Anda di halaman 1dari 33

Pengenalan Studi Kelayakan Bisnis

Pengertian Studi Kelayakan Bisnis menurut Kasmir dan Jakfar (2003) adalah suatu
kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha yang akan
dijalankan, untuk menentukan layak atau tidaknya suatu bisnis dijalankan.tujuan utama
dilakukan studi kelayakan bisnis ini tentunya yang akan berdiri bisa berjalan sesuai harapan
baik dalam jangka pendek atau panjang serta untuk mengukur seberapa besar potensi usaha
tersebut baik dalam situasi mendukung maupun situasi yang tidak mendukung.
Nah, sedangkan menurut wikipedia pengertian dari studi kelayakan bisnis adalah penelitian
yang menyangkut berbagai aspek, baik itu dari aspek hukum, sosial ekonomi dan budaya,
aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi sampai dengan aspek manajemen dan
keuangannya, dimana itu semua digunakan untuk dasar penelitian studi kelayakan dan
hasilnya digunakan untuk mengambil keputusan apakah suatu proyek atau bisnis dapat
dikerjakan atau ditunda dan bahkan tidak dijalankan.
Studi kelayakan bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak hanya
menganalisis layak atau tidak layak bisnis dibangun, tetapi juga saat dioperasionalkan secara
rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak
ditentukan. Faktor yang membuat studi kelayakan bisnis ini mengalami kesalahan
diantaranya: data dan informasi yang didapat kurang lengkap,tidak teliti, salah perhitungan,
pelaksanaan pekerjaan salah, kondisi lingkungan sekitar maupun unsur sengaja oleh
pembuatnya.
Beberapa persiapan sebelum menjalankan studi kelayakan bisnis:
1. Pengumpulan data dan informasi
2. Pengolahan data
3. Analisis data
4. Pengammbilan keputusan
Manfaat studi kelayakan bisnis:
* Pihak Investor
Sebelum menanamkan modalnya di perusahaan yang akan dijalankan investor akan
mempelajari laporan studi kelayakan bisnis yang telah dibuat, karena investor memiliki
kepentingan langsung tentang keuntungan yang akan diperoleh dan jaminan modal yang akan
ditanamkan.

* Pihak Kreditor
Sebelum memberikan kredit pihak bank perlu mengkaji studi kelayakan bisnis dan
mempertimbangkan bonafiditas dan tersedianya agunan yang dimilliki.
* Pihak Manajemen Perusahaan
Sebagai leader manajemen perusahaan juga memerlukan studi kelayakan bisnis untuk
mengetahui dana yang dibutuhkan, berapa yang dialokasikan dari modal sendiri, rencana
pendanaan dari investor dan kreditor.
* Pihak Pemerintah dan Masyarakat
Perusahaan yang akan berdiri harus memperhatikan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah agar dapat diprioritaskan untuk dibantu oleh pemerintah.
* Bagi Tujuan Pembangunan Ekonomi
Penyusunan studi kelayakan bisnis perlu dianalisis manfaat yang akan didapat dan biaya yang
ditimbulkan proyek terhadap perekonomian nasional, karena sedapat mungkin proyek dibuat
demi tercapainya tujuan-tujuan nasional.
Penyusunan studi kelayakan bisnis perlu dianalisis manfaat yang akan didapat dan biaya yang
ditimbulkan proyek terhadap perekonomian nasional, karena sedapat mungkin proyek dibuat
demi tercapainya tujuan-tujuan nasional.

Tahapan studi kelayakan bisnis


Dalam melaksanakan studi kelayakan bisnis ada beberapa tahapan studi yang hendaknya
dikerjakan, berikut beberapa tahapannya:
1. Penemuan Ide
Agar dapat menghasilkan ide proyek yang dapat menghasilakan produk laku untuk dijual dan
menguntungkan diperlukan penelitian yang terorganisasi dengan baik serta dukungan sumber
daya yang memadai. Jika ide proyek lebih dari satu, dipilih dengan memperhatikan:
* ide proyek sesuai dengan kata hatinya
* pengambil keputusan mampu melibatkan diri dalam hal-hal yang sifatnya teknis
* keyakinan akan kemampuan proyek menghasilakan laba.
Misalnya beberapa ide proyek yang lolos setelah dipilih adalah ide mengenai bisnis rental
gaun pengantin, rental motor, rental computer.
2. Tahap Penelitian
Setelah ide proyek terpilih, dilakukan penelitian yang lebih mendalam dengan metode ilmiah:
* mengumpulkan data
* mengolah data
* menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengolahan data
* menyimpulkan hasil
* membuat laporan hasil

Misalnya: berdasarkan contoh diatas telah ditentukan 3 macam ide proyek. Selanjutnya,
ketiga ide proyek dikaji melalui aspeknya secara cukup luas dan mendalam untuk
mendapatkan masukan untuk mengevaluasi ide-ide tersebut.
3. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi yaitu tahap membandingkan sesuatu dengan satu atau lebih standar atau
kriteria yang bersifat kuantitatif atau kualitatif.hal yang dibandingkan dalam evaluasi bisnis
adalah seluruh ongkos yang akan ditimbulkan oleh usulan bisnis serta manfaat atau benefit
yang diperkirakan akan diperoleh.
Ada 3 macam evaluasi:
* mengevaluasi usaha proyek yang akan didirikan
* mengevaluasi proyek yang akan dibangun
* mengevaluasi bisnis yang sudah dioperasionalkan secara rutin
Setalah dilakukan evaluasi terhadap ketiga ide proyek diatas, misalnya, ternyata hanya dua
ide proyek yang dianggap fisibel, yaitu rental motor dan rental computer. Dalam evaluasi
bisnis yang akan dibandingkan adalah seluruh ongkos yang akan ditimbulkan oleh usulan
bisnis serta manfaat atau benefit yang akan diperkirakan akan diperoleh.
4. Tahap Pengurutan Usulan yang Layak
Jika terdapat lebih dari satu usulan rencana bisnis yang dianggap layak, perlu dilakukan
pemilihan rencana bisnis yang mempunyai skor tertinggi jika dibanding usulan lain berdasar
kriteria penilaian yang telah ditentukan.
Dilakukan evaluasi terhadap kedua ide proyek, ternyata pengambilan keputusan hanya
mampu mengerjakan satu ide proyek, misalkan ide proyek rental motor.
5. Tahap Rencana Pelaksanaan
Setelah rencana bisnis dipilih perlu dibuat rencana kerja pelaksanaan pembangunan proyek.
Mulai dari penentuan jenis pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga perencana, ketersediaan
dana dan sumber daya lain serta kesiapan manajemen.
Misalnya, setelah yang dipilih adalah rencana bisnis rental motor, maka pelaksanaan untuk
membangun proyek bisnis rental motor serta rencana operasional rutinnya perlu disiapkan.
6. Tahap Pelaksanaan
Dalam realisasi pembangunan proyek diperlukan manajemen proyek. Setelah proyek selesai
dikerjakan tahap selanjutnya adalah melaksanakan operasional bisnis secara rutin.
Agar selalu bekerja secara efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan laba perusahaan,
dalam operasional perlu kajian-kajian untuk mengevaluasi bisnis dari fungsi keuangan,
pemasaran, produksi dan operasi. Hasil evaluasi dapat dijadikan sebagai feedback bagi
perusahaan untuk mengkaji ulang proses bisnis ini secara terus-menerus.

Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis


Proses analisis setiap aspek saling keterkaitan antara satua spek dan aspek lainnya sehingga
hasil analisis aspek-aspek tersebut menjadi terintegrasi. Sebagai misal, ketika seorang peneliti
tengah menganalisis aspek keuangan, hendaknya dia memanfaatkan hasiol analissis aspekaspek lain, walaupun tetap dimungkinkan mencari data yang dibutuhkan sesuai dengan
kebutahannya langsung dari lapangan. Untuk lebih jelas lihat gambar berikut;

Aspek Pasar
Pengkajian aspek pasar penting dilakukan karena tidak ada proyek bisnis yang berhasil tanpa
adanya permintaan atas barang/jasa yang dihasilkan proyek tersebut. Pada dasarnya, analisis
aspek pasar bertujuan antara lain untuk mengetahui berapa besar luas pasar, pertumbuhan
permintaan, dan market-share dari produk bersangkutan. Pembahasan aspek-aspek studi
kelayakan diawali dengan aspek pasar dan pemasaran.
Alasannya mengapa aspek ini diletakkan pada awal pembahasan sistematika studi kelayakan,
antara lain:
* Produk yang dihasilkan perusahaan harus marketable. Jika tidak, sebaiknya kegiatananalisis
studi kelayakan dihentikan.
* Kecenderungan permintaan atas produk yang akan dihasilkan harus menunjukkan adanya
kenaikan. Jika menurun, sebaiknya proses studi kelayakan untuk pendirian dihentikan,
kecuali jika tujuan objek studi adalah pengembangan.
* Kandungan material produk tidak mengandung unsur yang dilarang negara ataupun agama.
Jika ada ditinjau dari aspek hukum, tidak akan direkomendasikan dan harus dihentikan.
* Aspek teknis dan kronologis sangat ditentukan oleh hasil rekomendasi aspek pasar,
terutama yang berkaitan dengan pemilihan alat dan mesin.
2. Aspek internal Perusahaan
Didalam aspek internal perusahaan terbagi atas beberapa aspek:

Aspek pemasaran
Kegiatan perusahan yang bertujuan menjual barang atau jasa yang di produksi perusahaan
kepasar. Oleh karena itu, aspek ini bertanggung jawab dalam menentukan ciri-ciri pasar yang
akan dipilih. Analisis kelayakan dari aspek ini yang utama dalam hal;
* Penentuan segmen, target, dan posisi produk pada pasarnya.
* Kajian untuk mengetahui konsumen potensial, seperti perihal sikap, perilaku, serta
kepuasaan mereka atas produk.
* Menentukan strategi kebijakan dan program pemasaran yang akan dilaksanakan.
Aspek Teknis dan Teknologi
Aspek teknis merupakan aspek yang berkenaan dengan pengoperasian dan proses
pembangunan proyek secara teknis setelah proyek/bisnis tersebut selesai dibangun/didirikan.
Berdasarkan analisis ini pula dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi
termasuk start up cost/pra operasional proyek yang akan dilaksanakan.
Studi aspek teknis dan teknologi akan mengungkapkan kebutuhan apa yang diperlukan dan
bagaimana secara teknis proses produksi akan dilaksanakan. Untuk bisnis industri
manufaktur, misalnya, perlu dikaji mengenai kapasitas produksi, jenis teknologi yang
dipakai, pemakaian peralatan dan mesin, lokasi pabrik, dan tata-letak pabrik yang paling
menguntungkan. lalu dari kesimpulan itu, dapat dibuat rencana jumlah biaya pengadaan harta
tetapnya.
Aspek Sumber Daya Manusia
Aspek ini membutuhkan daya imajinasi tinggi untuk membayangkan bentuk organisasi apa
yang akan dibangun kelak ketika berdiri. Setelah gambaran organisasi terbentuk dengan
segala kelengkapannya, selanjutnya dianalisis proses pengadaan sumber daya manusianya
untuk menduduki dan memegang bagian dan fungsi organisasi sesuai dengan yang
direncanakan.
Aspek manajemen
Studi aspek manajemen dilaksanakan dua macam
Manajemen saat pembangunan proyek bisnis dan Manajemen saat bisnis dioperasionalkan
secara rutin. Bahkan terjadi, banyak terjadi, bahwa proyek-proyek bisnis gagal dibangun
maupun dioperasionalkan bukan disebkan karena aspek lain, tetapi karena lemahnya
manajemen.
Aspek Keuangan
Berkaitan dengan sumber dana yang akan diperoleh dan proyeksi pengembaliannya dengan
tingkat biaya modal dan sumber dana yang bersangkutan.
Ada beberapa sumber data penting yang akan digunakan, yaitu:
* Data awal aspek pasar dan pemasaran berupa: proyeksi penjualan/permintaan, harga
produk, dan anggaran (biaya) pemasaran.
* Data operasi dan produksi, berupa: rencana lokasi baik sewa maupun beli, harga pokok
produksi (bahan baku, TKL, bahan pembantu), dan rencana pengadaan mesin, peralatan,

teknologi yang digunakan.


* Data personalia, berupa: rencana biaya perekrutan, biaya pelatihan, biaya upah tetap,
tunjangan-tunjangan, dan lain-lain.
* Legalitas, berupa: biaya notaris, biaya perizinan prinsip (misal, DepKeu, DepDag, DepAg,
DepHut, DepHub, DepKeh, DepKes, DikNas dll), biaya perizinan operasional (Pemda).
Aspek ekonomi dan budaya
Berkaitan dengan dampak yang diberikan kepada masyarakat karena adanya suatu proyek
tersebut :
* Dari sisi budaya, Mengkaji tentang dampak keberadaan peroyek terhadap kehidupan
masyarakat setempat, kebiasaan adat setempat.
* Dari sudut ekonomi, Apakah proyek dapat merubah atau justru mengurangi income per
capita panduduk setempat. Seperti seberapa besar tingkat pendapatan per kapita penduduk,
pendapatan nasional atau upah rata-rata tenaga kerja setempat atau UMR, dll.
* Dan dari segi sosial , Apakah dengan keberadaan proyek wilayah menjadi semakin ramai,
lalulintas semakin lancer, adanya jalur komunikasi, penerangan listrik dan lainnya,
pendidikan masyarakat setempat.
Aspek Hukum dan Legalitas
Berkaitan dengan keberadaan secara legal dimana proyek akan dibangun yang meliputi
ketentuan hukum yang berlaku termasuk :
Perijinan :
Izin lokasi :
sertifikat (akte tanah), bukti pembayaran PBB yang terakhir, rekomendasi dari RT / RW /
Kecamatan
Izin usaha :
Akte pendirian perusahaan dari notaris setempat PT/CV atau berbentuk badan hukum
lainnya.
NPWP (nomor pokok wajib pajak), Surat tanda daftar perusahaan, Surat izin tempat
usaha dari pemda setempat
Surat tanda rekanan dari pemda setempat, SIUP setempat, Surat tanda terbit yang
dikeluarkan oleh Kanwil Departemen Penerangan
Beberapa faktor yang dijadikan dasar dalam penilaian kelayakan, yaitu:
* Badan hukum apa yang paling sesuai untuk dijadikan bentuk formal badan usaha yang akan
didirikan
* Komoditas usaha termasuk jenis barang dagangan (komiditas) yang diperbolehkan atau
dilarang undang-undang
* Cara berbisnisnya melanggar hukum agama atau tidak
* Teknis operasional mendapatkan izin dari instansi/ departemen/dinas terkait atau tidak.
Aspek Dampak Lingkungan eksternal
Aspek dampak lingkungan merupakan analisis yang paling dibutuhkan pada saat ini, karena
setiap proyek yang dijalankan akan memiliki dampak yang sangat besar terhadap lingkungan
di sekitarnya, antara lain:
* Dampak terhadap air

* Dampak terhadap tanah


* Dampak terhadap udara
* Dampak terhadap kesehatan manusia
Pada akhirnya pendirian usaha akan berdampak terhadap kehidupan fisik, flora dan fauna
yangada di sekitar usaha secara keseluruhan.
Hasil studi kelayakan bisnis
Hasil studi kelayakan bisnis berupa dokumentasi lengkap dalam bentuk tertulis yang
diperlihatkan bagaimana rencana bisnis memiliki nilai-nilai positif bagi aspek-aspek yang
diteliti, sehingga akan dinyatakan sebagai proyek bisnis yang layak.

LAPORAN STUDI KELAYAKAN INVESTASI AGRIBISNIS


LAPORAN PRAKTIKUM STUDI KELAYAKAN INVESTASI AGRIBISNIS
STUDI KELAYAKAN INVESTASI USAHA PRODUKSI TEMPE SAMODRA DI
MOJOSONGO, SURAKARTA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Studi kelayakan sangat diperlukan oleh banyak kalangan, khususnya terutama bagi
para investor yang selaku pemrakarsa, bank selaku pemberi kredit, dan pemerintah
yang memberikan fasilitas tata peraturan hukum dan perundang-undangan, yang
tentunya kepentingan semuanya itu berbeda satu sama lainya. Investor berkepentingan
dalam rangka untuk mengetahui tingkat keuntungan dari investasi, bank
berkepentingan untuk mengetahui tingkat keamanan kredit yang diberikan dan
kelancaran pengembaliannya, pemerintah lebih menitik-beratkan manfaat dari
investasi tersebut secara makro baik bagi perekonomian, pemerataan kesempatan
kerja, dan lain-lain.
Mengingat bahwa kondisi yang akan datang dipenuhi dengan ketidakpastian, maka
diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu karena di dalam studi kelayakan
terdapat berbagai aspek yang harus dikaji dan diteliti kelayakannya sehingga hasil
daripada studi tersebut digunakan untuk memutuskan apakah sebaiknya proyek atau
bisnis layak dikerjakan atau ditunda atau bahkan dibatalkan. Hal tersebut diatas
adalah menunjukan bahwa dalam studi kelayakan akan melibatkan banyak tim dari
berbagai ahli yang sesuai dengan bidang atau aspek masing-masing seperti ekonom,
hukum, psikolog, akuntan, perekayasa teknologi dan lain sebagainya.
Studi kelayakan peroyek atau bisnis adalah penelitian yang menyangkut berbagai
aspek baik itu dari aspek hukum, sosial ekonomi dan budaya, aspek pasar dan
pemasaran, aspek teknis dan teknologi sampai dengan aspek manajemen dan
keuangannya, dimana itu semua digunakan untuk dasar penelitian studi kelayakan dan
hasilnya digunakan untuk mengambil keputusan apakah suatu proyek atau bisnis
dapat dikerjakan atau ditunda dan bahkan tidak dijalankan (Rajaratnam, 2006).
Praktikum Studi Kelayakan Invenstasi Agribisnis ini dilakukan di usaha produksi
tempe Samodra yang beralamatkan di Kampung Krajan RT 04 / RW III,
Mojosongo, Surakarta. Usaha produksi tempe Samodra ini berdiri sejak tahun 1985,
pada awalnya, masyarakat di daerah tersebut merupakan produsen tahu, namun lama
kelamaan hampir sebagian lebih dari masyarakat tersebut menjadi produsen tempe
karena melihat kesuksesan dari usaha tempe Samodra ini. Pada awal usaha, tempe
Samodra merupakan usaha pribadi yang didirikan oleh Bapak Ari Gunanto dan
hingga sekarang sudah memiliki 26 karyawan.
Kesuksesan tempe Samodra menarik konsumen sehingga dapat menguasai pangsa
pasar, menjadi panutan berkembangnya produsen-produsen tempe baru yang ada di
wilayah Surakarta. Selain itu tempe Samodra sudah menerapkan sistem manajemen

yang sesuai dengan standar, baik dari manajemen tenaga kerja, manajemen
pemasaran, dan manajemen keuangan. Hal ini menjadikan studi kelayakan investasi
penting dilakukan di tempe Samodra mengingat dengan studi kelayakan investasi,
maka dapat diketahui seberapa besar usaha tersebut layak untuk dilanjutkan atau
tidak.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakanya Praktikum Studi Kelayakan Investasi Agribisnis di Usaha
Produksi tempe Samodra, antara lain:
1. Mengetahui aspek pasar dan pemasaran usaha produksi tempe Samodra
2. Mengetahui teknis dan teknologi usaha produksi tempe Samodra
3. Mengetahui aspek finansial usaha produksi tempe Samodra, baik nilai NPV, IRR,
maupun B/C Ratio.
4. Mengetahui aspek lingkungan usaha produksi tempe Samodra
5. Mengetahui aspek eksternal industri usaha produksi tempe Samodra
6. Mengetahui aspek ekonomi, sosial dan politik usaha produksi tempe Samodra
7. Mengetahui aspek bahan baku usaha produksi tempe Samodra

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Studi Kelayakan Investasi Agribisnis
Pendirian maupun perluasan usaha memerlukan investasi yang tidak sedikit jumlahnya,
modal yang diperlukan biasanya disesuaikan dengan tujuan perusahaan dan bentuk badan
usahanya. Agar tujuan perusahaan dapat tercapai sesuai yang direncanakan perlu dilakukan
suatu studi untuk menilai apakah investasi yang akan ditanamkan layak atau tidak dijalankan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Studi kelayakan diperlukan untuk menghindari
kegagalan setelah proyek dilakukan. Salah satu tujuan dilakukannya studi kelayakan bisnis
adalah mencari jalan keluar agar dapat meminimalkan hambatan dan resiko yang mungkin
timbul di masa yang akan datang karena keadaan yang akan datang penuh dengan
ketidakpastian (Halim, 2005).
Studi kelayakan investasi pada proyek bisnis merupakan pengkajian suatu usulan proyek
(bisnis), apakah dapat dilaksanakan (go project) atau tidak (no go project), dengan
berdasarkan berbagai aspek kajian. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah suatu proyek
dapat dilaksanakan dengan berhasil, sehingga dapat menghindari keterlanjuran investasi
modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan (Kasmir dan
Jakfar, 2003).
Studi kelayakan proyek atau bisnis adalah penelitihan yang menyangkut berbagai aspek baik
itu dari aspek hukum, sosial ekonomi dan budaya, aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis
dan teknologi sampai dengan aspek manajemen dan keuangannya, dimana itu semua
digunakan untuk dasar penelitian studi kelayakan dan hasilnya digunakan untuk mengambil
keputusan apakah suatu proyek atau bisnis dapat dikerjakan atau ditunda dan bahkan tidak
dijalankan (Subagyo, 2008).
Menurut Umar (2005), Dilihat dari kapan evaluasi dilakukan pada proyek, dapat dibedakan 4
jenis evaluasi proyek yaitu sebagai berikut :
1. Evaluasi terhadap usulan proyek yang akan didirikan (pre-project evaluation)
2. Evaluasi terhadap proyek yang sedang dibangun (on-construction project evaluation)

3. Evaluasi terhadap proyek yang telah dioperasionalisasikan (on-going project evaluation).


4. Evaluasi terhadap proyek yang telah berakhir (post-project evalution study).
Studi kelayakan sangat diperlukan oleh banyak kalangan, khususnya terutama bagi para
investor yang selaku pemrakarsa, bank selaku pemberi kredit, dan pemerintah yang
memberikan fasilitas tata peraturan hukum dan perundang-undangan, yang tentunya
kepentingan semuanya itu berbeda satu sama lainya. Investor berkepentingan dalam rangka
untuk mengetahui tingkat keuntungan dari investasi, bank berkepentingan untuk mengetahui
tingkat keamanan kredit yang diberikan dan kelancaran pengembaliannya, pemerintah lebih
menitikberatkan manfaat dari investasi tersebut secara makro baik bagi perekonomian,
pemerataan kesempatan kerja, dll (Rajaratnam, 2006).
Hasil analisis studi kelayakan investasi bisnis dapat dimanfaatkan oleh :
1. Pihak investor
Sebelum menanamkan modalnya di perusahaan yang akan dijalankan investor akan
mempelajari laporan studi kelayakan investasi bisnis yang telah dibuat, karena investor
memiliki kepentingan langsung tentang keuntungan yang akan diperoleh dan jaminan modal
yang akan ditanamkan.
2. Pihak kreditor
Sebelum memberikan kredit pihak bank perlu mengkaji studi kelayakan bisnis dan
mempertimbangkan bonafiditas dan tersedianya agunan yang dimilliki.
3. Pihak manajemen perusahaan
Sebagai pemimpin manajemen perusahaan juga memerlukan studi kelayakan investasi bisnis
untuk mengetahui dana yang dibutuhkan, berapa yang dialokasikan dari modal sendiri,
rencana pendanaan dari investor dan kreditor.
4. Pihak pemerintah dan masyarakat
Perusahaan yang akan berdiri harus memperhatikan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah agar dapat diprioritaskan untuk dibantu oleh pemerintah.
5. Bagi tujuan pembangunan ekonomi
Penyusunan studi kelayakan bisnis perlu dianalisis manfaat yang akan didapat dan biaya yang
ditimbulkan proyek terhadap perekonomian nasional, karena sedapat mungkin proyek dibuat
demi tercapainya tujuan-tujuan nasional.
B. Aspek Pasar Dan Pemasaran
Pengertian pasar (market demand) suatu produk menurut Kotler (2005), Yaitu jumlah
keseluruhan yang akan dibeli oleh sekelompok konsumen tertentu dalam suatu daerah
tertentu dalam waktu tertentu dalam lingkungan pemasaran tertentu dan dalam suatu program
pemasaran tertentu. Tujuan analisis pasar adalah mengetahui seberapa luas pasar produk yang
bersangkutan, bagaimana pertumbuhan permintaannya dan berapa besar yang dapat dipenuhi
oleh konsumen perusahaan.
Menurut Haming dan Basalamah (2008), Dalam aspek pasar lebih baik sebelumnya
melakukan analisis pasar. Ada 2 analisis pasar yang bisa dilakukan yaitu sebagai berikut :
a. Analisis pasar kualitatif, yaitu dengan mengidentifikasi, memisahkan dan membuat
deskripsi pasar. Analisis pasar kuantitatif: menghitung besarnya perkiraan penjualan 1 tahun
mendatang. Yang harus diperhatikan dalam menganalisis pasar meliputi :
a) Deskripsi pasar (luas pasar, saluran distribusi dan praktek perdagangan setempat)
b) Analisis permintaan dulu dan sekarang (jumlah, nilai konsumsi produk yang bersangkutan
dan identifikasi konsumen)
c) Analisis penawaran dulu dan sekarang (impor, produk lokal), info persaingan, harga,
kualitas dan strategi pemasaran pesaing
d) Perkiraan permintaan yang akan datang dari produk yang bersangkutan
e) Perkiraan pangsa pasar (mempertimbangkan tingkat permintaan, penawaran, posisi

perusahaan dalam persaingan dan program pemasaran perusahaan)


Prosedur Analisis Pasar yaitu sebagai berikut :
1) Menentukan tujuan studi : adalah mengukur dan memperkirakan permintaan untuk menilai
ketepatan waktu dan harga dari proyek dalam memproduksi produk. Tujuan khusus yang
dapat dicapai yaitu mengetahui tempat dan luas daerah pemasaran, mengetahui kapasitas
produksi yang direncanakan, mengetahui modal yang ditawarkan dan jenis industri,
mengetahui tingkat harapan jumlah penjualan, mengetahui tingkat harga, mengetahui saluran
distribusi, mengetahui pembeli/konsumen produk yang direncanakan.
2) Studi pasar informal (wawancara dengan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan
produk yang ada di pasar).
3) Studi pasar formal (meliputi deskripsi metode dan tugas yang akan dilakukan untuk
mendapatkan informasi yang dimaksudkan, meliputi rencana penelitian yang menyeluruh
meliputi skedul kerja, waktu yang dibutuhkan dan biaya yang dibutuhkan untuk
melaksanakan studi/penelitian). Tujuan yang ingin dicapai yaitu mendefinisikan daerah pasar
produk, mendapatkan data sekunder, membuat rencana survei, tes lapangan dari daftar
pertanyaan yang telah dibuat, mengadakan survei pasar, memproses data, dan laporan akhir.
4) Karakteristik permintaan saat ini (meliputi luas pasar, pangsa pasar, pola pertumbuhan
pasar, saluran pemasaran dan karakteristik lainnya). Pasar meliputi seluruh individu dan
organisasi yang secara riil atau potensial merupakan konsumen suatu produk (meliputi
konsumen, industri, perantara dan pemerintah). Klasifikasi pasar ditinjau dari sifat produk
yaitu durable dan nondurable, produk baru atau produk yang sudah ada.
Menurut Anggraeni (2010), Pengukuran pasar merupakan usaha memperkirakan permintaan
produk secara kuantitatif meliputi :
a. Permintaan pasar mencakup daerah geografis, kelompok konsumen dalam periode tertentu
merupakan usaha mendefinisikan pasar dan luasnya (segmentasi pasar) sehingga bauran
pemasaran berbeda.
b. Pangsa pasar dan pola pertumbuhan. Harus memperhatikan kondisi persaingan, harga yang
terjadi dan pola pertumbuhan pasar. Cara yang dapat dilakukan yaitu :
1) Perkiraan permintaan yang akan datang (teknik peramalan kualitatif dan kuantitatif)
2) Merencanakan strategi pemasaran (4P)
3) Menilai kelayakan pasar (ada tidaknya permintaan produk).
b. Analisis Kuantitatif yaitu analisis yang menggunakan data masa lalu yang diasumsikan
berulang kembali di masa yang akan datang meliputi :
a. peramalan sederhana
b. Statistik, diantaranya runtut waktu dan regresi korelasi.
1) Analisis runtut waktu (time series analysis), menggunakan data historis, menggunakan
empat komponen, trend, variasi siklis, variasi musim dan variasi tidak beraturan
2) Trend yang merupakan kecenderungan prestasi masa lalu naik/turun yang menunjukkan
aktifitas ekonomi dalam dinamika perekonomian dan merupakan keadaan jangka panjang
dalam ukuran waktu menurut fenomena ekonomi.
3) Variasi siklis/gerakan perubahan penjualan dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi yang secara
luas bersifat periodik
4) Variasi musim, pola perubahan tertentu yang bersifat periodik dalam satu tahun.
5) Komponen tidak beraturan, unpredicable (bencana, kerusuhan, dsb).
Pengkajian aspek pasar penting dilakukan karena tidak ada proyek bisnis yang berhasil tanpa
adanya permintaan atas barang/jasa yang dihasilkan proyek tersebut. Pada dasarnya, analisis
aspek pasar bertujuan antara lain untuk mengetahui berapa besar luas pasar, pertumbuhan
permintaan, dan market share dari produk bersangkutan. Pembahasan aspek-aspek studi
kelayakan di awali dengan aspek pasar dan pemasaran. Alasannya mengapa aspek ini di
letakkan pada awal pembahasan sistematika studi kelayakan dalam Widianto (2008), antara

lain :
1. Produk yang dihasilkan perusahaan harus marketable. Jika tidak, sebaiknya kegiatan
analisis studi kelayakan dihentikan.
2. Kecenderungan permintaan atas produk yang akan dihasilkan harus menunjukkan adanya
kenaikan. Jika menurun, sebaiknya proses studi kelayakan untuk pendirian dihentikan,
kecuali jika tujuan objek studi adalah pengembangan.
3. Kandungan material produk tidak mengandung unsur yang dilarang negara ataupun agama.
Jika ada ditinjau dari aspek hukum, tidak akan direkomendasikan dan harus dihentikan.
4. Aspek teknis dan kronologis sangat ditentukan oleh hasil rekomendasi aspek pasar,
terutama yang berkaitan dengan pemilihan alat dan mesin.
Menurut Gunawan (2010), Aspek pemasaran merupakan kegiatan untuk menjual produk dan
menciptakan hubungan jangka panjang (yang saling menguntungkan) dengan pelanggan.
Cara-cara yang dapat dilakukan dalam aspek pemasaran yaitu :
a. Menentukan ciri-ciri pasar yang akan dipilih (target market).
b. Menentukan strategi untuk dapat meraih dan memuaskan pasar.
Sikap, perilaku, dan kepuasan konsumen merupakan penjelasan mengenai sikap, perilaku,
dan kepuasan konsumen terhadap produk sejenis saat ini. Segmentasi target posisi di pasar
biasanya mengenai segmentasi pasar, target pasar dan strategi positioning untuk menguasai
target pasar. Situasi persaingan di lingkungan industri yang merupakan penjelasan situasi
persaingan antar perusahaan yang memproduksi produk sejenis dengan produk yang akan
diproduksi perusahaan di pasar yang dipilih. Manajemen pemasaran (bauran pemasaran)
yaitu mengenai bagaimana kebijakan bauran pemasaran yang akan dilaksanakan.
Dalam aspek pasar dan pemasaran perlu memperhatikan 2 hal sebagai berikut yaitu :
a. Daya serap pasar merupakan peluang pasar yang dapat dimanfaatkan dalam memasarkan
hasil produksi dari usaha proyek yang direncanakan. Untuk melihat daya serap pasar
umumnya dilihat dari segi permintaan dan penawaran (bisa digunakan metoda peramalan
untuk meperkirakan permintaan dan penawaran di masa mendatang). Jumlah permintaan
produk di masa lalu dan masa kini serta kecenderungan permintaan di masa yang akan
datang. Layak tidaknya pengembangan usaha sangat bergantung pada trend permintaan atau
penawaran di masa datang yang seharusnya cenderung meningkat. Layak tidaknya
pengembangan usaha sangat bergantung pada kapasitas produksi yang seharusnya lebih kecil
dari market share.
b. Faktor Persaingan (Analisa Strategi). Strategi apa saja yang perlu dilakukan dalam meraih
market share yang telah direncanakan.
Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan,
strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategis (strategic
planning) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan dalam kondisi yang ada saat
ini. Hal ini disebut dengan analisis situasi.
Analisis pemasaran membantu memperkecil derajat ketidakpastian yang akan dihadapi oleh
perusahaan dalam menguasai pemasaran. Analisis pemasaran merupakan alat yang
memberikan kemampuan bagi manajemen untuk mengembangkan dan memilih strategi yang
tepat untuk menyaring produk, menempatkan produk pada posisi pemasaran yang tepat,
memelihara produk, dan manakala diperlukan melenyapkan atau menarik produk dari pasar.
Analisis pemasaran sangat terkait sekali dengan aktivitas kehidupan konsumen yang begitu
banyak clan luas (Gunawan, 2009).
C. Aspek Teknis Dan Teknologis
Aspek teknis dan teknologis merupakan aspek yang biasanya membahas mengenai pemilihan
strategi produksi, pemilihan dan perencanaan produk yang akan diproduksi, rencana kualitas,

pemilihan teknologi, rencana kapasitas produksi, manajemen persediaan, jenis teknologi,


pengawasan kualitas produk, peralatan dan mesin, lokasi pabrik, layout pabrik,
perkembangan teknologi (Sumiati dan Sugiharto, 2002).
Tujuan studi aspek ini adalah untuk meyakini apakah secara teknis dan pilihan teknologi,
rencana bisnis dapat dilaksanakan secara layak atau tidak layak , baik pada saat pembangunan
proyek atau operasional secara rutin yang meliputi:
1. Penentuan strategi produksi , dan perencanaan produk
2. Proses pemilihan teknologi untuk produksi
3. Penentuan kapasitas produksi yang optimal
4. Letak pabrik dan layoutnya, dan tata letak usaha dan layoutnya.
5. Rencana operasianal dalam hal jumlah produksi.
6. Rencana pengendalian persediaan bahan baku dan barang jadi.
7. Pengawasan kualitas produk, baik dalam bentuk barang ataupun jasa
Aspek teknis merupakan aspek yang berkenaan dengan pengoperasian dan proses
pembangunan proyek secara teknis setelah proyek/bisnis tersebut selesai dibangun/didirikan.
Berdasarkan analisis ini pula dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi
termasuk start up cost/pra operasional proyek yang akan dilaksanakan (Rajaratnam, 2006)..
Studi aspek teknis dan teknologi akan mengungkapkan kebutuhan apa yang diperlukan dan
bagaimana secara teknis proses produksi akan dilaksanakan. Untuk bisnis industri
manufaktur, misalnya, perlu dikaji mengenai kapasitas produksi, jenis teknologi yang
dipakai, pemakaian peralatan dan mesin, lokasi pabrik, dan tata-letak pabrik yang paling
menguntungkan. lalu dari kesimpulan itu, dapat dibuat rencana jumlah biaya pengadaan harta
tetapnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga akan memberikan perubahan terhadap
kebijakan perusahaan. Efisiensi pada saat melakukan produksi dan distribusi juga sangat
dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin berkembangannya
hal ini maka secara tidak langsung akan menuntut management perusahaan untuk memilih
yang terbaik bagi kepentingan perusahaan.
D. Aspek Finansial
Analisis ekonomi suatu proyek tidak hanya memperhatikan manfaat yangdinikmati dan
pengorbanan yang ditanggung oleh perusahaan, tetapi oleh disemuapihak dalam perusahaan.
Sedangkan analisis yang hanya membatasi manfaat danpengorbanan dari sudut pandang
perusahaan tersebut sebagai analisis keuangan atauanalisis finansial (Muhammad dan Suad
Husnan, 2000). Metode-metode penilaian investasi pada umumnya ada 5 metode yang
biasadipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian investasi. Metode-metode tersebut
yaitu:
1. Metode Average Rate of Return
Metode ini mengukur berapa tingkat keuntungan rata-rata yang diperoleh suatuinvestasi.
Angka yang dipergunakan adalah laba setelah pajak dibandingkandengan total atau average
investment. Hasil yang diperoleh dinyatakan dalampersentase. Angka ini kemudian
diperbandingkan dengan tingkat keuntunganyang disyaratkan. Apabila lebih besar daripada
tingkat keuntungan yangdisyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan.apabila lebih
kecil daripadakeuntungan yang disyaratkan maka proyek ditolak. Metode ini
memilikikelemahan. Yang pertama adalah diabaikannya nilai waktu uang padahal inisangat
penting. Kedua digunakannya konsep laba menurut akuntansi dan bukankas
2. Metode Payback
Metode ini mencoba mengukur seberapa cepatinvestasi bisa kembali. Karena itusatuan
hasilnya bukan persentase, tetapi satuan waktu (bulan, tahun, dsb). Kalau periode payback ini

lebih pendek daripada yang disyaratkan, maka proyekdikatakan menguntungkan, sedangkan


kalau lebih lama maka proyek ditolak. Problem utama dari metode ini adalah sulitnya
menentukan periode payback maksimum yang disyaratkan, untuk dipergunakan sebagai
angka pembanding.Secara normatik, memang tidak ada pedoman yang bisa dipakai
untukmenentukan payback maksimum ini. Dalam praktiknya yang dipergunakanadalah
payback umum. Kelemahan dari metode ini adalah diabaikannya nilaiuang dan aliran kas
setelah periode payback.
3. Metode Net Present Value
Metode ini menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilaisekarang
penerimaan kas bersih (operasional maupun cash flow) dimasa yangakan datang. Untuk
menghitung nilai sekarang tersebut perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang
dianggap relevan. Pada dasarnya tingkat bungatersebut adalah tingkat bunga pada saat
keputusan investasi masih terpisah darikeputusan pembelanjaan ataupun pada saat kita mulai
mengaitkan keputusan investasi dengan keputusan pembelanjaan. Apabila nilai sekarang
penerimaankas bersih dimasa yang akan datang lebih besar daripada nilai sekarang
investasimaka proyek ini dikatakan menguntungkan. Sedangkan apabila lebih kecil
(NPVnegatif) proyek ditolak karena dinilai tidak menguntungkan.
4. Metode Internal Rate of Return
Metode ini menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasidengan nilai
sekarang penerimaan kas bersih dimasa-masa mendatang. Apabilatingkat bunga ini lebih
besar daripada tingkat bunga relevan, maka investasidikatakan menguntungkan. Kalau lebih
kecil dikatakan merugikan
5. Metode Profitability Index
Metode ini menghitung perbandingan antara nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas
bersih dimasa datang dengan nilai sekarang investasi. Kalauprofitability indexnya lebih besar
dari 1 maka proyek dikatakan menguntungkan,tetapi kalau kurang dikatakan tidak
menguntungkan. Sebagai mana metode NPV, maka metode ini perlu menentukan terlebih
dahulu tingkat bunga yangakan dipergunakan
E. Aspek Lingkungan
Industri tahu dan tempe merupakan industri kecil yang banyak tersebar di kota-kota besar dan
kecil. Tempe dan tahu merupakan makanan yang digemari oleh banyak orang. Akibat dari
banyaknya industri tahu dan tempe, maka limbah hasil proses pengolahan banyak membawa
dampak terhadap lingkungan. Limbah dari pengolahan tahu dan tempe mempunyai kadar
BOD sekitar 5.000 - 10.000 mg/l, COD 7.000 - 12.000 mg/l. Besarnya beban pencemaran
yang ditimbulkan menyebabkan gangguan yang cukup serius terutama untuk perairan
disekitar industri tahu dan tempe. Teknologi pengolahan limbah tahu tempe yang ada saat ini
pada umumnya berupa pengolahan limbah sistem anaerob. Dengan proses biologis anaerob,
efisiensi pengolahan hanya sekitar 70-80 %, sehingga air lahannya masih mengandung kadar
polutan organik cukup tinggi, serta bau yang ditimbulkan dari sistem anaerob dan tingginya
kadar fosfat merupakan masalah yang belum dapat diatasi. Untuk mengatasi hal tersebut
dapat dilakukan dengan cara kombinasi proses biologis anaerob-aerob yakni proses
penguraian anaerob dan diikuti dengan proses pengolahan lanjut dengan sistem biofilter
anaerob-aerob. Dengan kombinasi proses tersebut diharapkan konsentrasi COD dalan air
olahan yang dihasilkan turun menjadi 60 ppm, sehingga jika dibuang tidak lagi mencemari
lingkungan sekitarnya (Anonim, 2011).
Limbah tahu tempe adalah limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu tempe
maupun pada saat pencucian kedelai. Limbah yang dihasilkan berupa limbah padat dan cair.
Limbah padat belum dirasakan dampaknya terhadap lingkungan karena dapat dimanfaatkan

untuk makanan ternak, tetapi limbah cair akan mengakibatkan bau busuk dan bila dibuang
langsung ke sungai akan menyebabkan tercemarnya sungai tersebut.
Setiap kuintal kedelai akan menghasilkan limbah 1,5 - 2 m3 air limbah.
(Anonim, 2011).
Limbah cair yang berasal dari air rebusan maupun air rendaman kedelai berpotensi untuk
mencemari lingkungan perairan disekitarnya. Suhu limbah cair yang berasal dari rebusan
kedelai mencapai 750 C. Apabila setiap hari perairan memperoleh pasokan limbah cair
dengan suhu yang tinggi maka akan membahayakan kehidupan organisme air. Suhu yang
optimum untuk kehidupan dalam air adalah 25 300 C. Air sungai yang suhunya naik akan
mengganggu kehidupan hewan maupun tanaman air karena kadar oksigen terlarut akan turun
bersamaan dengan kenaikan suhu (Wardhana, 2004).
Tumbuhan air akan terhenti pertumbuhannya pada suhu air dibawah 100 C atau di atas 400 C.
Terdapat hubungan timbal balik antara oksigen terlarut dengan laju pernapasan mahkluk
hidup. Meningkatnya suhu akan menyebabkan peningkatan laju pernapasan makhluk hidup
dan penurunan oksigen terlarut dalam air. Laju penurunan oksigen terlarut (DO) yang
disebabkan oleh limbah organik akan lebih cepat karena laju peningkatan pernapasan
makhluk hidup yang lebih tinggi (Connel dan Miller, 1995).
Limbah cair dari proses perebusan dan perendaman kedelai, mempunyai nilai TDS dan TSS
yang jauh melewati standart baku mutu limbah cair.
Pengaruh Padatan tersuspensi (TSS) maupun padatan terlarut (TDS) sangat
beragam, tergantung dari sifat kimia alamiah bahan tersuspensi tersebut.
Pengaruh yang berbahaya pada ikan, zooplankton maupun makhluk hidup yang lain pada
prinsipnya adalah terjadinya penyumbatan insang oleh partikel partikel yang menyebabkan
afiksiasi. Disamping itu juga adanya pengaruh pada perilaku ikan dan yang paling sering
terjadi adalah penolakan terhadap air yang keruh, adanya hambatan makan serta peningkatan
pencarian tempat berlindung. Pola yang ditemukan pada sungai yang menerima sebagian
besar padatan tersuspensi, secara umum adalah berkurangnya jumlah spesies dan jumlah
individu makhluk hidup (Connel dan Miller, 1995).
Derajat keasaman limbah cair dari air rebusan kedelai telah melampaui
standart baku mutu. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang
dibuang ke perairan akan mengubah pH air, dan dapat mengganggu kehidupan
organisme air. Air normal yang memenuhi syarat untuk kehidupan mempunyai pH berkisar
antara 6,5 - 7,5 (Wardhana, 2004).
Limbah dari proses pembuatan tempe ini termasuk dalam limbah yang
biodegradable yaitu merupakan limbah atau bahan buangan yang dapat
dihancurkan oleh mikroorganisme. Senyawa organik yang terkandung didalamnya akan
dihancurkan oleh bakteri meskipun prosesnya lambat dan sering dibarengi dengan keluarnya
bau busuk. Konsentrasi amoniak sebesar 0,037 mg / l sudah dapat menimbulkan bau amoniak
yang menyengat. Dalam limbah domestik, sebagian besar nitrogen organik akan diubah
menjadi amoniak pada pembusukan anaerobik dan menjadi nitrat atau nitrit pada
pembusukan aerob (Mahida, 1986).
F. Aspek Eksternal Industri
Ada banyak faktor ekstern yang mempengaruhi pemilihan arah dan tindakan suatu
perusahaan dan, akhirnya, struktur organisasi dan proses internalnya. Lingkungan eksternal
dapat dibagi menjadi tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor dalam lingkungan jauh,
faktor dalam lingkungan industri, dan faktor dalam lingkungan operasional. Secara bersamasama faktor-faktor ini merupakan landasan peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan
dalam lingkungan bersaingnya (William dan Lawrence, 1999).

1. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi berkaitan dengan sifat dan arah dari sistem ekonomi tempat suatu organisasi
beroperasi. Dalam perencanaan strategiknya, perusahaan harus mempertimbangkan
kecenderungan ekonomi, seperti ketersediaan kredit secara umum, tingkat penghasilan yang
dapat dibelanjakan, dan kecederungan belanja masyarakat.
2. Faktor Sosial
Faktor sosial budaya yang mempengaruhi organisasi adalah kepercayaan, nilai sikap, opini,
dan gaya hidup masyarakat di lingkungan ekstern perusahaan yang berkembang dari
pengaruh kultur, ekologi, demografi, agama, pendidikan, dan etnik. Apabila sikap social
berubah, maka permintaan akan berbagai jenis barang dan jasa akan berubah pula.
3. Faktor politik
Arah dan stabilitas keamanan politik merupakan pertimbangan penting untuk para manajer
dalam merumuskan strategi perusahaan. Faktor-faktor politik menentukan parameter legal
dan regulasi yang membatasi operasi perusahaan. Karena itu, perusahaan harus mampu
meramalkan perubahan keputusan politik dalam lingkungan bisnis.
4. Faktor Teknologi
Untuk menghindari keusangan dan mendorong inovasi, perusahaan harus mewaspadai
perubahan teknologi yang terjadi yang mungkin mempengaruhi industrinya. Peramalan
teknologi dapat membantu melindungi dan meningkatkan kemampulabaan perusahaan yang
berada dalam industri yang sedang tumbuh. Kunci peramalan kemajuan teknologi terletak
pad pendugaan yang akurat mengenai kemampuan teknologi di masa depan dan dampaknya
yang mungkin terjadi.
5. Faktor Ekologi
Ekologi mengacu pada hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya, misalnya
dengan tanah, air, dan udara, yang mendukung kehidupan mereka.
G. Aspek Ekonomi, Sosial Dan Politik
Perkembangan strata sosial kemasyarakatan di suatu daerah akan mempengaruhi organisasi
perusahaan. Perkembangan politik negara yang secara tidak langsung akan mempengaruhi
perkembangan ekonomi merupakan faktor yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Organisasi perusahaan akan cenderung mengikuti perkembangan sosial politik yang terjadi
guna antisipasi terhadap berlangsungnya stabilitas dan kebijakan di dalam organisasi
perusahaan.
Kepastian hukum di dalam suatu negara merupakan momen yang sangat mempengaruhi
pelaku pasar. Kebijakan negara yang dituangkan dalam Peraturan Perundang-undangan
secara tidak langsung akan menentukan arah strategi perusahaan. Kepastian hukum
merupakan faktor yang tidak bisa ditawar dan pasti akan sangat mempengaruhi sebuah
perusahaan.
H. Aspek Bahan Baku
Tempe merupakan bahan makanan hasil fermentasi kacang kedelai atau jenis kacangkacangan lainnya menggunakan jamur Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae. Tempe
umumnya dibuat secara tradisional dan merupakan sumber protein nabati. Di Indonesia
pembuatan tempe sudah menjadi industri rakyat (Francis, 2000 dalam Suharyono dan
Susilowati, 2006).
Tempe mengandung berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh seperti protein, lemak,
karbohidrat, dan mineral. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih
mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh. Hal ini dikarenakan kapang yang tumbuh

pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang


mudah dicerna oleh manusia (Kasmidjo, 1990).
Dalam beberapa tahun belakangan ini produksi kedelai terus merosot, sedangkan kebutuhan
terhadap kedelai masih relatif besar. Menurut Widjang (2008), kebutuhan kedelai dalam
negeri terhadap kedelai sebesar 2 juta ton/ tahun, sebanyak 1,4 juta ton dipenuhi dari impor.
Harga kedelai dunia melonjak hingga di atas 100% dari normalnya Rp 2500,00 per kg
(Agustus- September 2007) dan harga kedelai menjadi Rp 7500,00 per kg (Awal Januari
2008).
Produksi kedelai domestik saat ini tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan nasional. Untuk
mencukupi kebutuhan kedelai yang terus meningkat, Indonesia semakin tergantung pada
impor. Kejayaan sebagai produsen besar dunia pun memudar. Saat ini Indonesia sudah
menjadi negara pengimpor kedelai terbesar di dunia. Setiap tahun, jumlah kedelai yang
diekspor ke Indonesia sebanyak 1.600 ton. Dari jumlah itu, sekitar 70-80 persen digunakan
sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe di Jakarta. Sebagian besar kedelai yang
diimpor berasal dari Kanada, Argentina dan Brasil.
Dulu Indonesia merupakan produsen kedelai ketiga terbesar dunia (pada tahun 1960an),
hanya kalah oleh Amerika Serikat dan China. Kini, hanya Amerika Serikat yang bisa
bertahan. Dan posisi Indonesia telah digeser oleh Argentina, Paraguay, Kanada, dan Bolivia.
China kini di peringkat keempat. Indonesia dengan produksi tahunan di bawah 1 juta ton
tidak berada dalam kelompok sepuluh besar. Amerika Serikat dan Brasil, semakin kuat
setelah Argentina masuk menjadi produsen utama kedelai. Sementara Asia, yang ditopang
oleh China dan India, hanya mampu memproduksi sepertujuh dari produksi negara-negara di
Amerika.
Produksi kedelai Indonesia dalam dekade yang terakhir, tidak dapat melampaui 1 juta ton per
tahunnya. Padahal pada masa jaya tahun 1991-1996, Indonesia memproduksi lebih dari 1,5
juta ton per tahun. Angka ini hanya untuk menutup sekitar 80 persen kebutuhan lokal. Kini,
kebutuhan kedelai nasional sekitar 2,4 juta ton setahun. Penurunan tersebut terjadi karena
telah berkurangnya luas areal tanam dan panen serta minat petani dalam menanam kedelai
yang merupakan bahan baku industri makanan seperti tahu dan tempe ini. Kedelai pun harus
diimpor.
Kini nilai impor kedelai Indonesia dalam lima tahun ini, naik 30 persen per tahunnya.
Naiknya impor tersebut dikarenakan adanya kemudahan tata niaga impor terkait liberalisasi
produk pertanian. Untuk itu upaya meningkatkan produktivitas kedelai lokal sangat
diperlukan. Jika tidak, Indonesia tidak akan mempunyai mekanisme untuk melindungi petani
dari serbuan impor pangan. Pengembangan kedelai nasional, terutama yang berbasis
kewilayahan, perlu mendapat perhatian khusus. Produksi kedelai nasional dalam 40 tahun
terakhir masih mengandalkan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat, Jawa
Barat, Aceh, dan Lampung juga menjadi pusat produksi kedelai (Anonim 2011).
Untuk memproduksi tempe tahu digunakan bahan baku pokok yang sama, yaitu kedelai. Jenis
kedelai terdiri atas 4 macam, kedelai kuning, kedelai hitam, kedelai coklat, dan kedelai hijau.
Para pengrajin tempe biasanya memakai kedelai kuning sebagai bahan baku utama. Pengrajin
tempe tahu biasanya menggunakan kedelai kuning, akan tetapi juga kedelai jenis lain,
terutama kedelai hitam.
Syarat mutu kedelai untuk memproduksi tempe tahu kualitas pertama adalah sebagai berikut :
1. Bebas dari sisa tanaman (kulit palang, potongan batang atau ranting, batu, kerikil, tanah
atau biji-bijian
2. Biji kedelai tidak luka atau bebas serangan hama dan penyakit
3. Biji kedelai tidak memar
4. Kulit biji kedelai tidak keriput.
Tingkat mutu kedelai dapat dipilah sesuai kelas mutu sebagai berikut:

Kriteria % Bobot Mutu I Mutu II Mutu III


1. Kadar air maksimum
2. Kotoran maksimum
3. Butir rusak
4. Butir keriput
5. Butir belah
6. Butir warna lain 13 %
1%
2%
0%
1%
0 % 14 %
2%
3%
5%
3%
5 % 16 %
5%
5%
8%
5%
10 %
Dalam pembuatan tempe dikenal beberapa macam ragi atau laru tempe digunakan dalam
proses fermentasi yang menghasilkan tempe dengan kualitas tinggi. Secara tradisional para
pengrajin membuat laru tempe dengan menggunakan tempe yang sudah jadi. Tempe tersebut
diiris tipis-tipis, dikeringkan, digiling menjadi bubuk halus dan hasilnya digunakan sebagai
bahan inokulum dalam proses fermentasi.
Laru lain yang sering dipakai adalah miselium kapang yang tumbuh di permukaan tempe.
Salah satu macam laru dari Jawa Tengah disebut usar, di buat dengan cara membiarkan spora
kapang dari udara tumbuh pada kedelai matang, yang ditaruh antara dua lapis daun waru dan
daun jati atau daun pisang bekas pembungkus tempe. Setelah itu laru diremas-remas lalu
dicampurkan ke dalam biji kedelai yang hendak di lakukan peragian. Untuk satu kilo kedelai
diperkirakan membutuhkan 2 atau 3 lembar daun yang mengandung aru. Bahan-bahan lain
yang digunakan untuk membuat laru adalah beras, terigu dan air bersih. Air bersih dipakai
juga dalam proses produksi tempe untuk mencuci serta merebus biji kedelai sebelum proses
fermentasi. Bahan pembungkus tempe adalah daun pisang maupun plastik berlubang-lubang
(Anonim, 2011).
I. Tempe
Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan
lain yang menggunakan beberapa jenis jamur Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh.
oryzae, Rh. stolonifer (jamur roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum
dikenal sebagai "ragi tempe". Jamur yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawasenyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe
kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam
tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan
antioksidan pencegah penyakit degeneratif (Astawan dan Mita, 1991).
Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia dari jamur yang
merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponenkomponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda

dengan tahu, tempe terasa agak masam (Anonim, 2010).


Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di
seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya
sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai
penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga
sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan
tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe (Syarief, 1999)
Menurut Sarwono (1982), Pembuatan tempe secara tradisional biasanya menggunakan tepung
tempe yang dikeringkan di bawah sinar matahari. Sekarang pembuatan tempe ada juga yang
menggunakan ragi tempe. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan
tempe agar diperoleh hasil yang baik ialah :
1. Kedelai harus dipilih yang baik (tidak busuk) dan tidak kotor
2. Air harus jernih, tidak berbau dan tidak mengandung kuman penyakit
3. Cara pengerjaannya harus bersih
4. Bibit tempe (ragi tempe) harus dipilih yang masih aktif (bila diremas membentuk butiran
halus atau tidak menggumpal).
Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai
terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk
tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain).
Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg
(Astuti, 1999).
Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat
proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung
koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat
antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi,
dan lain-lain. Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak
banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan
yang dihasilkan oleh jamur tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi
lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena
itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga
lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur (Radiyati, 1992).
Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara
kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam
amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan
dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada
bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.
Dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan
diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan
menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala
flatulensi (kembung perut). Mutu gizi tempe yang tinggi memungkinkan penambahan tempe
untuk meningkatkan mutu serealia dan umbi-umbian. Hidangan makanan sehari-hari yang
terdiri dari nasi, jagung, atau tiwul akan meningkat mutu gizinya bila ditambah tempe.
BAB III
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
Tempe Samodra yang diproduksi di daerah Mojosongo merupakan tempe yang sudah
mempunyai brand image yang cukup dikenal oleh masyarakat khususnya kota Surakarta.

Sampai sekarang ini Tempe Samodra masih mendominasi pangsa pasar di wilayah kota
Surakarta. Wilayah pemasarannya yaitu meliputi pasar Nusukan, pasar Gede, pasar Legi dan
pasar Mojosongo.
Pada awal pendirian rumah produksi tempe yang dimulai pada tahun 1985, Pak Ari hanya
membuat 5 kg tempe yang dipasarkan sendiri ke pasar-pasar tradisional. Namun lamakelamaan permintaan dari konsumen bertambah banyak, sehingga Pak Ari menambahkan
jumlah produksi tempenya. Dengan bertambahnya permintaan tempe itu sampai saat ini, Pak
Ari bisa mengolah 7-8 kuintal kedelai menjadi tempe. Saat inipun Pak Ari tidak perlu lagi
memasarkan tempenya ke pedagang-pedagang di pasar, tetapi pedagang dan konsumen
akhirlah yang datang ke rumah produksi Pak Ari.
Tempe merupakan makanan rakyat, yang selain murah juga mempunyai kandungan protein
yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kedelai yang masih utuh. Oleh karena itu setiap
orang bisa membeli dan mengkonsumsi tempe setiap harinya. Pihak manajemen Tempe
Samodra sendiri sudah melakukan segmentasi pasar yaitu dengan menbuat produk tempe
yang mempunyai beberapa macam ukuran, dengan harga 300 rupiah, 400 rupiah, 500 rupiah,
700 rupiah, serta 1200 rupiah. Tempe yang dijual dengan harga 300-500 rupiah biasanya
dibeli oleh ibu-ibu rumah tangga serta pedagang yang menjual gorengan. Sedangkan tempe
yang dijual dengan harga 700-1200 rupiah biasanya dibeli oleh pedagang yang ingin
menjualnya kembali ke konsumen akhir. Ada satu jenis tempe yang paling disukai oleh
orang-orang yang secara ekonomi termasuk menengah ke atas, yaitu tempe yang dibungkus
daun jati. Untuk tempe jenis ini pak Ari menjualnya dengan harga 500 rupiah per bungkus.
Banyaknya pengusaha yang memproduksi tempe di wilayah Surakarta menjadi pesaing utama
untuk mendapatkan pangsa pasar. Namun hal ini tidak membuat Pak Ari yang sebagai
pemilik usaha Tempe Samodra risau. Dengan adanya banyak pesaing di pasar itulah yang
menjadikan penyemangat bagi Pak Ari untuk tetap memproduksi tempe yang mempunyai
kualitas yang baik. Sehingga tempe yang dihasilkan mutunya tidak kalah baik dengan tempe
yang dihasilkan orang-orang pada umumnya. Selain itu, Tempe Samodra sudah mempunyai
nama yang dikenal di masyarakat, sehingga dengan tempe yang diproduksi dengan kualitas
yang baik, tidak akan membuat konsumen kecewa dan kemudian pindah ke tempe lain. Cara
lain yang dilakukan Pak Ari untuk tetap menjaga pangsa pasarnya yaitu dengan menjalin
pertemuan rutin setiap tahunnya dengan para pedagang dan memberikan tunjangan karena
keloyalitas yang mereka miliki untuk tetap membeli Tempe Samodra sehingga kontinyuitas
pemasaran tempe tetap terjaga.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh manajemen Tempe Samodra dalam
mengembangkan target pasarnya antara lain:
1. Mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen dengan menggunakan variabel-variabel
yang dapat mengkuantifikasi kemungkinan permintaan dari setiap segmen, biaya melayani
setiap segmen, dan kesesuaian antara kompetensi inti perusahaan dan peluang pasar sasaran.
2. Memilih satu atau lebih segmen sasaran yang ingin dilayani berdasarkan potensi laba dari
setiap segmen tersebut dan kesesuaiannya dengan strategi yang telah ditentukan oleh
perusahaan.
BAB IV
ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS
Pada aspek ini mengkaji apakah secara teknis dan pilihan teknologi, rencana agribisnis dapat
dilaksanakan secara layak atau tidak baik saat pembangunan proyek atau operasional secara
rutin
Pada usaha tempe "Samodra" juga menggunakan beberapa teknologi baik dalam segi

produksi maupun segi pemasaran. Dari segi produksi, usaha tempe "Samodra" menggunakan
beberapa alat besar dalam pemrosesannya, mesin-mesin tersebut antara lain mesin untuk
mengelupas kulit ari kedelai serta alat untuk merebus kedelai. Jumlah total tenaga kerja yang
digunakan pada usaha tepe "Samodra" yaitu 26 orang yang sebagian besar berasal dari
masyarakat sekitar. Kegiatan produksi tempe sendiri dilakukan setiap hari mulai dari pukul
06.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB. Usaha tempe "Samodra" ini dijalankan sejak
tahun 1985 yang bertempat di Kampung Krajan RT 04 / RW III, Mojosongo. Pada awalnya,
masyarakat daerah tersebut mengusahakan tahu, namun setelah melihat kesuksesan Bapak
Ari Gunanto (pemilik usaha tempe "Samodra"), lama kelamaan masyarakat ikut beralih
mengusahakan tempe daripda tahu hingga sekarang. Salah satu inovasi yang dilakukan oleh
usaha tempe "Samodra" ini yaitu dari segi packaging dengan memadukan konsep secara
tradisional dan modern yaitu dengan menggunakan daun pisang dan kertas pembungkus.
Harga produk tempe dengan packaging ini sedikit lebih mahal karena pangsa pasar dari
produk ini adalah kalangan masyarakat menengah atas. Kebanyakan produk jenis ini
digunakan sebagai oleh-oleh.
Berikut adalah proses produksi pembuatan tempe Samodra:

Gambar 1. Proses Pembuatan Tempe

BAB V
ASPEK FINANSIAL
Studi aspek keuangan bertujuan untuk mengetahui perkiraan pendanaan dan aliran kas proyek
agribisnis, sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya rencana bisnis yang dikaji.
Tabel 5.1. Perincian Biaya Investasi Modal Tetap
No Uraian Satuan Jumlah Harga/satuan Total (Rp)
A Tanah M2 60 500.000 30.000.000
B Bangunan
Ruang Produksi
M2
55
350.000
19.250.000
C Mesin dan Peralatan
1. Mesin pengupas kulit ari kedelai
2. Peralatan penunjang
Sub Total
Unit
Unit
1
2
8.000.000
5.000.000
8.000.000
10.000.000
18.000.000
D Instalasi Penunjang
1. instalasi air
2. instalasi listrik
Sub Total
Unit
Unit
1
1
600.000
1.500.000
600.000
1.500.000
2.100.000
E Alat Kantor Paket 1 5.100.000 5.100.000
F Transportasi Unit 1 70.000.000 70.000.000
144.450.000

Sumber : Data Sekunder


Tabel 5.2. Perincian Biaya Penyusutan
No Uraian Umur (th) Nilai Awal Nilai Akhir Depresiasi per tahun
A Bangunan
Ruang Produksi
20
19.250.000
7.500.000
559.000
B Mesin dan Peralatan
1. Mesin pengupas kulit ari kedelai
2. Peralatan penunjang
10
5
8.000.000
10.000.000
3.000.000
5.000.000
500.000
1.000.000
C Alat Kantor 5
5.100.000
2.000.000
620.000
D Transportasi 5 70.000.000 50.000.000 4.000.000
6.679.000
Sumber : Data Sekunder
Tabel 5. 3. Tabel Jumlah dan Biaya Tenaga Kerja
No Uraian Jumlah orang Gaji/bulan/orang Total (Rp/bl) Gaji/tahun
1 Pimpinan 1 750.000 750.000 9.000.000
2 TK Senior 12 780.000 9.360.000 112.320.000
3 TK Sedang 7 690.000 4.830.000 57.960.000
4 TK Junior 5 600.000 3.000.000 36.000.000
215.280.000
Sumber : Data Sekunder
Tabel 5. 4. Perincian Biaya Bahan Baku dan Bahan Pengemas
No Uraian Satuan Jumlah Harga/satuan Biaya/tahun
1 Bahan Baku
Kedelai
Ragi
Tepung Tapioka
Sub Total
Kg

Kg
Kg
800
0,5
4
6.000
7.500
5500
1.728.000.000
2.700.000
7.920.000
1.738.620.000
2 Bahan Pengemas
Plastik
Kertas minyak
Daun pisang
Sub Total
bungkus
bungkus
bungkus
10.200
6.800
6.800
20
30
15
73.440.000
73.440.000
36.720.000
183.600.000
3 Utilitas
Listrik
Bahan bakar
Sub Total
1.020.000
39.600.000
40.620.000
4 Pajak 600.000
1.963.440.000
Sumber : Data Sekunder
Tabel 5. 5. Biaya Pemeliharaan dan Biaya Perbaikan
Uraian Nilai Investasi Perawatan Biaya/tahun
Bangunan
Ruang Produksi
19.250.000
5%
962.500

Mesin dan Peralatan


1. Mesin pengupas kulit ari kedelai
2. Peralatan penunjang
8.000.000
10.000.000
4%
2%
320.000
200.000
Instalasi Penunjang 2.100.000 2,5% 52.500
Alat Kantor 5.100.000 3% 153.000
Transportasi 70.000.000 5% 3.500.000
5.188.000
Sumber : Data Sekunder
Tabel 5. 6. Ringkasan Biaya Operasional
No. Uraian Jumlah Biaya
A Biaya Tetap
1. Gaji Karyawan
2. Penyusutan
3. Pemeliharaan dan Perbaikan
4. Pajak
215.280.000
6.679.000
5.188.000
600.000
B Biaya Variabel
1. Bahan Baku
2. Bahan Pengemas
3. Biaya Utilitas
1.738.620.000
183.600.000
40.620.000
Total 2.190.587.000
Sumber : Data Sekunder
Tabel 5. 7. BUNGA
No. Item Bunga 2% Biaya/tahun
1 Biaya pokok produksi 2.985.500 35.826.000
2 Biaya usaha 26.500 318.000
3 Investasi 12.000 144.000
4 Amortasi 300 3.600
JUMLAH 36.291.600
Sumber : Data Sekunder
NPV
Arus Kas Biaya dan Manfaat (DF 20%)
Tabel 5. 8. Arus Kas Biaya dan Manfaat

Tahun Cost Benefit (B) B-C DF 20% NPV 20%


Investasi Pemeliharaan Produksi Total
1 300.000.000 125.000 1.660.498.500 1.960.623.500 2.188.800.000 228.176.500 0,83333333
190147082,6
2 274.500.000 188.925 1.660.498.500 1.935.187.425 2.188.800.000 253.612.575 0 ,
69444444 176119832
3 250.000.000 188.925 1.991.448.792 2.241.637.717 2.238.800.000 -2.837.717 0,5787037
-1.642.197,327
4 248.750.000 188.925 1.991.448.792 2.240.387.717
2.238.800.000 -1.587.717 0,48225309 -765.681,4293
5 225.670.000 188.925 1.991.448.792 2.217.307.717
2.238.800.000 21.492.283 0,40187757 8.637.266,466
6 218.930.000 188.925 1.991.448.792 2.210.567.717
2.238.800.000 28.232.283 0,33489798 9.454.934,547
7 200.790.000 188.925 1.991.448.792 2.192.427.717
2.238.800.000 46.372.283 0,27908165 12.941.653,25
8 198.800.000 188.925 1.991.448.792 2.190.437.717
2.238.800.000 48.362.283 0,23256804 11.247.521,37
9 190.650.000 188.925 1.991.448.792 2.182.287.717
2.238.800.000 56.512.283 0,1938067 10.952.459,08
10 190.500.000 188.925 1.991.448.792 2.182.137.717
2.238.800.000 56.662.283 0,16150558 9.151.274,88
42.624.4145,4
Untuk menghitung IRR, digunakan i= 49% dan i= 50%
Tahun Benefit (B) B-C DF
(49%) NPV DF
(50%) NPV
Cost
Investasi Pemeliharaan Produksi Total
1 300.000.000 125.000 1.660.498.500 1.960.623.500 2.188.800.000 228.176.500 0,67114094
153138590,7 0.66666667 -200000000
2 274.500.000 188.925 1.660.498.500 1.935.187.425 2.188.800.000 253.612.575 0,45043016
114234752,7 0.44444444 -32891111.1
3 250.000.000 188.925 1.991.448.792 2.241.637.717 2.238.800.000 -2.837.717 0,30230212
-857847,8651 0.2962963 79488854.36
4 248.750.000 188.925 1.991.448.792 2.240.387.717
2.238.800.000 -1.587.717 0,20288733 -322127,6629 0.19753086 52992569.58
5 225.670.000 188.925 1.991.448.792 2.217.307.717
2.238.800.000 21.492.283 0,13616599 2926517,992 0.13168724 35328379.72
6 218.930.000 188.925 1.991.448.792 2.210.567.717
2.238.800.000 28.232.283 0,09138657 2580051,507 0.0877915 23552253.14
7 200.790.000 188.925 1.991.448.792 2.192.427.717
2.238.800.000 46.372.283 0,06133327 2844163,754 0.05852766 15701502.1
8 198.800.000 188.925 1.991.448.792 2.190.437.717
2.238.800.000 48.362.283 0,04116327 1990749,713 0.03901844 10467668.06
9 190.650.000 188.925 1.991.448.792 2.182.287.717
2.238.800.000 56.512.283 0,02762635 1561228,109 0.02601229 6978445.376
10 190.500.000 188.925 1.991.448.792 2.182.137.717
2.238.800.000 56.662.283 0,01854118 1050585,588 0.01734153 4652296.918

279.146.664,6 - 3.729.141,85
1. Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) suatu proyek atau usaha adalah selisih antara nilai sekarang (present
value) manfaat dengan arus biaya. NPV juga dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus
kas yang ditimbulkan oleh investasi. Perhitungan NPV perlu ditentukan tingkat bunga yang
relevan. Menurut Kadariah et al. (1999) penentuan nilai NPV dapat dituliskan sebagai
berikut:
Keterangan:
Bt = benefit bruto proyek pada tahun ke-t
Ct = biaya bruto proyek pada tahun ke-t
i = tingkat suku bunga
n = umur ekonomis proyek (10 tahun)
t = tahun ke-t (t = 1,2,3,...,10 )
Kriteria kelayakan berdasarkan NPV yaitu:
a. NPV > 0, artinya suatu proyek sudah dinyatakan menguntungkan dan layak untuk
dijalankan.
b. NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang dipergunakan.
Dengan kata lain, proyek tersebut merugikan dan tidak layak untuk dijalankan.
c. NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu mengembalikan persis sebesar modal sosial
opportunity cost faktor produksi normal. Dengan kata lain, proyek tersebut tidak untung dan
tidak rugi.
NPV = Rp 42.624.4145,4 > 0 LAYAK
Berdasarkan perhitungan NPV diperoleh nilai sebesar 42.624.4145,4. Hal ini nilai NPV lebih
besar dari 0. Artinya usaha tempe Samodra layak untuk tetap dijalankan di masa yang akan
datang, karena memberikan manfaat (benefit).
2. Internal Rate of Return (IRR)
Menurut Kadariah et al. (1999), IRR merupakan tingkat keuntungan atas investasi bersih
dalam suatu proyek. Setiap benefit bersih yang diwujudkan secara otomatis ditanam kembali
dalam tahun berikutnya dan mendapatkan tingkat keuntungan suku bunga yang sama yang
diberi bunga selama sisa umur proyek. Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga
maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan. IRR juga
merupakan nilai discount rate yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Suatu investasi
dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan tidak
layak jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku. Penentuan nilai IRR
dapat dituliskan sebagai berikut:
Keterangan:
NPV = Nilai NPV yang positif
NPV = Nilai NPV yang negatif
i = Tingkat suku bunga pada saat NPV positif
i = Tingkat suku bunga pada saat NPV negatif
Untuk menghitung IRR, digunakan i= 49% dan i= 50%
IRR = i + (i i)
= 0,49 + (0,5-0,49)
= 0,49986 = 49, 986%
IRR = 49,986 % LAYAK

Berdasarkan perhitungan IRR diperoleh nilai sebesar 0, 49986 (49,986%). Hal ini berarti nilai
IRR lebih besar dari 0, maka usaha tempe Samodra layak untuk tetap dijalankan di masa
yang akan datang karena memberikan manfaat.
3. Net Benefit Cost-Ratio (Net B/C)
Menurut Kadariah et al. (1999), Net B/C merupakan perbandingan sedemikian rupa sehingga
pembilangnya terdiri atas present value total dari benefit bersih dalam tahun-tahun dimana
benefit bersih tersebut bersifat positif, sedangkan penyebutnya terdiri atas present value total
dari biaya bersih dalam tahun-tahun tertentu dimana biaya kotor lebih besar dari pada benefit
kotor. Dengan kata lain, Net B/C merupakan angka perbandingan antara jumlah nilai
sekarang yang bernilai positif dengan jumlah nilai sekarang yang bernilai negatif. Penentuan
Net B/C sebagai berikut:
Dimana
Keterangan :
Bt = manfaat yang diperoleh tiap tahun atau benefit bruto proyek pada tahun ke-t
Ct = biaya yang dikeluarkan tiap tahun atau biaya bruto proyek pada tahun ke-t
n = jumlah tahun (10 tahun)
i = tingkat bunga (diskonto)
t = tahun ke-t (t = 1,2,3,,10)
Kriteria investasi berdasarkan Net B/C adalah:
a. Net B/C > 1, maka NPV > 0, proyek menguntungkan atau layak dijalankan.
b. Net B/C < 1, maka NPV < 0, proyek merugikan atau tidak layak dijalankan.
c. Net B/C = 1, maka NPV = 0, proyek tidak untung dan tidak rugi namun masih layak
dijalankan.
Net B/C =
=
= 2,371893409 > 1 LAYAK
BAB VI
ASPEK LINGKUNGAN
Pengolahan pembuatan tempe akan menghasilkan produk sampingan, yaitu berupa limbah
cair tempe. Pembuangan limbah cair tempe dilingkungan akan mengganggu keseimbangan
lingkungan, bahkan dapat mencemari lingkungan sekitar. Tentunya hal ini akan berbahaya
jika sampai menggenangi selokan atau aliran sungai, karena di sana akan ditumbuhi oleh
bakteri-bakteri berpenyakit, meskipun banyak juga bakteri yang bermanfaat. Padahal limbah
cair tempe tersebut memiliki kandungan makanan kompleks seperti karbohidrat, protein, dan
lemak. Jika dimanfaatkan secara tepat maka akan mengurangi pencemaran lingkungan dan
menghilangkan sumber penyakit (Anonim, 2011).
1. Pemanfaatan Limbah Tempe
Limbah tempe merupakan salah satu limbah yang masih memiliki nilai ekonomis, karena
kandungan senyawa organik dan nutrient yang terdapat didalamnya masih relatif tinggi jika
dibandingkan dengan yeast extract. Limbah tempe digunakan sebagai kosubstrat untuk
penyisihan zat warna azo dari industri tekstil dengan menggunakan bioreactor membran
aerob-anaerob. Bioreaktor terdiri dari modifikasi proses lumpur aktif yaitu proses kontakstabilisasi serta reaktor anoksik yang dikombinasikan dengan membran ultrafiltrasi secara

eksternal menggantikan proses sedimentasi pada proses lumpur aktif konvensional. Umpan
terdiri dari zat warna azo Remazol Black-5 pada konsentrasi 110-120 mg/L dan limbah tempe
sebagai sumber organik dan nutrient dengan konsentrasi 10%.
Proses produksi tempe, memerlukan banyak air yang digunakan untuk
perendaman, perebusan, pencucian serta pengupasan kulit kedelai. Limbah yang
diperoleh dari proses proses tersebut diatas dapat berupa limbah cair maupun
limbah padat. Sebagian besar limbah padat yang berasal dari kulit kedelai, kedelai
yang rusak dan mengambang pada proses pencucian serta lembaga yang lepas
pada waktu pelepasan kulit, sudah banyak yang dimanfaatkan untuk makanan
ternak. Limbah cair berupa air bekas rendaman kedelai dan air bekas rebusan
kedelai masih dibuang langsung diperairan disekitarnya (Anonim, 1989).
Jika limbah tersebut langsung dibuang keperairan maka dalam waktu yang relative singkat
akan menimbulkan bau busuk dari gas H 2 S, amoniak ataupun fosfin sebagai akibat dari
terjadinya fermentasi limbah organik tersebut (Wardojo,1975).
Adanya proses pembusukan, akan menimbulkan bau yang tidak sedap, terutama pada musim
kemarau dengan debit air yang berkurang. Ketidak seimbangan lingkungan baik fisik, kimia
maupun biologis dari perairan yang setiap hari menerima beban limbah dari proses produksi
tempe ini, akan dapat mempengaruhi kualitas air dan kehidupan organisme di perairan
tersebut .
Limbah kedelai tempe Samodra dimanfaatkan sebagai biogas dan pakan ternak sehingga
tidak ada yang disia-siakan. Disamping bermanfaat sebagai alternatif usaha, ternyata dapat
meminimalisir pencemaran lingkungan. Hal ini tentunya yang sangat diharapkan dari
kegiatan usaha apapun. Ada kontribusi positif yang diberikan pabrik dari usaha yang
dilakukan mengingat kepedulian pabrik terhadap masyarakat sekitar akan sangat berpengaruh
terhadap image pabrik dimata masyarakat. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sebagian
pabrik ternyata membuang limbah tanpa mengindahkan lingkungan sekitar. Sehingga yang
terjadi adalah kerusakan lingkungan dan masalah kenyamanan hidup masyarakat sekitar.
BAB VII
ASPEK EKSTERNAL INDUSTRI
Aspek eksternal indsutri merupakan aspek untuk mengetahui sejauh mana pengaruh
lingkungan luar perusahaan yang paling dekat akan memepengaruhi agribisnis yang
dijalankan.
Dalam usaha tempe "Samodra" ini memiliki banyak pesaing yaitu sesama pengusaha tempe
maupun pengusaha barang substitusi dari tempe, misalnya tahu. Namun, ancaman tersebut
bukan merupakan ancaman yang begitu berarti bagi tempe "Samodra" sendiri. Dari segi nama
sendiri, masyarakat Solo sebagian besar lebih mengenal tempe "Samodra" daripada merek
yang lain, ini merupakan nilai tambah tersendiri bagi usaha tempe "Samodra". Ancaman yang
terkadang berarti yaitu pada kenaikan harga kedelai yang pernah melambung tinggi. Namun,
hal ini dapat disiasati dengan ukuran dari tempe yang diperkecil dengan harga yang tetap.
BAB VIII
ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK
Aspek ekonomi, sosial dan politik merupakan suatu aspek yang digunakan untuk mengetahui
sejauh mana kondisi ekonomi, sosial serta politik yang akan mempengaruhi bisnis yang akan
dilaksanakan baik pada sisi positif maupun pada sisi negatif. Hasil kajian ini dapat

memberikan gambaran seberapa layak bisnis ini dilihat dari aspek tersebut.
Dari segi harga, tempe "Samodra" termasuk terjangkau, sehingga produk ini dapat
dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat. Dari segi sosial sejauh ini yang telah dilakukan
oleh pemilik tempe "Samodra" ini yaitu melakukan gathering dengan beberapa pelanggan
setia, kegiatan buka bersama gratis saat bulan Ramadhan, pembagian kaos gratis berlabelkan
tempe "Samodra". Dari segi pemerintahan, sejauh ini sangat mendukung pada kegiatan usaha
tempe "Samodra". Hal ini terlihat dari beberapa kegiatan yang telah dilakukan dari pihak
pemerintah yaitu dengan training education yang berupa pengelolaan biogas limbah produksi
serta pelatihan usaha kecil menengah. Kunjungan gratis ke beberapa industri atau perusahaan
juga pernah dilakukan. Pemerintah juga sering memberikan tawaran pinjaman lunak tanpa
agunan serta adanya subsidi yang melalui koperasi berupa bahan baku kedelai dengan harga
yang lebih murah daripada distributor, namun adanya subsidi ini hanya pada waktu
tertentu (tidak secara konstan).
BAB IX
ASPEK BAHAN BAKU
Kedelai atau kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan
dasar banyak makanan Timur Jauh seperti kecap, tahu dan tempe. Kedelai yang
dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max (disebut kedelai
putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau) dan Glycine soja (kedelai
hitam, berbiji hitam). G. max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti
Tiongkok dan Jepang selatan, sementara G. soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia
Tenggara.Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia.
Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru
dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.Di Indonesia, kedelai menjadi sumber
gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhn
kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih
bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan
Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat
fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat
perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia
Kedelai, perkembangan produksinya dapat dibagi dalam dua periode besar, yaitu
pertumbuhan yang menurun dan stagnant. Pertumbuhan menurun terjadi selama 1990-2000.
Produksi rata-rata mencapai 1,4 juta ton dan menurun sebesar 3,6 %/Th. Produksi stagnant
terjadi pada 2001-2006, produksi menurun drastis dari periode sebelumnya dan bergerak
lambat pada angka 742 ton. Pertumbuhan produksi pun demikian rendah, hanya 0,4 %/Th.
Pertumbuhan produksi tidak sejalan dengan gencarnya program bangkit kedelai. Persentase
produksi terhadap kedelai dunia mengecil .
Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup baik, mengingat
ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah
dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam usahatani. uktur, serta
pengaturan tata niaga dan insentif usaha.
Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, dengan sasaran peningkatan produksi 15% per
tahun, sasaran produksi 60% dicapai pada tahun 2009. dan swasembada baru tercapai pada
tahun 2015. Untuk mendukung upaya khusus peningkatan produksi kedelai tersebut
diperlukan investasi sebesar Rp. 5,09 trilyun (2005-2009) dan 16,19 trilyun (2010-2025).
Dalam periode yang sama, investasi swasta diperkirakan masing-masing sebesar Rp. 0,68
trilyun dan Rp. 2,45 trilyun.
Kedelai dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein murah bagi masyarakat dalam upaya

meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk maka
permintaan akan kedelai semakin meningkat. Pada tahun 1998 konsumsi per kapita baru 9
kg/tahun, kini naik menjadi 10 kg/th. Dengan konsumsi perkapita rata-rata 10 kg/tahun maka
dengan jumlah penduduk 220 juta dibutuhkan 2 juta ton lebih per tahun. Untuk itu diperlukan
program khusus peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Produksi kedelai pernah
mencapai 1,86 juta pada tahun 1992 (tertinggi) kemudian turun terus hingga kini 2007, hanya
0,6 juta ton.
Indonesia merupakan salah satu negara pengkonsumsi kedelai terbesar di dunia. Olahan
pangan asal kedelai dominan di Indonesia adalah tahu dan tempe. Komoditas kedelai saat ini
tidak hanya diposisikan sebagai bahan pangan dan bahan baku industri pangan, namun juga
ditempatkan sebagai bahan makanan sehat dan baku industri non-pangan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik agroindustri tempe samudra terkait dengan
aspek bahan baku, selama keberjalanan usaha bahan baku diperoleh dari distributor tahu
wilayah pemasaran Solo yang tidak lain merupakan bahan baku kedelai import. Sumber
pasokan bahan baku import dipilih karena ada beberapa alasan, diantaranya:
a. Harga yang lebih murah dari kedelai lokal
Harga memang menjadi aspek penting terkait dengan pemilihan suatu produk. Hal ini yang
terjadi salah satunya pada harga bahan baku dalam pembuatan tempe, yaitu kedelai. Sumber
bahan baku agroindustri tempe samudra berasal dari kedelai import karena harganya yang
lebih murah dibandingkan dengan kedelai dalam negeri (kedelai lokal). Sehingga otomatis
pihak agroindustri tempe memilih kedelai dengan harga yang lebih rendah. Negara importir
utama untuk komoditi kedelai ke Indonesia adalah Amerika Serikat, dengan rata rata share
impor dari tahun 1999 2004 sebesar 54% dari seluruh impor kedelai Indonesia atau 1,42
juta ton per tahun. India menempati posisi kedua dengan rata rata share sebesar 19%
(sekitar 491,935,245 kg per tahun).
Kebijakan impor kedelai merupakan suatu hal yang sangat menentukan gairah petani dalam
melakukan budidaya kedelai. Penyebabnya adalah karena harga kedelai impor lebih murah
dari pada harga kedelai dalam negeri. Hal tersebut antara lain disebabkan karena petani luar
negeri (Amerika, Brazil, Argentina, Cina dan lain-lain) bisa memproduksi kedelai dengan
biaya rendah.
b. Kualitas yang lebih bagus dibandingkan dengan kedelai lokal
Kualitas menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan suatu produk, khususnya dalam
pemilihan bahan baku pada usaha agroindustri karena kualitas akan menentukan produk akhir
yang akan dipasarkan, sehingga kadangkala pihak agroindustri rela mengeluarkan uang
berlebih untuk mendapatkan kualitas bahan baku yang baik. Hal ini yang terjadi pada
komoditas kedelai yang merupakan bahan baku dalam pembuatan tempe, yang terjadi saat ini
adalah kedelai impor kualitasnya lebih bagus dibandingkan dengan kedelai impor. Hal ini
yang mendorong pihak agroindustri memilih kedelai import sebagai alternatif pilihan bahan
baku dalam memproduksi tempe kedelai.
c. Pasokan bahan baku dapat berlangsung secara kontinyu
Kontinyuitas usaha sangat dipertahankan karena akan berpengaruh terhadap aspek-aspek
dalam suatu usaha, diantaranya pendapatan dan pasar. Hal ini yang terjadi pada agroindustri
tempe samudra dimana kegiatan usaha agroindustrinya selama ini selalu dapat berjalan
kontinyu karena pasokan bahan baku yang tidak pernah berhenti.
Pasokan kedelai ke Tanah Air selama ini didatangkan dari Argentina, AS, China, dan India
sebanyak kurang lebih 1,8 juta ton per tahun. Sementara itu kapasitas produksi dalam negeri

masih jauh dari kebutuhan di mana rata-rata sebesar 800.000 ton per tahun.
Sumber bahan baku dapat diperoleh dari beberapa sumber diantaranya dari mengusahakan
sendiri, membeli di pasar dan menjalin kemitraan. Pada agroindustri tempe samudra, sampai
saat ini sumber bahan baku hanya diperoleh dengan membeli dari distributor wilayah
Surakarta. Hal ini dilakukan karena tidak ingin mengambil resiko yang lebih tinggi kalau
mengusahakan kedelai sendiri disamping tidak ada dukungan dari pemerintah juga kedelai
dalam negeri, dipandang dari kualitas masih lebih bagus kedelai impor. Sebenarnya dulu
koperasi pernah memberikan subsidi harga kepada anggota koperasi yang ingin membeli
kedelai dari koperasi. Namun sekarang sudah tidak ada kebijakan subsidi dari koperasi
sehingga bahan baku diperoleh dari distributor kedelai wilayah Surakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1989. Tahu Tempe, Pembuatan, Pengawetan dan Pemanfaatan
Limbah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan IPB. Bogor.
Anggraeni. 2010. Studi Kelayakan Bisnis. http://gieliciousblog.blogspot.com. Diakses pada
tanggal 4 Juni 2011.
Anonim. 2010. Tempe. http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 4 Juni 2011.
Anonim. 2011. www.kelair.bppt.go.id. Diakses pada tanggal 3 Juni 2011 pukul 16.00 WIB.
Astawan, M. dan Mita W. 1991. Teknologi Pengolahan Pangan Nabati Tepat Guna.
Akademika Pressindo. Jakarta.
Astuti, M. 1999. History of the Development of Tempe. Jurnal Agranoff hal. 2-13. Jakarta.
Connell, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi lingkungan. UI Press.
Jakarta.
Halim, A. 2005. Analisis Investasi. Salemba Empat. Jakarta.
Hitt, M A, R. Duane I, and Robert E.H (2005). Strategic Management-Competitiveness and
Globalization. Thomson International Student Edition USA (Hitt et al)
Gunawan, B I. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Gunawan. 2010. Aspek Pasar dan Pemasaran. http://gunawan.multiply.com/reviews/item/2.
Diakses pada tanggal 3 Juni 2011.
Haming, M dan Salim B. 2008. Studi Kelayakan Investasi Proyek dan Bisnis. Universitas
Gunadarma Press. Bekasi.
Kasmidjo, R.B., 1990. TEMPE : Mikrobiologi dan Kimia Pengolahan serta Pemanfaatannya.
PAU Pangan dan Gizi UGM. Yogyakarta.
Kasmir dan Jakfar. 2007. Studi Kelayakan Bisnis, Edisi 2. Kencana. Jakarta.
Kotler, P. 2005. Manajemen Pemasaran, Jilid 2, Edisi 11. Indeks. Jakarta.
Mahida, U N. 1986. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV Rajawali.
Jakarta.
Pearce II, John. A and Richard B. R (2003). Strategic Management-Formulation,
Implementation and Control. Mc Graw-Hill International edition. USA (P and R)
Radiyati, T. 1992. Pengolahan Kedelai. BPTTG Puslitbang Fisika Terapan LIPI. Subang.
Rajaratnam, Y. 2006. Studi Kelayakan Ekonomi Pengembangan Bandara Udara Internasional
Minangkabau (BIM). Jurnal Teknik Sipil, Vol. 3, No. 2:81-91. Padang.
Sarwono, B. 1982. Membuat Tempe dan Oncom. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Syarief, R. 1999. Wacana Tempe Indonesia. Universitas Katolik Widya Mandala. Surabaya.
Subagyo, A. 2008. Studi Kelayakan Teori dan Aplikasi. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
Suharyono, A. S. dan Susilowati. 2006. Pengaruh Jenis Tempe dan Bahan Pengikat Terhadap
Sifat Kimia dan Organoleptik Produk Nugget Tempe. Prosiding Seminar Hasil-hasil
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Lampung, 2006, hal 280-290.
http://lemlit.unila.ac.id/file/Prosiding/ProsidingI2006.pdf (Diakses pada tanggal 17

November 2009).
Umar, H. 2005. Studi Kelayakan Bisnis, Edisi 3. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Wardoyo, S.T.H. 1975. Pengelolaan Kualitas Air. IPB. Bogor.
Widianto, M. 2008. Analisis Kelayakan Investasi Untuk Pengembangan Usaha Pada CV.
Usaha Hidup Istiqomah. Universitas Gunadarma Press. Bekasi.
Widjang, H.S. 2008. Produktivitas Kedelai Rendah Akibat Penanaman Tidak Intensif.
www.media-indonesia.com (Diakses pada tanggal 11 April 2009).