Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Skoliosis adalah deformitas tulang belakang yang mengalami deviasi kearah


lateral. Skoliosis idiopatik cukup banyak ditemukan yaitu 0,5 % dari jumlah
penduduk atau 85 % dari skoliosis structural.1
Dikenal tiga tipe skoliosis idiopatik yaitu: 1) tipe infantile, bila ditemukan
sejak lahir sampai usia 3 tahun dan lebih sering pada laki-laki; 2) tipe juvenile,
bila ditemukan pada usia 4-9 tahun dan lebih sering ditemukan pada perempuan;
3) tipe adolesen, bila ditemukan pada usia 10-18 tahun dan lebih sering pada
wanita. Etiologi pastinya belum dketahui tetapi dianggap sebagai keturunan
karena ditemukan secara autosomal dominan.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Dan Fisiologi Tulang Belakang (Columna Vertebralis)


Columna vertebralis merupakan pilar utama tubuh, dan berfungsi
menyanggah cranium, gelang bahu, ekstremitas superior dan dinding thorax
serta melalui gelang panggul meneruskan berat badan ke ekstremitas
inferior.3
Columna vertebralis terdiri atas 33 vertebrae, yaitu 7 vertebra
cervicalis, 12 vertebra thoracalis, 5 vertebra lumbalis, 5 vertebra sacralis
(yang bersatu membentuk os sacrum), dan 4 vertebra coccygis (tiga yang
dibawah umumnya bersatu). Struktur kolumna ini fleksibel, karena kolumna
ini bersegmen-segmen dan tersusun atas vertebra, sendi-sendi, dan bantalan
fibrocartilago yang disebut discus intervertebralis. Discus intervertebralis
membentuk kira-kira seperempat panjang kolumna.3

Gambar 1. Anatomi columna vertebralis


Pada orang dewasa, pada posisi berdiri, columna vertebralis
memperlihatkan lengkung-lengkung regional pada bidang sagital berikut ini:

cekung posterior cervical, cembung posterior thoracal, cekung posterior


lumbal, dan cembung posterior sacral. Pada bulan-bulan terakhir kehamilan,
dengan bertambah besar dan berat janin, perempuan cenderung menambah
cekungan posterior lumbal, dalam usahanya menjaga pusat berat
badan/keseimbangan. Pada orang tua discus intervertebralis mengalami
atrofi, mengakibatkan bertambah pendeknya tubuh dan secara perlahanlahan kolumna vertebralis kembali ke dalam cekungan anterior yang utuh. 3

Gambar 2. Lengkung columna vertebralis.4


Pada daerah cervical akan membentuk kurvatura konkaf (lordosis),
daerah thoracal akan membentuk kurvatura konveks (lordosis), daerah
lumbal akan membentuk kurvatura konkaf (kifosis), dan pada daerah sacral
akan membentuk kurvatura konveks (lordosis).7
Pada akhir masa kanak, seringkali ditemukan adanya lengkung lateral
yang ringan didaerah thoracal columna vertebralis. Keadaan ini normal dan
biasanya disebabkan oleh terlalu seringnya menggunakan salah satu dari
ekstremitas superior. Misalnya orang dengan tangan kanan sering

mempunyai lengkung thoracal ringan kekanan. Lengkung kompensasi


ringan selalu terbentuk diatas dan dibawah lengkung tersebut.3
2.2 Skoliosis
Scoliosis ialah istilah yang dipergunakan untuk melukiskan deviasi
columna vertebralis kea rah lateral. Keadaan ini paling sering ditemukan
didaerah thoracal dan dapat diakibatkan oleh kerusakan otot atau vertebra.
Kelumpuhan otot-otot akibat polimielitis dapat menimbulkan skoliosis
hebat. Adanya hemivertebra congenital dapat juga menimbulkan skoliosis.
Skoliosis bersifat kompensasi pada kaki yang pendek sebelah (disparency
leg lenght) atau penyakit panggul.3
Scoliosis adalah kelainan tiga dimensi tulang belakang dan tulang
rusuk. Ini dapat berkembang sebagai kurva primer tunggal (menyerupai
huruf C) atau sebagai dua kurva (kurva primer bersama dengan kurva
sekunder kompensasi yang membentuk bentuk S). Scoliosis dapat terjadi
hanya di punggung atas (daerah dada) atau punggung bawah (lumbar), tetapi
paling sering berkembang di daerah antara dada dan daerah lumbal (area
torakolumbalis). Dokter mencoba untuk mendefinisikan skoliosis dengan
bentuk kurva, lokasi, arah dan besarnya, dan, jika mungkin, penyebabnya.
Tingkat keparahan scoliosis ditentukan oleh sejauh mana kelengkungan
tulang belakang dan dengan sudut rotasi trunk (ATR).6
2.3 Etiologi
Penyebab dari skoliosis dibedakan menjadi penyebab struktural dan
non struktural (Fungtional),
Pada kelainan structural, pengobatan kurva tergantung pada faktor
penyebabnya. Kadang-kadang scoliosis struktural merupakan salah satu
bagian dari sindrom atau penyakit, seperti sindrom Marfan, gangguan
jaringan ikat yang diturunkan. Dalam kasus lain, hal itu terjadi dengan
sendirinya.9 Penyebab structural dibagi menjadi 4 yaitu :
a) Idiopatik
85 % pasien didiagnosis dengan skoliosis idiopatik, dimana pada
kondisi ini tidak diketahui penyebabnya secara pasti.8
b) Kongenital

Pada kelaianan kongenital, pasien lahir dengan kelainan tulang


belakang yang menyebabkan skoliosis.8
Scoliosis bawaan disebabkan oleh kelainan bentuk tulang belakang
bawaan yang biasanya melibatkan kelainan dalam perkembangan
vertebra (kurangnya vertebra atau vertebra yang menyatu). Kondisi ini
biasanya menjadi jelas pada usia 8 sampai 13 dikarenakan tulang mulai
tumbuh lebih cepat. Kurva seperti dalam kasus harus diawasi secara
ketat, karena mereka dapat berkembang dengan cepat. (Seringkali terjadi
masalah pada ginjal, terutama yang hanya memiliki satu ginjal,). 6
c) Neuromuskular
Berhubungan dengan penyakit lain seperti cerebral palsy, spina
d)

bifida dan atrofi otot.8


Trauma
Scoliosis traumatis, merupakan kasus yang jarang. Skolisois
traumatis adalah kelengkungan tulang belakang karena trauma tulang
belakang atau komponen-komponennya. Scoliosis traumatis dapat
disebabkan oleh patah tulang, operasi atau radiasi.10
Pada kelaianan non-struktural, kurva yang terjadi bersifat
sementara. Hal ini disebabkan oleh kondisi yang mendasarinya seperti
perbedaan panjang kaki, spasme otot, atau kondisi peradangan seperti
radang

usus

buntu.

Dokter

mengobati

jenis

skoliosis

dengan

memperbaiki masalah mendasar.9


2.4 Gambaran klinis
Scoliosis biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Seringkali
lengkungan tersebut mungkin terlalu halus untuk diperhatikan oleh orang
tua bahkan diperhatikan dengan jeli. Beberapa mungkin melihat postur
abnormal pada anak yang sedang tumbuh. Postur abnormal tersebut
biasanya berupa kepala miring, salah satu tulang belikat yang lebih
menonjol dan satu pinggul atau bahu yang lebih tinggi dari yang lain.6

Gambar 3. Kurve abnormal pada skoliosis.9


2.5 Skoliosis idiopatik
2.6.1
Tipe
Dikenal tiga tipe skoliosis idiopatik yaitu: 1) tipe infantile,
bila ditemukan sejak lahir sampai usia 3 tahun dan lebih sering
pada laki-laki; 2) tipe juvenile, bila ditemukan pada usia 4-9 tahun
dan lebih sering ditemukan pada perempuan; 3) tipe adolesen, bila
ditemukan pada usia 10-18 tahun dan lebih sering pada wanita.1
2.6.2

Etiologi
Dari 80 % pasien, penyebab scoliosis tidak diketahui. Kasus
seperti ini disebut scoliosis idiopatik, dan merupakan 65% dari
bentuk struktural skoliosis. Sebagian besar kasus skoliosis
idiopatik memiliki dasar genetik, namun para peneliti masih belum
mengidentifikasi gen atau kromosom yang bertanggung jawab
untuk kasus skoliosis idiopatik.6
Para peneliti sedang menyelidiki kelainan fisik yang mungkin
yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam tulang atau
otot yang akan mengakibatkan skoliosis. Diantaranya adalah
sebagai berikut:
Otot Sekitar Vertebra.
Beberapa
penelitian

a)

menunjukkan

bahwa

ketidakseimbangan dalam otot-otot sekitar tulang belakang

dapat membuat anak-anak rentan terhadap distorsi tulang


b)

belakang saat mereka tumbuh. 6


Tinggi Lengkungan
Satu studi menunjukkan insiden yang lebih tinggi dari
lengkungan abnormal tinggi di kaki orang dengan scoliosis
idiopatik, menunjukkan bahwa keseimbangan berubah mungkin

c)

menjadi faktor dalam kasus-kasus tertentu. 6


Masalah di Koordinasi
Beberapa ahli melihat ketidakseimbangan diwariskan
dalam persepsi atau koordinasi yang dapat menyebabkan
pertumbuhan asimetris pada tulang belakang dari beberapa anak

d)

dengan scoliosis. 6
Faktor biologis.
Sejumlah faktor biologis dapat berkontribusi scoliosis:
Penyidik akan mencari kemungkinan kelainan pada kolagen,
protein struktural penting yang ditemukan dalam otot dan
tulang. Enzim dikenal sebagai matriks metaloproteinase yang
terlibat dalam perbaikan dan renovasi kolagen. Pada tingkat
tinggi, namun, enzim dapat menyebabkan kelainan pada
komponen

dalam

cakram tulang

belakang,

memberikan

kontribusi untuk degenerasi disk. Beberapa peneliti telah


menemukan tingkat tinggi enzim dalam cakram pasien dengan
scoliosis, yang menunjukkan bahwa enzim dapat berkontribusi
2.6.3

untuk kemajuan kurva.6


Gambaran Klinis
Penderita skoliosis biasanya berjalan secara perlahan dan
tidak ada rasa nyeri. Umumnya penderita datang dengan keadaan
tulang belakang bengkok atau bahu tidak sama tinggi. Pemeriksaan
fisik menemukan adanya rotasi tulang vertebra yang tampak lebih
jelas bila pasien disuruh membungkuk kedepan.1

2.6.4

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik


Anamnesis dan pemeriksaan fisik dimaksudkan untuk
menyingkingkar penyebab sekunder untuk deformitas tulang
belakang. Pasien harus ditanya tentang riwayat keluarga scoliosis,

onset menstruasi, dan adanya rasa sakit dan perubahan neurologis,


termasuk usus buntu (apendisitis) dan disfungsi kandung kemih.
Adanya rasa sakit atau gejala berat neurologis akan atipikal untuk
scoliosis idiopatik.13
Dokter juga menanyakan adanya kelainan congenital, tumor,
infeksi pada daerah tersebut, trauma atau masalah lain yang
berkaitan dengan skoliosis.12
Pemeriksaan fisik pada penderita skoliosis dilakukan dengan
2 posisi yaitu :
a) Posisi berdiri (Punggung)
Penderita berdiri dengan bagian punggung menghadap ke
pemeriksa. Dengan posisi kaki berdiri tegak, lurus dan jari-jari
rapat. Posisi bahu lemas, lengan juga di lemaskan. Pemeriksa
memperhatikan penderita mulai dari depan, samping dan
belakang.

Gambar 4. Posisi berdiri (standing position).12


Dari pemeriksaan tersebut didapatkan :
Kepala dalam posisi asimetris terhadap bahu dan panggul
Tinggi bahu yang berbeda
Penonjolan belikat yang tidak merata (skapula)
ketinggian pinggul yang tidak merata dan lipatan pinggang
; yaitu, satu pinggul mungkin lebih tinggi dari yang lain,

dan lipatan pinggang mungkin lebih dalam atau lebih

menonjol di satu sisi


kelengkungan lateral tulang belakang
terdapat celah antara lengan dan dada

b) Forward Bending Position (Adam Forward Bend Test)


Pemeriksaan paling umum dan paling sederhana dilakukan
untuk skoliosis adalah Adam Forward Bend Test. Pada
pemeriksaan

ini,

penderita

diposisikan

dalam

posisi

membungkuk kedepan, posisi pinngul 90 derajat, dengan kaki


yang sejajar dilantai dan tangan yang menggantung kebawah.10

Gambar 5. Posisi pada adam forward ben test. 13


Pada Forward bending test biasanya didapatkan kelainankelainan berupa :
1. Ketidaksimetrisan

antara

tulang

belakang

atau

punggung. Yaitu : satu sisi lebih tinggi dibanding yang


lain seperti terdapat penonjolan tulang dada (rib hump)
pada bagian belakang.
2. Adanya Satu pinggul yang lebih menonjol dibanding
pinggul yang lain
3. Adanya kifosis yang berlebihan jika dilihat dari sisi
samping
4. Kepala tidak sejajar dengan posisi kaki.11

Arah kurva pada adolescent idiopatik skoliosis tidak


pernah berubah. 90 persen dari kurva thorax biasanya mengarah
kekanan (dextroscoliosis). Oleh karena itu, jika terdapat kurva
yang mengarah kekiri maka diperlukan evaluasi dan monitoring
2.6.5

yang lebih cermat lagi mengenai penyebabnya.13


Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiology harus dilakukan, mengingat setiap
proses trauma dan patologis yang terjadi pada tulang belakang
akan berpengaruh terhadap mobilitas dan integritas tulang
belakang yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien.
Kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi tulang yaitu;proses
degenerative, trauma, infeksi dan kondisi inflamasi.10
a) Sudut Cobb (Cobbs Angle)
Sudut skoliosis diukur dengan menggunakan sudut Cobb.
Dimana sudut tersebut merupakan faktor yang menetukan
pengelolaan pada skoliosis dan berhubungan langsung dengan
semua keputusan terapi. banyak klasifikasi yang berbeda telah
diusulkan berdasarkan ini pengukuran sudut, tetapi tidak ada
satu sistem hari ini memiliki validitas luas. Namun demikian,
ada kesepakatan pada beberapa ambang:
Dibawah 10, diagnosis skoliosis

tidak

boleh

dilakukan;
lebih dari 30, risiko pengembangan sudut (kurvatura)
di masa dewasa meningkat, serta berisiko terhadap

masalah kesehatan dan pengurangan kualitas hidup;


lebih dari 50 hampir dapat dipastikan bahwa terjadi
progesivitas kurva dari skoliosis di masa dewasa dan
menyebabkan masalah kesehatan dan pengurangan

kualitas hidup.
Kesalahan pengukuran dalam mengukur sudut Cobb
adalah 5 derajat. 5

Gambar 5. Sudut Cobb.13


Kelengkungan di bidang frontal (AP radiografi di posisi
tegak) dibatasi oleh akhir vertebra atas (Upper end vertebrae) dan
akhir vertebra bawah (Lower end vertebrae), digunakann untuk
mengukur sudut Cobb. The Scoliosis Research Society (SRS)
menunjukkan bahwa diagnosis bisa ditegakan ketika sudut Cobb
adalah 10 derajat atau lebih tinggi dan rotasi aksial dapat dikenali..
Namun, untuk scoliosis struktural sudah bisa ditegakkan ketika
sudut Cobb dibawah 10, dengan progesivitas kurve yang tinggi.
Peningkatan kurve lebih sering terjadi pada perempuan selama
lonjakan pertumbuhan pada masa pubertas (masa Menarche).
Lonjakan tersebut kemudian disebut sebagai progresif idiopatik
Scoliosis.5
Derajat skoliosis ditentukan melalui besarnya sudut cob,
derajat skoliosis dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Skoliosis Ringan (mild) jika kurva kemiringan kurang dari
20 derajat, kurva kurang dari 10 derajat dianggap dalam
batas normal dan tidak memerlukan pengobatan

2. Skoliosis

sedang

(moderate

scoliosis)

jika

kurva

kemiringan berada antara 20-40 derajat


3. Skoliosis berat (severe scoliosis) kurva kemiringan lebih
dari 50 derajat. Severe scoliosis akan menimbulkan
perubahan bentuk yang signifikan dari tulangbelakan dan
tulang iga. Pada orang dewasa kurva lebih dari 40 derajat
akan menimbulkan kesakitan dan terjadinya penyakit
degenerasi sendi tulang belakang dan fungsi paru yang
berkurang sehingga terjadi sesak nafas.
b) Risser Staging
Maturitas tulang diukur dengan cara yang berbeda-beda.
Salah satunya yaitu dengan menggunakan sistem Risser staging.
Skala risser mengukur kekerasan tulang dari apophysis krista
iliaka
2.6.6

Tatalaksana
Tujuan pengobaan adalah menghindari bertambah buruknya
skoliosis ringan dan memperbaiki serta menstabilkan bentuk
skoliosis yang lebih berat. Penanganan konservatif berupa
fisioterapi dan pemakaian cagak/penyangga (Brace Milwauke).1
Penanganan skoliosis idiopatik, bergantung pada besar sudut
pembengkokan vertebra dan usia penderita. Skoliosis pada
penderita yang masih bertumbuh akan terus memburuk. Bila sudut
bengkok melebihi 40 derajat, tindak bedah berupa koreksi
menggunakan batang Harrington dan fusi anterior. Bila sudut
kurang dari 40 derajat, dilakukan terapi konservatif dengan
menggunakan cagak (brace) Milwauke. Bila anak sudah tidak lagi
bertumbuh dan sudut bengkok kurang dari 40 derajat, skoliosis
ditangani secara konservatif dulu dan bila tidak berhasil dalam dua
kunjungan sudut bengkok bertambah 15 derajat, terapi bedah

2.6.7
2.6.8

dianjurkan.1
Komplikasi
Prognosis

Secara

umum,

pengobatan

skoliosis

bertujuan

untuk

memantau kondisi jika kurva kurang dari 20 derajat dan


mempertimbangkan mengobati jika kurva lebih besar dari 25
derajat atau yang maju dengan 10 derajat ketika sedang dipantau.
faktor predisposisi untuk mempertimbangkan prognosis pada
pasien skoliosis adalah :
a) Umur
Secara umum,

semakin

tua

anak,

semakin

kecil

kemungkinan kurva akan maju. Para ahli memperkirakan bahwa


kurva kurang dari 19 derajat akan maju 10% pada anak
perempuan antara usia 13 dan 15 tahun dan 4% pada anak yang
lebih tua dari 15 tahun. (Dalam beberapa langka, kasus yang
parah, kurva dapat memperburuk bahkan setelah pengobatan
dan akhir pertumbuhan karena berat tubuh menekan kurva
normal.
b) Jenis kelamin
Perempuan

memiliki

risiko

lebih

tinggi

untuk

perkembangan dari anak laki-laki.


c) Lokasi Lengkung
Kurva dada (Curve Thoracic), yaitu kurve pada tulang
belakang bagian atas, lebih mungkin untuk kemajuan dari kurva
torakolumbalis atau kurva lumbal, orang-orang dari kalangan
menengah ke bawah tulang belakang.
d) Keparahan Lengkung tersebut
Semakin tinggi tingkat kelengkungan, semakin besar
kemungkinan paru-paru akan terpengaruh.
e) Kondisi Kesehatan.
Anak-anak dalam kesehatan yang buruk perwatan
scoliosis dibandingkan anak-anak lain. Di sisi lain, anak-anak
yang memiliki kondisi yang mengancam paru-paru dan jantung
memerlukan pengobatan yang efektif dan efisien.6

BAB III
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong.


Edisi 3. Jakarta : EGC
2.
3. Snell, Richard. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. ed :
Hartanto, Huriawati, dkk. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
4. Ivy-rose.
2011.
Vertebra
Column.
(http://www.ivyroses.com/HumanBody/Skeletal/Vertebral-Column.php),
diakses 14 juli 2015.

5. Stevano Negrini, et all. 2011. 2011 SOSORT Guidelines: Orthopaedic and


Rehabilitation

treatment

of

idiopathic

scoliosis

during

growth.

(http://www.scoliosisjournal.com/content/7/1/3), diakses 10 juli 2015


6. Suken A. Shah. Scoliosis. Pediatric Orthopaedic and Scoliosis Surgery
Department

of

Orthopaedics.

(http://www.nemours.org/content/dam/nemours/www/filebox/service/medic
al/orthopedics/scoliosis.pdf), diakses 10 juli 2015
7. Hamilton N., Weimar W., Luttgens K. 2008. Kinesiology; Sciencific Basis
Of Human Motion. 11th ed. New York; McGrow-Hill.
8. National Scoliosis Foundation. Scoliosis Media and Community Guide.
(https://www.srs.org/professionals/advocacy_and_public_policy/scolimedia
guide.pdf), diakses 10 juli 2015.
9. National Institute of Arthritis and Musculosceletal and Skin Disease
(NIAMS). 2011. Scholiosis in Children and Adolescent. National Institute of
Health;U.S.

Deapartement

of

Healt

and

Human

(http://www.niams.nih.gov/health_info/scoliosis/scoliosis_qa.pdf),

Service.
diakses

14 juli 2015.
10. Anderson M. Susan. 2007. Spinal Curves and Scoliosis. Journal Radiologic
Tecnology

Vol

79

No.

1.

(http://www.mccc.edu/~petroskw/outlines/rd_128/Spinal_Curves_Scoliosis.
pdf), diakses 14 juli 2015.
11. California Departement of Education. 2007. The Standards for Scoliosis
Screening

in

California

Public

Schools.

(http://www.cde.ca.gov/ls/he/hn/documents/scoliosisscreening.pdf), diakses
14 juli 2015
12. Sharwak F. John. Cyntia R. Labell. Scoliosis Evaluation and Decision
Making

for

the

Pediatrician.

(https://www2.luriechildrens.org/ce/pdf/sarwark.pdf), diakses 14 juli 2015


13. Reamy V. Brian, et all. 2001. Adolescent Idiopathic Scoliosis: Review and
Current

Concepts.

American

Academy

of

Family

Physician

(http://www.aafp.org/afp/2001/0701/p111.html), diakses 14 juli 2014.