Pengembangan lumbung pangan mengikuti kaidah pertanian


berkelanjutan / Development of food granaries following sustainable
agriculture principles

Energi / Energy

Peningkatan energi alternatif dan terbarukan, fokus alokasi gas


untuk mendukung industri domestic / Promoting alternative and
renewable energy, focusing on gas allocation to support domestic
industries.

Usaha Kehati / Biodiversity


conservation

HKm dan agroforestri, terutama produk hortikultura dan


kehutanan / Community forestry and agro-forestry, with a particular
emphasis on horticultural and forestry products.

Hijau Inovatif / Green innovation

Pengembangan ekonomi masyarakat lokal yang berbatasasn


dengan kawasan HoB / Local community economic development,
especially for local people living in areas adjacent to the HoB.

Sumber: Diolah dari Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, 2014


Source: processed from the data obtained from the Plantation Department of East Kalimantan, 2014

Izin Usaha Perkebunan (IUP/SPUP)


telah diberikan kepada 207 PBS dengan
areal seluas 2.689.205 ha. Perusahaan
swasta yang telah memperoleh izin Hak
Guna Usaha (HGU) lahan adalah 115 PBS
dengan areal lahan seluar 970.506 ha.
Perkebunan sawit juga meliputi areal
kebun sawit rakyat seluas 248.817 ha
yang dalam operasionalnya dilaksanakan bersama dengan PBS. Implementasi
ekonomi hijau pada sektor perkebunan kelapa sawit adalah peningkatan
produktivitas per satuan luas lahan.
Saat ini produktivitas kelapa sawit di
Kaltim adalah 13 ton per ha TBS, masih
cukup jauh dibandingkan angka produktivitas rata-rata di tingkat nasional
sebesar 25 ton per ha. Disamping itu implementasi ekonomi hijau berupa penerapan sertifikasi ISPO perlu dilaksana-

182

Plantation business permits ([in the


form of] Plantation Business Licenses
(IUP) / Plantation Business Registration
Certificates (SPUP)) have been awarded
to 207 large-scale private plantation
estates (PBS) owned by large business
corporations for a total area of 2,689,205
ha. There are 115 large-scale private
plantation companies (PBS) that have
obtained Land Cultivation Right (HGU)
with land totalling 970 506 hectares.
The oil palm plantations in the province
also include peoples oil palm plantation
area of 248,817 hectares that are operated together with large-scale private
plantation companies. The success of
the implementation of green economy
in the palm oil plantation sector will be
reflected in the increase in productivity
per unit of land area. Currently the oil

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

kan kepada semua perkebunan swasta


kelapa sawit, termasuk perkebunan
sawit milik PT Perkebunan Nusantara
XIII, yang sebagian besar sahamnya
dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.
Pada sektor pertambangan umum, jumlah perusahaan tambang di Kaltim pada
tahun 2012 pada tahun 2012 sebanyak 33
perusahaan (termasuk Kaltara), dengan
status 1 perusahaan telah melaksanakan tambang tertutup di bawah tanah
(close mining), 3 perusahaan dalam
tahap kontruksi, 7 perusahaan dalam
tahap eksplorasi dan 22 sisanya telah
melakukan eksploitasi dengan luas lahan yang dikuasai seluas 1 juta ha lebih,
yaitu 1.068.845,25 ha. Perusahaan pertambangan batubara yang memiliki izin
usaha pertambangan (IUP) yang izinnya
dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten/kota berjumlah 1.417 perusahaan
dengan status 989 perusahaan pada
tahap eksplorasi dan 428 IUP telah berproduksi dengan total luas lahan lebih
dari 5 juta ha, tepatnya 5.488.138,75 ha.
Hal ini berarti total luas lahan yang digunakan untuk usaha pertambangan di
Kaltim (termasuk Kaltara) adalah seluas
6.556.985 ha. Akumulasi luas lahan yang
telah memiliki izin usaha untuk sektor
perkebunan dan pertambangan adalah
10.356.985 ha, atau sekitar 52% dari
luas daratan Kaltim sebesar 19.844.117
ha. Implementasi ekonomi hijau pada
sektor pertambangan batubara khususnya perlu lebih tegas untuk menerapkan prinsip-prinsip pertambangan
yang bertanggung jawab (responsible
mining), penanganan reklamasi pasca
tambang dan pengelolaan limbah yang
tidak mencemari ladang kehidupan dan
mata pencaharian masyarakat lokal di
Kalimantan.
Berdasarkan laporan masyarakat, sampai akhir 2012 di Kaltim telah terdapat
setidaknya 748 kasus tumpang tindih
lahan, terutama di sektor perkebunan
kelapa sawit dan pertambangan batubara. Gubernur Provinsi Kaltim pada

palm productivity in East Kalimantan


is 13 tons per hectares of fresh fruit
bunches, trailing still quite far behind
the average rate of productivity at the
national level of 25 tons per hectare.
Moreover, the implementation of green
economy through ISPO certification
should be made applicable to and actually carried out by all private oil palm
plantation estates, including the ones
belonging to PT Nusantara Plantation
XIII whose shares are for the most part
owned by the Government of Indonesia.
In the general mining sector, there were
33 mining companies in East Kalimantan
in 2012 (including those in North Kalimantan). Of these, one company was engaged in underground mining operation,
three companies were in the construction phase of their mines, seven companies were in the exploration phase
and the remaining 22 had already been
in the exploitation phase. The total land
area under their concessions was more
than 1 million hectares or 1,068,845.25
hectares to be precise.
As regards coal mining, there were 1,417
coal mining companies whose mining
permits (IUP) were issued by district /
city governments. Of these, 989 companies were in the exploration phase
and 428 were already in the production
phase. The total land area under their
concessions was more than 5 million
hectares or more precisely, 5,488,138.75
hectares. This means that [in 2012] the
total land area used for mining in East
Kalimantan (including North Kalimantan) was 6,556,985 hectares.
When all the land areas in which permits for mining and plantation operations have been issued and granted are
calculated, the accumulated total was
10,356,985 hectares, which account for
about 52% of East Kalimantans total
land area of 19,844,117 hectares. Upon
demanding the implementation of green
economy in the mining sector, particularly in the coal mining sector, the

183

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

tanggal 25 Januari 2013 telah melakukan moratorium penerbitan izin untuk


usaha perkebunan, pertambangan dan
kehutanan, melalui surat No. 180/1375HK/2013 yang disampaikan kepada
seluruh bupati/walikota se-Kaltim.
Perubahan kebijakan ini terbilang cukup
radikal, karena hanya dengan tindakan
yang radikal beginilah strategi implementasi ekonomi hijau di Kaltim dapat
dimulai dengan lebih baik. Pada saat
yang sama, pembenahan dan pelaksanaan strategi ekonomi hijau di sektor
perkebunan, pertambangan dan kehutanan dapat berjalan lebih optimal dan
sistematis. Penegakan aturan yang lebih
berwibawa adalah salah satu prasyarat
pelaksanan ekonomi hijau dan prinsipprinsip keberlanjutan pembangunan
ekonomi secara konsisten.
Tujuan dari moratorium penerbitan izin
usaha perkebunan, pertambangan dan
kehutanan ini adalah untuk melakukan
konsolidasi dan penyempurnaan tata
kelola perizinan agar lebih transparan
dan dapat dipertanggung jawabkan,
serta untuk memastikan kesesuaian izin
yang telah diterbitkan dengan peraturan yang berlaku. Untuk memperkuat
proses moratorium ini dan sesuai
dengan rencana aksi daerah penurunan
emisi GRK, telah ditandatangani kesepakatan bersama antara Pemerintah
Provinsi Kaltim, Pemerintah Kabupaten
Berau, Pemerintah Kabupaten Kutai
Barat, Pemerintah Kabupaten Kutai
Kertanegara dengan Satuan Tugas Persiapan Kelembagaan REDD+ dibawah
koordinasi Unit Kerja Presiden Bidang
Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Kesepakatan bersama ini dimaksudkan sebagai landasan
untuk melakukan kerja sama pelaksanaan program penataan perizinan
di Provinsi Kaltim dalam hal ini di tiga
kabupaten (Berau, Kutai Barat dan Kutai
Kertanegara) sebagai wilayah percontohan. Tujuan diadakannya kesepakatan
bersama tersebut adalah menguatkan
sistem perizinan terkait perkebunan dan

184

authorities should be more assertive in


enforcing compliance with the principles of responsible mining, post-mining
reclamation and waste management
obligations to prevent operations from
polluting the land and the crops that
grow on it from which the local communities earn their livelihood.
Based on what people had reported,
until the end of 2012 there had been at
least 748 cases of overlapping land,
particularly in the oil palm plantation
sector and the coal mining sector. The
Governor of the Province of East Kalimantan on January 25, 2013 has put
in place a moratorium on the issuance
of new plantation, mining and forestry
permits through the enactment of Letter
of Decision [gubernatorial decree] No
180/1375-HK / 2013, which was sent to
all district chiefs / mayors all over the
province. This moratorium, which is a
departure from the provincial governments usual policy, may be perceived
as quite radical. But it is necessary
because without such radical measures, implementation of green economy
strategies in East Kalimantan couldnt
get any better. And at the same time,
the radical measures would also enable
improvement and implementation of
green economy strategies in the plantation, mining and forestry sectors to be
carried out more optimally and systematically. More authoritative enforcement
of regulations is indeed one of the prerequisites for consistent implementation
of green economy and the sustainability
principles of economic development.
The Indonesian moratorium on the
award of new licenses to plantation,
mining and forestry businesses applying for them is intended to consolidate
and refine the governance of licensing in
order to make it more transparent and
accountable, and to ensure compatibility
between licenses that have been issued
and applicable regulations. To strengthen the process of this moratorium and
in accordance with the provincial action

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia /

pertambangan dalam rangka mengurangi emisi dan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

plan to reduce greenhouse gas emissions, a joint agreement has been signed
between the Government of the Province
of East Kalimantan, the Government of
the District of Berau, the Government of
the District of West Kutai, the Government of the District of Kutai Kertanegara
and the Task Force for the Preparation
of REDD+ Institutional Framework under
the coordination of the Presidential
Working [Delivery] Unit for Development
Oversight and Control (UKP4). This joint
agreement is intended as a basis for
cooperation in implementing a licensing
restructuring program in the provinces
three districts (Berau, Kutai Barat and
Kutai Kertanegara) as pilot districts.
The objective of the joint agreement is
to strengthen the provinces plantation
and mining licensing systems in order to
reduce emissions and increase sustainable economic growth.
185

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

6.5 
Kalimantan Utara - Jasa
Lingkungan dan Lumbung Pangan
North Kalimantan - Environmental Services
and Food Granaries

alimantan Utara (Kaltara) adalah


provinsi ke-34 atau termuda sampai saat ini di Indonesia yang dibentuk
berdasarkan Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2012, tanggal 25 Oktober 2012.
Secara resmi Pemerintahan Provinsi
Kaltara mulai beroperasi pada tanggal 22 April 2013, menyusul dilantiknya
Pejabat Gubernur Kaltara oleh Menteri
Dalam Negeri. Kaltara terdiri dari empat kabupaten, yaitu: Bulungan, Malinau,
Nunukan, Tana Tidung dan satu kota,
yaitu Tarakan. Kaltara memiliki 44 kecamatan dan 473 desa dengan penduduk
723.005 pada tahun 2013.
Implementasi ekonomi hijau melalui
pengembangan jasa lingkungan hutan
sangat dimungkinkan di Kaltara, mengingat Taman Nasional Kayan Mentarang
(TNKM) yang merupakan hutan lindung/
konservasi dengan luas 1.5 juta ha, yang
sebagian besar terdapat di Kabupaten
Malinau dan sebagian kecil di Kabupaten
Nunukan. TNKM termasuk di dalam kawasan HoB, khususnya dari sisi Kaltara.

186

orth Kalimantan is Indonesias 34th


province. To date, it is the countrys
youngest province. The province was
created on the basis of Law No. 20 of
2012, dated October 25, 2012. Officially,
the Government of the Province of North
Kalimantan began to be operational on
April 22, 2013, following the inauguration of the Acting Governor of North
Kalimantan by the Minister of Home Affairs. North Kalimantan consists of four
districts: Bulungan, Malinau, Nunukan,
Tana Tidung and one city, Tarakan. North
Kalimantan has 44 sub-districts and 473
villages and in 2013 had a total population of 723,005.
Implementation of green economy
through the development of forests
environmental services is possible in
North Kalimantan because the Kayan
Mentarang (KMNP) National Park is situated in the province. The national park
is a protected / conservation forest with
an area of 1.5 million hectares, mostly
situated in the District of Malinau and
a small portion of the park is situated
in the District of Nunukan. The national
park is located in North Kalimantans
part of the Heart of Borneo.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Tabel 24: Luas Hutan di Provinsi Kalimantan Utara, 2012 (Hektar)


Table 24: Forest Areas in North Kalimantan Province in 2012 (in hectares)

Sumber: Bappeda Kaltara (2014) Source: Development Planning Agency of North Kalimantan Province (2014)

Jasa lingkungan yang dapat dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan


dapat meliputi: jasa pengaturan air, jasa
kehari, jasa ekowisata dan jasa penambatan karbon, yang tidak hanya berkontribusi pada pelestarian sumber daya
alam, tapi juga dapat meningkatkan
perekonomian daerah dan taraf hidup
masyarakat lokal. Beberapa program
rintisan dalam pengembangan jasa lingkungan ini telah dimulai sejak lima daerah otonom ini masih bergabung dengan
Provinsi Kaltim. Misalnya, gagasan
tentang pengembangan program REDD+
berbasis akar rumput (grassroots)
masyarakat lokal adalah landasan awal
pengembangan implementasi ekonomi
hijau di HoB yang dapat senantiasa disempurnakan agar memiliki nilai kemanfaatan yang lebih besar. Studi lanjutan
yang harus dilakukan dalam jangka pendek adalah penetapan valuasi ekonomi
dari sekian macam jasa lingkungan
hutan dan sumberdaya alam lain yang
relevan, agar mekanisme kompensasi
dari pembayaran jasa lingkungan dapat
dilakukan dengan obyektif.
Ekonomi hijau memiliki prinsip penataan ruang yang mendukung pemban-

Environmental services that can be


developed in the next few years could
include: water management services,
biodiversity services, ecotourism services and carbon fixation services, which
not only contribute to the preservation of
natural resources but can also improve
the local economy and local peoples
lives. Several pilot programs in the
development of environmental services
have been started since the five autonomous districts were still part of East
Kalimantan Province.
For example, the idea of the local communities- based development of REDD+
programs is the cornerstone of the
early development of green economy
implementation in the Heart of Borneo
which can always be refined in order to
obtain greater benefit. Further study
that should be done in the short term
involves the determination of economic
valuation of different kinds of environmental services provided by forests and
other relevant natural resources so that
the compensation mechanism of payment for environmental services can be
carried out objectively.

187

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

gunan berkelanjutan dan konservasi


HoB secara umum. Sebagai provinsi
baru, penyusunan tata ruang yang
mampu mengakomodasi pembangunan
berkelanjutan di Kaltara seharusnya
cukup mudah. Asumsinya adalah para
pejabat pemerintahan, tokoh masayarakat dan pelaku usaha di Kaltara
menginginkan suatu pola pembangunan
yang berimbang antara tujuan ekonomi,
sosial dan pelestarian lingkungan hidup.
Dengan demikian, akomodasi kepentingan para stakeholders dapat lebih optimal dipertimbangan seksama, menyusul rancangan peraturan daerah tentang
penataan ruang belum selesai dibahas
dan belum disahkan sebagai keputusan
yang mengikat.
Sesuatu yang amat jelas perlu diakomodasi dalam Perda Tata ruang di Kaltara
adalah tidak terjadinya tumpang tindih
antara peruntukan lahan untuk taman
nasional dan hutan lindung dengan
areal pertambangan, utamanya batubara, yang masih harus mengandalkan
tambang terbuka (open pit) dengan
penggalian langsung. Di satu sisi, Perusahaan konsesi kehutanan perlu memiliki IUPHHK dalam mengembangkan
investasinya di Kaltara. Izin usaha yang
diberikan kepada sektor swasta untuk
memanfaatkan hasil hutan berupa kayu
seharusnya tidak bertentangan dengan REDD+ yang berbasis akar rumput
masyarakat lokal di Kabupaten Malinau
dan Kabupaten Nunukan. Ketegasan penataan ruang pada tahap pertama atau
dalam skema jangka pendek seharusnya
menjadi langkah awal yang yang amat
menentukan keberhasilan programprogram lanjutannya pada jangka menengah, yang terncermin dari Rencana
RPJM 2014-2019 tingkat nasional dan
tingkat daerah yang sinergis.
Tata ruang yang jelas dan berwibawa
akan sangat menentukan pengembangan kelapa sawit dan komoditas
perkebunan lain, yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Kaltara.

188

Green economy principles include


spatial layout planning principles that
support sustainable development and
conservation in the Heart of Borneo.
As a new province, North Kalimantan
should find it quite easy to develop a
spatial layout plan that is able to accommodate sustainable development in the
province. The assumption is that government officials, community leaders and
business actors in North Kalimantan
want a pattern of development that is
able to carve out equilibrium between
the economic goals on the one hand
and social and environmental sustainability goals on the other. In this way,
the interests of the stakeholders can be
more carefully considered and optimally
accommodated as the deliberation on
the draft provincial regulation on spatial
layout planning has not been concluded
and the draft has not been approved and
passed into a legally binding regulation.
A point that needs to be very clearly
accentuated under the regulation of the
province of North Kalimantan on the
provinces spatial layout plan is that
there shall be no overlap between areas
that belong to the provinces national
park and protected forests on the one
hand and areas designated for mining
operations on the other hand. This point
is vital because most of the mines in the
province are coal mines and coal mining
companies operating there still have to
rely on open-pit mining method by direct
excavation. Meanwhile, forestry concession companies investing in the province
need to have a commercial permit to
utilize timber forest products (IUPHHK).
The permits granted to the private sector to take advantage of timber forest
products should not stand in opposition
to the local grass-root communitybased REDD+ in Malinau and Nunukan.
Assertiveness in spatial layout planning at the first stage or in a short-term
scheme should be the very first step that
has to be taken to ensure the success of
the continuing programs in the medium
term as reflected in Indonesias 2014-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia

2019 Medium-Term Development Plan


at both the national level and the subnational levels that are supposed to be
synergistic.

Sampai akhir tahun 2013, sektor perkebunan di Kaltara telah mulai ekspansif,
khususnya kelapa sawit yang telah
mencapai 171 ribu ha tersebar di empat
kabupaten, kecuali Kota Tarakan (Lihat
Tabel 25). Esensinya, luas areal perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Nunukan mencapai 95.791 ha, Kabupaten
Bulungan seluas 59.823 ha, Kabupaten
Tana Tidung 13.925 ha dan Kabupaten
Malinau 1.050 ha. Areal kelapa sawit
masih akan meningkat dalam beberapa
tahun ke depan.

Clear and authoritative spatial layout


plan will very much determine the development of palm oil and other plantation commodities, which have become
the source of livelihood for the people
of North Kalimantan. In 2013, there had
been expansion in the provinces plantation sector. Oil palm plantations occupy
171 thousand hectares of land in the
province, which were spread over four
districts, excluding the town of Tarakan
(See Table 25). In 2013, oil palm plantations covered an area of 95,791 hectares
in the District of Nunukan, 59,823 hectares in the District of Bulungan, 13,925
hectares in the District Tana Tidung and
1,050 hectares in the District of Malinau.
There will be more land dedicated to oil
palm plantations in the next few years.

Tabel 25: Areal Kelapa Sawit, Produksi dan Tenaga Kerja Kalimantan Utara Tahun 2013
Table 25: Oil Palm Plantation Areas, Production and Labor Force in North Kalimantan Utara in 2013

Sumber: Diolah dari Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, 2014


Source: Processed based on the data from the Provincial Plantation Office/ Department of the Government of East Kalimantan, 2014
http://disbun.kaltimprov.go.id/statis-35-komoditi-kelapa-sawit.html

189

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Setidaknya, terdapat lima perusahaan


besar yang telah berminat melakukan
investasi kebun kelapa sawit di Kaltara,
yaitu PT Sanggam Kahuripan Indonesia
(Group Gudang Garam), PT Inti Selaras Perkasa (Group PT. Wings Food),
PT. Prima Tunas Kharisma (Group PT.
Wings Food), PT. Bulungan Citra Agro
Persada, PT Prima Bahagia Permai
dan lain-lain. Strategi implementasi
ekonomi hijau melalui aplikasi perkebunan sawit berkelanjutan atau ISPO yang
diprakarasi oleh Masyarakat Kelapa
Sawit Indonesia (MAKSI), Dewan Minyak
Sawit Indonesia (DMSI) dan Pemerintah
Indonesia melalui Kementerian Pertanian perlu lebih membumi. Perusahaan
swasta minyak sawit yang beroperasi
di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten
Malinau dapat segera mengintensifkan
proses pendaftaran dan verifikasi lapangan. Manfaat yang lebih luas adalah
kabupaten yang melaksanakannya akan
djadikan benchmark untuk pengembangan kedepan yang lebih konsisten.
Ikhtisar strategi implementasi ekonomi
hijau di kawasan HoB sisi Kaltara dapat
dilihat pada Tabel 26.
Dalam bidang pertambangan, prinsipprinsip ekonomi hijau perlu dilaksanakan dengan seksama dan konsisten
karena pertambangan batubara memiliki dampak pada kualitas air dan udara,
yang menjadi salah satu andalan dalam
pengembangan pasar jasa lingkungan
hidup. Berikut ini adalah sebagian saja
dari perusahaan tambang batu bara
yang beroperasi di Kaltara yaitu PT
Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN),
PT Mandiri Inti Perkasa, PT Delma
Mining Coorporation, PT Garda Tujuh
Buana, PT Lamindo Inter Multikon dan
PT Bara Dinamika. Pemerintah Kaltara
dan pemerintah kabupaten/kota perlu
secara disiplin menerapkan ketentuan
pembangunan berkelanjutan pada
pertambangan batu bara dan pertambangan lain secara umum. Misalnya,
pertambangan minyak dan gas bumi di
Kaltara yang sebagian besar terletak di

190

At least, there are five large corporations that have expressed their interest to invest in the oil palm planatation
sector in North Kalimantan. They are
PT Sanggam Kahuripan Indonesia (of
Gudang Garam Group), PT Inti Selaras
Perkasa (of PT Wings Food Group), PT
Prima Tunas Kharisma (also of PT Wings
Food Group), PT Bulungan Citra Agro
Persada, and PT Prima Bahagia Permai.
However, a more down-to-earth strategy is needed to implement green
economy through the application of the
ISPO scheme for sustainable oil palm
plantations initiated by the Indonesian
Palm Oil Society (MAKSI), the Indonesian
Palm Oil Board (DMSI) and the Government of Indonesia through the Ministry
of Agriculture. The reason for a call for
a more-down-to-earth strategy is to enable private oil palm companies aspiring
to operate in Nunukan dan Malinau districts to accelerate their registration and
field verification processes. Moreover,
districts that are successfully implementing the strategy will be used as a
benchmark for more consistent development in the future. A summary of green
economy implementation strategies in
the North Kalimantan part of the Heart
of Borneo is presented in Table 26:
In the mining sector, green economy
principles need to be done carefully and
consistently as coal mining has an impact on water and air quality, on which
the development of the environmental
services market relies. Here are the
names of some coal mining companies
that operate in the province: PT Pesona
Equatorial Nusantara (PKN), PT Mandiri
Inti Perkasa, PT Delma Mining Corporation, PT Garda Tujuh Buana, PT Lamindo
Inter Multikon and PT Bara Dinamika.
The government of the province of North
Kalimantan and the provinces district
/ city governments need to apply the
provisions of sustainable development
to coal mining and other types of mining. For example, the oil and gas mining
operations in the province, which are

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Tabel 26: Implementasi Ekonomi Hijau di Kawasan HoB sisi Kalimantan Utara
Table 26: Green Economy Implementation in North Kalimantans part of the HoB

Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan perlu


sejak awal menerapkan pertambangan
bertanggung jawab.
Kaltara telah menetapkan Rencana
Investasi Mega Proyek berupa Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga
Air (PLTA) dengan memanfaatkan
debit aliran Sungai Kayan dan Sungai
Mentarang dengan nilai Investasi US$
11.539.500. Perusahaan listrik swasta
yang melakukan investasi di Kaltara
adalah: PT Kayan Hydro Energy 6.080
MW, PT Kalimantan Electricity 1.620
MW, China Power Investment, PT.
Hanergy Holding Company. Hal yang
perlu dicatat adalah bahwa izin prinsip
penanaman modal kepada perusahaan
besar tersebut ditelah dikeluarkan oleh
pemerintah pusat, yakni BPKM, dibawah
koordinasi Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian.

mostly located on the island of Bunyu in


the District of Bulungan, need to implement responsible mining right from the
beginning.
North Kalimantan has established a
megaproject investment plan for the
development of a hydropower plan to
generate electricity by utilizing the
water flow of the Kayan river and the
Mentarang river with investment value
of US $ 11,539,500. Private power companies investing there are: PT Kayan
Hydro Energy (6,080 MW), PT Kalimantan Electricity (1,620 MW), China Power
Investment and PT. Hanergy Holding
Company. Another thing to note is that
the principle permits of investment have
been issued to the large corporations
by the national government through
the National Investment Coordinating
Board (BKPM) under the coordination of
the Coordinating Minister for Economic
Affairs.

191

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Kaltara merencanakan pembangunan


lumbung pangan skala besar seluas
50.000 ha yang dikenal dengan nama
Delta Kayan Food Estate (DKFE).

Gambar 14: Peta Pengembangan Delta Kayan


Food Estate
Figure 14: Map on the Development of Delta Kayan
Food Estate

192

North Kalimantan has also planned the


construction of large-scale food granaries comprising an area of 50,000 hectares known as Delta Kayan Food Estate
(DKFE). Until now there are at least

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

WWF-Indonesia

Sampai saat ini setidaknya terdapat


tiga perusahaan pertanian yang telah
melakukan investasi pertanian padi
dan palawija, yaitu: PT Sang Hyang Sri,
PT Nusa Agro Mandiri (Group Solaria),
PT Miwon Indonesia, dan PT Synergi
Resources Indonesia.
Implementasi ekonomi hijau yang
bersentuhan langsung budaya kreatif
inovatif di Kaltara juga dikaitkan dengan adalah pemberdayaan masyarakat
ekonomi lokal, handy-craft dan home
industry yang dapat meningkatkan
pendapatan rumah tangga. Pemerintah
Kaltara dan pemerintah kabupaten/
kota perlu secara konsisten dan berkala
melakukan pendampingan dalam meningkatkan kapasitas kepada para calon
wirausaha, utamanya dari masyarakat
lokal, yang dapat memanfaatkan budaya
kreatif-inovatif, mengembangkan industri kreatif, sehingga mampu menghasilkan produk kreatif-inovatif yang bernilai
tambah tinggi dan memutar roda perekonomian.

three agricultural companies that have


invested in rice and non-staple food
crops farming. The three are PT Sang
Hyang Sri, PT Nusa Agro Mandiri (Group
Solaria), PT Miwon Indonesia, and PT
Synergy Resources Indonesia.
Implementation of green economy in
direct contact with the provinces innovative and creative culture shall also be
linked to the economic empowerment of
local communities and the development
of local handicraft industry and home
industry, which are expected to increase
household income. North Kalimantans
provincial government and district / city
governments need to consistently and
regularly provide assistance and facilitation to build the capacity of prospective entrepreneurs who primarily come
from among their own local communities, until they are able to utilize the
local creative and innovative culture to
develop a creative industry, and produce creative-innovative products of
high added value and drive the economy
forward.

193

Riyong / Photovoices Intl-WWF/HoB

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

194

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

VII.
PERAN MASYARAKAT
DALAM PENGEMBANGAN
SEKTOR BERBASIS
EKONOMI HIJAU
Community Role in the
Development of Green
Economy-Based Sectors

195

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

asyarakat lokal adalah subyek yang


akan merasakan secara langsung,
baik manfaat maupun konsekuensi
negatif, berbagai kebijakan dan implementasi kebijakan dari yang menyangkut lingkungan kehidupan mereka,
termasuk program HoB. Untuk itu,
masyarakat lokal harus berperan serta
secara aktif.
Harus dibangun berbagai insentif agar
masyarakat lokal bersedia turut aktif
dalam mempertahankan dan memelihara kelestarian lingkungannya. Ini
dapat dilakukan bila masyarakat turut merasakan dan dapat mengambil
manfaat dari lingkungan yang lestari.
Dengan kata lain, kesejahteraan dan potensi perbaikan kesejahteraan mereka
tergantung pada kelestarian lingkungan
sehingga resistensi terhadap kerusakan
lingkungan akan menjadi lebih besar
dan lebih kuat.
Dalam hal ini, kapasitas kemampuan
masyarakat dalam mengambil manfaat dari lingkungan yang lestari harus
ditingkatkan. Selain itu, berbagai hak
masyarakat termasuk pelestarian
budaya dan tanah adat harus sangat
diperhatikan. Berbagai konsekuensi
yang harus ditanggung masyarakat atas
kerusakan lingkungan juga harus disosialisasikan.
Keterlibatkan masyarakat dalam
implementasi ekonomi hijau ini dapat
dilihat dalam dua perspektif yaitu 1).
Keteribatan dalam penerapan konsep
ekonomi hijau (dalam pengertian social
inclusive) oleh pelaku-pelaku ekonomi
yang ada (kehutanan, perkebunan dan
pertambangan) dan 2). Keterlibatkan
masyarakat secara langsung sebagai
pelaku ekonomi kerakyatan seperti pertanian/perkebunan rakyat dan industri
kecil masyarakat.

196

ocal communities are subjects that


will directly feel the benefits or the
negative consequences of the different policies and the implementation of
the programs derived from such policies that affect the environment where
they live, including the Heart of Borneo
program. Therefore, local communities
must participate actively in the programs.

A wide range of incentive schemes/


programs should be developed to make
local communities become willing to
participate actively in the maintenance
and sustainment of the environment.
This can be done when people are able
to feel and appreciate the benefits of a
sustainable environment and benefit
from it. In other words, once they fully
understand that their well-being and
improvement of their livelihood depends
on the preservation of the environment,
their resistance to any acts that threaten
to damage or cause damage to the environment will be intensified and become
more powerful.
Therefore, the ability of the local communities to benefit from a sustainable
environment should be enhanced.
Moreover, the rights of local communities, including the rights of indigenous
peoples to preserve their culture as well
as their rights to their customary (adat)
land must be highly respected. Campaigns to raise local peoples awareness
of the many consequences that they
have to bear for environmental damage
should also be conducted.
Community involvement in the implementation of green economy can
be viewed from two perspectives: (1)
involvement in the application of the
concept of green economy (in socially inclusive terms) by the relevant economic
actors (in the forestry, agriculture and
mining sectors) and (2) direct involvement of local communities as people-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Susiana / Photovoices Intl-WWF/HoB

Jika keterlibatan bersama pelaku


ekonomi yang ada maka partisipasinya
harus dirumuskan bersama dengan
para pelaku ekonomi tersebut. Apabila keterlibatan langsung sebagai
pelaku ekonomi hijau maka masyarakat
perlu ditingkatkan kapasitasnya dalam
pemahaman praktik-praktik ekonomi
hijau sesuai dengan bidang usaha yang
dilakukannya. Untuk keterlibatan peran
masyarakat dalam pengembangan
ekonomi hijau di kawasan HoB sebagai
pelaku ekonomi hijau dapat dilakukan
pada beberapa kegiatan seperti pemanfaatan HHBK, agroforestri, pertanian
rakyat dan pariwisata.

centered economic actors in small-scale


agriculture, smallholdings and cottage
industries.
In order to enable both types of economic actors to get jointly involved in
the implementation of green economy,
they should be included in the formulation of any green economy programs
that require their participation. To
enable local peoples/ communities to
be directly involved as green economic
actors, their ability to understand green
economy practices that are relevant to
their respective livelihood undertakings
needs to be improved. To promote their
involvement and role as green economic
actors in the development of green
economy in the Heart of Borneo, they
may also be engaged in green economy
activities involving the utilization of nontimber forest products, agro-forestry,
agriculture and tourism.

197

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

7.1 
Peran Masyarakat dalam Sektor
HHBK
Community Role in the Non Timber
Forest Product Sector

ekilas HHBK tidak memiliki perbedaan fungsi dengan hasil hutan


kayu karena sebagian besar HHBK merupakan bagian dari pohon. Benda hayati
selain kayu yang berasal dari hutan
banyak ragamnya seperti rotan, damar,
madu, bambu dan berbagai jenis tanaman obat. HHBK dalam pemanfaatannya
memiliki keunggulan dibanding hasil
kayu karena tidak memberi kerusakan
yang besar terhadap kelestarian hutan,
sehingga HHBK memiliki prospek yang
besar dalam pengembangannya.
Pemanfaatannya HHBK dapat dilakukan
dengan mudah oleh masyarakat lokal
dengan menggunakan teknologi yang
relatif sederhana. Bagian pohon yang
dimanfaatkan sebagai HHBK seperti
akar, kulit, getah, daun, bunga, biji maupun buah, sehingga pemanfaatan HHBK
tidak menimbulkan kerusakan ekosistem serta dapat bersifat jangka panjang.
Hal ini akan menimbulkan ketergantungan pada kelestarian alam sehingga
akan mendorong masyarakat untuk
tetap memelihara dan mempertahankan
kelestarian di lingkungannya.
Namun demikian, meski HHBK memiliki
berbagai keunggulan dibanding hasil
kayu, namun pemanfaatan HHBK belum
dilakukan secara optimal. Beberapa

198

t a glance, non-timber forest products may appear to have no functional differences compared to timber
forest products as most non-timber
forest products are part of the tree.
Biological objects other than wood that
come from forests are manifold such as
rattan, resin, honey, bamboo and various
types of medicinal plants. The utilization
of non-timber forest products is more
environmentally friendly than the utilization of timber forest products because
it does not create great damage to the
forests. So, non-timber forest products
have great prospects for further development.
Local people can utilize non-timber forest products quite easily using relatively
simple technology. Parts of the tree that
are utilized as non-timber forest products are roots, bark, sap, leaves, flowers, seeds and fruits that are harvested
or extracted without cutting the tree so
that the utilization of non-timber forest products does not cause damage to
the ecosystem and can be a long-term
livelihood undertaking. This will lead
to a dependency on the preservation
of nature that will encourage people to
continue to maintain and safeguard the
sustainability of the environment.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

permasalahan yang berkaitan dengan


pemanfaatan HHBK antara lain:
- Belum tersedianya data potensi dan
pemanfaatan HHBK.
- Pemanfaatan HHBK hanya terfokus
pada HHBK tertentu saja.
- Budidaya HHBK belum dilakukan
secara optimal.
- Pemanfaatan HHBK oleh masyarakat
hanya dilakukan secara tradisional.
- Sistem tata niaga HHBK yang belum
memberi keuntungan maksimal bagi
petani/pengambil HHBK.
- Kurangnya peran pemerintah dalam
mendukung pemanfaatan dan
pengembangan HHBK.
Bila tanaman penghasil HHBK dimanfaakan secara baik, dampak yang dapat
dinikmati adalah sangat banyak, tidak
hanya terhadap peningkatan dari sisi
ekologis dan ekonomis, tetapi juga
bagi keberlangsungan sosial budaya
masyarakat secara umum. Sebagai
contoh tanaman jenis palem berupa
sagu dan nipah berfungsi sebagai
pencegahan terhadap abrasi sungai
atau laut. Ini berarti tanaman tersebut
dapat melestarikan keberadaan hutan
yang dilindunginya. Sagu atau nipah juga
dapat dijadikan komoditas sebagai sumber pendapatan masyarakat. Dengan
demikian, kontribusi HHBK terhadap
perekonomian akan menggerakkan
pembangunan di sektor pertanian dan
kehutanan.
Potensi pemanfaatan HHBK dalam jangka panjang bila dilakukan secara benar
dan optimal akan memberi kontribusi
besar dalam jangka panjang terhadap
pendapatan masyarakat dan pembangunan wilayah. Beberapa pemanfaatan
HHBK antara lain adalah:
1. Kerajinan, yang memanfaatkan hasil
HHBK (serat, pewarna) dari kawasan
HoB seperti :
a. Tenunan khas masyarakat lokal

However, despite the environmentpreserving advantages that non-timber


forest products have over timber forest
products, they have not been optimally
utilized. Some of the issues associated
with the utilization of non-timber forest
products include the following:
- There is no data on the potential and
the utilization of non-timber forest
products.
- Utilization is only focused on certain
non-timber forest products.
- Cultivation of plants/ trees that yield
non-timber forest products has not
been optimal.
- Utilization of non-timber forest products by the community is only carried
out traditionally.
- The current non-timber forest
products trade system has not been
giving maximum profit to the people
who get involved in the harvesting of
non-timber forest products or their
cultivation for living.
- There is lack of governments role in
supporting the utilization and development of non-timber forest products.
If the plants/ trees that yield non-timber
forest products are well cared for, they
will provide lots of benefits, which are
not only ecological and economic but
also social and cultural as well. Moreover, such plants/ trees also contribute
to the sustainability of the environment.
For example, true sago palm (Metroxylon sagu) and nipah palm (Nypa fruticans) act as river or sea erosion-control
barriers. This implies that these palms
have the ability to help conserve the
forests they are protecting. Sago palm
produces sago, a starch obtained from
the trunk and used in cooking, which is
a commodity that provides a source of
income for local communities. Thus, the
contribution of non-timber forest products such as sago to local economy will
drive development in the agriculture and
forestry sectors.

199

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Thinson / Photovoices Intl-WWF/HoB

b. Anyaman dari rotan, pandan-pandanan, dan manik-manik


2. Sumber obat-obatan herbal, dan bioprospek lainnya.
3. Bahan pangan berupa umbi-umbian,
sari pati dan buah-buahan.
Beberapa langkah yang sebaiknya
dilakukan untuk mendorong pengembangan HHBK di kawasan HoB antara
lain adalah:
- Inventarisasi HHBK dan potensi
produk turunannya.
- Meningkatkan kemampuan
masyarakat lokal dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi HHBK
secara baik dan berkelanjutan.
- Membangun sentra-sentra pengolahan dan jaringan pemasaran untuk
berbagai produk HHBK.

200

Non-timber forest products will, if


utilized correctly and optimally, provide
a significant, long-term contribution to
peoples livelihood and local development. The utilization of non-timber forest products includes the following:

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

Dalam hal ini, melakukan kemitraan


dengan sektor swasta akan dapat mempercepat proses pengembangan HHBK.
Selain beberapa catatan di atas, dalam
konteks pemanfaatan HHBK, skala
ekonomi menjadi hal yang cukup penting. HHBK dalam beberapa hal mungkin
hanya sesuai dengan skala ekonomi
yang kecil namun bisa berdampak cukup
besar. Sebagai contoh di Kabupaten
Kapuas Hulu, produksi madu hutan
mencapai 82 ton per tahun, sementara
produksi karet lokal mencapai 30-40
ton per tahun. Dengan skala ekonomi
seperti ini cukup mampu menggerakan
ekonomi lokal yang berkelanjutan. Saat
ini WWF-Indonesia sedang membangun skema untuk peningkatan kualitas
produk HHBK di Kapuas Hulu dengan
memperbaiki cara-cara pengolahan dan
kemasan produk HHBK sehingga dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat
dan diharapkan akan menjadi pemicu
pertumbuhan ekonomi hijau di wilayah
HoB.
Catatan penting lain adalah izin usaha
HHBK dan kapasitas masyarakat yang
masih rendah. Sebagian masyarakat
masih mengalami kesulitan untuk
mengembangkan izin usaha HHBK karena kurangnya kapasitas dan informasi.
Dengan demikian diperlukan peningkatan kapasitas masyarakat untuk meningkatkan potensi ekonomi HHBK.
Pemerintah dan pemerintah daerah
perlu mengkaji ulang peraturan dan
ketentuan yang mengatur HHBK ini agar
lebih mudah memberi akses kepada
masyarakat sekitar hutan. Disamping tidak jelasnya perizinan HHBK bagi
masyarakat, pemerintah seyogianya
menyederhanakan aturan dan memberi
askses sebesar-besarnya ke semua kawasan hutan (produksi, konservasi dan
lindung) ke masyarakat dan jika perlu
tidak diperkenankan perusahaan besar
untuk mengusahakan HHBK yang dapat

1. Handicrafts produced from non-timber forest products (fiber, dye) from


the Heart of Borneo such as:
a. Woven fabric/ cloth typical for local
communities.
b. Woven products from rattan, pandanus leaves, and beads.
2. Sources of herbs with medicinal properties, and other bio-prospects.
3. Food stuffs such as tubers, starch
and fruit.
Steps that should be taken to promote
the development of the non-timber forest products industry in the Heart of
Borneo include:
- Taking stock or inventory of non-timber forest products and their potential
derivatives.
- Improving the ability of local communities to exploit and explore non-timber forest products appropriately and
sustainably;
- Establishing centers for the processing of a wide range of non-timber
forest products and developing a
network to market them.
In this case, partnership with the private
sector may accelerate the development of the non-timber forest products
industry.
In addition to what has been said above,
an important factor to consider in the
utilization of non-timber forest products
is economies of scale. Perhaps non-timber forest products are only suitable for
the development of a small-scale industry but such products could also have a
significant impact on the local economy.
For example, in Kapuas Hulu, the harvesting of forest honey reached 82 tons
per year and the local rubber production
amounts to 30-40 tons per year. And
production of this scale is quite capable
of driving the local economy in a sustainable manner.

201

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

dimanfaatkan oleh masyarakat tanpa


permodalan yang besar. Hal ini dimaksudkan juga sebagai bagian dari strategi
mengurangi kesenjangan pemanfaatan
hutan oleh perusahaan besar dan oleh
masyarakat untuk mencegah terjadinya
konflik.

Currently, WWF-Indonesia is building


a scheme for improving the quality of
non-timber forest products in Kapuas
Hulu through the use of better methods
of processing and packaging in order
to increase peoples income and this
is expected to trigger green economic
growth in the Heart of Borneo HoB.
Another important issue concerns the
permit to commercially harvest nontimber forest products. Local people
find that there is no clear regulation
about it. And they find it difficult to
obtain such permit let alone use it to
develop a business because many of
them are still unaware of it and even if
they are aware they do not necessarily understand why they should have it
and know how to get it. Therefore, it is
necessary to build their capacity if the
economic potential of non-timber forest
products is to be developed and scaled
up. On the other hand, the national government and local authorities need to
review the existing rules and regulations
that govern non-timber forest products in order to facilitate local people
who live in the vicinity of forest areas to
access them. The government should
simplify the rules and provide local
village people with unlimited access to
all forest areas (including production,
conservation and protection forests). If
necessary, the government should not
allow big companies to commercialize
non-timber forest products that local
village people can utilize without having
to have a lot of capital or make substantial investment. This is also intended as
part of a strategy to reduce the gap in
forest utilization by large corporations
as compared to local people and to prevent conflict between them.

202

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

7.2 
Peran Masyarakat
dalam Sektor Agroforestri
Role of Communities
in the Agroforestry Sector

groforestri atau wanatani secara


umum dapat didefinisikan sebagai
cara pemanfaatan lahan dimana tanaman pohon atau perdu dikombinasikan
dengan tanaman pertanian untuk memperoleh hasil produksi yang lebih beragam, lebih produktif dan penggunaan
lahan yang lebih berkelanjutan. Kombinasi tanaman pertanian dan pohonpohon/perdu ini akan menjadikan lahan
lebih produkif dan lingkungan mikro
lebih baik untuk produksi tanaman pertanian. Selain menghasilkan hasil pertanian juga dapat dihasilkan buah-buah,
bahkan hasil kayu. Dengan agroforestri
ini tanaman pepohonan ditanam secara
tumpang-sari dengan satu atau lebih
jenis tanaman semusim, dimana pepohonan ini dapat berfungsi sebagai pagar
yang mengelilingi petak lahan tanaman
pangan. Jenis pohon yang ditanam dapat
berupa kelapa, karet, cengkeh, kopi,
kakao (coklat), nangka, melinjo, petai,
jati dan mahoni. Ada berbagai macam
bentuk agroforestri. Dari segi ruang,
agroforestri terutama berhubungan
erat dengan pengaruhnya terhadap
ketersediaan hara, penggunaan dan penyelamatan (capture) sumber daya alam.
Bila ditinjau dari segi waktu, dua komponen agroforestri yang berbeda dapat
ditanam bersamaan atau bergiliran.
Pemilihan jenis dan pergiliran tanaman
pertanian dilakukan agar tanah tetap
mampu menyediakan unsur hara bagi
tanaman pertanian.

groforestry can be generally defined


as a way to utilize land in which
trees or shrubs are combined with agricultural crops in order to gain more diverse products and make the land more
productive and sustainable for cultivation. The combination between agricultural crops and trees / shrubs will also
create a better micro-environment for
the production of agricultural crops.
In addition to producing agricultural
products, agrofestry can also be used to
produce fruits and even wood products.
With agroforestry, trees are planted
on an inter-cropping, polyculture basis
with one or more seasonal crops, where
these trees can serve as a fence surrounding the plots of cropland. Types of
trees planted can be coconut, rubber,
clove, coffee, cacao, jackfruit, gnetum
gnemon, stink bean (Parkia speciosa),
teak and mahogany.
There are various forms of agroforestry. In spatial terms, agroforestry is
especially closely related to the effects
it exerts on nutrient availability, and the
use and capture of natural resources. In
terms of time, two different components
of agroforestry can be planted together
or planted in turns. The selection of the
types of agricultural crops to be planted
and their planting rotation is necessary
to be carried out to enable the soil to
remain capable of providing nutrients to
agricultural crops.

203

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Dalam sistem agroforestri terdapat


interaksi ekologis dan ekonomis antara
komponen-komponen yang berbeda.
Agroforestri ditujukan untuk memaksimalkan penggunaan energi matahari,
meminimalkan hilangnya unsur hara di
dalam sistem, mengoptimalkan efesiensi penggunaan air dan meminimalkan
run-off serta erosi. Dengan demikian
mempertahankan manfaat yang dapat
diberikan oleh tumbuhan berkayu tahunan (perennial) setara dengan tanaman
pertanian konvensional dan juga memaksimalkan keuntungan keseluruhan
yang dihasilkan dari lahan sekaligus
mengkonservasi dan menjaganya.
Menurut Suprayogo et al.(2003), ada
empat keuntungan terhadap tanah yang
diperoleh melalui penerapan agroforestri antara lain adalah:

In the agroforestry system, there are


ecological and economic interactions
among different components. Agroforestry is intended to maximize the use
of solar energy, minimize the loss of
nutrients in the system, optimize the
efficiency of water use and minimize
run-off and erosion. In this way, agroforestry maintains the benefits provided by
perennial woody plants in an equivalent
proportion to the benefits provided by
conventional agricultural crops and also
maximizes the overall profit generated
from the land and simultaneously conserve and preserve it.
According Suprayogo et al. (2003), there
are four advantages associated with
land acquired through the application
of agroforestry. The advantages are as
follows:

1. Memperbaiki kesuburan tanah,

1. Improve soil fertility,

2. Menekan terjadinya erosi,

2. Reduce erosion,

3. Mencegah perkembangan hama


dan penyakit,

3. Prevent the outbreak of pests and


diseases,

4. Menekan populasi gulma.

4. Curtail the growth of weeds.

Secara luas dapat dipahami bahwa


pengembangan agroforestri adalah
dalam rangka menekan degradasi
hutan alam dan lingkungan hidup (aspek
ekologi), serta upaya untuk memecahkan permasalahan sosial-ekonomi
masyarakat, terutama di wilayahwilayah pedesaan. Konsep agroforestri
secara keseluruhan menempatkan
manusia (masyarakat) sebagai subyek,
yang secara aktif berupaya dengan daya
dan kapasitas yang dimiliki untuk turut
memecahkan permasalahan kebutuhan,
menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang kehidupan. Mengolah
lahan beserta unsur lingkungan hayati
dan nir-hayati lainnya dari sekedar elemen alami menjadi sumber daya yang
bernilai, bertujuan menjaga eksistensi
dan meningkatkan taraf kehidupan
pribadi, keluarga dan komunitasnya.
Oleh karena itu implementasi agroforestri selama ini juga memiliki peranan

204

It is understandable that the development of agroforestry is intended to reduce the degradation of natural forests
and the environment (which constitutes
the ecological aspects of agroforestry)
and also to solve social and economic
problems of local communities especially those living in rural areas. The
concept of agroforestry as a whole puts
a human being (society) as the subject
who actively seeks, with the power and
the capacity they have, to help solve the
problems associated with the need of
the community, to address challenges
and to utilize livelihood opportunities.
Cultivating land and transforming its
biological and non-biological environmental elements from merely natural
elements into valuable natural resources are aimed at maintaining existence
and improving individual, family and
community living standards. Therefore,
the implementation of agroforestry also

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

penting dalam aspek sosial-budaya


masyarakat setempat.

plays an important role in the socio-cultural aspects of the local community.

Aspek sosial-budaya dapat dijumpai


pada praktik-praktik agroforestri yang
telah berpuluh dan bahkan beratus tahun ada di tengah masyarakat (local traditional agroforestry) dibandingkan pada
sistem-sistem agroforestri yang baru
diperkenalkan dari luar (introduced agroforestry). Meskipun fungsi sosial-budaya
agroforestri diakui lebih banyak dijumpai pada sistem yang tradisional, akan
tetapi hal tersebut bukan merupakan
faktor bersifat mutlak karena budaya
suatu masyarakat pada hakikatnya tidak
pernah bersifat statis, tetapi senantiasa
dinamis sesuai dengan perkembangan
waktu serta kebutuhan. Mengembangkan agroforestri seringkali disebutkan
tidak berarti kembali ke zaman dahulu
kala dengan mengulang berbagai teknik
kuno, tetapi juga memerlukan inovasi
dan pengetahuan modern.

These socio-cultural aspects can be


found more in agroforestry practices
that have been in existence for decades and even for hundreds of years in
society (local traditional agroforestry)
rather than in the agroforestry systems
that are newly introduced from outside
(introduced agroforestry).

Setiap pengenalan sistem atau teknologi


agroforestri baru harus memperhatikan kondisi sosial-budaya setempat,
misalnya dalam pemilihan jenis pohon,
desain dan teknologi. Hal ini dimaksudkan guna meningkatkan kemampuan
masyarakat lokal untuk mengimplementasikannya sesuai dengan kondisi
sosial budaya yang dimiliki (kapasitas
adopsi). Tingkat adopsi yang tinggi terhadap suatu sistem atau teknologi agroforestri, akan meningkatkan produktivitas dan sustainabilitas sebagai kriteria
penting lainnya dari agroforestri itu
sendiri.
Di wilayah HoB potensi pengembangan
peran masyarakat sistem agroforestri
dapat diterapkan oleh petani-petani
sekitar kawasan hutan adalah tumpang
sari padi dan kakao, padi dengan tanaman karet, atau lada dangan kakao atau
kombinasi lainnya yang sudah mengakar
di budaya masyarakat setempat.

Although it has to be admitted that the


socio-cultural functions of agroforestry
are mostly found in traditional systems,
this is not an absolute factor because
essentially, the culture of a society or
a community is never static but always
dynamic in line with the course of time
and the development of needs. Developing agroforestry does not necessarily
mean returning to the days of yore by repeating ancient techniques. Developing
agroforestry also requires innovation
and modern knowledge.
Any introduction to new agroforestry
systems or technologies must consider the socio-cultural conditions of
the locality, for example, in the choice
of tree species, design and technology.
This is intended to improve the ability of
local communities to implement it in accordance with their own socio-cultural
conditions (or their capacity of adopting
the new systems and technologies). Increased adoption of an agroforestry system or technology will improve productivity and sustainability, which constitute
the main criteria of agroforestry itself.
In the Heart of Borneo, the agroforestry
system that can be potentially applied around the forest area with local
community involvement involves the
intercropping between rice and cocoa,
between rice and rubber, or between
pepper and cocoa or any other combination that has been deeply rooted in local
culture.

205

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

7.3 
Peran Masyarakat dalam
Sektor Pertanian
Role of Communities in the
Agricultural Sector

Sektor pertanian selama ini bertanggung jawab atas 14% emisi GRK global.
Jika digabung bersama sektor kehutanan, sumbangan GRK kedua sektor
tersebut bisa mencapai 33%. Hal ini karena industri pertanian cenderung untuk

Thus far, the agricultural sector has


been responsible for 14% of global GHG
emissions. If combined with the forestry
sector, the GHG emissions contributed
by the two sectors could reach 33%
because the agriculture industry tends
to trigger land use conversion and
deforestation. Massive land clearing for

ektor pertanian merupakan sektor


utama dalam perekonomian Indonesia karena sektor pertanian memberi
kontribusi besar terhadap total pendapatan nasional. Sektor pertanian juga
adalah yang paling banyak menyerap
tenaga kerja dan menjadi sektor andalan bagi komoditas ekspor Indonesia. Komoditas pertanian yang secara
konsisten menjadi komoditas ekspor
sebagian besar berasal dari sub sektor
perkebunan seperti karet, kelapa sawit,
kakao, kelapa, kopi, teh dan tebu.

Timotius / Photovoices Intl-WWF/HoB

206

he agricultural sector is a major


sector in the Indonesian economy.
It contributes substantially to the total
national income. The agricultural sector
is also the most labor intensive sector.
It has become a mainstay for Indonesian export commodities. Agricultural
commodities that have been consistently
exported mostly come from plantation
sub-sectors such as rubber, oil palm,
cocoa, coconut, coffee, tea and sugar
cane.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

mengalih fungsi lahan dan memicu


penggundulan hutan. Pembukaan lahan
secara besar-besaran untuk tujuan
perkebunan menyebabkan luas hutan
menjadi semakin berkurang.
Sebenarnya sektor pertanian yang
dikelola secara berkelanjutan akan
memberi banyak manfaat seperti menjamin keamanan pangan, kelestarian
alam, penyerapan karbon, menciptakan
lapangan kerja dan kehidupan yang lebih
layak. Sektor pertanian yang ramah
alam juga bisa memperbaiki kerusakan
alam, mengembalikan kesuburan tanah,
fungsi lahan resapan dan menciptakan
habitat bagi kehati. Oleh karena itu
investasi di sektor pertanian bila dilaksanakan dengan baik akan menjamin
keamanan gizi, keamanan pangan serta
kesejahteraan masyarakat sekaligus
mengurangi emisi dan dampak negatif
dari pemanasan global. Sistem pertanian yang ramah lingkungan ini dikenal dengan nama agroekology. Bentuk
lain dari sistem ini adalah agroforestri
sebagai yang dijelaskan di muka. Peran
masyakarakat dalam upaya penurunan
emisi GRK juga semakin penting kedepan dimana pengukuran penurunan
emisi akan dilakukan berdasarkan pendekatan landskap.

the purpose of establishing plantations


has caused the size of the forest areas
to shrink.
Actually, sustainably managed agricultural sector will provide many benefits
such as ensuring food security, nature
preservation (environmental sustainability), carbon sequestration, job
creation and better livelihood/ living
standard. Nature-friendly (environmentally friendly) agricultural sector is also
capable of repairing damage to nature,
restoring soil fertility, improving lands
use water catchment functions and create a habitat for biodiversity.
Therefore, investment in agricultural
sector, if implemented properly, will
ensure nutrition security, food security,
and peoples welfare. It will also reduce
emissions and the negative impacts
of global warming. Environmentallyfriendly farming system is known as
agro-ecology. Another form of this
system is agroforestry as has already
been described earlier. The role people
play in efforts to reduce GHG emissions
will also be increasingly important in
the future where the measurement of
emission reductions will be based on
landscape approach.

207

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

7.4 
Peran Masyarakat
dalam Sektor Pariwisata
Role of Communities in the
Tourism Sector

ektor pariwisata adalah salah satu


sektor pembangunan yang sangat
berkaitan dengan sektor lainnya, karena
pembangunan di sektor pariwisata sangat tergantung dengan pembangunan di
sektor lain, terutama penyediaan sarana
dan prasarana seperti jalan, telekomunikasi, keuangan dan lain sebagainya.
Sektor pariwisata menjadi industri yang
sangat prospektif seiring dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya tingkat
kesejahteraan masyarakat. Kemajuan
di bidang informasi dewasa ini berandil
penting terhadap keberadaan kawasan
pariwisata di suatu wilayah. Kemajuan
di sektor pariwisata akan mendorong
pesatnya jumlah wisatawan, baik skala
nasional maupun internasional. Akses
teknologi informasi memudahkan para
wisatawan menemukan lokasi yang
tepat sesuai dengan keinginannya.
Konsep parawisata berkelanjutan
masih mengalami banyak kendala yang
mendasar seperti maksud dari konsep wisata berkelanjutan itu sendiri,
pengembangan produk sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pemasarannya, serta dampak yang dapat dirasakan
oleh masyarakat lokal. Ketiga akar
permasalahan ini belum terpadukan
sehingga sulit mencari pemecahannya.
Hingga saat ini, faktor tersebut sering terlupakan oleh pemerintah dalam
menetapkan suatu kebijakan di bidang
pariwisata.
Pariwisata sudah menjadi suatu indus-

208

he tourism sector is one of the sectors of development, which is closely


related to other sectors because the
development of the tourism sector is
highly dependent on the developments
that take place in other sectors, particularly the development of structure and
infrastructure such as roads, telecommunications and financial networks, and
so forth.
Tourism will become a very prospective industry in line with advances in
technology and the increasing level of
social welfare. Advances in information technology play an important role
in promoting tourism in a given region.
Developments in the tourism sector will
lead to a rapid growth in the number of
tourists, both on a national scale and on
an international scale. Access to information technology facilitates tourists
to find the exact tourist spots that they
want to visit.
The concept of sustainable tourism is
still experiencing many fundamental
problems as there are still lingering
questions about the intent of the concept
of sustainable tourism itself, the development of tourism products to make
them uniquely attractive and highly
marketable, and their impacts on local
communities. The root-cause of these
fundamental problems has not been
collectively addressed so it is difficult
to find solutions. Until now, the government is often oblivious of these issues

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

tri, namun sektor ini sangat rentan dengan isu-isu yang bersifat sosial, politik,
ekonomi dan keamanan.Oleh karena itu
campur tangan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan
kepariwisataan.
Keunikan budaya, kehati dan keindahan
alam yang ada menjadikan sektor pariwisata sangat potensial untuk dikembangkan. Keunikan ini dapat menjadi
daya tarik yang sangat kuat, apalagi bila
dapat ditata, dikelola dan dipasarkan
dengan baik. Beberapa bidang dalam
sektor pariwisata yang saat ini sudah
dan perlu terus dikembangkan antara
lain adalah:
1. Wisata Alam
Wisata alam sangat identik dengan
tempat-tempat yang selain memiliki
keindahan alamnya, juga mengandung
kehati. Saat ini dengan konsep back to
nature, wisata alam menjadi jauh lebih
menarik. Di Kalimantan, sangat banyak
tempat-tempat dengan keindahan dan
keaslian alam belum dimanfaatkan secara maksimal. Tambahan lagi,keunikan
yang tidak dimiliki tempat lain akan
sangat memperkuat daya saing wisata
alam.
Dalam hal ini, jika wisata alam dapat
dikembangkan dengan baik dengan peran aktif masyarakat lokal, akan menjadi
insentif yang sangat kuat bagi kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Untuk itu, beberapa langkah yang perlu
dilakukan adalah :
- Melakukan inventarisasi berbagai
potensi wisata alam
Pada dasarnya, pemerintah setempat
sudah memiliki berbagai informasi
dan catatan tentang berbagai potensi
wisata alam yang ada di wilayahnya
masing-masing. Namun dalam
perkembangannya, hal itu masih
perlu dievaluasi kembali. Bisa saja
telah terjadi perubahan tata ruang,

when establishing a policy in the field of


tourism.
Tourism has become an industry but
this sector is very vulnerable to social,
political, economic and security issues.
Therefore, the government intervention is very much needed to sustain its
survival.
Unique culture, biodiversity and natural
beauty make tourism a highly potential
sector to be developed. These unique
features of tourism, if well developed,
managed and marketed, may be a very
strong appeal for the sector. Some
sub-sectors of tourism that are already
in existence and should continue to be
developed include, among others, the
following:
1. Nature-based tourism
Nature-based tourism is synonymous
with places of great natural beauty with
biodiversity as well. Nowadays, with the
concept of back to nature keeps coming
back, nature-based tourism becomes
much more interesting. In Kalimantan,
there are very many places of natural
beauty and authenticity that have not
been fully utilized. Moreover, the uniqueness of the place that no other places
have would greatly reinforce the competitiveness of nature-based tourism
attractions. If nature-based tourism can
be well developed with active participation of local communities, this will be a
very strong incentive for the preservation of the environment in a sustainable
manner. To that end, some of the steps
that need to be done are:
- Conduct an inventory of various
nature-based tourism potentials
Basically, each local government already has a wide range of information
and notes about the various potential
natural attractions that can be found
in their respective region. But in the
course of their development, they still

209

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

kerusakan lingkungan, atau hal-hal


lain yang menyebabkan lokasi tersebut kehilangan daya tariknya.
- Membuat cetak biru perencanaan
wisata alam
Langkah selanjutnya adalah membuat
cetak biru perencanaan dan pengembangan wisata alam yang sebaiknya
sampai pemenuhan kebutuhan sarana
dan prasarana serta penyusunan berbagai paket wisata yang mampu mengakomodasi seluruh potensi yang ada
di obyek tersebut. Namun mengingat
keterbatasan anggaran, pemerintah
perlu menentukan skala prioritas
obyek mana yang akan dikembangkan
lebih dulu. Selain itu pemerintah juga
dapat merancang berbagai kemudahan dan insentif khusus sehingga
sektor swasta tertarik untuk turut
mengembangkannya, khususnya
dalam penyediaan sarana dan prasarana wisata. Pada tahap ini, keterlibatan masyarakat lokal secara aktif
dalam seluruh proses pengembangan
sebaiknya sudah harus dilakukan.
Adalah penting untuk menentukan suatu
objek wisata alam apakah akan dikembangkan menjadi objek wisata massal
(mass tourism) atau wisata dengan den-

210

Oktavianus / Photovoices Intl-WWF/HoB

need to be re-evaluated. It is not unlikely that changes in a tourist areas


spatial layout plan, environmental
damage, or other things may have occurred in the are may cause them to
lose their appeal.
- Create a blueprint for nature-based
tourism planning
The next step is to create a blueprint
for planning and development of natural attractions which should be coupled with efforts to meet the needs
for structure and infrastructure and
the preparation of a variety of tour
packages that are able to accommodate all the potentials that are found

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

gan minat khusus. Hal ini terkait dengan


saran prasarana yang akan dibangun
untuk menunjang wisata alam tersebut.
Wisata massal sangat memerlukan
infrastruktur yang bagus dan mudah
dicapai dan sarana pendukung seperti
perhotelan dan sistem transportasi yang
baik. Sebaliknya wisata dengan minat
khusus faktor infrastruktur dan sarana
pendukung umumnya tidak menjadi faktor utama karena keaslian dan kesulitan
assesibilitas menjadi daya tarik sendiri.
Wisata minat khusus ini lebih ramah
lingkungan karena perubahan dari keaslian daerah wisata hanya sedikit dilakukan, akan tetapi pertumbuhan wisata
seperti ini tidak tinggi dan keterlibatan
peran masyarakat juga tidak tumbuh
cepat.
2. Wisata Budaya
Potensi wisata budaya di kawasan
HoB sangat besar. Budaya masyarakat
pedalaman Kalimantan sampai saat ini
masih banyak misteri yang belum diketahui. Budaya etnis dayak, tidung, banjar
dan melayu yang tumbuh berkembang
di wilayah ini merupakan objek wisata
yang dapat dikembangkan oleh pemerintah daerah masing-masing provinsi
dan kabupaten/kota. Selain itu produkproduk budaya masyarakat pedalaman
Kalimantan seperti minatur rumah adat,
alat berburu, pakaian dan manik-manik
asessoris masyarakat adalah potensi
ekonomi masyarakat yang dapat terus
dikembangkan. Jika ketergantungan
masyarakat akan sumber daya alam
sekitarnya masih bisa dibuktikan masih
tinggi maka diharapkan masyarakat
akan semakin kuat untuk menjaga kelestariannya.

in the tourist attractions. Should


there be budget constraints, however,
the government needs to determine
and set priorities, according to which
the attractions will be developed. In
addition, the government can also
design a variety of convenience and
special incentive to the private sector
interested to participate in developing the attractions, especially in the
provision of tourism facilities and
infrastructure. At this stage, local
communities should already be actively involved in the whole process of
development.
It is important to determine whether a
natural tourist attraction will be developed into a special-interest tourist
attraction or intended for mass tourism
because this would correspond to the
structure and infrastructure to be built
to support the natural attractions. Mass
tourism requires good and accessible
infrastructure and supporting facilities
such as hotels and a good transport
system. On the other hand, the availability of supporting infrastructure and
hospitality facilities are usually not a
major factor in special-interest tourism
because authenticity and accessibility
difficulty become an attraction in itself.
Special-interest tourism is more environmentally friendly as it would only
require slight changes to the authenticity of the [site of cultural heritage being
offered as a] tourist attraction but the
growth of such tourism is usually rather
slow and the role and involvement of
the community usually do not increase
much either.
2. Cultural tourism
There is a great potential of cultural
tourism in the Heart of Borneo. There
is still much mystery that remains
unknown in the culture of the peoples
who live in the interior of Kalimantan.
Dayak, Tidung, Banjar and Melayu
ethnic cultures that have grown and
developed in this region are sources of

211

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

WWF-Indonesia /

Berikut beberapa contoh produk budaya masyarakat di wilayah HoB yang


dapat dikembangkan menjadi objek
wisata budaya dengan melibatkan peran
masyarakat adat setempat.
1. Rumah Betang dan dan Lamin (rumah
panjang).
2. Seni budaya tradisional seperti tari
ritual kepercayaan.
3. Berbagai produk kerajinan seperti
ukiran kayu, anyaman dan batu perhiasan.

tourist attraction that can be developed


by the governments of each province,
district and city. In addition, the cultural
products of the peoples who live in the
interior of Kalimantan such as miniature
customary houses, hunting tools, clothing, beads and accessories represent
the economic potential of indigenous
communities that can be continuously
developed. If it can still be proven that
local people/ communities are still highly dependent on the natural resources
in their surroundings, it is expected that
they will really strive hard to maintain
the sustainability of such resources.
The following are some examples of
cultural products of the people in the
Heart of Borneo that can be developed
into cultural tourism objects by involving
local indigenous people.
1. Betang and Lamin houses (Dayak long
house).
2. Traditional art and culture such as
ritual dances
3. Handicraft products such as wood
carvings, rattan plaited products (rattan basketwork) and stone jewelry.

212

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

213

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

VIII 
Penutup
Closing Notes

engembangan ekonomi berbasis ekonomi hijau di wilayah HoB


merupakan suatu keniscayaan. Hal ini
selain untuk mempertahankan kawasan
HoB sebagai kawasan konservasi,
pengembangan ekonomi hijau juga
merupakan cara menciptakan pertumbuhan ekonomi baru yang lebih ramah
lingkungan berbasis rendah karbon dan
kekayaan kehati. Pembangunan ekonomi di wilayah HoB yang mengandalkan
eksplotasi sumber daya alam hanya bersifat myopic (jangka pendek) dan akan
menimbulkan biaya lingkungan dan
sosial yang cukup besar di masa mendatang. Ekonomi hijau di HoB juga merupakan strategi pertumbuhan ekonomi
yang perlu dikembangkan sesuai dengan
paradigma pembangunan berkelanjutan
yang memperhatikan aspek lingkungandan sosial secara inklusif. Keberhasilan
pembangunan di kawasan HoB dengan
prinsip-prinsip ekonomi hijau akan
dapat menjadi contoh bagi kawasan lain
yang mempunyai basis sumber daya
alam sama, dimana kawasan hutan berpotensi sebagai sumber lahan, produksi
produk-produk hutan dan pertambangan dibawahnya, merupakan potensi
ekonomi yang harus dimanfaatkan.
Beberapa usulan program dan pengembangan ekonomi hijau di wilayah HoB
telah dikembangkan secara rinci pada
dokumen ini, namun demikian perlu
dicatat bahwa pengembangan ini sulit

214

reen economy-based economic


development in the Heart of Borneo
is a necessity. Green economy development is not only necessary to maintain
the Heart of Borneo as a conservation area. It is also a way of creating
new economic growths that are more
environmentally friendly based on low
carbon measures and the wealth of
biodiversity.
Economic development that relies on
the exploitation of natural resources in
the Heart of Borneo will only last for a
short period of time and would give rise
to high environmental and social costs in
the future.
Green economy in the Heart of Borneo
is also an economic growth strategy
that needs to be developed in accordance with the sustainable development
paradigm that takes into account social
and environmental aspects inclusively.
The success of development in the Heart
of Borneo with the principles of green
economy will serve as an example for
other regions that have the same base of
natural resources, whose forest areas,
which have the potential to be a source
of land for the production of forest products and mines underneath, constitute
an economic potential that should be
utilized.
Some of the proposed programs for
green economy development in the

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

dilakukan tanpa ada dukungan kebijakan, baik dari pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah. Beberapa catatan
yang perlu mendapat perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya selain yang telah diuraikan di atas
adalah :
1. Kawasan HoB adalah kawasan penting dan strategis nasional dan internasional. Oleh karena itu, pengelolaan HoB memerlukan payung hukum
yang tinggi, setidaknya dalam bentuk
Peraturan Presiden atau Keputusan
Presiden, agar proses perencanaan
dan implementasi pembangunan di
kawasan ini berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan yang mengedepankan
konservasi.
2. Perencanaan pembangunan di kawasan HoB dengan prinsip-prinsip
ekonomi hijau perlu secara eksplisit
tertuang dalam RPJMN 2015-2019,
sebagai rujukan penting bagi pemerintah provinsi dan pemerintah daerah di Kalimantan, utamanya yang
berhubungan dengan HoB, dalam
membuat perencanaan dan strategi
implementasi ekonomi hijau.
3. Strategi implementasi ekonomi hijau
sebenarnya telah tertuang dalam
Rancangan Peraturan Pemerintah
(RPP) Instrumen Ekonomi sebagai
amanat pelaksanaan Undang-Undang
No 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. RPP ini
meliputi beberapa instrumen penting
seperti pembayaran jasa lingkungan, pajak lingkungan, instrumen
perencanaan dan pendanaan dan
lain-lain sebagai landasan kebijakan
dan operasionalisasi implementasi
ekonomi hijau di daerah, khususnya
terkait dengan pengembangan sumber daya alam yang bersifat lintas
kabupaten dan provinsi. Pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota perlu
senantiasa mengembangkan dan
merumuskan peraturan perundangan
di tingkat daerah, baik dalam bentuk

Heart of Borneo have been developed


in detail in this document. However, it
should be noted that it would be hard to
implement the development programs
without policy support, both from the
national government and sub-national
governments. Some of the concerns that
need the attention of the government
and other stakeholders in addition to
those described above are:
1. The Heart of Borneo is a region of
strategic importance nationally and
internationally. Therefore, Heart
of Borneo management requires a
superlative legal umbrella, at least
in the form of a Presidential Regulation or Decision, so that the process
of planning and implementation of
development in this region runs in
accordance with the principles of sustainable development that promote
conservation.
2. Development planning in the Heart of
Borneo with green economy principles needs to be explicitly stated in
the National Medium Term Development Plan (RPJMN) for the periods
2015-2019, as an essential reference
for the provincial government and
district/ city governments in Kalimantan, particularly in relation to the
Heart of Borneo, in the planning and
implementation of green economy
strategies.
3. The implementation strategy of green
economy has actually been stated
in the Draft Government Regulation
(RPP) on Economic Instruments as
mandated for the implementation of
Law No. 32 of 2009 on Environmental
Management. This draft government
regulation includes several important instruments such as payment
for environmental services, environmental taxes, planning and financing
instruments and others as the bases
of green economy implementation
policies and operations in the region,
particularly in relation to the development of natural resources across dis-

215

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

Perda, maupun Pergub dan Peraturan


Bupati/Walikota, tentang instrumen
ekonomi hijau seperti pembayaran
jasa lingkungan, strategi insentif dan
disinsentif pengembangan kegiatan
ekonomi berbasis ekonomi hijau.
4. Sinkronisasi dan sinergi kebijakan nasional terkait dengan MP3EI dengan
perencanaan ekonomi hijau di wilayah
HoB sangat diperlukan, untuk mengurangi potensi tumpang tindih peruntukan kegiatan perekonomian di wilayah
HoB. Ketidakjelasan delineasi wilayah
peruntukan ini tidak hanya akan
memicu konflik antar sektor, tapi
juga konflik sosial khususnya terkait
dengan wilayah adat dan peruntukan
lainnya. Peran kelembagaan sangat
penting dalam mendukung jalannya ekonomi hijau di kawasan HoB.
Kelembagaan yang kuat mengurangi
biaya transaksi dan dapat mengakselerasi pengembangan ekonomi hijau
di daerah. Demikian juga keterlibatan
masyarakat sekaligus lembaga adat
di daerah sangat penting dalam mendukung implementasi ekonomi hijau
di wilayah HoB.
5. Penerapan Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS) sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No
32 tahun 2009 dan kaitannya dengan
tata ruang perlu mendapat perhatian
serius dari pemerintah daerah, khususnya yang terkait dengan peruntukan kawasan konservasi dan ekonomi
di wilayah HoB.
6. Rencana Tata Ruang Kalimantan
telah ditetapkan melalui Peraturan
Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun
2012 seharusnya membuat batasbatas wilayah HoB tidak virtual lagi.
Dengan keluarnya Perpres tersebut
diharapkan kebijakan-kebijakan yang
berkaitan dengan peruntukan dan
perubahan ruang dapat dilakukan
melalui sinkronisasi sesuai dengan
peraturan perundangan yang ada.
Beberapa daerah telah mengembangkan skema regulasi yang dapat

216

tricts and provinces. The provincial,


district and city governments need
to continue to develop and formulate
laws and regulations at regional level,
either in the form of local government
regulation, gubernatorial regulation,
district chief and mayor regulation, on
green economic instruments such as
payment for environmental services,
incentive and disincentive strategies
for the development of green economy based economic activities.
4. Synchronization and synergy of national policies relating to MP3EI with
green economy planning in the Heart
of Borneo is very much needed to
reduce the potential for overlapping
economic activities designations in
the Heart of Borneo. The unclear delineation of designated areas will not
only lead to conflict between sectors,
but also social conflicts, especially
when related to indigenous territories
and other designations. Institutional
role is very important in supporting
the course of green economy implementation in the Heart of Borneo. Strong institutional framework
reduces transaction costs and can
accelerate the development of green
economy in the region. Similarly, the
involvement of indigenous people
and institutions in the region is very
important in supporting the implementation of green economy in Heart
of Borneo.
5. The Implementation of the Strategic
Environmental Assessment (SEA) as
mandated by Law No. 32 of 2009 and
its relation to spatial plans needs serious attention from the local government, particularly with regard to the
designation of conservation and economic areas in the Heart of Borneo.
6. Kalimantans Spatial Layout Plan
that has been established through
Presidential Regulation No. 3 of 2012
should make the regional boundaries
of the Heart of Borneo not virtual anymore. With the presidential regula-

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

dimanfaatkan untuk mengembangkan


ekonomi hijau di wilayah HoB. Sinergi
beberapa skema regulasi di daerah
dengan Rencana Aksi Pembangunan
di HoB, Implementasi Pembangunan Ekonomi Hijau di kawasan HoB,
Strategi Implementasi MP3EI, program yang berkaitan dengan REDD+
serta program lain yang diinisiasi
lembaga internasional.
7. Di tingkat regional, dampak dari
pemekaran wilayah dan pemekaran
daerah baru di Kalimantan perlu
diantisipasi secara baik. Pengembangan wilayah baru yang memiliki
sumber daya mineral yang cukup
tinggi akan menjadi tantangan baru
dalam pengembangan ekonomi hijau
di wilayah HoB. Oleh karenanya sinergi sedini mungkin terkait kebijakan di
provinsi baru tersebut harus dilakukan sebaik mungkin. Demikian pula,
karakteristik wilayah perbatasan
perlu ditangani secara khusus, untuk
menjamin kondusif yang terkait dengan kegiatan ekonomi di wilayah perbatasan. Selama ini produk Indonesia
sulit masuk ke wilayah Malaysia,
namun sebaliknya produk Malaysia
sangat mudah masuk ke Indonesia.
Dalam pengembangan ekonomi hijau
yang memerlukan penetrasi pasar,
fenomena ketidakseimbangan pasar
dapat saja mempengaruhi insentif masyarakat dan pelaku usaha
yang berpengaruh pada perjalanan
pengembangan ekonomi hijau di
wilayah HoB.
8. Indikator kinerja pembangunan di
pusat dan di daerah khususnya di
wilayah HoB perlu memasukkan aspek pengelolaan lingkungan sebagai
indikator keberhasilan dalam pembangunan. Provinsi dan kabupaten/
kota di Indonesia, khususnya di Kalimantan tidak sekedar berorientasi
meningkatkan angka pertumbuhan
ekonomi tinggi, tapi juga menjadikan
keberlanjutan pembangunan dan
konservasi lingkungan sebagai indi-

tion, it is expected that policies relating to spatial designation and changes


can be done through synchronization
in accordance with the existing laws
and regulations. Some provinces/
districts have developed a regulatory scheme that can be used to
develop green economy in the Heart
of Borneo. Synergy should be created
between some regulatory schemes in
the districts/ provinces and the Heart
of Borneo Development Action Plan,
the Implementation of Green Economy
Development in the Heart of Borneo,
the MP3EI Implementation Strategy,
programs related to REDD+ and other
programs initiated by international
agencies.
7. At the regional level, the impacts of
the creation of a new administrative region (a new province) in Kalimantan should be well anticipated.
The development of a newly created
administrative region that has quite
abundant mineral resources will be a
new challenge in the development of
green economy in the Heart of Borneo. Therefore, best effort should be
made as early as possible to create
synergy with the policies in the new
province. Likewise, effort needs to be
made to specifically address the characteristics of border areas to ensure
that there is conducive environment
for cross-border economic activities.
So far, it is difficult for Indonesian
products to enter Malaysian territory.
By contrast, it is very easy for Malaysian products to enter Indonesian
territory. In the development of green
economy that requires market penetration, market inequality may affect
the incentive for communities and
businesses to do business, which, in
turn, would affect the course of green
economic development in the Heart of
Borneo.
8. Development performance indicators
at national and sub-national levels,
especially in the Heart of Borneo need

217

Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung Kalimantan (Heart of Borneo / HoB) Melalui Pendekatan Ekonomi Hijau

kator kinerja pembangunan di daerah.


Pengembangan indikator tersebut di
atas dapat dijadikan Indikator Kinerja
Utama (KPI) bagi kepala daerah atau
aparat dibawahnya dalam melaksanakan tugas pemerintahan. Dengan
demikian, ada akuntabilitas terkait
dengan kebijakan yang diterapkan di
wilayah HoB tersebut.
9. Terakhir, Dokumen Strategi Implementasi Pembangunan di Jantung
Kalimantan (Heart of Borneo/HoB)
melalui Pendekatan Ekonomi Hijau
perlu didisiminasi dan disosialisasi
secara intensif, khususnya untuk daerah-daerah di kawasan HoB. Langkah
ini diperlukan untuk memberikan
ruang adaptasi dan penyesuaian
perencanaan pembangunan sesuai
dengan kendala spesifik di daerah.
Di sinilah strategi kemitraan dengan
masyarakat lokal dalam implementasi dan pengawalan ekonomi hijau
di wilayah HoB ini amat diperlukan.
Tidak ada dokumen yang sempurna.
Dokumen ini pun masih perlu memperoleh masukan dari berbagai
sektor dan pemangku kepentingan di
pusat dan di daerah untuk penyempurnaannya di masa mendatang.

218

to incorporate aspects of environmental management as an indicator


of success in development. Provinces
and districts / cities in Indonesia,
especially the ones in Kalimantan, are
not only oriented to high economic
growth but also make sustainable
development and environmental conservation as a performance indicator
of development in their regions. The
development indicators can be used
as Key Performance Indicators (KPIs)
for the heads of the regions or their
officials in carrying out their government duties. Thus, there is accountability associated with the policies
implemented in the Heart of Borneo.
9. Finally, the document titled Implementation Strategies for the Development in the Heart of Borneo through
Green Economy Approach needs to
be disseminated and socialized intensively, especially for implementation
in areas within the Heart of Borneo.
This step is necessary to provide
space for the development planning to
be adaptated and adjusted in accordance with the specific issues in the
region. This is where the strategy of
partnerships with local communities
in the implementation and oversight
of green economy in the Heart of Borneo is sorely needed. There is no perfect document. This document, too,
still need inputs from a wide range of
sectors and stakeholders at national,
provincial, district and city levels for
its future improvement.

Development Implementation Strategy in The Heart of Borneo (Hob) Through Green Economy Approach

DAFTAR PUSTAKA
BIBLIOGRAPHY

Abrams, B. A. and Lewis, K. A. 1995. Cultural and institutional determinants of


economic growth: A cross-section analysis. Public Choice, 83(3/4):273289.
Acharya, K. Top Leaders See the Green in REDD+ - Para Pemimpin Papan Atas
Melihat Jalan Keluar pada REDD+, The Jakarta Post.
Agnani, B., Gutirrez, M.-J., and Iza, A. 2005. Growth in overlapping generation
economies with non-renewable resources. Journal of Environmental Economics and
Management, 50(2):387 407.
Anonimous, 2012. Statistik Kehutanan Indonesia 2011. Kementerian Kehutanan. Jakarta.
Anonimous, 2012. Kalimantan Barat Dalam Angka 2011. BPS Provinsi Kalimantan Barat.
Anonimous. 2012. Kalimantan Tengah Dalam Angka 2011. BPS Provinsi Kalimantan Tengah.
Bappeda-BPS Kaltim, 2012. Kalimantan Timur dalam Angka 2011.
Barro, R. J. 2001. Human capital and growth. The American Economic Review, 91(2):1217.
Papers and Proceedings of the Hundred Thirteenth Annual Meeting of the
American Economic Association.
Barro, R. J. and McCleary, R.M. 2003. Religion and economic growth across countries.
American Sociological Review, 68(5):760781.
Beckmann, M. J. 1975. The limits to growth in a neoclassical world. American Economic
Review, 65(4):69599.
Cato, M. S. 2009. Green Economics: An Introduction to Theory, Policy and Practice. Earthscan,
London.
Chappel, Karen. 2008. Defining the Green Economy: A Primer on Green Economic
Development. The Center of Community Innovation at UC-Berkeley. http://
communityinnovation.berkeley.edu
Domar, E. 1946. Capital expansion, rate of growth and employment. Econometrica,
14(2):137 147.
England, R. W. 2000. Natural capital and the theory of economic growth. Ecological
Economics, 34(3):425 431.
Elizabeth, I. 2003, Peran Serta Media Dalam Rangka Pengelolaan Lingkungan Hidup (Studi
Kasus Medan), http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1555/1/04007759.
pdf, Diakses tanggal 27 September 2012.

219

Fauzi, A. 2009. Rethinking Pembangunan Ekonomi dan Sumber Daya Alam Indonesia. Orange
Book, IPB Press, Bogor.
Fauzi, A. 2012. Greening MP3EI. Bahan presentasi Greening MP3EI, 14 Desember 2012.
Frings, M, Peran Indonesia dalam Kebijakan Iklim Internasional Insentif Finansial untuk
Melindungi Kelangsungan Hutan Apakah Ini Model Yang Efektif? Diakses pada Oktober
2012, http://wwf.de/themen/kampagnen/waelder-indonesiens/rettungsplan/
redd
Gogarty, D & Rondonuwu, O. Indonesia Chooses Climate Pact Pilot ProvWince
Indonesia Memilih Provinsi Percontohan Pakta Iklim, Reuters, Accessed on
30/12/2010, http://reuters.com/article/2010/12/30/us-indonesia-climate
Gowdy, J. M. andMcDaniel, C. N. 1995. One world, one experiment: addressing the
biodiversity economics conflict. Ecological Economics, 15(3):181 192.
Harrod, R. F. 1939. An essay in dynamic theory. The Economic Journal, 49(193):1433.
Inglehart, R. and Baker,W. E. 2000. Modernization, cultural change, and the
persistence of traditional values. American Sociological Review, 65:1951.
Iskandar, J. (2009). Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Bandung: Program
Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Padjadjaran.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2012. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2011.
Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Jakarta.
Klute, M. 2010. Die Geheimspracheder Klima PolitikerBahasa Rahasia Politikus
Iklim, Suara, 3, p. 20-22.
Kuncoro, Iman. 1983. A Studi of the Forest Products Industries in East Kalimantan.
Unpublished Thesis. Washington State University. Pullman. USA
Landes, D. S. 1999. The Wealth and Poverty of Nations: Why Some Are So Rich and Some So Poor.
Norton, New York.
Leitmann, et al. 2009. Leitmann, J., et al., 2009. Investing in a More Sustainable Indonesia:
Country

Environmental Analysis. CEA Series, East Asia and Pacific Region, World Bank,
Washington, DC
Lian, B. and Oneal, J. R. 1997. Cultural diversity and economic development: A crossnational study of 98 countries, 1960-1985. Economic Development and Cultural Change,
46(1):6177.
Lucas Jr., R. E. 1990. Why doesnt capital flow from rich to poor countries? American
Economic Review, 80(2):9296.
Mankiw, N. G., Romer, D., and Weil, D. N. 1992. A contribution to the empirics of
economic growth. Quarterly Journal of Economics, 107(2):407438.

220

Neilson, Fn. 3; FidelisE. Satriastanti, Indonesia Sees Small Victories At Cancn Talks
Indonesia Memperoleh Kemenangan-Kemenangan Kecil di Pertemuan di
Cancn, The Jakarta Globe, Accessed on 1112/12/2010.
Republik Indonesia, 1992, Undang-Undang No. 7 Tentang Perbankan.
Republik Indonesia, 1992, Undang-Undang No. 32 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.

Republik Indonesia, 1998, Undang-Undang No. 7 Tentang Perbankan.


Republik Indonesia, 2005, Peraturan Bank Indonesia No.7/2/PBI/2005 Tentang Penilaian
Kualitas Aktiva Bank Umum.

Republik Indonesia, 2005, Surat Edaran Bank Indonesia No. 7/3/DPNP tanggal 31 Januari 2005
Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum.

Smith, F. 1996. Biological diversity, ecosystem stability and economic development.


Ecological Economics, 16:191203.
Soekotjo. 2009. Teknik Silvikultur Intensif (SILIN). Gadjah Mada Univ. Press. Jogya.
Solow, R. M. 1956. A contribution to the theory of economic growth. The Quarterly Journal
of Economics, 70(1):6594.
Stiglitz, J. E. 1974. Growthwith exhaustible natural resources: Efficient and optimal
growth paths. Review of Economic Studies, 41:123138. Symposium on the
Economics of Exhaustible Resources.
Stern, N., 2006. Stern Review on the Economics of Climate Change, Bab 25 (Reversing
Emissions from Land Use ChangeMembalikkan Emisi dari Perubahan
Penggunaan Lahan), p. 537-538, London.
Sugiyanto, C. 2013. Presentasi Seminar Implementasi Kebijakan ISPO di Kawasan Heart
of Borneo, HoB, Jakarta 27 Maret 2013, Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian RI, Deputi Koordinasi Bidang Pangan dan Sumberdaya Hayati
Sukada, Sony dkk.( 2007). CSR for Better Life : Indonesian Context : Membumikan Bisnis
Berkelanjutan Memahami Konsep & Praktik Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Jakarta :
Indonesia Business Links (IBL).
Sumargo, S.et al., 2011. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Periode Tahun 2000-2009.
Halaman 30
Suntana, Asep; Farid Januardi; M. Nurul Iman; Soleh Suandi; Wahyu F. Rifa; Yudi
Iskandarsyah. (Eds). 2001. Kriteria Indikator Verifier dan Skala Intensitas Pengelolaan
Hutan Alam Produksi Lestari (PHAPL). Lembaga Ekolabel Indoneisa. Bogor.
TEEB. 2011. The Economics of Ecosystems and Biodiversity in National and International Policy
Making. Edited by Patrick ten Brink. Earthscan, London and Washington.
United Nations Environment Programme (UNEP), 2009, Green economy, hhtp://www.
unep.org/greeneconomy, Diakses 17 Oktober 2012.

221

United Nations Environment Programme (UNEP). 2011. Towards a Green Economy: Pathway
to Sustainable Development and Poverty Eradication. A Synthesis for Policy Makers. UNEP.
France
Van Paddenburg, A., Bassi, A., Buter, E., Cosslett C. & Dean, A. 2012. Heart of Borneo:
Investing in Nature for a Green Economy. WWF HoB Global Initiative, Jakarta.
WWF Jerman, Politische Manahmen: REDD. Industrielnder finanzierenStopp der tropischen
Entwaldung, um Emissionenzuverringern Tindakan Politis: REDD.Negara Industri
Membiayai Penghentian Deforestasi Hutan Tropis, Guna Mengurangi Emisi,
http://wwf.de/themen/kampagnen/waelder-indonesiens/rettungsplan/redd,
accessed in October 2012
Yang Termasuk Negara-negara Percontohan REDD adalah Bolivia, Republik
Demokrasi Kongo, Indonesia, Panama, Papua Nugini, Paraguay, Zambia,
Tanzania dan Vietnam. Di bulan Oktober 2010 Sulawesi Tengah terpilih menjadi
provinsi percontohan REDD Indonesia. Bdk. UN-REDD laudsC.Sulawesis Active
Support for ForestsREDD-PBB memuji dukungan aktif Sulawesi Tengah untuk
hutan, The Jakarta Post, Accessed on 22/01/2011,http://thejakartapost.com.

222

Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) Heart of Borneo


Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Sumber Daya Hayati
Asisten Deputi Kehutanan
Jln. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta 10710
Tel. +62 21 3251857 Fax. +62 21 3521853
Sekretariat Pokjanas Heart of Borneo
Direktorat Konservasi Kawasan dan Bina Hutan Lindung, Ditjen PHKA
Kementerian Kehutanan Republik Indonesia Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lt.7
Jl. Gatot Subroto - Senayan, Jakarta 10270, Indonesia, Tel/Fax: +62 21 5720 229
www.heartofborneo.or.id