Anda di halaman 1dari 11

BAB 11 EKUITAS

A. Pengertian
Menurut IAI ekuitas adalah hak residualatas aktiva perusahaan setelah
dikurangi semua kewajiban. Sedangkan menurut FASB dalam SFAC no.6 ekuitas
adalah ketertarikan sisa asset suatu entitas yang tetap setelah dikurangi
kewajiban. Ekuitas didefinisi sebagai hak residual untuk menunjukan ekuitas
bukan kewajiban. Ini berarti ekuitas bukan pengorbanan sumber ekonomik masa
datang. Nilai ekuitas bergantung pasa bagaimana asset dan kewajiban dihitung
Gofrey, hodgson, dan holmes (1997) mebedakan ekuitas dan kewajiban atas
kriteria sebagai berikut :
a. Hak-hak masing-masing pihak atas penyelesaian klaim
b. Hak penggunaan asset dalam operasi
c. Substansi ekonomik perjanjian
Kreditor dan pemegang saham sama-sama mempunyai klaim atau hak untuk
dilunasi atas dana yang ditanamkan dalam perusahaan. Akan tetapi, terdapat dua
karakteristik yang melekat pada kreditor yaitu :
1. Penyelesaian klaim kreditor pada tanggal tertentu melalui transfer asset
2. Prioritas diatas pemilik dalam penyelesaian klaim mereka dalam hal
likuidasi
Hak kreditor juiga berbeda dengan pemilik (pemegang saham) dalam hal
penggunaan asset. Kreditor pada umumnya tidak memiliki hak kendali dalam
penggunaan asset perusahaan. Mereka juga tidak mempunyai hak pengambilan
keputusan operasi perusahaan secara langsung. Dilain pihak, pemegang saham
mempunyai semua hak itu namun pemilik mempunyai tanggung jawab
sepenuhnya atas resiko yang dialami perusahaan dan kreditor menanggung
aresiko yang lebih kecil.
Perjanjian menimbulkan hak dan kewajiban. substansi ekonomik perjanjian
antara kreditor dengan perusahaan berbedadengan antara pemegang saham dan
perusahaan dalam hal resiko terhadap rugi. Karena kreditor diprioritaskan, resiko
mereka lebih kecil dari pemegang saham. Pemegang saham menanggung segala
resiko yang berkaitan dengan operasi perusahaan. Oleh karena itu, hak kreditor
1

sebenarnya berbeda dengan hak pemegang saham, kreditor berhak atas pelunasan
sedangkan pemegang saham berhak atas pembagian laba (residual). jadi secara
substansi ekonomik, kreditor menanggung resiko lebih kecil dan dengan
demikian mendapat imbalan tetap berupa bunga dan pokok pinjaman sedangkan
pemegang saham menanggung resiko lebih besar sehingga berhak atas kembalian
(rate of return) yang berfariasi melalui pembagian laba (participation in profits).

B. Komponen Ekuitas Pemegang Saham

C. Tujuan Pengungkapan Ekuitas


Pengungkapan infromasi ekuitas pemegang saham akan sangat dipengaruhi
oleh tujuan penyajian informasi tersebut kepada pemakai statemen keuangan.
Pada umumnya , tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah
menyediakan informasi kepada yang kepentingan efisiensi dan kepemgurusan
manajemen. Tujuan yang lain adalah menyediakan informasi tentang riwayat
serta prospek investasi pemilik dan pemegang ekuitas lainya. Informasi tentang
kewajiban yuridis perseroan terhadap para pemegang saham juga merupakan
salah satu tujuan pengungkapan ekuitas ini. Informasi yang harus disampaikan
yaitu :
2

1. Sumber ekuitas pemegang saham beserta riwayat.


2. Peraturan yuridis yang membatasi

pembagian

deviden

dan

pengembalian modal setoran kepada pemegang saham.


3. Prioritas beberapa golongan pemgang saham atau pemgang ekuitas
lainya.

D. Pembedaan Modal Setoran dan Laba Ditahan


Dilihat dari sumbernya, ada beberapa komponen yang membentuk ekuitas
pemegang saham yaitu :
1.
2.
3.
4.

Jumlah rupiah yang disetorkan oleh pemegang saham


Laba ditahan yang merupakan sisa laba setelah pembagian deviden
Jumlah rupiah yang timbul akibat apresiasi/ revaluasi aset fisis tertentu
Sumber lainya
Pembedaan dua elemen ekuitas pemegang sangat penting.modal setoranperlu
dibedakan dengan laba ditahan karena modal setoran merupakan bentuk kontrak
yuridis yang harus dipertahankan keutuhannya sedangkan laba ditahan
merupakan modal yang tercipta atau terhimpun karena pemanfaatan asset. Modal
setoran merupakan perubahan asset dalam rangka pendanaan sedangkan laba
ditahan merupakan perubahan aset dalam rangka produksi.

E. Modal Yuridis
Modal yuridis timbul karena ketentuan hukum yang mengharuskan bahwa ada
sejumlah rupiah yang harus dipertahankan dalam rangka perlindungan terhadap
pihak lain. Bentuk ketentuan hukum adalah bahwa saham harus mempuyai nilai
nominal atau minimum yang dinyatakan untuk menunjukan hak yuridis. Modal
yuridis merupakan jumlah rupiah minimal yang harus disetor oleh investor
sehingga berbentuk modal yuridis.
Akuntasi menganggap pengungkapan modal yuridis tidak penting karena
akuntansi lebih menekankan pada jumlah rupiah yang benar-benar disetor
pemegang saham sebagai jumlah rupiah kontrak antaraperseroan dengan
pemegang saham. Pengungkapan modal yuridis hanya sematamata untuk
menujukan batas jumlah asset yang dapat didistribusikan kepada pemegang

saham baik dalam bentuk deviden maupun likuidasi modal dan dianggap hal ini
memeberi informasi terhadap batas perlindungan bagi kreditor.

F. Besarnya Modal Yuridis


Modal yuridis dapat sama dengan jumlah yang dikenal dengan nama modal
saham. Modal saham menunjukan jumlah rupiah perkalian antara cacah saham
beredar dengan nilai nominal per saham. Jumlah ini merupakan jumlah rupiah
yang secara yuridis menjadi pemegang saham walaupun dalam transaksi
pembalian saham jumlah rupiah yang disetor/dibayarkan melebihi modal yuridis
tersebut.
Walaupun dalam praktit akuntansi dalam kenyataanya memecah modal setoran
menjadi modal saham dan modal setoran lain, modal saham sebenaranya tidak
harus menunjukan modal yuridis kearena mnodal saham dapat berbeda jumlahnya
dengan modal yuridis. Berapapun besarnya modal yuridis, modal ini harus
dipisahkan dengan yang lain.

G. Modal Setoran Lain


Karena tidak bermakna ekonomik, saham dapat diterbitkan tanpa nilai nominal
(non par stock). Ada dua alas an penerbitan saham tanpa niali nominal yaitu:
1. Untuk menghindari utang bersyarat dalam hal saham terjual dibawah
harga saham nominal.
2. Tidak ada hubungan antara nilai nominal dengan harga pasar saham
Namun demikian, penerbitan saham tanpa nilai nominal terseebut dapat
menimbulkan persoalan khususnya dalam hal perusahaan dilikuidasi karena akan
sulit untuk menentukan dasar pembagian kekayaan perusahaan. Disamping itu
perlingdungan kreditor akan menjadi tidak jelas karena seakan-akan tidak ada
batas jumlah yang dap[at dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk
deviden dan likuidasi modal. Yang lebih tidak mengungtungkan lagi bagi pihak
kreditor dan pihak berkeoentinga lainnya adalah bahwa saham tanpanilai nominal
dijual dengan harag asanagat rendah semata-mata utnuk tujuan pergeseran
kepemilikan atau mempengaruhi harga saham.

Hendriksen dan Van Breda (1992) berpendapat bahwa pengungkapan modal


yuridis tidak diperlukan kecuali pada perusahaan yang baru berdiri. Paton dan
Littleton (1970) menyatakan bahwa modal saham dan modal setoran lain
merupakan komponen yang harus dianggap sebagai satu kesatuan dan jumlah
rupiahnya harus ditotal untuk menunjukan modal setoran total. Akan tetapi harus
dibedakan antara modal setoran dengan laba ditahan
Pasal 42 UU no. 1 tahun 1995 menetapkan bahwa saham tanpa nilai nominal
tidak dapat diterbitkan. Ketentuan ini sebenarnya dimaksudkan untuk
menentukan modal yuridis. Paton dan Littleton menegasakan bahwa perseroan
merupakan isaha maupun kesatuan hukum. Sifat ganda ini menjadikan akuntansi
mempunyai fungsi ganda pula yaitu menyajikan data ekonomik sekaligus
mencerminkan aspek yuridis yang sebenarnya.

H. Perubahan Modal Setoran


Berbagai sumber perubahan modal setoran dengan berbagai masalah
teoritisnya adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pemesanan saham
Obligasi kontroversi atau berhak-tukar
Saham istimewa terkonversi
Deviden saham
Hak beli saham
Saham treasuri

I. Pemesanan Saham
Pada umumnya, investor yang berminat membeli saham harus
memesan lebih dahulu saham yang akan dibeli dengan harga sesuai dengan
kesepakatan pada saat pemesanan. Yang menjadi masalah adalah apakah jumlah
rupiah saham pesanan tersebut dapat diakui sebagai modal setoran.
Secara konseptual, ekuitas pemegang saham bersifat seperti kewajiban. Oleh
karena itu, jumlah rupiah saham pesanan dapat diakui sebagai modal setoran
hanya apabila kedua syarat berikut dipenuhi :

1. Jumalah rupiah yang disepakati dalam pemesanan merupakan klaim


yuridis bagi perusahaan terhadap pemesan dan tidak dapat dibatalkan
2. Harga pemesanan tersebut akan ditagih penerbit dalam perioda yang
cukup pasti dan tidak terlalu lama

J. Obligasi Terkonversi
Dalam hal tertentu, perusahaan menerbitkan obligasi dengan karakteristik
bahwa obligasi tersebut dapat ditukarkan dengan saham biasa atas kehendak
pemegang obligasi dalam hal periode konversi tertentu. Kalau hak tukar tersebut
diambil (exercised), yang terjadi adalab perubahan status kewajiban menjadi
modal setoran. Masalah teoritisnya adalah menentukan jumlah rupiah yang dapat
dianggap sebagai modal setoran sehingga modal saham dan kelebihan diatas
modal saham (kalau ada) dapat ditentukan. Dalam hal ini, ada 2 nilai yang dapat
digunakan sebagai basis kapitalisasi, yaitu:
1. Nilai buku atau nilai bawaan obligasi saat penukaran
2. Harga pasar obligasi atau harga pasar saham (mana yang lebih
objektif)
Modal saham tergantung kasusnya. Dengan demikian, tidak ada untung atau
rugi yang diakui pada saat transaksi pertukaran tersebut. Esensi transaksi tersebut
hanyalah mengubah status jumlah rupiah utang menjadi utang pemegang saham.
Pendekatan didasari konsep kesatuan usaha karena kreditor dan pemegang saham
mempunyai kedudukan yang sama sebagai investor dengan kepentingan yang
sama. Oleh karena itu, pertukaran tersebut tidak mempunyai substansi ekonomik
sehingga tidak dapat menimbulkan untung atau rugi. Alasan yang lain adalah
bahwa pada saat obligasi diterbitkan semua penerimaan kas diperlukan sebagai
utang. Artinya, tidak dipisahkan jumlah rupiah yang melekat pada obligasi
sebagai obligasi biasa dan pada hak tukar. Hak tukar dianggap melekat pada
obligasi sehingga tidak dapat diukur secara pasti nilainya.karena hak tukar tidak
dapat di ukur dengan pasti, nilai buku obligasi murni juga jika harga pasar
obligasi dapat ditentukan. Jadi, kepraktisan dan objektifitas pengukuran tidak
menghendaki pengakuan untung dan rugi.

K. Saham Prioritas Overhead


Pengukuran jumlah rupiah yang harus diakui sebagai modal setoran dapat
menggunakan cara seperti pada obligasi terkonversi. Dengan pendapatan pertama,
nilai nominal saham prioritas plus porsi premium atau diskun ditransfer kemodal
pemegang saham dan premium atau diskon modal pemegang saham biasa. Tidak
ada untung atau rugi yang diakui pada saat konversi tersebut ini berarti bahwa
jumlah rupiah yang mula-mula diterima pada saat menerbitkan saham prioritas
dianggap sebagai modal setoran mula-mula untuk saham biasa. Perlu dicatat
bahwa jumlah rupiah ini buka merupakan nilai likuidasi saham prioritas karena
nilai likuidasi saham prioritas adalah sebesar nilai nominalnya. Itulah sebabnya
porsi premiun atau diskun juga ikut ditransfer. Kalau porsi premium tidak
ditransfer dan semua saham prioritas dikonversi menjadi saham biasa maka akan
terjadi kejanggalan karena akan dapat premium saham prioritas padahal tidak ada
saham prioritas yang beredar. Konversi ini semata-mata menandai perubahan
status atau hak dua golongan pemegang saham. Perubahan ini sering disertai
penerbitan sertifikat saham biasa baru dan penarikan sertifikat saham prioritas
atau istimewa.

L. Deviden Saham
Pemecahan saham adalah penurunan nominal (atau nilai nyata) persaham
dengan cara menukar tiap satu saham yang beredar dengan dua atau lebih saham
baru yang nilai nominal per sahamnya merupakan pecahan dari nilai nominal
saham semula. Bila perusahaan mendistribusi dividen saham 20% tanpa disertai
kapitalisasi, perusahaan sebenarnya telah menurunkan nilai nominal per saham
menjadi 100/120 dari nilai nominal semula.

M. Karakteristik Deviden Saham


Bagi pemegang saham, dividen saham bukan merupakan pendapatan atau
laba. Berbagai teori atau argumen diajukan untuk menjelaskan mengapa dividen
saham bukan merupakan laba bagi penerimanya. Dari sudut pandang kesatuan
7

usaha, dividen saham bukan merupakan pembagian laba karena tidak ada
penurunan aset perusahaan atau kenaikan utang perusahaan. Hal ini berbeda
dengan dividen kas jelas merupakan pendapatan bagi penerima karena ada
transfer kemakmuran ke pemegang saham.
Bila dividen saham dipandang sebagai pendapatan in natura karena menaikan
nilai investasi, pendapatan tersebut belum terealisasi bila belum dijual oleh
penerimanya. Investasi naik karena dividen saham dapat di jual atau kalau tidak
dijual penerima berhak menerima dividen tunai dimana yang akan datang atas
saham tersebut.
Dari sudut pandang kesatuan pemilik, dividen saham bukan merupakan laba
bagi penerimanya. Alasannya adalah bahwa laba perseroan juga merupakan laba
pemilik. Oleh karena itu dividen kas dianggap sebagai pengambilan atau prive
oleh pemilik dari sesuatu yang memang sudah menjadi haknya sehingga tidak ada
tambahan kemakmuran. Dividen saham juga bukan merupakan laba tetapi
sekedar teklasifikasi ekuitas. karena sudut pandang akuntansi adalah kesatuan
usaha, apakan dividen saham pendapatan bagi pemegang saham sebenarnya
bukan masalah yang relevan. Yang relevan bagi perusahaan adalah apakah
dividen saham dipansang sebagai reklasifikasi ekuitas dan bila demikian
bagaimana kapitalisasi diukur.

N. Kapitalisasi Atas Dasar Nilai Nominal


Kalau tujuan penyajian informasi modal pemegang saham adalah untuk
menunjukan modal yuridis (legal capital), kapitalisasi dividen saham harus hanya
sebesar nilai nominal atau nyataannya jumlah ini sebesarnya merupakan jumlah
minimal yang harus dikapitalisasi untuk memenuhi ketentuan yuridis. Alasan
pendukung kapitalisasi hanya sebesar nilai yuridis adalah bahwa dividen saham
bukan merupakan pendapatan dan mengkapitalisasi sebesar harga pasar memberi
kesan bahwa dividen tersebut merupaka pendapatan yang direinvestasi kedalam
perusahaan. Alasan lain yang dianggap cukup kuat adalah bahwa harga pasar
menggambarkan harga seluruh ekuitas pemegang saham (modal setoran dan laba
ditahan). Jadi sangat tridak logis mentransfer jumlah yang merefleksi elemen
modal setoran dan laba ditahan ke modal setoran itu sendiri.

O. Kapitalisai Atas Dasar Harga Saham


Walaupun dividen saham berbeda dengan dividen kas, sebagai dividen
keduanya dianggap sebagai distribusi ke pemilik. Oleh karena itu, dividen saham
dapat di pandang sebagai pengganti dividen kas karena dividen daham
mempunyai nilai. Paling tidak, pemegang saham dapat menjual saham tersebut
kalau dividen kas yang diharapkan dan investasi semula tidak berubah. Nilai
tersebut diukur atas dasar harga saham. dengan demikian harga pasar merupakan
dasar yang tepat untuk menentukan kapitalisasi berbagai dasar pikiran
mendukung hal ini.

P. Hak Beli Saham


Hak beli saham adalah hak yang diberikan bagi pemegang saham lama untuk
membeli sejumlah saham (proposional dengan pemilikan). Hak ini biasanya
dimaksudkan untuk mempertahankan pemilikan pemegang saham lama. Pada
umumnya, hak beli saham umurnya tidak lama dan beli harga saham dengan hak
beli tersebut biasanya lebih rendah dari harga pasar saham bersangkutan. Oleh
karena itu, hak beli saham sering dianggap mempunyai harga pasar sehingga
timbul pendapat bahwa hak beli saham tersebut dikapitalisasi. Harga pasar hak
beli saham ini adalah sebesar selisih harga pasar saham sengan harga yang harus
dibayar pemegang saham yang mempunyai hak beli saham. Perlukah jumlah
rupiah selisih ini dikapitalisasi.
Bila dividen saham dapat dikapitalisasi maka hak beli saham juga dapat
dikapitalisasi karena hak beli saham dapat dianggap sebagai dividen saham
dengan nilai sebesar harga pasar hak beli saham. jumlah ini dikapitalisasi ke
modal setoran lain. Argumen dibantah dengan alas an bahwa kapitalisasi hak
belisaham menjadi modal setoran adalah tidak logis karena tidak ada sumber
ekonomi yang disetorkan oleh pemegang saham dan tidak ada saham baru yang
9

diterbitkan. Lain halnya dengan kupon beli saham atau waran yang di bahas
sesudah opsi saham berikut.

Q. Opsi Saham
Secara umum opsi diartikan sebagai klaim untuk membeli atau menjual saham
tertentu yang sengaja diciptakan oleh investor untuk dijual kepada investor lain.
Dalam arti khusus, opsi saham adalah semacam kontrak yang membeli hak
kepada karyawan perusahaan (termasuk manager atau pemimpin) untuk membeli
saham perusahaan dalam jangka waktu tertentu dengan harga yang tertentu pula.
pada umumnya harga pengambilan dibawah harga pasar saham yang
bersangkutan atau harga yang ditawarkan kepada pihak lain. Kebijakan semacam
ini sering disebut dengan program opsi saham karyawan. Opsi saham ini biasanya
digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan loyalitas dan motivasi karyawan
dengan menjadikan mereka pemilik perusahaan dan utnuk menambah
penghasilan karyawan (sebagai konvensasi tambahan). Banyaknya saham yang
dapat dibeli dan harga opsi dapat ditentukan pasa saat hak opsi diberikan atau
bergantung pada beberapa kejadian dimasa mendatang seperti pertumbuhan
perusahaan dan perubahan harga saham.

R. Waran
Waran adalah efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang memberi hak
kepada pemegangnya untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada harga
dan jangka waktu tertentu (pasal 30). perbedaan waran dengan hak beli saham
dan opsi saham dalam beberapa aspek, yaitu:
PSAK No.41 telah menetapkan perlakuan akuntansi untuk berbagai jenis
waran sebagai berikut:
Jumlah rupiah hasil penerbitan sekuritas (utang atau ekuitas yang disertai
waran lepas dialokasi ke sekuritas dan waran atas dasar nilai wajar masingmasing komponen pada saat penerbitannya. jumlah rupiah yang melekat pada
sekuritas

dilaporkan

sebagai

kewajiban

atau

ekuitas

sesuai

dengan

karakteristiknya (pasal 15). apabila waran diambil, jumlah rupiah yang melekat
pada waran dikapitalisasi ke modal saham dan agio saham (bila ada) apa bila
10

waran tidak diambil sampai masa opsi berakhir, jumlah rupiah tecatat warantetap
diperlakukan sebagai modal setoran lain (pasal 16). seluruh jumlah rupiah hasil
penerbitan sekuritas (utang/ekuitas) yang disertai waran lekat diakui seluruhnya
sebagai kewajiban atau ekuitas sesuai dengan karakteristiknya (pasal 17).
penerbitan waran bebas diperlakukan sebagai modal setoran lain sebesar jumlah
rupiah hasil penerbitan tersebut. bila waran bebas diterbitkan secara cuma-cuma,
tidak diperlukan penaksiran nilai waran untuk diakui sebagai modal setoran lain
(pasal 18-19).

DAFTAR PUSTAKA
Suwardjono. 2014. Teori Akuntansi Perelayasaan Pelaporan Keuangan.
Yogyakarta: BPFE

11