Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makanan sangat penting untuk mahkluk hidup karena dengan adanya
makanan maka makhluk hidup dapat makan dan berkembang, dengan
berkembang maka makhluk hidup akan mengalami proses pertumbuhan dan dapat
melangsungkan hidup. Apabila makanan tersebut baik, maka pertumbuhannya
pun akan cepat begitu pula sebaliknya.
Ikan merupakan contoh salah satu makhluk hidup yang membutuhkan makan
untuk tumbuh. Makanan adalah organisme, bahan, maupun zat yang
dimanfaatkan ikan untuk menunjang kehidupan organ tubuhnya. Kebiasaan
makan adalah tingkah laku ikan saat mengambil dan mencari makanan. Ikan yang
mampu menyesuaikan diri ditinjau dari segi makanan adalah jenis ikan yang
mampu memanfaatkan makanan yang tersedia dan bersifat generalis dalam
memanfaatkan makanan alami, sehingga ikan tersebut mampu menyesuaikan diri
terhadap fluktuasi kesediaan makanan alami.
Pengelompokan ikan berdasarkan kepada bermacam-macam makanan yang
dimakan, ikan dapat dibagi menjadi euryphagic yaitu ikan pemakan bermacammacam makanan, stenophagic yaitu ikan pemakan makanan yang macamnya
sedikit dan monophagic yaitu ikan yang makanannya terdiri dari atas satu macam
makanan saja.
TKG (tingkat kematangan gonad) menunjukkan suatu tingkatan kematangan
sexual ikan. Sebagian besar hasil metabolisme digunakan selama fase
perkembangkan gonad. Umumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina
sebesar 10-25% dari berat tubuh, sedangkan untuk ikan jantan berkisar antara 510%. Dalam mencapat kematangan gonad, dapat dibagi daam beberapa tahapan.
Secara umum tahap tersebut adalah akan memijah, baru memijah atau sudah
selesai memijah. Ukuran ikan saat pertama kali matang gonad (length at first
maturity, Lm) bergantung pada pertumbuhan ikan itu sendiri dan faktor
lingkungan. Pembagian tahap kematangan gonad dilakukan dalam dua cara, yakni
1

analisis laboratorium dan pengamatan visual. Cara yang umum digunakan ialah
metode pengamatan visual berdasarkan ukuran & penampakan gonad, sebagi
catatan metode ini bersifat subyektif.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk megetahui dan mengamati
bagaimana kebiasaan makan ikan (food habits) serta untuk mengetahui pakan
yang dimakan oleh jenis ikan Mas dan mengetahui tingkat kematangan gonad,
indeks kematangan gonad, dan fekunditas dari ikan Mas.
1.3 Prosedur Kerja
Prosedur yang dilakukan dalam praktikum adalah :
1
Menimbang berat ikan Mas
2
Memingsankan ikan dengan menusukkan jarum penusuk ke bagian antara
3
4
5
6

mata bertujuan agar ikan tidak bergerak saat diteliti


Mengukur panjang standard dan panjang total ikan
Membelah perut ikan dan mengambil saluran pencernaan ikan
Memisahkan antara usus dan gonad
Timbang gonad dan lihat ciri gonad yang diteliti sudah masuk tahap

7
8

berapa
Hitung IKG berdasarkan data yang sudah ada
Apabila ikan betina,maka meneliti fekunditasnya dengan cara menghitung

9
10
11
12

telur dari beberapa bagian gonad yang dijadikan sampel


Mengeluarkan usus dari perut ikan untuk diteliti isi usus
Keluarkan isi usus (kotoran) ke dalam cawan petri
Mengencerkan kotoran ikan menggunakan air hingga tidak menggumpal
Mengambil sampel kotoran yang telah diencerkan dan diamati ke

13

mikroskop
Catat hasil pengamatan di tabel yang telah disediakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Ikan Mas
Cyprinus carpio Linn., yang umum dikenal sebagai ikan mas merupakan
ikan omnivora bernilai ekonomis penting yang hidup di air tawar yang
pembudidayaannya telah memasyarakat. Ikan ini mampu beradaptasi dari dataran
tinggi sampai dataran rendah. Ikan mas dibudidayakan terutama untuk pangan
manusia dan ada sebagian kecil yang dipelihara sebagai ikan hias. Ada beberapa
ras ikan mas yang terkenal antara lain ras Majalaya, Punten, dan Sinyonya. Di
Indonesia produksi ikan mas menempati urutan tertinggi di antara ikan-ikan
budidaya lainnya.

2.1.1 Ikan Mas (Cyprinus carpio)


Phylum
: Chordata
Sub phylum: Pisces
Class
: Osteichthyes
Sub class : Actinopterygii
Ordo
: Cypriniformes
Family
: Cyprinidae
Genus
: Cyprinus
Spesies
: Cyprinus carpio L.
2.1.2 Taksonomi dan Kekerabatan
Cyprinus merupakan genus dari famili Cyprinidae dan pada
umumnya dikenal sebagai famili Cyprinid. Genus tersebut hanya terdiri
dari satu spesies yang dikenal yaitu Cyprinus carpio. Cyprinid yang lain
misalnya ikan tawes (Puntiun gonionotus), ikan nilem Osteochilus
hasselti), ikan mata merah (P. orphroides), yang juga terkenal
dibudidayakan di Indonesia, di samping merupakan ikan asli yang hidup di
negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Thailand.
2.1.3 Morfologi
Tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak (compressed).
Di bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut. Secara umum, hampir
3

seluruh tubuh ikan mas ditutupi dengan sisik. Hanya sebagian kecil saja
tubuhnya tidak tertutup sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan
digolongkan dalam tipe sisik sikloid. Sirip punggung (dorsal) berukuran
relatif panjang dengan bagian belakang berjari-jari sirip keras dengan jarijari sirip yang ketiga dan keempat terakhirnya bergerigi. Letak permukaan
sirip punggung berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral).
Sirip dubur (anal) yang terakhir bergerigi. Gurat sisi (linea lateralis)
terletak di pertengahan tubuh, melintang dari tutup insang sampai ke ujung
belakang pangkal ekor. Gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri dari
tiga baris yang berbentuk gigi geraham.
2.1.4 Reproduksi
Ikan mas jantan yang berumur sekitar 9 bulan umumnya sudah siap
memijah (matang gonad), sedangkan pada ikan betina kematangan tersebut
dicapai pada umur 12 bulan. Pemijahan terjadi sepanjang tahun, tidak
tergantung musim dan secara alami terjadi pada tengah malam sampai fajar.
Menjelang memijah, induk-induk menunjukkan sifat yang lebih agresif. Di
alam, misalnya di perairan umum, sebelum memijah biasanya ikan mas
akan mencari tempat yang rimbun dengan tanaman air. Substrat (tanaman
air) itu merangsang pemijahan dan digunakan sebagai tempat meletakkan
telur-telurnya yang memiliki daya rekat tinggi. Telur ikan mas berbentuk
bulat, bening, berukuran 1,5 - 1,8 mm dengan berat 0,17 - 0,20 mg.
2.1.5 Penyebaran
Ikan mas asal mulanya dari sungai Danube dan Laut Hitam. Karena
ikan ini tahan terhadap lingkungan, maka dengan cepat mudah menyebar
ke seluruh dunia. Ikan mas yang ada di Indonesia berasal dari Cina dan
Eropa yang kemudian berkembang menjadikan budidaya. Karena
domestikasinya sudah sedemikian lama, kini terdapat ras ras atau strainstrain lokal yang terbentuk secara alami maupun karena campur tangan
manusia.
4

2.2 Pakan dan Cara Makan Ikan


Secara umum kebiasaan makan dan cara makan ikan terdiri atas aspek
tempat makan atau lokasi makan, waktu makan ikan, cara makan ikan, dan jenis
makanan kegemaran ikan. Kedua kebiasaan itu tidak sama antara jenis ikan yang
satu dan jenis ikan yang lainnya.
Secara umum, kebiasaan makan ikan bisa dibagi menjadi beberapa hal seperti
berikut ini :
a. Kebiasaan Makan Ikan Berdasarkan Tempat

Ikan dasar perairan (demersal), yakni ikan jenis ini banyak menghabiskan
aktivitasnya di dasar perairan. Contohnya: lele dumbo dan patin.

Ikan lapisan tengah perairan, yakni ikan yang mencari makanan yang
mengapung di tengah perairan. Ikan jenis ini hanya sewaktu-waktu muncul
ke permukaan air atau berenang di dasar perairan. Ikan mas dan bawal
termasuk kedalam jenis ini.

Ikan permukaan perairan, yakni ikan yang mencari makanan di permukaan


air. Umumnya, ikan jenis ini menghabiskan waktunya lebih lama berada di
lapisan atas perairan. Ikan dengan kebiasaan seperti ini disebut dengan
pelagis atau ikan permukaan. Gurami, nila dan mujair termasuk dalam
kategori ini.

Ikan menempel, yakni ikan pemakan bahan organik yangmenempel pada


subtrat (benda yang terdapat di dalam air), baik yang berada di dalam kolam
air (lapisan tengah) maupun yang berada di dasar perairan. Ikan nilem dan
sapu-sapu termasuk dalam kategori ini.

b. Kebiasaan Makan Ikan Berdasarkan Waktu

Jenis ikan yang aktif mencari makan pada siang hari. Aktivitas makan ikan
ini banyak dilakukan pada siang hari. Pada malam hari, mereka lebih
banyak beristirahat. Contohnya: ikan mas, nila, bawal, dan gurami.

Jenis ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Ikan yang
masuk dalam kategori ini jarang mencari makanan pada siang hari. Jenis
ikan yang aktif mencari makanan pada malam adalah lele dumbo, lele lokal,
dan patin (jambal).

2.3 Tingkat kematangan Gonad


Kematangan gonad adalah tahapan tertentu perkembangan gonad sebelum
dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk
perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan
akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan
berlangsung sampai selesai.
Perkembangan gonad pada ikan menjadi perhatian pada pengamatan
reproduksi ikan. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian
dari reproduksi ikan sebelum terjadinya pemijahan. Sebelum terjadinya
pemijahan, sebagian besar hasil metabolisme dalam tubuh dipergunakan untuk
perkembangan gonad. Pada saat ini gonad semakin bertambah berat diikuti
dengan semakin bertambah besar ukurannya termasuk diameter telurnya. Berat
gonad akan mencapai maksimum pada saat ikan akan berpijah, kemudian berat
gonad akan menurun dengan cepat selama pemijahan berlangsung sampai selesai.
Peningkatan ukuran gonad atau perkembangan ovarium disebabkan oleh
perkembangan stadia oosit, pada saat ini terjadi perubahan morfologi yang
mencirikan tahap stadianya. Pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar
10-25% dari berat tubuh dan pertambahan pada jantan sebesar 5-10%. Pencatatan
perubahan kematangan gonad dapat digunakan untuk mengetahui bilamana ikan
akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah.
Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan dua cara. Yang pertama
cara histologi dilakukan di laboratorium. Yang kedua cara pengamatan morfologi
yang dapat dilakukan di laboratorium dan dapat pula dilakukan di lapangan. Dari
penelitian secara histologi akan diketahui anatomi perkembangan gonad tadi lebih

jelas dan mendetail. Sedangkan hasil pengamatan secara morfologi tidak akan
sedetail cara histologi namun cara morfologi ini banyak dilakukan para peneliti.
Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan
cara morfologi ialah bentuk, ukuran, panjang dan

berat, warna dan

perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Perkembangan gonad ikan betina
lebih banyak diperhatikan dari pada ikan jantan karena perkembangan diameter
telur yang terdapat dalam gonad lebih mudah dilihat dari pada sperma yang
terdapat di dalam testes.
Di bawah ini jenis jenis Tingkat Kematangan Gonad ( TKG ) menurut
Kesteven ( Bagenal dan Braum, 1968 ) :
a. Dara. organ seksual sangat kecil berdekatan dibawah tulang punggung.
Testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai berwarna
abu-abu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa.
b. Dara berkembang. Testes dan ovarium jernih, abu-abu merah.
Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah.
Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar.
c. Perkembangan I. Testes dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna
kemerah-merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira
setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat terlihat seperti serbuk
putih.
d. Perkembangan II. Testes berwarna putih kemerah-merahan. Tidak ada
sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerahmerahan. Telur jelas dapat dibedakan, bentuk bulat telur. Ovarium
mengisi kira-kira dua pertiga ruang bawah.
e. Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testes berwarna putih,
keluar tetasan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat,
beberapa dari padanya jernih dan masak

f. Mijah. Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan ke perut.


Kebanyakan telur berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk
bulat telur tinggal di dalam ovarium
g. Mijah / Salin. Gonad belum kosong sama sekali. Tidak ada telur yang
bulat telur.
h. Salin. Testes dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur
sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.
i. Pulih salin. Testes dan ovarium berwarna jernih, abu-abu sampai
merah.
Menurut

Ronaldson

dan

Hunter, (1987)

dalam

Hendriana,

(2006)

perkembangan gonad atau oogenesis ialah transformasi oogonia menjadi oosit.


Komponen utama oosit berasal dari senyawa vitelogenin berbobot tinggi berasal
dari darah yang disintesis dalam hati. Secara garis besar gonad dibagi menjadi dua
tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad dan tahap pematangan gonad (Lagler et al.,
1977 dalam Khum 1998). Dalam pertumbuhan gonad ini dapat ditentukan ciri-ciri
gonad jantan dan betina secara hihistologis. Gonad betina atau ovarium berbentuk
bulat dan oval. Di dalam lamella terdapat septa sebagai penunjang sitoplasma
lebih tebal dan terdapat beberapa nukleus. Warna gonad kekuningan dan memiliki
ukuran gonad lebih besar dari gonad jantan. Sedangkan gonad jantan didomonasi
jaringan ikat dan terdapat tubulus seminifer. Gonad jantan berukuran lebih kecil
dan menyebar merata serta berwarna lebih putih dari gonad betina (Syandri, 1996
dalam Kham 1998).
2.4 Indeks Kematangan Gonad ( IKG )
Nikolsky (1969) menggunakan tanda utama untuk membedakan
kematangan gonad berdasarkan berat gonad. Secara alamiah hal ini berhubungan
dengan ukuran dan berat tubuh ikan keseluruhannya atau tanpa berat gonad.
Perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh, Nikolsky menamakannya
coeficient kematangan yang dinyatakan dalam persen. Johnson (1971)
8

menamakan perbandingan tersebut ialah index of maturity, namun diantara


banyak peneliti menamakan indeks tadi ialah Gonado somatic Index. Indeks ini
diterima oleh para peneliti reproduksi ikan sebagai salah satu pengukur aktifitas
gonad (Saigal, 1967 : Dennison dan Bulkly, 1972). Brulhet (1974) dan beberapa
peneliti lainnya menamakan indeks yang sama dengan nama Raport Gonosomat
Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad, tingkat
perkembangan ovarium, secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu Indeks
Kematangan Gonad (IKG) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil
perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan dikalikan 100 persen
(Effendie, 1979 dalam Hadiaty, 2000).
IKG = Wg / W x 100%
Wg = berat gonad ; W = berat tubuh ikan
Namun demikian, nilai IKG saja tidak cukup memberikan informasi
karakteristik aktivitas reproduksi. Pengamatan yang diperoleh dari gambaran
histologis dari bentuk oosit dan ukuran oosit dapat memberikan informasi lebih
jelas tentang tingkatan aktivitas reproduksi (Tyler et al., 1991).
Gonado Somatic Index (GSI) akan semakin meningkat nilainya dan akan
mencapai batas maksimum pada saat akan terjadi pemijahan. Pada ikan betina
nilai GSI lebih besar dibandingkan ikan jantan. Johnson (1971) mendapatkan
nilai GSI ikan thread fin berkisar antara 1-25%. Ikan dengan GSI 19% ada yang
sanggup mengeluarkan telurnya. Adakalanya nilai GSI ini dihubungkan dengan
Tingkat Kematangan Gonad (TKG) yang pengamatannya berdasarkan ciri-ciri
morfologi kematangan gonad. Dengan memperbandingkan demikian akan tampak
hubungan antara perkembangan di dalam dan diluar gonad, atau nilai-nilai
morfologi

yang

dikuantitatifkan.

Bergantung

pada

macam

dan

pola

pemijahannya, maka akan didapatkan nilai indeks yang sangat bervariasi pada
setiap saat.
Penghitungan

indeks

kematangan

gonad

selain

menggunakan

perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan, dapat juga dengan
9

mengamati perkembangan garis tengah telur yang dikandungnya hasil dari


pengendapan kuning telur selama proses vitellogenesis. Perkembangan gonad
akan diikuti juga dengan semakin membesarnya pula garis tengah telur yang
62dikandung di dalamnya. Sebaran garis tengah telur pada tiap tingkat
kematangan gonad akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.
Perbandingan lain yang dapat digunakan untuk menentukan nilai indeks
kematangan gonad adalah Gonado Index (GI) oleh Batts (1972) dalam Effendie
(1997) yaitu perbandingan antara berat gonad segar (gram) dengan panjang ikan
(mm), dengan menggunakan rumus :
Gonado Index(GI )=

Wg
x 108
3
L

Harga 108 merupakan suatu faktor agar didapatkan nilai GI mendekati


harga satuan sehingga mudah melihat dan mendeteksi perubahan-perubahan yang
terjadi.
2.5 Fekunditas
Fekunditas merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting
dalam biologi perikanan. Fekunditas ikan telah dipelajari bukan saja merupakan
salah satu aspek dari natural history, tetapi sebenarnya ada hubugannya dengan
studi dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi dan persoalan stok-rekruitmen
(Bagenal, 1978). Dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir
jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan
dalam kelas umur yang bersangkutan.
Definisi tentang fekunditas yang paling dekat dengan kebenarannya
adalah seperti apa yang terdapat pada ikan Salmon (Onchorynchus sp). Ikan ini
selama hidupnya hanya satu kali memijah dan kemudian mati. Semua telur yang
akan dikeluarkan pada waktu pemijahan itulah yang dimaksud dengan fekunditas.
Tetapi karena spesies ikan yang ada itu bermacam-macam dengan sifatnya
masing-masing, maka beberapa peneliti berdasarkan kepada definisi yang umum

10

tadi lebih mengembangkan lagi definisi fekunditas sehubungan dengan aspekaspek yang ditelitinya.
Menurut Bagenal, 1978; Fekunditas : jumlah telur yang matang yang akan
dikeluarkan oleh induk. Menurut Nikolsky, 1969; Fekunditas individu : jumlah
telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan (baik digunakan pada ikan
yang memijah satu tahun sekali).
Menurut Royce, 1972;

Fekunditas total: jumlah telur yang dihasilkan

selama hidup, Fekunditas relatif : jumlah telur per satun berat atau panjang,
Fekunditas relatif dengan satuan berat lebih mendekati kepada kondisi ikan.
Lowe dalam Geking (1975) menyatakan bahwa fekunditas pada ikan
Tilapia sp ialah jumlah anak ikan yang dihasilkan selama masa hidup individu itu.
Hal ini tentu sangat sukar sekali menentuknnya bahkan tidak mungkin.
Sehubungan dengan sifat ikan mujair yang mengerami anak-anaknya di dalam
mulut. Maka Bagenal (1978) mengusulkan istilah fekunditas untuk ikan mujair
sebagai berikut:
a. Ovarian fecundity yaitu jumlah telur matang yang ada dalam ovarium
sebelum dikeluarkan dalam pemijahan.
b. Brooding fecundity yaitu jumlah telur yang sedang dierami di dalam
mulutnya.
Ikan yang termasuk ke dalam golongan vivar yaitu ikan yang melahirkan
anak-anaknya mempunyai tiga macam fekunditas yaitu:
a. Prefertilizer fecundity yaitu jumlah telur di dalam ovarium sebelum terjadi
pembuahan.
b. Fertilizer fecundity yaitu jumlah telur yang dibuahi di dalam ovarium
c. Larval fecundity ialah jumlah telur yang sudah menetas menjadi larva tetapi
belum dikeluarkan.
Menurut Bagenal (1967), untuk ikan-ikan tropik dan sub-tropik, definisi
fekunditas yang paling cocok mengingat kondisinya ialah jumlah telur yang
dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata masa hidupnya.
11

Nikolsky (1969) menyatakan bahwa kapsitas rproduksi dari pemijahan


populasi tertentu untuk mengetahuinya harus menggunakan fekunditas populasi
relatif misalnya fekunditas populasi relatif dari seratus, seribu atau sepuluh ribu
individu dari kelompok umur tertentu. Jumlah ikan dalam tiap-tiap kelas umur
dikalikan fekunditas rata-rata dari umur itu. Hasil yang didapat dari
menjumlahkan semua kelompok umur memberikan fekunditas relatif. Fekunditas
ini dapat berbeda dari tahun ke tahun karena banyak individu yang tidak memijah
tiap-tiap tahun. Apabila dalam satu tahun terdapat individu dalam jumlah banyak
akan menyebabkan fekunditas rendah pada tahun yang lainnya.

12

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Data Pratikum Ikan Mas
Jenis Ikan Mas
: Jantan
Berat ikan
: 174 gram
Panjang total
: 20 cm
Panjang standart
: 18,2 cm
Berat gonad
: 2,58 gram
Tingkat Kematangan Gonad (TKG) Ikan Mas
TKG pada ikan mas yang dipratikumkan termasuk jenis TKG Dara Berkembang
dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Warna pada gonad dari abu kemerahan
2. Gonad pada ikan masukurannya kecil
Indeks Kematangan Gonad (IKG) Ikan Mas
Dengan rumus sbb:
IKG= Berat Gonad X 100%
Berat Tubuh
IKG = 2,58 X 100%
174
IKG = 1,482%

NO

Panjang
(cm)

Berat
(gr)

Jenis
Makanan

1.

20 cm

174

Cyclotella
sp.
Tubivex sp.

Lapang Pandang
I
100

II
100

III

IV
100

VI

Jumlah
VII

VIII

IX
33,333
%

100

100

13

22,222

Cara perhitungan jumlah Lapang pandang pada:


Cyclotella sp.= 100 + 100 + 100 X 100%
9
= 300 X 100%
9
= 33,333%
Tubivex sp. = 100 + 100 X 100%
9
= 200 X 100%
9
= 22,222%
Data kelompok 2
Tabel Analisis Data Hasil Pratikum
No.

I
A.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Daerah
Mata Jaring (Inci)
JenisIkan
PT/B (cm/gr)
JenisPakan

Cyanophyceae
Merismopediasp.
Oscillatoriasp.

C.

Bacillariophyceae
Cyclotellasp.
Diatomasp.

Vi

Oi

Vi.Oi

IP

FITOPLANKTON
Chlorophyceae
Actinastrumsp.
Ankisthrodesmussp
.
Chlorella sp.
Coelastrumsp.
Crucigeniasp.
Kircneriellasp.
Scenedesmussp.
Ulothrixsp.
Volvoxsp.

B.
10
11

12
13

0.00

0.00

0.00

60.00
0.00
0.00

0
0
0
0
0
0
0
0

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0
0

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00
0.00

1
0

33.3
3
0.00

100.0
0
0.00

3333.0
0
0.00

60.00
33.33

60.00
0.00

14

14
15
16
17
18
19

Gyrozigmasp.
Melosirasp.
Naviculasp.
Nitzschiasp.
Synedrasp.
Gomphonemasp.

0
0
0
0
0
0

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

D.
20
21
22

Desmidiaceae
Cosmariumsp.
Closteriumsp.
Staurastrumsp.

0
0
0

0.00
0.00
0.00

E.
23
24

Dinophyceae
Ceratiumsp.
Peridiniumsp.

0
0

0.00
0.00

II
A.
25
26

ZOOPLANKTON
Rotifera
Brachionussp.
Keratellasp.

0
0

0.00
0.00

B.
27
28
29
30

Crutacea
Cladocera
Bosminasp.
Ceriodaphniasp.
Daphnia sp.
Simocephalussp.

0
0
0
0

31

Copepoda
Cyclops sp.

III.

SerasahTumbuha
n

IV

Annelida

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00

0.00

0.00

0.00
0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

22.2
2

100.0
0

2222.0
0

40.00

40.00

32

Tubifex

22.22

V.

Ikan

0.00

0.00

0.00

0.00

VI
33
34

Insecta
Insecta
Chironomussp.

0
0

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00
0.00

15

VIII
VIII

Pelet
Detritus

0
0

Jumlah total

0.00
0.00
55.5
5

55.55

0.00
0.00
200.0
0

0.00
0.00
5555.0
0

0.00
0.00
100.0
0

Tabel Tingkat Trrofik


Jenis
Ikan

Fito
plankton

Mas
NilaiTt
p

60.0

Tumbu
han

Det
ritus

Pelet

KelompokMakanan
Zoo
Larva
plankton
Insecta
Annelida

Tingkat
Trofik
Molusca

Insec
ta

Krusta
cea

Ika
n

2.40

40.0

2.5

2.5

Tabel Luas Relung


Nilem

Pi = qi/Q

Pi^2

0.6

0.36

ZOOPLANKTON

SerasahTumbuhan
Ikan

0
0

0
0

0
0.4
0
0
0
0
0

0
0.16
0
0
0
0
0
0.52

FITOPLANKTON

Krustacea
Annelida
Insecta
Larva Insecta
Molusca
Pelet
Detritus

60.00

40.00

LuasRelung Levin
Bi = 1/ Pi

1.9231
Standarisasi
BA = (B - 1) / (N - 1)

0.2308
16

Grafik

Tingkat Trofik
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0

Tingkat Trofik

17

Luas Relung
Ikan Mas 24
Ikan Mas 23
Ikan Mas 22
Ikan Mas 21
Ikan Mas 20
Ikan Mas 19
Ikan Mas 18
Ikan Mas 17
Ikan Mas 16
Ikan Mas 15
Ikan Mas 14
Luas Relung

Ikan Mas 13
Ikan Mas 12
Ikan Mas 11
Ikan Mas 10
Ikan Mas 9
Ikan Mas 8
Ikan Mas 7
Ikan Mas 6
Ikan Mas 5
Ikan Mas 4
Ikan Mas 3
Ikan Mas 2
Ikan Mas 1
0

0.5

1.5

2.5

3.5

4.5

Data Kelas
Kelompo
k

Pertumbuhan
SL

Panjang (cm)
TL
Panjang

Berat (gram)
Berat
Berat

Jenis
Kelamin

TKG

IKG

Fekunditas

Jenis
Pakan

18

Usus

Badan

41

233

19.9

174

2.58

18.5

22

18.2

20

17

22

38

222

17.5

21

35

20.5

Gonad
8.54%

TT

Omnivora

Mijah
Dara
berkembang

1.48%

TT

Omnivora

2.69

Perkembangan 2

1.21%

TT

Omnivora

201

24.62

Mijah

12.24%

TT

Omnivora

33

197

13.04

Mijah

0.07%

TT

Omnivora

18

21

26

191

3.46

Perkembangan 2

1.81%

TT

Omnivora

15.3

19.5

30

159

14.3

Mijah

8.99%

TT

Omnivora

20.5

23

39

237

20.72

Mijah

8.74%

TT

Omnivora

TT

Omnivora

9
10

18

19.5

33.5

220

Perkembangan 1

0.02%

TT

Omnivora

11

17

21

30

164.5

2.25

Dara

1.36%

TT

Omnivora

12

18

21

30

200

17.4

8.70%

TT

Omnivora

13

22

37.1

200

10.89

5.40%

TT

Omnivora

14

17.3

27

160.4

16.34

15

21.5

34

166

5.36

10%

TT

Omnivora

Bunting
Dara
berkembang

3.23%

TT

Omnivora

16

19

23

39

200

16.55

Bunting

8.28%

TT

Omnivora

17

20.5

23.5

47.5

230.5

2.59

Dara

0.11%

TT

Omnivora

18

19

22

36

185

14.35

Mijah

0.08%

TT

Omnivora

19

17.5

20.5

31

168

34.45

20.50%

TT

Omnivora

19.6

47

239

16.28

Bunting

6.81%

TT

Omnivora

20

21

17.5

18.5

34

153.4

3.37

Dara

2.20%

TT

Omnivora

22

18.5

22.5

37.5

199

2.19

1.10%

TT

Omnivora

23

18

22

34

199

6.22

Dara
Dara
berkembang

3.12%

TT

Omnivora

24

19

21

31

168

4.1

Dara

2.40%

TT

Omnivora

3.2 Pembahasan
Untuk kelompok dua sendiri jenis gonad pada percobaan ikan mas termasuk
jenis gonad dara berkembang dengan memiliki cirri-ciri gonad bewarna abu
kemerahan dan gonadnya berbentuk kecil. Ini menandakan bahwa ikan mas tersebut
belum mimjah atau belum kawin.
Sedangkan dari grafik yang kita lihat dapat kita ketahui bahwasanya tingkart
trofik pada kelompok dua yakni kelompok kami, menjelaskan grafiknya memiliki

19

tingkat grafik yang cukup tinggi. Ini menandakan bahwa ikan mas pada percobaan
kelompok dua menunjukkan memiliki berat biomassa makanan yang banyak. Ini
berhubungan atau berkaitan dengan jenis makanan dan intensitas makanan yang
terdapat dalam usus ikan mas.
Dan juga pada kelompok kami luas relungnya tergolong normal. Ini
menunjukkan cara ikan itu mencari makanan diwilayahnya tergolong sedang saja
tidak memilik tempat pencarian makanan yang luas. Ini berakibat pertumbuhan ikan
mas ini biasa saja. Berbeda dengan luas relung kelompok sepeluh memiliki grafik
yang cukup tinggi dibandingkan dengan ikan mas lainnya. Dapat kita simpulkan
bahwa ikan mas kelompok 10 ketahanan hidupnya lebih baik karena ikan yang luas
relungnya besar maka kesempatannya untuk mendapatkan makanan lebih banyak.

20

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan :

Kebiasaan makan ikan berbeda beda


Ikan Mas merupakan ikan pemakan segala (omnivore) namun cenderung

pemakan tumbuhan (herbivore)


Ikan nilem termasuk ikan yang suka menempel pada substrat,baik yang

berada di kolam maupun yang berada di dasar


Ikan Mas dapat dikategorikan ikan euryphagic atau memakan banyak
macam makanan, dapat terlihat dari makanan yang ikan tersebut makan

pada hasil praktikum


Fase TKG ikan dapat terlihat dari ukuran ikan
Pada fase dara gonad cenderung sangat kecil dan sulit ditemukan.

4.2 Saran
Saran dari kelompok kami adalah :

Praktikan diharapkan mengetahui prosedur kerja terlebih dahulu agar

mempermudah dan mempercepat pengerjaan


Praktikan diharapkan lebih hati hati saat pemingsanan ikan, pembelahan
perut, pengeluaran saluran pencernaan, pengeluaran isi usus, dan

pengenceran isi usus pada cawan petri


Praktikan diharapkan teliti saat melihat isi usus pada mikroskop dan saat
mencari gonad ikan tersebut.

21

DAFTAR PUSTAKA
http://hobiikan.blogspot.com/2009/09/klasifikasi-ikan-mas.html
http://masperfish.wordpress.com/2010/07/17/ikan-mas/
http://argamakmur.wordpress.com/taksonomi-ikan/
http://smk3ae.wordpress.com/2008/07/24/ikan-mas-cyprinus-caprio-l-sebagai-earlywarning-system-pencemaran-lingkungan/
http://andhikaprima.wordpress.com/2010/08/16/tingkat-kematangan-gonad-ikan/
http://pobersonaibaho.wordpress.com/2011/05/11/analisis-tkg-tingkat-kematangangonad-ikan-dan-gonad-somatik-indeks-gsi-ikan/
http://ardiesonata.blogspot.com/2012/03/science_08.html
http://www.iftfishing.com/fishing-guide/pemula/mengenal-kebiasaan-makan-ikan

22

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan
rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga laporan praktikum biologi perikanan yang
berjudul Feeding Periodicity, Tingkat Kematangan Gonad, Indeks Kematangan
Gonad, dan Fekuinditas Ikan Mas dapat diselesaikan dengan baik.
Saya telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal
mungkin. Namun tentunya sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan
kekurangan. Harapan saya, semoga bisa menjadi pelajaran di masa mendatang agar
lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tak lupa ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Dosen Pembimbing atas
bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada saya. Sehingga saya
dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan Insya Allah
sesuai yang saya harapkan. Dan saya ucapkan terimakasih pula kepada rekan-rekan
dan semua pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini.
Mudah-mudahan makalah ini bisa memberikan sumbang pemikiran sekaligus
pengetahuan bagi kita semuanya. Amin.
Jatinangor, 2 April 2012
Penyusun

23

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Tujuan Praktikum.. 2
1.3 Prosedur Kerja... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Ikan Nilem. 4
2.1.1 Klasifikasi Ikan Nilem... 4
2.1.2 Morfologi Ikan Nilem... 4
2.1.3 Habitat dan Penyebaran Ikan Nilem.. 5
2.1.4 Food and Habbit Ikan Nilem..... 5
2.2 Pakan dan Cara Makan Ikan6
2.3 Tingkat Kematangan Gonad.... 8
2.4 Indeks Kematangan Gonad......... 10
2.5 Fekunditas... 12
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Praktikum... 14
3.2 Pembahasan Praktikum... 20
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan.... 22
4.2 Saran.. 22
DAFTAR PUSTAKA23

24

FEEDING PERIODICITY, TINGKAT KEMATANGAN


GONAD, INDEKS KEMATANGAN GONAD, DAN
FEKUNDITAS IKAN MAS
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi nilai mata kuliah
Biologi Perikanan
Disusun oleh :
Eskasatri
Adrio Juliardi P
Satriya Ikhsan N

(230110100006)
(230110100007)
(230110100008)

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2012

25